NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 2 Chapter 2.4

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 2.4 

Kasus Shinonome Shino

Minggu siang yang tenang. Perpustakaan yang dikelola kota ini diselimuti oleh kesunyian yang damai. Hanya suara lembaran buku yang dibalik dan dengung rendah pendingin ruangan yang terdengar.


Di salah satu sudut, tepatnya di bagian buku referensi, aku—Shinonome Shino—sedang menahan napas. Di atas meja panjang, duduklah tunangan sekaligus kekasihku, Satoshi-san. Di sampingnya duduk Hibise, kandidat selingkuhan yang telah membuat Satsuki-san dan yang lainnya menjadi "anak bodoh".


"Apa sih yang aku lakukan di hari libur begini?"


Suara Satoshi-san yang menghela napas terdengar sampai ke sini.


"I-iyaa... soalnya aku sering bolos kuliah sih~"


"──Padahal aku datang karena kau bilang mau mencari (──), tapi malah menipuku begini..."


Terdengar kurang jelas ya. 


Seperti kata Satsuki-san, sepertinya mereka memang sedang mencari sesuatu. Aku merapikan rambut yang tersampir di telinga.


"Uwaaaaaaan, maafkan akuuuu! Gara-gara belajar untuk ujian PNS, pelajaran kuliahku jadi terbengkalai! Aku juga lupa kalau besok ada laporan yang harus dikumpulkan!"


"......Memangnya orang yang tidak punya perencanaan begini bisa jadi PNS Pusat?"


"Senpai jahat sekali mem-bullyku! Tapi sisi do-S itu juga aku sukaaaaa!"


"Ini perpustakaan. Diamlah."


"Nggak nyangka suaranya jadi serius begitu. Iya deh, aku benar-benar minta maaf!"


Aku menatap mereka berdua dengan dingin dari balik rak buku.


"......Sepertinya tiga orang sebelumnya merasakan hal yang sama ya."


Buku yang kupegang sebagai penyamaran, 【Teori NTR】, seolah menjerit pilu. Ah, maaf, ternyata judulnya 【Teori BSS (Padahal Aku yang Suka Duluan)】.


"Senpai, ini cara menyelesaikannya bagaimana~?"


"Pikirkan sendiri dong..."


"Sudah kupikirkan tahu. Jadi, jawabannya apa~?"


"......Dasar."


Satoshi-san mendekat ke arah Hibise dan mulai menuliskan rumus di buku catatan dengan lancar. Hibise bukannya melihat buku, malah bengong menatap wajah Satoshi-san yang sedang serius mengerjakan soal.


"......Ada sesuatu di wajahku?"


"Eh!? A-ah, tidak, bukan apa-apa!"


──Ternyata dia menggunakan trik itu juga ya...!


Aku menahan napas pelan. Bagiku yang intelektual dan bersahaja, tak pernah terpikirkan taktik mendekatkan diri dengan kedok belajar. Apalagi bagi anggota keluarga Shinonome, meminta bantuan dengan suara manja seperti, "Satoshi-san, ajari aku dong~♡", adalah aib sampai tujuh turunan.


"......Namun, menolak sesuatu tanpa mempraktikkannya juga akan merusak nama baik keluarga Shinonome."


Benar, ini adalah penelitian. Sama sekali bukan karena aku ingin bermanja-manja pada Satoshi-san.


"Satoshi-senpai..."


"Hm?"


"Soal kemarin, aku benar-benar minta maaf... aku sudah salah sangka."


Hibise menundukkan kepala pada Satoshi-san.


"Hisui-san hanya bercanda keterlaluan, jadi kau tidak perlu memikirkannya."


Hisui... berdasarkan konteksnya, itu pasti nama selingkuhan (dugaan) Satoshi-san.


"......Tapi soal 'orang yang berharga' itu memang fakta, kan!?"


"Tentu saja. Kalau tidak ada orang itu, hubungan yang sekarang tidak akan terjalin."


"Senpai hebat ya, padahal sudah diperlakukan seperti itu... Suatu saat kau bisa ditusuk orang lho?"


"Kenapa jadi begitu..."


Hubungan yang sekarang—apa sebenarnya maksud dari perkataan itu?


"......Tapi, Hisui-san itu auranya benar-benar berbeda ya."


"Begitulah."


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"......Bukan apa-apa."


"Wajahmu itu wajah orang yang tahu sesuatu ya~?"


──Apa maksudnya? Dari alur percakapan tadi, apakah Hibise dan Hisui sebenarnya saling kenal? 


Tidak, sepertinya Hibise hanya tahu tentang Hisui secara sepihak. Keraguan baru muncul dalam diriku, dan rasa penasaran membuatku makin menajamkan telinga.


Tiba-tiba, Hibise beringsut mendekati Satoshi-kun.


"Ayo dong, ceritakan pada adik kelasmu yang tersayang ini?"


"Aksi rayuan itu mustahil bagimu di kehidupan ini."


"Apa katamuuu!"


......Bisa tidak, jangan pegang-pegang Satoshi-san sembarangan?


Hama yang menumpang pada kebaikan. Succubus yang setia pada nafsu sendiri. Wanita jalang yang tidak tahu arti kata rasio.


"Pas sekali."


Konsep yang sedang kupelajari sekarang.


【BSS: Padahal Aku yang Suka Duluan...!】


Sungguh menarik. Ketidakadilan di mana orang yang pertama kali memendam perasaan justru direbut oleh pendatang baru. Dunia yang hancur karena emosi, bukan logika. Aku ingin mencoba mempraktikkannya.


"Satoshi-san juga salah."


Suaraku terdengar lembut.


Mengikat pergelangan tangannya. Menutup pandangannya. Membuat tubuhnya tidak bisa mengucapkan apa pun selain 'Shi' dan 'no'. Membuat tubuhnya tidak bisa mendengar apa pun selain 'Shi' dan 'no'.


Napas, kata-kata, hingga alasan keberadaannya. Semuanya, biarlah digunakan hanya untukku saja. Aku akan terus mengawasi dengan tenang. Sa~ngat tenang.


"Ngomong-ngomong, Satoshi-senpai. Apa kau membawa 'barang' itu?"


Hibise bertanya dengan wajah licik.


'Barang' itu──di tengah kesunyian perpustakaan, kata-kata itu terasa sangat mengganjal di telinga.


"Yah, begitulah..."


Satoshi-san menjawab dengan wajah masam.


──Jika ini adalah sesuatu yang merugikan Satoshi-san, aku harus segera menyela, tapi...


"Kenapa Satoshi-senpai ragu-ragu begitu?"


Hibise memiringkan kepalanya sedikit.


"......Bukan apa-apa."


Satoshi-san menjawab singkat, lalu merogoh tasnya dengan tangan yang berkeringat. 


Terdengar suara gesekan tas, dan di tangan Satoshi-san kini tergenggam sebuah buku. Mataku terbelalak lebar melihatnya.


"Nah, nah, ini dia! 『Rinne』! Aku benar-benar ingin membacanya~"


Hah? Itu kan novel gelap (masa lalu memalukan) yang katanya mutlak tidak boleh dibaca oleh siapa pun!? Light novel yang ditulis Satoshi-san demi menyelamatkan Shuna-san.


Seberapa besar keinginan kami berempat untuk mengetahui isinya dan mencoba membuatnya memecah keheningan soal itu. Kami sudah melakukan segala cara, tapi semuanya sia-sia.


──Novel masa lalu yang memalukan itu, yang bahkan tidak boleh kami baca, malah kau berikan pada Hibise!?


"Fufu, kalau begitu, sambil istirahat, aku baca ya~"


"......Iya."


Satoshi-san menyodorkan buku itu dengan wajah seolah baru saja menelan empedu pahit.


Satu jam kemudian──.


"Buhyahyahyahahaha!"


Keheningan perpustakaan seketika hancur oleh ledakan tawa yang tiba-tiba. Suara Hibise yang tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya bergema hingga ke setiap sudut ruangan.


"Ini di perpustakaan, tahu...!"


"Habisnya, tidak bisa ditahan! Ini terlalu lucu! wkwkwk"


Aku penasaran. Aku sangat penasaran! Apa yang sebegitu lucunya!? Isinya, poin-poin pentingnya saja, tidak, berikan semuanya padaku sekarang juga! Kalau perlu uang, akan kubayar berapa pun yang kau minta!?


Hibise menutup buku itu, lalu menghela napas dalam sambil menyeka air mata.


"Aduh, sudah lama aku tidak tertawa sampai sepuas ini..."


Hibise menyeka air matanya, mengatur napas, lalu memasang senyum tipis.


"──Ternyata pernah punya masa-masa seperti ini juga ya."


Lagi-lagi bagian itu tidak terdengar jelas.


"Tapi, ini tulisannya benar-benar payah lho~"


"O-orangnya sendiri juga sadar itu masa lalu yang memalukan, jadi lebih baik berhenti mengejeknya..."


"Dialog ini yang paling juara. 『Kau tidak akan bisa menjadi bulan purnama. Tapi, itu tidak apa-apa. Karena kegelapan yang kurang itu ada agar bisa aku isi.』 katanya. Makan apa ya sampai bisa kepikiran dialog menjijikkan se-gombal ini?"


"Makanya, berhenti membacanya!"


Uuuh... aku juga ingin membacanya...!


Di setiap baris halaman itu, tertuang perasaan Satoshi-san. Seandainya ini bukan misi pembuntutan, aku pasti sudah melompat keluar sekarang juga.


Hibise, yang sama sekali tidak tahu perasaanku, memiringkan kepalanya.


"Lalu, kenapa Satoshi-senpai wajahnya merah padam begitu?"


"Eh!? Ya habisnya, ──habisnya penulisnya kan kasihan!?"


"Aku kan bayar, jadi mengkritik penulis atau menertawakan isinya itu sudah jadi hakku sepenuhnya dong."


"Kau benar-benar junior paling buruk ya, sialan!"


Hari ini, benar-benar hari ini, aku akan meminta Satoshi-san membiarkanku membaca 『Rinne』. Tidak masuk akal jika dia membiarkan wanita selingkuhan membacanya, tapi tidak membiarku.


Satoshi-san memegang dahinya seperti karyawan yang kelelahan, lalu menatap Hibise.


"......Tapi, apakah benda semacam itu bisa menjadi petunjuk?"


Suasana Satoshi-san berubah. Dalam konteks 'petunjuk' ini, berarti──


"Apakah barang yang mereka cari berhubungan dengan 『Rinne』...?"


Firasat buruk mulai muncul.


"Tulisan itu tanpa sadar mencerminkan pengalaman penulisnya lho. Pupu."


"......Kupikir menertawakan orang lain itu benar-benar tidak baik, tahu?"


Hibise tertawa, dan wajah Satoshi-san merah padam.


Sang penulis asli dan pembaca yang mencemoohnya. Sebuah kekacauan yang sempurna telah tercipta.


"Hanya saja,"


Hibise bergumam seolah mengembuskan napas.


"Aku jadi mengerti. Ternyata begitu ceritanya ya..."


"Kenapa?"


Hibise menutup bukunya dan tersenyum dengan penuh arti. Senyuman itu bukan lagi ejekan seperti di awal, melainkan mengandung kasih sayang yang tenang.


"Semuanya merembes keluar. Isinya memang buruk, tapi aku bisa merasakan semacam kelembutan di sana. Memang benar kalau kau telah menyelamatkan Shuna-senpai. Meski isinya buruk sih."


"Tolong jangan katakan dua kali...!"


Satoshi-san tersenyum kecut, kehilangan kata-kata untuk membalas.


Kenapa ya. Ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di dadaku, seperti duri ikan kecil yang tersangkut. Aku merasa ada kesalahpahaman yang sangat fatal sedang terjadi. Lagipula, alasan Satoshi-san memperlihatkan novel masa lalu yang memalukan itu—yang bahkan tidak ia tunjukkan pada kami—adalah──.


"Jangan-jangan, benar-benar selingkuh...?"


『Hubungan kami sudah sedekat itu sampai bisa saling berbagi masa lalu yang memalukan lho.』


Aku seolah mendengar halusinasi suara itu.


"......Sepertinya aku harus melakukan penyelidikan dengan sedikit lebih serius."


Aku mengirimkan surel ke keluarga Shinonome menggunakan ponselku.


Tepat saat aku memasukkan ponsel kembali ke saku, percakapan antara Satoshi-san dan Hibise dimulai kembali.


"Ngomong-ngomong, Hibise, kemampuan pemahaman bacaanmu tinggi juga ya."


"Jangan cuma terbatas di pemahaman bacaan dong! Aku ini jenius!"


"Aku tidak akan mau mengajarimu belajar lagi lho ya?"


"Bohong! Itu cuma bercanda! Aku ini bodoh, jadi tolong ajari aku belajaaar!"


Bisa tidak, jangan pegang-pegang Satoshi-san terus?


Tanpa sadar, aku mencengkeram buku di tanganku dengan kuat.


"Aku juga merasa punya kemampuan pemahaman bacaan yang lumayan, tapi aku tidak bisa membaca kepribadian penulisnya sampai sejauh itu."


Satoshi-san berkata dengan nada kagum, sementara Hibise mendengus bangga dengan wajah penuh kemenangan.


"Yah, aku rasa itu masalah pengalaman. Sampai masa SMA, aku ini kan gadis kutu buku~."


"Haha, lucu banget."


"Apa maksudnya itu? Tergantung jawabanmu, aku bisa menghajarmu lho, hei."


Aku sangat mengerti perasaan Satoshi-san.


Mengatakan orang dengan penampilan seperti itu sebagai gadis kutu buku rasanya memang agak mustahil.


"......Dulu aku sering sekali baca sambil berdiri di perpustakaan atau toko buku."


"Genrenya?"


"Yang berbobot! Seperti Dazai atau Akutagawa tahu!"


"Begitu ya, jadi tipe yang cuma baca suasana sampulnya saja lalu sudah merasa puas."


"Aku benar-benar baca isinya juga kok!"


Melihat aksi saling sahut mereka yang sangat kompak, aku tanpa sadar merobek buku di tanganku menjadi dua lagi.


"Entah karena itu atau bukan, tapi lewat tulisan, aku jadi bisa melihat wajah, kepribadian, hingga cara hidup si penulisnya~."


"Hebat ya... itu namanya bakat."


"Kan? Ayo puji aku, puji akuuu~"


Hibise membusungkan dada dengan bangga.


"Tidak, ini serius, itu luar biasa."


"O-oh. Aku tidak menyangka akan dipuji sampai segitunya..."


Seolah menutupi rasa malunya, ia membetulkan posisi headphone-nya, dan entah kenapa pita di kepalanya bergerak-gerak lincah.


──Menyebalkan memang, tapi bahkan dengan kemampuan pemahamanku pun, aku tidak bisa meniru hal itu. Kepekaan untuk melihat hati si penulis di balik sebuah cerita.


"Menemukan orang berbakat memang selalu memicu kebiasaan burukku untuk merasa tertarik ya," gumamku.


Meskipun orang itu adalah musuh. Tapi, karena sifat itu sama persis dengan kekasih tercintaku, aku tidak punya alasan untuk protes.


"Kalau kau sesuka itu dengan buku, mau kukenalkan dengan Reine?"


"......Tidak usah, terima kasih."


......Satoshi-san, kau kejam sekali.


Satoshi-san memang tidak punya niat buruk, tapi bagi Hibise, diperkenalkan dengan pacar dari pria yang disukainya hanya akan membuatnya menderita.


"Lagipula, aku tidak terlalu suka buku kok."


"Padahal tadi katanya gadis kutu buku?"


"Itu karena terpaksa karena tidak ada kerjaan lain. Orang tuaku itu tipikal orang tua gila pendidikan yang kolot; rumahku tipe yang membatasi televisi, apalagi gim."


"Masih ada ya rumah yang seperti itu di zaman sekarang..."


Satoshi-san menjawab dengan senyum kecut.


"Makanya sebagai bentuk pelampiasan, aku jadi begini saat kuliah~."


"Ah, pantas saja."


"Jangan langsung mengiyakan begitu dong!?"


Meski protes, Hibise tertawa seolah merasa tersanjung.


"Di rumah seperti itu, satu-satunya hal yang diizinkan hanyalah membaca. Bagiku, buku itu cuma seperti sosage untuk membunuh waktu yang membosankan."


Lalu, ia mengusap sampul buku yang tergeletak di meja dengan ujung jarinya secara perlahan.


"Makanya, dipuji begitu pun aku tidak terlalu paham rasanya."


Tawa keringnya bergema hampa di dalam perpustakaan.


"......Ini sebenarnya cerita tentang pacarku, sih."


Gufkh.


Pukulan telak yang tiba-tiba. 


Aku merasa seolah melihat darah keluar dari mulut Hibise. Satoshi-san, sejak kapan kau jadi se do-S itu......


"Shino──dia adalah pacar terbaik yang merupakan perwujudan dari Yamato Nadeshiko."


Siapkan satu botol suplemen penambah stamina. Berikan juga ekstrak ular kobra dan kura-kura kualitas tertinggi.


──Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panas.


"Tapi sifat aslinya──sangat binal. Ah, jangan bilang siapa-siapa ya? Ini informasi tambahan yang tidak perlu."


"......Baik."


Duh, aku jadi malu......


"Padahal dia itu jenius yang tidak mempermalukan nama keluarga Shinonome, tapi dia tidak sombong dengan posisinya dan punya rasa haus yang besar untuk selalu mempelajari hal baru."


──Du-duh, sudah! Kau terlalu memujiku tahu! Hibise bisa mati berdiri nanti!


"Kau punya pacar yang luar biasa ya—. Lalu apa hubungannya dengan ceritaku—!"


Hibise bertanya dengan nada bicara yang datar karena kesal.


"Aku hanya berpikir bahwa itu adalah cara hidup yang tidak bisa dilakukan oleh Shino."


Hah? Arah pembicaraan ini mulai terasa mencurigakan.


"Kemampuanmu itu kan muncul dari ketiadaan, dalam lingkungan yang terbatas dan menyakitkan, kan?"


"Yah, m-mungkin saja begitu. Aku tidak terlalu mengerti sih..."


"Justru karena itu, aku merasa ada kekuatan yang kau raih dengan usahamu sendiri."


"Eh? Be-begitukah? Tentu saja benar!"


Tadi katanya tidak paham meski dipuji, sekarang kenapa kau tidak konsisten dengan kata-katamu sendiri?


Sudut bibir Hibise sudah benar-benar melebar karena senang.


"Kekuatan itu suatu saat mungkin bisa menyelamatkan seseorang. Jadi menurutku, sebaiknya kau menjaganya baik-baik."


"......Terima kasih... banyak... Baru pertama kali ada yang bicara begitu padaku..."


──Pokoknya, Satoshi-san. Menggunakanku sebagai pancingan untuk memuji wanita lain... malam ini kau akan menerima hukuman.


"Orang yang tahu rasanya sulit itu kuat. Kau pasti bisa jadi istri yang baik."


"Duh! Kau terlalu banyak memujiku tahu!"


Pita di kepala Hibise bergerak naik-turun.


"Ka-kalau kau bicara sampai segitunya, apa aku daftar saja jadi calon istrinya Satoshi-senpai ya...... cuma bercanda, sih."


Hibise, apakah kau bosan hidup?


"Kalau begitu, mau menikah denganku?"


"Fue!?"


Eh?


"Cuma bercanda kok."


Satoshi-san memberikan senyum seperti anak nakal yang baru saja berhasil menjahili orang pada Hibise.


"Itu balasan dariku. Aku juga tidak mau terus-terusan dijahili."


"Ah...... iya."


"Kalau kau punya kebiasaan menggoda orang seperti itu, kau bisa kena masalah seperti saat digoda pria asing waktu itu, tahu? Berhati-hatilah."


"──Iya. Benar-benar meresap sampai ke hati. Serius."


Satoshi-san, setelah kau pulang nanti, ingat-ingatlah ini baik-baik ya?


Dosa pria nakal yang mempermainkan kemurnian hati seorang gadis. Dan dosa merayu wanita lain padahal sudah punya pacar sepertiku. Sungguh, aku perlu memberimu "pelajaran" sekali lagi. Lalu, Hibise. Yang akan mendapatkan perhatian Satoshi-san itu hanyalah aku.


Tepat saat itu, pengumuman menggema di dalam gedung.


"Sudah waktunya tutup yaaa."


"Begitulah. Dengan ini, tugasmu sudah aman, kan?"


"Siap! Sudah beres semua~! Yeay☆"


"Haaah......"


Satoshi-san menghela napas pendek, namun ia tak kuasa menahan senyum dan melakukan fist bump dengan Hibise.


Sambil melihat keakraban mereka dari sudut mata, hatiku dipenuhi rasa kompetisi terhadap Hibise.


Saat melangkah keluar, hawa panas siang hari masih tertinggal di jalanan, terasa lengket di kulit. Keringat yang mengalir di dahi membasahi pandangan, tapi aku tidak punya waktu untuk mempedulikannya. Alas sepatuku mengeluarkan suara kering saat menghentak aspal. Setiap langkah yang kuambil menyalurkan kekesalan dan kegelisahan dari lubuk dadaku hingga ke ujung kaki.


"......Aku pun bisa melakukan hal seperti itu."


“Meskipun begitu, gadis kutu buku ya......”


“Ya? Ada apa?”


Hibise menoleh ke arahnya.


“Tidak, bukan apa-apa......”


Memang benar, di dalam ingatanku pun──dia adalah seorang gadis kutu buku.



Kami duduk mengelilingi meja di posisi masing-masing sesuai nama arah mata angin kami. Karena aku Saionji Satsuki, aku duduk di Barat. 


Tersaji camilan dan minuman. Suasana sore yang santai menyelimuti ruangan.


"Bagaimana hasilnya?" tanyaku pada Shino yang duduk di hadapanku. Namun──.


"──Daripada itu, Satsuki-san. Ada apa dengan penampilanmu itu?"


"Ehem! Aku mencoba berdandan seperti wanita bersuami!"


Aku mengikat rambut merah muda kebanggaanku dengan gaya side-tail, mengenakan gaun terusan agak seksi yang memperlihatkan garis bahu, dan memakai celemek. 


Setiap kali aku bergerak, tali celemeknya bergoyang; seharusnya aku sudah memancarkan aura istri orang yang sempurna. Namun, reaksinya berbeda dari yang kuharapkan.


Reine menghela napas, sementara Shuna dan Shino hanya tersenyum kecut. Ekspresi mereka bertiga serempak memancarkan rasa heran.


──Kenapa?


Saat aku memiringkan kepala bingung, Shino menatap kami dengan tajam. Matanya memancarkan tekanan tanpa kata bahwa dia tidak sedang menerima lelucon. Tanpa sadar, aku menegakkan punggung.


"Ada hal yang harus aku lakukan."


"Ya."


Shino memperbaiki posisi duduknya dan menatap kami, lalu menatap ke arah ruang kosong.


"Aku ini, pada dasarnya bisa melakukan apa saja, kan? Pelajaran, olahraga, apalagi kecantikan, kekayaan, dan silsilah keluarga; aku memiliki segalanya. Kepribadianku pun anggun, perwujudan sejati dari Yamato Nadeshiko. Singkatnya, aku ini sempurna."


"Kalau itu bukan kau yang bicara, sudah kuhajar kau, Shino...!" geram Reine sambil menonjolkan urat di dahinya, yang segera ditenangkan oleh Shuna dengan ucapan "tenang, tenang~". Shuna kemudian menatap Shino.


"Jadi, hal apa yang harus dilakukan Shino-chan~?"


Mendengar pertanyaan Shuna, Shino menatap satu titik dengan tajam lalu menarik napas pendek.


"Sudah pasti. Melakukan sesuatu demi kebaikan Satoshi-san."


Suaranya tenang, namun penuh keyakinan.


"Untuk menyelamatkan Satoshi-san dari cengkeraman iblis Hibise ──aku akan menjadi biarawati."


───

──


Hah?


Pikiran semua orang berhenti seketika.


......Barusan kau bilang apa, Shinonome Shino-san?


"......Anu, Shino-chan~. Bisa tolong katakan sekali lagi~?"


Senyum Shuna mulai retak. Pipinya tampak berkedut-kedut.


"Aku akan menjadi biarawati."


Pelafalan yang sempurna. Ekspresi yang sempurna. Tidak ada setitik pun tanda bercanda.


"Kenapa kesimpulannya jadi begitu!?" 


Teriakku sambil memegangi kepala. Shino di depanku sudah benar-benar masuk ke dunianya sendiri.


"Aku ini terlalu diberkati. Karena itulah, ada hal yang tidak bisa kudapatkan."


"Aku tidak ingin dengar, tapi biar kutanya saja sekalian. Apa itu...?" 


Reine mengerutkan dahi dengan wajah kesal. Namun, Shino menutup sebelah matanya dengan bangga.


"Sudah pasti. Keadaan ekstrem."


"Apa-apaan itu!?"


Mengabaikan teriakan aku, Shino melanjutkan kata-katanya dengan wajah yang sangat khusyuk, seolah sedang memulai khotbah.


"Jika dipikir-pikir, aku tidak pernah sekali pun jatuh ke dalam krisis dalam hidupku."


Ia mengangkat jari telunjuknya.


"Oleh karena itu, aku harus membuang segala hal yang mengelilingiku dan kembali menjadi nol. Aku menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa didapatkan kecuali aku melakukan itu......"


Matanya sangat serius. Namun, isinya benar-benar tidak masuk akal.


"......Lagipula, Satoshi-san terlalu memuji Hibise. Aku pun bisa melakukan hal seperti itu......"


Aku, Shuna, dan Reine saling berpandangan.


Ah, ternyata dia mengalami hal yang sama dengan kita.


Sesaat kemudian, Shuna menempelkan tangan ke bibirnya dan bergumam dengan wajah berpikir.


"Tapi yaa~, kalau kamu jadi biarawati, bukannya nanti kamu tidak bisa menikah dengan Satoshi-kun~?"


"Kalau begitu, tidak jadi."


"Cepat banget berubahnya!"


Reine berteriak sambil memukul meja, tapi Shino hanya mengangguk dengan wajah khusyuk seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kalau begitu, aku harus memikirkan cara 'menjadi biarawati' versiku sendiri. Terjun ke dunia fana, dan jatuh ke dalam keadaan ekstrem......"


Shino kemudian keluar dari ruangan sambil terus bergumam mencari cara peniadaan diri yang sesuai seleranya. Suara pintu yang tertutup terasa sangat hampa.


"......Kenapa dia bisa sampai pada kesimpulan sebodoh itu ya?"


"Kau bicara begitu, Satsuki?"


"Niat menjadi 'istri orang' itu lebih tidak masuk akal lagi tahu~"

"Kalau soal itu, Reine dan Shuna juga sama saja......"


Kami saling mengangkat bahu, merasa bahwa satu sama lain tidak saling mengerti.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close