Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 1
Heroine kelima
Bel berbunyi menandakan berakhirnya jam kuliah kelima, dan seketika itu juga gumaman pelan mulai menyebar di seisi ruang kuliah.
Aku──Iriya Satoshi, bangkit berdiri sambil membereskan pena ke dalam kotaknya.
Saat melirik ke arah papan tulis, pantulan cahaya matahari pada permukaan putihnya menusuk mata, membuatku refleks menyipitkan mata.
"Maaf ya, sudah membuat kalian menunggu."
Aku melewati lorong Gedung Barat No. 2 dan menuju eskalator sambil memeriksa ponsel. Di layar terpampang pesan dari Satsuki. Kalimat 'Masih lama ya~?' dengan akhiran yang dipanjangkan dan stiker yang ceria.
Begitu melangkah keluar dari pintu otomatis, embusan angin dingin membelai pipiku. Padahal musim semi sudah hampir berakhir, tapi terkadang musim bersikap jahil dengan mengingatkan kita pada dinginnya musim dingin.
"Satoshi-san!"
"Wuaa!?"
Suara jernih bagaikan denting lonceng bergema dari belakang. Belum sempat aku menoleh, sebuah benturan lembut sudah mendarat di punggungku. Lengan ramping melingkar di pinggangku, dan aroma sampo yang segar seketika menggelitik hidungku.
Saat aku menolehkan kepala, seorang gadis cantik berambut hitam tampak sedang memeluk punggungku dengan erat.
"Selamat atas kerja kerasnya hari ini!"
"Aku akan lebih senang kalau kau memperlihatkan wajahmu, bukan punggungmu."
"Ah, maaf. Aku ceroboh sekali."
Dia berdehem sekali, lalu akhirnya melepaskan pelukannya. Sepasang mata rubinya bersinar terang benderang.
Shinonome Shino.
Putri dari keluarga Shinonome yang ternama di Jepang. Rambut hitamnya seolah potongan dari langit malam dengan postur tubuh yang tegak tanpa cela. Ia terlihat anggun dan bermartabat, namun memiliki senyuman yang entah mengapa terasa akrab. Tidak ada wanita lain yang lebih pantas menyandang sebutan Yamato Nadeshiko selain dirinya.
"Sekali lagi, selamat atas kerja kerasnya."
"Kau juga, Shino. Maaf ya, sudah membuatmu menunggu sampai jam segini."
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, mari kita berangkat?"
Shino tersenyum lembut dan perlahan mengulurkan tangannya ke lenganku. Pada saat itu juga, udara tiba-tiba mendingin satu tingkat.
"──Kata 'kucing pencuri' sepertinya memang diciptakan untukmu ya, Shino."
Suara yang bagaikan bilah es yang bergesekan terdengar dari belakang. Hawa dingin yang menyerempet daun telingaku membuat bahuku refleks menegang.
"Ara, bukankah kau bilang sudah menyerahkan tugas menjemput Satoshi-san kepadaku dan pulang lebih dulu?"
"Fufu, jangan pura-pura tidak tahu ya."
Percikan api yang tak kasatmata memercik di antara senyuman mereka berdua. Melihat pemandangan yang sudah biasa ini, aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Reine juga datang menjemputku?"
"Tentu saja. Karena dia adalah pa-pacarku."
Kalau malu begitu, lebih baik tidak usah dipaksakan bicara...
Saat aku dan Shino saling bertatapan, kami tanpa sadar tertawa kecil.
"Terima kasih ya, Reine."
"Nn..."
Aku mengulurkan tangan kiri dan mengusap pelan kepala Reine. Rambut peraknya yang terlihat dingin itu ternyata terasa sangat lembut dan hangat saat disentuh.
Reine sesaat memejamkan mata seolah merasa nyaman, pipinya merona merah sambil mengembuskan napas kecil.
Kitagawa Reine.
Mata birunya yang dalam seolah mengunci daratan es abadi, dan kecantikannya membuat siapapun ragu meski hanya untuk menyentuhnya.
"Aku juga ada di sini lho~"
"Wuaa!?"
Kali ini, sebuah benturan lembut terasa di lengan kananku. Saat menoleh karena terkejut, di sana ada senyuman yang terasa empuk.
"Semangat ya, Satoshi-kun~. Peace, peace ♪"
Bersama suara yang manis, dia mengedipkan mata.
Pose peace yang diangkat dengan santai itu membuatku tanpa sadar ikut terbawa suasana.
Kecerahan dan kelembutannya seolah sanggup melunturkan ketegangan di bahu, membuat senyumku merekah dengan sendirinya.
Nanjou Shuna.
Rambut cokelat mediumnya dikeriting ringan, dan matanya yang berwarna jingga berkilau seolah meluluhkan cahaya matahari. Sikapnya yang ramah dan suaranya yang lembut. Rasanya tidak ada manusia yang bisa tetap menyimpan rasa permusuhan setelah diberikan senyuman itu.
Benar-benar sosok [Orang Suci].
"Aaaah! Lagi-lagi kalian bertiga curi start!"
──Memang aneh rasanya kalau mereka bertiga berkumpul tapi orang terakhir tidak ada...
Suara yang penuh energi itu menggema di seluruh kampus yang mulai senja. Pada saat itu juga, seolah sudah direncanakan, mereka bertiga langsung mengambil jarak. Dan kemudian──.
"O-oops..."
Aku diterjang dengan kencang dari depan hingga kehilangan keseimbangan. Dadaku terkena hantaman, dan aku jatuh terjajar ke tanah begitu saja.
Tepat di depan mataku, sebuah senyuman cerah merekah.
"Selamat datang kembali, Satoshi-kun!"
"...Aku pulang, Satsuki."
Aku mengembuskan napas panjang tanpa sadar.
"Kalau bisa, aku ingin kau berhenti menerjangku setiap saat seperti ini..."
"Nggak mau!"
Satsuki langsung menolaknya seketika.
Saionji Satsuki.
Gadis yang sangat energik dengan rambut merah muda seolah mengingatkan pada musim semi yang telah berlalu. Jika senyuman Shuna bisa menyembuhkan siapa saja, maka senyuman Satsuki bisa memikat siapa saja.
Aku sudah sering dibuat kewalahan oleh sikapnya yang bebas itu, tapi pada akhirnya, aku tidak pernah bisa menang melawannya.
"Karena semuanya sudah berkumpul, ayo kita pulang."
"Perutku sudah lapar nih~"
"Menu makan hari ini apa?"
"Sesekali kau dong, Reine, yang masak."
Suara canda tawa mereka berempat melebur ke dalam suasana kampus di waktu senja. Sosok mereka yang saling tertawa satu sama lain terlihat persis seperti sebuah adegan dalam film.
Setiap langkah kaki yang beradu, suara sepatu yang saling bersahutan, dan angin yang mempermainkan rambut mereka. Cahaya matahari barat yang miring melukiskan garis luar keemasan pada rambut mereka berempat.
"──Sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak [LoD] berakhir, ya..."
──Kami pun kini sudah menjadi mahasiswa tahun ketiga.
Saat aku mengusap lengan kananku, sensasi sentuhan tadi masih terasa membekas. Sudah tidak ada lagi kendala untuk menggerakkannya. Meski belum bisa dibilang pulih total... tapi ini sudah lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Tiba-tiba, saat aku melihat ke depan, Shino tampak tertawa kecil, sementara Reine memalingkan wajahnya seolah ingin menyembunyikan rasa malu. Shuna menyelip di antara mereka untuk memperluas topik pembicaraan, dan Satsuki tertawa riang sambil melompat kecil.
──Kuharap waktu seperti ini bisa bertahan selamanya.
Jauh di lubuk hatiku, sebuah kehangatan muncul secara perlahan namun pasti. Pilihan saat itu tidaklah salah──aku bisa merasakannya dari dasar hatiku yang terdalam.
Satsuki yang berjalan di depan tiba-tiba berbalik. Dengan matahari terbenam di belakangnya, rambut merah mudanya tampak transparan keemasan tertiup angin.
Sambil tetap tersenyum, ia melambaikan tangannya lebar-lebar memanggilku.
"Satoshi-kun, cepat, cepat!"
"Maaf, maaf. Aku datang."
Tanpa sadar senyum tersungging di bibirku, dan aku pun mulai berlari.
◇
Rumah kami tidak bisa dicapai hanya dengan sekali naik kereta, jadi kami harus transit di stasiun hub. Arus orang yang melewati gerbang tiket mengalir tanpa henti, bercampur dengan suara pengumuman dan kebisingan di dalam stasiun.
Para pekerja kantoran yang baru pulang kerja, siswa SMP dan SMA yang mengenakan baju olahraga setelah kegiatan klub. Semua orang tampak terburu-buru menuju jalan pulang masing-masing.
"Ada apa?"
Satsuki menatapku dengan heran.
"Maaf, aku tadi melamun."
"Yah, kuliah kan dari pagi sampai malam. Wajar saja kalau lelah."
Satsuki dan yang lainnya berjalan di depanku sambil mengobrol dengan asyik.
Sambil memandangi sosok ceria mereka dengan tatapan kosong, mataku tak sengaja tertuju ke peron di seberang.
"──"
"──"
Di balik kerumunan orang, di peron seberang. Seorang wanita berambut pirang sedang menatap lurus ke arah sini.
Siapa dia──?
Hanya keberadaannya yang terasa berhenti diam, seolah terputus dari keramaian di sekitarnya. Pertanyaan itu meledak dengan keras di dalam dadaku.
Matanya berwarna biru pucat, seolah mengunci langit cerah tanpa awan di dalamnya. Sambil memasang senyum lembut, ia menatap tajam tepat ke arahku.
Suara pengumuman bergema di stasiun.
Suara gesekan rel.
Angin yang berembus kencang.
Lampu kereta menyebar seolah merembes dari kejauhan, menyinari rambut pirangnya hingga tampak putih.
Di dalam cahaya itu, dia bergerak perlahan. Dia mengangkat ponsel ke samping wajahnya, lalu mengetukkan jari telunjuknya ke layar beberapa kali. Kemudian, dia tersenyum lembut.
──Tolong dilihat, ya.
Gerakan bibirnya jelas membentuk kata-kata itu. Pada saat itu juga, kereta masuk ke peron, dan suara gemuruh beserta angin menelan seluruh suara lainnya.
"──Sepertinya kau sangat tertarik dengan wanita di peron seberang itu, ya."
"Eh!?"
Sebuah suara terdengar tepat di telingaku, membuat jantungku nyaris copot. Dengan perasaan takut, aku menoleh dan mendapati Satsuki sedang menggembungkan pipinya dengan kesal. Di sampingnya, Shino dan Reine juga memberikan tatapan dingin yang serupa. Hanya Shuna yang tersenyum penuh arti, yang jujur saja malah terasa jauh lebih menakutkan.
"Hukuman sudah pasti."
"Tidak, anu..."
"Tidak butuh alasan."
"...Baik."
Padahal besok pagi aku ada jadwal kuliah pagi...
Setidaknya, lakukanlah besok... tidak, lupakan! Aku akan merenungkan kesalahanku dengan sepenuh hati!
Tepat saat aku menekan jeritan dalam batin itu, ponsel di sakuku bergetar pelan.
"Hm?"
Melihat layarnya, aku tanpa sadar mengerutkan kening. Di kotak masuk yang jarang kugunakan, ada satu pesan masuk. Karena biasanya urusan komunikasi selesai lewat LINE, menerima notifikasi seperti ini terasa sangat tidak wajar.
"...Eh?"
Begitu melihat subjek yang tertera di layar, jantungku berdegup kencang.
"Ada apa?"
"Ah... tidak, bukan apa-apa."
Sambil memasang senyum ambigu, aku tetap menundukkan kepala dan memasukkan ponsel ke saku agar tidak terlihat oleh mereka berempat.
"...? Satoshi-kun aneh."
Meski merasa curiga, Satsuki tidak mengejarnya lebih jauh dan segera kembali mengobrol dengan tiga orang lainnya.
──Hampir saja...
Sambil mengembuskan napas, aku merasakan keringat dingin mengalir di punggungku. Sambil bersembunyi dari pandangan mereka berempat, aku membuka ponsel dan memastikannya sekali lagi.
『Salam kenal. Aku adalah heroine kelima dari [LoD].』
──Ini bercanda, kan...?
Aku merasa seolah ada sesuatu yang baru saja menyelinap masuk ke dalam celah keseharian kami yang bahagia.
◇
"Satoshi-kun. Maaf ya, tapi bolehkah aku minta tolong titip belanja?"
Sore hari yang terasa lengang. Di luar, langit mendung kelabu menggantung, tidak jelas apakah hujan akan turun atau tidak.
Saat aku sedang melamun sambil menenggelamkan diri di sofa, Satsuki mendekatkan tubuhnya padaku. Rambut merah mudanya yang menyentuh bahu dan membelai pipiku terasa lembap karena udara, memberikan sensasi yang sedikit menggelitik.
"Aku harus menyiapkan makan malam sekarang, jadi..."
"Oh, begitu ya."
Aku bangkit dari sofa dan meregangkan tubuh hingga tulang belakangku berbunyi pelan.
"Oke. Apa saja yang harus kubeli?"
"Nnh."
Satsuki menggigit ikat rambut di mulutnya dan merapikan rambutnya dengan tangan kanan. Kemudian, ia menyodorkan kertas catatan yang dipegang di tangan kirinya kepadaku.
──Seperti dugaan, persiapannya cepat sekali.
"Apa? Belanja ya?"
Reine, yang tadi tergeletak di lantai, merespons dengan suara yang terdengar malas. Padahal bulan Juni sudah hampir berakhir, tapi di tengah ruang tamu masih saja tergeletak sebuah kotatsu.
Tanpa ada yang memindahkannya, hanya rasa kantuk luar musim yang tertinggal di ruangan itu. Reine menggenggam selimut kotatsu tersebut dan perlahan mengangkat tubuh bagian atasnya.
"Kalau begitu, aku juga ikut~"
"Tentu saja, aku juga."
Shuna dan Shino pun mengangkat wajah dari ponsel mereka, dan secara bersamaan mengalihkan pandangan ke arah sini. Mata ketiga orang yang sedang dilanda kebosanan itu seketika berbinar. Kalau begitu ayo pergi bersama──saat aku baru saja hendak mengatakan itu.
"Sudah pasti tidak boleh, kan?"
Suara Satsuki yang rendah namun lantang membelah suasana ruangan. Dalam sekejap, udara di sekitar menjadi sunyi senyap.
"Minggu lalu, kejadian yang mirip seperti ini juga ada, kan?"
Satsuki memiringkan kepalanya perlahan, seuntai poni yang terlepas dari kunciran ponytail-nya menyentuh bibirnya.
Ia memasang senyum, namun sama sekali tidak terasa lembut. Lalu, Satsuki mengoperasikan ponselnya dengan jari, menyodorkan layarnya ke arah kami──dan menekan tombol putar.
Volume suara diatur maksimal; suara tawa yang riuh menggema hingga seolah menembus pengeras suara ruangan.
『Weey☆ Satsuki-san. Apa kau menonton~?』
『Apa kau menonton~?』
『I-iyeey...』
Yang terpampang di layar adalah sebuah kamar suite mewah bertema serba merah. Dindingnya dihiasi pola beludru merah tua, dan lampu indirect lighting menerangi ruangan itu dengan suasana yang misterius. Lampu kristal yang tergantung di langit-langit berkilauan lembut, menciptakan bayangan yang menggoda di seluruh ruangan.
Rekaman video yang seolah memancarkan aroma parfum itu, dari sisi mana pun dilihat, bukanlah hotel biasa. Dan di depan kamera, berjajarlah mereka bertiga──masing-masing memancarkan aura yang berbeda.
Shino mengenakan pakaian serba hitam yang terlihat dewasa, memasang senyum penuh arti ke arah lensa.
Shuna mengenakan pakaian berwarna oranye cerah yang mewah, memberikan tanda peace dengan kedua tangan seolah memprovokasi.
Reine dibalut pakaian putih bersih, mengangkat dagunya dengan ekspresi penuh kemenangan.
Di depan kamera, mereka bertiga sengaja menempel erat padaku.
『Pacar berhargamu ini sekarang akan kami santap ya, Satsuki-san☆』
『Maaf ya, Satsuki-chan~. Sepertinya Satoshi-kun lebih suka bersama kami lho~』
『Fufu, begitulah adanya. Mari lupakan tentang mantan pacar dan mari kita bersenang-senang.』
Diriku yang berada di dalam layar tampak sedang berada di atas tempat tidur dalam keadaan terikat dan mata tertutup kain.
『Hei... ini benar-benar cuma untuk syuting kan?』
『Tentu saja.』
『Jangan sampai diperlihatkan kepada Satsuki ya!?』
『Atas nama keluarga Shinonome, aku bersumpah tidak akan membocorkannya.』
『Setelah ini selesai, kalian langsung pulang ya? Janji lho!?』
『Kata-kataku tidak pernah ditarik kembali.』
Tiga menit kemudian...
『♡♡♡♡♡♡!!!!』
Kamera jatuh terguling karena getaran sehingga layar menjadi hitam pekat, namun suara desahan misterius bergema dari pengeras suara.
"..."
"..."
Hening. Tidak ada yang bergerak. Di tangan Satsuki, ponsel itu menampilkan kegelapan, hanya suara desahan yang masih terdengar.
Saat aku menatap Shino tanpa kata, dia langsung membuang muka.
──Wah, ternyata nama besar keluarga Shinonome sudah jadi semurah itu ya?
Saat aku melihat ke arah Shuna dan Reine pun, mereka memberikan reaksi yang sama.
"Padahal aku sedang menyiapkan makan malam, tapi kalian sepertinya sangat menikmatinya ya?"
Suaranya terlalu tenang, yang justru membuatnya jadi menyeramkan. Aku segera angkat bicara.
"Aku tidak salah apa-apa! Saat pulang belanja, aku dibuat pingsan, dan begitu bangun, aku sudah ada di sana!"
"Iya, iya. Aku juga sama sekali tidak berpikir kalau Satoshi-kun yang bersalah kok!"
"Satsuki...!"
Satsuki tersenyum lembut seperti itu. Namun, di saat berikutnya, ia menoleh ke arah mereka bertiga dengan sudut leher yang tidak masuk akal.
Meski matanya tersenyum, kilatan di dalamnya terasa sedingin es.
"Jadi, siapa──yang ingin ikut dengan Satoshi-kun?"
Senyuman yang seharusnya menjadi ciri khas Satsuki, kini berfungsi seperti alat penyiksaan.
Hanya dengan senyuman itu, Reine, Shuna, maupun Shino langsung mematung. Tidak ada yang berani menarik napas. Tidak ada yang berani mengangkat pandangan.
"Fuu..."
Satsuki perlahan memejamkan mata dan mengembuskan napas.
"Sebenarnya aku yang ingin ikut, tapi──"
"Itu mutlak tidak diizinkan."
"Cih."
Satsuki mendecak.
Sebenarnya, minggu lalu aku pergi berwisata berdua dengan Satsuki selama dua hari satu malam. Hal itu ketahuan, sehingga Satsuki dipaksa menerima hukuman dilarang berkencan selama satu minggu dan harus menyiapkan makan malam.
Yah, semuanya sama saja sih...
Seolah tidak terjadi apa-apa, Satsuki kembali ke senyum lembutnya yang biasa.
"Kalau begitu, Satoshi-kun. Tolong titip belanjaannya, ya?"
"Oke... kalau begitu aku berangkat."
Waktu bersama mereka memang menyenangkan, tapi sesekali aku juga butuh waktu sendirian, jadi ini momen yang pas.
Aku berdiri dan memeriksa kembali kertas catatan itu sekali lagi.
"Eee... Horoyoi lima kaleng. Cumi kering dan sosis kalpas. Lalu camilan ini maksudnya?"
"Terserah pilihan Satoshi-kun saja! Tapi, jangan beli terlalu banyak ya?"
Senyumannya begitu alami hingga aku tanpa sadar terpesona. Memang Satsuki paling cocok kalau sedang tersenyum.
Suasana hatinya sepertinya sudah membaik, jadi aku bisa menanyakan hal yang paling mengganjal di pikiran tanpa ragu.
"Alat kontrasepsi, beli semua yang ada di toko... maksudnya?"
"Ya sesuai tulisan. Beli semua stok yang ada!"
Dia mengatakannya dengan nada santai seolah memintaku membeli susu. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.
"Stok kita sudah habis, kan? Sudah saatnya kita beli lagi."
...Kalau aku beli sekaligus sebanyak itu, kasirnya bakal mengira aku punya nafsu makan yang rakus, tahu...
Dibandingkan perintah Satsuki, rasa malu secara sosial terasa jauh lebih nyata dan menakutkan bagiku saat ini.
"Tidak bisa lewat toko online saja? Memang butuh waktu sampai barangnya sampai, tapi sampai saat itu kita bisa istirahat dulu..."
"Kalau Satoshi-kun mau begitu, tidak apa-apa kok."
"Oh, begitu ya."
Satsuki mengangguk dengan sangat santai, hingga membuatku merasa kehilangan momentum. Pada saat itu juga, suasana di ruangan itu tiba-tiba menjadi cerah.
Reine, Shuna, dan Shino tersenyum lembut secara bersamaan seolah-olah sudah direncanakan.
──Eh, kenapa?
"Fufu, jadi artinya Satoshi sudah membulatkan tekad, ya."
"Eh?"
Reine tersenyum. Ada kilatan aneh yang bersemayam di matanya.
"Begitu ya~. Jadi begitu maksudnya~."
Shuna melipat tangan dan mengangguk dengan ekspresi kagum yang dibuat-buat.
"Ternyata, kamilah yang selama ini kurang persiapan..."
Ucap Shino pelan dengan senyum yang seolah baru saja mendapatkan pencerahan.
"Eh, maaf. Sumpah aku benar-benar tidak paham maksud kalian..."
Mengabaikan aku yang mulai panik, Satsuki memberikan senyuman terakhir yang perlahan.
"Artinya──kamu sudah siap untuk membuat anak, kan!"
"Maaf, sumpah aku benar-benar tidak paham!?"
Suaraku refleks melengking tinggi.
"Karena, pilihannya cuma tinggal itu, kan? Jadi setelah stoknya habis ──iya kan?"
Satsuki tersenyum lembut sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Bahkan Reine, Shuna, dan Shino pun memasang ekspresi serupa, membuat keringat dingin mengalir di punggungku.
"Aku akan segera pergi membelinya! Semuanya, kan! Beli semua kan!?"
Aku tidak peduli meski lidahku sampai tergigit. Saat ini, melarikan diri adalah prioritas utama.
"Iya, iya! Selamat jalan~!"
Aku menyambar dompet dan ponsel, membuka lemari untuk memakai kardigan, memasukkan kertas catatan ke saku, lalu bergegas keluar ruangan.
Tepat pada saat itu.
"Ah, Satoshi-kun, tunggu sebentar."
"Hm? Ada yang lupa?"
Begitu tanganku memegang kenop pintu, Satsuki memanggil dari belakang. Dengan pipi yang sedikit merona merah dan tatapan malu-malu dari bawah, ia berkata:
"Kalau kamu memang ingin jadi Papa, benda itu tidak perlu dibeli kok."
Aku membuka pintu tanpa kata dan melesat keluar dengan kecepatan tinggi sampai kakiku terseret. Udara di luar terasa hangat dan lembap. Tapi, itu sejuta kali lebih baik daripada berada di dalam ruangan tadi.
"Aku belum siap mental untuk jadi seorang ayah tahu...!"
◇
"Lelahnya..."
Aku meremas struk belanjaan di tangan, sementara jari tangan satunya lagi menenteng kantong belanjaan sambil menghela napas panjang. Begitu melangkah keluar dari toko yang diterangi lampu neon, dunia di luar seketika tampak meredup abu-abu.
"Hm? Hujan?"
Saat menengadah ke langit, awan kelabu tampak berkilau samar. Prakiraan cuaca bilang akan mendung sampai jam segini, tapi tetesan air dingin mulai jatuh membasahi pipiku.
"Kalau lari, mungkin sempat..."
Apartemenku hanya berjarak sepuluh menit jalan kaki. Hujan rintik-rintik ini sepertinya masih bisa ditembus tanpa payung.
Baru saja aku hendak melangkah, saat itulah. Sebuah sensasi seolah ada jari dingin yang menyelinap masuk ke dalam celah pikiranku.
"Halo."
Saat berbalik, seorang wanita yang tidak kukenal berdiri di sana.
"Eh, iya. Halo."
Setelah memastikan dia bukan orang yang kukenal, aku menjawab dengan waspada.
Payung hitamnya menangkis tetesan hujan, dan irama suaranya terasa begitu tajam di telinga. Pipinya sedikit merona merah, dan ia tampak sangat gembira sendirian di tengah hujan.
Saat aku bersiap-siap untuk mendengar apa yang akan dia katakan──.
"Cuacanya bagus ya."
"Ini sedang hujan deras, tahu?"
"──"
"──"
Aku menjawab secara refleks.
Hujan mulai turun semakin deras, menciptakan riak-riak air yang terus meluas di atas aspal. Namun, wanita itu seolah tidak memedulikan kenyataan tersebut dan melanjutkan bicaranya.
"──Aku suka ungkapan 'Hujan reda, payung terlupa' (Ame harete kasa wo wasureru)."
"Bukannya seharusnya 'Hujan reda, caping terlupa' (Ame harete kasa wo wasuru)? Anda mengerti tidak arti peribahasa itu?"
"............Tapi kan, 'Hujan' (Ame) punya gema kata yang indah. Seperti Samidare (hujan awal musim panas)."
"Sekarang ini musim hujan (Tsuyu), tahu? Samidare itu sebutan untuk hujan yang turun di bulan Mei."
"Eh, anu."
"Lagipula, bulan Mei dalam kalender lama itu memang jatuh di musim hujan sekarang ini sih."
"──"
"──"
...Eh? Apa aku baru saja kelepasan?
Udara seketika membeku.
Aku tidak punya niat buruk, apalagi niat untuk menyombongkan diri. Aku hanya menyatakan fakta, tapi sepertinya itu malah terdengar seperti sedang memojokkan argumennya.
Wanita itu bahunya sedikit gemetar, dan ia menggenggam gagang payungnya dengan erat. Bibirnya gemetar hebat, dan tatapan matanya tampak kebingungan. Gelagatnya itu terlihat sangat kekanak-kanakan, yang malah membuat suasana semakin canggung bagiku.
"Anu... maaf ya."
"Jangan minta maaf dong! Aku jadi merasa semakin menyedihkan tahu!"
Di luar dugaan, dia berteriak kencang, melemparkan payungnya ke tanah, lalu mencengkeram kerah bajuku.
──Dekat sekali.
Aroma manis dari parfum dan samponya melebur dengan hujan, menggelitik ujung hidungku. Aura misterius (haha) yang dia tunjukkan tadi telah hilang sepenuhnya, menyisakan wajah aslinya yang "menyedihkan"—campuran antara kemarahan, tangis, dan rasa malu yang campur aduk.
──Mungkin, inilah jati dirinya yang sebenarnya. Namun, aku sendiri tidak bisa tenang karena alasan lain.
"Anu, maaf..."
"Ah, maafkan aku. Aku tiba-tiba saja──"
Aku menatapnya lurus dengan mata yang jernih dan berkata:
"Tidak, tidak apa-apa. Ini hanya berarti kematianku di tangan mereka sudah dipastikan."
"He~, begitu ya! Eh, tunggu, apa maksudnya mati dipastikan!?"
"Haha..."
"Beri tahu alasannya yang jelas dong! Kalau gara-gara ini aku dianggap terlibat dalam pembunuhan, aku jadi cuma bisa tidur kalau malam hari tahu!"
"Masih sempat-sempatnya ya."
Omong-omong, soal "mati" itu maksudnya adalah kematian karena kelelahan di ranjang. Satsuki dan yang lainnya punya rasa cemburu yang luar biasa hebat meski aku hanya bersentuhan dengan perempuan lain. Sangat disayangkan, tapi begitu aroma wanita ini menempel di bajuku, nasibku sudah tersegel.
Tanpa tahu apa yang sedang kupikirkan, dia tiba-tiba membelalakkan matanya.
"Berbahaya! Mau mencoba menjeratku dengan kepandaian bicaramu ya? Masih seribu tahun terlalu cepat, wlee!"
"...Kau baru saja melakukan self-destruct."
Sambil tersenyum kecut, aku mengamati dirinya sekali lagi.
Rambut pirangnya yang panjang berkilau meski di tengah hujan. Dia memakai pita besar di kepala dan headphone yang melingkar di leher. Matanya biru jernih meski langit sedang mendung. Dia memakai atasan high-neck putih dengan jaket merah muda pucat yang disampirkan di bahu. Rok pleated di atas lututnya yang terkena rintik hujan memberikan kesan yang entah mengapa sedikit menggoda. Dia memiliki aura mahasiswi yang sempurna, perpaduan antara keanggunan dan keceriaan.
...Orang ini, cantik juga ya.
Seandainya tidak ada kesan "menyedihkan" yang terpancar dari seluruh tubuhnya, mungkin aku akan sedikit merasa gugup.
"Tapi, aku tidak suka kalau diremehkan terus begini."
Begitu dia menggumamkan itu, aura wanita itu berubah. Seolah sifat alaminya tadi hanyalah bohong, dia tiba-tiba memasang senyum yang dibuat-buat seperti sedang berakting.
"Hei, Senpai. Mau melakukan hal enak denganku~?"
Dia sengaja membungkuk ke depan, menaruh jari di bibir, dan mengedipkan mata. Sambil tetap tersenyum lebar, dia bahkan memberikan kecupan jauh.
Di emperan toko, sambil menenteng kantong belanjaan, aku nyaris membeku. Sesaat kemudian, yang terbayang di benakku adalah senyum Satsuki dan yang lainnya yang tidak sedang tertawa.
"Kalau kau memang ingin membunuhku, lakukan saja sesukamu...!"
"Aku tidak menyangka reaksinya bakal begitu!?" teriak wanita itu.
"Walaupun kau sangat cantik, kalau sampai ketahuan aku merasa berdebar karena orang 'menyedihkan' sepertimu, aku bakal dibunuh oleh pacarku, tahu!?"
"Pacarmu menakutkan sekali! ...Eh? Tunggu, berarti godaan mautku tadi berhasil?"
"Tidak. Hawa seksinya nol besar. Aku cuma berpikir kalau kau itu 'bodoh-tapi-imut'."
"Jangan tambahkan kata yang tidak perlu di depan kata 'imut' dong. Daya tarikmu bakal naik kalau kau bilang murni terpesona, tahu tidak?"
"Melihat kebodohanmu di awal tadi, saking menyedihkannya aku sampai tidak tahan."
"A-apa katamu~!"
Dia melotot kesal ke arahku.
Gawat, sepertinya aku terlalu memprovokasinya...
Karena dia terlalu "menyedihkan", lidahku jadi terpeleset. Kalau dia sampai menangis di sini, aku bakal merasa sangat tidak enak.
"Aku doakan semoga usaha pendekatanmu (Nanpa) berhasil ya. Karena wajahmu lumayan oke, kalau kau mencoba ke banyak orang, pasti ada yang nyangkut satu."
"Ini bukan nanpa tahu!? Terus, kenapa tiba-tiba aku yang dianggap ditolak! Aku sama sekali tidak punya niat seperti itu!"
Sepertinya aku terjebak dengan orang yang merepotkan.
Kalau bukan nanpa, apa ini modus baru perekrutan agama? Atau MLM?
Apa pun itu, dia tipe orang yang jika dihadapi maka aku yang akan kalah. Aku ingin menjauhkannya sejauh mungkin dari lingkungan hidupku.
"Haa... Benar juga, cara-cara seperti ini memang bukan gayaku."
Begitu dia mengembuskan napas kecil, auranya kembali berubah. Senyum konyolnya lenyap seketika, dia menegakkan postur tubuhnya, dan tatapan matanya padaku menjadi sangat serius.
"Salam kenal, Iriya Satoshi-senpai. Ini──pertama kalinya kita bicara begini, kan?"
"Eh?"
Pikiranku berhenti seketika saat namaku disebut.
Aku belum memperkenalkan diri, kan?
Tadi dia hanya menggangguku dengan tingkah menyebalkan. Namun sekarang, dia memasang senyum yang penuh keyakinan.
Keringat dingin mengalir di tengkukku, dan aku menengadah ke langit. Ternyata benar, manusia akan melihat ke atas saat ingin melarikan diri dari kenyataan.
"Kukira nanpa, ternyata stalker... Serius, tolong hentikan..."
"Bukan begituuu! Kenapa Senpai malah menjadikanku penjahat!?"
"Anu, aku akan memberimu uang, jadi bisakah kau menyerah saja...?"
"Kepercayaan diri macam apa itu!? Dari tadi cara berpikir Senpai yang lebih aneh tahu!"
Kritik yang tajam. Sedihnya, aku tidak bisa membantah.
Aku entah mengapa jadi sangat populer. Bukan karena aku sengaja melakukan debut di universitas, tapi ini hasil didikan Satsuki dan yang lainnya. Kalau sampai aku "didekati" oleh orang lain, aku pasti akan menuju Ending maut penuh drama dengan para heroine yang gila karena cemburu. Padahal aku hanya mencintai kalian, tapi kenapa jadi begini!?
"Lagipula, mana mungkin ketertarikanku pada Senpai memudar hanya karena uang!"
"Makanya, berhenti menggodaku...!"
"Ma-ka-nya-kan-su-dah-bi-lang! Ini bukan nanpa! Ada yang ingin kutanyakan pada Senpai!"
Dia memotong kalimatku dengan tegas, dan matanya berkilat tajam. Sebuah tekanan tanpa kata yang tidak mengizinkan adanya candaan lagi. Hanya dengan tatapannya, udara di sekitar terasa tegang.
"Ini tentang Sano Yuuto."
"...Eh?"
Begitu nama itu terucap, sebuah guntur menggelegar membelah langit. Sesaat kemudian, kilat menyambar, membuat pandanganku putih seketika.
"...Akhirnya, Senpai tertarik juga ya."
Dia tersenyum dengan tenang.
"Aku adalah Harusora Hibise.
──Heroine kelima dari [LoD]."
Pict 2 : Satoshi-kun, Kamu lagi selingkuh, kan?





Post a Comment