Prolog
Langkah Kaki Sang Malaikat Maut
『Kecurigaan Kecurangan Kapten Tim
Pelajar (Turnamen Koryu - Sisi Gelap)』
Anonim
1
:
Penyebab kekalahan Sang Raja Koryu, Tenryu Kazuki, mulai memicu "dugaan
penggunaan software". Coba lihat kifu (catatan langkah)
pertandingannya.
Anonim
2
:
Pantas saja pembalikan keadaan yang aneh itu terjadi... ternyata karena itu,
ya.
Anonim
3
: Waktu
pengorbanan Kaku (Gajah) itu tidak wajar. Manusia
tidak mungkin melangkah seperti itu.
Anonim 4
: Rumornya, pengorbanan Kaku itu memang langkah
terbaik menurut software shogi.
Anonim 5
: Aku dengar Tenryu kalah jadi aku cek kifu-nya,
dan serius, itu terasa sangat asing.
Anonim 6
: Kualitas langkahnya sejak pertengahan permainan sudah
tidak masuk akal manusia. Dia mendadak jadi terlalu kuat.
Anonim 7
: Apalagi yang memainkannya itu "siswa SMA tidak
dikenal". Benar-benar bau amis.
Anonim 8
: Ini sih levelnya harus dilaporkan.
Anonim 9
: Pihak turnamen tidak punya kamera pengawas? Kalau dia
pakai earphone atau trik saat meninggalkan kursi, dia langsung
diskualifikasi.
Anonim 10
: Pemain shogi pasti paham. Itu
bukan langkah yang muncul di turnamen tingkat distrik.
Anonim 11
: Kifu-nya benar-benar mirip orang yang pakai
bantuan software. Lebih baik segera diinvestigasi.
Anonim 12
: Terus, siapa nama pemain yang bermasalah itu?
Anonim 13
: 》12 Watanabe Mikado.
◇
Turnamen Koryu tingkat distrik telah berakhir. Antusiasme kecil yang sempat membara di Distrik Barat mendingin
seketika bersamaan dengan terbitnya matahari.
Senin pagi. Di sebuah sudut sempit di belakang gedung
sekolah, Aoi Reina menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil mengotak-atik
ponsel.
"……"
Ekspresi yang terpancar dari tatapan matanya yang
dingin itu sangat jauh dari sosok Aoi yang biasanya. Kecantikan
yang selama ini dia hias sedemikian rupa seolah sirna tanpa sisa.
Suara gesekan semak-semak terdengar. Hanya mata Aoi
yang bereaksi cepat, dan dia merasa lega di dalam hati saat melihat pria yang
muncul dari sana.
"Wajahmu seram sekali."
Pria yang muncul itu adalah kakak kelas Aoi, Sakuma
Hayato.
Hayato tertawa mengejek melihat ekspresi dingin Aoi,
menunjukkan raut wajah yang seolah habis pikir.
"……Ada urusan apa?"
Aoi sama sekali tidak bergerak. Dia seolah tidak peduli
pada dirinya sendiri dan hanya menanggapi fakta bahwa Hayato mengajaknya
bicara.
Melihat sikap itu, Hayato berkata dengan nada yang
dibuat-buat.
"Aku cuma ingin menyemangati junior yang baru saja
beraksi hebat di turnamen."
"……Menjijikkan. Jangan katakan sesuatu yang bahkan
tidak kaupikirkan. Bagian darimu yang seperti itu benar-benar memuakkan."
Begitu Aoi menepisnya dengan ketus, Hayato malah ikut
tertawa.
Aoi memasukkan ponsel ke sakunya, lalu perlahan
membungkukkan pinggangnya. Dia menautkan kedua tangan di belakang punggung,
memiringkan tubuh sedikit, dan melemparkan senyum menawan yang menggoda kepada
Hayato.
"Memangnya kenapa? Terserah aku mau melakukan apa. ──Lagi pula, kau juga
membencinya, kan?"
Hayato
melipat tangan dan menjawab.
"……Ya,
kau benar. Aku membencinya sampai ke dasar sukmaku."
Kata-kata yang terlontar itu mengandung perasaan iri
dan dendam. Kebencian yang murni itu terasa sangat nyata bagi siapa pun yang
mendengarnya.
"Kalau begitu, 'fakta bahwa dia akan menghilang'
adalah hal yang menguntungkan bagimu juga, kan?"
Dengan gerak-gerik layaknya iblis kecil, Aoi
melanjutkan ucapannya.
"──Jangan halangi aku, ya?"
Hayato tidak langsung menjawab. Setelah terdiam
sejenak seolah sedang merenungkan sesuatu, dia akhirnya membuka mulut.
"……Bagiku, tidak masalah apa pun caranya,
asalkan klub ini bisa menjuarai tingkat nasional."
"Ahaha! Tingkat nasional? Kau serius mengatakan itu?"
"Kau serius?"
"Itu mustahil, kan?"
Aoi menyemburkan tawa seolah merasa sangat terkejut. Dia
menertawakan kemungkinan yang baru saja diucapkan itu, seakan-akan hal itu
mustahil terjadi.
Meski diprovokasi seperti itu, Hayato tetap tenang dan
membalas dengan tajam.
"Kelihatannya masih lebih baik daripada apa yang
sedang berusaha kau lakukan sekarang."
"……Kau bilang sesuatu?"
"Tidak. Lakukan saja sesukamu. Aku tidak peduli apa
yang akan kau lakukan pada orang itu──pada 'Watanabe Mikado'. Aku akan fokus
berjuang sekuat tenaga untuk memenangkan turnamen prefektur berikutnya."
"Huuun, begitu ya. Semangat kalau begitu."
Aoi bersiap pergi dari tempat itu, seolah pembicaraan
barusan sama sekali tidak penting baginya.
"Kalau begitu, aku pergi duluan. ──Apa lagi?"
Di tengah jalan, Aoi menoleh karena Hayato tampak masih
ingin mengatakan sesuatu.
"Tidak, cuma terpikir saja. Kalau kau bisa bicara
normal seperti itu, kenapa tidak dilakukan dari dulu? Untuk apa kau selalu
pura-pura polos begitu?"
"……Berisik."
Ucapan Hayato sepertinya benar-benar menyinggung
perasaannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Aoi langsung berbalik dan
melangkah pergi.
"Dibilang berisik, ya. Padahal aku ini kakak
kelasnya, lho..."



Post a Comment