Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 2
Pelarian Yuna
Kadang aku berpikir bahwa Juni adalah bulan yang kubenci.
Langit kelabu kusam, dan hujan yang turun tanpa henti. Cuaca cerah yang berlangsung sampai beberapa hari lalu kini terasa seperti kebohongan; sekarang, suasana musim hujan sudah sepenuhnya menyelimuti luar. Tapi bukan cuma karena musim hujan saja Haruya membenci bulan Juni.
—Tidak ada hari libur nasional.
Itulah alasan terbesar kenapa bulan ini begitu dibenci.
Berkat itu, meski hujan terus turun, selain Sabtu dan Minggu ia tetap harus pergi ke sekolah setiap hari dengan perasaan malas yang luar biasa. Memang Desember juga tidak punya hari libur nasional, tapi dibandingkan Juni, masih jauh lebih mending. Walaupun tak ada libur, liburan musim dingin sudah menanti, dan juga bukan musim dengan hujan yang turun terus-menerus.
Sambil mendengarkan suara hujan yang mengguyur deras, Haruya mencoba tidur dengan kedua lengannya dijadikan bantal. Namun, suara melengking dari dekat tempat duduknya tetap saja masuk ke telinganya. Itu adalah percakapan antara Sara, Yuna, dan Rin—para S-Class Beauty.
"—Yunarin, aku lega kamu kelihatannya sudah membaik. Kamu benar-benar nggak apa-apa sekarang?"
Rin bertanya sambil mencondongkan tubuhnya dan menatap wajah Yuna dengan cemas.
"Maaf. Aku pikir akhir-akhir ini aku nggak jadi diriku sendiri, tapi sekarang sudah kembali seperti biasa."
"Syukurlah, serius deh."
Dengan ekspresi lembut, Rin melanjutkan,
"Aku sempat merasa sudah menyentuh bagian yang seharusnya nggak kusentuh, dan aku benar-benar nggak tahu harus gimana. Kalau aku di posisimu, pasti bakal sangat nggak suka."
"Maaf, maaf. Jangan pasang wajah muram begitu, Rin. Dan Sara juga, maaf sudah bikin kalian khawatir."
"T-tidak… kalau sudah kembali seperti semula, itu yang paling penting."
Saat percakapan itu berlangsung, tiba-tiba Rin meluruskan punggungnya, dan sorot cahaya muncul di matanya.
"…Perasaan ini, Yunarin. Jangan-jangan ini cinta?"
"Bukan," jawab Yuna cepat tanpa terlihat goyah.
"Kalau gitu masih di bawah level itu, ya~"
"Bahkan belum sampai situ."
"Tapi ini ada hubungannya sama laki-laki, kan…?"
Rin mendekatkan wajahnya dan berbisik dengan senyum lembut. Entah kenapa… Sara justru menatap Yuna dengan pipi memerah. Mungkin ia teringat percakapan pesan pribadi dengan Yuna beberapa hari lalu.
(…Eh, jangan-jangan kamu sudah menemukan teman kencan, Yuna-san?)
Lalu teringat pula ucapan "ciuman" yang justru ia lontarkan sendiri dan berujung menggali kuburannya sendiri. Akibatnya, Sara jadi tak bisa tenang. Tanpa sadar wajahnya memerah, dan sesekali ia melirik ke arah tempat duduk Haruya.
Melihat sikap Sara, Rin tersenyum seolah sudah memahami segalanya.
"Sarachin dan Yunarin kelihatannya berjuang keras ya, iri deh. Aku juga suatu hari nanti pasti…!"
Rin mengepalkan tinjunya, matanya menyala-nyala dengan semangat juang. Yuna menenangkannya dengan, "Bukan begitu, sungguh," Dan Sara sesekali mencuri pandang ke arah Haruya yang menelungkupkan wajah di atas meja.
Haruya memang tidak mengangkat wajahnya, tapi ia bisa merasakan tatapan itu seperti sebuah aura, dan di dalam hatinya keringat dingin mengalir deras.
(Himekawa-san sepertinya mengira aku tidur dan jadi bebas ngobrol soal cinta, tapi aku benar-benar bangun… tolong jangan sering-sering lihat ke sini)
Dengan harapan agar tidak mencolok, Haruya hanya bisa berdoa. Namun, waktu istirahat itu sejujurnya terasa seperti mimpi buruk baginya.
***
Hari-hari yang penuh tekanan berlalu, hingga akhirnya tibalah hari Sabtu. Langit tetap mendung, tapi belum menunjukkan tanda-tanda hujan akan turun.
Haruya datang ke pusat perbelanjaan—tempat janji mereka—dengan penampilan rapi, versi dirinya yang lain. Biasanya, saat cuaca buruk, ia sebisa mungkin menghindari keluar rumah. Tapi hari ini berbeda. Awalnya, beberapa hari lalu, Nayu mengajaknya pergi bermain.
"(…Dia bilang main, bukan off-kai. Itu yang bikin aku jadi kepikiran aneh-aneh)"
Hubungan Haruya dengan Nayu bukanlah hubungan yang singkat.
Biasanya, ia selalu mengajaknya sebagai off-kai, tapi ajakan untuk "pergi main" adalah yang pertama kalinya. Tak heran kalau Haruya jadi gelisah.
Karena itu, setelah menunggu sekitar lima menit di depan pintu masuk mal, Nayu datang sambil berkata, "Maaf menunggu." Dengan kacamata hitam dan pakaian yang memancarkan kesan dewasa. Bukan "imut" seperti biasanya yang identik dengan Nayu, tapi lebih cocok disebut "cantik".
"A, eh…"
"Hm?"
"Ini tuh…"
Menyadari Haruya tak bisa menyembunyikan kegugupannya, Yuna melanjutkan dengan nada datar, sambil memutar-mutar rambutnya dengan jarinya.
"Biar kubilang dulu, ini bukan kencan. Bukan juga off-kai seperti biasanya. Jadi nggak perlu terlalu tegang."
Sepertinya semuanya sudah ketahuan. Karena sudah lama saling kenal, isi kepala Haruya pun mudah terbaca olehnya.
"Kalau begitu, pertemuan hari ini sebenarnya…"
"Aku mau melampiaskan kekesalanku. Kupikir kamu bisa menemaniku."
Sambil mengangkat satu sisi bibirnya, ia memperlihatkan gigi putihnya. Ditambah dengan anting yang berkilau di dekat telinganya, ekspresi Nayu terlihat lebih manis dari biasanya.
Biasanya, alur off-kai hanya sebatas ngobrol manga shoujo di restoran keluarga atau kafe, lalu bubar. Jadi berjalan berdampingan sambil berkeliling mal bersama Nayu terasa sangat segar.
Saat naik eskalator, Nayu berkata,
"Aku memang bilang mau melampiaskan kekesalan, tapi off-kai kemarin… suasananya jadi aneh. Jadi kalau Haru-san punya tempat yang ingin dikunjungi, jangan sungkan bilang."
"Baik. Tapi kita ke tempat yang Nayu-san mau saja. Aku bakal menemani."
"Oh, jadi tipe pria andal, ya? …Eh, tapi kenapa? Kelihatannya kamu gelisah."
"…Entah kenapa kalau bareng Nayu-san, rasanya seperti lagi dinilai, jadi aku malah tegang."
Nayu adalah penggemar berat manga shoujo. Karena sudah melihat begitu banyak kisah cinta, setiap gerak-geriknya membuat Haruya merasa seolah semua tindakannya sedang diberi nilai.
"Nggak perlu setegang itu… Cukup jadi Haru-san yang biasanya, itu sudah lebih dari cukup."
"Baik."
Kalau yang dia inginkan adalah dirinya yang biasa, tak perlu ada yang perlu dikhawatirkan.
Sambil berbincang seperti itu, mereka tiba di lantai enam, dan Nayu melangkah masuk ke area game center.
"…Sesuai janji, kamu harus menemaniku, ya."
"I-iya."
Dan begitulah, Haruya pun akhirnya menemani pelampiasan kekesalan Nayu…
"—T-tunggu sebentar, Nayu-san!? Anak-anak sampai mundur ketakutan!"
Itu terjadi saat mereka sedang bermain game koin.
Awalnya, Nayu berkata, "Aku ingin main sepuasnya tanpa menghabiskan banyak uang…", dan akhirnya mereka sepakat bahwa game koin adalah pilihan terbaik. Sekarang mereka sedang memainkan game koin bertema memancing.
Mungkin karena hari ini akhir pekan, ada beberapa anak yang juga bermain di mesin yang sama. Tatapan penuh rasa ingin tahu, kagum, hormat—atau malah benar-benar kaget—terarah ke Nayu.
Wajar saja. Seorang Onee-san berkacamata hitam memutar reel lebih cepat daripada siapa pun di tempat itu, dan memancing ikan dalam jumlah besar tanpa henti. Alhasil, semua ikan seolah menjadi milik Nayu seorang.
Menghadapi semangat dan keseriusan Nayu yang berlebihan itu, Haruya hanya bisa tersenyum kecut.
"Haru-san, kamu berhasil nambah koin berapa banyak?"
"Nayu-san, kamu terlalu serius nggak sih…? Koin aku malah hampir habis."
"Oh begitu. Kalau gitu aku bisa bagi koinku kok—"
Di situ, Nayu mengikuti arah pandangan Haruya yang melirik ke anak-anak. Saat ia menoleh ke sekeliling… wajahnya sedikit memerah. Mungkin baru sadar betapa kekanak-kanakannya dirinya yang menguasai semua ikan dan mengumpulkan koin dalam jumlah besar.
Ia berdeham dengan sengaja, lalu membuka mulut.
"……S-sudah deh, aku bosan sama game koin. K-kita lanjut ke yang lain, ya."
"Oh, iya."
Melihat sisi dirinya yang tak terduga, Haruya tak bisa menahan senyum geli.
Setelah membagikan koin yang jumlahnya berlipat ganda kepada anak-anak, Nayu berkata, "Maaf ya tadi ngerebut semua ikannya. Ini buat kalian, maafin Onee-chan, ya."
"H-hei… jangan ketawa begitu, ayo lanjut? Haru-san."
Sepertinya dia ketahuan. Ekspresinya tak terlihat karena kacamata hitam, tapi telinganya tampak sedikit memerah.
"Iyaaa. Mengerti."
Haruya pun mengikuti Nayu. Namun… di permainan berikutnya pun, Haruya tak bisa tidak merasakan sisi kekanak-kanakan dalam diri Nayu.
…Setelah game koin, ia bermain game ritme dan mesin tinju, menggerakkan tubuhnya dengan sangat aktif. Gerakan agresif itu benar-benar di luar bayangan, jauh dari kesan cool yang biasa ia tampilkan, membuat Haruya terkejut. Tak ada sedikit pun kesan feminin yang bisa dirasakan, bahkan sekadar basa-basi. Yang ada hanyalah sosok seperti bocah laki-laki yang murni menikmati permainan.
Berlawanan dengan penampilannya yang dingin dan dewasa, tampaknya Nayu menyimpan semangat juang yang membara di dalam dirinya. Terlebih lagi, dari suara tumpul yang menggema di mesin tinju—suara yang tak mungkin dihasilkan oleh gadis bertubuh lemah—
(Sepertinya aku benar-benar nggak boleh bikin Nayu-san marah…)
Haruya sampai merinding memikirkannya.
(Kupikir kami sudah cukup lama kenal, tapi ternyata aku sama sekali belum benar-benar mengenal Nayu-san ya.)
Perasaan segar pun muncul dalam hati Haruya.
Nah, setelah menikmati berbagai permainan, tiba-tiba langkah Nayu terhenti.
"Eh, Nayu-san?"
"…………"
Mengikuti arah pandangannya, yang terlihat adalah sebuah mesin permainan basket. Anak-anak dengan riang berteriak, "Ayo, ayo!", "Masuk, masuk!" sambil melempar bola ke arah ring basket berulang kali demi meraih skor sebanyak mungkin sebelum waktu habis. Nayu menatap mereka dengan pandangan jauh, seolah tenggelam dalam lamunan.
Apa dia masih punya penyesalan terhadap basket?
Bayangan seorang siswi dari sekolah lain yang pernah mereka temui secara kebetulan di off-kai sebelumnya—Onoi—terlintas di benak Haruya. Entah karena alasan apa, Nayu tampaknya berhenti bermain basket.…Meski begitu, Haruya sama sekali tidak tahu detailnya.
"A-ah, maaf ya, Haru-san. …Nggak ada apa-apa kok."
"………"
Benarkah begitu? Tidak, itu pasti bohong.
Nada suaranya yang tadi ceria terasa tenggelam dan suram hanya dalam sekejap.
"Nayu-san, beneran nggak apa-apa?"
Kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya dan tak bisa terucap.
Seberapa jauh ia boleh ikut campur? Jangan-jangan ia malah menyentuh ranjau. Meski diliputi kekhawatiran itu, melihat wajah Nayu yang murung membuat Haruya tak bisa menahan diri untuk tak mengulurkan tangan.
"Nayu-sa—"
Tepat pada saat itu. Haruya membelalakkan mata dan membeku. Yang tertangkap dalam pandangannya adalah sosok Sara dan Rin. Dua S-Class Beauty itu sedang mengobrol dengan akrab.
Pandangan Haruya terkunci hanya pada Sara seorang. Sosok Rin bahkan tak ia sadari berada dalam bidang pandangnya.
(K-kenapa Himekawa-san ada di tempat ini…?)
Kalau dipikir-pikir, hari ini memang akhir pekan. Ditambah lagi tempatnya adalah pusat perbelanjaan yang ramai. Kemungkinan bertemu dengan orang yang dikenal jelas sangat besar.
(Eh, bercanda kan… kenapa dari semua tempat, mereka harus datang ke arah sini.)
Kalau sampai ketahuan olehnya, ini bakal gawat. Tanpa pikir panjang, Haruya meraih pergelangan tangan Nayu dan langsung berlari.
"—Eh, tunggu—"
Haruya masuk ke dalam bilik mesin foto purikura terdekat dan berusaha menahan keberadaannya.
"…H-Haru-san?"
Mendengar suara Nayu yang terdengar panik, Haruya mengangkat jari telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar diam, sambil di dalam hati berkeringat dingin. Nayu menatapnya seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi melihat betapa seriusnya Haruya, ia pun menyerah dan tetap diam di tempat.
Sambil sedikit mengernyitkan alis, ia membiarkan keadaan itu berlangsung sejenak.
"Ngomong-ngomong, Sarachin… kenapa nggak kamu saja yang ngajak kencan lebih dulu?"
"T-tidak… di musim seperti ini biasanya udaranya lembap dan aku mudah kena migrain, jadi aku sebisa mungkin menahan diri untuk tidak bersenang-senang."
"Eh—serius!? Kalau kamu sebenarnya memaksakan diri… a-anu, maaf ya."
"Ah, hari ini masih jauh lebih baik, jadi mohon jangan khawatir."
"Begitu ya. Padahal aku juga ngajak Yunarin, tapi katanya ada urusan jadi menolak. Jangan-jangan dia lagi kencan, ya?"
"Hehe, Rin-san memang tidak berubah."
Dan seterusnya. Sambil bertukar obrolan seperti itu, Sara dan Rin melewati bilik purikura tersebut.
Setelah memastikan suara mereka benar-benar menjauh, Haruya akhirnya menghela napas lega. Namun, Nayu tampaknya masih kebingungan dan belum sepenuhnya mencerna situasi.
"…A-ah. Nayu-san… m-maaf."
Di saat itu juga, Haruya menyadari posisi mereka sekarang. Tak heran kalau Nayu menatapnya dengan pandangan penuh tanya. Ia telah menekan Nayu ke dinding—wall-don. Belum lagi jarak wajah mereka yang sangat dekat.
"……J-jadi sampai segitunya, kamu pengin foto purikura sama aku, Haru-san?"
"Eh, bukan, bukan begitu…"
Sepertinya telah terjadi salah paham yang aneh.
"Padahal kamu tinggal bilang saja, nggak perlu sampai narik aku seagresif itu."
"A-ah, bukan! Aku bukan menarik Nayu-san karena ingin foto purikura bareng—"
Kalau sampai dianggap mesum, itu benar-benar bahaya.
Haruya panik. Tapi melihat bukti-bukti situasionalnya, rasanya sulit untuk mengelak. Terutama soal wall-don itu.…Apa yang sebenarnya aku lakukan. Dari luar kelihatannya benar-benar parah.
Saat ia kebingungan setengah mati, Nayu terkikik kecil dan menatapnya dengan ekspresi lembut.
"Aku tahu kok. Sepertinya kamu… hampir bertabrakan sama orang yang kamu kenal, kan?"
Ucapnya dengan suara sedikit lebih pelan, seolah malu.
(Hm? Reaksi apa itu barusan. Jangan-jangan Nayu-san juga kenal orang itu…? Himekawa-san, maksudnya.)
Tidak mungkin, pikir Haruya, lalu langsung menepis kemungkinan itu.
Setelah itu ia melanjutkan tanpa terlihat goyah.
"Iya, iya! Kurang lebih seperti itu. Tapi kalau kamu sudah tahu, jujur saja jantungku nggak kuat kalau kamu malah menggoda aku."
"Ekspresi Haru-san yang panik itu terasa segar soalnya… jadi tanpa sadar. Maaf ya. Tapi kamu juga tiba-tiba mendekat, aku sendiri kaget kok. Jadi kita impas."
"Itu benar-benar salahku. Maaf."
Haruya meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
***
Karena sudah puas bersenang-senang, Haruya dan Nayu meninggalkan game center lalu menuju restoran ramen di lantai tujuh pusat perbelanjaan untuk makan siang.
Haruya memesan ramen miso dengan telur berbumbu, porsi besar—menu rekomendasi nomor satu di toko itu. Sementara Nayu memesan ramen miso super pedas porsi biasa.
Haruya cukup kuat dengan rasa pahit, tapi sangat lemah terhadap pedas. Jadi melihat pesanan Nayu saja sudah membuat mulutnya terasa perih. Begitu pesanan mereka datang, mereka mengucapkan salam sebelum makan lalu mulai menyeruput mi.
Saat Haruya hendak seperti biasa mengobrol seru soal manga shoujo sambil makan, Nayu justru memotong pembicaraan.
"Haru-san, ramen ini pedasnya pas dan enak. Kalau mau, coba satu suap."
Tiba-tiba Nayu menggeser mangkuknya ke arah Haruya.
(Ah… padahal lagi asyik mau bahas manga shoujo.)
Meski topiknya terpotong, Haruya tidak terlalu mempermasalahkannya dan menatap mangkuk yang disodorkan kepadanya.
"Nggak, lihat warnanya saja sudah merah banget… aku kan nggak kuat pedas."
"Satu suap saja. Nggak terlalu pedas kok."
Padahal jelas-jelas ini produk yang dipromosikan sebagai super pedas… mana mungkin tidak pedas. Tapi melihat ekspresi menantang di wajah Nayu, Haruya merasa tak punya pilihan selain mencoba. Ia mengumpulkan keberanian dan menyeruput sedikit.
Sekejap kemudian, rasa perih menyerang mulutnya. Tanpa sadar ia meringis dan buru-buru meneguk air putih.
"P-pedas…! Ini pedas banget, Nayu-san!"
Saat Haruya mengeluh, Nayu justru tersenyum puas.
"Jadi sekarang kamu tahu rasanya yang biasa aku rasakan tiap kali kamu minum kopi hitam?"
Ternyata ia cukup menyimpan dendam soal itu.
Haruya pun meminta maaf singkat lalu mengembalikan mangkuk ramen super pedas itu kepadanya.
"Ngomong-ngomong, Nayu-san… sejauh ini, jadi pelampiasan yang bagus?"
"Ah, iya. Dari jalan-jalan hari ini aku jadi tahu kalau Haru-san benar-benar nggak tahan pedas."
"T-tunggu, kamu mau menyeret aku ke mana saja setelah ini?"
"Tanpa dibilang pun, kamu pasti sudah bisa menebak, kan?"
(Jangan-jangan mulai sekarang lokasi off-kai jadi restoran super pedas… nggak mau! Aku sama sekali nggak mau!)
Saat Haruya panik dalam hati, Nayu tersenyum anggun.
Melihat itu, Haruya refleks menimpali.
"Aku juga senang bisa tahu sisi tak terduga dari Nayu-san."
"Hm? Sisi yang mana?"
"Sisi yang kayak anak laki-laki."
"Kayak anak laki-laki?"
"Iya. Soalnya tadi kamu serius banget main game, sampai susah dibayangkan dari Nayu-san yang biasanya."
Tidak terlalu feminin.
Nada itu sedikit bernuansa menggoda, tapi Nayu sama sekali tidak goyah—bahkan menjawab dengan sikap santai.
"Gadis yang cuma menunjukkan wajah palsu, dan gadis yang memperlihatkan dirinya apa adanya. Kupikir Haru-san lebih suka yang kedua… salah ya?"
Tidak salah sama sekali. Justru tipe pertama adalah yang paling tidak disukai Haruya.
"Sebaliknya, menurutku itu jadi nilai plus karena ada gap-nya."
"Memang benar, tapi kalau bilang begitu tentang diri sendiri, kamu benar-benar nggak punya celah."
"Ya, tapi… kalau di kepalamu aku sudah dinilai sebagai ‘anak laki-laki’, itu juga agak menyebalkan sih. Mungkin… aku memang perlu sedikit menunjukkan sisi yang lebih feminin juga."
Sambil memutar-mutar rambutnya dengan jari, Nayu memalingkan wajah.
"Sisi feminin maksudnya…?"
Bukan berarti Haruya tidak menganggap Nayu sebagai perempuan, tapi jelas maksudnya bukan itu.
"Setelah ini kita lihat-lihat baju."
Kebetulan Haruya juga sedang mempertimbangkan untuk menambah pakaian, jadi itu cukup membantu.
"Siap. Tapi setelah selesai lihat baju, ada tempat yang ingin aku kunjungi. Boleh?"
"Mm, oke."
Sambil menyeruput ramen super pedas dengan elegan, Haruya mengutarakan isi hatinya dengan jujur.
"Lagian, rasanya segar ya. Beda dari off-kai biasanya."
"…Soalnya sekarang ketahuan kalau aku ini agak kayak anak laki-laki, sekaligus perempuan yang nyaris nggak punya celah."
"Iya, iya."
Saat Haruya mengangguk, Nayu melanjutkan dengan nada datar.
"Dan kamu juga ketahuan ternyata tipe yang cukup agresif, Haru-san."
Ia jelas mengacu pada kejadian wall-don di bilik purikura.
"M-maaf."
"Maaf, maaf. Cuma bercanda. Nggak akan kuungkit lagi."
Sambil berkata begitu, Nayu menghabiskan ramen-nya sampai bersih.
(Tolong deh… kartu itu daya hancurnya tinggi banget.)
***
Setelah menikmati ramen dengan puas, Haruya dan Nayu menuju toko pakaian yang terletak di lantai empat pusat perbelanjaan. Ide untuk melihat-lihat baju datang dari Nayu, tapi Haruya sendiri juga tertarik pada pakaian, jadi pilihan itu tidak buruk. Mungkin Nayu juga ingin memilih baju untuk dirinya sendiri dengan lebih leluasa.
Karena area pakaian pria dan wanita berada di bagian yang berbeda, Haruya berkata padanya,
"Kalau begitu, kita janjian ketemu di luar toko saja, ya."
Haruya merasa itu adalah usulan yang masuk akal, tetapi Nayu malah menghela napas singkat.
"Kamu serius bilang begitu? Kalau begitu, kita datang bareng ke sini jadi nggak ada artinya dong…"
Begitu katanya, menolak usulan itu dengan ringan. Karena hari ini ia keluar rumah dengan dalih menemani pelampiasan kekesalan Nayu, Haruya berusaha sebisa mungkin mengikuti keinginannya. Namun, ketika jarak mereka dipersempit tanpa ragu, Nayu mengambil beberapa potong pakaian lalu bertanya, "Menurutmu ini lucu?"—itu benar-benar di luar dugaan dan membuat Haruya kewalahan.
Saat ini, Haruya sedang menemani Nayu melihat-lihat pakaian wanita.
Begitu Nayu mengambil kemeja lengan pendek berwarna biru muda dan rok panjang merah, ia pun bertanya,
"Hei, kalau ini dipadukan, kelihatannya lucu nggak?"
"Menurutku lucu sih, tapi…"
Di dalam kepalanya, Haruya membayangkan Nayu mengenakan pakaian itu—dan yang terlintas hanya gambaran betapa cocoknya pakaian itu dengannya.
"Begitu ya. Kalau gitu aku coba pakai dulu, tunggu sebentar…"
Nayu masuk ke ruang ganti dan menutup tirainya.
Berdiri menunggu seperti ini, yang dirasakan Haruya hanyalah satu hal—ini terasa seperti kencan. Seorang pria menunggu di depan tirai ruang ganti saat seorang wanita sedang mencoba pakaian. Susunan adegan itu sendiri sudah sepenuhnya seperti kencan.…Walaupun, kalau ditanya langsung, Nayu pasti akan menyangkalnya.
"Gimana… cocok nggak?"
Nayu keluar masih mengenakan kacamata hitamnya, tapi pakaian yang ia pilih benar-benar sangat cocok.
"Cocok."
Haruya menjawab datar tanpa ekspresi. Nayu terdiam sesaat, lalu mulai bergumam pelan.
"…Oh. Kamu kelihatannya santai banget ya, Haru-san."
"Eh, ada yang salah?"
"Nggak kok. Makasih… harganya juga pas, kayaknya aku beli deh."
Padahal dia sudah menemukan pakaian yang disukainya, tapi entah kenapa ekspresinya terlihat kurang puas.
Sebenarnya, Nayu mengusulkan untuk melihat-lihat pakaian karena ingin melihat Haruya kehilangan ketenangannya. Ia cukup terusik saat disebut ‘kayak anak laki-laki’, dan ingin membuat Haruya kembali melihatnya sebagai perempuan dewasa. Namun meski ia mengenakan pakaian yang imut, Haruya tetap menjawab "cocok" dengan sikap santai. Itulah yang membuatnya merasa tidak puas.
"…Aku juga pengin lihat baju yang lebih boyish. Bisa temenin aku cari itu juga?"
"Siap."
Setelah percakapan singkat itu, Nayu kembali keluar dari ruang ganti—
"…………"
Haruya refleks menahan napas dan mengalihkan pandangan. Yang ia kenakan sekarang adalah kaus putih longgar dengan logo, dipadukan dengan celana pendek hitam. Mungkin karena aksesori yang sudah ia pakai sejak awal, meski penampilannya sederhana, pesona wanita dewasa yang dipancarkan Nayu justru semakin menonjol.
"Kayaknya Haru-san lebih suka pakaian yang memperlihatkan kaki atau garis tubuh yang jelas, ya…"
Rasanya seperti seleranya terbaca begitu saja, membuat Haruya merasa malu. Dan memang benar. Dibandingkan pakaian sebelumnya, yang ini jauh lebih membuatnya gugup dan benar-benar sesuai dengan seleranya.
"Gimana? Cocok, kan?"
Padahal jawabannya sudah jelas, tapi Nayu tetap bertanya dengan nada sengaja.
"M-menurutku cocok."
Saat Haruya menjawab sambil memalingkan wajah, Nayu bergumam dengan puas, "Lucu. Yang ini juga aku beli deh…"
(Syukurlah… kesan ‘anak laki-laki’ itu nggak melekat.)
Nayu menghela napas lega dalam hati.
Sambil menatap dirinya… Haruya justru memikirkan hal lain yang sama sekali tidak berhubungan.
"Nayu-san. Ngomong-ngomong, setelah ini kita ke tempat yang aku mau, boleh kan?"
"Iya. kesepakatan kita memang begitu."
Setelah itu mereka kembali berkeliling melihat pakaian… dan akhirnya masing-masing membeli beberapa potong.
***
Di dekat pusat perbelanjaan besar itu, terdapat sebuah taman yang cukup luas.
Setelah membeli pakaian, Haruya dan Nayu pun pergi ke taman tersebut. Kini mereka duduk di bangku kayu, menikmati suasana alam yang tenang.
(…Untungnya aku berhasil mengajaknya keluar. Kalau sampai bertemu Himekawa-san lagi, itu bakal jadi masalah besar.)
Kalau benar-benar bertemu lagi…hanya membayangkannya saja sudah membuat perutnya terasa mengencang. Sejak melihat Sara di game center, Haruya sebenarnya ingin segera keluar dari dalam gedung.
Saat berkeliling di dalam mal, pikirannya terus dihantui,
"Jangan sampai ketemu Himekawa-san… tolong jangan."
Baik saat makan bersama Nayu maupun saat melihat-lihat pakaian, di sudut hatinya selalu ada keinginan untuk segera pergi dari sana. Meski begitu, ia tetap bertahan di pusat perbelanjaan cukup lama karena sudah bertekad menemani pelampiasan kekesalan Nayu hari ini.
(Tapi akhirnya kesempatan itu datang. Sekarang kita bisa santai di luar, tanpa harus memikirkan Himekawa-san… dan akhirnya bisa bahas manga shoujo sepuasnya!)
Haruya justru makin menantikan obrolan manga shoujo. Ia juga yakin itu akan membantu melampiaskan kekesalan Nayu. Di off-kai sebelumnya, ia bahkan tak sempat “mempromosikan” manga shoujo yang ia sukai. Lebih parahnya lagi, ia malah ditegur dengan, "Kamu masih kurang," karena pengetahuannya dianggap dangkal.
Sebagai penggemar berat manga shoujo… Haruya merasa sangat kesal. Ia ingin membalasnya. Karena itu, beberapa hari terakhir ia rajin membaca dan menjelajahi manga shoujo baru.
(Akan kubuat kamu mengakuinya… Nayu-san. Dan kita bakal saling merekomendasikan manga shoujo lagi.)
Dengan semangat membara di dalam hati, Haruya menatap Nayu yang duduk di sampingnya.
"Nayu-san, soal manga shoujo—"
Namun, Haruya mendadak menelan kata-katanya. Pasalnya, Nayu sedang menatap ke kejauhan dengan ekspresi kosong.
Meski matanya tertutup kacamata hitam, jelas terlihat bahwa pikirannya sama sekali tidak berada di sini.
“……Ah, maaf. Haru-san…… soal shoujo manga, ya?”
Mungkin menyadari tatapan Haruya, dia menoleh ke arahku.
“Iya, iya! Yang kemarin aku baca—”
Begitu perhatiannya kembali ke sini, Haruya mulai membicarakan shoujo manga. Tentang bagian-bagian yang menurutnya menarik, perkembangan ceritanya, dan sebagainya.
(Kalau shoujo manga yang ini…… Nayu-san pasti belum tahu)
Dengan wajah penuh percaya diri, Haruya mencoba “mendakwahkan” manga itu padanya. Namun meski begitu, Nayu tetap terlihat tidak terlalu bersemangat. Padahal ini topik shoujo manga yang seharusnya dia sukai, tapi dia sama sekali tidak tampak tertarik—hanya sesekali mengangguk menanggapi. Jelas ada yang aneh dengan sikap Nayu.
Saat itu, Haruya menyadari bahwa sesekali pandangan Nayu melirik ke arah ring basket.
—Dan dan, dan dan.
Di arah yang dia tatap, beberapa anak sedang bermain basket sambil memantulkan bola. Di sekitar ring basket, beberapa sepeda anak-anak terparkir.
“……Na, Nayu-san?”
Dengan ragu, Haruya memanggilnya. Tepat saat itu, bola basket menggelinding ke arah bangku—ke dekat kaki mereka.
“M-maaf~!”
Seorang anak laki-laki berlari menghampiri mereka untuk mengambil bola.
“………”
Nayu mengambil bola itu dan menatap kosong ke jaringnya.
“A-anu……”
Anak itu menggaruk bagian belakang kepalanya dengan wajah bingung.
“Na, Nayu-san…… a-apa kamu nggak apa-apa?”
Haruya melambaikan tangan di antara wajah Nayu dan bola sambil bertanya dengan cemas. Seolah baru tersadar, Nayu berkata pelan, “……Maaf ya,” lalu menyerahkan bola itu pada si anak.
“Makasih, Onee-chan!”
Dengan senyum polos tanpa noda, anak itu kembali ke teman-temannya. Nayu terus menatap punggungnya yang menjauh, masih dengan wajah linglung.
“Nayu-san, soal basket itu…… ada apa?”
Dengan sikap seperti ini, rasanya tak mungkin untuk tidak menyinggungnya, jadi Haruya bertanya.
“……Nggak ada apa-apa,”
Jawaban itu baru keluar beberapa detik kemudian.
“‘Nggak ada apa-apa’ itu jelas nggak mungkin—”
Hari ini saja sudah dua kali dia bereaksi terhadap basket.
Pertama di game center. Dan kedua, barusan di taman ini.
“………!”
Mungkin dia sendiri sadar bahwa alasannya tak masuk akal. Dia menutup mulutnya sejenak, lalu menghela napas pelan.
“Ada dengar sesuatu dari Onoi?”
“Enggak. Aku nggak dengar apa-apa dari dia. Lagipula itu pelanggaran etika.”
“Oh gitu.”
Tatapannya seolah berkata, kalau begitu, jangan tanya lebih jauh. Namun Haruya tetap diam, menunggunya melanjutkan.
Nayu pun menghela napas panjang dengan sengaja.
“Haru-san, kamu lupa aturan offkai?”
“Sayangnya…… hari ini bukan offkai, tapi ceritanya aku menemani Nayu-san buat pelampiasan emosi,”
“……!”
Seolah merasa disudutkan, dia menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Lalu berdiri begitu saja.
“……Jangan ikut campur lebih jauh.”
Penolakan yang jelas.
Dengan suara dan ekspresi sedingin yang belum pernah Haruya lihat sebelumnya, Nayu mengatakannya begitu saja. Karena tekanannya terlalu kuat, Haruya tak bisa berkata apa-apa.
Nayu berbalik badan, lalu berkata singkat, “Maaf. Hari ini aku pulang dulu,” dan mulai berjalan pergi.
Pada punggungnya yang tampak kesepian, Haruya memanggilnya dengan satu kalimat saja.
“Nayu-san, sebenarnya kamu suka basket, kan?”
“……………”
Dia tidak berhenti, tetap berjalan tanpa sepatah kata pun. Menatap sosok Nayu yang semakin menjauh, Haruya melanjutkan,
“Kalau cuma aku nggak apa-apa…… kapan pun kamu mau cerita, aku bakal dengerin.”
“…………”
Tanpa mengatakan apa pun, dia terus melangkah pergi. Merasa jarak di antara mereka semakin menjauh, Haruya tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.
***
Hari pertama di minggu baru setelah menemani pelampiasan emosi Nayu.
Di kelas Haruya, menjelang homeroom pagi, suasananya lebih ribut dari biasanya. Penyebabnya adalah obrolan cinta para S-Class Beauty—bunga-bunga tak tersentuh di kelas.
Soal cerita cinta Sara, para murid sepertinya sudah terbiasa. Namun jika yang membicarakannya adalah S-Class Beauty lainnya, itu jelas di luar dugaan. Baik laki-laki maupun perempuan, semua terbelalak dan membeku di tempat.
Di tengah suasana itu, Haruya seperti biasa menelungkupkan wajah di meja, berpura-pura tidur. Bukan berarti dia sengaja menguping, tapi percakapan para S-Class Beauty itu tetap sampai ke telinganya. Alasan kenapa perhatian murid-murid tertuju pada mereka lebih dari biasanya adalah—
“……Ngomong-ngomong, kemarin aku pertama kalinya main berdua sama laki-laki.”
Di tengah obrolan santai yang ramai, Yuna tiba-tiba bergumam seperti itu.
“Eh, Yunarin emangnya punya laki-laki yang kamu suka?”
Dengan mata berbinar, Rin bertanya.
“Aku nggak bilang suka sama siapa pun. Nggak ada perasaan cinta kok.”
“Eh, tapi tetap aja itu kencan, kan?”
“Bukan kencan sih…… tapi ya, mungkin memang kencan.”
Entah karena malas menjelaskan panjang lebar, Yuna mengangguk kecil.
“Pantesan kemarin kamu nggak bisa ikut main. Kalau ada laki-laki, ceritanya jadi beda, ya!”
Rin langsung menaikkan nada suaranya dengan jelas terlihat bersemangat.
“K-kencannya gimana? Perasaanmu jadi lebih baik?”
Untuk pertama kalinya, Sara—yang sedari tadi diam—mencondongkan tubuhnya mendekat, menatap wajah Yuna dengan antusias.
Yuna tersenyum kecut, tapi menjawab dengan nada tetap tenang.
“──Iya, Sara. Aku senang kok, makasih ya. Lumayan buat ganti suasana.”
“Kalau begitu yyukurlah!”
Sara meletakkan tangan di dadanya dan menghembuskan napas lega, sementara Rin mendesak Yuna dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Detailnya dong!”
“Kalau soal gosip cinta, Rin memang selalu agresif ya. …Ya sudah, memang dari awal aku berniat cerita sih.”
Yuna menghela napas kecil, lalu pengakuannya pun dimulai dengan tenang.
──Itu terjadi tepat kemarin.
Aku main dulu ke game center bareng laki-laki yang sudah janjian denganku. Main game medal, mukul-mukul taiko, pokoknya menikmati banyak permainan……
Aku nggak jaim sama sekali, kemarin aku benar-benar jadi diriku sendiri. Makanya aku pikir aku bisa menikmati semuanya dari lubuk hati. Tapi gara-gara itu, sepertinya aku dianggap kekanak-kanakan. Entah kenapa, itu bikin aku agak kesal. Sedikit saja, kok.
Setelah itu kami pergi makan ramen. Terus dia…… ternyata nggak kuat pedas, sampai mukanya meringis. Aku sampai mikir, “yang kekanak-kanakan itu kamu, kan,” dan itu lucu banget. Rasanya puas sih, seperti bisa membalas sedikit. Tapi tetap aja, aku nggak suka kalau terus dianggap anak kecil, jadi aku ngajak lihat-lihat baju.
Rasanya… aku ingin sedikit pamer sisi kewanitaanku. Terus, awalnya dia kelihatan santai banget waktu aku coba-coba baju, tapi di tengah-tengah, reaksinya berubah jadi benar-benar seperti laki-laki seusianya.
Saat itu aku mikir, “menang,” dan entah kenapa dia jadi kelihatan imut, itu bikin aku senang. Setelah itu…… nggak, nggak ada apa-apa. Kami langsung bubar.
“──Ya, kira-kira begitu. Kalau dihitung-hitung, aku cukup menikmati sih.”
Dengan ekspresi tenang, Yuna menutup ceritanya sambil menatap Sara dan Rin.
“Eh, apa-apaan itu…… Yunarin… Yunarin yang itu… b-beneran lagi menikmati masa muda.”
Rin membeku karena terlalu terkejut. Mungkin dia benar-benar merasa dirinya tertinggal.
“Yuna-san, itu manis sekali! Aku ingin dengar lebih banyak!”
“Ahaha, aku nggak jatuh cinta kok…… tapi ya, memang nggak buruk.”
Setelah menceritakan pengalaman nyata itu pada Sara dan Rin, Yuna merasa hatinya jadi lebih ringan.
“Itu jelas kencan dong. Enak ya~ aku juga pengin. Cinta kayak Sarachin sama Yunarin.”
“Kalau Sara sih mungkin, tapi aku bukan cinta, Rin. Tenang aja.”
Rin menautkan kedua tangannya dan menatap mereka dengan iri.
Sementara itu, para murid lain diam-diam mendengar percakapan para S-Class Beauty itu sambil tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.
(Setelah Himekawa-san, sekarang Takamori-san juga jatuh cinta…)
(Sebenarnya laki-lakinya siapa sih…)
(Pasti tampan banget, kan…)
Bisik-bisik terdengar di seluruh penjuru kelas. Semuanya membahas gosip cinta Yuna—seorang S-Class Beauty.
Nah, di tengah kelas yang ramai dengan satu topik itu. Haruya justru merasa kepalanya kosong sama sekali.
(Eh, nggak mungkin…… pasti cuma kebetulan)
Kalau tidak, berarti selain Sara, Yuna juga diam-diam sudah berinteraksi dengannya tanpa dia sadari…….
(Shopping mall, game center, lalu ramen. Makin didengar makin terasa déjà vu)
Meski berusaha tidak memikirkannya, Haruya teringat bahwa Nayu dan salah satu S-Class Beauty punya nama keluarga yang sama—Takamori. Semakin dipikirkan, otaknya terus menegaskan bahwa mereka mungkin orang yang sama.
(…N-nggak mungkin kebetulan sejauh itu)
Himekawa-san saja sudah cukup, masa Nayu-san juga satu kelas? Itu mustahil—begitu ia berulang kali meyakinkan dirinya sendiri. Lagipula, perpisahannya dengan Nayu kemarin sangat buruk. Ia menyentuh luka batin Nayu dan ditolak mentah-mentah.
Dalam kondisi seperti itu, mana mungkin dia dengan ceria menceritakan kejadian kemarin seperti ini.
(Iya, pasti begitu. Anggap saja begitu)
Saat ia mencoba berhenti berpikir karena kepalanya mulai sakit, seseorang menepuk bahunya.
“……B-bukan aku, ya!”
Tanpa sadar, Haruya meninggikan suaranya.
“Eh, aku belum ngomong apa-apa sih……”
Kazamiya menjawab sambil agak mundur, sedikit terkejut.
“Setelah Himekawa-san, sekarang Takamori-san juga cerita cinta. Akhir-akhir ini S-Class Beauty juga mulai berubah—eh, hei, aku belum selesai ngomong!”
Haruya tetap menelungkupkan wajahnya di meja, menolak percakapan.
Saat ini, dia benar-benar nggak mau mikir apa-apa. Karena kepalanya sedang kacau.
“Tapi Takamori-san, sejak cerita soal klubnya dibahas di kelas, auranya sempat berubah. Sekarang balik lagi seperti biasa, berarti kencannya benar-benar menyenangkan, ya.”
Kazamiya mendekat ke telinga Haruya dan berbisik.
“A-aku nggak tahu. Lagian kenapa sih kamu repot-repot ngomongin itu ke aku?”
“Karena aku ingin tetap akur sama Akasaki.”
Dengan nada bercanda, pria itu mengatakannya.
Apa sebenarnya niatnya……?
Meski tak tertarik, Haruya menjawab dengan kesal.
“Kalau begitu, jangan ngajak aku ngobrol.”
“Kalau gitu kita nggak bisa akur, dong? …Hei, berhenti pura-pura tidur.”
Di dalam kelas yang riuh dan dipenuhi kegaduhan. Hati Haruya pun sama—sama sekali tidak bisa dibilang tenang.
***
Waktu istirahat makan siang. Di bawah langit yang tertutup awan tebal, Haruya datang ke atap sekolah.
Beberapa hari terakhir, karena pengaruh musim hujan, atap sekolah tidak bisa dimasuki, sehingga kesempatan Haruya untuk makan siang bersama Sara pun berkurang. Namun hari ini hujan belum turun, itulah sebabnya ia bisa datang ke atap seperti ini.
Karena tiba lebih dulu dari Sara, Haruya berbaring telentang membentuk huruf X sambil menatap langit mendung.
Tanpa memikirkan apa pun, hanya menatap kosong ke langit—itu saja sudah membuat hatinya yang tegang terasa sedikit lebih ringan.
──Kreekk.
Pintu yang berkarat dan hampir rusak itu terbuka. Sara datang dengan membawa bekal di tangannya, melangkah dengan anggun ke arahnya. Kalau tetap seperti ini, tanpa sengaja Haruya bisa melihat celana dalam Sara, jadi ia mengangkat tubuhnya yang terasa lesu dan mengambil kotak bekalnya yang diletakkan di samping.
“Maaf menunggu, Akasaki-san.”
“Ah, nggak kok. Aku juga baru sampai.”
“Syukurlah hari ini kita bisa makan siang bersama!”
“Iya…”
“Kelihatannya kamu nggak begitu bersemangat. Ada apa?”
Sara dengan cepat menangkap perubahan itu dan mengintip wajah Haruya. Haruya sendiri makin yakin bahwa penyebab dirinya melamun adalah Yuna=Nayu.
Ia menghela napas kecil, lalu membuka kotak bekalnya.
“Maaf. Aku cuma lagi mikir sedikit.”
“──B-begitu ya.”
Mereka pun menghabiskan waktu makan siang sambil mengobrol ringan. Namun kemudian, dengan suara seolah mengumpulkan keberanian, Sara bergumam,
“A-a-ano… mau nggak kamu pergi jalan-jalan lagi bareng aku?”
“Eh? Kenapa tiba-tiba?”
“Itu… teman sekelasku sih… tapi setelah dengar cerita kencan Yuna-san, aku jadi iri…”
Sambil menggeliat kecil, Sara menatap ke atas dengan pandangan mengharap. Bukan dibuat-buat—ekspresi itu muncul secara alami, dan justru itulah yang membuatnya sulit untuk dibenci.
“Cuma saja, sayangnya sekarang masih musim hujan. Aku punya migrain, jadi… kalau musim hujannya sudah selesai, apa kamu mau pergi jalan-jalan lagi denganku? Nggak boleh ya?”
Karena jati dirinya sudah ketahuan oleh Sara, Haruya tidak bisa mengatakan tidak. Bahkan, kalau ia menolak, bisa-bisa ia dicap sebagai penjahat di antara obrolan para S-Class Beauty—hanya membayangkannya saja perutnya terasa sakit.
“Pergi jalan-jalan setelah musim hujan selesai, ya… baiklah. Aku mau. Tapi sepertinya masih lama sebelum musim hujannya benar-benar berakhir.”
Sambil menatap langit kelabu, Haruya berkata begitu.
“Tapi karena kita sudah membuat janji, aku sudah puas.”
Sara tersenyum dengan ekspresi yang benar-benar bahagia. Lalu, seolah teringat sesuatu, Sara menarik ujung baju Haruya.
“Kalau kamu melanggar janji, hukumannya seribu jarum, ya? Aku sebenarnya nggak tega sih… tapi kamu harus minum paku payung.”
“Eh, itu apaan… serem.”
Melihat wajah Sara yang benar-benar serius, Haruya tanpa sadar mengungkapkan perasaan jujurnya.
(Bukan berarti aku bakal melanggar janji… tapi itu cuma candaan, kan? Nggak mungkin beneran dilakuin, kan? Iya… kan?)
Karena takut mengetahui niat sebenarnya, Haruya hanya bisa tersenyum kecut.
“Ngomong-ngomong, temanku itu… kencannya benar-benar bikin iri.”
Sambil memakan tamagoyaki dengan lahap, Sara mengganti topik.
“Kencan yang bikin iri, ya…”
Tanpa berpikir panjang, Haruya juga memakan tamagoyaki di sampingnya—namun…
“Dengerin deh! Yang paling luar biasa itu cerita soal dia di-wall-don waktu foto purikura!”
──!!
Haruya spontan membelalakkan mata dan tersedak.
“A-apa kamu nggak apa-apa!?”
“B-bukan! Itu bukan begitu maksudnya!”
Dengan panik, Haruya berusaha membantah.
Terkejut oleh reaksi Haruya yang di luar dugaan, mata Sara terbuka lebar.
“Eh? Maksudnya itu… gimana…?”
“……”
Gawat, pikir Haruya.
(Ini jebakan… atau lebih tepatnya, aku sebisa mungkin nggak mau dengar cerita itu)
Alasannya cuma satu. Karena itu akan memaksanya menghadapi kenyataan yang tidak ingin ia ketahui.
Untuk mengalihkan pembicaraan, Haruya sengaja berdeham sekali.
“A-ah, maaf. Nggak ada apa-apa kok. Lagian—”
“Terus ya! Katanya juga sempat nunjukin baju hasil cobaannya di ruang ganti!”
“……….”
(Bahaya… gawat ini. Kayaknya ada saklar aneh yang aktif, dia sama sekali nggak mau dengar aku…)
Menahan napas panjang, Haruya menyuapkan bekalnya ke dalam mulut.Dari samping, cerita detail kencan seseorang terus mengalir ke telinganya.
Semua isinya terasa sangat familiar, tapi pasti cuma perasaanku saja. Iya, anggap saja begitu… tolong biarkan aku percaya begitu.
Sara terus bercerita dengan nada sedikit bersemangat. Sementara itu, Haruya berniat segera menghabiskan bekalnya dan mundur secepat mungkin dari medan perang ini.
***
Sepulang sekolah hari itu.
Yuna, di kamarnya sendiri, membaca manga shoujo sambil merenungkan kembali tindakan yang ia lakukan hari ini. Berbincang soal cinta di antara teman.
Selama ini, meskipun pernah ikut obrolan soal cinta, perannya selalu sebatas mendengarkan kisah cinta orang lain atau memberi saran.
Hari ini—berbeda dari biasanya—untuk pertama kalinya Yuna membicarakan kisah cintanya sendiri. Sensasi itu terasa segar baginya.
“Rasanya hatiku jadi lebih ringan, dan entah kenapa… nggak buruk juga.”
Saat perasaan Sara sempat terpuruk, lewat obrolan cinta, kondisi mentalnya juga perlahan stabil.
Belakangan ini, stres Yuna akibat basket sudah menumpuk terlalu lama. Karena itu, dengan tujuan melepas tekanan, hari ini dia sengaja aktif ikut obrolan cinta.…dan hasilnya, seolah beban yang menempel di dirinya terlepas—baik fisik maupun mentalnya terasa pulih. Bisa dibilang, itu benar-benar sukses.
“Selama ini kupikir mendengarkan cerita orang lain lebih menyenangkan, tapi ternyata… menceritakan kisah sendiri juga cukup seru ya…”
Tak terbatas pada urusan cinta, pada dasarnya Yuna memang lebih sering memilih untuk menjadi pendengar. Bahkan dalam offkai biasanya bersama Haru, yang lebih dulu membuka pembicaraan hampir selalu Haru.
(Kalau begini, ke depannya meskipun ada hal-hal yang menyebalkan, rasanya aku masih bisa bertahan selama bisa cerita soal jalan-jalan bareng Haru-san…)
Yuna menghembuskan napas lega.
Walau ajakan resmi dari wali kelas untuk masuk klub basket sudah tidak ada lagi, Yuna tetap bisa merasakannya dari tatapan-tatapan itu. Perasaan “bagaimana kalau masuk klub basket?” yang masih diarahkan padanya. Dan siapa tahu kapan para senior akan kembali mengajaknya masuk klub basket. Belum lagi soal Onoi—mantan anggota klub basket SMP yang dulu satu tim dengannya.
Memikirkan semua itu membuat kecemasan Yuna tak ada habisnya.
(Mungkin nanti aku bakal minta Haru-san nemanin lagi… bukan kencan sih, tapi sekadar pelampiasan emosi…)
Sambil berpikir begitu, Yuna membuka layar akun Haru.
『Boleh nggak temaniku buat melampiaskan emosi lagi?』
Namun tepat saat hendak mengirim pesan itu, Yuna mengurungkan niatnya.
(Nggak bisa… kalau ketemu lagi, Haru-san pasti bakal nanyain soal basket)
Itu adalah sesuatu yang sudah dia yakini sejak kemarin. Padahal itu bukan hal yang dia inginkan—Yuna pun menghela napas pelan. Kalau bertemu lagi, pasti basket yang akan disinggung.
Untuk sementara waktu, sepertinya mereka tidak bisa bertemu, pikirnya, lalu menutup layar ponsel. Setelah itu, sambil menggaruk kepala, Yuna membuka pintu lemari. Di sana, dia mengambil sebuah bola basket yang disimpan jauh di dalam, lalu menundukkan kepala.
Entah kenapa, dari bola itu seolah terpancar keinginan kuat yang berkata, kembalilah.
(Sudah nggak boleh lagi… aku sudah membuang “diriku” yang itu…)
Aroma kulit bola yang sudah usang membangkitkan ingatan masa lalu.
──Sejak dulu, aku selalu mengejar kesempurnaan.
Itu cerita saat aku masih di taman kanak-kanak. Dalam lomba lari, aku tak akan puas kalau tidak menjadi yang nomor satu. Dalam menggambar pun, aku tak bisa menerima kalau bukan aku yang paling dipuji guru. Pokoknya, segalanya harus nomor satu. Selain nomor satu, aku tak bisa menemukan nilainya.
Sejak kecil, aku sudah keras kepala. Kalau ada sesuatu yang bukan nomor satu, aku akan merasa sangat kesal. Karena itu, pada hal-hal yang belum jadi yang terbaik, aku akan berusaha mati-matian agar lain kali bisa menjadi nomor satu.
Begitulah diriku—anak TK yang sama sekali tidak imut. Hasilnya, di taman kanak-kanak itu, aku menjadi anak yang paling unggul.
──Lalu, cerita saat aku duduk di bangku SD.
Di sinilah titik balik itu datang. Pertemuanku dengan basket. Dalam pelajaran olahraga yang biasa saja, saat bermain basket, aku untuk pertama kalinya merasakan kegagalan. Hanya pertandingan basket yang dilakukan sebagai bagian dari pelajaran.
…Timku kalah telak. Bukan karena pembagian timnya buruk. Anak-anak yang tidak pandai olahraga pun dibagi cukup merata. Mungkin hanya aku satu-satunya yang terlalu terpaku pada hasil menang-kalah.
Yang paling tidak bisa kuterima adalah fakta bahwa akulah yang justru menyeret tim ke bawah. Setiap orang pasti punya satu atau dua hal yang tidak mereka kuasai. Dan bagi diriku, itu adalah basket.
Aku kesal—benar-benar kesal. Dribel tidak bisa kulakukan dengan baik, dan tembakan pun jarang masuk ke ring. Padahal di hal-hal lain, cukup berlatih sedikit saja aku bisa langsung melakukannya. Tapi di basket, sama sekali tidak bisa.
Itu pengalaman pertama bagiku, dan sungguh mengejutkan. Namun, pada saat yang sama, aku juga merasakan kegembiraan.
(Aku pasti akan jadi yang terbaik disini…)
Dengan sorot mata penuh semangat juang, meski masih kecil, aku berlatih mati-matian.
Kadang ikut bermain bersama anak-anak laki-laki di taman, kadang membaca buku basket di perpustakaan untuk mempelajari teknik dan tips menembak.
Aku terus berlatih tanpa henti, membabi buta. Menjadikan sesuatu yang tidak dikuasai sebagai yang terbaik— itu memang berat, tapi demi merasakan kepuasan saat berhasil, aku bisa terus berjuang.
Suatu hari, saat ada pelajaran basket lagi, akhirnya aku berhasil membawa timku menang berkat permainanku. Hanya pertandingan dalam satu jam pelajaran— pertandingan yang sebenarnya tidak punya makna khusus soal menang atau kalah. Namun bagiku, itu sangat berarti. Rasa pencapaiannya jauh melebihi dugaanku, dan dadaku dipenuhi kebahagiaan.
Sejak hari itu, aku semakin tenggelam dalam dunia basket.
──Dan terakhir, cerita saat aku di SMP.
Sejak masuk sekolah, aku sudah memutuskan untuk bergabung dengan klub basket. SMP tempatku bersekolah adalah sekolah yang lemah dalam basket. Tim yang bahkan tersingkir di babak pertama turnamen kualifikasi pun bukanlah hal yang aneh. Justru karena itulah, semangatku malah menyala-nyala.
Masuk ke sekolah unggulan lalu menang—itu hal yang wajar. Yang kuinginkan adalah merasakan sensasi bangkit dari keterpurukan, seperti yang kurasakan saat SD dulu. Kalau anggotanya lemah, ya aku yang akan menarik mereka dan menjadi kuat bersama.
Dengan pemikiran itu, aku pun bergabung dengan klub basket. Jumlah anggota klub cukup lumayan, dan murid kelas satu yang baru masuk ada empat orang, termasuk aku.
Satu orang benar-benar pemula, sisanya berpengalaman. Meski disebut berpengalaman, sejujurnya tak ada satu pun yang bisa dibilang pemain hebat. Tapi aku menggenggam tinjuku dan sungguh-sungguh percaya.
──Dari tim ini, kami pasti akan melangkah ke tingkat nasional, dan suatu hari nanti menjadi yang terbaik di Jepang. Namun kenyataan tidaklah semanis itu.
Karena bukan sekolah unggulan, menu latihan pun sangat ringan. Meski aku mengusulkan perubahan menu latihan demi menjadi lebih kuat, baik pembina maupun para senior tidak tertarik. Bahkan, aku justru dimarahi senior dengan kata-kata, “Jangan sok ikut campur,” dan sejak itu mulai diawasi dengan pandangan tidak suka.
Kalau begitu, biarlah aku menunjukkan lewat permainan.
Ketika aku benar-benar berkontribusi sebagai pemain inti, sebagian senior mulai menyayangiku.…Namun karena hanya sebagian, senior lainnya malah menganggapku musuh.
Angkatan ini berat. Di angkatanku sendiri, kami harus ke nasional──.
Orang yang mendukung tekadku itu adalah rekan satu angkatan, sesama anggota tim basket: Onoi Michiru. Sepertinya Onoi memandangku sebagai rival, dan dia sependapat denganku soal memperkuat tim.
Sejak saat itu, aku dan Onoi bekerja sama, mengajak anggota klub lain yang juga kelas satu untuk melakukan latihan penguatan.
『Menurutmu aku bisa main seperti Takamori juga nggak?』
『──Kalau ikut Takamori… apa aku bisa jadi lebih jago ya?』
Kata-kata seperti itu dari sesama anggota tim adalah dukungan terbesar sekaligus sumber tenagaku. Kalau terus berlari di jalan yang kupercaya ini, suatu hari pasti sampai ke nasional──
Aku sangat, sangat mencintai basket. Jalan yang kutempuh terasa seperti jalan cahaya yang selalu bersinar. Kalau terus berlari, pasti akan terbayar. Semua orang akan percaya padaku.
Begitulah jalan yang kupikir sedang kutempuh. Namun aku akhirnya tahu bahwa semua itu hanyalah “tipuan”.
Saat menoleh ke belakang, tak ada siapa-siapa.
Saat melihat ke depan, tak ada cahaya apa pun.
Yang ada hanyalah kegelapan. Dan di sana, hanya aku seorang diri yang tertinggal.
Saat aku tersadar dan membuka mata, yang terlihat adalah bola basket lusuh di hadapanku. Mungkin karena mengingat kenangan yang tidak menyenangkan, keringat lembap merembes di tengkukku.
Di tengah pikiranku yang kacau, tiba-tiba suara seseorang bergema.
“Bukankah sebenarnya kamu suka basket?”
…Berisik. Mana mungkin.
Dengan rasa kesal yang tak bisa kusembunyikan, Yuna mengambil bola basket yang sudah usang itu dan berlari keluar, seolah ingin menolak suara tersebut.
***
Malam hari itu.
Haruya, yang makan malam di rumah alih-alih di kafe langganannya, menyibakkan rambutnya, lalu berganti ke pakaian latihan sebelum keluar rumah.
Untungnya, hujan belum turun, dan cahaya bulan menerangi sekitar. Namun begitu menghirup udara, Haruya menyadari kelembapannya cukup tinggi. Dengan kondisi seperti ini, orang yang punya migrain pasti bakal tersiksa.
Sambil kembali menyadari bahwa sekarang sedang musim hujan, Haruya mulai melakukan pemanasan. Dia melonggarkan otot-otot seluruh tubuhnya, terutama meregangkan tendon Achilles dengan sangat hati-hati.
Terakhir, setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan tubuh dan pikiran, Haruya mulai berlari dengan ritme yang stabil.
Ini yang biasa disebut jogging.
Sejak berhenti dari klub atletik di tengah masa SMP, dia sudah lama tak berlari tanpa tujuan seperti ini. Namun alasan dia berlari sekarang, tak diragukan lagi, adalah pengaruh Yuna.
Saat dia dihukum karena terlambat… dan dipaksa mengelilingi sekolah satu putaran. Perasaan “aku suka berlari” yang dulu sempat hilang, dibangkitkan kembali oleh Yuna. Itulah sebabnya Haruya bisa kembali berlari sambil merasakan angin malam seperti sekarang. Meski masih sulit untuk benar-benar menghadapi masa lalu, perasaannya terasa sedikit lebih lega.
(Baiklah… kalau begitu, saatnya menaikkan gigi)
Sambil membayangkan seorang pelari di depannya, Haruya menambah kecepatan untuk menyalip. Tujuannya adalah sebuah taman besar di dekat rumah. Mengelilingi taman itu tiga putaran adalah target hari ini.
“──Haa… haa… haa…”
Dengan menjaga napas tetap berirama, dia berlari mengelilingi taman.
…Jelas, staminanya menurun.
Saat masih aktif di klub, napasnya tak akan terengah hanya karena sejauh ini. Jarak antara dirinya dan pelari imajiner di kepalanya semakin menjauh—atau lebih tepatnya, dia tertinggal.
Meski rasa frustrasi meluap, Haruya tetap menyelesaikan tiga putaran taman.
“…Haa, haa. Sial.”
Target memang tercapai, tapi catatan waktunya sekarang… sejujurnya, dia tak ingin memikirkannya.
Sambil menyeka keringat di dahinya, Haruya membeli minuman olahraga dari mesin penjual otomatis di dekat sana.
Berniat beristirahat sebentar di bangku taman sebelum pulang, dia pun masuk ke area taman—dan langsung membelalakkan mata.
──Pash. Dan-dan-dan.
Suara bola menembus jaring. Dan suara bola memantul ke tanah.
Kedua suara itu sampai ke telinga Haruya.
(…Ada orang yang main basket jam segini?)
Dengan menahan keberadaannya agar tak ketahuan, Haruya melangkah mendekati ring basket. Di sana berdiri seorang wanita cantik dengan rambut ponytail yang berkibar tertiup angin.
(Eh, itu… Nayu-san, kan…?)
Di bawah cahaya bulan, dia sendirian berlatih basket dengan sungguh-sungguh. Sosok dan penampilannya—meski tanpa kacamata hitam—terlihat persis seperti Nayu.
(Sorot mata yang tajam itu… bukankah sama seperti Takamori-san di kelasku…?)
Sampai di titik ini, Haruya tak punya pilihan selain yakin. Bukan karena ia baru menyadari sesuatu, melainkan karena kenyataan yang selama ini berusaha ia abaikan kini terpampang jelas di depan matanya.
(Jadi benar… Nayu-san itu memang Takamori-san, S-Class beauty itu ya… ha… haha)
Menghadapi pertemuan yang begitu aneh, Haruya tersenyum pahit dalam hati. Namun yang lebih mengejutkannya lagi, ia tak bisa melepaskan pandangannya dari gerakan gadis itu.
(…Perasaan aneh apa ini? Kenapa dadaku terasa panas begini?)
Gerakannya lincah dan tajam.
Ada rasa deja vu yang kuat—seolah ia pernah melihat sosok itu di suatu tempat sebelumnya. Mungkin karena itulah, meski tahu Nayu adalah seorang S-Class beauty, Haruya tidak terlalu terkejut.
Bagaimanapun, jauh di lubuk hatinya, ia memang sudah memiliki firasat akan hal itu. Yuna sama sekali tidak menyadari kehadiran Haruya, dan terus melepaskan tembakan berkali-kali. Setiap kali, keringatnya berkilauan diterpa cahaya bulan.
Saat Haruya melihat sudut bibir Yuna terangkat sedikit dengan tenang, kenangan masa lalu pun tiba-tiba terputar kembali di benaknya.
──Musim panas tahun pertama SMP.
Saat itu, catatan waktunya tak kunjung membaik, dan ia mulai muak dengan atletik.
Suatu hari, ia diajak teman untuk menonton turnamen musim panas klub basket.
Nomor punggung 11.
Di sana, Haruya bertemu dengan seorang pemain dari sekolah lemah. Gadis itu memiliki rambut hitam yang diikat ponytail dan mata tajam yang mengesankan. Bukan hanya karena kemampuan teknisnya yang luar biasa Haruya terpikat padanya. Ia memiliki karisma yang mampu mengangkat level seluruh tim. Dan lebih dari apa pun, cara gadis itu bermain basket—dengan penuh kesenangan—benar-benar menarik hati Haruya.
Hanya dengan melihat permainannya saja, dada Haruya terasa panas dengan sendirinya. Seolah permainannya menyemangati bukan hanya tim, tapi juga para penonton.
(…Katamu catatan waktumu tak membaik? Apa kamu sudah berlari sampai kakimu aus? Bukankah kamu belum berusaha cukup keras untuk bisa berlari dengan gaya yang memukau?)
Seakan-akan gadis itu sedang menegur kelemahan dirinya secara langsung. Perbedaan dalam jumlah usaha yang dicurahkan terasa begitu jelas. Untuk bisa sampai sejauh itu, pasti dibutuhkan kerja keras dan pengorbanan yang luar biasa. Bahkan bagi orang yang tak paham basket pun, hal itu terasa nyata.
Haruya menelan ludah dan mengepalkan tinjunya.
Aneh rasanya—detak di dadanya tak kunjung mereda.
(Aku ingin jadi seperti dia… suatu hari nanti, aku pasti akan menyusulnya)
Meski tak tahu namanya, sejak hari itu, wanita berponytail itu menjadi tujuan dan cita-cita Haruya.
***
Kenangan itu pun berakhir di sana. Dengan dada berdebar membawa kembali panas dari masa lalu, Haruya akhirnya yakin.
(Gerakan itu… dan ponytail itu. Tidak salah lagi. Pemain nomor 11 itu adalah Nayu-san)
Sambil terus menatapnya, keyakinan itu semakin menguat. Bersamaan dengan itu, keinginan untuk menanyainya langsung pun meluap di dalam dirinya.
(Bukankah kamu suka basket? Kalau tidak, mustahil kamu bisa bermain seperti itu. Karena kamu suka basket… makanya sekarang pun kamu masih bermain, kan?)
Haruya hampir saja melangkah maju, namun ia menahannya dan menghela napas panjang.
(Tapi… kenapa kamu terlihat sesakit itu…)
Setelah selesai bermain dan mengambil napas, Yuna memperlihatkan ekspresi yang begitu sedih. Padahal, sosoknya yang menikmati basket dengan sepenuh hati jauh lebih cocok untuknya. Karena dia adalah pemain yang dulu sangat ia kagumi, Haruya merasa demikian dengan kuat. Melihatnya bermain basket dengan wajah tersiksa—jujur saja—itu menyakitkan.
Ia ingin Yuna bisa bermain dengan sepenuh hati, seperti dulu. Keinginan untuk membantunya meluap hebat di dadanya. Namun Haruya menggigit bibirnya, bimbang, tak mampu mengambil keputusan. Jika ia bisa membantu, ia ingin melakukannya. Ia ingin mengulurkan tangan sebanyak apa pun.
Nayu adalah rekan seperjuangan dengan hobi yang sama. Namun… kini telah jelas bahwa Nayu adalah Takamori Yuna, S-Class beauty di kelas yang sama. Berhubungan lebih jauh dengan S-Class beauty selalu membawa risiko.
Haruya sudah punya pengalaman pahit. Meski tahu Sara adalah S-Class beauty, ia tetap berinteraksi dengannya—dan akibatnya, identitasnya terbongkar. Bagi Haruya yang tak ingin mencolok di sekolah, risiko identitasnya diketahui oleh lebih banyak orang populer adalah sesuatu yang ingin ia hindari. Belum lagi—
『Jangan ikut campur lebih jauh…』
Pada pertemuan sebelumnya (pelampiasan stres), ia telah ditolak dengan jelas oleh Nayu. Ia belum pernah mendengar suara Nayu sedingin itu sebelumnya. Artinya… Haruya tidak memiliki izin untuk menyentuh luka di hatinya.
Dan itu wajar. Sejak awal, dalam aturan off-kai, mereka sudah sepakat untuk menjaga jarak satu sama lain. Yang salah adalah Haruya, karena memaksa masuk ke ranah pribadinya.
(Tidak ada alasan bagiku untuk mengambil risiko dan terlibat lebih dalam dengan Nayu-san. Tidak perlu menyentuh lukanya. Tidak ada keharusan untuk itu…)
Seperti sebelumnya. Jika ia tidak bertindak berlebihan…ia masih bisa terus berhubungan dengan Nayu tanpa mengambil risiko identitasnya terbongkar.
(Aku tidak perlu ikut campur…)
Saat ia membalikkan badan, berniat keluar dari taman tanpa membuat gadis itu menyadari keberadaannya—tiba-tiba Haruya teringat sesuatu.
Hari pertama ia bertemu dengan Nayu.
『Senang bertemu denganmu. Umm… Haru-san? Tidak salah, kan?』
『Iya. Kamu Nayu-san… benar?』
Itu adalah kali pertama mereka melakukan off-kai bersama. Setelah saling menyapa dengan canggung, Haruya dan Nayu pergi ke restoran keluarga. Kalau dipikir-pikir sekarang, Haruya merasa dirinya saat itu benar-benar tidak sopan. Ia sulit menatap Nayu, dan bahkan saat membicarakan manga shoujo secara langsung pun rasanya kaku. Kalau disebut gugup mungkin terdengar masuk akal, tapi sayangnya bukan itu alasannya.
Saat itu… Haruya menemui Nayu sambil memendam kegelisahan di dalam hatinya. Ia berpikir, kalau mereka membicarakan manga shoujo, mungkin perasaan itu akan mereda. Di internet saja percakapan mereka begitu hidup.
Kalau bertemu langsung, pasti bisa mengembangkannya lebih jauh. Dengan pikiran seperti itulah Haruya bertemu Nayu—namun perhitungannya ternyata terlalu naif.
『Umm… bolehkah aku membuat satu pengecualian dalam aturan off-kai?』
Di tengah percakapan, Nayu tiba-tiba mengajukan usulan itu.
『Kalau tidak salah, aturannya adalah kita tidak saling masuk ke ranah pribadi, kan? Aku sih tidak masalah.』
『Benar. Tapi…』
Dengan telunjuknya, ia menunjuk tepat ke arah Haruya dan berkata tegas,
『Kalau kita sadar bahwa satu sama lain sedang memendam sesuatu… saat itu, mari kita izinkan diri kita untuk masuk ke ranah pribadi.』
『Hah…?』
『Kalau tidak begitu, pembicaraan manga shoujo yang menyenangkan ini juga tidak akan berkembang, kan?』
Sambil tersenyum malu, Nayu menggaruk hidungnya.
『Jangan-jangan… sejak awal kamu sudah menyada—』
Ia memotong kata-kata Haruya dan melanjutkan,
『Iya, aku sadar kok. Soal wajah Haru-san yang kelihatan murung sejak tadi sambil mengobrol.』
『M-maaf… itu tidak sopan ya. Padahal baru pertama kali bertemu.』
『Memang sih… tapi aku mau mendengarkan, kok.』
Dengan suara lembut, ia berkata begitu sambil mengangguk berkali-kali. Haruya tanpa sadar membelalakkan mata.
『—Ah, a-anu… tapi bukan berarti kamu harus memaksakan diri untuk cerita, ya?』
Melihat Haruya yang kaku, Nayu buru-buru meralat ucapannya.
『Kenapa kamu sampai segitunya peduli… atau baik sekali padaku?』
『Karena kita ini rekan seperjuangan.』
『…Hah?』
『Orang yang selera hobinya bisa cocok sampai sejauh ini, nyambung diajak bicara—apalagi seusia—itu langka, tahu? Aku ingin menghargai pertemuan ini.』
Pada akhirnya, Haruya memang tidak bisa menceritakan keadaan sebenarnya secara rinci. Namun berkat perhatian Nayu, ia ingat betul hatinya terasa jauh lebih ringan. Mungkin karena ia benar-benar mendampinginya dengan tulus. Orang ini bisa dipercaya. Aneh rasanya, tapi Haruya benar-benar merasa demikian.
Saat akan berpisah, Haruya berteriak ke arah punggung Nayu yang menjauh.
『E-eh…! Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan sebagai balasan?』
『Hmm… kalau begitu…』
Sambil tersenyum kaku dan menggaruk pipinya, ia berkata,
『Kalau suatu saat aku memendam sesuatu sampai kewalahan… saat itu, Haru-san, kamu boleh masuk ke dalam duniaku.』
Mengingat percakapan itu, Haruya mengepalkan tinjunya begitu kuat sampai meninggalkan bekas kuku. Dan yang teringat olehnya… bukan hanya off-kai pertama itu saja.
Saat ia disuruh berlari mengelilingi sekolah sebagai hukuman karena terlambat—dialah yang membangkitkan kembali “semangat untuk berlari” dalam dirinya.
Saat menonton pertandingan basket—gadis bernomor punggung 11 itu menyemangatinya lewat permainan. Ia menjadi tujuannya.
Saat off-kai—berkali-kali ia mendengarkan curahan hatinya.
Haruya lupa. Bahwa ia sudah berkali-kali ditolong olehnya.
Membelakangi taman, bahu Haruya bergetar.
“Apa maksudnya tidak perlu menolong… apa maksudnya tidak ada alasan untuk menolong…!”
Ingatlah. Semua yang telah ia berikan padamu. Haruya telah menerima begitu banyak. Apa ada alasan untuk tidak membalasnya?
Tidak. Tidak mungkin ada.
(Aku sudah memutuskan… aku pasti akan kembali menyaksikan Nayu-san bermain dengan senyum di wajahnya)
Di bawah cahaya bulan, Haruya membuat tekad itu dengan tenang.
***
Keesokan harinya, saat istirahat siang. Haruya mengajak Sara untuk berkonsultasi. Ia memang sudah memantapkan tekad untuk menolongnya, tapi…Haruya sadar bahwa dirinya sempat terbawa emosi sesaat semalam.
“Jangan ikut campur lebih jauh…”
Ucapan dingin Nayu itu kembali terlintas di benaknya, membuat Haruya menjadi sangat berhati-hati—kalau mau menolong, sebenarnya harus berbuat apa?
Menyedihkan, ya. Aku tahu. Maaf.
Sambil meminta maaf dalam hati pada Sara, Haruya menyodorkan kotak bekalnya.
“Aku akan tetap mendengarkan kok meski kamu tidak menyuapiku dengan makanan. Tapi kalau kamu mau memberikannya, tentu saja akan kuterima dengan senang hati.”
Sambil mengunyah, Sara menjawab begitu.
“M-maaf. Tapi ini pembicaraan yang cukup serius.”
“I-iya.”
Begitu mendengar bahwa ini pembicaraan serius, Sara langsung menegakkan punggungnya dan memasang ekspresi sungguh-sungguh. Sikapnya memang tulus, tapi menurut Haruya sedikit terlalu berlebihan, hingga ia pun tersenyum kecut.
Setelah sengaja berdeham sekali, Haruya pun membuka mulut.
“Sebenarnya ini cerita tentang seorang teman—”
Sambil menatap mata Sara, Haruya melanjutkan. Yang ia ceritakan adalah… tentang temannya itu yang sebenarnya menyukai basket, tetapi karena suatu alasan, ia berhenti bermain basket. Dan bahwa Haruya sungguh berharap temannya itu bisa kembali bermain basket dengan senyum dari hati.
Sara terlihat berpikir sejenak, lalu membuka mulut.
“Awalnya aku kira ini cerita tentang Akasaki-san sendiri, tapi dari ekspresi seriusmu, aku yakin itu bukan begitu… Teman itu benar-benar penting bagimu, ya.”
“Eh, kenapa kamu pikir aku sedang membicarakan diriku sendiri?”
“Kalau diawali dengan ‘cerita tentang teman’, bukankah biasanya itu cerita tentang diri sendiri?”
“…Masuk akal juga.”
“Kalau kembali ke pembicaraan tadi… ya. Menurutku, tidak ada cara lain selain menghadapinya secara langsung.”
Sambil menatap langit, Sara tersenyum lembut.
Haruya diam saja, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
“Aku tidak tahu masalah apa yang dia pendam, tapi tidak bisa menunjukkan jati diri yang sebenarnya itu sangat menyiksa. Apalagi kalau dia sudah terlanjur menutup diri. Itu membutuhkan keberanian yang luar biasa.”
Karena itu, Sara melanjutkan,
“Aku pikir satu-satunya jalan adalah menghadapi semuanya secara langsung. Tanpa rekayasa atau jalan memutar—hadapi secara jujur. Dengan begitu, perasaan Akasaki-san pasti akan tersampaikan.”
“Meski sebenarnya, walaupun kita sudah tahu, melakukannya tetap sangat sulit,” tambah Sara dengan senyum pahit.
“Aku tidak tahu detail masalahnya… Kalau aku menghadapinya secara langsung, bukankah itu justru akan mengorek lukanya? Apa itu tidak apa-apa?”
Sambil membayangkan ekspresi pilu Nayu, Haruya berkata demikian.
“Justru untuk mengetahui lebih dalam masalah itu… untuk benar-benar memahami temanmu, kamu harus menghadapinya secara langsung. Bahkan jika itu berarti melukai luka lama…”
Sara berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tegas,
“Yang terpenting bukan prosesnya, melainkan akhirnya.”
Sara benar-benar terlihat kuat dan tegar sekarang.
Dulu ia selalu tampak kurang percaya diri, tetapi kini ia menyemangati Haruya dengan penuh keyakinan.
“Yang penting adalah akhirnya, ya…”
“Iya. Sama seperti ketika Akasaki-san menghadapi masalahku dengan sungguh-sungguh.”
Masalah yang dipendam Sara adalah soal perjodohan. Dan tentang bagaimana ia kehilangan keberanian untuk menyuarakan pendapatnya sendiri.
Menurut Sara, semua itu bisa teratasi karena Haruya berani menghadapi dirinya—dan juga ayah angkatnya—secara langsung.
“Karena Akasaki-san sudah menghadapi masalahku secara langsung, maka aku bisa menjadi diriku yang sekarang. Memang ada saat-saat di tengah jalan di mana aku merasa tidak enak dan tersakiti, tapi pada akhirnya aku bisa kembali melangkah maju.”
Padahal sebenarnya Haruya sempat berpikir untuk menjauhkan diri dari Sara, sehingga rasa bersalah memenuhi dadanya. Ia berharap Sara tidak menatapnya dengan senyum yang begitu tulus.
“Jadi, Akasaki-san… hadapilah teman Akasaki-san itu dengan cara Akasaki-san sendiri.”
“…Terima kasih.”
Dalam hati, karena rasa bersalah, Haruya pun berbisik, “Maaf.”
“Iya. Oh, ngomong-ngomong, aku baru ingat… Ayahku katanya ingin mengundang Akasaki-san ke rumah lagi—”
“Tidak, itu aku tolak.”
“Eh—kenapa!?”
Suasana sempat menjadi agak sendu, tapi mungkin karena perhatian Sara, setelah itu mereka pun kembali berbincang ringan dengan nada ceria.
***
Malam hari. Waktu sudah melewati pukul delapan. Haruya melangkahkan kaki ke kedai kopi langganannya.
Begitu memasuki toko bernuansa retro itu, dari dalam terdengar suara seorang pelayan wanita yang sudah dikenalnya, menyapanya dengan sopan.
“Selamat datang~”
Dengan suara ceria seperti bunyi lonceng, ia memandu Haruya ke kursi favoritnya yang biasa. Haruya menoleh ke sekeliling, tampaknya tidak ada pelanggan lain selain dirinya.
“Pesanannya seperti biasa?”
“Ah, aku sudah makan malam, jadi cukup kopi blend panas saja.”
“Baik, saya mengerti.”
Setelah menundukkan kepala, sang pelayan mendekat dan berbisik di telinga Haruya.
“Jangan-jangan… sebenarnya kamu datang ke sini pasti karena ada urusan denganku, ya?”
Haruya mengangguk kecil, lalu wanita itu berkata, “Tunggu sebentar ya. Jam kerjaku juga sudah mau selesai,” lalu menghilang ke bagian belakang toko. Mungkin dia pergi meminta izin pada pemilik toko.
Haruya sudah lama menjadi pelanggan di sini, tapi pemiliknya tampak pemalu dan mereka belum pernah berbincang sekalipun. Ia sempat berpikir ingin suatu hari bertanya soal racikan kopinya, ketika pelayan wanita itu—Kohinata—kembali membawa pesanannya.
“Maaf menunggu. Ini kopi blend panasnya.”
“Terima kasih.”
Saat Haruya hendak menikmati aromanya, Kohinata justru duduk di kursi seberangnya.
“Dengan ini, pekerjaanku hari ini selesai… hmm.”
“Kerja bagus.”
“Terima kasih. Aku sudah minta izin ke pemilik, jadi jangan khawatir. …Nah, jadi sebenarnya ada urusan apa kamu datang ke sini hari ini, Onii-san?”
Dengan senyum menggoda seperti iblis kecil, Kohinata memancingnya.
Entah kenapa, ekspresinya terlihat sangat ceria.
“Kalau kamu bilang datang karena kangen wajahku, aku bisa langsung terpukau, lho~”
“…Bilang begitu, tapi kalau aku benar-benar ngomong begitu, kamu pasti sudah berhenti kerja sekarang.”
Haruya menyela dengan tatapan datar, dan Kohinata menjawab tanpa rasa bersalah.
“Hebat, Onii-san. Tapi itu pengurangan poin. Kalau kamu serius, bukannya aku yang berhenti—aku bakal minta Onii-san diblacklist.”
“Serem banget…”
Haruya spontan meringis.
Tapi, tambah Kohinata,
“Aku tahu kok Kak bukan tipe orang yang gampang salah paham.”
“Y-ya, sih…”
“Jadi, sebenarnya hari ini kamu mau bahas apa? Cerita cinta? Pasti cerita cinta, kan?”
(Tekanannya berat banget… seperti biasa, dia selalu lapar gosip asmara orang.)
Sambil menegang sedikit, Haruya menjawab dengan nada serius.
“Sebenarnya aku mau minta saran—”
“Eh, jangan-jangan masalah ribet lagi?”
Kohinata mengerucutkan bibirnya, tampak sedikit bosan.
“Maaf. Tapi aku benar-benar ingin kamu dengar.”
Haruya menyatukan kedua tangannya, memohon.
Kohinata pun mengajukan syarat.
“Kalau begitu, gimana perkembanganmu dengan perempuan yang kemarin sukses kamu bantu? Ceritain progres kalian, baru aku mau dengerin curhatan Onii-san.”
Yang dimaksud dengan gadis yang berhasil dibantu sebelumnya adalah Sara. Artinya, Kohinata ingin tahu perkembangan hubungannya dengan Sara.
“Yah… sekarang kami kadang makan siang bareng.”
Itu bukan bohong. Haruya memilih jawaban yang kira-kira akan menyenangkan Kohinata. Dan benar saja—
“Eh!? Jadi kamu sudah makan bekal buatan dia juga?” tanya Kohinata dengan mata berbinar.
“Iya. Bahkan kami saling berbagi bekal.”
Ini pun kenyataan.
Kohinata membelalakkan mata, jelas tak menyangka.
“I-itu mah sudah kayak pacaran…!”
“Bukan hubungan seperti itu.”
“Berarti… kamu ini Onii-san jahat yang mempermainkan perasaan perempuan dong?”
Mendengar itu, Haruya sulit menyangkal sepenuhnya.
Ia pun memalingkan wajah, dan Kohinata tertawa kecil seolah berkata, ketahuan.
Setelah obrolan ringan itu cukup, Haruya pun masuk ke inti pembicaraan. Dengan cara yang sama seperti saat berbicara pada Sara, ia mengawali dengan, “Ini cerita tentang seorang teman…”
Lalu ia menceritakan kondisi Yuna saat ini, serta keinginannya untuk melakukan sesuatu agar bisa menolongnya, dan menyampaikan semuanya kepada Kohinata.
“…Entah kenapa, cerita itu rasanya mirip dengan masalah yang sedang dipikul temanku.”
“Sama?”
“Iya. Dia temanku sekelas. Mungkin dia mengalami hal yang tidak menyenangkan di klubnya… entah kenapa ya, tapi aku merasa dia benar-benar mirip dengan teman yang kamu ceritakan. Cuma firasat sih.”
“B-begitu ya…”
“Iya. Yah, untuk sekarang itu tidak ada hubungannya sih… balik ke topik awal… kalau dia benar-benar suka basket, berarti teman itu tidak bisa mengatakan bahwa dia menyukai sesuatu yang dia suka. Itu pasti berat.”
Kohinata memasang ekspresi seperti sedang menelan sesuatu yang pahit, lalu berkata, “Tolong tunggu sebentar,” dan kembali lagi ke bagian dalam toko. Sambil menunggu dia kembali, Haruya menikmati kopi yang sudah agak dingin.
Beberapa menit kemudian, Kohinata kembali dengan sikap yang tampak biasa saja.
──!
Namun, Haruya membelalakkan mata dan… menahan napas. Wajar saja, karena ini pertama kalinya ia melihat pemandangan seperti ini.
Kohinata kembali bukan dengan seragam maid monokrom yang biasa ia kenakan, melainkan dengan pakaian pribadinya. Yang ia pakai adalah busana bergaya subkultur dengan warna dominan pink dan hitam. Gaya yang biasa disebut ryōsan-gata, membuat orang langsung teringat pada istilah “jirai-kei”.
Tanpa sadar, rambutnya juga sudah diikat dua, dan paha yang terlihat dari balik rok mini tampak menggoda bahkan dari sudut pandang Haruya.
“Gimana? Onii-san, ini pakaian pribadiku.”
“Menurutku cocok sih…”
“Terima kasih! Aku sendiri juga suka banget gaya pakaianku ini.”
Seolah berkata makanya aku memakainya, Kohinata membusungkan dada. Dengan senyum lembut, ia mengibaskan roknya pelan. Menahan diri agar pandangannya tidak tertuju ke kakinya, Haruya mendorongnya untuk melanjutkan.
“Tapi, ya… secara umum, aku merasa fashion seperti ini tidak selalu dipandang baik oleh masyarakat.”
Haruya sendiri sebenarnya tidak punya pendapat negatif soal gaya jirai-kei, tapi ia juga paham bahwa gaya seperti ini sering dipandang aneh. Baik dalam arti positif maupun negatif, pakaian seperti ini memang pasti menarik perhatian.
“Aku sih pakai karena aku suka, jadi tidak masalah. Tapi aku merasa tidak semua orang bisa dengan jujur bilang mereka menyukai apa yang mereka sukai. Suara orang sekitar itu pengaruhnya besar. Dan itu… benar-benar bikin hidup jadi susah.”
Haruya pun merasa apa yang dikatakannya benar. Ia sendiri suka Manga Shoujo, tapi kalau ditanya apakah dia bisa dengan lantang mengatakan itu sebagai hobinya, jawabannya adalah tidak.
Sambil duduk kembali, Kohinata melanjutkan.
“──Kalau aku membayangkan tidak bisa bilang ‘aku suka’ padahal aku menyukai fashion ini, rasanya menyakitkan. Aku tidak tahu apakah teman kamu seperti itu atau tidak, tapi kalau dia membunuh jati dirinya sendiri karena suara orang sekitar, menurutku yang terbaik adalah menghadapinya dengan sungguh-sungguh, supaya dia bisa mengatakan ‘aku suka’ dengan jujur.”
Lalu, ia menambahkan,
“Yah, meskipun… menghadapi itu dengan sungguh-sungguh justru yang paling sulit.”
“Tidak, tapi ini sangat membantu. Terima kasih.”
“Kalau aku bisa membantu, aku senang.”
Membuat seseorang bisa mengatakan bahwa dia menyukai apa yang dia sukai. Sekilas terdengar seperti hal yang wajar… tapi sebenarnya itu sangat sulit.
Haruya mendapat nasihat dari Sara dan Kohinata. Dan ada satu hal yang sama-sama mereka katakan.
Yaitu: menghadapi dengan tulus dan sungguh-sungguh.
Haruya menghabiskan sisa kopinya dalam sekali teguk, lalu kembali meneguhkan tekadnya. Ia memejamkan mata dan menata kembali alur kejadian sejauh ini. Mengurai masalah dan mempertimbangkan solusinya. Kali ini, hambatan terbesar bagi Nayu-san jelas adalah masa lalunya dengan basket. Dan kepingan kunci untuk menyelesaikannya adalah Onoi. Seseorang yang punya semacam hubungan masa lalu dengan Nayu-san saat SMP—Onoi.
Itu adalah cerita yang pernah ia dengar langsung dari Onoi ketika mereka kebetulan bertemu di sebuah acara offline.
Untungnya, SMA Eiga tempat Haruya bersekolah dan SMA tempat Onoi bersekolah kabarnya akan mengadakan pertandingan latihan basket dalam waktu dekat. Ia sudah mendengar hal itu baik di depan loker sepatu maupun saat acara offline. Tak ada alasan untuk melewatkan kesempatan ini.
Kalau begitu, satu-satunya pilihan adalah mempertemukan Nayu-san dan Onoi di pertandingan latihan itu. Dengan kata lain, Nayu-san harus bergabung dengan klub basket. Dan bonusnya: itu harus terjadi sebelum pertandingan latihan.
Haruya menghela napas pelan di tempat, menata kembali pikirannya.






Post a Comment