Chapter
13
Di
Rimulgard Barat
Bayang-bayang hitam mengepung kota Rimulgard Barat―
Sosok itu membawa tekanan yang luar biasa aneh,
menyebar seolah hendak menelan seluruh kota.
Kami segera menghentikan kereta kuda dan berlari
kencang menuju sekumpulan orang yang tampak seperti gabungan ksatria dan
petualang yang sedang melawan bayangan tersebut.
Wujud bayangan hitam itu, singkatnya, adalah ksatria
hitam. Monster dengan rupa kerangka yang mengenakan baju zirah.
Pasukan kerangka itu terbagi menjadi dua jenis. Satu
pihak mengenakan perlengkapan ringan dan jumlahnya sangat banyak, sementara
yang lain mengenakan zirah berat dan tampak seperti memimpin kerangka-kerangka
ringan tersebut. Sambil
berlari, aku menggunakan Appraisal untuk melihat statistik mereka.
[Ras] Death Army
[Threat] D
[Status] Good
[Age] 1 Tahun
[Level] 1
[HP] 104/104
[MP] 5/5
[Strength] 34
[Agility] 30
[Magic Power] 1
[Dexterity] 24
[Stamina] 32
[Luck] 1
[Special Ability] Swordsmanship F (Lv2/8)
[Details] Lemah terhadap Holy Magic
[Ras] Death Knight
[Threat] C
[Status] Good
[Age] 1 Tahun
[Level] 1
[HP] 182/182
[MP] 5/5
[Strength] 84
[Agility] 64
[Magic Power] 1
[Dexterity] 25
[Stamina] 95
[Luck] 1
[Special Ability] Spearmanship E (Lv4/11)
[Details] Sangat lemah terhadap Holy
Magic
Di
sini, aku terkejut melihat hasil Appraisal-nya.
Muncul
kolom baru berlabel [Details]. Ini adalah sesuatu yang tidak
ada pada Appraisal sebelumnya. Mungkin ini berkat level Divine Eye
milikku yang naik setelah pertarungan melawan Upial.
Kelemahan para kerangka itu tercatat sangat rentan
terhadap Holy Magic. Namun, masalahnya aku tidak punya sihir serangan
sama sekali. Apakah Heal akan efektif? Saat aku masih ragu untuk
memutuskan―
"Mars! Beri kami instruksi!"
Teriakan Ike menggema.
"Dimengerti! Aku, Kak Ike, dan Eris akan membuka
jalan menuju kota! Clarice dan Kakak Ipar bersiaplah di depan gerbang kota,
jangan biarkan mereka mendekat! Kerangka ringan memiliki tingkat ancaman D,
yang berbaju zirah tingkat C! Jangan lengah!"
Sesaat setelah selesai bicara, aku mencabut Pedang Guruh
dan pedang roh api, Salamander Sword, lalu memimpin serangan menerjang
kerumunan kerangka tersebut. Seolah mengikuti jejakku, Ike dan
Eris bergerak dengan koordinasi yang sempurna.
Para kerangka itu sedang menuju Rimulgard Barat,
sehingga serangan mendadak dari belakang membuat mereka tidak sempat memberikan
perlawanan yang berarti. Begitu sampai di dekat orang-orang yang tampak seperti
petualang yang bertarung di gerbang kota, aku berseru kembali.
"Biar kami yang ambil alih! Kalian
mundurlah!"
Para petualang itu mengangguk patuh meski terkejut,
lalu mengungsi ke belakang kami. Kami kembali mengatur formasi. Di saat itulah,
suara jernih Kakak Ipar bergema di medan perang.
"Stone Wall!"
Menanggapi suara itu, sebuah dinding batu bangkit
berdiri seolah melindungi para petualang. Dinding itu saja sudah memberikan
tekanan yang cukup besar, namun Kakak Ipar lanjut mengangkat tongkatnya dan
menyalurkan kekuatan lebih besar lagi.
"Boot!"
Detik berikutnya, dinding batu itu seolah diberi
nyawa; bentuknya berubah menyerupai wujud manusia dan mulai bergerak. Menjadi
Golem batu raksasa, sosok itu menjadi perisai bagi para petualang dan memukul
mundur kerumunan kerangka yang mendekat dengan kekuatan dahsyat.
Memanfaatkan celah itu, kami membasmi monster-monster
di sekitar.
◆◇◆
Setelah menyelamatkan kota Rimulgard Barat dari
krisis, kami berniat segera meninggalkan tempat itu.
Bagaimanapun juga, target kami adalah Almeria, dan kami
tidak diizinkan untuk berlama-lama di sini.
Namun pada saat itu, sebuah suara yang memanggil kami
bergema dari atas dinding kota.
"Jangan-jangan, Tuan Ike……? Ada Mars, Clarice,
bahkan Eris juga!"
Saat menoleh dan mendongak, sosok yang berdiri di sana
adalah―wajah yang sangat kurindukan.
"Paman Van! Bukankah ini Paman Van! Kenapa Paman ada
di sini?"
Pemilik suara itu adalah Van, Komandan Ksatria Pertama
Bryant sekaligus pemimpin party [Blue Fang].
Menanggapi pertanyaanku, Van menjawab sambil
mengangguk mantap.
"Iya!
Itu…… tidak, rasanya tidak enak bicara di tempat seperti ini, ayo masuk ke
dalam! Tuan Sieg juga ada di sini!"
―Sieg ada di sini!?
Mendengar kata-kata Van, ketegangan langsung
menyergap. Kami memang mengincar Almeria untuk menemui Sieg, tapi tidak
menyangka akan bertemu kembali di tempat seperti ini.
Terguncang oleh perkembangan yang tiba-tiba, kami
saling bertukar pandang. Wajah Kakak Ipar yang tampak sangat tegang adalah
bukti bahwa dia belum siap secara mental untuk bertemu Sieg.
Namun, Van yang tidak mengetahui situasi kami
langsung membuka lebar gerbang kota dan mengundang kami masuk.
"Ayo, cepat! Kita bicara di dalam!"
Kami saling mengangguk dalam diam, lalu melangkah
masuk ke dalam kota mengikuti panduan Van.
Kami dipandu menuju sebuah kediaman megah di pusat kota. Di depannya, banyak petualang berkumpul dan berlalu-lalang dengan
sibuk.
Lalu, di antara orang-orang itu, sosok yang menonjol―seorang
pria yang memberikan instruksi cepat dan tepat kepada para petualang―langsung
tertangkap oleh mataku.
"A-Ayah……"
Saat aku memanggilnya pelan, Sieg juga menyadari
kehadiran kami dan membelalakkan mata karena terkejut.
"Tuan Sieg! Yang mengalahkan para kerangka tadi
adalah Tuan Ike dan yang lainnya!"
Begitu Van berseru, ekspresi Sieg perlahan berubah dari
terkejut menjadi lega.
"Ike……
bahkan Mars juga…… kenapa kalian ada di sini?"
Ike yang dipanggil langsung membusungkan dada dan
menjawab dengan sikap tegas.
"Sudah lama tidak berjumpa, Ayah. Aku sendiri tidak
tahu alasan Ayah dan Paman Van ada di sini. Hanya saja, kami berniat pulang
saat libur sekolah, dan ketika melewati area ini, tak sengaja bertemu Paman Van
lalu dipandu ke sini. Sebenarnya, kenapa Ayah berada di sini?"
Mendengar penjelasan Ike, Sieg mengerutkan dahi dan
menghela napas panjang yang terasa berat.
"Untuk saat ini, masuklah dulu. Apakah hanya kalian
berempat?"
Saat menoleh ke belakang, ada Clarice dan Eris.
Dan di posisi paling belakang, tampak sosok Kakak Ipar
yang mengintip dengan wajah ragu-ragu.
Aku tidak melewatkan perubahan kecil pada ekspresi Sieg
saat Kakak Ipar menampakkan dirinya.
"Lama tidak berjumpa, Ayah Mertua."
Clarice menyapa Sieg dengan senyum lembut namun sempurna.
Di sampingnya, Eris juga menundukkan kepala dengan sopan.
Dan―terakhir, Kakak Ipar maju ke depan. Berbeda dari
sikap tenangnya yang biasa, dia memberikan hormat curtsey yang terasa
kaku namun tetap elegan, lalu membuka suara dengan nada gemetar.
"Sudah lama tidak berjumpa, Lord Bryant."
Melihat senyum Kakak Ipar yang dipaksakan, Sieg
sempat tampak bingung sejenak namun segera bersikap tenang kembali.
"A-ah……
pokoknya masuklah dulu. Kita bicara setelah itu."
Kami
melangkah masuk ke dalam kediaman besar itu mengikuti Sieg. Melewati pintu yang
berat, kami dipandu menuju ruangan dengan langit-langit tinggi dan dekorasi
yang hangat, hingga akhirnya sampai di sebuah ruang keluarga yang nyaman.
Meski suasananya santai, aku masih bisa merasakan
ketegangan yang menyelimuti ruangan.
Setelah duduk dengan tenang, Sieg segera membuka
pembicaraan yang terasa berat.
"Kalian sudah tahu kalau Kastel Rimulgard telah
berubah menjadi labirin, kan?"
Kata-kata itu membangkitkan ingatan masa lalu. Benar,
kejadian itu terjadi saat aku sedang dalam perjalanan kembali dari Granzam
bersama Clarice. Kami mengangguk, mempersilakan Sieg melanjutkan ceritanya.
"Selama beberapa tahun ini, Rimulgard cukup tenang,
tapi tiba-tiba area di bawah kastel Rimulgard ikut berubah menjadi labirin.
Saat itu terjadi fenomena Labyrinth Saturation. Negara menyewa para
petualang dan berhasil menghalau gerombolan monster yang menyerang. Namun,
penguasa Rimulgard Barat saat itu dan penguasa Rimulgard Timur dari pihak
Kerajaan Zalkam malah membiarkan bangkai monster serta petualang yang gugur
tanpa dikremasi. Hasilnya, lahirlah―mereka."
Yang dimaksud "mereka" oleh Sieg pastilah para
kerangka yang kami lawan tadi.
"Penguasa Rimulgard Barat telah dimintai
pertanggungjawaban atas kejadian ini dan dihukum mati. Saat ini, para penguasa
dari berbagai daerah memerintah tempat ini secara bergantian. Sampai akhir Desember nanti, akulah yang menjadi penguasa sementara
Rimulgard Barat."
Merasakan sesuatu di pinggangku, aku menoleh dan
mendapati tangan kecil Clarice sedang mencengkeram ujung seragamku. Dia memang
tidak kuat mendengar cerita seperti ini. Sepertinya dia ingin menyentuhku untuk
mengusir rasa takut.
"Bagaimana kondisi perangnya?"
Mendengar pertanyaanku, bayangan kegelapan jatuh di
wajah Sieg. Dalam suasana yang berat, ayahku menjawab dengan suara rendah.
"Inti
dari Ksatria Kedua Bryant, party [Red Wing], telah musnah."
"―!?"
Yang bereaksi paling keras adalah Ike. Aku sendiri
lebih banyak berhutang budi pada [Blue Fang], tapi bagi Ike, kehilangan [Red
Wing] pastilah menjadi guncangan yang tak terlukiskan karena dia dulu
berasal dari sana.
Sieg melanjutkan dengan nada yang semakin berat.
"Saat sampai di sini, para kerangka itu menyerang
seperti tadi. Aku memerintahkan mereka untuk bergerak setelah menilai situasi,
tapi [Red Wing] justru menerjang maju tanpa memedulikan perintah.
Kenyataannya, jika mereka tidak merangsek masuk, tempat ini pasti sudah
mengalami kerusakan yang jauh lebih fatal……"
Suara Sieg yang bercerita dengan wajah duka perlahan
menghilang, menyisakan keheningan di dalam ruangan. Namun, Sieg sendirilah yang
memecah kesunyian itu.
"Ike! Mars!"
Ayah tiba-tiba menundukkan kepala. Tanpa memberi kami
waktu untuk bernapas, kata-kata berikutnya langsung mengubah atmosfer ruangan.
"Kumohon! Pinjamkan kekuatan kalian! Pertahanan di
sini memang penting, tapi yang paling kukhawatirkan adalah Almeria. Gara-gara
kami datang ke sini, kekuatan tempur di sana menjadi sangat tipis. Ditambah
lagi, Maria belum bisa bergerak banyak karena baru saja melahirkan…… ada masalah soal Lina
juga……"
"Eh!?
Baru melahirkan…… maksudnya Ibu sudah hamil saat TurNaman Siswa Baru
kemarin?"
Mendengar teriakan terkejutku, Clarice menegurku
sambil terkekeh pelan.
"Kenapa kau tidak sadar, sih. Meskipun perutnya
belum membesar, Ayah Mertua terlihat sangat protektif dan sopan saat
mendampinginya, kan?"
Senyum lembutnya mencairkan suasana yang tadi sempat
tegang.
"Ayah, angkatlah kepala Ayah. Jika ada yang bisa
kami bantu, kami akan bekerja sama. Benar kan, Mars?"
Ike memegang tangan Sieg dan mengatakannya sambil
melirik ke arahku.
―Sekarang saatnya. Aku mengangguk dan mengajukan
usul.
"Tentu saja. Kalau begitu, bagaimana jika begini?
Aku dan Kak Ike tetap di sini, sementara Clarice, Eris, dan Kakak Ipar kembali
ke Almeria? Aku rasa Ibu akan merasa lebih tenang jika ada wanita yang bisa
dipercaya di sampingnya. Lagi pula, jika mereka bertiga, mengurus pembersihan
lantai dua Labirin Almeria bukanlah masalah besar."
"Benar. Kakak Ipar punya Constricting Eye,
jadi dia bisa melakukan Appraisal dan merasa aman meski melawan monster
kuat. Terlebih
lagi, sihir tanah itu akan melindungi kami."
"……Aku……
Clarice…… Kakak Ipar…… tidak apa-apa……"
Clarice dan Eris mengikuti ucapanku, sengaja menekankan
sebutan "Kakak Ipar" untuk membantu situasi.
Melihat itu, Sieg menyunggingkan senyum kecut sambil
memandang kami semua.
"Kalian……
terima kasih. Ini benar-benar membantu. Ike, lalu Edin-san…… maafkan aku soal
waktu itu."
Kakak
Ipar yang namanya tiba-tiba disebut langsung membelalakkan mata. Sieg sedikit
menundukkan pandangannya dan melanjutkan.
"Aku
tidak menyangka Ike akan menolak pertunangan dengan keluarga kerajaan. Jujur
saja, saat itu aku mengira tawaran itulah yang paling membahagiakan bagi Ike.
Karena itulah, aku sempat terguncang saat itu……"
Mendengar
kata-kata Sieg, mata Ike berbinar dan dia bertanya dengan nada mendesak.
"Apakah
Ayah…… merestui hubunganku dengan Ede!? Ayah!"
Sieg mengangguk perlahan.
"Akan kupertimbangkan dengan baik. Bukannya aku
tidak setuju. Hanya saja, aku harus bicara sungguh-sungguh dengan orang tua
Edin-san dulu. Karena kita akan menyambut putri berharga mereka, aku
harus menunjukkan tekad yang sepantasnya."
Begitu mendengar kata-kata itu, Kakak Ipar langsung
menangis sesenggukan karena luapan emosi.
Ekspresinya yang bercampur antara rasa bahagia dan lega
membuat kami tanpa sadar ikut tersenyum.
―Dengan begini, sisanya tinggal membuat sedikit dorongan
lagi, maka semuanya akan berjalan lancar.
Sieg yang melihat pemandangan itu kembali menundukkan
kepala dengan wajah merasa bersalah.
"Aku benar-benar minta maaf. Saat mendengar
pembicaraan kalian berdua, sebenarnya Maria sudah setuju sejak awal……"
Di tengah keterkejutan kami semua, Sieg melanjutkan.
"Tapi,
bagaimanapun juga aku…… jujur saja, memang sempat terlintas di pikiranku soal
nama baik keluarga Bryant dan kenaikan gelar bangsawan…… Tapi, aku ditegur oleh
Maria, mendiang anggota [Red Wing], bahkan oleh Van. Mereka bilang
biarkan Ike melakukan apa yang dia suka; kebahagiaan anak harus diputuskan oleh
anak itu sendiri, bukan orang tuanya……"
Setiap
kata yang diucapkan Sieg seolah-olah ia sedang menatap ke kejauhan. Di matanya terpancar kerinduan sekaligus penyesalan.
"Begitu mereka bilang begitu…… aku tersadar. Aku
teringat masa mudaku sendiri. Saat aku memilih Maria, aku tidak mendengarkan
pendapat siapa pun dan hanya percaya pada masa depan bersamanya. Tapi…… begitu menjadi orang tua,
aku malah mencoba menentukan kebahagiaan anakku sendiri……"
Ternyata Sieg juga punya konflik batinnya sendiri ya.
Hari itu, seolah hendak mengejar waktu yang sempat
terhenti, Sieg dan Ike terus mengobrol bersama Kakak Ipar. Melihat itu, aku
merasa sangat lega.
Dan kami pun―
"Ini pertama kalinya kita berpisah sejak Mars
datang ke Granzam ya……"
Suara sedih Clarice bergema dengan latar belakang
langit yang mulai meredup.
Kami duduk di atas dinding kota, menatap ke arah
Kastel Rimulgard. Kami bertiga duduk merapat. Clarice di sebelah kanan, Eris di
sebelah kiri, keduanya bersandar padaku.
"Iya, maaf ya. Ini karena urusan keluarga Bryant…… Aku pun tidak ingin berpisah dengan kalian berdua. Karena itu aku
berjanji. Begitu bulan Januari tiba, aku akan segera menyusul ke sana. Aku dan
Kak Ike juga akan mengirim surat resmi ke Adipati Reagan, memberitahu bahwa
kepulangan kami tertunda karena urusan keluarga."
Begitu
aku bicara dengan nada seserius mungkin, Clarice tersenyum tipis.
"Ehm……
aku akan menunggu. Jadi kau harus segera datang ya."
Suaranya terdengar agak gelisah, namun ada nada
kepercayaan di dalamnya. Clarice menyandarkan kepalanya di bahu kananku, meniru
gerakan Eris yang ada di sebelah kiriku.
Pada saat itu, aroma bunga yang semerbak terbawa
angin, meresap jauh ke dalam dadaku.
Di sisi lain, Eris yang menyandarkan wajahnya di bahu
kiriku bergumam pelan.
"……Sampai
kapan pun…… aku…… akan menunggu……"
Tersirat
tekad bahwa jika aku tidak menjemputnya, dia akan terus berada di sana
selamanya.
"Iya, aku pasti akan menjemput kalian."
Dikelilingi kehangatan dan aroma mereka berdua, aku
bersumpah dalam hati. Bahwa aku pasti akan kembali ke sisi mereka.
◆◇◆
Keesokan paginya―
Gerbang barat Kastel Rimulgard. Di tengah udara yang
masih berkabut tipis, kami melepas keberangkatan mereka.
Kali ini yang berangkat menuju Almeria adalah Clarice,
Eris, Kakak Ipar, dan seluruh anggota [Blue Fang]. Kemampuan para wanita
ini tidak perlu diragukan lagi. Jika bicara soal kemampuan tempur, pengawalan
sebenarnya tidak diperlukan.
Namun, kecantikan mereka jauh lebih mencolok daripada
kekuatannya. Sebagai tindakan antisipasi terhadap pria-pria yang mungkin
tergoda oleh daya tarik mereka, aku meminta [Blue Fang] untuk
mendampingi.
"Clarice, Eris, ini barang yang kalian minta
kemarin."
Ujarku sambil menyerahkan barang tersebut kepada mereka.
Itu adalah kemeja yang sebelumnya kupakai. Karena ini akan menjadi perpisahan
yang cukup lama, Clarice dan Eris memintanya dengan sangat sungguh-sungguh
padaku.
"Terima kasih. Aku akan memakainya baik-baik bersama
Eris. Lalu, ini dariku……"
Setelah memeluk kemejaku erat-erat, Clarice tersenyum
dengan wajah sedikit malu. Lalu, tiba-tiba dia meletakkan sesuatu yang lembut
di telapak tanganku.
Dia kemudian menggunakan tangannya yang lain untuk
memegang tanganku yang satunya, lalu menutupnya seolah membungkus barang yang
dia berikan tadi.
"Ini
adalah barang yang selalu kugunakan menempel di kulitku…… Jika kau
merindukanku, gunakanlah ini―"
Bersamaan
dengan kata-kata itu, Clarice menatapku lurus dengan pipi yang merona.
Ekspresinya yang sedikit malu itu membuat jantungku berdebar kencang.
Lalu,
dia berkata dengan nada sedikit bercanda.
"Oya, saat kau kembali nanti, jangan sampai…… kau
membawa orang kelima ya."
Mendengar itu, wajah Eris tampak tersentak.
Dan tiba-tiba, dia membenamkan wajahnya di leher
kiriku―dan entah bagaimana, dia langsung mengisapnya.
"A-ada apa!? Eris?"
Saking terkejutnya aku sampai berseru, namun Eris
menjawab dengan suara kecil sambil tetap menempel di leherku.
"……Mengisi…… asupan Mars…… lalu…… menandai……"
Melihat
aksi berani Eris, Clarice berseru dengan nada panik sekaligus iri.
"I-itu curang, Eris!"
Namun, Eris tidak melepaskan dekapannya. Tanpa
terlihat goyah sedikit pun, ia melanjutkan kata-katanya.
"……Sisi
kanan…… kosong…… di sana…… wilayah Clarice……"
Aku
tahu Clarice tidak mungkin melakukan hal seperti itu di depan umum. Namun,
sepertinya terjadi pergulatan batin dalam dirinya; ia tampak ragu sejenak.
Lalu,
dengan tekad bulat, Clarice menyentuh pipiku dengan lembut dan menyatukan bibir
kami. Meski singkat, kecupan itu mengandung perasaan yang sangat nyata, dan aku
pun membalasnya dengan perasaan yang sama.
Setelah
itu, kereta kuda mulai berangkat. Aku terus melambaikan tangan hingga sosok
mereka yang semakin mengecil akhirnya menghilang sepenuhnya dari pandangan.
Barulah setelah itu, aku memeriksa barang yang dititipkan oleh Clarice.
Sentuhan
lembut dan kecil di tanganku—saat aku membukanya perlahan—ternyata itu adalah
saputangan berwarna merah muda yang terlipat rapi.
◆◇◆
Sejak
berpisah dengan Clarice dan yang lainnya, aku dan Ike terus berlatih di sekitar
gerbang timur Rimulgard Barat. Frekuensi serangan kerangka hanya terjadi
sekitar sekali sehari. Sisa waktu kami gunakan sepenuhnya untuk mengayunkan
pedang dan mengasah sihir.
Para petualang yang disewa negara juga melakukan
pengintaian secara luas. Dengan jumlah orang sebanyak ini yang berjaga, kami
tidak perlu khawatir akan serangan mendadak.
Suatu sore, tampak serombongan orang menuju ke arah
kami dari ufuk barat.
Kelompok itu sepertinya bukan petualang dari
Rimulgard Barat. Mereka membawa beban besar di punggung dan bergerak menuju
timur—yakni ke arah Rimulgard.
Rimulgard
adalah wilayah yang berbahaya. Sambil tetap waspada, kami mendekat untuk
memberi peringatan.
Tiba-tiba,
seorang pria dari kelompok itu berlari menghampiri kami.
"Seragam
itu... kalian murid Sekolah Nasional Lister, ya? Di sini berbahaya, sebaiknya
kalian mundur."
Sepertinya
dia datang karena cemas dan ingin memperingatkan kami. Ternyata seragam Sekolah
Nasional Lister dikenal hingga ke Kerajaan Barcus.
"Iya. Terima kasih atas peringatannya. Namun, kalian
sendiri hendak menuju ke mana?"
Saat Ike bertanya, pria itu menoleh ke arah
rekan-rekannya yang menggendong tas besar lalu menjawab.
"Ke Rimulgard di depan sana. Kami adalah party Rank A."
Mendengar itu, aku dan Ike sontak saling pandang.
"Party
Rank A! Bolehkah kami tahu nama party kalian?"
Tanyaku
dengan nada antusias. Pria itu menyunggingkan senyum yang sedikit malu.
"Aku
Luck, sub-leader dari [Akehoshi]. Kami masih pemula yang baru naik ke
Rank A tahun lalu. Benar-benar waspadalah, area ini sangat berbahaya."
Kami
mengangguk dalam dan melepas keberangkatan mereka. Pandangan kami terus
mengikuti rombongan [Akehoshi] hingga mereka benar-benar hilang dari
cakrawala.
Keesokan
harinya, rombongan lain yang tampak seperti party Rank A terus berlalu-lalang
dari barat ke timur.
Mungkin karena pengaruh itu, serangan kerangka menurun
drastis. Sepertinya mereka telah membasmi para kerangka di sepanjang jalan
menuju Rimulgard.
Kami pun sebenarnya ingin menyelidiki area sekitar
Rimulgard, namun karena instruksi ketat dari Adipati Reagan untuk "jangan
mendekat", ruang gerak kami jadi terbatas. Berada di sini saja sebenarnya
sudah ada kemungkinan kami akan dimarahi nanti.
Tepat saat itu, terlihat bayangan rombongan dari arah
utara menuju Rimulgard.
Hingga saat ini, semua party Rank A muncul dari arah
barat, jadi ini pertama kalinya ada yang datang dari utara.
Saat kami hendak mendekat untuk memberi peringatan,
seorang pria dari rombongan itu berjalan menghampiri kami.
Pria itu memiliki mata merah delima dan rambut merah
seperti api. Hal yang paling mencolok adalah jubah pendetanya (vestment).
Jubah itu memiliki tekstur seperti sutra halus, namun
mengembang ringan bagaikan sayap. Setiap kali tertiup angin, tercipta kesan
dinamis seperti kepakan sayap burung Suzaku. Pola api yang ditenun
dengan benang emas tampak bergejolak seperti api hidup, membuat seluruh jubah
itu seolah-olah bernapas dan memancarkan cahaya.
Aku dan Ike menahan napas. Orang ini bukan orang
sembarangan. Pria itu, dengan nada bicara tenang yang kontras dengan
penampilannya, mengucapkan kata-kata yang tak terduga.
"Tak kusangka akan bertemu di tempat seperti
ini. Seragam itu, mata emas, dan rambut pirang... kau Mars, kan? Dan kau adalah... Gren?"
"Iya... benar, tapi... mohon maaf, Anda siapa?"
Ike bertanya dengan sikap waspada.
"Umu. Aku adalah putra mahkota keluarga Adipati
Fressvalld, Suzaku Lionel. Petualang Kelas A peringkat ke-11,
sekaligus Komandan Ksatria Suzaku dari Ksatria Pertama Fressvalld. Aku sudah
mendengar cerita tentang adikku, Karen, dari Ayah. Calon adik iparku."
Penerus keluarga Adipati Fressvalld sekaligus kakak
Karen!
"Se-senang bertemu dengan Anda! Saya Ike
Bryant!"
"Senang bertemu dengan Anda. Saya Mars Bryant.
Namun, apa yang membawa Tuan Suzaku ke tempat seperti ini?"
Suzaku mengangkat bahu dan menjawab dengan senyum
tipis.
"Ada permintaan langsung dari Kerajaan Barcus. Kami
mengirimkan party Rank A ke Rimulgard dengan syarat tertentu. Lagipula, aku
tidak cocok bekerja di istana. Ini kesempatan bagus. Kalian, maukah mengobrol
sambil jalan sebentar? Aku tertarik pada kalian."
Kami tidak mungkin menolak permintaan calon kepala
keluarga Adipati Fressvalld.
"Iya! Dengan senang hati!"
Dengan ini, alasan untuk pergi ke sekitar Kastel
Rimulgard pun tercipta.
"Kalau begitu, langsung saja. Mars? Bagaimana
pendapatmu tentang Karen?"
Dia langsung menanyakan inti masalahnya...
"Iya. Saya selalu merasa terpacu melihat
sosoknya yang tidak pernah puas dengan bakatnya sendiri dan selalu berusaha
keras."
Mungkin jawaban itu di luar dugaannya, Suzaku tertawa
keras dengan wajah berseri-seri.
"Kau pemuda yang menarik! Biasanya kalau kutanya
begini, yang keluar pertama kali adalah soal kecantikannya atau betapa
pantasnya dia disebut 'Putri Abyss', hanya bicara soal penampilan. Menilai
kepribadiannya... itu poin yang cukup tinggi."
Bahaya... hal yang ingin kuucapkan selanjutnya memang
soal penampilannya. Siapa pun bisa melihat bahwa Karen adalah gadis yang
cantik. Belakangan ini, entah karena masa pertumbuhan atau efek Tuna Berlian,
dia mulai keluar dari cangkang gadis cantik dan bertransformasi menjadi wanita
cantik dengan sangat cepat.
"Lalu, selanjutnya, Gre—bukan, Ike. Mengenai
setelah lulus nanti, apa rencanamu? Menjadi petualang, meneruskan keluarga
Bryant... atau jalan lain?"
Suzaku menatap Ike dengan tajam, menunggu jawabannya.
Sorot matanya jelas memancarkan rasa ingin tahu. Namun, tepat saat Ike hendak
menjawab, dari kejauhan arah Kastel Rimulgard, muncul bayangan menyeramkan.
Gerombolan besar kerangka—
"Ike, Mars. Bisa bantu aku? Aku tidak ingin terlalu
banyak menghabiskan MP di sini."
Aku menangkap maksud di balik permintaan Suzaku. Dia
ingin menguji kemampuan kami. Ike sepertinya juga menyadarinya.
"Dimengerti, Tuan Suzaku. Kami berdua saja yang akan
membereskan musuh ini. Silakan saksikan pertarungan kami, dan jika berkenan,
mohon berikan saran setelahnya."
"Terima kasih. Aku terima tawaran itu."
Bertarung melawan kerangka adalah hal yang sudah biasa
bagi kami. Kami sudah memahami sepenuhnya kekuatan dan karakteristik mereka.
Terutama, ada atau tidak adanya Death Knight akan
memberikan perbedaan besar pada koordinasi mereka. Jika ada Death Knight,
gerakan mereka terorganisir, jika tidak, mereka hanyalah kerumunan kacau.
Namun di hadapan kami, perbedaan itu sudah bukan masalah
lagi.
Terlebih, kami sudah memastikan bahwa sihir pemulihan Heal
sangat efektif. Tentu saja, aku tidak akan menggunakannya di depan Suzaku,
lagipula tidak perlu.
Setelah membantai hampir seratus kerangka, kami kembali
ke Suzaku untuk meminta saran.
"Kemampuan kalian melebihi rumor yang beredar.
Tapi, bagaimana aku bisa memberi saran jika kalian bahkan tidak bertarung
dengan serius?"
Suzaku berkata sambil mengangkat bahu ringan.
Setelah itu, kami beberapa kali bertemu monster
secara sporadis, namun aku dan Ike membereskan semuanya. Hingga akhirnya saat
menjelang siang, kami sampai pada jarak di mana kota di bawah kastel Rimulgard
mulai terlihat.
Namun, tempat itu sudah berubah total dari empat
tahun lalu. Area sekitarnya tertutup kabut hitam yang memancarkan aura
menyeramkan. Padahal kami harus melewati ini untuk sampai ke kota...
"Seperti
yang kudengar... Unclean King. Merepotkan. Jika ini target buruan, aku
ingin menjajal kemampuanku, tapi sebaiknya jangan."
Suzaku bergumam pelan lalu kembali ke rekan-rekannya.
Tak lama kemudian, Suzaku muncul kembali di depan kami
dan berkata dengan suara tenang.
"Kalian berdua, kita berpisah di sini. Di dalam
kabut itu ada monster dengan tingkat ancaman A yang disebut Unclean King. Dalam
beberapa kasus, dia lebih merepotkan daripada monster tingkat S. Karena, tidak
ada cara untuk membasminya. Selama Unclean King belum dikalahkan, Death Knight
akan terus muncul, tapi dia sendiri seperti bencana alam. Suatu saat dia akan
lenyap sendiri. Kita hanya bisa bertahan sampai saat itu tiba."
Sepertinya Suzaku tahu penyebab munculnya para kerangka
ini.
Aku bertanya karena penasaran.
"Bagaimana cara mengalahkan Unclean King?"
"Serangan fisik sangat dilarang. Jika menyentuh
Unclean King, senjata akan meleleh dan tubuh akan membusuk. Hanya ada dua cara.
Pertama, dengan sihir berdaya hancur sangat tinggi untuk menguras HP-nya
sekaligus. Dan yang kedua adalah... menggunakan sihir bernama Holy, yang
konon hanya bisa digunakan oleh [Saint] dan [Saintess]."
Hah? Kalau begitu, sebagai seorang [Saint], apakah
aku bisa menggunakan Holy?
"Sihir seperti apa Holy itu?"
"Aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung
jadi tidak tahu detailnya. Katanya itu satu-satunya sihir serangan dari
kategori Holy Magic... tapi mungkin itu hanya cerita legenda.
Bagaimanapun, jika bertemu Unclean King, pilihan terbaik adalah lari.
Serangannya cepat, tapi gerakan Unclean King sendiri lamban. Kalian berdua
pasti bisa melarikan diri."
Setelah meninggalkan pesan itu, Suzaku menghilang ke
dalam kabut hitam bersama rekan-rekannya.
"Mars, apa mungkin kau memiliki gelar [Saint]?"
Sepertinya Ike menyadarinya dari percakapanku dengan
Suzaku.
"Iya. Sebenarnya aku mendapatkannya selama periode
Festival Lister... Kak Ike? Dari nada bicara Tuan Suzaku, dia bilang kalau
Unclean King dikalahkan, kemunculan kerangka akan berhenti... itu artinya kalau
kita mengalahkan makhluk ini, kita bisa segera pulang ke Almeria, kan?"
"―!? Itu artinya aku bisa bertemu Ede lebih
cepat!?"
Ekspresi Ike langsung cerah seketika. Sepertinya, kakakku
juga ingin segera bertemu dengan kekasihnya.
Yah, memang benar kata orang, cinta itu segalanya.



Post a Comment