Chapter 14
Unclean
King
Sebelum masuk ke dalam kabut hitam pun sebenarnya aku
sudah menyadarinya, tapi kabut ini benar-benar bau sekali... Semakin aku
melangkah ke arah kabut yang lebih pekat, baunya semakin menyengat, seolah
sedang menguji batas kesabaranku.
Ga-gawat...
Mentalku rasanya bisa hancur bahkan sebelum sempat bertarung melawan Unclean
King.
Aku
mengaktifkan Search, Magic Eye, dan Vision secara maksimal
agar bisa merespons apa pun yang terjadi kapan saja.
Namun,
jika Unclean King ada di dalam kabut ini, seharusnya ia sudah terdeteksi.
Anehnya, Search tidak memberikan respons apa pun. Setiap kali aku
mencoba menghalau kabut dengan sihir angin, kabut baru langsung menyelimuti
kembali.
Tetap saja, aku tidak menghentikan langkah. Setelah
berjalan sekitar dua atau tiga menit, aku akhirnya sampai di pusat kabut hitam
tersebut.
Tapi—aku sudah sampai di batas kemampuanku.
"Kak Ike! Ayo mundur dulu! Mustahil kalau tidak ada
persiapan buat baunya... Huekkk..."
Saat aku mengeluh sambil mual-mual, Ike pun tampak
memasang wajah masam yang sama sambil menahan muntah. Dengan
mata berkaca-kaca, Ike mengangguk setuju dan berbalik badan. Namun, pada saat
itu juga―
Di belakang Ike, monster humanoid berwarna hitam
pekat dan lengket muncul dari dalam tanah. Sosok itu terbentuk dengan suara
lendir yang menjijikkan, perlahan memancarkan aura yang bisa dibilang sebagai
perwujudan dari kenajisan itu sendiri.
"Kak Ike! Di belakangmu!"
Aku berteriak sambil menahan mual, sementara Ike
segera menjaga jarak sambil menutup mulutnya.
[Ras] Unclean King
[Threat] A
[Status] Good
[Age] 1 Tahun
[Level] 9
[HP] 931/931
[MP] 901/931
[Strength] 152
[Agility] 55
[Magic Power] 252
[Dexterity] 5
[Stamina] 658
[Luck] 1
[Special Ability] HP Recovery Boost E
(Lv4/11)
[Details] Sangat lemah terhadap Holy
Magic
Angka HP dan Stamina-nya benar-benar
luar biasa. Magic
Power Unclean
King juga cukup tinggi, tapi... sepertinya ia tidak memiliki sihir serangan di
bagian Special Ability. Kemungkinan besar, kabut hitam ini sendiri yang
mengonsumsi MP miliknya.
Aku
mencoba melepaskan Wind Cutter. Sihir itu meninggalkan luka tipis pada
tubuh lengketnya, tapi segera menutup kembali. Kerusakan yang kuberikan hanya 5
poin. Berkat kemampuan HP Recovery Boost, Unclean King pulih dalam
sekejap mata.
―Benar kata Suzaku, sihir setengah-setengah tidak akan
mempan.
Yang lebih merepotkan adalah setiap kali lendir dari
tubuh Unclean King memuncrat ke tanah, terdengar suara 'Pshuuu' dan
Death Army baru pun lahir. Semakin banyak kami menyerang, semakin banyak musuh
yang tercipta.
Ditambah lagi, Unclean King menyemburkan ludah hitam.
Bukan hanya berbau busuk, ludah itu juga menetaskan Death Knight. Mungkin jika
terkena langsung tubuhku bisa meleleh, tapi aku sama sekali tidak berniat
melakukan eksperimen untuk membuktikannya.
―Jangan-jangan,
Death Knight selama ini lahir dari ludah Unclean King...?
Saat
mengetahui jati diri musuh yang selama ini kubantai habis-habisan, rasa sesal
dan jijik langsung menyerangku.
"Kak
Ike! Kakak lari duluan! Aku mau coba hantam dia dengan sihir petir!"
Suzaku
pernah bilang, jika serangannya punya daya hancur super tinggi, damage-nya
akan masuk. Kalau begitu, sihir petir adalah yang paling cocok.
Setelah
memastikan Ike sudah mengungsi ke luar kabut, aku memusatkan MP ke
tangan kanan. Lalu, melepaskannya sekaligus.
"Lightning!"
Kilatan
cahaya emas membelah kabut hitam dan menghantam telak Unclean King—namun, suara
gemuruh yang biasanya menggema tidak terdengar sama sekali.
Cahaya
itu seolah terisap dan lenyap begitu saja ke dalam tubuh Unclean King.
Eh...? ―Dia...
menyerapnya!?
Aku
hampir berdiri mematung saat menyadari sihir petir yang telah menyelamatkanku
dalam banyak krisis ternyata tidak mempan. Namun, bau busuk yang menusuk hidung
memaksaku untuk kembali ke realitas.
Tidak ada pilihan lain selain lari! Untungnya, gerakan Unclean King
sendiri lambat.
◆◇◆
Bahkan
setelah melompat keluar dari kabut, rasa mualku tidak mau berhenti. Mataku
berair, dan rasanya bau Unclean King sudah meresap ke seluruh tubuh. Bau busuk
yang menusuk rongga hidung ini tidak mau hilang tidak peduli seberapa banyak
aku mengatur napas.
Aku dan
Ike berhasil melarikan diri kembali ke sekitar Rimulgard Barat, tapi para
petualang di sana memberikan tatapan jijik yang terang-terangan. Reaksi yang
wajar―karena kami memang bau. Aku bahkan merasa kotoran yang tak kasatmata ini
mulai mencemari udara di sekitar kami.
Begitu
kembali ke kediaman, Sieg yang sedang memberikan instruksi di ruang kerja
langsung mengernyitkan dahi begitu melihat kami.
"……Oi, cepat mandi. Kalian bau sekali."
Sieg bicara sambil menjepit hidungnya dengan ujung jari.
Tanpa diperintah pun kami sudah tahu. Sedari
awal, niat kami memang ingin langsung terjun ke bak mandi.
Kami langsung menuju kamar mandi dan menanggalkan
pakaian serta peralatan tempur. Sambil berendam, aku mencuci perlengkapan dan
pakaian yang kotor berulang kali dengan sangat teliti.
Setiap kali aku mengganti air, kotoran kehitaman
mengalir keluar, dan rasanya bau busuk itu sedikit memudar. Tetap saja, butuh
waktu lebih dari satu jam sampai baunya benar-benar hilang.
Namun, di tengah semua itu, ada satu benda yang sama
sekali tidak tertular bau busuk. Sebaliknya, benda itu tetap mempertahankan
aroma yang nyaman.
Itu adalah saputangan dari Clarice. Meski berada di
saku, bau terkutuk Unclean King tidak menempel padanya, dan aroma floral yang
lembut menggelitik hidungku.
Saputangan ini adalah penenang hatiku. Dengan tidur
sambil diselimuti aroma ini, hatiku yang lelah entah bagaimana bisa bertahan.
Ini adalah hadiah berharga satu-satunya yang dipilihkan Clarice untukku.
Aku ingin merasakan sumber aroma ini secara
langsung—aroma yang melambangkan Clarice. Dengan tekad bulat itu, aku bersumpah
dalam hati untuk mengalahkan Unclean King.
◆◇◆
Setelah mandi, aku menceritakan dan membagikan
informasi kepada Sieg tentang Suzaku, kabut hitam, dan ancaman Unclean King.
Sieg sepertinya baru pertama kali mendengar hal itu
dan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Padahal kejadian ini berlangsung di Kerajaan Barcus,
tapi kenyataannya Uni Negara Lister justru lebih tahu detailnya. Perbedaan
penyampaian informasi antara kedua negara terlihat jelas ketika Sieg bahkan
tidak tahu bahwa negaranya telah meminta bantuan ke negara lain.
Meski begitu, apa yang harus dilakukan sudah jelas.
Sambil membasmi para kerangka, kami akan mempersiapkan diri untuk menghadapi
Unclean King.
Kesimpulannya tetap sama, hanya sihir Holy
yang efektif. Sieg pun mempercayakan secercah harapan itu kepadaku.
Beban itu memang terasa berat di pundak, tapi kami punya para wanita yang
sedang menunggu kepulangan kami.
Senyum Clarice, Eris, Kakak Ipar, dan Maria. Demi
melindungi semua itu, aku akan melewati ujian ini.
Sekali lagi, aku bertekad kuat dalam hati untuk
menjatuhkan Unclean King.
Sejak saat itu, aku terus berlatih sihir Holy
tanpa henti. Namun sesering apa pun aku merapalkan "Holy",
cahaya itu tak kunjung muncul.
Jika saja aku bisa melihatnya sekali, bakat alami dan Divine
Eye milikku pasti akan memahami prinsipnya secara otomatis dan bisa
mengeluarkannya.
Namun saat ini, contoh itu tidak ada. Aku hanya bisa
membuka jalan dengan kekuatanku sendiri.
Aku memejamkan mata, membayangkan segala citra yang
melambangkan kesucian di dalam kepala. Dewa, rubah, anjing komainu,
cahaya suci―aku mencoba segala hal yang bisa disebut suci. Namun, tak satu pun
yang memberikan hasil.
Mungkin saja, diperlukan syarat yang sama seperti saat
aku mendapatkan sihir petir atau sihir penghalang. Yaitu mempertaruhkan nyawa―tapi
aku tidak berniat bergantung pada teori yang tidak pasti seperti itu.
Tidak apa-apa jika gagal. Tidak apa-apa mencoba
berkali-kali. Aku tidak boleh berhenti mencoba.
Saat sedang menghabiskan hari-hari seperti itu, sebuah
anomali terjadi. Serangan para kerangka mulai meningkat secara nyata.
Kenapa? Sambil menyimpan tanda tanya di dada, aku menuju
ke arah kabut hitam yang merupakan sumbernya.
Pemandangan yang kami lihat di sana adalah fenomena yang
tak terduga. Kabut yang sebelumnya hanya tertahan di sekitar kota bawah kastel,
kini telah merangsek maju hingga titik tengah antara Rimulgard Barat dan kota
tersebut.
Suzaku bilang Unclean King adalah sesuatu seperti bencana
alam yang akan lenyap seiring berjalannya waktu.
Tapi jika terus begini, apa yang akan terjadi? Hanya
membayangkannya saja sudah membuat kudukku merinding. Jika bau busuk itu
menyebar ke kota, para petualang dan penduduk tidak akan tahan lagi dan akan
meninggalkan kota ini.
Dan yang terpenting, posisi Sieg yang memerintah kota ini
secara sementara pasti akan goyah.
Yang menunggu di depan sana adalah tragedi yang lebih
besar. Bahaya akan mengancam Maria, Lina, dan juga adik laki-lakiku yang belum
lahir, Cain. Apa yang akan terjadi pada mereka? Memikirkannya saja membuat
jantungku serasa diremas.
Mungkin terdengar berlebihan, tapi mengingat penguasa
sebelumnya dihukum mati, kemungkinan Sieg mengalami nasib yang sama tidak bisa
diabaikan.
Aku harus melakukan sesuatu―sambil berpikir begitu, aku
bergegas kembali ke kota untuk melaporkan situasi.
Begitu aku melapor pada Sieg tentang pergerakan kabut
hitam dan meningkatnya serangan kerangka, Ayah segera memberikan instruksi
kepada penduduk untuk "bersiap-siap agar bisa mengungsi kapan saja".
Dalam hati, aku sempat khawatir, "Bukankah cara bicara seperti itu malah
akan membuat penduduk panik?"
Namun, dugaanku salah besar. Alih-alih ribut, para
penduduk menerima instruksi itu dengan tenang dan mulai bersiap-siap dengan
tertib. Aku merasa heran melihat pemandangan itu.
Sambil mengamati sekitar dan memikirkan alasannya, aku
akhirnya menemukan jawabannya.
Para penduduk menaruh kepercayaan mutlak pada sosok Sieg.
Alasan mereka bisa bergerak tanpa dikuasai rasa takut atau cemas tidak lain
karena rasa percaya kepada Ayah yang menopang hati mereka.
Itu hal yang wajar. Sieg setiap hari selalu turun tangan
bersama para petualang dan aktif berdialog dengan penduduk. Aku sendiri sering
melihatnya.
Bahkan saat kami kembali setelah bertarung melawan
kerangka di luar, Ayah akan berkeliling kota untuk mendengarkan kecemasan dan
keluhan penduduk.
Tindakan tulus itulah yang melahirkan kepercayaan
penduduk dan memberi mereka ketenangan. Sikap Sieg inilah yang menunjukkan
nilai aslinya.
Kenyataannya, sejak Ayah mulai memerintah Almeria, tempat
itu berkembang dengan sangat pesat. Pasti Sieg memiliki bakat sebagai pemimpin
yang bijaksana, melebihi sekadar penguasa biasa.
Sieg telah menunaikan perannya. Kalau begitu, kami juga
harus menyelesaikan tugas yang diminta. Aku berdiskusi dengan Ike untuk
menjalankan suatu rencana.
Keesokan harinya, kami kembali menuju kabut hitam
meskipun masih dibayangi trauma.
Sebagai persiapan untuk pertarungan ulang melawan Unclean
King, pertama-tama aku memakai penyumbat hidung untuk mengatasi bau seperti
mimpi buruk itu. Namun, itu pun sia-sia. Baunya menembus hingga ke celah-celah
sel dan mengguncang kesadaranku. Meski begitu, aku harus melakukannya.
"Kak Ike! Ayo lakukan!"
Aku berteriak dan melepaskan sihir api dengan daya hancur
maksimal.
"Fire Storm!"
"Flare!"
Hebatnya, Ike ternyata sudah menguasai Flare. Biasanya
ini akan sangat membantu, tapi kali ini malah berakibat buruk.
Saat sihir api kami menyelimuti Unclean King, cairan
lengket yang menutupi permukaan tubuhnya menguap karena suhu tinggi dan mulai
melepaskan asap beracun yang sangat pekat.
Ditambah lagi, fakta bahwa kerusakan yang diberikan
sangatlah sedikit benar-benar membuatku ingin menangis.
Karena aku sudah memprediksi kemungkinan ini akan
terjadi, berkat pengamatan teliti dengan Appraisal, kami berhasil
selamat. Aku segera meniup asap beracun itu dengan sihir angin.
Tapi dengan ini semuanya jadi jelas. Unclean King adalah area
dilarang menyalakan api.
Situasi
benar-benar buntu. Aku segera mengeluarkan Stone Wall untuk menghalangi
jalur gerak Unclean King.
Begitu
cairan lengket itu menyentuh dinding batu, dinding itu langsung meleleh dalam
sekejap. Tetap saja, ini lebih baik daripada tidak sama sekali untuk mengulur
waktu.
"Kak Ike! Ayo mundur!"
Aku berteriak mengajak Ike mundur. Fakta bahwa sihir Holy
adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan Unclean King menjadi semakin nyata.
Sambil memikirkan hal itu, kami kembali ke kota.
◆◇◆
Lalu tibalah tanggal 15 Desember. Sudah lebih dari
sepuluh hari berlalu sejak Clarice dan yang lainnya meninggalkan kota.
Dari atas dinding kota, kabut hitam sudah terlihat
sangat dekat dengan jelas.
Melihat pemandangan aneh itu, para penduduk mulai
mengungsi satu per satu. Aku menyerahkan komando pengungsian kepada Sieg dan
para petualang, sementara aku dan Ike bersiap-siap untuk menghadang Unclean
King.
Di pinggiran kabut, para kerangka berkeliaran. Sedari
awal, kerangka bukanlah ancaman. Masalahnya ada di depan sana―di dalam kabut
hitam. Unclean King sudah menunggu.
Kami memantapkan tekad dan melangkah masuk ke dalam
kabut.
Pandangan langsung tertutup, dan perasaan tidak enak yang
menyiksa seluruh tubuh mulai menyerang. Bau yang menusuk rongga hidung itu pun
masih ada.
Aku mencoba menggunakan sihir angin untuk membuyarkan
kabut, tapi efeknya sangat kecil. Penetrasi bau itu tidak berhenti.
Mual yang terasa seolah seluruh kelenjar keringatku
teracuni membuat staminaku terkuras hanya dengan bernapas. Belum sampai lima
menit, kami terpaksa mundur ke luar kabut.
Namun, di sana aku melihat kejadian yang tak terduga.
Arah lariku saat keluar dari kabut adalah ke arah Kastel
Rimulgard. Biasanya, kabut hitam tempat Unclean King berada seharusnya bergerak
ke arah Rimulgard Barat.
Namun―entah kenapa kabut itu malah mendekat ke arah sini.
Firasat buruk melintas di benakku. Saat sebuah
kemungkinan muncul, seluruh tubuhku dibanjiri keringat dingin.
"Kak Ike! Pergilah ke sisi selatan! Aku akan tetap
di sisi timur!"
Ike memahami situasi dan tanpa ragu berlari ke arah
selatan. Tapi, kabut itu mengabaikan Ike dan tetap menuju ke arahku.
Selanjutnya aku mencoba lari ke arah utara―dan kabut itu berubah arah
mengejarku.
"Oi... jangan-jangan, Unclean King ini...
mengejarku...?"
Aku bergumam dengan kuduk merinding, dan Ike sepertinya
sampai pada kesimpulan yang sama, terlihat dari ekspresinya yang menahan napas.
Saat itu, kata-kata Clarice terngiang kembali di
kepalaku.
'Oya, saat kau kembali nanti, jangan sampai…… kau
membawa orang kelima ya.'
Kata-kata yang seharusnya bercanda itu kini terdengar
sangat jelas dan menyeramkan.
Sialan, kalau saja kau tidak ada, saat ini aku pasti
sedang bersama Clarice―!
Lalu, aku teringat sesuatu. Keberadaan saputangan di
sakuku. Semalam pun aku tidur dengan meletakkannya di samping bantal, dan aroma
floralnya masih tercium kuat tanpa memudar.
Jangan-jangan, ini adalah barang spesial yang aromanya
tidak bisa hilang?
Jika benar, mungkin ini akan efektif bahkan di dalam
kabut hitam ini. Tidak, kalaupun aromanya hilang karena kabut―saat itu terjadi,
aku tinggal memintanya lagi pada Clarice. Sekarang
yang terpenting adalah melewati krisis ini!
Aku memantapkan hati dan mengeluarkan saputangan dari
saku. Tekstur kain yang lembut dan aroma Clarice―secara ajaib memberikan
keberanian padaku.
Clarice―pinjamkan aku kekuatanmu! Sambil berdoa, aku menempelkan saputangan itu ke mulut dan melompat
kembali ke dalam kabut.
Dan apa yang terjadi?
Badai bau yang menyerang hingga ke tingkat sel itu
tiba-tiba mereda seolah-olah semua itu bohong.
Tidak, lebih dari itu, saat ini hanya aroma Clarice
yang memenuhi rongga hidungku. Aroma yang manis dan lembut itu terasa
seolah-olah menolak keberadaan kabut tersebut.
Mataku tidak perih, dan rasa lemas di tubuhku menghilang.
Bahkan rasa merinding akibat kabut itu pun lenyap sepenuhnya.
―Sekarang, aku bisa menembakkan Holy. Merasakan
hal itu, aku mengangkat tangan kanan ke depan.
(Clarice! Sekali lagi, pinjamkan aku kekuatanmu!)
"Holy!"
……Ternyata tetap tidak bisa ya. Tepat saat kepasrahan
melintas di kepalaku―aku terperangah melihat pemandangan yang memenuhi
pandangan.
Di bawah kaki Unclean King, sebuah lingkaran sihir putih
yang menyilaukan muncul dengan tenang.
Pola geometris dan cahaya huruf-huruf kuno terjalin
dengan indah, membentang sambil bergejolak layaknya makhluk hidup.
Cahaya perak di tepian lingkaran sihir itu berkedip
seolah sedang bernapas, dan aku bisa merasakan kekuatan suci memenuhi area
sekeliling.
Detik berikutnya, sebuah pilar cahaya yang seolah
menembus langit muncul dari pusat lingkaran sihir. Cahayanya putih murni, penuh
dengan kesucian yang tak ternoda.
Kabut hitam ditembus oleh cahaya itu dan meleleh dalam
sekejap. Pada lintasan cahaya yang menjulang tinggi ke angkasa,
partikel-partikel cahaya yang berkilauan berhamburan, menyelimuti area sekitar
dengan kemilau fantastis seperti kepakan sayap malaikat.
Saat aku memalingkan pandangan kembali, tubuh raksasa
Unclean King masih bergerak, namun dagingnya yang lengket itu perlahan
mengkerut dan mulai kehilangan bentuknya.
Dalam sekejap ia runtuh, meleleh sambil mengeluarkan
suara mengerikan seperti jeritan kematian.
Di tengah proses itu, tiba-tiba kepala Unclean King
terangkat. Ia menatapku dengan mata kosong, dan dari bibir yang terbentuk dari
tubuh lendirnya, sebuah ciuman jauh (flying kiss) yang sangat
menjijikkan dan panas terbang ke arah wajahku.
"Maaf ya―aku tidak berniat menerima cintamu. Cari
saja pasangan lain di alam baka."
Gumamku sambil kembali mengangkat tangan kanan. Pilar
cahaya bersinar semakin terang, menyelimuti Unclean King. Tubuh lengketnya
tertelan oleh cahaya, dan tanpa sempat mengeluarkan jeritan kematian, sisa-sisa
terakhirnya pun lenyap.
Sambil menurunkan tangan kanan perlahan, aku meyakini
satu hal dalam diam. Akhirnya―aku telah mengalahkan Unclean King.
◆◇◆
Setelah Unclean King dikalahkan dan kabut hitam perlahan
memudar, udara yang jernih kembali pulih. Ike berlari kencang menghampiriku
yang masih berdiri terpaku di sana.
"Kau berhasil! Akhirnya kau bisa memakai Holy!
Dengan ini ancaman di Rimulgard Barat sudah hilang!"
"Iya! Dengan ini aku bisa bertemu Clarice dan
Eris!"
Karena merasa lega, isi hatiku yang sejujurnya malah
keceplosan keluar.
"Po-pokoknya kita butuh bukti. Mari ambil batu sihir Unclean
King lalu pulang."
Sambil mencari alasan, aku mendekati tempat runtuhnya
Unclean King. Sejujurnya, aku tidak sudi menyentuh batu sihir dari makhluk
seperti itu, tapi kalau tidak dibawa pulang, kami tidak punya bukti
pembasmiannya.
Saat mengaduk-aduk sisa-isa Unclean King, sesuai dugaan,
sebuah batu sihir yang sangat besar tergeletak di sana. Namun, di samping batu
sihir itu ada sesuatu yang menarik perhatianku.
"……Apa ini?"
Itu tampak seperti sepotong kain putih. Saat kudekati,
ternyata itu adalah sebuah jubah pendeta (vestment).
Cahaya biru keputihan muncul di atas kain putih bersih,
di mana lingkaran sihir dan huruf-huruf kuno tampak bergejolak. Kilauannya
berdenyut secara teratur, memberikan sensasi aneh seolah jubah itu sendiri
masih hidup.
[Nama] Narukami's Vestment
[Defense] 55
[Special] Agility +3, Magic Power +3
[Value] A
[Details] Hanya bisa dipakai oleh
mereka yang memiliki bakat sihir petir. Jika diberikan [Enchant] sihir petir,
ia akan memperbaiki diri. Menyerap petir.
Akhirnya
aku mendapatkan perlengkapan pelindung yang bisa dibilang khusus untukku―memikirkan
hal itu, aku merasakan jantungku berdebar kencang.
Namun, kegembiraan itu hanya sesaat. Fakta bahwa cairan
tubuh hitam dan lengket dari Unclean King sempat menempel pada jubah ini
membuat tanganku ragu. Meski aku tidak mencium baunya, setiap kali bayangan
wujud menjijikkan itu muncul di kepalaku, rasanya aku enggan menyentuhnya.
Jangan-jangan, jubah ini mengejarku karena aku adalah
pemakai yang cocok? Pikiran itu sempat terlintas di benakku.
Tapi―aku tidak boleh melewatkan kesempatan untuk
memperkuat diri. Aku memantapkan hati, mengenakan jubah itu, dan merapalkan Enchant
sihir petir.
Seketika itu juga, jubah tersebut mulai memancarkan
cahaya biru keputihan.
Cahaya itu bersinar terang sesaat, lalu perlahan berubah
menjadi keemasan dan berkilau seolah menyelimuti tubuhku. Kilauan itu terasa
seolah memiliki kehendak untuk melindungiku.
Saat aku melepaskan Enchant, cahayanya mereda, dan
pola serta tulisan yang tadinya berwarna biru keputihan kini semuanya berubah
menjadi emas.
[Nama] Narukami's Vestment
[Defense] 70
[Special] Agility +5, Magic Power +5
[Value] S
[Details] Hanya bisa dipakai oleh
mereka yang memiliki bakat sihir petir. Jika diberikan [Enchant] sihir petir,
ia akan memperbaiki diri. Menyerap petir.
Sepertinya
Narukami's Vestment ini sudah mengakuiku sebagai pemiliknya.
Ike
yang melihat kejadian itu di sampingku tampak belum sepenuhnya mencerna
situasi. Ia membelalakkan mata dan membiarkan mulutnya sedikit terbuka sambil
terus menatap jubah tersebut.
"Kak
Ike! Ayo kembali dan lapor pada Ayah!"
Ike
mengerjapkan matanya berulang kali, lalu mengangguk seolah baru saja tersadar
kembali.
◆◇◆
Di kota
Rimulgard Barat, para penduduk sedang melanjutkan proses evakuasi. Namun,
mungkin karena penjelasan yang matang sebelumnya telah membuahkan hasil, hampir
tidak terlihat tanda-tanda kepanikan, dan pergerakan yang tertib memenuhi
alun-alun.
Di
tengah situasi itu, Sieg sedang memberikan perkamen kepada utusan berkuda di
depan kediaman, sambil memberikan instruksi dengan sibuk.
"Ayah!
Tunggu dulu! Kami akhirnya berhasil membasmi Unclean King! Ini batu sihir yang menjadi buktinya!"
Aku berteriak sambil berlari mendekat. Saat Sieg
menoleh ke arah kami, ekspresi wajahnya yang keras langsung melunak dalam
sekejap.
"Kerja bagus, kalian berdua! Aku akan segera
memberitahu penduduk untuk membatalkan evakuasi. Kalian istirahatlah! Batu
sihir ini akan kukirimkan kepada Raja Barcus sebagai bukti pembasmian, kalian
tidak keberatan kan?"
Aku mengangguk mantap.
Setelah memastikan hal itu, Sieg segera memberikan
instruksi kepada para petualang di sekitarnya untuk mulai mengumumkan
pembatalan evakuasi.
Setelah itu, aku dan Ike akhirnya bisa berendam di
bak mandi sambil melepaskan seluruh ketegangan tubuh setelah sekian lama.
Uap air menyelimuti kulit, dan rasa lelah akibat
pertempuran perlahan-lahan mencair.
"Ah, mandi memang yang terbaik…… rasanya seperti
hidup kembali."
Mendengar gumaman Ike, aku pun mengangguk setuju.
Sisa-sisa dari Unclean King yang menempel pada
peralatan dan pakaian juga kucuci bersih dengan teliti. Bukan hanya
kotoran. Ketegangan dan ketakutan yang kurasakan selama pertempuran itu seolah
ikut hanyut bersama air.
Setelah mandi, aku makan hingga kenyang dan langsung
menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa melawan rasa kantuk. Aku meletakkan
saputangan Clarice pelan di samping bantal.
"……Aku ingin bertemu."
Sambil menggumamkan hal itu dalam hati, tubuhku yang dipenuhi rasa puas dan lelah segera terlelap ke dalam dunia mimpi.



Post a Comment