"……Fumu, sepertinya tidak ada masalah serius."
Segera setelah Connie yang pingsan dibawa ke rumahnya,
itulah kata-kata pertama dari dokter yang datang. Mendengar itu, semua orang
mengembuskan napas lega.
"Mungkin dia hanya kelelahan. Dia akan segera sembuh
jika istirahat dengan cukup."
"……Sepertinya dia baik-baik saja, ya."
Ujar Sylpha yang tubuhnya sudah terbalut banyak perban. Setelah kejadian tadi ia langsung pingsan dan ikut dibawa ke sini.
"……Malah kalau boleh jujur, nona yang satu ini
lukanya jauh lebih parah. Ajaib sekali Anda masih bisa
bergerak."
"Tuh kan, Sylpha-san, kamu harus istirahat!"
Ucap dokter yang merasa heran dan Ren yang berusaha
menahan Sylpha agar tidak beranjak bangun.
Karena sudah menggunakan War Body Technique tiga kali lipat, sepertinya dia memang sudah terlalu melampaui batasannya.
"Tingkat serangan seperti ini bukan masalah
besar bagiku. Yang jadi masalah itu karena Lloyd-sama harus melihat
penampilanku yang memalukan ini…… adu-du-duh!"
"Tuh, kan! Makanya sudah kubilang jangan bangun
dulu!"
Ren memaksa Sylpha yang tubuhnya masih limbung untuk
kembali berbaring.
Sepertinya kerusakan yang ia terima memang sangat besar.
"Ka-kalau begitu, saya permisi dulu…… semoga cepat sembuh."
Dokter itu meninggalkan ruangan sambil tertawa
kering.
Yah, setidaknya nyawanya tidak terancam, syukurlah
kalau begitu.
"Pokoknya kalian berdua harus istirahat total untuk
sementara. Aku akan meracik obat."
"Hmm, kalau begitu aku akan memasak makanan
saja."
Zawaaa. Pandangan semua orang seketika tertuju
padaku. Kenapa? Memangnya ada yang aneh?
"Lloyd……
memasak……? Kamu bisa?"
"Sopan sekali. Memangnya kamu pikir aku ini
siapa?"
Selama ini Sylpha selalu mengurusku, jadi tidak ada
salahnya kalau sesekali aku yang memasakkan sesuatu untuknya.
"Ti-ti-tidak boleh! Orang terhormat seperti
Lloyd-sama tidak pantas berurusan dengan dapur…… Kalau begitu, biar saya saja yang…… kkh!?"
"Sudah,
sudah. Sylpha, diam saja dan tidur yang nyenyak. Connie, aku pinjam dapurnya,
ya."
"U-uhm……
boleh saja, sih."
Aku
menenangkan Sylpha yang masih berusaha bangun, lalu melangkah menuju dapur.
"Sepertinya mereka menatap Anda dengan penuh
keraguan, Lloyd-sama. Yah, saya sih paham kenapa mereka begitu."
"Kalau dipikir-pikir, meski kami sudah lama
mengabdi, mungkin ini pertama kalinya kami melihat Lloyd-sama memasak."
"Kenyataannya memang begitu, kok."
Di kehidupanku yang sebelumnya sebagai rakyat jelata pun,
aku hampir tidak pernah memasak. Bagiku asal perut kenyang saja sudah cukup.
Memasak hidangan yang bisa memuaskan Sylpha sebenarnya
adalah hal yang mustahil.
Namun, justru karena itulah hal ini jadi bermakna.
Alasanku berdiri di dapur ini ada satu lagi—tentu saja,
untuk eksperimen.
"Nah, ayo kita coba."
Aku segera menggunakan sihir tipe sistem kendali untuk
menyalin pergerakan Sylpha melalui Trace.
"Begitu ya! Dengan meniru gerakan Sylpha-tan, meski
ini pertama kalinya Anda memasak, semua akan beres tanpa masalah!"
"Yah, aku yang sudah lama bersamamu sudah menduga
bakal begini. Ayo kita buat masakan luar biasa dan buat mereka semua
jantungan!"
"Apa yang kamu bicarakan? Ini belum selesai,
lho."
Yang aku salin bukan cuma gerakannya saja.
Satu
lagi adalah War Body Technique yang digunakan Sylpha tadi.
Ooh, luar biasa. Kekuatan meluap di seluruh tubuhku.
Aku sempat mengintip buku panduan Aliran Rahasia Langris.
Katanya butuh latihan pernapasan, energi dalam, dan
latihan panjang lainnya, tapi kalau pakai Trace sih sekali jadi.
"Gueeh, kecepatannya ngeri banget! Lloyd-sama jadi
terlihat seperti ada banyak orang!"
"Kecepatan yang tidak kalah dari Sylpha-tan tadi. Bisa mereproduksinya hanya dengan sihir…… sungguh luar biasa!"
Benar-benar kecepatan yang gila. Jadi begini rasanya
menggunakan War Body Technique.
Dalam sekejap, masakan dalam jumlah besar pun
selesai.
"Ooh! Kelihatannya lezat sekali!"
"Luar biasa, Lloyd-sama. Mari segera berikan pada
Sylpha-tan dan yang lain……"
"Tunggu dulu, ini belum benar-benar
selesai."
Masakannya memang sudah jadi, tapi masih ada hal yang
ingin kucoba. Sekali lagi aku menggunakan Trace untuk menyalin kemampuan
Ren.
Meski aku bisa mengubah sifat mana, aku tetap tidak
bisa menandingi Ren yang sudah berlatih bertahun-tahun untuk menciptakan
berbagai jenis obat dan racun.
Apalagi sekarang Mana Silencer sedang bekerja.
Mari kita selesaikan sebelum makanannya dingin. Hup.
Mana yang kuhasilkan berubah warna dan aromanya karena
perubahan sifat mana.
Semua itu berubah secara beruntun. ……Fumu, kira-kira
seperti ini.
Aku memasukkan mana tersebut ke dalam masakan seolah
membungkusnya, dan selesai. Sudah jadi, tapi……
"……Kok baunya agak aneh, ya?"
"Terus makanannya juga kenapa kelihatan hitam pekat
begini……"
Seperti kata Grim dan Jiriel, masakan yang baru saja
kubuat tampak aneh. Aneh sekali. Padahal aku hanya mencampurkan obat ke
dalamnya.
"Lagi ngapain sih, Lloyd!?"
Ren yang sedang menyeduh tanaman obat di ruangan sebelah
berteriak kencang. Wajahnya
langsung meringis saat melihat masakan buatanku.
"Uwah……
kelihatannya beracun banget."
"Tadinya
aku berniat membuat masakan obat yang dulu pernah dibuat Sylpha."
Namun,
sepertinya aku malah menciptakan sesuatu yang lebih mengerikan dari bayanganku.
Seharusnya
ini adalah gabungan teknik Sylpha dan Ren, aneh sekali.
Yah,
ada pepatah yang bilang kalau jangan asal mencampur sesuatu yang berbahaya.
"Tapi mungkin rasanya lumayan normal…… bhuwaah!?"
"Ah—memang rasanya nggak karuan, ya."
Ren yang mencicipinya dengan ragu-ragu langsung
memuntahkannya kembali.
Sejujurnya,
rasanya memang agak meragukan.
"Ugh,
ini……"
"Bisa
dibilang sangat…… orisinal……"
Grim dan
Jiriel juga ikut mencicipi, tapi wajah mereka langsung berkerut masam.
Waduh,
kalau begini Sylpha dan yang lainnya mungkin tidak bisa memakannya.
Saat
aku sedang memikirkan itu, Sylpha dan yang lainnya terbangun, mungkin karena
terpancing aromanya.
"Ini……
buatan Lloyd-sama……?"
"Iya, tapi sepertinya aku gagal. Jadi jangan dipaksa
makan kalau tidak mau……"
Sebelum aku selesai bicara, Sylpha sudah menyuapkan
makanan itu ke mulutnya sambil berkata "Permisi".
Waduh, langsung dimakan. Apa dia akan baik-baik saja?
Berlawanan dengan kekhawatiranku, tangan Sylpha tidak
berhenti menyuap.
"Lezat sekali! Ah, betapa nikmatnya! Masakan Lloyd-sama benar-benar tidak ada tandingannya!"
Sylpha terus makan sambil menitikkan air mata.
……Apa benar dia baik-baik saja? Padahal menurutku rasanya
cukup mengerikan.
"Iya. Rasanya enak sekali, Lloyd-kun."
Connie juga makan dengan lahap, bahkan menyisihkan
sebagian untuk ibunya.
Aku bertatapan dengan Ren, lalu mencoba mencicipinya
sekali lagi. Tetap saja rasanya tidak enak.
"Hei Lloyd, apa Sylpha-san dan yang lainnya jadi
lebih sehat?"
Apa yang dikatakan Ren benar. Bukan hanya itu, Connie dan
ibunya juga terlihat lebih segar dan kecepatan makan mereka juga meningkat.
"Oh, aku pernah dengar. Katanya masakan obat tingkat
tinggi akan terasa tidak enak bagi orang sehat."
"Tapi bagi mereka yang sedang sakit, rasanya justru
akan terasa sangat lezat."
"Itu karena tubuh mereka merasakan hal yang sangat
dibutuhkan sebagai sesuatu yang lezat. Berarti masakan obat ini sehebat itu,
ya?"
Di tengah gumaman Grim dan Jiriel, makanan itu habis
dengan cepat. Saat selesai, mereka bertiga sudah benar-benar pulih kembali.
Connie sudah bisa bergerak bebas, ibunya terlihat jauh
lebih segar, dan Sylpha bahkan sudah bisa keluar untuk berlatih ayunan pedang
setelah selesai membereskan piring.
"Bisa mencicipi masakan Lloyd-sama membuatku merasa
menjadi orang paling bahagia. Padahal
dalam pertarungan tadi penampilanku sangat payah…… ini tidak bisa dimaafkan. Aku harus berlatih lebih keras agar hal seperti itu tidak terulang
lagi……!"
Ayunan pedangnya tajam sekali. Tekanan angin dari
pedangnya bahkan membuat pohon besar di kejauhan berguncang hebat.
"Hebat ya Sylpha-san. Sudah bisa bergerak
seperti itu."
"Sylpha itu spesial dalam banyak hal, sih.
Omong-omong Connie, apa kamu masih merasa tidak enak badan?"
Meski sudah pulih berkat masakanku, ia masih terlihat
agak lesu.
"Iya, mungkin kondisiku masih agak kurang fit. Tapi
aku tidak apa-apa, kok."
"Begitu ya. Kalau begitu syukurlah."
Kelihatannya memang tidak ada masalah serius. Tapi tetap
saja ada sesuatu yang mengusik pikiranku.
Rasanya mana milik Connie meningkat dibandingkan saat
kami baru tiba di sini. Padahal seharusnya dia memiliki tubuh yang tidak punya
mana.
Di dalam penghalang Mana Silencer seharusnya mana
justru berkurang…… Dan itu semua bermula tepat setelah Ganjeet menabrak monumen
batu itu—kalau tidak salah.
Perasaan aneh itu mirip dengan segel yang ada di bawah
tanah akademi. ……Fumu, sepertinya aku harus sedikit waspada.
◆
"Sepertinya Ganjeet sudah menyelesaikan tugas
minimalnya, ya."
Di dalam kegelapan, dua sosok bayangan tampak
bergerak-gerak.
"Di tempat itu bersemayam sebagian kecil dari Tuan
kita yang sedang tertidur. Dengan membuat keributan besar untuk mengalihkan
perhatian, sepertinya dia berhasil menghancurkan segelnya di sela-sela
kekacauan itu. ……Akhir yang luar biasa."
"Bocah itu juga sepertinya tidak menyadarinya.
Dengan ini, Raja Iblis-sama akan selangkah lebih dekat menuju kebangkitannya.
Nah, selanjutnya biarku—"
"Tidak, biar aku saja yang pergi."
Sebuah bayangan melangkah maju.
Seorang pria besar dengan otot yang kokoh, di tangannya
tergenggam tombak besar sepanjang tubuhnya.
"Aku tidak punya kecerdikan seperti Ganjeet, juga
tidak punya kelicikan sepertimu. Aku hanyalah pecandu perang yang hanya bisa
menerjang maju mengikuti emosi dalam pertempuran. Dalam situasi di mana musuh
jauh lebih kuat seperti ini, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa jika ditinggal
sendirian. Lebih baik aku bergerak sendirian selagi mereka belum waspada."
"Zen…… apa kamu berniat mati?"
"Kurasa
tekad setingkat itu memang diperlukan…… Huh, lagipula dengan kecepatanku, tidak
mustahil untuk melarikan diri setelah menyelesaikan tugas."
"Memang
benar, jika itu Anda yang bangga sebagai yang tercepat di antara Empat Raja
Iblis, kemungkinan itu memang ada……"
"Aku tidak berniat melakukan hal yang mustahil. Kalau
begitu, sampai jumpa——Shelah."
Pria bernama Zen itu menghilang dalam sekejap bersamaan
dengan hembusan angin.
Wanita bernama Shelah itu menyipitkan mata saat melepas
kepergiannya.
"……Aku merasa tidak tenang."
Shelah menggumamkan itu sambil mengembuskan napas
panjang.
◆
Setelah menyelesaikan tugas tersebut, kami akhirnya
kembali ke akademi.
"……Apa-apaan ini?"
Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulutku.
Menara putih yang megah itu kini dihiasi dengan meriah,
dan para murid yang biasanya bersikap kaku kini berlarian ke sana kemari dengan
pakaian santai.
Rasanya kami hanya pergi sekitar sepuluh hari, tapi apa
yang sebenarnya terjadi?
"Oh, Lloyd. Kalian dan Sylpha akhirnya pulang juga,
ya!"
Yang menyambut kami adalah Birgit.
Pakaiannya berbeda dari biasanya, yaitu kostum mencolok
dengan nuansa merah dan putih seperti yang dipakai saat festival.
"Kami
pulang, Kak Birgit. ……Omong-omong, ada keributan apa ini?"
"Apa lagi kalau bukan persiapan festival
akademi!"
Ah
benar juga, sepertinya sudah masuk musimnya.
Festival
Akademi William——sebuah acara setahun sekali untuk memamerkan hasil riset para
murid akademi.
Itu
adalah perayaan tradisional yang bergengsi dan dihadiri oleh para bangsawan
dari seluruh benua dalam suasana yang sakral.
Ada
banyak buku yang mencatat tentang festival ini, dan tentu saja aku sudah
membacanya.
Aku
sempat membayangkan seperti apa wujud aslinya, tapi…… kok ini rasanya beda
dengan bayanganku?
Bukannya
festival yang sakral, ini malah terasa seperti pasar malam yang santai.
"Hehe,
festival akademi sebelumnya itu terlalu membosankan. Jadi kali
ini aku memutuskan untuk melakukan sedikit perombakan. Bukan cuma bangsawan,
aku juga mengundang banyak warga sipil. Aku meminta para siswa menyiapkan
makanan lezat, pertunjukan heboh, dan pameran yang memanjakan mata! Kalau
banyak orang berkumpul, uang yang masuk juga banyak, dan kalau reputasinya
tersebar, tahun depan skalanya bisa lebih besar lagi…… Hmm, aku sudah bisa
mencium bau tumpukan uang di sini. Nishishishi……"
Birgit pergi sambil tertawa dengan cara yang menyeramkan.
Sepertinya dia sudah tidak memedulikan keberadaan kami lagi.
"Ah, selamat datang kembali, Lloyd."
Sebagai gantinya, Albert muncul dari kerumunan. Ia
memakai kostum mencolok yang mirip dengan Birgit dan sepertinya sedang membantu
persiapan festival.
"Kak Albert, ini benar-benar luar biasa."
"Iya, aku selalu kewalahan menghadapi daya gerak
Kak Birgit."
Sambil menghela napas, Albert menepuk bahunya
sendiri. Sepertinya dia sangat kelelahan. Pasti dia disuruh
membantu banyak hal.
"Meski begitu, apa yang dilakukan Kakak itu masuk
akal. Di festival akademi sebelumnya, hanya murid tertentu yang bisa memamerkan
kemampuannya. Tapi dengan cara seperti ini, semua murid punya kesempatan yang
sama untuk unjuk gigi. Para bangsawan yang datang akan merekrut murid yang
mereka anggap hebat untuk menjadi bawahan mereka. Bisa dibilang ini ajang
pencarian bakat. Ini kesempatan bagus bagi para siswa untuk mempromosikan diri
mereka. Karena itulah mereka semua sangat bersemangat."
Seperti kata Albert, para murid tampak menyiapkan
semuanya dengan mata yang berbinar-binar.
Ada yang mengasah tekniknya, ada yang sibuk membuat
properti, ada yang menyiapkan panggung demi kepentingan bersama……
Birgit mendatangi mereka satu per satu untuk memberikan
semangat.
"Meskipun dia kakakku, dia orang yang hebat. Karena
itu aku ingin membantunya sebisa mungkin."
Albert menatap Birgit dengan tatapan menerawang.
Memang benar, festival di mana banyak orang mengerahkan
seluruh kemampuannya terasa jauh lebih menarik daripada panggung yang hanya
diisi oleh beberapa orang utama saja.
Apalagi para siswa di sini semuanya memiliki teknik yang
luar biasa, dan mungkin saja ada orang hebat di antara tamu yang datang
berkunjung. Kalau begitu, aku harus ikut memeriahkannya.
"Kak Albert! Apa ada yang bisa aku bantu?"
"Oh, Lloyd mau ikut membantu juga!? Itu sangat
membantu!"
Tentu saja aku akan melakukannya.
Jika aku bisa melihat teknik yang sudah mereka asah
sampai batas maksimal, itu juga akan bermanfaat bagiku.
Pengetahuan yang kudapat nantinya pasti bisa
diaplikasikan ke dalam sihir juga.
◇
Maka, hari-hari persiapan menuju festival akademi pun
dimulai. Aku memasang penghalang di sekeliling akademi agar tidak ada gangguan
dari monster, menciptakan lingkungan agar para siswa bisa berkonsentrasi, dan
bahkan mengirimkan golem untuk membantu pekerjaan mereka.
Di malam hari, aku menyalakan lampu-lampu, dan jika ada
murid yang kelelahan sampai pingsan, aku yang akan memulihkan mereka.
Berkat itu, persiapan berjalan dengan lancar dan besok
festival akhirnya resmi dimulai.
"Besok
akhirnya festival akademi, ya. Cepat sekali rasanya."
"Para murid juga semuanya tampak sangat
bersemangat."
"Terutama Connie, dia sepertinya benar-benar
niat banget."
Aku mengangguk mendengar kata-kata Grim dan Jiriel.
Setelah kembali, Connie terus mengurung diri di ruang
klub.
Aku sudah mencoba membantunya beberapa kali, tapi dia
menolak dengan halus.
Katanya, dia ingin aku melihat hasil akhirnya saja.
Dia ingin memberikan kejutan jadi tidak mau
memperlihatkan prosesnya.
Aku sangat mengerti perasaan itu, jadi aku pun menahan
diri.
"Tapi itu hanya sampai hari ini saja."
Malam ini sangat tenang tanpa cahaya bulan.
Para siswa yang selama ini begadang pasti sedang tidur
nyenyak untuk mempersiapkan hari esok.
Aku sendiri merasa terlalu bersemangat sampai tidak bisa
tidur nyenyak, jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan malam.
"Omong-omong Lloyd-sama, kalau bangun kemalaman
nanti Anda tidak bisa bangun pagi, lho."
"Benar sekali. Padahal Lloyd-sama itu kan paling
susah kalau disuruh bangun pagi. Bukankah sebaiknya Anda mematikan
penghalangnya untuk menyambut tamu besok?"
"Benar juga."
Saat ini di sekeliling akademi terpasang penghalang untuk
mencegat monster, pengaturannya akan otomatis menyerang siapa pun selain orang
dalam.
Soalnya kalau monster menyerang, itu akan mengganggu para
siswa.
Tapi kalau ada penonton atau tamu yang datang saat aku
sedang tidur, ada kemungkinan mereka tidak bisa masuk. ……Lagipula ini
penghalang yang lumayan kuat, bisa gawat kalau mereka tidak sengaja
mengenainya.
"Baiklah, aku ubah pengaturannya jadi tipe
pendeteksi saja."
Aku menjentikkan jari dan mengubah pengaturan
penghalangnya.
Penghalang yang menyelimuti akademi menghilang
sejenak lalu segera terpasang kembali.
Pada saat itu, aku merasa seperti ada angin kencang yang
berhembus…… tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.
◆
"……Fuu, akhirnya aku berhasil masuk juga."
Di tengah malam yang gelap, Zen mengembuskan napas sambil
bersembunyi di balik bayangan.
Meski ia sudah berangkat dengan penuh percaya diri, saat
Zen sampai di Kota Akademi William, ternyata sudah ada penghalang kuat yang
terpasang sehingga ia tertahan cukup lama.
Namun akhirnya ia berhasil menyelinap masuk dengan
memanfaatkan celah di saat penghalang itu dinonaktifkan sesaat.
"Meski begitu, itu tadi adalah Annihilation
Barrier yang akan memberikan efek semakin kuat tergantung kecepatan dan
massa yang mengenainya. ……Sampai memasang sesuatu yang berlebihan seperti itu,
sepertinya mereka sudah menyadari seranganku."
Bagi Zen yang merupakan salah satu dari Empat Raja Iblis,
menembusnya sendiri sebenarnya bukan masalah besar.
Namun dengan penghalang sekuat itu, ada kemungkinan armor
hitamnya akan retak akibat dampak benturan, dan itu bisa memengaruhi
kebangkitan Raja Iblis.
Karena itulah Zen tidak punya pilihan selain menunggu
sampai penghalang itu terbuka.
"Mereka
terus memasang penghalang sekuat itu selama berhari-hari, benar-benar
merepotkan…… tapi sepertinya mereka sudah mencapai batasnya. Kekuatan
penghalangnya sudah sangat menurun, mungkin bocah itu juga sudah mulai melemah.
Huh, ini benar-benar kesempatan emas yang datang secara tidak terduga,
ya?"
Bukannya
melemah, aku hanya mengubah pengaturannya saja, tapi tentu saja Zen tidak tahu
soal itu.
Ia
berlari di dalam akademi, menganggap ini adalah kesempatan sekali seumur hidup
untuk bertemu dengan gadis yang menjadi wadah tersebut.
"Huaaaah……
ngantuk banget sih, sialan."
"!"
Saat
Zen berlari lurus, ada seorang pria paruh baya yang berjalan sambil menguap
lebar.
Dia adalah penjaga keamanan akademi. Dia berada tepat di
jalur Zen, dan jika Zen tidak menghindar, mereka pasti akan bertabrakan.
Namun Zen terus berlari lurus dengan kecepatan yang sama.
Dan, pria itu pun berpapasan dengan Zen.
"……?"
Pria itu berkedip beberapa kali, lalu menguap lagi
dan melanjutkan patrolinya.
Meskipun jarak mereka sedekat itu sampai hampir
bersentuhan, pria itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Zen. Begitulah
kecepatan dan keheningannya.
"Sekarang aku harus mencari gadis wadah itu."
Zen bergumam lalu mulai mengintip ke seluruh ruangan
akademi untuk mencari Connie.
Ada beberapa orang yang masih terjaga di dalam akademi,
tapi tidak ada satu pun yang menyadari kecepatan gila Zen.
Zen si Hitam yang bangga dengan kecepatannya sebagai yang
tercepat di antara Empat Raja Iblis, kecepatannya bukanlah sesuatu yang bisa
dikenali oleh manusia biasa.
"……Tapi mencari satu per satu ruangan begini
benar-benar merepotkan. Kalau saja tidak ada mana mengerikan milik bocah itu,
aku pasti bisa mendeteksi keberadaannya……"
Zen berdecak kesal sambil terus berlari. Akibat mana
yang dilepaskan Lloyd, reaksi mana di sekelilingnya menjadi sangat tipis hingga
tidak bisa terdeteksi.
Meski begitu, dengan kecepatan Zen, tidak butuh waktu
lima menit untuk mengelilingi seluruh akademi.
Satu menit berlalu, dua menit berlalu, dan tepat saat
tiga menit berlalu. Batin! terdengar sebuah suara dan Zen terpental
jauh.
"!? A-apa yang terjadi!?"
Ia segera bangkit, dan di depan mata Zen tampak sesuatu
yang menyerupai tempat tidur sedang melayang.
"Apa aku baru saja menabrak benda itu……?"
Tepatnya, ia menabrak penghalang yang diciptakan oleh
artefak sihir kecil yang melayang di sekitar tempat tidur tersebut.
"Tapi kapan benda itu muncul? Kecepatan yang bahkan
tidak bisa ditangkap olehku, ditambah lagi dengan kekokohan yang tidak masuk
akal. Benda apa itu sebenarnya……?"
Di hadapan Zen yang sedang menahan napas, sesuatu
bergerak-gerak di dalam tempat tidur tersebut.
"Huaaaah……"
Sambil menguap lebar, seorang wanita yang mengenakan
piyama motif garis-garis biru dan putih pun terbangun.
Topi tidur yang hampir merosot, ujung pakaian yang
berantakan, dan matanya yang tampak mengantuk sambil terus mengucek mata.
Sosok yang sangat tidak cocok dengan suasana di tempat
ini adalah Putri Kedua Kerajaan Saloum, Birgit Di Saloum.
Birgit melihat ke sekeliling dengan mata yang masih
mengantuk sambil tetap berada di atas tempat tidurnya.
Setelah beberapa detik, ia akhirnya menyadari
keberadaan Zen di hadapannya dan menatapnya dengan pandangan penuh selidik.
"……Ngh? Ada apa sih kamu malam-malam begini pakai
baju kayak gitu. Sepertinya ini bukan cuma sekadar jahilan murid, ya."
Zen tidak memperlihatkan kegelisahannya dan sedikit
membungkukkan badannya.
"Selamat malam, Nona yang cantik. Sayang sekali, aku
tidak punya waktu untuk berurusan denganmu. Aku permisi dulu."
Lalu, ia menghilang. Tidak seperti tadi, kali ini Zen
benar-benar serius dan kecepatannya sudah melampaui kecepatan suara.
Tentu saja itu bukan kecepatan yang bisa ditangkap oleh
mata Birgit, dan ia pun menghilang dalam sekejap.
Namun tepat setelah itu—batin! terdengar suara
lagi dan Zen kembali terpental.
"Guh……!?"
Di depan Zen yang mengerang kesakitan, Birgit sudah
berdiri di sana. Zen berniat untuk bergerak, tapi nyatanya ia sama sekali tidak
bergeser dari tempatnya semula.
"Wajahmu kayak lagi tanya 'Apa yang sebenarnya
terjadi?', ya. Inti kristal yang melayang di sekitarku ini adalah Artifact
yang digali dari reruntuhan Sandro, peradaban kuno yang pernah ada. Seperti
yang kamu lihat, benda ini punya kekuatan untuk menciptakan penghalang."
──Sandro. Nama itu terdengar tidak asing bagi Zen.
Sandro adalah kota dengan peradaban supermaju yang
berjaya sepuluh ribu tahun lalu.
Mereka memiliki kekuatan tempur yang mampu bertarung
setara melawan kaum iblis berkat senjata-senjata hasil teknologi unik mereka
sendiri.
Inti kristal yang melayang di sekitar Birgit adalah salah
satu senjata tersebut.
Benda itu akan bereaksi terhadap niat pemiliknya atau
pergerakan musuh, lalu membentangkan penghalang yang sangat kuat.
Dulu, Zen pernah bertarung melawan pengguna artefak
tersebut, dan ia hanya memiliki kenangan pahit tentang ketangguhan
penghalangnya.
"Artefak itu... kalau tidak salah, mereka akan
saling membentuk pola Triple segitiga atau Square segi empat di
udara untuk membentangkan penghalang di area tersebut. Sekarang, lima artefak
mengelilingiku dan membentuk sebuah limas segitiga. Dengan kata lain, sebuah
penghalang segitiga telah terpasang di segala arah untuk mencegahku kabur. ……Benar-benar merepotkan, harus bertarung melawan orang yang memiliki
artefak sebanyak ini."
Zen menggenggam tombak besarnya erat-erat, seolah
sedang memastikan mantapnya pegangan tangannya.
Dulu ia terjebak karena tidak mampu menembus
penghalang itu, tapi beruntung Shelah datang menolongnya. Mereka berdua
akhirnya berhasil menjebol penghalang itu dan mundur.
"Aku yang sekarang sudah lebih kuat dan lebih
cepat daripada saat itu. Jika aku mengerahkan seluruh kekuatanku, mungkin saja
menghancurkannya. Aku sudah memastikan kalau artefak itu akan kehilangan
fungsinya begitu hancur. Tapi setelah itu, apa yang harus kulakukan? Aku belum
menemukan gadis wadah itu, dan karena sudah ketahuan, aku tidak punya waktu
untuk mencarinya santai-santai. Kalau aku lari sekarang, pertahanan
mereka akan semakin ketat dan kontak akan semakin sulit……"
"Nggak tahu ya kamu lagi komat-kamit apa, tapi
mending cepat mengaku saja kenapa kamu datang ke sini. Tergantung situasinya,
mungkin aku akan memaafkanmu setelah menghajarmu sedikit."
Birgit yang mulai habis kesabaran mendengar Zen bergumam
sendiri, menunjuk pria itu dengan telunjuknya secara tegas.
Zen berpikir sejenak, lalu mengembuskan napas panjang
tanda menyerah.
"……Memang aku tidak cocok untuk berpikir. Aku adalah
hembusan angin. Tugasku hanya terus menerjang maju."
Pernapasan Zen berubah. Ia mulai menghirup napas
dalam-dalam secara terus-menerus.
Akibatnya, tubuh Zen mulai menggelembung besar.
"Arashi Mi Sentai——"
Sambil mengembuskan napas sekaligus, Zen menusukkan
tombak besarnya ke depan.
Di saat yang sama, angin yang tadinya berpusar tanpa
arah mulai menyatu ke satu titik tujuan.
"Hah! Tiba-tiba ada angin kencang……?"
Sebagai makhluk bermateri mana, kaum iblis bisa mengubah
struktur tubuh mereka sampai batas tertentu.
Apalagi level Empat Raja Iblis, mereka bahkan
memodifikasi struktur internal tubuh mereka secara besar-besaran. Pembuluh
darah dan otot yang kuat diciptakan dengan berat mendekati nol untuk
mendapatkan performa gerak yang lebih tinggi.
Pertunjukan sebenarnya dari Arashi Mi Sentai baru
dimulai sekarang.
Angin puyuh yang tercipta dari kapasitas paru-paru yang
luar biasa kuat itu mendorong punggung Zen dengan kencang.
"Haaaaah!"
Sambil meraung, Zen melesat dalam kecepatan supertinggi.
Ujung tombak besarnya berbenturan dengan penghalang,
memercikkan bunga api ke segala arah.
"Uwah! Kamu nekat menerjang ya! Tapi penghalang ini
nggak bakal hancur semudah itu, lho."
"……Kalau cuma sekali, memang benar."
Bersamaan dengan napasnya, Zen mundur dalam kecepatan
tinggi. Lalu dalam sekejap, ia menerjang maju kembali.
Pengurangan berat tubuh hingga seringan angin serta
kemampuannya menciptakan arus udara sendiri memungkinkan Zen melakukan
pergerakan yang di luar nalar.
"Inilah Arashi Mi Sentai: Vortex."
Gaan! Gagan! Gagagagagagagagaga……!
Rentetan tusukan dilancarkan bertubi-tubi bagaikan bor
spiral.
Suara benturannya semakin cepat. Suara retakan kering
mulai terdengar dari penghalang itu seiring munculnya celah-celah kecil.
"Mu, penghalangnya……?"
"Uwoooooooooh!"
Retakan itu berangsur-angsur membesar.
Celah tercipta, serpihan beterbangan, dan
kemudian——penghalang itu hancur berkeping-keping secara total.
"Nggak mungkin!?"
Mata Birgit membelalak terkejut.
Akibat guncangan dari hancurnya penghalang, inti-inti
kristal itu jatuh berjatuhan ke tanah dan mengeluarkan asap tebal.
"A-ah... bodoh... nggak mungkin... ini nggak mungkin
terjadi……"
Birgit jatuh terduduk lemas dengan lutut lemas.
Ekspresinya diselimuti keputusasaan.
"Satu buah inti kristal itu harganya setara dengan
sebuah kota kecil, tahu nggak……? Tapi kamu menghancurkannya semudah itu……"
"Huh, seharga satu kota? Memang artefak itu layak
dihargai segitu. Memiliki beberapa buah saja sudah sulit dipercaya, tapi——ini
akhirnya! Bersiaplah menjadi santapan tombakku!"
Dengan teriakan penuh tekad, Zen menerjang ke arah
Birgit.
——Aku akan menusuknya seperti ini, lalu meratakan kota
ini sekalian.
Dengan begitu, gadis wadah itu tidak akan bisa
bersembunyi lagi, dan Lloyd si bocah itu pasti butuh waktu untuk sampai ke sini
di tengah puing-puing bangunan.
Aku
hanya perlu segera membawanya pergi.
Menang——tepat di saat Zen merasa yakin akan hal itu.
Giiin!
Sebuah bunyi terdengar dan gerakan Zen terhenti seketika.
Itu penghalang. Empat inti kristal baru melayang di
depan Birgit dan membentangkan penghalang.
"Bo-bodoh... penghalang lagi……!?"
Zen yang tadinya yakin menang, kini wajahnya berubah
drastis karena terkejut.
"Jadi artefaknya bukan cuma yang tadi……!"
Tentu saja, itu adalah inti kristal baru yang dikeluarkan
oleh Birgit.
Penghalang Square yang terbentang di depannya
menahan serangan tombak Zen.
"Haa... ya iyalah, inti kristal ini harganya
selangit. Mana mungkin aku pakainya cuma sedikit. Haa... uang seharga lima kota
melayang begitu saja. Haha, hahaha…… haa……"
Wajah Birgit masih tampak murung seperti tadi, namun ia
tertawa dengan suara yang kering.
Melihat keanehan itu, Zen mundur setengah langkah. Di
saat yang sama, empat inti kristal lainnya meluncur keluar dari balik pakaian
Birgit.
"Gawat——!"
Saat ia menyadarinya, semuanya sudah terlambat.
Atas, bawah, dan keempat sisi Zen sudah dikepung oleh
inti kristal yang membentangkan penghalang.
Padahal penghalang Triple segitiga saja sudah
membutuhkan seluruh kekuatannya untuk ditembus, tapi kali ini yang dipasang
adalah penghalang Square segi empat.
Bagi Zen yang sudah mengonsumsi terlalu banyak mana untuk
serangan sebelumnya, mustahil baginya untuk menerobos keluar.
"Guh……! Se-sebenarnya berapa banyak inti kristal
yang kamu punya……!"
"Sembilan
belas…… ah, nggak. Tadi kamu hancurkan lima, jadi sisa empat belas.
Hahahahaha……"
Birgit tertawa kering lagi sambil menundukkan
pandangannya.
Namun, Zen justru terpaku kaku mendengar kata-kata itu.
"Empat
belas……!? ……Tak bisa dipercaya. Bahkan di zaman dulu pun benda itu termasuk
barang langka tingkat pusaka negara, tahu!? Bagaimana bisa ada empat belas buah
di zaman sekarang…… Sebenarnya di mana dan bagaimana cara kamu
mengumpulkannya!?"
"Haa... ya pakai uanglah, apalagi. Biar begini, aku
ini punya lumayan banyak uang. Mungkin sekarang semua artefak ini cuma aku yang
punya di dunia ini."
Birgit mengucapkannya seolah itu hal sepele, tapi Zen
sampai menahan napas karena ngeri.
Artefak-artefak ini sangat langka hingga hanya ada
beberapa buah di satu negara saat peradaban itu masih ada. Bukan hal aneh jika terjadi perang besar hanya demi memperebutkan
benda-benda ini.
"Meski begitu, seharusnya tidak ada orang yang
bisa mengumpulkan semuanya. Hal yang tidak mampu dicapai oleh bangsawan mana
pun di zaman dulu, berhasil dilakukan oleh seorang gadis kecil sendirian? Tidak mungkin ini hanya karena
uang. Kekuatan politik yang tinggi, kemampuan pengumpulan informasi, koneksi……
Ini pasti hasil dari pemanfaatan segala macam informasi, kan!?"
"Itu semua juga bisa didapat kalau punya uang. Informasi apa pun bakal mengalir deras ke orang kaya."
Informasi akan datang kepada mereka yang punya uang
agar barangnya dibeli. Zen juga tahu soal itu.
Tapi itu hanya berlaku jika ada kemungkinan barangnya
akan dibeli dengan harga tinggi.
Artinya, wanita bernama Birgit ini adalah orang kaya
yang sanggup membeli artefak apa pun.
"……Hei kamu, sebenarnya seberapa banyak uang
yang kamu miliki!?"
"Tanya-tanya isi dompet orang lain, genit banget
sih. Yah, karena kamu kelihatannya bukan saingan bisnis, nggak apalah kuberi
tahu. ——Penghasilan tahunanku dalam mata uang benua adalah 12 miliar 500 juta Grandol,
dan total asetku sekitar 200 triliun Grandol."
Jumlah total aset yang disebutkan Birgit hampir
sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan negara besar yang dulu Zen ketahui.
Ini sudah di luar imajinasi, sudah melampaui level
yang bisa dimiliki oleh satu individu.
"Nggak mungkin……"
"Uang itu pasti ngumpul di tempat yang
seharusnya. Sesuatu yang nggak bakal bisa dibayangkan sama orang yang nggak
punya uang. ……Haaa. Tapi aku benar-benar rugi besar kali ini. Ah, tapi orang
ini kayaknya iblis yang dibilang Lloyd dan yang lain, ya. Kalau gitu, dia bisa
jadi duit nggak, ya? Kalau diserahkan ke lembaga penelitian atau dilelang,
mungkin ada cara buat balik modal…… Nihehe, boleh juga, boleh juga."
Tadinya Birgit mengembuskan napas panjang, tapi
tiba-tiba ia mulai bergumam sendiri sambil memasang senyum yang menyeramkan.
◆
"——Nah, jadi begitulah cerita gimana orang ini
tertangkap kemarin."
Pagi harinya, kami yang dipanggil Birgit untuk
berkumpul di kantin disuguhi pemandangan seorang pria iblis yang terkurung
dalam penghalang.
Ia memejamkan mata seolah sudah pasrah, hanya
tertunduk tanpa bergerak sedikit pun.
"Namanya Zen. Katanya sih dia salah satu dari Empat
Raja Iblis."
"Empat Raja Iblis……!"
Suasana di sana langsung riuh.
"Berarti, dia setara dengan Ganjeet yang kita
hadapi di desa itu?"
"Dia
kuat banget, kan. ……Anu, jangan-jangan Birgit-sama yang mengalahkannya?
Sendirian pula……"
"Yah,
begitulah."
Mendengar
ucapan Birgit, suasana semakin ramai.
Wajar saja kalau mereka terkejut. Belakangan ini terlalu
banyak kejadian gila yang membuat sensor kewarasanku agak tumpul, tapi
sebenarnya iblis itu sendiri sudah sangat kuat.
Empat Raja Iblis adalah keberadaan yang jauh, jauh lebih
tinggi dari itu.
Bahkan aku saja harus sedikit berjuang melawannya, jadi
kalau Birgit yang terlihat seperti warga sipil biasa berhasil menangkapnya,
semua orang pasti kaget.
Di tengah kehebohan itu, hanya Albert yang tetap tenang.
"Yah, Kak Birgit memang punya banyak Magic Tool gila yang ia kumpulkan dari segala
penjuru dunia. Dalam duel satu lawan satu atau kondisi tertentu, dia tidak akan
kalah semudah itu dari siapa pun lawannya."
"Hei, hei. Jangan ngomong seolah aku ini bukan gadis
cantik yang lemah lembut dong."
"Gadis
cantik……?"
"Hah?"
"Nggak,
bukan apa-apa! Tentu saja kakakku tercinta ini sangat cantik!"
Ditatap tajam oleh Birgit, Albert buru-buru meralat
ucapannya.
Yah, terserahlah. Aku lebih tertarik dengan artefak
sihir ini.
Saat aku mendekat dan mencoba menyentuhnya, bunga api
memercik di bagian yang kusentuh.
"Ooh, hebat. Ini penghalang yang sangat
kokoh."
Meskipun aku sudah memasukkan mana yang lumayan
besar, seranganku tetap terpental.
Terlebih lagi, sepertinya penghalang ini menolak
segala jenis reaksi mana.
Tidak peduli bagaimana aku mengubah sifat mananya,
aku tidak bisa menembusnya.
Kalau begini, memang mungkin saja menangkap kaum
iblis.
"Ini adalah artefak sihir dari peradaban kuno,
Lloyd-sama. Sebagian besar memang dibuat untuk melawan kaum iblis, dan dulu
kami dibuat sangat menderita karenanya."
"Peradaban
Kuno Sandro…… kota yang sangat tidak terpuji karena terus melakukan penelitian
tabu yang bahkan membuat Tuhan ketakutan. Meski begitu, tetap saja tidak akan
bisa menandingi kekuatan Lloyd-sama."
Tentu
saja kalau aku sedikit mengerahkan tenaga, aku bisa menembusnya.
Tapi
penghalang ini sepertinya terhubung dengan artefak sihirnya, jadi kalau aku
memaksanya pecah, benda aslinya mungkin akan ikut hancur.
……Aku ingin mencobanya. Meski sempat bimbang, aku
memutuskan untuk urung.
Bagaimanapun, aku hanyalah anak kecil biasa yang hobi
sihir.
Aku bisa menahan diri, dan tentu saja tidak mungkin bisa
menghancurkan penghalang yang bahkan bisa menangkap salah satu dari Empat Raja
Iblis. Iya, kan.
"……Bunuh aku."
Zen bergumam pelan sambil menatapku.
"Sejak awal aku sudah bertaruh nyawa dalam
pertarungan ini. Aku tidak berniat menanggung malu karena dibiarkan
hidup. Cepat bunuh saja aku."
"Hahahaha—apa sih yang kamu omongin."
Birgit langsung menertawakan ucapan itu sambil melotot.
"Kamu pikir pecundang sepertimu punya kebebasan
begitu? Biar kukasih tahu ya, aku nggak berniat membunuhmu semudah itu. Kamu
sudah bikin aku rugi besar. Aku bakal memanfaatkanmu sampai nilainya setimpal.
Dalam banyak hal, ya."
"Kakak benar. Kami juga masih punya banyak hal yang
tidak kami ketahui tentang kaum iblis. Kesempatan untuk menangkap kalian
hidup-hidup itu jarang terjadi. Kami akan meminta tubuhmu menceritakan banyak
hal kepada kami."
"……Kkh."
Wajah Zen berkerut mendengar perkataan mereka berdua.
Ooh! Entah kenapa, tapi sepertinya mereka berdua
berniat melakukan hal yang sangat menyenangkan.
Aku harus ikut berpartisipasi juga.
"Kak Albert, aku juga——"
Baru saja aku hendak bicara, Albert meletakkan
tangannya di kepalaku.
"Ini masih terlalu dini buat Lloyd. Serahkan bagian
ini pada kami."
Senyumnya memang lembut, tapi saat Albert memasang wajah
seperti ini, itu berarti dia sudah siap menanggung beban sendirian.
Maksudnya, dia berniat mengumpulkan informasi dari Zen
lewat penyiksaan, eksperimen, atau ancaman.
Tentu saja dia tidak akan memperlihatkan hal semacam itu
padaku yang masih "anak-anak".
Kkh, menyamar menjadi anak kecil yang hobi sihir biasa
malah jadi bumerang seperti ini. Apa
ada cara bagus…… Ah, benar juga.
"Kak
Birgit, apa output penghalang itu bisa dipersempit? Misalnya, dipasang di leher
saja supaya dia punya sedikit kebebasan tapi tindakannya tetap terbatas."
"Hmm? Yah, kalau itu sih bisa-bisa saja."
Sudah kuduga. Kalau tidak begitu, mana mungkin mereka
bisa menyiksa tawanan di dalam penghalang. Aku sudah menduga kalau bentuk
penghalangnya bisa diubah.
Aku menyeringai kecil lalu melanjutkan kata-kataku.
"Bagaimana kalau begini? Untuk kali ini saja,
biarkan dia membantu festival akademi kita."
"……Maksudmu?"
"Ya sesuai kata-kataku. Festival akademi akan segera
dimulai, tapi aku dengar ada laporan kalau banyak persiapan yang terlambat
gara-gara kekacauan tadi pagi. Kalau tamu-tamu sudah masuk tapi kedainya belum
buka, mereka pasti akan kecewa, kan?"
Aku baru saja mendapat pesan batin dari Noah kalau
tenda-tenda dan sejenisnya terbang ditiup angin akibat pertarungan Birgit dan
yang lain, sehingga pembukaan festival mungkin akan tertunda.
"Kedai-kedai ini adalah wajah dari festival akademi
kali ini. Tanpa itu, semua orang yang sudah jauh-jauh datang pasti akan sangat
kecewa. Jadi, bagaimana kalau kita minta dia melakukan sebuah atraksi sebagai
upacara pembukaan!"
Mendengar kata-kataku, semua orang di tempat itu
mematung.
"Apa yang Anda bicarakan, Lloyd-sama!"
Grim berbisik dengan nada berteriak.
"Benar! Meskipun dia dipasangi belenggu,
membiarkan salah satu dari Empat Raja Iblis berkeliaran itu gila! Kita tidak
tahu apa yang akan terjadi!?"
Jiriel juga ikut memprotes hal yang sama. Tapi aku
juga tidak mengatakannya tanpa pertimbangan.
"Kalian berdua pikirkanlah baik-baik. Menurut
kalian, penyiksaan macam apa yang bisa dilakukan Albert dan yang lain terhadap
iblis?"
Tidak peduli seberapa kaku gerakannya dikunci, pada
dasarnya serangan fisik tidak mempan terhadap iblis.
Tanpa tahu seberapa besar serangan yang dibutuhkan
untuk memberikan kerusakan, penyiksaan akan sulit dilakukan.
Daripada begitu, lebih baik memberinya kebebasan
terbatas dan membiarkannya bergerak di bawah pengawasan. Dengan begitu, kita
bisa mendapatkan lebih banyak informasi.
"Lagipula, iblis bernama Zen itu kelihatannya
tipe yang bisa diajak bicara. Pasti ada informasi yang bisa kita gali
dari percakapan dengannya."
Seandainya dia mengamuk pun, ada aku yang bisa
mengatasinya.
Lagipula aku juga bisa melihat sihir Empat Raja Iblis
dari dekat, jadi ini sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Benar-benar ide
yang cemerlang. Iya, kan.
Albert dan Birgit sepertinya juga segera menyadari
maksudku dan mulai berpikir keras.
"Hmm, nggak buruk juga sih idenya."
Birgit akhirnya mengangguk. Bagus, dia terpancing.
"Upacara pembukaan dengan kekuatan iblis... Sekarang
tamu-tamu pasti sudah banyak yang berkumpul. Ada yang pasti kesal karena
gerbangnya nggak kunjung dibuka, jadi kalau kita nyalakan kembang api besar
yang 'Duar!', mood mereka pasti langsung naik. Hmm, hmm... iya, nggak buruk.
Setelah mood mereka naik, mereka bakal langsung menyerbu kedai-kedai yang sudah
siap dan menghabiskan banyak uang. Nihehe, boleh juga, boleh juga."
Meskipun Birgit memasang senyum menyeramkan, wajah Albert
tetap terlihat serius.
"……Aku keberatan. Memang ada keuntungannya, tapi
kalau terjadi apa-apa, ini bisa jadi bencana besar. Kalau cuma ada kita,
mungkin masih bisa ditutupi, tapi di depan orang banyak itu tidak mungkin. Ini
terlalu berbahaya."
Albert mencoba membantah, tapi Birgit justru merangkul
bahunya sambil tersenyum.
"Hah, kamu masih polos ya, Albert. Kamu nggak paham
maksud Lloyd?"
"Ma-maksud Kakak apa?"
"Lloyd bilang begitu karena dia nggak mau kita
melakukan pekerjaan kotor. Coba pikir, kalau rakyat tahu kalau kandidat pertama
takhta sepertimu atau orang kaya sepertiku melakukan penyiksaan meskipun itu
terhadap iblis, pasti bakal gempar, kan?"
"Aku paham soal itu. Tapi……"
"Lagipula Albert, kamu sendiri nggak terbiasa
dengan hal begini, kan? Tanganmu tadi gemetaran, lho. Kelihatan banget."
"……Kakak menyadarinya……?"
"Tentu saja. Kamu pikir aku ini kakaknya siapa? Lagipula
kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik, festival akademi pasti sukses
besar. Kalaupun ketahuan, reputasi kita bakal naik karena berhasil menjinakkan
salah satu dari Empat Raja Iblis. Tenang saja, kalau ada apa-apa, aku tinggal
jentikkan jari pakai penghalangku. Lloyd sudah memperhitungkan sampai sejauh
itu saat mengatakannya."
"Benar juga…… Lloyd memang anak yang cerdas. Tidak
heran kalau dia sudah paham sampai ke sana. Aku malah tidak menyadarinya…… betapa bodohnya aku. Hampir
saja aku mengabaikan niat baik Lloyd……!"
"Iya,
iya. Kamu memang agak keras kepala sih. Tapi setidaknya kamu mau mengakui
kesalahan, itu poin plus buatmu."
Mereka berdua asyik bergumam sendiri. Saat aku sedang
bingung memikirkan apa yang mereka bicarakan, mereka berbalik menatapku.
"……Baiklah. Tapi terlepas dari rencana kami, apa
pria ini mau menuruti kata-kata kami secara sukarela——"
"Boleh
saja."
Zen
memotong ucapan Albert.
"Sejak
awal, aku sebagai pecundang tidak punya hak untuk menolak. Terlebih lagi,
meskipun demi menjalankan misi, aku merasa ingin menebus kesalahanku karena
telah mengganggu festival para pemuda yang tidak bersalah ini. Aku akan
membantu sebisa mungkin. ……Tapi jangan salah sangka. Memang aku kalah, tapi
jangan harap jiwaku akan tunduk. Jangan pernah berpikir aku akan mengkhianati
rekan-rekanku!"
Melihat
Zen yang menatap tajam dengan mata penuh tekad, semua orang saling bertatapan.
"……Kayaknya dia bukan orang jahat-jahat amat?"
"Sepertinya dia tipe ksatria sejati. Tipe yang benci kecurangan dan teguh pada prinsip…… Jadi
Lloyd-sama sudah melihat sifatnya itu saat mengusulkan rencana tadi.
Benar-benar luar biasa."
Ren dan Sylpha bergumam entah apa, tapi intinya dia mau
membantu, kan?
Kalau begitu, sepertinya eksperimenku bakal berjalan
lancar.
Nanti
aku coba minta tolong macam-macam secara pribadi, ah.
◆
"——Hmm,
boleh juga. Bagus, Zen."
Shelah,
salah satu dari Empat Raja Iblis yang memantau kejadian itu lewat bola kristal,
mengangguk pelan.
"Tadinya
aku bingung apa rencanamu saat kamu tertangkap semudah itu, tapi aku paham.
Ternyata kamu berpura-pura patuh untuk mencari kesempatan mendekati gadis wadah
itu, ya. Kupikir kamu cuma otot saja, tapi ternyata kamu pintar
juga…… Fufu."
Shelah tersenyum kecil, namun tiba-tiba senyumnya
membeku.
Soalnya, daripada terlihat berpura-pura untuk mencari
celah, Zen justru kelihatan benar-benar tulus menuruti perintah mereka.
"……Benar begitu, kan? Zen. Aku percaya padamu, lho.
Tolong ya?"
Shelah menatap bola kristal itu dengan tatapan cemas
seolah ingin memastikan keyakinannya.
Bagaimanapun juga, festival akademi akan segera dimulai.
◆
"Kalau begitu, mari kita mulai——"
Di atap menara akademi, Zen mengangkat kedua
tangannya ke langit.
Seketika, awan mulai berkumpul di atas kepalanya dan
menutupi seluruh langit dalam sekejap.
Di bawah sana, para pengunjung mendongak ke atas saat
kilatan petir mulai menyambar-nyambar di dalam awan.
Kilatan itu semakin banyak dan berkumpul di tengah
awan, lalu——Duaaar! bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar,
bunga raksasa mekar di langit.
——Kembang api.
Sebuah bola berisi bubuk mesiu yang diledakkan di
udara untuk menciptakan bunga api yang indah di langit malam.
Sihir atau alkimia bisa melakukan hal serupa, tapi
Zen mereproduksinya menggunakan petir dengan latar belakang awan gelap.
"Uwooooh! Bisa mengendalikan petir sebebas itu,
benar-benar level Empat Raja Iblis!"
"Iya, mengumpulkan awan, memanggil petir, dan
membentuknya menjadi wujud yang tidak alami…… ini mustahil dilakukan tanpa
kontrol mana yang luar biasa."
Apa yang dikatakan Grim dan Jiriel benar.
Mengendalikan cuaca itu sendiri membutuhkan kontrol
mana yang sangat halus, ditambah lagi kebutuhan mana yang sangat besar.
Kemungkinan rahasianya adalah dia menyatukan materi
mananya dengan atmosfer, sehingga ia bisa mengendalikan cuaca dengan bebas.
Wah, aku benar-benar diperlihatkan sesuatu yang
hebat. Teknik seperti ini jarang sekali bisa dilihat.
Duaaar! Du-duaaar!
Petir meledak di langit, dan bunga-bunga indah
bermekaran dengan megahnya.
Saat aku sedang terkagum-kagum melihatnya, Zen
berbalik menatapku.
"Apa begini sudah cukup?"
"Iya, sepertinya semua orang sangat
senang."
Para pengunjung di bawah sana mendongak melihat
kembang api petir ciptaan Zen sambil bersorak kagum.
Kekesalan mereka karena tidak bisa segera masuk tadi
seolah hilang begitu saja.
Mereka menatap langit dan sesekali berteriak penuh
semangat.
Di tengah kesibukan itu, persiapan stan di balik
gerbang juga berjalan dengan pesat.
Tampaknya, sudah lebih dari separuh yang selesai
bersiap.
"Kira-kira sudah bisa dimulai, belum ya?" Baru
saja aku membatin begitu, lonceng menara akademi berdentang dengan nyaring.
"Tes, tes! Semuanya, mohon maaf telah menunggu lama!
Dengan ini,
Festival Akademi William resmi dibuka!"
Segera
setelah suara Birgit menggema, gerbang akademi pun dibuka lebar.
Para pengunjung mulai mengalir masuk ke dalam satu
per satu. Festival
ini benar-benar telah dimulai.
"Ya,
kerja bagus, Lloyd."
Pintu atap terbuka, dan Albert muncul dari sana. Sylpha
dan Ren pun turut mendampinginya.
"Kak Albert, persiapannya sudah selesai?"
"Ya. Lagipula, aku juga penasaran dengan keadaan
Zen. ……Tapi sepertinya kekhawatiranku tidak berguna. Aku senang dia bekerja
dengan sangat baik."
"……Karena aku masih belum berniat untuk mati."
Zen membuang muka sambil bersedekap, melirik sekilas ke
arah Albert yang mengedipkan mata padanya.
Inti kristal milik Birgit terpasang di sekeliling
leher Zen.
Benda itu akan aktif di saat Zen berniat mencelakai
manusia.
Sistemnya dirancang untuk langsung memutus bagian
tubuh yang terkekang.
Terlebih lagi, Birgit bilang kalau fungsi itu memang
sudah terpasang sejak awal. Benar-benar benda yang mengerikan.
"Bagaimanapun juga, tugasku sudah selesai. Biar
aku saja yang menggantikan tugas pengawasan ini. Bukankah kamu juga ingin
menikmati festivalnya, Lloyd?"
"Itu memang benar, tapi……"
"Heh, aku senang kamu mengkhawatirkan aku. Tapi
kedua orang ini juga bersamaku, jadi tidak akan ada masalah."
Sylpha dan Ren pun mengangguk mantap. Memang benar,
dengan adanya dua orang yang berhasil mengalahkan Ganjeet ini, mereka pasti
bisa melindungi Albert jika terjadi sesuatu yang darurat.
"Lagipula, Zen masih punya banyak pekerjaan yang
harus dilakukan. Akan lebih efisien jika aku yang sudah paham detail tugasnya
yang mengawasi."
"Baiklah. Kalau begitu, aku serahkan padamu."
"Ya, bersenang-senanglah! Zen, kamu tidak
keberatan, kan?"
"Tidak masalah."
Zen mengangguk mendengar ucapan Albert. Dia ternyata
cukup patuh, ya. Omong-omong, untuk apa sebenarnya dia datang ke akademi ini?
Saat pertunjukan kembang api tadi, dia sempat
celingukan seolah sedang mencari sesuatu. ……Yah, mungkin dia hanya merasa asing
dengan kota manusia.
Tapi bagiku, festival akademi ini jauh lebih penting.
Ini adalah festival yang diciptakan oleh para siswa
jenius sebagai puncak kehidupan sekolah mereka.
Hanya dengan melihat dari atas saja, aku sudah sangat
bersemangat melihat begitu banyak stan dan pertunjukan yang menarik.
Terutama hasil riset dari para siswa Departemen
Sihir, aku sangat menantikannya.
Pasti akan berguna untuk riset sihirku sendiri, dan
kalaupun tidak, aku tetap ingin melihatnya.
Dan yang paling penting, aku penasaran apa yang
sedang dikerjakan oleh Connie yang terus-menerus mengurung diri itu. Hmm,
memikirkannya saja sudah membuatku tidak sabar.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, Kak Albert!"
"Ya, pergilah."
Dilepas oleh Albert, aku pun berlari menuju area
festival.
◇
"Wah, semuanya benar-benar luar biasa dan layak
dilihat!"
Sambil menyantap fruit sandwich untuk makan
siang dengan wajah berseri-seri, aku mengembuskan napas penuh kepuasan.
Untuk sementara aku sudah berkeliling melihat
semuanya secara urutan, dan setiap departemen memberikan performa yang sangat
totalitas.
"Benar sekali, Tuan. Menurut saya, patung
pahatan karya Departemen Ilmu Pedang itu sungguh luar biasa."
Grim sedang mengagumi benda yang dipajang di gerbang
tadi.
Itu adalah patung pahlawan setinggi tiga meter yang
menggenggam pedang, bahkan para pengunjung pun dibuat takjub melihatnya.
Entah kenapa patung itu agak mirip denganku. ……Tapi
karena badannya sangat tinggi dan terlalu berkilauan, mungkin itu cuma
perasaanku saja.
"Kalau menurut saya, bunga ungu yang dipajang di
pintu masuk utama sangat mengagumkan. 'Bunga Obat untuk Tuanku', ugh, saya bisa
merasakan cinta yang begitu indah di sana!"
Jiriel yang entah kenapa sedang bersemangat membicarakan
bunga ciptaan Departemen Farmasi. Itu adalah bunga berwarna ungu yang sangat
cantik, padahal aslinya hanyalah bunga lili biasa.
Dalam penjelasan proses pembuatannya, mereka membagi
dosis racun dan obat secara detail sesuai tahap pertumbuhannya untuk
menghasilkan warna dan bentuk yang belum pernah ada sebelumnya.
Jika tidak dilakukan dengan sangat mahir, bunganya pasti
akan layu atau tumbuh terlalu liar hingga merusak pemandangan. Hasilnya sungguh
memukau, sampai-sampai para pengunjung menghela napas terpana.
"Ya, departemen lain juga hebat, tapi dua
departemen itu memang levelnya berbeda karena ada Sylpha dan Ren."
Mereka berdua adalah orang-orang dengan kemampuan
kelas atas di departemen masing-masing. Tentu saja itu memicu tingkat
persaingan di sekitar mereka untuk ikut naik. Stan
Departemen Ilmu Pedang dan Farmasi memang terlihat paling banyak dikunjungi
orang.
Dan meski tidak terlihat secara mencolok, Departemen
Ekonomi yang mengoordinasi semuanya juga luar biasa.
Biasanya festival dengan skala sebesar ini akan
sangat berjejal hingga sulit untuk berkeliling dengan tenang. Sepertinya ini
berkat pengaruh Albert.
Ngomong-ngomong, saat berkeliling tadi, aku melihat
Zen mengikuti mereka sambil mengerjakan berbagai tugas. Sepertinya tidak perlu
ada yang dikhawatirkan.
Dia patuh mengikuti perintah Albert sambil terbang ke
sana kemari di area akademi.
"Tapi ngomong-ngomong, si gadis berkacamata itu
sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya, ya."
Grim bergumam soal Connie. Sepertinya barang
pamerannya belum selesai.
Kudengar Connie masih mengurung diri di ruang klub
untuk terus mengerjakannya. Dia masih keluar sesekali untuk makan, jadi
setidaknya dia masih hidup, tapi aku tetap sedikit khawatir.
"Lloyd-sama, kalau begini terus festival akademi
akan berakhir sebelum karyanya selesai. Bagaimana kalau kita pergi
membantunya?"
"Dia bilang tidak mau aku melihatnya sampai
selesai, jadi membantunya hanya akan merusak usahanya."
Lagipula, kemarin aku baru saja menawarkan bantuan dan
ditolak. Terlalu mendesak dan membuatnya terburu-buru juga
tidak baik.
Festival ini berlangsung selama lima hari. Selain
hari ini, masih ada empat hari lagi. Kalaupun tidak sempat, aku tinggal minta
dia memperlihatkannya nanti setelah selesai.
"Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu, mari kita
nikmati stan yang lain."
"Jika itu keinginan Anda."
"Siap laksanakan, Tuan!"
Aku pun melanjutkan menikmati festival akademi. Namun,
meski dua atau tiga hari telah berlalu, Connie tidak kunjung keluar dari ruang
klub.
Kata Sylpha yang mengantarkan keperluan, katanya tinggal
sedikit lagi, dan pasti akan selesai pada hari terakhir.
……Hmm, kalau sudah sampai sejauh ini, aku benar-benar
ingin dia menyelesaikannya tepat waktu.
◆
"Heh Zen, apa maksudmu?"
Di malam hari, di kebun belakang akademi, Shelah dan Zen
yang dipanggil sedang berhadapan.
"Kamu malah jadi pelayan manusia dan sama sekali
tidak mencari gadis wadah itu."
"……Bukan begitu. Aku mencarinya di sela-sela
membantu manusia, tapi aku sama sekali tidak merasakan keberadaannya."
"Memang ada banyak manusia dengan kekuatan sihir di
sini, jadi melacak sisa mana mungkin agak sulit. ……Tapi kalau kamu serius,
harusnya itu masalah gampang, kan?"
"……"
Zen tidak menjawab pertanyaan Shelah. Sebenarnya, bukan berarti dia tidak punya cara. Mana milik Zen sudah
cukup pulih, dan dia sudah memahami sebagian besar struktur dari inti kristal
tersebut.
Jika dia ingin kabur, dia bisa melakukannya kapan
saja. Misalnya dengan menciptakan kepala baru di tubuhnya, lalu membiarkan
leher aslinya terpotong seperti ekor cicak untuk melarikan diri.
Albert dan yang lain tidak tahu kalau Zen yang
merupakan makhluk bermateri mana bisa melakukan hal itu.
Namun, alasan kenapa dia tidak melakukannya adalah——
"Haa, dugaanku benar. Kamu ini memang punya rasa
tanggung jawab yang berlebihan."
Shelah menghela napas. Zen tampak merasa tidak enak.
Di dunia iblis di mana kekuatan adalah segalanya, Zen
adalah pria yang jujur sampai ke tingkat yang bodoh.
Meski lawannya menggunakan cara licik sekalipun, dia
selalu berusaha bertarung secara ksatria dan jujur.
Di belakangnya, dia sering disebut si otak otot, tapi
banyak bawahan muda yang sangat mengaguminya.
Bagi pria seperti dia, karena dia sudah kalah dan
dibiarkan hidup, maka membantu persiapan festival adalah hal yang sangat wajar.
"Tapi aku tidak melupakan misi utama. Besok malam
festival ini akan berakhir. Saat itulah, aku akan memanfaatkan celah ketika
para manusia tertidur kelelahan untuk mencari dan menemui gadis wadah
itu."
"……Yah, kita sesama Raja Iblis berada di posisi yang
setara, jadi aku tidak akan mengatur cara kerjamu. ——Tapi kalau sudah begini,
aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Kamu tidak akan keberatan jika aku ikut
campur, kan?"
Zen mengangguk mendengar pertanyaan Shelah.
"Tentu saja. Lagipula, mana mungkin seorang
pecundang sepertiku berhak memberikan pendapat."
"Ka-kamu sepertinya sangat memikirkannya, ya……"
Melihat Zen yang tampak sedikit murung, Shelah memasang
wajah heran.
Tipe petarung yang mengandalkan perasaan seperti Zen akan
langsung kehilangan motivasi jika harus bertarung dalam kondisi yang tidak
sesuai dengan prinsipnya.
Dengan kepribadian Zen yang seperti itu, sepertinya dia
tidak akan bisa bekerja dengan benar dalam situasi sekarang.
Shelah berpikir akan lebih efektif jika mereka bergerak
sendiri-sendiri daripada bekerja sama secara tanggung.
"Pokoknya, mari kita berjuang bersama."
"Ya, demi Yang Mulia."
Keduanya melakukan tepukan telapak tangan ringan lalu
berpisah. Hari terakhir festival akademi akan segera dimulai.
◆
Beberapa hari berlalu, dan tak terasa hari terakhir
festival akademi pun tiba. Sambil bermandikan cahaya matahari pagi, aku
mengangguk pelan.
"Jadi, pekerjaan Connie belum selesai juga?"
"Ya, katanya tinggal sedikit lagi."
Sylpha yang membawakan sarapan menjawab. Tadi, sepertinya
Sylpha sempat menanyakan situasinya saat mengantarkan sarapan untuk Connie.
"Benar-benar, sudah berapa kali dia bilang
'tinggal sedikit lagi'. Merepotkan sekali."
"Tapi sepertinya kali ini benar-benar hampir
selesai. Dia bilang akan segera keluar begitu pengecekan terakhir
rampung."
Ren menimpali untuk membela Connie, memotong keluhan Sylpha.
Dia benar-benar membuatku tidak sabar.
Tapi satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah menunggu.
Mari menunggu dengan tenang.
Oleh karena itu, hari ini pun aku kembali berkeliling
festival akademi. Ini sudah putaran kesepuluh, tapi aku belum bosan. Selalu ada
penemuan baru setiap kali aku berkeliling.
Wah, ada stan baru di saat-saat terakhir begini, berani
juga mereka.
Kalau di sebelah sana, sepertinya mereka melakukan
perbaikan berdasarkan saran dari pengunjung.
Sepertinya festival ini masih jauh dari kata berakhir.
"……Tapi karena ini hari terakhir, orang-orang
sudah mulai berkurang banyak, ya."
Dibandingkan hari-hari sebelumnya, arus pengunjung
terlihat jelas menurun.
Bagiku sih jadi lebih enak buat jalan, tapi para siswa
sepertinya mulai kehilangan semangat. Yah, setelah lima hari sih wajar saja.
Tapi daripada kehilangan semangat, mereka terlihat lebih
seperti sedang gelisah.
"Mereka sedang mencari pasangan. Lihat itu."
Ren yang berada di sampingku menunjuk ke arah seorang
siswa laki-laki yang tampak memohon dengan gigih kepada seorang siswi.
Namun sepertinya dia ditolak, karena dia langsung
tertunduk lesu. Melihat itu, Sylpha menggelengkan kepala dengan ekspresi heran.
"Bodoh sekali. Acara seperti ini sangat
bergantung pada perilaku sehari-hari dan lobi-lobi awal. Apa mereka tidak paham
kalau panik di saat terakhir itu sudah terlambat? Benar-benar pemandangan yang
menyedihkan."
Ada apa ini? Apa sebenarnya yang mereka bicarakan?
"Anda serius tidak tahu, Lloyd-sama? Yang mereka
bicarakan adalah pesta dansa yang diadakan di malam terakhir festival
akademi."
"Sejak beberapa hari lalu, banyak siswa
laki-laki yang mengajak siswi di sana-sini. Sylpha-tan
dan Ren-tan juga diajak oleh banyak laki-laki. ……Tentu saja semuanya langsung
ditolak mentah-mentah. Huh, balasan yang setimpal bagi para serangga kotor
itu."
Grim dan Jiriel memberikan penjelasan dengan ramah.
Aku sama sekali tidak sadar karena memang tidak
tertarik.
Yah, lagipula aku tidak akan ikut, jadi tidak perlu
diingat.
"……Ehem. Ngomong-ngomong Lloyd-sama, apakah Anda
sudah menentukan pasangan untuk malam ini?"
"Eh?"
Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Sylpha, aku
spontan mengeluarkan suara kaget.
Eh, aku juga harus ikut?
Saat aku bertanya lewat tatapan mata, Sylpha mengangguk
seolah itu hal yang sudah sewajarnya.
"Ini adalah acara yang diprakarsai Birgit-sama.
Tentu saja Lloyd-sama juga perlu hadir."
"Albert-sama juga dipaksa ikut. Yah, sepertinya dia
tidak terlalu keberatan sih."
Kalau dipikir-pikir, sepertinya Birgit pernah bilang
sesuatu.
Karena waktu itu aku sedang membaca buku jadi aku cuma
mengiyakan saja, ternyata itu soal ini, ya.
Aku sama sekali tidak mendengarkan.
Hmm, merepotkan sekali. Bagaimana ya? Saat aku sedang
mengerang pelan, Sylpha berdeham kecil.
"Tampaknya Lloyd-sama juga belum memikirkan siapa
pasangannya. Jika Anda berkenan, maukah Anda pergi bersama
saya?"
Melihat Sylpha yang mengulurkan tangannya, Ren jadi
panik.
"Sylpha-san!? Bukankah kamu bilang kalau pasangan
dansa itu harusnya laki-laki yang mengajak!?"
"Heh, itu aturan bodoh yang sama sekali tidak punya
kekuatan memaksa. Tidak ada alasan untuk sengaja mematuhinya."
"Ka-kalau begitu, aku juga ingin bersama
Lloyd……"
"Silakan saja jika kamu mau. Karena yang memutuskan
adalah Lloyd-sama."
"Uuh……
be-benar juga. Kamu benar……"
Melihat
wajah Sylpha yang tampak tenang, Ren berpikir sejenak lalu menatapku dengan
tatapan mantap.
"Anu!
Lloyd, kalau boleh... maukah kamu... itu, berdansa denganku!?"
Melihat
Ren yang mengucapkannya sambil menatap ke atas dengan pipi merona, aku
menjawab.
"Eeeh……"
"Reaksinya jahat banget!"
Ren berteriak, sepertinya dia syok dengan jawabanku.
Bukannya aku tidak bisa berdansa. Sylpha sudah menjejalkan etiket semacam ini
ke kepalaku sampai aku muak.
Tapi kalau aku bersama Sylpha atau Ren di pesta dansa
yang diikuti banyak siswa, aku pasti akan jadi pusat perhatian.
Sylpha sudah tidak perlu ditanyakan lagi, dan
belakangan ini Ren juga sudah berubah menjadi gadis cantik yang sangat menarik
perhatian. Aku tidak mau menonjol.
Setidaknya kalau ada gadis yang lebih biasa-biasa
saja, aku mungkin mau berdansa…… tapi yah, mengajak gadis lain sekarang juga
merepotkan, jadi sepertinya aku harus pasrah saja.
◇
Sore harinya, tepat sebelum pesta dansa dimulai, aku
dikerumuni oleh semua orang untuk digantikan pakaiannya.
Rambutku dipasang wax hingga kaku, dan aku dipakaikan
setelan jas anak-anak yang terasa kaku dan sulit digerakkan.
Begitu aku melangkah maju ke depan mereka, terdengar
suara kagum dari semua orang.
"Heh! Ternyata cocok juga ya buatmu,
Lloyd!"
"Ya, bagus sekali. Kalau begini, kamu tidak akan
memalukan dibawa ke mana pun. Tidak, bukannya memalukan, kamu malah membuatku
bangga sebagai adikku."
Birgit dan Albert yang sudah mengenakan pakaian resmi
menatapku dengan puas.
Mereka bilang begitu, tapi menurutku ini sama sekali
tidak cocok. Saat kulihat di cermin, aku merasa seperti sedang dipakaikan baju
yang kebesaran.
Sebaliknya, mereka berdua terlihat sangat terbiasa
memakainya. Benar-benar pangeran dan putri. Itu adalah sesuatu
yang mustahil bagiku.
"Sangat cocok untuk Anda. Memang tidak salah
lagi kalau itu Lloyd-sama."
"Iya, iya, Lloyd kelihatan keren banget!"
Sylpha dan Ren terus memujiku, padahal sudah jelas
kalau mereka berdua lebih cocok dengan gaun yang mereka pakai.
Kainnya sangat tipis dan bagian punggungnya terbuka
lebar, sepertinya mereka bisa masuk angin mengenakan pakaian seperti itu.
"Iya, iya, semuanya terlihat bagus. Tinggal
lokasinya saja yang sedikit kurang mumpuni……"
Birgit menatap ke luar jendela lalu menghela napas
kecewa.
Halaman tengah akademi yang menjadi lokasi pesta dansa
hanya diberi hiasan buatan tangan, sama sekali tidak sebanding dengan kastil
kerajaan tempat kami biasa mengadakan acara.
"Tidak ada pilihan lain, Kak Birgit. Kita harus
bersyukur bisa mendapatkan tempat seluas ini."
"Tapi
tetap saja…… Hmm, ngomong-ngomong Connie di mana? Aku
tidak melihatnya belakangan ini."
"Connie-chan itu——"
Albert menjelaskan situasinya kepada Birgit. Sepertinya
pada akhirnya pembuatan artefak sihir Connie tidak sempat selesai tepat waktu.
Padahal dia bilang tinggal sedikit lagi. Sayang sekali.
"Yah, tidak masalah kalau kita melihatnya nanti……
mu?"
Saat aku sedang memikirkan itu, terlihat seorang siswi
berpakaian kerja berlari masuk ke lokasi pesta dansa. Itu Connie. Dia celingukan
seolah sedang mencari kami.
"Woi,
Connie!"
"Ah! Lloyd-kun. Maaf menunggu, ini sudah jadi!"
Connie melambai-lambaikan tangannya sambil mengapit
artefak sihir sebesar bola di ketiaknya.
Ooh! Itukah artefak sihir yang sedang dibicarakan?
Akhirnya selesai juga. Aku sudah menantikannya.
Aku melompat turun dari jendela dan mendarat
menggunakan sihir Flight.
"Kerja bagus, Connie."
"Ya, untung saja sempat tepat waktu. Ayo coba
lihat, aku akan segera mengetesnya."
"Tentu saja. Ayo lakukan. Cepat lakukan."
Sudah tidak perlu ditanyakan lagi, mataku sudah terpaku
pada artefak sihir itu. Benda macam apa itu sebenarnya? Aku sangat bersemangat.
"Bagaimana cara pakainya? Terus,
benda ini sebenarnya apa?"
"Jangan terburu-buru. Aku harus mengumpulkan
orang dulu…… Woi! Semuanya—!"
Connie memanggil para siswa di sekitar. Hmm, aku tidak
terlalu paham tapi aku akan ikut membantu juga.
"Bisakah kalian membantu kami sebentar?"
"Anu, bolehkah minta tolong bantuannya?"
Setelah kami berdua memanggil semuanya, dalam sekejap
terkumpul belasan orang.
"Aduh, ada apa sebenarnya?"
"Gila, sudah lama tidak melihatmu, si
kacamata."
Di antara mereka juga ada Noah dan Gazelle. Connie berdeham sekali, lalu memandang ke sekeliling.
"Terima kasih sudah berkumpul. Artefak sihir ini
menggunakan mana dalam jumlah besar sebagai bahan bakarnya. Benar-benar butuh
mana yang sangat, sangat banyak. Jadi, mohon bantuannya."
Connie membungkukkan kepalanya.
Sejak masuk sekolah, dia memang terus melakukan riset
untuk menyerap mana demi menghilangkan gangguan mana di desanya.
Sepertinya ini adalah puncak dari risetnya itu.
"Tidak masalah. Kelihatannya cukup menarik."
"Apa yang harus kami lakukan?"
Setelah Noah mengangguk, orang-orang di sekitar pun
mulai berebut untuk mengacungkan tangan.
Dalam sekejap sudah terbentuk antrean. Mari kita
lihat, sepertinya aku juga harus ikut berpartisipasi.
"Kalau begitu, silakan letakkan tangan kalian di
sini."
"Hmm, begini?"
Noah yang berada di urutan depan meletakkan tangannya di
atas artefak sihir itu, dan indikator di bagian depannya bergerak perlahan.
Kira-kira hanya naik sekitar sepuluh persen. Connie
melihat itu sambil bergumam takjub.
"Ooh,
luar biasa, Noah-san! Bisa menuangkan mana sebanyak ini sekaligus! Memang tidak
salah lagi sebagai lulusan terbaik Departemen Sihir. Prok prok prok."
Terpancing
oleh Connie yang bertepuk tangan, orang-orang lain pun turut bertepuk tangan.
"Heh,
lumayan juga ya, Kak. Baiklah, aku akan menuangkan mana yang lebih
banyak!"
Gazelle juga ikut bersemangat di depanku. Ternyata
sampai sekarang dia masih menganggap kakaknya sebagai rival.
Sambil membunyikan jari-jarinya, dia berdiri di depan
artefak sihir itu dan menuangkan mana dengan penuh tekad.
"Oraaaaaaaaa!"
Sambil meraung hingga urat di pelipisnya menonjol dan
keringat dingin bercucuran, Gazelle menuangkan mananya, tapi indikatornya hanya
bergerak kurang lebih sama dengan Noah.
"Haa,
haa…… Lihat itu, Kak! Aku lebih unggul darimu!"
"Tidak, sepertinya tidak ada bedanya……"
Noah tampak heran, tapi beberapa siswa yang menyusul
setelahnya bahkan tidak sampai sepuluh persennya, mungkin cuma sekitar satu
persennya saja.
Benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan mereka
berdua. Memang keturunan William luar biasa. Saat aku sedang memikirkan itu,
giliranku pun tiba.
"Berikutnya Lloyd-kun, ya. Mari kita lihat seberapa
hebat kemampuanmu."
"Hehe, semangat ya, Lloyd!"
Mereka berdua menepuk punggungku, tapi…… gawat. Kalau aku
menuangkan mana di tempat yang penuh orang begini, jumlah manaku akan ketahuan.
"Wah, wah, ada apa ini kok ramai sekali?"
"Semuanya terlihat senang, ya."
Tanpa sadar Albert dan yang lain juga sudah turun.
Satu-satunya cara adalah menekan jumlah manaku sampai ke
batas minimal untuk melewatinya…… tapi kalau begitu, indikator
artefak ini tidak akan terisi penuh.
Saat ini baru terisi sekitar seperempat, masih jauh dari
maksimal. Jika aku menahan diri di sini, mana yang terkumpul tidak akan cukup
dan artefaknya tidak bisa aktif. Itu tidak bagus.
Karena dia sudah bersusah payah menyelesaikannya, aku
ingin segera melihatnya bergerak. Apalagi aku sudah dipaksa menunggu lama. Aku
sangat ingin melihatnya.
Khu, apa yang harus kulakukan…… Saat
aku sedang bimbang, aku menyadari ada seseorang di dekatku.
"Jika kamu tidak melakukannya, apa boleh aku
melakukannya lebih dulu?"
Seorang wanita dengan suara yang menggelitik telinga
melangkah maju. Dia adalah wanita cantik dengan rambut ungu panjang yang indah.
Melihat kecantikannya, para pria di tempat itu spontan mengeluarkan suara
kagum.
"Cukup letakkan tangan di sini?"
"Iya, setelah itu mananya akan teris— wah!?
A-apa-apaan jumlah mana ini!?"
Saat wanita itu menuangkan mananya, indikatornya
meningkat pesat hingga mencapai hampir tujuh puluh persen.
Sorakan kembali
bergemuruh saat merasakan mana yang melampaui milik Noah dan kawan-kawan.
"Mana yang gila. Rasanya jumlahnya melonjak dua kali
lipat dari kita tadi, ya?"
"Hmm, tapi sepertinya Anda bukan siswi atau staf di
sini. Kecantikan seperti itu harusnya tidak akan mudah dilupakan jika pernah
terlihat sekali saja."
"Fufu, Anda pandai merayu."
Wanita itu membalas dengan senyuman saat dikelilingi
orang-orang. Aku tidak tahu siapa dia, tapi ini kesempatan bagus untuk
mengalihkan perhatian.
Sret,
sret, sret……
Ffuh, beres.
Setelah menyelesaikan "tugas sampingan" itu,
aku meletakkan tangan di bahu Connie.
"Syukurlah, Connie. Sekarang indikatornya sudah
penuh, jadi artefaknya sudah bisa dijalankan."
"Eh? Tapi tadi baru tujuh puluh persen…… ah!"
Connie mengucek matanya sambil memastikan. Indikator di
depannya kini benar-benar sudah penuh.
"A-are?
Aneh ya…… padahal tadi masih……"
"Aku melihatnya kok, tadi bergerak pelan-pelan. Wah,
hebat sekali ya mana kakak cantik itu. Ahaha."
——Tentu saja, itu karena aku diam-diam menuangkan manaku
ke sana.
Ffuh, mendebarkan juga, tapi dengan begini aku bisa
menyalakan artefaknya sambil tetap berpura-pura. Aku harus berterima kasih pada
wanita itu.
Saat aku membatin begitu, aku menyadari Grim dan Jiriel
sedang gemetar hebat.
"Dia menekan mananya dengan sangat kuat, tapi
gelombang mana ini…… sudah pasti bukan manusia."
"Wanita itu adalah yang terakhir dari Empat Jenderal
Iblis, Shelah si Biru. Tapi dengan dandanan begitu, apa dia berniat ikut
pesta dansa? Apa sebenarnya yang sedang dia rencanakan?"
Hou, Empat Jenderal Iblis ya.
Pantas saja aku merasa ada yang aneh. Sepertinya dia
sedang menyamar menjadi manusia dengan menekan kekuatannya.
Tapi, sama seperti mereka yang menyerang sebelumnya, apa
sebenarnya tujuan mereka? Yah, dipikirkan pun tidak ada gunanya.
Aku ingin bertanya, tapi Shelah sedang dikelilingi para
siswa yang berebut mengajaknya berdansa.
Aku akan mencoba menyapanya nanti setelah suasana lebih
tenang.
Lagipula bagiku, ada hal lain yang jauh lebih prioritas.
"Nah, Connie, sekarang artefaknya sudah bisa
dijalankan, kan? Ayo cepat nyalakan."
Sudah tidak perlu ditanyakan lagi, ini adalah artefak
yang disesuaikan Connie hingga batas waktu terakhir.
Pasti mengandung mana dalam jumlah yang luar biasa. Apa
yang akan terjadi ya? Aku sangat bersemangat.
"Ah, benar juga. ——Kalau begitu semuanya, terima
kasih atas bantuannya. Berkat kalian mananya sudah terkumpul. Sekarang,
aktivasi Artefak Sihir Fantasy Projector——"
Klik, saat Connie menekan sakelar, artefak
bernama Fantasy Projector itu mulai memancarkan cahaya.
Cahaya itu melesat di udara dengan lintasan yang bebas,
seolah-olah sedang menggambar sesuatu di langit. Apakah itu sebuah bangunan?
"Itu……
sebuah kastel?" Sylpha bergumam.
Memang benar, itu adalah kastel. Tampak sebuah kastel
megah nan mewah seperti yang muncul dalam dongeng sedang tercipta di sana.
"Fantasy Projector adalah artefak yang
melepaskan mana yang terkumpul dan mematerialisasikannya. Karena asalnya dari
mana, benda ini akan hilang dalam sehari, tapi ia bisa menciptakan kastel
sebesar ini, lho."
"Hee, hebat sekali."
Saat aku menyentuh kastel yang sudah jadi itu,
bendanya memang benar-benar ada di sana. Pada dasarnya, mana adalah sesuatu
yang sulit untuk dimaterialisasikan.
Jika hanya fenomena seperti api atau air mungkin
tidak seberapa, tapi jika harus membuat senjata atau bangunan yang membutuhkan
rancangan detail, tingkat kesulitannya akan melonjak tajam.
Kastel yang dibuat dengan Fantasy Projector
milik Connie tampak sangat kokoh dan dibuat dengan presisi yang tidak kalah
dengan bangunan asli.
Para siswa pun bersorak kegirangan sambil menyentuh
kastel atau naik ke atas temboknya.
"Gila! Ini benar-benar kastel!"
"Benda ini tidak goyah sedikit pun meski dinaiki
orang sebanyak ini, kepadatan mana macam apa ini…… tidak, apa dia mengubah
strukturnya?"
Noah dan yang lainnya pun tampak kagum.
Kemungkinan besar, mana yang dikompresi diikat
menjadi serat, lalu ditenun untuk menciptakannya.
Tentu saja, melakukannya tidak semudah
mengucapkannya.
Terlepas dari mengubah mana menjadi serat,
menciptakan massa sebesar ini membutuhkan kemampuan kontrol tingkat tinggi yang
mutlak.
Hanya untuk kastel ini saja, panjang formula sihirnya
pasti luar biasa. Bisa menyelesaikannya hanya dalam beberapa hari, benar-benar
mengagumkan.
"Hebat ya, Connie. Aku baru pertama kali melihat
teknologi seperti ini. Aku paham kenapa kamu sampai menyembunyikannya."
"Ehm, kamu terkejut?"
"Ya, sangat terkejut."
Mendengar jawabanku, Connie berpikir sejenak lalu
berkata.
"Sejujurnya, alasan aku membuat kastel ini adalah
karena aku dengar Lloyd-kun dan yang lain akan ikut pesta dansa. Habisnya,
akademi ini terasa sedikit kurang memadai sebagai tempat berdansa bagi anggota
kerajaan seperti kalian, kan?"
Kalau diingat-ingat, Birgit dan Albert memang sempat
mengeluh karena harus berdansa di halaman seperti ini.
Kaum bangsawan memang sangat mementingkan harga diri,
jadi mereka sangat peduli pada tempat saat berdansa.
"Karena itulah, aku ingin membuat panggung yang
pantas untuk Lloyd-kun dan yang lain. Formula sihirnya rumit jadi butuh waktu
lama untuk menyusunnya, tapi aku senang bisa sempat tepat waktu. Aku punya
utang budi pada Lloyd-kun yang tidak akan terbayar dengan hal seperti ini, tapi
aku senang jika kamu sedikit merasa gembira."
Connie tersenyum malu-malu. Yah, aku sendiri tidak
terlalu memikirkannya, sih.
Tapi tetap saja, bisa melihat kastel yang tercipta
dari mana seperti ini benar-benar membuatku terharu.
"Oya oya, ini pertama kalinya aku melihat wajah
Lloyd yang begitu berseri-seri saat menghadapi wanita. Mungkinkah ini yang
dinamakan masa muda? Fufu, melihat pertumbuhan adik kecil yang manis memang
menyenangkan, ya."
"Aduh aduh, ternyata Lloyd bisa juga tertarik pada
perempuan. Connie juga sepertinya tidak keberatan, rasanya aku jadi ingin
mendukung mereka. Nihehe."
"Aakh Lloyd-sama, Sylpha merasa sangat bahagia.
Ketertarikan Anda pada wanita berarti saya juga punya peluang yang tidak
sedikit. Jika begitu, saya, Sylpha Langris, tidak berlatih dengan cara yang
akan kalah dari wanita mana pun. Fufu,
fufufufufu……!"
"Sylpha-san,
air mata darahmu…… menakutkan tahu……"
Albert
dan yang lainnya menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak peduli karena sedang
sibuk mengobservasi struktur kastel mana ini.
Hou
hou, ternyata mengubah mana menjadi serat bisa dilakukan dengan biaya serendah
ini.
Dengan mengikatnya, benang tipis pun bisa menjadi
kuat.
Lalu dia menggunakan formula sihir sistem tanah untuk
mengisi celah-celahnya.
Bisa menghasilkan bangunan raksasa seperti ini dari
tumpukan inovasi kecil, benar-benar hebat. Hmm, hmm.
"Nah semuanya, mohon maaf menunggu lama. Acara
terakhir Festival Akademi William, Pesta Dansa akan segera dimulai! Silakan
nikmati sampai akhir, ya—"
Ooooooooooo! Sorakan membahana.
——Pada akhirnya, Shelah terus-menerus dikelilingi orang
sejak tadi, sehingga aku tidak sempat menyapanya.
Tampaknya dia memang berniat ikut pesta dansa, dan dengan
santainya menjadikan Noah sebagai pasangannya.
"Lagipula iblis itu, apa sebenarnya yang dia
pikirkan? Kalau mau menyerang ya serang saja dari tadi,
benar-benar menyeramkan."
"Tapi wanita iblis itu, kalau dilihat-lihat
cantik juga ya. Eh, tentu saja tidak bisa menandingi Sylpha-tan, tapi dia punya
level yang cukup oke, kan?"
"Apa yang kamu bicarakan……"
Grim menatap dingin ke arah Jiriel yang sedang
bergumam. Memang benar aku penasaran dengan apa yang direncanakan Shelah, tapi
bagiku, ada masalah yang lebih gawat sedang terjadi.
"Semangat ya buat pesta dansanya, Lloyd-kun."
Di pesta dansa yang akan segera dimulai ini, di sisiku
berdiri Connie yang sudah berdandan cantik dengan gaun.
Rambut pendeknya ditata dengan rapi, dan dia
mengenakan gaun mini dengan banyak hiasan renda.
Ada aksen bunga di beberapa bagian pakaiannya, dan
sepatu hak tingginya terlihat sulit untuk dipakai berjalan.
"Hee, kamu terlihat berbeda ya."
Melihat Connie yang biasanya memakai baju kerja atau
pakaian yang mudah dipakai bergerak mengenakan gaun terasa sangat segar.
"Aku dipakaikan oleh Sylpha-san…… tapi pakaian
seperti ini tidak cocok untukku, kan?"
Connie mencubit roknya yang berkibar sambil memiringkan
kepala. Tapi aku tidak berpikir begitu.
"Tidak. Itu sangat cocok untukmu kok."
"Be-begitu……?"
Mungkin karena tidak terbiasa, Connie tampak sedikit
malu.
"Hoho……
lumayan juga. Tapi kacamata itu tidak dilepas, ya. Benar-benar tidak cocok dengan gaunnya."
"Dasar
bodoh. Justru itu intinya. Melepaskan kacamata dari gadis cantik berkacamata
berarti kehilangan identitas! Sylpha-tan yang memahami hal itu memang luar
biasa! Dan ekspresi malu-malu yang langka itu…… fuf, mungkin sudah saatnya aku
memanggilnya Connie-tan……"
Anggap
saja gumaman Grim dan Jiriel itu seperti biasa——
Sebenarnya
Sylpha atau yang lainnya harusnya menjadi pasanganku, tapi Birgit memberikan
protes keras dengan berkata, "Apa kamu tidak malu sebagai laki-laki kalau
berdansa dengan pelayanmu sendiri!". Karena itulah aku akhirnya
berpasangan dengan Connie.
Yah,
ini bukan masalah besar bagiku. Lagipula dari awal aku memang tidak mau
menonjol. Malah aku sangat menyambutnya. Yang benar-benar gawat adalah hal ini.
Di arah
pandanganku, para siswa sedang berlatih dansa.
"Kanan,
kiri, kanan, kiri…… oke, di sini putar."
"Aah,
aku jadi tegang…… sekali lagi dari awal, one-two, one-two."
Langkah
yang kaku, putaran yang amatir, wajah yang tegang…… ini parah. Benar-benar
tarian yang aneh. Ya, masalah yang kumaksud adalah level orang-orang di
sekitarku terlalu rendah.
Aku
sendiri sebenarnya sama sekali tidak tertarik pada dansa, tapi di pesta dansa
yang diadakan di Saloum dulu, karena aku malas menghafal, aku pernah mengopi
teknik Albert menggunakan sihir sistem kontrol.
Gara-gara
itu, di usiaku yang sekarang aku sempat disebut jenius dansa atau apalah, dan
aku punya kenangan pahit karena sangat sulit untuk menutup-nutupinya.
Yah,
aku tidak berniat melakukan dansa lagi, dan aku pikir semua orang sudah lupa,
tapi……
"Lloyd,
kalau sudah ikut, aku tidak akan memaafkanmu kalau tidak juara. Kamu
belum lupa teknik waktu itu, kan?"
"Tidak masalah, Birgit-sama. Saya sudah memberikan
instruksi yang mantap kepada Lloyd-sama melalui latihan ilmu pedang. Tidak akan
ada peluang untuk kalah meski satu banding sepuluh ribu sekalipun."
"Benar sekali. Kemampuan Lloyd ada di level yang
tidak kalah jika disandingkan denganku. Jeda waktu sedikit tidak akan jadi
hambatan. Nikmatilah dan jadilah juara, Lloyd."
……Sayangnya, semua orang ingat dengan sangat jelas, dan
mereka sangat menaruh harapan padaku. Gawat juga.
Kalau aku jadi juara di sini aku pasti akan menonjol,
tapi kalau tidak, aku akan dianggap sengaja bermalas-malasan oleh Albert dan
yang lain.
Lagipula, Albert dan Birgit adalah juri, jadi kalau aku
bermalas-malasan akan langsung ketahuan.
"Benar juga, Sylpha dan Ren tidak ikut?"
Jika dua orang yang cantik dan jago berdansa ini
ikut, mungkin aku tidak perlu menonjol.
"Tidak ada artinya saya ikut jika tidak bersama
Lloyd-sama."
"Aku juga tidak mau berdansa dengan orang
lain……"
Namun keduanya menghela napas panjang sambil
menggelengkan kepala.
Sepertinya mereka sangat depresi hingga tidak ada
semangat untuk itu.
Aku sama sekali tidak paham kenapa mereka begitu
kecewa, padahal aku juga tidak bersemangat melakukan ini.
Setidaknya kalau ada Albert dan yang lainnya yang
jago berdansa, aku bisa menghindari perhatian hanya pada diriku…… benar juga.
Aku punya ide bagus.
Dengan ini sepertinya aku bisa mengakhiri pesta dansa
ini tanpa perlu menonjol. Fufufufufu.
"……Ada apa Lloyd-kun, senyummu menyeramkan
begitu……"
"Tidak, bukan apa-apa. Lagipula dansanya akan
dimulai."
Musik sudah mulai mengalun, dan pasangan-pasangan di
depan kami satu per satu menaiki tangga.
"Ayo pergi."
"U-um."
Aku menggandeng tangan Connie lalu berlari menaiki
kastel fantasi itu.
◇



Post a Comment