Chapter
3
Strategi
di Luar Papan Permainan
Pada dasarnya, aku memang tidak begitu suka tampil di
depan umum atau menjadi pusat perhatian.
Bukannya aku pemalu. Di dalam kepalaku, kata-kata
selalu terangkai dengan baik, dan aku memiliki kemampuan komunikasi yang cukup
untuk berbicara normal.
Namun, itu semua hanyalah simulasi di dalam
imajinasi—dilakukan di dalam bingkai hati yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Saat masih kecil, aku cukup aktif, dan ketika
semangatku naik, jati diriku yang asli sering kali keluar begitu saja.
Tapi pada dasarnya aku adalah orang yang suram.
Jika orang sepertiku tiba-tiba bersemangat dan
menunjukkan jati diri aslinya, tatapan orang-orang di sekitar akan langsung
berubah menjadi warna ketidaksukaan.
Menjijikkan. Sok asyik. Kayak wibu.
Kepekaan anak-anak sangat sensitif terhadap perubahan
warna yang remeh sekalipun.
Entah itu disengaja atau tidak, luka yang didapat
saat kecil akan terus mengganggu bahkan setelah menjadi dewasa.
Karena itulah, aku tidak suka menonjol.
Aku memutuskan untuk diam di balik bayang-bayang,
menghabiskan waktu dengan tenang sebagai sosok yang tidak dilirik siapa pun,
dan menjalani hidup tanpa diganggu oleh siapa pun.
……Meski sudah memantapkan hati seperti itu, aku tetaplah
manusia biasa.
Walaupun tidak menonjol, di dalam lubuk hatiku, aku tetap
merasa cemburu kepada teman-teman sebayaku yang bersinar dan mendapat pujian
dari sekitar.
Jadi, sejujurnya aku merasa senang saat bisa beraksi di
Turnamen Koryu. Aku merasa sedikit lega karena ternyata orang sepertiku pun
bisa menonjol dalam artian yang positif.
Baru sekarang aku menyadari bahwa cara teman-teman
sekelas memandangku memang benar-benar telah berubah.
Mungkin itu adalah momen di mana cahaya menyinari
kegelapan.
Aku yang tadinya penyendiri suram, aku yang tadinya
berada di kasta terbawah, sekarang telah naik sedikit ke permukaan. Mendapat
perhatian tanpa dianggap aneh.
──Aku sempat berharap, meski hanya sedikit, bahwa aku pun
diizinkan untuk mandi di bawah sinar matahari.
"Hei,
Watanabe? Ini beneran, ya?"
Sehari
setelah Aoi memberitahuku soal forum internet itu, aku dipaksa berdiri di
tengah-tengah kelas.
……Dan tentu saja, dalam artian yang buruk.
"Nama yang tertulis di media sosial ini namamu,
kan? Di sini tertulis kalau kamu kemungkinan besar melakukan
'kecurangan' saat turnamen.
──Jangan-jangan, kamu beneran melakukannya?"
Yang menyudutkanku adalah siswi dari kasta atas di kelas,
Nikaido Minami.
Nikaido membeberkan fitnah tentang kecuranganku dengan
volume suara yang cukup keras agar terdengar oleh seisi kelas, sembari
menyunggingkan senyum yang buruk.
"Itu bohong."
"Eeeh? Tapi kalau bohong, beritanya nggak bakal
menyebar seluas ini, kan? Lagipula dari awal sudah aneh orang sepertimu bisa
terpilih jadi General. Sebenarnya kamu beneran melakukannya, kan?"
Nikaido membalas pernyataanku sambil tertawa cengengesan.
"Wah, beneran…… di forum Wilayah Barat juga ada
fotonya."
"Eh,
serius? Katanya menang turnamen, tapi ternyata menang karena curang? Bukannya
itu parah banget?"
Suasana di dalam kelas mulai gaduh.
Pengaruh Nikaido sangat besar, membuat siswi-siswi di
sekitarnya ikut setuju dan melemparkan tatapan curiga ke arahku.
"……"
Aku kehilangan kata-kata.
Mau membantah dengan mengatakan itu salah, atau
memberikan alasan bahwa ada situasi tertentu di baliknya—apa pun yang kukatakan
di sini akan berakhir sia-sia. Justru hanya akan menyiram bensin ke dalam api.
Karena manusia hanya akan melihat apa yang ingin mereka
lihat, mendengar apa yang ingin mereka dengar, dan memercayai apa yang ingin
mereka percayai.
Jika ada Toujou di sini, mungkin situasinya akan berbeda,
tapi sayangnya Toujou belum sampai di sekolah. Jika aku bicara sekarang, aku
hanya akan memancing kebencian para siswi.
"──Nggak,
gue percaya sama dia."
Satu suara bergema dari sudut kelas. Di saat semua orang
hendak menghunuskan pedangnya kepadaku, ada satu orang pria yang berdiri
membelaku.
Mihara Ryoji. Dia adalah pria yang duduk di kursi
belakangku, yang selalu terlihat tidak bersemangat.
"Hah? Apa-apaan sih kamu."
Nikaido melemparkan tatapan tajam kepada Mihara yang
tiba-tiba menyela pembicaraan.
Namun, meski tetap menyandarkan kepalanya di meja seperti
biasa, Mihara menatap balik Nikaido dengan sikap tegas.
"Gue tahu dia tiap jam istirahat selalu baca buku
Shogi. Mencurahkan gairah buat satu hal itu bukan sesuatu yang gampang.
Lagipula, dia ikut turnamen dengan memikul posisi General klub. Apa
cowok kayak gitu bakal tega buat curang sembarangan?
Kalau ketahuan, hidupnya tamat, lho."
Mihara secara logis menyuarakan pembelaannya terhadapku
kepada Nikaido dan yang lainnya.
"……Bener juga, risiko sama hasilnya nggak
sebanding, sih……"
"Lagian kalau dia sekuat itu sampai terpilih
jadi General, buat apa repot-repot curang?"
"Lagipula, ada kemungkinan ini cuma rasa iri
dari seseorang, kan?"
Para siswa laki-laki mulai menyetujui pendapat Mihara dan
berpihak padaku.
Menyadari pendapatnya mulai tersisih, Nikaido mendecak
pelan lalu melangkah keluar kelas.
Bersamaan dengan itu, Toujou masuk ke dalam kelas.
"Tadi kelas terasa berisik, apa terjadi
sesuatu?"
"Nggak kok! Nggak ada apa-apa, Toujou-san!"
"Oh ya?"
Gadis-gadis kasta atas itu langsung duduk mengelilingi Toujou
dan mulai mengobrol santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, aku mengembuskan napas lega seiring dengan
mengendurnya ketegangan, lalu menoleh ke arah Mihara.
"Anu…… kau sangat membantuku tadi. Terima
kasih."
"Santai aja, urusan kayak gitu emang merepotkan, ya.
Zzz……"
Entah ke mana perginya tatapan tajam Mihara tadi, dia
sudah kembali menelungkupkan kepalanya di meja dan tertidur dalam hitungan
detik.
Mihara sama sepertiku, selalu tidur di pojok kelas. Jika
sesekali dia bangun, dia akan pergi entah ke mana, lalu kembali lagi dan tidur
lagi. Begitu terus berulang-ulang. Tidak terlihat seperti orang yang rajin
belajar.
Padahal nilai ujiannya selalu bagus. Dia benar-benar sosok yang misterius.
Namun, status "penyendiri" miliknya dan
milikku memiliki sifat yang berbeda. Dia adalah sosok yang mandiri dalam
kesendiriannya, sedangkan aku hanyalah orang yang kesepian. Ada tembok absolut
yang tak tertembus di antara kami.
……Kenapa tiba-tiba dia membelaku?
Aku hampir tidak pernah mengobrol dengan Mihara.
Karena itu, aku tidak menyangka dia mau repot-repot membelaku bahkan sampai
menyatakan pendapat yang berlawanan dengan siswi kasta atas di kelas.
──Mungkin karena insiden dengan Mihara itu, sisa hariku
berakhir tanpa masalah berarti.
Nikaido sesekali melemparkan tatapan tidak senang, namun
mungkin karena ada Toujou yang berada di klub yang sama denganku, dia tidak
bisa bertindak gegabah dan tidak menggangguku lebih jauh.
Meski Nikaido tidak bertindak pun, jika rumor di internet
sudah menyebar sejauh ini, pasti akan ada yang memperhatikannya. Dan cepat atau
lambat, situasi seperti ini pasti akan terjadi.
Baik di dunia nyata maupun internet, orang-orang anonim
akan mengoceh sesuka hati mereka. Hal yang tidak kulakukan dianggap benar-benar
terjadi, dan tuduhan demi tuduhan tentang kecurangan terus menghujani
hari-hariku tanpa henti.
『Si
Watanabe Masai ini, padahal masih pelajar tapi katanya curang pas turnamen.』
『Langkah
Shogi Watanabe Masai ini dilihat dari mana pun pasti hasil curang, ya.』
『Melihat
mukanya saja sudah kelihatan kayak tukang tipu, ngakak.』
『Hasil
analisis langkah Watanabe Masai menunjukkan tingkat kesamaan dengan AI di atas
70%. Fix, ini beneran curang.』
『Orang
bernama Watanabe Masai ini parah banget, ya. Demi gengsi pribadi, dia sampai
curang buat menang.』
Jika aku mencari namaku sendiri di internet, caci maki
dari orang-orang tak dikenal ini langsung membanjiri layar.
Watanabe Masai adalah nama yang sangat berharga bagiku.
Salah satu harta tak ternilai yang diberikan oleh kedua orang tuaku.
……Aku tidak pernah menyangka nama itu akan dihina dengan
cara seperti ini.
Masalah ini terjadi karena kelengahanku.
Karena aku menjalani hidup sendirian tanpa berusaha
membangun kepercayaan dari siapa pun.
Karena aku tiba-tiba berdiri di panggung besar tanpa
menumpuk prestasi sedikit demi sedikit.
Karena aku menang di saat semua orang meremehkanku.
Semua ini adalah akibat yang diundang oleh kelalaianku
sendiri.
"……"
Aku menatap mereka semua dengan pandangan dingin.
Komentar-komentar dangkal tanpa bobot yang ditulis secara
asal-asalan.
Mereka merasa tidak berdosa, padahal sedang menciptakan
sebuah dosa. Massa yang tidak sadar, kejam, dan bukan merupakan kawan maupun
lawan.
Massa adalah entitas yang sangat, sangat──── mudah untuk
dikendalikan.
@zimetutei28
Dalam 13 hari ke depan, aku akan mengikuti sebuah
turnamen.
◇
Asap rokok mengepul berlapis-lapis, mengendap di
langit-langit ruang rapat layaknya ampas yang pekat.
Beberapa orang dewasa duduk di kursi berlapis kulit
berkualitas tinggi. Masing-masing dari mereka adalah sosok yang sanggup
menggerakkan uang dan jalan hidup manusia hanya dengan satu kata.
Yang berkumpul di ruang rapat itu adalah salah satu
dari dua organisasi besar yang menopang dunia Shogi. Para eksekutif yang
memimpin "Komite Ginzen".
Ada sekitar dua puluh orang pria dan wanita di sana.
Begitu semua orang menempati posisi masing-masing, setumpuk dokumen diletakkan
serentak di meja panjang bagian tengah, dan hanya suara gesekan kertas yang
membelah keheningan.
"Kudengar penyebaran cabang luar negeri berjalan
lancar, Mukurozaka."
Salah satu eksekutif wanita mengalihkan pandangannya
ke arah pria berambut putih yang duduk di kursi kehormatan.
Suaranya lembut, namun tatapannya menyipit seolah
sedang menilai harga sebuah barang.
"Tapi, berkeliling Eropa pasti tidak mudah, kan?
Kudengar tahun ini Anda menyerahkan hak kedaulatan kepada 'Midori'……"
Kata-katanya terdengar seperti sedang mencari
kesalahan. Menanggapi hal itu, pria berambut putih tersebut hanya mengalihkan
pandangannya sedikit.
"…………Ada masalah?"
Suaranya rendah dan kering. Kata-kata itu membuat si
eksekutif wanita terdiam sejenak, sebelum kemudian segera memasang senyum
palsu.
"Tidak? Aku hanya terkejut mendengar perwakilan
tahun ini adalah Seattle. Kupikir Anda sudah menjadi sedikit lebih
dermawan."
Sebuah kalimat yang penuh ironi. Namun, pria berambut putih itu
tidak membalasnya lagi.
"Sudah, sudah. Soal turnamen Piala WTDT itu,
tanyakan saja pada Midori nanti. Hari ini kita bahas slot untuk Turnamen
Koryu."
Yang memotong pembicaraan adalah seorang pria tua gemuk
berperut buncit yang duduk di kursi besar.
Pria tua itu mengambil dokumen di atas meja dan membalik
halamannya. Kemudian, dia melirik sekilas ke bagian yang mencantumkan nama-nama
Dojo Ginzen.
Ekspresinya bukan menunjukkan kekecewaan atau penyesalan,
melainkan wajah seolah salah satu bidaknya baru saja terbukti tidak berguna.
"……Kalau begini, kita bahkan tidak bisa menembus
wilayah Pusat."
Kalimat itu diucapkan bersamaan dengan helaan napas
panjang yang berat.
"──Masa sih? Bukannya cuma tinggal memenangkan
turnamen saja?"
Sebuah suara ringan yang terasa salah tempat membelah
atmosfer berat yang mengalir di ruang rapat.
Di depan pintu masuk ruang rapat, seorang pemuda
berdiri menyandar di dinding. Dia mengenakan hoodie ungu mencolok yang
tidak pantas untuk tempat itu di atas setelan jas mewahnya.
"Dia siapa?"
Saat si pria tua mengalihkan pandangannya, eksekutif lain
menjawab dengan mengedikkan dagunya.
"Asuma Kantaru, General dari Dojo
Ginzen."
"Oh, jadi kamu yang ada di forum internet itu. ……Aku
tidak terlalu suka dengan gerakan yang terlalu mencolok."
"Asal tidak ketahuan, tidak masalah, kan?"
Kantaru tersenyum tipis tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Tidak, bukan itu masalahnya. Siapa pun yang kamu
rendahkan, atau apa pun yang ketahuan, aku tidak peduli."
"Hanya saja──fakta bahwa kita 'tidak terlibat'
adalah satu-satunya hal yang harus tetap ada."
Kata-kata yang diucapkan dengan datar oleh para eksekutif
pria dan wanita itu tidak memiliki etika maupun harga diri.
Yang ada di sana hanyalah kepentingan pribadi dan upaya
perlindungan diri.
"Wah, seram sekali. Memang benar-benar para
eksekutif yang haus kepentingan."
Kantaru merentangkan kedua tangannya lebar-lebar,
melontarkan komentar ringan dengan nada dramatis yang dibuat-buat.
Namun sedetik kemudian, senyuman menghilang dari
wajahnya.
"──Wilayah Barat sudah kuhancurkan. Wilayah
Utara adalah tiran tunggal terkuat yang tidak cocok untuk pertandingan beregu.
Wilayah Timur hanyalah sebuah kotak kosong yang ditinggalkan Gensui setelah
pensiun, hanya berisi beberapa orang baru."
Laporan situasi yang disampaikan dengan nada datar
itu terasa begitu ringan, seolah dia sedang menyentil bidak di atas papan.
Sudut bibir pria tua itu sedikit terangkat.
"Hoho…… bahkan sampai menyelidiki soal Gensui, ya. Ternyata aku tidak boleh
meremehkan anak muda."
"Apa
kau tidak puas dengan caraku?"
"Tidak
juga. Tapi, apa rencanamu untuk wilayah Pusat…… 'Gaisen'?"
Mendengar
pertanyaan pria tua itu, Kantaru tertawa mengejek sampai memegangi perutnya.
"Jangan
melucu. Pahlawan sisa-sisa masa lalu yang sok tak terkalahkan
itu, memangnya bisa jadi ancaman apa?"
◇
Di waktu senja pada hari yang sama, Masai mengunjungi
sebuah tempat.
"……Nah, sekarang saatnya penyelesaian akhir."
Sebuah dojo besar yang terletak di area perumahan
terpencil di Wilayah Barat. Suara riuh anak-anak terdengar dari lantai dua saat
Masai menekan bel pintu dojo tersebut.
"Oya, bukankah ini Masai-kun? Bagaimana
kabarmu?"
Sosok yang muncul dari balik pintu adalah Suzuki Tetsuro,
Ketua Asosiasi Prefektur.
"Baik. Meskipun orang-orang di sekitarku
menganggapku sebagai pelaku kecurangan, tapi aku baik-baik saja."
"Hahaha! Sepertinya kau benar-benar sedang
marah. Aku juga
sudah mendengar sedikit soal rumor itu."
Menanggapi
Tetsuro yang menjawab dengan nada setengah bercanda, Masai mengalihkan topik
pembicaraan sambil melirik ke lantai dua.
"Apa Aoi melakukannya dengan baik?"
"Ah, tentu saja. Dia sangat populer di kalangan
anak-anak. Cara mengajarnya bagus, dia juga bisa memasak, aku benar-benar
sangat puas."
"Anda bahkan menyuruhnya memasak……"
Masai merasa sedikit ngeri sekaligus kagum dengan etos
kerja Aoi yang tak terduga.
Gadis yang tadinya begitu liar kini telah bangkit sejauh
ini. Sosok yang dulu mencoba menjatuhkan orang lain, kini justru memberikan
impian kepada orang-orang.
Pemandangan itu juga membuat Masai merasa senang.
"……Jadi, ada urusan apa kau datang ke sini? Rasanya
tidak mungkin kau jauh-jauh datang ke sini hanya untuk melihat keadaan Aoi-kun,
kan?"
鈴木 Tetsuro bertanya dengan wajah serius, berubah total dari
nada bicaranya yang tadi.
Pria tua itu tahu bahwa laki-laki di depannya tidak
mungkin menemuinya tanpa tujuan tertentu. Tetsuro adalah salah satu orang yang
memahami niat asli Masai.
Di hadapan Tetsuro, Masai menyunggingkan senyum licik
khas seorang ahli strategi dan mengutarakan maksudnya.
"──Benar. Layaknya pelaku kecurangan, aku datang
untuk berbuat curang."
◇
"Ya, sudah sempurna. Aku menyerah."
Sambil berkata demikian, aku menyatakan kekalahan di
depan mereka bertiga.
"Tahaa…… akhirnya aku bisa menang lawan
Mikado-cchi……"
Aoi terkapar di meja dengan wajah yang tampak lelah
setengah mati.
"Ah……
di dunia ini ternyata banyak sekali orang kuat……"
Kirisaki menyusul terkapar di meja setelahnya.
Satu-satunya yang masih bertahan, Toujou, juga tampak
sangat kelelahan.
"Meskipun strateginya sudah ditetapkan dan kita
sudah bertarung dua ratus kali, akhirnya kita bisa menang sekali…… Jalan kita
masih panjang, ya."
"Seberapa kuat sih kau, Mikado-cchi…… kau ini sudah
seperti monster tahu."
Aku ingin dia berhenti memanggilku monster sembarangan,
tapi karena aku juga lelah, aku mengambil napas sejenak.
Selama kurang lebih satu bulan menuju turnamen tingkat
prefektur, kami terus melakukan latih tanding hampir setiap hari.
Kami membuat ruang pribadi di Shogi Wars, mulai
dari saat berangkat sekolah, waktu home room sebelum pelajaran dimulai,
jam istirahat, hingga setelah pulang sekolah sampai waktu tidur.
Kami menghabiskan seluruh waktu di luar kegiatan klub
hanya untuk terus bertanding.
Begitu pertandingan selesai, kami bertukar pendapat di
grup media sosial dan mengerjakan poin-poin evaluasi sebagai tugas berikutnya.
Sedangkan waktu di klub yang terbatas digunakan untuk
memperbaiki detail-detail kecil yang hanya bisa diajarkan secara lisan.
Waktu menuju turnamen tingkat prefektur hampir tidak ada,
apa yang bisa berubah hanya dalam waktu sebulan?
Pertumbuhan dalam Shogi adalah hasil dari latihan yang
terus menerus; kemampuan baru akan terbentuk setelah perjuangan panjang.
Namun, meningkatkan kemampuan murni bukanlah satu-satunya
inti dari Shogi. Tanpa harus meningkatkan kekuatan dasar pun, kita bisa
meningkatkan tingkat kemenangan dengan strategi yang tepat.
Aku meminta mereka bertiga untuk menetapkan strategi
keahlian masing-masing, lalu aku mengasahnya agar strategi itu bisa efektif
melawan lawan-lawan di tingkat prefektur.
Yang kami lakukan sebenarnya cukup sederhana. Aku meniru
gaya bermain semua pemain yang akan muncul di turnamen prefektur, lalu mereka
bertiga harus menguasai metode penangkal untuk menghancurkan gaya bermain
tersebut.
Target sebanyak ini masih bisa tercapai dalam waktu satu
bulan.
Eh? Bagaimana aku tahu strategi keahlian para pemain di
tingkat prefektur? Entahlah, mungkin ada kakek baik hati yang memberitahuku.
Bagaimanapun, perkembangannya sudah cukup. Hari ini
mereka bahkan sudah bisa mengalahkanku.
Tentu saja, ada kemungkinan pemain di turnamen prefektur
lebih kuat dariku. Kami tidak boleh lengah hanya karena mereka berhasil menang
melawanku dalam latihan.
Namun, langkah-langkah yang kutiru pada dasarnya berpusat
pada langkah AI. Dengan kata lain, itu adalah langkah terbaik yang secara de
facto ada.
Jika mereka bisa menembus langkah itu, maka mereka akan
bisa menghadapi langkah buruk yang ada di bawah level itu dengan tenang.
"Maaf ya, Masai-kun."
"……?"
"Enggak, aku sangat senang Masai-kun mau mengajari
kami, tapi selama waktu itu, Masai-kun jadi tidak bisa melakukan apa-apa untuk
dirimu sendiri……"
Toujou menatap mataku dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Kalau dipikir-pikir…… kau memang terus menemani
kami sepanjang waktu. Kami minta maaf, Masai-senpai."
"Tidak, tidak, jangan dipikirkan. Aku tidak apa-apa
kok."
"Tapi tetap saja Mikado-cchi, belakangan ini kau
hampir tidak pernah main Shogi dengan orang lain selain kami, kan? Jumlah
kemenangan beruntunmu di Shogi Wars juga berhenti di angka
seratus……"
Memang benar akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah
bermain Shogi dengan orang lain selain mereka.
Aku terlalu asyik mengajar sampai mengabaikan latih
tandingku sendiri.
Tapi itu hanya karena aku tidak melakukan latih
tanding dengan orang lain, bukan berarti aku bermalas-malasan.
"Aku biasanya bertanding di dalam kepala, jadi
tidak masalah."
"Eh."
"Eh?"
"Hah?"
Mereka bertiga mematung bersamaan.
"Eh, apa yang kau katakan, Mikado-cchi……"
"Akhirnya kelelahannya sudah mencapai
batas……"
"Ini salahku, maafkan aku……"
Kenapa aku malah dikasihani begini? Jangan menatapku
dengan mata penuh rasa iba begitu.
"Lho, bukankah para profesional sering melakukannya?
Menyusun catatan pertandingan atau bertanding di dalam kepala. Itu lho. Kalian
tidak bisa?"
"Nggak, yang bisa melakukan itu cuma sebagian kecil
dari para profesional tahu……"
"Masai-kun, tolong berhenti melampaui imajinasiku
secara berkala."
"Ah…… Masai-senpai sudah pergi ke tempat yang
jauh……"
Aku
meletakkan sebuah bidak dengan lembut di atas wajah Kirisaki yang sedang
menatap langit-langit. Tidak ada niat khusus.
Reaksi
mereka lebih ngeri dari yang kubayangkan, padahal aku tidak melakukan hal yang
aneh-aneh.
Setelah
melakukan puluhan ribu atau ratusan ribu pertandingan, papan Shogi otomatis
akan terbentuk sendiri di dalam kepala.
Awalnya
aku hanya bisa menyusun catatan pertandingan yang kuhafal, tapi lama-lama aku
jadi bisa bertanding secara alami di sana.
Pada
dasarnya, selama aku terbangun baik siang maupun malam, aku selalu bertanding
di dalam kepalaku.
Karena
papan permainannya bisa di-save, aku tetap bisa bertanding kapan saja
saat tidak sedang mengajar mereka.
……Atau lebih tepatnya, aku melakukannya terus.
Alhasil, aku sama sekali tidak ingat materi pelajaran di
kelas akhir-akhir ini. Pengorbanannya lumayan besar juga.
"……Y-Yah, syukurlah kalau kemampuan Masai-kun tidak
menurun."
"Ya, sisanya tinggal penyelesaian akhir
masing-masing menuju turnamen prefektur, jadi mari kita tetap fokus sampai
akhir."
Aku melirik jam di dinding sekali, lalu mengucapkan
kata-kata penutup.
Toujou dan Aoi mengangguk pelan mendengar perkataanku.
Namun, hanya Kirisaki yang masih menunjukkan ekspresi cemas.
Sambil menutupi satu tangannya dengan jari dan matanya
melirik gelisah, Kirisaki memberanikan diri untuk bicara.
"Anu, setelah sampai sejauh ini…… mungkin tidak
sopan mengatakannya sekarang, tapi…… apa kita benar-benar bisa ikut turnamen
prefektur?"
Keheningan sesaat. Itu adalah pertanyaan yang menusuk
langsung ke inti masalah. Jawaban untuk menegaskan hal itu pasti bisa diberikan
oleh siapa saja, bukan hanya aku.
"Kita bisa ikut, pasti."
"Tapi, sejak saat itu tidak ada orang lain selain
kita yang datang ke klub, kan? Apalagi soal kejadian kemarin……"
Kecemasan Kirisaki sangat masuk akal. ──Sebab belum lama
ini, kami menerima "sanksi larangan bertanding" dari harian Russell
Shinbunsha, penyelenggara turnamen tingkat prefektur.
Tepatnya, larangan bertanding bagiku secara pribadi. Enam
orang lainnya selain aku masih diperbolehkan ikut.
Tapi tentu saja, kami berencana untuk ikut dengan tujuh
orang. Ini adalah hal yang tidak bisa ditawar, dan tidak ada alasan untuk
mengalah.
Karena aku sama sekali tidak melakukan hal yang pantas
untuk dilarang bertanding.
"Kita bisa pergi ke prefektur, pasti. Sakuma
bersaudara dan Takebayashi-senpai pasti sedang berusaha agar kita bisa
ikut."
"……Kenapa Kakak bisa begitu percaya pada
mereka?"
"Karena itulah tugas kita kali ini."
"Eh……?"
Kepada Kirisaki yang tidak mengerti maksudku, aku
menjelaskan.
"Kau lupa? Kata-kata yang diucapkan Ketua setelah
turnamen wilayah berakhir."
Seketika, suara lantang yang khas itu terngiang kembali
di benakku.
『Turnamen tingkat prefektur akan lebih mengandalkan ikatan
kepercayaan daripada sebelumnya! Karena itu, sebelum saat itu tiba, mari kita
memperdalam ikatan kita dan berjuang sebagai satu kesatuan!』
"Ah……"
Ya, itu adalah kata-kata terakhir yang ditinggalkan
Takebayashi-senpai untuk kami.
Kata-kata yang juga menjadi alasan Kirisaki mulai sering
menampakkan diri di klub ini.
"Ketua tidak pernah menyuruh kita untuk menjadi
kuat. Tapi dia menyuruh kita untuk saling percaya. Dia bilang kita tidak akan
bisa menang di turnamen prefektur nanti jika tidak memiliki hubungan yang
saling percaya."
Pada saat kami memenangkan turnamen wilayah, hubungan
kami sebenarnya hanya di permukaan saja.
Aoi masih menyimpan kekacauan di hatinya, dan ada jurang
besar antara aku dan Hayato.
Kirisaki pun pasti masih memiliki beberapa kekhawatiran.
──Takebayashi-senpai pasti menyadari hal itu.
Kata-kata seperti 'bersatu' adalah hal yang sering
didengar sejak kecil, tapi bagi kami yang selama ini bertarung dalam Shogi yang
merupakan olahraga individu, melepaskan sifat mementingkan diri sendiri dan
memiliki kesadaran sebagai rekan bukanlah hal yang mudah.
──Karena itulah, kita perlu mengusahakannya.
"Sekarang kita berada dalam situasi di mana semua
anggota tidak bisa berkumpul. Semua orang bergerak secara terpisah dengan
pemikiran masing-masing. Mereka begitu sibuk sampai tidak bisa datang ke klub.
Kirisaki pun belakangan ini sering absen dari klub, dan hampir tidak pernah
lagi ikut latih tanding dengan kami setelah pulang sekolah."
"I-itu……"
"Tapi aku tidak berniat menyudutkanmu soal itu. Aku
tahu kau tidak bisa datang karena ada sesuatu, dan kau melakukannya karena
merasa itu perlu. Kita semua boleh bergerak sendiri-sendiri, lalu berkumpul
dengan sendirinya."
"Sikap masa bodohmu itu lucu sekali, semuanya jadi
terasa sangat tidak jelas ya."
"Bukankah itu yang namanya kepercayaan?"
Aku tidak mengatakannya sebagai kata-kata mutiara yang
indah. Kepercayaan hanyalah sebuah keinginan untuk membenarkan harapan, bukan
beban yang harus dipikul orang lain.
Itulah sebabnya, keinginan itu menjadi sangat sederhana
untuk dikabulkan asalkan semua orang setuju.
"Masai-kun, apa kau mempercayai semuanya?"
"……Anggap saja aku percaya saat kita menjadi juara
nanti."
"Jawaban yang bagus, Kirisaki."
Sepertinya keraguan Kirisaki telah sirna berkat
kata-kataku, wajahnya kini terlihat jauh lebih cerah.
"……Baiklah. Saya juga akan memberikan segalanya demi
turnamen tingkat prefektur."
Begitulah cara kami memasuki tahap penyelesaian akhir
menuju turnamen tingkat prefektur.
◇
Di lantai satu Russell Shinbunsha yang terletak di
Wilayah Pusat—lokasi penyelenggaraan Turnamen Koryu—seorang pria tampak sedang
membungkuk dalam-dalam dengan penuh perjuangan.
"Tolong
biarkan kami, tidak…… biarkan kami semua ikut serta dalam turnamen prefektur
ini. Saya mohon."
Pria
yang membungkuk hingga tubuhnya membentuk sudut siku-siku itu adalah
Takebayashi Tsutomu, Ketua Klub Shogi SMA Nishigasaki sekaligus salah satu
anggota perwakilan Wilayah Barat untuk Turnamen Koryu.
Tsutomu
yang biasanya terlihat ceria kini tampak seperti orang yang berbeda; dia sangat
pendiam dan terus membungkuk dengan ekspresi yang sangat serius.
"……Ini
sudah keberapa kalinya?"
Di
hadapan Tsutomu, duduklah Tachibana Toru, penanggung jawab turnamen kali ini,
dengan latar belakang papan nama Russell.
"Watanabe Masai anggota kami sama sekali bukan orang
yang akan melakukan kecurangan. Dan faktanya, dia tidak melakukan kecurangan
apa pun. Tolong, bisakah Anda membatalkan larangan bertanding untuknya?"
Tsutomu terus memohon sambil tetap membungkuk.
Selama satu bulan ini, Tsutomu telah mengerahkan seluruh
tenaganya untuk mendukung Masai.
Dia berkeliling ke berbagai tempat untuk mencegah
penyebaran rumor, menjelaskan situasi secara mendetail agar masalah tidak
semakin besar, dan pokoknya melakukan apa pun untuk meredakan situasi.
Sejak dia mendengar kejadian ini dari Hayato, wajah
Tsutomu terus-menerus diselimuti kecemasan.
Penyebaran fitnah ini sangat mudah diprediksi. Namun,
hanya ada satu cara untuk menyelesaikannya.
──Meyakinkan penanggung jawab, atau memenangkan
kepercayaannya, dan membuat Tachibana Toru mengangguk setuju.
"……Bagaimana pun juga, api fitnah ini sudah membara
terlalu besar. Bukannya aku ingin menghukum orang yang baru sekadar dicurigai,
tapi karena masalahnya sudah sebesar ini, aku tidak bisa memberikan izin."
"……Tolong pertimbangkan sekali lagi."
Terhadap permohonan Tsutomu, Tachibana menggelengkan
kepalanya.
"Kami juga sedang melakukan investigasi. Jika
memang benar dia tidak melakukan kecurangan, cepat atau lambat dia akan bisa
membuktikan kebersihannya. Setelah itu, dia bisa ikut di turnamen
berikutnya."
Itu tidak cukup. Turnamen
Koryu berikutnya tentu saja tahun depan, dan Tsutomu akan lulus tahun ini.
Demi mencapai tujuannya, Tsutomu harus mengikuti Turnamen
Koryu ini dengan seluruh anggota tim.
"Hah, kenapa beritanya bisa meledak sampai seperti
itu…… aku juga merasa pusing."
Sebaliknya, Tachibana pun berada dalam posisi yang
bingung menghadapi situasi yang di luar dugaan ini.
Artikel yang disambar oleh para "pencari
berita" telah dibaca lebih dari jutaan kali, dan setiap hari Russell
Shinbunsha menerima telepon yang menuntut agar Watanabe Masai tidak
diperbolehkan ikut turnamen.
Bagi Tachibana, investigasi verifikasi fakta tidak bisa
selesai tepat waktu, dan risikonya terlalu besar jika dia bersikap keras
kepala.
Oleh karena itu, dia hanya bisa mengambil keputusan untuk
melarang Watanabe Masai bertanding sementara anggota lainnya tetap
diperbolehkan.
Kedua orang yang berhadapan dengan asap kopi di antara
mereka itu tetap berada dalam suasana tegang tanpa ada tanda-tanda mereda.
"Ketidakadilan dunia ini, maupun perlakuan yang
tidak masuk akal, semuanya adalah masalah yang diundang oleh tindakan sendiri.
Alasan kenapa dia diserang sedemikian rupa, bukankah itu karena dia memancing
dendam seseorang, atau memang melakukan sesuatu?"
"Sama sekali tidak seperti itu!"
Tsutomu mengepalkan tinjunya kuat-kuat, namun dia tidak
memiliki bukti maupun posisi untuk membalas ucapan itu.
"Apa yang kau yakini dari posisimu berbeda dengan
apa yang kulihat dari posisiku yang harus menanggung risiko."
Sambil berkata demikian, Tachibana berdiri dari kursinya
dan melirik jam tangannya.
"Sayang sekali, waktunya sudah habis."
"T-Tunggu sebentar……!"
Tsutomu berteriak dengan keringat dingin yang
mengucur.
Hari ini adalah hari pembukaan turnamen prefektur.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, dan sebentar lagi upacara
pembukaan akan dimulai di lantai satu gedung Russell Shinbunsha.
Sudah tidak sempat lagi──.
"Jika kau benar-benar ingin meyakinkanku,
bawalah bukti yang sepadan──"
Saat Tachibana meletakkan tangannya di pintu, dia
membelalakkan mata dengan ekspresi terkejut saat pintu itu terbuka.
Entah apa yang dilihatnya, wajah Tachibana seketika
menjadi pucat pasi. Tsutomu yang tidak mengerti apa yang terjadi pun melangkah
maju ke arah pandangan Tachibana.
Di sana, berdiri seorang gadis cantik berambut pirang
yang mengenakan seragam sekolah dengan gaya yang sedikit berantakan.
"Sepertinya kau tidak punya banyak waktu, Tachibana.
Bagaimana kalau aku saja yang mewakilimu memberikan sambutan di upacara
pembukaan?"
"A-Anda…… k-kenapa Anda ada di sini?"
Tachibana
yang tadinya berbicara dengan nada tegas dan dingin kini mendadak tersentak
mundur dengan penuh rasa hormat.
Di tangan gadis itu, tergenggam segepok kertas.
Kertas-kertas yang berisi banyak informasi, menyerupai sebuah dokumen kontrak.
"Sepertinya kau butuh bukti, apa kau berminat
melihat ini?"
"……T-Tidak……"
"Jangan sungkan, Tachibana. Waktu satu bulan sudah
lebih dari cukup untuk melakukan investigasi sederhana. Bagaimana? Kau ingin
melihatnya, kan? Bukti apakah Watanabe Masai melakukan kecurangan atau tidak.
──Kau ingin melihatnya, kan?"
Mendengar perkataan gadis itu, Tachibana tidak bisa
berkata apa-apa lagi; dia hanya bisa menundukkan kepala dan mengedikkan bahu.
Tachibana langsung menyadari apa yang telah dilakukan
gadis itu dan apa yang dia bawa ke sini sekarang.
"……Saya
akan membatalkan larangan bertanding untuknya."
Hanya satu kalimat itu yang bisa dia ucapkan.
◇
Di lantai satu Russell Shinbunsha yang merupakan
lokasi Turnamen Koryu tingkat prefektur, para pemain dari tim berbagai wilayah
telah berkumpul.
"Tinggal Wilayah Barat saja yang belum datang, ya.
Apa menurutmu mereka akan datang, Wataru-san?"
Nishida, salah satu perwakilan Wilayah Timur, bertanya
kepada Kantaru yang berdiri di sampingnya sambil menautkan kedua tangan di
belakang kepala.
"Mana mungkin mereka datang. Tidak, lebih tepatnya
meskipun ingin, mereka tidak akan bisa datang."
Melihat Kantaru yang tertawa mengejek, anggota tim
Wilayah Timur lainnya pun ikut menyunggingkan senyum menghina.
Rumor tentang kecurangan Watanabe Masai semakin parah
dari hari ke hari, dan hujatan itu sudah membara sedemikian rupa hingga tidak
mungkin bisa dipadamkan lagi.
──Pelaku yang memicu situasi ini adalah Asuma Kantaru.
Kantaru yang sedang mencari bahan untuk menjatuhkan
"Dewan Keenam Belas" yang sedang berebut kepentingan dengan
"Komite Ginzen", mengetahui bahwa telah terjadi masalah di Dojo
Ryutei, salah satu dojo di bawah naungan Ginzen.
Kudengar dalam turnamen seleksi perwakilan Wilayah Barat,
terungkap bahwa Asuka, yang merupakan General dari Dojo Ryutei, telah
melakukan tindakan bermasalah terhadap lawannya di babak pertama penyisihan.
Mengetahui hal ini, Kantaru mengadu ke kantor cabang
secara diam-diam sehingga Asuka dikeluarkan dari dojo.
Kemudian, dia menghasut Asuka yang sedang marah besar
untuk memicu insiden kali ini.
──Penghasutan. Kantaru hanya memberikan dorongan kecil
dari belakang, sementara tangannya sendiri tetap bersih dari tuduhan.
Ya, pada dasarnya orang yang menulis 'Watanabe Masai
melakukan kecurangan' di forum internet adalah Asuka sendiri. Kantaru hanya
bertindak untuk mendukung hal tersebut.
Dia menciptakan alur yang begitu alami sehingga Asuka
sendiri pun tidak menyadarinya, lalu mengobarkan isu kecurangan Watanabe Masai.
Hasilnya adalah kekacauan yang terjadi saat ini.
Kalaupun setelah masalah mereda orang-orang mulai mencari
pelakunya, Kantaru tinggal menjadikan Asuka sebagai kambing hitam.
Dia tidak akan mengotori tangannya sendiri. Begitulah
cara main Kantaru.
Jika lawannya adalah sosok besar seperti Tenryu
Kazuki, mungkin cara ini tidak akan berhasil, tapi karena lawannya hanyalah
pendatang baru tanpa nama seperti Watanabe Masai, rencana ini berjalan mulus.
"Wilayah Barat pada akhirnya hanyalah wilayah
yang bertarung dengan mengandalkan karisma Tenryu Kazuki. Tim pendatang baru
yang mendadak muncul tidak pantas berada di panggung ini."
"Benar juga, ya."
Kantaru yang sudah menganggap pengunduran diri
Wilayah Barat sebagai hal yang pasti, mengalihkan pandangannya ke arah kursi
penonton.
(Ngomong-ngomong, penonton tahun ini banyak sekali
ya. Meski ini turnamen tingkat prefektur, biasanya hanya wartawan atau orang
dalam saja yang datang, tapi kali ini banyak wajah-wajah asing. Lagipula, dari
mana orang-orang ini berasal?)
Dilihat sekilas saja, jumlahnya sudah jauh melampaui
lima puluh orang. Jumlah yang sangat tidak wajar.
(……Yah, terserahlah.)
Meski begitu, Kantaru menepis pemikiran berlebih dari
kepalanya dan hendak berbicara kepada Nishida yang tampak bosan di sampingnya.
Tidak peduli siapa atau berapa banyak orang yang
datang menonton, bagi Kantaru hasilnya tetap tidak akan berubah.
"Lagi pula, lawan babak pertama kita adalah
Wilayah Barat. Kita jadi punya banyak waktu luang sekarang. Oi, Nishida.
Ayo ke minimarket beli sesuatu──"
Tepat sebelum dia selesai bicara, pandangannya tertarik
ke arah luar aula, ke arah pintu masuk utama.
Jumlah penonton tahun ini berkali-kali lipat lebih banyak
dari biasanya.
Dari pintu masuk aula yang sesak oleh pergerakan para
penonton tersebut, sekelompok siswa yang berbaris rapi mulai memasuki ruangan.
"Ma……
hah?"
Orang-orang
yang memiliki hak untuk berpartisipasi dalam turnamen, masuk ke dalam aula, dan
melangkahkan kaki ke panggung yang sama seolah-olah itu adalah hal yang sudah
sewajarnya. Sosok mereka terpantul di mata Kantaru.
Mata
Kantaru membelalak sangat lebar, dan tidak butuh waktu lama hingga ekspresinya
berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa.
Apa yang terpantul di matanya bukanlah mimpi ataupun
ilusi. Para pemain inti yang sedang naik daun, yang semuanya terdiri dari siswa
SMA aktif.
──Mereka adalah anggota tim Wilayah Barat.
"……Ternyata mereka datang juga."
Para pemain Wilayah Selatan memasang posisi waspada,
seolah sedang mengumpulkan semangat kembali.
"Hmph."
Para pemain Wilayah Utara melirik sekilas dengan tatapan
tidak tertarik.
"Sesuai dengan ramalan Akari-no da~"*
Sebuah suara kekanak-kanakan terdengar dari arah
perwakilan Wilayah Pusat.
Seluruh pemain dari semua wilayah serentak menaruh
perhatian.
──Kecuali Wilayah Timur, semua orang menyambut kedatangan
para pemain Wilayah Barat dengan tatapan seolah itu adalah hal yang sudah
seharusnya.
Di tengah-tengah mereka, ada seorang pria dengan aura
biasa saja yang berjalan di antara para gadis──.
(K-Kenapa…… kenapa si Watanabe Masai itu bisa ada di
tempat ini……!)
Sosok
yang telah mengalahkan Tenryu Kazuki yang agung, Watanabe Masai, kini telah
melangkahkan kakinya ke dalam aula turnamen.



Post a Comment