Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 3
Let’s Play!
Seminggu kemudian.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu ya."
"Selamat jalaaan~"
Setelah lambaian tangan ringan, pintu depan pun tertutup.
Bersamaan dengan suara klik kunci, suasana di dalam ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Setelah memastikan Satoshi-kun benar-benar sudah pergi, kami berempat mengembuskan napas panjang secara bersamaan.
"♪~"
Seketika itu juga, melodi riang mulai mengalir dari bibir Reine.
Sejak mendeklarasikan diri ingin menjadi idola, dia benar-benar berusaha keras. Setiap hari dia tidak pernah absen latihan vokal, memeriksa koreografi di depan cermin, dan seolah belum puas, dia bahkan terus memamerkan tarian di depan kami.
......Sepertinya dia benar-benar akan menjadi idola sungguhan.
"Tolong kecilkan volumenya sedikit~. Aku lagi belajar nih~."
Di balik buku referensi yang terbentang di atas meja, Shuna tersenyum dengan raut agak terganggu.
"Hm. Maaf ya."
"Nggak apa-apa kok~."
Reine mengangkat bahu ringan. Shuna kembali melanjutkan membalik halaman buku referensinya dengan wajah serius.
──Shuna adalah yang paling parah "penyakitnya". Tak disangka, dia benar-benar telah insaf menjadi orang yang lurus.
......Tapi, apa maksudnya "insaf menjadi orang lurus"?
Meski begitu, aku benar-benar tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata lain. Kira kuberpikir dia akan diam-diam bermain judi atau melakukan top-up gim, ternyata dia hanya terus belajar dengan tekun. Mimpinya adalah menjadi PNS Pusat. Di satu sisi aku merasa lega, tapi di sisi lain, entah kenapa aku merasa hampa.
Aku menoleh ke arah Shino.
"......Shino, kau sedang apa?"
"Sudah pasti. Aku sedang meditasi duduk."
Iya. Aku tahu. Itu terlihat jelas hanya dengan sekali pandang. Tapi bukan itu yang ingin kutanyakan.
"Fuu...... aku masih belum cukup berpengalaman ya. Untuk mencapai tahap 'kebahagiaan sejati', sepertinya aku harus meminjam kekuatan Satoshi-san."
......Syukurlah. Dia masih si binal yang seperti biasanya.
Sambil bernapas memburu, bukannya masuk ke gerbang kebuddhaan, dia malah sedang berenang di lautan hawa nafsu.
"Semuanya jadi aneh ya......"
"Aku tidak sudi mendengar itu darimu, Satsuki."
Mendengar sindiran dingin Reine, aku tanpa sadar menoleh ke arah cermin di sampingku.
Yang terpantul di sana adalah sosok "wanita idaman" yang sempurna.
Gincu merah tua yang berkilau. Hanya dengan sedikit mengangkat sudut bibir, penampilanku sudah seperti perwujudan godaan itu sendiri. Perona pipi yang pekat seolah dialiri darah, ditambah garis mata yang sedikit lebih panjang dari biasanya. Rambutku diikat gaya side-tail, dan aku mengenakan gaun terusan celemek yang biasa dipakai karakter "istri orang" di drama saat sedang menggoda suaminya di sela-sela pekerjaan rumah.
Saat aku meliukkan pinggang, sosok diriku di dalam cermin tersenyum seperti iblis kecil. Melihatku yang seperti itu, mereka bertiga hanya bisa menghela napas.
Kenapa, sih? Padahal masing-masing dari kami melakukan hal aneh sesuka hati, tapi anehnya suasana di ruangan ini terasa sangat kompak.
"Fuu."
Seolah memecah keheningan, Shuna meletakkan gelasnya di atas meja.
"──Hibise itu sebenarnya siapa ya~?"
Suaranya terdengar seperti gumaman pada diri sendiri, tapi kami semua memang sudah menunggu kata-kata itu.
"Setidaknya, sudah pasti dia jatuh cinta pada Satoshi-kun."
"Benar juga ya~."
Aku dan Shuna menghela napas hampir bersamaan.
──Itulah masalah yang paling merepotkan.
"Semuanya, apakah kalian punya waktu sebentar? Reine-san juga."
Shino menyapa dengan tenang dan duduk di sisi 'Timur' meja. Tanpa basa-basi, ia menepuk pelan pantat Reine yang masih tergeletak di lantai.
"Apa sih......"
"Ini pembicaraan penting."
"Iya, iya."
Reine bangkit dengan enggan dan duduk di posisi 'Utara'.
"Aku sudah menggunakan kekuatan keluarga Shinonome untuk menyelidiki siapa sebenarnya Hibise itu."
"Ooh!"
"Hebat seperti biasanya, Shino-chan~."
Aku dan Shuna bertepuk tangan seolah sudah berjanji sebelumnya.
"Kalau ujung-ujungnya pakai jasa profesional, harusnya lakukan itu dari awal dong."
"Apakah itu pantas diucapkan oleh Reine-san yang tadinya paling bersemangat bermain detektif-detektifan?"
"......Shino jahat."
Reine meringkuk sambil memeluk bantal duduknya. Padahal dia tahu pertahanannya nol, harusnya dia jangan bicara macam-macam...
Tanpa mempedulikannya, Shino mengusap kepala Reine dengan tangan kanan sementara tangan kirinya mengoperasikan ponsel, membacakan hasil penyelidikan dengan nada datar.
"Nama aslinya adalah Harusora Hibise. Mahasiswi tahun kedua di Fakultas Ekonomi, sama dengan Satoshi-san."
Shino terus menatap layar ponselnya.
"Susunan keluarganya hanya kedua orang tua dan Hibise saja. Saat ini
dia tinggal sendiri di dekat universitas. Hubungannya dengan teman-teman kuliah umumnya baik, dan ditambah dengan penampilannya, dia sepertinya cukup populer."
Ia menjeda kalimatnya sejenak.
"Namun, penilaian dari orang-orang yang mengetahui sifat aslinya tidak begitu bagus. Deskripsi 'sayang sekali' sangat banyak ditemukan."
"Fu~~n."
Suara gumaman tanpa semangat keluar dari mulutku.
Paling-paling aku hanya berpikir nama marganya unik, tapi selain itu dia terlihat seperti mahasiswi biasa yang bisa ditemukan di mana saja.
Setelah memastikan reaksi kami, Shino mengangguk kecil sekali dan melanjutkan.
"Dan──dia juga junior kita."
"Hm~? Apa maksudnya~?"
"SMA kita sama."
"......Kalau begitu, mungkin saja kita pernah berpapasan dengannya di suatu tempat. Termasuk Satoshi juga."
Aku mengangguk setuju pada perkataan Reine. Jika SMA-nya sama, kemungkinan Satoshi-kun sudah membuat Hibise jatuh cinta sejak masa SMA bukan nol persen.
Setidaknya, untuk saat ini sepertinya dia tidak terlibat dengan organisasi berbahaya atau masalah dunia bawah. Kenyataan itu membuat hatiku sedikit lega.
"──Akan tetapi,"
Suara Shino sedikit merendah.
"Urusannya tidak sesederhana itu."
Suasana seketika menjadi tegang.
"Aku mencoba menyelidiki apa sebenarnya yang dicari Satoshi-san dan Hibise...... dan terungkaplah sebuah fakta yang cukup menarik."
"Hal menarik?"
"Iya."
Shino menjawab, lalu melirik Shuna sebentar sebelum mengarahkan layar ponselnya ke arah kami.
"Apakah kalian mengenali pria ini?"
Shino memperlihatkan layar ponselnya padaku dan Shuna.
"Ah~ pria itu kan yang mencoba merayu Hibise waktu itu~!"
"......Ternyata benar ya."
Shino menghela napas pendek. Dalam helaan napas itu, tercampur rasa kesal yang tidak bisa disembunyikan.
"Memangnya ada apa?"
"Pria ini adalah Ouzuki──mantan tunanganku."
“”"Eh!?"””
Aku, Shuna, dan Reine yang tadinya terkapar di lantai langsung bangkit serempak dan menatap tajam ke arah ponsel.
"Jadi tipe Shino itu pria yang──"
"Mana mungkin dia tipeku, kan?"
Sambil memasang senyum manis, Shino menonjolkan urat di dahinya.
"Akan kubunuh kau, Reine-san."
"Hii!?"
Reine segera mundur dan kembali ke tempat duduknya, lalu sedetik kemudian dia malah berlindung di atas pahaku sambil gemetaran. Aku mengusap kepala Reine yang gemetar dengan gerakan terampil.
Sraat, sraat~.
"......Saat masih bertunangan denganku, dia hanya menunjukkan sisi luarnya yang terlihat rajin dan serius."
Lanjut Shino dengan nada bicara yang penuh rasa jijik.
"Tapi, bagiku itu terasa sangat tidak serasi. Sosoknya yang sekarang barulah jati diri aslinya. Tidak ada lagi kejanggalan."
Shino melanjutkan dengan nada bicara penuh rasa jijik.
"Dasar orang kaya baru..."
Berbahaya jika kita terus menggali informasi tentang mantan tunangannya lebih dalam. Aku berniat menutup mulutku, tapi saat itu, aku teringat akan sesuatu.
"Ah, karena itulah Satoshi-kun juga sangat marah!"
Dalam deskripsi di 【LoD】, Shino kehilangan nyawanya karena ulah mantan tunangannya──catatan itu juga tersisa di dalam 【Buku Harian】.
Satoshi-kun pasti membayangkan sosok Hibise yang digoda itu dengan sosok Shino yang merasa tidak nyaman.
Mendengar perkataanku, kekesalan Shino seolah sirna dalam sekejap. Ia membusungkan dada dan tersenyum bangga.
"Iya. Karena memikirkanku, dia menyebutku sebagai 'orang yang berharga'. Dia bilang aku 'orang yang berharga', lho."
"Tidak perlu diulang dua kali, kan~?"
"Sudah, sudah, tenanglah."
Kalau aku meladeni setiap kekesalan yang dipicu oleh ucapan Shino, pembicaraan ini tidak akan maju-maju. Namun, setelah mengetahui fakta itu, aku malah jadi kasihan pada Hibise.
'Orang berharga' yang dimaksud Satoshi-kun adalah Shino, bukan Hibise. Kalau dia sampai jatuh hati pada Satoshi-kun gara-gara kesalahpahaman itu──Satoshi-kun, kau benar-benar pria yang buruk...
Suasana penuh simpati terhadap Hibise mulai mengalir di antara kami, jadi aku berdeham untuk memutus suasana itu.
"Ta-tapi, aku tidak melihat bagaimana hubungan mantan tunangan Shino dengan barang yang dicari Satoshi-kun dan Hibise?"
"Iya. Benar sekali."
Shino mengakuinya tanpa jeda sedikit pun.
"──Oleh karena itu, di sinilah poin utamanya."
Setelah memberikan pembukaan seperti itu, Shino mengalihkan pandangannya pada Reine.
"Aku ingin bertanya pada Reine-san."
"......Apa?"
Reine yang tadinya terbaring di lantai mulai bangun perlahan sambil menatap Shino dengan waspada.
"『Meguri』──kafe yang berada di dekat universitas itu menjadi tempat pertemuan Hibise dan Satoshi-san, kan?"
"Benar."
"Eh? Begitukah?"
"Apa sih. Ada apa?"
Reine mengernyitkan dahi melihat keterkejutanku.
──Habisnya, tempat itu kan...
"Tempat itu... adalah tempat di mana aku bicara soal berhenti dari dunia gravure."
Mata Reine membelalak kaget.
"Be-begitu ya. Benar-benar kebetulan yang luar biasa."
"Ini bukan kebetulan lho."
Shino mengoperasikan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto gedung di hadapan kami.
“"Itu kan lokasi acara jabat tangan! (Bukan!)"”
Lagi-lagi suaraku dan suara Reine terdengar serempak.
Seketika, suasana di ruangan membeku.
"Eh? Reine juga tahu?"
"Harusnya Satsuki yang bilang padaku kalau kau tahu..."
Aku membuang muka saat Reine bicara dengan nada menyalahkan.
──Soalnya, itu bukan kenangan yang menyenangkan.
"Ah~ jadi begitu ya~"
Shuna menepuk telapak tangannya.
"Kalian berdua benar-benar salah paham satu sama lain~."
Shuna menatap kami bergantian.
"Bagi Satsuki-chan, itu cuma gedung tempat acara jabat tangan saat masih jadi model gravure, kan~?"
"Ah, iya, benar!"
"Dan bagi Reine-chan, itu adalah tempat kebetulan di mana Hibise dan Satoshi-kun pergi untuk acara jabat tangan idola, kan?"
"......Begitu ya. Salah paham yang aneh."
"Benar juga ya..."
Aku dan Reine saling berpandangan.
"Lalu, bagaimana dengan ini?"
Shino menampilkan gambar berikutnya.
"Itu kan Hisui..."
"Itu kan Ibu..."
Sekali lagi, aku dan Reine menahan napas secara bersamaan.
"Jangan-jangan, selingkuhan Satoshi itu..."
"Hisui itu... Ibunya Reine...?"
Melihat wajah Reine dan wajah Hisui bergantian, memang ada kemiripan di antara mereka.
"Cerita soal menginap itu juga... ternyata saat Satoshi pergi ke rumah orang tuamu bersama Reine..."
"......Sepertinya, begitu."
Reine mengangguk pelan.
"Wanita itu sengaja membuat Satoshi mabuk berat dan memaksanya menginap di rumah..."
"Jadi, soal selingkuhan itu..."
"Mungkin dia hanya ingin menjahili Hibise....Mungkin."
"Tolong katakan itu dengan lebih percaya diri dong."
"......Karena wanita itu sangat menyukai Satoshi."
"Kalau begitu dia itu ancaman, kan."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
──Musuh yang lebih berbahaya ternyata sudah ada di dalam lingkungan keluarga sendiri bahkan sebelum Hibise muncul.
Hari itu, saat Satoshi-kun pergi untuk membawa Reine kembali... Sepertinya aku harus mulai menanyakan apa yang sebenarnya dia lakukan pada Ibu Reine──Hisui-san. Tiba-tiba, terdengar suara gelas diletakkan di atas meja. Pandangan kami tersedot ke arah suara itu.
"──Jadi, novel 『Rinne』 yang dicetak di rumahku itu juga ya~," gumam Shuna seperti bicara pada diri sendiri.
Ia menundukkan pandangan seolah sedang memastikan isi gelasnya yang sudah berhenti mengepul.
"Ini bukan kebetulan, kan~?"
"......Seperti dugaan, Shuna-san. Kau menyadarinya ya."
Shino mengangguk pelan.
"Eh? Apa? Apa maksudnya?"
"Tunggu, tolong jelaskan supaya kami juga mengerti!"
Aku dan Reine benar-benar tertinggal dalam percakapan ini.
"Maksudnya adalah, kenapa Satoshi-kun repot-repot membiarkan Hibise membaca 『Rinne』 yang bahkan tidak pernah diperlihatkan kepada kita~"
Tepat pada saat itu.
"──Mereka berdua sedang menelusuri jejak 【LoD】."
Suara pendingin ruangan berderit pelan, terasa janggal di tengah suasana ini.
Lokasi acara jabat tanganku.
Novel 『Rinne』 yang dicetak di perusahaan orang tua Shuna.
Hisui, ibunya Reine.
Tunangan Shino.
Di dalam kepalaku, titik-titik itu mulai terhubung menjadi satu garis.
"Kalau dipikir-pikir..."
"Benar juga..."
Jika demikian.
"Apakah Hibise adalah orang yang terlibat dengan 【LoD】?"
"Iya."
Shino mengangguk tanpa ragu.
"Ta-tapi," Reine menyela dengan ragu, "bahkan jika Hibise terlibat dengan 【LoD】, tidak ada alasan bagi Satoshi untuk merahasiakannya dari kita."
"Benar. Melakukan hal yang tampak seperti perselingkuhan dan menipu kita..."
"Nah~ ka-re-na i-tu~"
Shuna mengeluarkan suara yang panjang dan santai, seolah membelah ketegangan. Ia tersenyum. Senyum ringan yang seperti biasanya.
"Pertanyaan untuk Reine-chan yang hobi membaca~."
Melihat tensi itu, aku dan Reine sempat telat bereaksi sesaat.
"Kenapa kamu ingin membaca 『Rinne』-nya Satoshi-kun~?"
Reine dan aku saling berpandangan. Reine segera menatap Shuna dan menjawab dengan tegas.
"Sudah jelas, kan. Karena aku ingin tahu tulisan seperti apa yang Satoshi buat. Sebaliknya, melalui tulisan itu, aku ingin mengenal Satoshi lebih dalam lagi."
"Iya, iya, benar sekali ya~. Aku memang tidak punya kemampuan pemahaman bacaan seperti Hibise yang ada dalam laporan itu, tapi wajar saja kalau kita penasaran dengan tulisan orang yang kita suka~."
Lalu, Shuna tertawa riang.
"Tapi~, siapa sebenarnya penulis asli 『Rinne』~?"
"Tentu saja itu Sato──"
Kalimat Reine terputus di tengah jalan. Aku bisa melihat rona wajahnya memucat seketika. Aku pun──menyadarinya.
"......Hanya kita yang tahu kalau Satoshi-kun adalah penulis bayangan."
Kejanggalan itu mulai berbentuk nyata. Shino, yang sedari tadi mendengarkan dalam diam, mengangguk.
"Begitulah. Jika Hibise adalah orang yang terlibat dengan 【LoD】, maka sang penulis asli 『Rinne』──"
Tidak perlu melanjutkan kalimat itu lagi. Di dalam benak kami, sebuah kesimpulan terbentuk dengan tenang.
"Dia sedang mencari si penulis asli, atau sesuatu yang berkaitan dengannya..."
Tepat pada saat itu, senyuman Shuna menghilang seketika.
"──Apa kita ketahuan?"
Kata-kata Shuna membuat udara di ruangan mendingin secara drastis. Ini bukan angin dari AC. Ini adalah rasa dingin yang meresap jauh ke dalam dada dari dalam diri kami.
“””"──"”””
Kami──telah membunuh Sano Yuto. Alasannya hanya satu. Dia adalah protagonis 【LoD】 sekaligus pencipta dunia ini.
【LoD】 terus berlanjut seperti spiral tanpa akhir. Mengulangi keputusasaan yang sama, rasa sakit yang sama, berulang kali dengan bentuk yang berbeda.
──Karena itulah, kami membunuhnya.
Malam itu, udara di pegunungan terasa sangat lembap. Suara langkah di tanah, napas seseorang, tanpa ada yang bicara, pekerjaan itu terus berlanjut. Kulit, organ dalam, tulang──semuanya dilarutkan dan dibuang. Tanpa sisa.
Sampai sekarang pun, orang tuanya masih menanyakan keberadaannya. Dadaku terasa sesak. Mereka tidak bersalah. Namun, keberadaannya adalah sesuatu yang tidak boleh ada di dunia ini.
"──Kemungkinan itu memang ada, tapi menurutku sepertinya tidak."
"Benar," Reine segera mengangguk setuju. "Seandainya dia tahu kita membunuh orang itu, dia pasti sudah melapor. Atau dia akan memeras kita, bukan Satoshi, demi tujuannya."
"......Benar juga. Aku setuju dengan pendapat Reine."
Aku mengembuskan napas pendek.
"Hm~ benar juga ya~."
Shuna akhirnya melemaskan bahunya.
Hawa membunuh yang sedari tadi menegang perlahan-lahan surut.
"Apakah tidak ketahuan apa yang sebenarnya dicari Satoshi-kun dan Hibise?"
"Mohon maaf. Penyelidikanku belum sampai sejauh itu."
"......Yah, begitulah."
Reine menengadah ke langit-langit.
"Itu adalah sesuatu yang mereka cari berdua tanpa melibatkan kita. Sudah pasti mereka akan menyembunyikannya secara total."
"Kalau begitu, sebenarnya Hibise itu apa bagi Satoshi-kun..."
Akhirnya, pembicaraan kembali ke identitas Hibise. Kami sudah sampai pada kesimpulan bahwa dia terlibat dengan 【LoD】. Tapi, lebih dari itu, kami benar-benar tidak bisa melihat apa-apa lagi.
"Di dalam 【Buku Harian】, nama Hibise sama sekali tidak ada, jadi seharusnya dia tidak berhubungan dengan Satoshi-kun..."
Aku menatap benda yang ada di atas meja itu.
"Kalau mereka sedang melakukan ziarah ke lokasi suci (seichi junrei) 【LoD】, sudah pasti dia orang dalam~."
"Tapi, jika di dalam 【Buku Harian】 pun tidak ada catatannya, maka tidak ada cara untuk mengetahui tentang Hibise......"
Kami berempat mengerang rendah secara serempak. Rasanya jawaban itu sudah ada tepat di depan mata, tapi tangan ini tak kunjung bisa menggapainya. Bertanya jujur pada Satoshi-kun adalah salah satu jalan, tapi Satoshi-kun justru sedang berusaha menjauhkan kami dari 【LoD】. Itulah sebabnya kami tidak bisa melangkah lebih jauh.
"......Ah."
Shino tiba-tiba menahan napas sejenak.
"Shino?"
Baru saja aku memanggilnya, Shino langsung berdiri hingga membuat bantal duduknya terlempar. Sebuah gerakan kasar yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Tunggu, mau ke mana!?"
Tanpa sempat dihentikan, Shino berlari menuju pintu depan. Bahkan tanpa memakai sepatu, ia membuka pintu dengan keras dan langsung melompat keluar.
Ia meninggalkan kami yang mematung terkejut, sementara suara langkah kakinya makin menjauh. Kami baru sadar ia menuju kamarnya sendiri di apartemen ini setelah mendengar suara pintu kamarnya tertutup dengan kasar.
Beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara langkah kaki berlari. Lalu, pintu depan terbuka.
"Haa... haa..."
Shino kembali. Napasnya terengah-engah, rambutnya sedikit berantakan, dan dadanya naik-turun. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berjalan menuju meja dan meletakkan benda yang ia bawa.
"──Bisa-bisanya aku melewatkan sesuatu yang sepenting ini......"
Kami kehilangan kata-kata saat melihat benda yang diletakkan di atas meja tersebut. Di sampul kotaknya tertera nama:
Touyama Aoi.
Nishikawa Mutsuki.
Minamino Reina.
Kitamoto Rin.
──Empat karakter yang sangat mirip dengan kami. Dan seorang protagonis yang sangat mirip dengan "si brengsek itu" hingga membuat mual──Tanino Yuu.
Inilah dunia itu──【LoD】.
"Game ini pun seharusnya sama dengan 【LoD】 yang pernah kita alami," ujar Shino sambil memegang dadanya, mencoba mengatur napas.
"Benar juga, kan ada benda ini......"
"Kenapa kita bisa sampai lupa ya......?"
"Iya ya~."
Kami semua menghela napas lesu, persis seperti saat seseorang menyadari kesalahan konyol yang mereka perbuat. Alih-alih merasa kesal, rasa benci pada diri sendiri justru lebih dulu menumpuk.
"Jika Hibise benar-benar terlibat dengan 【LoD】, dia pasti muncul di suatu tempat di dalam game ini."
"Benar juga......"
"Iya. Tidak ada cara lain selain ini......"
"Haaah~."
Apa yang dikatakan Shino memang benar. Tidak ada cara yang lebih baik untuk membongkar identitas Hibise selain ini. Namun, meskipun kami tahu ini adalah jalan terbaik, kami semua tidak ada yang bergerak. Rasanya enggan, atau lebih tepatnya, kami benar-benar tidak sudi melakukannya meski nyawa taruhannya.
Sebabnya adalah──.
"Aku benci sekali harus melihat diriku sendiri ditaklukkan oleh si brengsek itu......"
Suara hatiku meluncur begitu saja. Ini bukan sesuatu yang bisa ditertawakan, dan aku tidak punya tenaga untuk menjadikannya lelucon.
"Benar......"
Reine menyetujui singkat sambil memalingkan muka.
"──"
"Katakan sesuatu dong, Shuna-san......"
Game 【LoD】 itu sendiri sebenarnya sudah dibeli sejak lama. Namun, tak seorang pun dari kami yang berani membuka kotaknya. Alasannya sederhana: itu sama saja dengan memutar kembali "masa lalu memalukan" dengan tangan kami sendiri.
Bayangkan sensasi menonton rekaman masa kecil bersama seluruh anggota keluarga, rasa gatal di punggung karena malu, perasaan tidak nyaman, dan keinginan untuk kabur. Hal itulah yang akan terulang dalam bentuk yang sempurna. Terlebih lagi, bagi kami, ini lebih dari sekadar masa lalu yang memalukan. Semuanya berkat Satoshi-kun.
Kami ditolong, kami diselamatkan──. Namun, tetap saja ada fakta yang tak bisa dihapus meski kami menginginkannya: fakta bahwa kami pernah salah sangka dan jatuh cinta pada si brengsek itu.
"......Yah, mau bagaimana lagi. Mari kita berjuang demi Satoshi-kun."
Kami mengangkat bahu dan menyerah.
"......Di antara kita, Shuna yang paling paham soal game, jadi boleh kami minta tolong untuk bagian pengoperasiannya?"
"......Serahkan padaku~."
"Baru kali ini aku melihat Shuna memasang wajah semerana itu......"
Komputer dinyalakan, dan kami secara alami berkumpul di sekeliling Shuna. Beberapa detik kemudian, layar menggelap, dan musik pembuka mulai mengalir.
"Hm, musik ini kan......"
"Ini lagu idol yang belakangan ini sering didengar Reine-san."
"Begitu ya~. Aku sempat tidak menyangka Satoshi-kun bakal suka idola, tapi sekarang jadi masuk akal~."
"Kalau menghitung kehidupan sebelumnya, dia memang sudah suka dari dulu ya...... Benar-benar membingungkan."
Tak lama kemudian, karakter-karakter muncul di layar. Wajah-wajah yang sangat mirip dengan kami.
"──"
Kami lanjut bermain dengan pikiran kosong. Cerita dimulai saat tahun kedua SMA. Dimulai dari upacara penerimaan siswa baru kelas satu di bawah kami.
『Gawat...... Gara-gara tidur di halaman tengah, aku jadi lupa ikut upacara penerimaan siswa baru. Yah, intinya aku intip saja dari pintu masuk.』
Tanino Yuu bergumam dan melihat upacara dari atas. Bersamaan dengan suasana upacara, sosok kami di dunia "itu" mulai terlihat.
『Yuu-kun di mana ya~?』
Nishikawa Mutsuki celingukan mencari si brengsek itu.
『......Membosankan ya.』
Meskipun sedang di tengah upacara penerimaan siswa baru, Kitamoto Rin tetap membaca buku.
『──』
Tanpa sepatah kata pun, Touyama Aoi menatap upacara dengan gerak-gerik yang sempurna tanpa celah.
『Perwakilan siswa kelas atas, Minamino Reina di sini~.』
Minamino Reina, yang sudah tersohor sebagai ketua OSIS sejak masih kelas satu. Keempat orang ini pun diperlihatkan di layar.
"......Cepatlah, ayo kita mulai," gumamku, dan Shuna pun melanjutkan progres gamenya.
Cerita bergulir dengan sangat lancar.
『Yuu-kun, selamat pagi!』
Nishikawa Mutsuki memeluk Tanino Yuu dengan senyuman lebar.
"Uuugh......"
『Enyahlah. Aku benci orang dangkal sepertimu.』
Kitamoto Rin menolak Tanino Yuu tanpa ampun.
"Benar-benar... menjijikkan......"
『Kalau ada masalah, bilang saja kapan pun ya~.』
Minamino Reina menyapa dengan senyum yang lembut.
"──"
『Fufu, kau tipe orang yang terlihat menarik ya.』
Touyama Aoi mengarahkan tatapan seolah sedang menguji Tanino Yuu.
"Jadi begini cara orang lain melihat saya dulu......?"
Layar berganti, dan teks mulai muncul.
『Nah, siapa ya yang harus kusapa~?』
Pilihan jawaban pun muncul.
Nishikawa Mutsuki
Kitamoto Rin
Minamino Reina
Touyama Aoi
"Begitu ya...... jadi begini cara mainnya."
Aku sudah paham struktur dari 【LoD】. Hanya saja──.
"......Aku ingin mati saja."
Aku tidak tahan lagi dan mengucapkannya begitu saja. Suara, penampilan, suasananya, semuanya benar-benar mirip dengan kami. Terlebih lagi, aku terlalu ingat dengan perasaan dan kata-kata yang tertulis di teks itu. Kata "masa lalu memalukan" saja rasanya terlalu ringan untuk mendeskripsikan ini. Ini neraka.
"Menaklukkan diri kita sendiri menggunakan protagonis yang kita benci...... tidak ada penghinaan yang lebih kejam daripada ini," gumam Shino dengan wajah yang jelas-jelas memancarkan rasa jijik. Ketenangan yang biasa ia tunjukkan kini luntur sepenuhnya.
Tepat saat itu.
"──Mari kita hancurkan saja."
Ujar Shuna sambil tetap tersenyum manis. Tangannya mencengkeram mug, bersiap untuk menghantamkannya ke komputer.
"Jangan, Shuna!"
"Kami juga sedang menahannya, tahu!?"
Aku dan Reine menerjang secara bersamaan, mengunci tangan Shuna. Sambil hampir terjatuh karena momentum itu, kami mati-matian menahan lengannya. Kami berhasil membuat mug itu terlepas, dan kupikir kami bisa bernapas lega.
──Tapi di saat itu juga.
"Nggak mau nggak mau nggak mau nggak mau nggak mau~!"
"Tunggu sebentar!?"
Sikap Shuna berubah drastis, ia mulai meronta seperti bayi yang sedang tantrum. Ia melingkarkan lengannya ke pinggang Reine, berpegangan erat dengan seluruh tubuhnya seolah tak mau lepas. Reine mencoba melepaskannya, tapi gumaman "nggak mau~" dari Shuna tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Tatapan mata Reine yang seolah berteriak minta tolong tertuju padaku. Namun, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Shuna yang logikanya sudah meleleh total begini. Tanpa sadar, aku memalingkan muka. Di saat yang sama, aku merasakan aura dendam dari Reine yang membuatku berkeringat dingin.
"──Sadar kalian!"
Suara tajam dan bermartabat milik Shino menggema di seluruh ruangan. Tanpa sadar, kami langsung menegakkan punggung secara refleks.
"......Memalukan sekali."
Hanya sebuah ruangan apartemen biasa yang sudah cukup berumur, beralaskan bantal duduk murah dan cangkir teh. Namun, aku merasa seolah-olah mendengar suara shishiodoshi (pancuran bambu taman Jepang) bergema di suatu tempat. Benar-benar seorang Yamato Nadeshiko, putri keluarga Shinonome memang beda.
Shuna yang tadi meronta-ronta seperti bayi, seketika menjadi tenang seolah-olah kegaduhan tadi hanyalah kebohongan.
"Ini adalah dosa kita. Bukankah kita harus menerimanya dengan lapang dada?"
"Ya, ka-kalau kau bilang begitu sih memang benar, tapi..."
Melalui sudut mataku, aku melihat Nishikawa Mutsuki di layar sedang memasang senyum riang tanpa beban. Kami semua memasang wajah masam. Melihat kami, Shino mengatur napasnya sejenak, lalu berkata dengan tenang:
"Kalau begini, tidak ada pilihan lain selain aku yang menjadi istri sah..."
──Deg.
Apa katanya tadi? Kalau telingaku tidak salah dengar, barusan dia bilang... Istri Sah. Kami sangat memahami bobot dari kata-kata itu. Melihat ekspresi Shino yang tampak penuh duka, kami secara alami saling berpandangan. Lalu, kami semua menyunggingkan senyum lebar. Menggunakan kata itu berarti──perang.
"Kalau begitu, mari kita mulai dari Shino-chan saja~."
Suara itu menghancurkan suasana dengan tanpa ampun.
"Eh?"
Hanya dengan satu kalimat dari Shuna, martabat di wajah Shino langsung runtuh seketika.
"Benar-benar sosok Istri Sah yang hebat!"
"Setuju. Meski aku tidak akan bilang 'istri siapa'."
Kesepakatan tanpa kata terjalin di antara kami.
"Kalau begitu, mari kita tonton aib Shino!"
"Aku tidak sabar melihatnya~."
"Jangan!? Tidak boleh!?"
Teriakan Shino terdengar hampir bersamaan dengan saat Shuna hendak mengklik mouse. Shino langsung menubruk Shuna yang ada di depan layar, dan sialnya, aku juga ikut tertindih.
"Tunggu dulu!?"
"Mana ada Istri Sah yang dipermalukan begini! Tidak adil kalau mulai dariku!"
"Kami kan hanya ingin menghormati harga diri sang Istri Sah~."
"Istri sah siapa! Aku ini miliknya Satoshi-san!"
"Terserah kalian, tapi jangan bertengkar di atasku dong!?"
Aku benar-benar menjadi korban karena tertindih di lantai. Shuna dan Shino saling dorong dengan kekuatan penuh tepat di atasku.
──Berat tahu! Dalam banyak arti!
Tiba-tiba, aku mendongak dan mataku bertemu dengan mata Reine. Tidak perlu kata-kata. Hanya dengan kontak mata, aku tahu apa yang dia pikirkan. Reine bergerak cepat dan berdiri di depan mouse. Langsung saja klik pilihan untuk Shino!
"......Heh."
Senyum yang merendahkan.
──Eh?
Refleks aku menatap ke atas, Reine sedang melihat ke arahku dengan tatapan meremehkan. Saat melihat senyum itu, rasa dingin seolah membelai tulang punggungku. Aku langsung mementalkan Shuna dan Shino yang sedang menunggangiku, dan dengan momentum itu, aku melompat ke belakang Reine dan mengunci lengannya.
"Apa yang mau kau lakukan!?"
"......Ukh, lepaskan!"
Reine mencoba memberontak, tapi aku tidak peduli. Aku langsung menariknya menjauh dari depan komputer dan menjatuhkannya ke lantai.
"Menjadikan Satsuki sebagai tumbal adalah solusi yang paling efisien dan damai, tahu!"
"Pilih dirimu sendiri! Itu baru solusi terbaik!"
"Tidak sudi! Aku tidak mau melihat diriku berurusan dengan sampah seperti itu!"
"Aku juga begitu! Lagipula kenapa harus aku!?"
"Karena kau sudah memakan pudingku!"
"Maafff~~~!"
Aku minta maaf secara refleks. Habisnya, aku memang merasa pernah melakukannya. Tatapan tajam Reine menusukku tanpa ampun.
"Dendam makanan itu dibawa sampai mati! Terimalah hukumanmu!"
"Tapi aku menolak!"
"Kau jahat sekali!?"
Itu ya itu, ini ya ini.
Pada akhirnya, kami terus berdebat tanpa henti karena saling melempar tugas sial ini satu sama lain.
"Haa... haa..."
Hanya menghabiskan tenaga dengan sia-sia, dan sebelum sadar, kami semua sudah terengah-engah. Meja bundar yang ada di tengah ruangan sudah bergeser jauh dari tempat asalnya, dan gelas-gelas di atasnya sudah terguling.
Laptop malang itu pun jatuh mengenaskan di atas karpet. Karpet yang bergelombang di lantai dan sofa yang miring dengan sudut yang aneh menunjukkan betapa kacaunya keributan tadi. Ruangan itu benar-benar porak-poranda.
"Mari kita bereskan dulu..."
Tidak ada lagi pembelaan maupun keluhan yang keluar. Kami mulai membereskan kekacauan ini dalam keheningan. Meja dikembalikan ke posisi semula, cangkir yang terguling dipungut, dan kerutan pada karpet diratakan. Ruangan yang tadinya begitu gaduh kini menyisakan suara-suara sunyi yang tenang, seolah keributan tadi hanyalah kebohongan.
“......Kalau diingat-ingat lagi,”
Shino, yang menghentikan tangannya saat membereskan ruangan, tiba-tiba bergumam seolah bicara pada diri sendiri. Nadanya seperti sedang menelusuri ingatan yang tidak ditujukan pada siapa pun.
“Satoshi-san mulai melakukan intervensi dalam 【LoD】 tepatnya mulai tanggal 31 Oktober.”
Aku mengeluarkan 【Buku Harian】 dan memeriksanya.
“Benar! Sampai saat itu, Satoshi-kun hanyalah seorang pengamat.”
Kalau dipikir-pikir, memang masuk akal. Itu adalah masa di mana kami masih memiliki kesan buruk yang normal terhadap si brengsek itu.
“Sampai saat itu, kita hanya berinteraksi dengan orang yang kita benci apa adanya, kan?”
“Benar juga ya~. Masa lalu yang memalukan bagi kita itu dimulai sejak Satoshi-kun mulai ikut campur~.”
“Iya, benar. Sejak Satoshi-kun turun tangan.”
Tiba-tiba, kata-kata terhenti.
““““......”“““
Mata kami saling bertemu. Tidak ada yang mengucapkannya. Namun, apa yang kami pikirkan pasti sama.
──Bukankah ini semua salah Satoshi-kun?
Di lubuk hati terdalam, kata-kata itu mulai terbentuk.
Aku tahu pemikiran ini tidak benar. Sejak awal, sekeras apa pun Satoshi-kun bergerak demi kita, jika 'Kekuatan Paksa Dunia' melakukan intervensi, kita akan melupakan keberadaannya. Namun tetap saja── Fakta bahwa kami sampai jatuh cinta sedalam ini kepadanya, tanpa ragu lagi adalah kesalahan Satoshi-kun.
Penyesalan karena sempat menyukai makhluk bodoh yang tak berguna. Kebodohan kami karena telah salah memilih orang yang seharusnya dicintai. Namun, di atas itu semua, rasa cinta kami kepada Satoshi-kun yang rela membuang nyawanya demi menyelamatkan kami.
Semuanya. Semuanya. Ini salah Satoshi-kun.
“Hambatan adalah hal yang lumrah dalam cinta, tapi apakah ini juga merupakan sebuah ujian?”
“Shino benar. Ini kesempatan bagus untuk memperbaiki kelemahan kita yang cenderung mengabaikan sekitar jika sudah menyangkut Satoshi.”
“Mungkin ada benarnya juga ya~. Aku jadi sedikit merenung~.”
Sedikit demi sedikit, kami pasti mendapatkan kembali ketenangan kami. Rasa jijik itu memang belum hilang sepenuhnya. Sampai sekarang pun masih bergejolak di dalam dada. Namun, apa yang harus dilakukan sekarang sudah menjadi jelas.
“Kalau begitu, mari kita lihat satu per satu.”
Kami mendudukkan Shuna di depan komputer, dan kami mengintip dari balik punggungnya.
Kami mematikan perasaan kami dan memainkan 【LoD】. Padahal sudah memutuskan begitu, tapi ujung jariku sedikit gemetar karena rasa jijik.
Untuk menekan emosi, aku menggigit bibir kuat-kuat dan mencengkeram ujung celanaku. Sensasi gesekan kainnya terasa sangat nyata.
──Baiklah.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya, lalu berkata.
“......Mulai dari sini, mari kita jalankan sesuai dengan 【Buku Harian】 Satoshi-kun.”
Semua orang menelan ludah. Kami menjadikan 【Buku Harian】 Satoshi-kun sebagai buku panduan dan memeriksa setiap pilihan yang ada.
Pilihan yang muncul benar-benar terlalu sederhana. Bagaimana pun kau memikirkannya, manusia normal tidak akan memilihnya. Contohnya──.
『Hei, Yuu-kun. Ada yang ingin aku konsultasikan, bolehkah aku minta waktumu?』
『Tentu saja!』
『Maaf, aku sedang sibuk (terlihat enggan).』
......Ini terlalu parah.
“Mengetahui isi kepala si brengsek itu membuatku merasa membunuhnya adalah keputusan yang benar,” ujar Reine dengan datar.
Mungkin mengetahui perasaan lawan secara mendetail adalah hak istimewa kami. Sekali lagi, aku merasa bersyukur tidak berakhir bersamanya.
Sambil terus menahan kekesalan yang hampir meluap, kami berempat terus maju, hingga──.
“Uwah...... akhirnya sampai juga di hari ini......”
31 Oktober, tahun kedua SMA.
Ini adalah hari di mana Satoshi-kun menyadari bahwa dirinya akan terlibat dan mati.
“──Ngomong-ngomong,”
Reine bergumam dengan nada cemas.
“Pilihan jawaban mulai dari sini sebaiknya bagaimana?”
“Bagaimana apanya...... Bukankah kita hanya perlu memilih pilihan yang paling buruk seperti biasanya?”
『Hei, Yuu-kun. Akhir-akhir ini pekerjaan gravure-ku tidak berjalan lancar, bisakah kau memberiku saran?』
『Tentu saja! Katakan apa saja padaku!』
『Maaf, aku sedang sibuk, lain kali saja ya (lagi-lagi soal itu. Merepotkan saja......).』
Dan si brengsek itu tanpa ragu memilih nomor 2. Aku pernah mengalaminya sendiri.
“Meskipun fakta bahwa dia memilih nomor 2 membawa kita pada hubungan kita yang sekarang, Satoshi pasti sebenarnya ingin pilihan nomor 1 yang dipilih.”
“Ah, begitu ya. Kalau begitu──”
“Akan tetapi,”
Shino memotong dengan tenang.
“Hal yang paling penting bagi kita selanjutnya adalah bertemu dengan Satoshi-san. Sebaiknya kita tetap memilih pilihan berdasarkan insting si brengsek itu......”
“Uuugh......”
Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana sebaiknya──.
"──Kita tinggal save saja kan~," ujar Shuna santai sambil menekan tombol save.
"Kalau kita coba dua jalan sekaligus, tidak akan ada masalah, kan~?"
"Ah, benar juga."
Mengabaikan kami bertiga yang mendadak buta soal game, Shuna segera memulai. Ia terus memilih pilihan yang salah. Hanya pilihan yang sama sekali tidak menutupi sifat asli pria itu. Dan kemudian──.
『Seorang siswa SMA tewas ditabrak truk yang menerobos lampu merah. BAD END』
"......Yah, memang bakal begitu ujungnya."
"Benar," Shino pun setuju dengan datar.
Tidak ada rasa terkejut maupun sedih yang muncul di hati kami.
──Itu adalah konsekuensi yang wajar.
"Tapi, ini sedikit berbeda dengan akhir pemusnahan massal di 【LoD】 yang kita alami. Lagipula, kita kan tidak menyatakan cinta padanya di rute ini."
"Ah, benar juga."
"......Kalau begitu, berarti pilihan nomor 1 adalah jawaban yang benar."
"Oke, mari kita mulai lagi dari titik simpanan tadi~," ujar Shuna dengan nada ringan.
Kali ini, kami memilih pilihan yang seharusnya diinginkan oleh Satoshi-kun. Di sudut layar, tingkat kesukaan Nishikawa Mutsuki dan yang lainnya terhadap Tanino Yuu naik dengan pesat.
"Benar-benar masa lalu yang memalukan..."
"Sangat memuakkan..."
Meski merasa jijik, kami tidak bisa memalingkan mata dari layar. Rasanya ingin sekali berteriak pada diri kami yang ada di dalam layar: "Orang yang kau sukai itu salah!" Tapi, tidak ada cara untuk menyampaikannya. Setiap kali tulisan Affection Up muncul, rasanya jantungku seperti diremas kuat-kuat.
"......Menurut 【Buku Harian】, Satoshi-san sempat menarik diri sekali sebelum liburan musim panas tahun ketiga."
"Ah... benar, dia menulis kalau mentalnya sempat hancur saat itu..."
Semua tindakan yang dia lakukan demi kita, semuanya dirampas oleh si brengsek itu. Membayangkan kehampaan yang dia rasakan, aku berkali-kali menyalahkan diri sendiri karena tidak menyadarinya saat itu.
"Mulai dari sini, mari kita pilih yang mencerminkan apa yang sebenarnya kita alami."
"Siap~."
Acara liburan musim panas.
Bukan hanya aku. Reine, Shino, dan Shuna juga. Masa-masa terburuk di mana kami jatuh cinta pada si brengsek itu. Kami saling menjatuhkan satu sama lain, saling memata-matai, dan saling curiga. Pertengkaran sudah menjadi konsumsi sehari-hari, dan hubungan kami berada di titik terendah. Dan sekarang. Setelah memainkan 【LoD】, aku akhirnya mengerti.
Si brengsek itu sama sekali tidak berniat memilih salah satu dari kami. Dia hanya ingin menyejajarkan kami seperti boneka, mengoleksi kami, dan menyetubuhi kami kapan pun dia mau. Kami tidak lebih dari sekadar kerajinan daging baginya.
Lalu, hari itu pun tiba.
Acara pernyataan cinta.
『Yuu-kun, aku suka padamu!』
『Aku juga suka padamu, Yuu!』
『Yuu-kun, aku sangat mencintaimu~』
『Aku mencintai Yuu-san lebih dari siapa pun.』
““““Uwah......”“““
Kami semua mengerang serempak. Masa lalu memalukan yang paling buruk diputar ulang lengkap dengan suaranya.
『Maaf, tunggulah sampai upacara kelulusan.』
Saat protagonis di layar mengatakan itu, sosok kami di dalam layar tampak──putus asa. Karena ini adalah akhir yang sudah pernah kami lihat, teksnya muncul sebagai teks yang sudah terbaca, sama seperti akhir pemusnahan massal. Saat kami terus melewati bagian tersebut, muncullah teks yang belum pernah terbaca.
『Jadilah pemuas nafsuku (sex friend).』
Upacara kelulusan. Pernyataan cinta terburuk sepanjang sejarah. Dan terakhir──.
『Seorang siswa SMA tewas ditabrak truk yang menerobos lampu merah. BAD END』
CG yang memperlihatkan Satoshi-kun tertabrak kembali muncul. Satoshi-kun di dunia ini benar-benar ada di sana. Namun, di rute ini, namanya bahkan tidak disebutkan.
──Tanpa pernah tahu siapa dia sebenarnya.
"Melihat cerita kita dari sudut pandang si brengsek itu benar-benar menjijikkan, satu kata: busuk," ujar Reine.
"Setuju. Bahkan setelah mati pun dia masih membuat kita merasa tidak nyaman... sampai-sampai aku hampir merasa kagum saking konsistennya dia," timpal Shino dengan sinis sambil menghela napas panjang.
"Lagipula ya~," Shuna berujar dengan suara yang menunjukkan kekesalan yang nyata.
"Kita dipaksa melihat CG si brengsek itu bersama kita berkali-kali, seolah dia ingin pamer kekuatan~. Ini kan game galge? Tapi kenapa kita harus melihat wajah menjijikkan itu~? Aura narsistiknya itu benar-benar bikin mual, tahu~."
"Mulutmu kasar sekali, Shuna. Tenanglah dulu."
Aku mencoba menenangkan Shuna, yang suasana hatinya sedang memburuk dibandingkan biasanya belakangan ini.
““““──”“““
Setelah Shuna tenang, perasaan hampa yang tak terlukiskan menyelimuti hati kami.
"──Hibise tidak muncul ya."
"Benar juga......"
Padahal kami sudah bermain sampai sejauh ini hingga perut terasa mulas demi mencari identitas asli Hibise, tapi tidak ada jejaknya sedikit pun di dalam cerita.
"Satoshi pun di rute ini hanya muncul di detik-detik terakhir......"
"Iya. Tak disangka dia akan mati sebagai seseorang yang namanya pun tidak diketahui siapa pun......"
Suaraku mengecil saat teringat CG yang muncul di layar tadi. Kalau begitu, identitas asli Hibise adalah──
"Mari kita coba mainkan sekali lagi. Mungkin saja ada yang terlewat."
Karena teksnya sudah pernah terbaca, kami bisa melompatinya. Tidak perlu mendengarkan suaranya. Kami sudah hafal isinya sampai muak. Namun tetap saja──.
"Tidak ada ya~."
"Aneh sekali......"
"Apakah asumsi kita bahwa 【LoD】 terlibat adalah sebuah kesalahan......?"
Shuna, Reine, dan Shino jatuh terkapar sambil memegangi mata mereka. Tinggal aku sendiri yang masih bermain. Mataku terasa panas dan perih. Setiap kali berkedip, sudut pandangku terasa buram. Meski begitu, aku tetap menggerakkan *mouse*.
──Sekali lagi dari awal.
"Sudah berapa kali ya kita melihat upacara penerimaan siswa baru ini......"
Gumamanku terjatuh di ruangan yang sepi.
Lagipula, kenapa ya? Kenapa cerita ini harus dimulai dari upacara penerimaan adik kelas, bukannya dari kita sendiri?
Di layar, Shuna...... maksudku, Minamino Reina sedang memberikan sambutan sebagai perwakilan siswa. Dari sudut pandang Tanino Yuu, terlihat Mutsuki yang mencari si brengsek yang tidak ada di kursinya, Rin yang membaca buku dengan wajah mengantuk, dan Aoi yang duduk dengan anggun. Lalu, wajah para siswa baru kelas satu.
"......Padahal tidak ada hubungannya dengan adik kelas, kenapa harus repot-repot mulai dari sini ya......"
Rasanya seperti ada sebuah alasan. Namun, aku tidak bisa menangkap garis besarnya.
Tepat saat itu.
──Klik.
Sesuatu terasa pas di dalam kepalaku. Rasanya seperti garis-garis yang berantakan dipaksa tertarik menjadi satu.
"Ah!"
Suaraku lolos begitu saja.
"Ada apa, Satsuki?"
Reine bangun dengan wajah heran dan mendekat ke arahku. Tanpa melepaskan pandangan dari layar, aku berkata:
"Hei, Hibise itu adik kelas kita, kan?"
"Iya, benar," jawab Shino seketika.
"Kalau begitu......"
Jantungku berdegup sedikit lebih kencang.
"Bukankah dia ada di dalam sini?"
CG yang paling awal.
──Upacara penerimaan siswa baru para adik kelas.
"Ah~ benar juga~!"
"Kalau kau bilang begitu, masuk akal juga!"
Shuna dan Shino mencondongkan tubuh dari balik kedua bahuku. Reine menaruh dagunya di atas kepalaku dan ikut mengintip ke layar.
Hibise itu cantik dan imut. Jika dia terselip di antara para siswa baru, harusnya dia bisa ditemukan jika kita mencarinya. Kami menahan napas sambil memperhatikan layar dengan saksama.
Satu per satu. Semakin jauh jaraknya, wajah karakter figuran semakin disederhanakan. Ekspresi maupun garis wajahnya menjadi kabur.
"Hm~ di mana ya~," gumam Shuna.
Tepat saat itu.
"Ah!"
"Kau menemukannya, Reine?"
"Bukan, bukan itu."
Reine menggelengkan kepala dan menunjuk ke arah layar.
"Ini, bukankah ini Satoshi?"
Pandangan kami semua tertuju pada satu titik yang sama.
"Benar! Satoshi-kun imut sekali!"
"Seragamnya juga cocok untuknya ya!"
Aku dan Reine saling berpandangan dan refleks menunjuk ke layar. Menemukan sosok kekasih kami di masa lalu membuat semangat kami berdua langsung naik drastis.
"Kalian berdua~?"
"Tolong seriuslah bekerja."
"Ah, iya."
"Maaf deh......"
Sambil berkata begitu, kami berdua tetap memperbesar layar dan menyimpannya baik-baik. Setelah itu, kami membagi tugas untuk memperhatikan layar, tapi...
"Hibise yang penting malah tidak ketemu ya~."
"Dengan rambut pirang itu, harusnya dia mencolok sekali......"
Aku memijat pangkal hidung dan memakai obat tetes mata.
"......Ah."
Kali ini, Shino bertepuk tangan pelan.
"Kalau dipikir-pikir, dia bilang dia adalah gadis kutu buku sampai masa SMA. Ada kemungkinan dia baru melakukan debut universitas dan penampilannya berubah drastis setelah itu......"
"Harusnya kau bilang dari tadi dong......"
"Mohon maaf."
Shino meminta maaf dengan tenang atas sindiran Reine.
"Sepertinya itu juga alasan kenapa kita tidak bisa mengingatnya ya~."
"Benar juga......"
Harapan kami terkikis tanpa suara.
Seketika, ini semua terasa seperti game yang mustahil untuk dimenangkan, dan aku akhirnya menjatuhkan tubuhku ke belakang. Pangkuan Shuna dan Shino terasa sangat empuk. Sambil kepalaku dielus, aku menutupi mataku.
"Padahal kupikir kita akhirnya bisa mengetahui identitas asli Hibise."
"Mungkin sejak awal memang tidak masuk akal mencari identitas wanita selingkuhan di dalam sebuah permainan......"
"Kalau kau bilang begitu sih memang benar, tapi......"
Rasa lelah karena telah menyia-nyiakan waktu mulai menyerang kami.
"Tapi ya~," lanjut Shuna.
"Dengan ini, kita sudah kehabisan akal, kan~? Sepertinya sudah waktunya kita bertanya langsung saja pada Satoshi-kun~?"
"Mungkin memang hanya itu satu-satunya jalan......"
Aku tahu dia akan merasa terganggu. Namun, khusus untuk kali ini, aku merasa kami tidak boleh mundur.
"──Lho, tunggu......?"
Suara Reine terdengar. Aku segera bangun dari pangkuan Shuna dan Shino.
"Ada apa?"
"Bukankah ini aneh......?"
Itu adalah adegan di mana Tanino Yuu dan kami berempat sedang melakukan pernyataan cinta.
Sekilas, itu hanya sebuah CG biasa. Adegan yang seharusnya sudah sangat familiar dan sudah diperlihatkan berkali-kali kepada kami. Namun──.
"......Bagaimana?"
Reine mengonfirmasi dengan nada ragu.
Aku baru menyadari bahwa sedari tadi aku menahan napas.
"......Ini bohong, kan?"
"Ta-tapi, selain di bagian itu, tidak ada lagi......"
"Pantas saja~ kita tidak bisa menemukannya~......"
Tidak ada satu pun dari kami yang membantah.
"Jangan-jangan, identitas asli Harusora Hibise adalah──"





Post a Comment