Langkah
Tersembunyi 2
Rekan
Di tengah perjalanan pulang saat mentari mulai
tenggelam, Hayato berjalan di depan Kaito dengan bahu yang tampak lesu.
"Aaah, capeknya!"
"Kerja bagus. Mau beli sesuatu dulu sebelum
pulang?"
"Tentu saja Kakak yang harus traktir, ya! Tadi
kan hampir cuma aku yang bicara."
"Maaf, maaf. Aku memang agak payah menghadapi
orang itu."
"Ngomong-ngomong, Kakak dulu sering dibuat
menderita sama dia pas zaman di kelompok pelatihan, ya?"
Hayato menahan tawa sembari menyusuri jalan pulang.
Melihat tindakan adiknya yang sedikit tidak terduga dan
berbeda dari biasanya, Kaito pun tak tahan untuk bertanya.
"Tapi aku benar-benar terkejut, lho. Tidak
menyangka Hayato akan menolong Watanabe. Kupikir selama ini kamu
membencinya?"
"……Ah?"
Hayato memutar tubuhnya untuk menghindari tiang
listrik di depannya, lalu menjawab sambil memunggungi Kaito.
"Tentu saja aku benci. Dia itu cowok yang
menyebalkan. Baru saja masuk klub sudah bisa mengalahkan Toujou dengan mudah.
Padahal cara memegang bidaknya saja terlihat kaku, tapi kemampuannya jauh lebih
kuat dari kita. Yang paling membuatku muak adalah sikap rendah hatinya yang sok
itu, benar-benar memancing emosi."
Hayato mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melontarkan
kata-katanya dengan nada kasar.
Namun, setelah selesai bicara, kepalan tangan itu
perlahan terbuka.
"Tapi, dia sudah masuk ke klub ini. Dia sudah
bergabung dan menjadi rekan yang berjuang bersama kita dalam pertandingan
beregu. ……Apa gunanya merendahkan rekan sendiri?"
Seolah memberontak terhadap tindakan Aoi, Hayato telah
menetapkan prinsipnya sendiri.
Prinsip yang cukup kuat untuk membuatnya bergerak
memutarbalikkan seluruh rencana dalam insiden yang melibatkan Aoi──.
◇
Hari terjadinya insiden Aoi. Saat perpindahan kelas untuk
pelajaran siang, Hayato yang berada di kelas berbeda secara mengejutkan
mendatangi Masai.
"Oi, Watanabe. Kau…… sepulang sekolah nanti, kau
akan dijebak oleh Aoi Reina."
"……!"
Masai membelalakkan mata mendengar kata-kata yang
terlontar sebagai pembuka pembicaraan itu.
Masai terkejut bukan karena peringatan Hayato tentang apa
yang akan dilakukan Aoi, melainkan karena fakta bahwa Hayato-lah yang
menyampaikannya secara langsung kepadanya.
"Sepertinya dia sudah menyiapkan banyak hal, tapi
aku tidak berniat ikut campur dalam masalah ini. Jadi, kau harus bergerak lebih
dulu dan selesaikan semuanya. Sebagai General, kau pasti bisa
melakukannya, kan?"
"……Kenapa kau memberitahuku soal ini?"
"Cih, tidak perlu dijelaskan pun kau harusnya paham.
Kalau kau keluar dari klub, siapa yang akan jadi General? ……Aku malas
mengakuinya, tapi kau adalah penyumbang poin terbanyak di turnamen Koryu. Kalau
kau keluar, tingkat kemenangan kita di tingkat prefektur bakal anjlok,
tahu."
Meski suaranya semakin mengecil di akhir kalimat, Hayato
menyampaikannya dengan tegas.
Masai tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya atas
saran dari orang yang tak terduga ini. Namun, begitu memahami maksud di balik
kata-kata tersebut, tawa pun lepas dari mulutnya.
"……Hahaha."
"Ah?"
"Tidak, aku hanya merasa ini sedikit tidak terduga
karena selama ini kukira kau membenciku……"
"Berisik. Aku tidak pernah bilang kalau aku
menyukaimu. Sudah sana, cepat pikirkan langkah pencegahannya."
"……Baiklah. Terima kasih sudah memberitahuku."
Begitulah percakapan singkat antara Masai dan Hayato
berakhir.
Alasan mengapa Masai bisa memiliki persiapan mental dan
menyusun strategi matang dalam menghadapi ancaman Aoi setelahnya, adalah karena
Hayato telah membocorkan informasi itu lebih dulu.
◇
"──Target kita adalah juara nasional, kan? Sudah
susah payah mendapatkan sekutu yang kuat, hanya orang bodoh yang
menyia-nyiakannya demi perasaan pribadi atau dendam pribadi."
Hayato mungkin membenci Masai, tapi dia tidak pernah
merendahkannya.
Apalagi, Kaito yang melihat langsung kemampuan Masai
di turnamen wilayah telah menceritakan informasi tersebut kepada Hayato.
Pada titik itu, skenario di mana Aoi membuat Masai
keluar dari klub sudah dianggap sebagai pilihan yang mustahil dalam benak
Hayato.
"Kasus kali ini juga sama. Curang apanya? Apa dengan
curang kau bisa menang melawan Tenryu Kazuki itu? Aku sendiri sudah mencoba
meneruskan posisi dari situasi putus asa itu dan bertarung melawan AI terkuat,
tapi aku tidak kalah, lho?
Kalau aku saja tidak kalah, mana mungkin Tenryu bisa
kalah.
Pada titik itu, AI pun punya peluang menang nol persen.
Tapi Watanabe bisa menang. Itu bukan kekuatan AI, tapi kekuatan manusia.
Dia menang karena menggunakan kekuatan manusia yang
menggabungkan perang psikologis, kecerdasan, dan adu pembacaan langkah.
Orang-orang yang berpikir AI selalu yang terkuat itu
benar-benar tidak paham apa-apa."
Hayato menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal.
Pada dasarnya, seandainya pun Masai menggunakan bantuan software
sejak momen dia membuang Bishop-nya, hampir mustahil Tenryu bisa kalah.
Perbedaan posisinya sudah terlalu jauh.
Mustahil membalikkan keadaan hanya dengan langkah terbaik
AI. Hal itu telah dibuktikan oleh Hayato sendiri yang bertarung melawan AI dan
berhasil menang.
Mengingat Hayato saja bisa menang melawan AI terkuat
dengan selisih posisi sebesar itu, seharusnya Tenryu tidak mungkin kalah.
Fakta bahwa Watanabe bisa memenangi pertandingan itulah
yang menunjukkan kekuatan asli seorang manusia, namun dunia hanya melihat hasil
dan nilai evaluasi saja.
Setidaknya, dengan memastikan sendiri, Hayato yakin bahwa
Masai adalah orang yang layak untuk dipercaya.
"Kakak juga melihatnya langsung di sampingnya,
kan? Pasti mengerti."
"Benar. Dia tidak melakukan kecurangan. Kalau
dia curang, hidungnya tidak akan berdarah."
"Eh, dia mimisan?"
"Itu setelah pertandingan selesai. Dia minta
dipinjami tisu, dan saat kutanya alasannya, ternyata selaput lendirnya robek
dan dia mimisan. Karena itu kejadiannya di toilet, mungkin tidak ada yang
tahu."
"Gila juga. Apa manusia bisa mimisan cuma gara-gara
konsentrasi……?"
Hayato bergumam dengan nada antara heran dan kagum,
sementara Kaito mengedikkan bahu pelan.
"Yah, setidaknya setelah melihat itu, aku tidak akan
pernah bisa menyebutnya sebagai pemain palsu."
"Benar juga."
Di bawah cahaya lampu jalan, mereka berdua terus berjalan menyusuri jalanan malam sambil bertukar obrolan ringan seperti itu.



Post a Comment