NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Garis Awal Sementara


Enam belas tahun. Di sinilah aku, berdiri di ambang bulan Mei yang lain, Mei ketujuh belas dalam hidupku dan terasa cukup istimewa.

Saat itu adalah hari Sabtu kedua di bulan tersebut. Ketika aku mendongak, warna biru langit terasa sedikit lebih pekat dibandingkan bulan April.

Meski begitu, warnanya belum sepekat langit musim panas yang tersimpan dalam ingatanku. Warnanya sudah cukup memuaskan meski agak redup, tersenyum dari atas sana dengan ketenangan yang damai.

Awan-awan yang menyerupai kembang gula dalam genggaman tangan mungil seorang anak, berarakan dengan ceria. Beberapa terpisah dari kawanannya, melakukan hal mereka sendiri, tampak sangat puas menjadi penyendiri.

Ada pula yang berkumpul sejenak, lalu berpisah menempuh jalan masing-masing. Persis seperti manusia.

"Hei, yang itu mirip naga. Dan yang itu mirip paus. Yang di sebelah sana, bukankah terlihat persis seperti putri duyung?"

Aku bisa mendengar suara-suara anak SD yang sedang bermain di dekat sana.

Angin segar yang membawa aroma pepohonan menyapu lewat, menggerakkan hati anak laki-laki dan perempuan saat ia berembus kencang di jalurnya. Seekor anjing yang sedang berjalan-jalan mempercepat langkahnya dengan riang, mungkin karena didorong oleh semilir angin itu.

Jika kau berencana mengajak seorang gadis berkencan, ini akan menjadi hari yang sempurna untuk melakukannya.

Entah kencannya berjalan lancar atau tidak, kau bisa pulang dengan ekspresi tanpa beban dalam cuaca seperti ini. Bahkan tidak akan menjadi masalah sebesar apa gejolak emosi yang kau rasakan sejak pertama kali meninggalkan rumah.

Aku menaiki sepeda gunungku dan mulai mengayuh dengan santai. Karena ini akhir pekan, semua orang masih di rumah menikmati pagi yang panjang dan malas.

Atau mungkin, mereka sudah mengambil kesempatan untuk pergi dari pinggiran kota demi akhir pekan dan sudah menemukan sesuatu yang menyenangkan di tempat lain.

Apa pun alasannya, jalan utama hanya ditempati oleh sedikit mobil pagi ini, tepat setelah jam sepuluh pagi. Aku bisa mendengar suara buk, buk yang anehnya menenangkan dari seseorang yang sedang menjemur futon di balkon mereka di suatu tempat dekat sini.

Kota kecil ini (seperti biasanya) terbungkus dalam kepompong kebahagiaan kecil.

Aku menguap lebar sekali, lalu mencoba mengumpulkan motivasi.

Jika kau harus berurusan dengan sesuatu yang merepotkan, kau benar-benar ingin melakukannya pada hari seperti hari ini.

◆◇◆

Aku mengendarai sepeda gunungku selama sekitar sepuluh menit dan tiba di depan Stasiun Fukui. Sebagai stasiun yang berada tepat di jantung ibu kota prefektur, secara teknis stasiun ini adalah yang tersibuk di prefektur, namun lingkungan sekitarnya tetap terasa mati seperti biasanya.

Orang-orang dari kota besar mungkin merasa aneh melihat hampir tidak ada pejalan kaki di sekitar sini pada akhir pekan. Namun seperti banyak tempat di pinggiran kota, Fukui adalah masyarakat yang berpusat pada kendaraan pribadi.

Toko-toko jaringan populer dan pusat perbelanjaan skala besar umumnya memiliki parkir gratis yang luas dan terhubung dengan jalan raya nasional atau terletak di sepanjang jalan lintas. Jarang ada orang yang mau bersusah payah menggunakan tempat parkir berbayar di depan stasiun kereta.

Bahkan jika kau datang ke area dekat stasiun, yang bisa kau lihat hanyalah deretan toko yang tutup dengan pintu gulung di mana-mana. Pemerintah prefektur dan pengembang lokal telah berusaha keras untuk membangun kembali area tersebut.

Namun, toko-toko dan bangunan lain yang didirikan di sini selama dekade terakhir hampir tidak memiliki daya tarik bagi remaja rata-rata. Kebanyakan orang lebih memilih mendatangi tempat makan cepat saji besar di pinggiran kota.

Jika kau tidak perlu pergi sekolah menggunakan kereta, kau bahkan tidak akan pernah datang ke stasiun ini sama sekali.

Jadi, seperti yang bisa kau lihat, tempat ini nyaris tidak masuk dalam radar pencarianku. Aku memang terkadang lewat sini, tentu saja. Namun aku hampir tidak pernah menjadikan tempat ini sebagai tujuan, seperti yang kulakukan hari ini.

Aku menemukan tempat yang cocok untuk berhenti dan turun dari sepedaku, lalu menuntunnya menuju jalan perbelanjaan yang beratap. Ada toko-toko kecil yang berbatasan dengan arkade—distrik perbelanjaan kuno yang tipikal.

Dulu, tempat ini sempat terkenal sebagai spot Instagram yang keren setelah seorang seniman melukis mural sayap malaikat di dinding bangunan tua yang seharusnya dirobohkan. Namun, seluruh tempat ini memancarkan aura kemerosotan finansial dan kerusakan kota, dan tidak ada lukisan yang bisa menutupi hal itu.

Setelah berjalan sebentar, aku melihat sebuah toko dengan eksterior yang kontras dengan sisa jalanan yang terlupakan ini.

Dinding dan papan namanya dicat biru ultramarin tua, kontras dengan pintu kayu yang berwarna terang. Di sebelah kanan pintu, seluruh dinding depan toko berupa kaca dari lantai hingga langit-langit.

Di dalamnya ada rak dengan lubang-lubang terbuka yang menampilkan elemen dekoratif berbeda yang menarik perhatian. Ada sebuah sepeda gunung Bianchi berwarna biru Celeste yang terparkir di luar toko.

Aku tidak benar-benar mencari alamatnya di peta atau semacamnya, tapi dari eksteriornya saja aku tahu ini pasti kafe yang kucari. Aku sempat bertanya-tanya mengapa teman janjiku ingin bertemu di dekat stasiun, dan sekarang semuanya masuk akal.

Sebuah tempat rahasia yang tidak diketahui orang lain. Tempat ini tersembunyi, namun tidak dengan cara yang terlalu kentara.

Aku memarkir sepeda gunungku di samping Bianchi itu dan mendorong pintu tanpa repot-repot memeriksa nama kafenya.

Tidak ada keraguan dalam benakku bahwa ini adalah tempat di mana Yuzuki Nanase memintaku untuk menemuinya.

◆◇◆

Aku melangkah masuk ke dalam kafe, memandangi dinding beton kasar yang diimbangi dengan panel kayu yang hangat. Kombinasi itu menciptakan suasana yang menyenangkan, dan kafe itu sendiri memanjang jauh ke belakang.

Untuk sesaat, aku benar-benar lupa bahwa aku masih berada di distrik Stasiun Fukui.

Sebelum pelayan yang bertugas di kafe sempat menyapaku, aku melihat gadis yang duduk di meja di bagian belakang, seolah-olah aku tertarik padanya. Dia mendongak, menyadari kehadiranku, dan mengangkat satu tangannya dengan ringan ke udara untuk memanggilku.

"Aku menemui seorang teman," kataku kepada anggota staf, lalu menuju ke sana untuk duduk di depan Nanase. Sepertinya tidak ada pelanggan lain.

Dia tersenyum padaku sambil menopang pipi dengan tangannya, senyuman itu mengandung lebih banyak pesona daripada semua spot Instagram di dunia. Rambutnya yang sebahu bergerak seperti helaian sutra halus.

Kulitnya tembus pandang, begitu bening hingga terasa hampir tidak nyata. Tidak ada aplikasi penghalus kulit yang bisa berharap untuk menirunya. Dan matanya berkilauan serta manis.

Daripada berfokus membangun objek wisata baru di luar Stasiun Fukui untuk menarik pelanggan, mereka bisa mendapatkan efek yang sama lebih cepat dengan mempekerjakan Nanase dan menempatkannya di berbagai restoran sebagai pemanis suasana.

"Halo," kata Nanase padaku dengan nada santai.

Sebelum duduk, aku dengan cepat memeriksa pakaiannya. Dia mengenakan kaus bergaris biru yang longgar dan celana pendek denim pucat yang mengembang longgar di sekitar pahanya. Penampilan yang mengejutkan seperti laki-laki.

"Halo."

Aku mengulang sapaannya kembali kepadanya, dan Nanase terkekeh seolah dia merasa itu sangat lucu. Kemudian dia menyilangkan kakinya.

Celana pendek longgarnya tersingkap, memperlihatkan hamparan... Apakah itu paha atau secara teknis sudah masuk wilayah bokong? Apa pun itu, bagian itu memiliki keindahan yang berlekuk.




Aku menggeser kursiku mendekat ke meja dengan santai dan mengalihkan pandangan.

"Tidak bisakah kau memakai pakaian yang sedikit lebih manis? Kau ini sedang berkencan dengan cowok tampan, tahu."

Nadaku bercanda, tapi sebenarnya, aku merasa pakaian kasual itu sangat cocok untuk Nanase. Seperti kata orang, hidangan yang benar-benar lezat hanya butuh sedikit garam. Kurangnya hiasan justru menonjolkan kecantikan alaminya, dan dia memancarkan aura keindahan serta keseksian yang khas dirinya sendiri. Segala pujian biasa untuk gadis cantik seolah memang tercipta hanya untuk mendeskripsikannya.

"Hah, aku berani bersumpah kalau Saku Chitose tidak tertarik pada tipe gadis yang terlalu bersemangat dandan demi cowok tampan."

Dia memundurkan kursinya sedikit dan menyilangkan kaki dengan gaya yang disengaja.

"Lagipula, bukankah pakaian ini justru lebih memicu semangatmu? Sekilas terlihat seperti gaya laki-laki, tapi pakaian ini melekat di lekuk tubuh yang tepat. Dan saat aku menyilangkan kaki seperti ini, kau bisa mengintip sedikit bagian paha, kan?"

Wow, dia benar-benar bisa membacaku.

"Oh tidak, kau salah paham. Aku tidak sedang melihat pahamu. Aku hanya heran kenapa orang-orang selalu mencoba mencari tahu hal-hal yang sebenarnya tidak ingin mereka ketahui dan melihat hal-hal yang tidak ingin mereka lihat—tapi saat berurusan dengan hal penting, mereka malah berpaling."

"Apa maksudmu?"

"Bisakah kau mengulanginya lagi supaya kali ini aku bisa benar-benar melihatnya?"

Nanase memiringkan kepalanya ke satu sisi dan terkikik. "Tidak mau. Dalam hidup ini, kau biasanya hanya punya satu kesempatan untuk banyak hal, tahu."

"Guru SD-ku pernah bilang: 'Buatlah kesalahan. Selama kau tidak menyerah, impianmu akan jadi kenyataan'."

"Kedengarannya seperti guru yang hebat. Jika kau bertemu mereka lagi, sebaiknya jangan bilang kalau impian tertinggimu dalam hidup adalah mengintip paha gadis."

Pelayan datang membawa dua gelas air putih. Aku meneguknya sebelum berbicara lagi.

"Nanase, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Selama itu sesuatu yang bisa kujawab di tempat umum."

"Kenapa kau datang sepagi ini?"

Kami sepakat bertemu jam dua belas siang. Tapi sekarang baru lewat jam sebelas tiga puluh.

"Mungkin alasan yang sama denganmu. Aku tidak suka membuat orang menunggu. Itu membuatku merasa berutang sesuatu. Aku tahu kau tipe orang yang akan datang lebih awal, jadi kupikir aku harus datang lebih awal lagi. Lagipula, aku yang memintamu menemuiku di sini."

"Hmph. Perhitungan sekali. Orang yang terlalu banyak berpikir tidak akan populer di mata cowok, lho."

"Itu benar, kudengar, bagi kebanyakan orang. Namun, aku adalah Yuzuki Nanase."

"Dan aku Saku Chitose. Mari berteman."

◆◇◆

Kami berdua memesan Eggs Benedict, menu makan siang spesial paling terkenal di kafe ini. Aku memesan milikku dengan bakon, dan Nanase memesan miliknya dengan salmon asap dan alpukat.

Setelah menunggu sebentar, makan siang kami datang. Eggs Benedict, berlumur saus kuning dan disajikan dengan salad sampingan yang berisi bunga-bunga yang tampaknya bisa dimakan. Semuanya disajikan di atas piring dengan sentuhan akhir matte.

Aku baru saja hendak memotongnya dari pinggir seperti steik sapi atau daging hamburg, tapi Nanase menghentikanku. "Tunggu dulu," katanya, sambil mengangkat satu tangan. Kemudian dia menggunakan garpu dan pisaunya sendiri untuk memotong muffin beserta isinya rapi tepat di tengah.

Kuning telur setengah matang dari poached egg itu meleleh keluar ke piring, dan efek visualnya cukup estetis.

Aku mengikuti contoh Nanase dan memotong bagian Eggs Benedict sebelum memasukkannya ke mulut. Nanase condong ke depan. "Bagaimana rasanya?"

"Hmm. Agak mirip Egg McMuffin kelas atas."

"Hmph. Tidak bisakah kau memberikan penilaian yang lebih canggih?"

Aku biasanya tidak suka jenis makanan mewah dan sok cantik yang disukai para gadis, tapi bakonnya terasa tebal dan enak, lalu telur serta sausnya terasa kaya rasa. Bahkan cowok sepertiku pun harus mengakui makanan ini lezat.

"Ini tempat yang bagus," kataku sambil mengangkat Iced Coffee milikku.

"Benar, kan? Kecil kemungkinannya bertemu orang yang kita kenal di sekitar distrik stasiun pada akhir pekan. Dan baru-baru ini beberapa tempat yang cukup lumayan mulai buka di sekitar sini. Tempat ini semacam rahasia kecilku."

"Terdengar seolah kau ingin menghindari terlihat oleh siapa pun."

"Siapa yang mau ditonton saat mencoba mengajak cowok kencan, huh?"

...Dan sampailah kita pada topik utama.

Aku teringat kembali bulan lalu. Nanase pernah berkata, "...Mungkin kau mau mempertimbangkan... menjadi pacarku? Atau semacamnya." Nadanya bercanda, seolah dia hanya main-main, tentu saja, tapi aku merasa ada sesuatu yang lebih dari itu. Saat dia memintaku bertemu di akhir pekan, aku berpikir: Ah, ini dia. Ya, aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.

Jelas sekali dia di sini bukan untuk menyatakan cinta abadi padaku. Namun, apa yang dia inginkan? Aku sama sekali tidak bisa membacanya.

Di tahun pertama, Nanase dan aku cukup ramah satu sama lain. Kami akan berhenti dan bertukar gosip saat berpapasan. Tapi dia bukan seseorang yang sering kuajak jalan di luar sekolah, tidak seperti Yuuko atau Yua dan yang lainnya. Sekarang kami di kelas yang sama, dan kami memang menjadi lebih dekat, tapi tidak sejauh itu.

Dia menganggapku unik, tentu saja. Tapi itu tidak berarti dia melihatku sebagai "seseorang yang istimewa".

Nanase menyeka bibirnya dengan tisu kertas dan memasang ekspresi malu-malu. Kemudian dia menatapku dari balik bulu matanya.

"Jadi dengarkan, Chitose... Apakah kau sedang naksir seseorang sekarang?"

"Satu hal yang kutahu adalah aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu pada saat ini."

Aku mengedikkan bahu, berbicara dengan santai, dan Nanase terkikik.

"Dari jawaban itu saja, sudah jelas kau sangat menyukaiku, Chitose. Dan bukan hanya sebagai teman, tapi sebagai seorang wanita."

"Dengar ya, Nanase. Kuharap kau memberitahuku sejak awal kalau kau bisa membaca pikiran. Aku tidak tahu kalau ini seharusnya menjadi cerita tentang gadis berkekuatan supernatural. Mengubah plot sekarang hanya membuatnya tampak seperti sedang berusaha menarik audiens yang lebih luas demi menaikkan rating."

"Bodoh. Aku bisa tahu apa yang terjadi bahkan tanpa membaca pikiran. Lagipula, orang-orang seperti kita sangat ahli dalam membuat batasan, bukan?"

Dia melanjutkan, seolah-olah sedang berbincang santai yang menyenangkan.

"Kita memperjelas saat seseorang yang menyukai kita akan menjadi beban, kan? Seperti, jika kau sebenarnya tidak tertarik padaku, kau akan mengatakan sesuatu seperti 'Eh, aku mungkin sedang memperhatikan beberapa orang,' bukan? Tapi kau tidak ingin rumor menyebar bahwa kau benar-benar naksir orang tertentu, jadi kau akan tetap membuatnya samar. Tapi secara tidak langsung, itu memberitahuku bahwa aku tidak perlu berharap banyak."

Nanase melirikku sekilas untuk konfirmasi. Aku tetap diam tapi memberinya anggukan kecil.

"Tetap saja, sayang sekali kau tidak memberiku respons konyol yang memancing seperti 'Tidak ada yang kutaksir' atau 'Mungkin kau yang kutaksir, Nanase'. Sekarang aku tahu kalau kau memang agak menyukaiku—tapi tidak cukup untuk melakukan pendekatan bahkan yang ringan sekalipun, apalagi yang serius. Tapi kau sudah memastikan untuk membiarkan pilihanmu terbuka lebar ke arah mana pun di masa depan."

Lalu dia memberiku tatapan "Bagaimana? Itulah kenyataannya, kan?".

Aku menatap matanya saat menjawab. "...Jangan telanjangi jiwaku bahkan sebelum kau melepaskan pakaianku."

Aku sengaja bersikap konyol. Kemudian, untuk menutupi rasa malu dari usaha tadi, aku meminum Iced Coffee-ku dalam tegukan besar.

Dia benar tentang segalanya, sih. Ya ampun. Gadis ini benar-benar merepotkan.

Nanase melanjutkan untuk mengubah topik dengan lancar, seolah dia tidak pernah mengharapkan atau membutuhkan jawaban yang masuk akal. "Hei, Chitose. Tidakkah menurutmu kau dan aku cukup serasi?"

"Hmm. Kata-kata itu sering kali menjadi awal dari sebuah jebakan, menurut pengalamanku. Aku tidak akan tertipu, asal kau tahu."

"Padahal aku sampai memakai sepasang pakaian dalam baru hanya untuk keluar dan menemuimu hari ini..."

"Benarkah?! Kalau begitu tunggu apa lagi? Mari kita langsung ke intinya! Jadi apa tawarannya? Kau ingin aku mendaftar asuransi? Kau ingin aku membeli jimat keberuntungan yang kau jual? Apa pun yang kau mau!"

"Kau ternyata mudah dimanipulasi; apa pernah ada yang memberitahumu hal itu?"

◆◇◆

Menu makan siang Nanase dilengkapi dengan hidangan penutup, yang baru saja tiba.

Atas rekomendasi Nanase, aku menambahkan Elderflower Cordial ke pesanan makan siangku, dan minuman itu diletakkan di depanku setelah Nanase menerima hidangan penutupnya. Tampaknya itu semacam minuman sirup dan air yang dicampur dengan herbal alami. Aku tidak bisa menyangkal kalau komentar sinis sempat melintas di pikiranku (Lagi-lagi hidangan gadis yang kemayu), tapi saat aku benar-benar mencicipinya, rasanya luar biasa lezat. Aromanya, harus kuakui, sangat menyenangkan.

Setelah Nanase selesai dengan hidangan penutupnya, pelayan mengambil piring kami, dan Nanase berdehem dengan gaya yang dilebih-lebihkan. Kemudian dia menatapku dengan tatapan memelas seperti anak anjing.

"Dengar. Chitose. Kurasa aku sudah menjelaskan perasaanku padamu tempo hari. Jadi..."

"Pertama-tama, bisakah kau menghentikan jeda yang menyebalkan dan ekspresi anak anjing itu? Aku tahu apa yang kau katakan: 'Mungkin kau mau mempertimbangkan menjadi pacarku?'. Tapi aku tidak ingat kau memberitahuku perasaanmu sama sekali."

"Tapi aku... Saat seorang gadis memintamu menjadi pacarnya, perasaan apa lagi yang mungkin ada? Jangan paksa aku mengatakannya secara gamblang." Wajah Nanase sedikit murung saat dia menunduk melihat meja.

"Biar aku tanyakan ini padamu. Kenapa kau sangat ingin punya pacar? Dan kenapa pacar itu harus aku?"

"Kenapa...? Karena aku gadis SMA, berada di masa puncak masa mudaku, itulah alasannya. Semua temanku punya pacar. Mereka membicarakannya sepanjang waktu. Saat aku mendengar mereka kegirangan membahas cowok mereka, itu membuatku berpikir... aku ingin itu. Kedengarannya sangat menyenangkan..."

Nanase mengatupkan kedua tangannya di depan dada, seperti gadis lugu yang terjebak dalam mimpi.

"Kau cowok paling tampan di angkatan kita, kau hebat dalam olahraga, kau selalu dikelilingi orang... Semua gadis di sekolah kita menganggapmu luar biasa. Oke, kau mungkin agak narsis, tapi kau pada dasarnya sangat baik kepada semua orang, dan..."

Nanase menatapku sambil tersipu.

"Dan sekarang kita sekelas, aku menyadari aku juga mulai merasa bersemangat karenamu. Aku sadar aku menginginkanmu sebagai pacarku."

Aku menatap matanya kembali dan menghela napas sedikit.

"Baiklah, itu masuk akal. Kau Yuzuki Nanase. Dan aku cowok dengan daftar kualifikasi tingkat atas yang baru saja kau sebutkan. Rasanya seolah kau sudah melatihnya."

Bahu Nanase berguncang karena tawa yang tertahan. "Hanya Saku Chitose yang akan menyebut dirinya sendiri memiliki 'kualifikasi tingkat atas'..."

Jika aku tidak begitu curiga bahwa dia punya motif terselubung, senyuman seperti itu bisa membuat seorang cowok jatuh cinta.

"Yah, aku tidak berbohong, kan?"

"Tidak, kau tidak berbohong, tapi kau juga tidak mengatakan yang sebenarnya."

Nanase memberiku tatapan "Oh?".

"Kau mulai dengan mengatakan kau seorang gadis SMA, menyebutkan perasaan yang sangat normal yang diharapkan dimiliki oleh seorang gadis SMA. Tapi itu bukan alasan yang cukup kuat untuk menginginkan seorang pacar. Beberapa orang berpikir ide memiliki pacar itu hebat, dan itulah sebabnya mereka menginginkannya. Orang lain berpikir, Ya, punya pacar sepertinya hebat, tapi aku akan menunggu cowok yang tepat."

Ini seperti jenis pengalihan yang kau temui dalam novel.

"Dan mungkin bagian terakhir itu cukup menjadi alasan bagimu untuk menginginkanku menjadi pacarmu, tapi itu bukan alasan untuk menyukaiku secara khusus. Cowok yang kau inginkan menjadi pacarmu karena 'kualifikasinya' sesuai dengan preferensimu bukanlah cowok yang kau inginkan menjadi pacarmu karena kau menyukainya. Kau melakukan pekerjaan yang cukup baik untuk menyembunyikannya, tapi apa yang kau katakan di sini tidak ada isinya. Menurut pengalamanku, mengajak seseorang berkencan seharusnya dimulai dengan kau memberitahu mereka bagaimana perasaanmu tentang mereka."

Nanase menatapku balik, telinganya tegak dan mendengarkan dengan penuh minat.

"Kau tidak menginginkanku menjadi pacarmu karena kau menyukaiku; kau menginginkanku menjadi pacarmu karena kau ingin punya pacar. Benar kan, Nanase?"

Itu adalah trik yang sering kugunakan sendiri. Kebohongan yang terang-terangan sering kali membawa konsekuensi, jadi aku suka membuat segala sesuatunya samar dan minim detail. Menutupi hal-hal yang tidak jelas di bawah tabir asap dan membiarkan banyak ruang untuk interpretasi.

"Apakah aku tidak boleh ingin mengencanimu hanya karena kau tampan, seperti gadis normal lainnya?"

"Aku tidak bilang kau tidak boleh. Aku tahu aku tampan, dan sejujurnya, aku pun akan mengencani diriku sendiri. Dan aku jelas tertarik pada gadis imut dan cantik sepertimu, Nanase. Siapa pun yang melihat kita pasti harus mengakui kalau kita akan menjadi pasangan yang luar biasa. Siapa tahu, mungkin suatu hari nanti kita bahkan akan jatuh cinta."

Aku mempersiapkan diri untuk menolaknya.

"—Tapi hari itu bukan hari ini."

Cinta yang tertulis di garis takdir tidak pernah dimulai seperti ini; aku tahu sebanyak itu. Lebih baik jika kau bahkan tidak menyadari itu sedang terjadi, sampai kau menoleh ke belakang dan semuanya masuk akal.

Untuk sesaat, sebuah senyuman melintas di wajah Nanase.

"Wow, kau jahat sekali. Sejak kita menjadi teman sekelas bulan lalu, aku sudah memperhatikanmu, tahu?"

"Dan aku sudah memperhatikan dadamu, Nanase. Tapi mulai hari ini dan seterusnya, kurasa aku akan mengalihkan perhatianku ke pahamu."

"Aku ingin bersamamu, Chitose. Di sekolah, berjalan pulang, pergi keluar di akhir pekan bersama."

"Sayang sekali. Jika kau ingin meyakinkanku, aku jauh lebih mudah diajak kompromi di tempat tidur, tahu."

"Apa yang harus kukatakan agar kau percaya kalau perasaanku serius?"

"Mungkin jika kau memberiku ciuman singkat dan tak terduga, seperti hujan musim semi yang tiba-tiba. Atau..."

Tanpa menunggu jawabannya, aku menghela napas panjang.

"Dengar, bisakah kita hentikan semua ini? Semua aksi saling serang dan menangkis ini, perebutan dominasi psikologis, permainan kekuasaan yang sedang kita mainkan. Aku akui, oke? Kau dan aku akan menjadi pasangan yang serasi." Aku melanjutkan, menggerakkan tangan dengan gaya yang sedikit dilebih-lebihkan. "Tapi sandiwara kecil di antara kita ini kurang imajinasi. Tidakkah menurutmu begitu? Tidak ada drama jika hanya mengikuti naskah. Keajaiban terjadi saat kau berimprovisasi."

Nanase mulai mengatakan bagiannya dengan gaya yang lancar dan terlatih—penyampaian dialog yang sempurna.

"Jika kau ingin menonton pertunjukan yang belum pernah dilakukan sebelumnya, maka kurasa aku harus mengacaukan penampilannya, ya? Aku harus melepas topengnya, agar tidak menjadi aktor yang terlalu sempurna."

"Ya, dan bahkan jika kau punya wajah yang mengerikan di baliknya, aku akan menatapnya langsung dan menciummu dua kali."

"Oke, jadi aku adalah Phantom of the Opera, dan kau adalah Christine. Tapi dalam hal itu, artinya aku harus berdiri dan menonton saat kau pergi dan menemukan kebahagiaan dengan orang lain, kan?" Nanase tertawa kemudian—tawa perut yang benar-benar dalam. "Ugh, peran yang payah."

Akhirnya, aku merasa telah sampai pada sosok Yuzuki Nanase yang sebenarnya.

Aku menarik napas dan mengubah cara bicaraku.

"Lagipula! Apa yang kukatakan di sini adalah—ayo kita hentikan semua negosiasi ini, oke? Maksudku, tidakkah kau lelah? Kau pasti lelah! Aku pun begitu! Dan semua dialog memalukan ini membuatku merasa geli di sini, tahu? Saat aku mengingat ini malam nanti, aku akan berguling-guling di tempat tidur, menggigit bantal dan berharap mati saja. Ini adalah permainan nyali yang benar-benar bodoh. Maksudku, kita hanya bisa tertawa, kan? Jadi mari kita kembali bicara normal saja sekarang, setuju?"

"Kau benar! Aku baru saja berpikir sendiri bahwa jika kita melanjutkan ini tanpa menginjak rem, kita akan berakhir hancur dan terbakar."

Kemudian nada bicara Nanase menjadi lebih ringan.

"Tapi kau tahu, kau mengatakan hal-hal seperti itu... Itu bagian dari alasan kenapa aku sangat menyukaimu, Chitose. Bagaimana kau bisa membuka kedokmu di depan seseorang yang bahkan tidak menyadari kalau kau sedang memakai topeng? Maksudku, akan menjadi kejutan besar jika mereka melihat wajah aslimu dan mulai berteriak atau semacamnya, lagipula."

Sekarang kami akhirnya sama-sama berdiri di garis awal yang sama.

Permainan tipu daya dan saling menguji ini, membawa pada pemahaman yang lebih besar. Sekarang kami bisa mulai dari awal, dan aku punya satu pertanyaan langkah pertama yang bagus untuk diajukan padanya.

"Biar aku konfirmasi satu hal. Kau bukan putri yang terlahir secara alami seperti Yuuko, kan? Semuanya adalah usaha. Kau merencanakan semuanya, dari cara kau berdiri hingga cara kau bicara, seluruh karaktermu. Kau sampai pada posisimu sekarang dengan mengusahakannya, kan?"

Seperti yang dikatakan Nanase secara langsung, dan seperti yang kubayangkan sendiri, dia dan aku serupa. Cara kami menjalani hidup, ideologi kami.

"Mungkin begitu, tapi jangan berpikir aku dulunya adalah gadis pendiam yang sering dirundung, oke? Dan kurasa itu tergantung pada siapa yang kau tanya, tapi aku juga bukan gadis jahat. Seingatku."

Mungkin tidak. Aku tidak bisa membayangkan salah satu dari skenario itu, apa pun yang terjadi.

"Aku selalu terlihat seperti ini, dan aku bisa menangani apa pun dalam hal olahraga dan sekolah, sejak aku kecil. Tapi hal-hal itu membuat orang iri, kan? Dan maksudku, kebanyakan cowok populer di angkatanku akhirnya naksir aku di suatu titik."

"Aku bisa mengerti itu, tapi komentar terakhir tadi adalah jenis hal yang akan membuat orang membencimu, tahu."

"Aku tahu itu. Aku belum pernah mengatakannya kepada siapa pun sebelum kau."

Kemudian Nanase menghela napas, jenis desahan yang seksi.

"...Tapi aku tidak bisa menahannya, kan? Bukannya aku centil. Cowok-cowok itu saja yang langsung kepikiran untuk mulai menyukaiku. Itulah sebabnya aku mengadopsi filosofiku yang sekarang, untuk pertahanan diri. Supaya orang-orang berhenti menjadikanku objek perbandingan dan hanya berkata, 'Ya, memang begitu kalau urusan dia.' Maksudku, berapa banyak orang di luar sana yang benar-benar iri dan kesal pada selebritas? Bukan nol, tapi tidak banyak; benar kan?"

Dengan kata lain, Nanase telah melalui pengalaman yang persis sama denganku, dan dia telah sampai pada kesimpulan yang sama. Dia bukan hanya memiliki sifat yang sama denganku, ini sebenarnya lebih seperti melihat diriku sendiri di cermin.

"Sedikit demi sedikit, aku mulai memahaminya."

Tepat di depanku, aku berhadapan dengan seseorang yang lebih mirip denganku daripada siapa pun.

"Kau ingin aku menjadi pacarmu, tapi itu karena kau sedang menghadapi masalah cowok, kan? Tapi kau tidak bisa benar-benar jujur tentang masalahmu, yaitu: 'Aku terlalu populer di kalangan cowok, dan itu membuatku stres,' kecuali dengan seseorang yang bisa kau ajak berbagi kebenaran itu terlebih dahulu, kan? Kau tidak ingin orang-orang menganggapmu sombong atau terlalu mencintai dirimu sendiri. Itu akan menjadi kesalahan fatal yang akan memperburuk segalanya, bukan?"

"Aku tahu kau akan memahamiku, Chitose. Saat aku melihat apa yang kau lakukan untuk Yamazaki, aku tahu kau tidak akan menolakku jika aku datang padamu untuk meminta bantuan. Dan aku benar."

Nada bicara Nanase sedikit merendah dan menjadi sangat tulus.

"Jika aku melihat gadis luar biasa sepertimu sedang kesulitan dan hanya berpaling, itu akan berdampak negatif pada seluruh harga diri yang telah kubangun sebagai Saku Chitose. Aku bisa saja mencoba menyembunyikannya, tapi kau akan segera melihat motif yang dangkal seperti itu, jadi biarkan aku mengatakannya terus terang."

Jika Nanase adalah aku, atau jika aku adalah Nanase, maka ini akan menjadi kesimpulan yang tepat, cara yang jujur untuk mengatakannya.

Aku masih tidak tahu detail lengkap dari masalahnya, tapi di sini ada seorang gadis yang memiliki bakat dan perasaan batin yang sama denganku. Tidak diragukan lagi itulah sebabnya dia memilihku untuk dipercaya.

...Jadi hanya ada satu hal lagi yang tersisa untuk dikatakan.

"Terima kasih, Nanase."

Untuk pertama kalinya sejak aku bertemu Nanase, dia memberiku tatapan kebingungan yang mutlak. Biasanya, dia sudah merencanakan semuanya, bahkan sampai nada tawanya. Melihatnya seperti ini, aku senang aku akhirnya memutuskan untuk datang.

"Kau telah mengirimiku pesan sejak kau memutuskan untuk bicara padaku hari ini... untuk curhat padaku. Benar kan? 'Aku bukan gadis yang manja,' 'Jangan salah paham dan malah jatuh cinta padaku,' dan seterusnya. Bukan dengan kata-kata, hanya dengan implikasi. Pesan yang hanya bisa kuterima, karena kita berada di frekuensi yang sama."

Akhirnya, kesadaran itu muncul. Jika posisi kami dibalik, aku mungkin akan melakukan hal yang sama.

"Dilihat dari sudut pandang lain, kau memilihku secara khusus karena aku bukanlah tipe cowok yang akan salah paham dan jatuh cinta padamu."

Kenapa dia tidak pergi ke Kazuki? Atau lebih jelas lagi, Kaito, yang juga berada di tim basket? Mari kita kesampingkan masalah Kaito yang agak bebal dengan IQ emosional selevel bola basket. Dari segi penampilan, dia lebih dari cukup, dan meskipun dia tidak benar-benar mengerti, setidaknya dia tidak akan menganggap penjelasan Nanase sebagai kesombongan dan narsisme. Mereka sudah lama saling kenal, jadi pastinya dia akan merasa jauh lebih nyaman curhat padanya daripada padaku.

...Tapi Kaito yang berhati jujur mungkin akan benar-benar jatuh cinta pada Nanase.

Nanase menatap wajahku, condong ke depan dengan kedua siku di atas meja, dan terkikik.

"Aduh, kau bahkan bisa melihat tembus sampai ke dalam diriku, ya? Bahkan saat aku tidak mau, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak sedikit terpesona padamu sekarang."

"Seperti yang kukatakan, hentikan akting mata berbinar itu."

Aku memberinya pukulan karate main-main di atas kepalanya, dan dia tersentak ke belakang seolah-olah benar-benar terkejut. Tapi kemudian dia mulai terkikik lagi.

◆◇◆

Setelah membayar tagihan di kafe, kami berjalan dari stasiun ke dasar sungai kering yang berada di dekat sana, sambil menuntun sepeda kami. Aku tidak yakin masalah seperti apa yang akan dia sampaikan, tapi kupikir lebih baik mencari tempat yang tenang di mana pelayan dan orang lain tidak bisa mendengar pembicaraan kami.

Kami hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari stasiun, tetapi langitnya segar dan biru, dan pegunungan yang mengelilingi daerah itu terlihat jelas. Di depan dan di belakang kami, kami sendirian, satu-satunya dua orang yang terlihat sedang berjalan.

"Jadi, kenapa kau tiba-tiba ingin punya pacar?" Implikasi dalam kata-kata itu adalah: "Ayo kita mulai dari awal dan coba lagi."

Di sampingku, Nanase mulai berbicara, wajahnya tampak tenang. "Berusahalah untuk tidak menghakimiku, oke? Baru-baru ini, aku terus merasa ada seseorang yang mengincarku."

Itu adalah hal yang cukup liar untuk dikatakan, tapi dia tidak tampak seperti sedang main-main.

"Wah, tiba-tiba suasananya jadi berat. Apakah kau seorang istri yang diam-diam bersekongkol untuk membunuh suaminya? Lalu mengirim saudara-saudaramu, yang semuanya mengharapkan pembagian keuntungan, untuk bertindak sebagai pembunuh berdarah dingin?"

Aksi sandiwaraku sepertinya meringankan beban Nanase, saat bahunya mulai rileks dan sedikit binar biasanya kembali ke matanya. "Itu akan lebih mudah dimengerti. Aku akan menyerahkan semua kekayaan padamu, dan kita akan kabur ke pedalaman utara yang terpencil. Lalu kita akan membeli rumah kecil, menanam sayuran di kebun kecil kita, dan hidup bahagia selamanya. Dengan dua anak."

"Kenapa kita harus pergi jauh-jauh ke utara yang beku dan terisolasi? Jika kita akan kabur, ayo kita pergi ke selatan."

"Apa? Tapi kalau begitu tidak akan ada unsur kepahlawanan yang tragis. Eh, lagipula, keluargaku tidak seseru itu." Nanase terdiam sejenak, sebelum menatapku tajam dan melanjutkan. "Tapi bukan itu. Kupikir aku mungkin punya seorang penguntit."

Ini jelas situasi yang jauh lebih berat daripada yang pertama kali kupikirkan. Aku telah membuat keputusan yang tepat dengan pergi ke tempat yang berbeda. Di bawah langit biru yang cerah, hal seperti ini akan lebih mudah untuk dibicarakan.

"Mungkin punya? Jadi, kau belum yakin?"

"Benar. Mungkin saja itu hanya karena aku terlalu banyak berpikir, dan berdasarkan keadaan sekarang, itu sangat mungkin terjadi. Tapi aku bersikap waspada. Itulah sebabnya aku datang padamu untuk meminta bantuan seperti ini, Chitose."

Hanya ada satu kata untuk penguntit, tetapi cara mereka beroperasi bermacam-macam. Dalam pengertian yang paling dasar, biasanya itu adalah mantan pacar yang dicampakkan yang menyiksa korbannya dengan teks dan panggilan telepon yang tidak diinginkan, dan beberapa bahkan mengirim surat anonim.

"Bisa lebih spesifik lagi?"

"Yah, aku tidak punya bukti konkret, tidak ada yang bisa meyakinkanmu bahkan jika aku menjelaskan secara spesifik. Ini lebih ke arah perasaan. Rasanya seperti... aku menjalani rutinitasku, tetapi sepanjang waktu, aku menangkap semacam... gangguan."

Nanase menunduk menatap kakinya saat dia berbicara, yang mana itu bukan gayanya.

"Aku menjalani hidupku seperti biasa, lalu aku akan mengalami momen '...Hah?'. Seperti saat aku membuka rak sepatu atau tasku—atau saat aku sedang berjalan pulang dan tiba-tiba berbalik. Kadang-kadang cara sepatuku berjejer terlihat salah, atau aku menemukan sesuatu hilang dari tasku, atau aku melakukan kontak mata dengan orang asing dengan cara yang aneh. Itu hanya perasaan ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Aku tidak bisa benar-benar menjelaskannya."

Aku mendengarkan dengan saksama, suara derit roda sepeda kami menjadi musik latar.

"Tapi terkadang aku berhenti mendadak tanpa alasan, dan orang itu, siapa pun dia, hanya memberiku tatapan aneh dan berjalan melewatinya... Maaf, aku tahu ini sama sekali tidak logis. Aku berharap aku punya beberapa bukti."

"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir mencoba meyakinkanku," sela ku. "Biasanya, kau tidak akan pernah menumpahkan isi hatimu seperti ini dan membiarkan sisi tersembunyimu terlihat. Jadi ini adalah semua bukti yang kubutuhkan untuk mempercayaimu. Lagipula, sama sekali tidak ada keuntungan bagimu dengan berbohong tentang hal ini."

Nanase menatapku seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

"Beberapa gadis mencoba memperpendek jarak antara mereka dan seorang cowok dengan curhat kepada mereka, tapi kau lebih seperti penggoda yang berbicara terus terang. Kau mendapatkan hasil lebih cepat dengan cara itu juga, kan? Jadi aku sudah mempercayaimu. Sekarang setelah itu selesai, mari kita lanjutkan."

Lagipula, jika Nanase punya bukti yang meyakinkan, dia tidak akan bicara padaku. Dia pasti sudah pergi ke sekolah atau polisi. Tidak mungkin pilihan itu tidak terpikirkan olehnya. Sebaliknya, dia mempertimbangkannya dan memutuskan bahwa ini belum sampai pada tahap itu. Maka dari itu dia mencoba pilihan ini terlebih dahulu.

Aku memutuskan untuk memulai dengan pertanyaan mendesakku mengenai hal ini.

"Jadi perasaan anehmu ini, sudah berapa lama kau merasakannya?"

Nanase tampak terkejut karena aku mempercayainya begitu saja, tetapi dia tampak menyesuaikan diri dengan cepat. Sekarang ekspresinya tampak lebih lembut dan lebih tenang.

"Aku tidak ingat persisnya, tetapi itu dimulai selama liburan musim dingin, dan telah meningkat selama sebulan terakhir. Awalnya aku tidak menyadarinya, tetapi kurasa aku mulai memperhatikannya dan mulai sering menoleh ke belakang sekitar waktu itu."

"Begitu rupanya..."

Aku memikirkan hal ini sejenak sebelum melanjutkan.

"Mungkin sulit bagimu untuk menilai ini, karena melibatkan pikiranmu sendiri, tapi kurasa insting burukmu ini perlu ditanggapi dengan serius. Otak manusia selalu mencatat dan mengatalogkan hal-hal yang kita lihat di sekitar kita, jadi ketika ada sesuatu yang berbeda, otak akan mengirimkan sinyal galat. Itu akan mengganggu pikiran dan membuat kita merasa 'tidak beres'. Dan itu adalah tanda bahwa sesuatu benar-benar berbeda dibandingkan dengan apa yang kita anggap normal."

"Sesuatu yang berbeda, dibandingkan dengan apa yang kita anggap normal... Huh."

"Selain itu, aku cenderung sangat percaya pada indra keenam dan hal-hal semacam itu. Seperti saat aku bermain bisbol, tepat sebelum pelempar melempar bola, aku bisa melihat lintasan yang akan diambil bola itu di kepalaku. Juga, terkadang aku bertemu orang baru, dan aku tahu begitu saja kalau kami tidak akan cocok, dan kemudian kami benar-benar berakhir dengan bertengkar. Itu mungkin hanya firasat berdasarkan pengalaman masa lalu—atau mungkin hanya otakku yang mengalkulasi segala jenis data lingkungan yang bahkan tidak kusadari sendiri. Tentu saja, bisa juga itu murni kebetulan."

Namun, pikirku.

Ketika kita sebagai manusia merasakan sesuatu, pasti ada alasannya. Intuisi adalah pesan yang dikirimkan kepada kita oleh alam bawah sadar, berdasarkan segala sesuatu yang kita ketahui sebagai kebenaran.

"Mempertimbangkan semuanya, kurasa kau harus menanggapi indra keenammu ini dengan serius."

"...Begitu ya. Entah kenapa mendengarnya darimu membuatku merasa jauh lebih baik, Chitose. Sebagian kecil dariku mengira mungkin aku hanya sedang neurotik."

"Dibandingkan kebanyakan gadis, tingkat neurotikmu masih dalam batas yang sangat wajar. Bahkan jika ini ternyata bukan apa-apa."

"Kalau begitu, terima kasih sudah menghentikanku agar tidak kehilangan akal sehat dan jatuh cinta padamu. Tepat waktu sekali." Nanase membalas komentar ironisku dengan sarkasmenya sendiri.

"Kapan pun. Kuharap kau juga akan melakukan hal yang sama. Jadi, apakah kau punya gambaran siapa kira-kira penguntit itu?"

"Tidak, tidak ada ide. Tapi bisa siapa saja. Siapa pun." Nanase mengedikkan bahu secara teatrikal, telapak tangan menghadap ke langit.

"Hmm, bisa jadi."

"Kurasa itu bukan seseorang yang punya dendam padaku, seseorang yang pernah kusakiti atau semacamnya. Aku cukup berhati-hati untuk tidak melakukan hal seperti itu. Tapi aku berpikir mungkin itu seseorang yang naksir sepihak, seseorang yang bahkan belum pernah kuajak bicara, yang mengikutiku ke mana-mana. Jika itu masalahnya, maka aku tidak tahu siapa orang itu."

Aku menangkap sedikit nada kepasrahan dalam suaranya.

"Tapi," lanjut Nanase, "yah, ini hanya sesuatu yang sama sekali tidak berdasar; aku bahkan punya lebih sedikit bukti untuk kebenaran hal ini. Mungkin ini hanya salah tafsir besar di pihakku. Tapi belakangan ini, aku terus melihat cowok dari SMA Yan ke mana pun aku pergi."

"SMA Yan, ya...?"

Di kota-kota besar, anak-anak pintar semuanya pergi ke sekolah swasta—setidaknya itulah citra yang dimiliki semua orang. Namun di Fukui, sekolah negeri jauh lebih populer. Sekolah tempat kami menimba ilmu, SMA Fuji, memiliki peringkat yang sangat tinggi di prefektur ini. Lalu ada sekolah seperti SMA Takashima. Keduanya adalah sekolah negeri.

Tentu saja, sekolah swasta juga memiliki kelas akselerasi perguruan tinggi, dan mereka juga mengirim banyak siswa ke universitas-universitas besar. Konsensus umum adalah memiliki sekolah swasta sebagai sekolah cadangan adalah ide yang bagus.

Jika kau tidak memiliki kecerdasan untuk masuk ke SMA tingkat atas, dan jika kau tidak ingin pergi ke sekolah pertanian atau sekolah kejuruan, maka kau harus mempertaruhkan segalanya agar diterima di sekolah negeri.

Meskipun, sebenarnya, dalam skenario terbaik, semua orang ingin masuk ke sekolah swasta dengan kurikulum pendidikan umum.

Kau bisa menemukan berbagai tingkat kemampuan akademik di sekolah-sekolah swasta umum tersebut, tetapi sejujurnya, SMA Yakon, yang disingkat SMA Yan, adalah salah satu yang tingkatnya paling rendah.

"Kau tahu kan seragam mereka agak tidak biasa? Bisa jadi seragam itu meninggalkan kesan padaku setelah hanya melihatnya beberapa kali, tapi aku tidak tahu..."

Yah, sejujurnya, SMA Yan memiliki banyak berandalan di antara siswanya. Aku pribadi merasa istilah yankee sudah agak ketinggalan zaman sekarang, tetapi jika menyangkut siswa dari SMA Yan, kurasa istilah itu cukup tepat.

Nanase menggunakan kata sifat halus "tidak biasa", tetapi kenyataannya adalah anak-anak ini mengenakan seragam mereka dengan cara yang sama sekali tidak ortodoks, memamerkan gaya rambut yang mencolok, dan tidak punya tata krama di tempat umum. Mereka memancarkan aura yang secara instan memberitahumu untuk menjauh dari mereka.

Pada dasarnya, setiap SMP akan memiliki pelanggar aturan yang dianggap semua orang sebagai berandalan. Namun begitu kau masuk SMA, orang-orang mulai memperbaiki diri dan bersikap lurus. Meskipun begitu, selalu ada orang-orang yang terus menempuh jalan berandalan itu setelah mereka terjerumus dan kemudian menyadari bahwa mereka tidak bisa keluar darinya.

Melabeli orang adalah hal yang bertentangan dengan prinsip pribadiku, tetapi kau akan menemukan banyak tipe orang seperti itu di SMA yang menerima siswa yang nyaris tidak lulus ambang batas kurikulum pendidikan umum. Aku tidak bisa menyangkal hal itu.

Aku berbalik untuk melihat jalan yang baru saja kami lalui. Jalan setapak itu membentang jauh, dan aku tidak bisa melihat satu orang pun di sana.

"Jadi jika itu benar-benar masalahnya, itu situasi yang cukup mengerikan, ya?"

Anak-anak yang tidak memperbaiki diri di SMA umumnya kurang memiliki rasa moralitas dan etika, dan sering kali tidak ragu untuk melanggar batasan masyarakat.

Mereka tidak memiliki cara berpikir luas seperti kita, mereka juga tidak berpikir untuk menahan perilaku dan percakapan agar sesuai dengan situasi dan kelompok, seperti yang kita lakukan. Anak-anak yang hanya berpikir secara sederhana dan bertindak berdasarkan dorongan hati—mereka adalah musuh alami kita.

Bagaimana kau bisa bersaing melawan lawan yang tidak mengikuti aturan yang sama dengannmu?

Ambil contoh sumo. Sumo punya aturan sederhana: tidak boleh menendang, dan begitu kau keluar dari ring, kau kalah. Pertandingan bahkan tidak bisa dimulai sampai semua orang yang ikut serta menerima peraturan dasar ini. Jika satu-satunya hal yang penting adalah menjatuhkan lawan, maka kau bisa saja mengambil tongkat bisbol besi dan memukul kepalanya. Selesai.

"Sekarang aku mengerti kenapa kau datang padaku dengan masalah ini, Nanase. Dengan kata lain, kau ingin..."

"Tunggu sebentar! Aku yang meminta bantuan di sini, jadi tolong izinkan aku yang mengatakannya."

Nanase menghentikan sepedanya di pinggir jalan, lalu berbalik untuk menatapku tepat di mata.

Ekspresinya kaku saat dia melanjutkan. "Sekarang setelah semua penjelasan selesai, aku ingin memintamu untuk melakukan dua peran untuk membantuku. Yang pertama adalah menjadi pacarku, dengan cara yang akan terlihat sangat jelas bahkan bagi orang yang kebetulan lewat."

Nanase mengangkat satu jari.

"Dengan kata lain, jika aku benar-benar punya penguntit, aku ingin dia berpikir: Oh, jika dia bersama Chitose, maka kurasa gadis seperti dia hanya memilih cowok paling tampan dari yang tertampan. Dan kemudian aku ingin dia menyerah dan pergi dengan sendirinya. Nah, kau punya wajah paling tampan di sekitar sini, jadi dalam hal itu, kau lebih dari sekadar memenuhi syarat."

"Sebagai orang yang meminta bantuan di sini, kau mungkin ingin membahas kecantikan dalam diriku juga."

Nanase mengabaikan sindiran ringanku dan terus melanjutkan.

"Peran kedua yang kuinginkan kau mainkan adalah ini: Jika orang yang menguntitku benar-benar ternyata adalah anak SMA Yan yang otaknya agak geser, aku ingin kau melindungiku. Kau punya apa yang diperlukan untuk menghadapi orang seperti itu. Kau bisa mencoba menasehatinya, atau—dan ini sulit bagiku untuk mengatakannya—kau bahkan bisa menggunakan kekerasan."

"Mungkin ini akan mengejutkanmu, tapi aku belum pernah sekalipun berkelahi dengan siapa pun, sejak hari aku dilahirkan. Aku ini seorang pecinta, bukan petarung, tahu."

"Ya, tapi 'tidak mau berkelahi' itu tidak sama dengan 'tidak bisa berkelahi', kan?"

"Secara definisi, kurasa tidak."

Kemudian Nanase menundukkan kepalanya di hadapanku dengan cara yang sangat halus dan tidak merasa canggung.

"Hanya kau yang bisa kuandalkan, Chitose. Tolong, bantu aku. Tolong, jadilah pacarku."

Aduh, ya ampun.

Aku tidak pandai menolak hal-hal semacam ini. Bahkan jika pengakuan manisnya itu datang dengan motif terselubung. Ya, meskipun begitu.

"Kau salah paham tentang sesuatu di sini, Nanase. Dalam masalah Kenta itu, aku hanya membantu si malang itu karena dia menyedihkan dan kupikir itu akan menaikkan statusku. Itulah satu-satunya alasanku melakukannya."

Namun, apakah dia siap menerima hal itu adalah masalah yang berbeda.

Kematian lebih baik daripada kehidupan yang tidak indah, lagipula.

Aku benar-benar harus mengulurkan tangan membantunya. Jika aku ingin terus hidup berdasarkan kode estetika pribadiku, begitulah. Dan hanya dengan melihat Nanase, kepalanya tertunduk padaku, praktis memohon padaku...

Tetap saja, aku adalah pria yang kompleks, dengan cara hidup yang kompleks.

Apa pun situasinya, aku perlu memastikan semuanya teratur.

"Saat ini, terlihat secara publik sebagai pacarmu tidak akan memberiku apa-apa selain hasil negatif bagi investasiku. Aku ingin menjadi seperti awan yang ringan dan empuk, mengambang tinggi di atas sana, tipe pria yang tidak bisa diikat oleh wanita mana pun."

"...Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau padaku." Yuzuki Nanase menatap mataku langsung dan mengatakan itu seolah dia benar-benar sungguh-sungguh. "Apa pun yang kau inginkan. Sebanyak yang kau mau, sesering yang kau mau—aku akan melakukan apa pun yang kau minta dariku."

Senyum masygul tersungging di wajahku. "Kurasa kau agak terlalu merendahkan dirimu sendiri di sini."

"Tidak, tidak begitu. Aku tidak mungkin membuat Saku Chitose yang agung memberiku bantuan sebesar ini, tanpa menawarkan sesuatu yang nilainya setara sebagai imbalan. Saat ini, kemampuan untuk membuat Yuzuki Nanase melakukan apa pun yang kau inginkan adalah apa yang diperlukan untuk menutupi berkurangnya hasil investasimu dalam hubungan ini."

Dia terus berbicara dengan cara yang sangat transparan, sangat tidak khas Nanase.

"Dengan cara ini, kita berdua bisa memanfaatkan nilai individual kita, dan tidak ada dari kita yang berada dalam posisi lemah dibandingkan dengan yang lain. Aku sudah memikirkan semuanya, secara rasional dan dari sudut pandang transaksional. Bisakah kau menerimanya?"

Astaga. Apakah gadis ini versi perempuan dariku atau bagaimana?

"Ya. Ya, itu sudah lebih dari cukup. Baiklah. Aku suka kesepakatan itu. Tapi kau tidak tahu apa yang akan kusuruh kau lakukan nanti, kan?"

"Sudah kubilang, ingat? Aku sudah sepenuhnya siap untuk memberikan kompensasi kepada seorang pria karena telah menyita waktu dan sumber dayanya."

"...Baiklah. Tapi mari kita konfirmasi poin-poin detailnya." Aku memarkir sepedaku di pinggir jalan juga, lalu menghadapi Nanase secara langsung.

"Kau, Chitose, akan berpura-pura menjadi pacarku. Pengaturan ini akan berlangsung sampai menjadi jelas bahwa penguntit itu hanyalah imajinasiku, atau jika dia nyata, sampai situasi penguntit itu selesai ditangani."

Ini bisa berakhir dalam waktu singkat atau berlarut-larut selama berbulan-bulan. Kami tidak punya cara untuk mengetahuinya sampai kami membuka tutupnya dan mengintip ke dalamnya.

"Aku ingin ini terlihat benar-benar meyakinkan. Semua orang harus berpikir bahwa kita benar-benar berkencan. Namun, kau boleh memberitahu orang-orang yang benar-benar dekat denganmu, dan yang kau percayai, tentang kebenarannya. Tapi simpan itu dalam lingkaran dalam saja. Selama durasi ini, aku ingin kau mengantarku ke sekolah dan pulang, dan juga menemaniku jalan-jalan di akhir pekan."

"Baiklah. Semuanya terdengar oke bagiku sejauh ini."

"Kau akan menjadi seperti kaleng pengusir serangga pribadiku."

"Uh, ada banyak cara berbeda yang bisa kau pilih untuk merangkai kata-kata itu, tahu."

Nanase membiarkan celaanku lewat begitu saja. Sebaliknya, dia menatapku, dan pada saat itu, matanya tampak dipenuhi dengan pesona dan keindahan dunia. Angin kencang bertiup, membuat rambut gelapnya terbang di sekitar wajahnya. Sehelai rambut menyapu pipinya, dan dia dengan halus menyelipkannya di belakang telinga, tersenyum begitu manis padaku.

"Jadi, bagaimana menurutmu, Saku?"

"Aku bilang, ayo lakukan, Yuzuki."

"Kalau begitu kontrak kita sudah selesai."

Aku merasa ingin meraih tangan yang disodorkan Nanase dan menggenggamnya erat. Sebaliknya, aku memberinya high five, telapak tangan kami bertepuk bersama. Pilihan pertama terasa agak terlalu manja dan payah.

"Hanya untuk memastikan... Kau bilang sesering yang kumau? Dan kau akan memenuhi permintaan apa pun dariku?"

"Tentu. Aku tidak akan berbohong pada pacarku."

"Sempurna. Aku sudah merasa terpendam selama berminggu-minggu. Aku tidak bisa menahannya lagi; hanya dengan melihatmu membuatku ingin mengeluarkan semuanya. Kemarilah dan bantu ringankan ketegangan ini, mau kan? Mungkin ini akan terlalu berat untukmu tepat setelah makan siang besar, tapi begitulah terkadang kenyataannya."

Kau tidak bisa bersaing melawan lawan yang tidak mengikuti aturan yang sama denganmu.

Tetapi jika kalian berdua bermain dari buku aturan yang sama, maka semua taruhan dibatalkan.

Aku tidak yakin hal liar macam apa yang kau bayangkan sekarang. Aku hanya mencoba memberitahumu pria macam apa aku ini.

◆◇◆

"Mm... Ahhh... Uhhh..."

Desahan erotis Yuzuki di telingaku memacuku untuk bergerak lebih cepat lagi.

"Hei... tunggu sebentar. Tunggu sebentar saja... Tolong, biarkan aku istirahat..."

"Jangan konyol. Kau mau berhenti setelah hanya beberapa ronde? Aku ini anak SMA laki-laki yang berdarah panas dan penuh vitalitas, tahu. Lagipula, kau sudah setuju untuk melakukan ini denganku hari ini, kan? Ayo. Kerahkan tenagamu. Berada di atas dan ambil kendali sekali saja."

Yuzuki memantul naik dan turun, menjaga ritme yang stabil. Gerakannya halus dan cair, tetapi napasnya semakin cepat dan semakin memburu sepanjang waktu.

"Tapi... kita belum beristirahat sama sekali di antaranya... Rasanya aku mau pingsan. Aku mau... Mmn..."


Jadi di sanalah kami, bermain bola basket di Taman Timur.

Aku masih kesal karena kalah dari Haru bulan lalu, jadi aku meminta Yuzuki untuk bermain beberapa ronde denganku.

"Agh, aku serius tidak kuat lagi! Aku mau istirahat." Kemudian Yuzuki telentang di atas rumput.

Kausnya yang basah kuyup oleh keringat menempel pada kontur tubuhnya dan bahkan menonjolkan garis pakaian dalamnya. Hmm, manis juga.

"Apa yang kau lakukan, berguling-guling di tanah seperti itu? Tidak pantas dilihat. Lagipula, ini bagian dari tugasmu."

"Aku tidak seperti Haru. Aku unggul dalam teknik, bukan stamina. Lagipula, ada apa denganmu? Kau kan hanya anggota klub pulang-langsung, Saku, tapi kau bahkan tidak terengah-engah setelah semua itu? Apakah kalah dari Haru benar-benar membuatmu sesakit hati itu?"

"Hmm. Meskipun itu hanya permainan konyol, aku menolak menjadi pihak yang kalah terlalu lama. Langit pasti sedang tidak sejajar jika ada seseorang di luar sana yang lebih hebat dariku."

"Sifat kekanak-kanakanmu itulah yang membuatmu menjadi Saku Chitose, tidak diragukan lagi."

Dari tas ransel Gregory-ku, aku mengambil botol minuman elektrolit Pocari Sweat yang kami beli tadi dan menempelkannya ke dahi Yuzuki. Matanya terpejam dalam kebahagiaan.

Kemudian aku pun ikut berbaring di tanah dan menempelkan sebotol Pocari ke dahiku sendiri, sambil memejamkan mata.

"Akhir pekan yang luar biasa, bukan?" kataku, dan aku disambut dengan jawaban santai "Tentu saja" dalam dialek Fukui kuno.

Angin bulan Mei berembus lewat, mengesek rumput, dan terasa sangat nikmat di tubuhku yang basah oleh keringat. Anak-anak dan orang tua mereka sedang bermain tidak jauh dari sana, teriakan mereka yang terdengar bahagia terbawa oleh semilir angin.

"Kau tahu, Saku..." Yuzuki bergumam, mungkin lebih untuk dirinya sendiri daripada untukku. "Kau tidak pernah mengatakan hal-hal seperti: 'Kasihan sekali kau, harus menghadapi ini sendirian,' atau 'Cup cup, kau bisa mengandalkanku sekarang,' atau semacamnya, kan?"

"Kenapa aku harus melakukannya? Aku di sini bukan untuk bersimpati padamu. Kita punya kontrak, kan? Aku menimbang kesepakatan kita, memutuskan bahwa itu punya nilai, dan membuat pilihan untuk menjalaninya. Kau penuhi bagianmu dalam kesepakatan ini, Yuzuki, dan aku akan memenuhi bagianku."

"Jadi kau tidak akan menghiburku?"

"Orang-orang seperti kita benar-benar benci orang yang mengatakan hal semacam itu. 'Oh, silakan tunjukkan sisi rentanmu; tidak apa-apa.' Menjadi terlalu sempurna cenderung membuatmu punya banyak musuh. Orang-orang yang selalu mencari titik lemah untuk ditusuk. Mereka selalu cepat melompat masuk dan berpura-pura membantumu." Aku sekarang juga bergumam, lebih untuk kepentinganku sendiri daripada kepentingannya. "Juga, jika aku benar-benar punya sesuatu yang menggangguku, bukan berarti orang lain bisa membantuku juga. Kita harus mengurus masalah kita sendiri oleh diri kita sendiri."

"Itu kekuatan kita, kurasa. Dan juga beban kita."

"Bisa jadi. Tapi kita tidak akan mengubah metodologi kita sekarang, kan?" Aku berguling dan menatap Yuzuki di sampingku. "Jadi jangan fokus pada mengandalkan orang lain. Jangan letakkan kelemahanmu di tangan orang lain. Selesaikan masalah dengan cara yang kau inginkan, dan jika kau merasa kekuatanku bisa membantumu, maka gunakanlah kapan pun kau mau."

"...Bagaimana jika aku memutuskan bahwa aku membutuhkannya, tapi kau tidak ada di sisiku?"

"Panggil saja namaku. Yang keras. Seperti memanggil pahlawan super. Aku akan datang menukik dengan waktu yang sempurna dan menjatuhkan semua musuh dengan beberapa gerakan keren."

Yuzuki berguling dan menatapku. Sehelai rambutnya menyentuh bibirku.

"Kau tidak akan kalah, kan?"

"Eh, siapa yang tahu. Aku mungkin saja kalah. Atau aku mungkin akan menang pada akhirnya. Tapi sudah kubilang, kan? Aku menolak menjadi pihak yang kalah terlalu lama."

"Ngomong-ngomong, Saku... Apakah ada sesuatu yang menarik minatmu?"

"Dua puncak, tepatnya."

"Aku tahu kau sedang melihatnya."

"Ehem. Ehem."

Bukan salahku jika kerah kausnya agak melonggar.

◆◇◆

Klak, klak, klak.

Sret, sret, sret.

Tatapan yang datang dari sekeliling kami membuat kulitku merinding. Entah mata itu terasa hangat atau penuh kebencian, satu hal yang pasti—aku tidak menikmati ini.

Hari Senin telah tiba, awal dari minggu yang baru, dan aku pergi menjemput Yuzuki di rumahnya. Sekarang kami sedang berjalan ke sekolah bersama-sama.

Kabarnya, dia biasanya berangkat ke sekolah mengendarai Bianchi miliknya, tapi aku menyarankan agar dia mencoba berjalan kaki sesering mungkin.

Terlalu berhati-hati soal kemungkinan adanya penguntit itu tidak akan membawa kami ke mana-mana. Jika kami ingin menangani masalah ini, pertama-tama kami harus memastikan apakah masalah itu benar-benar ada. Kami perlu mencari tahu apakah Yuzuki benar-benar diikuti.

Urusan menguntit seseorang di Fukui pasti jauh berbeda dengan di tempat seperti Tokyo, misalnya.

Di kota besar, di mana kau bisa dengan mudah tertelan dalam hiruk-pikuk kerumunan, menguntit seseorang akan terasa mudah, bahkan bagi amatir sekalipun. Tapi kami tidak boleh meremehkan suasana kota pinggiran Fukui yang sepi penduduk. Mencoba mengikuti seseorang dengan sepeda sambil memastikan agar tidak ketahuan hampir mustahil dilakukan di sini. Tidak diragukan lagi si penguntit sendiri juga menyadari hal itu.

Jadi, aku ingin menciptakan lingkungan yang memudahkan si penguntit untuk beraksi. Kami akan berjalan kaki ke sekolah, sebisa mungkin melewati jalur yang ramai, untuk memfasilitasi kesempatan menguntit yang maksimal. Semacam operasi tangkap tangan atau semacamnya.

Dan di sinilah kami, berjalan beriringan seolah-olah kami sangat dekat saat menyusuri jalan setapak di pinggir sungai. Rencana kami adalah memastikan kami menjadi pusat perhatian, sambil di saat yang sama berusaha tampak bersikap tenang dan keren.

Yuzuki berjalan di dekatku, cukup dekat hingga bahu kami bersentuhan. Sesekali, dia akan tertawa keras, atau memukulku dengan manja, atau berhenti sejenak untuk menatap mataku, atau menarik lengan bajuku, dan seterusnya. Semua itu adalah taktik yang diperhitungkan untuk memberikan kesan bahwa dia adalah gadis muda yang sedang bersemangat, berangkat ke sekolah bersama pacarnya yang jelas-jelas tampan.

Aku mengimbanginya dengan mempertahankan senyum tipis yang tampak sedikit malu, dan setiap kali ada seseorang bersepeda melewati kami dari belakang, aku akan melingkarkan lenganku di pinggang Yuzuki dan menariknya mendekat.

Semua orang memperhatikan kami dan bergosip. Anak kelas satu, kakak kelas, dan teman-teman seangkatan kami. "Mereka serasi sekali!" bisik mereka. "Jadi dia memilih Nanase, bukan Hiiragi?" mereka terkesiap. Tapi aku juga bisa mendengar orang-orang mencibir: "Nanase jadi besar kepala sekali ya?" dan "Sepertinya dia sudah terhasut omong kosong si bajingan tukang main perempuan itu."

Tentu saja tidak ada yang di luar dugaanku. Tapi membayangkan seberapa banyak damage control yang harus kulakukan nanti membuatku ingin mengerang.

Yah, aku bisa membiarkannya saja. Biarkan semua orang berpikir aku memang berencana mencampakkannya begitu aku mendapatkan apa yang kumau. Itu akan jauh lebih mudah bagiku.

"Saku...?"

Sebuah suara datang dari belakang kami, memecah lamunan kuku.

Aku berbalik dan melihat Yua Uchida berdiri di sana, kepalanya miring ke satu sisi karena bingung, dengan ekspresi yang agak linglung. Kuncir sampingnya menjuntai di atas dadanya yang menonjol di balik blazer, dan matanya yang manis serta tampak polos terpaku padaku. Dia terlihat menggemaskan lagi hari ini. Kontras antara bentuk tubuhnya yang dewasa dan matanya yang kekanak-kanakan tetap mempesona seperti biasanya.

"Selamat pagi, Ucchi!" Yuzuki menyahut sebelum aku sempat bereaksi.

"...Er, Yuzuki? Apa yang kalian berdua lakukan bersama?"

Ada sesuatu yang baru dalam suara Yua. Awalnya sulit untuk dijelaskan, tapi pastinya ada nada manis yang dibuat-buat dan naif yang berbeda dari nada bicaranya yang biasanya lembut.

Aku memperhatikan lebih dekat. Biasanya, senyum yang kulihat di pagi hari secerah bunga dandelions. Tapi hari ini, senyumnya rapuh, lebih mirip bunga anemone.

Kebetulan, anemone itu beracun, dan mereka melambangkan cinta yang ditinggalkan.

Sejujurnya, versi baru Yua ini sedikit menakutiku. Aku yakin dia telah menguping pembicaraan kami sampai sesaat sebelum dia memanggilku. Aku merasa ingin mundur selangkah, tapi Yuzuki melingkarkan tangannya di lenganku dan mencengkeramnya erat.

...Kita punya kesepakatan, ingat?

Itulah yang dikatakan matanya. Tentu kami bisa menjelaskan segalanya nanti, tapi tetap saja, membuat keributan sekarang akan terasa sangat canggung.

"Uh, dengar, Yua. Masalahnya begini... Kami sudah memutuskan untuk mulai, kau tahu, berpacaran, dan..."

"...Maaf?"

Aku masih berbicara ketika Yua memotongku dengan tiba-tiba.

...Tolooong. Aku melemparkan tatapan memohon pada Yuzuki.

"It-itu benar. Aku sempat tidak bisa berhenti memikirkannya, tapi begitu kami ditempatkan di kelas yang sama, aku benar-benar jatuh cinta setengah mati. Begitu kudengar dia masih jomblo, aku memutuskan untuk langsung tancap gas dan menembaknya akhir pekan lalu. Dan dia bilang iya, jadi begitulah."

"Maaf, sebenarnya aku tidak bertanya padamu, Yuzuki. Aku bertanya pada Saku."

Oof! Dia benar-benar mengabaikan logat udik Fukui kuno yang biasanya dia dan Yuzuki gunakan!

...Gawat, aku dalam masalah!

Yuzuki menatapku seolah ingin berkata, "Giliranmu, Saku."

Jangan menatapku seperti itu. Kita sudah SMA. Kita sudah terlalu tua untuk bermain lempar tanggung jawab.

Karena tidak ada tempat untuk lari, aku berdehem dengan enggan.

"Dengar, Yua. Aku tidak melakukan apa pun untuk mengkhianatimu di sini."

"Uh, maaf? Mengkhianatimu bagaimana? Memangnya kita punya hubungan semacam itu?"

"Tidak! Tidak, tidak punya! Aduh, bodohnya aku, sepertinya aku salah sambung pikiran!!!"

Gugur dalam tugas. Beristirahatlah dengan tenang, wahai prajurit.

Yuzuki berbalik menghadapi Yua lagi, tidak diragukan lagi berencana mengatakan apa pun yang dia bisa untuk meredakan situasi ini.

"Dengar, Ucchi. Kami tidak merencanakan ini, tahu? Kami ingin memberitahu semua orang dulu sebelum melangkah lebih jauh, tapi kami hanya tidak bisa menahan perasaan kami. Biarkan aku menjelaskan. Apa kau mau mendengarku?"

"Tumpahkan semuanya!" (Maksudnya: Ceritakan semuanya padaku, Yuzuki.) Aku hanya bisa berharap Yua memaksudkan hal itu sebagai: "Ceritakan semuanya," dan bukan: "Aku akan mengeluarkan isi perutmu sekarang, Yuzuki." Benar-benar menakutkan.

Satu lagi gugur dalam tugas. Biarkan dia beristirahat dengan tenang juga.

Benar-benar masalah yang merepotkan.

Aku menatap Yuzuki. Dia sepertinya telah mencapai kesimpulan yang sama denganku. Kami berdua berbagi momen pengakuan dalam diam dan anggukan yang hampir tidak terlihat.

"Yua..."

"Ucchi..."

Aku memegang lengan kanan Yua, dan Yuzuki memegang lengan kirinya. Kami berdua memegangnya erat-erat.

""Ayo cepat ke sekolah!!!""

"A-apa? Tunggu! Waaaa!"

Mendapati dirinya tiba-tiba diseret oleh dua atlet, yang bisa dilakukan Yua si anggota klub musik hanyalah menjerit. Dan ya, dia sangat marah pada kami berdua karena hal ini.

◆◇◆

Sebelum memasuki ruang kelas, kami membawa Yua ke area terpencil dan menjelaskan segalanya kepadanya. "Ah, aku sudah mengira sesuatu seperti itu," katanya, dengan wajah kelelahan.

Aku telah menjelaskan poin-poin dasar situasinya, tanpa masuk ke detail perasaan pribadi Yuzuki tentang semuanya, tapi sepertinya dia bisa menyimpulkannya sendiri.

"Pertama-tama, aku ingin menunjukkan keprihatinan atas situasimu, Yuzuki, tapi..." Yua berjalan menyusuri lorong di depan kami. "Skenario yang sama hanya akan terus berulang setelah ini, tahu. Terutama dengan Yuuko, dan juga Kaito."

"Ya..."

Yuzuki dan aku membayangkannya, dan kami berdua menoleh untuk saling menatap.

Yuuko Hiiragi adalah anggota lain dari Tim Chitose, teman sesama murid kelas 2-5. Dia telah bersaing dengan Yuzuki untuk gelar gadis tercantik di angkatan kami sejak awal SMA.

Meski begitu, Yuuko itu seperti angin musim semi yang santai, melakukan hal-hal semaunya sendiri. Bukan salahnya jika cowok-cowok jatuh cinta padanya di sana-sini. Yuzuki lebih seperti tipe aktris cantik yang punya banyak wajah, sementara Yuuko seperti putri pelupa yang memancarkan aura tipe idola di mata semua orang yang melihatnya. Banyak orang bertingkah seolah dia dan aku adalah "pasangan akhir," dan Yuuko pastinya tidak tampak keberatan dengan hal itu. Tidak diragukan lagi dia akan kehilangan ketenangannya begitu mendengar aku berpacaran dengan Yuzuki.

Sekadar tambahan, Kaito Asano berada di klub basket, sama seperti Yuzuki—tipe atlet jock yang tinggi, berotot, dan bebal. Tetap saja, tidak ada gunanya membanding-bandingkan. Maksudku, terserahlah.

Yua mendahului kami sedikit, lalu berputar untuk menatap kami.

"Dan karena aku sudah bilang begitu, aku akan pergi duluan. Aku tidak mau terlibat dalam hal ini."

Dalam kepanikan, aku berseru. "Tunggu, tolong, Yua! Jika kami terlihat tiba-tiba berjalan masuk ke kelas bersama, itu akan membuat segalanya kacau balau!"

"Hmm. Sudah agak terlambat untuk mengkhawatirkan hal-hal seperti itu sekarang. Lagipula, kalian berdua kan berpacaran?"

Yua memiringkan kepalanya ke satu sisi dan memberi kami senyum kering yang sinis sebelum berbalik dan berlari pergi.

Andai saja aku bisa melihat lari kecilnya dari depan, aku akan bisa melihat C Cup yang indah itu, terbentuk dengan sempurna, seperti sepasang lonceng kuil Buddha. Aku bisa saja berdoa di hadapannya dan melarikan diri dari kenyataan, meskipun hanya sesaat.

Yuzuki membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajahku.

"Hei, Saku... Apa ini hanya imajinasiku, atau Ucchi itu sebenarnya cukup menakutkan?"

"Memang benar. Orang terakhir yang ingin kubuat marah padaku adalah Yua Uchida."

Namun, memikirkannya kembali, seluruh situasi ini pada dasarnya sudah di luar kendaliku.

Kami perlu memastikan berita tentang Yuzuki dan aku berpacaran tersebar seluas mungkin. Kami harus siap menghadapi banyak dampak yang merepotkan. Itu sudah menjadi risikonya.

"Pokoknya, yang bisa kita lakukan hanyalah maju terus."

Yuzuki mengangguk dengan ekspresi yang sulit dibaca, dan kami mulai berjalan lagi.

Menjelaskan hal-hal kepada Yua memakan waktu, dan sekarang sudah sekitar jam 08.10. Masih terlalu dini untuk Kura muncul; dia biasanya santai masuk jam 08.35. Tapi semua orang seharusnya sudah ada di kelas sekitar sekarang, termasuk semua anak klub yang mengikuti latihan pagi.

Dengan kata lain, kami punya waktu dua puluh lima menit untuk melepaskan bom hubungan kami kepada semua orang dan mulai menangani dampaknya.

Urgh. Aku merasa seperti Kenta, yang ragu-ragu di luar kelas pada hari dia kembali ke sekolah. Bagaimana aku bisa berakhir dalam situasi ini lagi?

Yuzuki menarik lengan bajuku. "Aku yakin kau sudah tahu ini, tapi agar lebih jelas, di depan teman sekelas kita..."

"Aku tahu, aku tahu, aku akan memainkan peranku. Dan kau, berhati-hatilah. Yuuko terlihat seperti orang linglung, tapi dia lebih tajam daripada yang diperkirakan orang."

Kami berdiri di luar pintu kelas sekarang. Yuzuki dan aku saling melakukan fist bump singkat untuk keberuntungan, lalu kami masuk.

"Pagi."

"Selamat pagi!"

Sesuai dugaanku, Yuuko adalah orang pertama yang bereaksi.

"Saku, selamat pagi! ...Hmm—dan Yuzuki juga? Tidak biasanya melihat kalian berdua bersama! Apa kalian berpapasan di jalan tadi?"

Aku berharap bisa menyelinap diam-diam ke lingkaran teman-temanku, tapi suara sopran Yuuko yang indah bergema keras di dinding kelas, menarik perhatian semua orang kepada kami. Terima kasih banyak ya! Terima kasih atas bantuannya!

Yua, yang duduk di samping Yuuko, menatap kami dengan seringai dan ekspresi yang sangat polos.

Sudut mulutku mulai berkedut. Di sampingku, Yuzuki menekan sakelarnya dan masuk ke mode aktris, menutup kesempatan untuk melarikan diri dengan cepat.

"Tidak, kami tidak berpapasan. Kami berangkat ke sekolah bersama. Benar kan, Saku?"

Lalu Yuzuki menoleh padaku, tersipu.

Sebelum aku sempat menjawab, Yuuko meletakkan jari telunjuknya di dagu dan memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Hmm? Saku?"

Di belakang kami, di mana tidak ada yang bisa melihat, Yuzuki menusuk-nusuk punggungku beberapa kali. ...Baiklah, baiklah, aku bilang aku akan melakukannya.

"Ah, iya. Aku pergi menjemput Yuzuki di rumahnya, dan kami berangkat ke sekolah bersama."

"Hmm? Yuzuki?"

Kepala Yuuko miring semakin jauh ke samping. Tanda tanya kecil muncul di seluruh wajahnya.

Yuzuki menatapnya, melanjutkan dengan suara yang malu-malu.

"Jadi... Baiklah. Aku akan memberitahumu, Yuuko. Masalahnya begini: Kami sudah mulai berpacaran."

...

"""""APAAAA?!!!"""""

Setelah jeda sejenak, seluruh kelas, yang jelas-jelas sudah menguping, mengeluarkan teriakan terkejut secara kolektif yang bahkan menenggelamkan suara Yuuko. Dinding-dinding praktis berguncang.

"Apa-apaan?! Ini pertama kalinya aku mendengar soal ini!!!" Yuuko melompat berdiri dan berjalan dengan langkah menghentak ke arah kami. "Tunggu sebentar, Saku! Apa maksudnya ini?! Tidak ada yang memberitahuku! Aku tidak diberi tahu!!!"

Yuuko menggembungkan pipinya dan menatapku. Aku menahan keinginan mendadak untuk menariknya ke dalam pelukanku, berkata, "Cup cup," dan menepuk kepalanya. Begitulah betapa menggemaskannya dia saat itu.

...Jika aku entah bagaimana sesaat bisa melupakan situasiku saat ini.

Yuzuki menundukkan matanya sebagai bentuk penyesalan.

"Dengar, Yuuko. Bukannya kami mencoba menyembunyikannya, tahu? Sebenarnya aku ingin datang dan curhat padamu soal ini lebih cepat. Hanya saja... hanya saja, masalahnya—aku tidak bisa menahan diri. Aku harus memberitahunya bagaimana perasaanku! Aku tidak ingin semua orang mengetahuinya dengan cara seperti ini, tapi..."

Yuzuki memainkan adegannya dengan sempurna. Kau tahu, narasi "Aku naksir cowok yang disukai teman baikku, tapi semuanya terjadi begitu cepat... Seperti cinta di musim panas..."

Tapi Yuuko benar-benar mengabaikannya, membungkamnya sepenuhnya. "Diam! Diam! Aku tidak mendengarmu! Maksudku, apa kau serius?! Saku bukan tipe orang yang terbawa suasana dan memilih gadis secara tiba-tiba! Kau pasti sudah menggunakan semacam trik licik untuk menjeratnya, Yuzuki! Memanfaatkan kebaikannya dan memutarbalikkannya demi keuntunganmu! Persis seperti Kentacchi!"

Kenta Yamazaki, yang disebut sebagai Kentacchi, tersentak di kursinya seolah-olah baru saja terkena peluru nyasar. Mulutnya mulai membuka dan menutup seperti ikan, seolah dia berpikir, Tolong jangan libatkan aku dalam skenario menakutkan ini, ya?

Melihatnya, kau tidak akan pernah menyangka dia awalnya adalah seorang penyendiri yang tidak populer. Saat kami masuk, dia sedang mengobrol santai dengan Kaito, seolah itu hal yang sangat alami baginya. Untuk sesaat, aku tidak yakin sedang berada di dimensi mana.

Hei, jangan alihkan pandanganmu dariku dan kabur begitu saja. Kau pikir kau siapa? Sialan.

Saat aku memikirkan transformasi Kenta, Yuzuki mencoba lagi. "Terbawa suasana? Secara tiba-tiba? ...Jangan bilang begitu."

Tapi kemudian dia tampak mengabaikannya dan tersenyum, mengalihkan matanya yang bersinar ke arahku. "Bukan itu yang terjadi... kan?"

Tatapan tajam dari semua orang di kelas tertuju padaku.

Jika aku memberikan respons yang fasih di sini, istilah bajingan tukang main perempuan akan langsung melesat ke peringkat atas pencarian di situs gosip bawah tanah sekolah, tidak salah lagi.

Mempersiapkan diri, aku menghadap ke depan, menguatkan tekad, dan menggunakan volume suara yang agak pelan. "Aku tidak... terbawa suasana..."

Yuuko mencerna hal ini selama sepersekian detik, lalu meletakkan tangannya di pinggang dan menatap tajam Yuzuki.

"Lihat! Saku yang malang tidak tahu harus berbuat apa! Dia terlalu baik; itulah sebabnya dia tidak bisa menolakmu. Kau tidak boleh memanfaatkan kebaikannya, tahu, Yuzuki!"

"Dengar, Yuuko. Apa memang seaneh itu kalau aku dan Saku bersama?"

"Iya! Memang! Aneh banget! Setidaknya... Yuzuki dan Saku? Benar-benar tidak bisa dipercaya!"

Ledakan emosi Yuuko sepertinya tepat sasaran. Bibir Yuzuki melengkung di satu sisi, hanya sedikit. Tapi cukup bagiku untuk bisa menyadarinya.

Ini tidak biasa.

Sepertinya Yuzuki sedikit kesal. Biasanya, gadis di posisi sosialnya tidak akan pernah diserang secara terang-terangan di depan umum seperti ini.

Aku bisa sedikit memahami perasaannya. Yuuko itu tidak terduga, semacam kartu liar. Bagi orang yang punya kendali diri kuat seperti Yuzuki dan diriku sendiri, dia itu agak terlalu berat dihadapi.

Aku tidak yakin apa sebenarnya yang dipikirkan Yuzuki, tapi dia tiba-tiba bersandar padaku, menempel pada lengan kiriku.

Uh, Nona? Aku merasa ada kontak dada di sini.

"Yang tidak bisa dipercaya adalah caramu bersikap sekarang, Yuuko."

Yuzuki mengerjap polos, sementara wajah Yuuko berkerut karena emosi.

"Ugh, ya ampun! Baiklah, oke! Tantangan diterima!"

Yuuko tiba-tiba mencengkeram lengan kananku dan menempelkan dirinya erat-erat.

Aku mendapati diriku terjepit di antara sepasang C Cup berbentuk cangkir teh di kiriku dan sepasang D Cup berbentuk bola dunia di kananku. Apa aku cowok paling beruntung di dunia atau bagaimana?!

Lalu aku dihantam oleh rentetan tatapan mematikan dari setiap siswa laki-laki di kelas.

Yah. Ini tidak bagus.

Aku berusaha keras untuk mengabaikan para gadis yang berebut perhatian di kedua sisiku dan sebaliknya menoleh ke teman-temanku untuk meminta bantuan.

Aku melakukan kontak mata dengan Kazuki Mizushino. Dia sudah menjadi bintang tim sepak bola di tahun kedua, dan dia selalu memiliki senyum yang keren.

Tapi sebenarnya, dia bisa menjadi sedikit licik. Sangat tampan juga. Dia sebenarnya cukup mirip dengan Yuzuki dan aku, jadi dia mungkin bisa berguna di sini.

Kazuki memasang senyum semringah biasanya, jenis yang mengingatkanku pada minum minuman berkarbonasi dingin di musim panas. Dia mengangkat satu tangan dan membuat gerakan memotong di depan lehernya.

...Baiklah, kau akan membayarnya nanti. Aku tipe orang yang pendendam soal hal-hal seperti itu.




Ah, tidak ada jalan keluar lain. Aku butuh bantuan dari seseorang yang otaknya benar-benar lembek.

Aku meneguhkan hati sebelum menoleh ke arah Kaito, yang merespons dengan mengangkat satu kaki ke atas kursi, merengut padaku seolah dia adalah karakter kacung figuran dari manga bertema berandalan. Dia menjulurkan lidah dan membuat gestur tangan yang sangat kasar, seolah ingin berkata, "Enyah sana!"

…Yah, permisi kalau begitu.

Sudah kuduga bakal begini.

Namun, aku masih punya satu teman tersisa. Seorang pria yang sudah mencapai tingkat saling pengertian yang mendalam denganku, pria yang sangat kuhormati… Benar kan, Kenta?

Tapi Kenta malah membenamkan kepalanya di buku teks bahasa Jepang.

Uh, Kenta? Jam pertama itu matematika. Lagipula, kau memegang buku teksnya terbalik. Gerakan komedi yang klasik, tapi sekarang bukan waktunya!

Sialan! Kurasa memang tidak ada siapa pun lagi selain kamu, Yua. Aku… Ack! Maaf, maaf, maaf!

"Selamat pagi! …Hei, kalian semua sedang apa?"

Terjepit di antara sepasang dada… maksudku, sepasang primadona, aku tetap membeku saat pintu kelas terbuka, dan suara penyelamatku pun terdengar.

Haru Aomi masuk dengan handuk olahraga berwarna biru samudra yang tampak segar melingkar di lehernya. Dia mengangkat satu alis dengan sedikit terkejut saat melihat pemandangan di hadapannya.

Haru bertubuh kecil, tapi dia adalah pemain kunci di tim basket putri bersama Yuzuki, dan dia memiliki otot-otot yang kencang di lengan dan kakinya. Dia tampak sedikit berkilau karena keringat dari latihan pagi. Setetes keringat mengalir di lehernya. Dia memancarkan aura sensualitas yang terasa kontras dengan kepribadiannya yang unik.

Haru menyentakkan handuk olahraganya dari leher dan dengan cepat menyampirkannya di atas kepala Yuzuki.

"Kamu juga, Yuzuki? Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ini masih terlalu pagi untuk ketegangan seperti ini."

Seolah kehadiran mendadak sahabatnya itu telah menyadarkannya dari lamunan, Yuzuki dengan cepat memisahkan diri dariku dan berdehem.

"Um, Haru… Jadi begini—kami sudah memutuskan untuk mulai berpacaran…"

"Bagus, bagus, tapi beri aku waktu sebentar. Biarkan aku makan bola nasiku dulu, cepat saja."

Haru menghempaskan dirinya di bangkunya dan mengeluarkan bola nasi raksasa dari tas olahraganya lalu mulai memakannya.

Seolah kami semua tiba-tiba terbangun dari sebuah mantra, kelompok kami pun membubarkan diri dengan senyum yang tidak jelas.

Aku mendekat untuk berbisik pada Yuzuki saat dia berjalan menuju bangkunya sendiri. "Jadi, Yuzuki yang hebat pun bisa merasa gugup kadang-kadang."

"Kata-kata yang luar biasa, datang dari pria bajingan tidak berguna yang hanya membantu kalau suasana hatinya lagi ingin saja."

Sesuai perintahmu, Nyonya Yuzuki.

◆◇◆

"…Jadi, begitulah kira-kira situasinya."

Saat jam istirahat makan siang, aku meminjam kunci atap sekolah dari wali kelas kami, Kuranosuke Iwanami, alias Kura. Kemudian semua anggota Tim Chitose—Yuuko, Yua, Yuzuki, Haru, Kazuki, Kaito, Kenta, dan aku—berkumpul di sana untuk rapat.

Sesuai aturan umum, siswa tidak diizinkan naik ke atap, tapi karena aku telah ditunjuk sebagai "petugas pembersih atap" oleh Kura (jabatan yang benar-benar karangan belaka), aku bisa mengaksesnya kapan pun aku mau.

Alasan rapat ini tentu saja untuk menjelaskan situasi sepenuhnya antara Yuzuki dan aku.

Aku yakin Kazuki, Kaito, maupun Kenta bukanlah penguntit misterius kami, dan lagipula, aku tidak bisa mengawasi Yuzuki sendirian. Aku butuh sebanyak mungkin mata yang tajam untuk ini.

Yuzuki juga menginginkan bantuan dari kelompok ini, tentu saja—hanya saja kami melewatkan bagian pembicaraan batin yang kami lakukan di kafe pada akhir pekan lalu. Bagaimanapun juga, Yuzuki adalah korban di sini, jadi tidak perlu menyembunyikan masalah yang dihadapinya dari kelompok sahabat kepercayaan kami.

Setelah semua orang selesai mendengarkan cerita kami, Kaito akhirnya bicara duluan. "Tapi, apa dia benar-benar sedang dikuntit oleh pria asing?" tanyanya dengan nada sedikit terkejut. "Yuzuki selalu mengobrol dengan cowok-cowok dari tim basket sekolah lain, tapi penguntit? Kurasa itu agak berlebihan. Dan kalaupun itu pria yang naksir dia, buat apa harus sembunyi-sembunyi? Kenapa tidak langsung mendekatinya saja?"

Kenta tersenyum ironis dari tempat duduknya di lantai di samping Kaito.

"Tidak semua pria bisa langsung mendekati gadis seperti kamu, Asano. Aku… aku sebenarnya mengerti bagaimana perasaan pria ini."

Semua orang menoleh serentak ke arah Kenta dengan ekspresi "Tunggu… Kamu?"

Kenta tersentak dan segera mengibaskan tangannya di depan wajah dengan gaya "Bukan, bukan, kalian salah paham!" "Maksudku, aku memang otaku anime dan light novel, tapi ada juga otaku idola dan pengisi suara, kan? Beberapa dari mereka bisa sangat fanatik, setidaknya begitu yang kudengar. Seperti tipe yang bakal mengamuk kalau idola atau aktris favorit mereka punya pacar. Mereka merasa seperti dikhianati secara pribadi."

Kazuki tersenyum masygul sambil memegang sekaleng kopi. "Aku tidak akan sampai sejauh itu, tapi aku bisa melihat kemungkinan adanya penguntit. Saat SMP, ada gadis-gadis yang menunggu di luar rumahku dan memaksaku menerima hadiah dari mereka, hal-hal semacam itu."

Aku sendiri pernah mengalami hal serupa. Bahkan untuk pria sepertiku, itu bisa sangat menakutkan. Jika gadis seperti Yuzuki benar-benar dikuntit ke mana-mana, atau bahkan jika dia hanya merasa sedang dikuntit… itu benar-benar bisa membebani mentalnya.

"Aku tidak bilang ini pasti terjadi, tapi…," Kenta melanjutkan. "…Tapi kurasa kau harus berhati-hati, Nanase. Kau mungkin akan baik-baik saja kalau bersama si 'Raja', tapi kau tahu, pria cenderung melampiaskan kecemburuan mereka pada si wanita—begitu kata orang. Jika rencana pacar palsu ini gagal, si penguntit bisa benar-benar kehilangan kendali."

Itu penilaian yang cerdas dari Kenta. Kami harus berhati-hati.

Jika berpura-pura menjadi pacar palsu akan mengalihkan kemarahan si penguntit kepadaku, itu malah bagus. Masalah bisa selesai lebih cepat dengan cara itu. Namun berdasarkan sejarah panjang orang-orang gila di dunia ini, tebakan Kenta mungkin saja benar.

Aku mengedikkan bahu dan berdehem, tidak ingin yang lain melihat bahwa benih rasa takut kecil telah tumbuh di pikiranku.

"Yah, kita akan cari jalannya. Apakah kita akan memprovokasi orang ini atau tidak, itu tergantung siapa yang kita hadapi."

Kemudian, secara tidak biasa, Yua ikut berbicara.

"Aku benar-benar tidak suka ini. Saku, kamu sepertinya tidak peduli jika kamu jadi sasaran. Tapi Kenta bisa saja benar. Itu artinya keselamatanmu sama sekali tidak terjamin…"

Wajah Yuzuki menegang.

Dengan kata lain, aku yang pasang badan untuk melindungi Yuzuki juga berarti aku berpotensi meletakkan leherku sendiri di atas talenan. Tapi aku sudah siap untuk itu saat aku menyetujui kontrak kami. Ketentuan dan risiko yang menyertainya sama sekali tidak berubah.

Dan aku tahu Yuzuki pun mengerti apa arti dari ketentuan dan risiko tersebut.

Yua tiba-tiba menyadari apa yang baru saja dikatakannya—dan di depan siapa dia berbicara. Dia segera mencoba melunakkannya dengan logat Fukui: "A-aku tidak bermaksud apa-apa kok."

"Kami semua juga akan ikut berjaga-jaga. Aku yakin kalian berdua akan baik-baik saja. Dan, Yuzuki, pastikan jangan pernah pergi ke mana pun sendirian. Mari kita hajar berandal kurap itu!"

Semangat Yua menular, dan ekspresi Yuzuki pun ikut cerah.

"Tentu saja! Aku tidak bisa mengandalkan pria seperti Saku, jadi aku butuh bantuanmu, Ucchi!"

"Dengan senang hati!"

Candaan logat Fukui kuno itu berhasil meredakan ketegangan, tapi apa aku barusan dihina secara halus?

"Pokoknyaaa!" Yuuko, yang biasanya paling berisik tapi sejak tadi diam, tiba-tiba menyela dengan suara lantang. "Kita harus melakukan ini demi Yuzuki! Ayo kita cari berandal itu, kalau dia memang ada, dan beri dia pelajaran soal sopan santun!"

Sejujurnya, aku sedikit terkejut dengan ini.

Berdasarkan reaksinya pagi tadi, sudah jelas bahwa Yuuko sangat kesal soal Yuzuki dan aku yang (katanya) berpacaran. Aku melirik Yuzuki. Dia sepertinya juga kehilangan kata-kata.

Yuuko melanjutkan.

"Maksudku, hal semacam ini sangat mengerikan! Aku akan terlalu takut untuk berjalan sendirian! Maksudku, betapa mengerikannya jika benar-benar ada penguntit? Saku, pastikan kamu melindungi Yuzuki kita, ya?"

Yuuko menatap mataku, tangannya tertangkup di depan dada.

Ah, iya. Itulah Yuuko kita.

"Aku akan melakukan apa pun yang kubisa. Setidaknya, selama aku berperan sebagai pacar palsu, aku akan melakukan segalanya untuk melindungi Yuzuki, sebagai pacarku yang berharga."

Yuzuki segera menimpali. "Yuuko… aku benar-benar minta maaf. Aku berjanji akan membalas kebaikanmu, oke?"

Semua orang mengabaikan perasaanku. Sebaliknya, Yuuko menarik napas pendek karena perkataan Yuzuki barusan, sebelum mengeluarkannya dengan marah.

"Oke, sekarang aku benar-benar marah! Ayo kita bahas ini sekali lagi!"

…Tunggu, apa?

"Asal kamu tahu, aku belum menerima kalian berdua pacaran, bahkan sebagai pacar palsu sekalipun! Kalau kamu cuma butuh seseorang untuk pura-pura jadi pacar, kamu bisa menyuruh Kaito saja! Kalian berdua kan satu klub basket, dan dia juga tidak punya gebetan atau hal lain yang lebih penting untuk dilakukan dengan waktunya! Dan dia punya otot juga, itu pasti berguna!"

Kaito, apa kau akan membiarkan saja dia bicara begitu? Aku menoleh ke arahnya.

"Sial, dia langsung menyerang bagian yang paling sakit…," desahnya, dan Kenta mengulurkan tangan untuk menepuk punggungnya dengan penuh simpati.

Kata-kata Yuuko sepertinya memicu sakelar sarkasme Yuzuki.

"Oh, begitu. Jadi menurutmu, Saku dan Kaito itu sama saja dan bisa ditukar-tukar? Yah, maaf saja. Menurut pendapatku, hanya Saku yang pantas untukku. Kenapa kamu tidak pacaran dengan Kaito saja, Yuuko?"

"Jangan asal bicara! Aku juga cuma mau Saku! Aku tidak mau terjebak dengan Kaito!"

Keadaan memburuk dengan cepat. Ini akan berakhir seperti kejadian tadi pagi. Aku harus campur tangan.

"Cukup, kalian berdua. Kaito sudah layu seperti rumput laut di sana. Memangnya apa salah dia pada kalian, hah?"

"""Kamu jangan ikut campur, Saku!!!"""

"Siap, Tuan Putri!!!"

Maaf, Kaito. Aku tidak bisa membantumu kali ini. Istirahatlah dengan tenang, kawan.

Selagi aku memberikan penghormatan terakhir untuk Kaito di dalam pikiranku, Haru akhirnya selesai memakan bekal makan siangnya. "Mm, enak sekali!" kicaunya. "…Ngomong-ngomong, memilih Chitose itu memang gaya Yuzuki banget, kalau menurutku."

Lalu dia memberi semua orang senyum yang penuh arti.

"Lagipula, kalian berdua kan seperti pinang dibelah dua."

Yuzuki tampak ingin membalas, tapi kemudian dia menahan lidahnya.

Tidak heran mereka berdua adalah duet basket terkenal se-prefektur. Mereka tahu persis cara menghadapi satu sama lain.

Haru melanjutkan, satu alisnya terangkat tinggi saat dia menatap Yuzuki dengan aneh. "Chitose, kamu akan menghabiskan banyak waktu dengan Yuzuki dalam waktu dekat ini, kan? Kalau begitu, datanglah melihat latihan akhir pekan. Aku akan menunjukkan padamu sedikit aksi Haru yang super hebat di lapangan basket."

"Tentu, aku tidak keberatan. Dan mungkin kamu dan aku bisa latihan privat berdua setelahnya?"

"Sayangku, apa kita benar-benar akan mulai berselingkuh secepat ini setelah pernikahanmu?"

"Jangan konyol. Aku cuma mau tanding ulang dari waktu kamu mengalahkanku saat kita main one-on-one."

"Siapa yang konyol? Baiklah. Kalau aku menang, kamu harus… Oh, aku tahu! Kamu harus pura-pura jadi pacarku juga!"

"Aku mohon, tolong jangan tuangkan bensin lagi ke api yang sudah membara ini!"

Haru terbahak-bahak, dan yang lainnya pun ikut tersenyum.

◆◇◆

"…Kalian bisa menyalakannya sekarang."

Aku memberitahu yang lain bahwa aku akan tinggal sebentar untuk mengunci pintu, lalu menyuruh mereka pergi duluan. Kemudian aku menggumamkan kalimat di atas. Aku mendengar bunyi klik dan pemantik, lalu dari atas unit penampungan tangki air, aku melihat kepulan asap abu-abu mulai membubung perlahan di udara.

"Menguping pembicaraan pribadi murid-muridmu. Itu kebiasaan buruk, Pak Guru."

"Jangan sembarangan. Aku tadinya sedang menikmati tidur siang yang tenang di sini, lalu kalian semua datang menyerbu dan mulai berpesta pora. Cih. Padahal ini seharusnya menjadi waktu pribadiku, di mana aku bisa istirahat dari kalian para bocah yang terobsesi dengan seks."

Dengan susah payah, Kura bangkit berdiri setelah mengeluarkan keluhan khas pria paruh baya itu. Kemudian dia duduk di tepi unit penampungan tangki air. Dia pasti sudah melepas sandal jepit kumalnya di suatu tempat, karena kakinya yang menjuntai tampak telanjang. Dan kotor.

Aku memanjat tangga juga dan duduk di samping Kura.

"Jadi bagaimana menurutmu, Kura?"

"Kurasa aku pasti telah melakukan perbuatan yang sangat mulia di kehidupan masa laluku, sehingga sekarang imbalannya adalah dikelilingi sepanjang hari oleh gadis-gadis SMA yang cantik dengan C Cup dan D Cup."

"Kalau Bapak terus bicara seperti itu, hukuman Bapak adalah bakal bereinkarnasi jadi Kura lagi di kehidupan berikutnya."

Kura bergumam "Bocah sialan…" pelan, sebelum mengembuskan kepulan asap ungu. "Hati-hati, Chitose. Kau sedang mencari masalah."

Lalu suara Kura berubah menjadi serius, hal yang tidak biasa baginya.

"Menguntit itu adalah tindak pidana," katanya.

"Jadi maksud Bapak kita harus lapor polisi?"

"Mungkin terlalu dini untuk itu. Mereka mungkin tidak akan menganggapmu serius di tahap ini. Hanya karena sesuatu itu ilegal, bukan berarti melibatkan hukum adalah cara terbaik untuk menanganinya. Sayangnya begitu."

Yuzuki dan aku juga tahu itu. Itulah sebabnya kami menjalankan kebijakan Rencana B kami.

Kura melanjutkan. "Meskipun begitu, jika kalian bertindak gegabah dan akhirnya menimbulkan masalah, itu bisa berdampak buruk pada posisiku dan diriku sendiri, tahu."

"Maksud Bapak?"

"Maksudku, jangan sampai kacau. Ada prosedur yang tepat untuk segalanya. Agar para pahlawan bisa mengalahkan penjahat, semua orang harus bermain dengan aturan yang sama."

Aku tahu apa yang ingin dia katakan.

Tanpa lawan yang terdefinisi dengan jelas, akan sangat mudah untuk mengabaikan seluruh masalah penguntitan ini sebagai reaksi berlebihan dari anak yang terlalu sensitif. Dengan kata lain, jika kami ingin hukum yang menangani, kami harus menunggu sampai kejahatan yang nyata dan tidak terbantahkan benar-benar terjadi.

"Jadi kita harus meraba-raba dan berimprovisasi. Itu tidak akan mudah…"

"Pokoknya jangan sampai salah. Pastikan kalian memahami situasinya dengan benar. Dan jika ini sudah melampaui pertengkaran bocah bodoh, segera temui aku, dan aku yang akan menanganinya… atau begitulah yang ingin kukatakan, tapi aku tidak bisa menjanjikan itu. Serius, datang dan beritahu aku. Setidaknya aku akan mendengarkanmu. Seorang guru tidak bisa banyak membantumu dalam kasus seperti ini selain memberi saran."

Ya, dia bilang begitu, tapi jika penguntit yang kuceritakan pada Kura itu benar-benar ada, Kura pasti akan turun tangan dan bertarung, tak diragukan lagi. Mungkin dia ingin kami menangani ini sendiri sampai batas tertentu, dengan dia tetap mengawasi situasinya. Aku tidak yakin apakah itu cara yang benar bagi seorang guru dalam menangani hal semacam ini, tapi setidaknya, kami semua bersyukur memiliki Kura yang mendukung kami.

Melibatkan guru—dan jangan sampai terjadi, polisi—akan menyebabkan masalah yang benar-benar bisa menghancurkan kehidupan SMA seseorang. Aku ingin menghindari itu, kecuali jika kami punya alasan yang sangat kuat, tentu saja. Aku tidak hanya mengkhawatirkan diriku sendiri. Hal seperti ini bisa berdampak pada kegiatan klub Yuzuki dan bahkan penerimaan kuliahnya di masa depan.

Aku berdiri, menepis debu di bagian pantat celana seragam sekolahku.

"Yah, aku akan melakukan apa yang kubisa. Tapi aku tidak bisa lari ke pelukanmu sebagai upaya terakhir, Kura. Aku punya reputasi yang harus dijaga."

"Nah, Chitose, apa kau belum pernah mendengar julukanku? Julukan yang mereka berikan padaku saat aku sering mengunjungi bar di kota sebelah yang bernama Don't Make Me Take Off My Blazer…?"

"Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu."

"Dia yang pilihan gadis penghiburnya diganti satu demi satu… Mereka memanggilnya The Last Resort (Upaya Terakhir)…!"

"Oh, begitu. Berarti Bapak pasti masuk daftar hitam pelanggan rahasia."

◆◇◆

Hari itu sepulang sekolah, tepat sebelum jam tujuh malam.

Aku sedang duduk santai di dekat pintu masuk sekolah.

Setengah dari langit yang berkabut sudah berwarna malam, dan setengah lainnya berwarna jingga seperti jeruk di mana ia menggantung di atas gedung sekolah. Siswa-siswa yang sudah selesai latihan klub tersenyum dan melangkah ringan menuju gerbang sekolah. Dari lapangan olahraga, aku bisa mendengar suara klub bisbol dan sepak bola yang sedang melakukan pendinginan dengan lari keliling lapangan, suara ceria mereka terbawa angin.

Sudah lama aku tidak tinggal di sekolah selambat ini.

Setahun yang lalu, sekitar jam segini, aku pasti ada di luar sana di lapangan olahraga bersama para atlet yang berlumuran lumpur, suaraku menjadi bagian dari paduan suara mereka setelah latihan.

Tiba-tiba aku mencium bau tanah yang lembap, dan itu membangkitkan sesuatu dalam diriku.

Itu adalah aroma udara malam yang akrab setelah latihan klub.

Periode waktu tepat setelah sekolah sepertinya memiliki suasana khasnya sendiri. Dan ada perbedaan jelas antara perasaan sekolah setelah jam pelajaran usai dan setelah latihan klub selesai.

Pada waktu yang pertama, ada suasana bersemangat seperti "Ayo kita nongkrong!" atau "Ayo kita latihan klub!", tapi pada waktu yang terakhir, semuanya terasa lebih tenang. Hampir sentimental.

Selama musim ini, saat matahari terbenam dengan lapisan warna di langit, itu adalah waktu yang tepat untuk berbagi momen dari hati ke hati dengan teman-teman sekolahmu. Waktu untuk membicarakan mimpi masa depan, waktu untuk menyebutkan nama gadis yang sedang kau incar.

Aku sedang tenggelam dalam pikiran filosofis semacam itu ketika seseorang muncul di depanku, sebuah siluet ramping yang sedang berjongkok. "Chi-to-se."

Aku mengambil waktu sejenak untuk mengapresiasi rok pendeknya, yang hampir tidak menutupi apa-apa, sebelum mendongak. Aku terkejut saat melihat siapa itu.

"Nazuna Ayase. Jarang sekali bertemu denganmu sendirian."

Nazuna Ayase adalah teman sekelas lainnya dari Kelas 2-5, tapi dia termasuk dalam kelompok menonjol lainnya di kelas kami.

Nazuna dan pria utama di kelompoknya, Atomu Uemura, baru saja mengganggu Kenta bulan lalu.

Meskipun aku masih menyimpan sedikit dendam pada mereka karena merundung Kenta, itu tidak berarti aku memiliki permusuhan yang nyata terhadap mereka. Aku juga tidak merasa perlu memaksa diriku untuk berteman dengan mereka.

Pada dasarnya, aku menjalankan kebijakan non-intervensi.

Maksudku, ini adalah pertama kalinya aku benar-benar berbicara dengan salah satu dari mereka secara empat mata.

Nazuna memutar-mutar rambutnya yang dikeriting rapi dengan jarinya dan tersenyum. "Nazuna saja cukup, Chitose. Yang lain punya urusan lain hari ini, tahu. Aku tidak ada kerjaan, jadi aku cuma nongkrong sambil main HP, dan tanpa sadar hari sudah sesore ini."

"Wah, Nazuna. Kamu hebat juga dalam membunuh waktu. Itu sepertinya semacam bakat khusus yang kamu punya."

"Benarkah?"

Ekspresinya melembut menjadi sesuatu yang tampak polos.

Jika kau membandingkannya dengan Yuuko atau Yuzuki, riasannya sedikit lebih tebal dan mencolok. Tapi wajahnya imut, dan riasannya sendiri dilakukan dengan baik dan sesuai usia. Aku masih punya citra negatif tentangnya dari caranya bersikap terhadap Kenta dan Yua, tapi mengobrol dengannya seperti ini membuatku berpikir bahwa dia mungkin bukan orang jahat.

Terkadang orang bisa bersikap brengsek; itu saja.

Tetap saja, menilai seseorang berdasarkan kesan pertama, baik atau buruk… Ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sana. Seperti yang kubicarakan dengan Yuzuki. Indra keenam. Mungkin tampak seperti hal yang berlawanan, tapi sebenarnya, keduanya berjalan beriringan.

Maksudku, sisi dirimu yang kau tunjukkan pada satu orang mungkin sangat berbeda dari sisi dirimu yang kau tunjukkan pada orang lain. Dan tidak ada jaminan bahwa apa yang tampak di permukaan adalah sesuatu yang nyata.

"Chitose, apa kamu jangan-jangan sedang menunggu Nanase?" Nazuna mengamatiku.

"Yah, begitulah."

Ah, sudah kuduga. Tapi ini bagus. Inilah sebabnya kami melakukan adegan besar tadi di kelas, dengan drama dan suara keras. Untuk memastikan semua orang tahu tentang kami.

Semua sesuai rencana. Namun, itu membuatku merasa gelisah.

"Apa, serius? Dengar, Chitose… Apa kamu serius pacaran dengan Nanase?"

"Kurasa apa yang kamu dengar pagi tadi itu benar. Bukankah kami pasangan yang serasi?"

Aku mengatakannya dengan nada bercanda, tapi Nazuna mengernyitkan wajahnya dengan rasa tidak suka.

"Uh, tidak sama sekali. Maksudku, Nanase itu benar-benar licik. Kamu tidak pernah tahu apa yang sedang dia rencanakan! Iya, maaf ya, tapi aku tidak melihat kecocokan kalian."

Nazuna mengedikkan bahu, seolah percakapan itu tidak terlalu penting baginya, padahal dia baru saja mengatakan hal-hal yang dengki tentang Yuzuki.

"Uh, apa pantas kamu bicara begitu padaku? Aku kan pacarnya. Kamu bicara seperti itu, orang-orang malah akan bertanya-tanya siapa yang sebenarnya licik di sini."

"Setidaknya aku tidak menusuknya dari belakang, kan? Aku akan mengatakan hal yang sama persis di depan wajahnya."

Ah. Jadi bisa dibilang, ini adalah cara Nazuna bermain adil.

"Yah, kalau begitu kamu pasti punya kata-kata pilihan untukku juga, kan? Maksudku, aku kan bajingan tukang main perempuan di lingkungan ini."

Nazuna tertawa terbahak-bahak. "Nggak, kamu keren, Chitose. Kamu tampan, dan seorang cowok, jadi aku bisa memberimu pengecualian untuk banyak hal. Nanase itu gadis yang mendapat lebih banyak perhatian dariku, itulah sebabnya aku membencinya."

"Kamu jujur sekali ya."

Dan aku benar-benar memikirkannya. Aku tidak bisa menahan tawa juga.

"Hei, Chitose. Berikan ID LINE kamu."

"Sekali lagi, apa itu cara bicara yang benar kepada pacar orang lain?"

Aku tersenyum masygul, tapi aku tetap memindai kode QR yang disodorkan Nazuna di layar ponselnya.

Saat itulah para siswa yang baru selesai latihan klub mulai keluar dari sekolah, berduyun-duyun melewati pintu masuk.

Nazuna menyadari mereka datang dan segera berdiri.

"Aku pergi duluan kalau begitu. Meskipun bertemu denganmu saat pulang adalah pemandangan yang menyegarkan mata, aku tidak mau berakhir berkelahi dengan Nanase."

Lalu dia pergi, melambaikan tangannya dengan gestur "da-dah".

Huh. Aku tadi mengira dia akan mulai berdebat denganku, tapi dia ternyata cukup ramah dan pergi tanpa ada rasa permusuhan.

Berdasarkan caranya bicara tadi, aku bertanya-tanya kenapa dia tidak mencegat Yuzuki saat pulang dan memaki-makinya secara langsung. Yah, itu masuk akal.

Kenapa harus mencari target kemarahannya untuk dicaci-maki kalau dia bisa menjelek-jelekkannya di depan pacarnya saja?

Malahan, Nazuna telah memilih opsi yang lebih brutal.

Saat itulah aku menyadari bahwa jam tujuh malam sudah tiba tanpa kusadari. Aku bangkit dan meregangkan tubuh. Tubuhku terasa kaku karena duduk terlalu lama.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Yuzuki dan Haru keluar dari pintu masuk. Haru yang pertama kali menyadariku dan langsung berlari menghampiri.

"’Sup’, Chitose! Kamu nungguin aku ya?"

"Aku memang menunggu, tapi seingatku bukan nungguin kamu, Haru."

"Ayolah, Sayang. Kamu tahu kamu pasti senang banget melihat senyum ceria Haru setelah hari yang melelahkan ini!"

Dia menabrakkan tubuhnya padaku, bahu rampingnya membentur dadaku. Aku mencium aroma deodoran yang menyegarkan.

"Kalau kamu memang ingin aku berpikir begitu, harusnya kamu bersikap sangat baik padaku, sebagai ganti waktu yang kuhabiskan buat menunggu. Beberapa pujian manis akan sangat membantu."

Haru kemudian menangkup pipinya dengan tangan dan menjulurkan lidahnya, menunjukkan sikap manja yang dibuat-buat.

"Hei, Saku-Poo! Hawu kangen banget sama kamu! "

"…Bwah-ha-ha!" Aku tertawa meledak.

"Hei! Chitose! Reaksi macam apa itu?!"

"Dasar gadis gila! Jangan tiba-tiba melakukan itu tanpa peringatan! Seorang pria butuh waktu untuk mempersiapkan mental, tahu!"

"Saku-Poo jahat banget! Hawu yang malang jadi sedih bangeeet sekarang! "

Aku mendengus geli lagi. "T-tolong, cukup! Aku menyerah! Aku menyerah! Punggung dan perutku sampai kram!"

"Oh, apa Saku-Poo merasa mual-mual di peyutnya? Hi-hi?"

Saat Haru dan aku sedang bercanda dan tertawa bersama, Yuzuki mendekat dengan wajah jengkel.

"Sedang apa kamu dengan pacarku, hmm?" Yuzuki mendaratkan tangannya di atas kepala Haru.

"Hei! Ada Yuzuki-Poo! "

"Sudah cukup, kubilang." Yuzuki mulai mengacak-acak rambut Haru. "Terima kasih sudah menunggu, Saku. Tadi persiapannya lebih lama dari yang kukira."

Sambil nyengir, Haru menimpali. "Serius! Yuzuki tadi ribet banget, 'Mana semprotan deodoranku?! Mana tisu basahku?! Haru, pinjam punyamu!' …Benar-benar panik. Berisik sekali."

"H-Haru!!!"

"Terus aku bilang padanya, 'Sudahlah, itu kan cuma Chitose!' Tapi dia malah menyahut, 'Kalau bukan Chitose, aku nggak peduli!' Heh, benar-benar bunga kecil yang sensitif!"

Karena malu, Yuzuki menjambak kuncir pendek Haru.

"Jaga. Mulutmu. Haru."

Haru menggelengkan kepalanya ke sana kemari, menanggapi dengan: "Sistem eror… Bip, bip, bup!" dengan suara seperti robot yang mulai rusak.

"Pokoknya, terlepas dari semua candaan tadi, tolong jaga putri kami ini ya, Chitose. Pastikan kamu mengantarnya pulang dengan selamat, oke?"

Haru, yang akhirnya terlepas dari cengkeraman Yuzuki, mengambil kesempatan ini untuk menepuk bokongku dengan iseng.

"Jangan khawatir, Hawu! Serahkan pada Chitose, Sang Kesatria Putih!"

"Kesatria Putih? Lebih seperti serigala berbulu domba! Hati-hati, Yuzuki! Dia bisa saja 'memakanmu'!"

"Hei, gombalan itu lumayan juga."

◆◇◆

Setelah Haru pergi seperti badai penghancur, Yuzuki dan aku akhirnya bisa mulai berjalan menuju rute pulang kami.

Aku tidak bisa tidak menyadari, saat Yuzuki berjalan di sampingku, dia memiliki aroma yang sama dengan Haru. Aku mendapati diriku tersenyum.

"Uh, aku harap seringai itu bukan karena menertawakan kemalanganku? Karena kalau iya, aku bakal marah besar, tahu."

Yuzuki menatapku dengan ekspresi tidak senang.

"Ah, maaf. Aku cuma terkejut kamu benar-benar menunjukkan celah pada pertahananmu. Jadi aku tidak bisa menahan senyum. Padahal sepertinya itu bukan gayamu—melewatkan pemakaian deodoran setelah latihan olahraga."

"Aku biasanya tidak pernah lupa pakai deodoran. Dan hari ini aku sudah memasukkan barang-argku ke dalam tas sebelum berangkat dari rumah, seperti biasanya. Aku ingat sudah memasukkan semprotan maupun tisu basah ke sana."

Yuzuki tidak lagi bercanda; aku bisa merasakannya. Tidak diragukan lagi dia sengaja tidak menceritakan detailnya tadi karena tidak ingin membuat Haru khawatir tanpa alasan.

"Oke, ini terdengar tidak bagus. Jadi ini sesuatu yang tidak biasa, tebakanku benar?"

Yuzuki mengangguk. "Tapi di tim basket putri, kami memang bisa agak ceroboh. Kadang seseorang meminjam semprotan deodoran teman lain dan lupa mengembalikannya sebelum pulang, tahu? Itu sering terjadi."

"Di mana kalian menaruh tas selama latihan klub? Di ruang klub basket putri?"

"Iya. Seperti yang kamu tahu, lokasinya tepat di luar Gym 2. Pintunya biasanya tidak dikunci, dan lokasinya tepat di samping ruang klub basket putra, jadi itu bukan area yang terpencil. Di saat yang sama, tidak ada orang di luar anggota tim yang akan merasa aneh melihat seseorang masuk ke ruang klub basket putri."

Yuzuki menganalisis situasi dengan cara yang realistis.

Ruang-ruang klub yang terletak di sekitar sana dipisahkan dari luar oleh dinding yang tidak terlalu tinggi. Jika seseorang berhasil mendapatkan seragam SMA Fuji atau pakaian olahraga, maka meskipun mereka dari sekolah lain, mereka bisa menyelinap masuk dengan cukup mudah. Anak-anak perempuan menggunakan Gym 1, yang terletak di sebelahnya untuk latihan, tapi meskipun pintunya terbuka lebar, kamu tidak benar-benar bisa melihat ruang klub dari sana.

Jadi, ini bisa saja hanya kebetulan. Di sisi lain, dalam keadaan saat ini, di mana kami sedang berurusan dengan terduga penguntit, tidak aneh jika bel kewaspadaan mulai berbunyi.

Sejujurnya, menurutku ini agak berlebihan.

Namun, jika Yuzuki mengkhawatirkannya, maka tugasku adalah menanggapinya dengan sama seriusnya.

"Bisa jadi ada seseorang yang berniat buruk, tentu. Tapi kita tidak tahu pasti apakah kamu benar-benar menjadi target kejahatan selama latihan klub. Tadi aku sebenarnya mengawasi rak sepatu luar setelah sekolah, tapi aku tidak melihat siapa pun yang bertingkah mencurigakan."

Kerutan di dahi Yuzuki sedikit memudar.

"Uh, mungkin karena kamu duduk di sana terang-terangan! Hi-hi. Padahal aku tadi sempat berpikir kamu sedang menungguku selesai latihan..."

"Aku memang menunggumu juga. Benar-benar menggemaskan melihatmu panik hanya karena kehilangan deodoran. Kamu ingin tampil cantik sebelum kita bertemu, hmm?"

"Tolong, bisakah kita ganti topik?"

Yuzuki menangkup pipinya dengan tangan dan menunduk menatap kakinya, benar-benar memainkan peran "gadis malang".

"Namun," lanjutku. "Katakanlah itu tindakan pencurian yang direncanakan. Kenapa penguntit itu menginginkan tisu basahmu, Yuzuki?"

"Hei! Aku merasa tersinggung!"

"Bukan begitu, bodoh! Biasanya penguntit mesum akan mengincar handuk olahraga yang berkeringat atau pakaian senammu. Kalau mereka benar-benar ingin mencuri sesuatu milikmu, mereka mungkin akan mengambil seragam sekolahmu sebagai trofi, entahlah."

"Oh… Ugh…!"

"Uh, tunggu sebentar. Jangan benar-benar ketakutan begitu, oke?"

Kami tadi bercanda seperti biasa sampai titik ini, tapi sejujurnya, ada yang terasa janggal.

Katakanlah, misalnya, penguntit itu adalah orang cabul dengan fetis tertentu, yang ingin mencuri produk perawatan tubuh Yuzuki agar dia bisa beraroma seperti Yuzuki.

Dalam kasus itu, dia cukup mencuri semprotan deodorannya saja. Atau jika dia pintar, dia cukup mencari tahu aroma apa yang dipakai Yuzuki lalu pergi ke toko untuk membeli kalengnya sendiri.

Benar-benar mencuri barangnya… itu agak gila. Risikonya tidak sebanding dengan hasilnya.

Mempertimbangkan psikologi rata-rata cowok SMA, jika kamu benar-benar ingin melakukan misi berisiko mencuri barang pribadi gadis yang kamu sukai, kamu pasti menginginkan sesuatu yang memiliki jejak dari orang yang kamu sukai, pastinya.

Maksudku, aku sendiri tidak melihat daya tariknya, tapi jika kamu memang punya kecenderungan begitu, kamu akan menginginkan sesuatu seperti handuk yang benar-benar telah mereka gunakan, atau seragam sekolah yang mereka pakai sepanjang hari, atau bahkan sesuatu yang lebih intim seperti pelembap bibir bekas.

Tapi tisu basah… Itu hanyalah barang perawatan diri dasar, yang digunakan untuk menghapus jejak keringat, kotoran, dan hal-hal tubuh lainnya.

Saat aku memikirkannya seperti itu, seluruh kejadian ini mulai terasa sangat aneh bagiku.

Barang-barang yang hilang adalah jenis yang akan membuat seorang gadis muda agak panik jika tiba-tiba tidak memilikinya. Tapi di saat yang sama, itu adalah barang-barang sepele, hanya produk tubuh habis pakai. Namun waktunya… Tepat sebelum dia dijadwalkan bertemu pacarnya sepulang sekolah…?

…Mungkinkah ini perbuatan sesama gadis yang menaruh dendam?

Aku berhenti melangkah dan menoleh ke arah jalan yang baru saja kami lalui.

Jalan setapak di pinggir sungai membentang jauh di belakang kami dalam satu garis panjang. Siluet samar dari beberapa siswa SMA Fuji terlihat di sana-sini, diterangi oleh cahaya layar ponsel mereka.

"Saku?" Yuzuki memanggil namaku, suaranya diwarnai kekhawatiran.

Aku memasang gaya bercanda, seperti yang dilakukan Haru tadi.

"Ah, aku cuma sedang berpikir karena di sini gelap sekali, aku bisa meraba bokongmu dan benar-benar lolos begitu saja."

"Sebelum memeriksa keadaan sekitar, mungkin kamu harus mempertimbangkan apakah aku mau membiarkanmu lolos begitu saja, hmm?"

"Anehnya, kurasa kamu bakal oke-oke saja. Kamu paling cuma bilang, 'Ada apa sih, dasar aneh?'"

"Akan kupertimbangkan, kalau kamu membiarkanku meraba balik bokongmu, Saku."

"Entah kenapa, jalan pulang bersama dan saling meraba bokong sepertinya tidak cocok dilakukan bersamaan."

Tatapan intensku tadi sepertinya sempat membuat Yuzuki khawatir.

Melindunginya dari penguntit ini dan meminimalkan stres yang dialaminya adalah tugasku.

Yuzuki telah ditempatkan dalam posisi yang sulit. Yang bisa kulakukan setidaknya adalah mencoba membangkitkan semangatnya dan menghabiskan waktu bersamanya. Itu cara terbaik untuk mengalihkan pikirannya.

Tidak semua orang yang tampak kesulitan benar-benar sedang kesulitan, dan tidak semua orang yang tampak baik-baik saja benar-benar baik-baik saja.

"Hei, Saku. Kamu mau pergi kencan ke suatu tempat minggu ini?" Yuzuki baru saja bertanya padaku, secara langsung.

"Untuk apa?"

"Untuk apa…? Uh… kita kan pacaran? Bukannya pasangan biasanya pergi berkencan?"

Kata-katanya terdengar tulus, tidak seperti akting yang biasanya dia lakukan.

"Hmm, mungkin saja. Aku tidak keberatan, tapi bukannya kamu ada urusan klub, Yuzuki?"

"Jangan konyol. Masa ujian dimulai besok."

"…Oh."

Aku lupa.

SMA Fuji, seperti kebanyakan sekolah unggulan, meniadakan semua kegiatan klub seminggu sebelum ujian tengah semester dan ujian akhir semester.

Itu pasti alasan kenapa semua orang tampak begitu ceria saat pulang setelah latihan klub hari ini.

"Tetap saja, kamu kan tipe orang yang bisa melewati ujian dengan santai tanpa pernah membuka satu buku pun, ya, Saku?"

Aku mengangguk dan mendengus.

Aku tidak bilang aku ini si penggila belajar yang peringkat satu di angkatan, tapi aku mempertahankan posisiku di sepuluh besar jalur humaniora. Dan sejak aku keluar dari klub bisbol, aku mendapati diriku mengisi malam-malam yang kosong dengan belajar lebih banyak dari sebelumnya.

"Tapi bukankah Haru bilang sesuatu tentang pertandingan latihan di akhir pekan?"

"Itu berbeda. Lawannya adalah tim tangguh dari sekolah di prefektur lain. Mereka tidak mengikuti jadwal kita. Lagipula, itu sudah diputuskan berbulan-bulan lalu. Idealnya, aku ingin bersiap dengan sempurna, tapi kurasa kali ini tidak bisa dihindari."

Yuzuki memanggul tas olahraga sekolahnya yang berat kembali ke bahunya. Tas itu terlihat terlalu besar untuk tubuh rampingnya. Aku memperhatikan lebih dekat, melihat banyak bekas gesekan dan goresan di tas itu. Ya, itu memang benar-benar tas klub olahraga sekolah.

"Kira-kira kamu bisa mengalahkan tim lawan itu?"

"Hmm, sejujurnya, mungkin bakal sulit. Mereka punya susunan pemain yang lebih baik dari kami."

Tidak diragukan lagi itu adalah opini objektif Yuzuki, berdasarkan pengamatannya terhadap tim lawan.

Aku mengusap dagu, lalu berbicara. "Benarkah? Kalau begitu aku tarik kembali apa yang baru saja kukatakan."

Yuzuki menoleh padaku, tampak terkejut.

"Jika aku pergi ke sana untuk menyemangatimu, maka sebaiknya kamu menangkan pertandingan itu. Lalu, sebagai hadiahnya, aku akan mengajakmu berkencan."

"Aku tidak tahu kalau kamu tipe orang yang suka memberi semangat seperti itu, Saku."

"Aku hanya ingin melihatmu bermain dengan penuh gairah, Yuzuki."

Tatapannya menantang. "Asal kamu tahu saja, aku pemain yang cukup hebat."

"Bukannya aku mau menirumu, tapi jika kamu benar-benar menang, aku akan mengabulkan satu permintaanmu. Apa pun yang kamu suka."

"Tantangan diterima!"

Yuzuki berseru kegirangan sambil mengepalkan tinjunya.

Aku memperhatikannya, tersenyum kecil di dalam hati.

Lalu, seolah dia telah melihat menembus diriku, Yuzuki merendahkan suaranya.

"Terima kasih, Saku."

"Hmm? Untuk apa?"

"Hmm, untuk apa ya?"

"Kalau kamu benar-benar merasa ingin berterima kasih padaku, kamu bisa mengizinkanku meraba pahamu sekali saja."

"…Dasar bodoh."

Aku melangkah mundur sedikit, dan memastikan Yuzuki tidak menyadarinya, aku mencuri pandang sekali lagi ke arah belakang kami.

Barisan seragam blazer yang berjalan kaki, diterangi oleh cahaya ponsel yang mereka tatap, mengalir tanpa putus seperti iring-iringan lampion kertas.



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close