Chapter 4
Kekacauan Sang Raja
@zimetutei28 Dalam 13 hari ke depan, aku
akan mengikuti sebuah turnamen.
》Jimetsutei
ketahuan di dunia nyata!!?
》Turnamen
yang mana!?
》Kasih tahu
lokasinya dong, aku mau ketemu!! Plis!
》Jadi
Jimetsutei itu beneran ada ya……
》Ikut
turnamen berarti dia amatir!? Dengan kekuatan segila itu!?
Hari H turnamen tingkat prefektur tiba.
Aku menunggu di tempat yang agak jauh dari lokasi
pertandingan untuk menjemput Toujou dan yang lainnya.
"……Benar-benar bertolak belakang."
Melihat reaksi di media sosial, aku hanya bisa tersenyum
pahit dengan wajah yang muram.
Berbeda dengan "Watanabe Masai" yang dihujat
habis-habisan, sosok "Jimetsutei" justru diagung-agungkan layaknya
sedang ada festival.
Padahal keduanya adalah orang yang sama, tapi cukup
langka melihat opini publik bisa terbelah secara ekstrem seperti ini.
……Apa aku memang terlihat seperti tukang tipu, ya?
Rasanya agak sedih.
Yah, mau bagaimana pun, hasilnya tidak berubah. Reputasi
Watanabe Masai sudah hancur lebur. Menjelaskan sekarang pun rasanya sudah tidak
ada gunanya lagi.
Namun, hari ini aku tidak berdiri di sini hanya sebagai
Watanabe Masai.
Aku adalah Watanabe Masai, sekaligus Jimetsutei. Hari ini aku berdiri di sini dengan tekad dari keduanya.
『【Gila】Jimetsutei si amatir kuat yang identitasnya misterius
wkwkwk 【Selamat atas Dan-10】Part 36』
Anonim 432
: Jadi turnamen yang diikuti Jimetsutei akhirnya
ketemu nggak?
Anonim 433
: 》432 Kayaknya Turnamen Koryu tingkat prefektur.
Anonim 434
: 》432 Kalau dalam waktu dekat, cuma Koryu turnamen yang skalanya gede.
Anonim 435
: Gue baru nyampe lokasi, tapi di aula udah ada
sekitar 50 orang dong wkwkwk.
Saat mengintip forum setelah sekian lama, suasananya
sudah ramai membicarakan turnamen yang kuikuti. Dan di
judul utasnya tertulis "Selamat atas Dan-10", membuatku hampir saja
ingin mengetikkan ucapan terima kasih.
"Selamat
pagi, Masai-senpai."
"!?
"
Tiba-tiba
Kirisaki menyapa dari belakang, membuatku tersentak menjauh sambil memegang
tengkuk.
"Ah,
maaf. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu……"
"Nggak, bukan itu. Aku yang minta maaf! Bukannya
kaget, tapi anu……"
──Kupikir aku baru saja akan dibunuh. Kalau aku bilang begitu, pasti dia pikir aku sedang bercanda.
Aku menatap tanganku yang memegang tengkuk dengan
pandangan tidak percaya.
"Ada nyamuk?"
"……Mungkin saja."
Entah perasaanku saja atau hanya salah paham. Sesuatu
yang kurasakan tadi adalah sensasi kecil yang janggal, seolah ujung jarum
beracun baru saja menusuk tengkukku sedikit.
Mungkin aku terlalu fokus sampai menjadi sangat sensitif.
Untuk mengalihkan pembicaraan, aku menanyakan perubahan
pada diri Kirisaki secara jujur.
"……Wajahmu terlihat sedikit berbeda?"
"Fufu~ Kelihatan ya? Sebenarnya ada seseorang yang
mengajariku Shogi. Benar-benar sangat membantu! Ah, tapi aku tidak bisa
memberitahu siapa orangnya. Soalnya syaratnya adalah harus dirahasiakan."
Jadi itu alasan dia terkadang tidak datang ke klub
belakangan ini.
"Sampai Kirisaki bicara begitu, aku jadi sedikit
iri…… Aku juga ingin diajari."
"Tidak boleh! Dia adalah orang yang pasti akan
langsung akrab kalau bertemu Masai-senpai! Aku tidak akan membiarkan kalian
bertemu! Kalau mau bertemu, dengan aku saja! Malah, seharusnya Kakak bertemu
denganku!"
"Arah pembicaraannya jadi aneh ya. Padahal sekarang
pun aku sedang bertemu denganmu, Kirisaki."
"B-bukan begitu maksudku…… Dengan aku──"
Suara
Kirisaki yang mengecil di akhir kalimat tertutup oleh teriakan nyaring yang
datang dari kejauhan.
"Oiii──!"
Saat menoleh, aku melihat sosok Toujou dan Aoi di
kejauhan.
"Mikado-cchiii! Raika-cchiii!!"
Menyadari keberadaan kami, keduanya berlari dengan penuh
semangat ke arah sini.
Namun, dibandingkan Aoi yang tampak gesit, Toujou
terlihat menggendong banyak barang yang tampak berat.
Sepertinya kali ini Toujou yang mengambil alih tugas
Takebayashi-senpai.
"Selamat pagiii!"
"Selamat
pagi."
"Selamat
pagi, kalian berdua."
"T-tunggu……
Aoi…… ini berat tahu……!"
Toujou meletakkan barang-barangnya di tanah sambil
terengah-engah.
Turnamen kali ini berlangsung selama dua hari. Karena
itu, masing-masing membawa perlengkapan untuk menginap. Jadi sudah wajar jika
bawaan kami lebih banyak dari biasanya.
Meski begitu, kenapa Toujou sampai membawakan tas milik
Aoi segala……
"Katanya ada tempat penitipan barang di aula lain,
ayo kita ke sana dulu."
"I-iya,
benar. Wajah Toujou-san sudah pucat pasi……"
"Duh,
makanya aku bilang jangan dipaksakan! Dengerin ya Mikado-cchi, Toujou-senpai
sengaja bawa tas Aoi biar bisa pamer ke Mikado-cchi kalau dia itu
perhatian──"
Seketika, kulihat urat biru muncul di dahi Toujou.
"Aduh, sepertinya aku lupa memindahkan satu barang
besar ya~"
Sambil berkata demikian, Toujou mendaratkan tinjunya ke
kedua sisi kepala Aoi dan mencoba mengangkatnya begitu saja.
Melayang, jempol kaki Aoi sampai melayang lho.
"Aduh-duh-duh-duh-duh!
Menyerah! Aku menyerah Toujou-senpai! Terbang! Catatan pertandinganku bisa
terbang! Cara menyerang dan bertahan yang diajarkan Masai-senpai tiap malam
bisa hilang semuaaa!"
"Jangan bicara yang aneh-aneh!"
Mereka berdua semangat sekali ya dari pagi……
"……Ekhem! Ngomong-ngomong, si kembar dan
Ketua belum datang?"
"Belum. Lagipula, kupikir meski kita menunggu di
sini, mereka tidak akan datang."
"Begitu ya……"
Mata Toujou seketika meredup sedih.
Sejak saat itu, Sakuma bersaudara maupun
Takebayashi-senpai tidak memberikan kabar sama sekali. Mungkin saja mereka
tidak bisa datang ke turnamen hari ini.
Tapi sekarang kami ada empat orang di sini. Empat dari
tujuh orang, sudah lebih dari setengahnya.
Artinya jika kami semua menyapu bersih kemenangan, kami
bisa mengincar juara hanya dengan anggota ini.
Namun tentu saja itu hanyalah teori ideal. Hari ini
adalah turnamen tingkat prefektur, tempat di mana banyak monster yang setara
atau bahkan melebihi Tenryu Kazuki berkumpul. Tidak ada satu pun lawan yang
bisa dikalahkan dengan mudah.
"……Waktunya tiba."
Menanggapi suara Toujou, kerumunan penonton mulai
membanjiri aula pertandingan.
"Semuanya, sudah siap?"
"Ya."
"Persiapanku sudah sempurna. Apalagi aku punya kartu
as."
"Aoi juga harus menang semua, aku akan serius!"
Masing-masing menyatakan tekadnya.
Semangat dan kondisi kami sudah prima. Sisanya tinggal
bergantung pada isi permainan Shogi nanti.
Aku mengambil ponselku yang masih membuka forum tadi,
lalu menuliskan satu kalimat terakhir untuk mereka yang selama ini telah
mendukungku.
『【Gila】Jimetsutei
si amatir kuat yang identitasnya misterius wkwkwk 【Selamat
atas Dan-10】Part 36』
zimetu444
: Aku pergi dulu untuk menyajikan pertandingan yang
bagus.
Anonim 445
: 》444 Eeeehhhh!?
Anonim 446
: 》444 Serius yang asli!?
Anonim 447
: 》444 Sip, semangat ya!
Anonim 448
: 》444 Kami mendukungmu!
Anonim 449
: 》444 Rasanya seperti perasaan orang tua
yang melepas anaknya pergi.
Anonim 450
: 》444 Pergilah, dan tunjukkan kemampuanmu
pada seluruh negeri yang meremehkanmu itu.
◇
Turnamen Koryu tingkat prefektur pun dimulai.
Saat melihat ke pintu masuk aula, banyak sekali
penonton yang berbaur menjadi satu, dan para staf turnamen tampak sibuk
menyiapkan kursi tambahan untuk menonton.
"Hei, kira-kira orangnya sudah ada belum ya?"
"Mungkin kita tadi sudah berpapasan!"
"Dia ada di wilayah mana ya!"
Saat berpapasan, suara-suara seperti itu masuk ke
telingaku.
Para penonton tampak menajamkan mata mereka sejak sebelum
turnamen dimulai, mencoba menemukan "si asli" di antara tumpukan batu
dan permata.
Meskipun tidak menyebutkan nama dalam percakapan,
terlihat jelas bahwa mereka sedang mencari seseorang.
"Wilayah Pusat paling mencurigakan, sih."
"Kalau aku mikirnya dia ada di Wilayah Utara."
"Lagian cara mastiin dia yang asli gimana?"
"Ya tinggal lihat gaya mainnya saja, pasti langsung
ketahuan."
Suara bisikan-bisikan seperti itu terdengar dari sekitar.
Kami masuk ke aula sambil berpura-pura menjadi orang lain
yang tidak tahu apa-apa.
Toujou dan yang lainnya yang tahu identitas asliku
memasang wajah bangga, tapi aku sendiri bersikap seolah tidak peduli.
"Tachibana Toru dari Russell Shinbunsha
terkenal suka memangkas pidato yang tidak perlu di upacara pembukaan."
"Ada alasannya?"
"Biar pertandingan bisa dimulai tepat waktu. Katanya
dia pria yang sangat ketat soal waktu."
"Begitu ya……"
Sambil menguping pembicaraan Toujou dan yang lainnya di
belakang, aku masuk ke dalam aula yang sesak berdesakan.
Pria yang ketat──memang kesannya seperti itu. Meski belum
pernah melihat wajahnya, dia pasti tipe orang yang menjunjung tinggi aturan dan
disiplin.
Tapi,
roda nasib sudah bergerak.
Di meja registrasi sebelum masuk aula, keikutsertaanku
dalam turnamen hari ini diterima.
Padahal lewat email mereka mengirimkan kalimat bernada
ancaman berupa larangan bertanding, tapi sepertinya situasinya berubah di hari
H.
Dan berubahnya situasi ini berarti Sakuma bersaudara atau
Takebayashi-senpai telah bergerak.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di balik
layar turnamen ini, dan aku tidak punya cara untuk mengetahuinya.
Sebab, fakta bahwa mereka bergerak demi aku sudah
tersampaikan dengan sangat jelas.
Hal yang harus kulakukan adalah menang di turnamen
ini. Aku sudah mengerahkan segalanya untuk itu.
Si dalang yang menjadikanku pelaku kecurangan kali
ini pastilah orang yang sangat cerdik.
Dia memanfaatkan penyebaran rumor dan hasutan opini
publik untuk menanamkan rasa cemas pada pihak penyelenggara.
Tanpa perlu mempertanyakan kebenaran, dia membuat situasi
di papan permainan menjadi goyah.
Pertandingan beregu memiliki prasyarat utama bahwa semua
anggota harus lengkap. Jika ada satu saja yang hilang, tingkat kemenangan akan
langsung anjlok.
Apalagi jika orang-orang di sekitar mulai bergerak secara
terang-terangan untuk membuktikan ketidakbersalahanku, api fitnah yang tadinya
merayap pelan akan langsung berkobar.
Menarik perhatian
sama saja dengan menyiram bensin ke dalam api.
Hasilnya, aku akan menjadi sosok yang tidak disukai oleh
pihak sekolah maupun penyelenggara, dan kemungkinan besar tidak akan bisa
berdiri di panggung turnamen prefektur.
Si dalang akan sangat senang jika bisa meninggalkan
setitik saja kecemasan terhadap keberadaanku. Lagipula, tujuannya hanya untuk
mengulur waktu.
Menghancurkanku secara pribadi bukanlah tujuan utamanya.
Targetnya adalah mencegah tim Wilayah Barat
berpartisipasi dalam turnamen prefektur itu sendiri.
Meski caranya kasar, kemampuan penilaian si dalang yang
langsung mengadopsi cara ini tergolong hebat.
Sayang sekali. Jika dia bisa menyadari sampai ke fakta
bahwa aku adalah Jimetsutei, dia akan benar-benar luar biasa.
"Kalau tidak salah, lawan di babak pertama adalah
Wilayah Timur, kan?"
Tanya Aoi sambil meminum tehnya.
"Iya, benar. ……Kita langsung bertemu lawan yang
cukup merepotkan di pertandingan pertama."
"Wilayah
Timur itu tempat di mana kantor pusat Dojo Ginzen berada. Meski tidak ada
pemain kelas utama, semua anggotanya rata-rata sangat kuat."
Wilayah
Timur…… Dojo Ginzen ya.
Berbeda
dengan "Dojo Ginzen 26" yang kami lawan di turnamen wilayah dulu,
lawan kali ini adalah "Dojo Ginzen". Salah satu
cabang perwakilan yang menjadi kekuatan utama Komite Ginzen.
Berbeda dengan wilayah lain yang mengandalkan segelintir
elit, Dojo Ginzen memiliki banyak talenta berbakat. Mereka adalah tim yang
paling merepotkan dalam pertandingan beregu.
Namun sebaliknya, itu berarti tidak ada pemain dengan
kemampuan Shogi yang luar biasa secara individu. Yang berarti, semua orang
memiliki peluang untuk menang.
Akan tetapi, Toujou justru menunjukkan ekspresi suram
menanggapi reaksi kami.
"Tidak ada pemain kelas utama…… Ternyata tidak
sesederhana itu."
"Eh? Maksudnya gimana?"
Toujou meletakkan tangan di mulutnya dan menghela napas
pendek.
"Katanya sejak pria bernama Asuma Kantaru masuk ke
Dojo Ginzen tahun lalu, keseimbangan kekuatan di dojo itu langsung
hancur."
"……Heh, memangnya sekuat itu?"
"Aku tidak tahu karena belum pernah bertanding
langsung. Tapi kabarnya di Wilayah Timur dia dijuluki 'Malaikat Maut' karena
cara bermainnya yang kejam dan mendominasi."
Malaikat Maut adalah julukan yang cukup memalukan, tapi
aku yang menggunakan nama Jimetsutei tidak berhak berkomentar.
Lagipula, julukan itu memalukan jika dipasang sendiri.
Jika orang lain yang memanggilnya begitu, berarti dia memang memiliki kekuatan
yang mengerikan layaknya malaikat maut.
"Seingatku, Asuma Kantaru harusnya berasal dari Dojo
Kamikita di Wilayah Utara."
"Benar. Kabarnya di sana dia bersaing memperebutkan
posisi puncak dengan ace Dojo Kamikita, Aomine Ryuga."
Aomine Ryuga? Rasanya aku pernah melihat nama itu di
daftar peserta turnamen hari ini.
"Aku tidak tahu siapa Aomine Ryuga itu, tapi apa dia
kuat?"
"Kuat? Dia itu tiran. Dia langganan melanggar etika
dan akan melakukan apa saja selama tidak melanggar peraturan. Dia juga terkenal
karena pernah membantai Tenryu Kazuki dulu."
"Tenryu yang itu……?"
Aku terperangah mendengar informasi yang tak terduga
itu.
Citra Tenryu Kazuki di kepalaku sudah sangat tinggi.
Jika Tenryu kalah tipis aku masih bisa paham, tapi dibantai habis-habisan
sampai kalah itu benar-benar di luar imajinasi.
"Katanya Aomine Ryuga dan Asuma Kantaru terus
bersaing memperebutkan posisi teratas di Wilayah Utara, tapi itu cuma sampai
tahun lalu. Entah karena salah satu menyerah atau bosan menghadapi lawan yang
sama, aku tidak tahu alasannya, tapi tiba-tiba Asuma Kantaru pindah ke Dojo
Ginzen."
Begitu ya, karena alasan itulah Dojo Ginzen bisa
mendapatkan tambahan kekuatan besar.
……Kalau begitu, ini memang akan merepotkan. Kantaru yang
setingkat dengan Aomine yang pernah mendominasi Tenryu Kazuki secara sepihak,
sepertinya tidak ada celah bagi kami untuk lengah.
"Ah, sepertinya sudah dibuka."
Begitu Toujou berkata demikian, pintu masuk aula yang
tadinya sesak berdesakan kini sudah terbuka lebar. Sepertinya para penonton
sudah mulai bergerak ke kursi penonton.
Di saat sebagian besar orang di aula duduk di kursi
sebelah kiri dan kanan, kami berjalan lurus dengan gagah menuju bagian tengah
tempat lawan kami sudah menunggu.
Aula ini terlihat ramai, tapi itu hanyalah atmosfer yang
mengalir di antara para penonton.
Tatapan yang saling dilempar di antara para pemain adalah
kebencian murni. Begitu melangkah maju dari kursi penonton, atmosfer yang
mencekam di sana tidak bisa dibandingkan dengan turnamen wilayah.
"……"
Sesaat, aku mengalihkan pandanganku ke arah Wilayah
Timur.
──Itukah ace dari Dojo Ginzen, Asuma Kantaru.
"Oya, oya, apa anggota Wilayah Barat cuma ada empat
orang saja?"
"Iya, benar. Empat orang saja sudah lebih dari cukup
untuk mengalahkan kalian."
Tiba-tiba terdengar suara, dan kulihat Toujou sudah
saling lempar tatapan tajam dengan perwakilan Wilayah Timur, anggota dari Dojo
Ginzen.
"Sudah lama ya, Kirisaki. Apa main rumah-rumahan di
SMP menyenangkan?"
"Bagaimana kalau kau katakan kalimat itu setelah
berhasil menang melawanku sekali saja?"
Kirisaki juga sepertinya sedang berhadapan dengan lawan
yang memiliki hubungan masa lalu dengannya.
"Pantas saja wajahnya nggak asing, ternyata Aoi
Reina. Cewek kok masih mimpi mau jadi pro?"
"Haaa? Jaga mulutmu kalau nggak mau kuhajar ya,
Nishida."
Kepribadian Aoi agak hancur. Dia mengeluarkan nada bicara
dan kata-kata yang tidak bisa dipercaya.
Apa itu yang dinamakan hubungan kucing dan anjing?
Meski begitu, mereka saling memancarkan niat membunuh
yang luar biasa……
"──Yo, Tukang Tipu."
"……!"
Saat aku sedang melihat interaksi mereka, kali ini sebuah
kata dilemparkan kepadaku.
◇
『【Gila】Jimetsutei
si amatir kuat yang identitasnya misterius wkwkwk 【Selamat
atas Dan-10】Part 37』
Anonim 269
: Hei, boleh nggak gue kasih tahu satu hal yang baru gue
sadari? Tiga orang yang di-follow Jimetsutei di medsos—Toujou Mika, Raika, sama
Aoi Reina—itu semuanya anggota Wilayah Barat, kan?
Anonim 270
: 》269 Ini serius? Kalau Jimetsutei salah
satu dari Wilayah Barat, pilihannya udah makin dikit dong.
Anonim 271
: 》269 Tapi emangnya di Wilayah Barat ada
yang sekuat Jimetsutei? Yang setara Jimetsutei mah paling cuma Tenryu Kazuki,
dan Tenryu udah kalah di turnamen wilayah.
Anonim 272
: 》269 Kayaknya ada satu orang yang ngalahin
Tenryu Kazuki deh……
Anonim 273
: 》272 Ah.
Anonim 274
: 》272 Eh.
Anonim 275
: 》272 Tapi orang itu kan katanya lagi kena
kasus tuduhan kecurangan……
Anonim 276
: 》272 Waduh, gue jadi keringet dingin.
◇
"Yo, Tukang Tipu."
Mendengar kata-kata itu, aku menoleh dan melihat Asuma
Kantaru yang tadi dibicarakan berjalan mendekat ke arahku sambil bertepuk
tangan.
"Berani juga kau menampakkan muka di sini ya?
Keberanian butamu itu patut dipuji."
"Terima kasih."
Mendengar kata-kata Kantaru, aku menjawab dengan datar
tanpa menatapnya tajam.
Namun, sepertinya sikapku itu tidak membuatnya senang.
Kantaru menatapku rendah seolah ingin meruntuhkan semangat bertarungku.
"……Hei, kau. Pulanglah."
Ucap Kantaru dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.
"Kenapa?"
"Karena tempat ini bukan tempat yang pantas
didatangi oleh orang yang melakukan kecurangan."
"Aku tidak merasa melakukan kecurangan tuh……"
"Tapi ada kemungkinan kau melakukannya, kan? Setidaknya orang-orang di dunia bilang begitu. Kalau kau mau mengaku
bersih, buktikan dulu dengan benar baru kembali ke sini."
Munafik sekali. Saat aku selesai membuktikan
ketidakbersalahanku, turnamen prefektur ini pasti sudah berakhir.
Jika itu terjadi, tidak ada gunanya kembali, si
dalang dan kawan-kawannya akan mencapai tujuan mereka dan berakhir dengan bad
end.
"Kenapa? Diam saja?"
"……Aku tidak melakukan kecurangan, dan aku tidak
pernah mengakuinya."
"Maka-dar-i-itu, aku bilang alasan kayak gitu
nggak bakal mempan sekarang. Hei, kenapa kau memasang wajah tenang begitu dari
tadi, kau meremehkanku?"
Kantaru dengan santai meletakkan tangannya di bahuku,
lalu mendorongku seolah ingin mengusirku.
"Senpai……!"
"Masai-kun……!"
"……Hei kau, apa yang kau lakukan pada General
kami?"
Melihat tindakan itu, Toujou dan yang lainnya menatap
Kantaru dengan tajam. Terutama Aoi, dia terlihat benar-benar marah.
Namun, Kantaru hanya membunyikan lehernya dengan ekspresi
tenang.
"……Apa kau benar-benar berpikir aku melakukan
kecurangan?"
"Tentu saja. Buktinya sudah lengkap."
"Bukti?"
"Catatan pertandinganmu saat melawan Tenryu Kazuki.
Cara mainmu itu penuh kejanggalan, apa kau sendiri tidak sadar? Jual beli serangan yang tidak beraturan, gaya bertarung yang tidak
konsisten. Dan yang paling utama, tingkat kesamaan dengan AI yang melebihi 70%.
Itulah alasan utama yang membuktikan kau 'hitam'."
"……Kau tahu detail sekali ya."
Saat aku menatapnya dengan curiga, mata Kantaru
sedikit membelalak, lalu dia menoleh ke arah para penonton untuk
menyembunyikannya.
"──Hei! Gimana menurut kalian soal ini!"
Kantaru berteriak dengan suara keras. Dia langsung
menarik perhatian orang-orang di sekitar.
──Hasutannya hebat juga.
"Gimana bisa turnamen ini mengundang orang yang
melakukan kecurangan? Hei!?"
Peralihan yang instan, kemampuan penilaian yang luar
biasa.
Kecepatan dia mengambil langkah terlalu cepat.
Orang yang berani mengambil tindakan nekat seperti ini,
terlepas dari dia baik atau jahat, pastilah orang yang sudah terbiasa dengan
hal semacam itu.
Begitu ya, jadi begitu rupanya.
"Hei, kau……!"
Toujou mencoba melabrak Kantaru, tapi aku
menghentikannya.
"Masai-kun……!?"
"Sudah, biarkan saja."
Begitu aku mengatakannya, Toujou mundur dengan patuh.
"……Eh, bukankah itu Watanabe Masai?"
"Watanabe Masai siapa?"
"Itu lho, yang belakangan ini ramai di medsos,
katanya dia curang pas turnamen……"
"Ooh……"
"Eh, kalau gitu parah dong? Kenapa dia bisa ikut
turnamen?"
Tindakan Kantaru membuahkan hasil, pandangan seisi aula
langsung tertuju padaku.
Sesaat, kulihat sudut bibir Kantaru menyeringai tipis di
sudut mataku, dan itu menjadi dorongan bagiku untuk mengambil langkah
berikutnya.
"……Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"
"Haa? Aku nggak ngerti kau ngomong apa tuh?"
Meski pertandingan akan segera dimulai, Kantaru yang
berani melakukan tindakan nekat dengan melibatkan orang sekitar itu menjawab
sambil berpura-pura bodoh.
Dari matanya yang menatap rendah dengan ekspresi buruk,
terpancar "niat jahat" yang sangat nyata.
"……Asuma Kantaru. Aku akan memberimu satu kali
kesempatan. Tarik kembali kata-katamu yang tadi sekarang juga."
"Haa? Kau ngomong apa sih?"
Di saat mata orang-orang di sekitar tertuju padaku, aku
berusaha tetap tenang untuk menenangkan diriku sendiri.
"──Aku ingin kau menariknya, dengan suara
keras."
Sepertinya Kantaru merasa kata-kataku itu mengganggu, dia
kembali meletakkan tangan di bahuku dan berbisik di telingaku.
"Mana mau aku melakukannya, dasar pemain Shogi kelas
tiga. Pulanglah sana dengan manis."
Mendengar kata-kata Kantaru, aku sedikit menundukkan
kepalaku yang tertutup bayangan.
"Begitu ya."
……Gumamku dengan nada kecewa.
Aku tidak begitu suka menonjol. Apalagi menonjol dalam
hal yang buruk.
Tapi, di hari kami memenangkan turnamen bersama-sama, aku
mulai berpikir bahwa menonjol dalam artian yang baik itu tidaklah buruk.
Meski itu pemikiran yang dangkal, aku jadi tahu bahwa
rasa senang seperti itu boleh saja dirasakan.
Tapi sekarang, aku menonjol dalam hal yang buruk.
Kebenaran yang palsu telah menutup kenyataan yang
sebenarnya, dan aku dijebak dalam perangkap yang sengaja dibuat hingga tidak
bisa bergerak.
"Hei coba lihat, katanya Watanabe Masai curang
di turnamen wilayah lho."
"Serius? Parah banget."
"Duh, kenapa orang kayak gitu bisa ikut turnamen
sih."
"Lagian kenapa anggota Wilayah Barat cuma empat
orang……?"
"Mencurigakan ya, tim itu……"
Apakah tindakan nekat Kantaru membuahkan hasil?
Kini, pandangan orang-orang di sekitarku seolah-olah
sedang menghakimi seorang penjahat.
"Wah, kau jadi pusat perhatian ya? Memangnya
turnamen bisa dimulai kalau begini?"
"Nggak mungkinlah! Lagian ada tukang tipu yang
nyusup ke sini!"
"Kalau dia pakai bantuan software, kita semua
bakal kalah telak dong? Uhahaha!"
Anggota tim Wilayah Timur tertawa terbahak-bahak sambil
menunjukku dengan nada menghina.
Jika itu adalah tawa terakhir bagi mereka yang akan
segera "pergi ke alam sana", mungkin menerimanya secara frontal
adalah salah satu bentuk belas kasihan.
"──Kau itu kurang 'kredibilitas'."
Seolah memberikan pukulan terakhir, Kantaru berujar
dengan nada mengejek.
Kredibilitas……
kepercayaan, ya? Memang benar, aku merasa sudah memupuk rasa percaya dengan
teman-teman di klub, tapi aku belum mendapatkan kredibilitas dari dunia luar.
Aku
merogoh ponsel dari saku, beralih ke mode kamera, lalu membidik tulisan 【Turnamen Koryu · Tingkat
Prefektur】 yang terpampang di panggung
paling ujung aula.
Kemudian,
terdengar bunyi cekrek saat aku mengabadikan momen tersebut dalam satu
foto.
"……Hah?"
Melihat
tindakan aneh yang tiba-tiba itu, orang-orang di sekitar menatapku dengan wajah
heran, seolah bertanya apa yang sedang kulakukan.
Di bawah sorotan mata semua orang, aku hanya menggumamkan
satu kalimat.
"Kepercayaan……
apa bisa didapat dengan cara begini?"
Sambil
berkata demikian, foto yang baru saja kuambil itu──.
──Langsung kuunggah ke media sosial.
◇
"Saya akan bertanya langsung. Tolong beritahu
saya siapa dalang di balik kejadian ini. Siapa orang yang menyebarkan fitnah
bahwa saya 'melakukan kecurangan'?"
Beberapa saat sebelum turnamen tingkat prefektur
dimulai, aku sempat berkunjung ke dojo Ketua Suzuki dan bertanya langsung
kepadanya.
"Dalang kejadian ini, ya…… Setidaknya aku tidak
tahu. Kalau aku tahu, aku pasti sudah bergerak dari dulu."
"……Begitu ya."
"Tapi, aku bisa memberikan spekulasi."
Ketua Suzuki mengangkat satu jarinya.
"Masai-kun, menurutmu kenapa kau dijebak?"
"……Mungkin karena keberadaan Wilayah Barat dianggap
merepotkan?"
"Tepat sekali. Kau paham betul ya. ……Yang diincar
memang kau, tapi tujuan si dalang bukanlah kau secara pribadi. Targetnya adalah
seluruh tim Wilayah Barat, termasuk kau. Dengan kata lain, orang yang
menjatuhkanmu mengincar kemenangan tanpa bertanding di turnamen tingkat
prefektur nanti. Yah, meski ada kemungkinan kecil kau dijebak murni karena
dendam pribadi."
Mendengar penjelasan Ketua Suzuki, aku merasa heran.
"Kemenangan tanpa bertanding, ya. ……Tapi menurut
saya, melakukan hal itu tidak akan membuat mereka lebih dekat dengan gelar
juara."
"Benar. Biasanya orang akan berpikir begitu;
menang tanpa bertanding tidak akan menjamin gelar juara. Tapi bagi si dalang,
satu kemenangan itu pasti sangat berarti."
"……"
Memang benar, jika Wilayah Barat gugur, mereka akan
mendapatkan satu kemenangan cuma-cuma.
Namun, aku tidak melihat arti dari kemenangan itu.
Tindakan tersebut terlihat sangat tidak sebanding
antara risiko dan imbalannya.
Mungkin terdengar sedikit sombong, tapi tempat kita
bertarung saat ini hanyalah tingkat prefektur.
Apakah ada pemain Shogi yang membawa tujuan lain ke
turnamen prefektur selain keinginan murni untuk juara?
Rasanya ada yang mengganjal. Memang, menipu atau
menjatuhkan orang lain adalah tindakan tidak etis yang masih berada dalam
lingkup pemikiran manusia.
Namun, seberapa pun emosionalnya seseorang, di lubuk
hatinya pasti selalu ada kalkulasi untung rugi.
Nama dua organisasi besar yang diceritakan Aoi tempo hari
terlintas di kepalaku.
"──Apakah Wilayah Timur?"
"……!"
Begitu aku melontarkan kata itu, mata Ketua Suzuki
membelalak terkejut.
"……Kenapa kau berpikir begitu?"
"Entahlah. Kenapa ya? Saya cuma asal bicara saja,
jadi saya sendiri tidak tahu."
Aku menjawab dengan nada pura-pura bodoh.
Kandidat juara pada turnamen kali ini kabarnya adalah
Dojo Gaisen dari Wilayah Pusat.
Dojo Gaisen memiliki rekam jejak mencetak pemain pro
langsung dari muridnya, sehingga mereka mendapat keuntungan besar dari dunia
Shogi, terutama dukungan masif dari Dewan Keenam Belas.
Sebaliknya, Dojo Ginzen di Wilayah Timur, sesuai namanya,
adalah salah satu dojo di bawah naungan Komite Ginzen. Komite Ginzen merupakan
kubu konservatif yang memegang kendali atas ekspansi luar negeri, dan kabarnya
hubungan mereka dengan Dewan Keenam Belas sangat buruk.
──Informasi yang konyol dan tidak penting.
Siapa pun mereka, apa pun tujuan mereka, dan bagaimana
pun mereka bertikai, itu sama sekali tidak ada urusannya denganku.
Selama aku bisa bermain Shogi, aku tidak peduli meski
jalannya terjal, dan aku merasa tidak masalah melawan siapa pun asalkan bisa
bermain dengan menyenangkan.
Namun, aku tidak bisa memaafkan siapa pun yang mengganggu
jalanku untuk bermain Shogi. Menghentikan langkahku, melarangku menyentuh
bidak, bahkan mencoba merampas hak itu sendiri; hal-hal seperti itu benar-benar
di luar toleransi.
Jika itu strategi di atas papan, aku akan mendengarkannya
sebanyak apa pun. Dendam dan kebencian pun akan kuterima semuanya.
Jika itu tragedi yang terjadi di atas papan, aku akan
menikmatinya meski harus mengubahnya menjadi komedi.
Karena itu, tidak ada rantai lain yang bisa mengikatku.
"Masai-kun……?"
"Informasi yang saya butuhkan sudah cukup, terima
kasih banyak."
"E-eh…… aku ingin tanya satu hal, apa kau
benar-benar berniat ikut turnamen?"
"Ya?
Sebagai tim dari SMA Nishigasaki yang menjuarai turnamen wilayah, kami punya
hak untuk tampil di tingkat prefektur, kan?"
Kupikir
itu adalah hal yang sudah sewajarnya, namun Ketua Suzuki justru mengerutkan
kening dengan ekspresi yang semakin serius.
"Memang benar, tapi aku yakin di hari turnamen
nanti…… suasananya akan menjadi jauh lebih tidak bersahabat dari yang kau
bayangkan. ……Sebab opini publik adalah bahan yang bisa merusak akal sehat
manusia."
"Tidak akan begitu kok."
Aku menggelengkan kepala pelan. Aku bahkan
menunjukkan senyuman padanya.
"──Opini orang-orang bisa berubah hanya dengan
satu ponsel saja."
◇
Pandangan semua orang tertuju padaku.
Mata yang melihatku seolah melihat aib. Tatapan yang
memancarkan kebencian.
Tekanan yang kurasakan dari sekitar terasa begitu
menyakitkan dan menyesakkan bagi orang kuper sepertiku.
Namun, aku tetap menyelesaikannya.
Hanya dalam jeda beberapa puluh detik yang sangat
singkat, foto yang kuunggah ke media sosial langsung dibanjiri balasan.
》Ah, itu
foto Turnamen Koryu!
》Ternyata
kau ikut Turnamen Koryu ya!
》Seriusan
nih!? Kirain cuma turnamen lokal biasa.
》Wah, kau
benar-benar ada di garis depan!
》Kalau di
Koryu kan dekat, harusnya aku pergi nonton tadi!
Hanya bukti keikutsertaanku di Turnamen Koryu yang
terunggah, dan mereka yang tidak tahu niat asliku memberikan reaksi yang sangat
wajar secara serentak.
"……Apa yang kau lakukan?"
Melihat tindakanku yang aneh, Kantaru memasang ekspresi
bingung seolah tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Aku tidak menjawab apa-apa.
Jika satu kata saja bisa mengubah opini publik, maka
tidak aneh jika satu foto pun bisa mengubah opini publik, bukan?
Dalam sekejap, pandangan orang-orang di aula yang tadinya
tertuju padaku berubah seratus delapan puluh derajat.
"……Hah?"
Pandangan mereka meledak melewatiku, dan apinya mulai
menyambar hingga ke arah Kantaru.
》Anu…… jangan-jangan……
》 Sudut
pengambilan foto ini……
》Syuuu…… (Terdiam seribu bahasa)
》Maafkan
aku.
》Kau
serius……?
》Maaf. Aku
tidak percaya penglihatanku sendiri.
》Mohon maaf
sebesar-besarnya.
》Aku merasa
sudah memahami Jimetsutei, ternyata aku tidak paham apa-apa.
》Benar-benar
mohon maaf……
》Gawat,
semua orang di sini benar-benar kacau.
Kolom komentar seketika dibanjiri oleh permintaan maaf.
》Orang-orang
di aula yang setiap hari memantau akun Jimetsutei demi mencari identitas
aslinya, menuliskan komentar tersebut secara serentak.
》??? Kenapa
kolom komentarnya penuh permintaan maaf begini?
》Eh, badai
permintaan maaf apa ini…… serem
banget.
》Sebenarnya apa yang terjadi di sana……?
》Eh, aku
nggak paham situasinya dan ini menakutkan, komentar minta maaf massal apa ini……
Dan bagi mereka yang belum memahami situasi di lokasi,
kolom komentar di unggahanku yang tiba-tiba dipenuhi permintaan maaf hanya
membuat mereka semakin bingung.
──Yah,
aku sudah memberikan cukup waktu. Saatnya menghancurkan mereka.
Aku
memasukkan ponsel ke saku, lalu menatap Kantaru yang masih mematung karena
bingung.
"Duduk."
Aku berujar singkat sambil mengarahkan pandangan ke
kursi pertandingan.
"……Hah? Ngomong apa kau? Kau itu pelaku
kecurangan, mana punya kualifikasi buat bertanding!"
Begitu kata-kata itu terlontar, tatapan tajam dari
seisi aula yang tadinya memusuhi aku langsung berbalik arah ke Kantaru. Kali
ini, Kantaru-lah yang ditembus oleh badai tatapan itu.
Tatapan itu mengandung niat membunuh yang nyata. Niat
membunuh dari hampir lima puluh orang yang ada di aula tersebut.
"A-ada apa ini……?"
Dihujani tatapan penuh kebencian dari begitu banyak
orang, Kantaru yang biasanya sombong pun mulai goyah.
Pandangan yang tadinya menganggapku sebagai pelaku
kecurangan telah lenyap sepenuhnya.
Kini yang tersisa hanyalah tatapan penuh kegelisahan dan
permohonan ampun yang diarahkan padaku.
Tanpa kusadari, atmosfer aula yang tadinya gaduh berubah
drastis menjadi ketegangan yang menyesakkan dada.
Saat aku mencoba melirik ke sekeliling, orang-orang yang
tak sengaja bertatap mata denganku segera memalingkan wajah.
Ekspresi mereka gemetar, menunjukkan emosi yang campur
aduk antara kebingungan dan penyesalan.
@sakurazaka_zimetuteiLOVE
Identitas asli Jimetsutei ternyata Watanabe Masai-san.
Atas segala kata-kata kasar dan fitnah selama ini, saya benar-benar minta maaf.
Sungguh mohon maaf. Maaf karena sudah menghujat. Tolong ampuni saya.
》Hah……?
》Watanabe
Masai itu Jimetsutei……???
》Jadi
beneran kita selama ini nganggep Jimetsutei itu tukang tipu……?
》Fans
Jimetsutei yang kemarin ngehujat Watanabe Masai bakal gimana nasibnya sekarang?
@kotaka_ryusuke08 Makanya
sudah kubilang kan, Watanabe Masai itu tidak curang. Tapi tidak ada yang mau
dengar omonganku, ya? Aku sudah ambil screenshot semua orang yang
menghujat Watanabe Masai secara berlebihan.
》Mampus deh,
aku cuma nonton dari jauh sambil mikir mereka bakal kena batunya.
》Nggak ada
yang lebih berisiko daripada menghujat sesuatu yang belum jelas kebenarannya……
》Ah,
tamatlah kalian. Yang sudah menghujat tidak akan bisa lari lagi.
》Siapa pun
bakal mikir dia itu 'hitam', tapi selama Jimetsutei ada, kemungkinan satu
persen itu tetap ada.
Setelah mematikan ponsel untuk bertanding, aku tidak
bisa lagi mendapatkan informasi dari internet.
Jadi, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di dunia
maya sekarang.
Namun, tanpa melihat pun aku sudah bisa menebak hasilnya.
Dan sekarang, aku sudah tidak perlu melihatnya lagi.
"Cu-curang…… kau itu, melakukan kecurangan──"
Aku
menoleh ke arah Kantaru yang sedang kalut, lalu berujar dengan lantang di
hadapan orang-orang di aula.
"Sepertinya
sudah tidak ada lagi orang yang meragukan apakah aku berbuat curang."
Kata-kata
itu membuat Kantaru gemetar dan bermandikan keringat dingin.
"A-apa
yang sebenarnya terjadi……!"
Tanpa
menyadari bahwa sabit Malaikat Maut sudah mengarah ke leher mereka, anggota tim
Wilayah Timur termasuk Kantaru mulai melangkah mundur karena terintimidasi oleh
atmosfer aula yang berubah total.
Tanpa
memedulikan racauan Kantaru, kami semua dari tim Wilayah Barat duduk di kursi
masing-masing dan mulai menyiapkan diri untuk bertanding.
"Kau──"
"Duduklah,
Malaikat Maut. Aku akan mengajarimu seberapa berat gelar 'Tuhan' di dunia atas
papan ini."
◇
Watanabe
Masai adalah orang yang lebih lemah darinya, seorang pecundang yang tidak
diberkati bakat.
Karena itulah dia curang untuk menang. Dia curang untuk
menjadi juara. Pasti ada trik kotor di baliknya yang membuat dirinya kalah. Dia
tidak mungkin kalah karena murni kalah kemampuan.
Itulah premis pemikiran Asuka──Sakurazaka Asuka.
"A, a, aah……!?"
Tangannya tidak berhenti gemetar, jantungnya berdegup
kencang hingga suaranya bergema di seluruh tubuh.
Di tengah kerumunan lebih dari lima puluh orang di lokasi
Turnamen Koryu tingkat prefektur, Asuka begitu kalut hingga menjatuhkan ponsel
barunya ke lantai.
Alasannya sudah jelas; sosok yang kini berdiri di tengah
aula dan hendak menempuh jalan sang penguasa──identitas asli Watanabe Masai.
Hingga detik ini, Asuka telah berpartisipasi dalam skema
kejam untuk menjatuhkan nama Watanabe Masai.
Dia menyebarkan rumor bahwa Masai berbuat curang di
turnamen, lalu berulang kali menuliskan fitnah di berbagai forum dan media
sosial.
Kata-kata yang dia tulis seolah-olah dia sendiri yang
menjadi korbannya itu memberikan kesan persuasif.
Terlepas dari apa kebenarannya, karena dia menulis dengan
keyakinan bahwa itu adalah fakta, tulisannya jadi mudah mendapatkan simpati.
Ditambah lagi, berkat dukungan taktis dari Kantaru,
pendapat Asuka berubah menjadi kebenaran di permukaan.
Tanpa sadar, berbagai informasi palsu mulai bermunculan,
seperti metode kecurangan yang digunakan hingga pengakuan palsu orang yang
melihatnya langsung. Semua itu menjadi pembenaran yang masif.
Melihat Masai yang perlahan-lahan dicap sebagai penipu
oleh orang-orang di sekitarnya, Asuka hanya merasakan kepuasan dan kenikmatan
balas dendam.
Dia sama sekali tidak menyadari betapa besarnya masalah
yang telah dia perbuat.
Namun, bagi Asuka, ada satu sosok yang sangat dia
hormati.
Seorang pemain legenda di dunia Shogi online.
Seorang pemain misterius yang dengan mudah melampaui
dinding Dan-9 yang mustahil bagi siapa pun, dan baru beberapa hari lalu
mencapai wilayah Dan-10 yang belum pernah terjamah manusia sebelumnya.
──Ya, dialah Jimetsutei.
Dia terus melakukan langkah cepat dengan kecepatan yang
bahkan tidak bisa diikuti oleh AI, mengalahkan pemain peringkat atas yang
memiliki Dan tinggi semudah membalikkan telapak tangan.
Dan dia tidak pernah mengungkap identitasnya, tidak
memamerkan kehormatannya, hanya terus bermain Shogi setiap hari dengan tenang.
Sosok Jimetsutei yang misterius dan memiliki kekuatan
absolut itu membuat Asuka merasa sangat terpikat melebihi apa pun.
Keberadaan Jimetsutei adalah legenda sekaligus ilusi. Ada
teori yang mengatakan bahwa dia adalah pemain profesional yang spesialis dalam
permainan cepat, ada juga yang bilang dia adalah AI terbaru buatan perusahaan
atau individu tertentu yang dikembangkan untuk meniru pemikiran manusia secara
rahasia.
Benar-benar legenda. Bagi Asuka, Jimetsutei adalah sosok
yang layak menerima kekaguman dan rasa hormatnya.
Dan kini, Jimetsutei dikabarkan akan mengungkap
identitasnya. Apalagi rumornya mengatakan dia akan ikut serta dalam Turnamen
Koryu tingkat prefektur yang diadakan di dekat sini.
Begitu mengetahuinya, Asuka datang ke lokasi turnamen
dengan penuh kegembiraan.
Seharusnya dia tidak punya alasan untuk datang. Turnamen
Koryu adalah turnamen di mana dia kalah, sekaligus tempat yang mengingatkannya
pada Watanabe Masai yang dia tuduh melakukan kecurangan.
Tapi Jimetsutei ada di sini. Mendengar rumor itu, banyak
orang membanjiri aula hingga membentuk antrean panjang.
──Di
tengah situasi itulah, kejutan pertama terjadi: Watanabe Masai menampakkan diri
di turnamen prefektur.
Meski
dihujat habis-habisan dan dituduh curang, Masai tetap berani muncul di depan
publik, hal yang membuat Asuka merasa benci sekaligus terkejut.
Namun,
orang-orang yang tahu soal "kecurangan" Masai tidak akan
membiarkannya.
Dipimpin
oleh ace Wilayah Timur, Asuma Kantaru, para penonton yang mengenal Masai mulai
menunjuk-nunjuk dan menghakiminya.
Kau
tidak pantas ikut turnamen ini. Kau tidak layak bermain Shogi.
Asuka melihat dengan senyum mengejek saat tatapan penuh
kebencian itu diarahkan pada Masai.
—Pikon.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Asuka.
Notifikasi yang dia aktifkan khusus hanya untuk setiap
cuitan Jimetsutei.
Asuka membuka ponselnya dengan riang karena mengira ada
informasi baru, namun cuitan itu seolah menghantam kepalanya dengan telak.
──Ya, itu adalah cuitan yang hanya berisi satu buah
"foto".
Foto yang baru saja diambil di tengah aula oleh Watanabe
Masai, di bawah sorotan mata banyak orang. Satu-satunya bukti yang tak
terbantahkan.
"T-tidak mungkin, tidak mungkin…… bohong, ini
bohong……!?"
Suasana di sekitar mendadak gaduh. Sebuah kegaduhan yang
mirip dengan jeritan, penuh dengan rasa takjub dan ngeri.
Namun, guncangan yang dirasakan Asuka jauh lebih besar
dari itu.
──Inilah momen di mana identitas Jimetsutei terbukti
sebagai Watanabe Masai.
Pandangannya berputar. Otaknya seolah dihantam benda
tumpul hingga tidak bisa berpikir. Sosok di depannya tidak menyebutkan nama
itu, tidak mengumumkannya, dia hanya diam menghadapi Asuma Kantaru.
Namun, sosok itu terlihat seperti orang yang berbeda.
Watanabe Masai yang tadinya tampak rapuh dan
memancarkan aura amatir, kini memancarkan wibawa luar biasa yang membuat siapa
pun bahkan tidak berani menatap matanya.
Setelah mengetahui identitas aslinya, sosok itu kini
terlihat mengenakan keagungan yang membuat siapa pun sadar dalam sekejap bahwa
dia adalah lawan yang tidak boleh dilawan.
Tentu saja. ──Sebab dia adalah sang raja dari Shogi
War yang tak terbantahkan, Jimetsutei itu sendiri.
"Aaah, aaah……!?"
Sambil menggelengkan kepala, Asuka melangkah mundur
selangkah demi selangkah.
Ini
adalah sebuah guncangan besar. Menyaksikan kejutan yang membalikkan
langit dan bumi ini, Asuka hanya bisa terisak.
Dari semua orang, Asuka-lah yang memiliki informasi
paling dekat tentang sosok Jimetsutei dan Watanabe Masai.
Namun bagi Asuka, keduanya adalah sosok yang berada di
kutub yang berlawanan. Sosok yang tidak akan pernah bersatu.
Mana mungkin dia bisa membayangkan bahwa keduanya adalah
orang yang sama.
"M-maaf, ma-maaf, maaf……"
Di aula yang riuh itu, dia bahkan tidak bisa merangkai
kata-kata. Asuka hanya bisa menggigit bibir sambil didera rasa
sesal dan putus asa.
Apa yang telah dia lakukan? Apa yang telah dia perbuat?
Demi menghancurkan sosok yang dia benci, dia berteriak
lantang melalui tulisan bahwa orang itu curang.
Dia mengemas amarahnya dengan niat jahat, lalu menuliskan
fitnah bertubi-tubi demi menjerumuskan hidup orang itu ke dasar jurang.
──Ponsel yang dijatuhkan Asuka terinjak oleh salah satu
orang di kerumunan yang juga sedang kalut.
Di layar yang retak itu, hanya terpampang unggahan bisu
yang penuh dengan amarah milik Jimetsutei.
Satu buah foto. Hanya satu unggahan itu, namun menyebar
dengan kecepatan mengerikan dan dalam sekejap memicu perdebatan di mana-mana.
Jimetsutei tidak melakukan kecurangan. Dia adalah sosok
yang buktinya sudah lengkap bahwa dia tidak berbuat curang.
Dan sosok Jimetsutei seperti itu, telah dia hujat sebagai
penipu dan dia rendahkan agar tidak bisa ikut turnamen.
"Aku, aku…… gara-gara aku…… a, aah……!?"
Air mata yang tumpah dan suara yang gemetar datang bersamaan
dengan keputusasaan yang tak terbayangkan.
Masa
lalu yang telah berlalu tidak bisa ditarik kembali. Kesalahan yang terlanjur
dilakukan tidak bisa diubah.
Asuka,
yang merasa seolah otaknya akan hancur karena ketakutan dan keputusasaan,
memungut ponselnya yang retak dan mengunggah permintaan maaf di media sosial.
Dan
tanpa menyeka air mata yang mengalir di pipinya, dia hanya bisa terpaku
menyaksikan eksekusi sang Jimetsutei yang hendak melakukan pembantaian di depan
matanya.
"A... aha, ahahaha... ... Selesai sudah... semuanya
sudah berakhir..."
◇
Dengan
latar belakang aula yang gaduh, turnamen Koryu tingkat prefektur akhirnya
dimulai.
Kantaru,
yang masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi, duduk di kursi General,
posisi yang sama denganku.
"Cih,
kenapa aku harus menghadapi cecunguk seperti ini..."
Ucap
Kantaru sambil melakukan furigoma—prosedur menentukan giliran
jalan—tanpa persetujuanku, lalu dengan angkuh menentukan siapa yang jalan
duluan.
"Kalian, jangan bilang kalian benar-benar
berniat menang melawan kami, Wilayah Timur?"
"Memang begitu niat kami."
"Hah!! Jangan bikin aku tertawa, kalian kan cuma
berempat? Bagaimana caranya menang? Apa kalian berniat menyapu bersih semua
kemenangan?"
Kantaru bertanya sambil melirik ke arah tiga kursi
kosong di sisi Wilayah Barat.
"……Empat orang? Ini adalah pertandingan beregu
tujuh orang. Kami bertarung dengan tujuh orang."
"Hahaha! ……Apa kau sudah gila? Kau tidak lihat
kursi-kursi kosong itu?"
"Justru kau yang harus melihat lebih jeli.
Jangan salah sangka bahwa lawanmu tidak ada hanya karena kursinya kosong."
"Hah? Bicara apa kau."
Kantaru, yang tidak mampu memahami makna di balik
kata-kataku, mengecek jam catur di sisi kiri dan bersiap memulai pertandingan
kapan saja.
"Kuberi tahu ya, kecuranganmu tidak akan mempan
melawanku. Jangan coba-coba meninggalkan kursi hanya karena kau merasa akan
kalah."
"Aku tidak akan melakukannya."
Kantaru benar-benar mengira aku adalah seorang penipu.
Aku bahkan tidak pernah memikirkan metode untuk
curang.
Lagipula, menang dengan curang tidak akan memberikan
dampak positif apa pun bagi hidupku. Melakukannya hanya akan sia-sia.
Aku mengatur napas dalam-dalam, lalu menjawab dengan
tenang.
"──Yang akan kulakukan, hanyalah bermain
Shogi."
"……"
Entah apa yang dirasakan Kantaru mendengar kata-kataku,
pria yang sedari tadi terus memprovokasi itu mendadak terdiam sesaat.
Di belakangnya, seorang staf memegang mikrofon dan
melangkah maju, membelah atmosfer yang sarat ketegangan.
"──Kalau begitu, Turnamen Koryu Tingkat
Prefektur, silakan dimulai."
Bersamaan dengan seruan itu, sekitar tiga puluh
pemain yang duduk di aula serentak menekan tombol jam catur.
"……Ya sudahlah, akan kuladeni main-main
sebentar."
Begitu dimulai, Kantaru dengan cepat meraih bidak dan
melakukan langkah pertama tanpa jeda.
Langkah yang dilakukannya dengan penuh percaya diri
itu adalah langkah standar dengan memajukan pion di depan Benteng (Hisha).
Dari sekian banyak pilihan, langkah itu langsung
memastikan strategi yang akan ia gunakan.
──Ibisha.
Dengan kata lain, tipe permainan yang sama denganku.
Aku meniru gerakannya dengan memajukan pion di depan
Bentengku, dan Kantaru memajukannya lebih jauh lagi.
"Sama-sama Ibisha, ya? Kau percaya diri
sekali."
Aku tidak menanggapi ucapan Kantaru dan secara refleks
memajukan pion Benteng.
Kantaru pun melakukan hal yang sama, membiarkan posisi
kami simetris.
Dengan ini, pion Benteng masing-masing telah maju hingga
batas maksimal, menetapkan strategi kami pada apa yang disebut sebagai Aigakari—strategi
yang sering terlihat dalam pertandingan resmi.
Pertempuran Aigakari adalah adu kemampuan dan
riset.
Kesalahan satu langkah tidak dimaafkan, dan celah sekecil
apa pun tidak boleh diperlihatkan.
Ini adalah pemilihan strategi tingkat tinggi, di mana
terkadang satu langkah menunggu bisa menjadi langkah terbaik.
Situasi ini benar-benar mengingatkanku pada pertarungan
melawan Tenryu Kazuki.
Waktu itu strateginya adalah Kakugawari
(Pertukaran Gajah), tapi kali ini Aigakari.
Keduanya adalah tipe permainan Shogi yang sering
digunakan oleh para profesional.
Aku tidak akan membiarkan kegagalan waktu itu terulang
kembali.
Dengan tekad bulat, aku memperhatikan bidak-bidak kecil
dengan saksama, menyiapkan posisi agar bisa beralih ke gaya Jimetsutei-ryu
kapan saja.
Melihatku yang seperti itu, Kantaru mendengus remeh. Ia
menukar pion di depan Benteng, menaikkan Bentengnya ke baris tengah, lalu
memajukan pion pinggir yang menciptakan aliran gerakan janggal.
"──Tertipu, ya?"
Kantaru bergumam, lalu memutar Bentengnya ke sisi
berlawanan, mengubah susunan bidaknya secara drastis keluar dari jalur Aigakari.
"Kau pikir ini Aigakari? Sayang sekali~!
Ternyata ini Yoryu Hineribisha!"
Kantaru memasang senyum palsu, seolah-olah dia baru saja
berhasil menjebakku.
"……Yoryu?"
"──Kau tidak tahu? Dangkal sekali pengetahuanmu.
Perbanyak baca buku teori sana, Tuan General Wilayah Barat."
Kantaru berkata dengan volume suara yang nyaris tak
terdengar sambil menarik tudung jaketnya lebih dalam.
Strategi Furibisha yang berpura-pura menjadi Ibisha,
serta perpindahan Benteng dari posisi Aigakari, secara umum sering
disebut sebagai Hineribisha (Benteng Melintir).
Namun
Yoryu... Yoryu, ya.
Kantaru
mungkin mengira aku tidak tahu tentang Yoryu, tapi bukan di situ letak
keraguanku.
"……"
Lima
belas menit sejak pertandingan dimulai. Keduanya telah menyusun formasi di
babak tengah, dan akhirnya pertempuran yang sesungguhnya dimulai.
Permainan
Shogi Kantaru sangat mudah dibaca dan memiliki ciri khas.
Bidak
yang bisa dipakai akan ia gunakan, bidak yang tidak berguna akan ia abaikan.
Benar-benar
cara bermain yang merupakan perwujudan dari paham rasionalis.
Namun,
apakah dia sadar bahwa permainannya bahkan tidak menyentuh secuil pun esensi
dari Yoryu?
Dia
sama sekali tidak mengerti dasar dari filosofi Yoryu, apalagi kehebatan
pengetahuan yang menjadi sumber akarnya.
──Aku
menoleh ke samping sejenak.
Membiarkan
tiga kursi tetap kosong, para pemain Wilayah Timur yang seharusnya bertarung di
sana justru menekan tombol jam catur dengan kejam sambil bersandar angkuh.
Bahkan
jika tidak ada lawan, pertandingan akan tetap dimulai secara otomatis begitu
mencapai waktu yang ditentukan. Bagi mereka, tidak ada yang lebih membahagiakan
daripada bertarung tanpa lawan.
Namun,
itu belum berarti kekalahan yang nyata.
Meski
pemain Wilayah Barat tidak ada di tempat, pihak Wilayah Timur tetap harus
melanjutkan pertandingan. Selama lawan belum ada, mereka dianggap sedang dalam
status menunggu hingga pertandingan berakhir.
Tempat
yang seharusnya diduduki oleh Sakuma bersaudara dan Takebayashi-senpai kini
hanya terisi oleh detak jarum jam yang terus mengikis sisa waktu kehidupan
mereka.
Waktu
berpikir dalam turnamen ini adalah 40 menit. Terasa lama, namun sebenarnya
singkat.
Terlebih
lagi, berbeda dengan pertandingan antarmanusia yang saling menghabiskan waktu,
pertandingan tanpa lawan akan membuat waktu habis secara sepihak.
Jika
waktu terus berlalu seperti ini, secara harfiah dalam 40 menit waktu akan habis
dan Wilayah Timur akan menang.
Namun,
kami tetap tenang. Baik Toujou, Aoi, maupun Kirisaki, tidak menunjukkan
kecemasan terhadap kursi kosong itu.
──Karena itulah yang dinamakan rasa percaya.
"Kau masih punya waktu buat melamun? Sekarang
giliranmu, lho."
Kantaru berujar dengan nada menghasut sambil menekan
pelan tombol jam catur tanpa alasan.
Melihat tindakan yang bisa dianggap sebagai provokasi
itu, aku hanya bisa menghela napas panjang.
"……Haa."
"Kenapa menghela napas? Sudah menyerah? Yah, melihat
situasi di mana formasi seranganmu bahkan belum terbentuk, aku paham kalau kau
ingin menyerah sekarang juga—"
"Kau tidak selevel denganku."
"……Hah?"
Aku memotong ucapan Kantaru. Dengan kata-kata yang
seolah mencela diriku sendiri, aku menatap Kantaru dan menunjukkan isi hatiku
yang sebenarnya.
Bagiku, pertandingan ini adalah permainan Shogi
sungguhan pertama sejak melawan Tenryu. Jika mengecualikan Shogi War yang
selesai dalam waktu singkat, sudah lama sekali aku tidak bertarung melawan
orang kuat.
Karena itu, aku selalu waspada. Seluruh sarafku selalu
menegang.
Aku telah menyiapkan segala taktik agar bisa merespons
langkah apa pun yang dia ambil, mempersiapkan segalanya dengan matang agar bisa
diterapkan dalam pertandingan nyata.
Agar tidak mengulangi kegagalan saat melawan Tenryu
Kazuki, agar tidak jatuh di lubang yang sama, aku telah memasukkan semua
kemungkinan strategi yang akan dimainkan Asuma Kantaru beserta penangkalnya ke
dalam otakku.
Tapi, apa-apaan ini?
"Tidak selevel…… katamu?"
Ini benar-benar──terlalu lemah.
"……Hah?"
Seolah mengabaikan gertakan Kantaru, aku menghiraukan
serangannya dan mulai mengembangkan pertahananku.
Di saat yang sama, Kantaru mencoba mengguncang formasiku,
namun aku mematahkan serangan itu sambil mengaktifkan seluruh bidakku, lalu
membangun sebuah benteng di udara.
"A-apa yang kau lakukan, hah……?"
Setiap kali aku menaikkan Raja satu tingkat demi satu
tingkat, alis Kantaru berkedut.
"Hah……? Hah……?"
Entah karena dia mengenali cara main itu, atau karena dia
merasa ngeri dengan langkah-langkahku, Kantaru mulai berkeringat dingin.
"──Kau tahu makna dari kata Yoryu?"
Aku bertanya kepada Kantaru.
"Kau, apa yang—sedang kau—"
Strategi Yoryu Hineribisha yang digunakan
Kantaru memang merupakan taktik yang kuat.
Bersama dengan Yoryu Shikenbisha yang memiliki
nama serupa, strategi ini sempat populer di kalangan profesional.
……Karena itulah, aku tahu.
Susunan bidak yang berantakan dan penuh bidak tak
terpakai.
Gaya bertarung tanpa dasar yang jelas menunjukkan dia
hanya menang dengan mengandalkan insting kasar.
Pengaturan bidak egois yang hanya menggerakkan bidak
yang dianggap perlu dan mengabaikan sisanya.
Kantaru sama sekali tidak membentuk wujud dari
"Yoryu".
Dalam buku referensi, tertulis begini:
──Membuat seluruh bidak bersinar (Yo),
menampilkan tarian naga (Ryu), dan menuntun menuju kemenangan.
──Itulah Shogi yang ideal. Itulah Yoryu.
"Menggunakan seluruh bidak, bukankah seharusnya
seperti ini?"
Di hadapan Kantaru yang terpaku, aku menyelesaikan
formasi Jimetsutei-ryu tanpa ampun.
『【Butuh
Saran】Kumpulan usulan nama untuk strategi terbaru Jimetsutei』
Anonim
1
:
Jimetsutei Original.
Anonim
2
: 》1 Ditolak. Jangan asal tempel
kata "Original" ke semua strategi dong.
Anonim
3
:
Chudan-gyoku (Raja Baris Tengah) saja, atau Kuchu Rokaku (Paviliun di Udara).
Anonim 4
: 》3 Kuchu Rokaku kan sudah ada teorinya. Lagipula dia tidak selalu bertarung di udara.
Anonim 5
: Secara prinsip memang Chudan-gyoku, tapi Shogi
Jimetsutei itu Rajanya tidak bertarung sendirian.
Anonim 6
: Bukannya pakai nama Jimetsutei-ryu saja sudah cukup? Rasanya itu yang paling aman.
Anonim 7
: Yoryu Rokaku.
Anonim 8
: 》7 Bagus juga. Tapi kenapa Yoryu?
Anonim 9
: 》8 Karena dia menggunakan seluruh bidak untuk membangun paviliun di
angkasa.
Anonim
10
: 》9 Ini jawaban finalnya.
Anonim 11
: 》9 Oke, fix pakai ini. Jimetsutei-ryu,
atau nama lainnya: Jimetsutei-ryu Yoryu Rokaku.
"……Apa-apaan ini."
Dua puluh menit sejak pertandingan dimulai, bidak
cadangan di papan sampingku meluap.
Aku menggunakan bidak-bidak itu seolah sedang
menghamburkan uang, menghancurkan pertahanan Mino-gakoi Kantaru yang
kokoh dalam sekejap mata.
"Kenapa, kenapa bisa begini, sejak kapan situasinya
jadi begini……! Apa sebenarnya yang kau lakukan……!?"
Kantaru bertanya dengan panik, namun aku tidak memiliki
jawaban yang ingin dia dengar.
Sebab, Shogi adalah sebuah karya yang dibuat bersama oleh
kedua pemain.
Jika kau menelusuri jejakmu sendiri, kau akan selalu
menemukan penyebab dari segala hal yang terjadi.
Pertanyaan "Kenapa?" adalah bentuk tanya jawab
pada diri sendiri yang paling sia-sia.
Kantaru berusaha keras mendekati Rajaku, namun
peluru-pelurunya tidak mampu menjangkau benteng yang dibangun di udara.
Bahkan jika dia menembakkan meriam untuk menghancurkan
dinding luar, serangannya hanya akan dihentikan oleh pasukan tersembunyi yang
mengintai di daratan.
Dalam Shogi, tidak ada bidak yang sia-sia. Jika kau
tidak menggunakan semuanya, kau tidak akan pernah mencapai level yang
sesungguhnya.
──Akan kutunjukkan padamu Yoryu yang asli, Kantaru.
◇
(Mustahil, mustahil, mustahil, mustahil……!!)
Situasi masih di babak tengah, bahkan belum mencapai
babak akhir, namun Kantaru terus mendecak kesal sambil bermandikan keringat
dingin.
(Ini tidak mungkin! Kenapa aku bisa kalah dari orang
seperti ini……!?)
Satu-satunya kesalahan yang dilakukan Kantaru adalah
salah mengira pria di hadapannya sebagai pemain Shogi biasa.
Akibatnya, dia bahkan tidak menyadari bahwa kendali
permainan telah dirampas darinya.
──Dalam Shogi, terdapat "inisiatif" yang
memegang kendali atas alur pertandingan.
Alasan Kantaru dijuluki Malaikat Maut adalah karena
agresivitasnya yang tiada henti, serta taktik kemenangan mutlak di langkah awal
yang ia jalankan setelah menguasai mental lawan.
Namun, itu adalah keahlian yang hanya bisa dilakukan jika
dia memegang kendali──dan saat ini, Kantaru sama sekali tidak memiliki
inisiatif apa pun.
Karena dari awal hingga akhir, seluruh kendali dipegang
oleh pria di depannya.
"A-aku tidak terima, aku tidak akan mengakuinya……!
Hei, wasit! Pria ini dicurigai melakukan kecurangan! Periksa tubuhnya sekarang
juga!"
Kantaru berteriak memanggil wasit yang berada di dekat
sana.
Namun, begitu wasit itu melihat wajah Masai, ekspresinya
langsung menegang ketakutan dan dia menarik napas pendek.
"D-dia tidak melakukan kecurangan."
"Hah!? Mana bisa kau tahu cuma dengan melihat!
Periksa pakaiannya sampai ke dalam!"
"S-sebagai
wasit, aku menyatakan bahwa dia tidak curang. Integritasnya juga sudah diakui
oleh penanggung jawab turnamen ini, Tuan Tachibana Toru. Tidak perlu ada
keraguan lagi!"
(Hah……?
Tachibana mengakuinya……?)
Sesuatu
dalam diri Kantaru runtuh seketika.
(Pria
penganut aturan ketat itu berani mengambil risiko untuk mengakuinya……? Apa yang
terjadi? Apa yang…… siapa yang bergerak membujuknya……)
(Tidak, dia bukan tipe pria yang bisa dibujuk dengan
mudah. Aku kalah dari orang biasa yang bukan Aomine atau Aobara? Jangan
bercanda……!)
Kantaru memaki dalam hati sambil mencoba menatap
papan, namun semakin dia melihatnya, wajahnya semakin berkerut, dan tak lama
kemudian ujung jarinya mulai bergetar hebat.
(Apa……? Aku gemetar……? Aku ini……!?)
Diterjang kengerian yang belum pernah ia rasakan,
pikiran Kantaru seketika menjadi kacau balau.
(Ketakutan seperti ini, belum pernah sekalipun aku……!)
Kantaru mengertakkan gigi dan menatap tajam mata Masai.
Di sana terpantul warna yang gersang, bekas luka dari
pertarungan hidup mati, ambisi yang seolah menariknya ke dasar air, serta api
yang menyala dahsyat.
Kantaru melihat mata itu dan merasa ketakutan. Dia
bergidik ngeri.
Hanya ada satu momen di mana seorang pemain Shogi
merasakan kengerian seperti ini. ──Yaitu saat berhadapan dengan lawan yang
levelnya berada jauh di atasnya secara absolut.
(Langkah macam apa ini……! Kenapa sama sekali tidak ada
celah!)
Dia tidak akan menemukan jawabannya. Kekuatan luar biasa
dari pria yang ia anggap remeh itu memiliki selisih kemampuan yang jauh
melampaui situasi terburuk yang bisa Kantaru bayangkan.
Karena itu, secara alami dia sampai pada satu titik. Dia
mulai merenungi masa lalu dan menyadarinya.
Demi mencari alasan itu, dia mencari jawabannya sendiri
menuju akhir yang membawanya ke dasar jurang.
Itu adalah kejadian beberapa hari yang lalu.
『……Hah? Jimetsutei ikut turnamen prefektur?』
『I-iya. Kabarnya Jimetsutei yang merupakan top ranker
Shogi War mengumumkan di media sosial bahwa dia akan ikut turnamen tiga belas
hari lagi. Dan turnamen yang paling mendekati waktu itu hanyalah turnamen
prefektur kita……』
『Jangan bercanda. Mana mungkin orang sehebat itu ikut
turnamen prefektur. Lagipula, kalau mau ikut turnamen prefektur dia harus
menang di turnamen wilayah dulu. Jangan tertipu berita hoaks.』
『Ahaha…… benar juga ya.』
Ingatan yang tersimpan di sudut kepalanya kembali pulih.
Hanya butuh lima detik bagi ingatan itu untuk membuat wajahnya pucat pasi.
Titik-titik itu akhirnya terhubung.
"…………Hah?"
Kantaru akhirnya menyadari identitas asli pria di
depannya.
◇
Bagi Asuma Kantaru, Shogi adalah salah satu permainan
untuk menguji kecerdasannya.
Seseorang dengan martabat setinggi apa pun, atau pemegang
kekuasaan sebesar apa pun, di atas papan Shogi semua setara mempertaruhkan
kecerdasan, dan hanya yang terpintar yang akan bertahan.
Tidak ada momen yang lebih memuaskan selain melihat
manusia yang merasa lebih berharga darinya hancur berantakan.
Menjerumuskan orang dengan segala kebiadaban, memeras
uang dengan segala kekejaman. Kantaru merasakan kebahagiaan dalam tindakan itu
sendiri.
Namun, semua itu selalu disertai risiko.
Metode apa pun yang digunakan, meski dia menghapus bukti
tanpa ketahuan, jejak dari perbuatannya pasti akan terungkap di suatu tempat.
Akan tetapi, di dunia atas papan tidak ada baik atau
buruk. Hasil berupa kekalahan akan terungkap bersama dengan tanggung jawab
masing-masing. Itulah kenyataan dunia Shogi yang kejam.
Satu-satunya kesenangan Kantaru adalah menghancurkan
orang-orang yang serius di dunia ini dan melihat ekspresi mereka yang
terdistorsi oleh keputusasaan.
Seolah menyembunyikan tujuan utamanya, Kantaru percaya
bahwa kepuasan itulah alasan mengapa dia masih terus bermain Shogi.
Karena itu, Kantaru tidak merasa takut sedikit pun akan
kekalahan.
Dia membuang pertandingan yang tidak bisa dimenangkan
sejak awal, dan hanya menantang pertandingan yang bisa dia menangi. Itulah gaya
Kantaru.
Dia memiliki hubungan seperti air dan minyak dengan
ace Wilayah Utara, Aomine Ryuga, yang memiliki pemikiran serupa dengannya.
Mereka sering bentrok di turnamen demi memperebutkan gelar ace.
Namun, karena keduanya sama-sama menyukai cara-cara
kotor, mereka tidak mudah terjebak oleh taktik masing-masing. Keduanya hanya
terus mengulang siklus menang dan kalah setiap harinya.
Di tengah situasi itu, tawaran dari Wilayah Timur
datang di saat yang tepat.
Menganggapnya sebagai peluang emas, Kantaru
memutuskan meninggalkan Dojo Ginzen kecil di Wilayah Utara dan pindah ke Dojo
Ginzen yang lebih besar di Wilayah Timur.
Tak lama setelah pindah ke Wilayah Timur, Kantaru
mencium adanya konflik antara Komite Ginzen dan Dewan Keenam Belas, dan mulai
tertarik pada pertikaian tersebut.
Kantaru yang aslinya memang punya koneksi dengan
Komite Ginzen merasa bisa memanfaatkan kecerdikan liciknya di sana. Dia
pun membantu Komite Ginzen hanya karena merasa itu menarik.
Di sisi lain, dia juga mengemban peran sebagai ace
Wilayah Timur dan memimpin Dojo Ginzen.
Namun, lingkungan boleh berubah, tabiat tidak. Kantaru
semakin liar menggunakan tipu muslihatnya, bahkan taringnya mulai menggigit
hingga ke Wilayah Pusat yang berada di bawah pengaruh Dewan.
Bagi Kantaru, semua tindakan ini hanyalah sebuah
permainan. Jika dia kalah sekalipun, dia tidak akan menderita kerugian apa pun.
Afiliasi Kantaru tetaplah pada organisasi besar bernama "Komite
Ginzen".
Berbeda dengan orang-orang yang takut kalah, dia tidak
menanggung risiko apa pun dari sebuah kekalahan.
Menghakimi mereka yang mengejar mimpi adalah metode
kekerasan yang menggunakan pengetahuan.
──Lantas, apa arti "kekalahan" bagi seorang
Asuma Kantaru?
"K-kau……
Jimetsutei…… ya……?"
Kantaru bertanya dengan suara bergetar.
"Bohong, kan……? Kau bercanda, kan……?"
Masai tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya diam
mengulurkan tangan ke papan, melangkahkan bidak seolah ingin mencabik-cabik
Raja milik Kantaru.
Setiap kali dia melangkah, potongan pertahanan Kantaru
terlempar satu demi satu. Cahaya Yoryu yang tadinya membentuk benteng besi pun
padam dalam sekejap.
Di saat yang sama, benteng udara Masai terus merangsek
maju, hingga akhirnya seluruh benteng itu menerjang masuk ke wilayah Kantaru.
(Orang yang punya gaya main gila seperti ini hanya ada
satu di dunia…… Bahkan jika ada yang menirunya, pasti hasilnya akan cacat! Jadi, j-jadi yang ada di depanku sekarang ini……)
Keringat dingin mengalir deras seperti air terjun.
Roda gigi yang seharusnya sudah dia hancurkan, kini
ditarik paksa kembali oleh kekuatan yang luar biasa besar.
"…………Oi, tunggu. Jangan-jangan, foto
tadi──!!"
Karena Kantaru memang orang yang cerdas, dia langsung
memahami niat di balik itu. Dia mulai merasa ngeri pada setiap tindakan yang
diambil Masai.
Opini publik sudah mulai berubah.
『【Turnamen Koryu · Beregu】Thread Diskusi Part 95』
Anonim
130
: 【Breaking News】Identitas asli Watanabe Masai
ternyata Jimetsutei. (Ada bukti)
Anonim
131
: 》130 AAAAAAAAAAAAA!?!?!?!
Anonim
132
: 》130 Hah?
Anonim
133
: 》130 Seriusan ini……?
Anonim 134
: 》130 Eh? Jadi apa maksudnya? Selama ini
kita menghujat Jimetsutei sebagai penipu?
(Gawat……
Gawat gawat gawat gawat……!?)
Tidak
sulit membayangkan bagaimana kondisi jagat internet sekarang.
Justru
karena Kantaru terbiasa memanipulasi opini publik, dia bisa dengan mudah
membayangkan perubahan alur tersebut.
Langkah
yang selama ini dia pikir sebagai serangan mematikan, justru menciptakan celah
bagi lawan untuk memberikan serangan balik terbesar.
Dan
sekarang, sudah tidak ada cara lagi untuk menghentikannya di sini.
『【Gawat】Pemain amatir misterius bernama
Jimetsutei wkwk 【Selamat
atas Dan-10-nya】Part
38』
Anonim
360
: 【Breaking News】Identitas Jimetsutei adalah
Watanabe Masai (Ada bukti)
Anonim
361
: 》360 Wah, dugaanku benar kan!
Anonim
362
: 》360 Dia orang yang dicurigai curang
itu, kan?
Anonim
363
: 》360 Maaf gambarnya nggak bisa
dibuka, gimana cara buktiin kalau Jimetsutei = Watanabe Masai?
Anonim
364
: 》363 Kayaknya tadi di aula ada
pemain wilayah lain yang teriak "Yang curang jangan ikut turnamen"
dengan suara keras.
Nah,
pas perhatian semua orang tertuju ke dia, dia langsung ambil satu foto suasana
aula dan langsung di-upload ke media sosial. Dengan begitu bukti identitasnya
langsung fix.
Anonim
365
: 》364 Ini sih bukan cuma ngebalikin
keadaan, tapi ngebantai total wkwk.
Anonim 366
: 》364 Ngeri banget asli.
Anonim 367
: 》364 Hiiii……
Anonim 368
: 》364 Sumpah serem wkwkwk.
Anonim 369
: Dihujat se-Jepang tapi masih sanggup bertahan
sampai hari H, mentalnya gila banget……
Anonim 370
: Dulu di thread ini pernah dibilang kalau Jimetsutei
itu tipe yang nggak boleh diajak ribut di dunia nyata, dan ternyata itu benar.
Keberanian Kantaru mulai terkikis habis.
"──Sudah kubilang, kan? Aku tidak melakukan
kecurangan."
"……!!"
Entah sejak kapan dia menyadarinya, Masai melontarkan
kata-kata yang terasa sangat berat kepada Kantaru.
Kantaru secara refleks menoleh ke arah penonton di aula,
dan barulah sekarang dia memahami alasan mengapa orang-orang di sana merasa
ketakutan pada Masai.
Bahkan mereka
yang menonton dari kejauhan pun merasa ngeri melihat sang eksekutor yang tengah
menjatuhkan vonis di depan mata. Mereka bergidik ngeri menyaksikan dosa yang
tak lagi bisa dielakkan.
Memuja yang kuat dan meremehkan yang lemah.
Banyak orang dengan pola pikir seperti itu telah
memberikan kartu yang salah kepada Watanabe Masai, kartu untuk menghakimi
mereka sendiri. Ya, mereka telah melakukannya.
Tanpa menyadari bahwa kartu itu adalah sebuah Joker
yang mampu membalikkan dunia.
(Aku... apa aku akan kalah...? Di tempat seperti
ini...!!)
──Bagi Asuma Kantaru, kekalahan berarti "kalah dalam
pertandingan yang seharusnya ia menangkan".
Dengan kata lain, kekalahan bagi Wilayah Timur.
"Khu...!"
Saat Kantaru melirik ke samping, ia melihat anggota
Wilayah Timur lainnya—yang sudah menyadari identitas asli Masai sebagai
Jimetsutei—menatap ke arahnya dengan mata penuh ketakutan.
"Apa yang kalian lihat!? Cepat jalankan bidak
kalian!! Gunakan serangan waktu atau apa pun, pokoknya salah satu dari kalian
harus menang!!"
"I-iya!"
Tersentak oleh suara kasar Kantaru, para pemain Wilayah
Timur segera bergegas memfokuskan diri pada pertandingan masing-masing.
Kekalahan Wilayah Timur sama saja dengan hilangnya
kepercayaan dari Komite Ginzen.
Apalagi kalah setelah semua persiapan matang ini
dilakukan, hal itu tidak akan pernah dimaafkan.
Alasan Kantaru bisa bersikap sewenang-wenang di depan
para tetua Komite Ginzen adalah karena selama ini ia tidak pernah melakukan
satu pun kesalahan.
Hasil dalam turnamen akan langsung berdampak pada
reputasi, yang pada akhirnya memengaruhi kekuatan dojo maupun organisasi.
Dalam turnamen Koryu kali ini, kuota yang dibebankan pada
Kantaru adalah "menjadi juara" atau "memberikan dampak yang
signifikan". Hanya ada dua pilihan itu.
Ini adalah kesempatan emas untuk meraih kemenangan telak
atas Wilayah Pusat yang selama ini mendominasi. Kantaru memegang banyak kartu.
Kemenangan dalam turnamen ini adalah prasyarat utama,
sebuah jalur yang sudah dipastikan keberhasilannya.
Di tengah situasi itu, kalah dari Wilayah Barat yang sama
sekali tidak dianggap—bahkan sempat dikira akan menang WO—benar-benar bukan
lelucon.
Apalagi jika harus gugur di babak pertama──nasib Kantaru
nantinya sudah bisa ditebak dengan sangat jelas.
"Ha, hahaha... hahahaha!! Jimetsutei? Terus
kenapa!?"
Kantaru mencoba menggertak Masai demi menutupi fakta
bahwa dirinya sudah terdesak.
"Ini adalah pertandingan beregu! Kalian hanya
berempat, kalian tidak akan bisa menang melawan Wilayah Timur kecuali jika
kalian menyapu bersih semua kemenangan! Sebaliknya, kami sudah mengantongi tiga
kemenangan! Satu kemenangan lagi saja, maka kami yang menang!"
"Bicaramu seolah-olah tidak masalah jika dirimu
sendiri yang kalah."
"Cih, aku tidak peduli dengan kemenangan atau
kekalahanku sendiri. Yang penting hasil akhirnya Wilayah Timur menang. Kalah
atau menang melawanku itu urusan sepele. Hahahaha!"
Mendengar kata-kata arogan Kantaru, Masai hanya bergumam
pelan, "Begitu ya," lalu mulai menyusun langkah akhir untuk
menghabisi Raja milik Kantaru.
"──Karena itulah, kamu akan kalah dari 'kami'."
"Hah...?"
──Seketika itu juga. Pintu aula terbuka dengan keras.
"HA-HA-HA-HA-HAAA!!"
BRAKK!!
Seorang pria berbadan besar masuk ke dalam aula
dengan penuh semangat.
Tanpa mempedulikan atmosfer aula, pria yang terus
mempertahankan semangat tinggi itu melangkah membelah kerumunan penonton menuju
area pertandingan sambil merentangkan kedua tangannya.
"Maaf membuat kalian menunggu, kawan-kawan!! Kapten
Klub Shogi SMA Nishigasaki, Takebayashi Tsutomu, telah kembali!!"
Melihat kemunculannya, seluruh pemain Wilayah Timur
ternganga tak percaya.
"──Ya ampun, masuk dengan gaya yang mencolok lagi...
Bisakah Anda masuk sedikit lebih tenang,
Kapten?"
"Mungkin kekesalannya selama beberapa hari ini
sudah menumpuk, lagipula Kapten hanya diam saat sedang bertanding saja."
"Yah, benar juga."
Menyusul setelahnya, Sakuma Kaito dan Sakuma Hayato
juga masuk ke dalam aula.
"Ti-tidak mungkin..."
Wajah Kantaru seketika pucat pasi.
Di hadapan anggota Wilayah Timur yang sama-sama terpaku,
Sakuma bersaudara memberikan tatapan seolah sedang melihat sampah sambil
merenggangkan otot lengan mereka.
"──Jadi, ini wajah-wajah bajingan yang menjebak
teman kami?"
"Yah, karena kami ini orang baik, kami akan
menghancurkan kalian secara jantan di atas papan."
Di saat yang sama, Takebayashi Tsutomu yang menampakkan
diri di depan Kantaru juga mengubah sikapnya.
Wajahnya yang biasanya ramah kini berubah total menjadi
tatapan yang penuh dengan haus darah.
"──Asuma Kantaru, kamu sudah siap, kan?"
"T-tunggu sebentar... A-aku tidak pernah dengar soal
ini...!!"
Waktunya penghakiman dimulai.
◇
Babak pertama turnamen Koryu tingkat prefektur berubah
menjadi kekacauan besar.
Nasib Watanabe Masai yang sempat dicurigai curang entah
terbang ke mana.
Aula masih gaduh akibat kemunculan Jimetsutei yang
akhirnya menampakkan identitas aslinya.
Reputasi buruk Masai yang selama ini menyebar di forum
internet maupun media sosial kini runtuh total.
Arus informasi berbalik arah, memicu kecaman keras yang
tak henti-hentinya terhadap mereka yang sebelumnya melakukan fitnah.
Di tengah situasi itu, turnamen Koryu tingkat prefektur
pun menyajikan perkembangan yang sangat berbeda dari prediksi awal.
"Mustahil..."
Kantaru, yang sedang melihat pertandingan rekan-rekannya
dari Wilayah Timur, jatuh terduduk lemas.
Sisa waktu berpikir Kantaru sudah kurang dari sepuluh
detik.
Namun dalam kondisi seperti itu, Kantaru bahkan tidak
melirik jam catur sama sekali; ia telah mengabaikan pertandingannya sendiri.
Pip! Suara melengking itu terus berbunyi,
mengikis sisa waktunya dan terukir sebagai trauma dalam benak Kantaru.
Namun, Kantaru hanya bisa menatap pertandingan di
sebelahnya tanpa memperdulikan permainannya sendiri.
Melihat permainannya sekarang pun sudah tidak ada gunanya
lagi.
Papan caturnya sudah menunjukkan pola Tsumeshogi
(skakmat).
Apa pun langkah yang diambil Kantaru selanjutnya, ia akan
kalah dalam satu langkah.
Dengan kata lain, kekalahan Kantaru sudah mutlak.
"Hal bodoh seperti ini..."
Kantaru bergumam dengan suara tak bernyawa dan ekspresi
penuh keputusasaan.
Bersamaan dengan itu, suara peringatan waktu yang tersisa
pun menghilang.
Kantaru kalah karena kehabisan waktu, mengakhiri
pertandingan di posisi General.
"Terima kasih atas pertandingannya."
Ucap Masai sambil berpamitan dan beranjak dari kursinya.
Pertarungan melawan Kantaru yang sempat mengeluarkan
strategi Yoryu Hineribisha berakhir dengan kemenangan Masai, yang masih
menyisakan waktu berpikir sebanyak dua puluh lima menit.
Ini adalah pertandingan yang menetapkan perbedaan kasta
yang mutlak antara Kantaru dan Masai.
Namun, bagi Kantaru, kekalahannya sendiri bukanlah
masalah besar.
Selama Wilayah Timur menang pada akhirnya, itu sudah
cukup.
Akan tetapi, satu-satunya harapan itu pun baru saja
hancur berkeping-keping.
"Ka-kamu... Sakuma Hayato, kan...?"
"Memangnya
kenapa?"
Pemain
Wilayah Timur yang bertanding melawan Hayato menatap papan yang sudah
porak-poranda sambil menggelengkan kepala.
"Ka-kamu kan pemain spesialis Furibisha,
kenapa sekarang malah bermain Ibisha...!?"
"Cih, aku tidak punya kewajiban untuk
memberitahumu."
"S-sial... apa-apaan ini...! Bagaimana mungkin
pecundang dari Kelas F2 Lembaga Pelatihan sepertimu bisa menjadi sekuat
ini...!?"
Hayato yang biasanya bermain dengan fokus pada Furibisha,
dalam pertandingan itu justru menggunakan gaya Ibisha yang sangat
agresif.
Ini adalah gaya permainan yang sangat ortodoks dan solid,
sesuatu yang tidak terbayangkan dari Hayato yang biasanya bertarung dengan gaya
kacau.
Hayato menggunakan Millennium Enclosure, salah
satu pilihan kuat dalam gaya Ibisha untuk melawan Furibisha.
Pertahanan ini dianggap paling kokoh setelah Anaguma,
namun membutuhkan kemampuan mumpuni dalam menggerakkan bidak.
Hayato mengerahkan seluruh kemampuannya dalam
menggerakkan bidak besar yang ia pelajari dari pengalaman Furibisha, dan
berhasil menukar Benteng serta Gajah lawan di tengah pertempuran sengit.
Ia kemudian memanfaatkan kekokohan pertahanannya untuk
menyerang dengan jumlah bidak, sebuah strategi sederhana namun mematikan yang
membangun keunggulan mutlak.
──Hal yang sama juga terjadi pada Sakuma Kaito.
Kaito juga menggunakan Millennium Enclosure
seperti Hayato.
Bahkan, ia membangun Millennium yang lebih kuat
dengan empat bidak Jenderal Emas dan Perak sebelum memulai serangan.
Ia kemudian mengorbankan seluruh Benteng dan Gajahnya
untuk menghancurkan pertahanan lawan, lalu menyerang perlahan dengan
bidak-bidak kecil yang didapatnya—sebuah gaya bertarung tingkat tinggi.
Melihat pertumbuhan pesat keduanya, bukan hanya lawan
mereka, bahkan Kantaru pun hanya bisa ternganga tak percaya.
"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi..."
Saat Sakuma bersaudara tiba di aula, sisa waktu mereka
kurang dari lima menit. Itu adalah selisih waktu yang sangat besar.
Sebaliknya, lawan mereka masih memiliki waktu penuh empat
puluh menit.
Dengan kemampuan catur biasa, mustahil untuk menang dari
posisi seperti itu.
Namun, mereka berdua berhasil membangun keunggulan tanpa
mempedulikan sisa waktu yang hanya lima menit tersebut.
Berapa pun keberuntungan yang dimiliki seseorang, selisih
kemampuan sejauh ini biasanya tidak mungkin terjadi dalam kondisi normal.
"I-ini aneh... Menjadi sekuat ini dalam waktu
singkat benar-benar tidak masuk akal...!"
Melihat
kekuatan Sakuma bersaudara yang di luar dugaan, para pemain Wilayah Timur
menunjukkan wajah tidak puas.
Wajar
saja. Karena di antara anggota Wilayah Barat, Sakuma bersaudara dianggap
sebagai yang terlemah.
Toujou
Mika yang memiliki kemampuan kelas atas bahkan di Wilayah Barat. Kirisaki Natsu
yang pernah mengalahkannya.
Aoi
Reina yang meraih prestasi luar biasa di turnamen tingkat SMP.
Takebayashi
Tsutomu yang selalu memberikan hasil stabil.
Dan, sang General misterius yang mengalahkan
Tenryu Kazuki, Watanabe Masai.
Di dalam tim Wilayah Barat yang bertabur bintang itu,
Sakuma bersaudara adalah sosok yang paling tidak menonjol.
Meski punya rekam jejak pernah masuk ke Lembaga
Pelatihan, mereka keluar lebih awal karena pertumbuhannya yang kurang
memuaskan, dan sejak saat itu mereka kesulitan untuk berkembang.
Bagi wilayah lain, mereka berdua hanyalah mangsa
empuk, satu-satunya titik lemah yang dimiliki Wilayah Barat.
Namun kini, para anggota Wilayah Timur justru dibuat
pening oleh pertumbuhan Sakuma bersaudara.
(Tak kusangka, akan tiba harinya di mana aku merasa
langkah lawan terasa begitu ringan.)
Hayato bergumam dalam hati.
Selama satu bulan terakhir, mereka berdua pergi ke sebuah
tempat hampir setiap hari.
Yaitu ke dojo tempat gadis yang membantu mereka dalam
insiden ini berlatih.
Kepada gadis yang bahkan membuat Suzuki Tetsuro
menundukkan kepala, mereka berdua memohon dengan segenap tenaga.
──Meminta agar mereka dibuat menjadi lebih kuat, ditempa
hingga batas maksimal.
Sebagian besar urusan terkait kericuhan ini ditangani
oleh sang Kapten, Tsutomu, sementara Sakuma bersaudara sudah menyelesaikan
tugas mereka sejak awal.
Meskipun awalnya berniat untuk tetap hadir di kegiatan
klub, keinginan mereka untuk meningkatkan kemampuan catur sangat kuat sehingga
mereka mencari jalan lain.
Jika hanya bermain Shogi dengan santai, mereka tidak
akan berkembang.
Mereka sadar bahwa selama ini mereka terlalu memanjakan
diri sendiri.
Karena itulah, mereka mendatangi orang yang bisa melatih
mereka dengan paling keras.
Gadis itu menyetujui syarat tersebut dengan imbalan dua
utang budi, termasuk bantuan dalam insiden itu.
Dalam waktu singkat satu bulan, ia memaksakan jadwal
latihan super padat yang bahkan bisa membuat orang dewasa menangis ketakutan
kepada mereka berdua.
Dan selama sebulan hingga turnamen dimulai, di bawah
bimbingan keras sang gadis, Sakuma bersaudara terus meningkatkan kemampuan
catur mereka secara bertahap, sambil terus ditempa mentalnya agar tidak menjadi
sombong.
Meskipun hanya latihan, kalah dalam pertandingan Shogi
adalah pengalaman yang menyakitkan, terutama bagi mereka berdua yang punya
harga diri tinggi. Terlebih lagi, jika hal itu terus berulang, rasanya seperti
siksaan.
Namun, mereka berdua tidak menyerah dan terus berjuang
hingga akhir.
Dengan menguasai segala jenis strategi, pertahanan, serta
berbagai taktik tangan secara mendalam, mereka membangun pondasi yang kokoh
sebelum mencurahkan seluruh jiwa untuk meningkatkan kemampuan catur.
Saat semuanya berakhir, indra mereka telah terasah tajam
hingga mereka bahkan sempat lupa bahwa akan ada turnamen prefektur.
Mereka telah bangkit ke kondisi di mana mereka bisa
mengeluarkan kekuatan penuh kapan saja.
(Jika dibandingkan dengan latihan itu, ini sih seperti
main-main saja.)
Bagi mereka yang sudah merasakan keputusasaan dalam Shogi
di mana setiap langkah selalu dipatahkan, para pemain Wilayah Timur ini
bukanlah tandingan mereka.
Benar, Sakuma bersaudara yang sekarang adalah sosok yang
berbeda dari sebelumnya.
Mereka adalah pemain Shogi sejati yang telah membuang
sifat memanjakan diri.
Perbedaan waktu pun sama sekali tidak menjadi hambatan
bagi mereka.
"Bo-bohong, kan... Kenapa orang ini bisa terus
melangkah tanpa berpikir (no-time)...!"
Di sisi
lain, pemain yang bertanding melawan Tsutomu memegang kepalanya sambil
tertunduk lesu.
Sisa waktu Tsutomu yang seharusnya hanya lima menit,
ternyata masih tetap lima menit.
Lebih tepatnya, sisa waktu lima menit empat puluh detik
miliknya kini menjadi lima menit dua belas detik.
"Orang ini, apa dia benar-benar
manusia...!?"
Anggota Wilayah Timur menatap Tsutomu seolah-olah
melihat makhluk aneh.
Selama ini, Tsutomu terus melangkah tanpa jeda,
hampir tidak menghabiskan waktu sedikit pun untuk berpikir.
Gaya permainan secepat kilat yang seolah sudah
terbiasa dengan permainan kilat (Hayazashi) itu mengingatkan mereka pada
sosok Jimetsutei.
Kemampuan Tsutomu yang stabil memang sudah menjadi
buah bibir di prefektur, namun lawan yang dihadapi Tsutomu saat ini adalah
wakil ace Wilayah Timur, pemain top setelah Kantaru.
Tapi ia sama sekali bukan tandingan Tsutomu. Ini benar-benar seperti pertarungan orang dewasa melawan anak-anak.
Tsutomu mengeluarkan langkah-langkah cepat seolah
sedang memberikan bimbingan Shogi, dan menghancurkan lawannya tanpa ampun.
"Kenapa aku harus kalah dari orang seperti
ini...!"
"Fumu. Bolehkah aku menganggap itu sebagai kata-kata
menyerah?"
"Khu...! Jangan meremehkanku...! Ini belum
berakhir! Kami masih bertarung! Dari sini teman-temanku yang lain
akan membalikkan keadaan──ah?"
Wakil ace Wilayah Timur itu pun mencoba melihat ke
sekelilingnya.
──Namun, di sana sudah tidak ada lagi orang yang
bertanding.
Ada Kantaru yang sedang menggumamkan sesuatu dengan
wajah putus asa, serta anggota Wilayah Timur lainnya yang tertelungkup di meja
tanpa bergerak sedikit pun.
Dan Nishida dari Wilayah Timur yang tadi masih
bertanding juga──.
"Terima kasih atas pertandingannya!"
Suara Aoi yang ceria terdengar menggema di
sebelahnya.
"Aku... kalah dari Aoi Reina... begitu
mudahnya..."
Nishida yang menjadi lawan Aoi hanya bisa bergumam pelan
dengan mata yang kehilangan cahaya.
Dengan ini, Wilayah Barat meraih enam kemenangan dan nol
kekalahan.
Sekarang, tidak ada lagi secuil pun harapan atau mimpi
yang tersisa bagi Wilayah Timur.
"A,
a... aa..."
Melihat
pemandangan itu, sang wakil ace kehilangan semangat bertarungnya dan
menjatuhkan bidak yang ia pegang ke atas papan.
──Menyerah
(Toryo).
"A-aku
menyerah..."
"Terima
kasih atas pertandingannya!"
Tsutomu
berseru dengan penuh semangat, lalu berbalik dan melaporkan kemenangan kepada
anggota Wilayah Barat yang sudah menunggu di belakangnya.
"Semuanya, kalian sudah bekerja keras sampai hari
ini! Dan maaf karena sudah membuat kalian menunggu lama! Semuanya sudah beres!
Mulai sekarang, mari kita berjuang sekuat tenaga di turnamen ini!"
Mendengar kata-kata itu, para anggota klub mengangguk
mantap dengan senyum di wajah mereka.
Hasil pertandingan pertama, Wilayah Barat melawan Wilayah
Timur berakhir dengan tujuh kemenangan dan nol kekalahan.
Wilayah Barat meraih kemenangan mutlak di babak pertama tanpa kekurangan satu orang pun.



Post a Comment