NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 2 Chapter 2.0

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 2.0

Penyelidikan Perselingkuhan (?) Satoshi

──Pakin


Waktu menunjukkan tengah malam.


Setelah membuat Satoshi-kun benar-benar terkuras habis, kami berkumpul di kamarku di apartemen. Gagang cangkir kopi di atas meja patah dengan mengenaskan.


Suara pecahan porselen putih yang menggelinding di lantai bergema dengan sangat jelas.


"Ups, gawat☆ Aku terlalu bersemangat memberi tenaga☆"


Tawa keringku menggema di dalam ruangan.


【Konferensi Empat Penjuru】 yang diadakan setidaknya tujuh kali seminggu. Biasanya pembicaraan kami berakhir dengan obrolan yang tidak penting, tapi agenda hari ini sangat jelas.


Akhir-akhir ini, tingkah laku Satoshi-kun mencurigakan. Atau lebih tepatnya...


"──Bau perempuan lain."


Begitu kata-kata itu terucap, dalam sekejap, mata semua orang berubah menjadi warna yang sama. Di balik senyuman, tersembunyi kegelisahan, kecemasan, dan obsesi untuk memiliki yang sangat tenang.


"Ternyata, Satsuki-san juga berpikir begitu ya... Aduh!"


Gumam Shino sambil menyeruput teh hijau. Perawakannya tetap tenang dan tertata, layaknya seorang Yamato Nadeshiko. Namun, karena tidak tahan dengan panasnya, lidahnya terbakar dan suara aslinya refleks keluar. Padahal biasanya, dia tidak akan pernah melakukan kesalahan sepele seperti itu.


"Sudah sekitar satu minggu ini kan ya~. Bau perempuan lain itu mulai tercium~."


Ucap Shuna sambil berbaring malas di sofa.


Senyumannya masih seperti biasa, tapi bantal yang ada di tangannya tampak sedang menjerit karena diremas kuat.


"Dia sudah bosan padaku, dia bosan padaku, dia bosan padaku, dia bosan padaku..."


Di ujung meja, Reine gemetar kecil.


Matanya kosong, suaranya seperti sedang menahan tangis, mentalnya sudah hancur lebur.


"Kenapa, kenapa, kenapa... Apa aku melakukan kesalahan...?"


"Shuna."


"Serahkan padaku~."


Shuna dengan senyum keibuan menarik Reine si adik bungsu ke dadanya, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan.


──Penjinakan anggota Empat Raja Langit yang terlemah selesai.


Nah, sekarang ke topik utama.


"Hanya saja, kalau dibilang selingkuh, ada sesuatu yang terasa janggal."


Begitu aku membuka suara dengan tenang, udara di ruangan itu menjadi tegang.


"Aku pun merasakan hal yang sama."


Shino meletakkan cangkir tehnya perlahan dan menatap lurus ke arahku.


"Meskipun tercium bau perempuan lain, aku sama sekali tidak merasa kasih sayangnya kepada kita telah memudar. Malah sebaliknya──"


"Dia memberikan banyak cinta untuk kita, kan~."


Shuna dengan sengaja menempelkan tangan ke pipinya dan tertawa kecil.


Akhir-akhir ini, Satoshi-kun mulai sering menolak janji kencan sedikit demi sedikit. Saat ditanya alasannya, dia hanya tertawa dan menghindar dengan alasan seperti, "Ada sedikit urusan" atau "Ada hal yang harus kukerjakan hari ini." Kalau dia hanya sekadar bosan pada kami, itu malah lebih mudah dimengerti. Jika dia berpindah hati, kami bisa marah, menangis, atau bahkan menusuknya.


Tapi.

Kekuatan lengannya saat memeluk kami.

Kehangatan sesaat ketika tatapan mata kami bertemu.

Kebaikan yang merembes di setiap sela kata-katanya.

Satoshi-kun justru membuat densitas waktu saat kami bertemu menjadi jauh lebih pekat, seolah ingin menebus waktu yang berkurang.


"...Justru itu yang aneh."


"Ya. Aku merasa ada sesuatu seperti... rasa bersalah terhadap kita. Menebus dosa... tidak, saya bahkan merasa dia bertindak seperti ini demi kebaikan kita."


"Ternyata dugaanku benar ya..."


Kami menghela napas lega sesaat. Namun, seolah ingin menghapus ketenangan itu──.


"──Jangan-jangan dia sedang diancam?"


Suara Shuna menggema dengan aneh di dalam ruangan. Itu bukan cara bicara santainya yang biasanya.


Kami semua menatap Shuna yang sedang memasang wajah serius secara bersamaan.


"...Apa maksudmu?"


Menanggapi pertanyaanku, Shuna kembali memasang senyumnya yang biasa.


"Mungkinkah dia bersama wanita itu demi melindungi kita~?"


"...Karena wanita itu memegang sesuatu tentang kita sehingga dia tidak bisa lari... begitu maksudmu?"


"Iya kan~. Baunya agak mencurigakan lho~."


Hening. Udara yang memenuhi ruang tamu perlahan-lahan terasa semakin berat.


"......Sepertinya akan lebih cepat jika kita bertanya langsung pada tubuhnya."


Shino membunyikan buku-buku jarinya sambil memasang senyum yang tidak menyenangkan. Namun, matanya tidak tersenyum. Itu benar-benar wajah seseorang yang siap beraksi.


"Tidak boleh, Shino. Satoshi-kun juga punya privasi."


Aku memperingatkan Shino sambil melambaikan tangan pelan.


"Laki-laki juga punya harga diri. Lagipula sebagai istri sah, aku tidak bisa mengizinkan hal itu~."


"Tidak baik lho menjadikan diri sendiri sebagai istri sah secara sepihak begitu~?"


Yah, walau begitu, yang paling pantas mendampingi Satoshi-kun tetaplah aku...


Tapi kalau aku membahas itu sekarang, topiknya bakal melenceng, jadi lebih baik aku diam saja.


"Kalau begitu, hanya ada satu hal yang harus dilakukan."


──Tiba-tiba, suara yang lantang terdengar.


"Selamat pagi, Reine."


Sepertinya dia sudah pulih sepenuhnya berkat bantal dada Shuna, kini ia memasang senyum angkuh.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Sudah jelas, kan."


Reine menyibakkan poninya dan tertawa kecil.


"Kita akan membuntuti Satoshi!"


Udara di ruangan itu berubah seketika.


"Entah itu macan betina yang menggoda Satoshi, atau orang kurang ajar yang mencoba memeras kita. Apa pun itu, kita masih kekurangan terlalu banyak informasi."


Sambil berkata demikian, Reine mengibaskan rambutnya dengan anggun. Aku merasa sedikit kesal melihat gerakannya yang elegan itu. Tapi, apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Kami harus menangkap faktanya terlebih dahulu, karena jika tidak, kami tidak akan tahu apa yang sedang dicemaskan Satoshi-kun atau masalah apa yang sedang menjeratnya.


Mengumpulkan informasi sebelum bertindak berdasarkan emosi—itulah tindakan terbaik yang bisa dilakukan saat ini.


"Luar biasa, Reine-chan~"


"Hmph, tentu saja."


"Padahal dia anggota Empat Raja Langit yang terlemah..."


"Siapa yang kau sebut terlemah? Akulah yang terkuat, tahu!"


Kalau yang itu sih tidak mungkin...


Pikiran kami bertiga sepertinya sepakat soal itu.


"Nah, perhatikan saja nanti."


Reine mengibaskan rambut peraknya dan menatap kami dengan ekspresi menantang.


"Aku akan menyelesaikan kasus ini dengan anggun dan memenangkan kursi istri sah. Saat itu terjadi, aku akan sangat menikmati melihat wajah menangis kalian."


Setelah meninggalkan kata-kata itu, ia berbalik. Dengan gagah, ia membuka pintu depan dan kembali ke kamarnya sendiri.


"──Kalau dalam kasus Satoshi-kun, aku merasa dia sedang digenggam kelemahannya oleh seorang penguntit atau wanita menhera yang obsesif, sih."


"Aku juga berpikiran begitu~"


Jika benar begitu, wanita itu... haruskah kuhilangkan saja dari dunia ini?


Aku menyesap kopi yang sudah mendingin di dalam cangkirku.


"......Karena tadi masih ada Reine-san, aku tidak bisa membicarakannya, tapi..."


Shino membuka suara dengan nada sedikit cemas sambil menangkup cangkir tehnya dengan kedua tangan.


"Seandainya Satoshi-san benar-benar berselingkuh...


──Apa yang akan kita lakukan?"


"──"


Secara alami, mataku bertemu dengan mata Shuna. Jika Satoshi-kun benar-benar berselingkuh dengan serius, apa yang harus kami lakukan?


──Membunuh wanita selingkuhannya, lalu bersama Satoshi-kun, kami juga ikut mati...


Gambaran masa depan yang ekstrem seperti itu sempat melintas di kepala sesaat.


"......Percuma dipikirkan, mari kita tunggu hasil penyelidikan Reine."


"......Benar juga. Hal ini tidak produktif sama sekali."


"Setuju~"


Shuna sengaja berkata dengan nada ceria untuk meringankan suasana.


──Hanya saja, aku merasa seolah ada sesuatu yang sangat penting yang terlewatkan.


"Hei──"


Goro-goro, DUAR!


Suara guntur menggelegar, membuat kaca jendela ruangan bergetar hebat.


"Kagetnya!"


"Mungkin baru saja jatuh di dekat sini ya~"


Saat melihat ke luar jendela, hujan turun semakin deras dan cahaya lampu jalanan tampak memudar. Lalu, pada saat itu.


Klik.


Pintu depan terbuka dengan suara yang jelas. Saat pandangan kami semua tertuju ke sana, Reine berdiri di situ.


"......Anu, Shino."


"Iya?"


"Hari ini, yang akan tidur bersamaku itu Shino, kan?"


"Iya, benar begitu..."


Reine melirik ke luar jendela sesaat. Begitu kilat menyambar lagi, pipinya tampak sedikit berkedut.


"Itu... aku akan senang kalau kau bisa datang ke kamarku secepat mungkin."


"......"


"B-bukan berarti aku takut ya!"


Akhiran kalimatnya bergetar.


"Hanya saja, karena kalau Shino takut itu gawat, jadi menurutku tidak apa-apa kalau aku menjadikanmu bantal peluk."


Empat Raja Langit yang terlemah...


Besok, bakal baik-baik saja tidak ya...?


Hati kami kembali menyatu dengan sempurna.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close