Chapter
1
Harta
Karun Kuruto yang Terpendam
Tempat itu disebut sebagai Menara Sage. Namun,
tepatnya ini bukanlah sebuah menara, melainkan sebuah pipa yang berfungsi
menyedot energi dari Dunia Lama ke Dunia Baru.
Aku—Yurishia—selalu berpikir bahwa leluhur Kuruto,
kaum First, benar-benar orang yang hebat karena mampu menciptakan benda seperti
ini lebih dari lima ribu tahun yang lalu.
Kedatanganku ke Menara Sage kali ini adalah untuk
berziarah.
Meski kusebut makam, tidak ada batu nisan yang
berdiri di sini.
Dia hanya sedang tertidur.
"……Kau benar-benar terlihat seperti masih
hidup."
Aku bergumam pelan sambil menatap Yuna, boneka
mekanik yang memejamkan mata tanpa bergerak di dalam kapsul hampa udara.
Selama ribuan tahun, dia menghabiskan waktu bersama
Akuri dan menjadi belahan jiwaku yang terus mengawasi dunia ini.
Aku menangkupkan kedua tangan di depannya,
memanjatkan doa.
Sebenarnya aku ingin membawa Kuruto dan Lise, tapi
sepertinya hanya Akuri sang Penyihir Agung dan muridnya saja yang boleh masuk
ke Menara Sage.
Apalagi jumlah murid Penyihir Agung sangat terbatas
dan tidak bisa ditambah sembarangan, jadi akhirnya aku berziarah sendirian.
"Apakah Yuna tidak akan bisa bergerak
lagi?"
Seandainya penyebabnya adalah kerusakan teknis, aku
curiga Kuruto pasti bisa memperbaikinya jika aku memintanya.
Memikirkan hal itu, aku bertanya kepada
Bandana—mantan rekan Kuruto—yang berdiri tepat di sampingku.
"Bisa saja kalau cuma menyalakan ulang, lho. Nggak
ada yang aneh sama onderdilnya. Tapi, jiwanya sudah nggak ada di sana, dia cuma
boneka biasa."
"Bahkan kalau dinyalakan pun, yang ada di sana bukan
Yuna, tapi sesuatu yang nggak punya kehendak atau jiwa aslinya."
"Makanya, sesaat sebelum mati, Yuna memohon kepada
Penyihir Agung dan aku untuk nggak menyalakannya lagi sebelum dia mengembuskan
napas terakhir."
"Yah, sebenarnya dia ingin dihancurkan saja, sih.
Tapi fungsi kalkulasi Yuna itu sangat krusial untuk mengelola menara ini."
"Jadi, tubuh mekaniknya disegel seperti ini, dan
kami hanya memanfaatkan fungsi kalkulasinya saja."
"Kedengarannya memang kejam seperti mencambuk mayat,
tapi Yuna sendiri sudah setuju, kok."
Bandana menjelaskan dengan nada bicara yang santai.
Dia juga salah satu orang yang menyeberang ke dunia masa
lalu bersama Akuri.
Karena dia bukan roh seperti Akuri ataupun mesin seperti
Yuna, dia bisa bertahan hidup sampai sekarang dengan cara menyegel tubuhnya
secara berkala.
Dan sekarang, dia mengambil alih pengelolaan menara untuk
sementara dari Akuri.
Aku tidak terlalu paham hubungan antara mereka
bertiga—Bandana, Akuri, dan Yuna—tapi alih-alih memanfaatkan mayat, mereka
terlihat seperti sedang meneruskan wasiat Yuna.
Awalnya aku mengira Bandana adalah orang jahat yang hanya
memanfaatkan Kuruto, tapi kata-katanya saat mengawasi Akuri terdengar sangat
lembut.
Meski begitu, aku tetap tidak bisa memaafkan perbuatannya
yang dulu pernah meremehkan Kuruto saat masih di kelompok petualang
"Dragon Fang".
Bandana bilang, dia sangat menyayangi Akuri melebihi
siapa pun, namun saat tahu Akuri lebih mementingkan Kuruto daripada dirinya,
dia merasa cemburu dan akhirnya membenci Kuruto. Itu pengakuannya sendiri.
Tentu saja, jika dia memang berniat menjadi sekutu Kuruto,
pasti ada cara lain meskipun dia harus mengikuti alur sejarah yang diketahui
Akuri.
"Aduh, jangan melotot begitu, dong. Aku memang
bilang kalau aku benci Kuruto, tapi itu juga karena aku mengakuinya, tahu?
Bagaimanapun, dia adalah keturunan kaum First yang agung."
"Kaum First, ya…… Manusia buatan yang diciptakan secara artifisial untuk
membangun Dunia Baru…… kalau tidak salah? Ras yang diciptakan orang kuno untuk
menyiapkan dunia migrasi baru, yang seharusnya dibuang begitu saja setelah
selesai digunakan. Memang, kekuatan Kuruto yang melampaui manusia itu—"
"Itu
bohong, lho."
"Aku memang berpikir itu tidak masuk akal,
tapi…… apa katamu tadi?"
Saat aku bertanya, Bandana tertawa terbahak-bahak.
Seolah-olah dia sedang mempermainkanku.
"Makanya kubilang, cerita soal kaum First diciptakan
oleh orang kuno itu bohong. Mereka itu bagian dari umat manusia yang hidup
normal, kok."
"Saat waktunya membangun Dunia Baru dan memindahkan
umat manusia, aku dan Penyihir Agung yang membuat pengaturan (setting) seperti
itu."
"Ke-Kenapa kalian melakukan hal seperti itu?"
Bandana mungkin melakukannya karena iseng, tapi aku tidak
yakin Akuri akan melakukan hal semacam itu tanpa alasan.
"Coba pikirkan. Orang-orang dengan kekuatan luar
biasa seperti Kuruto hidup tanpa diketahui, lalu tiba-tiba ikut pindah ke Dunia
Baru bersama manusia lain. Bagi sebagian orang, itu pasti menakutkan,
kan?"
"Apalagi saat itu ada ketakutan kalau monster tabu
yang lahir dari peradaban maju akan menghancurkan dunia mereka."
"Jadi, kami terpaksa meyakinkan masyarakat dengan
kebohongan—bahwa telah diciptakan manusia super yang dikendalikan sepenuhnya
oleh manusia."
"Nama 'Kaum First' juga cuma karena kedengarannya
mirip dengan Desa Haste, jadi kami panggil begitu. Dari awal nama desanya
memang Desa Haste, kok."
Kepalaku mulai terasa pening.
Rasanya seperti seorang pahlawan yang mengira sudah
mengalahkan Raja Iblis, tapi tiba-tiba muncul Raja Iblis kedua yang cara
mengalahkannya sama sekali tidak diketahui.
"……Lalu, sebenarnya orang-orang Desa Haste itu
siapa?"
"Entahlah? Mana mungkin aku tahu hal semacam itu.
Jangankan aku atau Penyihir Agung, orang-orang yang tinggal di Desa Haste di
Dunia Lama pun tidak tahu."
Sesaat, aku benar-benar ingin memukul orang ini.
Sial, padahal kalau penduduk Desa Haste seperti Kuruto
memang diciptakan secara artifisial, aku berniat mencari tahu metodenya.
Dengan begitu, aku bisa menyembuhkan penyakit (?)
mereka, seperti kehilangan kesadaran dan ingatan saat menyadari kemampuan
sendiri, atau risiko tinggi saat melahirkan…… tapi sepertinya penyakit (?)
penduduk Desa Haste itu memang sudah ada dari awal.
"Tapi, mungkin saja ada informasi tentang itu di
Perpustakaan Dunia yang ada di gereja Dunia Lama."
"Perpustakaan Dunia?"
"Sesuai namanya, itu perpustakaan tempat
berkumpulnya buku-buku dari seluruh dunia. Katanya jumlahnya mencapai puluhan
atau ratusan miliar."
"Eh, tunggu dulu! Angka omong kosong apa itu?"
Buku itu setidaknya seharga beberapa koin perak per
eksemplar, bahkan bisa dihargai koin emas jika langka, kan? Apalagi butuh waktu
lama untuk membuat satu buku.
Menyimpan miliaran buku?
Perpustakaan terbesar di duniaku saja koleksinya hanya
sekitar puluhan ribu buku.
"Bukan omong kosong, lho. Tingkat melek huruf
peradaban kuno itu lebih dari sembilan puluh persen. Pasokan pangan juga
tinggi, zaman di mana hampir nggak ada orang mati kelaparan."
"Tentu saja, kalau perut sudah kenyang, manusia
bakal cari hiburan. Salah satu sasarannya ya buku. Bukan cuma haus ilmu, tapi
cerita-cerita fiksi juga jadi arus utama."
"Teknologi pembuatan kertas dan cetak beda jauh
dengan Dunia Baru. Setiap hari, buku yang terbit nggak terhitung
jumlahnya."
"Ngomong-ngomong, di lantai bawah menara ini
juga disimpan lebih dari seratus ribu buku supaya Penyihir Agung nggak bosan,
lho. Tapi sepertinya semua sudah habis dibaca."
"Begitu ya? Tapi, kertas nggak akan lapuk selama
lima ribu tahun…… oh, ada segelnya ya."
Sama seperti manusia atau hewan yang disegel dalam
kristal sihir untuk memperpanjang usia, buku pun jika disegel dengan cara yang
sama tidak perlu khawatir akan lapuk.
"Tepatnya sih katanya penyimpanan hampa udara…… tapi ya mirip-mirip lah."
"Hampa
udara……? Ah, kau bilang tadi Yuna juga diberi segel itu. Apa
maksudnya—tidak, lupakan itu. Apa benar ada informasi mengenai penduduk Desa Haste
di Perpustakaan Dunia itu?"
"Di Perpustakaan Dunia ada yang namanya Ruang Arsip
Paus, tempat yang cuma boleh dimasuki oleh Paus dan orang-orang yang
diizinkannya. Di sana disimpan dokumen penelitian yang melahirkan
monster tabu, misalnya."
"Begitu Paus menyatakan kalau kaum First adalah
kaum yang diciptakan secara artifisial, otomatis informasi tentang mereka jadi
rahasia tingkat tinggi. Jadi, dokumennya pasti disimpan di sana."
"Dan karena di sana juga memakai penyimpanan
hampa udara, kalau nggak ada masalah apa-apa, dokumen itu harusnya masih ada
sekarang."
Jika apa yang dikatakan Bandana kali ini benar, memang
ada kemungkinan rahasia Kuruto bisa terungkap jika pergi ke Perpustakaan Dunia.
Tapi, kondisi Dunia Lama benar-benar tidak diketahui.
Bahkan jika mengintip ke bawah menara tempat Dunia Lama
berada, semuanya tertutup kabut tebal hingga permukaan tanah tidak terlihat
sama sekali.
Artinya, pergi ke Perpustakaan Dunia di Dunia Lama adalah
hal yang mustahil.
"Kalau begitu, aku pulang dulu."
Padahal aku hanya berniat berziarah, tapi tidak
kusangka akan sepayah ini.
"Ya, sampaikan salamku buat Penyihir Agung. Oh,
terus kalau besok-besok datang lagi, jangan lupa bawa makanan buatan Kuruto
sama stok makanan awetan, ya."
"Baiklah."
Aku mengangguk, lalu membungkuk sedikit kepada Bandana
yang sementara menggantikan Akuri mengelola Menara Sage.
Sepulang dari Menara Sage, keesokan harinya, aku
dihadapkan pada situasi yang harus segera diselesaikan secepat mungkin.
Lise mengambil kendali dan memanggil orang-orang yang
diperlukan ke ruang rapat bengkel untuk menyelesaikan situasi tersebut.
Ada Mimiko si Penyihir Istana Kursi Ketiga, Atelier
Meister Ophelia si pemilik bengkel, Akuri, dan Kirschel si Kepala Cabang
Valhall dari Hello-Hello Workstation, ditambah aku, jadi total ada lima orang.
"Anu……
kenapa saya dipanggil ke sini?"
Kirschel
bertanya dengan tubuh gemetar di hadapan anggota luar biasa seperti mantan
putri raja, penyihir istana, dan Atelier Meister, tapi aku
mengabaikannya.
"Jadi, Yurishia-chan, situasi darurat apa yang kau
maksud?"
Mimiko mengangkat tangan dan bertanya. Melihat
anggota yang berkumpul, dia sepertinya sadar bahwa ini bukan urusan sepele.
"Biarkan saya yang menjelaskan. Silakan lihat
dokumen yang saya bagikan sekarang."
Lise mengatakan itu sambil membagikan dokumen kepada
semua orang termasuk aku.
Aku sudah membaca dokumen ini sebelumnya dan tahu
isinya, tapi sejujurnya aku lebih baik tidak tahu saja.
Di dalam dokumen itu, deretan angka terpampang dengan
rapi.
"Semuanya sudah tahu kan, kalau setengah tahun
lalu di ibu kota, ayahanda—Baginda Raja—mendirikan serikat dagang rekanan untuk
menyalurkan dan menjual produk Tuan Kuruto?"
Mendengar pertanyaan Lise, semua orang kecuali
Kirschel mengangguk.
Kirschel memasang wajah yang seolah ingin berteriak,
"Eh? Sejak kapan jadi begitu?!", tapi dia memilih diam karena tidak
ingin memotong pembicaraan.
"Tentu saja, jika Tuan Kuruto yang membuatnya
langsung, hanya barang selevel pusaka nasional yang akan tercipta dan harganya
tidak akan masuk akal. Karena itu, kami hanya meminta resep dari Tuan Kuruto,
dan menjadikan anggur yang dibuat di desa mitra sebagai produk utama, sembari
menjual beberapa produk kosmetik."
Ini semua dilakukan semata-mata untuk memberi rasa
percaya diri kepada Kuruto.
Untuk menunjukkan padanya bahwa hal-hal yang dia pikirkan
bisa diterima dengan baik oleh semua orang.
Namun—
"Yang tertulis di halaman pertama adalah laporan
laba rugi dari serikat tersebut."
Di sana tertera angka yang mungkin tidak akan pernah
dilihat oleh rakyat jelata seumur hidup mereka.
Tapi, itu kalau kita bicara soal rakyat jelata biasa.
Bagi Atelier Meister Ophelia, dia bisa mendapatkan
imbalan sebesar itu setelah menyelesaikan pekerjaan besar, dan Mimiko si
Penyihir Istana pun terkadang harus mengelola jumlah uang sebanyak itu.
"A-Anu……
kalau ini adalah laporan laba rugi selama setengah tahun, bukankah…… biaya
personelnya terlalu murah?"
Kirschel
bertanya dengan ragu-ragu.
"Kalau
dipikir-pikir, benar juga. Apa sebagian besar pekerjaan diserahkan
kepada Phantom?"
Ophelia bertanya dengan heran.
Mimiko meminjamkan sebagian anggota Phantom untuk
keamanan serikat dagang tersebut.
Mereka yang dilatih sebagai intelijen bukan hanya ahli
bertarung tapi juga ahli infiltrasi, dan tentu saja, bisa bekerja sebagai
karyawan toko.
Lalu, karena imbalan mereka dibayar dari anggaran
keluarga kerajaan, serikat tidak perlu membayar gaji mereka.
Itu adalah cara terbaik untuk menekan biaya personel.
Namun Lise menggelengkan kepalanya.
"Tidak, para anggota Phantom kami minta fokus pada
keamanan dari balik layar, sementara untuk keamanan depan dan pelayanan, kami
mempekerjakan orang biasa. Tentu saja, kami menyeleksi
orang-orang unggul yang telah menempuh pendidikan tinggi. Karena itu, kami
membayar gaji dalam jumlah yang lumayan besar, lho?"
Awalnya anggota Phantom memang bekerja sebagai
karyawan, tapi sekarang mereka fokus menangkap mata-mata dari serikat lain atau
negara lain. Dan sampai sekarang pun, setiap minggunya ada beberapa orang yang
tertangkap.
"Lalu, gaji ini?"
"Pertama-tama, Nona Kirschel sepertinya salah paham.
Ini bukan pendapatan selama setengah tahun. Ini pendapatan untuk satu
hari."
"Fueeeeeeeh?!"
Saat itu, hanya Kirschel yang berteriak kaget, tapi
Mimiko dan Ophelia pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.
Mereka pernah melihat serikat dagang Kuruto secara
langsung, jadi mereka pasti tidak salah paham seperti Kirschel yang mengiranya
pendapatan setengah tahun.
Namun, mereka pasti mengira itu setidaknya pendapatan
untuk satu minggu.
"Apalagi, jumlah itu baru pendapatan dari toko.
Untuk anggur atau kosmetik kualitas tertinggi, penjualannya dilakukan lewat
lelang seminggu sekali. Jumlahnya tertulis di halaman berikutnya."
Aku berkata demikian sambil meminta mereka membalik
kertasnya.
Di sana tertulis jumlah uang yang sangat besar
sampai-sampai rasanya ingin menutup mata. Itu adalah pendapatan yang besarnya
puluhan kali lipat dari skala anggaran kota besar.
"Mimiko, kau sudah tahu?"
"Sedikit banyak, sih…… Sebenarnya aku ingin
menjualnya lebih murah, tapi serikat dagang lain memohon agar harganya jangan
diturunkan lagi."
Orang yang meminum anggur Kuruto akan kompak berkata,
"Setelah minum ini, aku tidak bisa minum anggur lain."
Itu adalah ungkapan saking enaknya, tapi kenyataannya
memang ada beberapa bangsawan yang mulai berhemat dan sama sekali tidak meminum
anggur lain hanya demi meminum anggur Kuruto.
Karena itu, ada permintaan agar harganya jangan
diturunkan demi menjaga segmentasi pelanggan, karena jika harganya turun,
bangsawan lain bisa ikut-ikutan melakukan hal yang sama.
Kosmetik pun mengalami nasib serupa.
Karena alasan yang sama, jumlah penjualan tidak bisa
ditambah, alhasil kelangkaan anggur dan kosmetik Kuruto semakin meningkat, dan
harganya di pelelangan pun melonjak drastis.
"Jadi, Yurishia-chan, bisa beritahu kenapa kami
dikumpulkan? Pendapatan
toko memang hebat, tapi…… hei, sekarang tabungan Kuruto-chan ada berapa?"
"Lihat
halaman terakhir."
Di
tengah-tengah memang ada banyak dokumen detail serikat dagang, tapi aku
melewati semuanya dan menunjukkan halaman terakhir.
Itu adalah aset serikat dagang saat ini, atau dengan kata
lain, kekayaan Kuruto.
Jumlahnya—sudah membengkak hingga beberapa kali lipat
anggaran negara, dan terkubur begitu saja tanpa digunakan oleh siapa pun.
Bisa dibilang, itu adalah harta karun Kuruto yang
terpendam.
"Masalahnya, yang mengelola dana itu adalah Baginda
Raja."
Untuk merahasiakan pengembang produk serikat tersebut,
meski itu adalah milik Kuruto, seluruh aset dimasukkan ke kas negara dan
dikelola oleh ayah Lise, Baginda Raja.
Dan sebagian besar pelanggan serikat dagang Kuruto
adalah kaum bangsawan.
Akibatnya, kekayaan bangsawan berkurang sementara
kekayaan keluarga kerajaan terus bertambah, sehingga keseimbangan kekuatan
negara mulai goyah secara drastis.
Lebih jauh lagi, mata uang yang beredar berkurang
drastis, hingga menciptakan situasi yang bisa memicu deflasi skala besar.
"Begitu ya, aku paham kenapa kita dipanggil.
Intinya, kalian ingin mengurangi uang Kuruto-chan entah bagaimana caranya,
kan?"
"Ya, syukurlah kau cepat tanggap. Ngomong-ngomong,
Kirschel datang ke sini sebagai konsultan khusus yang dulunya mengelola aset Kuruto."
Sampai Kuruto mendirikan serikat dagangnya, semua uangnya
dikelola sendirian oleh Kirschel.
"A-Anu, saya tidak mengerti. Kalau ini masalah
besar, kenapa tidak Baginda Raja ambil saja lalu dibagikan ke para bangsawan? Kuruto-kun juga tidak tahu, kan?"
Pendapat Kirschel masuk akal.
Namun, tidak ada yang mengangguk karena sepertinya Kuruto
begitu dicintai oleh semua orang di sini.
"Kalau begitu, saya punya usul. Bagaimana kalau kita
mendirikan bank dan melakukan manajemen aset?"
Yang mengusulkan itu adalah Akuri.
Bank adalah sistem yang dipikirkan sekitar satu abad yang
lalu, sebuah organisasi yang menyimpan uang dari individu atau serikat, lalu
meminjamkannya ke perusahaan dan mengambil untung dari bunga.
Namun, pada akhirnya itu hanya berakhir sebagai teori di
atas kertas, dan hanya terbatas pada guild skala kecil atau orang kaya yang
meminjamkan uang.
"Penyebab kegagalan pendirian bank seratus tiga
puluh tahun yang lalu adalah kurangnya kekuatan untuk mengumpulkan uang demi
sistem baru tersebut, dan yang terpenting, keberadaan bangsawan."
"Saat bangsawan ingin meminjam uang, meski bank
meragukan kemampuan bayarnya, bank yang didirikan rakyat jelata tidak punya
kekuatan untuk menolaknya…… Tapi sekarang, kita tidak perlu mengumpulkan uang,
dan dengan kemampuan pengumpulan informasi serta pelacakan milik Phantom,
risiko kredit macet bisa dikurangi."
"Apalagi sekarang kekuatan sedang condong ke
keluarga kerajaan, dan dengan perlindungan dari mereka, kita bisa menolak
tuntutan arogan dari para bangsawan."
Begitu Akuri berbicara, dokumen-dokumen muncul di
depan kami.
Itu adalah kekuatan teleportasinya.
Karena aku sudah bicara dengan Akuri tentang agenda
hari ini sebelumnya, dia pasti sudah menyiapkan dokumennya.
"Memang, aku juga pernah merasakan kegunaan
bank."
Saat pajak gunung nenekku tidak bisa terbayar, aku
berpikir seandainya ada lembaga tempat meminjam uang seperti itu.
Aku berkata begitu sambil melihat dokumennya.
Hanya terdiri dari lima halaman, tapi poin-poinnya
tertangkap dengan baik dan sebagai draf awal, ini adalah hasil kerja yang luar
biasa.
Bahkan jika orang biasa mencoba merangkum isi dokumen
ini, mereka tidak akan sanggup menjadikannya hanya lima halaman.
"Fueeeeeeh, apa Akuri-chan yang membuat dokumen
ini? Padahal dia masih anak-anak?!"
Kirschel terkejut dan bergumam, "Memang anak Kuruto-kun……",
padahal kenyataannya, Akuri adalah yang paling tua di antara kita semua.
Bagaimanapun, dia pernah terlempar ke masa lima ribu
tahun yang lalu dan mengawasi dunia sebagai Penyihir Agung dalam waktu yang
sangat lama.
"Aku bukan pakar ekonomi, tapi kalau berdasarkan
dokumen ini, sepertinya siapa pun yang memimpin tidak akan gagal. Tapi,
bukankah ini tetap berarti kita menggunakan uang Kuruto tanpa izin?"
Ophelia bertanya.
"Saya akan meminta Papa menentukan beberapa tujuan
investasi. Lagipula, uang sebanyak ini tidak akan bisa dihabiskan Papa
sendirian, jadi lebih baik uangnya digunakan untuk hal-hal yang menurut Papa
perlu dibantu."
"Begitu ya—sekarang pun Kuruto sering menentukan ke
mana dana bengkel didonasikan, jadi ini seperti perpanjangan dari hal itu.
Entah itu menghasilkan untung atau tidak, akan lebih baik jika kita memberikan
uang hasil imbalannya kepada Kuruto."
Beberapa persen pendapatan bengkel memang didonasikan ke
panti asuhan atau rumah sakit, dan Kuruto yang menentukan tujuannya.
Kuruto sempat bilang, "Apa boleh orang sepertiku
menentukan hal sepenting ini?", tapi dia terlihat senang saat melihat
surat ucapan terima kasih yang sesekali datang dari panti asuhan.
Makna investasi dan donasi memang berbeda jauh, tapi
menurutku ini keputusan yang bagus.
"Kalau begitu, mari kita dirikan bank…… tapi siapa
yang akan menjadi pemimpin atau yang disebut Direktur Utama bank itu?"
Untuk membentuk organisasi, dibutuhkan seorang penanggung
jawab.
Berkat draf dari Akuri, posisi ini bisa dijabat oleh
siapa saja asalkan orang tersebut paham dasar-dasar penanganan uang.
"Ini akan menangani uang dalam jumlah yang
sangat besar. Harus orang yang bisa dipercaya."
"Phantom adalah orang-orang di balik bayangan,
jadi tidak bisa digunakan."
"Akan merepotkan jika keseimbangan kekuatan
bangsawan dan kerajaan semakin kacau, jadi lebih baik dari kalangan rakyat
biasa."
"Lebih baik orang yang sudah mengenal Papa
sedikit banyak. Tentu saja, yang sudah dewasa."
Ophelia, Mimiko, Lise, dan Akuri, semuanya memusatkan
pandangan ke satu orang yang memang sudah kupandangi dari awal.
"Ngomong-ngomong, Kirschel. Sampai serikat
dagang berdiri, kau mengelola aset Kuruto yang luar biasa besar itu sendirian,
kan?"
"Hello-Hello Workstation punya banyak kesempatan
berinteraksi dengan berbagai jenis profesi, jadi kau pasti tahu perusahaan mana
yang butuh dana seperti apa, kan?"
"Begitu kau berhubungan dengan Kuruto-chan, aku
sudah menyelidiki latar belakangmu, dan tidak ada hal mencurigakan baik dari
keluarga maupun teman-temanmu."
"Tenang saja, untuk sementara kami juga akan
membantumu."
Ophelia, Lise, Mimiko, dan aku berbicara silih berganti
hingga Kirschel kebingungan dan mengeluarkan suara aneh "Fueeeee".
Lalu Akuri berdiri di sampingnya, menarik ujung lengannya
pelan, dan berkata dengan senyum lebar khas anak kecil, "Mohon bantuannya
ya, Kakak Kirschel."
Lagipula, begitu dia diminta oleh anggota yang ada di
sini, mana mungkin dia punya jalan untuk kabur. Dia pun akhirnya mengangguk
dengan enggan.
Yah, ini adalah Direktur Utama bank pertama di dunia,
apalagi di bawah arahan Penyihir Agung.
Karena dia tidak mungkin gagal apa pun yang dilakukannya,
dari sudut pandang orang awam, ini adalah lonjakan karier yang luar biasa.
"Untuk urusan hukum perbankan, saya yang akan
bergerak. Saya akan meminta ayahanda untuk segera menetapkan undang-undangnya
di parlemen."
Baginda Raja yang sangat memanjakan putrinya itu pasti
akan langsung setuju.
"Kalau begitu, aku dan Ophelia-chan bagian
menyiapkan gedung dan stafnya, ya?"
"Membangun dari awal akan memakan waktu, jadi
sementara kita gunakan bangunan bekas saja. Untungnya ada beberapa rumah mewah
milik Vitkind yang dijual karena pemiliknya sudah tidak ada. Kita renovasi saja
itu."
Vitkind adalah seorang Atelier Meister yang diakui
oleh tujuh negara, tapi dia melakukan sebuah insiden dan kini sudah tidak ada
di dunia ini. Karena itu, properti miliknya di berbagai tempat menjadi rumah
kosong.
Kalau begini, urusan tempat bisa diserahkan kepada Mimiko
dan Ophelia tanpa masalah.
Masalah terbesarnya adalah apakah Kuruto mau menerima
tugas berat untuk menentukan tujuan investasi ini…… yah, soal bagaimana cara
membujuknya, mari kita pikirkan nanti.
Demikianlah, pendirian bank pertama di dunia berjalan
dengan sangat lancar, dan kemudian—
◆◇◆
"Eh? Aku yang menentukan tujuan investasi?!"
Tiba-tiba, Yurishia-san memintaku—Kuruto Rockhans—untuk
melakukan pekerjaan yang belum pernah kualami sebelumnya.
"Iya, tujuan investasi bank. Kau tahu soal bank,
kan?"
"Iya. Belum lama ini ditulis di koran Kerajaan Homuros.
Lembaga tempat menabung atau meminjamkan uang…… kan?"
"Secara garis besar pemahamanmu benar. Tapi ini
lembaga yang baru saja berdiri. Aku ingin Kuruto memikirkan tempat seperti apa
yang ingin kau beri pinjaman. Bukan soal tempat mana yang akan memberi untung
bagi bank, tapi beritahu aku tempat yang membuatmu berpikir 'aku ingin
meminjamkan uang ke sini'."
"Maksudnya mengabaikan keuntungan? Apa tidak
apa-apa?"
"Iya, tidak masalah."
Hmm, mungkin ini semacam layanan pinjaman promo saat
pembukaan.
Semacam kegiatan amal supaya masyarakat tahu bank itu
lembaga seperti apa.
Tapi kenapa pekerjaan sepenting itu diberikan kepadaku?
Meski begitu—
"……Akan kulakukan."
Aku menjawab.
Mendengar
itu, mata Yurishia-san membulat.
"Eh?
Boleh?"
"Iya.
Karena ini pekerjaan yang diberikan Yurishia-san karena mempercayaiku, aku akan
berusaha sekuat tenaga!"
"A……
ah, jangan terlalu terbebani. Beritahu saja kalau misalnya kau merasa 'ah,
seandainya aku bisa memberi uang lebih ke toko ini' atau 'aku akan senang kalau
uangnya dipakai untuk hal seperti ini'."
Yurishia-san
berkata begitu, lalu untuk sementara dia memberiku seratus koin emas sebagai
dana yang bisa dipinjamkan di tempat itu.
"Sudah
lama sejak terakhir kali aku ke ibu kota saat upacara penganugerahan
gelar."
Datang
ke ibu kota menggunakan batu teleportasi, aku memutuskan untuk berkeliling
dengan berjalan kaki.
Ini
adalah kota ibu kota yang ditinggali orang ribuan kali lipat lebih banyak
daripada Valhall tempat tinggal biasaku. Berjalan kaki untuk melihat semuanya
saja mungkin butuh waktu beberapa hari.
Ditambah lagi, ada bau khas tempat tinggal manusia—kalau
dibilang dengan halus terdengar bagus, tapi sejujurnya, bau.
"Hmm, memang aku tidak terbiasa dengan kota
besar."
Pokoknya, hari ini aku tinggal mengikuti buku panduan
yang disiapkan Lise-san, kan?
Tapi isi yang tertulis di sini, selain restoran, ada
jalan di pinggir sungai kecil yang nyaman untuk jalan santai, atau menara
dengan pemandangan indah. Rasanya tidak terlalu berguna untuk mencari tempat
investasi.
Ini malah kelihatan seperti rencana kencan, tapi
karena ini dari Lise-san, pasti ada alasan tertentu di balik rencana ini, kan?
Apalagi, menara itu konon merupakan spot paling
populer di ibu kota, jadi pemandangan dari tempat tinggi pasti sangat
menyenangkan untuk dilihat.
Sambil memikirkan hal itu, aku memasuki jalanan yang
dipenuhi jajaran restoran.
Mungkin karena bertepatan dengan jam makan siang, antrean
panjang terlihat di depan setiap kedai, dan sepertinya butuh waktu puluhan
menit sebelum bisa masuk.
Lise-san sempat bilang kalau aku menunjukkan bukti
sebagai Atelier Meister, aku bisa masuk ke kedai mana pun tanpa
mengantre, tapi aku tidak ingin menyerobot di saat semua orang sedang
mengantre.
"Apa ada kedai yang tidak pakai antre, ya?"
pikirku sambil mencari-cari, namun tempat-tempat seperti itu biasanya adalah
restoran mewah yang terasa terlalu sulit untuk kumasuki sendirian.
Akhirnya, tiga puluh menit berlalu tanpa aku berhasil
menemukan tempat untuk makan.
Tepat saat aku berpikir lebih baik menunggu sampai jam
makan siang lewat saja, aku menemukan sebuah kedai yang terlihat lumayan dan
tanpa antrean di lokasi yang agak jauh dari distrik kuliner.
Ada papan nama restoran dan tulisan "Buka".
Lokasinya masih masuk dalam batas wilayah yang ditentukan
Lise-san, jadi kurasa di sini tidak masalah.
"Permisi, maaf mengganggu."
Saat aku membuka pintu, lonceng pintu berbunyi tring-tring.
Mungkin karena tidak ada pelanggan lain, bagian dalam
kedai terasa sunyi.
Kedainya tidak kotor, tapi menurutku itu bukan karena
pembersihan yang menyeluruh, melainkan karena tidak ada pelanggan yang datang. Meski begitu, karena debu tidak menumpuk, tempat ini sepertinya bukan
bangunan terbengkalai.
Apa aku salah masuk kedai, ya?
Karena merasa firasat buruk, aku berniat langsung pulang
saja, tapi saat itu juga—
"Anu, apakah Anda pelanggan?"
Seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun
muncul dari bagian dalam kedai.
"Eh?"
"Anda pelanggan, kan!"
"I-Iya."
Karena didesak oleh anak itu, tanpa sadar aku
menjawab iya.
Gadis itu terdiam sejenak, lalu berseru,
"To-Tolong tunggu sebentar!", kemudian berlari ke bagian dalam kedai.
"Ada pelanggan, Ayah! Cepat! Ada pelanggan
datang! Ini pelanggan pertama kita setelah tiga hari, lho!"
Mendengar suara yang terdengar dari dalam kedai itu,
di satu sisi aku merasa memang telah salah masuk tempat, tapi di sisi lain aku
merasa tidak tega untuk pergi begitu saja setelah salah masuk.
Aku pun memantapkan hati dan meminum obat rutin dari
dalam tasku terlebih dahulu.
"Selamat datang."
Yang muncul dari dalam kedai adalah seorang pria
pemilik kedai berusia sekitar empat puluh tahun dengan janggut yang tidak
terawat.
Sepertinya dia adalah ayah dari anak tadi.
"Kami menggunakan rempah-rempah dari Torushen,
jadi banyak masakan yang rasanya agak unik, apa tidak apa-apa?"
"Ayah, bicara apa sih. Kalau bilang begitu,
nanti pelanggannya kabur lagi seperti tiga hari yang lalu!"
Katanya tadi pelanggan pertama setelah tiga hari,
tapi pelanggan tiga hari yang lalu itu ternyata kabur, ya.
"Tidak apa-apa. Anu, harganya berapa?"
"Satu koin tembaga besar, tidak termasuk
minum."
Jika melihat suasana kedainya, rasanya agak mahal.
Hanya saja, meski aku tidak tahu seberapa banyak rempah
yang digunakan, rempah-rempah Torushen memang harganya agak tinggi, jadi
mungkin wajar saja.
Lagipula kalau cuma segitu, aku masih bisa menanggungnya
dengan uang pribadiku tanpa harus memakai uang titipan Yurishia-san.
Biaya makan siang memang termasuk pengeluaran kantor,
tapi kalau yang keluar adalah masakan yang benar-benar tidak bisa dimakan lalu
aku pulang setelah membayar tanpa menyentuhnya, rasanya aku tidak enak kalau
harus menagihnya nanti.
"Mau minum apa? Yang paling murah adalah Beer
seharga tiga koin tembaga. Air
putih, anggur campur air, atau anggur murni harganya lima koin tembaga."
Sang
pemilik kedai berjalan menuju dapur di bagian dalam, sementara si anak
perempuan bertanya kepadaku.
Sumur
air di pemukiman rakyat jelata ibu kota dikelola oleh Guild Air, dan harganya
tidak jauh berbeda dengan anggur.
Anggur
yang biasa diminum Marlefiss-san saat datang ke ibu kota bukan jenis yang bisa
diminum seharga lima koin tembaga, tapi kalau anggur murah, mungkin memang
sekitar itu harganya.
Hanya saja, karena aku tidak terlalu suka alkohol, aku
memutuskan untuk memesan air putih saja.
Setelah beberapa saat, aroma rempah mulai tercium.
Aroma sedap yang menggugah selera itu membuat perutku
hampir berbunyi.
Alasan kenapa perutku tidak benar-benar berbunyi adalah
karena apa yang terjadi setelahnya.
"Anu……
apa tidak gosong?"
Aroma
rempah yang tadi tercium kini berubah menjadi bau sangit belaka.
"Eh?
Biar aku periksa sebentar!"
Gadis
itu pergi ke arah dapur, lalu suaranya terdengar lagi.
"Duh,
Ayah! Kenapa digosongkan lagi sih!?"
"Bodoh,
Selina. Ini cara membuat Curry paling enak! Di
resep Ibu juga tertulis begitu, kan!"
"Pasti salah! Curry Ibu tidak bau begini,
tahu!"
"Sudah, sana temani pelanggannya! Nanti dia kabur!"
"Ah,
benar juga. Bahaya kalau dia kabur karena bau gosong seperti seminggu yang
lalu."
Aku bisa mendengar semuanya, lho.
Sepertinya mereka sedang membuat masakan bernama
Curry, tapi aku ragu rasanya akan jadi enak. Meski tadi sudah memantapkan hati,
sekarang aku jadi cemas.
Gadis tadi kembali menghampiriku.
"Tuan pelanggan, boleh kita mengobrol sebentar
sampai masakannya jadi?"
"I-Iya. Boleh saja."
Meskipun aku tahu ini cara untuk mengulur waktu, aku
tetap mengangguk.
"Tuan pelanggan, apa pekerjaanmu?"
"Anu, apa kamu tahu tentang bank?"
"Iya. Sedang jadi bahan pembicaraan hangat, lho.
Katanya itu organisasi gabungan antara peminjam uang, Guild Komersial, dan
tempat penyimpanan uang Hello-Hello Workstation, dan skalanya akan sangat
besar, kan?"
"Katanya karena didukung oleh keluarga kerajaan,
bengkel, dan para Penyihir Istana, kita tidak perlu takut uang tabungan dibawa
lari. Lalu saat meminjam uang, bunganya lebih rendah dari peminjam uang
lainnya."
"Tapi katanya, lembaga hebat seperti itu akan lebih
fokus meminjamkan dana ke serikat dagang besar daripada ke individu, jadi
rakyat jelata lebih banyak menggunakannya untuk menabung saja."
Ternyata sudah jadi rumor yang cukup luas.
Sepertinya dia tahu banyak hal yang bahkan tidak tertulis
di koran, mungkin dia juga sempat mencari tahu sendiri.
……Atau lebih tepatnya, untuk anak usia sepuluh tahun, dia
sangat paham detailnya. Dia anak yang pintar, ya.
Tapi, bagian terakhirnya agak berbeda dengan apa yang
kudengar dari Yurishia-san. Sepertinya rumor yang salah mulai menyebar luas.
"Tidak begitu, kok. Rencananya bank juga akan
meminjamkan uang kepada toko pribadi atau orang yang baru akan memulai usaha.
Aku sendiri sedang berjalan-jalan di kota untuk mencari target investasi."
"Apa Tuan pelanggan ini orang bank!? Terus, apa
benar bank juga mau meminjamkan uang ke kedai kecil!?"
"I-Iya. Tapi tentu saja harus ada pemeriksaan, dan
kalau jumlahnya besar harus membuat proposal rencana pengembalian, jadi tidak
bisa semudah itu."
Saat aku menjelaskan begitu, gadis itu mulai bertanya
tentang pemeriksaan dan rencana pengembalian tersebut.
Aku pun tidak tahu detailnya, tapi setelah kujelaskan
secara sederhana, gadis itu bergumam sendiri, "Hmm, pada dasarnya tidak
beda jauh dengan peminjam uang di kota, ya. Tapi bagian semuanya harus dicatat
secara tertulis itu memang hebat. Kalau peminjam uang biasa, kertasnya paling
cuma surat utang."
Tepat saat aku berpikir mungkin dia akan menjadi nasabah
pertama—
"Maaf
membuat Anda menunggu. Ini Curry dan rotinya."
Bersama
dengan air putih, roti tipis dan masakan yang disebut Curry pun dihidangkan.
Namun,
masakan itu adalah sup yang berwarna hitam pekat.
"Silakan
dinikmati."
Melihat
wajah pemilik kedai yang penuh harap, wajahku sedikit menegang.
Tapi, ini masakan yang dibuat khusus untukku.
Aku yakin niat baiknya tulus.
Aku menyendok sup hitam itu dengan sendok kayu.
Teksturnya kental, lebih mirip lumpur rawa daripada
sup.
Sambil melawan reaksi penolakan terhadap bau gosong
yang semakin kuat saat mendekat ke mulut, aku memaksakan sesendok Curry itu
masuk ke dalam mulutku.
"Ugh……"
"Apa ini enak?"
"……Hampir seluruhnya terasa gosong…… jadi tidak
terlalu enak."
Begitu aku mengatakannya, sang pemilik kedai langsung
lesu, sementara si anak perempuan memasang wajah seolah berkata, "Sudah
kuduga."
Ini pertama kalinya aku mengatakan masakan orang lain
tidak enak, jadi aku merasa sangat bersalah, tapi aku tidak bisa berbohong.
Aku pun bergumam pelan sambil berpikir apa yang harus
kulakukan.
"Jintan, kunyit, lalu kekentalannya berasal dari
ketumbar, ya? Ada juga lada, kapulaga, dan kayu manis. Ah, cengkih dan pala
dimasukkan agak terlalu banyak. Baunya jadi mirip obat."
"Kurasa rasanya akan lebih menyatu kalau ditambah
sedikit garam, tapi tetap saja, masalah terbesarnya adalah karena masakan ini
gosong."
"Tunggu,
kamu…… tahu apa saja isi di dalamnya?"
Tepat
ketika sang pemilik kedai menanyakan hal yang sangat mendasar itu, pintu
terbuka dan tiga orang pria berpenampilan sangar masuk ke dalam kedai.
"Bau gosong lagi ya, Pak Pemilik."
Pria yang berdiri paling depan dengan luka di bawah
matanya berkata demikian sambil melirik Curry di depanku.
"Jangan beri makan barang begini ke pelanggan,
dong. Nanti bisa dilaporkan ke dinas kesehatan lagi, lho."
"Jangan bicara lancang! Ada pelanggan di sini, cepat
pergi!"
Anu, kalau memang aku mengganggu, aku yang ingin pergi
saja, tapi sepertinya suasananya jadi aneh.
"Nona Pelayan, siapa mereka? Apa mereka……
kenalan?" aku bertanya dengan suara pelan pada si anak perempuan.
"Dia
adalah Rob, penagih utang. Kami…… punya utang padanya……"
"Namanya
Tuan Rob, jaga bicaramu!" Rob berkata demikian sambil mengintimidasi si
anak perempuan.
"Begitulah
ceritanya, Nak. Kalau tidak mau terseret masalah, pulanglah ke rumah."
"Ah,
biaya makanmu akan kupotong dari utang mereka, jadi tidak perlu bayar. Toh,
utangnya sudah membengkak sampai-sampai meski kedai ini disita dan anaknya
diserahkan pun tidak akan lunas."
Rob
berkata begitu sambil berusaha mengusirku. Mendengar itu, sang pemilik kedai
berteriak.
"Tunggu
sebentar lagi! Sedikit lagi Curry peninggalan mendiang istriku akan selesai!
Kalau sudah selesai, aku pasti akan membayar utangnya dua kali lipat!"
"Kami
ini bukan orang kaya yang bisa terus-menerus menunggumu. Bagaimanapun, peminjam
uang kecil seperti kami ini, kalau ada satu saja utang yang macet, gantian kami
yang akan dikejar-kejar penagih utang."
Rob berkata demikian sambil melirik anak buahnya.
"Hei, bawa gadis itu. Jangan sampai dia luka."
"Tunggu, setidaknya, kumohon jangan sentuh anakku
saja!"
Mengabaikan teriakan pemilik kedai, anak buah Rob
mencengkeram lengan gadis itu dan berusaha membawanya pergi secara paksa. Aku
tidak bisa tinggal diam lagi.
"Ini sudah keterlaluan!"
"Apa? Orang yang tidak ada hubungannya lebih baik
diam!" Rob melotot ke arahku.
Menakutkan. Tapi kalau dibandingkan dengan gertakan Golnova-san,
ini masih belum seberapa.
"Tentu saja ada hubungannya. Aku adalah orang dari
bank yang akan segera didirikan. Jika ada orang-orang seperti kalian, citra
pemberi pinjaman uang akan menjadi buruk."
"Orang bank, katamu?"
"I-Iya, benar! Dia ini orang bank yang sedang
mencari tempat untuk diberi pinjaman. Dia mau memberi pinjaman ke tempat
kami!"
"Hah?" Rob menatapku dengan tatapan tidak
percaya. Kemudian dia memegang bahuku, menatap mataku, dan berkata.
"Sudahlah, jangan meminjamkan uang ke tempat seperti
ini, kau benar-benar akan tertimpa masalah nanti."
"A-Aku tidak akan tunduk pada ancaman."
"Ini bukan ancaman. Kau pikir sudah berapa banyak
uang yang kami pinjamkan pada pasangan ayah dan anak ini?"
"Dengar ya, kalau meminjamkan uang ke kedai ini,
pasti tidak akan pernah kembali. Kalau kau meminjamkan uang ke tempat aneh
seperti ini, kau bisa dipecat dari bank tempatmu bekerja, lho."
……Eh? Rob bicara seolah-olah sedang menasihatiku.
Sepertinya dia tidak benar-benar mengancam, melainkan
memberiku peringatan yang tulus.
"Anu, sebenarnya berapa banyak uang yang kalian
pinjamkan?"
"Total tiga puluh koin emas termasuk bunga.
Curry buatan istrinya yang meninggal tiga tahun lalu itu benar-benar hidangan
kelas atas, aku pun sering datang ke sini."
"Aku mengira saat istrinya tidak ada, Curry itu
tidak akan bisa dimakan lagi, tapi……" Rob melirik sekilas ke arah pemilik
kedai.
"Pria ini bersujud dan bilang 'Aku pasti akan
memproduksi ulang Curry itu! Jadi tolong pinjamkan modalnya', makanya aku
meminjamkan dua puluh koin emas."
"Lalu setahun yang lalu, gadis itu sambil
menangis memohon, 'Ayah pasti akan menyelesaikan Curry-nya, jadi tolong
pinjamkan uang tambahan! Lima koin emas saja cukup! Kalau tidak bisa bayar, aku
akan membayarnya dengan tubuhku!', makanya aku pinjamkan juga."
"Tapi hasilnya, malah sup arang hitam yang kau makan
tadi."
"Anu……
itu memang patut disayangkan. Tapi, menjual gadis di bawah umur itu……"
"Hah?
Gadis itu kelihatannya memang masih kecil, tapi aslinya dia sudah berumur dua
puluh tahun, tahu? Lagipula tempat kerja yang kusiapkan adalah restoran yang
layak, dan mereka bilang dia boleh tinggal di sana."
Eh!? Dia lebih tua dariku? ……Aku memang tidak pernah
paham soal usia perempuan.
Michelle-san—asisten Elven Ophelia-san—saja sudah berumur
delapan puluh tahun. Teman masa kecilku, Hildegard-chan, juga berumur lebih
dari seribu dua ratus tahun.
Mengingat Mimiko-san juga tidak diketahui usianya dan
Akuri bahkan sudah lebih dari enam ribu tahun, tidak aneh jika gadis ini
ternyata lebih tua dariku.
Semakin kudengar ceritanya, Rob si penagih utang ini
justru terlihat seperti orang yang waras.
Meminjamkan dua puluh koin emas selama tiga tahun dan
lima koin emas selama setahun dengan bunga hanya lima koin, itu termasuk murah
untuk ukuran penagih utang.
Saat aku menatap sang pemilik kedai dan si anak
perempuan—maksudku si putri pemilik kedai—keduanya langsung membuang muka
dengan jelas.
"……Maafkan aku. Aku yang salah paham."
"Tidak, tidak apa-apa. Kami juga bicara dengan cara
yang membingungkan, ditambah penampilanku yang seperti ini. Kesalahpahaman
seperti itu sudah biasa."
Kalau begitu, sepertinya aku benar-benar hanya menjadi
pengganggu, sebaiknya aku pulang saja? Tepat saat aku berpikir begitu.
"Tu-Tunggu sebentar! Kau tadi bisa menebak
rempah-rempah dalam Curry buatanku hanya dalam sekali coba. Kau pasti bisa memproduksi ulang
Curry itu, kan?"
"Anu……
maaf, masalahnya aku belum pernah memakan Curry yang asli."
"Ada
resepnya! Ini peninggalan istriku! Memang ada bagian yang hilang dan tidak
terbaca, tapi kalau kau yang melakukannya—"
Memang,
setelah memakan Curry tadi, aku sudah cukup paham di mana masalahnya.
Tapi
hanya dengan memperbaikinya, aku tidak yakin rasanya akan menjadi rasa Curry
yang dikenal semua orang, jadi aku tidak bisa mengangguk begitu saja.
"Boleh
aku lihat resepnya? Lalu, dapurnya juga."
Resep
yang ditunjukkan padaku kemungkinan besar disiapkan oleh istri pemilik kedai
agar bisa dilihat saat dia sudah tiada. Tulisannya sangat rapi, seolah ditulis
dengan penuh perasaan.
Namun,
ada banyak noda hitam di sana-sini yang membuatnya sulit dibaca. Aku sadar noda
hitam ini berasal dari Curry hitam yang tadi.
Pasti saat sedang memasak sambil melihat resep, dia
tidak sengaja menumpahkannya.
Aku bisa saja membersihkannya, tapi karena komponen
arang Curry dan tintanya sudah menyatu sepenuhnya, tulisannya justru akan ikut
terhapus dan itu tidak ada gunanya.
Lalu, aku melihat kuali yang digunakan untuk membuat
Curry di dapur. Isinya kosong. Mungkin tadi dia hanya membuat untuk satu porsi.
Kuali itu benar-benar hitam pekat. Bukan hanya karena
warna Curry-nya. Jelaga dan bekas Curry yang gosong di masa lalu sudah mengerak
di sana.
Jika menggunakan kuali seperti ini, masakan apa pun yang
dibuat akan tetap terasa seperti arang.
"Pak Pemilik, kenapa kualinya dibiarkan seperti
ini?"
"Itu adalah kuali peninggalan istriku. Tidak ada
gantinya."
"Tidak, meskipun itu peninggalan istri Anda—justru
karena ini peninggalan istri Anda, kualinya harus dirawat dengan baik. Lihat,
kuali ini bisa langsung menjadi bersih seperti ini."
Aku mengatakan itu sambil meletakkan kuali yang kini
memantulkan kilau logam di atas tungku. Sekarang, tinggal memasukkan kayu
bakar—
“““““Tadi kamu ngapain!?”””””
Pasangan ayah-anak pemilik kedai dan kelompok Rob
semuanya berteriak serempak. Ngapain katamu? Memangnya kalian tidak melihat?
"Ah, kotoran seperti ini bisa dibersihkan dengan
mudah menggunakan baking soda, lho?"
"Kecepatan bersihnya bukan selevel tips dapur dari
nenek-nenek, tahu!"
"Padahal saat Ibu memakainya pun bagian bawah
kualinya selalu penuh jelaga."
"Apa itu sihir?" Pemilik kedai, putrinya, dan
Rob bertanya bergantian.
"Kemampuan sihirku adalah Rank G, jadi aku
tidak bisa menggunakannya."
Aku bahkan tidak bisa menghasilkan hembusan angin
sepoi-sepoi dengan sihir.
Aku memang dengar dari Mimiko-san kalau kapasitas Magic
Power-ku setara orang biasa, tapi hal yang bisa kulakukan dengan itu
sangatlah terbatas.
"Lalu, ini adalah resep Curry yang kutulis ulang
berdasarkan resep istri Anda. Bisakah Anda memasaknya berdasarkan resep
ini?"
“““““Sejak kapan kamu menulisnya!?”””””
Eh? Saat semua orang sedang memperhatikan kuali, aku
menulisnya dengan cepat. Apa mereka tidak sadar?
"T-Tapi, aku yang memasaknya? Bukan kamu, Nak?"
"Aku mungkin bisa saja memasaknya, tapi jika Anda
sendiri tidak bisa memproduksinya kembali, kedai ini tidak akan bisa bertahan,
jadi tidak ada artinya. Mari kita coba buat untuk enam porsi dulu."
"Begitu ya…… Baiklah, aku mengerti." Pemilik
kedai berkata begitu, lalu segera mengambil rempah-rempah dari pot ke wadah—
"Eh, tunggu sebentar! Aku sudah menulis takarannya,
kan? Itu benar-benar berbeda!"
"Eh? Kurasa ini sudah pas, kok?"
"Tidak pas! Palanya kelebihan tiga gram, dan
kunyitnya kurang lima gram! Seperti yang kubilang tadi, cengkihnya terlalu
banyak! Tolong kurangi tujuh gram."
"Daaah! Aku ini bukan Alchemist, tahu!
Mana bisa aku mengukur setiap gram setiap kali masak! Kira-kira saja sudah
cukup, kan? Istriku dulu juga tidak pernah menimbang beratnya satu per
satu."
"Itu pasti karena beliau sudah paham hanya dengan
melihatnya. Orang yang tidak tahu takaran tidak akan bisa memasak
dengan resep seperti itu."
Meski begitu, memang merepotkan meminta orang yang
tidak punya perasaan takaran mata untuk menimbang beratnya secara manual.
"Hmm, tolong tunggu sebentar."
Aku menulis ulang resepnya, lalu menggunakan beberapa
koin perak dari tas serta peralatan sederhana untuk menciptakan beberapa sendok
logam.
"Anu……
kenapa bocah itu membuat sendok perak dari koin perak?"
"Tenang saja, Tuan Rob. Koin perak ini bukan koin
perak kerajaan sekarang, melainkan koin dari negara kuno, jadi tidak ilegal
meskipun aku meleburnya."
Hampir semua uang yang ada di Desa Haste adalah benda
dari seribu dua ratus tahun yang lalu, jadi terlalu kuno untuk digunakan.
Karena itu, sebagian kutukar dari tabunganku dan kugunakan untuk membuat
peralatan seperti ini.
Melebur koin perak Kerajaan Homuros atau Kekaisaran
Gurumak memang kejahatan berat, tapi kalau mata uang negara kuno tidak masalah.
"Bukan
itu maksudku…… aku sudah tidak tahu harus bertanya dari mana lagi." Karena
Rob terlihat bingung, aku yang menjelaskan.
"Nah,
sendok ini adalah sendok takar. Karena mendiang istri Anda
menulisnya dalam satuan berat, aku membuat sendok yang sesuai dengan berat
masing-masing rempah. Jadi, untuk membuat satu porsi Curry, Anda cukup
memasukkan satu sendok rata ini."
"Ooh, kalau begini memang jadi mudah."
Pemilik kedai berkata begitu, lalu memindahkan rempah ke wadah sebanyak enam
kali dengan sendok takar.
"Eh, jangan langsung diaduk! Ada urutan
memasukkannya, tahu!"
Setelah itu pun……
"Siapkan semua bahan dulu sebelum dimasukkan ke
kuali! Anda bahkan belum memotong sayurannya! Ah, bawang
bombay dan tomatnya harus dipotong lebih halus agar airnya keluar."
"Apinya terlalu besar! Awalnya gunakan api
sedang! Baru setelah itu turunkan ke api kecil. Menggunakan api
besar tidak akan mempercepat waktu memasak!"
"Setelah air dimasukkan, gunakan api sedang yang
agak kuat! Gunakan kayu bakar yang sudah kering ini! Kalau
memakai ranting pohon yang belum kering, jelaganya akan keluar dan masuk ke
masakan."
Bisa dibilang, ini benar-benar merepotkan.
Setelah kutanya, pemilik kedai ini sepertinya
memiliki Cooking Aptitude Rank F, jadi dia memang tidak terlalu mahir.
Tapi kurasa poin-poin yang kuperingatkan tadi tidak ada hubungannya dengan
bakat.
Atau mungkin, karena dia tidak bisa mengikuti
prosedur dengan benar, bakatnya jadi rendah?
Dulu aku merasa cukup sukses saat mengajar murid di
sekolah, tapi melihat kekacauan dalam masakan favoritku ini, sepertinya aku
memang tidak berbakat menjadi guru.
Akhirnya Curry yang sudah jadi pun dihidangkan di
atas meja. Berbeda dengan sup hitam tadi, aromanya sangat menggoda.
Rekan-rekan Rob juga ikut duduk. Pemilik kedai
menyajikan Curry untuk semua orang termasuk dirinya sendiri, dan putrinya
membagikannya ke meja.
Karena tidak ada yang berani mulai makan, aku yang
mencicipinya duluan.
"Ya, kurasa ini cukup enak."
Dibandingkan sup hitam tadi, rasa gurih dan kelezatannya
sangat terasa, dan rasa pahit gosong yang tidak enak itu sudah hilang. Kalau
begini, pelanggan pasti tidak akan mengeluh jika dihidangkan di kedai.
Melihatku makan, yang lain pun mulai ikut makan.
Rekan-rekan Rob memuji "Ini enak" sambil memakannya bersama roti.
Melihat itu aku merasa lega, tapi……
"Ini
bukan Curry yang kucari."
"Ini
bukan Curry buatan Ibu."
"Ah,
levelnya masih rendah……"
Rob,
sang putri, dan pemilik kedai justru terlihat lesu. Tapi aku sudah menduga hal
ini.
Memang
sudah dibuat sesuai resep. Namun, memasak bukan sekadar
mengikuti resep setiap saat.
Cara
memotong sayur itu sangat penting.
Misalnya,
jika potongan bawang bombay tidak seragam, jika kita mengikuti waktu matang
bawang yang kecil, yang besar masih mentah; jika mengikuti yang besar, yang
kecil sudah gosong.
Lalu,
tergantung kadar air sayuran, jumlah air yang dimasukkan belakangan juga perlu
disesuaikan, bahkan mungkin bumbu rempahnya perlu disesuaikan tergantung suhu
udara di luar.
Untuk bagian ini, dibutuhkan usaha dan teknik.
Tapi pemilik kedai tadi merasa semua potongan bawang itu
sama saja, jadi kurasa perbaikan lebih lanjut akan sulit.
Hal maksimal yang bisa dilakukan mungkin hanya memasok
sayuran dan rempah-rempah berkualitas tinggi. Tepat saat aku berpikir begitu—
"Tolong semuanya, tunggu sebentar!"
Gadis itulah yang mengatakannya. Dia pergi ke dapur tanpa
menunggu jawaban kami.
Kemudian terdengar suara pisau yang beradu. Dia sedang
memotong bawang bombay, dan ritmenya sangat bagus. Terasa lebih terbiasa
dibandingkan sang ayah.
Selanjutnya, sepertinya dia mulai menumis bawang bombay
dan rempah-rempah. Lebih cepat daripada pemilik kedai. Aroma lezat pun sudah
mulai memenuhi ruangan.
Padahal waktu yang tertulis di resep untuk memasukkan air
sudah lewat jauh, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan memasukkan air.
Sepertinya dia sudah paham.
Memasukkan air lebih awal memang mencegah gosong, tapi
menumis hingga batas sebelum gosong akan membuat aroma rempah semakin menonjol.
Kemungkinan besar, karena dia sering melihat ayahnya
menggosongkan bawang dan rempah, secara tidak sadar dia mulai memahami kapan
saatnya bahan mulai hangus.
Pasti resep peninggalan sang ibu adalah resep yang bisa
dibuat bahkan oleh sang ayah yang tidak terlalu mahir memasak. Namun resep yang
asli sebenarnya membutuhkan teknik seperti yang sedang dilakukan gadis ini.
Mungkin tanpa sadar sang ayah pun mencoba meniru teknik
itu tapi selalu berakhir gagal. Dan akhirnya—
"Sudah jadi! Ini Curry-nya. Silakan dinikmati."
Tampilannya tidak jauh berbeda dengan Curry tadi. Tapi aromanya benar-benar berbeda.
Tadi tidak ada yang mau makan sebelum aku mulai, tapi
sekarang karena tergoda aromanya, sepertinya semua orang sudah tidak tahan
lagi. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk meraih sendok kayu
masing-masing.
Aku sudah tahu dari aromanya, tapi setelah memakannya aku
semakin yakin. Rasa gurih dan kelezatannya jauh berbeda dari yang tadi.
Sayurannya terpotong dengan rapi dan rasa asli bahan-bahannya benar-benar
keluar.
"Ini
dia…… rasa buatan istriku. Rasa yang selama ini kucari."
"Ya, ini rasa yang kumakan dulu…… tidak, meski masih
sedikit di bawah rasa zaman dulu." Pemilik kedai dan Rob bergumam saat
memakan Curry-nya.
Sang putri pun menunjukkan ekspresi puas saat memakan
Curry buatannya sendiri. Ah, bukan sekadar puas, ini yang namanya muka penuh
kemenangan ya?
"Karena penjelasan Tuan Pelanggan sangat mudah
dimengerti, aku jadi merasa mungkin aku juga bisa, dan ternyata benar-benar
bisa!"
Sepertinya bakat memasak sang ibu menurun dengan sempurna
kepadanya.
"Tuan Rob, dengan Curry ini, pelanggan pasti akan
kembali, kan? Bisakah Anda menunggu sebentar lagi?"
Memang, melihat reaksi Rob dan yang lainnya, kedai
ini pasti akan ramai dan hutang pun mungkin bisa dilunasi.
"Maaf ya, Nona Kecil, tapi itu tidak bisa."
Bukan Rob yang mengatakannya, melainkan rekannya.
"Memang
dengan Curry ini pasti akan untung. Hutang pun suatu saat pasti lunas.
Tapi, kapan 'suatu saat' itu akan tiba? Maaf ya, tapi urusannya sudah bukan di
tahap pembicaraan seperti itu lagi."
Padahal kedai ini baru saja akan bangkit. Kalau begitu,
memang aku harus memberikan investasi—saat aku baru mau mengatakannya.
"Diam."
Rob lah yang mengatakannya.
"Hei,
Nona Kecil. Curry ini masih jauh dari rasa yang kukenal. Kau sendiri
yang memakannya pasti paham, kan?"
"……Iya."
"Aku beri waktu satu tahun. Untuk sekarang, buatlah
Curry yang bisa memuaskanku dalam waktu satu tahun, dan setidaknya lunasi
seluruh bagian bunganya. Jika kau bisa, aku akan menunggu beberapa tahun
lagi."
Mendengar kata-kata Rob, sang ayah dan anak langsung
menangkupkan tangan dengan gembira.
Syukurlah, apa ini berarti semuanya berakhir bahagia?
"Tunggu, Kak! Kalau begitu, Kakak bisa dihancurkan
oleh bos besar! Batas waktu setoran kita sudah hampir habis, lho!"
"Ah, benar juga ya. Ya sudahlah, kalau aku menjual
rumah dan harta bendaku, kurasa akan cukup. Cih, balik lagi ke kehidupan penginapan murah ya…… Tapi mau
bagaimana lagi. Kalian semua ingat ini ya. Meminjamkan uang itu sama saja
dengan meminjamkan jiwa. Jika kau menipu perasaanmu sendiri saat menagihnya,
jiwamu akan membusuk."
Rob tertawa pahit, tapi ekspresinya terlihat bangga. Luar
biasa, inilah sosok peminjam uang profesional yang sesungguhnya.
Tadinya aku mengira pekerjaannya hanya meminjamkan uang
pada orang yang butuh, lalu selesai setelah dikembalikan.
Tapi melihat Rob, aku sadar itu salah.
"Anu, seperti yang kukatakan tadi, aku adalah staf
bank dan sedang mencari tempat investasi. Dan—"
"Nak, apa kau mau meminjamkan uang ke kedai ini lalu
menyuruh mereka membayar kami? Dengar ya, kedai ini adalah pelanggan kami.
Merebutnya adalah Taboo di industri ini—"
"Bukan, bukan itu! Aku ingin meminjamkan uang kepada
Tuan Rob!"
"Hah? Eh, tunggu! Kita ini sesama penyedia jasa
keuangan, lho!?" Rob membelalakkan matanya.
"Iya! Ini akan menjadi referensi yang sangat
bagus!"
"Maksudku, bagi bank, kami ini seperti musuh,
kan!? Apa kau berniat meminjamkan uang pada orang seperti itu untuk menguasai
kami?"
"Eh? Tidak, aku meminjamkannya tanpa bunga (Interest
Free), dan pengembaliannya bisa dilakukan setelah Anda menerima pembayaran
dari kedai ini. Anda bisa mengembalikannya kepada kami begitu saja."
"Bukan itu masalahnya…… tapi tanpa bunga!? Nak,
kalau begitu kau tidak akan dapat untung, tahu!"
"Benar, Tuan Pelanggan! Kalau syaratnya semudah itu,
pinjamkan saja padaku!" Gadis itu menyela, tapi orang yang benar-benar
kumerasa harus diberi pinjaman bukanlah kedai ini, melainkan Rob.
Jika peminjam uang yang baik seperti Rob ada di ibu kota,
reputasi seluruh peminjam uang, termasuk bank, pasti akan menjadi baik.
"Ah, sial, tidak nyambung juga…… Hei,
Nak. Perkenalkan atasanmu padaku. Aku sendiri yang akan bicara
langsung dengannya."
"Ah, benar juga ya. Bicara dengan bawahan
sepertiku memang tidak bisa dipercaya. Baiklah, kalau begitu—lokasi banknya di
mana ya?"
Eh? Kalau dipikir-pikir aku belum tahu lokasi
banknya.
Tepat saat aku berpikir begitu, seorang wanita
bertopeng turun dari langit-langit.
"Tuan Kuruto, silakan ini."
Dia memberikan selembar kertas padaku, lalu melompat
kembali ke langit-langit.
Di kertas yang diberikan tertulis peta menuju bank.
Sepertinya dia adalah bawahan Mimiko-san. Fakta
bahwa dia tahu lokasi bank berarti dia memang sedang ditugaskan di sana.
"Nah, Tuan Rob, ini sepertinya lokasi banknya.
Katanya Anda bisa datang kapan saja di waktu siang hari ini atau besok."
"Eh, tunggu dulu. Jangan menganggap kejadian tadi
seperti kejadian biasa sehari-hari. Apa-apaan itu tadi?"
"Eh? Mungkin itu staf bank. Kebetulan saja sedang
ada di atas langit-langit, kan?"
Begitu aku mengatakannya, terdengar suara dari
langit-langit, "Iya, kebetulan saya sedang ada di atas
langit-langit." Nah, benar kan.
Di bengkel pun, saat butuh bantuan tenaga, staf keamanan
yang dipekerjakan Mimiko-san sering kebetulan ada di atas langit-langit untuk
membantu.
Mungkin menggunakan langit-langit daripada koridor adalah
sarana transportasi khas kota besar.
"……Memangnya di langit-langit rumah kita ada tempat
untuk masuk? Berarti pencuri bisa bebas masuk, dong."
"Nanti tempat masuknya akan kututup kembali, jadi
tenang saja." Mendengar kekhawatiran gadis itu, suara terdengar
lagi dari langit-langit.
Kalau
begitu syukurlah. ……Eh? Suara ini, suara Kakaloa-san. Tadi
aku tidak sadar karena dia pakai topeng, tapi aku tidak salah lagi.
"Terima kasih, Kakaloa-san."
"…………Sama-sama." Jawaban yang terdengar sedikit
senang datang dari langit-langit. Sepertinya tebakanku benar.
"……Ah, anu, banyak hal yang membuatku penasaran,
tapi Tuan Pelanggan, aku punya satu permintaan—"
"Iya, apa itu?"
"Cukup sekali ini saja, maukah Anda membuatkan Curry
untuk kami? Jika Anda bisa memulihkan resep Ibu sepenuhnya hanya dengan melihat
resep yang rusak, aku yakin Anda bisa membuat Curry yang jauh lebih enak dari
kami. Kami ingin menjadikannya target untuk berusaha keras."
"Ah, begitu ya. Baiklah." Jika hal lain mungkin
aku akan menolak, tapi kalau masakan beda cerita.
Cooking Aptitude-ku berada
di level ahli, yaitu Rank B. Hanya untuk hal ini aku sedikit percaya
diri.
"Kalau begitu, mohon tunggu sebentar." Aku
berkata demikian lalu menuju dapur. Dan aku pun segera membuat Curry dengan
cepat.
Aroma harum mulai tercium. Mungkin segini sudah cukup?
Saat aku membawa Curry yang sudah jadi kembali ke kedai—
"Eh?" Di dalam kedai sudah penuh sesak dengan
pelanggan. Bukan hanya penuh, di balik pintu yang terbuka bahkan sudah
terbentuk antrean.
"Anu, ini ada apa sebenarnya?"
"Pelanggan masuk karena tergoda aroma Curry yang kau
buat! Lagipula, masa sudah jadi secepat ini, kecepetan tahu!" Rob
berteriak.
Dan, sang putri—saat melihat kedainya yang penuh sesak
hingga membentuk antrean panjang—mulai merencanakan sesuatu sambil bergumam.
"Kalau begini, bagaimana kalau aku mengeringkan
Curry buatan Pelanggan-san, lalu memajangnya di depan toko? Pasti orang-orang akan berkumpul
terus…… fufufu."
Sepertinya
dia hanya berkumpul karena aroma yang langka, jadi aku tidak yakin Curry-ku
sehebat itu.
Lagi
pula, kalau diletakkan di depan toko, Curry-nya bisa cepat basi, jadi kuharap
dia tidak melakukannya.
Bagaimanapun,
meski aku terus membuat Curry, sepertinya pelayanan ke pelanggan tidak akan
terkejar, jadi aku memutuskan untuk membantu menyajikan makanan.
"Aku senang dibantu, tapi Pelanggan-san, apa kamu
pernah punya pengalaman menyajikan makanan?"
"Pernah. Aku pernah menjadi pelayan di bar di Pulau
Paul—"
““Pelayan? Bukan pramusaji laki-laki?””
Ayah
dan anak itu bertanya serempak.
Memang
aku yang mengatakannya, tapi kuharap mereka tidak menggali hal itu lebih dalam.
Kemudian, aku menyajikan Curry buatan sang putri kepada
pelanggan.
"Hmm, dampaknya memang tidak sedahsyat aromanya
tadi, tapi ini enak."
Begitulah, Curry buatan sang putri secara umum mendapat
ulasan positif.
Akhirnya, bahan-bahan yang disiapkan habis, dan kedai pun
tutup dua jam kemudian.
"Pelanggan-san, terima kasih! Berkat kamu, kami
untung besar."
"Aku sudah mempelajari esensi dari seorang
pramusaji. Aku berterima kasih padamu."
Setelah menyelesaikan pekerjaan dengan selamat, alih-alih
membayar biaya Curry, aku justru menerima sejumlah upah.
Aku sempat menolaknya dengan tegas, tapi saat dia bilang
akan merasa tidak enak pada mendiang istrinya jika aku tidak menerimanya, aku
tidak bisa menolak lagi.
Namun, jika dia bisa berkata sejauh itu, kuharap dia juga
berusaha keras untuk melunasi utangnya kepada Rob-san.
Bicara soal Rob-san, setelah memakan Curry-ku, entah
kenapa dia pergi menuju bank dalam keadaan seperti orang linglung.
Mungkin dia pergi untuk membicarakan soal investasi,
tapi…… apa dia baik-baik saja, ya?
Aku merasa sebaiknya menemaninya, tapi karena tidak bisa
meninggalkan kedai dalam kondisi seperti itu, kurasa mau bagaimana lagi.
◆◇◆
Namaku Rob. Meski begitu, ini bukan nama asliku.
Seingatku, aku sudah tinggal di panti asuhan daerah sejak
kecil. Aku dipanggil "Hei" atau "Bodoh", dan saat itu aku
tidak punya sesuatu yang bisa disebut nama.
Panti asuhan menerima bantuan dana dari negara.
Namun, kepala panti asuhan menggelapkan dana tersebut dan
kami tidak pernah merasakan manfaatnya, sehingga kami dipaksa hidup lebih
miskin daripada anak-anak di panti asuhan lainnya.
Tanpa diberi makan yang layak, saat berusia delapan
tahun, aku kabur dari panti asuhan dan datang ke ibu kota.
Meski masih bocah, aku berpikir pasti ada pekerjaan jika
aku pergi ke ibu kota.
Yah, kenyataannya tidak semanis itu.
Bocah tanpa nama yang kabur dari panti asuhan tidak
mungkin memiliki hak kewarganegaraan, bahkan untuk masuk ke dalam ibu kota
dengan cara benar pun tidak bisa.
Akhirnya, aku tinggal di daerah kumuh di luar tembok
benteng ibu kota dan menjadi bagian dari kelompok anak nakal.
Tentu saja, di atas organisasi anak nakal itu terdapat
Guild Kegelapan, dan terkadang pesanan ilegal pun datang.
Namun, sekotor apa pun diriku, aku benci
kriminalitas.
Aku menghindari pekerjaan seperti itu dan hanya
melakukan pekerjaan yang nyaris legal—bisa dibilang pekerjaan di area abu-abu.
Nama Rob diberikan oleh seniorku saat itu; katanya
artinya adalah "Si Perampok".
Untuk seseorang yang bahkan tidak pernah melakukan
perampokan sekali pun, nama itu terdengar sangat ironis.
Lalu, saat aku berusia lima belas tahun, akhirnya aku
bisa masuk ke dalam ibu kota.
Katanya, seseorang yang punya hubungan dengan Guild
Kegelapan telah menjadi jenderal, dan seniorku menggunakan koneksi itu untuk
menyiapkan hak kewarganegaraan bagiku.
Tentu saja, itu tidak diberikan tanpa syarat, melainkan
agar aku dipekerjakan sebagai penagih utang.
Saat itu, aku berpikir untunglah aku hidup dengan jujur.
Meski begitu, jika ditanya apakah hidupku setelah itu
bahagia, yah, mengingat kehidupan kasta terendah ini terus berlanjut selama
lebih dari sepuluh tahun, aku pasti akan membantahnya mentah-mentah.
Aku diakui dalam pekerjaanku dan bisa mandiri sebagai
peminjam uang tujuh tahun yang lalu.
Karena salah satu peminjam uang di bawah Bos Besar akan
pensiun, aku pun mewarisi wilayah kekuasaannya.
Singkatnya, aku hanyalah salah satu peminjam uang biasa
yang sering kalian temui.
Aku punya harga diri karena telah melewati berbagai
rintangan berbahaya, dan kupikir tidak ada lagi hal yang bisa membuatku gentar.
Tidak, perasaan seperti melangkah ke balik pintu surga
saat memakan Curry buatan Kuruto itu, jika dipikir-pikir sekarang, mungkin itu
adalah rasa takut.
—Namun, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sekarang.
"Begitu ya, pantas saja Kuruto-chan mengakuinya.
Peminjam uang yang hampir tidak melakukan tindakan ilegal di dunia bawah
sepertimu benar-benar spesies yang terancam punah, ya."
"Sesuai dugaan dari Kuruto-sama. Bisa memberikan hasil sebesar ini dalam waktu yang sangat
terbatas."
"Menyumbangkan sebagian keuntungan ke panti asuhan……
Menarik, pemuda yang patut dipuji."
Di sebuah ruangan di bank, tiga orang berbicara seolah
mengelilingiku.
Yang pertama membuka suara adalah Penyihir Istana Kursi
Ketiga, Mimiko.
Penampilannya memang seperti gadis yang manis, tapi
karena aku berkecimpung di bisnis dunia bawah, aku tahu.
Wanita ini juga orang dunia bawah—terlebih lagi,
gerakannya adalah milik seseorang yang menjadikan pembunuhan sebagai mata
pencaharian.
Jika aku melakukan gerakan aneh sedikit saja, mungkin di
detik berikutnya aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Fakta bahwa ada orang semacam itu saja sudah mengejutkan,
tapi yang lebih menjadi masalah adalah pria dan wanita berpakaian mahal di
sampingnya—
"Baginda, bukankah orang ini bisa kita pekerjakan
sebagai staf bank?"
"Benar juga, sepertinya tidak masalah. Tapi Lise-chan,
ini bukan di istana, jadi kamu boleh memanggilku Ayah atau Papa, lho."
"Aduh, Baginda. Karena saya sudah mengundurkan
diri dari keluarga kerajaan, saya tidak bisa melakukan hal yang kurang ajar
seperti itu."
—Ternyata benar, mereka adalah Mantan Putri Ketiga Liselotte
dan Baginda Raja Homuros!
Aku pernah melihat mereka di koran dan patung di
alun-alun (yang diperindah 150%), jadi aku sempat curiga, tapi ini mustahil.
Kenapa hanya karena ingin memprotes atasan Kuruto ke
bank, aku malah berakhir diinterogasi sambil dikelilingi oleh Penyihir Istana,
mantan putri, dan Baginda Raja!?
Apalagi, entah kenapa aku malah akan dipekerjakan oleh
bank.
"Anu,
saya…… tidak bermaksud untuk bekerja di bank. Bos Besar juga pasti tidak akan
mengizinkannya. Kudengar dia adalah orang yang sangat kejam, dan jika aku
mengkhianatinya untuk bekerja di bank, aku akan dilenyapkan."
"Oalah,
Rob-san. Apa kamu pernah bertemu dengan Bos Besarmu?"
Mimiko-sama bertanya.
"Tidak, belum pernah. Urusan selama ini selalu
dilakukan melalui senior saya."
Ya, aku belum pernah bertemu Bos Besar.
Hanya saja, karena dia bisa menyiapkan kartu
identitas warga dan meminjamkan uang dalam jumlah besar—hal yang tidak mungkin
dilakukan manusia biasa—aku mengira dia adalah petinggi Guild Kegelapan atau
seorang bangsawan.
Saat aku memikirkan hal itu, Mimiko-sama mulai mengatakan
sesuatu yang di luar nalar.
"Bos Besarmu adalah Sannova Listcatz. Dia adalah
jenderal di negara ini, tahu?"
"Hah!?"
Bicara soal Jenderal Sannova, bukankah dia adalah sosok
pahlawan bagi kami—seorang yatim piatu yang naik menjadi jenderal hanya dengan
kemampuannya sendiri?
Orang itu, ternyata adalah Bos Besar kami!?
Saat aku sedang terpukul oleh rasa haru, Mimiko-sama
melanjutkan kembali.
"Aku juga sudah menyadarinya sejak lama, tapi ada
hal lain yang baru kuketahui belakangan ini. Ternyata orang yang mengendalikan
pekerjaan Jenderal Sannova dari balik layar adalah mantan Ratu Kedua Kerajaan Homuros,
Françoise-sama."
"Haaaah!?"
Mendengar perkataan Mimiko-sama, otakku benar-benar tidak
sanggup mengejarnya lagi.
"Jadi, kalau Lise-sama yang merupakan putri
kesayangan mendiang Françoise-sama yang meminta, Jenderal Sannova tidak akan
mungkin menggelengkan kepala. Lagipula, sudah ada rencana untuk mengambil alih
seluruh pengetahuan peminjaman uang miliknya ke sini. Dia juga sepertinya
merasa sudah waktunya berhenti merangkap jabatan sebagai jenderal dan bos dunia
bawah, jadi ini seperti gayung bersambut."
Artinya,
entah aku menolak atau tidak, organisasiku sendiri akan ditelan oleh bank.
"A……
Anu, bolehkah saya bicara?"
Yang
bicara adalah seorang staf wanita berusia sekitar dua puluh tahun.
"Hmm? Siapa kamu?"
Keberadaannya sangat tipis. Sepertinya dia tersembunyi
oleh aura hebat dari tiga orang lainnya sehingga aku tidak menyadarinya sampai
sekarang.
"Nama saya Kirschel, Direktur Utama bank ini. Sama
seperti Anda, saya hanyalah orang biasa yang terseret ke dalam berbagai
masalah."
Begitu ya, ternyata dia sama sepertiku.
"Jadi begini, Rob-san. Ini adalah jabatan dan syarat
ketenagakerjaan seperti upah saat mempekerjakan Anda. Silakan diperiksa."
Melihat dokumen yang dia berikan, aku benar-benar
berpikir bahwa semua ini pasti mimpi.
Tidak, kalaupun ini mimpi, ini terlalu konyol.
Pekerjaan yang ditawarkan skalanya puluhan kali lebih
besar dari pekerjaanku sebelumnya, tapi gajinya pun puluhan kali lebih besar
dari penghasilanku selama ini.
Lagipula, jumlah digit angka yang tercantum dalam dokumen
lampiran bank benar-benar gila.
Apa boleh dokumen semacam ini diperlihatkan padaku yang
bahkan belum resmi dipekerjakan?
Dan yang membuatku senang, sepertinya anak buahku juga
akan ikut dipekerjakan bersama.
Namun, yang paling menarik perhatianku adalah pekerjaan
lain yang dipisahkan dari tugas rutin biasanya.
"Apa ini, manajemen donasi untuk panti asuhan?"
"Kami ingin berkonsultasi tentang bagaimana
sebaiknya mengalokasikan dana bantuan untuk panti asuhan. Di antaranya ada
panti asuhan yang menipu uang donasi, atau panti asuhan yang dananya digelapkan
oleh kepala pantinya. Karena Rob-san berasal dari panti asuhan, kupikir kamu
akan peka terhadap hal semacam itu."
Kirschel menunjukkan senyum yang kaku.
"Apa tidak apa-apa? Bisa saja aku bersekongkol
dengan kepala panti asuhan itu untuk menggelapkan uangnya, lho."
"Jika itu terjadi, bukankah Rob-san sendiri yang
paling tahu apa yang akan terjadi pada anak-anak yatim piatu itu?"
Sialan Kirschel ini, mengaku sebagai orang biasa tapi
bicaranya tajam sekali.
Benar-benar, sudah sampai mana dia menyelidiki tentangku?
Saat itu, yang terbayang di kepalaku adalah sosok
anak-anak di panti asuhan yang sama denganku dulu—kurus kering karena tidak
diberi makan yang layak.
Apa mulai sekarang, tidak ada lagi yang perlu mengalami
hal semacam itu?
Aku menerima pekerjaan di sini dengan syarat setelah
identitas Jenderal Sannova sebagai Bos Besar dikonfirmasi dan aku mendapat izin
darinya.
Mungkin karena merasa puas mendengar itu, Baginda Raja
dan yang lainnya keluar dari ruangan, menyisakan aku dan Direktur Utama
Kirschel.
Tapi tak lama kemudian, sebuah surat tiba.
Itu adalah surat instruksi dengan tanda tangan Bos Besar
yang isinya mengakui pekerjaanku di bank.
Benar-benar taktis dan cepat.
"Tapi, jumlah donasi untuk panti asuhan ini gila
sekali. Benar-benar bank yang dipimpin negara. Karena seluruh
kas negara menjadi saldo bank ini, ya."
"Anu……
karena Rob-san sudah resmi menjadi staf dan mulai sekarang akan menjadi
asistenku, aku akan memberitahumu. Uang di bank ini bukan milik
negara, melainkan berasal dari aset pribadi seseorang. Ah, jika ini bocor, kamu
benar-benar akan dibunuh—dan ini bukan kiasan—jadi jangan sampai bocor ke pihak
luar, ya."
"Hah?"
Tidak, aku melihat anggaran tadi, jumlahnya sangat
luar biasa.
"Kalau caramu bicara begitu, berarti ini bukan
aset pribadi keluarga kerajaan, kan? Tentu saja, bukan juga milik Bos Besar…… maksudku Jenderal
Sannova…… Apa milik bangsawan agung di suatu tempat?"
"Bukan, nama orang itu adalah—"
Mendengar nama penyedia dana bank ini—alias Bos Besar
dari bank ini—entah untuk keberapa kalinya hari ini aku terkejut, namun tanpa
ragu, inilah kejutan terbesar bagiku hari ini.
◆◇◆
Sebelum meninggalkan kedai, aku, Kuruto, mencoba
menanyakan harga modal rempah-rempah kepada pemilik kedai.
Dan di sana, aku menyadari harganya jauh lebih mahal
daripada jika membeli di Valha.
Karena ini ibu kota, biaya hidupnya memang tinggi. Karena
pekerjaan di bank berhubungan dengan uang, kurasa sebaiknya aku mengetahui
hal-hal seperti harga barang.
Memikirkan hal itu, aku memutuskan untuk pergi ke pasar
demi melakukan survei.
Kebetulan ada minuman susu campur madu yang dijual, jadi
aku membelinya dan meminumnya di depan toko.
Hmm, ini mungkin cocok sekali dengan Curry. Lain kali
kalau ke kedai itu lagi, coba aku usulkan, ah.
Meski begitu, di pasar pun baunya tetap saja parah.
Sepertinya rencana sistem pembuangan air limbah memang diperlukan.
Sambil berpikir begitu, aku menulis sketsa cetak biru
saluran air bawah tanah di atas kertas dengan cepat.
Aku sengaja menulisnya di kertas untuk menghitung biaya
yang dibutuhkan dalam pembangunan sistem limbah tersebut.
"Hmm,
fasilitas pengelolaan dan bawah tanah…… agar staf bisa masuk, sebaiknya
fasilitas pengelolaan ada di atas tanah, jadi butuh lahan, ya……"
Aku
tidak tahu detail harga tanah di ibu kota.
Asalkan
mendapat izin untuk pengerjaan tanah dan bawah tanah, sisanya bisa kuselesaikan
sendiri, jadi jika meluangkan waktu, aku bisa membuat saluran air limbah dengan
biaya nyaris gratis.
Apa aku tanya Mimiko-san saja, ya?
Saat sedang merenung, mataku bertemu dengan sekelompok
tujuh orang pemuda-pemudi yang sepertinya sedikit lebih muda dariku.
"Ah."
“““““““Ah!”””””””
Delapan orang, termasuk aku, mengeluarkan suara.
"Kuruto-sensei, sedang apa di sini?"
Yang
bertanya itu adalah…… anu.
"Anu, maaf, kamu siapa ya?"
Aku mengenali enam orang lainnya, tapi hanya anak
laki-laki yang menyapaku ini yang tidak kukenal.
"Aku Vittel! Vittel Verhen!"
"…………Eh!? Vittel-kun!?"
Saat aku terkejut, enam orang lainnya memasang wajah
seolah sudah menduga reaksiku.
"Jangan berkecil hati, Vittel-sama. Kuruto-kun
tidak salah, kok."
Mendengar perkataan Famil-san—putri dari Count Perbatasan
Tycoon yang bersamannya—aku baru sadar kalau dia benar-benar Vittel-kun yang
kukenal.
"Betul tuh, kali ini Sensei nggak salah. Siapa pun
yang ketemu pasti nggak bakal ngenalin."
"Iya benar. Kalau aku di posisi Kuruto-sensei pun
pasti nggak bakal tahu."
"Kami yang belajar bareng saja kaget melihat
perubahan drastis Vittel."
"Setuju dengan perkataan Kakak. Kupikir dia
bakal menghilang saking kurusnya."
"……Vittel-sama, sudah berusaha keras."
Mereka adalah murid-murid yang dulu pernah kuajar dalam
waktu singkat sebagai guru di sekolah yang baru dibangun di kota Rikuruto.
Ada Aria-san, cucu dari ketua Serikat Dagang Knotline
yang sangat suka uang. Ada Sword-kun, putra pandai besi yang punya kebiasaan
mengakhiri kalimat dengan kata "Ssu".
Lalu kakak beradik Alcopa-kun dan Tsuki-san, imigran dari
Torushen di selatan yang orang tuanya bekerja sebagai petani.
Dan terakhir, Kritis-san yang pendiam dan disukai
para roh.
Semuanya hampir tidak berubah dari waktu itu.
Tidak, apa tinggi badan mereka sedikit bertambah?
Soalnya mereka semua sedang dalam masa pertumbuhan.
Bagi aku yang tinggi badannya sama sekali tidak
bertambah sejak setahun lalu, ini benar-benar membuat iri.
Hanya saja, suasana Vittel-kun memang sangat berbeda.
Vittel-kun adalah putra Marquis Triad. Saat bertemu dulu,
meski tidak sampai dibilang gemuk, perawakannya cukup berisi, tapi sekarang dia
sangat kurus.
Sebagai gantinya, dia jadi berotot sehingga tidak
terlihat tidak sehat, namun perubahannya benar-benar drastis sampai-sampai aku
tidak bisa langsung menyambungkan namanya meski dia sendiri yang mengatakannya.
"……Apa kamu sukses diet?" aku refleks
bertanya.
"Aku jadi murid dari Penyihir Istana Mimiko…… karena
belum lulus sekolah jadi bukan murid resmi, tapi tetap saja banyak hal berat
yang terjadi…… kumohon jangan tanya detailnya."
Tatapan mata Vittel-kun menerawang jauh. Karena dia bilang begitu, aku tidak akan bertanya lebih lanjut, tapi
sepertinya memang sangat berat.
"Lalu, kenapa kalian semua ada di sini?"
"Ah, itu urusan kantorku. Kuruto-sensei, kamu tahu
nggak? Di ibu kota ada fasilitas namanya bank, dan salah satu pengurus yang
mengelolanya adalah Mimiko-sama. Vittel-sama juga membantu di sana, lho!"
"Eh? Begitu ya?"
Mendengar perkataan Aria-san, aku membelalakkan mata.
Artinya, Vittel-kun adalah seniorku dalam pekerjaan bank, ya?
"Ya. Meski begitu, yang kulakukan kebanyakan cuma
tugas serabutan, pekerjaan utamaku tetaplah magang penyihir."
"Terus, aku kan pernah cerita kalau aku cucu ketua
Serikat Dagang Knotline? Serikat Dagang Knotline juga mau bekerja sama dengan
bank. Jadi mumpung Vittel-sama lagi ke sekolah, aku tangkap saja dia buat
diajak ke ibu kota untuk tanya-tanya ke Mimiko-sama. Pakai kristal teleportasi
Vittel-sama, ke ibu kota cuma sekejap mata, kan."
Karena batu teleportasi juga dipasang di kota Rikuruto,
memang benar ibu kota bisa dicapai dalam sekejap.
"Sekalian mumpung di sini, kami semua ikut buat
jalan-jalan," tambah Sword-kun melengkapi penjelasan Aria-san.
Begitu ya, jadi mereka sedang wisata ibu kota.
"Tapi ternyata gagal. Kupikir kalau toko senjata di
ibu kota pasti punya senjata atau Armor yang hebat, ternyata toko
senjata di kota Rikuruto jauh lebih hebat."
"Benar juga. Kalau begitu sih, ayah Kritis masih
jauh lebih jago bikin senjata."
"……Ayah angkatku, memang ahli pandai besi."
Kritis-san terlihat senang saat Alcopa-kun memuji ayah
angkatnya. Bicara soal itu, aku pun belum pernah melihat toko senjata di ibu
kota.
Di "Dragon Fang", Golnova-san punya pedang api,
Marlefiss-san punya tongkat tanduk unicorn—keduanya senjata dari material
langka—dan Bandana-san menyiapkannya sendiri. Jadi memang tidak perlu sengaja
pergi membeli.
Tapi apa memang pilihan barang di toko senjata ibu kota
seburuk itu? Apa karena di sekitar ibu kota sedikit monster, jadi petualang
yang membeli senjata juga sedikit?
Eh? Tapi bukankah di Guild Petualang ada cukup banyak
orang?
"Kakak memang bodoh, ya. Ayah angkat Kritis-san itu
pandai besi legendaris yang dijuluki Sage Senjata. Standar perbandingannya saja
sudah salah."
"Bahkan senjata buatan Tuan Sage Senjata itu pun
akan jadi tumpul jika dibandingkan dengan senjata buatan Kuruto-kun."
Tsuki-san dan Famil-san membicarakan sesuatu, tapi aku
tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku tidak berniat menguping rahasia
sesama perempuan, tapi mulai dari Yurishia-san sampai Lise-san, perempuan
memang suka sekali bicara rahasia, ya.
Bagaimanapun, aku mengalihkan pembicaraan kembali.
"Begitu ya, jadi ada urusan di bank."
"Urusannya sudah selesai, jadi kami mau main bareng.
Kami mau minta tolong Vittel-sama yang tahu ibu kota buat jadi pemandu
jalan."
"Tidak, Aria. Memang benar aku dulu tinggal di ibu
kota, tapi aku tidak tahu banyak soal distrik tempat tinggal rakyat jelata.
Yang kutahu paling cuma tempat-tempat yang kukunjungi untuk urusan
Mimiko-sama."
Karena Vittel-kun seorang bangsawan, saat tinggal di ibu
kota dia pasti hanya berkeliaran di distrik bangsawan saja.
"Yah, isinya cuma bangunan saja sih, tempat mainnya
sedikit. Kalau begini, masih lebih seru di padang pasir."
"Memangnya apa yang bisa dimainkan di tempat yang
isinya cuma pasir?" tanya Vittel-kun dengan heran.
"Tentu saja seluncur pasir, lempar pasir, atau
maraton pasir."
Seluncur pasir mungkin seru, tapi lempar pasir itu bahaya
kalau kena mata, dan maraton pasir sepertinya lebih ke pelatihan daripada
permainan.
"Kakak itu bodoh yang tenaganya berlebihan, jadi
seleranya beda dari orang normal. Tolong dimaafkan saja." Tsuki-san
menimpali. Sepertinya dia tidak merasa main di padang pasir itu seru.
Tapi, tempat bermain, ya.
"Vittel-kun, permainan di ibu kota itu apa
saja?" Saat aku bertanya, Vittel-kun mencoba memeras otaknya.
"Ditanya begitu pun aku tidak tahu permainan rakyat
jelata…… Mari kita lihat, katanya ada yang menirukan suara hewan, memutar
gasing, atau main bola yang terbuat dari kandung kemih monster yang
ditiup."
"Niruin suara hewan? Emangnya apanya yang
seru?"
"……Kalau gasing, ayah angkatku bikin banyak gasing
yang putarannya sangat stabil di rumah."
"Hiii, bola dari kandung kemih…… Vittel-sama, kamu
main begituan?"
Alcopa-kun memiringkan kepala, Kritis-san merasa tidak
perlu main ke ibu kota, dan Aria-san merasa jijik.
"Kan sudah kubilang itu permainan rakyat jelata.
Terus, sisanya paling menonton pertarungan gladiator di arena, atau menonton
sandiwara petualangan di teater."
Begitu kata Vittel-kun, tapi yang lain sepertinya tidak
terlalu tertarik. Tentu saja bukan berarti mereka tidak paham artinya.
Menonton di arena atau teater memang merupakan
hiburan, tapi itu berbeda dengan "bermain".
Yah, karena jumlah anak-anak di ibu kota lebih banyak
daripada di kota Rikuruto, mungkin mereka bermain petak umpet atau
kejar-kejaran bersama—pikirku begitu, tapi memang benar, mereka kan turis yang
sengaja datang ke ibu kota.
Pasti mereka ingin tempat bermain yang hanya ada di ibu
kota. Pada saat itulah, sebuah ide mulai terbentuk di kepalaku.
"Terima kasih semuanya, ini jadi referensi buatku.
Oh iya, mumpung ketemu, biarkan aku mentraktir kalian sesuatu."
Karena baru saja makan Curry dan minum susu, sebenarnya
mulutku tidak terasa lapar, tapi aku sedikit mendambakan momen seorang guru
mentraktir murid-muridnya.
"Serius? Tapi Sensei, harga-harga di ibu kota
lumayan mahal, lho."
"Iya, tidak apa-apa. Tadi aku dapat penghasilan
tambahan, dan aku juga menerima upah yang lumayan."
Aku pernah mentraktir semua orang di bar dengan gaji
pertamaku sebagai pesuruh bengkel. Waktu itu jumlahnya cukup banyak, tapi bukan
berarti tidak sanggup bayar.
Kalau cuma mentraktir tujuh orang anak sepertinya
tidak masalah. Lagipula, dalam rangka mencari target investasi, pergi ke tempat
makan dan mendengarkan pendapat mereka bukan ide yang buruk.
"Anu……
Kuruto-kun, apa boleh aku juga ikut ditraktir?" tanya Famil-san.
"Tentu saja. Meski Famil-san bukan muridku, kamu
selalu membantuku."
"Bukan begitu, tapi hubungan ayahku dan Kuruto-kun
adalah hubungan pelindung dan bawahan, jadi kurasa kurang baik jika putri dari
pelindungmu ditraktir oleh bawahannya."
"Ah……"
Kalau dipikir-pikir benar juga. Meski banyak yang
terjadi, statusku sebagai bawahan Count Perbatasan Tycoon belum berubah.
Hmm, tapi rasanya tidak enak juga kalau cuma Famil-san
yang tidak ditraktir. Saat aku sedang pusing memikirkannya, Vittel-kun membuka
suara.
"Kalau begitu, bagaimana kalau ke toko Guruku
saja?"
"Guru……
maksudmu tempat Mimiko-san?"
"Ya, Mimiko Cafe. Toko alat sihir yang juga melayani
makan dan minum. Jam segini Guruku tidak ada di sana, jadi kita bisa lebih
santai. Rasa kopinya juga luar biasa. Karena sepertinya tidak ada pelanggan
lain, kita tidak perlu terlalu memikirkan tata krama."
Semua orang setuju dengan usulan Vittel-kun. Mendengar
toko alat sihir milik Penyihir Istana, sepertinya itu terdengar lebih seru
daripada sekadar berjalan tanpa tujuan di ibu kota.
Meski kupikir toko Mimiko-san tidak akan jadi referensi
investasi, aku tidak bisa menolak sekarang, jadi kami semua memutuskan pergi ke
sana.
Toko Mimiko-san itu seperti apa ya? Karena toko milik
Penyihir Istana, pasti bangunannya sangat mewah.
Setelah berjalan beberapa saat, gerbang menuju distrik
bangsawan mulai terlihat.
"Toko Mimiko-san ada di distrik bangsawan?"
"Tidak, di depannya. Nah, sudah
kelihatan. Di sana."
Toko yang ditunjuk Vittel-kun bukanlah bangunan mewah
seperti yang kubayangkan, melainkan toko yang sangat biasa. Ukuran bangunannya
tidak jauh berbeda dengan kedai Curry tadi.
Karena ada papan nama bertuliskan "Mimiko
Cafe", sepertinya kami tidak salah tempat.
"……Toko yang manis," ucap Kritis-san pelan.
Benar juga. Jika dibilang toko milik Penyihir Istana
memang terasa aneh, tapi jika melihat gaya berpakaian Mimiko-san sehari-hari,
ini terasa sangat pas.
"Ayo masuk," ajak Vittel-kun sambil membuka
pintu.
Suasana di dalam toko juga terasa manis, ada beberapa
kursi di konter dan meja-meja yang sudah disiapkan. Dua meja untuk empat orang,
dan satu meja untuk delapan orang.
Semuanya dihiasi ukiran yang manis, menciptakan interior
yang serasi. Tidak ada pelanggan lain. Katanya mereka juga menjual alat sihir,
tapi tidak ada barang yang dipajang dengan mencolok.
Dan, orang yang berada di balik konter adalah—
"Selamat datang, Kuruto-chan dan semuanya."
"Mimiko-san!? Eh? Tadi katanya sedang tidak ada di
sini, ternyata ada ya."
Ya, di bagian dalam toko ada Mimiko-san yang katanya
sedang tidak ada di sini, dia sedang mengelap cangkir kopi.
"Guru, kenapa ada di sini!? Bukankah Anda bilang hari ini akan berjaga seharian di bank—"
"Tentu saja karena aku dengar dari bawahanku kalau Kuruto-chan
akan datang ke toko untuk pertama kalinya. Kalau bukan aku pemiliknya yang
menyambut, lalu siapa?"
Mimiko-san mengalihkan pandangannya ke Vittel-kun sambil
tetap tersenyum.
"Sepertinya ada yang punya waktu luang untuk
melakukan hal seenaknya, jadi kupikir aku akan memberinya tugas," ucapnya
dengan tatapan tajam.
Vittel-kun membuang muka dengan jelas, wajahnya tampak
seperti hewan pemakan rumput yang menyadari tidak bisa kabur dari hewan
karnivora.
Aku tidak paham kenapa dia sebegitu takutnya pada
Mimiko-san. Mungkin karena hubungan guru dan murid, mereka sudah membangun
ikatan yang tidak dipahami orang luar.
"Pokoknya, selain Vittel-chan, ini pertama kalinya
buat kalian ya. Selamat datang di Mimiko Cafe. Silakan duduk di mana
saja."
Mendengar ajakan Mimiko-san, para murid duduk di kursi
konter atau meja empat orang sesuai keinginan masing-masing.
Vittel-kun juga mencoba duduk di samping Famil-san yang
duduk di meja empat orang, tapi……
"Vittel-chan, tempatmu sudah pasti di sini,
kan?"
"…………Baik, Guru." Vittel-kun berjalan lunglai
menuju bagian belakang konter.
"Anu, Mimiko-san. Apa ada yang bisa kubantu—"
"Kuruto-chan itu pelanggan, jadi tidak perlu."
Sambil berkata begitu, Mimiko-san mulai menyiapkan kopi. Sepertinya dia menggiling bijinya sendiri.
"Oh, Mimiko-sama, apa kopi itu dari negara
kami?"
"Benar. Kualitas terbaik dari Torushen. Karena
ini kafe, harus ada biji kopi, kan?"
Di negara ini orang lebih sering minum teh, tapi
sebagian orang gemar minum kopi. Terutama bagi orang yang sibuk bekerja dan
tidak punya waktu tidur, kopi menjadi penawar kantuk yang baik.
Namun, kopi hanya bisa tumbuh di tempat yang hangat,
jadi hanya bisa dipanen di daerah tropis. Apalagi karena butuh cukup banyak
air, kabarnya kopi hanya bisa ditanam di sebagian daerah di Torushen yang curah
hujannya relatif tinggi meskipun sebagian besar wilayahnya gurun.
Ah, di bengkel ada rumah kaca di sudut taman, dan di
sana juga dilakukan budidaya biji kopi agar bisa segera disajikan jika ada tamu
yang menginginkannya.
Sambil duduk di konter, aku memutuskan untuk
menjelaskan tentang Rob-san kepada Mimiko-san yang sedang menyeduh kopi.
"Mimiko-san. Anu, tadi aku bertemu orang bernama
Rob-san dan menawarinya investasi—"
Apa dia
sudah berhasil meminjam uang dengan lancar? Aku akan
merasa bersalah jika sampai dia harus melepaskan rumahnya.
"Aku sudah bertemu dengannya. Kebetulan aku kenal
dengan Bos Besarnya, dan dia sudah diputuskan untuk bekerja sebagai staf
bank."
"Atau lebih tepatnya, mungkin lebih pas dibilang
organisasi Bos Besarnya juga ikut masuk ke dalam struktur bank. Tentu saja uang
setoran wajibnya sudah dihapus, dan dia tidak perlu melepaskan rumah atau
menjual harta bendanya, jadi tenang saja."
"Eh!? Jadi sudah sejauh itu!?"
Padahal baru sekitar dua jam sejak Rob-san pergi menuju
bank, pembicaraannya sudah maju pesat sampai ke sana. Jika dibandingkan, aku
sepertinya tidak melakukan pekerjaan apa pun.
"Berkat Kuruto-chan, kita menemukan SDM yang bagus.
Terima kasih banyak, ya."
"Eh? Tidak, kalau Bos Besarnya memang kenalan
Mimiko-san, tanpa aku melakukan apa pun Anda pasti akan berkenalan dengan
Rob-san juga."
"Berkenalan dengan menemukan potensi seseorang
itu hal yang berbeda. Mungkin jika Kuruto-chan tidak memberitahuku, meski dia
bekerja di bank pun aku tidak akan menjadikannya orang kepercayaan. Ini adalah
prestasi besar."
Begitu ya. Meski mungkin cuma pujian belaka,
mendengarnya membuatku sedikit percaya diri.
"Ah, bicara soal itu, Mimiko-san. Ada dua hal yang
ingin kukonsultasikan."
"Jarang sekali Kuruto-chan minta konsultasi. Apa
itu?"
"Aku mencoba membuat usulan pembangunan saluran air
limbah. Karena ini target investasi, aku terpikir ingin memberikan pinjaman
kepada negara ini untuk membangun fasilitas pengolahan limbah."
Aku menyerahkan sketsa rancangan yang kutulis tadi kepada
Mimiko-san.
"Fasilitas pengolahan limbah, ya. Memang sudah ada
usulan pembangunan saluran air limbah sejak dulu, tapi—tunggu sebentar ya, aku
akan melihatnya setelah persiapan kopi selesai…… Kalau melihat cetak biru
tulisan tangan Kuruto-chan sekarang, aku tidak akan bisa menyeduh kopi dengan
benar."
Bagian terakhirnya agak kurang terdengar, tapi sepertinya
aku memang salah waktu untuk membicarakan hal ini sekarang.
"Maaf, aku tidak peka."
Kemudian, Vittel-kun mengantarkan kopi yang diseduh
Mimiko-san ke meja masing-masing.
"Wah, kopi ini diantarkan langsung oleh putra
keluarga Marquis!"
Aria-san berujar dengan nada yang dibuat-buat dan
berlebihan.
Cara bicara dan sikapnya yang tidak punya rasa takut
ini benar-benar mirip dengan Bandana-san.
"Berisik, minum saja dengan tenang."
"—Vittel-chan, jaga sopan santunmu kepada
pelanggan."
"Silakan dinikmati dengan santai, Tuan dan Nyonya
sekalian."
Begitu ditegur oleh Mimiko-san, Vittel-kun segera meralat
ucapannya.
Reaksi semua orang saat meminum kopi yang diantarkan itu
pun terbagi dua.
Famil-san dan Aria-san yang sepertinya sudah biasa,
meminumnya perlahan seolah menikmati rasanya, sementara yang lain langsung
mengernyitkan dahi.
Sepertinya ini pertama kalinya bagi mereka meminum kopi.
Padahal Alcopa-kun dan Tsuki-san berasal dari Torushen,
jadi kukira mereka sudah akrab dengan kopi.
Namun, kabarnya hampir semua biji kopi yang diproduksi di
negara mereka diekspor, sehingga jarang sekali dikonsumsi di dalam negeri.
"Bagi yang merasa kurang cocok, silakan tambahkan
susu dan gula, ya."
Atas saran Mimiko-san, semuanya kecuali Famil-san mulai
memasukkan gula dan susu.
"Lho? Aria-san, tadi kamu terlihat sangat menikmati
kopinya, kan? Apa masih butuh gula dan susu?"
"Tentu saja tanpa ini pun rasanya enak, tapi kalau
disediakan gratis lalu tidak dipakai, kan rugi? Rasanya jadi dobel untung kalau
bisa menikmati dua rasa yang berbeda."
Mendengar perkataan Aria-san, Alcopa-kun, Tsuki-san, dan
Sword-kun berseru kompak, ““Dasar pelit!””
Vittel-kun juga tampak ingin menyahut, tapi di depan
Mimiko-san, sepertinya dia tidak bisa menjelek-jelekkan pelanggan.
Tak lama kemudian, Mimiko-san menyajikan kue kering yang
baru matang untuk semua orang.
"Wah, enak banget. Anu, Mimiko-sama, kenapa kopi dan
kuenya seenak ini tapi tidak ada pelanggan lain? Apa ini toko yang sangat
mahal?"
"Hei, Aria, berhenti bicara tidak sopan begitu
kepada Guruku."
"Sudahlah,
Vittel-chan. Jadi begini, Aria-chan. Untuk harga kopi dan kuenya..."
Mimiko-san
menyebutkan nominal harganya.
Harganya
memang sedikit lebih tinggi dari standar kedai umum di ibu kota, tapi tetap
tidak bisa dibilang sangat mahal.
Bahkan Aria-san sampai berkomentar, "Eh? Bukannya
itu murah kalau memakai biji kopi berkualitas begini?"
Tapi kalau memang begitu, kenapa tidak ada pelanggan yang
datang?
"Kalian tahu kan kalau toko ini bukan cuma kafe,
tapi juga toko alat sihir?"
"Iya, aku tahu."
"Sebagian besar alat sihir itu bisa dialihfungsikan
menjadi senjata, dan hampir semuanya adalah kebutuhan militer. Pelanggannya pun
kebanyakan orang militer. Menurut kalian, apa orang-orang seperti itu mau minum
kopi di toko semanis ini?"
Mendengar penjelasan Mimiko-san, kami mengedarkan
pandangan ke dalam toko.
Interiornya sangat imut—sangat cocok untuk wanita atau
anak-anak—tapi membayangkan tentara yang sangar duduk di kursi kecil ini sambil
minum kopi, rasanya memang agak aneh.
"Wah,
membayangkannya saja sudah terasa berat."
"Begitulah.
Sebenarnya aku berharap ada pelanggan yang datang murni untuk makan-minum, tapi
tidak ada orang yang cukup berani untuk bersantai minum kopi di toko yang
sewaktu-waktu bisa didatangi tentara. Kalaupun ada yang datang, paling cuma
orang-orang yang ingin menjilatku demi keuntungan pribadi, tapi orang seperti
itu bukan pelanggan jadi langsung kuusir. Gara-gara itu, kafenya jadi sepi.
Paling cuma Yurishia-chan atau Ophelia-chan yang sesekali datang untuk mengeluh
soal pekerjaan."
Mimiko
menggelengkan kepala sambil menghela napas.
Begitu
ya, meskipun punya hidangan dan minuman yang enak, ternyata itu saja tidak
menjamin sebuah tempat akan ramai.
Sambil
aku meminum kopi, Mimiko-san membaca draf usulan pembangunan saluran air limbah
yang kubuat tadi.
"Bagaimana
menurutmu? Asalkan aku mendapat izin lahan dan pengerjaan Excavation
bawah tanah, aku bisa menyelesaikannya sendiri."
"Ah,
iya. Aku paham usulannya, tapi ini kan proyek publik. Jadi tidak boleh cuma Kuruto-chan
saja, negara harus mempekerjakan orang untuk membuatnya."
"Ah,
untuk program penanggulangan kemiskinan, ya?"
Dulu
saat memperbaiki tembok di kota perbatasan yang sekarang bernama Valha,
Alreid-san pernah mengatakannya.
Katanya
proyek publik juga berfungsi sebagai penanggulangan kemiskinan, jadi dia akan
kesulitan kalau aku menyelesaikan semuanya sendirian.
Dulu
kukira itu cuma alasan untuk mengusirku, tapi belakangan aku dengar memang
benar ada aspek seperti itu.
"Ah,
iya, begitulah. Tapi menurutku ini akan jadi target investasi bank yang bagus.
Karena skalanya proyek nasional, peminjamnya adalah negara, jadi tidak perlu
khawatir soal gagal bayar. Kerja bagus, Kuruto-chan."
Syukurlah, usulanku diakui oleh Mimiko-san.
"Lalu,
Kuruto-chan. Apa satu hal lagi yang ingin kamu konsultasikan?"
Nah,
inilah saat yang sebenarnya.
Aku akan mengungkapkan sebuah ide kepada Mimiko-san.
Kalau dia setuju, aku yakin bank juga akan memberikan izin.
"Anu, soal target investasi itu... mungkinkah jika
bank memberikan investasi kepadaku?"
◆◇◆
"Hah? Memberi investasi pada Kuruto!? Mana jumlahnya
sepuluh ribu koin emas lagi!?"
Kenapa keadaannya jadi begini saat aku sedang pergi
sebentar untuk membasmi monster atas permintaan Mimiko?
Bukannya mau pelit soal investasi, tapi kan semua uang di
bank itu memang milik Kuruto.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan berteriak
begitu, Yuri-chan. Kuruto-chan bilang dia ingin membeli lahan. Sebuah bukit
kecil di dekat ibu kota. Katanya dia mau membuat tempat bermain untuk anak-anak.
Daripada itu, lihat ini."
Mimiko menyodorkan dokumen ke arahku.
Kelihatannya seperti skema rancangan sesuatu, tapi isinya
terlalu rumit untuk kupahami.
"Apa ini?"
"Fasilitas pengolahan air limbah."
"Sistem limbah kan sudah ada di kota Rikuruto?
Kenapa baru sekarang—"
"Di sana kan kota para Golem, energinya melimpah.
Lagi pula itu lahan kosong, jadi pengerjaannya mudah. Dekat sungai juga, kan?
Urusannya beda dengan ibu kota. Skema yang dibuat Kuruto-chan ini adalah
fasilitas hebat yang menutupi semua kekurangan itu."
Kalau Mimiko sampai bilang begitu, berarti ini memang
rencana yang luar biasa.
"Apalagi ini bukan cuma pengolahan limbah biasa. Dia
juga memikirkan fasilitas untuk mengubah gas dan kotoran yang dihasilkan
menjadi bahan bakar serta pupuk. Yah, karena skalanya raksasa, pengerjaannya
mungkin butuh waktu bertahun-tahun—meski Kuruto-chan bilang dia bisa
menyelesaikannya dalam seminggu, tapi kalau terus bergantung padanya, negara
ini tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa Kuruto-chan di masa depan."
Benar juga, kekuatan Kuruto dan penduduk Desa Haste itu
ibarat narkoba.
Kalau sudah kecanduan, bisa-bisa menuju kehancuran.
Buktinya dulu Golnova pernah membuat keributan di
restoran karena saking kecanduan masakan Kuruto.
Kami pun sampai membuat aturan untuk makan masakan selain
buatan Kuruto seminggu sekali agar tidak terlalu ketergantungan.
"Lalu, untuk biaya pengerjaannya, pihak bank akan
memberi investasi ke negara—tapi karena itu terdengar kurang bagus secara
formalitas, kita akan memakai sistem di mana negara menerbitkan surat utang
bernama Obligasi Negara, lalu bank yang akan membelinya. Baginda Raja yang tadi
sedang ngeteh di bank juga sudah memberikan persetujuan sementara."
Apa bedanya bank memberi investasi dengan negara
menerbitkan surat utang?
Lagipula, sedang apa Raja ngeteh di bank? Eh?
Karena ada Lise jadi dia pergi menemuinya? Kasihan Kirschel, nanti dia bisa
mati ketakutan.
"Hanya saja, pengerjaan limbah ini butuh aliran air
yang cukup banyak. Nah, aku bingung harus mencari sumbernya dari mana. Dalam
rencana Kuruto-chan, dia mau membuatnya menggunakan kristal sihir air, tapi
untuk membuat aliran air sebesar ini, kita butuh kristal sihir air tingkat
harta karun nasional dalam jumlah lusinan."
Ah, soal itu mungkin Kuruto berniat menambang permata
materialnya sendiri lalu mengubahnya menjadi kristal sihir.
Ini adalah saatnya Mimiko menunjukkan kebolehannya untuk
menyelesaikan masalah ini.
"Lalu, di mana si Kuruto itu?"
"Dia pergi ke lahan yang dibelinya bersama Lise-sama
dan Akuri-chan. Syukurlah
ya, Yurishia-chan. Akhirnya Kuruto-chan mau memakai uangnya untuk
kepentingannya sendiri. Oh iya, karena dia bilang mau libur sebulan untuk
membuat tempat bermain itu, tugasnya di bank pun sudah kubatalkan. Baiklah,
laporannya selesai. Aku mau meneliti dokumen ini sampai begadang—"
"Begitu
ya, jarang-jarang Kuruto mau libur demi urusannya sendiri... Hei, Mimiko. Tadi
kamu bilang sebulan?"
Aku
bertanya pada Mimiko yang masih asyik menatap dokumen pengolahan limbah.
Mimiko
yang fokusnya sudah teralih hanya menjawab pelan, "Iya, benar."
"Kuruto
itu membangun bengkel dalam tiga hari, dan membangun kota dalam satu hari,
tahu? Dia bahkan bilang fasilitas pengolahan limbah bisa
selesai dalam seminggu. Tapi orang itu, minta libur sampai sebulan."
"—!?"
Mimiko menyadari maksud perkataanku dan langsung
mengangkat wajahnya.
"Lagi pula, Kuruto tidak bilang minta uang, tapi
dia bilang investasi. Artinya dia punya rencana pengembalian modal dalam
usulannya itu. Hei, Mimiko. Kamu benar-benar sudah dengar tempat bermain
seperti apa yang akan dibuat Kuruto?"
Mimiko berdiri dan berseru ke arah Phantom yang ada
di langit-langit.
"Siapa saja boleh, cepat bawakan dokumen
investasi dan rencana pengembalian modal milik Kuruto-chan ke sini!"
Hawa keberadaan di balik langit-langit mulai
bergerak.
Dasar Mimiko, saking fokusnya pada dokumen pengolahan
limbah, dia sampai lupa pada logika bahwa 'tidak mungkin butuh waktu sebulan
hanya untuk membuat taman bermain anak-anak biasa'... Eh, tunggu dulu, mungkin
justru aku yang sudah kehilangan akal sehat ya?
Dan ketika aku serta Mimiko melihat dokumen investasi
beserta rencana pengembalian modal yang dibawakan oleh Phantom, kali ini kami
benar-benar kehilangan kata-kata.
Ini... bisa mengubah sejarah, tahu?
Satu bulan pun berlalu, dan hari pembukaan tempat bermain
anak-anak buatan Kuruto pun tiba.
Hari ini hanyalah acara perkenalan, jadi belum ada
pengunjung umum. Hanya orang-orang yang terlibat saja yang datang ke
sana.
Ngomong-ngomong soal tempat bermain anak ini,
desas-desusnya sudah menyebar ke seluruh ibu kota.
Bagaimana tidak, sebuah tembok misterius tiba-tiba
muncul di atas bukit kecil di samping ibu kota. Dan karena lokasinya di bukit,
bangunan-bangunan yang bermunculan di balik tembok itu pun bisa terlihat
sedikit dari kejauhan.
Tentu saja orang-orang mulai berspekulasi.
『Apa negara sedang membangun kota lain di samping ibu
kota?』
『Apa akan ada pabrik militer baru di sana?』
『Apa sih yang sedang dilakukan negara secara rahasia?』
Padahal tindakannya mencolok begitu, tidak ada
rahasia-rahasiaan lagi. Namun, karena pintu di tembok itu tertutup rapat dan
tidak ada informasi yang bocor, berbagai spekulasi terus bermunculan.
Pertanyaan-pertanyaan itu tentu saja masuk ke kantor
pemerintahan... tapi dokumen yang ada di sana hanya tertulis "Pembangunan
Tempat Bermain Anak".
Tentu saja warga tidak akan puas dengan penjelasan
seperti itu. Akhirnya bank yang memberi investasi pun dihujani pertanyaan, tapi
pihak bank juga tidak bisa bicara lebih banyak—atau lebih tepatnya, meskipun
bicara pun tidak akan ada yang percaya.
Ujung-ujungnya, Lise malah melimpahkan semuanya kepada
Baginda Raja dengan dalih, "Ini adalah proyek negara yang damai. Silakan
tanya detailnya kepada Baginda Raja."
Kabarnya, saking stresnya menghadapi situasi itu, berat
badan Baginda Raja turun lagi sekitar tiga kilogram. Padahal sebelum bertemu Kuruto
beliau cukup berisi, tapi sekarang makin hari makin kurus saja.
Apa ini bisa disebut diet ala Kuruto? Meski jelas-jelas
cara kurusnya tidak sehat.
Gerbang utama tempat bermain anak ini berjarak sekitar
satu kilometer dari gerbang barat ibu kota.
Sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi
karena Lise, Mimiko, dan Ophelia ikut—ditambah aku yang statusnya bangsawan
semu di negara ini—kami pergi menggunakan kereta kuda dengan pengawalan.
"Lise dan Akuri, apa kalian tahu tempat bermain
seperti apa yang dibuat Kuruto?"
"Tidak, aku dan Akuri cuma sempat melihat sampai
bagian pembuatan tembok saja."
"Iya. Aku juga ingin membantu dengan Teleport,
tapi sepertinya Papa merasa akan lebih efisien kalau dikerjakan sendiri, jadi
aku serahkan padanya."
Padahal kalau ada Teleport Akuri, memindahkan batu
atau bata ke tempat tinggi pasti akan sangat membantu. Memangnya seefisien apa
sih kalau Kuruto mengerjakan semuanya sendirian?
Yah, dulu aku pernah membantu pekerjaan rumah tangga
bersama Lise di rumah orang tua Kuruto, dan memang benar Sofia-san sendirian
bekerja jauh lebih cepat dan akurat. Mungkin rasanya mirip seperti itu.
Sambil berbincang, gerbang utama tempat bermain buatan Kuruto
pun makin dekat.
"Tapi rasanya seperti sudah lama sekali ya tidak
merasakan sensasi ini."
"Fufu, benar juga."
Lise tertawa setuju mendengar gumamanku.
Sensasi ini... pertama kali kurasakan saat menambang
berdua dengannya.
Karena dia orangnya seperti itu, aku sudah menduga dia
akan membuat terowongan tambang, tapi aku benar-benar terkejut saat dia justru
membuat terowongan yang menembus gunung.
Setelah itu pun dia selalu mengejutkanku dengan bengkel,
kota, hingga kapal terbang buatannya.
Yah, aku juga sudah tumbuh dewasa. Meskipun sudah sebulan berlalu, aku bukan lagi orang yang gampang
terkejut.
Begitu melewati gerbang utama dan turun dari kereta
kuda—
『Selamat datang!』
Kami disambut oleh musik selamat datang dan boneka
raksasa. Tanpa sadar, aku merasa seolah tersesat di negeri impian.
"APA-APAAN INI SEMUAAAA!?"
Eh? Serius, tunggu dulu, tempat apa ini?
Oke, mari kita mengalah satu langkah, soal boneka raksasa
itu aku paham.
Kalau diamati gerakannya, jelas ada orang di dalamnya.
Bangunan-bangunan dengan nuansa negeri asing berjejer
rapi, menjual berbagai cendera mata, hingga stan makanan yang imut-imut pun ada
di sana.
Lalu di air mancur raksasa, cahaya dari berbagai warna
kristal sihir dipancarkan.
Jangankan tujuh warna, cahayanya bahkan terlihat sampai
sekitar dua ratus lima puluh enam warna.
Air mancur yang belum pernah kulihat ini pun, mari kita
mengalah sepuluh langkah untuk mencoba memahaminya.
Meskipun aku tidak paham bagaimana dia menyiapkan airnya
padahal di bukit ini tidak ada sumber air, mari kita anggap saja aku paham.
Kekuatan semprotan airnya dari alat sihir itu aneh
sekali, tapi ya sudahlah.
Di bukit depan mata, entah kenapa ada tangga yang
bergerak secara otomatis.
Ah, iya, ini prinsipnya pasti sama dengan trotoar
bergerak yang ada di kota Rikuruto, kan?
Karena aku pernah melihat hal serupa, mari kita mengalah
lima puluh langkah untuk mencoba memahaminya.
Yang membuatku penasaran adalah bagian di atas tangga
bergerak itu.
Entah kenapa ada rel kereta tambang yang dipasang di
angkasa, dan di sana deretan kereta tanpa masinis melaju kencang dengan suara
gemuruh yang dahsyat.
Aku benar-benar tidak paham.
Meski tidak paham, aku akan berusaha mengalah seratus
langkah untuk memahaminya.
Aku sadar betul usaha ini belum tentu membuahkan
hasil, tapi yang penting adalah usahanya.
Tapi yang paling tidak bisa kupahami adalah adanya
Ogre dan Goblin raksasa di dalam area ini.
Bagaimana cara Kuruto menangkap monster seperti itu?
Lagipula, memangnya ada monster sebesar itu!?
...Eh, tunggu dulu. Kalau dilihat baik-baik, itu juga
cuma replika ya. Tapi buat apa?
"Semuanya, selamat datang!"
"Kuruto, tempat ini sebenarnya apa sih?"
"Ini adalah tempat semacam taman bermain anak-anak
dengan tema Petualang. Aku sedang bingung mau menamainya Theme Park atau Taman
Hiburan, menurutmu bagus yang mana?"
Sumpah, aku benar-benar tidak paham. Untuk sementara,
sepertinya Kuruto menyebutnya "Petualang Land".
Kata Kuruto, ini adalah tempat bermain untuk simulasi
pengalaman menjadi seorang petualang.
Kalau diperhatikan, kostum orang-orang di dalam
boneka itu juga dirancang dengan citra pedang dan tongkat sihir milik
petualang.
"Dulu murid dari kota Rikuruto pernah bilang
kalau di ibu kota itu tempat bermainnya sedikit. Menonton pertarungan di arena
atau sandiwara petualangan di teater tidak terasa seperti sedang bermain bagi
mereka. Lalu anak-anak di ibu kota juga suka bermain pura-pura jadi hewan atau
semacamnya. Jadi aku pikir, kalau ada tempat di mana mereka bisa pura-pura jadi
petualang dengan aman, pasti akan jadi tempat bermain yang luar biasa."
Kuruto mengatakannya dengan wajah yang sangat serius.
"Nah, ayo kita kelilingi semuanya!"
Begitulah, kami mulai berjalan mengelilingi
"Petualang Land" yang serasa milik pribadi ini.
Temanya memang petualang, tapi yang paling membuat
kami penasaran adalah kereta tambang yang melayang di angkasa itu.
"Kuruto-sama, kereta tambang itu untuk apa? Kelihatannya tidak sedang mengangkut barang."
Lise bertanya.
"Ah, itu namanya Wahana Kereta Tambang Cepat.
Keretanya akan mengelilingi Petualang Land dalam rute kecil."
Kuruto menjelaskan.
"Benda yang praktis ya. Berarti
kita tidak perlu capek-capek jalan kaki. Karena letaknya di tempat tinggi,
tidak perlu khawatir menabrak orang yang sedang jalan juga."
Aku tahu soal kereta tambang untuk mengangkut barang di
dalam tambang atau dari gunung ke kaki bukit, tapi aku tidak pernah terpikir
untuk menjadikannya alat transportasi di taman bermain. Apalagi memasangnya di
angkasa, cuma Kuruto yang bisa terpikir hal gila begitu.
"Ah, tidak. Karena keretanya berputar dan kembali ke
posisi semula, benda ini tidak bisa dipakai sebagai alat transportasi."
“““““—?”””””
Aku tidak paham. Apa gunanya kendaraan yang cuma kembali
ke tempat semula?
Karena katanya melihat sekali lebih baik daripada
mendengar seribu kali, kami memutuskan untuk mencoba menaiki Wahana Kereta
Tambang Cepat itu.
Tempat naiknya ada di lereng bukit, sekitar sepuluh menit
berjalan kaki dari gerbang masuk.
Di tengah jalan, ada wahana aneh berbentuk cangkir kopi
raksasa yang berputar-putar (sepertinya dia terinspirasi setelah melihat
cangkir kopi di Mimiko Cafe), dan wahana replika kuda yang cuma berputar
melingkar di atas panggung (sepertinya dia terinspirasi karena mengagumi
petualang yang menunggang kuda).
Sambil merasa kalau Kuruto sepertinya suka sekali dengan
benda yang berputar, akhirnya kami sampai di tempat naik kereta tambang cepat.
Di depan wahana itu ada papan pengumuman yang menuliskan
bahwa orang dengan tinggi badan di bawah 130 cm tidak boleh naik.
"Ini kan tempat main anak-anak, masa anaknya malah
tidak boleh naik?"
"Bukannya tidak boleh, tapi saat aku minta Paman
Urano melihat wujud aslinya, dia bilang 'Ini akan menekan bagian perut, jadi
kurang baik untuk anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Untuk jaga-jaga,
berikan batasan tinggi badan'. Begitu katanya."
Menekan perut? Aku kurang paham, tapi anggap saja ini
sudah mendapat jaminan keamanan dari Urano-san bagi orang di atas 130 cm.
"Jadi, Akuri tunggu di sini sama Papa saja ya."
"Tidak apa-apa, Papa."
Begitu Akuri mengatakannya, dalam sekejap wujudnya
berubah menjadi dewasa.
Bukan ilusi dari pedang Kocho—pedang pencipta
ilusi—tapi ini benar-benar wujud dewasa yang asli.
"Ah, benar juga. Akuri kan bisa bebas mengubah usia
penampilannya. Kalau begitu tidak masalah."
Iya sih, Akuri tidak masalah. Tapi yang lebih penting—
"Bukankah Mimiko juga dalam posisi bahaya?"
"Kurang
ajar ya, Yurishia-chan. Aku tidak sekecil itu tahu... nyaris saja sih."
"Untung saja Michele kita tinggal ya."
Ophelia menyahut. Memang benar, tinggi Michele sepertinya
tidak akan cukup. Ditambah lagi, aku merasa bersyukur Hildegard tidak ada di
sini. Kalau dia ada, pasti Kuruto sudah habis diomeli.
"Nah, ayo kita naik semuanya."
Begitu naik tangga, di sana sudah ada Urano-san.
"Paman Urano! Anda ada di sini!?"
Lise berseru kaget.
"Ya, Kuruto yang memintaku. Aku
dipercaya untuk melakukan modifikasi pada Wahana Kereta Tambang Cepat
ini."
"Begitu ya. Kalau tahu begitu, kami pasti akan
menjemput Anda."
"Hahaha, tugas menyambut itu adalah bagian kami,
staf Petualang Land. Ayo cepat naik, naik. Satu baris maksimal dua orang
ya!"
Atas instruksi Urano-san, kami menaiki kereta
masing-masing.
Lise langsung menarik Kuruto untuk duduk bersebelahan di
depan, sementara aku duduk di belakangnya bersama Akuri.
Mimiko dan Ophelia duduk di belakang kami.
Sebenarnya kapasitasnya 18 orang, tapi dengan
mewahnya kami memulai wahana ini hanya dengan 6 orang.
Tiba-tiba, sebuah batang yang disebut palang pengaman
turun dan mengunci bagian perut kami dengan sempurna.
Inilah tekanan perut yang dimaksud Kuruto tadi, ya.
Katanya ini kereta tambang cepat, tapi anehnya kereta ini
mulai bergerak perlahan dan mendaki rel ke arah atas.
...Hmm? Tunggu sebentar.
"Kuruto, apa cuma Paman Urano yang membantumu di
Petualang Land ini?" aku bertanya pada Kuruto yang ada di depanku.
"Tidak, saat aku pergi untuk berkonsultasi, hampir
seluruh penduduk desa ikut membantu. Lihat, orang-orang yang memakai kostum
boneka di depan tadi juga semuanya penduduk desa kita."
Aku sempat bertanya-tanya dari mana dia menyewa orang
sebanyak itu, ternyata semuanya orang Desa Haste.
Maksudku, eh?
Jadi seluruh penduduk Desa Haste dikerahkan untuk
membangun Petualang Land ini!?
Bukankah ini terlalu over-spec?
Aku punya firasat buruk. Pada saat itulah—kereta yang
sudah mencapai puncak rel tiba-tiba terjun bebas ke bawah.
"APA—!?"
Kecepatannya jauh melampaui kuda balap mana pun. Mungkin
tidak secepat roket saat kami pergi ke bulan, tapi karena aku merasakannya
dengan tubuh telanjang, rasanya jauh lebih cepat dari itu.
Eh, hei, rel itu bukannya aneh!?
"INI BERPUTAR TIGA KALI!? KITA BAKAL JATUH
TAHU!?"
"Prinsipnya sama dengan memutar ember berisi air
tanpa tumpah! Tenang saja!"
"Kuruto-sama, relnya, relnya menghilang!"
"Itu prinsipnya sama dengan tembok benteng
transparan, jadi relnya transparan! Kalian bisa merasakan sensasi menjadi
ksatria yang menunggangi Gryphon!"
"Kuruto-chan, ada api keluar dari replika ular
merah!?"
"Kuruto, dari replika Fenrir di sini keluar badai
salju, lho!"
"Itu semua ilusi yang disiapkan Paman Urano! Cara
kerjanya sama dengan Kocho milik Lise-san, jadi kalian bisa sedikit
merasakan hawa panas dan dinginnya!"
Gila! Benar-benar kacau! Bisa dibilang keajaiban kami
semua tidak ada yang tergigit lidahnya.
Memang benar, kami tidak jatuh meskipun berputar, dan
kami melaju di atas rel yang tidak terlihat. Apinya
memang panas, tapi cuma selevel berada di dekat api unggun. Tidak akan sampai
menyebabkan luka bakar. Badai saljunya pun cuma sedingin musim dingin, malah
terasa sejuk karena kami menerjangnya di musim panas.
Dan hanya dalam waktu tiga menit, kereta ini mengelilingi
rute dan kembali ke posisi semula.
"Akuri, bagaimana? Seru?"
"Sangat dahsyat. Papa memang hebat."
"Syukurlah. Bagaimana dengan yang lain?"
Saat Kuruto bertanya, kami bahkan tidak punya tenaga
untuk menjawab, apalagi untuk berdiri.
Aku ingin duduk saja di sini selama tiga puluh menit
untuk memulihkan kesadaranku.
Tepat saat aku berpikir begitu—
"Hmm? Karena hari ini tidak ada pelanggan lain, apa
kalian mau naik satu putaran lagi?"
Mendengar tawaran Urano-san, kami berempat serentak
langsung berdiri tegak dan buru-buru turun dari kereta.
Setelah turun dan kembali ke tanah, Mimiko bertanya pada Kuruto.
"Hei, Kuruto-chan, ada yang mau kutanyakan."
"Iya, apa itu, Mimiko-san?"
"Kereta tadi itu geraknya pakai apa? Apa bahan
bakarnya tetap tenaga sihir?"
Ah, benar juga.
Kota Rikuruto menggunakan kincir angin dan semacamnya
untuk mengisi tenaga sihir, tapi di sini tidak ada kincir angin sama sekali.
Sebenarnya apa yang dia pakai sebagai sumber energinya?
"Tentu, ini adalah tenaga sihir, tapi aku
menggunakan aliran air untuk menghasilkannya. Kalian lihat gunung di sana? Aku
menarik sumber air yang belum terjamah dari gunung itu, lalu memulihkan tenaga
sihir dari kekuatan airnya."
"Dari sumber air gunung? Tapi dari sini ke gunung
itu jaraknya lebih dari lima puluh kilometer.... Ah, benar juga, ini kan Kuruto-chan."
Mimiko berujar seolah sudah menyerah.
Bagi Kuruto yang punya kemampuan menggali bawah tanah
sejauh tujuh kilometer dalam beberapa jam, atau menggali terowongan dari Kota
Valha sampai ke reruntuhan peradaban Laplace di barat, hal itu bukan apa-apa.
Karena dia punya waktu sebulan, menarik air dari sumber
air di gunung yang jaraknya lima puluh kilometer tentulah perkara sepele.
Meski begitu, sikap Mimiko tampak aneh.
"Ada apa, Mimiko...?"
"Begini, aku terus berpikir bagaimana cara
mengamankan sumber air untuk fasilitas pengolahan limbah Kuruto-chan.
Benar-benar sebulan ini aku memikirkan berbagai cara. Tapi sekarang semuanya
terasa konyol...."
"Ah... jadi begitu."
Mimiko yang sebelumnya bilang tidak ingin meminjam
kekuatan Kuruto, sepertinya menyadari bahwa keputusan itu salah.
Sebagai informasi, jika menggunakan metode yang
dipikirkan Mimiko untuk menarik air pengolahan limbah, biaya konstruksinya saja
akan memakan jutaan koin emas, ditambah pengeluaran tahunan puluhan ribu koin
emas.
Namun berkat saluran air yang ditarik Kuruto sampai ke
sini, biaya konstruksinya hanya puluhan ribu koin emas, dan biaya
pemeliharaannya pun terpangkas drastis.
Artinya, pinjaman sepuluh ribu koin emas yang diberikan
kepada Kuruto tidak hanya sudah balik modal, tapi malah memberikan keuntungan
ratusan kali lipat.
Rasanya si Kuruto ini sudah tidak perlu membayar utangnya
lagi, kan?
Sambil memikirkan hal itu, kami berkeliling melihat
tempat bermain lain yang dibuat Kuruto.
Ada Ship Slide, wahana seluncuran kapal dari
atas bukit yang idenya didapat dari cerita murid-murid tentang seluncuran
pasir.
Ada juga Golem Cart—alias Go-Kart—di mana kami
menaiki kendaraan Golem dan berkeliling rute yang ditentukan, serta Magic
Gun Shooting untuk menembak sasaran menggunakan senjata sihir tanpa daya
hancur.
Semua wahana ini merupakan atraksi yang mustahil,
atau setidaknya sangat sulit direproduksi dengan teknologi sihir saat ini.
Lise mengaguminya dengan tulus, sementara sang ahli
seperti Mimiko dan Ophelia tampak semakin lemas setiap kali menyelesaikan satu
wahana.
Dan akhirnya, kami tiba di atraksi terakhir.
Ini adalah atraksi penutup, sekaligus yang sejak awal
sosoknya sudah terlihat jelas.
Sebuah roda raksasa yang berputar, dengan kotak-kotak
putih imut berjendela yang terpasang di bagian lingkar luarnya.
Sepertinya ini adalah satu-satunya kendaraan yang mungkin
bisa direproduksi, di mana kita naik ke dalam kotak dan menikmati pemandangan
luar dari jendela....
Hanya saja, fakta bahwa tingginya mencapai seratus
meter—lebih tinggi dari puncak kastil kerajaan di ibu kota—tetaplah tidak
normal.
"Ah, Yurishia-chan, Lise-sama, sepertinya ini untuk
kapasitas empat orang. Kami berdua istirahat saja ya kali ini."
"Iya, sejujurnya aku sudah lelah."
Ophelia mengangguk setuju pada perkataan Mimiko.
Sepertinya mereka berdua memutuskan untuk beristirahat.
"Kalau begitu, mari kita naik bertiga."
Begitu aku mengusulkan, entah kenapa Akuri juga
menggelengkan kepala.
"Mama Yuri, aku juga sedikit lelah jadi mau ikut
istirahat saja."
Dia kembali ke wujud anak-anak dan duduk manis di
atas bangku.
Yah, Akuri sudah terbiasa melihat pemandangan dari
tempat tinggi di atas menara, jadi mungkin dia tidak merasa perlu repot-repot
naik.
Alhasil, aku, Kuruto, dan Lise yang akhirnya naik.
Kami masuk saat salah satu kotak tiba di titik paling
bawah.
Kotaknya tidak berhenti, tapi karena gerakannya sangat
lambat, kami bisa naik sambil tetap berjalan.
Kuruto masuk pertama, diikuti Lise, lalu aku.
Bagian dalamnya sempit seperti kelihatannya, jika dinaiki
empat orang dewasa pasti akan terasa agak sesak.
Lise mencoba duduk di sebelah Kuruto tanpa ragu, tapi—
"Lise-san dan Yurishia-san, silakan duduk di
sini."
Kuruto mengarahkan Lise dan aku untuk duduk berdampingan.
Ini tindakan yang jarang bagi Kuruto yang biasanya hanya
pasrah saat Lise duduk di sisinya, tapi Lise duduk di depan Kuruto tanpa
menolak.
Sementara itu, pintu kotak tertutup, dan kotak yang kami
tumpangi perlahan mulai naik.
"Pemandangan dari sini pun luar biasa ya. Tempat ini
bisa jadi spot kencan yang mengubah bukit indah di ibu kota."
Seperti biasa, kepala Lise penuh dengan urusan asmara.
Meski begitu, memang benar pemandangan ini menyentuh
perasaan.
Pasti luar biasa jika bisa melihat pemandangan seperti
ini bersama orang yang disukai.
"Kuruto, wahana-wahana tadi semuanya bertema
aktivitas petualang, tapi kalau yang ini tema petualangan seperti apa?"
"Bukan, hanya yang satu ini yang temanya bukan
petualangan. Lise-san, apa kamu ingat benda yang kamu berikan sebulan
lalu?"
Benda yang ditunjukkan Kuruto adalah panduan perjalanan
yang disiapkan Lise untuk membuat Kuruto berkeliling ibu kota dengan dalih
mencari target investasi.
Di dalamnya, Lise yang berfantasi kencan dengan Kuruto
telah memasukkan berbagai destinasi kencan ideal.
"Aku juga sudah menyelidikinya, dan ternyata bukit
dengan pemandangan indah di ibu kota itu sangat terkenal sebagai tempat kencan,
persis seperti yang tertulis di panduan ini. Katanya, menyatakan cinta kepada
orang yang disukai di sana adalah situasi terbaik bagi penduduk ibu kota."
"Ah, begitu ya. Jadi maksudnya, Kuruto ingin
memanfaatkan kepopuleran itu dan membuat tempat kencan baru. Masuk akal, dengan begitu pengunjung Petualang Land pasti akan
bertambah."
"Bukan begitu!"
Kuruto membantah dengan suara yang sedikit keras.
"Aku malu mengatakannya pada Mimiko-san dan yang
lain.... Meski aku bilang Petualang Land ini tempat bermain anak-anak,
sebenarnya semuanya kubuat demi keegoisanku sendiri. Memang awalnya aku ingin
membantu murid-murid yang tidak punya tempat bermain di ibu kota. Tapi jujur
saja, aku yang gagal jadi petualang ini setidaknya ingin merasakan menjadi
petualang meski hanya dalam permainan—"
Kuruto mengatakannya dengan wajah yang tampak malu.
Kuruto yang meninggalkan desa karena mengagumi petualang,
nyawanya diselamatkan oleh Golnova yang seorang petualang, membuat kekagumannya
semakin kuat.
Namun, dia diusir dari party Golnova, Flame
Dragon Fang, dan akhirnya terpaksa menyerah menjadi petualang.
Wujud dari mimpi yang masih tersisa dalam diri Kuruto
mungkin adalah Petualang Land ini.
"Tapi, hanya wahana ini yang berbeda.... Kalian
berdua, tolong lihat ke luar jendela."
Ujar Kuruto.
Tanpa sadar, karena kami sudah bermain cukup lama,
matahari di langit barat sudah mulai condong, mewarnai ibu kota di sebelah
timur dengan warna emas.
Pemandangan yang sangat indah itu membuatku lupa pada
alur pembicaraan tadi dan terpaku menatapnya.
"Indah sekali...."
"Iya.... Cantik banget...."
Aku dan Lise bergumam dengan suara pelan.
Di saat itulah—
"Aku menyukai kalian!"
““Eh?””
"Aku juga menyukai kalian berdua, Yurishia-san dan Lise-san.
Selama ini aku menganggap kalian sebagai rekan satu bengkel, tapi setelah
kalian menyatakan cinta dan aku terus memikirkannya, sekarang aku akan
mengatakannya. Aku mencintai kalian berdua."
Aku tidak bisa menjawab.
Ah, jadi begitu ya.
Satu-satunya wahana di Petualang Land ini yang melenceng
dari tema petualang.
Untuk apa sebenarnya Kuruto membangun ini?
—Dia membangunnya demi menjawab pernyataan cinta kami.
Dasar laki-laki ini.
Hanya untuk menjawab pernyataan cinta saja, dia sampai
membangun bangunan yang jauh lebih tinggi daripada kastil kerajaan.
Lalu aku tersadar. Hal yang tidak kusadari, ternyata
sudah disadari lebih dulu oleh Akuri.
Itulah sebabnya anak itu—anak sangat cerdas yang menyebut
dirinya Great Sage itu—menolak ikut naik karena tahu diri.
Perasaanku meluap, dan dengan susah payah aku
mengeluarkan suara.
"Kuruto, aku juga—"
"Aku juga mencintaimu! Kapan kita akan mengadakan
upacaranya? Ah, bagaimana kalau tiga kali; di Ibu Kota, Valha, dan Desa Haste?
Tentu saja aku akan menyiapkan tiga gaun pengantin! Dua untukku dan satu untuk Kuruto-sama!
Ah, katanya di dunia Timur ada tradisi ganti baju pengantin, jadi mari siapkan
enam untukku dan tiga untuk Kuruto-sama!"
"Hei, tunggu! Bicaramu melompat terlalu jauh! Aku
setuju-setuju saja menyiapkan gaun pengantin untuk Kuruto, tapi berikan aku
waktu untuk menikmati suasana pernyataan cinta ini—ah, sudahlah, semuanya jadi
berantakan!"
"Eh!? Tunggu dulu, aku tidak akan memakainya! Gaun
pengantin itu!?"
Yah, kurasa itu mustahil ditolak.
Bagaimanapun, klub penggemar Kurumi-chan—Kuruto versi
menyamar jadi perempuan—sudah menembus sampai ke dalam kastil kerajaan, dan
orang-orang yang datang ke pernikahan pasti menantikan Kuruto memakai gaun
pengantin.
"Lalu, soal itu, bisakah pernikahan kita ditunda
sebentar lagi?"
““Ditunda?””
Kenapa harus ditunda?
"Kuruto-sama, kamu bilang kamu mencintaiku,
dan—sebagai tambahan—mencintai Yurishia-san juga, kan?"
"Iya....
Ah... Benar."
"Tolong katakan sekali lagi dengan jelas."
"Aku mencintai kalian berdua."
"Sebutkan nama kami satu-satu. Mulai dariku
dulu—"
"Aku mencintai Lise-san."
"Lalu yah, untuk Yuri-san juga."
"Aku mencintai Yurishia-san."
Lise mengangguk puas, lalu menarik sarung pedang Kocho
dan mengangkatnya.
Seketika, ilusi Kuruto muncul.
"Aku mencintai Lise-san."
Ilusi itu mengucapkan kata-kata yang sama persis dengan
tadi.
"Eh? Lise-san, ini apa!?"
Kuruto bertanya dengan kaget.
"Iya, demi saat Kuruto-sama menyatakan cinta padaku,
aku sudah meminta Paman Urano untuk memasang fungsi perekaman pada Kocho.
Pernyataan cinta pertama tadi mendadak jadi aku gagal merekamnya, tapi sekarang
aku sudah puas."
Setelah berkata begitu, Lise kembali mengangkat Kocho—
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Yurishia-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
"Aku mencintai Lise-san."
Kuruto mulai melakukan pemutaran ulang tanpa henti.
"He-hentikan, Lise-san. Ini memalukan."
"Benar, Lise! Cepat berhentikan atau Kuruto akan
menangis, lho."
Namaku cuma disebut sekali... Nanti setelah pulang, aku
akan minta dia memutarkannya beberapa kali lagi untukku.
Namun, aku benar-benar tidak menyangka akan mendapat
jawaban pernyataan cinta yang seserius itu dari Kuruto.
Tadinya aku mengira dia akan merendah secara berlebihan
dan mengelak dengan kalimat seperti, "Orang sepertiku tidak pantas
menikahi kalian berdua—" atau semacamnya.
—Begitu turun nanti, aku akan memamerkan hal ini pada
Mimiko.
"Lalu, Kuruto-sama, kenapa kita harus menunggu untuk
mengadakan upacara pernikahan?"
Saat Lise bertanya, Kuruto menjawab dengan raut wajah
penuh rasa bersalah.
"Melihat pemilik kedai kari itu membuatku berpikir.
Jika ingin membangun keluarga dengan benar, masalah keuangan harus diselesaikan
dengan tuntas."
"Kalian berdua mungkin sudah tahu, tapi saat ini aku
memiliki utang sebesar sepuluh ribu koin emas. Tidak, karena sudah lewat
sebulan, jumlahnya pasti bertambah jika menghitung bunganya."
"Jadi, bisakah pernikahan kita menunggu sampai aku
melunasi seluruh utang itu? Aku berjanji akan melunasinya dalam waktu sepuluh
tahun!"
"Tunggu sebentar, Kuruto-sama. Anda bilang utang, tapi sebenarnya uang di bank itu—"
"Tunggu, Lise!"
Aku segera membekap mulut Lise agar dia diam, lalu
berbisik di telinganya supaya tidak terdengar oleh Kuruto.
"Kalau kamu berani membongkar bahwa uang di bank
itu sebenarnya milik Kuruto, dia bisa jatuh pingsan karena syok, tahu."
"Hah!? Kalau itu sampai terjadi, ingatan indah saat
dia menyatakan cinta pada kita juga akan—"
"Lenyap total. Untuk sekarang, ikuti saja alur
bicaranya."
Aku pun sebenarnya ingin segera menikah dengan Kuruto.
Benar-benar ingin menikah, dan aku juga ingin melihat Kuruto
dalam balutan gaun pengantin, tapi aku harus menahannya sekuat tenaga.
Yah, dalam dokumen rencana pelunasan milik Kuruto, jumlah
pengunjung tempat ini ditetapkan sebanyak lima ratus orang per hari.
Biaya masuknya lima puluh koin tembaga untuk dewasa, dan
dua puluh koin tembaga untuk anak-anak di atas enam tahun.
Setelah dipotong gaji karyawan serta biaya pemeliharaan
fasilitas, keuntungannya sangat tipis, dan tertulis butuh waktu delapan tahun
untuk melunasi sepuluh ribu koin emas—tapi kenyataannya, kalau melihat tempat
ini, jumlah pengunjungnya pasti jauh melampaui lima ratus orang.
"Aku akan membangun penginapan untuk turis yang
bekerja sama dengan Petualang Land di dekat sini, lalu mempertimbangkan
pengembangan merchandise... Memanfaatkan lahan di sekitar
Petualang Land untuk rute penerbangan kapal terbang reguler—"
"Benar juga, jika menerapkan prinsip Wahana
Kereta Tambang Cepat untuk menyiapkan kendaraan yang menghubungkan ibu kota
dengan kota lain, itu bisa menjadi sarana transportasi baru... Ufufu, inilah
yang disebut dukungan istri yang hebat."
Lise yang bergumam pelan itu pun tampaknya sangat
kooperatif dalam membantu pelunasan utang Kuruto.
Jika begini terus, utang sepuluh ribu koin emas itu
pasti bisa lunas 'dengan cara resmi' dalam waktu kurang dari satu tahun.
Kalau begitu, untuk sementara, bersikap bukan sebagai
pasangan suami istri melainkan sebagai sepasang kekasih juga—sebagai kekasih,
ya.
"Uhehehe."
"Ufufufu."
"Anu, kalian berdua, apa kalian baik-baik
saja?"
Sambil mengabaikan Kuruto yang tampak khawatir, kotak
yang mengangkut kami bertiga perlahan mendekati permukaan tanah.
Setelah itu, Petualang Land melakukan perekrutan staf
secara besar-besaran—karena tidak mungkin terus mempekerjakan orang-orang Desa Haste
selamanya.
Satu bulan kemudian, diadakan pre-opening
khusus untuk tamu undangan, dan satu minggu setelahnya barulah dibuka secara
resmi.
Jumlah pengunjung setelah pembukaan resmi menembus
angka lima ratus ribu orang bahkan sebelum genap satu bulan.
Pengoperasian Kereta Magis—yang merupakan versi
modifikasi dari Wahana Kereta Tambang Cepat dalam hal kenyamanan dan kapasitas
penumpang—mulai dijalankan antara ibu kota, kota-kota sekitar, hingga negara
tetangga.
Berkat itu, jumlah pengunjung diperkirakan akan semakin
melonjak.
Selain itu, wahana terakhir yang kami naiki tadinya
hampir dinamai "Love Box" atas usul Lise... Namun, karena nama itu
akan membuat keluarga atau teman selain pasangan kekasih merasa sungkan untuk
naik, akhirnya wahana itu dinamai Bianglala.
Meskipun begitu, tempat itu tetap menjadi buah bibir di
ibu kota sebagai lokasi baru bagi para pasangan untuk menyatakan cinta, dan
slogan 'Nyatakan cintamu di Petualang Land!' menjadi tren di kalangan anak
muda.
Omong-omong, karena merahasiakan teknologi Petualang Land
hanya akan mengundang orang-orang yang mencoba mencurinya, Mimiko mematenkan
semua hal yang bisa dia pahami lalu mempublikasikannya agar bisa dilihat oleh
siapa saja.
Demi mencuri teknologi yang tidak bisa dipahami Mimiko,
setiap hari ada ratusan agen rahasia yang datang berkunjung.
Namun, mereka semua ditangkap oleh Phantom dan setelah
menjalani cuci o—maksudku, pendidikan, mereka terlahir kembali sebagai staf
Petualang Land yang hebat.
Katanya hal ini membuat biaya operasional menjadi sangat
murah.
Padahal teknologi yang tidak bisa dipahami Mimiko mana
mungkin bisa dipahami oleh agen rahasia yang cuma ahli menyusup.
Sepertinya sepuluh ribu koin emas itu akan lunas lebih
cepat dari yang kukira.
"Hei,
Yurishia-chan, bisa bicara sebentar?"
"Ada
apa, Mimiko?"
"Dari
pendapatan fasilitas terkait Petualang Land dan keuntungan royalti paten, aset
pribadi Kuruto-chan bertambah tiga puluh persen—"
"......Eh?"
"Apalagi,
royalti dari Kereta Magis yang akan mulai beroperasi tahun depan juga akan
masuk ke rekening Kuruto-chan. Bagaimana menurutmu?"
Mana mungkin aku tahu jawabannya.
Dengan begini, dana terpendam Kuruto pun terus membengkak
semakin besar.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment