NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Torimaki A kara Hajimeru Akuyaku Kousei Puran Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Dunia Lain dan Tai Chi


Suatu hari, setelah sekian lama, ayah dan ibuku akhirnya duduk bersama di meja makan.

Sudah menjadi pola di rumah ini bahwa jika orang tuaku ada, kami akan makan malam bersama. Sejujurnya, aku merasa hal-hal merepotkan seperti ini tidak perlu dilakukan, tapi mungkin orang tuaku punya pemikiran lain.

Lagipula, kesempatan seperti inilah satu-satunya waktu aku bisa menanyakan hal-hal tertentu...

"Papa, aku ingin segera belajar sihir."

"Bukankah dokter bilang kau harus bersabar selama setengah tahun?"

"Aku sudah tidak apa-apa kok. Lihat, kapan guru sihir yang Papa janjikan itu akan datang?"

"...Tunggulah sebentar lagi. Aku sedang mencarinya."

Sepertinya sudah jadi rahasia umum di dunia ini bahwa anak yang mengalami Mana Depletion memiliki bakat sihir yang besar. Begitu aku sadar, orang tuaku bilang mereka akan segera mencari guru sihir, tapi... di dunia ini, transportasi utama masihlah kereta kuda. Aku paham bahwa memanggil guru sihir dari tempat jauh tidak bisa dilakukan dalam sekejap.

Jika dipikir dengan tenang, mencari guru hebat hanya dengan kekuatan uang itu bagaimana ya... Tapi kurasa akal sehatku sudah mulai tumpul. Aku jadi sangat menantikan kedatangan guru itu.

"Sihir memang bagus, tapi asah juga kemampuan pedangmu."

"Eh? Anu... i-iya."

"Kau akan hidup sebagai bangsawan. Setidaknya kuasailah ilmu pedang."

Benar juga, di dunia ini pedang adalah elemen yang penting. Karena kejadian Mana Depletion, aku mengira akan langsung menempuh jalan sebagai penyihir, tapi aku sendiri belum tahu spesifikasi tubuh ini. Siapa tahu aku punya berkah reinkarnasi berupa bakat All-Mighty yang meluap-luap. Hmm.

Saat aku sedang melamunkan hal itu, ibu berbicara kepada ayah dengan wajah riang.

"Sayang, besok aku diundang ke pesta teh Lady Isabella. Menurutmu gaun mana yang harus kupakai? Apakah gaun biru itu sedikit terlalu mencolok?"

"Hm? ...Begitu ya. Bukankah yang kesannya lebih kalem akan lebih baik?"

Pesta teh lagi. Kenapa minum teh saja bisa menjadi urusan yang sangat penting? Aku benar-benar tidak paham. Namun bagi ibu, itu tampaknya masalah yang bisa menentukan jalan hidupnya.

Baju yang akan dipakai, camilan yang akan dibawa, tempat duduk di pesta teh... Ayah mungkin tidak terlalu tertarik. Dia berusaha menanggapi, tapi terlihat jelas kalau hatinya tidak di sana.

"Ngomong-ngomong, kudengar kali ini Lady Lumiera juga akan menampakkan diri. Mungkin dia akan senang jika aku membawakan kue panggang yang sedang tren di kota."

"Lady Lumiera ikut pesta teh? Bukankah dia seumuran dengan Rad?"

"Iya, tapi ini bukan debut resmi di dunia sosial, sepertinya hanya pesta teh internal yang santai."

Lumiera? Nama yang baru kudengar itu membuatku sedikit tertarik. Seorang gadis yang seumuran denganku. Dari pembicaraan tadi, apa dia putri dari orang bernama Isabella itu? Aku pun bertanya pada ibu.

"Siapa itu Lady Lumiera?"

"Aduh, hohoho. Rad, kau benar-benar anak laki-laki ya. Apa kau jadi penasaran?"

"Eh? B-bukan begitu. Mama bilang dia seumuran denganku, makanya aku bertanya."

"Hohoho. Lady Lumiera adalah putri dari keluarga Faldulas."

"Anu... keluarga Faldulas?"

"Kau ini tidak tahu apa-apa ya. Mereka adalah patron kita. Tempat ini adalah wilayah Margravine Faldulas, tahu? Ingatlah itu baik-baik."

"I-iya..."

Tunggu dulu... Dalam ingatan bocah Radcliffe, informasi yang ada hanyalah tempat ini bernama Kerajaan Arcadia. Kenapa informasi sepenting itu bisa terlewat?

Mendengar ucapanku, ayah sepertinya merasa ada yang tidak beres. Beliau menghentikan makannya dan menatapku dengan wajah serius.

"Dengar, Rad. Prosper Company bisa menjadi sebesar ini juga berkat bantuan dari Tuan Margravine. Kau tidak boleh mengatakan bahwa kau tidak tahu tentang keluarga Faldulas."

"I-iya."

"Lagipula, meski Lady Lumiera juga penting, kau harus menjalin hubungan baik dengan sang pewaris, Tuan Muda Adric. Aku sangat bersyukur kau seumuran dengan Tuan Muda Adric."

"...Eh? Adric?"

"Hm? Ada apa?"

"Adric... maksud Papa, Adric Faldulas?"

Begitu mendengar nama itu, potongan-potongan informasi di dalam kepalaku seketika menyatu.

Adric Faldulas. Dan aku, Radcliffe Prosper. Kemungkinan besar ada satu orang lagi bernama Sevant Croftor.

Trio ini. Tidak salah lagi. Kenapa aku tidak menyadarinya sampai sekarang...?

Tanpa sadar aku berseru dan berdiri, membuat ayah menatapku dengan kaget.

"Kenapa tiba-tiba berteriak begitu?"

"Eh? Tidak. Maafkan aku."

Setelah itu, meski tetap mengobrol dengan ayah, sejujurnya aku sedang panik luar biasa. Aku berusaha menarik napas dalam-dalam agar kepanikanku tidak terbongkar.

Tidak salah lagi. Ini murni skenario reinkarnasi antagonis.

Aku memegangi kepalaku yang terasa pening.

Mungkin ini yang dinamakan syok berat. Aku kembali ke kamar dengan langkah gontai dan langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur. Aku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku bisa kembali ke sini setelah makan malam bersama orang tuaku.

Bukannya aku tidak pernah membayangkan skenario reinkarnasi antagonis sebelumnya. Namun, selama beberapa bulan sejak merasakan reinkarnasi, sepertinya aku sudah sepenuhnya melepaskan pikiran itu. Aku sempat berpikir bisa menjalani kehidupan dunia lain yang santai dan serba berkecukupan di keluarga kaya ini.

"Ternyata begini jalannya, ya..."

...

Ada sebuah karya yang menjadi alasan awal aku terjerumus ke dunia light novel. Judulnya adalah "Reinkarnasi Jadi Pewaris Bangsawan Bangkrut, Aku Membangun Wilayah dengan Kemampuan Cheat".

Sekarang, karya itu mungkin dianggap sebagai genre reinkarnasi tipe lama, tapi buku yang secara kebetulan kupungut itulah yang menarikku ke dalam lubuk light novel.

Ceritanya sangat klise; sang protagonis tertabrak truk, bereinkarnasi ke dunia lain, lalu menggunakan pengetahuan dari Bumi untuk membenahi wilayah kekuasaannya yang hampir bangkrut.

Namun, pada masanya, itu adalah hal yang segar dan dianggap sebagai karya yang menjadi templat bagi berbagai cerita reinkarnasi setelahnya.

Sekilas tampak seperti alur slow life, namun sebenarnya bertabur adegan pertarungan yang sengit, dan merupakan karya yang bagus tentang perjuangan dari nol. Dan rival terbesar sang protagonis adalah Adric Faldulas.

Adric muncul sebagai teman sekelas saat protagonis masuk ke Akademi Kerajaan. Dia hadir sebagai rival sekaligus bangsawan menyebalkan yang memiliki ideologi supremasi.

Sejak masa itu, karakter antagonis tipe tuan muda seperti dia sering kali digambarkan membawa dua orang pengikut. Dalam karya ini pun sama, Adric selalu didampingi oleh dua pengikut setianya. Dan salah satu dari mereka adalah Radcliffe ini.

Dalam cerita, Adric memanggilnya "Cliff", dan sepanjang cerita dia hanya disebut Cliff, makanya aku sempat lupa. Tapi benar, namanya pasti Radcliffe. Terlebih lagi, deskripsi Radcliffe di dalam cerita bukan kurus kerempeng seperti ini, melainkan sedikit lebih gemuk.

Hmm...

...Tapi, tapi, tapi.

"Meski tergolong karakter figuran... ada adegan kematiannya yang jelas, kan?"

Itulah masalah terbesarku.

Adric memang penjahat, tapi dia cukup populer. Meskipun dia orang menyebalkan dengan pemikiran eugenika yang bias, dia muncul di sepanjang seri, bahkan ada bagian di mana dia bertarung bersama protagonis.

Namun di akhir seri, raja mangkat dan negara terbelah menjadi dua. Terjadi perang saudara antara Pangeran Pertama yang berdarah dingin dengan ideologi supremasi yang kuat, melawan Pangeran Kedua yang penuh kasih dan manusiawi.

Tentu saja sang protagonis memihak Pangeran Kedua, sementara Adric memihak Pangeran Pertama. Inilah yang menjadi titik perpisahan mereka dengan protagonis.

Dan di tengah perang saudara itu, kami—dua orang pengikutnya—ikut mati bersama Adric.

Karena Adric populer meski sebagai musuh, akhir hayatnya dibuat keren dengan adegan emosional yang dramatis, sehingga mendapat penilaian bagus dari pembaca. Sebaliknya, Radcliffe yang hanya figuran tewas dengan cara yang sangat mengenaskan...

Jika aku bereinkarnasi sebagai Adric, banyak hal yang bisa kulakukan. Tapi... Radcliffe hanyalah figuran dengan pengaruh minim pada cerita.

...Bisakah aku melakukannya? Menghindari ending kematian ini.

Bukannya aku tidak bersyukur karena hidup kembali setelah mati, tapi stres karena mengetahui kematian yang sudah pasti ini benar-benar merusak mentalku lebih dari yang kubayangkan.

...

...

Sial. Kepalaku rasanya mau pecah. Aku tidak bisa tidur sama sekali.

Malam ini bulan bersinar terang, bahkan di dalam kamar pun sedikit cahaya menembus masuk. Sambil berbaring, aku menatap pola di langit-langit yang terlihat samar, berusaha keras mengingat isi novel tersebut.

Aku sudah membaca cukup banyak light novel bertema reinkarnasi antagonis. Ada ribuan protagonis yang melakukan berbagai hal untuk menghindari death flag dan malah berbalik menjadi orang populer. Namun, aku kembali menyadari bahwa hukum itu hanya berlaku di dalam novel.

Selama beberapa bulan hidup sebagai orang yang dibenci di dunia ini, hanya Tilly satu-satunya orang yang pandangannya terhadapku berubah. Aku jadi tahu betapa sulitnya membuat orang yang membenci kita jadi menghargai kita kembali.

Terutama karena aku sendiri tidak sanggup mendekati orang yang membenciku.

"Apa aku kabur saja ya? Kabur sendirian ke desa dan menjalani slow life..."

Jika ini adalah gim yang mustahil dimenangkan, pilihan itu mungkin ada. Tapi sebelum itu, apa ada yang bisa kulakukan dalam kondisi sekarang? Di tengah malam yang terjaga ini, aku mati-matian menyusun rencana masa depan.

...Lagipula kenapa harus karya ini? Aku paham kalau ini karya pertama yang kuminati, tapi kenapa harus jadi figuran ini? Karakter yang tidak jelas begini hampir tidak punya informasi apa-apa.

Aku mencoba mengingat sekuat tenaga, tapi dialognya pun cuma satu pola. Begitu Adric mengatakan sesuatu yang merendahkan, aku dan Seva akan tertawa di belakang sambil berkata, "Kukuku. Beraninya seorang Rude sepertimu." Itu adalah kalimat tetap para pengikutnya.

...Hm?

Rude?

Aku sempat lupa karena tidak ada kejadian seperti itu selama beberapa minggu ini, tapi benar juga. Di novel ini ada masalah antara "Alca" dan "Rude". Aku mengingat satu lagi pengaturan novelnya.

Sama seperti tubuh ini, Adric dan yang lainnya menyebut diri mereka yang berambut pirang sebagai "Alca". Pemikiran pihak Pangeran Pertama adalah bahwa mereka adalah ras mulia yang mewarisi darah Elf legendaris. Lalu, mereka menghina protagonis yang berambut hitam serta orang-orang berambut selain pirang dengan sebutan "Rude", menganggap mereka sebagai ras inferior.

Di akhir seri, sosok Elf yang asli muncul dan terungkaplah bahwa cerita itu hanya bualan belaka...

...

Eh? Seingatku...

...Sebenarnya ada satu bab yang fokus pada Radcliffe.

Dalam novel, Radcliffe bertugas sebagai penyihir di kelompok Adric. Secara posisi, dia adalah otak di antara mereka bertiga, karena pengikut yang satunya lagi—Sevant—adalah tipe otot murni.

Suatu hari, Radcliffe pergi ke perpustakaan akademi untuk menyelidiki sesuatu dan berkenalan dengan seorang gadis.

Mungkin sang penulis hanya ingin menggunakan figuran antagonis sebagai kontras bagi sang protagonis yang populer, punya harem, dan menempuh jalan pahlawan yang berkilau.

 Demi memberikan katarsis berupa "rasain lo" kepada pembaca dengan menggambarkan cinta yang menyedihkan dari karakter tak populer yang dibenci.

Gadis yang menjadi tujuannya adalah seorang Rude. Radcliffe, yang menyebut diri mereka Alca dan meremehkan Rude, tentu saja tidak bisa menerima perasaannya sendiri. Dia pun secara alami bersikap dingin pada gadis itu.

Di sisi lain, sang protagonis yang juga datang ke perpustakaan untuk riset, bersikap ramah pada gadis tersebut. Tanpa memahami perasaannya sendiri, Radcliffe hanya merasa kesal. Dengan rasa cemburu yang tumbuh tanpa ia sadari, ia mencari-cari kesalahan sang protagonis, lalu berakhir menjadi bahan tertawaan.

Meskipun itu hanya sebuah kejadian kecil...

Adegan itu tertanam dalam di hatiku.

Masa SMA. Tepat di saat aku pertama kali membaca karya ini, aku sedang jatuh cinta. Kepada seorang gadis teman sekelasku.

Aku ingin punya alasan untuk berinteraksi dengannya yang merupakan anggota komite perpustakaan. Karena itulah aku mulai membaca buku yang sebelumnya hampir tidak pernah kusentuh, dan rajin pergi ke perpustakaan.

Kesimpulannya, pada akhirnya aku tidak pernah bisa menyampaikan perasaanku.

Hubungan kami hanya sebatas percakapan formal saat meminjam atau mengembalikan buku.

Namun, bahkan di momen singkat seperti itu pun hatiku berdebar kencang dan aku merasa bahagia. Karena waktu itu cintaku yang kikuk mirip dengan figuran di novel ini, aku tidak bisa menertawakan bagian cerita tersebut.

...Mungkinkah. Itu tidak mungkin, kan? Apa itu alasannya?

Apakah sosok yang mereinkarnasikanku sengaja menyamakan aku dengan Radcliffe?

Di dalam ruangan yang remang-remang, aku menyeringai kecut.

"Sial... Itu cuma perasaanku saja."

Meski berpikir begitu, ada rasa gelisah yang aneh di lubuk hatiku.

"Ugh... hmm?"

Kupikir aku tidak akan bisa tidur, tapi ternyata aku terlelap tanpa sadar. Sepertinya sudah siang. Yah, wajar saja karena aku baru bisa tidur sangat larut.

Bahkan di saat seperti ini pun, perutku tetap terasa lapar. Di atas meja kecil di dalam kamar, sarapan sudah disiapkan. Aku turun dari tempat tidur dan menghampiri meja.

Tiba-tiba, pintu diketuk.

"Masuk."

Begitu aku menjawab, pintu segera terbuka. Seperti biasa, itu adalah Tilly.

Jika sudah begini, aku jadi merasa Tilly adalah pelayan pribadiku, tapi kenyataannya tidak begitu. Karena aku dibenci oleh para pelayan di rumah ini, Tilly yang paling muda dan berposisi paling rendah hanya dijadikan tumbal oleh para seniornya. Itulah realitas yang menyedihkan.

Semalam aku tidur tanpa sempat mengganti baju tidur. Tilly melihat penampilanku yang berantakan, menghela napas, lalu meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja.

"Apa Anda membaca buku sampai larut malam lagi?"

"Yah, begitulah kira-kira."

"Anda harus tidur teratur kalau mau tumbuh besar, lho."

"Aku tahu..."

Tilly sudah mulai bisa menanggapi jawabanku yang ketus dengan senyum tipis.

"Saya membawakan makan siang. Apakah sarapannya sudah boleh saya bawa?"

"Ah... iya. Oh, susunya biarkan saja di sini, aku ingin meminumnya."

"Susunya sudah dingin, saya ambilkan yang baru saja ya...?"

"Tidak perlu. Yang penting nutrisinya masih ada."

Sambil berkata begitu, aku meneguk habis susunya.

"Tolong siapkan pakaian yang akan Anda pakai, nanti saya bawakan saat mengambil nampan makan siang."

"Iya, baiklah. Aku akan ganti baju setelah makan."

"Kalau begitu, saya akan siapkan air mandi, ya."

"Hmm... tidak usah. Nanti saja, aku cukup cuci muka saja."

"...Baiklah."

Sambil aku makan, Tilly melepas seprai tempat tidur dan keluar dari ruangan. Aku melanjutkan makanku sambil kembali memikirkan situasiku sekarang.

Setelah tidur semalam, kepalaku terasa sedikit lebih segar.

Aku sudah membulatkan tekad. Aku harus bergerak demi kehidupan dunia lainku ke depannya. Meski informasiku sangat minim, aku mulai menyusun rencana untuk menghindari death ending itu.

Masalah utamanya tentu saja adalah Adric. Selama keluargaku adalah pengikut keluarga Faldulas, aku harus menghadapinya dengan benar. Tantangannya adalah bagaimana cara mengubah ideologi supremasi yang ia miliki.

Jika dipikir seperti itu, bukankah bagus aku bisa bertemu dengannya di masa kanak-kanak seperti ini? Sebelum pemikirannya menjadi kaku, aku mungkin bisa perlahan-lahan mengarahkan pemikirannya ke arah lain.

Sebaliknya, jika aku berhasil merehabilitasi Adric, maka berbagai death flag-ku akan terpatahkan dengan sendirinya.

Ini bukan reinkarnasi ke dalam gim yang punya banyak death flag. Aku kan cuma figuran. Mungkin itu satu-satunya keberuntunganku.

Secara perlahan dan diam-diam. Dengan pasti, aku akan memberikan pengaruh baik pada Adric.

Untuk saat ini, aku tidak peduli pada sang protagonis novel. Biarlah dia menjadi sangat kuat dengan kemampuan Cheat dari pengetahuan Bumi dan menjadi sukses. Jika dia menyelamatkan dunia, itu akan lebih membantuku.

Dalam artian, dia mungkin satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara tentang kenangan di Jepang, tapi tetap saja, sang protagonis bereinkarnasi dari Jepang versi novel ke dunia lain versi novel. Sementara aku, bereinkarnasi dari Jepang dunia nyata ke dunia lain dalam novel. Aku takut jika ada informasi tentang Jepang yang tidak nyambung nantinya. Karena itu, sangat penting bagiku agar identitas asliku sebagai mantan orang Jepang tidak ketahuan.

Aku belum pernah membaca karya dengan pola reinkarnasi sebagai pengikut penjahat, tapi jika aku mengerahkan seluruh pengetahuanku, aku pasti bisa mengatasinya.

Ngomong-ngomong... meski bukan sebuah masalah, sepertinya aku sudah memberikan pengaruh pada salah satu anggota harem sang protagonis. Aku bahkan sama sekali tidak menyadarinya sampai sekarang.

Wajar saja, deskripsi masa kecilnya tidak ada di dalam cerita. Aku tidak punya cara untuk tahu bahwa dia ada di sini.

Benar. Dia adalah Hattie.

◇◇◇

Di dalam novel, Hattie muncul sebagai seorang petualang yang sangat tangguh.

Hampir semua petualang di dunia ini adalah berandalan, namun begitu mencapai peringkat atas, status sosial mereka akan naik drastis. Karena itulah, kemampuan baca-tulis menjadi syarat mutlak dalam ujian kenaikan peringkat menuju Petualang Rank B.

Terdapat sebuah event di mana sang protagonis dengan lembut mengajari Hattie membaca, karena Hattie tidak bisa naik dari Rank C akibat buta aksara.

Setelah akhirnya bisa membaca dan berhasil naik peringkat, Hattie merasa sangat berterima kasih dan jadi sering mendekati sang protagonis.

◇◇◇

Kedekatanku dengan Hattie ini mungkin adalah sebuah keberuntungan. Aku pasti akan membutuhkan rekan saat bergerak menghindari death flag di masa depan. Rekan yang sangat hebat, tentu saja.

Aku merasa hubungan kami sebagai teman sudah dimulai (meski ada sedikit bumbu harapan di dalamnya). Agar dia tidak direbut oleh sang protagonis, aku harus memperkuat hubungan kami lebih jauh lagi.

Walaupun Hattie adalah karakter kuat yang penting, dia lebih dikategorikan sebagai kelas semi-reguler.

Kurasa pengaruhnya tidak akan terlalu besar bagi tugas sang protagonis sebagai pahlawan penyelamat dunia. Toh, percuma saja jika death flag-ku terpatahkan tapi dunia ini malah hancur.

Penyesuaian keseimbangan seperti inilah yang menjadi ajang pembuktian kemampuan bagi seorang Master Light Novel.

Terlepas dari itu semua, pertama-tama aku harus berkenalan dengan Adric. Berdasarkan apa yang kudengar semalam, sepertinya aku baru akan bertemu dengannya di pesta debut dunia sosial.

Hanya saja, bangsawan di dunia ini paling cepat baru menghadiri pesta saat berusia delapan tahun.

Karena dia adalah putra penguasa wilayah dengan gelar yang jauh lebih tinggi, sepertinya aku tidak bisa menemuinya dengan sembarangan.

Untuk merehabilitasi Adric, segalanya tidak akan dimulai jika kami bahkan tidak bisa saling mengenal.

Aku merasa cemas membayangkan harus menunggu dua tahun lagi sampai debut sosial itu tiba, tapi pasti ada hal lain yang harus kulakukan sekarang. Aku akan melangkah maju dengan mantap.

Ngomong-ngomong, ada alasan mengapa Adric sang antagonis tetap populer dan tidak dibenci oleh para penggemar novelnya. Meski jahat, sesekali Adric menunjukkan sisi baiknya. Pengaturan karakter seperti itulah yang memberiku sedikit harapan.

Lalu, trauma malang yang dialami Adric... Latar belakang itulah yang memancing simpati pembaca dan menjadi alasan popularitasnya. Saat ini, kejadian itu pasti belum terjadi. Sebenarnya aku ingin segera mendekati Adric agar bisa langsung bertindak, tapi aku yang sekarang tidak punya kekuatan cukup untuk menghindari insiden tersebut.

Karena itulah, aku sendiri harus meningkatkan kemampuanku. Meskipun Cheat yang luar biasa seperti protagonis novel itu mustahil, setidaknya aku harus cukup kuat untuk mencapai apa yang kuinginkan.

Kalau soal itu, sepertinya bisa diatur. Aku tahu deskripsi bagaimana para protagonis reinkarnasi melatih diri demi mendapatkan kemampuan Cheat. Jika aku melakukan hal yang sama, aku pun mungkin bisa mengincar posisi Cheat terkuat.

Oke, ini bisa dilakukan.

Masalahnya, aku sudah lama sekali membaca karya itu. Banyak detail yang mulai meragukan. Sambil menyantap makan siang hangat yang disiapkan Tilly, aku mulai menuliskan daftar event dan pengaturan yang bisa kuingat di buku catatan.

Protagonis asli novel ini, Eric, tentu saja menggunakan kemampuan Cheat-nya untuk menghadapi musuh dan menghancurkan mereka semua. Dasar dari kemampuan Cheat-nya adalah jumlah mana yang sangat besar dan di luar nalar.

Eric mulai berlatih sejak balita setelah bereinkarnasi. Dia menghabiskan mananya sampai pingsan, lalu setelah pulih, dia akan menguras mananya lagi. Ceritanya, dengan mengulang hal tersebut, dia perlahan-lahan meningkatkan kapasitas mananya.

Meningkatkan jumlah mana dengan cara mengurasnya sampai habis. Pengaturan itu sendiri sebenarnya bukan hal yang langka jika kau sudah membaca banyak light novel...

Tapi, tunggu. Bagaimana dengan Mana Depletion?

Katanya anak yang pernah mengalami Mana Depletion sering kali menjadi penyihir hebat di masa depan. Aku bisa membayangkan, seperti yang dilakukan protagonis novel, dengan menguras mana sampai habis, tubuh akan merasa butuh lebih banyak mana sehingga kapasitasnya pun meningkat perlahan.

Namun, banyak juga anak yang kehilangan nyawa karena Mana Depletion ini. Jika reinkarnasiku adalah pertukaran jiwa dengan pemilik tubuh yang asli, berarti bocah Radcliffe yang asli seharusnya kehilangan nyawa karena kejadian itu.

Apa aku benar-benar bisa melakukannya?

Aku sudah memeriksa buku-buku tentang Mana Depletion dan buku sihir di perpustakaan keluarga, tapi sejauh ini aku belum melihat deskripsi tentang efek peningkatan kapasitas mana tersebut.

...Tapi tetap saja. Kalau tidak kucoba, aku pasti akan menyesal nantinya. Aku mencoba berpikir positif agar bisa membulatkan tekad.

Mana Depletion terjadi karena anak yang belum mahir mengendalikan mana mengalami kebocoran mana yang tidak terkendali. Itulah sebabnya mana yang hilang sampai mencapai level yang mengancam nyawa.

Di sisi lain, karena protagonis novel mengeluarkan mana secara sadar, bukankah seharusnya dia tidak bisa mengeluarkan mana sampai ke level yang mengancam nyawa? Misalnya, manusia butuh oksigen. Meskipun kau menahan napas sendiri, kau akan kehilangan kesadaran sebelum mati. Hampir tidak mungkin kau mati begitu saja karena menahan napas. Begitu pula dengan ini, gejalanya mungkin tidak akan separah Mana Depletion. Berpikir begitu membuatku merasa lebih tenang.

Kenyataannya, katanya satu kali terkena Mana Depletion saja sudah cukup untuk meningkatkan bakat sebagai penyihir secara drastis. Sementara itu, sang protagonis melakukannya berkali-kali untuk menambah mananya. Kalau diingat-ingat, deskripsi di novel menunjukkan bahwa kapasitasnya hanya bertambah sedikit demi sedikit dalam sekali percobaan.

Sepertinya seberapa banyak mana yang dikeluarkan berhubungan erat dengan peningkatan kapasitas mana.

Ya. Pengeluaran mana selevel protagonis pasti tidak akan mengancam nyawa. Kurasa ini juga tidak akan melanggar larangan dokter soal penggunaan sihir.

Eh, apa ini sedikit melanggar ya?

Ah, sudahlah. Mari kita coba.

Aku memejamkan mata dan memusatkan kesadaran ke perut bagian bawah.

"Fuu..."

Sambil memastikan isi buku, aku memusatkan konsentrasi ke perut bawah. Di buku tertulis bahwa di perut bagian bawah terdapat semacam kantong tempat menyimpan mana. Begitu aku memusatkan kesadaran, memang ada sesuatu yang terasa hangat di sana.

Seharusnya, pengeluaran mana yang alami adalah dengan menyebarkan isi kantong tersebut secara tidak sadar. Di masa kanak-kanak saat saluran pengeluaran mana belum terbuka, bimbingan yang umum diberikan adalah membantu membukanya...

Namun kali ini, demi mengurangi mana di tubuh sampai batas maksimal, aku perlahan mengumpulkan mana yang tersebar dan mengalir di seluruh tubuh ke perut bagian bawah. Akhirnya, aku mulai mendorong panas yang terkumpul agar merembes keluar dari sana.

──Bisa.

Situasi yang aneh. Bagian perut bawah tempat mana berkumpul terasa sangat panas, tapi bagian tubuh lain yang mananya terkuras malah terasa menggigil kedinginan. Meski tidak bisa dibilang lancar, aku merasa sudah bisa mengendalikan mana di dalam tubuh sampai tingkat tertentu.

Kekuatannya tidak lepas kendali; sesuai kehendakku, mana itu dikeluarkan dari perut bawah dan menyebar ke luar. Sekarang aku berkonsentrasi pada pengeluaran mana. Karena Mana Depletion adalah gejala yang mengancam nyawa, kesalahan tidak boleh terjadi.

Bagus... Tepat saat mana dikeluarkan dengan lancar dari kantong mana dan aku mulai mengumpulkannya agar tidak ada mana yang tersisa di tubuh... tiba-tiba rasa mual yang luar biasa muncul.

Tubuhku menggigil kedinginan, dan perutku terasa bergejolak hebat. Seketika itu juga, aku langsung...

Mengeluarkan makan siangku.

"T-Tuan Muda!"

Tepat saat itu, Tilly masuk ke kamar untuk mengganti seprai. Melihatku yang sedang memeluk tempat sampah dengan kondisi berantakan, wajahnya langsung pucat pasi dan dia berlari menghampiriku.

"A-aku tidak apa-apa..."

"Jangan-jangan, ada racun di makanan Anda!"

"B-bukan begitu..."

"Tapi, sampai muntah tiba-tiba begini──"

"Bukan, aku cuma mencoba mengeluarkan mana..."

"...Hah? A-apa yang Anda lakukan! Bukankah Anda baru saja pingsan tempo hari?!"

"Yah, memang benar sih... Bisa tolong ambilkan Potion di sana?"

Tilly tampak ingin mengomel banyak hal, tapi meski sudah memuntahkan semuanya, kepalaku pening dan perutku masih mual. Aku meminta Tilly mengambilkan Mana Potion yang ada di meja samping tempat tidur, lalu meminumnya sekaligus.

──Ugh. Manis. Manis sekali.

Manisnya sampai di level yang membuatku sedikit mual. Karena aku pernah terkena Mana Depletion, orang tuaku segera menyiapkannya untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan darurat. Katanya, Mana Potion itu sangat mahal.

Tapi memang benar-benar obat ajaib dari dunia fantasi. Segera setelah meminumnya, kondisiku mulai membaik.

Di depan Tilly yang masih panik, aku dengan santainya menyadari penyebab salah satu pengaturan di novel. Begitu ya, di dalam novel sering digambarkan kalau Radcliffe sering meminum Mana Potion. Mungkin gara-gara kandungan gula inilah penampilannya jadi terlihat sedikit berisi.

Yah, itu pengaturan yang tidak penting sih.

Tapi tetap saja, apa sang protagonis benar-benar melakukan ini berkali-kali?

Di novel ada deskripsi bahwa dia mengeluarkan mana sampai pingsan, lalu setelah bangun dia melakukannya lagi... Begitu kan? Padahal, sebelum pingsan saja aku sudah berhenti karena rasa mual yang luar biasa. Walaupun tidak sampai muntah pun, ini benar-benar melelahkan.

"Hmm. Apa ada yang salah ya..."

"Artinya ini masih terlalu dini!"

"Maksudmu aku belum bisa mengendalikannya?"

"Benar! Jangankan cuma kekurangan mana biasa, kalau sampai kena Mana Depletion lagi bagaimana?!"

"Tidak, kurasa tidak akan sampai sejauh itu."

"Kita kan tidak tahu!"

"Aku tahu kok. Begitu aku mencoba seberapa banyak mana yang bisa kukeluarkan, aku sudah mual dan muntah sebelum semuanya habis."

Mendengar ucapanku, Tilly terdiam seolah tidak habis pikir.

"Hah? ...Kenapa Anda melakukan hal seperti itu?"

"Maksudku ingin menambah kapasitas mana."

"Saya benar-benar tidak paham."

Tilly menunjukkan wajah bingung menanggapi perkataanku.

Yah, wajar saja. Aku sedikit bimbang, tapi memutuskan untuk menjelaskan secara singkat. Mungkin lebih baik jika dia tahu sedikit tentang apa yang kulakukan, untuk berjaga-jaga.

Masih ada beberapa botol Mana Potion di kamar ini. Kalau cuma pingsan sih tidak masalah, tapi kalau sampai lepas kendali seperti Mana Depletion... Lebih baik Tilly diberi tahu.

"Jika mana di tubuh dikuras sampai batas minimal, tubuh akan menganggap bahwa mana di tubuh ini perlu ditambah lagi, sehingga organ mana akan lebih berkembang... rasanya begitu."

"Hanya berdasarkan 'rasanya' saja..."

"Lihat saja, anak yang pernah terkena Mana Depletion kan bakat sihirnya meningkat?"

"T-tapi, hal berbahaya seperti itu..."

"Aku bisa mengendalikannya kok. Kalau bisa dikendalikan, sebenarnya tidak seberbahaya itu. Hanya saja, tadi aku tidak tahan dengan mualnya."

"Tapi... meskipun begitu..."

Entah dia paham atau tidak dengan penjelasanku, Tilly menatapku dengan wajah cemas.

"Hmm. Kamu tidak boleh bilang pada orang lain, ya. Ini rahasia kita berdua saja."

"Tapi──"

"Jangan bilang pada siapa pun."

"...Baiklah."

Maaf ya Tilly, tapi aku harus mengatakannya dengan tegas.

Kali ini gagal, tapi aku ingin mencoba lagi. Bukannya aku ingin kemampuan Cheat yang luar biasa seperti protagonis. Aku hanya ingin melakukan apa yang bisa kulakukan jika ada cara untuk bertahan hidup, sekecil apa pun itu.

Pertama-tama, sepertinya mustahil jika aku tidak bisa menahan rasa mual dan pening ini.

Aku meyakinkan Tilly bahwa aku tidak akan melakukannya lagi hari ini. Setelah memastikan Tilly selesai membereskan tempat sampah dan keluar kamar, aku membawa satu botol Mana Potion menuju toilet. Punya toilet sendiri di dalam kamar mungkin adalah privilese tinggal di rumah mewah, dan ini sangat membantu.

Aku mengurung diri di toilet, lalu mulai mengeluarkan mana lagi.

Hoeeek...

Ternyata, protagonis novel itu memang karakter fiksi.

Padahal di ceritanya sama sekali tidak ada deskripsi tentang penderitaan seperti ini.

Jangan panggil aku payah. Kurasa aku sudah berusaha cukup keras.

Tapi, muntah terus-menerus begini benar-benar melelahkan. Secara mental, aku tidak sanggup membayangkan harus melewati penderitaan ini berkali-kali sampai pingsan.

Dan stok Mana Potion yang sangat manis itu pun habis. Sebenarnya ini adalah barang mewah yang harganya hampir seratus ribu per botol dan jumlahnya tidak banyak. Karena itu aku menggunakannya sedikit demi sedikit, hanya satu tegukan untuk meredakan mual akut.

Begitu Potion itu habis, aku hanya bisa terbaring tak berdaya di tempat tidur selama satu jam dalam kondisi mual setelah muntah.

...Kesimpulannya, aku memutuskan untuk menyerah. Iya.

Meskipun begitu, di buku ada catatan bahwa penyihir yang terus menggunakan sihir tanpa menguras mananya pun kapasitas mananya akan bertambah secara alami. Mungkin percobaan kali ini, meski tidak selevel latihan protagonis aslinya, tetap memberikan sedikit pengaruh. Mari kita berpikir positif saja.

Kalau sudah begitu, aku harus merelakan mimpi mendapatkan kapasitas mana yang Cheat.

Kemampuan Cheat protagonis novel bukan hanya kapasitas mana. Dia juga unggul dalam manipulasi mana, ditambah lagi kemampuan pedangnya yang setingkat Sword Saint. Dia benar-benar gumpalan oportunisme.

Hal berikutnya yang akan kucoba adalah manipulasi mana. Namun berbeda dengan latihan meningkatkan kapasitas mana, di dalam novel tidak banyak deskripsi tentang latihannya. Seingatku hanya seputar memadatkan atau menggerakkan mana di dalam tubuh.

Di sini aku akan menggabungkan analisisku tentang manipulasi mana.

Setelah membaca banyak light novel, aku sering menemukan pengaturan bahwa mana berada di perut bagian bawah. Menurut pemikiranku, itu mungkin didasarkan pada konsep Dantian dalam ilmu pernapasan Tiongkok. Jika begitu, manipulasi mana pasti bisa dilakukan.

Kenapa? Hehehe.

Waktu kecil dulu, aku sering diajak nenek ke balai warga sekitar untuk belajar Tai Chi. Aku melakukannya selama bertahun-tahun, bahkan pernah menjadi perwakilan prefektur di kejuaraan nasional untuk kategori Junior Tai Chi.

Bukannya aku akan mempraktikkan Tai Chi sepenuhnya di sini. Yang terpikir olehku adalah salah satu metode latihan Tai Chi yang disebut Zhan Zhuang. Ini juga disebut meditasi berdiri, di mana kita merendahkan pinggang sedikit, mengatur napas, dan masuk ke kondisi meditasi seperti Zen sambil tetap berdiri.

Dengan memejamkan mata tipis-tipis dan masuk ke kondisi meditasi, akan lebih mudah untuk memusatkan kesadaran pada mana yang terkumpul di tubuh.

Aku perlahan-lahan mengendalikan manaku dengan cara yang sama seperti mengalirkan energi dalam tubuh. Tidak jauh berbeda dengan mengumpulkan mana saat eksperimen pengeluaran mana, tapi kali ini aku menggerakkannya dengan lebih tenang sambil merasakan alirannya secara lebih nyata.

...Untuk percobaan pertama, bukankah ini cukup bagus?

Karena aku tidak mengeluarkan mana ke luar tubuh, kondisiku tidak akan memburuk. Malah, keringat mulai bercucuran seperti habis melakukan olahraga fisik.

...

Mungkin aku sudah masuk ke semacam kondisi meditasi. Hormon kebahagiaan pasti sedang meluap-luap.

Tanpa sadar, aku sudah melakukannya dalam waktu yang cukup lama. Saat aku membuka mata karena suara ketukan pintu, sinar matahari senja sudah masuk melalui jendela.

Sejak datang ke dunia lain, ini pertama kalinya aku merasa senang saat merasakan sensasi memanipulasi mana. Dibandingkan latihan pengeluaran mana kemarin, ini adalah surga. Ya. Yang kemarin itu benar-benar mengerikan...

...Sudahlah. Mengingatnya saja sudah membuatku ingin muntah lagi.

"Tuan Muda, makan malam sudah siap."

"Apa hari ini Papa ada di rumah?"

"Tidak, hanya ada Nyonya saja."

"Begitu ya, terima kasih. Aku akan segera ke sana."

Mana, sungguh misterius dan menarik. Di Bumi, guru Tai Chi sering bicara soal membayangkan aliran "Energi", tapi kenyatannya aku tidak pernah bisa merasakan pernapasan energi itu sendiri. Sangat luar biasa rasanya saat sesuatu yang dulu hanya kulakukan berdasarkan imajinasi, sekarang bisa kulakukan dengan mudah di dunia ini.

──Semoga guru sihirnya segera datang ya...

Tentu saja aku merasa begitu.

Soal sihir, memang ada larangan dari dokter, tapi aku bertaruh pasti akan diizinkan jika di bawah pengawasan guru sihir.

Sayangnya, ibuku sama sekali tidak tertarik pada hal-hal semacam itu. Padahal kalau ada ayah, aku bisa membicarakan hal ini. Sepertinya hari ini pun beliau tidak pulang karena pekerjaan.

Sejak saat itu, latihan manipulasi mana menggunakan Tai Chi menjadi rutinitas harian bagiku. Tapi, aku tidak melakukannya seharian penuh. Ada hal lain yang harus dilakukan. Saat ini aku sedang mengumpulkan informasi tentang dunia ini di lautan pengetahuan.

Seperti biasa, saat aku sedang berbaring malas di tempat tidur sambil membaca buku, Tilly berkata dengan nada bingung.

"Tuan Muda... Bagaimana kalau Anda mulai mengembalikan beberapa buku?"

"Hmm. Daripada itu, apa ada lemari yang tidak terpakai?"

"Anu... maksud Anda?"

"Aku ingin menaruh buku-buku yang ingin kubaca berulang kali di dalam kamar."

"Kalau begitu, Tuan Besar pasti akan marah."

"Begitukah? Padahal aku tidak pernah melihat Papa atau Mama membaca buku. Bukankah lebih baik jika buku-buku ini dibaca? Kenapa Papa membeli buku sebanyak ini ya?"

"Anu... saya juga kurang tahu."

Awalnya aku pergi ke perpustakaan untuk membaca, dan buku yang selesai kubaca selalu kukembalikan ke sana. Namun akhir-akhir ini aku sering membawa buku ke kamar tanpa mengembalikannya, hingga menumpuk di lantai. Banyak hal yang ingin kubaca kembali.

Buku sepertinya adalah barang yang sangat mahal di dunia ini, sehingga Tilly pun bingung bagaimana harus menanganinya.

Aku ingin ada rak buku di kamar, tapi saat aku bertanya pada kepala pelayan atau yang lainnya, mereka hanya menjawab, "Kami tidak berwenang..." dan masalahnya tidak selesai-selesai. Malah, mereka sepertinya curiga apakah aku benar-benar membaca buku-buku itu. Sebagai orang yang berhati lemah, aku segera menyerah untuk meminta bantuan mereka.

Kalau aku minta tolong pada Tilly pun, dia pasti hanya akan dimarahi oleh seniornya.

Oleh karena itu, aku memutuskan berjalan-jalan di dalam kediaman untuk mencari lemari yang sekiranya cocok. Namun, sulit menemukan lemari yang pas untuk menaruh buku. Wajar saja, hampir semua lemari sudah digunakan untuk hal lain, tidak ada yang menganggur. Jika aku bertanya apakah barang-barang di dalamnya boleh dikeluarkan agar lemarinya bisa kupakai, para pelayan hanya akan tersenyum kaku dengan wajah yang benar-benar merasa terganggu.

Rasanya lebih melegakan jika mereka langsung bilang "tidak boleh".

Dengan perasaan sedikit pedih, aku memutuskan untuk mencari ke tempat lain.

Di dalam lahan kediaman ini juga terdapat gudang perusahaan.

Sekarang skala perusahaan sudah menjadi terlalu besar, sepertinya mereka menggunakan gudang yang lebih besar di lokasi lain sebagai gudang utama. Namun, aku tetap menuju ke gudang yang ada di taman untuk melihat apakah ada sesuatu di sana.

Saat aku berjalan menyusuri taman, seorang pria dengan pedang di pinggangnya berdiri di depan gudang. Karena terkadang ada barang dagangan di dalam gudang, mereka menyewa penjaga keamanan dengan benar.

Begitu aku mendekat, pria itu menyapaku dengan tatapan seperti sedang melihat sesuatu yang aneh.

"Lho, kenapa Tuan Muda ada di tempat seperti ini?"

"Aku sedang mencari lemari untuk di kamar, siapa tahu ada yang tersisa di gudang."

"...Di sini tempat menaruh barang dagangan, tahu? Ini bukan tempat bermain."

"Aku juga datang ke sini bukan untuk bermain. Bisa minggir sebentar?"

"Apa Anda sudah mendapat izin dari Tuan Besar?"

"……Papa pasti akan mengizinkanku."

"Hmm. Tapi tetap saja... aku dilarang membiarkan siapa pun lewat kecuali yang membawa surat izin."

"Bahkan aku, anak dari pemilik rumah ini?"

"Aku tidak pernah mendengar kalau putra majikan boleh masuk begitu saja."

"Muu……"

Yah, begitulah. Pria yang menjaga gudang itu benar-benar keras kepala. Usianya mungkin sekitar lima puluhan. Meski permintaanku ditolak, aku malah merasa suka dengan cara dia menanggapi.

Pelayan yang lain biasanya hanya akan memasang wajah bingung dan bersikap tidak enak, yang malah membuat kekesalanku menumpuk. Mendapat penolakan yang sejelas ini justru terasa menyegarkan.

Lagipula, apa yang kulakukan ini memang mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan perusahaan.

Aku memutuskan untuk menyerah dengan patuh dan hendak pergi, tapi saat itulah sesuatu yang menarik perhatianku terlihat di samping gudang.

"Hei, kotak itu apa?"

"Itu kotak bekas wadah barang dagangan."

"Boleh aku memintanya?"

"Entahlah. Yah, setidaknya aku tidak dilarang memberikan barang-barang yang ditumpuk di luar gudang."

"Benarkah? Kalau begitu, aku minta sedikit ya."

"Ouh. Hati-hati."

Setelah menemukan kotak kayu yang panjang dan ramping, aku memutuskan untuk mengambil beberapa. Tapi karena tubuhku masih berusia enam tahun, membawa dua kotak kosong saja sudah membuatku limbung.

Paman penjaga itu tertawa melihat tingkahku.

"Paman, paman, siapa namamu?"

"Aku? Scott."

"Scott? Cuma Scott?"

Di dunia ini, nama belakang berfungsi sebagai nama keluarga. Bangsawan pasti memilikinya, tapi kudengar banyak rakyat jelata yang tidak menggunakan nama keluarga. Aku menanyakannya karena merasa sedikit penasaran.

Tak disangka, jawaban yang keluar di luar dugaan.

"……Scott Morgan."

"Morgan……?"

"Ada apa?"

"Tidak. Sampai jumpa lagi, Scott."

Aku melambaikan tangan pada Scott dan meninggalkan tempat itu. Sepertinya aku baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kotak kayu.

Upayaku untuk meningkatkan jumlah mana memang gagal, tapi latihan manipulasi mana berjalan sangat lancar.

Hanya saja, menurut buku-buku yang kubaca, manipulasi mana ini bukanlah sesuatu yang langka. Malah, bisa dibilang ini adalah keahlian wajib bagi seorang petualang.

Sebagai informasi, orang yang bisa menggunakan sihir di dunia ini tidak sampai sepuluh persen dari total populasi. Wajar saja jika jumlah petualang yang tidak bisa sihir jauh lebih banyak.

Karena itulah, para petualang yang tidak bisa sihir mempelajari manipulasi mana. Dengan mengumpulkan mana di titik tertentu, mereka bisa memperkuat kekuatan fisik bagian tubuh tersebut.

Dengan begitu, mereka bisa bertarung melawan monster yang memiliki kekuatan melebihi manusia. Manipulasi mana yang kulakukan sekarang sangat mirip dengan itu, dan aku menyimpulkan bahwa mana memang terasa seperti "Energi" dalam ilmu pernapasan.

Latihan manipulasi mana yang kumulai dengan Zhan Zhuang, setelah satu minggu pun sudah bisa kulakukan sambil bergerak. Aku mencoba gerakan Bafa Wubu, Baduanjin, hingga Junior Tai Chi, tapi sepertinya 24-Style Tai Chi adalah yang paling cocok untukku.

24-Style Tai Chi adalah yang paling umum di Jepang maupun di dunia, dan merupakan jurus yang paling sering kupelajari dulu. Mungkin karena itu juga tubuhku bisa bergerak secara otomatis tanpa perlu berpikir.

Kenyataannya, Tai Chi yang kulakukan ini lebih mirip senam daripada seni bela diri. Wajar saja, mengingat pemerintah Tiongkok menyusun 24-Style Tai Chi berdasarkan seni bela diri demi kesehatan rakyatnya. Ini semacam senam pagi kalau di Jepang.

Namun, aku merasa gerakan yang sangat lambat ini sangat ideal untuk mempelajari manipulasi mana. Mengalirkan mana ke seluruh tubuh sambil mengatur napas secara halus dan perlahan.

Dan ini terasa sangat nyaman.

Terlebih lagi, seiring alirannya yang semakin lancar dari hari ke hari, aku mulai merasa sedikit ketagihan. Aku baru sadar kalau aku mungkin sebenarnya suka Tai Chi.

Tilly yang baru pertama kali melihat Tai Chi menatapku dengan wajah heran.

"Apa Anda sedang... menari?"

"Ini olahraga... mungkin?"

"Olahraga……?"

Yah, dia pasti tidak mengerti.

Hal-hal seperti Yoga mungkin juga tidak ada di dunia ini. Lagi pula, sepertinya tidak ada kebiasaan berolahraga seperti jogging di sini.

"Ngomong-ngomong, apa hari ini Papa ada di rumah?"

"Karena makanan sedang disiapkan, kurasa beliau ada."

Akhir-akhir ini aku jarang melihat wajah Ayah, mungkin karena beliau sedang sibuk. Aku ingin membicarakan soal Scott, tapi biasanya di saat seperti ini beliau malah tidak ada. Tidak ada yang bisa kulakukan.

Saat makan malam, Ayah yang sudah lama tidak menampakkan diri seolah masih dalam mode kerja meskipun sedang berkumpul bersama keluarga. Beliau membolak-balik halaman dokumen dengan satu tangan sambil memikirkan sesuatu dengan wajah serius.

Ibu tidak memedulikan itu dan terus mengoceh tentang dunia sosial, yang ditanggapi Ayah seadanya. Aku sangsi apakah beliau benar-benar mendengarkan.

Tepat saat Ibu berhenti bicara sejenak, aku memberanikan diri.

"Anu, Papa."

"……Ada apa?"

Nggu. Tatapannya tetap tidak seperti sedang melihat anak sendiri. Tapi, aku tidak boleh mundur.

"Ada orang yang menjaga gudang, kan?"

"……Lalu kenapa dengan dia?"

"Entah kenapa, aku merasa paman bernama Scott itu... maukah Papa memintanya untuk mengajariku pedang?"

Untuk pertama kalinya, Ayah mengalihkan pandangan dari dokumen kerjanya dan menatapku.

"Scott? Siapa itu?"

"Eh? Itu lho, paman yang agak tua yang menjaga gudang……"

"Ah, penjaga gudang memang biasanya pensiunan petualang, makanya kebanyakan sudah tua. Masih ada guru lain yang jauh lebih baik daripada orang seperti itu."




"Anu…… Tapi, aku lebih suka Tuan Scott itu."

"Hmm…… Baiklah, akan aku pertimbangkan. Toh, fokus utamamu nanti adalah sihir. Mungkin tidak masalah kalau pengajar pedangmu hanya seorang petualang……"

"I-iya……"

Aku sudah menyiapkan mental untuk didebat, tapi ternyata pembicaraan mengalir jauh lebih mulus dari dugaan. Seperti kata Ayah, karena aku dianggap berada di jalur penyihir, dia merasa ilmu pedangku tidaklah begitu krusial.

Yah, aku merasa agak tidak enak kalau seandainya Scott sedang menikmati pekerjaannya sebagai penjaga. Tapi jika ingatanku benar, ini adalah pilihan yang sangat tepat.

Beberapa hari kemudian, seperti biasa aku sedang memusatkan ki di dalam kamar……. Bukan, aku sedang melatih pengendalian mana, lalu terdengar suara ketukan pintu.

"Silakan masuk."

Begitu aku menjawab, Tilly melangkah masuk seperti biasa. Dia tampak ragu saat melihatku berlatih Tai Chi, lalu menyapa dengan rona sungkan.

"Tuan Muda, apakah Anda punya waktu luang?"

"Ada apa?"

Saat itu, aku sedang melakukan gerakan 套路 (Taolu) yang disebut Yun Shou. Dalam rangkaian 24 jurus, ini sudah mencapai pertengahan, jadi aku memutuskan untuk menyelesaikannya sambil menjawab.

"Hari ini, saya membawa pengajar pedang untuk Anda……"

"Hm?"

Tentu saja aku tidak bisa terus lanjut setelah mendengar dia membawa pengajar. Aku menyambungkan gerakan Dan Bian dan Gao Tan Ma menuju Shou Shi, lalu berhenti.

Karena aku mengalirkan mana, aku tidak bisa berhenti sembarangan, tapi ini juga sudah menjadi kebiasaan sejak kehidupan sebelumnya.

Saat aku berbalik sambil menenangkan napas, Scott yang waktu itu sedang berdiri di sana dengan mata terbelalak menatapku.

"Barusan itu…… semacam tarian perang?"

"Bukan, itu cuma senam biasa."

"……Senam? Yang barusan itu? ……Pengendalian mana macam apa itu……"

"Eh? Mana? Kamu bisa melihat hal semacam itu?"

Bicara apa dia? Jangan-jangan Scott bisa melihat aliran mana?

"……Harusnya aku yang bertanya, apa kau sendiri tidak sadar? Setelah melakukan hal luar biasa seperti itu."

"Luar biasa bagaimana…… Anu, aku cuma berlatih agar bisa mengendalikan mana dengan lebih baik……"

"……Latihan pengendalian mana, katamu?"

Scott terdiam lama sambil menatapku, sebelum akhirnya mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gusar.

"Aaaah, sial! Padahal tadi aku baru saja bingung bagaimana cara menolaknya. Baiklah, aku terima. Ini menarik."

"Menarik?"

"Ya, kau ingin belajar pedang, kan?"

"Benar. Aku pikir setidaknya aku harus bisa melindungi diri sendiri."

"Jangan bercanda. Pedangku bukan pedang lembut seperti itu."

"……Maksudnya?"

"Aku ini petualang. Tentu saja, pedangku adalah pedang untuk membunuh monster."

Scott menyeringai lebar dengan raut yang ganas.

Sejak pertama kali mendengar nama Scott Morgan, aku sempat berpikir, "mungkinkah?". Sebenarnya, aku tidak punya ingatan tentang karakter bernama Scott. Singkatnya, Scott mungkin tidak muncul di dalam novel aslinya.

Lalu, apa maksudnya?

Dalam novel ini, Raja menyusupkan agen ke berbagai tempat untuk mengelola informasi di dalam kerajaan. Dan agen-agen itu semua menggunakan nama belakang "Morgan" saat beraksi.

Sebenarnya itu pengaturan yang buruk karena kesamaan nama bisa membuat identitas mereka terbongkar, tapi begitulah aturan di novel ini. Hal itu digunakan sebagai sesuatu yang lumrah.

Para "Morgan" ini berbaur di berbagai wilayah sebagai petualang atau rakyat jelata. Aku menduga Scott adalah salah satu dari mereka.

Dalam ceritanya, para Morgan biasanya hidup sepenuhnya sebagai orang biasa dan banyak yang hidup dengan sangat bebas. Selain itu, karena mereka semua adalah pejuang tangguh, aku pikir dia adalah sosok yang tepat untuk mengajariku pedang.

"Anu, soal itu, aku punya satu permintaan."

"Permintaan?"

"Iya. Aku ingin satu orang lagi ikut berlatih bersama……"

"Satu orang lagi? Aku tidak dengar soal itu."

"Iya, soalnya aku baru memintanya sekarang."

Sambil berkata begitu, aku mengambil dua pedang kayu di sudut ruangan dan memberi isyarat pada Scott untuk keluar. Scott menatapku curiga, tapi aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Sambil melangkah keluar, aku memberikan kedipan kecil pada Tilly lalu menuju ke halaman.

Seperti yang pernah kubilang, adik Tilly yang bernama Hattie, muncul di novel sebagai petualang tangguh yang berstatus karakter semi-reguler. Padahal dia hidup bahagia di sini, tapi kenapa dia berakhir menjadi petualang? Memikirkan hal itu membuatku sampai pada satu kesimpulan.

Mungkin Tilly melakukan kesalahan yang menyinggungku atau orang tuaku, sehingga keluarganya diusir, dan dalam kesulitan ekonomi itu, Hattie terpaksa menjadi petualang. Kira-kira begitu.

Nah, saat ini mustahil bagiku untuk mengusir Tilly. Jika dibiarkan, Hattie mungkin hanya akan menetap sebagai pelayan di rumah ini, atau meneruskan jejak ayahnya mengurus kuda.

Itu memang kebahagiaan tersendiri, tapi…… rasanya tidak mungkin membiarkan bakat Hattie yang sekuat itu terkubur begitu saja. Aku tidak berniat membangun harem seperti protagonis asli, tapi memiliki karakter kuat di sisiku pasti akan menjadi keuntungan besar.

Lagi pula, karena aku berniat fokus pada sihir, latihan pedang bukanlah prioritas utamaku. Aku merasa tugaskulah untuk membuat Hattie menjadi kuat dengan dalih menemaniku berlatih.

Tilly mungkin tidak akan menyukai hal ini. Tapi aku akan tetap melakukannya.

Bayangkan saja, Hattie si "Dragon Eater" bisa menjadi bidak catorku?

Hattie sendiri mengerjapkan matanya bingung mendengar usulanku.

"Eh? Latihan pedang? Kenapa?"

"Kenapa, ya…… karena dunia ini berbahaya. Lebih baik punya kemampuan untuk melindungi diri, kan?"

"Hmm……"

"Lagipula, kamu jadi bisa melindungi Ayah dan Kakakmu, lho."

"Melindungi?"

"Maksudku, mungkin saja ada orang jahat. Kalau kamu kuat, itu sangat menguntungkan, kan?"

"Hmm. Tapi Lado selalu cerewet menyuruhku belajar baca tulis."

Ouh. Sebenarnya aku sudah mulai mengajarinya huruf. Kalau dia bisa menulis, kejadian dengan Eric yang ada di novel asli tidak akan terjadi. Ini asuransi yang penting.

"Kita lakukan bersamaan saja. Kamu sudah bisa membaca cukup banyak, kan?"

"Mumu……"

Kalau anak laki-laki, biasanya akan senang jika diajak belajar pedang, tapi dia ini anak perempuan. Aku agak panik melihat Hattie yang ragu. Bagaimana ya…… ah, kalau begitu……

"Li-lihat! Kalau ada pencuri kuda datang, kamu bisa mengusirnya!"

"Eh? Pencuri kuda?"

"Iya, benar. Kuda itu barang mewah, pasti ada saja pencuri yang mengincarnya."

"Itu tidak boleh! Aku mau!"

"O-oh……"

Bagus. Pencuri kuda, ya…… Instingku kadang menakutkan juga.

Di sampingku, Scott memasang wajah sebal, tapi aku merasa ingin bilang, "Coba saja ajari dia, kau bakal kaget".

……Begitulah pikiranku awalnya.

"Bukan! Sudah kubilang tangan kanan di depan, tangan kiri di belakang!"

"Aku mengerti!"

"Tidak, kau tidak mengerti! Itu terbalik!"

"Habisnya, ini kan kanan!"

"……Oi."

Lho……?

Rencananya, begitu dia mulai mencoba, Scott akan langsung menyadari "Anak ini berbakat!". Tapi ternyata ada masalah yang lebih mendasar.

Scott yang mulai emosi menyuruhku ikut mengajarinya.

"Eh, aku kan juga murid di sini……"

"Setidaknya kau tahu cara memegang pedang, kan?"

"Kalau cuma cara mengayun sih……"

"Yah, tidak buruk. Begitu saja cukup."

"Eeeh."

"Pedang itu ditopang oleh jari kelingking dan jari manis. Kau bisa melakukannya dengan sempurna. Orang awam biasanya tidak tahu hal itu."

"Anu, soalnya ada tertulis di buku……"

"Astaga…… semuanya dari buku, ya? Yah, buku dan praktik itu berbeda…… Tapi itu urusan nanti setelah Hattie menguasai dasar-dasar pedang."

"I-iya……"

Meminta Scott mengajari Hattie pedang memang egois dariku. Apalagi masalahnya bukan soal teknik pedang, tapi lebih ke pendidikan dasar balita. Karena tidak bisa lepas tangan, aku pun menerimanya.

Akhirnya, butuh waktu dua hari sampai Hattie bisa memegang dan mengayunkan pedang dengan benar.

Begitu latihan pedang dimulai secara serius, kemampuan fisik Hattie yang tidak wajar mulai terlihat jelas. Ditambah lagi sifatnya yang tidak mau kalah, dia benar-benar kesal setiap kali menghadapi Scott yang merupakan gurunya.

"Bo-bocah ini……!"

Meski sempat berputar-putar, akhirnya Scott menyadari potensi Hattie.

Tentu saja. Dia adalah bibit petualang peringkat S di masa depan. Aku yang seperti ini mana mungkin bisa menandinginya.

Hanya satu hal yang harus kuwaspadai: jangan sampai Scott melakukan hal aneh. Seperti mengajaknya bergabung ke kelompok "Morgan", itu tidak boleh terjadi.

Aku harus ekstra waspada soal itu.

Hattie sendiri tampaknya mulai menikmati latihan pedang dan semakin tenggelam di dalamnya. Aku sadar bahwa mampu menikmati sesuatu juga merupakan sebuah bakat.

"Sepertinya kamu senang, ya?"

"Jauh lebih seru daripada menghafal huruf!"

"Be-begitu ya. Tapi belajar huruf juga tetap harus dilakukan."

"Buuu."

"Jangan bilang 'buuu'."

Saat istirahat, kami menyeruput teh yang dibuatkan Tilly di bawah bayangan pohon depan kandang kuda. Sejak Tilly membawakan alas duduk, tempat ini menjadi lokasi istirahat favorit kami.

Aku dan Hattie menjulurkan kaki di atas alas, sementara Scott menggunakan kotak kayu yang biasanya kupakai untuk rak buku sebagai kursi.

Setelah berkeringat, menghirup udara alami yang segar di momen seperti ini terasa luar biasa.

Saat aku menengadah, dedaunan pohon menyaring sinar matahari dengan sempurna. Sepertinya ini pohon birch putih. Mengingat pohon ini biasanya tumbuh di dataran tinggi, mungkin tempat ini memang berada di ketinggian. Karena itulah meski siang hari, suhunya tidak terlalu panas, dan angin sepoi-sepoi di bawah pohon sangat efektif untuk melepas penat.

Awalnya Tilly merasa keberatan melihat adiknya berlatih pedang, tapi setelah melihat Hattie begitu gembira, dia langsung diam. Lagipula, melihat Hattie yang mengayunkan pedang sambil berteriak, "Akan kuhancurkan pencuri kuda!", rasanya sulit membayangkan dia akan menempuh jalan yang berbahaya.

"Melihat Hattie yang berbakat jadi pendekar pedang, jangan-jangan Kak Tilly juga punya bakat?"

"……Eh?"

Aku tiba-tiba terpikir dan menyapa Tilly. Tilly yang baru saja membereskan peralatan makan untuk kembali ke kediaman menoleh dengan kaget.

"Kalau mau coba, bagaimana kalau ikut latihan bersama?"

"Ti-tidak, saya……"

"Yah, benar juga sih. Kalau tertarik, bilang saja kapan pun."

"Ba-baik……"

Yah, dia memang bukan tipe orang yang suka bertarung.

Ngomong-ngomong, dalam novel tidak diceritakan bagaimana Hattie yang mengurus kuda bisa menjadi petualang, tapi mungkin saja ada situasi di mana Tilly mengalami masalah dan mereka diusir dari rumah.

Sepertinya aku harus sedikit memperhatikan hal itu juga.

Sejak Scott mengajari pedang, gaya hidupku jadi sedikit lebih sehat. Sebelumnya waktuku hanya habis untuk membaca di atas tempat tidur atau di kandang kuda.

Tapi, jujur aku tidak tahu apakah cara mengajar Scott itu bagus atau tidak.

Satu-satunya bela diri yang kukenal adalah Tai Chi, dan yang aku tahu latihan seperti itu hanya mengulang-ulang jurus. Memang ada latihan Push Hands yang ditujukan untuk pertarungan dua orang, tapi dasarnya tetaplah pengulangan rangkaian jurus seperti 24 jurus utama.

Sebaliknya, Scott terus memaksakan latihan dengan format tanding.

Meski pedang kayu, kalau kena tetap sakit. Ini bukan seperti Kendo yang memakai perlengkapan pelindung dan pedang bambu. Kami hanya memakai helm kulit dan pelindung sederhana lalu saling pukul.

Aku langsung mengundurkan diri karena tidak sanggup melakukan hal menakutkan seperti itu. Akhirnya, aku hanya melakukan ayunan pedang sendirian di samping Scott dan Hattie yang saling mengadu pedang dengan suara keras.

"Oi oi, apa kau mau bilang caraku ini tidak cocok untukmu?"

"Aku cuma takut. Lagi pula, Scott kan cuma dibayar untuk satu orang?"

"Hm? Yah, memang benar."

"Makanya, fokuslah melatih Hattie."

"Tidak tidak, itu tidak benar."

"Tidak apa-apa, Ayah juga bilang aku akan jadi penyihir."

"Tetap saja……"

Sebenarnya aku tetap mendapatkan saran. Tentang tipu muslihat halus saat bertarung atau cara penggunaan tubuh. Mendengar metode yang berbeda dari Tai Chi juga memberiku banyak pelajaran. Bahkan hanya dengan melihat latihan Scott dan Hattie saja sudah sangat mendidik.

Awalnya aku hanya melakukan ayunan dasar di samping mereka, tapi lama-lama aku mulai mempraktikkan Jian (pedang) Tai Chi 32 jurus. Ini sangat bagus karena aku bisa melatih pengendalian mana sambil menggunakan pedang. Awalnya Scott menatap aneh gerakan pedang Tai Chi-ku, tapi lama-lama dia menyerah dan fokus pada Hattie.

Begitulah, beberapa bulan berlalu dalam sekejap.

Latihan menggunakan dasar Tai Chi ini tampaknya sangat cocok untukku. Aku tidak merasa bosan, malah semakin asyik melatih pengendalian mana. Scott juga mengakui teknik pengendalian manaku yang tinggi, bahkan memintaku mengajari Hattie juga.

Aku tidak keberatan karena membuat Hattie kuat adalah hal penting bagiku. Tapi……

"Gerakan lambat begini membosankan!"

Begitulah tanggapannya.

Yah, wajar saja kalau anak-anak merasa begitu, dan aku tidak berniat memaksa, jadi aku hanya menyuruhnya melakukan sedikit Zhan Zhuang (meditasi berdiri) sebagai pemanasan sebelum latihan.

Selain latihan, tidak ada perkembangan berarti. Tidak ada kesempatan bertemu Adric, dan guru sihir pun tidak kunjung datang. Aku mulai merasa jenuh karena tidak boleh keluar dari lingkungan kediaman.

"Yah, Ayah. Aku juga ingin mencoba pergi ke kota."

"Masih terlalu dini."

"Maksudnya, karena berbahaya?"

"Begitulah."

Uuuh…… Karena kami keluarga bangsawan, aku ingin minta pengawal. Tapi Ayah pada dasarnya adalah pedagang yang pelit. Dia tidak mempekerjakan personel lebih dari yang dibutuhkan, dan aku ragu dia mau menyewa pengawal hanya demi rasa penasaranku.

Katanya pelayan dan kepala pelayan berlatih bertarung untuk keadaan darurat, tapi itu mungkin hanya sekadar bela diri dasar. Mereka bukan pengawal profesional.

"Kalau begitu, bolehkah kalau Scott menemaniku?"

"Scott? Ah…… petualang itu. Baiklah, kalau dia setuju."

"Benarkah! Nanti aku coba tanya padanya!"

Oho. Dengan hubungan yang kubangun dengan Scott selama beberapa bulan ini, pasti tidak masalah.

Tapi, ternyata dugaanku salah……

"Kenapa aku harus melakukan pekerjaan menjaga bocah seperti itu?"

"Anu?"

"Putra keluarga Prosper itu cuma bau uang."

"Ugh……"

"Kalau cuma jalan-jalan di sekitar sini sih boleh, tapi aku tidak mau melakukan pekerjaan merepotkan seperti itu."

Keluarga kami memang termasuk salah satu yang terkaya di dunia ini. Tentu saja banyak orang yang berpikir untuk menculikku demi uang tebusan.

Apa sesulit itu kalau aku belum cukup kuat untuk melindungi diri sendiri?

Scott bersikeras menggelengkan kepala, tidak mau melakukan hal yang merepotkan.

Sial. Kalau sudah begini, aku malah semakin ingin melihat pemandangan di luar kediaman.

Aku melirik Hattie yang sedang mengayunkan pedangnya dengan liar di bawah pohon birch.

"Scott."

"Apa?"

"Kalau aku punya kemampuan untuk melindungi diri sampai batas tertentu, apa kau mau ikut?"

"……Apa maksudmu?"

"Misalnya, kalau aku bisa menang melawan si jenius Hattie."

"Apa?"

Scott menatap wajahku dengan ekspresi terkejut. Dia menatapku tajam untuk beberapa saat, sampai-sampai aku merasa telah membuat usulan yang berbahaya.

"Anu, lupakan sa—"

"Ayo cepat lakukan! Ada apa?"

Saat aku hendak bilang itu cuma bercanda, Hattie menyela dengan suara tidak sabar. Scott pun menanggapi.

"Hattie. Mau mencoba melawan Lado?"

"Eh? ……Mau!"

Hattie menjawab seketika dengan senyuman lebar yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Hahaha. Bercanda. Tadi itu cuma bercanda. Hattie, jangan dianggap serius."

"Aku ingin melihatnya sekali. Cara bertarungmu."

"Sudah kubilang itu bercanda. Aku tidak pernah bertarung sungguhan."

"Hanya mengayunkan pedang tidak akan membuatmu bisa bertarung."

"Ti-tidak apa-apa, aku masih merasa gerakan pedangku belum menyatu dengan tubuh."

"Hah! Sudahlah, lakukan saja seperti kata gurumu. Walau pedang kayu, bukan berarti kau tidak bisa terluka. Usahakan berhenti sebelum kena. Mengerti?"

"Uuuu……"

"Hattie sudah bersemangat tuh."

Melihat ke arah Hattie, dia menyeringai seolah berkata "akan kuhabisi kau sekarang juga".

"Soalnya Lado selalu bersikap sok hebat sih. Hihihi……"

Padahal aku tidak merasa sok hebat. Yah, mungkin karena aku memperlakukannya seperti anak kecil.

Seperti latihan Tai Chi, aku memang suka latihan yang rutin. Mengulang gerakan yang sama berkali-kali sampai tubuh menghafalnya.

Menyempurnakan setiap teknik dalam jurus. Aku memang tidak terlalu tertarik dengan latihan tanding bebas.

Kenyataannya, Hattie terus berlatih tanding dengan Scott, sementara aku hanya melakukan ayunan di samping mereka. Scott mungkin merasa tidak puas dengan hal itu.

……Hattie, ya.

Aku menatap Hattie yang penuh semangat.

Tapi yah…… sebentar lagi perbedaan kekuatan kami akan menjadi sangat jauh. Kalau itu terjadi, pasti mustahil untuk bisa berlatih tanding seperti ini. Mungkin sekaranglah saatnya.

Lagipula, aku benar-benar ingin melihat dunia di luar kediaman.

Berpikir demikian, aku mengambil pedang kayu dan menghadapi Hattie.

"Baiklah, kalau Hattie kalah, latihan menulisnya akan ditambah, ya."

"Eh! Cu-curang!"

Sambil berbicara, aku mulai menghimpun mana. Perbedaan kekuatan kami sudah sangat jelas. Petualang peringkat S adalah puncak pencapaian manusia. Potensi Hattie yang bisa mencapai titik itu benar-benar tidak normal.

Aku menyerang dengan cepat ke arah Hattie yang masih bingung karena seranganku yang tiba-tiba. Sejujurnya ini adalah tubuh yang jarang berolahraga, tapi kekuatan otot yang kurang kutambal dengan mana.

Hattie menggunakan pedang dua tangan, sementara aku pedang satu tangan. Kalau beradu tenaga, aku pasti kalah.

"Eh? Eh?"

Dia pasti tidak menyangka aku akan menyerang tiba-tiba. Tanpa ampun, aku melancarkan tebasan dari bawah seolah merayap di tanah. Hattie yang panik menangkis dengan pedang dua tangannya. Sebuah tebasan dari atas ke bawah yang sederhana.

—Pedang tanpa tenaga tidak akan berguna.

Aku mencoba memukul balik pedang Hattie ke atas…… tapi berat. Pedang Hattie yang hanya dipasang untuk menangkis terasa sekeras batu dan menghentikan momentum pedangku.

"I?"

"Funga!"

Begitu pedangku terhenti, Hattie memutar pedangnya dan melakukan tusukan. Aku mempertahankan pedangku tetap menempel pada pedang Hattie, memusatkan mana ke lengan, dan sekuat tenaga mengalihkan lintasannya.

Namun itu tidak cukup. Aku terpaksa memiringkan tubuh untuk menghindar.

Benar-benar membuat berkeringat dingin. Walau pedang kayu, kalau ditusuk bisa gawat.

Tsuuu…… Sesuatu yang dingin melewati pipiku. Kalau melesat satu sentimeter saja, pipiku pasti sudah berlubang. Mentalku hampir runtuh seketika.

Setelah itu, aku sepenuhnya bertahan. Aku berusaha keras menjaga pedangku tetap menempel pada pedang Hattie untuk mengalihkan lintasannya.

Dengan terus menempelkan pedang, aku bisa merasakan setiap perubahan gerakan Hattie. Sebelum tenaganya memuncak, aku mengumpulkan tenaga sekejap untuk menggeser ujung pedangnya.

Aku terus menangkis serangan sambil mengarahkan vektor kekuatan Hattie. Ini adalah penerapan teknik Ting Jin (mendengar tenaga) dan Hua Jin (menetralkan tenaga) dari ilmu Push Hands Tai Chi.

Meski begitu, ini seperti berjalan di atas tali. Salah sedikit saja dalam penilaian, pertahananku akan hancur. Di tengah pertarungan kritis yang menguras mental ini, anehnya perasaanku perlahan-lahan mulai membuncah.

—Ini seru!

Sebaliknya, Hattie mulai frustrasi karena pedangku tidak mau lepas dari pedangnya dan serangannya terus dialihkan. Dan aku sedang menunggu saat di mana Hattie mencapai batas kesabarannya.

"Aaah! Sudah cukup!"

Akhirnya Hattie yang hilang kesabaran mencoba mengambil jarak dan melompat mundur.

Ya, momen ini.

Dalam sekejap, aku menyambungkan jurus dari Ti Xi Bang Jian menuju Tiao Bu Ping Ci untuk mendesak Hattie.

Hattie yang sedang mundur kehilangan keseimbangan karena gerakan seranganku yang mendadak. Ditambah lagi, jurus Tiao Bu Ping Ci memiliki dua tahap serangan.

Tusukan kedua berhenti tepat di leher Hattie yang posisinya sudah goyah.

"Selesai. Aku menang."

"Eh! Tidak! Tidak boleh! Barusan tidak dihitung!"

Hattie sempat termangu menatapku, tapi begitu mendengar deklarasi kemenanganku, wajahnya memerah karena marah.

"Tidak. Yang barusan itu kemenangan Lado."

"Scott juga jahat! Habisnya, itu curang. Lihat, pokoknya curang!"

"Aku tidak curang sama sekali. Hehe. Kalau kalah…… tadi apa ya janjinya?"

"Barusan tidak dihitung! Sekali lagi! Sekali lagi!"

"Tidak mau~ aku tidak akan melakukannya lagi~"

Aku menyatakan berhenti kepada Hattie yang wajahnya memerah dan menggembungkan pipi.

Ya iyalah…… bocah ini benar-benar gila kekuatannya.

Scott mendekat ke sampingku yang sedang tertawa, lalu berbisik pelan.

"Kau benar-benar tidak berniat melakukannya lagi, ya."

"Ah…… ketahuan? Soalnya mungkin aku tidak akan bisa menang lagi."

Mendengar jawabanku, Scott memasang wajah masam.

"Aku sih tidak berpikir begitu. Kalau kau mau jadi lebih kuat, aku bersedia membantumu kapan saja."

Hmm…… yah, dia memang dibayar sebagai guru pedang, jadi tanpa diminta pun dia pasti akan mengajar. Tapi lawanku kan Hattie.

"Aduh, tidak mungkin deh. Lihat saja, baru pegang pedang beberapa bulan sudah seperti itu."

"……Padahal kau cuma mengayun pedang kayu saja sudah bisa begitu?"

"Hahaha. Hari ini aku cuma menang karena perbedaan kecerdasan. Aku sudah cukup dengan pengalaman mengerikan tadi."

"Haaah…… sayang sekali. Baiklah, aku akan mengajarimu sejauh yang kau inginkan, jadi jangan lepaskan pedangmu."

"Iya. Aku memang ingin setidaknya bisa menggunakan pedang sedikit lebih baik. Mohon bantuannya."

Begitulah, aku berhasil memenangkan pertarungan serius pertama dan terakhirku dengan Hattie.

Minggu berikutnya. Sesuai janji, aku menyambut hari pertamaku pergi keluar rumah. Setelah mendengar ceritanya, Hattie yang penasaran juga ikut serta.

"Oho, kelihatannya cocok untukmu."

"Benarkah……"

Aku mengenakan pakaian katun yang kabarnya biasa dipakai oleh rakyat jelata. Jika dilihat dari bahannya, pakaian ini hampir sama dengan yang dikenakan Hatti.

Meski kedudukanku tidak setinggi itu sampai harus menyamar, Scott membawakan baju ini agar aku tidak terlalu mencolok saat berada di kota.

"Kalau naik kuda... sepertinya mustahil, ya."

Alhasil, aku pun harus membonceng kuda yang dikendarai Scott. Di sisi lain, meski tubuhnya kecil, Hatti ternyata bisa menunggang kuda dengan normal.

Rasanya agak menyebalkan, tapi sudah terlambat jika aku ingin berlatih sekarang.

Terpaksa aku duduk anteng di depan Scott dan kami pun berangkat menuju kota.

Tujuan kami adalah Falcrest, ibu kota dari wilayah kekuasaan Marquis Falduras. Kota ini merupakan tempat kantor pusat Persekutuan Dagang Prosper berada, jaraknya hanya sekitar satu jam lebih dengan berkuda.

Ngomong-ngomong, kediaman tempatku tinggal bisa dibilang berada di pinggiran kota Falcrest. Letaknya di sebuah permukiman yang agak jauh dari pusat kota.

"Jadi, sebenarnya kamu mau pergi ke mana?"

"Aku ingin pergi ke toko buku... Tapi yang utama, aku ingin melihat dunia di luar kediaman ini."

"Luar kediaman? Tidak ada apa-apa di sana, tahu."

"Bagi Scott yang terbiasa keluar masuk, mungkin memang begitu."

"Hmph. Ya sudahlah. Pokoknya kita berangkat sekarang."

Sambil duduk tenang di depan Scott, untuk pertama kalinya aku meninggalkan kediaman itu. Hmmm.

Sejujurnya, aku hampir tidak punya ingatan tentang menunggang kuda saat di Jepang dulu. Paling banter hanya naik poni di kebun binatang saat masih kecil.

Itulah sebabnya aku sama sekali tidak menyangka kalau punggung kuda akan berguncang sehebat ini.

Setiap kali kuda melangkah, tubuhku rasanya seperti terpental. Karena panik takut terjatuh, aku buru-buru mencengkeram pelana.

"Hei, lebih santai sedikit."

"Biarpun kamu bilang begitu..."

Mengendurkan ketegangan itu ternyata jauh lebih sulit daripada kedengarannya. Namun, Scott membantuku menyesuaikan posisi duduk di atas pelana.

Akhirnya, aku berhasil menemukan posisi yang cukup nyaman untuk menyeimbangkan diri.

Setelah mulai terbiasa dengan guncangan kuda, aku pun mencoba menenangkan diri dan melihat keadaan sekeliling.

Tempat ini adalah area pertanian di luar kota. Tidak ada jalanan setapak berbatu di sini.

Ayahku setiap hari pergi bekerja menggunakan kereta kuda melalui jalan ini. Karena sering dilewati kendaraan berat, tanah di jalanan ini terinjak hingga padat dan keras, membentuk jalur tanpa rumput liar.

Di kedua sisi jalan, terbentang ladang dan kebun buah, dengan jumlah rumah penduduk yang tidak terlalu banyak.

Namun, setiap rumah penduduk dikelilingi oleh tembok pelindung monster. Melihat pemandangan pastoral seperti itu, aku jujur merasa bahwa tempat ini "indah".

Begitu sampai di kota nanti, area tersebut pasti dikelilingi tembok besar seperti kota benteng, tapi di pinggiran seperti ini tentu tidak bisa begitu.

Melihat keadaan itu, sebuah pertanyaan mendadak muncul di benakku.

"Di sekitar rumah kita jarang ada monster yang muncul, ya?"

"Manusia tidak akan mau tinggal di tempat dengan konsentrasi mana yang pekat seperti itu."

"Mana?"

Sepertinya di dunia ini ada tempat dengan aliran sihir yang pekat dan ada yang tipis.

Sihir di atmosfer tersebut biasa disebut Mana Element. Kabarnya, semakin pekat Mana Element di suatu tempat, maka monster yang lebih kuat akan lebih mudah muncul.

Karena itu, tempat tinggal manusia biasanya berada di area dengan Mana Element yang tipis. Penentuan lokasi pemukiman seperti ini pun tampaknya didasarkan pada tingkat kepekatan tersebut.

Setelah menyusuri jalanan pedesaan itu, akhirnya sebuah kota besar mulai terlihat di depan mata.

Setibanya di kota, kami menitipkan kuda di kandang dekat gerbang dan mulai masuk ke dalam area perkotaan.

"Ooooh! Luar biasa..."

"Benar, kan? Inilah Falcrest."

Kota ini adalah jantung kekuasaan dari kastil Marquis Falduras. Aku tahu kota ini besar, tapi ternyata jauh lebih megah dari dugaanku.

Sebagai kota benteng, ruang di dalamnya memang terbatas. Namun, hal itu justru membuat deretan bangunannya terasa sangat padat dan hidup.

Sebenarnya aku tahu kota yang jauh lebih besar seperti "Tokyo". Namun tetap saja, melihat kota besar untuk pertama kalinya di dunia ini membuat hatiku terpikat.

"Ternyata kamu bisa pasang wajah seperti itu juga, ya?"

"Eh?"

"Habisnya, biarpun bocah, kamu selalu bicara sok dewasa. Wajah seperti itulah yang pantas untuk anak kecil."

"Hahaha..."

Yah, mau bagaimana lagi, aku ini kan tipe "tampilan anak-anak, jiwa orang dewasa". Tapi memang benar kalau aku merasa berdebar melihat kota ini untuk pertama kalinya.

"Di sebelah sini ada menara yang besar, lho!"

"Menara?"

"Iya. Milik gereja! Benar-benar besar sekali."

Hatti sepertinya bukan pertama kali datang ke sini. Dia bersikap seolah ingin pamer padaku yang baru pertama kali berkunjung bahwa dia lebih tahu tentang tempat ini.

Aku hanya bisa tersenyum kecut sambil mengikutinya.

Di tengah perjalanan menuju gereja, aku melihat sebuah bangunan yang menarik perhatian.

Gedung itu tampak sangat ramai oleh orang yang keluar masuk, dan mereka semua mengenakan perlengkapan pelindung yang terlihat tangguh.

"Jangan-jangan, tempat itu milik..."

"Benar. Itu yang namanya Guild Petualang."

"Heh, bolehkah aku mengintip sebentar ke dalam?"

"Tidak ada apa-apa di sana meski kamu mengintip."

Saat aku mulai berjalan ke arah sana, Hatti yang menyadarinya langsung melayangkan protes.

"Bukannya kita mau ke menara?"

"Kita juga akan ke sana, kok. Tapi ayo kita lihat sebentar saja."

"Kenapa, sih? Kita kan tidak ada urusannya dengan petualang."

"……Eh?"

"……Eh?"

Ah, benar juga. Meski bercita-cita menjadi petualang ternama, Hatti bahkan belum mendaftar. Reaksinya itu wajar.

Sementara aku adalah penggemar Light Novel. Terutama pria yang sudah melahap habis bacaan genre fantasi.

Bagi aku, konsep "Dunia Lain = Guild Petualang" sudah mendarah daging, seolah-olah aku punya ikatan batin dengan tempat itu.

Berbagai macam event biasanya dimulai dari Guild Petualang ini—

"Ada apa ini? Bocah tidak boleh datang ke tem—"

Ooh! Begitu aku berpikir demikian, seorang paman yang tadinya berteriak galak tiba-tiba langsung menciut.

"Hah?"

"A-Ah... t-t-t-tuan Scott! Ke-Kenapa Anda ada di sini—"

"Memangnya aku tidak boleh datang ke Guild?"

"Ti-Tidak begitu. Tapi saya dengar Anda sudah pensiun."

"Begitulah. Tapi sesekali aku harus memastikan apa kalian bekerja dengan benar atau tidak."

"Haha... ka-kami baik-baik saja, kok. Eh? Bocah itu... bukan, maksud saya, apakah tuan muda ini anak Anda?"

"Apa wajahku terlihat setua itu sampai punya anak sebesar ini?"

"T-Tentu saja tidak!"

"Hah... sudahlah. Pergi sana."

"Ba-Baik!"

...Sialan kamu, Scott. Kamu menghancurkan event berhargaku dalam sekejap.

Aku menatap Scott dengan penuh dendam, tapi dia malah memasang wajah bangga seolah berkata, "Lihat, tidak ada masalah kalau ada aku."

Aku dengar Scott dulu adalah petualang peringkat A-Rank. Sepertinya dia cukup punya pengaruh di kota ini.

Sambil menghela napas, aku kembali mengedarkan pandangan ke dalam Guild.

Bagian dalam Guild sebenarnya tidak seaneh itu. Di dinding tertempel kertas-kertas berisi permintaan (quest).

Para petualang akan mencabut kertas itu, menyerahkannya ke resepsionis di konter, dan menerima pekerjaan tersebut.

Dalam beberapa Light Novel, biasanya ada bar di dalam Guild, tapi di sini tidak ada.

Kegiatan di sini berlangsung dengan tenang. Para staf di belakang konter bekerja dengan tekun, suasananya malah lebih mirip seperti bank.

"Aku juga ingin mendaftar jadi petualang."

"Petualang? Untuk apa lagi. Lagipula, berapa pun usahamu, sekarang masih mustahil, kan?"

Secara teknis memang tidak ada aturan usia yang pasti, tapi sepertinya Guild tetap tidak akan menerima anak berusia enam tahun.

Sayang sekali, tapi aku cukup puas hanya dengan melihat Guild Petualang untuk pertama kalinya. Hatti dan Scott sepertinya sama sekali tidak terkesan sepertiku.

"Ayo cepat pergi."

Karena didesak oleh Hatti, aku pun meninggalkan Guild Petualang pertamaku itu.

Setelah berjalan sedikit lebih jauh ke arah pusat kota, kami menemukan sebuah alun-alun. Di sudutnya, berdiri sebuah menara jam raksasa.

Seperti yang dikatakan Hatti, menara jam itu sangat mencolok dan jauh lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya.

Di dunia ini, "waktu" merupakan salah satu simbol penting bagi gereja.

Setiap kota atau desa pasti memiliki fasilitas penunjuk waktu yang menyatu dengan gereja. Tentu saja desa pertanian kecil tidak bisa membangun menara jam seperti ini.

Namun tetap saja, gereja di sana memiliki lonceng yang digantung dan akan dibunyikan beberapa kali sehari untuk memberitahukan waktu.

"Ini benar-benar luar biasa..."

Aku membayangkan kota-kota tua di Eropa yang juga memiliki menara jam sebagai simbol kota mereka.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, alun-alun itu dipadati oleh banyak orang.

"Memangnya selalu seramai ini?"

Latar waktu di dunia ini berbasis abad pertengahan, jadi kurasa kehidupan masyarakatnya tidak semakmur di Jepang.

Budaya bepergian atau traveling juga masih minim, jadi aku tidak punya gambaran tentang kerumunan turis.

"Ah, biasanya tidak sebanyak ini, kok. Sepertinya hari ini adalah Hari Pasar."

"Hari Pasar?"

"Sebulan sekali, orang-orang yang tidak tergabung dalam Guild Dagang pun boleh berjualan barang-barang seperti ini."

"Wah, kita datang di waktu yang tepat, ya!"

Jika melihat ke kedai-kedai pinggir jalan, ada orang-orang seperti petualang yang menjual hasil buruan dari hutan.

Ada juga yang menjual pakaian rajutan sendiri, atau barang-barang bekas yang tidak terpakai. Singkatnya, ini seperti pasar kaget atau flea market.

Di sekelilingnya, terdapat gerai makanan yang menargetkan para pembeli atau pedagang. Aroma daging panggang yang sedap tercium di udara.

"Tiba-tiba aku jadi lapar."

"Kalau dipikir-pikir..."

Aku dan Hatti mendongak menatap Scott secara bersamaan.

"Hei, hei... soal uang... kalian tidak punya?"

"Iya, aku kan belum pernah diberi uang jajan."

"...Astaga. Kamu ini kan anggota keluarga Prosper, tahu."

"Memang, sih. Harusnya tadi aku bilang ke Papa. Tapi nanti akan kuganti, kok."

"Cih. Apa boleh buat. Harus diganti, ya."

Di kedai makanan, banyak sekali hidangan yang tidak biasa kutemukan di meja makan rumah, membuatku merasa agak bersemangat.

Saat aku hampir memutuskan untuk membeli sate daging yang sudah pasti enak, aku melihat sesuatu yang menarik perhatian.

Bentuknya mirip seperti tentakel cumi-cumi yang ditusuk sate, tipe yang sering ada di toko jajanan anak-anak di Jepang.

Harganya cukup murah dan kulihat anak-anak banyak yang membelinya. Merasa nostalgia, aku pun mendekati kedai tersebut.

"Ya. Mau berapa tusuk?"

"Anu, ini apa ya?"

"Hm? Apa maksudmu, ini kan Sate Ekor? Bukan barang langka, kok."

"Ah, iya juga, ya."

Begitu ya, ternyata ini barang umum seperti jajanan di toko masa kecilku dulu. Sebaiknya aku tidak bilang kalau aku tidak tahu.

Tapi ngomong-ngomong, Sate Ekor, ya. Jika dilihat-lihat, bentuknya mirip ekor kadal.

Aku sempat ragu sejenak, tapi anak-anak lain membelinya dalam jumlah banyak. Aku pun memesan lima tusuk dan meminta penjualnya memasukkannya ke dalam kantong.

"Hatti, mau satu?"

"Iya, mau!"

Melihat reaksi Hatti, sepertinya ini memang camilan populer bagi anak-anak. Aku memberikan satu tusuk padanya, lalu mengambil satu lagi untuk diriku sendiri.

Kalau diperhatikan baik-baik, ini benar-benar ekor kadal. Mungkin daging utamanya digunakan untuk masakan biasa, lalu sisa potongannya dijual seperti ini.

"Kenapa tidak dimakan?"

Hatti bertanya dengan heran melihatku yang terus memandangi sate itu dengan ragu.

"A-Aku makan, kok."

Aku pun buru-buru memasukkan sate ekor itu ke mulutku.

Ooh. Rasanya benar-benar mirip camilan itu. Rasa cumi-cumi olahan dengan bumbu cuka yang kuat.

Meski tidak sampai menjadi kenangan yang mendalam di Jepang, rasa nostalgia ini membuatku melahap habis satu tusuk dalam sekejap.

"Scott, kamu benar-benar tidak mau?"

"Aku tidak butuh makanan bocah seperti itu."

Harga diri macam apa itu? Aku hanya bisa tersenyum kecut sambil mengambil satu tusuk lagi dari kantong.

Dan saat itulah hal itu terjadi.

Tiba-tiba aku merasakan beban di bahuku, dan aku pun menoleh.

"O-O-Ooh."

Ternyata ada seekor hewan berwarna emas yang bertengger di bahuku. Aku hampir saja menepisnya, tapi aku menahan diri di detik terakhir.

—Dia tidak berbahaya?

Secara insting aku merasakan hal itu.

"Apa ini! Lucu sekali!"

Hatti juga menyadari keberadaan hewan aneh ini. Hewan itu mencengkeram bahuku dengan kuat, hidungnya kembang kempis sambil menatap tajam ke arah sate ekorku.

"...Kamu mau ini?"

Karena merasa tertarik, aku mendekatkan sate itu ke arah si hewan.

Hewan itu sempat tersentak mundur sejenak, tapi mungkin karena kalah oleh rasa lapar, dia menjulurkan kedua kaki depannya dan meraih sate ekor tersebut.

Kaki depannya memiliki selaput tipis yang menjuntai. Dia terlihat seperti hewan yang bisa terbang seperti tupai terbang atau musasabi.

"Apa dia hewan peliharaan seseorang?"

Hatti bertanya dengan bingung saat mendengar gumamanku.

"Kenapa memangnya?"

"Karena dia terlihat sangat terbiasa diberi makan."

Aku mencoba mengingat-ingat isi ensiklopedia monster, tapi tidak ada yang cocok. Tanpa mempedulikan pemikiranku, hewan itu sibuk mengunyah sate ekor dengan lahapnya.

"Scott, kamu tahu ini hewan apa?"

"……Tidak."

Tapi sungguh, makhluk ini lucu sekali. Kalau tidak ada pemiliknya, aku akan—

"Pipi!"

Saat itu, menerobos keriuhan pasar, seorang gadis berlari ke arah kami dengan napas terengah-engah.

—Pipi?

Begitu aku menoleh ke arah suara itu, aku langsung terpaku.

Gadis itu mungkin seumuran denganku. Melihat wajahnya yang masih polos, aku hanya bisa bergumam, "Cantik sekali."

Rambut peraknya bergoyang pelan, napasnya memburu, dan ekspresinya tampak panik, namun entah kenapa dia tetap memancarkan aura keanggunan.

Gadis itu berhenti di depanku, mencoba mengatur napasnya yang tersengal sebelum mulai bicara.

"Ma-Maaf. Anak itu..."

"……Eh?"

"Eh? A-Anu. Anak itu..."

"Maksudnya, aku?"

Apa yang dia katakan? Eh? Dia bicara padaku?

Gadis itu berusaha keras mengatakan sesuatu padaku, tapi otakku rasanya membeku dan tidak bisa berpikir jernih.

"Lado. Bukannya maksudnya anak itu?"

"Eh? Anak itu? Ah. Ini, ya."

Setelah ditegur Hatti, aku baru tersadar. Gadis itu sedang melihat hewan aneh yang bertengger di bahuku. Aku pun buru-buru mengarahkan bahuku ke arah gadis itu.

Begitu gadis itu mengulurkan tangan, si hewan langsung melompat ke tangannya seolah itu memang tempat asalnya, lalu meringkuk dengan tenang di bahu sang gadis.

"Padahal Pipi biasanya tidak mau mendekati orang lain..."

"Eh?"

"Ah, maaf. Anak ini namanya Pipi. Dia itu, anu..."




"A-Ah... Jadi, dia ini hewan peliharaanmu, ya?"

"Bisa dibilang begitu, tapi dia hanya tiba-tiba merasa akrab denganku."

"Heh. Begitu, ya."

Setelah perasaanku sedikit lebih tenang, aku kembali menatap gadis itu. Dia pasti seorang bangsawan. Sekali lihat saja sudah jelas dari pakaian mahalnya yang berbeda dari rakyat jelata, dan dia mengenakannya dengan sangat sempurna.

"Anu... namaku Rado—"

"Tuan Putri!"

Tepat saat aku hendak memperkenalkan diri, beberapa prajurit dengan wajah pucat pasi tiba-tiba mengepung kami. Ketegangan yang awalnya terasa sedikit mereda ketika mereka menyadari kami hanyalah anak-anak, namun mereka tetap berdiri di depanku dengan sikap yang sangat mengintimidasi.

"Eh? Putri?"

"Kurang ajar! Siapa kau!"

"Eh? A-Aku?"

Prajurit itu menyela dan berdiri di antara aku dan sang gadis, lalu membentakku dengan keras. Situasi yang tidak biasa ini membuatku dan Hatti mematung seketika.

"Tunggu! Berhenti bicara tidak sopan seperti itu!"

"Ta-Tapi...!"

"Dia yang menemukan Pipi. Dia tidak melakukan apa pun."

"Ba-Baiklah. Namun Tuan Putri, kita harus segera pergi sekarang."

Gadis itu sepertinya memiliki jadwal yang penting. Mendengar ucapan prajuritnya, dia buru-buru menoleh ke arah menara jam.

"Benar juga. ……Anu, Rado-san?"

"Eh? Ah, iya...?"

"Maafkan saya karena sudah membuatmu terkejut. Terima kasih banyak karena sudah menjaga Pipi."

"I-Iya……"

"Kalau begitu, saya permisi."

Selagi aku masih termangu kebingungan, gadis itu pun masuk ke dalam gereja dengan tetap dikawal ketat oleh para prajurit.

Setelah menyaksikan kepergian mereka, Scott bergumam pelan.

"Jadi itu Lumiere-sama, ya."

"……Eh?"

"Oh, kamu belum tahu? Yang tadi itu adalah Lumiere Falduras. Salah satu dari putri kembar kebanggaan Marquis Falduras, yang saking disayanginya sampai-sampai sang Marquis tidak rela jika ada sebutir debu pun menyentuhnya."

"Jadi dia adalah..."

Galaaan, galaaan.

Tepat saat itu, lonceng menara jam berdentang. Mendengar suara lonceng yang menggema di seluruh alun-alun, orang-orang di kota serentak menengadah ke arah menara jam.

—Gadis itu...

Penggalan informasi dari novel yang pernah kubaca melintas di benakku. Sebuah insiden yang sepenuhnya menetapkan rasa diskriminasi Adric terhadap Rude. Pusat dari insiden itu adalah adik kembar Adric, yaitu Lumiere.

Lumiere sebenarnya adalah karakter yang namanya pun tidak disebutkan di dalam cerita aslinya. Namun dalam insiden itu, saat sedang bersama ibunya, mereka diserang oleh bandit... yang tak lain adalah Rude.

Aku berusaha sekuat tenaga mengingat detail kemalangan gadis ini.

Kapan? Di mana?

...Insiden yang membuat kepribadian Adric menyimpang hingga menjadi karakter antagonis. Aku harus mencegah hal itu apa pun yang terjadi. Lagipula... Lumiere ternyata anak yang sangat baik, bukan?

Aku mengepalkan tinjuku dengan kuat.

Untuk beberapa saat, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari gereja tempat Lumiere masuk tadi.

Dalam perjalanan pulang, saat duduk di pangkuan Scott, sebuah ide cemerlang muncul di kepalaku.

Scott adalah anggota Morgan. Dia pasti memiliki akses informasi yang akurat mengenai keluarga Marquis.

Tentu saja, aku tidak boleh keceplosan kalau aku tahu tentang Morgan. Tapi, jika aku bisa mendapatkan informasi tentang pergerakan di dalam kediaman Marquis dari Scott... mungkin aku bisa mengetahui informasi yang mengarah pada insiden Lumiere.

Meski penampilannya seperti pengelana liar, dia pasti orang yang cerdik. Mengingat aku masih anak-anak dan belum bisa bergerak sendiri, Scott adalah satu-satunya orang dewasa yang bisa kuandalkan saat ini.

...Tapi, masalahnya...

Meskipun idenya bagus, masalah terbesarnya adalah bagaimana cara mengatakannya tanpa terasa aneh dan tetap terlihat natural.

...Sialan!

...Apa boleh buat!

Aku menatap Scott dengan wajah yang memerah padam.

"Hm? ……Ada apa?"

Grrr...

Aku menggertakkan gigi begitu kuat sampai rasanya gigiku mau pecah.

"A-Ada apa sih...?"

Lihat saja, Radcliff muda. Inilah yang namanya tekad seorang pria dewasa.

……

"Hei, Scott, kamu itu petualang, kan?"

"Mantan. Mantan petualang."

"Kalau begitu, kamu pasti punya banyak informasi tentang berbagai kota, kan?"

"Hm? Yah, ya lumayan, sih."

"Kalau begitu..."

"Kalau begitu?"

"Anu, aku... ingin tahu lebih banyak soal Lumiere-sama."

"……Apa maksudmu dengan 'lebih banyak'?"

"Maksudku, seperti... kue dari toko mana yang Lumiere-sama sukai, atau... Lumiere-sama sesekali pasti pergi melakukan perjalanan, kan? Hal-hal seperti itu—"

"Bwahahaha! Bu-bu-bu-bu!"

"Ke-Kenapa tertawa!"

"Buhyahyahyahyahya! Hahaha!"

"Kenapa tertawa begitu, sih!"

"Hyahyahya. Serius? Ternyata kamu memang laki-laki sejati, ya."

"Berhenti tertawa! Ti-Tidak ada apa-apa, kok. Sudah, lupakan!"

"Kukuku. Baiklah. Andalkan saja aku."

"Sudah kubilang bukan apa-apa!"

"Kukuku. Jangan marah begitu. Ini kan cinta pertamamu. Aku akan membantumu, tenang saja."

"Bukan seperti itu! Aku cuma ingin tahu sedikit tentang Lumiere-sama!"

"Iya, iya, oke, oke. Serahkan saja padaku."

"Uuuuu..."

Begitulah, akhirnya aku berhasil mendapatkan informasi mengenai Lumiere dari Scott.

Sebagai gantinya... aku merasa telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam diriku.


Sejak saat itu, Scott secara rutin membawakanku cerita tentang Lumiere. Setidaknya, aku berharap bisa merasakan tanda sekecil apa pun jika Lumiere dalam bahaya, tapi...

Cerita tentang kue yang sedang dia sukai belakangan ini. Cerita tentang hiasan rambut yang dia dapat dari Marquis saat hari ulang tahunnya. Hingga cerita tentang acara minum tehnya.

Awalnya, wajahku terasa sangat panas tiap kali mendengar Scott bercerita dengan senyum menyeringai itu, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa.

Setiap kali mendengar Lumiere masih baik-baik saja, aku merasa lega. Hal itu juga membuatku semakin bersemangat melakukan latihan Tai Chi setiap hari.

……Dan kemudian.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close