NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 2.1

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 2.1

Kasus Kitagawa Reine

Aku──Kitagawa Reine, saat ini tengah menjalankan misi yang sangat krusial. Targetnya adalah pacar tercintaku──Iriya Satoshi. Belakangan ini, tercium bau perempuan darinya, sehingga aku merasa sangat, sangat tidak tenang.


Hari ini pun, meski aku sudah mengajaknya kencan ke toko buku sepulang sekolah, seperti yang sudah kuduga, dia menolak.


"Meski sudah tahu ini akan terjadi, tetap saja menyebalkan ya..."


Aku membuntuti Satoshi secara diam-diam. Menyamakan langkah kaki, bersembunyi di balik bayang-bayang benda... sensasi mendebarkan dari kegiatan membuntuti ini. Mungkin karena akhir-akhir ini aku hanya membaca novel misteri, ini terasa sedikit... menyenangkan.


Lalu, Satoshi masuk ke sebuah kafe bernama 'Meguri' yang terletak di dekat universitas di depan stasiun. Pintu kayu yang menua, jendela kaca buram. Aroma kopi dan musik jaz mengalir dari dalam. 


Waktu seolah mengalir lambat, membuat kebisingan di luar terasa seperti dusta.


──Baru pertama kali ke sini, tapi suasananya bagus juga.


Aku masuk beberapa langkah setelahnya, lalu sengaja mengambil tempat duduk di meja yang agak jauh. Posisi yang sempurna di mana aku bisa melihat punggung Satoshi tepat di depanku.


Aku mengangkat cangkir, lalu menyesapnya sedikit sambil tetap menjaga ekspresi.


Pahit...


Di tanganku ada sebuah buku saku. Sambil berpura-pura membuka halaman, pandanganku terpaku sepenuhnya pada punggung Satoshi.


"Cantik banget..."


"Indah sekali..."


──Merepotkan... 


Ke mana pun aku pergi, penampilanku selalu menarik perhatian. Bisa dibilang ini sudah menjadi takdir.


Aku mengeluarkan buku catatan dari dalam tas, membuka halamannya, dan mulai mencatat.


"Fufu, melakukan hal yang sama dengan pacar itu menyenangkan ya..."


...Meskipun, isinya adalah jurnal observasi terhadap pacar tercintaku.


Sambil mengamati Satoshi, aku menopang dagu. Aku akan membongkar kasus ini dengan anggun dan membuat mereka bertiga tercengang. Akan kuperlihatkan apa yang terjadi jika Kitagawa Reine ini sudah serius!


Kring, kring.


Lonceng pintu berbunyi. Suara ringan itu melebur ke dalam kafe yang tenang.


"Maaf sudah membuatmu menunggu~!"


Tanpa sadar, punggungku tegak seketika.


"Lama."


Nada bicara yang rendah dan tenang. Namun, suaranya terdengar lembut. Itu adalah nada bicara yang berbeda dari saat dia berbicara dengan kami biasanya.


"Di saat seperti ini, harusnya kau bilang 'aku juga baru sampai', tahu? Kau tidak akan populer lho☆"


Suara yang ceria dan terang. Dengan nada bercanda itu, suasana di dalam kafe terasa sedikit lebih ringan. Meski begitu, lonceng peringatan di telingaku terus berbunyi tanpa henti.


"Ah, aku jadi ingin pulang saja."


"Maaf! Aku yang salah, jadi tolong jangan buang aku!"


"Itu kedengarannya salah paham sekali!?"


Dari interaksi yang diselingi tawa itu, aku tahu jarak psikologis mereka berdua sangat dekat.


Tanpa sadar, aku meremas cangkir di atas meja dengan kuat.


"Jadi perempuan itu kandidat selingkuhannya..."


Aku mengalihkan pandangan. Rambut pirang pucatnya memantulkan cahaya lampu dan berkilauan. Pita raksasa di kepalanya dan headphone yang melingkar di lehernya sangat mencolok. Bulu mata yang panjang dan bibir yang lembap. Dari cara bicaranya dengan Satoshi, sudah pasti dia lebih muda. Memang cantik, tapi senyumannya itu entah mengapa sangat menyebalkan.


"Muu, kalau soal karakter adik kelas, kan sudah ada aku..."


Padahal biasanya aku benci diperlakukan seperti adik kecil, tapi merasa posisi "junior"-ku direbut begini, tanpa sadar pipiku menggembung kesal. Bahkan aroma kopi pun sekarang terasa menusuk hidung.


──Lihat saja saat kau pulang nanti. Aku akan menyambutmu dengan senyuman. 


Setelah itu...


"Ehem."


Aku menenangkan diri dan mulai fokus kembali pada penyelidikan. Sejauh pengamatanku, ekspresi Satoshi tidak menunjukkan kemanisan yang biasa ditujukan pada kekasih. Sebaliknya, dia malah membuang muka seolah merasa canggung.


...Perempuan itulah yang secara sepihak memperpendek jarak. Kalau begitu, apakah ini pemerasan?


"Satoshi-senpai."


──Hah? Apa yang dia katakan tadi? 'Satoshi-senpai'?


Rasanya aku baru saja mendengar omong kosong yang dikumpulkan dari seluruh bualan di dunia ini.


"Ada apa?"


"Padahal aku sudah berusaha dandan cantik demi Senpai, masa tidak ada komentar apa-apa~?"


Dasar rubah betina...


Pipi merona, menatap malu-malu dari bawah sambil memutar-mutar rambut dengan ujung jari, dan sengaja memiringkan kepala. Benar-benar perempuan yang sok imut.


Satsuki seratus kali lebih lihai soal ini.


"Yah, bukankah itu cocok untukmu?"


Ingat ya saat pulang nanti? 


Aku ini wanita yang toleran. Aku akan menyambutmu dengan senyum, tapi di detik berikutnya, aku akan membuatmu memuntahkan segalanya.


"Daripada itu, 'Hibise'."


Panggil nama depan!?


Pada saat itu, tanganku tergelincir, kopi memercik dan membuat noda hitam pada taplak meja putih.


"Fufu, Senpai ini ada-ada saja. Padahal awalnya malu-malu, sekarang sudah terbiasa ya memanggilku 'Hibise'."


"Zaman seperti itu tidak pernah ada, tahu?"


"Ah, Senpai bisa saja~"


Untuk sementara, akan kucatat dulu. Satoshi bersikap manja pada perempuan lain. Begitu.


"Mungkin pernah ada masa di mana aku berpikir tidak ingin memanggil nama penguntit karena takut dia jadi besar kepala."


"Bagian manaku yang penguntit sih!?


"Misalnya, fakta bahwa kau tahu alamat surelku."


"Aku menanyakannya pada profesor di seminarmu, Satoshi-senpai!"


"Bukan, maksudku kenapa kau bisa sampai ke profesor seminarku..."


"Sudah jelas, kan! Aku mendatangi profesor di fakultas kita satu per satu dan menanyakannya kepada mereka semua!"


"Luar biasa..."


Kata-kata dan ekspresinya sama sekali tidak sinkron, tahu?


"Makanya, bukan begitu! Sebenarnya aku ingin bertanya pada teman-teman Senpai, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu kontak Satoshi-senpai, jadi terpaksa aku berkeliling bertanya pada para profesor!"


"Uhuk!?"


Satoshi tiba-tiba tersedak. Setelah menyeka mulutnya dengan anggun menggunakan serbet, ia menatap Hibise dengan ekspresi tidak nyaman dan berkata:


"Anu, tolong jangan bicara soal kejadian di universitas dengan suara keras..."


"Padahal saat aku mengintip diam-diam ke kelas seminarmu, sedang ada kerja kelompok, tapi cuma Satoshi-senpai saja yang mengerjakan tugas sendirian, kan?"


"Kumohon, hentikan... serius..."


"Padahal aku berniat menyapamu di sana, tapi karena melihatmu terlihat sangat menyedihkan dan terasing, aku jadi tidak tega dan akhirnya menyerah saat itu..."


"..."


Rahasia seminar Satoshi kini terungkap.


──Tersolir? Jadi, ucapan Satoshi yang bilang dia bersenang-senang di kelas seminarnya itu bohong belaka?


"Ta-tapi tetap saja, memberikan informasi pribadi mahasiswa itu aneh! Apa yang dipikirkan profesor itu!"


"Oh, soal itu. Begitu aku menjelaskan kalau Satoshi-senpai adalah orang yang ditakdirkan untukku, profesornya malah mendukungku ♡"


Aku dan Satoshi menyemburkan kopi secara bersamaan.


"Apa yang kau lakukan, hah!?"


"Ngomong-ngomong, aku juga menjelaskan hal yang sama kepada profesor-profesor lainnya dengan gaya seperti itu ♡"


"Kau benar-benar melakukan hal yang sama sekali tidak perlu!"


Tepat saat Satoshi hampir meledak marah, Hibise menopang dagu dengan wajah tidak puas dan mulai mengaduk kopinya.


"Itu salah Senpai sendiri karena tidak punya teman! Aku sudah bersusah payah melewati prosedur yang merepotkan ini demi menemuimu, jadi harusnya kau senang!"


"Berhenti membahas soal teman dan kawan-kawan!"


Berlagak kuat adalah sisi merepotkan dari laki-laki, tapi jika itu Satoshi, aku malah menganggapnya manis.


Tapi yang lebih penting, Hibise ini. Tak kusangka, ada wanita yang berani "mengepung dari luar" di lingkungan fakultas.


"Kalau tahu bakal begini, lebih baik aku pindah fakultas saja sejak awal..."


Dulu, saat Satoshi bilang ingin serius belajar ekonomi di universitas dan meminta kami membiarkannya sendiri agar fokus.


Menghormati kata-katanya itu, kami pun setuju dengan berat hati. Sekarang aku yakin, pilihan saat itu adalah sebuah kesalahan.


"Haa..."


Saat itulah. Nada suara Hibise sedikit berubah.


"Yah, hasilnya aku bisa berhubungan dengan Satoshi-senpai seperti ini, jadi syukurlah."


Aku langsung mengalihkan kesadaranku ke "Mode Detektif".


Menahan napas, aku berkonsentrasi pada kata-kata selanjutnya.


"Tapi, aku merasa bersalah karena telah merepotkanmu... Maaf ya, karena aku, kau jadi harus membatalkan kencan dengan pacar-pacarmu yang berharga itu..."


"Tidak, tidak, jangan minta maaf. Untuk hari ini, aku juga melakukannya karena aku sendiri yang mau."


Hah?


Jantungku seakan melompat. Untuk sesaat, napas seolah terhenti.


Aku adalah detektif. Wanita yang tenang. Tenang, tenang──.


"Hanya saja, untuk mereka berempat..."


Empat orang. Begitu kata itu disebut, fokusku tersedot sepenuhnya, dan pada saat berikutnya──.


"Tentu saja. Aku pasti tidak akan membocorkannya ♡"


Suara manis Hibise membunyikan lonceng peringatan di kepalaku.


"Kita kan... punya hubungan rahasia, iya kan?"


"Yah, kurasa begitu..."


Hubungan rahasia!? Sampai tidak boleh ketahuan oleh kami sama sekali!?


Jantungku nyaris berhenti berdetak. Ujung jariku bergetar. Kopi di dalam cangkir menciptakan riak gelombang.


"Kalau begitu, mari kita pindah tempat~"


"Benar juga. Aku sudah tidak sabar."


"Fufu, aku juga."


...Tidak sabar? Apa? Hei, apa yang kalian tunggu-tunggu!?


Mereka berdua berdiri bersamaan. Rambut pirang wanita bernama Hibise itu bergoyang pelan tertimpa cahaya lampu.


Seolah-olah ia adalah sang pemenang.

Seolah-olah ingin mengatakan bahwa aku, si rambut perak, adalah pecundang.


"Nah, mari kita pergi. Darling~ ♡"


"Kumohon hentikan panggilan itu... Nanti urusannya bisa gawat."


"Tidak apa-apa, kan! Kita kan punya hubungan rahasia? Kalau tidak ada kesenangan seperti ini, hidup jadi membosankan."


"Haa... ya sudah, terserah kau saja."


"Ya ampun... Senpai memang tidak jujur ya~ ☆"


Suara tawa wanita selingkuhan itu memenuhi kafe, lalu teredam oleh denting lonceng pintu.


Aku yang ditinggalkan sendirian hanya bisa terpaku kaku. Ujung jariku bergetar di atas meja. Kopi ikut bergoyang mengikuti getaran itu. Riak kecil itu seolah memvisualisasikan perasaanku yang berkecamuk.


"I-ini selingkuh. Sudah pasti selingkuh, kan? Kejadian ini..."



Uuuh... kenapa jadi begini.


Dada bagian dalam terasa berdenyut sakit. Awalnya aku berniat membuntuti dengan mode detektif yang tenang. Tapi sekarang, detak jantungku berdegup kencang tak keruan.


"Ini benar-benar tempat kejadian perkara perselingkuhan...!"


Dilihat dari cara mereka berinteraksi tadi, sejauh ini hubungan mereka berdua benar-benar terlihat seperti "hubungan rahasia" yang sesungguhnya. Walaupun pikiranku mencoba menyangkal, hatiku mulai mengakuinya sendiri.


"Jalannya kecepatan tahu~!"


"Ah, maaf."


"Iih! Senpai selalu saja begitu!"


Suara yang terdengar riang itu dibalas oleh Satoshi dengan nada yang tampak bingung. Hanya dengan mendengar itu saja, perutku terasa perih melilit. Dan kemudian, Hibise dengan sengaja melingkarkan lengannya ke lengan Satoshi.


"Tepis dong..."


Di dalam hati, aku berkali-kali membayangkan pemandangan yang tak masuk akal.


──Sebuah kamar hotel, seprai yang berantakan, dan desahan napas seorang wanita.


Di dalam kepalaku, video itu terputar dengan sendirinya, dan meski aku mencoba menghentikannya, aku tidak bisa.


"Sampai."


Saat aku mengikuti arah pandangan mereka, terlihat sebuah gedung yang berdiri menyendiri. Namanya 'Gedung Yama', tapi papan namanya tampak miring.


"Tempat ini..."


Satoshi menengadah menatap gedung itu sambil bergumam.


"Hm? Ada apa?"


"Tidak, bukan apa-apa..."


"Satoshi-senpai aneh."


Hibise menatap Satoshi dan tertawa kecil. Lalu, mereka berdua menghilang di balik pintu gedung tersebut.


"Apakah ini hotel? Tapi kelihatannya tidak seperti itu..."


Jantungku berdegup kencang. Suara detak jantungku seolah menelan kebisingan jalanan. Dengan jeda satu langkah, aku mendorong pintu itu dengan tangan yang gemetar.



"Terima kasih sudah datang hari ini!"


Tiba-tiba, suara ceria melalui mik bergema.


──Tempat itu ternyata sangat berbeda dari lokasi perselingkuhan yang kubayangkan. Sebuah ruangan seukuran kotak karaoke yang telah direnovasi. Lampu di langit-langit yang rendah memancarkan panas yang perlahan, dan di dinding tertempel poster-poster tulisan tangan. Mungkin pengeras suaranya murah, karena suaranya agak pecah dan sesekali mengalami feedback.


Gadis-gadis yang tertawa di atas panggung bersinar dengan sangat menyilaukan. Senyum mereka masih terlihat agak amatir, namun terlihat jelas bahwa mereka sedang berusaha sekuat tenaga untuk bersinar. Para penggemar yang jumlahnya sedikit dan membentuk barisan pendek semuanya memasang mata yang serius.


──Sepertinya, tempat ini adalah lokasi acara jabat tangan.


Ada yang menggenggam tiket undian dengan erat, berjabat tangan, berfoto, tertawa, dan terkadang ada juga yang tampak berkaca-kaca. Aku mengintip dari balik bayangan pintu masuk aula, mengawasi Satoshi dan yang lainnya.


"Nah, mari kita berangkat, Satoshi-senpai."


Hibise berkata dengan nada ringan, namun Satoshi tampak sedikit ragu.


"Anu... sepertinya, lebih baik aku pulang saja. Aku tidak bisa mengkhianati mereka..."


Aku mengepalkan tangan di balik bayangan.


Aku akan berjabat tangan denganmu sebanyak yang kau mau, jadi cepatlah pulang. Ba-bahkan hal yang lebih dari itu pun...


Untuk menghentikan imajinasi itu, aku berdehem kecil. Namun──.


"Tapi, Satoshi-senpai. Kau sudah datang sampai ke sini tanpa sepengetahuan mereka, kan?"


"Tidak, itu..."


"Kau mendukung mereka selama ini, kan? Sebenarnya kau ingin datang, tapi karena berpikir mereka akan menentangnya, makanya kau datang diam-diam, kan?"


"Ugh... kalau kau bilang begitu, memang benar sih..."


"Aku ini wanita yang pengertian. Aku sudah memutuskan tidak akan melakukan hal yang dibenci pacarku."


"Sudah kubilang jangan bicara yang mengundang kesalahpahaman... Yah, karena sudah sampai di sini, mari kita nikmati saja."


"Begitu dong semangatnya~!"


Satoshi menyerah dengan begitu mudahnya.


"...Lihat saja nanti kalau sudah pulang, ya?"


Memang kalau diingat-ingat, Satoshi sering memutar video musik (MV) grup ini di YouTube. Melihat wajahnya yang diam-diam tersenyum kesenangan saat itu saja sudah membuat kami kehilangan akal sehat. Satoshi yang ada di depanku sekarang memasang ekspresi yang sama saat ia dengan penuh semangat mengantre di barisan.


"Saya selalu mendukung kalian."


"Wah, terima kasih banyak!"


──Dukunglah aku tahu! Ah, dia sedang foto bareng!


Mereka berdua membuat pose hati!? Lagipula, Satoshi, kau terlihat senang sekali ya!


"Fuu..."


Wajahnya tampak sangat puas ya?


Hibise menyambut Satoshi yang baru kembali dari panggung.


"Ya ampun, kau terlihat sangat senang sekali ya."


Aku setuju dengan si rubah betina itu.


"Yah... karena mereka ini grup yang sudah kudukung seperti anak sendiri..."


Satoshi berkata sambil tersenyum malu. Profil wajahnya yang tersorot lampu terlihat lembut dan tampak kekanak-kanakan.


"Tadinya aku sudah menyerah, jadi aku sangat terbantu. Terima kasih."


"Tidak masalah, aku juga penggemar mereka kok. Aku senang tahu Satoshi-senpai menyukai grup yang sama."


"Itu kalimatku. Tak kusangka kau tahu grup minor seperti ini."


"Kebetulan lewat rekomendasi video! Intuisiku bilang mereka akan jadi besar nanti, jadi dukunglah mumpung masih sekarang."


"Haha, kau benar sekali."


Mereka berdua saling bertatapan dan tertawa keras.


"Kalau begitu, mari kita pergi!"


Satoshi dan yang lainnya berjalan menuju pintu keluar. Karena tidak boleh ketahuan, aku keluar gedung lebih dulu dari mereka, berjalan menyisir dinding, dan menyembunyikan diri di balik bayangan bangunan.


"Tak kusangka, Satoshi suka idol..."


Aku memang tidak menemukan bukti perselingkuhan yang menentukan. Namun, hatiku sedikit sakit melihat Satoshi menunjukkan wajah yang tidak kuketahui. Aku telah melihatnya membagi hobinya dengan orang lain.


Entah itu rasa cemburu, atau kecemasan karena takut ditinggalkan, aku sendiri tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata secara jelas. Namun, melihat profil wajah Satoshi, aku menyadarinya.


Jika begini terus, ini tidak akan berhasil. Untuk bisa berdiri di samping Satoshi, aku pun harus menggenggam sesuatu.


"......Aku harus melakukannya."


Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku berada di lokasi acara jabat tangan.


"......Benar-benar di luar dugaan."


Tanpa sadar, gumaman itu keluar bersamaan dengan hela napas.


Kebetulan──jika disebut demikian, maka selesailah sudah. Grup ini belum genap satu tahun terbentuk. Pembaruan di media sosial pun jarang, dan kemunculan mereka di publik sangat minim. Hampir tidak ada orang yang tahu meski namanya disebutkan; sebuah grup kecil yang nyaris tidak dikenal.


"──Kalau mau berpura-pura kebetulan, seharusnya lakukanlah dengan lebih baik lagi."



"Reine lama sekali ya......"


Aku, Shuna, dan Shino sedang menunggu Reine sambil menghabiskan waktu masing-masing.


"Iya. Semoga saja dia tidak tersesat di suatu tempat......"


"Kalau tersesat, dia tinggal bertanya pada orang lain dan pulang, kan. Shino terlalu berlebihan."


"Tapi, Reine-chan itu pemalu lho~?"


"......Coba kita telepon sekali, ya."


Reine adalah sosok yang terasa seperti adik bungsu di antara kami berempat. Penampilannya tampak seperti putri bangsawan yang penyendiri, padahal aslinya dia penakut, canggung, dan tidak bisa dibiarkan sendiri. Wajar saja jika kami merasa khawatir.


Tepat saat itu.


"......Aku pulang."


Suara pintu depan yang terbuka perlahan. Aku pun segera bangkit berdiri.


"Selamat datang kembali, Reine! Bagaimana hasilnya?"


"......"


Ada sesuatu yang berbeda dari Reine yang berdiri di depan pintu. Pakaiannya tidak berantakan, rambutnya pun masih tertata rapi. Namun, auranya begitu sunyi dan dingin, dengan tatapan mata yang seolah baru saja mengalami keruntuhan besar.


"Semuanya......"


Suara itu tidak lagi memiliki ketajaman atau kedinginan seperti biasanya. Hanya ada ketenangan tanpa emosi yang terlihat, layaknya permukaan danau yang mati.


"Iya......"


Kami menahan napas. Dan kemudian──.


"Aku──akan menjadi idol."


......Hah?


Shino nyaris menjatuhkan cangkir tehnya, sementara Shuna mematung dengan biskuit yang masih ada di dalam mulutnya. Reine tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung kembali ke kamarnya.


"E-eh... kira-kira, apa maksud dari semua ini......?"


"Entahlah......"


Aku hanya bisa menjawab pertanyaan Shino dengan bimbang. Jika Reine yang bicara soal menjadi idola, rasanya hal itu memiliki sisi realistis yang menakutkan. Kalau hanya bicara soal visual, dia bahkan bisa saja menang melawan artis papan atas sekalipun......


Sesaat kemudian, ponselku bergetar. Di dalam 'Grup Empat Penjuru', hasil penyelidikan mendetail dari Reine telah dikirimkan.


"──Satoshi-kun ini ada-ada saja ya, berani sekali pergi ke acara jabat tangan idola diam-diam tanpa sepengetahuan kita......"


"Fufu, benar sekali."


Aku dan Shino tertawa bersama. Pada saat itu, Shuna yang tadinya duduk menyandar di sofa mulai bergerak.


"Sepertinya Reine-chan sudah menjalankan tugasnya dengan baik ya~"


Tetap dengan nada ringannya, ujung bibir Shuna terangkat membentuk senyuman. Ia kemudian berdiri dan meregangkan tubuh, membuat lekuk dadanya terlihat sangat menonjol.


"Berikutnya, serahkan saja padaku~"


Namun, senyumannya kali ini terasa berbeda dari keceriaan yang biasanya.


"──Sandiwara seperti ini, akan segera kuakhiri."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close