Namaku Lloyd de Saloum, pangeran ketujuh dari Kerajaan Saloum.
Aku adalah bocah sepuluh tahun yang sangat memuja sihir.
Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah penyihir miskin
yang tak punya nama, sampai suatu hari pangeran bangsawan di akademi sihir
tempatku belajar mengincarku.
Dia memaksaku melakukan duel yang sebenarnya tak lebih
dari sekadar hukuman mati.
Saat itu, aku bertindak ceroboh.
Aku terlalu terpana melihat sihir tingkat tinggi yang
baru pertama kali kulihat, sampai-sampai lupa memasang pertahanan dan
kehilangan nyawaku.
Begitu sadar, aku sudah bereinkarnasi ke dalam tubuh ini.
Karena statusku hanya pangeran ketujuh yang sama sekali
tidak punya urusan dengan takhta, aku pun menikmati hidup yang bebas sambil
terus mendalami sihir.
Begitulah kondisiku, tapi sekarang karena berbagai
alasan, aku bersekolah di Departemen Sihir di akademi yang didirikan oleh sang
leluhur penyihir, William Bordeaux.
Di sana, aku bertemu dengan keturunan William, Noah dan
Gazel, lalu menjadi akrab dengan mereka.
Aku sempat berhadapan dan menang melawan Vilfrey, salah
satu dari Empat Raja Iblis yang disegel sejak perang antara manusia dan iblis
di masa lalu.
Dan sekarang, atas permintaan mereka berdua, aku sedang
dalam perjalanan untuk menumbangkan para iblis yang tersegel di berbagai
tempat.
"Kalau begitu, mari kita mulai, Lloyd-kun."
Aku mengangguk membalas perkataan Noah, sementara Gazel
menyentuhkan tangannya ke sebuah batu besar di depan kami.
Seketika, susunan mantra yang tak terhitung jumlahnya
muncul di permukaan batu lalu menghilang.
Tak lama kemudian, terdengar suara retakan dan lubang
mulai menjalar di sana.
Batu itu pecah, lalu kabut hitam keluar dari dalamnya dan
mulai membentuk wujud manusia.
"Kukuku……
aku tidak pernah bermimpi hari di mana segelku terlepas akan benar-benar
datang. Apakah ini kegagalan penyegelan ulang, ataukah level manusia memang
sudah merosot jauh…… alasannya tidak penting. Karena aku
sudah bebas, aku akan mengamuk sepuasnya! Pertama-tama, aku harus memberi
kalian hadiah sebagai tanda terima kasih. Aku, Tuan Nederwein, peringkat ketiga
dari jajaran bangsawan tinggi iblis, secara pribadi akan membantai kalian
dan—"
"Ash Magic Divine Fang."
Anak panah mana miliku yang merupakan campuran warna
hitam dan putih melesat dalam lintasan spiral, menembus iblis di depan mata.
"Guaaaaaakh!
……T-tidak mungkiiiiin!? Bagaimana bisa aku, Tuan Nederwein peringkat ketiga
dari bangsawan tinggi iblis, dikalahkan oleh bocah manusia
sepertimuuuuu!?"
Si Neder-siapa-lah itu pun lenyap sambil meneriakkan
jeritan kematian.
Sambil menatap gumpalan mana yang memudar, aku
menguap lebar.
"Seal
Magic, Holy Magic, dan Ancient Magic dalam satu teknik Triple
Casting, ya. Benar-benar daya hancur yang mengerikan seperti biasanya.
Bahkan bangsawan tinggi iblis pun tumbang dalam satu serangan."
Yang
menghela napas dengan wajah lelah adalah iblis Grim, pelayanku.
Biasanya
dia bersemayam di telapak tangan kananku, tapi terkadang dia keluar dalam wujud
kambing.
"Tapi Anda terlihat sangat lelah, Lloyd-sama. Wajar
saja karena belakangan ini Anda melenyapkan iblis-iblis yang tersegel hampir
setiap hari…… tolong lebih perhatikan kesehatan Anda."
Lalu yang satu ini adalah malaikat Jiriel. Dia juga
pelayanku yang bersemayam di telapak tangan kiri.
Saat keluar, dia mengambil wujud seekor burung. Aku
hanya membalas kekhawatiran Jiriel dengan uapan lagi.
"Huaaaaah……
aku tidak lelah, kok. Cuma bosan saja."
Awalnya
aku cukup menikmati karena bisa bertarung melawan iblis-iblis langka, tapi
setelah pertarungan melawan Vilfrey, sebagian besar eksperimenku terhadap iblis
sudah selesai.
Lagipula,
Ash Magic Divine Fang ini terlalu curang sampai-sampai pertarungannya
tidak terasa menarik lagi.
Meski
begitu, alasan kenapa aku tetap melenyapkan iblis-iblis tersegel ini adalah
karena Noah dan yang lainnya memohon bantuanku.
Kabarnya,
penyegelan iblis tingkat tinggi hanya bisa dilakukan dengan sihir garis
keturunan yang diwariskan secara turun-temurun di keluarga Bordeaux. Namun,
karena kekuatannya yang luar biasa, sihir itu konon menguras umur sang
pengguna.
Jika
aku kehilangan Noah dan Gazel yang merupakan penyihir berbakat, perkembangan
ilmu sihir segel akan terhambat.
Apalagi
mereka sudah banyak meminjamkan koleksi buku langka milik keluarga Bordeaux
kepadaku, jadi meskipun agak merepotkan, aku tetap membantu mereka.
"Ujung-ujungnya hampir semua karena kepentingan
pribadi, ya……"
"Sangat khas Lloyd-sama……"
Grim dan Jiriel tampak lelah melihatku, tapi aku kan
sudah bekerja dengan benar, jadi wajar saja jika aku menerima imbalan. Mereka
sungguh tidak sopan.
"Padahal aku sudah menghapus berbagai batasan dalam Seal
Magic dan menyederhanakannya agar kalian berdua bisa memakainya
sendiri."
Aku memang sudah menghilangkan batasan berat seperti
menguras umur, tapi sebagai gantinya, susunan mantranya jadi sedikit lebih
rumit dan durasi rapalannya jadi agak panjang.
Saat kucoba menyuruh mereka berdua melakukannya, ulasan
yang kuterima sangatlah buruk: "Itu bukan teknik manusia,"
"Terlalu mustahil," "Bahkan seumur hidup pun tidak akan
bisa," sampai "Ibarat harus menyelesaikan tiga teka-teki super sulit
secara bersamaan sambil berjalan di atas tali sepanjang satu kilometer dengan
satu kaki." Akhirnya, aku jugalah yang harus turun tangan.
Padahal menurutku tidak mustahil-mustahil amat. Justru
tingkat kesulitan seperti itu yang membuatku bersemangat.
"Jangan berpikir semua orang punya kekuatan yang
sama dengan Anda, Lloyd-sama."
"Benar. Karena Lloyd-sama adalah pengecualian di
atas pengecualian."
Kurasa memperlakukanku seperti monster itu cukup tidak
sopan, lho.
Meski mereka berdua masih belum berpengalaman, bakat
mereka sendiri cukup besar, dan yang terpenting, mereka sangat tekun. Suatu
saat nanti pasti mereka bisa mengalahkan iblis sendiri. Ya, ya.
"Nah, sepertinya jatah hari ini sudah cukup,
ya?"
Keluar dari kuil penyegelan, aku meregangkan tubuh ke
arah langit biru.
"Iya……
lagipula, jumlah iblis yang butuh ditumbangkan sudah habis. Sisanya kebanyakan
yang masih punya sisa segel beberapa tahun lagi, dan kebanyakan dari mereka
hanyalah iblis atau iblis tingkat rendah."
"Benar
sekali. Kalaupun sampai terjadi pertarungan serius, mereka adalah lawan yang
bisa kami tangani berdua jika bekerja sama. Kalau penyegelan ulangnya gagal,
tinggal kami hajar saja. ……Lagipula, kalau terus-menerus mengandalkanmu seperti
ini, kami tidak akan sanggup berhadapan dengan leluhur kami."
Noah
dan Gazel saling bertukar pandang lalu tertawa pahit.
Lihat,
kan? Mereka berdua punya keinginan untuk berkembang. Dengan
semangat seperti ini, tak lama lagi mereka pasti bisa menggunakan mantra
buatanku.
Saat aku mengangguk puas, mereka berdua melanjutkan
bicara dengan wajah serius.
"……Lagi pula, karena Empat Raja Iblis lainnya telah
melarikan diri, prioritas utama kita adalah meningkatkan kekuatan tempur kita.
Jika satu lawan satu mungkin masih aman, tapi jika mereka menyerang secara
bersamaan, bahkan Lloyd-kun pun akan berada dalam situasi berbahaya."
Setelah Vilfrey dikalahkan, hal pertama yang dilakukan
Noah dan yang lainnya adalah memeriksa kuil penyegelan milik Empat Raja Iblis
lainnya.
Ternyata, kuil-kuil itu sudah hancur dan isinya kosong.
Mereka pun mengambil kesimpulan bahwa Vilfrey telah
melepaskan segel rekan-rekannya.
Beberapa iblis kuat lainnya juga sudah terbebas, dan itu
akan berbahaya jika mereka menyerangku secara serentak.
"……Yah, memang benar jika aku harus menghadapi iblis
sebanyak itu sendirian, kerusakan di sekitar pasti akan sangat besar."
Kekuatan tempur mereka cukup luar biasa.
Jika tidak diisolasi dalam penghalang seperti saat
melawan Vilfrey, bertarung serius dengan mereka pasti akan menghancurkan
sekeliling.
Tanpa ragu, negara ini bisa hancur. Dalam artian itu, aku
memang merasa sedikit cemas……
"Tapi ya, seberapa keras pun kalian berusaha, kalian
tetap bukan tandingan para Raja Iblis itu, tahu?"
"Benar. Alih-alih membantu Lloyd-sama, kalian malah
hanya akan jadi penghambat."
Kelihatannya cukup kejam, tapi wajar saja jika Grim dan
Jiriel bicara sampai sejauh itu.
Pasalnya, kemampuan tempur mereka berdua paling-paling
hanya setara dengan Grim dan yang lainnya. Berlatih sedikit saja tidak akan
mengubah keadaan secara signifikan.
"Kami mengerti maksud kalian, tapi kami tidak bicara
tanpa pertimbangan."
"Ya, leluhur William sudah memperhitungkan
kemungkinan gagalnya penyegelan ulang iblis kuat, dan dia menyiapkan cara lain.
Jika segel kuil dilepas, sebuah dungeon yang membentang jauh di bawah
tanah akan terbuka. Di bagian terdalamnya, terdapat buku sihir terlarang dan
pusaka yang bahkan sang leluhur anggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan...
dengan kata lain, itu adalah warisannya. Jika menggunakan itu, kekuatan kami
pun akan meningkat."
Telingaku berdenting mendengar kata-kata itu.
Buku sihir terlarang yang disegel William...?
Jika dia menyembunyikan hal semenarik itu, aku akan
merasa kesulitan kalau dia tidak mengatakannya lebih awal.
Tentu saja, kalimatku berikutnya sudah bisa ditebak.
"Baiklah, mari kita pergi ke sana!"
"Eh...?"
Saat aku mengangkat tangan dengan penuh semangat, mereka
berdua malah memasang wajah tidak puas.
◇
"Jadi, begitulah ceritanya kenapa aku memutuskan
untuk masuk ke dungeon bersama Noah dan yang lainnya..."
Aku melirik sebentar, dan pelayan berambut perak dengan
pedang panjang di pinggangnya, Sylpha, serta pelayan berambut ungu pendek di
sampingnya, Ren, mengangguk.
"Jika Lloyd-sama pergi ke tempat berbahaya, tentu
saja aku akan ikut serta."
"Kalau soal penjelajahan dungeon, aku pasti
akan berguna!"
Mereka berdua adalah pelayan pribadiku yang memiliki
kemampuan tempur tinggi.
"Sepertinya menarik juga menjelajahi dungeon
buatan William, sang leluhur penyihir itu. Pasti
banyak barang berharga luar biasa yang tertidur di sana. Karena itu, aku juga
mau ikut."
"Fiuh, kalau semuanya pergi, mau tidak mau aku
harus ikut sebagai pembimbing. Maaf, tapi izinkan aku bergabung."
Sosok yang menyisir rambut pirangnya yang indah
sambil menunjukkan senyum licik yang tidak serasi adalah Birgit, Putri Kedua
Saloum yang sangat mencintai uang.
Di belakangnya, seorang pria tampan dengan wajah
lelah adalah Pangeran Kedua, Albert.
"Alat sihir terlarang, aku penasaran sekali!
...Tapi, bolehkah orang sepertiku ikut?"
Sosok dengan rambut cokelat halus yang bergoyang dan mata
berbinar di balik kacamata adalah Connie. Nama aslinya Cornelia.
Dia memiliki kondisi tubuh unik yang tidak memiliki mana,
tetapi sebagai gantinya, dia sangat terampil dan memiliki pengetahuan tentang
susunan mantra.
Dia adalah teman sekelas yang sangat berbakat dalam
membuat alat sihir.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Tidak ada anak
berkacamata yang jahat. Jangan sungkan, ikutlah saja."
"Kenapa Kak Birgit yang mengatur semuanya... yah,
aku tidak keberatan, sih."
Albert menghela napas saat melihat Birgit mengelus kepala
Connie dengan kasar.
—Beginilah kronologinya. Setelah memutuskan untuk pergi
ke dungeon secara rahasia, aku kembali ke asrama. Di tengah persiapan,
aku tidak sengaja membocorkannya kepada Ren.
Entah di mana dia mendengarnya, Sylpha pun ikut
bergabung.
Lalu Birgit muncul sambil berkata mencium bau uang,
dan ikut serta.
Albert yang mengetahui hal itu akhirnya menawarkan
diri sebagai pengawas agar kami tidak melakukan hal yang nekat.
Lalu, Connie yang datang untuk urusan lain akhirnya
tertangkap oleh Birgit.
Sepertinya sesama pemakai kacamata merasakan ikatan
tertentu, padahal Birgit sendiri hanya memakai kacamata tanpa lensa untuk
menyamar.
"Yah, jangan khawatir soal kemampuan tempur.
Semuanya sangat kuat, lho. Ah, kalau aku sih gadis lemah lembut seperti yang
terlihat. Aku ini semacam sponsor."
Jika diperhatikan baik-baik, pakaian semua orang
telah ditenun dengan susunan mantra.
Ini pasti memakan biaya yang sangat mahal.
Bisa menyiapkan hal seperti ini dengan mudah, memang luar
biasa seperti yang diharapkan dari Birgit.
"...Maaf ya, Noah, Gazel."
"Jangan dipikirkan. Lloyd-kun dan yang lainnya sudah
banyak membantu kami."
"Tentu saja kami akan merahasiakan soal Lloyd, jadi
tenang saja."
Berkat kecerdikan Jiriel, aku dianggap sebagai Utusan
Surga, dan kekuatanku yang sebenarnya dirahasiakan dari semua orang.
Aku merasa bersalah karena telah merepotkan mereka dalam
banyak hal. Sungguh.
"Terima kasih. Itu sangat membantu."
"Heh, serahkan saja pada kami."
"Ya, kalau begitu mari kami pandu."
Noah dan Gazel mengacungkan jempol mereka.
Tempat yang dituju bersama mereka berdua adalah
sebuah gunung berbatu yang ditempuh dengan Fly selama sekitar satu jam.
Begitu mendarat, Noah berdiri di depan dinding batu
dan merapalkan sebuah mantra.
—Seketika, bumi bergetar hebat, dinding batu itu
runtuh, dan sebuah lubang terbuka.
Di dalamnya, terdapat tangga yang menuju ke bawah.
"Inilah
dungeon yang disegel oleh leluhur kami, William. Tempat ini
sangat berbahaya, jadi tolong jangan menjauh dari kami."
"Ada banyak monster berbahaya dan jebakan yang
dipasang, jadi jika orang selain keturunan darah masuk, mereka tidak akan
selamat. Pastikan jangan pernah berpisah dari kami."
Wah, ternyata ada tempat semenarik ini!
Selain keturunan darah, itu berarti alat sihir atau
makhluk buatan yang bereaksi terhadap susunan mantra yang terukir di dalam
darah. Aku terkejut karena semua itu masih berfungsi.
"Biasanya, semakin rumit susunan mantra ditenun,
semakin mudah terjadi kerusakan seiring berjalannya waktu. Namun, meskipun
sudah ratusan tahun berlalu, susunan mantranya masih hidup. Ketangguhan yang
luar biasa. Menarik sekali."
Susunan mantra seperti apa yang mereka gunakan?
Aku ingin sekali memegangnya dan melihatnya langsung...
ah, tapi karena ada semua orang, rasanya sulit.
Seharusnya aku memaksa datang sendirian tadi.
Setelah pengambilan buku sihir terlarang dan pusaka
selesai, aku akan meminta mereka berdua mengantarku masuk lagi nanti.
Karena sudah diputuskan, sekarang mari fokus pada
penjelajahan dungeon.
◇
Dengan mereka berdua sebagai pemandu, kami terus
melangkah semakin dalam ke dalam dungeon.
Di tengah jalan, kami beberapa kali bertemu monster yang
membuat semua orang terkejut, tapi karena mereka tidak terlalu kuat, aku
membiarkan yang lain menanganinya.
Aku terlalu sibuk menganalisis jebakan-jebakan yang
terpasang di sini.
"Hah,
hah... Ke-kenapa ada begitu banyak monster kuat di sini? Bukankah kalau ada kalian, monster-monster tidak akan menyerang?"
"Mungkin seiring berjalannya waktu, dungeon
ini mulai menciptakan monsternya sendiri. Karena dibiarkan terlantar tanpa ada
yang masuk, monster-monster berkembang biak sampai seperti ini. Untungnya kami
mengajak orang-orang dari Saloum ikut serta."
Sylpha dan yang lainnya mengangguk mendengar
perkataan Noah.
Ilmu pedang aliran Langris milik Sylpha, racun mana
milik Ren, sihir Albert, dan alat sihir Connie; semuanya diperkuat oleh dana
melimpah Birgit sebelum dilepaskan.
Selain itu,
"Lloyd-sama! Ada monster di sana!"
"Hyaaa!?"
Aku memantulkan monster yang terbang ke arah kepala
Connie yang sedang berjongkok ketakutan dengan sebuah Barrier.
Sylpha kemudian langsung memotong-motong monster itu
sampai habis.
"Te-terima kasih, Lloyd-kun..."
"Jangan dipikirkan."
Aku melambaikan tangan membalas ucapan terima kasih
Connie.
Beginilah, serangan yang sesekali lolos ke arah sini
selalu kupastikan terhalang sempurna oleh Barrier-ku, jadi semuanya
aman.
Tentu saja aku menahan diri. Kalau
aku memasang Barrier dengan serius, monster itu pasti akan langsung
musnah.
Penyuka sihir biasa kemampuannya sekitar segini, kan?
"Tidak, tidak, monster di sini semuanya sekelas
makhluk dari Dunia Iblis, lho."
"Bagi penyuka sihir biasa, mereka pasti sudah hancur
bersama Barrier-nya berkeping-keping."
Grim dan Jiriel merasa lelah melihatku, tapi kurasa tidak
begitu.
Soalnya, semua orang tidak terlihat terkejut... mungkin.
Lagi pula, karena ada Noah, Gazel, dan bahkan Sylpha, aku
tidak perlu turun tangan sendiri.
"Humu, sepertinya ini adalah bagian terdalam dari dungeon."
Sylpha, yang baru saja menebas segerombolan monster,
menyeka darah di pedangnya sambil menatap pintu di depan kami.
Itu benar-benar pintu menuju ruangan bos di bagian
terdalam dungeon.
"Tentu saja ada bos di sini, tapi tenang saja.
Leluhur kami sudah menaklukkannya, jadi dia tidak akan menyerang."
"Karena itu, aku buka, ya."
Saat Gazel mendorong pintu gerbang, pintu raksasa itu
terbuka perlahan.
Di balik pintu yang terbuka, terdapat banyak sekali peti
harta karun yang tertidur. Di dalamnya, banyak buku sihir yang belum pernah
kulihat sebelumnya berserakan.
"Ooh, inikah warisan William!"
Aku langsung melesat paling depan dan membuka peti-peti
itu.
Di dalamnya ada banyak sekali buku sihir yang seolah-olah
bersinar terang.
"Lloyd-sama, Anda terlalu bersemangat. Bukankah tadi
dibilang berbahaya kalau menjauh dari Noah dan yang lainnya?"
"Benar! Anda bisa membangunkan bos yang menjaga
tempat ini!"
Sepertinya mereka memang pernah bilang begitu. Aku
terlalu bersemangat melihat buku sihir langka.
Sesuai perkataan mereka, jika diperhatikan baik-baik,
seekor naga emas raksasa sedang berbaring seolah melindungi harta karun
tersebut. Tadi dia tidak masuk ke dalam jangkauanku.
"Itu adalah Divine Dragon. Eksistensi
yang memimpin kaum naga, memiliki kecerdasan tinggi, dan kekuatan tempur yang
luar biasa."
"Bisa dibilang dia adalah dewa para naga.
Ternyata William Bordeaux sampai menjadikan makhluk seperti ini sebagai
pelayannya..."
Divine Dragon
bukankah naga legendaris yang konon pernah ada? Heh, ini
pertama kalinya aku melihatnya langsung.
Mungkin karena menyadari tatapanku, naga emas itu
mengangkat lehernya perlahan dan membuka matanya pelan-pelan—
"!!!!!"
Setelah matanya membelalak kaget, dia segera menutupnya
kembali dan merebahkan lehernya.
...Tidur lagi? Tapi suara napas tidurnya terasa tidak
alami, ada apa sebenarnya?
"Di-dia pura-pura tidur! Padahal dia sadar ada
penyusup, tapi karena takut pada Lloyd-sama, dia pura-pura tidak sadar!"
"Mungkin dia langsung memahami perbedaan kekuatan
dalam sekejap. Bisa dibilang dia cukup cerdas..."
Meski mendengar suara Grim dan Jiriel, sang Divine
Dragon itu terus mengucurkan keringat dingin.
Aku tidak terlalu mengerti, tapi sepertinya dia tidak
berniat bertarung.
Padahal ini kesempatan bagus untuk tahu seberapa
tangguh Divine Dragon itu... yah, kasihan juga kalau memaksanya bangun.
Lagi pula ada semua orang di sini.
Aku berencana datang ke sini beberapa kali lagi, jadi
mari simpan kesenangan itu untuk saat dia benar-benar bangun nanti.
◇
"Fiuh, dengan ini sepertinya semua warisan sudah
terkumpul."
Noah mengangguk setelah selesai membereskan semua
harta karun.
Banyaknya buku sihir terlarang dan pusaka yang belum
pernah kulihat sebelumnya benar-benar mengejutkan. William, kerja bagus.
Katanya isinya akan diperiksa setelah dibawa pulang,
tapi karena tidak sabar, aku sudah mengintip beberapa buku.
Selama itu pun, sang Divine Dragon tetap
tertidur. Sesekali dia melirik ke arahku, tapi mungkin itu hanya perasaanku
saja.
"Baiklah, kalau begitu mari kita mundur. Hei, kau
yang di sana, pemeriksaan hartanya nanti saja setelah sampai di rumah!"
"...Iya, iya."
Sepertinya rencanaku untuk membaca diam-diam ketahuan.
Cih.
"Mau bagaimana lagi. Ayo, mari kita kembali,
Lloyd-kun."
Sama sepertiku, Connie yang juga sedang mengobrak-abrik
pusaka akhirnya ditarik paksa untuk kembali ke rombongan. Saat itulah hal itu
terjadi.
Connie berhenti melangkah.
"...Lloyd-kun, apa kau mendengar suara
sesuatu?"
"Tidak, aku tidak mendengar apa-apa."
Mungkin hanya salah dengar.
Grim dan Jiriel juga menggelengkan kepala mereka.
Namun Connie sepertinya penasaran dan berjalan menuju
ke arah dinding.
Setelah berjongkok dan memeriksa sesuatu, tiba-tiba
permukaan dinding itu runtuh berantakan.
"Ka-kaget..."
Mata Connie membelalak. Di balik dinding yang runtuh,
ternyata ada jalan yang terus berlanjut.
"Apa-apaan? Tiba-tiba ada lorong yang
muncul!?"
"Ini jalan yang kami pun tidak tahu... Apa
sebenarnya ini?"
Sepertinya Noah dan Gazel pun tidak mengetahui jalan
ini.
Yah, mereka berdua pun hanya mengetahuinya dari
catatan, jadi tidak aneh jika ada sesuatu di dungeon yang sudah berusia
ratusan tahun.
Jalan yang tertimbun seolah sengaja disembunyikan...
mencurigakan.
"Tentu saja kita akan masuk, kan?"
"E-ehm... apakah tidak berbahaya...?"
"Kita sudah sampai di sini, tanggung kalau berhenti
sekarang."
Noah tampak bimbang mendengar perkataanku. Gazel
menepuk punggungnya seolah menyemangati.
Benar sekali, mungkin saja ada harta karun yang lebih
hebat lagi. Tidak mungkin ada pilihan untuk mundur sekarang.
"Yah, kami juga belum terlalu lelah."
"Apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu. Tenang
saja, Lloyd-sama."
Setelah mendapatkan izin dari Albert dan Sylpha, kami pun
melangkah lebih dalam lagi.
Namun ternyata jalannya jauh lebih pendek dari dugaan,
dan dalam sekejap kami sampai di jalan buntu.
Yang diletakkan di sana bukanlah harta karun, melainkan
sebuah kuil untuk menyegel iblis.
Hanya saja, ukurannya berbeda. Dibandingkan dengan batu
tempat Empat Raja Iblis disegel, ukurannya berkali-kali lipat lebih besar.
"Ada segel di tempat seperti ini... dan
ukurannya tidak wajar. Segel membutuhkan ukuran yang sesuai dengan kekuatan
target yang dikurung. Makhluk macam apa yang disegel di sini...?"
"Mungkin leluhur kita menyegelnya tapi
menyembunyikan keberadaannya karena merasa kita tidak akan sanggup
menanganinya. Lihatlah, segel ini juga dialiri mana yang sangat luar biasa agar
bisa bertahan selamanya."
Noah dan Gazel bergumam sambil menatap segel itu.
Suasananya memang terasa beda. Aku merasa ada sedikit
mana yang bocor, dan kualitasnya belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Ga-ga-gawat, Lloyd-sama! Pasti sesuatu yang
sangat mengerikan yang disegel di sini!"
"Tu-tu-tubuhku tidak bisa berhenti gemetar!
Berada di ruangan ini saja rasanya aku bisa musnah!"
Grim dan Jiriel gemetar hebat.
Sepertinya memang makhluk yang sangat luar biasa yang
disegel di sini.
Aku tidak merasakan tekanan sebesar itu, tapi bagi
mereka yang merupakan wujud mana, sepertinya ini sangat berat.
"Ya-yah, kalau tidak berbahaya lebih baik
biarkan saja, kan? Urusan kita sudah selesai, ayo cepat kembali."
"Be-benar juga. Tempat ini terasa sangat dingin.
Tidak cocok untukku yang sensitif terhadap dingin. Ahahaha."
Birgit setuju dengan saran Ren. Terlihat semua orang
juga gemetar dan mengangguk setuju.
Hanya satu orang, kecuali Connie.
"...Apa ya ini. Rasanya aneh."
Sambil berkata begitu, Connie menyentuhkan tangannya
ke batu segel itu.
Seketika, aku merasa mendengar suara detak jantung
dari dalam.
"Apa kau merasakan sesuatu? Connie."
"Iya, aku tidak tahu pasti... tapi rasanya entah
kenapa terasa akrab..."
Connie tampak penasaran dengan segel itu, tapi semua
orang sudah bersiap untuk pulang.
Mau bagaimana lagi. Mungkin nanti aku akan menyelinap
masuk diam-diam lagi untuk menyelidikinya.
Aku keluar dari ruangan itu sambil memikirkan hal
tersebut. Saat itu, aku merasa mendengar suara retakan kering di belakangku.
◆
Di dalam kegelapan, tiga orang pria dan wanita—Empat Raja
Iblis yang telah bangkit—sedang menatap kristal.
"He-hei! Batu segel itu, jangan-jangan milik Yang
Mulia Raja Iblis!?"
"Tidak salah lagi. Aku bertanya-tanya di mana
letaknya, tak disangka disembunyikan di tempat seperti itu."
"Humu, apalagi kontak dengan wadahnya sepertinya
telah membuat retakan pada segel. Mana milik Raja Iblis pasti mulai mengalir
masuk ke dalam wadahnya."
Ketiganya tampak bersemangat, namun segera memasang wajah
serius.
"Tapi... dengan retakan sekecil itu, jumlah mana
yang mengalir keluar terlalu sedikit. Jika begitu terus, umur wadahnya akan
habis sebelum Raja Iblis bangkit sepenuhnya."
"Benar, jika tidak hati-hati, dia mungkin akan
bangkit dalam kondisi yang lebih lemah dari kita."
"Itu gawat. Namun segel itu terlalu kuat untuk
dihancurkan. Jika kita, para bawahan, bisa melakukan kontak dengan wadahnya,
mungkin kebangkitannya bisa dipercepat..."
Ketiganya bicara dengan nada berat, dan pandangan mereka
tertuju pada bocah yang berdiri di samping Connie, yaitu Lloyd.
"...Bocah ini sangat mengganggu, ya."
"Dia anak yang bisa mengalahkan Vilf dengan mudah...
meskipun kita semua maju bersama, kita belum tentu menang."
"Humu,
benar juga. ...Hmm."
Setelah
terdiam berpikir sejenak, salah satu dari mereka angkat bicara.
"Bagaimana
menurut kalian semua? Bagaimana jika urusan ini diserahkan kepadaku, Ganjeet
yang Hijau ini?"
Pria
yang menyebut dirinya Ganjeet itu berkata demikian sambil mengedipkan salah
satu matanya.
◆
Setelah
keluar dari dungeon, kami membawa harta karun yang didapat menuju kamar
Noah.
Kamarnya sangat rapi dan luas, bahkan masih terasa lega
meskipun kami semua masuk. Tempat yang sangat cocok untuk memeriksa harta
karun.
"Nah, sekarang saatnya waktu bersenang-senang
dimulai."
Buku sihir terlarang dan pusaka yang disimpan Noah mulai
dideretkan dengan rapi di atas lantai.
"Tapi... apakah ini tidak apa-apa? Benda-benda ini
bisa dibilang harta karun rahasia keluarga Bordeaux. Bukankah gawat jika
menunjukkannya kepada kami?"
"Fuf,
jangan khawatir, Albert-sama. Kalian benar-benar sudah banyak membantu kami.
Terlebih lagi, saat iblis menyerang nanti, kami mungkin butuh bantuan kekuatan
kalian, jadi silakan gunakan warisan ini sesuka hati."
Noah
menjawab pertanyaan Albert.
Karena
dia bilang tidak apa-apa, sepertinya tidak perlu sungkan.
"Humu, bagaimanapun juga ini luar biasa. Berbagai
buku sihir ini, semuanya adalah sesuatu yang belum pernah kulihat."
"Hoho, yang ini adalah buku susunan mantra penguat
mana. Hanya dengan membaca susunan mantranya, saluran mana di dalam tubuh akan
dibangun kembali dan diperkuat. Lagipula, buku yang lain juga punya efek
serupa. Yah, kemampuan dasar memang yang terpenting dalam melakukan apa
pun."
Noah dan Gazel membuka halaman buku dengan antusias.
Kalau aku sih sudah mengintip tadi, jadi sudah paham
garis besar isinya.
"Hmm, inikah warisan yang ditinggalkan sang
leluhur penyihir. Semuanya adalah barang yang luar biasa. Namun, jika level
penyihir bisa ditingkatkan semudah ini, akan mengerikan jika jatuh ke tangan
orang jahat. Benar-benar bisa disebut sebagai buku terlarang."
Albert sepertinya mencemaskan bahaya dari benda yang
disebut buku sihir terlarang ini.
Yah, kalau bagiku, aku akan menyambut baik jika
rata-rata level penyihir meningkat melalui penguatan yang praktis ini. Tapi
meskipun begitu...
"Sepertinya Lloyd-sama tidak terlalu tertarik
dengan buku-buku itu, ya."
"Beliau
memang membacanya sekilas tadi. Namun, sepertinya mana milik Lloyd-sama
sama sekali tidak berubah..."
"Itu karena kemampuannya sudah mencapai batas
maksimal, tahu."
Benar, buku sihir terlarang itu mengandung susunan mantra
yang memperkuat saluran mana di dalam tubuh.
Alasan kenapa tidak ada perubahan padaku adalah karena
aku sendiri sudah membangun dan memperkuat hampir seluruh saluran mana di dalam
tubuhku.
Dalam sihir, efeknya akan sangat berubah tergantung pada
mana sang pengguna dan pemahamannya terhadap susunan mantra sihir yang
dijalankan.
Hal pertama bisa ditingkatkan melalui latihan mengalirkan
mana dalam tubuh, sedangkan yang kedua bisa ditingkatkan dengan membaca
berbagai buku sihir untuk memperdalam pemahaman.
Tentu saja, hasil akhirnya tergantung pada bakat
masing-masing, dan buku sihir terlarang itu ibaratnya hanyalah bantuan untuk
membangun saluran mana secara otomatis.
Bagiku yang sudah meningkatkan saluran mana hingga batas
maksimal melalui eksperimen dan latihan setiap hari, buku-buku ini tidak
memberikan efek apa pun.
"Sudah jadi rahasia umum sejak lama kalau alat
penguat praktis semacam ini hampir tidak berefek pada penyihir yang sudah
mencapai puncaknya, tapi benar-benar tanpa efek sama sekali... seberapa keras
sih Anda berlatih?"
"Terlebih lagi, penguatan semacam ini seringkali
tidak stabil, sia-sia, dan tidak merata. Penyihir yang namanya tercatat dalam
sejarah pada akhirnya adalah mereka yang terus berlatih dengan tekun. Karena
Lloyd-sama memahami hal itu, beliau terus melatih kemampuan dasarnya secara
luar biasa. Benar-benar mengagumkan."
Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu... hmm, kalau
aku sih sebenarnya ingin sekali merasakan sensasi saluran mana yang bertambah
melalui sebuah buku. Sayang sekali.
"Lalu, bagaimana dengan yang di sana?
Sylpha."
Aku menyapa Sylpha dan yang lainnya yang sedang
menilai pusaka.
"Iya, semuanya adalah barang yang sangat
bagus."
Sylpha mencabut pedang yang dipegangnya, menampakkan
bilah yang sangat bening hingga sisi seberangnya bisa terlihat.
"Apa itu? Pedang transparan... apakah itu kerajinan
kaca?"
"Bukan, sepertinya bilahnya dibentuk dengan menenun
susunan mantra. Apalagi ini sepertinya susunan mantra Seal Magic yang
sangat kuat. Benar-benar sebuah mahakarya."
Noah dan Gazel berdecak kagum. Sylpha menyipitkan mata
menatapnya sejenak, lalu menyarungkan pedang itu dengan tenang.
"—Sepertinya
ini diberi nama White Ichimonji. Memang tidak sehebat Dragon Slayer
yang saya terima dari Lloyd-sama, tapi ini sepertinya adalah pedang yang sangat
berkualitas."
Pedang
sihir Dragon Slayer yang kubuat dengan menumpuk susunan mantra dan baja
dengan fokus pada ketangguhan... itu memang karyaku yang membanggakan, tapi
rasanya tidak bisa dibandingkan dengan pedang "nyeleneh" yang ditenun
hanya dari susunan mantra saja. Penilaiannya terlalu tinggi.
Namun,
jika pedang ini hanya dibuat dari susunan mantra, berarti ketebalannya hampir
tidak ada, dan itu membuatnya rapuh.
Bahkan bagi Sylpha pun, pedang itu sepertinya akan sulit
dikendalikan. Salah sedikit saja, susunan mantranya bisa hancur berantakan
dalam sekali tebas.
"Ne-ne, Lloyd. Bukankah yang ini agak
berbahaya...?"
Kali ini Ren yang bicara sambil memegang sebilah
belati.
Sebuah labu kaca bertahta di pangkal gagangnya,
dengan bilah yang bercabang tiga. Salah satu bilahnya ditumbuhi banyak duri
yang tajam.
Melihat belati dengan bentuk yang begitu mengerikan
itu, aku mengangguk.
"Hee, menarik juga. Bisa dibilang ini adalah
alat pengganda racun."
Ren bertarung menggunakan racun yang ia ciptakan dari
perubahan sifat mana miliknya, tapi sebenarnya ada banyak cara untuk menangkis
serangan semacam itu.
Bisa dengan menjaga jarak, atau menahannya dengan lapisan
pelindung. Bisa juga menggunakan vaksin, penawar, atau sihir penyembuh.
Namun, itu semua hanya berlaku jika jumlah racunnya
sedikit.
Racun dalam jumlah besar dengan konsentrasi tinggi adalah
senjata pemusnah yang sesungguhnya; tentu saja sangat sulit disembuhkan.
Belati ini diukir dengan susunan mantra yang mampu
menggandakan dan memekatkan racun yang dimasukkan ke dalamnya.
Nama yang terukir di belati itu adalah Poison Grinder,
pedang yang benar-benar digunakan untuk mengolah racun.
"Ini terlalu berbahaya... kalau aku salah sedikit
saja saat menggunakannya, bisa terjadi bencana besar!"
Ren berseru dengan nada cemas. Aku pun menyentuhkan
tanganku dengan lembut ke kepalanya.
"Lo-Lloyd...?"
"Kalau kamu sudah memahaminya, kamu pasti bisa
mengendalikannya dengan baik. Racun dan obat itu bagaikan dua sisi mata uang.
Pada akhirnya, semua tergantung cara pakainya, kan? Aku
pernah bilang begitu dulu."
"Itu... iya. Memang benar, sih..."
Dulu, aku pernah mengatakannya kepada Ren yang
membenci sekaligus takut akan racunnya sendiri.
Dan sejak saat itu, Ren terus berlatih hingga
sekarang ia mampu menguasai berbagai macam racun dan obat, berbeda jauh dari
dirinya yang dulu.
"Jadi, semua akan baik-baik saja. Lagipula, kalau
terjadi sesuatu, aku yang akan membereskannya."
"Lloyd... iya!"
Wajah Ren merekah dalam senyuman lebar. Ia memasukkan Poison
Grinder ke sarungnya dan memeluknya di dada kecilnya itu.
Dengan pengetahuan dan teknik Ren yang sekarang, belati
ini pasti akan memperluas variasi kreasi racunnya.
Lalu jika Ren membuahkan hasil, itu akan memberikan
timbal balik kepadaku dalam berbagai hal. Sangat bermanfaat. Ya, ya.
"Wajahnya benar-benar cuma memikirkan diri sendiri,
ya. Kasihan sekali bocah ini."
"Heh, Ren-tan sepertinya sudah paham hal itu tapi
tetap merasa senang. Bukankah itu sangat mulia?"
Grim dan Jiriel seenaknya saja berkomentar—tapi yang
lebih penting sekarang adalah Connie.
Dia menatap kotak kecil di tangannya dengan tatapan
kosong, seolah-olah sedang kerasukan sesuatu.
Dari kotak kecil itu, aku pun merasakan sensasi aneh yang
menusuk-nusuk.
"Alat sihir itu punya hawa yang aneh, ya."
"Iya, sepertinya benda ini punya kekuatan untuk
menyegel mana. Apalagi tekanannya sangat kuat..."
Alat sihir penyegel mana, ya? Saat aku menerimanya dari
Connie, aku memang merasakan mana di sekitar kotak itu mendadak lenyap.
"Ooh,
apakah ini yang disebut Reverse Magic Circle?"
Seharusnya,
sebuah susunan mantra berfungsi untuk menggandakan mana dan mewujudkannya.
Membalikkan
prinsip itu—yaitu melenyapkan mana itu sendiri—adalah inti dari Reverse
Magic Circle.
Masalahnya,
susunan mantra jenis ini juga akan berpengaruh pada si pengguna.
Begitu
diaktifkan, suplai mana ke susunan mantra itu sendiri akan terputus, sehingga
berakhir dengan kegagalan.
Singkatnya,
ini adalah sihir untuk melenyapkan mana, yang secara paradoks juga akan
melenyapkan efek sihir itu sendiri.
Aku
pernah membaca di suatu tempat bahwa dulu ada penelitian tentang kemungkinan
mengaktifkannya menggunakan alat sihir, tapi pada akhirnya tidak ada hasil yang
memuaskan.
"Tapi ini pertama kalinya aku melihat Reverse
Magic Circle. Meski jangkauannya kecil, efeknya nyata."
"Iya, aku juga baru pertama kali melihatnya.
...Lagipula, susunan mantra yang terukir di alat sihir ini sepertinya
menggunakan bahasa sihir orisinal, ya."
Karena aku tidak bisa membaca susunan mantranya, aku
hanya bisa menduga-duga.
Sepertinya benda ini menggunakan sesuatu yang lain
sebagai sumber tenaganya, bukan mana.
—Mungkin "sesuatu" itu adalah mana bumi.
Mana bumi kabarnya digunakan untuk pertumbuhan dungeon
atau monster, dan memiliki panjang gelombang yang berbeda dari mana milik
manusia.
Begitu ya, masuk akal jika benda ini bisa melenyapkan
mana yang dilepaskan manusia dengan menggunakan tenaga itu.
Memang hebat sang Leluhur Penyihir itu; dia sudah
memiliki pemahaman sedalam ini mengenai mana bumi yang penelitiannya saja belum
terlalu maju.
"Mana Silencer—mungkin itu namanya. Jika ada
ini, mungkin saja..."
Connie menempelkan tangan ke bibirnya sambil berpikir
keras.
Benar, alat sihir ini adalah tepat apa yang dicari oleh
Connie.
Alasan Connie mulai membuat alat sihir adalah untuk
menyelamatkan desanya.
Daerah di sekitar desanya dipenuhi dengan mana bumi yang
sangat kuat.
Para penduduk di sana menderita gangguan mana hingga
jatuh sakit dan kesulitan menjalani hidup normal.
Karena itulah Connie berusaha menciptakan alat sihir yang
bisa menyedot kelebihan mana dari tubuh mereka. Tapi jika ada alat sihir ini—
"Ah, kalau ini berhasil, desa Connie mungkin bisa
terselamatkan."
Connie mengangguk. Di tempat yang mana buminya tidak
terlalu pekat seperti di sini saja alat ini bisa melenyapkan manaku.
Jika di tempat yang penuh mana bumi sampai membuat
orang-orang sakit, alat ini pasti bisa menggunakannya sebagai bahan bakar untuk
melenyapkan mana bumi di sekitar desa.
Dengan begitu, para penduduk desa mungkin bisa kembali
hidup normal.
"Anu,
Noah-san, Gazel-san. Jika boleh, bisakah aku meminjam Mana Silencer
ini?"
Melihat
Connie memohon, mereka berdua saling bertukar pandang. Aku pun ikut menimpali.
"Aku
juga mohon. Anggap saja ini demi menolong orang."
"……Alat
itu baru ada gunanya jika bermanfaat bagi orang lain. Jika
tujuannya untuk menolong orang, tentu saja kami akan meminjamkannya."
"Lagipula, sejak awal Abang memang berniat
meminjamkannya, kan?"
Noah
membalas perkataan Gazel dengan senyuman.
Setelah
mendapat izin, Connie menundukkan kepala kepadaku dengan gembira.
Tidak, tidak, akulah yang merasa senang.
Soalnya, aku bisa melihat langsung alat sihir
pelenyap mana ini digunakan dalam praktik nyata. Ya, ya.
"Aduh-aduh, Lloyd memang baik sekali. Tapi kalau
kamu memberikan harapan palsu seperti itu, urusannya bisa jadi repot nanti,
lho? Yah, anggap saja itu pengalaman hidup. Fufu, fufufufu."
Albert bergumam sambil menatapku dengan tatapan yang
"hangat", tapi aku sudah tidak sabar ingin segera mencobanya.
Wah, awalnya kukira zonk, tapi syukurlah ada barang
yang cukup menarik. Aku ingin segera menggunakannya.
◇
"Lloyd-kun, bisakah kau membantuku membongkar Mana
Silencer ini sebentar?"
Dalam perjalanan kembali dari kamar Noah, Connie
menyapaku.
Begitu ya, dia ingin membongkarnya untuk memahami
strukturnya.
Menggunakan alat sihir tanpa mengetahui strukturnya itu
sangat berbahaya.
Salah penggunaan bisa menyebabkannya rusak, atau bahkan
menimbulkan dampak buruk.
Karena itulah, membongkar dan memahami struktur alat
sihir yang misterius adalah langkah dasar.
"Tentu saja. Dengan senang hati aku akan
membantumu."
Aku langsung mengangguk setuju.
Hal ini berlaku juga untuk sihir. Sangat berbahaya
bagi seseorang yang tidak memahami susunan mantra untuk menggunakan sihir.
Karena itulah, setiap mempelajari sihir baru, aku
akan membongkar, menganalisis, dan merekonstruksinya berulang-ulang, lalu
memodifikasinya sesuai seleraku.
Atau bisa dibilang, sebenarnya bagian inilah yang
paling menyenangkan. Jadi, tanpa diminta pun aku memang berniat ikut.
"Fufu, aku sudah menduga Lloyd-kun akan berkata
begitu. Ayo kita pergi."
Maka, tempat yang kami tuju adalah klub alat sihir
akademi.
Ruangannya berantakan dengan berbagai alat sihir,
komponen, dan perkakas, tapi tempat ini sudah seperti rumah keduaku.
Aku meletakkan Mana Silencer di atas meja kerja
dan mulai melepas kerangka luarnya satu per satu.
"Hoho, bagian dalamnya pun penuh dengan susunan
mantra yang belum pernah kulihat."
"Cara penyusunan sirkuitnya pun sangat unik."
Connie bergumam saat melihat susunan mantra yang saling
bertautan rumit dengan sirkuit yang menghubungkan tiap komponen.
Benar juga. Karena kita akan membongkarnya, lebih baik
aku mencatat cetak birunya.
Aku mengambil kertas dan pena, lalu mulai menggambar
skema tersebut dengan lihai.
"Wah, Lloyd-kun, gambarmu bagus sekali."
"Aku cuma meniru dengan sihir, kok."
Bukannya sombong, tapi sebenarnya aku sangat payah
dalam menggambar.
Aku hanya menggunakan sihir pengendali untuk meniru
kemampuan menggambar milik Albert.
"Sip, sepertinya sudah jadi."
Aku menatap cetak biru yang sudah selesai dan
mengangguk puas.
Kemampuan menggambar Albert yang dulu merancang
desain Digardia memang tidak main-main.
"Terima kasih, Lloyd-kun. Dengan ini aku bisa
membongkarnya sepuas hati."
Connie berkata begitu sambil menaikkan kacamatanya,
mengambil perkakas, dan mulai membongkar dengan kecepatan yang luar biasa.
Kecepatannya tetap mengerikan seperti biasa. Connie
yang memiliki tubuh penampung mana tanpa memiliki mana sendiri ini, sebagai
gantinya diberkati dengan ketangkasan yang luar biasa.
"Fiuh, hampir semuanya sudah terbongkar."
"Di sini juga sudah selesai kucatat."
Dalam sekejap Mana Silencer itu sudah terurai
menjadi kepingan-kepingan. Connie mulai menambahkan banyak catatan pada cetak
biru yang kugambar tadi.
Aku sendiri sedang asyik menikmati pembacaan susunan
mantra yang terukir di sana.
Aku menggunakan sihir penerjemah bahasa sihir yang sudah
kukembangkan sejak lama; dengan ini aku bisa menerjemahkan susunan mantra
tersebut.
Karena sampel bahasa sihir seperti sihir suci dan sihir
kuno sudah semakin banyak, aku jadi bisa menggunakan sihir penerjemah semacam
ini.
Meskipun hasilnya agak kaku, pada akhirnya ini adalah
buatan manusia. Jika kita menangkap maksud pembuatnya, kita bisa memahaminya
dengan cukup baik.
……Hoho, begitu ya. Jadi strukturnya seperti ini.
Humu-humu, aku mengerti.
Di sampingku, Connie juga tampak sedang berpikir
keras. Sepertinya dia memikirkan hal yang sama denganku. Yaitu—
"Sayang sekali, sepertinya menggunakan Mana
Silencer ini apa adanya tidak akan cukup untuk menyelamatkan desamu."
Connie mengangguk mendengar perkataanku.
Mana Silencer ini
memiliki batasan yang cukup ketat, sepertinya tidak dirancang untuk jangkauan
luas.
Radius efektifnya saat ini hanya sekitar tiga meter.
Ini hanya akan berpengaruh pada orang-orang yang berada tepat di sekitar alat
sihir tersebut.
"Mungkin tujuannya agar tidak melenyapkan
terlalu banyak mana bumi. Dalam sejarah, tanah yang kehilangan mana cenderung
mudah mengalami bencana seperti tanah longsor atau banjir."
"Melenyapkan mana dalam skala luas memang
biasanya berujung gawat, sih."
Misalnya, saat Mana Silencer diaktifkan dan
kebetulan ada penyihir yang sedang bertarung melawan monster di dekat sana,
penyihir itu bisa terbunuh tanpa tahu apa yang terjadi.
Bukan hanya untuk bertarung, sihir juga sangat
penting dalam kehidupan sehari-hari seperti penyediaan air dan api, bahkan
untuk transportasi.
Jika semua itu mendadak hilang dalam sehari, pasti
akan timbul masalah besar.
"Kurasa kalau batasannya dilepas, kita bisa
melenyapkan mana dari seluruh desa, tapi aku takut akan risiko yang tidak
terduga."
"Bagaimana kalau diproduksi massal lalu dibagikan
satu alat per rumah? Rasanya itu ide bagus."
Aku merasa itu ide yang brilian, tapi Connie
menggelengkan kepalanya.
"Kurasa sulit. Ada banyak komponen yang strukturnya
saja tidak kupahami, apalagi fungsinya. Pada tahap sekarang, mustahil membuat
benda yang sama."
"Kalau begitu mau bagaimana lagi."
Aku bukan ahli alat sihir, sih. Aku
hanya mengerti soal susunan mantra.
Omong-omong, memasangkan susunan mantra pengendali
mana ke tiap-tiap penduduk seperti yang kulakukan pada Ren dulu adalah pilihan
yang kucoret.
Kabarnya ada hampir seribu orang yang tinggal di desa
Connie.
Membuat mereka semua menuruti perintah itu merepotkan...
maksudku, berat. Pasti tidak semuanya orang yang penurut.
Ditambah lagi, susunan mantra itu butuh perawatan setiap
beberapa tahun sekali.
Lagipula, memasangkan susunan mantra pada lansia,
anak-anak, atau orang sakit bisa memberikan efek samping yang berbahaya.
Lagi pula, ini adalah barang berbahaya yang digolongkan
sebagai pusaka terlarang oleh Leluhur Penyihir.
Salah sedikit mengopreknya, bisa-bisa terjadi hal yang
fatal. Tapi, meskipun begitu, namun—tetap saja.
"Semua itu tidak sebanding dengan nyawa para
penduduk desa, kan?"
Katanya ada surat yang datang dari desa beberapa hari
lalu, dan sejak saat itu Connie jadi makin giat meneliti alat sihir.
Aku tidak melihat isinya, tapi sepertinya situasinya
tidak terlalu baik.
"……Iya. Kondisi Ibu sepertinya sudah semakin parah.
Kita tidak punya banyak waktu. Ayo kita pergi. Mungkin kita harus langsung
mempraktikkannya di sana, tapi kita tidak punya waktu untuk berleha-leha."
"Benar sekali!"
Aku setuju sepenuhnya. Nyawa manusia memang yang paling
berharga. Ya, ya.
"Lloyd-sama bilang begitu, padahal sebenarnya Anda
cuma ingin melakukan eksperimen, kan?"
"Meskipun begitu, kami sendiri tidak punya ide
lain tentang apa yang harus dilakukan..."
Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu, tapi hal yang
harus kami lakukan hanya satu.
Eksperimen dan verifikasi, lalu pergi ke desa untuk
membereskannya.
Segala sesuatu tidak akan dimulai jika kita tidak
bergerak dulu. Ya, ya.
◆
Di sebuah desa pertanian yang berjarak beberapa
kilometer dari kota, seorang pria tua sedang duduk di pematang sawah.
Tidak ada yang memedulikan sosoknya yang terlihat
biasa saja itu, semua orang hanya melewatinya begitu saja.
Sambil menyeka keringat di dahi, pria tua itu bergumam
tanpa ditujukan pada siapa pun.
"Humu, sepertinya bocah itu berniat meninggalkan
kota bersama wadahnya."
Pria tua itu adalah wujud penyamaran dari Ganjeet, salah
satu dari Empat Raja Iblis.
Dia mengubah wujudnya dan berbaur dengan penduduk desa
untuk memantau pergerakan Lloyd dan yang lainnya.
"Lagipula, kebetulan sekali mereka membawa Mana
Silencer. Itu adalah alat sihir yang hanya melenyapkan mana milik manusia.
Alat itu tidak berpengaruh pada kami bangsa iblis, itulah sebabnya benda itu
disegel. Jika aku mendahului mereka dan mengatur waktu dengan tepat, aku bisa
mengaktifkan Mana Silencer itu. Begitu kehilangan mana, bocah itu pun...
khufufufufu, sepertinya segalanya berjalan lebih lancar dari dugaanku."
Ganjeet tersenyum licik, lalu sosoknya menghilang
bagaikan mencair.
Tidak ada seorang pun yang melihat kejadian itu.
◆
"Jadi begitu ceritanya kenapa kita akan pergi ke
desa Connie..."
Mendengar perkataanku, Sylpha, Ren, dan Shiro
mengangguk.
"Tentu saja kami akan mendampingi Anda,
Lloyd-sama."
"Kita harus segera menolong orang-orang di desa!
Connie."
"On!"
Sejujurnya biasanya mereka hanya jadi pengganggu,
tapi karena Mana Silencer akan membuatku tidak bisa menggunakan sihir,
aku bersyukur Sylpha dan yang lainnya ada di sini.
Desanya kabarnya berjarak lebih dari seratus
kilometer dari sini, tapi jika naik Shiro, kita akan sampai dalam waktu
setengah hari.
"Kalau begitu kami mengandalkanmu, Shiro."
"On!"
Membawa semua orang di punggungnya, Shiro mulai berlari
dengan penuh semangat.
Tapi entah kenapa, kecepatannya terasa lebih lambat dari
biasanya.
"……Khuuun."
Shiro mengeluarkan rengekan lemah. Apa yang terjadi ya?
Apa dia merasa tidak enak badan?
"Ah, maaf. Kurasa ini karena aku terlalu
berat."
Sambil berkata begitu, Connie melompat turun dari
punggung Shiro.
Begitu mendarat, duarr! Kaki Connie langsung
amblas ke dalam tanah. Melihat hal itu, mata Ren membelalak.
"Be-berat sekali ya ransel itu... ukurannya besar
sekali, apa isinya?"
"Alat sihir, perkakas, alat ukur. Macam-macam."
Kalau diingat-ingat, sebelum berangkat dia memang
memasukkan banyak barang ke ranselnya.
Meski dia menggendongnya dengan santai, beratnya pasti
lebih dari seratus kilo.
Hanya Connie dengan tubuh penampung mananya yang bisa
membawa beban itu, tapi bagi Shiro yang harus mengangkutnya, itu adalah
penderitaan.
"Tapi bagaimana kamu mau menyusul? Shiro itu cukup cepat,
lho."
"Tenang
saja. Aku punya ini."
Yang
dikeluarkan Connie dari ranselnya adalah sebuah papan. Begitu
dilempar ke udara, papan itu melayang pelan.
"Alat sihir buatanku, Air Jetter. Aku sampai
di sini dengan menaiki ini. Kecepatannya lumayan, kurasa aku bisa mengikuti
anak itu."
"Hee, alat sihir yang diukir dengan susunan mantra Levitation,
ya."
Kalau diingat-ingat, saat pertama kali bertemu, dia
sampai di kota lebih cepat dari kami.
Begitu Connie naik ke atasnya, papan itu agak turun namun
tetap mampu menjaga daya apungnya.
Setelah menendang tanah beberapa kali, Air Jetter
itu pun mulai melaju kian cepat.
Hou, bisa terbang dengan kecepatan tinggi sambil membawa
beban seberat Connie, memang teknik pembuatan alat sihir Connie tidak
main-main.
"On! On!"
Melihat hal itu, Shiro pun tidak mau kalah dan mulai
mengejar Connie.
◇
Dua hari setelah terus berlari, sebuah desa mulai
terlihat di balik gunung berbatu.
"Itu desaku."
"Ooh, akhirnya sampai juga."
Seharusnya perjalanannya hanya memakan waktu setengah
hari, tapi karena di tengah jalan sering terhenti oleh monster dan lain-lain,
kami memakan waktu dua hari.
"Apa yang kau katakan? Itu kan karena Lloyd
terus-menerus melakukan eksperimen di sepanjang jalan..."
"Masa, sih...?"
Aku membuang muka dari tatapan tajam Ren.
Memang benar aku selalu melakukan eksperimen pengaktifan Mana
Silencer setiap kali beristirahat, tapi itu kan tidak bisa dihindari.
Mencoba perilakunya saat batasan dilepas, efeknya pada
manusia tanpa mana, pengaruhnya pada monster, sampai sejauh mana mana bisa
dilenyapkan, apakah ada sumber tenaga lain selain mana bumi... dan lain
sebagainya. Ada banyak sekali hal yang harus dicoba.
Sebenarnya aku ingin melakukannya beberapa hari lagi,
tapi karena semua orang menatapku dengan sinis, aku terpaksa menyelesaikannya
dengan eksperimen minimal.
"Ya-yah, setidaknya berkat itu kita jadi tahu kalau
benda ini aman digunakan pada manusia."
"Meskipun itu alat sihir sang Leluhur, Lloyd-sama
tetap tidak lalai melakukan verifikasi. Sungguh mengagumkan."
Connie membelaku, dan Sylpha mengangguk dengan wajah
bangga.
Iya, yah, aku tidak menyangkal kalau ada sedikit unsur
hobi di dalamnya.
Lagipula, verifikasi sebanyak apa pun tetaplah sekadar
verifikasi.
Pada akhirnya, kita harus mencobanya langsung di
lapangan.
Nah, akan jadi seperti apa ya... aku jadi tidak sabar.
◇
"Ooh, bukankah ini Connie-chan? Kau sudah kembali
dari akademi?"
Saat mendekati desa, seorang pria yang tampak seperti
penjaga gerbang menyapa kami.
"Paman Duncan, aku pulang."
"Selamat datang kembali. Apa anak-anak ini teman
yang kau dapat di akademi?"
"Iya.
……Anu, bagaimana kondisi Ibu?"
"Ah,
sepertinya sekarang sudah stabil. Cepatlah temui dia."
"Terima
kasih."
Connie
membungkukkan badan sebentar lalu langsung berlari kencang. Dia pasti sangat
khawatir.
"Hahaha,
bagaimana menurut kalian? Connie-chan anak yang baik, kan?"
Saat
aku sedang melepas kepergiannya, pria yang dipanggil Duncan itu mengajak
bicara.
"Anak
itu sudah pintar sejak kecil. Dia terus belajar demi menyelamatkan desa kami
yang sudah lama menderita akibat penyakit ini. Berkat itu, dia bisa masuk ke
Akademi William yang terkenal itu. Padahal dia pasti sibuk belajar dan
kehidupan kota pasti menyenangkan... tapi demi ibunya yang sakit dia buru-buru
pulang... hiks, betapa baiknya Connie-chan...!"
Tadinya
dia bicara dengan bangga, tapi tiba-tiba Duncan mulai menangis. Orang yang
sibuk, ya. ...Ayo kita tinggalkan saja.
Saat
aku hendak mengikuti Connie, bahuku dicengkeram dengan kuat.
"Tunggu
dulu. Mereka sudah lama tidak bertemu, biarkan mereka menghabiskan waktu berdua
dulu sebentar. Sebagai gantinya, aku akan mengantarkan kalian berkeliling desa.
Aku tidak boleh membiarkan teman-teman Connie-chan merasa bosan."
"……Hm,
boleh juga."
Lagipula
aku juga penasaran dengan desa ini. Tanah yang dipenuhi mana bumi ini
memberikan tekanan kuat yang sulit dijelaskan.
Aku juga penasaran dengan gejala para penduduk desa, jadi
lebih menarik berkeliling bersama Duncan daripada mengikuti Connie.
"Kalau begitu mohon bantuannya, Paman Duncan."
"Sip!
Serahkan padaku! ……Tapi kalau dipikir-pikir lagi, berkeliling desa ini mungkin
akan berat bagi orang luar. Lebih baik kalian tunggu dengan tenang saja,
bagaimana?"
Duncan
menatap kami sambil berkata demikian. Desa
ini dibangun di atas gunung berbatu.
Sepertinya dinding batu digunakan sebagai penghalang
alami dari monster.
Di mana-mana ada perbedaan ketinggian; dari sisi
pertahanan mungkin bagus, tapi untuk kehidupan sehari-hari sepertinya
merepotkan.
Ditambah lagi, rombongan kami isinya perempuan,
anak-anak, dan seekor anjing. Wajar kalau dia khawatir. Meskipun begitu—
"Tidak masalah, kok."
"On!"
Shiro menyahut dengan semangat. Sepertinya dia ingin
bilang, "Kalau lelah, naik saja ke punggungku."
"Begitu ya? Kalau kalian bilang begitu,
baiklah."
Meski terlihat ragu dengan perkataanku, Duncan pun mulai
melangkah. Sekitar satu jam telah berlalu sejak kami mulai berjalan.
Desa ini sempit namun memanjang secara vertikal. Aku
harus naik-turun tangga kasar yang seolah dipahat langsung dari gunung berbatu,
perjalanannya memang melelahkan.
Wajar saja kalau Duncan terus-menerus memperingatkan kami
soal itu.
"……Aku terkejut. Tak kusangka kalian bisa mengikuti
langkahku dengan sesantai itu," ujar Duncan.
Sylpha tampak tenang-tenang saja, sementara Shiro
terpaksa mengangkut Ren yang sudah tepar duluan.
Aku sendiri sama sekali tidak merasa lelah karena sedang
menggunakan Levitation untuk melayang rendah.
"Tapi ternyata penduduk di sini banyak yang terlihat
bugar, ya. Kupikir desa ini bakal dipenuhi orang-orang yang
menderita karena sakit," celetuk Grim.
Benar juga kata Grim, aku melihat cukup banyak orang
yang lalu-lalang di desa ini. Jumlahnya lebih banyak dari dugaanku, lumayan
mengejutkan.
"Tempat dengan mana bumi yang kuat memang ada di
beberapa lokasi. Biasanya penderita gangguan mana jenis ini tetap terlihat
sehat saat masih muda."
"Namun, terus-menerus terpapar mana yang tidak
sanggup ditampung tubuh akan memangkas usia mereka."
"Ternyata banyak anak muda, ya. Kamu tahu banyak
juga, Jiriel."
"Ya, karena di tempat seperti ini biasanya keyakinan
penduduknya sangat kuat, jadi kami para malaikat sering memperhatikannya."
Biasanya, sebuah lokasi dipenuhi mana bumi karena aliran
urat bumi yang kuat, terkuburnya jasad tokoh hebat berkekuatan sihir tinggi,
atau adanya pusaka legendaris yang terpendam di sana.
Tempat-tempat penuh sejarah seperti itu memang cenderung
membuat penduduknya sangat religius.
Sepertinya Jiriel, sebagai seorang malaikat, sudah sering
berhubungan dengan manusia-manusia semacam itu.
"……Namun, tempat ini bahkan hampir tidak dikenal
di Dunia Langit. Padahal area ini adalah tanggung jawabku, tapi aku sama sekali
tidak punya ingatan tentangnya."
"Yah, nggak semua tempat punya manusia religius,
kan? Lagian menurutku desa ini punya aura yang lebih mirip kami para iblis.
Lihat saja benda itu," sela Grim.
Grim menunjuk ke arah dasar lembah yang dalam, di
mana terdapat sesuatu yang menyerupai batu prasasti kuno. Hawa aneh yang
terpancar dari sana memang terasa lebih dekat dengan hawa milik bangsa iblis
seperti Grim.
"Hei, Paman Duncan, benda apa itu?"
"Ah, itu batu prasasti yang sudah ada bahkan sebelum
desa ini berdiri. Entah kenapa, monster-monster tidak ada yang berani
mendekati area itu."
"……Apa? Jangan coba-coba ke sana. Penduduk desa saja
dilarang keras memasukinya. Jangan pasang wajah kecewa begitu, tetap tidak
boleh!"
Muu, aku ditolak. Sayang sekali. Yah, nanti kalau semua
orang sudah terlelap di malam hari, aku tinggal menyelinap ke sana sendirian.
"Sepertinya urusannya sudah selesai."
Arah yang ditunjuk Sylpha memperlihatkan Connie yang
berjalan sambil melambaikan tangan. Di sampingnya ada seorang kakek tua yang
tampak ringkih.
"Kepala Desa! Anda
tidak apa-apa bangun dari tempat tidur?"
"Hohoho, Connie sudah pulang. Mana bisa aku hanya
tidur santai-santai saja."
Kepala Desa menepuk dadanya dengan bangga, tapi kakinya
langsung goyah. Sepertinya dia sama sekali tidak dalam kondisi
"apa-apa".
"Connie, bagaimana keadaan ibumu?"
"Kondisinya
tidak terlalu buruk…… tapi mungkin kami tidak punya banyak waktu lagi. Karena
itu aku meminta izin Kepala Desa untuk menggunakan Mana Silencer."
Begitu ya, pantas saja mereka datang bersama. Tapi, apa
penduduk desa tidak keberatan saat kami hendak melakukan sesuatu yang
mencurigakan seperti ini?
"Hohoho, sejujurnya aku tidak terlalu paham meskipun
sudah dijelaskan, tapi Connie melakukan ini demi kami semua. Tentu saja aku
percaya padanya!"
Lagi-lagi Kepala Desa menepuk dadanya kuat-kuat, dan
lagi-lagi dia terhuyung. Padahal sebaiknya dia tidak usah melakukannya.
"Tapi bocah perempuan itu benar-benar dipercaya, ya.
Pasti dia sangat disayangi oleh warga sini."
"Jangan salah, Lloyd-sama juga tidak kalah. Meski
setiap saat selalu saja bikin onar, beliau tetap disayangi sampai-sampai mereka
merasa tidak keberatan apa pun yang terjadi."
"Itu kemampuan yang langka, lho."
Grim dan Jiriel mengangguk-angguk seolah terkesan. Aduh,
dipuji begitu pun aku tidak akan memberi kalian apa-apa. ……Tapi kenapa kalian
berdua malah menatapku dengan sinis begitu?
"Bagaimanapun juga, lokasi terbaik untuk
mengaktifkan alat sihir itu adalah di pusat desa. Mari, kita pergi ke arah
prasasti itu."
"Baik, Kepala Desa."
Kami mengikuti langkah lambat Kepala Desa menyusuri jalan
setapak pegunungan.
"—Lloyd-sama."
Sylpha yang berjalan tepat di belakangku berbisik ke
telingaku.
"Saya merasakan haus darah yang samar dari entah di
mana. Tentu saja, saya tidak akan membiarkan mereka menyentuh Anda seujung jari
pun—tapi saya mohon Anda tetap bersiap-siap."
Nada bicara Sylpha sangat serius. Heh, aku sendiri tidak
merasakan apa-apa, tapi mungkin ada sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh ahli
beladiri seperti Sylpha.
Namun, siapa yang memiliki kemampuan menyembunyikan hawa
begitu hebat hingga membuat Sylpha waspada……? Padahal aku akan merasa terganggu
kalau eksperimen berhargaku diinterupsi.
"——Baiklah, aku mulai, ya."
Tepat di samping prasasti yang merupakan pusat desa,
Connie mengaktifkan Mana Silencer. Bersamaan dengan suara mesin yang
menderu, Mana Silencer mulai menyerap mana bumi.
Di saat yang sama, fenomena pelenyapan mana melalui Reverse
Magic Circle mulai bekerja. Mana
di sekitar kami mulai menipis——
"O-oooh……
ini luar biasa!"
"Mana yang menyiksa kami selama ini mulai
menghilang……"
Aku bisa melihat mana milik Kepala Desa dan penduduk yang
berkumpul di sana mulai menipis.
Jangkauan efeknya pun sesuai rencana, menutupi seluruh
desa dengan sempurna tanpa mengurangi mana bumi secara ekstrem.
Singkatnya, Mana Silencer berhasil diaktifkan
dengan baik. Dengan ini, kedamaian akan kembali ke desa setelah melakukan
penyesuaian berkala.
Humu, dan manaku sendiri juga mulai terasa melemah secara
drastis.
Sensasi yang cukup menarik.
Mana yang menyelimuti tubuhku buyar ke udara bagaikan
kabut yang mencair.
"Heh, ternyata alat sihir ini nggak berefek pada
kami, ya. Mana milik Lloyd-sama terkuras habis, sampai-sampai sekarang mana
milik kami yang terasa lebih banyak."
"Umumu……
kalau sekarang, aku bisa saja mengambil alih tubuh Lloyd-sama…… eh,
tidak-tidak! Bukan itu maksudku…… tapi, kalau dipikir-pikir……"
Tepat setelah aku mendengar Grim dan Jiriel
menggumamkan sesuatu yang aneh. Ging! Sebuah dentingan tajam bergema di
area itu.
Saat aku menoleh, sebilah tombak sudah mengarah ke
punggungku, namun Sylpha berhasil menahannya dengan pedangnya. Orang yang
memegang tombak itu adalah——Duncan.
"Du-Duncan! Apa-apaan yang kamu lakukan!?"
"Apa kamu sudah gila!? Turunkan tombak itu!"
Para penduduk desa mulai gaduh melihat kejadian tersebut.
Duncan menatapku dengan mata yang keruh sambil memasang senyum licik yang
mengerikan.
"Khahaha. Tak kusangka serangan ini bisa ditangkis.
Untuk ukuran manusia, kamu lumayan juga."
Nada bicaranya benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Sylpha memantulkan tombak itu hingga terpental, lalu
kembali memasang kuda-kuda pedang sambil menyipitkan matanya.
"……Sudah kuduga itu Anda. Tidak, lebih tepatnya,
makhluk yang ada di dalam tubuh Anda, kan?"
"Ternyata sudah ketahuan sampai sejauh itu, ya.
Benar-benar deh, tadinya kupikir hanya bocah itu saja yang perlu
diwaspadai."
Duncan menyeringai lebar sambil menghunuskan pedang
di pinggangnya.
"Lo-Lloyd……
itu……!"
"Ya, tubuhnya sedang diambil alih."
Bangsa iblis yang memiliki wujud mana memang bisa
merasuki dan mengendalikan tubuh manusia.
Dulu, Jade yang merupakan pemimpin serikat pembunuh
juga tubuhnya direbut oleh iblis. Duncan pun mengalami hal yang sama.
"Tapi kenapa ada iblis yang mengincarku di
sini…… jangan-jangan dia anggota itu lagi? Pasukan Iblis
Nan-itu……"
"Pasukan Empat Raja Iblis! Kenapa Anda bisa lupa
terus, sih!?"
Ah
benar, itu dia. Mau bagaimana lagi, kan aku punya urusan lain, lagipula aku
memang tidak terlalu tertarik.
Aku hanya mengangguk-angguk mendengar teguran Jiriel.
"Tunggu, kuda-kuda itu adalah aliran terkuat di
Dunia Iblis, Heavenly Demon One-Blade Style! Dan kalau bicara soal ahli
pedang di jajaran Empat Raja Iblis——bukankah dia itu si Ganjeet sang Pedang
Iblis yang disebut terkuat sekaligus pendiri aliran tersebut!?"
Heh, Grim, ternyata kamu tahu banyak juga, ya.
Kalau dipikir-pikir, dulu kamu memang bawahan mereka.
Dan benar saja, cara Ganjeet menggerakkan pedangnya
dengan begitu tenang dan perlahan itu benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah
seorang master.
"Hoho, sebuah kehormatan bagiku jika namaku dikenal.
Benar, namaku adalah Ganjeet sang Pedang Iblis, salah satu dari Empat Raja
Iblis. Aku memohon maaf karena melakukan serangan mendadak tanpa etika maupun
keberanian, namun karena ini adalah tugas yang harus kulaksanakan, aku akan
menyerang tanpa memedulikan situasi kalian——ya!"
Sesaat setelah kalimat itu selesai, lengan Ganjeet seolah
menghilang.
Pedangnya terayun dengan kecepatan yang membuat mata
tertipu.
Satu tebasan horizontal yang dahsyat membelah batuan di
sekitar menjadi dua.
Namun, para penduduk desa dan kami yang berada di jalur
tebasan itu sama sekali tidak terluka. Sylpha telah menahannya dengan
pedangnya.
"Langris Style Twin Sword——Dragon Entanglement."
Pertahanan Sylpha dilakukan dengan menyilangkan
Dragonslayer dan Shiro-ichimonji miliknya.
Meski begitu, guncangan dari benturan itu membuat kaki
Sylpha terperosok cukup dalam ke tanah.
Suara gesekan logam di antara kedua pedang mereka
terdengar nyaring.
"Hoh. Meski ini hanyalah pedang besi biasa, tak
kusangka kamu bisa menahan tebasan yang telah kuberi mana. Gadis yang
hebat," puji Ganjeet.
Haus darah Ganjeet pun membengkak hebat.
Pada saat itu juga, Sylpha membuka matanya
lebar-lebar dan memicu kilatan dari kedua pedangnya.
Seketika, percikan api yang tak terhitung jumlahnya
menari-nari di antara mereka berdua.
Benar-benar badai adu pedang yang kecepatannya mustahil
diikuti oleh mata telanjang.
"Ren!
Shiro! Bawa Lloyd-sama dan yang lainnya mundur! Sekarang
juga!"
"Ha-ha-baik!"
"Onn!"
Begitu Sylpha memberi perintah dengan tegas, Ren dan
Shiro bergegas membawa kami menjauh.
Kami pun bersembunyi di balik bayangan batu besar
yang ada di dekat sana.
Jika terlalu jauh, Sylpha tidak akan bisa melindungi
kami. Keputusan yang tepat.
"Hei, Lloyd! Pasukan Empat Raja Iblis itu sangat
kuat, kan?! Bukankah lebih baik kita ikut membantu?!"
"Mustahil. Masuk ke dalam badai seperti itu sama
saja dengan bunuh diri. Lagipula, saat ini aku hampir kehilangan seluruh
manaku."
Karena efek penghilangan mana dari Mana Silencer
sedang bekerja padaku, untuk saat ini aku tidak bisa menggunakan sihir yang
hebat.
Ganjeet pasti melancarkan serangan ini setelah mengincar
kondisi tersebut.
"Ngomongnya begitu, tapi Lloyd-sama pasti punya
rencana, kan? Anda terlihat terlalu santai," goda Grim.
"Benar juga, saat eksperimen di perjalanan tadi,
Anda melakukan sesuatu saat mana Anda menghilang, kan?" tambah Jiriel.
Kondisi kehilangan mana itu jarang terjadi, jadi aku
mencoba banyak hal.
Apa yang terjadi jika sihir digunakan dalam kondisi itu,
bagaimana cara menggunakannya, dan apa yang terjadi di dalam tubuh…… aku sudah
mencoba berbagai macam hal.
Hasilnya, dengan mengubah frekuensi mana secara paksa,
aku bisa menggunakan mana sampai batas tertentu.
Lagipula, akan sangat tidak praktis kalau sihir sampai
benar-benar tidak bisa digunakan sama sekali.
Namun, itu hanya sebatas "bisa digunakan",
sehingga output dan kendalinya menurun drastis.
Jika aku menggunakan sihir dalam kondisi seperti itu,
Sylpha pasti akan ikut terkena dampaknya.
"Karena itulah, lebih bijaksana jika kita
menyerahkan ini pada Sylpha."
"Be-begitu
ya…… apa Sylpha-san akan baik-baik saja……"
Ren memperhatikan dengan cemas, namun menurut
pengamatanku, pertarungan ini tidak terlalu buruk. Ganjeet saat ini sedang
mengambil alih tubuh manusia.
Jika dia merasuki tubuh yang terlatih atau punya
kemampuan khusus mungkin lain ceritanya, tapi tubuh orang biasa pasti memiliki
batasan kemampuan fisik yang besar.
Ditambah lagi perbedaan senjata; meski dia melapisi
pedang besinya dengan mana, kekuatannya tidak akan bisa menandingi sepasang
pedang sihir milik Sylpha.
Faktanya, perlahan-lahan Sylpha mulai mendominasi
pertarungan.
"Nu……
kkh……! Heavenly Demon One-Blade Style——Vermilion Bug Cut!"
"Langris
Style——Mirror Ape."
Ganjeet
meluncurkan tusukan bertubi-tubi dengan kecepatan tinggi. Namun, Sylpha
menangkis semuanya dengan tusukan serupa.
Tak
berhenti di situ, tusukan yang berhasil menembus celah serangan Ganjeet merobek
kulit sang iblis, hingga darah pun tepercik.
Teknik
itu—Mirror Ape—menggunakan kemampuan observasi yang luar biasa untuk
meniru teknik lawan dan meluncurkannya dengan sedikit lebih cepat.
Itu
adalah teknik yang memberikan tekanan mental tanpa kata pada lawan, menunjukkan
bahwa kemampuan penggunanya jauh lebih tinggi, sehingga mematahkan semangat
lawan.
"……Fuu, lebih dari ini hanya akan sia-sia. Keluarlah
dari tubuh pria itu."
Hanya ada satu alasan mengapa Sylpha melakukan itu; yaitu
untuk mengusir Ganjeet dari tubuh Duncan. Dari serangan tadi, Duncan terlihat
mengeluarkan darah.
Artinya, tubuh itu masih belum mati. Sekarang masih
sempat untuk menyelamatkannya.
"Sylpha-san……!"
Ren memegang dadanya dengan suara yang gemetar.
Pemimpin serikat pembunuh tempat Ren bernaung dulu, Jade,
juga kehilangan tubuhnya karena diambil alih iblis dan akhirnya meninggal
dunia.
Melihat Ren yang seperti itu, Sylpha sepertinya merasa
tidak boleh membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
"Khah, baik hati sekali kamu ini. Benar, jika aku
keluar dari tubuh ini dan bertarung dengan wujud asliku, mungkin gerakanku bisa
sedikit lebih baik."
"Kalau begitu——"
"Tapi, tentu saja aku tidak akan melakukannya. Dengan begini, pria ini menjadi
sandera yang membuat pedangmu tumpul. ……Lagipula, mungkin ini terdengar seperti
alasan, tapi——"
Bersamaan dengan kata-katanya, Ganjeet menusukkan
pedangnya ke tanah.
Tiba-tiba, permukaan tanah berguncang hebat dan
meliuk-liuk.
"Aku masih belum menunjukkan keseriusan dari Heavenly
Demon One-Blade Style-ku, lho?"
Ganjeet menghilang seolah menyatu dengan tanah yang
bergejolak.
Saat Sylpha melihat sekeliling karena kehilangan jejak
musuh, sebuah tusukan tajam meluncur mengincar celah pertahanannya.
"!?
"
Saat
Sylpha mencoba menangkis, tanah di bawah kakinya kembali meliuk tak stabil.
Di
tengah hilangnya keseimbangan itu, bilah pedang mendekat mengincar jantung
Sylpha.
Meski
ia berhasil menghindar di saat-saat terakhir dengan memutar tubuhnya, bagian
dada pakaian Sylpha robek tipis dan sedikit darah merembes keluar.
"Uoooooo! Kulit Sylpha-tan! Apalagi di bagian
dadanyaaaaa! Kejadian macam apa iniiiiii!"
"Mana yang sanggup mengendalikan bumi sesuka hati!
Ini dia kemampuan asli Ganjeet sang Hijau!"
Ganjeet terus mendekat sambil bersembunyi di balik
tanah yang berombak. Sylpha sepertinya kewalahan menghadapi serangan yang
diluncurkan dari titik buta.
"Kh……
Langris Style——Flying Swallow."
"Hoho, tebasan terbang, ya? Tapi itu pun tidak ada
gunanya."
Tanah menyembul tinggi dan menahan tebasan yang
dilepaskan Sylpha.
Sylpha bahkan tidak bisa melancarkan serangan balik
yang berarti.
Kemampuan mengendalikan bumi benar-benar merepotkan
dalam pertarungan jarak dekat. Ditambah
lagi……
"He-hei,
Lloyd…… mungkin ini cuma perasaanku saja, tapi gerakan Sylpha-san sepertinya
jadi agak lamban……?"
Seperti
kata Ren, gerakan Sylpha memang melambat.
Tepatnya,
efek penguat kekuatannya mulai habis.
——Langris
Style Rahasia, War Body Technique.
Itu
adalah teknik untuk menarik kekuatan yang melampaui batas dengan mengatur
aliran energi di dalam tubuh menggunakan pernapasan.
Sylpha
menggunakan ini untuk mendominasi Ganjeet tadi.
Namun,
teknik ini memiliki kelemahan yaitu merusak fungsi tubuh jika digunakan terlalu
lama.
Itu
adalah salah satu alasan mengapa Sylpha menggunakan Mirror Ape untuk
mendesak lawan menyerah.
"Hah, hah……"
Napas Sylpha mulai memburu. Melihat
itu, Ganjeet tertawa mengejek.
"Kakaka! Ternyata benar, kamu menggunakan teknik
yang melampaui batas kemampuanmu! Dengan tubuh seperti itu, mampukah kamu
menahan serangan ini?"
Tanah di bawah kaki Ganjeet menyembul sangat tinggi.
Sebaliknya, area di sekitar Sylpha merosot rendah hingga
berbentuk seperti lesung.
"Heavenly
Demon One-Blade Style——Demon Blade Straight."
Ganjeet
mengangkat pedangnya tinggi di atas kepala, lalu melompat turun dari ketinggian
tersebut.
Dengan
momentum yang terus bertambah, ia menghantamkan pedangnya ke arah Sylpha.
Duum! Suara
dentuman dahsyat bergema dan debu pun beterbangan.
"Sylpha-san!"
Ren berteriak pedih. Saat debu mulai reda, sosok
keduanya mulai terlihat kembali.
Ganjeet yang mengayunkan pedangnya, dan Sylpha yang
menahannya.
"Langris
Style Rahasia: War Body Technique——Dua Kali Lipat."
Urat-urat menonjol di kulit Sylpha, dan matanya merah
karena pecahnya pembuluh darah.
"Nu……
ka-kamu melepaskan kekuatan lebih besar lagiii?!"
"Fuu——!"
Bersamaan
dengan embusan napas, Sylpha mengerahkan tenaga di kedua lengannya.
Seluruh
tubuh Ganjeet, beserta pedang yang tadi ditahan, terpental ke atas.
"Langris Style——Twin Tigers, Dual Fangs."
Zan!
Tebasan yang dilepaskan dengan kecepatan yang tak
tertangkap mata mengenai Ganjeet.
Ganjeet entah bagaimana berhasil bereaksi dan
menahannya, tapi ia terhempas jauh ke belakang akibat dampak serangannya.
"Nun!"
Ganjeet berputar di udara, lalu memunculkan dinding
tanah dan mendarat tegak lurus di sana.
Ia mencoba melakukan serangan balik seketika, namun
Sylpha sudah meluncur tepat di sampingnya.
"Langris
Style Twin Sword——Lion's Roar."
Sylpha
melancarkan serangan kuat dengan kedua pedang yang diayunkan lebar.
"Gugugu……!"
Ganjeet
yang terpental kembali dihujani rentetan serangan berikutnya. Ia mencoba
memunculkan tanah untuk bertahan, tapi Sylpha jauh lebih cepat.
"——Twin
Blade Flying Swallow."
Tebasan
terbang meluncur,
"——Wolf Fang,"
Tebasan ganda atas-bawah yang super cepat,
"——Eight Thousand Birds,"
Hantaman tusukan bertubi-tubi dengan lintasan yang
berbeda-beda mulai mencincang tubuh Ganjeet.
"U-oooooh!?"
Gagagagagaga!
Sylpha merangsek maju bagaikan tarian pedang yang
liar.
Terdesak oleh momentum itu, Ganjeet mundur selangkah
demi selangkah.
Itulah War
Body Technique Dua Kali Lipat…… gerakannya benar-benar tidak bisa
dibandingkan dengan Sylpha yang biasanya.
Saat kupikir dia akan menang——tiba-tiba Sylpha
menghentikan langkahnya.
"……Khk."
Sylpha terbatuk, dan darah mengalir dari sudut bibirnya.
War Body Technique yang
membebaskan kemampuan fisik hingga batas ekstrem itu ia gunakan dengan output
dua kali lipat.
Tentu saja bebannya pun menjadi berlipat ganda.
Ujung jari
Sylpha gemetar, dan keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya.
"Fumu, sepertinya kamu sudah sampai pada batasmu,
ya."
Sebaliknya, luka-luka Ganjeet sudah sembuh, bahkan
pedangnya yang hampir patah pun telah pulih kembali.
Kemampuan regenerasi bangsa iblis memang luar biasa. Luka
ringan saja akan sembuh dalam sekejap. Bahkan saat merasuki tubuh manusia pun,
hal itu tetap berlaku.
"Ketajaman teknik pedangmu benar-benar luar
biasa. Namun, seperti dugaanku, tubuh manusia itu sangatlah
rapuh. Tidak sebanding dengan kami para iblis yang bisa
beregenerasi tanpa batas selama ada mana. ……Begini saja, aku punya tawaran.
Jika kamu membunuh bocah itu dan menyembahku sebagai tuan barumu, aku mungkin
bisa mengampuni nyawamu."
Ganjeet terus berbicara sambil dengan santai
menghindari pedang yang diayunkan dengan lemah oleh Sylpha.
"Bagaimana? Bukan tawaran yang buruk, kan? Jika
menjadi muridku, teknik pedangmu bisa mencapai puncak yang lebih tinggi lagi. Pasti
butuh bakat langka dan usaha tanpa henti untuk menjadi ahli sepertimu. Sebagai
sesama pendekar pedang, hatiku pedih jika nyawamu harus berakhir di sini. Ayo,
sambut tanganku. Mari kita menuju puncak ilmu pedang bersama-sama."
Melihat tangan yang diulurkan itu, Sylpha hanya
meliriknya sekilas lalu berucap.
"……Jangan-jangan, Anda sedang bicara
padaku?"
Mendengar nada suara yang sangat heran itu, Ganjeet
hampir saja jatuh terjungkal.
"Memangnya ada orang lain lagi di sini?!"
"Benar, tidak ada orang lain. Karena tidak ada
seorang pun di sini yang berniat mengkhianati tuannya."
Suara itu tenang, namun penuh dengan amarah yang
meluap.
"Meski
begitu, kenapa Anda bisa mengucapkan hal seperti itu? ……Ah, pasti karena
kekuranganku sendiri. Akulah yang membuat Anda berpikir bahwa aku adalah
pelayan bodoh yang akan mengkhianati tuanku."
Tekanan auranya seolah membekukan udara. Ganjeet sampai menahan napas, dan Ren yang berada di sampingku pun
gemetar hebat.
"——Aku sangat marah. Pada Anda yang mengucapkan
kata-kata itu. Dan lebih dari segalanya, pada diriku sendiri yang bertarung
dengan begitu loyo hingga membuat Anda berani mengatakannya. Semua itu karena
aku sempat memikirkan keselamatanku sendiri saat bertarung. Anda kuat. Mulai
dari sini, izinkan aku mengerahkan seluruh kemampuanku. Sebagai persembahan
bagi Tuanku, tempatku bersumpah setia seumur hidup."
Aku merasa seolah Sylpha melirik ke arahku sejenak.
Tubuhnya yang seharusnya sudah babak belur itu kini
terasa dipenuhi oleh semangat juang yang meluap-luap.
"Khah! Kalau begitu, meski sangat disayangkan, kamu
hanya punya pilihan untuk mati!"
Ganjeet melancarkan serangan pamungkas yang mendekati
Sylpha. Namun, Sylpha tidak bergeming sedikit pun dan menarik napas
dalam——sangat dalam.
"War
Body Technique——Tiga Kali Lipat."
Sesaat
setelah embusan napas pendek, area di sekitarnya seolah meledak. Gelombang
kejut yang dahsyat tercipta.
Dari
gerakan yang tertangkap sedikit oleh mataku, sepertinya itu adalah Langris
Style Twin Sword——Rising Twin Dragons.
Menembus kepulan debu, Ganjeet terlihat terpental
tinggi ke angkasa.
"Begitu ya! Kalau di udara, dia nggak bisa
mengendalikan tanah! Kekuatan Ganjeet tersegel!"
Benar kata Grim, Ganjeet mengalirkan mananya saat
menyentuh tanah untuk memanipulasi medan tempur.
Begitu ia melayang, gangguan dari perubahan medan tanah
tidak akan terjadi.
"Khakh! Tapi lalu apa?! Kamu juga pendekar pedang
yang berpijak di bumi! Dari sana kamu tidak akan bisa melakukan apa pun——"
Mata Ganjeet yang menatap ke bawah membelalak kaget. Tepat di depan matanya, Sylpha sedang mendekat sambil berlari di
angkasa.
"Langris
Style Travel Technique——Sky Walk."
Dalam
Langris Style terdapat beberapa teknik lari, dan puncak tertingginya adalah Sky
Walk tersebut.
Berlari
dengan menendang udara secara cepat; kaki kanan maju sebelum kaki kiri jatuh,
kaki kiri maju sebelum kaki kanan jatuh—secara teori itu memang memungkinkan.
Aku
sendiri bahkan belum bisa berlari sepuluh meter dengan teknik Water Walk
yang tingkatannya beberapa level di bawah itu. Memang Sylpha saja yang sudah di
luar nalar.
"Nggak,
manusia bisa lari di atas air dengan kemampuan fisik saja sudah kayak monster.
Tapi kalau sudah lari di udara, aku benar-benar nggak paham lagi maksudnya
apa."
"Uooooooo!
Sylpha-tan yang berlari di angkasa, hah-hah! Kecantikannya
benar-benar tidak salah lagi seperti bidadari! Luar biasa! Benar-benar luar
biasa!"
Berlawanan dengan Grim yang merasa ngeri, Jiriel
justru tampak sangat bersemangat.
Namun,
menggunakan War Body Technique tiga kali lipat ditambah teknik berat
seperti Sky Walk…… sekuat apa pun Sylpha, dia tidak akan bertahan lama.
"Jangan
sombong! Teknik berlari di angkasa juga ada dalam Heavenly Demon One-Blade
Style!"
Ganjeet
menyarungkan pedangnya, menunggu Sylpha dalam posisi siaga. Tepat saat Sylpha
berada dalam jarak jangkauannya.
"Heavenly
Demon One-Blade Style——Kamasamagiri!"
Matanya melotot tajam, dan pedangnya berkilat secepat
cahaya.
Tebasan super cepat itu, entah bagaimana, hanya menembus
bayangan tubuh Sylpha.
——Bukan, Sylpha memutar tubuhnya menyesuaikan kecepatan
bilah pedang itu. Dari keras——menjadi lembut.
Apa Sylpha bisa melakukan gerakan seperti itu karena
telah meningkatkan War Body Technique-nya hingga tiga kali lipat? Lalu
dengan memanfaatkan momentum putarannya, ia melancarkan serangan.
"Langris Style Twin Sword——Flying Dragon Sky
Dance."
Angin berpusar hebat akibat tebasannya. Angin itu
menjadi angin puyuh, lalu berkembang menjadi tornado yang membawa Ganjeet
semakin tinggi ke angkasa.
Saat aku menyipitkan mata menatap langit, Ganjeet
tampak tercincang-cincang oleh badai tebasan tersebut.
"He-hebat……
dia terus naik sambil terus mencincang musuhnya……!"
"Sepertinya dia memberikan kerusakan yang besar.
Tapi, bukankah dia akan pulih lagi?!"
Benar kata Jiriel, pada akhirnya jika tubuh asli Ganjeet
di dalam sana tidak dikalahkan, ia akan segera pulih tidak peduli seberapa
besar kerusakan yang diterima.
Namun, tidak mungkin Sylpha tidak punya rencana. Apa yang
sebenarnya akan dia lakukan?
Di saat aku memikirkan hal itu, Sylpha mengangkat
pedangnya di atas kepala Ganjeet untuk memberikan serangan terakhir.
"Langris
Style Twin Sword——Descending Birds Pair."
Satu
set tebasan tajam yang menyerupai sepasang burung yang menukik jatuh sambil
mencincang Ganjeet. Titik jatuhnya adalah——tepat di depan kami.
Duuuuum! Debu tanah membubung tinggi di
depan mata, dan Ganjeet yang terhempas keras melayang di udara.
"Gunu……
se-serangan yang hebat…… tapi aku tidak akan mati hanya karena ini!"
Namun
Ganjeet sepertinya berkonsentrasi penuh pada pertahanan dan pemulihan. Lukanya
dalam, tapi kalau dibiarkan, dia akan segera pulih total.
Di saat
Ganjeet fokus pada pemulihan dan memperlihatkan celah pertahanan untuk pertama
kalinya, sosok yang melompat mengincar momen singkat itu adalah——Ren.
"Yaaaaaaaa!"
Satu
tusukan dari Poison Blade miliknya mengenai Ganjeet secara dangkal,
namun telak.
"Teknik pedang yang payah dan bentuk pedang yang
aneh…… hmph, apa kamu memasukkan racun? Begitu ya, jadi bocah
perempuan ini adalah kartu as-nya. Tapi betapa bodohnya. Racun semacam itu
tidak akan mempan pada salah satu dari Empat Raja Iblis sepertiku——"
Kaki Ganjeet yang baru mendarat tiba-tiba goyah.
"Nu……!?
Mu…… nngh!"
Ia
mencoba menyeimbangkan diri, tapi tetap gagal. Ganjeet pun jatuh tersungkur
dengan bertumpu pada lututnya.
"Mu-mustahil……
sebagai salah satu dari Empat Raja Iblis, racun apa pun tidak seharusnya mempan
padaku! Tapi kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan?! Tanganku mati
rasa?! Jantungku berdebar dan aku merasa mual?! Hanya karena racun seperti
iniiiiii!"
"——Ini obat, kok."
Di tengah debu yang mulai menipis, Ren bergumam sambil
memapah Sylpha yang sudah kelelahan di bahunya.
"Obat yang hanya membunuh iblis atau bangsa iblis
yang merasuki manusia. Obat yang waktu itu tidak sempat kugunakan."
Waktu itu——tak perlu dikatakan lagi, itu adalah saat
rekan sekaligus pemimpin Ren, Jade, tubuhnya diambil alih oleh iblis.
Menjadikan penyesalan karena tidak bisa berbuat apa-apa
saat itu sebagai motivasi, Ren terus meneliti obat yang hanya membunuh iblis
dalam situasi serupa.
Tidak berbahaya bagi manusia, namun hanya membunuh
entitas mana yang merasuki——dengan peningkatan efek melalui Poison Blade,
obat itu akhirnya selesai sebagai obat yang sanggup membunuh bahkan anggota
Empat Raja Iblis sekalipun.
"Obat katamu?! Dilihat dari mana pun ini adalah
racun! Rasanya sangat menyiksaaaaa!"
"Membunuh sesuatu yang mencelakai manusia. Itu
jelas-jelas adalah obat."
"Benar,
itu obat."
"Obat,
ya."
Sylpha dan aku mengangguk setuju. Racun dan obat itu
bedanya tipis, dan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia tidak mungkin disebut
racun, kan?
"Mustahil……
mustahiiiiill……"
Sambil
mengeluarkan teriakan kematian yang lemah, sosok Ganjeet pun lenyap dari dalam
tubuh Duncan.
Fumu,
kalau dipikir-pikir, War Body Technique yang meningkatkan kemampuan
fisik berkali-kali lipat dan obat yang sanggup membunuh bangsa iblis, ya? Luar
biasa. Lain kali aku juga ingin mencobanya.
"Khk……!"
"Ka-kamu tidak apa-apa?! Sylpha-san!"
Sylpha menunjukkan ekspresi kesakitan, melihat itu Ren
langsung bertanya dengan cemas.
"……Aku tidak bisa bilang aku baik-baik saja. Aku
memang sedikit memaksakan diri."
"Duh, untung saja tadi berhasil…… jangan ceroboh begitu lagi,
dong."
"Habisnya,
dia lawan yang tidak bisa dikalahkan kalau aku tidak melakukan itu."
Tak
perlu diragukan lagi, Ganjeet dari Empat Raja Iblis adalah lawan yang kuat.
Dulu
saat aku bertarung sendirian pun aku cukup kesulitan, jadi meski lawannya
memiliki banyak batasan, keberhasilan Sylpha dan yang lainnya mengalahkannya
adalah hal yang sangat hebat.
"Omong-omong
Sylpha, hebat juga kamu bisa tahu kalau Ren sudah menyiapkan racunnya."
"Iya,
aku merasakan hawa seseorang yang sedang mengincar sesuatu sedari tadi. Aku
juga sudah mendengar tentang obat itu sebelumnya, jadi aku yakin pasti itu
pelakunya."
"Ehe-he, saat Sylpha-san melirik ke arahku, aku
yakin Anda pasti mengerti."
Ren tersenyum malu-malu. Meski begitu, menyerahkan
serangan terakhir di saat seperti itu adalah hal yang mustahil dilakukan jika
tidak sangat mempercayai rekannya. Mereka berdua sepertinya sudah menjadi sangat akrab.
"Ooh……
Sylpha-tan dan Ren-tan, betapa indahnya hubungan kepercayaan ini. Aku jadi
ingin berada di tengah-tengah mereka……!"
Mungkin
karena terlalu terharu, Jiriel sampai meneteskan air mata.
"Sana gepeng saja sekalian, dasar Malaikat
Mesum."
"Heh, kalau itu yang terjadi, aku tidak akan
menyesal——"
"Bodoh ya kamu."
Sambil menerima ejekan Grim, Jiriel menatap mereka berdua
dengan tatapan menerawang.
Ta-tapi bagaimanapun juga, syukurlah semuanya berakhir
dengan baik.
Duncan sepertinya hanya pingsan saja, jadi bisa dibilang
ini akhir yang bahagia.
"Connie!"
Tiba-tiba, suara Kepala Desa meninggi. Saat aku menoleh,
Connie tampak berjongkok sambil mengatur napasnya yang berat.
"Apa yang terjadi?! Hei, sadarlah! Connie!"
Orang-orang mulai berkerumun di sekitar Kepala Desa yang
sedang memapah Connie. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
◇



Post a Comment