Chapter 3
Sepertinya
Gadis-Gadis di Sekitarku Memang Salah sebagai Manusia.
1
PILIH:
① 'Terkecil dalam Sejarah Umat
Manusia'
② Cawat (Fundoshi)
Di dalam
ruang ganti kolam renang, aku benar-benar putus asa. Awalnya saat opsi ini muncul, aku sama sekali
tidak paham apa maksudnya.
Tapi begitu masuk
ke tahap ganti baju, niat busuknya baru terungkap jelas.
Celana renang
biasa yang sudah kusiapkan di dalam tas lenyap tanpa bekas, dan sebagai
gantinya, muncul dua item yang sama sekali tidak ingat pernah kumasukkan ke
sana.
Celana renang
tipe trunk dengan tulisan 'Terkecil dalam Sejarah Umat Manusia' tercetak
tepat di bagian selangkangan, dan sebuah cawat merah... Aku disuruh pilih salah
satu?
Dan sialnya, kali
ini opsi ③ tidak ada. Sial, sistem tidak berguna! Di
saat-saat genting begini kau malah tidak muncul, terus mau muncul kapan—
PILIH:
① 'Terkecil dalam Sejarah Umat
Manusia'
② Cawat (Fundoshi)
③ Tidak pakai apa-apa
"MENDING
LU PERGI JAUH-JAUH SEKARANG JUGA!"
Tanpa
sadar aku berteriak, membuat orang-orang di sekitarku yang sedang ganti baju
menoleh dengan ekspresi kaget.
"A-ah,
m-maaf..."
Sambil
meminta maaf, akhirnya aku memakai celana renang dengan tulisan 'Terkecil
dalam Sejarah Umat Manusia' itu... Rasanya aku ingin pulang saja.
Sepanjang
jalan menuju tempat kumpul bersama Chocolat dan yang lainnya, orang-orang yang
berpapasan denganku semuanya melirik ke arah selangkanganku... Kalau kalian butuh foto wajah menangis-ku
sekarang, silakan ambil saja, tidak apa-apa kok.
Beberapa menit
setelah aku sampai di depan papan pengumuman tempat janji temu.
"Amacchi,
maaf ya sudah menunggu—!"
"Oooh..."
Saat berbalik,
aku tanpa sadar mengeluarkan suara kagum. Kalau saja dia bisa menutup mulutnya,
Ouka adalah gadis cantik berambut hitam panjang yang orisinal dengan gaya tubuh
yang luar biasa.
Baju renang tipe
bikini yang mengekspos banyak kulit itu benar-benar cocok dengannya.
"Wah,
kostum ini benar-benar enak buat bergerak ya!"
Ouka
tertawa dengan riang.
"Benar
sekali, pakai baju renang rasanya nyaman ya~"
Di
belakangnya, menyusul Chocolat yang mengenakan baju renang berwarna cokelat.
"Kanade-san,
bagaimana menurutmu?"
Meski
ukuran dadanya melampaui Ouka, tapi bagian pinggangnya benar-benar ramping. Aku
sudah memikirkan ini sejak dia pakai baju biasa sih, tapi melihat betapa
banyaknya dia makan setiap hari, bentuk tubuh yang sebagus ini benar-benar
sebuah misteri.
"Ah,
iya, bagus kok."
"Benarkah?!"
"Jangan
mencoba menempel begitu dengan pakaian seperti itu!"
Aku
menahan Chocolat dengan tangan saat dia mencoba mendekat sambil menggoyangkan
rambut kuncir kudanya yang seperti ekor itu.
"Kakak,
lihat punyaku juga!"
Lalu,
Yuragi yang mengenakan baju renang tipe one-piece warna-warni.
Dibandingkan dua orang sebelumnya, dia jelas kekurangan 'volume' di berbagai
bagian, tapi kalau begini... boleh juga, sih.
"Mufufu,
bagaimana Kakak?"
"G-bagaimana
apanya?"
"Masih saja
pura-pura bodoh. Membawa tiga gadis kiyut begini, mana mungkin Kakak tidak
senang, kan~"
Abaikan saja
kosakata 'kiyut' Yuragi yang sudah ketinggalan zaman itu, tapi memang kenyataan
yang tak terbantahkan kalau visual mereka bertiga jauh di atas rata-rata.
Hal itu terbukti
dari tatapan benci para lelaki yang lewat di dekat kami sejak tadi.
Bahkan ada yang
sampai dipukul pacarnya gara-gara terlalu lama memelototi Chocolat dan
kawan-kawan.
Ini adalah momen three-shot
yang sebenarnya ingin kuabadikan dengan kamera tahan air yang tergantung di
leherku, tapi karena saat ini aku belum menemukan cara lain selain menggunakan
senjata rahasia, aku harus menahan diri karena ini bukan waktunya
bersenang-senang.
"Eh,
omong-omong Bu Utage ke mana?"
"Oyo, tadi
masih bersama kami kok..."
Aku dan Ouka
bersama-sama celingukan mencari sekitar.
"Ah, itu
dia."
Sekitar sepuluh
meter di belakang papan pengumuman, Bu Utage sedang diajak bicara oleh seorang
pria agak gemuk dan sangat berbulu. Karena penasaran, aku berjalan
mendekat.
"Hah... hah... Dek, apa kau terpisah dari Ibumu?"
...Ternyata dia adalah seorang 'penganut aliran' yang
berawalan huruf L.
"...Maaf tidak bisa memenuhi ekspektasimu, tapi aku
sudah dewasa, tahu."
Melihat tingkah pria yang sangat bersemangat itu, Bu Utage
yang biasanya garang pun tampak sedikit risi.
"S-sudah dewasa?"
"Iya, jadi cepatlah per—"
"LUAR
BIASA!"
"Hah?"
"Dek,
sepertinya kau salah paham. Umur itu tidak penting! Ada orang-orang tidak
beradab yang bilang kalau sudah lewat usia sekian itu artinya nenek-nenek, tapi
mereka itu tidak mengerti apa-apa. Penampilan! Penampilan adalah satu-satunya
standar nilai yang mutlak! Bahkan, aku justru lebih bersemangat kalau ada celah
(gap) antara penampilan dan usia aslinya!"
...Gawat, orang ini sudah level ahli.
"Ngomong-ngomong kalau tidak keberatan, berapa usiamu,
de—ogofueh!"
Si
lolikon itu langsung ambruk di tempat.
"B-Bu,
pukulan ke ulu hati itu tadi agak berlebihan, tidak sih..."
"Bodo amat,
dia menjijikkan tahu."
Satu serangan telak. ...Yah sudahlah, lagipula si pria itu
pingsan dengan wajah yang tampak bahagia.
"Anu,
permisi. Sepertinya orang ini tiba-tiba merasa tidak enak badan..."
Aku
memanggil petugas untuk mengangkutnya.
"W-wah,
baru sampai sudah kena sial ya."
"Benar-benar
deh."
Si 'L'
itu memang salah cari lawan. Melakukan sesuatu pada orang ini sama saja
dengan tindakan bunuh dir—
PILIH:
① Mengangkat tubuhnya dan bilang,
"Cup cup, Utage-chan sayang, takaitakai~"
② Memeluk tubuhnya dan bilang, "Horeee, Utage Mamaaa!"
...Kau ingin aku
mati, ya? Tidak, aku
harus berpikir positif. Kalau
Bu Utage, dia pasti paham kalau aku melakukan ini terpaksa karena Opsi.
"Maaf
sebentar, Bu!"
"Apa?!"
Tanpa penjelasan,
aku langsung mengangkat tubuhnya.
"Cup cup, Utage-chan sayang, takaitakai~ (ayun tinggi-tinggi)!"
Aku
menyelesaikannya secepat mungkin, lalu menurunkannya ke tanah dengan perasaan
waswas.
"A-anu..."
"...Amakusa,
kau juga menderita, ya."
Bu Utage
menunjukkan senyum yang sangat lebar. Syukurlah...
"I-iya,
benar sekali, Bu! Aku tahu Ibu yang punya nasib serupa pasti mengerti betapa
sulitnya aku bafubeshi!"
Aku ditampar
begitu saja.
"Aku memang
bersimpati, tapi itu urusan lain."
"Uuuh..."
Yah, kurasa ini
lebih baik daripada dipukul di ulu hati sampai pingsan. Tapi Bu Utage ini,
meski dari dulu aku sudah tahu, tapi melihatnya dari jarak dekat begini, aku
jadi sadar kembali—
"Hmm?"
Tiba-tiba, sebuah
dorongan kuat menyerangku. O-oi... jangan-jangan ini Opsi ② yang
muncul beberapa hari lalu, yang membuat apa pun yang kupikirkan langsung keluar
dari mulut...
Aku berusaha
sekuat tenaga menahannya tapi sia-sia. G-gawat, mulutku bergerak sendiri—
"Dadamu
kecil sekali ya!"
◆◇◆
"Alasanmu?"
"……A-afafupen
(M-maaf)."
"Aku
tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
...Ya
iyalah, pipiku bengkak gara-gara pukulan mentahmu tadi, Bu. Lagipula, jeda
waktunya keterlaluan, tahu! Aku sudah benar-benar lupa soal opsi itu. Tapi ya,
dibanding Opsi ① soal orang populer yang meledak
atau Opsi ③ soal terlempar ke ujung galaksi
yang membahayakan nyawa, dipukul sampai wajah berubah bentuk mungkin masih
termasuk berun—enggak, enggak beruntung sama sekali!
Setelah
menunggu aku bisa bicara dengan normal, Bu Utage membuka suara dengan nada
tidak senang.
"Amakusa.
Aku mau jalan-jalan sendiri, jadi kau awasi bocah-bocah itu dengan benar."
"Eh, Ibu mau
memisahkan diri?"
"Iya, orang
dewasa punya cara mainnya sendiri. Lagipula, mana mungkin aku yang sudah 29
tahun ini ikut campur dengan kalian... Eh, malah aku sebut sendiri!"
"Ibu
sendiri yang bilang, kan!"
Seketika,
telapak tangan Bu Utage menempel di leherku.
"...Kalau
kau membocorkan umurku ke orang lain, akan kucekik kau sampai mati."
"I... iya."
Dia akan
melakukannya... orang ini benar-benar akan melakukannya.
"Aku
ini beda denganmu, si mesum yang senang mengumbar aib sendiri di depan
umum."
"Bisa
tidak Ibu berhenti bicara aneh sambil melihat selangkanganku?!"
Padahal dia pasti
tahu ini gara-gara Opsi, tapi dia tetap saja tidak mau mengabaikannya.
Benar-benar tipe sadis.
"Yah,
berjuanglah, si 'Endless Cherry Terkecil dalam Sejarah Umat Manusia'."
"Kenapa Ibu
mengucapkannya seperti julukan karakter anime!"
◆◇◆
"Lho?"
Sambil mengusap
pipi yang masih sakit, aku kembali ke depan papan pengumuman. Tapi tiga orang
yang tadi harusnya ada di sini sudah menghilang. Aku melihat sekeliling, dan di
tempat yang agak jauh, ada kerumunan kecil. Dengan firasat buruk, aku menuju ke
sana.
"Iyaho—!"
...Ouka sedang
memanjat puncak pohon kelapa buatan yang dipasang sebagai hiasan.
"Ah,
Amacchi! Di sini rasanya enak sekali!"
Dulu dia pernah
bergelantungan di atap pakai senar pancing, tadi pagi dia memanjat pohon
sakura, sekarang ini... kenapa sih dia hobi sekali ke tempat tinggi? Setelah
aku memberi isyarat tangan agar dia turun, Ouka merosot turun dengan gerakan
lincah.
"Heh!
Jangan melakukan hal berbahaya begitu!"
Aku
memarahi Ouka yang baru saja berlari ke depanku.
"Ahaha,
Amacchi seperti Ayah saja."
"A-ayah
katamu..."
Aku
merasa seperti dikatai om-om secara tidak langsung. Agak syok juga.
"Sudahlah...
mana dua orang lainnya?"
"Eeeh... Ah, Yuragi-chi ada di sana."
Aku mengikuti
arah telunjuk Ouka. Yuragi sedang berlutut di depan anak laki-laki kelas 2 atau
3 SD, menyejajarkan pandangannya dan mengusap kepala anak itu. Biasanya ini
adalah pemandangan yang menghangatkan hati, tapi... aku mencoba mendekat sampai
bisa mendengar percakapannya.
"Eh, Adik
Kecil, mau tidak jadi Kakak-ku?"
"...Eh?"
"Ka-kak-ak... Hei, apa kau tidak merasa bersemangat
kalau dipanggil begitu?"
"...Kakak
ini menakutkan."
Bocah itu sampai
ketakutan setengah mati! Anak itu langsung lari terbirit-birit.
"Uuuu..."
Yuragi
memegang mulutnya sambil mengerang melihat punggung anak itu yang menjauh. Oh?
Biar bagaimanapun, apa dia merasa syok karena ditolak mentah-mentah oleh anak
kecil?
"D-dia
memanggilku 'Kakak'... rasanya mau muntah."
BAGIAN ITU YANG
KAU PERMASALAHKAN?!
...Karena aku
tidak ingin dianggap sebagai kenalannya, aku ragu-ragu untuk menyapa. Tapi
Yuragi yang sepertinya sudah pulih dari luka mentalnya langsung menuju target
berikutnya. Wao... Targetnya memakai baju renang wanita, tapi postur dan
wajahnya jelas-jelas laki-laki... Singkatnya, seorang waria.
"Maukah kau
jadi Kakak... eh bukan, jadi Mbak-ku?"
Jangan ragu-ragu di bagian itu dong! Waria yang disapa itu menunjukkan ekspresi
waspada. Ya iyalah, disapa tiba-tiba begitu pasti reaksinya begitu.
"Eh... a-ada
apa, Jeng? Akika lagi mokat, jadi kalau mau jualan apa pun eike gak ada
duit!"
Gaya bicaramu
aneh banget! Waria bergaya Betawi (?) itu pun langsung kabur terbirit-birit.
"Hah...
kalah dua kali berturut-turut ya."
...Aku memutuskan
ini tidak bisa dibiarkan lagi. Aku memanggil Yuragi yang sedang lesu itu dari
belakang.
"Kau ini
sedang apa, sih..."
"Ah,
Kakak-yang-asli."
"...Aku
tidak akan berkomentar soal panggilan itu lagi... Di mana Chocolat?"
"Kak
Chocolat ada di sana tuh."
Di arah pandangan
Yuragi, tepat di tengah kerumunan yang paling padat, Chocolat berada.
"Waaa,
banyak laki-laki telanjang di mana-mana!"
Anjing fujoshi
itu matanya berbinar-binar.
"Ini
adalah kemungkinan kombinasi yang tak terbatas—"
"Chocolat..."
Aku
berjalan mendekat dan menyapanya dengan nada sedikit risi.
"Ah,
Kanade-san, lihat deh! Mana yang menurutmu paling cocok?"
"Enggak
ada yang cocok!"
"Aku
rasa standar Kanade-san terlalu tinggi. Dalam situasi yang penuh pilihan
begini, apa sih yang tidak Kamu sukai?"
"JENIS
KELAMINNYA!"
...Mumpung
sedang begini, aku memutuskan untuk menanyakan hal yang mengganjalku sejak
lama.
"Hei
Chocolat, kau itu... suka padaku, kan?"
"Iya, aku
sangat suka!"
Sama seperti
biasanya, Chocolat menjawab instan tanpa ragu.
"Nah, kalau
begitu, bukankah aneh kalau kau malah ingin menjodohkanku dengan laki-laki
lain?"
Tentu saja aku
tahu kalau 'suka'-nya Chocolat itu bukan rasa cinta romantis, tapi tetap saja,
menjodohkan orang yang kau sukai dengan orang lain itu sulit dimengerti.
"Rasa sukaku
pada Kanade-san dan keinginanku membuat Kanade-san jadi 'homo-homoan' adalah
perasaan di dimensi yang berbeda. Jadi, keduanya bisa berjalan berdampingan
tanpa saling bertentangan."
"...Aku
tidak paham maksudmu, tapi aku paham kalau otakmu memang sulit dipahami."
Lagipula,
apa-apaan itu istilah 'homo-homoan'...
"Wahai para
pria yang haus darah, di sini ada cowok ganteng, lho! Mau coba menyerangnya
tidak?!"
"BERHENTI!"
"Mmgghh!"
Aku buru-buru
membekap mulut Chocolat untuk mendiamkannya. Sial... baik Ouka maupun Yuragi,
kenapa mereka semua langsung bikin masalah begitu sampai di sini? Aku harus
memberi mereka peringatan sekali. Aku membawa Chocolat kembali ke tempat Ouka
dan Yuragi yang sudah kusuruh menunggu di depan papan pengumuman.
"Kalian
bertiga... duduk di situ sebentar."
Mengikuti
instruksiku, mereka bertiga duduk dengan manis gaya 'duduk tegak' (seiza).
"Dengar
ya, kalian semua sudah SMA, jadi tolonglah bertingkah sedikit lebih
sopan."
"Ahaha,
'sopan' katanya. Benar-benar seperti Ayah!"
"Uwaaa,
Kakak bau om-om!"
"Aku
memang sering kena, tapi ceramah Kanade-san itu biasanya sangat bertele-tele
dan menyebalkan."
Cekit.
B-bocah-bocah ini... Aku sempat terpikir untuk membentak
mereka sekalian, tapi kalau aku berteriak di sini, mereka pasti cuma akan
menganggapnya lucu. Tenang,
Kanade. Tutup mata sebentar dan tarik napas dalam-dalam.
"Sshhh... Haaaah... Lho?"
Padahal itu hanya sekejap, tapi saat aku membuka mata,
mereka bertiga sudah lenyap tanpa bekas.
"Waaa, kolam
di sebelah sana kelihatannya seru!"
"Dari arah
sini tercium bau 'Kakak' yang menyengat!"
"Sepertinya
di sebelah sana ada area makanan!"
"T-tunggu
dulu!"
Ketiganya lari
berpencar ke arah yang berbeda sesuka hati.
"Sial...
mereka itu, baru saja dibilangi!"
Kepalaku mulai pening... Tapi, bagaimana ini?
Mustahil mengejar
mereka semua sendirian...
Kalau begitu,
karena ada urusan Misi, aku harus memprioritaskan Ouka—
PILIH:
① Sambil memegang selangkangan: "Guaaah! Tangan kananku... tangan kananku
berdenyut!"
② Sambil mengusap selangkangan: "Guaaah! Tangan kananku... tangan kananku
berdenyut!"
............ "Guaaah! Tangan kananku... tangan kananku berdenyut!"
...Tentu saja aku
memilih ①. Sambil membela diri di dalam hati kepada
entah siapa, aku baru saja mau mengejar Ouka, tapi...
"Permisi
sebentar."
"Eh?"
Seorang petugas
pria menyapaku.
"Barusan
Kamu memegang selangkangan sambil meracaukan hal yang aneh... Bisa ikut bicara
sebentar?"
...Mendengar
tindakanku diulangi secara objektif begitu, aku memang terdengar seperti mesum
tingkat akut.
"...Maaf,
sebenarnya aku sedang menderita penyakit bernama 'Chuunibyou'."
Kalau aku
kehilangan jejak Ouka di sini, aku akan kehilangan kesempatan besar. Aku tidak
peduli dianggap orang gila, aku hanya ingin urusan ini cepat selesai.
"Bukan, aku
tahu kalau Kamu sakit, tapi..."
LHO, KOK DIA
MALAH SALAH PAHAM?! Sial... istilah 'Chuuni' sepertinya tidak dimengerti oleh
orang awam yang tidak punya dasar otaku. Petugas itu entah kenapa menatap ke
arah selangkanganku dan berkata:
"Sepertinya
itu bukan 'Chuuni' (SMP kelas 2), tapi lebih ke ukuran 'Shouni' (SD kelas
2)..."
"KAMU
SEBENARNYA LAGI BICARA SOAL APA, SIH?!"
◆◇◆
"Sialan..."
Butuh waktu lama
bagi petugas itu untuk memahami konsep 'Chuunibyou' (yang sangat sulit
dijelaskan) dan membuatnya paham bahwa aku tidak sedang meratapi ukuran
'barang'-ku yang kecil sebelum akhirnya dia melepaskanku. Tentu saja, bayangan
mereka bertiga sudah tidak ada lagi.
"Sial,
kenapa jadi begini..."
Sambil
mengacak-acak rambut, aku berlari ke arah perginya Ouka.
◆◇◆
(Ah,
Amakusa-kun, meski menggerutu begitu tapi dia kelihatan senang ya...)
Di tengah
kerumunan, seorang gadis menatap punggung Kanade Amakusa yang berlari dengan
raut wajah kesal. Gadis itu bernama Furano Yukihira.
(Sekarang aku
bingung harus menyapa bagaimana... Uuu, bagaimana ini...)
Dia menyesal.
Menyesal karena telah menolak ajakan untuk pergi ke kolam renang bersama.
(Habisnya...
habisnya...)
Dia menunduk,
menatap dadanya yang rata.
(Chocolat-chan
dan Ouka-chan, kenapa dada mereka bisa sebesar itu...)
Melihat aset
mereka yang selevel model secara langsung, kepercayaan dirinya yang memang
sudah tipis langsung hancur berkeping-keping.
(Anak
laki-laki memang lebih suka yang dadanya besar, ya...)
Sekali lagi, dia
menatap dadanya sendiri sambil menghela napas. Dua gundukan kecil yang sudah
menemaninya bertahun-tahun itu sudah berhenti tumbuh sejak setahun lalu.
(Ah, dia bakal hilang dari pandangan!)
Furano
buru-buru berlari mengejar punggung Kanade.
◆◇◆
"Hah...
hah... bocah-bocah itu, benar-benar berbuat sesuka hati."
Seberapa pun aku
berlari, aku tidak bisa menemukan Ouka. Tapi kolam renang ini luas sekali.
Slogan
'Taman Hiburan Air Terbesar di Jepang' ternyata bukan omong kosong.
Aku
memegang lututku sambil terengah-engah. Percuma, aku tidak akan menemukannya kalau cuma lari membabi buta begini.
Apa ada cara bagus—
"Kelihatannya
Kamu sedang kesulitan ya~"
"Benar
banget... eh?"
Aku refleks
menjawab suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang, tapi gaya bicara yang
khas ini jangan-jangan...
"Halo,
Amakusa-san~"
...Firasat
burukku tepat sasaran. Saat aku mendongak dan menoleh, di sana berdirilah sang
Ketua Kokubyakuin. Tentu saja dia memakai baju renang. Tubuhnya yang punya
keseimbangan luar biasa itu memancarkan kilauan yang terasa sakral. Rambutnya
yang panjangnya hampir setinggi tubuhnya itu basah oleh air dan berkilau lebih
indah dari biasanya.
"Fufu,
kebetulan aku sedang main ke sini juga~"
"Kebetulan
katamu... lho?"
Wajah yang
kukenal bukan cuma dia saja.
"Oalah,
ternyata si serangga sampah yang miskin harta ini juga miskin fisik ya."
"Halo,
Amakusa-kun."
Di
belakang Ketua, ada dua orang lagi yang kukenal. Ayame Reikado dan Konagi Yawakaze.
Gadis
peringkat 5 dan 3 di Peringkat Populer. Reikado yang angkuh dengan sifat ratu,
dan Yawakaze yang pendiam dan lembut.
Sifat
mereka benar-benar berlawanan. Yah, mungkin itu sebabnya mereka tidak saling
berebut suara dan keduanya masuk peringkat.
"Kenapa
kalian bertiga bisa barengan?"
"Pertandingan
tempo hari sudah selesai, jadi aku mengajak mereka sebagai perayaan kerja
keras~"
Ketua
tersenyum manis sambil menopang pipi. Kalau diingat-ingat, waktu bertemu di
koridor kemarin dia bilang ada yang harus diberikan kepada mereka berdua,
ternyata tiket tempat ini ya.
"Yah,
secara pribadi kami berdua tidak merasa kalah, sih. Benar kan, Yawakaze-san?"
"Ahaha...
kurasa begitu."
Entah dari mana
datangnya rasa percaya diri Reikado ini. Padahal waktu tanding lawan Yukihira
dia hampir menangis gara-gara ketahuan pakai silikon buat dada palsunya...
Tapi... melihat baju renang Reikado, aku menelan ludah.
Ini maksudnya
bagaimana, kainnya hampir tidak ada begitu... Aku benar-benar memelototinya,
tapi sepertinya Reikado sudah biasa diperlakukan begitu, dia sama sekali tidak
terusik.
Sebaliknya, baju
renang Yawakaze cukup tertutup, mungkin mencerminkan sifatnya... tapi di depan
keimutan ini, persentase kulit yang terlihat sudah tidak penting lagi!
Kehadiran Yawakaze
yang memakai baju renang itu sendiri sudah punya arti yang sangat besar!
"Anu...
Amakusa-kun... kalau dilihat begitu terus... aku jadi malu."
"Hap!"
Gawat, saking
malaikatnya Yawakaze, sifatku jadi agak berubah.
"M-maaf."
Wajah Yawakaze
memerah dan dia menunduk.
"Yawakaze-san, kau harus lebih percaya diri. Para pria
sampah di kolam renang ini tidak punya kerjaan lain selain menjilati tubuh
gadis berpakaian renang dengan mata mereka, jadi kau harus punya mentalitas
untuk memamerkannya pada mereka."
...Bahasa penyampaiannya memang kasar, tapi menurutku
pendapat itu ada benarnya juga, sih.
"Ngomong-ngomong
Amakusa-san, kenapa Kamu sendirian saja~?"
Ketua menyela
dengan nada santai.
"Sebenarnya
begini—"
Aku menjelaskan
kalau Ouka dan yang lainnya berpencar sesuka hati.
"Aduh~ itu
merepotkan sekali ya~"
Padahal
ekspresinya sama sekali tidak kelihatan repot.
"Ketiga
orang itu kalau dibiarkan pasti akan menimbulkan keributan besar ya~"
Yah, mereka sudah
memanjat pohon kelapa, bicara mesum ke anak kecil, dan mencoba membuatku
diserang laki-laki...
"Hmm,
sebagai anggota OSIS, aku tidak bisa membiarkan nama baik Akademi Seikou
tercemar~ Amakusa-san, kau tahu kira-kira mereka ke arah mana~?"
"Ah,
iya."
Berdasarkan papan
pengumuman di dekat pintu masuk, Yuragi ke arah Timur Laut, Chocolat ke Utara,
dan Ouka ke arah Barat Laut. Aku memberitahu hal itu kepada Ketua.
"Begitu ya~
Ada tiga orang yang harus dicari. Kebetulan kami juga bertiga. Yawakaze-san,
Reikado-san, maaf ya, bisa minta bantuannya~?"
Tiba-tiba Ketua
meminta bantuan kepada dua orang peringkat atas itu.
"Ah, iya,
tentu saja!"
"Yah, karena
aku sudah diberi tiket gratis, dan ini permintaan langsung dari Ketua OSIS, aku
tidak bisa menolak."
Mereka berdua
setuju dengan mudah, tapi... bukankah usulan ini terasa janggal? Dia bilang
soal 'nama baik Akademi Seikou', tapi nadanya terdengar sangat bohong dan tidak
tulus sama sekali.
"Kalau
begitu, aku akan pergi ke tempat Ouka-chan."
"Aku rasa
aku akan mengecek keadaan Chocolat-san~"
"Berarti aku
bagian si rambut pink kelas satu itu ya."
Tanpa memedulikan
kekhawatiranku, pembagian tugas langsung diputuskan begitu saja. Yah, sekarang
bukan waktunya memikirkan niat asli Ketua. Apa pun kombinasinya, tujuanku sudah
jelas. Demi Misi, aku harus segera ke tempat Ouka—
"Ah,
omong-omong Amakusa-san, kau harus ikut denganku atau Reikado-san ya~"
Ketua menyela
lagi dengan nada santainya.
"Hah? Tidak,
aku mau ke tempat Ouka—"
"Tidak
boleh~"
"T-tidak
boleh apanya..."
"Kalau
langsung ke sana, nanti tidak seru."
Ketua
menekankan bagian akhir kalimatnya, menaruh jari telunjuk di bibir, lalu
tersenyum manis.
"Bersenang-senang
itu harus disimpan untuk bagian terakhir~"
...Ada
apa sih? Waktu tanding kemarin dia akhirnya membantu (setidaknya sedikit), tapi
hari ini dia malah bertindak seolah menghalangi Misi... Apa sebenarnya mau
orang ini?
"Oke,
Yawakaze-san silakan berangkat~"
"Ah, iya,
aku akan berusaha mencari Ouka-chan!"
Atas desakan
Ketua, Yawakaze langsung berlari kecil meninggalkan kami. Kalau bisa aku ingin
ikut mengejarnya, tapi...
"Hati-hati
di jalan~"
Ketua melambaikan
tangan ke arah Yawakaze, tapi punggungnya memancarkan tekanan yang luar biasa
besar, membuatku tidak bisa melangkah setindak pun. Ketua berbalik ke arahku
sambil tetap tersenyum.
"Amakusa-san.
Kau tahu peribahasa 'Biar lambat asal selamat'? Memang target utamanya adalah
Ouka-san, tapi kurasa berteman baik dengan gadis-gadis lain juga tidak akan
merugikanmu~"
Apa maksudnya?
Apa yang sebenarnya sedang dibicarakan Ketua ini?
"Jadi,
Amakusa-san, silakan pilih. Mau pergi mencari Yuragi bersama Reikado-san, atau
mencari Cho—"
"Bersama
Yuragi saja."
Aku menjawab
instan sebelum dia selesai bicara. Aku tidak mau kalau harus berduaan saja
dengan Ketua.
"Aduh, aku
ditolak. Sedihnya~"
Ketua berakting
sedih dengan nada yang sama sekali tidak tulus.
"Berarti
Reikado, aku ikut mencari Yuragi bersamamu."
Reikado membalas
dengan ekspresi bosan.
"Huh,
terserah kau saja, tapi jangan menghalangiku ya."
Masih
tetap sombong seperti biasanya. Jujur saja, aku juga agak sulit menghadapi
Reikado, tapi dibandingkan Ketua, dia masih jauh lebih mendingan.
"Ah benar
juga, Amakusa-san, ada satu hal yang ingin kukatakan~"
Tepat saat aku
mau pergi bersama Reikado, Ketua memanggilku, jadi aku menoleh.
"Kalau
kau berbuat curang, nanti bakal ada hal buruk yang menimpamu, lho."
"!?!"
Sesaat, mata
Ketua melebar dan memancarkan cahaya seperti burung pemangsa yang sedang
mengincar buruannya, persis seperti yang pernah kulihat sebelumnya.
"Kalau si
Hakoniwa-san itu bikin masalah, tolong tenangkan dia dengan baik ya~"
"...Baik."
Sambil
menyeka keringat dingin yang mengucur, aku pun pergi dari sana.
2
Benda itu
bergoyang. Di sampingku, gundukan daging bernama payudara itu bergoyang dengan
sangat kenyal, tayun-tayun.
"Berhenti
melirik-lirik dengan tatapan mesummu itu, dasar eksibisionis menjijikkan."
Ugh...
ketahuan.
"Maaf,
refleks..."
Tapi
serius, cara benda itu bergoyang terlihat sangat alami, sama sekali tidak
tampak seperti ada benda asing yang ditanam di dalamnya.
"Rasanya
sulit dipercaya kalau itu isinya silikon."
"!?!"
Wajah
Reikado langsung menegang, dan langkah kakinya melambat drastis.
Gawat.
Aku tidak bermaksud buruk, tapi kata-kata itu malah keceplosan keluar dari
mulutku.
"Ah,
tidak, lupakan yang barusan."
Kira-kira
aku bakal dihujat habis-habisan, tapi anehnya, Reikado justru menunjukkan
ekspresi ketakutan, waspada, dan penuh kecemasan.
"A... Apa
maumu?"
"Hah? Mauku?
Kau bicara apa, sih?"
"Ja-jangan
pura-pura bodoh! Setelah kau menunjukkan kalau kau tahu rahasiaku, kau pasti
berniat menyuruhku melakukan hal-hal cabul, kan?!"
"Enggak,
enggak... kau ini ngomong apa, sih."
Kenapa sih pola
pikirnya bisa langsung loncat ke sana?
"Ha-habisnya,
semua manga yang kubaca ceritanya selalu begitu!"
"Tunggu sebentar... Sebenarnya kau ini baca buku apa
saja?"
"M-mau bagaimana lagi! Sebenarnya aku tidak tertarik
pada manga, tapi kakak laki-lakiku menumpuknya di kamarku karena kamarnya sudah
tidak muat. Dia bilang
dengan senyum lebar, 'Ini adalah buku teks pendidikan seks'."
"Sebagai
kakak, aku rasa dia agak bermasalah..."
"Kata
kakakku, dia merasa sangat bersemangat saat melihatku malu setelah membaca
buku-buku mesum itu."
"DIA ITU
PSIKOPAT MESUM, TAHU!"
Mulai dari orang
tua Ouka sampai kakaknya Reikado, kenapa orang-orang aneh di sekitarku ini
keluarganya juga pada 'ajaib' semua, sih... Ya sudahlah, mari kembali ke topik
utama (?).
"Lagipula,
kenapa kau repot-repot pakai silikon segala?"
Seberapa pun kau
melakukan prosedur buatan, biasanya tidak akan sampai se-ber-volume ini. Untuk
mencapai level ini, setidaknya dibutuhkan 'pondasi' yang cukup kuat.
Misalnya,
seberapa banyak pun silikon yang disuntikkan ke Yukihira, hasilnya tidak akan
jadi begini... Duh, kalau dia dengar isi hatiku ini, aku pasti mati.
Singkatnya, aku
menduga dada Reikado aslinya pun sudah jauh di atas standar. Apa perlunya
ditambah volume lagi? Jujur saja, dada Reikado yang sekarang terasa terlalu
besar sampai-sampai terasa tidak alami secara biologis.
"I-itu
karena... teman masa kecil yang tinggal di sebelah rumahku bilang kalau dada
itu makin besar makin bagus... Awalnya aku juga menganggapnya bodoh, tapi
karena dia selalu mengatakannya dengan mata berbinar-binar setiap kali kami
bertemu, akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk operasi—EHH, KENAPA AKU
JADI CERITA BEGINI, SIH!"
"KAU SENDIRI
YANG CERITA TANPA DISURUH, KAN!"
Habis manja-manja
sendiri langsung marah-marah... Sepertinya ini bisa jadi bakat baru untuk
dijual.
◆◇◆
Kami terus berjalan sampai tiba di sebuah tempat bernama
'Area Water Survival Game'. Aku sontak menghentikan langkah.
"A-apa-apaan ini..."
Di sana, di tengah kolam renang, berdiri tumpukan bebatuan
raksasa. Di sekelilingnya tumbuh pepohonan hijau yang rimbun, menciptakan
suasana yang bisa disebut sebagai hutan rimba skala kecil.
Tentu saja,
termasuk batu-batunya, semuanya pasti replika dari bahan empuk, tapi dari
kejauhan terlihat sangat nyata.
Kedalaman airnya
pun paling-paling hanya sampai mata kaki, pemandangan yang aneh untuk sebuah
kolam renang. Tapi kalau dilihat sebagai arena survival game (sabage),
ya masuk akal saja.
Tapi, suara
heranku tadi bukan tertuju pada pemandangannya.
Di berbagai sudut
area kolam, banyak laki-laki yang pingsan dengan mata mendelik putih. Ditambah
lagi di area bebatuan, tidak sedikit orang yang tergeletak seolah kehabisan
tenaga.
"Sebenarnya...
apa yang terjadi di sini?"
Saat aku bergumam
begitu, dari puncak bebatuan tertinggi, terdengar suara yang sangat kukenal
melalui pengeras suara.
《Horeee!
Musuhnya hampir musnah semua lho, Kakak-kakak sekalian!》
"""UWOOOOOOOOOOOO!"""
Di sekeliling
Yuragi yang memegang pengeras suara, para pria dengan semangat yang abnormal
bersorak sambil mengangkat benda yang terlihat seperti senapan besar.
《Ah, Kak
Kanade—!》
Yuragi yang
menyadari keberadaanku melambaikan tangannya dengan heboh dari atas.
...Gawat, aku
sama sekali tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi. Untuk memastikan
situasi, aku menyapa seorang petugas perempuan di dekat situ.
"Anu,
permisi... aku kenalan dari gadis berambut pink di atas sana. Ini sebenarnya
sedang ada apa, ya?"
"Ah,
itu..."
Si mbak
petugas menjelaskan sambil tersenyum kecut.
Area 'Water Survival Game' ini, meski namanya survival
game, sebenarnya cuma tempat bermain air bebas menggunakan pistol air yang
disewakan.
Namun,
jika ada banyak orang, terkadang diadakan pertandingan kelompok. Dan hari ini,
klub penelitian sabage dari universitas terdekat sedang menyewa tempat ini.
Tragedi
dimulai saat Yuragi, yang sedang berkeliaran mencari 'Kakak', lewat di sini.
Awalnya
anggota klub tersebut terbagi menjadi 'Tim Timur' dan 'Tim Barat' yang bermain
dengan sehat.
Namun,
setelah Yuragi menyerbu masuk, kedua tim tersebut langsung bubar total.
Mereka
terorganisasi ulang menjadi 'Faksi Adik' dan 'Aliansi Kakak-kakak &
Lain-lain', hingga pecahlah tawuran skala besar.
Dan
kabarnya, faksi pertama yang sudah dicuci otaknya dan berubah menjadi berserker
menunjukkan kekuatan yang luar biasa, sementara faksi terakhir hancur lebur dan
harus merasakan pahitnya kekalahan.
...Benar
juga, Yuragi sejak dulu memang sangat lihai dalam memanipulasi hati orang dan
menghasut massa. Saat SMP dulu, hampir semua anak laki-laki di kelasnya
menganggap Yuragi sebagai adik mereka sendiri dan memujanya, sampai-sampai
kelasnya hampir hancur total.
Dikelilingi
banyak 'Kakak' dan bertahta di puncaknya sebagai 'Adik', sepertinya dia
merasakan kenikmatan yang sulit dimengerti orang normal... Kenapa sih aku harus punya teman masa
kecil kayak begini.
Kalau bisa, aku
ingin membiarkannya dan segera angkat kaki dari sini... tapi tatapan Ketua OSIS
tadi terlintas di benakku. Gawat, kalau aku tidak menyeret Yuragi turun dari
sana, aku tidak bisa pergi.
Apa boleh buat,
kalau harus bertindak, aku butuh informasi dulu. Aku kembali bertanya pada mbak
petugas.
"Aku agak
penasaran... kenapa orang-orang itu memakai pistol air yang kekuatannya gila
begitu?"
Dilihat dari para
'korban' yang pingsan dengan seragam, kekuatan pistol itu sepertinya terlalu
berbahaya untuk barang sewaan umum.
"...Itu dia,
harusnya tekanan airnya sudah dikunci. Mahasiswa-mahasiswa itu awalnya juga
bermain biasa, tapi setelah gadis itu datang, beberapa orang jadi menggila...
Salah satu dari mereka membuka kuncinya dan mengubah tekanan airnya, lalu dalam
sekejap yang lain ikut-ikutan..."
...Cuci
otak Yuragi benar-benar mengerikan.
"Harusnya
kalau sudah separah ini, dihentikan secara paksa saja."
"Masalahnya,
orang-orang 'Faksi Adik' itu tidak mau mendengarkan apa pun. Aku sudah lapor ke
atasan, tapi dia malah bilang, 'Wah, pengunjungnya jadi ramai dan kelihatan
seru, jadi OKE saja!'"
Boleh
gitu ya?! Yah, memang sih penonton yang berkerumun jadi banyak banget.
《YURAGI—!》
Aku
meminjam pengeras suara dari mbak petugas dan berteriak ke atas.
《Ada
apa, Kakak?》
《Hentikan
omong kosong ini dan cepat turun!》
《Mufufu,
seberapa pun Kakak memohon, aku tidak bisa melakukannya. Sekarang adalah waktu
yang paling membahagiakan karena banyak Kakak yang bergerak sebagai kaki
tanganku!》
《Kalau
kau tidak mau dengar, aku akan menyeretmu turun secara paksa!》
《Kakak
menyerbu masuk demi merebutku kembali... sementara para Kakak yang lain
berusaha menghalanginya... Haah... Haah...》
...Gawat, dia sudah mencapai stadium akhir. Harus pakai kekerasan.
"Tapi, mau
bagaimana caranya ya..."
"Aku
benar-benar tidak suka melihat ini."
Tiba-tiba
terdengar suara di sampingku. Reikado yang sudah berjalan ke sebelahku sedang
bersedekap sambil menatap ke arah Yuragi dengan tidak puas.
"Ada apa, Reikado?"
"Gadis kecil berambut pink itu. Beraninya dia berlagak
seperti ratu dan memimpin makhluk-makhluk rendahan itu tanpa tahu diri.
Beraninya dia melampauiku, dia pikir dia itu siapa?"
...Harusnya aku tidak boleh berkomentar "Memangnya kau
sendiri siapa", ya.
"Sudah kuputuskan. Aku akan menghancurkan gadis itu
sampai berkeping-keping, dan memberitahunya siapa sebenarnya orang yang pantas
berdiri di atas orang lain."
Reikado
semangat sendiri dengan jiwa kompetitifnya. Yah, apa pun motivasinya, kalau dia mau
membereskan Yuragi, itu sangat membantu bagiku.
"Tapi kau
tidak mungkin bisa membalikkan keadaan ini sendirian, kan?"
Reikado mendengus
meremehkan.
"Hmph,
bergerak sendiri di garis depan untuk melakukan sesuatu itu adalah puncak
kebodohan. Sini, pinjamkan itu."
Reikado merebut
pengeras suara dari tanganku dan berteriak lantang.
《DENGARKAN,
WAHAI PARA PRIA SAMPAH YANG TERGELETAK LEMAH!》
Suaranya yang
lantang bergema ke seluruh area.
《Namaku Ayame
Reikado, wanita yang lahir untuk menguasai segalanya di dunia ini!》
Mungkin karena
volumenya dimaksimalkan, atau karena wibawa suaranya. Orang-orang dari Aliansi
yang tadinya pingsan mulai sadar satu per satu.
《Kalian tidak
tergoda oleh si 'Adik-adikan' berambut pink yang sepertinya bakal menuruti apa
pun itu, berarti kalian adalah orang-orang berjiwa M (masokis) yang suka
diperbudak, kan? Kalau begitu, aku perintahkan kalian! Pertaruhkan nyawa kalian
sekali lagi demi aku, wahai para sampah!》
Jujur saja,
kata-katanya berantakan sekali, tapi seiring pidato Reikado berlanjut, anggota
Aliansi yang baru bangun tadi mulai terlihat bersemangat kembali... Apa mereka
benar-benar masokis semua?
Beberapa menit
kemudian.
"""Ayame-sama!
Tolong beri perintah pada kami, babi-babi hina ini!"""
Reikado telah
menguasai Aliansi sepenuhnya.
《Setelah gadis
pink itu tumbang, aku akan menghujat kalian sepuas tenaga!》
"""UWOOOOOOOOOOO!"""
...Kenapa sih
mereka bisa sesemangat itu? Serius, deh.
"Kau
sedang apa?"
"Hah?"
Reikado
menegurku dengan nada dingin saat aku melihat tingkah Aliansi dengan rasa
ngeri.
"Kau juga
cepat sana pergi."
Entah kapan dia
menyiapkannya, sebuah pistol air disodorkan padaku.
"Aku?
Bukannya lebih baik membiarkan mereka yang sedang bersemangat itu saja yang
bertarung..."
"Hah? Kalau
begitu buat apa kau ikut denganku? Rakyat jelata sepertimu cuma bisa
mengandalkan fisik, jadi bekerjalah sebagai pionku."
Cara bicaranya
membuatku malah jadi bengong saking keterlaluannya.
"Hei, dengar ya—"
PILIH:
① Patuh dan langsung menuju medan perang
② Tidak sudi mendengarkan wanita angkuh ini. Tembakkan peluru air ke
dadanya agar dia tahu kerasnya dunia
Ingin rasanya aku
pilih ②, tapi ada satu kekhawatiran... Kalau kulakukan itu, baju renang Reikado
pasti bakal terlepas. Soalnya itu bukan baju renang, lebih mirip potongan kain
doang.
"Sedang
apa? Cepat pergi, kubilang!"
Ugh...
nasib dadamu itu sebenarnya ada di tanganku, tahu. Tentu saja ancaman tanpa kata itu tidak sampai
padanya. Reikado
menatapku dengan tidak senang karena aku tidak segera bergerak. Kalau begitu...
akan kuberi kau pelajaran.
Detik
berikutnya, baju renang Reikado terlepas akibat tembakan airku, dan dia
menangis sambil menutupi dadanya dengan
tangan.................................................................. itu
cuma bayanganku.
"Fuu...
hari ini kumaafkan saja deh."
Ah, aku
yang tidak memilih ② ini benar-benar seorang gentleman.
Mana mungkin aku membiarkan dadanya terekspos di depan banyak orang begini.
Aku tidak
tahu apa dampaknya pada orang lain, dan kalau aku sendiri sampai melihat
payudara asli, aku tidak tahu apa yang bakal kulakukan.
"Wajahmu
kelihatan menjijikkan lho."
Sambil menerima
hujatan Reikado, aku kembali melangkah masuk ke kolam.
"!"
Seketika, aku
merasakan hawa membunuh dan refleks melompat ke samping. Sambil berguling, aku
memastikan posisi musuh. Ada... di sela-sela batu replika, seorang pria
berkulit sangat gelap menatapku dengan penuh kebencian.
"T-tunggu
sebentar, aku cuma mau menghentikan Yuragi, aku tidak berniat
berkelahi—UWOOOH!"
Di tengah
kalimatku, tembakan kedua menyerempet wajahku. Rasa perih di pipi memberitahuku
betapa tingginya tekanan air itu.
Ga-gawat.
Ini... kalau tidak menyerang, aku yang bakal habis. Si pria berkulit gelap itu
berdecak setelah gagal dua kali, lalu menempelkan lubang pengisian air ke
permukaan kolam untuk mengisi ulang.
Kesempatan!
"YANG TADI
ITU SAKIT... SAKIT TAHU—!"
Memanfaatkan
celah itu, aku menyerbu ala Frieza-sama... Ternyata aku cukup menikmati peran
ini juga ya.
Meski anggota
klub sabage, sepertinya mereka tidak terlalu terbiasa memakai pistol air, cara
pengisian airnya sama sekali tidak mulus.
Saat si pria itu
selesai mengisi air, aku sudah berada dalam jarak tembak pasti.
"Guekh!"
Tembakan airku
mengenai lehernya, membuatnya pingsan seketika... Tekanan air ini benar-benar
gila.
"Fuu..."
Saat aku menyeka
keringat dingin dan menghela napas lega, pertempuran sengit sedang berlangsung
di seluruh area.
《Hyahhooo! Ayo
serbu, Kakak-kakak!》 《Ayo lagi! Tingkatkan semangat kalian,
babi-babi!》
"""UWOOOOOOOOOOO!"""
"""HAJAAAAAAAR!"""
Kedua tim semakin
menggila karena disemangati oleh objek pujaan masing-masing. Dilihat dari
situasinya, kekuatan mereka seimbang. Nah, aku akan memanfaatkan kekacauan ini
untuk menangkap Yuragi—
"Jangan
bergerak."
Sebuah
suara dingin terdengar, dan sesuatu yang dingin menempel di punggungku.
Gawat... aku sama sekali tidak menyadari ada yang mendekat.
"Lepaskan
senjatanya, dan berbalik."
...Dalam
situasi ini, aku hanya bisa menurut.
"Oke,
oke... fufga!"
Baru saja
aku berbalik, moncong pistol langsung dijejalkan ke lubang hidungku.
"...Kau
ini siapa?"
Pria
berkepala botak itu menatapku curiga. Tentu saja, kalau ada orang asing
menyusup ke permainan yang harusnya cuma buat anggota klub, reaksinya pasti
begitu.
Masih
mending dia tidak langsung menembak seperti si pria kulit gelap tadi.
"T-tunggu
dulu, aku netral. Aku ingin menghentikan perang tidak berguna kalian ini."
Karena
aku tidak tahu si botak ini faksi mana, aku asal bicara saja untuk mengulur
waktu.
"Netral..."
Entah
kenapa si botak itu bereaksi pada kata tersebut, dan ekspresinya sedikit
melunak.
"...Bisa
dengarkan ceritaku sebentar?"
Aku
mengangguk cepat. Dengan
pistol di hidung, aku tidak punya pilihan lain.
"Sebenarnya,
aku sangat suka tipe adik perempuan."
Pengakuan
yang sangat tidak penting. Tapi
ya, jadi ketahuan kalau dia adalah faksi Yuragi.
"Tapi...
tapi... selain itu... emm... aku juga masokis (M)."
Pengakuan
yang benar-benar tidak penting level dewa. Lagipula, apa-apaan orang ini, kenapa dia curhat
soal selera seksnya pada orang yang baru pertama kali dia temui? Dia bodoh ya?
Mau mati ya?
"Cintaku
pada Yuragi-chan itu asli... tapi, tapi, keinginanku untuk dihujat oleh
Ayame-sama juga tidak bisa kutahan!"
...Ya terserah
kaulah.
"Beritahu
aku, aku... aku harus mencintai yang mana?"
"Mana aku tahu—"
PILIH:
① "Adik perempuan adalah yang
tertinggi, dunia ini ada demi adik perempuan!"
② "Zaman 'ikutlah denganku'
sudah lewat. Sekarang
zamannya pria masokis menguasai dunia!"
③ Tunjukkan kemungkinan baru dan minta dia mengerti
...Kalau aku menjawab setengah-setengah pada orang yang
sedang galau ini, bisa-bisa malah jadi bumerang. Pilihan terbaik adalah ③,
yaitu mengalihkan minatnya ke hal lain.
"Bagaimana
kalau sesekali kau mengintip dunia yang berbeda?"
"Dunia yang
berbeda?"
"Benar.
Konsep baru yang membebaskanmu dari pilihan konyol antara Yuragi atau
Reikado... Garter Belt."
"..."
"Konsep baru... Garter Belt!"
"Bukannya
aku tidak dengar, tapi.............................. Kau ini mesum, ya."
AKU
DIKATAIN MESUM OLEH SEORANG MASOKIS PENYUKA ADIK PEREMPUAN!
Ke-kenapa tidak
ada yang paham? Kalau memakai Garter Belt, konsep rendah seperti Kakak, Adik,
M, S, STW, Loli, Dada Besar, atau Dada Rata itu sudah tidak relevan lagi.
Semuanya
akan bersatu dalam kategori agung 'Garter Belt' dan peperangan akan berakhir...
"Lagipula, aku sedang galau serius begini, apa-apaan
malah bahas Garter Belt... Kau bercanda, ya?"
Eh? Orang ini ngomong apa, sih. Soal pilih adik atau jadi
masokis, bagian mananya yang serius—
"Sudahlah, lenyap sana."
Eh, m-cepat banget dia menyerah. Anak zaman sekarang ya!
Siapa pun yang beda pendapat langsung dianggap musuh, dasar
anak manja!
Pemikiran sempit yang menganggap dunia cuma hitam dan putih,
dasar anak manja!
Padahal dia
sepertinya lebih tua dariku... Eh, bukan waktunya mikir itu.
Si botak
ini beneran mau nembak, aku harus pura-pura suka tipe adik seka—
"GYAAAAA!"
Detik
berikutnya, aliran air yang berubah jadi senjata tajam merangsek masuk ke
lubang hidungku dan mengacak-acak isi kepalaku.
"Fugoooooo!"
"Meski
tekanan airnya sudah kuturunkan, kau cukup tangguh juga... tapi berikutnya
pasti tamat."
Si botak kembali
mengarahkan moncong pistol ke arahku yang sedang mengerang kesakitan sambil
menyemburkan air dari hidung.
"Babi ini
berani sekali bicara sok hebat ya."
"Eh?"
Si botak refleks
menoleh, dan di belakangnya, Reikado sudah menempelkan moncong pistol ke
wajahnya.
"A-Ayame-sama..."
"Lenyaplah, babi plin-plan."
Reikado menurunkan bidikannya ke arah dada dan menarik
pelatuk tanpa ragu.
"Gofuwaaaaa!"
Si botak terpental ke belakang dan pingsan akibat syok, tapi
entah kenapa dia tumbang dengan wajah yang kelihatan bahagia... Dasar masokis
sejati.
"Reikado... makasih sudah bantu, tapi kenapa kau
bergerak sendiri?"
Aku bertanya sambil menyeka wajahku yang basah kuyup.
Padahal tadi dia bilang bergerak sendiri itu puncak kebodohan, kok tiba-tiba
berubah pikiran?
"Lihat sekelilingmu."
"Eh?"
Medan perang yang tadinya penuh teriakan kini mendadak sunyi
secara aneh.
Jika dilihat baik-baik, jumlah orang yang pingsan sudah dua
kali lipat lebih banyak daripada saat aku baru datang... Kedua faksi sepertinya
sudah hancur total.
"Fufun, untuk ukuran babi-babi yang sudah kalah sekali,
mereka bekerja cukup baik juga."
Reikado menatap para pria yang tergeletak itu dengan wajah
yang tampak puas.
"Dan, bagian membunuh jenderal musuh adalah
tugasku."
...Singkatnya, kau cuma mau mengambil bagian enaknya saja,
kan.
"Fuffuffu. Tantangan itu... kuterima!"
Tiba-tiba suara Yuragi bergema dari belakang.
"Muncul juga kau, bocah pink."
"Aku tidak menyangka Kak Ayame bisa sampai sejauh
ini."
Yuragi
menodongkan pistolnya ke arah kami.
"Hmph...
sadar dirilah sedikit."
"Kak Ayame,
aku tidak akan kalah semudah itu lho!"
Keduanya saling
berhadapan sambil menodongkan pistol. Heh, padahal amukan para pria tadi sudah
reda, menurutku tidak ada gunanya kalian berdua duel begini.
"Kalian
berdua, letakkan senjatanya dan bicara baik-b—"
Tepat saat aku
melangkah masuk ke antara mereka berdua,
"Rasakan
ini!"
"PERISAI
KAKAK!"
"Guekh!"
Reikado menembak
tanpa ampun, sementara Yuragi menjadikanku tameng untuk melindungi dirinya.
"Mempertaruhkan
nyawa demi melindungi adiknya, benar-benar Kakakku yang hebat!"
"MULUTMU
ITU YANG BICARA BEGITU?!"
Sambil
memegangi pinggang yang terkena tembakan air telak, aku berjalan
terhuyung-huyung ke arah Reikado.
"R-Reikado,
kau ini, menembak teman sendir—GUAHOOO!"
Kali ini
tembakan air Yuragi mengenai punggungku dengan telak.
"Ah, maaf
Kak, bidikanku meleset."
"Heh,
percikan airnya kena aku, tahu. Namanya juga tameng, pasang badan yang benar dong."
"K-kalian
ini..."
"Lagipula
Kak, kena dua tembakan itu dan masih bisa berdiri tegak itu hebat banget
lho!"
Enggak,
aku enggak sedang berdiri tegak! Ini sakit banget, tahu! Dua tembakan tadi
hampir membuat kesadaranku melayang!
"Yah,
namanya juga orang mesum yang bersemangat menunjukkan perilaku tidak wajar dan
suka dihina orang, mungkin disakiti secara fisik juga rasanya nikmat buat
dia."
"Benar
banget, aku ini masokis jiwa dan raga, jadi ini rasanya sakit-sakit nikm—TIDAK
SAMA SEKALI!"
"Nah Kak
Ayame, mari kita mulai lagi."
"Hmph,
dengan senang hati."
...Anu,
mengabaikan orang yang sedang melakukan tsukkomi (lawakan balasan) itu
termasuk shame play yang cukup berat buatku, lho...
Sudahlah... aku
tidak mau ikut campur lagi, biarkan saja mereka. Siapa pun yang menang, yang
penting kekacauan ini berakhir.
Saat aku menjauh
dengan gontai dan menoleh ke belakang, suara Reikado dan Yuragi terdengar
bersamaan.
"Ini
akhirnya!"
"Kemenangan
untukku!"
Dari pistol kedua
gadis yang saling berhadapan itu, peluru air melesat hampir bersamaan.
"Kyaaa!"
Tembakan air
Reikado melewati samping wajah Yuragi setipis benang, tapi tembakan Yuragi
menyerempet perut Reikado. Akibat syoknya, Reikado kehilangan keseimbangan dan
jatuh telentang.
"Ugh..."
Tanpa memberi
kesempatan Reikado untuk bangkit, Yuragi dengan sigap berlari mendekat,
menindih tubuhnya, dan menyelipkan moncong pistol ke celah dadanya dari arah
bawah.
"Ugh..."
"Kufufu. Kak
Ayame, kalau tidak menyerah, aliran air yang melewati belahan dadamu ini akan
langsung menghantam wajahmu, lho."
Hei, apa-apaan ini... Pemandangannya benar-benar luar biasa
(dan bahaya).
"Tu-tunggu
dulu, jangan digerakkan!"
"Muhuhu...."
"He-hentikan!
Kalau kamu melakukan ini padaku, kamu pikir bisa lolos begitu sa—"
"Hoo-re,
hoo-re."
"Sudah
kubilang hen-hentikan... ahnn!"
Diiringi
kalimat mesum ala bapak-bapak, Yuragi menggerak-gerakkan moncong pistol airnya
maju-mundur seperti piston, membuat Reikado mengerang kegelian. Ini... tak ada pilihan lain selain
menyuruh mereka lanjutkan saja.
Pemandangan itu
sebenarnya sangat memanjakan mata, tapi setelah mengulang gerakan ritmis itu
beberapa kali, ekspresi Yuragi berubah menjadi penuh tanda tanya.
"Lho, kok
cuma di bagian ini rasanya agak beda ya...?"
"!"
"Kayaknya
ada bagian yang terasa agak... keras...?"
"⁉"
Wajah Reikado
langsung pucat pasi karena syok.
Aduh, gawat.
Kalau begini terus, Yuragi bakal ketahuan kalau payudara Reikado itu hasil
operasi silikon!
"NUOOOOOOOOOOO!"
"Uwawa!"
Tiba-tiba,
Reikado mengeluarkan teriakan berat yang sama sekali tidak terdengar seperti
suara gadis remaja, lalu mendorong Yuragi sekuat tenaga.
"Uek!"
Tanpa membuang
waktu, Reikado langsung menunggangi Yuragi yang terjatuh... Gila, kekuatan
orang kepepet memang luar biasa.
"Hmph...
sekarang keadaannya berbalik, ya."
Namun, Yuragi
yang seharusnya terpojok justru memasang senyum licik.
"Fufu, kamu
masih kurang teliti, Kak Ayame."
"Dalam
posisi begini masih saja mau sok jago—fugah!"
Detik
berikutnya, mata Reikado mendelik putih dan dia langsung kehilangan kesadaran.
Mari aku
jelaskan. Tembakan air yang dilepaskan Yuragi tepat dari bawah menghantam telak
bagian bawah payudara Reikado.
Akibat
dorongan itu, payudara yang terpental ke atas pun berubah menjadi senjata
tumpul yang mematikan. Reikado yang menerima hantaman telak di wajahnya pun
langsung pingsan karena geger otak!
"Muhuhu,
dengan begini aku yang menang—eh?"
Tapi,
pertarungan belum berakhir. Reikado yang pingsan justru ambruk menimpa Yuragi
yang sedang merasa menang.
"Eh,
sebentar, mogah..."
Tepat
sekali, dada jumbo Reikado mendarat telak di wajah Yuragi.
"Sebentar...
napas... ngga bisa nafas—"
Seluruh wajahnya
tertutup rapat oleh payudara (ajaibnya, bikini itu tidak terlepas), dan meski
dia meronta-ronta, tubuh orang pingsan itu ternyata jauh lebih berat dari
dugaan.
Dengan kekuatan
Yuragi, dia tidak mampu menyingkirkan tubuh Reikado yang menindihnya.
"Nnn—! Nnn—!
Nnn... nnn."
Dan setelah
beberapa puluh detik—tubuh Yuragi berhenti bergerak sedikit pun.
'Fraksi Adik' VS 'Fraksi Kakak & Aliansi Lainnya'
Hasil: Seri karena kedua Jenderal Knock Down bersamaan...
Apa-apaan ini.
Sambil melongo melihat akhir yang sangat konyol itu, aku
menyeret Reikado yang pingsan dan Yuragi yang juga tak sadarkan diri di lembah
dadanya ke tepi kolam satu per satu.
"Fuu..."
Yah, dengan begini Yuragi tidak akan membuat keributan lagi,
jadi Ketua juga tidak akan protes. Aku menyerahkan dua orang yang pingsan itu
kepada mbak-mbak petugas dan meminta mereka dibawa ke ruang medis.
Nah, sekarang saatnya mencari Yuuouji tanpa ada gangguan—
"Amakusa-sa~n."
"UOOOOO!"
Tiba-tiba saja, sebuah suara muncul dari belakang.
"Ke-Ketua..."
Saat aku menoleh, Ketua Kokuboin sudah berdiri di sana
dengan senyum lebar... Tolong deh, cara muncul seperti itu tidak baik buat
jantung.
"Sedang apa
Ketua di sini? Bukannya tadi pergi mencari Chocolat...?"
"Ah,
sebenarnya aku sudah menemukan Chocolat-san, kok~. Karena sepertinya dia tidak
membuat masalah, aku memutuskan untuk kemari dan melihat keadaan di
sini~."
Mendengar
kata-kata Ketua, aku sedikit lega. Tadinya aku khawatir karena Yuragi berulah
begini, tapi sepertinya Chocolat bersikap manis.
"Begitu ya.
Kalau begitu, aku akan pergi mencari Yuuouji—"
"Kalau
begitu, mari kita kembali ke tempat Chocolat-san bersamaku saja ya~."
...Kok jadi
begini?
"Nggak mau,
aku nggak mau bareng Ketua—"
"Ayo, let's go~."
"Tunggu... bentar... Kuat banget!"
Tanpa bisa
melawan, aku pun diseret pergi layaknya tahanan.
3
Dalam perjalanan
menuju "Area Kolam Bocah" tempat Chocolat berada.
"……Jadi,
hari ini sebenarnya apa yang sedang Kamu rencanakan?"
Karena sudah
diizinkan berjalan kaki sendiri dengan syarat harus ikut tanpa melawan, aku
menatap Ketua dengan tatapan jengah.
"Aduh,
merencanakan sesuatu? Amakusa-san, rasanya jahat sekali ya bicara begitu kepada
seorang gadis muda~"
Ucapnya dengan
santai sambil menempelkan tangan ke pipi. Kalau aku menanggapi setiap
perkataannya, tidak akan ada habisnya, jadi aku memilih untuk mengabaikannya
dan melanjutkan pembicaraan.
"Membawa
Urakaze dan Reikado ke sini juga pasti bukan kebetulan, kan?"
"Bukan,
bukan, ini namanya persahabatan antar gadis muda~"
……Percuma saja.
Mau bilang apa pun, rasanya seperti memukul angin.
"Amakusa-san,
kenapa wajahmu ditekuk begitu? Memangnya ada yang kurang memuaskan? Pergi ke kolam renang bersama
delapan orang gadis, ini kan sudah seperti situasi harem yang
sempurna~"
"Eh?
Delapan orang?"
Chocolat,
Yuuouji, Yuragi, Ketua, Urakaze, dan Reikado. Kalaupun aku memasukkan Utage-sensei secara paksa
(maaf, ya), totalnya baru tujuh orang.
"Fufu, ada
seekor kucing putih yang sedang tidak jujur pada dirinya sendiri sedang
menyelinap di sekitar sini~"
(—!?)
Tubuh
Furano tiba-tiba gemetar karena firasat buruk yang mendadak.
(A-apa
ya? Barusan pundakku rasanya merinding sekali...)
Meski
rasa dingin yang tak dikenal itu terasa menyeramkan, pikirannya segera
teralihkan oleh pertanyaan lain.
(Amakusa-kun dan
Ketua, mereka mau pergi ke mana bersama-sama?)
Saat ini, dia
sedang dalam misi membuntuti Kanade dan Seira.
(Uuuh, padahal
Amakusa-kun itu anggota 'Reject 5', tapi kenapa ya rasanya dia selalu saja
bersama anak perempuan...)
Barusan pun, dia
terlihat sedang bersenang-senang—setidaknya di mata Furano—bersama Hakoniwa
Yuragi dan Reikado Ayame.
(Ta-tapi,
Amakusa-kun mau bersama siapa pun, itu bukan urusanku, kan...?)
"Haaa..."
Sambil menghela
napas tanpa sadar, dia kembali menatap punggung Seira.
Ketua OSIS itu
benar-benar sulit ditebak, tipe orang yang tidak bisa dimengerti apa isi
pikirannya. Saat dia tiba-tiba memeluk Kanade pada pertandingan tempo hari,
Furano merasa jantungnya hampir copot.
Sebenarnya apa
hubungan mereka berdua?
(Ah, sudahlah!
Padahal barusan bilang bukan urusanku, tapi kenapa malah memikirkan hal itu...)
Saat Furano
sedang bergelut dengan perasaannya yang campur aduk, tiba-tiba sesuatu muncul
dalam pandangannya.
"Ah,
'Agua-kun'!"
Itu adalah boneka
kostum maskot Aqua Galaxy yang menyerupai bebek. Cara berjalannya yang terhuyung-huyung sambil
menebar pesona terlihat sangat menggemaskan.
"Hauuu,
lucu bangeeet~"
Benar-benar
terpesona, Furano berjalan mendekati Agua-kun seolah terhipnotis.
Dia melirik
sekilas ke arah Kanade. Sepertinya cowok itu sedang bingung dengan ucapan
Seira, jadi mereka tidak berjalan terlalu cepat.
(Ka-kalau cuma
sebentar saja tidak apa-apa, kan?)
Furano pun
menempel ketat pada Agua-kun dan mulai menggesekkan pipinya dengan gemas.
"Ah, halus
sekali."
Dalam benak
Furano, sensasi 'Shirobuta-kun' tempo hari muncul kembali. Kalau kostum yang
itu terasa empuk berbulu, yang ini punya tekstur kulit yang berbeda tapi sangat
nyaman, benar-benar menyengat 'sensor barang lucu' milik Furano.
"Bahagianya~"
Mungkin wajar
jika dilakukan anak kecil, tapi melihat gadis SMA seumuran dia
menggesek-gesekkan pipi ke boneka kostum adalah pemandangan yang aneh dan
mengundang perhatian orang-orang sekitar. Namun, hal itu tidak masuk ke dalam
kesadaran Furano yang sudah tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Haaa~
lucunya~"
Setelah puas
menikmati sensasi tersebut, Furano melepaskan diri dari Agua-kun.
"A-lho?"
Tanpa disadari,
sosok Kanade dan Seira sudah menghilang.
"Ko-kok
bisa?"
Wajar saja.
Meskipun bagi Furano rasanya hanya belasan detik, kenyataannya dia sudah asyik
mengusel-usel Agua-kun selama lebih dari lima menit.
(Amakusa-kun,
pe-pergi ke mana... eh?)
Saat sedang
mengedarkan pandangan mencari Kanade, dia tiba-tiba menyadari banyaknya pasang
mata yang tertuju padanya.
(Eh? Eh?)
Hampir semua
orang di sekitarnya sedang memperhatikan Furano.
(Ke-kenapa
semuanya melihatku?)
Karena tidak
menyadari betapa aneh tingkahnya tadi, kepala Furano hanya dipenuhi tanda
tanya.
"U-uuuuugh!"
Wajahnya langsung
memerah padam seketika, dan dia pun segera lari tunggang langgang dari tempat
itu.
"Kucing
putih? Apa maksudmu?"
"Entahlah~?"
Apa itu semacam
kiasan? Sikap Ketua yang suka bicara berbelit-belit memang sudah biasa, tapi
yang kali ini benar-benar tidak jelas maksudnya. Yah, mau tujuh atau delapan
orang pun terserah, masalahnya bukan di jumlahnya.
"Kamu bilang
harem, tapi di antara mereka, gadis yang waras cuma Urakaze saja,
kan?"
Wajah Ketua
seketika membeku dalam senyumannya.
"Barusan,
kamu bilang apa~?"
Glek....
"……Maksudku,
gadis yang waras cuma Ketua dan Urakaze saja, kan?"
"Aduh,
aduh, dipuji begitu pun aku tidak akan memberimu apa-apa lho~"
……Apa
gunanya percakapan basa-basi yang tidak tulus ini?
"Ah,
sepertinya sudah kelihatan~"
Mengabaikan
aku yang merasa lelah, Ketua berseru dengan nada santai.
"Di
sini, ya……"
Dan
sampailah kami di "Area Kolam Bocah", di mana pemandangan yang sangat
damai menyambut kami.
"Kak
Chocolat, habis ini giliranku ya!"
"Kakak
Chocolat, aku juga, aku juga—"
"Ah, curang!
Aku duluan tau!"
"Iya, iya,
karena harus antre, tunggu sebentar ya."
Pemandangan yang
tertangkap mataku adalah Chocolat yang sedang bercengkerama dengan anak-anak di
kolam dengan kedalaman hanya setinggi bawah lutut.
Di papan
pengumuman tertulis jelas kalimat: "Hanya untuk teman-teman berusia di
bawah 10 tahun". Meski usia mental Chocolat rasanya memang di bawah 10
tahun, tapi secara fisik dia terlihat seperti anak SMA.
Tanpa bermaksud
menegur, aku menyapa petugas laki-laki yang sedang mengawasi di sana.
"Permisi. Gadis berambut pirang di sana itu kenalan
saya…… apa tidak apa-apa dia di situ?"
Petugas yang kelihatan baik hati itu menggaruk kepalanya
sambil tertawa hambar.
"Yah, sebenarnya tidak boleh sih, tapi anak-anak sangat
menyukainya……"
Memang
benar, banyak anak-anak yang mengerumuni Chocolat sambil merengek minta diajak
main.
"Ketua,
sepertinya di sini tidak akan terjadi keributan, kan?"
Kalau dia cuma
bermain damai dengan anak-anak begini, lebih baik dibiarkan saja. Malah rasanya
lebih baik jangan diganggu. Meskipun secara usia melanggar aturan, petugasnya
juga sudah setengah memaklumi.
"Benar juga
ya~. Kalau begitu, mari kita buat aturan baru: kalau kamu bisa membawa
Chocolat-san keluar dari kolam itu, baru kita pergi mencari Yuuouji-san."
"……Penggunaan
kata 'kalau begitu' Kamu aneh sekali, tahu."
"Segala
keberatan dan bantahan baru akan diterima kalau kamu bisa mengalahkan
aku~"
Sambil
mengucapkan dialog ala komik aksi, dia mendorong punggungku pelan.
"Nah,
selamat berjuang~"
"Haaa……"
Melawan pun pasti
percuma (baik secara fisik maupun mental, aku merasa tidak akan bisa menang),
jadi aku meminta izin sebentar kepada petugas tadi dan berjalan mendekati tepi
kolam.
"Rambut yang
berkilau ini kelihatan enak ya!"
Chocolat sedang
memeluk seorang anak perempuan berambut bob dan menenggelamkan wajahnya di
rambut anak itu…… Hei, dia tidak benar-benar akan memakannya, kan?
Dengan perasaan
cemas, aku melangkah masuk ke kolam.
"Chocolat."
"Ah,
Kanade-san!"
Begitu melihatku,
rambut kuncir kuda Chocolat berdiri tegak dengan gembira.
"Kenapa kamu
malah menghilang sendiri saat aku sedang menasihatimu?"
"Tadi
ada bau yang enak sekali!"
……Itu bukan
jawaban, tahu.
"Hm?"
Aku merasakan
tatapan penuh permusuhan di punggungku, lalu menoleh.
"……Apa-apaan
sih kamu ini!"
Seorang bocah
laki-laki berambut jabrik sedang melotot ke arahku.
"Kak
Chocolat, siapa orang ini?"
"Ini
Kanade-san, Takashi-kun."
"Hooo."
Bocah bernama
Takashi itu memperhatikanku dari atas ke bawah seolah sedang menilai barang.
"Apa
hubungan orang ini dengan Kak Chocolat?"
"Iya,
dia adalah orang yang paling aku sukai!"
Mendengar
ucapan Chocolat, wajah Takashi langsung berubah menjadi sangat tidak senang.
"……Kami
sedang asyik bermain dengan Kak Chocolat, tiba-tiba kamu masuk tanpa izin. Peka
sedikit dong!"
……Bocah
ini mulutnya kasar juga ya. Aku tahu dia menyukai Chocolat, tapi tidak perlu
memusuhiku begitu, kan.
Yah, aku
tidak punya waktu untuk berdebat dengan anak SD sekarang.
"Chocolat,
ayo keluar dari kolam ini sebentar."
Begitu dia keluar
dari kolam, syarat dari Ketua akan terpenuhi. Setelah itu, terserah Chocolat
mau bermain lagi dengan anak-anak atau apa pun.
Saat aku
berpikir begitu dan meletakkan tangan di bahu Chocolat—
(—!?)
Sebuah
guncangan dahsyat menghantam bagian bawah tubuhku.
"UGYAAAAAAAAAA!"
Rasa sakit yang
membuatku berhalusinasi seolah dunia akan kiamat ini…… low blow?!
(Hantaman ke selangkangan)
"Uuu…… uuugh."
Sambil menahan tangis, aku menoleh ke belakang. Ternyata
anak perempuan berambut bob yang dipeluk Chocolat tadi sedang melotot tajam
padaku.
"Jangan
sentuh Kakak Chocolat!"
Bo-bocah ini sama
saja dengan Takashi…… Aku tahu kalian sayang Chocolat, tapi jangan tiba-tiba
melancarkan serangan low blow dong! Serangan itu terlarang!
Chocolat
menasihati anak itu sambil mengernyitkan dahi.
"Misaki-chan,
serangan mendadak dari belakang itu tidak baik lho."
"Bukan
itu bagian yang harus kamu nasehati!"
"Aku
mengerti. Berarti lain kali tendang dari depan saja ya!"
"Lihat
kan, dia jadi salah paham gara-gara kamu!"
"Kanade-san
milikku ini sangat tangguh, jadi tidak akan mempan hanya dengan serangan
segitu."
"Mempan
tahu!"
"Mau
ditendang seratus orang pun dia pasti baik-baik saja."
"Kenapa
kamu malah bicara seperti iklan gudang merek Inaba! Aku pasti mati kalau begitu!" (T/N:
Referensi ke slogan iklan gudang Inaba di Jepang yang sangat terkenal karena
kekuatannya menampung 100 orang.)
"Aduh,
jangan rendah hati begitu dong."
"Bukan
rendah hati! Ini teriakan
tulus dari lubuk hatiku!"
Bodoh ya…… Iya sih aku sudah tahu dari dulu, tapi anak ini
benar-benar bodoh……
"Gwaakh!"
Sekali lagi guncangan menyerang dari belakang, membuat
lututku lemas.
Takashi baru saja
melancarkan tendangan maut ke betisku…… Sumpah, ini sakit banget.
"Cih, anggap
saja ini belas kasihan dariku karena aku tidak mengincar 'telurmu'. Berterima
kasihlah."
"Bo-bocah
kurang ajar ini……"
Cara bicara dan
tingkah laku mereka kepada orang yang lebih tua benar-benar parah, orang tua
mereka mendidik mereka seperti apa sih?
Karena kesal, aku
menarik tangan Chocolat dengan agak paksa.
"Ayo
pergi."
"Ah,
tapi……"
Chocolat menatap
ke arah seorang anak perempuan berambut hitam panjang yang sedang memperhatikan
kami dalam diam. Berbeda dengan dua bocah sebelumnya, dia memberikan kesan anak
yang sangat penurut.
"Manami-chan,
ada apa?"
Anak bernama
Manami itu tidak mengatakan apa-apa, dia terus menatapku dan Chocolat dengan
tajam, sampai akhirnya—
"Fueee……"
"Eh?"
Air mata mulai
menggenang di sudut matanya.
"Nggak mau…… Kakak Chocolat, jangan perggiiii!"
Dia malah
menangis kencang.
"Se-Serius
nih……?"
Aku jadi
panik sendiri menghadapi situasi mendadak ini.
Takashi
menatapku dengan pandangan dingin.
"Kamu
ini payah banget ya, bikin cewek nangis."
"Ugh……"
"Ah,
cup cup, Manami-chan jangan nangis ya, tidak apa-apa kok."
Chocolat
mulai menenangkan Manami-chan dengan gerakan yang terlihat sudah terbiasa.
"Kamu
pengganggu tahu."
"Benar,
pulang sana!"
Kata-kata tanpa
ampun dari Takashi dan Misaki pun meluncur. Aku benar-benar diposisikan sebagai tokoh
antagonis di sini.
"""PU-LANG!
PU-LANG!"""
Permusuhan
mereka berdua menular ke anak-anak lain di sekitar, dan sorakan
"Pulang!" pun menggema di seluruh area kolam.
"……Maafkan
hamba."
Tanpa
bisa berbuat apa-apa, aku pun mundur teratur kembali ke tepi kolam di mana
Ketua Kokuboin sudah menunggu.
"Aduh,
tidak apa-apa nih menyerah begitu saja~?"
"Bukannya
tidak apa-apa, tapi kalau sudah sampai bikin anak kecil menangis, aku tidak
bisa berbuat apa-apa lagi."
"Aduh,
aduh, padahal hidupmu sedang jadi taruhannya, tapi kamu baik sekali ya~"
……Aku
menelan kembali kata-kata "Memangnya ini semua gara-gara siapa!" dan
duduk di samping Ketua yang sedang duduk bersila.
"Amakusa-san,
kamu masih ingat kan hukuman kalau gagal menjalankan misi~?"
"……Maksud
Kamu tentang Pilihan Mutlak yang tidak akan pernah hilang seumur hidup
itu, kan?"
Hal semacam itu,
mau dilupakan pun tidak akan bisa.
"Benar
sekali~. Makanya kamu berjuang menjalankan misi, kan? Tapi menurut
pengamatanku, sepertinya kamu kurang merasakan realitas dari hukuman itu~"
"Realitas…… maksudnya?"
"Benar. Karena itu, demi meningkatkan motivasimu, aku
akan memperlihatkan sebuah video spesial~"
"Video spesial?"
"Iya, permisi sebentar ya~"
Sambil berkata begitu, dia menyentuh dahiku dengan jarinya.
"A-apa……?"
Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur dan kepalaku terasa
melayang.
"Selamat menikmati~"
Bersamaan dengan suara Ketua yang santai itu, kesadaranku pun mulai tenggelam ke dalam alam mimpi.
Aku sedang berjalan sendirian di sebuah kawasan pusat
perbelanjaan.
Mataku tertuju pada jam digital yang terpasang di permukaan
gedung. Waktu yang ditunjukkan sudah menunjukkan tengah malam.
Musimnya adalah puncak musim dingin di mana angin kencang
bertiup kencang, dan di jam yang sangat menusuk tulang ini, lingkungan seperti
ini sulit dikatakan ramah bagi raga tua yang sudah melampaui usia tujuh puluh
tahun.
Lalu, kenapa aku berjalan di tempat seperti ini, di musim
seperti ini, dan di jam seperti ini?
Jawabannya adalah: entahlah, cuma kepingin saja.
Benar-benar murni
hanya jalan-jalan santai tanpa tujuan yang jelas.
Aku bisa saja
kembali ke apartemen bobrokku dan menenggak minuman keras murah, atau masuk ke
minimarket dan berdiri membaca buku dalam waktu lama sambil menerima tatapan
risi dari pelayan toko.
Singkatnya, apa
pun boleh. Tidak ada arti dalam tindakanku... tidak ada arti dalam hidupku. Ya,
toh apa pun yang kulakukan hasilnya akan sama saja.
Sudah puluhan
tahun berlalu sejak kegagalan fatal itu, dan setiap gerak-gerikku terus
terbelenggu oleh fenomena itu—
……Datang juga,
ya.
Di tengah
lamunanku, hal itu muncul dengan tiba-tiba seperti biasanya.
Karena sekarang
aku sudah menyadari kesia-siaan melawan fenomena ini, aku tidak lagi
menunjukkan reaksi berlebihan satu per satu seperti saat aku masih muda dulu.
Mau menangis,
berteriak, atau memprotes sekali pun, apa yang harus kulakukan tidak akan
berubah.
"……"
Tanpa kata, aku
melepaskan mantel yang kukenakan dan membuangnya.
Selanjutnya, aku
menanggalkan sweter dan celanaku tanpa ragu. Kurang dari satu menit, aku sudah
berdiri hanya mengenakan celana ketat long johns.
Karena warna
celana itu sangat mirip dengan warna kulit, dari jauh mungkin aku terlihat
seperti telanjang bulat. Melakukan hal seperti ini di tengah musim dingin sudah
membuktikan bahwa aku tidak waras... tapi pertunjukan sesungguhnya baru dimulai
dari sini.
"HEI! LIHATLAH BEACH-CHICK (PUTING) MILIKKU INI,
YO!"
Dari mulutku meluncur rap dengan semangat yang luar biasa
tinggi.
Bersamaan dengan itu, aku mencubit putingku sendiri,
membusungkan dada, dan membiarkan kata-kata itu meledak dengan penuh tenaga.
"UKIRKAN DI MATAMU, YO! BEACH-CHICK HIGH-TECH
TECHNIQUE!" (T/N: Permainan kata (pun) dari biichiku (bahasa slang
Jepang untuk puting/nipple.)
Reaksi
orang-orang yang lewat bermacam-macam. Ada pemuda yang menatap dengan bengong,
wanita yang memalingkan wajah dan berjalan cepat, sampai pria kemayu yang
menatap dengan tatapan penuh damba.
"YO! YO! YO!
KALIAN SEMUA JUGA IKUT CUBIT, YO!!"
Tanpa memedulikan
penonton, aku terus mengikuti ketukan beat yang panas.
……Setelah luapan
jiwa dalam diriku itu berlangsung sekitar satu menit. Rasa sakit yang berat dan tumpul di dalam
kepalaku menghilang.
Aku
berhenti seketika, mengumpulkan pakaian yang kubuang tadi dengan rajin,
memakainya kembali, dan sambil mengabaikan sepenuhnya tatapan aneh yang tertuju
padaku, aku pergi dari tempat itu seolah tidak terjadi apa-apa.
"……Uugh."
Ini tidak
berat... sama sekali tidak berat. Sudah berapa kali aku mengulang hal yang sama
sampai sekarang? Mana mungkin sekarang aku merasa ini berat... Rasa dingin yang
menusuk di lubuk hatiku ini pasti karena suhu udara yang mencapai titik beku.
"Permisi."
Setelah
berjalan beberapa lama, seseorang menepuk bahuku.
"Hm?
Ada ap—!?"
Polisi.
Kalau
dipikir-pikir, wajar saja mereka datang setelah aku melakukan hal gila seperti
itu di tempat umum. Dalam otakku muncul satu kata terburuk: DITANGKAP.
"Kh—"
Detik
berikutnya, aku langsung lari sekencang-kencangnya bagaikan kelinci yang kabur.
"Ghuah!"
Tapi, mana
mungkin aku bisa lolos dengan mudah. Dalam sekejap, polisi yang berbadan tegap
itu meringkusku, dan aku pun tamat.
"Kakek...
kenapa Kakek melakukan hal bodoh seperti itu?"
"Le-lepaskan!
Ini masih mending daripada aku menanggalkan pakaian bagian bawah, tahu!"
"Dengar
ya, masalahnya bukan di situ. Mungkin Kakek merasa senang menunjukkannya, tapi itu mengganggu orang lain.
Paham?"
"Ugh……"
Mendengar
kata-kata itu, tanpa sadar air mata tumpah dari mataku.
Apa... apa aku
harus ditangkap dan dicap sebagai eksibisionis oleh bocah ingusan yang umurnya
bahkan belum setengah dari umurku ini?
"Aku pun...
aku pun sebenarnya... tidak melakukan ini karena suka—"
◆◇◆
"Hah!"
"Ya, selamat
datang kembali~"
Begitu
kesadaranku kembali, yang menungguku adalah wajah tersenyum Ketua Kokuboin.
"……Ketua,
yang barusan itu jangan-jangan……"
"Iya, itu
adalah nasib akhir Amakusa-san jika gagal menyelesaikan misi~"
Sudah kuduga....
Meski sudah
setengah yakin, begitu mendengar kenyataan itu langsung dari mulut Ketua,
perasaanku jadi makin suram. Lagipula, jangan bilang "nasib akhir",
dong....
"Tapi tenang
saja. Itu hanyalah 'salah satu kemungkinan', bukan berarti pasti akan jadi
seperti itu kok~"
Ketua menepukkan
kedua tangannya di depan dada, lalu melanjutkan ceritanya dengan ceria.
"Ada
kemungkinan kamu kehilangan pekerjaan gara-gara pilihan itu lalu mati
mengenaskan di pinggir jalan, atau gara-gara pilihan itu kamu salah dikira
sebagai target pembunuhan lalu kepalamu hancur ditembak penembak jitu, atau
bahkan ada masa depan indah di mana kamu disemen dan ditenggelamkan di suatu
teluk~"
"Indah
matamu! Aku sampai mau nangis dengarnya!"
Ketua mengabaikan
protesku dan membalas dengan senyuman santai seperti biasanya.
"Yah,
intinya berjuanglah dalam misi, begitu maksudku~"
"……Ketua, di
misi sebelumnya Kamu membantu, tapi kali ini Kamu malah menghalangi jalanku
menuju Yuuouji…… sebenarnya apa yang Kamu inginkan?"
"Hal yang
menarik~"
"Hah?"
"Lebih
tepatnya, membuat segala sesuatunya jadi menarik~"
"Eh? Apa
maksudnya—"
"Ah,
Chocolat-san memanggilmu lho~"
Ketua memutus
kalimatku dan mengalihkan pandangannya ke arah kolam.... Dari gelagatnya, dia
tidak berniat memberitahuku lebih jauh lagi.
"Kanade-sa~n!"
Sesuai ucapan
Ketua, Chocolat sedang melambai padaku dari dalam kolam. Karena sepertinya aku
tidak akan dapat info apa pun di sini, aku pun berjalan menujunya.
"Ada apa,
Chocolat?"
Ternyata, akses
masuk ke 'Area Kolam Bocah' dibatasi oleh waktu, dan sepertinya orang tua
anak-anak itu sudah akan menjemput mereka.
"Nah,
Takashi-kun, ada yang mau dikatakan pada Kanade-san, kan?"
Didorong oleh
Chocolat, Takashi muncul di depanku dengan wajah cemberut.
"……Ma-maaf
ya."
Kata-kata yang
keluar dari mulutnya sungguh tidak terduga.
"Kakak
kandungku itu sifatnya seperti laki-laki, jadi aku mendambakan sosok kakak
perempuan yang lembut. Karena Kakak Chocolat selalu tersenyum, dia mirip dengan
kakak ideal impianku... Saat aku sedang senang-senangnya, tiba-tiba Kamu masuk,
jadi aku merasa Kakak Chocolat direbut. Makanya aku bicara aneh dan
menendangmu……"
"Ta-Takashi……"
Rasa haru yang
aneh muncul di dadaku. Di saat yang sama, aku merasa malu atas kedangkalan
pikiranku yang langsung mencapnya sebagai bocah kurang ajar hanya karena mulut
dan sikapnya yang kasar di luar.
"Kamu…… ternyata anak baik ya."
"N-nggak
juga kok……"
Aku mengelus
kepalanya.
"He-hentikan……"
"Jangan
begitu, Kakak ini sangat terharu lho. Jangan malu-malu begitu—Ghuakh!"
"Ja-jangan
kegirangan, dasar bego!"
Setelah menendang
kakiku, Takashi lari dengan wajah memerah.
"Uuuh……"
Takashi, kamu
benar-benar tidak paham dunia ini.... Bahwa tidak ada nilai jual untuk karakter
tsundere laki-laki, itu adalah kebenaran mutlak yang tak tergoyahkan.
"Nah,
Misaki-chan juga."
Selanjutnya,
Chocolat mendorong Misaki dan membawanya ke depanku.
"Maaf karena
tiba-tiba menendang bagian berhargamu dengan keras."
Misaki
menundukkan kepalanya. Ternyata anak ini juga anak baik yang bisa minta maaf
dengan benar.
"Mulai
sekarang, aku akan menendangnya lebih pelan sedikit."
"Nggak,
jangan ditendang sama sekali dong!"
"Kalau itu
sepertinya permintaan yang sulit dikabulkan."
"Nggak bisa
ya?!"
"Soalnya,
kalau melihat laki-laki kesakitan, aku merasa... bergairah."
"Masa
depanmu suram sekali, hei!"
"Tapi,
karena apa yang kulakukan memang salah... sekali lagi, aku minta maaf."
Makhluk apa anak
ini.... Apa boleh aku memeluknya erat-erat? Mengingat itu akan terlihat sangat
berbahaya di mata publik, aku hanya berjongkok, mengelus kepala Misaki, dan
memberikan senyuman.
"Ya sudah, anak pintar."
"Ugh……"
Seketika, pipi
Misaki memerah padam.
"Ada
apa?"
"N-nggak ada
apa-apa……"
Misaki
menunduk dengan wajah yang benar-benar merah. Apa? Apa dia semalu itu setelah dielus? Setelah
itu, Misaki akhirnya pulang bersama orang tuanya tanpa berani menatap wajahku
sama sekali.
"Misaki-chan,
dadah~!"
Chocolat
melambaikan tangannya dengan semangat ke arah punggung anak itu.
"Kamu
ternyata hebat juga ya menangani anak-anak."
"Iya,
soalnya aku suka sekali anak kecil!"
Yah, dia sendiri
saja jalan pikirannya lebih parah dari anak kecil sih....
"Hm?"
Aku merasa celana
renangku ditarik-tarik. Saat aku menoleh, ada seorang anak perempuan berambut
hitam panjang. Manami-chan, ya.... Karena aku pernah membuatnya menangis, aku
jadi sedikit waspada.
Aku tidak boleh
mengulang kesalahan yang sama, jadi aku harus merespons dengan hati-hati.
"Ma-maaf
soal yang tadi ya."
Saat aku bicara
dengan suara selembut mungkin, Manami-chan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tadi memang
agak takut, tapi sekarang sudah tidak."
Syukurlah. Karena
dibenci anak kecil itu rasanya sangat berat tanpa alasan yang jelas.
Manami-chan menatapku dan Chocolat bergantian, lalu bergumam pelan.
"Kalian
kayak Ayah dan Ibu."
"Hah?"
"Habisnya,
kalian terlihat sangat akrab."
"…………"
"Sampai
jumpa!"
Manami-chan
tersenyum lebar lalu lari ke arah orang tuanya.
"……A-anak
yang aneh ya……"
"Katanya
kita seperti suami istri lho."
"Apa—"
Chocolat
mengatakannya tanpa rasa malu sedikit pun.
"Kanade-san
tahu tidak? Suami istri itu kalau sedang makan suka suap-suapan 'aaa~'
lho."
"S-suap-suapan
matamu……"
Pemandangan
beberapa hari yang lalu terbayang kembali di otakku.
"Ah, lain
kali kita coba juga yuk?"
"Si-siapa
juga yang mau!"
"Kanade-san,
kok wajahnya agak merah?"
"Ha-halusinasi
itu! Po-pokoknya kita keluar dari sini sekarang!"
"Okee~!"
Chocolat
mengikuti di belakangku dengan rambut kuncir kudanya yang bergoyang-goyang.
"Wah, kamu berhasil membawa keluar Chocolat-san dengan
selamat ya. Bagus deh~"
Di tepi kolam, Ketua menyambutku dengan senyum tanpa
ketulusan seperti biasanya.
"Sekarang kamu bebas pergi ke tempat Yuuouji-san~. Ah,
dia ada di 'Area Roller Coaster Teriakan Maut'. Biar Chocolat-san bersamaku
saja, jadi cepatlah susul dia~"
Padahal tadi dia habis-habisan menghalangi, tapi sekarang
malah memberikan layanan info lokasi.... Apa ini juga bagian dari "membuat segala sesuatunya jadi menarik"
yang dia katakan tadi?
"Kalau
begitu, silakan berjuang untuk membuatnya menangis ya~"
……Sambil menerima
kalimat yang sangat merusak reputasi di punggungku, aku pun meninggalkan tempat
itu.
4
"Area Roller
Coaster Teriakan Maut" adalah area di mana berkumpul berbagai mesin
ekstrem yang bisa dinaiki meski masih mengenakan baju renang, sesuai dengan
namanya.
Begitu sampai,
aku langsung melihat sosok Urakaze yang sedang terduduk lemas di tepi kolam.
"A-Amakusa-kun…… hauuu."
Urakaze menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ke-kenapa
kamu sampai begini?"
Urakaze menunjuk
ke arah depannya.
"Wahana itu
punya tiga tingkat kengerian. Level 1, level 2, dan level 3……"
Di hadapan kami,
terlihat tiga jenis roller coaster yang meliuk-liuk seperti ular.
"Aku baru
naik Level 1 saja, kakiku sudah lemas sampai tidak bisa berdiri."
Kurasa itu bukan
karena Urakaze penakut. Faktanya, saat ini pun suara jeritan orang-orang terus
bergema dari setiap wahana tanpa memandang levelnya.
"Malang
sekali ya…… ngomong-ngomong, Yuuouji di mana?"
"Ah, iya, tadi dia kelihatan senang banget naik Level
2. Seharusnya sebentar lagi dia kembali—"
"FUHAHAHAHAHAHAHA!"
Di tengah kalimat Urakaze, tiba-tiba semburan air naik ke
udara dan seseorang melompat keluar dari dalam air.
"Hup."
Bagaikan atlet senam, Yuuouji mendarat dengan anggun di tepi
kolam.
"Bisa
tidak sih kalau muncul itu yang normal-normal saja……"
"Oyo, Amacchi datang juga ya."
Setelah
memberikan senyuman padaku, dia mengalihkan pandangannya ke arah Urakaze.
"Konagi-tan,
sudah pulih belum?"
"Ma-masih
agak sulit sepertinya."
Urakaze
menggeleng sambil tersenyum kecut.
Tapi,
meski aku sudah menemukan Yuuouji, sekarang aku bingung harus berbuat apa. Aku
sama sekali tidak punya ide bagaimana cara membuat Yuuouji menangis di sini.
Senjata rahasia benar-benar pilihan terakhir, tapi—
"Begitu
ya. Kalau begitu Amacchi, ayo naik bersamaku!"
"Eh?"
Saat aku
sedang berpikir, suara Yuuouji membuyarkannya.
"Barusan
aku naik Level 2 dan rasanya seru banget. Berikutnya ayo kita naik Level 3
bareng-bareng!"
"……Nggak ah,
aku pas saja."
"Eh,
kenapa?"
"……A-aku
sudah pensiun dari mesin-mesin ekstrem begitu. Itu kan cuma mainan anak kecil. Aku
sudah tidak tertarik."
"Jangan-jangan Amacchi…… takut ya?"
"……Ma-mana
mungkin!"
Jujur saja, aku
takut setengah mati.
Bagi penderita
fobia ketinggian sepertiku yang bahkan takut naik bianglala, aku tidak mengerti
apa tujuan mesin ekstrem diciptakan di dunia ini.
Kalau aku naik
Level 3 yang meliuk-liuk begitu, jeritanku tidak akan berhenti di level normal.
Kalau ini di novel ringan, jeritanku pasti bakal memenuhi satu halaman penuh
dengan tulisan "GYAAAAAAAAA!!".
"Hohooo……"
Wajah Yuuouji
berubah menjadi menyeringai licik…… Ah, aku lupa, kebohongan setengah-setengah
tidak akan mempan pada anak ini.
"Muhuhu,
kalau begitu harusnya kamu berani naik dong~"
B-bocah ini…… Karena aku laki-laki, meskipun ketahuan pun,
aku tetap tidak mau mengaku takut di depan seorang gadis (yah, anggap saja
begitu). Di sini aku
terpaksa mengangguk meski dengan sangat berat hati.
"Oke sip, kalau begitu let's go!"
"Ah, oi,
tunggu se—"
Yuuouji yang
terlihat sangat girang itu menarikku tanpa memedulikan keberatanku.
◆◇◆
Begitulah, aku
akhirnya diseret paksa menuju tempat antrean roller coaster, tapi ada
satu masalah yang jauh lebih mendesak saat ini.
"Tu-tunggu,
kamu terlalu menempel Yuuouji! Aku bisa jalan sendiri, lepaskan!"
"Wah wah,
Amacchi bilang begitu supaya bisa kabur ya?"
"Nggak
kabur! Aku nggak bakal kabur, jadi lepaskan dulu!"
"Hm? Aku
nggak begitu mengerti, tapi kalau kamu memaksa, nih."
Akhirnya Yuuouji melepaskanku…… Sudah kupikirkan
berkali-kali, tapi anak ini benar-benar terlalu tidak waspada terhadap lawan
jenis. Tolong sadarlah sedikit kalau kamu itu gadis berusia enam belas tahun.
Di saat aku memikirkan hal itu, Yuuouji memasang senyum
jahil seperti anak SD.
"Muhuhu, aku tidak sabar melihat wajah Amacchi saat
menangis nanti~"
Wajah menangis ya…… sebenarnya aku yang ingin melihat itu
dari dirimu…… Oh, benar juga. Topik yang pas baru saja muncul, jadi aku harus
memastikannya. Mumpung Yuuouji yang memulainya, dia tidak akan curiga.
"Aku tidak akan menangis cuma gara-gara mesin ekstrem……
tapi kapan terakhir kali kamu menangis, Yuuouji?"
Karena ada batasan bahwa dia harus menangis "hari ini,
di sini (kolam renang)", aku mungkin tidak bisa langsung melakukannya,
tapi mengetahui kelemahan kelenjar air matanya bisa menjadi petunjuk untuk
memikirkan cara selain menggunakan senjata rahasia.
"Aku? Hmm, aku sudah tidak pernah menangis selama
bertahun-tahun lho."
"Eh?"
Itu jawaban yang mengejutkan. Memang benar aku tidak bisa
membayangkan Yuuouji menangis karena dia hampir tidak pernah menunjukkan emosi
negatif…… tapi bertahun-tahun itu terlalu lama, kan?
"Sebenarnya
dulu katanya aku ini sangat cengeng. Bukannya pas masih bayi ya, tapi bahkan
setelah masuk SD pun sifat itu tidak hilang-hilang. Sampai suatu hari, ibuku
bilang padaku. 'Ouka, air mata seorang gadis itu bukan sesuatu yang murahan.
Simpanlah air matamu untuk saat kamu menangis karena bahagia di depan orang
yang kamu cintai'."
Ibu Yuuouji
adalah Yuuouji Kyouka, mantan top idol. Akhir-akhir ini dia juga aktif
sebagai komentator berita dan memiliki citra sebagai sosok yang cerdas serta
bijaksana……
"Lalu dia
melanjutkan, 'Soalnya kalau Ibu, tiap kali dimaki atau dipukul oleh Ayah dengan
kekuatan yang pas, Ibu jadi bergairah dan air matanya keluar sendiri'."
"IBUMU
TERNYATA CUMA SEORANG M (MASOKIS) TOTAL KAN!!"
Ternyata di
kehidupan pribadinya dia parah sekali. Ini bukan lagi soal perbedaan citra,
tapi sudah level yang berbeda……
"Waktu itu
aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, tapi aku tahu ibuku bicara
serius, jadi aku cuma 'ooh, begitu ya'…… mungkin ini yang namanya sugesti?
Entah karena alam bawah sadarku atau bagaimana, sejak saat itu aku tidak punya
ingatan pernah menangis lagi."
Apa-apaan itu…… Niatnya ingin mencari petunjuk, malah
disuguhi cerita yang tidak enak didengar. Kalau aku tidak bisa membuatnya menangis dari sisi psikologis, maka
pilihanku jadi sangat terbatas.
Yah, setidaknya
ini tidak berpengaruh pada penggunaan "itu", syukurlah.
"Amacchi
kenapa malah melamun? Ayo cepat!"
"Tunggu…… kan sudah kubilang jangan terlalu
nempel!"
◆◇◆
Setelah bersusah payah melepaskan diri dari Yuuouji,
akhirnya kami sampai di tempat keberangkatan Level 3.
"Baik, pengamannya sudah terkunci dengan kuat ya."
Mbak petugas
memastikan kunci pengaman kami.
"I-ini
aman, kan?"
Tanyaku
dengan suara bergetar, dan mbak petugas itu mengangguk ramah.
"Iya,
pingsan atau ngompol di celana sudah jadi makanan sehari-hari di sini, tapi
tentu saja angka kecelakaannya nol, jadi aman-aman saja kok."
Tunggu
sebentar. Aman dari mananya kalau sampai ngompol di celana……
"Bi-bisa
tidak pakai pilihan kata yang lebih menenangkan?"
Mbak petugas itu
berpikir sejenak, lalu membuka mulutnya seolah baru teringat sesuatu.
"Daijoubu-daa~
(Semua bakal baik-baik saja~)"
"Bukan itu
maksudku! Kenapa malah pakai gaya acara komedi jadul sih!"
Ada apa sih
dengan petugas ini……
"Ahaha,
Amacchi, kalaupun kamu bocor tidak apa-apa kok, kan pakai baju renang."
Yuuouji yang
duduk di sebelah kananku berucap dengan riang.
"Aku
bukan anak kecil lagi, jadi tidak akan bocor……"
Meski berkata
begitu, mungkin saja aku akan sedikit "kecipritan"……
"Tenang
saja, kan bukan aku yang harus bersih-bersih nanti, jadi daijoubu-daa."
"DIAMLAH
KAMU! Kenapa kamu jadi malah ketagihan pakai gaya itu!"
Benar-benar deh,
petugas ini……
Gara-gara
gertakan aneh soal pingsan dan ngompol, tekad yang sudah kukumpulkan tadi jadi
goyah lagi. Lagipula kenapa kami harus duduk di barisan paling depan sih……
"Yuuouji,
aku merasa kurang enak badan, aku mau turu—ugh."
Usaha terakhirku
sia-sia, roller coaster itu berangkat dengan kejamnya.
……Yah, awalnya
cuma tanjakan biasa, mumpung masih pelan aku harus menyiapkan mental—
"UUOOOOOOO!?"
T-tiba-tiba dipercepat!?
Roller coaster dengan pergerakan yang tidak masuk
akal itu mencapai puncak rel dalam sekejap dan……
"Eh,
tunggu, sebentar—"
TERJUN
BEBAS.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Gila gila gila!
Lagipula apa-apaan lintasannya kenapa meliuk-liuk begini hiii! Aku pikir sudah
turun ternyata naik lagi lalu turun lagi sampai aku tidak tahu mana atas mana
baw—
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Kenapa anak di
sebelahku ini malah tertawa, apa otaknya sudah geser ya uwaaaa! Ada putaran
spiralnya! Gawat gawat gawat!
"HIIIIIIIIIIII!!"
"UWAAAAAA!!"
"TURUNKAN
AKU!!"
Lihat kan, selain
aku semua orang juga berteriak histeris! Yuuouji, kamu juga berteriaklah
seperti gadis normal sekali saja—
"IYAAAA!
SERU BANGETTTTTT!"
Apa-apaan dia
ini, apa dia alien?! Eh, kok rasanya makin cepat ya, nggak, ini bukan
halusinasi, ini beneran makin cep—
"UHYAAAAAAA!!"
Aku mengamuk
dalam kondisi panik luar biasa, tapi karena tubuhku terkunci oleh pengaman,
hanya tanganku yang bisa bergerak-gerak liar. Tidak mau, tidak mau, seseorang
TOLONG AKU!
"GYAAAAAAAA!!"
Nggak bisa, nggak
bisa! Beneran nggak bisa! Ini sudah batasnya, gawat, aku mau pings—
Pada saat itu,
tangan kananku mencengkeram sesuatu yang terasa kenyal dan empuk.
"……Hm?"
Karena sensasi
itu, kesadaranku tiba-tiba kembali sejenak. Apa ini? Sesuatu yang lembut ini—
"KYAAAAAAAAAAAAAA!!"
Sebuah jeritan
luar biasa dahsyat dari samping seolah menghapus semua pikiranku—
Dan pada saat
itu, roller coaster terjun bebas sekali lagi.
"GYAAAAAAAAA!!"
Kesadaranku pun
terputus di sana.
◆◇◆
"Sa-kun…… Amakusa-kun."
"Ngh……"
Aku membuka mata.
"……Ini di
mana?"
Urakaze menatapku
dengan cemas dari atas.
"E-eh……?"
Aku bangkit dan
menyadari bahwa aku sedang berada di tepi kolam.
"Syukurlah…… Petugas membawamu sampai ke sini, tapi
karena kamu tidak bangun-bangun, aku jadi khawatir."
Ah, begitu ya…… Aku pingsan karena ketakutan yang luar biasa
di roller coaster jahanam tadi.
"Lho, ngomong-ngomong Yuuouji di mana?"
Sambil berdiri, aku mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Anu, dia ada di sana……"
Yuuouji berada di arah pandangan Urakaze, dia sedang
meringkuk di tempat yang agak jauh.
"Ke-kenapa
dia begitu?"
"Entahlah…… Dia seperti masuk ke dunianya
sendiri, aku panggil-panggil pun tidak merespons."
Memang keadaannya tidak normal…… Apa terjadi sesuatu saat
aku pingsan?
Aku mendekatinya perlahan.
"Uuu…… bagaimana ini, bagaimana ini…… sudah dilihat
celana dalamku dua kali, terus bagian itu juga dipegang……"
Dia menggumamkan sesuatu seperti kutukan, tapi aku tidak
bisa mendengarnya dengan jelas.
"Yuuouji."
"Su-sudah
tidak ada pilihan lain selain jadi pengantinnya……"
……Gawat,
dia benar-benar tidak mendengar suaraku.
"Oi,
Yuuouji."
Aku
menepuk bahunya.
"Eh?"
Ternyata dia merespons itu. Saat Yuuouji menoleh—
"………………KYAAAAAA!"
Setelah keheningan panjang, dia menyeret dirinya mundur
dengan kecepatan luar biasa sambil tetap terduduk!
"Ka-kamu…… bu-bukan, Amacchi…… bu-bukan, kamu!"
……Apa-apaan
panggil "kamu" segala? Terus dia ini terlalu panik. Wajahnya
merah padam, apa dia mendadak demam?
"Kamu tidak
apa-apa?"
Aku mendekat dan
mengulurkan tangan.
"T-TANGAN
KANAN ITU!"
Yuuouji merespons
dengan sangat sensitif sampai tubuhnya melonjak.
Kenapa?
Tangan kananku
ini tangan biasa yang tidak bisa menghapus kekuatan gaib atau memukul gadis
setelah memberi ceramah, kok.
"A-Amacchi…… kamu tidak ingat?"
"Ingat
apa?"
Apa aku melakukan
sesuatu pada Yuuouji dengan tangan kananku saat di roller coaster tadi?
Waktu itu kepalaku sudah kacau gara-gara ketakutan, aku cuma ingat kalau aku
sedang berteriak histeris.
"Be-begitu ya…… Amacchi tidak ingat ya…… kalau begitu……
mungkin aman."
Warna merah di wajah Yuuouji perlahan memudar.
"Iya…… iya…… oke, kalau begitu aku juga tidak akan
memikirkannya!"
Setelah menepuk-nepuk pipinya sendiri, wajah Yuuouji hampir
kembali ke ekspresi biasanya. Jadi itu bukan karena sakit, tapi karena masalah
mental?
"Aku tidak begitu mengerti, tapi ayo berdiri dulu,
nih."
"Ah, iya, terima kasih."
Yuuouji menggenggam tanganku yang kuulurkan.
(—!?)
Pada saat itu,
aliran listrik seolah menyambar tubuhku.
A-apa-apaan
sensasi ini!?
Telapak tangan Yuuouji
yang lembap karena air terasa sangat lembut, seperti tangan bayi yang baru
lahir.
Apa-apaan ini…… Enak banget, sumpah ini rasanya enak banget.
Sensasi empuk dan kenyal itu luar biasa nyaman, sampai-sampai kalau bisa, aku
ingin menggenggamnya selamanya.
"Amacchi, ada apa?"
Yuuouji yang sudah berdiri menatapku dengan heran karena aku
tidak kunjung melepaskan tangannya.
"N-nggak,
bukan apa-apa."
Aku
tersadar dan buru-buru melepaskannya.
Namun, memori
tentang sensasi nyaman itu tidak mau hilang dari otakku. Sayang sekali kalau
ini berakhir cuma sekali. Yah, meski aku tidak akan bilang macam-macam di sini,
kalau bisa aku ingin mencobanya sekali lagi jika ada kesempatan—
"Hm?"
Tiba-tiba,
dorongan yang sama seperti saat bersama Utage-sensei tadi menyerangku.
Maksudnya, hal di
mana apa yang kupikirkan akan langsung keluar dari mulut…… Se-serius nih? Ini
bukan cuma sekali doang?
Tidak ada ruang
untuk melawan, mulutku bergerak sendiri seolah bukan milikku lagi.
"Yuuouji,
tanganmu rasanya empuk dan enak banget, boleh aku pegang sekali lagi?"
Ugh…… kalimat yang sangat mesum, bahkan menurutku sendiri.
Tapi, untungnya lawannya adalah Yuuouji. Kalau dia yang
biasanya selalu tertawa melihat tingkah anehku, dia pasti bakal bilang
"oke deh" dengan santai—
(—!?)
Namun, di luar dugaan, reaksi Yuuouji sangat dramatis.
"Ya-ya-ya-yayaya—!"
Seketika wajahnya merah padam dan dia mundur dengan
kecepatan kilat.
"Ya?"
"TERNYATA
KAMU INGAT SEMUANYA, KAAAAAN!!"
"Ah, oi, Yuuouji!"
Tanpa sempat
dicegah, Yuuouji lari tunggang langgang dengan kecepatan luar biasa.
Aku ditinggal
sendirian.
Nggak, beneran
deh, aku sama sekali tidak paham situasinya. Waktu awal aku genggam tadi dia
tidak kelihatan keberatan, kan?
Mungkin
pilihannya katanya memang agak "begitu", tapi tetap saja reaksinya
ini terlalu berlebihan.
"Hati perempuan…… benar-benar misteri."



Post a Comment