NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ouja no Ban Kuruwase -Netto Shougi no Teiou ~ Kiryuu no Ouja to Taiji suru ⁓ Volume 2 Interlude

Langkah Tersembunyi 1

Racun Mematikan


Seberapa banyakkah orang yang akan percaya jika aku memberi tahu mereka bahwa sekarang, tepat di belakangku, ada Sang Ratu dari dunia pemain shogi profesional wanita?

Bahkan sampai sekarang pun aku masih sulit memercayainya. Fakta bahwa Mizuki Yumeno yang legendaris itu──datang ke rumahku.

"Ki-kita sudah sampai."

"Ini rumah Natsu?"

"Iya, maaf ya... berantakan."

Yumeno-san yang muncul tanpa suara dari belakangku melirik sekilas ke arah pintu masuk, jendela, lalu atap, seolah sedang memindai seluruh eksterior rumah.

Sekeliling rumahku memang kotor. Pembersihan area luar tidak dilakukan dengan teliti; sarang laba-laba bergantung di sana-sini, dan lumut pun mulai tumbuh.

Meski begitu, Yumeno-san mengangguk tanpa menunjukkan raut wajah jijik sedikit pun.

"Manis, ya."

Ucapnya sambil melangkah mendahuluiku menuju pintu depan.

Akulah yang mengajaknya.

Karena, kesempatan untuk berhadapan langsung dengan seorang pemain profesional wanita itu biasanya mustahil didapatkan.

Lima menit atau sepuluh menit pun tak apa. Meski hanya satu milimeter dari kebijaksanaannya, aku memohon agar dia mau mengajariku shogi.

Yumeno-san setuju mengajariku sedikit dengan syarat: "Aku harus rajin sekolah." Sepertinya hobiku membolos sudah ketahuan.

Karena aku memang tidak berniat bolos terus, setelah kejadian itu aku datang ke sekolah dan mengikuti pelajaran sampai akhir.

Sepanjang siang aku diganggu oleh murid-murid laki-laki di kelas secara tidak wajar, mungkin mereka merasa murid yang jarang masuk itu seperti barang langka.

Kebetulan hari ini tidak ada kegiatan klub, jadi aku bisa pulang lebih awal.

Tadi aku sempat melihat Mikado-senpai di loker sepatu gedung sekolah dan ingin menyapanya, tapi ekspresinya terlihat begitu tajam sehingga aku mengurungkan niat karena suasananya tidak enak.

Setelah itu, aku bertemu Yumeno-san sesuai waktu yang dijanjikan dan mengajaknya ke rumah agar bisa mendapat bimbingan langsung.

"Kalau begitu, aku masuk ya. Apa orang tuamu ada di rumah?"

"Sekarang sedang tidak ada."

"Wah, kalau begitu aku jadi kakak perempuan nakal yang menyusup ke rumah gadis muda tanpa izin, dong."

"Tidak juga."

Sejak awal bertemu aku sudah merasa, Yumeno-san ini tipe orang yang cukup suka bercanda.

Berkat itu, wajahnya yang tadinya kaku seperti topeng Noh──seolah tak terpikirkan apa pun──kini terlihat sedikit lebih ramah.

Aku memandu Yumeno-san masuk ke ruang tengah, di mana cahaya sore yang memantul dari jendela tetangga masuk menyinari ruangan.

"Kubilang dulu di awal, cara mengajariku itu 'tidak cocok dengan zaman sekarang'. Apa tidak apa-apa?"

"Sebab... Anda adalah orang dari 'Generasi Kedua', kan?"

"Wawasanmu luas juga."

"Karena Anda adalah salah satu pahlawan."

Benar, jika dia memang benar-benar Mizuki Yumeno, maka dia adalah salah satu pahlawan dari Generasi Kedua.

Sebagai sang "Revolusioner"... tadinya kupikir hal itu tidak ada hubungannya denganku yang hidup di Generasi Ketiga.

Namun, setelah diperlihatkan perbedaan kekuatan yang begitu telak, aku tidak bisa mengabaikannya.

Atau mungkin, perbedaan kemampuan antara generasiku dan generasinya memang terpaut sangat jauh hingga tak bisa dibandingkan?

Bahkan mungkin saja... melampaui Mikado-senpai──.

"Natsu, shogimu itu sangat murni dan jujur. Tapi, itu hanya sebatas rapi dan indah."

"Apa shogiku memang terlihat indah...?"

"Ya, sangat indah sampai aku bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Baik pada shogimu, maupun dirimu sendiri."

"Fuehh...?"

Gawat, aku mengeluarkan suara aneh. Perkataan dan gerak-gerik Yumeno-san entah kenapa mirip dengan Mikado-senpai, terkadang membuatku sulit menjaga ketenangan.

Karena malu, aku membuang muka dan bergegas menyiapkan peralatan di atas meja ruang tengah. Sebuah papan shogi dari karet dan bidak-bidak plastik.

Saat aku membalikkan kotak bidak dan menumpahkannya, Yumeno-san mulai menyusun bidak-bidak itu di atas papan tanpa ragu.

"Tapi, shogi yang hanya sekadar rapi dan indah hanya akan melahirkan kehancuran yang tak berguna."

"...?"

Seolah sedang mengingat sesuatu, Yumeno-san menatap ke arah yang jauh saat merangkai kata-kata itu.

"Aku sangat benci kesenian, karena itulah aku menjadikan semua hal yang memikat sebagai senjata. ...Jadi, yang akan kuajarkan padamu adalah shogi untuk membunuh orang."

Aku tarik kembali kata-kataku tadi. Orang ini sama sekali tidak mirip dengan Mikado-senpai. Terkadang ucapannya sangat menakutkan.

"Jangan terlalu waspada begitu, ini hanya shogi."

Tatapan matanya yang mencampurkan warna merah dan perak itu kini diiringi nada bercanda.

"Kalau begitu, mari kita mulai dengan membetulkan instingmu. Ayo, lihat papan ini──"

"Eh? Ah, iya."

Mendengar instruksi Yumeno-san, aku menatap papan yang entah sejak kapan sudah tersusun. Pada saat itu juga, aku merasakan ketidaknyamanan yang luar biasa sampai-sampai ingin mengeluh.

Posisinya adalah Ai-nyuryu──kondisi di mana Raja kedua pihak sudah masuk ke area lawan──dan itu terjadi setelah banyak bidak yang dipromosikan. Sebuah kondisi di mana permainan ditentukan lewat perhitungan poin.

"Apa kesanmu melihat ini?"

"......Aku tidak ingin memainkannya."

"Kalau begitu, mainkan. Berikan satu langkah selanjutnya yang pasti menang. Dalam sepuluh detik. Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh──"

"E-etoo... ▲1 Sembilan Raja?"

"Hmm, menjawab dalam lima detik itu pencapaian bagus. Tapi salah besar."

"Ugh..."

Sejujurnya, mana mungkin aku tahu dalam waktu sesingkat itu. Posisinya terlalu berantakan, butuh lebih dari satu menit hanya untuk memahami situasinya.

"Bukankah kubilang satu langkah yang pasti menang? Jawabannya adalah: 'Saya deklarasikan kemenangan'."

"......Eh?"

"Posisi ini sudah memenuhi syarat aturan 27 poin. Karena itu, Hukum Deklarasi Nyuryu bisa diberlakukan."

"Ta-tapi hal seperti itu tidak mungkin dipahami dalam sepuluh detik...!"

"Salah. Kau tidak melakukannya karena kau tidak memiliki keyakinan, sehingga kau tidak bisa mengalahkan rasa takutmu akan membuat kesalahan, kan?"

"......!"

Itu adalah argumen yang licin. Namun di saat yang sama, itu adalah serangan balik tepat yang menusuk niat asliku.

Jika ini adalah situasi di mana aku benar-benar harus menang, jika ini adalah satu-satunya momen untuk meraih kemenangan, maka benar bahwa aku telah memilih langkah defensif dan melakukan kesalahan.

Tapi, bukankah wajar bagi manusia untuk merasa ragu di hadapan langkah yang berisiko...?

"Kalau begitu, selanjutnya adalah mendeteksi 'rasa takut' itu. Dalam shogi, jika ada rasa takut, maka akan muncul langkah buruk. Pertama, sadarilah rasa takutmu sendiri."

Yumeno-san kembali mengambil bidak dan menyusun posisi. Tanpa penjelasan berlebih, dia memberiku instruksi hanya dengan kata-kata yang paling minimal.

"Mulai sekarang, aku akan memberimu sepuluh soal 'langkah selanjutnya' yang terdiri dari tiga rangkaian langkah. Batas waktu tiga puluh detik. Aku tidak akan memarahimu jika tidak bisa menjawab, tapi dilarang diam berpikir. Suarakan pikiranmu saat membaca langkah. Suarakan ketakutanmu. Seperti 'Takut kalau membiarkan Raja kabur di sini' atau 'Rasanya aku akan kalah jika memilih langkah ini'. Hal sekecil apa pun tidak masalah. Suarakan."

"Ba-baik, saya mengerti."

Aku mencoba melakukan sesuai perintahnya. Soal yang diberikan semuanya adalah masalah sulit yang melibatkan bahaya pada Raja sendiri; aku tidak akan bisa menjawabnya jika hanya memikirkan jalur serangan sepihak seperti dalam Tsume Shogi.

Namun, aku mencoba menyuarakan pikiran itu sendiri sambil melangkah.

Setiap kali Yumeno-san mendengar langkah apa yang sedang kupertimbangkan, dia mengubah isi soal menjadi sesuatu yang lebih kejam.

Dan secara bersamaan, tingkat akurasi jawabanku perlahan-lahan menurun.

"Bagus, teruskan. Katakan perasaanmu dengan lebih jujur. Aku sengaja membuat posisi dalam bentuk yang paling kau benci. Lihatlah bentuk yang kau benci itu berulang kali, sampai matamu terbiasa."

Dan saat mencapai soal kesepuluh──.

"Ini... tidak mungkin..."

"Kalau kau bilang tidak mungkin, maka semuanya selesai di sana. Karena itulah kau harus melakukannya. Jika kau pikir tidak mungkin, bagi alasan ketidakmungkinan itu menjadi potongan-potongan kecil dan pikirkan satu per satu. Jangan lari sekarang, terima saja bentuk itu. Ayo, sisa dua puluh detik."

Aku menatap papan dengan wajah masam.

Posisinya sudah di akhir permainan (Endgame), pertarungan terjadi dengan Raja di baris menengah──mirip dengan gaya Jimetsu-ryu yang dimainkan Mikado-senpai.

Apakah harus bertahan? Menyerang? Mengejar keunggulan bidak? Atau mengincar Nyuryu?

Pilihan yang tersedia sangat luas, dan sebagian besar darinya melibatkan prosedur yang berisiko tinggi.

Mana mungkin aku bisa membaca semuanya. Tidak mungkin, tapi...

"…………▲5 Lima Raja."

"8 Lima Benteng, Check dan mengincar Gajah."

"▲6 Empat Raja."

"......Bagus, akhirnya kau bisa menjawab benar."

Aku melangkahkan prosedur terburuk yang bisa kupikirkan. Sebuah langkah yang memiliki risiko tertinggi di antara semua kandidat langkah yang kubaca, bahkan langkah yang rasanya tidak sudi kumainkan.

Namun, rasa itu muncul hanya karena aku belum membaca tuntas seluruh prosedurnya. Instingku memahami bahwa langkah tersebut termasuk dalam kandidat jawaban yang benar.

Langkah berbahaya, tapi mungkin benar. Dulu saat aku baru naik ke tingkat pemegang sabuk (Yudansha), aku sering memainkan langkah seperti itu.

Namun seiring aku menjadi kuat, aku mulai menghindari langkah-langkah semacam itu.

Kemenangan dalam shogi bukan berasal dari memainkan langkah yang kuat, melainkan dari tidak memainkan langkah yang lemah.

Sudah berapa lama ya, sejak terakhir kali aku memainkan langkah yang seberisiko ini?

"Prosedur yang kau anggap tidak sudi kaumainkan itu adalah prosedur yang lawanmu juga akan lengah karena menganggapnya tak mungkin dimainkan. ...Selain itu, meski kaumainkan pun, itu tidak akan dipahami. Langkah samar yang terlihat seperti langkah biasa atau langkah lunak itu akan melebur tanpa suara ke dalam langkah-langkah indahmu."

Yumeno-san melangkah seolah sedang merekonstruksi kelanjutan dari posisi tersebut, dan hanya dalam tujuh langkah berikutnya, dia berhasil menyudutkan Raja lawan ke posisi Hishi (posisi skakmat yang tak terhindarkan).

Padahal seharusnya kedua pihak memainkan langkah terbaik, namun posisi yang tadinya terlihat seimbang itu kini berbalik menjadi kemenanganku secara sepihak.

...Rasanya seperti sedang melihat ilusi.

"──Yang namanya 'Racun Mematikan' itu, segalanya sudah terlambat saat kau baru menyadarinya."

Itulah gaya permainan Yumeno-san yang kurasakan tadi pagi.

Dia memamerkannya sekarang, melanjutkan dari prosedur yang baru saja kulangkahkan. ──Dan yang menciptakan titik awal itu, bagaimanapun juga, adalah aku.

"Aku yang... melangkah?"

"Ya, ini adalah langkah yang kaumainkan. Barusan, untuk sesaat, kau melangkah dengan kekuatan yang setara denganku."

Pikiranku tak mampu mengejar. Aku hanya bisa terpaku diam.

Baru tiga puluh menit berlalu... sejak dia datang ke rumahku, jarum panjang jam bahkan belum berputar satu lingkaran penuh.

Sesuatu dalam lubuk hatiku perlahan-lahan mulai berganti, memunculkan rasa terpana yang lebih besar daripada kegembiraan.

Aku telah memainkan langkah yang mungkin seumur hidup tak akan pernah kumainkan lagi. Otakku telah memahami bahwa itu adalah 'sesuatu yang bisa dimainkan'.

Tanpa sadar aku mendongak, dan orang itu sedang tersenyum puas sambil bertopang dagu.

"Memberi racun pada bunga yang kotor tidak akan membuat lebah mendekat. ──Natsu, kau membunuh orang dengan wajah cantikmu itu, ya? Kau persis sepertiku. Fufu."

"......Haha."

Hanya tawa kering yang sanggup keluar dari mulutku.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close