Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 6
Suatu Saat, Sebelum Pergi Jauh
"......Ternyata, berat juga ya."
Setelah berpisah dengan Kashiwagi-san, aku melangkah pulang sambil memikul barang-barang untuk festival budaya. Karena sekolah sudah dikunci, aku tidak punya pilihan selain membawa barang-barang ini pulang ke rumah.
Sambil mengerang karena beban yang menekan kedua lenganku, aku belajar betapa sulitnya mempertahankan apa yang disebut "harga diri laki-laki".
(Menang melawan Mizuki, ya?)
Aku teringat kembali kata-kata Kashiwagi-san tadi. Aku tidak pernah menyangka akan ada gadis yang memiliki pemikiran seperti itu.
Sejak kecil, Mizuki selalu diperlakukan sebagai "kategori berbeda". Bukan sebagai setara, melainkan pengecualian yang nyata. Bagiku, itu adalah semacam garis pertahanan bagi para gadis lainnya.
"Karena dia spesial."
Dengan meyakinkan diri seperti itu, mereka membenarkan ketidaksanggupan mereka untuk menandinginya. Itu bukan hal yang buruk. Pasti semua orang di dunia ini hidup dengan cara berkompromi seperti itu. Tapi, Kashiwagi-san berbeda. Meski memahami perbedaan jauh di antara mereka, dia tetap ingin menantangnya.
『──Kalau aku lari tanpa melakukan apa pun, aku pasti akan menyesal.』
Kata-kata itu terasa sangat menusuk hatiku.
...Bagaimana dengan diriku? 10 tahun, 20 tahun mendatang. Saat aku menoleh ke masa sekarang, apakah aku tidak akan menyesal?
Beban di kedua tanganku terasa semakin berat. Aku membenarkan peganganku dan berjalan menyusuri jalanan dengan langkah kaki yang berat. Dan, saat aku melewati area pertokoan...
"──Iori-kun?"
Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat akrab menghentikan langkahku. Saat menoleh, aku melihat seorang wanita dewasa yang anggun. Seorang wanita cantik dengan aura yang tenang. Begitu melihat sosoknya, ingatan masa lalu langsung berputar kembali.
"......!"
Kenangan indah, maupun kenangan pahit. Rambutnya sekarang lebih pendek, dan dia tampak sedikit lebih tua dari ingatanku. Namun, aku langsung mengenalinya.
"Sen, sei?"
Suaraku terdengar kaget bin tak percaya. Namun, orang itu tersenyum lembut, persis seperti dalam ingatanku.
"Lama tidak bertemu. Apa kabarmu?"
Ucapnya dengan nada suara yang tidak berubah dari dulu.
──Miyakawa Tokiko. Dia adalah mantan guru pianoku. Terakhir kami bertemu mungkin sekitar satu setengah tahun yang lalu.
"Sudah lama sekali tidak berjumpa."
Siapa sangka aku akan bertemu dengannya di tempat seperti ini.
Padahal aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak berhenti dari kursus piano tepat setelah lulus SMP.
"Sudahlah, jangan bicara seformal itu padaku? Aku jadi sedih mendengarnya."
"M-maaf."
Melihatku yang bersikap agak menjaga jarak, Tokiko-sensei sedikit menurunkan alisnya. Kami sudah saling kenal selama sepuluh tahun sejak aku berusia lima tahun. Bagiku, dia lebih seperti kakak atau orang tua kedua daripada sekadar guru. Seharusnya hubungan kami bukan lagi sesuatu yang membuatku harus sungkan.
...Seandainya saja aku tidak berhenti bermain piano hanya karena keegoisanku sendiri.
"Sepertinya tinggi badanmu bertambah ya?"
"Begitukah?"
"Iya. Dulu kamu memang sudah imut, tapi sekarang kamu benar-benar jadi pemuda yang tampan."
Sensei mengatakannya dengan wajah gembira. Mendengar itu, aku hanya bisa memberikan senyum yang samar.
──Dia tidak berubah. Cantik, tenang, dan lembut. Masih sama seperti saat itu. Aku... dan juga si anak itu, dulu sangat dekat dengannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Iori-kun? Barang bawaanmu kelihatan sangat berat."
Tokiko-sensei menatap kantong-kantong belanjaan yang tergantung di kedua tanganku seperti barbel.
"Festival budaya sudah dekat, jadi ini barang belanjaan untuk itu."
Sambil membenahi pegangan barang yang terasa semakin berat setelah disadari, aku menjawab. Mendengar itu, mata Sensei entah kenapa berbinar.
"Festival budaya! Bagus ya, terasa sekali aura masa mudanya."
"Bukan sesuatu yang luar biasa, sih. Ya, paling tidak aku harus menyelesaikan tugas minimal yang diberikan."
"Begitu ya. Fufu, kamu masih tetap mementingkan efisiensi seperti dulu ya."
Melihat Sensei tertawa, akhirnya aku pun bisa ikut tersenyum. Tadinya aku berniat untuk tidak bertemu dengannya lagi, tapi aku merasa lega bisa mengobrol seperti dulu begini. Kalau saja teman masa kecilku itu ada di sini, pasti pembicaraan kami akan lebih seru.
"Kalau begitu... saya pamit duluan."
Kurasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Saat aku hendak berbalik...
"Iori-kun."
"......Ya?"
Namaku dipanggil, aku pun menoleh kembali. Tokiko-sensei menatapku dengan tatapan yang sedikit sedih.
"──Apakah kamu masih rajin bermain piano?"
Dia menanyakannya dengan nada yang terdengar pilu. Aku menunduk, kesulitan mencari kata-kata. Sekarang semuanya sudah berbeda. Hanya karena Mizuki merasa senang, aku tidak lagi memiliki semangat yang cukup untuk terus memainkannya.
"Kalau sesekali saja, sih..."
"Begitu ya."
Ekspresi Sensei sesaat tampak mendung. Aku yakin, dia pasti sedang mengingat hal yang sama denganku. Kompetisi pertama itu. Kekalahan yang memalukan itu.
"Tapi jangan begitu. Kamu harus meluangkan waktu sedikit saja untuk berlatih setiap hari, kalau tidak, kemampuanmu akan tumpul, lho?"
"Dari awal, kemampuan saya juga tidak sehebat itu."
Mungkin terdengar tidak sopan mengatakannya di depan orang yang mengajariku. Tapi kenyataannya, aku memang tidak punya bakat yang luar biasa. Hanya karena beliau yang mengajariku, aku jadi bisa bermain setingkat orang rata-rata. Cuma sebatas itu.
"Begitukah? Padahal aku suka, lho. Piano buatan Iori-kun."
Melihat Sensei tetap tersenyum begitu, aku merasa sangat rindu.
『Iori-kun pintar ya! Nada yang barusan bagus sekali.』
Lagu piano-ku yang biasa saja selalu dipuji dengan gembira oleh orang ini. Aku bisa bertahan bermain piano selama sepuluh tahun, pasti berkat beliau.
"Bukan soal teknik atau selera, tapi karena perasaanmu yang berusaha keras demi gadis yang kamu sukai itu sangat tersampaikan."
"......Tolong, jangan bahas itu lagi."
Memalukan sekali.
Aku memegangi kepalaku. Aku benar-benar merasa kalau "kenalan lama" itu sangat merepotkan, sama seperti Mizuki.
"Kapan-kapan, mampirlah lagi ke tempat kursus, ya? Tentu saja, ajak Mizuki-chan juga."
"Anu...... iya. Kapan-kapan."
"Iya, aku menantikannya."
Sebuah jawaban yang ambigu. Namun, Sensei hanya tersenyum tanpa mendesak lebih jauh.
"Iori-kun."
"...?"
"Soal Piano. Kalau kamu ingin mulai serius lagi, hubungi aku kapan saja, ya."
"......"
Meninggalkan kata-kata itu, Tokiko-sensei pun pergi. Meskipun disuruh menghubungi, aku sudah tidak punya niat untuk melakukannya dengan serius lagi sekarang.
Aku menghela napas, dan seiring dengan beban di kedua lengan yang kembali terasa, aku pun melanjutkan perjalanan pulang.
◇
"──Selamat datang di rumah."
Saat aku sampai di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat. Mizuki menghentikan aktivitas memasaknya di dapur dan menoleh ke arahku.
"Kamu bawa pulang sampai ke rumah?"
Mizuki memiringkan kepalanya melihat barang-barang bawaan di kedua tanganku.
"Ya, begitulah."
"Padahal bisa dikirim ke sekolah saja."
"Sebagian besar sudah dikirim. Ini cuma barang yang sepertinya akan segera dipakai."
Bruukk. Aku meletakkannya dengan kasar di lantai. Beban di tanganku terlepas, membuat tubuhku terasa ringan seketika. Aku menghela napas lega. Yah, besok aku harus membawanya lagi ke sekolah, sih.
......Meski begitu.
(Ternyata dia tidak bertanya apa-apa, ya.)
Tentang kejadian di mal tadi. Aku sudah bersiap-siap kalau dia akan mengatakan sesuatu. Padahal tidak ada yang perlu disembunyikan, dan tidak ada hal penting yang bisa diceritakan. Tapi, untuk mengalihkan rasa canggung, aku mencoba membuka topik lain.
"......Tadi aku bertemu Tokiko-sensei."
Mendengar itu, mata Mizuki sedikit membelalak.
"Eh, Sensei?"
"Iya."
"Begitu ya. Jadi rindu, ya."
Mizuki meletakkan piring yang sudah dikeringkan ke rak, berbalik menghadapku, dan tersenyum tipis.
"Apa beliau sehat?"
"Iya. Katanya beliau ingin kita mampir lagi ke tempat kursus."
"Begitu. Kalau begitu, kapan-kapan kita harus berkunjung. Bagaimana denganmu, Iori?"
"Aku......"
Bagaimana ya.
Sejujurnya ada perasaan malu, "mau ditaruh di mana mukaku ini" setelah berhenti begitu saja. Tapi di sisi lain, ada keinginan di dalam hatiku untuk kembali ke tempat yang penuh kenangan itu.
"Dasar keras kepala."
"Berisik."
"Sensei dulu sangat menyayangimu, Iori. Beliau pasti senang kalau kamu datang."
"......Aku tahu."
Aku tahu kalau orang seperti beliau pasti akan tertawa dan menyambutku seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Interaksi singkat tadi sudah cukup membuktikannya.
Mizuki duduk di sampingku di sofa. Tercium aroma manis yang lembut.
"Aku juga akan menemanimu pergi ke sana."
"......"
Sok mau jadi wali-ku ya?
Aku ingin membalas begitu, tapi aku merasa itu malah akan membuatku terjebak dalam situasi yang lebih sulit, jadi aku urungkan.
Aku melirik wajah Mizuki yang sedang tersenyum. Saking cantiknya, terkadang wajah itu terlihat menakutkan. Dia jauh lebih anggun, terlihat lebih dewasa, dan lebih cantik dibanding saat SMP dulu.
(Kira-kira apa yang akan dikatakan beliau kalau melihatnya sekarang?)
Kecantikan yang sanggup membuat siapa pun terpesona dan kehilangan kata-kata. Tapi pasti, beliau akan...
『Ara ara, kamu jadi semakin cantik ya, Mizuki-chan.』
Pasti hanya akan berkomentar santai seperti itu. Beliau tidak akan merasa minder atau gemetar melihat kecantikan luar biasa ini, melainkan akan senang seperti melihat putrinya sendiri. Karena beliau memang orang seperti itu. Itu sebabnya Mizuki juga bisa terbuka padanya.
"......Sepertinya aku memang harus setidaknya menampakkan muka di sana."
"Iya."
Lalu, aku akan meminta maaf. Karena saat itu aku mengabaikan permintaannya untuk tetap tinggal.
Wajah Sensei yang tersenyum sambil berkata 『Tidak apa-apa kok』 terbayang di kepalaku, dan aku pun tertawa kecil.
──Setelah menyantap hamburger untuk makan malam, waktu berlalu seperti biasanya. Aku bermain piano sebagai ganti belajar, sementara Mizuki membaca buku di sofa. Lagu untuk kontes nanti masih belum diputuskan. Meski begitu, aku terus menggerakkan jari-jariku, mencoba mengembalikan sensasi sentuhan seperti masa dulu.
(Tapi, seberapa pun sensasiku kembali, kalau lagunya belum diputuskan juga percuma.)
Tidak ada jalan keluar.
Aku punya beberapa kandidat lagu, tapi tidak ada satu pun yang terasa pas. Namun, aku juga tidak berniat untuk sekadar berkompromi. Aku benar-benar buntu.
"──Aku pulang sekarang ya."
Saat aku tenggelam dalam pusaran pikiran, suara itu terdengar. Aku menoleh dan melihat Mizuki sudah menutup bukunya dan mulai merapikan barang-barangnya.
Melihat jam, ternyata sudah lewat pukul 10 malam. Biasanya Mizuki memang pulang ke rumah sebelah sekitar jam begini. Jadi tidak ada yang aneh. Itu adalah rutinitas biasa, tapi...
"Mizuki."
Entah kenapa, aku memanggilnya. Mizuki pun berbalik tanpa suara.
(Kenapa aku memanggilnya?)
Itu terjadi begitu saja secara spontan.
Aku sendiri tidak begitu paham. Mizuki yang berbalik menatapku dengan heran karena aku malah terdiam.
"Ada apa?"
"E-enggak... maaf. Bukan apa-apa."
'Mau ngomong apa tadi ya?' pikirku sambil menggelengkan kepala.
Mizuki memiringkan kepalanya menatapku. Kupikir dia akan langsung pulang, tapi entah kenapa dia tetap diam di sana dan menatapku lekat-lekat.
"Iori."
"Ya?"
Saat aku menyahut dengan nada sedikit ketus...
"──Apakah Kashiwagi-san menyatakan cintanya padamu?"
Satu kalimat itu membuat waktuku seolah berhenti.
"......Hah?"
Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna arti kata-katanya.
Sebuah pertanyaan yang muncul tanpa konteks, namun terdengar sangat yakin melebihi apa pun.
"Kenapa... bisa tahu?"
"Kalau diperhatikan, kelihatan kok."
Dia mengatakannya seolah itu adalah hal yang sangat wajar. Nada bicaranya begitu santai sampai aku curiga apakah aku yang aneh karena merasa sangat terguncang. Padahal aku tidak bilang apa-apa pada Mizuki. Namun suara Mizuki penuh keyakinan. Seperti sedang menunjukkan sebuah fakta belaka. Begitulah nadanya.
Aku bimbang harus bicara apa... dan akhirnya aku menyerah untuk berpura-pura.
"......Iya. Dia menyatakannya."
"Begitu ya."
Begitu aku mengakuinya, Mizuki mengangguk tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.
"Iori, apa yang akan kamu lakukan?"
"......"
Apa yang akan kulakukan. Tanpa perlu berpikir pun aku tahu apa maksud pertanyaannya.
Apakah aku akan menerimanya? Atau menolaknya? Dan jika aku menerimanya, apa yang akan terjadi dengan hubunganku dengan teman masa kecilku ini?
Suara di ruangan itu menghilang. Keheningan itu terasa sangat menyesakkan.
Melihatku yang terdiam membisu, Mizuki...
"Selamat malam, Iori."
Dia mengucapkannya dengan nada lembut seperti biasanya, lalu keluar dari ruangan.
◇
──Dan kemudian, keesokan paginya.
"......?"
Begitu aku bangun dan kesadaranku mulai pulih sepenuhnya, aku merasakan ada sesuatu yang janggal.
Di dalam rumah terasa sangat sunyi. Biasanya, meskipun aku berada di kamarku di lantai dua, meski tidak terdengar suaranya, aku bisa merasakan kehadirannya. Namun sekarang, perasaan itu tidak ada. Sesuatu yang seharusnya ada, kini menghilang.
Merasa janggal, aku pun beranjak dari tempat tidur. Aku keluar kamar dan menuruni tangga. Lalu, saat aku membuka pintu ruang tamu...
"Mizuki?"
...Sosok yang kucari tidak ada di sana.
Tidak ada suara yang menyapa "Selamat pagi, Iori" seperti biasanya. Tidak tercium aroma sedap dari dapur, pun tidak ada suara pisau yang memotong sayuran.
Rumah ini seolah kosong melompati kenyataan. Padahal posisi furnitur maupun letak bumbu di dapur tidak ada yang berubah sedikit pun. Hanya karena satu orang tidak ada, tempat ini jadi terlihat sangat sepi dan dingin.
(Apa dia kesiangan... ah, nggak mungkin.)
Mustahil. Aku belum pernah melihatnya kesiangan seumur hidupku. Meski begitu, aku tetap berpikir kemungkinan terburuk.
Aku berganti pakaian olahraga dan keluar rumah.
Ting tong.
"......?"
Aku menekan bel rumah sebelah beberapa kali. Namun tidak ada jawaban. Malah, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Orang tua Mizuki memang biasanya tidak ada di rumah. Jadi kalau ada orang, seharusnya cuma Mizuki.
"Dia nggak ada, ya."
Berarti, dia sudah berangkat ke sekolah?
Tanpa mampir ke rumahku, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"......"
Aku membuka ponsel, bimbang apakah harus mengirim pesan atau tidak. Tapi akhirnya aku mengurungkan niat itu. Karena entah kenapa, aku sudah bisa menebak alasannya.
(Jadi maksudnya, sampai aku memberikan jawaban, ya?)
Maksudnya adalah agar aku berpikir sendiri dan memutuskannya dengan benar. Pasti memang begitu alasannya.
Aku menyimpan ponselku, menghela napas pelan, lalu membalikkan badan meninggalkan rumah Mizuki.
◇
"Oi, Iori. Kerja bagus buat belanjanya kemarin."
"Ya."
Sesampainya di sekolah, aku meletakkan barang bawaan yang berat itu ke atas meja dengan suara bruk. Renji menatapku sambil menyeringai jahil.
"Jadi, gimana? Kencanmu sama Kashiwagi-san?"
"Biasa saja, nggak ada apa-apa."
"Bohong. Pasti ada sesuatu, kan? Kelihatan tuh di wajahmu."
Renji terus mendesak. Kata-katanya membuatku teringat percakapan dengan Kashiwagi-san kemarin.
『Jawaban untuk pernyataanku kemarin. Bisakah kamu memikirkannya sekali lagi setelah melihatku di kontes Miss nanti?』
(Berarti setelah kontes berakhir, ya...)
Benar-benar deh, ini dan itu semuanya cuma bikin sakit perut saja.
"Oi, Iori! Jangan masuk ke duniamu sendiri dong. Laporan itu penting, tahu!"
Aku mengabaikan Renji yang mengguncang bahuku. Saat ini ada yang lebih penting.
"──Ah, Yukimura-san! Soal baju maid ini..."
Dia ada di sana. Mungkin dia baru saja dari kamar mandi; tepat saat dia masuk ke kelas, Mizuki langsung dikerumuni oleh siswi-siswi lain. Melihat sosoknya, aku tanpa sadar menghela napas lega. Aku sempat membayangkan kemungkinan terburuk bahwa dia tidak akan masuk sekolah, tapi syukurlah itu tidak terjadi.
Mizuki bersikap seperti biasanya, sebagai primadona sekolah. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Benar-benar "Yukimura Mizuki " yang seperti biasa.
"Oi, jangan cuekin aku dong, Iorin! Eh, mau ke mana?"
"Toilet."
Aku memberi alasan singkat lalu beranjak dari kursi. Di koridor, dekorasi untuk festival budaya sudah mulai dipasang. Semua orang tampak bersemangat, sibuk namun terlihat senang.
"Ah, Amano-kun!"
Saat itu, aku menoleh karena ada suara yang memanggil dari samping. Ternyata gadis cantik berambut cokelat sebahu.
"Pagi. Hari ini kamu agak telat, ya?"
"Hm, pagi. Tadi agak kesiangan."
Di tangan Kashiwagi-san ada sesuatu yang tampak seperti katalog baju maid. Sampulnya memperlihatkan baju maid yang sangat heboh dengan banyak renda.
Eh, beneran mau pakai itu? batinku sambil memasang wajah datar.
Kashiwagi-san yang melihatku langsung membuang muka dengan canggung.
"Itu kandidat baju maid-nya?"
"I-iya... sepertinya semua orang punya selera masing-masing."
Aku melirik ke dalam kelas. Terdengar perdebatan seperti:
"Kamu mau kasih Yukimura-san baju murah begini!?"
"I-iya tapi kan anggarannya..."
"Minta saja dari dompet Miyama-kun! Kan dia pencetusnya!"
"Tunggu dulu, kok jadi aku!?".
Sebagai tenaga inti di festival ini, para siswi harus membagi fokus antara persiapan Kontes Miss dan Maid Cafe. Terutama Kashiwagi-san yang juga ikut kontes; jadwalnya pasti sangat padat.
"Sepertinya berat ya mengerjakan keduanya sekaligus."
"Eh? Ah, iya sih. Untuk Maid Cafe nggak masalah, tapi... itu, yang kontesnya itu lho?"
"Ah..."
Aku tidak tahu apa yang akan dia tampilkan, tapi sepertinya progresnya kurang lancar.
Sebenarnya, aku juga dalam posisi yang sama. Sampai sekarang lagu pun belum diputuskan. Meskipun aku sudah mulai berlatih di waktu luang dan kemampuanku sudah lumayan kembali, waktu yang tersisa kurang dari tiga minggu. Kalau dipikir-pikir lagi, ini gawat sekali. Bisa-bisa aku mempermalukan diri sendiri di panggung nanti.
Kashiwagi-san yang melihatku berkeringat dingin memiringkan kepalanya.
"Kalau Amano-kun sendiri gimana?"
"......Jujur, gawat banget."
Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk menutup-nutupinya. Kashiwagi-san tampak ikut cemas mendengar kejujuranku. Dia menepuk bahuku seolah ingin menyemangati.
"Anu, kalau ada yang bisa kubantu, bilang ya? Siapa tahu aku bisa berguna."
"Iya... terima kasih."
Perhatian Kashiwagi-san benar-benar menyentuh hati.
Setelah berpamitan, dia kembali bergabung dengan kelompok yang sedang berdebat seru apakah baju maid harus berwarna hitam atau putih. Aku menghela napas panjang melihatnya.
『──Apakah Kashiwagi-san menyatakan cintanya padamu?』
Percakapan kemarin kembali terngiang di kepalaku.
── Sore hari itu, sepulang sekolah.
"Mizuki."
"Ya."
Aku mengirim pesan lewat LINE untuk memanggil Mizuki ke tempat parkir yang agak jauh dari sekolah. Aku sempat ragu dia akan datang, tapi ternyata pesanku langsung dibaca dan dia datang tanpa keberatan.
【Pulang sekolah, ada yang mau kubicarakan sedikit.】
【Iya, oke.】
Seolah dia sudah tahu apa yang akan kutanyakan, Mizuki langsung setuju saat aku memberitahu tempat dan waktunya. Kini kami berdiri berhadapan di tempat parkir. Di bawah kibasan rambut hitamnya yang indah, aku berusaha tetap tenang dan bicara.
"Alasan kamu nggak mampir tadi pagi... apa karena soal Kashiwagi-san?"
Sebenarnya tidak perlu ditanya lagi. Tapi saat aku mengonfirmasinya, Mizuki mengangguk pelan.
"Iya."
Tidak ada rasa terkejut. Perasaanku terasa datar, hanya gumaman 'ternyata benar' dalam hati.
"Kupikir, akan lebih baik kalau aku tidak ada di sana."
Dia mengatakannya dengan mata yang jernih. Nada bicaranya datar, seolah tak ada keraguan maupun rasa kesepian di sana. Bayangan ruangan kosong yang hampa pagi tadi terlintas sejenak di benakku.
"Lagipula, meski Kashiwagi-san menyatakan cintanya padaku, bukan berarti ada yang bakal berubah, kan?"
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, aku sendiri membatin, 'nggak mungkinlah'.
Benar saja, Mizuki hanya menatapku lekat-lekat. Seolah dia bisa melihat menembus semua gertakan sambalku.
"Kita tidak bisa selamanya tetap seperti sekarang."
Kalimat itu membuatku mendongak. Mizuki mengucapkannya seolah sedang menutup semua jalan pelarianku.
"Baik aku, maupun kamu, Iori."
Nada suaranya tetap sama seperti biasanya; lembut, dan hanya ditujukan untukku.
Dia menatapku dengan sorot mata yang tenang dan teduh.
"Jadi, kamu harus memutuskannya dengan benar, ya?"
Aku terdiam sejenak mendengar kata-katanya.
"......Iya. Aku mengerti."
Aku mengangguk. Mizuki membalas dengan senyuman, lalu berbalik dan berjalan kembali menuju gedung sekolah.
◇
"I-o-ri-kuun."
"......"
"Oooii, denger nggak sih? Payah. Orangnya sudah mati."
"......Apaan sih."
Sepulang sekolah. Aku mengangkat wajahku perlahan yang sedari tadi terbenam di atas meja. Ternyata wajah Renji ada di jarak yang lebih dekat dari dugaanku. Refleks aku melayangkan karate chop, tapi dia menghindar dengan enteng. Aku jadi agak sebal.
"Apaan 'apaan sih'. Kau sakit kah? Ini sudah jam pulang sekolah, lho."
"Nggak."
Kondisi fisikku tidak masalah. Hanya saja, mentalku sedikit lelah. Menjelaskannya pada Renji pun percuma, dan kalau bisa, saat ini aku ingin sendirian.
"Dasar. Aku nggak tahu ada masalah apa, tapi kalau kau nggak sakit,
mending ikut aku sebentar. Ada tontonan seru nih."
"Tontonan seru?"
"Tuh, liat di luar jendela."
"......?"
Karena didesak, aku melihat ke luar jendela. Ternyata sudah ada kerumunan orang di sana. Kupikir itu persiapan festival budaya, tapi suasananya terasa berbeda.
Ada orang-orang yang membawa kamera profesional, dan orang-orang yang sekali lihat saja sudah ketahuan kalau mereka bukan warga sekolah. Para murid menonton mereka dari kejauhan.
"Itu apaan?"
"Sudah, ikut aja. Nanti juga tahu."
Lengan ditarik paksa oleh Renji, dan aku pun diseret menuju lapangan sekolah.
──Sesampainya di lapangan, tempat itu ternyata jauh lebih ramai dari dugaanku. Dari kelas 1 sampai kelas 3, terutama murid laki-laki, memenuhi area tersebut.
Sambil dicengkeram lenganku, Renji membelah kerumunan untuk membawaku ke depan. Dan di sana, di ujung kerumunan itu──
Cekrek. Cekrek......!
"Selanjutnya, tolong arahkan pandangan ke sini!"
"Pose yang itu sudah bagus! Ah, tapi kalau bisa sedikit tersenyum....!"
Suara orang dewasa yang lantang. Kebisingan dari para murid yang kegirangan. Semua suara itu terasa menjauh, seolah aku terpisah oleh sekat kaca tebal. Lampu kilat kamera menyala tanpa henti. Dan sosok yang berada di depannya adalah...
"──"
(......Mizuki.)
Rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin. Kecantikannya yang tampak tidak nyata itu benar-benar seperti sebuah lukisan. Jangankan fotografer profesional, siapa pun pasti ingin mengabadikannya dalam foto. Buktinya, sejak tadi orang-orang di sekeliling sibuk mengarahkan ponsel mereka, sementara para guru berusaha keras menahan mereka.
"Katanya buat foto promosi sekolah," gumam Renji yang berdiri di sampingku.
"Mau dipasang di website atau pamflet gitu. Yah, nggak heran sih kalau mereka milih dia."
Renji berkata sambil menggaruk kepala dengan tawa kecut.
Foto promosi. Dengan kata lain, pekerjaan sebagai model. Padahal selama ini Mizuki selalu mengabaikan tawaran scout mana pun dan tidak menunjukkan minat sedikit pun pada dunia hiburan.
"Yukimura-san setuju?"
"Hm? Oh, katanya wali kelas sama kepala sekolah kita yang minta tolong sampai segitunya. Aku denger-denger sih dia sebenernya terpaksa."
"......Begitu ya."
Aku benar-benar tidak tahu soal ini, pikirku. Di rumah pun dia tetap bersikap biasa saja. Apakah dia merasa tidak perlu memberitahuku... atau dia sengaja tidak memberitahunya?
『Gila ya, Yukimura-san emang nggak normal cantiknya.』
『Iya, kelewat cantik. Kemarin aku coba nyapa modal nekat, eh malah nggak berani natap matanya.』
『Emangnya dia nggak jadi model selama ini? Kenapa coba?』
Kebisingan itu terdengar di telingaku. Suara-suara yang memuji Mizuki, dan di saat yang sama, suara-suara yang merasa heran kenapa selama ini dia tidak pernah "terbang tinggi" meninggalkan statusnya sebagai siswi biasa.
Mendengar itu, aku merasa wajahku menegang.
"Bisa dibilang, ini sebuah keajaiban."
"......?"
"Bahwa gadis seperti dia bukan siapa-siapa, hanya seorang siswi SMA biasa."
Arti kata-kata Renji merasuk ke dalam benakku, padahal aku sama sekali tidak ingin memahaminya.
Keajaiban. Itu benar. Gelar klise seperti "Primadona Sekolah" sebenarnya tidak cukup untuk menampungnya.
Sepertinya Renji memikirkan hal yang sama, dia pun menghela napas.
"Tapi mungkin masa-masa itu akan berakhir. Begitu fotonya muncul di pamflet, dia akan dilihat oleh banyak orang."
"......Ya."
"Aku tahu suatu saat bakal jadi begini, tapi... rasanya kok kesepian ya. Kayak perasaan idola kesayangan kita pergi menjauh ke tempat yang tak tergapai."
Renji mengatakannya sambil tertawa, tapi aku sama sekali tidak bisa ikut tertawa.
Pergi menjauh.
Kata-kata itu merayap di sekujur tubuhku seperti racun. Aku sudah tahu. Seperti kata Renji, cepat atau lambat dia pasti akan pergi menjauh. Hari ini hanyalah awal dari segalanya.
"Mungkin ini malah lebih lambat dari dugaanku."
"Hah?"
"Bukan apa-apa."
Waktu penangguhan yang diberikan sudah terasa terlalu lama.
Aku mengedikkan bahu, lalu berbalik arah.
"Oi, Iori. Mau ke mana kau?"
"Sudah cukup lihatnya. Aku pulang."
Aku mengabaikan suara Renji yang mencoba menahanku. Aku membelah kerumunan murid dan keluar dari sana. Tak ada gunanya melihat lebih lama lagi.
Hari yang kuprediksi akan datang, akhirnya tiba. Hanya itu saja. Meski mencoba meyakinkan diri sendiri, bagian dalam dadaku terasa perih.
(──Pasti, aku akan menyesal.)
Jika aku tetap tidak melakukan apa-apa seperti ini, pasti akan menyesal. Hal itu benar-benar kupahami, suka atau tidak.
◇
"......Baiklah."
Begitu sampai di rumah. Di ruang tamu yang tentu saja kosong, aku duduk di depan piano dan berpikir.
Kontes Mister, lagu, sesuatu yang mencolok.
Pikiranku berputar-putar. Dengan terus berpikir, aku mencoba mengalihkan kegelisahan.
──Saat ini, aku tidak ingin memikirkan tentang Mizuki. Karena itulah aku memikirkan tentang lagu yang menjadi masalah mendesak... tapi sebanyak apa pun aku berpikir, aku tidak menemukan sesuatu yang sreg. Namun aku sudah tidak punya waktu lagi. Tinggal tiga minggu tersisa, jujur saja aku tidak yakin apakah lagu yang bisa kumainkan sekarang pun akan sempat dikuasai.
"Ah, makan malam."
Aku melihat jam dan tersadar.
Benar juga, karena Mizuki tidak ada, mulai sekarang aku harus menyiapkan makanan sendiri. Bukannya aku tidak bisa masak sama sekali. Tapi kalau dibandingkan dengan masakan Mizuki, perbandingannya seperti restoran Perancis bintang tiga dengan gerai nasi sapi cepat saji. Tidak, mungkin tidak sejauh itu juga sih.
(Ada bahan apa ya?)
Aku mengecek kulkas. Ada daging babi, daging ayam, kubis, selada,
bawang bombay, wortel, dan bayam. Lengkap semua. Kalau cuma tumis sayur sepertinya bisa.
Aku mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas seadanya. Menungkan minyak ke wajan, membakar daging seadanya. Membuat saus dari bumbu yakiniku dan kaldu ayam, lalu mencampurnya dengan sayuran yang sudah dipotong.
Masakan laki-laki yang mementingkan efisiensi. Aku menatanya di meja ruang tamu bersama nasi. Selesai.
"Selamat makan."
Aku bergumam sendiri di rumah yang tak ada jawaban.
Aku mencicipi tumis sayurnya. Hmm, lumayan enak. Masakan Mizuki yang penuh persiapan memang enak, tapi sesekali makan makanan simpel yang enak begini juga boleh.
...Tidak.
(Bukan ‘sesekali’, kan?)
Mungkin mulai sekarang, ini akan menjadi hal yang biasa. Di rumah yang tidak ada siapa-siapa, memasak sendiri, dan makan sendiri. Tidak ada orang yang membuatkan makanan hangat, tidak ada teman untuk saling memuji rasa masakan. Begitu memikirkan itu, tumis sayur di mulutku tiba-tiba terasa hambar.
Begitu ya. Jadi begini rasanya hidup sendirian. Aku benar-benar merasakannya sekarang.
──Apa yang sedang dilakukan Mizuki? Apakah dia juga sedang makan sendirian di rumah sebelah yang dingin itu?
Aku meraih ponsel di atas meja. Tapi sebelum mengetik apa pun, aku meletakkannya kembali. Mengaku kalau aku kesepian... rasanya aku tidak sanggup mengatakannya.
"......Remot."
Entah kenapa aku butuh suara. Aku mencari remot dan menyalakan televisi. Yang pertama muncul adalah acara komedi yang berisik. Langsung kuganti.
Berita perselingkuhan artis. Ganti.
Pertandingan bisbol. Ganti.
Dan kemudian......
"......Hmm?"
Yang muncul di layar adalah seorang pianis terkenal Jepang yang bahkan aku pun tahu. Dia duduk di depan piano, meletakkan jemarinya di atas tuts, dan tak lama kemudian, jemari itu mulai bergerak dengan lincah. Sebuah lagu yang menggebu-gebu, namun di saat yang sama menyimpan rasa tragis yang mendalam. Lagu itu tak lain adalah...
"'Moonlight Sonata', ya."
Beethoven. Piano Sonata No. 14.
'Moonlight – Bagian Ketiga'.
Bagiku, itu adalah lagu yang memiliki kenangan mendalam, dalam "artian yang buruk".
(Rindu juga ya.)
Trauma itu sudah cukup mereda hingga aku bisa merasa rindu.
Meski begitu, pemandangan pada momen itu masih teringat jelas sampai sekarang.
『Iori-kun.』
『......Sensei.』
『Tidak apa-apa. Kalau Iori-kun, pasti bisa. Percaya dirilah.』
『Baik.』
10 tahun adalah waktu yang kuhabiskan belajar piano dari Tokiko-sensei. Selama itu, beliau berulang kali menyarankanku untuk ikut kompetisi, tapi aku selalu menolaknya.
──Asalkan Mizuki yang mendengarkannya, itu sudah cukup.
Saat itu, itulah isi hatiku yang sebenarnya.Namun, di tahun terakhir...
『Sensei. Saya rasa, saya akan mencoba ikut kompetisi.』
『Eh... benarkah!? Syukurlah! Ayo kita lakukan!』
──Aku memutuskan untuk menantang diriku sendiri.
Selain karena dorongan Sensei, alasan terbesarnya adalah karena aku ingin menguji diri. Sampai sejauh mana aku bisa melangkah? Bisakah aku menjadi "spesial" seperti teman masa kecilku itu?
Akhirnya diputuskanlah sebuah kompetisi dengan skala yang agak tidak sesuai dengan kemampuanku. Lagu yang kupilih adalah──"Moonlight Sonata".
Berbeda dengan bagian pertama dan kedua yang temponya lambat, bagian ketiga yang menuntut arpeggio cepat, ketelitian, kekuatan, serta stamina, benar-benar berada di tingkat kesulitan yang jauh berbeda. Meski begitu, aku sudah bermain piano selama sepuluh tahun. Aku punya kepercayaan diri untuk menguasainya. Setelah mendapat restu dari Sensei, aku berangkat bertarung dengan persiapan yang matang.
Tapi──
『......!』
Gak.
Jariku tersimpul. Nada terputus, dan saat aku panik menekan tuts, suara yang keluar benar-benar sumbang. Pikiranku mendadak kosong. Kebisingan di aula terdengar sangat keras di telingaku. Tanganku berhenti. Tanpa sadar aku mengedarkan pandangan ke arah penonton; mereka menatapku dengan penuh tanya. Wajah Sensei tampak pucat pasi. Dan... sosok gadis cinta pertamaku, hanya diam menatapku lekat-lekat.
『A──』
Setelah itu, aku tidak bisa membunyikan satu nada pun.
Satu-satunya tantangan yang kuambil, berakhir dengan kekalahan yang sangat tragis.
"......Fuuuh."
Aku sengaja membuang napas untuk menenangkan hati.
Setelah kejadian itu, apa yang kulakukan ya?
Aku menggelengkan kepala, menyadari bahwa aku baru saja mengingat hal yang buruk. Sepertinya kejadian hari itu menjadi trauma yang lebih dalam dari yang kukira.
(Tapi... Moonlight, ya?)
Pilihan itu tidak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Pasti secara tidak sadar aku telah menguburnya dalam-dalam. Padahal, tidak ada lagu lain yang memberikan dampak sekuat ini jika dimainkan di Kontes Mister.
『──Kurasa tidak ada salahnya mencoba dengan sungguh-sungguh, setidaknya sekali.』
Aku teringat kata-kata Manajer.
(Seandainya, kali ini aku berhasil memainkannya sampai tuntas...)
Apakah ada sesuatu dari diriku yang akan berubah? Aku tertawa kecut pada pemikiran yang tidak mirip diriku itu.
Sudah satu setengah tahun aku menjauh dari piano. Meskipun sesekali masih bermain, kemampuanku jelas sudah tumpul dibanding masa SMP dulu. Padahal saat masih belajar secara serius saja aku berakhir kacau begitu. Apa mungkin aku bisa mengejarnya dengan berlatih sekarang? Rasionalitasku memprotes. Tapi...
『──Bisa dibilang ini sebuah keajaiban. Bahwa gadis seperti dia bukan siapa-siapa, hanya seorang siswi SMA biasa.』
Pasti, waktunya sudah tidak banyak lagi. Tanpa perlu dikatakan Renji pun aku tahu. Entah itu untuk menyerah atau membereskan penyesalan yang tersisa, inilah kesempatan terakhirku.
"Ya... kalau memang ini yang terakhir."
Mungkin tidak ada salahnya mencoba sekali lagi.
Jika aku gagal lagi, aku akan menyerah sepenuhnya pada semuanya.
Tapi jika aku berhasil melampaui trauma ini...
(Yah, meski kurasa ini akan sangat berat.)
Aku merogoh ponsel dari saku. Mencari nomor yang selama ini selalu kuhindari di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil dengan tekad yang sudah bulat.
"──Sensei? Iya, ini Iori. Anu, ada sesuatu yang ingin saya minta tolong..."
Aku akan lakukan apa pun yang kubisa.
Setelah membulatkan hati, aku memutuskan untuk mengerahkan seluruh tenagaku selama tiga minggu yang tersisa.



Post a Comment