NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Torimaki A kara Hajimeru Akuyaku Kousei Puran Volume 1 Chapter 7

Chapter 7

Mengasah Sihir


Begitu sampai di rumah, aku langsung mencari Scott.

Aku pergi ke kandang kuda, tapi dia tidak ada di sana. Aku pun bertanya pada Hati yang sedang mengganti jerami untuk kuda-kuda.

"Hati. Di mana Scott?"

"Setelah latihan pedang tadi pagi selesai, dia pergi ke suatu tempat."

"Apa hari ini dia tidak akan datang lagi?"

"Hmm. Entahlah."

Sial. Dalam bayanganku, Scott itu selalu ada di sini. Tapi kalau dipikir-pikir, rumah Scott memang bukan di sini. Dia pasti punya urusan lain dan butuh waktu pribadi juga.

Padahal informasi tentang Lumiera yang kuminta dengan menelan harga diriku pun belum kunjung tiba, sementara keadaan di luar sana terus bergerak maju.

Seolah menyadari keresahanku, Hati berhenti bekerja dan mendekat.

"Ada apa, Rad?"

"Eh? Tidak... aku hanya ada yang ingin kutanyakan pada Scott."

"Besok juga ada latihan lagi, kok."

"Benar juga, sih..."

……Lagipula, masalahnya bukan untuk hari ini atau besok. Tidak ada gunanya aku terburu-buru……

Sial…… Kenapa aku merasa sangat jengkel begini?

"Hati……"

"Ya?"

"Ayo latihan tanding sebentar."

"Wih! Ayo!"

Maaf saja bagi Hati yang tampak senang menerima ajakanku, tapi dia belum melakukan peningkatan level sama sekali. Ada perbedaan level yang sangat besar antara dia dan aku yang sudah menyelesaikan perburuan Little Boar.

Meski begitu, jika itu Hati sang "Pemakan Naga", kurasa dia sanggup menerima luapan perasaan yang tidak karuan ini.

Tapi tunggu, apa yang sedang kucoba bebankan pada gadis berusia delapan tahun ini……

……

……

"Hah... hah... hah... Sial. Aku sudah tidak bisa bergerak lagi."

"Kalau begitu, aku yang menang, kan?"

"……Memangnya kamu berhasil mendaratkan satu serangan pun?"

"Uuu... Terjang!"

"Woi!"

Aku bertukar serangan dengan Hati sampai batas staminaku habis. Dari sini aku paham seberapa mengerikannya peningkatan level itu. Aku bisa mendominasi pertarungan melawan Hati dari awal sampai akhir.

Dulu, aku bisa menang karena Hati belum tahu gaya bertarungku—bisa dibilang aku menang beruntung. Tapi Hati yang sekarang sudah jauh lebih kuat. Tentu saja, karena aku dan Scott sudah mengajarkan cara memanipulasi mana kepadanya.

Meski begitu, aku tidak kalah dari kecepatan Hati yang sudah di-Boost dengan mana, dan dari segi kekuatan pun aku jauh lebih unggul.

Yah, meski kalau soal stamina, aku sama sekali bukan tandingannya.

Padahal aku sudah kesulitan untuk berdiri, tapi mata Hati masih berkilat-kilat ingin lanjut lagi.

"……Apa yang sedang kalian lakukan?"

Saat aku sedang berbaring telentang di bawah pohon shirakaba, tiba-tiba terdengar suara Scott. Aku tersentak bangun dan mendapati Scott sedang menatapku dengan wajah heran.

"Barusan, aku baru saja mengalahkan Rad!"

"Jangan bohong!"

"Tidak bohong, tahu. Rad sudah tidak bisa bergerak lagi."

"Ugh……"

Scott hanya tertawa melihat perdebatan kami.

"Scott, kupikir kamu sudah pulang?"

"Hah? Tidak. Sekarang aku menumpang tidur di kandang kuda itu, tahu."

"Hah?"

"Ya iyalah. Memangnya tidak merepotkan kalau setiap pagi aku harus datang dari penginapan di kota ke sini?"

"Scott, selama ini kamu tinggal di penginapan?"

"Tentu saja, karena aku ini petualang. Tadinya aku berpikir ingin beli rumah sendiri, tapi keburu disewa olehmu."

"O-begitu rupanya……"

Entah kenapa aku tidak pernah memikirkan hal itu, tapi ternyata begitu ya.

Memang kandang kuda itu dulunya bekas gudang yang direnovasi, jadi tempatnya luas dan ada beberapa kamar kosong. Sepertinya tanpa izin pun, dia sudah bersih-bersih dan mulai tinggal di sana secara semena-mena.

Katanya dia juga makan bersama keluarga Tilly, jadi dia benar-benar pintar menyesuaikan diri…… atau mungkin memang muka tembok. Yah, kalau itu karena dia ingin serius mendidik Hati, aku sih senang-senang saja.

Meski mungkin dia hanya ingin menghemat biaya penginapan.

Tapi ada yang lebih penting dari itu.

"Hei, Scott. Bagaimana situasi di daerah Chippolini sekarang?"

"……Bagaimana apanya? Soal apa?"

"Maksudku... itu. Keamanannya atau semacamnya……"

Benar, aku ingin tahu informasi tentang Chippolini yang akan didatangi Lumiera, tapi bingung harus bertanya bagaimana. Bertanya "apa tidak akan ada pemberontakan" pasti akan terasa sangat aneh.

Bagaimanapun juga, Scott itu adalah bawahan Morgan. Aku tidak boleh bertindak mencurigakan.

Melihatku ragu-ragu, Scott mengerutkan dahi.

"Kenapa kamu tiba-tiba ingin tahu soal Chippolini?"

"E-eh... itu... Lumiera bilang dia akan pergi ke sana dalam waktu dekat……"

"Heh? ……Hoho. Begitu ya. Jadi kamu merasa khawatir, ya? Hehehe."

"Jangan tertawa……"

Cih. Akhirnya aku terpaksa mengikuti alur ini untuk bertanya.

"A-aku dengar, di sana ada sekelompok orang yang disebut sebagai pencuri budiman……"

"Pencuri budiman, ya? Entahlah. Bisa disebut pencuri budiman, bisa juga disebut bandit gunung, kan?"

"Kamu tahu soal mereka?"

"Tentu saja. Belakangan ini mereka sering jadi bahan pembicaraan di kalangan petualang."

Bagaimanapun, aku adalah bangsawan dari pihak Alca. Scott sepertinya menjaga perasaanku dengan menceritakan kebijakan diskriminatif yang kejam dari penguasa setempat, Ludo, terhadap rakyatnya secara samar-samar.

Singkatnya, penindasan di daerah Chippolini, terutama di wilayah Viscount Italca, sangatlah parah. Rakyat yang tidak sanggup membayar pajak dan kekurangan bahan pangan mulai melarikan diri ke gunung satu per satu, lalu akhirnya mereka membentuk kelompok dan mulai beraksi sebagai bandit.

Cerita semacam itu sebenarnya tidak jarang terjadi di tengah masyarakat feodal ini. Namun, di wilayah Italca, muncul kelompok bandit dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Kabarnya, mereka dianggap sebagai pahlawan karena membagikan uang hasil rampasan dari para bangsawan kepada rakyat.

……Memang tidak salah lagi.

Dalam pikiranku, pengaturan dalam novel asli dan situasi di daerah Chippolini mulai saling terhubung.

Daerah Chippolini berada di sebelah utara dari sini. Dan lebih jauh ke utara lagi, ada daerah Baccial tempat tinggal sang protagonis, Eric.

Jumlah bandit di Chippolini bertambah setiap harinya. Selain orang-orang yang melarikan diri dari penindasan, orang-orang kejam yang hanya ingin merampok dengan aman di bawah naungan kelompok besar pun mulai berkumpul.

Di tengah situasi itu, sang pemimpin bernama Basso akhirnya mengibarkan bendera pemberontakan melawan Viscount Italca. Memanfaatkan momentum yang ada, pemberontakan itu berhasil dengan gemilang, dan Viscount Italca beserta seluruh keluarganya dieksekusi.

Basso dan kelompoknya dipuja sebagai pahlawan, namun politik yang mereka jalankan justru lebih menyengsarakan penduduk desa daripada zaman Viscount Italca. Bukan karena Basso tidak berusaha, dia berjuang keras untuk mengurangi beban rakyat, tapi di sekelilingnya sudah tidak ada lagi orang yang kompeten.

Hati rakyat segera berpaling, dan mereka tidak punya cara untuk melawan pasukan militer kerajaan yang mulai bergerak.

Akhirnya, Basso dan sisa kelompoknya yang diburu oleh pasukan kerajaan melarikan diri ke wilayah Stolz tempat Eric berada. Di sana mereka kembali melakukan aksi kriminal hingga akhirnya ditumpas oleh tentara Stolz yang dipimpin oleh Eric.

Itulah alur utama tema "Pahlawan yang Jatuh" di novel jilid ketiga.

Di dalam novel memang tidak disebutkan, tapi pasukan kerajaan yang memburu Basso mungkin saja adalah pasukan dari keluarga Farduras. Bagaimanapun, situasi dan ceritanya sangatlah mirip.

Pemberontakan memang belum terjadi, tapi suasananya sudah di ambang ledakan.

Jika di saat seperti itu kereta kuda bangsawan Alca yang membawa Lumiera lewat……

Misalnya, apa lebih baik aku meminta Scott pergi menjadi pengawal?

Sebagai mantan petualang peringkat A, kekuatannya memang tidak perlu diragukan, tapi jika yang menyerang adalah sekumpulan orang dalam jumlah setingkat militer, dia tidak akan sanggup melawan sendirian. Aku yakin kereta kuda Lumiera juga membawa pengawal, tapi aku sudah tahu hasilnya di novel.

Sial. Benar-benar sulit menaklukkan rute reinkarnasi antagonis ini kalau aku tidak punya bidak yang bisa digerakkan.

Aku membuka peta dan mencoba memperkirakan rute yang akan dilewati Lumiera.

Kalau lewat jalan raya yang bisa dilalui kereta kuda, rutenya sudah hampir pasti. Berdasarkan itu, perjalanan sampai ke Pireno mungkin memakan waktu hampir dua minggu. Kereta kuda berjalan jauh lebih lambat dibandingkan berkuda cepat. Dan Italca berada tepat sebelum itu. Kira-kira tiga atau empat hari sebelumnya.

"Hebat juga. Perkiraanmu sepertinya hampir tepat."

"Apa Lumiera dan yang lain akan menginap di Italca?"

"Entahlah. Kalau kunjungan resmi, mereka harus mengadakan upacara penyambutan dan semacamnya. Mungkin mereka hanya akan menginap di penginapan kota."

"Kamu tahu di bagian mana para pencuri budiman itu berkumpul?"

"Rumornya…… markas mereka ada di Gunung Riul."

"Kalau begitu…… kemungkinan terjadinya kontak adalah sebelum sampai di Italca……"

"Benar. Tapi, kenapa kamu bisa seyakin itu?"

Ya, itulah masalahnya. Aku adalah orang yang bereinkarnasi ke dunia ini dan sudah memahami alur sejarahnya sampai batas tertentu. Aku tidak mungkin menceritakan hal itu.

Kalau sudah begitu, alasan kenapa aku memikirkan hal semacam itu…… akan sangat sulit dijelaskan dengan cara yang masuk akal.

"Karena aku dengar para pencuri budiman itu adalah kumpulan rakyat yang tidak sanggup membayar pajak yang terlalu tinggi di wilayah Italca."

"Benar. Karena itulah mereka mengaku sebagai pencuri budiman, menyerang bangsawan atau pedagang yang dekat dengan bangsawan, lalu membagikan barang jarahannya kepada rakyat."

"Kalau begitu, bukankah wajar kalau bangsawan yang melewati jalan raya juga akan diserang?"

"Kebencian mereka tertuju pada bangsawan Italca. Seharusnya mereka tidak akan menyentuh bangsawan dari tempat lain."

Hmm? Ada yang aneh dengan ucapan Scott.

Sangat wajar jika ada kemungkinan besar diserang jika seorang bangsawan lewat di dekat markas bandit. Scott pun pasti tahu hal itu. Berarti, dia sengaja bertanya karena ingin tahu jawabanku.

Aku pun memutuskan untuk menjawabnya.

"Tapi bukankah belakangan ini pedagang biasa pun ada yang diserang?"

"……Memang benar ada cerita seperti itu."

"Kalau kelompok bandit itu tumbuh terlalu besar, tentara pun akan sulit bergerak. Jika sudah begitu, orang-orang yang benar-benar berbahaya pun akan ikut bergabung untuk melakukan kejahatan dengan aman di bawah perlindungan mereka. Benar, kan?"

"……Kamu benar. Tapi dia itu putri Marquis Farduras, lho. Pasti ada pengawal yang mumpuni. Apa sekelompok amatir akan berani menyerang rombongan dengan pengawalan seperti itu?"

"Aku tahu, tapi tetap saja aku khawatir."

"Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi, memangnya apa yang bisa kamu lakukan?"

Sial. Dia sudah menebak kalau aku pasti akan melakukan sesuatu. Padahal situasinya sudah sangat mendesak, tapi Scott sepertinya malah penasaran bagaimana reaksiku.

Scott bilang begitu, tapi kalau aku tidak melakukan sesuatu yang bisa kulakukan, semuanya tidak akan dimulai. Kejadian kali ini mungkin bisa memutus aliran yang menuju ke arah death end-ku.

Bagian yang paling penting dari segalanya adalah penyelamatan Lumiera.

Menyelamatkan teman tidak butuh alasan.

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa satu-satunya yang bisa bergerak hanyalah diriku sendiri. Aku harus menyelesaikannya sendiri.

Hati pun levelnya belum naik dan dia masih anak-anak berusia delapan tahun. Scott juga bagaimanapun bilang kalau dia sudah pensiun sebagai petualang.

Aku sempat terpikir untuk menyewa banyak petualang untuk melindungi dari balik bayangan, tapi Scott bilang itu tidak realistis.

Biaya harian untuk perjalanan pulang pergi lebih dari seminggu ditambah memastikan jumlah orang yang cukup; aku tidak punya uang sebanyak itu.

Lagi pula, bagi petualang, nyawa adalah yang utama. Jika lawan terlalu banyak dan mereka merasa terancam, meninggalkan lokasi adalah hal yang lumrah terjadi.

……Untunglah setidaknya aku sudah belajar sedikit cara menggunakan sihir. Selama aku tahu cara pakainya, aku bisa berlatih sendiri sepuasnya.

Dua bulan, ya…… Dengan sihir, mungkinkah aku yang tidak bertenaga ini bisa menghadapi orang-orang dewasa?

Aku mulai tenggelam dalam buku sihir yang kupinjam dari Luke, mencari berbagai kemungkinan. Benar-benar ciri khas keluarga Marquis, mereka menyimpan buku sihir yang bahkan tidak ada di pasaran.

Meskipun begitu, isinya hanya hal-hal mendasar, jadi aku harus mengembangkannya sendiri dalam pikiranku.

Sesuai pemeriksaan atribut tempo hari, atributku adalah Logam (Metal). Aku mencoba mengonfirmasi atribut dengan membayangkan beberapa jenis logam, tapi sepertinya tidak ada perbedaan besar antar tiap logam.

Radcliff remaja di dalam novel menggunakan sihir serangan dasar atribut Tanah (Earth) seperti Stone Bullet, tapi aku akan menggunakan Iron Bullet yang sesuai dengan atributku.

Dan yang terpenting adalah memilih jenis peluru logam apa yang akan digunakan.

Jika lawannya adalah zirah yang keras, peluru penembus zirah (Armor Piercing) yang terbuat dari logam keras mungkin cocok. Tapi jika lawannya adalah daging manusia yang lunak, peluru yang lebih lunak justru akan memberikan daya hancur lebih besar. Peluru yang berubah bentuk saat mengenai tubuh manusia akan meninggalkan luka yang lebih lebar.

Bagaimanapun, peluru timah adalah yang terbaik untuk pistol.

Dalam buku sihir memang disebutkan soal Iron Bullet, tapi dasarnya adalah menggunakan logam sekeras mungkin, dan mungkin itulah alasan kenapa daya hancur Iron Bullet dianggap biasa-biasa saja.

Lalu, jika harus bertarung melawan musuh dalam jumlah banyak, idealnya adalah menyebarkan peluru dengan kecepatan super layaknya senapan mesin (Machine Gun). Namun mengingat kecepatanku dalam mengumpulkan mana dan menjaga konsentrasi mana saat ini, hal itu tidak mungkin dilakukan.

……Kalau begitu, lebih baik gaya senapan sebar (Shotgun).

Shotgun adalah senjata di mana banyak peluru timah dimasukkan ke dalam selongsong, dan setiap kali ditembakkan, peluru-peluru itu akan menyebar luas sehingga bisa mengenai target dalam satu bidang. Jika aku bisa mengaturnya agar menyebar dalam jangkauan luas, aku bisa menyerang banyak musuh sekaligus dalam satu tembakan.

Apa aku bisa?

Sebagai orang yang bereinkarnasi, aku seharusnya bisa membayangkan gambaran konkretnya dengan cukup mudah.

Mulai hari berikutnya, aku memulai latihan khusus sendirian demi menyempurnakan imajinasiku.

……

Pertama-tama yang kubutuhkan adalah tempat latihan menembak. Karena performa sihirku masih belum diketahui, akan gawat kalau ada peluru nyasar yang mengenai pelayan.

Aku memutuskan untuk meratakan tanah menggunakan sihir atribut Tanah, sekaligus menjadikannya bagian dari latihan sihirku untuk membangun tempat menembak.

Seperti saat pemeriksaan atribut dulu, batu atau logam yang diciptakan dari mana akan langsung kembali menjadi partikel mana dan larut ke udara begitu suplai mana terputus. Sama seperti api dari sihir api yang langsung padam.

Sebaliknya, jika aku memanipulasi dan menggerakkan tanah yang asli dengan sihir, tanah itu akan tetap ada di sana tanpa menghilang. Untuk membuat tempat menembak, cara kedua lebih baik.

Aku mencari cara untuk memanipulasi tanah di buku. Meskipun atribut utamaku adalah Logam, itu tetap termasuk dalam cabang atribut Tanah. Kurasa aku bisa menggunakannya sedikit-sedikit.

……

"Wahai manaku, jadilah mana bumi, dan kuasailah tempat ini."

Tapi, sihir ini ternyata lebih berat dari dugaanku…… Meskipun jumlah manaku sudah bertambah karena peningkatan level, aku harus terus mengeluarkan mana secara berkelanjutan untuk memanipulasi tanah demi meratakannya. Begitu aku mencoba bersemangat melakukannya terus-menerus, manaku langsung habis dan aku merasa mual.

Aku pun melakukannya sedikit demi sedikit sambil menyelinginya dengan istirahat.

Katanya kalau ada tongkat sihir khusus penyihir, mana bisa diperkuat, tapi aku tidak punya benda semacam itu. ……Kalau begini terus, aku akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk membuat tempat latihan.

Terpaksa, aku harus meminta ramuan mana (Mana Potion) pada Ayah.

Ayah juga tahu kalau aku mulai berlatih sihir. Aku yakin bisa mendapatkannya dengan alasan menggunakan ramuan mana untuk latihan tersebut.

Memang harganya sangat mahal, sekitar hampir seratus ribu per botol, tapi kami adalah keluarga Prosper. Sebagai salah satu perusahaan dagang terbesar di negara ini, kami tidak kekurangan uang. Itu adalah hal yang sangat patut kusyukuri.

"Hei, Papa."

"……Ada apa?"

"Aku ingin Mana Potion."

"Dulu saat kamu menderita penyakit kehilangan mana, seharusnya masih ada beberapa botol yang sudah disiapkan. Gunakan saja itu."

"Umm……"

"Hmm?"

"Itu... sudah habis kugunakan……"

"Apa, katamu?"

Ayah yang tadinya bicara sambil makan tanpa menoleh ke arahku, langsung menatapku mendengar ucapanku. Tapi aku tidak boleh menyerah di sini.

Sebenarnya Ayah tidak bisa menggunakan sihir dan sepertinya tidak punya banyak pengetahuan soal itu. Dia tidak tahu apakah berlatih sihir butuh banyak Mana Potion atau tidak. Aku akan bertaruh pada hal itu.

"Aku terlalu bersemangat latihan bersama Adric-sama. Guru juga bilang kalau kita berlatih keras saat masih muda, mana kita akan jadi lebih kuat."

"Bersama Adric-sama? Ah... begitu ya."

"Kalau di perusahaan ada stok yang tanggal produksinya sudah lama, bolehkah aku memakainya?"

"Tidak mungkin aku memberikan barang seperti itu untuk diminum Adric-sama, kan?"

"Barang-barang seperti itu biar aku saja yang minum. Yang penting kan mana bisa pulih. Sayang kalau kedaluwarsa dan mananya jadi hilang, kan?"

"……Baiklah, akan kucari tahu."

Sip, berhasil. Dengan ini pengerjaan perataan tanah akan lebih cepat.

Meskipun Ayah sering tidak ada di rumah, dia adalah pria yang kompeten. Segera saja, botol-botol Mana Potion yang hampir kedaluwarsa mulai berdatangan ke rumah.

Secara sederhana, Mana Potion adalah larutan yang di dalamnya dilarutkan mana. Konon pembuatannya jauh lebih mudah dibanding ramuan pemulih biasa, tapi harganya mahal karena bahan bakunya yang mahal. Zat yang digunakan untuk melarutkan mana dan mengikatnya agar tidak mudah menguap secara alami adalah gula.

Di masa depan, situasinya akan banyak berubah setelah Revolusi Gula oleh Eric, tapi saat ini harganya sangat tinggi karena menggunakan gula impor.

Katanya meskipun Mana Potion sudah kedaluwarsa, kandungan gulanya masih bisa digunakan kembali, tapi biaya pemrosesannya mahal dan keuntungannya rendah.

Kalau dipikir begitu, menggunakannya untukku adalah investasi yang sangat berarti dan bagus.

Sedangkan soal tongkat sihir, dia hanya menjawab singkat, "Akan kucari."

"Ugh…… Terlalu manis……"

Dasarnya aku memang tidak terlalu suka manis. Bayangkan saja meminum sirup kental tanpa dicampur air sedikit pun. Begitulah tingkat konsentrasi gulanya. Kalian bisa bayangkan betapa menderitanya aku.

Meski begitu, menyelesaikan tempat latihan menembak pribadi adalah impianku. Aku terus bekerja keras sambil memegang botol ramuan di satu tangan.

Dan entah bagaimana, dengan kerja paksa selama sepuluh hari, tempat menembakku akhirnya selesai.

Dalam sepuluh hari aku sudah menghabiskan ramuan senilai jutaan. Tidak ada kemewahan yang melebihi ini…… tapi perutku sudah terasa gawat.

Di dalam tempat menembak yang sudah jadi, aku berbaring dengan lemas.

"Rasanya gula mau keluar dari pori-poriku……"

"Apa yang akan kamu lakukan dengan tempat seperti ini?"

Scott yang sesekali mengintip pekerjaanku dengan rasa penasaran, hanya bisa tertawa kecut melihat hasil karyaku.

……

Tempat latihan menembak ini berada jauh di belakang kandang kuda. Karena kandang kuda baunya tidak sedap karena kotoran hewan, tempat ini jarang didatangi orang, dan karena aku butuh kedalaman ruang yang cukup, tempat ini jadi sangat pas.

Bayanganku adalah seperti tempat latihan menembak dalam ruangan yang pernah kulihat di film.

Tapi karena hanya aku yang pakai, ruangannya sempit dan memanjang tanpa banyak lajur. Awalnya aku hanya berencana mendirikan dinding tanah tebal berbentuk huruf U untuk mencegah peluru nyasarku terbang ke mana-mana, tapi setelah memikirkan berbagai kemungkinan masalah dan melakukan trial-and-error, akhirnya jadi seperti ini.

Lantai dan dindingnya dibuat dari batu yang diiris tipis-tipis menyerupai ubin dan ditata modis seperti lantai batu. Aku cukup puas dengan hasilnya.

Sambil mengulurkan tangan untuk mengambil Mana Potion terakhir yang tergeletak di sampingku, aku menanyakan sesuatu yang membuatku penasaran pada Scott.

"Aku dengar Mana Potion dibuat dengan melarutkan batu mana yang dihancurkan, tapi apa tidak bisa kalau kita langsung menelan batu mananya saja?"

"Memang batu mana itu dibilang sebagai kristalisasi dari mana, sih. Tapi benda itu tidak bisa larut bahkan di dalam perut monster. Paling-paling cuma bakal keluar lagi lewat kotoran, kan?"

"Begitu ya... Eh? Kalau begitu, apa mana itu diserap melalui lambung?"

"Entahlah, tapi kalau diminum baru berefek, berarti memang begitu, kan?"

Berarti saat tubuh menyerap gula, mana juga ikut terserap secara bersamaan? Apa tubuh manusia sendiri memang bisa menyerap mana?

Tapi, Mana Potion memberikan efek yang cukup cepat setelah diminum. Jika gula diserap di lambung atau usus besar, seharusnya butuh waktu lebih lama.

Hmm.

"Mikir yang aneh-aneh lagi ya?"

"Bukan hal aneh, kok. Aku cuma penasaran di mana mana itu diserap."

Kalau dipikir-pikir, ada banyak hal yang terasa janggal. Katanya botol Mana Potion sendiri dibuat agar mana tidak mudah bocor. Tutupnya pun dibuat khusus agar mana tidak menguap.

Karena itulah kalau tutupnya dibiarkan terbuka, mana akan terus-menerus menghilang.

Berarti mana di dalam larutan manis itu sudah jenuh dan akan menguap jika dibiarkan. Karena ditutup, konsentrasi mana di dalam botol tetap tinggi, sehingga mana tetap larut di dalam cairan.

Itu…… bukankah mirip dengan minuman bersoda?

Kalau bersoda, itu artinya gas, kan. Jika mana juga mirip gas…… mungkinkah saat diminum, mana yang pekat itu melewati kerongkongan dan secara paksa menyatu dengan mana yang bersirkulasi di tubuhku?

Kalau begitu, itu bukan penyerapan melalui sel, melainkan pengambilan sebagai mana sirkulasi?

……Jangan-jangan.

Aku berdiri, lalu mulai melakukan posisi Zhan Zhuang. Scott hanya memperhatikanku dengan senang tanpa mengeluarkan suara.

Sreett... Huuu...

Sambil memutar mana perlahan, aku mengarahkan mana ke mata dan kulit. Aku mengirimkan mana murni ke mata lebih pekat dari biasanya. Demi meningkatkan kemampuan penglihatan.

……Ternyata benar.

Meski tidak terlalu pekat, di atmosfer pun ada mana. Begitu aku melihat botol ramuan, aku bisa melihat sedikit mana yang bocor dari bagian tutup yang sudah kuputar. Aku membawa botol itu ke depan hidungku dan menghirup mana yang bocor itu melalui hidung.

Lalu aku memusatkan kesadaran pada paru-paru. Sama seperti cara menyirkulasikan mana di dalam tubuh, aku mencoba menyerap mana yang kuhirup dari paru-paru…… secara sadar. Hembusan napas yang kukeluarkan setelah itu tidak lagi mengandung mana.

——Berhasil.

Sensasi ini…… mungkin ini bisa jadi sesuatu yang luar biasa.

Dengan cara yang sama, aku mulai bernapas perlahan. Memasukkan udara yang mengandung mana ke paru-paru, lalu mengeluarkan udara kosong tanpa mana saat membuang napas.

Sreett... Huuu...

Jika aku bisa melakukan pernapasan ini secara alami setiap saat……

Meskipun aku gagal melakukan latihan Eric untuk meningkatkan jumlah mana secara curang, mungkin aku bisa menggunakan sihir sambil terus menyerap mana dari atmosfer.

Tentu saja mana di atmosfer tidak sebanyak itu. Tapi jika aku bisa terus mengisi mana sambil bernapas, aku merasa itu akan sangat berguna.

"Sepertinya ada hal bagus yang terjadi ya."

"Ya. Bagus sekali."

"……Benar-benar, kamu ini menarik sekali."

"Yang menarik itu adalah dunia ini, tahu."

"Apa maksudmu?"

"Hehehe."

Aku hanya tertawa untuk menutupi kata-kataku sendiri.

Nah, dengan ini persiapannya sudah OK. Aku mengulurkan tangan kanan di tempat latihan menembak, membentuk tangan seperti pistol dengan jari telunjuk mengarah ke depan.

Jika ingin menjadikan pistol sebagai imajinasi atribut Logam, akan lebih baik jika dimulai dari bentuknya.

"Wahai manaku, jadilah mana peluru timah, dan tembuslah musuh."

Ini adalah mantra yang kupikirkan setengah mati. Karena tidak tahu bagaimana mengekspresikan timah, akhirnya aku mengatakannya secara langsung. Aku mengucapkan mantra sesuai prosedur yang diajarkan dan melepaskan mana.

Selama itu pun aku tetap mengalirkan mana ke mata, memastikan bagaimana mana terkumpul dan menjadi sihir.

Melihat mana yang terkumpul di dantian mengalir melalui tubuh menuju tangan dalam sekejap terasa sangat keren seperti di film fiksi ilmiah.

Hanya saja, karena ini bukan menembak menggunakan ledakan mesiu seperti pistol asli, tidak ada suara yang terdengar.

Lalu, peluru timah yang melesat keluar menyerempet sasaran yang berada sekitar tiga puluh meter di depan.

"Hmm. Kok... rasanya agak payah ya?"

Bahkan saat kulihat menggunakan mata yang sudah diperkuat penglihatannya, peluru timah yang menghantam dinding tanah tidak terlihat hancur.

Mengingat peluru pistol seharusnya hancur akibat benturan saat mengenai objek agar bisa memberikan kerusakan yang lebih besar, rasanya hasil ini ada yang salah.

Sambil berpikir keras, aku menciptakan peluru timah di atas telapak tanganku dengan imajinasi yang sama seperti yang kutembakkan tadi. Aku terus menyuplai mana agar peluru itu tidak lenyap, lalu memastikan tekstur dan massanya. Sepertinya ini memang terbuat dari timah.

……Kalau begitu, masalahnya adalah kecepatan.

Bagaimana cara meningkatkan kecepatannya? Apa aku harus memperkuat imajinasinya? Imajinasi tentang akselerasi. Kalau itu pistol, berarti imajinasi tentang peluru yang terdorong keluar oleh ledakan mesiu.

"Wahai manaku, jadilah mana batu karang, dan tembuslah musuh."

Aku mencoba Stone Bullet. Kurasa inilah sihir yang digunakan Radcliff di dalam novel. Mengenai mantranya, aku menggunakan apa yang diajarkan di kastel, jadi seharusnya sama.

Kerikil yang melesat menghantam dinding sejauh tiga puluh meter dan tertanam di dalam tanah.

Hmm. Sepertinya dari segi kecepatan tidak jauh berbeda.

Lalu bagaimana cara meningkatkan kecepatannya? Aku kembali membalik-balik halaman buku.

Cara termudahnya adalah menambah satu baris mantra lagi untuk memberikan atribut kecepatan (Speed). Tapi jika bisa, aku lebih suka tidak menambah baris agar rapalan mantranya lebih cepat dan praktis.

Setelah itu, aku terus melakukan trial and error.

Aku mencoba Fireball dan Waterball yang bukan atribut utamaku, lalu menyadari bahwa kecepatan dari semua sihir itu tidak jauh berbeda.

Apa maksudnya ini……?

Satu hal yang terlintas di pikiranku adalah apakah imajinasi sihir di novel ini berasal dari elemen gim. Dalam gim fantasi, saat menggunakan sihir, biasanya semua kecepatan serangan tetap sama meski atributnya berbeda. Mungkin itu adalah aturannya.

Hanya saja, memang serangan petir terasa lebih cepat, tapi itu mungkin karena karakteristik fisika alaminya.

Bagaimanapun, aku berasumsi bahwa kecepatan zat sihir yang melesat saat menyerang adalah hampir sama. Dan kemungkinan, ada sejarah di mana orang-orang meningkatkan kecepatan tersebut dengan cara menambah baris mantra.

"Wahai manaku, jadilah mana peluru timah, dengan kecepatan kilat, tembuslah musuh."

Sebenarnya dengan kondisiku sekarang, empat baris mantra adalah batas maksimal yang cukup berat.

Namun dengan melakukan ini, kecepatannya meningkat drastis. Tentu saja mana yang dikonsumsi lebih banyak dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Meski begitu, saat kuperiksa dinding tanah yang terkena tembakan, peluru timahnya sepertinya hancur; lubang yang dihasilkan melebar cukup besar.

"Apa aku harus puas dengan hasil ini saja……?"

Sihir empat baris itu sendiri sulit untuk dibangun imajinasinya, dan jumlah mana yang dibutuhkan melonjak drastis. Yang lebih membuatku enggan adalah masalah waktu rapalan mantra yang menjadi lebih lama, seperti yang sudah kusebutkan tadi.

Jika hanya sekadar mengucapkan kata-katanya dengan cepat, menambah satu baris mungkin hanya memakan waktu beberapa detik. Tapi dalam merapal mantra (Chanting), urusannya berbeda. Karena rapalan adalah proses mentransfer imajinasi sihir ke dalam mana, kata-katanya harus diucapkan dengan mantap dan perlahan sampai batas tertentu.

Penyihir veteran mungkin bisa melakukan High Speed Casting, tapi aku masih jauh dari tingkat itu.

……Aku benar-benar ingin bisa melakukan tanpa rapalan (No-Cast).

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan itu.

Aku semakin memperpekat aliran mana yang kualirkan ke otak.

──Wahai manaku, jadilah mana peluru timah……

Aku mentransfer imajinasi yang diperkuat oleh otak langsung ke mana di telapak tanganku. Namun, karena sensasinya sangat berbeda dengan saat merapal mantra, aku tahu ini tidak berjalan lancar. Bahkan No-Cast dua baris yang ditunjukkan Luke pun terasa sangat sulit bagiku yang sekarang.

"Hmm…… Untuk saat ini, kuncinya adalah jumlah latihan."

Sial, Eric bisa menyelesaikan No-Cast tanpa masalah sama sekali dan bersikap seolah "Eh? Apa aku melakukan sesuatu yang luar biasa?" seolah itu hal yang wajar. Apa-apaan perbedaan ini?

Aku tidak akan kalah.

Hari itu, aku menghabiskan seluruh waktu untuk melatih sihir tanpa rapalan……

Keesokan harinya pun, aku sudah mengurung diri di tempat latihan menembak sejak pagi.

Bagaimanapun ini sangat sulit. Aku menyesal tidak memperhatikan aliran mana Luke dengan lebih saksama saat dia melakukan No-Cast waktu itu.

Aku ingin menambah aliran mana ke otak, tapi aku takut karena ini organ yang vital. Kalau hanya Boost ringan sih tidak apa-apa, tapi kalau berlebihan dan sampai terjadi kerusakan permanen, itu benar-benar skenario terburuk. Kalau sampai kena pecah pembuluh darah otak lalu lumpuh sebelah, tamat sudah kehidupan dunia lain yang kuimpikan.

……

Hmm……?

Eh?

Mungkinkah, perasaan takut inilah yang menjadi penghambatku?

Tiba-tiba aku merasakan hal itu. Aku memiliki pengetahuan dari masaku di Jepang. Karena itulah aku memasang penghambat di bagian yang aneh, bukan?

Seingatku Eric itu…… tidak, dia juga seharusnya bereinkarnasi di usia yang cukup dewasa. Berarti mungkin bagian itu sengaja dipotong di dalam novel.

"Habisnya, aku kan takut……"

Meski begitu, hanya ini yang bisa kulakukan sekarang. Untuk sementara, sedikit demi sedikit, aku meningkatkan tekanan mana sambil tetap mengawasi beban pada otakku.

Bukan hanya otak, aku juga meningkatkan mana seolah-olah memperkuat pembuluh darah di sana.

"Nngggghhh."

Karena rasa takut, aku memejamkan mata rapat-rapat dan secara bertahap menambah jumlah mana.

Tambah lalu coba, tambah lalu coba; secara bertahap jumlah mananya meningkat hingga dua kali lipat dari awalnya. Meski begitu, otakku entah bagaimana masih bisa berfungsi.

……

Aku terus mencoba sambil menambah mana lebih banyak lagi. Sambil merasa ngeri seolah-olah otakku akan terbakar habis……

Dan akhirnya, aku berhasil melakukan sihir tanpa rapalan.

──Wahai manaku, jadilah mana peluru timah……

Dengan otak yang diaktifkan oleh mana, aku membangun imajinasi, lalu mentransfernya ke dalam mana dan melepaskannya. Saat membuka mata, di sana sebuah peluru timah sudah bertengger di telapak tanganku.

"Sip! Aku juga bisa!"

Berhasil sih sudah, tapi itu pun masih dengan mata terpejam dan konsentrasi penuh. Aku harus membuat tubuhku terbiasa dengan ini sedikit lagi.

Mungkin rasanya seperti belajar naik sepeda; sekali bisa, setelah itu aku berhasil melakukannya terus-menerus tanpa gagal. Masalahnya adalah tingkat di atas itu. Setelah kucoba, ternyata tingkat kesulitannya berlipat ganda setiap kali baris mantranya bertambah.

Aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan sihir serangan dasar tiga baris.

Setelah berlatih selama beberapa hari, aku mulai merasa mentok.

"Aaaaaaaaarrgh! Mana nih bonus reinkarnasinya!"

Lama-lama aku mulai merasa buntu. Mengingat Eric di cerita asli bisa menggunakan sihir tanpa rapalan dengan sangat mudah, bahkan melakukan latihan khusus untuk menambah mana, rasanya sangat menyesakkan.

Aku memang punya sedikit kebijaksanaan karena faktor usia, tapi aku tidak punya kemampuan curang (Cheat) yang luar biasa seperti sang protagonis.

"Sialan. Baiklah. Hari ini aku akan melakukan hal lain!"

"Hehehe. Semangat ya."

"Eh! A-ah... Tilly, ternyata kamu ada di sini."

"Iya. Sepertinya Anda sedang kesulitan ya."

"Iya, begitulah……"

Ugh. Apa dia melihatku bicara sendiri? Aku tidak keceplosan soal Eric, kan……? Aku mencoba membaca raut wajah Tilly, tapi sepertinya tidak ada masalah.

Tilly meletakkan makan siang di atas meja bareng yang kupasang di sudut tempat latihan.

"Sekali-kali tolong temani Hati bermain. Sepertinya anak itu sangat ingin berlatih bersama Tuan Muda."

"Hahaha…… Benar juga ya. Mungkin setelah pekerjaanku di sini menunjukkan hasil?"

"Baik, kalau begitu selamat berjuang."

Setelah mengantar kepergian Tilly dengan pandanganku, aku melihat ke arah meja tempat makanan diletakkan.

"Oh."

Di atas meja ada sebuah pai. Mungkin dia mempertimbangkan agar aku yang sedang latihan bisa makan sambil beraktivitas. Hanya saja, pai itu tidak akan ketahuan isinya sampai dimakan.

Apa mungkin isinya tiba-tiba pai apel sebagai pencuci mulut?

Saat aku mengambil pai itu, rasanya masih sangat hangat. Aku suka adonan painya. Teksturnya yang renyah terasa menyenangkan. Menteganya juga lezat. Dan di dalamnya…… ternyata pai bisque. Bahan seafood-nya memberikan rasa yang kaya.

Gimana ya, perpaduan tekstur isinya yang lembut dengan adonan pai yang renyah benar-benar yang terbaik……

Setelah mencoba bergaya seperti kritikus makanan begitu, rasanya suasana hatiku sedikit membaik. Sambil lanjut menghabiskan makan siang, aku memikirkan rapalan mantra untuk menembakkan peluru sebar (Shotgun).

……Hmm.

Mantra itu memang tidak bisa dimungkiri punya atmosfer chuunibyou. Aku sempat ingin mengubahnya sesuai gayaku sendiri, tapi entah kenapa aku merasa ekspresi yang agak chuuni justru membuat kekuatan sihirnya lebih terasa. Aku menyimpulkan bahwa ini karena sisa-sisa kegemaran membaca Light Novel di dalam diriku.

Jadi, ekspresi yang agak bergaya mungkin akan lebih memperluas imajinasi sihirnya.

Pertama, bagian "Wahai manaku, jadilah mana peluru timah" sudah pasti akan diletakkan di awal, tapi aku bingung baris selanjutnya harus bagaimana. Sihir yang mirip Shotgun kurasa adalah sihir bernama Stone Shower……

Mantranya adalah "Wahai manaku, jadilah mana batu karang, dengan seribu kerikil, hancurkan musuh"—mantra empat baris. Tentu aku sudah mencobanya, tapi itu seperti menembakkan Stone Bullet dalam jumlah banyak sekaligus, yang mana menguras mana secara gila-gilaan.

Dan meski dibilang mirip, cara pelurunya keluar berbeda. Saat sihir diaktifkan, selama beberapa detik kerikil dalam jumlah banyak akan melesat keluar secara beruntun. Jika bisa ditembakkan seperti senapan mesin mungkin bagus, tapi karena kerikil-kerikil itu menyebar berantakan, sulit untuk membidik target.

Lagipula, menggunakan sihir empat baris masih cukup sulit bagiku. Setiap kali merapal empat baris, jika konstruksi imajinasi, transfer, dan penyatuannya tidak dilakukan dengan tepat, kegagalan sihir bisa saja terjadi. Itu juga memakan waktu.

……

Sambil merenung, aku memasukkan sisa pai yang sudah mendingin ke mulutku.

Eh?

Pai itu meski tampilannya sama, isinya bisa diubah menjadi pai daging atau pai apel. Masalahnya adalah isinya, ya…… Selama ini aku hanya sibuk memikirkan mantranya, tapi mungkinkah yang lebih penting adalah memperbaiki imajinasinya?

Imajinasi……

Bisakah aku mentransfer imajinasi pistol atau Shotgun di kepalaku secara langsung?

Kalau harus menjadikannya kata-kata rapalan memang sangat sulit. Tapi sebagai orang yang bereinkarnasi, aku bisa membuat imajinasi yang nyata. Bisakah aku menjadikan bagian itu tanpa rapalan?

Bagian awal rapalan memiliki kesan kuat tentang imajinasi sihir yang tidak ada di Bumi. Aku akan merapal bagian itu saja, lalu bagian belakangnya aku masukkan imajinasi senjata api yang asli tanpa rapalan…… Bisa dibilang ini sistem hibrida.

Semakin dipikirkan, ini terasa seperti ide yang bagus.

Baiklah. Ayo kita coba.

……

Aku segera berdiri di area menembak.

Pertama, pistol…… Untuk menyederhanakan mekanismenya, imajinasinya adalah revolver. Chiefs Special. Sesuai seleraku dengan laras pendek…… yang berlapis krom mengkilap.

Huuu……

Aku menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Seperti biasa, aku menjulurkan tangan ke depan, mengacungkan satu jari telunjuk membentuk pistol.

Imajinasi. Imajinasi.

Aku mengalirkan mana ke otak sebanyak mungkin. Di dalam kesadaranku, sebuah pistol yang nyata mulai tercipta di benakku.

Mana yang bocor dari titik pelepasan berada di bawah kendaliku, mengalir dengan tepat di sepanjang tubuh dan terkumpul di jari telunjuk.

"Wahai manaku……"

Sambil membangun imajinasi pistol, aku mengubah mana menjadi peluru timah.

"Jadilah mana peluru timah……"

Sensasi dingin muncul di pangkal ibu jari yang kuberdirikan. Aku mengumpulkan imajinasi di kepalaku ke tangan. Aku menggerakkan ibu jariku seolah menarik pelatuk…… bersamaan dengan sebuah kata.

"Hantam!"

Pada saat itu, suara kering yang tajam meledak, dan lenganku terdorong ke belakang oleh efek hentakan (Recoil).

……

"……Hah?"

Eh? Apa itu tadi? Bahkan ada sesuatu seperti asap yang mengepul dari ujung jariku.

Apa aku berhasil menembak? Aku memang melihat sesuatu seperti peluru melesat dari ujung jari. Tapi apa itu sudah menjadi sihir……

Aku berlari menuju dinding tanah di depan. Dan setelah melihat bekas yang tertinggal di sana, keraguanku berubah menjadi keyakinan.

……Berhasil.

……Berhasil!

Akhirnya aku menemukan kepingan harapan.

Meski sudah mulai berlatih sendiri, aku tetap rutin pergi ke kastel seminggu sekali.

Apa yang kulakukan saat ini cukup nyeleneh, dan karena aku merasa sedikit waswas untuk menunjukkannya kepada Adric dan yang lain, aku tetap mempelajari pengetahuan sihir dunia ini dengan serius saat sesi latihan bersama.

Prinsip utama sebagai Master Light Novel sekaligus orang dewasa adalah jangan sampai melakukan aksi "Eh? Apa aku melakukan sesuatu yang luar biasa?" secara tidak sengaja.

Begitulah, saat ini aku sedang mengobrol dengan Lumiera sambil melihat Adric yang sedang berjuang keras melepaskan serangan petir di lapangan latihan.

"Hei, apa ada trik khusus untuk sihir penyembuhan?"

"Hmm. Triknya…… mungkin dengan memikirkan keadaan orang lain."

"Memikirkan orang lain?"

"Iya. Aku dengar perasaan seperti 'pasti sakit' atau 'kasihan, aku harus segera menyembuhkannya' bisa meningkatkan daya penyembuhan."

"Heh, perasaan, ya……"

Begitu ya, itu mungkin salah satu cara untuk meningkatkan ketajaman imajinasi.

"Wahai manaku, jadilah mana penyembuh……"

Aku mencoba melakukannya sebagai percobaan. Kemudian, cahaya redup muncul di tanganku. Oh, apa aku berhasil?

……Tapi entah kenapa warnanya terasa keruh.

Pipit! Pipi yang tadinya ada di bahu Lumiera melompat ke arahku dan meloncat-loncat dengan gembira.

"Wah. Ternyata Rad hebat ya."

"Eh? Kenapa?"

"Sihir penyembuhan itu atribut khusus, jadi jarang ada orang yang bisa mengeluarkannya meski hanya dua baris dasar."

"Tapi rasanya lemah sekali. Warnanya juga aneh, kan?"

"Hmm. Memang sih. Coba aku keluarkan juga ya."

Setelah berkata begitu, Lumiera memancarkan cahaya penyembuhan di telapak tangannya. Cahaya Lumiera adalah cahaya putih bersih yang indah tanpa kekeruhan sedikit pun. Kali ini Pipi kembali ke bahu Lumiera dan tampak senang.

Sambil tertawa kecil melihat tingkah Pipi, aku menatap cahaya Lumiera dalam-dalam. Jika dibandingkan, cahayaku memang sedikit keruh keabu-abuan. Terlebih lagi intensitas cahayanya kecil, sepertinya akan padam jika tertiup angin.

Memang inilah sihir penyembuhan yang asli. Sekali lagi aku mengeluarkan cahaya dan mendekatkannya ke samping cahaya Lumiera.

"Rasanya kalau begini tidak akan bisa menyembuhkan, ya?"

"E-entahlah……"

"Setidaknya sepertinya tidak praktis. Sihir api jauh lebih kuat."

"Hmm. Tapi bisa mengeluarkannya saja sudah hebat."

"Begitu ya. Yah, tapi Lumiera bisa mengeluarkan cahaya sebanyak ini sih."

Apa aku terlalu sinis? Mendengar perkataanku, Lumiera panik karena takut kata-katanya disalahartikan.

"B-bukan begitu. Aku hanya bisa melakukan ini dengan benar. Tapi Rad kan bisa menggunakan berbagai macam sihir."

"Hahaha. Benar juga. Tapi sepertinya yang praktis bagiku tetap sihir tanah ya?"

"Kamu bisa melontarkan batu sebesar itu. Itu sudah lebih dari cukup."

"Ya. Terima kasih."

"Lagi pula…… aku memakai ini……"

Sambil berkata begitu, Lumiera menunjukkan liontin yang dikalungkan di dadanya. Aku penasaran apa itu, dan dia memberitahuku.

"Ini bisa memperkuat mana."

"Ah, semacam tongkat sihir?"

"Iya. Karena itulah cahayanya bisa sebesar ini."

Dia melepas liontin itu lalu mengeluarkan cahaya penyembuhan lagi.

Memang sedikit mengecil, tapi tetap saja cahayanya cukup besar.

Itu adalah liontin yang dipakai oleh putri seorang Marquis. Pasti permata sihir yang digunakan cukup berkualitas. Berarti, penguatan mana itu mungkin efeknya tidak segila itu juga.

"Tapi, cahaya Lumiera memang indah."

"Eh? A-ah, terima kasih……"

Lumiera tertunduk dengan wajah yang memerah karena malu saat aku memujinya. Kurasa dia memiliki sedikit perasaan rendah diri karena merasa hanya bisa menggunakan sihir penyembuhan. Bagi anak seperti dia, pujian adalah obat yang paling mujarab.

Hmm?

……Kalau tidak salah, Orang Suci yang muncul di cerita asli juga hanya bisa menggunakan sihir atribut Suci dan tidak bisa menggunakan sihir lainnya. Apa ini semacam syarat untuk menjadi Orang Suci, yaitu tidak boleh bisa menggunakan sihir ofensif?

Coba kupikir.

Apakah ada sihir suci yang berguna dalam pertempuran? Sebenarnya ada sihir atribut non-elemen bernama Punishment, yaitu menembakkan gumpalan mana langsung ke lawan. Namun, sihir itu mengharuskan penggunanya menciptakan gumpalan dengan kepadatan mana yang sangat tinggi. Mengingat tingkat kesulitannya, daya serangnya tidaklah seberapa.

Lalu yang terlintas di ingatanku adalah sesuatu seperti Holy Shield, tapi itu lebih berfungsi untuk memantulkan kutukan jahat; untuk pertahanan fisik, sihir itu tidak berguna.

Memang, sihir Holy War yang digunakan Orang Suci pada pertempuran terakhir di novel sangatlah ngeri, tapi itu sudah termasuk tingkat sihir pamungkas. Tidak mungkin Lumiera yang baru mulai belajar sihir bisa menggunakannya.

Uuugh……

Saat diserang bandit nanti, akan lebih baik jika Lumiera punya sihir yang bisa menjadi senjatanya.

……Mungkin sulit, tapi mungkinkah menciptakan versi lemah dari Holy War?

Sama seperti aku yang berjuang keras mengembangkan sihir pistol, asalkan imajinasinya tepat, pasti bisa. Jika aku memikirkannya dengan matang dan membimbing Lumiera, mungkin ini akan berhasil.

"……Lumiera, atributmu sihir Suci, kan?"

"Eh? I-iya……"

"Selain sihir penyembuhan, apa kamu bisa sihir lain?"

"Umm. Akhir-akhir ini aku sedang berlatih sihir penawar racun (Antidote), tapi……?"

"Begitu ya. ……Hei."

"I-iya?"

"Maukah kamu mencoba memikirkan sihir baru bersamaku?"

"Hah?"

Lumiera menatapku dengan wajah melongo mendengar kata-kataku.

"Maksudku begini. Semacam sihir tipe bantuan yang bisa memberikan pembenaran pada tindakan yang kita anggap benar? Semacam itu?"

"Tipe bantuan? Tapi sihir tipe mental seperti itu terdengar sangat sulit."

"Bukan, bukan sihir tipe mental, umm…… Kamu tahu soal Holy War?"

"Tentu saja tahu…… Eh? Tidak mungkin. Mana bisa aku melakukan itu."

"Aku tidak menyuruhmu melakukan Holy War, ini soal imajinasinya."

"I-imajinasi?"

"Ya. Holy War adalah sihir yang memberikan perasaan euforia hingga seseorang rela menyerahkan nyawanya demi Tuhan, kan?"

"I-iya."

"Bukan sampai sejauh itu, tapi sesuatu yang bisa mendorong rasa keadilan untuk melindungi seseorang. Sesuatu yang memberimu sedikit dorongan keberanian?"

"Hmm. Aku mengerti apa maksudmu……"

Sama seperti Adric, Lumiera adalah anak yang cerdas. Dia langsung memahami maksudku. Masalahnya adalah motivasi untuk melangkah sejauh itu demi sihir baru. Jika disuruh tanpa alasan yang jelas, dia tidak akan punya cukup kesungguhan.

Bagaimana caranya, ya.

"Menurutmu, kenapa aku terpikir soal sihir ini?"

"Umm…… Kenapa?"

"Ayahmu, sang Marquis, selalu membawa prajurit pengawal setiap kali keluar, kan? Menurutku itu karena beliau sering diincar oleh orang jahat. Di saat seperti itu, jika ada sihir seperti ini, kekutan para prajurit bisa meningkat, dan kemampuan pengawalan mereka pun jadi lebih hebat."

"Kemampuan pengawalan, ya."

"Benar. Kalau begitu, kita yang dilindungi akan lebih aman, dan para prajurit pun punya kemungkinan lebih besar untuk bertahan hidup tanpa kalah dari orang jahat, kan?"

Hmm. Alasanku agak maksa, ya? Tapi apa yang kukatakan tidak salah, kok.

Lagipula, Holy War pada dasarnya adalah sihir yang memanfaatkan rasa keadilan para pengikutnya.

Lumiera tampak merenungkan kata-kataku berkali-kali.

"……Jadi, ini juga demi para prajurit, ya."

"Benar sekali. Aku dan Seva juga berniat menjadi pengawal Adric di masa depan. Aku berpikir alangkah bagusnya jika ada sihir seperti ini di saat-saat seperti itu."

"Rad dan Seva juga?"

"Iya. Benar. Ini akan menjadi kekuatan untuk melindungi teman. Karena itulah, ini adalah sihir Suci."

"Itu sihir yang sangat indah! Baik. Aku juga ingin mencobanya!"

Bagus. Aku berhasil menyalakan sakelar di hati Lumiera. Jika itu Lumiera yang selalu memikirkan orang lain lebih dari siapapun, sihir ini akan memiliki kekuatan yang besar.

Kami menjadikan kata-kata mantra sebagai pekerjaan rumah untuk minggu depan, dan setelah aku menyampaikan imajinasi yang kupikirkan sekuat tenaga padanya, latihan hari itu pun berakhir.

Setelah itu, selama beberapa minggu, aku mengurung diri di tempat latihan menembak setiap hari untuk mengasah sihirku. Sesekali Scott mengintip, namun dia hanya menatap latihanku dengan wajah heran lalu kembali ke kandang kuda.

Sebenarnya berisiko menunjukkan latihanku pada Scott yang merupakan seorang Morgan, tapi di depan Scott, aku hanya menggunakan sihir pistol. Meski begitu, bagi Scott yang sudah kenyang pengalaman sebagai petualang, sihir ini pasti terasa sedikit unik.

Sisanya, aku selalu mengecek buku, jadi dia pasti punya kesan kalau aku mendapatkan pengetahuan ini dari buku.

……

Sedikit demi sedikit, sihir hibridaku mulai terbentuk.

Malahan, aku merasa sistem hibrida adalah yang paling optimal untuk memasukkan imajinasi duniaku yang dulu. Meski aku ingin terus meningkatkan teknik hingga akhirnya bisa melakukan segalanya tanpa rapalan…… tapi kehidupan dunia lainku baru saja dimulai.

Sejujurnya, jika boleh berharap, aku sangat ingin menggunakan sihir tipe Gatling agar tidak perlu takut meski musuhnya berjumlah banyak, tapi mana untuk mempertahankan sihir itu tidak mencukupi. Karena itulah aku memikirkan Shotgun, tapi itu pun membuatku sedikit pusing.

Memang, dengan metode memasukkan imajinasi Bumi, aku entah bagaimana bisa menggunakan Shotgun. Tapi jika menggunakan imajinasi Jepang, serangan itu tidak memberikan kesan serangan area luas (Area of Effect). Sihir itu bagus untuk menyerang satu target secara merata, tapi sudut penyebarannya tidak terlalu lebar. Tentu jika musuhnya jauh jangkauannya akan melebar, tapi daya hancurnya pun akan berkurang drastis.

Setelah berpikir keras, aku memikirkan satu metode serangan. Aku tidak tahu apa ini bisa dilakukan, tapi dalam jangkauan kemampuanku sekarang, pilihannya sangat terbatas.

Sisanya, aku hanya perlu terus berlatih.

……

Di sisi Lumiera, sihir barunya juga mulai terbentuk dengan lancar.

Luke sang guru juga tertarik dengan upaya kami menciptakan sihir baru dan memberikan berbagai saran.

Lagipula, Luke juga tidak memiliki pengetahuan ahli mengenai sihir penyembuhan. Sepertinya dia sempat bingung harus mengajarkan apa setelah sihir penyembuhan dasar selesai, jadi upaya kami ini sangat membantunya.

Dan setelah beberapa kali menjadikan kami sebagai kelinci percobaan untuk mengasah sihirnya, saat penyempurnaan pun tiba.

……

Di lapangan latihan, aku mengetes apakah efeknya bisa mengenai banyak target sekaligus pada Seva dan Adric.

"Oi, oi, kenapa aku yang jadi musuhnya! Aku juga akan melindungi Lumiera, tahu!"

……Hadeh. Dasar otak otot yang mabuk cinta.

Sebenarnya aku memanggil Seva karena ingin mencoba membedakan target agar musuh tidak ikut terkena efek penguatan (Buff), tapi dia malah merengek ingin menerima sihir di sisi Lumiera.

Apa boleh buat. Kali ini aku yang sudah dewasa yang akan berperan jadi musuh.

……

"He-he-he. Nona manis. Bersiaplah!"

Reaksi mereka sangat buruk padahal aku sudah berusaha keras mendalami peran penjahat…… Tidak. Terlalu buruk malah.

"……Woi."

"Bwahahaha! Apa-apaan itu!"

"Rad……"

Tidak…… Aku hanya mencoba memberikan kesan realistis……

Adric terlihat kesal, Seva tidak bisa berhenti tertawa, dan Lumiera tampak sangat ilfil.

"Tadi aku hampir saja benar-benar menebasmu."

"Rad, kamu lucu sekali! Hi-hi-hi."

"Aneh sekali……"

Melihat tiga reaksi yang berbeda itu, aku jadi merasa malu sendiri. Aku hanya diam dan memasang kuda-kuda dengan pedang kayu. Akhirnya, Lumiera mencoba sihirnya.

"Wahai manaku, jadilah cahaya suci, berikan kekuatan pada mereka yang gagah berani……"

Begitu Lumiera merapal mantra, cahaya bening menyebar dari tangannya yang tertangkup seperti sedang berdoa. Cahaya itu juga sampai ke tempatku……

Sebenarnya aku ingin mantranya sampai empat baris, tapi itu terlalu kejam bagi Lumiera yang berusia delapan tahun. Di antara pilihan yang ada, mantra inilah yang paling simpel dan pasti memberikan Buff.

Di rumah, aku sempat senyam-senyum sendiri memikirkan kata-kata "Berikan kekuatan pada pelindungku", tapi ternyata itu sama sekali tidak berhasil, dan aku sempat pusing tanpa tahu alasannya.

Akhirnya terungkap bahwa bagi Lumiera, konsep "pelindungku" sangatlah sulit. Meski berstatus sebagai putri Marquis, hatinya terlalu lembut. Jika dia menganggap para pengawal sebagai pelindungnya sendiri, dia kesulitan untuk memasukkan imajinasinya.

"Mereka yang gagah berani" adalah kata-kata yang dipikirkan sendiri oleh Lumiera.

Pada akhirnya, aku merasa sangat kuat bahwa kata-kata yang dipikirkan oleh pengguna sihir itu sendirilah yang paling pas.




"Ooh! Apa-apaan ini! Keren! Keren banget!"

Komentar dengan kosa kata minim itu datang dari Seva. Tapi, aku bisa melihat dengan jelas bahwa sihirnya memberikan efek yang nyata. Adric pun tampak heran sambil membuka dan mengepalkan tangannya berulang kali untuk memastikan sensasinya.

Sedangkan aku…… Aman. Efeknya tidak mengenaiku.

Imajinasi kuncinya berhasil membedakan mana pihak kawan dengan tepat.

Sip. Berbagai persiapan sudah selesai. Karena Adric akan berangkat ke Ibukota sepuluh hari lagi, latihan sihir minggu depan ditiadakan. Sihir Lumiera sudah selesai tepat waktu. Dengan ini, harapanku bertambah.

Hanya saja, ada satu masalah besar yang belum beres.

Aku berencana untuk membuntuti rombongan Lumiera secara diam-diam setelah mereka berangkat…… Tapi, apa yang harus kukatakan pada orang tuaku agar bisa pergi dari rumah?

Hmm. Memang kalau sedang sulit, Scott adalah tumpuannya.

"Hah? Jangan tanya aku soal begituan, dong."

"Masa tidak ada ide bagus? Dengar ya, kalau sampai terjadi sesuatu pada Lumiera, urusannya bakal gawat."

"Gawat apanya, sih…… Yah, karena kamu yang minta, aku sudah coba cari tahu. Memang benar kalau kelompok penyamun di Gunung Riul itu skalanya sudah makin besar."

"Makin besar……"

"Iya, lagipula kabarnya belakangan ini orang-orang yang benar-benar berbahaya mulai bergabung dengan mereka. Para pemburu bayaran sampai mengeluh karena tempat itu jadi makin sulit disentuh."

"Cih……"

"……Tapi meski begitu, memangnya apa yang bisa kamu lakukan kalau pergi ke sana?"

Dia benar. Aku memang sudah menyiapkan banyak hal, tapi di mata Scott, aku hanyalah anak kecil berusia delapan tahun. Dia pasti tidak berpikir bahwa kepergianku sebagai pengawal akan mengubah keadaan.

"Aku harus pergi…… Bisakah kamu mengumpulkan orang?"

"Memangnya kamu punya uang? Uang hasil menjual buku-buku itu pasti ada batasnya, kan?"

"Uang…… Hmm? Benar juga, Scott. Apa kamu tidak bisa mengumpulkan para pemburu bayaran?"

"Bagaimana caranya?"

"Katakan saja mereka boleh mengambil seluruh uang hadiah dari kepala para penyamun yang mengincar Lumiera."

"Kalau tawarannya memang menggiurkan sih, pasti ada yang mau ikut. Tapi lawan mereka itu sekumpulan penyamun dengan jumlah orang setingkat militer, lho?"

"……Apa tidak bisa dibuat jadi tawaran yang lebih manis?"

"Misalnya bagaimana?"

Ujung-ujungnya aku juga yang harus memutar otak, ya? Scott menatapku seolah menantangku untuk mengatakan sesuatu.

"Misalnya…… mantan petualang peringkat A akan ikut bersama mereka?"

"Aku? Memangnya kamu sanggup bayar berapa untuk menggerakkanku?"

"……Upah harian sebagai guru tidak cukup?"

"Ya iyalah. Aku butuh bayaran seharga mempertaruhkan nyawa. Lagi pula kalau aku masih aktif sih mungkin saja, tapi mantan petualang yang sudah pensiun sepertiku mana mungkin laku."

Scott menggelengkan kepala. Sial, apa tidak ada yang lain……

"Kalau mereka menyerang Lumiera, tidak mungkin seluruh penyamun itu datang, kan? Pasti cuma orang-orang berbahaya yang punya harga kepala saja yang bergerak sendiri. Jumlahnya tidak akan sebanyak itu."

"Aku mengerti maksudmu. Tapi tetap saja jumlah pemburu bayaran tidak sebanyak itu."

"……Lumiera punya pengawal."

"Pengawal?"

"Iya, pengawal dari Ex-Guard. Kalau mereka yang diserang, mereka seharusnya cukup kuat. Nah, kalau para pemburu bayaran ikut campur sebagai bala bantuan, mungkin mereka bisa dapat imbalan juga dari Tuan Tanah!"

"……Cuma itu yang bisa kamu pikirkan?"

"Tidak bisa, ya……?"

"Huff…… Baiklah, aku akan coba bicara dengan beberapa orang. Tapi ingat, mereka itu cari uang demi nyawa sendiri. Kalau mereka merasa tidak sanggup, mereka akan langsung kabur, paham?"

"Aku mengerti."

Berarti dia mau bergerak, ya…… Seberapa banyak yang bisa terkumpul sekarang bergantung pada keahlian Scott.

Meski begitu, alasan untuk keluar rumah masih jadi masalah.

Persiapan untuk berangkat tidaklah banyak yang bisa kulakukan.

Soal kuda, rencananya aku akan dibonceng di depan Scott. Lalu untuk makanan, aku meminta Scott mengumpulkan makanan praktis yang mudah dibawa. Aku jadi sangat bergantung pada Scott dalam banyak hal, tapi urusan finansial tetap harus aku yang tanggung.

Biaya sewa kuda untuk para pemburu bayaran yang ikut juga menjadi tanggung jawabku. Omong-omong, yang paling mahal adalah upah sewa Scott sendiri.

Setelah bimbang, karena masih ada satu buku lagi yang isinya agak dewasa, aku memintanya menjual buku itu untuk modal persiapan. Judulnya "Wanita Bangsawan yang Boros", sebuah novel yang isinya cukup abnormal. Itu adalah buku yang membuatku menyerah setelah baru membolak-balik beberapa halaman saja.

Dan di luar dugaan, buku itulah yang terjual paling mahal di antara semua buku yang pernah kujual.

Suatu saat aku harus minta maaf pada orang tuaku, tapi saat ini aku punya keinginan kuat untuk menghindari death flag. Aku membenarkan tindakanku dengan menganggap ini semacam prinsip bertahan hidup di situasi darurat.

Dan sepuluh hari kemudian. Akhirnya, hari keberangkatan pun tiba.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close