Chapter 11
Tekad Sang
Gadis
―A-apa yang sebenarnya terjadi……?
Pemandangan yang benar-benar mustahil tersaji tepat di
depan mataku.
Satu lawan sepuluh―bahkan tanpa mencabut pedang sedikit
pun, Mars menunjukkan kekuatan yang luar biasa dominan. Meski begitu, kulihat
ada bayangan kesedihan yang samar di wajahnya.
"Cih……
dia mendominasi sampai sejauh ini melawan petualang Rank C……"
Di
sudut tribun penonton, pemuda beastman bernama Bladd bergumam dengan nada
kesal. Tinjunya tampak gemetar.
"Levelku dan dia hampir setara…… tapi kalau aku
yang melawan Mars, hasilnya mungkin tidak akan berbeda…… sial! Kalau
begini terus, jarak di antara kami akan semakin lebar! Apa yang harus kulakukan……"
Mendengar itu, Ike yang berada di sampingnya
tersenyum sambil menepuk bahunya.
"Bladd, target yang terlalu tinggi terkadang
bisa menghancurkan dirimu sendiri."
Ike menasihati dengan nada tenang dan lembut sebelum
melanjutkan.
"Mulailah dari target terdekat. Misalnya,
berpikirlah untuk mengalahkanku dulu. Kalau kau sudah mengalahkanku, berikutnya
adalah Eris. Jika bisa mengalahkan Eris, barulah Clarice, dan terakhir adalah
Mars…… Kau harus menaikkan targetmu secara bertahap."
Eh? Eris itu si pirang cantik dengan tubuh molek itu,
kan? Si pemilik wagamama body itu lebih kuat dari Ike? Bukan cuma itu, bahkan di
atasnya masih ada peringkat [Goddess of Beauty] Clarice……
Sekolah ini―sebenarnya tempat macam apa sih?
Akhirnya, Mars menang telak tanpa mengeluarkan
keringat setetes pun.
Kejadian luar biasa di depan mata ini membuatku merasa
dunia ini seolah tidak nyata. Saat itulah, dalam pandanganku, kulihat Mars
kembali dari ring. Ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan atas
kemenangannya, melainkan tampak sedikit sedih.
Pada saat itu, suara amukan Adipati Serance bergema di
dalam ruangan.
"Bajingan! Kenapa kau menahan diri! Masih sempat,
cepat beri mereka serangan pamungkas!"
Uwah……
menjijikkan…… sempit sekali sih hati orang ini.
Namun,
menanggapi teriakan itu, Mars tetap tersenyum tanpa menunjukkan gurat kesal
sedikit pun.
"Hahaha……
menurutku, aku sudah melakukannya dengan sekuat tenaga. Untuk sementara, aku
tidak ingin melakukan pertarungan antar-manusia lagi."
Eh,
tunggu dulu? Pria pirang super tampan, sangat kuat, dan masih rendah hati. Apa
ada alasan untuk tidak jatuh cinta padanya?
Selagi
aku terpaku menatapnya, Ike melakukan fist bump ringan dengan Mars.
"Kerja bagus! Untuk ukuran Mars, kau melakukan hal
yang cukup nekat ya. Kau benar-benar mematahkan mental mereka, sepertinya orang
itu tidak akan bisa lanjut menjadi petualang lagi."
"Iya……
kali ini Clarice dan Eris dilukai, jadi aku benar-benar marah. Sekarang tinggal
menunggu permintaan maaf dari Pangeran."
Meski
telah meraih kemenangan mutlak, wajah Mars tetap tidak terlihat ceria. Bukannya
tenggelam dalam euforia kemenangan, dia justru diselimuti atmosfer yang tenang
namun berat.
Suara
ceria tiba-tiba memecah suasana tegang tersebut.
"Oke! Karena semua sudah selesai dengan selamat, aku
kembali duluan ya."
Pemilik suara itu adalah Edin. Dia melanjutkan sambil
tersenyum.
"Kalian semua juga pasti penasaran, kan. Oya, jangan
lupa, Clarice sudah bilang pada para pelanggan tadi kalau kalian akan makan
siang bersama di hari terakhir."
Mars menundukkan kepala seraya bergumam, "Mohon
bantuannya," sambil mengantar kepergian Edin dengan pandangannya.
Sosoknya sekarang tidak lagi memancarkan aura luar biasa
seperti saat di atas ring, melainkan terlihat agak rapuh.
Saat itu, Alice yang sedari tadi terus menatap Mars tanpa
suara tiba-tiba berbalik ke arahku.
"Kakak……"
Suara adikku memiliki kedalaman yang belum pernah
kudengar sebelumnya.
"Aku suka Tuan Mars."
Tanpa memberiku waktu untuk terkejut, Alice melanjutkan.
"Aku pasti akan masuk sekolah ini tahun depan!"
Mata adikku dipenuhi tekad. Itu bukan lagi wajah
kekanak-kanakan yang biasa kulihat. Yang ada di sana adalah wajah seorang
wanita.
Aku menatap Alice dan hanya bisa terpaku membisu tanpa
mampu berkata apa-apa.
Tanpa menyadari ada tatapan mata biru yang mengawasi kami
berdua dengan tajam―
◆◇◆
Setelah menonton pertarungan sengit Mars, entah kenapa
aku dan Alice dipanggil oleh Adipati Reagan ke ruang kepala sekolah.
Atmosfer di sana terasa sangat tegang. Di tengah
kesunyian itu, Adipati Reagan membuka suara.
"Pertama-tama, beritahukan nama kalian berdua."
Suaranya menyiratkan sedikit rasa waspada.
"Saya Sophia."
"Saya Alice."
Setelah mendengar jawaban kami, Adipati Reagan memberikan
tatapan tajam dan melanjutkan.
"Sophia-san, Alice-san. Kenapa kalian berdua berada
di tempat tadi? Bukankah itu ruangan khusus untuk orang-orang yang
berkepentingan?"
Jangan-jangan, kami benar-benar dianggap sebagai orang
mencurigakan?
"Kami dibawa ke sana oleh Edin-san."
Adipati Reagan menyipitkan mata, suaranya kini terdengar
semakin mendesak.
"Apa hubungan kalian dengan Edin?"
Aku benar-benar dicurigai. Akhirnya aku menceritakan
tentang kejadian di sesi jabat tangan dan juga di Maid Cafe.
Adipati Reagan terdiam cukup lama sambil menatap kami,
namun tak lama kemudian ekspresinya sedikit melunak.
"Apa pendapatmu setelah melihat pertandingan Mars?
Apakah dia terlihat keren? Ataukah…… menakutkan?"
Menakutkan? Kata-kata itu membuatku tersentak.
Benar juga. Orang yang memiliki kekuatan biasanya identik
dengan citra kasar dan penuh kekerasan. Kenyataannya, orang-orang kuat yang
kulihat selama ini selalu menyelesaikan masalah dengan paksaan.
Tapi, sejak pertama kali melihat Mars, aku tidak pernah
sekalipun merasa takut padanya.
Memang, jika hanya melihat aksi tamparannya di
pertandingan, mungkin aku akan merasa takut.
Namun, karena aku melihat ekspresi Mars saat itu―wajah
yang tampak sedih―aku justru tidak berpikiran begitu.
Selagi aku merenung, Alice di sampingku berseru dengan
penuh semangat.
"Menurutku dia sangat keren! Sama sekali tidak
menakutkan!"
Alice yang sudah jatuh cinta sepenuhnya pada Mars
menjawab pertanyaan Adipati Reagan tanpa ragu sedikit pun. Menanggapi
antusiasme itu, Adipati Reagan bicara kembali.
"Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu, Alice-san.
Maukah kamu bergabung di sekolah kami tahun depan?"
Aku meragukan pendengaranku sendiri saat mendengar
tawaran yang tak terduga itu. Namun, Alice tidak menyadari maksud
terselubungnya dan menjawab dengan kegembiraan yang murni.
"Eh!? Benarkah!? Padahal aku berniat ikut ujian
tahun depan meski tahu kemungkinannya kecil!"
Alice kegirangan dengan polosnya. Di satu sisi aku
lega melihatnya, namun di sisi lain ada secercah kecemasan di lubuk hatiku.
Alice belum menyadari. Kenapa Adipati Reagan bisa
tahu kalau Alice adalah calon peserta ujian tahun depan?
Kalau dipikir-pikir, tatapan aneh yang kurasakan di
ruang tunggu tadi…… jangan-jangan……
Adipati Reagan adalah―?
Mungkin
karena menyadari tatapanku, Adipati Reagan tersenyum tenang.
"Sophia-san,
tidak perlu khawatir. Aku berniat mengajakmu masuk juga. Untungnya,
usiamu masih empat belas tahun. Kau masih memenuhi syarat untuk ikut
ujian."
Bersamaan dengan kata-kata itu, tatapan tajam sang
Adipati seolah menembus diriku. Seakan dia bisa melihat segalanya.
Memang benar fasilitas, lingkungan, dan kualitas pengajar
di sini adalah kelas satu. Hanya berada di sini selama beberapa hari saja sudah
cukup bagiku untuk memahami nilainya.
Terlebih lagi, di sini ada Mars. Ini akan menjadi
lingkungan terbaik bagi Alice.
Tapi, lebih dari itu―di sini ada Adipati Reagan. Hal itulah yang membuatku cemas.
Aku
sedang memutar otak mencari cara untuk menolak.
Tepat pada saat itu―pintu ruangan diketuk, memecah
kesunyian yang ada.
Begitu Adipati Reagan mempersilakan, pintu terbuka
perlahan―dan yang muncul adalah Mars.
Seketika, suasana di ruangan itu berubah. Posturnya yang tegah memancarkan
atmosfer yang bermartabat.
Ka-keren……
siapa yang akan menganggap orang sekeren ini menakutkan?
Malahan, orang sekeren ini tidak mungkin memalsukan
kekuatannya.
Siapa sih yang berani meragukan peringkat satunya cuma
karena modal tampang! Bakal kuhina mereka habis-habisan!
Sambil terus menatap sosok Mars, dadaku kembali berdegup
kencang karena tegang.
Bagaimana bisa tubuh yang ramping dan luwes itu menyimpan
kekuatan yang begitu luar biasa? Lain kali, jika ada kesempatan, aku ingin
mengobservasinya lebih dekat.
Saat aku sedang memikirkan itu, mataku sempat bertemu
dengan Mars sesaat.
Eh……? Apa? Kamu mau melihat tubuhku dulu?
Apa yang kau katakan di tempat seperti ini……! Ka-kalau
begitu nanti saja saat kita berdua……
Di saat aku sedang kacau karena fantasiku sendiri,
seolah-olah Mars menyadari perasaanku, dia segera mengalihkan pandangannya ke
arah Adipati Reagan.
Sikapnya yang sangat gentleman itu membuat
jantungku semakin berdebar.
Mars membicarakan sesuatu dengan Adipati Reagan, tapi
saking bersemangatnya, aku sampai tidak ingat apa yang mereka bicarakan.
Tahu-tahu dia sudah keluar dari ruangan.
Padahal kalau dia lebih lama di sini juga tidak apa-apa……
aku menahan diri agar tidak menggumamkan hal itu.
Setelah itu, kami juga diberikan dua lembar dokumen
pendaftaran, lalu aku dan Alice meninggalkan ruangan.
Angin dingin yang berhembus di luar kurasa sempat
mendinginkan wajahku yang memerah. Namun, saat melihat punggungnya yang
berjalan menunduk di depan kami, aku merasakan pipiku kembali memanas.
"Saya mohon maaf sebesar-besarnya."
Suara Doaho bergema di ruang kepala sekolah. Tak
disangka, dia meminta maaf kepada kami dengan sangat mudah.
Sosoknya yang menunduk dalam―hampir bisa dibilang
bersujud―membuat keangkuhannya yang tadi terasa seperti bohong belaka.
Mungkin karena rasa takutnya pada Adipati Serance sangat
besar. Ditambah lagi, fakta bahwa aku telah menundukkan Olygo dan
kawan-kawannya dengan kekuatan mutlak telah membuatnya pasrah.
Permintaan maaf dari pangeran suatu negara. Normalnya, mustahil untuk tidak menerimanya. Namun, aku tidak punya hak
untuk memutuskan apakah akan memaafkannya atau tidak di tempat ini.
Aku melirik pelan ke arah Clarice dan Eris. Clarice
membalas tatapanku dan mengangguk tenang.
Di sisi lain, Eris mundur selangkah ke belakang
Clarice. Gerakannya adalah pernyataan yang jelas―bahwa dia menyerahkan
keputusan pada Clarice.
Clarice maju selangkah dan memaku pandangannya pada
Doaho. Matanya tenang, tidak ada sedikit pun emosi seperti kemarahan atau
kebencian. Malahan, dari pembawaannya terpancar aura kelapangan dada yang
seolah menerima segalanya.
Namun, yang memecah keheningan itu bukanlah Clarice,
melainkan suara tegas Adipati Reagan.
"Kejadian kali ini tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Apalagi seorang pangeran yang melakukan tindakan tidak sopan di negara lain.
Anda sudah siap menanggung konsekuensinya, kan?"
Sepasang mata bening itu menatap tajam ke arah Doaho.
Keanggunan yang menyimpan wibawa dingin itu membuat Doaho gemetar sedikit.
Namun, ekspresi sang Adipati berubah drastis saat menatap
kami, kembali menjadi lembut.
"Mars, Clarice, Eris. Serahkan sisanya padaku.
Kalian kembalilah ke Maid Cafe. Para pelanggan datang ke sini demi melihat
kalian."
Mendengar kata-kata sang Adipati, aku merasa lega
dalam hati. Berlama-lama di dalam atmosfer yang berat ini sejujurnya sangat
menyesakkan. Jika sang Adipati bersedia menangani pembicaraan ini, itu adalah
bantuan yang luar biasa.
Semoga saja perasaan mereka berdua sudah membaik…… sambil
memikirkan hal itu dalam perjalanan kembali ke Maid Cafe, aku bertanya pelan
pada Clarice dan Eris.
Tak disangka, mereka berdua menjawab dengan senyum
ringan.
"Mars sudah bergerak demi kami, itu saja sudah
membuatku sangat bahagia."
"……Clarice……
sama…… kau sudah mengkhawatirkan kami……"
Kata-kata jujur mereka membuat lubuk hatiku terasa
hangat. Aku merasa sangat lega karena tidak sampai merusak perasaan mereka.
◆◇◆
Maid
Cafe berakhir pada pukul empat sore
Ini
adalah kedua kalinya aku dipanggil ke ruang kepala sekolah hari ini. Instruksi
dari Lorenz adalah agar aku datang sendirian.
Aku
mengetuk pintu dan menyebutkan nama, lalu sebuah suara tenang terdengar dari
dalam.
"Masuklah."
Di
dalam, Sophia dan Alice sedang duduk di kursi dengan wajah tegang. Pandangan
mereka tertuju ke bawah, dan tangan mereka terkepal erat di atas lutut.
"Maaf
karena memanggilmu mendadak, tapi aku ingin mendengar pendapat Mars."
Mata
tajam Adipati Reagan tertuju padaku sebelum kemudian beralih ke Sophia dan
Alice.
"Mars sudah mengenal kedua orang ini, kan?"
"Iya,
saya kenal. Saya dengar mereka adalah teman masa kecil Dominic."
Sang
Adipati mengangguk lalu melanjutkan pembicaraan.
"Aku
berniat menyambut mereka di Sekolah Nasional Lister, bagaimana menurutmu?"
―Hah? Kenapa dia menanyakan hal itu padaku? Meski
bingung, aku tidak punya pilihan selain menjawab.
"……Saya rasa itu hal yang bagus. Dominic juga pasti
senang kalau teman masa kecilnya datang……"
Aku tahu betul kalau Adipati Reagan tidak mengharapkan
jawaban seperti ini.
Tapi mau bagaimana lagi. Aku benar-benar tidak menangkap
maksud dari pertanyaannya.
Namun, desakan sang Adipati belum berhenti.
"Lalu, menurutmu mereka sebaiknya dimasukkan ke
kelas mana? Oh ya, anggap saja Sophia juga sebagai murid kelas satu."
"……Selain fakta bahwa mereka teman masa kecil
Dominic, saya tidak tahu apa-apa lagi tentang mereka……"
"Begitu ya. Terima kasih. Kalau begitu kau boleh
pergi. Kau sudah bekerja keras hari ini. Nanti akan kuberikan hadiah, jadi
nantikanlah."
Sampai aku meninggalkan ruang kepala sekolah, aku masih
belum mengerti kenapa aku dipanggil. Sambil berjalan di koridor dan merenungkan
apa yang diinginkan Adipati Reagan dariku, tiba-tiba terdengar suara yang
memanggil namaku dari belakang.
"Tuan Mars!"
Saat berbalik, kulihat Alice berlari sambil
terengah-engah. Di belakangnya tampak sosok Sophia. Saat aku berhenti, Alice
mendekat dengan cepat dan bertanya dengan tatapan mata yang sangat serius.
"Tuan Mars, aku ingin masuk ke sekolah ini! Dan
juga, aku ingin masuk ke dalam party Anda, apakah anggotanya sudah lengkap enam
orang?"
Ekspresi dan kata-kata serius Alice menyiratkan
sesuatu yang sangat mendesak.
Namun, aku tidak boleh memberinya harapan palsu. Aku
menjawab dengan jujur.
"Tidak, saat ini baru lima orang, tapi kami
sedang tidak membuka pendaftaran."
Kenyataannya, aku berniat menolak Lilian.
Namun, aku sudah memutuskan kalau anggota keenam haruslah
seorang Holy Mage. Kandidat utamaku adalah Lina. Karena itu, aku tidak
bisa menerima tawaran Alice. Meski
begitu, dia tidak menyerah.
"Bagaimana
jika…… aku memiliki kekuatan khusus?"
"Kekuatan khusus?"
Aku tidak bisa memungkiri kalau kata-kata itu memancing
rasa tertarikku.
Namun di saat berikutnya, Sophia masuk menengahi dengan
wajah panik.
"Alice! Kau tidak boleh―"
"Kakak, tidak apa-apa kok."
Alice tersenyum lembut, lalu kembali menatapku dengan
binar mata yang serius.
"Bolehkah Anda melakukan Appraisal
padaku?"
Sesuai permintaannya, aku melakukan Appraisal―dan
hasil yang muncul benar-benar mengejutkan.
[Nama] Alice Carroll
[Gelar] -
[Status] Manusia ・
Rakyat Jelata
[Kondisi] Baik
[Usia] Sebelas Tahun
[Level] 3
[HP] 58/58
[MP] 80/80
[Strength] 13
[Agility] 17
[Magic Power] 16
[Dexterity] 16
[Stamina] 13
[Luck] 15
[Special Ability]
• Rapier
Mastery A (Lv2/19)
• Water
Magic F (Lv1/9)
• Holy
Magic E (Lv2/11)
Holy
Magic!?
Jangan-jangan,
alasan kenapa aku merasa dia punya atmosfer yang mirip dengan Clarice adalah
karena ini!
Terlebih lagi, kemampuan Rapier Mastery
miliknya berada di Rank A. Benar-benar spek tinggi.
Jangan-jangan―Adipati Reagan memanggilku ke ruang
kepala sekolah agar aku melakukan Appraisal pada Alice!? Itu berarti,
sang Adipati juga sudah menyadari kalau Alice adalah seorang Holy Mage?
"Alice, apakah Dominic tahu soal ini……?"
"Dia tidak tahu. Bakat ini baru bangkit setelah
Dominic menghilang dari hadapan kami."
Kata-katanya terdengar sangat serius.
Namun, aku tidak bisa mengangguk begitu saja di sini.
Ini juga demi kebaikan Alice.
"Apakah kau mengerti bagaimana pandangan dunia
luar jika kau menjadi anggota keenam?"
"Iya."
Alice menjawab tanpa ragu sedikit pun. Di matanya
tersimpan tekad yang tak tergoyahkan.
"Menjadi anggota keenam dari party peringkat tinggi,
kemungkinan besar aku akan dianggap sebagai seorang Holy Mage."
Sambil merasakan beratnya tekad gadis itu, aku
mengalihkan pandangan ke Sophia yang berdiri di sampingnya.
Sophia tampak cemas. Dia pasti mengkhawatirkan Alice. Dia
menatapku seolah memohon agar hal ini dirahasiakan saja.
Tapi, aku tidak bisa melakukannya.
"Baiklah. Biarkan aku mempertimbangkannya dulu. Aku tidak akan menyebarkannya sembarangan. Tapi, setidaknya aku harus
mendiskusikannya dengan anggota partyku yang lain."
Sambil menatap lurus ke mata Alice, aku melanjutkan.
"Aku berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan
dan tekadmu."
Mendengar itu, Alice dan Sophia tampak lega dan
tersenyum. Setelah memastikan hal itu, aku meninggalkan tempat tersebut dengan
tenang.
Saat aku kembali ke kelas S, semuanya sudah menungguku.
Karena Maid Cafe masih akan berlanjut besok, kami hanya
berbincang singkat lalu segera bubar.
Di
momen itu, aku memanggil Clarice.
Sebenarnya
aku bisa saja bicara kepada seluruh anggota [Dawn], tapi jika aku
menahan mereka semua secara mendadak, itu akan terlihat tidak wajar bagi orang
lain. Lagipula, aku memutuskan lebih baik untuk membaginya dengan Clarice
terlebih dahulu.
"Clarice,
ada sesuatu yang ingin kusampaikan, tapi tolong rahasiakan di dalam lingkup [Dawn]
saja dulu."
Mendengar
nada suaraku yang serius, ekspresi Clarice tampak bergetar cemas.
"Jangan-jangan,
kau ditegur karena masalah Pangeran Doaho?"
Sepertinya
karena wajahku yang terlihat sangat serius, dia mengira ini adalah berita
buruk.
"Bukan, bukan itu. Ini bukan berita buruk. Ini tentang anggota party―Selama
Festival Lister ini, tolong perhatikan kepribadian Alice secara perlahan."
Mendengar
kata-kataku, Clarice sempat terbelalak sesaat, namun sepertinya dia segera
menyadari sesuatu.
"Eh?
Jangan-jangan kau mau menjadikan Alice anggota keenam……? Itu berarti?"
"Iya,
Alice adalah seorang Holy Mage. Sepertinya bakatnya baru saja bangkit
belakangan ini. Dominic pun sepertinya belum tahu soal ini."
Di
tengah keterkejutan dan kecemasan yang terpancar di wajah Clarice, aku
melanjutkan.
"Tadi
dia secara resmi memintaku untuk bergabung ke party. Awalnya aku berniat
menolak, tapi dia memintaku untuk melakukan Appraisal. Saat aku
memeriksanya, ternyata dia seorang Holy Mage."
Setelah
jeda sejenak, aku menambahkan.
"Kemungkinan
besar, Adipati Reagan juga sudah tahu soal ini."
Clarice
menunduk dalam, tampak berpikir keras sambil mengatupkan bibirnya.
Lalu, dia menatapku dengan penuh tekad.
"Alice sudah tahu apa artinya menjadi anggota party
keenam, kan?"
Ternyata Clarice memiliki keraguan yang sama denganku.
"Iya, aku menanyakan hal yang sama, dan tekadnya
sudah bulat."
Mendengar jawabanku, Clarice tersenyum lega, dan perlahan
wajahnya tampak tersipu.
"Baiklah. Kalau begitu serahkan padaku. Lalu…… bisakah kau memejamkan
mata sebentar?"
Meski
bingung dengan permintaan mendadaknya, aku menutup mata sesuai instruksinya.
Sesaat
setelah aroma floral yang manis menggelitik hidungku, sebuah sentuhan lembut
terasa di pipiku.
"Ini……
ucapan terima kasih untuk hari ini."
Suara
kecil Clarice berbisik di telingaku, membuat dadaku terasa sedikit hangat.
"Ayo,
kita pulang."
Setelah
berkata begitu, Clarice yang wajahnya sudah merah padam merangkulkan tangannya
di lenganku dengan gerakan yang natural. Sambil merasakan kehangatannya, kami
berdua meninggalkan ruang kelas.
◆◇◆
Hari
Terakhir Festival Lister
Kami
terus menjalankan Maid Cafe sampai akhir, namun selama periode tersebut, ada
tiga kejadian yang sangat berkesan bagiku.
Yang
pertama adalah, aku mendapatkan gelar [Saint].
Gelar
ini diberikan tepat saat aku sedang gencar-gencarnya merapalkan Heal
ketika Clarice dan Eris dilukai oleh Doaho, bersamaan dengan meningkatnya level
Holy Magic-ku.
Sejujurnya,
saat pertama kali menyadari gelar itu tepat setelah mataku teralihkan oleh
pemandangan indah tadi, aku sempat mengira jangan-jangan itu salah ketik
menjadi [Pervert]? Tapi sepertinya semua baik-baik saja.
[Saint]: Gelar yang diberikan kepada
pria pengguna sihir suci yang telah mencapai puncak di dunia ini. Meningkatkan
jumlah pemulihan dari sihir penyembuhan.
Bagi
aku yang memiliki MP melimpah, memang masih dipertanyakan apakah manfaatnya
akan terasa maksimal, tapi ini bukan berita buruk. Aku akan menerimanya dengan
senang hati.
Yang
kedua adalah, Clarice terpilih menjadi Miss Lister.
Hebatnya, Clarice bahkan tidak ikut mendaftar dalam
kontes kecantikan tersebut. Meski begitu, namanya mendapatkan jumlah suara
mayoritas yang sangat besar hingga ia diputuskan menjadi pemenang.
Awalnya Clarice berniat mengundurkan diri, namun saat
ia diberitahu siapa nama pemenang Mister Lister, ia membatalkan niatnya.
―Sebab, akulah yang terpilih sebagai Mister Lister.
Sepertinya sejak hari kedua di sesi jabat tangan,
kemenangan kami berdua sudah hampir bisa dipastikan. Menurut kabarnya, respon
saat sesi jabat tangan dan reputasi setelahnya benar-benar luar biasa.
"Pemenang kontes ini bakal menghadapi kerepotan
yang luar biasa, lho."
Aku mendapat peringatan dari juara tahun lalu, Ike, dan
juga dari senior kacamata.
Katanya, di bulan Desember akan ada undangan bagi
anak-anak bangsawan yang berniat mendaftar sekolah tahun depan, dan di bulan
Januari setelah upacara pembukaan, akan ada jadwal jamuan besar-besaran. Setiap
kali acara itu diadakan, kami akan selalu dipanggil keluar.
Bahkan foto kami akan menjadi sampul brosur panduan
pendaftaran sekolah.
Saat aku bertanya bagaimana cara mereka mengambil foto,
mereka memberitahuku kalau pengambilan gambar dilakukan menggunakan benda
bernama Kristal Memori.
Kristal Memori ini adalah barang langka yang sangat sulit
didapatkan di Benua Tengah.
Sistemnya adalah mencetak gambar tersebut menggunakan
kekuatan Batu Sihir. Bukan cuma untuk lampu atau mendidihkan air, ternyata Batu
Sihir bisa digunakan untuk hal seperti ini juga.
Aku kembali menyadari betapa luar biasanya potensi Batu
Sihir. Sepertinya punya sebanyak apa pun tidak akan pernah cukup.
Dan yang terakhir yang harus kusebutkan adalah,
keberuntungan Alice yang luar biasa gila.
Dia bisa terus memenangkan undian yang persaingannya
sangat tinggi itu setiap hari, benar-benar probabilitas yang tidak masuk akal.
Sepertinya Luck 15 itu bukan cuma pajangan.
Pasalnya, sampai sekarang aku baru melihat sembilan orang yang memiliki
statistik Luck di atas 10.
Mereka adalah lima anggota [Dawn] termasuk aku,
lalu Sieg, Maria, dan Ike dari keluarga Bryant, serta Lina.
Meski begitu, seandainya Alice tidak memenangkan undian
pun, kami tetap berniat mengundangnya.
Tentu saja, tujuannya adalah untuk menilai kepribadian
mereka berdua.
Lebih jauh lagi, setelah mendapatkan izin dari Adipati
Reagan, kami mengundang mereka ke ruang kelas selama satu jam setelah pukul
empat sore—saat Maid Cafe sudah tutup—untuk sekadar mengobrol santai.
Sikap mereka padaku masih agak sungkan, tapi mereka
tampak bisa berbicara akrab dengan anggota lainnya. Walaupun Sophia terlihat
sedikit tegang saat berbicara dengan Clarice dan Eris, percakapannya jauh lebih
natural dibandingkan saat bicara denganku.
Ketika aku menanyakan kesan teman-temanku tentang mereka,
tanggapannya secara keseluruhan sangat positif.
Terutama Alice yang sangat disayangi oleh Clarice, dan
tak disangka, Sophia tampak sangat cocok mengobrol dengan Karen dan Minerva.
Setelah itu, anggota [Dawn] berkumpul untuk
mendiskusikan bergabungnya Alice ke dalam party, dan kami mencapai keputusan
bulat untuk setuju.
Di sisi
lain, untuk Sophia, sepertinya ada rencana agar ia bergabung dengan [Genesis].
Mengenai
Lilian, karena [Dawn] sudah memberikan penolakan, pihak [Genesis]
pun memutuskan untuk tidak menerimanya karena tidak ingin membawa benih
ketidakharmonisan ke dalam klan.
Dan akhirnya, tibalah saat perpisahan―
Langit mulai condong ke arah barat, mengenakan gradasi
warna ungu muda, sementara angin sepoi-sepoi membawa aroma musim gugur. Kami menghentikan langkah di depan gerbang utama dan menatap mereka
berdua dengan perasaan berat hati.
"Sophia-san,
Alice. Sampai jumpa lagi tahun depan ya. Kami akan menunggu kalian."
Clarice
memeluk mereka berdua, lalu para anggota perempuan lainnya pun bergantian
memberikan pelukan perpisahan.
Terakhir,
saat aku berjabat tangan dengan Alice, aku melepas gelangku dan menyerahkannya
padanya.
Sejauh
ini, aku sudah diperiksa dengan Appraisal oleh Adipati Reagan, Karen,
Senior Kacamata, hingga Upial, dan aku tahu bahwa Appraisal melalui mata
iblis tidak mempan terhadapku.
Selama
aku berhati-hati terhadap Kristal Appraisal, gelang penyamaran ini tidak akan
terlalu kubutuhkan lagi.
"Alice,
pakailah gelang ini sampai kamu masuk sekolah tahun depan. Ini memiliki efek
untuk menyamarkan hasil Appraisal."
Mata
Alice membelalak, lalu ia menunjukkan senyum kegirangan layaknya seorang anak
kecil yang baru saja menerima harta karun.
"Terima
kasih banyak! Aku pasti akan datang tahun depan, jadi semuanya tolong tunggu
aku ya!"
Mereka melewati gerbang, dan perlahan-lahan sosok mereka mulai menjauh. Alice berkali-kali menoleh ke belakang sambil melambaikan tangannya dengan lebar.
Sambil memandangi punggung mereka, kami berdiri
terpaku dalam diam untuk beberapa saat.
Suara angin yang entah datang dari mana, seolah
meninggalkan sisa-sisa kenangan yang tenang―



Post a Comment