NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 5 Chapter 14

Chapter 14

Unclean King


Sebelum masuk ke dalam kabut hitam pun sebenarnya aku sudah menyadarinya, tapi kabut ini benar-benar bau sekali... Semakin aku melangkah ke arah kabut yang lebih pekat, baunya semakin menyengat, seolah sedang menguji batas kesabaranku.

Ga-gawat... Mentalku rasanya bisa hancur bahkan sebelum sempat bertarung melawan Unclean King.

Aku mengaktifkan Search, Magic Eye, dan Vision secara maksimal agar bisa merespons apa pun yang terjadi kapan saja.

Namun, jika Unclean King ada di dalam kabut ini, seharusnya ia sudah terdeteksi. Anehnya, Search tidak memberikan respons apa pun. Setiap kali aku mencoba menghalau kabut dengan sihir angin, kabut baru langsung menyelimuti kembali.

Tetap saja, aku tidak menghentikan langkah. Setelah berjalan sekitar dua atau tiga menit, aku akhirnya sampai di pusat kabut hitam tersebut.

Tapi—aku sudah sampai di batas kemampuanku.

"Kak Ike! Ayo mundur dulu! Mustahil kalau tidak ada persiapan buat baunya... Huekkk..."

Saat aku mengeluh sambil mual-mual, Ike pun tampak memasang wajah masam yang sama sambil menahan muntah. Dengan mata berkaca-kaca, Ike mengangguk setuju dan berbalik badan. Namun, pada saat itu juga―

Di belakang Ike, monster humanoid berwarna hitam pekat dan lengket muncul dari dalam tanah. Sosok itu terbentuk dengan suara lendir yang menjijikkan, perlahan memancarkan aura yang bisa dibilang sebagai perwujudan dari kenajisan itu sendiri.

"Kak Ike! Di belakangmu!"

Aku berteriak sambil menahan mual, sementara Ike segera menjaga jarak sambil menutup mulutnya.


[Ras] Unclean King

[Threat] A

[Status] Good

[Age] 1 Tahun

[Level] 9

[HP] 931931

[MP] 901931

[Strength] 152

[Agility] 55

[Magic Power] 252

[Dexterity] 5

[Stamina] 658

[Luck] 1

[Special Ability] HP Recovery Boost E (Lv411)

[Details] Sangat lemah terhadap Holy Magic


Angka HP dan Stamina-nya benar-benar luar biasa. Magic Power Unclean King juga cukup tinggi, tapi... sepertinya ia tidak memiliki sihir serangan di bagian Special Ability. Kemungkinan besar, kabut hitam ini sendiri yang mengonsumsi MP miliknya.

Aku mencoba melepaskan Wind Cutter. Sihir itu meninggalkan luka tipis pada tubuh lengketnya, tapi segera menutup kembali. Kerusakan yang kuberikan hanya 5 poin. Berkat kemampuan HP Recovery Boost, Unclean King pulih dalam sekejap mata.

―Benar kata Suzaku, sihir setengah-setengah tidak akan mempan.

Yang lebih merepotkan adalah setiap kali lendir dari tubuh Unclean King memuncrat ke tanah, terdengar suara 'Pshuuu' dan Death Army baru pun lahir. Semakin banyak kami menyerang, semakin banyak musuh yang tercipta.

Ditambah lagi, Unclean King menyemburkan ludah hitam. Bukan hanya berbau busuk, ludah itu juga menetaskan Death Knight. Mungkin jika terkena langsung tubuhku bisa meleleh, tapi aku sama sekali tidak berniat melakukan eksperimen untuk membuktikannya.

―Jangan-jangan, Death Knight selama ini lahir dari ludah Unclean King...?

Saat mengetahui jati diri musuh yang selama ini kubantai habis-habisan, rasa sesal dan jijik langsung menyerangku.

"Kak Ike! Kakak lari duluan! Aku mau coba hantam dia dengan sihir petir!"

Suzaku pernah bilang, jika serangannya punya daya hancur super tinggi, damage-nya akan masuk. Kalau begitu, sihir petir adalah yang paling cocok.

Setelah memastikan Ike sudah mengungsi ke luar kabut, aku memusatkan MP ke tangan kanan. Lalu, melepaskannya sekaligus.

"Lightning!"

Kilatan cahaya emas membelah kabut hitam dan menghantam telak Unclean King—namun, suara gemuruh yang biasanya menggema tidak terdengar sama sekali.

Cahaya itu seolah terisap dan lenyap begitu saja ke dalam tubuh Unclean King.

Eh...? ―Dia... menyerapnya!?

Aku hampir berdiri mematung saat menyadari sihir petir yang telah menyelamatkanku dalam banyak krisis ternyata tidak mempan. Namun, bau busuk yang menusuk hidung memaksaku untuk kembali ke realitas.

Tidak ada pilihan lain selain lari! Untungnya, gerakan Unclean King sendiri lambat.

◆◇◆

Bahkan setelah melompat keluar dari kabut, rasa mualku tidak mau berhenti. Mataku berair, dan rasanya bau Unclean King sudah meresap ke seluruh tubuh. Bau busuk yang menusuk rongga hidung ini tidak mau hilang tidak peduli seberapa banyak aku mengatur napas.

Aku dan Ike berhasil melarikan diri kembali ke sekitar Rimulgard Barat, tapi para petualang di sana memberikan tatapan jijik yang terang-terangan. Reaksi yang wajar―karena kami memang bau. Aku bahkan merasa kotoran yang tak kasatmata ini mulai mencemari udara di sekitar kami.

Begitu kembali ke kediaman, Sieg yang sedang memberikan instruksi di ruang kerja langsung mengernyitkan dahi begitu melihat kami.

"……Oi, cepat mandi. Kalian bau sekali."

Sieg bicara sambil menjepit hidungnya dengan ujung jari. Tanpa diperintah pun kami sudah tahu. Sedari awal, niat kami memang ingin langsung terjun ke bak mandi.

Kami langsung menuju kamar mandi dan menanggalkan pakaian serta peralatan tempur. Sambil berendam, aku mencuci perlengkapan dan pakaian yang kotor berulang kali dengan sangat teliti.

Setiap kali aku mengganti air, kotoran kehitaman mengalir keluar, dan rasanya bau busuk itu sedikit memudar. Tetap saja, butuh waktu lebih dari satu jam sampai baunya benar-benar hilang.

Namun, di tengah semua itu, ada satu benda yang sama sekali tidak tertular bau busuk. Sebaliknya, benda itu tetap mempertahankan aroma yang nyaman.

Itu adalah saputangan dari Clarice. Meski berada di saku, bau terkutuk Unclean King tidak menempel padanya, dan aroma floral yang lembut menggelitik hidungku.

Saputangan ini adalah penenang hatiku. Dengan tidur sambil diselimuti aroma ini, hatiku yang lelah entah bagaimana bisa bertahan. Ini adalah hadiah berharga satu-satunya yang dipilihkan Clarice untukku.

Aku ingin merasakan sumber aroma ini secara langsung—aroma yang melambangkan Clarice. Dengan tekad bulat itu, aku bersumpah dalam hati untuk mengalahkan Unclean King.

◆◇◆

Setelah mandi, aku menceritakan dan membagikan informasi kepada Sieg tentang Suzaku, kabut hitam, dan ancaman Unclean King.

Sieg sepertinya baru pertama kali mendengar hal itu dan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Padahal kejadian ini berlangsung di Kerajaan Barcus, tapi kenyataannya Uni Negara Lister justru lebih tahu detailnya. Perbedaan penyampaian informasi antara kedua negara terlihat jelas ketika Sieg bahkan tidak tahu bahwa negaranya telah meminta bantuan ke negara lain.

Meski begitu, apa yang harus dilakukan sudah jelas. Sambil membasmi para kerangka, kami akan mempersiapkan diri untuk menghadapi Unclean King.

Kesimpulannya tetap sama, hanya sihir Holy yang efektif. Sieg pun mempercayakan secercah harapan itu kepadaku. Beban itu memang terasa berat di pundak, tapi kami punya para wanita yang sedang menunggu kepulangan kami.

Senyum Clarice, Eris, Kakak Ipar, dan Maria. Demi melindungi semua itu, aku akan melewati ujian ini.

Sekali lagi, aku bertekad kuat dalam hati untuk menjatuhkan Unclean King.

Sejak saat itu, aku terus berlatih sihir Holy tanpa henti. Namun sesering apa pun aku merapalkan "Holy", cahaya itu tak kunjung muncul.

Jika saja aku bisa melihatnya sekali, bakat alami dan Divine Eye milikku pasti akan memahami prinsipnya secara otomatis dan bisa mengeluarkannya.

Namun saat ini, contoh itu tidak ada. Aku hanya bisa membuka jalan dengan kekuatanku sendiri.

Aku memejamkan mata, membayangkan segala citra yang melambangkan kesucian di dalam kepala. Dewa, rubah, anjing komainu, cahaya suci―aku mencoba segala hal yang bisa disebut suci. Namun, tak satu pun yang memberikan hasil.

Mungkin saja, diperlukan syarat yang sama seperti saat aku mendapatkan sihir petir atau sihir penghalang. Yaitu mempertaruhkan nyawa―tapi aku tidak berniat bergantung pada teori yang tidak pasti seperti itu.

Tidak apa-apa jika gagal. Tidak apa-apa mencoba berkali-kali. Aku tidak boleh berhenti mencoba.

Saat sedang menghabiskan hari-hari seperti itu, sebuah anomali terjadi. Serangan para kerangka mulai meningkat secara nyata.

Kenapa? Sambil menyimpan tanda tanya di dada, aku menuju ke arah kabut hitam yang merupakan sumbernya.

Pemandangan yang kami lihat di sana adalah fenomena yang tak terduga. Kabut yang sebelumnya hanya tertahan di sekitar kota bawah kastel, kini telah merangsek maju hingga titik tengah antara Rimulgard Barat dan kota tersebut.

Suzaku bilang Unclean King adalah sesuatu seperti bencana alam yang akan lenyap seiring berjalannya waktu.

Tapi jika terus begini, apa yang akan terjadi? Hanya membayangkannya saja sudah membuat kudukku merinding. Jika bau busuk itu menyebar ke kota, para petualang dan penduduk tidak akan tahan lagi dan akan meninggalkan kota ini.

Dan yang terpenting, posisi Sieg yang memerintah kota ini secara sementara pasti akan goyah.

Yang menunggu di depan sana adalah tragedi yang lebih besar. Bahaya akan mengancam Maria, Lina, dan juga adik laki-lakiku yang belum lahir, Cain. Apa yang akan terjadi pada mereka? Memikirkannya saja membuat jantungku serasa diremas.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi mengingat penguasa sebelumnya dihukum mati, kemungkinan Sieg mengalami nasib yang sama tidak bisa diabaikan.

Aku harus melakukan sesuatu―sambil berpikir begitu, aku bergegas kembali ke kota untuk melaporkan situasi.

Begitu aku melapor pada Sieg tentang pergerakan kabut hitam dan meningkatnya serangan kerangka, Ayah segera memberikan instruksi kepada penduduk untuk "bersiap-siap agar bisa mengungsi kapan saja". Dalam hati, aku sempat khawatir, "Bukankah cara bicara seperti itu malah akan membuat penduduk panik?"

Namun, dugaanku salah besar. Alih-alih ribut, para penduduk menerima instruksi itu dengan tenang dan mulai bersiap-siap dengan tertib. Aku merasa heran melihat pemandangan itu.

Sambil mengamati sekitar dan memikirkan alasannya, aku akhirnya menemukan jawabannya.

Para penduduk menaruh kepercayaan mutlak pada sosok Sieg. Alasan mereka bisa bergerak tanpa dikuasai rasa takut atau cemas tidak lain karena rasa percaya kepada Ayah yang menopang hati mereka.

Itu hal yang wajar. Sieg setiap hari selalu turun tangan bersama para petualang dan aktif berdialog dengan penduduk. Aku sendiri sering melihatnya.

Bahkan saat kami kembali setelah bertarung melawan kerangka di luar, Ayah akan berkeliling kota untuk mendengarkan kecemasan dan keluhan penduduk.

Tindakan tulus itulah yang melahirkan kepercayaan penduduk dan memberi mereka ketenangan. Sikap Sieg inilah yang menunjukkan nilai aslinya.

Kenyataannya, sejak Ayah mulai memerintah Almeria, tempat itu berkembang dengan sangat pesat. Pasti Sieg memiliki bakat sebagai pemimpin yang bijaksana, melebihi sekadar penguasa biasa.

Sieg telah menunaikan perannya. Kalau begitu, kami juga harus menyelesaikan tugas yang diminta. Aku berdiskusi dengan Ike untuk menjalankan suatu rencana.

Keesokan harinya, kami kembali menuju kabut hitam meskipun masih dibayangi trauma.

Sebagai persiapan untuk pertarungan ulang melawan Unclean King, pertama-tama aku memakai penyumbat hidung untuk mengatasi bau seperti mimpi buruk itu. Namun, itu pun sia-sia. Baunya menembus hingga ke celah-celah sel dan mengguncang kesadaranku. Meski begitu, aku harus melakukannya.

"Kak Ike! Ayo lakukan!"

Aku berteriak dan melepaskan sihir api dengan daya hancur maksimal.

"Fire Storm!"

"Flare!"

Hebatnya, Ike ternyata sudah menguasai Flare. Biasanya ini akan sangat membantu, tapi kali ini malah berakibat buruk.

Saat sihir api kami menyelimuti Unclean King, cairan lengket yang menutupi permukaan tubuhnya menguap karena suhu tinggi dan mulai melepaskan asap beracun yang sangat pekat.

Ditambah lagi, fakta bahwa kerusakan yang diberikan sangatlah sedikit benar-benar membuatku ingin menangis.

Karena aku sudah memprediksi kemungkinan ini akan terjadi, berkat pengamatan teliti dengan Appraisal, kami berhasil selamat. Aku segera meniup asap beracun itu dengan sihir angin.

Tapi dengan ini semuanya jadi jelas. Unclean King adalah area dilarang menyalakan api.

Situasi benar-benar buntu. Aku segera mengeluarkan Stone Wall untuk menghalangi jalur gerak Unclean King.

Begitu cairan lengket itu menyentuh dinding batu, dinding itu langsung meleleh dalam sekejap. Tetap saja, ini lebih baik daripada tidak sama sekali untuk mengulur waktu.

"Kak Ike! Ayo mundur!"

Aku berteriak mengajak Ike mundur. Fakta bahwa sihir Holy adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan Unclean King menjadi semakin nyata. Sambil memikirkan hal itu, kami kembali ke kota.

◆◇◆

Lalu tibalah tanggal 15 Desember. Sudah lebih dari sepuluh hari berlalu sejak Clarice dan yang lainnya meninggalkan kota.

Dari atas dinding kota, kabut hitam sudah terlihat sangat dekat dengan jelas.

Melihat pemandangan aneh itu, para penduduk mulai mengungsi satu per satu. Aku menyerahkan komando pengungsian kepada Sieg dan para petualang, sementara aku dan Ike bersiap-siap untuk menghadang Unclean King.

Di pinggiran kabut, para kerangka berkeliaran. Sedari awal, kerangka bukanlah ancaman. Masalahnya ada di depan sana―di dalam kabut hitam. Unclean King sudah menunggu.

Kami memantapkan tekad dan melangkah masuk ke dalam kabut.

Pandangan langsung tertutup, dan perasaan tidak enak yang menyiksa seluruh tubuh mulai menyerang. Bau yang menusuk rongga hidung itu pun masih ada.

Aku mencoba menggunakan sihir angin untuk membuyarkan kabut, tapi efeknya sangat kecil. Penetrasi bau itu tidak berhenti.

Mual yang terasa seolah seluruh kelenjar keringatku teracuni membuat staminaku terkuras hanya dengan bernapas. Belum sampai lima menit, kami terpaksa mundur ke luar kabut.

Namun, di sana aku melihat kejadian yang tak terduga.

Arah lariku saat keluar dari kabut adalah ke arah Kastel Rimulgard. Biasanya, kabut hitam tempat Unclean King berada seharusnya bergerak ke arah Rimulgard Barat.

Namun―entah kenapa kabut itu malah mendekat ke arah sini.

Firasat buruk melintas di benakku. Saat sebuah kemungkinan muncul, seluruh tubuhku dibanjiri keringat dingin.

"Kak Ike! Pergilah ke sisi selatan! Aku akan tetap di sisi timur!"

Ike memahami situasi dan tanpa ragu berlari ke arah selatan. Tapi, kabut itu mengabaikan Ike dan tetap menuju ke arahku. Selanjutnya aku mencoba lari ke arah utara―dan kabut itu berubah arah mengejarku.

"Oi... jangan-jangan, Unclean King ini... mengejarku...?"

Aku bergumam dengan kuduk merinding, dan Ike sepertinya sampai pada kesimpulan yang sama, terlihat dari ekspresinya yang menahan napas.

Saat itu, kata-kata Clarice terngiang kembali di kepalaku.

'Oya, saat kau kembali nanti, jangan sampai…… kau membawa orang kelima ya.'

Kata-kata yang seharusnya bercanda itu kini terdengar sangat jelas dan menyeramkan.

Sialan, kalau saja kau tidak ada, saat ini aku pasti sedang bersama Clarice―!

Lalu, aku teringat sesuatu. Keberadaan saputangan di sakuku. Semalam pun aku tidur dengan meletakkannya di samping bantal, dan aroma floralnya masih tercium kuat tanpa memudar.

Jangan-jangan, ini adalah barang spesial yang aromanya tidak bisa hilang?

Jika benar, mungkin ini akan efektif bahkan di dalam kabut hitam ini. Tidak, kalaupun aromanya hilang karena kabut―saat itu terjadi, aku tinggal memintanya lagi pada Clarice. Sekarang yang terpenting adalah melewati krisis ini!

Aku memantapkan hati dan mengeluarkan saputangan dari saku. Tekstur kain yang lembut dan aroma Clarice―secara ajaib memberikan keberanian padaku.

Clarice―pinjamkan aku kekuatanmu! Sambil berdoa, aku menempelkan saputangan itu ke mulut dan melompat kembali ke dalam kabut.

Dan apa yang terjadi?

Badai bau yang menyerang hingga ke tingkat sel itu tiba-tiba mereda seolah-olah semua itu bohong.

Tidak, lebih dari itu, saat ini hanya aroma Clarice yang memenuhi rongga hidungku. Aroma yang manis dan lembut itu terasa seolah-olah menolak keberadaan kabut tersebut.

Mataku tidak perih, dan rasa lemas di tubuhku menghilang. Bahkan rasa merinding akibat kabut itu pun lenyap sepenuhnya.

―Sekarang, aku bisa menembakkan Holy. Merasakan hal itu, aku mengangkat tangan kanan ke depan.

(Clarice! Sekali lagi, pinjamkan aku kekuatanmu!)

"Holy!"

……Ternyata tetap tidak bisa ya. Tepat saat kepasrahan melintas di kepalaku―aku terperangah melihat pemandangan yang memenuhi pandangan.

Di bawah kaki Unclean King, sebuah lingkaran sihir putih yang menyilaukan muncul dengan tenang.

Pola geometris dan cahaya huruf-huruf kuno terjalin dengan indah, membentang sambil bergejolak layaknya makhluk hidup.

Cahaya perak di tepian lingkaran sihir itu berkedip seolah sedang bernapas, dan aku bisa merasakan kekuatan suci memenuhi area sekeliling.

Detik berikutnya, sebuah pilar cahaya yang seolah menembus langit muncul dari pusat lingkaran sihir. Cahayanya putih murni, penuh dengan kesucian yang tak ternoda.

Kabut hitam ditembus oleh cahaya itu dan meleleh dalam sekejap. Pada lintasan cahaya yang menjulang tinggi ke angkasa, partikel-partikel cahaya yang berkilauan berhamburan, menyelimuti area sekitar dengan kemilau fantastis seperti kepakan sayap malaikat.

Saat aku memalingkan pandangan kembali, tubuh raksasa Unclean King masih bergerak, namun dagingnya yang lengket itu perlahan mengkerut dan mulai kehilangan bentuknya.

Dalam sekejap ia runtuh, meleleh sambil mengeluarkan suara mengerikan seperti jeritan kematian.

Di tengah proses itu, tiba-tiba kepala Unclean King terangkat. Ia menatapku dengan mata kosong, dan dari bibir yang terbentuk dari tubuh lendirnya, sebuah ciuman jauh (flying kiss) yang sangat menjijikkan dan panas terbang ke arah wajahku.

"Maaf ya―aku tidak berniat menerima cintamu. Cari saja pasangan lain di alam baka."

Gumamku sambil kembali mengangkat tangan kanan. Pilar cahaya bersinar semakin terang, menyelimuti Unclean King. Tubuh lengketnya tertelan oleh cahaya, dan tanpa sempat mengeluarkan jeritan kematian, sisa-sisa terakhirnya pun lenyap.

Sambil menurunkan tangan kanan perlahan, aku meyakini satu hal dalam diam. Akhirnya―aku telah mengalahkan Unclean King.

◆◇◆

Setelah Unclean King dikalahkan dan kabut hitam perlahan memudar, udara yang jernih kembali pulih. Ike berlari kencang menghampiriku yang masih berdiri terpaku di sana.

"Kau berhasil! Akhirnya kau bisa memakai Holy! Dengan ini ancaman di Rimulgard Barat sudah hilang!"

"Iya! Dengan ini aku bisa bertemu Clarice dan Eris!"

Karena merasa lega, isi hatiku yang sejujurnya malah keceplosan keluar.

"Po-pokoknya kita butuh bukti. Mari ambil batu sihir Unclean King lalu pulang."

Sambil mencari alasan, aku mendekati tempat runtuhnya Unclean King. Sejujurnya, aku tidak sudi menyentuh batu sihir dari makhluk seperti itu, tapi kalau tidak dibawa pulang, kami tidak punya bukti pembasmiannya.

Saat mengaduk-aduk sisa-isa Unclean King, sesuai dugaan, sebuah batu sihir yang sangat besar tergeletak di sana. Namun, di samping batu sihir itu ada sesuatu yang menarik perhatianku.

"……Apa ini?"

Itu tampak seperti sepotong kain putih. Saat kudekati, ternyata itu adalah sebuah jubah pendeta (vestment).

Cahaya biru keputihan muncul di atas kain putih bersih, di mana lingkaran sihir dan huruf-huruf kuno tampak bergejolak. Kilauannya berdenyut secara teratur, memberikan sensasi aneh seolah jubah itu sendiri masih hidup.


[Nama] Narukami's Vestment

[Defense] 55

[Special] Agility +3, Magic Power +3

[Value] A

[Details] Hanya bisa dipakai oleh mereka yang memiliki bakat sihir petir. Jika diberikan [Enchant] sihir petir, ia akan memperbaiki diri. Menyerap petir.


Akhirnya aku mendapatkan perlengkapan pelindung yang bisa dibilang khusus untukku―memikirkan hal itu, aku merasakan jantungku berdebar kencang.

Namun, kegembiraan itu hanya sesaat. Fakta bahwa cairan tubuh hitam dan lengket dari Unclean King sempat menempel pada jubah ini membuat tanganku ragu. Meski aku tidak mencium baunya, setiap kali bayangan wujud menjijikkan itu muncul di kepalaku, rasanya aku enggan menyentuhnya.

Jangan-jangan, jubah ini mengejarku karena aku adalah pemakai yang cocok? Pikiran itu sempat terlintas di benakku.

Tapi―aku tidak boleh melewatkan kesempatan untuk memperkuat diri. Aku memantapkan hati, mengenakan jubah itu, dan merapalkan Enchant sihir petir.

Seketika itu juga, jubah tersebut mulai memancarkan cahaya biru keputihan.

Cahaya itu bersinar terang sesaat, lalu perlahan berubah menjadi keemasan dan berkilau seolah menyelimuti tubuhku. Kilauan itu terasa seolah memiliki kehendak untuk melindungiku.

Saat aku melepaskan Enchant, cahayanya mereda, dan pola serta tulisan yang tadinya berwarna biru keputihan kini semuanya berubah menjadi emas.


[Nama] Narukami's Vestment

[Defense] 70

[Special] Agility +5, Magic Power +5

[Value] S

[Details] Hanya bisa dipakai oleh mereka yang memiliki bakat sihir petir. Jika diberikan [Enchant] sihir petir, ia akan memperbaiki diri. Menyerap petir.


Sepertinya Narukami's Vestment ini sudah mengakuiku sebagai pemiliknya.

Ike yang melihat kejadian itu di sampingku tampak belum sepenuhnya mencerna situasi. Ia membelalakkan mata dan membiarkan mulutnya sedikit terbuka sambil terus menatap jubah tersebut.

"Kak Ike! Ayo kembali dan lapor pada Ayah!"

Ike mengerjapkan matanya berulang kali, lalu mengangguk seolah baru saja tersadar kembali.

◆◇◆

Di kota Rimulgard Barat, para penduduk sedang melanjutkan proses evakuasi. Namun, mungkin karena penjelasan yang matang sebelumnya telah membuahkan hasil, hampir tidak terlihat tanda-tanda kepanikan, dan pergerakan yang tertib memenuhi alun-alun.

Di tengah situasi itu, Sieg sedang memberikan perkamen kepada utusan berkuda di depan kediaman, sambil memberikan instruksi dengan sibuk.

"Ayah! Tunggu dulu! Kami akhirnya berhasil membasmi Unclean King! Ini batu sihir yang menjadi buktinya!"

Aku berteriak sambil berlari mendekat. Saat Sieg menoleh ke arah kami, ekspresi wajahnya yang keras langsung melunak dalam sekejap.

"Kerja bagus, kalian berdua! Aku akan segera memberitahu penduduk untuk membatalkan evakuasi. Kalian istirahatlah! Batu sihir ini akan kukirimkan kepada Raja Barcus sebagai bukti pembasmian, kalian tidak keberatan kan?"

Aku mengangguk mantap.

Setelah memastikan hal itu, Sieg segera memberikan instruksi kepada para petualang di sekitarnya untuk mulai mengumumkan pembatalan evakuasi.

Setelah itu, aku dan Ike akhirnya bisa berendam di bak mandi sambil melepaskan seluruh ketegangan tubuh setelah sekian lama.

Uap air menyelimuti kulit, dan rasa lelah akibat pertempuran perlahan-lahan mencair.

"Ah, mandi memang yang terbaik…… rasanya seperti hidup kembali."

Mendengar gumaman Ike, aku pun mengangguk setuju.

Sisa-sisa dari Unclean King yang menempel pada peralatan dan pakaian juga kucuci bersih dengan teliti. Bukan hanya kotoran. Ketegangan dan ketakutan yang kurasakan selama pertempuran itu seolah ikut hanyut bersama air.

Setelah mandi, aku makan hingga kenyang dan langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa melawan rasa kantuk. Aku meletakkan saputangan Clarice pelan di samping bantal.

"……Aku ingin bertemu."

Sambil menggumamkan hal itu dalam hati, tubuhku yang dipenuhi rasa puas dan lelah segera terlelap ke dalam dunia mimpi.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close