Chapter
1
Metode
Sang Kelas Atas
Senin pagi, aku melangkah menyusuri keseharian yang
berjalan seperti biasanya.
Rasa lelah sisa turnamen kemarin memang masih terasa,
tapi jujur saja, rasa puas karena telah berjuang sampai akhir jauh lebih
mendominasi.
"A-Anu...
Selamat pagi, Mikado-senpai."
Suara
Raizaki terdengar di tengah jalan, membuatku menoleh. Di sana, Raizaki berdiri
dengan bahu merosot lesu, tampak berantakan dengan wajah pucat saat menyapaku.
"Ah, selamat pagi. Hebat ya, kamu tetap masuk
sekolah."
"Yah... karena itu sudah janji..."
Setelah menjuarai Turnamen Koryu, kami berhasil
mendapatkan tiket ke tingkat prefektur dan menduduki takhta juara distrik.
Dan saat itulah, Takebayashi-senpai berkata begini:
"Turnamen prefektur akan lebih mengandalkan kerja
sama tim daripada sebelumnya! Karena itu, sebelum saat itu tiba, mari kita
memperdalam ikatan dan bertekad untuk bertarung sebagai satu kesatuan!"
Yah, meskipun ada sedikit bau-bau doktrin semangat
membara, intinya Takebayashi-senpai menetapkan agenda pertama kami: anggota
klub shogi harus jadi lebih akrab.
Tentu saja, Raizaki yang sering bolos adalah pengecualian
yang harus diurus.
Sepertinya dia ditegur keras oleh Takebayashi-senpai agar
setidaknya menunjukkan batang hidungnya di klub. Itulah alasan kenapa dia sudah
masuk sekolah sepagi ini.
"Suasana hatimu kok rendah sekali, kamu baik-baik
saja?"
"A-A-Ah, iya... anu, tiap pagi memang tensiku selalu
rendah... ditambah lagi kepalaku pening..."
Raizaki memaksakan sebuah senyuman, mencoba menutupi
ekspresinya yang tampak menderita.
Mungkin ini efek karena terlalu fokus, atau mungkin
sekadar kelelahan. Yah, meski dia baru bermain di paruh kedua turnamen,
melepaskan konsentrasi setajam itu secara terus-menerus pasti akan membuat
kepala pening.
Aku pun sebenarnya merasa sedikit pusing.
"Iya
ya... Raizaki yang waktu itu benar-benar terasa seperti, apa ya, penyihir? Pokoknya
aura keberadaanmu luar biasa sekali."
"Au... Tolong lupakan saja, itu memalukan."
"Kenapa? Padahal kamu keren banget, lho."
Begitu aku mengatakannya, wajah Raizaki memerah padam dan
dia memalingkan wajahnya.
"...T-Terima kasih banyak..."
Raizaki bergumam dengan suara yang nyaris hilang.
Saat turnamen, aku berusaha membuang segala pikiran kotor
agar bisa fokus, tapi saat melihat Raizaki dalam balutan seragam sekolah
seperti ini, dia benar-benar gadis cantik yang mirip boneka.
Tidak baik menilai orang hanya dari penampilannya, tapi
menurutku dia sangat memikat sampai-sampai rasanya sayang sekali kalau dia
terus-terusan bolos sekolah.
"...Ngomong-ngomong, hari ini jadwal pertandingan
individu Turnamen Koryu, ya?"
"Iya, sepertinya Toujou-senpai ikut serta."
Hari ini hari Senin, tapi Turnamen Koryu tingkat distrik
masih berlanjut. Hari Minggu untuk beregu, dan Senin untuk individu.
Toujou menjadi satu-satunya perwakilan SMA Nishigasaki
yang maju di kategori individu. Aku sih iri dia bisa izin sekolah secara resmi,
tapi bertarung sendirian tanpa rekan pasti terasa kesepian juga.
Apalagi setelah baru saja menyelesaikan kategori
beregu.
"Kita memang tidak bisa ikut kali ini, tapi
karena tim kita juara, kita bisa berpartisipasi di turnamen individu
berikutnya, kan?"
"Kalau nanti ada turnamen individu lagi, apa kamu
berniat ikut, Raizaki?"
"Tentu saja. Berkat Mikado-senpai, aku berhasil
melampaui dinding penghalangku. Aku ingin mencoba sejauh mana kemampuanku
sekarang."
Luar biasa, Raizaki memang punya ambisi tinggi dan ruang
untuk berkembang yang luas. Aku juga tidak boleh santai-santai.
"...Maaf. Aku mau beli obat pusing dulu di
minimarket, sampai nanti."
"Kamu sungguh tidak apa-apa? Kalau parah lebih baik
istirahat saja..."
"Tidak, selama ini aku selalu memanjakan diri dengan
bolos, jadi kali ini aku akan memaksakan diri untuk tetap masuk sekolah."
Tekad yang kuat. Raizaki punya sisi keras kepala dalam
arti yang positif.
"Baiklah. Sampai jumpa nanti."
"Iya!"
Demikianlah, aku berpisah dengan Raizaki dan melanjutkan
langkah menuju sekolah.
◇
Setelah berpisah dengan Mikado-senpai di depan sekolah,
aku tidak menuju minimarket melainkan duduk di bangku taman terdekat.
Lalu, aku mengeluarkan ponsel dan mulai bermain shogi
daring.
(……Padahal sebenarnya aku cuma ingin berangkat
sekolah bareng, tapi kalau aku bilang begitu, dia pasti marah ya.)
Kepalaku memang pening, dan niatku untuk sekolah juga
bukan bohong.
Hanya saja, tanganku refleks memulai pertandingan lagi
karena kebiasaan.
(Ah, Dan 6... kalau dulu, ini lawan yang sulit.)
Lawan yang terpilih adalah pemain tingkat tinggi yang
berada di peringkat atas sepertiku.
Khususnya rentang Dan 5 sampai Dan 7 yang sering
dijuluki "Sarang Iblis". Banyak pemain haus informasi yang
menggunakan strategi dan taktik terbaru di sini.
Jika tidak menghitung para monster di Dan 8 ke atas,
rentang inilah yang paling sulit ditembus. Faktanya, aku pun tidak bisa keluar
dari Dan 7 dengan mudah.
──Namun, aku pun mengalami titik balik.
Turnamen distrik kemarin. Mikado-senpai dengan lembut
mendorongku saat aku tidak mampu memecahkan cangkang pelindungku.
Sensasi tenggelam dalam pemikiran yang tajam,
perasaan mahatahu saat membaca langkah secara tidak sadar. Perasaan
itu masih membekas di tubuhku bahkan sampai hari ini.
Bagi aku yang sekarang, pemain tingkat tinggi bukan
lagi hal yang menakutkan.
Sepuluh langkah, dua puluh langkah, tiga puluh
langkah. Setiap kali aku melangkah, akurasi yang meningkat terasa begitu
menyenangkan. Pertumbuhan yang biasanya tidak terasa, kini meresap perlahan ke
dalam diriku pada detik ini juga.
Aku tidak ingat sudah berapa lama waktu berlalu.
Sadar-sadar, di layar ponselku hanya terpampang
tulisan kemenangan.
"──Kuat sekali, ya."
"Hiaaaaaa?!"
Punggungku menegang seketika. Karena disapa tiba-tiba
dari belakang, aku nyaris menjatuhkan ponselku.
Saat aku menoleh, berdiri seorang wanita berambut
putih yang tampak sedikit lebih tua dariku... tapi tetap terlihat muda,
sepertinya belum mencapai usia dua puluh tahun.
Wanita itu menyandarkan tangannya pada sandaran
bangku, mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil mengintip ke layar ponselku.
Jangan-jangan, dia melihat pertandinganku tadi.
"Ah, maaf. Apa aku mengejutkanmu?"
"S-Siapa Anda...?"
"Cuma kakak-kakak yang kebetulan lewat."
"……"
Wajahnya terlalu imut untuk disebut memikat, namun
terlalu misterius untuk disebut kekanak-kanakan. Wanita yang mengaku sebagai
"kakak yang kebetulan lewat" itu tersenyum lembut sambil mendekatkan
wajahnya ke arahku.
Saat aku melihat sekilas matanya dari balik poni rambut
putihnya yang berkilau, aku sontak menahan napas.
(Eh, Heterochromia...?)
Mata merah gelap yang seolah ingin menyeretmu ke dasar
jurang, serta mata perak cantik yang tidak menyimpan cahaya emosi sedikit pun.
Warna-warna yang membentuk dirinya terasa begitu tajam,
seolah bunga beracun yang mekar dengan liar.
"Wah, Kakugawari? Khas anak zaman sekarang
ya."
Wanita itu duduk di bangku di sampingku, lalu mengarahkan
pandangannya ke layar ponsel.
Kemudian, dia menunjuk layar dengan tangannya yang
terbungkus sarung tangan putih.
"Target lompatan Keima yang bagus."
"……Anda paham?"
"Ya, kalau Gin ditarik mundur, kamu bisa
melibatkan sisi papan dan langsung memulai perang. Itu rasanya cukup memuaskan,
kan? Kaku yang tadinya tidak terpakai jadi bisa bergerak aktif
seketika."
Mataku berbinar mendengar perkataan yang tak terduga
itu.
Riset adalah sesuatu yang tidak dipahami siapa pun,
sesuatu yang memang seharusnya tidak dipahami.
Lawan bicaramu selalulah musuh, dan tidak akan ada
orang asing yang memujimu dari samping.
Namun wanita ini memahaminya hanya dalam sekali lihat.
"Jangan-jangan, taktik andalan Anda juga Kakugawari...?"
"Hmm."
Saat aku bertanya, dia menempelkan jari ke dagunya,
tampak berpikir seolah sedang menggali ingatan masa lalu.
Lalu sepertinya dia teringat sesuatu, memiringkan
kepalanya sedikit dan berkata:
"Sepertinya aku belum pernah memainkannya sekali
pun."
"……Eh?"
Aku tidak mengerti maksudnya.
"Tapi barusan, cara bicara Anda seolah pernah
memainkannya..."
"Aku cuma teringat langkah yang dimainkan
kenalanku. Aku sendiri tidak terlalu paham soal shogi."
Aku terkejut mendengarnya.
"Eh, Anda tidak bermain shogi?"
"Main, kok. Hanya saja, aku belum terlalu
memahaminya. Sama sepertimu."
Nada bicaranya berubah, tiba-tiba dia melontarkan
kalimat yang bernada provokasi. Meski begitu, setelah mencerna
kata-katanya, aku mulai merasa kalau dia memang seorang pemula.
Dan kalimat yang terlintas di benakku pun keluar begitu
saja tanpa sengaja.
"……Heh, begitu ya."
──Ah, kenapa saat itu aku tidak menyadari
"keanehan" dari betapa "alaminya" aku mengobrol dengannya.
Tanganku terjulur ke arah bunga beracun itu──.
"Kalau begitu, mau mencoba satu babak
denganku?"
"……Denganku? Aku?"
"Iya. Ah, aku akan buatkan ruangan tanpa akun, jadi
kalau ada ponsel kita bisa langsung mulai."
Mendengar tawarkanku, wanita itu tampak berpikir sejenak.
"……Lagi pula, kalau bermain denganku, mungkin Anda
akan sedikit lebih paham soal shogi, kan?"
Aku mengucapkannya sambil tersenyum.
Aku tidak marah. Hanya saja, karena dia menganggap aku
sama sekali tidak paham shogi, aku ingin mengoreksi pandangannya sedikit.
"Begitu ya, kalau begitu bolehkah aku meminta satu
babak?"
Wanita itu hanya mengangkat sudut bibirnya. Entah dari
mana dia mengeluarkannya, dalam sekejap mata ponsel sudah ada di tangannya, dan
pertandingan kami pun dimulai.
◇
──Turnamen Koryu tingkat distrik belum berakhir.
Meskipun euforia beregu telah mendingin, ada sesuatu
yang terasa kurang jika menu utama hadir tanpa pencuci mulut.
Tidak, mungkin inilah hidangan utamanya yang
sebenarnya.
"Saya menyerah..."
"Terima kasih atas pertandingannya."
Hari kedua Turnamen Koryu Distrik Barat. Nama
festival baru yang diadakan setelah badai kategori beregu berlalu adalah
"Kategori Individu".
Karena Turnamen Koryu merupakan kasus luar biasa yang
menerima kategori beregu dalam dunia shogi, hampir sebagian besar pemain
mendaftar untuk beregu.
Namun, jika bicara soal turnamen amatir, yang paling
utama tetaplah kategori individu. Seperti turnamen Amatir Ryuo atau Amatir
Meijin, mereka yang ingin menjangkau dunia profesional selalu muncul dalam
pertarungan last man standing yang mengandalkan diri sendiri.
Pada akhirnya, Turnamen Koryu pun bukan pengecualian.
Banyak orang bersikeras bahwa raja sejati Distrik
Barat bukanlah dari kategori beregu.
Total 40 orang. Di dalam aula yang penuh sesak,
mereka akan menentukan siapa perwakilan yang akan membawa angin puyuh
kemenangan.
"Sa, saya menyerah."
"Terima kasih atas pertandingannya."
Dalam turnamen individu itu pun, satu demi satu
pecundang mulai berguguran, menyisakan ruang kosong di aula.
Di tengah situasi itu, ada seseorang yang mencatatkan
jumlah kemenangan yang luar biasa.
"Menang lagi...?"
"Benar-benar kuat..."
Meski seorang perempuan, gadis ini terus mengalahkan
orang dewasa satu demi satu dengan momentum yang melampaui batasan anak SMA.
Fokus, tidak lengah, dan memancarkan semangat yang
membuat butiran keringatnya sekalipun tampak indah, sosoknya saat meraih
kemenangan telak benar-benar mencerminkan seorang petarung kuat.
Gadis yang menjadi satu-satunya perwakilan SMA
Nishigasaki itu bernama──Toujou Mika.
Dia bukan sekadar bintang baru, melainkan sosok kuat
yang muncul secara konsisten untuk menduduki takhta.
Tenryu Kazuki tidak ada, Maicho Reina tidak ada,
Narita Seiya pun tidak ada. Sangatlah wajar jika Toujou mendominasi Turnamen
Koryu Distrik Barat yang kursinya kini kosong.
(Padahal aku ingin membalas dendam, tapi kenapa tidak
ada satu pun anggota tim final kemarin yang ikut?)
Toujou menyesali hilangnya kesempatan untuk
bertanding ulang.
Kini tidak ada lagi musuh baginya. Perwakilan Distrik
Barat, anggota Nishigasaki seperti Raizaki atau Aoi, bahkan Kaisar Penghancur
Diri, Watanabe Mikado, tidak ada yang berpartisipasi dalam turnamen ini.
Bagi Toujou yang telah melewati pertempuran sengit
tempo hari, "panasnya" turnamen ini bahkan tidak sanggup menyentuh
dadanya.
"Sepertinya Anda sangat percaya diri ya."
"……Kelihatannya begitu?"
Di hadapannya, pria yang duduk di depan Toujou menata
bidak dengan senyum penuh percaya diri.
Tanpa terasa, ini sudah babak final. Penonton yang
tadinya sudah yakin siapa pemenangnya, kini mulai menahan napas.
Lawannya adalah salah satu orang yang pernah mengalahkan
Toujou di masa lalu.
Tepatnya saat SMP, saat Toujou melakukan kesalahan amatir
yang membuat posisi unggulnya hancur dan berakhir dengan kekalahan tragis.
"Mohon maaf sebelumnya, Toujou-san. Aku juga tidak
cukup kuat untuk bisa menahan diri saat melawanmu, jadi aku akan menyerang
titik lemahmu secara agresif."
Titik lemah──benar, Toujou punya kelemahan yang nyata.
Joseki (urutan langkah standar) yang kaku dan
jauh dari shogi modern. Berbeda dengan Takebayashi Tsutomu yang bertarung
dengan perisai kuno yang kokoh, shogi Toujou hanyalah shogi yang terlalu
menitikberatkan pada kestabilan.
Karena itu, mengantisipasinya adalah hal pasti, dan
langkah-langkahnya pun sederhana.
Toujou tidak punya variasi. Dalam pertandingan apa pun,
melawan siapa pun, dia hanya memainkan joseki yang sama.
Berlawanan dengan pemikiran Toujou yang menganggap
kesetiaan pada satu titik itu luar biasa, kenyataan membuktikan bahwa kemampuan
untuk berubah secara variatif adalah cara untuk memenangkan persaingan sosial.
Ada perbedaan besar dalam kemampuan catur, dan menyerang
titik lemah saja tidak akan memberikan keunggulan besar. Itulah penilaian
objektif terhadap Toujou.
Namun, kemampuan pria ini setara dengan Toujou. Jika
begitu, perbedaan di antara keduanya adalah──.
"Ya, silakan. Lagipula aku juga baru
mempelajarinya."
Sesaat setelah pertandingan dimulai, tangan Toujou
terjulur menuju tempat yang sama sekali berbeda dari biasanya.
Bukan Fu (Pion), bukan Hisha (Benteng),
bukan pula Kin (Emas) atau Gin (Perak).
……Itu adalah langkah yang pasti pernah dilihat sekali
oleh siapa pun yang bermain shogi daring.
Toujou──memegang bidak "Raja".
"──Sepertinya, tanganku akan sedikit liar hari
ini."
Toujou melemparkan senyum menantang kepada pria yang kini
memasang ekspresi kebingungan itu.
Langkah itu—langkah yang hanya boleh dilakukan oleh satu
orang saja di dunia ini.
Berlari sekuat tenaga dalam konsentrasi penuh tepat
di ambang kematian. Tanpa rasa takut, tanpa penyesalan, sang Raja sendiri
yang melesat maju menghancurkan segalanya.
──Self-Destruction
Style (Jimetsu-ryu).
Kaisar
Penghancur Diri, sang pemuncak peringkat papan atas shogi daring, pernah
menjawab alasan mengapa ia sampai pada taktik tersebut hanya dengan satu
kalimat singkat.
──"Tak
ada yang lebih merepotkan daripada nyawa yang bergerak dengan sendirinya."
"……Hah?"
Pria itu menatap papan dua kali, seolah meragukan realita
di depan matanya.
Ini bukan provokasi, bukan pula lelucon. Bayangan yang
tumpang tindih dengan tangan Toujou adalah sebuah dejavu nyata yang kini
merasuki benak pria tersebut.
──Toujou
menggunakan Self-Destruction Style.
◇
Evolusi
Raizaki Natsu tidak akan berhenti. Tidak boleh berhenti.
Balas
budi kepada "dia" yang telah menyelamatkanku "dua kali"
sudah ditetapkan.
Suatu saat aku akan mengalahkannya. Suatu saat aku akan
melampauinya.
Jika tidak memotivasi diri seperti itu—meski hanya
kebohongan sekalipun—aku merasa tidak akan bisa melangkah lebih jauh dari
diriku yang kemarin.
Karena itulah, aku yang sekarang seharusnya jauh lebih
kuat daripada saat turnamen distrik kemarin.
Seharusnya, aku terus melesat maju menuju pertumbuhan
itu.
"Eh……?
……Eh?"
Perasaan
seolah hatiku yang tadinya penuh, kini dipaksa ditukar dengan wadah yang kosong
melompong mulai menyerangku.
Aku
terguncang.
Bukan,
ini lebih dari sekadar guncangan. Logikaku tidak sanggup mengejar
hasil yang kulihat saat ini.
Mati saat sedang tertidur, dunia yang berubah dalam
sekejap mata, atau mungkin ini adalah racun mematikan yang bahkan tidak
memberikan rasa sakit.
Sampai "sesuatu" yang menjalar ke seluruh
tubuh ini mengirimkan sinyal bahaya, kurasa kami sempat melakukan aksi saling
serang kecil selama sekitar lima puluh langkah.
Namun, buih itu perlahan membengkak di tenggorokan
dan──pada saat ia meletus, "pang!", segalanya telah berakhir.
Aku
tidak ingat jelas. ……Benar-benar tidak ingat.
Rasanya
seolah memori itu terlempar saking kuatnya guncangan yang kuterima.
Padahal
itu seharusnya menjadi pemandangan yang memberikan dampak besar, sesuatu yang
seharusnya paling membekas, tapi aku sama sekali tidak bisa mengingat posisi
bidak di papan tersebut.
Sampai sejauh itulah perbedaan kekuatan kami……
"kekalahan" telah ditanamkan ke dalam diriku secara telak.
"Si-siapa Anda sebenarnya? Anda ini
siapa……?!"
Wajahku pucat pasi saat aku bergegas mengambil jarak dari
wanita itu.
Kata "kuat" pun memiliki tingkatan. Jika aku
bertarung dan merasa kesulitan, aku akan menganggapnya kuat. Jika aku kalah
tanpa bisa melakukan apa pun, itu pun lawan yang kuat.
Tapi, lawan yang baru saja kuhadapi tidak masuk dalam
"wadah" tersebut.
Sebenarnya, apakah yang tadi kulakukan itu benar-benar
shogi?
"Uu~mm! Rasanya benar-benar lezat. Langkahmu
sungguh manis."
Seolah-olah baru saja memangsa gaya permainanku,
wanita itu menjilat bibirnya sekilas dengan puas.
"Selain itu, aku bisa merasakan dedikasi murni
hingga ke bagian terkecilnya. Mungkin kau tipe seleraku."
"A-aku tidak menanyakan hal itu! Tolong jawab aku! Apakah Anda benar-benar seorang amatir……?!"
Bakat luar biasa yang sama sekali tidak masuk dalam
kategori keahlian orang awam, atau ancaman yang bahkan membuat kata itu terasa
tidak cukup──.
Di hadapanku yang sedang mendesaknya dengan aura
mencekam, dia hanya tersenyum tenang.
"Ah,
benar juga…… kalau dipikir-pikir, aku belum memperkenalkan diri ya."
Seketika,
aku menyadari ada sebuah dinding yang tak terbayangkan tercipta dari balik
senyum itu, hingga membuatku memekik kecil tanpa sadar.
Jarak
yang tadinya terasa begitu dekat, kini berubah menjadi ruang personal yang
sangat kokoh dan tidak boleh dimasuki oleh siapa pun.
Aku merasakan sesuatu di antara kami. "Masa
lalu" yang bahkan tidak kusentuh justru membangkitkan rasa takut yang
lebih dalam.
Aku pernah melihatnya di suatu tempat.
Aku yang biasanya hanya peduli pada diriku sendiri, sama
sekali tidak tertarik pada dunia shogi, bahkan tidak pernah menonton turnamen
gelar sekalipun. Tetap saja, ada dejavu yang terasa di sudut ingatanku.
"Kalau begitu, akan kusebutkan namaku sekali
lagi."
Gema suara lampu kilat kamera dan bunyi rana yang tak
terhitung jumlahnya. Seorang gadis yang duduk dengan mata tenang tanpa
meneteskan air mata. Semua orang menatapnya dengan pandangan penuh ketakutan.
Potongan memori yang melintas di otakku layaknya flashback
kematian itu membuat darahku terasa dingin seketika karena ngeri.
Saat itu, salah satu matanya tertutup poni. Tidak semerah ini.
Saat ini, aku sedang berhadapan dengan orang yang
luar biasa. Lawan di depanku ini benar-benar gila.
Dia berdiri tegak, menatapku seolah merendahkan. Dan
kemudian──.
"Salam kenal."
Kicauan burung dan deru gesekan pepohonan di luar
sana──lenyap seketika begitu ujung jari telunjuknya menyentuh bibir.
"Namaku Mizuki Yumeno. Aku adalah pemain shogi
wanita (joryu kishi) terlemah."
Itu adalah nama dari pemain shogi wanita yang
dijuluki sebagai yang terkuat sepanjang sejarah.
◇
Sehari setelah sebuah acara besar berakhir, waktu
terasa berlalu lebih cepat dari biasanya. Mungkin ini yang dinamakan sisa-sisa
euforia.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore lewat, dan aku
menyambut waktu pulang sekolah yang terasa agak sepi.
Kira-kira, apakah Raizaki bisa masuk sekolah dengan
selamat setelah tadi pagi?
Aku khawatir karena dia tampak sangat pusing, tapi
karena kami berbeda angkatan, aku tidak bisa langsung pergi mengeceknya.
Tidak, itu bohong. Sebenarnya aku cuma malu, makanya
tidak berani menemuinya. Aku
masih saja pengecut jika tidak berada di medanku sendiri. ……Suatu saat, aku
benar-benar harus mengatasi sifat ini.
"……Yo."
"Ah,
halo."
Tiba-tiba
aku berpapasan dengan Sakuma Hayato yang hendak pulang. Aku membalas sapaannya
dengan canggung.
Hayato
mengalihkan tatapan tajamnya dariku, lalu berjalan menuju deretan rak sepatu.
Sejak
aku masuk klub, dia memang sudah membenciku, dan setelah melewati turnamen
distrik pun hubungan kami tidak kunjung membaik.
Tapi, aku tidak membenci hubungan seperti ini.
Rasa benci atau tidak suka adalah reaksi biologis. Memaksanya
untuk berubah sama saja dengan memanipulasi kesadaran sendiri. Jika dia sudah
merasa begitu, mau bagaimana lagi.
Aku berjalan menyusul di belakang Hayato menuju pintu
keluar, lalu berdiri di depan rak sepatuku sendiri.
──Di sana, ada sebuah kertas kecil yang terlipat.
Di zaman sekarang ini, tidak mungkin ada perkembangan
cerita nyaman seperti surat cinta yang menungguku.
Aku mengambil surat itu, dan tanpa melihat isinya, aku
langsung berbalik arah menuju ruang klub.
──Di tengah jalan, saat teriakan anggota klub olahraga
menggema, aku membuka kertas itu dengan satu tangan sambil berjalan dan
meliriknya sekilas.
Sepulang sekolah, datanglah ke ruang klub. Kalau
tidak datang, aku akan membocorkan masa lalumu dan apa yang terjadi di Dojo
Tennoji kepada semua orang.
Aku menghela napas panjang sambil terus melangkah.
Ada sedikit rasa kesal yang terselip di sana.
"……Makanya aku malas kalau harus menonjol."
Aku tiba di depan ruang klub dan membuka pintunya tanpa
ragu.
Hari ini tidak ada kegiatan klub. Karena kami semua baru
saja selesai turnamen, Takebayashi-senpai menyuruh kami libur untuk
beristirahat.
Namun, lampu di dalam ruang klub menyala.
Begitu pintu terbuka, seorang gadis berambut merah muda
yang tampak ceria muncul dari dalam.
"Selamat sore-ssu! Mikado-cchi!"
Melihat Aoi yang menyapa dengan nada biasanya, aku
terdiam sejenak sebelum membuka mulut.
"……Selamat sore, Aoi."
"Nyahaha~! Ada apa, Mikado-cchi? Wajahmu kaku
banget-ssu!"
"……Kelihatannya begitu?"
"Kelihatan banget-ssu! Sampai tegang begitu. Mikado-cchi,
apa terjadi sesuatu yang menakutkan-ssu? Aoi siap jadi tempat curhat kapan
saja-ssu!"
Aoi berjalan mondar-mandir di sekitarku sambil
menunjukkan ekspresi wajah yang berubah-ubah.
Ini adalah Aoi yang kukenal. Sosok yang dia tunjukkan
saat pertama kali kami bertemu. Entah kenapa, bagiku itu tidak terlihat seperti
"akting".
"……Kalau tidak ada urusan, boleh aku pulang?"
"Tunggu."
Aoi menghentikanku saat aku sudah membalikkan badan.
"……Sepertinya aku sudah terlalu banyak bercanda.
Mari kita masuk ke topik utama."
Kali ini Aoi bicara dengan nada yang berbeda. Kontras
dengan mulutnya yang tampak mengejek, ekspresi wajahnya yang
terdistorsi—seperti sedang berakting—terasa sangat menjengkelkan.
Matanya yang tampak seperti sedang ketakutan itu
tidak memiliki konsistensi emosi untuk disebut sebagai niat membunuh.
Hei, Aoi. Apakah itu wajah seseorang yang berniat
mengancam orang lain?
"Aku akan langsung ke intinya. ──Aku ingin
Senpai segera mengundurkan diri dari klub shogi ini."
Aoi mengatakannya dengan nada suara yang tenang dan
tertahan.
Kupikir dia punya tujuan apa sampai mengancamku,
ternyata soal keluar dari klub. Kalau cuma keluar dari klub, bukan berarti
tidak bisa kupertimbangkan.
Aku tidak mempertaruhkan seluruh hidupku pada klub
ini, dan keluar dari klub bukan berarti aku akan putus hubungan dengan Toujou,
Raizaki, dan rekan lainnya, kan?
Jika dengan begitu masalah bisa selesai dengan damai
tanpa perlu beradu senjata, itu juga salah satu pilihan.
Namun, membiarkan bidak yang bisa diambil begitu saja
bukanlah sifatku.
"……Boleh aku tahu alasannya?"
Aku bertanya dengan lugas. Aku tidak
tahu apakah dia akan menjawab, tapi segala sesuatu pasti ada alasannya.
"Karena aku ingin menjadi Kapten."
Jawaban yang kembali ternyata sangat sederhana.
"Kapten?"
"Senpai mungkin tidak tahu. Apa kau tahu kenapa klub
shogi ini tidak punya guru pembimbing?"
Kalau dipikir-pikir, memang benar klub ini tidak punya
guru pembimbing.
Urusan administratif selalu ditangani Takebayashi-senpai,
dan saat turnamen pun dia yang mengurus semuanya.
Normalnya, harus ada guru pembimbing yang bertanggung
jawab atas klub shogi ini. Jika dipikirkan lagi, memang terasa aneh kenapa
Takebayashi-senpai menanggung semuanya sendirian.
"Karena Senpai ikut turnamen, kau pasti tahu
bagaimana dunia shogi bergerak di bawah permukaan saat ini."
"……"
Aku tidak tahu detailnya. Namun, ada fakta yang kupahami.
Hilangnya sang pahlawan. Peristiwa yang terjadi akibat
hilangnya tokoh besar dalam dunia catur ini memicu semacam era revolusi.
Seolah tersedot ke dalam satu kursi kosong yang
ditinggalkan, bintang-bintang baru—pahlawan kecil—mulai lahir.
Mereka dijuluki "Generasi Kedua", talenta
berbakat yang konon meninggalkan prestasi di berbagai tempat sebagai sosok yang
akan mengguncang dunia shogi di masa depan.
Meningkatnya antusiasme terhadap shogi belakangan ini
hanyalah produk sampingan dari kemajuan mereka.
……Tidak, aku juga tidak menutup mata dari keramaian
dunia. Aku hanya menganggapnya sebagai kejadian yang tidak ada hubungannya
denganku.
"Kelahiran seorang pahlawan adalah impian bagi dōjō
mana pun. Banyak sponsor dan organisasi yang mengincar keuntungan dengan
memanfaatkan momentum itu untuk memperluas pengaruh. ……Khususnya, SMA
Nishigasaki terseret ke dalamnya sebagai tambang emas."
Isi pembicaraan yang keluar dari mulut Aoi jauh melampaui
skala yang kubayangkan.
"Klub shogi ini memang baru punya tujuh anggota.
Tapi dalam beberapa tahun ke depan, puluhan atau ratusan murid dari berbagai
dōjō yang lulus SMP akan menyerbu tempat ini."
"Untuk tujuan apa sebenarnya?"
"Tujuannya cuma satu. ……Siswa yang memberikan
kontribusi besar di klub ini akan mendapatkan hak rekomendasi untuk masuk ke Shoreikai."
"……!"
Mendengar kata-kata Aoi, aku menyadari gawatnya situasi
ini.
Shoreikai──gerbang utama menuju dunia
profesional, sebuah lembaga pelatihan pemain catur profesional.
Tempat seperti wadah racun di mana para jenius berkumpul
untuk saling menjatuhkan.
Normalnya, seseorang harus mendapatkan sertifikat Dan 4
dan mendapat rekomendasi dari pemain profesional untuk bisa ikut ujian masuk.
Jika jalan itu bisa terbuka lebar hanya lewat prestasi di
klub SMA, itu adalah keuntungan yang sangat besar.
"Apalagi katanya akan ada beasiswa dan dana bantuan.
Kalau lulus, bisa menjadi anggota Shoreikai tanpa biaya. Terdengar seperti mimpi, kan?"
"……Apa kau sedang kesulitan uang?"
"Sedikit. Biar begini, aku tinggal sendirian.
Orang tuaku meninggal saat aku masih kecil, dan sekarang aku hidup sambil
bekerja paruh waktu. Tapi kalau terus begini, waktuku habis untuk bekerja dan
tidak bisa belajar shogi dengan layak. ……Bahkan jika aku masuk Shoreikai
sekarang, aku tidak punya cukup uang untuk membayar iuran anggotanya."
Entah itu karena dia sudah mati rasa setelah melewati
kesedihan, atau karena dia sudah memahami sesuatu. Aoi bicara dengan datar
tanpa berusaha mencari simpati.
Mata itu, beratnya kata-kata itu──dari sisi mana pun kau
melihat, itu adalah perasaan jujur Aoi Reina.
Begitu ya, jadi tujuannya adalah menjadi Kapten agar bisa
menonjol.
Tapi
tetap saja…… Shoreikai, ya. Targetnya adalah tempat yang sangat
besar. Karena aku sendiri pernah hancur mimpinya di sana saat kecil, aku
memahami tingkat kesulitannya lebih dari siapa pun.
"……Jangan-jangan, mimpi Aoi bukanlah menjadi joryu
kishi (pemain wanita), melainkan……"
"Ya,
pemain catur profesional (kishi)."
Aku
sudah menduga hal itu, tapi aku tidak menyangka kata-kata itu benar-benar
keluar dari mulutnya.
Joryu
kishi adalah
kategori profesional khusus wanita.
Kategori
ini dibuat untuk mempopulerkan shogi, dan secara sistem terpisah dari pemain
profesional reguler (kishi), serta tidak akan pernah bertemu di jalur
yang sama.
Dari
segi level, letaknya berada di antara Kenshuukai (lembaga pelatihan
bawah) dan Shoreikai.
Jadi
jika mimpi Aoi adalah menjadi joryu kishi, dia bisa mewujudkannya dengan
masuk Kenshuukai dari sekarang dan meraih prestasi tertentu.
Itu bukan hanya berlaku untuk Aoi, tapi Toujou dan
Raizaki juga punya potensi yang sama.
Namun, Aoi dengan jelas menyebutkan Shoreikai,
bukan Kenshuukai.
Kesimpulan yang didapat tentu saja──pemain profesional
reguler (kishi).
"……Kau serius?"
"Ya. Serius."
Kemampuan seorang pemain profesional reguler berada di
dimensi yang berbeda dengan joryu kishi. Tingkat kesulitan dan peluang
keberhasilannya tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.
Lagipula──dalam sejarah Jepang, belum pernah ada satu pun
wanita yang berhasil menjadi pemain profesional reguler.
"Itu dulu adalah mimpi adikku, menjadi pemain
profesional. Karena itulah, mimpiku adalah menjadi komentator di papan besar
saat adikku bertanding nanti. Meski
hanya sebagai asisten."
"Komentator
papan besar…… Jadi, awalnya kau memang berniat jadi joryu kishi?"
"Begitulah. Mungkin dulu memang begitu. ……Tapi,
itu sudah jadi mimpi yang jauh. Aku sudah melupakannya. Sekarang, itu sudah
tidak penting lagi."
Entah karena marah pada dirinya sendiri, Aoi mengepalkan
tinjunya agar tidak terlihat olehku dan menatap ke luar jendela dengan
pandangan penuh kekecewaan.
"Maaf ya, aku tidak bermaksud membuatmu merasa
kasihan. Jadi lupakan saja ceritaku tadi."
"Sejak awal aku tidak berniat
mengasihanimu."
"Baguslah kalau begitu. Jadi, mari kembali ke topik
utama. ──Watanabe Mikado, aku ingin kau segera keluar dari klub. Kau sudah
paham alasannya, kan?"
Kali ini dengan permusuhan yang nyata, Aoi melotot ke
arahku.
"Kau tidak suka karena aku yang menjadi Kapten
kemarin?"
"Ya."
"Kalau begitu, sebelum aku masuk, kau mengincar
Toujou?"
"Aku tidak membantahnya. Ketua akan lulus tahun ini,
dan Raika-cchi…… Raizaki Natsu dulunya cuma berdiam diri di rumah. Hanya
Toujou-senpai yang benar-benar jadi penghalang."
Kasihan sekali Sakuma bersaudara yang dianggap tidak ada
begitu saja. Padahal menurutku kakak-beradik itu cukup kuat.
"Tapi, gara-gara ada gangguan bernama 'Senpai',
penghalangnya jadi bertambah. Belum lagi karena ucapan Ketua yang tidak perlu,
Raizaki Natsu jadi mulai masuk sekolah lagi. ……Benar-benar deh, musuhku
bertambah dan suasana hatiku sedang buruk sekali."
"Musuh……? Bukankah itu hanya karena kau sendiri yang
menganggap kami musuh? Kita adalah rekan yang sudah berjuang bersama, dan akan
terus menjadi rekan."
"Ternyata kau tipe orang yang suka bicara omong
kosong ya? Kupikir kau ini tipe penyendiri yang negatif."
"Menyinggung
sekali…… Aku merasa selalu hidup secara positif, lho."
"Heh,
ternyata kau punya keberanian untuk bercanda juga? Yah, kau memang pendiam tapi
bukan tipe orang yang penakut."
"Sebaliknya,
aku terkejut karena Aoi ternyata jauh lebih kelam dari dugaanku."
"……Cukup
basa-basinya sampai di sini."
Aoi
menatapku tajam dalam diam untuk menunjukkan keteguhan niatnya, mendesakku
untuk segera memberi jawaban.
Seandainya
Aoi benar-benar berdiri di hadapanku sebagai musuh, aku akan menggunakan segala
cara untuk bertahan. Tidak peduli apa yang terjadi pada lawan, aku akan
melindungi diriku sendiri.
Namun, mata Aoi masih menatap "manusia".
"……Ini pertanyaan klise, tapi tetap akan kutanyakan.
Bagaimana kalau aku menolak?"
"Aku bukannya tanpa persiapan. Aku bisa melakukan banyak hal, dan punya banyak informasi. Contohnya
apa yang tertulis di kertas itu──apa yang sudah kaulakukan di Dojo Tennoji di
masa lalu, dan sebagainya."
Aku penasaran bagaimana Aoi bisa tahu masa laluku, tapi
mari kita simpan itu untuk nanti.
"Apa pun rintangan yang kau singkirkan, pada
akhirnya kau akan menabrak dinding kemampuan catur. Selama kau tidak bisa
menembus dinding itu, kurasa menyingkirkanku tidak akan ada gunanya."
"Tidak apa-apa. Aku juga belajar setiap hari. Jadi,
aku hanya perlu khawatir soal jatah kursi yang direbut."
"……Kalau dipikir-pikir, saat Toujou dan Sakuma
bersaudara berdebat soal siapa yang pantas jadi Kapten, kau menengahi dan
bilang kau saja yang jadi Kapten. Apa itu niat jujurmu?"
"Ya. Anggap saja begitu."
Ejekan maupun provokasi tidak mempan. Di dalam hati Aoi ada hati yang terasa dingin membeku.
"Begitu ya……"
Aku merasakan permusuhan dan niat untuk menjatuhkanku
dari Aoi. Namun, aku belum merasakan "kebencian murni". Aku tidak
merasakan kebencian penuh nafsu seperti yang pernah terpancar dari Asuka.
Ini murni demi tujuannya sendiri, tidak lebih dan
tidak kurang.
"Baiklah. Kalau kau mau menyebarkan masa laluku,
silakan saja. Kalau kau mau membuatku keluar dari klub, lakukan saja. Tapi, aku
juga sama denganmu, aku tidak mempertaruhkan hidupku pada 'shogi' ini dengan
perasaan setengah-setengah. Seandainya aku terpaksa keluar karena tekanan
tertentu, aku beri tahu saja kalau aku tidak tahu apa yang akan kulakukan
setelah itu."
"……!"
Begitu aku menunjukkan sikap tegas, Aoi terdiam dan
tampak sedikit terdesak.
Kau salah memilih lawan, Aoi. Berbeda denganmu, aku ini
orang kasta bawah. Penyendiri, tidak punya teman, dan tidak punya jaringan
pertemanan.
Sekalipun masa laluku terungkap sekarang, itu tidak akan
memberiku rasa sakit apa pun.
"……Jangan meremehkanku. Kau ini penyendiri seperti
penampilanmu, kan? Bagaimana bisa kau bersikap setegar itu?"
"Khusus untuk kali ini."
"……Aku tidak akan berhenti. Aku bahkan sudah
menyiapkan panggungnya."
Aku menggelengkan kepala mendengar kata-kata Aoi.
"Aku bukan orang baik hati yang mau naik ke arena
yang disiapkan orang lain. Kalau mau menentukan siapa yang benar, mari kita
lakukan sekarang di sini."
"Kau pikir kau dalam posisi bisa menolak?"
"Kau pikir kau dalam posisi bisa membuatku tidak
bisa menolak?"
Aoi dan aku sama-sama tidak mau mundur. Kebuntuan ini
sepertinya akan berlangsung lama, tapi akulah yang memecahkannya.
"……Yah, kurasa aku harus mengikuti aturan di sini.
Ini klub shogi, dan kita adalah anggota klub shogi. Maka hanya ada satu hal
yang bisa dilakukan."
Aku mengambil papan shogi dan kotak bidak dari lemari,
lalu menyerahkan jam catur yang ada di pojok kepada Aoi.
"Pertandingan satu babak saja. Kalau kau menang, aku
akan keluar dari klub dengan patuh. Tapi sebagai gantinya, kalau aku menang,
kau yang keluar."
"……"
Mendengar kata-kataku, Aoi terdiam.
"Karena aku yang menantang, tentu aku akan
memberimu keuntungan (handicap). ……Mari kita lihat, waktu berpikirku
hanya '10 detik', sedangkan waktu berpikir Aoi 'tak terbatas'. Bagaimana?"
"……Kau serius?"
"Aku serius. Apa kau keberatan?"
"……Apa kau meremehkanku hanya karena pernah
menang sekali lawan aku?"
"Aku tidak meremehkanmu. Faktanya, saat
pertandingan simultan waktu itu, kau tidak mengeluarkan kemampuan aslimu, kan? Ditambah
lagi, di turnamen kemarin kau menang semua pertandingan. Terlihat jelas kalau
kau selalu menahan diri."
Benar, Aoi selalu menahan diri. Aku menyadarinya dari
catatan pertandingannya di Turnamen Koryu.
Meski bukan Kapten, Aoi tidak pernah kalah satu kali pun
sampai tim kami juara. Bahkan Toujou saja pernah kalah satu kali, tapi Aoi
menang telak.
Ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan kemampuan
setengah-setengah.
"Selain itu, saat pertama kali aku masuk klub ini,
Ketua bilang padaku begini: 'Aoi adalah yang terkuat kedua di klub ini setelah
Toujou'. Waktu itu aku menerimanya begitu saja, tapi kalau dipikir-pikir, di
klub ini juga ada Raizaki. Namun
Ketua tetap menilaimu sebagai yang kedua. ……Ah, kalau tidak salah Ketua juga
menang terus di Turnamen Koryu ya. Benar-benar deh, aku tidak tahu siapa lagi
yang menyembunyikan kekuatannya di klub ini."
Aku melontarkan kata-kata itu seolah sedang menertawakan
keadaan.
Mendengar itu, Aoi meletakkan jam catur di sampingnya,
lalu duduk sambil melihatku menata bidak.
"……Kau benar-benar berpikir bisa menang melawanku
dengan keuntungan yang tidak masuk akal begini?"
"Ini bukan soal bisa menang atau tidak. Kalau
tidak begini, kau tidak akan mau menerima tantanganku, kan? Aku pun sebenarnya
lebih suka tanpa keuntungan. Tapi kalau begitu, kau tidak akan tertarik. Maaf
saja, aku tidak sudi dijatuhkan lewat cara kasar atau tuduhan palsu."
Sambil bicara, aku mulai menarik "cara berpikir
itu" ke dalam diriku.
"──Jika kau juga salah satu orang yang
bercita-cita menjadi pemain catur, maka selesaikanlah pertarungan ini di atas
papan dengan jantan."
Mendengar kata-kataku yang tegas, tatapan mata Aoi
sedikit berubah.
Lalu dia mengangkat sudut bibirnya, menatapku dengan
wajah penuh kemenangan.
"……Kau harus tepati janjimu. Kalau kalah harus
keluar, paham?"
"Ya, aku adalah pria yang selalu menepati 'janji'.
Tapi tenang saja, Aoi. Aku tidak akan kalah, dan aku juga akan
menyelamatkanmu."
"Tidak mengerti maksudmu. Baiklah, mari kita
mulai."
Begitu aku mengangguk pelan, Aoi menekan jam catur, dan
dimulailah pertarungan yang mempertaruhkan keanggotaan klub kami.
◇
Sejak aku kehilangan orang tua dan adik laki-lakiku dalam
kecelakaan lalu lintas saat masih kecil, entah sejak kapan aku mulai bermain
shogi seolah-olah sedang kerasukan kutukan.
Awalnya aku memang suka shogi, dan karena adikku
bercita-cita menjadi pemain profesional, aku yang masih kecil pun berniat
menjadi joryu kishi untuk mengejar mimpi adikku itu.
Bermain shogi bersama adikku sangatlah menyenangkan.
Keseharianku penuh dengan warna.
Tidak peduli apakah mimpi itu akan terwujud atau tidak,
aku yakin itu adalah langkah hidup yang universal bagi siapa pun.
Hanya saja, setelah kehilangan keluargaku, aku bermain
shogi seperti orang yang sedang mabuk berat sambil tenggelam dalam kubangan
lumpur.
Laksana buih yang keluar dari racun, laksana serangga
yang kehilangan kaki dan sayapnya, sosok diriku yang lahir dari keinginan kotor
dan tak berharga ini terus melesat menuju mimpi yang tidak pasti karena tidak
bisa mengakui keberadaan diriku sendiri.
Aoi
Reina…… Katanya, "Rei" berarti bagian dalam diri yang suci dan
jernih, sedangkan "Na" mengandung arti sebuah permohonan.
──Semua
orang yang diberikan nama keluarga "Aoi" (Bunga Matahari), akan
tumbuh dengan riang dan ceria lebih dari siapa pun di bawah sinar matahari.
Orang
tuaku memberiku nama "Reina" dengan harapan agar aku tumbuh menjadi
anak yang memiliki bagian dalam diri yang cantik dan jernih.
──Wajah
yang menjijikkan terpantul di cermin.
Senyum kaku yang dibuat-buat. Nada bicara gila yang
tidak bisa mendapatkan empati dari orang lain. Di bagian mana ini bisa disebut
cantik dan jernih?
Setiap kali melihat cermin, aku merasa ingin muntah.
Rasa sesak dan cemas seolah sedang dikejar sesuatu, serta
kaki yang terus melangkah di tempat yang tak berjalur demi melarikan diri dari
perasaan itu.
Hatiku mulai keruh, bagian dalam diriku membusuk, dan
hanya emosi-emosi buruk yang keluar dengan mudahnya.
Aku merasakan kebencian yang mendalam pada fakta bahwa
diriku yang sekarang telah mengkhianati harapan orang tuaku.
Karena
itulah aku…… mulai memanggil diriku sendiri dengan nama "Aoi".
Karena
aku tidak pantas menyandang nama itu, karena aku tidak ingin ada orang yang
memanggilku dengan nama itu.
Aku
merasa di sudut hatiku ada rasa bersalah dan penebusan dosa yang dipaksakan,
dan aku benci jika hal itu terlihat di permukaan.
Aku
tidak suka sesumbar bilang ingin jadi pemain profesional.
Karena
aku tahu betul orang-orang akan menganggapnya mustahil, dan aku merasakan
sendiri betapa takutnya dihina karena tidak punya bakat.
Hanya
saja, aku sadar bahwa untuk menjadi kuat, aku butuh seseorang untuk
mengajariku.
──Saat aku duduk di kelas atas sekolah dasar. Aku
mendengar kabar bahwa di tempat yang agak jauh, ada sebuah dōjō hebat bernama
"Dojo Tennoji" yang telah melahirkan banyak pemain kuat.
Aku memutuskan untuk belajar di sana, dan dengan tekad
kuat aku melangkahi ambang pintu Tennoji demi mendekati impian menjadi
profesional.
Memiliki lebih dari 100 murid, fleksibilitas tinggi yang
menghargai kemandirian siswa, dan wibawa sebagai tempat besar yang terus
mencatatkan hasil nyata meski bergaya klasik…… Begitulah yang kudengar.
Namun, pemandangan Dojo Tennoji yang bersejarah itu sudah
tampak sangat sepi saat aku tiba, sampai-sampai suara burung gagak pun
terdengar jelas.
Saat itu, aku hanya sempat melihat sekilas wajah seorang
anak laki-laki yang pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa? Kau ingin mendaftar jadi murid?"
"Ah,
iya…… Anu, benar ini Dojo Tennoji, kan……?"
"Benar. Kau sudah lihat papan namanya, kan?"
"I-Iya……"
Padahal rumornya dōjō ini selalu ramai dengan suara para
murid setiap harinya, tapi di hari aku datang untuk mendaftar, tidak ada siapa
pun di sana.
Bahkan tidak ada jejak keberadaan murid-murid di dalam
dōjō.
Papan nama yang menunjukkan tingkatan Dan yang biasanya
bersandar di dinding pintu masuk semuanya telah dilepas, dan satu papan nama
terakhir yang tersisa baru saja dibawa pergi oleh anak laki-laki tadi.
Apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku datang……?
Setelah itu, aku mendengar kebenarannya dari pemimpin
dōjō ini, Tennoji Gensui, dan aku sempat tertawa saking anehnya cerita
tersebut.
Katanya, tepat beberapa bulan yang lalu, ada seorang anak
laki-laki yang setahun lebih tua dariku masuk ke Dojo Tennoji dengan impian
ingin jadi pemain profesional.
Anak itu sangat berbakat. Awalnya dia bermain shogi
layaknya anak kecil biasa yang kadang menang dan kadang kalah, tapi sejak suatu
hari, dia berhenti bermain dengan mengandalkan bakat saja.
Entah bagaimana caranya, tapi sejak saat itu anak itu
terus meraih kemenangan dan mulai mendominasi seluruh murid di sana.
Terlebih lagi, cara bermainnya sangat tidak normal,
seolah dia menerjang maju tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, sebuah
shogi yang seakan-akan menanamkan rasa takut pada lawannya.
Anak-anak seusianya yang merasa tersaing berkali-kali
menantangnya bertanding, namun setiap kali itu pula mereka mengalami kekalahan
tragis yang mengenaskan, sampai akhirnya banyak murid yang mulai menangis.
Setelah itu, anak laki-laki itu dengan datar terus
mengalahkan para senior yang memiliki tingkatan Dan lebih tinggi darinya.
Karena gaya permainannya yang menimbulkan kengerian itu,
mayoritas murid mengalami luka batin dan berhenti datang ke dōjō. Hanya dalam
hitungan bulan, seluruh murid mengundurkan diri.
Dan hari ini, anak laki-laki yang menjadi satu-satunya
orang yang tersisa di dōjō ini pun memutuskan untuk berhenti karena sudah tidak
ada lagi lawan untuk bertanding.
Dengan kata lain, anak laki-laki yang tadi berpapasan
denganku adalah pelaku utama yang menghancurkan dōjō ini dengan gaya
permainannya yang mengerikan.
Pada papan nama yang dibawa anak itu, tertulis
nama──"Watanabe Mikado".
Karena saat itu aku masih murid SD, aku tidak bisa
percaya begitu saja kalau ada seorang anak yang bisa membuat sebuah dōjō hancur
lebur, jadi aku terus merasa ragu.
Namun sejak saat itu, setiap kali aku ikut turnamen dan
orang-orang tahu aku berasal dari Dojo Tennoji, banyak yang bertanya tentang
"Insiden Kehancuran Dojo Tennoji".
Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai rumor atau
karangan belaka, tapi karena begitu banyak orang yang bertanya, lama-lama aku
mulai menyadari bahwa insiden itu benar-benar terjadi.
Katanya setelah itu, anak laki-laki tersebut seperti
diusir dari Distrik Selatan dan dalam hitungan hari pindah ke distrik lain.
Orang-orang yang merasakan langsung kekuatan anak itu
rata-rata berhenti bermain shogi, dan tidak ada lagi yang tahu namanya selain
aku.
──Tahun-tahun berlalu, dan aku masuk SMP.
Saat itu aku sangat miskin. Setiap hari aku hanya bisa
menatap sisa saldo tabunganku yang terus berkurang seolah sedang melihat lilin
kehidupan yang hampir padam.
Aku ingin segera bekerja paruh waktu, tapi di usia segitu
mana mungkin aku bisa dapat pekerjaan biasa. Aku pun harus membantu pekerjaan
rumah tangga sambil menginap di rumah kerabat demi mendapatkan sedikit uang.
Bersamaan dengan itu, aku jadi tidak punya waktu luang
dan secara alami berhenti dari Dojo Tennoji.
Tak lama kemudian, aku menggunakan pengalaman belajarku
di Dojo Tennoji untuk ikut turnamen besar, dan di sanalah aku meraih juara
pertama untuk kali pertama.
Gaya permainan variatif yang tidak terpaku pada joseki
adalah hal yang kupelajari dari guru di Dojo Tennoji, Tennoji Gensui.
Aku menyempurnakan taktik pribadiku dengan berbagai
modifikasi agar bisa menembus joseki modern.
Jujur saja, aku merasa senang saat gaya permainanku
terbukti manjur dalam shogi modern dalam bentuk gelar juara.
Tanpa kusadari, orang-orang mulai menjulukiku sebagai
"Trickster", dan aku beberapa kali mendapat tawaran untuk masuk ke Kenshuukai.
Tapi bagiku yang hidupnya pas-pasan, aku tidak sanggup
mengeluarkan uang lebih banyak lagi, jadi aku menolaknya.
Saat itulah aku mendengar rumor tentang SMA Nishigasaki.
Sekolah ini, tempat dua jenius penyendiri bernama Toujou
Mika dan Raizaki Natsu bernaung, sepertinya sedang terseret ke dalam perebutan
keuntungan antara dua organisasi besar di bawah permukaan, dan pihak sekolah
pun tampaknya ikut terlibat.
Meski hanya sebatas rumor, katanya siswa yang berprestasi
besar membawa nama sekolah akan mendapatkan berbagai macam dana bantuan untuk
masa depan mereka.
Lokasinya strategis, ada jalur koneksi dengan dōjō-dōjō
baru yang akan dibangun di sekitarnya, dan hal-hal sulit lainnya.
Setelah diam-diam mendengarkan pembicaraan orang dewasa
itu, aku memantapkan hati untuk masuk ke SMA ini.
Meski tabunganku ludes karena ini, lokasinya lebih dekat
dibanding sekolah lain, peraturannya cukup bebas, dan dari segi biaya pun aku
tidak punya pilihan lain.
……Pada titik ini, aku sudah tidak punya ruang dalam
hidupku.
Bahkan keputusan yang menentukan arah hidupku pun kuambil
dengan setengah hati karena pikiranku sudah kacau balau.
Terkadang aku tidak tahu apa yang kucari dan apa yang
kukejar.
Lalu setelah masuk SMA Nishigasaki, aku resmi menjadi
anggota klub shogi dan di hari pertama aku langsung bertanding melawan Toujou
Mika.
Namun, saat aku mencoba mengeluarkan seluruh kemampuan
yang kupelajari di Dojo Tennoji, aku justru disadarkan akan kehebatan Toujou di
pertandingan pertama itu.
Seolah-olah kedua tanganku diborgol, aku sama sekali
tidak dibiarkan melakukan apa pun yang ingin kulakukan dan berakhir dengan
kekalahan telak.
Di sanalah, sebuah dinding penghalang yang nyata tercipta
di antara aku dan dia.
Setelah itu pun, aku berulang kali menantangnya namun
terus saja kalah. Menantang lagi, kalah lagi. Begitu seterusnya.
Seharusnya kemampuan membaca langkah, pandangan
strategis, maupun kualitas dasar kami tidak berbeda jauh, tapi di antara aku
dan Toujou Mika terdapat jurang kemampuan catur yang sangat lebar.
Kalau begini terus, aku tidak akan pernah bisa melampaui
Toujou Mika.
Padahal aku harus menjadi Kapten agar bisa menonjol, tapi
jika situasinya begini, sudah pasti dialah yang akan jadi Kapten.
Saat turnamen semakin dekat dan rasa cemas kian
memuncak…… akhirnya pikiranku melampaui batas kewajaran.
──Benar juga, aku tinggal membuatnya keluar dari klub.
Suara denting lonceng yang jernih laksana furin
bergema di dalam kepalaku.
Itu adalah nada paling indah yang pernah kudengar seumur
hidupku.
◇
"Baiklah, mari kita mulai──"
Begitu aku menekan jam catur, pada detik itu juga suara
bel tanda waktu mulai berpikir berbunyi.
Pertarungan satu lawan satu antara aku dan Senpai.
Pertarungan yang mempertaruhkan keanggotaan klub.
Berbanding terbalik denganku yang tidak memiliki batasan
waktu, waktu yang tersisa untuknya hanya sepuluh detik. Jika dia tidak
melangkah dalam waktu itu, dia akan langsung dinyatakan kalah.
Setelah melirik wajahku sekilas, Senpai menggunakan
sekitar tujuh detik waktunya dengan tenang untuk melakukan langkah pertama.
"……Kau benar-benar tidak akan menyesal?"
"Tidak akan."
Aku membalasnya dengan senyuman.
Sejak hari itu, terkadang suara lonceng berbunyi di
dalam kepalaku.
Meski hatiku terasa sesak atau pikiranku kacau balau,
begitu lonceng itu berbunyi, keraguanku sirna dan perasaanku membaik. Rasanya
sangat lega.
"……Kau sudah parah, ya."
Senpai yang menatap mataku dalam-diam bergumam pelan,
lalu dia memasang wajah heran saat aku tidak melakukan apa pun.
"Kau tidak melangkah?"
Mendengar kata-katanya, aku tertawa kecil.
"……Ternyata Senpai memang cuma bodoh soal shogi,
tapi otakmu benar-benar tumpul ya."
Kepada dia yang sama sekali tidak paham situasi, aku
membeberkan kenyataannya.
"Waktu Senpai cuma sepuluh detik, tapi waktuku tak
terbatas. Artinya, selama aku tidak melangkah, seberapa terpojok pun posisiku,
permainan ini tidak akan pernah berakhir. Kau tahu apa artinya ini?"
"……"
Dulu, aku pernah mendengar cerita tentang shinken-shi
(pemain shogi taruhan) profesional.
Pada zaman saat jam catur belum umum digunakan, ada kasus
di mana seseorang yang hampir kalah dalam taruhan terus berpikir sampai
matahari terbenam, hingga akhirnya lawannya menyerah karena habis kesabaran dan
pertandingan dianggap tidak sah.
Zaman sekarang, tindakan menghilangkan batasan waktu
adalah hal yang langka, karena normalnya batasan waktu adalah bagian tak
terpisahkan dari shogi.
Karena itulah, sejak aku mendengar soal handicap
ini, aku sudah yakin akan menang. Itulah alasanku mau repot-repan meladeni
tantangannya.
"Sejak saat duel ini dimulai, Senpai sudah tidak
punya peluang menang."
Jika ada kemungkinan kalah sekecil apa pun, aku tidak
akan menerima tantangan ini sejak awal.
Kau benar-benar meremehkanku ya, Senpai──.
"Apa,
ternyata kau cuma khawatir soal waktu? ……Kalau begitu tenang saja, aku akan
menemanimu sampai akhir."
"Eh……?"
Sambil
berkata begitu, Senpai mengeluarkan banyak makanan ringan dan minuman dari
tasnya.
"Aku
lupa bilang, tapi sebelumnya aku sudah memohon kepada Ketua apakah aku boleh
menginap di sekolah hari ini saja. Awalnya aku pikir menginap di fasilitas umum
itu mustahil, tapi Ketua langsung setuju tanpa ragu. Katanya dia
sudah minta izin khusus ke pihak sekolah dengan alasan kegiatan klub."
Senpai bicara dengan tenang, dalam nada suara yang
dingin dan stabil.
Sebaliknya, aku merasa seolah kepalaku baru saja
dihantam benda tumpul dengan keras.
"Eh……
ha……? A-apa, maksudmu……"
"Aku
juga sudah ke toilet sebelumnya, jadi tidak masalah. Karena itu
jangan sungkan, silakan serang aku dengan taktik waktu kapan saja. Yah,
kalaupun aku sudah tidak tahan ingin buang air, paling buruk aku terpaksa
melakukannya di sini…… Hahahahaha!"
Aku gemetar ngeri melihat pria di depanku yang
membicarakan hal gila seperti itu dengan wajah datar.
"Ka-kau sudah gila……?!"
"Hahaha…… fyuuh…… Jangan meremehkanku, Aoi Reina. Di mana ada orang
bodoh yang melawan kegilaan dengan akal sehat? Karena kau
melakukan hal gila, sudah sewajarnya aku pun melawannya dengan kegilaan."
"A-aku tidak mengerti maksudmu……!!"
Geregetan, gertakan. Meskipun otakku mencoba menilai
secara dingin, entah kenapa aku merasa kalau sikap Senpai ini benar-benar
serius.
Karena, matanya……
"Ah, satu lagi, maaf saja, tapi percakapan ini
semuanya sudah kurekam. Tentu
saja aku tidak berniat menyebarkan obrolan ini. ……Tapi, seandainya kau
membatalkan duel ini dan mencoba menjebakku dengan perangkap lain, aku tidak
akan segan-segan menggunakan rekaman ini sebagai senjata untuk melawan."
Sambil berkata begitu, Senpai mengeluarkan ponsel
dari sakunya yang benar-benar sedang merekam.
Melihat durasi rekaman yang sudah melewati dua puluh
menit, aku sadar kalau dia benar-benar sudah mempersiapkan ini bahkan sebelum
datang ke sini.
"Kenapa……
bagai, mana bisa……"
"Kenapa? Apa kau pikir aku akan datang ke sini tanpa
persiapan? Kau menulis surat ancaman soal membongkar masa lalu orang, lho. Apa
menurutmu orang yang diancam akan menyerbu masuk ke markas musuh dengan jujur
dan polos tanpa rencana? Normalnya tidak mungkin, kan?"
Dia mengatakannya seolah itu hal yang sangat wajar.
Namun, bagiku itu sama sekali tidak terasa wajar.
"Sebelum kau menyiapkan panggungmu, aku sudah
menyiapkan panggungku lebih dulu. Hanya itu saja."
"Ti-tidak mungkin……! Hal seperti itu, mana mungkin
bisa dilakukan……!"
"Dalam hal apa pun, menyerang lebih dulu (sente)
bukan jaminan menang. Dalam sebuah pertarungan, posisi menyerang atau bertahan
tidak ada bedanya. Itu adalah ungkapan yang bahkan diketahui oleh pemula
shogi."
Senpai terus mendesakku yang sedang kalut, tatapan
matanya memancarkan aura yang aneh dan mencekam.
……Aku hanya bisa terpaku diam.
"Kenapa? Ayolah tertawa 'nyahaha' seperti biasanya.
……Aku juga sedang mempertaruhkan hidupku di sini, jadi menari di atas ladang
ranjau pun akan kulakukan."
Aku baru menyadari sekarang, bahwa aku mungkin telah
menyentuh "sisik terbalik" yang seharusnya tidak boleh disentuh.
◇
Entah tindakanku, perbuatanku, atau perkataanku yang
menjadi penyebabnya, yang jelas Aoi tampak sangat kalut di sana.
Bagaimana pun juga, aku tidak akan punya peluang menang
kecuali aku menyeretnya ke dalam pertandingan shogi. Karena itu, semua jalur
lain akan kuhancurkan.
"Sekarang kau sudah punya niat untuk bertarung di
atas papan?"
"……Khu."
Aoi menggigit bibirnya dengan ekspresi kesal. Mungkin
karena merasa sudah dikalahkan dalam taktik, dia membalas menatapku tajam.
Goncangan yang jelas, kewaspadaan, dan kehati-hatian.
Dengan ini, Aoi tidak akan bisa melakukan trik murahan lagi.
Skenario sejauh ini pasti sudah terukir di otak Aoi
sebagai bentuk terburuk. Bahwa langkah bodoh akan terbaca, dan celah kecil akan
memicu serangan balik. Dia pasti sudah mempelajari hal itu.
Karena itu, kata-kata Aoi berikutnya adalah──
"……Ba-baiklah, aku mengerti. Aku akan
meladenimu."
Setelah melalui berbagai lika-liku, akhirnya aku
berhasil menyeretnya ke areaku.
Kegilaan tidak memiliki warna, namun akal sehat
memilikinya. Jika kau membiarkan kegilaan menumpuk hingga menjadi hitam pekat,
rencana cerdas tidak akan mempan lagi.
Tikus yang terpojok akan menggigit kucing. Itu
adalah kartu as-ku, tapi bukan berarti hanya berlaku untukku saja.
Aoi pun bisa melakukan apa saja jika dia terdesak. Cara
yang menghancurkan peluang menang lawan secara total hanya akan memicu
kemarahan atau sikap nekat.
Itulah sebabnya aku selalu menyisakan celah untuk menang.
Yang perlu kulakukan hanyalah menutup jalan pelarian. Setelah itu, barulah duel
kemampuan catur yang murni.
Lagi pula, segala sesuatu harus diselesaikan dalam
sekejap saat hendak menghabisi lawan. Karena itulah, penyelesaian di atas papan
melibatkan harga diri kedua belah pihak.
Cara menang bagi Aoi itu mudah. Dia tinggal
menjungkirbalikkan papan shogi seperti adegan klise. Menyelesaikan masalah
dengan fisik memang terdengar kasar, tapi itulah jawaban yang paling tepat di
tempat ini sekarang.
Namun, Aoi tidak bisa melakukannya, begitu juga aku.
──Itu karena kami berdua sama-sama memiliki harga diri
terhadap shogi.
Semangat murni terhadap papan shogi. Sensasi jari-jari
yang telah melangkah ribuan bahkan puluhan ribu kali, tidak akan pernah hilang
dari ingatan seberapa pun pudarnya.
Aku sudah melangkah sejauh ini demi shogi. Jika bukan demi shogi, Aoi tidak akan mungkin mengambil metode semacam
ini sejak awal.
Karena itulah, hanya shogi yang tidak bisa
dikhianati.
Yah, kalaupun lawanku adalah tipe orang yang tega
menjungkirbalikkan papan, aku tidak akan menggunakan rencana berbelit-belit ini
dan akan menghancurkannya secara langsung.
"Artinya, kalau aku menang dalam shogi, semuanya
selesai dengan mudah, kan?"
"Benar, sebuah pertarungan yang sangat sederhana
dan jelas."
"Baiklah
kalau begitu. ……Bersiaplah. ──Karena aku lebih kuat dari
Senpai."
Setelah memantapkan tekad, Aoi akhirnya mulai melangkah.
Aku langsung membalas langkahnya tanpa jeda (no-time).
Bukan, aku harus membalasnya tanpa jeda. Karena waktu berpikirku hanya
sepuluh detik.
Menanggapi langkahku, Aoi segera mendorong maju
Bentengnya, lalu membuat Benteng itu seolah melayang di udara.
"Benteng Melayang (Uki-hisha)……?"
"Nanti kau juga akan tahu."
Aoi tersenyum kecil sambil mendorong Pion di ujung papan,
lalu menaikkan Gajahnya untuk membentuk formasi.
Sejak awal dia sudah menggerakkan bidak besar,
menciptakan suasana aneh yang jarang terlihat. Di antara itu semua, metode yang
diambil Aoi adalah taktik yang benar-benar di luar dugaanku.
"──Duck (Ahiru), ya."
"Zaman sekarang ini bukan hal yang aneh, kan?"
Taktik yang digunakan Aoi adalah Ahiru (Bebek).
Biasa disebut Ahiru-gakoi (Pertahanan Bebek). Ini adalah sejenis taktik
serangan kejutan yang melibatkan pergerakan bidak besar secara berani.
Taktik yang sudah ada sejak lama ini memang sering
dimainkan di level amatir, namun hampir tidak pernah terlihat di level
profesional.
Alasannya sederhana. Taktik serangan kejutan seperti ini
akan berakhir jika lawan meresponsnya dengan benar.
Pada dasarnya, taktik serangan kejutan baru akan efektif
jika lawan tidak tahu cara menghadapinya—istilahnya, jurus yang membunuh lawan
di pertemuan pertama.
Artinya, ini hanya berlaku untuk rentang level pemula
hingga menengah. Bagi mereka yang sudah terbiasa bermain shogi, taktik serangan
kejutan hanyalah umpan yang sangat menguntungkan.
Namun──.
"Apa kau pikir ini cuma taktik kelas B?"
Setelah Aoi membentuk pola serangan sampai batas
tertentu, dia mulai membangun pertahanan Raja di sisi kiri.
Meski taktiknya serupa, pertahanannya bukanlah Ahiru-gakoi.
Secara formasi, dia menyusun bidak yang mendekati elmo-gakoi yang sering
dimainkan oleh AI.
"Berbeda dengan Onigoroshi (Pembunuh Iblis)
atau Hashikaku Nakatobisha, taktik Ahiru menuntut serangan
tingkat kesulitan tinggi. Menirunya memang bisa dilakukan oleh pemain tingkat
Kyu, tapi menyambung serangan yang tipis itu hampir mustahil dilakukan bahkan
oleh pemain Dan 2 atau Dan 3."
Benar, pada akhirnya taktik apa pun yang digunakan,
kekuatannya tergantung pada kemampuan catur si pemain.
Meski formasi Aoi adalah Ahiru, susunan bidaknya
benar-benar berbeda. Dia membuka jalur Gajah, bersiap mengancam jalur ke-7, dan
melompatkan kedua Keima (Kuda) di ujung untuk mengincar serangan ke
pusat.
Itu bukanlah taktik Ahiru kelas B yang biasa
terlihat.
"Banyak yang harus dibaca, kan? Kira-kira, apa
kau bisa meresponsnya dalam sepuluh detik?"
Serangan Aoi tidak terbatas pada satu titik, dia
selalu memasang posisi menjepit yang disebut "Serangan B-men".
Bagi aku yang hanya punya waktu sepuluh detik,
mustahil untuk membaca seluruh rangkaian serangan yang masif ini sekaligus.
Aoi pasti memilih taktik ini setelah mempertimbangkan
hal tersebut.
"──Menarik."
Aku bergumam pelan, lalu tanganku meraih bidak
"Raja" yang seharusnya aku gunakan untuk bertahan──.
◇
『【Gawat】Siapa sebenarnya si jagoan amatir
"Jimetsutei" itu?www Part 21』
Anonim 428
: Tadi siang, si "Jimetsutei" asli turun
gunung di Shogi Wars. Ini catatan pertandingannya (kifu).
https://shogi-sensou/kifu/zimetutei-vs-Takatuki_Tenma
Anonim 429
: 》428 ……Hah? Apa ini? Kifu-nya nge-bug?
Anonim
430
: 》428 Ngakak, Rajanya malah lari ke depan.
Anonim 431
: 》428 Skill Kuchu Rokaku (Istana di
Awan) aktif.
Anonim 432
: 》428 Gila banget ini.
Anonim 433
: 》428 Ngakak liat Takatsuki Tenma dibuat
pontang-panting terus.
Anonim 434
: 》428 Pergi bunuh diri tapi malah dapet menang, bener-bener "Kaisar
Penghancur Diri". Kesempurnaannya terlalu tinggi sampe dia nggak
hancur-hancur.
Anonim 435
: 》428 Cara bertarung yang cuma bikin teror buat yang mainin maupun yang
dilawan.
Anonim 436
: 》428 Ini sih puncak dari teori "Raja
di baris tengah sulit diskakmat"……
◇
Pahlawan besar zaman ini, pemain profesional Kuzumi
Ryuto, pernah berkata begini:
──Shogi adalah sebuah dialog.
Layaknya para ahli strategi yang mencoba membaca niat dan
perasaan lawan dalam peperangan, shogi pun memungkinkan kita memahami niat dan
perasaan lawan melalui langkah-langkah yang diambil.
Aku harus memastikannya. Aku harus menemukannya.
Seseorang yang mengaku ingin menyelamatkan orang lain
tapi hanya menghancurkan lawannya sampai habis, itu adalah tindakan kelas teri.
Bidak-bidak di atas papan bergerak perlahan. Formasi
kedua belah pihak belum juga menyatu.
Di tengah persilangan maksud masing-masing, Aoi-lah
yang bergerak lebih dulu.
"Sampai kapan kau mau menyusun bidak dengan
suasana menyeramkan begitu? Kalau kau tidak bergerak, aku yang akan
menyerang."
"Silakan saja."
Karena waspada terhadap serangan Aoi, aku belum
menentukan formasi pertahananku.
Tampaknya Aoi sudah muak dengan permainan shogiku yang
santai, sehingga dia tiba-tiba melancarkan serangan bertubi-tubi.
Serbuan dari tengah. ──Atau setidaknya begitu
kelihatannya, padahal dia sebenarnya mengincar bidak besarku untuk dikepung.
Aku berusaha membaca segalanya dalam sepuluh detik dan
mencoba melarikan bidak besarku yang dikejar Aoi ke area yang lebih luas, namun
melihat gerakan itu, Aoi justru mulai menyerang Rajaku yang berada di arah
berlawanan.
──Benar-benar seperti seorang trickster.
"Ayo, ayo. Kalau cuma bertahan terus, kau akan kalah
dalam sekejap."
Aoi memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan
serangan waktu, memaksa waktu berpikirku terus terpaku di angka sepuluh detik.
Tentu saja, untuk melakukan itu Aoi juga harus melangkah
tanpa jeda, tapi bagi Aoi yang punya waktu tak terbatas, dia pasti sudah
membaca segalanya hingga ke titik ini sebelum memulai serangan.
Aku berusaha keras memperkuat pertahanan agar Rajaku
tidak tertangkap, tapi setiap langkah itu justru berakhir sebagai pertahanan
yang berlebihan.
Jika aku melindungi kepala, kakiku ditebas. Jika aku
melindungi kaki, lenganku ditebas.
Gaya permainan yang terus mengincar titik lemah secara
akurat itu adalah cara melangkah di luar joseki yang lahir murni untuk
mempermainkan orang lain.
"Cara melangkah ini, jangan-jangan……"
"Akhirnya sadar juga? Guruku adalah Tennoji Gensui.
──Benar, aku juga berasal dari Dojo Tennoji yang sama denganmu, Senpai."
"……!"
Dalam duel pertukaran bidak, Aoi yang memiliki susunan
lebih seimbang berada di atas angin. Namun, jika aku mencoba melarikan diri
dengan sembarangan, giliranku untuk menyerang tak akan pernah datang.
Aoi menyadari hal itu dan tidak memberiku waktu untuk
berpikir. Serangan berkecepatan tinggi dilancarkan bertubi-tubi.
Buzzer sepuluh detik berbunyi. Enam detik, lima detik,
empat detik──. Suara yang seolah mengikis sisa nyawa itu terus bergema.
"Cih……"
Aku berhasil melangkah tepat sebelum waktu habis.
"Terlalu lunak. Langkah Senpai semuanya terlalu
lunak."
Namun, pada saat itu juga, Aoi membangun jalur untuk
mengepung bidak besarku.
Dan buzzer sepuluh detik kembali berbunyi.
Langkah ini, cara menyerang ini, bahkan susunan
posisi yang unik ini. Ini adalah gaya bertarung yang persis dengan sang dewa
jenius dari generasi pertama──Tennoji Gensui yang tak terduga.
"Jadi, ini kemampuan aslimu."
"Benar. Shogiku adalah garis keturunan sang jenius,
sebuah paksaan untuk masuk ke dalam duel kemampuan murni. Cara melangkah yang
tak bisa ditiru dan dilampaui siapa pun ini, telah kurebut dari Tennoji
Gensui."
Aoi merebut Bentengku dengan mata yang memancarkan
keyakinan akan kemenangan.
"Seberapa kuat pun Senpai dalam Joseki,
seberapa dalam pun riset yang kau lakukan, jika sudah masuk ke duel kemampuan
murni, akulah yang akan menang──!"
Di belakang punggungnya, aku benar-benar bisa melihat
bayang-bayang sang jenius itu──Tennoji Gensui.
"……Jadi kau adalah 'anak emas' dari generasi
pertama."
"Shogi milik mereka yang terlupakan itu sungguh
menyedihkan. Di zaman modern, tak ada yang melihatnya, tak ada yang
memainkannya. Karena Joseki yang lebih menarik sudah tersedia di depan
mata."
Aoi tidak membiarkan serangannya terputus sedikit pun,
dan akhirnya dia berhasil merebut Gajahku, bidak besar terakhirku.
"Karena itulah, tak ada yang bisa mengejar cara
melangkahku, tak ada yang bisa menyiapkan langkah pencegahan. Yang tersisa
hanyalah penyesalan setelah mereka menjadi mayat. Masa depan seperti itulah
yang menanti. Itulah akhir bagi mereka yang meremehkanku."
Sungguh ironis. Mereka salah mengira bahwa pertumbuhan
yang didapat tanpa mempelajari sejarah adalah tanda bahwa mereka telah menjadi
kuat. Padahal, mereka hanyalah amatir yang kebetulan memegang senjata ampuh.
Aoi pastilah seorang pemburu sejati yang telah lama
memangsa orang-orang seperti itu.
"──Sebagai adik seperguruan, aku akan mengantarkanmu
ke liang lahat. Tak ada yang perlu ditakuti dari binatang buas yang sudah
kehilangan kaki dan tangannya."
"Aku baru kehilangan kedua tanganku saja, lho."
"Daripada membuang waktu untuk menggertak, lebih
baik kau pikirkan langkah selanjutnya──!"
Aoi menggunakan Benteng dan Gajah yang dia rebut dariku
untuk mulai mengacak-acak formasiku.
"Ahahaha! Apa-apaan penampilan itu! Kau bahkan tidak
bisa membangun pertahanan yang layak!"
Aoi tertawa mengejek melihat Rajaku yang sudah naik ke
baris menengah, yakin bahwa dia telah menang.
Bidak cadanganku terdiri dari satu Emas, satu Perak, dan
satu Kuda—jumlah yang cukup untuk bidak kecil. Aoi kehabisan Pion dan tidak ada
tanda-tanda bisa melakukan Nyuryu (Raja masuk ke area musuh). Dalam
situasi yang sekilas tampak putus asa ini, aku tiba-tiba menghela napas.
──Syaratnya sudah terpenuhi.
Aku menurunkan pandanganku dan tersenyum tipis, lalu
meraih bidak Rajaku dan mendorongnya lebih jauh ke depan.
"──?"
Raja yang melarikan diri lebih awal bernilai delapan
langkah keuntungan. Aoi pasti berpikir aku melarikan diri karena takut pada
serangannya.
──Sayangnya, kau salah.
Selagi Aoi sibuk memunguti bidak-bidak yang tercecer, aku
meraih Rajaku dan membawanya naik lebih tinggi lagi.
"……Eh? A-ada apa ini……?"
Kejanggalan. Ya, sebuah kejanggalan pasti mulai berputar
di benaknya.
Susunan bidak yang berantakan, pengambilan posisi
yang terlalu dini. Dan Raja yang tak kunjung membangun benteng pertahanan.
Di medan perang yang dihujani peluru, seorang Raja
yang duduk tanpa membangun kastil akan terlihat penuh celah di mata siapa pun.
Namun, kastil itu sudah lama dibangun. ──Ya, di angkasa.
"……Apa-apaan itu."
Hanya butuh dua langkah untuk masuk ke kastil yang
dibangun di angkasa tersebut. Target yang seharusnya dikejar justru membaur di
tengah musuh dan berhasil melakukan mars maju.
Apakah peluru dari daratan bisa menjangkau benteng emas
yang dibangun di atas langit?
"Bohong…… Yang menyerang tadi adalah aku,
kan……?"
Aoi
memiliki semua bidak besar. Dia merebut semuanya, termasuk milikku.
Namun,
peluru itu tidak bisa menjangkau Kuchu Rokaku (Istana di Awan) yang
melayang di udara.
Hampir
semua bidak shogi dirancang untuk maju ke depan. Pion,
Tombak, maupun Kuda, sekali maju tak akan bisa kembali ke belakang.
Karena itulah, ada pepatah dalam shogi yang berbunyi: 'Jatuhkan
Raja ke baris bawah.' Sebab, semakin Raja naik ke atas, dia akan semakin
mustahil untuk diskakmat.
"Kuchu……
Rokaku……"
"Salah. Kastil ini──akan melancarkan
ofensif."
"Apa……!"
Aku memanfaatkan posisi yang sudah kuambil sebelumnya
untuk menerjang masuk ke area Aoi.
Kelemahan taktik Duck adalah rendahnya pertahanan.
Baik itu tipe Nakazumai yang berdiam di tengah, maupun elmo-gakoi
yang berdiam di pinggir, semuanya sama; mereka hanya kuat terhadap serangan
dari samping.
Mereka tidak siap menghadapi jalur serangan yang
menekan dari atas.
"Kau bilang duel kemampuan murni, kan? Inilah
arena yang paling kuinginkan."
"──kh!?"
Aku menggunakan jalur serangan yang sudah kutekan
sejak awal untuk melubangi formasi Aoi.
Ada berbagai macam pertahanan terkuat. Anaguma, Hashigyoku
Ginkamuri, Big 4. Namun yang paling sulit diserang adalah Kuchu
Rokaku yang dibentuk dari Raja di baris menengah.
Meski begitu, Kuchu Rokaku sebenarnya tidak kokoh.
Kastil ini hanya sulit diserang, tapi ketahanannya
sendiri tidak seberapa. Risikonya pun besar.
Karena itulah, aku menggunakan bidak-bidak kecil
untuk terus meningkatkan kekuatan kastil tersebut. Terus meningkatkannya sampai
benar-benar mustahil untuk diskakmat.
"……Jangan-jangan, pertukaran bidak besar
tadi……!"
"Apa, kau baru sadar sekarang? ──Benar, aku sengaja
membuangnya."
"……kh!"
Jika kau berpikir berdasarkan premisnya, kau pasti bisa
memilih apa yang harus dibuang dan apa yang harus diambil.
Pertama, bidak besar tidak terlalu berguna untuk
menyerang Raja milik Aoi. Sebab, taktik Duck pada dasarnya terbentuk
dengan merelakan bidak besar.
Duck adalah pusat dari formasi
seimbang, di mana area pertahanan sendiri hampir tidak memiliki celah. Karena
itu, seberapa banyak pun bidak besar yang kau punya, kau bahkan tidak akan bisa
menaruhnya di area lawan jika tidak ada celah.
Sebaliknya, Duck sangat lemah terhadap hujan
tembakan bidak kecil dari bagian atas. Semakin sering diserang, pertahanannya
akan semakin rapuh, dan jika tertembus, formasi itu akan hancur dalam sekejap.
Maka dari itu, aku sengaja tidak menggunakan bidak
besar. Meriam yang tidak punya tempat untuk diletakkan justru lebih tidak
berguna daripada pistol. Buang saja semuanya.
Sebagai gantinya, aku membangun struktur untuk
menyerang. Selalu bersiap untuk melubangi satu bagian tertentu.
Untuk mengambil peran itu, aku sudah mengambil posisi
lawan lebih dulu agar bisa menyerang kapan saja.
Hasil akhirnya adalah sebuah kastil yang menyerang
dari udara. Sebuah benteng yang menginvasi markas musuh.
Dan begitu Sang Raja masuk ke kastil itu, maka selamanya
Rajaku tidak akan pernah bisa diskakmat.
"Apa
kau bisa membaca prosedur ini? Adik Seperguruan."
"Kuh……!"
Aoi
yang panik mendengar kata-kataku mulai beralih ke serangan paksa demi merebut
kembali momentum.
Namun,
serangan paksa adalah serangan yang tidak masuk akal sesuai namanya. Jika
dihadapi dengan benar, itu bukan apa-apa.
"Kau
sudah membaca semuanya!? Hanya dalam sepuluh detik……!"
"Pertanyaan
bodoh. Shogi sepuluh detik adalah makanan sehari-hariku."
"Kau
bercanda, kan……!"
Aoi
tidak mempercayai langkahku dan mencoba mengepung dari baris bawah.
Namun
itu langkah yang naif. Cara menyerang seperti itu sama saja dengan memberiku
kesempatan untuk memperkuat pertahananku dalam prosesnya.
"Kenapa, kenapa seranganku tidak tembus……Khu.
Sebenarnya apa-apaan cara melangkah ini……!"
Semakin dikikis, bidak cadanganku justru bertambah dan
pertahananku semakin kokoh.
Lalu, menggunakan giliran langkah yang kudapat sedikit
demi sedikit, aku mengepung Aoi terlebih dahulu agar dia tidak bisa melakukan Nyuryu
sepertiku.
Lama-kelamaan, ketenangan Aoi mulai terkikis habis.
"Aku tidak tahu cara melangkah seperti ini, bahkan
di level profesional pun aku belum pernah melihatnya…… Gurumu bukan Tennoji
Gensui, kan……?"
"Bukan. Aku tidak punya guru, cara melangkah ini
kudapatkan secara otodidak."
"Ti-tidak mungkin……!"
Aoi menggunakan bidak di pertahanannya sendiri untuk
melancarkan serangan nekat padaku.
Seolah sudah menunggu momen itu, aku membuang
pertahananku dan membawa duel ini ke pertarungan tanpa pelindung, laksana
menghindari adu pedang untuk kemudian saling pukul dengan tangan kosong.
"Kenapa……kh!? Kenapa kau bisa melangkah seperti
itu!? Apa kau tidak takut!?"
"Aku sudah terbiasa."
"Terbiasa? Mana mungkin! Tidak mungkin ada orang
yang suka menggunakan cara melangkah yang menghancurkan diri sendiri seperti
ini! Cara melangkah
yang…… menghancurkan…… diri sendiri…… seperti ini……"
Sepertinya Aoi menyadari sesuatu saat mengatakannya. Bibirnya gemetar, dan bidak yang dia pegang terjatuh.
"Tu-tunggu……"
Lalu, dengan ekspresi yang tak percaya sekaligus
ketakutan, dia menatapku.
"Tunggu……
tung-gu…… …………Eh……?"
Suara Aoi yang hampir menghilang itu bergema di ruang
klub.
◇
Sebuah guncangan hebat melanda. Guncangan yang begitu
kuat hingga membuat bulu kudukku berdiri.
"Tunggu……
tunggu dulu……"
Tanpa
sempat menenangkan tanganku yang gemetar, aku mencoba menarik diri sambil
menatap pria di depanku dengan tatapan tak percaya.
Namun,
kursiku tidak bisa mundur lebih jauh lagi.
"Ja-jangan-jangan…… identitas aslimu adalah…… Ji-Jimetsu──"
"Aku
tidak terlalu suka membicarakan diriku sendiri. Baik kemampuan maupun usaha,
jika memang ada fakta nyata yang telah dilakukan, semuanya bisa ditunjukkan di
atas papan. Bilang bahwa sebenarnya aku kuat atau sebenarnya aku bisa menang,
itu hanyalah alasan untuk menyombongkan diri."
Senpai
berkata sambil mencondongkan tubuhnya, memancarkan aura tekanan yang mengerikan
dan menunjukkan keunggulan mutlaknya.
"Tidak
mungkin…… I-itu pasti bohong──"
"Bukankah
aku sudah bilang saat perkenalan diri? Aku adalah Dan 9."
"……kh!!"
──Dan
9. Itu adalah kasta tertinggi di Shogi Wars.
Bahkan
Toujou Mika sekalipun konon belum pernah naik lebih tinggi dari Dan 5.
Berbeda
dengan Toujou Mika, Raizaki Natsu yang bermain shogi online setiap hari seperti
orang gila dan selalu mendominasi turnamen Shogi Wars saja hanya berada di Dan
7.
Seorang amatir tak dikenal yang berlari sendirian
melampaui mereka semua. Sosok legendaris yang disebut sebagai yang terkuat di
dunia shogi online──pemain yang menyandang gelar Dan 9 hanya ada satu
orang di dunia ini.
Jimetsutei──itulah
nama pemain shogi online terkuat sepanjang sejarah.
"Ti-tidak mungkin…… Aku tidak sudi mengakuinya. Mana
mungkin kau adalah Jimetsutei, itu tidak mungkin terjadi!"
"……"
Meskipun keringat dingin mengucur, aku tidak
mengendurkan langkahku. Aku berusaha keras untuk mempertahankan keunggulan jumlah
bidak dan mencoba menyudutkannya.
Namun, itu tidak menyelesaikan apa pun. Alih-alih
berubah, situasi justru semakin condong ke arahnya, dan jarak kemampuan kami
semakin lebar di setiap langkah.
Cara melangkah itu bagaikan iblis.
Hanya untuk menang, hanya untuk menjatuhkanku. ──Itu
sangat mirip dengan cerita tentang anak laki-laki yang kudengar di Dojo Tennoji
dulu.
(Tidak……! Sekarang akulah yang pasti lebih kuat──!)
Sambil dipaksa memeras otak untuk memahami taktik Kuchu
Rokaku yang tidak biasa ini, aku mencoba menghitung ulang apakah ada
kelemahan.
Setiap orang kuat pasti punya kelemahan.
Bahkan orang yang dijuluki pemain catur terkuat sepanjang
sejarah pun pasti punya satu kelemahan, dan inti dari shogi modern adalah
menyusun strategi agar titik lemah itu tidak diserang.
Siapa pun lawannya, pasti akan ada secercah cahaya
harapan yang terlihat. Melalui celah dari orang yang melangkah dengan sempurna,
cahaya itu pasti akan muncul.
Aku telah memenangkan banyak pertandingan dengan
menangkap cahaya itu. Dengan memukul titik lemah lawan, aku membangun jalan
menuju kemenangan.
"Kenapa……
kenapa……!"
Langkah-langkah
sempurna yang tak terbantahkan, pembacaan langkah dimensi lain yang seolah-olah
dia sedang menyadap pikiranku, dan susunan posisi sempurna yang terlihat
berbahaya namun tak bercelah sedikit pun.
Pria di hadapanku ini tidak memiliki kelemahan apa pun.
"Kenapa……! Seharusnya aku yang menyerang, seharusnya
aku yang unggul jumlah bidak…… tapi kenapa……kh!"
Bahkan Toujou Mika sekalipun memiliki kelemahan kecil di
dalam langkah-langkah sempurnanya. Jika aku meneliti cara menyerang titik itu,
aku bisa membalikkan keadaan meskipun ada sedikit perbedaan kemampuan.
Aku bisa melihat titik lemah lawan secara akurat dalam
pertandingan nyata dan menang. Itulah "bakat" yang diberikan kepadaku
sebagai individu.
Padahal begitu, tapi──.
'Teror. Siapa pun yang berhadapan dengannya pasti akan
merasa ngeri. Kau tahu kenapa, Aoi?'
Kata-kata Tennoji Gensui melintas di benakku.
'Itu karena dia, Watanabe Mikado, tidak bermain shogi
dengan bakat. Dia membangun langkahnya hanya dengan Joseki hasil
tumpukan usahanya sendiri, melangkah tanpa mengikuti jejak siapa pun. Itulah
sebabnya mereka yang bertarung dengan bakat akan merasa ngeri melihat
ketidaknormalannya.'
Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan. Jika
ingin menempuh jalan shogi, maka dia harus berbakat dalam shogi.
Awalnya, konon pria itu pun memiliki bakat dalam shogi.
Namun, dia mulai melakukan "pembantaian" justru
setelah dia berhenti mengandalkan bakat dalam langkah-langkahnya.
Aku tidak tahu apa yang membuatnya jadi seperti itu. Aku
tidak tahu latihan macam apa yang harus dijalani agar seseorang bisa membuang
bakat dan tetap bermain shogi.
Satu hal yang aku tahu pasti.
Sosok yang duduk di hadapanku ini──adalah perwujudan dari
ketidakadilan.
"Kenapa, kenapa tidak ada kelemahan……!"
"……Kelemahan? Mana mungkin ada. Aku melangkah kan
memang untuk menang."
"Normalnya itu pasti ada……!!"
Inilah yang dinamakan gagal paham.
Sepertinya dia sudah selesai membaca segalanya sejak
lama, karena waktunya sama sekali tidak terancam sejak tadi. Dia selalu
melangkah dalam waktu kurang dari lima detik.
Aku merasakan wibawa. Aku merasakan teror. Tubuhku
gemetar karena rasa takut yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Apakah yang sedang kuhadapi sekarang ini benar-benar
manusia?
(Aku tidak mau, aku tidak mau……Khu. Kalau aku kalah di
tempat seperti ini, kalau aku kalah di sini, mimpiku akan berakhir……Khu. Hanya
itu yang benar-benar tidak kuinginkan……kh!)
Pikiranku tidak bisa menyatu dengan baik.
Padahal seharusnya aku punya waktu tak terbatas sekarang,
tapi aku merasakan desakan yang seolah memburu nyawaku.
Suara lonceng yang terus berbunyi di kepalaku sudah tidak
berfungsi lagi untuk menjaga akal sehat. Suara itu hanya terasa bising dan
menjijikkan.
"Jika kau mengeluarkan kegigihan itu lebih awal,
mungkin hasilnya bisa sedikit lebih baik."
"Berisik! Berisik!"
Emosiku menjadi kacau balau karena menunjukkan aib
sendiri. Hanya penyesalan dan kekeruhan hitam yang mendesak
hingga ke lubuk hati.
Aku yang sudah tidak bisa melihat diriku sendiri
secara objektif, akhirnya melepaskan langkah yang didorong oleh emosi.
(Aku tidak bisa berakhir di sini…… Aku
harus jadi pemain profesional…… Kalau tidak, aku tidak akan bisa menemui
keluargaku, menemui Haruto……kh!)
"……"
(Belum. Aku belum kalah. Ini belum berakhir. Justru
dimulai dari sini……kh)
Dengan senyum yang dipaksakan, aku melancarkan
serangan berantai dari belakang.
Namun, Senpai lebih dulu melakukan invasi ke areaku
dan selesai membangun posisi yang mustahil untuk diskakmat.
(Aku harus, menang……Khu. Kalau kalah, semuanya akan
berakhir……kh)
Langkah-langkah yang terlihat berantakan hingga
tampak menjijikkan. Sebuah adu langkah nekat dan jujur yang tak menunjukkan
niat maupun strategi.
"Berakhir seperti ini, itu……kh"
Rasa kesal, rasa malu, dan emosi yang kacau balau
meluap dan menetes dari mataku.
"……hiks……
hiks…… ugh……"
──Suara
lonceng bergema. Suara lonceng yang menjijikkan bergema.
Kekuatan
ini adalah satu-satunya tumpuanku. Cara melangkah yang tak terduga yang
kupelajari dari Tennoji Gensui, langkah kemenangan dari para jenius yang tak
bisa ditiru siapa pun. Aku hanya ingin terus mengikuti jejak pria yang telah
membuktikan keunikannya itu. Aku hanya ingin memimpikan hal itu.
──Suara
lonceng bergema. Berisik. Berisik. Berisik.
Seharusnya
aku kembali saja. Sejak hari aku melakukan kesalahan itu, sejak hari aku
memiliki emosi yang melampaui batas. Seharusnya aku kembali sebelum semuanya
tak bisa diperbaiki lagi, merenung, lalu menyerah saja.
──Suara
lonceng bergema. Aku mau muntah. Mau muntah. Mau muntah.
Aku hanya terus maju sambil menepis hal itu. Aku terus
maju meskipun tahu itu salah. Sejak hari aku membuang mimpiku sendiri dan mulai
mengejar mimpi orang lain, sejak hari kecelakaan yang merenggut segalanya itu……
langkahku pasti sudah salah.
──Suara lonceng bergema. Begitu bising hingga kepalaku
serasa mau pecah.
Cahaya telah padam, dan api yang kehilangan kehangatannya
perlahan menuju kematian. Ini mungkin hukuman Tuhan untuk diriku yang
menyedihkan karena tidak bisa mengakui kesalahan. Hukuman
bagi orang yang mencoba mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri.
Mimpi yang fana telah berakhir──.
"……Kuat sekali ya. Benar-benar kuat."
Sambil menyeka air mata yang mengalir, aku meletakkan
tanganku di atas meja bidak.
Di atas papan, dia sudah menang telak. Tidak ada lagi
langkah untuk membalikkan keadaan. Cahaya harapan untuk sebuah keajaiban, atau
pembalikan keadaan seperti di cerita dongeng, serpihannya pun sudah tidak ada
lagi.
──Aku kalah total.
"……Ahaha."
Tanpa sadar, tawa kecil keluar dari mulutku.
"Tak kusangka…… aku akan bertarung dengan yang
asli di tempat seperti ini, Jimetsutei……"
Senpai
hanya terdiam mendengar kata-kataku.
"…………Maaf
ya. Aku sudah melakukan banyak hal jahat. Aku
tidak akan mengganggu lagi. ……Tidak, kalaupun aku ingin mengganggu, aku sudah
tidak bisa ya. Kan yang kalah harus keluar dari klub."
Aku menyerah pada segalanya, membuang segalanya,
namun tetap saja…… aku masih memiliki pemikiran naif bahwa pasti ada sesuatu
yang tersisa.
Tapi, itulah satu-satunya cara yang tersisa untuk menebus
kesalahanku.
Karena aku…… sudah melakukan hal yang tidak boleh
dilakukan kepada dia, dan kepada semuanya.
"……Mungkin
aneh mengatakannya sekarang, tapi ini sedikit menyenangkan."
"Begitu
ya. ……Aku merasa terhormat."
"Aku
tidak menyangka kau adalah orangnya. ……Tapi,
ini memang yang asli. Tidak
salah lagi, cara melangkah yang sembrono ini setahuku hanya bisa dilakukan oleh
satu orang. Ah…… aku jadi sedikit iri pada Natsu."
Dunia ini memang bukan tempat di mana keadilan selalu
menang, tapi kejahatan pasti akan menerima balasannya.
Dalam situasi ini, bahkan diriku yang sudah berontak
dengan menjijikkan sekalipun, tidak akan mengeluh jika akhirnya dijatuhkan oleh
"yang terkuat".
"……Terima kasih pertandingannya, Mikado-cchi.
Aku──"
Sambil berkata begitu, aku meraih bidakku untuk
menyatakan menyerah (Toryo).
Seketika, Senpai yang sejak tadi diam akhirnya membuka
mulut.
"Kenapa kau menyerah seenaknya?"
Kata-kata itu terlontar secara tiba-tiba.
"……Hah?"
Dia menatap mataku dari seberang papan, lalu mengarahkan
jari telunjuknya ke kepalanya sendiri, menggumamkan kata-kata luar biasa seolah
dia memahami seluruh perasaanku.
"Aku kan sudah bilang kalau aku akan
menyelamatkanmu."
Aku merasa ujung jarinya menyentuh suara lonceng itu.
◇
"Menyelamatkan? Menyelamatkanku……? A-apa
maksudmu──"
"Biar
begini, aku ini cukup serakah. Dalam situasi menjelang turnamen tingkat
prefektur ini, aku tidak boleh kehilangan anggota yang berharga."
Sambil mengabaikan Aoi yang kebingungan, aku berdiri
dengan tenang dari tempat dudukku.
Dari luar terdengar aba-aba berakhirnya kegiatan klub
olahraga. Sebentar lagi bel tanda berakhirnya waktu klub akan berbunyi.
"……Ha, hahaha. Apa-apaan sih, jangan bercanda.
Tujuan Senpai kan untuk mengeluarkanku dari klub, kan……!?"
Aoi sepertinya tidak percaya pada kata-kataku. Dia memukul meja dengan wajah yang tegang.
"Aku tidak pernah bilang begitu, kan?"
"Kau bilang! Kau tadi bilang!"
"Aku bilang kalau kau kalah kau harus keluar,
tapi aku tidak pernah bilang sekalipun bahwa aku ingin
mengeluarkanmu."
"Lalu apa maumu!?"
Mendengar amukan Aoi, aku menjawab dengan nada
jengah.
"Jangan membuatku mengulanginya dua kali. Tujuanku
adalah menyelamatkanmu."
"Berhenti sesumbar. Jangan seenaknya memutuskan
kalau aku adalah orang yang perlu diselamatkan."
"Setelah kau bilang berkali-kali kalau kau sudah
tidak punya jalan lagi, sekarang kau mau berlagak tegar?"
"……kh! La-lagipula Senpai kan tidak
mengasihanimu, kan!"
"Ya, aku tidak mengasihanimu. Makanya aku melakukan
ini bukan demi kau."
"Hah……?"
Aoi menatapku dengan wajah tak paham.
"Terserah kau mau menanjak naik di klub ini atau
tidak. Kau punya mimpimu sendiri, dan aku punya mimpiku sendiri. Pasti semua
orang di klub shogi juga punya mimpi dan tujuan yang berbeda-beda. Aku tidak
punya hak untuk menghentikannya."
Ya, aku hanyalah orang luar bagi mimpi Aoi. Aku bukan
orang yang memiliki sesuatu yang cukup berharga untuk bisa mencampuri mimpi
orang lain.
Karena itulah, aku tidak punya hak untuk menghentikan
mimpi Aoi. Aku tidak punya wewenang untuk menginjak-injak perasaan itu dan
menunjukkan jalan lain.
"Hanya saja, jangan mencoba menyingkirkan orang lain
demi mewujudkan mimpi itu. Jangan mencoba menaikkan dirimu sendiri secara
relatif dengan menjatuhkan orang lain. Tindakan itu lama-lama akan
menggerogotimu sendiri, seperti situasimu sekarang ini."
"kh……"
"Makanya, berhentilah melakukan hal seperti ini.
Seberapa pun kau merasa terdesak, seberapa pun itu satu-satunya cara yang
tersisa, langkah buruk tetaplah langkah buruk sesempurna apa pun kau
memainkannya."
Aoi menghela napas panjang dan menunjukkan senyum yang
tak bernyawa.
"Senpai ini aneh ya, bicara begitu sekarang. Aku
sudah kalah, jadi aku tidak butuh khotbah itu. ……Sesuai janji, silakan adukan
aku sesukamu."
"Tidak, kau belum kalah. Karena kau belum menyatakan
menyerah (Toryo)."
"Oh, begitu ya. Apa kata-kataku tadi tidak terdengar
seperti menyerah? Tuan Jenius Asli yang berpura-pura jadi penyendiri ini
ternyata seorang sadis yang hebat ya. Kata-kata maaf seperti apa yang kau
inginkan? Kau mau aku bilang 'saya kalah' atau 'saya menyerah'? Apa kau begitu
ingin mendengar kata-kata kekalahan dari mulutku?"
"Bukan itu."
"Lalu apa mau kau! Apa menurutmu aku punya cara
untuk membalikkan keadaan dari sini!? Oh, sang Jimetsutei yang agung mau
bilang kalau kau bisa menang meskipun papannya dijungkirbalikkan? Hebat sekali
ya, kalau memang ada langkah seperti itu, coba beri tahu aku! Dalam satu
langkah!!"
"Ada, lho."
"──kh!?"
Aku menunjuk ke arah papan, menemukan sebuah solusi baru
pada pertandingan yang belum berakhir itu.
"Ini hal yang mudah. ──Kita buat saja jadi Sennichite
(Langkah Berulang)."
"……Hah? Apa……!?"
Mata Aoi terbelalak karena terkejut.
"Wajar jika taruhannya batal jika pertandingannya
berakhir seri. Sudah kubilang, kan? Aku tidak akan kalah, dan kau
pun…… kurasa tidak perlu kuulang untuk ketiga kalinya."
"Kau bercanda ya!?"
Aku tidak bercanda sedikit pun.
Untuk mengajukan usul ini, aku harus menyudutkan Aoi
sambil membangun posisi di mana Rajaku sendiri tidak akan bisa diskakmat.
Itulah sebabnya aku menggunakan Kuchu Rokaku
dan mengincar Nyuryu, untuk menghancurkan semangat juang Aoi dan
membuatnya berpikir bahwa dia tidak akan pernah bisa menang.
Aturan Sennichite itu sederhana: jika posisi yang
sama terulang empat kali, maka pertandingan dianggap seri.
Jika aku memainkan shogi biasa dan menawarkan ini pada
Aoi, ada kemungkinan dia akan mengkhianati syarat Sennichite dan mencoba
membalikkan keadaan.
Makanya aku membangun kondisi yang benar-benar mustahil
untuk diskakmat. Dan agar Aoi terpaksa menerima syarat ini, aku sengaja tidak
melakukan skakmat dan justru mengepung Raja miliknya.
Yah, meskipun jumlah langkah untuk mencapai Sennichite
bukanlah "satu langkah" seperti yang diinginkan Aoi.
"Jadi, bagaimana? Kalau kau tidak mau menerima
syarat ini, aku akan langsung menskakmatmu sekarang."
"kh……!"
Aoi menggerakkan bidaknya dengan ekspresi rumit.
Fakta bahwa dia masih mau mencoba meski sudah menyerah menunjukkan bahwa dia
masih memiliki keterikatan yang kuat.
Aku pun menggerakkan bidak di areaku.
"……Melakukan hal ini pun, aku tidak akan
terselamatkan."
"Mungkin saja."
Kami mengulang langkah yang sama, bidak bergerak
bergantian.
"Kalau aku tidak menghancurkan Senpai, kalau aku
tidak mengeluarkannya dari klub, mimpiku tidak akan terwujud……!"
"Untuk saat ini mungkin begitu."
Dua kali, tiga kali, lalu yang keempat kalinya──kedua
belah pihak mengulang posisi yang sama sebanyak empat kali.
Aoi menatap papan itu dengan tatapan kosong, bibirnya
bergerak-gerak hendak mengatakan sesuatu.
"……Aku."
"Aku tidak tahu rencana macam apa yang kau susun
untuk menyingkirkanku dari klub, tapi setidaknya, aku tidak punya bahan untuk
mengeluarkanku, dan kalaupun ada, aku tidak bisa melakukannya."
"……Eh?"
Setelah jeda sejenak, Aoi mengeluarkan suara cempreng
karena terkejut.
"Ti-tidak bisa, maksudnya apa……?"
Setelah memastikan pertandingan di depanku berakhir seri,
barulah aku mengungkapkan kebenarannya.
"Coba bayangkan kalau orang-orang tahu ada anak baru
yang baru saja masuk klub, langsung mengeluarkan junior yang akan menjadi
andalan masa depan. Aku pasti akan dipandang sinis oleh orang-orang, dan aku
tidak tahu apa yang akan dikatakan Ketua nanti."
"…………Apa-apaan, bukannya kau sudah bilang pada
Ketua?"
"Aku tidak bilang apa-apa, tuh."
"Eh……?"
Melihat Aoi yang terperangah, aku melanjutkan.
"Aku tidak bilang apa-apa pada Ketua, dan aku tidak
menyampaikan apa pun padanya."
"Ta-tapi, kau bilang sudah dapat izin menginap dari
sekolah."
"Mana mungkin dapat. Ini fasilitas umum, tahu? Tidak
mungkin pihak sekolah mengizinkan kita menginap hanya gara-gara bualan satu
orang murid."
"A-apa……!!"
"Sesuai yang kau katakan di awal, kalau kau
menggunakan waktu tak terbatas sebagai perisai dan tidak menyelesaikan
pertandingan selamanya, akulah yang kalah. Tapi sekarang jam tujuh malam, tepat
saat waktu kegiatan klub berakhir."
Begitu aku selesai bicara, bel sekolah yang
menandakan berakhirnya waktu ekstrakurikuler berdentang.
Wajah
Aoi tampak benar-benar membatu.
"Bo-bohong, kan……! Kau menipuku……!? Sejak
awal……!!"
"Ada perbedaan dalam cara kata-kata tersampaikan,
dan juga alurnya. Sejak awal aku tidak melakukan apa pun, dan aku tidak cukup
berani untuk melakukannya. Lagipula aku ini cuma introvert, mana punya
keberanian untuk meminta bantuan pada Ketua atau pihak sekolah."
"Tidak
mungkin…… bohong……!?"
"Sayangnya, ini benar."
Mendengar itu, Aoi langsung lemas dan terduduk
lunglai.
"Semuanya, ada di dalam genggamanmu……"
Tanpa memedulikan Aoi, aku merapikan papan shogi,
menyampirkan tas ke bahu, lalu mengucapkan satu kalimat terakhir sebelum pergi.
"Kau sudah mencoba merampas mimpi orang lain, jadi
terimalah hukuman untuk memberikan mimpi kepada orang lain. Dengan begitu, setidaknya aku
akan memaafkanmu."
"Memberikan……
mimpi……?"
"Kuncinya jangan lupa dikunci, ya!"
"Ah……"
Belum sempat Aoi memahami maksudnya, aku langsung keluar
dari ruang klub tanpa menunggu jawaban.
Lalu, aku mengembuskan napas kuat-kuat di koridor. Aku
melepaskan seluruh ketegangan dari tubuhku, seolah membuang udara dari pikiran
"Jimetsutei" yang sempat menggelembung seperti balon.
"Haaaah──…… peran yang melelahkan."
Kerja keras yang sudah lama tidak kulakukan. Terlebih bagi seorang introvert, rentetan percakapan tadi
bagaikan neraka.
Mengarahkan psikologi seseorang sambil bermain shogi
bukanlah pekerjaan manusia. Aku tidak akan mau melakukannya lagi.
Saat aku sedang berpikir begitu, seorang gadis yang
sejak tadi mengamati dari balik bayangan menampakkan dirinya.
"Ah,
Toujou-san. Belum pulang?"
"……Boleh begitu? Tidak mengeluarkannya dari
klub. Kalau kau mau, aku bisa melakukannya."
"Jadi kau mendengarnya. Tidak perlu, Aoi adalah
teman kita."
"Sudah kuduga Mikado-kun akan bilang begitu. ……Tapi,
apa tidak apa-apa? Dia
mungkin saja akan menyerangmu lagi nanti, lho?"
Mendengar
pertanyaan Toujou, aku menjawab dengan tenang.
"Kurasa tidak akan. Jadi Toujou-san juga bisa
tenang dan datang ke klub besok."
"……Kau melakukan sesuatu, ya?"
"Bukan hal besar, kok. Kenalanku tidak banyak,
jadi tidak banyak yang bisa kulakukan."
Benar, aku hanya menepis percikan api yang datang
padaku dan tidak melakukan apa-apa lagi. Sisanya adalah masalah pilihan Aoi
sendiri.
"……Hebat ya. Hal seperti ini, biasanya kurasa
tidak bisa diselesaikan sendirian."
Mendengar ucapan Toujou, aku menoleh sekali lagi ke
arah ruang klub.
"Kalau sampai kalah dalam pertandingan, itu namanya
kelas tiga. Tapi kalau cuma menang atas lawan, itu baru level kelas dua."
"Lalu, kelas satu itu apa?"
Kepada Toujou yang langsung bertanya balik, aku
memberikan senyum lepas dan menjawab.
"Menjadikannya rekan sekali lagi."
◇
"……Aku kalah."
Di ruang klub yang telah kosong, aku ditinggalkan
sendirian. Aku terduduk di lantai dengan tubuh yang lemas seperti balon yang
kempes.
"……Jimetsutei, Jimetsutei ya…… Ahaha…… aku bodoh
sekali……"
Jika dipikirkan sekarang, semuanya menjadi masuk akal.
Perubahan sikap Toujou Mika yang tadinya serigala
penyendiri namun bersikeras menempuh jalannya sendiri. Fakta bahwa dia
merekomendasikan Senpai sebagai Kapten adalah satu hal, tapi tidak terkejut
sedikit pun dengan hasil pertandingan Senpai di turnamen adalah tanda tanya
terbesar.
Reaksinya seolah-olah menang adalah hal yang wajar.
Bahkan aku yang sudah menduga Senpai memiliki kemampuan tertentu pun menganggap
kemenangan mutlaknya di luar dugaan.
Pasti dia sudah tahu. Bahwa dia, Watanabe Mikado, adalah
sosok asli Jimetsutei.
Bahkan Raizaki Natsu yang memancarkan aura tak tersentuh
itu pun selalu menempel padanya.
Meskipun mereka seharusnya baru bertemu di hari turnamen,
melihat mereka mengobrol seperti kawan lama membuatku merasa ada yang tidak
beres.
Sebab, bagaimanapun cara melihatnya, Senpai adalah tipe
orang yang tertutup. Aku tidak bisa membayangkan dia punya kemampuan komunikasi
untuk menaklukkan Raizaki Natsu.
Tapi, jika identitas aslinya adalah Jimetsutei, maka
ceritanya jadi berbeda. Semua reaksi itu menjadi masuk akal.
Pada akhirnya, aku yang merasa sudah memahami jati diri
Senpai ternyata tidak memahami apa-apa. Aku sama sekali tidak mengerti dirinya.
Itulah sebabnya aku mendatangkan hasil seperti ini. Aku
menyentuh "sisik terbalik" yang seharusnya tidak boleh disentuh, dan
baru berhenti melangkah setelah sampai di titik yang tidak bisa kembali lagi.
Kini, tidak ada lagi yang tersisa dalam diriku.
"……Pulang, yuk."
Aku berdiri dengan gontai, memastikan kunci pintu
sesuai perintahnya, lalu meninggalkan ruang klub.
Begitu sampai di koridor, aroma Toujou Mika tercium
sekejap di hidungku, membuatku sadar secara tidak langsung bahwa dia baru saja
ada di sana.
Mungkin, dia mendengarkan seluruh percakapan kami.
……Sejak awal memang tidak ada peluang menang bagiku.
Semua jalan buntu, jalur mundur pun sudah tertutup. Dia
memaafkanku, tapi gadis itu pasti tidak akan memaafkanku.
Karena orang yang ingin aku keluarkan dari klub termasuk
Toujou Mika juga.
"Sampai akhir aku tetap saja bodoh. ……Atau mungkin,
mereka yang terlalu hebat. Tapi
tetap saja, siapa yang sangka Jimetsutei yang legendaris itu satu sekolah
denganku, kebetulan macam apa ini…… Haaah……"
Aku menggumamkan kata-kata itu satu per satu sambil
berjalan di koridor.
Semuanya ada di genggamannya. Semuanya adalah bagian dari
siasatnya.
Andai pun aku bisa menciptakan keajaiban dan menang atas
Senpai, ujung-ujungnya aku tetap akan dihabisi oleh Toujou Mika.
Sejak awal tidak ada celah untuk menang. Tidak ada jalan
menuju kemenangan yang tersisa. Memikirkan hal itu membuatku sadar betapa
tololnya perbuatanku.
Mungkin, menjadi seperti ini adalah sebuah keniscayaan.
"……"
Dunia yang indah di mana kejahatan binasa. Dunia yang
elok di mana kebenaran menang. Dalam dunia seperti itu, sudah sewajarnya irregular
sepertiku lenyap bersama kebodohan yang kuperbuat sendiri.
Besok, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada semuanya
dan meminta maaf. Mungkin aku tidak akan dimaafkan, tapi setidaknya itulah……
cara terakhirku bertanggung jawab atas mimpiku sendiri.
"……Sampai
saat seperti ini pun, aku memang tetaplah 'Aoi' (si Biru yang melankolis)
ya."
Tanpa
sadar aku sudah keluar dari gerbang utama, berjalan sendirian dengan tenang di
jalan yang sepi.
Lalu,
saat aku baru melewati gerbang utama sedikit, terdengar suara yang memanggil
namaku.
"Oi! Aoi-kun!"
"……?"
Suara yang asing di telingaku. Tidak,
suara ini sedikit tidak asing.
Di kejauhan terparkir sebuah mobil mewah yang
mengilap, dan dari sana turun seorang pria tua yang memanggilku.
"……Ke-Ketua Suzuki……?"
Orang yang memanggilku adalah Suzuki Tetsuro,
penyelenggara turnamen Koryu-sen tempo hari sekaligus Ketua Federasi Prefektur.
"Aduh, aku sempat khawatir kau sudah pulang. Kalau
kita tidak berpapasan, aku mungkin akan menunggu di sini sampai pagi."
"……Anu, ada keperluan apa dengan saya?"
"Hm? Apa kau belum mendengar apa-apa? Aneh
sekali……"
Melihatku yang tidak tahu apa-apa, Suzuki Tetsuro
tampak terkejut, lalu mengambil dokumen dari dalam mobil dan memperlihatkannya
padaku.
"Karena kita tidak bisa mengobrol lama, akan
kusampaikan intinya saja. Sebenarnya, ada satu permintaan yang ingin aku ajukan
pada Aoi-kun."
"Kepada saya……?"
"Iya, sederhananya──aku ingin kau mengajar shogi
kepada anak-anak di kelasku."
"Eh……?"
Itu adalah tawaran yang sangat tiba-tiba.
"Akhir-akhir ini jumlah murid baru terus meningkat
pesat, aku sendirian sudah tidak sanggup menanganinya. Karena itu aku sudah
mencari pengajar sejak lama, tapi para jagoan amatir di sekitar sini semuanya
sudah terikat dengan dojo lain dan sulit ditarik. Itulah kenapa aku
menginginkan anak yang tidak terikat dojo mana pun seperti Aoi-kun."
Aku belum benar-benar paham apa yang dikatakan Suzuki
Tetsuro.
Aku, jadi pengajar……?
"Aoi-kun kalau tidak salah tinggal sendirian karena
keluarga sudah tiada, kan? Jika kau berkenan, kami bisa membuat kontrak jangka
panjang yang sama dengan pegawai tetap, dan memberimu dukungan finansial yang
lebih dari cukup untuk biaya hidup──"
Melihat dokumen yang diberikan, di sana tertulis rincian
jumlah murid, rata-rata tingkatan Dan, serta laporan pemasukan-pengeluaran
kelas dan pendapatan pengajar secara mendalam.
Itu bukanlah jumlah uang yang bisa didapatkan oleh
seorang siswa SMA. Itu jelas-jelas jumlah yang didapatkan oleh orang dewasa,
seorang karyawan tetap yang sudah bekerja bertahun-tahun.
"Bercanda…… macam apa ini."
"Bercanda…… Hmm, memang benar angka segini mungkin
kurang bagi gadis SMA zaman sekarang. Baiklah, kerjanya akan sedikit bertambah tapi aku akan coba
bicara pada Kawauchi-kun──"
"Bu-bukan
itu. Bukan hal itu yang saya tanyakan……!"
Karena
terlalu terguncang, aku menggenggam dokumen itu begitu kuat hingga berbekas dan
mendongak.
"Kenapa,
harus saya……?"
Selama
ini, aku sudah kepayahan hanya untuk bekerja paruh waktu. Setiap hari aku harus
hadir di klub sampai akhir karena takut nilai prestasiku turun, lalu pulang ke
rumah dan bekerja paruh waktu sampai tengah malam……
Kecuali
hari libur, aku bahkan tidak bisa belajar shogi dengan layak, sementara
kemungkinan menjadi pemain profesional terus menipis seiring berjalannya hari
hingga aku mencapai batas kemampuanku.
Tidak, bahkan kemungkinan itu sudah tidak ada lagi.
Tapi…… sekarang, di tanganku, ada sebuah harapan yang
tidak kuketahui sebelumnya.
Apa,
ini──?
"Kau
adalah bintang dari tim yang membawa kemenangan di Koryu-sen, tahu? Menang
melawan tim kami yang termasuk Tenryu Kazuki dan meraih juara. Terlebih lagi,
Aoi-kun menyelesaikan turnamen dengan kemenangan mutlak. Prestasi ini adalah
bakat yang sangat diinginkan oleh dojo mana pun sampai-sampai mereka akan
sangat mendambakannya."
Sambil
berkata begitu, Suzuki Tetsuro meletakkan tangannya di bahuku.
"Lagi
pula, aku tahu betul seberapa kuat dirimu. Karena lawanmu di final adalah 'aku
sendiri', kan?"
"Waktu itu, bukannya Anda mengalah……?"
"……Mengalah? Mana mungkin aku melakukan hal itu? Aku
punya harga diri sebagai Ketua Prefektur dan nama baik dojo yang dipertaruhkan,
tahu? Kalau aku kalah gara-gara mengalah, aku akan jadi bahan tertawaan. Aku
bertarung sekuat tenaga sejak awal, dan kau menang melawan kekuatan penuhku
itu."
Mendengar ucapan Suzuki Tetsuro, wajahku seolah membeku.
Sebab, orang ini adalah salah satu dari generasi pertama,
sama seperti Tennoji Gensui──generasi para jenius. Tidak mungkin, mustahil aku
bisa menang melawan orang seperti itu dengan kemampuanku sendiri.
"……Hmm, sepertinya aku terlalu terburu-buru.
Kudengar hari ini ada kegiatan klub yang berat, Aoi-kun pasti lelah, kan? Kita
bicarakan lagi hal ini pelan-pelan lain kali."
Kepada Suzuki Tetsuro yang hendak berpamitan pulang, aku
menggumamkan sesuatu.
"Anu, apa…… apa boleh saya menerima tawaran seperti
mimpi ini?"
"Tentu
saja. Yah, kalau kontrak tetap nanti kau juga harus membantu membereskan
turnamen dan sebagainya, tapi tetap saja pekerjaan utamamu adalah shogi.
Tolong, berikanlah mimpi kepada anak-anakku."
"……!"
──'Terimalah
hukuman untuk memberikan mimpi.'
Kalimat
yang terlintas sejenak di benakku itu membuatku meronta dan mencengkeram Suzuki
Tetsuro.
"Tunggu,
tawaran ini datang dari mana……!?"
"Hm?
Dari mana katamu, ternyata kau benar-benar belum dengar, ya? ……Tadi pagi,
Watanabe Mikado-kun sendiri yang datang memintanya langsung padaku."
Kalimat itu benar-benar memberikan guncangan yang
luar biasa.
"Barusan, apa katamu……"
"Makanya, tadi pagi Mikado-kun yang memintanya
padaku. Aku sendiri memang sedang kesulitan mengelola dojo.
Awalnya aku mengajak Mikado-kun, tapi dia bilang ada orang yang lebih tepat
darinya dan merekomendasikanmu."
"Hal itu, aku tidak tahu……"
"Eh, kau tidak dengar!? Hmm, apa aku baru saja
dibohongi? Tidak, kupikir Mikado-kun bukan tipe orang seperti itu…… hmm, begitu
ya…… Kupikir dia
sudah memberitahumu, ternyata aku yang salah duga."
"Bu-bukan."
"?"
Mendengar
perkataan Suzuki Tetsuro, aku hanya bisa terpaku diam.
Bibirku gemetar. Mendengar apa yang disampaikan
Suzuki Tetsuro, isak tangisku hampir meledak.
Kata-kata tanpa nilai yang tadinya kuanggap harus
kubuang jauh-jauh, ternyata adalah sebuah langkah yang melihat jauh ke masa
depan.
"……Aku……
padahal aku, orang sepertiku ini……Khu."
Akhirnya
aku mengerti semuanya. Semua kata-kata yang dia ucapkan, baru sekarang aku bisa
memahaminya.
"Hukuman
apanya, bohong melulu…… kau pembohong besar, Senpai……Khu."
Padahal
aku sudah melakukan hal seburuk itu, padahal aku sudah mengatakan hal sekejam
itu. Aku tidak menyangka balasannya adalah sebuah langkah yang penuh harapan
seperti ini.
Padahal aku telah melakukan dosa besar. Padahal aku
melakukan hal yang tidak boleh dilakukan.
Tapi, kenapa…… kenapa dibalas dengan hal selembut ini……
"A-Aoi-kun!? Kenapa kau menangis!? Apa aku baru saja
mengatakan sesuatu yang tidak perlu……!?"
"Bukan begitu……kh, aku, sangat bahagia…… bahagia
sekali……kh……"
Aku tidak bisa membendung air mata yang meluap ini.
Seolah ada sesuatu yang jebol, air mata mengucur dan
gelombang emosi yang tadinya tersumbat kini mengalir dengan tenang.
"……Hutang
budi ini…… tidak akan pernah bisa kubalas seumur hidup……Khu."
Di dada
Suzuki Tetsuro yang tampak khawatir, aku terus menangis sejadi-jadinya.
Kecemasan akan masa depan, langkah menuju mimpi, semuanya
telah diselesaikan olehnya.
Rasa penyesalan, kegelisahan... seharusnya selama ini aku
menjalani hidup dengan memikul beban-beban itu.
Namun, entah mengapa, sekarang aku tidak merasakan apa
pun.
Perasaan yang putih bersih, hangat, dan bening ini
terasa begitu nyaman.
Rasanya semua emosi negatif dan pikiran buruk ikut
hanyut mengalir bersama air mata.
"Terima kasih... Senpai... hiks, terima
kasih...!"
Aku terus mengucapkan kata-kata itu sampai tangisku reda.
Bahkan setelah berhenti menangis pun, aku tetap mengucapkannya berulang kali di
dalam hati.
Sebab, aku telah menerima budi yang begitu besar hingga
rasa syukur saja tidak akan pernah cukup.
Dia menepis diriku yang sempat mencacinya sombong, lalu
mewujudkan kata-katanya itu menjadi nyata.
Dia mendorong punggungku dengan cara yang benar, kembali
menuju jalan yang kukira tidak akan pernah bisa kutempuh lagi.
──Dia benar-benar telah menyelamatkanku.
Layaknya seorang pahlawan, seolah menjadi sosok dambaan
bagi seseorang, dia menyelamatkanku seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang
sudah sewajarnya dilakukan.
Ini adalah pertama kalinya seumur hidupku, aku mengagumi
seseorang dari lubuk hati yang terdalam.
Sembari membiarkan mataku yang sembap memerah karena air
mata yang telah kering, aku berjanji untuk memberikan mimpi kepada anak-anak di
dojo Suzuki Tetsuro dengan mengajar shogi setiap minggu.
Dan sejak saat itu, suara lonceng di dalam kepalaku tidak pernah terdengar lagi.



Post a Comment