NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Baito Saki ga Make Heroine-tachi no Tamariba ni natta V1 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Masa Puber dan Choroin

Segera setelah jam istirahat makan siang dimulai, Yuu memanggil Nijimura. Ia mengatakan ingin bicara di tempat yang tidak mencolok alih-alih di ruang kelas. Meski sempat bingung, Nijimura menunjukkan senyum ramahnya dan menuntun Yuu ke sebuah ruang penyimpanan yang menjadi markas "Klub Penggemar Rumor".


Di bagian dalam ruangan yang memanjang itu, terdapat satu meja dan dua kursi yang diletakkan dalam posisi berantakan. Kondisinya tidak bisa dibilang rapi; gumpalan debu tampak bergulingan di lantai.


Atas ajakan Nijimura yang sudah duduk duluan, Yuu merapikan posisi kursi lainnya lalu ikut duduk. Di hadapannya, mata Nijimura berkilat penuh rasa ingin tahu.


"Jadi, ada urusan apa? Diajak bicara duluan oleh Shikura adalah kejutan terbesar bagiku akhir-akhir ini. Apalagi kau tidak ingin didengar orang lain, aku jadi punya ekspektasi tinggi, nih. Boleh, kan?"


"Aku tidak tahu apakah bisa memenuhi ekspektasimu atau tidak."


Yuu memberikan kata pengantar sebagai jaminan agar tidak dianggap sedang berlagak.


"Soal Kengamine-san yang kita bicarakan kemarin. Itu aku."


Saat Yuu mengungkap kebenaran secara langsung tanpa bertele-tele, mata dan mulut Nijimura membulat. Melihat reaksi terkejut yang begitu klise, Yuu merasa risi dan memalingkan wajah.


"Kau kaget?"


"......Ya, aku benar-benar kaget. Walaupun dari kejadian kemarin aku sudah bisa menebak-nebak, sih."


"Sudah kuduga begitu, ya."


"Tak kusangka Shikura akan mengaku sendiri. Ada apa?"


Nijimura mencondongkan tubuhnya; ekspresinya mungkin terdiri dari dua puluh persen rasa khawatir dan delapan puluh persen rasa penasaran.


"Sangat sulit untuk terus menyembunyikannya, dan cepat atau lambat kau pasti akan mencium baunya. Jadi kupikir lebih baik aku sendiri yang berterus terang. Kau bilang tidak akan membocorkannya, kan?"


"Heh. Ternyata kau cukup memercayaiku, ya."


"Selain itu, kupikir kau mungkin bisa mengendalikannya. Seperti menciptakan sosok orang asing, atau menimpanya dengan topik lain yang lebih besar."


"Maaf saja, tapi aku tidak punya kekuatan sejauh itu. Lagipula, berbohong itu bertentangan dengan prinsipku," ucap Nijimura dengan nada bicara yang terdengar tidak meyakinkan.


Sepertinya itu bohong. Rumor menjadi menarik justru karena sifatnya yang samar; kebenaran yang gamblang—seperti menyiramkan air ke api kecil—bukanlah hal yang dicari.


Berpikir demikian, mungkin Nijimura secara tersirat sedang memperingatkan Yuu agar tidak terlalu memercayainya.


"Aku paham maksudmu, Shikura. Tapi, pasti bukan itu saja urusanmu, kan?"


Melihat Nijimura tersenyum seolah bisa membaca pikirannya, Yuu membalas dengan wajah lempeng, "Ya, begitulah." Ia pun langsung masuk ke inti pembicaraan tanpa mengulur waktu.


"Ada yang ingin kutanyakan soal Kengamine-san."


"......Ini benar-benar tajuk berita yang mendebarkan. Lanjutkan."


"Aku mendengar sedikit...... tidak, aku mendengarnya langsung dari orangnya. Katanya dia sedang dirundung? Oleh orang-orang yang picik."


Yuu menatap tajam ke arah Nijimura.


"Ah—aku pernah mendengar cerita itu. Seperti yang kukatakan kemarin, Kengamine-san itu mencolok, jadi musuhnya banyak. Aku sering mendengar pembicaraan buruk tentangnya di belakang."


"Mereka bahkan tidak pantas disebut musuh. Dasar pengecut yang hanya bisa melakukannya diam-diam."


Cara yang licik seperti membuang buku pelajaran. Dari nada bicara Youka, sepertinya itu bukan terjadi sekali atau dua kali, dan kemungkinan ada kerugian lain yang ia alami.


Memikirkannya saja sudah membuat darah Yuu mendidih. Ia marah pada orang-orang yang hanya berani bertindak pengecut terhadap orang yang begitu jujur seperti Youka. Ia juga marah pada dirinya sendiri yang beberapa waktu lalu bersikap acuh.


"Bicaramu tajam sekali, ya. Yah, kau benar, sih. Aku yang tahu tapi tidak menghentikannya pun sama saja."


"Aku juga."


Nijimura menunduk dan tersenyum getir, seolah sedang menghukum diri sendiri. Namun, ia segera menetralkan ekspresinya kembali.


"Soal Kengamine-san, ya. Hei Shikura, jangan-jangan kau terhadap Kengamine-san itu......"


"Tidak. Hal itu tidak akan pernah terjadi, jadi jangan pernah katakan itu lagi."


Yuu langsung menutup jalan pembicaraan karena merasa insting Nijimura sebagai pencinta rumor mulai mengarah ke hal yang tidak benar. Nijimura tampak kecewa dan mengerutkan alisnya.


"Tapi kenapa tiba-tiba begini? Kemarin reaksimu biasa saja, kan?"


"Soal perundungan itu, kupikir bentuknya lebih terbuka. Seperti bertengkar langsung, atau semacamnya. Karena dia orang yang selalu berhadapan secara frontal...... aku berasumsi begitu."


Ia sempat meyakini hal itu. Bahwa seperti Youka dan Miyako, musuh-musuhnya pun akan beradu argumen secara langsung. Bahwa lawan dari orang yang sportif juga akan menantang secara sportif. 


Ternyata ia salah sangka.


"Kau orang yang baik ya, Shikura."


"Jangan bicara konyol. Aku sama sekali tidak baik."


"Tapi, aku tidak bisa membayangkan Kengamine-san mengeluh. Apa dia terlihat sangat terpuruk?"


"Tidak juga. Dia terlihat biasa saja dari luar."


"Mungkin saja dia memang tidak terlalu memikirkannya?"


"Mana mungkin!"


Yuu langsung membantah ucapan Nijimura.


Orang yang penuh emosi seperti dia, orang yang selalu mencoba terhubung dengan orang lain—mana mungkin dia tidak peduli dengan kebencian dari orang lain. Mana mungkin dia tidak terluka. Pasti menyedihkan jika dibenci, dan pasti terasa sakit jika disakiti. Karena bagaimanapun, sebagai pelajar, mereka semua masih belum matang.


Youka pun seharusnya menyadari hal itu. Memikirkannya kembali—tindakan Youka yang sekilas terlihat aneh mungkin saja merupakan "benih kegagalan" yang hanya bisa dilakukan saat ini.


Jika memang begitu, fakta bahwa dia tidak marah justru terasa semakin tidak alami.


"Tidak ada manusia yang tidak merasa buruk saat diperlakukan tidak menyenangkan."


"Aku cuma asal bicara, jangan marah begitu," ucap Nijimura sambil mengedikkan bahu dengan nada bercanda.


"Aku tidak marah."


Tidak marah.


Kenapa Youka tidak marah? Tidak, mungkin saja dia menunjukkan amarahnya di tempat yang tidak Yuu ketahui, tapi kemarin dia bilang, 'Tindakannya sendiri sih hanya perbuatan pengecut jadi aku tidak perlu meladeninya.' 


Kenapa dia tidak mau meladeni mereka? Apakah karena Youka adalah orang yang mulia? Kalau benar begitu pun. Apakah dia, yang emosinya begitu meluap-luap, bisa merelakan segalanya dengan sikap seolah tidak terjadi apa-apa?


Bagi Yuu, yang selama ini membatasi hubungan antarmanusia ke tingkat minimal, ia tidak bisa memahami kerumitan perasaan semacam itu. Jadi, ia hanya bisa berasumsi sendiri.


Awalnya, Yuu menilai Youka sebagai orang yang memiliki harga diri tinggi. Menunjukkan kelemahan berarti akan diremehkan—meski pernah berkata demikian, Youka justru menyisipkan kelemahannya di tengah percakapan. Apakah itu karena dia ingin Yuu menyadarinya, atau justru karena dia ingin Yuu tidak mempedulikannya?


Yuu tidak tahu yang mana, bahkan ia tidak tahu apakah pilihannya memang hanya ada dua itu.


"Hei, Nijimura. Dengan kepribadian Kengamine-san, tidakkah kau pikir jika dia dirundung, dia akan mencari pelakunya dan mencabik-cabik mereka? Rasanya dia bakal membawa kepala pelakunya untuk dipamerkan ke sekeliling."


"Aku tidak berpikir dia sebuas itu, tapi itu terdengar lebih alami daripada sekadar mengabaikannya. Walaupun aku sendiri tidak terlalu mengenal dia, sih."


Yuu yang juga hampir tidak mengenal Youka memiliki kesan yang sama dengan Nijimura setelah interaksi beberapa hari terakhir ini.


Seharusnya Kengamine-san marah.


Saat memikirkan alasan kenapa dia tidak marah, hal pertama yang terlintas adalah untuk menghindari konflik dengan sekitar.


Agar tidak dibenci. Karena tidak ingin dibenci.


Mungkinkah Youka, secara normal dan sewajarnya, tidak ingin dibenci?


Jika dipikirkan seperti itu, sikap angkuh nan egois yang selama ini ia tunjukkan—sekarang terasa seperti ia sengaja membuat dirinya dibenci. Sebuah bentuk asuransi diri. Namun, pemikiran itu menyimpang dari sosok Kengamine Youka yang ia kenal—sampai di titik itu, Yuu menghentikan pemikirannya.


Duduk di sini dan memikirkan ini-itu tidak akan membuahkan kesimpulan. Lagipula, mencoba memahami orang yang emosional dengan logika terdengar sangat bodoh. Dan apa pun yang dipikirkan Youka, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Yuu.


"Nijimura, apa kau tahu siapa yang melakukan perundungan itu?"


"Yah, maaf, kalau itu aku tidak tahu. Aku tahu beberapa orang yang menjelek-jelekkannya di belakang, tapi aku tidak tahu apakah ada hubungannya. Partnerku mungkin tahu lebih banyak, tapi kami jarang berbagi rumor yang tidak menyenangkan seperti itu."


"Tolong cari tahu. Aku akan memberimu imbalan semampuku. Beritahu juga nama beberapa orang itu."


Mendengar kata-kata Yuu, Nijimura kembali menunjukkan wajah terkejut.


"Shikura, hari ini kau benar-benar berbeda ya. Jangan-jangan, kau berniat membantu Kengamine-san?"


"Tidak. Dan tolong jangan gunakan kata menggurui seperti 'membantu'."


Terhadap pertanyaan Nijimura tentang "kenapa kalau begitu", Yuu menjawab singkat.


"Karena aku kesal."


"Kau ini benar-benar terhadap Kengamine-san......"


Yuu merasa jengah karena Nijimura kembali mencoba menghubungkan ini dengan urusan asmara, lalu ia pun membantahnya.


"Pada dasarnya aku tidak begitu menyukai orang itu. Tapi, aku juga tidak membencinya. Aku baru mau mulai menilainya, jadi elemen negatif seperti perundungan itu hanya menjadi pengganggu. Aku bergerak demi diriku sendiri, jadi secara ekstrem, Kengamine-san tidak ada hubungannya dengan ini."


"......Ha, hahahahaha! Apa-apaan itu, apa kau sadar bicaramu sangat tidak keruan?"


Suara tawa yang tulus dan geli. Yuu seketika merasa malu dan segera mengalihkan pembicaraan. "Pokoknya! Sulit bagiku mengumpulkan informasi sendirian. Beritahu aku jika kau tahu sesuatu."


"Haha—baiklah, kalau begitu aku akan bantu. Aku boleh berharap pada imbalannya, kan?"


"Berharaplah. Membatalkan janji dan menjadikanmu musuh jauh lebih menakutkan bagiku. Ah, satu lagi. Tolong jangan sampai hal ini terdengar oleh Kengamine-san."


"Kenapa?"


"Kalau orang itu ikut campur, situasinya bakal jadi kacau tak terkendali, kan?"


Yuu mencoba bicara dengan gagah, padahal alasan sebenarnya lebih memalukan. Keinginannya untuk menghentikan perundungan itu tulus dari lubuk hatinya—namun Yuu tidak punya kepercayaan diri untuk bisa melakukannya. Pikiran bahwa 'mana mungkin orang sepertiku bisa melakukannya, aku pasti gagal' tidak bisa hilang—karena itu, agar ia tidak dicibir jika gagal, ia ingin merahasiakannya sebisa mungkin. Ia ingin bertindak sendiri, dan gagal sendiri.


Sebagai gantinya, jika pun berhasil, ia tidak butuh rasa terima kasih atau ketenaran. Jika Youka mendadak jadi manis dan pemalu, itu malah akan terasa menjijikkan, jadi posisi sebagai "John Doe" di balik layar jauh lebih baik.


Tapi kalau orang itu, dia mungkin bakal bilang 'Kerja bagus', sih.


Yuu berdiri dari kursi, menunjuk ke pintu keluar dan memberi isyarat pada Nijimura untuk kembali ke kelas.


"Beritahu aku jika kau butuh bantuan tenaga. Sepertinya aku cukup berguna. Karena aku ini orang yang tidak mencolok."


Tadinya ia sangat berhati-hati agar tidak mencampuri urusan orang lain, tapi sekarang ia malah menceburkan diri ke masalah orang lain.


Ia menuntut keadilan dari orang lain, tapi dirinya sendiri berbohong.

Sebuah kontradiksi.



Setelah sekolah usai, Yuu langsung berlari meninggalkan sekolah menuju tempat kerjanya.


Setelah menjelaskan situasinya pada Master yang berjenggot, mereka sempat berdebat soal upah—sang Master ingin tetap membayar, sementara Yuu menolak—namun Yuu berhasil mendesak dengan argumennya dan mendapat izin untuk berpura-pura masuk shift.


Ia mungkin akan bekerja sedikit, tapi itu biaya yang diperlukan. Karena ini situasi darurat, ia ingin lebih leluasa bergerak, jadi ia tidak bisa menerima uang.


Bagi Yuu, bukan menjaga prinsip itu yang hebat, tapi fakta bahwa prinsip itu tidak patah adalah hal yang membanggakan. Jadi, jika perlu, ia akan membengkokkan, memangkas, atau memelintirnya, selama tidak patah maka tidak ada kerusakan.


Demi Hika, ia rela mematahkannya, tapi jika ia merendahkan nilainya, itu seolah-olah merendahkan nilai Hika juga, jadi ia menyimpannya sebagai kartu as terakhir.


Setelah berganti pakaian, Yuu menunggu kedatangan Youka dan Yoyo dengan perasaan tegang. Rencananya, setelah Hika pulang dan makan camilan, ia akan melakukan panggilan video menggunakan tablet ayahnya. Saat Yuu sedang mencoba mengendalikan senyumnya karena membayangkan wajah Hika yang sedang makan camilan, lonceng tanda pengunjung berbunyi. 


Di saat yang sama, suara riang terdengar masuk.


"Yaho, Shikura-kun! Kami datang! Sudah menunggu lama? Maaf ya!"


"Selamat datang."


Yuu sampai berkedip berkali-kali karena melihat senyum Yoyo yang begitu menyilaukan. Di belakangnya, Youka juga menampakkan diri, dan—


"Aku datang agar kau bisa menepati janjimu, Shikura. Ayo, antar kami ke tempat duduk."


—Ada malaikat yang sedang digendong.


Apa matanya salah lihat? Tidak, mana mungkin salah lihat—sungguh luar biasa, Kengamine Youka sedang menggendong adiknya tercinta di punggungnya.


"Nii-cha, aku datang."


Terlalu manis. Bukan itu poinnya. 


Sambil mengesampingkan segala pertanyaan tentang kenapa Hika ada di sini atau kenapa dia digendong oleh Youka, Yuu segera menghampiri Youka.


"Turunkan Hika sekarang juga, Kengamine Youka! Mulai detik ini kau akan kupenggal!"


"Ahaaa, tolong aku Hika. Kakakmu merundungku, nih."


"Nii-cha, tidak boleh."


"Iya, iya, maaf ya Hika. Benar, tidak boleh ya. Kalau begitu tolong aku, Naze-san. Kengamine-san merundungku."


"Baiklah, kalau begitu biarkan aku yang mengantar ke tempat duduk!"


Yoyo, yang dengan hebatnya mengabaikan peran sebagai penengah yang mendadak dibebankan padanya, berjalan duluan menuju kursi di dekat jendela. Yuu berniat merebut adiknya dari Youka, namun karena melihat Hika yang tampak senang sambil berkata "Go, go!", ia akhirnya membiarkan mereka lewat.


Begitulah. Youka duduk di sisi jendela, Hika duduk di pangkuannya, Yoyo duduk di sisi gang, dan sisi seberangnya kosong. Sebuah susunan tempat duduk yang sangat mengerikan terbentuk.


Normalnya Yuu akan mencegah hal ini apa pun yang terjadi, namun entah pertemuan macam apa yang mereka lalui, Hika tampak sudah sangat akrab dengan Youka dan terus-menerus memanggil nama "Youka, Youka". Youka menjawabnya dengan suara lembut yang belum pernah ia tujukan pada Yuu, sambil mengusap kepala Hika.


Rasanya aku jadi mau gila. Kekuatan luar biasa merembes ke tanganku yang sedang menyajikan air putih.


Jika lawannya adalah Yoyo, mungkin aku masih bisa menerimanya, tapi kenapa harus Youka? Dari sekian banyak orang, kenapa harus Kengamine Youka?


Menyadari tatapan penuh dendam dari Yuu, Youka tersenyum jahil dan memeluk Hika erat-erat.


“Enaknya... enaknya ya, Youka-chan. Hei Hika-chan, aku juga mau dipangku dong—”


“Tidak boleh, Naze. Aku adalah nomor satu bagi Hika. Ya, kan?”


“Ya!”


“Shikura-kuuuun......”


Yoyo merengek padaku dengan wajah yang seolah mau menangis, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, dan aku sendiri pun sedang tidak dalam kondisi bisa menolong orang lain.


Musuh. Ini adalah tindakan permusuhan yang nyata.


Karena ada Hika di sini, akan jadi langkah buruk jika aku terlalu merusak suasana. Oleh karena itu, sebagai bentuk perlawanan minimal, aku memutuskan untuk mulai memanggilnya "Kengamine" mulai sekarang. Jika aku terus bersikap sungkan, Hika bisa-bisa dibawa kabur olehnya.


“Kengamine. Jika dalam seratus tahun ke depan kesehatan Hika menurun, aku akan menganggap dia tertular sesuatu darimu, boleh kan?”


“Mana boleh! Gara-gara kau mengatakannya dengan begitu alami, aku hampir saja mengangguk tahu, bikin kaget saja.”


Saat aku duduk di kursi seberang, Youka tersenyum licik.


“Ngapain duduk? Sana balik kerja. Ini waktunya pesta para gadis dimulai.”


“......Aku punya pengakuan dosa. Hari ini, aku hanya berpura-pura masuk shift, sebenarnya aku libur. Aku berbohong karena ingin menyamarkan masalah kemarin. Maafkan aku.”


Justru karena di depan adik tercinta, aku harus ksatria.


Tanpa ragu aku membuang segala borok di hati, lalu membungkuk sedalam mungkin hingga dahi hampir membentur meja. Nanti aku akan menyampaikan permintaan maaf yang sama kepada Master Jenggot.


“Aha! Kau benar-benar siscon yang jujur ya. Padahal tidak perlu sampai berbohong begitu.”


“Karena awalnya aku tidak berniat membawa Hika, satu kebohongan beranak jadi kebohongan lain.”


“Kau harus memperbaiki sifat itu. Kalau lawan bicaramu bukan aku, kau pasti sudah diseret-seret keliling kota.”


“Aku tahu. Daripada itu, kenapa Hika ada di sini? Jangan-jangan kau menculiknya?”


“Jangan pakai kata-kata kasar begitu di depan Hika.”


Argumen yang masuk akal. Sedari tadi aku terus-menerus kalah debat oleh Youka.


Nah, menurut cerita Youka, dia menemukan Hika saat dalam perjalanan ke sini. Karena dia mencoba berlagak misterius soal bagaimana mereka bisa akrab, aku memutuskan bertanya langsung pada Hika.


Hika merasa senang melihat sikapku yang tidak seperti biasanya, jadi dia berniat datang langsung ke tempat kerjaku untuk berterima kasih. Di tengah jalan dia bertemu mereka berdua, dan dia langsung suka pada Youka karena Youka mendadak memberinya piggyback ride saat pertama kali bertemu.


Jangan memberi piggyback ride pada orang yang baru pertama kali ditemui. Kau mirip siluman yang mau membawa lari anak-anak ke gunung, tahu.


“Hika, pesanlah apa pun yang kau suka sebanyak yang kau mau. Kalau tidak habis, biar aku yang makan semuanya.”


“Itu hak istimewaku. Kengamine, kau mundur saja.”


“Bertengkar, tidak boleh.”


“Hika-chan, ayo pilih bareng. Lihat, ada banyak makanan manis!”


Yoyo menempel rapat pada Youka. Mereka benar-benar sedang gencar-gencarnya mengumpulkan poin di mata Hika.


Aku tidak akan tinggal diam hanya dengan menonton mereka bertiga antusias membuka menu. Pertama-tama, aku memesan chocolate parfait, lalu berdehem untuk membuka topik baru.


“Baiklah, sekarang waktunya 'Kuis Hika'. Yang jawabannya salah harus keluar dari sini.”


Youka dan Yoyo melongo melihat event gerilya yang tiba-tiba ini.


“Apa makanan yang paling disukai Hika? Silakan, Naze-san dulu.”


“E-ehmm, hamburger! Tanpa acar!”


Jawaban spontan yang lebih mementingkan kecepatan demi kelancaran acara. Kemampuan responnya hebat, tapi sayangnya salah. Begitu aku bilang "Salah", Yoyo mengerang menyesal dan langsung lesu.


Peserta berikutnya, Youka, meletakkan tangan di dagu dan mulai berpikir keras.


“Memberikan pertanyaan sesederhana ini artinya kau punya rasa percaya diri mutlak bahwa kami tidak akan bisa menjawabnya.”


“Entahlah. Omong-omong, tidak ada petunjuk.”


“Boleh juga. Kalau aku benar, kau harus mentraktirku.”


“Setuju.”


Aku memasang wajah penuh percaya diri, meniru gaya Youka yang biasanya mendongakkan dagu dan meremehkan lawan.


“Youka, semangat!”


“Serahkan padaku. Karena itu 'makanan kesukaan', logis jika benda itu mudah didapat. Untuk jadi nomor satu, dia pasti sudah merasakannya berkali-kali. Berarti bukan barang mewah. Mengingat Shikura bekerja demi Hika, dan dengan kepribadianmu yang pasti ingin membelikannya setiap hari... baiklah, karena tidak ada petunjuk, mari kita ambil jalur harga murah.”


Aku merasa sedikit cemas melihat Youka yang berpikir jauh lebih serius dari dugaanku, tapi aku tetap diam mendengarkan.


“Karena kau itu sok tahu, kau pasti menyiapkan jawaban yang membuat kami merasa 'tertipu!' saat mendengarnya. Sesuatu yang tidak mungkin tertebak, tapi tidak mustahil. Kalau begitu, fakta bahwa Hika suka manis adalah petunjuk besar. Petunjuknya sudah ada. Fakta bahwa kau 'tidak memberi petunjuk' adalah petunjuk terbesar.”


“Kau terlalu banyak berpikir.”


“Mungkin fakta kau bekerja di sini juga sebuah petunjuk. Sesuatu yang bisa didapat di sini.”


Dia berhenti sejenak, menggelengkan kepala sambil bergumam, “Pikiranku mulai bias.”


Meski aku menyukai cara berpikirnya yang sangat serius itu, aku tetap menjaga wajah lempeng tanpa ekspresi.


“Tidak, aku harus percaya pada intuisiku. Aku akan segera menjawab sebelum Hika merasa bosan. Harganya relatif murah, manis, dan bisa didapat di sini. Berdasarkan itu semua, ditambah satu 'sentuhan' khas Shikura yang sok tahu—jawabannya adalah bagian kulit pastry dari mille-feuille! Pasti benar!”


Youka menjawab dengan lantang dan penuh percaya diri.


Bagian kulit pastry dari mille-feuille.


..................Bahaya sekali. Dia melakukan analisis yang berlebihan, tapi hasilnya malah nyaris mengenai sasaran. Orang ini memang tidak boleh diremehkan. Meski itu hampir benar, dalam pertarungan jujur tidak ada tempat bagi belas kasihan.


Aku mengumumkan bahwa jawabannya salah, sambil mengembuskan napas lega.


“Jawabannya adalah: bagian kulit/pinggiran dari kue tart.”


“Aaah, sayang sekali! Sedikit lagi kena! Kesal sekali! Hika, hibur aku!”


“Youka hampir benar!”


Melihat Hika menepuk-nepuk kepala Youka, Yoyo langsung menyodorkan kepalanya sendiri sambil berseru, “Aku juga, aku juga!” Seandainya punya peluit, Yuu pasti sudah meniupnya kencang-kencang dan mengusir Yoyo dari lapangan saat itu juga.


“Karena itulah, kalian berdua diskualifikasi. Hika kan paling suka bagian pinggiran tart.”


“Iya. Tapi sekarang Hika paling suka permen gummy.”


Ternyata telah terjadi perubahan hierarki makanan yang tak terduga.


“Ahahahahahaha! Shikura, kau juga diskualifikasi!”


“B-bodoh! Apa yang telah kau lakukan pada Hika, Kengamine!”


“Nii-cha terlihat senang, Hika juga ikut senang.”


Hika menatap Yuu yang berdiri sambil memprotes dengan tatapan bahagia. Sementara itu di sebelahnya, Yoyo mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap. Yuu, yang entah bagaimana berhasil menetralkan suasana dan kembali tenang, menyadari gelagat yang tidak biasa itu.


“Naze-san, kau tampak tidak puas, ada apa? Tenang saja, hukuman diskualifikasinya sudah dibatalkan.”


“Dari tadi cuma kalian saja yang asyik sendiri, aku merasa dikucilkan tahu! Apa tidak ada yang mau menyapa atau apa gitu!”


Ucap Yoyo dengan nada dramatis sambil menebarkan onomatope "puri-puri". Tingkahnya mirip hewan kecil yang menggemaskan. Tampaknya aksi "hamster masa puber" itu menarik minat Youka, karena sudut bibirnya tampak melengkung senang.


“Boleh juga, Naze. Sepertinya aku bisa berteman baik denganmu yang sekarang.”


“Yoyo, maaf ya.”


Hika kemudian berpindah ke pangkuan Yoyo dan mengelus kepalanya. Dalam sekejap, wajah Yoyo tampak terharu luar biasa dan langsung memeluk Hika erat-erat.


“Maaf ya Hika-chan, sudah membuatmu khawatir. Aku cuma bercanda kok, tadi cuma ingin main-main sedikit saja. Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya dipangku aku? Tidak aneh kan? Hei Youka-chan, apa posisiku sudah benar? Aku tidak tahu cara melakukan hal seperti ini!”


Youka, yang sengaja mengabaikannya, menonton dengan tatapan jahil. 


Saat parfait yang dipesan tiba, mata Hika berbinar dan ia memperbaiki posisi duduknya di pangkuan Yoyo. Setelah itu, mereka sibuk berdebat tentang siapa yang akan menyuapi Hika, sesekali diselingi kuis Hika lainnya. Di tengah keriuhan itu, tanpa terasa dunia di luar mulai dijemput malam.


Menjelang pukul tujuh malam, acara pun berakhir karena sudah waktunya makan malam di rumah. Hika, yang setelah parfait ternyata masih melahap roti lapis dan kue sifon, tampak sudah sangat kenyang dan mulai mengucek matanya karena mengantuk. Sebuah pemanjaan yang tak terbantahkan. Hal ini membuat Yuu dan kedua gadis lainnya merenung dan merasa bersalah. 


“Lain kali mari kita lakukan di hari libur saja,” ujar Youka.


“Aku ingin sekali mengantarmu sampai rumah, tapi karena sudah malam, aku akan langsung pulang saja.”


“Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang mengantar?”


“Tidak boleh. Dilarang mencuri start. Ayo, cepat pulang.”


Youka menarik tangan Yoyo sambil berbicara kepada Yuu dan adiknya. Sambil berterima kasih dalam hati atas bantuan Youka, Yuu hendak berbalik pergi ketika Hika melambaikan tangan dengan berat hati.


“Dah-dah Youka, Yoyo. Terima kasih traktirannya. Terima kasih ya. Apa kita bisa bertemu lagi?”


Kedua gadis itu pun membalas lambaian tangan dengan raut wajah yang tak kalah berat, memberikan jawaban sesuai keinginan Hika. Melihat pemandangan itu, Yuu menundukkan pandangannya dengan malu, lalu menatap mereka berdua dengan mantap.


“Naze-san. Kengamine. Terima kasih sudah bermain dengan Hika hari ini.”


Kedua gadis yang tadi bersedih karena perpisahan dengan Hika tampak terkejut. Yoyo tersenyum malu-malu, sementara Youka membusungkan dadanya dengan bangga.


Meski ia sempat dibuat kewalahan oleh berbagai kejutan tak terduga, namun melihat Hika yang tampak sangat, sangat bahagia—Yuu merasa semuanya sudah benar. Meski agak merepotkan jika diajak berkumpul lagi, namun baik Youka maupun Yoyo, meski sama-sama aneh, sepertinya bukan orang jahat. Jadi, jika Hika menginginkannya, Yuu pun tidak keberatan.


Hika, yang sepertinya sudah sepenuhnya terjaga karena terkena angin malam, terus menatap mereka berdua. Mungkin Hika lebih menyukai mereka berdua daripada yang Yuu bayangkan. Oleh karena itu, sebagai rasa terima kasih, dan didorong oleh suasana hatinya yang membubung karena keimutan Hika, Yuu mengucapkan kata-kata yang sebenarnya bukan gayanya.


“Kalau begitu, kami pulang duluan. Sampai jumpa besok.”


Sampai jumpa besok. 


Ada mereka berdua dalam pemandangan hari esok. Ia telah mengucapkannya. Tanpa sempat menyimpannya di dalam hati, ia telah mengucapkannya.


Yuu tidak tahu reaksi seperti apa yang ditunjukkan Youka dan Yoyo karena ia tidak menoleh lagi. Itu hanyalah ucapan perpisahan biasa, atau bisa dibilang sekadar basa-basi sosial.


Yuu pun berjalan pulang bersama Hika. Mereka bergandengan tangan menyusuri jalan pulang. Hika berkali-kali meremas tangan Yuu sambil berkata “Ayo balik lagi” atau “Main lagi”, namun dengan berat hati Yuu mengutamakan untuk segera sampai di rumah.


“......Hika, kau suka mereka berdua?”


“Iya. Youka suka, Yoyo juga suka. Kalau Nii-cha?”


“Belum tahu. Sepertinya baru akan dimulai.”


Yuu masih belum mengenal Youka maupun Yoyo sama sekali. Ia tidak tahu apakah "hari esok" itu benar-benar ada, tapi jika sudah melibatkan Hika, situasinya berubah.


“Katanya mereka berdua mau main ke rumah kita nanti.”


“......Pastikan saat ada aku di rumah, ya.”


Ada satu hal yang ia janjikan dalam hatinya. Sebuah tekad tak tergoyahkan yang tumbuh di dalam diri Yuu. Mengenai Kengamine Youka. Mengenai perundungan yang ia terima.


Tetap saja, ia merasa kesal.


Jangan melakukan hal-hal sampah kepada orang yang disukai oleh Hika-ku—fakta bahwa orang itu adalah Kengamine memang terasa rumit, namun ia ingin menghargai orang yang disukai Hika. Dan Youka harus bertanggung jawab.


Karena Hika sudah menyukainya, Yuu tidak akan memberinya waktu luang untuk memikirkan hal-hal konyol seperti perundungan itu. Ia akan membuat Youka mengosongkan seluruh kapasitas pikirannya hanya untuk Hika. Karena itu, ia tidak akan segan-segan mencampuri urusan orang lain.


Keputusan ini bukan sebuah kebohongan.



Rumor hanya menyebar lewat mulut.


Itu adalah prinsip dasar Klub Penggemar Rumor—walaupun anggotanya cuma dua orang, jadi ini lebih seperti janji lisan belaka. Karena itulah, pada jam istirahat setelah pelajaran pertama usai, Yuu melangkahkan kaki menuju ruang penyimpanan yang kemarin siang ia kunjungi. Ini adalah panggilan dari "Matilda" agar Yuu segera datang untuk menerima laporan penyelidikan.


Sambil merasa kagum pada kemampuannya mengumpulkan informasi dalam waktu kurang dari sehari, Yuu membuka pintu ruang penyimpanan dan melihat salah satu dari dua kursi yang ada di sana sudah terisi.


Seorang siswi bertubuh kecil. Poni model see-through miliknya dipotong rapi tepat di tengah dahi, sedikit di atas alis. Rambut model short bob yang ujungnya nyaris menyentuh dagu itu memang membuatnya pantas menyandang nama Matilda.


Matilda melirik Yuu dan yang lainnya dengan tatapan tanpa emosi, lalu tanpa basa-basi langsung masuk ke inti pembicaraan.


“Mengenai masalah Kengamine Youka, sayangnya—atau mungkin harus kukatakan begitu—aku belum berhasil mengidentifikasi dalangnya secara pasti. Tolong jangan salah paham, ini bukan karena kemampuan risetku rendah. Silakan salahkan kalian yang terlalu terburu-buru dan kelicikan si pelaku.”


Melihat Matilda yang berbicara dengan datar, Yuu membatin dengan tidak sopan, kok beda dari yang kubayangkan, ya.


“Untuk sementara, aku sudah mengantongi target yang mencurigakan. Nah, kau yang di sana...... yang penampilannya biasa saja. Apa menurutmu pelakunya adalah pelaku tunggal?”


“Entahlah. Tapi bukannya orang yang melakukan perundungan itu biasanya berkelompok?”


“Aku juga berpikir demikian. Perundungan terhadap Kengamine-san sepertinya sudah dilakukan berkali-kali, bahkan tidak cukup dihitung dengan dua tangan. Sejauh mana kebenarannya, masih dalam tahap penyelidikan. Jika ini adalah aksi tunggal, seharusnya ada setidaknya satu saksi mata, kan? Meski aku tidak menampik kemungkinan bahwa ia melakukannya dengan sangat rapi.”


Matilda berbicara dengan sangat cepat. Mengingat singkatnya waktu istirahat, hal itu terasa alami, namun Yuu merasa kemampuan bicara seperti itu tidak bisa dikuasai hanya dalam semalam. 


Apakah dia memang selalu begini?


“Selain itu, jika pelakunya tunggal, kurasa informasinya tidak akan tersebar luas. Tidak ada gunanya juga menyebarkannya sendiri. Yah, mengingat sifat orang yang suka merundung, tidak menutup kemungkinan ia menceritakannya sebagai sebuah pencapaian...... hmm, tapi rasanya tidak pas. Ataukah ia sengaja menyebarkannya untuk menutupi kebenaran? Wah, betapa lancangnya dia menantang kami.”


“Mungkin ada orang yang kebetulan ada di lokasi, tapi mereka disuruh tutup mulut? Siapa pun tidak mau kan jadi incaran orang seperti itu.” 


“Kemungkinannya sangat besar. Namun, melihat dan membiarkannya saja adalah dosa yang sama.”


Itu benar. Sebuah argumen logis yang tidak bisa dibantah. Sebuah idealisme yang sempurna.


“Mempertimbangkan kasus itu juga, secara komprehensif aku memutuskan bahwa ini adalah aksi berkelompok. Dengan adanya pengawas, risiko ketahuan akan berkurang, dan kalaupun ketahuan, selama lawannya bukan orang yang luar biasa, ia akan mati ditekan oleh tekanan sosial. Kemampuan seorang pelajar sendirian itu terbatas. Karena itulah, lawannya adalah kelompok, dan berdasarkan hal tersebut, orang yang kucurigai adalah orang ini.”


Yuu mengira dia akan mengeluarkan foto, namun Matilda tidak melakukannya demi mematuhi peraturan mereka. Ia menegakkan kedua jari telunjuknya di hadapan Yuu, lalu menekan kedua ujung matanya dan menariknya ke bawah.


Mata sayu......?


“Kagura Shio-san dari kelas yang sama dengan Kengamine-san. Dialah orang yang paling mencurigakan.”


Mendengar nama yang asing, Yuu memiringkan kepala dan menatap Nijimura.


Nijimura menyahut dengan wajah terkejut dan memberikan penjelasan.


“Kagura-san itu memang tertutup oleh popularitas Kengamine-san, tapi dia orang yang sangat populer, lho. Dia itu orang baik yang sulit dipercaya, ramah dan memperlakukan siapa saja tanpa membeda-bedakan. Aku tidak pernah mendengar rumor buruk tentangnya.”


“Itu malah sangat mencurigakan.”


“Kau dan Matilda ini memang sama-sama berpikiran skeptis ya. Pasti kalian tipe yang sering tertipu oleh novel detektif.”


Semakin seseorang terbukti tidak bersalah, semakin ia dicurigai. Persis seperti yang dikatakan Nijimura, Yuu memang sering dibuat tercengang oleh novel detektif.


Benda itu mengerikan; membuat kita tidak bisa mempercayai apa pun.


“Lalu, Matilda. Kenapa kau berpikir begitu?”


“Setelah kucari tahu, sepertinya saat SMP dia selalu dipuja-puja. Sosok yang berkarisma. Kabarnya dia sendiri tidak sombong dan tetap rendah hati, tapi begitu menjadi siswi SMA dan melihat orang lain selain dirinya selalu menjadi pusat perhatian, tentu rasanya tidak menyenangkan, kan? Harga diri di masa remaja itu besar namun rapuh. Bisa dibilang sangat wajar jika dia mendendam pada Kengamine-san.”


“Bukankah itu kesimpulan yang terlalu melompat jauh?”


Yuu memutuskan untuk diam dan mengamati perdebatan antara Nijimura dan Matilda.


“Benar. Karena itulah ini hanyalah dugaanku. Namun, mengingat betapa besarnya kepercayaan orang-orang padanya, aku terpaksa harus bilang dia mencurigakan. Wah, ajaibnya, dia punya kekuatan untuk menghancurkan kecurigaanku, bukan? Menggunakan orang lain, dan membungkam orang lain. Apa ada orang lain yang terlintas di pikiranmu?”


“......Tidak terpikir siapa-siapa. Tapi bukankah mungkin pelakunya ada di kelas lain?”


“Tepat sekali. Memang ada yang seperti itu.”


Meski Matilda mencoba berlagak jenaka, ekspresi wajahnya tidak berubah, dan dia terus berbicara tanpa menghela napas sedikit pun.


“Aku bergerak dengan asumsi bahwa Kagura-san adalah dalang utamanya, namun misalnya, ada kemungkinan juga beberapa kelompok melakukan perundungan secara terpisah. Secara ekstrem, hipotesis bahwa semua itu dilakukan oleh orang yang berbeda-beda pun tidak bisa kita abaikan saat ini. Jangan-jangan ini hanya sandiwara Kengamine-san sendiri.”


“Kalau itu tidak mungkin. Pasti.”


Tadinya Yuu berniat diam saja, tapi karena itu terdengar sangat konyol, ia membantahnya secara refleks. Meski ia tahu Matilda hanya membicarakan kemungkinan, ia tetap tidak tahan untuk tidak mengatakannya.


Matilda menarik sudut mulutnya dengan kedua tangan membentuk senyum palsu, lalu melepaskannya dan melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa.


“Aku bukan detektif, aku lebih mengutamakan intuisi daripada logika. Bukannya aku tidak suka pada murid teladan, lho? Orang yang mencurigakan memang ada di kelas lain, tapi menurutku lebih mudah untuk memantau pergerakan orang yang berada di kelas yang sama. Sering dikatakan bahwa pelaku kejahatan cenderung ingin kembali ke tempat kejadian perkara. Memantau reaksi sekitar atau memastikan masalah tidak membesar, jika mempertimbangkan poin-poin itu, Kagura-san adalah kandidat utama.”


Setelah selesai memaparkan deduksinya, Matilda menghela napas dengan puas dan sedikit melambatkan tempo bicaranya.


“Oleh karena itu, sebaiknya kau selidiki orang-orang di sekitar Kagura-san. Jika ternyata dia benar-benar bersih dan suci, kami dari Klub Penggemar Rumor dan kau yang berpenampilan biasa ini akan melakukan dogeza atau apa pun. Kita celupkan harga diri kita ke sepatu lalu jilat sampai bersih.”


“Aku tidak mau ikut. Kau saja pergi sendiri.”


“Iih, jangan dingin begitu dong.”


Yuu merasakan aura keakraban di antara mereka berdua yang sulit ia masuki, namun ia tetap menjawab.


“Baiklah, terima kasih. Akan kucoba menyelidikinya sedikit.”


“Ngomong-ngomong, Kamu yang berpenampilan biasa, apakah punya teman perempuan?”


Mendapat pertanyaan dari Matilda, Yuu mendadak sulit menjawab.


Tidak ada. Tapi ia merasa tidak enak jika harus menjawab "tidak ada" secara instan.


“Jika tidak ada, langkah selanjutnya akan sangat sulit. Apalagi jika pelakunya ternyata perempuan. Bagaimanapun, ada ruang-ruang tertentu yang tidak bisa atau sulit dimasuki laki-laki sendirian. Kecuali jika Anda adalah tipe orang yang berani menerjang gerai Sweet Paradise yang penuh perempuan hanya dengan memakai kaos dalam, maka kekhawatiran saya ini tidak beralasan.”


“......Mati pun aku tidak akan sanggup melakukannya.”


“Kalau begitu, rekan perempuan adalah hal yang mutlak diperlukan.”


Matilda mengucapkan hal yang sulit seolah-olah itu perkara gampang. Namun, alasannya masuk akal. Menantang lawan yang begitu licik menyembunyikan jejak sendirian adalah tindakan ceroboh, dan memiliki rekan lawan jenis akan menambah pilihan strategi. Jika ada rekan sejak awal, pola pikir pun akan menjadi lebih fleksibel. 


Tapi... Rekan perempuan. Yang pertama terlintas adalah Youka. Ada firasat dia akan senang hati membantu, tapi ia tidak bisa dimasukkan ke dalam daftar kandidat.


Berikutnya adalah Yoyo. Namun, jika ia bertindak bersama teman sekelas Youka itu, mereka akan sangat mencolok. Terlebih lagi, mulut gadis itu ember. Dia adalah tipe gadis yang dosanya (dalam hal salah bicara) sangat bisa diharapkan—sosok juru selamat bagi seorang detektif.


Yuu mencoba menatap Matilda lurus-lurus, mencoba peruntungan, namun balasannya sangat dingin.


“Aku menolak. Aku tipe yang lebih bersinar saat bekerja sendiri, dan bukannya sombong, tapi kemampuan kerja samaku nol besar. Lagipula, menjadi pesuruh bukan hobiku. Kali ini aku hanya membayar kekalahan taruhan aku dari Leon.”


“Taruhan......?”


“Begitulah. Tenang saja, tidak ada unsur ilegal. Lagipula itu hanya hak yang selama ini tidak terpakai, jadi aku gunakan karena ada kesempatan bagus.”


Yuu sekali lagi menyampaikan terima kasih kepada Nijimura dan berjanji akan menyiapkan imbalan lain nanti.


“Aku akan membagi informasi yang didapat, jadi puaslah dengan itu. Aku suka anak laki-laki yang tahu cara bersabar. Satu pertanyaan, kamu yang biasa ini berada di kelas mana?”


“Kelas tujuh, sama dengan Nijimura.”


“Tepat sekali. Aku sudah mendengarnya jadi tentu saja aku tahu. Itu tadi hanya leluconku saja. Fufufu. Nah, kalau di kelas tujuh, bukankah ada orang yang sangat tepat?”


Berlawanan dengan nada bicara dan ekspresinya, Matilda ternyata sosok yang cukup jenaka. Kali ini ia menarik sudut matanya ke atas dengan kedua telunjuknya.


“Furumi Miyako-san. Dia itu teman satu SMP dengan Kagura-san. Kamu bisa mendengar cerita masa lalu mereka, bukankah itu sekali dayung dua pulau terlampaui?”


Furumi Miyako.Teman sekelas yang mengunjungi tempat kerja Yuu bersama Youka dan Yoyo. Ternyata dia satu sekolah menengah pertama dengan si Kagura itu. Memang dia orang yang tepat, tapi Miyako pernah bilang mereka tidak akrab. 


Meski begitu, dia adalah sosok yang disegani Youka, dan terlepas dari itu, Miyako adalah gadis yang mencolok. Jika Yuu bergerak bersamanya, hal itu pasti akan sampai ke telinga Youka secara alami, sehingga ia tidak bisa langsung mengiyakan.


“Meskipun begitu, kudengar Furumi-san sering bolos sekolah saat SMP. Ada kemungkinan besar dia tidak terlalu paham soal hubungan pertemanan masa lalu. Jadi, Aku serahkan semua pada kebijakan Jimihen-san.”


Entah sejak kapan panggilan Yuu berubah menjadi "Jimihen" (Si Biasa).


Yuu memutuskan untuk menerimanya dalam diam, menganggap bahwa tidak menanyakan nama adalah bentuk prinsip unik dari Matilda.


Matilda sepertinya masih ingin bicara banyak dan baru saja akan memulai dengan kata “Kalau menurut saya”, namun terhenti karena lonceng peringatan berbunyi. Atau begitulah pikir Yuu, sampai—


“Kalau menurutku, bekerja sama dengan Kengamine-san adalah cara yang paling cepat dan tidak perlu banyak trik, bagaimana menurutmu?”


Matilda mengucapkannya dengan suara tajam yang seolah membelah bunyi lonceng. Dia berniat melanjutkan pembicaraan.


Dari tindakan ini, Yuu menyadari bahwa Matilda adalah tipe orang yang tidak keberatan membolos pelajaran. Ia kembali berterima kasih pada Matilda, menepuk bahu Nijimura, lalu segera berbalik menuju pintu keluar. Nijimura tidak mengikutinya.


Terasa mengerikan membayangkan jika lonceng tadi tidak berbunyi, ia pasti dipaksa menjawab pertanyaan itu.


Dalam perjalanan kembali ke kelas, Yuu memikirkan sosok yang bahkan wajahnya pun belum ia ketahui. Kagura itu, yang dicurigai sebagai dalang perundungan terhadap Youka.


Berdasarkan cerita Nijimura, dia adalah sosok yang berkarisma. Namun, bagi Yuu, seseorang yang tidak memiliki satu pun cela atau rumor buruk justru terasa tidak alami karena terlalu bersih. Meski ia tahu orang seperti itu memang ada, namun kesucian tanpa celah terasa seperti gelar yang sangat tidak cocok bagi seorang remaja yang masih "belum matang".


Itu hanya perasaannya saja. Pada akhirnya, ini hanyalah pemikiran bias dan rasa janggal yang didasari oleh kesimpulan yang sudah dibuat sebelumnya. Karena itulah, mulai sekarang ia harus mencari tahu.


Lalu, pendekatan seperti apa yang harus dilakukan? Ia ingin menghindari bergerak terlalu sembunyi-sembunyi agar tidak sama dengan kelompok yang melakukan perundungan itu. Namun jika terlalu frontal, ia hanya akan dipatahkan begitu saja.


Setelah memikirkan berbagai hal, sebenarnya tidak ada bukti kuat untuk mencurigai si Kagura itu selain intuisi Matilda. Ia tidak berniat berlagak pahlawan keadilan, namun jika ia akan mencurigai orang yang tidak bersalah, bukankah setidaknya ia harus sedikit tulus?


Ia berpikir demikian, namun kemudian menyadari bahwa itu bukan demi orang lain melainkan demi dirinya sendiri, lalu ia tertawa mengejek diri sendiri.


Begitu kembali ke kelas, suasana terasa sangat gaduh padahal pelajaran hampir dimulai. Terdengar suara-suara yang tidak asing di telinganya.


“Makanya, aku ke sini bukan untuk menemuimu. Tapi setidaknya berterima kasihlah sedikit.”


“Aku tidak mengerti maksudmu. Karena kau otak udang, lebih baik jangan dipaksakan bicara.”


“Padahal nilaiku lebih bagus darimu? Furumi, ternyata kau tidak bisa membaca angka ya. Mau kuajari cara membacanya?”


“Kenapa kau tidak belajar cara membaca suasana dulu saja?”


“Bicara denganmu benar-benar membuatku kesal!”


Saat mengintip ke dalam, terlihat sosok Youka dan Miyako yang sedang beradu mulut di tengah kelas. Yuu menyelinap kembali ke kursinya. Sambil mengeluarkan buku teks Bahasa Jepang Modern, ia merasa bahwa mendapatkan kerja sama dari Miyako sepertinya akan sulit.


Melihat Youka yang pergi tepat saat lonceng pelajaran berbunyi dan Miyako yang mulai menyiapkan pelajaran seolah tidak terjadi apa-apa—Yuu tiba-tiba terpikir sesuatu. Hubungan mereka berdua mungkin jauh lebih baik daripada yang terlihat.


Youka menunjukkan kemarahannya secara terang-terangan kepada Miyako. Itu adalah perbedaan nyata dibandingkan dengan perlakuannya kepada orang lain. 


Setidaknya dari sudut pandang Youka, Miyako pastilah sosok yang istimewa baginya. Meski ia tidak tahu apa yang dipikirkan Miyako.


Dihadapkan pada kenyataan itu, sebuah harapan kecil tumbuh di dada Yuu. Entah mengapa, jika harus meminta bantuan, ia merasa Furumi-san adalah orang yang tepat. Justru karena dia adalah satu-satunya orang yang berani beradu argumen dengan Youka di depan umum, Yuu ingin dia menjadi sekutu Youka—tidak, meski bukan sebagai sekutu, setidaknya ia ingin Furumi meminjamkan kekuatannya sebagai sosok "istimewa" yang berdiri di posisi berseberangan. Karena itulah, meski sejujurnya ia merasa itu mustahil, Yuu memutuskan untuk mencoba meminta bantuannya sebagai upaya terakhir.


Pelajaran usai, dan waktu istirahat singkat dimulai. Karena ruang kelas untuk pelajaran berikutnya tidak berubah, tidak perlu terburu-buru bersiap.


Yuu menujukan pandangannya ke punggung Miyako yang duduk di kursinya di barisan depan dekat meja guru. Namun, bagaimana cara menyapanya... ia sama sekali tidak tahu. Ia tidak menemukan celah untuk memulai percakapan, dan merasa tidak akan pernah menemukannya.


Yuu cukup sadar bahwa langsung masuk ke inti permasalahan adalah hal yang sangat tidak sopan. Di sini, dialah pihak yang memohon. Namun, ia tidak memiliki kemahiran untuk mengisi bagian basa-basi pembuka.


Di saat-saat seperti inilah Nijimura seharusnya berperan, namun dia belum kembali, mungkin masih asyik mengobrol dengan Matilda. Klub itu memang sebaiknya dibubarkan saja.


Sambil terus mengirimkan "pandangan intens" ke punggung Miyako dengan harapan sesuatu akan terjadi, sebuah suara lantang tiba-tiba terdengar dari pintu masuk kelas.


“Furumi! Aku tidak suka karena tadi kesannya seolah aku melarikan diri, jadi selanjutnya kau yang harus datang! Akan kuundang kau ke markas utamaku!”


“......Memangnya kau punya markas?”


Miyako menyahut dengan nada jengah.


Datang berkunjung setiap jam istirahat, apa orang ini tidak punya pekerjaan lain... Yuu merasa tidak percaya diri untuk menyela pertengkaran mereka dan menjalin percakapan, jadi ia memutuskan untuk mengambil tindakan lain.


Jika Youka ada di sini, di kelas tujuh, berarti dia tidak sedang berada di kelas dua. Yuu tidak berani memastikan hal ini karena tidak mustahil jika orang itu bisa berada di dua tempat sekaligus. Anggap saja aman, Yuu memutuskan untuk menggunakan waktu ini untuk melihat wajah Kagura. Mari amati dari jauh orang seperti apa dia itu.


Yuu berdiri dengan tenang dan keluar dari kelas. Dari belakang, ia masih bisa mendengar Youka dan Miyako yang saling mencaci. Entah kenapa, ia merasa seolah punggungnya sedang didorong.


Sambil menyusuri koridor, ia sampai di depan kelas dua. Tanpa menghentikan langkah, ia melirik ke dalam, namun ia tidak tahu yang mana sosok Kagura. Tentu saja, karena ia tidak tahu wajahnya. Setelah melewati pintu kedua, ia berbalik arah seperti hendak kembali ke jalan asalnya. Kemudian, dengan ragu-ragu ia mengintip ke dalam. Ruangan itu tampak sangat hidup dengan berbagai kelompok yang asyik mengobrol di sana-sini.


Yang mana? Sejauh mata memandang, ada tiga kelompok siswi. Jika saja ia punya satu kenalan yang bisa diajak mengobrol ringan, mungkin ia bisa melakukan sesuatu, tapi Yuu tidak punya teman semacam itu.


Tidak, tunggu sebentar, seingatku di kelas ini ada—pemikiran Yuu terhenti di sana. Sebab, seseorang menyapanya dari belakang.


“Wah!”


Lebih tepatnya, ia dikagetkan.


Volume suara yang cukup besar itu membuat Yuu sangat terkejut, ia berbalik sambil melompat mundur. Di hadapannya, berdiri Yoyo yang tersenyum jahil.


“Shikura-kun ternyata lemah terhadap kejutan ya. Maaf, maaf, soalnya kau tadi terlihat penuh celah.”


Yoyo menjulurkan lidahnya tanpa rasa bersalah sambil berpose tehepero. Yuu mengalihkan pandangan dari Yoyo dan menjawab.


“......Kalau kau melakukannya lagi, aku akan mengategorikan Naze-san bukan sebagai teman sekelas, tapi sebagai jumpscare.”


“Apa-apaan itu. Daripada itu, Shikura-kun sedang apa di tempat seperti ini? Eh, jangan-jangan mau menemuiku......?”


“Sama sekali tidak ada urusan dengan Naze-san.”


“Jahatnya! Pasti ada! Coba pikirkan baik-baik sebelum menjawab!”


Sebenarnya ini adalah waktu yang sangat tepat, namun karena pertanyaan Yoyo sulit dijawab, Yuu berpura-pura bodoh. Ia juga ingin menghindari keterlibatan Yoyo yang terlalu dalam—tapi mungkin lebih baik membiarkannya berada di dekatnya daripada membiarkannya berkeliaran. Akan merepotkan jika di saat genting nanti dia tiba-tiba muncul dengan santainya dan mengacaukan suasana.


Yuu mengambil jeda dengan berlagak seolah sedang berpikir, lalu berakting seolah baru menyadari sesuatu.


“Oh iya, yang mana yang namanya Kagura-san?”


“Ternyata itu tujuanmu dari awal ya.”


“Bisa beritahu aku yang mana Kagura-san?”


“Shikura-kun pelit sekali...... Ya sudahlah! Kagura-chan itu anak yang sedang mengobrol di dekat jendela. Yang di tengah.”


Yuu mengikuti arah telunjuk Yoyo dan melihat tiga siswi yang sedang mengobrol sambil bersandar di jendela. Di depan mereka, ada tiga orang lagi yang duduk di kursi dan meja menghadap mereka.


Menghadapi kelompok besar berjumlah enam orang itu membuat Yuu gemetar, namun ia tetap memfokuskan pandangannya pada Kagura.


Rambut hitam sebahu dan wajah yang teratur. Dia tipe orang cantik yang entah kenapa terlihat agak melankolis, tipe orang yang seolah bekas sidik jari akan tertinggal jelas jika disentuh. Senyumnya yang malu-malu memang manis, tapi benar, rasanya dia akan "tertutup" jika ada Youka di sampingnya.


Ia setuju dengan penilaian Matilda soal sifatnya yang sensitif, tapi, tunggu dulu, matanya tidak sayu.


“Jadi, kenapa tiba-tiba mencari Kagura-chan? Urusan komite?”


“Yah, semacam itu. Terima kasih sudah membantuku mengenali wajahnya.”


“Ternyata benar-benar Kagura-chan incaranmu dari awal!”


Yuu terjebak dengan mudah.


“Kagura-san itu orangnya seperti apa? Menurut pandangan Naze-san.”


“Ununu...... Baiklah. Menjadi lebih akrab itu hal yang bagus kok. Kagura-chan itu anak yang baik dan lembut.”


“Lembutnya seperti apa? Dan baiknya bagaimana?”


“Dia sering memperhatikan sekitar, kalau ada yang kesulitan dia pasti menolong. Orangnya asyik diajak bicara, dan rasanya dia itu pusat dari semua orang!”


“Begitu ya. Jadi mirip seperti Naze-san.”


“Eh?”


Memperhatikan sekitar dan menolong orang yang kesulitan, begitulah penilaian Yoyo, namun Yuu merasa ada yang tidak pas.


Kalau memang begitu, kenapa Youka sampai mengalami hal yang tidak menyenangkan? Apakah Youka adalah pengecualian karena dia dibenci? 


Tidak—ini pun sebuah kesimpulan yang sudah dibuat sebelumnya. Ia terlalu memihak Youka. 


Jika dilihat dari sisi lain, bisa saja Youka yang memiliki sisi "layak dibenci" itu justru menepis tangan yang diulurkan padanya. Lagipula, ada kemungkinan besar Kagura sama sekali tidak menyadari fakta bahwa Youka sedang dirundung. Namun, meski ia tidak tahu seberapa luas rumor itu menyebar, mengingat luasnya pergaulan Kagura yang menghadapi lima orang sekaligus, rasanya aneh jika ia tidak tahu.


Bagaimana dengan Yoyo? Terlepas dari kejadian kemarin lusa, apakah dia pernah sekali saja mendengar rumor tentang Youka? 


Yuu ingin bertanya, namun ia mengurungkan niatnya karena merasa tidak bijaksana bertanya kepada orang yang memiliki hubungan dengan Matilda. Terlebih lagi, gelagat Yoyo entah kenapa menjadi aneh. Dia menatap Yuu dengan mata menyipit tajam. Mirip hamster yang lupa diberi makan.


“......Ada apa, Naze-san? Kau lapar?”


“Tidak kook. Tidak ada apa-apa. Aku harus membalas budi karena sudah dikhawatirkan, ya.”


Setelah berkata demikian, Yoyo masuk ke dalam kelas dan—


“Heeei! Kagura-chaaan! Ada pelanggan datang satu orang nih!”


Layaknya pelayan toko yang ceria, ia memanggil Kagura. Yuu hanya bisa melongo melihat tindakan gila yang tiba-tiba itu, berusaha sekuat tenaga untuk memahami apa yang baru saja terjadi.


Heei, Kagura-chan, pelanggan satu orang?


Perlahan pikirannya mulai terkumpul, dan ia menyadari bahwa orang yang baru saja ia ajak bicara adalah seorang "penyerang mendadak". Dari kesan pertama, ia salah sangka menganggap Yoyo sebagai orang normal. Meski ia sudah perlahan merevisi penilaiannya bahwa Yoyo itu agak aneh, ternyata itu pun belum cukup untuk menggambarkan betapa bahayanya sosok Yoyo.


Danger Naze.


Tak lama kemudian, sambil didorong dari belakang oleh Yoyo, gadis berambut hitam, Kagura Shio, menampakkan dirinya. Dengan ekspresi bingung ia menatap Yuu lalu tersenyum tipis. “Halo.”


Yuu membalas dengan cara yang sama, dan setelah itu, suasana canggung mulai menyelimuti tempat tersebut.


Apa yang kau lakukan, Danger Naze.


Yuu menatap Yoyo dengan penuh ketidaksenangan, namun ia hanya dibalas dengan senyuman jahil. Jangan-jangan Yoyo sedang dirasuki oleh roh gentayangan milik Youka.


"E-eeh... apakah dia temanmu, Naze-san?" tanya Kagura dengan ragu.


"Yah... kurang lebih seperti itu. Kamu Kagura-san, kan?"


"Iya. Aku Kagura Shio."


"Aku Shikura. Dari kelas tujuh."


"Hyu hyu," Yoyo mulai menggoda. 


Diam kau.


Keheningan bisa menjadi celah, maka Yuu memutuskan untuk membuka pembicaraan lebih dulu.


"Ehm itu... karena Kagura-san dan Furumi-san sepertinya satu SMP, aku ingin bertanya sedikit tentang dia."


"Tentang Furumi-san? Kalau itu sih, aku tidak keberatan sama sekali, tapi..."


"Eeeh! Benarkah!?" seru Yoyo.


"Diamlah, Kengamine."


Karena terlalu berisik, tanpa sadar nama itu terlontar dari mulut Yuu, dan itu adalah kesalahan besar. Yuu yang secara refleks menyebut nama Youka, berpikir keras dalam sekejap tentang bagaimana cara meralatnya, namun akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengungkitnya lagi.


Abaikan, abaikan saja. Yang lebih penting adalah memikirkan fakta bahwa ia terlanjur menyebut nama Miyako secara terburu-buru. Tidak heran jika timbul kesalahpahaman yang aneh. Namun, Kagura tidak menunjukkan sikap mengejek, ia justru tampak berpikir dengan serius.


"Furumi-san, ya... Aku minta maaf meski kau sudah mengandalkanku, tapi sebenarnya aku hampir tidak pernah mengobrol dengannya. Dia jarang sekali datang ke sekolah dulu."


"Apa kau tahu kenapa dia tidak datang?"


"Maaf, aku tidak tahu. Sesekali ada yang bilang dia sedang kesulitan dalam hubungan pertemanan, tapi aku tidak mendengarnya langsung dari dia. Aku pernah mencoba menyapanya beberapa kali karena ingin membantu, tapi dia malah marah dan bilang aku terlalu ikut campur."


Kagura tersenyum dengan wajah yang tampak agak sedih.


"Aku sempat khawatir terus, tapi sepertinya setelah masuk SMA dia datang setiap hari, jadi mungkin perhatianku dulu memang benar-benar berlebihan."


Kali ini Kagura tertawa malu-malu. Variasi senyumannya yang luas sepertinya memang menjadi daya tarik utamanya.


Yuu menyahut "Begitu ya" dengan nada tidak tertarik dan berniat mengakhiri percakapan di sini, namun giliran Kagura yang mengajukan pertanyaan.


"Bukan cuma Furumi-san, tapi apakah kau juga akrab dengan Kengamine-san, Shikura-kun?"


"Bukannya akrab. Akhir-akhir ini saja ada banyak kesempatan untuk bicara."


"Ooh, begitu. Syukurlah, aku jadi tenang. Kengamine-san itu agak terkucilkan, jadi aku senang tahu ada orang lain selain Naze-san yang mau berteman dengannya."


Melihat Kagura yang tersenyum lembut, kecurigaan Yuu terhadapnya justru semakin dalam.


Orang baik yang seperti lukisan. Kepribadian ketua kelas yang sesuai buku teks. Pada tipe orang seperti ini, seharusnya ada sisi seberang yang merupakan kebalikan dari kebaikannya. Jika dipikirkan begitu, fakta bahwa dia sengaja mengangkat topik tentang Youka pun terasa mencurigakan.


Intinya, ini adalah sifat skeptis Yuu yang didasari oleh prasangka. Karena sejak awal sudah menetapkan dia sebagai pelaku, ia menjadi sangat curiga. Mengingat karakter Youka, pada dasarnya siapa pun pasti akan menjaga jarak.


Yuu pun awalnya begitu.


"Kagura-san juga bertemanlah dengannya. Dia orang yang jauh lebih menyenangkan daripada kelihatannya."


"Eh?"


"Kalau kau katakan langsung di depannya bahwa kau membencinya, kurasa kalian akan cepat akrab. Pasti akan sangat membantu jika orang seperti Kagura-san mau menjadi sekutunya."


"E-eh... iya. Terima kasih?"


Pada akhirnya, jika dinilai secara objektif, Kagura bersih. 


Berdasarkan asas praduga tak bersalah, untuk saat ini kesimpulannya hanya bisa seperti itu. Mungkin saja bagi orang yang jeli, ada pernyataan atau perubahan ekspresi yang bisa dianggap sebagai pengakuan, namun Yuu tidak cukup mahir dalam observasi manusia untuk mendapatkan petunjuk dari reaksi lawan bicara. Lagipula, keberadaannya di sini hanyalah ide dadakan agar setidaknya bisa melihat atmosfer Kagura. Ia tidak berharap banyak pada perkembangan situasi. Bisa saling mengenal nama seperti ini saja sudah harus dianggap sebagai keuntungan.


"Maaf ya tiba-tiba datang. Kalau nanti teringat sesuatu lagi, tolong beri tahu aku."


"Iya. Kalau begitu, Shikura-kun juga ceritakan padaku ya kalau ada cerita tentang Furumi-san atau Kengamine-san."


Kagura membungkuk sopan, sehingga Yuu pun terburu-buru melakukan hal yang sama. Karena orang-orang yang ia temui belakangan ini tidak memiliki kesopanan seperti itu, ini benar-benar serangan mendadak baginya. Gerakannya menjadi kaku, dan melihat hal itu, Yoyo tertawa "pupupu" seperti karakter dalam komik.


Yuu memanggil Kagura yang hendak kembali ke kelas untuk menyampaikan satu permintaan terakhir.


"Kagura-san. Dan juga Naze-san. Tolong rahasiakan bahwa aku datang untuk bertanya tentang Furumi-san. Juga, soal pernyataanku yang seolah-olah sangat memahami Kengamine...san."


"Boleh saja, tapi kenapa?"


"Karena aku akan dianggap menjijikkan."


"Ah," Kagura bertepuk tangan seolah mengerti, dan berjanji akan menjaganya sebagai rahasia. Di sisi lain, Yoyo membusungkan dada sambil berseru, "Aku tidak akan bicara!"


Kali ini Kagura benar-benar kembali ke kelas, dan Yuu hanya menahan Yoyo yang hendak mengikuti. Yuu membawa Yoyo, yang memiringkan kepala dengan bingung, ke tempat yang agak menjauh, lalu berkata dengan nada bicara yang dipertegas.


"Naze-san. Tolong rahasiakan bahwa aku datang untuk bertanya tentang Furumi-san. Juga, soal pernyataanku yang seolah-olah sangat memahami Kengamine."


"Kan tadi aku sudah dengar!?"


"Habisnya Naze-san itu mulutnya asal bunyi..."


"Siapa yang asal bunyi! Mulutku ini sangat rapat tahu!"


Setelah Yoyo memprotes dengan cukup emosi, mereka akhirnya berdamai dengan janji kelingking—seperti lilitan ular anakonda. Lonceng peringatan berbunyi tepat waktu, sehingga mereka berdua mulai berjalan kembali ke kelas masing-masing. Sebelum berpisah, Yoyo mengatakan sesuatu.


"Kalau kau ingin bicara dengan Miyako-chan, aku punya satu saran. Sepertinya dia tidak terduga suka bermain video game, jadi mungkin dia akan senang kalau diajak bicara soal itu! Ah, rahasiakan kalau ini dariku, ya!"


"Begitu ya. Terima kasih, Naze-san."


Yuu berterima kasih atas informasi yang berguna itu, namun ia merasa sangat cemas tentang seberapa kuat khasiat janji kelingking yang mereka lakukan beberapa detik yang lalu.



Yuu hampir tidak pernah bersentuhan dengan video game. Paling-paling, ia hanya sesekali memperhatikan Hika dari belakang saat adiknya itu bermain game memasak kari sambil terus memuji-mujinya. Terakhir kali ia memegang stik sendiri adalah saat masih duduk di bangku sekolah dasar.


Bagi Yuu, hiburan terbesarnya adalah berinteraksi dengan Hika. Bukan berarti ia benci game, faktor utamanya hanyalah ia tidak bisa menemukan kesenangan yang melebihi rasa sayangnya pada Hika.


Bagi Yuu yang buta pengetahuan seperti itu, rasanya mustahil untuk mengaku sebagai pencinta game hanya dengan modal pengetahuan instan dalam semalam. Meski disebut "game" secara umum, genrenya sangat luas; jika kau mengumpulkan sepuluh orang dan bertanya tentang selera mereka, tidak aneh jika semuanya menjawab genre yang berbeda. Sejauh dan sedalam itulah dunianya.


Zaman sekarang, orang bisa bermain game hanya dengan satu ponsel pintar, namun bagi Yuu, ponsel hanyalah alat praktis untuk merekam Hika agar bisa ditonton kapan saja. Fakta bahwa ia mengetahui hobi Miyako adalah sebuah keberuntungan, namun ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dengan informasi itu. Informasi tersebut memang berharga, namun tidak berguna bagi Yuu karena kemampuannya tidak memadai.


Yuu berpikir, karena ia sedikit paham tentang board game, mungkin ia bisa melakukan sesuatu dengan itu.


Saat jam istirahat makan siang tiba, Yuu sedang menyantap bekal di kursinya seperti biasa. Kemudian datanglah Nijimura sambil membawa roti manis yang sepertinya ia beli di kantin. Pria tidak bertanggung jawab itu kabarnya baru saja asyik mengobrol dengan Matilda sampai pertengahan jam pelajaran kedua.


Nijimura duduk berhadapan dengan Yuu, lalu membuka bungkus rotinya dan mulai makan. Tanpa komando, percakapan mereka pun mengalir secara alami ke arah masalah Youka.


Yuu merendahkan suaranya dan berkata.


"Aku sudah bertemu Kagura-san. Kelihatannya dia benar-benar orang baik."


"Serius? Kau ternyata lebih gerak cepat dari dugaanku, ya, Shikura. Terus, setelah bertemu langsung, apa pendapatmu?"


"Entahlah."


Karena Nijimura adalah satu-satunya orang yang memahami situasinya, Yuu tidak menyembunyikan apa pun. Memang bukan hal yang perlu disembunyikan juga.


Tepat saat Yuu menggigit lumpianya, Nijimura berbisik.


"Apakah Furumi-san kelihatannya mau bekerja sama?"


Saat ini, Miyako juga berada di dalam kelas. Sama seperti Nijimura, ia sedang mengunyah roti manis sambil menatap tajam ke arah layar ponsel yang diletakkan di meja. Mungkin dia sedang bermain game.


"Aku sudah mendapatkan celah untuk memulai pembicaraan, tapi aku tidak begitu paham bidang itu. Menurutmu apa yang harus kulakukan?"


"Celah apa itu?"


"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya. Hanya soal hobi saja."


Meskipun informasi itu ia dapatkan dari Yoyo yang bermulut sangat asal bunyi, Yuu merasa sungkan jika harus membocorkannya secara sembarangan. Mengingat Yoyo secara licik menyembunyikan sumber informasinya, Miyako pun pasti tidak ingin hobinya diketahui banyak orang.


"Bukankah ini justru waktu yang tepat? Bilang saja kau tertarik tapi tidak mengerti, jadi minta dia mengajarimu."


"Masalahnya, saat ini aku belum terlalu tertarik, jadi takutnya kebohonganku cepat terbongkar. Hanya saja, karena selama ini aku hampir tidak pernah menyentuh game, ada kemungkinan besar aku akan mulai tertarik nanti. Selain itu, karena berbagai alasan, aku ingin menghindari menyapanya di depan umum. Kalau bisa, yang terbaik adalah berduaan dengannya dalam suasana yang alami. Berdasarkan poin-poin itu, bisakah kau memberiku saran? Kau pasti punya ide bagus, kan, Nijimura?"


"Kau ini terlalu memercayaiku, tahu."


Nijimura tampak jengah dan mengedikkan bahu seolah meminta ampun, namun ia segera melanjutkan pembicaraan seperti sudah terbiasa.


"Intinya, kau tidak perlu melakukan pendekatan langsung, tapi buatlah Furumi-san menyadari keberadaanmu, kan? Kalau begitu mudah. Ada satu langkah yang pasti pernah dilakukan setiap anak laki-laki setidaknya sekali seumur hidup."


Nijimura mengatakannya seolah itu adalah pengetahuan umum, namun Yuu sama sekali tidak menangkap maksudnya.


Sambil menunggu kelanjutannya dalam diam, Nijimura tiba-tiba mencondongkan tubuhnya.


"Bicaralah dengan suara yang agak keras untuk menarik perhatiannya. Dengan begitu, kau kan hanya dianggap sedang mengobrol biasa, tapi pembicaraanmu akan masuk ke telinga Furumi-san secara alami."


"Itu gaya masa puber sekali."


"Sudahlah, coba saja dulu. Tidak ada ide lain, kan?"


Meski tidak bersemangat, Yuu mengakui memang tidak ada rencana lain—bukannya tidak ada sama sekali, namun ia merasa tidak enak jika hanya menuntut saran terus, jadi ia memutuskan untuk mengikuti usulan Nijimura.


Meskipun ia merasa sedikit sedang dipermainkan. Karena ia sudah setuju, Yuu harus membeberkan hobi Miyako kepada Nijimura. Ia pun menyerahkan lauk bekalnya sebagai tumbal agar Nijimura bersumpah tidak membocorkannya. 


Mengenai fakta bahwa sumber informasinya adalah Yoyo—yang mulutnya lebih ringan daripada helium—Yuu tidak memberikan larangan khusus. Mengingat siapa Nijimura, mungkin sebenarnya dia sudah tahu. Singkat kata, mereka berdua segera menjalankan ide dadakan tersebut.


Nijimura mengembalikan volume suaranya ke tingkat normal, bahkan menaikkannya satu tingkat.


"Hei Shikura. Akhir-akhir ini aku luang sekali di rumah, apa kau punya saran hobi atau apa gitu?"


"Tidak ada."


Yuu langsung mendapat jitakan di dahi. Rasa malu yang muncul di saat kritis yang memicu sikap memberontak itu seketika hancur berkeping-keping.


Kalau sudah begini, akan kulakukan sampai tuntas.


"Akhir-akhir ini aku mulai mencoba bermain video game. Kau tahu? Game, lho, game. Selama ini aku hampir tidak pernah menyentuhnya, tapi ternyata cukup seru juga."


"Ooh. Game seperti apa?"


"......Game memasak kari. Adikku suka sekali. Aku menyesal kenapa tidak mencobanya lebih awal. Katanya ada banyak genre, apa kau punya saran, Nijimura?"


Percakapan yang dibuat-buat itu terasa sangat memalukan. Yuu ingin segera menyerah, namun begitu sudut matanya menangkap Miyako sempat melirik ke arah mereka sejenak, ia memutuskan untuk lanjut.


"Aku tidak terlalu paham soal game. Sebaiknya kau tanya pada orang yang ahli."


"Kau tahu seseorang? Orang hebat yang tidak hanya bisa memberiku saran, tapi juga menyarankan game yang kira-kira disukai adikku."


"Hei, jangan minta yang mustahil. Hidup ini tidak semudah itu sampai orang yang tepat bisa ditemukan dengan begitu kebetulan."


"Benar juga ya. Gawat nih. Gawat, gawat sekali."


Padahal game adalah hobi yang relatif mudah ditemukan, jadi tidak aneh jika mereka menemukan orang yang tepat secara kebetulan. Yang aneh adalah tingkah mereka berdua. Tanpa tahu seberapa jauh Miyako mendalami dunia game, dua siswa SMA ini hanya terus bertingkah konyol. Ini adalah pengalaman pertama bagi Yuu.


Setelah itu, mereka terus melanjutkan percakapan dari berbagai sudut pandang. Namun, karena tidak ada pergerakan dari Miyako dan cara mengobrol yang tidak biasa ini ternyata lebih melelahkan dari dugaannya, Yuu memberi isyarat mata untuk berhenti. Nijimura tersenyum seolah masih ingin bicara, namun ia menutup mulutnya.


Benar-benar cara 'menanam benih' yang kasar sekali...... 


Yuu mulai mendapatkan ketenangannya kembali dan sedikit menyesali percakapan tadi.


"Tadi kalian kelihatannya seru sekali ya, Shikura."


Sebuah suara jatuh tepat di atas kepala Yuu yang sedang tertunduk lesu. Benar-benar tidak memberinya waktu untuk bernapas.


Tanpa harus mendongak pun, Yuu sudah tahu bahwa itu adalah suara Youka. Ia tetap menunduk saat menjawab.


“......Ada apa? Apa kau ada urusan dengan Nijimura-kun?”


“Siapa itu?”


Sambil berucap, Youka memungut potongan karaage terbesar dari kotak bekal Yuu lalu memakannya. Yuu memutuskan untuk membiarkannya saja; jika ia melawan secara aneh, situasi hanya akan terjerumus ke dalam ketidakpastian.


“Enak juga. Aku suka rasanya. Aku memang selalu melewatkan makan siang.”


“......Silakan.”


Yuu mendongak dan memberi isyarat tangan seolah menyerahkan kotak bekalnya. Youka berseru, “Eh, boleh?” dengan wajah senang, lalu merampas sumpit dari tangan Yuu. Ia menarik kursi dari meja terdekat dan mulai makan tanpa sungkan.


Sepertinya dia memang sangat lapar; dalam sekejap wadah itu hampir kosong. Cara makannya memang terlihat lahap dan menyenangkan untuk dilihat, namun Yuu mulai cemas karena Youka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.


“Tunggu. Aku tidak bilang memberikan semuanya, kan?”


“Jangan pelit memberikan persembahan kepada dewa.”


“Kau ini iblis yang menyamar jadi dewa, tahu.”


Youka menghentikan sumpitnya tepat sebelum suapan terakhir, menyisakan sedikit nasi putih dan sebutir bakso daging untuk dikembalikan kepada Yuu. Ini malah terasa lebih menyebalkan daripada jika dia menghabiskannya sama sekali.


Akhirnya sisa itu pun Yuu berikan kepada Youka.


“Terima kasih traktirannya. Kau menyelamatkanku, Shikura. Sebenarnya aku belum makan apa-apa sejak kemarin malam. Aku lupa membawa dompet dan tadi rasanya hampir pingsan di jalan.”


Youka tersenyum tanpa ada sedikit pun rasa waspada.


Menyadari pandangan orang-orang di sekitar mulai tertuju pada mereka, Yuu merendahkan suaranya.


“Iya, iya, paham. Sekarang pergilah ke suatu tempat. Berada bersamamu itu sangat mencolok.”


“Kau masih mempertahankan pengaturan karakter itu? Mengejutkan sekali. Padahal kau sendiri yang bilang 'sampai jumpa besok'.”


“Aku memang mengatakannya... tapi itu kan berbeda. Itu karena ada Hika, aku terpaksa bicara begitu.”


“Padahal aku sudah cukup tenggang rasa, lho. Karena kau bilang jangan menyapamu di sekolah. Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah ini seperti pasangan kekasih yang berpacaran sembunyi-sembunyi? Kita berdua tidak punya hubungan seperti itu, kan? Eh, Shikura, jangan-jangan kau bukannya suka Naze, tapi suka padaku? Aku sangat mengerti perasaanmu, sih.”


“Tolong aku, Nijimura. Mentalku rasanya mau patah.”


Serius, jangan bawa-bawa nama Naze-san juga. Berapa ya biaya untuk menyewa pengusir setan?


Yuu meminta bantuan kepada Nijimura yang sedari tadi menonton dengan penuh minat, namun ia hanya dicemooh dengan jawaban “Menarik sekali—”.


“Nijimura itu kau? Ngomong-ngomong tempo hari kau juga sedang mengobrol dengan Shikura ya. Pasti berat menghadapi dia.”


“Begitulah. Tapi berkat itu, namaku diingat oleh Kengamine-san, jadi usahaku terbayar.”


“Kenapa aku diperlakukan seperti anak bermasalah begini? Jangan seenaknya membangun simpati yang aneh.”


Padahal anak bermasalahnya jelas-jelas mereka berdua. Rasanya aku ingin menangis saja.


“Furumi! Kau juga ke sinilah!”


Youka tertawa riang di bawah tatapan tajam Yuu, lalu memanggil Furumi dengan suasana hati yang bagus.


Yuu terharu melihat Youka yang jarang-jarang memberikan keuntungan padanya, sehingga ia menelan kembali keluhannya dan memasang senyum yang terkesan dipaksakan. Namun, Miyako bahkan tidak melirik sedikit pun dan terus menatap tangannya dengan diam.


Mengecewakan. Wajah Yuu seketika dipenuhi rasa putus asa.


“Kengamine, kau benar-benar payah ya. Aku turut berduka.”


“Berani sekali kau bicara begitu. Kalau aku masih lapar, sudah kugigit kau sampai putus.”


Sambil menginjak kaki Yuu, Youka memasang senyum kuno yang kaku. Yuu membatin bahwa variasi senyuman Youka tidak kalah luasnya dengan Kagura.


Merasa tidak tahan lagi dengan rasa penasaran orang-orang di sekitar yang menusuk, Yuu menarik kakinya dan berdiri.


“Aku mau beli minum.”


“Aku mau yang bersoda. Cola. Kalau ada es krim vanila di atasnya bakal sempurna. Bayarnya nanti ya, akan kubalas dua kali lipat.”


“Aku juga.”


Mereka berdua memesan dengan sangat santai. Sedihnya, Yuu yang berjiwa pekerja keras malah mengiyakan dengan ramah layaknya sedang bekerja paruh waktu. Tapi ya sudahlah, jika ini bisa membuatnya keluar sejenak dari tempat ini, itu harga yang murah.


Yuu keluar dari kelas sambil berpikir apakah sebaiknya ia mengocok salah satu botol cola sebelum memberikannya nanti. Ia berjalan menuju kantin. Karena sedang jam istirahat makan siang, orang-orang memenuhi lorong. Yuu merasa sedang diawasi seseorang, meski ia berpikir mungkin itu hanya perasaannya saja. Punggungnya terasa tidak tenang. Ia menoleh beberapa kali namun tidak menemukan penyebabnya, sampai akhirnya tiba di vending machine tujuan.


Ia memasukkan uang seribu yen dan menekan tombol cola. Ia menekannya sekali lagi, lalu saat sedang bingung memilih minuman untuk dirinya sendiri, uang kembalian jatuh ke lubang pengeluaran. Ia memutuskan memilih teh hijau dan baru saja hendak memasukkan uang kembali, tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya dari belakang.


“Shikura-kun.”


Rasanya seperti ditusuk dari belakang. Suara yang tajam seperti jarum dan seolah melubangi udara.


Yuu yang sangat terkejut tanpa sengaja membenturkan kepalanya ke mesin penjual otomatis. Tanpa mempedulikan rasa sakitnya, ia berbalik dan melihat Miyako yang sedang membuang muka dengan canggung.


“......Furumi-san. Ada apa di tempat seperti ini?”


“Maaf. Aku tidak menyangka kau akan sekaget itu.”


“Aku tidak kaget kok. Cuma terpeleset sedikit.”


Yuu tidak pernah menyadari reaksi seperti apa yang ia tunjukkan saat kaget, namun karena pernah dikomentari oleh Yoyo, ia merasa sangat malu.


Apa reaksiku benar-benar berlebihan?


Miyako tampak bingung melihat Yuu yang berusaha berlagak tenang, namun ia segera mengembalikan ekspresinya ke posisi netral dan langsung masuk ke inti pembicaraan.


“Kau suka game? Ayo bicara sebentar.”


Suara Miyako yang tadinya datar sedikit terdengar antusias.


Tak disangka, "Operasi Masa Puber" tadi berhasil. Terlebih lagi, hasilnya sangat cepat. Yuu benar-benar terkejut karena ia tidak menaruh harapan besar.


Sambil merasa sangat bersalah karena kurang persiapan, Yuu juga merasa bersyukur bahwa sandiwaranya dengan Nijimura tidak sia-sia, lalu ia menerima permintaan Miyako. Karena agak merepotkan membawa tiga botol sekaligus, Yuu meminta Miyako memegang satu botol. Yuu bilang akan mentraktirnya sebagai ucapan terima kasih; meski sempat menolak, akhirnya Miyako menyerah dan menekan tombol cafe au lait yang manis.


Mereka berdua tidak kembali ke kelas, melainkan berjalan menuju ujung gedung sekolah yang sepi. Tempat yang mereka tuju adalah jalan satu arah menuju ruang kepala sekolah. Mereka berhenti di tengah jalan itu, membuka jendela, lalu saling berhadapan.


Di sini seharusnya jarang ada orang yang datang. Bagi pelajar, orang dewasa yang punya jabatan adalah objek perlawanan, jadi mereka tidak akan sudi mendekat dengan sengaja.


Miyako meminum cafe au lait-nya, mengembuskan napas sejenak, lalu berkata dengan wajah datar.


“Lidahku terbakar.”


Aku tidak tahu apakah itu lelucon khasnya atau dia benar-benar kepanasan, tapi entah kenapa aku merasa itu yang pertama. Miyako, yang sepertinya sedang menunggu reaksiku, mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan memiringkan kepala. Kemudian, dia menyeret langkahnya perlahan untuk memperpendek jarak.


Dekat. Maksudku, terlalu dekat.


“......Aku sudah memikirkannya sejak tempo hari, tapi jarak interaksi Furumi-san itu dekat sekali, ya.”


“Benarkah? Mungkin saja begitu. Soalnya, aku tidak punya teman. Aku tidak terlalu paham soal batasan jarak.”


Dia mengatakan hal yang membuatku sulit merespons itu dengan blak-blakan, lalu mundur selangkah kembali ke posisi semula.


“Kira-kira begitu. Kupikir selama selaput lendir kita tidak bersentuhan, maka tidak ada masalah, tapi ternyata aku salah ya.”


“Furumi-san. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan juga denganmu.”


Miyako tidak tampak tersinggung saat aku mencoba mengalihkan pembicaraan secara paksa. Seolah sudah menunggu momen ini, suaranya yang tadinya datar kini menjadi penuh intonasi.


“Aku tidak sengaja mendengarnya, tapi Shikura-kun sedang gandrung bermain game belakangan ini, kan? Sebenarnya aku juga. Aku sangat suka genre adventure game. Karena tidak punya teman, aku selalu main sendirian, tapi aku tidak punya genre yang dibenci. Aku punya PC, tapi aku lebih suka konsol. Kalau di ponsel, aku sering main game escape game.”


Miyako menyatukan ujung jari kedua tangannya dan mulai berceloteh panjang lebar layaknya orang yang berbeda dari sebelumnya. Pelafalannya sangat indah, seolah sedang membacakan puisi.


Mungkin dia tidak sedang membicarakan hal yang rumit, tapi karena aku tidak mengerti apa yang dia katakan, aku hanya bisa membalas dengan senyum getir.


Melihat sosok Miyako yang tampak sangat senang—bisa dibilang dia berubah drastis—hati nuraniku terasa teriris, dan akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku memang tidak berniat terus membohonginya.


“Maaf! Furumi-san! Ada yang harus kujelaskan padamu!”


“......?”


Saat aku membungkuk dalam-dalam, Miyako memasang ekspresi melongo.


“Sebenarnya, soal pembicaraan game tadi, itu bohong. Aku tidak pernah menyentuh game lagi sejak sekolah dasar.”


“......Maksudnya bagaimana?”


“Aku butuh alasan untuk bisa bicara dengan Furumi-san, jadi aku sengaja bicara keras-keras untuk menarik perhatianmu.”


Aku tidak menumpuk kebohongan lagi dan mengaku sejujurnya. Aku menyesal karena seharusnya aku minta maaf terlebih dahulu sebelum apa pun. Menaruh kebohongan manis di lidah dan mengajak seseorang ke tempat sepi... tindakanku ini sama saja dengan penculik.


Keheningan yang terasa berat pun menyelimuti. Aku sudah siap jika dia marah, tapi ternyata tidak. Miyako justru bertanya dengan heran.


“Kenapa kau ingin bicara denganku? Aku tersinggung jika kau menganggapku gampang dikelabui.”


“Bukan, bukan begitu.”


Saat aku mengangkat wajah, Miyako sedikit mengangkat sudut mulutnya dan menunjukkan senyum yang terlihat dewasa. Ekspresi yang seolah bisa melihat menembus situasiku.


“Ini soal Kengamine-san, kan? Kita berdua sama-sama berat ya menghadapinya. Maaf, tapi aku punya firasat tidak bisa terlalu membantu.”


“Tidak, tidak ada orang yang bisa membantu lebih darimu, Furumi-san.”


“Apakah ini soal ingin mengintip isi rok atau membantumu mengambil foto diam-diam?”


“Furumi-san, menurutmu aku ini orang yang seperti apa?”


“Cuma bercanda kok. Aku ahli dalam membuat lelucon.”


Aku bimbang apakah harus membalas candaannya atau tidak, tapi aku menahannya. Setelah saling menatap sejenak, aku berdehem untuk memulai kembali pembicaraan.


“Langsung saja, Kengamine sedang menerima perlakuan buruk, jadi aku ingin melakukan sesuatu. Kemampuanku terbatas jika sendirian, jadi aku ingin kau meminjamkan kekuatanmu.”


“Perlakuan buruk?”


“......Sejauh yang kudengar, bullying.”


Aku tidak suka kata perundungan. Karena kata itu terdengar lebih ringan dibandingkan isinya, aku tidak suka. Namun, aku tetap menggunakannya karena memang kata itulah yang paling tepat untuk menyampaikan bahwa ini adalah masalah serius tanpa perlu bertele-tele.


Aku mengalihkan pandangan sejenak ke luar jendela, lalu menatapnya kembali. Miyako pun kini memasang wajah serius.


“Siapa yang melakukan hal seperti itu?”


“Aku tidak tahu. Aku baru saja mulai menyelidiki. Tapi, untuk sementara ada orang yang kucurigai.”


Miyako meletakkan tangan di dagunya, berpose seolah sedang berpikir keras. Kemudian,


“Yang kau curigai itu, Kagura Shio?”


Tepat sasaran. Dia menebaknya dengan sangat akurat. Aku sampai berpikir jangan-jangan dia benar-benar bisa melihat segalanya. Karena terkejut, aku hanya bisa terperangah tanpa bisa berkata-kata. Miyako sepertinya menyadari reaksiku. “Sudah kuduga,” gumamnya sambil menghela napas. Ekspresi datarnya berubah menjadi raut wajah jengkel dengan dahi berkerut.


“Ternyata dia masih melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu ya.”


“......Kau sudah tahu?”


“Iya. Dulu saat SMP aku sering bolos sekolah, itu karena dia penyebabnya.”


Dia mengatakannya begitu saja. Seolah itu urusan orang lain.


Miyako mengatakannya. Seolah itu hanyalah sebuah candaan. Namun, sepertinya itu bukan candaan yang bisa ditertawakan.


Aku tidak tahu seperti apa raut wajahku saat ini. Karena Miyako tersenyum dengan lembut, aku jadi semakin tidak mengerti.


“Aku tidak punya bukti, sih. Lagipula aku tidak terlalu memikirkannya. Malah aku senang bisa bolos karena jadi bisa main game di rumah. Aku justru ingin berterima kasih padanya.”


“Bohong.” Aku memotong perkataannya dengan tegas.


Aku tidak mau menerima alasan seperti itu. Hal ini seharusnya menjadi sebuah lelucon saja.


“Alasan Furumi-san menyapaku adalah karena kau ingin mengobrol dengan seseorang, kan? Kau ingin bermain game bersama seseorang, kan? Orang seperti itu tidak mungkin merasa bersyukur saat tempatnya dirampas secara tidak adil dan dipaksa terisolasi.”


Mungkin saja ia benar-benar tidak peduli, dan aku tahu Miyako hanya bersikap tenggang rasa agar suasana tidak menjadi suram, namun aku tetap tidak tahan untuk tidak mengatakannya. Sebuah idealisme yang sepihak. Aku tidak bisa menahannya.


Karena Miyako pun sama seperti Youka, sama seperti Yoyo—dia pernah menangis karena memikirkan orang lain. Ia pasti ingin hidup berdampingan dengan seseorang.


『Miyako-chan pernah bilang, lho. Katanya Shikura-kun sepertinya tidak suka jadi pusat perhatian』


—Pernyataan Yoyo kembali terngiang. Seseorang yang begitu peka terhadap sifat teman sekelas yang bahkan belum pernah ia ajak bicara, seseorang yang begitu baik hingga memperhatikan orang lain di tempat yang tak terlihat, tidak mungkin ia baik-baik saja dalam kesendirian. Aku tidak ingin dia merasa harus baik-baik saja.


“Lanjutkan,” pinta Miyako. Seandainya pun ia mencoba menghentikanku, aku yang sudah terlanjur emosional pasti akan tetap melanjutkan.


“Miyako-san dan Kengamine memang terlihat tenang, tapi aku tidak percaya. Aku merasa kalian hanya menunjukkannya di luar saja, sementara pergulatan batin yang bahkan tidak bisa kubayangkan, sampai sekarang pun belum sirna sedikit pun. Karena Miyako-san adalah tipe orang yang suka berpura-pura kuat.”


Mereka pasti sedang tersesat. Tersesat hingga ke tahap yang menyedihkan. 


Aku teringat saat pertama kali Miyako dan yang lainnya mengunjungi tempat kerjaku, aku sempat memiliki kesan seperti itu.


“Kau harus marah. Kau harus marah, Miyako-san. Jika perkataanku salah, marahlah padaku. Jika tidak, marahlah pada Kagura Shio. Jika memang pelakunya adalah Kagura-san, saat itu pun aku akan ikut marah bersamamu.”


“......Shikura-kun ternyata orang yang punya rasa keadilan yang tinggi, ya.”


“Bukan begitu. Aku hanya tidak suka melihat orang yang kukenal merasa tidak nyaman. Aku tidak berniat mencampuri urusan orang yang tidak kukenal.”


Ini adalah kebenaran, dan Yuu tahu betul bahwa dirinya bukanlah orang suci. Ia tahu dirinya tidak cukup mahir ataupun cukup baik untuk mengulurkan tangan kepada orang asing yang tak dikenal.


Setelah menumpahkan semua yang ingin ia katakan dan meluapkan emosinya, kepala Yuu perlahan mulai dingin. Rasa malu pun menyergap dengan cepat saat ia merenungkan kembali ucapannya.


Seketika sikapnya berubah, ia menundukkan kepala layaknya bunga siklamen yang layu.


“......Maaf, aku bicara seolah-olah paling tahu. Mengatakan hal yang sebenarnya tidak perlu dikatakan...... aku benar-benar minta maaf.”


Terlebih lagi, meskipun ia tidak tahu, ia telah membangkitkan kenangan buruk masa lalu. Jika ia mengibarkan bendera demi seseorang namun malah melukai orang lain, maka itu adalah tindakan yang kontradiktif.


Yuu kembali menyadari ketidakkematangan dirinya sendiri. Padahal ia mengaku lebih suka sendiri, namun ternyata ia tidak berbakat untuk menyendiri. Karena ia adalah tipe orang yang mudah terbawa emosi seperti ini, ia butuh seseorang di sampingnya yang bisa memegang kendali dengan tenang. Meski begitu, dalam hal menyelidiki Kagura, sepertinya lebih baik mencari rekan kerja lain.


Tepat saat ia memutuskan hal itu dan mengangkat wajahnya,


“—Fufu.”


Miyako menunjukkan senyuman yang sangat berbeda dari sebelumnya, sebuah senyuman yang melibatkan seluruh wajahnya.


“Fufufufufu. Shikura-kun. Hei, Shikura-kun. Aku sudah menunggu orang sepertimu muncul.”


Ia tertawa sambil menutup mulut dengan kedua tangan, gaya tertawa yang seperti di dalam komik. Dialognya pun terdengar puitis.


Yuu sempat terpaku melihat tingkah kekanak-kanakan Miyako yang biasanya memiliki atmosfer dewasa meski mereka seumuran.


“Semua yang dikatakan Shikura-kun benar. Aku kaget sekali karena kau menunjukkannya dengan begitu blak-blakan.”


“Maafkan aku.”


“Tidak apa-apa, itu kenyataan. Sebenarnya aku sangat sedih, dan sendirian itu sangat kesepian. Benar-benar sedih dan kesepian. Sejujurnya aku juga marah, dan kalau bisa, sampai sekarang pun aku ingin membuat si licik itu kapok. Jadi, biarkan aku membantumu. Tidak, mungkin lebih tepat jika kukatakan; 'bantulah aku'.”


“......Boleh?”


“Iya. Ini bukan candaan atau apa pun. Jika seseorang bilang akan ikut marah bersamaku, aku tidak mungkin bisa menolaknya. Mari kita seret si licik yang berlagak raja itu sampai ke dasar jurang. Mari kita cabik-cabik dia dan bagi dua hasilnya.”


Ternyata mulut orang ini cukup tajam juga ya...... tidak, jika diingat-ingat, memang sudah begitu sejak awal.


Bagaimanapun, Miyako tampak sangat antusias untuk bekerja sama. Bukan berpura-pura kuat, tapi menjadi kuat. Memalingkan muka bukanlah hal yang salah, namun Yuu merasa senang karena Miyako memilih untuk marah.


“Akan kuhajar dia sampai babak belur supaya tidak bisa lagi berbuat jahat. Asal kau tahu ya Shikura-kun, kau tidak boleh berhenti di tengah jalan.”


“Itu yang kuharapkan.”


Ingin melakukan segalanya sendiri, dan gagal pun sendiri. Itu adalah isi hatinya yang jujur, namun bagaimanapun, memiliki sekutu terasa sangat membesarkan hati. Mungkin karena sedang bersemangat—entah kenapa ia merasa tidak akan gagal.


Miyako menyodorkan kepalan tangannya, dan meski merasa sedikit malu, Yuu membalasnya dengan benturan kepalan tangan yang mantap.


“Fufufu. Ini mulai jadi menyenangkan. Karena tempat dan waktunya kurang pas sekarang, mari kita atur ulang dan bicara santai di suatu tempat. Apa kau luang sepulang sekolah nanti?”


“Kerja paruh waktuku sedang libur, jadi tidak masalah.”


“Kalau begitu, kosongkan waktumu ya.”


Mengingat mereka sedang dalam misi membeli minuman, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas. Keduanya tertawa sepakat bahwa jika mereka menunggu terlalu lama, Youka yang tidak sabaran bisa saja melakukan tindakan aneh. Miyako kemudian membuka botol cola milik Youka dan meminumnya sedikit.


Yuu membawa minuman di kedua tangannya seolah ingin pamer, dan Miyako pun melakukan hal yang sama, berjalan berdampingan sambil menunjukkan gestur "habis disuruh-suruh beli minum".


“Tapi, aku syok lho karena Shikura-kun ternyata tidak tertarik pada game.”


“Kalau begitu, karena ada kesempatan, ajari aku sesuatu dong. Bakal sangat membantu kalau game-nya bisa dimainkan di ponsel.”


“Akan kusiapkan daftar rangkumannya sebelum pulang sekolah nanti.”


Begitu sampai di depan kelas, Miyako berlari kecil dengan riang dan masuk lebih dulu ke dalam.



Sepulang sekolah.


Yuu sedang menunggu Miyako di depan minimarket yang menghadap trotoar, di sebuah persimpangan jalan yang agak jauh dari sekolah. Tak lama kemudian Miyako datang. Begitu menemukan sosok Yuu, ia berlari kecil menghampiri, mengangkat satu tangan, dan tersenyum sambil berucap, “Beres.”


Pertengkaran dengan Youka soal cola yang meletus saat jam makan siang tadi ternyata berlanjut sampai jam istirahat berikutnya. Yuu sempat khawatir Youka akan membuntuti mereka sampai pulang, namun sepertinya hal itu tidak terjadi.


Akhirnya keduanya bertemu dan sambil berjalan, mereka berdiskusi hendak pergi ke mana. Yuu sempat berpikir tempat kerjanya adalah pilihan yang aman, namun ia langsung menolaknya karena ada kemungkinan Youka atau Yoyo muncul di sana. Saat ia sedang berpikir untuk masuk ke rumah makan mana pun yang terlihat, Miyako berujar:


“Mau ke rumahku? Aku tidak akan membiarkanmu bosan.”


“......Jangan deh. Aku bisa melihat masa depan di mana aku malah berakhir main game kalau ke sana.”


“Jangan khawatir, aku punya koleksi game yang bisa dimainkan banyak orang kok. Game zaman sekarang ramah bagi orang yang sendirian karena bisa dimainkan secara daring. Ah, maaf. Itu maksudnya kekhawatiranku sendiri ya. Tenang saja, aku punya 7 controller.”


“Lain kali saja aku mampir.”


Miyako mencoba membujuknya dengan bahasa pemasaran yang tidak terlalu jelas, namun saat Yuu menolaknya dengan tegas, ia mengerucutkan bibirnya dengan kecewa.


Sepertinya dia benar-benar mendambakan teman bermain game. Meskipun hanya untuk sementara, Yuu sebenarnya punya keinginan besar untuk mengabulkan permintaan Miyako yang kini menjadi rekan kerjanya. Namun, ia bisa membayangkan bagaimana urutan prioritas mereka akan terbalik jika sudah dikelilingi game di "markas" gadis itu.


Maka, Yuu harus tega dan memprioritaskan pembahasan mengenai Kagura Shio terlebih dahulu. Miyako pun pasti memahami hal itu.


“Cuma bercanda kok. Untuk hari ini aku menyerah.”


“Untuk hari ini, ya......”


“Daripada itu, bagaimana baiknya? Jika Shikura-kun tidak keberatan, aku punya usul. Mari beli es krim di minimarket, lalu kita bicara di taman atau di tepi sungai.”


“Aku tidak keberatan sih, tapi apa tidak dingin?”


Bulan Oktober sudah hampir berjalan setengahnya, dan batas dengan musim dingin mulai menjadi kabur; ada hari yang hangat, namun ada juga hari yang terasa menusuk kulit. Hari ini kebetulan hawanya lebih cenderung ke arah musim dingin. Namun, Miyako tetap bersikeras justru karena cuacanya dingin. 


Saat ditanya apakah dia sebegitu sukanya dengan es krim, ia malah menjawab dengan yakin, “Aku tidak suka, tuh.” Dia benar-benar orang yang unik.


“Maaf ya, ikutlah denganku. Mari kita makan sambil mengeluh 'dingin, dingin' bersama-sama. Hal seperti itu adalah sesuatu yang biasa aku dambakan.”


Miyako tersenyum malu-malu. Jika dikatakan seperti itu, Yuu tidak bisa menolak, dan memang tidak ada alasan untuk menolak.


Keduanya kembali ke jalan semula, membeli es krim di minimarket, lalu pindah ke taman terdekat. Begitu sampai, Miyako langsung melompat ke atas alat permainan berbentuk panda yang memiliki pegas besar di bawahnya. Kata "naik" tidak sepenuhnya salah, namun tepatnya ia "berdiri" di atasnya.


Sambil berdiri di pijakan kaki dan menjaga keseimbangan dengan mahir, ia memegang kantong plastik di satu tangan dan menggigit es lilin berwarna biru di tangan lainnya.


Yuu menatap Miyako dari depan sambil menikmati es krimnya sendiri, tetap waspada agar bisa segera menolong jika sewaktu-waktu gadis itu kehilangan keseimbangan.


Miyako, yang sedari tadi berulang kali berkata "dingin, dingin" dengan wajah senang, mulai bicara.


“Jadi, soal Kagura Shio. Shikura-kun sudah mengenalnya, kan?”


“Cuma bicara sebentar. Saat itu aku sempat bertanya sedikit tentang Furumi-san. Soal kau yang dulu tidak masuk sekolah dan sebagainya.”


“Begitu ya. Apa yang dia katakan?”


“Katanya dia pernah mencoba menyapamu karena ingin membantu, tapi kau malah marah dan bilang dia terlalu ikut campur.”


“Hebat sekali dia bisa mengatakannya tanpa rasa malu sedikit pun. Perempuan yang mengerikan.”


Miyako menggertakkan giginya pada es krim.


“Apa mungkin dia waspada karena merasa sedang diselidiki?”


“Dasarnya dia itu orang licik yang waspada terhadap segala hal, jadi menurutku tidak perlu dipikirkan. Kalau dia bilang 'tidak tahu', anggap saja artinya dia 'tahu'.”


Dalam sekejap Miyako menghabiskan es krim pertamanya dan mengeluarkan yang kedua. Kali ini adalah es krim cone rasa cokelat. Yuu sambil perlahan menjilat es krim satu-satunya miliknya, memusatkan pikiran pada sebuah keraguan yang muncul.


Katanya tidak ada bukti—namun cara bicaranya seolah sangat yakin bahwa Kagura adalah dalangnya.


“Anu, Furumi-san. E-eto...... Kau tampak sangat yakin kalau Kagura-san adalah pelakunya, bolehkah aku bertanya lebih dalam tentang itu?”


“Silakan tanya saja. Tapi sebelum itu, ada satu hal. Shikura-kun itu orang yang baik, jadi aku merasa kau pasti akan menahan diri meski ingin bertanya sesuatu karena tidak enak hati padaku. Tapi khusus untuk masalah ini, mari kita tiadakan rasa sungkan seperti itu. Aku tidak apa-apa. Karena aku tahu kebaikan hati Shikura-kun.”


Kau salah, Furumi-san. Aku tidak sebaik itu. 


Kalimat itu tidak Yuu ucapkan.


Senyum lembut Miyako dan niat baiknya yang meluap-luap terasa menggelitik hingga Yuu mengalihkan pandangannya. Pantas saja dia bisa mengimbangi Youka, dia memang orang yang sangat berhati lurus.


“Nah, soal Kagura Shio, aku pertama kali menjadi korban itu kalau tidak salah saat musim gugur kelas satu SMP. Sekitar tiga tahun yang lalu. Aku tidak tahu apa yang menyinggung perasaannya, tapi suatu hari saat aku membuka buku catatan, sudah banyak makian tertulis di sana. Saat menemukannya, rasanya cukup berat bagiku.”


“......Aku jadi ikut kesal mendengarnya.”


“Tapi bagi mereka, itu adalah sebuah blunder. Bisa dibilang yang pertama dan terakhir. Mungkin karena mereka baru memulai, caranya masih sangat amatir. Kalau sekarang, dia tidak akan melakukan cara yang meninggalkan jejak seperti itu. Tidak sulit membayangkan mereka melakukannya secara impulsif saat itu. Manusia cenderung menjadi berani jika berkelompok. Tak lama setelah itu buku catatannya langsung dibuang, tapi diam-diam aku sudah memotretnya sebagai barang bukti.”


Sambil berkata demikian, ia mengeluarkan ponselnya dan dengan gerakan tangan yang lihai menunjukkan foto itu kepada Yuu.


Buku catatan yang dipenuhi makian kasar yang tak sanggup diucapkan dengan lisan. Yuu mengerutkan dahi sambil menggigit stik es krimnya.


“Aku sudah meneliti tulisan tangan dari makian di buku ini, dan wah, ajaibnya, beberapa di antaranya sangat mirip dengan tulisan tangan Kagura Shio-chan. Terutama pada bagian makian yang paling parah.”


Di sana, Miyako menarik sudut mulutnya dengan ekspresi penuh kebencian dan tersenyum, “Benar-benar murid teladan, ya.” Sepertinya dia juga mahir menggunakan ironi.


“Setelah itu, kejadiannya berubah menjadi barang-barang yang hilang atau dirusak, hingga penyebaran rumor aneh. Karena mereka selalu kompak tutup mulut, aku tidak bisa mendapatkan bukti yang menentukan. Mungkin lebih tepat dikatakan kalau aku tidak punya kemampuan untuk itu.”


“Bukankah itu sudah cukup jadi bukti? Jika ada foto itu, bukankah kau bisa menghentikan tindakannya yang sekarang?”


“Kita tidak sedang beradu di pengadilan, lagipula bukti itu mungkin masih terasa lemah. Jumlah pendukung di pihak lawan itu berbeda jauh, jadi aku bisa saja disudutkan dan ditindas oleh perbedaan jumlah orang jika dia berkelit. Karena itulah, untuk membuat si licik itu bertekuk lutut, saat ini satu-satunya cara hanyalah membuatnya mengaku.”


Memang benar, jika bisa mendapatkan pengakuan, masalah ini akan langsung tuntas. Namun dalam situasi sekarang, sulit untuk menyudutkannya sampai sejauh itu. Pihak mereka hanya berdua. Bahkan jika menggabungkan Nijimura dan Matilda, jumlah mereka hanya empat orang. Kalau begitu, berarti:


“Kalau begitu, hal yang harus kita lakukan ada dua. Pertama, mengumpulkan bukti. Jika bisa, aku ingin berada di lokasi saat kejadian berlangsung dan merekamnya. Kedua, menambah jumlah orang di pihak kita.”


Setidaknya, menambah jumlah orang yang bisa bersikap netral, meski mereka tidak sampai melangkah maju untuk membantu secara langsung saat terjadi sesuatu.


Itu adalah syarat yang harus dipenuhi dalam menantang lawan yang terorganisir. Rasanya memang sangat sulit, namun di sisi lain, Yuu merasa jika itu dilakukan oleh Miyako yang cukup populer, segalanya mungkin akan berjalan mulus.


Miyako mengangguk dalam-dalam.


“Kurasa itu sangat efektif. Aku tidak tahu apa kriteria Kagura Shio dalam memilih korbannya, tapi fakta bahwa korbannya adalah sosok yang terisolasi merupakan kesamaan antara aku dan Kengamine-san. Aku pindah ke sini sesaat sebelum masuk SMP dan tidak punya kenalan, jadi aku adalah mangsa yang sempurna bagi dia. Selain itu, kami juga mirip dalam hal tidak suka membuat keributan. Kalau kasusku sih, karena aku memang kurang kemampuan. Intinya, si licik itu spesialis perundung orang lemah, jadi dia tidak punya nyali untuk menjadikan banyak orang sebagai musuh.”


“Semakin didengar, dia benar-benar terlihat seperti penjahat ya. Lalu, ini hanya kesan pribadiku, tapi bukankah fakta bahwa kalian cantik sampai menarik perhatian sekitar juga merupakan kesamaan?”


“Eh, kenapa tiba-tiba bilang begitu? Aku kan jadi malu kalau dipuji secara normal seperti itu.”


Dalam sekejap wajah Miyako merona merah. Yuu yang baru menyadari kelalaian bicaranya juga merasakan panas di pipinya dan langsung membuang muka.


Yuu menyadari jika ia membiarkan keheningan ini berlanjut maka suasana akan semakin canggung, jadi ia berpura-pura tenang dan mengembalikan pembicaraan ke jalur utama.


“Yang sulit di sini adalah...... Anu, Furumi-san. Sebenarnya aku tidak ingin Kengamine tahu tentang hal ini.”


“Kenapa?”


“Aku tidak mau dia berpikir kalau aku melakukan ini demi dia. Keinginanku untuk menghentikan perundungan terhadap Kengamine itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kengamine sendiri.”


“............?”


Miyako memiringkan kepalanya, lalu memasukkan sisa kerupuk cone ke mulutnya dan menirukan gaya burung. Sambil bergumam "kurru-ppo" ia mengunyah cone itu lalu menelannya.


“Jika Shikura-kun bilang begitu, aku tidak akan bicara padanya. Lagipula, aku sendiri entah kenapa merasa enggan jika Kengamine-san sampai tahu. Bisa repot kalau itu mengganggu kualitas adu mulut kami. Bagaimanapun, aku bergerak untuk menuntaskan masa laluku sendiri.”


“Ternyata keputusanku meminta bantuan padamu memang benar, Furumi-san. Lalu mulai dari sini, meski aku tahu ini sulit, aku juga ingin menambah jumlah orang yang berpihak pada Kengamine.”


“Fufufu. Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Jika dilakukan seperti itu, penyelesaiannya mungkin butuh waktu lama, atau yang terburuk...... tidak, lupakan saja. Lagipula, berhentinya gangguan terhadap Kengamine-san tidak harus berarti sama dengan 'memenggal kepala' Kagura Shio, kan? Semakin cepat semakin baik.”


Sambil berterima kasih kepada Miyako yang memahami maksudnya tanpa perlu dijelaskan, Yuu meminta jawaban yang pasti.


“Sejujurnya, aku merasa ini adalah bagian yang paling sulit, apa tidak apa-apa?”


“Tentu saja. Meski aku merasa sedikit kesepian.”


Yuu bertanya-tanya "Apa maksudnya?", namun Miyako tidak menjawab. Ia menunduk dan menunjukkan senyum yang membawa sedikit kesedihan, namun kemudian ia melontarkan pernyataan yang membuyarkan suasana melankolis tersebut.


“Menjadikan Shikura-kun dan Kengamine-san sepasang kekasih juga bisa menjadi salah satu cara, lho. Kalau lawannya adalah pacar korbannya, Kagura mungkin akan berpikir kalau Kengamine-san bakal mengadu, jadi dia mungkin akan menghentikan pergerakannya untuk sementara.”


“Tolong jangan bercanda yang tidak lucu. Dia bakal langsung tahu kalau aku bukan lawan yang sepadan bahkan untuk sekadar pengalihan isu.”


Lagipula, Miyako yang mendengar percakapan mereka di kelas tadi seharusnya tahu bahwa tidak mungkin Yuu dan Youka menjalin hubungan asmara.


Singkatnya, itu hanya candaan. Candaan berupa mimpi buruk yang mengerikan hanya dengan membayangkannya saja. Namun, hal itu tampaknya memberikan stimulasi yang baik bagi pikiran Yuu, sehingga muncul arah pemikiran baru.


“Furumi-san, saat bermain game, kau lebih suka menyerang atau bertahan? Dalam game biasanya ada pertarungan, kan?”


Mendapat pertanyaan itu, Miyako tampak sangat senang karena diajak bicara soal game. Ia melompat turun dari mainan panda dan mendekat hingga tepat di depan mata Yuu, lalu mulai bicara dengan cepat.


“Itu sulit dipilih ya. Aku yakin jawaban 'suka keduanya' bukanlah hal yang kau inginkan, jadi aku akan memilih salah satu. Hmm, sepertinya pertahanan lebih cocok dengan sifatku. Perasaan mahakuasa seolah mengendalikan seluruh area permainan itu sangat luar biasa. Tapi, aku juga suka ketegangan dari rangkaian momen menyerang tanpa henti, atau pertaruhan besar yang diputuskan berdasarkan intuisi. Jadi—karena bisa menjadi kepribadian yang berbeda dari diriku yang biasanya, aku pilih menyerang. Eh, Shikura-kun mau main game? Kau boleh ke rumahku sekarang juga.”


“Lain kali saja aku mampir.”


“Kapan itu? Mari kita putuskan sekarang. Bagaimana kalau lusa, hari Sabtu?”


“Hari itu aku ada kerja paruh waktu......”


Begitu Yuu menolak dengan halus, Miyako yang tadinya bersemangat langsung lesu dan menjatuhkan bahunya dengan lemas. Ia berjalan gontai ke arah mainan panda, berjongkok, dan mulai mengelus kepala panda itu.


Punggung yang memancarkan aura kesedihan. Karena merasa sangat tidak enak hati, Yuu akhirnya mengucapkan kata-kata penyelamat.


“......Kerjaku selesai lewat tengah hari, jadi kalau setelah itu, aku bisa.”


“Kata-kata itulah yang ingin kudengar!”


Miyako berdiri dengan mata berbinar. Karena sudah menduga akan jadi begini, Yuu tidak terkejut. Miyako, yang antusiasmenya sepertinya sudah melonjak ke level yang aneh, mulai menusuk-nusuk perut Yuu dengan kedua jari telunjuknya sambil membacakan jadwal.


“Kalau begitu, hari Sabtu ya. Kerja paruh waktumu di kafe itu, kan? Aku akan menjemputmu, jadi bekerjalah dengan semangat. Datang dengan tangan kosong saja tidak apa-apa. Kalau ada game yang membuatmu penasaran, beri tahu aku sebelumnya, akan kusiapkan meski harus mempertaruhkan nyawa.”


Setelah menyelesaikan rencana dalam sekejap, Miyako kembali memasang wajah tenang, meski belum sepenuhnya kembali normal.


“Jadi, apa yang ingin Shikura-kun bicarakan? Maaf ya aku membuat pembicaraannya melantur.”


“Tidak apa-apa. Kau sudah mau mendengarkan permintaanku, dan aku juga tidak suka jika hubungan kita hanya sekadar urusan formal.”


Meski begitu, Yuu merasa sangat enggan jika harus tiba-tiba berkunjung ke rumah perempuan. Ia merasa galau sendiri melihat Miyako yang tampak tidak peduli, namun kemudian ia merasa malu karena berpikir berlebihan seperti itu.


Mungkin sama seperti Yuu yang menganggap Yoyo sebagai hamster, Miyako pun menganggap Yuu sebagai anak anjing atau semacamnya.


“Kembali ke pembicaraan awal, bagaimana jika kita yang mulai menyerang? Jika kita terus-menerus bersikap pasif, kita akan terus bermain di arena lawan. Lebih baik kita guncang mereka sekalian untuk memancing kesalahan. Dengan begitu, lawan juga akan berada dalam situasi di mana mereka terpaksa melakukan pertaruhan besar yang mengandalkan intuisi semata.”


Menarik lawan ke dalam ritme sendiri, seperti yang dilakukan Kengamine Youka. Yuu tahu betul melalui pengalamannya sendiri bahwa pilihannya saat berhadapan dengan Youka selalu membawa hasil yang tak terduga.


Hanya dengan keberanian untuk mengorbankan dirilah, seseorang bisa menemukan jalan keluar.


Untungnya, kali ini ia punya kartu yang bisa dimainkan.


“Tentu saja, kalau Furumi-san tidak mau, kita batalkan.”


Aku akan melakukannya sendiri. Kalimat itu tidak kuucapkan.


“Aku setuju. Justru aku sendiri yang ingin mengusulkannya,” jawab Miyako seketika. Kemudian, ia memasang senyum jahil, seolah bisa melihat menembus pikiran lain yang sedang disembunyikan Yuu.


“Sebaliknya, aku ingin bertanya, apakah Shikura-kun sendiri tidak keberatan? Mengingat siapa lawan kita, aku tidak berpikir bisa menjatuhkannya hanya dengan cara-cara jujur. Menurutku, tergantung situasinya, kita mungkin harus menggunakan cara yang licik. Meski itu dilakukan karena terpaksa.”


“Aku juga memikirkan hal yang sama. Aku tidak mengatakannya tadi karena takut Furumi-san akan kecewa padaku.”


Yuu adalah tipe orang yang menyukai sportivitas, namun ia bukan orang yang kaku dalam mematuhinya.


Jika harus menghadapi sesuatu yang kotor, ia tidak keberatan jika dirinya sendiri harus ikut kotor. Ia tidak harus menang dalam keadaan tetap bersih.


Jika pihak lawan menyerang tanpa menunjukkan batang hidungnya, maka pihak sini pun akan bersembunyi dan memainkan siasat.


Seandainya cara licik yang dikatakan Miyako memang diperlukan, Yuu berniat melakukannya sendirian sebisa mungkin. Hal itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan, dan Miyako yang sudah menderita sampai hari ini tidak perlu dikotori lebih jauh lagi.


Bagi Yuu, cukup jika Miyako bisa menikmati hasil manisnya saja di akhir nanti. Mungkin idealisme seperti ini pun sudah terbaca oleh Miyako, namun begitulah cara pikir Yuu.


“Kalau begitu, mari kita jatuh ke neraka bersama-sama.”


Miyako tersenyum penuh niat jahat, dan Yuu pun membalas dengan senyuman yang sama. Karena arah pergerakan sudah sedikit banyak ditentukan, mereka memutuskan untuk bubar hari ini. Miyako-lah yang mengusulkannya.


Belakangan ini matahari terbenam lebih cepat, dan malam sudah berada tepat di depan mata. Kembali ke rumah lebih awal demi keamanan adalah alasan yang masuk akal, namun sepertinya Miyako memiliki niat lain.


“Mari kita bahas rinciannya nanti. Karena itu, pertama-tama kita harus bertukar kontak. Mungkin agak sedikit merepotkan, tapi sebaiknya kita gunakan fitur obrolan di dalam game.”


“Apa-apaan itu?”


“Tadi Shikura-kun bilang ingin diajari game yang bisa dimainkan sepuasnya di ponsel, kan? Bisa main game sekaligus bisa saling berkirim pesan. Ini yang namanya solusi jenius.”


“Aku tidak keberatan sih, tapi bukankah ini sebenarnya karena Furumi-san memang ingin mencobanya saja?”


“Ehe.”


Miyako mengetuk kepalanya sendiri sambil menjulurkan lidah—sebuah gaya berlagak bodoh yang seharusnya sudah punah.


Manis sekali. Berbahaya jika aku melihatnya di tempat yang lebih terang.


Yuu mengikuti instruksi Miyako yang kembali bicara dengan cepat untuk menginstal aplikasi tersebut, lalu menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk menyelesaikan tutorial. Setelah melalui berbagai operasi yang membingungkan seperti permintaan pertemanan dan bergabung ke dalam guild, Yuu dan Miyako resmi menjadi "teman".


“Mari bicara menggunakan fitur obrolan di sini. Hanya ada aku dan Shikura-kun, dan tidak akan ada orang lain yang masuk, jadi kau bisa bebas bicara hal-hal sensitif dengan tenang. Gunakanlah sebagai sarana komunikasi, tapi aku akan senang jika kau juga memainkannya.”


Wajah Miyako tampak berseri-seri penuh kegembiraan.


“Yah, akan kucoba.”


“Jangan khawatir, waktu terakhir kali log masuk (last login) tidak akan terlihat kok. Kalau peringkatmu tidak naik-naik juga, aku akan rekomendasikan game lain.”


Semangatnya begitu meluap-luap hingga seolah-olah terdengar suara "funsu-funsu" (napas semangat) darinya.


Yuu mengoperasikan ponselnya dengan gerakan yang belum terbiasa untuk menampilkan informasi akun Miyako.


Peringkat 920. Yuu tidak tahu seberapa hebat angka itu, dan mungkin itu adalah angka yang mustahil untuk dikejar—namun, melihat betapa senangnya Miyako hanya karena ia baru mulai bermain, Yuu merasa ingin melihat reaksinya jika ia berhasil menaikkan peringkatnya secara drastis.


Miyako saat ini, pasti. Sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga; sesuatu yang sangat biasa dan normal, yang baru disadari kepentingannya setelah beranjak dewasa.


Akhirnya, ia bisa menyentuhnya. Karena itu—mari kita coba.


Malam ini, Yuu berencana untuk sedikit begadang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close