NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 8 Side Story 1

Cerita Sampingan 1

Ambisi dan Niat Buruk

Di salah satu ruang tamu kediaman keluarga Grandork, pemimpin suku Kitsune-jin.

Di sana, seperti biasanya, beridiri seorang pria yang menyebut dirinya 'Robe', mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.

Di hadapannya, telah berkumpul tokoh-tokoh terpandang: sang kepala suku Gareth, diikuti oleh Elba, Malbus, dan Rapha.

"……Demikianlah situasi terkini di wilayah Baldia."

Saat Robe membungkuk hormat, gurat jemu muncul di wajah Elba.

"Hoh. Kupikir dia membeli budak anak-anak untuk apa, ternyata dia malah melakukan investasi besar-besaran demi memberikan 'pendidikan'. Benar-benar hobi yang aneh."

"Sama sekali tidak bisa dimengerti. Namun, Kakak. Seperti yang dikatakan pria ini, kecepatan perkembangan Baldia akhir-akhir ini bisa dibilang sangat tidak wajar."

"Umu. Di pertemuan para kepala suku pun, topik tentang Baldia sering sekali diungkit. Elba, aku merasa sudah saatnya kita bergerak, bagaimana menurutmu?"

"Entahlah……"

Menanggapi pertanyaan Malbus dan Gareth, Elba menopang dagu dengan tangan kirinya sembari memejamkan mata.

Informasi yang dibawa Robe kepada Elba dan yang lainnya sungguh mengejutkan.

 Wilayah Baldia yang berbatasan dengan wilayah Kitsune-jin dan merupakan bagian dari Kekaisaran, telah berhasil mengembangkan berbagai produk baru—dimulai dari 'Lotion', lalu Pocket Watch, hingga Charcoal Car.

Jaringan penjualan produk-produk tersebut, melalui kerja sama antara Kamar Dagang Christy dan Kamar Dagang Saffron, tidak hanya terbatas di seluruh Kekaisaran, tetapi telah menjangkau hampir ke seluruh benua.

Ditambah lagi, dengan pernikahan putra sulung keluarga Baldia, 'Reed Baldia', dengan putri pertama Kerajaan Renalute, perdagangan dengan Dark Elf serta lalu lintas orang menjadi sangat padat.

Wajar saja jika para pedagang berkumpul dan perniagaan menjadi aktif apabila banyak orang yang keluar-masuk dan terdapat produk yang hanya tersedia di Baldia.

Lebih jauh lagi, ada fakta yang membuat Elba dan yang lainnya tercengang. Faktor pendorong pergerakan orang dan barang tersebut ternyata adalah 'anak-anak' yang dijual sebagai budak dari Zvera.

Setelah keluarga Baldia membeli anak-anak yang dijual sebagai budak tersebut, entah apa yang mereka lakukan, mereka memberikan 'pendidikan' berupa sihir, bela diri, hingga pengetahuan umum.

Biasanya, untuk bisa menguasai sihir diperlukan latihan yang sepadan. Namun, keluarga Baldia berhasil membuat lebih dari seratus anak mampu menggunakan sihir dalam waktu singkat.

Tidak hanya itu. Hal yang benar-benar mengejutkan adalah mereka membuat anak-anak itu mampu menggunakan sihir pada tingkat praktis yang bisa digunakan dalam pekerjaan nyata. Ini adalah sesuatu yang bisa dibilang sebagai ancaman.

Elba memiliki ambisi. Ambisi untuk bertahta sebagai 'Beast King' di Negara Beastkin Zvera, lalu memimpin setiap suku untuk menguasai benua. Elba yakin hal itu pasti mungkin dilakukan jika ia memanfaatkan kemampuan fisik tinggi dan sihir milik Beastkin.

Menjadi 'Beast King' dan membuat setiap suku bersumpah setia adalah langkah pertama, namun hal berikutnya yang ia pikirkan adalah pengetahuan ahli mengenai sihir, pendidikan prajurit, serta berbagai teknologi.

Selama mendengar cerita Robe, segala hal yang dibutuhkan Elba setelah ia menjadi Beast King ternyata telah tersedia di Baldia.

Kondisi geografis untuk menguasai benua, teknologi produksi, hingga pengetahuan ahli sihir. Semuanya adalah hal yang menurut Elba akan ia butuhkan suatu saat nanti.

Jika Kitsune-jin bisa menelan Baldia, itu juga akan menjadi prestasi yang bagus untuk menyatukan para kepala suku Beastkin lainnya.

"Rupanya budak yang dijadikan umpan berhasil memancing tangkapan besar."

Setelah merenung, Elba membuka matanya dan mengalihkan pandangan pada Robe.

"Waktunya sudah matang. Sampaikan pada 'pria itu'…… bahwa kami akan mulai bergerak."

"Baik, akan saya sampaikan demikian. Namun, tolong jangan lupakan masalah 'Nannally' dan 'Meldy' yang saya minta."

Meskipun Robe menunjukkan sikap merendah yang kentara, Elba mengangguk datar tanpa memedulikannya.

"Aku tahu. Termasuk masalah pemberesan Reed dan Reiner."

"Terima kasih banyak. Kalau begitu, saya permisi undur diri."

Setelah Robe meninggalkan ruangan, Elba menatap Gareth dengan tajam.

"Ayah. Sampaikan pada setiap suku bahwa 'keberadaan anak-anak yang hilang telah diketahui', dan keluarga Grandork dari Kitsune-jin akan bertanggung jawab menangani masalah ini…… Tolong siapkan landasannya."

Gareth sempat memiringkan kepala sejenak, namun segera tersadar dan menyeringai.

"Aku mengerti. Yang akan kita lakukan mulai sekarang adalah 'Pembebasan Budak'…… Sebuah alasan mulia yang luar biasa."

"Seperti dugaan, Ayah cepat tanggap. Yah, begitulah. Malbus, kau periksa kesiapan militer di dalam negeri. Lalu, siapkan landasan kepada para petinggi kenalan kita di Kekaisaran maupun Balst agar mereka 'tidak ikut campur' dengan apa yang akan terjadi nanti. Lagipula, kita terus menjual budak selama ini adalah demi saat-saat seperti sekarang."

"Siap dilaksanakan. Fufu, jantungku berdebar kencang."

Gareth dan Malbus meninggalkan ruangan bersama-sama dengan raut wajah penuh kegembiraan. Setelah keduanya pergi, Rapha tersenyum misterius.

"Ayah dan Malbus terlihat sangat bersemangat ya. Kakak, lalu apa yang harus kulakukan?"

"Rapha. Kau dan bawahanmu gunakan 'Ilusi' untuk menyusup ke Baldia. Lakukan verifikasi terhadap informasi dari Robe dan kumpulkan informasi yang kurang. Jika memungkinkan, bawa beberapa Beastkin yang menjadi budak ke sini. Lalu, setelah menyembunyikan instruksi yang baru saja kuberikan, bawalah Amon dan Sitri bersamamu nanti. Aku punya sedikit rencana."

"Fufu, kedengarannya mendebarkan dan menarik. Tapi, Amon dan Sitri akan jadi pengganggu jika dibawa sekarang, jadi bolehkah aku membawa mereka setelah tugas dari Kakak agak tenang?"

"Ah, tidak masalah."

"Kalau begitu, aku akan segera bersiap-siap. Ini pas sekali untuk mengusir rasa bosan."

Rapha melangkah ringan meninggalkan ruangan. Elba yang tersisa di sana menyandarkan punggungnya dengan santai pada sandaran kursi.

"Baldia, ya. Tempat yang pas untuk dijadikan batu pijakan."

Ia bergumam demikian, lalu mulai tertawa dengan angkuh.

Di kawasan bangsawan yang terletak di pusat ibu kota Kekaisaran Magnolia, terdapat kediaman 'Keluarga Marquis Jeanpaul' yang sangat besar dengan bangunan yang sederhana namun elegan.

Di salah satu ruangan di kediaman tersebut, Marquis Berlutti dan Bergamot duduk menyandar di kursi mereka, mendengarkan laporan dari Marone dan Belzeria mengenai acara ramah tamah.

"Hoh. Janji berkirim surat dengan Tuan Reed, ya…… Bagus sekali. Ditambah lagi, informasi bahwa mereka sedang meneliti sesuatu yang menggunakan 'Atribut Petir'. Kerja bagus, Marone. Begitu juga kau, Belzeria."

"Terima kasih atas pujiannya, Ayah."

"Te-terima kasih, Kakek."

Marone dan Belzeria membungkuk hormat kepada Marquis Berlutti. Namun, Bergamot menatap Belzeria dengan tatapan tidak puas.

"Aku mengamati kalian dari jauh, tapi yang aktif memperluas percakapan dengan Reed dan yang lainnya adalah Marone. Belzeria, bukankah kau hanya meringkuk dan terlihat tertekan saja?"

"Mo-mohon maafkan saya……"

"Sebagai putra sulung bangsawan, masa depanmu akan suram jika kau terus terbata-bata setiap kali berbicara. Bandingkan dengan Reed dari keluarga Baldia itu. Dia bisa bersikap tegas tanpa merasa gentar sedikit pun terhadap kami. Kenapa kau tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh anak yang seumuran denganmu? Belzeria, kau bukan sekadar anak kecil biasa. Kau adalah pewaris keluarga Marquis Jeanpaul, apakah kau sadar akan hal itu?"

Awalnya Bergamot bicara dengan nada tenang, namun di akhir ia meninggikan suaranya dan menunjukkan kemarahannya.

Belzeria yang gemetar melihat sosok ayahnya, menundukkan pandangan dan menjawab dengan nada menyesal, "Saya tidak punya kata-kata untuk membela diri," sembari membungkuk dalam-dalam. Namun, amarah Bergamot tidak tampak mereda.

"Apa-apaan. Kau bisa bicara normal, kan. Benar-benar suram jika kau tidak bisa melakukan sesuatu tanpa diperintah. Meski kau anakku, aku merasa sangat kecewa."

Mendengar cara bicara yang terlalu kasar itu, Marone yang berdiri di samping Belzeria mengerutkan alisnya.

"Tuan Bergamot, tolong hentikan sampai di situ. Kakak juga sudah berjanji untuk berkirim surat dengan Tuan Reed dan Nona Farah, jadi saya rasa kedepannya mungkin ada hal-hal yang hanya akan diceritakan kepada Kakak saja. Lagipula, saat mendapatkan informasi tentang 'Atribut Petir', itu berawal dari Kakak yang memuji Nona Ellen dan anak-anak Kitsune-jin. Mohon redamlah amarah Anda."

Bergamot mendengus dan melirik tajam ke arah Marone.

"Meskipun begitu, aku tetap merasa kesal karena dia tidak bisa mengatakannya dengan jelas di tempat ini. Lagipula……"

"Sudahlah, hentikan."

Marquis Berlutti menyela dengan suara beratnya.

"Bergamot. Aku mengerti perasaanmu, tapi cukup sampai di sini. Bagaimanapun, kita sudah berhasil mendapatkan informasi. Namun, Belzeria. Apa yang dikatakan ayahmu ada benarnya. Jika kau merasa menyesal, berlatihlah dengan giat agar bisa menang dari Reed. Mengerti?"

"Saya mengerti, Kakek. Ayah, mohon maafkan putra Anda yang tidak berguna ini."

Belzeria membungkuk, lalu mengarahkan pandangannya pada sang ayah.

Namun, Bergamot hanya membalas dengan tatapan dingin dan berkata dengan nada mencampakkan.

"Permintaan maaf itu tidak perlu. Tunjukkan dengan hasil."

"……Baiklah."

Belzeria memberi salam, namun ia tetap menunduk tanpa mengangkat wajahnya.

Meski begitu, tinjunya terkepal kuat dan gemetar sedikit seolah sedang menahan sesuatu.

Marone menatap Belzeria dengan cemas, namun di dalam lubuk matanya, terpancar sebuah cahaya yang aneh. Melihat sosok Marone yang seperti itu, Marquis Berlutti pun menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close