NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Chapter 5

 Penerjemah: Taksaka

Proffreader: Manahan


Chapter 5

Masalah Tiga Benda dalam Cinta


1


Sejak kamp pelatihan itu, entah mengapa aku terus menghindari Mihare dan Sayuki-san. Secara konkret kami tetap mengobrol, dan aku pun sering membalas pesan LINE mereka. Namun, begitu sepulang sekolah, aku langsung pulang ke rumah sendirian. Aku benar-benar tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi mereka berdua.


Hari ini pun, sebelum salah satu dari mereka sempat menyapa, aku sudah lebih dulu pulang. Meski begitu, tidak ada hal khusus yang kulakukan; aku bahkan belum melepas seragam dan hanya menatap kosong foto-foto benda langit di ponselku.


Tiba-tiba, suara bel pintu ting-tong bergema. Karena kedua orang tuaku bekerja, aku sendirian di rumah sampai mereka pulang. Mengira itu adalah kurir paket, aku memeriksa kamera interkom.


"Halo... Hehe, aku datang."


Sayuki-san yang mengenakan seragam tampak di layar. Seolah tahu aku sedang memperhatikannya, dia mengedipkan sebelah mata.


"Kenapa... kenapa bisa ada di sini?"


"Habisnya, Ryuuichi-kun. Belakangan ini kamu terang-terangan menghindariku. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain selain aku yang mendatangimu, kan?"


"Bukan itu maksudku, aku tidak pernah memberitahumu alamat rumahku, kan?"


Sayuki-san tertawa kecil.


"Ya ampun, Ryuuichi-kun. Aku ini sudah berkali-kali diundang ke rumahmu, tahu? Apa saja yang ada di kamarmu, bagaimana tekstur tempat tidurmu, bahkan aromanya pun, aku tahu semuanya."


Pasti di "putaran pertama" dulu, aku pernah mengajak Mihare masuk ke rumah. Meskipun begitu, saat aku masih ragu-ragu, Sayuki-san menggembungkan pipinya.


"Hei, lihat ke luar jendela. Hujannya sudah turun, dan aku tidak bawa payung, jadi sepertinya aku tidak bisa pulang untuk sementara."


Mendengar itu, aku melirik ke arah jendela. Benar saja, hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca. Walaupun aku yakin payung lipat pasti ada di dalam tasnya, karena dia bilang tidak bawa, aku tidak punya pilihan lain selain mempersilakannya masuk.


"Permisi."


Setelah merapikan sepatunya di depan pintu, Sayuki-san melangkah masuk ke kamarku seolah-olah dia sudah sangat mengenalnya.


"Wah, tidak berubah sama sekali. Meskipun aku bilang pernah datang beberapa kali, bagi aku di putaran kedua ini, rasanya sudah lama sekali ya."


Layaknya berkunjung ke rumah kerabat tempat ia sering bermain dulu, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, lalu menyadari ada gantungan kunci berbentuk bintang yang tergantung di papan gabus di dinding.


"Ini gantungan kunci acara yang kamu ceritakan sebelumnya?"


"Iya. Itu suvenir dari acara pengamatan bintang yang kuikuti waktu SD. Aku sempat yakin sekali kalau anak yang memiliki ini adalah 'gadis itu'."


"Maaf ya. Sepertinya aku membuatmu salah paham terus. Kalau aku tahu ada barang kenangan seperti ini, aku juga pasti akan ikut acara itu."


Sayuki-san menyentuh gantungan kunci itu dengan wajah tampak menyesal.


"Jadi, kamu benar-benar tidak tahu soal ini?"


"Yang kudengar dari Ryuuichi-kun di putaran pertama hanyalah bahwa kamu melihat gerhana bulan bersama seorang anak perempuan di perkemahan itu saat liburan musim panas SD. Yah, karena 'gadis itu' di putaran pertama adalah orang lain dan bukan aku, wajar saja kalau aku tidak diberitahu."


Tidak banyak kesempatan untuk melihat gerhana bulan saat liburan musim panas SD. Informasi itu saja seharusnya sudah cukup untuk menentukan waktu agar bisa bertemu denganku. Dengan menyaring kandidat tanggal tersebut, Sayuki-san pasti pergi ke perkemahan itu bersama keluarganya.


Setelah mengalihkan pandangan dari gantungan kunci, Sayuki-san duduk di tempat tidurku tanpa ragu. Meski berada berduaan di kamar laki-laki, dia tidak tampak gugup sama sekali. Malah aku yang jantungnya berdebar kencang.


Ada "benda asing" berupa seorang gadis di dalam kamarku yang biasa kulihat. Bagi Sayuki-san mungkin tidak masalah, tapi bagiku ini adalah pengalaman pertama. Hanya dengan dia duduk di sana, aku merasa gelisah seolah-olah tersesat di kamar orang lain.


Setelah menarik napas dalam untuk meredakan ketegangan, aku memantapkan hati untuk bertanya.


"Jadi, um, untuk apa anda datang ke sini? Sayuki-sa... Mihare."


Aku hampir saja memanggilnya Sayuki-san, tapi segera meralatnya dengan nama aslinya.


"Fufu, Ryuuichi-kun kaku sekali ya. Panggil Sayuki saja tidak apa-apa."


"Tapi, kenyataannya kan..."


Sayuki-san menggelengkan kepalanya pelan, membuat rambut panjang yang menjuntai di bahunya bergoyang seperti pendulum.


"Tidak apa-apa. Aku juga sudah menyukai namaku yang sekarang. Lagipula, repot kan kalau harus terus-menerus membedakan nama? Kalau di depan Mihare yang sekarang kamu memanggilku 'Mihare', urusannya bakal jadi rumit, kan?"


Apa yang dikatakan Sayuki-san benar, aku tidak bisa menjamin tidak akan salah sebut.


"...Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang tetap Sayuki-san, ya."


"Iya, pintar. Kedatanganku hari ini karena ada hal bagus yang ingin kuberitahukan padamu."


Sambil membenamkan tubuhnya di kasurku, dia membisikkan kata-kata yang memancing.


"Di luar dingin, tapi ruangan ini hangat karena ada AC ya. Malah mungkin sedikit panas."


Dengan wajah yang tampak memerah, dia memegang pita seragamnya, lalu menariknya perlahan seolah sedang membuka simpul kado. Dia melonggarkan kerah bajunya dan membuka kancing blusnya. Begitu area dadanya yang terasa sesak terbebaskan, aroma tubuh yang manis samar-samar tercium dari sela-sela belahan dadanya yang lembap oleh keringat. Aroma yang terpancar dari tubuhnya seolah memenuhi seisi kamarku.


Sulit sekali rasanya untuk menelan ludah tanpa mengeluarkan suara.


"...Jadi, apa yang ingin diberi tahu?"


Sayuki-san menatapku, lalu mengalihkan pandangannya seolah sedang menggoda.


"Aku bisa saja memberitahumu di sekolah, tapi belakangan ini Ryuuichi-kun sepertinya menghindariku, dan aku juga takut kalau-kalau ada yang menguping. Makanya aku langsung datang ke rumahmu. Aku juga tahu kalau jam segini orang tuamu tidak ada di rumah."


"......"


Apa saja yang pernah dilakukan di kamar ini saat orang tuaku tidak ada? Berbagai bayangan muncul dan tenggelam di benakku seperti buih soda.


"Jadi, soal komet yang belum ditemukan itu, kamu masih tertarik?"


Mendengar itu, bayangan bintang putih kebiruan dengan ekor panjang yang membentang langsung muncul di kepalaku. Jika ditanya seperti itu, tentu saja, aku tidak punya pilihan selain menjawab "iya".


Aku sudah menemukan "gadis itu" yang menjadi tujuan utamaku, namun sebagai pecinta astronomi, aku tidak bisa menahan rasa ingin tahu yang murni. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri komet yang tidak bisa ditemukan oleh siapa pun. Jika beruntung, aku ingin menyematkan namaku padanya. Aku tidak bisa membohongi perasaan itu. Padahal keinginan untuk bertemu kembali dengan "gadis itu" seharusnya sudah terwujud, tapi di sini aku malah mencoba mewujudkan mimpi yang lain. 


Betapa serakahnya diriku ini? Setelah mendapatkan satu hal, aku langsung menginginkan hal yang lain.


Seolah bisa melihat menembus keraguanku, Sayuki-san berkata:


"Kamu tidak perlu menahan diri untuk hal-hal yang kamu inginkan, lho."


Kata-kata Sayuki-san yang melegitimasi hasratku itu membuat satu demi satu rem pengendalian diriku terlepas.


"Kalau begitu... maukah anda memberitahuku?"


"Hmm, bagaimana ya?"


Dia menempelkan jari ke bibirnya, berakting seolah sedang berpikir keras.


"Kalau tidak mau memberi tahu, untuk apa datang ke sini?"


"Bagaimana kalau aku beri syarat pertukaran saja? Sebagai hukuman karena belakangan ini kamu menghindariku."


Sayuki-san yang duduk di tempat tidur menumpukan tangannya ke belakang, sedikit merenggangkan kaki indahnya yang menyembul dari rok pendeknya. Itu adalah posisi yang memungkinkannya untuk langsung telentang di tempat tidur kapan saja.


"...Kalau kamu mau memelekku, akan kuberitahu." 


Jantungku melonjak seakan mau melompat keluar dari tulang rusuk.


"......Serius?"


"Apa aku kelihatan sedang bercanda?"


Gadis yang sudah menyiapkan diri untuk menyambutku ada tepat di depan mata. Fakta itu mulai mengacaukan segala prinsip yang selama ini membentuk diriku.


Entah karena aku salah mengatur suhu AC atau bukan, tubuhku terasa sangat panas. Aku bisa merasakan keringat merembes dari seluruh tubuh. Darah yang mendidih seolah terpusat ke satu titik.


"Kyaa!"


Pekikan yang terdengar senang itu akhirnya menyadarkanku. Tanpa sadar, aku sudah mencengkeram bahu Sayuki-san dan menekannya hingga jatuh ke tempat tidur.


"...Ka-kalau terus menggodaku, aku juga tidak akan bisa menahannya lagi."


Aku menatap wajah Sayuki-san yang tampak bergairah.


"...Boleh saja, kapan pun kamu mau."


Kaki Sayuki-san terbuka perlahan layaknya bunga yang mekar. Kelopak bunga berupa roknya terdorong ke atas paha, menyingkap sedikit demi sedikit "putik" berwarna ungu yang selama ini tersembunyi. Mau tidak mau, aku menyadari bentuk tubuhnya yang berbeda dibandingkan saat dia menjadi "gadis itu" dulu.


Bersama dengan kenangan yang selama ini sangat kujaga, aku ingin mengacak-acak dirinya. Semakin sesuatu itu terlihat indah, semakin besar keinginan untuk mengotorinya. Hasrat seperti binatang buas mulai meluap-luap. Aku ingin membuang semua yang membelengguku. Namun tepat saat itu, ponsel di dalam saku celanaku bergetar terus-menerus. Aku mencoba mengabaikannya, tapi getaran itu tidak kunjung berhenti. Jika itu telepon, mungkin lebih baik aku segera menolaknya saja.


Berpikir demikian, aku mengeluarkan ponsel, namun seluruh tubuhku mendadak kaku saat melihat layarnya.


Asada Mihare. 


Sayuki-san, yang menyadari siapa yang menelepon dari ekspresi wajahku, bertanya lewat tatapannya sambil tetap telentang: Bagaimana sekarang? Logika yang sempat kukira sudah kubuang, kini kembali lagi.


Aku buru-buru menjauh dari atas tubuh Sayuki-san, pergi ke sudut ruangan, lalu mengetuk tombol jawab.


"Mi... Mihare? Sebenarnya sekarang aku—"


『Sudah lihat?』


Kata-kata Mihare yang tidak jelas maksudnya itu menghentikan kalimat pembelaanku.


"Lihat apa?"


『Foto. Barusan kukirim.』


Telepon langsung diputus begitu saja. 


Saat aku memeriksa notifikasi ponsel sekali lagi, tampaknya sebuah data gambar telah dikirim oleh Mihare sesaat sebelum dia menelepon. Begitu aku membukanya, aku merasakan sensasi guncangan seolah bagian belakang kepalaku dihantam dengan keras.


Gambar itu adalah foto selfie Mihare.


Masalahnya adalah pakaian yang dikenakan subjek foto tersebut. Dia hanya mengenakan bra dan celana dalam hitam, nyaris seperti saat dia baru dilahirkan. Kedua pakaian dalam itu memiliki detail renda dan bordir yang memberikan kesan dewasa. Bagian yang tertutup kain pun nyaris tidak bisa dikatakan tersembunyi karena kulit aslinya sedikit terlihat melalui celah bordiran.


Terlebih lagi, itu adalah celana dalam model tali. Jika aku menarik simpul kupu-kupu di kedua sisi pinggangnya, bagian dalamnya yang tanpa pertahanan akan langsung terekspos. Pita hitam itu tampak seperti hiasan untuk menyulap tubuhnya sendiri menjadi sebuah hadiah.


"....? Ada apa?"


Sayuki-san yang sudah bangun duduk di atas tempat tidur, menatapku dengan penuh rasa ingin tahu.


"Ti-tidak, bukan apa-apa!"


Foto seperti ini tidak boleh sampai terlihat!


Dengan perasaan seperti tidak sengaja mengeklik iklan dewasa, aku membalikkan layar ponsel ke arahku dan segera menelepon Mihare.


"Apa yang kau pikirkan, sih!"


『Bagaimana menurutmu?』


Aku tersentak mendengar nada suara Mihare yang seolah sedang mempermainkanku.


"Tiba-tiba mengirim yang seperti itu, maksudku, itu..."


『Memangnya kenapa? Kita kan pacaran. Ryuuichi-kun juga boleh kok mengirimkan berbagai macam hal padaku. Aku pasti akan melihatnya baik-baik.』


"Ber-berbagai macam hal itu maksudnya..."


『Tapi, aku senang kalau kamu menyukainya. Di hari acara pengamatan atap sekolah berikutnya, aku akan memakainya....Kalau kamu ingin melihatnya langsung, bilang saja kapan pun, ya.』


Suara itu terdengar seperti menggelitik telingaku.


"Jangan bercanda keterlaluan—"


Baru saja aku hendak membentaknya.


『Lalu, kalau kamu melihat Onee-chan di suatu tempat, sampaikan padanya untuk pulang sebelum makan malam.』


Satu kalimat itu mendorong balik amarah yang sudah sampai di ujung tenggorokan.


...Jangan-jangan, dia su-sudah tahu?


Mataku dengan cepat melirik ke arah Sayuki-san di atas tempat tidur.


"Aku sedang di rumah, bukan di sekolah. Aku tidak tahu Sayuki-san ada di mana."


Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang, tapi mungkin kejanggalan dalam suaraku tidak bisa disembunyikan.


『Oh, begitu ya.』


Jawaban Mihare terdengar tenang, sedatar permukaan danau tanpa riak.


『Tadi aku LINE Onee-chan tapi tidak dibaca-baca juga, jadi aku pikir dia sedang asyik mengobrol dengan seseorang... Kalau bukan dengan Ryuuichi-kun, ya sudah. Sampai jumpa di sekolah, ya.』


Tanpa memperlihatkan isi hatinya yang sebenarnya, dia memutus sambungan telepon.


Apa maksudnya yang terakhir tadi? Apakah itu benar-benar hanya pesan titipan biasa, atau...


Kejadian di hari kamp pelatihan terlintas di benakku. Setelah ciuman dengan Sayuki-san, aku menghabiskan sepanjang malam mengamati dan memotret hujan meteor Gemini, lalu menyelesaikannya tanpa hambatan sebelum fajar. 


Keesokan paginya kami bangun. Selama perjalanan pulang dari perkemahan menuju rumah, hampir tidak ada percakapan karena semua orang selain guru pendamping tidur terlelap.


Bagaimana keadaan Mihare saat itu? Aku tidak ingat apa-apa karena kepalaku penuh dengan urusan Sayuki-san.


Apakah Mihare mencurigai sesuatu?


"Ada apa dengan Mihare?"


Aku memberitahu Sayuki-san yang tampak sedikit tidak puas.


"...Maaf. Hari ini, sepertinya..."


"Semangatmu sudah hilang?"


Mihare mungkin mencurigai kita. 


Aku ingin mengatakan itu, tapi mungkin Sayuki-san tidak akan peduli.


"Aah, sayang sekali."


Sambil bergumam bosan, Sayuki-san melirik ke luar jendela dan berkata.


"Hujannya sepertinya sudah reda."


Melihat Sayuki-san merapikan pakaiannya yang berantakan dengan cekatan, aku merasa bersalah dan berkata.


"Soal itu, karena aku tidak bisa memenuhi syaratnya, tidak apa-apa jika masalah komet itu dibatalkan saja."


"Ahaha, tidak apa-apa kok. Maaf ya, aku akan memberitahumu dengan benar."


Sayuki-san tertawa sambil mengambil ponselnya sendiri.


"Ta-tapi syarat pertukarannya..."


"Sudah kubilang tidak perlu. Lihat ini."


Notifikasi pesan dari Sayuki-san masuk ke ponselku. Di sana tertera tanggal dan waktu tiga hari dari sekarang, lengkap dengan arah dan rasi bintang yang menjadi penandanya.


Ini pasti informasi untuk menemukan komet yang belum diketahui itu.


"Boleh kah? Benar nih?"


"Lagipula, sejak awal aku memang berniat memberitahumu. Aku bukan wanita sejahat itu, tahu. Yang tadi itu cuma candaan kecil. Yah, kalau bisa sih, aku memang berniat 'melakukannya' tadi."


Senyum menggoda yang biasa ia tunjukkan kini memiliki sedikit rona penyesalan.


"...La-gi-pu-la,"


Sayuki-san bergumam penuh arti sembari bangkit dari tempat tidur, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku. Aroma tubuh yang manis dan hembusan napasnya membelai tengkukku.


"Kita kan pacaran, jadi kalau mau melakukannya, bisa kapan saja kan?"


2


Hari-hari tenang berlalu sembari menunggu dimulainya libur musim dingin. Berbanding terbalik dengan udara dingin musim dingin yang mulai menusuk, suasana di dalam gedung sekolah dipenuhi kegembiraan menyambut liburan panjang, terasa hangat dan nyaman.


Meski begitu, aku justru dipanggil ke belakang gedung sekolah sepulang sekolah. Bagian belakang gedung yang tidak terkena sinar matahari itu sepi tanpa orang; yang ada hanyalah gelombang dingin yang dahsyat yang membuat seluruh tubuhku tidak berhenti gemetar.


"Aku benar-benar minta maaf soal waktu kamp kemarin, sudah merepotkanmu."


Kunitomo yang memanggilku mengenakan seragam klub lari berlengan pendek dan celana pendek, melihatnya saja sudah membuatku kedinginan. Namun, orangnya sendiri tidak merinding sedikit pun meski kulit cokelatnya terekspos di tengah cuaca yang sama sekali tidak terasa seperti musim dingin. 


Apa organ sensorik anak ini sudah rusak?


"Aku juga tidak memikirkannya lagi. Kalau cuma itu yang ingin dibicarakan, aku lebih suka menghangatkan diri di ruang klub."


"Ah, apa mungkin ini untuk persiapan acara pengamatan atap sekolah hari ini? Apa aku harus ikut membantu juga?"


"Tidak. Sebelum persiapan, aku hanya ingin merapikan foto-foto yang diambil saat kamp kemarin. Ini pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri, jadi jangan dipikirkan, tidak perlu bantuan. Kau dan yang lainnya bisa menyusul ke atap setelah latihan klub lari selesai sesuai jadwal."


Hari ini adalah acara pengamatan atap sekolah terakhir di semester kedua. Meskipun selama liburan musim dingin kita masih diizinkan masuk ke atap sekolah jika mengajukan permohonan, namun saat libur akhir tahun dan tahun baru, atap akan ditutup sepenuhnya karena tidak ada petugas sekolah yang berjaga. Dengan begitu, pengamatan atap tidak bisa dilakukan. Secara praktis, hari ini adalah acara pengamatan atap terakhir untuk tahun ini.


"Ah, begitu ya. Kalaupun begitu, maaf ya sudah memanggilmu di saat sibuk begini."


"Tidak apa-apa, jadi apa urusannya?"


"Eeto... bagaimana ya ngomongnya..."


Kunitomo terdiam cukup lama dengan sikap yang tidak biasa baginya, sebelum akhirnya membuka suara.


"Waktu kamp pelatihan kemarin, apa terjadi sesuatu?"


"......Sesuatu apa maksudmu?"


Aku berusaha tetap tenang agar kegelisahanku tidak terbongkar.


"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi belakangan ini Mihare terasa aneh. Shibukawa, kau juga menyadarinya, kan?"


"Apanya yang aneh?"


"Tadi saat di ruang ganti sewaktu ganti seragam olahraga... Mihare, dia..."


Kunitomo menghentikan kalimatnya dan menunduk.


"......Dia... me... makai..."


"Hah?"


Karena suaranya terlalu pelan, aku bertanya balik. Kunitomo pun berteriak kencang ke arahku dengan wajah yang memerah sampai ke ujung telinga, seolah-olah sedang melampiaskan kekesalannya padaku.


"Dia memakai pakaian dalam yang seksi!"


Aku tidak sempat menutup telinga. Suara Kunitomo menembus gendang telingaku hingga meninggalkan bunyi berdenging.


"Mihare yang biasanya sepanjang tahun pakai sport bra dan tidak peduli soal daya tarik, tiba-tiba pakai yang... se-semencolok itu... Rasanya benar-benar pakaian dalam yang sengaja dipakai untuk diperlihatkan pada laki-laki... Gadis tak tahu malu itu bukan Mihare yang aku kenal!"


Kunitomo sepertinya sedang membayangkan penampilan Mihare saat itu, karena kepalanya seolah mengeluarkan uap panas. Dia khawatir layaknya seorang ayah yang protektif. Ternyata dia punya sisi yang cukup polos.


"A-apa itu seleramu?!"


"Bukan! Aku juga kaget tahu!"


"......Berarti, kau juga sudah melihatnya. Pakaian dalam Mihare."


Gawat, aku keceplosan.


"Yah, begitulah, ya."


"Jelaskan."


Kunitomo yang tadi memerah seketika kembali tenang dan menatapku dengan mata yang dingin.


"......Itu kejadiannya baru-baru ini saja..."


Karena menyerah untuk melawan, aku menunjukkan riwayat pesan LINE dengan Mihare dan menjelaskan interaksi kami beberapa hari yang lalu. Tentu saja, aku merahasiakan fakta bahwa Sayuki-san ada di sana saat itu.


Setelah mendengar ceritaku tentang perubahan aneh Mihare, Kunitomo memasang wajah masam.


"Tetap saja, ini aneh."


"Aku malah mengira ini semua karena saran-saran yang kau cekoki padanya."


"Bu-bukan aku! Memang benar aku menyarankannya untuk lebih agresif, tapi aku tidak pernah mengajarinya untuk merayu secara spesifik seperti itu!"


"Benarkah?"


Mengingat perilakunya selama ini, aku sulit memercayainya.


"Beneran! Lihat nih, aku juga dapat pesan seperti ini dan aku bingung harus jawab apa!"


Sambil berkata begitu, Kunitomo menyodorkan layar ponselnya yang berisi obrolan LINE dengan Mihare. Tanggalnya menunjukkan malam hari setelah kamp berakhir dan semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Aku membaca pesan dari Mihare saat itu.


『Bagaimana cara membuat belahan dada?』


Melihat pertanyaan yang sangat lugas itu, Kunitomo awalnya membalas dengan khawatir, 『Tiba-tiba ada apa?』, namun setelah itu dia membalas lagi, 『Aku tidak tahu, tapi di situs ini ada banyak infonya』 lengkap dengan sebuah URL.


"......Karena aku tidak tahu caranya, aku sampai panik mencarinya di internet..."


"Yah, lagipula bertanya padamu memang sebuah kesalahan, sih."


"Mu! Apa maksudmu dadaku kecil?"


"Aku tidak bilang begitu sedikit pun."


Saat aku membalasnya, Kunitomo entah mengapa memasang wajah penuh kemenangan.


"Asal kau tahu ya, dada kecil pun bisa dibuat ada belahannya! Ada busa bra yang umum digunakan, cara mengumpulkan lemak dari samping, metode menarik dan menahannya dengan selotip, sampai menggambarnya dengan kosmetik... Caranya itu ada banyak sekali—!"


Anak ini, dia benar-benar melakukan riset mendalam.


Kunitomo berdehem untuk mengalihkan pembicaraan kembali ke topik awal.


"Lupakan soal itu. Pokoknya, sikap Mihare memang jadi aneh tepat setelah kamp pelatihan. Itulah kenapa aku pikir hubungan kalian sudah mengalami kemajuan besar, tapi..."


"......Yah, itu memang benar."


"Karena ini urusan pribadi kalian, aku tidak akan bertanya terlalu dalam. Tapi aku khawatir karena Mihare yang sekarang sepertinya terlalu memaksakan diri. Hanya kau yang bisa diandalkan, jadi berusahalah yang benar!"


Plak! 


Dia memukul pinggangku. Serangan yang kuat itu meninggalkan rasa sakit yang berdenyut-denyut.


"I-iya aku mengerti, jadi jangan langsung main fisik!"


"Aku benar-benar mengandalkanmu. Kalian berdua harus akur ya!"


Bagaimanapun juga, Kunitomo akhirnya tersenyum menyemangati kami. Dia pasti sangat menyayangi sahabatnya, Mihare, dan sepertinya dia juga sudah mulai mengakuiku. Untuk itu, aku ingin berterima kasih dengan tulus. Namun, jika aku mengatakannya secara gamblang, dia pasti akan besar kepala, jadi aku menyimpannya sendiri.


"Kalau begitu, sampai nanti malam."


Sambil meninggalkan kata-kata itu, Kunitomo berlari menuju lapangan tempat klub lari beraktivitas. Benar-benar seorang sprinter. Punggungnya yang menjauh seperti angin utara segera menghilang dari pandanganku dalam sekejap.


3


Karena mengobrol dengan Kunitomo lebih lama dari perkiraan, tubuhku menjadi sangat dingin. Begitu kembali ke dalam gedung sekolah, udara hangat dari AC mulai menghangatkan tubuh dan hatiku. Aku langsung menuju ruang klub astronomi. 


Seperti yang kukatakan pada Kunitomo, aku berniat merapikan foto-foto hasil kamp kemarin. Karena akan ada laporan kegiatan kepada OSIS di akhir tahun ajaran, lebih baik aku menyusun materinya dari sekarang.


Ah, tapi saat ini tidak ada orang di ruang klub, jadi pemanasnya pasti belum dinyalakan. Memang bagus sekolah ini dilengkapi AC di setiap ruangan, tapi kekurangannya adalah butuh waktu sampai seluruh ruangan menjadi hangat. Namun, saat aku membuka pintu ruang klub, di luar dugaan hawa hangat yang nyaman mengalir keluar dari dalam. 


Sepertinya sudah ada orang di sana. Seseorang sedang duduk menghadap laptop yang terbuka di meja panjang, dan begitu menyadari kedatanganku, ia menoleh dengan senyum lembut selembut sinar matahari musim dingin.


"Aku sudah lancang masuk duluan, Ryuuichi-kun. Ayo, sini."


Sayuki-san menunjuk kursi lipat kosong di sebelahnya. Di laptop yang ada di depan Sayuki-san tertempel label bertuliskan 'Aset OSIS'. Sepertinya dia sedang mengerjakan tugas OSIS sampai aku datang.


"Jadi, apakah persiapan mentalmu sudah selesai? Malam ini adalah waktunya."


"Ya, begitulah."


Aku mengangguk samar. Tidak mungkin persiapanku sudah benar-benar matang.


Malam ini, sebuah komet yang selama ini belum ditemukan akan menampakkan diri. Jika aku mengarahkan kamera ke waktu dan arah yang tepat sesuai instruksi Sayuki-san, aku akan bisa memotretnya. Rasanya terlalu tidak nyata.


"Kenapa? Wajahmu tampak tidak begitu bersemangat."


"Sebenarnya, komet itu seharusnya ditemukan oleh orang lain, kan? Rasanya aku sedikit merasa bersalah karena seolah-olah mencuri hasil kerja kerasnya..."


"Tidak apa-apa. Di putaran pertama, memang hanya orang itu yang menemukannya."


Kata-kata manis itu sedikit memudarkan rasa bersalahku. Komet baru biasanya akan dinamai sesuai penemunya, namun jika ada beberapa orang yang menemukannya secara bersamaan, nama hingga tiga orang bisa disematkan. Jadi, jika di putaran pertama hanya ada satu penemu seperti kata Sayuki-san, maka meskipun aku mengajukan diri sebagai penemu, komet itu akan memakai nama kami berdua. Jadi aku hanya "menumpang" pada hasil temuannya, bukan merebutnya... begitulah logikanya.


Tapi apakah itu benar-benar tindakan yang benar?


Berpikir lebih jauh pun tidak ada ujungnya. Untuk mengalihkan pembicaraan, aku mengintip ke arah laptop Sayuki-san.


"Sayuki-san sedang mengerjakan apa di sini?"


"Macam-macam tugas OSIS. Sebagai anak kelas satu, aku ini bawahan yang sering dipasrahi banyak hal, jadi cukup repot. Begitu masuk libur musim dingin, aku tidak bisa bekerja banyak, jadi harus diselesaikan sekarang."


Sambil berkata begitu, ia memasukkan angka-angka ke dalam spreadsheet. Apakah itu pembagian anggaran klub atau sejenisnya? Karena isinya cukup membuat penasaran, aku memperhatikannya dengan saksama.


"Heei. Jangan melihat terus, dong."


Sambil menggembungkan pipinya, Sayuki-san mengulurkan tangan dan menutupi pandanganku.


"Baik, baik, aku tidak akan melihat."


"Bagus. Kalau mau melihat sesuatu, lihat aku saja ya."


Begitu tangan Sayuki-san yang menutupi mataku diturunkan, wajahnya yang tertawa kecil muncul tepat di hadapanku.


"Ryuuichi-kun juga punya tugas klub astronomi, kan? Mari kita selesaikan bersama-sama."


Aku pun membuka laptop inventaris klub astronomi di sebelah Sayuki-san. Berbagai data foto yang diambil saat kamp kemarin sudah dipindahkan ke sana, jadi aku mulai memilah mana yang perlu dan mana yang tidak. Foto-foto langit berbintang dimasukkan ke folder bahan pustaka, sedangkan foto suasana perkemahan dimasukkan ke folder catatan kegiatan untuk referensi tahun depan.


"Tadi kupikir Ryuuichi-kun yang akan sampai di ruang klub duluan, jadi aku kaget saat tidak ada siapa-siapa. Apa ada urusan lain?"


Diiringi suara ketikan keyboard yang nyaman, Sayuki-san mulai mengajak mengobrol.


"Tadi dipanggil Kunitomo ke belakang gedung sekolah."


"Oleh Yuria-chan? Ada urusan apa?"


"Dia minta maaf karena tidak bisa ikut kamp. Lalu dia bilang kalau belakangan ini sikap Mihare aneh."


"Pasti Mihare hanya sedang terlalu gembira. Karena hubungannya dengan Ryuuichi-kun mengalami kemajuan."


Sayuki-san tampak tidak terganggu sedikit pun.


Namun, apakah benar hanya itu alasannya? 


Aku tidak menceritakan pada Sayuki-san bahwa Mihare mengirimkan foto selfie mengenakan pakaian dalam. Apakah kejadian ini juga sudah dialami Sayuki-san di putaran pertama? Atau ini adalah perubahan yang hanya terjadi pada Mihare yang sekarang?


"Ngomong-ngomong, di luar tadi dingin, kan? Sini, biar kuhangatkan."


Suara ketikan terhenti, dan Sayuki-san sudah berbalik menghadapku. Ia merentangkan kedua tangannya dan mendekat. Ia memelukku dengan lembut, membuat seluruh tubuhku terbungkus hangatnya suhu tubuh manusia. Tubuh Sayuki-san yang sudah lama berada di dalam ruangan terasa sangat hangat. Rasanya senyaman berendam di air panas, dan jika dibiarkan, rasanya kesadaranku akan meleleh. Aku hampir tenggelam dalam kehangatan suhunya.


"Te-terima kasih. Aku sudah baik-baik saja sekarang."


Setelah menyiram kesadaranku dengan "air dingin" logika, aku memegang bahu Sayuki-san dan melepaskan pelukannya perlahan.


"Yah, padahal aku ingin berpelukan lebih lama."


Menghadapi Sayuki-san yang tampak tidak puas, aku memberanikan diri untuk mengusulkan sesuatu.


"Anu, bukankah sebaiknya kita menceritakan yang sejujurnya kepada Mihare?"


"Hal yang sejujur apa?"


"Bahwa Sayuki-san adalah Mihare dari putaran kedua."


"......"


"Bagiku, Sayuki-san adalah Mihare putaran kedua, tapi bagi Mihare, tetaplah Sayuki Onee-chan. Maksudku, jika terus begini, itu... itu..."


"Selingkuh?" 


Sayuki-san tertawa kecil.


"Kamu masih memikirkan hal itu?"


"Tentu saja aku memikirkannya."


"Kurasa apa yang Ryuuichi-kun katakan ada benarnya. Tapi bagaimana cara membuat Mihare mengerti?"


"Bukankah jika anda meramalkan kejadian masa depan berulang kali seperti yang anda lakukan padaku, lama-lama dia akan paham?"


"Tapi begini, ya. Memahami dan menerima itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Meskipun aku meramalkan banyak hal dan membuatnya percaya bahwa aku datang dari masa depan, Mihare pasti tidak akan bisa menerimanya. Aku menjamin hal itu sebagai orang yang merupakan 'Mihare' itu sendiri."


Itu adalah perkataan dari orang yang datang langsung dari masa depan. Tidak ada argumen yang lebih kuat dari itu.


"Malah, jika dia tahu kebenarannya, Mihare akan semakin menderita. Jadi, biarlah hubungan kita menjadi rahasia saja. Demi kebaikan semua orang."


Itu adalah alasan yang licik.


Sekali lagi, tubuh Sayuki-san mendekat. Dia memelukku erat dari depan, menekan dadanya yang berisi ke wajahku. Kata-kataku tertahan oleh gundukan kembar yang terasa empuk dan berubah bentuk di wajahku. Namun, aku tetap mengangkat kepala, merasa harus mengatakan sesuatu.


"Ta-tapi, Sayuki-sa—"


Bibirku tidak bisa bergerak lebih jauh karena sudah disumpal oleh bibir Sayuki-san. Sebuah pembungkaman yang manis, lembut, dan membahagiakan. Saat tautan bibir itu terlepas perlahan, dia membisikkan kata-kata ajaib.


"Aku kan 'Mihare (pacarmu)' dari putaran kedua. Jadi ini bukan selingkuh."


Meskipun jauh di lubuk hati aku tahu ini salah, itu adalah mantra manis yang membuatku melupakannya. Ini seperti narkoba. Melumpuhkan logika, menghapus kecemasan, dan melarutkan rasa bersalah. Yang tersisa hanyalah perasaan optimis yang melayang entah di mana. Tapi, jika aku terus bergantung padanya, suatu hari nanti...


"...Hei, Ryuuichi-kun. Masih ada waktu kan sampai acara pengamatan nanti?"


Sekali lagi, obat manis itu dituangkan ke dalam telingaku. Kami menghabiskan waktu berdua saja di dalam ruang klub yang panasnya tidak wajar untuk musim ini, menunggu sampai langit malam menjadi ideal untuk pengamatan.


4


Malam itu. Setelah menyelesaikan pengamatan senja di atap bersama Mihare dan rombongan klub lari, kami kembali ke ruang klub untuk tidur sejenak. Aku melihat jam di ponsel, sudah pukul 22:00.


Menurut Sayuki-san, komet itu bisa difoto sekitar pukul 5 pagi besok. Terlebih lagi, karena faktor cuaca dan matahari terbit, waktu yang tersedia hanya sekitar 20 menit. Jika melewatkan waktu itu, kami tidak akan bisa mengabadikan komet tak dikenal tersebut. 


Agar tidak melewatkan kesempatan emas itu, aku harus beristirahat dengan baik sekarang demi persiapan siaran langsung besok pagi. Setelah menyantap camilan malam sederhana, kami segera bersiap untuk tidur.


"Semuanya, pasang alarm ya, jam 2 harus sudah bangun," ujar Sayuki-san sambil melihat ke arah anggota klub.


Mihare memajukan bibirnya dengan kesal. 


"Hmph, jangan mengatur-ngatur dong, Onee-chan. Padahal Onee-chan kan orang luar. Lagipula, kenapa sih Onee-chan ikut acara pengamatan hari ini?"


"Aduh, jahat sekali bicaranya. Aku kan sudah membantu kamp pelatihan Astronomi, jadi aku punya hak dong untuk ikut sebagai observer?"


"Meski begitu, apa boleh menginap di sekolah padahal bukan anggota resmi?"


"Aku sudah mengajukan izin tambahan, jadi tidak ada masalah sama sekali."


"...Heeh, persiapannya matang juga ya."


Di samping Mihare yang terus menggerutu, Kunitomo juga tampak ingin mengatakan sesuatu, namun ia tetap bungkam. Mungkin karena dia merasa bersalah telah absen mendadak saat kamp dan posisinya digantikan oleh Sayuki-san. Sebagai gantinya, dia melotot tajam ke arahku.


Yah, mau bagaimana lagi, menengahi adalah tugas ketua klub.


"Oi, jangan bertengkar sesama saudara kembar. Klub Astronomi yang anggotanya sedikit ini selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin melihat atau bergabung mendadak. Kalau kalian tidak bisa akur, aku gunakan wewenang ketua untuk mengusir kalian berdua."


"Uwah, parah, itu namanya tirani!"


"Benar. Meskipun cuma ketua klub kecil, apa kamu berani melawan OSIS?" 


Benar-benar kembar—atau lebih tepatnya orang yang sama—mereka menghujatku dengan kekompakan yang sempurna.


"Acara pengamatan atap ini mendapatkan izin penggunaan langsung dari sekolah melalui aku sebagai ketua. Jadi, baik anggota klub maupun OSIS, tolong patuhi aturannya."


Begitu aku menegaskan hal itu, mereka berdua bergumam "Mumu..." dan akhirnya tenang. Syukurlah.


"Ngomong-ngomong, di mana Inou-sensei?" 


"Masih di ruang guru. Katanya pekerjaan akhir tahun menumpuk. Beliau bilang akan mampir nanti." 


Jawabku sambil membayangkan wajah guru kami yang punya lingkaran hitam di bawah matanya.


"Benar-benar terasa seperti Shiwasu ya," komentar Sayuki-san.


Mihare memiringkan kepalanya. 


"Hah? Apa maksudnya?"


"Itu nama lain untuk bulan Desember. Artinya bulan yang sangat sibuk sampai-sampai seorang guru (shi) pun harus berlarian (wasu)."


Meski sudah dijelaskan oleh Sayuki-san, Mihare tampak tidak paham.


"Hmm? Guru? Berlari? Maksudnya klub lari?"


"Lupakan. Bukan apa-apa." 


Sayuki-san memalingkan wajah, menyerah untuk menjelaskan. Dia tampak agak malu, mungkin karena tidak tahan melihat kurangnya wawasan dirinya sendiri di masa lalu.


Mihare sendiri tampak tidak terlalu peduli. Malah, dia bersikap terlalu normal seperti biasanya. Justru itu yang menakutkan. Di balik senyum cerahnya yang tidak berubah, seberapa jauh sebenarnya Mihare menyadari keadaan yang ada?


"Ayo semuanya, sudah waktunya tidur sejenak."


Atas ajakan Sayuki-san, kami akhirnya mulai bersiap. Kami hanya menggeser meja ke pinggir ruangan dan menggelar sleeping bag di ruang yang kosong. Aku segera menggelar sleeping bag-ku di lantai dan masuk ke dalamnya.


Aku tidak boleh melewatkan komet baru itu, jadi aku harus cepat tidur. Kalau aku sampai tertidur saat pemotretan dan melakukan kesalahan, itu benar-benar tidak lucu.


"Kalau begitu, selamat mal—"


Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sebuah kantong tidur digelar tepat di sampingku, dan Mihare berbaring di sana. Padahal ada ruang yang cukup luas untuk empat orang, tapi dia memilih jarak yang sangat rapat hingga kami hampir bersentuhan.


"Aku mau tidur sambil melihat wajah Ryuuichi-kun, ah~"


Mihare berbaring miring, menghadapku sambil tersenyum manis.


"O-oh."


Aku tidak punya alasan untuk menolak. Meski begitu, wajahnya terlalu dekat. Merasa canggung untuk menatap wajahnya langsung, aku mengalihkan pandangan ke bawah dan menyadari bahwa dua kancing teratas blus Mihare terbuka.


Pandanganku seolah terseret ke arah dadanya yang melonggar. Karena aku sudah sering melihat dada Sayuki-san belakangan ini, tidak bisa dimungkiri bahwa milik Mihare memang kurang bervolume. Namun, kulitnya yang ramping dan sehat memiliki daya tarik yang berbeda dari kemolekan orang dewasa, dan mau tidak mau mataku tercuri olehnya. Dan saat itulah, aku menyadari sesuatu yang mengintip dari balik blusnya: sebuah pakaian dalam hitam yang menggoda. Meskipun aku hanya bisa melihat sebagian renda dan bordirnya, itu tanpa ragu adalah pakaian dalam yang sama dengan foto selfie yang dikirimkannya padaku.


Mi-Mihare, dia benar-benar memakai pakaian dalam itu!


Membayangkan bahwa di balik seragam sekolah yang biasa kulihat setiap hari tersembunyi penampilan yang begitu cabul, rasanya jauh lebih menggoda daripada melihatnya langsung tanpa busana.


"Hmm? Ada apa?"


Mihare semakin merapatkan tubuhnya, menatapku dengan pandangan dari bawah ke atas. Di sudut bibirnya, tersungging senyum tipis yang penuh arti.


Benar, ini bukan Mihare yang biasanya.


"K-kau... Serius, itu... kau memakainya?"


Mihare tersenyum sambil pipinya sedikit merona.


"Ehe. Sudah kubilang kan akan kupakai....Bagaimana, mau lihat lebih banyak?"


Jari telunjuk Mihare sedikit menarik kerah blusnya yang terbuka membentuk huruf V, semakin menyingkap pakaian dalam erotis itu ke depan mataku.


Seluruh daya pikirku tersedot oleh apa yang kulihat; pusat bahasaku mendadak membeku.


"Mihare. Kalau tidur dengan sleeping bag terbuka, tubuhmu bisa kedinginan."


Tiba-tiba, Sayuki-san datang dengan nada suara yang bahkan lebih dingin dari suhu udara luar, lalu dengan paksa menarik ritsleting kantong tidur Mihare ke atas. Suara ritsleting terdengar tajam saat menutup rapat, membungkus tubuh Mihare hingga ke pangkal leher dalam sekejap.


Aku merasa sedikit lega, tapi juga... sedikit kecewa.


"Muu. Aku kan sudah terlatih di klub lari, jadi tidak dingin tahu. Malah kantong tidurnya terasa panas."


Mihare, yang kini dalam kondisi seperti kepompong dengan hanya wajah yang menyembul keluar, menggembungkan pipinya.


"Jangan keras kepala. Bagaimana kalau kau flu?"


"Aku kan bodoh, jadi tidak akan kena flu."


"Itu cuma mitos. Siapa pun bisa sakit, dan meskipun kau tidak merasakannya, kau tetap bisa menularkan virus ke orang lain, kan? Bagaimana kalau kau baik-baik saja tapi malah menularkan flu ke Ryuuichi-kun?"


"......Gununu."


Mihare tampak kesal karena tidak bisa menang berdebat melawan Sayuki-san.


"Ini bukan karya wisata SD, jadi jangan terus-terusan bersemangat. Aku matikan lampunya sekarang, ya?"


Mengatakan hal yang terdengar seperti guru yang sedang berpatroli, Sayuki-san mematikan lampu ruangan.


Yare-yare, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang.


Sambil membayangkan cahaya komet yang seharusnya terlihat malam nanti di balik kelopak mataku, aku mendengar suara napas teratur Mihare yang sudah terlelap. Mungkin karena dia sudah berolahraga habis-habisan di klub lari tadi sore, dia tipe yang cepat sekali tidur.


Aku juga harus segera tidur. Aku memejamkan mata dan mencoba mengosongkan pikiran. Namun, semakin aku berusaha tidur, pikiranku malah semakin gelisah. Aku mencoba mengubah posisi tangan dan kaki di dalam kantong tidur, tapi rasa kantuk tak kunjung datang. Kegembiraan karena akan menemukan komet yang belum diketahui sepertinya menghalangi rasa kantukku.


Bagaimana kalau aku tidak bisa tidur sama sekali dan malah kesiangan di saat yang paling penting?


Saat kecemasan itu mulai merayap, aku merasakan kehadiran seseorang yang berbaring di sampingku.


"......Masih belum bisa tidur?"


Hembusan napas menggelitik leherku.


"Sa-Sayuki-san?"


"Diamlah. Jangan sampai membangunkan Mihare. Yah, anak itu kalau sudah tidur biasanya susah bangun, jadi kurasa tidak apa-apa."


Karena dia bilang begitu, aku tetap telentang sambil mendengarkan bisikan Sayuki-san di telingaku.


"Tadi kau melihat dada Mihare, kan? Di depan orang lain dia memang pacarmu, jadi wajar saja kalian bermesraan, tapi aku tetap sedikit cemburu. Jadi, ini hukuman untukmu."


Sesaat kemudian, rasa sakit sedikit menjalar di daun telingaku. Rasanya seperti dijepit oleh sesuatu yang keras. Sakit, tapi anehnya terasa nyaman. Ada rasa sakit-tapi-nikmat seperti sedang dipijat.

Ini, jangan-jangan...


"Nnh..."


Hembusan napas panas Sayuki-san terdengar lebih dekat dari sebelumnya, membuat kecurigaanku berubah menjadi kepastian. Daun telingaku sedang digigit-gigit kecil.


Aku tidak bisa lagi berpura-pura tidur. Karena jika aku menutup mata, sensasi di telingaku malah menjalar ke seluruh tubuh dengan rangsangan yang terlalu kuat, jadi aku segera membuka mata lebar-lebar.


"Sayuki-san, he-hentik—hauh!"


Tepat saat aku ingin memprotes, kekuatan gigitan Sayuki-san mengeras, membuat suara aneh keluar dari mulutku.


"......Fufu, reaksimu tetap menggemaskan seperti biasanya. Benar-benar tidak berubah sedikit pun sejak SD, jadi sangat seru untuk dikerjai."


"Ja-jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Aku juga sudah tumbuh jauh lebih besar daripada saat itu!"


Saat aku tanpa sengaja meninggikan suara, Mihare di sampingku bergumam "Uuun..." dan berbalik posisi tidur.


Aku dan Sayuki-san segera menahan napas. Setelah menunggu beberapa saat sampai napas Mihare kembali teratur, kami baru bisa menghembuskan napas lega.


"Tapi memang benar, kan? Saat liburan musim panas itu pun, kau tidak bisa membalas apa pun saat aku menciummu, dan hanya bisa pasrah saja?"


"A-aku kan langsung membalasnya saat itu. Kubilang, suatu saat aku akan menemukan komet dan juga menemukanmu."


Bagi diriku yang masih kecil saat itu, itu adalah pernyataan perang sekaligus bentuk perlawanan terbaik yang bisa kupikirkan. Namun, sepertinya pesan itu tidak sampai ke Sayuki-san.


"......Benarkah begitu? Karena itu kejadian lama, aku sudah lupa."


"Kau ini selalu saja melupakan hal yang tak menguntungkan—ugh!"


Sekali lagi, rangsangan menjalar di telingaku.


Setelah digigit pelan seolah meninggalkan bekas gigi, dia menjilat bekas itu dengan ujung lidahnya secara perlahan. Setelah dimanjakan seperti itu sebentar, dia menggigitnya lagi secara dangkal. Tarik ulur itu terus berulang sampai daun telingaku terasa benar-benar lemas.


Apakah telingaku ini zona sensitif? Ti-tidak, saat ini telingaku sedang "dieksplorasi" oleh Sayuki-san... hauh.


Akhirnya, persis seperti malam musim panas itu, aku benar-benar dipermainkan olehnya.


"Nah, sudah selesai. Sekarang kau pasti bisa segera tidur. Setiap kali aku melakukan ini di atas tempat tidur, Ryuuichi-kun selalu tertidur dengan wajah yang tampak sangat nikmat."


Setelah tenagaku terkuras habis, aku mendengarkan bisikan Sayuki-san dengan kesadaran yang mulai kabur.


Apa maksudnya? 


Aku bahkan tidak punya energi untuk menanyakan pertanyaan itu. Begitu aku menutup kelopak mataku yang berat, aku pun jatuh tertidur dengan lelapnya.


5


Meski aku sempat cemas tidak akan bisa bangun karena energiku dikuras habis sebelum tidur, suara alarm ponsel berhasil menarik kesadaranku kembali.


Sesuai jadwal, pukul dua dini hari. Yang lain pun terbangun di waktu yang hampir bersamaan. Setelah itu, kami segera mulai bersiap. Kami membawa kamera dengan tripod dan teleskop yang sudah disiapkan sebelumnya ke atap, lalu mengaturnya menghadap ke langit timur. Di tengah dunia yang masih terlelap, aku tidak membenci waktu-waktu sibuk bekerja seperti ini. 


Begitu persiapan untuk menyambut komet baru selesai, kami tinggal menunggu saat itu tiba dengan tenang.


"Rasanya, kali ini kamu semangat sekali ya?"


Mihare berkata dengan nada heran padaku, yang sedari tadi berkali-kali mengintip lewat viewfinder.


"Begitukah? Bukannya biasanya juga begini?"


"Hmm. Biasanya kamu agak santai, atau setidaknya merasa 'kalau tidak dapat ya sudah', tapi hari ini tatapan matamu berbeda. Matamu terlihat seperti sedang berjuang untuk menang."


Aku merasa bersikap seperti biasa, tapi mungkin tanpa sadar aku memang terlalu bersemangat.


"Sebenarnya, hari ini adalah hari di mana kondisi ideal untuk melihat komet terpenuhi, jenis hari yang mungkin hanya ada sekali setahun. Makanya kemungkinan menemukan komet baru sangat tinggi, dan mungkin itu yang membuatku jadi lebih serius dari biasanya."


Tentu saja aku tidak bisa bilang kalau aku tahu masa depan, jadi aku berbohong seadanya untuk berkilah.


"Ah, ternyata begitu! Kalau begitu, semoga mimpimu benar-benar terwujud hari ini, Ryuuichi-kun. Aku juga akan membantu, jadi katakan saja apa yang kau butuhkan."


Mihare mendongak menatapku, seolah-olah memiliki ekor tak kasat mata yang sedang ia kibaskan dengan kencang.


"Yang harus Mihare lakukan adalah tidak melakukan apa-apa. Jangan mengganggu ya."


Sayuki-san muncul sambil membawa kopi kaleng di kedua tangannya.


"Ini, untuk kalian berdua, kafein agar tidak mengantuk."


"Terima kasih."


"Muu—apa maksudmu dengan mengganggu!"


Mihare menerima kopinya sambil merengut.


"Persis seperti kata-kataku. Jangan sampai berdiri di depan kamera saat waktu pemotretan, atau kakimu tersangkut tripod hingga jatuh, hal-hal semacam itu."


"......Ti-tidak akan!"


Yah, kejadian seperti itu memang pernah terjadi dulu. Meski saat itu wajar karena dia baru saja bergabung dengan klub.


"Pokoknya, jangan dekat-dekat kamera ya."


"Iya, iya. Memang aku tidak bisa melakukan apa-apa kok."


Dia benar-benar merajuk sekarang.


Gawat. Jika Mihare merajuk seperti ini, ritmeku jadi berantakan. Ini adalah pemotretan komet yang tidak boleh terlewatkan, jadi aku ingin melakukannya dalam lingkungan yang biasa agar tidak terjadi masalah apa pun. Lalu tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Ngomong-ngomong, hari ini aku belum memakan kue jahe.


Itu adalah camilan keahlian Mihare yang selalu disajikan setiap kali ada acara. Biasanya dia akan menunjukkannya dengan wajah malu-malu tapi senang. Apakah Mihare hari ini sengaja tidak mengeluarkannya karena mencoba melakukan hal yang berbeda dari biasanya?


"Ah—laparnya."


Sengaja aku bergumam cukup keras agar terdengar oleh yang lain.


"Eh? Ka-kamu lapar? Ryuuichi-kun?"


Mihare menoleh ke arahku dengan mata yang penuh harapan.


"Ya, habisnya sudah jam begini. Aku ingin makan camilan malam."


"Be-begitu ya. Benar juga."


"Apa hari ini kamu tidak bawa camilan yang biasanya itu?"


"Tsk! Bi-biarkan saja. Barang seperti itu... tidak enak kok."


"Tidak juga. Aku suka, lho."


"Be-benarkah?"


"Iya. Sampai-sampai pengamatan bintang rasanya tidak dimulai kalau belum makan kue Mihare. Itu sudah jadi hal yang wajar bagi lidahku."


Mihare sibuk memainkan poni rambutnya.


"......Hmph. Te-ternyata begitu ya. Kalau begitu, maaf. Hari ini, um, anuu, kuenya... eeto. Aku tidak bisa membuatnya dengan baik..."


"Berarti kamu tidak bawa?"


"Ti-tidak. Anu, be-bukannya aku sengaja ingin sok jual mahal, tapi..."


Dilihat dari bicaranya, dia pasti membawa kuenya. Hanya saja dia tidak menemukan waktu yang tepat untuk menunjukkannya.


Seberapa pun seseorang ingin mengubah dirinya, kebiasaan yang sudah mendarah daging memang sulit diubah. Aku berharap dengan memakan kue jahe bawaan Mihare seperti biasanya, Mihare sendiri bisa kembali ke sosoknya yang semula. Namun, tepat setelah harapan itu muncul.


"Kalau begitu, mau mencoba yang aku buat?"


Tanpa kusadari, Sayuki-san sudah menyodorkan sebuah wadah plastik padaku.


Ini di luar dugaan.


Di dalamnya, tumpukan kue berwarna cokelat tua yang dicetak rapi dalam bentuk bintang terlihat sangat menggoda.


"Ah, eeto... ini, kenapa anda membuatnya?"


"Pikirku untuk camilan malam. Jumlahnya cukup banyak, jadi kalau mau, kalian semua makanlah."


Karena ditawari begitu, aku tidak bisa menolaknya.


Mihare membuat suara ceria yang terdengar dibuat-buat, "Uwaai. Buatan tangan Onee-chan yaa."


Aku pun mengambil satu keping dan menggigit salah satu ujung bintangnya.


"Ah, enak."


Tanpa sadar aku bergumam karena rasanya memang sangat lezat. Tingkat kematangannya sempurna dengan tekstur yang renyah, dan butiran cokelat yang tersebar merata menciptakan rasio emas antara rasa manis dan pahit. Kue ini seolah-olah dibuat setelah menganalisis lidahku secara menyeluruh; rasanya tepat sasaran di seleraku.


Dalam sekejap, aku sudah menghabiskan satu keping. Mihare dan Kunitomo masing-masing juga mengambil satu, dan mata mereka langsung membelalak hanya dengan satu gigitan.


"Ini... benar-benar enak."


Kunitomo pun tak sengaja membocorkan isi hatinya. Mihare sudah mengulurkan tangan untuk mengambil kepingan kedua.


"Kue Onee-chan... sudah lama aku tidak memakannya, tapi tetap saja rasanya luar biasa ya. Bagaimana bisa membuat tingkat kematangan yang begitu sempurna? ...Onee-chan memang hebat ya, bisa melakukan apa saja."


Suaranya yang keluar bersama senyum yang tampak dipaksakan itu terdengar sedikit gemetar, seolah menahan tangis.


"......Mihare. Suaramu gemetar lho, kamu baik-baik saja?"


Kunitomo mengintip wajahnya dengan cemas.


"Ah, u-un. Maaf. Entah kenapa rasanya jadi dingin sekali. Aku ambil jaket sebentar ya!"


Sambil berkata begitu, Mihare berlari pergi. Dalam sekejap, punggungnya menghilang ke dalam gedung sekolah.


Anak itu, apa dia menangis?


"Aku juga, sepertinya ada perlengkapan pengamatan yang tertinggal di ruang klub. Aku balik sebentar ya. Kalian berdua tunggu di sini."


Aku meninggalkan Sayuki-san dan Kunitomo untuk mengejar Mihare.


"Boleh saja, tapi cepat kembali ya."


Ada gurat kecemasan di wajah Sayuki-san. Dia secara tersirat memperingatkanku bahwa waktu penemuan komet sudah semakin dekat.


Gedung sekolah di malam hari hampir seluruh lampunya dimatikan sebagai langkah penghematan energi. Karena pemanas ruangan juga dimatikan kecuali di beberapa ruangan tertentu, suhu di koridor terasa cukup menusuk kulit meski masih lebih baik daripada di luar.


Tujuanku adalah ruang klub astronomi. Benar dugaanku, lampu yang seharusnya mati kini menyala. Begitu aku membuka pintu ruang klub dengan cepat, Mihare ada di sana.


"R-Ryuuichi-kun?"


Mihare berbalik dengan wajah terkejut. Di kedua tangannya, ia memegang wadah plastik yang bentuknya persis sama dengan yang dibawa Sayuki-san. Di dalamnya berisi tumpukan kue jahe yang melimpah.


"Ternyata kamu memang membawanya, ya."


"I-ini... anu. Karena aku gagal membuatnya, jadi..."


Ia memasukkan wadah itu ke dalam tasnya dengan kasar.


"La-lagipula, kue Onee-chan jauh lebih enak, kan? Kueku yang tidak enak ini tidak akan dicari oleh siapa pun."


"Tidak begitu, jangan jadi rendah diri begitu dong."


"......Bukan rendah diri, ini kenyataan....Onee-chan lebih pintar belajar, lebih jago masak, lebih perhatian, bahkan lebih tahu banyak soal bintang... Dibandingkan itu, aku..."


"Mihare......"


Dalam situasi seperti ini, kata-kata apa yang sebaiknya kuucapkan padanya?


Bagi diriku yang tidak berpengalaman, sekeras apa pun aku mencari di dalam hati, aku tidak bisa menemukan kalimat yang tepat. Rasanya seperti sedang menatap langit malam yang tertutup awan tebal hingga tak ada satu pun bintang yang terlihat.


"Meski begitu, sebagai pacar Ryuuichi-kun... aku sudah memikirkan sekuat tenaga apa yang bisa kulakukan, ...dan... makanya..."


Mihare mengangkat wajahnya dan melangkah mendekatiku.


"Ryuuichi-kun, suatu saat nanti ingin menemukan komet baru dan memberinya nama, kan? Itu mimpimu, untuk meninggalkan bukti bahwa kamu pernah hidup di dunia ini bahkan setelah mati nanti, kan?"


Mimpi itu sebenarnya diberikan oleh "gadis itu"—oleh Sayuki-san—tapi bukan berarti itu sepenuhnya bohong bagiku. Aku mengangguk pelan.


"Iya. Bagi siapa pun yang hobi mengamati benda langit, itu adalah mimpi yang sangat didambakan."


"......Aku yang bodoh ini memang tidak bisa mewujudkan mimpi hebat itu, dan aku tidak berguna seperti Onee-chan....Tapi, aku pikir aku bisa melakukan sesuatu yang serupa."


"Sesuatu yang serupa?"


Aku sama sekali tidak mengerti maksud Mihare. Mewujudkan mimpiku secara sebagian? Apa yang dia rencanakan?


Di depanku yang sedang kebingungan, Mihare yang wajahnya sudah merah padam menyentuh perut bagian bawahnya sendiri. Ia mengelusnya pelan di area sekitar bawah pusar.


"Memberikan nama, meninggalkan bukti bahwa kita pernah hidup. ...Itu, dalam arti tertentu, bukankah bisa diwujudkan dengan... membuat anak...?"


Butuh waktu beberapa saat bagiku untuk memproses arti dari kata-kata itu. Setelah proses panjang di otakku selesai, satu-satunya respon yang keluar dari mulutku hanyalah:


"Hah?"


"......Makanya, maukah kamu... membuat bayi... bersamaku?"


Di depanku yang pikirannya sudah kacau balau, Mihare mencengkeram ujung roknya dan mengangkatnya perlahan dengan penuh rasa malu. Tirai rok itu naik, menyingkap pangkal paha Mihare yang ramping dan jenjang sedikit demi sedikit. Kulitnya yang halus memantulkan cahaya lampu, bersinar putih bak marmer. Dan di tengah bagian bawah tubuhnya itu, terdapat pakaian dalam hitam yang kontras seperti bayangan. Sebuah celana dalam tali dewasa dengan detail renda dan bordir yang memberikan kesan sangat kontras dengan sosok Mihare yang polos.


Hanya selembar kain tipis itu yang menutupi bagian paling pribadi seorang wanita dengan rapuhnya. Yang menahannya hanyalah seutas tali yang terikat simpul kupu-kupu di kedua sisi pinggang ramping Mihare.


"......Hanya ini yang bisa kupikirkan."


Dengan wajah yang tidak bisa lebih merah lagi, tangan Mihare gemetar hebat, namun ia tetap mengangkat roknya dan terus membiarkan bagian bawah tubuhnya terekspos di depan mataku.


Karena tubuhnya gemetar ketakutan akibat rasa malu dan ketegangan, dua simpul kupu-kupu di sisi pinggangnya seolah ikut menggerakkan sayapnya, menggoda seakan berkata "tangkaplah aku".


"Tu-tunggu! Tarik napas dalam-dalam dulu. Aku juga akan melakukannya. Ayo, tarik... buang..."


Suara napas kami berdua saling bersahutan. Lalu kami kembali saling menatap. Meski begitu, sepertinya Mihare belum berniat menurunkan roknya.


"......Kenapa, kamu tidak mau melakukannya?"


Akhirnya, air mata mulai menggenang di mata Mihare.


"Apa karena aku... tidak menarik?"


"Bukan begitu! Justru karena kamu berharga bagiku! Tentu saja aku punya keinginan untuk melakukannya suatu saat nanti, tapi... tidak bisa di tempat seperti ini, dengan cara yang seolah-olah terpaksa begini. Aku tidak ingin melukaimu, Mihare."


"......Begitu ya.......Kamu memang baik ya, ternyata."


Entah karena merasa paham atau pasrah, Mihare akhirnya melemaskan jari-jarinya. Roknya pun menyerah pada gravitasi dan jatuh menutupi bagian bawah tubuhnya kembali.


Begitu pakaian dalam itu tersembunyi, rasanya suhu di ruang klub seketika turun sekitar lima derajat. Keringat yang tadinya membanjiri tubuhku pun terasa sedikit menyusut.


"Ayo, kita kembali ke atap."


Begitu aku mengucapkannya dan membuka pintu yang menuju ke koridor, tiba-tiba punggungku didorong dengan keras. Aku tersentak dan berbalik tepat saat pintu ruang klub terbanting tertutup. Saat aku mencoba membukanya kembali, terdengar suara kunci diputar dari sisi lain. Benar saja, meski aku mengerahkan tenaga, pintu itu tidak bergerak sedikit pun.


"O-oi. Mihare. Apa maksudnya ini? Buka pintunya."


"......Maaf. Kalau aku melihat wajahmu, kurasa aku tidak akan sanggup mengatakannya."


Dari balik pintu yang tertutup, terdengar suara Mihare yang bergetar.


"Mengatakan apa?"


"Tentang putus."


"......Kau serius?"


"Iya. Karena hubungan ini dimulai dari pernyataanku, kurasa mengakhirinya juga adalah tugasku... Habisnya Ryuuichi-kun, meskipun aku sudah melakukan hal memalukan seperti tadi, kamu tetap tidak mau menyentuhku. Kamu sudah bosan denganku, kan?"


"Sudah kubilang bukan begitu! Itu karena Mihare berharga bagiku. Kalau melakukannya, aku ingin dengan langkah yang benar, di tempat yang suasananya pas......"


"......Lalu, kenapa kamu berciuman dengan Onee-chan?"


"──!"


Kata-kata itu setajam ujung tombak yang menghujam dadaku. Aku bisa mendengar suara kehancuran dari tumpukan alasan palsu yang selama ini kubangun.


...Ternyata dia memang tahu.


Selama ini Mihare tahu, dan dia memilih diam. Dia terus mengenakan topengnya. Itulah sebabnya belakangan ini sikapnya terasa aneh. Di bawah senyumnya, dia menangis, dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku berpura-pura tidak tahu. Aku berpikir dengan sangat optimis dan rendah bahwa segalanya akan berlanjut seperti biasa tanpa hambatan.


Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membongkar semuanya?


Sebenarnya, Sayuki-san adalah dirimu dari putaran kedua.


Konyol. Apa gunanya mengatakan itu? Apa Mihare yang sekarang bisa paham? Apa dia bisa menerimanya?


Berbagai alasan muncul sebanyak bintang di langit, dan aku membenci diriku sendiri karena hanya memikirkan cara untuk mengelak.


"......Maafkan aku."


Pada akhirnya, yang bisa keluar dari mulutku hanyalah permintaan maaf menyedihkan yang bahkan bisa diucapkan oleh anak kecil.


"Tidak perlu minta maaf. Sejak dulu aku selalu berpikir kalau Onee-chan dan Ryuuichi-kun sangat serasi.......Apalagi kalian ternyata kenalan lama, kan? Mana mungkin orang sepertiku bisa menang."


"Ba-bagaimana kau bisa tahu soal itu juga?"


"Tadi waktu kita tidur sejenak, Onee-chan bilang kalau Ryuuichi-kun sama sekali tidak berubah sejak SD, kan?"


"Eh?"


Tapi saat itu, suara napas Mihare...


Mihare menjawab keraguan di hatiku.


"Akting tidurku hebat, kan? Karena aku malu sudah memperlihatkan pakaian dalam seperti itu padamu, sebenarnya aku juga tidak bisa tidur sama sekali."


Jika percakapan itu pun sudah terdengar olehnya, tidak ada lagi ruang untuk membela diri.


"Hei, kapan kalian berdua bertemu? Dulu aku sering membuntuti Onee-chan, tapi aku sama sekali tidak tahu soal Ryuuichi-kun."


"......Meskipun dibilang kenalan, kami hanya bertemu sekali di perkemahan saat liburan musim panas SD. Waktu itu, Sayuki-san mengajariku banyak hal tentang bintang......"


"Hee, jadi orang yang Ryuuichi-kun dambakan adalah Onee-chan? Bertemu kembali seperti itu benar-benar seperti takdir ya. Rasanya aku jadi paham banyak hal. Kalau begitu, aku hanyalah Cupid yang mempertemukan kembali Ryuuichi-kun dengan Onee-chan."


Bukan begitu. Pertemuanku dengan Sayuki-san adalah sesuatu yang sudah direncanakan oleh Sayuki-san sejak awal, dan aku selalu berada di dalam genggamannya. Ini bukan sesuatu yang romantis seperti takdir.


Meski aku tahu itu, aku rasa menceritakannya pada Mihare tidak akan membuatnya mengerti. Bukan berarti aku lebih menyukai Sayuki-san atau semacamnya. Bagiku, keduanya adalah "Mihare (pacarku)"...


"Yang bersalah sepenuhnya adalah aku... Kau punya hak untuk marah. ......Buka pintunya. Aku akan menerima semuanya, katakanlah semua yang ingin kau katakan."


Aku sedikit mengerahkan tenaga untuk membuka pintu. Namun, pintu itu tetap tertutup rapat, sama seperti hati Mihare.


"Tidak boleh. Kalau aku melihat wajah Ryuuichi-kun sekarang, perasaanku akan hancur berantakan dan aku tidak tahu apa yang akan kuucapkan."


"Aku tidak peduli apa pun yang akan kau katakan."


"......Aku ingin kita putus dengan cara yang indah. Aku ingin menyimpan kenangan saat menjadi pacar Ryuuichi-kun sebagai kenangan yang baik. Aku tidak ingin merusaknya di detik-detik terakhir."


Kenangan.


Kata itu seolah mengumumkan bahwa hubungan kami sudah menjadi sesuatu dari masa lalu.


Tidak, itu wajar saja. Dengan muka seperti apa aku berencana terus bertingkah sebagai pacar Mihare setelah ini?


Perasaanku tidak bisa mengejar kenyataan bahwa aku harus putus dengan Mihare. Kehadiran Mihare di sisiku tanpa sadar telah menjadi sesuatu yang wajar. Padahal, hal itu sama sekali tidak wajar, melainkan sesuatu yang rapuh dan mudah hancur oleh hal-hal sepele. Hanya penyesalan yang meluap-luap.


Apa yang seharusnya kulakukan?


"............Biarkan aku sendiri dulu sebentar. Jangan pikirkan aku, carilah komet itu bersama Onee-chan. Aku akan mendukung mimpi kalian berdua."


Dengan suara sekecil dengungan serangga, dia memeras kata-kata terakhirnya, dan setelah itu suara Mihare berhenti total. Meski aku mengetuk pintu, tidak ada jawaban.


Seperti kata Mihare, mungkin aku harus membiarkannya sendiri. Setidaknya, orang sepertiku tidak pantas berada di sisinya.


Aku menjauh perlahan dari depan pintu ruang klub. Agar Mihare merasa tenang, aku sengaja mengeraskan langkah kakiku agar dia tahu aku sudah pergi menjauh. Namun, aku tidak punya energi untuk kembali ke atap. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan ini kepada Sayuki-san atau Kunitomo.


Aku berjalan lunglai tanpa tujuan di koridor yang remang-remang.


"Oya, oya, Ketua, sedang apa kau di tempat seperti ini?"


Tiba-tiba, Inou-sensei muncul di hadapanku. Dengan rambut panjang berantakan dan kulit pucat, penampilannya benar-benar terlalu mencolok untuk ditemui di sekolah pada malam hari.


Jika dalam keadaan biasa, aku pasti sudah melompat saking kagetnya. Namun saat ini, tingkat keterkejutanku bahkan tidak sampai selevel melihat ulat bulu jatuh.


"Akhirnya lemburku menemui titik terang. Aku baru saja berniat ke atap untuk melihat keadaan klub astronomi." 


"Sensei bekerja sampai sekarang? Padahal sudah jam dua pagi."


"Hanya memberitahumu saja, sebenarnya aku berniat bekerja tapi malah ketiduran pulas, dan baru saja terbangun. Aku merasa segar karena sudah tidur nyenyak, tapi sebaliknya, wajah Ketua terlihat seperti orang mati, ya?"


"......Yah, ada sedikit masalah."


"Biarpun begini, aku ini tetap guru. Jika ada kegalauan, aku akan mendengarkannya."


Aku tidak yakin akan mendapat jawaban yang masuk akal dari Inou-sensei, tapi menolak tawarannya begitu saja juga terasa tidak sopan.


"Bagaimana ya,............aku sedang bertengkar dengan Mihare."


"Ah, masalah tipe itu ya. Ternyata bukan galau soal pelajaran."


"Kalau soal pelajaran, aku tidak akan galau sampai punya wajah seperti orang mati begini."


"Waduh, bagaimana ya. Sebenarnya aku tidak terlalu ahli dalam obrolan semacam itu."


"......Aku tahu kok, jadi tidak apa-apa."


"Hmm, kerumitan hubungan manusia itu sulit karena jawabannya ada pada masing-masing individu. Aku tidak pandai dalam hal itu. Di matematika, ada kalanya 'tidak ada solusi' adalah jawaban yang benar, tapi ini berbeda."


Sensei melipat tangan dan berpikir keras. Niatnya saja sudah cukup membuatku berterima kasih.


"Benar juga. Makanya, aku pikir sebaiknya menjaga jarak dulu untuk sementara... Mungkin seiring berjalannya waktu......"


Tentu saja aku tahu bahwa ini bukan masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan waktu.


Seolah menembus keraguanku, sensei berkata:


"Tapi tahu tidak, sikap untuk terus mencoba mencari jawaban itu adalah hal penting, sama seperti matematika."


"......Memangnya aku bisa menemukannya?"


"Entahlah, tapi bukankah kamu bisa mendekatinya? Lawan bicaramu bukanlah benda langit yang berjarak puluhan ribu kilometer, melainkan seorang gadis yang ada tepat di depan matamu."


Mungkin sensei benar. Ini berbeda dengan pengamatan benda langit yang tidak akan pernah bisa dijangkau.


Tetap saja, aku harus bicara sekali lagi dengan Mihare. Perasaan itu mulai mendidih di dalam diriku sekarang.


"Tapi sensei, sekarang Mihare mengurung diri di ruang klub, situasinya tidak memungkinkan untuk menemuinya......"


"Apa boleh buat. Sebagai orang dewasa, aku akan meminjamkanmu kekuatan."


Dengan nada bicara yang dibuat-buat, sensei merogoh saku jas putihnya dan mengeluarkan sesuatu seolah-olah itu adalah alat rahasia. Sesuatu yang ia angkat tinggi-tinggi di tangan kanannya adalah sebuah kunci.


"Ini, kunci master staf. Bagaimana kalau kamu pergi menjemputnya seperti pangeran berkuda putih dengan ini?"


"......A-ah, terima kasih banyak."


Aku menggenggam kunci itu erat-erat. Setelah mengucapkan terima kasih seadanya, aku langsung berlari menyusuri koridor. Pintu ruang klub yang kucapai tertutup rapat, mencerminkan hati Mihare saat ini.


"Mihare. Ini aku. Aku mohon, sekali lagi saja, mari kita bicara."


Tidak ada jawaban.


"Maaf. Aku masuk ya."


Aku memasukkan kunci dan memutar slot kuncinya dengan paksa. Aku melangkah perlahan ke dalam ruang klub yang kini terbuka.


Di dalam ruangan yang pemanasnya dimatikan demi penghematan listrik, udara terasa sangat dingin meski masih mendingan dibanding di luar. Awalnya aku terkejut karena tidak melihat sosok Mihare, tapi jika diperhatikan baik-baik, dia sedang memeluk lutut di pojok ruangan. Dia duduk meringkuk dengan wajah yang dibenamkan di lutut, menyembunyikan ekspresinya.


"Mihare."


Aku memanggilnya pelan.


"Cepatlah kembali ke atap. Kamu mau mencari komet, kan?"


Punggung Mihare sama sekali tidak bergerak, hanya suara parau yang menyahut.


"Tapi aku tidak bisa membiarkan Mihare sendirian."


"......"


Mihare tidak membalas. 


Saat aku menundukkan pandangan karena bingung harus melakukan apa, aku melihat wadah plastik terbalik di lantai. Kue jahe di dalamnya berserakan di sekitar. Sepertinya setelah mengusirku dari ruangan, dia menjatuhkannya bersama wadahnya. Tidak, mungkin dia melemparkannya.


Aku berjongkok di sana, memungut satu keping kue berbentuk bintang yang ujungnya sudah cuil, lalu memasukkannya ke mulut.


"......Manis ya, ini."


Dibandingkan kue jahe yang biasanya, rasa manisnya jauh lebih kuat. Aroma jahenya lebih lembut, dan rasa "aneh" yang biasanya ada kini menghilang.


Aku tidak salah rasa, kan? 


Aku memungut dan memakan satu keping lagi.


"Iya. Benar-benar manis.......Jangan-jangan, kamu menyesuaikannya dengan seleraku?"


Aku memasukkan kepingan demi kepingan kue lagi ke dalam mulut. Rasanya memang agak seret karena kurang air; mulutku jadi terasa sangat kering.


"T-tunggu! Sampai kapan kamu mau makan makanan yang sudah jatuh ke lantai!"


Akhirnya Mihare mengangkat wajahnya dengan panik. Di sekeliling matanya yang besar, terlihat jelas bekas bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Aku sudah ketagihan kue buatan Mihare. Kalau tidak makan ini, level pengamatanku bisa terganggu."


"............Bagaimana dengan kue yang kali ini?"


"Sangat pas dengan seleraku, enak sekali."


"............Kalau begitu, syukurlah."


"Tapi aku juga rindu kue yang biasanya. Justru karena rasa 'aneh' itu yang membuatnya bikin ketagihan.......Makanya, setelah ini pun aku ingin terus makan kue buatan Mihare. Tentu saja di hari pengamatan, tapi juga saat kencan......"


Aku menatap lurus wajah Mihare yang matanya masih sedikit bengkak, dan mengungkapkan perasaan jujurku.


"Makanya, aku tidak mau putus."


Mihare pun membalas menatapku. Di balik matanya yang memerah, aku bisa melihat berbagai emosi yang saling bersilangan.


"............Tapi, kamu suka Onee-chan, kan?"


Pertanyaan itu diucapkan dengan nada berbisik. Tanpa membohongi nuraniku, aku menjawab dengan jujur.


"Aku suka."


Mihare tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun.


"Ciuman dengan Sayuki-san itu bukan karena aku terbawa suasana. Aku sungguh-sungguh. Dan perasaan itu tidak berubah sampai sekarang."


Karena, Sayuki-san pun adalah 'Mihare'. Perasaanku ini pasti tidak akan sampai padanya. Tidak mungkin dia bisa mengerti, tapi...


"Aku suka kalian berdua. Aku tidak bisa memilih untuk membuang salah satu. Aku menyukai kalian berdua sama besarnya. Aku tahu masalahnya menumpuk, tapi aku ingin menghadapinya dengan benar."


Kalimat ini pasti terdengar seperti alasan sampah dari pria tukang selingkuh. Namun, aku tidak punya pilihan selain mengucapkan kalimat itu dengan sangat serius.


"Karena itu, aku ingin kamu mau berpacaran denganku sekali lagi."


Kali ini, itu adalah pernyataan cinta dariku.


"......"


Seperti sebelumnya, tidak ada perubahan mencolok pada ekspresi Mihare. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya mendengar kata-kataku yang paling buruk dan menjijikkan ini; hanya Mihare sendiri yang tahu.


"Secara umum, itu namanya mendua, tahu? Apa kamu benar-benar berpikir bisa menyelesaikan masalah ini?"


Dada ini terasa tertusuk.


"Te-tentu saja."


Mihare tertawa meremehkan saat melihatku mengangguk.


"......Tidak mungkin. Isi kepalamu selalu cuma tentang bintang-bintang, kamu sama sekali tidak melihat ke arahku."


Itu adalah argumen yang sangat tepat.


"Mulai sekarang, aku akan benar-benar melihatmu, Mihare!"


"Bahkan saat ada komet yang belum ditemukan muncul? Bahkan jika aku pergi ke suatu tempat? Bahkan jika Onee-chan ada di depan matamu?"


Dia menatapku dalam-dalam, seolah sedang menakar ketulusanku. Aku menatap balik kedua matanya dengan mantap dan membalas.


"Kapan pun, di mana pun, bahkan ke mana pun kau pergi, aku pasti akan menemukanmu."


Ngomong-ngomong, aku pernah menyatakan hal yang serupa pada "gadis itu". Begitu aku menyadarinya, sosok "gadis itu" kembali tumpang tindih dengan sosok Mihare.


Sudah berapa kali deja vu ini terjadi? Bahkan sekarang setelah aku tahu identitas Sayuki-san, mereka tetap terlihat serupa...


Namun, Mihare sendiri menatap wajahku dengan saksama dan penuh rasa heran.


"Ada apa?"


"......Rasanya, kata-kata barusan itu, aku pernah mendengarnya di suatu tempat sebelumnya......"


Untuk sesaat, aku membiarkan pandanganku terkunci dengan Mihare.


Pernah dengar sebelumnya?


Aku tidak merasa akan mengucapkan kalimat memalukan seperti ini berkali-kali dalam hidupku. Mihare mengerutkan alisnya, mencoba mencari di dalam ingatannya.


"......Di mana ya? Dulu, saat liburan musim panas......di perkemahan......"


Kata-kata yang diucapkan Mihare secara terpotong-potong itu mulai menggali kembali ingatanku juga. Panas musim panas yang menyesakkan, aroma pepohonan, paduan suara tonggeret yang memekakkan telinga, bulan purnama yang tergerus bayangan. Ingatanku tentang "gadis itu" semakin tajam warnanya.


Mengapa aku bisa mengingatnya dengan begitu jelas?


Karena ingin mengetahui arti dari ganjalan ini, aku mengucapkan kembali kalimat itu dengan setia.


"『......Aku pasti akan menemukanmu. Baik komet baru itu, maupun dirimu!』"


Seketika itu juga, Mihare mendongakkan wajahnya.


"Iya, itu!"


Kenapa Mihare bisa tahu? Kalimat itu seharusnya aku ucapkan pada "gadis itu", pada Sayuki-san......


"Dulu, saat pergi ke perkemahan dalam perjalanan keluarga, ada seorang anak laki-laki yang mengatakan hal yang sama padaku," lanjut Mihare sambil menatap ke kejauhan.


"Tengah malam, Onee-chan yang sedang melihat bintang bersamaku tiba-tiba menghilang. Saat aku mencarinya, tiba-tiba ada yang menghentikanku...... Mungkin anak laki-laki itu salah mengira aku sebagai Onee-chan. Saat itu kami memang sangat mirip.......Tapi, bagaimana Ryuuichi-kun bisa tahu kalimat itu?"


Hari itu, yang ada di perkemahan bukan hanya Sayuki-san. Mihare juga ada di sana. Wajar saja jika mereka pergi dalam perjalanan keluarga. Lagi pula, saat mereka kecil dulu, mereka sangat mirip satu sama lain seperti kembar identik, berbeda dengan sekarang. Tidak heran jika aku salah mengira mereka sebagai orang yang sama.


Jadi, di hari itu, yang mencium pipiku memang Sayuki-san, tapi orang yang aku ajak bicara dan kuberi janji adalah... Mihare.


"gadis itu" ternyata ada dua orang.


Persis seperti Sirius yang memiliki dua bintang kembar.


"......Itu aku. Saat itu, aku juga ada di perkemahan itu."


Aku pun sadar kalau suaraku bergetar. Mihare berkedip berkali-kali, lalu memekik kaget.


"Eh, ......Eeeeh!"


"Aku selama ini mencari gadis yang telah kuberi janji itu...... dan itu ternyata adalah Mihare."


Bahkan setelah tahu Sayuki-san adalah "gadis itu", ada perasaan yang tidak pas selama ini. Sebuah keganjilan seolah ada kepingan puzzle yang hilang.


Sekarang, lubang yang kosong itu akhirnya terisi. Fakta bahwa selama ini aku melihat bayangan "gadis itu" pada Mihare bukanlah sebuah kesalahan.


Ternyata, aku memang sudah menemukannya.


"Tu-tunggu dulu. Meskipun begitu, yang Ryuuichi-kun cari kan sebenarnya Onee-chan? Lagipula waktu itu, kamu berjanji karena salah mengira aku sebagai Onee-chan, kan?"


Mihare berkata dengan panik sambil menggerakkan kedua tangannya di depan dada.


"Tapi, fakta bahwa aku mencarimu juga benar adanya. Karena orang yang menerima janjiku adalah Mihare."


"Ta-tapi......"


"Begitu ya. Ternyata aku mencari kalian berdua selama ini. Sayuki-san yang mengajariku tentang bintang, dan Mihare yang kuberi janji."


Mihare mengalihkan pandangannya dengan bingung.


"Kalau begitu, aku ingin menepati janji waktu itu dengan benar. Aku ingin kita bertiga—aku, Mihare, dan Sayuki-san—suatu saat nanti menemukan komet bersama. Hubungan ini mungkin memang tidak benar, dan aku tidak tahu apakah ada jalan keluarnya. Tapi, maukah kalian memberiku kesempatan untuk menghadapinya dengan sungguh-sungguh?"


"......"


Keheningan itu terasa begitu lama, seolah-olah sepanjang waktu yang dibutuhkan cahaya bintang yang jauh untuk mencapai bumi. Akhirnya, Mihare mengembuskan napas panjang.


"Sejak kecil aku selalu bersembunyi di balik bayang-bayang Onee-chan. Jadi, saat kamu bilang akan 'menemukanku', sebenarnya aku merasa sedikit senang."


Mihare berkata sambil menatap kosong ke kejauhan, sebelum akhirnya kembali fokus dan menatap mataku.


"......Mungkin, aku juga selama ini terus mencarimu, Ryuuichi-kun."


Lalu, setelah sebuah helaan napas yang dalam.


"Baiklah. Mari kita pikirkan masa depan kita bersama. Kita berdua, dan... termasuk Onee-chan, kita bertiga."


"......Itu berarti,"


"Ayo, mari kita berbaikan."


Mihare mengangkat dagunya dan memejamkan mata. Aku tidak sebodoh itu sampai tidak mengerti apa yang dia minta setelah dia melakukan sejauh ini.


Aku mendekatkan wajahku, menempelkan bibirku pada bibirnya yang mengerucut manis. Terasa lembap, namun di saat yang sama ada sensasi kenyal yang seolah mendorong balik bibirku. Inilah ciuman pertamaku dengan Mihare.


Saat aku menjauhkan wajah perlahan, Mihare segera membuka mata dan menggembungkan pipinya.


"Singkat sekali......"


"Eh?"


Aku tidak menyangka Mihare akan mengatakan hal seperti itu.


"Segini saja sama sekali tidak cukup. Dengan Onee-chan saja kamu lebih agresif, kan? Curang."


Seketika itu juga, Mihare yang gantian menyerang. Bibirnya menekan bibirku, dan tiba-tiba lidahnya merangsek masuk ke mulutku. Lidahnya yang lebih kecil dari milik Sayuki-san mengamuk dengan kasar di dalam mulutku. Sebuah ciuman yang tidak terbiasa dan kaku. Ini bukan ciuman orang dewasa, melainkan ciuman seorang anak yang sedang berjuang keras untuk menjadi dewasa.


Tapi tidak berhenti di situ. Begitu lidah dan bibir kami terlepas, kali ini dia mencium pipi kananku. Lalu ujung hidungku, lalu kelopak mataku, lalu pipi kiriku. Hujan ciuman turun di mana-mana di wajahku.


"......Ciuman pertama di bibir sudah direbut Onee-chan, jadi setidaknya, bagian pertama selain itu, semuanya akan jadi milikku."


Mihare bergumam dengan bibir yang masih menyisakan benang saliva, lalu setelah membanjiri wajahku dengan ciuman, dia beralih ke leher. Garis depan "hujan ciuman" itu terus turun hingga mencapai tulang selangka.


"Ini mengganggu."


Gumam Mihare dengan nada jengkel sambil mulai melepas kancing kemejaku. Dia menarik kaus dalamku, mengekspos bagian tulang selangka hingga dadaku, lalu menempelkan bibirnya di sana juga.


"Mi-Mihare. Tunggu dulu, oi. Lebih dari ini......"


Ciuman Mihare terus turun ke bawah. Kali ini dia menyingkap ujung kaus dalamku dan membenamkan wajahnya di sana. Di saat yang sama, sensasi geli menjalar di sekitar pusarku. Sampai sini masih tidak apa-apa. Masih bisa kutahan. Tapi kalau sudah turun ke bawah sana......


Dugaanku tepat.


Setelah menarik wajahnya dari balik kaus, Mihare akhirnya mengulurkan tangan ke ikat pinggang celanaku.


"Tu-tunggu dulu. Apa yang mau kau lakukan?"


"Sudah kubilang, kan? Semua bagian 'pertama' selain bibir, semuanya akan aku ambil."


Pandangan Mihare tertuju tajam ke bagian bawah tubuhku.


"Lebih dari itu benar-benar gawat! Pikirkan waktu dan tempatnya, dong!"


"Memangnya waktu ciuman dengan Onee-chan kamu memikirkan hal itu?"


Aku tidak bisa membalas sepatah kata pun. Tangan Mihare sudah memegang celanaku. Seolah dia akan langsung menariknya ke bawah.

Namun saat itulah— Mihare tiba-tiba melepaskan tangannya dari ikat pinggangku dan berlari menuju pintu ruang klub. Dia membukanya dengan sentakan keras. Dan di sana, seseorang jatuh tersungkur ke dalam ruangan.


"Ternyata benar, Onee-chan sedang mengintip ya."


Mihare memberikan senyum jahil sambil menatap Sayuki-san yang sedang bertumpu tangan di lantai ruang klub.


"A-aku, itu, cuma mau memanggil kalian karena waktu pengamatan sudah hampir tiba......"


Sayuki-san buru-buru berdiri sambil berkali-kali merapikan rambut panjangnya yang terurai di bahu. Dia mencoba bersikap tenang, tapi kegugupannya terlihat jelas.


"Wajahmu merah sekali lho, Onee-chan. Lagipula ini kan musim dingin, tapi kenapa Onee-chan berkeringat deras?"


"......"


Seolah ingin melarikan diri dari tatapan Mihare, Sayuki-san memalingkan wajahnya yang memerah padam.


"Kamu sudah tahu kalau Sayuki-san ada di luar?" 


Tanyaku pada Mihare.


"Aku sudah merasakan tatapannya sejak tadi. Entah kenapa aku bisa tahu ya? Yah, biar bagaimanapun kami ini kembar. Mungkin ada ikatan batin."


Sayuki-san yang memalingkan wajah karena malu, dan Mihare yang tersenyum penuh kemenangan. Penampilan mereka sekarang benar-benar kontras dibanding sebelumnya. Namun mengingat mereka adalah kembar, atau tepatnya orang yang sama dari garis waktu yang berbeda, reaksi seperti ini mungkin tidak aneh.


"Jadi, seperti yang dilihat Onee-chan yang mengintip tadi, mulai sekarang kami adalah 'kita bertiga'. Maaf ya, Onee-chan tidak bisa lagi memonopoli Ryuuichi-kun sendirian—"


"......A-apa kamu tidak apa-apa dengan itu? Ryuuichi-kun punya dua pacar......"


"Tentu saja tidak oke. Aku ingin Ryuuichi-kun hanya melihatku saja."


Pandangan Mihare bergantian menatapku dan Sayuki-san.


"Tapi, selama ini aku sendiri tidak benar-benar melihat Ryuuichi-kun. Aku menganggap Ryuuichi-kun sebagai milikku sendiri yang tidak dimiliki Onee-chan. Itu namanya gagal jadi pacar."


Mihare menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah. Padahal dia tidak perlu minta maaf sama sekali.


"Meski begitu, aku ingin memulainya sekali lagi. Karena aku ingin menjadi pacar yang benar."


Mihare menatapku dan tersenyum—senyum yang seperti biasanya. 


Tidak, tidak sepenuhnya sama. Itu adalah senyum yang sedikit kesepian, namun sedikit lebih berani menatap ke depan.


"Ryuuichi-kun, apakah kamu tidak apa-apa dengan ini?"


Berbeda dengan Mihare yang sudah pasrah dan mantap, Sayuki-san menunjukkan ekspresi bingung. Tatapan kedua "kekasihku" tertuju padaku, menanti kata-kata yang akan terucap.


"Aku ingin begitu. Aku tidak bisa memilih salah satu, jadi aku ingin memilih opsi untuk bersama kalian berdua....Aku tahu ini tidak lazim, dan tentu saja ada perasaan di dalam diriku yang mengatakan bahwa ini salah."


"Wajar saja, kan. Kalau orang-orang tahu kamu punya dua pacar, bayangkan rumor apa yang akan beredar." 


"Tapi, aku ingin melepaskan diri dari gravitasi norma sosial itu. ...Karena aku percaya kita bisa melakukannya."


"Untuk melepaskan diri dari gravitasi bumi, kita hanya butuh kecepatan 1,41 kali lebih cepat dari kecepatan rotasi, kan?"


Mihare mengutip kata-kata yang pernah kuucapkan dulu, lalu mengangguk mantap.


"Kalau begitu, rasanya aku bisa melakukannya. Bukan dua kali atau tiga kali lipat, tapi kalau cuma 1,41 kali, sepertinya kita bisa mengusahakannya, kan? Ya kan, Onee-chan?"


"......"


Meskipun Mihare mencoba mengajaknya bicara, wajah Sayuki-san tetap tidak cerah. Melihat kakaknya seperti itu, Mihare bertepuk tangan sekali dengan keras.


"Baiklah, karena semuanya sudah beres... Aku sudah cukup 'mengisi ulang' Ryuuichi-kun untuk jatah hari ini, jadi sekarang giliran Onee-chan. Aku akan kembali ke atap duluan, jadi cepat selesaikan urusan kalian dan menyusul ke atas, ya?"


"Eh? Mi-Mihare?"


Meninggalkan Sayuki-san yang kebingungan, Mihare melangkah keluar dari ruang klub dengan santai. Sepeninggalnya, aku dan Sayuki-san terdiam membisu untuk sesaat.


"......Sepertinya dia sengaja memberi kita waktu. Anak itu sudah menjadi kuat, ya."


"Itu karena dia adalah Sayuki-san di masa lalu."


"Tidak, aku yang dulu jauh lebih lemah. Aku bahkan tidak memahami perasaanku sendiri dan tidak bisa melihat Ryuuichi-kun dengan benar. Mihare yang sekarang benar-benar berbeda dariku yang dulu."


Sayuki-san menatap ke arah perginya Mihare, namun tiba-tiba ia tersentak.


"A-ah, benar, waktunya! Ryuuichi-kun, cepat ke atap!"


Sayuki-san menarik lenganku. Tapi, aku tidak berniat bergerak dari sana. Tanpa melihat jam pun aku tahu. Hanya dengan melihat ke luar jendela, jelas sekali bahwa fajar telah tiba.


Cahaya matahari yang silau mulai tercurah. Jika langit sudah seterang ini, memotret komet sudah tidak mungkin lagi dilakukan.


"Waktunya sudah habis, tapi aku tidak keberatan. Keinginan untuk menemukan komet baru pada awalnya hanyalah alat untuk bertemu kembali dengan 'gadis itu', jadi aku tidak merasa menyesal."


"Apa kamu benar-benar tidak apa-apa? Padahal waktu dan pengetahuan yang kamu dedikasikan untuk langit malam selama ini adalah nyata."


"......Maaf, aku sedikit berbohong tadi."


Karena aku sedikit memahami astronomi, aku mengerti betul seberapa besar usaha dan keberuntungan yang dibutuhkan untuk menemukan komet yang belum dikenal. Tiket menuju pencapaian besar yang mungkin tidak akan didapat meski seumur hidup mencari, baru saja lewat begitu saja di depan mataku.


Meskipun begitu, aku tetap tidak berniat pergi ke atap.


"Menemukan komet awalnya memang hanya sebuah sarana. Tapi selama aku belajar dan mengejarnya dengan caraku sendiri, tanpa sadar aku mulai menjadi serius. Jadi, sejujurnya, ada perasaan tidak ingin melepaskan kesempatan ini."


"Kalau begitu!" 


Tangan Sayuki-san menarik lenganku dengan tidak sabar.


"Ada perasaan itu, tapi... tidak apa-apa. Berkat bertemu dengan kalian berdua yang kucari selama ini, mimpi yang tadinya hanya sebuah sarana kini menjadi mimpi yang sesungguhnya. Sekarang, aku benar-benar ingin menemukan komet dengan niat yang tulus."


"Lalu, kenapa..." 


Kenapa aku membuang waktu? 


Aku menjawab sorot matanya yang seolah bertanya demikian.


"...Justru karena ini mimpi yang serius, aku tidak ingin menemukannya karena diberi tahu oleh seseorang. Aku ingin menemukannya dengan kekuatanku sendiri—tidak, dengan kekuatan kita semua."


"Ah..."


Seolah baru memahami maksudku, tenaga pada tangan Sayuki-san yang menarik lenganku pun melemas dan terkulai.


"Begitu ya, benar juga. Itu hal yang wajar... Maafkan aku, aku bahkan tidak menyadari hal itu. Baik di putaran pertama maupun sekarang, aku tetap tidak bisa memahaimu, Ryuuichi-kun..."


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku cuma mencoba bicara sok keren saja."


Meski aku mencoba menghiburnya, ekspresi Sayuki-san tetap mendung.


"Selama ini, setiap kali melihat Mihare, aku selalu merasa kesal. Rasanya menyakitkan melihat diriku di masa lalu yang payah, seolah-olah kesalahanku selama ini terus disodorkan tepat di depan mataku. Aku sangat membencinya."


Sedikit demi sedikit, isi hati Sayuki-san yang jujur mulai menetes keluar. Aku bisa merasakan bagian dalam hatinya yang selama ini tertutup dingin mulai mencair perlahan seperti salju yang terkena sinar matahari.


"............Tapi, pasti alasan sebenarnya bukan itu. Pada akhirnya, aku selalu kesal pada diriku yang sekarang. Tidak berkembang sedikit pun sejak putaran pertama, hanya berputar-putar di tempat yang sama seperti satelit buatan. Aku benci diriku yang seperti ini....Maafkan aku, Ryuuichi-kun. Karena telah mengacaukan hidupmu..."


"Tidak perlu minta maaf. Sayuki-san lah yang memberiku mimpi yang sesungguhnya."


"Bukan. Kamulah yang menemukan mimpi itu sendiri. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak bisa melakukan hal-hal yang selayaknya seorang pacar. Aku gagal sebagai pacarmu, baik di putaran pertama maupun kedua."


Melihat Sayuki-san yang terus menunduk, aku berusaha keras mencari kata-kata. Ada jutaan kata yang berkilauan seperti bintang, namun merangkainya menjadi kalimat yang bisa menyentuh hati seseorang adalah hal yang sangat sulit. Namun, aku tidak punya pilihan selain terus mencarinya. Sama seperti mencari komet.


"......Untuk mewujudkan mimpiku, ke depannya aku tetap butuh Sayuki-san......"


Tidak, bukan itu. Jika aku mengakuinya sebagai "Mihare (pacarku)" dari putaran kedua...


"Aku butuh Sayuki." 


Aku mengubah caraku memanggilnya.


"......Ryuuichi-kun." 


Sayuki mengangkat pandangannya dengan ragu.


"Tanpa dukungan Sayuki yang punya pengetahuan astronomi mumpuni, aku tidak akan bisa menemukan komet. Tentu saja, aku juga butuh Mihare. Seperti yang kukatakan tadi, aku butuh kalian berdua....... Jadi, suatu saat nanti, mari kita temukan komet itu bersama-sama."


Demi mewujudkan janji yang tanpa sadar telah kuucapkan kepada mereka berdua di masa lalu.


"......"


"Mimpi seorang amatir untuk menemukan komet baru adalah sesuatu yang mungkin tidak akan terwujud seumur hidup. Jadi, aku ingin kalian terus menemaniku selamanya."


"......Iya, tentu saja."


Akhirnya, Sayuki menunjukkan ekspresi wajah yang tenang. Aku menangkupkan kedua tanganku di pipinya, lalu mengecup bibirnya perlahan. Berbeda dengan ciuman pertama kami, ini adalah ciuman yang murni di mana bibir kami hanya bersentuhan ringan. Aku menikmati sensasinya dengan hati-hati dan perlahan, seperti menginjakkan kaki di atas salju yang baru turun. Sayuki menyipitkan matanya dan menerimaku.


Tepat setelah berciuman dengan salah satu kekasihku (Mihare), aku bertukar kecupan dengan kekasihku yang lain (Sayuki).


Dunia mungkin akan menyebutnya selingkuh atau mendua. Namun, aku tidak berniat terjebak dalam gravitasi norma itu. Apa pun yang dikatakan orang, ini adalah cinta sejati.


Aku selalu mencintai satu orang yang sama, yaitu "Asada Mihare", dengan sepenuh hati. Dari masa lalu ke masa kini, hingga masa depan.


Mihare yang sekarang dan Mihare dari putaran kedua. Membedakan mereka sebagai dua orang yang berbeda hanya karena garis waktu yang berbeda, lalu mencoba memilih salah satu dari mereka, justru itulah yang menurutku tidak jujur.


Karena itulah, aku mencium kekasihku dari putaran kedua ini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close