NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Baito Saki ga Make Heroine-tachi no Tamariba ni natta V1 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Kedatangan Sang Heroine yang Kalah

"Yuu-kun. Gadis-gadis di kursi jendela itu sepertinya murid dari sekolahmu, ya."


Mendengar ucapan sang pemilik kafe—seorang pria paruh baya berjanggut yang akrab disapa Hige oyaji—Shikura Yuu mengernyitkan dahi. Sebenarnya, ia sudah menyadari bahwa mereka adalah teman sekolahnya sejak mereka melangkah masuk, namun ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.


Ia tidak ingin terlibat.


Atas dasar itulah, ia bekerja lebih giat dari biasanya, mulai dari mencuci piring hingga membersihkan ruangan, demi menghindari interaksi. Namun, Master yang sedang menganggur ternyata memiliki mata yang jeli. Sepertinya melempar urusan pelayanan pelanggan ke orang lain hanya menunda masalah saja.


Yuu bimbang bagaimana harus bereaksi. Ia menilai bahwa berpura-pura tidak kenal secara berlebihan justru bisa memicu kerumunan masalah di kemudian hari. Akhirnya, ia memutuskan untuk memberikan sedikit informasi yang ia tahu.


"Sepertinya begitu. Bisa dibilang mereka cukup terkenal di sekolah kami. Lagipula, mereka cantik."


Yuu menjawab dengan datar dan terkesan acuh tak acuh, namun penolakan halus itu tidak mempan bagi Master yang justru menimpali dengan nada antusias.


"Hoo. Jadi Yuu-kun juga tertarik pada perempuan, ya? Memang benar, ketiganya gadis yang sangat elok."


"Saya hanya menyampaikan fakta objektif."


"Tapi suasana di meja itu terasa tidak biasa. Apa terjadi sesuatu?"


Karena kafe ini tergolong sepi sepanjang hari—meskipun katanya cukup sibuk saat jam makan siang—waktu luang di jam-jam seperti sekarang sangat melimpah. Yuu dan Master memiliki banyak kesempatan untuk mengobrol santai di dapur.


Sambil melirik sekilas ke arah tiga gadis yang duduk menunduk di meja dekat jendela, Yuu berujar:


"Katanya mereka baru saja patah hati. Ketiganya sekaligus. Sepertinya mereka menyukai orang yang sama atau semacamnya."


Tiga gadis yang mengunjungi tempat kerja paruh waktu Yuu ini adalah sosok populer yang di kalangan siswa laki-laki dijuluki dengan kata sandi "Mercusuar." Mereka adalah nama-nama yang sering muncul dalam survei rahasia "Gadis yang Paling Ingin Dijadikan Pacar" di angkatan mereka. Bahkan pernah ada survei khusus yang hanya menyaring kandidat menjadi mereka bertiga, dan Yuu pun sempat ikut memberikan suara. Karena tidak tertarik, ia hanya memilih nama yang paling mudah ditulis sambil melamun.


Sebagai sosok terkenal, urusan asmara mereka yang seharusnya menjadi rahasia pun bocor ke mana-mana, bahkan sampai ke telinga Yuu yang biasanya tidak peduli dengan lingkungan sekitar.


Kabarnya, mereka bertiga jatuh cinta pada laki-laki yang sama. Yuu mendapatkan informasi itu sekitar tiga bulan lalu, tepat sebelum libur musim panas.


Kini musim telah berganti, memasuki masa Kanro saat musim dingin mulai mendekat. Di musim yang melankolis ini—tepatnya siang tadi—kabar bahwa mereka bertiga patah hati menjadi topik hangat yang menyita perhatian seluruh kelas.


Ternyata, laki-laki yang mereka taksir memilih teman masa kecilnya. Itulah informasi terbaru dan terbesar yang Yuu miliki.


"Jadi, sebaiknya biarkan saja mereka sendiri."


"Bawa ini ke sana. Ini layanan gratis."


Master telah menyiapkan tiga piring kue cokelat. Kecekatan tangannya membuat Yuu terbelalak. Rupanya orang ini sudah merencanakan skenario ini sejak mereka masuk tadi.


"Eh, saya? Tidak mau. Master kan terlihat seperti pria dewasa yang karismatik, jadi Master saja yang pergi. Penampilan Master memancarkan pengalaman yang bisa langsung menyadari kalau mereka sedang sedih. Kalau orang seperti saya yang melakukannya, nanti malah dikira punya niat terselubung. Saya tidak mau."


Bagi Yuu yang ingin hidup tenang tanpa sorotan, sebisa mungkin ia menghindari kontak dengan orang-orang populer. Apalagi jika mereka adalah kelompok berisi tiga gadis mencolok, menolak adalah pemikiran yang paling alami baginya. Bukannya ia percaya diri akan menjalin hubungan asmara dengan mereka—ia yakin kemungkinan itu nol besar —namun ia tetap ingin menghindar. Jika ia sampai salah langkah dan dijadikan tempat curhat, itu akan menjadi neraka baginya.


"Alasan saya bekerja di kafe sepi yang hampir bangkrut ini kan karena saya tidak ingin berurusan dengan tipe orang-orang seperti itu. Lagi pula, soal kue cokelat itu... saya tidak menolak niat baiknya, tapi setiap orang punya selera masing-masing. Memberikannya tiba-tiba tanpa diminta bisa jadi malah mengganggu."


"Kamu dipecat."


"Maaf, saya salah. Saya minta maaf."


Yuu langsung menyerah di hadapan penyalahgunaan kekuasaan tersebut. Sebuah permohonan maaf yang sempurna dengan membungkuk rendah. 


Saat ia mendongak, Master tengah bersedekap sambil tertawa.


"Kalau sudah paham, sana pergi."


"Benar-benar tidak bisa, Master. Saya bahkan belum pernah bicara dengan mereka. Saya benci kalau harus ikut campur urusan orang padahal tidak diminta."


"Apa kamu tidak merasa iba? Ketiganya bahkan tidak menyentuh minuman mereka dan hanya terus menunduk diam. Kehadiran pihak ketiga mungkin bisa membuat mereka lebih mudah untuk mulai bicara."


"Justru masuknya orang asing akan membuat mereka semakin sulit bicara, kan?"


Yuu bahkan hampir tidak ingat nama mereka, apalagi nama laki-laki yang mereka sukai. Tidak ada satu pun hal yang bisa ia bicarakan. 


Pihak mereka pun pasti tidak ingin mengeluh atau menunjukkan kelemahan pada orang yang tidak menonjol seperti dirinya. Keyakinannya bahwa "tidak terlibat adalah pilihan terbaik" tetap tidak tergoyahkan. Namun, Master yang tampaknya dengan mudah membaca isi hati Yuu, tetap bersikeras mengirimnya ke meja mereka.


"Sudah setengah tahun bekerja di sini, tapi tidak ada satu pun temanmu yang datang berkunjung. Sejujurnya, aku sempat mengandalkan itu, lho. Kalau tidak, aku sendiri saja sudah cukup untuk menjalankan toko ini."


"Maaf kalau begitu. Sebaiknya Master taruh patung kucing keberuntungan yang besar saja di depan toko kalau ingin mengundang orang datang."


Meski membalas dengan gurauan, dalam hati Yuu merasa terpukul. 


Apa yang dikatakan Master benar; di luar jam makan siang, satu orang saja sebenarnya sudah cukup. Di tengah kondisi keuangan yang tidak begitu ramai, alasan Master tetap mempekerjakan Yuu hanyalah karena rasa peduli yang sedikit berlebihan.


Yuu bukanlah orang yang tidak tahu terima kasih sampai hati terus-menerus menendang kebaikan tersebut.


"...Baiklah, saya mengerti. Hanya untuk hari ini, ya. Saya cuma akan mengantarkannya saja."


Karena bertahan pun tidak akan memperbaiki keadaan, lebih baik diselesaikan secepatnya. Yuu mengenakan topinya lebih dalam, memakai masker, lalu meletakkan tiga piring kue cokelat beserta garpunya di atas nampan.


Awalnya ia sempat ragu untuk melangkah, namun setelah dipikir-pikir, tidak mungkin orang-orang populer itu mengenali sosok yang tidak menonjol seperti dirinya. Ditambah lagi dengan sebagian besar wajahnya yang tertutup, akan lebih sulit bagi mereka untuk menyadarinya.


Merasa malu karena sempat terlalu percaya diri bahwa ia akan dikenali, rasa enggannya perlahan memudar. Ia pun melangkah mantap menuju kursi di dekat jendela.


Bahkan saat ia sudah sampai di depan meja, ketiganya masih menunduk. Begitu ia meletakkan piring kue pertama di atas meja, barulah mereka bertiga mendongak, dan pandangan mereka serentak tertuju pada Yuu.


Dengan sikap tenang, Yuu meletakkan piring kue kedua. Saat itulah, gadis yang duduk di sisi kiri depannya angkat bicara.


"A-anu... kami tidak memesan ini."


"Ini layanan gratis dari Master. Kalau tidak mau, akan saya ambil kembali."


"Eh... bukan begitu maksudnya."


Sesuai simulasi dalam kepalanya, nada bicara Yuu tetap stabil. Gadis itu menunduk dan mundur dengan ragu. Rambut pendeknya yang mencuat ke luar tampak sangat rapuh di mata Yuu.


Setelah menyajikan piring ketiga dan menyelesaikan tugasnya, ia hanya perlu segera pergi—setidaknya itulah rencananya, sampai sebuah kejadian tak terduga terjadi.


Gadis berambut hitam yang duduk di sisi dalam, di seberang gadis tadi tempat tumpukan tas mereka diletakkan, sedikit menyipitkan matanya dan berucap:


"...Shikura-kun?"


Yuu terpaku dalam posisi setengah membungkuk, gestur sopan sebelum beranjak pergi. Kekakuan itu secara tersirat menjadi jawaban "iya". Setelah menunjukkan reaksi canggung seperti itu, akan terasa tidak alami jika ia mencoba berpura-pura tidak kenal.


Gadis yang memanggil nama Yuu adalah Furumi Miyako. Ciri khasnya adalah rambut hitam lurus layaknya boneka Jepang dan sepasang mata yang tampak sayu.


Ada satu hal yang perlu dikoreksi: Yuu sebenarnya tahu nama gadis ini. Shikura Yuu dan Furumi Miyako adalah teman sekelas.


Mendengar ucapan Miyako, gadis yang duduk di depannya bertanya dengan suara lesu yang kontras dengan matanya yang tajam:


"Laki-laki yang kamu kenal?"


"Iya... Shikura-kun, teman sekelasku."


Yuu tidak merasa terhormat sedikit pun atas perkenalan itu.


Pertama, ia terkejut karena Miyako ternyata mengingat namanya—sesuatu yang di luar kalkulasinya. Kedua, ia mendecit dalam hati melihat ketajaman pengamatan Miyako yang bisa mengenalinya padahal hanya bagian matanya saja yang terlihat. 


Ia menyesali kecerobohannya yang terlalu optimis karena menganggap teman sekelas tidak akan menyadarinya. Akhirnya, sasaran kemarahannya beralih ke si Master berjanggut. Tentu saja, ini hanya pengalihan tanggung jawab.


Yuu memutuskan harus segera angkat kaki. Ia baru saja hendak mengucapkan, "Kalau begitu, selamat menikmati," namun sebelum sempat, gadis berambut pendek tadi menyambung pembicaraan.


"Begitu ya... ternyata teman sekelas Miyako-chan. Maaf ya, em, soal wajah kami yang suram begini."


Ia memberikan senyuman canggung kepada Yuu, sebuah senyuman yang jelas-jelas dipaksakan demi sopan santun. Terlihat jelas bahwa ia sedang tidak dalam kondisi untuk tersenyum, dan itu tampak menyakitkan untuk dilihat.


Yuu bimbang. Apa kalimat yang tepat untuk diucapkan?


Sejujurnya, ia ingin pergi tanpa sepatah kata pun, atau kalau bisa, menyuruh mereka bertiga pulang sekalian. Namun, kejujuran seperti itu mustahil ia ucapkan. Ia tahu kalimat yang aman adalah pilihan terbaik, tapi ia tidak tahu apa yang dikategorikan sebagai "kalimat aman" dalam situasi ini. 


Ia hampir kembali pada pilihan awalnya, "Selamat menikmati"—namun sebuah firasat buruk melintas, dan ia membatalkannya. Kalau ia bersikap dingin dan sampai dibenci oleh gadis-gadis ini, reputasi buruknya bisa menyebar dan ia mungkin akan dikucilkan oleh seluruh sekolah. Itu bukan lelucon.


Setelah nyaris menghindari risiko menjadi orang yang dibenci, Yuu memutuskan untuk sedikit berempati karena berpikir keras pun tidak akan memberinya jawaban.


"...Aku mendengar rumornya. Tidak perlu dipaksakan untuk tersenyum. Menangis atau mengeluhlah sepuasnya untuk meluapkan perasaan. Di sini jarang ada pengunjung, kok."


"Tapi..."


"Aku bukan tipe orang yang suka menyebar rumor."


Setelah mengatakan itu, ia berniat benar-benar pergi. Namun, ia kembali terpaku saat melihat air mata mulai jatuh bercucuran dari mata gadis berambut pendek tersebut. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya melihat seorang gadis menangis tepat di depannya.


"Ah... maaf ya. Itu... habisnya, kalau sekarang disikap manis seperti itu..."


Begitu pertahanannya runtuh, segalanya meluap begitu saja. Tangisan gadis itu semakin deras. Yuu segera menatap dua gadis lainnya untuk meminta bantuan, namun tangisan gadis pertama rupanya memicu reaksi berantai; mereka berdua pun mulai ikut meneteskan air mata.


Ini neraka. Benar-benar neraka. Tidak, ini baru pintu masuk neraka, Yuu membatin mencoba menenangkan diri.


"A-aku akan ambilkan sesuatu untuk mengelap air mata. Dan aku akan panggil orang dewasa."


Saat Yuu hendak kabur dengan ucapan pengecut itu, gadis berambut pendek tadi mencengkeram tangannya dengan erat dan tidak mau melepaskannya.


"Bi-bisa... dengerin ceritaku?"


Tolong, ampuni aku. Pulanglah. Dan jangan pernah datang lagi ke sini.


Yuu mencari-cari sosok si Master dengan tatapan memohon, namun sang Master yang reputasinya sangat peka dalam membaca situasi itu sudah menghilang dari area kafe.


Sialan, maki Yuu dalam hati. 


Meski begitu, ia tidak mungkin mengibaskan tangan gadis itu begitu saja. Akhirnya, ia hanya bisa berdiri terpaku di sana sampai tangis ketiga gadis itu mereda.



Dibutuhkan waktu sepuluh menit penuh sampai mereka selesai menangis, menyesap minuman, dan mulai tenang.


Akhirnya, situasi mereda. Meski ia sendiri yang menyarankan agar mereka meluapkan perasaan, Yuu tidak menyangka mereka benar-benar akan menangis sehebat itu. Ia melewati sepuluh menit yang terasa selamanya itu dengan memikirkan hal-hal menyenangkan yang akan ia lakukan sepulang kerja.


Melihat ketiganya masih menunduk, Yuu yang bingung harus berbuat apa mengambil serbet kertas dari meja dan menyodorkannya kepada gadis yang masih memegang tangannya.


Barulah saat itu tangan kirinya dilepaskan. Di tangan Yuu tertinggal bekas kemerahan dari tangan mungil gadis itu. Selama menangis tadi, kekuatan genggamannya ternyata berbanding lurus dengan volume suaranya.


"Te-terima kasih..."


Melihat gadis itu membuang ingus dengan keras menggunakan serbet tersebut, Yuu hanya bisa membatin, Waduh, yang benar saja. Namun, berkat itu suasana berat sedikit mencair. Tampaknya dua gadis lainnya merasakan hal yang sama; wajah mereka yang tadi menghadap ke bawah kini mulai terangkat.


Bagus, sekarang sudah tidak apa-apa. Yuu yang sudah menyiapkan kesimpulan di kepalanya segera membungkuk kecil pada mereka.


"Kalau begitu, maaf. Saya masih dalam jam kerja."


"Ah... benar juga. Maaf ya, kami malah merepotkan."


"Tidak apa-apa, kan? Lagipula tidak ada pelanggan lain. Ada tiga gadis cantik yang sedang patah hati di sini, lho. Kamu tidak berpikir kalau ini kesempatan emas untuk merayu kami sepuasnya? Bodohnya nggak ketulungan, ya."


Di saat gadis berambut pendek memberikan respons yang ideal bagi Yuu, gadis di sebelahnya menyela dengan nada bicara agresif. Dengan mata sembap yang tajam, ia menatap Yuu dengan tatapan mengintimidasi.


Siapa sih orang yang sok berkuasa ini?


Yuu bukanlah tipe orang berhati dermawan yang bisa membiarkan begitu saja orang asing yang baru pertama kali bertemu menantangnya dengan sikap merendahkannya seperti itu—bahkan jika orang itu baru saja patah hati sekalipun.


"Tidak berpikir begitu, tuh. Jangan mengira semua laki-laki bergerak berdasarkan niat terselubung. Lagipula sudah kubilang, kan, aku sedang bekerja. Justru saat tidak ada pelanggan begini, ada segunung pekerjaan yang harus diselesaikan."


"Hee. Ternyata kau cukup banyak bicara juga, ya. Sini duduk, biar kuladeni mengobrol."


Begitu membalas, Yuu justru merasa seperti memukul angin. Ia menatap gadis sombong itu dengan perasaan tidak puas. Gadis itu sendiri tampaknya sama sekali tidak merasa sedang menantang berkelahi; ia justru menyesap es kopinya dengan santai.


Apakah ini karena Yuu kurang pandai berkomunikasi, atau memang pihak lawan yang aneh? Di saat ia masih belum bisa menentukannya, Master berjanggut yang tadi menghilang tiba-tiba muncul kembali.


"Wah, wah, Yuu-kun. Apa mereka teman-temanmu? Begitu ya, begitu ya. Kebetulan tidak ada pelanggan lain, gunakan saja waktumu untuk mengobrol sambil beristirahat. Ini bentuk terima kasihku karena kau selalu membantuku selama ini."


"Hah? Apa-apaan keputusan sepihak—"


"Bagus, kan? Kebaikan hati dari atasan itu harus diterima. Ini kesempatan bagus bagimu untuk belajar bagaimana berbuat baik pada orang lain."


"Begitulah. Kalau begitu, Yuu-kun, silakan bersantai bersama semuanya."


Setelah meninggalkan kata-kata itu, Master kembali menghilang ke bagian dalam toko. Yuu yang ditinggalkan sendirian mendapatkan senyum sinis dari si gadis sombong, seolah-olah ia baru saja memberikan assist yang brilian.


Anak ini sebenarnya masih semangat, kan?


Yuu menggerutu dalam hati dan menghela napas pendek.


Melihat Yuu dan si gadis sombong bergantian, si gadis berambut pendek tampak sangat bingung. Sementara itu, Miyako yang mengamati situasi dari posisinya, memindahkan tas di sampingnya ke lantai dan mempersilakan Yuu untuk duduk. "Silakan."


Situasi seolah diarahkan oleh sesuatu menuju skenario terburuk. Sebagai bentuk perlawanan terhadap takdir, Yuu memilih untuk tetap berdiri dan tidak langsung duduk. Lagipula, mengapa gadis-gadis ini tidak keberatan duduk bersama orang asing seperti dirinya? Itu adalah pertanyaan yang wajar. Namun, jawabannya pun muncul dengan cepat.


"Sekali lagi kutegaskan, aku tidak akan membocorkan pertemuan kita hari ini kepada siapa pun. Jadi, jangan sungkan dan silakan kalian bertiga saling berbagi keluh kesah. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mendengarkan, dan kalaupun terdengar, aku tidak akan pernah menceritakannya ke luar."


Kesimpulan yang diambil Yuu adalah mereka pasti khawatir sosok mereka yang sedang rapuh ini akan disebarluaskan sebagai bahan lelucon. Karena itu, ia menekankan dengan nada serius bahwa ia tidak memiliki minat buruk semacam itu. Ia bahkan merasa kasihan; menjadi orang populer ternyata merepotkan juga.


Bagi Yuu, konflik semacam itu adalah sesuatu yang ia benci, dan meskipun niatnya lebih didasari rasa tidak ingin terseret masalah, tindakannya itu berakhir menjadi bentuk perhatian bagi mereka.


Saat Yuu baru saja hendak lega karena mengira urusannya selesai, Miyako berkata, 


"Bukannya aku tidak punya pikiran seperti itu, tapi... terlepas dari hal itu, aku ingin Shikura-kun tetap di sini."


"Kenapa?"


Miyako memberi isyarat dengan tangan agar Yuu mendekat. Meski curiga, Yuu tetap mendekatkan telinganya ke arah bibir Miyako.


"Kami ini sebenarnya tidak akrab, jadi suasananya canggung."


"...Aturannya, kalau mau berbisik itu harus menutup mulut dengan tangan, tahu."


Karena tidak ditutupi, ucapan Miyako terdengar jelas oleh dua gadis lainnya. Gadis berambut pendek tertawa getir, sementara si gadis sombong membenarkan, "Benar sekali."


"Kalau boleh jujur, hubungan kami justru buruk. Hanya saja, situasi kali ini memang khusus."


"Begitu kami bertiga saling berhadapan, tahu-tahu kami sudah sampai di sini," tambah si gadis sombong, melengkapi penjelasan Miyako.


Malah jadi makin merepotkan, kan.


Yuu menatap gadis berambut pendek yang tampak paling waras untuk meminta pertolongan, tapi ia hanya dibalas dengan tawa getir, "Iya juga ya..."


"Habisnya, aku tidak mau sendirian... dan tidak ada orang lain juga yang bisa diajak bicara."


"Kalau aku sih, setelah menangis tadi rasanya sudah lega, jadi tidak apa-apa."


"Mau bayar sekarang?"


"Mumpung sudah di sini, aku mau lebih lama sedikit."


Upaya Yuu untuk mengusir mereka secepat mungkin langsung digagalkan mentah-mentah.


"Kau juga, duduklah. Biar aku yang traktir."


"...Hebat ya, Youka-chan. Aku ingin meniru ketegaranmu," ucap si gadis berambut pendek, yang membuat alis Yuu sedikit terangkat.


Sejak tadi ia sibuk menggali memori untuk mengingat nama mereka. 


Benar juga, seingatnya memang ada nama seperti 'Youka'. Sayangnya, nama keluarganya belum muncul juga, meski Yuu merasa yakin nama itu terdiri dari deretan kanji yang agresif, sesuai dengan sikap sombongnya. Yuu merasa sedikit lega karena dugaannya mendekati kebenaran—tapi tetap saja, itu belum menyelesaikan masalah.


Kalau tahu bakal kena musibah begini, harusnya dulu aku mengisi survei itu dengan serius.


Rasa sesal karena telah bersikap acuh tak acuh beberapa bulan lalu menumpuk dengan kecepatan yang luar biasa.


"Biarpun begini, aku masih sedih tahu. Tapi, lihat deh. Tadi namamu Shikura, kan? Kalau di depan orang yang baru dikenal aku cuma murung terus, nanti bisa diremehkan. Ayo cepat duduk, Shikura."


Sambil bicara, Youka membuka buku menu dan mulai melihat kolom makanan.


Sadar bahwa ia sudah tidak bisa lari lagi, Yuu akhirnya pasrah dan duduk di samping Miyako. Ia berpikir, menemani keluh kesah mereka mungkin justru akan membuatnya lebih cepat bebas. Namun, ini adalah tindakan nekat yang seolah melompat ke zona bahaya. Ia harus segera mengingat nama keluarga dua gadis lainnya.


Yuu pernah merasakan pahitnya situasi di mana ia tahu identitas seseorang tapi orang populer itu tidak tahu dirinya—bagaimana hal itu bisa melukai harga diri mereka dan berkembang menjadi urusan panjang. Meskipun ia tahu itu, fakta bahwa ia tidak memperbaikinya menunjukkan bahwa ia masih remaja yang naif.


Pokoknya, yang sombong itu namanya Youka, dan si gadis berambut pendek—seharusnya ada unsur kata 'Nama' (Na) atau 'Malam' (Yo) di namanya. Semoga saja benar.


"Shikura-kun, ternyata kamu bekerja paruh waktu ya,”


"...Begitulah. Kalian sendiri kenapa bisa ke sini?"


"Mungkin kebetulan. Saat berjalan mencari tempat yang sepi, kami menemukan kafe ini."


Siapa sangka kondisi kafe yang sepi justru menjadi bumerang. Yuu hampir saja menghela napas panjang.


"Awalnya aku sempat berpikir ini sebuah kesalahan saat melihat wajah yang kukenal, tapi ternyata ada Shikura-kun di sini sangat membantu. Kalau kami hanya terpuruk bertiga, kami pasti akan terus saling gengsi, dan suasananya bakal jadi makin canggung."


"Terima kasih atas pujiannya. Tadinya kukira aku malah mengganggu."


"Menangis itu ternyata benar-benar melegakan, ya," ucap Miyako sungguh-sungguh.


Gadis berambut pendek segera menimpali untuk memecah keheningan yang nyaris terbentuk.


"Oh iya, kita belum perkenalan resmi, ya. Aku Naze Yoyo dari kelas dua. Salam kenal."


"...Salam kenal. Aku Shikura dari kelas tujuh."


Benar, Naze Yoyo.


Begitu mendengar nama lengkapnya, Yuu merasa heran kenapa tadi ia sampai lupa, karena nama itu terdengar sangat pas. Untung saja ia tidak nekat menebak nama seperti Nagura Yoruko-san. Dalam hati, Yuu memberikan pujian setinggi langit atas inisiatif Yoyo yang menyelamatkannya.


"Aku Furumi Miyako. Ini pertama kalinya aku bicara dengan Shikura-kun, ya."


"Aku merasa terhormat, karena sudah lama aku ingin bicara dengan Furumi-san."


Setelah melewati satu krisis, Yuu mulai besar kepala. Ia menggunakan nada bicara dan kata-kata manis yang transparan—sebuah taktik picik agar pihak lawan merasa senang—yang pasti tidak akan dipercayai oleh siapa pun yang benar-benar mengenal kepribadian Yuu sehari-hari.


"Apa-apaan sanjungan murahan itu. Aku bisa tahu lho kalau kau cuma pura-pura." 


"Kau semangat sekali, ya."


Yuu membalas dengan sarkasme secara refleks, yang membuat mata Youka seketika membelalak. Yuu pun ikut terkejut. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu kaget, tapi ia merasa baru saja melakukan kesalahan fatal.


Sambil saling tatap, Youka bertanya dengan ragu.


"...Cuma memastikan saja, kau tahu namaku, kan?"


Tibalah saatnya, momen penentuan.


Beruntung ia sudah mendapatkan nama panggilannya, 'Youka', tadi. Tapi memanggilnya langsung dengan nama depan adalah tindakan gila. Di sisi lain, nama keluarganya masih hilang entah ke mana.


Sebutkan namamu. Tolong sebutkan namamu sendiri, setidaknya kau bisa melakukan itu, kan? Nanti aku akan pura-pura ingat seolah sudah tahu sejak awal. Tolong, sebutkan namamu, doa Yuu dalam hati sambil terdiam seribu bahasa.


"Jangan-jangan kau tidak tahu?! Yang benar saja?! Kau ini benar-benar satu sekolah denganku tidak, sih?!"


Harapannya hancur seketika.


Keterkejutan Youka seolah menendangnya kembali ke dasar jurang. Yuu merasa lelah menghadapi Youka yang memiliki mentalitas merepotkan—bahwa orang lain wajib tahu siapa dirinya meski ia sendiri tidak kenal orang tersebut.


"Tentu saja tahu. Kau Sasizume-san, kan?"


"Siapa itu?!"


Karena kesal dengan sikap "harus tahu" tersebut, Yuu akhirnya nekat melakukan spekulasi fiktif. Tentu saja tebakannya salah besar, tapi melihat Miyako tertawa kecil di sampingnya membuat Yuu merasa sedikit senang. Ternyata dia pun masih penuh celah.


"Sampai ada laki-laki yang tidak mengenalku... sebenarnya apa sih tujuan hidup laki-laki ini di sekolah?"


"Kengamine Youka. Seperti yang kau lihat, dia anak yang agak ajaib." 


"Heh, jangan seenaknya memperkenalkan orang lain. Aku kan punya waktu yang tepat untuk menyebutkannya sendiri!"


Youka melotot kesal ke arah Miyako yang telah menginterupsi "presentasi" dirinya dengan wajah tanpa dosa.


Kengamine Youka.


Meski sudah terlambat, nama Kengamine akhirnya muncul di benak Yuu. Ia berpikir bahwa jika ia tahu watak aslinya sejak awal, ia pasti tidak akan pernah lupa.


Yuu kemudian mengalihkan pandangannya ke samping Youka. Yoyo tampak memperhatikan situasi itu dengan senyum yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


Katanya tidak akrab, tapi bohong, kan.


Yuu merasa mereka bertiga lebih baik pergi ke karaoke saja. Namun, ia juga berpikir mungkin saja benar apa kata Miyako, bahwa mereka hanya sedang berpura-pura tegar.


Untuk orang yang baru saja patah hati, suasana ini terasa terlalu ceria. Padahal baru saja mereka menangis sejadi-jadinya, apakah mungkin percakapan dengan tensi setinggi ini bisa terjadi begitu saja?


Tentu saja, ada orang yang memang memiliki kepribadian seperti itu. Namun, dalam kasus mereka bertiga, terasa lebih alami jika menganggap mereka hanya sedang berpura-pura tegar.


Sebab, mereka adalah tipe manusia yang bisa menangis karena memikirkan orang lain. Perasaan seperti itu tidak mungkin bisa diputus begitu saja dengan mudah. Mengingat harga diri Youka yang meluap-luap di setiap ucapannya, memasang tameng ketegaran pastilah hal yang mudah baginya. 


Yuu pun menarik kesimpulan sendiri bahwa baik Yoyo maupun Miyako pun terpaksa bersikap tegar, entah karena harga diri atau alasan lainnya. Mereka pasti sedang tersesat. Sangat tersesat hingga tampak menyakitkan.


Tapi, itu bukan urusanku—Yuu menyetel ulang pikirannya dan membalas tatapan Youka.


"Ukirlah ini di dalam dadamu. Aku adalah Kengamine Youka. Gadis cantik yang namanya akan tercatat di buku pelajaran 100 tahun mendatang."


Mungkin dia memang orang yang sangat sederhana dan tanpa rahasia. 


Yuu secara insting memalingkan muka, memutuskan untuk tidak terlibat terlalu jauh dengan orang ini.


Setelah sesi perkenalan berakhir, Yuu mulai merangkum penilaiannya terhadap mereka bertiga.


Kengamine Youka: orang aneh.

Furumi Miyako: orang yang agak aneh.

Naze Yoyo: tampaknya normal.


Yuu memang tidak ahli dalam menganalisis karakter orang hanya dari percakapan singkat—bahkan ia tidak punya keahlian itu sama sekali—jadi ia hanya mengelompokkan mereka secara kasar, tapi ia yakin kesimpulannya tidak akan meleset jauh. Soal Miyako, ia masih belum bisa memastikannya, tapi menganggap seseorang sebagai "orang aneh" sejak awal akan meminimalisir rasa terkejut jika nantinya terbukti benar. Namun, karena ia tidak berniat menjalin hubungan lebih lanjut, ini hanyalah soal kenyamanan pribadinya saja.


Karena ia menempatkan dua dari tiga orang tersebut di kategori "orang aneh", secara alami pandangan Yuu beralih kepada Yoyo. Merasa diperhatikan, Yoyo tersenyum kecil dengan wajah yang tampak agak serba salah.


Yuu menyesap kopi panas yang ia terima dari Youka sebagai "upah" sambil berpura-pura mendengarkan percakapan mereka, meski sebenarnya ia tidak benar-benar menyimak.


Topiknya tentu saja seputar kegagalan cinta mereka.


Bagian mana yang mereka sukai, cara mereka jatuh cinta, pendekatan apa yang sudah dilakukan, apa kekurangan mereka, hingga apa yang seharusnya mereka lakukan—bagi Yuu, jujur saja, itu semua tidak menarik. Cerita tentang orang yang tidak ia kenal, apalagi yang sifatnya mirip dengan pamer kemesraan (meski gagal), benar-benar bukan urusannya. Jadi, ia hanya menyelipkan anggukan sesekali agar terlihat seperti sedang menyimak dengan saksama.


Ketika intensitas bicara mereka mulai berkurang, Yuu lebih dulu merangkum cerita itu di dalam kepalanya.


Yoyo selalu ragu di saat-saat krusial sehingga terus kehilangan kesempatan.


Miyako tampaknya sering gagal menyampaikan maksudnya sehingga sering memicu kesalahpahaman.


Youka mengaku tidak mengerti kenapa laki-laki itu tidak jatuh cinta padanya.


Pasti masalah cinta yang klise.


Yuu berusaha keras menahan kantuk. Ini bukan semata-mata karena rasa tidak peduli, tapi karena rasa kantuk Youka yang menguap tadi menular padanya. Tepat saat ia ingin mengusir kantuk dengan kopinya, Youka menyeretnya masuk ke dalam percakapan.


"Karena kami sudah membiarkanmu bergabung, jangan cuma diam saja, bicaralah, Shikura. Kau juga pasti pernah jatuh cinta satu atau dua kali, kan?"


"Tidak pernah."


"Eh? Masa sih? Padahal ada gadis cantik sepertiku sedekat ini? Bohong, ah."


Kalau denganmu sih, mustahil.


Karena merasa kalimat itu akan meluncur dari mulutnya jika ia diam, Yuu segera menyambung tanpa jeda.


"Maksudku, aku belum pernah merasakan cinta yang sungguh-sungguh sampai menjadi sangat gigih seperti Naze-san dan yang lainnya."


"Harusnya kau bilang 'seperti Kengamine-san dan yang lainnya', dong!"


Berisik banget sih anak ini. Diamlah. Aku mulai paham kenapa kau ditolak.


Yuu merasa beruntung karena ia adalah tipe orang yang tidak langsung menyuarakan apa yang ada di pikirannya.


"Berani juga kau bicara begitu. Sejak Higashikata-kun saat SD, baru kau yang berani bicara sekasar itu padaku."


Ternyata ia mengucapkannya. Cacian yang seharusnya hanya bersorak di dalam kepalanya tadi justru meluncur keluar begitu saja.


Menyadari kekhilafannya dari reaksi Youka, sikap dingin Yuu langsung runtuh dan ia mulai panik. Ia mencoba meralatnya, tapi kata-kata tidak mau keluar dengan lancar.


Jika ia dibenci oleh orang populer, kehidupan sekolahnya ke depan akan berubah menjadi kekacauan—itulah ketakutan Yuu. Namun, entah apa yang dipikirkannya, Youka justru menyeringai senang.


"Lama juga aku tidak menemukan orang yang punya nyali. Laki-laki yang memujiku itu jumlahnya lebih banyak dari bintang di langit, tapi belum pernah ada yang memperlakukanku dengan ketus begini."


"Mungkin... kau salah dengar. Mana ada laki-laki yang berani menjelek-jelekkan Kengamine-san dan teman-temannya."


"Itu memang benar. Makanya kau jadi semakin mencolok. Rasanya seperti—ngomong-ngomong, kami dijuluki 'Mercusuar' di kalangan laki-laki, itu maksudnya apa?"


Rupanya istilah rahasia yang seharusnya hanya diketahui para siswa laki-laki itu sudah sampai ke telinga Youka.


Yuu bingung harus menjawab apa. Meski rasanya ingin menghela napas, ia bersyukur topiknya beralih. Lagipula, nama "Mercusuar" itu sendiri sangat sederhana; jika sudah mendengar namanya, asal-usul julukan itu sangat mudah ditebak. Yuu tidak yakin Youka belum menyadarinya, tapi ia tetap menjelaskan dengan enggan.


"...Api di tengah laut malam." 


"Apa-apaan itu. Tidak ada estetikanya sama sekali. Aku saja yang terlalu jauh berpikir. Yah, tapi kalau namanya terlalu sulit dipahami juga malah aneh, sih. Namanya juga Mercusuar."


Yuu sendiri baru menyadari asal-usul nama itu setelah ia mengetahui nama mereka semua tadi. Itu keluhan yang wajar, tapi Yuu bingung kenapa ia yang harus jadi sasaran keluhan itu.


"Bukan aku yang mencetuskan ide itu, tapi intinya, para 'Mercusuar' ini sangat populer."


"Shikura-kun... tolong hentikan, itu memalukan." 


Ucap Yoyo dengan suara lemah sambil menunduk. Ia tampak mengkerut seperti balita yang sedang dimarahi karena berbuat nakal. Rupanya Yoyo pun sudah tahu soal julukan itu, dan baginya itu memalukan.


"Naze itu benar-benar rendah hati, ya. Padahal wajahmu cantik, meski tidak secantik aku sih, tapi harusnya kau bersikap lebih bebas semaumu."


"Kalau Youka-chan yang bilang begitu, aku jadi merasa percaya diri. Terima kasih."


"Tapi kalau terlalu ramah, nanti kau bisa dikuntit oleh tipe orang seperti Shikura ini, lho. Shikura, kau suka tipe seperti Naze, kan? Sejak tadi kau terus memperhatikannya. Tembak saja sekarang!"


"...Dalam situasi seperti ini, tidak pantas bicara begitu, kan?"


Kenapa dia bicara dengan nada bicara obrolan cinta begini? Apa perempuan ini tidak punya rasa peka sama sekali? Bodoh ya?


Yuu memberikan perlawanan kecil dengan cara melotot ke arah Youka. Sekalipun itu jelas-jelas hanya candaan, membantahnya secara membabi buta bisa saja melukai perasaan Yoyo. 


Melihat senyum Youka yang tampak penuh niat jahat karena menyadari hal itu, Yuu hanya bisa terheran-heran, sebenarnya di bagian mana perempuan ini dianggap populer.


Wajahnya kah? Apa dia tipe yang mendapatkan status sosial hanya bermodalkan tampang saja?


"Furumi, kamu suram sekali. Perbanyaklah senyum sedikit." 


"Aku bukan perempuan murahan sepertimu. Sikap sok berkuasamu itulah yang membuatmu dibenci." 


"Dibenci itu kan bukti kalau aku populer."


"Apa kamu tidak kesepian selalu sendirian? Dilihat dari luar, itu cukup menyedihkan, lho."


"Berisik, bodoh! Kesuramanmu itu yang jauh lebih menyedihkan! Lembap dan menyedihkan!"


Melihat Youka yang berdiri sambil condong ke depan dan terus mengoceh, Yuu mencari tempat untuk membuang pandangannya.


Gara-gara Youka, ia menjadi canggung secara tidak perlu; Yoyo yang seharusnya menjadi "zona aman" kini malah menjadi sosok yang paling tidak boleh ia tatap.


Tiba-tiba mata mereka bertemu dan Yuu sempat terpaku. Namun, jika ia buru-buru memalingkan muka, itu justru akan terlihat seperti membenarkan omong kosong Youka. Maka dengan keras kepala, ia tetap menatap mata Yoyo. Yoyo pun tersenyum lembut seolah berkata, "Repot, ya."


Setelah itu, pertengkaran antara Youka dan Miyako mendominasi suasana. Yuu ingin rasanya menari kegirangan melihat perkembangan yang tak terduga ini. 


Silakan, berdebatlah sepuasnya. 


Ia sama sekali tidak berniat menengahi adu mulut yang terjadi tepat di sampingnya itu.


Beberapa saat kemudian, Yuu meminum habis kopinya yang sudah mendingin dan mudah diteguk. Medan perang di sisinya pun tampak sudah mereda, meninggalkan atmosfer yang tidak enak—sesuai dengan pengakuan mereka bahwa hubungan mereka memang buruk. Namun, di tengah situasi seperti itu, kemampuan untuk tetap bersikap biasa saja tampaknya merupakan kelebihan dari seorang Kengamine Youka.


"Aku pulang. Terakhir, kuberi tahu ya, soal urusan patah hati itu selesai di sini. Aku sudah melupakannya, jadi kalau bicara denganku nanti, perhatikan sudut wajah kalian. Aku bakal marah kalau kalian mengasihaniku. Shikura, ini juga berlaku buatmu."


"Eh? Ah, jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan hal yang bisa membuat Kengamine-san marah."


Maksud Yuu adalah ia tidak berniat terlibat lagi dengan mereka, dan tidak seperti sebelumnya, ia akan secara sadar dan total menghindari Youka. Tentu saja, Youka yang tidak tahu makna sebenarnya hanya tersenyum menantang.


Youka beranjak dari kursi, diikuti oleh Yoyo dan Miyako. Yuu bangkit lebih cepat dari siapa pun dan bersiap di depan kasir.


Saat hendak membayar, entah kenapa konsep "bayar masing-masing" seolah lenyap dari pikiran mereka. Youka dan Miyako mulai bertengkar karena merasa tidak sudi jika ditraktir satu sama lain. Yoyo, yang mencoba membayar diam-diam, pun ikut terseret dalam keributan itu. Akhirnya, Yuu memutuskan untuk mengakhiri situasi dengan sebuah kebohongan.


"Berkat kebaikan Master, kali ini semuanya gratis."


Mengutip ucapan Youka sendiri bahwa "kebaikan hati atasan itu harus diterima", Yuu berhasil menenangkan pertengkaran sia-sia tersebut dengan sempurna.


Tentu saja itu bohong, uangnya berasal dari kantong Yuu sendiri.


Normalnya, ia tidak akan melakukan hal seperti ini kepada orang yang baru pertama kali ditemui. Namun, entah itu keberuntungan atau kemalangan, ia memiliki sisi lembut yang ingin menopang gadis-gadis yang baru saja patah hati itu—sosok-sosok yang meski terlihat ceria sebenarnya hanya sedang bersandiwara agar tidak hancur di depan matanya.


Ia tidak tahu apakah kemurahan hati yang impulsif ini bisa disebut kebaikan, tapi ia telah bersikap baik. Yang terpenting, ia ingin mereka cepat pulang dan tidak pernah datang lagi.


Jadi, ini bisa dianggap seperti "uang tutup hubungan."


Sambil masing-masing mengucapkan terima kasih, mereka bertiga akhirnya meninggalkan toko. Yuu gemetar karena sukacita. Meski ada bagian-bagian yang berbahaya, ia merasa telah berhasil melewati krisis terbesar dalam hidupnya dengan selamat. Kegembiraan itu terpancar menjadi sebuah senyuman.


"Dinginnya!" suara Youka yang keluar pertama kali. Miyako juga melangkah keluar, dan terakhir adalah Yoyo.


Tepat sebelum pintu tertutup, Yoyo berbalik dan melambaikan tangan. "Sampai jumpa lagi."


Yuu, yang sedang dalam kondisi emosional yang melambung, menyahut dengan suara konyol tanpa berpikir panjang, "Sampai jumpa lagii~"



Pukul delapan malam, waktu pulang kerja.


Setelah membuang sampah dan melakukan absensi keluar, Yuu memasukkan kue keju yang ia minta buatkan kepada Master ke dalam kotak, memasukkan uang pembayarannya ke mesin kasir, berpamitan, lalu keluar toko.


Gara-gara meladeni gadis-gadis patah hati tadi, penghasilannya hari ini berkurang. Meski Master tidak keberatan, Yuu tidak suka menerima uang jika ia tidak benar-benar bekerja. 


Dalam hal itu, ia sangat keras kepala. Bukannya ia butuh banyak uang, atau ingin membiasakan diri bekerja sebelum terjun ke masyarakat. Baginya, bisa mendapatkan uang yang cukup untuk sesekali membeli kue seperti ini saja sudah lebih dari cukup.


Yuu berjalan hati-hati selama lima belas menit agar kuenya tidak rusak. Ia tiba di sebuah rumah tapak biasa, rumahnya sendiri. Saat membuka kunci dan menarik pintu, ia melihat seseorang berlari dari ujung lorong.


"Selamat datang, Nii-cha!"


"Aku pulang, Hika."


Shikura Hika.


Saat ini duduk di kelas dua SD, dialah adik perempuan yang paling berharga bagi Yuu. Alasan mengapa Yuu tidak hancur tertindas oleh dunia yang melelahkan ini semata-mata karena keberadaan Hika. Setiap kali menghadapi kesulitan, Yuu selalu mengingat Hika untuk memacu semangatnya. Bahkan saat dikelilingi gadis-gadis patah hati yang menangis tadi, ia bisa bertahan karena membayangkan waktu bersantai bersama Hika saat pulang nanti.


Selama ada Hika, ia bisa terus hidup. Sosok selain Hika sudah lenyap dari kepala Yuu.


"Aku membelikan kue kesukaan Hika."


"Hore! Terima kasih Nii-cha, sayang Nii-cha!"


"Aku juga sayang Hika."


Dengan senyum lebar yang rasanya tidak sanggup diperlihatkan kepada orang lain, Yuu memeluk Hika. Saat Hika tertawa karena merasa geli, Yuu meletakkan barang-barangnya di lantai dan menggendong Hika menuju ruang tengah.


"Nii-cha, ajarkan PR-ku dong."


"Tentu saja. Serahkan saja padaku, Hika makan saja kuenya."


"Tapi nanti dimarahi lagi lho."


"Suatu saat Ibu pasti akan mengerti."


Yuu teringat saat ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya.


Yaitu saat ia mengerjakan PR Hika. Menyelesaikan PR orang lain saja sudah salah, namun Yuu dianggap sangat keterlaluan karena ia meniru tulisan tangan Hika hingga hampir identik agar tidak ketahuan.


—Yuu memang terlalu sepihak.


Ucapan ibu yang terus terngiang di benaknya mendadak membuat Yuu teringat pada Kengamine Youka, membuatnya buru-buru menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan itu.


"Nii-cha, ada yang beda. Di sekolah? Di tempat kerja? Apa ada yang seru?"


"Eh? Tidak, hari ini sedikit melelahkan. Ada pelanggan menyebalkan yang mulai bertengkar di dalam toko. Apalagi mereka lama sekali tidak mau pulang, aku jadi repot."


Begitu Yuu mengeluh dengan nada bicara yang ceria, Hika menepuk-nepuk kepala Yuu dengan lembut. Setelah itu, ia memeluk kepala Yuu. Rasanya Yuu ingin tertidur begitu saja dalam pelukan ini.


"Hika, aku tidak bisa melihat."


"Kalau memang terjadi sesuatu, syukurlah. Soalnya Nii-cha selalu bilang tidak ada apa-apa."


"Syukurlah, syukurlah," gumam Hika sambil melepaskan pelukannya dari kepala Yuu.


"Kapan-kapan Hika mau main ke sana lagi, ya."


"Kalau Hika, tentu saja selalu disambut dengan senang hati."


Yuu mengusap kepala Hika. Karena kepalanya sudah penuh sesak oleh rasa sayang pada adiknya, Yuu tidak mencoba mencari tahu makna sebenarnya di balik perkataan Hika. Baginya, urusan dirinya sendiri sama sekali tidak penting.


Daripada itu, pikirnya.


Daripada itu, biarkan aku mendengar cerita Hika.


Sambil menyantap makan malam di ruang tengah, Yuu mendengarkan Hika yang sedang lahap memakan kue di depannya menceritakan kejadian hari itu. Yuu seolah berubah menjadi orang yang berbeda dibandingkan saat bersama gadis-gadis "Mercusuar" yang patah hati kemarin; ia tidak melewatkan satu kata pun dari ucapan Hika dan memberikan reaksi-reaksi terbaik agar adiknya merasa sangat senang saat bercerita.



Saat jam istirahat siang tiba, Yuu membuka tutup kotak bekalnya di atas meja. Prinsip dasar Yuu di sekolah adalah: "Menanggapi seperlunya jika disapa."


Jika ia merespons terlalu dingin, ia takut akan terlihat menonjol secara negatif. Karena itu, ia selalu berusaha menjaga harmoni lingkungan, mengambil posisi yang tidak dianggap perlu namun juga tidak dianggap tidak berguna.


Karena itulah, teman sekelas yang menyapa Yuu tidak banyak, tapi juga tidak sedikit. Mulai dari urusan administratif hingga sekadar mengobrol santai untuk membunuh waktu. Hari ini ia belum bicara dengan siapa pun, dan ia tidak akan repot-rekap menyapa orang lain jika tidak ada urusan.


Semuanya berjalan seperti biasa.


Meski kemarin sempat terjadi anomali di mana ia menghabiskan waktu bersama gadis-gadis populer, hal itu tidak membawa dampak apa pun. Walaupun satu kelas, ia tentu saja tidak berbicara dengan Miyako, bahkan tidak mencoba meliriknya sama sekali.


Hubungan antara Shikura Yuu dan Furumi Miyako tidak menunjukkan perubahan—dengan kata lain, sama saja seperti tidak terjadi apa-apa. Ini adalah hasil yang memuaskan.


Di tengah ketenangannya, seorang siswa laki-laki datang menghampiri Yuu sambil melambaikan tangan dengan santai.


"Yo, Shikura. Kelihatannya enak, bagi satu dong."


Yang menyapa dengan nada akrab itu adalah Nijimura, teman sekelasnya. Ia adalah remaja dengan hati yang jujur dalam artian tertentu; ia mendedikasikan masa mudanya untuk mengumpulkan rumor di seluruh sekolah. Karena sifatnya itu, di waktu istirahat ia tidak terikat pada orang atau tempat tertentu, melainkan berkelana layaknya tanaman tanpa akar untuk mencari rumor yang menarik dengan mengandalkan insting tajamnya. Tampaknya, subjek investigasinya mencakup orang-orang yang pendiam atau jarang bersosialisasi seperti Yuu. 


Saat Yuu mengangguk mengizinkan, Nijimura mengambil potongan telur gulung dengan tangan dan memakannya sambil mengucap terima kasih.


"Aku ingat lho, ini masakanmu sendiri, kan, Shikura?"


"Hee. Sampai hal seperti itu pun kamu ingat."


Seingat Yuu ia pernah menceritakannya, tapi ia tak menyangka Nijimura mengingat detail percakapan yang bahkan Yuu sendiri sudah samar-samar ingatannya. Yuu pun spontan mengungkapkan kekagumannya. Mengingat hal sepele semacam itu membuktikan bahwa predikatnya sebagai "pengumpul rumor" bukan sekadar isapan jempol.


Nijimura menarik kursi dari meja di depan Yuu, duduk membelakangi sandarannya, lalu menatap mata Yuu dalam-dalam.


"Hei Shikura, kau sudah tahu belum? Soal cerita patah hati para gadis Mercusuar."


Meskipun salah satu dari gadis yang dimaksud berada di kelas yang sama, Nijimura melontarkannya tanpa merendahkan suara sedikit pun. Setelah memastikan Miyako tidak ada di tempat, Yuu menanggapi dengan nada biasa.


"...Ah, sepertinya memang sedang ramai dibicarakan, ya."


"Tiga orang yang mencolok patah hati sekaligus, kan? Jelas saja ramai. Apalagi bagi para laki-laki, ini adalah kesempatan."


"Kesempatan?"


"Baru saja patah hati itu kan waktu yang tepat untuk mendekati?"


Nijimura tersenyum tanpa beban. Yuu tidak menunjukkan ketertarikan besar dan memasukkan bakso ayam teriyaki ke mulutnya.


"Tapi ya, mereka itu ibarat 'Tiga Semenanjung'. Ah, itu sih sebutan buatanku sendiri. Mereka itu kan cukup terkenal, kan? Agak sulit didekati, atau paling tidak, wajar kalau orang-orang memberi jeda waktu sedikit sebelum beraksi."


Yuu terus makan sambil sesekali mengangguk setuju. Tiba-tiba Nijimura mendekatkan wajahnya dan menekan suaranya.


"Katanya, sudah ada yang langsung mendekati mereka lho."


Sepertinya itu adalah berita utama yang ia banggakan. Namun melihat Yuu yang hanya merespons "Fuun" sambil lebih tertarik pada bekalnya, Nijimura mengangkat bahu dengan kecewa.


"Kau tidak terkejut ya. Membuatmu kaget adalah salah satu targetku, tapi sepertinya masih belum bisa."


"Tidak, aku kaget kok. Cuma aku berpikir pasti ada orang lain yang bisa memberimu reaksi lebih bagus daripada aku."


Saat Yuu tertawa, Nijimura pun ikut tertawa. Meskipun Yuu menanggapi dengan sikap tenang, sebenarnya jantungnya berdegup kencang. Ia tidak merasa bahwa yang dimaksud adalah dirinya, tapi jika sampai benar begitu, itu akan jadi masalah besar.


Sambil waspada kalau-kalau Nijimura sedang memancingnya, seorang siswa laki-laki lain yang sepertinya ikut menguping pembicaraan mereka bergabung dalam obrolan.


"Hei Nijimura. Cerita tadi serius? Sudah ada yang berani mendekati mereka?"


"Oh, serius, sangat serius. Katanya dia merayu tanpa mempedulikan situasi sama sekali."


"Gila juga orang itu. Entah dia itu nekat atau memang tidak punya malu. Kau dapat info itu dari mana?"


Melihat mereka berdua mulai asyik mengobrol sendiri, Yuu meminum air dari botol plastiknya. Tenggorokannya terasa kering karena tegang. Apa yang dibawa Nijimura hanyalah sekadar rumor. Sangat cocok untuk meramaikan suasana, tapi terasa konyol jika dipercayai begitu saja.


Asal-usul rumor seperti ini selamanya akan selalu samar dan tidak pasti—Yuu merasa payah karena sempat dibuat gelisah oleh hal semacam itu. Namun, Nijimura yang sama sekali tidak mengetahui isi hati Yuu, justru mengungkap sumber informasinya dengan wajah penuh kepuasan.


"Kengamine-san sendiri yang bilang. Dia menyebarkannya sendiri, katanya ada laki-laki potensial yang mendekatinya."


Benar-benar bodoh ya dia.


Yuu nyaris menyemburkan teh gandum di mulutnya, namun ia berhasil menahannya di detik terakhir.


Tidak, ini masih terlalu dini. Hanya karena ada bagian yang terasa cocok, bukan berarti ia boleh terlalu percaya diri. Ia kembali menusuk bekalnya dan memilih untuk tetap diam sambil memasang telinga.


"Apa dia menyebutkan namanya?"


"Tidak, kau tahu kan dia itu tipe yang suka membuat orang penasaran. Dia tidak memberitahu namanya, tapi dia memberitahu kelasnya."


Nijimura, yang aslinya memang suka berlagak misterius, mengambil jeda yang cukup lama dan terus membuat orang tidak sabar sebelum akhirnya berkata:


"Kelas tujuh. Kelas ini."


Seketika, atmosfer di dalam kelas menjadi tegang.


Jangan-jangan yang dia maksud benar-benar aku, Yuu merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.


Jangan bercanda. Aku akan minta maaf atas semua kata-kata kasarku kemarin, jadi tolong maafkan aku, Kengamine-san.


Tidak, tidak mungkin. Dengan kepribadiannya yang enerjik dan menyebalkan itu, mungkin saja setelah pertemuan kemarin dia sudah mengalami pertemuan takdir dengan laki-laki lain yang tidak aku ketahui. Pasti begitu.


Tanpa sadar Yuu menggelengkan kepalanya, namun untungnya Nijimura dan siswa laki-laki tadi sedang asyik mengobrol sehingga tidak menyadarinya.


"Berarti ada orang di kelas ini yang diakui oleh Kengamine-san?"


"Begitulah. Makanya aku sedang mencari tahu satu per satu. Petunjuknya cuma dua: dia dari kelas ini, dan orangnya bermulut tajam serta kurang ajar."


Jangan memberikan petunjuk sejelas itu, dong! Memberikan detail seperti itu kan namanya sengaja membongkar rahasia. Jangan sampai kau mengatakannya ya.


"Fuun. Kira-kira siapa ya. Orang seperti Shikura sih jelas kebalikannya, ya." 


"Benar juga."


Yuu merasa lega karena untuk sementara ia dicoret dari daftar kandidat. Sambil memuji dirinya yang biasanya bersikap lembut, ia memusatkan perhatian pada bagaimana Nijimura akan mengembangkan pembicaraan ini.


"Lalu Kengamine-san juga bilang, sekarang dia belum berniat untuk pacaran, tapi kalaupun nanti pacaran, dia mau tipe laki-laki yang agresif seperti orang itu. Tapi, dia tidak berniat meladeni 'pendatang baru', jadi dia bilang jangan coba-coba meniru orang itu untuk mendekatinya."


"Yah, itu sih Kengamine-san yang seperti biasanya. Apa dia benar-benar baru patah hati?"


Mungkin dia sebenarnya tidak patah hati, Yuu ingin sekali menyela, tapi ia menahannya.


"Tapi enak ya, harusnya aku juga mencoba mendekatinya kemarin." 


"Mengingat itu Kengamine-san, paling-paling orang itu cuma dimanfaatkan sebagai tameng peluru."


"Mungkin saja. Tapi kalau tidak begitu, kita tidak akan pernah dianggap sebagai individu olehnya."


Kalian sedang membicarakan kaum bangsawan atau bagaimana?


Dalam hati, Yuu terus merutuki Youka yang tampaknya sehari-hari memang bersikap angkuh dan sombong.


Siswa laki-laki tadi akhirnya pergi setelah menyatakan, "Yah, kalau aku sih tim Naze-san," meskipun tidak ada yang bertanya. Nijimura yang berada di depan Yuu pun berdiri, memandang ke sekeliling kelas, lalu menatap Yuu dengan senyum penuh rasa ingin tahu.


"Begitulah ceritanya. Jadi kalau ada info menarik, beritahu aku ya. Imbalannya besar, lho."


"Aku akan membantu."


Yuu mengucapkannya dengan nada yang terdengar tulus meski dalam hati sama sekali tidak berniat.


Ia sebenarnya bisa saja mengakhiri percakapan di sini, namun ia penasaran apa yang akan dilakukan Nijimura jika sampai menemukan kebenarannya, jadi ia bertanya secara tersirat.


"Nijimura, apa yang akan kau lakukan... setelah berhasil membongkar identitas orang yang dimanfaatkan oleh Kengamine itu?"


"Kenapa, Shikura? Kau tertarik?"


"Melihatmu terlihat sangat menikmati ini, aku jadi sedikit penasaran."


Mungkin karena merasa senang ditanya begitu, Nijimura kembali duduk dan menunjukkan senyum ramahnya. Meskipun dia tampak duniawi karena sangat menyukai rumor, senyumannya terlihat sangat bersih dan segar.


"Aku punya kepercayaan diri tinggi soal kemampuan bertindak, tapi tetap saja aku tidak sanggup merayu gadis yang baru saja patah hati di hari yang sama. Siapa pun pasti penasaran dengan orang senekat itu, kan?"


"...Memang benar, aku pun jadi ingin tahu seperti apa wajah orang itu."


"Kau memang bisa diajak bicara, Shikura. Kami dari Klub Penggemar Rumor selalu menyambutmu. Sejauh ini anggotanya cuma aku dan satu orang lagi bernama Matilda. Ah, aku sendiri dipanggil Leon."


"Kalian sudah punya nama panggilan begitu? Jadi makin sulit untuk bergabung."


"Jangan diambil pusing. Yah, kegiatan kami cuma mengumpulkan rumor dan mendiskusikannya, kegiatan yang sangat sehat. Setelah ketahuan ya sudah, selesai. Memang ada kalanya kami menyebarkannya untuk bersenang-senang, tapi untuk yang satu ini sepertinya lebih baik jangan."


Alis Yuu berjingkat mendengar ucapan yang mengandung maksud terselubung itu. Menyadari hal tersebut, Nijimura melanjutkan dengan riang.


"Kau tidak terlalu tahu soal gadis-gadis Mercusuar?"


"Cuma tahu nama mereka saja."


"Itu cukup. Mereka disebut 'Tiga Semenanjung Utama'; satu adalah Furumi dari kelas kita, lalu Naze dari kelas dua, dan Kengamine yang juga dari kelas dua. Dia itu bintang utamanya kali ini."


"Orang bernama Kengamine itu yang menyebarkan beritanya, kan? Aku paham itu, tapi kenapa tadi kau bilang sebaiknya tidak menyebarkan identitas orangnya?"


Yuu mencoba memancing informasi secepat mungkin, sementara Nijimura malah berlagak misterius sambil tersenyum lebar. Yuu akhirnya menyodorkan bakso ayam teriyaki terakhirnya sebagai pancingan. Nijimura pun berterima kasih dengan wajah tanpa dosa, lalu merendahkan suaranya untuk mulai bercerita.


"Hanya dari mendengarnya saja kau pasti sudah paham, kan? Kengamine-san itu orangnya sangat percaya diri dan suka menonjol. Dia juga bicara sangat blak-blakan. Karena kepribadiannya yang seperti itu, ya... dia dibenci. Oleh sebagian murid perempuan."


"Hee. Menjadi menonjol memang merepotkan ya."


"Makanya, bagi mereka, sosok yang diakui oleh Kengamine-san itu pasti tidak menyenangkan untuk didengar. Aku sendiri kurang paham sih dengan perasaan sensitif seperti itu. Itulah kenapa kalau identitas orang itu terbongkar, urusannya bakal panjang. Orangnya bisa saja dirundung, atau dipermainkan hanya demi menyakiti Kengamine-san, kan?"


Hati Yuu dipenuhi keinginan untuk memegang kepalanya sendiri. Ia paham kalau Youka dibenci, tapi ia sangat heran kenapa dirinya harus ikut terseret. Ia memang belum yakin 100% apakah sosok misterius yang dibicarakan itu adalah dirinya, namun kemungkinan itu saja sudah cukup mengerikan. Dan yang paling menakutkan adalah, jika dibiarkan saja, Youka bisa saja keceplosan menyebutkan namanya. Padahal ia ingin membiarkannya saja, tapi sekarang ia merasa harus bergerak sendiri untuk melakukan sesuatu. 


Hal ini sungguh membuatnya malas bukan main. Betapa bodohnya dirinya kemarin yang mengira bisa masuk ke zona aman hanya dengan tekad untuk menghindari Youka secara total.


Bukan waktunya untuk makan dengan tenang... meski begitu, mendekati Youka juga bukan pilihan yang bijak. Lalu aku harus bagaimana?


Timbangan di dalam diri Yuu rasanya patah hingga ke pangkalnya. 


Sambil menatap Nijimura dengan pandangan memohon, Yuu berujar:


"Bukankah sebaiknya kau mencegah Kengamine-san agar tidak menyebar rumor itu? Sebagai Nijimura, kau pasti ingin memonopoli berita eksklusif itu, kan?"


"Yah, benar juga sih. Tapi dia bukan tipe orang yang mau mendengar perkataan orang lain. Kalau pakai metode The North Wind and the Sun, mungkin saja bisa—oh, panjang umur, baru saja dibicarakan orangnya sudah muncul."


"Hah?"


Mendengar ucapan yang terdengar seperti lelucon itu, tubuh Yuu menegang. Ia mengikuti arah pandang Nijimura yang dengan riang menatap ke arah pintu masuk kelas.


Dengan perasaan ragu, ia menoleh.


Ia menoleh, lalu terpaku.


Di sana, berdiri dengan anggun seorang "Gadis Mercusuar" yang rupawan, sekaligus sumber masalahnya saat ini—Kengamine Youka. Ia membusungkan dada dengan penuh percaya diri, menerima semua tatapan penuh rasa ingin tahu dari seisi kelas tanpa rasa takut sedikit pun.


"Aku sedang tidak senggang, tapi aku datang berkunjung. Apa Furumi ada? Atau—oops, namanya masih rahasia, ya."


Ia mengatakannya seolah sedang berbicara kepada semua orang di depannya, bukan kepada individu tertentu. Namun, tampaknya ia tidak mengharapkan jawaban. Tanpa mempedulikan keheningan yang tercipta, ia melangkah ringan menuju podium kelas. Sosoknya yang berdiri tegak dan hanya menatap lurus ke depan membuat seisi kelas terpaku.


Kecuali satu orang.


Di saat semua orang terpesona olehnya, hanya Yuu yang memalingkan wajah seolah-olah terlempar. Ia mengalihkan pandangannya, seperti biasanya ia menghindari orang lain.


Ada dua alasan mengapa Yuu menghindari interaksi dengan orang lain.


Pertama, karena ia benci perselisihan yang lumrah terjadi di antara sesama pelajar yang kemanusiaannya—termasuk dirinya sendiri—belum terbentuk sempurna.


Kedua, alasan yang memperkuat poin pertama, berasal dari sifat dasar Yuu sendiri. Yuu biasanya berusaha tampil tenang dan lembut, namun itu hanyalah topeng demi menjaga keselarasan dengan lingkungan sekitar. Kenyataannya, ia adalah orang yang cukup emosional. Ia adalah tipe orang yang begitu emosional hingga tidak sanggup lagi menyembunyikan wajah masamnya ketika masalah yang sangat ingin ia hindari justru datang menghampirinya dengan penuh semangat.


Saat ini, perasaan yang sedang meluap di dalam diri Yuu adalah kemarahan—emosi merepotkan yang hanya akan memicu masalah. Targetnya adalah Kengamine Youka—siswi tangguh yang mencoba menutupi topik "patah hati" dengan sensasi baru buatannya sendiri tepat keesokan harinya.


Berdiri di atas podium, Youka memandang sekeliling kelas dengan tatapan yang seolah meremehkan kerumunan di bawahnya.


"Apa-apaan ini, ternyata Furumi tidak ada. Padahal aku berniat menghiburnya. Apa dia sedang menangis sendirian di suatu tempat?"


Mendengar pernyataan yang sulit ditanggapi itu, para siswa di dekatnya serentak memalingkan muka.


Setelah berhasil memperbaiki ekspresi wajahnya, Yuu melanjutkan makannya sambil menggerutu dalam hati, Padahal kalau kau ikut menangis juga, kau akan terlihat lebih manis. Ia mencoba mengecilkan tubuhnya agar tersembunyi di balik punggung Nijimura, namun Nijimura yang darah rumornya sedang bergejolak justru mendekati Youka dengan antusias.


"Kalau Furumi-san, dia memang jarang ada di kelas, Kengamine-san."


"Siapa kau? Lagipula aku tidak ada urusan dengan Furumi."


Yuu hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dan menyimpulkan bahwa memang Youka lah yang bermasalah.


Jangan-jangan perempuan ini tipe tsundere yang menyuarakan alasan formal sekaligus isi hati yang sebenarnya secara bersamaan...?


"Aku hanya mampir sebentar karena merasa lapar," ucapnya sambil turun dari podium. 


Youka kemudian mengambil potongan ayam goreng dari kotak bekal siswi di depannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Selanjutnya, ia mengambil tomat ceri dari siswa di belakangnya, roti lapis dari siswa berikutnya, lalu nasi kepal dari siswi di belakangnya lagi; ia terus berjalan sambil mencicipi makanan mereka satu per satu. Semua orang yang makanannya dirampas hanya bisa terdiam menatap punggung Youka.


Ah, pantas saja dia dibenci.


Melihat tindakan yang sangat tidak wajar itu, kemarahan Yuu mendadak terasa konyol dan ia pun menghela napas panjang. Lalu, ia mengulurkan tangan untuk meminum teh gandumnya, namun tangannya hanya menyentuh udara kosong. Botol plastiknya telah dirampas oleh "hama" yang sudah berdiri tepat di depan mejanya.


Si hama, Kengamine Youka, meminum habis teh gandum itu dalam sekali teguk, melepas labelnya untuk dipisahkan sesuai aturan sampah, lalu mengembalikannya ke posisi semula.


"Terima kasih atas hidangannya. Format prasmanan ini ternyata lumayan juga. Tinggal makanan penutup saja agar sempurna. Aku berterima kasih pada kalian semua. Terima kasih, ya."


Setelah berkata demikian, entah kenapa ia memberikan senyum provokatif kepada Yuu.


Merasa akan tidak alami jika tidak membalas apa pun, Yuu memilih jawaban yang paling aman dan melontarkannya.


"Sebaiknya hentikan itu, nanti kau dibenci."


"Itu sudah terlambat. Sebaiknya kau lebih memperhatikan sekelilingmu. Kau akan kesulitan dalam banyak hal nanti."


"...Begitu ya."


"Coba sebutkan namaku."


Terjalinnya sesuatu yang menyerupai percakapan—meski sepihak—membuat perhatian seisi kelas terpusat pada Yuu dan kawan-kawan.


Secara situasi, Yuu berada dalam posisi tidak menguntungkan. Tidak, bahkan bisa dibilang ia sudah kalah sejak ia menjadi pusat perhatian. Ia memiliki kecocokan yang sangat buruk dengan Youka yang selalu mencolok dalam konotasi negatif.


Tanpa berniat menjadikan penonton sebagai kawan, Youka justru memanfaatkan mereka sebagai musuh—mengenakan niat buruk itu layaknya pakaian, Youka tersenyum.


"...Kengamine Youka-san."


"Benar, aku Kengamine Youka. Ingatlah baik-baik—"


"Ganti rugi."


Karena terburu-buru ingin membungkam Youka yang hendak memastikan identitas orang yang dimaksud, Yuu berdiri dengan tiba-tiba dan tanpa sengaja melontarkan kata-kata yang sangat ketus.


Sifat aslinya yang tidak berniat ia tunjukkan, akhirnya meledak keluar. Tak perlu dipikirkan lagi, itu adalah sebuah blunder besar. Hal itu terlihat jelas dari reaksi Youka yang menyunggingkan senyum senang di sudut bibirnya.


"Ganti rugi? Maksudmu ajakan minum teh, ya? Baiklah, biar aku yang traktir."


"Bukan. Aku tidak punya nyali untuk minum teh dengan orang yang baru pertama kali kutemui. Dengar ya, kau dan aku baru pertama kali bertemu di sini, saat ini juga. Kalau kau bersikap begitu, itu memalukan, aku jadi merasa terganggu."


"Apa-apaan kau tiba-tiba begitu. Kau sudah gila ya?"


"Aku masih kalah dibanding Kengamine-san. Aku angkat topi padamu."


Yuu sudah benar-benar panik sampai tidak tahu lagi apa yang ia ucapkan. Bagaimana caranya meloloskan diri dari tempat ini—hanya pikiran itu yang berkecamuk di kepalanya tanpa membuahkan hasil.


Apa solusi terbaiknya? Tidak, apakah memang ada jawaban yang benar dalam situasi ini?


Mungkin segalanya sudah terlambat sejak ia membiarkan penjajah bernama Kengamine Youka ini mendekat tepat ke depan matanya.


Satu hal yang pasti: sekeras apa pun ia berpura-pura tidak kenal, selama makhluk hidup ini dibiarkan berkeliaran bebas, kehancuran tidak akan terelakkan. Dia pasti akan menyebarkan hal-hal yang benar maupun yang tidak benar.


Sebaliknya, jika ia tidak memberikan informasi apa pun kepada orang sekitar, ia masih punya ruang untuk beralasan. Kunci dalam menangani rumor adalah jangan memberinya wujud; biarkan ia melayang seperti kabut yang ambigu dan tidak pasti.


Jika demikian, meski risikonya besar, mengusir Youka adalah prioritas utama. Ia harus segera menghilang dari hadapannya sekarang juga.


Yuu menyusun rencana sepihak demi kepentingan pribadinya—dan memutuskan untuk menyingkirkan ancaman di depannya.


Secara fisik.


"Keluar dari sini. Semua orang merasa terganggu."


Yuu mencengkeram kedua bahu Youka, memutar tubuhnya 180 derajat, lalu mendorong punggungnya menuju pintu keluar kelas. Ia merasa tatapan orang-orang di sekitarnya sudah menganggap mereka sebagai satu paket, tapi ia tidak peduli lagi. Saat ini, Yuu telah menjadi laki-laki yang mendorong orang asing yang baru ditemuinya.


"Ahahaha! Kau seperti karakter di Lone Wolf and Cub!"


"Beda jauh! Sudah, cepat keluar!"


Sambil tertawa nyaring, Youka ternyata cukup kuat menahan posisinya. Yuu terus mendorong sekuat tenaga. Jika bisa, ia ingin menekan Youka ke bawah, tapi itu mustahil. Meski kewalahan menghadapi kekuatan fisik Youka yang tak terduga, Yuu berhasil melakukannya dengan tekad bulat—tepat saat mereka keluar ke koridor, ia memberikan dorongan terakhir dan melepaskan tangannya.


Detik berikutnya. Youka berbalik dengan cepat, mencengkeram tangan kanan Yuu, dan menariknya. Di tengah gerakan itu, ia memutar tubuh Yuu, melingkarkan lengan kirinya ke leher Yuu, dan menguncinya dalam posisi pitingan dari belakang.


"Ternyata kau memang laki-laki yang menarik. Ayo, ikut aku minum teh."


"Pergi saja sendiri...!"


Yuu, yang kini menjadi tontonan di depan pintu kelas—posisi yang bisa terlihat jelas baik dari dalam ruangan maupun koridor—meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun, ia gagal. Malahan, ia justru diseret perlahan. Sulit baginya untuk menahan posisi karena ia ditarik dari belakang.


Kenapa dia kuat sekali, sih?


Seolah menyadari pertanyaan Yuu, Youka berkata sambil tertawa:


"Pernah dengar istilah 'Kendo menaikkan kekuatan tiga kali lipat'? Karena aku berlatih Kendo, aku jadi tiga kali lebih kuat dari orang biasa."


"Jangan berbohong dengan muka lempeng begitu! Lepaskan!"


"Ohoho, jurus aliran dewa. Kalau kulepas, kau pasti kabur, kan? Enak saja. Sayang sekali ya, Shikura."


"Kalau begitu, baiklah! Ayo kita bicara pelan-pelan!"


"Memangnya menurutmu kenapa kita sedang berpindah tempat? Dengarkan omonganku, dong."


Entah kenapa dalam atmosfer di mana ia merasa kalah berdebat, Yuu memutar otak bagaimana cara keluar dari situasi genting ini. Namun, Youka adalah tipe manusia yang belum pernah ia temui sebelumnya, sehingga ia tidak bisa menemukan serangan yang efektif.


Orang-orang yang lalu lalang di koridor maupun mereka yang mengintip dari dalam kelas hanya menatap dengan penuh rasa ingin tahu tanpa ada niat untuk membantu.


Yuu menyerah. Menilai bahwa melawan lebih jauh bukanlah langkah bijak, ia memejamkan mata dan melemaskan seluruh tubuhnya seperti boneka yang putus talinya. 


Merasakan itu, Youka bereaksi cepat; ia menyusupkan lengan kanannya ke bawah ketiak Yuu, begitu pula lengan kirinya, untuk menahan beban tubuh Yuu yang lunglai.


"Apa-apaan kau, Shikura. Ternyata kau sangat polos, ya."


Youka tetap tenang meski menopang berat badan seorang siswa laki-laki. Sementara itu, siswa laki-laki yang digendongnya sedang pura-pura mati. Atau istilah lainnya, pura-pura tidur—metode yang biasa dipilih anak kecil karena takut dimarahi.


Youka terus menyeret Yuu tanpa menoleh ke belakang. Begitu sampai di tangga, ia berhenti sejenak seolah merasakan sesuatu, lalu hendak lanjut turun saat—


"Tu-tunggu, tunggu sebentar, Youka-chan! Apa yang kau lakukan?!"


Langkah Youka terhenti oleh panggilan Yoyo yang baru saja naik tangga. Yoyo yang tampak terburu-buru itu menghampiri mereka dan melongok ke wajah keduanya dari samping.


"Ada apa, Naze? Aku mau mengajak Shikura minum teh."


"Bukan, bukan begitu... Bukannya Shikura-kun sedang dihajar? Dia pingsan? Masih hidup, kan?!"


"Entahlah. Disentuh oleh gadis cantik sepertiku mungkin pengalaman pertamanya, jadi wajar saja kalau dia merasa sedang di surga."


"Youka-chan jadi pembunuh!"


"Kalau iya, bantu aku menyembunyikannya, ya. Aku suka sisi baikmu itu, Naze."


Youka tertawa tanpa merasa bersalah sedikit pun. Yoyo yang kebingungan perlahan melongok wajah Yuu dari bawah, dan saat mata Yuu mendadak terbuka, Yoyo menjerit kecil.


"Kyaa! Dia hidup! Dia masih hidup, Youka-chan!"


Yuu segera mengubah penilaiannya terhadap Yoyo menjadi: "orang aneh juga".


"...Naze-san. Tolong aku. Berikan hukuman pada orang yang tiba-tiba muncul dan menculikku ini."


"Eh, uum... repot juga, ya."


Yuu mengirimkan tatapan tajam pada Yoyo yang mencoba menghindar dengan tawa getir. Tatapan itu begitu tajam, tak terlihat seperti orang yang sedang meminta bantuan. Begitulah saking putus asanya dia.


"Aduh, Youka-chan. Miyako-chan kan sudah bilang, Shikura-kun sepertinya tidak suka menonjol. Aku datang ke sini karena merasa khawatir."


"Dia memang bilang begitu. Tapi aku sempat ragu. Mana mungkin perkataan itu mempan pada aku yang suka menonjol. Furumi yang memperhatikan si cupu Shikura ini tidak mungkin tidak paham soal itu."


"Kengamine-san? Jadi kau tahu dan sengaja menyeret-nyeret aku seperti ini?"


"Iya dong," jawab Youka cepat, lalu menambahkan, "Biarpun dia tidak bilang, aku bisa tahu sendiri hanya dengan melihatmu."


Mendengar pengakuan itu, Yuu merasa putus asa karena sadar bahwa seluruh perhitungannya telah hancur total. Begitu ia menjadi incaran Kengamine Youka, ia seharusnya tidak berada dalam jangkauan pandangan gadis itu. Meskipun ia bersembunyi, ia pasti akan ditemukan dan diseret ke hadapan dunia.


Selama keberadaannya nyata, ia tidak akan bisa melarikan diri. Dengan kata lain, pilihannya bukan lagi "menghindar", melainkan "menghilang". Tapi aku harus bagaimana?


"......Baiklah. Aku mengerti, Kengamine-san. Sepertinya mustahil untuk lari darimu. Aku menyerah, jadi bisakah kau lepaskan aku? Mari kita jalan kaki normal saja untuk minum teh."


"Akhirnya kau paham juga. Sikap penurut itu bagus. Naze, kau juga ikut. Aku akan mentraktir kalian jus seharga 180 yen."


"Eh? Wah, asyik!"


Melihat Yoyo yang kegirangan sambil mengangkat kedua tangannya, Yuu membatin bahwa karakter gadis ini hari ini benar-benar berbeda dengan kemarin.


Setelah pernyataan menyerahnya diterima dan kuncian dilepaskan, Yuu berbalik menghadap si perusuh itu sambil mensyukuri kebebasan yang biasanya ia anggap remeh.


Youka berdiri dengan wajah bangga tepat di tepi tangga. Yuu melayangkan pandangannya ke arah belakang gadis itu dan berucap.


"......Sepertinya Furumi-san juga datang. Mau melanjutkan yang kemarin?"


Youka dan Yoyo serentak menoleh ke arah yang ditunjuk. Namun, di sana tidak ada siapa-siapa. Sosok Furumi Miyako tidak terlihat di mana pun. Dengan kata lain, itu bohong. Sebuah kebohongan besar demi menciptakan celah.


Tepat saat perhatian mereka teralih, Yuu langsung lari tunggang langgang sekuat tenaga tanpa mempedulikan harga diri. Youka, yang tertipu mentah-mentah dan membiarkan Yuu kabur, justru tertawa lebar dengan riang.


"Ayo kejar, Naze! Jangan biarkan dia lepas sampai dia tidak bisa bergerak lagi!"


"Aku tidak mau pakai cara licik begitu!"


Suara teriakan dan langkah kaki yang menyusul terdengar dari belakang. Tanpa menoleh sekali pun, Yuu terus berlari.


Setelah itu, untungnya ia tidak tertangkap hingga jam istirahat berakhir. Pada waktu istirahat berikutnya, ia memilih untuk tidak menetap di kelas guna menghindari rasa ingin tahu orang-orang termasuk Nijimura, dan berhasil meloloskan diri hingga jam pulang sekolah. Fakta bahwa ia berhasil kabur sebenarnya membuatnya merasa cemas, tapi untuk saat ini, ia memuji dirinya sendiri.


Begitu wali kelas selesai memberikan pengumuman, ia langsung keluar dari lingkungan sekolah tanpa menoleh kiri-kanan dan bergegas menuju tempat kerja paruh waktunya.


Ia sangat khawatir jika Youka akan menyebarkan namanya, namun karena tidak terpikir cara untuk membungkam gadis itu—dan mengingat bahwa semakin ia terlibat, situasi akan semakin memburuk serta ia sudah dicurigai—ia memutuskan untuk menyerahkan segalanya pada nasib. 


Pada akhirnya, Yuu berhenti berpikir.



"—begitulah ceritanya, benar-benar kacau. Ini semua salah Master sejak awal, jadi tolonglah introspeksi diri."


Waktu menunjukkan hampir pukul lima sore.


Sambil berganti pakaian seragam kerja, Yuu menceritakan seluruh kronologi tragedi yang menimpanya saat istirahat siang tadi. Cerita itu diterima dengan senyuman lembut oleh si Master berjanggut. Melihat sikap Master yang seperti sedang mendengarkan cerita cucunya, Yuu menghela napas pendek.


"Anak-anak muda zaman sekarang enerjik sekali ya, baguslah. Apa tadi menyenangkan?"


"Jangan bercanda. Sekarang aku sedang ketakutan memikirkan hari esok."


Karena hari ini pun belum ada pelanggan seperti biasa, Master asyik mengobrol dengan Yuu.


Setelah selesai berganti pakaian, Yuu berniat bekerja lebih giat dari biasanya—bukan berarti biasanya ia malas. Ia bertekad menumpahkan kecemasan yang tidak bisa ia hilangkan ke dalam kegiatan bersih-bersih. Dengan semangat itu, ia keluar dari ruang staf dan mulai membersihkan meja-meja. Ia terus membersihkan kotoran dengan pikiran kosong. Ia juga memastikan stok perlengkapan di meja tidak ada yang kurang.


Tepat saat rasa cemas yang samar di dalam diri Yuu mulai tertutup oleh rasa puas karena pencapaian kerjanya, terdengar bunyi lonceng di pintu masuk. Ia bersiaga menghadapi tamu yang tiba-tiba. Bukannya ia tidak memikirkannya. Mustahil ia tidak memikirkannya.


Bencana alam bernama Kengamine Youka—dalam artian bencana yang berwujud manusia—tidak mungkin membiarkan mangsanya lepas begitu saja padahal ia tahu di mana lokasinya. Dari interaksi mereka yang sangat singkat pun Yuu sudah memahami hal itu.


Bagi Yuu yang sempat berhenti berpikir, itulah satu-satunya kekhawatiran terbesarnya hari ini. Namun, berlawanan dengan kecemasan Yuu—tamu itu bukanlah Youka. Sosok tersebut menemukan Yuu dan melambaikan satu tangannya dengan ceria.


"Yaaho, Shikura-kun. Aku datang main, nih."


Yang mengunjungi toko bukanlah Kengamine Youka, melainkan Naze Yoyo. Teman sekelas Youka sekaligus salah satu dari gadis Mercusuar. Yuu masih belum bisa membaca karakternya; apakah dia tipe aktif, pendiam, bodoh, atau justru sebaliknya.


Yuu merasa sangat lega dan ingin menari karena yang datang bukan Youka, namun itu bukan alasan untuk menyambut Yoyo dengan hangat.


Mau apa orang ini datang ke sini?


"......Silakan duduk di kursi yang kosong."


"Kalau begitu, aku duduk di tempat yang sama dengan kemarin saja. Apa ada rekomendasi kursi lain?"


Tidak ada.


Yuu menyambut pelanggannya dengan ekspresi masam yang seharusnya tidak ditunjukkan dalam industri jasa. Yoyo tampak tidak keberatan dan melangkah menuju kursinya.


Awalnya Yuu ingin menyerahkan urusan pelayanan sepenuhnya kepada Master, namun karena ada hal yang ingin ia tanyakan, Yuu berinisiatif menyiapkan air dan membawanya ke meja. Sepertinya setelah melewati interaksi yang sangat buruk dengan Youka, hambatan psikologisnya untuk berurusan dengan Yoyo yang relatif normal jadi menipis.


Saat Yuu meletakkan gelas, Yoyo tersenyum sambil mengucap, "Terima kasih."


"Bagaimana dengan Kengamine-san?"


"Hmm, entahlah. Sepertinya saat istirahat tadi dia mengejar-ngejarmu, tapi begitu sekolah selesai dia langsung pulang."


"Apa ada kemungkinan dia datang ke sini?"


"Entah ya. Ngomong-ngomong, aku jarang melihat Youka-chan setelah jam sekolah."


"Begitu ya," Yuu merasa sedikit lega sesaat, lalu segera meminta Yoyo untuk memesan. Ia tipe laki-laki yang cukup searah, tidak jauh berbeda dengan Youka.


Sambil melihat Yoyo yang tampak bimbang membuka menu, Yuu yang belum memahami niat kedatangannya langsung melontarkan pertanyaan lugas.


"Kenapa Naze-san datang ke sini?"


"Eh? Ah, itu...... memalukan sih, tapi aku benar-benar belum bisa move on, dan kalau sendirian aku malah jadi murung."


"Dua orang lainnya...... bagaimana dengan Furumi-san?"


"Shikura-kun cukup jahat, ya. Kamu kan sudah dengar sendiri, kami itu tidak seakrab itu. Menghabiskan waktu bersama setelah sekolah itu baru pertama kali kami lakukan kemarin!"


"Itu hal yang luar biasa, tahu," begitulah yang tersirat dari ekspresi wajahnya yang tampak agak bangga.


Saat Yuu tidak menanggapi hal itu, Yoyo tersenyum malu-malu.


"Makanya, itu...... satu-satunya orang yang bisa aku perlihatkan sisi murungku, cuma Shikura-kun."


"......Terima kasih pujiannya."


Aku mencoba menjawab dengan datar, namun biar bagaimanapun, Yuu tetaplah seorang remaja SMA yang sensitif. Tidak mungkin ia tidak merasa senang saat seorang gadis manis menatapnya dari bawah dengan tatapan seperti itu.


Licik sekali. Kalau dia melakukan hal ini kepada siapa pun tanpa pandang bulu, wajar saja jika dia sangat populer.


Merasa malu, Yuu melarikan pandangannya ke arah langit-langit sambil mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apa kau tidak punya saudara? Naze-san?"


"Hmm, ada kok. Adik perempuan dan adik laki-laki. Aku sering dibilang mirip anak bungsu, tapi sebenarnya aku anak sulung, lho. Kaget, ya?"


"Hee. Aku justru merasa sejak awal kau memang seperti anak sulung."


Alasan sebenarnya adalah karena kemarin di tempat ini, Youka dan Miyako sama sekali tidak punya kemampuan untuk mengendalikan situasi. Namun terlepas dari itu, pembawaan Yoyo yang dewasa memang memberikan kesan sebagai seorang Kakak perempuan. Meski kesan itu tidak terlihat pada sosok Yoyo hari ini.


Tapi saat melihat Yoyo yang kemarin, aku memang berpikir begitu.


"Ini pertama kalinya ada yang bilang begitu! Tapi kemarin aku memang sedang sangat terpuruk jadi lebih pendiam, sih. Ugh...... memalukan sekali. Ah, benar juga! Kemarin aku sangat terbantu karena ada Shikura-kun! Terima kasih, ya!"


"Syukurlah kalau begitu, tapi......"


"Tapi?"


"Kengamine-san itu sebenarnya makhluk apa? Apa dia datang dari dimensi yang tidak kuketahui?"


"Wow."


Mengingat betapa ia dipermainkan oleh perilaku seenak jidat gadis itu, Yuu tanpa sadar melontarkan pertanyaan aneh. Sebagai balasannya, wajah Yoyo tampak serba salah.


"Yah...... Youka-chan itu, umm, memang unik ya."


"Fakta bahwa dia sadar dirinya dibenci tapi tetap tidak peduli, itu yang membuatnya sulit dihadapi."


Dijauhi oleh orang lain. Namun tetap teguh pada pendiriannya—sikap hidup seperti itu tidak bisa dipahami oleh Yuu. Itu adalah cara hidup yang berbanding terbalik dengan Yuu yang selalu memperhatikan sekitar dan menyembunyikan jati dirinya. Mungkin karena itulah mereka tidak cocok dan selalu berbenturan.


"Itu karena Youka-chan kuat. Dia kuat, dan sangat lurus," ujar Yoyo, seolah-olah sedang memeluk sesuatu yang berharga.


"Mungkin dia memang merepotkan bagimu, tapi tolong, jangan membencinya, ya. Dia bukan anak nakal, kok. Aku yakin ada orang-orang yang merasa terselamatkan oleh cara hidup Youka-chan."


Yuu tidak menjawab.


Seperti kata Yoyo, pasti ada orang-orang yang terpengaruh secara positif oleh cara hidup Youka. Pasti ada juga orang yang mengaguminya. 


Orang itu tidak takut pada konflik. Seolah-olah kesepian adalah hal yang paling ia takuti, ia mencoba terhubung dengan orang lain. Tanpa merusak jati dirinya sendiri. Tetap lurus. Bahkan jika akhirnya yang ia dapatkan hanyalah kesendirian. Ia tidak akan goyah.


Sosok bernama Kengamine Youka itu menjalani hidup dengan cara yang sangat kaku hingga terasa mengerikan.


Benar-benar lawan kata dari diriku.


Itulah sebabnya aku tidak akan pernah bisa memahaminya, dan bahkan merasakan semacam kengerian. Karena dia lawan yang seperti itu, mungkin aku bahkan tidak akan bisa membencinya.


Sebab, aku tidak merasa akan bisa membangun hubungan yang cukup dalam sampai bisa benar-benar membencinya dengan tepat.


"Sudah memutuskan pesan apa?"


"Eh, ah! Tunggu sebentar, duh gimana ya, kalau begitu kopi saja! Yang panas! Tidak perlu krimer dan gula."


Mendapat pesanan tersebut, Yuu kembali ke dapur dan meneruskannya kepada Master. Dengan gerakan terampil, Master menuangkan kopi, dan Yuu menerima cangkir tersebut untuk diletakkan di atas nampan. Kemudian, dengan gerakan yang juga sudah terbiasa, Yuu menghampiri Yoyo.


Saat ia meletakkan cangkir di depan Yoyo yang sedang melamun menatap ke luar jendela, gadis itu tampak tersentak tersadar dan buru-buru mengucapkan terima kasih. Yuu membalasnya dengan anggukan sopan.


"Silakan dinikmati."


Sebenarnya ia ingin gadis itu segera pulang agar tidak memanggil teman-temannya yang lain, namun ia tetap mengucapkan kalimat itu sebagai bagian dari formalitas pelayanan.


Yoyo berterima kasih sekali lagi, lalu tersenyum dengan raut kesepian. Ekspresinya persis seperti anak anjing yang dibuang.


Yuu merasa seolah dirinya sedang melakukan sesuatu yang jahat, namun ia segera beranjak dari sana dengan dalih masih ada pekerjaan.


Setelah itu, ia mengabaikan Master yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu dan fokus bekerja. Tugas Yuu utamanya adalah membersihkan bagian dalam dan luar toko, mengisi ulang perlengkapan, serta sesekali melayani pelanggan yang datang. Jika masih ada waktu luang, ia akan mencuci atau mensterilkan peralatan dapur. Jika itu pun sudah selesai, ia akan belajar cara membuat minuman atau memasak menu makanan dari Master. Berkat itu, meski pengalamannya belum banyak, pengetahuannya sudah cukup kaya.


Di sela-sela waktu, ia menerima pesanan tambahan dari Yoyo tanpa ada percakapan khusus. Yuu terus fokus bekerja, bahkan sempat menjalankan tugas belanja ke luar toko. Saat ia kembali, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat.


Bersemangat karena tinggal satu jam lagi, ia melirik ke arah kursi di dekat jendela. Yoyo ternyata belum pulang. Di meja itu tersebar buku catatan dan buku pelajaran, namun ia hanya melamun menatap ke luar.


"Yuu-kun. Kalau ada yang ingin dibicarakan, kau boleh mengobrol dengannya sebentar."


"Tidak, tidak ada apa-apa, jadi tidak apa-apa."


Meskipun menjawab begitu, Yuu sendiri penasaran sampai kapan Yoyo berniat menetap di sana. Apa dia akan terus duduk di sana sampai jam tutup toko pukul delapan nanti?


Di luar sudah gelap, sebaiknya dia cepat pulang. Lagipula, aku punya firasat buruk.


"Master, hari ini biarkan aku membantu membereskan toko setelah tutup."


"Tidak perlu. Aku sendiri saja tidak butuh waktu lama. Lagipula aku tidak bisa membayar uang lembur."


"Tidak perlu dibayar, kok. Kan cuma sebentar."


"Kalau begitu, kau juga harus menerima uang bagian kemarin yang kau tolak, ya."


Karena diserang di titik lemahnya, Yuu mengerang kesal.


Sepertinya Master sudah membaca semua niat terselubungnya. Jika terus begini, ada kemungkinan ia akan berpapasan dengan Yoyo tepat saat mereka meninggalkan toko setelah jam tutup.


Memang bisa dibilang itu ketakutan yang berlebihan jika memperhitungkan waktu untuk berganti pakaian, namun hari ini Yuu tidak percaya diri dengan perhitungannya sendiri. Kerusakan yang diakibatkan oleh keberadaan Kengamine Youka terlalu besar.


Sambil terus memutar otak dengan gelisah, akhirnya ia sadar bahwa sebenarnya tidak ada ruginya meski mereka berpapasan. Ia menyimpulkan bahwa jika itu terjadi, ia hanya perlu memastikan tidak salah mengucapkan kalimat perpisahan.


Masalah selesai.


Akhirnya pukul delapan tiba. Yuu mengantar Yoyo keluar toko, menyelesaikan ganti pakaian, lalu berpamitan pada Master dan melangkah ke luar.


Malam sudah benar-benar pekat, diwarnai oleh cahaya lampu jalan. Sambil merasakan dinginnya angin musim gugur di kulitnya, ia mulai berjalan dengan pikiran ingin segera memeluk Hika begitu sampai di rumah. Namun, tepat saat itu...


"Yaaho, Shikura-kun! Capek, ya! Ayo pulang bareng sampai tengah jalan!"


Yoyo tiba-tiba muncul dari balik bayangan, membuat Yuu sontak tersentak mundur. Meski tidak sampai berteriak, reaksinya jelas menunjukkan bahwa ia sangat terkejut. Yoyo tertawa jahil melihat itu. Yuu harus memusatkan fokusnya untuk menenangkan detak jantungnya yang mendadak kencang, sehingga ia tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


"Ma-maaf, ya. Aku tidak menyangka kau bakal sekaget itu."


“......Aku tidak terkejut, kok.”


Gawat. Ternyata orang-orang ini benar-benar bisa melampaui imajinasiku dengan mudah. Tak pernah terpikir akan datang hari di mana seorang gadis mengajakku pulang bersama. Menolaknya memang mudah, tapi jika itu merusak suasana hatinya, bisa-basi hal tak terduga lainnya akan menghantamku dari arah yang tak disangka-sangka. 


Yuu bimbang sejenak—dan berdasarkan pengalaman pahit di mana keputusannya sering kali berbalik menjadi bumerang, ia memutuskan untuk menerima tawaran Yoyo.


Jika ia mencoba menjaga jarak secara paksa, pihak lawan justru akan merangsek maju. Kalau begitu, lebih baik ia yang mendekat dan bersembunyi di titik buta lawan.


Istilahnya, di bawah mercusuar justru yang paling gelap. Jika beruntung, mungkin ia bisa kembali ke hubungan "orang asing" seperti sedia kala dengan lebih mudah.


"Baiklah, ayo pulang bareng. Aku tidak bisa menolak permintaan Naze-san yang sudah berkontribusi pada pendapatan toko."


"Hore, terima kasih! Oh iya, bagaimana kalau kita pergi makan dulu?"


"Mana mungkin aku mau."


Ucapan yang datang tiba-tiba itu sangat mirip dengan gaya Youka, membuat Yuu refleks menjawab dengan nada ketus. Namun, karena Yoyo tampaknya tidak keberatan dan mulai melangkah, Yuu pun mengikutinya.


Malam mulai turun. Yuu merasakannya saat berjalan berdampingan dengan Yoyo di jalan yang minim lampu jalan. Kegelapan malam ini terasa lebih berat dari biasanya. Sambil merasakan kesulitan berjalan karena sensasi seolah kedua bahunya ditekan, ia melirik ke samping dan melihat Yoyo sedikit mendongakkan dagu, menggoyangkan tubuhnya sambil bersenandung kecil.


Suasana hatinya sedang sangat baik. Begitu baiknya sampai terasa tidak alami. Ia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang terpuruk.


"Naze-san, aku kaget karena karaktermu hari ini sangat berbeda dengan yang kemarin."


"Duh, jangan bahas itu dong. Karakter asliku itu kan Naze-chan yang penuh semangat!"


"Naze-chan penuh semangat" itu tiba-tiba melemparkan tasnya ke arah Yuu.


Maksudnya apa, sih?—


Sambil terkejut, Yuu menangkap tas yang melayang itu. Tas itu sangat ringan, seolah fungsinya sudah tidak lebih dari sekadar pelengkap busana.


"Naze-san, kau tipe yang tidak belajar di rumah, ya?"


"Rumah itu bukan tempat untuk belajar, tahu? Eh, Shikura-kun tipe yang belajar di rumah?"


"......Ya, sewajarnya saja. Paling tidak batas minimal."


"Hee. Ngomong-ngomong, Shikura-kun punya saudara?"


"Punya. Adik perempuan."


Yuu akan menjadi sangat cerewet jika topiknya adalah soal adiknya. Ia memang tidak akan bercerita jika tidak ditanya, namun sekali ditanya, ia akan berubah menjadi "monster" yang menjelaskan segala detail yang bahkan tidak ditanyakan.


Bagi Yoyo, ini mungkin hanya obrolan basa-basi biasa, tapi tanpa sengaja ia telah menginjak ranjau darat.


"Namanya Hika. Sekarang kelas dua SD, dan dia benar-benar sangat manis. Alasan aku bekerja paruh waktu pun karena aku ingin membelikan banyak makanan manis kesukaannya. Hika selalu menunjukkan sisi manis yang berbeda setiap hari, jadi setiap hari rasanya seperti hari ulang tahun. Hika juga sangat manja padaku, dan kalau aku di rumah, dia selalu menceritakan banyak hal. Aku tidak tahu ada kebahagiaan yang lebih besar dari itu. Naze-san juga harus bertemu dengannya sesekali. Kau akan paham bahwa seluruh dunia ini ada hanya demi Hika. Mau lihat fotonya?"


"Karakter Shikura-kun berubah total!"


Entah karena kebaikannya sehingga ia tidak langsung mencibir "menjijikkan", Yoyo justru memberikan respons yang pas. Sementara itu, Yuu dengan wajah lempeng melanjutkan pembicaraan.


"Naze-san juga punya adik perempuan dan laki-laki, kan? Aku tidak keberatan kalau kau mau pamer tentang mereka."


"Ahaha...... aku tidak akan menang melawanmu, jadi tidak usah, deh. Ah, benar juga! Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang aku pergi menemui Hika-chan sebentar?"


"Itu merepotkan. Sudah larut malam, dan kalau mau bertemu Hika, kau harus mematuhi kode busana yang berlaku. Lagipula, sebisa mungkin aku tidak ingin mempertemukan kenalanku dengannya."


"Apa-apaan kau ini, Shikura-kun! Tadi kau sendiri yang bilang aku harus bertemu dengannya?!"


Sekali lagi, jika menyangkut adiknya, Yuu berubah menjadi monster yang menyeramkan. Ia menepis protes Yoyo yang disertai gerak tubuh itu dengan ekspresi dingin.


Karena merasa diperlakukan secara tidak adil, Yoyo mengerucutkan bibirnya dan menggerutu dengan alis yang menurun sedih.


"Enak ya, Hika-chan. Disayangi sampai seperti itu."


"Naze-san juga pasti begitu, kan. Kudengar kau sangat populer."


Yoyo tidak menjawab. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menunduk dengan tatapan serba salah, lalu mengalihkan arah pembicaraan.


"Ngomong-ngomong Shikura-kun, soal Youka-chan......"


"......Apa?"


"Seketika kau jadi dingin ya. Ahaha! Shikura-kun lucu sekali."


Kepala Yuu terasa pening karena setelah membicarakan Hika, topik beralih ke musuh bebuyutannya, Youka. Rasanya seperti terkena heat shock.


"Youka-chan memang sangat heboh, tapi dia tidak menyebutkan namamu, kok. Sejauh yang aku tahu."


"......Begitu ya. Aku sudah berhenti memikirkan soal itu, sih. Tapi syukurlah, aku jadi tenang."


Yuu menerima penghiburan itu dengan tulus. Biasanya ia akan mencecar dengan penuh kecurigaan, namun hari ini, di saat daya pikirnya sudah terkuras, rasa tenang yang sederhana sangatlah berharga. Lagipula, kesannya bahwa Yoyo adalah orang yang peduli pada orang lain belum tergoyahkan, jadi ia merasa tidak enak jika mengabaikan perhatian tersebut.


Lagipula, ini bukan urusan Yoyo. Ini adalah perselisihan antara Shikura Yuu dan Kengamine Youka, jadi Yoyo tidak punya kewajiban untuk ikut campur.


"Shikura-kun memang tidak terlalu suka menonjol, ya. Miyako-chan yang bilang begitu. Katanya kau terlihat seperti itu."


"Aku tidak menyangka diperhatikan oleh Furumi-san."


"Mungkin dia mengamati banyak hal meskipun kelihatannya sedang melamun. Tidak seperti aku," ucap Yoyo sambil terkekeh "nihihi".


"Bagaimana kalau kau mencoba mengobrol dengan Miyako-chan? Mumpung kalian sekelas. Kalau kau tidak bicara sedikit pun, malah akan terlihat mencolok, lho."


"Tidak...... tidak ada hal yang perlu dibicarakan juga. Apalagi sekarang aku sedang berada di tengah pusaran kecurigaan gara-gara Kengamine-san, jadi aku makin tidak mau."


Saat ini, ketika mata-mata di sekitarnya penuh curiga, berbicara dengan Miyako sama saja dengan membongkar identitasnya sendiri. Ia ingin tetap berpura-pura tidak tahu sampai suasananya mereda, dan akhirnya menghilang dari ingatan orang-orang layaknya bidak catur yang diletakkan di awal namun tak pernah digunakan lagi.


Meski begitu, sebenarnya berjalan berdampingan dengan Yoyo seperti ini pun sudah berisiko. Namun, berbeda dengan Youka yang bagaikan bom waktu, Yoyo terasa lebih aman karena tidak akan menyebarkan berita sembarangan. Yuu merasa nyaman dengan jarak ini, dan sedikit—benar-benar hanya sedikit—ia menikmati waktu ini.


Yuu bukan pembenci manusia. Justru sebaliknya, karena ia menyukai manusia, ia mencoba menjaga jarak agar tidak dibenci. Itulah sebabnya, interaksi kecil dengan orang yang tidak akan mengusik privasinya secara semena-mena—percakapan yang ringan dan mudah menguap—adalah hal yang menyenangkan baginya.


“Begini, Naze-san, bisakah kau sampaikan pada Kengamine-san? Katakan padanya jangan pernah menyebut namaku. Sepertinya mulai nanti malam sebelum tidur, aku bakal terus merasa cemas kalau-kalau dia keceplosan bicara.”


“Hmm...... boleh saja sih, tapi jangan terlalu berharap ya. Youka-chan itu tidak pernah mau mendengarkan perkataanku.”


“Yah...... tapi itu sangat membantu. Naze-san juga pasti merasa terganggu kan kalau sampai terseret rumor yang aneh-aneh?”


“Kalau aku sih—” kata Yoyo terhenti sejenak.


Tiba-tiba, “Ah! Benar juga!” serunya sambil bertepuk tangan seolah baru saja mendapat inspirasi kilat.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kamu bicara sekarang saja dengan Youka-chan! Kalau kamu bicara dengannya sebelum hari esok tiba, hatimu pasti tenang!”


“Apa yang kau katakan?”


“Aku tahu rumah Youka-chan, kok. Tidak terlalu jauh dari sini, mau coba ke sana?”


Mendengar usul aneh bin ajaib dari Yoyo, Yuu merasa seolah sedang berhadapan dengan orang yang berbeda dari sebelumnya, dan ia pun langsung mengernyitkan dahi sedalam-dalamnya.


Sudah larut begini, bertamu secara tiba-tiba itu sangat tidak sopan. Jangan-jangan anak ini tidak punya akal sehat......?


Yoyo yang baru saja melontarkan kebodohan tanpa rasa malu itu justru membusungkan dada dengan bangga, seolah sedang meminta pujian atas "ide cemerlangnya".


“Tentu saja tidak mau. Aku mau pulang dan menonton TV bersama Hika.”


“Jangan begitu dong! Ayolah!”


“Ini tidak sopan tahu, bertamu di jam segini.”


“Akal sehat itu kan cuma sekumpulan prasangka yang didapat sampai usia delapan belas tahun. Iya, kan?”


Yoyo mencoba mendebatnya dengan menggunakan kutipan kata mutiara. Tentu saja itu bukan argumen yang valid, jadi sama sekali tidak mempan bagi Yuu.


Menghadapi tingkah sok tahu itu, Yuu memutuskan untuk melawannya secara telak.


“Kan bisa lewat telepon saja.”


“Ba-bateraiku habis.”


“Katanya tidak akrab, tapi kok tahu rumahnya?”


“Ya, ya begitulah. Habisnya Youka-chan itu kan orangnya sangat terbuka.”


Seketika jawaban Yoyo menjadi tidak keruan.


Saat Yuu menyipitkan matanya, bola mata hitam Yoyo bergerak ke arah kanan atas.


“......Naze-san? Kau menyembunyikan sesuatu, ya?”


“Tu-tunggu sebentar, aku sedang berpikir apakah harus mengaku atau terus maju......”


“Jangan-jangan kau disuruh Kengamine Youka untuk memancingku keluar?”


“Bukan, bukan itu! Bukan begitu maksudnya!”


Saat Yuu mengambil jarak dan bersiap untuk kabur, Yoyo merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi. Kemudian ia tertunduk lesu dan bergumam minta maaf.


“Sebenarnya aku tidak tahu rumah ataupun nomor kontak Youka-chan......”


“Serius, maksudnya bagaimana?”


“Karena Shikura-kun sangat mencemaskan Youka-chan, aku pikir aku ingin membantu sebisa mungkin.”


“Tolong jangan bicara seolah ini salahku.”


Yuu merasakan hawa dingin yang bukan berasal dari udara malam, sambil menunggu penjelasan selanjutnya.


“Soal nomor kontak, tidak ada yang tahu jadi aku menyerah. Tapi aku diberitahu lokasi rumahnya oleh seseorang yang tahu banyak informasi bernama Matilda. Kau kenal?”


“Partner-nya itu teman sekelasku...... tapi ya sudahlah.”


“Kalau di sekolah, kau tidak bisa bicara dengan Youka-chan, kan? Makanya aku pikir kalau ke rumahnya, kalian bisa bicara dengan tenang......”


Sambil menempelkan ujung jari-jari tangannya, Yoyo mengungkap seluruh rencana konyolnya dengan ragu-ragu. Yuu merasa seolah sedang memarahi Yoyo, dan itu membuat hatinya sedikit perih.


“Kenapa Naze-san sampai melakukan sejauh ini?”


“......Maafkan aku ya. Aku bertindak semaunya. Pasti merepotkanmu, kan?”


Ucapnya sambil menatap dari bawah. Licik. Ini benar-benar terlalu licik. Yuu menyadari sesuatu pada saat itu. 


Ternyata dia sengaja melakukan ini.


Ekspresi seperti anak anjing yang dibuang yang ia lihat tadi sore kini terasa makin sulit untuk diabaikan, apalagi didukung oleh suasana sekitar yang gelap. Ia tidak bisa lagi menggunakan alasan sedang bekerja, dan meski rencana ini punya niat terselubung, ini tetaplah usul yang didasari oleh kebaikan—meskipun begitu.


Tolak. Tolak dia, Shikura Yuu.


Ia berulang kali mengingatkan dirinya sendiri, namun wajah Yoyo yang menatap penuh harap itu seolah mengandung ekspektasi yang besar.


Apa aku harus mengkhianati tatapan ini? 


Baru terlintas pikiran untuk menolak saja, ia sudah merasa seolah-olah dirinya adalah monster yang sangat jahat dan keji.


Oleh karena itu.


“......Baiklah. Aku pergi.”


Hanya itu jawaban yang bisa ia berikan. Yuu belum punya nyali untuk melanggar jalan kemanusiaan.


Mustahil, benar-benar mustahil. Melihat Yoyo yang kegirangan dengan senyum lebar, Yuu membatin.


Sambil menyadari betapa buruknya kemampuannya menilai orang, ia berpikir.


Bukan Kengamine Youka. Ternyata orang yang benar-benar punya kecocokan paling buruk denganku adalah anak ini. Naze Yoyo.



Kebohongan baru pun terungkap; rumahnya ternyata sama sekali tidak dekat, melainkan harus ditempuh dengan berjalan kaki cukup jauh. Yuu terus mencecar Yoyo agar mengakui semua hal yang ia sembunyikan.


Setelah melalui serangkaian tanya jawab yang berbelit-belit mirip konferensi pers formalitas, mereka akhirnya tiba di alamat yang dimaksud. Keduanya tersentak dan terpaku di depan rumah tersebut.


Rumah bergaya Jepang.


Kesan pertama Yuu adalah: rumah mewah.


Sebuah gerbang besar dengan atap genting yang megah berdiri kokoh dengan kesan berat yang klasik, seolah sedang menguji nyali mereka berdua. Di baliknya, berdiri sebuah bangunan dengan ciri khas atap irimoya, dan cahaya lampu oranye temaram tampak merembes dari jendelanya.


Melihat pemandangan rumah-rumah mewah bergaya tradisional yang berjejer, Yuu merasakan percampuran antara sentimen kuno dan rasa takut.


Jangan-jangan kalau aku bersikap tidak sopan, kepalaku bakal dipenggal.


Karena daerah ini berada di luar wilayah pergaulan sehari-harinya, ini adalah pertama kalinya ia datang ke sini, dan ternyata tempat ini cukup mendebarkan.


“Naze-san, Naze-san. Kau serius mau bilang kalau Kengamine-san tinggal di rumah semegah ini?”


“Mungkin...... mungkin aku dapat info palsu. Apa ini bukan penginapan atau semacamnya?”


Nyali keduanya sudah ciut, dan mereka perlahan-lahan mulai melangkah mundur menjauh dari gerbang tersebut.


Bukan hanya Yuu, Yoyo pun tampaknya tidak bisa menghubungkan bayangan Kengamine Youka di kepalanya dengan rumah bergaya Jepang yang megah di hadapan mereka.


Aura sakral yang terpancar dari penampilan luar bangunan itu seolah-olah sedang memarahi mereka karena bertamu di jam yang tidak wajar. Jika mereka nekat maju, rasanya akan ada orang dewasa yang sangat berwibawa keluar dan memarahi mereka habis-habisan.


Mengingat perjalanan ke sini memakan waktu lima puluh menit sekali jalan, Yuu memang ingin bicara dengan Youka jika memungkinkan, tapi memaksakan diri adalah hal terlarang. Salah langkah sedikit saja, taruhannya adalah harga diri atau nyawa.


Yuu memberi kode melalui tatapan mata, dan Yoyo yang menerima kode itu mengangguk dengan wajah tegang.


"Naze Yoyo, berangkat!"


"Tunggu, tunggu, tunggu! Tunggu dulu!"


Yuu mencengkeram lengan Yoyo yang sudah berlagak menggulung lengan baju dan hendak melangkah maju.


Ia salah sangka. Ternyata anak ini punya nyali juga.


"Pikirkan lagi, lebih baik kita pulang! Pasti ada orang dewasa yang menyeramkan di dalam! Bagaimana kalau mereka mengeluarkan katana! Apa yang mau kau lakukan!"


"Kalau itu terjadi, aku akan jadi umpan, jadi Shikura-kun cepatlah cari Youka-chan."


"Sudahlah, ayo pulang! Kalau aku mati, aku mau mati di pangkuan Hika!"


"Jahat sekali kau mengabaikan rencanaku, Shikura-kun! Baiklah, lepaskan tanganku, geli tahu kalau kau tarik-tarik begitu!"


Berbeda dengan Youka, Yoyo akan bergerak mengikuti arah tarikan tenaga Yuu. Namun, suara gerakan mereka sangat bising, ditambah suara tawa Yoyo yang kegelian menggema di kawasan perumahan yang sunyi itu.


Yuu berniat meninggalkan tempat itu secepat mungkin, namun rencananya kembali gagal. Yoyo menunjuk ke satu arah sambil berseru, "Ah." Sosok manusia muncul dari balik gerbang, membuat tubuh Yuu kaku seketika dan langkahnya terhenti.


Tersorot lampu jalan, sosok itu adalah seorang wanita yang mengenakan kimono berwarna ungu. Wajahnya memberikan kesan muda dan lembut, namun auranya terasa dingin. Usianya mungkin sekitar mahasiswi.


Dari posisi Yuu yang agak jauh, wajah wanita itu tidak terlihat jelas, yang berarti wanita itu pun seharusnya sulit melihat mereka. Ini kesempatan. Yuu berniat pergi dengan tenang, namun Yoyo—tanpa ragu sedikit pun—malah menyapa dengan suara senyaring siang hari. Tidak, dia nekat menyapa.


"Selamat malam! Apa ini rumah keluarga Kengamine?!"


"Bukan."


Jawaban instan.


Suara datar yang dilontarkan wanita berkimono itu terasa dingin hingga membuat bulu kuduk berdiri. Bahkan suara mesin zaman sekarang mungkin terasa lebih hangat. Yoyo yang pemberani pun sempat tersentak. Wanita itu terus menatap Yuu dan Yoyo dengan tatapan tanpa emosi, lalu berbalik menyentuh sesuatu di pintu masuk, dan berjalan mendekati mereka. Begitu sampai di depan mereka, ia menyodorkan benda yang dipegangnya.


Itu adalah papan nama rumah. Sepertinya dia sengaja mencopotnya dan membawanya keluar. Dengan bantuan lampu jalan, Yuu memicingkan mata dan membaca tulisan di sana. Bukan 'Kengamine', melainkan 'Misakai'.


Bukan Kengamine. Tapi Misakai.


Yuu memiringkan kepala mendengar nama yang asing itu, dan wajah Yoyo pun dipenuhi tanda tanya. Yoyo tampak seolah-olah sedang disihir oleh rubah, padahal faktanya sangatlah sederhana.


Klub Penggemar Rumor telah memberinya informasi palsu. Setelah berjalan sejauh ini, ternyata malah sampai di rumah orang lain... Yuu menanamkan tekad kecil dalam hati untuk melayangkan protes pada Nijimura nanti.


"Mohon maaf. Kami salah alamat. Kami akan segera pergi, jadi mohon dimaafkan."


Yuu membungkuk dalam, dan Yoyo mengikuti. Melihat hal itu, wanita berkimono itu berkata dengan sedikit intonasi pada suaranya.


"Bohong, deh."


Ucapnya dengan hanya menggerakkan bibir sedikit. Bahkan dengan penilaian paling longgar pun, wajahnya tetap tanpa ekspresi dan kaku, sehingga gejolak emosinya tidak terbaca sama sekali. Wanita ini sama sekali tidak mirip dengan Youka yang segala perasaannya terpancar di wajah.


Pemandangan yang menjunjung tinggi estetika tradisional. Papan nama dengan marga yang berbeda. Dari semua informasi yang didapat, Yuu menyimpulkan Youka tidak ada di sini, namun ucapan wanita tadi sungguh membingungkan.


Apa yang bohong?


Tanpa mempedulikan kebingungan mereka, wanita itu berbalik membelakangi mereka.


"Kalian ada urusan dengan anak itu, ya? Ini pertama kalinya, jadi saya sedikit terkejut. Akan saya panggilkan, mohon tunggu sebentar."


Wanita itu kembali masuk ke dalam area rumah, meninggalkan Yuu dan Yoyo yang masih mematung tanpa benar-benar paham apa yang baru saja terjadi.


Tak lama kemudian. Dari gerbang yang mereka tatap, sesosok manusia muncul dengan lincah. Yuu memicingkan mata dengan penuh curiga, menatap tajam ke arah sosok itu.


"Eh, jangan-jangan ini Shikura dan Naze? Sedang apa kalian di tempat seperti ini? Kurang kerjaan sekali ya, dasar bodoh."


Sosok yang muncul adalah Kengamine Youka yang asli. Ia berlari menghampiri mereka dengan suara yang riang.


Youka, sama seperti wanita sebelumnya, mengenakan pakaian tradisional Jepang. Warna merah cerah, sangat cocok dengan namanya yang mengandung unsur api. Kimononya berjenis iromuji (warna polos) tanpa corak, dengan satu lambang keluarga di bagian punggung. Bagian pinggangnya dihiasi oleh obi hitam dengan tali pengikat merah, perpaduan warna yang membuat Youka—yang setiap fiturnya terlihat tajam termasuk matanya—tampak sangat elegan.


Tak ada sanggahan bahwa Youka adalah gadis yang luar biasa cantik, dan Yuu sempat terpana melihatnya—namun. Ia menyadari ada sesuatu yang janggal di kaki Youka yang sedang berlari menghampiri mereka, lalu menunjuknya dengan nada jengkel.


"Kenapa kau pakai sepatu kets...?"


Kaki Youka, yang tadinya dikira sebagai kecantikan Jepang yang sempurna, ternyata dihiasi oleh sepatu kets model basket. Warna biru tua tipe high-cut.


Zaman sekarang, kombinasi kimono dan sepatu kets memang ada, namun dalam kasus Youka, tidak terlihat ada usaha untuk menyelaraskannya; benar-benar merusak pemandangan.


Youka berhenti dan menjawab dengan santai.


"Aku benci sesuatu yang membuat sulit bergerak. Ke sekolah pun aku tidak pakai sepatu pantofel tapi sepatu kets, kan. Ya, walaupun cuma sesekali."


"Orang sepertimu jangan pakai kimono."


"Mau bagaimana lagi, nenekku senang kalau aku memakainya. Namanya juga numpang tinggal, aku tidak bisa terlalu egois, kan?"


Numpang tinggal. Dari kalimat itu dan fakta bahwa marga di papan nama berbeda, Yuu menangkap adanya situasi yang tidak biasa. Ia pun segera mengubah sikapnya menjadi permintaan maaf. Ucapan yang ceroboh. Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena telah melangkah masuk dan mengusik privasi orang lain tanpa berpikir panjang.


“Maaf. Barusan aku tidak peka.”


“Tidak apa-apa. Kau tetaplah menjadi orang yang tidak peka dan sok tahu seperti biasanya.”


Jadi aku dianggap tidak peka dan sok tahu, ya? 


Yuu ingin membantah, tapi ia memilih untuk menelannya dalam diam.


“Lalu, ada urusan apa datang ke sini? Apa kau sebegitu inginnya bertemu denganku?”


“......Yah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”


“Akan kudengarkan. Yah, aku sudah bisa menebak garis besarnya, sih.”


“Boleh tahu menurutmu ini soal apa?”


“Soal kau dan Naze yang akhirnya berpacaran, kan?”


“Kengamine-san, kau benar-benar bodoh ya.”


Berbeda dengan di sekolah, Yuu tidak perlu khawatir akan menjadi pusat perhatian orang banyak, sehingga ia tidak ragu melontarkan kata-kata yang lugas dan frontal. Di sampingnya, Yoyo hanya bisa tersenyum getir.


“Aku tidak mau dibilang begitu olehmu! Orang yang mendekati gadis mana pun tanpa pilih-pilih justru jauh lebih bodoh!”


“Bukan! Justru karena masalah itu aku datang hari ini! Dengar ya, fakta semacam itu tidak ada, jadi tolong jangan pernah sebut namaku. Aku merasa terganggu karena muncul rumor-rumor aneh. Aku datang hanya untuk mengatakan itu.”


Yuu menekankan kata-katanya dengan nada bicara yang meninggi. Youka justru tersenyum menantang seolah siap menerima argumen tersebut.


“Hmm, bagaimana ya. Habisnya, kalau aku tidak bertindak begitu, kau pasti akan terus-menerus menghindar dengan licin, kan?”


“Ya jelaslah. Kalau kau sudah tahu, tolong ampuni aku. Kumohon.”


“Repot juga ya. Soalnya, aku suka saat kau sedang marah.”


Suka—sebuah serangan mendadak. Meski Yuu paham maksud dari konteks kalimatnya, kata itu tetap terasa terlalu tiba-tiba hingga membuatnya kehilangan kata-kata. Jangan mengucapkan kata "suka" dengan begitu entengnya.


“Cara bicaraku barusan bisa menimbulkan salah paham, ya. Mungkin lebih tepat kalau kubilang aku suka kau yang bisa marah. Seperti yang pernah kukatakan, saat berada di depan gadis cantik sepertiku, semua orang biasanya hanya mencoba cari muka, dan itu membosankan. Kalau tidak begitu, mereka biasanya merundung diam-diam di belakang. Makanya, orang yang berani menantangku secara terang-terangan sepertimu dan Furumi itu sangat berharga. Aku suka orang yang seperti itu.”


Begitulah Youka menegaskan.


Bukan hanya dirinya sendiri. Tapi juga orang lain.


“Karena itulah, lebih baik kau menyerah saja. Aku sudah terbiasa dibenci. Meskipun kau membenciku, selama aku menyukaimu, aku tidak akan membiarkanmu lepas dengan cara apa pun.”


Jadi menyerahlah, Youka mengulanginya sekali lagi.


Benar saja, orang ini memang sulit dipahami. Namun, anehnya Yuu tidak merasa kesal mendengarnya. Entah karena merasa heran atau apa, sosok Kengamine Youka memang menjalani hidup dengan cara yang sangat kaku hingga terasa mengerikan. Namun, dia jauh lebih lurus daripada siapa pun, dan Yuu tidak akan pernah paham bagaimana ia bisa memilih jalan hidup seperti itu.


“Aku tidak membencimu, kok.”


Yuu sendiri terkejut mendengar suaranya yang keluar begitu lembut, seolah bukan berasal dari dirinya sendiri.


Ia tersadar. Ia akhirnya menyadari sepenuhnya. Bukan melalui kejadian dramatis, melainkan dengan sangat sederhana. Bahwa menjadi "orang asing" bagi Kengamine Youka adalah hal yang mustahil.


Ia baru sadar bahwa dirinya tidak memiliki sifat dingin yang bisa mengabaikan perasaan suka yang disampaikan secara jujur oleh orang lain—ia sudah memahaminya.


Karena itu—untuk sementara waktu. Aku akan mencoba mengubah sudut pandangku terhadapmu. Aku akan mencoba untuk mulai membencimu.


“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi—”


Mendengar ucapan Yuu, wajah Youka merekah dalam tawa yang lebar dan blak-blakan.


Yuu merasa bagian yang tidak ia ucapkan pun tersampaikan, sehingga ia merasa malu dan mencoba menutupinya dengan bicara cepat.


“Terlepas dari itu, aku tidak mau menonjol, jadi berhentilah menyebarkan rumor. Mari kita cari jalan tengah. Kau pasti paham kan, Kengamine-san? Rasanya melelahkan dan menyebalkan kalau dibicarakan buruk di belakang.”


“Aku paham, kok. Katanya aku sering sekali dijelek-jelekkan di belakang, tapi orang-orang yang menyampaikan hal itu kepadaku secara tersirat justru terasa sangat menyebalkan. Saat buku pelajaranku dibuang dulu, rasanya jauh lebih melegakan daripada itu.”


Rasa malu yang coba ia sembunyikan tadi langsung sirna berganti dengan arah pembicaraan yang mendadak kelam.


“Tunggu. Kau diperlakukan seperti itu?”


“Begitulah. Tindakannya sendiri sih hanya perbuatan pengecut jadi aku tidak perlu meladeninya, tapi aku repot karena harus mengeluarkan uang lagi.”


“............”


“Yah, kau tidak perlu khawatir akan diperlakukan sampai sejauh itu. Kalau sampai terjadi sesuatu, aku akan membantumu untuk membasmi mereka sampai ke akar-akarnya.”


Tanpa sadar, Yuu mengerutkan keningnya saat mendengar cerita itu. Perasaan yang meluap di dalam dirinya perlahan mulai terbentuk dengan jelas, hingga akhirnya Yuu menyadari bahwa ia sedang marah.


Sangat buruk. Benar-benar memuakkan. Justru karena hal-hal semacam inilah, aku tidak ingin terlibat dengan orang lain. Ia marah pada orang-orang yang melakukan hal konyol seperti itu. Ia juga marah pada Youka yang tidak mau marah demi dirinya sendiri.


Marahlah. Kau juga manusia yang bisa marah, kan? Kau bisa tertawa dengan riang dan menangis dengan kencang.


Ah—sial. Inilah kenapa aku benci hal ini. Mengetahui tentang seseorang. Karena sekali aku mengetahuinya, aku tidak akan bisa lagi berpura-pura tidak tahu.


“Ekspresi macam apa itu, Shikura?”


Entah seperti apa ekspresi wajahnya saat ini. Tiba-tiba, kepalan tangan Youka mengetuk dahi Yuu.


Plok. Sedikit keras. Sebuah takaran yang pas antara ketukan dan pukulan.


“Aduh! Apa yang kau lakukan!”


“Ohoho. Aku ini adalah heroine tipe kekerasan, tahu.”


Setelah tawa keras yang dibuat-buat, Youka mengalihkan pandangannya dari Yuu ke arah Yoyo.


“Naze, kau juga bicaralah sesuatu. Kau sudah jauh-jauh datang ke sini. Apa kau punya ide yang bisa membuat Shikura dan Furumi mengamuk bersamaan?”


“Eh? Ah, eeto...... maaf, aku tidak terpikir apa-apa.”


“Kalau aku jadi Naze, aku akan menjawab bahwa semuanya akan baik-baik saja selama kita bersikap seperti biasa,” ujar Youka dengan nada percaya diri, seolah ia sangat yakin dengan objektivitasnya.


Yoyo tampak bingung, sementara Yuu tertawa. Ia sendiri tidak tahu kenapa, tapi ia tertawa begitu saja. Padahal hatinya tidak sedang dalam kondisi ingin tertawa—mengingat ia seharusnya merasa jijik terhadap perlakuan buruk yang diterima Youka—namun mungkin karena orang yang bersangkutan sama sekali tidak ambil pusing, emosi seperti kemarahan terasa sangat tidak cocok berada di tempat ini.


Atmosfer yang tenang secara tidak alami. Ketegangan Yuu pun mengendur. Mungkin Youka sengaja menjauhkan diri dari emosi bernama amarah. Entah kenapa Yuu berpikir demikian.


Mengenal orang lain menjadi kesempatan untuk berkaca pada diri sendiri. Yuu menenangkan diri sejenak dan memikirkan apa yang harus ia lakukan. Meski cara pandangnya terhadap Youka mulai berubah, kebijakan dasarnya untuk menghindari sorotan tetap tidak berubah. Karena itu, ia meminta diskusi untuk mencari jalan tengah, namun Youka langsung menepisnya.


“Kau ini, apa berencana menghabiskan hidupmu hanya untuk menghindari kegagalan? Memangnya untuk apa kau menjadi pelajar? Hanya sekaranglah saatnya kau boleh melakukan banyak kesalahan dan dimaafkan. Kalau kau tidak bertindak bodoh, kau akan rugi besar.”


“Dalam kasusmu, itu terlalu ekstrem, Kengamine-san. Bukannya aku menghindari kegagalan, tapi kalau aku mengikutimu, aku hanya akan berakhir terluka.”


Saat Yuu menghela napas panjang dengan sengaja, alis Youka terangkat.


“Bicaramu seolah-olah aku ini orang yang kasar saja. Biar begini, aku ini sedang jatuh hati dan patah hati, tahu. Apa kau tidak punya niat untuk bersikap manis sedikit? Aku tahu kau suka Naze, tapi jangan membeda-bedakan kami secara mencolok begitu, dong.”


“Dengar ya, aku sudah bilang berkali-kali sejak kemarin, berhentilah bicara begitu karena itu tidak sopan pada Naze-san. Soal patah hati pun, bukannya kau sendiri yang bilang sudah move on dan jangan dibahas lagi?”


Pada dasarnya, gaya hidup Yuu dan Youka bertolak belakang. Namun karena keduanya sama-sama emosional, wajar saja jika perdebatan frontal pecah saat mereka berhadapan.


Mendapat serangan balik dari Yuu, Youka mengerang dengan wajah yang seolah baru teringat sesuatu, “Eh, benar juga ya.”


“Lagipula, kalau kau bisa sedikit lebih tenang, aku juga bisa bersikap manis padamu.”


Merasa menang setelah berhasil membalas "penyemprot penderitaan" seperti Youka, Yuu merasa bangga dan menambahkan kalimat yang sebenarnya tidak perlu.


“Oh ya? Kalau begitu aku akan diam, coba puji aku.”


Tentu saja, tidak sulit membayangkan akan jadi seperti ini, namun sayangnya Yuu sedang dalam suasana hati yang melayang. Mungkin karena ia merasa canggung bisa mengobrol normal dengan Youka. Pandangannya menyempit dan pikirannya tumpul, ia hanya bisa meraba-raba arah percakapan. Dalam situasi ini, haruskah ia memuji gadis yang langsung memintanya memuji saat dibilang akan disikapi dengan manis?


Bukan minta dihibur, tapi minta dipuji. Itu adalah kalimat luar biasa yang menunjukkan jati diri Youka dan bentuk kebaikan versinya sendiri. Namun, meski diminta memuji secara tiba-tiba...


Jika lawannya adalah Hika, Yuu bisa saja memujinya dengan kecepatan sejuta pujian per detik, tapi tidak dengan Youka.


Setelah berpikir keras, Yuu akhirnya berkata.


“............Warnanya bagus ya, bajumu.”


Jawaban sepenuh jiwa setelah jeda yang panjang itu dinilai dengan ekspresi Youka yang tidak bisa menyembunyikan kekecewaan. Namun hasil ini pun wajar saja; bagi remaja laki-laki seperti Yuu, memuji lawan jenis secara langsung adalah tantangan tingkat tinggi. Apalagi lawannya adalah Youka yang mungkin lebih suka pujian yang lugas. Mungkin karena selama ini mereka terus beradu mulut, Yuu merasa malu jika harus berpura-pura dengan pujian palsu.


Sebenarnya ada banyak hal yang bisa dipuji, tapi kebenaran yang sanggup ia ucapkan paling mentok hanyalah soal warna pakaian. Warna merah yang mencolok itu memang sangat cocok dengan Youka, pikirnya. Entah apakah maksudnya itu tersampaikan atau tidak.


“Yah, sudahlah. Aku tahu kau memang polos, jadi aku maafkan. Aku sedang dalam suasana hati yang baik karena senang kalian berdua datang mengunjungiku. Naze, kau juga puji aku.”


“Melihat Youka-chan membuat setiap hariku terasa seperti musim semi!”


Mendapat pujian dari Yoyo, Youka langsung terlihat sangat senang dan mendongakkan dagunya.


“Sebenarnya aku ingin mengobrol sambil minum teh, tapi karena posisiku, aku tidak bisa sembarangan mengajak orang masuk ke rumah. Ayo kita jalan-jalan santai saja.”


“Tidak, tidak usah. Aku dan Naze-san juga sudah mau pulang, jadi Kengamine-san masuklah kembali.”


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita semua pergi makan dulu?”


“Naze-san, apa itu lelucon andalanmu? Mana mungkin aku mau.”


Yoyo menatapnya dengan wajah seperti anak anjing yang diabaikan majikannya. Yuu yang menyadari bahwa ia tidak akan bisa membantah jika menatapnya langsung, segera memalingkan wajah.


“Benar juga, aku jadi lapar. Ide bagus, Naze.”


“Kan! Memang Youka-chan yang terbaik!”


Sambil melihat keduanya yang mulai antusias, Yuu mengeluarkan ponsel dan memeriksa waktu.


Sudah lewat jam sembilan malam. Mengingat perjalanan ke sini saja sudah melelahkan, ia sebenarnya ingin duduk beristirahat di suatu tempat, namun jika Youka mulai mengobrol di meja makan sekarang, pasti akan memakan waktu yang sangat lama—jadi sebaiknya mereka segera bubar. Dan yang terpenting, ia harus segera pulang sebelum Hika tertidur. Hal itu tidak boleh sampai terjadi.


“Berjalan-jalan jam segini itu bahaya, jadi sebaiknya jangan...... tapi Kengamine-san tidak akan mendengarku, kan. Jadi silakan kalian berdua bersenang-senang. Aku pulang. Soal urusan ke depan kita tunda dulu, mari cari waktu lain nanti. Aku tidak akan lari lagi, jadi jangan bertindak gegabah.”


Sambil bicara cepat, Yuu mengembalikan tas Yoyo yang sedari tadi ia bawa. Melihat hal itu, Youka mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibirnya seolah curiga.


“Apa-apaan kau tiba-tiba begitu. Tidak mungkin seorang siswa SMA punya jadwal yang lebih prioritas daripada aku dan Naze.”


“Aku punya. Ada sesuatu yang lebih prioritas bagiku daripada siapa pun dan apa pun.”


“Beri tahu aku.”


“Tidak mau.”


Seketika, tragedi siang tadi terlintas di benak Yuu. Ia mengambil jarak karena takut jika dipiting di tempat seperti ini akan menjadi masalah besar, namun Youka hanya bersedekap dengan wajah tidak puas. Ternyata dia masih punya akal sehat soal itu.


“Kalau saja pakaianku sedang mendukung, aku pasti sudah memitingmu sampai kau bicara. Kau beruntung sekali ya.”


Ternyata dia orang yang tidak punya akal sehat soal itu.


“Kengamine-san. Menurutku menjadi 'bodoh' itu bukan seperti itu maksudnya.”


“Youka-chan, Youka-chan. Shikura-kun itu ingin cepat pulang karena punya adik perempuan, lho.”


“Naze-san! Kenapa kau memberitahukannya pada orang berbahaya ini!”


Yoyo mengabaikan protes Yuu dengan senyum jahil, lalu menjulurkan lidahnya sambil berpose tehe-pero.


Licik sekali. Yuu merasa payah karena metode klasik seperti itu ternyata sangat manjur bagi dirinya.


“Fuum. Adik perempuan ya. Aku penasaran apakah dia sama sok tahunya denganku, Shikura.”


“Kengamine-san. Mulai dari sini, pilihlah kata-katamu dengan hati-hati. Jika kau mengucapkan kata-kata buruk tentang Hika, aku terpaksa harus menghabisimu.”


“——Aha!”


Youka menerima tantangan itu dengan wajah berseri-seri. Tampaknya ia benar-benar merasa senang setiap kali Yuu mencoba melawan.


“Namanya Hika, ya. Nama yang bagus. Tercium aroma anak baik yang penurut. Kau punya fotonya, kan? Perlihatkan padaku.”


“Aku juga mau lihat! Perlihatkan, perlihatkan! Kumohon Shikura-kun! Ayolaah!”


“......Kalian berdua ini benar-benar tidak bisa dibantu ya.”


Yuu merasa seperti sengaja dipancing, dan memang kenyataannya begitu, namun ia sendiri punya keinginan yang besar untuk memamerkan Hika, sehingga ia pun menuruti permintaan mereka. 


Yuu mengeluarkan ponselnya, lalu dari sekian banyak foto Hika yang memenuhi galeri, ia memilih satu foto saat mereka pergi ke taman hiburan minggu lalu dan menunjukkannya kepada mereka berdua. Itu adalah foto Hika dari belakang saat sedang melihat pemandangan luar dari bianglala.


“Tampak belakangnya saja sudah manis, kan. Kalau kalian melihatnya dari depan, mata kalian berdua pasti akan copot. Sudah siap mental?”


“Hei Naze. Ternyata Shikura ini benar-benar bodoh ya.”


“Aku juga baru tahu soal itu hari ini.”


“Mengobrol saat pemutaran film itu melanggar etika.”


Yuu menggeser layar dan menampilkan foto berikutnya. Hika yang sedang tertawa riang sambil memeluk boneka maskot berbentuk kelinci. Yuu mengerang pelan sambil bergumam, “Luar biasa,” sementara kedua penontonnya mencondongkan tubuh ke arah layar dengan suara yang antusias.


“Hyaa! Ma-nis-nyaaa! Aku juga ingin dipeluk oleh Hika-chan!”


“Tunggu, ini serius adiknya Shikura?! Manis sekali! Aku juga ingin memeluknya! Pertemukan aku dengannya!”


“Kalian berdua punya selera yang bagus. Tapi kalau bertemu dengannya, itu mustahil. Terutama kau, Kengamine-san, aku sama sekali tidak ingin mempertemukanmu dengannya.”


“Hah?! Apa-apaan itu, aku ajukan keberatan!”


Youka berteriak protes sambil menekan-nekan pipi Yuu dengan jari telunjuknya. Sebagai tameng yang melindungi Hika, Yuu bertahan tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.


“Begini saja, kalau kau mempertemukanku dengannya, aku akan mengabulkan permintaanmu.”


“Kalau begitu, jawabannya sudah jelas. Silakan kau mau menyebarkan rumor atau apa pun sesukamu. Aku sudah memutuskan akan melindungi Hika meskipun harus mengorbankan apa pun. Tapi jika gara-gara kau Hika sampai terancam, aku tidak akan memaafkanmu bahkan jika jiwaku harus bereinkarnasi sejuta kali.”


“Memangnya kau pikir aku ini apa, sih!”


Bencana berwujud manusia.


Melihat sosok Youka yang tampak bersenang-senang namun juga menyiratkan kemarahan yang nyata, Yuu merasakan semacam kelegaan. Ia merasa seolah sedikit saja, ia sudah mulai bisa melihat garis batas dari kepribadian gadis itu.


“Aku iri sekali. Aku sepertinya anak tunggal, padahal aku ingin sekali punya adik perempuan atau laki-laki. Sudah kuputuskan, Shikura. Aku akan main ke rumahmu dan mentraktir kalian makan malam.”


Jangan bercanda, itulah yang ingin Yuu lontarkan seketika, namun niatnya surut karena ada kejanggalan yang sangat kentara dalam ucapan Youka, membuatnya kelu seribu bahasa.


Selain konteksnya yang aneh, bagian awal tentang latar belakang pribadinya itu—mungkin ia ingin ditanyai lebih lanjut, tapi—Yuu tidak bisa menanyakannya. Lebih tepatnya, ia memilih untuk tidak menyentuh topik itu.


“Ah, jangan salah paham dulu ya. Aku tidak akan bersikap tidak sopan dengan bilang mau ke sana sekarang juga. Aku ingin menyiapkan buah tangan dulu, jadi mari kita lakukan besok saja.”


“Itu pun sudah cukup tidak sopan.”


“Bagaimana kalau aku saja yang memasak untuk keluargamu? Nenekku sudah melatihku habis-habisan, jadi aku sangat pandai memasak. Naze, kau juga harus ikut menemaniku belanja.”


“Baiklah! Katanya Hika-chan suka makanan manis, lho.”


Yuu memegangi kepalanya menghadapi situasi yang berubah begitu cepat ini.


Naze-san, sebenarnya jangan-jangan mulutmu lebih lepas daripada Kengamine-san, ya.


“Paham, aku paham, jadi tolong tenang dulu kalian berdua. Pertama-tama, tidak boleh datang ke rumahku. Itu terlalu mendadak, bagaimanapun juga.”


“Aku sih tidak keberatan. Bukankah ada orang yang bisa jadi sahabat karib di hari pertama mereka bertemu?”


“Bukan itu masalahnya.”


Pelajaran moral tentang lebih mementingkan kedalaman hubungan daripada lamanya perkenalan itu sama sekali tidak ia perlukan sekarang. Ini murni keluhan terhadap jadwal yang terlalu mendadak. Ditambah lagi, bagi Yuu yang belum pernah mengundang perempuan ke rumahnya, ia tidak ingin mereka datang meskipun tidak mendadak. Ia pasti akan menanggung malu luar biasa.


Oleh karena itu.


“Mari kita ambil jalan tengah. Besok aku ada kerja paruh waktu, jadi aku akan memanggil Hika ke toko itu. Kalian berdua juga lebih santai begitu, kan?”


Yuu berusaha bersikap tenang untuk mengambil alih kendali. Tentu saja ia tidak berniat membawa Hika. Malahan, besok Yuu libur kerja. 


Itu bohong besar. Namun bukannya ia tidak mau mempertemukan mereka sama sekali, hanya saja jika ia tidak memberikan tawaran yang cukup meyakinkan, mereka sepertinya akan benar-benar menyerbu rumahnya. Ia berniat menggunakan panggilan video atau semacamnya nanti.


Meskipun ia ragu apakah mereka berdua—yang tadi kompak bilang ingin memeluk Hika—akan puas hanya lewat layar, sebagai seorang kakak ia harus bersikap tegas. Idealnya sih lewat rekaman video, tapi karena sepertinya sulit membohongi Youka (kalau Yoyo mungkin bisa), ia mengurungkan niat itu.


“Kau mendadak jadi penurut begini, mencurigakan. Mengingat sifatmu, jangan-jangan kau mau menyiapkan pemeran pengganti untuk Hika?”


“Kau pikir aku ini orang macam apa?”


“Tidak apa-apa, Youka-chan. Shikura-kun itu orangnya baik, kok. Wah, aku jadi tidak sabar menunggu besok.”


Sekarang bukan hanya Youka, Yoyo pun sudah menjadi orang yang harus sangat diwaspadai.


Bagi Yuu, yang paling harus ditakuti adalah Naze Yoyo. Jika sampai ada kemungkinan terkecil Hika menyukai Yoyo, masa depannya pasti akan terus berada dalam kekacauan.


Memikirkan hal itu, ia tetap tidak ingin mereka bersentuhan, namun ia sudah menyadari sepenuhnya: jika ia mengejar nilai sempurna di depan gadis-gadis ini, ia bisa saja berakhir dengan nilai nol besar.


Meski merasakan tatapan curiga Youka menusuk pelipisnya, Yuu mengucapkan terima kasih atas niat baik Yoyo. Tampaknya Youka sudah merasa cukup yakin sehingga tidak mencecar lebih jauh.


“Ya sudah, kalau begitu boleh saja. Sampai jumpa besok sepulang sekolah, ya. Janji adalah janji. Kalau kau melanggarnya, akan kusuruh kau membuat sesuatu dengan seribu jarum.”


“Horeee! Jadwal besok penuh sekali!”


Melihat keceriaan suara Yoyo membuat Yuu merasa bersalah. Ia merasa jika menatap wajahnya, ia akan membongkar semua kebohongannya, jadi Yuu sengaja memalingkan muka. Setelah itu, Youka yang memulai inisiatif untuk bubar.


Setelah memastikan kembali janji untuk besok, Yuu mulai melangkah pergi diikuti oleh Yoyo, namun Youka menahan mereka. Ia sepertinya merasa aneh dengan arah jalan mereka. Begitu tahu Yuu dan Yoyo datang dengan berjalan kaki, Youka tertawa heran dan memberi tahu lokasi halte bus yang letaknya agak tersembunyi.


Setelah berpisah dengan Youka, Yuu berniat menuju halte bus, namun niatnya terhalang. Yoyo bersikeras ingin berjalan kaki. Meski ditanya alasannya, jawabannya tidak cukup masuk akal. Karena Yuu tidak bisa membiarkan Yoyo pulang sendirian, ia pun terpaksa menempuh jalan pulang dengan berjalan kaki lagi.


Lima puluh menit sekali jalan. Perjalanan pulang terasa sedikit lebih cepat. Yoyo yang seolah tidak punya rasa lelah terus mengobrol dengan riang tentang banyak hal, hingga akhirnya pemandangan kota yang akrab mulai terlihat kembali.


Yuu ingin segera pulang secepat mungkin, tapi ia tetap tidak bisa membiarkan Yoyo sendirian, jadi ia memaksakan diri untuk satu usaha terakhir.


“......Akan kuantar sampai rumah.”


Namun tawaran itu langsung ditolak mentah-mentah.


“Tidak apa-apa,” ucapnya dengan nada yang tajam seolah ingin menjauh.


“Sudah dekat, dan begini-begini aku ini larinya cepat, lho!”


Meski ini sesuai keinginannya, ditolak mentah-mentah seperti itu membuat perasaannya campur aduk. Ia merasa seperti sedang diuji.


Yoyo berlari pergi meninggalkan Yuu yang masih terpaku memikirkan apakah ia harus menerima ucapan itu mentah-mentah atau tidak.


“Serius, tidak apa-apa kok! Da-dah! Sampai jumpa besooook! Zoroaster!” teriaknya sambil melambaikan tangan.


Apa-apaan itu.


Secara keseluruhan, Yoyo yang merupakan sosok yang mengkhawatirkan itu berlari pergi dengan kecepatan sesuai pengakuannya. Dia orang yang seperti badai, tak kalah dari Youka. Kalau dipikir-pikir, rasanya semua hal berjalan sesuai keinginan Yoyo—tapi, ya sudahlah.


Hari ini sangat melelahkan, jadi ia akan memikirkan soal besok sebelum tidur saja.


Selain soal Hika. Ada satu hal yang mau tidak mau harus ia pikirkan. Sulit dipercayai, tapi ini soal orang lain.


Karena ia tidak bisa berpura-pura tidak tahu—karena ia tidak mau melakukannya—maka ia harus memikirkannya. Tentang gadis yang tidak mau mencoba untuk marah itu.


Tentang Kengamine Youka.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close