Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 9
Festival Shirayanagi
──Dan keesokan paginya. Hari H Festival Budaya.
(Entah bagaimana, waktu berlalu begitu cepat.)
Atau lebih tepatnya, aku hampir tidak punya ingatan tentang minggu terakhir. Menerima latihan seperti iblis dengan cara hampir menginap di rumah Sensei... lalu, setelah itu bagaimana ya? Rasanya hidupku hanya diisi dengan tidur dalam kondisi setengah pingsan.
『Ayo Iori-kun! Jangan tidur! Bagian yang tadi salah, ulangi 20 kali lagi!』
『N-nggak, jari saya sudah nggak bisa gerak...』
『Tidak apa-apa! Sini, Sensei pijatkan!』
......Ya. Sudahlah. Memikirkannya saja membuat kepalaku sakit. Itu juga bentuk kasih sayang Sensei. Anggap saja begitu, wahai diriku.
"Berangkat, ya."
Tepat sebelum keluar rumah, aku menoleh sejenak. Pemandangan pintu masuk yang sudah biasa kulihat. Tapi, tidak ada suara. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain. Aku akhirnya mulai terbiasa dengan kesepian itu.
Namun.
(Tetap saja... untuk ditinggali sendirian, rumah ini agak terlalu luas.)
Rumah tapak dua lantai. Tinggal sendirian di rumah seperti ini hanya terasa hampa. Setidaknya, untuk ditinggali berdua baru terasa pas.
"──Aku berangkat."
Salam itu, tentu saja sekarang tidak ada satu pun jawaban yang menyahut.
"Yo, Iori."
"Hm, pagi."
Begitu sampai di sekolah, aku bertemu Renji yang kebetulan berangkat di waktu yang bersamaan.
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan. Karena kumpul jam sembilan, ini terhitung sedikit lebih awal. Bagiku mungkin biasa, tapi cukup mengejutkan melihat si bodoh ini datang sepagi ini.
Tapi, aku bisa menebak alasannya.
"Gimana? Kondisi aman?"
Suara sapaannya yang ringan itu terdengar sedikit kaku dari biasanya. Dan sekarang, aku tidak perlu bertanya lagi apa maksud dari pertanyaannya.
"Lumayan lah."
"Oho?"
Renji menatap wajahku dengan ekspresi heran.
"Apa lah, aku kira kau bakal pasang muka kayak orang mau mati, ternyata kau kelihatan percaya diri juga ya."
"Mana ada."
Percaya diri itu tidak ada.
Ini bukan percaya diri, melainkan kepasrahan.
Aku sudah melakukan semua yang kubisa. Sisanya, biarlah terjadi apa adanya.
Istilah lainnya adalah: nekat.
"Kau sendiri gimana? Kayaknya kau yang kelihatan tegang."
Begitu aku bilang begitu, Renji menunjukkan kegugupan yang lucu.
"Ha? Tegang? Nggak tuh? Biasa aja kali?"
"Oh, ya sudah."
Kalau begitu ya baguslah. Lagipula terserah dia saja. Aku tidak mau membuang waktu lebih lama untuk meladeni Renji.
"O-oi, kok reaksinya gitu? Serius tahu! Oi, dengerin dulu!"
Aku mengabaikan Renji yang berisik dan melangkah menuju kelas. Sambil menyeret Renji yang merangkul pundakku seperti anak kecil yang cari perhatian, aku masuk ke kelas dan...
"......!"
"Wuaah......!"
──Di sana, terbentang sebuah dunia yang berbeda. Dekorasi yang imut, meja dan kursi yang tertata rapi. Sulit dipercaya kalau ini adalah ruang kelas tempat kami biasanya menerima pelajaran. Namun, yang terpenting dari semuanya...
"Yu-Yukimura-san! Cantik bangeeet!!"
"Gila! Foto! Oi, anak klub fotografi! Cepetan bawa kamera paling mahal ke sinii!!"
"S-siap!!"
Di tengah ruangan berdiri setangkai mawar hitam. Mengenakan baju maid berkualitas tinggi berwarna hitam dan putih, dia secara alami menarik seluruh sorak-sorai seisi kelas pada dirinya.
"W-wuaah...! G-gila! Liat, Iori! Dewi, ada dewi di sini!!"
Aku menyentakkan pundakku dari guncangan Renji yang kegirangan,
Berhenti, bodoh.
Tapi memang, wajar jika reaksinya begitu. Ini kedua kalinya aku melihatnya. Tetap saja, aku kehilangan kata-kata.
"......?"
Saat itu, Mizuki yang berdiri di tengah tiba-tiba menoleh ke arah sini. Mata kami bertemu.
"......!"
Tanpa sadar aku mematung. Daya pikat. Bakat untuk menarik perhatian orang dan membuat mereka tertawan.
──Daya pikat miliknya ini sudah masuk ke tahap sihir. Aku menyadarinya sekali lagi. Dengan sadar aku memaksa tubuhku bergerak dan berusaha menjauhkan sosoknya dari pandanganku.
Saat aku mengembuskan napas lega, di arah tempatku membuang muka, aku merasa mendengar suara tawa kecil.
(......Berisik. Sudah, sana fokus jadi idol saja.)
Meskipun aku tahu itu hanya halusinasiku, aku tetap ingin bergumam begitu. Dan saat aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas...
"......"
Aku menemukan sosok yang berdiri di dekat tembok, tampak sedikit kesepian.
"Kashiwagi-san?"
"......? Ah, Amano-kun. Selamat pagi."
Kashiwagi-san yang menoleh menunjukkan senyum seperti biasanya. Tapi bagiku, senyum itu terlihat sangat dipaksakan.
"Pagi. Anu, gimana kondisinya?"
Aku malah menanyakan hal yang sama seperti Renji tadi. Rasanya ingin mati saja.
Tapi aku bingung mau bilang apa lagi. Karena aku tahu tekad dan usahanya, kata-kata jadi sulit keluar. Namun, kepada aku yang sedang menggaruk kepala kebingungan ini, Kashiwagi-san...
“Ya, aku tidak apa-apa. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa.”
Dia berkata dengan tegar sambil tersenyum.
“Begitu ya.”
“Iya. Tapi, yah... kalau melihat itu, rasanya kepercayaan diriku agak luntur juga.”
“Ah...”
Pandangannya tertuju pada sosok pemenang Kontes Miss sebelumnya. Melihat Mizuki yang terus-menerus dipuji tanpa henti dan dikerumuni orang yang ingin mengambil fotonya, Kashiwagi-san hanya bisa tersenyum kecut.
“Bagaimana dengan Amano-kun? Persiapannya sudah beres?”
“Ya, begitulah.”
“Oh, tumben sekali kamu kelihatan percaya diri. Aku menantikannya, loh?”
“......Kamu membuatku tertekan saja.”
“Ahaha. Tapi lihat, setidaknya kamu sudah pasti dapat satu suara dariku, kan?”
Sambil berkata begitu, dia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk. Aku mencoba untuk balas tertawa... tapi tidak bisa. Setelah Kontes Mister ini berakhir, aku harus menyampaikan sesuatu padanya. Melihatku yang ragu untuk bicara, Kashiwagi-san sepertinya sengaja memilih untuk tidak mengatakan apa pun.
“Mari kita berdua berjuang, ya.”
“......Ya.”
Sekarang, aku belum bisa mengatakan apa-apa. Aku harus menuntaskan Kontes Mister ini dengan benar, baru memberikan jawaban. Karena itulah janji kami.
“Semangat juga buat kerja di Maid Cafe-nya.”
“Tolong jangan diingatkan.”
Kashiwagi-san menutupi wajahnya, meratapi betapa kejamnya dunia ini. Namun, seberapa keras pun dia membuang muka, saat waktunya tiba, dia harus menghadapinya. Baik itu Maid Cafe... maupun hal lainnya.
◇
Dan akhirnya, tirai Festival Shirayanagi, festival budaya sekolah kami, pun dibuka. Setiap tahun, banyak orang yang datang untuk survei sekolah sebelum ujian masuk atau sekadar bermain dari sekolah lain, sehingga jumlah pengunjungnya sangat luar biasa. Meskipun sekolah kami termasuk yang memiliki lahan luas di Tokyo, tetap saja kalau melihat ke luar jendela, kerumunan pengunjung dan murid terlihat sangat padat.
Ada alasan kuat kenapa orang-orang berkumpul sebanyak ini. Nilai akademis, gaya sekolah, status. Tapi lebih dari itu...
『Oi, jam berapa Kontes Miss-nya dimulai?』
『Jam 1. Katanya ada gadis cantik yang luar biasa ikut tahun ini.』
Daya tarik utama Festival Shirayanagi adalah Kontes Miss dan Kontes Mister. Saking terkenalnya, panitia bahkan menempatkan petugas keamanan khusus untuk peserta Kontes Miss demi mencegah gangguan dari murid sekolah lain. Terkadang aku ragu apakah ini masih bisa disebut festival sekolah.
Di tengah keramaian itu, apa yang sedang kulakukan adalah...
“──Amano-kun! Tehnya sudah jadi!?”
“Baru saja matang. Bawa selagi masih panas.”
Aku menyerahkan teko berisi teh kepada siswi yang berlari masuk ke laboratorium. Sebenarnya aku ingin menyajikannya sampai ke cangkir... tapi tehnya bakal dingin di perjalanan, dan yang terpenting, pelanggan pasti lebih senang jika dituangkan oleh pelayan maid yang imut. Karena itu, tugasku di laboratorium terbatas pada membuat teh dalam jumlah besar dengan sedih.
Ugh... cangkirnya tidak dihangatkan, aku bahkan tidak pakai saringan teh. Menyajikan teh seperti itu kepada pelanggan... kalau sampai Manajer tahu... yah, mungkin dia tidak akan marah sih. Malah mungkin dia bakal bilang, 『Keputusan membiarkan para maid yang menuangkan adalah langkah yang sangat tepat』 dengan wajah serius.
Aku jadi lesu membayangkan sosok Manajer yang mengangguk mantap seperti itu.
“──Seperti yang diharapkan dari pelayan kafe. Kamu sangat terampil.”
Sebuah suara berat terdengar dari samping. Saat menoleh, aku melihat Gotou-kun yang sedang mengintip tanganku sambil mengangguk kagum.
“Lho, bagaimana dengan di kelas?”
“Ah, aku sudah memastikan semuanya bisa berjalan lancar. Lagipula jujur saja, setelah persiapan selesai, kami para pria tidak punya pekerjaan lagi di sana.”
“Benar juga.”
Di Maid Cafe, keberadaan laki-laki hanya akan merusak pemandangan. Orang-orang datang jauh-jauh untuk melihat gadis-gadis imut, mana mau mereka melihat laki-laki sibuk mondar-mandir bekerja. Aku sangat memahami perasaan itu.
“Ngomong-ngomong, tidak perlu ditanya lagi, kelas kita sangat ramai. Panjang antreannya benar-benar tidak main-main.”
“Aku tahu.”
Konsumsi tehnya dari tadi luar biasa cepat. Merebus satu teko saja tidak cukup, sekarang aku harus merebus dua teko sekaligus.
“Kami membatasi waktu 10 menit per kelompok supaya sirkulasinya lancar... tapi mungkin itu sebuah kesalahan. Gara-gara itu, beban kerja para siswi jadi berat. Terutama dua pilar utama kita.”
“Ah...”
Mizuki dan Kashiwagi-san, ya.
Sebagian besar pelanggan pasti mengincar mereka berdua, jadi aku bisa membayangkan betapa mengerikan beban kerja mereka. Namun, tidak baik membiarkan mereka kelelahan sekarang. Mizuki mungkin akan baik-baik saja, tapi Kashiwagi-san...
“......Mereka berdua kan harus ikut Kontes Miss juga. Tidak bisakah mereka disuruh istirahat atau keluar sebentar?”
“Tentu saja itu rencanaku. Dan sebenarnya, aku ke sini untuk memberitahumu hal itu juga.”
“Hm?”
“Kamu perlu persiapan untuk Kontes Mister, kan? Setelah kamu selesai menyeduh yang itu, aku yang akan gantikan. Kamu boleh pergi.”
“Ah, begitu ya.”
Ternyata dia mengkhawatirkanku.
Aku menyadarinya sambil terus menyeduh teh.
Maafkan aku. Tapi tawaran itu jujur saja sangat membantu.
“Maaf. Aku sangat tertolong. Kamu tahu cara menyeduhnya?”
“Yah, aku cuma meniru gerakanmu saja. Toh sepertinya tidak ada yang peduli soal rasa, yang penting beres kan.”
Jawaban yang kudapat sama persis dengan kesimpulanku tadi. Agak menyedihkan. Padahal aku sudah berusaha menyeduhnya seenak mungkin sebatas kemampuanku.
Dasar Maid Cafe. Sebegitu inginnya kah kalian melihat gadis imut?
......Yah, pasti ingin banget sih.
“Kalau begitu, aku titip ya.”
“Ya.......Ngomong-ngomong, Amano.”
“Hm? Kenapa?”
“Itu, kau beneran nggak apa-apa? Soal Kontes Mister. Maaf aku nggak bisa cegah kau buat ikut.”
Dia bertanya begitu secara tiba-tiba.
Ekspresinya sangat serius...... atau lebih tepatnya, dia malah kelihatan kasihan padaku. Tatapannya persis seperti sedang melihat teman sekelas yang sudah dipastikan bakal menanggung malu sebentar lagi.
“Hmm......”
Ditanya begitu lagi, aku agak bingung.
Kalau ditanya apa aku baik-baik saja...
“......Rasanya kayak, nggak masalah kalau hari ini dunia kiamat?”
“Oalah. Jadi intinya kau emang udah nekat ya.”
Kata-kataku yang sudah kucoba buat sedalam mungkin, langsung dirangkum jadi satu kata telak oleh Goto-kun. Meski begitu, aku tidak bisa membantahnya. Karena memang begitulah kenyataannya.
“Sisanya titip ya.”
“Oke. Yah, pokoknya semangatin diri deh. Aku bakal dukung, kok.”
“......Makasih.”
Kenapa tatapannya seperti sedang melepas pahlawan yang mau berangkat ke medan kematian? Yah, meski situasinya memang mirip-mirip sih.
Setelah mengelap teko teh dengan kain serbet, aku pun meninggalkan laboratorium.
◇
“......Terus?”
“Apaan?”
“Ngapain kau malah ngikutin aku?”
Setelah tugas dapur digantikan, tujuanku adalah ruang musik.
Aku meminta izin khusus untuk memakai salah satu ruangan kedap suara—fasilitas khas sekolah swasta—yang sedang kosong.
Penyesuaian terakhir sebelum tampil. Aku berniat terus menggerakkan jari-jariku sebanyak mungkin sampai Kontes Mister dimulai siang nanti, tapi......
“Emang nggak boleh? Aku kan udah baik nggak nanya-nanya soal apa yang kau kerjain diem-diem selama ini.”
Renji, yang entah bagaimana punya insting setajam silet, mengikutiku seolah-olah itu hal yang lumrah.
Anak ini...... apa dia sudah memprediksi bakal jadi begini?
Begitu aku keluar dari laboratorium, dia langsung menyergapku. Jangan pakai otakmu buat hal nggak berguna begini napa, bodoh.
“Jadi? Mau pamer apa, Iorin?”
“......”
Merepotkan sekali. Tapi kalau sudah begini, dia tidak akan beranjak meski dipaksa sekalipun. Aku benci kenyataan bahwa aku sangat mengenal sifatnya.
Dengan perasaan pasrah, aku membawa Renji ke Ruang Musik Ketiga dan memasukkan kunci yang dipinjamkan Sensei. Ruangannya cukup luas dengan fasilitas lengkap. Tanpa ragu, aku langsung menuju grand piano yang diletakkan di tengah ruangan.
“......Jangan berisik ya.”
“Baiklah.”
Tampaknya Renji pun akhirnya paham situasinya.
Melihatku duduk di depan piano, dia tidak melontarkan godaan aneh-
aneh dan hanya duduk dengan santai di kursi lipat terdekat.
(Baiklah.)
Meski ada gangguan, apa yang harus kulakukan tidak berubah. Dilihat dari sisi lain, punya penonton mungkin hal yang bagus.
Selama ini, aku hanya bermain piano di depan Sensei atau Mizuki. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku membiarkan orang lain mendengar permainanku sejak kompetisi itu. Ini latihan pemanasan yang pas.
Aku menghela napas pelan, lalu meletakkan tangan di atas tuts. Sambil membayangkan lembaran not balok di kepala, aku mulai menggerakkan jemari seolah-olah sedang menghujamkan perasaan ke dalamnya dari bagian awal.
◇
──Lalu, setelah aku selesai memainkan nadanya sampai akhir.
“......Serius, ini?”
Suara Renji terdengar tercengang di tengah helaan napas pelanku.
(Setidaknya, tadi tanpa kesalahan/no miss, ya.)
Selama 3 minggu ini, aku memaksakan lagu ini masuk ke dalam ingatan ototku. Supaya meskipun mental sedang tidak stabil, tubuhku akan bergerak secara otomatis. Hasilnya, meski lingkungannya berubah, aku bisa bermain tanpa salah. Tapi......
(Masih belum cukup. Nggak ada salah, tapi Cuma sebatas itu.)
Aku bisa merasakan permainanku tadi kaku.
Kalau dinilai secara longgar, mungkin nilainya pas-pasan. Kalau ada Tokiko-sensei di sini, dia pasti bakal menghela napas sedih.
Bermain tanpa salah itu bukan segalanya. Kalau aku ingin melampaui trauma kompetisi itu, aku harus memberikan permainan terbaik yang bisa kulakukan. Jika tidak, semua ini tidak akan ada artinya. Namun, seolah ingin menghapus helaan napasku.
“Woi, woi woi woi......! Iori!! Apa-apaan ini!?”
Renji, yang keberadaannya hampir kulupakan sepenuhnya, berteriak kencang.
“Hah?”
“Jangan 'hah' doang! Gila, keren banget kau! Aku nggak nyangka kau punya bakat terpendam begini......!”
Renji entah kenapa sampai gemetaran. Tapi tiba-tiba, wajahnya berubah kaget.
“E-eh tunggu...... ini bukannya bahaya ya?”
“Bahaya?”
“Tadinya aku khawatir kau bakal malu-maluin pas hari-H...... tapi kalau begini, jangan-jangan aku yang bakal kalah!?”
Wajahnya tampak syok. Seolah baru saja menemukan fakta yang mengguncang dunia, dia menunjukku dengan jari yang gemetar. Wajahnya seolah tertulis: 'Aku merasa dikhianati'.
Lah, kenapa jadi gitu?
“N-nggak! Nggak mungkin! Aku juga udah latihan mati-matian, tahu!
Tenang, aku kan tampan!”
Sambil meracau nggak jelas begitu, Renji tiba-tiba mengambil gitar akustik yang ada di ruang musik.
“Nanti pas tampil aku bakal pakai gitar elektrik sih...... tapi bodo amat! Liat nih, Iori! Teknik dewa aku!!”
Begitu dia bicara, Renji mulai mengocok gitar akustiknya. Permainannya ternyata punya kualitas yang layak didengar, dan entah kenapa, lagu yang mulai dia nyanyikan pun terdengar cukup bagus.
Yah, itu memang bagus, tapi...
“......Bukannya aku tadi bilang jangan ganggu?”
Keluhanku sia-sia; Renji terus bernyanyi.
Tak lama kemudian, dia mulai berteriak, 『Ayo jamming!』, dan akhirnya aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melatih lagu yang ingin kupelajari.
......Tapi, yah. Kurasa beban di pundakku sedikit berkurang. Meski menyebalkan, mungkin ini memang hal yang aku butuhkan sekarang.
Sambil tersenyum kecut, akhirnya aku terpaksa menuruti kemauan Renji.
“......Hei, Iori.”
“Hm?”
Setelah menyelesaikan beberapa lagu mengikuti irama Renji. Mungkin karena sudah bosan, Renji mengembalikan gitar akustiknya ke tempat semula lalu bergumam dengan suara yang menerawang.
“Kau... berubah ya.”
“......?”
“Dulu kau kayak... gimana ya, pasang muka kayak orang yang nggak berharap apa-apa sama diri sendiri. Tapi sekarang, kelihatan beda.”
“Masa sih?”
“Iya. Dan menurutku itu bagus. Hidup itu emang soal seberapa berani kau ngambil tantangan, kan?”
Dia nyengir lebar. Aku tersenyum tipis mendengar kata-kata yang sangat khas darinya itu.
“......Mungkin kau bener.”
“Yoai! Berjuanglah, sobat!”
Ucap Renji sambil merangkul pundakku.
──Pipipipi.
Tepat saat itu, alarm di ponselku berbunyi.
“Oh, waktu habis ya. Seru juga tadi.”
“Panggung yang beneran baru mau mulai setelah ini.”
“Pasti aman. Kalau kau udah bisa main kayak tadi, nggak usah takut.”
Dia menepuk-nepuk pundakku dengan keras.
Yah, benar juga. Merasa cemas sekarang pun tidak akan mengubah apa-apa.
“Intinya, sekarang Kontes Miss dulu ya. Kashiwagi-chan kira-kira bakal baik-baik saja nggak ya?”
“......”
Mendengar itu, aku refleks menundukkan pandangan. Kashiwagi-san. Dia mungkin sedang didera tekanan yang jauh lebih besar dariku.
“Kurasa... dia akan baik-baik saja.”
Aku bergumam pelan. Saat ini, hanya kata-kata tidak meyakinkan itu yang bisa keluar dari mulutku. Mana mungkin aku tahu dia akan baik-baik saja atau tidak. Apalagi lawannya adalah dia. Tahun lalu saja, kontestan lain benar-benar terlihat malang di sampingnya.
Sepertinya memikirkan hal yang sama, Renji ikut terdiam. Namun tak lama, Renji tertawa seolah ingin mencairkan suasana.
“Yah, yang jelas selama ada kita, dua suara sudah pasti di tangan dia! Nggak akan lah semua suara direbut sama Yukimura-san terus.”
Mendengar kata-kata yang diucapkan seolah itu adalah hal yang sudah sewajarnya, aku mematung. Harusnya aku langsung mengangguk, tapi kata-kata tidak mau keluar.
“...? Oi, Iori?”
Kashiwagi-san adalah teman yang sangat berharga. Sama seperti Renji, kami sudah akrab sejak kelas satu. Jadi, sangat wajar jika aku mendukungnya. Sudah sewajarnya aku memberikan suaraku untuknya. Aku tahu itu. Tapi......
“Hei, Iori.”
Renji memanggilku dengan suara pelan saat melihatku terdiam.
“Kau sama Kashiwagi-chan......”
Namun, Renji memotong kalimatnya sendiri dan menggelengkan kepala.
“Nggak, lupakan. Ayo jalan, Iori.”
“......Iya.”
Apa pun itu, aku hanya bisa menyaksikannya sampai akhir. Melihatnya dengan sungguh-sungguh. Karena itu adalah janjiku. Setidaknya, biarkan aku memenuhi janji itu.
Setelah mengunci ruang musik, aku dan Renji berjalan bersama menuju aula olahraga.
◇
──Aula olahraga yang kami tuju sudah diselimuti oleh aura semangat yang luar biasa panas.
『Woi! Gadis yang menang tahun lalu itu! Dia ikut lagi tahun ini!?』
『Ya iyalah. Lagian kalau dia nggak ikut, nggak ada gunanya aku datang ke sini.』
Rasio penonton laki-laki dan perempuan kalau kulihat sekilas...... sekitar tujuh banding tiga. Karena Kontes Miss dimulai lebih dulu, wajar jika laki-laki lebih mendominasi, tapi siswi-siswi pun sepertinya cukup banyak yang datang menonton.
“......Kita telat banget ya.”
Semua kursi sudah penuh.
Sial, harusnya aku tidak meladeni main-mainnya Renji tadi.
Aku terlalu fokus pada Kontes Mister-ku sendiri sampai lupa memikirkan tempat duduk untuk Kontes Miss. Aku menyesal.
“Tenang, serahkan padaku. Ini sudah masuk perhitungan.”
“Eh?”
Renji membusungkan dada dengan bangga.
Apa dia punya rencana? Aku menatap profil wajahnya yang penuh percaya diri. Kemudian si bodoh itu berkata, “Lewat sini,” dan mulai berjalan menyusuri pinggir aula.
“O-oi......?”
Terpaksa aku mengikuti, meski barisan depan jelas-jelas sudah penuh sesak. Kami membelah lautan manusia menuju barisan paling depan, dan di sana, dua siswi yang duduk di kursi paling tengah melihat kami dan berseru:
“Miyama-senpai!”
“Kursinya sudah kami amankan!”
“Sip, makasih ya. Sangat membantu.”
“S-sama-sama!”
“Anu...... kalau boleh, lain kali...”
“Sip. Kapan-kapan kita makan bareng ya.”
“Baik!”
Jawab kedua siswi kelas bawah itu dengan penuh semangat sambil
mengosongkan kursi mereka. Renji pun duduk di sana seolah itu sudah haknya.
“Hm? Kenapa, Iori? Ayo, duduk.”
“......”
Ya, ini memang sangat membantu. Lalai mengamankan tempat duduk adalah kesalahanku. Seharusnya aku tidak dalam posisi untuk mengeluh. Tapi, aku benar-benar harus mengatakan ini:
“Semoga kau ditusuk orang.”
“Sadis amat?”
Renji memasang wajah melongo. Ya jelas saja, pikirkan perasaan mereka dong.
Aku membiarkan Renji yang terus menggerutu, lalu menunggu beberapa saat.
『──Terima kasih telah menunggu lama. Dengan ini, Kontes Miss dan Kontes Mister tahun ini resmi dimulai!』
Mendengar pengumuman dari panitia pelaksana, seisi aula langsung bersorak riuh. Lampu panggung menyala serentak.
Seorang siswi kelas tiga yang berdiri di tengah panggung berteriak ke arah penonton menggunakan mik.
『Oi, kalian semua! Apa kalian suka gadis-gadis imut──!!?』
Aku sempat berpikir "apa-apaan ini?", tapi penonton langsung menyahut dengan teriakan instan.
『Suka bangettt!!』
『Apa kalian mau bertemu──美少女 (gadis-gadis cantik) yang berdandan maksimal!!?』
『MAUUUU!!』
Raungan semangat menggema di seantero aula olahraga. Aku yang hanya duduk terpana di sana mulai teringat, "Ah iya, tahun lalu juga suasananya persis seperti ini."
『Baiklah! Inilah yang kalian tunggu-tunggu! Kontes Miss Festival Shirayanagi, DIMULAI!!』
『UOOOOOOO!!』
Kontes Miss dimulai, meninggalkanku yang sama sekali tidak bisa mengikuti ritme semangat ini. Renji di sebelahku sepertinya darah ekstrovert-nya mulai bergejolak, dia ikut berteriak-teriak berisik. Sepertinya tempat ini memang bukan untuk orang introvert sepertiku.
Tepat saat aku berpikir begitu, aku teringat kalau setelah ini aku yang akan naik ke panggung itu. Rasanya ingin mati saja.
『Nah! Penantang pertama yang akan membuka acara ini adalah──』
Sistem peringkat Kontes Miss dilakukan melalui pemungutan suara gabungan dari seluruh angkatan. Penonton akan memberikan satu suara untuk gadis yang paling mereka sukai setelah semua penampilan selesai. Terkadang suara terpusat pada satu orang, terkadang tersebar merata. Namun, bicara soal tahun lalu...
『Eh, kapan perempuan yang tahun lalu itu keluar?』
『Mungkin ditaruh di urutan terakhir? Kalau dia sudah muncul,
kontestan lain nggak bakal dilirik lagi soalnya.』
Suara-suara seperti itu terdengar dari barisan belakang.
Benar, tahun lalu ada "monster" yang menyapu bersih seluruh suara meskipun dia masih kelas 1. Aula yang lebih ramai dari tahun lalu ini kemungkinan besar sebagian besar targetnya adalah gadis itu.
“Apalagi foto profilnya di pamflet kemarin sudah tersebar luas. Wajar kalau jadi begini,” gumam Renji seolah membaca pikiranku.
Oh iya, ada faktor itu juga. Artinya, di antara kerumunan ini ada orang-orang yang datang khusus karena melihat foto Mizuki. Jika tujuannya untuk promosi, keputusan pihak sekolah memang tepat. Tapi kata-kata Renji sebelumnya kembali terngiang. Dia tidak akan bisa lagi menjadi siswi SMA biasa. Aku benar-benar merasakan makna kata-kata itu sekarang.
Selama kami mengobrol, gadis-gadis yang berdandan cantik muncul satu per satu di panggung, menunjukkan daya tarik mereka masing-masing. Ada yang menghidupkan suasana dengan obrolan, ada yang menyanyi. Penampilannya beragam. Tapi, kalau boleh jujur, sejauh ini belum ada yang benar-benar mencolok. Semangat penonton pun perlahan mulai menurun dibandingkan saat pembukaan tadi.
“Bentar lagi, dia bakal muncul.”
“Hm.”
Aku dan Renji memiliki pemikiran yang sama. Jika ingin mengeluarkan "tenaga inti", di sinilah saatnya.
──Tepat saat aku berpikir begitu.
『Ooh......』
Terdengar suara gumaman kagum dari penonton. Yang muncul adalah seorang gadis cantik berambut cokelat yang mengenakan gaun merah. Berbeda dari biasanya, penampilannya yang terlihat lebih dewasa membuatku dan Renji tanpa sadar terpana.
“Wuaah...... Kashiwagi-chan benar-benar serius kali ini.”
Di tangannya, ia memegang sebuah biola berwarna hitam pekat. Melihat sosoknya, suasana di bangku penonton berubah. Atmosfer yang tadinya agak santai kembali tertarik fokusnya ke arah panggung. Dan...
『──』
Kashiwagi-san menyandarkan biolanya ke bahu.
Di tengah perubahan atmosfer di sekelilingnya, dia mengembuskan napas dalam-dalam sekali, lalu mulai memainkan nada dengan tenang.
Melodi yang elegan mulai mengalir di aula olahraga.
──Air on the G String, ya.
Aku terkejut. Ternyata Kashiwagi-san bisa main biola.
Lagu mahakarya Bach. Nada-nadanya yang lembut, manis, dan seolah mendekap itu sangat cocok dengan kepribadian Kashiwagi-san. Meskipun iringan pianonya menggunakan rekaman, dia tetap bisa menyelaraskannya dengan sangat baik. Lagu ini tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi dan permainannya belum bisa dibilang "sangat mahir". Namun, aku bisa merasakan kerja kerasnya di sana.
(......Ah, begitu ya.)
Mendengarnya, aku baru menyadari sesuatu. Alasan kenapa aku merasa nyaman saat bersama Kashiwagi-san. Mungkin karena...
(Kami mirip...... pasti.)
Sama-sama tidak percaya diri. Sama-sama menderita karena merasa tidak bisa menjadi orang yang spesial.
Aku memproyeksikan diriku pada sosoknya dan mendukungnya.
......Padahal kalau dilihat secara objektif, dia sudah sangat spesial. Hanya saja, si pemilik diri lah yang tidak menyadarinya.
──WAAAAAAA!
Tak lama kemudian, permainan musiknya pun berakhir. Di tengah riuh rendah tepuk tangan yang membahana, Kashiwagi-san tampak memasang wajah terkejut sekaligus bingung, lalu terburu-buru membungkukkan badannya. Kemudian, matanya bertemu dengan mataku yang berada tepat di bawah panggung.
“......”
Hanya sekejap mata kami saling bertatap, hingga akhirnya dia tersenyum malu-malu dan melangkah turun menuju barisan belakang panggung.
(......Syukurlah.)
Sambil bertepuk tangan, aku merasakannya dari lubuk hati yang paling dalam. Aku tidak tahu apakah Kontes Miss ini akan memberikan hasil yang dia harapkan. Tapi sorak-sorai yang ada sekarang ini, tak pelak lagi adalah hasil karya Kashiwagi-san sendiri. Kurasa itu adalah sesuatu yang patut dibanggakan, meski Kashiwagi-san pasti akan merendah diri.
Merasa puas, aku menoleh ke samping hendak menanyakan kesan kepada Renji.
“......”
“Renji?”
Entah kenapa Renji menatapku dengan wajah merengut.
"Eh, ada apa?"
Tanyaku sambil memiringkan kepala, lalu Renji membuka suara.
“......Baik Kashiwagi-chan maupun kau, sama-sama nyiapin biola sama piano di belakang aku... kau nggak ngerasa itu agak jahat apa?”
“Jangan ngambek gitu dong.”
Aku minta maaf deh.
Begitu aku bilang begitu, Renji mendengus dan melipat tangan di belakang kepalanya, tapi akhirnya dia mengembuskan napas dengan raut puas.
“Tapi, yah. Baguslah. Kalau kayak tadi, dia bisa dapet peringkat bagus kan?”
“Iya.”
Benar juga. Kalau permainannya seperti tadi, mungkin saja...
......Pada saat itu, aku memang benar-benar berpikir demikian.
『──Baiklah, akhirnya tiba saatnya bagi kontestan terakhir! Langsung saja saya katakan, inilah yang kalian tunggu-tunggu... penampilan dari "Pemenang Kontes Miss Tahun Lalu"!!』
Begitu senior kelas tiga itu mengucapkan kata-kata tersebut, suasana
aula mendadak hening seketika. Dan kemudian.
『UOOOOOOOOOOO!!』
Sorakan ledakan membahana. Tanpa sadar aku menutup telinga, namun itu hampir tidak ada gunanya.
『INI DIA!』
『DITUNGGU-TUNGGU BANGET!!』
Para penonton berteriak silih berganti.
Melihat itu, senior kelas tiga yang berdiri di panggung pun sedikit tersenyum kecut.
『Kalau begitu! Karena kalau menunggu lebih lama lagi bisa memicu kerusuhan, mari kita panggil sekarang juga! Ratu absolut yang menang dengan "Suara Bulat" pada kontes sebelumnya──』
Sesaat, napas terasa berhenti. Semua orang bersiap-siap untuk momen itu.
『──Yukimura Mizuki-san!!』
Mendengar deklarasi itu, suasana aula semakin mendidih. Namun, tak lama kemudian.
Tak, tak, terdengar suara tumit sepatu menyentuh lantai.
Dan kemudian.
“......Ah.”
Suara seseorang yang terlepas tanpa sadar. Kesadaranku terenggut oleh pemandangan di depan mata.
『──』
──Sosok yang muncul di panggung benar-benar seorang wanita cantik yang tiada taranya. Gaun hitam pekat dengan sepatu hak tinggi. Penampilannya yang dipoles dengan riasan yang tidak biasa ia pakai──jika boleh diibaratkan, ia seperti dewi malam.
Suara menghilang dari aula. Semua orang terpesona hingga lupa cara bersorak. Di tengah atmosfer yang janggal itu, Mizuki sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya. Meskipun dihujani tatapan ratusan orang, ia hanya memandang ke arah penonton dengan wajah datar, seolah-olah ia sedang berdiri sendirian di sebuah aula kosong.
“......!”
Lalu, akhirnya matanya bertemu dengan mataku yang berada tepat di barisan depan paling tengah. Keheningan sesaat. Kemudian, Mizuki tersenyum dengan lembut.
──Senyuman itu, persis seperti saat ia sedang berada di rumah.
(......Jangan begitu dong, di saat seperti ini.)
Aku jadi bingung harus memasang wajah seperti apa, kan.
Lalu musik mulai mengalir. Di depan mikrofon berdiri yang diletakkan di depannya, Mizuki mengelusnya dengan lembut. Begitu ia menarik napas dalam-dalam.
『──』
Dengan suara indah yang menggema di seluruh aula, ia mulai bernyanyi.
──Seketika, semua orang menahan napas.
Hanya dengan satu nada, hanya dengan satu suara, atmosfer di seluruh aula berubah total. Atmosfer yang telah dibangun oleh Kashiwagi-san dan kontestan lainnya seakan tersapu bersih. Sudah tidak ada lagi yang mengingat Kashiwagi-san atau peserta lainnya. Hanya sosok dewi yang berdiri di panggung itulah yang masuk ke dalam pandangan semua orang.
Itu adalah sebuah serangan telak──kekerasan lewat daya pikat yang luar biasa.
“......Gila.”
Terdengar suara Renji yang tercengang di sebelahku. Lagu yang teruntai dari bibirnya adalah lagu Barat klasik. Mungkin hampir tidak ada yang mengetahuinya. Saking jarangnya lagu itu diputar. Tapi......
(Lagu... ini.)
『Nee, Iori... kira-kira beneran nggak apa-apa ya?』
『Iya. Kita kan sudah punya tiketnya.』
Aku mengenal lagu ini.
Saat masih kecil, aku pernah mengajak Mizuki menonton film hanya berdua saja.
Ini adalah lagu yang diputar di akhir film tersebut. Sebuah balada tentang cinta mendalam yang hanya ditujukan untuk satu orang. Mizuki sangat menyukai lagu yang tenang dan agak melankolis ini.
Mizuki, yang biasanya tidak pernah bernyanyi, sesekali akan menyenandungkan lagu ini.
(Padahal ada banyak lagu lain, kan?)
Lagu yang lebih meriah. Lagu yang lebih cocok dengannya. Kenapa dia harus repot-repot memilih lagu ini?
『──......』
Tak lama kemudian, suara nyanyian itu terhenti.
Melodi terakhir berbunyi dengan syahdu lalu berakhir. Pada saat itu juga...
『──U-UOOOOOOOOOOO!!』
Seluruh aula seakan pecah oleh tepuk tangan yang membahana.
“......Nggak ada harapan kalau lawannya kayak gini,” gumam Renji di sebelahku, seolah kata-kata itu terlepas begitu saja.
Dalam suaranya terdengar kekaguman dan pujian... tapi juga terselip rasa sesal yang sama besarnya. Di tengah sorakan yang terasa seperti lelucon saking kencangnya, Mizuki tidak mengulas senyum sedikit pun. Ia hanya membungkuk dengan tenang lalu melangkah turun ke belakang panggung.
“......”
Sambil memberikan tepuk tangan untuk punggungnya... aku menyadari sesuatu sekali lagi.
──Aku benar-benar jatuh cinta pada gadis yang sulit, ya.
Andai aku menyukai gadis yang lebih biasa, aku tidak perlu bersusah payah seperti ini.
Di tengah sorakan yang tak kunjung reda. Aku memikirkan gadis berambut cokelat yang kini terlupakan.
──Hasil akhirnya sesuai dengan dugaan sebagian besar orang.
Juara pertama adalah Mizuki. Dengan total 552 suara yang luar biasa. Sudah tidak ada kata-kata lagi untuk itu. Peringkat ketiga dan ke bawah bahkan tidak mendapatkan satu suara pun. Tapi......
『Peringkat kedua──Kashiwagi Kotoha-san! 15 suara!』
Hasil itu membuat aula gaduh.
15 suara. Sekilas, itu tampak seperti hasil yang mengenaskan. Tapi khusus di sekolah kami, kenyataannya tidak begitu.
──Mencuri dua digit suara dari "seorang Yukimura Mizuki".
Semua murid di sekolah ini tahu betapa besarnya pencapaian itu. Tapi......
“──Kashiwagi-san.”
Aku beranjak dari kursi dan menuju ke atap sekolah.
Entah kenapa, aku merasa dia ada di sana. Sebuah tempat terlarang yang sepi.
Di sudut itu, seorang gadis sedang duduk memeluk lututnya. Saat aku memanggilnya, dia mengangkat wajahnya perlahan.
“......Amano-kun.”
Matanya memerah. Di pipinya masih ada bekas air mata yang mengalir.
“Ah, haha. Kamu jadi lihat sisi memalukanku, ya.”
Kashiwagi-san yang menatapku jelas-jelas memaksakan senyum palsu. Melihatnya, aku kehilangan kata-kata. Aku tidak bisa mengucapkan kalimat penyemangat maupun penghiburan. Karena aku sadar, apa pun yang kukatakan hanya akan menjadi luka baginya.
“......!”
Padahal aku sendiri yang datang menemuinya, tapi aku malah tidak bisa berkata apa-apa.
Kashiwagi-san membuang muka dariku, lalu dengan tatapan yang seolah menerawang jauh, dia mulai bicara.
“......Padahal, tahu nggak? Aku sempat merasa sedikit percaya diri. Aku pikir aku bisa berbuat lebih banyak lagi.”
“Iya.”
“Tapi ternyata nggak bisa, ya. Aku sama sekali bukan tandingannya.”
Peringkat Kashiwagi-san adalah kedua. Jumlah suaranya 15. Dan di antara orang-orang itu...... tidak ada namaku.
Meski aku bilang akan mendukungnya, aku tetap tidak memilih gadis ini. Lantas, apa yang berhak kukatakan padanya?
“Dengar, Amano-kun juga harus segera pergi. Kontes Mister sebentar lagi dimulai, kan?”
“......Aku tahu.”
“Nanti kalau sudah agak mendingan, aku akan pergi mendukungmu.”
Bahkan di saat seperti ini pun, gadis ini masih memikirkan orang lain.
Dia bersikap tegar agar aku tidak khawatir.
“Soal jawaban pengakuanku... biarlah setelah festival budaya hari ini selesai saja.”
“......Iya, aku mengerti.”
Percakapan berakhir di sana.
Aku ingin sendiri sekarang. Aku menangkap pesan itu dengan jelas. Karena itu, aku tahu seharusnya aku segera pergi. Tapi......
“Biolanya.”
“Eh?”
“Tadi sangat indah. Menurutku sangat cocok denganmu.”
Hanya itu yang benar-benar ingin kusampaikan. Karena aku tidak ingin dia berpikir bahwa semua usahanya sia-sia.
“──”
Kashiwagi-san menggumamkan sesuatu dengan suara lirih.
Namun, karena aku sudah membalikkan punggung, kata-kata itu tidak sampai ke telingaku.
◇
『──Dengan ini, kita memasuki waktu istirahat selama tiga puluh menit. Kontes Mister akan dimulai pada pukul 16.00──』
Sambil mendengarkan pengumuman itu sayup-sayup, aku berjalan menyusuri koridor sekolah.
Seharusnya festival budaya berakhir pada pukul 15.00. Namun khusus di hari pertama ini, acara diperpanjang hingga pukul 18.00. Tentu saja, semua itu demi sorotan utama festival sekolah: Kontes Miss dan Mister. Dari jendela, aku melihat para siswa laki-laki mulai membubarkan diri dari aula, namun sebagai gantinya, gelombang siswi menyerbu masuk ke sana. Mungkin mereka ingin mendukung idola atau gebetan mereka di Kontes Mister. Bahkan ada beberapa siswi yang sangat bersemangat hingga membawa papan pengumuman buatan sendiri.
Sambil memperhatikan pemandangan itu dari sudut mata, aku berjalan menyusuri koridor yang sepi.
Perasaanku kelam, langkahku terasa berat. Semakin aku mencoba untuk tidak memikirkannya, wajah Kashiwagi-san yang basah oleh air mata semakin terbayang di benakku. Tapi, aku harus beralih fokus.
Dalam daftar penampilan, giliranku ada di bagian belakang. Seharusnya masih ada waktu untuk menyesuaikan jemariku di piano sekali lagi.
Dengan pemikiran itu, akhirnya aku sampai di depan ruang musik. Namun, di sana...
“──Iori.”
Seorang gadis berdiri sambil bersandar di dinding.
“......Mizuki?”
Suaraku tercekat. Ada jeda sesaat sebelum aku sanggup memanggil namanya. Gadis yang baru saja menerima sorak-sorai di atas panggung itu, kini ada di depanku.
“Sedang apa... di sini?”
Suaraku terdengar agak parau.
Dia sudah berganti pakaian, syukurlah. Sekarang dia sudah memakai seragam sekolahnya lagi. Tapi, riasannya masih menempel. Kecantikan yang jauh lebih bersinar dari biasanya itu membuatku hampir saja membuang muka. Kepada aku yang seperti itu, Mizuki berkata dengan nada bicara yang santai.
“Aku merasa, Iori akan datang ke sini.”
Setelah membisikkan itu, dia menatap mataku lekat-lekat. Aku membeku di bawah tatapannya, lalu Mizuki melangkah satu tapak lebih dekat.
“Wajahmu kelihatan menderita.”
“......!”
“Ada apa? Terjadi sesuatu?”
Ucapnya sambil mencoba membelai pipiku. Tapi tangan itu... aku menyingkirkannya dengan perlahan.
“Iori?”
Jujur saja, saat ini aku tidak ingin bertemu dengannya.
Setelah berbicara dengan Kashiwagi-san, aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa saat berhadapan dengan gadis ini.
“Maaf. Aku mau latihan sekarang.”
Kataku sambil berusaha melewati Mizuki. Tapi, tepat saat aku melangkah melewatinya...
“──Kamu benar-benar akan tampil?”
Aku terkejut mendengar pertanyaannya dan menoleh. Mata Mizuki menyimpan warna yang berbeda dari biasanya.
“Sekarang pun, kamu masih bisa mengundurkan diri.”
Di dalam binar matanya yang seperti permata, terselip warna gelap seperti malam yang dalam.
Mendengar itu, aku refleks mengernyitkan dahi.
(......Kenapa baru sekarang dia mencoba menghentikanku?)
Aku tidak mengerti. Padahal saat awal Kontes Mister diputuskan, dia mendukungku sambil bercanda. Tapi sekarang, aku merasakan keinginan kuat darinya agar aku tidak tampil.
Alasannya? Kurasa meskipun aku bertanya, dia tidak akan menjawab.
Tapi...
“Ya, aku akan tetap tampil.”
Bagaimanapun juga, jawabanku tidak akan berubah. Sudah terlambat bagiku untuk berpikir untuk berhenti.
“......Begitu ya.”
Kami saling menatap, hingga akhirnya Mizuki bergumam pelan. Wajahnya tampak seperti seseorang yang sudah menyerah akan sesuatu. Keheningan berlangsung selama beberapa detik. Akhirnya Mizuki menghela napas pendek.
“Kalau begitu, setidaknya penampilanmu harus dirapikan sedikit.”
“Eh?”
“Kamu mau tampil begitu saja?”
“Ah......”
Mendengar itu, aku baru tersadar.
Gadis-gadis yang ikut Kontes Miss tadi, semuanya berdandan maksimal. Kemungkinan besar Kontes Mister pun sama. Apalagi Renji, dia pasti berdandan habis-habisan secara berlebihan. Di tengah kerumunan itu, memakai seragam biasa malah mungkin akan terlihat mencolok.
(Aku tidak terpikir sampai ke sana.)
Atau lebih tepatnya, aku tidak punya energi lebih untuk memikirkan kostum.
Sebenarnya aku harus menyiapkan sesuatu, tapi... toh target utamaku bukan peringkat di Kontes Mister.
“Nggak apa-apa. Pakai ini saja sudah cukup.”
Kalau aku terlalu sibuk memikirkan penampilan sampai merusak konsentrasi permainanku, itu malah akan jadi bumerang.
Kalau begitu, seragam yang biasa kupakai malah terasa pas. Tapi... Mizuki melihatku dengan tatapan kasihan dan menurunkan alisnya.
“Sini, ikut aku.”
Katanya sambil menarik lenganku. Dia memaksaku membuka pintu ruang musik, lalu masuk ke dalam.
“O-oi?”
Aku mengikutinya sambil bertanya-tanya ada apa. Lalu, aku dipaksa duduk di depan piano.
“Aku akan merapikan rambutmu.”
Mizuki mengeluarkan cermin tangan dan sesuatu yang tampak seperti wax rambut wanita dari tasnya.
"Pegang ini," katanya sambil menyerahkan cermin itu padaku. Aku menerimanya dengan enggan dan mengangkatnya di depan wajah.
Di sana terpantul wajah yang sudah biasa kulihat. Wajah yang sering diejek Renji sebagai "wajah cantik seperti perempuan", wajah yang tidak terlalu kusukai. Mizuki dengan cekatan mulai menata rambutku dengan wax.
......Ah, omong-omong.
“Mizuki.”
“Apa?”
“Selamat atas juara 1 Kontes Miss-nya.”
“......Hm.”
Setidaknya, aku harus mengucapkannya.
Bagi dia, mungkin ini bukan masalah besar. Tapi tetap saja, teman masa kecilku baru saja meraih kesuksesan. Sudah sewajarnya aku ikut senang untuknya.
"Tadi, kamu dengerin permainanku?"
"Iya.......Aku nggak nyangka kamu bakal pilih lagu itu."
"Fufu."
Kenapa dia tertawa?
Meski aku menatapnya dengan curiga, Mizuki tidak mengatakan apa-apa. Seolah dia tahu bahwa aku tidak mengerti apa-apa, dia hanya tertawa kecil.
『──Sesaat lagi, Kontes Mister akan segera dimulai.』
"......Nah, sudah selesai."
Bersamaan dengan pengumuman itu, Mizuki menyeka tangannya dengan tisu basah sambil mengeluarkan suara yang terdengar puas. Saat melihat ke cermin tangan, di sana terpantul wajahku yang... yah, kelihatan sedikit lebih rapi dan tegas.
"Makasih."
"Hm."
Aku mengembalikan cerminnya. Aku tidak sempat latihan piano lagi, tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah melakukan semua yang kubisa. Sisanya, aku harus percaya pada diriku sendiri.
Aku membuka pintu ruang musik, menunggu Mizuki keluar, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
Kontes Mister, ya. Kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali. Panggung megah yang sebenarnya tidak cocok untukku. Tapi sekali seumur hidup, tidak ada salahnya merasakan hal seperti ini.
(Benar-benar bukan gayaku.)
Wajah Manajer yang tertawa sambil berkata "Begitu lebih baik" terlintas di benakku.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Hm.......Iori."
"...?"
Aku menoleh. Di sana, aku melihat wajah teman masa kecilku yang tersenyum, namun entah kenapa terlihat rapuh.
"Semangat ya."
"Iya."
Meskipun kata-katanya terasa agak hambar tanpa kehangatan, aku memilih untuk tidak memikirkannya sekarang.
Soal melangkah lebih jauh ke dalam hati Mizuki, atau mengubah hubungan kami saat ini...
Semua itu bisa menunggu sampai festival budaya ini berakhir.
Sekarang, aku hanya perlu melakukan apa yang harus kulakukan.
◇
"Lama banget sih kau, Iori!"
"Maaf, maaf."
Di belakang panggung, tepat di ruang tunggu yang terhubung dengan sayap panggung, Renji langsung menyalak.
"Kau ngapain aja sih! Babak pertama udah mulai tahu!"
"Iya, kan aku udah minta maaf. Giliranku masih lama juga, nggak masalah kan."
Ada apa dengan anak ini?
Aku memiringkan kepala heran. Dia kelihatan sama sekali tidak tenang. Sejak tadi matanya melirik ke sana kemari. Langkahnya juga gelisah, tidak bisa diam.
......Jangan-jangan, anak ini?
"Kau... tegang ya?"
Pertanyaan yang sama seperti tadi pagi. Tadi pagi aku cuma bercanda, tapi sekarang...
"Ha-haaah!? Tegang!? Aku? N-nggak mungkin lah, mana ada kamus tegang buat aku!"
"......"
"O-oi, apa-apaan tatapanmu itu? Serius tahu! Aku beneran nggak tegang sedikit pun!?"
Aku perlahan membuang muka.
Kalau dipikir-pikir, meski dia anak gaul, dia tidak ikut klub apa pun... mungkin dia memang tidak punya pengalaman tampil di depan orang banyak?
Aku yang setidaknya pernah ikut kompetisi sekali, rasanya malah jauh lebih tenang sekarang.
『──Berikutnya! Akhirnya tiba giliran si tampan nomor 1 (katanya)! Miyama Renji-kun!』
"Fwaah!?"
"Nah, sana gih."
Mendengar perkenalan yang sangat berlebihan itu, Renji mengeluarkan suara aneh. Aku langsung memukul punggungnya dengan keras. Melihat Renji yang terhuyung tidak karuan, aku menghela napas.
......Aneh ya. Biasanya peran kami kan terbalik. Kenapa malah aku yang harus menyemangati dia?
"O-o-oke. Serahkan padaku! Kau juga harus nyusul aku ya, Iori!"
"Iya, iya."
Sudah tahu, makanya cepetan sana.
Aku menendang pantatnya. Renji kemudian menepuk kedua pipinya dengan keras untuk mengumpulkan keberanian.
"Sip! Aku berangkat!"
"Semangat."
Aku melepas keberangkatan Renji yang memanggul gitar elektriknya.
Tinggal beberapa orang lagi. Setelah mereka selesai, giliranku tiba.
......Seandainya aku gagal.
"Yah, kalau gagal ya sudah."
Memikirkan apa yang terjadi setelah gagal sudah tidak ada gunanya sekarang. Sepertinya aku sudah cukup mantap untuk menghadapi apa pun.
──WAAAAA!!
Sorak-sorai penonton semakin pecah.
Setelah permainan gitar elektrik Renji, lalu berlanjut ke komedi singkat kakak kelas tiga, sulap, dan pertunjukan tari.
『──Berikutnya adalah peserta baru! Kelas dua, Amano Iori-kun!』
Akhirnya, giliranku tiba.
"......!"
Sebuah piano digeser ke tengah panggung. Pada saat itu, penonton sepertinya langsung mengerti apa yang akan terjadi. Sorak-sorai sedikit mereda, berubah menjadi gumaman penuh tanya.
(Tenang.)
Aku berusaha menekan tanganku yang gemetar memalukan.
Tadi aku baru saja menertawakan Renji, akan sangat memalukan kalau aku sendiri malah jadi kacau begini. Jangan pedulikan kursi penonton. Aku hanya perlu melakukan apa yang harus kulakukan.
Aku menarik napas dalam-dalam sekali. Lalu, aku melangkahkan kaki keluar dari balik panggung.
──WAAAAA!
Pada saat itu, sorak-sorai yang memuji sang penantang meledak dari kursi penonton, membuat tubuhku refleks gemetar. Namun, aku berusaha bersikap setenang mungkin dan berjalan menuju piano.
Tapi.
“......!”
──Tiba-tiba, tubuhku terhuyung.
Pemandangan yang tidak ingin kuingat kembali terngiang di dalam benak.
『──Oi, anak itu, tangannya berhenti.』
『Aah, payah banget ya...... Jadi hambar suasananya. Aku nggak suka yang kayak gitu.』
Kompetisi satu setengah tahun yang lalu. Traumaku, sekaligus simbol kegagalanku. Pemandangan yang sama kini terbentang di depan mataku. Tapi.
(Sampai kapan aku mau terus terpuruk begini?)
Aku sudah tahu bahwa aku akan mengingat hari itu. Karena itulah, aku sudah dilatih habis-habisan agar tubuhku tetap bisa bergerak. Sesuai dengan latihan neraka itu. Cukup gerakkan jari-jariku seperti mesin.
Fuu, aku mengembuskan napas dan duduk di kursi.
Tepat sebelum mulai bermain, aku menoleh ke arah penonton sekali saja. Melihat apa yang ada di sana...... aku malah jadi tertegun sendiri.
(Astaga, tepat di tengah-tengah ya.)
Barisan depan paling tengah. Kursi yang tadi aku duduki. Di sana ada Mizuki yang duduk dengan santainya, dikelilingi oleh para pengawal setianya. Sedikit di belakangnya, aku juga bisa melihat sosok Kashiwagi-san. Melihat mereka berdua...... rasa sesak di dadaku perlahan menghilang.
(......Ya, benar juga. Selama mereka berdua mendengarkan.)
Terserah saja. Aku tidak peduli dengan tatapan orang lain. Dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, aku meletakkan jemari di atas tuts piano.
Seketika, hiruk-pikuk penonton tidak lagi terdengar. Setelah satu tarikan napas dalam, aku memainkan nada pertama.
『Sonata Piano No. 14 ── "Moonlight" Gerakan Ketiga』
Di tengah permainan arpeggio yang menghujam, terdapat kehalusan dan kesedihan yang mengingatkan pada cahaya bulan.
Aku bisa merasakan langsung bagaimana atmosfer aula berubah karena suara itu. Lagu dengan tingkat kesulitan tinggi yang bahkan tidak memberikan ruang untuk sekadar mengambil napas ini akan hancur jika satu nada saja meleset.
Tidak ada waktu untuk memperbaiki. Aku hanya perlu menggerakkan jari seperti berjalan di atas tali tipis, dan jika tidak bisa bertahan sampai akhir, maka gagal. Namun selama tiga minggu ini, aku sudah memahatnya ke dalam tubuhku. Berkat itu, sekarang bahkan jika aku memejamkan mata pun, jemariku bergerak dengan sendirinya.
(......Aku bisa memainkannya.)
Sambil menggerakkan jari dengan liar, aku merasakan haru yang aneh dan tidak pada tempatnya. Lagu yang pernah kulepaskan. Dulu aku berpikir bahwa kompetisi itu tidak pantas untuk orang sepertiku. Tapi sekarang, jemariku bergerak persis seperti yang kuinginkan. Nada yang dulu tidak bisa kuraih, sekarang aku merasa nada itu benar-benar tersampaikan.
『──Kamu mungkin belum benar-benar mengetahui kapasitas dirimu yang sebenarnya.』
Mungkin inilah maksud dari perkataan Manajer.
Aku hanya membuat kesimpulan sendiri dan menyerah begitu saja.
(Mungkin...... aku boleh sedikit lebih serakah lagi.)
Akhirnya, nada terakhir.
Setelah selesai dan perlahan melepaskan jemari.
──WAAAAAAAAA!!
Sorak-sorai yang tidak pernah bisa kubayangkan sebelumnya menghujani seluruh tubuhku. Tanpa sadar aku terpana melihat sekeliling aula.
Lalu, saat aku mengalihkan pandangan ke bawah panggung. Di sana ada Kashiwagi-san yang matanya berkaca-kaca...... dan sosok Mizuki yang menatapku dengan tenang.
◇
“Oi, Iori!!”
Sambil membungkuk dengan tubuh yang lemas, aku entah bagaimana berhasil kembali ke ruang tunggu.
Renji langsung menerjang dan memelukku.
“Kau beneran ngelakuinnya, bajingan! Sukses besar, tahu!”
“A-ah, iya.”
Sakit, sakit. Tenaga anak ini kuat sekali kalau sedang semangat.
Setelah aku berhasil melepaskan diri, Renji yang masih sangat bersemangat terus memukul-mukul punggungku.
“Gila, serius keren banget tadi! Sejujurnya posisi juara aku jadi terancam, tapi bodo amat! Kalau aku kalah sama yang kayak tadi, aku puas! Ya kan!?”
“Nggak mungkin juga kali.”
Aku mencoba menenangkan Renji yang sedang high. Ada elemen lain selain penampilan, dan Kontes Mister tidak semudah itu untuk dimenangkan hanya dengan ini.
Ah, tapi.
“Berhasil juga, ya.”
“Iya dong!”
Sepertinya aku benar-benar berhasil melaluinya.
Aku berhasil membalas dendam atas kegagalan di kompetisi dulu.
Kalau begitu.
(Mungkin sekarang aku boleh merasa senang sedikit.)
Aku mengangkat tangan sebentar ke arah Renji. Menyadari maksudku, Renji segera nyengir dan menyambutnya.
Plak! Suara tos yang renyah terdengar. Rasanya benar-benar tidak cocok bagiku melakukan hal-hal klise ala masa muda begini.
“Berhasil.”
“Hehe, yoi.”
Yah, sekali seumur hidup, tidak apa-apalah.
Aku memutuskan untuk memaafkan diriku sendiri kali ini. Lalu, pengumuman peringkat Kontes Mister dimulai.
Juara pertama adalah senior kelas 3. 187 suara.
Juara kedua adalah Renji. 138 suara.
『Juara ketiga──Amano Iori-kun! 120 suara!!』
Sudah tidak perlu dikatakan lagi, aku langsung mematung mendengar deklarasi itu.
◇
“──Kashiwagi-san.”
Festival budaya akhirnya berakhir. Di saat teman-teman sekelas sedang heboh merayakan pesta penutupan, aku melangkahkan kaki
sendirian menuju bangku yang ada di sudut halaman tengah. Gadis yang kucari sedang duduk sendirian di sana. Begitu dipanggil, ia menoleh dan tersenyum tipis.
“Selamat ya, juara tiga.”
──Kamu juga. Kalimat itu hampir terucap, tapi aku tertahan. Aku tahu itu bukan hasil yang ia harapkan.
“Aku kaget lho. Ternyata kamu bisa main piano ya.”
“Kashiwagi-san juga.”
Senjata rahasia berupa biolanya benar-benar membuatku terkejut.
Kami sama-sama menggunakan instrumen musik untuk bertarung. Bahkan dalam hal seperti ini pun kami mirip. Aku mencoba tertawa... tapi tidak bisa.
Melihatku menunduk, Kashiwagi-san tertawa kecut.
“Sudahlah. Jangan merasa tidak enak begitu.”
“......”
“Aku sudah bisa menerima hasilnya, kok. Dengan caraku sendiri.”
“......Begitu ya.”
Jika dia berkata begitu, aku tidak bisa membantah. Memberi penghiburan atau semangat hanya akan menjadi bumerang sekarang. Lagipula, ada hal lain yang harus kukatakan.
“Kashiwagi-san.”
“Iya.”
Hanya dengan itu, Kashiwagi-san mengangguk seolah sudah paham. Janji antara aku dan dia. Memberikan jawaban setelah Kontes Miss berakhir.
Sejujurnya aku tidak ingin mengatakannya. Aku ingin tetap berada dalam hubungan pertemanan yang ambigu seperti ini. Tentu saja ada keinginan egois seperti itu. Namun, aku harus mengatakannya.
“Aku...... tidak bisa membalas perasaan Kashiwagi-san.”
Kalimat itu keluar dari mulutku dengan susah payah.
......Ah, sial. Rasanya benar-benar buruk. Lagipula, bukan berarti aku membenci gadis ini. Sebagai manusia maupun sebagai perempuan, dia sangat menarik dan aku menghormatinya. Namun, jawabanku tidak berubah.
“Begitu ya.”
Mendengar itu, dia tidak menunjukkan kegoyahan. Dia mengangguk kecil lalu menatapku.
“Aah. Ternyata ditolak juga yaー.”
“......Maaf.”
“Eh, sudah kubilang tidak apa-apa.”
Kashiwagi-san tertawa riang melihatku membungkuk minta maaf.
“Aku sudah tahu... kalau kemungkinan besar bakal ditolak.”
“......”
“Tapi sayang banget ya? Padahal aku ini juara dua Kontes Miss lho?”
“Iya, benar-benar sayang.”
Aku akhirnya tertawa.
Benar juga. Aku menolak gadis ini, padahal kepada orang yang akan kutembak setelah ini pun, aku sama sekali tidak punya peluang menang. Jika dipikir-pikir, mungkin aku tidak akan mendapatkan apa-apa pada akhirnya.
Aku sendiri kaget betapa bodohnya diriku. Aku hanya bisa tertawa.
“Meskipun begitu, kamu tetap tidak bisa melupakannya?”
“Iya.”
“Begitu ya...... Kamu benar-benar setia ya, Amano-kun. Pantas saja aku menyukaimu.”
Dia mencondongkan wajahnya seolah menggodaku. Aku hanya bisa tersenyum canggung sambil menelan rasa bersalah.
“Semoga sukses ya. Dengan gadis itu.”
“......Terima kasih.”
Setelah kata-kata itu, percakapan di antara kami terhenti.
Apakah dengan ini semuanya sudah selesai? Pastinya setelah ini frekuensi kami mengobrol akan berkurang. Kami tidak bisa kembali menjadi teman. Aku juga tidak berniat bersikap seolah tidak terjadi apa-apa seperti sebelumnya. Rasanya sepi dan menyakitkan, tapi ini jalan yang benar. Aku meyakinkan diriku sendiri.
“Kalau begitu......”
“Iya. Ah, terakhir, boleh aku minta satu hal?”
“Hm, apa?”
“Suatu saat nanti, perkenalkan aku dengan gadis yang membuat Amano-kun jatuh cinta itu.”
“......Iya.”
Jika itu yang dia inginkan. Jika keajaiban terjadi dan semuanya berjalan lancar. Dan jika suatu saat nanti aku bisa lebih percaya diri pada diriku sendiri.
“Baiklah. Aku janji.”
Pasti, hari seperti itu akan tiba.
Aku mengatakannya, lalu membalikkan punggung pada Kashiwagi-san. Dan, aku berlari tanpa menoleh lagi.
......Sambil meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak punya hak untuk menoleh demi mendengarkan suara isak tangis yang terdengar dari belakang.
◇
──Setelah itu aku mencari beberapa saat, tapi sosok Mizuki tidak ditemukan. Menurut penuturan siswi-siswi sekelas, katanya dia sudah pulang. Sang tokoh utama festival budaya kali ini. Semua orang berharap dia ikut pesta penutupan, tapi jika dia sudah bilang 『Hari ini aku lelah』, mereka tidak punya pilihan selain membiarkannya.
Jadi Mizuki sudah tidak ada di sekolah.
Tapi entah kenapa...... aku sudah merasa begitu.
『Maaf. Aku pulang duluan hari ini.』
Aku mengirim pesan singkat kepada Renji, lalu meninggalkan sekolah. Besok dia pasti akan mengomel... tapi ya sudahlah.
Aku berganti-ganti kereta, turun di stasiun terdekat. Dan, tempat yang kutuju adalah...
“──Mizuki.”
Taman tempat kami berdua pertama kali bertemu.
Di ayunan itu, dia sedang duduk sendirian. Ternyata benar di sini.
Aku hanya bisa tersenyum kecut. Justru di saat seperti ini, akhirnya aku bisa menebak jalan pikirannya.
Saat aku memanggilnya yang sedang menatap hampa ke arah kekosongan, dia berbalik tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, tanpa rasa terkejut sama sekali.
“Iori.”
Dia memanggil namaku sambil tersenyum tipis. Tapi senyum itu terasa rapuh, seolah-olah akan menghilang kapan saja. Aku tidak tahu kenapa Mizuki memasang wajah seperti itu.
Namun.
“Ada yang ingin aku bicarakan.”
“......”
Mendengar itu, Mizuki tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dia hanya menatapku dengan mata yang terasa hampa. Itu persis seperti...... saat pertama kali kami bertemu.
“Kashiwagi-san, tidak apa-apa ditinggal?”
Mizuki berucap dengan tenang.
Secara tersirat, dia bertanya apakah tidak apa-apa jika aku tidak bersamanya.
“Iya...... aku sudah bicara baik-baik dengannya.”
Kepada gadis itu pun, aku sudah mengatakan apa yang harus dikatakan. Rasa sakit maupun kesepian, untuk saat ini, aku tidak akan memikirkannya.
Tekadku sudah bulat. Orang yang harus kubicarakan sekarang bukanlah dia (Kashiwagi).
“Mizuki.”
“Iya.”
Gadis cinta pertamaku itu menatap ke arahku.
Aku tahu ini nekat. Namun, seberapa pun tidak pantasnya diriku baginya... sepertinya aku tidak akan pernah bisa menyerah pada cinta pertama ini.
“──Aku menyukaimu, Mizuki.”
Akhirnya, kata-kata itu terucap juga. Kata-kata yang selama ini kupendam dalam hati dan sempat kuniatkan untuk tidak akan pernah kuucapkan seumur hidup. Perasaan yang seharusnya kubawa sampai mati, akhirnya aku telanjangi di depannya.
“......”
Mizuki tidak mengatakan apa-apa.
Aku tidak tahu apa arti dari keheningan itu. Tapi aku sudah tidak punya sisa ketenangan sedikit pun. Aku bertekad untuk tidak membuang muka meski harus memaksakan diri, hanya demi menumpahkan isi hatiku.
“Sejak pertama kali kita bertemu, aku selalu menyukaimu.”
Ingatanku melayang kembali pada pertemuan kami di taman ini. Sejak momen itu hatiku telah tercuri, dan sejak saat itu pula aku terus menutupi perasaan ini.
“Meski begitu, aku terus meyakinkan diriku bahwa kamu itu seperti bunga di puncak gunung yang tak tergapai. Aku selalu takut kalau suatu saat kita akan menjauh.”
“Iya.”
“......Karena itu,”
Di sana, kata-kataku terhenti.
Karena itu... apa? Apakah aku ingin dia membalas cintaku? Ingin menjadi kekasihnya?
Kata-kata yang tadinya ingin kuucapkan malah tertahan di tenggorokan. Bagiku, gadis ini dan perasaanku padanya bukanlah sesuatu yang sepele. Rasanya aku ingin meneriakkan itu. Tapi aku harus menyampaikannya. Setidaknya, sebelum dia pergi menjauh.
Sambil mengepalkan tangan yang gemetar, aku mati-matian mencari kata yang tepat.
“Iori.”
Tiba-tiba, Mizuki berdiri.
“......?”
Fuwari, dia memelukku.
“Tidak apa-apa. Semuanya sudah tersampaikan dengan jelas, kok.”
Sentuhan yang lembut. Suhu tubuh yang hangat. Kepada aku yang membeku, Mizuki berkata...
“Terima kasih. Karena sudah menyampaikannya lewat kata-kata.”
Dia berbisik pelan seolah sedang meresapi setiap suku katanya. Lengan yang melingkar di punggungku mengerat sejenak. Lalu saat dia melepaskan pelukannya, dia menatap mataku lekat-lekat.
“──Aku juga menyukaimu, Iori.”
Bersamaan dengan kalimat itu, bibir kami saling bertaut.
◇
“......”
“......”
Kami berdua duduk berdampingan di ayunan. Menatap taman di malam hari dengan perasaan linglung. Aku tidak mengerti apa yang baru saja terjadi pada diriku.
Kehangatan pelukannya, kata-kata yang ia bisikkan, hingga sentuhan bibir tadi. Semuanya terasa tidak nyata.
“......Mizuki.”
“Apa?”
“Mizuki, kamu benar-benar...”
Kata-kata itu terlepas begitu saja dari mulutku.
Masih sulit dipercaya. Aku tadi sudah benar-benar yakin kalau akan ditolak. Namun, melihat tatapanku yang seperti itu, Mizuki tersenyum kecut.
“Iori, kamu itu peka-nya lambat ya.”
“Eh?”
“Kamu bahkan tidak menyadari perasaan Kashiwagi-san, kan?”
“......Ah.”
Kalau dipikir-pikir, benar juga.
Aku ingat saat itu pun aku merasa linglung sama seperti sekarang.
“Tapi, ini bukan bohong.”
“......”
“Aku menyukai Iori.”
Mizuki yang entah kapan sudah berdiri di depanku, kini menangkup pipiku dengan tangannya.
“Pasti jauh lebih dalam dari yang Iori bayangkan.”
Dia membelaiku dengan lembut seolah sedang menyentuh harta karun yang berharga, membuatku tidak bisa berkata-kata. Lalu, dia mengulurkan tangannya dengan tenang.
“Ayo pulang? Iori.”
“......Iya.”
Suara yang lembut. Sambil ragu-ragu, aku menggenggam tangan itu. Tangan yang lembut dan sedikit dingin.
Dulu saat masih kecil, ini adalah hal yang wajar. Namun entah sejak kapan, bahkan untuk menggenggam tangannya saja aku tidak sanggup. Perasaan sepi yang kurasakan karena hal itu pun selalu aku sangkal
sebagai sekadar perasaan belaka.
“Nee, Iori.”
“Hm?”
“Aku... sudah boleh pulang lagi, kan?”
Pertanyaan itu ia ajukan saat kami berjalan pulang.
Pulang. Aku segera mengerti apa maksudnya.
“Iya. Aku akan sangat senang kalau kamu kembali.”
Saat aku mengatakannya dengan tulus, Mizuki tersenyum bahagia.
“Begitu ya...... Kamu merasa kesepian?”
“Sangat.”
“Jujur sekali ya.”
“Soalnya, keras kepala juga percuma sekarang.”
Aku baru saja menelanjangi seluruh isi hatiku. Tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Lagipula, teman masa kecilku ini pasti sudah tahu segalanya.
“Iya deh. Kalau begitu, aku pulang buat kamu. Biar Iori nggak nangis sendirian.”
“Aku nggak nangis, kok.”
“Masa?”
Dia mencondongkan wajahnya mengintip mataku.
Refleks, aku membuang muka. Tidak, aku benar-benar tidak menangis. Ya, meski sempat merasa hampir menangis sedikit, sih.
“Kenapa buang muka?”
“......Bukan apa-apa.”
“Lucu banget.”
“Berisik.”
Aku tahu semuanya. Mizuki tersenyum seolah ingin mengatakan itu.
Aku mencoba membalas omongannya, tapi kata-kata itu tidak keluar. Sensasi tangan yang bertautan. Percakapan yang mengalir apa adanya. Semuanya terasa sangat membahagiakan.
Sambil terus digoda seperti itu, kami berjalan pulang bergandengan tangan, persis seperti dulu. Hingga akhirnya kami sampai di depan rumah.
“Iori.”
“Hm?”
“Aku mau kuncinya lagi.”
“......Nih.”
Aku mengambil kunci yang sebelumnya dipegang Mizuki dari dalam dompet dan menyerahkannya. Bukan sekadar "boleh kuberikan", tapi aku memang ingin dia memegangnya. Aku ingin dia ada di rumah ini, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.
Sambil menyelipkan permohonan yang tak terucapkan itu, Mizuki menerima kuncinya, memasukkannya ke lubang pintu rumahku, dan membukanya.
“──Aku pulang.”
“......Selamat datang kembali.”
Aku menggumamkan sapaan yang sudah ribuan kali kami ucapkan itu, kali ini sambil meresapi maknanya dalam-dalam.
“Aku pakai shower duluan ya.”
“Eh, oh, oke.”
“Duluan ya.”
Mizuki membawa baju ganti dan menghilang ke dalam kamar mandi. Setelah memastikan dia masuk, aku menjatuhkan diriku ke sofa.
“Ini nyata, kan?”
Begitu sendirian, rasa linglung itu kembali menyerang. Aku sudah menyatakan cinta. Tapi tentu saja, tadi aku sama sekali tidak punya peluang menang. Itu cuma aksi nekat. Aku hanya menumpahkan seluruh perasaanku tanpa memikirkan hari esok. Tapi siapa sangka.
『──Aku juga menyukaimu, Iori.』
Pasti tidak akan ada yang percaya. Yukimura Mizuki. Bunga di puncak gunung yang dipuja semua orang. Rembulan yang silau dan tak tergapai. Seharusnya begitu. Tapi kalau dipikir-pikir, dalam satu bulan ini, hal-hal yang sulit dipercaya terus terjadi di sekitarku. Pengakuan Kashiwagi-san. Ikut Kontes Mister. Juara ketiga. Dan sekarang, aku menjadi kekasih teman masa kecilku yang kukira mustahil untuk digapai. Bahkan setelah kusebutkan satu per satu, semuanya tetap terasa tidak nyata.
Selagi aku tenggelam dalam pikiran, tak terasa hampir tiga puluh menit berlalu.
“──Aku sudah selesai.”
“...!”
Tubuhku tersentak mendengar suara itu. Aku menoleh dan melihat sosok wanita cantik yang sudah berganti pakaian, sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Bukan hal aneh melihat Mizuki mandi di rumahku. Bohong kalau kubilang aku biasanya tidak gugup, tapi harusnya aku sudah terbiasa. Namun sekarang... entah kenapa, aku tidak sanggup menatapnya langsung.
“Giliranku?”
“A-ah, iya.”
Aku segera melarikan diri ke kamar mandi agar kegugupanku tidak ketahuan.
(Sebenarnya, aku tinggal bersikap seperti biasanya saja, kan?)
Hanya karena status kami berubah jadi kekasih, bukan berarti segalanya harus berubah drastis dalam sekejap. Aku meyakinkan diriku sendiri sambil mulai keramas dengan kasar.
“──Selamat datang kembali.”
“Hm.”
Saat aku selesai mandi dan berganti pakaian, kepalaku akhirnya mulai
sedikit tenang. Mizuki sepertinya sudah selesai mengeringkan rambutnya dan duduk di sofa dengan baju santai.
Haruskah aku duduk di sampingnya, atau tidak? Saat aku ragu dan berniat duduk di sofa dengan memberi sedikit jarak...
“Iori.”
“Hm?”
“Sini.”
Mizuki berdiri dan menarik tanganku.
“O-oi? Mizuki?”
Aku memanggilnya, tapi tidak ada jawaban. Aku ditarik begitu saja menuju kamarku. Kamar laki-laki biasa, tidak kotor tapi juga tidak ada hiasan apa pun. Menuju tempat tidur itu.
“......”
“Eh? Wah!”
Aku didorong pelan. Tenaganya tidak kuat, tapi karena mendadak, keseimbanganku goyah dan aku jatuh terduduk di atas tempat tidur. Saat aku mengangkat wajah, Mizuki sudah menindihku dari atas.
“Mi, Mizuki......?”
Tepat di depan mataku, wajah yang luar biasa cantik itu berada sangat dekat. Wajah yang sudah kulihat sejak kecil. Tapi, aku tidak pernah bisa terbiasa. Malah, seiring berjalannya waktu, wajah ini semakin cantik hingga aku tidak tahu sudah berapa kali aku terpesona dibuatnya. Perlahan, wajah cantik itu semakin mendekat.
“T-tunggu dulu!”
Aku buru-buru menahan bahunya untuk menghentikannya. Aku mencoba menenangkannya, tapi tatapan mata Mizuki sama sekali tidak goyah. Tidak ada keraguan sedikit pun. Mata indah yang tenang seperti biasanya.
“Kamu mengerti, kan?”
Hanya satu kalimat itu. Dia seolah mengonfirmasi. Apa yang akan terjadi setelah ini. Apa yang akan kami lakukan. Dia yakin aku tidak mungkin tidak mengerti dalam situasi seperti ini.
“Bukan gitu, tapi...”
Ini terlalu mendadak. Bagaimanapun, ini baru hari pertama kami jadian.
“Kita bukan lagi sekadar "teman masa kecil".”
Sambil berkata begitu, dia menggenggam tanganku yang tadi menahan bahunya.
“Kita harus memahat kenyataan itu di tubuh kita.”
Tidak ada keraguan dalam ucapan Mizuki. Aku terpana. Tekad Mizuki tersampaikan padaku mau tidak mau. Di tengah kegugupanku yang sama sekali belum siap ini...
“Lalu, mungkin ini hukuman.”
“Hukuman......?”
“Iya. Hukuman karena sudah membuatku menunggu selama 10 tahun.”
Mizuki sedikit menurunkan alisnya.
Ekspresi yang tampak agak kesepian itu tiba-tiba tumpang tindih dengan sosok Mizuki saat kami masih kecil.
『Hei...... kenapa kamu menghindariku?』
Wajah yang tampak marah, namun juga seperti ingin menangis. Suara yang gelisah dan lemah, hal yang tak terbayangkan jika melihat Mizuki yang sekarang.
(Ah...... benar juga.)
Baru sekarang aku mengingatnya.
Gadis ini──Yukimura Mizuki, sejak awal tidaklah sedingin dan sekuat itu. Justru dulu, dia adalah orang yang jauh lebih pencemburu dan mudah merasa kesepian dibanding orang lain.
Saat SD, dia selalu ingin bersama, baik pagi maupun malam. Aku ingat pernah dimarahi habis-habisan dengan alis yang terangkat tajam saat aku mengusul agar kami berangkat dan pulang sekolah secara terpisah. Gadis yang seperti itu, aku...
Meski selalu bersamanya, aku tidak pernah benar-benar menghadapinya. Selama 10 tahun, aku telah membiarkannya sendirian. Dengan dalih bahwa dia adalah bunga di puncak gunung yang tak tergapai.
“......Maaf.”
“Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu.”
Mizuki membelai pipiku dan tersenyum lembut.
“Karena pada akhirnya, Iori memilihku dengan sungguh-sungguh.”
Dia mengatakannya dengan nada bahagia, lalu menyatukan jari-jarinya di sela-sela jariku. Dan aku pun──memutuskan untuk menerimanya.
Melihatku yang sudah melemaskan tubuh, kali ini bibirnya benar-benar mendarat.
“Aku tidak akan melepaskanmu lagi.”
──Setelah itu, aku tidak terlalu ingat dengan jelas apa yang terjadi. Semuanya terasa terlalu jauh dari realitas. Tubuh yang begitu indah hingga membuat pening. Paras cantik tiada tara yang membocorkan desah napas.
Dengan tangan gemetar aku menyentuh kulitnya. Bibirnya mendarat dengan manis. Tanpa tahu apakah ini mimpi atau kenyataan.
『──Aku mencintaimu, Iori.』
Dia berbisik seolah ingin melelehkanku dengan manis.
“......Nnh......”
“......”
──Sadar-sadar, tanpa terasa pagi sudah tiba.
◇
SIDE: Yukimura Mizuki
──Sejak aku mulai bisa mengingat. Aku sadar bahwa diriku ini rusak.
『Mizuki-chan anak yang tenang ya.』
『Sudah pintar, tidak manja pula. Benar-benar terlihat dewasa ya.』
Sejak kecil, aku sering mendengar kata-kata seperti itu.
......Tapi, itu salah. Bukannya aku tenang atau dewasa. Hanya saja...... aku tidak merasakan apa-apa. Apa pun yang terjadi, aku tidak memikirkan apa pun. Hatiku tidak bergerak.
『──Mizuki. Jadilah anak yang baik ya.』
Bahkan terhadap ibuku yang hampir mengabaikanku, tidak ada emosi yang muncul. Meskipun dia tidak pulang ke rumah selama seminggu, aku hanya berpikir bahwa dia pasti sibuk bekerja. Rasa sepi karena tidak dicintai, kesepian, aku tidak merasakan semua itu.
Aku sadar bahwa diriku mungkin tidak memiliki sesuatu yang disebut "hati".
──Kecuali untuk satu orang pengecualian.
『Mizuki? Sedang apa kamu?』
『......Iori.』
Amano Iori-kun. Anak laki-laki seumuran yang tinggal di rumah sebelah. Saat aku berumur 5 tahun, kami bertemu di tempat kepindahanku, dan sejak saat itu kami selalu bersama. Hanya anak laki-laki inilah yang spesial bagiku.
『Ada apa......? Iori.』
『Apanya yang ada apa. Jangan menghilang sembarangan dong. Aku kan jadi khawatir.』
『Kamu...... mengkhawatirkanku?』
『......Tentu saja.』
Hanya di depannya, anehnya aku bisa tersenyum dari lubuk hatiku. Aku bisa merasa senang, merasa gembira. Aku hanya bisa menjadi "manusia" saat berada di depannya.
......Karena itu.
『Nee, Iori?』
『Apa?』
『Teruslah bersamaku ya. Janji.』
『......Kalau Mizuki tidak keberatan dengan itu.』
Itu adalah permintaan kecil saat kami masih SD. Namun, bagiku itu adalah doa yang sangat mendesak.
Bagiku, cukup ada anak laki-laki ini saja. Aku benar-benar berpikir demikian, tapi...
──Janji itu dilanggar hanya dalam beberapa tahun.
『......Iori.』
『......』
『Hei...... kenapa kamu menghindariku?』
Itu terjadi saat kami menginjak kelas atas sekolah dasar.
Tiba-tiba, Iori mulai menghindariku. Padahal sebelumnya kami selalu bersama dalam hal apa pun. Baik di rumah maupun di sekolah, selalu bersama. Namun belakangan, saat berangkat sekolah pun kami
terpisah. Dia tidak mau lagi menggandeng tanganku. Saat pulang pun dia tidak menjemputku.
Aku tidak mengerti.
『......Kita sudah bukan di umur anak kecil lagi, kan.』
Dengan ekspresi datar yang seolah dibuat-buat, Iori mengucapkan hal itu.
『Umur? Apa hubungannya dengan umur?』
Karena kita sudah tumbuh besar? Karena kita bukan anak-anak lagi?
Hanya karena alasan itu, Iori menghindariku?
Tidak. Iori tidak akan mengatakan hal seperti itu.
『Jawab yang jujur.』
『......っ』
Butuh waktu lama bagiku untuk memaksa Iori menceritakan keadaan yang sebenarnya.
Akhirnya, seolah menyerah, Iori mulai berbicara terbata-bata. Katanya, "aku dirundung oleh anak-anak laki-laki di kelas".
Kalimat seperti 『Jauhi Yukimura』, 『Kalian gak selevel』, 『Laki-laki gak tahu diri』, dan sebagainya. Di tempat yang tidak kuketahui, Iori telah disakiti.
Saat mengetahui hal itu, aku...
『......Begitu ya.』
Aku merasakan sesuatu yang gelap membara dan tak terkendali.
Itu adalah sesuatu yang belum pernah ada dalam diriku sebelumnya.
Sesuatu yang seharusnya tidak dimiliki oleh diriku yang seperti boneka rusak ini.
──Belakangan aku baru tahu bahwa itu adalah emosi yang disebut "amarah".
『......Siapa?』
『Eh......』
『Siapa yang mengatakan hal itu padamu, Iori?』
Aku bisa merasakan ekspresi wajahku perlahan meluntur. Padahal aku ingin tetap menjadi sosok yang manis di depan Iori. Padahal hanya di depannya lah aku selalu bisa tersenyum. Tapi sekarang, aku tidak bisa tersenyum. Bahkan tidak terpikir untuk mencoba tersenyum.
Melihatku yang seperti itu, Iori tampak sedikit ketakutan. Tapi, aku ingin segera tahu. Manusia yang telah menyakiti orang berhargaku. Orang asing yang tidak penting. Orang-orang tak dikenal yang sama sekali tidak membuatku tertarik. Beraninya sampah-sampah itu berniat merebut Iori dariku.
『......Ah......』
──Tidak akan kumeafkan.
Aku segera bisa mengidentifikasi siswa laki-laki yang merundung Iori. Dia adalah seorang siswa bertubuh besar yang merupakan pemimpin di kelas. Orang yang selalu mengajakku bicara dan sangat menggangguku.
『Oi Mizuki! Daripada sama Amano, mending sama aku, jauh lebih seru kan?』
(......Orang ini rupanya.)
Laki-laki menjijikkan yang tersenyum menyeringai itu. Orang inilah yang menyakiti Iori. Gara-gara orang inilah Iori mencoba menjauh dariku.
Emosiku meluap, namun kepalaku terasa dingin. Satu-satunya milikku. Belah jiwaku. Orang ini berniat merebutnya.
(Tidak apa-apa, Iori.)
Aku memikirkan teman masa kecilku yang sangat berharga. Secara alami, sudut bibirku sedikit terangkat.
......Kalau dipikir-pikir sekarang. Mungkin saat itulah "rem" di dalam diriku akhirnya blong.
『Kenapa......! Bu-bukan! Itu bohong! Bukan aku!!』
Hal yang kulakukan sebenarnya sederhana.
Foto dia sedang merundung siswa lain saat pulang sekolah.
Foto dia sedang berlaku kasar pada siswi di tempat tersembunyi.
Foto dia sedang mengutil di minimarket.
Aku memotret, memotret, dan terus memotretnya. Lalu aku menyebarkannya. Di kelas, di lorong, di ruang guru, hingga di toilet.
Hanya itu saja.
『Oi! Ngomong dong! Kalian juga ikutan ngelakuin itu kan!』
Tidak ada yang menolongnya. Tidak ada satu pun orang yang berada di pihaknya.
Si "Raja Telanjang" baru menyadari posisinya yang terdesak setelah sebilah pedang ditodongkan ke lehernya.
『──Nee.』
『っ!? Mi-Mizuki......!』
Dia memanggil namaku. Rasanya mual sekali. Padahal hanya boleh ada satu anak laki-laki yang memanggil namaku.
『Dengar, Mizuki? Tolong jelasin ke mereka. Kau tahu kan? Gak mungkin aku ngelakuin hal kayak gitu!』
『......』
『Se-sebenernya selama ini aku gak bilang, tapi aku suka sama kamu. Jadi......』
Aku menghindari tangannya yang menjulur ingin menggapai, lalu mengucapkan satu kalimat.
『Kamu...... namamu siapa ya?』
『Eh......?』
Aku baru menyadari sekarang. Karena aku hanya menganggapnya sebagai pengganggu, aku bahkan tidak ingat siapa nama siswa ini.
『Hah...... eh......?』
『Selamat tinggal.』
Minggu berikutnya, dia dan antek-anteknya menghilang dari sekolah. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka setelah itu. Aku tidak peduli. Tapi, syukurlah kalau begini.
『──Iori? Sudah tidak apa-apa, kan?』
『Tidak apa-apa gimana...... siapa yang ngelakuin ini?』
『Entahlah. Siapa pun tidak masalah, kan.』
Iori masih tampak cemas. Karena ingin membuatnya tenang, aku memeluknya erat.
Iori yang biasanya malu dan melarikan diri, kali ini diam saja dalam pelukanku. Aku merasa sangat senang. Dan sejak hari berikutnya, Iori kembali seperti biasa. Baik di rumah maupun di sekolah, dia selalu bersamaku. Aku merasa sangat lega. Iori tidak pergi menjauh dariku. Aku benar-benar merasa lega. Dan di saat yang sama, aku meyakini kebenaranku sendiri.
(......Bagiku, cukup ada Iori saja.)
Aku tidak butuh orang lain. Suatu saat nanti, aku pasti akan menciptakan dunia yang hanya berisi kami berdua.
──Itulah yang menjadi impianku.
◇
“......Nnh......”
──Tiba-tiba aku terbangun.
Rasanya aku baru saja memimpikan sesuatu yang sangat kurindukan.
Aku melihat jam, menunjukkan pukul lima pagi. Masih terlalu dini untuk bangun.
“......Ssuuu......”
Aku menurunkan pandanganku, melihat Iori yang tertidur dengan wajah terbenam di dadaku. Saat aku mengusap kepalanya, dia merapat sedikit padaku.
“......Fufu.”
Lucu sekali. Begitu manis.
Ah, akhirnya.
(Akhirnya, kamu mengucapkannya juga ya.)
Rasanya lama sekali. Aku merasakannya dari lubuk hati. Tapi, menunggu itu tidaklah menyakitkan. Bagi kami, hanya ada satu sama lain. Proses apa pun yang dilewati, akhir ceritanya tidak akan berubah.
Meski begitu──aku ingin Iori sendiri yang mengucapkannya. Katakan bahwa kamu mencintaiku. Pilihlah aku di atas segalanya. Dengan begitu, aku pasti bisa mengikat hati Iori jauh lebih dalam lagi.
(......Terima kasih, Kashiwagi-san.)
Alasan Iori bisa memantapkan hatinya adalah berkat gadis itu. Tersentuh oleh perasaan gadis itu, menderita, dan bimbang.
──Lalu, akhirnya dia memilihku.
Jadi, syukurlah gadis itu ada.
Perasaan Iori, pengakuannya, akhirnya aku bisa mendengarnya.
Ah, tapi.
(’Moonlight’...... Tadi sangat indah ya.)
──Ada satu hal yang tersisa, sesuatu yang tidak diperlukan.
Kontes Mister. Piano. Kira-kira, kupikir Iori hanya akan melewatinya begitu saja tanpa gejolak.
『──Juara ketiga, Amano Iori-kun.』
Tapi Iori berusaha keras dan berhasil meraihnya. Dia sudah merasakan bagaimana rasanya sebuah kesuksesan. Mata itu tampak tertarik pada kemungkinan-kemungkinan di masa depan.
(......Tidak boleh, Iori.)
Itu adalah hal yang tidak kamu butuhkan. Sesuatu yang mengganggu masa depan kita. Cukup pikirkan aku saja, itu sudah cukup.
“......Mizuki......?”
Terdengar suara parau. Karena terus kuusap, Iori terbangun. Tapi, itu gawat. Jika dia bangun, Iori pasti akan melarikan diri.
“Jangan. Belum pagi, tahu?”
Aku mendekapnya erat di dadaku, menutup pandangannya. Agar dia tidak melihat apa pun. Agar dia hanya bisa merasakan keberadaanku.
“Selamat tidur.”
“......Nnh.”
Perlahan, deru napas teratur saat tidur mulai terdengar kembali.
......Sekarang masih terlalu dini. Untuk menjadi "hanya berdua saja" dalam arti yang sesungguhnya, waktunya belum tiba.
Aku ingin bukan hanya aku, tapi Iori juga menginginkan hal yang sama.
Jadi, mari menunggu untuk sekarang.
Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, mari kita lelehkan dia. Agar dia tidak bisa hidup tanpaku. Agar dia tidak butuh apa pun lagi selain aku. Akan kulelehkan dia, baik dengan hati maupun dengan tubuhku.
Iori tidak perlu tahu apa-apa. Baik tentang isi hatiku, maupun tentang kenyataan bahwa dirinya telah terperangkap. Tanpa perlu tahu apa pun, biarlah dia tenggelam di dalamnya.
──Karena itulah yang pasti akan menjadi kebahagiaan yang paling indah.






Post a Comment