NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Asobi no Kankei Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Kebahagiaan yang Tak Terkejar


"……Aku menyerah."

"Yeeay, menang telak lagi! Hehe, berlututlah di hadapanku, Uta-chan."

Hari ini pun, sorak sorai Takanashi Mifuru bergema di Board Game Cafe Kurumaza saat senja menyapa.

"Ugu gu, t-tidak mungkin aku menelan tiga kekalahan beruntun dari Takanashi-san……! Bagaimana bisa……!"

Di depanku yang hendak mulai membereskan meja, Utamaru-san——maksudku Tsukino-san——menatap tajam papan permainan akhir yang terbentang.

Namun, sebanyak apa pun ia memastikannya, yang ada di sana hanyalah kenyataan mutlak bahwa ia telah kalah.

Melihat Tsukino-san yang menggertakkan gigi karena kesal, aku menyahut sambil tersenyum kecut.

"Anu, sudah waktunya beres-beres, Tsukino-san. Bukan cuma Modern Art ini saja, tapi dalam permainan lelang, prosesnya adalah segalanya daripada sekadar meratapi papan akhir……"

Namun, Tsukino-san tetap menahan tanganku dan tidak mau menyerah.

"A-aku tahu! Aku mengerti, tapi…… biarkan aku menganalisisnya! Kenapa, kenapa aku tidak bisa menang sekali pun melawan Takanashi-san dalam berbagai 'permainan lelang' hari ini!"

"Ah, tidak, Tsukino-san. Penyebab utama kekalahan dalam permainan seperti ini adalah, anu……"

Aku sedikit ragu untuk mengatakannya. Namun, staf gyaru di sampingku ini justru menusuk mental Tsukino-san dengan sangat tepat di saat seperti ini.

"Lagian ya Uta-chan, padahal Kamu itu Pecatur Profesional, tapi kok payah banget sih kalau soal 'adu taktik'?"

Mendengar poin kritis yang begitu blak-blakan, Tsukino-san tampak sangat terguncang.

"T-t-t-t-tidak mungkin……! I-iya kan, Kotaro-san!?"

"……A-ah……"

Saat dimintai pertolongan, aku sempat mengerang pelan dan memalingkan wajah untuk menghindar, namun akhirnya aku menyerah dan secara resmi mendukung pendapat Mifuru-san.

"……Memang benar kalau Tsukino-san itu, anu, kurang mahir kalau soal 'adu taktik'."

"T-tidak mungkin. Kenapa……! Aku ini sudah sangat terbiasa dengan kompetisi, lho!"

Mendengar kata-katanya, aku dan Mifuru-san saling pandang sambil mengedikkan bahu sebelum aku menjawab.

"Benar. Tapi, justru 'keterbiasaan dalam kompetisi' itulah yang mungkin menjadi masalahnya."

"A-apa maksudnya?"

"Ini tergantung pada masing-masing pecatur, sih. Tapi dalam kasus Tsukino-san, bukankah Kamu memiliki insting alami sebagai 'orang yang hidup di dunia persaingan'? Maksudku, Kamu lebih suka cara berpikir yang sangat jelas, seperti 'menang atau kalah' atau 'serang atau bertahan', kan?"

"Bener banget tuh. Lihat aja dari drama pernyataan cinta yang kelewat jantan kemarin, Uta-chan emang tipikal kayak gitu."

"Ugh."

Tsukino-san tampak goyah saat poin tersebut tanpa sengaja merembet ke urusan asmara.

Namun, sepertinya ia tetap tidak terima jika hal itu dijadikan alasan mengapa ia lemah dalam permainan lelang. Sambil wajahnya memerah, ia mencoba membela diri.

"K-kalau pun memang begitu, di mana letak masalahnya? Aku sudah menyusun strategi dengan benar—"

"Duh, dibilangin, ini bukan soal strateginya."

Mifuru-san memotong pembelaannya dengan telak.

"Orang yang pilihannya cuma 'All-in' atau 'Surrender' itu sudah pasti bakal dicap payah banget kalau urusan 'adu taktik'."

"Gah!"

Seorang Pecatur Profesional baru saja dipatahkan argumennya oleh seorang gyaru yang biasanya tidak paham istilah strategi sama sekali. Entah kenapa, pemandangan ini sungguh mengenaskan.

Demi memberikan dukungan, aku mencoba merangkum poin penting dalam permainan lelang.

"Dalam permainan lelang, hal terpenting adalah membaca 'harga pasar'. Terkadang penting juga untuk mengambil langkah ambigu demi membuat pemain lain 'gemas', Tsukino-san."

"G-gemas?"

"Iya. Misalnya dalam lelang, Kamu bisa membuat pemain lain bingung seperti, 'Eh, apa orang ini mau ikut lelang juga? Kalau begitu, biar aku menang lelang, lebih baik aku naikkan harganya sedikit lagi ya?'. Dengan begitu, Kamu bisa membuat mereka membuang-buang uang…… ya, hal-hal seperti itulah."

"Betul, betul! Intinya 'sikap pemberi harapan palsu' itu sangat krusial dalam permainan lelang!"

Rekan kerja gyaru-ku ini numpang tenar dan menceramahi Sang Pecatur Profesional tentang hakikat board game dari posisi yang sangat tinggi.

Anak ini……! Jujur aku pun sempat berpikir begitu, tapi karena penjelasannya benar, aku tidak memberikan teguran. Lagipula Takanashi Mifuru yang sedang besar kepala itu memang terlihat imut.

Tapi yah, bagi Tsukino-san, sikap itu sepertinya cukup memancing emosi.

"Saran yang sangat melegakan, terima kasih banyak. ……Memang benar-benar ahli di 'bidang itu', ya."

'Ahli di bidang itu?'

Saat kami berdua sebagai staf toko memiringkan kepala bingung dengan penilaian aneh tersebut, Tsukino-san membalas dengan senyuman tajam.

"Karena kalau soal memberikan 'sikap pemberi harapan palsu', kalian berdua memang sudah kelas atas, kan!"

"Gugh!"

Seketika dua staf Kurumaza ini mengerang seolah baru saja dipukul telak di bagian vital. ……Luar biasa, Sang Pecatur Profesional.

Kekuatan serangan baliknya ngeri sekali. Begitu ngeri sampai-sampai Mifuru-san saja tidak bisa langsung bangkit. Kalau aku tidak perlu ditanya lagi, sudah di level KO.

Melihat kondisi kami yang mengenaskan, Tsukino-san sepertinya merasa sedikit kasihan. Ia berdeham dan mengubah topik pembicaraan sendiri sambil tersenyum.

"E-ehem. Ngomong-ngomong Kotaro-san, bukankah Anda bilang ingin tutup toko sedikit lebih awal hari ini?"

Seolah menemukan pegangan untuk selamat, aku langsung menanggapi dengan antusias.

"I-iya, benar. Sebenarnya aku ingin menyetok barang tambahan saat pulang nanti. Tapi tentu saja pelanggan adalah prioritas utama, jadi kalau Tsukino-san masih ingin bermain……"

"Ah, tidak, aku juga berniat pamit sekarang."

"Oh ya? Kalau begitu hari ini aku akan langsung beres-beres dan melakukan prosedur penutupan toko. Ah, apa tidak apa-apa jika aku membereskan Modern Art ini, Tsukino-san?"

"Tentu saja. Ah, mau kubantu?"

"Ah, tidak usah repot-repot. Oh iya, Mifuru-san……"

"Sip, aku bagian bersih-bersih ya~"

"Terima kasih."

Aku dan Mifuru-san membagi tugas seperti biasa dan melakukan penutupan toko dengan cekatan. ……Lalu aku menyadari, entah kenapa Tsukino-san menatap kami dengan tatapan yang sedikit iri…… sekaligus tidak senang, sebuah ekspresi cemberut yang aneh. ………….

"(……Bukan 'entah kenapa' sih. Dia cemburu, ya……)"

Melihat percakapan antara aku dan Mifuru-san yang begitu kompak, dia pasti merasakan hawa-hawa seperti pasangan suami istri. Jadi, itu pasti hal yang dunia sebut sebagai "cemburu".

"…………"

Jika itu aku yang dulu, aku pasti tidak akan menyadari emosi semacam itu.

Selain karena tidak peka, aku memang tidak memiliki "pemikiran" seperti itu secara mendasar.

Aku tidak pernah terpikir ada orang yang akan menyukaiku dalam artian romantis.

Tapi sekarang berbeda. Wanita ini…… Tsukino-san, telah memberikan pernyataan perasaan berupa "pengakuan cinta" yang merupakan bukti kasih sayang tertinggi kepada orang sepertiku.

Itulah sebabnya, "pintu pelarian" dalam pikiranku yang biasanya menganggap hal itu cuma kegeeranku saja, telah benar-benar tertutup.

Artinya, khusus untuk perasaan dari Utakata Tsukino.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berada dalam situasi di mana aku benar-benar "terkena serangan" kasih sayang tanpa syarat. ……Meskipun mungkin tidak semuanya berjalan sesuai rencana wanita ini.

Tetap saja.

"……Kuat sekali, ya."

"Ada apa? Kotaro-san, jangan-jangan Anda sedang menyindirku?"

Rupanya si Pecatur Profesional yang kalah telak hari ini mendengar gumamanku dengan tajam. Sambil membereskan board game, aku menjawab dengan senyum kecut.

"Bukan begitu. Aku cuma berpikir kalau Tsukino-san itu hebat. Maksudku, ada kekuatan tersendiri yang hanya bisa dikeluarkan oleh orang yang berani melakukan All-in."

"Rasanya aku tetap saja merasa sedang diejek. Biarlah, aku memang wanita yang cuma bisa melakukan All-in."

"T-tidak, tidak! Sumpah yang tadi itu bukan sindiran, Tsukino-san!"

"Entahlah ya. Kalau Kotaro-san yang ahli taktik ini sih, meskipun empat puluh persennya adalah sindiran, Anda pasti akan mendefinisikannya sebagai 'bukan sindiran'."

"Tsukino-san ini kalau membalas omongan suka pinter banget ya! Jadi susah dilawan!"

"Itu kalimatku tahu!"

Aku akhirnya terlibat dalam pertengkaran kecil yang terasa akrab dengan Tsukino-san. ……Eh, tunggu dulu. Bukankah orang yang bisa aku ajak bicara seperti ini sangat terbatas jumlahnya? Setidaknya, dengan pelanggan yang baru bermain bersama selama beberapa bulan……

Tepat saat aku memikirkan hal itu, tiba-tiba ujung kausku ditarik pelan. Saat menoleh, aku melihat Mifuru-san yang sedang menggembungkan pipinya dengan kesal.

"? Mifuru-san? Sudah selesai bersih-bersihnya?"

"…………Belum, sih."

"??? Eh, kalau gitu, ada apa?"

"Eh? Apa ya…… maksudku. Eeto…… ada apa ya? Aku sendiri juga nggak tahu."

"???"

Jarang sekali Mifuru-san yang ahli komunikasi ini bicara terbata-bata. ……Ah.

"Jangan-jangan Kamu demam?"

Aku mendadak khawatir dan tanpa ragu menyentuh dahinya.

Biasanya aku sangat berhati-hati soal pelecehan seksual, tapi entah kenapa, aku terlalu lemah jika menyangkut "keadaan darurat Takanashi Mifuru".

Seolah-olah ada interupsi tugas prioritas utama yang terjadi begitu saja.

Saat menyentuh dahinya, awalnya aku tidak merasakan panas yang berarti. Namun tak lama kemudian, aku merasakan suhu yang meningkat drastis.

"U-udah ah, berisik. Jangan asal sentuh-sentuh dong, Banjo."

"Ah, maaf."

Setelah ditegur, barulah aku sadar kalau batasan jarakku sudah berantakan. Iya, ini gawat.

Sebagai rekan kerja, apalagi kepada wanita yang sudah punya pacar, ini benar-benar tidak sopan.

Aku segera meminta maaf berulang kali.

"Maaf banget, Mifuru-san. Anu, gimana ya bilangnya……"

"Dah, mendingan berhenti ngomong kayak gitu. Udah nggak apa-apa kok. Badanku sehat, aku balik bersih-bersih ya."

"I-iya."

Kami kembali ke pekerjaan masing-masing dengan suasana yang agak aneh. ……Lalu.

"……Tatap……"

"Aku baru pertama kali lihat orang yang mengucapkannya secara langsung."

Rupanya Tsukino-san sedang menatapku dengan mata jitome (tatapan menghakimi) yang terlihat imut.

Aku merasa sedikit terselamatkan oleh hal itu dan tanpa sadar tertawa. Tsukino-san pun memprotes.

"Apa pantas melakukan hal tadi di depan gadis yang menyukaimu? Kotaro-san ini jahat sekali ya."

"Itu, iya, benar juga."

"Wah, malah diakui."

"Iya. Karena kelakuan seperti itu, mungkin sebentar lagi aku bakal dibunuh sama Mifuru-san."

"Hah?"

"Ah, maaf, itu soal Murder Mystery yang dibuat Han-gui. Jadi begini……"

Aku melanjutkan pekerjaan tutup toko sambil menjelaskan skenario "Pembunuhan di Atas Papan" kepada Tsukino-san.

Setelah penjelasan dan pekerjaan selesai, Mifuru-san datang sambil membereskan alat pembersih dan berkata, "Di sini sudah selesai~". Aku mengangguk membalasnya.

"Oke. Kalau gitu aku mau berangkat belanja dulu, oh iya, Mifuru-san mau bareng——"

"Eh……"

Baru saja aku hendak mengajak Mifuru-san sambil berbalik dengan senyuman, aku hampir melakukan pendekatan kecil yang biasa kulakukan——yakni mengajaknya belanja meski tahu akan ditolak.

"…………"

Tiba-tiba aku teringat kesalahan bodohku tadi——sentuhan fisik yang berlebihan. Di saat yang sama.

"?"

Aku menoleh ke arah Tsukino-san di belakangku…… dan tanpa sadar tersenyum. Bahaya, bahaya. Hampir saja aku melakukan hal yang buruk lagi di depan orang ini…… di depan orang yang sudah menyatakan suka padaku.

Setelah melihat wajah Tsukino-san, aku memantapkan pikiran, berbalik menghadap Mifuru-san, dan berkata.

"Eeto, Mifuru-san sudah panggil Usa-kun buat jemput, kan?"

"Eh. ……Ah."

Mifuru-san tampak tersentak seolah baru teringat sesuatu. Ia kemudian melanjutkan dengan sikap yang dibuat-buat.

"T-tentu saja. Udah panggil kok. Pastilah. Dia kan pacar kesayanganku, Usa-kun."

"…………Padahal nggak ada tanda-tanda habis panggil, tuh."

Di belakangku, Tsukino-san menggumamkan sesuatu. Tapi karena ia sedang melihat ponselnya, sepertinya itu urusan lain yang tidak relevan. Mungkin topiknya saja yang kebetulan selaras.

Bagaimanapun, aku menghela napas lega dan tersenyum karena kali ini aku berhasil menahan diri untuk tidak "melangkah terlalu jauh".

"Syukurlah kalau begitu. Akhir-akhir ini kan suasana di luar lagi agak berbahaya."

"Betul, betul. Terutama aku harus hati-hati biar nggak disentuh-sentuh sama rekan kerja yang aneh, Banjo."

"Sindirannya nembus sampai tulang! Iya, aku bener-bener minta maaf!"

"Isisi! Cuma bercanda kok."

Aku tertawa bersama Mifuru-san. ……Syukurlah, sepertinya ia tidak terlalu mempermasalahkan soal aku menyentuh dahinya dengan tidak sopan tadi.

Saat itulah Tsukino-san membenahi letak tas di bahunya dan berkata, "Kalau begitu, aku juga pamit sekarang."

"Hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih banyak, Takanashi-san, Kotaro-san."

"…………"

Melihat interaksi antara aku dan Mifuru-san, Tsukino-san tampak sedikit kesepian, namun ia mencoba menutupi ekspresi itu saat berpamitan. ………….

"Sip, sampai jumpa ya Uta-chan."

Di saat Mifuru-san melambaikan tangan mengucap "dadah" padanya, aku pun……

Aku mengumpulkan segenap keberanianku dan memanggilnya.

"Ah, t-tunggu sebentar, Tsukino-san."

"?"

Bukan hanya Tsukino-san, Mifuru-san pun menatapku dengan heran.

Di tengah tatapan itu, aku menggaruk pipi untuk menyembunyikan rasa malu, namun tetap berusaha melanjutkan kata-kataku.

"Eeto, Tsukino-san. Anu, ka-kalau Anda tidak keberatan, itu……"

"Ya?"

Tsukino-san tampak sama sekali tidak menduga apa yang akan kukatakan. Aku pun…… meski dalam hati sudah sangat gugup, berusaha tersenyum seramah mungkin saat mengutarakan "ajakan" itu.

"Apa Anda mau…… menemaniku belanja setelah ini?"

"Eh?"

Bukan hanya Tsukino-san yang mengeluarkan suara terkejut.

Entah kenapa, Mifuru-san juga terlihat terguncang——setidaknya di mataku. Saat aku secara refleks memanggil "Mifuru-san?", ia langsung menggoda dengan gaya bicaranya yang biasa.

"Ya, eh, anu. ……M-mau kubooking-in hotel sekalian nggak, Banjo?"

"Itu bantuan yang paling nggak perlu sedunia! Kan aku sudah bilang mau belanja!"

"Ma-maaf, maaf. Lanjut, lanjut."

Di tengah tawa kecut Mifuru-san, aku kembali mencoba menjelaskan dengan sungguh-sungguh kepada Tsukino-san yang masih terpaku.

"Anu, aku tahu soal belanja perlengkapan toko itu bukan hal yang pantas untuk mengajak pelanggan. Tapi, meskipun begitu……"

Aku menelan ludah sejenak…… dan melanjutkan pembicaraan meski aku tahu ini memalukan.

"Tsukino-san sudah menyatakan perasaan padaku, ditambah lagi Anda datang ke Kurumaza hampir setiap hari. Padahal kalau datang sebagai pelanggan, Anda harus membayar biaya kafe."

Mendengar itu, Tsukino-san menjawab dengan gugup.

"I-itu sih, ya, benar. T-tapi tapi, itu kan urusanku sendiri, lagi pula ada batas waktu dua minggu juga, jadi aku cuma ingin bertemu sesering mungkin, jadi jangan dipikirkan……!"

"Mana bisa aku tidak memikirkannya."

Aku tertawa kecut. Demi membalas perasaannya, aku melanjutkan kembali.

"Tapi…… kalau aku menawarkan untuk membayar setengah biaya kafe Anda, rasanya itu tidak tepat bagi Tsukino-san, kan?"

Seketika, Tsukino-san menatapku dengan sikap tegas.

"Benar. Aku akan merasa tidak nyaman jika Anda melakukan itu, malah aku jadi malas datang menemui Anda."

"Kan benar. Sudah kuduga bakal begitu. Itu sangat khas Tsukino-san."

"Itu kalimatku tahu. Mempermasalahkan hal sekecil itu, itu sangat khas Kotaro-san."

Kami tanpa sadar saling melempar senyum.

……Meskipun aku tidak bisa mengabaikan suara ketukan layar ponsel Mifuru-san yang terdengar sangat keras dari belakang. Tetap saja, aku menatap Tsukino-san…… hanya dia, dengan saksama.

Sekali lagi, dengan rasa tegang seolah sedang menyatakan cinta, aku bicara.

"Kalau begitu, setidaknya biarkan aku juga mencoba mendekat. Setidaknya selama dua minggu ini. Jadi, anu…… Tsukino-san."

"Ya."

"Mulai sekarang, maukah Anda pergi belanja 'bersama' sebentar?"

Saat aku mengatakan itu dengan pipi merah padam dan rasa tegang yang luar biasa.

Wajah Tsukino-san yang sempat terlihat tenang hanya bertahan selama dua detik, sebelum akhirnya berubah menjadi senyum lebar yang sangat bahagia, dan ia mengangguk mantap padaku.

"Tentu saja, Kotaro-san! Sangat, sangat, pokoknya ini sudah lebih dari melegakan!"

Reaksinya yang berlebihan malah membuatku balik "terkena serangan" dan jadi agak panik.

"J-jangan berlebihan begitu. Aku kan tidak sedang mengajak kencan……"

"Kalau sudah diputuskan, ayo, cepat tutup tokonya! Kita berangkat, Kotaro-san!"

"Wah, t-tunggu, jangan ditarik, Tsukino-san! Aku belum kunci pintu……"

Kepada aku yang mencoba menahan diri, Mifuru-san memberikan suara lembutnya dari belakang.

"Nggak apa-apa kok. Biar aku yang beresin sisanya sambil nunggu Usa-kun, Banjo."

"Eh? B-benarkah? Kalau gitu…… aku terima tawaranmu."

"Sip!"

Mifuru-san memberikan jempol padanya.

 ……Apakah senyumannya yang terlihat sedikit kesepian itu juga cuma prasangka optimisku saja?

Kalau soal Mifuru-san, pemikiran seperti itu memang sulit kuhilangkan. Habisnya, dia kan sudah punya pacar.

Demi memutus keraguan, aku melanjutkan instruksi kerja pada Mifuru-san.

"Ah, barang belanjaannya bakal kubawa besok, jadi tokonya boleh dikunci total kok."

"Oke, oke. Dadah, selamat jalan kalian berdua."

"Iya, terima kasih banyak Takanashi-san! Kami berangkat dulu! Kencan belanja di Ogikubo!"

Tsukino-san berseru penuh semangat, dan aku pun memperingatkannya.

"I-iya, makanya Tsukino-san, ini bukan hal besar seperti kencan. Lagi pula tempat belanja di Ogikubo kan paling cuma selevel Lumine……"

"Kalau gitu ayo kita kelilingi semua cabang Kokokara Fine!"

"Kamu bilang gitu sambil tahu nggak jumlah Kokokara Fine di Ogikubo ada berapa?"

"Apa pun boleh, ayo berangkat, Kotaro-san. Ayo, ayo, cepat."

"I-iya, aku mengerti, aku mengerti. Anu, Mifuru-san, tolong kunci pintunya——"

Tsukino-san yang sudah sangat gembira menarikku pergi dengan paksa meski aku masih bingung.

Dan saat kami keluar toko dengan berisik.

Mifuru-san…… melepas kepergian kami dengan senyuman yang terasa sangat pahit.

"Ahaha, serius deh jangan pikirin aku, nikmatin aja kencannya, Banjo."

"Jadi, pertama-tama kita harus bagaimana, Kotaro-san? Apa kita ke kantor kelurahan dulu buat ambil formulir pendaftaran pernikahan?"

"Tolong hentikan kecepatan langkah yang langsung mau Skakmat di langkah pertama itu, Tsukino-san. Te-tenanglah sebentar."

Begitu keluar dari gedung tempat Kurumaza berada, aku berusaha menenangkan Tsukino-san yang terus mendesakku.

Namun, serangan bertubi-tubinya yang penuh semangat tidak berhenti.

"Te-tenang di tempat tertutup maksudnya…… Wah, Kotaro-san, ternyata Anda cukup berani, ya."

"Interprestasinya ngeri banget. Bukan itu, Tsukino-san, tolong tenanglah."

Sambil sedikit ragu, aku meletakkan tanganku di bahunya.

……Aku adalah orang yang sangat berhati-hati dalam melakukan sentuhan fisik seperti ini kepada lawan jenis.

Tapi justru karena itulah, kali ini aku mencoba melangkah sedikit lebih maju.

Karena Tsukino-san juga merupakan orang yang sangat menjaga jarak dengan lawan jenis. Artinya……

"——!"

——Sentuhan dariku pasti akan memberikan "kejutan" tersendiri baginya.

"Anda sudah sedikit lebih tenang?"

Saat aku menyapanya dengan senyum untuk menenangkannya, Tsukino-san mengangguk pelan sambil menjawab.

"I-iya. Maaf sudah menunjukkan sikap yang memalukan."

"Ah, tidak apa-apa. Dibandingkan aku dan Mifuru-san yang biasanya, ini belum masuk kategori memalukan kok."

"Fufu, Anda merendahkan diri sendiri dengan sangat santai, ya."

Tsukino-san tertawa dengan anggun. ……Iya, Tsukino-san yang sedang panik memang menarik, tapi aku memang lebih suka Tsukino-san yang biasanya begini—— ………….

"……? Kotaro-san? Ada apa?"

"……Ada apa-apa sih, sepertinya, belakangan ini."

"?"

"T-tidak ada apa-apa."

Serius, aku ini kenapa sih?

Sejak kapan aku jadi pria segenit ini? Bisa-bisanya menggunakan kata "suka" di dalam hati untuk seorang wanita.

Padahal harusnya itu cuma untuk Mifuru-san. Aku harus menjaga diri. ……Eh, menjaga diri juga rasanya aneh.

Pokoknya kalau dipikirkan terus bakal jadi aneh. Sambil berjalan ke arah stasiun, aku berdeham dan melanjutkan.

"Eeto, seperti yang kubilang tadi, aku ingin Tsukino-san menemaniku ke toko serba seribu sebentar."

"Iya, sangat melegakan."

"Sepertinya cuma Tsukino-san yang menyebut pergi ke toko serba seribu itu 'melegakan'."

"Tapi karena memang melegakan, mau bagaimana lagi. Ah, tapi."

"?"

Tsukino-san menatapku dari bawah dan memberikan usul tambahan.

"Kalau kita bisa sekalian mampir ke toko-toko lain bersama, aku akan jauh lebih melegakan lagi, lho?"

……Melihat keimutannya itu aku hampir saja merona, namun aku berusaha menahannya dan membalas.

"……Oke. Aku akan menemani Tsukino-san belanja juga, tapi ada sesuatu yang dicari?"

"Eh? Ah—— benar juga. Kalau begitu, sekalian ke ruang bawah tanah Lumine untuk……"

Saat ia bicara sampai di sana, aku memotongnya dengan senyum kecut.

"Membeli sedikit camilan manis?"

Ia mengerjapkan mata, dan aku pun melanjutkan, "Iya kan?".

Tsukino-san kemudian menggembungkan pipinya dengan kesal.

"……Langkah selanjutnya dari seorang gadis itu, meskipun terbaca, lebih baik diam saja kalau tidak ingin merusak suasana, Kotaro-san."

"Ah, maafkan kelancanganku, Nona Pecatur Profesional."

"……Kotaro-san hari ini agak nakal."

"Tentu saja. Karena di sini aku bukan lagi 'staf Kurumaza', melainkan 'Kotaro Tokiwa'."

Begitu aku tersenyum lebar padanya, Tsukino-san membuang muka.

Dan meskipun ia tampak marah, ia mengucapkan kata-kata yang berlawanan dengan sikapnya.

"Kalau itu sih…… melegakan."

"Ah, ternyata melegakan, ya."

"Iya, melegakan! Memangnya kenapa, tidak boleh?"

"Boleh kok. Malah aku juga melegakan karena Anda bilang begitu."

"Uuuh, itu. Jangan asal curi kata 'melegakan'-ku dong, Kotaro-san."

"Maaf. Aku nggak bermaksud buruk, tapi kata 'melegakan' itu adalah kata yang sangat ingin kucuri."

"Kalau itu sih, mungkin nggak melegakan."

Tsukino-san merajuk. Benar-benar imut. Dan karena itulah aku jadi semakin ingin mencuri kata "melegakan".

Jika Tsukino-san semakin sering muncul di media, kata ini bisa-bisa memenangkan penghargaan kata terpopuler tahun ini.

Baiklah, mumpung masih sempat, aku akan sering-seri memakainya untuk pamer, sangat melegakan.

Sambil bercanda seperti itu, saat kami menuruni tangga stasiun yang tersambung ke Lumine, ponsel kami berdua berbunyi bersamaan.

Kami berhenti di depan gerbang tiket Jalur Marunouchi untuk mengeceknya. Ternyata itu pesan dari grup LINE "Sansukumi" yang dibuat Mifuru-san tempo hari yang beranggotakan aku, Mifuru-san, dan Tsukino-san.

Buat aku yang sendirian kesepian di Kurumaza nunggu pacar tersayang, nggak usah, nggak usah, nggak usah dipikirin ya. Nikmatin aja kencan pulangnya, Banjo, Uta-chan.

"Ngeselin."

Reaksiku dan Tsukino-san berbarengan. Ternyata Tsukino-san bisa juga pakai bahasa begitu, ya. Rasanya mirip sekali dengan cara Usa-kun menanggapi Mifuru-san.

Sadar akan tatapanku, Tsukino-san berdeham dan menggumamkan sesuatu yang pelan.

"……Lagian ya Anda ini, hari ini kan Anda bahkan nggak minta jemput ke Usa Itsuki?"

"Tsukino-san?"

"Ah, bukan apa-apa. Aku cuma baru saja menetapkan Takanashi-san sebagai rubah betina yang nggak boleh diremehkan."

"Itu sih ada apa-apanya! I-iya sih memang ngeselin, tapi sampai segitunya?"

"Entahlah ya. Ada hal-hal yang tidak akan dimengerti oleh Kotaro-san."

"? Hubungan kalian berdua yang tidak kumengerti? Maksudnya……"

"Yah, itu rahasia seorang gadis."

"Keluar juga, pusaka kedua setelah 'sangat melegakan'."

Sayangnya kalau yang ini sepertinya tidak akan mudah kucuri, dan itu sangat menyebalkan.

"Fufu. ……Ah, anu, ayo kita segera berangkat, Kotaro-san."

Sambil berkata begitu, Tsukino-san mengulurkan tangannya padaku.

Kupikir ia akan menggenggam tanganku…… tapi ternyata ia hanya mencubit ujung lenganku pelan. ……Sepertinya itulah batas maksimalnya untuk hari ini.

Jika kulihat, telinganya sudah memerah padam. Entah kenapa, pemandangan itu terasa menyejukkan hatiku.

"Tsukino-san, biarpun Kamu punya 'sikap menyerang' yang hebat sampai berani mengungkap identitas dan menyatakan cinta tiba-tiba... tapi ternyata sifat dasarmu tetap feminin sekali ya," ujarku.

"Ugh. ……Itu, benar juga sih. Kalau soal ini, aku kesal karena rasanya Takanashi-san pasti bisa langsung menggandeng tanganmu tanpa ragu di saat seperti ini."

"Memang benar sih. Waktu itu juga—"

"Waktu itu juga?"

"Ah."

"Jangan-jangan Kotaro-san, saat sedang pergi berdua dengannya, kalian bergandengan tangan...?"

"T-tidak, bukan begitu..."

Sambil menarik lengan bajuku, dia menatapku tajam. ……Seram juga.

Saat aku sedang gemetaran, jemari yang mencengkeram ujung lenganku mulai bergerak gelisah. Sepertinya dia sedang bimbang, ingin balas menggandeng tanganku tapi masih ragu. …………Tapi…… ………….

"Tsukino-san, jangan terlalu dipaksakan."

"Eh?"

Mendengar teguranku, Tsukino-san mendongak pelan. Aku menggaruk kepala dengan tangan yang tidak dicengkeramnya sambil melanjutkan.

"Begini, ini sama seperti poin penting dalam 'permainan lelang' tadi. Kalau terlalu membakar semangat kompetisi sampai melewati batas kemampuan sendiri, malah bisa berantakan semuanya."

"T-tapi, sebagai orang yang ingin lebih dekat denganmu, aku tidak mau ketinggalan jauh dari Takanashi-san...!"

"Nggak kok, Kamu sama sekali nggak ketinggalan."

"Eh?"

"Ah."

……Gawat. Karena terlalu terburu-buru menghiburnya, rasanya aku malah membocorkan perasaan jujur yang tidak perlu. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Terdesak oleh tatapan penuh harap dari Tsukino-san, aku membuang muka sedikit sambil mengutarakan kesan yang memalukan.

"M-maksudku, itu. Aku pikir, Tsukino-san yang berusaha keras mencengkeram ujung lengan bajuku ini... terasa manis."

"! Be-begitukah? Kalau begitu anu... itu Great."

"……Aku pun merasa hal ini Great."

Setelah itu, kami berdua hanya tertunduk malu. ……Tak kusangka aku akan menjadi bagian dari pasangan yang bermesraan di dekat gerbang stasiun seperti ini.

Saat suasana sedang seperti itu, ponsel kami berdua bergetar lagi secara bersamaan. Aku saling bertukar pandang dengan Tsukino-san sebelum mengeceknya, dan di sana tertulis...

Aku, Mifuru-san. Barusan aku merasakan gelombang komedi romantis yang kuat. ……Dari arah Stasiun Ogikubo.

"Seram amat!"

Kami berdua refleks celingukan ke arah sekitar. Namun, sosok Mifuru-san tidak terlihat di mana pun. Kenyataan itu membuatku lega sekaligus... makin takut.

Orang itu kenapa sih? Apa keberuntungannya itu ada hubungannya dengan indra keenam?

Tapi, berkat itu...

"Fufu, kalau begitu, ayo kita jalan lagi, Kotaro-san."

"Iya, Tsukino-san."

……Kami akhirnya bisa melemaskan bahu dan berangkat untuk menikmati belanja yang sesungguhnya.

Dengan ujung lengan baju yang masih dicubit kecil olehnya.

Kami berdua melihat-lihat jajaran hidangan manis di lantai bawah Lumine, tapi akhirnya Tsukino-san tidak membeli apa pun. Katanya, "Hari ini perutku sudah kenyang."

Ketika aku menyahut, "Eh, padahal tadi di Kurumaza Kamu cuma pesan minum, kan?", entah kenapa Tsukino-san membalas dengan, "Kotaro-san ini ya."

Itu adalah tiruan dari caraku meniru gaya bicara Hangui—sebuah balasan yang konteksnya sangat dalam. ……Aku tidak terima.

Bagaimanapun, urusan Tsukino-san sudah selesai. Sekarang giliranku belanja—memintanya menemaniku ke toko serba seribu. Kami pun menaiki eskalator.

Sambil menunggu sampai di lantai tujuan, Tsukino-san bertanya.

"Kalau tidak salah, Kamu mau belanja perlengkapan untuk Murder Mystery, kan?"

"Iya. Aku minta Hangui membuatkan skenario sederhana khusus untuk Kurumaza. Tapi ternyata tipe yang butuh cukup banyak properti."

"Sepertinya begitu. Tadi kulihat Kamu sedang melipat burung bangau juga."

"Benar sekali. Si Hangui itu, padahal cuma buat item yang diperlukan untuk memancing pelakunya di bagian akhir, nggak perlu pakai burung bangau kertas segala juga kan..."

"Ahaha. Yah, kalau board game saja komponennya mewah bisa bikin suasana makin hidup, mungkin Murder Mystery juga begitu."

"Yah, memang benar sih. Apalagi kalau item yang jelas-jelas butuh usaha seperti 'burung bangau kertas' muncul, orang sepertiku pasti langsung merasa Exited."

"Bukannya harusnya memang Exited?"

"Ugh. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya memberikan beban begini pada kami dengan niat buruk..."

"Kotaro-san bukannya tipe orang yang malah senang saat sedang melakukan proses unboxing board game? Kalau begitu, persiapan seperti ini pun tidak sepenuhnya Kamu benci, kan?"

"…………"

"Ternyata Hangui-san memang tidak boleh diremehkan. Sebagai orang yang sangat memahamimu."

"Ampun deh."

Meski berkata begitu, dalam hati aku mengakui kalau itu memang bentuk perhatian khas si Hangui. ……Menyebalkan. Sangat menyebalkan, tapi memang begitulah dia.

Kami menyeberang dari Lumine menuju gedung "Town Seven", lalu berganti eskalator sampai tiba di toko serba seribu.

Aku segera membeli barang-barang yang dibutuhkan.

Sebenarnya bukan barang yang aneh-aneh. Cuma buku catatan untuk dibagikan ke peserta, alat tulis, dan stok kertas origami.

Hanya saja, ada satu produk yang aku ragu apakah ada di toko serba seribu, itu yang jadi masalah utama...

"Oh, ada. Aku sempat khawatir karena ini produk yang agak ceruk, untungnya di dekat sini ada. Jadi nanti bisa langsung stok kalau mendadak habis."

Sambil bergumam, aku memasukkan beberapa buah pena itu ke keranjang.

Awalnya di toko kami cuma ada satu sampel pena yang disiapkan Hangui, jadi aku agak merasa tidak tenang. Sekarang hatiku jauh lebih lega. Hmm. ……Yah, itu tidak masalah.

Dengan ini, tujuan utamaku hari ini sudah selesai. Jujur saja, tidak ada bagian yang memerlukan bantuan Tsukino-san sama sekali. Tapi...

"Fufu, syukurlah kalau begitu."

Tsukino-san hanya tersenyum manis dengan lembut.

Dia pasti sudah sadar sejak awal kalau tidak ada pekerjaan yang perlu dia bantu.

Tapi dia sengaja tidak memberikan komentar yang merusak suasana.

……Hm, begitu ya. Baru sekarang aku sadar kenapa tadi aku dipanggil "Kotaro-san ini ya".

Ternyata memberikan komentar yang merusak suasana itu disebut "tidak peka" ya. Aku belajar hal baru.

Kami menuju kasir dan menyelesaikan belanja dengan cepat.

Seharusnya dalam situasi ini kami sudah bisa bubar, tapi... aku memberanikan diri.

"Eeto, Tsukino-san? Ka-kalau Kamu tidak keberatan, aku akan mentraktirmu secangkir kopi."

"……Ooh."

"? Kenapa pasang muka kagum begitu?"

"Tidak, aku cuma tidak menyangka Kotaro-san akan mengajakku minum teh. Kamu sudah dewasa ya?"

"Bisa nggak berhenti melihatku dengan tatapan seperti Mifuru-san begitu? Memang benar mengajak lawan jenis minum teh itu masalah besar buatku. Tapi, yah, aku pun..."

Aku mendorong jembatan kacamata ke atas sambil melanjutkan.

"Karena aku pun merasa sayang kalau harus langsung berpisah begitu saja denganmu..."

"……I-itu…… kata-kata yang sangat Great sekali..."

Tsukino-san tampak tersipu malu.

Karena rasanya sangat canggung, aku hampir saja melanjutkan dengan kalimat "Iya, tapi ini cuma sebagai teman...", namun...

—Aku sadar itu justru hal yang "tidak peka", jadi aku menahannya sekuat tenaga.

Benar, itu cuma alasan untuk diriku sendiri, bukan kata-kata yang akan membuat Tsukino-san senang.

Setelah suasana manis yang entah keberapa kalinya menyelimuti kami hari ini, Tsukino-san dengan pipi merona... membalas ajakanku dengan senyuman.

"Ah, tapi sebelumnya, untuk kopi aku lewatkan saja."

"Dalam suasana begini bisa-bisanya aku ditolak!"

Rasanya cukup mengejutkan. Saat aku tertunduk lesu, Tsukino-san buru-buru menghiburku.

"B-bukan begitu! Maksudku, aku menolak kopi hanya dalam artian murni sebagai minuman! Tadi kan di Kurumaza aku sudah minum teh cukup banyak."

"A-ah, benar juga. Eeto, tapi kalau begitu, apa kita bubar saja hari ini?"

"Tidak, itu tidak mungkin terjadi."

"Tidak mungkin?"

"Iya. Maaf ya Kotaro-san, tapi rasa sayangku untuk berpisah saat ini berkali-kali lipat lebih besar darimu."

Tsukino-san mengatakannya dengan tenang dan datar. ……Cara bicaranya yang menyatakan perasaan padaku seolah itu adalah hal yang sudah sewajarnya, benar-benar curang.

Terlepas dari keimutannya yang biasa, hal ini justru membuatku merasakan bahwa kata-katanya "sama sekali tidak bohong".

Lalu dia menyambung kata-katanya, "Karena itulah."

Akhirnya dia tersenyum manis dan memberikan usul yang menggemaskan.

"Mari kita beli satu kue Taiyaki saja untuk dimakan berdua."

◆◇◆

"Aku tidak bisa memaafkan Kotaro-san."

Beberapa menit kemudian. Di area istirahat dekat "New Komiya", toko Taiyaki dan es krim lembut yang enak di lantai satu Town Seven.

Tsukino-san yang duduk di sampingku sedang merajuk sambil menggigit "bagian yang lebih besar" dari Taiyaki yang dibelah dua.

Aku tertawa kecut sambil menggigit "bagian yang lebih kecil".

"Ini kan karena aturan yang kita sepakati di awal, mau bagaimana lagi. Satu Taiyaki, pertama dibagi oleh Tsukino-san, baru kemudian aku yang memilih. Itu pembagian yang sangat adil, kan?"

"……Dengan caramu bicara begitu, kupikir Kotaro-san akan mengambil bagian yang lebih besar."

"Iya sih. Tapi kalau memikirkan sifatku dan Tsukino-san, bukankah sudah bisa diprediksi kalau kita malah akan berebut 'bagian yang lebih kecil'?"

"Ugh. Aku tadi terlalu lengah karena terlalu senang belanja dengan Kotaro-san. Ngomong-ngomong... melihat betapa terbiasanya Kamu dengan trik ini, jangan-jangan ada board game yang butuh strategi semacam ini?"




"Oho, sesuai dugaan, Tsukino-san tajam juga ya."

Begitu topik beralih ke board game, aku tidak tahan untuk tidak bercerita dengan senyum lebar yang semringah.

"Dalam aturan semacam ini, game berjudul Most Dessert—sebuah permainan membagi kue—adalah yang paling representatif. Cara mainnya, pemain utama membagi kue utuh yang direpresentasikan lewat ubin-ubin, lalu pemain lain memilih bagiannya duluan. Proses itu diulang terus, dan intinya Kamu harus berusaha mendapatkan keuntungan paling besar di akhir."

"Begitu ya. Jadi ini game dilema di mana si pembagi kue tidak boleh membuat 'set yang terlalu menguntungkan' secara mencolok, karena pasti akan diambil duluan oleh pemain lain, ya?"

"Tepat sekali. Dalam kasus kita tadi, begitu Tsukino-san menerima tugas sebagai 'pembagi Taiyaki', sudah dipastikan kalau aku yang akan mendapatkan bagian yang lebih kecil."

"Sungguh licik dasar anak board game."

"Licik katamu..."

Lalu, aku melahap Taiyaki yang kecil, sementara Tsukino-san melahap yang besar.

Awalnya Tsukino-san tampak tidak senang, tapi dasarnya dia memang pencinta makanan manis kelas berat.

Ekspresinya segera berubah menjadi senyum bahagia sambil mulai menikmati Taiyaki-nya. ……Imutnya.

"Tapi Kotaro-san benar-benar cerdas, ya."

"Aduh, kalau gelar 'Pecatur Profesional' yang bilang begitu, rasanya cuma terdengar seperti sindiran bagiku."

"Tujuh puluh persennya aku serius memujimu, kok."

"Ah, jadi tiga puluh persennya beneran sindiran ya……"

Saat aku tersenyum kecut, Tsukino-san terus bicara sambil mengunyah Taiyaki-nya pelan-pelan dengan sangat hati-hati.

"Kenyataannya, Kotaro-san berhasil menang telak melawan Pecatur Profesional ini dalam board game, kan?"

"Itu…… murni karena perbedaan pengalaman saja. Rasanya bukan karena aku cerdas atau semacamnya."

"Maksudnya?"

"Eeto, begini ya. Kan ada hal-hal yang 'kelihatannya sulit, tapi kalau sudah tahu caranya jadi mudah'. Misalnya…… apa ya contoh yang bagus."

"Cara menghadapi Nurikabe (hantu dinding), mungkin?"

"Perumpamaannya klasik tapi tepat sasaran. Seingatku cara menghadapi Nurikabe itu dengan 'menyapu bagian bawahnya memakai tongkat'. Kenyataannya, kalau sudah tahu, itu gerakan yang biasa saja. Tapi kalau tidak tahu, secerdas apa pun orangnya, akan sulit menemukan jawaban yang benar, kan?"

"Benar juga. Sama seperti dalam Shogi, di mana jumlah pengetahuan tentang langkah standar (joseki) dan strategi sangat menentukan."

"Nah, itu dia. Makanya, meskipun aku punya banyak pengetahuan soal board game, rasanya agak aneh kalau itu disebut sebagai 'cerdas'……"

"Begitu ya. Yah, meskipun mengesampingkan hal itu, menurutku Kotaro-san tetap cerdas. Terutama kemampuanmu menerapkan hal-hal yang dipelajari dari board game ke dalam kehidupan nyata, itu adalah 'kecerdasan' yang nyata."

"Ah, kalau Kamu bilang begitu, rasanya Great sekali ya."

Kami saling melempar tawa lalu kembali melahap Taiyaki masing-masing. Setelah mengunyah sebentar, Tsukino-san melanjutkan, "Ah, kalau begitu."

"Siapa orang yang menurut Kotaro-san benar-benar 'cerdas' dalam arti yang sesungguhnya?"

"Eh? Ah— siapa ya. Selain Tsukino-san yang sudah jelas, kalau yang lain……"

Aku berpikir sejenak sambil menggigit Taiyaki, lalu mengeluarkan jawaban yang sedikit mengejutkan diriku sendiri.

"Mifuru-san, mungkin."

"Eh, Takanashi-san? Bukan Hangui-san?"

"Iya. Hangui, Takeshi, Hagiri-sensei, atau Natsumi-san, mereka semua memang hebat dengan cara masing-masing. Tapi kalau bicara soal bagian yang... apa ya, seperti kecerdasan murni (raw intelligence) atau ketajaman insting, sepertinya Mifuru-san juaranya."

"……Hmm. Yah…… kalau dipikir-pikir lagi, aku bisa mengerti maksudmu."

Tsukino-san secara mengejutkan setuju. Sambil menghabiskan Taiyaki, kami membicarakannya.

"Ini cuma bayanganku saja, sih. Misalnya, ada sebuah board game yang benar-benar baru, di mana pengetahuan kita selama ini tidak berlaku sama sekali. Lalu kita semua memainkannya sebelum sempat mempelajari teorinya——entah kenapa, aku merasa Mifuru-san lah yang akan menang."

"Benar, aku setuju sepenuhnya. Begitu ya…… ternyata dia memang orang yang tidak boleh diremehkan."

Entah apa yang sedang dia waspadai, tapi Tsukino-san memberikan penilaian seperti itu.

Aku tersenyum kecut dan hendak menyahut, "Tenang saja, dia kan bukan musuh," tapi...

"(Ah benar, dari sudut pandang Tsukino-san, dia memang saingan cinta ya.)"

Begitu menyadarinya, aku pun menutup mulut. ……Ugh, iya juga. Canggung sekali. Mari alihkan pembicaraan.

"O-omong-omong soal dia, belakangan ini dia sedang latihan memerankan peran pelaku dalam Murder Mystery. Kata Hangui yang melatihnya, 'Terlepas dari kemampuan aktingnya, dia ternyata cukup cepat paham'."

"Ah, kemampuan aktingnya memang agak 'sesuatu' ya, dia itu."

"? Agak sesuatu? Tsukino-san pernah melihat akting Mifuru-san?"

"………… ……O-omong-omong, 'permainan lelang' tadi sulit juga ya."

"Kenapa tiba-tiba pindah topik?"

Rasanya dia terang-terangan mengalihkan pembicaraan, tapi aku tidak bisa membayangkan alasan kenapa Tsukino-san tidak suka membahas akting Mifuru-san, dan tidak ada alasan juga untuk mengejarnya.

Aku menghela napas dan mengikuti alur bicaranya.

"Tsukino-san kelihatannya memang kurang mahir di situ ya. Sebaliknya, aku dan Mifuru-san memang jagonya soal memberikan 'sikap pemberi harapan palsu'."

"Ugh. Ma-maaf, tadi itu aku cuma menyindir saja……"

"Ahaha, nggak apa-apa. Itu kenyataan, kok. Tapi yah, kenyataan juga kalau Tsukino-san memang lemah di sana."

"Aku tidak bisa membela diri. ……Adu taktik halus yang mengatur untung-rugi lewat angka-angka seperti itu, aku memang tidak berbakat."

"Ah, bagian itu mungkin sensasinya agak jauh dari Shogi ya. Mungkin lebih dekat ke permainan Go."

"Benar. Strategi yang kupupuk di Shogi ternyata sulit sekali diterapkan ke game yang intinya 'membeli poin kemenangan semurah mungkin'."

"Iya kan. Tapi yah, setelah beberapa kali main lagi, aku yakin Tsukino-san pasti bakal paham poin pentingnya."

Sambil berkata begitu, aku merogoh tas dan mengeluarkan botol teh, lalu menyodorkannya pada Tsukino-san. Kepada dia yang tampak melongo, aku melanjutkan.

"Tadi waktu ke toilet, aku membelinya di mesin penjual otomatis. Meskipun Tsukino-san tidak haus, aku sendiri haus. Tapi ini belum kuminum kok, silakan duluan. Biarpun tadi sudah minum teh di kafe, setelah makan Taiyaki pasti ingin minum seteguk, kan?"

"Eh, anu……"

"Ah, kalau Kamu merasa keberatan meminum dari botol yang sudah kusentuh, di sini ada tisu basah antiseptik, jadi bisa dilap dulu—"

"Kotaro-san ini ya."

"Malah masuk ke Mode Hangui!"

Tiba-tiba aku ditatap dengan mata yang seolah lelah melihat kelakuanku, membuatku langsung duduk tegak. Ini…… gawat. Suasananya mirip sekali dengan saat Mifuru-san sedang marah beneran.

Karena itu, aku mengamati ekspresinya dengan takut-takut. Namun di luar dugaan, Tsukino-san malah terkikik senang dan menerima tehnya.

"Fufu, terima kasih banyak. Aku minum ya. Ah, bisa tolong pegangkan Taiyaki-ku?"

"Ah, iya."

Setelah memberikan Taiyaki-nya padaku, Tsukino-san membuka tutup botolnya dan meminumnya tanpa ragu.

Setelah meneguknya beberapa kali hingga kerongkongannya berbunyi... dia langsung mengembalikannya begitu saja tanpa mengelapnya dengan tisu basah.

"Ini, Kotaro-san mau minum juga?"

"Eh, ah, tidak……"

……Aku ragu karena ini akan menjadi ciuman tidak langsung, tapi Tsukino-san malah memasang senyum jahil.

"Bukankah Anda bilang sedang haus? Bukan aku, tapi Kotaro-san, kan?"

"Ugh."

……Kali ini aku kena skakmat. Aku kalah telak. Sambil mengembalikan Taiyaki-nya dan menerima botol teh itu, aku mengumpulkan keberanian di bawah tatapan Tsukino-san yang menonton dengan gembira.

Aku menempelkan bibir ke botol itu dan meneguknya sekali. Lalu, sambil berusaha menyembunyikan rasa malu, aku melirik ke arahnya—

"Eh, tidak, kenapa Tsukino-san yang memulainya malah mukanya merah padam begitu!"

"E-eeto. ……Anu…… gimana ya bilangnya…… m-mungkin Great?"

"Itu pertanyaan yang paling susah dijawab sedunia! I-iya sih, yah, bukannya nggak Great juga, tapi!"

"Ka-kalau begitu, Great."

"Ugh! Ah, sudah lah……"

Sambil sedikit menyesali keputusanku membeli teh karena perhatian yang aneh, aku menutup botol itu dan menyimpannya ke dalam tas, lalu kembali makan Taiyaki.

Melihat tingkahku, Tsukino-san tersenyum seolah sedang mengagumi sesuatu.

"Tapi Kotaro-san ini memang selalu menjadi Kotaro-san ya."

"Maksudnya?"

"Dalam hal memikirkan perasaan orang lain, kecepatan otakmu benar-benar tidak terkejar oleh siapa pun."

"I-itu…… apakah sebuah pujian?"

"Sekitar tujuh puluh persen."

"Tujuh puluh persen lagi ya……"

Yah, kalau mengingat Mifuru-san biasanya mengatakannya dengan niat mengkritik seratus persen, ini sudah pencapaian besar.

Sambil menghabiskan sisa Taiyaki, Tsukino-san bertanya padaku.

"Apa Kamu sudah punya kepribadian seperti ini sejak dulu? Ah, ini cuma rasa penasaran saja sih."

"Aah…… iya, kurasa ada kejadian yang memicunya, setidaknya itu yang kusadari."

"Pemicu? Boleh aku mendengarnya?"

"Boleh saja sih…… tapi ceritanya tidak menarik lho? Lagipula, seingatku aku bahkan belum pernah menceritakan ini pada Mifuru-san……"

"Sekarang aku malah jadi makin ingin dengar."

Tsukino-san mendadak memangkas jarak di antara kami. Aku menghela napas dan melanjutkan.

"Begini. Kalau dibilang sebagai pengalaman dasar yang membentuk diriku sekarang……"

Aku pun mulai bercerita dalam alur obrolan santai, seolah-olah hanya memperpanjang obrolan ringan saja.

"Mungkin semuanya berawal saat orang tuaku hampir bercerai. Waktu itu Ayah dan Ibu diam-diam bertanya padaku, 'Kamu bakal ikut Ayah (Ibu), kan?'."

"…………"

Tangan Tsukino-san yang sedang memegang Taiyaki terhenti. Aku buru-buru menambahkan.

"Eh, tapi akhirnya mereka nggak jadi cerai kok! Sekarang mereka keluarga yang akrab banget, jadi anggap saja ini cerita lucu! Bukan hal yang seserius itu, sumpah."

"……Tidak, bagi Kotaro-san saat itu, itu pasti hal yang sangat serius."

"Aah…… yah, memang begitu sih saat itu……"

Melihatku yang tampak canggung, Tsukino-san dengan pengertian memancingku melanjutkan cerita.

"Tapi, bagaimana hal itu bisa berhubungan dengan kepribadianmu yang sekarang?"

"Ah, bagian itu ya. Eeto, kalau diceritakan urut, sebenarnya waktu itu aku lebih suka Ayah daripada Ibu. Jadi kalau ditanya mau ikut siapa, jawabannya ya Ayah."

"I-itu kedengarannya sangat menyedihkan bagi Ibumu ya."

"Iya. Tapi bukannya aku benci Ibu. Sebaliknya, aku sangat sayang padanya. Cuma kalau disuruh memilih salah satu, Ayah memang lebih unggul sedikit……"

"Iya, aku mengerti. Seharusnya itu adalah pertanyaan yang tidak boleh diberikan kepada anak kecil."

"Terima kasih. Karena itulah…… pada akhirnya mungkin ini adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kemenangan atau kekalahan yang kejam. Tapi, bukan berarti proses penyampaiannya boleh dilakukan tanpa perasaan…… setidaknya itu yang aku pahami bahkan saat masih kecil."

"Kotaro-san……"

……Gawat. Aku membuat Tsukino-san memasang wajah sedih lagi. Aku buru-buru mengalihkan arah pembicaraan.

"Eeto…… ya, permainan lelang! Ada salah satu game lelang favoritku yang judulnya High Society!"

"Kotaro-san……"

Meski memanggil namaku, kali ini nadanya mengandung nuansa lelah yang berbeda. Tsukino-san mungkin jago juga main game Hah? (game menebak ekspresi) ya…… tapi bukan saatnya memikirkan itu. Mari lanjut.

"Dalam game High Society ini, awalnya semua orang diberi jumlah uang yang sama. Selama permainan, pemain akan memperebutkan poin kemenangan, dan yang poinnya paling banyak di akhir dialah pemenangnya. Ini game untuk tiga orang atau lebih, tapi ada satu fitur khasnya. Yaitu…… aturan eliminasi."

"Aturan eliminasi?"

"Iya. Memang benar game ini dimenangkan oleh orang yang membeli banyak poin dengan uang. Tapi, sebelum penentuan poin pemenang itu dilakukan, ada aturan: 'Orang yang sisa uangnya paling sedikit karena terlalu boros selama permainan akan langsung dieliminasi'."

"Hmm, begitu! Itu menarik sekali!"

Tsukino-san yang tadi menyimak dengan tatapan kosong tiba-tiba matanya berbinar.

……Sial, aku memang suka bagian ini dari dia. ……Se-sebagai sesama pemain board game.

Tsukino-san bergumam sendiri sampai lupa memakan Taiyaki-nya.

"……Hmm, itu aturan yang sangat elegan sampai membuatku terpukau. Hanya dengan satu aturan itu, kedalaman adu taktiknya jadi berbeda jauh. Kita tidak bisa sekadar bilang 'pemenang adalah segalanya'. Ini juga pemikiran yang tidak ada dalam Shogi."

"Benar. Dan saat orang tuaku hampir bercerai dulu, aku harus memikirkan hal yang persis sama dengan game High Society ini."

"……Dalam menentukan kemenangan atau kekalahan, Kamu juga harus menaruh perhatian ekstra pada prosesnya, ya?"

"Iya. Saat itu, biarpun aku berada di pihak Ayah, justru karena itulah aku mulai sangat memperhatikan perasaan Ibu. Aku tidak bisa berbohong dengan bilang 'akan ikut Ibu', tapi di sisi lain aku terus bilang 'aku sayang Ibu' dan semacamnya. Dan itu kan sama sekali bukan kebohongan."

"Begitu ya. Benar-benar perhatian yang sangat khas board game……"

"Iya. Seperti 'mendukung pihak yang kalah', 'memperbaiki keseimbangan permainan', atau 'mengintervensi permainan yang pemenangnya sudah jelas'. Dan melalui semua itu, aku berhasil menyatukan kembali kedua orang tuaku. Aku mengalami kesuksesan di mana aku menjadi penengah mereka. Ya, kepribadian yang terbentuk setelah itu…… yah, cuma ada satu jenis kan?"

"……Maka terbentuklah kepribadian yang lebih mengutamakan 'kebahagiaan maksimal di tempat itu' daripada sekadar 'menang atau kalah'."

"Tepat sekali. Ah, ada faktor lain juga sih seperti 'kakak perempuan tetangga yang baik hati tempatku curhat' atau 'tunangannya yang mengajariku hiburan bernama board game yang sangat cocok denganku'. Nah, kalau didengar begini, akhirnya jadi cerita yang cukup lucu kan?"

Meskipun aku mencoba memancingnya begitu, Tsukino-san tidak mengangguk. Dia tetap memegang Taiyaki-nya dan menatapku tajam.

"……Karena Kamu bilang itu cerita lucu, maka aku harus menganggapnya lucu juga ya."

"Iya. Jujur saja, dikasihani itu malah terasa lebih berat buatku."

"Baik, aku mengerti. Lagipula aku sangat menyukai kepribadianmu yang sekarang. Dalam artian tertentu, aku bahkan harus berterima kasih pada pengalaman itu."

"Haha, kalau Kamu bilang begitu, aku juga ikut senang."

Aku mencoba menganggapnya enteng dan hendak memasukkan sisa Taiyaki ke mulut, tapi di saat berikutnya...

Tanpa mempedulikan pandangan orang lain, Tsukino-san meletakkan tangannya di kepalaku dan mengelusnya dengan lembut.

"Kamu sudah berjuang keras ya, Kotaro-san."

"…………"

……Itu bukanlah rasa kasihan yang murahan. Itu murni sebuah tindakan untuk memuji diriku yang masih kecil dulu.

Kehidupan Kotaro kecil yang selama ini tidak pernah dipuji dengan jujur oleh siapa pun——bahkan oleh Natsumi-san sekalipun——kini baru saja diapresiasi dengan tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Hanya itu, sesederhana itu……

""

"Kotaro-san?"

Aku buru-buru memalingkan wajah, segera memasukkan seluruh sisa Taiyaki ke dalam mulut, lalu berdiri dengan sentakan kuat seolah melarikan diri dari tangannya.

"Aku cuci tangan sebentar ya. Mungkin cara pegangku salah tadi, jadi terasa lengket."

"Ah, iya, baiklah. Aku makan sedikit lagi ya. ……Habisnya ini besar sekali."

"Ahaha, sindiran yang bagus. Rasanya seperti gonggongan pecundang."

"Ugu…… ……Cepat sana pergi."

"Iya, iya, aku pergi dulu. Begitu aku kembali, mari kita pulang. Sudah malam juga."

"Benar. Selamat jalan."

Dilepas oleh Tsukino-san, aku berjalan cepat meninggalkan tempat itu.

Aku langsung menuju toilet terdekat, mencuci tangan dengan air, lalu menatap cermin di depanku.

Sebuah rutinitas harian yang biasa. Tapi, meskipun begitu, di cermin itu...

"……Sadar dong, aku. Kalau begini……"

Sampai beberapa saat yang lalu, ini adalah wajah yang keluar saat aku berada di depan Utakata Tsukino sambil berbohong, padahal aslinya aku memikirkan Mifuru-san.

Artinya.

"Kalau begini…… kebohongan itu malah jadi kenyataan, kan……"

Wajah menyedihkan milik seorang perjaka yang sedang jatuh cinta—begitu Mifuru-san menyebutnya—terpampang jelas di sana.

◆◇◆

Kembali dari toilet, kami berdua keluar dari Town Seven menuju area stasiun. Di sana Tsukino-san berpamitan, "Kalau begitu, sampai di sini saja." Aku menjawabnya dengan sedikit ragu.

"Ah, kalau tidak keberatan, aku bisa mengantarmu sampai rumah? Matahari sudah terbenam juga……"

Namun, Tsukino-san kembali menolak tawaranku dengan wajah serius.

"Tidak. Acara yang kuikuti saat ini intinya adalah 'membantu Kurumaza'. Karena itulah, pilihan untuk diantar pulang oleh orang yang kusukai yaitu Kotaro-san, rasanya adalah pasokan layanan yang berlebihan."

"A-Anda masih saja kaku di bagian yang aneh ya. Tapi kalau itu maumu, baiklah."

Aku tidak terlalu memaksa dan memilih mundur. Kenyataannya di Ogikubo jam segini juga tidak berbahaya bagi wanita yang berjalan sendirian, dan tidak ada gunanya memaksakan kebaikan.

……Dan jujur saja, aku juga merasa tertolong. Aku sendiri masih bingung dengan benih perasaan yang mulai tumbuh untuk Tsukino-san. Daripada terus berinteraksi tanpa henti dengannya, aku ingin menata perasaanku sekali lagi dengan baik.

"Kalau begitu, terima kasih banyak untuk hari ini, Kotaro-san."

"Aku juga, terima kasih banyak. Eeto, kalau begitu…… sampai jumpa di Kurumaza."

"Ya, pasti dalam waktu dekat."

Kami berpisah di depan stasiun. Aku mengantarnya dengan pandangan sampai sosoknya tidak terlihat lagi. Dan……

"Nah, sekarang aku harus apa ya……"

Sambil bergumam, aku melihat tas belanja di tanganku.

Awalnya aku berniat langsung pulang setelah mengantar Tsukino-san sampai rumah.

Tapi karena kami berpisah di stasiun, mumpung lewat, mungkin lebih baik aku menaruh barang belanjaan ini di toko dulu. Berpikir begitu, aku melangkahkan kaki menuju Kurumaza.

Sambil berjalan, aku merogoh kunci cadangan manajer dari tas, sambil berpikir kalau Mifuru-san pasti sudah selesai menutup toko dan sudah pulang. ……Tadinya, aku berpikir begitu.

"……Eh."

Aku sudah curiga karena pintu toko tidak terkunci, tapi saat masuk, ternyata Mifuru-san masih ada di sana.

……Dia tertidur pulas di atas meja sambil mengeluarkan suara napas yang teratur.

"Hei, Mifuru-sa—"

Baru saja aku hendak memanggil dan meletakkan tangan di bahunya, aku ragu sejenak.

Karena, wajah tidurnya…… entah kenapa terlihat sangat kesepian.

"(Jangan-jangan, Usa-kun tidak bisa menjemputnya?)"

Kalau benar begitu, kasihan sekali. Selama masih dalam batas jam pulangku, aku ingin membiarkannya tidur sepuasnya.

Agar tidak membangunkannya, aku pindah pelan-pelan ke ruang karyawan.

Setelah menaruh barang belanjaan, aku mengambil selembar selimut cadangan, lalu kembali dan menyampirkannya ke bahu Mifuru-san dengan sangat hati-hati.

Saat aku hendak meninggalkan tempat itu…… tiba-tiba Mifuru-san membuka mulut.

"Banjo……"

"!"

Aku tegang sejenak mengira dia bangun, tapi ternyata matanya masih terpejam. Sepertinya dia sedang mengigau. ……Karena wajahnya terlihat sedih, kupikir dia sedang memimpikan Usa-kun yang tidak datang menjemputnya, tapi.

"Banjo………… dasar…… bodoh……"

"Apa-apaan orang ini."

Apa ada orang yang baru saja menyelimuti orang yang disukainya dengan lembut tapi malah dimaki? Mau nangis boleh nggak?

Yah…… rasanya memang sangat khas Mifuru-san, sih. Setidaknya dia tidak sedang memikirkan masalah berat soal Usa-kun, syukurlah.

Memang aneh mendoakan hubungan saingan cinta, tapi keinginan agar mereka berdua bahagia adalah perasaan jujurku juga.

Saat aku mulai merasa lega, Mifuru-san melanjutkan igauannya.

"…………Kalau cuma belanja…… aku juga…… bisa ikut……"

"Eh."

Kata-kata itu membuatku seolah dipukul dengan keras.

……Kalau yang barusan itu bukan salah dengar. Alasan dia memasang wajah sedih seperti ini adalah……

Tepat saat aku berpikir sejauh itu, aku melihat ponsel di bawah tangannya.

……Kapan Mifuru-san tertidur? Kalau dipikir-pikir…… pesan LINE darinya yang menggodaku dan Tsukino-san berhenti di tengah jalan.

Kalau begitu. Jangan-jangan, alasan dia tertidur dengan wajah sedih bukan karena Usa-kun, melainkan……

Tepat di saat aku tidak bisa menghentikan pemikiran yang sangat menguntungkan bagi diriku sendiri itu.

"Nn……"

Tiba-tiba Mifuru-san bangun tegak. Sambil mengucek ujung matanya yang mengantuk, dia menatapku dengan pandangan kabur, lalu memberikan senyum yang terlihat sangat polos.

"Lama banget sih jemputnya. Mau bikin aku nunggu sampai kapan. Dasar……"

Sepertinya dia masih setengah sadar. Melihat tingkahnya, sepertinya dia mengira aku adalah pacarnya, Usa-kun——

"Aku benci banget sama Kamu, Banjo."

——Berlawanan dengan kata-katanya, dia memeluk pinggangku dengan erat sambil tersenyum lembut.

Pikiranku berhenti total. Apakah ini…… karena dia masih mengantuk dan mencampuradukkan aku dengan Usa-kun? Atau…… ……P-pokoknya, sekarang aku harus gimana——

"…………Nn."

——Tapi di saat berikutnya, Mifuru-san langsung melepaskan pelukannya dengan sentakan kuat. Dia menatap wajahku tajam…… dan berbeda jauh dengan wajah manisnya tadi, dia langsung menghujaniku dengan kata-kata yang sangat tajam.

"Heh, mati aja Kamu, Banjo."

"Nggak adil banget!"

Meskipun aku protes, aku merasa lega melihat Mifuru-san kembali ke mode normal.

Saat dia menyadari selimut di bahunya, dia sepertinya paham situasinya, memalingkan muka, lalu bicara.

"Makasih. Ngeselin. Malu. Bangunin kek. Tapi makasih. Ngapain balik lagi sih. Tapi, makasih."

"Gelombang emosinya dahsyat banget ya. Eeto, pokoknya, sama-sama."

"…………Nn."

"…………Iya."

Tik, tok. Hanya suara jarum jam yang bergema di dalam toko.

Karena suasana terasa sangat canggung, aku mencoba bertanya padanya dengan sedikit bercanda untuk menutupi rasa bersalah karena tidak sengaja mendengar igauannya.

"Eeto, jangan-jangan Mifuru-san juga mau ikut belanja perlengkapan bersamaku?"

"Ngeselin. Jangan kegeeran ya."

Mifuru-san tertawa terbahak-bahak. Di saat aku kembali merasa tenang melihat "Mifuru-san yang seperti biasanya" dan membalas "Iya juga ya", dia bicara sambil menggenggam ujung selimut yang kusampirkan.

"……Itu tuh, sama kayak sikapku di 'permainan lelang' tadi."

"Sikap Mifuru-san? Ah, strategi yang nggak peduli sama gangguan orang lain dan langsung hajar habis-habisan buat barang yang beneran Kamu mau itu ya?"

"Iya. Makanya……"

Mifuru-san menyambung kata-katanya. Berlawanan dengan kalimatnya, dia menatapku dengan mata yang terasa hangat dan wajah cemberut saat mengatakannya.

"Sama lelang yang cuma selevel Banjo mah, aku sama sekaliiii nggak tertarik tahu, Takanashi Mifuru."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close