NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 7 Part 2


"……Fumu, sepertinya tidak ada masalah serius."

Segera setelah Connie yang pingsan dibawa ke rumahnya, itulah kata-kata pertama dari dokter yang datang. Mendengar itu, semua orang mengembuskan napas lega.

"Mungkin dia hanya kelelahan. Dia akan segera sembuh jika istirahat dengan cukup."

"……Sepertinya dia baik-baik saja, ya."

Ujar Sylpha yang tubuhnya sudah terbalut banyak perban. Setelah kejadian tadi ia langsung pingsan dan ikut dibawa ke sini.

"……Malah kalau boleh jujur, nona yang satu ini lukanya jauh lebih parah. Ajaib sekali Anda masih bisa bergerak."

"Tuh kan, Sylpha-san, kamu harus istirahat!"

Ucap dokter yang merasa heran dan Ren yang berusaha menahan Sylpha agar tidak beranjak bangun.

Karena sudah menggunakan War Body Technique tiga kali lipat, sepertinya dia memang sudah terlalu melampaui batasannya.




"Tingkat serangan seperti ini bukan masalah besar bagiku. Yang jadi masalah itu karena Lloyd-sama harus melihat penampilanku yang memalukan ini…… adu-du-duh!"

"Tuh, kan! Makanya sudah kubilang jangan bangun dulu!"

Ren memaksa Sylpha yang tubuhnya masih limbung untuk kembali berbaring.

Sepertinya kerusakan yang ia terima memang sangat besar.

"Ka-kalau begitu, saya permisi dulu…… semoga cepat sembuh."

Dokter itu meninggalkan ruangan sambil tertawa kering.

Yah, setidaknya nyawanya tidak terancam, syukurlah kalau begitu.

"Pokoknya kalian berdua harus istirahat total untuk sementara. Aku akan meracik obat."

"Hmm, kalau begitu aku akan memasak makanan saja."

Zawaaa. Pandangan semua orang seketika tertuju padaku. Kenapa? Memangnya ada yang aneh?

"Lloyd…… memasak……? Kamu bisa?"

"Sopan sekali. Memangnya kamu pikir aku ini siapa?"

Selama ini Sylpha selalu mengurusku, jadi tidak ada salahnya kalau sesekali aku yang memasakkan sesuatu untuknya.

"Ti-ti-tidak boleh! Orang terhormat seperti Lloyd-sama tidak pantas berurusan dengan dapur…… Kalau begitu, biar saya saja yang…… kkh!?"

"Sudah, sudah. Sylpha, diam saja dan tidur yang nyenyak. Connie, aku pinjam dapurnya, ya."

"U-uhm…… boleh saja, sih."

Aku menenangkan Sylpha yang masih berusaha bangun, lalu melangkah menuju dapur.

"Sepertinya mereka menatap Anda dengan penuh keraguan, Lloyd-sama. Yah, saya sih paham kenapa mereka begitu."

"Kalau dipikir-pikir, meski kami sudah lama mengabdi, mungkin ini pertama kalinya kami melihat Lloyd-sama memasak."

"Kenyataannya memang begitu, kok."

Di kehidupanku yang sebelumnya sebagai rakyat jelata pun, aku hampir tidak pernah memasak. Bagiku asal perut kenyang saja sudah cukup.

Memasak hidangan yang bisa memuaskan Sylpha sebenarnya adalah hal yang mustahil.

Namun, justru karena itulah hal ini jadi bermakna.

Alasanku berdiri di dapur ini ada satu lagi—tentu saja, untuk eksperimen.

"Nah, ayo kita coba."

Aku segera menggunakan sihir tipe sistem kendali untuk menyalin pergerakan Sylpha melalui Trace.

"Begitu ya! Dengan meniru gerakan Sylpha-tan, meski ini pertama kalinya Anda memasak, semua akan beres tanpa masalah!"

"Yah, aku yang sudah lama bersamamu sudah menduga bakal begini. Ayo kita buat masakan luar biasa dan buat mereka semua jantungan!"

"Apa yang kamu bicarakan? Ini belum selesai, lho."

Yang aku salin bukan cuma gerakannya saja.

Satu lagi adalah War Body Technique yang digunakan Sylpha tadi.

Ooh, luar biasa. Kekuatan meluap di seluruh tubuhku.

Aku sempat mengintip buku panduan Aliran Rahasia Langris.

Katanya butuh latihan pernapasan, energi dalam, dan latihan panjang lainnya, tapi kalau pakai Trace sih sekali jadi.

"Gueeh, kecepatannya ngeri banget! Lloyd-sama jadi terlihat seperti ada banyak orang!"

"Kecepatan yang tidak kalah dari Sylpha-tan tadi. Bisa mereproduksinya hanya dengan sihir…… sungguh luar biasa!"

Benar-benar kecepatan yang gila. Jadi begini rasanya menggunakan War Body Technique.

Dalam sekejap, masakan dalam jumlah besar pun selesai.

"Ooh! Kelihatannya lezat sekali!"

"Luar biasa, Lloyd-sama. Mari segera berikan pada Sylpha-tan dan yang lain……"

"Tunggu dulu, ini belum benar-benar selesai."

Masakannya memang sudah jadi, tapi masih ada hal yang ingin kucoba. Sekali lagi aku menggunakan Trace untuk menyalin kemampuan Ren.

Meski aku bisa mengubah sifat mana, aku tetap tidak bisa menandingi Ren yang sudah berlatih bertahun-tahun untuk menciptakan berbagai jenis obat dan racun.

Apalagi sekarang Mana Silencer sedang bekerja.

Mari kita selesaikan sebelum makanannya dingin. Hup.

Mana yang kuhasilkan berubah warna dan aromanya karena perubahan sifat mana.

Semua itu berubah secara beruntun. ……Fumu, kira-kira seperti ini.

Aku memasukkan mana tersebut ke dalam masakan seolah membungkusnya, dan selesai. Sudah jadi, tapi……

"……Kok baunya agak aneh, ya?"

"Terus makanannya juga kenapa kelihatan hitam pekat begini……"

Seperti kata Grim dan Jiriel, masakan yang baru saja kubuat tampak aneh. Aneh sekali. Padahal aku hanya mencampurkan obat ke dalamnya.

"Lagi ngapain sih, Lloyd!?"

Ren yang sedang menyeduh tanaman obat di ruangan sebelah berteriak kencang. Wajahnya langsung meringis saat melihat masakan buatanku.

"Uwah…… kelihatannya beracun banget."

"Tadinya aku berniat membuat masakan obat yang dulu pernah dibuat Sylpha."

Namun, sepertinya aku malah menciptakan sesuatu yang lebih mengerikan dari bayanganku.

Seharusnya ini adalah gabungan teknik Sylpha dan Ren, aneh sekali.

Yah, ada pepatah yang bilang kalau jangan asal mencampur sesuatu yang berbahaya.

"Tapi mungkin rasanya lumayan normal…… bhuwaah!?"

"Ah—memang rasanya nggak karuan, ya."

Ren yang mencicipinya dengan ragu-ragu langsung memuntahkannya kembali.

Sejujurnya, rasanya memang agak meragukan.

"Ugh, ini……"

"Bisa dibilang sangat…… orisinal……"

Grim dan Jiriel juga ikut mencicipi, tapi wajah mereka langsung berkerut masam.

Waduh, kalau begini Sylpha dan yang lainnya mungkin tidak bisa memakannya.

Saat aku sedang memikirkan itu, Sylpha dan yang lainnya terbangun, mungkin karena terpancing aromanya.

"Ini…… buatan Lloyd-sama……?"

"Iya, tapi sepertinya aku gagal. Jadi jangan dipaksa makan kalau tidak mau……"

Sebelum aku selesai bicara, Sylpha sudah menyuapkan makanan itu ke mulutnya sambil berkata "Permisi".

Waduh, langsung dimakan. Apa dia akan baik-baik saja?

Berlawanan dengan kekhawatiranku, tangan Sylpha tidak berhenti menyuap.

"Lezat sekali! Ah, betapa nikmatnya! Masakan Lloyd-sama benar-benar tidak ada tandingannya!"

Sylpha terus makan sambil menitikkan air mata.

……Apa benar dia baik-baik saja? Padahal menurutku rasanya cukup mengerikan.

"Iya. Rasanya enak sekali, Lloyd-kun."

Connie juga makan dengan lahap, bahkan menyisihkan sebagian untuk ibunya.

Aku bertatapan dengan Ren, lalu mencoba mencicipinya sekali lagi. Tetap saja rasanya tidak enak.

"Hei Lloyd, apa Sylpha-san dan yang lainnya jadi lebih sehat?"

Apa yang dikatakan Ren benar. Bukan hanya itu, Connie dan ibunya juga terlihat lebih segar dan kecepatan makan mereka juga meningkat.

"Oh, aku pernah dengar. Katanya masakan obat tingkat tinggi akan terasa tidak enak bagi orang sehat."

"Tapi bagi mereka yang sedang sakit, rasanya justru akan terasa sangat lezat."

"Itu karena tubuh mereka merasakan hal yang sangat dibutuhkan sebagai sesuatu yang lezat. Berarti masakan obat ini sehebat itu, ya?"

Di tengah gumaman Grim dan Jiriel, makanan itu habis dengan cepat. Saat selesai, mereka bertiga sudah benar-benar pulih kembali.

Connie sudah bisa bergerak bebas, ibunya terlihat jauh lebih segar, dan Sylpha bahkan sudah bisa keluar untuk berlatih ayunan pedang setelah selesai membereskan piring.

"Bisa mencicipi masakan Lloyd-sama membuatku merasa menjadi orang paling bahagia. Padahal dalam pertarungan tadi penampilanku sangat payah…… ini tidak bisa dimaafkan. Aku harus berlatih lebih keras agar hal seperti itu tidak terulang lagi……!"

Ayunan pedangnya tajam sekali. Tekanan angin dari pedangnya bahkan membuat pohon besar di kejauhan berguncang hebat.

"Hebat ya Sylpha-san. Sudah bisa bergerak seperti itu."

"Sylpha itu spesial dalam banyak hal, sih. Omong-omong Connie, apa kamu masih merasa tidak enak badan?"

Meski sudah pulih berkat masakanku, ia masih terlihat agak lesu.

"Iya, mungkin kondisiku masih agak kurang fit. Tapi aku tidak apa-apa, kok."

"Begitu ya. Kalau begitu syukurlah."

Kelihatannya memang tidak ada masalah serius. Tapi tetap saja ada sesuatu yang mengusik pikiranku.

Rasanya mana milik Connie meningkat dibandingkan saat kami baru tiba di sini. Padahal seharusnya dia memiliki tubuh yang tidak punya mana.

Di dalam penghalang Mana Silencer seharusnya mana justru berkurang…… Dan itu semua bermula tepat setelah Ganjeet menabrak monumen batu itu—kalau tidak salah.

Perasaan aneh itu mirip dengan segel yang ada di bawah tanah akademi. ……Fumu, sepertinya aku harus sedikit waspada.

"Sepertinya Ganjeet sudah menyelesaikan tugas minimalnya, ya."

Di dalam kegelapan, dua sosok bayangan tampak bergerak-gerak.

"Di tempat itu bersemayam sebagian kecil dari Tuan kita yang sedang tertidur. Dengan membuat keributan besar untuk mengalihkan perhatian, sepertinya dia berhasil menghancurkan segelnya di sela-sela kekacauan itu. ……Akhir yang luar biasa."

"Bocah itu juga sepertinya tidak menyadarinya. Dengan ini, Raja Iblis-sama akan selangkah lebih dekat menuju kebangkitannya. Nah, selanjutnya biarku—"

"Tidak, biar aku saja yang pergi."

Sebuah bayangan melangkah maju.

Seorang pria besar dengan otot yang kokoh, di tangannya tergenggam tombak besar sepanjang tubuhnya.

"Aku tidak punya kecerdikan seperti Ganjeet, juga tidak punya kelicikan sepertimu. Aku hanyalah pecandu perang yang hanya bisa menerjang maju mengikuti emosi dalam pertempuran. Dalam situasi di mana musuh jauh lebih kuat seperti ini, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa jika ditinggal sendirian. Lebih baik aku bergerak sendirian selagi mereka belum waspada."

"Zen…… apa kamu berniat mati?"

"Kurasa tekad setingkat itu memang diperlukan…… Huh, lagipula dengan kecepatanku, tidak mustahil untuk melarikan diri setelah menyelesaikan tugas."

"Memang benar, jika itu Anda yang bangga sebagai yang tercepat di antara Empat Raja Iblis, kemungkinan itu memang ada……"

"Aku tidak berniat melakukan hal yang mustahil. Kalau begitu, sampai jumpa——Shelah."

Pria bernama Zen itu menghilang dalam sekejap bersamaan dengan hembusan angin.

Wanita bernama Shelah itu menyipitkan mata saat melepas kepergiannya.

"……Aku merasa tidak tenang."

Shelah menggumamkan itu sambil mengembuskan napas panjang.

Setelah menyelesaikan tugas tersebut, kami akhirnya kembali ke akademi.

"……Apa-apaan ini?"

Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulutku.

Menara putih yang megah itu kini dihiasi dengan meriah, dan para murid yang biasanya bersikap kaku kini berlarian ke sana kemari dengan pakaian santai.

Rasanya kami hanya pergi sekitar sepuluh hari, tapi apa yang sebenarnya terjadi?

"Oh, Lloyd. Kalian dan Sylpha akhirnya pulang juga, ya!"

Yang menyambut kami adalah Birgit.

Pakaiannya berbeda dari biasanya, yaitu kostum mencolok dengan nuansa merah dan putih seperti yang dipakai saat festival.

"Kami pulang, Kak Birgit. ……Omong-omong, ada keributan apa ini?"

"Apa lagi kalau bukan persiapan festival akademi!"

Ah benar juga, sepertinya sudah masuk musimnya.

Festival Akademi William——sebuah acara setahun sekali untuk memamerkan hasil riset para murid akademi.

Itu adalah perayaan tradisional yang bergengsi dan dihadiri oleh para bangsawan dari seluruh benua dalam suasana yang sakral.

Ada banyak buku yang mencatat tentang festival ini, dan tentu saja aku sudah membacanya.

Aku sempat membayangkan seperti apa wujud aslinya, tapi…… kok ini rasanya beda dengan bayanganku?

Bukannya festival yang sakral, ini malah terasa seperti pasar malam yang santai.

"Hehe, festival akademi sebelumnya itu terlalu membosankan. Jadi kali ini aku memutuskan untuk melakukan sedikit perombakan. Bukan cuma bangsawan, aku juga mengundang banyak warga sipil. Aku meminta para siswa menyiapkan makanan lezat, pertunjukan heboh, dan pameran yang memanjakan mata! Kalau banyak orang berkumpul, uang yang masuk juga banyak, dan kalau reputasinya tersebar, tahun depan skalanya bisa lebih besar lagi…… Hmm, aku sudah bisa mencium bau tumpukan uang di sini. Nishishishi……"

Birgit pergi sambil tertawa dengan cara yang menyeramkan. Sepertinya dia sudah tidak memedulikan keberadaan kami lagi.

"Ah, selamat datang kembali, Lloyd."

Sebagai gantinya, Albert muncul dari kerumunan. Ia memakai kostum mencolok yang mirip dengan Birgit dan sepertinya sedang membantu persiapan festival.

"Kak Albert, ini benar-benar luar biasa."

"Iya, aku selalu kewalahan menghadapi daya gerak Kak Birgit."

Sambil menghela napas, Albert menepuk bahunya sendiri. Sepertinya dia sangat kelelahan. Pasti dia disuruh membantu banyak hal.

"Meski begitu, apa yang dilakukan Kakak itu masuk akal. Di festival akademi sebelumnya, hanya murid tertentu yang bisa memamerkan kemampuannya. Tapi dengan cara seperti ini, semua murid punya kesempatan yang sama untuk unjuk gigi. Para bangsawan yang datang akan merekrut murid yang mereka anggap hebat untuk menjadi bawahan mereka. Bisa dibilang ini ajang pencarian bakat. Ini kesempatan bagus bagi para siswa untuk mempromosikan diri mereka. Karena itulah mereka semua sangat bersemangat."

Seperti kata Albert, para murid tampak menyiapkan semuanya dengan mata yang berbinar-binar.

Ada yang mengasah tekniknya, ada yang sibuk membuat properti, ada yang menyiapkan panggung demi kepentingan bersama……

Birgit mendatangi mereka satu per satu untuk memberikan semangat.

"Meskipun dia kakakku, dia orang yang hebat. Karena itu aku ingin membantunya sebisa mungkin."

Albert menatap Birgit dengan tatapan menerawang.

Memang benar, festival di mana banyak orang mengerahkan seluruh kemampuannya terasa jauh lebih menarik daripada panggung yang hanya diisi oleh beberapa orang utama saja.

Apalagi para siswa di sini semuanya memiliki teknik yang luar biasa, dan mungkin saja ada orang hebat di antara tamu yang datang berkunjung. Kalau begitu, aku harus ikut memeriahkannya.

"Kak Albert! Apa ada yang bisa aku bantu?"

"Oh, Lloyd mau ikut membantu juga!? Itu sangat membantu!"

Tentu saja aku akan melakukannya.

Jika aku bisa melihat teknik yang sudah mereka asah sampai batas maksimal, itu juga akan bermanfaat bagiku.

Pengetahuan yang kudapat nantinya pasti bisa diaplikasikan ke dalam sihir juga.

Maka, hari-hari persiapan menuju festival akademi pun dimulai. Aku memasang penghalang di sekeliling akademi agar tidak ada gangguan dari monster, menciptakan lingkungan agar para siswa bisa berkonsentrasi, dan bahkan mengirimkan golem untuk membantu pekerjaan mereka.

Di malam hari, aku menyalakan lampu-lampu, dan jika ada murid yang kelelahan sampai pingsan, aku yang akan memulihkan mereka.

Berkat itu, persiapan berjalan dengan lancar dan besok festival akhirnya resmi dimulai.

"Besok akhirnya festival akademi, ya. Cepat sekali rasanya."

"Para murid juga semuanya tampak sangat bersemangat."

"Terutama Connie, dia sepertinya benar-benar niat banget."

Aku mengangguk mendengar kata-kata Grim dan Jiriel.

Setelah kembali, Connie terus mengurung diri di ruang klub.

Aku sudah mencoba membantunya beberapa kali, tapi dia menolak dengan halus.

Katanya, dia ingin aku melihat hasil akhirnya saja.

Dia ingin memberikan kejutan jadi tidak mau memperlihatkan prosesnya.

Aku sangat mengerti perasaan itu, jadi aku pun menahan diri.

"Tapi itu hanya sampai hari ini saja."

Malam ini sangat tenang tanpa cahaya bulan.

Para siswa yang selama ini begadang pasti sedang tidur nyenyak untuk mempersiapkan hari esok.

Aku sendiri merasa terlalu bersemangat sampai tidak bisa tidur nyenyak, jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan malam.

"Omong-omong Lloyd-sama, kalau bangun kemalaman nanti Anda tidak bisa bangun pagi, lho."

"Benar sekali. Padahal Lloyd-sama itu kan paling susah kalau disuruh bangun pagi. Bukankah sebaiknya Anda mematikan penghalangnya untuk menyambut tamu besok?"

"Benar juga."

Saat ini di sekeliling akademi terpasang penghalang untuk mencegat monster, pengaturannya akan otomatis menyerang siapa pun selain orang dalam.

Soalnya kalau monster menyerang, itu akan mengganggu para siswa.

Tapi kalau ada penonton atau tamu yang datang saat aku sedang tidur, ada kemungkinan mereka tidak bisa masuk. ……Lagipula ini penghalang yang lumayan kuat, bisa gawat kalau mereka tidak sengaja mengenainya.

"Baiklah, aku ubah pengaturannya jadi tipe pendeteksi saja."

Aku menjentikkan jari dan mengubah pengaturan penghalangnya.

Penghalang yang menyelimuti akademi menghilang sejenak lalu segera terpasang kembali.

Pada saat itu, aku merasa seperti ada angin kencang yang berhembus…… tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.

"……Fuu, akhirnya aku berhasil masuk juga."

Di tengah malam yang gelap, Zen mengembuskan napas sambil bersembunyi di balik bayangan.

Meski ia sudah berangkat dengan penuh percaya diri, saat Zen sampai di Kota Akademi William, ternyata sudah ada penghalang kuat yang terpasang sehingga ia tertahan cukup lama.

Namun akhirnya ia berhasil menyelinap masuk dengan memanfaatkan celah di saat penghalang itu dinonaktifkan sesaat.

"Meski begitu, itu tadi adalah Annihilation Barrier yang akan memberikan efek semakin kuat tergantung kecepatan dan massa yang mengenainya. ……Sampai memasang sesuatu yang berlebihan seperti itu, sepertinya mereka sudah menyadari seranganku."

Bagi Zen yang merupakan salah satu dari Empat Raja Iblis, menembusnya sendiri sebenarnya bukan masalah besar.

Namun dengan penghalang sekuat itu, ada kemungkinan armor hitamnya akan retak akibat dampak benturan, dan itu bisa memengaruhi kebangkitan Raja Iblis.

Karena itulah Zen tidak punya pilihan selain menunggu sampai penghalang itu terbuka.

"Mereka terus memasang penghalang sekuat itu selama berhari-hari, benar-benar merepotkan…… tapi sepertinya mereka sudah mencapai batasnya. Kekuatan penghalangnya sudah sangat menurun, mungkin bocah itu juga sudah mulai melemah. Huh, ini benar-benar kesempatan emas yang datang secara tidak terduga, ya?"

Bukannya melemah, aku hanya mengubah pengaturannya saja, tapi tentu saja Zen tidak tahu soal itu.

Ia berlari di dalam akademi, menganggap ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk bertemu dengan gadis yang menjadi wadah tersebut.

"Huaaaah…… ngantuk banget sih, sialan."

"!"

Saat Zen berlari lurus, ada seorang pria paruh baya yang berjalan sambil menguap lebar.

Dia adalah penjaga keamanan akademi. Dia berada tepat di jalur Zen, dan jika Zen tidak menghindar, mereka pasti akan bertabrakan.

Namun Zen terus berlari lurus dengan kecepatan yang sama. Dan, pria itu pun berpapasan dengan Zen.

"……?"

Pria itu berkedip beberapa kali, lalu menguap lagi dan melanjutkan patrolinya.

Meskipun jarak mereka sedekat itu sampai hampir bersentuhan, pria itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Zen. Begitulah kecepatan dan keheningannya.

"Sekarang aku harus mencari gadis wadah itu."

Zen bergumam lalu mulai mengintip ke seluruh ruangan akademi untuk mencari Connie.

Ada beberapa orang yang masih terjaga di dalam akademi, tapi tidak ada satu pun yang menyadari kecepatan gila Zen.

Zen si Hitam yang bangga dengan kecepatannya sebagai yang tercepat di antara Empat Raja Iblis, kecepatannya bukanlah sesuatu yang bisa dikenali oleh manusia biasa.

"……Tapi mencari satu per satu ruangan begini benar-benar merepotkan. Kalau saja tidak ada mana mengerikan milik bocah itu, aku pasti bisa mendeteksi keberadaannya……"

Zen berdecak kesal sambil terus berlari. Akibat mana yang dilepaskan Lloyd, reaksi mana di sekelilingnya menjadi sangat tipis hingga tidak bisa terdeteksi.

Meski begitu, dengan kecepatan Zen, tidak butuh waktu lima menit untuk mengelilingi seluruh akademi.

Satu menit berlalu, dua menit berlalu, dan tepat saat tiga menit berlalu. Batin! terdengar sebuah suara dan Zen terpental jauh.

"!? A-apa yang terjadi!?"

Ia segera bangkit, dan di depan mata Zen tampak sesuatu yang menyerupai tempat tidur sedang melayang.

"Apa aku baru saja menabrak benda itu……?"

Tepatnya, ia menabrak penghalang yang diciptakan oleh artefak sihir kecil yang melayang di sekitar tempat tidur tersebut.

"Tapi kapan benda itu muncul? Kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangkap olehku, ditambah lagi dengan kekokohan yang tidak masuk akal. Benda apa itu sebenarnya……?"

Di hadapan Zen yang sedang menahan napas, sesuatu bergerak-gerak di dalam tempat tidur tersebut.

"Huaaaah……"

Sambil menguap lebar, seorang wanita yang mengenakan piyama motif garis-garis biru dan putih pun terbangun.

Topi tidur yang hampir merosot, ujung pakaian yang berantakan, dan matanya yang tampak mengantuk sambil terus mengucek mata.

Sosok yang sangat tidak cocok dengan suasana di tempat ini adalah Putri Kedua Kerajaan Saloum, Birgit Di Saloum.

Birgit melihat ke sekeliling dengan mata yang masih mengantuk sambil tetap berada di atas tempat tidurnya.

Setelah beberapa detik, ia akhirnya menyadari keberadaan Zen di hadapannya dan menatapnya dengan pandangan penuh selidik.

"……Ngh? Ada apa sih kamu malam-malam begini pakai baju kayak gitu. Sepertinya ini bukan cuma sekadar jahilan murid, ya."

Zen tidak memperlihatkan kegelisahannya dan sedikit membungkukkan badannya.

"Selamat malam, Nona yang cantik. Sayang sekali, aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu. Aku permisi dulu."

Lalu, ia menghilang. Tidak seperti tadi, kali ini Zen benar-benar serius dan kecepatannya sudah melampaui kecepatan suara.

Tentu saja itu bukan kecepatan yang bisa ditangkap oleh mata Birgit, dan ia pun menghilang dalam sekejap.

Namun tepat setelah itu—batin! terdengar suara lagi dan Zen kembali terpental.

"Guh……!?"

Di depan Zen yang mengerang kesakitan, Birgit sudah berdiri di sana. Zen berniat untuk bergerak, tapi nyatanya ia sama sekali tidak bergeser dari tempatnya semula.

"Wajahmu kayak lagi tanya 'Apa yang sebenarnya terjadi?', ya. Inti kristal yang melayang di sekitarku ini adalah Artifact yang digali dari reruntuhan Sandro, peradaban kuno yang pernah ada. Seperti yang kamu lihat, benda ini punya kekuatan untuk menciptakan penghalang."




──Sandro. Nama itu terdengar tidak asing bagi Zen.

Sandro adalah kota dengan peradaban supermaju yang berjaya sepuluh ribu tahun lalu.

Mereka memiliki kekuatan tempur yang mampu bertarung setara melawan kaum iblis berkat senjata-senjata hasil teknologi unik mereka sendiri.

Inti kristal yang melayang di sekitar Birgit adalah salah satu senjata tersebut.

Benda itu akan bereaksi terhadap niat pemiliknya atau pergerakan musuh, lalu membentangkan penghalang yang sangat kuat.

Dulu, Zen pernah bertarung melawan pengguna artefak tersebut, dan ia hanya memiliki kenangan pahit tentang ketangguhan penghalangnya.

"Artefak itu... kalau tidak salah, mereka akan saling membentuk pola Triple segitiga atau Square segi empat di udara untuk membentangkan penghalang di area tersebut. Sekarang, lima artefak mengelilingiku dan membentuk sebuah limas segitiga. Dengan kata lain, sebuah penghalang segitiga telah terpasang di segala arah untuk mencegahku kabur. ……Benar-benar merepotkan, harus bertarung melawan orang yang memiliki artefak sebanyak ini."

Zen menggenggam tombak besarnya erat-erat, seolah sedang memastikan mantapnya pegangan tangannya.

Dulu ia terjebak karena tidak mampu menembus penghalang itu, tapi beruntung Shelah datang menolongnya. Mereka berdua akhirnya berhasil menjebol penghalang itu dan mundur.

"Aku yang sekarang sudah lebih kuat dan lebih cepat daripada saat itu. Jika aku mengerahkan seluruh kekuatanku, mungkin saja menghancurkannya. Aku sudah memastikan kalau artefak itu akan kehilangan fungsinya begitu hancur. Tapi setelah itu, apa yang harus kulakukan? Aku belum menemukan gadis wadah itu, dan karena sudah ketahuan, aku tidak punya waktu untuk mencarinya santai-santai. Kalau aku lari sekarang, pertahanan mereka akan semakin ketat dan kontak akan semakin sulit……"

"Nggak tahu ya kamu lagi komat-kamit apa, tapi mending cepat mengaku saja kenapa kamu datang ke sini. Tergantung situasinya, mungkin aku akan memaafkanmu setelah menghajarmu sedikit."

Birgit yang mulai habis kesabaran mendengar Zen bergumam sendiri, menunjuk pria itu dengan telunjuknya secara tegas.

Zen berpikir sejenak, lalu mengembuskan napas panjang tanda menyerah.

"……Memang aku tidak cocok untuk berpikir. Aku adalah hembusan angin. Tugasku hanya terus menerjang maju."

Pernapasan Zen berubah. Ia mulai menghirup napas dalam-dalam secara terus-menerus.

Akibatnya, tubuh Zen mulai menggelembung besar.

"Arashi Mi Sentai——"

Sambil mengembuskan napas sekaligus, Zen menusukkan tombak besarnya ke depan.

Di saat yang sama, angin yang tadinya berpusar tanpa arah mulai menyatu ke satu titik tujuan.

"Hah! Tiba-tiba ada angin kencang……?"

Sebagai makhluk bermateri mana, kaum iblis bisa mengubah struktur tubuh mereka sampai batas tertentu.

Apalagi level Empat Raja Iblis, mereka bahkan memodifikasi struktur internal tubuh mereka secara besar-besaran. Pembuluh darah dan otot yang kuat diciptakan dengan berat mendekati nol untuk mendapatkan performa gerak yang lebih tinggi.

Pertunjukan sebenarnya dari Arashi Mi Sentai baru dimulai sekarang.

Angin puyuh yang tercipta dari kapasitas paru-paru yang luar biasa kuat itu mendorong punggung Zen dengan kencang.

"Haaaaah!"

Sambil meraung, Zen melesat dalam kecepatan supertinggi.

Ujung tombak besarnya berbenturan dengan penghalang, memercikkan bunga api ke segala arah.

"Uwah! Kamu nekat menerjang ya! Tapi penghalang ini nggak bakal hancur semudah itu, lho."

"……Kalau cuma sekali, memang benar."

Bersamaan dengan napasnya, Zen mundur dalam kecepatan tinggi. Lalu dalam sekejap, ia menerjang maju kembali.

Pengurangan berat tubuh hingga seringan angin serta kemampuannya menciptakan arus udara sendiri memungkinkan Zen melakukan pergerakan yang di luar nalar.

"Inilah Arashi Mi Sentai: Vortex."

Gaan! Gagan! Gagagagagagagagaga……!

Rentetan tusukan dilancarkan bertubi-tubi bagaikan bor spiral.

Suara benturannya semakin cepat. Suara retakan kering mulai terdengar dari penghalang itu seiring munculnya celah-celah kecil.

"Mu, penghalangnya……?"

"Uwoooooooooh!"

Retakan itu berangsur-angsur membesar.

Celah tercipta, serpihan beterbangan, dan kemudian——penghalang itu hancur berkeping-keping secara total.

"Nggak mungkin!?"

Mata Birgit membelalak terkejut.

Akibat guncangan dari hancurnya penghalang, inti-inti kristal itu jatuh berjatuhan ke tanah dan mengeluarkan asap tebal.

"A-ah... bodoh... nggak mungkin... ini nggak mungkin terjadi……"

Birgit jatuh terduduk lemas dengan lutut lemas. Ekspresinya diselimuti keputusasaan.

"Satu buah inti kristal itu harganya setara dengan sebuah kota kecil, tahu nggak……? Tapi kamu menghancurkannya semudah itu……"

"Huh, seharga satu kota? Memang artefak itu layak dihargai segitu. Memiliki beberapa buah saja sudah sulit dipercaya, tapi——ini akhirnya! Bersiaplah menjadi santapan tombakku!"

Dengan teriakan penuh tekad, Zen menerjang ke arah Birgit.

——Aku akan menusuknya seperti ini, lalu meratakan kota ini sekalian.

Dengan begitu, gadis wadah itu tidak akan bisa bersembunyi lagi, dan Lloyd si bocah itu pasti butuh waktu untuk sampai ke sini di tengah puing-puing bangunan.

Aku hanya perlu segera membawanya pergi.

Menang——tepat di saat Zen merasa yakin akan hal itu.

Giiin!

Sebuah bunyi terdengar dan gerakan Zen terhenti seketika.

Itu penghalang. Empat inti kristal baru melayang di depan Birgit dan membentangkan penghalang.

"Bo-bodoh... penghalang lagi……!?"

Zen yang tadinya yakin menang, kini wajahnya berubah drastis karena terkejut.

"Jadi artefaknya bukan cuma yang tadi……!"

Tentu saja, itu adalah inti kristal baru yang dikeluarkan oleh Birgit.

Penghalang Square yang terbentang di depannya menahan serangan tombak Zen.

"Haa... ya iyalah, inti kristal ini harganya selangit. Mana mungkin aku pakainya cuma sedikit. Haa... uang seharga lima kota melayang begitu saja. Haha, hahaha…… haa……"

Wajah Birgit masih tampak murung seperti tadi, namun ia tertawa dengan suara yang kering.

Melihat keanehan itu, Zen mundur setengah langkah. Di saat yang sama, empat inti kristal lainnya meluncur keluar dari balik pakaian Birgit.

"Gawat——!"

Saat ia menyadarinya, semuanya sudah terlambat.

Atas, bawah, dan keempat sisi Zen sudah dikepung oleh inti kristal yang membentangkan penghalang.

Padahal penghalang Triple segitiga saja sudah membutuhkan seluruh kekuatannya untuk ditembus, tapi kali ini yang dipasang adalah penghalang Square segi empat.

Bagi Zen yang sudah mengonsumsi terlalu banyak mana untuk serangan sebelumnya, mustahil baginya untuk menerobos keluar.

"Guh……! Se-sebenarnya berapa banyak inti kristal yang kamu punya……!"

"Sembilan belas…… ah, nggak. Tadi kamu hancurkan lima, jadi sisa empat belas. Hahahahaha……"

Birgit tertawa kering lagi sambil menundukkan pandangannya.

Namun, Zen justru terpaku kaku mendengar kata-kata itu.

"Empat belas……!? ……Tak bisa dipercaya. Bahkan di zaman dulu pun benda itu termasuk barang langka tingkat pusaka negara, tahu!? Bagaimana bisa ada empat belas buah di zaman sekarang…… Sebenarnya di mana dan bagaimana cara kamu mengumpulkannya!?"

"Haa... ya pakai uanglah, apalagi. Biar begini, aku ini punya lumayan banyak uang. Mungkin sekarang semua artefak ini cuma aku yang punya di dunia ini."

Birgit mengucapkannya seolah itu hal sepele, tapi Zen sampai menahan napas karena ngeri.

Artefak-artefak ini sangat langka hingga hanya ada beberapa buah di satu negara saat peradaban itu masih ada. Bukan hal aneh jika terjadi perang besar hanya demi memperebutkan benda-benda ini.

"Meski begitu, seharusnya tidak ada orang yang bisa mengumpulkan semuanya. Hal yang tidak mampu dicapai oleh bangsawan mana pun di zaman dulu, berhasil dilakukan oleh seorang gadis kecil sendirian? Tidak mungkin ini hanya karena uang. Kekuatan politik yang tinggi, kemampuan pengumpulan informasi, koneksi…… Ini pasti hasil dari pemanfaatan segala macam informasi, kan!?"

"Itu semua juga bisa didapat kalau punya uang. Informasi apa pun bakal mengalir deras ke orang kaya."

Informasi akan datang kepada mereka yang punya uang agar barangnya dibeli. Zen juga tahu soal itu.

Tapi itu hanya berlaku jika ada kemungkinan barangnya akan dibeli dengan harga tinggi.

Artinya, wanita bernama Birgit ini adalah orang kaya yang sanggup membeli artefak apa pun.

"……Hei kamu, sebenarnya seberapa banyak uang yang kamu miliki!?"

"Tanya-tanya isi dompet orang lain, genit banget sih. Yah, karena kamu kelihatannya bukan saingan bisnis, nggak apalah kuberi tahu. ——Penghasilan tahunanku dalam mata uang benua adalah 12 miliar 500 juta Grandol, dan total asetku sekitar 200 triliun Grandol."

Jumlah total aset yang disebutkan Birgit hampir sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan negara besar yang dulu Zen ketahui.

Ini sudah di luar imajinasi, sudah melampaui level yang bisa dimiliki oleh satu individu.

"Nggak mungkin……"

"Uang itu pasti ngumpul di tempat yang seharusnya. Sesuatu yang nggak bakal bisa dibayangkan sama orang yang nggak punya uang. ……Haaa. Tapi aku benar-benar rugi besar kali ini. Ah, tapi orang ini kayaknya iblis yang dibilang Lloyd dan yang lain, ya. Kalau gitu, dia bisa jadi duit nggak, ya? Kalau diserahkan ke lembaga penelitian atau dilelang, mungkin ada cara buat balik modal…… Nihehe, boleh juga, boleh juga."

Tadinya Birgit mengembuskan napas panjang, tapi tiba-tiba ia mulai bergumam sendiri sambil memasang senyum yang menyeramkan.

"——Nah, jadi begitulah cerita gimana orang ini tertangkap kemarin."

Pagi harinya, kami yang dipanggil Birgit untuk berkumpul di kantin disuguhi pemandangan seorang pria iblis yang terkurung dalam penghalang.

Ia memejamkan mata seolah sudah pasrah, hanya tertunduk tanpa bergerak sedikit pun.

"Namanya Zen. Katanya sih dia salah satu dari Empat Raja Iblis."

"Empat Raja Iblis……!"

Suasana di sana langsung riuh.

"Berarti, dia setara dengan Ganjeet yang kita hadapi di desa itu?"

"Dia kuat banget, kan. ……Anu, jangan-jangan Birgit-sama yang mengalahkannya? Sendirian pula……"

"Yah, begitulah."

Mendengar ucapan Birgit, suasana semakin ramai.

Wajar saja kalau mereka terkejut. Belakangan ini terlalu banyak kejadian gila yang membuat sensor kewarasanku agak tumpul, tapi sebenarnya iblis itu sendiri sudah sangat kuat.

Empat Raja Iblis adalah keberadaan yang jauh, jauh lebih tinggi dari itu.

Bahkan aku saja harus sedikit berjuang melawannya, jadi kalau Birgit yang terlihat seperti warga sipil biasa berhasil menangkapnya, semua orang pasti kaget.

Di tengah kehebohan itu, hanya Albert yang tetap tenang.

"Yah, Kak Birgit memang punya banyak Magic Tool gila yang ia kumpulkan dari segala penjuru dunia. Dalam duel satu lawan satu atau kondisi tertentu, dia tidak akan kalah semudah itu dari siapa pun lawannya."

"Hei, hei. Jangan ngomong seolah aku ini bukan gadis cantik yang lemah lembut dong."

"Gadis cantik……?"

"Hah?"

"Nggak, bukan apa-apa! Tentu saja kakakku tercinta ini sangat cantik!"

Ditatap tajam oleh Birgit, Albert buru-buru meralat ucapannya.

Yah, terserahlah. Aku lebih tertarik dengan artefak sihir ini.

Saat aku mendekat dan mencoba menyentuhnya, bunga api memercik di bagian yang kusentuh.

"Ooh, hebat. Ini penghalang yang sangat kokoh."

Meskipun aku sudah memasukkan mana yang lumayan besar, seranganku tetap terpental.

Terlebih lagi, sepertinya penghalang ini menolak segala jenis reaksi mana.

Tidak peduli bagaimana aku mengubah sifat mananya, aku tidak bisa menembusnya.

Kalau begini, memang mungkin saja menangkap kaum iblis.

"Ini adalah artefak sihir dari peradaban kuno, Lloyd-sama. Sebagian besar memang dibuat untuk melawan kaum iblis, dan dulu kami dibuat sangat menderita karenanya."

"Peradaban Kuno Sandro…… kota yang sangat tidak terpuji karena terus melakukan penelitian tabu yang bahkan membuat Tuhan ketakutan. Meski begitu, tetap saja tidak akan bisa menandingi kekuatan Lloyd-sama."

Tentu saja kalau aku sedikit mengerahkan tenaga, aku bisa menembusnya.

Tapi penghalang ini sepertinya terhubung dengan artefak sihirnya, jadi kalau aku memaksanya pecah, benda aslinya mungkin akan ikut hancur.

……Aku ingin mencobanya. Meski sempat bimbang, aku memutuskan untuk urung.

Bagaimanapun, aku hanyalah anak kecil biasa yang hobi sihir.

Aku bisa menahan diri, dan tentu saja tidak mungkin bisa menghancurkan penghalang yang bahkan bisa menangkap salah satu dari Empat Raja Iblis. Iya, kan.

"……Bunuh aku."

Zen bergumam pelan sambil menatapku.

"Sejak awal aku sudah bertaruh nyawa dalam pertarungan ini. Aku tidak berniat menanggung malu karena dibiarkan hidup. Cepat bunuh saja aku."

"Hahahaha—apa sih yang kamu omongin."

Birgit langsung menertawakan ucapan itu sambil melotot.

"Kamu pikir pecundang sepertimu punya kebebasan begitu? Biar kukasih tahu ya, aku nggak berniat membunuhmu semudah itu. Kamu sudah bikin aku rugi besar. Aku bakal memanfaatkanmu sampai nilainya setimpal. Dalam banyak hal, ya."

"Kakak benar. Kami juga masih punya banyak hal yang tidak kami ketahui tentang kaum iblis. Kesempatan untuk menangkap kalian hidup-hidup itu jarang terjadi. Kami akan meminta tubuhmu menceritakan banyak hal kepada kami."

"……Kkh."

Wajah Zen berkerut mendengar perkataan mereka berdua.

Ooh! Entah kenapa, tapi sepertinya mereka berdua berniat melakukan hal yang sangat menyenangkan.

Aku harus ikut berpartisipasi juga.

"Kak Albert, aku juga——"

Baru saja aku hendak bicara, Albert meletakkan tangannya di kepalaku.

"Ini masih terlalu dini buat Lloyd. Serahkan bagian ini pada kami."

Senyumnya memang lembut, tapi saat Albert memasang wajah seperti ini, itu berarti dia sudah siap menanggung beban sendirian.

Maksudnya, dia berniat mengumpulkan informasi dari Zen lewat penyiksaan, eksperimen, atau ancaman.

Tentu saja dia tidak akan memperlihatkan hal semacam itu padaku yang masih "anak-anak".

Kkh, menyamar menjadi anak kecil yang hobi sihir biasa malah jadi bumerang seperti ini. Apa ada cara bagus…… Ah, benar juga.

"Kak Birgit, apa output penghalang itu bisa dipersempit? Misalnya, dipasang di leher saja supaya dia punya sedikit kebebasan tapi tindakannya tetap terbatas."

"Hmm? Yah, kalau itu sih bisa-bisa saja."

Sudah kuduga. Kalau tidak begitu, mana mungkin mereka bisa menyiksa tawanan di dalam penghalang. Aku sudah menduga kalau bentuk penghalangnya bisa diubah.

Aku menyeringai kecil lalu melanjutkan kata-kataku.

"Bagaimana kalau begini? Untuk kali ini saja, biarkan dia membantu festival akademi kita."

"……Maksudmu?"

"Ya sesuai kata-kataku. Festival akademi akan segera dimulai, tapi aku dengar ada laporan kalau banyak persiapan yang terlambat gara-gara kekacauan tadi pagi. Kalau tamu-tamu sudah masuk tapi kedainya belum buka, mereka pasti akan kecewa, kan?"

Aku baru saja mendapat pesan batin dari Noah kalau tenda-tenda dan sejenisnya terbang ditiup angin akibat pertarungan Birgit dan yang lain, sehingga pembukaan festival mungkin akan tertunda.

"Kedai-kedai ini adalah wajah dari festival akademi kali ini. Tanpa itu, semua orang yang sudah jauh-jauh datang pasti akan sangat kecewa. Jadi, bagaimana kalau kita minta dia melakukan sebuah atraksi sebagai upacara pembukaan!"

Mendengar kata-kataku, semua orang di tempat itu mematung.

"Apa yang Anda bicarakan, Lloyd-sama!"

Grim berbisik dengan nada berteriak.

"Benar! Meskipun dia dipasangi belenggu, membiarkan salah satu dari Empat Raja Iblis berkeliaran itu gila! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi!?"

Jiriel juga ikut memprotes hal yang sama. Tapi aku juga tidak mengatakannya tanpa pertimbangan.

"Kalian berdua pikirkanlah baik-baik. Menurut kalian, penyiksaan macam apa yang bisa dilakukan Albert dan yang lain terhadap iblis?"

Tidak peduli seberapa kaku gerakannya dikunci, pada dasarnya serangan fisik tidak mempan terhadap iblis.

Tanpa tahu seberapa besar serangan yang dibutuhkan untuk memberikan kerusakan, penyiksaan akan sulit dilakukan.

Daripada begitu, lebih baik memberinya kebebasan terbatas dan membiarkannya bergerak di bawah pengawasan. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan lebih banyak informasi.

"Lagipula, iblis bernama Zen itu kelihatannya tipe yang bisa diajak bicara. Pasti ada informasi yang bisa kita gali dari percakapan dengannya."

Seandainya dia mengamuk pun, ada aku yang bisa mengatasinya.

Lagipula aku juga bisa melihat sihir Empat Raja Iblis dari dekat, jadi ini sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Benar-benar ide yang cemerlang. Iya, kan.

Albert dan Birgit sepertinya juga segera menyadari maksudku dan mulai berpikir keras.

"Hmm, nggak buruk juga sih idenya."

Birgit akhirnya mengangguk. Bagus, dia terpancing.

"Upacara pembukaan dengan kekuatan iblis... Sekarang tamu-tamu pasti sudah banyak yang berkumpul. Ada yang pasti kesal karena gerbangnya nggak kunjung dibuka, jadi kalau kita nyalakan kembang api besar yang 'Duar!', mood mereka pasti langsung naik. Hmm, hmm... iya, nggak buruk. Setelah mood mereka naik, mereka bakal langsung menyerbu kedai-kedai yang sudah siap dan menghabiskan banyak uang. Nihehe, boleh juga, boleh juga."

Meskipun Birgit memasang senyum menyeramkan, wajah Albert tetap terlihat serius.

"……Aku keberatan. Memang ada keuntungannya, tapi kalau terjadi apa-apa, ini bisa jadi bencana besar. Kalau cuma ada kita, mungkin masih bisa ditutupi, tapi di depan orang banyak itu tidak mungkin. Ini terlalu berbahaya."

Albert mencoba membantah, tapi Birgit justru merangkul bahunya sambil tersenyum.

"Hah, kamu masih polos ya, Albert. Kamu nggak paham maksud Lloyd?"

"Ma-maksud Kakak apa?"

"Lloyd bilang begitu karena dia nggak mau kita melakukan pekerjaan kotor. Coba pikir, kalau rakyat tahu kalau kandidat pertama takhta sepertimu atau orang kaya sepertiku melakukan penyiksaan meskipun itu terhadap iblis, pasti bakal gempar, kan?"

"Aku paham soal itu. Tapi……"

"Lagipula Albert, kamu sendiri nggak terbiasa dengan hal begini, kan? Tanganmu tadi gemetaran, lho. Kelihatan banget."

"……Kakak menyadarinya……?"

"Tentu saja. Kamu pikir aku ini kakaknya siapa? Lagipula kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik, festival akademi pasti sukses besar. Kalaupun ketahuan, reputasi kita bakal naik karena berhasil menjinakkan salah satu dari Empat Raja Iblis. Tenang saja, kalau ada apa-apa, aku tinggal jentikkan jari pakai penghalangku. Lloyd sudah memperhitungkan sampai sejauh itu saat mengatakannya."

"Benar juga…… Lloyd memang anak yang cerdas. Tidak heran kalau dia sudah paham sampai ke sana. Aku malah tidak menyadarinya…… betapa bodohnya aku. Hampir saja aku mengabaikan niat baik Lloyd……!"

"Iya, iya. Kamu memang agak keras kepala sih. Tapi setidaknya kamu mau mengakui kesalahan, itu poin plus buatmu."

Mereka berdua asyik bergumam sendiri. Saat aku sedang bingung memikirkan apa yang mereka bicarakan, mereka berbalik menatapku.

"……Baiklah. Tapi terlepas dari rencana kami, apa pria ini mau menuruti kata-kata kami secara sukarela——"

"Boleh saja."

Zen memotong ucapan Albert.

"Sejak awal, aku sebagai pecundang tidak punya hak untuk menolak. Terlebih lagi, meskipun demi menjalankan misi, aku merasa ingin menebus kesalahanku karena telah mengganggu festival para pemuda yang tidak bersalah ini. Aku akan membantu sebisa mungkin. ……Tapi jangan salah sangka. Memang aku kalah, tapi jangan harap jiwaku akan tunduk. Jangan pernah berpikir aku akan mengkhianati rekan-rekanku!"

Melihat Zen yang menatap tajam dengan mata penuh tekad, semua orang saling bertatapan.

"……Kayaknya dia bukan orang jahat-jahat amat?"

"Sepertinya dia tipe ksatria sejati. Tipe yang benci kecurangan dan teguh pada prinsip…… Jadi Lloyd-sama sudah melihat sifatnya itu saat mengusulkan rencana tadi. Benar-benar luar biasa."

Ren dan Sylpha bergumam entah apa, tapi intinya dia mau membantu, kan?

Kalau begitu, sepertinya eksperimenku bakal berjalan lancar.

Nanti aku coba minta tolong macam-macam secara pribadi, ah.

"——Hmm, boleh juga. Bagus, Zen."

Shelah, salah satu dari Empat Raja Iblis yang memantau kejadian itu lewat bola kristal, mengangguk pelan.

"Tadinya aku bingung apa rencanamu saat kamu tertangkap semudah itu, tapi aku paham. Ternyata kamu berpura-pura patuh untuk mencari kesempatan mendekati gadis wadah itu, ya. Kupikir kamu cuma otot saja, tapi ternyata kamu pintar juga…… Fufu."

Shelah tersenyum kecil, namun tiba-tiba senyumnya membeku.

Soalnya, daripada terlihat berpura-pura untuk mencari celah, Zen justru kelihatan benar-benar tulus menuruti perintah mereka.

"……Benar begitu, kan? Zen. Aku percaya padamu, lho. Tolong ya?"

Shelah menatap bola kristal itu dengan tatapan cemas seolah ingin memastikan keyakinannya.

Bagaimanapun juga, festival akademi akan segera dimulai.

"Kalau begitu, mari kita mulai——"

Di atap menara akademi, Zen mengangkat kedua tangannya ke langit.

Seketika, awan mulai berkumpul di atas kepalanya dan menutupi seluruh langit dalam sekejap.

Di bawah sana, para pengunjung mendongak ke atas saat kilatan petir mulai menyambar-nyambar di dalam awan.

Kilatan itu semakin banyak dan berkumpul di tengah awan, lalu——Duaaar! bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar, bunga raksasa mekar di langit.

——Kembang api.

Sebuah bola berisi bubuk mesiu yang diledakkan di udara untuk menciptakan bunga api yang indah di langit malam.

Sihir atau alkimia bisa melakukan hal serupa, tapi Zen mereproduksinya menggunakan petir dengan latar belakang awan gelap.

"Uwooooh! Bisa mengendalikan petir sebebas itu, benar-benar level Empat Raja Iblis!"

"Iya, mengumpulkan awan, memanggil petir, dan membentuknya menjadi wujud yang tidak alami…… ini mustahil dilakukan tanpa kontrol mana yang luar biasa."

Apa yang dikatakan Grim dan Jiriel benar.

Mengendalikan cuaca itu sendiri membutuhkan kontrol mana yang sangat halus, ditambah lagi kebutuhan mana yang sangat besar.

Kemungkinan rahasianya adalah dia menyatukan materi mananya dengan atmosfer, sehingga ia bisa mengendalikan cuaca dengan bebas.

Wah, aku benar-benar diperlihatkan sesuatu yang hebat. Teknik seperti ini jarang sekali bisa dilihat.

Duaaar! Du-duaaar!

Petir meledak di langit, dan bunga-bunga indah bermekaran dengan megahnya.

Saat aku sedang terkagum-kagum melihatnya, Zen berbalik menatapku.

"Apa begini sudah cukup?"

"Iya, sepertinya semua orang sangat senang."

Para pengunjung di bawah sana mendongak melihat kembang api petir ciptaan Zen sambil bersorak kagum.

Kekesalan mereka karena tidak bisa segera masuk tadi seolah hilang begitu saja.

Mereka menatap langit dan sesekali berteriak penuh semangat.

Di tengah kesibukan itu, persiapan stan di balik gerbang juga berjalan dengan pesat.

Tampaknya, sudah lebih dari separuh yang selesai bersiap.

"Kira-kira sudah bisa dimulai, belum ya?" Baru saja aku membatin begitu, lonceng menara akademi berdentang dengan nyaring.

"Tes, tes! Semuanya, mohon maaf telah menunggu lama! Dengan ini, Festival Akademi William resmi dibuka!"

Segera setelah suara Birgit menggema, gerbang akademi pun dibuka lebar.

Para pengunjung mulai mengalir masuk ke dalam satu per satu. Festival ini benar-benar telah dimulai.

"Ya, kerja bagus, Lloyd."

Pintu atap terbuka, dan Albert muncul dari sana. Sylpha dan Ren pun turut mendampinginya.

"Kak Albert, persiapannya sudah selesai?"

"Ya. Lagipula, aku juga penasaran dengan keadaan Zen. ……Tapi sepertinya kekhawatiranku tidak berguna. Aku senang dia bekerja dengan sangat baik."

"……Karena aku masih belum berniat untuk mati."

Zen membuang muka sambil bersedekap, melirik sekilas ke arah Albert yang mengedipkan mata padanya.

Inti kristal milik Birgit terpasang di sekeliling leher Zen.

Benda itu akan aktif di saat Zen berniat mencelakai manusia.

Sistemnya dirancang untuk langsung memutus bagian tubuh yang terkekang.

Terlebih lagi, Birgit bilang kalau fungsi itu memang sudah terpasang sejak awal. Benar-benar benda yang mengerikan.

"Bagaimanapun juga, tugasku sudah selesai. Biar aku saja yang menggantikan tugas pengawasan ini. Bukankah kamu juga ingin menikmati festivalnya, Lloyd?"

"Itu memang benar, tapi……"

"Heh, aku senang kamu mengkhawatirkan aku. Tapi kedua orang ini juga bersamaku, jadi tidak akan ada masalah."

Sylpha dan Ren pun mengangguk mantap. Memang benar, dengan adanya dua orang yang berhasil mengalahkan Ganjeet ini, mereka pasti bisa melindungi Albert jika terjadi sesuatu yang darurat.

"Lagipula, Zen masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Akan lebih efisien jika aku yang sudah paham detail tugasnya yang mengawasi."

"Baiklah. Kalau begitu, aku serahkan padamu."

"Ya, bersenang-senanglah! Zen, kamu tidak keberatan, kan?"

"Tidak masalah."

Zen mengangguk mendengar ucapan Albert. Dia ternyata cukup patuh, ya. Omong-omong, untuk apa sebenarnya dia datang ke akademi ini?

Saat pertunjukan kembang api tadi, dia sempat celingukan seolah sedang mencari sesuatu. ……Yah, mungkin dia hanya merasa asing dengan kota manusia.

Tapi bagiku, festival akademi ini jauh lebih penting.

Ini adalah festival yang diciptakan oleh para siswa jenius sebagai puncak kehidupan sekolah mereka.

Hanya dengan melihat dari atas saja, aku sudah sangat bersemangat melihat begitu banyak stan dan pertunjukan yang menarik.

Terutama hasil riset dari para siswa Departemen Sihir, aku sangat menantikannya.

Pasti akan berguna untuk riset sihirku sendiri, dan kalaupun tidak, aku tetap ingin melihatnya.

Dan yang paling penting, aku penasaran apa yang sedang dikerjakan oleh Connie yang terus-menerus mengurung diri itu. Hmm, memikirkannya saja sudah membuatku tidak sabar.

"Kalau begitu, aku pergi dulu, Kak Albert!"

"Ya, pergilah."

Dilepas oleh Albert, aku pun berlari menuju area festival.

"Wah, semuanya benar-benar luar biasa dan layak dilihat!"

Sambil menyantap fruit sandwich untuk makan siang dengan wajah berseri-seri, aku mengembuskan napas penuh kepuasan.

Untuk sementara aku sudah berkeliling melihat semuanya secara urutan, dan setiap departemen memberikan performa yang sangat totalitas.

"Benar sekali, Tuan. Menurut saya, patung pahatan karya Departemen Ilmu Pedang itu sungguh luar biasa."

Grim sedang mengagumi benda yang dipajang di gerbang tadi.

Itu adalah patung pahlawan setinggi tiga meter yang menggenggam pedang, bahkan para pengunjung pun dibuat takjub melihatnya.

Entah kenapa patung itu agak mirip denganku. ……Tapi karena badannya sangat tinggi dan terlalu berkilauan, mungkin itu cuma perasaanku saja.

"Kalau menurut saya, bunga ungu yang dipajang di pintu masuk utama sangat mengagumkan. 'Bunga Obat untuk Tuanku', ugh, saya bisa merasakan cinta yang begitu indah di sana!"

Jiriel yang entah kenapa sedang bersemangat membicarakan bunga ciptaan Departemen Farmasi. Itu adalah bunga berwarna ungu yang sangat cantik, padahal aslinya hanyalah bunga lili biasa.

Dalam penjelasan proses pembuatannya, mereka membagi dosis racun dan obat secara detail sesuai tahap pertumbuhannya untuk menghasilkan warna dan bentuk yang belum pernah ada sebelumnya.

Jika tidak dilakukan dengan sangat mahir, bunganya pasti akan layu atau tumbuh terlalu liar hingga merusak pemandangan. Hasilnya sungguh memukau, sampai-sampai para pengunjung menghela napas terpana.

"Ya, departemen lain juga hebat, tapi dua departemen itu memang levelnya berbeda karena ada Sylpha dan Ren."

Mereka berdua adalah orang-orang dengan kemampuan kelas atas di departemen masing-masing. Tentu saja itu memicu tingkat persaingan di sekitar mereka untuk ikut naik. Stan Departemen Ilmu Pedang dan Farmasi memang terlihat paling banyak dikunjungi orang.

Dan meski tidak terlihat secara mencolok, Departemen Ekonomi yang mengoordinasi semuanya juga luar biasa.

Biasanya festival dengan skala sebesar ini akan sangat berjejal hingga sulit untuk berkeliling dengan tenang. Sepertinya ini berkat pengaruh Albert.

Ngomong-ngomong, saat berkeliling tadi, aku melihat Zen mengikuti mereka sambil mengerjakan berbagai tugas. Sepertinya tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Dia patuh mengikuti perintah Albert sambil terbang ke sana kemari di area akademi.

"Tapi ngomong-ngomong, si gadis berkacamata itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya, ya."

Grim bergumam soal Connie. Sepertinya barang pamerannya belum selesai.

Kudengar Connie masih mengurung diri di ruang klub untuk terus mengerjakannya. Dia masih keluar sesekali untuk makan, jadi setidaknya dia masih hidup, tapi aku tetap sedikit khawatir.

"Lloyd-sama, kalau begini terus festival akademi akan berakhir sebelum karyanya selesai. Bagaimana kalau kita pergi membantunya?"

"Dia bilang tidak mau aku melihatnya sampai selesai, jadi membantunya hanya akan merusak usahanya."

Lagipula, kemarin aku baru saja menawarkan bantuan dan ditolak. Terlalu mendesak dan membuatnya terburu-buru juga tidak baik.

Festival ini berlangsung selama lima hari. Selain hari ini, masih ada empat hari lagi. Kalaupun tidak sempat, aku tinggal minta dia memperlihatkannya nanti setelah selesai.

"Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu, mari kita nikmati stan yang lain."

"Jika itu keinginan Anda."

"Siap laksanakan, Tuan!"

Aku pun melanjutkan menikmati festival akademi. Namun, meski dua atau tiga hari telah berlalu, Connie tidak kunjung keluar dari ruang klub.

Kata Sylpha yang mengantarkan keperluan, katanya tinggal sedikit lagi, dan pasti akan selesai pada hari terakhir.

……Hmm, kalau sudah sampai sejauh ini, aku benar-benar ingin dia menyelesaikannya tepat waktu.

"Heh Zen, apa maksudmu?"

Di malam hari, di kebun belakang akademi, Shelah dan Zen yang dipanggil sedang berhadapan.

"Kamu malah jadi pelayan manusia dan sama sekali tidak mencari gadis wadah itu."

"……Bukan begitu. Aku mencarinya di sela-sela membantu manusia, tapi aku sama sekali tidak merasakan keberadaannya."

"Memang ada banyak manusia dengan kekuatan sihir di sini, jadi melacak sisa mana mungkin agak sulit. ……Tapi kalau kamu serius, harusnya itu masalah gampang, kan?"

"……"

Zen tidak menjawab pertanyaan Shelah. Sebenarnya, bukan berarti dia tidak punya cara. Mana milik Zen sudah cukup pulih, dan dia sudah memahami sebagian besar struktur dari inti kristal tersebut.

Jika dia ingin kabur, dia bisa melakukannya kapan saja. Misalnya dengan menciptakan kepala baru di tubuhnya, lalu membiarkan leher aslinya terpotong seperti ekor cicak untuk melarikan diri.

Albert dan yang lain tidak tahu kalau Zen yang merupakan makhluk bermateri mana bisa melakukan hal itu.

Namun, alasan kenapa dia tidak melakukannya adalah——

"Haa, dugaanku benar. Kamu ini memang punya rasa tanggung jawab yang berlebihan."

Shelah menghela napas. Zen tampak merasa tidak enak.

Di dunia iblis di mana kekuatan adalah segalanya, Zen adalah pria yang jujur sampai ke tingkat yang bodoh.

Meski lawannya menggunakan cara licik sekalipun, dia selalu berusaha bertarung secara ksatria dan jujur.

Di belakangnya, dia sering disebut si otak otot, tapi banyak bawahan muda yang sangat mengaguminya.

Bagi pria seperti dia, karena dia sudah kalah dan dibiarkan hidup, maka membantu persiapan festival adalah hal yang sangat wajar.

"Tapi aku tidak melupakan misi utama. Besok malam festival ini akan berakhir. Saat itulah, aku akan memanfaatkan celah ketika para manusia tertidur kelelahan untuk mencari dan menemui gadis wadah itu."

"……Yah, kita sesama Raja Iblis berada di posisi yang setara, jadi aku tidak akan mengatur cara kerjamu. ——Tapi kalau sudah begini, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Kamu tidak akan keberatan jika aku ikut campur, kan?"

Zen mengangguk mendengar pertanyaan Shelah.

"Tentu saja. Lagipula, mana mungkin seorang pecundang sepertiku berhak memberikan pendapat."

"Ka-kamu sepertinya sangat memikirkannya, ya……"

Melihat Zen yang tampak sedikit murung, Shelah memasang wajah heran.

Tipe petarung yang mengandalkan perasaan seperti Zen akan langsung kehilangan motivasi jika harus bertarung dalam kondisi yang tidak sesuai dengan prinsipnya.

Dengan kepribadian Zen yang seperti itu, sepertinya dia tidak akan bisa bekerja dengan benar dalam situasi sekarang.

Shelah berpikir akan lebih efektif jika mereka bergerak sendiri-sendiri daripada bekerja sama secara tanggung.

"Pokoknya, mari kita berjuang bersama."

"Ya, demi Yang Mulia."

Keduanya melakukan tepukan telapak tangan ringan lalu berpisah. Hari terakhir festival akademi akan segera dimulai.

Beberapa hari berlalu, dan tak terasa hari terakhir festival akademi pun tiba. Sambil bermandikan cahaya matahari pagi, aku mengangguk pelan.

"Jadi, pekerjaan Connie belum selesai juga?"

"Ya, katanya tinggal sedikit lagi."

Sylpha yang membawakan sarapan menjawab. Tadi, sepertinya Sylpha sempat menanyakan situasinya saat mengantarkan sarapan untuk Connie.

"Benar-benar, sudah berapa kali dia bilang 'tinggal sedikit lagi'. Merepotkan sekali."

"Tapi sepertinya kali ini benar-benar hampir selesai. Dia bilang akan segera keluar begitu pengecekan terakhir rampung."

Ren menimpali untuk membela Connie, memotong keluhan Sylpha. Dia benar-benar membuatku tidak sabar.

Tapi satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Mari menunggu dengan tenang.

Oleh karena itu, hari ini pun aku kembali berkeliling festival akademi. Ini sudah putaran kesepuluh, tapi aku belum bosan. Selalu ada penemuan baru setiap kali aku berkeliling.

Wah, ada stan baru di saat-saat terakhir begini, berani juga mereka.

Kalau di sebelah sana, sepertinya mereka melakukan perbaikan berdasarkan saran dari pengunjung.

Sepertinya festival ini masih jauh dari kata berakhir.

"……Tapi karena ini hari terakhir, orang-orang sudah mulai berkurang banyak, ya."

Dibandingkan hari-hari sebelumnya, arus pengunjung terlihat jelas menurun.

Bagiku sih jadi lebih enak buat jalan, tapi para siswa sepertinya mulai kehilangan semangat. Yah, setelah lima hari sih wajar saja.

Tapi daripada kehilangan semangat, mereka terlihat lebih seperti sedang gelisah.

"Mereka sedang mencari pasangan. Lihat itu."

Ren yang berada di sampingku menunjuk ke arah seorang siswa laki-laki yang tampak memohon dengan gigih kepada seorang siswi.

Namun sepertinya dia ditolak, karena dia langsung tertunduk lesu. Melihat itu, Sylpha menggelengkan kepala dengan ekspresi heran.

"Bodoh sekali. Acara seperti ini sangat bergantung pada perilaku sehari-hari dan lobi-lobi awal. Apa mereka tidak paham kalau panik di saat terakhir itu sudah terlambat? Benar-benar pemandangan yang menyedihkan."

Ada apa ini? Apa sebenarnya yang mereka bicarakan?

"Anda serius tidak tahu, Lloyd-sama? Yang mereka bicarakan adalah pesta dansa yang diadakan di malam terakhir festival akademi."

"Sejak beberapa hari lalu, banyak siswa laki-laki yang mengajak siswi di sana-sini. Sylpha-tan dan Ren-tan juga diajak oleh banyak laki-laki. ……Tentu saja semuanya langsung ditolak mentah-mentah. Huh, balasan yang setimpal bagi para serangga kotor itu."

Grim dan Jiriel memberikan penjelasan dengan ramah.

Aku sama sekali tidak sadar karena memang tidak tertarik.

Yah, lagipula aku tidak akan ikut, jadi tidak perlu diingat.

"……Ehem. Ngomong-ngomong Lloyd-sama, apakah Anda sudah menentukan pasangan untuk malam ini?"

"Eh?"

Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Sylpha, aku spontan mengeluarkan suara kaget.

Eh, aku juga harus ikut?

Saat aku bertanya lewat tatapan mata, Sylpha mengangguk seolah itu hal yang sudah sewajarnya.

"Ini adalah acara yang diprakarsai Birgit-sama. Tentu saja Lloyd-sama juga perlu hadir."

"Albert-sama juga dipaksa ikut. Yah, sepertinya dia tidak terlalu keberatan sih."

Kalau dipikir-pikir, sepertinya Birgit pernah bilang sesuatu.

Karena waktu itu aku sedang membaca buku jadi aku cuma mengiyakan saja, ternyata itu soal ini, ya.

Aku sama sekali tidak mendengarkan.

Hmm, merepotkan sekali. Bagaimana ya? Saat aku sedang mengerang pelan, Sylpha berdeham kecil.

"Tampaknya Lloyd-sama juga belum memikirkan siapa pasangannya. Jika Anda berkenan, maukah Anda pergi bersama saya?"

Melihat Sylpha yang mengulurkan tangannya, Ren jadi panik.

"Sylpha-san!? Bukankah kamu bilang kalau pasangan dansa itu harusnya laki-laki yang mengajak!?"

"Heh, itu aturan bodoh yang sama sekali tidak punya kekuatan memaksa. Tidak ada alasan untuk sengaja mematuhinya."

"Ka-kalau begitu, aku juga ingin bersama Lloyd……"

"Silakan saja jika kamu mau. Karena yang memutuskan adalah Lloyd-sama."

"Uuh…… be-benar juga. Kamu benar……"

Melihat wajah Sylpha yang tampak tenang, Ren berpikir sejenak lalu menatapku dengan tatapan mantap.

"Anu! Lloyd, kalau boleh... maukah kamu... itu, berdansa denganku!?"

Melihat Ren yang mengucapkannya sambil menatap ke atas dengan pipi merona, aku menjawab.

"Eeeh……"

"Reaksinya jahat banget!"

Ren berteriak, sepertinya dia syok dengan jawabanku. Bukannya aku tidak bisa berdansa. Sylpha sudah menjejalkan etiket semacam ini ke kepalaku sampai aku muak.

Tapi kalau aku bersama Sylpha atau Ren di pesta dansa yang diikuti banyak siswa, aku pasti akan jadi pusat perhatian.

Sylpha sudah tidak perlu ditanyakan lagi, dan belakangan ini Ren juga sudah berubah menjadi gadis cantik yang sangat menarik perhatian. Aku tidak mau menonjol.

Setidaknya kalau ada gadis yang lebih biasa-biasa saja, aku mungkin mau berdansa…… tapi yah, mengajak gadis lain sekarang juga merepotkan, jadi sepertinya aku harus pasrah saja.

Sore harinya, tepat sebelum pesta dansa dimulai, aku dikerumuni oleh semua orang untuk digantikan pakaiannya.

Rambutku dipasang wax hingga kaku, dan aku dipakaikan setelan jas anak-anak yang terasa kaku dan sulit digerakkan.

Begitu aku melangkah maju ke depan mereka, terdengar suara kagum dari semua orang.

"Heh! Ternyata cocok juga ya buatmu, Lloyd!"

"Ya, bagus sekali. Kalau begini, kamu tidak akan memalukan dibawa ke mana pun. Tidak, bukannya memalukan, kamu malah membuatku bangga sebagai adikku."

Birgit dan Albert yang sudah mengenakan pakaian resmi menatapku dengan puas.

Mereka bilang begitu, tapi menurutku ini sama sekali tidak cocok. Saat kulihat di cermin, aku merasa seperti sedang dipakaikan baju yang kebesaran.

Sebaliknya, mereka berdua terlihat sangat terbiasa memakainya. Benar-benar pangeran dan putri. Itu adalah sesuatu yang mustahil bagiku.

"Sangat cocok untuk Anda. Memang tidak salah lagi kalau itu Lloyd-sama."

"Iya, iya, Lloyd kelihatan keren banget!"

Sylpha dan Ren terus memujiku, padahal sudah jelas kalau mereka berdua lebih cocok dengan gaun yang mereka pakai.

Kainnya sangat tipis dan bagian punggungnya terbuka lebar, sepertinya mereka bisa masuk angin mengenakan pakaian seperti itu.

"Iya, iya, semuanya terlihat bagus. Tinggal lokasinya saja yang sedikit kurang mumpuni……"

Birgit menatap ke luar jendela lalu menghela napas kecewa.

Halaman tengah akademi yang menjadi lokasi pesta dansa hanya diberi hiasan buatan tangan, sama sekali tidak sebanding dengan kastil kerajaan tempat kami biasa mengadakan acara.

"Tidak ada pilihan lain, Kak Birgit. Kita harus bersyukur bisa mendapatkan tempat seluas ini."

"Tapi tetap saja…… Hmm, ngomong-ngomong Connie di mana? Aku tidak melihatnya belakangan ini."

"Connie-chan itu——"

Albert menjelaskan situasinya kepada Birgit. Sepertinya pada akhirnya pembuatan artefak sihir Connie tidak sempat selesai tepat waktu. Padahal dia bilang tinggal sedikit lagi. Sayang sekali.

"Yah, tidak masalah kalau kita melihatnya nanti…… mu?"

Saat aku sedang memikirkan itu, terlihat seorang siswi berpakaian kerja berlari masuk ke lokasi pesta dansa. Itu Connie. Dia celingukan seolah sedang mencari kami.

"Woi, Connie!"

"Ah! Lloyd-kun. Maaf menunggu, ini sudah jadi!"

Connie melambai-lambaikan tangannya sambil mengapit artefak sihir sebesar bola di ketiaknya.

Ooh! Itukah artefak sihir yang sedang dibicarakan? Akhirnya selesai juga. Aku sudah menantikannya.

Aku melompat turun dari jendela dan mendarat menggunakan sihir Flight.

"Kerja bagus, Connie."

"Ya, untung saja sempat tepat waktu. Ayo coba lihat, aku akan segera mengetesnya."

"Tentu saja. Ayo lakukan. Cepat lakukan."

Sudah tidak perlu ditanyakan lagi, mataku sudah terpaku pada artefak sihir itu. Benda macam apa itu sebenarnya? Aku sangat bersemangat.

"Bagaimana cara pakainya? Terus, benda ini sebenarnya apa?"

"Jangan terburu-buru. Aku harus mengumpulkan orang dulu…… Woi! Semuanya—!"

Connie memanggil para siswa di sekitar. Hmm, aku tidak terlalu paham tapi aku akan ikut membantu juga.

"Bisakah kalian membantu kami sebentar?"

"Anu, bolehkah minta tolong bantuannya?"

Setelah kami berdua memanggil semuanya, dalam sekejap terkumpul belasan orang.

"Aduh, ada apa sebenarnya?"

"Gila, sudah lama tidak melihatmu, si kacamata."

Di antara mereka juga ada Noah dan Gazelle. Connie berdeham sekali, lalu memandang ke sekeliling.

"Terima kasih sudah berkumpul. Artefak sihir ini menggunakan mana dalam jumlah besar sebagai bahan bakarnya. Benar-benar butuh mana yang sangat, sangat banyak. Jadi, mohon bantuannya."

Connie membungkukkan kepalanya.

Sejak masuk sekolah, dia memang terus melakukan riset untuk menyerap mana demi menghilangkan gangguan mana di desanya.

Sepertinya ini adalah puncak dari risetnya itu.

"Tidak masalah. Kelihatannya cukup menarik."

"Apa yang harus kami lakukan?"

Setelah Noah mengangguk, orang-orang di sekitar pun mulai berebut untuk mengacungkan tangan.

Dalam sekejap sudah terbentuk antrean. Mari kita lihat, sepertinya aku juga harus ikut berpartisipasi.

"Kalau begitu, silakan letakkan tangan kalian di sini."

"Hmm, begini?"

Noah yang berada di urutan depan meletakkan tangannya di atas artefak sihir itu, dan indikator di bagian depannya bergerak perlahan.

Kira-kira hanya naik sekitar sepuluh persen. Connie melihat itu sambil bergumam takjub.

"Ooh, luar biasa, Noah-san! Bisa menuangkan mana sebanyak ini sekaligus! Memang tidak salah lagi sebagai lulusan terbaik Departemen Sihir. Prok prok prok."

Terpancing oleh Connie yang bertepuk tangan, orang-orang lain pun turut bertepuk tangan.

"Heh, lumayan juga ya, Kak. Baiklah, aku akan menuangkan mana yang lebih banyak!"

Gazelle juga ikut bersemangat di depanku. Ternyata sampai sekarang dia masih menganggap kakaknya sebagai rival.

Sambil membunyikan jari-jarinya, dia berdiri di depan artefak sihir itu dan menuangkan mana dengan penuh tekad.

"Oraaaaaaaaa!"

Sambil meraung hingga urat di pelipisnya menonjol dan keringat dingin bercucuran, Gazelle menuangkan mananya, tapi indikatornya hanya bergerak kurang lebih sama dengan Noah.

"Haa, haa…… Lihat itu, Kak! Aku lebih unggul darimu!"

"Tidak, sepertinya tidak ada bedanya……"

Noah tampak heran, tapi beberapa siswa yang menyusul setelahnya bahkan tidak sampai sepuluh persennya, mungkin cuma sekitar satu persennya saja.

Benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan mereka berdua. Memang keturunan William luar biasa. Saat aku sedang memikirkan itu, giliranku pun tiba.

"Berikutnya Lloyd-kun, ya. Mari kita lihat seberapa hebat kemampuanmu."

"Hehe, semangat ya, Lloyd!"

Mereka berdua menepuk punggungku, tapi…… gawat. Kalau aku menuangkan mana di tempat yang penuh orang begini, jumlah manaku akan ketahuan.

"Wah, wah, ada apa ini kok ramai sekali?"

"Semuanya terlihat senang, ya."

Tanpa sadar Albert dan yang lain juga sudah turun.

Satu-satunya cara adalah menekan jumlah manaku sampai ke batas minimal untuk melewatinya…… tapi kalau begitu, indikator artefak ini tidak akan terisi penuh.

Saat ini baru terisi sekitar seperempat, masih jauh dari maksimal. Jika aku menahan diri di sini, mana yang terkumpul tidak akan cukup dan artefaknya tidak bisa aktif. Itu tidak bagus.

Karena dia sudah bersusah payah menyelesaikannya, aku ingin segera melihatnya bergerak. Apalagi aku sudah dipaksa menunggu lama. Aku sangat ingin melihatnya.

Khu, apa yang harus kulakukan…… Saat aku sedang bimbang, aku menyadari ada seseorang di dekatku.

"Jika kamu tidak melakukannya, apa boleh aku melakukannya lebih dulu?"

Seorang wanita dengan suara yang menggelitik telinga melangkah maju. Dia adalah wanita cantik dengan rambut ungu panjang yang indah. Melihat kecantikannya, para pria di tempat itu spontan mengeluarkan suara kagum.

"Cukup letakkan tangan di sini?"

"Iya, setelah itu mananya akan teris— wah!? A-apa-apaan jumlah mana ini!?"

Saat wanita itu menuangkan mananya, indikatornya meningkat pesat hingga mencapai hampir tujuh puluh persen.




Sorakan kembali bergemuruh saat merasakan mana yang melampaui milik Noah dan kawan-kawan.

"Mana yang gila. Rasanya jumlahnya melonjak dua kali lipat dari kita tadi, ya?"

"Hmm, tapi sepertinya Anda bukan siswi atau staf di sini. Kecantikan seperti itu harusnya tidak akan mudah dilupakan jika pernah terlihat sekali saja."

"Fufu, Anda pandai merayu."

Wanita itu membalas dengan senyuman saat dikelilingi orang-orang. Aku tidak tahu siapa dia, tapi ini kesempatan bagus untuk mengalihkan perhatian.

Sret, sret, sret…… Ffuh, beres.

Setelah menyelesaikan "tugas sampingan" itu, aku meletakkan tangan di bahu Connie.

"Syukurlah, Connie. Sekarang indikatornya sudah penuh, jadi artefaknya sudah bisa dijalankan."

"Eh? Tapi tadi baru tujuh puluh persen…… ah!"

Connie mengucek matanya sambil memastikan. Indikator di depannya kini benar-benar sudah penuh.

"A-are? Aneh ya…… padahal tadi masih……"

"Aku melihatnya kok, tadi bergerak pelan-pelan. Wah, hebat sekali ya mana kakak cantik itu. Ahaha."

——Tentu saja, itu karena aku diam-diam menuangkan manaku ke sana.

Ffuh, mendebarkan juga, tapi dengan begini aku bisa menyalakan artefaknya sambil tetap berpura-pura. Aku harus berterima kasih pada wanita itu.

Saat aku membatin begitu, aku menyadari Grim dan Jiriel sedang gemetar hebat.

"Dia menekan mananya dengan sangat kuat, tapi gelombang mana ini…… sudah pasti bukan manusia."

"Wanita itu adalah yang terakhir dari Empat Jenderal Iblis, Shelah si Biru. Tapi dengan dandanan begitu, apa dia berniat ikut pesta dansa? Apa sebenarnya yang sedang dia rencanakan?"

Hou, Empat Jenderal Iblis ya.

Pantas saja aku merasa ada yang aneh. Sepertinya dia sedang menyamar menjadi manusia dengan menekan kekuatannya.

Tapi, sama seperti mereka yang menyerang sebelumnya, apa sebenarnya tujuan mereka? Yah, dipikirkan pun tidak ada gunanya.

Aku ingin bertanya, tapi Shelah sedang dikelilingi para siswa yang berebut mengajaknya berdansa.

Aku akan mencoba menyapanya nanti setelah suasana lebih tenang.

Lagipula bagiku, ada hal lain yang jauh lebih prioritas.

"Nah, Connie, sekarang artefaknya sudah bisa dijalankan, kan? Ayo cepat nyalakan."

Sudah tidak perlu ditanyakan lagi, ini adalah artefak yang disesuaikan Connie hingga batas waktu terakhir.

Pasti mengandung mana dalam jumlah yang luar biasa. Apa yang akan terjadi ya? Aku sangat bersemangat.

"Ah, benar juga. ——Kalau begitu semuanya, terima kasih atas bantuannya. Berkat kalian mananya sudah terkumpul. Sekarang, aktivasi Artefak Sihir Fantasy Projector——"

Klik, saat Connie menekan sakelar, artefak bernama Fantasy Projector itu mulai memancarkan cahaya.

Cahaya itu melesat di udara dengan lintasan yang bebas, seolah-olah sedang menggambar sesuatu di langit. Apakah itu sebuah bangunan?

"Itu…… sebuah kastel?" Sylpha bergumam.

Memang benar, itu adalah kastel. Tampak sebuah kastel megah nan mewah seperti yang muncul dalam dongeng sedang tercipta di sana.

"Fantasy Projector adalah artefak yang melepaskan mana yang terkumpul dan mematerialisasikannya. Karena asalnya dari mana, benda ini akan hilang dalam sehari, tapi ia bisa menciptakan kastel sebesar ini, lho."

"Hee, hebat sekali."

Saat aku menyentuh kastel yang sudah jadi itu, bendanya memang benar-benar ada di sana. Pada dasarnya, mana adalah sesuatu yang sulit untuk dimaterialisasikan.

Jika hanya fenomena seperti api atau air mungkin tidak seberapa, tapi jika harus membuat senjata atau bangunan yang membutuhkan rancangan detail, tingkat kesulitannya akan melonjak tajam.

Kastel yang dibuat dengan Fantasy Projector milik Connie tampak sangat kokoh dan dibuat dengan presisi yang tidak kalah dengan bangunan asli.

Para siswa pun bersorak kegirangan sambil menyentuh kastel atau naik ke atas temboknya.

"Gila! Ini benar-benar kastel!"

"Benda ini tidak goyah sedikit pun meski dinaiki orang sebanyak ini, kepadatan mana macam apa ini…… tidak, apa dia mengubah strukturnya?"

Noah dan yang lainnya pun tampak kagum.

Kemungkinan besar, mana yang dikompresi diikat menjadi serat, lalu ditenun untuk menciptakannya.

Tentu saja, melakukannya tidak semudah mengucapkannya.

Terlepas dari mengubah mana menjadi serat, menciptakan massa sebesar ini membutuhkan kemampuan kontrol tingkat tinggi yang mutlak.

Hanya untuk kastel ini saja, panjang formula sihirnya pasti luar biasa. Bisa menyelesaikannya hanya dalam beberapa hari, benar-benar mengagumkan.

"Hebat ya, Connie. Aku baru pertama kali melihat teknologi seperti ini. Aku paham kenapa kamu sampai menyembunyikannya."

"Ehm, kamu terkejut?"

"Ya, sangat terkejut."

Mendengar jawabanku, Connie berpikir sejenak lalu berkata.

"Sejujurnya, alasan aku membuat kastel ini adalah karena aku dengar Lloyd-kun dan yang lain akan ikut pesta dansa. Habisnya, akademi ini terasa sedikit kurang memadai sebagai tempat berdansa bagi anggota kerajaan seperti kalian, kan?"

Kalau diingat-ingat, Birgit dan Albert memang sempat mengeluh karena harus berdansa di halaman seperti ini.

Kaum bangsawan memang sangat mementingkan harga diri, jadi mereka sangat peduli pada tempat saat berdansa.

"Karena itulah, aku ingin membuat panggung yang pantas untuk Lloyd-kun dan yang lain. Formula sihirnya rumit jadi butuh waktu lama untuk menyusunnya, tapi aku senang bisa sempat tepat waktu. Aku punya utang budi pada Lloyd-kun yang tidak akan terbayar dengan hal seperti ini, tapi aku senang jika kamu sedikit merasa gembira."

Connie tersenyum malu-malu. Yah, aku sendiri tidak terlalu memikirkannya, sih.

Tapi tetap saja, bisa melihat kastel yang tercipta dari mana seperti ini benar-benar membuatku terharu.

"Oya oya, ini pertama kalinya aku melihat wajah Lloyd yang begitu berseri-seri saat menghadapi wanita. Mungkinkah ini yang dinamakan masa muda? Fufu, melihat pertumbuhan adik kecil yang manis memang menyenangkan, ya."

"Aduh aduh, ternyata Lloyd bisa juga tertarik pada perempuan. Connie juga sepertinya tidak keberatan, rasanya aku jadi ingin mendukung mereka. Nihehe."

"Aakh Lloyd-sama, Sylpha merasa sangat bahagia. Ketertarikan Anda pada wanita berarti saya juga punya peluang yang tidak sedikit. Jika begitu, saya, Sylpha Langris, tidak berlatih dengan cara yang akan kalah dari wanita mana pun. Fufu, fufufufufu……!"

"Sylpha-san, air mata darahmu…… menakutkan tahu……"

Albert dan yang lainnya menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak peduli karena sedang sibuk mengobservasi struktur kastel mana ini.

Hou hou, ternyata mengubah mana menjadi serat bisa dilakukan dengan biaya serendah ini.

Dengan mengikatnya, benang tipis pun bisa menjadi kuat.

Lalu dia menggunakan formula sihir sistem tanah untuk mengisi celah-celahnya.

Bisa menghasilkan bangunan raksasa seperti ini dari tumpukan inovasi kecil, benar-benar hebat. Hmm, hmm.

"Nah semuanya, mohon maaf menunggu lama. Acara terakhir Festival Akademi William, Pesta Dansa akan segera dimulai! Silakan nikmati sampai akhir, ya—"

Ooooooooooo! Sorakan membahana.

——Pada akhirnya, Shelah terus-menerus dikelilingi orang sejak tadi, sehingga aku tidak sempat menyapanya.

Tampaknya dia memang berniat ikut pesta dansa, dan dengan santainya menjadikan Noah sebagai pasangannya.

"Lagipula iblis itu, apa sebenarnya yang dia pikirkan? Kalau mau menyerang ya serang saja dari tadi, benar-benar menyeramkan."

"Tapi wanita iblis itu, kalau dilihat-lihat cantik juga ya. Eh, tentu saja tidak bisa menandingi Sylpha-tan, tapi dia punya level yang cukup oke, kan?"

"Apa yang kamu bicarakan……"

Grim menatap dingin ke arah Jiriel yang sedang bergumam. Memang benar aku penasaran dengan apa yang direncanakan Shelah, tapi bagiku, ada masalah yang lebih gawat sedang terjadi.

"Semangat ya buat pesta dansanya, Lloyd-kun."

Di pesta dansa yang akan segera dimulai ini, di sisiku berdiri Connie yang sudah berdandan cantik dengan gaun.

Rambut pendeknya ditata dengan rapi, dan dia mengenakan gaun mini dengan banyak hiasan renda.

Ada aksen bunga di beberapa bagian pakaiannya, dan sepatu hak tingginya terlihat sulit untuk dipakai berjalan.

"Hee, kamu terlihat berbeda ya."

Melihat Connie yang biasanya memakai baju kerja atau pakaian yang mudah dipakai bergerak mengenakan gaun terasa sangat segar.

"Aku dipakaikan oleh Sylpha-san…… tapi pakaian seperti ini tidak cocok untukku, kan?"

Connie mencubit roknya yang berkibar sambil memiringkan kepala. Tapi aku tidak berpikir begitu.

"Tidak. Itu sangat cocok untukmu kok."

"Be-begitu……?"

Mungkin karena tidak terbiasa, Connie tampak sedikit malu.

"Hoho…… lumayan juga. Tapi kacamata itu tidak dilepas, ya. Benar-benar tidak cocok dengan gaunnya."

"Dasar bodoh. Justru itu intinya. Melepaskan kacamata dari gadis cantik berkacamata berarti kehilangan identitas! Sylpha-tan yang memahami hal itu memang luar biasa! Dan ekspresi malu-malu yang langka itu…… fuf, mungkin sudah saatnya aku memanggilnya Connie-tan……"

Anggap saja gumaman Grim dan Jiriel itu seperti biasa——

Sebenarnya Sylpha atau yang lainnya harusnya menjadi pasanganku, tapi Birgit memberikan protes keras dengan berkata, "Apa kamu tidak malu sebagai laki-laki kalau berdansa dengan pelayanmu sendiri!". Karena itulah aku akhirnya berpasangan dengan Connie.

Yah, ini bukan masalah besar bagiku. Lagipula dari awal aku memang tidak mau menonjol. Malah aku sangat menyambutnya. Yang benar-benar gawat adalah hal ini.

Di arah pandanganku, para siswa sedang berlatih dansa.

"Kanan, kiri, kanan, kiri…… oke, di sini putar."

"Aah, aku jadi tegang…… sekali lagi dari awal, one-two, one-two."

Langkah yang kaku, putaran yang amatir, wajah yang tegang…… ini parah. Benar-benar tarian yang aneh. Ya, masalah yang kumaksud adalah level orang-orang di sekitarku terlalu rendah.

Aku sendiri sebenarnya sama sekali tidak tertarik pada dansa, tapi di pesta dansa yang diadakan di Saloum dulu, karena aku malas menghafal, aku pernah mengopi teknik Albert menggunakan sihir sistem kontrol.

Gara-gara itu, di usiaku yang sekarang aku sempat disebut jenius dansa atau apalah, dan aku punya kenangan pahit karena sangat sulit untuk menutup-nutupinya.

Yah, aku tidak berniat melakukan dansa lagi, dan aku pikir semua orang sudah lupa, tapi……

"Lloyd, kalau sudah ikut, aku tidak akan memaafkanmu kalau tidak juara. Kamu belum lupa teknik waktu itu, kan?"

"Tidak masalah, Birgit-sama. Saya sudah memberikan instruksi yang mantap kepada Lloyd-sama melalui latihan ilmu pedang. Tidak akan ada peluang untuk kalah meski satu banding sepuluh ribu sekalipun."

"Benar sekali. Kemampuan Lloyd ada di level yang tidak kalah jika disandingkan denganku. Jeda waktu sedikit tidak akan jadi hambatan. Nikmatilah dan jadilah juara, Lloyd."

……Sayangnya, semua orang ingat dengan sangat jelas, dan mereka sangat menaruh harapan padaku. Gawat juga.

Kalau aku jadi juara di sini aku pasti akan menonjol, tapi kalau tidak, aku akan dianggap sengaja bermalas-malasan oleh Albert dan yang lain.

Lagipula, Albert dan Birgit adalah juri, jadi kalau aku bermalas-malasan akan langsung ketahuan.

"Benar juga, Sylpha dan Ren tidak ikut?"

Jika dua orang yang cantik dan jago berdansa ini ikut, mungkin aku tidak perlu menonjol.

"Tidak ada artinya saya ikut jika tidak bersama Lloyd-sama."

"Aku juga tidak mau berdansa dengan orang lain……"

Namun keduanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.

Sepertinya mereka sangat depresi hingga tidak ada semangat untuk itu.

Aku sama sekali tidak paham kenapa mereka begitu kecewa, padahal aku juga tidak bersemangat melakukan ini.

Setidaknya kalau ada Albert dan yang lainnya yang jago berdansa, aku bisa menghindari perhatian hanya pada diriku…… benar juga. Aku punya ide bagus.

Dengan ini sepertinya aku bisa mengakhiri pesta dansa ini tanpa perlu menonjol. Fufufufufu.

"……Ada apa Lloyd-kun, senyummu menyeramkan begitu……"

"Tidak, bukan apa-apa. Lagipula dansanya akan dimulai."

Musik sudah mulai mengalun, dan pasangan-pasangan di depan kami satu per satu menaiki tangga.

"Ayo pergi."

"U-um."

Aku menggandeng tangan Connie lalu berlari menaiki kastel fantasi itu.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close