NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Munou to Iware Tsuzuketa Madoushi, Jitsu wa Sekai Saikyou Nanoni Yuuhei Sareteita node Jikaku Nashi V4 Chapter 1

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 1

Pertemuan Demon Lord

Fajar menyingsing.


Angin segar berhembus melewatinya, seolah mengumumkan dimulainya hari yang baru.


Ini adalah udara pagi yang menyambut Kota Sihir.


Menara Babel yang menjulang di tengah kota memantulkan sinar matahari pagi, menyebarkan cahaya fantastis ke segala arah, ke seluruh penjuru kota. Cahaya menyilaukan itu menerangi segalanya tanpa sisa, bahkan tempat tinggal mereka yang bersembunyi dalam kegelapan di tempat yang disebut Distrik Kumuh.


Tidak berubah seperti biasanya——tidak, hari ini saja keadaan Distrik Kumuh berbeda dari biasanya.


Di atas jalan batu yang berlumuran lumpur——layaknya sampah yang dikumpulkan di pinggir jalan, mayat-mayat dengan ekspresi putus asa yang seragam tergeletak di sana. Mereka yang berpenampilan lusuh itu, dilihat dari sisi mana pun, hanyalah orang-orang yang sulit disebut baik.


『Ke, kenapa... kau ada di tempat seperti ini...』


Di tempat yang dipenuhi mayat itu, seorang pria yang napasnya masih tersisa sedikit bergumam dengan pedih.


Di ujung pandangan pria itu——berdiri di tengah tumpukan mayat adalah seorang pemuda dengan tubuh yang terlatih.


Rambut putih pendek yang mencuat ke atas, matanya tajam bak singa, dan pakaian yang membalut tubuh kekarnya memancarkan aura liar, berpadu menciptakan kesan kasar yang kental. Namun, ada semacam keanggunan yang tak bisa disembunyikan, membuatnya diselimuti atmosfer misterius yang juga memancarkan keindahan.


『Demon Lord... Grimm... kenapa, kau ada di Distrik Kumuh ini』


"Hah? Kenapa kroco sepertimu memanggil namaku tanpa hormat?"


Grimm, dengan senyum kejam terukir di wajahnya, menaruh kakinya di perut pria itu.


『Ugh!?』


"Oi, coba sebut namaku sekali lagi? Hah?"


Saat Grimm menumpukan berat badannya seolah ingin meremukkan pria itu, suara kesakitan terdengar bocor keluar.


"Cih, baru sebentar aku tidak ke sini, tempat ini sudah penuh dengan wajah-wajah asing."


『Mmph!?』


Grimm menginjak wajah pria yang sedang meronta-ronta di bawah kakinya.


Sambil menggosokkan telapak kakinya ke tanah seolah ingin menghapus sensasi yang menjijikkan, Grimm mulai berjalan.


"Oi, jangan sembunyi, keluarlah."


Grimm berhenti di tengah jalan, lalu menghunjamkan lengannya ke dinding rumah yang sudah lapuk.


Begitu ia menarik lengannya kembali, muncul seorang pria yang kepalanya dicengkeram——pria dengan wajah yang diwarnai keputusasaan.


『He, hentikan!?』


Tanpa basa-basi, Grimm menghempaskan kepala pria itu ke tanah.


『Ampu——ugh!?』


"Lain kali bersembunyilah dengan benar——ah tidak, tidak ada lain kali ya."


Setelah beberapa kali membenturkan kepala pria itu ke tanah, dia tidak bergerak lagi.


Melihat keadaan itu, Grimm mendengus bosan, lalu melepaskan tangannya dari kepala pria itu dan membiarkannya begitu saja. Terakhir, setelah memastikan bahwa pria itu sudah mati, ia kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.


Tujuannya ada di ujung Distrik Kumuh ini.


Distrik Hiburan——sebuah area yang memiliki dua sisi ekstrem antara pagi dan malam.


Saat malam tiba, lampu batu sihir yang terpasang di jalanan menyinari jalan batu, tidak hanya membuat wajah orang-orang yang berlalu-lalang bersinar, tetapi juga kedai minuman dan rumah bordil menciptakan pemandangan unik yang gemerlap, menjadikannya tempat yang ramai seolah menunjukkan simbol kemakmuran.


Yang menyeruak dari banyak bangunan yang berjejer di Distrik Hiburan adalah tiga hasrat utama umat manusia.


Satu adalah kenikmatan, satu adalah makanan, dan satu lagi adalah kekerasan.


Ini adalah satu-satunya distrik di Kota Sihir di mana semua hasrat dapat dipenuhi, tempat di mana godaan tak pernah putus——namun, itu hanya jika kau tergoda oleh aroma manis malam hari.


Di pagi hari seperti sekarang, meski ada sosok pemabuk yang tergeletak di pinggir jalan, suasananya jauh lebih sunyi dibandingkan malam hari.


Di tempat seperti itu, Grimm berhenti di depan sebuah bangunan.


"Di sini ya..."


Yang muncul di hadapannya adalah sebuah kedai minuman dengan penampilan luar yang trendi.


Dinding luar berwarna putih yang tak terlihat noda sedikit pun begitu indah hingga memantulkan sinar matahari pagi, dan pintu masuknya cukup lebar untuk dilalui dua orang dewasa yang berjalan bersebelahan.



Mungkin karena dinding depannya terbuat dari kaca yang memperlihatkan keadaan di dalam, tempat itu memiliki tampilan yang sangat berbeda dari kedai minuman lain di Distrik Hiburan, hingga sekilas memberikan kesan seperti sebuah kafe.


Kedai minuman ini dikelola oleh "Guild Villeut", dan juga digunakan sebagai markas dari guild dua digit yang dipimpin oleh gadis berambut merah——Karen.


"Cih, tak kusangka aku kalah dari gerombolan yang tinggal di toko dengan penampilan kekanak-kanakan seperti ini."


Jika menambahkan cerita sebelumnya, "Guild Villeut" juga merupakan guild yang berperang melawan "Guild Marizia" yang dipimpin Grimm dan memenangkannya.


Gara-gara kalah dari mereka, guild yang berada di bawah pengaruh 24 Council Keryukeion yang mengelola Asosiasi Sihir menyerang, dan orang-orang yang pernah dihajar habis-habisan oleh Grimm di masa lalu bersekongkol karena menganggapnya sedang lemah, menyerang sepanjang waktu hingga ia jatuh ke dalam situasi yang sangat merepotkan.


Kejadian di gang belakang tadi juga merupakan salah satunya.


"Tapi aku takkan kalah selama tidak ada Irregular seperti itu, sih."


Jika dibilang sial, ya memang begitu, tapi jika memperhitungkan bahwa ia meremehkan lawan, tak bisa dipungkiri itu juga akibat perbuatannya sendiri. Meski begitu, jika ia tahu ada keberadaan yang mengabaikan akal sehat seperti itu, ia pasti akan menghadapinya dengan lebih hati-hati.


Nama orang itu adalah Ars.


Sejauh yang diselidiki Grimm, dia adalah seorang tamu di "Guild Villeut".


Sosok yang telah membangkitkan Gift bernama "Heavenly Domain", yang bisa disebut sebagai titik akhir bagi seorang penyihir.


Orang keempat yang bangkit dan menjadi Transenden di era modern.


Karena adanya keberadaan "Irregular" itulah Grimm dan kelompoknya kalah.


Ada orang kuat lain selain dia, tapi alasan utama kekalahan mereka tetaplah keberadaannya yang paling besar.


Tempat tinggal Ars itu adalah kedai minuman yang ada di depan mata ini, <Villeut Sisters Lampfire>, yang dikelola oleh "Guild Villeut".


Jika ditanya mengapa Grimm mengunjungi tempat seperti itu, itu bukan untuk membalas dendam, melainkan hanya untuk meminta maaf.


"Ganggu sebentar."


Begitu Grimm membuka pintu dan masuk ke dalam, banyak Schuler sedang makan.


Karena belum waktunya kedai buka, dan hanya ada orang dalam, suasana terasa santai. Apa yang terjadi jika Grimm masuk ke tempat seperti itu? Percakapan yang tadinya begitu ramai terdengar di sana-sini, kini lenyap digantikan keheningan yang mencekam.


『A, anu... maaf. Kami belum buka...』


Saat suasana aneh mulai menyelimuti, seorang wanita yang mewakili mereka mendekat dengan wajah penuh rasa bersalah.


Namun, mungkin karena segera menyadari bahwa itu adalah Grimm, matanya terbelalak.


『Demon Lord Grimm!?』


Mendengar teriakan itu, para Schuler yang duduk di kursi aula serentak berdiri.


Ada yang menyiapkan senjata, ada pula yang mengambil kursi, meja, atau peralatan makan—apa saja yang ada di situ—untuk mengambil posisi tempur. Suasana damai tadi lenyap bagai dusta, berubah menjadi penuh hawa membunuh.


"Cih, harus bagaimana nih..."


Grimm menggaruk kepala bagian belakangnya dengan malas sambil mengamati keadaan sekitar.


Dia tidak datang untuk mencari keributan, tapi kalau sama sekali tidak disambut begini, dia tidak tahu apakah mereka akan menerimanya dengan jujur meski dia bilang datang untuk meminta maaf.


Sambil melihat para Schuler "Guild Villeut" yang memancarkan hawa membunuh, Grimm memutar otak memikirkan cara menjelaskannya.


Lalu, seorang gadis muncul membelah kerumunan mereka.


"Ya, ya, tenanglah."


Gadis berambut merah itu bertepuk tangan sambil mengedarkan pandangannya untuk menenangkan orang-orang di sekitarnya.


Sorot matanya yang tampak tangguh membuktikan kekuatan tekadnya, dan di dalam mata merah yang bersinar indah bak rubi itu bersemayam keyakinan yang teguh. Selain itu, setiap gerakan saat dia mendekat memancarkan keanggunan, dan tingkah lakunya yang agung memiliki wibawa seorang putri raja.


Sekilas pandang pun orang akan tahu bahwa dia memiliki darah bangsawan dari keanggunan dan pesonanya yang terasah sempurna.


Grimm juga telah menyelidiki latar belakangnya, dan mengetahui bahwa dia adalah putri kedua dari kerajaan yang sudah hancur.


Juga bahwa dia adalah pendiri "Guild Villeut" yang menyandang nama kerajaan yang telah hancur itu, dan menjabat sebagai Lehrer.


Gadis itu dipanggil Karen oleh orang-orang terdekatnya, dan diselimuti warna merah yang penuh gairah dari rambut hingga matanya. Kecantikannya masih menyisakan kesan kekanak-kanakan, tetapi dia adalah gadis cantik yang masa depannya mudah dibayangkan akan menjadi seperti apa.


"Lama tidak bertemu——yah, belum selama itu juga sih waktu berlalunya."


Wanita yang bersedekap itu tidak mengatakannya secara lisan, tetapi dari sikapnya terlihat jelas adanya penolakan.


"Deklarasi berakhirnya perang sudah dikeluarkan oleh 24 Council Keryukeion, dan meskipun kau tidak puas dengan hasil menang atau kalahnya, pemberitahuan mengenai larangan balas dendam seharusnya sudah disampaikan."


"...Memang benar."


"Kalau begitu, sebenarnya ada urusan apa kau datang kemari?"


Menanggapi pertanyaan Karen yang penuh permusuhan, Grimm menggaruk pipinya dengan malas.


"Ada orang bernama Shion, kan? Beritahu aku dia ada di mana."


"Kau pikir aku akan mengatakannya... ada perlu apa kau dengannya?"


Mendengar nama Shion disebut, wajah Karen tampak curiga.


Mungkin karena kewaspadaan yang tidak perlu telah timbul, dia bahkan sudah menyiapkan senjatanya agar bisa bertarung kapan saja.


Shion dan Grimm memiliki masa lalu. Akibat hal itu, perang antar guild Karen dan Grimm pun pecah. Insiden yang menjadi pemicunya terjadi tiga tahun lalu, sederhananya karena Grimm menghancurkan guild Shion.


Jika hanya berakhir sampai di situ, itu hanya akan menjadi kejadian biasa di Kota Sihir.


Akan tetapi, seorang eksekutif bernama Christof yang tergabung dalam guild Grimm menculik para Schuler dari guild Shion beserta keluarga mereka, dan melakukan salah satu dari Tiga Taboo Terbesar, yaitu Penciptaan Iblis. Itu adalah perbuatan jahat yang dilakukan di luar sepengetahuan Grimm, namun bagi pihak Shion, alasan itu terdengar seperti dalih yang sangat memalukan dan sama sekali tidak bisa dimaafkan.


Nyatanya meski memenangkan perang, api kebencian masih membara di kedalaman mata Karen.


Kematian teman bukan sesuatu yang bisa direlakan begitu saja.


Teman-teman dibunuh, mana mungkin bisa memaafkan.


Meski begitu, jika memikirkan perasaan mereka saat itu, sikap Karen terhadap Grimm saat ini mungkin masih tergolong lembut. Sebab Grimm sudah siap dimaki dan dipukul.


Nah... apa yang harus dilakukan, jika salah bicara sedikit saja, suasananya sepertinya akan menjadi merepotkan.


Grimm bingung bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Karen yang sedang memelototinya.


Saat itu——,


"Di sebelah sini."


Bantuan datang dari arah yang tak terduga.


Di arah pandangan Grimm, di salah satu sudut aula, terlihat sosok wanita yang duduk di kursi sambil melambaikan tangan.


Korban yang dulunya manusia tetapi diubah menjadi iblis buatan oleh tangan Christof.


Meski tidak tersimpan dalam ingatannya, Grimm pernah bertarung beberapa kali dengan wanita yang telah menjadi iblis buatan itu. Sekarang dia tampaknya menyembunyikan tanduk yang bisa dibilang simbol iblis, sehingga sulit untuk membedakan apakah dia iblis atau bukan.


Meski begitu, dia adalah lawan yang berkali-kali ingin dibunuhnya. Grimm yang seperti itu pun tentu saja mengingat wajahnya.


Namanya adalah Shion. Seorang srikandi yang berhasil memanjat hingga posisi 24 Council Keryukeion, dan hingga tiga tahun lalu merupakan orang kuat yang dijuluki "Prodigy". Wanita itu tampaknya sedang sarapan karena ini memang waktunya makan pagi, namun di sekelilingnya ada wajah-wajah yang dikenalnya.


Seorang pemuda yang berani dan tak gentar meski berhadapan dengan Demon Lord——Ars, sedang menatap Grimm dengan penuh minat. Selain itu ada juga sosok Yulia dan Elsa, tetapi karena saat ini tidak ada urusan dengan mereka, Grimm memutus pandangannya lalu melangkah maju melewati Karen.


"Tu, tunggu sebentar!"


Karen memanggil dari belakang, tapi dia mengabaikannya.


Akhirnya Grimm berhenti di depan Shion, lalu menundukkan kepalanya dengan penuh semangat.


"Aku sungguh minta maaf! Meski berstatus sebagai Demon Lord, aku tidak bisa mengendalikan orang bodoh itu."


Grimm memutus kata-katanya sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali membuka mulut.


"Shion-san. Aku tahu ini bukan masalah yang bisa dimaafkan hanya dengan minta maaf. Tapi, biarkan aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf."


Aula yang tadinya hening menjadi agak ribut karena Demon Lord Grimm yang itu memanggil nama orang dengan sebutan hormat. Banyak juga yang membelalakkan mata melihat sosoknya yang menundukkan kepala dengan jujur. Selain itu, Karen yang mengejar Grimm juga mematung karena kaget.


Shion yang bersangkutan juga terbelalak, tetapi dia segera menguasai diri, menghentikan tangannya yang sedang makan, dan menatap lurus ke arah Grimm.


"Hmm... ini terlalu tiba-tiba sampai aku bingung, kau datang untuk memohon pengampunan, atau semacamnya?"


"Tidak, kau tidak perlu memaafkanku. Aku hanya akan meminta maaf sampai aku puas."


"Itu egois dan merepotkan orang lain tahu."


Shion mendesah dengan wajah susah, tetapi dia mengubah ekspresinya dan berkata dengan tegas.


"Aku terima permintaan maafmu. Tapi, aku tidak berniat memaafkanmu."


"Itu sudah cukup. Barang permintaan maaf akan kucari dan kirim nanti."


Grimm mengangkat wajahnya, tetapi dengan sikap yang masih serius, dia kembali menundukkan kepala dalam-dalam.


Sejak awal dia memang tidak berpikir akan dimaafkan. Tidak mungkin dimaafkan.


Guild adalah rumah, dan anggotanya adalah keluarga.


Grimm-lah yang merenggut keluarga berharga itu darinya, jadi tidak aneh jika ia dilempari kata-kata yang lebih kasar lagi. Meski begitu, dia tidak melontarkan kata-kata penuh dendam, dan walau tidak memaafkan, dia menerima permintaan maaf itu.


Mendapatkan pengampunan di masa depan pun akan sulit, tidak——mungkin tidak akan dimaafkan sampai mati.


Meski begitu, dia harus menunjukkannya lewat sikap. Karena hanya itu permintaan maaf yang bisa dilakukan Grimm.


"Begitu ya... terserah kau saja."


Entah karena merasakan tekad Grimm, Shion bergumam seperti itu dengan nada heran.


Saat dikira pembicaraan sudah selesai, Grimm tidak juga pulang.


Grimm mengarahkan pandangannya pada Ars yang duduk satu meja dengan Shion.


Tanpa menyela pembicaraan, Ars menyantap sarapannya dalam diam.


Di kedua sisinya duduk Elsa dan Yulia, yang memiringkan kepala keheranan saat menerima tatapan Grimm. Ekspresi mereka seolah ingin berkata, "Orang ini belum pulang juga?"


Di tengah suasana aneh itu, Karen duduk di kursi kosong, dan mengatakan dengan tegas hal yang tidak berani diucapkan siapa pun kepada Demon Lord Grimm.


"Kau belum pulang juga?"


『Wah... sasuga Lehrer. Dia sama sekali tidak sungkan meski lawannya adalah Demon Lord.』


『......Yah, tidak gentar siapa pun lawannya adalah kelebihan Lehrer.』


Para Schuler menjadi riuh melihat sikap Karen yang tidak takut pada Demon Lord.

『Kita kan sudah mengalahkan "Guild Marizia".』


『Jangan katakan itu di luar. 24 Council Keryukeion sudah memberlakukan perintah tutup mulut, kalau ada yang dengar, pasukan penghukum milik Asosiasi Sihir akan datang menjemputmu.』


Kekalahan guild Demon Lord Grimm memang diketahui oleh guild-guild besar, namun karena kalah dari guild yang bukan "Numbers", hal itu tidak dipublikasikan oleh 24 Council Keryukeion yang takut akan hilangnya wibawa.


Karena itu, mereka menekan pemenangnya, "Guild Villeut", untuk tutup mulut dengan imbalan prioritas pada permintaan yang menarik, serta tak henti-hentinya menyerang anggota "Guild Marizia" yang dipimpin Grimm untuk melemahkan mereka.


Karena sebagian besar adalah fakta, Grimm tidak marah meski mendengar pembicaraan yang menjelek-jelekkan itu, lalu menarik kursi di dekatnya dan bergabung dengan lingkaran Ars dan lainnya yang sedang sarapan.


"Apa kau lapar? Sayang sekali, tidak ada makanan untukmu, tahu?"

Kata-kata pedas Karen menusuk.


Memang benar berbagai hidangan di atas meja itu tampak menggoda dan merangsang perut kosong Grimm, tapi dia tidak memiliki sifat setebal muka itu.


Dia penasaran kenapa sebagian besar makanan terkumpul di depan Shion, tapi karena enggan membuang waktu dengan membicarakan hal yang tidak perlu, Grimm mengangkat bahu lalu menatap Ars.


"Tidak, aku tidak butuh makan. Daripada itu, Ars, kau——apa kau tidak berniat membuat guild?"


"Guild? Kenapa?"


Ars tampak bingung dengan usulan mendadak itu, dan orang-orang di sekitarnya juga mengerutkan alis dengan curiga.


Melihat berbagai reaksi itu, sudut mulut Grimm terangkat.


"Meski tidak resmi, kau sudah mengalahkanku. Kau punya kualifikasi untuk menjadi Demon Lord."


Mungkin karena kesal harus mengakuinya, dia mendecakkan lidah dengan jengkel lalu mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya berkali-kali.


"Dengar, untuk menjadi Demon Lord, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya yang paling penting dan mudah adalah pendirian guild."


Salah satu syarat menjadi Demon Lord adalah pendirian guild.


Selain itu, Peringkat individu juga harus dinaikkan hingga Peringkat Kedua, tapi ini bukan syarat yang sulit. Dengan kemampuan Ars yang telah mengalahkan Grimm, dia pasti bisa segera menaikkannya.


"Yah, Peringkat butuh akumulasi pencapaian jadi bisa ditunda dulu. Soal itu, karena siapa pun bisa mendirikan guild, kupikir kau harus memprioritaskan yang itu sekarang——Ars, kau... kelihatannya tidak tertarik ya, oi?"


Grimm sudah menjelaskan dengan antusias, namun melihat Ars yang bertopang dagu dengan wajah tidak tertarik, sudut mulutnya berkedut.


"...Maaf padamu yang sudah menjelaskan, tapi saat ini aku tidak berniat menjadi Demon Lord."


Itu adalah momen di mana waktu yang dihabiskan untuk menjelaskan panjang lebar menjadi sia-sia.


Namun, Grimm terkejut karena alasan lain, yaitu karena dia tidak bisa memahami perkataan Ars.


"...Apa katamu?"


Grimm tanpa sadar bertanya balik, namun Ars menatap lurus ke arahnya dan berkata.


"Daripada Demon Lord——aku ingin menjadi Magic Emperor."


Mendengar itu, Grimm memasang wajah melongo. 


Sebab dari dulu hingga sekarang, tidak ada seorang pun yang mengatakan hal selancang itu.


Namun, ia juga tidak bisa menertawakannya dan menganggapnya konyol.


Karena Ars memiliki kemampuan yang sepadan.


Setidaknya itulah yang dipikirkan Grimm yang pernah bertarung melawan Ars.


"Dicari seberapa keras pun, cara menjadi Magic Emperor tidak bisa ditemukan. Apa kau tahu sesuatu, Grimm?"


"Kau ini... setidaknya panggil pakai '-san' kek."


Mungkin karena sudah lama tidak ada orang yang berani bicara lancang padanya, dipanggil tanpa hormat secara tiba-tiba oleh Ars membuat Grimm mendecakkan lidah, seolah menunjukkan rasa tidak senangnya secara terang-terangan.


"Jangan kesal hanya karena dipanggil nama tanpa gelar. Padahal Demon Lord, tapi hatimu sempit sekali ya. Daripada itu, ayo, cepat beritahu demi Ars."


Grimm juga merasa kesal pada gadis berambut merah, Karen, yang sejak tadi bersikap sangat ketus, namun ia menahan amarahnya dan membuka mulut.


"Cih... aku tidak tahu syarat menjadi Magic Emperor."


Julukan bagi penyihir agung——Magic Emperor.


Hanya ada satu orang, baik dulu maupun sekarang, yang bisa menggunakan gelar kehormatan yang juga bisa disebut sebagai julukan itu.


Bagaimana cara menjadi sosok itu, bagaimana cara mencapainya, bahkan Grimm yang seorang Demon Lord pun tidak tahu.


Sebenarnya, 12 Supreme Mage Kings yang dianggap sebagai puncak saat ini——Demon Lord, sejatinya adalah Peringkat Pertama "Absolute Rank Lucifer" yang diciptakan untuk mendukung Magic Emperor Peringkat Nol "Divine Rank Jupiter", dan diposisikan sebagai eksekutif Asosiasi Sihir.


Bagaimanapun juga puncaknya adalah Magic Emperor, dan skemanya adalah para Demon Lord bertugas sebagai pendukungnya.


Lalu, 24 Council Keryukeion Peringkat Kedua "Seraphim Rank", ada sebagai pihak belakang layar yang menangani tugas-tugas remeh lainnya.


Inilah bentuk yang seharusnya dari Asosiasi Sihir, namun karena sudah lama tidak ada keberadaan Magic Emperor, sistem tersebut hanya tinggal nama.


"Kau bilang tidak tahu? Tidak berguna sekali. Apa kau benar-benar Demon Lord?"


Karena kata-kata pedas yang terlontar dari mulut Karen, Grimm pun tidak bisa menahan diri lagi.


"Sebenarnya ada apa denganmu sejak tadi!?"


Bahkan Grimm pun habis kesabarannya menghadapi rentetan kata-kata kasar itu.


Bagi Karen, Grimm adalah musuh hingga beberapa hari yang lalu, dan juga biang keladi yang menghancurkan guild tempat ia berhutang budi. Jadi wajar jika kata-katanya menjadi tajam, dan Grimm pun menerimanya dengan pasrah karena rasa bersalah, namun pada dasarnya ia adalah salah satu Demon Lord yang hidup dengan ego tinggi. Tentu saja dia tidak mungkin bisa terus menahannya.


"Dasar wanita sialan, baiklah, kau mau aku hajar?"


Grimm mencoba mengintimidasi, namun Karen tidak gentar sedikit pun dan justru memajukan tubuhnya.


"Ya, karena aku masih Peringkat Keempat 'Ophanim Rank', syaratnya memang belum terpenuhi, tapi suatu saat aku akan datang untuk menghancurkanmu, jadi tunggulah."


Gadis yang hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa saat Shion dikalahkan dalam pertempuran sebelumnya, sudah tidak ada lagi.


Grimm membelalakkan mata karena terkejut, namun ia menyunggingkan senyum pada gadis yang telah berkembang pesat itu.


"Aku akan menunggumu. Meski sepertinya orang ini akan menjadi Demon Lord lebih dulu sebelum itu terjadi."


Grimm menunjuk Ars dengan jempolnya.


"Sudah kubilang, aku tidak mau jadi Demon Lord——" 


Grimm mengarahkan tangannya untuk memotong perkataan yang hendak diucapkan Ars.


"Tunggu, jika kau mengincar Magic Emperor, kau harus menjadi Demon Lord."


Saat Grimm menegaskan dengan kuat, Ars mengerjapkan mata dengan penuh minat.


"Begitukah?"


"Tentu saja, bodoh. Dulu hanya ada satu orang yang pernah ada. Mana mungkin orang yang bahkan tidak bisa menjadi Demon Lord bisa menjadi Magic Emperor."


Untuk sukses di Kota Sihir, status tidaklah diperlukan.


Kenyataannya, Mahkota Pertama, Demon Lord Schlaht yang disebut-sebut sebagai yang terkuat di antara para Demon Lord berasal dari kalangan rakyat jelata.


Di kota ini, kau hanya perlu menjadi kuat.


Sistemnya dibuat sedemikian rupa sehingga jika kau terus menjadi kuat, kau akan mencapai puncak.


"Malahan, kalahkan semua Demon Lord. Dengan begitu, sepertinya kau baru akan diakui sebagai Magic Emperor."


Belakangan ini nuansa politik semakin kuat, namun untuk menjadi Demon Lord, cukup dengan menunjukkan kekuatan.


Karena itu, Grimm berpendapat bahwa takhta Magic Emperor ada di ujung jalan setelah mengalahkan para Demon Lord.


"Jadi aku hanya perlu menundukkan semua Demon Lord ya... aku mengerti."


Ars mengangguk seolah paham.


"Kalau Ars pasti bisa!"


Saat Karen memberikan dukungan tanpa dasar, Yulia dan yang lainnya yang sedari tadi diam pun ikut mengangguk.


Melihat pemandangan itu sekilas, Grimm berkata,


"Yah... pikirkanlah baik-baik. Tapi, jangan lupa. Untuk menantang Demon Lord, kau butuh guild. Tanamkan itu saja di kepalamu."


Grimm bangkit dari kursinya, membalikkan badan, dan berjalan menuju pintu keluar.


"Kalau begitu, karena semua yang ingin kukatakan sudah tersampaikan, aku pulang."


Meninggalkan kata-kata itu, Grimm melambaikan tangan tanpa menoleh, keluar dari kedai sambil menerima tatapan dari banyak orang.


Melihat tatapan mata para Schuler, Grimm sekali lagi merasakan bahwa "Guild Villeut" adalah guild yang bagus. Orang-orang yang tidak gentar menghadapi Demon Lord, dan selalu siap bertarung demi teman. Nilai sesungguhnya mungkin akan diuji jauh di masa depan, tapi yang pasti ini adalah salah satu guild yang masa depannya patut dinantikan.


Setelah keluar dari <Villeut Sisters Lampfire> dan melangkahkan kaki ke jalan raya, Grimm tiba-tiba berhenti dan menengadah ke langit.


Langit jernih tanpa awan tampak gagah seperti biasanya.


"...Wanita berambut perak itu, kekuatan sihirnya bertambah dibandingkan sebelumnya. Wanita berambut biru itu juga sepertinya menyembunyikan sesuatu, dan si rambut merah yang galak itu juga sudah banyak berubah."


Terutama gadis berambut perak——Yulia, yang terus-menerus memancarkan hawa membunuh ke arah Grimm.


Tatapan penuh niat membunuh yang tak ditutup-tutupi itu, bahkan mampu membuat Demon Lord seperti Grimm merinding.


"Sepertinya kedai itu berisi orang-orang dengan potensi tinggi. Masa depannya menarik."


Setelah melihat <Villeut Sisters Lampfire> sekali lagi, Grimm melangkahkan kakinya menuju tempat tujuan.


"Nah, nah, seberapa banyak Demon Lord yang sudah berkumpul ya."


Dengan suara yang terdengar antusias, Grimm melihat Menara Babel yang menjulang di pusat Kota Sihir.


Jika kau seorang penyihir, siapa pun pasti mendambakan untuk tinggal di Menara Babel.


Jika menjadi Demon Lord, satu lantai Menara Babel akan diserahkan padamu, dan kau akan diberi hak untuk tinggal di sana.


Namun, karena pada saat yang sama mereka juga diberi wilayah kekuasaan, sebagian besar Demon Lord sibuk dengan permintaan atau tidak pernah keluar dari wilayah mereka sendiri. Di situlah, dengan dalih pengelolaan, para 24 Council Keryukeion bersama anggota guild mereka menguasai Menara Babel sambil mengincar takhta Demon Lord dengan penuh ambisi.


"Yah, Ars, sampai kau naik ke sini, akan kujaga takhta ini."


Alasan kenapa dirinya yang telah dikalahkan Ars masih berpegang teguh pada Demon Lord.


Takhta Demon Lord tidak boleh diberikan kepada mereka yang tak punya kemampuan.


Terutama bagi gerombolan 24 Council Keryukeion yang merupakan gumpalan hasrat pamer, posisi itu terlalu berlebihan.


Itulah sebabnya, meski berlumuran kepahitan akan kekalahan, Grimm bersikeras mempertahankan posisi ini.


Ia akan terus melindungi takhta ini demi saat di mana pemuda itu akan naik nanti.



Menara Babel——simbol sekaligus markas besar para penyihir yang ada di Kota Sihir.


Menara Babel yang hingga kini masih dalam proses pembangunan, juga disebut sebagai menara menuju para dewa.


Terus meninggikan menara hingga seolah hendak menggapai langit adalah bentuk kerinduan pada para dewa, juga demi melakukan kontak dengan mereka yang telah meninggalkan bumi, dan pada akhirnya memiliki hasrat terdalam untuk mencapai kebenaran Gift.


Ada seseorang yang mengunjungi sebuah ruangan di lantai 66 Menara Babel itu.


"Araa... yang kumpul sedikit sekali ya."


Begitu membuka pintu, yang berbicara adalah Mahkota Keempat Demon Lord, Sasha Reban.


Dengan pakaian tipis yang bagian dadanya terbuka lebar, ia memamerkan otot dada yang kekar dan terbentuk.


Jenis kelaminnya tidak diketahui, dan jika ada yang memperlakukannya seperti pria sesuai penampilannya, itu akan mengundang situasi yang sangat merepotkan. Terlebih lagi, karena dia adalah orang kuat yang berada di posisi atas di antara para Demon Lord, sedikit sekali orang yang berani bicara sembarangan padanya. Saat Sasha melihat sekeliling ruangan, dari dua belas kursi yang berjajar di meja panjang, hanya dua yang terisi.


"Sudah biasa, kan?"


Yang menjawab adalah seorang gadis berambut emas yang tampak angkuh.


"Araa, tumben sekali."


Sasha membelalakkan matanya, lalu duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya, dan menatap gadis itu lagi.


Rambut emas panjang yang berkilauan itu memiliki ujung yang membulat, dan tubuh ramping yang dibalut gaun bernuansa ungu kemerahan itu memiliki proporsi yang sangat indah. Namun, masih ada hal lain yang menarik perhatian. Kulitnya segar dan halus, namun yang lebih menonjol daripada wajahnya yang lembut adalah Mata Iblis Emas Hitam, Odd Eye yang memiliki warna berbeda di kiri dan kanan. Gadis yang memancarkan aura misterius itu memiliki penampilan yang mampu memikat pandangan siapa pun.


"Tak kusangka kau ada di sini——hei, Lilith-chan?"


"Apakah itu hal yang sangat langka? Rasanya selama ini aku selalu hadir dalam agenda penting..."


Lilith yang bersikap layaknya seorang putri memainkan rambut sampingnya sambil memiringkan kepala.


Melihat sikap manis itu, Sasha tersenyum pahit meski merasakan kesan yang dibuat-buat.


"Setidaknya aku tidak melihatmu dalam beberapa bulan terakhir lhoo."


"Begitu ya... kalau begitu aku harus introspeksi diri. Sepertinya kesadaranku sebagai Demon Lord masih kurang. Mulai sekarang aku akan berhati-hati."


Lilith menjawab dengan datar tanpa terlihat merasa bersalah sedikit pun.


Sasha hendak melontarkan keluhan karena sikap itu, namun Lilith lebih dulu membuka mulut.


"Selain aku dan Sasha-san, apa hanya ada Kirisha-san yang menjadi wakil Grimm-san?"


Termasuk Lilith, hanya ada tiga orang yang duduk di kursi. 


Yang hadir adalah Mahkota Kedua Lilith, Mahkota Keempat Sasha, dan terakhir adalah Kirisha yang menjabat sebagai Sub-master dari guild yang dipimpin Mahkota Kedelapan Grimm Jeanbarl.


"Padahal Pertemuan Demon Lord sebelumnya ada sekitar enam orang ya~"


Yang menjawab sambil tersenyum adalah Kirisha, Sub-master dari Mahkota Kedelapan——"Guild Marizia".


Di hadapan senyum yang polos dan ceria layaknya gadis kecil itu, Lilith pun secara alami menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Mungkin aku tidak pantas mengatakannya, tapi ini sungguh menyedihkan. Meski begitu, bukankah jarang sekali tingkat kehadirannya seburuk hari ini?"


"Demon Lord itu kan kumpulan orang-orang yang tidak bisa diajak kerja sama. Kita harus menganggap masih untung Grimm-chan mengirim Kirisha-chan sebagai wakil. Kalau tidak, bisa-bisa cuma kita berdua, lho."


Lilith menanggapi Sasha yang mengangkat bahu itu dengan helaan napas.


"Hah... padahal seharusnya tidak ada hari di mana kita lebih wajib berkumpul daripada hari ini..."


Beberapa hari lalu, informasi bahwa "Guild Marizia" yang dipimpin Demon Lord Grimm Jeanbarl dikalahkan oleh guild dua digit telah tersebar luas. Namun, karena 24 Council Keryukeion segera memblokir informasi dan memberlakukan perintah tutup mulut, hal itu hanya menjadi rumor di kalangan guild papan atas saja. Meski begitu, informasi tersebut sampai ke telinga kedua belas Demon Lord, dan kabarnya 24 Council Keryukeion juga melancarkan serangan tanpa ampun terhadap "Guild Marizia" untuk menuntut pertanggungjawaban Grimm Jeanbarl yang telah kalah.


Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, tapi "Guild Marizia"-lah yang salah karena memperlihatkan celah kepada 24 Council Keryukeion.


Karena itu, terkait hal ini, mungkin tidak akan ada keluhan maupun pembelaan dari Demon Lord lainnya.


Begitu menjadi Demon Lord, dalam situasi apa pun mereka harus terus menang.


Kekalahan tidak bisa dimaafkan. Sungguh memalukan jika masih bergantung pada takhta Demon Lord padahal sudah kalah.


Saat kalah itu, Grimm Jeanbarl seharusnya pergi dengan jantan.


"Selain itu, kebetulan sekali Demon Lord lainnya sedang melakukan ekspedisi ke Area Tinggi atau Area Tengah di 'Lost Land'. Pantas saja pesertanya hanya tiga orang."


Sasha menempelkan tangan di pipinya dengan ekspresi susah.


"Ini gangguan dari 24 Council Keryukeion ya. Kebetulan sekali Misi Paksa untuk para Demon Lord datang secara bersamaan."


Guild Sasha, Lilith, dan Kirisha yang ada di sini baru saja menyelesaikan Misi Paksa yang diberikan oleh 24 Council Keryukeion beberapa hari yang lalu. Melihat Demon Lord lain tidak mengirim wakil dan absen dalam pertemuan kali ini, mungkin mereka belum berhasil menyelesaikan misinya.


"Tempat Lilith-chan dan Sasha-chan menyelesaikan misinya dengan cepat, ya?"


Saat Kirisha mengutarakan pertanyaannya, Sasha mengangguk berkali-kali.


"Berbeda dengan Demon Lord lainnya, sehari-hari aku berkontribusi pada Asosiasi Sihir. Makanya, tempatku tidak mendapatkan misi yang tidak masuk akal, jadi bisa selesai dengan cepat."


Banyak Demon Lord yang egois.


Oleh karena itu, banyak juga yang tidak menerima permintaan dari Asosiasi Sihir.


Di antara mereka, Demon Lord seperti Sasha dan Lilith relatif menanggapinya dengan sungguh-sungguh.


Grimm Jeanbarl juga secara mengejutkan dikenal sebagai Demon Lord yang tergolong serius, dan dia adalah pria yang paling sering disalahpahami karena penampilan dan kata-katanya.


"Tempatku juga mirip-mirip begitu."


Lilith mengangguk kecil tanda setuju, lalu menatap Kirisha.


"Lalu, aku dengar tempat Kirisha-san dan lainnya diserang oleh guild yang berada di bawah pengaruh 24 Council Keryukeion, apa kalian baik-baik saja?"


"Kalau soal itu tenang saja. Sejak Grimm-chan jadi Demon Lord, diserang itu sudah seperti makanan sehari-hari. Aneh sih kalau dibilang terbiasa, tapi rasanya di bagian itu indra kami sudah mati rasa~"


"Ara, kalau begitu Grimm-san tidak ada di sini bukan karena sibuk menangani hal itu?"


Menanggapi pertanyaan Lilith, Kirisha tertawa cengengesan.


"Grimm-chan tidak ada karena urusan lain, urusan lain. Selain itu, paman-paman dan bibi-bibi 24 Council Keryukeion itu mungkin ingin melemahkan 'Guild Marizia', tapi langkah awal mereka buruk. Mereka memang hebat karena mengirim pasukan penghukum, tapi kalau tidak menyerang dengan jumlah lebih banyak dan bertubi-tubi, mereka tidak akan bisa menghancurkan kami."


"Benar tidak butuh bantuan? Tidak apa-apa lho kalau aku bantu?"


"Meski Lilith-chan teman baikku, aku tidak bisa mengatakan hal menyedihkan seperti 'tolong bantu'. Daripada menerima belas kasihan dengan meminjam tangan orang lain, bagi Grimm-chan lebih baik membuang takhta Demon Lord."


Daripada berhutang budi pada Demon Lord, lebih baik menghadapi guild 24 Council Keryukeion secara serentak.


Tak peduli seberapa sulit situasinya, atau meski berada di ambang kematian, jangan pernah meminta bantuan hanya pada Demon Lord. Sekali berhutang budi, akhirnya kau akan merasakan neraka dunia dan menemui akhir yang tragis.


"Begitu ya... kalau begitu, jika keadaan benar-benar mendesak, aku akan mengulurkan tangan tanpa imbalan."


"Tidak ada yang lebih menakutkan daripada yang gratis, lho... tapi untuk jaga-jaga akan kusampaikan pada Grimm-chan!"


Kirisha, yang merasa repot jika terus bicara dan malah jadi berhutang budi, kembali membuka mulut untuk mengalihkan pembicaraan.


"Jadi agenda hari ini apa~? Masalah tempat kami bukan topik utamanya, kan?"


"Ya, soal guild Grimm-san mari kita bicarakan nanti."


Lilith tersenyum manis seolah berkata 'aku tidak akan membiarkanmu lari', lalu melihat sekeliling ruangan dan mengangguk.


"Sepertinya percuma jika menunggu lebih lama lagi. Karena sepertinya tidak ada lagi yang akan hadir, mari kita mulai saja."


Terakhir, setelah melirik pintu sekilas, Lilith menundukkan pandangannya ke dokumen.


"Pertama, informasi dari 24 Council Keryukeion... kabarnya Monster Istimewa No. 3——'White Wolf Fenrir' muncul di Area Tinggi beberapa hari yang lalu. Mereka ingin kita mendiskusikan bagaimana cara menanganinya. Itulah agenda hari ini."


"Heee~... White Wolf Fenrir keluar dari wilayah kekuasaannya? Sudah berapa ratus tahun ya."


Saat Kirisha berkata dengan nada riang, Sasha menghela napas dengan susah.


"Itu merepotkan yaa... bukankah terakhir kali dipastikan 'White Wolf Fenrir' keluar dari Sacred Area itu sekitar dua ratus tahun yang lalu?"


Monster Istimewa No. 3 "White Wolf Fenrir" menjadikan puncak raksasa yang disebut Gunung Kembar, yang membentang dari Wilayah Tinggi hingga Wilayah Dalam, sebagai sarangnya. Konon dulunya itu adalah satu gunung besar, tetapi ada legenda yang mengatakan bahwa gunung itu terbelah dua akibat perang antara para dewa dan Magic Emperor yang terjadi seribu tahun lalu.


White Wolf Fenrir menjadikan tempat itu sebagai wilayah kekuasaannya, dan ada anekdot yang tersisa bahwa ketika seorang penyihir——Demon Lord pernah menyusup dan mengacaukannya, ia mengejarnya dan memporak-porandakan satu kota. Lama-kelamaan, agar tidak memancing kemarahan White Wolf Fenrir, Gunung Kembar ditetapkan sebagai Sacred Area oleh Gereja Hukum Suci.


Yang menyukai kaki Gunung Kembar yang telah damai itu dan membangun "Kota Iblis" adalah "Ratu", yang juga merupakan Monster Istimewa. Awalnya orang-orang ketakutan karena mengira akan memancing kemarahan White Wolf Fenrir, namun tak disangka hubungannya dengan Sang Ratu terjalin baik, dan mereka hidup berdampingan tanpa pertikaian hingga hari ini.


"Kaum iblis tidak mungkin mengganggunya... apakah seseorang dari pihak manusia lagi-lagi melakukan hal yang tidak perlu dan membuatnya marah?"


Saat Sasha mengarahkan pandangannya pada Lilith, gadis itu mengangkat bahu.


"Penyebabnya tidak diketahui. Tapi, 'Guild Flot' yang bertemu White Wolf Fenrir di Wilayah Tinggi dalam keadaan hancur lebur. Salah satu anggota 24 Council Keryukeion yang juga seorang Lehrer, Anthro-san, dinyatakan hilang. Kabarnya yang selamat saat ini hanyalah mereka yang memberikan dukungan dari garis belakang."


"Ara ara... konflik antar guild akan meningkat yaa."


Sudah tiga tahun sejak terakhir kali satu kursi 24 Council Keryukeion kosong.


Sama seperti Demon Lord, jumlah kursi 24 Council Keryukeion juga terbatas.


Maka, perebutan di antara mereka yang mendekam di posisi bawah adalah hal yang tak terelakkan.


Memanasnya perselisihan demi mendapatkan buah terbaik bernama kekuasaan adalah konsekuensi yang wajar.


"Yah, lagipula sekarang tidak mungkin ada orang mulia yang menjadi 24 Council Keryukeion, dan kita juga tidak bisa berharap banyak, jadi biarkan saja mereka sesuka hati."


Jika orang-orang merepotkan itu saling menghancurkan, itu justru sangat menguntungkan.


Jika masalah White Wolf Fenrir bisa diselesaikan selama masa itu, tidak ada yang lebih baik dari itu, namun,


"Pertama mengenai penanganan 'White Wolf Fenrir', apa Lilith-chan punya usulan?"


"Hmm, bagaimana ya..."


Lilith menopang dagu sambil berpikir.


Tak lama kemudian, dia mengangkat wajah dan berkata dengan tatapan mata yang jernih.


"Pilihannya hanya satu, yaitu membiarkannya. Ada pepatah 'jangan membangunkan macan tidur', dan kita tentu ingin menghindari memancing kemarahan 'White Wolf Fenrir' yang disebut sebagai monster tertua itu. Kalau sampai dia datang ke Kota Sihir, keadaannya akan sangat mengerikan."


"Benar juga~. Dia salah satu dari Enam Monster Besar, kalau sampai menyeret 'Kota Iblis', urusannya akan jadi merepotkan. Karena itu, sebaiknya Asosiasi Sihir mengeluarkan peringatan saja kepada guild-guild agar tidak pergi ke Area Tinggi."


Saat Kirisha menjawab dengan serius, Sasha pun ikut mengangguk.


"Kurasa itu keputusan yang tepat. Kita hanya bisa berdoa semoga tidak ada keluhan dari 'Kota Iblis' yaa."


Satu-satunya kota yang ada di "Lost Land", "Kota Iblis", terletak di Distrik 30 Area Tinggi.


Itu adalah kota yang diperintah oleh kaum iblis yang disebut sebagai musuh umat manusia.


Meski begitu, bagi para penyihir yang bertualang di "Lost Land", itu adalah satu-satunya markas tempat mereka bisa beristirahat dan merupakan tempat yang tak tergantikan, sehingga saat ini pihak manusia menutup mata terhadap masalah "Kota Iblis". Sosok yang memerintah "Kota Iblis" itu adalah Monster Istimewa No. 6 yang disebut "Ratu", yang juga merupakan salah satu dari Enam Monster Besar sama seperti "White Wolf Fenrir".


"Kalau mereka saling menghancurkan sih kita untung besar... tapi sepertinya tidak akan terjadi ya."


Ratu dan White Wolf Fenrir juga merupakan monster yang memiliki kecerdasan, mereka menjalin hubungan kerja sama dan dikatakan sangat akrab. Dibangunnya "Kota Iblis" di kaki Gunung Kembar yang merupakan Sacred Area milik White Wolf Fenrir menjadi bukti yang paling kuat. Karena itu, mereka tidak akan saling menghancurkan, dan jika terjadi masalah pun, mereka pasti akan berdiskusi dan menghindari pertikaian.


"Kita juga tidak tahu alasan White Wolf Fenrir muncul di Area Tinggi, jadi percuma saja dipikirkan. Seperti kata Kirisha-chan, untuk sementara waktu kita hanya bisa meminta guild yang berburu di Area Tinggi untuk berhati-hati."


"Kalau begitu, nanti akan kusampaikan seperti itu kepada Asosiasi Sihir."


Setelah memutuskan penanganan White Wolf Fenrir, agenda Pertemuan Demon Lord pun berakhir.


Sisanya adalah waktu bebas, entah mau pulang atau mengobrol santai. Biasanya pertemuan bubar setelah seseorang mengucapkan kata penutup, namun hari ini tidak ada seorang pun yang berbicara.


Setelah hening sejenak, Lilith bertepuk tangan seolah teringat sesuatu.


"Omong-omong, soal pembicaraan awal——ada yang ingin aku konfirmasi mengenai perang yang disulut oleh 'Guild Marizia'. Kirisha-san pasti tahu, tapi apa Sasha-san melihatnya?"


"Melihat apa?"


"Perang antara 'Guild Marizia' dan 'Guild Villeut'——tepatnya sosok lawan yang telah mengalahkan Mahkota Kedelapan Grimm-san. Sejauh yang kudengar, penampilannya seperti seorang bocah laki-laki, dan katanya dia belum lama datang ke Kota Sihir."


"Itu sih..."


Mata Sasha yang selama ini menjawab dengan santai tampak bergerak gelisah karena goyah.


Entah harus mengelak atau membenarkan, sebagian orang mengetahui fakta bahwa Grimm telah kalah.


Namun, hanya sedikit yang mengetahui detail lawannya.


Demi menjaga martabat Demon Lord, identitas lawan seharusnya dibiarkan samar.


"Benar. Ars-chan itu sangat kuat lho. Grimm-chan kalah telak!"


Lebih cepat dari ucapan Sasha, Kirisha sudah membenarkannya.


"...Be, begitu ya..."


Lilith tampak terperangah namun buru-buru menjawab. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa fakta kekalahan Grimm akan dibenarkan dengan jujur sambil tertawa seperti itu.


"Kalau begitu, apakah cerita bahwa lawannya menggunakan 'Heavenly Domain' itu juga benar?"


"Itu juga benar~"


Karena Kirisha mengakuinya dengan nada ringan, Lilith memasang ekspresi curiga.


Sedekat apa pun Lilith dan Kirisha, hubungan mereka hanya sebatas kenalan yang lebih dari sekadar tahu nama tapi belum bisa dibilang teman akrab. Dalam hubungan seperti ini, biasanya seseorang akan meminta imbalan atas informasi yang diberikan.


Namun, Kirisha memberikan informasi yang diinginkan Lilith bahkan tanpa tawar-menawar, jadi wajar saja jika gadis itu merasa bingung.


"Artinya, bisa dibilang Ars-san itu adalah orang keempat, kan?"


Heavenly Domain adalah puncak sihir yang bisa dicapai melalui kebangkitan Gift.


Penyihir yang dipastikan telah mencapai tahap Heavenly Domain saat ini hanya ada tiga orang.


"Grimm-chan juga mengakuinya, jadi kurasa bisa dibilang dia yang keempat... tapi, aku dengar yang berhasil dikonfirmasi Asosiasi Sihir cuma tiga orang, padahal seharusnya ada penyihir lain yang sudah mencapai Heavenly Domain."


"...Siapa yang mengatakannya?"


"Chris-chan."


"Ah——dia yang dirumorkan itu ya... aku turut berduka cita atas kematiannya."


Dikatakan bahwa Grimm bisa menjadi Demon Lord karena adanya eksekutif bernama Christof.


Keberadaannya yang dipuji sebagai otak sang Demon Lord sangat terkenal di Kota Sihir, entah dalam artian baik maupun buruk.


"Apakah Christof-san dibunuh oleh pemuda itu?"


"Bukan, sepertinya orang lain yang melakukannya."


"Orang lain...?"


"Aku tidak melihatnya langsung sih, tapi sepertinya dia dikalahkan oleh Karen-chan dan Shion-chan."


Karena Kirisha menjawab seolah-olah mereka adalah temannya, ekspresi Lilith menjadi semakin bingung.


Dia ingin menanyakan detail tentang orang-orang macam apa mereka itu, tapi ada pertanyaan lain yang lebih ingin dia ajukan pada Kirisha yang menjawab dengan begitu enteng.


"Kirisha-san... apa kau tidak punya dendam karena temanmu dibunuh?"


Demon Lord Grimm memang memiliki aura yang kasar, tapi sifatnya penuh rasa kemanusiaan dan sangat setia kawan.


Hampir semua guild membentuk suasana seperti keluarga.


Hal itu tidak berubah meski sudah menjadi Demon Lord.


Terlebih lagi, "Guild Marizia" yang dipimpin Grimm terbentuk di lingkungan khusus bernama Distrik Bobrok, sehingga kecenderungan itu lebih kuat dibandingkan guild lain.


Oleh karena itu, tidak mungkin mereka memaafkan kematian teman, dan tidak aneh jika terbakar api dendam, namun kemarahan sama sekali tidak terasa dari ekspresi Kirisha.


"Hmm~, karena itu akibat perbuatannya sendiri, kurasa aku tidak marah... kalau harus memilih, rasa sedihnya lebih kuat."


Kirisha menghela napas dan menundukkan wajahnya.


Melihat ekspresi yang jarang terlihat itu, wajah Lilith menyiratkan penyesalan, mengira dia telah salah bertanya.


"Aku juga berpikir mungkin ada hal lain yang bisa kulakukan, tapi sekarang aku sudah cukup merelakannya, jadi kau tidak perlu khawatir."


Seolah memedulikan perasaan Lilith, Kirisha berkata dengan nada ceria.


"Begitu ya. Kalau ada apa-apa, kau bisa berkonsultasi denganku kapan saja, lho?"


"Makasih, Lilith-chan!"


"Sama-sama. Kalau begitu kembali ke topik, menurutmu seberapa kuat Ars-san yang mengalahkan Grimm-san itu?"


"Hmm~? Maksudnya dibandingkan dengan Demon Lord selain Grimm-chan?"


"Benar."


"Karena Kirisha tidak bertarung langsung, aku tidak tahu seberapa kuat dia, tapi dari sihir yang kurasakan di kulitku, mungkin dia mendekati Mahkota Pertama."


Kirisha memiringkan kepalanya dengan manis sambil menyipitkan mata.


"Kupikir dalam hal ketidakmasukakalan, mereka itu sama."


"...Sampai selevel itu?"


Lilith membelalakkan mata karena terkejut. Reaksi seperti itu wajar saja.


Mahkota Pertama dari 12 Supreme Mage Kings, Schlaht, terus mempertahankan posisinya selama lebih dari sepuluh tahun.


Artinya selama sepuluh tahun, dia tidak pernah kalah——tak terkalahkan.


Dia adalah salah satu penyihir hebat yang kekuatannya masuk dalam tiga besar di antara para Demon Lord sepanjang sejarah, dan bahkan dikatakan sebanding dengan Magic Emperor.


"Ya. Kualitas sihir, teknik sihir, dan yang terpenting, kekuatan sihir yang tak terlihat dasarnya. Karena aku berada di tempat yang jauh, aku tidak tahu pastinya sih."


Kirisha terus bercerita perlahan, seolah sedang menggali ingatannya.


"Kirisha pikir dia itu monster yang setingkat dengan Schlaht-chan."


"Itu... semakin menarik saja. Apa ada hal lain yang kau sadari?"


Lilith memajukan tubuhnya ke atas meja dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil.


Ingin menjawab harapan itu, Kirisha menopang dagu dan bergumam cukup lama, namun sepertinya tidak ada jawaban seperti yang diharapkan Lilith, sehingga ia tersenyum pahit.


"Bagaimana ya. Mungkin hanya itu yang Kirisha sadari. Selebihnya kurasa kau akan tahu kalau tanya Grimm-chan... tapi mungkin dia tidak mau bicara."


Grimm itu keras kepala dan mulutnya rapat.


Terlebih lagi, karena tampaknya dia menyukai Ars, dia tidak akan memberikan informasi tentang pemuda itu.


"Mau bagaimana lagi. Meminta informasi lebih dari ini sama saja tidak tahu diri."


Lilith menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


"Kalau begitu, pertanyaan dariku cukup sampai di sini."


Lilith bangkit dari kursi, lalu menatap Kirisha dan Sasha bergantian.


"Jika tidak ada pertanyaan lain, aku ingin mengakhiri pertemuan hari ini, bagaimana?"


"Kirisha tidak ada~"


"Aku juga tidak adaa."


"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu."


"Sampai jumpa lagi, Lilith-chan!"


"Ya, jika ada apa-apa, hubungi aku kapan saja. Berkat Kirisha-san, aku bisa menghabiskan waktu yang bermakna hari ini."


Sambil melambaikan tangan pada Kirisha, Lilith keluar ruangan.


Setelah menunggu pintu ruangan tertutup, pandangan Sasha beralih ke Kirisha.


"Tunggu sebentar, Kirisha-chan! Kenapa kau mengatakannya dengan begitu jujur~"


Sesaat Kirisha memiringkan kepala dengan bingung, tidak mengerti apa yang membuat Sasha marah.


Namun, begitu menyadari bahwa itu tentang pemberian informasi Ars dengan mudah, ia langsung tersenyum seolah menunjukkan pemahamannya.


"Meski tidak kukatakan, cepat atau lambat pasti ketahuan kok, jadi tidak apa-apa."


Pertarungan antara "Guild Marizia" dan "Guild Villeut" disaksikan oleh banyak orang.


Tentu saja 24 Council Keryukeion yang mengatur situasi itu tahu, bahkan Demon Lord dan Sacred Heaven juga pasti ada di sana.


Padahal begitu, tidak mungkin Mahkota Kedua Demon Lord, Lilith, yang memiliki akses ke berbagai informasi tidak mengetahuinya.


Karena cepat atau lambat akan ketahuan, menyembunyikannya terus-menerus tidak ada artinya. Jika hal itu malah berpotensi merusak hubungan, demi pergaulan di masa depan, lebih baik menjawab dengan jujur.


Saat Kirisha menjelaskan demikian, Sasha mengangguk kagum.


"Ternyata Kirisha-chan juga memikirkannya ya. Kalau begitu mungkin tidak apa-apa."


"Mumu! Begini-begini aku ini Sub-master lho! Aku selalu bertindak sambil memikirkan semuanya!"


Melihat Kirisha menggembungkan pipinya dengan manis, Sasha melambaikan satu tangan sambil tersenyum pahit.


"Iya iya, maafkan aku. Jangan marah. Lalu, apa alasannya Grimm-chan tidak datang hari ini?"


"Kalau Grimm-chan sih, dia pergi ke tempat itu~"


Sasha memiringkan kepala mendengar jawaban Kirisha.


"Tempat itu?"


"Grimm-chan itu ternyata cukup serius lho... dia pergi untuk meminta maaf atas kesalahan bawahannya."


Mendengar sampai di situ, Sasha mengangguk seolah paham.


"Grimm-chan orangnya setia yaa. Dia tidak tahu kalau Christof-chan sedang meneliti Tiga Taboo Terbesar, kan?"


"Mereka teman masa kecil yang sudah bersama sejak sebelum guild didirikan... bahkan sejak dari Distrik Bobrok. Apalagi Chris-chan adalah orang kepercayaannya. Penampilan Grimm-chan memang menakutkan, dan kata-katanya terdengar seperti orang yang tidak punya beban pikiran, tapi begitu-begitu dia memikirkan banyak hal lho~"


Dia adalah salah satu penyihir hebat yang kekuatannya masuk dalam tiga besar di antara para Demon Lord sepanjang sejarah, dan bahkan 

Kirisha mengatakan hal yang tidak jelas antara memuji atau merendahkan, membuat Sasha menempelkan tangan di pipinya seolah pasrah.


"Selain Grimm-chan, apa Kirisha-chan tahu bahwa ada bayang-bayang Gereja Hukum Suci di balik Christof-chan?"


Christof bisa bebas melakukan kejahatan Tiga Taboo Terbesar karena ia memanfaatkan nama Demon Lord Grimm semaksimal mungkin. Namun, yang pasti bukan hanya itu saja, sejauh penyelidikan Sasha, ada beberapa jejak yang menunjukkan bahwa Gereja Hukum Suci telah memberikan dukungan.


"Aku tahu karena menyelidikinya setelah Chris-chan meninggal~. Agak memalukan sih, tapi sebelumnya aku tidak tahu. Harusnya aku tidak berpikir 'tidak apa-apa karena teman masa kecil', melainkan tetap memeriksanya. Soal itu aku benar-benar menyesal, aku terlalu buta terhadap teman."


Jika itu Christof yang dulu, alih-alih mengabaikan rayuan manis, dia pasti akan menolak keras dipermainkan sesuka hati oleh Gereja Hukum Suci. Namun, sejak kemampuannya yang berhasil mengangkat Grimm menjadi Demon Lord diakui, tampaknya hasrat Christof akan pengakuan menjadi semakin kuat. Karena Kirisha dan yang lainnya pura-pura tidak melihat hal itu, kesombongannya pun mulai tumbuh.


Akibatnya, ia mencoba-coba eksperimen "Penciptaan Iblis" yang merupakan salah satu dari Tiga Taboo Terbesar, dan akhirnya berujung pada kematian Christof.


"Pasti gerombolan Gereja Hukum Suci yang menyusup ke Asosiasi Sihir yang mengontak Chris-chan. Aku belum berhasil melacak siapa orangnya, tapi aku pasti akan menemukannya."


"Aku juga sedang menyelidikinya diam-diam, lho. Pasti salah satu dari 24 Council Keryukeion, tapi aku belum bisa memastikannya. Tak kusangka mereka sama sekali tidak membiarkan ekornya tertangkap. Sejujurnya, itu sangat hebat."


"Di sini juga mirip-mirip begitu. Tapi, kalau aku tahu sesuatu, akan kuberitahu Sasha-chan ya."


"Ara, bolehkah?"


"Tentu saja, lawannya seperti itu, sih. Di tempat kami memang ada Grimm-chan, tapi kalau kami menghadapi Gereja Hukum Suci sendirian, kamilah yang akan dihancurkan. Bertindak seperti sebelumnya itu berbahaya, dan lagi aku percaya pada Sasha-chan, jadi tidak apa-apa, kan?"


"Ugh, anak yang baik sekali."


Sasha menangis terharu sambil menekan sudut matanya dengan sapu tangan.


"Serahkan padaku. Aku pasti akan mencari tahu siapa yang mengendalikan Christof-chan!"


"Oke! Kalau begitu, mari kita berbagi informasi sedikit lagi."


"Ya, ya, jangan sampai ada kesalahpahaman. Kebetulan sekali, mari kita cocokkan berbagai hal."


Saat Kirisha mengatakannya sambil tersenyum, Sasha pun mengangguk dengan senang.



Distrik Hiburan Kota Sihir——<Villeut Sisters Lampfire>.


"Shion, apa kau yakin begitu saja?"


Karen bergumam sambil menatap pintu masuk tempat Demon Lord Grimm pergi.


Pria yang muncul bagaikan badai itu telah pergi sesuka hati seperti angin.


Ruangan yang tadinya penuh ketegangan, kini kembali dipenuhi suara riang para Schuler seperti biasa.


"Padahal menurutku kau boleh mengatakan lebih banyak lagi..."


Saat Karen mengalihkan pandangan ke Shion yang duduk di sebelahnya, wanita itu menelan makanan yang ada di mulutnya.


"Sepertinya dia menyesal. Demon Lord Grimm yang itu menundukkan kepalanya di depan banyak orang. Aku tidak akan memaafkannya, tapi aku menerima permintaan maafnya."


"Kalau Shion sudah puas, salah kalau aku berkomentar lebih jauh lagi."


"Tetapi, apakah itu tadi Demon Lord Grimm? Sepertinya berbeda dari cerita yang kudengar."


Yulia bergumam dengan curiga.


Sebab sosok Grimm yang dilihatnya tadi sangat jauh berbeda dengan sosok Demon Lord yang dirumorkan di Kota Sihir. Sombong dan tidak menerima perkataan orang lain, Demon Lord yang benar-benar seperti Demon Lord, itulah penilaian umum masyarakat.


Namun, tidak aneh jika orang menjadi bingung setelah melihat sosoknya yang menundukkan kepala dengan begitu jujur.


Awalnya dia curiga apakah itu akting. Berpikir bahwa itu hanya di permukaan saja, sementara dalam hati dia sedang memaki-maki.


Akan tetapi, dari awal hingga akhir dia bersikap serius dan tidak terlihat berbohong.


Lagipula, apakah orang sombong mau repot-repot datang untuk minta maaf? Apakah dia bisa menundukkan kepala dengan jujur di depan begitu banyak orang?


Setidaknya sejauh yang dilihat Yulia, dia memang tulus dan patut diacungi jempol.


"Dilihat dari sisiku pun, Demon Lord Grimm tampak menyesal."


Elsa membenarkan, lalu menatap Shion.


"Selain itu, menurutku Shion-san sudah menahannya dengan baik."


Sambil menyantap hidangan baru, Shion menyunggingkan senyum yang nyaris seperti ejekan pada diri sendiri.


"Yah... kekalahan kita dari Guild Marizia adalah karena kurangnya kemampuan guild. Tidak ada yang bisa dikeluhkan soal itu."


Shion menghela napas, menggeleng, lalu melanjutkan.


"Memang benar kami dijebak dalam berbagai perangkap, dan aku juga menaruh dendam atas perlakuan setelahnya... tapi aku sudah membunuh Christof yang menjadi biang keladinya dengan tanganku sendiri. Aku tidak bisa memaafkan pembiaran terhadap pria itu, tapi aku tidak membenci Demon Lord Grimm."


"Rumit juga ya... lalu kenapa Onee-sama memancarkan hawa membunuh pada Demon Lord Grimm?"


"Itu karena tidak ada permintaan maaf."


Mendengar perkataan Yulia, tanda tanya muncul di kepala semua orang.


"Dia minta maaf, kan?"


"Hm, aa... dia bahkan sampai menundukkan kepala."


Karen dan Shion saling pandang dan memiringkan kepala. Di dekat mereka, Ars makan tanpa peduli, sementara Elsa menyuguhkan teh dan melayani.


"Permintaan maaf karena memukul Karen. Pipinya sampai bengkak begitu. Aku sama sekali tidak akan memaafkannya."


Saat Yulia melontarkan alasannya dengan kesal,


"Itu kan hasil pertarungan, kalau menuntut permintaan maaf untuk setiap hal, bakal gawat, tahu?"


Karen tampak heran, tapi sudut bibirnya mengendur, mungkin senang dikhawatirkan kakaknya.


Namun, meski ditenangkan adiknya, amarah Yulia tampaknya tidak surut.


"Suatu saat dia harus menerima balasannya. Karena terlena di atas takhta Demon Lord-lah yang memicu tragedi itu, jadi dia harus diberi pelajaran yang lebih menyakitkan. Bukankah Shion-san juga berpikir begitu?"


"Y-ya. Soal itu sih begini. Terserah Yulia saja. Aku juga merasa tidak bisa memaafkan Grimm yang memukul Karen."


Saat Yulia menggumamkan itu dengan bayangan gelap melintas di mata perak ungunya, Shion menjawab dengan pipi berkedut seolah traumanya terpicu.


"Benar, kan! Shion-san juga berpikir begitu, kan! Mari kita berjuang bersama."


Berjuang untuk apa? Kalau bisa bertanya begitu pasti lebih lega, tapi tidak mungkin Shion bisa mengatakannya, jadi dia yang kedua tangannya dikepalkan erat hanya bisa mengangguk pada perkataan Yulia.


Yang memberikan bantuan pada Shion yang terpojok itu adalah Elsa.


"Yulia-sama, silakan minum teh dan tenangkan diri."


"Ara, terima kasih, Elsa."


Mengucapkan terima kasih, dia menyeruput teh dengan wajah bahagia. Melihat itu, Shion menghela napas lega seolah berkata 'aku selamat', lalu menunduk sedikit pada Elsa tanda terima kasih. Elsa menggelengkan kepala seolah berkata 'jangan dipikirkan' pada wanita itu, lalu kembali mengurus Ars.


Di sekitar mereka, para Schuler yang sudah selesai sarapan mulai bergerak sesuka hati.


Ada yang pergi bertualang, ada yang bersiap untuk operasional kedai, mereka bergerak dengan berbagai tujuan.


Melihat pemandangan yang bisa dibilang keseharian biasa itu, Karen membuka mulut.


"Lalu hari ini kalian mau melakukan apa?"


"Aku berniat pergi ke Asosiasi Sihir."


"Hee, padahal selama ini kau tidak mendekat ke sana, ada apa?"


Ditanya oleh Karen, Ars menundukkan pandangan ke cincin yang tersemat di jari manis kirinya.


"Aku sudah lama tidak menaikkan Peringkat. Kupikir sudah saatnya menaikkannya."


Karena prosedurnya merepotkan, Ars tidak pernah mengunjungi Asosiasi Sihir kecuali saat awal mendaftar sebagai penyihir.


"Begitu ya. Aku ingin menemanimu, tapi aku harus pergi ke Badger’s Nest untuk persiapan ekspedisi yang dimulai minggu depan."


"Benar juga. Sebenarnya saya juga ingin ikut, tapi ada beberapa hal yang saya khawatirkan jika membiarkan Karen-sama sendirian... sayang sekali..."


"Tunggu, Elsa, aku sendirian juga tidak apa-apa kok? Temani saja Ars."


"Tidak, Anda pasti akan membeli barang-barang yang tidak perlu, jadi saya akan ikut Karen-sama. Waktu itu anda mengubah semua bekal makanan ekspedisi menjadi camilan kan."


"I-itu kan... kupikir sekali-sekali ekspedisi yang isinya camilan semua itu menyenangkan..."


"Kalau cuma dua hari sih masih bisa ditahan, tapi kalau lebih dari itu, ekspedisi yang isinya cuma camilan akan segera berantakan."


Saat Elsa mulai menceramahi Karen, Shion menepuk bahu Ars.


"Ars, biar aku yang menemanimu. Begini-begini aku ini mantan 24 Council Keryukeion lho. Aku tahu banyak tentang Asosiasi Sihir."


"Itu sangat membantu. Kalau begitu, aku minta tolong Shion ya."


"Aa, serahkan padaku."


"Lalu, Yulia bagaimana?"


Saat Ars mengarahkan pembicaraan padanya, Yulia menjatuhkan bahunya seolah merasa sangat sayang.


"Aku ada janji bertemu kenalan setelah ini... sayang sekali, tapi ayo pergi bersama lain kali."


"Kalau begitu mau bagaimana lagi. Lain kali kita pergi bersama Yulia. Kalau begitu, karena sudah jam segini, ayo kita pergi."


Ars melirik jam dan bangkit dari kursinya.


Entah karena melihat itu dari sudut matanya, Karen dan Elsa mendekat.


"Ayo pergi bareng."


"Boleh. Tujuan kita sama."


Asosiasi Sihir berada di Menara Babel yang menjulang di pusat kota. Di sana juga tersedia "Gerbang Teleportasi", dan Karen serta yang lainnya harus menggunakannya untuk menuju <Badger's Nest>.


"Kalau begitu, karena aku harus bersiap-siap, aku kembali ke kamar dulu ya."


"Oke~, Onee-sama juga kalau ada waktu luang datanglah ke <Badger's Nest> ya."


"Ya, jika ada waktu aku akan menyusul."


Setelah mengantar kepergian Yulia yang menuju tangga ke lantai dua,


"Kalau begitu, ayo kita berangkat juga."


Dengan Karen memimpin di depan, Ars dan yang lainnya pun berangkat.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close