NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Asobi no Kankei Volume 3 Chapter 4

Chapter Terakhir

Persiapan untuk Tidak Menangis


Akhir pekan duel yang dinanti pun tiba. Sekitar dua jam perjalanan dengan kereta dan bus dari Ogikubo, kami sampai di sebuah fasilitas water park raksasa dengan kolam renang indoor berbentuk kubah besar yang bisa dinikmati tanpa mempedulikan musim maupun cuaca.

Di ruang ganti wanita, aku berganti pakaian dengan baju renang yang sedikit "menyerang", lalu melangkah dengan ragu menuju area lapangan depan pantai (area di depan kolam ombak) tempatku berjanji temu dengan Kotaro-san.

Seingatku, sejak SD hingga SMA aku tidak pernah mengikuti pelajaran renang campuran laki-laki dan perempuan.

Jadi kalau dipikir-pikir, mungkin ini adalah kali pertama dalam hidupku memperlihatkan sosok berbaju renang kepada lawan jenis sebayaku.

"……Begitu rupanya…… ini…… yang pertama……"

Berbagai emosi kompleks yang bergejolak di dada membuat detak jantungku semakin kencang.

Setelah berjalan beberapa saat, area lapangan depan pantai mulai terlihat.

Katanya area ini akan sangat padat pengunjung saat musim panas, tapi sekarang sudah memasuki masa sepi tepat sebelum penutupan musim dingin.

Pengunjungnya jarang, terasa sedikit sunyi, namun justru karena itulah tempat ini cocok untuk kencan yang tenang.

Di tengah lapangan itu, aku menemukan punggung seorang pemuda yang sedang melamun menatap riak ombak yang datang dan pergi di kolam dangkal. Itu dia. Kotaro-san.

Melihatnya mengenakan celana renang half-pants sepanjang lutut, meski hanya punggungnya saja, bagian atas tubuhnya yang polos sukses membuatku terpana.

Karena biasanya dia selalu memakai celemek dan identik dengan citra "pelayan kafe", rasanya seolah aku sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat.

Namun, sebagai pemegang gelar Utakata sang Female Meijin, tidaklah pantas jika aku sampai salah tingkah hanya karena melihat lawan jenis yang setengah telanjang.

Aku mengatur napas, lalu kembali melangkah menuju ke arahnya——namun, dengan langkah yang sangat amat lambat.

"(Aku tidak boleh goyah hanya karena melihatnya berbaju renang. Justru, seharusnya dia yang melihatku……)"

Begitu sampai pada pemikiran itu, rasa cemas tiba-tiba memenuhi dadaku.

Apa yang akan dia katakan setelah melihat penampilanku?

……Seandainya dia menunjukkan wajah kecewa, aku pasti tidak akan bisa bangkit lagi.

Meski begitu, aku tidak boleh gentar.

Karena hari ini adalah "Hari Terakhir" yang sangat penting.

Hari terakhir yang krusial, hari di mana keberhasilan atau kegagalan pengakuanku akan ditentukan.

Aku memantapkan hati, lalu memanggil punggungnya.

"Maaf membuatmu menunggu."

Mendengar kata-kata itu, dia menoleh. Aku pun menegang.

Lalu, saat Kotaro-san menangkap sosokku di matanya.

Dia tidak menjadi salah tingkah sepertiku tadi, dan tentu saja tidak merasa ilfil.

Dia hanya tersenyum lembut dan membalas dengan sikap pria budiman.

"Sama sekali tidak. Aku juga baru saja sampai. ……Lagipula, memang apa pun yang kamu pakai selalu cocok ya. Iya, menurutku ini sangat bagus."

"A-ah, terima kasih……"

Sungguh sangat Great. Peristiwa pertama dalam hidupku memperlihatkan baju renang kepada orang yang kusukai sepertinya berakhir dengan kesuksesan besar. Ini benar-benar pertanda yang bagus. ……Iya.

Yah, hanya ada satu poin saja——

"Beneran, itu cocok banget buatmu——Usa-kun! Hoodie dan celana pendek itu!"

"Terima kasih ya, Tokiwa-kun!"

——Kecuali fakta bahwa saat ini aku berada dalam mode "Usa Itsuki"!

Melihat potret masa muda yang begitu menyimpang, di mana "sosok berbaju renang untuk orang yang disukai" yang pertama dalam hidupku justru dalam wujud penyamaran pria total, aku pun hanya bisa memasang senyum melankolis.

Entah apa yang ada di pikiran Kotaro-san, dia terus memberikan pujian dengan tatapan mata yang berbinar-binar polos.

"Wah, tapi beneran deh, Usa-kun itu kalau pakai baju apa pun rasanya selalu keren ya. Hebat banget."

"Be-begitu ya……?"

Ya ampun, dia bisa-bisanya memuji baju renang rival cintanya sampai segitunya. Bukankah dia terlalu baik hati?

Di saat aku merasa tak habis pikir, Kotaro-san melanjutkan bicaranya.

"Tapi, apa memakai hoodie lengan panjang di kolam renang indoor begini tidak kepanasan?"

"Eh. A-ah…… aku, anu, kulitku lemah terhadap sinar matahari. Jadi sebisa mungkin ingin kututupi."

"Oh, begitu ya? Ah, memang sih, kulit Usa-kun itu terlihat sangat cantik ya. Lihat saja, kakimu itu sudah seperti model wanita……"

Mendengar dia berkata begitu sambil menatap kaki telanjangku yang menyembul dari bawah celana pendek.

Aku…… dengan pipi yang memerah, langsung membalasnya.

"……Tokiwa-kun, dasar mesum."

"Mesum!? Eh, baru lihat daerah pergelangan kaki saja sudah kena vonis begitu!?"

"Ka-kalau dilihat dengan tatapan menjilat begitu, tidak peduli bagian mana pun, rasanya tetap memalukan tahu."

"Mungkin benar juga sih. Tapi, aku tidak punya niat aneh, beneran cuma refleks berpikir kalau itu cantik secara jujur……"

"……Uuuh."

"Ma-maaf, sungguh. Aku tidak menyangka Usa-kun bakal semalu itu. Ah, tapi."

Ucap Kotaro-san, lalu dia melanjutkan dengan senyum jahil.

"Melihat Usa-kun yang sedang malu begitu, menurutku itu cukup segar dan imut juga sih."

"To-Tokiwa-kun!"

"Haha!"

Kami pun bercanda ria dengan riangnya. ……Meski ini sama sekali berbeda dari bayanganku, tapi yah, begini pun boleh juga……

"……Heh, kukira bakal Usa x Tokiwa, ternyata malah Tokiwa x Usa ya."

"Kalau diputar sekali lagi, ini malah terasa seperti jalan yang normal."

"!"

Sadar-sadar, entah sejak kapan di belakang kami sudah berdiri dua orang gadis——Hangui Akari dan Takeshi Momoai.

Hangui Akari mengenakan bikini hitam dengan balutan syal renda yang memberinya aura misterius.

Sedangkan Takeshi Momoai terlihat sangat menyilaukan dengan baju renang oranye yang sangat cocok dengan kulit cokelat dan proporsi tubuhnya yang sehat.

Intinya, keduanya adalah wanita yang sangat menarik bahkan dari sudut pandang sesama perempuan.

Kenyataannya, sejak mereka muncul, pandangan dari pengunjung sekitar…… terutama dari kaum pria, benar-benar luar biasa.

Sebaliknya, kalau bicara soal diriku…… saat ini aku hanyalah orang yang sedang menyamar jadi pria dengan hoodie dan celana pendek.

"……Tokiwa-kun. Kamu boleh kok lihat pergelangan kakiku lebih banyak lagi."

"Eh, tiba-tiba kasih izin apa? Enggak usah, lagian aku bukan penganut fetis pergelangan kaki atau semacamnya……"

"Fuu-n. Jadi maksudmu, kamu lebih ingin melihat baju renang Hangui-san dan Takeshi-san ya. Begitu ya. ……Mesum."

"Kejam banget sih, kenapa hari ini semua penilaianmu padaku harus berakhir dengan kata 'mesum'?"

Sambil membalas sindiran itu, Kotaro-san kembali mengalihkan pandangannya ke arah Hangui-san dan Takeshi-san.

Ternyata di luar dugaan, dia tidak terlalu salah tingkah melihat baju renang mereka berdua dan bersikap sangat natural.

"Kalian berdua cocok memakainya."

"Terima kasih banyak! Tokiwa-shi juga terlihat keren!"

"Terima kasih, Takeshi."

Ya, mereka berdua saling membalas reaksi yang benar-benar murni seperti "teman". Saat aku melamun melihat pemandangan itu, Hangui Akari perlahan mendekat ke arahku dan membisikkan penjelasan dengan volume yang tidak terdengar oleh mereka berdua.

"Semakin banyak bagian tubuh Takeshi yang terekspos, Tokiwa cenderung akan menyegel sisi 'pria' dalam dirinya sendiri. Dia pasti akan langsung masuk ke mode pria budiman yang sempurna."

"Ah…… itu informasi tambahan yang membuatku merasa paham sekaligus lega, tapi di saat yang sama juga terasa agak menyedihkan."

"Beneran deh. Yah, tapi justru bagian dari diri Tokiwa yang seperti itulah yang kusukai."

Hangui-san mengucapkan perasaannya terhadap Kotaro-san dengan santai, lalu menjauh dariku.

……Entahlah, sungguh, orang ini sepertinya tipe yang besok-besok bisa saja tiba-tiba mengirimkan kartu pos pengumuman "Sudah Menikah" dengan Kotaro-san tanpa peringatan.

Meskipun di sisi lain, fakta bahwa sama sekali tidak terlihat perasaan cinta yang menempel lengket di antara mereka berdua adalah sebuah penyelamat bagiku.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, kulihat Hangui-san dengan niat menggoda yang meluap-luap mendekati Kotaro-san sambil meliuk-liukkan tubuhnya.

"Hei, hei, Tokiwa. Tadi kamu bilang padaku kalau baju renangku 'cocok' sekalian saat memuji Takeshi, kan?"

"Eh? Ah, mungkin saja…… tapi memangnya kenapa, Hangui?"

"Enggak, aku cuma mikir apa kamu nggak mau menarik ucapanmu. Soalnya, itu sama saja dengan kamu memberikan penilaian kalau aku 'imut' juga, kan? Bagi Tokiwa yang bermusuhan denganku, apa itu tidak masalah?"

Sambil terkikik geli, Hangui-san terus memprovokasi Kotaro-san.

Namun, bagi Hangui-san maupun diriku, Kotaro-san memberikan serangan balik dari sudut yang tak terduga dengan sangat santai.

"……? Enggak, terlepas dari soal permusuhan atau apa pun, aku memang sudah menganggap Hangui imut dari dulu kok."

"Heh?"

"……? Habisnya kamu memang imut, kan? Secara normal. Ah, bukan secara normal deng. Imut banget."

"!?!?!?"

Mungkin karena jawabannya terlalu di luar dugaan, mata Hangui-san berputar-putar dan wajahnya memerah padam.

……Ugh, meskipun menyebalkan, tapi di saat seperti inilah orang ini benar-benar terlihat imut.

Dia menunduk seolah ingin membuang muka dari Kotaro-san, lalu membalas dengan terbata-bata.

"E-eh, ya, anu, a…… te-terima kasih? Tokiwa……"

"? Sama-sama. Tapi untuk apa? Aku kan cuma mengatakan fakta yang sebenarnya……"

"Ya, anu, sudah deh, beneran, maaf, ampuni aku……Bisa meledak tahu……"

"???"

"Fuhihi, Tokiwa-shi dan Syuri-chan masih tetap akrab seperti biasanya ya."

Takeshi-san tersenyum geli melihat pemandangan itu. Jika dia sudah melihat hal semacam ini sejak masa SMA, tentu saja dia akan berpendapat bahwa "mereka berdua bisa menjadi sangat akrab".

……Yah, kalau aku sih, tidak berniat hanya berpangku tangan melihat hal itu terjadi.

"Ngomong-ngomong, apa Mifuru tidak bersama kalian?"

Saat aku menanyakan hal itu untuk mengubah topik, Hangui-san menjawab.

"Ah, meskipun kami semua dari kelompok ruang ganti wanita, bukan berarti kami terus bergerak bersama-sama. ……Termasuk si gadis bergaya tomboi itu, kan?"

Ucap Hangui-san sambil menatapku dengan nada menggoda. Kenapa sih orang ini hobi sekali melempar bola-bola berbahaya.

Lalu, entah sadar atau tidak dengan adu taktik di antara kami, Kotaro-san tiba-tiba melontarkan sebuah pengamatan yang cukup kritis.




"Ah, kalau dipikir-pikir aku juga sama sekali tidak melihat Usa-kun di ruang ganti pria tadi."

"Ugh. Itu... yah, begitulah."

Saat aku tertawa untuk menutupi kegugupanku, kali ini Takeshi-san melemparkan sebuah "bola berbahaya" dengan sangat polos... Tidak, justru karena kepolosannya itulah serangannya jadi mematikan.

"Ngomong-ngomong, bukankah Utakata-shi yang merupakan tokoh utama dari acara jalan-jalan ini belum datang?"

"Ugh..."

Di hadapanku yang sedang berkeringat dingin tanpa ada yang tahu, Kotaro-san menjawab, "Soal itu..."

"Tadi aku sempat jelaskan sedikit di jalan, katanya dia ada pekerjaan mendadak jadi agak terlambat. Barusan dia juga kirim LINE, sepertinya masih butuh waktu sedikit lagi."

"Fumu, itu sangat disayangkan. Padahal bermain bersama dengan keenam orang lengkap adalah yang terbaik."

"Iya, benar sekali."

Kotaro-san dan Takeshi-san—dua orang di pihak yang "benar-benar tidak tahu apa-apa"—bergumam dengan nada yang tulus merasa kecewa.

Melihat mereka berdua, aku dan Hangui-san pun melontarkan tsukkomi di dalam hati.

(Mustahil "keenam orang" itu bisa berkumpul bersama seumur hidup, tahu.)

Sayang sekali, entah kenapa hanya satu di antara Usa Itsuki atau Utakata Tsukino yang bisa eksis di satu waktu. Kecuali kalau kami mendapat bantuan dari Kaito Kid.

Lalu, Hangui-san kembali melontarkan kata-kata jahil kepada Kotaro-san.

"Ara, tapi bukankah itu bagus bagi Tokiwa? Berkat itu, kamu bisa menikmati baju renang para gadis... baju renang Takanashi Mifuru, tanpa perlu merasa sungkan karena diawasi Utakata Tsukino."

"Tunggu, Hangui, apa yang kamu katakan di depan Usa-kun... di depan pacarnya Mifuru-san, sih?"

"Duh, maaf ya. Tapi bukannya fakta kalau kamu merasa sangat lega tanpa ada Utakata Tsukino di sini? Karena dengan begitu, kamu tidak perlu menjaga perasaan orang lain."

Hangui Akari terus mengulang pertanyaan dengan niat buruk seperti biasanya. Orang ini benar-benar ya, kenapa dia selalu bisa menusuk tepat di bagian yang paling tidak disukai orang... saat aku sedang memikirkan hal itu.

"Itu... memang benar sih, aku tidak bilang kalau perasaan semacam itu sama sekali tidak ada."

Mendengar Kotaro-san menjawab sambil tertawa kecut, tanpa sadar aku merasa depresi.

Begitu... ya. Baginya, aku masihlah sosok yang membuatnya harus merasa sungkan. Tentu saja aku masih jauh dibandingkan Takanashi-san, bahkan dari posisi teman seperti Hangui-san atau Takeshi-san pun, aku masih terasa jauh.

Di saat hatiku perlahan-lahan tenggelam semakin dalam.

"Meskipun begitu,"

Kotaro-san melanjutkan bicaranya sambil tersenyum malu-malu, dan mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak kuduga.

"Tetap saja aku merasa jauh lebih menyenangkan jika Tsukino-san ada bersama kita. Kuharap dia bisa segera bergabung."

Itu adalah... perasaan jujur darinya yang murni tanpa kepura-puraan sedikit pun, yang tersampaikan justru karena ucapan itu tidak ditujukan kepadaku, Utakata Tsukino, secara langsung.

Tanpa sadar aku hampir saja menangis. Namun, aku berusaha keras menahannya. Karena tidak masuk akal jika Usa Itsuki tiba-tiba merasa terharu di sini.

Saat aku sedang berjuang keras menahan dorongan rasa bahagia itu, aku menyadari Hangui-san sedang menatapku dengan tatapan mata yang entah kenapa terasa lembut.

Seolah-olah dia sedang berkata, "Syukurlah untukmu."

...Ah, mungkinkah orang ini sebenarnya tidak bermaksud jahat saat mengangkat topik tadi?

Sepertinya dia juga sedikit menghargaiku sebagai teman, sungguh sangat Great

"Huh, aku tidak yakin pecatur wanita yang muram seperti dia bisa membuat suasana pesta kolam renang ini jadi seru."

"Iya, kamu memang tipe orang yang seperti itu ya."

Tanpa sadar aku melontarkan tsukkomi keras dalam mode Usa. Benar-benar rugi. Aku benar-benar merasa rugi karena sempat mengevaluasi ulang dirinya di dalam hati.

Di saat Kotaro-san memiringkan kepala dengan ekspresi seolah bertanya, "Memangnya Usa-kun dan Hangui pernah punya hubungan sedekat itu ya?", Takeshi-san menyela dengan polosnya.

"Tapi Utakata-shi juga kasihan ya. Menurutku acara jalan-jalan seperti ini adalah sebuah event yang mencakup perjalanannya juga."

"Benar kan, Takeshi. Kalau bicara hari ini saja, di dalam kereta tadi kita bisa main 'Sea Turtle's Soup' atau 'Word Wolf'."

"Benar sekali. Itu tadi sangat menyenangkan!"

Melihat keduanya bercerita dengan senyum lebar, Hangui-san menyela dengan tawa kecut.

"Duh, aku tidak menyangka bakal dipaksa main board game... atau lebih tepatnya analog game? Bahkan sampai di dalam kereta. Beginilah susahnya kalau jalan-jalan bareng para otaku board game..."

"Meski mengeluh begitu, sejauh yang kulihat, Syuri-chan adalah yang paling bersenang-senang tadi."

"Mo-Momo-chan! Ti... tidak begitu, kok."

"Menurutku juga Hangui terlihat sangat menikmatinya. Yah, kedua game itu kan punya elemen pemecahan misteri yang mirip dengan Murder Mystery. Dari awal aku sudah mengira kalau Hangui bakal suka."

"Duh, kenapa Tokiwa malah sibuk menusuk seleraku sih. Harusnya kamu buat Takanashi Mifuru saja yang bersenang-senang."

"Kalau dipikir-pikir benar juga. Tapi entah kenapa, karena biasanya kamu selalu cemberut, aku jadi merasa sangat senang kalau melihat Hangui tampak gembira. Benar kan, Takeshi?"

"Benar sekali, Tokiwa-shi."

"U-uuu...!"

...Entahlah, kalau dilihat sekali lagi, bukankah kecocokan mereka bertiga sebagai teman itu terlalu luar biasa?

Interaksi saling serang antara Takanashi-san dan Kotaro-san memang hebat, tapi pemandangan mereka bertiga ini juga terasa sangat berharga.

...Dibandingkan dengan mereka, aku sendiri... saat aku menyadari diriku mulai menjadi pesimis, aku segera menepuk kedua pipiku dengan tangan.

"? Ada apa, Usa-kun?"

"Ti-tidak, bukan apa-apa. Lagipula, game di kereta tadi memang seru kok. Terutama 'Word Wolf', aku merasa sangat kagum. Tidak menyangka game semacam 'Werewolf' bisa dimainkan dengan semudah itu."

Itu adalah kejujuran yang tulus. 'Word Wolf' pada dasarnya adalah game yang bisa dimainkan hanya dengan satu ponsel.

Aplikasi akan menentukan tema obrolan, dan semua orang akan berdiskusi tentangnya.

Namun, di antara mereka ada satu orang (atau lebih tergantung pengaturan) yang diberikan tema yang berbeda... begitulah permainannya.

Misalnya jika tema semua orang adalah "Nikujaga", tapi si serigala diberikan tema "Kari".

Diskusi mungkin akan berjalan lancar saat membahas soal daging atau kentang, tapi tiba-tiba si serigala bilang "rasanya pedas rempah-rempah ya", dan semua orang pun mulai curiga.

Kotaro-san dan Takeshi-san menceritakan daya tariknya secara bergantian.

"Fakta kalau game ini bisa dimainkan dengan praktis lewat satu aplikasi tapi tetap seru dan punya replayability tinggi, membuat 'Word Wolf' menjadi salah satu jenis permainan yang mendekati ideal."

"Benar sekali. Bagi kami yang biasanya menuntut kualitas komponen dari sebuah board game, game ini sukses membuat kami sadar kembali saat memainkannya sesekali."

"Benar, benar."

"Wah, wah, ini dia, rasa terasing yang sangat nostalgia."

Hangui Akari menunjukkan senyuman yang disertai aura tekanan yang aneh. Aku pun menyapanya.

"Tapi sejujurnya Hangui-san juga menikmati 'Word Wolf', kan?"

"I-itu karena game-nya mengandung elemen yang cukup mirip dengan Murder Mystery... terutama yang biasa kubuat..."

"Begitu ya? Contohnya seperti apa?"

"Hmm, kalau dipaksa menjelaskan, mungkin rasanya seperti ada satu orang yang bergerak dengan aturan berbeda, dan dia harus bersikap sedemikian rupa agar tidak ketahuan oleh sekelilingnya."

"Begitu rupanya."

"Fufu, berdasarkan pengalaman ini, mungkin aku akan memasukkan karakter gadis yang menyamar jadi pria di karya Murder Mystery berikutnya."

"Bo-boleh saja kan, tidak masalah."

Jawabku, alias Usa Itsuki, dengan pipi yang sedikit berkedut. Apakah orang ini sedang melampiaskan stresnya padaku karena tadi dibuat deg-degan oleh Kotaro-san?

Aku pun mengalihkan pembicaraan ke Kotaro-san tentang Murder Mystery.

"Soal Murder Mystery yang dibuat Hangui-san untuk Kurumaza, apakah sudah bisa dimainkan dalam waktu dekat?"

"Ah, iya, mungkin mulai minggu depan sudah bisa diperkenalkan. ...Meski persiapannya cukup membuatku menderita."

Kotaro-san menatap Hangui-san dengan tatapan penuh dendam. Hangui-san mengabaikannya begitu saja.

"Ara, itu pasti berat ya Tokiwa. Tapi kalau bicara soal itu, aku pun mengalami penderitaan yang tak terduga tahu. Terutama karena pemeran pelakunya yang aktingnya sangat kaku seperti kayu..."

"Siapa yang kamu bilang aktingnya kaku?"

Sebuah suara menyela kalimat Hangui-san dari arah belakang. Saat kami semua menoleh, di sana berdiri seorang idola papan atas—bukan, seorang wanita cantik berbaju renang dengan aura luar biasa yang bisa membuat orang salah mengira dia adalah publik figur di media. Dialah Takanashi Mifuru.

Mengenakan bikini merah muda yang serasi dengan warna rambutnya, dia memancarkan kehadiran yang sanggup membuat siapa pun yang melihatnya terpana.

Jika Takeshi-san adalah tipe yang memiliki daya tarik seperti model majalah dewasa, maka Takanashi-san memancarkan kesegaran seperti seorang idola yang pertama kali memamerkan sosok berbaju renangnya.

Sebagai sesama wanita, aku hampir saja keceplosan bilang "Sangat Great", tapi aku buru-buru menutup mulut. Kulihat Takeshi-san dan Hangui-san tentu saja terpesona.

Bahkan Kotaro-san yang seharusnya memasang mode "Pria Budiman" lebih dari biasanya hari ini pun, sampai menganga tak berkedip melihatnya.

Mendapat tatapan dari semua orang di sana, Takanashi-san melayangkan protes dengan wajah malu yang jarang diperlihatkan.

"A-apa sih? Duh, berhenti deh kasih reaksi kayak gitu."

Mendengar kata-kata itu, aku pun tersadar bahwa sebagai "Pacar, Usa Itsuki", akulah yang seharusnya memberikan reaksi pertama. Aku pun tersenyum dan menyapanya.

"Baju renangnya cantik banget ya, Mifuru."

"Eh, aku senang mendengarnya. Kamu juga terlihat paling menarik di antara para pria lho, Usa-kun."

"Waduh, gadis menyebalkan ini malah memberikan sindiran halus tentang peringkat terbawah sambil memuji pacarnya ya."

"Wuaah, rasa 'nggak mau pegang' dari bidang dadamu itu entah kenapa bikin ngakak ya, Banjo."

"Nggak perlu bilang hal sekejam itu juga kan!?"

"Maaf, maaf. Sebagai permintaan maaf karena sudah melukaimu, kamu boleh kok pegang dadaku... tapi kalau kamu pikir aku bakal kasih izin beneran, kamu salah besar ya, Banjo."

"Aku tidak minta hal semacam itu, kan!? Kenapa tatapan matamu jadi penuh penghinaan begitu!? Ah, sudahlah..."

Kotaro-san mengacak-acak rambutnya sendiri dengan ekspresi bingung. Lalu, Takanashi-san... mendekatinya dengan langkah yang sedikit ragu.

Dia membungkukkan badannya sedikit seperti sedang berpose, lalu menatap Kotaro-san dari bawah.

"Ngomong-ngomong, menurut Banjo, gimana baju renangku?"

"Hah? Berani-beraninya kamu tanya begitu setelah alur tadi. Yang kayak gitu sih, tentu saja—"

"Tentu saja?"

"............ Ra-rasanya itu bukan sesuatu yang pantas diucapkan di depan pacarmu sendiri."

"Heh? Hooh? Fuu-n? Jadi begitu ya? Heee."

Sambil senyum-senyum mesem, Takanashi-san menatap wajah Kotaro-san dengan raut bahagia.

Yah, kalau aku diperlakukan seperti itu setiap hari, aku pasti sudah langsung KO dalam sekali serang... saat aku memikirkan hal itu, aku kembali teringat posisiku sebagai "Usa Itsuki", lalu aku berdehem kecil.

"Sudah, sudah, Mifuru. Jangan menggoda Tokiwa-kun terus."

"Iya, iya. Sikap posesif khas pacar seperti itu pun aku suka lho, Usa-kun."

Takanashi-san langsung melemparkan tanda cinta kepadaku, membuat Kotaro-san menerima serangan telak.

...Entah kenapa, di saat seperti ini aku jadi merasa kasihan padanya sampai-sampai melupakan posisiku sendiri.

Lalu, Takeshi-san bertepuk tangan dengan keras untuk menarik perhatian kami.

"Dengan ini semua orang sudah berkumpul kecuali Utakata-shi yang akan menyusul nanti! Kalau begitu, sekali lagi..."

Seolah ingin mengeringkan suasana canggung yang sempat berantakan karena masalah asmara tadi.

Dan sebagai "Pemenang AIUE Battle" yang mencetuskan ide jalan-jalan ini. Dia memimpin aba-aba untuk memulai hari dengan senyuman ceria yang khas darinya.

"Hari ini mari kita semua menikmati kolam renangnya!"

"Ooooh!"

◆◇◆

Tokiwa Kotaro

Bagi orang sepertiku, kata "bermain air" itu tidak memberikan gambaran yang jelas.

Jika "bermain pasir" mungkin masih masuk akal, tapi cakupan bermain menggunakan air rasanya tidak terlalu luas.

Aku malah berpikir kalau menyediakan satu buah dadu saja pasti jauh lebih bisa dimainkan.

Jadi sejujurnya, saat acara kencan ini diputuskan, di dalam hati aku sempat membatin, "Kolam renang ya... kolam renang..." Tapi kesimpulannya.

Bermain air itu ternyata seru sekali. Hidup pengelola fasilitas kolam renang indoor raksasa!

Sekadar saling mencipratkan air, lomba renang, seluncuran air, bahkan hanya berjalan di dalam air setinggi pinggang saja pun.

Meskipun tidak ada aturan atau adu taktik sama sekali, hanya dengan berbagi "pengalaman yang sedikit berbeda dari keseharian (bermain air)" bersama teman-teman, itu sudah cukup menyenangkan.

Malah, kalau dipikir-pikir ada pengalaman buruk saat bermain board game di mana lima sampai enam pemain menghabiskan waktu seharian tapi hanya merasa "repot dan sama sekali tidak seru"...

"Haah, bermain air ternyata benar-benar sangat Great."

Sambil menggumamkan kesan itu, aku berendam sendirian di soft water jacuzzi untuk beristirahat.

Mungkin karena sedang bukan musimnya, pengunjung hari ini sangat sedikit sehingga kami bisa menggunakan setiap fasilitas tanpa perlu mengantre.

Berkat itu, salah satu bak jacuzzi yang disediakan kini terasa seperti milik pribadi.

"............"

Aku menatap langit-langit sambil tenggelam dalam pikiran.

Alasan kenapa aku memisahkan diri saat yang lain sedang asyik bermain bukan hanya karena butuh istirahat. Karena, hari ini...

"Jangan-jangan Banjo akhirnya bakal punya pacar hari ini ya."

"Tolong jangan masuk ke dalam pikiran orang lain dengan seenaknya begitu."

Sadar-sadar, sesosok malaikat sudah berdiri di sampingku—Mifuru-san dengan baju renangnya.

Tanpa sengaja aku melihatnya dari sudut pandang rendah, membuatku bingung harus menatap ke mana sehingga aku memalingkan wajah.

Entah dia sadar atau tidak dengan kegugupanku, dia bilang "Permisi ya" lalu masuk ke dalam jacuzzi.

Yah, karena ini adalah fasilitas berendam campuran berbaju renang, itu hal yang wajar, tapi kenyataan bahwa aku sedang berendam di spa bersama Mifuru-san membuatku sangat deg-degan.

"Iya, iya, aku paham kok kalau perjaka sepertimu pasti ingin berpikir sendirian."

"Kalau sudah tahu, kenapa Anda malah datang menggangguku?"

"Tentu saja untuk mendorong punggungmu, Banjo."

"Eh, itu maksudnya..."

Menanggapi harapanku, Mifuru-san tersenyum manis.

"Habisnya kamu tidak kunjung lengah saat berjalan di pinggir kolam sih."

"Ah, ternyata itu rencana serangan fisik biasa ya."

Sepertinya dia berniat membuntutiku dan mendorongku dari belakang, tapi karena kesempatannya tidak kunjung datang dan aku malah masuk ke jacuzzi, si gadis gal ini akhirnya menyerah untuk menjahiliku dan ikut masuk berendam.

...Duh, bukankah perilakunya terlalu imut?

Apalagi seperti biasa, jaraknya benar-benar tidak masuk akal.

Bahkan dalam kondisi berbaju renang pun dia duduk sangat dekat sampai-sampai kulit kami hampir bersentuhan, membuatku sangat cemas.

Aku sama sekali tidak bisa tenang untuk memikirkan soal pengakuan Tsukino-san.

Terpaksa, aku memutuskan untuk mengalihkan kesadaran dengan mengobrol bersamanya.

"Eeto Mifuru-san, apa tidak apa-apa kamu tidak main bareng Usa-kun dan yang lainnya?"

"Ah. Itu, mereka bertiga malah asyik tanding retro game di fasilitas semacam game center di sana. Bagiku itu agak membosankan jadi aku keluar saja. Lagipula, aku kan tidak tertarik dengan segala hal yang berbau game."

"Sebagai pelayan kafe board game, kamu benar-benar sosok yang unik ya."

Duh, orang ini sebenarnya kenapa ya mau bekerja paruh waktu di Kurumaza?

Seingatku di awal dia bilang "ada sedikit ketertarikan", tapi kalau dipikir sekarang, itu pun sangat mencurigakan.

Yah, meski begitu, alasan utamanya tidak mungkin bisa kusimpulkan hanya dengan informasi yang kupunya sekarang.

...Ah, benar juga, bicara soal kesimpulan.

"Ngomong-ngomong Mifuru-san, sebentar lagi kita akan meluncurkan Murder Mystery buatan kami, 'Murder on the Board', apakah peran pelakunya sudah aman? Aku dengar dari Hangui kalau kamu cukup kesulitan."

"Ah, itu ya. Hmm, gimana ya. Kurasa sih bakal aman... tapi tergantung situasi, mungkin aku bakal minta tolong ke Akalin buat sedikit mengubah pengaturannya."

"Eh, apa ada elemen yang menuntut kemampuan akting tingkat tinggi sesulit itu?"

Padahal aku sudah meminta Hangui untuk membuatnya sebagai permainan bagi pemula.

Jika beban pemeran pelakunya sebesar itu, mungkin perubahan pengaturan memang tidak terelakkan.

Melihatku mengernyitkan dahi, Mifuru-san membalas dengan sedikit panik.

"Ah, maaf, maaf, ini bukan salah Akalin kok. Lebih ke masalahku sendiri."

"Maksudnya? Kemampuan akting Mifuru-san tidak sanggup mengejarnya?"

Mendengar pertanyaanku, Mifuru-san berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Yah, dengan bantuan Akalin, aktingku sendiri sebenarnya sudah tidak masalah. Tapi sekarang masalahnya justru muncul dari metode latihan yang kuambil untuk itu."

"Masalah dalam metode latihan? Ah, apa kamu melakukan sesuatu yang ilegal?"

"Iya. Karena stres kerja lembur, Takanashi Mifuru akhirnya menggunakan obat-obatan terlarang."

"Kalau begitu habislah Kurumaza."

Dan habis juga masa mudaku. Ini malah jadi mirip kasus "Idol Oshi Meninggal" milik Takeshi.

Orang yang kucintai ternyata hancur karena obat-obatan di tempat yang tidak kuketahui. Benar-benar tidak tertahankan.

Saat aku pura-pura menangis tersedu-sedu, Mifuru-san melanjutkan dengan santai.

"Nah, kesampingkan bercandaan itu."

"Bukankah candaanmu itu terlalu parah untuk sekadar diabaikan?"

Yah, aku juga tidak benar-benar mengira dia pakai narkoba sih.

"Pokoknya, 'tergantung situasi' mungkin akan ada perubahan pengaturan, tapi bagaimanapun juga aku yakin 'Murder on the Board' sudah bisa dimulai di toko minggu depan."

"Dimengerti. Tapi, kapan penilaian 'tergantung situasi' itu akan keluar?"

"Hmm? Kalau itu sih, sepertinya bakal diputuskan hari ini."

"Eh?"

Diputuskan hari ini? Apa maksudnya?

Kalau bicara soal hal penting yang diputuskan hari ini... bagiku, aku hanya terpikir soal masalah Tsukino-san.

Tapi, aku tidak merasa hal itu berhubungan dengan Murder Mystery atau rencana akting Mifuru-san. Apakah itu dua hal yang berbeda?

Saat aku sedang memiringkan kepala kebingungan sendirian, kali ini Mifuru-san yang bertanya balik.

"Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu?"

"Persiapan? Masalah?"

"Eh? Ah, kalau itu sih aman. Belanja barang-barang yang dibutuhkan sudah selesai, dan yang paling penting, tugas melipat seribu burung kertas yang paling berat pun sudah tuntas."

"Oh, itu ya. Tapi, apa melipat burung kertas itu beneran perlu? Sebagai pemeran pelaku, aku tidak merasa kasus itu butuh bukti yang serepot itu."

"Ah... rahasia di antara kita saja ya, sejujurnya tidak ada keharusan benda itu harus berupa burung kertas."

"Lho, ternyata nggak perlu!?"

"Iya. Nggak perlu sih, tapi benda itu memang digunakan secara mengesankan saat mengungkap pelaku, jadi aku merasa itu 'boleh juga' untuk meningkatkan nilainya. ...Dan sebagai orang yang hobi melakukan persiapan matang, aku harus melakukannya, kan. Duh, Hangui beneran menyebalkan ya."

"Bener banget."

Kami berdua menghela napas memikirkan penderitaan masing-masing. Kalau ini cuma soal ketidakadilan, aku pasti bakal lebih marah.

Tapi sejujurnya, saat seorang kreator mengeluarkan ide yang bikin kita berpikir "beban kerjanya gila sih, tapi idenya bagus", kita jadi merasa tertantang untuk menjawabnya.

Sesaat percakapan kami terhenti. Di tengah suara jacuzzi dan hangatnya air yang perlahan meluluhkan ketegangan tubuh dan hati, Mifuru-san bertanya.

"Tapi Banjo, kenapa tiba-tiba terpikir buat memperkenalkan Murder Mystery? Apa karena kamu sudah balikan sama Akalin?"

"Balikan apa sih. Terlepas dari apakah istilah itu bisa dipakai buat teman, yah, itu memang salah satu alasannya."

"Cara bicaramu itu kayak masih ada alasan lain saja?"

"Ah, tidak, sebenarnya bukan masalah besar sih. Hanya saja..."

Aku menggerakkan tanganku seolah mengaduk air jacuzzi dengan pelan sambil melanjutkan.

"Aku merasa tidak ada salahnya membawa angin baru ke Kurumaza. Akhir-akhir ini aku mulai berpikir begitu."

Seolah-olah Tsukino-san telah mengubah atmosfer diriku yang sempat stagnan dan terpuruk sendirian akibat cinta bertepuk sebelah tangan pada Mifuru-san, dengan cara yang tak terduga.

"...Begitu ya. ...Mungkin saja."

Entah kenapa Mifuru-san menunduk dan memberikan persetujuan dengan emosi yang sulit dibaca. Dia sempat terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengubah topik.

"Hei, Banjo, akhirnya di 'Langkah Tersegel' itu, kamu tulis apa?"

"A-apa sih tiba-tiba sekali."

"Nggak apa-apa. Cuma pengin tahu sedikit saja."

"Begitu ya. Tapi seperti dugaanku, rasanya sudah jadi kewajiban kalau aku harus mengungkapkannya di depan Tsukino-san terlebih dahulu."

"Iya sih. Aku paham soal itu."

Di sana dia berhenti sejenak, lalu kali ini dia menatap mataku secara langsung dengan serius. Di saat aku menelan ludah, dia melanjutkan dengan senyuman.

"Tergantung nama yang tertulis di sana, mungkin aku juga harus sedikit memantapkan hati... atau semacamnya."

"Mifuru-san..."

Kemudian, aku menatap matanya dalam-dalam. Sadar-sadar, sebuah nama sudah hampir keluar dari tenggorokanku. Aku merasa terdorong untuk mengucapkannya saat ini juga.

Namun, saat itu wajah seseorang melintas di pikiranku—dan aku berhasil menahannya di detik terakhir.

Meski begitu, aku masih belum bisa melepaskan pandangan dari Mifuru-san. Aku merasakan panas yang sama seperti yang kurasakan saat kencan di Shinjuku hari itu di antara kami. Sadar-sadar, jarak tubuh kami pun perlahan-lahan terkikis—

"Kotaro-san."

—dan tiba-tiba, seseorang memanggilku dari arah belakang. Karena aku sedang terhanyut dalam "dunia kami berdua" baik dalam arti baik maupun buruk, aku pun refleks menoleh ke arah suara dengan sikap yang sedikit kasar tanpa berpikir.

Namun itu adalah——Langkah yang sangat buruk, langkah yang sangat amat buruk. Karena, sosok yang berada di arah kami menoleh adalah——

"Saat kencan pertama denganku, kamu malah asyik berendam berduaan dengan wanita lain ya. Memang Kotaro-san yang sangat populer ini punya posisi yang hebat, ya?"

——Utakata Tsukino sang Female Meijin, itulah orangnya. Mengenakan baju renang putih yang memadukan kesan berani dan suci, pasangan kencan resmiku hari ini yang memancarkan daya tarik luar biasa layaknya seorang malaikat.

Aku sudah terlihat persis seperti suami yang tertangkap basah sedang berselingkuh, dan menjawabnya dengan gemetar.

"Tsu-Tsukino-san. Halo. Ka-kamu sampai sedikit lebih awal dari jadwal ya..."

"Iya, urusanku selesai lebih cepat. Berkat itu, aku bisa bergabung dengan kalian berdua lebih awal——"

Meskipun dia memberikan penjelasan itu dengan senyuman yang manis.

Namun di akhir kalimat, dia mengeluarkan sebuah "tekanan" yang sangat dahsyat yang belum pernah dia keluarkan selama bermain board game, bahkan selama pertandingan resmi yang kulihat di streaming.

"Benar-benar sangat Great."

Kalimat andalan yang sanggup membuat kami berdua gemetar ketakutan itu pun terlontar.

◆◇◆

Utakata Tsukino

Awalnya, rencananya aku akan bergabung sebagai "Utakata Tsukino" sedikit lebih lambat dari ini.

Karena rencananya, hari ini aku akan membagi kencan menjadi dua bagian, bagian pertama sebagai "Usa Itsuki" dan bagian kedua sebagai "Utakata Tsukino".

Menurut rencana awal, seharusnya aku masih akan menghabiskan waktu sekitar satu jam lagi sebagai "Usa Itsuki".

Namun, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Penyebabnya tentu saja adalah Takanashi-san.

Kejadian itu terjadi saat aku sedang asyik bermain arcade game bersama Hangui-san dan Takeshi-san dalam wujud Usa Itsuki.

Tiba-tiba saja Takanashi-san meninggalkan kami dengan alasan yang sangat klise seperti "Aku tidak tertarik game".

Indra keenamku bereaksi terhadap hal ini.

Jika diibaratkan dalam shogi, rasanya seperti merasakan firasat bahaya saat lawan sedang diam-diam melancarkan "Langkah Kemenangan".

Oleh karena itu, aku segera mempercepat jadwal dan berlari menuju ruang ganti.

Aku mengganti wujud dari Usa Itsuki menjadi Utakata Tsukino, dan sekarang akhirnya bisa bergabung dengan mereka berdua.

Terkait hal ini, aku harus bilang kalau ini benar-benar langkah yang bagus.

Siapa sangka, mereka berdua ternyata sedang membangun suasana yang manis sambil berendam di air yang sama.

Menghadapi diriku yang terus memancarkan tekanan meskipun secara lahiriah tetap tersenyum.

Keduanya langsung melompat keluar dari jacuzzi seolah-olah pasangan selingkuh yang melompat keluar dari tempat tidur, lalu memberikan alasan sembari menjaga jarak yang aneh satu sama lain.

"Tsu-Tsukino-san! Ini, lihat, kami cuma kebetulan saja masuk ke jacuzzi bareng..."

"Be-benar sekali. Ini kan fasilitas berendam campuran berbaju renang, jadi bagi kami nggak ada hal yang perlu dicurigai kok, Banjo."

"Te-tentu saja! Iya, benar sekali..."

Kepada mereka berdua yang masih berusaha melontarkan alasan, aku menjawab dengan tegas.

"Untuk ukuran orang yang merasa tidak punya hal yang perlu dicurigai, kalian berdua jadi sangat cerewet ya."

"Ugh!"

"Kurasa reaksi kalian berdua saat inilah yang menjadi jawaban yang paling fasih dibandingkan apa pun..."

Ucapku, sambil berjalan perlahan di sekeliling mereka dengan senyuman, aku melanjutkan.

"Tapi tidak apa-apa kok bagiku. Iya, aku sama sekali tidak keberatan. Karena, saat ini aku belum menjadi pacar maupun istri Kotaro-san. Yah, meskipun bagi Utakata Tsukino itu tidak masalah... tapi entahlah bagaimana pendapat Usa Itsuki-san ya?"

.......Hmm, setelah diucapkan, aku baru sadar kalau kalimat ini jadi mirip kutipan terkenal "Bagiku sih tidak masalah, tapi entah apa yang akan dikatakan oleh YAZAWA ya?". Memikirkan hal itu, aku hampir saja tertawa.

"............"

Namun, bagi mereka berdua yang tidak tahu kalau aku dan Usa Itsuki adalah orang yang sama, sepertinya pemikiran semacam itu tidak terlintas.

Mereka hanya bisa gemetar ketakutan sambil mengkerutkan tubuh.

...Entahlah, aku merasa kesepian karena hanya aku sendiri yang menyadari lelucon aneh ini. Rasanya saat ini aku ingin Hangui-san ada di sini.

Mana pun yang benar, gara-gara YAZAWA... tidak, berkat YAZAWA, rasa cemburu dan amarah di dalam diriku sedikit menyusut. Aku menghela napas panjang, lalu mulai berbicara dengan tawa kecut.

"Bercanda, kok. Sebenarnya aku tidak semarah itu. Lagipula kalian berdua memang cuma sedang mengobrol, jadi tolong jangan terlalu kaku begitu."

"Tsukino-san..."

Kotaro-san memperlihatkan wajah lega. Namun di detik berikutnya, ekspresinya kembali mengeras dan ia meminta maaf kepadaku dengan sungguh-sungguh.

"Meski begitu, mengingat tujuan utama hari ini adalah kencan denganmu, tindakanku tadi tetaplah gegabah. Aku minta maaf."

Kotaro-san membungkukkan badannya dalam-dalam. Melihat orang yang begitu lurus dan serius ini meminta maaf, aku malah jadi merasa bersalah karena telah menuduhnya "selingkuh".

Takanashi-san pun menyela dengan ekspresi heran, "Serius amat sih," sebelum akhirnya menatapku dengan canggung.

"Aku juga minta maaf ya. Serius, aku kurang peka sama perasaan Uta-chan. Mosee—mohon maaf lahir batin deh."

"Ti-tidak, bukan begitu.... Tapi, terima kasih ya, kalian berdua. Kalau begitu, masalah ini kita anggap selesai sampai di sini."

Aku bertepuk tangan sekali untuk mengatur ulang suasana.

"Dengan ini, Utakata Tsukino resmi bergabung kembali!"

Sambil menyembunyikan rasa malu, aku memberi salam dengan nada bercanda sembari sedikit mengangkat ujung renda baju renangku.

Kotaro-san pun menyambutku, "Ya, aku juga senang bisa cepat bertemu denganmu, Tsukino-san," dan di saat yang bersamaan...

"Ah, baju renang itu sangat cocok untukmu, Tsukino-san. Kamu terlihat sangat manis. Tentu saja, penampilanmu dengan baju biasa, pakaian tradisional, sampai seragam sekolah pun semuanya manis, sih."

Tanpa sedikit pun keraguan, ia melontarkan pujian itu seolah-olah itu adalah kejujuran yang mengalir alami dari lubuk hatinya.

Ternyata bukan hanya aku yang terkejut dengan sikapnya yang "tidak biasa" itu. Takanashi-san pun menatap Kotaro-san dengan campuran rasa kagum dan syok.

"Eh, ada apa nih Banjo? Tiba-tiba melakukan move cowok populer yang nggak mirip kamu banget."

"Hah? Tidak, aku merasa tidak melakukan hal semacam itu..."

"Melakukan, tahu! Biasanya kan kamu nggak bisa memuji lawan jenis selancar itu."

"Be-begitukah...?"

Kotaro-san memiringkan kepalanya dengan bingung, seolah benar-benar tidak sadar. Takanashi-san yang sepertinya belum puas kembali melancarkan interogasinya.

"Iya, tahu! Banjo itu cuma bisa bicara tanpa ragu kalau lagi bahas board game, atau... kalau lagi jujur seratus persen, kayak waktu kamu nolongin aku kemarin..."

Sampai di titik itu, tiba-tiba semangat bicara Takanashi-san meredup seketika. Sejujurnya, baik aku maupun Kotaro-san tidak bisa mendengar bagian akhir kalimatnya dengan jelas karena beradu dengan suara jacuzzi, jadi kami hanya bisa memiringkan kepala.

Takanashi-san lalu tersenyum seolah baru saja memantapkan hati, kemudian menepuk punggung Kotaro-san dengan cukup keras hingga terdengar bunyi plak.

"Aduh! Duh, apa-apaan sih tiba-tiba! Ini pasti bakal berbekas merah, tahu!"

"Maaf, maaf. Kalau kamu cuma khawatir soal satu bekas merah... mau aku tambah beberapa puluh tepukan lagi?"

"Aku nggak mau punggungku jadi kayak kap mobil yang baru pulang dari terowongan berhantu! Tambah seram!"

"Kalau begitu jangan protes. Ini kan bentuk penyemangat dariku."

"Semangat?"

"Iya."

Setelah berkata begitu, Takanashi-san tiba-tiba berbalik membelakangi kami dan mulai berjalan. Tanpa menoleh, ia mengangkat tangannya dan berseru.

"Mulai sekarang, silakan kalian nikmati kencan berdua saja."

"Mifuru-san..." "Takanashi-san..."

"Silakan bermesraan sepuasnya selagi nggak ada kami, Banjo."

Ia menoleh sedikit sambil menyeringai jahil. Untuk hari ini, aku memutuskan untuk menerima perhatiannya yang mengharukan itu dengan lapang dada.

"Terima kasih banyak. Aku sangat menghargai perhatianmu."

Setelah aku menyampaikan rasa terima kasih, Takanashi-san hanya membalas dengan gumaman pelan. Ia baru saja akan melangkah pergi... namun tiba-tiba berbalik seolah teringat sesuatu.

"Maaf, maaf, satu hal saja yang mau aku pastikan."

"Ada apa?"

"Anu, hari ini kan Banjo bakal kasih jawaban buat pengakuan yang itu. Itu bakal dilakukan pas kalian berdua saja, kan? Habisnya, waktu itu kan aku malah jadi saksi mata..."

Mendengar pertanyaan itu, aku mewakili dengan anggukan mantap.

"Iya, rencananya begitu. Kotaro-san juga tidak keberatan, kan?"

"Iya. Lagipula pengakuan cinta itu kan memang seharusnya dilakukan berdua, kejadian dua minggu lalu itu rasanya terlalu ireguler..."

Takanashi-san setuju dengan jawaban kami. Ia kemudian melanjutkan lagi.

"Lalu, maaf ya kalau pertanyaanku jadi sok tahu terus, tapi bagian itu bakal dilakukan di akhir kencan, kan?"

"I-iya. Aku pun berencana begitu. Soalnya kalau tiba-tiba diberi jawaban sekarang dan ternyata ditolak, sisa kencan setelahnya pasti bakal terasa seperti neraka."

"Benar juga, sih. wkwkwk."

Sambil tertawa lepas, Takanashi-san menyambung ucapannya.

"Kalau begitu, sebelum event jawaban pengakuan terakhir itu dimulai... boleh tidak kalau aku minta sedikit saja waktu buat bicara berdua dengan Banjo?"

"Eh?"

Mendengar permintaan itu, aku dan Kotaro-san spontan berseru dan saling berpandangan.

...Ini adalah usulan yang, jika dipikirkan matang-matang, sangatlah krusial. Setidaknya secara strategis, aku merasa tidak seharusnya memberikan izin dengan mudah.

Kotaro-san sepertinya juga memahami hal itu, karena aku menyadari ia mengirimkan tatapan yang seolah menjaga perasaanku. Seakan-akan ia ingin bilang, "Tidak apa-apa kalau kamu mau menolaknya." ...Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia pasti ingin mendengar apa yang ingin dibicarakan Takanashi-san lebih dari siapa pun.

Melihat matanya, aku pun—langsung memutuskan.

"Boleh saja."

"Tsukino-san!?"

Mungkin karena jawabanku tidak terduga, Kotaro-san sempat ingin melayangkan protes, namun aku menghentikannya dengan senyuman dan beralih kembali ke Takanashi-san.

"Lagipula aku tidak punya hak untuk mengekang tindakan Takanashi-san. Namun, meski begitu, kamu tetap meminta izin kepadaku. Aku ingin membalas rasa hormatmu itu."

"Rasa hormat ya. Yah, tapi makasih ya."

"Iya. ...Tapi ya, selagi menunggu kalian bertemu, aku pasti bakal menggigit bibir sampai mau mati karena cemburu."

"Seram banget."

Takanashi-san tertawa kecut, lalu memberikan salam terakhir pada Kotaro-san sebelum mulai melangkah.

"Kalau begitu, Banjo, sampai nanti ya. Nikmati kencannya."

"I-iya. Mifuru-san juga."

"Sip!"

Takanashi-san pun pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang tegap. Setelah kami berdua melepas kepergiannya, Kotaro-san mulai angkat bicara.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita juga pergi?"

"Iya, mari kita pergi."

Aku menyahut dan tersenyum manis, tapi tidak bergerak satu langkah pun. Kotaro-san berbalik dengan raut bingung.

"...Tsukino-san? Anu... ayo kita pergi kencan kolam renang."

"Iya, Kotaro-san. Ayo kita pergi kencan kolam renang."

Meski berkata begitu, aku tetap berdiri terpaku sembari terus tersenyum. Menghadapi hal itu, Kotaro-san menggaruk kepalanya dengan bingung untuk sesaat... sampai tiba-tiba ia menggumamkan, "Ah."

Sepertinya ia akhirnya menemukan jawabannya. Namun meski begitu, ia masih terlihat ragu dan malu-malu untuk mengeksekusi "hal itu".

Sampai pada akhirnya... dengan wajah yang memerah padam, ia mengulurkan tangannya kepadaku.

"...Ayo pergi, Tsukino-san. Untuk kencan kita."

Menerima ajakan yang sangat Great itu, aku pun menjawab "Iya" dengan senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya. Sambil menggenggam balik tangannya dengan erat, aku mulai melangkah maju.

"Ayo pergi, Kotaro-san. Untuk kencan kita."

Begitulah, aku tidak hanya sekadar bergandengan tangan, tapi berjalan hampir menempel padanya.

Kotaro-san menunjukkan ekspresi rumit yang mencampurkan rasa malu, heran, sekaligus rasa hormat kepadaku.

"...Serius deh, Tsukino-san itu hebat banget ya kalau soal 'menyerang'. Aku benar-benar kagum."

"Fufu. Kalau begitu—tentu saja itu sangat Great."

◆◇◆

Tokiwa Kotaro

Kencan kolam renang berdua dengan seseorang yang sudah saling sadar akan perasaan cinta masing-masing.

Secara tertulis, ini adalah event yang penuh dengan aura ceria yang luar biasa. Aku sendiri merasa sangat terhormat bisa mengalaminya.

Tapi masalahnya, apa yang akan terjadi jika seorang otaku board game yang hampir nol pengalaman kencannya dilemparkan ke dalam event impian semacam ini? Jawabannya ada di sini.

"............"

Iya, benar sekali. "Topik pembicaraan cepat habis dan berakhir dengan keheningan."

Nah, berlanjut ke pertanyaan kedua. Apa yang akan terjadi jika seorang pemain shogi wanita yang juga nol pengalaman asmara tiba-tiba dilemparkan ke kencan kolam renang seperti ini? Jawabannya ada di sini.

"............"

Iya, benar sekali. "Topik pembicaraan cepat habis dan berakhir dengan keheningan."

............Ini sih neraka.

Pasangan yang cuma mondar-mandir di fasilitas kolam renang indoor sambil bergandengan tangan dengan wajah tegang begini, apa ini sedang operasi penyamaran?

Tidak, rasanya rekan kerja yang sedang melakukan operasi penyamaran sungguhan pun pasti masih bisa mengobrol lebih lancar.

Karena hubungan kami berdua ini sudah mengarah ke hubungan asmara yang cukup serius, ketegangan di antara kami mencapai puncaknya sampai kami benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

(............)

Serius deh, apa-apaan rasa buntu yang hanya bisa dirasakan olehku dan Tsukino-san ini.

Dulu saat pergi belanja dengan Mifuru-san, aku memang tegang, tapi saat itu cuma aku yang panik.

Apalagi Mifuru-san adalah tipe orang yang terus-menerus membicarakan hal-hal sepele, jadi situasi tidak akan jadi seperti ini.

Sepertinya, aku dan Tsukino-san ini memiliki sifat dasar yang terlalu mirip dalam segala hal.

Mulai dari kepribadian, cara menjaga perasaan orang lain, cara menunjukkan ketegangan, sampai cara kehabisan topik pembicaraan.

"Pffft."

Saat sedang memikirkan hal itu, tanpa sadar aku tertawa kecil. Dan itu pun terjadi pada kami berdua secara bersamaan.

Seketika, ketegangan aneh yang menyelimuti kami pun mencair.

"Haha, apa yang sedang kita lakukan sih?"

"Fufu, benar juga ya. Padahal kita sudah jauh-jauh datang ke kolam renang raksasa, tapi yang kita lakukan cuma berpatroli sambil bergandengan tangan. Yah..."

Di sana, Tsukino-san menatapku sambil tersenyum malu-malu.

"Bagiku, hal itu saja sudah cukup Great, lho?"

"–!"

Mendengar kata-kata itu, aku refleks memalingkan wajah karena malu dan berdehem keras.

"Ta-tapi tetap saja, kita harus melakukan sesuatu. Tsukino-san, ada atraksi yang membuatmu tertarik?"

"Tertarik? ...Tidak, sejujurnya aku tidak punya ketertarikan khusus pada segala jenis permainan air."

"Eh, kalau begitu kenapa malah minta kencan di kolam renang?"

"Itu sudah jelas."

Ia menghentikan langkahnya.

"Tujuannya adalah untuk membuat Kotaro-san bertekuk lutut dengan melihatku berbaju renang. Ufun."

Dengan wajah yang sangat serius, ia berpose sedikit sambil tetap menggenggam tanganku.

Hmm, gimana ya, jujur saja itu sangat manis.

Tapi di saat yang sama juga sedikit menyebalkan.

Dan pada akhirnya, itu adalah uzakawaii—menyebalkan tapi imut.

Aku tidak bisa menahan tawa melihat tingkah Tsukino-san itu.

"Iya, iya, aku sudah bertekuk lutut kok. Menurutku Tsukino-san hari ini sangat manis."

"Ko-kok rasanya tidak Great ya."

Sepertinya pujianku tadi kurang Great. Belakangan ini pola seperti ini sering muncul. Benar-benar menggemaskan.

Saat aku sedang tertawa kecut, Tsukino-san melanjutkan lagi.

"Lagipula pada kenyataannya, karena akhirnya gadis-gadis lain yang juga memikat ikut berpartisipasi, strategi pamungkasku yaitu 'Baju Renang Benteng' (Mizugi Hisha) jadi hampir tidak berguna sama sekali."

"Aku tidak tahu ada nama strategi semacam itu. Tapi, aku tidak paham apa hubungannya dengan kepingan Benteng."

"Nama itu diambil dari cara Utakata Tsukino yang bergerak secara lurus untuk mendapatkan Tokiwa Kotaro."

"Ternyata kamu sendiri yang jadi Bentengnya ya."

Meski rasanya kamu bukan tipe kepingan menteri (kaku), Tsukino-san.

Tapi tetap saja, ini menyenangkan. Tentu saja mengobrol dengan Takeshi atau Mifuru-san juga sangat asyik, tapi ini adalah perasaan yang berbeda.

Sebuah interaksi yang tidak hanya terasa akrab, tapi juga mengandung ketegangan yang nyaman... Ah, ngomong-ngomong bagiku, obrolan dengan Hangui itu selalu mengandung ketegangan level terendah, benar-benar lawan kata dari "obrolan yang menyenangkan". Orang itu benar-benar...

"Hei Tokiwa, barusan kamu lagi memikirkan aku ya?"

"Kemampuan macam apa yang bisa membuatmu berteleportasi lewat imajinasiku begitu? Sumpah seram banget."

Sadar-sadar, Hangui dan Takeshi sudah berdiri di belakangku. Bukankah hari ini punggungku terlalu sering didekati?

Yah, mungkin karena aku terlalu fokus pada pasangan berbaju renang di depanku ini.

Tsukino-san melepaskan tanganku sejenak dan berbalik ke arah mereka berdua untuk memberi salam dengan senyuman.

"Halo, kalian berdua. Aku, Utakata Tsukino, baru saja bergabung."

"Ooh, Utakata-shi! Baguslah kamu bisa datang lebih awal!"

Takeshi menyambut Tsukino-san dengan senyum polos dari lubuk hatinya.

Serius deh, senyuman Takeshi itu benar-benar murni tanpa ada niat terselubung, sangat menenangkan... berbeda dengan orang di sebelahnya.

"Ara, Utakata-san. Entah kenapa aku merasa kita sudah lama tidak bertemu ya. Kenapa ya kira-kira?"

Hangui menggoda Tsukino-san dengan senyum yang sangat sadistik. Wah, wajah itu ternyata diperlihatkan ke orang selain aku juga ya.

Kalau dipikir-pikir, Tsukino-san memang punya sifat yang mirip denganku dalam hal itu.

Tsukino-san mengalihkan pandangannya dari Hangui dan menjawab.

"Fu-fufu, itu memang hal yang aneh ya, Hangui-san."

"Benar-benar aneh ya. Terus, ini sebenarnya tidak ada hubungannya denganmu sih, tapi entah kenapa tiba-tiba Usa Itsuki dapat urusan mendadak dan harus pulang. Benar-benar aneh ya?"

"Eh, benarkah?"

Karena ini informasi baru, aku bertanya pada Hangui dengan terkejut.

Entah kenapa ia melirik ke arah Tsukino-san sekali sebelum menjawab sambil senyum-senyum mesem.

"Benar-benar misterius ya, Tokiwa. Tepat saat Usa-kun OUT, Utakata-san malah IN. Rasanya seolah-olah..."

"Boleh minta waktunya sebentar, Hangui-san?"

Tiba-tiba, Tsukino-san menarik lengan Hangui dengan kuat dan menjauh dariku. Mereka berdua mulai berbisik-bisik membicarakan sesuatu yang tidak bisa kudengar.

Di sampingku yang sedang terpaku, Takeshi mendekat.

"Mereka berdua terlihat sangat akrab ya padahal baru sebentar kenal."

"Benar juga. Mungkin karena sesama orang yang otaknya encer, mereka jadi cocok."

Yah, meski kalau dilihat-lihat, sepertinya Hangui cuma sedang menjadikan Tsukino-san sebagai mangsanya saja sih.

Faktanya, dalam interaksi mereka pun, Hangui sepertinya yang memegang kendali.

"Hangui-san, apa maksudmu melakukan itu...! Akhir-akhir ini kamu juga sepertinya jadi akrab dengan Takanashi-san lewat Murder Mystery, kan!"

"Ara, apa kamu cemburu? Manis sekali ya, Utakata-san."

"Bu-bukan begitu! Maksudku, sebenarnya apa niatmu dan kamu ada di pihak siapa..."

"Aku? Aku sih... tentu saja. Aku selalu mengincar keuntungan sebagai 'pihak ketiga' di tengah perselisihan."

"Kamu benar-benar tipe teman yang paling menyebalkan!"

Tsukino-san dan Hangui sepertinya sedang "bertengkar tapi akrab". ...Hmm.

"Apakah kamu sudah paham alasan kenapa aku bilang Syuri-chan dan Tokiwa-shi itu serasi?"

Sadar-sadar, Takeshi sudah merapat ke sampingku sambil senyum-senyum. Aku pun buru-buru membantahnya.

"Tidak mungkin, aku dan Hangui itu ibarat anjing dan monyet, naga dan macan, atau puding dan kecap asin."

"Bukankah kombinasi yang terakhir itu bisa menciptakan perpaduan rasa yang ajaib?"

"...Da-daripada itu. Takeshi sendiri apa bisa menikmati kolam renangnya?"

Mendengar pertanyaanku, Takeshi sempat tertegun sejenak.

Namun segera setelah itu, ia membalas dengan senyuman ceria seperti biasanya.

"Tentu saja! Mana mungkin jalan-jalan bareng teman akrab tidak menyenangkan!"

"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir karena ini adalah jenis permainan fisik."

Takeshi punya latar belakang yang agak rumit terkait klub atletik.

Apalagi biasanya ia hanya menyukai hobi dalam ruangan seperti board game dan tidak pernah mengajakku main bowling atau semacamnya, jadi aku sempat mengira ia tidak suka menggerakkan tubuh.

Sepertinya itu hanya kekhawatiran berlebih dariku. Saat aku menghela napas lega, aku menyadari Takeshi sedang menatapku dengan tatapan mata yang lembut.

"...Hal-hal semacam itu sama sekali tidak berubah ya sejak kita pertama kali bertemu, Tokiwa-kun."

"? Tokiwa-kun?"

Rasanya tadi ia menggunakan gaya bicara yang bukan seperti Takeshi biasanya...

"Fufu, aku benar-benar merasa sangat senang hari ini, Tokiwa-shi!"

Ah, benar, itu Takeshi. Sampai rasanya menyebalkan karena ia benar-benar Takeshi.

Berkat itu, aku bisa menganggapnya sebagai sahabat sejati tanpa perlu peduli soal jenis kelaminnya, dialah Banjo Momoyai.

Namun, Takeshi tiba-tiba menunjukkan wajah yang sedikit kesal.

"Ah, tapi bukan berarti tidak ada dua hal yang mengganjal di hatiku."

"Eh? Benarkah? Ada apa?"

"Pertama. Hari ini terasa lebih parah dari biasanya, setiap kali berjalan berdua dengan Syuri-chan, pasti ada saja laki-laki genit yang menyapa kami."

"Ah... yah, itu pasti terjadi sih."

Biasanya di jalanan pun mereka berdua memang sering digoda, apalagi dengan baju renang seperti ini, wajar saja kalau hasilnya begitu.

Takeshi mengeluh sembari tanpa sadar menggoyang-goyangkan dadanya yang berlimpah itu.

"Benar-benar ya, laki-laki yang mengincar Syuri-chan itu bikin repot saja."

"............ Iya, benar juga."

Gawat. Barusan aku hampir saja melontarkan tsukkomi.

"Eh, yang diincar kan bukan cuma Hangui doang," hampir saja kata-kata itu meluncur. "Filter kesadaran lawan jenis" yang kupasang pada Takeshi hampir saja retak.

Aku harus waspada. Apalagi karena hari ini Takeshi memakai baju renang.

Di saat aku sedang berusaha menenangkan diri, Takeshi melanjutkan keluhannya. Dan itu pun...

"Ketidakpuasanku yang satu lagi adalah karena Tokiwa-shi tidak terlalu banyak bermain dengan aku."

...Entah kenapa, ia merapat padaku dan menyatakan hal itu... menyatakan "keberadaannya" dalam berbagai arti. ...Ugh.

"Tokiwa-shiii. Aku tahu ini kencan, tapi aku juga ingin bermain denganmu seperti biasanya."

Sambil merengek begitu, ia menempelkan "hal itu" ke lenganku.

Ngomong-ngomong "hal itu" adalah... anu... apa ya, o-otot dada? Iya, benar, otot dada. Otot dada.

............ Tetap tenang, tetap tenang. Takeshi adalah Takeshi. Teman board game, Takeshi.

Faktanya, ucapan barusan pun pasti tidak memiliki maksud lain selain "ayo main bersama" bagi dirinya.

Kalau begitu, aku tidak boleh mengkhianati kepercayaan itu.

Ingatlah wajah Takeshi yang dulu sempat tidak bisa menikmati board game karena terlalu diperlakukan seperti tuan putri di acara komunitas.

Jangan sampai aku membuat sahabatku merasakan hal itu lagi.

Terutama sekarang, di mana aku adalah "teman board game nomor satu" baginya, aku tidak boleh memberikan tatapan semacam itu padanya.

Untuk memperkuat hatiku, aku menatap langit di balik kaca dan menenangkan diri. ...Fiuuh.

"............ Iya. Hari ini aku sudah sedikit berani dan berusaha keras ya, aku...!"

Sepertinya aku mendengar bisikan kecil yang misterius dari suatu tempat, tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkannya. Tenang, tenang...

Setelah aku berhasil mendapatkan kembali ketenanganku dan menurunkan pandangan...

(............)

"Kenapa sekarang aku malah dipelototi oleh Hangui dan Tsukino-san?"

"Entahlah."

Sadar-sadar aku sudah mendapat aura kebencian misterius dari dua orang wanita itu.

...Kenapa? Padahal tadi aku sudah berjuang keras untuk tetap menjadi pria budiman.

Bukankah Tuhan terlalu tidak adil?

Setelah itu, Takeshi kembali ceria dan bersemangat seperti biasanya.

"Nah, aku dan Syuri-chan akan berpisah lagi dari kalian! Silakan kalian berdua lanjut menikmati sisa kencan dengan santai!"

"Eh? Ah, Takeshi, kalau mau kita bisa main bareng sebentar lagi..."

Aku mencoba memberikan perhatian, namun Takeshi menghentikanku dan tertawa lepas.

"Fuhihi! Yang tadi itu cuma bercanda, Tokiwa-shi! Ini kan kencannya Tokiwa-shi dan Utakata-shi! Aku tidak boleh mengganggunya!"

"Takeshi..."

Mendengar percakapan kami, Hangui pun mengangkat bahunya dengan pasrah.

"Benar sekali Momo-chan. ...Kalau begitu Tokiwa, Utakata-san. Kami pamit dulu ya."

Ucapnya, dan kali ini ia pergi tanpa terlalu banyak menjahiliku, sebuah hal yang langka. Namun di tengah jalan, ia sempat menoleh sekali.

Dan ia mengulang kembali kalimat yang pernah kudengar di stasiun waktu itu. Seolah-olah itu adalah hal yang sangat penting untuk ia sampaikan padaku.

"Serius deh, jadilah bahagia ya, Tokiwa."

◆◇◆

Utakata Tsukino

Setelah berpisah sementara dengan Takeshi-san dan Hangui-san, kami melanjutkan kencan berdua untuk beberapa saat lagi.

Kami bermain air di kolam, mencoba makanan ringan, dan bahkan seolah ingin menebus yang tadi, kami berendam di jacuzzi berdua lagi (meskipun Kotaro-san tampak menunjukkan wajah yang kurang nyaman).

Tapi bagaimanapun juga, ini adalah fasilitas yang hampir tutup untuk musim dingin.

Karena fasilitas kolam luar ruangan sudah ditutup, tidak banyak lagi hal yang bisa dilakukan.

 Setelah terakhir kami semua berkumpul dan bermain lempar-lemparan air dengan meriah, kencan dengan baju renang ini pun berakhir lebih awal dari dugaan.

Bagiku sendiri, strategi pamungkas "Baju Renang Benteng" sudah menjalankan sembilan puluh persen tugasnya sejak aku memamerkan sosok ini, jadi aku tidak keberatan.

...Maksudku, anu, sejujurnya aku memang merasa sangat malu memakai baju renang ini.

Selain itu, fasilitas ini juga memiliki taman bermain kecil yang menyatu dengan area kolam.

Memang skalanya tidak cukup besar untuk dimainkan seharian, tapi sangat pas untuk dinikmati dengan santai sebelum pulang setelah lelah bermain air. Fasilitas makanannya pun lumayan lengkap.

Oleh karena itu, kami pun menuju pintu keluar dan berpisah dengan Kotaro-san di persimpangan depan ruang ganti. Dilepas oleh kami berempat, Kotaro-san mengeluh.

"Kalau keadaannya jadi begini, rasanya sulit juga ya tanpa adanya Usa-kun. ...Eh, tapi kalau diingat-ingat, waktu masuk tadi pun aku ganti bajunya pisah dengan Usa-kun ya."

"Hee, kira-kira kenapa ya?"

Karena Hangui-san mulai akan mengatakan hal yang tidak-tidak lagi, aku segera memotongnya dengan deham keras.

"Kalau begitu, mari kita bertemu di dekat pintu masuk setelah selesai ganti baju. Setelah itu..."

"Ah, soal itu."

Tepat saat aku baru saja akan mengatakannya, Takanashi-san menyela dengan nada yang penuh rasa bersalah.

"Boleh tidak kalau aku minta waktu buat bicara sama Banjo yang tadi sekarang saja?"

Mendengar usulan itu, dadaku terasa sedikit sesak, namun aku tetap mengangguk pelan.

"Iya, boleh saja. ...Lagipula, aku pun sudah mulai ingin mendengar jawaban atas pengakuanku."

"Begitu ya."

Takanashi-san menyahut dengan ekspresi yang kaku. Suasana di tempat itu seketika menjadi sedikit tegang.

Seolah ingin mencairkan suasana yang berat itu, Takeshi-san berseru dengan lantang.

"Kalau begitu, saatnya ganti baju! Tokiwa-shi, kalau merasa kesepian, mau ikut ke sini saja?"

"Itu jebakan yang terlalu berbahaya, seolah-olah kamu mau memberikan separuh dunia padaku. Aku tidak akan ke sana. Meski memang aku merasa kesepian, sih."

"Fumu? Tokiwa-shi benar-benar kasihan ya. Ah, kalau begitu biar aku saja yang ke sana—"

"Jangan konyol!"

Kami para gadis serentak menahan Takeshi-san yang benar-benar terlihat berniat pergi ke ruang ganti pria.

...Orang ini, tadi dia serius kan? Benar-benar "tuan putri" sekali.

Sensitivitasnya benar-benar seorang "tuan putri".

Aku mulai bisa memahami perlindungan berlebih dari Hangui-san dan sikap Kotaro-san yang "menarik garis tegas demi dirinya sendiri" dari lubuk hatiku yang terdalam.

Bagaimanapun juga, berkat itu ketegangan aneh tadi pun langsung sirna.

Kami melepas kepergian Kotaro-san yang tertawa kecut menuju ruang ganti pria, dan kami berempat pun—sambil menyeret Takeshi-san yang masih mengeluh "Tokiwa-shiii"—menuju ruang ganti wanita.

Setelah melewati koridor dan masuk ke ruang ganti, aku memisahkan diri menuju loker yang agak jauh.

Hal ini kulakukan karena aku tidak boleh membiarkan Takanashi-san atau Takeshi-san melihat proses pergantian kostum dari Usa Itsuki kembali menjadi Utakata Tsukino.

Aku memastikan keadaan sekitar, lalu perlahan membuka loker. Meskipun sudah kusimpan di dalam tas, di dalam sini masih tersimpan perlengkapan penyamaranku sebagai Usa. Dan juga...

"...Langkah Tersegel..."

Tentu saja, benda itu juga kubawa agar bisa dibuka pada hari yang bersejarah ini. Tanpa sadar, aku merogoh tas dan mengeluarkan amplop Langkah Tersegel itu.

"............"

Sejujurnya, sampai hari ini aku pun berusaha untuk tidak terlalu sering melihatnya.

Karena... aku sudah sangat tahu bahwa apa yang tertulis di sana pastilah sesuatu yang tidak akan membuatku senang.

Persis seperti alasan yang kukatakan saat aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri dulu, aku punya firasat bahwa isinya bukanlah hal yang akan terasa menyenangkan bagiku.

Namun... hari ini aku harus menghadapinya.

Sambil memeluk tas yang berisi perlengkapan penyamaran Usa, aku menatap tajam amplop Langkah Tersegel tersebut.

Berbagai perasaan berkecamuk di hatiku hingga membuat gerakanku terhenti sesaat.

Sampai akhirnya—

"Uta-chan, boleh bicara sebentar?"

"–!?"

Tiba-tiba Takanashi-san, yang sepertinya sudah selesai berganti pakaian lebih cepat, muncul dari balik sudut deretan loker.

Aku tersentak kaget dengan gerakan yang sangat hebat. Akibatnya...

"Ah."

Tas dan amplop Langkah Tersegel terlepas dari tanganku dan jatuh berantakan ke lantai. Di tengah kepanikan akibat situasi darurat ini, sudut pikiranku tetap bekerja cepat menyusun prioritas. Aku harus bergerak agar "perlengkapan penyamaran Usa Itsuki" tidak terlihat olehnya.

Dengan kecepatan tinggi, aku memunguti peralatan penyamaran yang tercecer dari tas, terutama wig pirang yang bisa berakibat fatal jika sampai terlihat oleh Takanashi-san.

"Wah, Uta-chan, maaf!"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa! Takanashi-san jangan khawatir!"

"Eh, ah, iya. ……? Ini kan……"

Takanashi-san masih menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak punya waktu untuk mendengarkan. Mataku menyapu area sekitar dengan cepat, memastikan semua barang kecil sudah terkumpul. ……Sip, kalau begini harusnya aman. Rahasia soal Usa Itsuki sepertinya tidak terbongkar…… mungkin.

Sambil menghela napas lega, aku merasakan bahuku dicolek pelan oleh Takanashi-san. Saat aku berbalik, Takanashi-san tampak menunjukkan ekspresi yang sangat tidak enak hati.

Apa penyamaranku sebagai Usa ketahuan? Pikirku sesaat.

Namun tak lama kemudian, aku menyadari bahwa di tangannya kini tergenggam amplop Langkah Tersegel milikku. Sepertinya saat kejadian kacau tadi, amplop itu terlempar sampai ke dekat kakinya.

Yah, meskipun ini barang penting, amplopnya belum dibuka. Tidak seperti wig pirang yang jika terlihat berarti kiamat bagiku, benda ini harusnya tidak bermasalah.

Aku menerimanya sambil menyahut, "Terima kasih banyak." Takanashi-san membalas dengan gumaman singkat, tapi wajahnya masih tampak mendung.

" Ada apa?"

Tanyaku sambil memegang amplop tersebut. Takanashi-san sempat terlihat ragu sejenak, sebelum tiba-tiba menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya dan bersujud meminta maaf.

"Maaf banget! Tadi sepertinya aku sempat mengintip isi Langkah Tersegel-nya!"

"Hah? Mengintip? Tapi, anu, ini kan masih tersegel rapat……"

"Iya, aku tahu! Tapi maksudku, secara tidak sengaja aku jadi bisa menebak isinya! Serius, ini benar-benar bukan sengaja!"

"Ha, haah."

Ucapannya sedikit sulit dimengerti, tapi aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar merasa bersalah. Aku mencoba menenangkannya.

"Aku sungguh tidak marah, kok. Lagipula, ini salahku sendiri karena menjatuhkannya."

"Tapi tetap saja, itu kan karena aku mengagetkanmu……"

"Ngomong-ngomong, ada keperluan apa mencariku?"

"Ah, iya. Aku cuma mau memastikan, saat aku bicara dengan Banjo nanti, apa ada atraksi yang sebaiknya tidak aku datangi? Kamu tahu kan, tempat yang mungkin ingin kamu gunakan saat mendengar jawaban pengakuannya nanti?"

"Ah, terima kasih atas perhatiannya. Begitu ya. Rencananya, aku berniat mendengar jawabannya di kincir ria……"

"Kincir ria ya, bagus! Oke, dimengerti—bukan, bukan itu. Duh, maaf banget ya soal Langkah Tersegel tadi."

"Sungguh, tidak apa-apa. Kalaupun ada yang merasa keberatan jika isinya ketahuan, aku rasa itu justru Kotaro-san……"

"Aaah……. ……Entahlah. Kalau cuma begini, kurasa Banjo tidak akan keberatan?"

" Apa maksudnya?"

"Maksudku, justru bagiku hal ini malah terasa seperti memberi dorongan semangat sebelum aku bicara dengan Banjo nanti?"

"Eh, itu maksudnya……"

Dadaku terasa sesak mendengar kata-kata Takanashi-san yang penuh makna itu. Melihat wajahku, dia segera menundukkan kepala lagi.

"Wawa, Uta-chan, maaf! Iya ya, tidak baik ya kalau aku bersikap seolah-olah menang karena punya informasi lebih! Tapi tenang saja!"

"Tenang?"

"Iya."

Di sana, Takanashi-san berujar dengan senyuman tipis yang seolah hampir menghilang.

"Karena aku yakin, segalanya tidak akan berakhir buruk bagimu, Uta-chan."

"…………"

Aku tidak mampu memberikan balasan apa pun untuk kata-kata itu.

Takanashi-san berbalik membelakangiku sambil berseru, "Kalau begitu, aku duluan ya."

"……Iya. Hati-hati."

"Sip, aku pergi dulu."

Takanashi-san melangkah beberapa tindak. Namun, ia sempat berhenti sejenak, lalu menoleh ke arahku.

Dengan senyuman yang tampak sedikit pedih, ia melontarkan kata-kata menyebalkan tapi manis seperti biasanya.

"Tapi ya, seleramu buruk banget sih mau menjadikan Banjo pacar, Uta-chan."

"Bukan urusanmu."

"Bener juga wkwk."

Mendengar balasanku, Takanashi-san tertawa lepas.

"Dah ya!"

Sambil melambaikan tangan ke belakang, ia pergi menuju tempatnya—menuju tempat orang yang kucintai berada.

………….

Segala penyelesaian kini sudah berada tepat di depan mata.

◆◇◆

"…………"

Sambil memendam kegelisahan yang samar, aku terus menunggu Kotaro-san di bangku depan kincir ria yang menjadi tempat pertemuan kami.

"Wah, lihat ini. Ada pemain shogi wanita yang sepertinya sudah mencium bau kekalahan."

"Hangui-san……"

Sejujurnya, orang yang paling tidak ingin kutemui sebelum momen besar dalam percintaan adalah orang seperti dia. Saat dia duduk dengan santai di sampingku, aku bertanya dengan wajah masam yang sangat kentara.

"Di mana Takeshi-san?"

"Momo-chan sedang mencoba tantangan 'Menaklukkan Semua Atraksi' sendirian. Karena aku tidak sanggup menemaninya, aku datang ke atraksi khusus di sini: 'Menggoda Heroine yang Kalah'."

"Mau kupukul?"

Ini pertama kalinya aku benar-benar ingin melakukan kekerasan fisik secara serius kepada seseorang.

Hangui-san membalas dengan reaksi ketakutan palsu yang sangat menyebalkan, "Seraaam," sebelum kemudian melanjutkan dengan wajah yang sedikit lebih serius.

"Yah, sebenarnya aku menghormatimu, tahu. Pengakuan cinta meskipun tahu kemungkinannya kecil adalah langkah yang butuh keberanian besar. Orang yang sok pintar sepertiku tidak akan pernah bisa melakukannya."

"……Begitukah?"

"Iya."

"……Great kalau begitu."

"Sama-sama."

Angin sejuk berhembus di antara kami. Sambil menatap kincir ria di depan mata tanpa benar-benar memfokuskan pandangan, aku bertanya padanya.

"……Tentang Murder Mystery bertema Kurumaza yang isinya sangat merepotkan itu……"

"Hm?"

"Itu demi Kotaro-san dan Takanashi-san, kan?"

"……Iya."

Tumben sekali dia tidak mengelak dan menjawab dengan jujur. Dia melanjutkan.

"Aku berpikir akan bagus jika hubungan mereka berdua semakin erat melalui kesempatan ini. Dan aku juga merasa akan lebih Great jika mereka bisa melampaui kesulitan yang sepadan selama proses latihan."

"Kenapa begitu?"

"Sudah jelas, kan?"

Di sana, Hangui-san tersenyum manis, lalu mengungkapkan kejujuran yang kurasa tanpa sedikit pun kepalsuan.

"Karena aku ingin membuat Tokiwa bahagia."

"…………"

Profil wajahnya saat itu terlihat lebih cantik dari apa pun yang pernah kulihat belakangan ini.

Namun, ia segera menyadari ucapannya dan buru-buru meralatnya.

"Ah, tapi jangan salah paham. Aku sama sekali tidak berniat menjadi musuhmu. Aku juga bukan berarti berada di pihak Takanashi Mifuru."

"Aku tahu. Kau selalu, dari awal hingga akhir——"

Aku mengambil jeda sejenak sebelum menyampaikan inti sarinya.

"——Hanya berada di pihak Kotaro-san."

Mendengar itu…… Hangui-san tersenyum lembut dengan malu-malu, sebuah pemandangan yang langka.

"Iya. ……Jangan bilang-bilang dia, ya?"

"Tentu."

Lalu kami berdua tertawa kecil bersama. Menyebalkan memang, tapi aku sangat memahami cara berpikirnya.

Dan pastinya, dia pun merasakan hal yang sama terhadapku. Hangui-san melanjutkan.

"……Sebenarnya, kau merasa tidak punya peluang menang, kan?"

"……Iya. Tapi……"

"Benar. Fakta bahwa kau menyatakan perasaanmu pada Tokiwa memiliki nilai yang besar. Itu seperti melemparkan batu besar ke dalam kolam nilai-nilainya yang sedikit menyimpang."

"……Jika begitu, syukurlah (Great)."

Hening sejenak menyelimuti kami. Setelah itu, Hangui-san mengalihkan pembicaraan ke topik santai.

"Lagipula, Takanashi Mifuru itu benar-benar merepotkan."

" Ah, soal aktingnya sebagai pelaku di Murder Mystery ya?"

"Iya. Masa aktingnya kaku sekali begitu. Bagaimana dia bisa berperan sebagai pasangan palsu Usa Itsuki dengan lancar ya?"

"Ah…… kalau soal itu, sepertinya dia lebih banyak terbantu oleh ketidakpekaan Kotaro-san."

"Begitu ya. ……Yah, kalau soal kemampuan akting sih apa boleh buat. Tapi masalahnya, di saat seperti ini dia malah mengisyaratkan kemungkinan perubahan setting karena situasi pribadinya, itu benar-benar……"

" Perubahan setting karena situasi pribadi Takanashi-san? Apa maksudnya——"

Tepat saat aku hendak bertanya lebih detail padanya.

"Maaf membuat menunggu!"

Terdengar suara lantang dari kejauhan, dan terlihat Kotaro-san datang berlari kecil ke arah kami. Sepertinya pembicaraannya dengan Takanashi-san sudah selesai.

Aku berdiri dari bangku dan melambaikan tangan padanya. Hangui-san pun ikut berdiri dan berpamitan.

"Aku pergi dulu ya. ……Semoga beruntung."

"Hangui-san…… terima kasih banyak."

"Kapan-kapan kita buat pesta penghiburan atas kekalahanmu, ya."

"Beneran kupukul nih?"

Saat aku benar-benar mengepalkan tinju, Hangui-san melontarkan kalimat manja andalannya "Seraaam," lalu bergegas pergi dari sana.

Kotaro-san yang baru sampai menunjukkan kemampuan observasi yang tajam melihat kejadian itu.

"Ah, sepertinya kamu baru saja digoda Hangui, lalu dia kabur tepat saat kamu benar-benar berniat membunuhnya ya."

"Hebat ya, kamu mengatakannya seolah itu sudah jadi 'kebiasaan Hangui-san'. Padahal memang benar sih."

"Kalau soal dia, kesimpulanku belakangan ini adalah sebaiknya kita kuatkan hati dan langsung menghajarnya secara fisik saat pertama kali bertemu, bahkan sebelum dia melakukan apa pun."

"Begitu ya. Akan kujadikan referensi untuk 'RTA Penaklukan Hangui Akari' berikutnya."

"Silakan, silakan."

Setelah bertukar obrolan ringan dan tertawa bersama.

Kotaro-san, dengan sedikit malu-malu…… namun dengan tatapan mata yang menyimpan tekad kuat, mengulurkan tangannya padaku.

"Kalau begitu…… mari kita pergi, Tsukino-san."

"Iya, Kotaro-san."

Aku menyahut dan menyambut tangannya dengan tatapan yang juga penuh tekad.

Kotaro-san…… dengan gaya yang seolah sudah "menantikan saat ini", melontarkan kalimatnya dengan nada yang sedikit berlebihan.

"——Ayo kita akhiri drama pengakuan ini…… Confession Showdown!"

"Ah! Memang ada ya nama setting seperti itu!"

"Eh, kamu lupa!? Ja-jahatnya, Tsukino-san!"

"I-iya, habisnya di situasi seserius ini, nama yang mirip lelucon begitu mana mungkin kuingat sekarang……"

"Lelucon!? Kamu bilang lelucon!? Sejak dulu aku sama sekali tidak bermaksud melucu……!"

"Ah—iya, iya, sudah ayo jalan, Kotaro-san. Petugas kincir rianya sampai bingung melihat kita."

"Ah, ma-maaf. Anu, untuk dua orang……"

………….

Begitulah, dengan cara yang entah kenapa sangat berantakan, pertempuran penentu bagiku pun dimulai.

◆◇◆

Kami menaiki kincir ria tua yang catnya terkelupas di sana-sini, jauh dari kata indah.

Begitu pintu tertutup dan kami lepas dari pandangan petugas, Kotaro-san berujar dengan nada sedikit bersalah.

"Aku mengajakmu naik ini hanya karena kita bisa bicara berdua dengan tenang…… apa benar tidak apa-apa di sini?"

"Iya, tidak masalah. Justru menurutku, tempat yang tidak terlalu sempurna ini bisa dibilang Great."

"Eh? Kenapa begitu?"

"Tentu saja, karena itu menghilangkan kemungkinan Kotaro-san terbawa suasana atau situasi dan akhirnya mengambil keputusan manis yang sebenarnya tidak sesuai keinginanmu."

"Cara berpikirmu benar-benar mencerminkan seorang petarung di setiap kesempatan."

Kotaro-san tertawa kecut dengan nada kagum. Aku membalas senyumannya namun segera melanjutkan.

"Sebenarnya aku ingin berbincang santai, tapi kincir ria ini satu putarannya hanya sepuluh menit lebih sedikit. Kita tidak bisa terlalu santai. Mari segera kita 'langkahkan', Kotaro-san."

"Langkahkan ya. ……Yah, aku setuju."

Kotaro-san menatap mataku dengan lurus.

……Sejujurnya, memikirkan apa yang akan terjadi membuat hatiku hampir hancur.

Namun justru karena itulah, aku hanya bisa menghadapinya dengan memakai 'topeng' diriku saat sedang bertanding shogi.

Sambil menatap pemandangan luar yang sejujurnya tidak terlalu menarik, aku bertanya padanya dengan nada datar.

"Jadi, bagaimana baiknya? Apa aku boleh langsung menanyakan jawabannya?"

"Begitu ya. Aku juga berpikir sebaiknya menjawab dengan ringkas."

"Tapi?"

"Anu, maaf, tapi bolehkah aku mengikuti beberapa tahapan dulu? Karena menurutku ini adalah prosedur yang diperlukan agar aku bisa menyampaikan perasaanku saat ini dengan 'tepat dan akurat'."

Dia mengajukan permohonan itu dengan wajah sedikit bersalah. Meski dalam hati aku merasa lega, aku tidak menunjukkannya dan menyahut dengan datar, "Baiklah."

Kotaro-san menghela napas lega dan mulai berbicara lagi.

"Kalau begitu, pertama-tama…… aku ingin membuka Langkah Tersegel-nya."

Mendengar usulan itu, aku bereaksi secara spontan.

……Sejujurnya, ini adalah momen yang tidak kunantikan.

Karena, aku sudah bisa menebak apa yang tertulis di sana.

Memikirkannya saja membuat hatiku terasa berat.

Namun, bukan berarti aku boleh lari.

Setelah jeda sejenak, aku menjawab "Baiklah," lalu mengeluarkan amplop itu dari tas—Langkah Tersegel yang ia tulis.

Mungkin dia menyadari tatapan melankolisku pada amplop itu. Kotaro-san bertanya, "Apa sebaiknya aku yang membukanya?" Namun aku menggelengkan kepala.

"Tidak. Ini adalah benda yang kusimpan selama dua minggu terakhir. Jika boleh, biarkan aku yang membukanya."

"Baiklah. Silakan."

Atas dorongannya, aku menghela napas sekali dan menyobek segelnya.

Benda yang terlihat sangat rapat itu ternyata terbuka dengan sangat mudah. Aku menelan ludah.

Aku mengeluarkan kertas yang terlipat tiga dari dalam amplop. Lalu, dengan segenap keberanian, aku membukanya.

……Ternyata, tulisan yang muncul di sana benar-benar di luar dugaanku.

◆◇◆

Utakata Tsukino

Begitulah yang tertulis di sana dengan jelas menggunakan pulpen hitam. Melihat itu……

"……Fuuu."

Aku menghela napas tanpa rasa senang, melipat kembali kertasnya, lalu menatap Kotaro-san di depanku.

"Ini——sama seperti saat bermain 'A-I-U-E Battle', ya. Intinya——ini adalah bentuk perhatian di permukaan. Sesuatu yang kau tuliskan sebagai etika minimal saat membiarkanku memegang Langkah Tersegel ini selama dua minggu."

Mendengar penilaianku, Kotaro-san membelalakkan mata dengan kagum.

"Wa-wah, hebat ya, Tsukino-san. Kau bisa langsung mengetahuinya dalam sekejap."

"Entahlah. Ini bukan soal kemampuan deduksiku, tapi lebih karena……"

Aku menatapnya tajam dan menyatakan.

"Karena sudah sangat jelas bahwa ini adalah kebohongan. ……Bukankah seleramu sedikit buruk?"

"Ugh. Ma-maaf. Jika itu membuatmu tidak nyaman, aku benar-benar minta maaf."

Kotaro-san menundukkan kepalanya dalam-dalam padaku. Setelah menghela napas, aku membalasnya dengan senyuman.

"Angkat kepalamu, Kotaro-san. Ini bukan soal tidak nyaman. Justru ini hanya membingungkan."

"Membingungkan?"

"Iya. Karena jika kau memberikan perhatian semacam ini, maka Langkah Tersegel ini jadi tidak ada gunanya. Padahal awalnya ini adalah alat untuk menuliskan dan mengeluarkan 'kejujuran'mu saat itu dalam bentuk yang tidak bisa dilihat siapa pun……"

Sampai di situ, ada sesuatu yang mengganjal.

Menuliskan dan mengeluarkan dalam bentuk yang tidak bisa dilihat siapa pun?

"…………"

Sekali lagi aku membuka kertasnya dan memeriksanya dengan detail.

……Tadi aku tidak menyadarinya, tapi tulisan 'Utakata Tsukino' itu entah kenapa tidak berada di tengah…… melainkan sedikit agak ke kiri.

……Kenapa tidak di tengah, tapi di posisi seperti ini?

Saat memikirkan hal itu, tiba-tiba berbagai informasi dalam kepalaku terhubung.

Sesuatu yang tampak tidak berhubungan, tapi sebenarnya adalah elemen yang saling bertautan. Dengan kata lain……

"Kotaro-san. Jika boleh, aku ingin bertanya bagaimana caramu meninggalkan pesan kematian dalam drama Murder Mystery 'Pembunuhan di Atas Papan'?"

Mendengar pertanyaanku yang langsung menusuk ke inti masalah, Kotaro-san bergumam "Ooh" dengan nada sangat kagum.

"Wah, hebat. Kurasa itu benar-benar jenius. Bagaimana kau bisa menghubungkan hal itu?"

Kotaro-san memberikan pujian atas kesimpulan yang kucapai.

Ia melanjutkan.

"Lagipula, sepertinya kau sudah bisa menebak metode yang kugunakan, kan?"

Aku mengangguk mantap mendengar ucapannya. Setelah merapikan informasi di kepala, aku mulai berbicara.

"Selama ini ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Setiap kali kau membicarakan Murder Mystery 'Pembunuhan di Atas Papan' buatan Hangui-san. Kenapa kau tidak pernah menggunakan kata 'menebak' atau 'mencari tahu' identitas pelakunya, melainkan dengan sangat gigih selalu menggunakan kata……"

Aku berhenti sejenak, lalu menunjukkan Langkah Tersegel yang "tampak memiliki ruang kosong yang tidak perlu" itu padanya.

"Selalu menggunakan kata 'Menyingkap' (Aburidashi)?"

"……Maksudmu?"

Kotaro-san meminta jawaban yang akurat. Aku menunjuk ke area di sebelah kanan nama yang tertulis di kertas itu.

"Dalam Murder Mystery 'Pembunuhan di Atas Papan', bukti terbesar yang menunjukkan pelakunya——mungkin pesan kematian yang ditinggalkan di kertas burung bangau——pastinya menggunakan trik klasik yang sangat cocok untuk 'Murder Mystery pengenalan bagi pemula', yaitu trik Menyingkap Tulisan Rahasia (Aburidashi). Dan trik itu juga diterapkan pada Langkah Tersegel ini."

"Luar biasa!"

Kotaro-san bertepuk tangan memujiku.

"Wah, padahal kau bahkan belum membaca skenario 'Pembunuhan di Atas Papan' apalagi mengikutinya, tapi kau bisa sampai pada kesimpulan seperti itu, Tsukino-san."

"Terima kasih. Tapi kalau soal itu, bukankah Kotaro-san sendiri yang hebat karena tetap konsisten menggunakan ekspresi 'Menyingkap' meskipun belum berada di depan pelanggan?"

Mendengar itu, Kotaro-san menggaruk kepalanya dengan bingung.

"Ah, tidak, itu sebenarnya lebih karena aku ingin bersikap adil kepada Mifuru-san daripada kepada Tsukino-san."

"Kepada Takanashi-san?"

"Iya. Sebenarnya Hangui ingin agar kami para pemeran juga bisa menikmati ceritanya saat pertama kali tampil."

"Ah, jadi kalian berdua tidak tahu informasi yang dimiliki satu sama lain?"

"Iya. Tapi jika saat aku berinteraksi dengan Mifuru-san aku tidak sengaja menggunakan pilihan kata yang aneh dan malah menyesatkannya, bukankah itu tidak adil? Jadi kupikir lebih baik aku konsisten menggunakan ekspresi yang adil."

"Ooh, jadi karena itulah kau bersikeras memakai kata 'Menyingkap'. Kau seolah sudah memberi tahu jawabannya, tapi secara tata bahasa Jepang itu tidak terasa aneh."

"Begitulah. ……Ah, tapi meski begitu, pada akhirnya secara teknis ini jadi tidak terlalu adil juga sih."

"Apa maksudnya?"

"Maksudnya persis seperti yang kukatakan. Metode untuk menampilkan pesan kematian di Murder Mystery atau tulisan tersembunyi di Langkah Tersegel ini, sebenarnya bukan benar-benar teknik 'Menyingkap dengan Api' (Aburidashi)."

"Eh?"

Aku tertegun mendengar plot twist kecil itu. Kotaro-san tertawa kecut sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah pulpen.

"Ah, itu kan yang kau beli di toko serba seribu……"

"Iya, 'Magic Light Pen'…… satu set yang berisi senter ultraviolet kecil dan pulpen dengan tinta yang hanya terlihat saat disorot lampu itu. Masalahnya, di kafe board game rasanya kurang tepat kalau kita melakukan teknik 'Menyingkap' menggunakan api sungguhan."

"Benar juga ya."

Kalau dipikir-pikir memang benar. Kotaro-san melanjutkan.

"Lalu setelah berdiskusi dengan Hangui, kami segera menggantinya dengan metode sinar ultraviolet. Tapi saat itu ekspresi 'Menyingkap' sudah terlanjur digunakan, dan karena maknanya tidak terlalu jauh, kami tetap memakainya."

"Begitu ya. …………"

Percakapan kami terhenti. Hanya terdengar suara derit kincir ria tua yang berputar.

Aku memberanikan diri, lalu mengulurkan tangan meminta pulpen itu padanya.

"……Kalau begitu, bolehkah aku menggunakan lampu ultraviolet itu?"

"……Silakan."

Kotaro-san sempat ragu sejenak.

Namun pada akhirnya, ia menyerahkan pulpen itu dengan tatapan penuh tekad.

Aku menerimanya, lalu mengarahkan bagian lampu ke kertas Langkah Tersegel.

Dan kemudian…… dengan satu keputusan bulat, aku menyinari bagian itu.

Di sebelah tulisan "Utakata Tsukino". Aku menyingkap jawaban yang sebenarnya mengenai orang yang ia sukai saat itu.

◆◇◆

Mifuru Takanashi

"…………"

Itu adalah akhir yang sangat wajar. Tidak mungkin ada jawaban lain, dan tidak boleh ada jawaban lain. Sesuatu yang sudah sangat jelas. Namun meski begitu.

Tanpa sadar, satu tetes air mata jatuh dari mata kananku.

"Tsukino-san……"

"Ah…… tidak, maaf. Padahal aku sudah tahu hal ini akan terjadi. Bagaimana ya, ini seperti reaksi refleks saja. Fufu, aneh ya, perasaan manusia itu."

"…………"

Kotaro-san tampak mengernyitkan wajah seolah merasa pedih melihat keadaanku. Namun, ia tidak berusaha menutup-nutupi apa pun, ia menatapku lurus dari depan dan menyatakan dengan tegas.

"Tsukino-san. Aku dulu menyukai Mifuru-san…… Takanashi Mifuru-san."

"……Iya."

Aku pun menerima pernyataan itu dengan sikap tegak.

……Sesuatu yang sudah jelas. Sudah jelas tapi…… tetap saja bagian dalam dadaku terasa dingin sampai terasa sakit.

Aku tidak bisa tersenyum, bahkan tidak bisa memasang wajah biasa saja.

Pasti saat ini wajahku terlihat sangat buruk…… sampai-sampai Kotaro-san pun mungkin tidak sanggup melihatnya.

Aku tidak ingin memberinya beban pikiran yang berlebihan, apalagi mencari rasa ibanya.

Aku sangat berharap tidak menjadi wanita yang lemah seperti itu——tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya.

Pasti itu adalah wajah yang sangat tidak tega untuk dilihat oleh Kotaro-san yang lebih baik hati dari siapa pun.

Namun ia tetap melanjutkan bicaranya tanpa memalingkan wajah sedikit pun dariku.

"Tidak, barusan itu caraku bicara yang sedikit melarikan diri. Aku akan mengatakan kejujuranku dengan lebih mantap lagi."

Ia melontarkan pengakuan seumur hidup yang pastinya tidak ingin ia katakan di situasi seperti ini, sebuah kejujuran yang terasa kejam bagi siapa pun.

Ia mengatakannya tanpa ragu sedikit pun, hingga aku bisa merasakan betapa seringnya ia mengulang simulasi pengakuan ini di dalam kepalanya.

"Bahkan sampai sekarang pun, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku menyukai Takanashi Mifuru. Aku sangat mencintainya."

"……Iya. Aku sudah mengetahuinya."

Aku memaksakan diri, seolah memeras seluruh tenaga hanya untuk membalas kalimat itu.

Ya... aku sudah tahu. Aku sudah sangat tahu. Tanpa perlu dia mengatakannya pun, aku sudah menyadarinya sejak lama.

Aku tahu dia bukan tipe orang yang bisa dengan mudah memindahkan target hatinya. Aku juga tahu dia bukan tipe pria yang mau berkencan denganku dengan perasaan setengah hati, hanya karena dia sedang jomlo.

Lalu, Kotaro-san akhirnya... mengutarakan jawaban pemungkasnya.

"Karena itu, untuk pengakuan Tsukino-san kali ini... permintaanmu agar kita berpacaran, aku tidak bisa memenuhinya. Maafkan aku."

Kotaro-san menundukkan kepalanya dalam-dalam saat menolakku. Aku hanya bisa menjawab dengan satu kata, "Iya."

...Ini adalah kekalahan yang sudah digariskan. Rasanya, bahkan untuk merasa terluka pun aku tidak pantas.

Tapi... meski begitu, kenapa.

"……Maaf, kan aku."

Air mata yang meluap dari mataku tak bisa dibendung lagi. Tanpa sadar aku menutupi wajah dengan kedua tangan. Betapa memalukannya penampilanku sekarang.

Aku benar-benar benci diriku sendiri. Ini hanyalah kepuasan ego semata. Reaksi ini hanya akan melukai perasaannya tanpa alasan. Aku tahu itu, tapi... kenapa. Kenapa.

Tanpa kusadari, kincir ria sudah mencapai titik puncaknya. ……Mulai dari sini, kami hanya akan terus bergerak turun. Sungguh sebuah ironi.

Setelah keheningan menyelimuti sejenak, Kotaro-san angkat bicara sementara aku masih menundukkan wajah.

"……Bidding Game itu, sebenarnya adalah permainan tentang merelakan, ya."

"……Fufu. Benar-benar... di saat seperti ini pun kamu masih membahas board game."

"Maaf."

"Tidak, kurasa itu sangat mirip denganmu. ……Aku juga suka sisi dirimu yang itu."

"……Terima kasih."

Tersenyum tipis, dia melanjutkan.

"Kita tidak bisa membeli semuanya. Karena itu, kita harus mendapatkan apa yang paling penting bagi kita sendiri... Dengan kata lain, kita harus 'merelakan' hal-hal lain demi meraih hal yang paling berharga di akhir nanti... yaitu kemenangan. Itulah inti dari Bidding Game."

"……Iya."

"Lalu... yah, kalau aku bicara soal kehidupan lewat board game, mungkin Mifuru-san akan marah. Tapi bagiku, hal besar pertama yang harus aku 'relakan' dalam hidup... sepertinya adalah Natsumi-san."

"Eh?"

Aku refleks mengangkat wajah karena alur pembicaraan yang tak terduga. Kotaro-san memastikan sesuatu padaku.

"Anu, Tsukino-san, soal Natsumi-san, bukankah kamu sudah mendengar garis besarnya dari Hangui?"

"Ah, maaf. Soal itu, termasuk keributan seputar Hakiri Omitora, kira-kira aku sudah tahu……"

"Tidak, tidak perlu minta maaf. Justru itu membuat ceritanya jadi lebih mudah. Lagipula, maaf ya, aku jadi terlalu banyak bercerita tentang diriku padamu."

Setelah meminta maaf, dia menatap pemandangan senja di luar yang sejujurnya tidak terlalu istimewa, lalu melanjutkan.

"Ini cerita saat Hakiri-sensei datang... pria yang nantinya menjadi suaminya, Omitora-san. Saat itu aku mencintai Natsumi-san, tapi pada akhirnya, jangankan merebutnya... menyampaikan perasaanku saja tidak aku lakukan sampai akhir. Aku memilih memendam perasaanku dan hanya memberkati mereka berdua."

"……Itu pasti pilihan yang membutuhkan kekuatan mental luar biasa. Terus mengawasi orang yang disukai hidup bahagia dengan pasangannya tepat di depan mata……"

"Iya. Sejujurnya, sampai sekarang aku terkadang berpikir, apa lebih baik waktu itu aku bersikap egois dan tidak bertanggung jawab saja dengan menembak Natsumi-san. Biar saja aku ditolak mentah-mentah, terluka parah, lalu pergi dari hadapan mereka dengan perasaan dongkol. Tapi aku yang dulu tidak memilih itu. Tidak bisa."

"Kenapa?"

"Alasan terbesarnya, ya karena aku ini pengecut yang nyalinya ciut."

Kotaro-san tertawa dengan nada yang sangat meremehkan diri sendiri. Aku menahan diri untuk tidak membantah agar tidak memotong pembicaraannya, sementara dia terus bercerita.

"Dulu Hangui pernah menilai kepribadianku sebagai 'tipe orang yang bisa melakukan apa saja jika dia rasa itu demi orang yang disayanginya'. Tapi sisi sebaliknya juga berlaku."

"Sisi sebaliknya?"

Kotaro-san menarik napas sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.

"Yaitu 'tipe orang yang tidak bisa melakukan apa-apa jika dia rasa itu tidak membawa kebaikan bagi orang yang disayanginya'."

"——!"

"Benar-benar, aku sendiri pun muak karena selalu saja memperhatikan perasaan orang lain, sungguh memalukan—"

"Bagiku, itu bukan begitu."

Aku memotong ucapannya yang terus mengejek diri sendiri, dan mengutarakan pendapatku dalam satu kalimat.

"——Aku tidak menyebutnya sebagai 'orang yang memalukan', tapi 'orang yang baik hati'."

"…………"

"Maaf. Hanya itu saja. Silakan dilanjutkan."

"……Haha, Tsukino-san benar-benar hebat ya. ……Iya, terima kasih. Baiklah, aku lanjut ya."

"Iya."

"Tadi aku cuma menyebut diriku pengecut sebagai ejekan. Tapi sebenarnya, aku punya logika yang masuk akal kenapa aku menahan diri untuk tidak menyatakan cinta pada Natsumi-san. Dan itu adalah..."

"Pangkal dari cerita ini. Sesuatu yang juga terhubung dengan 'inti dari Bidding Game' dalam board game, ya?"

"Benar sekali. Maaf ya, aku selalu mengumpamakan hal penting dengan board game."

Kotaro-san tertawa seolah sedang bercanda. ……Baru sekarang aku menyadari bahwa alasannya sering mengumpamakan hidup dengan board game adalah cara dia bertahan hidup—cara dia "berdamai dengan hal-hal pahit yang sulit untuk ditelan."

Sambil memberikan senyuman tipis yang terasa menyayat hati, dia menyampaikan kesimpulan dari ceritanya.

"Inti dari Bidding Game adalah 'memastikan apa yang boleh direlakan dan apa yang harus diprioritaskan'. Bagiku saat itu, 'hal yang boleh direlakan' adalah perasaan cintaku pada Natsumi-san. Dan lebih dari itu, hal yang harus menjadi prioritas utama adalah——"

Jeda sejenak, Kotaro-san tersenyum malu.

"——Senyum Natsumi-san."

"…………"

"Demi melindunginya, aku bisa mengabaikan hal lainnya. Berada di posisi paling dekat dengannya, atau sekadar meluapkan perasaan demi memuaskan hasrat diri sendiri. Ego semacam itu bukan hal penting bagiku. Aku bisa memilahnya dengan baik dalam diriku, dan merelakannya."

Dadaku terasa sangat sesak. Meskipun tahu ini mungkin pertanyaan yang kurang sopan, aku harus memastikannya.

"Pada akhirnya... apakah strategi itu membuahkan hasil?"

Mendengar pertanyaan itu, Kotaro-san mengangguk dengan senyum yang benar-benar cerah.

"Iya. Sampai sekarang Natsumi-san tampak sangat bahagia dengan suaminya yang sangat dia cintai. Aku sama sekali tidak menyesal."

"Itu... syukurlah kalau begitu."

"Iya, begitulah. Ah... tapi, anu..."

Tiba-tiba wajah Kotaro-san berubah muram.

"Belakangan, aku malah dibuat menyesal luar biasa gara-gara suaminya itu……"

"Ha, haha……"

Aku hanya bisa tertawa hambar. Ka-kalau soal itu sih... aku hanya bisa bilang turut berduka cita, ya. Hakiri Omitora memang seharusnya dipukul sekali oleh Kotaro-san.

Dia berdehem untuk mengembalikan pembicaraan yang sedikit melenceng, lalu melanjutkan.

"Anu. Jadi intinya yang ingin aku katakan adalah... Saat ini, perasaanku terhadap Mifuru-san pun kurang lebih sama."

"……Eh?"

Alur pembicaraan yang berbelok ke arah tak terduga membuatku mengeluarkan suara kebingungan.

Sambil terus menatap ke luar dengan tatapan pedih, Kotaro-san melanjutkan.

"Aku suka Takanashi Mifuru. Sangat suka. Sejujurnya sampai sekarang, aku masih mencintainya dari lubuk hatiku. Pasti berkali-kali lipat lebih besar dibanding kekaguman polosku pada Natsumi-san dulu. ……Tapi, justru karena itulah."

Dia kemudian menoleh ke arahku dengan senyum sedih yang dipaksakan, lalu mendeklarasikan sesuatu.

"Perasaan ini bukanlah sesuatu yang harus diprioritaskan sampai-sampai harus menghancurkan kebahagiaannya."

"Itu……"

Itu berarti semacam "deklarasi untuk merelakan Takanashi Mifuru". Aku refleks bersuara karena bingung dengan keputusan itu.

Sebab, jika keputusan itu diambil karena rasa sungkan terhadap status "Usa Itsuki" sebagai pacar palsunya, maka itu terlalu...

"Anu, bukannya aku ingin ikut campur, tapi jika ini bukan hal yang menentukan seperti rencana pernikahan Natsumi-san dulu…… itu……"

"Benar. Aku juga berpikir begitu selama ini. Tapi, ada satu hal yang menentukan."

"Hal yang menentukan?"

Apa aku melewatkan sesuatu? Saat aku sedang berpikir yang bukan-bukan, Kotaro-san melanjutkan.

"Aku ditolak. Oleh Mifuru-san. Secara jelas."

Itu benar-benar informasi yang baru pertama kali kudengar. Aku bertanya dengan panik.

"Eh? Ka-kapan dan dalam situasi seperti apa itu terjadi!?"

"Tentu saja Tsukino-san tidak tahu. Karena ini terjadi tepat sebelum aku naik kincir ria bersamamu. Saat aku pergi menemui Mifuru-san tadi."

"Eh. Berarti... mungkinkah saat itu Kotaro-san menyatakan cinta padanya?"

"Tidak, tidak mungkin! Bukankah itu berarti aku melanggar janji dengan Tsukino-san?"

Benar juga. Lagipula, salah satu tujuan pengakuan cintaku ini adalah untuk mencegah Kotaro-san menembak Mifuru-san. Aku tidak yakin orang seserius Kotaro-san akan mengingkari janji itu tiba-tiba.

"……Tapi, kalau begitu, apa maksudnya penolakan dari Takanashi-san?"

"Ya sesuai maknanya. Aku memang tidak menembaknya. Tapi meskipun begitu, dia pasti merasakan sesuatu dari sikapku sehari-hari. Akhir-akhir ini aku merasa nada bicara dan sikapnya lebih galak dari biasanya. Dan hari ini, akhirnya dia mengatakannya dengan gamblang."

"Mengatakan apa?"

"Dia bilang, dia tidak menganggapku sebagai apa-apa."

"…………"

Memang benar, sesaat sebelum aku menemuinya, Takanashi-san sempat bilang sesuatu seperti "aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu, Uta-chan", tapi... kenapa sekarang tiba-tiba...

Kotaro-san tertawa kecut.

"Karena itulah, sebenarnya aku pun sudah ditolak lebih dulu daripada Tsukino-san."

"I-itu benar-benar... anu, aku turut berduka cita."

"Terima kasih atas simpatinya. Tapi, Tsukino-san sendiri pun juga……"

"Jangan diteruskan."

Setelah itu, kami berdua tertawa kecil bersama.

……Tanpa disadari, anehnya hatiku terasa sedikit lebih ringan.

……Apakah dia menceritakan kegagalannya ini hanya agar aku merasa lebih baik?

Jika iya, dia benar-benar orang yang sangat baik hati dari lubuk jiwanya.

……Aku memang benar-benar mencintainya.

Saat aku menatapnya dengan pandangan penuh rasa suka seperti biasa, dia sepertinya menyadari hal itu.

Dia menggaruk kepalanya dengan malu-malu, memalingkan wajah, lalu lanjut bicara.

"Ah—tapi aku tegaskan sekali lagi. Aku masih menyukai Takanashi Mifuru-san. Meskipun ditolak... meskipun tidak bisa menjadi pasangannya, bukan berarti aku jadi 'membencinya'. Malah, aku masih terus mendoakan kebahagiaannya dengan sepenuh hati."

"Aku mengerti."

Aku mengangguk dengan penuh keyakinan. Melihatku, Kotaro-san tersenyum manis padaku.

Di wajahnya itu... aku merasa ada sedikit emosi yang belum pernah ia tunjukkan padaku sebelumnya.

Saat aku terpana melihatnya, dia angkat bicara dengan nada sungkan.

"……Anu, maaf kalau pembicaraannya jadi bolak-balik. Di sini, anu, bolehkah aku menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi beberapa tahun lalu... setelah aku patah hati karena Natsumi-san?"

"Eh? Ya, silakan saja……"

Ada apa tiba-tiba? Meski berpikir begitu, karena dia bukan tipe orang yang membawa topik tanpa alasan, aku pun memasang telinga.

"Aku, anu, sebenarnya tidak terus-menerus galau karena patah hati dari Natsumi-san. Tapi, saat aku bisa benar-benar merasa sudah 'benar-benar move on' darinya... itu adalah, anu, setelah aku bertemu dengan Mifuru-san."

"……Oh. Be-begitu ya."

"Iya. Begitulah."

Sejujurnya, aku tidak tahu harus menanggapi apa.

Kenapa Kotaro-san membicarakan ini sekarang?

Aku tidak menangkap maksudnya. Tapi di sisi lain, dia terlihat jauh lebih gelisah dan gugup dibanding sebelumnya.

……Aku benar-benar tidak paham.

Keheningan kembali turun di antara kami. Kotaro-san berdehem, lalu berbalik menghadapku sepenuhnya.

"Lalu, anu, Tsukino-san. Mulai dari sini adalah... inti pembicaraanku yang sebenarnya untuk hari ini."

"Eh? Hah? Eh? Mulai dari sini inti pembicaraannya?"

Apa yang sedang dibicarakan orang ini?

Inti pembicaraan atau apa pun, bukankah drama pengakuan cinta hari ini sudah selesai dengan kekalahan telakku? Mau apa lagi sekarang……

Berbeda denganku yang merasa heran, Kotaro-san justru... entah kenapa, menatapku lurus-lurus dengan pandangan paling serius yang pernah kulihat hari ini.

Karena tekanan auranya yang begitu kuat, aku refleks membetulkan posisi dudukku.

Di tengah ketegangan aneh yang kembali menyelimuti kincir ria, Kotaro-san... meski bicaranya terbata-bata karena gugup dan wajahnya memerah padam, ia tetap mengatakannya dengan jelas.

"Aku suka Tsukino-san."

"Ha, iya?"

……Meskipun aku belum benar-benar paham apa yang sedang dimulai, aku merasakan panas menjalar dengan cepat ke wajahku. Aku menjawab dengan terbata-bata.

"I-i-i-iya! Apa yang kamu katakan? Kotaro-san, bukankah baru beberapa menit yang lalu kamu menolak pengakuan cintaku mentah-mentah!?"

"Ah, soal itu, iya. Untuk saat ini aku tidak bisa berpacaran denganmu. Karena aku masih sangat mencintai Takanashi Mifuru-san."

"Dua kali! Eh, kenapa aku harus ditolak dua kali dengan kalimat yang sama!? Aku bakal nangis lho!? Aku bakal nangis kencang-kencang lho!?"

"Ah, maaf! Bukan begitu! Me-memang benar, untuk pengakuan Tsukino-san kali ini——soal permintaan 'mari berpacaran' itu, bagaimanapun juga di pihakku belum siap untuk melakukan hubungan yang benar-benar jujur di mana aku bisa bilang aku hanya mencintaimu sepenuh hati. Ja-jadi, anu, aku hanya bisa minta maaf soal itu. Tapi."

Di sana, ia membiarkan tekad membara di matanya.

Seolah meniru tindakanku saat aku menembaknya dulu... dia menggenggam tanganku dengan erat.

Lalu... dengan tatapan mata yang sangat jujur.

Secara mengejutkan, dialah yang melontarkan "pengakuan balik".

"Maukah kamu menjadi teman——bukan. Maukah kamu memulainya 'dari' teman denganku?"

"……——!"

Pengakuan yang begitu tiba-tiba dari Kotaro-san membuatku refleks menundukkan mata.

Melihat reaksiku, sepertinya dia salah menangkap maksudnya dan melanjutkan dengan nada serius.

"Pria berengsek ini, karena ditolak oleh orang yang disukai——Mifuru-san, lalu mencoba beralih ke orang lain. Aku rasa wajar jika kau berpikir begitu."

"Ti-tidak, aku tidak berpikir begitu……"

"Tidak, aku tidak berniat menutup-nutupi hal itu. Akan kukatakan berkali-kali, aku masih menyukai Mifuru-san. Sangat menyukainya."

"Apa kamu harus mengatakannya berkali-kali padaku!?"

"Iya, karena aku tidak boleh bersikap tidak jujur padamu."

"Jadi menyakitiku tidak apa-apa begitu!?"

"Iya. Habisnya Tsukino-san, kamu lebih suka 'kejujuranku' atau 'perhatian omong kosongku'?"

"Ah, itu sih jelas 'kejujuran' nomor satu."

"Kan, sudah kuduga."

Kotaro-san tertawa seolah sudah tahu jawabannya.

Di satu sisi aku merasa malu karena sifat asliku sudah diketahui sepenuhnya, tapi di sisi lain rasanya sangat menyenangkan.

Setelah tertawa lepas, ketegangannya sedikit mencair dan dia melanjutkan.

"Aku suka Mifuru-san. Itu adalah kenyataan yang tak tergoyahkan sampai sekarang. Tapi di sisi lain, aku nyatakan bahwa perasaan ini pun adalah kejujuran yang nyata."

Jeda sejenak, dia kembali menatap mataku dan berujar.

"Aku suka Tsukino-san."

"…………"

"Meski masih ada kata 'sebagai manusia' di depannya. Tapi, fakta bahwa aku sangat menyukaimu, bagaimanapun juga aku ingin menyampaikannya."

"Karena itu... setelah menolak pengakuanku. Kamu memintaku untuk memulai 'dari teman'?"

"Iya. Itulah hal maksimal yang bisa kukatakan saat ini. Jika ini terdengar tidak tulus bagimu, kau boleh menolak permintaan pertemanan ini."

Bahu pria yang bicara seperti itu sedikit gemetar.

……Kemungkinan besar, dia melakukan pengakuan ini dengan pikiran bahwa dia akan ditolak sembilan puluh persen.

Menolak pengakuanku, menekankan berkali-kali bahwa perasaannya pada Takanashi-san tidak berubah, merendahkan nilainya sendiri, namun tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan rasa sukanya padaku.

Pasti itulah alasan di balik tindakannya ini.

……Astaga. Padahal dia jago main board game, kenapa orang ini begitu payah dalam urusan hubungan antarmanusia.

Aku sedikit heran, lalu mulai berbicara padanya.

"……Bolehkah aku memastikan satu hal?"

"Apa itu?"

"Bolehkan aku menganggap bahwa kata 'dari' dalam kalimat 'memulai dari teman' itu mengandung makna yang sepadan?"

"…………"

Mendengar pertanyaanku, dia sempat ragu untuk menjawab.

Itu bukan karena dia bingung, tapi karena dia mempertimbangkan ketidaktulusan jika dia mengucapkan hal itu——hal yang bisa jadi sekadar kata-kata manis bagi orang yang menyukainya.

Namun pada akhirnya, dia lebih memprioritaskan keinginanku akan jawaban, dan membuka mulut sambil memilih kata-kata dengan hati-hati.

"Iya. Itulah alasan kenapa tadi aku menceritakan soal Natsumi-san. Karena aku ingin 'menatap ke depan' bersamamu, aku mengatakannya dengan tekad tertentu, memulai 'dari' teman."

"Lalu, seandainya aku menerima tawaran itu. Karena kita belum berpacaran, berarti masih ada kemungkinan kamu menjalin hubungan dengan Takanashi-san——"

"Itu tidak mungkin terjadi."

Kotaro-san memotong dengan tegas. Sementara aku sedikit terintimidasi oleh auranya, dia melanjutkan.

"Meskipun belum sampai tahap 'pacaran'. Di pihakku yang menggunakan kata 'dari', aku merasa harus menarik garis tegas. Tentu saja Tsukino-san tidak perlu terikat olehku yang statusnya hanya 'teman', tapi setidaknya di pihakku, aku tidak akan pernah melakukan pengkhianatan padamu."

"I-itu, anu…… syukurlah kalau begitu (Great)."

"Tidak, jangan bilang 'syukurlah' untuk hal ini. Ini adalah 'kewajiban'."

"Be-begitu ya."

"Iya."

Keheningan kembali menyelimuti kabin kincir ria. Sambil menatap pemandangan luar, aku berujar pelan.

"Kotaro-san... kamu berniat menjadikan aku alasan untuk 'melupakan' Takanashi-san, ya."

"……Iya. Benar sekali."

Kotaro-san tidak melanjutkan kata-katanya lagi.

Padahal dia pasti ingin memberikan banyak penjelasan atau ejekan pada diri sendiri.

Seolah tidak ingin mengaburkan keputusanku, saat ini dia sangat hemat bicara.

Aku benar-benar heran padanya, aku mengangkat bahu dan menghela napas panjang.

"Sisi dirimu yang itu, bisa jadi kelebihan tapi juga kekurangan besar, menurutku."

"……Maaf. Kalau begitu……"

"Iya. ——Mohon bantuannya untuk waktu yang sangat lama."

"Tunggu, alurnya aneh!"

Kotaro-san sangat bingung dan langsung memprotes dengan keras.

"Bukan, apa-apaan tadi! Tidak apa-apa!? Kamu mau jadi teman dengan orang berengsek sepertiku!?"

"Ka-kamu merendahkan diri sendiri parah banget ya. Apa kamu lupa kalau aku baru saja menembakmu beberapa menit lalu?"

"Itu benar sih! Ta-tapi aku kan berniat memanfaatkanmu untuk melupakan Mifuru-san……"

"Ah, kalau soal itu, aku justru merasa 'terhormat', tahu?"

"Eh?"

"Habisnya, itu berarti kamu melihat kemungkinan padaku untuk 'menjadi sangat suka sampai bisa melupakan Takanashi-san'... dengan kata lain kamu melihat masa depan untuk berjalan bersama denganku, kan?"

"Itu, kalau dikatakan seperti itu, memang benar sih. Tapi……"

"Tidak ada tapi-tapi. Kotaro-san sepertinya ingin sekali merendahkan diri sendiri. Tapi aku sudah tahu kalau penilaianmu terhadap dirimu sendiri itu sama sekali tidak layak dipercaya. Jadi untuk saat ini, aku memutuskan untuk lebih memprioritaskan 'dirimu menurut pendapatku'. Mohon maklum."

"Ugh. ……Ta-tapi lihatlah, kontrak pertemanan yang egois ini——"

"Ah, kalau soal itu, bolehkah aku mengajukan satu permintaan saat kita membuat kontrak ini?"

"Eh? I-iya, tentu saja!"

"Kalau begitu, aku ingin meminta sedikit revisi pada pilihan kata dalam kontraknya."

"Revisi pilihan kata?"

"Iya."

Setelah berkata begitu, aku menempelkan jari telunjuk di dagu dan mengajukan usul dengan penuh semangat.

"Bukan 'mulai dari teman'. Tapi... bolehkah diganti menjadi 'mulai dari setengah langkah di depan teman'?"

"Eh?"

Kotaro-san kebingungan. Aku melihat ini sebagai "kesempatan menyerang", lalu lanjut mendesak dengan tubuh condong ke depan.

"Habisnya, kalau sekarang baru bilang 'mulai dari teman' itu aneh, kan. Memangnya aku dan Kotaro-san selama ini bukan teman? Jangan-jangan, cuma aku yang menganggap kita teman?"

"Ti-tidak, tentu saja tidak begitu!"

"Syukurlah kalau begitu (Great). Tapi kalau begitu, garis start 'dari teman' tidak bisa kuterima. Itu sama buruknya dengan acara varietas yang memancing penonton dengan kalimat 'lanjut setelah pariwara!', tapi begitu iklan selesai malah mengulang materi lima menit sebelumnya."

"Be-begitukah? Rasanya agak berbeda……"

"Tidak, memang begitu!"

Aku mendesak dengan aura yang tidak menerima bantahan.

Kotaro-san yang terintimidasi hanya bisa menjawab "I-iya ya," sementara aku melanjutkan.

"Jadi, isi kontraknya bukan 'dari teman', tapi 'dari setengah langkah di depan teman'. Setuju, kan?"

"Eh…… u-uhm. Bagaimana ya——"

"Setuju, kan!"

"I-iya!"

Aku memaksanya dengan semangat. Pe-permintaan manja sebesar ini, harusnya boleh kan untukku.

Tanpa terasa, kincir ria sudah hampir sampai di tanah.

"Ah, sudah saatnya bersiap turun."

Melihat Kotaro-san yang hendak berdiri, aku... memantapkan tekadku.

"Ah, Kotaro-san, sebentar."

Aku menarik lengannya, lalu menarik tubuhnya mendekat ke arahku. Dan kemudian...

"Eh……"

……Aku mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipinya.

Sangat singkat seperti anak SD... tapi bagiku, itu adalah ciuman yang dilakukan dengan mengerahkan seluruh keberanian seumur hidup.

…………

Hanya karena hal itu, wajah kami berdua langsung memerah padam seperti kepiting rebus.

"Anu. Tadi itu... apa……"

Kotaro-san bertanya dengan nada bingung.

Kepadanya, aku...

Sambil menahan malu dan rasa bahagia yang membuat sudut mataku sedikit berair.

Aku menunjukkan senyuman yang sedikit nakal padanya.

"……Itu adalah, setengah langkah di depan teman."




◆◇◆

Saat kami turun dari kincir ria, matahari sudah benar-benar tenggelam.

Kami memberikan laporan hasil singkat kepada tiga orang yang sudah menunggu dengan wajah serius di depan tempat keluar, lalu kami segera bergegas pulang untuk melarikan diri dari godaan——yang mereka sebut sebagai ucapan selamat.

Kami naik bus menuju stasiun, lalu naik kereta menuju arah Ogikubo.

Karena kami berlima sudah sangat lelah setelah bermain air seharian, tentu saja kami ingin duduk, tapi karena situasi di Jalur Chuo tidak memungkinkan kami berlima duduk bersama, kami pun duduk berpencar.

"Maaf ya kalau bukan Tokiwa yang duduk di sebelahmu."

Sambil berkata begitu, Hangui Akari duduk di sampingku.

Kalau soal itu, aku pun ingin minta maaf karena yang duduk di sini bukan Takeshi Momoe, tapi karena urutan naik ke gerbong dan tidak ingin mengganggu penumpang lain, kami tidak punya waktu untuk memilah-milah pasangan duduk. Apa boleh buat.

Ngomong-ngomong, saat aku mengecek penumpang lainnya, Kotaro-san dan Takeshi-san duduk berdua.

Tumben sekali, hanya Takanashi-san yang berdiri sendirian di samping pintu, agak jauh dari kami, sambil menatap pemandangan luar.

Aku sempat berpikir mungkin dia tidak kebagian tempat duduk, tapi karena ada beberapa kursi kosong di sekitarnya, sepertinya dia memang sedang ingin berdiri saja.

Saat aku merasa dadaku sedikit berdenyut melihat ekspresi melankolisnya, tiba-tiba terdengar suara decakan lidah yang sangat kasar dari sampingku.

"Cih."

Ternyata Hangui Akari sedang melotot ke suatu arah sambil menggigit bibir dengan gemas. Penasaran, aku pun mengikuti arah pandangannya dan...

"Cih."

Tanpa sadar aku menunjukkan reaksi yang sama dan menggigit kuku jempolku.

Sebab di sana... terlihat pemandangan Kotaro Tokiwa dan Momoe Takeshi yang sedang tertidur pulas dengan kepala saling bersandaran satu sama lain. Tampak sangat akrab.

"Kugh, mendingan sih daripada Momo-chan bersandar ke penumpang lain... tapi tetap saja...!"

"Aku mengerti betapa beratnya hari ini bagi mental Kotaro-san jadi aku memaafkannya... tapi tetap saja!"

Kami berdua saling menggertakkan gigi karena cemburu selama beberapa saat, sebelum akhirnya merasa konyol sendiri dan tertawa bersama.

Lalu, aku kembali mengutarakan rasa penasaranku pada Hangui-san.

"Tapi belakangan ini, bukankah Hangui-san seharusnya merasa senang melihat Kotaro-san dan Takeshi-san akrab?"

"Itu beda urusan. Aku mengizinkan Tokiwa dan Momo-chan menikah, tapi aku akan repot kalau namaku tidak dicantumkan dalam rencana bulan madu, kehidupan baru, bahkan silsilah keluarga mereka."

"Orang yang gila secara total dengan wajah tenang dan datar itu benar-benar menakutkan ya."

Akhirnya, Hangui Akari berhasil merebut peringkat pertama dalam daftar "Orang yang Tidak Aku Benci tapi Malas Aku Dekati" versiku. Selamat ya.

Ngomong-ngomong, peringkat satu sebelumnya adalah bibi sekaligus guruku, Marisa Tatsumi.

……Sepertinya orang-orang pintar memang banyak yang agak "ajaib".

Ah syukurlah, Sang Ratu Shogi saat ini adalah pengecualian.

Saat aku memikirkan hal-hal tidak penting itu, Hangui-san menghela napas panjang seolah sedang kesulitan.

"Haaah, tapi ya."

"Rasanya malas sekali harus melakukan satu pekerjaan lagi setelah sampai di rumah dengan rasa lelah seperti ini."

"Pekerjaan? Apa kamu bekerja paruh waktu?"

"Ah, maaf. Bahasaku mungkin sedikit kurang sopan di depan seorang pemain shogi profesional. Meskipun aku menyebutnya pekerjaan, bagiku ini hanya sebatas hobi. Maksudku, soal pembuatan Murder Mystery."

"Satu pekerjaan dalam Murder Mystery…… ah, mungkinkah soal permintaan 'perubahan setting' dari Takanashi-san yang tadi kamu bicarakan?"

"Tepat sekali. Benar-benar deh, dia itu merepotkan saja."

Hangui-san melirik ke arah Takanashi-san yang masih berdiri sendirian di dekat pintu. Ia menghela napas sambil melanjutkan bicaranya.

"Mengenai 'Pembunuhan di Atas Papan', aku memang sedikit keterlaluan dengan memaksakan hal-hal sulit pada Tokiwa dan Takanashi-san, termasuk soal burung bangau kertas itu. Jadi kami sebenarnya impas. Tapi tetap saja, masa dia baru minta ganti di saat seperti ini……"

Cerita itu terasa sangat mirip dengan Takanashi-san, tapi di saat yang sama juga tidak.

Memang dia sering bersikap manja, tapi setahun mengenalnya, dia bukan tipe orang yang akan merepotkan orang lain secara fatal dengan semudah itu.

Malah, jauh di lubuk hatinya, dia adalah orang yang paling perhatian dibanding siapa pun.

Meski merasa sedikit janggal, aku merasa tidak ada gunanya menggali terlalu dalam sekarang, jadi aku mengalihkan topik.

"Ah, bicara soal 'Pembunuhan di Atas Papan'. Maaf ya, karena berbagai alasan, padahal aku belum memainkannya tapi aku sudah tahu poin pentingnya…… soal bagian 'Menyingkap' itu."

"Ala, begitu ya. Fufu, itu bukan sesuatu yang perlu kamu minta maaf padaku, kan?"

"Tapi Hangui-san, bukankah kamu sangat menjaga pengalaman skenarionya sampai-sampai melarang Kotaro-san dan Takanashi-san saling membocorkan peran masing-masing?"

"Ah, kalau itu rahasia ya. Sebenarnya itu bukan karena komitmen skenarioku, tapi aku hanya berpikir interaksi mereka berdua akan jadi lebih menarik jika begitu. Dalam board game pun, interaksi menarik justru muncul di tengah keterbatasan aturan, kan?"

"Benar juga. Game yang mengharuskan kita menyampaikan tema lewat gestur atau gambar memang terasa seperti itu."

"Tepat. Ada komunikasi yang justru jadi lebih menarik jika masing-masing pihak memiliki batasan. Ah, persis seperti ekspresi 'Menyingkap' milik Tokiwa itu."

"Begitu ya."

Saat aku sedang mengangguk-angguk paham, Hangui-san sepertinya salah sangka dan mengira aku sudah tahu segalanya tentang "Pembunuhan di Atas Papan".

Ia pun membocorkan hal yang sama sekali di luar dugaanku dengan nada santai.

" 'Batasan' yang diberikan pada Takanashi Mifuru selama dua minggu ini sebagai latihan akting peran pelakunya juga termasuk dalam hal itu."

"………… Eh?"

Mendengar kata-kata itu, entah kenapa jantungku berdegup kencang. Bukan logika, melainkan instingku yang berteriak.

Bahwa informasi ini mungkin akan menjungkirbalikkan sebuah asumsi yang sangat penting dari dasarnya.

Menyadari hal itu, aku justru mencoba menggali lebih dalam. Aku berakting seolah-olah sudah tahu trik dari sisi Takanashi-san sebagai pelaku untuk melanjutkan percakapan.

"A-ah…… ngomong-ngomong, sepertinya untuk pihak Takanashi-san juga disediakan semacam 'buku panduan' khusus, ya."

"Huaahm……. Eh? Buku panduan? Ah, maksudmu 'Petunjuk bagi Pelaku' itu ya. Sebenarnya isinya tidak seberapa, kok. Lebih ke arah catatan pengingat agar dia tidak tidak sengaja melupakan aturannya dalam keseharian……"

Hangui-san kembali menguap. Sepertinya karena kelelahan, otaknya sedang tidak bekerja dengan tajam seperti biasanya.

……Sungguh Great. Jika itu dia yang biasanya, dia pasti sudah menyadari sikap tidak alamiku.

Tapi sekarang, aku bisa mengambil kendali.

Aku mencoba memintanya dengan gaya bicara yang sealami mungkin.

"Buku 'Petunjuk bagi Pelaku' itu, apa kamu membawanya sekarang?"

"Iya, karena aku pikir mungkin hari ini akan ada sedikit pengarahan dengan Tokiwa atau Takanashi-san, jadi aku bawa satu set lengkapnya. Tunggu……"

Hangui-san merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebuah buku saku kecil dari dalam map dan menyerahkannya padaku tanpa ragu sedikit pun.

"Petunjuk bagi Pelaku." Inilah buku saku yang selama ini sering dibaca oleh Takanashi-san di berbagai kesempatan.

Buku tipis yang sebelumnya tidak membuatku tertarik sama sekali ini, sekarang entah kenapa terasa sangat berat.

"Huaaa……"

Hangui-san menguap sekali lagi lalu berpamitan.

"Maaf ya, aku mau tidur sebentar. Ah, buku saku itu tidak perlu dikembalikan juga tidak apa-apa. Toh akan dibuang. Lagipula aturan pelaku yang tertulis di sana akhirnya diganti juga. ……Nah, selamat malam."

"Iya, selamat tidur."

Aku menatap profil wajah Hangui-san yang langsung memejamkan mata.

Yaah, jujur saja, kalau sedang diam dia benar-benar seorang wanita cantik yang luar biasa……. Tidak, belakangan ini kalau sedang bicara pun dia terlihat manis, sih.

Setelah tersenyum kecil melihat wajah tidurnya, aku kembali memfokuskan diri pada buku saku itu.

"…………"

Jika hanya dilihat dari luar, ini hanyalah salah satu perlengkapan skenario Murder Mystery untuk pemula yang akan diperkenalkan di Kurumaza.

Faktanya, sampai beberapa menit lalu, aku bahkan tidak menyangka benda ini akan memiliki arti penting. Tapi.

"(……Kalau dipikir-pikir kembali, memang banyak hal yang janggal.)"

Selama dua minggu ini, aku terlalu terfokus pada acara pengakuan cintaku sendiri sampai melewatkan... kejanggalan-kejanggalan pada Takanashi-san. Hal-hal itu kini mulai tersusun satu per satu di kepalaku.

Pertama-tama. Padahal dia baru saja mendeklarasikan bahwa dia "berhenti mengalah" belum lama ini.

Tapi selama dua minggu ini, dia sama sekali tidak terlihat mencoba mendekati Kotaro-san.

Dia tetap bersikap seperti biasa…… tidak, menurut penuturan Kotaro-san, pilihan kata dan sikapnya malah terasa "lebih galak dari biasanya".

Memang benar pengakuan cintaku membuat pergerakan di sisi Kotaro-san terbatas.

Tapi meski begitu, aku sama sekali tidak berniat mengintimidasi Takanashi-san untuk tidak bergerak.

Dan kejanggalan terbesarnya adalah... isi percakapan antara Kotaro-san dan dia sesaat sebelum penyelesaian akhir di kincir ria.

Menurut Kotaro-san, itu adalah interaksi di mana Takanashi-san dengan tegas menyatakan penolakan. Jika itu benar, kenapa Takanashi-san melakukan hal itu?

Tentu saja, pikiran normal akan menganggap itu karena bentuk perhatiannya pada kami.

Dia memilih mendorong punggung Kotaro-san agar bisa melangkah maju menemuiku.

Itu adalah pemikiran yang paling alami, dan mungkin sembilan puluh persen benar.

Tapi…… apakah dia benar-benar berniat begitu sejak awal?

Sampai di sana, tiba-tiba aku teringat interaksi soal "Langkah Tersegel" dengan Takanashi-san di ruang ganti.

Benar, kalau tidak salah saat itu dia bilang dia sepertinya sudah bisa menebak isinya……

"——!"

Di sana, aku akhirnya menyadari kecerobohanku yang fatal.

Kenapa…… kenapa aku tidak menyadarinya sampai sekarang?

Sepertinya bukan hanya Hangui-san yang otaknya tumpul karena bermain air.

Dengan tangan gemetar, tanpa sadar aku meremas buku "Petunjuk bagi Pelaku" yang belum kubuka itu.

Ya, saat itu dia bilang dia mungkin sudah menebak isi Langkah Tersegel-nya.

Tapi, amplop itu "belum dibuka". Jika begitu, bagaimana dia bisa menebak isinya? ……Jawabannya sederhana.

"…..? Ini kan……"

Saat dia memungut amplop itu, pada saat itulah dia kemungkinan——tanpa sengaja menerawang amplop itu di bawah cahaya lampu neon. Hasilnya, tulisan di dalamnya terlihat. Terlihat jelas.

Dan itu bukan tulisan "Mifuru Takanashi" yang hanya bisa dilihat dengan lampu ultraviolet sebagai isi hati Kotaro-san yang sebenarnya.

Melainkan jawaban palsu yang ditulis dengan tinta biasa——tulisan "Utakata Tsukino".

"…………"

Tanpa sadar aku menutupi mulut dengan tangan. ……Memikirkan perasaan dia…… perasaan Takanashi-san saat melihat itu, dan "keputusan" yang dia ambil setelahnya, membuat dadaku bergetar.

Kalau begitu, berarti, tapi, hal seperti itu……

Pikiran dan lubuk hatiku terasa diaduk-aduk.

……Sebuah lelucon takdir di mana tidak ada satu pun orang yang bersalah.

Untuk menyimpulkannya sesederhana itu, rasanya terlalu……

Dengan jari yang sedikit gemetar, aku membuka sampul "Petunjuk bagi Pelaku".

Di sinilah tertulis aturan pelaku yang harus ia perankan. Aturan yang selama dua minggu ini kemungkinan besar ia patuhi dan "latih" bahkan dalam kehidupan pribadinya.

Dan…… aturan yang sekarang, karena keinginan manja Takanashi-san yang tiba-tiba, akan dikubur selamanya——aturan yang ditakdirkan lenyap tanpa pernah tersampaikan pada Kotaro-san.

"…………"

Dalam kepalaku sudah ada sebuah spekulasi. Beberapa ingatan melintas untuk memperkuat spekulasi tersebut.

"Sudahlah, jangan bahas Langkah Tersegel segala, pacaran saja langsung kenapa sih, Banjo."

"Ahaha, serius jangan pedulikan aku, bersenang-senanglah sana, Banjo."

Aku mencintaimu, Usa-kun.

"Tapi ya, seleramu buruk banget sih mau menjadikan Banjo pacar, Uta-chan."

Hanya dengan mengingat sedikit saja, begitu banyak kalimat-kalimat selama dua minggu ini yang... semuanya kemungkinan besar terikat oleh sebuah aturan, dan kini kalimat-kalimat itu menghantamku dengan rasa sakit yang datang terlambat.

Meski aku sangat berharap spekulasiku salah karena rasa sakit yang luar biasa ini.

Aku membuka halaman pertama "Petunjuk bagi Pelaku" yang kudapat dari Hangui-san.

Lalu, saat aku melihat aturan sederhana bagi pelaku dalam naskah ini…… namun justru karena sederhana maka sering terlupakan, dan justru karena itulah "aturan itu diterapkan dan dilatih bahkan dalam keseharian", pada saat itulah.

Melihat informasi yang sudah sangat terlambat itu, aku mengerang kecil di dalam gerbong kereta, "Aaah, tidak mungkin."

 

Dialog saat sedang berbohong, wajib diakhiri dengan nama panggilan lawan bicara.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close