Chapter
12
Pulang
ke Kampung Halaman
11 November 2032.
Setelah pertemuan wali kelas selesai, aku dan Clarice
dipanggil ke ruang kepala sekolah. Karena belakangan ini sering bolak-balik ke
sini, aku sampai hafal mati letak setiap pajangan di dalam ruangan ini.
"Kerja
bagus untuk kalian berdua di Festival Lister."
Adipati
Reagan yang sedari tadi menunduk menatap dokumen mendongakkan kepala, lalu
menyunggingkan senyum lembut.
"Berkat kalian, Festival Lister kali ini
mencatat rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah. Aku yakin jumlah
pendaftar tahun depan juga akan menjadi yang terbanyak."
Melanjutkan pujiannya, sang Adipati bertanya dengan
senyum penuh arti.
"Nah, sebagai gantinya, aku akan memberikan
hadiah untuk kalian. Apa yang kalian inginkan?"
Aku sudah memutuskan jawabannya di dalam hati. Tanpa
ragu, aku langsung mengucapkannya.
"Bisakah kami mendapatkan hari libur? Ada seseorang
yang ingin kutemui."
Alis sang Adipati terangkat penuh minat. Karena aku belum
berdiskusi dengan Clarice, dia pun membelalakkan mata dengan ekspresi terkejut.
"Seseorang yang ingin kau temui, siapa itu?"
"Orang tua Clarice. Aku ingin pergi menemui mereka
bersama Clarice dan Eris."
Kami memang sempat bertemu saat TurNaman Siswa Baru, tapi
saat itu kami tidak bisa menghabiskan waktu lama bersama.
Terlebih lagi, Clarice sendiri pasti sangat merindukan
mereka―dengan pemikiran itu, aku menatap sang Adipati.
Namun, Adipati Reagan tidak mengangguk mendengar
permintaanku.
"Begitu ya. Aku benar-benar minta maaf, tapi aku
tidak bisa memberikan izin bagi kalian untuk pergi ke Granzam."
"Kenapa begitu?"
Sang Adipati menghela napas panjang seolah sudah
pasrah, lalu mulai bercerita dengan tenang.
"Saat ini, aku mendengar situasi keamanan di
Kerajaan Zalkam sedang tidak begitu baik. Terutama di Distrik Barat yang
berbatasan dengan Rimulgard, dan Distrik Timur yang dekat dengan Benua Iselia―termasuk
Granzam di dalamnya. Sepertinya situasi di sana memburuk secara
signifikan."
Aku paham betul bahaya Rimulgard. Saat kembali dari
Granzam ke Almeria bersama Clarice, sempat terjadi fenomena Labyrinth
Saturation, dan aku merasakan kejanggalan itu secara langsung.
Tapi, bahkan sampai Granzam pun berbahaya?
Mendengar itu, Clarice yang tidak bisa menyembunyikan
kekhawatirannya bertanya dengan nada gelisah.
"Eh? Kalau begitu, apakah Ayah dan Ibu juga
dalam bahaya?"
Wajar
jika Clarice merasa cemas. Aku pun, setelah mendengar situasi keamanan yang
memburuk, malah semakin ingin pergi ke sana.
Namun,
kata-kata yang keluar dari mulut sang Adipati justru tak terduga.
"Tidak,
aku sudah memastikan keselamatan Baron Lampard dan istrinya. Hal ini tidak
perlu diragukan lagi."
Melihat
kata-katanya yang begitu penuh percaya diri, aku dan Clarice tidak bisa
menyembunyikan keterkejutan. Bagaimana bisa dia begitu yakin dengan urusan
internal negara lain?
"Ba-bagaimana
bisa…… Adipati Reagan mengetahui hal itu?"
Saat
Clarice bertanya dengan bingung, sang Adipati menyunggingkan senyum penuh kasih
sayang.
"Clarice,
percayalah padaku. Aku akan menjelaskan detailnya secara resmi di lain hari.
Namun, satu hal yang pasti―atas nama keluarga Adipati Reagan, aku menjamin
bahwa orang tuamu dalam keadaan selamat."
Mendengar suara lembut dan pernyataan yang tegas itu,
gurat kelegaan sedikit terpancar di wajah Clarice.
Meski masih merasa ada yang mengganjal, kata-kata Adipati
Reagan memiliki daya persuasi yang aneh. Karena dia sudah menegaskannya sejauh
itu, kami tidak bisa memaksakan kehendak.
Saat itulah, Clarice yang berada di sampingku maju
selangkah dan mulai bicara sambil memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Kalau
begitu…… apakah kami diizinkan pulang ke Almeria untuk menemui keluarga
Mars?"
Matanya
memancarkan ketulusan.
"Tempat
itu bukan hanya bagi Mars, tapi juga merupakan kampung halaman kedua bagiku dan
Eris. Untuk pergi ke Granzam, biarlah di lain kesempatan saja."
Mendengar
usulan tenang itu, Adipati Reagan memejamkan mata sejenak seperti sedang
berpikir. Kemudian, setelah jeda singkat, dia mengangguk.
"Baiklah. Permintaan itu kuterima. Namun, ada
beberapa syarat."
Mendengar ucapan sang Adipati, aku dan Clarice
langsung menegakkan posisi duduk dan menyimak.
"Pertama, berjanjilah untuk tidak menginjakkan kaki
di Kerajaan Zalkam sedikit pun. Jangan mendekati Kastel Rimulgard. Selama
perjalanan, kalian wajib menyewa petualang untuk menjadi pengawal. Jika tidak
menemukan orang yang tepat, aku akan menyertakan Ksatria Reagan untuk
mendampingi kalian."
Melihat instruksi yang begitu hati-hati, aku merasakan
betapa dalamnya perhatian Adipati Reagan. Lalu, pandangan sang Adipati beralih
padaku.
"Namun, pergilah setelah kalian menyelesaikan
tugas-tugas di sekolah, ya."
Mendengar itu, Clarice menunjukkan ekspresi sedikit
lega, dan aku pun mengangguk tenang.
◆◇◆
Pada hari itu juga, pemotretan dimulai.
Aku dan Clarice melakukan berbagai macam pose berdua
untuk direkam ke dalam Kristal Memori. Berpose di depan kristal mungkin masih
biasa, tapi setiap kali aku harus saling menatap dalam jarak dekat atau
berpelukan dengan Clarice, jantungku rasanya mau melompat dan detaknya
bergemuruh sangat kencang.
Di
tengah pemotretan, Clarice tiba-tiba memberi usul.
"Mumpung ada kesempatan, mari kita panggil Eris juga
dan buat rekaman bertiga."
Begitu kami memanggil Eris yang sebelumnya tidak ada di
sana, di luar dugaan dia setuju dengan senang hati dan dalam sekejap sudah
berada di dalam dekapan lengan kiriku. Aku sempat mengira dia akan malu-malu,
tapi Eris malah tersenyum bahagia dan ikut berfoto dengan gaya yang sangat
natural.
Sambil berpose diapit oleh mereka berdua, aku sempat
senyum-senyum sendiri sebelum akhirnya Karen dan Misha pun ikut bergabung.
Begitulah, pemotretan untuk merekam momenku bersama
mereka telah melampaui jadwal awal, dan tanpa terasa kami menghabiskan waktu
selama tiga hari. Meski begitu, setiap kali senyuman mereka terekam di dalam
Kristal Memori, rasa puas selalu menyelimuti dadaku.
"Mars, aku dengar kau mau pulang ke Almeria,
ya?"
Begitu pintu kelas terbuka, Ike dan Senior Kacamata
masuk. Mereka berdua datang sehari setelah pemotretan
selesai.
"Iya. Bukan hanya aku, seluruh anggota kelas S
juga sudah mendapat izin untuk menginap di luar."
Benar, bukan hanya kami bertiga, Karen pun akan
pulang ke rumah orang tuanya. Sedangkan Misha akan pergi menuju Kerajaan Zalkam
bersama Sasha, Reiner, dan Bram. Sepertinya Sasha menerima Quest dari
Adipati Reagan dan mereka akan mendampinginya.
Di saat anggota [Genesis] juga bercerita
tentang kepulangan ke rumah masing-masing, Ike tiba-tiba menarik lengan bajuku.
Begitu kami keluar dari kelas, kakakku itu tiba-tiba
menundukkan kepala dalam-dalam dan menangkupkan kedua tangannya memohon padaku.
"Kumohon! Tolong ajak aku dan Ede
bersamamu!"
Aku membelalakkan mata melihat permintaan yang sangat
tiba-tiba itu.
"Eh? Aku sih tidak keberatan…… tapi kenapa Kakak
sampai berlebihan begitu?"
Bukannya aku tidak punya firasat apa pun. Saat TurNaman Siswa Baru, sikap
Sieg memang terasa aneh.
"Sebenarnya……
ada yang benar-benar ingin kubicarakan dengan Ayah. Tapi, kalau cuma aku dan
Ayah yang bicara, suasananya akan sangat canggung. Jadi, aku ingin kau menjadi
penengahnya."
Melihat
ekspresi Ike yang tampak tersiksa, aku tahu kalau ini bukan masalah sepele.
Jika memungkinkan, aku ingin membantu, tapi sebelum itu aku harus tahu
permasalahannya terlebih dahulu.
Apa
penyebab semua ini? Untuk mengurai benang yang kusut, aku harus mencari akarnya
terlebih dahulu.
"……Baiklah.
Tapi, bisakah Kakak menjelaskannya secara detail?"
Saat
aku bertanya dengan tatapan serius, Ike menunjukkan ekspresi yang bercampur
antara bingung dan napas berat.
"Apa
kau ingat? Saat pesta kemenangan TurNaman Siswa Baru, kau pernah bertanya
padaku 'Apakah tidak ada tawaran pertunangan yang datang padamu?', kan?"
Tidak
mungkin tidak ada tawaran pertunangan untuk Ike yang merupakan sosok karismatik
di Sekolah Nasional Lister. Mengingat kejadian itu, aku mengangguk dalam diam.
"Sebenarnya……
aku pun memilikinya. Pasangannya adalah―seorang Putri dari Kerajaan
Barcus."
"―Eh!? Putri!?"
Tanpa sadar suaraku sampai memekik.
Di tengah keterkejutanku yang sampai kehilangan
kata-kata, Ike mengalihkan pandangannya dengan canggung dan melanjutkan.
"Iya……
tapi, karena aku menyukai Ede, aku tidak bisa menerima pertunangan itu. Karena
hal itu, Ayah benar-benar murka. Aku pun sudah beberapa kali berniat bicara
baik-baik, tapi…… entah waktunya tidak pas, atau…… jujur saja, sebenarnya kalau
aku mau pulang paksa pun bisa. Tapi, aku takut jika ditolak kembali oleh Ayah
secara langsung……"
Itulah momen saat isi hati Ike tercurah. Kata-katanya
menyiratkan konflik batin yang mendalam, dan aku yang mendengarnya pun ikut
merasa sedikit sesak. Aku bisa memahami argumen kedua belah pihak.
Namun, jika ini penyebabnya, mungkin aku bisa membimbing
mereka menuju solusi.
"Bolehkah aku membagikan hal ini kepada Clarice dan
Eris? Karena kita akan pulang bersama, cepat atau lambat mereka pasti akan
tahu."
Tentu saja aku tidak berniat menyebarkannya sembarangan.
Namun, untuk masalah seperti ini, taktik terbaik adalah menggalang dukungan
dari orang-orang terdekat.
Ike tampak berpikir sejenak, namun akhirnya dia
mengangguk pelan.
Saat kembali ke kelas, Senior Kacamata tampak
menyunggingkan senyum seperti biasa…… namun, di sela-selanya dia sering
terlihat menghela napas panjang. Pasti dia merasa depresi memikirkan apa yang
akan terjadi nanti.
Ternyata orang seperti dia bisa menunjukkan wajah seperti
itu juga ya. Padahal ekspresinya saat tertawa bersama Ike adalah yang paling
cocok untuknya.
Aku berdiri di sampingnya. Sambil menjaga jarak agar
tidak terlalu dekat, aku bicara dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.
Tidak baik jika sembarangan melanggar ruang pribadi seseorang, kan.
"Senior Kacamata, aku sudah mendengar ceritanya dari
Kak Ike. Tenang saja. Aku punya cara jitu untuk menang."
Meski sempat menunjukkan ekspresi terkejut sejenak, dia
kembali menyunggingkan senyum menggoda seperti biasanya.
"Kalau begitu, aku boleh berharap, ya. Kalau kau
berhasil melakukannya dengan baik, Kakak akan memberikan hadiah untukmu."
Senior Kacamata benar-benar mengabaikan ruang
pribadiku dan mendekat sampai jarak yang sangat mepet. Aku sempat goyah karena
keberaniannya itu, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
……Yah, ekspresi ini jauh lebih baik daripada wajah
depresi tadi.
Aku mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan
hati, lalu menuju ruang kepala sekolah untuk melaporkan bahwa aku akan pulang
bersama Ike dan yang lainnya.
◆◇◆
Dua hari kemudian―
Di kelas S, hanya tinggal aku, Clarice, dan Eris saja
yang masih berada di sekolah. Yang lainnya sudah berangkat menuju tujuan
masing-masing.
……Yah, karena kami tidak punya waktu untuk
bersiap-siap, wajar jika kami sedikit terlambat.
Akhirnya, kami berlima berangkat menuju Almeria.
Ngomong-ngomong, saat aku menjelaskan kepada Adipati
Reagan bahwa kami tidak akan menyewa petualang dan akan pulang bersama Ike
serta Senior Kacamata, sang Adipati malah menghela napas lega dan langsung
memberikan izin tanpa banyak tanya.
Katanya, itu jauh lebih aman daripada menyewa
petualang sembarangan.
Perjalanan kali ini pun, berkat kebaikan Adipati Reagan,
kami dipinjami sebuah kereta kuda.
Kereta kuda berukuran sedang yang ditarik oleh dua ekor
kuda, dengan lambang buku yang merupakan simbol keluarga Adipati Reagan terukir
di sisinya. Hanya dengan adanya lambang ini saja, kemungkinan diganggu oleh
orang mencurigakan akan berkurang drastis, jadi ini sangat melegakan.
Kami tidak menyewa kusir, tugas itu akan dilakukan
bergantian olehku dan Ike. Selama perjalanan, jika kuda-kuda mulai kelelahan,
kami akan memulihkannya menggunakan Holy Magic. Ini semua agar kami bisa
sampai di Almeria secepat mungkin.
Setelah meninggalkan Sekolah Nasional Lister, kereta
kuda mulai bergerak perlahan.
Awalnya aku berniat mengambil rute lurus ke arah
barat daya menuju Almeria, namun Ike yang duduk di sampingku di kursi kusir
bicara dengan nada sedikit merasa bersalah.
"Maaf, tapi bisakah kita mengambil rute ke arah
selatan? Aku benar-benar tidak ingin mendekati Ibukota."
Aku tidak berniat mendesaknya soal alasan tersebut.
Aku sudah bicara dengan Clarice dan Eris sebelumnya, dan mereka berdua sudah
setuju. Masalahnya, rute ke arah selatan berarti kami akan melewati Rimulgard.
Karena Adipati Reagan sudah berpesan "Jangan mendekati Kastel
Rimulgard", aku menyesuaikan rute sedikit agar kami hanya melewati
pinggiran Rimulgard untuk menuju Almeria.
Saat sedang bergoyang santai di kursi kusir bersama
Ike, Senior Kacamata memanggilku dari dalam kereta.
"Mars, bisa ke sini sebentar?"
Begitu aku membuka pintu kereta dan masuk ke dalam,
Clarice dan Eris langsung mengulurkan tangan dari kedua sisi dan menarikku
dengan agak paksa. Sesuai desakan mereka, aku dipaksa duduk di antara mereka
berdua. Yah, tanpa disuruh pun sebenarnya aku memang berniat begitu sih.
Melihatku, Senior Kacamata tersenyum lalu mulai membuka
pembicaraan.
"Lilian itu lulus tahun ini, kan. Aku benar-benar
mengira party [Dawn] kalian akan merekrutnya, tapi kenapa kalian tidak
memasukkannya?"
Yah, normalnya orang pasti akan berpikir begitu.
Ngomong-ngomong, Lilian ditolak oleh [Dawn]
dan [Genesis], bahkan ditolak juga oleh [Guren]. Namun, dia
segera mendapat tawaran dari party Rank A dan akan mendapatkan ijazah
kelulusannya meski baru kelas satu.
"Aku merasa dia kurang cocok dengan kami. Tapi,
aku dengar Lilian juga melamar ke party [Guren], kenapa Senior tidak
menerimanya?"
Saat aku membalas pertanyaannya dengan jujur, Senior
Kacamata menjawab dengan nada santai.
"Insting wanita."
Mendengar jawaban yang terlalu jujur itu, kami sempat
terdiam sejenak sebelum akhirnya tidak tahan dan meledak dalam tawa.
Sambil menunggu tawa kami mereda, Senior Kacamata
memberikan penjelasan dengan wajah sedikit serius.
"Meski berada di [Guren] pun, kami akan
segera bubar. Mengingat kekuatannya sebagai seorang Holy Mage, aku
merasa itu agak mubazir. Jika tawaran ini datang setahun lebih awal, aku pasti
akan menerimanya."
Terkejut dengan perkataan Senior Kacamata yang tak
terduga, aku pun bertanya.
"Kalian akan bubar? Bukankah kalian mengincar
posisi party Rank A? Dengan kemahiran tempur seperti itu, sayang sekali jika
harus bubar."
"Memang
begitu, tapi…… kalian sih enak ya. Sepertinya tidak perlu bubar."
"Apa
maksud Senior?"
"Apa
kalian tahu kalau setelah menjadi Petualang Rank A dan memiliki party Rank A,
anggotanya perlahan-lahan akan mulai mengundurkan diri?"
Tentu
saja aku tidak tahu hal semacam itu.
"Kenapa
begitu? Bukankah kalian adalah rekan yang sudah berjuang bersama dalam waktu
lama?"
"Memang
benar, tapi pada akhirnya party Rank A itu bisa berdiri justru karena adanya
Petualang Rank A. Sang pemimpin, yaitu si Petualang Rank A inilah yang
menentukan semua pembagian hadiahnya."
"Menentukan
pembagian hadiah…… ya?"
"Iya.
Misalnya jika ada seorang Holy Mage, biasanya orang itu akan mengambil
sekitar tiga puluh persen dari total hadiah. Sisanya dibagi rata ke anggota
lain, dan hal ini pasti akan memicu rasa ketidakpercayaan atau perasaan tidak
adil. Itulah kenapa banyak orang berpikir lebih baik berhenti saja, lalu
membuat party baru sendiri dan mengincar posisi Petualang Rank A. Kenyataannya,
terkadang menjadi pemimpin di party Rank B lebih menghasilkan banyak uang
daripada menjadi anggota di party Rank A."
Begitu
ya. Intinya, mereka pergi demi uang.
Rasanya
agak menyedihkan, tapi memang fakta bahwa sebagai petualang, kita harus
mengumpulkan uang selagi bisa.
Tidak ada jaminan kita akan selalu sehat, dan tidak semua
orang bisa terus memiliki tujuan yang sama selamanya.
Tapi kalau begitu, kenapa dia bilang [Dawn] tidak
akan bubar?
Pertanyaan itu terlintas di benakku, dan aku tanpa
sengaja melirik Clarice yang duduk di sampingku.
Sontak, pipinya memerah sedikit dan dia menunduk sambil
mulai bicara dengan suara pelan.
"I-itu
kan…… aku tidak begitu berminat menjadi petualang…… aku juga tidak butuh
uang……"
Meski
terbata-bata, Clarice melirik ke arahku. Di matanya, tampak campuran antara
tekad dan rasa malu.
"Tempat
di mana aku ingin bekerja…… kan? Kau paham, kan?"
Suaranya
sedikit bergetar, namun satu kalimat itu mengandung perasaan yang tak
tergoyahkan. Saat aku menoleh padanya, kulihat telinga Clarice sampai
merah padam.
Melihat sosoknya yang seperti itu, aku merasakan panas di
lubuk hatiku. Jika tidak ada orang lain di sini, aku pasti sudah memeluknya―dorongan
seperti itu muncul dalam diriku.
"……Pasti, Eris juga berpikiran sama."
Mungkin dia mencoba menyembunyikan perasaannya sedikit
dengan menyebut nama Eris.
Namun, sorot matanya yang menatapku itu menyampaikan
seluruh isi hatinya tanpa sisa sedikit pun.
Saat aku melihat Eris, ternyata dia sudah tertidur sambil
bersandar padaku.
"Tapi, Kak Ike dan Senior Kacamata akan terus
bersama, kan?"
"I-itu
sih iya…… tapi belum tentu kami bisa bersatu juga……"
Apakah ada hambatan besar bernama Sieg…… tapi, itu
hanya tinggal menunggu waktu saja.
Pasti aku―kami yang akan menjadi makcomblang bagi
mereka.
Tak lama kemudian, saat kota berikutnya mulai terlihat,
Senior Kacamata mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah hampir waktunya makan siang. Ayo hentikan
kereta di kota itu, dan kita juga makan siang."
Namun, aku menggelengkan kepala terhadap usulan Senior
Kacamata.
"Aku sudah membeli jatah makan siang hari ini di
Kota Reagan. Ayo kita makan di dalam kereta saja."
"Tidak bisa begitu, bukan hanya kita, kuda-kuda juga
butuh istirahat……"
Poin yang disampaikan Senior Kacamata memang benar. Kami
tidak boleh mengabaikan kondisi kuda-kuda. Namun, kami punya cara lain.
"Kalau begitu, Clarice. Tolong bantu aku. Senior
Kacamata, ayo ikut juga. Ada yang ingin kutunjukkan."
Aku menghentikan kereta dan mulai menyiapkan makanan
serta air untuk kuda-kuda. Mewahnya, air yang digunakan adalah air yang
dihasilkan oleh Clarice dengan sihir air.
Setelah memastikan kuda-kuda minum dengan lahap dan
memakan makanannya, aku dan Clarice berseru bersamaan.
"Heal"
Cahaya penyembuhan yang lembut menyelimuti kuda-kuda
tersebut, menghapus kelelahan mereka. Begitu efek sihir muncul, mata kuda-kuda
itu tampak kembali bersinar.
Reaksi Senior Kacamata persis seperti yang kubayangkan.
"Eh!? Holy Magic!? Kalian berdua!?
Ke-kenapa……? Padahal kalian sekuat itu……"
Saking terkejutnya, bukan hanya kata-katanya, tubuhnya
pun sampai gemetar.
"Begitulah adanya. Tolong rahasiakan hal ini ya,
Kakak Ipar."
Mendengar satu kalimat dari Clarice, ekspresi Senior
Kacamata sempat membeku sejenak.
―Ya, inilah rencanaku.
Dengan membagikan rahasia kami padanya, hubungan kami
akan semakin dalam sekaligus memperkuat dukungan dari orang terdekat.
Dan dengan memanggilnya "Kakak Ipar", secara
implisit kami menunjukkan bahwa kami merestui pertunangan mereka berdua.
Dengan begini, perhitunganku adalah Sieg akan kesulitan
jika ingin menolak pertunangan atau pernikahan mereka secara sepihak.
Walaupun begitu, ada kemungkinan metode ini malah
berakibat buruk, jadi aku berniat melakukannya sambil memantau situasi dengan
hati-hati. Tapi, Sieg itu sangat memanjakan Clarice dan Eris. Aku juga sedikit
optimis kalau dia tidak akan marah.
Senior Kacamata―si Kakak Ipar, sepertinya terguncang
mendengar kata-kata Clarice.
Matanya mulai berkaca-kaca dan pipinya bergetar sedikit.
Namun akhirnya, dia tidak bisa menahan emosi itu, dan sebutir air mata mengalir
di pipinya.
Melihat sosoknya, Ike mendekat dengan tenang dan
memeluknya dengan lembut.
Lalu sambil menatap kami, dia hanya mengucapkan satu
kata.
"Terima kasih."
Di mata kakakku pun, tampak genangan air mata yang tipis.
◆◇◆
Tiga hari setelah meninggalkan Reagan―
Berkat terus memacu kuda dengan lancar dan mempertahankan
gaya perjalanan tanpa mampir ke kota untuk istirahat makan siang, kami melaju
dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari jadwal awal.
Karena kuda-kuda diberikan makanan, air, dan sihir
penyembuhan yang cukup, hampir tidak terlihat adanya kelelahan.
Jika ada kelainan pun, aku bisa langsung mengetahuinya
dengan Appraisal. Perjalanan kami, sejauh ini, berjalan sangat mulus.
Namun, perjalanan yang lancar itu sedikit berubah
situasinya saat kami memasuki wilayah Kerajaan Barcus.
Di wilayah Adipati Reagan, kami hampir tidak melihat
monster, namun saat masuk ke wilayah Kerajaan Barcus, monster mulai terlihat di
sana-sini.
Meski begitu, tingkat ancaman mereka hanya Rank F atau G,
jadi bukan bahaya yang berarti.
Sambil duduk di kursi kusir, aku bicara pada Ike di
sampingku.
"Sepertinya hari ini kita akan sampai di Rimulgard.
Di mana kita akan menginap hari ini? Rasanya di sekitar Rimulgard tidak
banyak tempat menginap yang bagus……"
Ike menatap lurus ke depan sejenak seperti sedang
berpikir sebelum menjawab pertanyaanku.
"Benar
juga…… di mana ya biasanya para petualang menginap. Jika hanya
ada aku dan kau saja, tempat berkumpulnya para petualang pun tidak masalah bagi
kita, tapi……"
Kata-kata Ike menunjukkan perhatiannya.
Pandangannya tertuju ke arah dalam kereta, yaitu ke arah
para wanita.
"Jika kita membiarkan para wanita terlihat oleh
kawanan petualang kasar, kemungkinan besar akan mengundang masalah yang tidak
perlu. Sebaiknya hari ini kita menginap di tempat yang agak jauh dari
Rimulgard, lalu besok pagi-pagi sekali kita melesat melewatinya."
Mendengar penilaian Ike yang tenang, aku pun
mengangguk dalam.
Pasti di party [Guren] pun mereka kesulitan soal
hal itu. Senior Kacamata memiliki kecantikan yang sampai bisa memenangkan gelar
Miss Lister berkali-kali. Wanita secantik dia tidak mungkin tidak mencolok.
Mengikuti instruksi Ike, kami memutuskan untuk mencari
penginapan lebih awal hari ini.
Sambil memastikan keamanan di sekitar, kami menemukan
penginapan dan beristirahat dengan cukup bersama para wanita.
Keesokan paginya―
Kami memacu kereta kuda ke arah selatan seolah-olah hanya
menyerempet Rimulgard.
Biasanya perjalanan kami terasa ramai dan santai, namun
sekarang atmosfernya sedikit tegang.
Alasannya adalah karena Eris dalam keadaan terjaga.
Belakangan ini, Eris menghabiskan hampir seluruh waktu
perjalanan dengan tidur.
Dia yang sebelumnya bilang bisa tidur nyenyak jika berada
di dekatku dan Clarice, sekarang malah turun dari kereta dan berlari di samping
kami sambil terus waspada terhadap sekitar.
Melihat sosoknya, firasat buruk terlintas di dadaku.
―Dan firasat itu benar-benar menjadi kenyataan.
"……Mars……
di sana…… suara pertarungan…… ada yang diserang……"
Ujar
Eris sambil menunjuk ke suatu arah. Arahnya adalah Rimulgard Barat. Jika
dilihat, tampak asap tipis mengepul dari sela-sela pepohonan.
Aku memberikan kode melalui tatapan mata kepada Ike. Kakakku langsung memahami situasi dan meneriakkan instruksi singkat.
"Oke, kita periksa! Begitu monster dikalahkan, kita
langsung cabut!"
Keputusan Ike sangat cepat. Jika itu aku, mungkin aku
akan memilih untuk lewat begitu saja demi menghindari bahaya. Tapi kakakku berbeda.
Dan di depan sana, seorang sosok yang tak terduga
telah menunggu―



Post a Comment