Penerjemah: Nels
Proffreader: Nels
Chapter 5
Kemungkinan
Gerombolan besar Iblis Tingkat Menengah mendekat sambil menimbulkan suara gemuruh tanah.
Di belakang mereka, terlihat sosok pria yang berjalan dengan tenang sambil menyunggingkan senyum sinis—'Antitesis Buangan No. IV' Charle.
"Biar aku yang bereskan Iblis Tingkat Menengah. Jadi, Yulia fokus ke Charle saja."
Menanggapi usulan Shion, Yulia menggelengkan kepala tanpa ragu.
"Tidak perlu. Semuanya aku yang lawan. Aku sudah lari terus-terusan, kan. Aku ingin membereskan semuanya sekaligus di sini."
Dalam nada suaranya merembes rasa kesal yang menumpuk selama beberapa hari pelarian. Sangat mudah dipahami bahwa dia berniat melampiaskan kekesalan itu di sini.
"...Benar-benar tidak apa-apa?"
Shion bertanya dengan cemas. Wajar saja, Yulia baru saja bangun tidur.
"Tidak apa-apa kok. Tapi, boleh serahkan orang itu padamu?"
Pandangan Yulia tidak tertuju pada gerombolan Iblis Tingkat Menengah, melainkan pada satu Iblis Tingkat Atas yang masih diam membisu.
"Oke. Kalau begitu, biar aku yang menghadapi dia—"
Saat Shion hendak menjawab begitu, sebuah tangan diletakkan lembut di bahunya.
"Itu adalah 'Antitesis Buangan No. II' Dovie. Kurasa dia lawan yang agak berat buatmu sekarang."
Lilith berkata dengan nada tenang. Mendengar itu, Shion mengerutkan kening tampak tidak terima.
"Mu... begitu ya?"
"Ya. Karena itu, serahkan bagian ini padaku."
Shion tidak bisa membantah perkataan Lilith yang memiliki pengetahuan tentang 'Antitesis Buangan' lebih dari siapa pun.
Meski dengan enggan, dia menerima perkataan itu dan mundur selangkah.
"...Baiklah. Kali ini aku akan mengawasi sebagai penonton saja."
Meski memasang ekspresi kesal, Shion mengakui ketidakmatangannya sendiri dan menghindari kebodohan memaksakan diri bertarung. Pengalaman selama ini telah memberinya pelajaran bahwa hal itu bisa berakibat fatal.
"Aku harus jadi lebih kuat..."
Memang ada rasa pertumbuhan yang pasti saat berburu berulang kali bersama Ars.
Namun, itu masih jauh dari menjangkau Lilith dan yang lainnya.
Fakta bahwa dia belum menguasai "Heavenly Domain Expansion" menunjukkan dengan jelas perbedaan antara dirinya dan Lilith.
Sementara Shion menghadapi dirinya sendiri, Yulia mengangkat senjatanya dengan ekspresi terpesona. Dia bergumam sambil menatap lekat pola yang muncul di bilah pedangnya.
"Sudah tidak perlu menahan diri lagi, ya."
Melihat keadaan itu, Shion tanpa sadar mundur. Kekuatan dahsyat yang tersembunyi dalam diri Yulia dan emosi yang selama ini ditekan, kini baru saja akan dilepaskan.
Yang akan dimulai setelah ini bukanlah pertarungan.
Melainkan perjamuan bela diri tanpa ampun yang ditenun oleh bakat yang luar biasa.
"——'Lightspeed, Eclair'."
Bersamaan dengan suara itu, sosok Yulia lenyap.
Seketika, yang bergema di medan perang adalah jeritan kematian.
Lengan yang ditebas putus satu demi satu, pergelangan tangan yang dipelintir hancur, dan tulang leher yang dipatahkan begitu saja.
Tak terhitung banyaknya nyawa yang dilumpuhkan dan disebarkan dalam sekejap mata.
Tidak ada yang bisa melawan.
Bagaimana cara mengarahkan pedang pada lawan yang sosoknya saja tidak terlihat?
Cipratan darah membelah udara, kepala-kepala melayang di angkasa.
Pemandangan itu membuat medan perang tertelan ke dalam pusaran kekacauan dalam sekejap.
Sosok musuh tidak ada di mana pun. Namun, rekan-rekan mereka kehilangan nyawa satu demi satu layaknya bunga yang gugur.
Ketakutan menggerogoti semangat tempur, keputusasaan menyelimuti hati.
Ini hanyalah adegan di mana yang kuat mempermainkan yang lemah.
Benar-benar——sebuah pembantaian.
"Apa... ini sebenarnya Gift macam apa...!"
Melihat sosok Iblis Tingkat Menengah yang tumbang mengenaskan satu per satu, 'Antitesis Buangan No. IV' Charle menjadi panik.
Di sisi lain, 'Antitesis Buangan No. II' Dovie yang tadinya mempertahankan keheningan yang menyeramkan pun, tanpa sadar membelalakkan mata dengan ekspresi tercengang.
"Benar-benar Gift yang mengerikan, ya. Saat pertama kali melihatnya, sebagian besar orang akan mati tanpa bisa berbuat apa-apa."
Saat Lilith bergumam tenang, Shion bereaksi.
"Ars pernah bilang. Untuk menaklukkan Gift [Light], prediksi dan pembacaan gerak itu penting. Selain itu, Gift sejenis manipulasi ruang adalah kelemahannya—"
"Waduh, tidak apa-apa mengatakannya? Bukannya itu bisa jadi kelemahannya Yulia?"
Mendengar teguran Lilith, mata Shion bergerak gelisah seolah panik.
"...Tolong diam saja ya."
"Tenang saja. Aku tidak berniat mengumbarnya ke siapa pun kok."
"Ma-makasih. Tolong ya."
Saat Shion menghela napas lega, Iblis Tingkat Menengah terakhir jatuh ke tanah.
Kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata.
Gerombolan besar Iblis Tingkat Menengah yang dipimpin Charle dan rekannya musnah total tanpa bisa berbuat apa-apa.
"...Jangan bercanda!"
Charle yang gemetar karena marah memerah wajahnya dan mengambil kuda-kuda.
Namun di matanya ada keraguan yang jelas.
Sebab sosok Yulia tidak ada di mana pun.
Keputusasaan macam apa yang dirasakan saat nyawa direbut bahkan tanpa bisa melihat sosok lawan.
Hanya mayat mereka yang nyawanya direnggut tanpa ampun yang tergeletak diam di jalan.
Dia tidak ingin memperlihatkan sosok menyedihkan seperti itu. Emosi itulah yang ada di mata Charle.
"Tapak kuda waktu yang berlari di kehampaan, roda gigi kapur yang hancur berkeping-keping. Penjara keheningan tanpa akhir, gelombang waktu yang bergolak. Meteor yang menolak stagnasi."
Mantramu yang ditenun dari mulut Charle bergema.
Bersamaan dengan itu, Mana dalam jumlah besar meluap dari tubuhnya.
Langit tertutup awan gelap, udara di sekitar berubah total.
Melihat itu, siapa pun sadar.
——Itu adalah mantra untuk mencapai Heavenly Domain Expansion.
Namun, Charle tidak bisa menyelesaikan mantra itu sampai akhir.
"Heavenly Domain Expansion—kah!?"
Di saat mantra terputus, Charle ambruk ke tanah.
Dari celah jari-jarinya yang menekan leher dengan tangan gemetar, darah segar meluap membasahi bumi. Sosok tak berdaya itu ditatap ke bawah dengan mata dingin oleh Yulia.
"——Bukankah sudah saya bilang, saya tidak akan membiarkan Anda melakukan apa pun?"
Mendengar kata-kata itu, Charle mengangkat wajah dengan gemetar.
Matanya telah sepenuhnya diwarnai oleh ketakutan.
Charle terlahir sebagai monster yang kuat sejak lahir, dan telah menumpuk kemenangan demi kemenangan di 'Lost Land' yang dikuasai hukum rimba.
Bagi dia yang kemudian menerima berkah lebih lanjut dan berevolusi menjadi Iblis, kekalahan kali ini adalah sensasi yang tak dikenal.
Tunduk pada ketidakrasionalan adalah hal yang belum pernah dia alami sebelumnya.
Sebab, biasanya dialah yang berada di pihak yang memberikan ketidakrasionalan itu.
"Kh... a... i..."
Charle berusaha mati-matian untuk menyampaikan sesuatu.
Namun, karena tenggorokannya tertebas, suaranya hanya bisa terucap putus-putus.
"Apakah itu memohon nyawa? Atau puisi kematian atau semacamnya?"
Yulia memiringkan kepala, bertanya dengan heran.
Nada suaranya sepolos anak kecil yang melontarkan pertanyaan karena penasaran.
"Yang mana pun itu, Anda tetap akan mati, kok."
Meninggalkan kata-kata datar itu, Yulia mengayunkan lengannya tanpa ampun.
Seketika, kepala 'Antitesis Buangan No. IV' Charle melayang di udara, lalu menggelinding di tanah dengan suara tumpul.
Melihat drama pembantaian yang mutlak itu, baik kawan maupun lawan kehilangan suara.
Medan perang dikuasai oleh keheningan.
*
Menatap punggung gadis perak itu, Lilith tanpa sadar gemetar.
Serangan tanpa ampun, niat membunuh yang membuang segala belas kasih——dia tidak menyangka akan semengerikan ini.
Yang tersisa sebagai jejak pertarungan adalah keheningan dingin yang menusuk kulit.
Meskipun selanjutnya adalah gilirannya bertarung, entah kenapa Lilith merasa takut untuk memecahkan keheningan ini.
Tapi, dia adalah Ratu. Dia meyakinkan dirinya sendiri demikian, mengumpulkan keberanian dan melangkah maju.
Saat itu, anehnya, dia merasa seolah waktu yang tadinya membeku kembali bergerak.
"Nah, sisanya——tinggal kau seorang, ya."
Lilith berjalan mendekati Dovie, menyunggingkan senyum provokatif.
"Benar-benar menyedihkan. Sebagian besar 'Antitesis Buangan' sudah habis."
"Turut berduka cita. Tapi, aku juga bersimpati, lho. Kalau lawannya dia sih——"
Memutus kata-katanya, Lilith melirik sekilas ke arah Yulia, lalu kembali menatap Dovie.
"Bagi 'Antitesis Buangan No. IV', kekuatannya jelas kurang."
"Hmph, melihat pertarungan barusan, aku tidak bisa menyangkalnya."
Dovie mengangkat bahu seolah mencemooh.
"Jadi, gadis kecil sepertimu yang akan menjadi lawanku?"
"Ya. Mahkota Kedua 12 Supreme Mage Kings——Lilith."
Saat Lilith menyebutkan namanya dengan lantang, alis Dovie sedikit bergerak.
"Hoh... Demon Lord, ya? Ngomong-ngomong, ada guild yang mengganggu saat kami menyerang 'Helheim'. Apa kau pemimpin di sana?"
"Benar. Aku menjabat sebagai Guild Master dari <Guild Weltschmerz>."
"Manusia... dan Demon Lord dari guild yang berafiliasi dengan Asosiasi Sihir bekerja sama dengan Iblis, sungguh cerita yang terlalu nyaman, ya."
"Ara, ada masalah?"
"Tidak, hanya hal sepele. Kalaupun ada masalah——cuma satu."
'Antitesis Buangan No. II' mengambil kapak raksasa yang diletakkan di sampingnya, lalu memanggulnya di bahu dengan santai.
"Apakah gadis kecil sepertimu punya kualifikasi untuk menantangku atau tidak. Hanya itu satu-satunya."
Penampilan Dovie benar-benar seperti pria tua.
Rambut putih dan wajah penuh luka. Namun, tubuhnya yang terlatih sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penuaan.
Dua tanduk yang tumbuh dari dahinya——salah satunya patah, namun itu justru terlihat seperti lencana dari banyak pertempuran.
Penampilannya yang garang dan berwibawa memiliki aura yang hanya dimiliki oleh mereka yang menyimpan kekuatan sejati.
"Sombong sekali, ya."
Meski tersenyum masam, Lilith tidak menyangkalnya.
Sebab Dovie memang memiliki kekuatan yang mengizinkannya bersikap demikian.
Julukan "Raja Area Tinggi" yang dimilikinya saat masih menjadi monster adalah buktinya.
Agar monster bisa berevolusi menjadi Iblis, mereka harus menjadi eksistensi yang tidak mengenal kekalahan.
Hanya mereka yang selalu meraih kemenanganlah yang mendapatkan hak evolusi tersebut.
Para monster mengasah kekuatan mereka demi mencari wilayah kekuasaan yang memiliki Miasma pekat.
Mereka memangsa monster lain, terus bertarung sambil membantai manusia yang merambah masuk ke Area Tinggi.
Mereka yang berhasil mencapai ujung dari perjuangan itulah yang menjadi eksistensi seperti Dovie, Iblis Tingkat Atas.
"Bagiku hal itu diizinkan. Aku memiliki kemampuan yang pantas untuk itu."
Dalam suara Dovie, merembes kepercayaan diri yang tak tergoyahkan.
Namun, hanya karena menjadi Iblis Tingkat Atas, bukan berarti segalanya berjalan sesuai keinginan.
Faktanya, bahkan Dovie yang dulunya dijuluki "Raja Area Tinggi", telah mengukir sejarah kekalahan setelah berevolusi menjadi Iblis Tingkat Atas.
Evolusi dari monster menjadi Iblis membawa perasaan maha kuasa karena kekuatan dahsyat yang didapatkannya.
Karena itu, Iblis yang baru berevolusi cenderung suka berperang, mungkin karena naluri mereka masih tertinggal pekat.
Mereka menantang siapa saja tanpa pandang bulu, dan mengulang pertarungan nekat.
Dovie pun bukan pengecualian.
Segera setelah berevolusi, dia merambah dari Area Tinggi ke Area Dalam, dan di sanalah dia mengenal rasa sakit dari kekalahan.
Dalam kondisi luka parah dan nyawa terancam, yang menyelamatkannya adalah Ratu Hel.
Namun, sebagai ganti perlindungan itu, dia diberikan kalung leher bernama 'Subjugation'.
Setelah itu, dia berulang kali memberontak melawan Ratu Hel, dan akibatnya dia diasingkan ke 'Wilayah Luar' sebagai 'Antitesis Buangan'.
Di sana, Dovie sempat berkuasa sementara sebagai "Raja" dari 'Antitesis Buangan', namun kekuasaan itu tidak berlangsung lama. Kemunculan 'Antitesis Buangan No. I' Hajarl saat ini mengakhiri kejayaan singkatnya. Meski begitu, hati Dovie tidak patah, dan sampai sekarang dia masih terus mengincar kesempatan untuk merebut kembali takhta "Raja" dengan penuh nafsu.
"Karena itu, buktikanlah. Tunjukkan apakah kau memiliki kemampuan yang cukup untuk menantang 'Raja' ini."
"Fufu, baiklah. Kalau begitu, akan saya buktikan bahwa saya punya kualifikasi itu."
Lilith menyatakan dengan dingin, lalu memasang kuda-kuda bawah dengan senjata andalannya, pedang berantai snake-belly.
Bagaikan ditarik gravitasi, bilahnya menjuntai perlahan ke tanah.
"Hoh... Heavenly Domain Expansion, ya."
Merasakan Mana Lilith yang membengkak, mata Dovie membelalak tertarik.
"Ya. Ini cukup sebagai kualifikasi, bukan?"
Mana dalam jumlah besar mengalir ke seluruh tubuh Lilith, dan pedang snake-belly mulai memancarkan cahaya redup.
Kemudian, bilahnya merayap di tanah layaknya ular, menggeliat di bawah kakinya.
"Aah penyesalan berkelana... Aah dendam kepahitan kedengkian... Aah keputusasaan dan ketakutan."
Alam membusuk, udara menjadi keruh, dan ruang itu sendiri tererosi.
"Layu habis, musnah, lapuk habis, hilang, lenyap habis, sirna... Yang melayang di celah adalah jeritan kematian."
Itu lebih tepat disebut kutukan daripada mantra doa.
Sesuatu yang mengutuk segalanya hingga habis, dan mengembalikan segalanya menjadi ketiadaan.
"Heavenly Domain Expansion—— ‘Silent Frenzied Bones, Hades'."
Langit menjadi keruh, dan dari angkasa yang diwarnai niat jahat, lumpur hitam turun bagaikan air mata.
Pedang snake-belly merayap di sekitar kaki Lilith benar-benar seperti ular, bagian sambungan bilahnya memainkan suara yang menyakitkan telinga bagaikan jeritan.
Di bawah kaki Lilith—rerumputan liar yang tumbuh di celah jalan batu layu dalam sekejap mata.
Yang hidup menyambut kematian, tanaman yang layu dihancurkan oleh ancaman baru.
Yang mekar seolah memperlebar celah bunga-bunga yang layu itu adalah Bunga Lycoris.
Kelopak merah tua selayaknya darah. Ujungnya terbelah halus, memancarkan atmosfer yang fana.
Wujudnya fantastis, memancarkan keindahan yang membuat siapa pun yang melihatnya merasakan keharuan mendalam.
"Ini belum berakhir, lho. Yulia-san sudah memperlihatkan perbedaan kekuatan yang begitu mutlak. Kalau saya tidak memperlihatkan kekuatan yang sebanding, tidak akan menarik, kan?"
Lilith mengucapkan kata-kata itu dengan tenang, lalu perlahan merentangkan kedua lengannya.
Saat itu juga, angin kencang bertiup, dan kelopak bunga merah menutupi sekitarnya.
Tak terhitung banyaknya kelopak bunga terbang berputar seperti pusaran, menutupi pandangan.
"Di sana tengkorak, di sini mahkota. Sejengkal di depan adalah roh, setapak di depan mengundang kematian."
Langit runtuh seolah meleleh, bumi membusuk dan memancarkan bau busuk yang menusuk hidung.
Lumpur hitam turun menjadi hujan, kekacauan dan kehancuran menutupi langit sepenuhnya.
"Orang suci ke dunia bawah, orang mati ke dunia ini. Aku menjadi Dewa, membenci kehidupan, mencintai kematian."
Terakhir, Lilith menyunggingkan senyum kelam dan memiringkan kepalanya.
"Raja Orang Mati——Snake-Belly Mad Bones Enma: Osiris."
Tanah retak hebat, dan yang pertama muncul dari celah itu adalah tangan tulang raksasa.
Selanjutnya yang menampakkan diri adalah kepala manusia, dada, pinggang——itu adalah "sesuatu" yang mengerikan, seolah kerangka raksasa telah mengambil wujud.
Suara tulang bergesekan dengan tulang memekakkan telinga, menggetarkan gendang telinga.
Tak terhitung banyaknya kerangka saling menjalin, menggeliat sebagai satu makhluk raksasa.
Dari rongga mata yang tanpa daging dan kulit, cahaya merah bersinar mengerikan, tatapan dinginnya membekukan jantung siapa pun yang melihatnya.
Setiap kali tangan tulang raksasa menghantam tanah, bumi berguncang, dan bangunan di sekitarnya runtuh satu demi satu.
Mulut yang mengingatkan pada jurang kegelapan terbuka, suara erangan mengerikan bergema seolah menggetarkan atmosfer.
Di sekitarnya dipenuhi hawa kematian yang pekat, kehidupan menjadi takut, satu per satu menyusut dan layu.
Makhluk itu, hanya dengan keberadaannya saja membangkitkan ketakutan, menebarkan keputusasaan kepada semua yang melihatnya.
"Mari kita mulai."
Saat Lilith tersenyum anggun, yang muncul seolah memancar dari tanah di kakinya adalah kerangka tulang.
Tapi, itu tidak berakhir dengan satu ekor saja.
Dua, tiga, delapan, tiga belas——tanpa tanda-tanda berhenti, jumlahnya terus bertambah.
Mereka memiliki wujud yang sama dengan Raja Orang Mati, di antaranya ada yang tengkoraknya pecah atau tulangnya bengkok.
"Umu. Mengagumkan. Kalau begitu, aku juga harus memperlihatkan keseriusanku."
Meskipun diperlihatkan kekuatan yang luar biasa, tidak ada kegoyahan pada Dovie.
"Raungan sepuluh ribu suara, terlahir dari debu, kerumunan seribu pedang sepuluh ribu panah."
Mana dalam jumlah yang sangat besar meluap dari tubuh Dovie.
Seketika itu, suara drum yang berat bergema entah dari mana.
Seolah menjawab suara itu, langit menjatuhkan petir dan angin bergolak di bumi.
"Bayangan yang berkumpul, suara yang menari. Bergemalah, bergemuruhlah, pujilah namaku."
Sepatu bot militer menghentak bumi, teriakan perang membahana.
"Heavenly Domain Expansion——'Thousand Shadows, Myriad Voices: Ganesha'."
Di belakang Dovie, sebuah takhta yang bersinar keemasan tiba-tiba muncul.
Saat dia duduk dengan gagah di takhta itu, berbagai monster mulai menampakkan diri di sekitarnya.
Selanjutnya, mulai dari Iblis Tingkat Menengah hingga Iblis Tingkat Atas, satu per satu berkumpul di tempat itu.
Mereka mengenakan zirah mencolok, sosok mereka yang berbaris rapi benar-benar menunjukkan rupa pasukan besar.
"Musnahkan!"
"Lindaslah mereka."
Bersamaan dengan Dovie menurunkan perintah, Lilith juga menurunkan instruksi dengan dingin.
Pasukan Raja dan pasukan Ratu berbenturan dengan dahsyat.
Suara denting pedang mengamuk bagai arus deras, medan perang dalam sekejap terwarnai oleh darah dan kematian.
Setiap kali bilah pedang bersilangan, tak terhitung banyaknya nyawa berguguran dengan sia-sia.
Pasukan Ratu kalah dalam jumlah.
Namun, hanya dengan Raja Orang Mati mengayunkan lengan sekali saja, pasukan Raja terhempas.
Di tengah medan perang itu, Lilith mengendalikan pedang snake-belly dengan leluasa seolah sedang menari, menebas musuh satu demi satu. Sosok Lilith yang seperti itu dipandang ke bawah dengan penuh keleluasaan oleh Dovie yang duduk santai di takhta emas. Di tatapannya, melayang rasa superioritas yang entah kenapa mirip dengan cemoohan.
"Gadis kecil, bagaimana? Inilah yang disebut pasukan sungguhan. Pecahan tulang menyedihkan begitu hanya sampah semata."
"Ara, kalau meremehkan pahlawan-pahlawanku, kau bakal kena batunya, lho."
Gerombolan besar monster menyerbu ke arah Lilith.
Namun, hanya dengan dia mengayunkan ringan pedang snake-belly-nya, kepala mereka satu per satu melayang di udara.
Cipratan darah mewarnai langit, hujan darah turun membasahi bumi.
"Lapuk habis, membusuk, menggerogoti nyawa, menginvasi daging darah, melelehkan jiwa——'Verfall'."
Kekuatan sihir yang dilepaskannya sungguh luar biasa.
Berpusat pada Lilith, mereka yang bernyawa satu per satu kulitnya meleleh, dagingnya membusuk, dan tulangnya lapuk lalu menghilang. Akibat efek yang mencakup area luas itu, pasukan Raja milik Dovie dalam sekejap hancur lebur dan jatuh dalam posisi terdesak.
"Jalan sudah terbuka."
Sesuai perkataan Lilith, karena monster di sekitar mati semua, tercipta satu jalan lurus menuju takhta tempat Dovie duduk. Berusaha menutup celah itu, para monster dan Iblis mulai bergerak.
Tapi, pergerakan Lilith melesat dengan kecepatan yang melampaui itu.
"Iblis Tingkat Menengah, Iblis Tingkat Atas, penampilannya saja yang gagah... tapi pada akhirnya cuma eksistensi ciptaan, ya. Tidak punya kehendak, hanya menerima perintah sederhana——mereka yang gerakannya monoton begitu, jauh di bawah pahlawan-pahlawanku."
Menutup jarak dengan Dovie sekaligus, Lilith mengayunkan pedang snake-belly dalam satu kilatan horizontal.
Bilahnya mendekati Dovie dengan kekuatan dahsyat, tapi kapak raksasa menahan serangan itu.
Tapi, kalau cuma dengan begitu bisa dihentikan, dia tidak pantas mengaku Demon Lord.
Lilith mengayunkan pedang snake-belly tanpa ampun, terkadang menusuk, menyapu, melancarkan rentetan serangan yang mengamuk. Serangan itu kian bertambah cepat, menelan Dovie bagaikan badai.
Dovie yang hanya bisa bertahan berusaha mati-matian menahan serangan ganas itu, tapi akhirnya mencapai batas, dan meninggalkan takhtanya.
"Ara, bukannya Raja itu harusnya duduk tenang di takhta?"
Dalam kata-kata itu terkandung cemoohan.
Terdengar seolah di dalam dirinya, hasil pertarungan sudah ditentukan.
"Bicara apa kau. Pertarungan baru saja dimulai."
Dovie mengerutkan kening sesaat, tapi kembali mencengkeram kapak raksasa dan memasang kuda-kuda.
Tapi, saat itu Lilith sudah mendekat sampai di depan mata.
"Lambat. Keputusan, segalanya, pembacaan gerak——lambat."
Badai tebasan pedang mengamuk hingga taraf yang brutal.
Serangan kasar bagaikan binatang buas, serangan memaksa yang tidak cocok dengan atmosfernya.
"'Verfall'."
"Gaaah!?"
Sihir yang diaktifkan Lilith tanpa mantra berhasil menunjukkan efeknya dengan gemilang.
Kedua tangan Dovie membusuk dalam sekejap mata, kapak raksasa yang digenggamnya jatuh ke tanah dengan suara tumpul.
"Kalau mengaku Raja, selalu bacalah langkah ke depan. Tiba di jawaban lebih cepat dari siapa pun, menyerang lebih ganas dari siapa pun, dan meraih kemenangan lebih cepat dari siapa pun."
Dovie berlutut dengan kedua lutut di tanah, menatap Lilith ke atas.
Di matanya masih tersimpan cahaya yang kuat.
Memang pantas mengaku Raja, meski berdiri di ambang kekalahan, hatinya tampaknya belum patah.
"Keteguhan hatimu kuakui. Tapi, cuma dengan duduk di takhta, kemenangan tidak bisa diraih, lho."
Lebih cepat daripada Dovie membuka mulut, Lilith menyabetkan pedang snake-belly.
Bilah itu menebas putus leher Dovie, kepala yang menggelinding menimbulkan suara tumpul di tanah.
Tapi, Lilith segera menyadari keanehan.
Sebab yang terbaring di depan mata bukanlah Dovie.
Mayat itu tanpa disadari telah tertukar menjadi monster.
Kemungkinan itu efek pertukaran karena sihir.
"...Raja yang cepat kabur ya, makanya cuma jadi Nomor Dua."
Gumaman yang bercampur ironi itu tenggelam disapu angin yang berembus.
*
Pertarungan sengit tengah berlangsung.
Bocah berpakaian hitam mengayunkan pedang dengan kecepatan dahsyat, rentetan tebasan membelah ruang.
Meski tidak ada luka fatal pada kedua belah pihak, tubuh mereka dipenuhi luka-luka kecil yang tak terhitung jumlahnya.
Sebaliknya, Iblis Tingkat Atas bertanduk enam itu menghindari serangan dengan gerakan lincah sambil melepaskan serangan kuat tanpa ampun.
"Boleh juga kau, Bocah. Orang yang mampu bertahan dari seranganku selama ini bisa dihitung dengan jari satu tangan."
Terhadap pujian 'Antitesis Buangan No. I' Hajarl, bocah berpakaian hitam, Ars, mendengus.
"Cuma satu tangan? Kau terlalu merendah. Kalau cuma level segini, kurasa ada lebih banyak, kok."
Itu bukan provokasi, melainkan pertanyaan murni. Dia hanya benar-benar berpikir demikian—di wajah Ars terpancar ketidakacuhan yang polos seperti biasanya.
"Aku tidak berniat termakan provokasi murahan semacam itu. Lebih dari itu, kenapa kau menghalangiku?"
"Aku tidak berniat menghalangi. Itu cuma anggapanmu saja. Sudah kubilang, kan, kau melukai orang-orang berhargaku. Aku minta kau bertanggung jawab."
"Hmph, punya kemampuan segitu tapi menghalangiku karena alasan membosankan. Terjebak emosi sepele seperti balas dendam demi teman itu tindakan bodoh."
Sambil menghindari serangan Ars, Hajarl memasang ekspresi tak habis pikir.
"Tidakkah kau bisa mengusung tujuan mulia seperti pembebasan Iblis sepertiku?"
"Memangnya itu tujuan yang begitu hebat sampai kau bisa bicara sesombong itu?"
"Tentu saja. Membebaskan ras menyedihkan yang terikat oleh keberadaan Ratu. Itulah misiku."
"Tapi, bukannya ada juga yang berharap untuk diikat?"
Setidaknya, saat Ars tinggal di 'Helheim', dia tidak mendengar satu pun suara yang menginginkan pembebasan Iblis.
"Itu karena mereka lupa. Karena mereka telah dijinakkan oleh Ratu Hel. Justru karena itu, aku harus memberi mereka pemicu."
Sambil mengayunkan Guandao Naga Hitam dengan enteng, Hajarl mulai menceritakan ideologinya.
"Ras menyedihkan yang terkurung dalam sangkar bernama 'Helheim' meski hidup di kampung halaman bernama 'Lost Land'—itulah Iblis saat ini. Padahal jika Iblis menginginkan dunia sesuai naluri, akan lahir negara yang tak bisa dilawan siapa pun... Seharusnya mereka bisa bebas bolak-balik antara 'Wilayah Luar' dan 'Wilayah Dalam', dan hidup dengan bebas."
"Karena itu kau mau menghancurkan 'Helheim'?"
"Benar. Jika sangkar rusak, mencari tempat tinggal baru adalah naluri makhluk hidup. Jika makanan habis, tinggal rebut dari yang lain. Itulah hukum alam."
"...Kalau sudah berevolusi dari monster menjadi Iblis tapi membuang akal sehat, ujung-ujungnya tidak beda dengan monster, kan. Padahal sudah susah-susah berevolusi jadi Iblis, tapi malah menginginkan devolusi, menurutku itu bodoh."
Terhadap kata-kata penolakan Ars, Hajarl mengerutkan hidung, memperlihatkan kekesalannya dengan jelas.
"Bukan devolusi. Ini adalah tahap yang diperlukan untuk mendorong evolusi lebih lanjut. Demi membuka jalan masa depan Iblis, hanya jalan ini yang bisa ditempuh."
"Hee~... pemikiran soal evolusi lebih lanjut bisa kusetujui, tapi selain itu semuanya omong kosong."
"Itu hanyalah pemikiran dangkal manusia yang baru mencapai Area Tinggi. Jika pergi ke Area Dalam, cara pikirmu akan berubah. Jika pergi ke tempat di mana hanya naluri bertahan hidup yang dibutuhkan."
Ars merasa ada yang mengganjal dengan ucapan itu, lantas mengambil jarak dan menghentikan serangan.
Hajarl mengerutkan kening curiga, menunjukkan kewaspadaan.
"Kau, pernah pergi ke Area Dalam?"
"Bahkan sampai ke Area Terdalam di ujung sana. Jika ingin tahu kelanjutannya, kalahkan aku dulu baru tanya."
Hajarl menyunggingkan cemoohan, memprovokasi dengan nada yang meremehkan Ars.
"Boleh juga. Tapi, aku tidak butuh informasi lebih dari ini."
Ars menutup jarak sekaligus dan melepaskan serangan.
"Aku akan menyelidikinya sendiri. Aku tidak sudi kesenangan itu direbut."
Ars mengayunkan belati yang digenggam di kedua tangan dengan kuat, melepaskan tebasan tajam.
Hajarl mengayunkan Pedang Sabit Naga Hitam dengan enteng, menahannya tanpa kesulitan.
Namun, tanpa mengendurkan momentum, Ars mencoba mendesak paksa dengan kekuatan fisiknya.
"Guh!?"
Kaki Hajarl yang mencoba mendorong balik amblas dalam ke tanah.
"Kekuatan ini... kau, benar-benar manusia?"
Warna keterkejutan muncul di wajah Hajarl.
Dia merasakan kekuatan di luar dugaan dari Ars yang terus bertarung dengan wajah tenang.
Kekuatan fisik yang setara dengan dirinya yang seorang Iblis—bahkan, rasanya seperti mau kalah dorong.
Bahkan saat melawan Ratu Hel pun, dia tidak ingat pernah terdesak sampai begini.
"Tidak sopan sekali. Aku ini manusia tulen, lho. Cuma kebetulan punya 'Telinga Bagus'."
Melihat ekspresi Ars, dia tahu bocah itu bicara serius.
Justru karena itulah, Hajarl bingung.
Punya kekuatan fisik segini, tapi ucapan dan perilakunya mencolok seolah tidak menyadari nilai kekuatannya yang sebenarnya.
Namun, Ars juga terlihat paham cara menggunakan kekuatan itu sepenuhnya.
Ucapan dan hasil tidak selaras.
Kontradiksi itu semakin mengacaukan hati Hajarl.
"Bocah yang mengerikan."
Kenapa manusia biasa bisa memiliki kekuatan sebesar ini?
Apalagi bocah yang penampilannya masih terlihat seperti anak-anak—Hajarl tidak bisa memahaminya.
Hanya ada satu manusia di masa lalu yang mampu melawannya selama ini dan tetap berdiri dengan tubuh utuh.
"Bergembiralah, Bocah. Manusia yang mampu bertarung sejauh ini melawanku, baru kau seorang sejak Schlaht."
Bayangan yang muncul di benak Hajarl adalah sosok manusia terkuat yang pernah dilawannya.
Ingatan itu masih terpatri jelas hingga kini.
Manusia yang memiliki keberadaan dahsyat yang bisa disebut satu-satunya.
"Hee... kau pernah bertarung melawan Mahkota Pertama Demon Lord juga, ya."
Serangan Ars yang tertawa gembira menjadi semakin tajam.
(Ada yang aneh... bocah ini, padahal terus bertarung seintens ini, bukannya lelah malah semakin bugar.)
Dalam diri Hajarl, keberadaan bernama Ars perlahan membengkak menjadi rasa ganjil yang besar. Meskipun pertukaran serangan dan pertahanan telah berulang dalam waktu yang lama, Ars tidak menunjukkan tanda-tanda kehabisan napas sedikit pun.
Justru, seiring berjalannya pertarungan, gerakannya semakin bertambah cepat.
"Optimasi... dia menyesuaikan dengan gerakanku... tidak, apa dia terus tumbuh untuk melampauinya?"
Saat menyadari fakta itu, Hajarl tercengang.
Hanya seorang manusia biasa, mengikuti gerakan dirinya yang berdiri di puncak Iblis—'Antitesis Buangan'.
Tidak hanya itu. Di tengah pertarungan, dia mengoptimalkan tubuhnya sendiri, dan sekarang sedang tumbuh untuk melampaui gerakan itu.
Jenius—kata sesederhana itu tidak akan cukup untuk menjelaskannya.
Dia adalah monster.
Dirinya yang merupakan Iblis, yang disebut sebagai perwujudan ketidakrasionalan, merasakan ketakutan yang tak bisa dijelaskan terhadap bocah di hadapannya. Itulah yang menceritakan betapa abnormalnya keberadaan Ars.
"Bergembiralah, Bocah."
Naluri dari masa dia masih menjadi monster membunyikan alarm. Naluri itu menyadari bahwa jika dia tidak menghabisi bocah ini sekarang di sini, kelak akan menjadi bencana yang tak bisa diperbaiki.
Dia bukan lawan yang boleh diremehkan.
Sejak awal, dia adalah lawan yang harus dihadapi dengan kekuatan penuh.
"Karena kau telah menunjukkan kekuatan yang cukup untuk membuatku serius."
Hajarl melontarkan kata-kata itu, memperlebar jarak dengan Ars, lalu menancapkan Pedang Sabit Naga Hitam ke tanah.
"Bencana yang tenggelam dalam jurang, detak yang mengalir di nadi bumi. Getaran tabu, raungan patahan, akhir dari abu."
Berpusat pada Hajarl, atmosfer meledak disertai suara gemuruh.
Akibat guncangan itu, bumi retak hebat, dan bangunan di sekitarnya runtuh satu demi satu.
Lebih jauh lagi, langit terbelah seolah pecah, awan terkoyak dengan mengenaskan.
"Pemutusan di kekosongan, keheningan pada belenggu. Bintang malapetaka kalpa surga, roh jahat abadi, gempa bumi pembalik langit."
Dunia sedang ditulis ulang.
Kekejaman itu sendiri menghancurkan segalanya.
Terakhir, Hajarl merentangkan kedua lengannya lebar-lebar seolah menghantam dinding.
"Heavenly Domain Expansion——'Martial Tower God, Atlas'."
Guncangan dahsyat menyerang bumi.
Getaran yang seolah menghancurkan ruang bahkan mengguncang langit dengan hebat.
"Bocah——tidak, namamu Ars, kan. Aku akui kau sebagai musuh."
Hajarl berkata dengan tenang, lalu menghentakkan satu langkah di tanah.
Hanya dengan satu langkah itu, jarak dengan Ars terpangkas dalam sekejap.
Saat berikutnya, tinju sekeras baja menghantam perut Ars.
"'Severe Quake, Erschütterung'."
"——kuh!?"
Gelombang kejut yang dahsyat menembus tubuh.
Ars tidak mampu menahannya dan terhempas ke udara, lalu terbanting ke tanah.
Setelah berguling berkali-kali, akhirnya dia menghentikan gerakannya dengan menghantamkan lengan ke tanah.
"...Hebat ya. Ternyata ‘Dinding Sihir, Ammut' tidak bisa menahannya."
Meneka ringan darah yang menetes dari mulutnya, Ars menyunggingkan senyum gembira.
"Baru pertama kali ini, lho. Ada sihir yang menembus 'Dinding Sihir, Ammut'-ku. Selain itu, baru pertama kali juga aku terluka sebanyak ini."
Gerakannya membersihkan debu tanah yang menempel di pakaian hitamnya entah kenapa terasa santai.
Dalam suara Ars bercampur nada riang.
"Aku ingin mencoba sihir yang tadi juga... lagipula, kau sudah mengeluarkan keseriusanmu, aku juga akan memperlihatkan kekuatan penuhku."
Setelah dengan cepat menyimpan dua belah belati yang digenggamnya, Ars mengatur napas dalam satu tarikan.
Dan saat berikutnya, dia menendang tanah, berlari bagaikan angin kencang.
Matanya hanya menangkap satu sosok——Hajarl.
"Apa yang dia pikirkan...?"
Di mata Hajarl, Ars terlihat menyerbu dengan membabi buta.
Tapi, dia segera sadar bahwa itu salah paham.
Mana dalam jumlah sangat besar meluap dari seluruh tubuh Ars.
Itu begitu dahsyat hingga menjadi gelombang tak kasat mata yang menggetarkan sekitarnya.
Seolah mengukir keberadaannya sendiri ke dunia, Haki yang mutlak memancar bagaikan arus deras.
"Imperial demesne expansion——"
(Heavenly Domain Expansion——)
"——Awaken Woden——"
(——'Heavenly Lord, Odin'——)
Yang turun dari langit adalah pilar yang memancarkan cahaya pelangi.
Anting yang berayun di telinga kiri Ars——salib terbalik, bersinar cemerlang bermandikan cahaya pelangi yang berkobar.
Saat itu juga, anting tersebut perlahan berubah wujud.
Sambil diselimuti kilauan pelangi, benda itu mengubah wujudnya menjadi topeng yang menutupi wajah bagian kiri Ars.
Topeng setengah wajah berwarna hitam pekat. Di sana, tertanam tujuh permata yang indah.
Itu seolah-olah menyegel kilauan bintang-bintang di dalamnya.
Hajarl tertegun oleh keindahan——serta keagungan itu, namun,
"'Severe Quake, Erschütterung'."
Dia menyadari Ars yang entah sejak kapan sudah menutup jarak, telah menempelkan tangan di perutnya.
Berikutnya yang datang adalah guncangan dahsyat. Tubuh raksasanya terhempas dengan mudah.
Namun, Hajarl segera menghantamkan tinjunya ke tanah untuk bangkit secara paksa.
"...Mustahil. Kau menggunakan sihirku...?"
Kepada Hajarl yang menunjukkan ekspresi terkejut, Ars merentangkan kedua tangannya lalu menjelaskan.
"Dunia ilusiku mengurai segala sihir, dan menyingkap segala pengetahuan."
"Cerita konyol macam itu——apa yang kau lakukan?"
Di hadapan Hajarl yang hendak menyangkal, Ars mulai melakukan gerakan aneh.
"Kan sudah kubilang aku akan mengeluarkan kekuatan penuh. Jadi, diam dan lihatlah."
Mana Ars membengkak.
Seberapa banyak yang dia miliki, apa sebenarnya yang hendak dia mulai sekarang.
Sambil menahan tekanan dahsyat, Hajarl hanya bisa memandanginya.
"Maka jantung pun diremukkan. Keputusasaan yang tertumpah, semangat yang meradang."
Tidak ada intonasi, tidak ada pula emosi yang terkandung di dalamnya.
Mantra ditenun dengan datar dari mulut Ars.
"Suara terhenti, bunyi terputus, cahaya tercabut, kegelapan tak tertandingi. Karenanya sang Dewi menyembuhkan dengan jemarinya."
Sambil memercikkan bunga api yang agung, sebuah pola terlukis di angkasa.
Bunga api itu melukis garis putih, membentuk oval lalu berkelok, menyelesaikan lingkaran sihir putih yang menakjubkan.
Arus deras Mana yang dahsyat, ruang menjerit akibat tekanan yang dipancarkan dari lingkaran sihir tersebut.
"Kutuklah——'Goddess of Light Gem Voice, Panacea'."
Dewa turun ke dunia.
Seorang Dewi yang mengenakan alat pengekang putih, hendak turun dengan tenang dari langit.
Sosoknya diselimuti cahaya putih murni, bersinar seolah-olah merupakan perwujudan dari kesucian itu sendiri.
Namun, sang Dewi menghentikan gerakannya di tengah jalan.
Sosok yang mengapung di udara itu memancarkan kewibawaan dingin seolah sedang memandang rendah dunia bawah.
Meski matanya tertutup, sang Dewi tampak seolah mampu melihat segalanya.
Yang memancar dari tubuhnya adalah hawa keberadaan mutlak seolah menguasai dunia itu sendiri.
Meski pandangannya tertutup, intimidasi seolah menggenggam langit dan bumi memenuhi ruang, bahkan menggetarkan udara di sekitarnya.
"Mustahil... apa kau menurunkan Dewa?"
Hajarl terperangah.
Gift——dikatakan terhubung dengan Dewa yang menganugerahkan Gift tersebut kepada seseorang.
Menurut teori seorang peneliti tertentu, jika seseorang menguasai Gift hingga batasnya, dia akan diundang ke Wilayah Dewa tempat Dewa berada.
Dan dengan dianugerahi "Nama Asli" oleh Dewa, hal itu memungkinkan perwujudan kekuatan tersebut di dunia fana.
Itulah yang disebut "Heavenly Domain Expansion", namun——,
"Katanya di masa lalu ada orang yang menantang Dewa dan mendapatkan 'Nama Asli'. Ciri khasnya adalah kualitas Mana-nya berubah, namun..."
Bagi Hajarl yang mantan monster dan telah berevolusi menjadi Iblis, kualitas Mana Ars terasa nyaman.
Memang dia merasakan tekanan, namun Mana yang mirip dengan Miasma yang akrab baginya itu memberikan rasa nostalgia.
"Akhirnya aku paham. Artinya, kau adalah——"
——Pembunuh Dewa.
"Pantas saja stamina fisikmu tidak normal untuk ukuran manusia. Tapi, apa alasanmu repot-repot menurunkan Dewa?"
Menanggapi pertanyaan Hajarl, Ars membuka mulut.
"...Kekuatan penuhku saat ini... ujung dari Heavenly Domain Expansion..."
Saat itu juga, alis Hajarl sedikit bergerak.
Karena dia merasakan keganjilan pada keadaan Ars.
Tujuh permata yang tertanam di topengnya berkedip dengan menyeramkan.
Sesuatu sedang terjadi——Hajarl yang memiliki firasat itu menyipitkan mata, dan di saat dia berusaha memastikan situasi itulah kejadiannya.
"Guh!?"
Ars tiba-tiba memuntahkan darah.
Luka-luka kecil yang dideritanya dalam pertarungan melawan Hajarl sobek satu per satu, menyemburkan darah merah.
Tubuh Ars kehilangan tumpuan dan ambruk ke tanah.
Menghadapi perkembangan tak terduga, pemahaman Hajarl tidak bisa mengejar.
"Apa... aku menang...?"
Suara yang tidak jelas antara lega atau bingung keluar dari mulut Hajarl.
Namun, rasa lega itu tidak berlangsung lama.
Sebab Ars menumpukan tangan di tanah, dan perlahan bangkit sambil menopang tubuhnya yang gemetar.
Gerakan itu dipenuhi kegigihan dan kekuatan yang tak terpikirkan bagi manusia yang baru saja tumbang.
"............Belum, ini belum berakhir."
Yang muncul di bibir Ars adalah senyum samar yang bahkan terasa santai.
Mana dalam jumlah besar meluap dari tubuhnya, menyembuhkan luka yang sobek dalam sekejap mata.
Namun——segera setelah sembuh, luka baru mengoyak tubuhnya, dan darah segar kembali menyembur.
Melihat pemandangan ganjil itu, Hajarl mendistorsi mulutnya dan bergumam.
"Dasar monster... apa sebenarnya yang ingin kau lakukan."
"Tidak sopan, ya."
Merasakan darah yang mengalir dari dahi mulai menutupi pandangannya, Ars menyekanya dengan ujung lengan baju seolah merasa terganggu.
"Aku ini cuma manusia yang 'Telinga-nya Bagus'."
Tanpa membiarkan pengaruh lukanya terlihat sedikit pun, Ars perlahan mengambil kuda-kuda.
Gerakan itu secara tersirat memberitahukan bahwa dia masih menyisakan tenaga.
"Nah, ayo kita lanjutkan—tunjukkan padaku sihir yang tidak kuketahui."
Ars yang berlumuran darah menendang tanah, mendekati Hajarl dalam sekejap.
Momentumnya bagaikan badai yang tak mengenal kata berhenti.
Tinju Ars dilepaskan ke arah Hajarl.
Meskipun Hajarl menahannya secara refleks, guncangan dahsyat menyerang lengannya.
Saat itu—suara yang tidak enak terdengar. Suara tulang lengan yang patah.
"Guh...!"
Tendangan memutar Ars menghantam pelipis Hajarl yang wajahnya berkerut menahan sakit tanpa meleset sedikit pun.
Serangan itu berat dan tajam, membuat tubuh Hajarl sedikit terguncang.
Meski berhasil bertahan, sensasi kesadaran yang terputus sesaat melintas di benaknya.
"'Vibration, Schwingen'."
Hajarl mengaktifkan sihir untuk mengambil jarak.
"'Noise, Ageloi'."
Sihir yang segera dilepaskan Ars membatalkan sihir Hajarl dari depan.
Gelombang kejut dari sihir yang saling meniadakan itu menyebar ke sekeliling, Hajarl yang tak mampu menahannya kehilangan keseimbangan.
Tak menyia-nyiakan celah itu, Ars menghunus belatinya. Bilahnya dengan akurat menembus rusuk Hajarl.
"Guha!?"
Hajarl mengerang kesakitan sambil mencoba mundur. Tapi Ars tidak membiarkannya.
Tendangan depan menghantam tanpa ampun, tubuh Hajarl terhempas.
Sambil berguling di tanah, Hajarl sadar.
Ars datang untuk mencabut nyawanya.
Kemungkinan, batas aktivitas Ars sudah mendekat akibat tindakan bunuh diri barusan.
Asal bisa bertahan, ada peluang menang.
Hajarl berpikir demikian, namun saat dia bangkit, pemikiran itu buyar.
Ars di hadapannya mengarahkan ujung jari ke arahnya.
Di sana terkumpul Mana yang dahsyat.
Dia mengenali hawa itu.
Dua kata "Mundur" melintas di benaknya.
Itu adalah sihir yang tersimpan dalam batu sihir yang dilepaskan gadis berambut perak, Yulia.
——Suara Kematian, Death Flüstern.
Hanya dengan batu sihir yang diberi enchant saja dia menderita luka separah itu.
Jika dia menerima versi orisinalnya dalam kondisi sekarang——Hajarl menggertakkan gigi dengan kesal.
"'Space Control, Beherrschen'."
Saat Hajarl merapal mantra, ruang hampa retak, menciptakan celah seukuran satu orang.
Tanpa ragu, Hajarl melompat ke dalam celah itu.
Ars menyaksikan pemandangan itu dan menurunkan lengannya.
Mata tajamnya tidak melepaskan kewaspadaan, terus mengamati keadaan sekitar.
Namun, berapa lama pun berlalu, dia tidak terkena serangan.
"Sial... lolos ya."
Ars yang melepaskan kewaspadaannya menengadah ke langit dengan kesal.
Padahal pengaruh Heavenly Domain Expansion masih berlanjut, dan Dewa yang diturunkannya masih ada, dia merasa pahit atas keputusannya sendiri yang membiarkan musuh kabur.
"............Senjata makan tuan, ya."
Kepada Ars yang bergumam sendiri, tiba-tiba suara lembut turun menyapanya.
"Benar sekali. Sebaiknya Anda tidak memaksakan diri sekarang."
Terkejut oleh suara tiba-tiba itu, Ars menoleh, dan yang muncul di pandangannya adalah Elf dengan senyum lembut.
Salah satu dari Ten Holy Heavens of Sacred Law, Ninth Apostle Teisa, Verg.
"Kau... sudah lama, ya."
"Ya. Ars-sama, sudah lama tidak berjumpa. Saya merasa terhormat bisa bertemu dengan Anda."
Verg memasang senyum lebar, berlari kecil menghampiri Ars dengan wajah yang tampak benar-benar senang dari lubuk hati.
"Ars-sama sedang mengincar kelanjutan dari Heavenly Domain Expansion, ya?"
"...Kau tahu?"
Ars yang kewaspadaannya luntur oleh Verg yang berbicara dengan nada polos, secara alami mendengarkannya.
"Saya pernah membaca literatur kuno di 'Great Forest'... jika Ars-sama menginginkannya, saya bisa memberikan informasinya, lho."
"Itu..."
Saat Ars tersendat, Verg segera menyela.
"Tentu saja, saya tidak butuh imbalan apa pun. Hanya saja, izinkan saya memberi saran, menurut saya metode itu sedikit bermasalah bagi Ars-sama yang sekarang."
"...Benar juga."
Ars menanggapi dengan singkat.
"Sekarang Anda harus mengincar Area Terdalam. Di sana terkubur teknologi dan pengetahuan yang hilang. Menurut pendapat bodoh saya, sebaiknya Anda mengincar kelanjutan Heavenly Domain Expansion setelah mendapatkan hal-hal tersebut."
Sambil mendengarkan perkataan Verg, Ars menyandarkan punggungnya ke akar pohon besar di dekatnya.
"Kenapa kau memberitahuku sampai sejauh itu?"
"Itu karena——kapan pun juga, kami para Elf selalu bersama Anda."
"...Aku tidak, mengerti, artinya."
Ars bergumam kecil, lalu menutup matanya dengan tenang, dan melepaskan kesadarannya begitu saja.
"Anda telah menurunkan Dewa. Wajar saja jika kelelahan."
Verg menatap Ars yang tertidur sambil bergumam lembut.
"Sampai Anda bangun, izinkan Verg yang tidak berbakat ini bertugas sebagai penjaga."
Dia memindahkan pandangannya dari Ars ke langit.
Dunia berwarna pelangi itu perlahan mulai runtuh.
Meski begitu, keberadaan Dewa yang diturunkan masih sehat, dan kekuatan ilahinya sungguh dahsyat.
Meskipun merasakan tekanan yang membuatnya hampir berlutut tanpa sadar, Verg tetap menjaga tekadnya kuat dan mewaspadai karakter baru yang muncul.
"Ars-sama benar-benar orang yang hebat, ya."
Itu adalah Ten Holy Heavens of Sacred Law, Tenth Apostle Ashiora, Shelf.
Seperti biasa dia mengenakan tudung dalam-dalam, menyembunyikan wajah aslinya dan berjalan tanpa suara.
Terhadap Shelf yang mendekat, Verg melangkah maju seolah melindungi Ars.
"Tenth Apostle Ashiora, saya beri satu peringatan. Jangan bertindak berlebihan."
"...Semuanya demi Elf."
Hanya mengatakan itu, Shelf membalikkan badan dan menghilang tanpa suara.
"...Demi Elf, ya... apa itu benar?"
Gumam Verg hanyut terbawa angin dan menghilang.
Tidak ada yang menjawab. Hanya keheningan yang ada di sana.



Post a Comment