NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 3 Chapter 3

Chapter 3

Sepertinya Gadis-Gadis di Sekitarku Memang Salah sebagai Manusia.


1


PILIH:

'Terkecil dalam Sejarah Umat Manusia'

Cawat (Fundoshi)


Di dalam ruang ganti kolam renang, aku benar-benar putus asa. Awalnya saat opsi ini muncul, aku sama sekali tidak paham apa maksudnya.

Tapi begitu masuk ke tahap ganti baju, niat busuknya baru terungkap jelas.

Celana renang biasa yang sudah kusiapkan di dalam tas lenyap tanpa bekas, dan sebagai gantinya, muncul dua item yang sama sekali tidak ingat pernah kumasukkan ke sana.

Celana renang tipe trunk dengan tulisan 'Terkecil dalam Sejarah Umat Manusia' tercetak tepat di bagian selangkangan, dan sebuah cawat merah... Aku disuruh pilih salah satu?

Dan sialnya, kali ini opsi tidak ada. Sial, sistem tidak berguna! Di saat-saat genting begini kau malah tidak muncul, terus mau muncul kapan


PILIH:

'Terkecil dalam Sejarah Umat Manusia'

Cawat (Fundoshi)

Tidak pakai apa-apa


"MENDING LU PERGI JAUH-JAUH SEKARANG JUGA!"

Tanpa sadar aku berteriak, membuat orang-orang di sekitarku yang sedang ganti baju menoleh dengan ekspresi kaget.

"A-ah, m-maaf..."

Sambil meminta maaf, akhirnya aku memakai celana renang dengan tulisan 'Terkecil dalam Sejarah Umat Manusia' itu... Rasanya aku ingin pulang saja.

Sepanjang jalan menuju tempat kumpul bersama Chocolat dan yang lainnya, orang-orang yang berpapasan denganku semuanya melirik ke arah selangkanganku... Kalau kalian butuh foto wajah menangis-ku sekarang, silakan ambil saja, tidak apa-apa kok.

Beberapa menit setelah aku sampai di depan papan pengumuman tempat janji temu.

"Amacchi, maaf ya sudah menunggu—!"

"Oooh..."

Saat berbalik, aku tanpa sadar mengeluarkan suara kagum. Kalau saja dia bisa menutup mulutnya, Ouka adalah gadis cantik berambut hitam panjang yang orisinal dengan gaya tubuh yang luar biasa.

Baju renang tipe bikini yang mengekspos banyak kulit itu benar-benar cocok dengannya.

"Wah, kostum ini benar-benar enak buat bergerak ya!"

Ouka tertawa dengan riang.

"Benar sekali, pakai baju renang rasanya nyaman ya~"

Di belakangnya, menyusul Chocolat yang mengenakan baju renang berwarna cokelat.

"Kanade-san, bagaimana menurutmu?"

Meski ukuran dadanya melampaui Ouka, tapi bagian pinggangnya benar-benar ramping. Aku sudah memikirkan ini sejak dia pakai baju biasa sih, tapi melihat betapa banyaknya dia makan setiap hari, bentuk tubuh yang sebagus ini benar-benar sebuah misteri.

"Ah, iya, bagus kok."

"Benarkah?!"

"Jangan mencoba menempel begitu dengan pakaian seperti itu!"

Aku menahan Chocolat dengan tangan saat dia mencoba mendekat sambil menggoyangkan rambut kuncir kudanya yang seperti ekor itu.

"Kakak, lihat punyaku juga!"

Lalu, Yuragi yang mengenakan baju renang tipe one-piece warna-warni. Dibandingkan dua orang sebelumnya, dia jelas kekurangan 'volume' di berbagai bagian, tapi kalau begini... boleh juga, sih.

"Mufufu, bagaimana Kakak?"

"G-bagaimana apanya?"

"Masih saja pura-pura bodoh. Membawa tiga gadis kiyut begini, mana mungkin Kakak tidak senang, kan~"

Abaikan saja kosakata 'kiyut' Yuragi yang sudah ketinggalan zaman itu, tapi memang kenyataan yang tak terbantahkan kalau visual mereka bertiga jauh di atas rata-rata.

Hal itu terbukti dari tatapan benci para lelaki yang lewat di dekat kami sejak tadi.

Bahkan ada yang sampai dipukul pacarnya gara-gara terlalu lama memelototi Chocolat dan kawan-kawan.

Ini adalah momen three-shot yang sebenarnya ingin kuabadikan dengan kamera tahan air yang tergantung di leherku, tapi karena saat ini aku belum menemukan cara lain selain menggunakan senjata rahasia, aku harus menahan diri karena ini bukan waktunya bersenang-senang.

"Eh, omong-omong Bu Utage ke mana?"

"Oyo, tadi masih bersama kami kok..."

Aku dan Ouka bersama-sama celingukan mencari sekitar.

"Ah, itu dia."

Sekitar sepuluh meter di belakang papan pengumuman, Bu Utage sedang diajak bicara oleh seorang pria agak gemuk dan sangat berbulu. Karena penasaran, aku berjalan mendekat.

"Hah... hah... Dek, apa kau terpisah dari Ibumu?"

...Ternyata dia adalah seorang 'penganut aliran' yang berawalan huruf L.

"...Maaf tidak bisa memenuhi ekspektasimu, tapi aku sudah dewasa, tahu."

Melihat tingkah pria yang sangat bersemangat itu, Bu Utage yang biasanya garang pun tampak sedikit risi.

"S-sudah dewasa?"

"Iya, jadi cepatlah per—"

"LUAR BIASA!"

"Hah?"

"Dek, sepertinya kau salah paham. Umur itu tidak penting! Ada orang-orang tidak beradab yang bilang kalau sudah lewat usia sekian itu artinya nenek-nenek, tapi mereka itu tidak mengerti apa-apa. Penampilan! Penampilan adalah satu-satunya standar nilai yang mutlak! Bahkan, aku justru lebih bersemangat kalau ada celah (gap) antara penampilan dan usia aslinya!"

...Gawat, orang ini sudah level ahli.

"Ngomong-ngomong kalau tidak keberatan, berapa usiamu, de—ogofueh!"

Si lolikon itu langsung ambruk di tempat.

"B-Bu, pukulan ke ulu hati itu tadi agak berlebihan, tidak sih..."

"Bodo amat, dia menjijikkan tahu."

Satu serangan telak. ...Yah sudahlah, lagipula si pria itu pingsan dengan wajah yang tampak bahagia.

"Anu, permisi. Sepertinya orang ini tiba-tiba merasa tidak enak badan..."

Aku memanggil petugas untuk mengangkutnya.

"W-wah, baru sampai sudah kena sial ya."

"Benar-benar deh."

Si 'L' itu memang salah cari lawan. Melakukan sesuatu pada orang ini sama saja dengan tindakan bunuh dir—


PILIH:

Mengangkat tubuhnya dan bilang, "Cup cup, Utage-chan sayang, takaitakai~"

Memeluk tubuhnya dan bilang, "Horeee, Utage Mamaaa!"


...Kau ingin aku mati, ya? Tidak, aku harus berpikir positif. Kalau Bu Utage, dia pasti paham kalau aku melakukan ini terpaksa karena Opsi.

"Maaf sebentar, Bu!"

"Apa?!"

Tanpa penjelasan, aku langsung mengangkat tubuhnya.

"Cup cup, Utage-chan sayang, takaitakai~ (ayun tinggi-tinggi)!"




Aku menyelesaikannya secepat mungkin, lalu menurunkannya ke tanah dengan perasaan waswas.

"A-anu..."

"...Amakusa, kau juga menderita, ya."

Bu Utage menunjukkan senyum yang sangat lebar. Syukurlah...

"I-iya, benar sekali, Bu! Aku tahu Ibu yang punya nasib serupa pasti mengerti betapa sulitnya aku bafubeshi!"

Aku ditampar begitu saja.

"Aku memang bersimpati, tapi itu urusan lain."

"Uuuh..."

Yah, kurasa ini lebih baik daripada dipukul di ulu hati sampai pingsan. Tapi Bu Utage ini, meski dari dulu aku sudah tahu, tapi melihatnya dari jarak dekat begini, aku jadi sadar kembali—

"Hmm?"

Tiba-tiba, sebuah dorongan kuat menyerangku. O-oi... jangan-jangan ini Opsi yang muncul beberapa hari lalu, yang membuat apa pun yang kupikirkan langsung keluar dari mulut...

Aku berusaha sekuat tenaga menahannya tapi sia-sia. G-gawat, mulutku bergerak sendiri—

"Dadamu kecil sekali ya!"

◆◇◆

"Alasanmu?"

"……A-afafupen (M-maaf)."

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

...Ya iyalah, pipiku bengkak gara-gara pukulan mentahmu tadi, Bu. Lagipula, jeda waktunya keterlaluan, tahu! Aku sudah benar-benar lupa soal opsi itu. Tapi ya, dibanding Opsi soal orang populer yang meledak atau Opsi soal terlempar ke ujung galaksi yang membahayakan nyawa, dipukul sampai wajah berubah bentuk mungkin masih termasuk berunenggak, enggak beruntung sama sekali!

Setelah menunggu aku bisa bicara dengan normal, Bu Utage membuka suara dengan nada tidak senang.

"Amakusa. Aku mau jalan-jalan sendiri, jadi kau awasi bocah-bocah itu dengan benar."

"Eh, Ibu mau memisahkan diri?"

"Iya, orang dewasa punya cara mainnya sendiri. Lagipula, mana mungkin aku yang sudah 29 tahun ini ikut campur dengan kalian... Eh, malah aku sebut sendiri!"

"Ibu sendiri yang bilang, kan!"

Seketika, telapak tangan Bu Utage menempel di leherku.

"...Kalau kau membocorkan umurku ke orang lain, akan kucekik kau sampai mati."

"I... iya."

Dia akan melakukannya... orang ini benar-benar akan melakukannya.

"Aku ini beda denganmu, si mesum yang senang mengumbar aib sendiri di depan umum."

"Bisa tidak Ibu berhenti bicara aneh sambil melihat selangkanganku?!"

Padahal dia pasti tahu ini gara-gara Opsi, tapi dia tetap saja tidak mau mengabaikannya. Benar-benar tipe sadis.

"Yah, berjuanglah, si 'Endless Cherry Terkecil dalam Sejarah Umat Manusia'."

"Kenapa Ibu mengucapkannya seperti julukan karakter anime!"

◆◇◆

"Lho?"

Sambil mengusap pipi yang masih sakit, aku kembali ke depan papan pengumuman. Tapi tiga orang yang tadi harusnya ada di sini sudah menghilang. Aku melihat sekeliling, dan di tempat yang agak jauh, ada kerumunan kecil. Dengan firasat buruk, aku menuju ke sana.

"Iyaho—!"

...Ouka sedang memanjat puncak pohon kelapa buatan yang dipasang sebagai hiasan.

"Ah, Amacchi! Di sini rasanya enak sekali!"

Dulu dia pernah bergelantungan di atap pakai senar pancing, tadi pagi dia memanjat pohon sakura, sekarang ini... kenapa sih dia hobi sekali ke tempat tinggi? Setelah aku memberi isyarat tangan agar dia turun, Ouka merosot turun dengan gerakan lincah.

"Heh! Jangan melakukan hal berbahaya begitu!"

Aku memarahi Ouka yang baru saja berlari ke depanku.

"Ahaha, Amacchi seperti Ayah saja."

"A-ayah katamu..."

Aku merasa seperti dikatai om-om secara tidak langsung. Agak syok juga.

"Sudahlah... mana dua orang lainnya?"

"Eeeh... Ah, Yuragi-chi ada di sana."

Aku mengikuti arah telunjuk Ouka. Yuragi sedang berlutut di depan anak laki-laki kelas 2 atau 3 SD, menyejajarkan pandangannya dan mengusap kepala anak itu. Biasanya ini adalah pemandangan yang menghangatkan hati, tapi... aku mencoba mendekat sampai bisa mendengar percakapannya.

"Eh, Adik Kecil, mau tidak jadi Kakak-ku?"

"...Eh?"

"Ka-kak-ak... Hei, apa kau tidak merasa bersemangat kalau dipanggil begitu?"

"...Kakak ini menakutkan."

Bocah itu sampai ketakutan setengah mati! Anak itu langsung lari terbirit-birit.

"Uuuu..."

Yuragi memegang mulutnya sambil mengerang melihat punggung anak itu yang menjauh. Oh? Biar bagaimanapun, apa dia merasa syok karena ditolak mentah-mentah oleh anak kecil?

"D-dia memanggilku 'Kakak'... rasanya mau muntah."

BAGIAN ITU YANG KAU PERMASALAHKAN?!

...Karena aku tidak ingin dianggap sebagai kenalannya, aku ragu-ragu untuk menyapa. Tapi Yuragi yang sepertinya sudah pulih dari luka mentalnya langsung menuju target berikutnya. Wao... Targetnya memakai baju renang wanita, tapi postur dan wajahnya jelas-jelas laki-laki... Singkatnya, seorang waria.

"Maukah kau jadi Kakak... eh bukan, jadi Mbak-ku?"

Jangan ragu-ragu di bagian itu dong! Waria yang disapa itu menunjukkan ekspresi waspada. Ya iyalah, disapa tiba-tiba begitu pasti reaksinya begitu.

"Eh... a-ada apa, Jeng? Akika lagi mokat, jadi kalau mau jualan apa pun eike gak ada duit!"

Gaya bicaramu aneh banget! Waria bergaya Betawi (?) itu pun langsung kabur terbirit-birit.

"Hah... kalah dua kali berturut-turut ya."

...Aku memutuskan ini tidak bisa dibiarkan lagi. Aku memanggil Yuragi yang sedang lesu itu dari belakang.

"Kau ini sedang apa, sih..."

"Ah, Kakak-yang-asli."

"...Aku tidak akan berkomentar soal panggilan itu lagi... Di mana Chocolat?"

"Kak Chocolat ada di sana tuh."

Di arah pandangan Yuragi, tepat di tengah kerumunan yang paling padat, Chocolat berada.

"Waaa, banyak laki-laki telanjang di mana-mana!"

Anjing fujoshi itu matanya berbinar-binar.

"Ini adalah kemungkinan kombinasi yang tak terbatas—"

"Chocolat..."

Aku berjalan mendekat dan menyapanya dengan nada sedikit risi.

"Ah, Kanade-san, lihat deh! Mana yang menurutmu paling cocok?"

"Enggak ada yang cocok!"

"Aku rasa standar Kanade-san terlalu tinggi. Dalam situasi yang penuh pilihan begini, apa sih yang tidak Kamu sukai?"

"JENIS KELAMINNYA!"

...Mumpung sedang begini, aku memutuskan untuk menanyakan hal yang mengganjalku sejak lama.

"Hei Chocolat, kau itu... suka padaku, kan?"

"Iya, aku sangat suka!"

Sama seperti biasanya, Chocolat menjawab instan tanpa ragu.

"Nah, kalau begitu, bukankah aneh kalau kau malah ingin menjodohkanku dengan laki-laki lain?"

Tentu saja aku tahu kalau 'suka'-nya Chocolat itu bukan rasa cinta romantis, tapi tetap saja, menjodohkan orang yang kau sukai dengan orang lain itu sulit dimengerti.

"Rasa sukaku pada Kanade-san dan keinginanku membuat Kanade-san jadi 'homo-homoan' adalah perasaan di dimensi yang berbeda. Jadi, keduanya bisa berjalan berdampingan tanpa saling bertentangan."

"...Aku tidak paham maksudmu, tapi aku paham kalau otakmu memang sulit dipahami."

Lagipula, apa-apaan itu istilah 'homo-homoan'...

"Wahai para pria yang haus darah, di sini ada cowok ganteng, lho! Mau coba menyerangnya tidak?!"

"BERHENTI!"

"Mmgghh!"

Aku buru-buru membekap mulut Chocolat untuk mendiamkannya. Sial... baik Ouka maupun Yuragi, kenapa mereka semua langsung bikin masalah begitu sampai di sini? Aku harus memberi mereka peringatan sekali. Aku membawa Chocolat kembali ke tempat Ouka dan Yuragi yang sudah kusuruh menunggu di depan papan pengumuman.

"Kalian bertiga... duduk di situ sebentar."

Mengikuti instruksiku, mereka bertiga duduk dengan manis gaya 'duduk tegak' (seiza).

"Dengar ya, kalian semua sudah SMA, jadi tolonglah bertingkah sedikit lebih sopan."

"Ahaha, 'sopan' katanya. Benar-benar seperti Ayah!"

"Uwaaa, Kakak bau om-om!"

"Aku memang sering kena, tapi ceramah Kanade-san itu biasanya sangat bertele-tele dan menyebalkan."

Cekit.

B-bocah-bocah ini... Aku sempat terpikir untuk membentak mereka sekalian, tapi kalau aku berteriak di sini, mereka pasti cuma akan menganggapnya lucu. Tenang, Kanade. Tutup mata sebentar dan tarik napas dalam-dalam.

"Sshhh... Haaaah... Lho?"

Padahal itu hanya sekejap, tapi saat aku membuka mata, mereka bertiga sudah lenyap tanpa bekas.

"Waaa, kolam di sebelah sana kelihatannya seru!"

"Dari arah sini tercium bau 'Kakak' yang menyengat!"

"Sepertinya di sebelah sana ada area makanan!"

"T-tunggu dulu!"

Ketiganya lari berpencar ke arah yang berbeda sesuka hati.

"Sial... mereka itu, baru saja dibilangi!"

Kepalaku mulai pening... Tapi, bagaimana ini?

Mustahil mengejar mereka semua sendirian...

Kalau begitu, karena ada urusan Misi, aku harus memprioritaskan Ouka—



PILIH:

Sambil memegang selangkangan: "Guaaah! Tangan kananku... tangan kananku berdenyut!"

Sambil mengusap selangkangan: "Guaaah! Tangan kananku... tangan kananku berdenyut!"


............ "Guaaah! Tangan kananku... tangan kananku berdenyut!"

...Tentu saja aku memilih . Sambil membela diri di dalam hati kepada entah siapa, aku baru saja mau mengejar Ouka, tapi...

"Permisi sebentar."

"Eh?"

Seorang petugas pria menyapaku.

"Barusan Kamu memegang selangkangan sambil meracaukan hal yang aneh... Bisa ikut bicara sebentar?"

...Mendengar tindakanku diulangi secara objektif begitu, aku memang terdengar seperti mesum tingkat akut.

"...Maaf, sebenarnya aku sedang menderita penyakit bernama 'Chuunibyou'."

Kalau aku kehilangan jejak Ouka di sini, aku akan kehilangan kesempatan besar. Aku tidak peduli dianggap orang gila, aku hanya ingin urusan ini cepat selesai.

"Bukan, aku tahu kalau Kamu sakit, tapi..."

LHO, KOK DIA MALAH SALAH PAHAM?! Sial... istilah 'Chuuni' sepertinya tidak dimengerti oleh orang awam yang tidak punya dasar otaku. Petugas itu entah kenapa menatap ke arah selangkanganku dan berkata:

"Sepertinya itu bukan 'Chuuni' (SMP kelas 2), tapi lebih ke ukuran 'Shouni' (SD kelas 2)..."

"KAMU SEBENARNYA LAGI BICARA SOAL APA, SIH?!"

◆◇◆

"Sialan..."

Butuh waktu lama bagi petugas itu untuk memahami konsep 'Chuunibyou' (yang sangat sulit dijelaskan) dan membuatnya paham bahwa aku tidak sedang meratapi ukuran 'barang'-ku yang kecil sebelum akhirnya dia melepaskanku. Tentu saja, bayangan mereka bertiga sudah tidak ada lagi.

"Sial, kenapa jadi begini..."

Sambil mengacak-acak rambut, aku berlari ke arah perginya Ouka.

◆◇◆

(Ah, Amakusa-kun, meski menggerutu begitu tapi dia kelihatan senang ya...)

Di tengah kerumunan, seorang gadis menatap punggung Kanade Amakusa yang berlari dengan raut wajah kesal. Gadis itu bernama Furano Yukihira.

(Sekarang aku bingung harus menyapa bagaimana... Uuu, bagaimana ini...)

Dia menyesal. Menyesal karena telah menolak ajakan untuk pergi ke kolam renang bersama.

(Habisnya... habisnya...)

Dia menunduk, menatap dadanya yang rata.

(Chocolat-chan dan Ouka-chan, kenapa dada mereka bisa sebesar itu...)

Melihat aset mereka yang selevel model secara langsung, kepercayaan dirinya yang memang sudah tipis langsung hancur berkeping-keping.

(Anak laki-laki memang lebih suka yang dadanya besar, ya...)

Sekali lagi, dia menatap dadanya sendiri sambil menghela napas. Dua gundukan kecil yang sudah menemaninya bertahun-tahun itu sudah berhenti tumbuh sejak setahun lalu.

(Ah, dia bakal hilang dari pandangan!)

Furano buru-buru berlari mengejar punggung Kanade.

◆◇◆

"Hah... hah... bocah-bocah itu, benar-benar berbuat sesuka hati."

Seberapa pun aku berlari, aku tidak bisa menemukan Ouka. Tapi kolam renang ini luas sekali.

Slogan 'Taman Hiburan Air Terbesar di Jepang' ternyata bukan omong kosong.

Aku memegang lututku sambil terengah-engah. Percuma, aku tidak akan menemukannya kalau cuma lari membabi buta begini. Apa ada cara bagus—

"Kelihatannya Kamu sedang kesulitan ya~"

"Benar banget... eh?"

Aku refleks menjawab suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang, tapi gaya bicara yang khas ini jangan-jangan...

"Halo, Amakusa-san~"

...Firasat burukku tepat sasaran. Saat aku mendongak dan menoleh, di sana berdirilah sang Ketua Kokubyakuin. Tentu saja dia memakai baju renang. Tubuhnya yang punya keseimbangan luar biasa itu memancarkan kilauan yang terasa sakral. Rambutnya yang panjangnya hampir setinggi tubuhnya itu basah oleh air dan berkilau lebih indah dari biasanya.

"Fufu, kebetulan aku sedang main ke sini juga~"

"Kebetulan katamu... lho?"

Wajah yang kukenal bukan cuma dia saja.

"Oalah, ternyata si serangga sampah yang miskin harta ini juga miskin fisik ya."

"Halo, Amakusa-kun."

Di belakang Ketua, ada dua orang lagi yang kukenal. Ayame Reikado dan Konagi Yawakaze.

Gadis peringkat 5 dan 3 di Peringkat Populer. Reikado yang angkuh dengan sifat ratu, dan Yawakaze yang pendiam dan lembut.

Sifat mereka benar-benar berlawanan. Yah, mungkin itu sebabnya mereka tidak saling berebut suara dan keduanya masuk peringkat.

"Kenapa kalian bertiga bisa barengan?"

"Pertandingan tempo hari sudah selesai, jadi aku mengajak mereka sebagai perayaan kerja keras~"

Ketua tersenyum manis sambil menopang pipi. Kalau diingat-ingat, waktu bertemu di koridor kemarin dia bilang ada yang harus diberikan kepada mereka berdua, ternyata tiket tempat ini ya.

"Yah, secara pribadi kami berdua tidak merasa kalah, sih. Benar kan, Yawakaze-san?"

"Ahaha... kurasa begitu."

Entah dari mana datangnya rasa percaya diri Reikado ini. Padahal waktu tanding lawan Yukihira dia hampir menangis gara-gara ketahuan pakai silikon buat dada palsunya... Tapi... melihat baju renang Reikado, aku menelan ludah.

Ini maksudnya bagaimana, kainnya hampir tidak ada begitu... Aku benar-benar memelototinya, tapi sepertinya Reikado sudah biasa diperlakukan begitu, dia sama sekali tidak terusik.

Sebaliknya, baju renang Yawakaze cukup tertutup, mungkin mencerminkan sifatnya... tapi di depan keimutan ini, persentase kulit yang terlihat sudah tidak penting lagi!

Kehadiran Yawakaze yang memakai baju renang itu sendiri sudah punya arti yang sangat besar!

"Anu... Amakusa-kun... kalau dilihat begitu terus... aku jadi malu."

"Hap!"

Gawat, saking malaikatnya Yawakaze, sifatku jadi agak berubah.

"M-maaf."

Wajah Yawakaze memerah dan dia menunduk.

"Yawakaze-san, kau harus lebih percaya diri. Para pria sampah di kolam renang ini tidak punya kerjaan lain selain menjilati tubuh gadis berpakaian renang dengan mata mereka, jadi kau harus punya mentalitas untuk memamerkannya pada mereka."

...Bahasa penyampaiannya memang kasar, tapi menurutku pendapat itu ada benarnya juga, sih.

"Ngomong-ngomong Amakusa-san, kenapa Kamu sendirian saja~?"

Ketua menyela dengan nada santai.

"Sebenarnya begini—"

Aku menjelaskan kalau Ouka dan yang lainnya berpencar sesuka hati.

"Aduh~ itu merepotkan sekali ya~"

Padahal ekspresinya sama sekali tidak kelihatan repot.

"Ketiga orang itu kalau dibiarkan pasti akan menimbulkan keributan besar ya~"

Yah, mereka sudah memanjat pohon kelapa, bicara mesum ke anak kecil, dan mencoba membuatku diserang laki-laki...

"Hmm, sebagai anggota OSIS, aku tidak bisa membiarkan nama baik Akademi Seikou tercemar~ Amakusa-san, kau tahu kira-kira mereka ke arah mana~?"

"Ah, iya."

Berdasarkan papan pengumuman di dekat pintu masuk, Yuragi ke arah Timur Laut, Chocolat ke Utara, dan Ouka ke arah Barat Laut. Aku memberitahu hal itu kepada Ketua.

"Begitu ya~ Ada tiga orang yang harus dicari. Kebetulan kami juga bertiga. Yawakaze-san, Reikado-san, maaf ya, bisa minta bantuannya~?"

Tiba-tiba Ketua meminta bantuan kepada dua orang peringkat atas itu.

"Ah, iya, tentu saja!"

"Yah, karena aku sudah diberi tiket gratis, dan ini permintaan langsung dari Ketua OSIS, aku tidak bisa menolak."

Mereka berdua setuju dengan mudah, tapi... bukankah usulan ini terasa janggal? Dia bilang soal 'nama baik Akademi Seikou', tapi nadanya terdengar sangat bohong dan tidak tulus sama sekali.

"Kalau begitu, aku akan pergi ke tempat Ouka-chan."

"Aku rasa aku akan mengecek keadaan Chocolat-san~"

"Berarti aku bagian si rambut pink kelas satu itu ya."

Tanpa memedulikan kekhawatiranku, pembagian tugas langsung diputuskan begitu saja. Yah, sekarang bukan waktunya memikirkan niat asli Ketua. Apa pun kombinasinya, tujuanku sudah jelas. Demi Misi, aku harus segera ke tempat Ouka—

"Ah, omong-omong Amakusa-san, kau harus ikut denganku atau Reikado-san ya~"

Ketua menyela lagi dengan nada santainya.

"Hah? Tidak, aku mau ke tempat Ouka—"

"Tidak boleh~"

"T-tidak boleh apanya..."

"Kalau langsung ke sana, nanti tidak seru."

Ketua menekankan bagian akhir kalimatnya, menaruh jari telunjuk di bibir, lalu tersenyum manis.

"Bersenang-senang itu harus disimpan untuk bagian terakhir~"

...Ada apa sih? Waktu tanding kemarin dia akhirnya membantu (setidaknya sedikit), tapi hari ini dia malah bertindak seolah menghalangi Misi... Apa sebenarnya mau orang ini?

"Oke, Yawakaze-san silakan berangkat~"

"Ah, iya, aku akan berusaha mencari Ouka-chan!"

Atas desakan Ketua, Yawakaze langsung berlari kecil meninggalkan kami. Kalau bisa aku ingin ikut mengejarnya, tapi...

"Hati-hati di jalan~"

Ketua melambaikan tangan ke arah Yawakaze, tapi punggungnya memancarkan tekanan yang luar biasa besar, membuatku tidak bisa melangkah setindak pun. Ketua berbalik ke arahku sambil tetap tersenyum.

"Amakusa-san. Kau tahu peribahasa 'Biar lambat asal selamat'? Memang target utamanya adalah Ouka-san, tapi kurasa berteman baik dengan gadis-gadis lain juga tidak akan merugikanmu~"

Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya sedang dibicarakan Ketua ini?

"Jadi, Amakusa-san, silakan pilih. Mau pergi mencari Yuragi bersama Reikado-san, atau mencari Cho—"

"Bersama Yuragi saja."

Aku menjawab instan sebelum dia selesai bicara. Aku tidak mau kalau harus berduaan saja dengan Ketua.

"Aduh, aku ditolak. Sedihnya~"

Ketua berakting sedih dengan nada yang sama sekali tidak tulus.

"Berarti Reikado, aku ikut mencari Yuragi bersamamu."

Reikado membalas dengan ekspresi bosan.

"Huh, terserah kau saja, tapi jangan menghalangiku ya."

Masih tetap sombong seperti biasanya. Jujur saja, aku juga agak sulit menghadapi Reikado, tapi dibandingkan Ketua, dia masih jauh lebih mendingan.

"Ah benar juga, Amakusa-san, ada satu hal yang ingin kukatakan~"

Tepat saat aku mau pergi bersama Reikado, Ketua memanggilku, jadi aku menoleh.

"Kalau kau berbuat curang, nanti bakal ada hal buruk yang menimpamu, lho."

"!?!"

Sesaat, mata Ketua melebar dan memancarkan cahaya seperti burung pemangsa yang sedang mengincar buruannya, persis seperti yang pernah kulihat sebelumnya.

"Kalau si Hakoniwa-san itu bikin masalah, tolong tenangkan dia dengan baik ya~"

"...Baik."

Sambil menyeka keringat dingin yang mengucur, aku pun pergi dari sana.


2

Benda itu bergoyang. Di sampingku, gundukan daging bernama payudara itu bergoyang dengan sangat kenyal, tayun-tayun.

"Berhenti melirik-lirik dengan tatapan mesummu itu, dasar eksibisionis menjijikkan."

Ugh... ketahuan.

"Maaf, refleks..."

Tapi serius, cara benda itu bergoyang terlihat sangat alami, sama sekali tidak tampak seperti ada benda asing yang ditanam di dalamnya.

"Rasanya sulit dipercaya kalau itu isinya silikon."

"!?!"

Wajah Reikado langsung menegang, dan langkah kakinya melambat drastis.

Gawat. Aku tidak bermaksud buruk, tapi kata-kata itu malah keceplosan keluar dari mulutku.

"Ah, tidak, lupakan yang barusan."

Kira-kira aku bakal dihujat habis-habisan, tapi anehnya, Reikado justru menunjukkan ekspresi ketakutan, waspada, dan penuh kecemasan.

"A... Apa maumu?"

"Hah? Mauku? Kau bicara apa, sih?"

"Ja-jangan pura-pura bodoh! Setelah kau menunjukkan kalau kau tahu rahasiaku, kau pasti berniat menyuruhku melakukan hal-hal cabul, kan?!"

"Enggak, enggak... kau ini ngomong apa, sih."

Kenapa sih pola pikirnya bisa langsung loncat ke sana?

"Ha-habisnya, semua manga yang kubaca ceritanya selalu begitu!"

"Tunggu sebentar... Sebenarnya kau ini baca buku apa saja?"

"M-mau bagaimana lagi! Sebenarnya aku tidak tertarik pada manga, tapi kakak laki-lakiku menumpuknya di kamarku karena kamarnya sudah tidak muat. Dia bilang dengan senyum lebar, 'Ini adalah buku teks pendidikan seks'."

"Sebagai kakak, aku rasa dia agak bermasalah..."

"Kata kakakku, dia merasa sangat bersemangat saat melihatku malu setelah membaca buku-buku mesum itu."

"DIA ITU PSIKOPAT MESUM, TAHU!"

Mulai dari orang tua Ouka sampai kakaknya Reikado, kenapa orang-orang aneh di sekitarku ini keluarganya juga pada 'ajaib' semua, sih... Ya sudahlah, mari kembali ke topik utama (?).

"Lagipula, kenapa kau repot-repot pakai silikon segala?"

Seberapa pun kau melakukan prosedur buatan, biasanya tidak akan sampai se-ber-volume ini. Untuk mencapai level ini, setidaknya dibutuhkan 'pondasi' yang cukup kuat.

Misalnya, seberapa banyak pun silikon yang disuntikkan ke Yukihira, hasilnya tidak akan jadi begini... Duh, kalau dia dengar isi hatiku ini, aku pasti mati.

Singkatnya, aku menduga dada Reikado aslinya pun sudah jauh di atas standar. Apa perlunya ditambah volume lagi? Jujur saja, dada Reikado yang sekarang terasa terlalu besar sampai-sampai terasa tidak alami secara biologis.

"I-itu karena... teman masa kecil yang tinggal di sebelah rumahku bilang kalau dada itu makin besar makin bagus... Awalnya aku juga menganggapnya bodoh, tapi karena dia selalu mengatakannya dengan mata berbinar-binar setiap kali kami bertemu, akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk operasi—EHH, KENAPA AKU JADI CERITA BEGINI, SIH!"

"KAU SENDIRI YANG CERITA TANPA DISURUH, KAN!"

Habis manja-manja sendiri langsung marah-marah... Sepertinya ini bisa jadi bakat baru untuk dijual.

◆◇◆

Kami terus berjalan sampai tiba di sebuah tempat bernama 'Area Water Survival Game'. Aku sontak menghentikan langkah.

"A-apa-apaan ini..."

Di sana, di tengah kolam renang, berdiri tumpukan bebatuan raksasa. Di sekelilingnya tumbuh pepohonan hijau yang rimbun, menciptakan suasana yang bisa disebut sebagai hutan rimba skala kecil.

Tentu saja, termasuk batu-batunya, semuanya pasti replika dari bahan empuk, tapi dari kejauhan terlihat sangat nyata.

Kedalaman airnya pun paling-paling hanya sampai mata kaki, pemandangan yang aneh untuk sebuah kolam renang. Tapi kalau dilihat sebagai arena survival game (sabage), ya masuk akal saja.

Tapi, suara heranku tadi bukan tertuju pada pemandangannya.

Di berbagai sudut area kolam, banyak laki-laki yang pingsan dengan mata mendelik putih. Ditambah lagi di area bebatuan, tidak sedikit orang yang tergeletak seolah kehabisan tenaga.

"Sebenarnya... apa yang terjadi di sini?"

Saat aku bergumam begitu, dari puncak bebatuan tertinggi, terdengar suara yang sangat kukenal melalui pengeras suara.

Horeee! Musuhnya hampir musnah semua lho, Kakak-kakak sekalian!

"""UWOOOOOOOOOOOO!"""

Di sekeliling Yuragi yang memegang pengeras suara, para pria dengan semangat yang abnormal bersorak sambil mengangkat benda yang terlihat seperti senapan besar.

Ah, Kak Kanade—!

Yuragi yang menyadari keberadaanku melambaikan tangannya dengan heboh dari atas.

...Gawat, aku sama sekali tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi. Untuk memastikan situasi, aku menyapa seorang petugas perempuan di dekat situ.

"Anu, permisi... aku kenalan dari gadis berambut pink di atas sana. Ini sebenarnya sedang ada apa, ya?"

"Ah, itu..."

Si mbak petugas menjelaskan sambil tersenyum kecut.

Area 'Water Survival Game' ini, meski namanya survival game, sebenarnya cuma tempat bermain air bebas menggunakan pistol air yang disewakan.

Namun, jika ada banyak orang, terkadang diadakan pertandingan kelompok. Dan hari ini, klub penelitian sabage dari universitas terdekat sedang menyewa tempat ini.

Tragedi dimulai saat Yuragi, yang sedang berkeliaran mencari 'Kakak', lewat di sini.

Awalnya anggota klub tersebut terbagi menjadi 'Tim Timur' dan 'Tim Barat' yang bermain dengan sehat.

Namun, setelah Yuragi menyerbu masuk, kedua tim tersebut langsung bubar total.

Mereka terorganisasi ulang menjadi 'Faksi Adik' dan 'Aliansi Kakak-kakak & Lain-lain', hingga pecahlah tawuran skala besar.

Dan kabarnya, faksi pertama yang sudah dicuci otaknya dan berubah menjadi berserker menunjukkan kekuatan yang luar biasa, sementara faksi terakhir hancur lebur dan harus merasakan pahitnya kekalahan.

...Benar juga, Yuragi sejak dulu memang sangat lihai dalam memanipulasi hati orang dan menghasut massa. Saat SMP dulu, hampir semua anak laki-laki di kelasnya menganggap Yuragi sebagai adik mereka sendiri dan memujanya, sampai-sampai kelasnya hampir hancur total.

Dikelilingi banyak 'Kakak' dan bertahta di puncaknya sebagai 'Adik', sepertinya dia merasakan kenikmatan yang sulit dimengerti orang normal... Kenapa sih aku harus punya teman masa kecil kayak begini.

Kalau bisa, aku ingin membiarkannya dan segera angkat kaki dari sini... tapi tatapan Ketua OSIS tadi terlintas di benakku. Gawat, kalau aku tidak menyeret Yuragi turun dari sana, aku tidak bisa pergi.

Apa boleh buat, kalau harus bertindak, aku butuh informasi dulu. Aku kembali bertanya pada mbak petugas.

"Aku agak penasaran... kenapa orang-orang itu memakai pistol air yang kekuatannya gila begitu?"

Dilihat dari para 'korban' yang pingsan dengan seragam, kekuatan pistol itu sepertinya terlalu berbahaya untuk barang sewaan umum.

"...Itu dia, harusnya tekanan airnya sudah dikunci. Mahasiswa-mahasiswa itu awalnya juga bermain biasa, tapi setelah gadis itu datang, beberapa orang jadi menggila... Salah satu dari mereka membuka kuncinya dan mengubah tekanan airnya, lalu dalam sekejap yang lain ikut-ikutan..."

...Cuci otak Yuragi benar-benar mengerikan.

"Harusnya kalau sudah separah ini, dihentikan secara paksa saja."

"Masalahnya, orang-orang 'Faksi Adik' itu tidak mau mendengarkan apa pun. Aku sudah lapor ke atasan, tapi dia malah bilang, 'Wah, pengunjungnya jadi ramai dan kelihatan seru, jadi OKE saja!'"

Boleh gitu ya?! Yah, memang sih penonton yang berkerumun jadi banyak banget.

YURAGI—!

Aku meminjam pengeras suara dari mbak petugas dan berteriak ke atas.

Ada apa, Kakak?

Hentikan omong kosong ini dan cepat turun!

Mufufu, seberapa pun Kakak memohon, aku tidak bisa melakukannya. Sekarang adalah waktu yang paling membahagiakan karena banyak Kakak yang bergerak sebagai kaki tanganku!

Kalau kau tidak mau dengar, aku akan menyeretmu turun secara paksa!

Kakak menyerbu masuk demi merebutku kembali... sementara para Kakak yang lain berusaha menghalanginya... Haah... Haah...

...Gawat, dia sudah mencapai stadium akhir. Harus pakai kekerasan.

"Tapi, mau bagaimana caranya ya..."

"Aku benar-benar tidak suka melihat ini."

Tiba-tiba terdengar suara di sampingku. Reikado yang sudah berjalan ke sebelahku sedang bersedekap sambil menatap ke arah Yuragi dengan tidak puas.

"Ada apa, Reikado?"

"Gadis kecil berambut pink itu. Beraninya dia berlagak seperti ratu dan memimpin makhluk-makhluk rendahan itu tanpa tahu diri. Beraninya dia melampauiku, dia pikir dia itu siapa?"

...Harusnya aku tidak boleh berkomentar "Memangnya kau sendiri siapa", ya.

"Sudah kuputuskan. Aku akan menghancurkan gadis itu sampai berkeping-keping, dan memberitahunya siapa sebenarnya orang yang pantas berdiri di atas orang lain."

Reikado semangat sendiri dengan jiwa kompetitifnya. Yah, apa pun motivasinya, kalau dia mau membereskan Yuragi, itu sangat membantu bagiku.

"Tapi kau tidak mungkin bisa membalikkan keadaan ini sendirian, kan?"

Reikado mendengus meremehkan.

"Hmph, bergerak sendiri di garis depan untuk melakukan sesuatu itu adalah puncak kebodohan. Sini, pinjamkan itu."

Reikado merebut pengeras suara dari tanganku dan berteriak lantang.

DENGARKAN, WAHAI PARA PRIA SAMPAH YANG TERGELETAK LEMAH!

Suaranya yang lantang bergema ke seluruh area.

Namaku Ayame Reikado, wanita yang lahir untuk menguasai segalanya di dunia ini!

Mungkin karena volumenya dimaksimalkan, atau karena wibawa suaranya. Orang-orang dari Aliansi yang tadinya pingsan mulai sadar satu per satu.

Kalian tidak tergoda oleh si 'Adik-adikan' berambut pink yang sepertinya bakal menuruti apa pun itu, berarti kalian adalah orang-orang berjiwa M (masokis) yang suka diperbudak, kan? Kalau begitu, aku perintahkan kalian! Pertaruhkan nyawa kalian sekali lagi demi aku, wahai para sampah!

Jujur saja, kata-katanya berantakan sekali, tapi seiring pidato Reikado berlanjut, anggota Aliansi yang baru bangun tadi mulai terlihat bersemangat kembali... Apa mereka benar-benar masokis semua?

Beberapa menit kemudian.

"""Ayame-sama! Tolong beri perintah pada kami, babi-babi hina ini!"""

Reikado telah menguasai Aliansi sepenuhnya.

Setelah gadis pink itu tumbang, aku akan menghujat kalian sepuas tenaga!

"""UWOOOOOOOOOOO!"""

...Kenapa sih mereka bisa sesemangat itu? Serius, deh.

"Kau sedang apa?"

"Hah?"

Reikado menegurku dengan nada dingin saat aku melihat tingkah Aliansi dengan rasa ngeri.

"Kau juga cepat sana pergi."

Entah kapan dia menyiapkannya, sebuah pistol air disodorkan padaku.

"Aku? Bukannya lebih baik membiarkan mereka yang sedang bersemangat itu saja yang bertarung..."

"Hah? Kalau begitu buat apa kau ikut denganku? Rakyat jelata sepertimu cuma bisa mengandalkan fisik, jadi bekerjalah sebagai pionku."

Cara bicaranya membuatku malah jadi bengong saking keterlaluannya.

"Hei, dengar ya—"


PILIH:

Patuh dan langsung menuju medan perang

Tidak sudi mendengarkan wanita angkuh ini. Tembakkan peluru air ke dadanya agar dia tahu kerasnya dunia


Ingin rasanya aku pilih , tapi ada satu kekhawatiran... Kalau kulakukan itu, baju renang Reikado pasti bakal terlepas. Soalnya itu bukan baju renang, lebih mirip potongan kain doang.

"Sedang apa? Cepat pergi, kubilang!"

Ugh... nasib dadamu itu sebenarnya ada di tanganku, tahu. Tentu saja ancaman tanpa kata itu tidak sampai padanya. Reikado menatapku dengan tidak senang karena aku tidak segera bergerak. Kalau begitu... akan kuberi kau pelajaran.

Detik berikutnya, baju renang Reikado terlepas akibat tembakan airku, dan dia menangis sambil menutupi dadanya dengan tangan.................................................................. itu cuma bayanganku.

"Fuu... hari ini kumaafkan saja deh."

Ah, aku yang tidak memilih ini benar-benar seorang gentleman. Mana mungkin aku membiarkan dadanya terekspos di depan banyak orang begini.

Aku tidak tahu apa dampaknya pada orang lain, dan kalau aku sendiri sampai melihat payudara asli, aku tidak tahu apa yang bakal kulakukan.

"Wajahmu kelihatan menjijikkan lho."

Sambil menerima hujatan Reikado, aku kembali melangkah masuk ke kolam.

"!"

Seketika, aku merasakan hawa membunuh dan refleks melompat ke samping. Sambil berguling, aku memastikan posisi musuh. Ada... di sela-sela batu replika, seorang pria berkulit sangat gelap menatapku dengan penuh kebencian.

"T-tunggu sebentar, aku cuma mau menghentikan Yuragi, aku tidak berniat berkelahi—UWOOOH!"

Di tengah kalimatku, tembakan kedua menyerempet wajahku. Rasa perih di pipi memberitahuku betapa tingginya tekanan air itu.

Ga-gawat. Ini... kalau tidak menyerang, aku yang bakal habis. Si pria berkulit gelap itu berdecak setelah gagal dua kali, lalu menempelkan lubang pengisian air ke permukaan kolam untuk mengisi ulang.

Kesempatan!

"YANG TADI ITU SAKIT... SAKIT TAHU—!"

Memanfaatkan celah itu, aku menyerbu ala Frieza-sama... Ternyata aku cukup menikmati peran ini juga ya.

Meski anggota klub sabage, sepertinya mereka tidak terlalu terbiasa memakai pistol air, cara pengisian airnya sama sekali tidak mulus.

Saat si pria itu selesai mengisi air, aku sudah berada dalam jarak tembak pasti.

"Guekh!"

Tembakan airku mengenai lehernya, membuatnya pingsan seketika... Tekanan air ini benar-benar gila.

"Fuu..."

Saat aku menyeka keringat dingin dan menghela napas lega, pertempuran sengit sedang berlangsung di seluruh area.

Hyahhooo! Ayo serbu, Kakak-kakak! Ayo lagi! Tingkatkan semangat kalian, babi-babi!

"""UWOOOOOOOOOOO!"""

"""HAJAAAAAAAR!"""

Kedua tim semakin menggila karena disemangati oleh objek pujaan masing-masing. Dilihat dari situasinya, kekuatan mereka seimbang. Nah, aku akan memanfaatkan kekacauan ini untuk menangkap Yuragi—

"Jangan bergerak."

Sebuah suara dingin terdengar, dan sesuatu yang dingin menempel di punggungku. Gawat... aku sama sekali tidak menyadari ada yang mendekat.

"Lepaskan senjatanya, dan berbalik."

...Dalam situasi ini, aku hanya bisa menurut.

"Oke, oke... fufga!"

Baru saja aku berbalik, moncong pistol langsung dijejalkan ke lubang hidungku.

"...Kau ini siapa?"

Pria berkepala botak itu menatapku curiga. Tentu saja, kalau ada orang asing menyusup ke permainan yang harusnya cuma buat anggota klub, reaksinya pasti begitu.

Masih mending dia tidak langsung menembak seperti si pria kulit gelap tadi.

"T-tunggu dulu, aku netral. Aku ingin menghentikan perang tidak berguna kalian ini."

Karena aku tidak tahu si botak ini faksi mana, aku asal bicara saja untuk mengulur waktu.

"Netral..."

Entah kenapa si botak itu bereaksi pada kata tersebut, dan ekspresinya sedikit melunak.

"...Bisa dengarkan ceritaku sebentar?"

Aku mengangguk cepat. Dengan pistol di hidung, aku tidak punya pilihan lain.

"Sebenarnya, aku sangat suka tipe adik perempuan."

Pengakuan yang sangat tidak penting. Tapi ya, jadi ketahuan kalau dia adalah faksi Yuragi.

"Tapi... tapi... selain itu... emm... aku juga masokis (M)."

Pengakuan yang benar-benar tidak penting level dewa. Lagipula, apa-apaan orang ini, kenapa dia curhat soal selera seksnya pada orang yang baru pertama kali dia temui? Dia bodoh ya? Mau mati ya?

"Cintaku pada Yuragi-chan itu asli... tapi, tapi, keinginanku untuk dihujat oleh Ayame-sama juga tidak bisa kutahan!"

...Ya terserah kaulah.

"Beritahu aku, aku... aku harus mencintai yang mana?"

"Mana aku tahu—"


PILIH:

"Adik perempuan adalah yang tertinggi, dunia ini ada demi adik perempuan!"

"Zaman 'ikutlah denganku' sudah lewat. Sekarang zamannya pria masokis menguasai dunia!"

Tunjukkan kemungkinan baru dan minta dia mengerti


...Kalau aku menjawab setengah-setengah pada orang yang sedang galau ini, bisa-bisa malah jadi bumerang. Pilihan terbaik adalah , yaitu mengalihkan minatnya ke hal lain.

"Bagaimana kalau sesekali kau mengintip dunia yang berbeda?"

"Dunia yang berbeda?"

"Benar. Konsep baru yang membebaskanmu dari pilihan konyol antara Yuragi atau Reikado... Garter Belt."

"..."

"Konsep baru... Garter Belt!"

"Bukannya aku tidak dengar, tapi.............................. Kau ini mesum, ya."

AKU DIKATAIN MESUM OLEH SEORANG MASOKIS PENYUKA ADIK PEREMPUAN!

Ke-kenapa tidak ada yang paham? Kalau memakai Garter Belt, konsep rendah seperti Kakak, Adik, M, S, STW, Loli, Dada Besar, atau Dada Rata itu sudah tidak relevan lagi.

Semuanya akan bersatu dalam kategori agung 'Garter Belt' dan peperangan akan berakhir...

"Lagipula, aku sedang galau serius begini, apa-apaan malah bahas Garter Belt... Kau bercanda, ya?"

Eh? Orang ini ngomong apa, sih. Soal pilih adik atau jadi masokis, bagian mananya yang serius—

"Sudahlah, lenyap sana."

Eh, m-cepat banget dia menyerah. Anak zaman sekarang ya!

Siapa pun yang beda pendapat langsung dianggap musuh, dasar anak manja!

Pemikiran sempit yang menganggap dunia cuma hitam dan putih, dasar anak manja!

Padahal dia sepertinya lebih tua dariku... Eh, bukan waktunya mikir itu.

Si botak ini beneran mau nembak, aku harus pura-pura suka tipe adik seka—

"GYAAAAA!"

Detik berikutnya, aliran air yang berubah jadi senjata tajam merangsek masuk ke lubang hidungku dan mengacak-acak isi kepalaku.

"Fugoooooo!"

"Meski tekanan airnya sudah kuturunkan, kau cukup tangguh juga... tapi berikutnya pasti tamat."

Si botak kembali mengarahkan moncong pistol ke arahku yang sedang mengerang kesakitan sambil menyemburkan air dari hidung.

"Babi ini berani sekali bicara sok hebat ya."

"Eh?"

Si botak refleks menoleh, dan di belakangnya, Reikado sudah menempelkan moncong pistol ke wajahnya.

"A-Ayame-sama..."

"Lenyaplah, babi plin-plan."

Reikado menurunkan bidikannya ke arah dada dan menarik pelatuk tanpa ragu.

"Gofuwaaaaa!"

Si botak terpental ke belakang dan pingsan akibat syok, tapi entah kenapa dia tumbang dengan wajah yang kelihatan bahagia... Dasar masokis sejati.

"Reikado... makasih sudah bantu, tapi kenapa kau bergerak sendiri?"

Aku bertanya sambil menyeka wajahku yang basah kuyup. Padahal tadi dia bilang bergerak sendiri itu puncak kebodohan, kok tiba-tiba berubah pikiran?

"Lihat sekelilingmu."

"Eh?"

Medan perang yang tadinya penuh teriakan kini mendadak sunyi secara aneh.

Jika dilihat baik-baik, jumlah orang yang pingsan sudah dua kali lipat lebih banyak daripada saat aku baru datang... Kedua faksi sepertinya sudah hancur total.

"Fufun, untuk ukuran babi-babi yang sudah kalah sekali, mereka bekerja cukup baik juga."

Reikado menatap para pria yang tergeletak itu dengan wajah yang tampak puas.

"Dan, bagian membunuh jenderal musuh adalah tugasku."

...Singkatnya, kau cuma mau mengambil bagian enaknya saja, kan.

"Fuffuffu. Tantangan itu... kuterima!"

Tiba-tiba suara Yuragi bergema dari belakang.

"Muncul juga kau, bocah pink."

"Aku tidak menyangka Kak Ayame bisa sampai sejauh ini."

Yuragi menodongkan pistolnya ke arah kami.

"Hmph... sadar dirilah sedikit."

"Kak Ayame, aku tidak akan kalah semudah itu lho!"

Keduanya saling berhadapan sambil menodongkan pistol. Heh, padahal amukan para pria tadi sudah reda, menurutku tidak ada gunanya kalian berdua duel begini.

"Kalian berdua, letakkan senjatanya dan bicara baik-b—"

Tepat saat aku melangkah masuk ke antara mereka berdua,

"Rasakan ini!"

"PERISAI KAKAK!"

"Guekh!"

Reikado menembak tanpa ampun, sementara Yuragi menjadikanku tameng untuk melindungi dirinya.

"Mempertaruhkan nyawa demi melindungi adiknya, benar-benar Kakakku yang hebat!"

"MULUTMU ITU YANG BICARA BEGITU?!"

Sambil memegangi pinggang yang terkena tembakan air telak, aku berjalan terhuyung-huyung ke arah Reikado.

"R-Reikado, kau ini, menembak teman sendir—GUAHOOO!"

Kali ini tembakan air Yuragi mengenai punggungku dengan telak.

"Ah, maaf Kak, bidikanku meleset."

"Heh, percikan airnya kena aku, tahu. Namanya juga tameng, pasang badan yang benar dong."

"K-kalian ini..."

"Lagipula Kak, kena dua tembakan itu dan masih bisa berdiri tegak itu hebat banget lho!"

Enggak, aku enggak sedang berdiri tegak! Ini sakit banget, tahu! Dua tembakan tadi hampir membuat kesadaranku melayang!

"Yah, namanya juga orang mesum yang bersemangat menunjukkan perilaku tidak wajar dan suka dihina orang, mungkin disakiti secara fisik juga rasanya nikmat buat dia."

"Benar banget, aku ini masokis jiwa dan raga, jadi ini rasanya sakit-sakit nikm—TIDAK SAMA SEKALI!"

"Nah Kak Ayame, mari kita mulai lagi."

"Hmph, dengan senang hati."

...Anu, mengabaikan orang yang sedang melakukan tsukkomi (lawakan balasan) itu termasuk shame play yang cukup berat buatku, lho...

Sudahlah... aku tidak mau ikut campur lagi, biarkan saja mereka. Siapa pun yang menang, yang penting kekacauan ini berakhir.

Saat aku menjauh dengan gontai dan menoleh ke belakang, suara Reikado dan Yuragi terdengar bersamaan.

"Ini akhirnya!"

"Kemenangan untukku!"

Dari pistol kedua gadis yang saling berhadapan itu, peluru air melesat hampir bersamaan.

"Kyaaa!"

Tembakan air Reikado melewati samping wajah Yuragi setipis benang, tapi tembakan Yuragi menyerempet perut Reikado. Akibat syoknya, Reikado kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang.

"Ugh..."

Tanpa memberi kesempatan Reikado untuk bangkit, Yuragi dengan sigap berlari mendekat, menindih tubuhnya, dan menyelipkan moncong pistol ke celah dadanya dari arah bawah.

"Ugh..."

"Kufufu. Kak Ayame, kalau tidak menyerah, aliran air yang melewati belahan dadamu ini akan langsung menghantam wajahmu, lho."

Hei, apa-apaan ini... Pemandangannya benar-benar luar biasa (dan bahaya).




"Tu-tunggu dulu, jangan digerakkan!"

"Muhuhu...."

"He-hentikan! Kalau kamu melakukan ini padaku, kamu pikir bisa lolos begitu sa—"

"Hoo-re, hoo-re."

"Sudah kubilang hen-hentikan... ahnn!"

Diiringi kalimat mesum ala bapak-bapak, Yuragi menggerak-gerakkan moncong pistol airnya maju-mundur seperti piston, membuat Reikado mengerang kegelian. Ini... tak ada pilihan lain selain menyuruh mereka lanjutkan saja.

Pemandangan itu sebenarnya sangat memanjakan mata, tapi setelah mengulang gerakan ritmis itu beberapa kali, ekspresi Yuragi berubah menjadi penuh tanda tanya.

"Lho, kok cuma di bagian ini rasanya agak beda ya...?"

"!"

"Kayaknya ada bagian yang terasa agak... keras...?"

"⁉"

Wajah Reikado langsung pucat pasi karena syok.

Aduh, gawat. Kalau begini terus, Yuragi bakal ketahuan kalau payudara Reikado itu hasil operasi silikon!

"NUOOOOOOOOOOO!"

"Uwawa!"

Tiba-tiba, Reikado mengeluarkan teriakan berat yang sama sekali tidak terdengar seperti suara gadis remaja, lalu mendorong Yuragi sekuat tenaga.

"Uek!"

Tanpa membuang waktu, Reikado langsung menunggangi Yuragi yang terjatuh... Gila, kekuatan orang kepepet memang luar biasa.

"Hmph... sekarang keadaannya berbalik, ya."

Namun, Yuragi yang seharusnya terpojok justru memasang senyum licik.

"Fufu, kamu masih kurang teliti, Kak Ayame."

"Dalam posisi begini masih saja mau sok jago—fugah!"

Detik berikutnya, mata Reikado mendelik putih dan dia langsung kehilangan kesadaran.

Mari aku jelaskan. Tembakan air yang dilepaskan Yuragi tepat dari bawah menghantam telak bagian bawah payudara Reikado.

Akibat dorongan itu, payudara yang terpental ke atas pun berubah menjadi senjata tumpul yang mematikan. Reikado yang menerima hantaman telak di wajahnya pun langsung pingsan karena geger otak!

"Muhuhu, dengan begini aku yang menang—eh?"

Tapi, pertarungan belum berakhir. Reikado yang pingsan justru ambruk menimpa Yuragi yang sedang merasa menang.

"Eh, sebentar, mogah..."

Tepat sekali, dada jumbo Reikado mendarat telak di wajah Yuragi.

"Sebentar... napas... ngga bisa nafas—"

Seluruh wajahnya tertutup rapat oleh payudara (ajaibnya, bikini itu tidak terlepas), dan meski dia meronta-ronta, tubuh orang pingsan itu ternyata jauh lebih berat dari dugaan.

Dengan kekuatan Yuragi, dia tidak mampu menyingkirkan tubuh Reikado yang menindihnya.

"Nnn—! Nnn—! Nnn... nnn."

Dan setelah beberapa puluh detik—tubuh Yuragi berhenti bergerak sedikit pun.


'Fraksi Adik' VS 'Fraksi Kakak & Aliansi Lainnya' Hasil: Seri karena kedua Jenderal Knock Down bersamaan...


Apa-apaan ini.

Sambil melongo melihat akhir yang sangat konyol itu, aku menyeret Reikado yang pingsan dan Yuragi yang juga tak sadarkan diri di lembah dadanya ke tepi kolam satu per satu.

"Fuu..."

Yah, dengan begini Yuragi tidak akan membuat keributan lagi, jadi Ketua juga tidak akan protes. Aku menyerahkan dua orang yang pingsan itu kepada mbak-mbak petugas dan meminta mereka dibawa ke ruang medis.

Nah, sekarang saatnya mencari Yuuouji tanpa ada gangguan—

"Amakusa-sa~n."

"UOOOOO!"

Tiba-tiba saja, sebuah suara muncul dari belakang.

"Ke-Ketua..."

Saat aku menoleh, Ketua Kokuboin sudah berdiri di sana dengan senyum lebar... Tolong deh, cara muncul seperti itu tidak baik buat jantung.

"Sedang apa Ketua di sini? Bukannya tadi pergi mencari Chocolat...?"

"Ah, sebenarnya aku sudah menemukan Chocolat-san, kok~. Karena sepertinya dia tidak membuat masalah, aku memutuskan untuk kemari dan melihat keadaan di sini~."

Mendengar kata-kata Ketua, aku sedikit lega. Tadinya aku khawatir karena Yuragi berulah begini, tapi sepertinya Chocolat bersikap manis.

"Begitu ya. Kalau begitu, aku akan pergi mencari Yuuouji—"

"Kalau begitu, mari kita kembali ke tempat Chocolat-san bersamaku saja ya~."

...Kok jadi begini?

"Nggak mau, aku nggak mau bareng Ketua—"

"Ayo, let's go~."

"Tunggu... bentar... Kuat banget!"

Tanpa bisa melawan, aku pun diseret pergi layaknya tahanan.


3

Dalam perjalanan menuju "Area Kolam Bocah" tempat Chocolat berada.

"……Jadi, hari ini sebenarnya apa yang sedang Kamu rencanakan?"

Karena sudah diizinkan berjalan kaki sendiri dengan syarat harus ikut tanpa melawan, aku menatap Ketua dengan tatapan jengah.

"Aduh, merencanakan sesuatu? Amakusa-san, rasanya jahat sekali ya bicara begitu kepada seorang gadis muda~"

Ucapnya dengan santai sambil menempelkan tangan ke pipi. Kalau aku menanggapi setiap perkataannya, tidak akan ada habisnya, jadi aku memilih untuk mengabaikannya dan melanjutkan pembicaraan.

"Membawa Urakaze dan Reikado ke sini juga pasti bukan kebetulan, kan?"

"Bukan, bukan, ini namanya persahabatan antar gadis muda~"

……Percuma saja. Mau bilang apa pun, rasanya seperti memukul angin.

"Amakusa-san, kenapa wajahmu ditekuk begitu? Memangnya ada yang kurang memuaskan? Pergi ke kolam renang bersama delapan orang gadis, ini kan sudah seperti situasi harem yang sempurna~"

"Eh? Delapan orang?"

Chocolat, Yuuouji, Yuragi, Ketua, Urakaze, dan Reikado. Kalaupun aku memasukkan Utage-sensei secara paksa (maaf, ya), totalnya baru tujuh orang.

"Fufu, ada seekor kucing putih yang sedang tidak jujur pada dirinya sendiri sedang menyelinap di sekitar sini~"

(—!?)

Tubuh Furano tiba-tiba gemetar karena firasat buruk yang mendadak.

(A-apa ya? Barusan pundakku rasanya merinding sekali...)

Meski rasa dingin yang tak dikenal itu terasa menyeramkan, pikirannya segera teralihkan oleh pertanyaan lain.

(Amakusa-kun dan Ketua, mereka mau pergi ke mana bersama-sama?)

Saat ini, dia sedang dalam misi membuntuti Kanade dan Seira.

(Uuuh, padahal Amakusa-kun itu anggota 'Reject 5', tapi kenapa ya rasanya dia selalu saja bersama anak perempuan...)

Barusan pun, dia terlihat sedang bersenang-senang—setidaknya di mata Furano—bersama Hakoniwa Yuragi dan Reikado Ayame.

(Ta-tapi, Amakusa-kun mau bersama siapa pun, itu bukan urusanku, kan...?)

"Haaa..."

Sambil menghela napas tanpa sadar, dia kembali menatap punggung Seira.

Ketua OSIS itu benar-benar sulit ditebak, tipe orang yang tidak bisa dimengerti apa isi pikirannya. Saat dia tiba-tiba memeluk Kanade pada pertandingan tempo hari, Furano merasa jantungnya hampir copot.

Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?

(Ah, sudahlah! Padahal barusan bilang bukan urusanku, tapi kenapa malah memikirkan hal itu...)

Saat Furano sedang bergelut dengan perasaannya yang campur aduk, tiba-tiba sesuatu muncul dalam pandangannya.

"Ah, 'Agua-kun'!"

Itu adalah boneka kostum maskot Aqua Galaxy yang menyerupai bebek. Cara berjalannya yang terhuyung-huyung sambil menebar pesona terlihat sangat menggemaskan.

"Hauuu, lucu bangeeet~"

Benar-benar terpesona, Furano berjalan mendekati Agua-kun seolah terhipnotis.

Dia melirik sekilas ke arah Kanade. Sepertinya cowok itu sedang bingung dengan ucapan Seira, jadi mereka tidak berjalan terlalu cepat.

(Ka-kalau cuma sebentar saja tidak apa-apa, kan?)

Furano pun menempel ketat pada Agua-kun dan mulai menggesekkan pipinya dengan gemas.

"Ah, halus sekali."

Dalam benak Furano, sensasi 'Shirobuta-kun' tempo hari muncul kembali. Kalau kostum yang itu terasa empuk berbulu, yang ini punya tekstur kulit yang berbeda tapi sangat nyaman, benar-benar menyengat 'sensor barang lucu' milik Furano.

"Bahagianya~"

Mungkin wajar jika dilakukan anak kecil, tapi melihat gadis SMA seumuran dia menggesek-gesekkan pipi ke boneka kostum adalah pemandangan yang aneh dan mengundang perhatian orang-orang sekitar. Namun, hal itu tidak masuk ke dalam kesadaran Furano yang sudah tenggelam dalam dunianya sendiri.

"Haaa~ lucunya~"

Setelah puas menikmati sensasi tersebut, Furano melepaskan diri dari Agua-kun.

"A-lho?"

Tanpa disadari, sosok Kanade dan Seira sudah menghilang.

"Ko-kok bisa?"

Wajar saja. Meskipun bagi Furano rasanya hanya belasan detik, kenyataannya dia sudah asyik mengusel-usel Agua-kun selama lebih dari lima menit.

(Amakusa-kun, pe-pergi ke mana... eh?)

Saat sedang mengedarkan pandangan mencari Kanade, dia tiba-tiba menyadari banyaknya pasang mata yang tertuju padanya.

(Eh? Eh?)

Hampir semua orang di sekitarnya sedang memperhatikan Furano.

(Ke-kenapa semuanya melihatku?)

Karena tidak menyadari betapa aneh tingkahnya tadi, kepala Furano hanya dipenuhi tanda tanya.

"U-uuuuugh!"

Wajahnya langsung memerah padam seketika, dan dia pun segera lari tunggang langgang dari tempat itu.

"Kucing putih? Apa maksudmu?"

"Entahlah~?"

Apa itu semacam kiasan? Sikap Ketua yang suka bicara berbelit-belit memang sudah biasa, tapi yang kali ini benar-benar tidak jelas maksudnya. Yah, mau tujuh atau delapan orang pun terserah, masalahnya bukan di jumlahnya.

"Kamu bilang harem, tapi di antara mereka, gadis yang waras cuma Urakaze saja, kan?"

Wajah Ketua seketika membeku dalam senyumannya.

"Barusan, kamu bilang apa~?"

Glek....

"……Maksudku, gadis yang waras cuma Ketua dan Urakaze saja, kan?"

"Aduh, aduh, dipuji begitu pun aku tidak akan memberimu apa-apa lho~"

……Apa gunanya percakapan basa-basi yang tidak tulus ini?

"Ah, sepertinya sudah kelihatan~"

Mengabaikan aku yang merasa lelah, Ketua berseru dengan nada santai.

"Di sini, ya……"

Dan sampailah kami di "Area Kolam Bocah", di mana pemandangan yang sangat damai menyambut kami.

"Kak Chocolat, habis ini giliranku ya!"

"Kakak Chocolat, aku juga, aku juga—"

"Ah, curang! Aku duluan tau!"

"Iya, iya, karena harus antre, tunggu sebentar ya."

Pemandangan yang tertangkap mataku adalah Chocolat yang sedang bercengkerama dengan anak-anak di kolam dengan kedalaman hanya setinggi bawah lutut.

Di papan pengumuman tertulis jelas kalimat: "Hanya untuk teman-teman berusia di bawah 10 tahun". Meski usia mental Chocolat rasanya memang di bawah 10 tahun, tapi secara fisik dia terlihat seperti anak SMA.

Tanpa bermaksud menegur, aku menyapa petugas laki-laki yang sedang mengawasi di sana.

"Permisi. Gadis berambut pirang di sana itu kenalan saya…… apa tidak apa-apa dia di situ?"

Petugas yang kelihatan baik hati itu menggaruk kepalanya sambil tertawa hambar.

"Yah, sebenarnya tidak boleh sih, tapi anak-anak sangat menyukainya……"

Memang benar, banyak anak-anak yang mengerumuni Chocolat sambil merengek minta diajak main.

"Ketua, sepertinya di sini tidak akan terjadi keributan, kan?"

Kalau dia cuma bermain damai dengan anak-anak begini, lebih baik dibiarkan saja. Malah rasanya lebih baik jangan diganggu. Meskipun secara usia melanggar aturan, petugasnya juga sudah setengah memaklumi.

"Benar juga ya~. Kalau begitu, mari kita buat aturan baru: kalau kamu bisa membawa Chocolat-san keluar dari kolam itu, baru kita pergi mencari Yuuouji-san."

"……Penggunaan kata 'kalau begitu' Kamu aneh sekali, tahu."

"Segala keberatan dan bantahan baru akan diterima kalau kamu bisa mengalahkan aku~"

Sambil mengucapkan dialog ala komik aksi, dia mendorong punggungku pelan.

"Nah, selamat berjuang~"

"Haaa……"

Melawan pun pasti percuma (baik secara fisik maupun mental, aku merasa tidak akan bisa menang), jadi aku meminta izin sebentar kepada petugas tadi dan berjalan mendekati tepi kolam.

"Rambut yang berkilau ini kelihatan enak ya!"

Chocolat sedang memeluk seorang anak perempuan berambut bob dan menenggelamkan wajahnya di rambut anak itu…… Hei, dia tidak benar-benar akan memakannya, kan?

Dengan perasaan cemas, aku melangkah masuk ke kolam.

"Chocolat."

"Ah, Kanade-san!"

Begitu melihatku, rambut kuncir kuda Chocolat berdiri tegak dengan gembira.

"Kenapa kamu malah menghilang sendiri saat aku sedang menasihatimu?"

"Tadi ada bau yang enak sekali!"

……Itu bukan jawaban, tahu.

"Hm?"

Aku merasakan tatapan penuh permusuhan di punggungku, lalu menoleh.

"……Apa-apaan sih kamu ini!"

Seorang bocah laki-laki berambut jabrik sedang melotot ke arahku.

"Kak Chocolat, siapa orang ini?"

"Ini Kanade-san, Takashi-kun."

"Hooo."

Bocah bernama Takashi itu memperhatikanku dari atas ke bawah seolah sedang menilai barang.

"Apa hubungan orang ini dengan Kak Chocolat?"

"Iya, dia adalah orang yang paling aku sukai!"

Mendengar ucapan Chocolat, wajah Takashi langsung berubah menjadi sangat tidak senang.

"……Kami sedang asyik bermain dengan Kak Chocolat, tiba-tiba kamu masuk tanpa izin. Peka sedikit dong!"

……Bocah ini mulutnya kasar juga ya. Aku tahu dia menyukai Chocolat, tapi tidak perlu memusuhiku begitu, kan.

Yah, aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan anak SD sekarang.

"Chocolat, ayo keluar dari kolam ini sebentar."

Begitu dia keluar dari kolam, syarat dari Ketua akan terpenuhi. Setelah itu, terserah Chocolat mau bermain lagi dengan anak-anak atau apa pun.

Saat aku berpikir begitu dan meletakkan tangan di bahu Chocolat—

(—!?)

Sebuah guncangan dahsyat menghantam bagian bawah tubuhku.

"UGYAAAAAAAAAA!"

Rasa sakit yang membuatku berhalusinasi seolah dunia akan kiamat ini…… low blow?! (Hantaman ke selangkangan)

"Uuu…… uuugh."

Sambil menahan tangis, aku menoleh ke belakang. Ternyata anak perempuan berambut bob yang dipeluk Chocolat tadi sedang melotot tajam padaku.

"Jangan sentuh Kakak Chocolat!"

Bo-bocah ini sama saja dengan Takashi…… Aku tahu kalian sayang Chocolat, tapi jangan tiba-tiba melancarkan serangan low blow dong! Serangan itu terlarang!

Chocolat menasihati anak itu sambil mengernyitkan dahi.

"Misaki-chan, serangan mendadak dari belakang itu tidak baik lho."

"Bukan itu bagian yang harus kamu nasehati!"

"Aku mengerti. Berarti lain kali tendang dari depan saja ya!"

"Lihat kan, dia jadi salah paham gara-gara kamu!"

"Kanade-san milikku ini sangat tangguh, jadi tidak akan mempan hanya dengan serangan segitu."

"Mempan tahu!"

"Mau ditendang seratus orang pun dia pasti baik-baik saja."

"Kenapa kamu malah bicara seperti iklan gudang merek Inaba! Aku pasti mati kalau begitu!" (T/N: Referensi ke slogan iklan gudang Inaba di Jepang yang sangat terkenal karena kekuatannya menampung 100 orang.)

"Aduh, jangan rendah hati begitu dong."

"Bukan rendah hati! Ini teriakan tulus dari lubuk hatiku!"

Bodoh ya…… Iya sih aku sudah tahu dari dulu, tapi anak ini benar-benar bodoh……

"Gwaakh!"

Sekali lagi guncangan menyerang dari belakang, membuat lututku lemas.

Takashi baru saja melancarkan tendangan maut ke betisku…… Sumpah, ini sakit banget.

"Cih, anggap saja ini belas kasihan dariku karena aku tidak mengincar 'telurmu'. Berterima kasihlah."

"Bo-bocah kurang ajar ini……"

Cara bicara dan tingkah laku mereka kepada orang yang lebih tua benar-benar parah, orang tua mereka mendidik mereka seperti apa sih?

Karena kesal, aku menarik tangan Chocolat dengan agak paksa.

"Ayo pergi."

"Ah, tapi……"

Chocolat menatap ke arah seorang anak perempuan berambut hitam panjang yang sedang memperhatikan kami dalam diam. Berbeda dengan dua bocah sebelumnya, dia memberikan kesan anak yang sangat penurut.

"Manami-chan, ada apa?"

Anak bernama Manami itu tidak mengatakan apa-apa, dia terus menatapku dan Chocolat dengan tajam, sampai akhirnya—

"Fueee……"

"Eh?"

Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Nggak mau…… Kakak Chocolat, jangan perggiiii!"

Dia malah menangis kencang.

"Se-Serius nih……?"

Aku jadi panik sendiri menghadapi situasi mendadak ini.

Takashi menatapku dengan pandangan dingin.

"Kamu ini payah banget ya, bikin cewek nangis."

"Ugh……"

"Ah, cup cup, Manami-chan jangan nangis ya, tidak apa-apa kok."

Chocolat mulai menenangkan Manami-chan dengan gerakan yang terlihat sudah terbiasa.

"Kamu pengganggu tahu."

"Benar, pulang sana!"

Kata-kata tanpa ampun dari Takashi dan Misaki pun meluncur. Aku benar-benar diposisikan sebagai tokoh antagonis di sini.

"""PU-LANG! PU-LANG!"""

Permusuhan mereka berdua menular ke anak-anak lain di sekitar, dan sorakan "Pulang!" pun menggema di seluruh area kolam.

"……Maafkan hamba."

Tanpa bisa berbuat apa-apa, aku pun mundur teratur kembali ke tepi kolam di mana Ketua Kokuboin sudah menunggu.

"Aduh, tidak apa-apa nih menyerah begitu saja~?"

"Bukannya tidak apa-apa, tapi kalau sudah sampai bikin anak kecil menangis, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

"Aduh, aduh, padahal hidupmu sedang jadi taruhannya, tapi kamu baik sekali ya~"

……Aku menelan kembali kata-kata "Memangnya ini semua gara-gara siapa!" dan duduk di samping Ketua yang sedang duduk bersila.

"Amakusa-san, kamu masih ingat kan hukuman kalau gagal menjalankan misi~?"

"……Maksud Kamu tentang Pilihan Mutlak yang tidak akan pernah hilang seumur hidup itu, kan?"

Hal semacam itu, mau dilupakan pun tidak akan bisa.

"Benar sekali~. Makanya kamu berjuang menjalankan misi, kan? Tapi menurut pengamatanku, sepertinya kamu kurang merasakan realitas dari hukuman itu~"

"Realitas…… maksudnya?"

"Benar. Karena itu, demi meningkatkan motivasimu, aku akan memperlihatkan sebuah video spesial~"

"Video spesial?"

"Iya, permisi sebentar ya~"

Sambil berkata begitu, dia menyentuh dahiku dengan jarinya.

"A-apa……?"

Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur dan kepalaku terasa melayang.

"Selamat menikmati~"

Bersamaan dengan suara Ketua yang santai itu, kesadaranku pun mulai tenggelam ke dalam alam mimpi.




Aku sedang berjalan sendirian di sebuah kawasan pusat perbelanjaan.

Mataku tertuju pada jam digital yang terpasang di permukaan gedung. Waktu yang ditunjukkan sudah menunjukkan tengah malam.

Musimnya adalah puncak musim dingin di mana angin kencang bertiup kencang, dan di jam yang sangat menusuk tulang ini, lingkungan seperti ini sulit dikatakan ramah bagi raga tua yang sudah melampaui usia tujuh puluh tahun.

Lalu, kenapa aku berjalan di tempat seperti ini, di musim seperti ini, dan di jam seperti ini?

Jawabannya adalah: entahlah, cuma kepingin saja.

Benar-benar murni hanya jalan-jalan santai tanpa tujuan yang jelas.

Aku bisa saja kembali ke apartemen bobrokku dan menenggak minuman keras murah, atau masuk ke minimarket dan berdiri membaca buku dalam waktu lama sambil menerima tatapan risi dari pelayan toko.

Singkatnya, apa pun boleh. Tidak ada arti dalam tindakanku... tidak ada arti dalam hidupku. Ya, toh apa pun yang kulakukan hasilnya akan sama saja.

Sudah puluhan tahun berlalu sejak kegagalan fatal itu, dan setiap gerak-gerikku terus terbelenggu oleh fenomena itu—

……Datang juga, ya.

Di tengah lamunanku, hal itu muncul dengan tiba-tiba seperti biasanya.

Karena sekarang aku sudah menyadari kesia-siaan melawan fenomena ini, aku tidak lagi menunjukkan reaksi berlebihan satu per satu seperti saat aku masih muda dulu.

Mau menangis, berteriak, atau memprotes sekali pun, apa yang harus kulakukan tidak akan berubah.

"……"

Tanpa kata, aku melepaskan mantel yang kukenakan dan membuangnya.

Selanjutnya, aku menanggalkan sweter dan celanaku tanpa ragu. Kurang dari satu menit, aku sudah berdiri hanya mengenakan celana ketat long johns.

Karena warna celana itu sangat mirip dengan warna kulit, dari jauh mungkin aku terlihat seperti telanjang bulat. Melakukan hal seperti ini di tengah musim dingin sudah membuktikan bahwa aku tidak waras... tapi pertunjukan sesungguhnya baru dimulai dari sini.

"HEI! LIHATLAH BEACH-CHICK (PUTING) MILIKKU INI, YO!"

Dari mulutku meluncur rap dengan semangat yang luar biasa tinggi.

Bersamaan dengan itu, aku mencubit putingku sendiri, membusungkan dada, dan membiarkan kata-kata itu meledak dengan penuh tenaga.

"UKIRKAN DI MATAMU, YO! BEACH-CHICK HIGH-TECH TECHNIQUE!" (T/N: Permainan kata (pun) dari biichiku (bahasa slang Jepang untuk puting/nipple.)

Reaksi orang-orang yang lewat bermacam-macam. Ada pemuda yang menatap dengan bengong, wanita yang memalingkan wajah dan berjalan cepat, sampai pria kemayu yang menatap dengan tatapan penuh damba.

"YO! YO! YO! KALIAN SEMUA JUGA IKUT CUBIT, YO!!"

Tanpa memedulikan penonton, aku terus mengikuti ketukan beat yang panas.

……Setelah luapan jiwa dalam diriku itu berlangsung sekitar satu menit. Rasa sakit yang berat dan tumpul di dalam kepalaku menghilang.

Aku berhenti seketika, mengumpulkan pakaian yang kubuang tadi dengan rajin, memakainya kembali, dan sambil mengabaikan sepenuhnya tatapan aneh yang tertuju padaku, aku pergi dari tempat itu seolah tidak terjadi apa-apa.

"……Uugh."

Ini tidak berat... sama sekali tidak berat. Sudah berapa kali aku mengulang hal yang sama sampai sekarang? Mana mungkin sekarang aku merasa ini berat... Rasa dingin yang menusuk di lubuk hatiku ini pasti karena suhu udara yang mencapai titik beku.

"Permisi."

Setelah berjalan beberapa lama, seseorang menepuk bahuku.

"Hm? Ada ap—!?"

Polisi.

Kalau dipikir-pikir, wajar saja mereka datang setelah aku melakukan hal gila seperti itu di tempat umum. Dalam otakku muncul satu kata terburuk: DITANGKAP.

"Kh—"

Detik berikutnya, aku langsung lari sekencang-kencangnya bagaikan kelinci yang kabur.

"Ghuah!"

Tapi, mana mungkin aku bisa lolos dengan mudah. Dalam sekejap, polisi yang berbadan tegap itu meringkusku, dan aku pun tamat.

"Kakek... kenapa Kakek melakukan hal bodoh seperti itu?"

"Le-lepaskan! Ini masih mending daripada aku menanggalkan pakaian bagian bawah, tahu!"

"Dengar ya, masalahnya bukan di situ. Mungkin Kakek merasa senang menunjukkannya, tapi itu mengganggu orang lain. Paham?"

"Ugh……"

Mendengar kata-kata itu, tanpa sadar air mata tumpah dari mataku.

Apa... apa aku harus ditangkap dan dicap sebagai eksibisionis oleh bocah ingusan yang umurnya bahkan belum setengah dari umurku ini?

"Aku pun... aku pun sebenarnya... tidak melakukan ini karena suka—"

◆◇◆

"Hah!"

"Ya, selamat datang kembali~"

Begitu kesadaranku kembali, yang menungguku adalah wajah tersenyum Ketua Kokuboin.

"……Ketua, yang barusan itu jangan-jangan……"

"Iya, itu adalah nasib akhir Amakusa-san jika gagal menyelesaikan misi~"

Sudah kuduga....

Meski sudah setengah yakin, begitu mendengar kenyataan itu langsung dari mulut Ketua, perasaanku jadi makin suram. Lagipula, jangan bilang "nasib akhir", dong....

"Tapi tenang saja. Itu hanyalah 'salah satu kemungkinan', bukan berarti pasti akan jadi seperti itu kok~"

Ketua menepukkan kedua tangannya di depan dada, lalu melanjutkan ceritanya dengan ceria.

"Ada kemungkinan kamu kehilangan pekerjaan gara-gara pilihan itu lalu mati mengenaskan di pinggir jalan, atau gara-gara pilihan itu kamu salah dikira sebagai target pembunuhan lalu kepalamu hancur ditembak penembak jitu, atau bahkan ada masa depan indah di mana kamu disemen dan ditenggelamkan di suatu teluk~"

"Indah matamu! Aku sampai mau nangis dengarnya!"

Ketua mengabaikan protesku dan membalas dengan senyuman santai seperti biasanya.

"Yah, intinya berjuanglah dalam misi, begitu maksudku~"

"……Ketua, di misi sebelumnya Kamu membantu, tapi kali ini Kamu malah menghalangi jalanku menuju Yuuouji…… sebenarnya apa yang Kamu inginkan?"

"Hal yang menarik~"

"Hah?"

"Lebih tepatnya, membuat segala sesuatunya jadi menarik~"

"Eh? Apa maksudnya—"

"Ah, Chocolat-san memanggilmu lho~"

Ketua memutus kalimatku dan mengalihkan pandangannya ke arah kolam.... Dari gelagatnya, dia tidak berniat memberitahuku lebih jauh lagi.

"Kanade-sa~n!"

Sesuai ucapan Ketua, Chocolat sedang melambai padaku dari dalam kolam. Karena sepertinya aku tidak akan dapat info apa pun di sini, aku pun berjalan menujunya.

"Ada apa, Chocolat?"

Ternyata, akses masuk ke 'Area Kolam Bocah' dibatasi oleh waktu, dan sepertinya orang tua anak-anak itu sudah akan menjemput mereka.

"Nah, Takashi-kun, ada yang mau dikatakan pada Kanade-san, kan?"

Didorong oleh Chocolat, Takashi muncul di depanku dengan wajah cemberut.

"……Ma-maaf ya."

Kata-kata yang keluar dari mulutnya sungguh tidak terduga.

"Kakak kandungku itu sifatnya seperti laki-laki, jadi aku mendambakan sosok kakak perempuan yang lembut. Karena Kakak Chocolat selalu tersenyum, dia mirip dengan kakak ideal impianku... Saat aku sedang senang-senangnya, tiba-tiba Kamu masuk, jadi aku merasa Kakak Chocolat direbut. Makanya aku bicara aneh dan menendangmu……"

"Ta-Takashi……"

Rasa haru yang aneh muncul di dadaku. Di saat yang sama, aku merasa malu atas kedangkalan pikiranku yang langsung mencapnya sebagai bocah kurang ajar hanya karena mulut dan sikapnya yang kasar di luar.

"Kamu…… ternyata anak baik ya."

"N-nggak juga kok……"

Aku mengelus kepalanya.

"He-hentikan……"

"Jangan begitu, Kakak ini sangat terharu lho. Jangan malu-malu begitu—Ghuakh!"

"Ja-jangan kegirangan, dasar bego!"

Setelah menendang kakiku, Takashi lari dengan wajah memerah.

"Uuuh……"

Takashi, kamu benar-benar tidak paham dunia ini.... Bahwa tidak ada nilai jual untuk karakter tsundere laki-laki, itu adalah kebenaran mutlak yang tak tergoyahkan.

"Nah, Misaki-chan juga."

Selanjutnya, Chocolat mendorong Misaki dan membawanya ke depanku.

"Maaf karena tiba-tiba menendang bagian berhargamu dengan keras."

Misaki menundukkan kepalanya. Ternyata anak ini juga anak baik yang bisa minta maaf dengan benar.

"Mulai sekarang, aku akan menendangnya lebih pelan sedikit."

"Nggak, jangan ditendang sama sekali dong!"

"Kalau itu sepertinya permintaan yang sulit dikabulkan."

"Nggak bisa ya?!"

"Soalnya, kalau melihat laki-laki kesakitan, aku merasa... bergairah."

"Masa depanmu suram sekali, hei!"

"Tapi, karena apa yang kulakukan memang salah... sekali lagi, aku minta maaf."

Makhluk apa anak ini.... Apa boleh aku memeluknya erat-erat? Mengingat itu akan terlihat sangat berbahaya di mata publik, aku hanya berjongkok, mengelus kepala Misaki, dan memberikan senyuman.

"Ya sudah, anak pintar."

"Ugh……"

Seketika, pipi Misaki memerah padam.

"Ada apa?"

"N-nggak ada apa-apa……"

Misaki menunduk dengan wajah yang benar-benar merah. Apa? Apa dia semalu itu setelah dielus? Setelah itu, Misaki akhirnya pulang bersama orang tuanya tanpa berani menatap wajahku sama sekali.

"Misaki-chan, dadah~!"

Chocolat melambaikan tangannya dengan semangat ke arah punggung anak itu.

"Kamu ternyata hebat juga ya menangani anak-anak."

"Iya, soalnya aku suka sekali anak kecil!"

Yah, dia sendiri saja jalan pikirannya lebih parah dari anak kecil sih....

"Hm?"

Aku merasa celana renangku ditarik-tarik. Saat aku menoleh, ada seorang anak perempuan berambut hitam panjang. Manami-chan, ya.... Karena aku pernah membuatnya menangis, aku jadi sedikit waspada.

Aku tidak boleh mengulang kesalahan yang sama, jadi aku harus merespons dengan hati-hati.

"Ma-maaf soal yang tadi ya."

Saat aku bicara dengan suara selembut mungkin, Manami-chan menggelengkan kepalanya pelan.

"Tadi memang agak takut, tapi sekarang sudah tidak."

Syukurlah. Karena dibenci anak kecil itu rasanya sangat berat tanpa alasan yang jelas. Manami-chan menatapku dan Chocolat bergantian, lalu bergumam pelan.

"Kalian kayak Ayah dan Ibu."

"Hah?"

"Habisnya, kalian terlihat sangat akrab."

"…………"

"Sampai jumpa!"

Manami-chan tersenyum lebar lalu lari ke arah orang tuanya.

"……A-anak yang aneh ya……"

"Katanya kita seperti suami istri lho."

"Apa—"

Chocolat mengatakannya tanpa rasa malu sedikit pun.

"Kanade-san tahu tidak? Suami istri itu kalau sedang makan suka suap-suapan 'aaa~' lho."

"S-suap-suapan matamu……"

Pemandangan beberapa hari yang lalu terbayang kembali di otakku.

"Ah, lain kali kita coba juga yuk?"

"Si-siapa juga yang mau!"

"Kanade-san, kok wajahnya agak merah?"

"Ha-halusinasi itu! Po-pokoknya kita keluar dari sini sekarang!"

"Okee~!"

Chocolat mengikuti di belakangku dengan rambut kuncir kudanya yang bergoyang-goyang.

"Wah, kamu berhasil membawa keluar Chocolat-san dengan selamat ya. Bagus deh~"

Di tepi kolam, Ketua menyambutku dengan senyum tanpa ketulusan seperti biasanya.

"Sekarang kamu bebas pergi ke tempat Yuuouji-san~. Ah, dia ada di 'Area Roller Coaster Teriakan Maut'. Biar Chocolat-san bersamaku saja, jadi cepatlah susul dia~"

Padahal tadi dia habis-habisan menghalangi, tapi sekarang malah memberikan layanan info lokasi.... Apa ini juga bagian dari "membuat segala sesuatunya jadi menarik" yang dia katakan tadi?

"Kalau begitu, silakan berjuang untuk membuatnya menangis ya~"

……Sambil menerima kalimat yang sangat merusak reputasi di punggungku, aku pun meninggalkan tempat itu.


4

"Area Roller Coaster Teriakan Maut" adalah area di mana berkumpul berbagai mesin ekstrem yang bisa dinaiki meski masih mengenakan baju renang, sesuai dengan namanya.

Begitu sampai, aku langsung melihat sosok Urakaze yang sedang terduduk lemas di tepi kolam.

"A-Amakusa-kun…… hauuu."

Urakaze menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ke-kenapa kamu sampai begini?"

Urakaze menunjuk ke arah depannya.

"Wahana itu punya tiga tingkat kengerian. Level 1, level 2, dan level 3……"

Di hadapan kami, terlihat tiga jenis roller coaster yang meliuk-liuk seperti ular.

"Aku baru naik Level 1 saja, kakiku sudah lemas sampai tidak bisa berdiri."

Kurasa itu bukan karena Urakaze penakut. Faktanya, saat ini pun suara jeritan orang-orang terus bergema dari setiap wahana tanpa memandang levelnya.

"Malang sekali ya…… ngomong-ngomong, Yuuouji di mana?"

"Ah, iya, tadi dia kelihatan senang banget naik Level 2. Seharusnya sebentar lagi dia kembali—"

"FUHAHAHAHAHAHAHA!"

Di tengah kalimat Urakaze, tiba-tiba semburan air naik ke udara dan seseorang melompat keluar dari dalam air.

"Hup."

Bagaikan atlet senam, Yuuouji mendarat dengan anggun di tepi kolam.

"Bisa tidak sih kalau muncul itu yang normal-normal saja……"

"Oyo, Amacchi datang juga ya."

Setelah memberikan senyuman padaku, dia mengalihkan pandangannya ke arah Urakaze.

"Konagi-tan, sudah pulih belum?"

"Ma-masih agak sulit sepertinya."

Urakaze menggeleng sambil tersenyum kecut.

Tapi, meski aku sudah menemukan Yuuouji, sekarang aku bingung harus berbuat apa. Aku sama sekali tidak punya ide bagaimana cara membuat Yuuouji menangis di sini. Senjata rahasia benar-benar pilihan terakhir, tapi—

"Begitu ya. Kalau begitu Amacchi, ayo naik bersamaku!"

"Eh?"

Saat aku sedang berpikir, suara Yuuouji membuyarkannya.

"Barusan aku naik Level 2 dan rasanya seru banget. Berikutnya ayo kita naik Level 3 bareng-bareng!"

"……Nggak ah, aku pas saja."

"Eh, kenapa?"

"……A-aku sudah pensiun dari mesin-mesin ekstrem begitu. Itu kan cuma mainan anak kecil. Aku sudah tidak tertarik."

"Jangan-jangan Amacchi…… takut ya?"

"……Ma-mana mungkin!"

Jujur saja, aku takut setengah mati.

Bagi penderita fobia ketinggian sepertiku yang bahkan takut naik bianglala, aku tidak mengerti apa tujuan mesin ekstrem diciptakan di dunia ini.

Kalau aku naik Level 3 yang meliuk-liuk begitu, jeritanku tidak akan berhenti di level normal. Kalau ini di novel ringan, jeritanku pasti bakal memenuhi satu halaman penuh dengan tulisan "GYAAAAAAAAA!!".

"Hohooo……"

Wajah Yuuouji berubah menjadi menyeringai licik…… Ah, aku lupa, kebohongan setengah-setengah tidak akan mempan pada anak ini.

"Muhuhu, kalau begitu harusnya kamu berani naik dong~"

B-bocah ini…… Karena aku laki-laki, meskipun ketahuan pun, aku tetap tidak mau mengaku takut di depan seorang gadis (yah, anggap saja begitu). Di sini aku terpaksa mengangguk meski dengan sangat berat hati.

"Oke sip, kalau begitu let's go!"

"Ah, oi, tunggu se—"

Yuuouji yang terlihat sangat girang itu menarikku tanpa memedulikan keberatanku.

◆◇◆

Begitulah, aku akhirnya diseret paksa menuju tempat antrean roller coaster, tapi ada satu masalah yang jauh lebih mendesak saat ini.

"Tu-tunggu, kamu terlalu menempel Yuuouji! Aku bisa jalan sendiri, lepaskan!"

"Wah wah, Amacchi bilang begitu supaya bisa kabur ya?"

"Nggak kabur! Aku nggak bakal kabur, jadi lepaskan dulu!"

"Hm? Aku nggak begitu mengerti, tapi kalau kamu memaksa, nih."

Akhirnya Yuuouji melepaskanku…… Sudah kupikirkan berkali-kali, tapi anak ini benar-benar terlalu tidak waspada terhadap lawan jenis. Tolong sadarlah sedikit kalau kamu itu gadis berusia enam belas tahun.

Di saat aku memikirkan hal itu, Yuuouji memasang senyum jahil seperti anak SD.

"Muhuhu, aku tidak sabar melihat wajah Amacchi saat menangis nanti~"

Wajah menangis ya…… sebenarnya aku yang ingin melihat itu dari dirimu…… Oh, benar juga. Topik yang pas baru saja muncul, jadi aku harus memastikannya. Mumpung Yuuouji yang memulainya, dia tidak akan curiga.

"Aku tidak akan menangis cuma gara-gara mesin ekstrem…… tapi kapan terakhir kali kamu menangis, Yuuouji?"

Karena ada batasan bahwa dia harus menangis "hari ini, di sini (kolam renang)", aku mungkin tidak bisa langsung melakukannya, tapi mengetahui kelemahan kelenjar air matanya bisa menjadi petunjuk untuk memikirkan cara selain menggunakan senjata rahasia.

"Aku? Hmm, aku sudah tidak pernah menangis selama bertahun-tahun lho."

"Eh?"

Itu jawaban yang mengejutkan. Memang benar aku tidak bisa membayangkan Yuuouji menangis karena dia hampir tidak pernah menunjukkan emosi negatif…… tapi bertahun-tahun itu terlalu lama, kan?

"Sebenarnya dulu katanya aku ini sangat cengeng. Bukannya pas masih bayi ya, tapi bahkan setelah masuk SD pun sifat itu tidak hilang-hilang. Sampai suatu hari, ibuku bilang padaku. 'Ouka, air mata seorang gadis itu bukan sesuatu yang murahan. Simpanlah air matamu untuk saat kamu menangis karena bahagia di depan orang yang kamu cintai'."

Ibu Yuuouji adalah Yuuouji Kyouka, mantan top idol. Akhir-akhir ini dia juga aktif sebagai komentator berita dan memiliki citra sebagai sosok yang cerdas serta bijaksana……

"Lalu dia melanjutkan, 'Soalnya kalau Ibu, tiap kali dimaki atau dipukul oleh Ayah dengan kekuatan yang pas, Ibu jadi bergairah dan air matanya keluar sendiri'."

"IBUMU TERNYATA CUMA SEORANG M (MASOKIS) TOTAL KAN!!"

Ternyata di kehidupan pribadinya dia parah sekali. Ini bukan lagi soal perbedaan citra, tapi sudah level yang berbeda……

"Waktu itu aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, tapi aku tahu ibuku bicara serius, jadi aku cuma 'ooh, begitu ya'…… mungkin ini yang namanya sugesti? Entah karena alam bawah sadarku atau bagaimana, sejak saat itu aku tidak punya ingatan pernah menangis lagi."

Apa-apaan itu…… Niatnya ingin mencari petunjuk, malah disuguhi cerita yang tidak enak didengar. Kalau aku tidak bisa membuatnya menangis dari sisi psikologis, maka pilihanku jadi sangat terbatas.

Yah, setidaknya ini tidak berpengaruh pada penggunaan "itu", syukurlah.

"Amacchi kenapa malah melamun? Ayo cepat!"

"Tunggu…… kan sudah kubilang jangan terlalu nempel!"

◆◇◆

Setelah bersusah payah melepaskan diri dari Yuuouji, akhirnya kami sampai di tempat keberangkatan Level 3.

"Baik, pengamannya sudah terkunci dengan kuat ya."

Mbak petugas memastikan kunci pengaman kami.

"I-ini aman, kan?"

Tanyaku dengan suara bergetar, dan mbak petugas itu mengangguk ramah.

"Iya, pingsan atau ngompol di celana sudah jadi makanan sehari-hari di sini, tapi tentu saja angka kecelakaannya nol, jadi aman-aman saja kok."

Tunggu sebentar. Aman dari mananya kalau sampai ngompol di celana……

"Bi-bisa tidak pakai pilihan kata yang lebih menenangkan?"

Mbak petugas itu berpikir sejenak, lalu membuka mulutnya seolah baru teringat sesuatu.

"Daijoubu-daa~ (Semua bakal baik-baik saja~)"

"Bukan itu maksudku! Kenapa malah pakai gaya acara komedi jadul sih!"

Ada apa sih dengan petugas ini……

"Ahaha, Amacchi, kalaupun kamu bocor tidak apa-apa kok, kan pakai baju renang."

Yuuouji yang duduk di sebelah kananku berucap dengan riang.

"Aku bukan anak kecil lagi, jadi tidak akan bocor……"

Meski berkata begitu, mungkin saja aku akan sedikit "kecipritan"……

"Tenang saja, kan bukan aku yang harus bersih-bersih nanti, jadi daijoubu-daa."

"DIAMLAH KAMU! Kenapa kamu jadi malah ketagihan pakai gaya itu!"

Benar-benar deh, petugas ini……

Gara-gara gertakan aneh soal pingsan dan ngompol, tekad yang sudah kukumpulkan tadi jadi goyah lagi. Lagipula kenapa kami harus duduk di barisan paling depan sih……

"Yuuouji, aku merasa kurang enak badan, aku mau turu—ugh."

Usaha terakhirku sia-sia, roller coaster itu berangkat dengan kejamnya.

……Yah, awalnya cuma tanjakan biasa, mumpung masih pelan aku harus menyiapkan mental—

"UUOOOOOOO!?"

T-tiba-tiba dipercepat!?

Roller coaster dengan pergerakan yang tidak masuk akal itu mencapai puncak rel dalam sekejap dan……

"Eh, tunggu, sebentar—"

TERJUN BEBAS.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"

Gila gila gila! Lagipula apa-apaan lintasannya kenapa meliuk-liuk begini hiii! Aku pikir sudah turun ternyata naik lagi lalu turun lagi sampai aku tidak tahu mana atas mana baw—

"AHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

Kenapa anak di sebelahku ini malah tertawa, apa otaknya sudah geser ya uwaaaa! Ada putaran spiralnya! Gawat gawat gawat!

"HIIIIIIIIIIII!!"

"UWAAAAAA!!"

"TURUNKAN AKU!!"

Lihat kan, selain aku semua orang juga berteriak histeris! Yuuouji, kamu juga berteriaklah seperti gadis normal sekali saja—

"IYAAAA! SERU BANGETTTTTT!"

Apa-apaan dia ini, apa dia alien?! Eh, kok rasanya makin cepat ya, nggak, ini bukan halusinasi, ini beneran makin cep—

"UHYAAAAAAA!!"

Aku mengamuk dalam kondisi panik luar biasa, tapi karena tubuhku terkunci oleh pengaman, hanya tanganku yang bisa bergerak-gerak liar. Tidak mau, tidak mau, seseorang TOLONG AKU!

"GYAAAAAAAA!!"

Nggak bisa, nggak bisa! Beneran nggak bisa! Ini sudah batasnya, gawat, aku mau pings—

Pada saat itu, tangan kananku mencengkeram sesuatu yang terasa kenyal dan empuk.

"……Hm?"

Karena sensasi itu, kesadaranku tiba-tiba kembali sejenak. Apa ini? Sesuatu yang lembut ini—

"KYAAAAAAAAAAAAAA!!"

Sebuah jeritan luar biasa dahsyat dari samping seolah menghapus semua pikiranku—

Dan pada saat itu, roller coaster terjun bebas sekali lagi.

"GYAAAAAAAAA!!"

Kesadaranku pun terputus di sana.

◆◇◆

"Sa-kun…… Amakusa-kun."

"Ngh……"

Aku membuka mata.

"……Ini di mana?"

Urakaze menatapku dengan cemas dari atas.

"E-eh……?"

Aku bangkit dan menyadari bahwa aku sedang berada di tepi kolam.

"Syukurlah…… Petugas membawamu sampai ke sini, tapi karena kamu tidak bangun-bangun, aku jadi khawatir."

Ah, begitu ya…… Aku pingsan karena ketakutan yang luar biasa di roller coaster jahanam tadi.

"Lho, ngomong-ngomong Yuuouji di mana?"

Sambil berdiri, aku mengedarkan pandangan ke sekitar.

"Anu, dia ada di sana……"

Yuuouji berada di arah pandangan Urakaze, dia sedang meringkuk di tempat yang agak jauh.

"Ke-kenapa dia begitu?"

"Entahlah…… Dia seperti masuk ke dunianya sendiri, aku panggil-panggil pun tidak merespons."

Memang keadaannya tidak normal…… Apa terjadi sesuatu saat aku pingsan?

Aku mendekatinya perlahan.

"Uuu…… bagaimana ini, bagaimana ini…… sudah dilihat celana dalamku dua kali, terus bagian itu juga dipegang……"

Dia menggumamkan sesuatu seperti kutukan, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

"Yuuouji."

"Su-sudah tidak ada pilihan lain selain jadi pengantinnya……"

……Gawat, dia benar-benar tidak mendengar suaraku.

"Oi, Yuuouji."

Aku menepuk bahunya.

"Eh?"

Ternyata dia merespons itu. Saat Yuuouji menoleh—

"………………KYAAAAAA!"

Setelah keheningan panjang, dia menyeret dirinya mundur dengan kecepatan luar biasa sambil tetap terduduk!

"Ka-kamu…… bu-bukan, Amacchi…… bu-bukan, kamu!"

……Apa-apaan panggil "kamu" segala? Terus dia ini terlalu panik. Wajahnya merah padam, apa dia mendadak demam?

"Kamu tidak apa-apa?"

Aku mendekat dan mengulurkan tangan.

"T-TANGAN KANAN ITU!"

Yuuouji merespons dengan sangat sensitif sampai tubuhnya melonjak.

Kenapa?

Tangan kananku ini tangan biasa yang tidak bisa menghapus kekuatan gaib atau memukul gadis setelah memberi ceramah, kok.

"A-Amacchi…… kamu tidak ingat?"

"Ingat apa?"

Apa aku melakukan sesuatu pada Yuuouji dengan tangan kananku saat di roller coaster tadi? Waktu itu kepalaku sudah kacau gara-gara ketakutan, aku cuma ingat kalau aku sedang berteriak histeris.

"Be-begitu ya…… Amacchi tidak ingat ya…… kalau begitu…… mungkin aman."

Warna merah di wajah Yuuouji perlahan memudar.

"Iya…… iya…… oke, kalau begitu aku juga tidak akan memikirkannya!"

Setelah menepuk-nepuk pipinya sendiri, wajah Yuuouji hampir kembali ke ekspresi biasanya. Jadi itu bukan karena sakit, tapi karena masalah mental?

"Aku tidak begitu mengerti, tapi ayo berdiri dulu, nih."

"Ah, iya, terima kasih."

Yuuouji menggenggam tanganku yang kuulurkan.

(—!?)

Pada saat itu, aliran listrik seolah menyambar tubuhku.

A-apa-apaan sensasi ini!?

Telapak tangan Yuuouji yang lembap karena air terasa sangat lembut, seperti tangan bayi yang baru lahir.

Apa-apaan ini…… Enak banget, sumpah ini rasanya enak banget. Sensasi empuk dan kenyal itu luar biasa nyaman, sampai-sampai kalau bisa, aku ingin menggenggamnya selamanya.

"Amacchi, ada apa?"

Yuuouji yang sudah berdiri menatapku dengan heran karena aku tidak kunjung melepaskan tangannya.

"N-nggak, bukan apa-apa."

Aku tersadar dan buru-buru melepaskannya.

Namun, memori tentang sensasi nyaman itu tidak mau hilang dari otakku. Sayang sekali kalau ini berakhir cuma sekali. Yah, meski aku tidak akan bilang macam-macam di sini, kalau bisa aku ingin mencobanya sekali lagi jika ada kesempatan—

"Hm?"

Tiba-tiba, dorongan yang sama seperti saat bersama Utage-sensei tadi menyerangku.

Maksudnya, hal di mana apa yang kupikirkan akan langsung keluar dari mulut…… Se-serius nih? Ini bukan cuma sekali doang?

Tidak ada ruang untuk melawan, mulutku bergerak sendiri seolah bukan milikku lagi.

"Yuuouji, tanganmu rasanya empuk dan enak banget, boleh aku pegang sekali lagi?"

Ugh…… kalimat yang sangat mesum, bahkan menurutku sendiri.

Tapi, untungnya lawannya adalah Yuuouji. Kalau dia yang biasanya selalu tertawa melihat tingkah anehku, dia pasti bakal bilang "oke deh" dengan santai—

(—!?)

Namun, di luar dugaan, reaksi Yuuouji sangat dramatis.

"Ya-ya-ya-yayaya—!"

Seketika wajahnya merah padam dan dia mundur dengan kecepatan kilat.

"Ya?"

"TERNYATA KAMU INGAT SEMUANYA, KAAAAAN!!"

"Ah, oi, Yuuouji!"

Tanpa sempat dicegah, Yuuouji lari tunggang langgang dengan kecepatan luar biasa.

Aku ditinggal sendirian.

Nggak, beneran deh, aku sama sekali tidak paham situasinya. Waktu awal aku genggam tadi dia tidak kelihatan keberatan, kan?

Mungkin pilihannya katanya memang agak "begitu", tapi tetap saja reaksinya ini terlalu berlebihan.

"Hati perempuan…… benar-benar misteri."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close