Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Chapter
4
Watanabe Fuka memiliki perbedaan yang sangat mencolok antara hal yang dikuasai dan yang tidak
Peribahasa
"kalau angin bertiup, penjual ember akan untung" adalah kiasan yang
menggambarkan bagaimana hal-hal yang tampaknya tidak saling berhubungan bisa
terjalin secara rumit dan akhirnya menimbulkan dampak di tempat yang tak
terduga.
"To-tolong,
Oki-kun, aku… aku sudah tidak kuat… kalau dilanjutkan lagi… ah…!"
"Tidak
boleh. Yang bilang ingin melakukannya sampai selesai kan Watanabe-san, jadi
kita selesaikan."
"Jangan
bilang begitu… aku benar-benar sudah di batas… jadi…"
Namun,
toko khusus yang hanya menjual ember saja pasti sudah tidak ada lagi di zaman
modern ini.
"Nah,
ke sini. Kamu juga tidak bilang bagian bawah itu tidak boleh, kan?"
"Bu-bukan
begitu…! Bukan berarti aku mau jadi seperti ini…! Ah, jangan… yang itu… cuma
yang itu saja…!"
"Bersuara
seperti itu juga tidak akan menghentikanku. Lihat, bagian atas dan bawahnya
sama-sama sudah memerah."
Kalau
begitu, mungkin sekarang saatnya mengusulkan peribahasa baru.
"Soal
pilihan ganda nomor dua hancur total! Bacaan panjangnya juga salah paham, jadi
pilihan jawabannya malah terbalik. Di pilihan atas Tom bilang tidak suka,
sedangkan di pilihan bawah sama sekali tidak bilang begitu—kebalikannya total.
Kamu paham, kan? Mari kita analisis ulang dari awal. Kalau ini ujian sungguhan,
nilainya sudah pasti merah semua."
"Tidaaak!"
Jika
rumah kemasukan pencuri, entah bagaimana akhirnya malah harus mengajari seorang
elf belajar.
Fuka,
yang jawabannya diberi tanda silang merah terakhir, mengeluarkan suara lirih
seolah menghilang, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas meja lipat tua dengan mata
berkaca-kaca.
"…Mau
istirahat sebentar?"
"…Iya…"
"Minumnya
teh saja tidak apa-apa?"
"Aku
sudah kehabisan energi, jadi tolong gula yang banyak…"
"Siap.
Tunggu sebentar."
Yukuto
berdiri, keluar dari kamarnya ke lorong, lalu menuju dapur di lantai bawah
untuk menyiapkan minuman. Dari lorong lantai dua, langit di luar sudah mulai
redup.
"Sudah
cukup malam ternyata. Kejadiannya mendadak, kita juga mulai terlambat. Tadinya
cuma mau istirahat, tapi setelah minum teh sepertinya memang harus segera
selesai."
Proses
bagaimana Yukuto akhirnya mengajari elf belajar karena rumahnya kemasukan
pencuri ternyata jauh lebih sederhana dibandingkan kisah penjual ember di zaman
Edo.
"Kalau
Kotaki-san sampai tahu Watanabe-san berada di rumahku sampai malam begini…
bisa-bisa aku benar-benar celaka."
◇
Sejak
siang hari, setelah Yui menariknya ke tangga dan menyatakan tekad ‘menaklukkan
Raja Iblis’, Yukuto sama sekali tidak sempat berbicara dengan Fuka hingga jam
pulang sekolah.
Pengaruh
foto yang diunggah ke forum internet masih terasa kuat, dan selain itu, setiap
jam istirahat Izumi selalu berdiri di depan pintu kelas dengan tatapan penuh
tekanan. Napasnya selalu terengah-engah, seolah ia berlari tergesa-gesa ke
sana.
Di
satu sisi Yukuto kagum dengan kegigihannya, tapi di sisi lain ia sadar
sepenuhnya bahwa ada alasan wajar mengapa Izumi sampai seperti itu. Akibatnya,
setiap kali melihat wajah Izumi, ia teringat kejadian dengan Fuka dan hampir
saja tersipu—hari yang benar-benar rumit.
Tentu
saja setelah pulang sekolah pun Izumi sudah menunggu di lorong bahkan sebelum
pertemuan kelas selesai. Begitu bubar, ia langsung masuk ke kelas dan menarik
Fuka pergi hampir seperti penculikan. Ketegasannya sungguh mengesankan.
"Yukuto…
kamu kenapa? Ada apa? Kamu melakukan sesuatu, ya?"
Karena
Izumi jelas-jelas menunjukkan permusuhan pada Yukuto, Tetsuya—yang memahami
hubungan ketiganya—malah menanyai Yukuto dengan nada seperti mengancam.
Yukuto
sendiri sudah pasrah bahwa hari itu tidak akan bisa diperbaiki, jadi ia pulang
dengan jujur, bergantian menjaga rumah dengan ibunya, sekaligus menjawab
pemeriksaan lanjutan dari polisi.
Sekitar
pukul lima sore, sebuah pesan masuk dari Fuka.
[Maaf
soal hari ini. Aku melakukan dan mengatakan banyak hal aneh]
Mendengar
kata "hal aneh" dari Fuka justru membuat Yukuto merasa canggung. Ia
hampir membalas dengan stiker bertema "tidak apa-apa" untuk
menutupinya, tetapi sebelum sempat mengirim,
[Sekarang,
apakah kita bisa berbicara sebentar lewat telepon?]
Fuka
mengirim pesan lanjutan.
Yukuto
merasa memang masih banyak yang belum jelas dari percakapan di tangga, jadi ia
menekan tombol panggilan suara. Fuka menjawab hanya dengan satu dering.
"Halo,
Oki-kun? Aku Watanabe. Sekarang aku ada di depan rumahmu."
Ucapan
itu terdengar seperti kisah urban legend.
"Eh?
Di depan rumahku? Maksudmu benar-benar di depan rumahku?"
"Iya.
Di depan rumahmu."
Suaranya
terdengar agak terengah.
"Tu-tunggu
sebentar!"
Sambil
tetap tersambung, Yukuto bergegas keluar. Di sana, Fuka berdiri dengan seragam
sekolah, tasnya tampak penuh, keringat di dahinya, dan ponsel ditempelkan ke
telinga panjangnya.
"Maaf
tiba-tiba datang, Oki-kun. Tapi hari ini kita hampir tidak bisa bicara sama
sekali."
"Itu
tidak apa-apa, tapi ada apa?"
"Sudah
kubilang, soal menaklukkan Raja Iblis. Untuk itu, aku ingin belajar bersama
Oki-kun."
"Justru
itu yang tidak nyambung. Apa hubungannya Raja Iblis elf dengan belajar
bersamaku? Jujur saja, aku bukan siswa yang pintar sekali."
Itu
adalah kejujuran Yukuto. Ia memang punya mata pelajaran yang dikuasai, tapi
juga ada yang hampir membuatnya mendapat nilai merah.
"Menurutku,
aku masih lebih buruk dibanding nilai ujianku."
"Aku
tidak tahu soal itu."
Sejak
naik ke kelas dua, satu-satunya ujian berkala hanyalah ujian tengah semester
akhir Mei, dan saat hasilnya dibagikan, Yukuto bahkan hampir tidak sempat
berbicara dengan Fuka.
"Maaf
tiba-tiba datang begini… tapi bolehkah aku masuk? Kalau bisa… aku ingin kita
berdua saja. Ada pembicaraan penting."
"Iya,
tidak apa-apa."
Meski
merasa aneh, mendengar Fuka mengatakan pembicaraan penting berdua membuat
Yukuto tanpa sadar langsung mempersilahkannya masuk.
"Permisi.
Terima kasih, Oki-kun. Aku berlari ke sini, jadi agak berkeringat."
Ia
menurunkan tas sekolah di dekat pintu, lalu mengipasi wajahnya dan sedikit
melonggarkan bagian kerah untuk memberi udara.
Yukuto
terkejut oleh gerakan tak terduga itu, dan aroma samar seperti hutan khas elf
terbawa angin. Ia hampir saja menelan ludah, lalu buru-buru melepas sepatu dan
menjauh.
"Oki-kun?
Kenapa?"
"Ti-tidak…
kamarku kamu tahu, kan? Silahkan naik dulu. Aku siapkan minum…"
Ia
menahan suaranya agar tidak bergetar, tetapi Fuka menggeleng.
"Sebelum
itu, Oki-kun. Bolehkah aku melihat jendela tempat pencuri masuk?"
"Eh?
Ah, iya, boleh."
Jendela
besar di ruang tamu lantai satu—kaca yang pecah sudah dibersihkan, dan ruangan
tidak tampak berantakan.
"Permisi."
Begitu
masuk ruang tamu, Fuka menunduk kecil, lalu menatap jendela dengan penutup yang
tertutup tak wajar.
Fuka
berdiri di depan jendela, membuka telapak tangan kanannya, lalu berbisik,
"Noitteneve,
Peamiku."
Saat
itu juga, tubuh Fuka bersinar lembut, dan cahaya sewarna matanya terkumpul di
telapak tangannya yang terbuka.
Selama
beberapa saat, partikel-partikel cahaya hijau berputar indah di depan telapak
tangan Fuka. Ketika akhirnya ia mengerahkan tenaga pada tangan yang terbuka
itu, angin kecil berputar dari bawah kakinya, lalu kilatan cahaya hijau
berbentuk persegi—seolah-olah jendela yang pecah itu dilapisi plastik
keras—menyebar ke seluruh permukaan jendela, sebelum akhirnya menghilang.
"Ini
cuma sebatas penenang saja, tapi aku sudah memasang penghalang sihir di bingkai
jendelanya. Jadi seharusnya tidak akan ada apa pun yang bisa masuk dari sini
lagi… Oki-kun?"
Saat
Fuka menoleh, Yukuto kembali menjaga jarak dengan sikap yang agak canggung.
"Bukan
apa-apa, cuma… karena sihirnya tiba-tiba, aku agak kaget."
Wajah
Yukuto yang mengatakan ia terkejut itu kembali sedikit memerah.
"Ah,
maaf. Aku cuma berpikir yang paling penting adalah memastikan rumah Oki-kun
aman dulu."
"Oh,
begitu."
"Izumi-chan
memang bilang begitu, tapi tetap saja kemungkinan ini ulah orang dari Natche
Riviera tidak sepenuhnya nol. Jadi aku menanamkan semacam peringatan ‘jangan
bertindak semaunya’ dan juga kode untuk mengidentifikasi pengguna sihirnya,
sekaligus pesan kalau mau melakukan apa pun, harus datang ke aku dulu."
Yukuto
terkejut karena ternyata sihir itu serumit itu. Namun lebih dari itu, angin
yang timbul dari sihir tersebut kembali membawa aroma hutan khas elf bernama
Watanabe Fuka ke dalam hidungnya, membuat detak darahnya nyaris tak
terkendali—ia berusaha keras agar hal itu tidak terlihat.
"Selain
itu sebenarnya ada sihir untuk menutup seluruh rumah dengan penghalang, tapi
itu tidak bisa memilih hanya pintu atau jendela saja. Jadi setelah ibu Oki-kun
pulang, nanti aku akan memasang penghalang untuk seluruh rumah, ya."
Setelah
itu, Fuka keluar dari ruang tamu, mengangkat tasnya, lalu menyampirkannya ke
bahu.
"Ehm,
kalau begitu… bolehkah aku kembali mengganggu di kamarmu?"
"Tentu…
aku akan membawa minumannya."
"Terima
kasih banyak!"
Dengan
wajah sedikit memerah dan langkah ringan, Fuka menaiki tangga menuju lantai
dua.
Yukuto
kembali ke dapur dan menyiapkan teh dingin, sambil menelan ludah menghadapi
bayangan masa depan yang terasa cukup mengejutkan.
"Ini…
alurnya bakal jadi mempertemukan Watanabe-san dengan ibuku?"
Karena
terlalu larut membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi saat Fuka dan
ibunya bertemu, teh dingin yang ia siapkan pun jadi sedikit pahit.
◇
Namun,
ketika mereka benar-benar mulai belajar, bahkan Yukuto—yang jelas bukan siswa
papan atas—menyadari bahwa nilai Fuka berada dalam kondisi yang cukup gawat.
Terutama
bahasa Inggris, seperti yang Fuka sendiri katakan, benar-benar kacau. Bahkan
tata bahasa Inggris tingkat SMP pun masih meragukan.
Yukuto
memang tidak bisa menyombongkan diri sebagai jago bahasa Inggris, tetapi ia
selalu bisa mempertahankan nilai sekitar tujuh puluh dalam ujian rutin.
Karena
itu, melihat Fuka tersandung pada soal-soal yang seharusnya bisa dijawab hanya
dengan menghafal kosakata membuat rasa krisisnya langsung meningkat.
Terlepas
dari segala kerumitan situasi, kalau Fuka sampai mendapat banyak nilai merah
dan tidak naik kelas, mereka tidak akan bisa berada di tingkat yang sama lagi!
Akhirnya,
Yukuto sendiri ikut mengulang materi yang menjadi kelemahan Fuka menggunakan
buku pelajaran dan buku referensi. Sambil mengulang pelajaran ujian tengah
semester dan mengerjakan buku soal yang dibawa Fuka dengan susah payah, waktu
pun berlalu hingga lewat pukul enam sore.
Menurut
Fuka, ia juga ingin mengulang sejarah dunia, tapi kalau itu dilakukan sekarang,
hari pasti sudah benar-benar malam.
Selain
itu, Yukuto masih belum memahami maksud sebenarnya dari "penaklukan Raja
Iblis", dan sebagai urusan keluarga Oki, sebentar lagi ia juga harus
menyiapkan makan malam untuk dirinya dan ibunya.
"Kita
sudahi bahasa Inggris sampai di sini saja, dengar soal Raja Iblis sebentar,
lalu hari ini kita akhiri, ya."
Ia
menuang teh dingin, mengisi teko kecil dengan susu, lalu teringat permintaan
Fuka. Karena gula batu sulit larut dalam teh dingin, ia mengambil botol madu.
Semua itu ia letakkan di atas baki dan membawanya ke kamar.
"Hidup?"
Fuka
masih meringkuk di posisi yang sama persis seperti saat ia meninggalkan kamar
tadi. Telinga panjangnya—ciri khas elf—berkedut-kedut seperti ikan yang
terdampar.
"Tidak
hidup…"
Sambil
mengerang, ia mengangkat wajah dengan ekspresi yang belum pernah dilihat
Yukuto—seolah seluruh kecantikannya ditinggalkan di dunia bahasa Inggris.
"Dengan
belajar seperti ini… apa aku benar-benar bisa menghindari nilai merah di ujian
akhir…?"
"Itu
tujuan yang serius banget, ya?"
"Kamu
pasti sudah bisa menebaknya, tapi… aku dapat nilai merah di Inggris Reading dan
Inggris Grammar waktu ujian tengah semester."
"Hah?"
Yukuto
tahu itu mata pelajaran yang sulit baginya, tapi tidak menyangka separah itu.
"Aku
juga tidak bisa dibilang jago bahasa Inggris, tapi… mau tidak kalau kita
melakukan ini secara rutin?"
"Melakukan
apa?"
"Maksudku,
ya… belajar bareng seperti ini."
Melihat
Fuka yang tampak benar-benar kelelahan, Yukuto tanpa sadar mengusulkan hal itu.
Namun di tengah kalimat, ia menyadari bahwa itu terdengar seperti ajakan yang
cukup berani, sehingga semangatnya sedikit mengendur.
"Belajar
rutin… dengan Oki-kun…!"
Namun
di luar dugaan, wajah Fuka kembali segar dan bersemu, lalu bersinar cerah.
"Tapi
bahasa Inggris… u-uh… bahasa Inggris… u-uh…"
Tak
lama kemudian, ekspresinya kembali dipenuhi penderitaan, usaha keras, dan
ketakutan.
"Belajar
rutin dengan Oki-kun… tapi, bahasa Inggris…"
"Ehm,
hari ini juga kita belum belajar sejarah dunia."
"…Sejarah
duniaaa…"
Saat
Yukuto menyingkirkan buku catatan yang terbuka dan meletakkan gelas teh, tangan
Fuka yang memegangnya gemetar seolah hampir memecahkannya.
"Ya…
tidak perlu dipaksakan juga sih. Kita berdua juga punya banyak hal lain…"
Yukuto
hendak menarik kembali usulannya—karena itu datang terlalu tiba-tiba dan ia tak
tahu perhitungan untung rugi apa yang sedang dipikirkan Fuka—tetapi Fuka
menggeleng keras, lalu menatapnya dengan mata memohon.
"Dengar
ya! Bukannya aku tidak mau belajar dengan Oki-kun! Hari ini juga aku yang
minta! Cuma… cuma…"
Lalu
lagi-lagi ia menunduk dengan wajah seolah baru saja memakan rebung, pare, dan
isi perut ikan sarden sekaligus.
"Aku
terlalu benci bahasa Inggris…!"
"Sebenci
itu?"
Yukuto
ikut duduk, lalu menyerahkan teko susu dan botol madu padanya.
"Aku
benar-benar tidak mengerti apa-apa, bahkan tidak tahu harus mulai belajar dari
mana. Cuma buka buku pelajaran saja sudah bikin sakit kepala. Menurutmu,
bukankah orang Jepang seharusnya menargetkan masa depan yang bisa diselesaikan
hanya dengan bahasa Jepang kuno?"
"Tidak
sampai sejauh itu."
Yukuto
pernah mendengar pernyataan serupa dari Tetsuya—tentang matematika—jadi ia
tidak terlalu terkejut, meski mendengar elf berambut pirang dan bermata hijau
dari dunia lain mengatakannya terasa cukup lucu.
"Makanya,
setiap kali ada orang yang bilang ‘asal hafal kosakata, bacaan panjang pasti
bisa dibaca’, kadang aku merasa ingin membunuh mereka."
"Eh."
Yukuto
teringat bahwa ia baru saja mengatakan hal yang mirip.
"Karena
itu Oki-kun masih dapat diskon perlakuan."
"O-oh,
syukurlah. Tapi… bahasa Inggris aku juga mati-matian waktu SMP, jadi aku paham.
Kalau sejarah dunia? Pelajaran sejarah itu kan…"
"Cuma
hafalan?"
"Uh."
"Kalau
lebih dari itu, diskon Oki-kun tidak berlaku."
"O-oh,
begitu ya."
"Lagipula,
aku juga tidak terlalu jago menghafal kata-kata katakana."
Fuka
meneguk teh cukup besar.
"Aku
sudah lebih dulu belajar sejarah Natche Riviera! Jadi semuanya tercampur!"
"Oh!
Begitu!"
"Nama-nama
raja Eropa itu jadi campur aduk! Henry, Chagatai, Karl, Franklin!"
"Chagatai
itu Mongol, dan Franklin sepertinya Amerika… kok bisa Chagatai ikut
tercampur?"
"Chagatai
itu sejarah dunia sini, kan? Aku cuma asal sebut."
Sepertinya
benar-benar tercampur.
"Belum
lagi kalau ditambah ‘yang ke sekian’, kan jadi berlipat ganda."
"Itu
bukan berlipat ganda… meski, ya, mereka memang punya penerus."
"Dan
yang paling bikin kesal, di sejarah dunia kadang ada soal seperti: saat orang
ini melakukan ini di Prancis, siapa yang sedang melakukan apa di Cina? Pilih
jawabannya!"
"Ah,
iya, kadang ada."
"Itu
bikin campur aduk!"
"Begitu
ya…"
"Dan
bukan berarti aku juga jago sejarah di dunia sana!"
Yang
ini benar-benar hanya bisa membuat orang merasa iba.
"Jadi…
saat ini aku berada dalam dilema: aku ingin belajar bersama Oki-kun, tapi aku
tidak mau belajar mata pelajaran yang tidak kusukai."
"Y-ya…
masih ada waktu sampai ujian akhir, jadi untuk sekarang dipikirkan saja
pelan-pelan."
"I-iya…
memang harus berusaha, ya. Kalau sudah berniat menaklukkan Raja Iblis,
setidaknya harus ada unsur menyenangkannya juga…"
Entah
karena benar-benar membenci bahasa Inggris dan sejarah dunia, Fuka masih terus
menggumamkan sesuatu. Namun tepat ketika kata ‘penaklukan Raja Iblis’ terdengar
samar, Yukuto memutuskan untuk menanggapi.
"Hei,
Watanabe-san. Tidak mau mulai cerita sekarang? Maksudmu belajar itu terhubung
dengan penaklukan Raja Iblis—sebenarnya bagaimana sih… eh?"
Akhirnya
terasa seperti waktu yang tepat untuk berbicara serius dengan Fuka, tetapi
justru ponselnya berdering.
"Apa
lagi sih di saat seperti ini… eh?"
"Ada
apa?"
"Maaf,
sebentar ya. Telepon."
Itu
telepon dari ibunya.
Sebagai
siswa SMA kelas dua yang sedang puber, kalau harus memilih antara percakapan
rahasia dengan seorang gadis di kamarnya dan telepon dari ibu, sebenarnya ia
ingin memilih yang pertama. Namun mengingat ini adalah hari setelah rumah
mereka kemasukan pencuri, komunikasi keluarga jelas harus diprioritaskan.
Setelah
meminta izin pada Fuka, Yukuto keluar ke lorong dan menjawab panggilan.
"Halo?
Kenapa? Ada apa?"
"Oh,
Yukuto. Kamu sudah menyiapkan makan malam?"
"Belum.
Tadinya sih mau sebentar lagi… memangnya ibu mau makan di luar?"
"Bukan
itu… tolong dengarkan tanpa marah, ya. Sebenarnya sekarang ibu ada di
Tottori."
"To—hah?
Apa? Tottori? Kenapa?"
"Kan
ibu berangkat kerja di jam itu. Ada penanganan masalah di kantor regional, jadi
ibu diterbangkan dari Haneda, tapi tidak sempat mengejar penerbangan
terakhir."
"Eh,
tapi ini baru jam enam, kan? Masa sih tidak ada pesawat lagi?"
"Penerbangan
terakhir dari Bandara Tottori ke Haneda jam 18.45. Kereta terakhir dari Stasiun
Tottori ke Tokyo jam 18.40, tapi sekarang ibu tepatnya ada di kota
Kurayoshi."
"Maaf,
aku sama sekali tidak punya gambaran soal daerah Tottori, jadi tidak tahu itu
di mana."
"Pokoknya,
tempat di mana sekarang ibu berada itu pasti sudah tidak mungkin mengejar
penerbangan terakhir, entah naik mobil atau kereta."
"Terus,
di situ orang dari kantor pusat Tokyo perusahaan asuransi ngapain? Di saat
seperti ini lagi…"
"Ada
kerusakan pada aset budaya milik prefektur. Kebetulan di kantor regional, orang
yang bisa menangani penilaian asuransi terkait benda budaya itu pensiun tahun
lalu, jadi tidak ada pengganti."
"Ada
juga ya asuransi untuk benda budaya…?"
"Perusahaan
sering punya pekerjaan tak terduga. Kamu tahu tidak, perusahaan pindahan yang
terkenal itu juga menangani pengangkutan benda budaya untuk pameran
museum?"
"Aku
pernah dengar, tapi ini bukan topik yang pas dibahas sekarang, kan?"
"Pokoknya,
maaf ya. Di saat sepenting ini. Polisi yang datang kemarin sudah ibu jelaskan
keadaannya dan mereka akan memperketat patroli."
"Ya…
soal itu sih aku tidak terlalu khawatir."
"Benarkah?
…Kamu tidak memaksakan diri, kan? Sebenarnya kalau ibu berangkat cepat ke Osaka
sekarang, mungkin masih ada kemungkinan pulang, tapi…"
Mendengar
suara ibunya yang penuh kekhawatiran, Yukuto menggelengkan kepala meski tahu
tidak terlihat.
"Tidak,
benar-benar tidak apa-apa. Kalau ibu memaksakan perjalanan lalu tidak sempat
naik kereta terakhir, nanti malah jadi masalah buat ibu, kan? Kalau pergi
karena kerja, tempat menginap sudah aman, kan?"
"Ya…
untuk itu sih sudah. …Kamu kelihatannya benar-benar tenang, ya."
Bagaimanapun
juga, ada elf dari dunia lain yang mengatakan akan memasang penghalang sihir.
Yukuto merasa yakin bahwa bukan cuma pencuri—bahkan kalau tank datang pun—rumah
itu akan baik-baik saja.
"Namanya
juga anak laki-laki. Serius, jangan khawatirkan aku. Besok bagaimana? Ibu tetap
di sana atau pulang ke Tokyo?"
"Tergantung
besok… hari ini saja masih ribet. Tapi lusa pasti pulang."
"Siap.
Kalau ada apa-apa aku kabari. Aku juga punya nomor polisi yang kemarin, jadi
benar-benar jangan khawatir. Oke. Semangat kerjanya. Kalau begitu—…huff."
Setelah
menutup telepon, Yukuto menghela napas panjang dengan perasaan yang rumit.
Dengan
ini, kejadian mendadak mempertemukan Fuka dengan ibunya berhasil dihindari.
Namun di sisi lain, ia juga merasa agak tidak enak dengan perusahaan yang tetap
mengirim pegawainya jauh-jauh sehari setelah rumahnya kemasukan pencuri.
"Tidak
apa-apa? Ada apa? Aku sempat dengar soal Tottori…"
Sepertinya
suara mereka tadi terdengar sampai ke dalam kamar.
"Bukan
masalah besar. Ibu cuma bilang hari ini tidak bisa pulang karena kerja."
"Eh?
Tapi… ini kan sehari setelah rumahmu kemasukan pencuri?"
"Itu
juga kupikirkan. Tapi ya, kerja tetap kerja, penyelidikan polisi juga sudah
selesai sementara, dan meskipun ibu ada di rumah, sebenarnya tidak ada yang
bisa dilakukan juga."
"Ya…
mungkin begitu."
"Lagipula,
sekalipun ibu pulang, besok pagi juga tetap harus berangkat kerja. Jadi ya, mau
bagaimana lagi. Kalau dipikir-pikir, selama pelakunya belum tertangkap, masa
harus selalu siaga terus?"
"Benar
juga…"
"Cuma
ya… maaf kalau terdengar seperti sepenuhnya bergantung padamu, tapi
Watanabe-san kan mau memasang penghalang, ya? Kalau begitu, menurutku aku
sendirian juga tidak masalah."
"……"
"Oh
iya. Karena sudah pasti ibu tidak pulang, berarti saat Watanabe-san pulang,
kamu bisa langsung memasang penghalangnya—eh? Tapi penghalang itu, besok saat
aku keluar rumah bagaimana? Aku bisa keluar dari dalam?"
"E-eh…
soal itu…"
Fuka
terlihat sedikit bingung dan mulai berpikir.
"Ehm…
Oki-kun. Sebenarnya, sebelum datang ke sini, aku sempat memikirkan
sesuatu."
"Apa
itu?"
"Karena
aku kurang becus, padahal Oki-kun kelihatannya ingin membicarakan sesuatu, tapi
malah jadi larut malam, kan?"
"Ah!
Benar juga! Kalau Watanabe-san pulang terlalu malam juga tidak baik, kan? Kamu
juga pasti belum makan malam, dan rumahmu dengan rumahku arahnya berlawanan
lewat sekolah. Kalau mau, aku bisa mengantarmu. Barang bawaanmu kelihatan
besar, aku bisa keluarkan sepeda, taruh di keranjang—"
"Tunggu!
Oki-kun, stop! Tunggu dulu!"
Meski
baru awal musim panas, di luar jendela sudah cukup gelap. Yukuto yang panik dan
berbicara bertubi-tubi dihentikan Fuka—dengan kedua tangan terbuka lebar seolah
sedang menggunakan sihir.
"Haa…
stop. Stop ya, Oki-kun."
"Eh,
aku sudah berhenti kok."
"Iya.
Haa… a-anu, Oki-kun."
"Apa?"
Kedua
tangan yang terbuka itu akhirnya diturunkan. Sepertinya ia tidak akan
menembakkan sihir apa pun.
"Ehm,
tadi kita sempat bicara, kan? Bahwa pencurian ini belum tentu ulah seseorang
dari Natche Riviera, tapi juga tidak bisa dibilang bukan."
"Ya,
makanya kamu memasang penghalang sihir itu, kan."
"Iya,
benar. Tapi… tadi Oki-kun khawatir, kan? Soal apakah bisa keluar dari dalam
penghalang itu. Sebenarnya… tidak bisa."
"Hah?
Serius? Kalau begitu besok aku harus bagaimana?"
"Ehm…
sebagai rencana cadangan, aku sempat berpikir akan bangun pagi dan menjemput
Oki-kun…"
"Tapi…?"
"rencana
cadangan"… apakah itu berarti masih ada ide yang lebih baik?
"Namun,
kalau begitu, seandainya saja—ini benar-benar seandainya ya? Seandainya loh?
Tidak bisa dibilang mustahil, kan, kalau pencuri itu ternyata anggota tim
inspeksi Natche Riviera, mengincar kamera milik Oki-kun, belum menyerah untuk
mencurinya, lalu datang tepat di waktu seperti ini, saat ibu Oki-kun juga
sedang tidak ada di rumah?"
"Ya…
memang sih."
"Jadi,
maksudku… demi melindungi Oki-kun, dan juga demi keamanan keluarga Oki…!"
Wajah
Fuka semakin lama semakin memerah, dan sambil suaranya makin tersendat, ia
akhirnya mengatakannya sampai tuntas.
"Hari
ini… bagaimana kalau… aku menginap… di sini…?"
"Tu—!"
Wajahnya
yang memerah, suaranya, dan tatapan matanya tepat sasaran menembus otak dan
jantung Yukuto.
"Tu…………
tunggu dulu!?"
"Ka-kalau
begitu! Um! Tidak akan ada salah kerja pada penghalang juga! Dan aku ini,
meskipun kelihatannya begini, sebenarnya bisa bertarung lebih baik daripada
orang Jepang biasa! Maksudku, aku tidak akan kalah hanya oleh pencuri kelas
teri! Po-pokoknya!"
Fuka
menarik tas sekolahnya dengan tergesa-gesa, lalu—siapa sangka—ia mengeluarkan
satu set sikat gigi portabel dari dalamnya.
Kemudian,
dengan suara yang seperti diperas habis-habisan, namun tetap menatap lurus ke
arah Yukuto, si elf cantik itu berkata:
"Bolehkah…
aku menginap malam ini?"
◇
Penyesalan
pertama Yukuto adalah, sejak awal ia sudah menetapkan makan malam hari itu
sebagai "hari menghabiskan sisa isi kulkas".
"Eh?
Ini semua Oki-kun yang masak?"
Kalau
Fuka mengatakan itu dalam situasi normal, ia pasti bisa menerimanya dengan
senang hati. Namun hari ini, menunya benar-benar parade sisa makanan.
Nasi
yang dimasak kemarin memang sudah dipanaskan ulang, tapi lauk pendamping
seperti kinpira gobo dan acar cuka itu sudah merupakan hasil gabungan sisa
makanan sejak kemarin, dan tetap saja masih bersisa.
Lauk
utama adalah potongan ikan beku dengan isi berbeda-beda yang entah kenapa
dibeli ibu secara asal.
Kalau
saja itu salmon atau ikan sawara yang rasanya ringan dan mudah diterima, masih
mending. Tapi yang tersisa adalah merluza dan ikan mebaru rasa super
pedas—kombinasi yang, secara halus,
"Dari
ini, yang mana kamu yang mau?"
Sulit
ditanyakan kepada seorang tamu. Saat benar-benar ditanya, Fuka sempat terlihat
ragu sejenak, lalu berkata,
"Aku
kurang tahu… kalau dibagi dua saja, boleh?"
Dan
sekali lagi, Watanabe mengucapkan sesuatu yang tidak baik bagi jantung Yukuto.
Hasil
akhirnya memang baik-baik saja, tapi mengingat kondisi dapur yang sebenarnya
hanyalah sisa makanan, sebagai tuan rumah yang menerima tamu istimewa, menu ini
tetap menyisakan banyak penyesalan.
"Hebat!
Ini seperti set makanan Jepang yang proper!"
Yukuto
sendiri hampir tidak tahu seperti apa "set makanan Jepang yang
proper", tapi setidaknya Fuka—yang duduk di meja makan dengan wajah
tegang—terlihat sangat menyukainya.
Namun
bagi Yukuto, situasi di mana seorang teman sekelas perempuan berada di rumahnya
pada malam hari, lalu mereka duduk berdua saja di meja makan, terlalu tidak
masuk akal sampai-sampai sesekali ia hampir lupa apa yang sedang ia lakukan.
Bukan
berarti ia tidak bisa merasakan rasa makanan. Justru sebaliknya—indra perasanya
menjadi terlalu peka, sehingga ia merasakan rasa lebih kuat dari biasanya, dan
berulang kali bertanya pada Fuka apakah masakannya tidak terlalu asin.
Dan
kemudian, sebagai seseorang yang mengetahui rahasia Watanabe Fuka, ia membuat
kesalahan terbesar.
Mereka
berdua menghabiskan ikan mebaru super pedas itu hampir bersamaan, sambil
sama-sama kesulitan. Fuka berkata bahwa rasanya enak, tetapi terlihat agak
gelisah.
Lalu,
seolah sudah mengambil keputusan, ia berkata:
"Maaf
kalau lancang… tapi kalau masih ada, bolehkah aku minta tambah nasi?"
Yukuto
sempat bertanya-tanya kenapa ia berkata begitu setelah semua lauk habis, lalu—
"………………Ah!"
Ia
baru menyadari bahwa ia menyajikan nasi dengan porsi yang sama seperti biasanya
saat makan bersama ibunya. Keringat langsung bercucuran dari seluruh tubuhnya.
Fuka,
yang saat makan siang bisa menghabiskan satu kotak bekal bertingkat, mana
mungkin cukup dengan nasi sebanyak ini!
"Tu-tunggu
sebentar! Tidak apa-apa! Aku masak nasi cukup banyak! Ah, eh, iya! Harusnya
masih ada sesuatu yang tersisa!"
"Ma-maafkan
aku…!"
Wajah
Fuka memerah, tapi melihat itu justru membuat Yukuto semakin panik. Jelas
sekali, karena kurang perhatian, ia telah membuat Fuka merasa malu.
Yukuto
langsung ke kulkas. Ia mengambil satu butir telur yang tersisa, crab stick yang
sudah dibuka dan agak kering dalam plastik wrap, serta edamame beku.
Dengan
kaldu ayam dan minyak wijen untuk penyedap, ia dengan cepat membuat sup telur
di wajan kecil, lalu menyajikan semangkuk nasi besar dengan "Tenshinhan
ala kadarnya" di hadapan Fuka.
"Maaf
sudah merepotkan… tapi aku senang, kelihatannya enak."
Dengan mata berbinar, Fuka menatap Tenshinhan edamame itu, lalu mulai menyantapnya dengan lahap tanpa henti.
Sudah
lama rasanya sejak terakhir kali melihat cara makan Fuka yang begitu lahap.
"Fuh…
enak banget. Hehe."
Fuka
menghabiskan seporsi besar tenshinhan dengan kecepatan yang mengejutkan, lalu
tersenyum puas.
"A-ah,
itu… di sekitar mulutmu ada butiran nasi…"
"Eh—ah,
ih, jangan gitu dong!"
Ia
panik meraba sekitar mulutnya, lalu menjilat butiran nasi yang menempel di
ujung jarinya. Melihat itu, tekanan darah Yukuto kembali naik.
—Woah,
Fu-chan, entah kenapa gerakan itu agak… seksi.
Mungkin
karena jantungnya memompa darah dengan kecepatan yang tidak normal, otaknya pun
bekerja lebih aktif dari biasanya. Ia jadi teringat komentar sepele berlebihan
dari teman sekelas saat kejadian serupa terjadi di sekolah.
Panggilan
"Fu-chan" tetap saja terasa salah tafsir seperti biasa, tapi untuk
hal selain itu, ia tak punya pilihan selain setuju tanpa peduli rasa malu.
"E-eto,
setelah ini… boleh aku yang membereskan?"
"Ah,
nggak apa-apa. Di rumah cuma dibilas sebentar lalu langsung masuk mesin pencuci
piring. Santai saja."
"B-baik…"
Fuka
mengangguk patuh, lalu duduk dengan lutut rapat dan kedua tangan di atasnya,
punggung tegak lurus, tampak gelisah sambil duduk dangkal di kursi—persis
seperti murid kelas satu SD tepat setelah upacara masuk sekolah.
Sambil
memperhatikan bahwa Fuka belum benar-benar rileks, Yukuto dengan cekatan
memasukkan peralatan makan ke mesin pencuci piring. Begitu tombol mulai
ditekan, urusan beres-beres selesai.
""A-ah,
anu—""
Saat
ia hendak menyapa, suara Fuka juga terdengar, dan mereka saling menyela dengan
sempurna.
"Ah,
ada apa, Watanabe-san?"
"E-enggak,
nggak apa-apa. Silahkan Oki-kun dulu."
"Bukan
hal penting kok…"
"Aku
juga nggak mau bilang sesuatu yang mendesak sih…"
Lalu
terjadilah adu saling mengalah yang berujung saling salah bicara. Benar-benar
tidak sinkron.
"O-Oki-kun
duluan saja! Ayo! Ayo!"
"A-ah,
o-oke. Umm… mau minum sesuatu setelah makan? Ada teh tadi atau teh
barley."
"A-ah…
kalau begitu teh barley saja."
Namun
teh barley yang tersisa hanya cukup untuk satu gelas, sehingga ia tidak bisa
menuangkan untuk dirinya sendiri.
"Eh?
Oki-kun nggak ambil juga?"
"Ah,
aku nggak apa-apa sekarang."
Ia
hanya bisa menjawab begitu.
"Lalu,
Watanabe-san mau bilang apa tadi?"
"Ah,
iya. Umm… aku sudah makan juga, jadi aku mau tanya, boleh mulai memasang
penghalang sekarang atau tidak."
Kedengarannya
seperti memasang penghalang sebagai hidangan penutup, tapi jika dipikir-pikir,
itulah urusan utama Fuka hari ini.
"Tadi
aku sempat coba-coba lihat situasinya sedikit."
Ia
baru pertama kali mendengar bahwa memasang penghalang perlu survei lokasi.
"Kalau
dipasang sesuai ukuran yang dibutuhkan, kotak pos rumah Oki-kun sepertinya akan
masuk sedikit ke dalam penghalang. Jadi kalau malam ini ada paket datang,
mungkin lebih baik menunggu."
"Oh,
begitu. Kalau ada penghalang, barang jadi nggak bisa dimasukkan ke kotak pos
ya."
"Iya.
Kalau disentuh dari luar, bisa kesetrum cukup parah sampai nggak bisa
bergerak."
"Seram
banget…"
"Tapi
kalau nggak segitu, penghalangnya jadi nggak ada artinya."
"U-umm…
berarti kalau ibu pesan belanja online dan pengirimannya malam hari, bisa
bermasalah ya… mungkin lebih aman menunggu sampai lewat ja sembilan."
"Baik.
Kalau begitu, umm… sebentar lagi…"
"Ah,
iya. Mau lanjut bahas soal menaklukkan Raja Iblis? Atau lanjut pelajaran
sejarah dunia?"
"Ah,
itu… umm……… mungkin agak… itu."
"Hah?"
"B-bukan!
Nggak ada apa-apa! Cuma mikir nanti saja, atau kalau penghalangnya jam sembilan
mungkin ada cara lain…"
Fuka
kembali terbata-bata, dan Yukuto sama sekali tak bisa menebak apa yang ingin ia
katakan. Namun Fuka yang terlihat panik lalu menoleh ke arah yang sama sekali
berbeda dan,
"Ah!
Iya!"
Tiba-tiba
bersuara keras.
"Itu—foto
klub voli, pengeditannya nggak apa-apa!?"
"Ah."
Nada
bicaranya terdengar dipaksakan, tapi Yukuto sendiri sudah mengalami terlalu
banyak hal hari ini sampai melupakan urusan itu.
Jika
Fuka tidak tiba-tiba datang, ia memang berniat mengedit foto-foto itu malam
ini.
"Ah—iya
juga. Kalau besok juga libur, kasihan klub voli. Tapi ini bakal makan waktu,
jadi Watanabe-san mungkin bosan… mau nonton TV? Atau kalau mau main ponsel,
silahkan pakai Wi-Fi rumah."
"Umm,
kalau boleh… boleh lihat proses pengeditannya?"
"Pengeditan?
Nggak ada yang menarik sih."
"Itu
karena Oki-kun sudah terbiasa, kan? Aku benar-benar awam soal foto. Karena ini
pertama kali aku ikut dari sisi pemotretan, aku penasaran banget gimana caranya
mengedit foto."
"Ah,
begitu. Orang yang peduli foto di SNS biasanya melakukan ini secara intuitif
sih… ya sudah, aku ambil PC-nya dulu. Tunggu sebentar."
Yukuto
naik ke kamarnya, mengambil kamera DSLR yang dibawa dari sekolah dan mencabut
kabel daya yang terhubung ke laptop desktop lama di sudut meja belajarnya.
"…Hmm."
Ia
merasa layar dan keyboard-nya agak kotor untuk diperlihatkan, jadi ia mengelap
layar seadanya dengan sapu tangan sebelum kembali ke ruang tamu.
"!"
Fuka,
yang tadi duduk di seberang meja, kini sudah pindah dan duduk di kursi sebelah
tempat Yukuto duduk.
Memang
tidak mungkin ia tetap duduk berseberangan kalau ingin melihat layar PC, tapi
entah kenapa sampai detik ini Yukuto sama sekali tidak menyadari konfigurasi
itu.
"U-umm…
maaf menunggu."
Bahkan
di sekolah pun mereka belum pernah duduk bersebelahan, jadi ia tak menyangka
akan duduk berdampingan di meja makan rumahnya sendiri.
"T-tunggu
sebentar ya."
"Mm."
Dengan
gerakan kaku, ia mencolokkan steker ke stopkontak ruang tamu yang jarang
dipakai dan menyalakan PC.
Karena
PC-nya sudah tua, proses menyala cukup lama, dan keheningan selama itu terasa
menyakitkan di telinga.
Begitu
menyala, ia malah jadi memikirkan bagaimana wallpaper desktop yang biasanya tak
pernah ia pedulikan itu terlihat di mata Fuka.
"Ah,
ini Van Gogh, ya? Ini bawaan PC atau selera Oki-kun?"
"Eh—ah,
ini seleraku sih… aku nggak terlalu paham Van Gogh, tapi Starry Night ini sudah
aku suka sejak kecil."
Melihat
reaksi Fuka yang cukup positif, ia berusaha keras agar sedikit rasa senang yang
muncul tidak terlihat di wajahnya.
"Jadi,
biasanya aku pakai software ini buat edit foto."
"Hee…
belum pernah lihat."
"Versi
terbarunya kadang ada iklan di TV. Yang bisa hapus benda nggak perlu di layar
pakai AI, pernah lihat?"
"Ah!
Iya! Yang pohon di depan jerapah tiba-tiba hilang itu, kan?"
"Nah
itu. PC dan soft-ku sudah lama jadi nggak bisa begitu, tapi aku juga nggak
mengedit isi foto secara berlebihan, jadi ini sudah cukup."
Yukuto
lalu menghubungkan kamera dan PC dengan kabel USB dan memuat foto-foto klub
voli ke dalam software.
"Ooh,
itu Komiyama-kun. Sebenarnya sudah kelihatan bagus."
Tanpa
sadar, ia membuka file foto Tetsuya yang bahkan dari thumbnail sudah langsung
bisa dikenali.
"Memang.
Tetsuya selalu menerapkan hal-hal yang aku ingatkan saat latihan. Tapi kalau
bagian ini diatur, kesan fotonya bisa berubah jelas."
"Ah,
benar! Garis-garisnya jadi lebih tegas!"
Yang
ia atur adalah parameter kontras.
"Di
lokasi kita pakai reflektor untuk atur cahaya, tapi nggak ada lampu kilat
seperti di studio. Jadi bagian wajah yang kena bayangan sering kehilangan
detail. Kalau kontrasnya dinaikkan sedikit saja, objeknya jadi lebih menonjol
dari latar belakang. Tapi benar-benar sedikit saja. Kalau kebanyakan, jadinya
begini."
"Wah…"
Saat
kontras diperkuat, warna putih yang menyebar dari bagian dengan cahaya kuat
langsung menutupi wajah Tetsuya, sementara garis-garis hitamnya menjadi setebal
coretan krayon yang digambar kasar.
"Makanya,
kontras jangan kebanyakan. Setelah kontras, yang biasanya aku atur itu
parameter yang namanya saturasi. Kalau ini diubah, warna bisa jadi lebih tajam
atau justru lebih pudar. Yang ini juga kalau terlalu berlebihan, warnanya jadi
aneh, jadi untuk foto yang gelap, aku mengaturnya dengan hati-hati."
"Hee…
jadi kesan tampilannya bisa berubah semudah ini ya."
"Makanya,
kadang kita kebanyakan utak-atik, lalu kepikiran ‘ah, kebanyakan, mending
dibalikin’. Kadang juga coba-coba sentuh kecerahan atau parameter yang ini,
‘hue’. Urutan mau ngatur kontras dulu atau hue dulu saja bisa bikin kesannya
berubah. Tapi foto Tetsuya ini dia pakai baju olahraga biasa, jadi kalau
kebanyakan diedit, bajunya bisa jadi putih menyala, sementara kulit dan
rambutnya kelihatan lebih gelap secara relatif, dan garis dengan latar belakang
jadi samar. Jadi secukupnya saja… sampai sini itu masih sesuai buku teks. Nah,
dari sini baru jawaban versiku untuk pesanan kali ini."
Sambil
berkata begitu, Yukuto sedikit memperbesar foto dari ukuran piksel aslinya lalu
memotong bagian tepinya.
"Foto
setengah badan itu ada dua jenis. Yang pertama, terpotong sampai ulu hati dan
wajahnya ditempatkan di setengah atas layar. Foto promosi artis atau yang
disebut foto artis biasanya pakai gaya ini."
"Foto
pro… apa?"
"Kurang
tahu tepatnya, tapi mungkin singkatan dari ‘materi promosi’ dan ‘artist photo’.
Yang satu lagi itu gaya foto seperti foto identitas yang biasa kita ambil—mulut
ada di tengah layar, dan yang terlihat dari bahu ke atas. Foto Tetsuya ini
kalau dibuat gaya promosi, bagian bawah layar bakal jadi putih semua seperti
overexposure. Jadi lebih cocok dibuat gaya foto identitas. Sementara yang
ini—"
"Ah,
itu Amami-senpai."
"Iya.
Amami-senpai ini pakai jersey sekolah yang warnanya pekat, kan."
Jersey
SMA Minami Itabashi berwarna merah gelap, bisa dibilang merah kacang atau merah
marun.
"Kalau
gambar aslinya warnanya berat, cuma main kontras atau hue saja bisa bikin warna
gelap ketutup atau berubah jadi warna lain sama sekali. Jadi pertama-tama
kecerahan dinaikkan dulu supaya keseluruhan lebih terang, baru kontras dan hue
diatur. Tapi… nanti mau kuusulkan sih, meski buat daftar nama, mungkin
sebaiknya berhenti pakai jersey atau ganti latar belakang dari dinding gym.
Soalnya kalau dipaksa diedit, wajahnya bisa kelihatan menonjol sementara
jersey-nya tenggelam."
Sambil
bicara, Yukuto mengubah berbagai parameter kecil, memperbesar dan memperkecil
gambar, tapi hasilnya belum benar-benar memuaskan.
"Lalu,
karena nggak ada yang pakai seragam pertandingan, untuk sementara kita cuma
bisa mengira-ngira pakai warna rompi ini. Oh, ini Shimizu-senpai ya. Wajahnya
kecil banget. Kalau gaya foto artis, keseimbangannya agak aneh. Kotaki-san,
posisinya agak melenceng dari tengah. Kalau diperbesar mungkin bisa. Hmm—ah,
matanya menghadap ke bawah. Ah, ada beberapa orang juga. Ini perlu sesuatu buat
mengarahkan pandangan. Oh, ini bagus. Ini siapa ya? Yang ini bisa langsung
dipakai… ah."
Awalnya
ia berniat memberi penjelasan pada Fuka, tapi karena pekerjaannya mulai menyita
perhatian, tanpa sadar ia membiarkan Fuka begitu saja.
"Maaf,
maaf ya. Aku terlalu fokus."
"Enggak
apa-apa. Dari penjelasan awal, aku sudah paham kamu lagi ngapain, dan cuma
dengan lihat dari samping saja, orang awam sepertiku juga bisa tahu kalau
fotonya jadi lebih bagus. Lagipula—"
Fuka
sedikit menyandarkan tubuhnya ke meja dan tersenyum.
"Melihat
sisi wajah orang yang sedang fokus bekerja itu… rasanya bagus."
"S-sudah!
I-itu… t-terima kasih…"
Entah
sadar atau tidak dengan gejolak batin Yukuto, Fuka menatap layar lalu menunjuk
ke tepi layar PC.
"Yang
ini aku nggak terlalu ngerti kamu lagi ngapain, ini fungsinya apa?"
"Eh—ah.
I-itu…"
Fuka
duduk di sebelah kanan Yukuto, tapi yang ia tunjuk ada di tab alat di sisi kiri
layar, jadi untuk menunjuknya Fuka harus sedikit condong ke arah Yukuto.
"Eto…
ini ya."
Detak
jantung yang sudah kacau makin diaduk.
Telinga
kiri Fuka—telinga elf—yang condong karena rasa penasaran, menyentuh pipi
Yukuto. Rambutnya bergoyang pelan, membawa aroma lembut, dan seketika pandangan
Yukuto memutih.
"Itu,
um… kita bisa memilih area tertentu, lalu mengubah hue atau kontras hanya di
area itu saja…"
"Oh
begitu. Kenapa?"
"T-terlalu
dekat!"
Ia
patut memuji dirinya sendiri karena tidak mengatakan "wajahmu".
Terus
terang saja, secantik apa pun Watanabe Fuka versi manusia, kecantikan Watanabe
Fuka versi elf tetap membuat detak jantungnya kacau.
Apalagi
jika wajah Fuka berada di antara layar PC dan wajahnya—itu terlalu berbahaya
bagi jantung.
"Eh?"
"A-ah,
maksudku… agak terlalu dekat, itu… berbagai hal."
Ia
sendiri merasa suaranya terdengar sangat bodoh.
"……Ah,
m-maaf!"
Sepertinya
Fuka juga menyadarinya; ia terkejut, membuka mata lebar-lebar, lalu buru-buru
menarik tubuhnya.
"A-aku
juga terlalu terbawa suasana. M-maaf ya!"
"Ah,
nggak…. Umm… kamu boleh tetap lihat kok. Kalau ada yang nggak ngerti, tanya
saja."
Suasana
kembali kaku. Keheningan menguasai ruangan, dan untuk sementara Yukuto terpaksa
kembali fokus pada pekerjaannya.
Detak
jantungnya berdengung di telinga, matanya terasa kering karena terlalu terbuka.
Napasnya pun mungkin jadi sedikit berat. Padahal Fuka ada tepat di
sebelahnya—betapa memalukannya.
Ia
tak bisa lagi menoleh ke arah Fuka. Waktu fokus bekerja itu mungkin belum
sampai lima menit, tapi bagi Yukuto rasanya seperti satu jam, bahkan seperti
keabadian.
Setelah
"lima menit keabadian" itu, terdengar pertanyaan pelan—hampir seperti
salah dengar—namun jelas.
"E-eto…
Oki-kun…"
"Y-ya?"
Bersamaan
dengan jawabannya, tangannya yang mengoperasikan PC pun berhenti.
"Aku
mau bertanya sesuatu yang agak aneh."
"Y-ya…"
"Tadi,
waktu aku terlalu mendekat… Oki-kun kaget dan langsung menjauh, kan?"
"Eh?
A-ah, itu… cuma…"
"Apa
mungkin… aku bau?"
"Kaget
karena tersentuh itu apa? Hah? Apa?"
"J-jadi
begini… mungkin aku hari ini sejak pagi banyak gerak sampai berkeringat, lalu
waktu ke rumah Oki-kun juga agak buru-buru, jadi… mungkin baunya
macam-macam…"
Salah
satu alasan besar pelajar asing merasa bahasa Jepang sulit adalah banyaknya
kata dengan bunyi sama tapi makna berbeda, dan bahkan untuk hal yang sama pun,
perbedaan kanji bisa mengubah kesan yang diterima.
Dan
di sini ada seorang remaja laki-laki yang belum terbiasa dengan kedekatan
berlebihan dengan lawan jenis dan belum terampil memilih kata.
"Umm…
mungkin kedengarannya aneh, tapi baunya… nggak mengganggu kok."
"Eh?"
Fuka
yang sebelumnya memerah sambil menghindari tatapan, kini justru memucat,
membuka mata lebar-lebar dan menatap Yukuto.
"A-aku…
sebau itu? S-sejak kapan?"
"S-sejak
kapan? Eh, umm… ah, waktu pertama kali kamu pasang penghalang kecil di jendela,
baunya sempat tercium lembut…"
"Sejak
awal sudah bau!?"
"I-iya.
Sebelumnya nggak ada bau apa-apa, jadi kupikir mungkin memang begitu."
"Memang
begitu itu gimana maksudnya!? E-eh, baunya seperti apa sih!?"
"Seperti
apa… yah… kalau harus bilang… baunya khas Watanabe-san… seperti aroma
hutan?"
"Ciri
khas aku… bau… hutan… eh."
Maksud
Yukuto sebenarnya adalah bau yang bikin deg-degan dan menarik, tapi mata Fuka
makin kehilangan cahaya, dan seluruh tubuhnya seolah kehilangan hue dan
saturasi.
"J-jangan-jangan
maksudnya bau seperti Nepenthes atau Drosophyllum lusitanicum…?"
"Maaf,
kalau keluar istilah yang sama sekali nggak aku kenal, aku nggak tahu harus
jawab apa…"
Nepenthes
adalah nama lain kantong semar. Drosophyllum lusitanicum adalah tumbuhan
karnivora berlendir. Keduanya memiliki spesies yang mengeluarkan bau tak sedap
bagi manusia untuk menarik serangga atau hewan kecil. Namun Yukuto tentu saja
tidak tahu itu, dan karena ia membayangkan "aroma" bukan
"bau", ia mengangguk tanpa pikir panjang.
"Aku
nggak bisa memastikan, tapi kalau Watanabe-san bilang begitu, mungkin iya.
Kayak… bersamaan dengan sihir, aroma hutan menyebar lembut…"
"………ja."
"Eh?"
"……jan…
ngan."
"Hah?
Apa?"
"J-jangan
mendekat!"
"Eh—!?"
Tiba-tiba
Fuka mengembangkan kedua tangannya dalam sikap menolak, membuat Yukuto
terkejut.
"A-aku
nggak boleh lagi berbuat hal memalukan di depan Oki-kun!"
"Eh?
Ini ngomongin apa?"
"Itu…
aku pikir karena terlalu lancang, lebih baik nggak usah bilang kalau nggak
perlu. Tapi aku sama sekali nggak menyangka sudah membuat Oki-kun merasa
sebegitu tidak nyamannya…"
"Bagian
mana yang bikin nggak nyaman?"
"Jadi
nyaman ya!? Jangan-jangan Oki-kun… s-suka yang begitu?"
"Apa-apaan
tiba-tiba!?"
"A-aku
ingin menghormati selera Oki-kun, tapi sebagai gadis remaja, aku agak sulit
memenuhi permintaan yang terlalu niche…"
"Aku
sama sekali nggak merasa bilang sesuatu yang memancing selera aneh kok!"
"J-jadi
begitu ya! S-setelah ditraktir makan malam dan masih berniat menginap, aku tahu
ini sangat tidak sopan, tapi…!"
Di
balik telapak tangan yang terangkat seolah hendak melepaskan sihir, suara Fuka
yang hampir
menghilang—dengan
wajah dan telinga memerah seperti bola api—membuat jantung dan aliran darah
Yukuto benar-benar mendidih.
"B-bolehkah…
aku meminjam kamar mandinya…? Aku sudah menyiapkan keperluannya…"
"Ngh!?"
Melihat
telinga Fuka yang memerah sampai ke ujungnya, barulah Yukuto menyadari bahwa ia
telah menginjak ranjau besar yang tak terbayangkan.



Post a Comment