Epilog
Lonceng
Permulaan
Jika sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya, yang menjuarai
turnamen tingkat prefektur pastilah selalu "Distrik Pusat".
Distrik Pusat memang sudah menjadi tempat berkumpulnya
orang-orang kuat dalam dunia shogi.
Terlebih lagi, anggota "Dojo Gaisen" yang
masing-masing dari mereka pasti terpilih menjadi perwakilan jika maju secara
individu, kini maju sebagai satu tim yang utuh.
Hasil pertandingannya sudah sejelas melihat api yang
berkobar.
"Barat menang! Timur juga sudah berjuang
keras!"
Distrik Pusat memegang hak seed dalam turnamen
kali ini.
Di tengah-tengah mereka, seorang gadis kecil berkulit
cokelat duduk di kursi sambil menyandarkan kedua tangan di antara lutut,
mengayun-ayunkan kakinya dengan riang seolah sangat menikmati tontonannya.
Namun di dalam hatinya, dia melontarkan kata-kata dingin
yang membekukan kepada Tamata Ryu.
(……Pria itu sudah tidak berguna lagi.)
Dia sudah membaca rencana Tamata Ryu sampai batas
tertentu, dan awalnya dia sudah bersiap untuk menangkap tangan yang terjulur
itu lalu menyeretnya turun hingga ke ekor Ginzen.
Tapi begitu dijalani, hasilnya sangat mengecewakan.
Tamata bahkan tidak menyadari adanya serangan tersembunyi
dan kalah telak setelah terkena serangan balik yang begitu mudah.
Hasil itu bukan lagi membuatnya tertawa pahit, melainkan
rasa kecewa yang mendalam.
"Hup!"
Gadis itu melompat berdiri dari kursinya, lalu berjalan
meninggalkan ruangan menuju luar gedung dengan langkah kaki yang ringan sesuai
suasana hatinya.
Anggota Distrik Pusat lainnya mengikuti di belakang gadis
itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
──Di tengah jalan, dari arah depan, terlihat rombongan
Distrik Selatan sedang berjalan ke arah mereka.
"……!"
"Ooh."
Begitu sosok satu sama lain tertangkap mata, atmosfer di
tempat itu langsung menegang seketika.
Masing-masing kapten dari kedua belah pihak maju
selangkah dan saling melempar pandangan tajam.
Di satu sisi ada seorang pria yang memancarkan aura
pemain tingkat tinggi, di sisi lain ada gadis berkulit cokelat yang sering
salah dikira sebagai anak SD.
Entah karena ada dendam lama, percikan api yang sunyi
terpancar di antara keduanya.
"……Ace dari Dojo Gaisen, Aobara Akari, ya."
"Ini pertama kalinya kita bertemu muka ya. Hmm,
namamu— Tennoji Gensui!"
"Namaku Tennoji Kaito. Ternyata
kau memang badut seperti yang kudengar, adiknya Midori."
"Apa maksudmu?"
Gadis berkulit cokelat itu──Aobara Akari──memiringkan
kepalanya, lalu menyunggingkan senyum manis layaknya anak kecil.
Tennoji Kaito, kapten Distrik Selatan, tidak
menurunkan kewaspadaannya terhadap tingkah laku Akari.
"Meskipun ini hanya turnamen prefektur,
mengalahkan Dojo Gaisen yang berada di puncak nasional berarti selangkah lebih
dekat menuju peringkat satu di Jepang. ...Di saat semua orang sedang berjuang
mati-matian, apakah kau masih belum menunjukkan kemampuan aslimu karena rasa
percaya diri sang penguasa? Ataukah──karena kau sudah pasrah pada kenyataan
bahwa takhtamu akan direbut di 'Turnamen Impian' nanti?"
Mendengar kata-kata itu, ekspresi orang-orang di
belakang Akari langsung tampak retak.
Bahkan bagi mereka yang berada di puncak kehormatan
sekalipun, di dalam hati mereka pasti ada "kata-kata tabu" tertentu.
Bendera kemenangan mutlak yang jatuh ke tanah. Cap
kekalahan yang diakui semua orang tertera pada bendera itu.
Bagi Akari, yang telah menempuh jalan kemenangan dari
pusat prefektur hingga menjadi yang terkuat di Jepang tanpa hambatan, hal yang
bisa menembus inti pertahanannya hanyalah satu kekalahan tunggal.
Dan Kaito baru saja menyatakan dengan nada mengejek bahwa
momen itu sudah di depan mata.
Dasar jurang. Menghadapi lawan yang merasa setara
dengannya, nada suara Akari tiba-tiba merendah drastis.
"Dalam pertarungan apa pun, sebuah tantangan tanpa
risiko jalan buntu tidak bisa disebut tantangan. Kau harusnya paham kalau lawan
yang ingin kau hadapi juga termasuk dalam kategori itu."
Menghadapi intimidasi luar biasa dari Akari yang sama
sekali tidak terlihat seperti gadis kecil, Kaito tidak mundur selangkah pun.
"Aku sangat menghargai ceramahmu. Tapi, aku tetap
akan menang. Baik atas Kaisar Penghancur Diri, maupun atas kalian."
"Itu mustahil. Karena Gaisen──belum pernah kalah
sekali pun."
Sifat polos Akari yang tadi terlihat kini lenyap
sepenuhnya, digantikan oleh mata yang menyimpan kedinginan sedalam dasar air.
Pemain lain memilih jalan memutar untuk menghindari dua
orang yang sedang saling melotot itu.
Tribun penonton yang riuh, suara benturan bidak yang
menggema. Di koridor aula yang sedang gempar karena identitas asli Kaisar
Penghancur Diri terungkap, semangat kedua pihak beradu dalam diam.
Namun, mereka bukan satu-satunya yang memiliki rencana
tersendiri──.
"Tak kusangka, kau benar-benar datang untuk
menepati janji. ──Ini sangat mengharukan, Masaya."
Di gedung samping Kantor Berita Russell, seorang
gadis berambut pirang yang mengenakan seragam biru sedang melipat tangan sambil
mengamati jalannya turnamen dari jauh.
Di sisi lain bangunan itu, Suzuki Tetsuro berdiri di
dekat jendela sambil memegang kopi kaleng, menatap situasi di dalam aula.
Tenryu Kazuki dan Macho Reina sedang melangkah menuju
lokasi karena ingin memastikan akhir dari turnamen prefektur ini dengan mata
kepala sendiri.
Di saat yang sama, Tennoji Gensui berkendara menuju
aula, mobilnya melaju kencang menyalip kedua orang tadi.
Di luar aula yang sepi, Mizuki Yumeno berdiri di
bawah payung hitamnya. Tatapannya tertutup bayangan, namun sudut bibirnya
sedikit terangkat.
Turnamen prefektur tempat berbagai ambisi saling
bersilangan──kini, lonceng permulaan telah berbunyi.
Bonus E-book: Cerita Pendek
Tambahan
Di Bawah
Mentari, Mata Shino pun Kembali Menatap
──"Terimalah hukuman untuk memberikan mimpi kepada
orang lain."
Hari itu, mimpiku hancur berkeping-keping. Dan entah
bagaimana, serpihan yang hancur itu disusun kembali menjadi bentuk yang
berbeda.
Mengeluarkan Watanabe Masaya dari klub. Ambisi seperti
itu tentu saja berakhir gagal, dan secara alami pula──aku diselamatkan.
Sekarang, aku berada di sebuah dōjō kecil di wilayah
Barat yang dikelola oleh Suzuki Tetsuro.
Kebetulan, hari ini adalah hari pertama praktiku.
"Aoi-oneechan! Ke sini dong!"
"Anu, Aoi-oneechan, kenapa Keima gerakannya
aneh begitu?"
"Aku duluan! Hei, hei! Aoi-oneechan, ayo main susun
bidak shogi!"
Di atas tatami dōjō, aku ditarik dari tiga arah secara
bersamaan.
"Tunggu sebentar, antre ya. Satu-satu,
pertama..."
"Aoi-oneechan!"
"Aoi-oneechan!"
"Ibu
Guru! Ibu Guru!"
"Ah!
Aoi-nechan pakai celana dalam warna putih!"
"Daaaahhhhh! Berisik banget kalian ini! Terus,
jangan lihat celana dalam orang!"
Anak-anak yang datang ke dōjō ini semuanya murid SD.
Ada anak yang baru saja menghafal aturan shogi, ada juga yang sudah mulai
menunjukkan bakatnya.
Namun satu kesamaan mereka adalah: semuanya sangat
berisik, bahkan setara dengan anak TK.
Bagi aku yang biasanya berpura-pura menjadi gadis ceria
pun, ini sudah lewat batas bersemangat... ini namanya berisik sekali.
"Mufuu~"
Di tengah hiruk pikuk itu, seorang gadis kecil yang
merupakan murid termuda di dōjō ini menyelinap dan duduk di pangkuanku.
Gadis itu menempelkan tangan kecilnya ke dadaku, lalu
memasang wajah bangga yang luar biasa.
"...Anu, Shinonome Haru-chan, kan? Kamu sudah
SD, lho. Biarpun sesama perempuan, tidak baik memegang dada orang lain seperti
itu."
"Mufuu~"
Percuma, percakapan kami sama sekali tidak nyambung.
"Ah! Hei, Haru! Curang! Aku juga mau duduk di
pangkuan Aoi-nechan!"
"Aku juga!"
"Aku juga mau-gozaru!"
"Aku juga-sessha!"
"Soregashi juga mau!"
"Ini kacau banget..."
Sambil membawa gaya bicara entah-dari-mana, anak-anak itu
mulai berkumpul di pangkuanku satu per satu.
Kalau begini terus, aku tidak akan bisa mengajar.
Akhirnya, aku pun bertepuk tangan dengan keras.
"Oke, oke! Karena sudah begini, semuanya kumpul!
Hei, di sana, jangan dimakan bidaknya! Kamu yang di sana, jangan meniru
laba-laba di gorden! Nanti robek! Ayo kumpul!"
"Ku-mpu-l!"
"Pii-ppii~"
"Lapor! Seluruh pasukan sudah berkumpul! Konfirmasi
selesai! Dimengerti! Hormat!"
"............"
Aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk membalas ucapan
mereka.
Aku mengambil bidak Keima yang tergeletak di
sampingku, lalu mengangkatnya agar mudah dilihat oleh anak-anak.
"Ya, jadi hari ini kita akan belajar cara
menggerakkan bidak! Maksudku, ayo kita pelajari! Karena sepertinya kalian sudah
paham cara menggerakkan Fu dan Kyousha, berikutnya mari kita
ingat cara gerak bidak bernama Keima ini. Langsung saja, siapa yang tahu
gerakan Keima?"
Begitu aku bertanya, anak-anak itu mengangkat tangan
mereka dengan penuh semangat.
"Aku tahu!"
"Tidak tahu!"
"Kalau segampang itu, kita tidak butuh polisi!"
"Dia melompat pon lalu menyerang!"
"Knight..."
"Siapa tadi yang pengucapannya sangat fasih? Keima
itu sedikit berbeda dengan Knight di catur, jadi jangan sampai salah
paham, ya. Ingatlah kalau Keima bisa maju dua petak ke depan, lalu satu
petak ke samping."
"Kenapa capek-capek maju dua petak tapi malah belok
ke samping?"
"Bukankah lebih baik maju lurus saja?"
"Apa karena dia melangkah gagah menuju mimpinya,
tapi suatu hari menabrak tembok dan mimpinya tidak terwujud, jadi dia belok
arah supaya punya alasan kalau dirinya tidak sedang gagal?"
"Guh...!"
Bocah itu menusuk masa laluku secara tidak sadar melalui
perumpamaan gerakan Keima. Mungkin dia tidak sengaja, tapi rasanya sakit
sekali seolah kepalaku baru saja dipukul.
Melihatku yang membatu, anak-anak itu memiringkan kepala
dengan bingung.
"Aoi-oneechan, ada apa?"
"...Tidak ada apa-apa."
Aku berdeham sekali untuk mengalihkan perasaanku.
"Keima itu, berbeda dengan bidak lainnya, dia
bisa melompati bidak kawan maupun lawan. Karena itulah gerakannya sedikit unik,
tapi dia sangat kuat."
"Huuuun..."
"Hooooo..."
"Heeeee..."
Meskipun ada satu orang yang jawabannya aneh, anak-anak
itu terdiam serentak mendengarkan penjelasanku.
Kupikir mereka akhirnya mau mendengarkanku, tapi itu
hanya sesaat. Bocah laki-laki yang paling tua merebut bidak Keima dari
tanganku dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit.
"Kalau begitu, ayo tanding lawan Aoi-oneechan dengan
syarat Keima-ochi!"
"...Eh?"
"Keima-ochi! Keima-ochi!"
"Aoi-oneechan harus lepas seratus Keima!"
"Kami mulai dengan seratus Keima!
Aoi-oneechan tidak punya Keima sama sekali!"
"............Eh?"
Selagi aku termangu heran, anak-anak itu mulai menata
papan shogi di hadapanku.
Ketika sekitar sepuluh papan sudah berjejer seperti
simulasi pertandingan simultan, Haru yang tadi duduk di pangkuanku mendekat dan
berbisik di telingaku.
"──Memiliki tiga Keima, takkan ada raja yang
tak tumbang... mufuu~♪"
Haru mengucapkan pepatah shogi dengan nada bicara yang
anehnya sangat dewasa, lalu dia berjalan santai menuju papan shoginya sendiri.
Melihat kerja sama tim mereka yang begitu rapi seolah
sudah direncanakan, urat nadi di dahiku mulai berdenyut.
"Kalau Aoi-oneechan kalah, mulai sekarang kamilah
gurunya!"
"Guru! Guru!"
"Wahai Aoi... ternyata kau masih, apa itu namanya?
Lemah, ya..."
"Ka, kalian bocah-bocah nakal............"
Benar juga, biar bagaimanapun, mereka adalah murid dari
kelas shogi milik Suzuki Tetsuro itu.
"Kurang ajar! Ayo, kita buktikan siapa yang hebat,
bocah-bocah tengik! Jangan remehkan Aoi-oneechan! Semuanya duduk tegak! Aku
akan bantai kalian semua dalam pertandingan sepuluh papan sekaligus!!"
Seolah terseret ke dalam keriuhan itu, aku kembali
memfokuskan kesadaranku pada shogi.
Meski suasananya terasa sangat berisik, yang terdengar hanyalah detak jantungku yang berdegup kencang karena semangat.



Post a Comment