NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 7 Part 3


Saat menaiki tangga, di sana terdapat aula besar, dan belasan pasangan berdiri diam dengan jarak tertentu. Begitu kami sampai di posisi terakhir, irama musik berubah.

Itu adalah tanda dimulainya pesta. Sambil menarik tangan Connie yang mengangguk, kami pun mulai berdansa.

Awalnya adalah irama yang tenang, dan semua orang mulai berdansa dengan lembut.

Namun, meski dalam dansa yang harusnya sulit untuk memperlihatkan perbedaan teknik pun, semua orang di sekitar kami terlihat buruk dibandingkan kami.

Karena mereka sangat rajin belajar di akademi terbaik di benua ini, mungkin tidak ada yang benar-benar mendalami dansa.

Dansa adalah etiket bagi bangsawan, tapi di akademi yang mementingkan kemampuan ini, banyak yang tidak peduli soal itu atau memang banyak yang berasal dari kalangan rakyat biasa.

Jika begini, wajar saja kalau aku yang sudah berpengalaman diharapkan menjadi juara…… tapi, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

Aku menyalurkan mana ke ujung jariku dan mengaktifkannya.

Seketika itu juga, gerakan semua orang yang sedang berdansa di lantai dansa berubah drastis.

"A-apa yang terjadi!? Rasanya tubuhku bergerak sendiri tanpa bisa berhenti!"

"Ketajaman langkahku berbeda sekali dari biasanya! Jangan-jangan kekuatan terpendamku bangkit!?"

Meski terkejut, mereka semua terlalu asyik berdansa sehingga tidak terlalu memikirkannya. Fufufu, rencanaku berhasil.

Yang barusan kugunakan adalah sihir sistem kontrol, aku membuat gerakan semua orang yang sedang berdansa meniru level Albert. Inilah rencanaku.

Jika level seluruh lantai dansa naik, maka aku sendiri tidak akan menonjol. Rencana yang brilian, bahkan menurutku sendiri.

Dengan begini meski aku tidak juara, Albert dan yang lainnya tidak akan curiga.

"Luar biasa…… kupikir kemampuan dansa para siswa tidak setinggi itu, tapi sepertinya aku salah. Jika begini, kemenangan Lloyd pun terancam."

"Ya, tapi jika itu Lloyd-sama, beliau pasti akan melakukan sesuatu. Mari kita awasi dengan penuh harapan. ……Tapi aneh ya. Gerakan dansa mereka entah kenapa mirip dengan Albert-sama……"

Suara Albert dan yang lain di kursi juri terdengar lewat mikrofon, tapi sepertinya aku berhasil mengecoh mereka. Mungkin.

Selagi itu terjadi, tempo musik pun semakin cepat. Gerakan semua orang semakin tajam, dan seluruh aula pun perlahan mulai memanas.

Sejauh ini semuanya lancar. Karena gerakan semua orang bagus, aku terhindar dari perhatian berlebih. Terlebih lagi, ada kejutan yang menyenangkan.

Di sudut mataku, Shelah mengibaskan rok panjangnya dan melakukan putaran yang luar biasa.

Ooooooooo! Terdengar sorakan dari kursi penonton.

Yang paling menonjol di aula ini adalah pasangan Empat Jenderal Iblis, Shelah dan Noah.

"Uooo! Hebat sekali, Kak!"

"Hyuu hyuu! Lihat ke sini dong—!"

Sorakan yang berhamburan itu hampir semuanya ditujukan untuk Shelah. Memang luar biasa.

Terkadang lincah, terkadang anggun, dansa yang bagaikan aliran air itu memikat siapa pun yang melihatnya.

Hanya dengan melihat sekilas saja mata ini langsung tercuri olehnya.

"Hou, tidak kusangka aku pun sampai terpesona oleh tarian iblis…… fuf, hebat juga."

"Kenapa kamu malah sok hebat begitu, malaikat sialan. Tapi apa sebenarnya yang dipikirkan wanita itu, dia tidak mungkin cuma datang buat berdansa, kan……"

Bagaimanapun juga, aku bersyukur perhatian padaku berkurang.

Entah apa tujuannya datang ke pesta dansa ini, tapi teruslah menonjol seperti itu.

——Lalu irama musik kembali berubah. Kali ini iramanya seperti ombak yang menerjang, lagu yang seolah disesuaikan dengan dansa Shelah.

Seharusnya tidak ada rencana seperti ini. Sepertinya dia bahkan berhasil menarik simpati para pemain musik. Sepertinya gelar juaranya sudah pasti. Aku tinggal berdansa biasa saja di pojokan.

"……Tapi semakin dilihat, tariannya memang sangat mengagumkan. Luar biasa."

"Ya, aku pun sampai terpesona. Pantas saja semua penonton terpaku begitu."

Bukan hanya Jiriel, Grim pun sepertinya terpengaruh oleh tarian Shelah.

Yah, bagiku sih tidak masalah, mungkin aku akan semakin tidak menonjol kalau menjauh sedikit. Saat aku berpikir begitu dan hendak bergeser.

Hyuu, terdengar suara angin yang menebas bersamaan dengan sesuatu yang mendekati leherku.

Itu air. Bilah air yang mengandung mana terkompresi dipental oleh penghalang mana yang terpasang secara otomatis.

Sumber bilah air itu adalah Shelah. Sambil terus menari dengan lincah, dia menatap ke arahku dan memasang senyum menggoda.

"Wah, hebat juga. Kamu masih bisa bergerak sebanyak itu meski menerima Flowing Dance milikku dari jarak dekat."

Setiap kali Shelah menari, Noah terombang-ambing dengan kaku.

Matanya terlihat kosong, seperti boneka yang tidak memiliki kehendak.

Bukan hanya Noah. Para siswa yang berdansa di sekitar maupun penonton di kursi juri pun tidak terlihat memiliki kesadaran yang normal. Sepertinya sesuatu telah terjadi.

"Salah satu dari Empat Jenderal Iblis, Shelah si Biru. Tarianku akan memikat segalanya di sekitar! Sekarang, duduklah dan saksikanlah dengan matamu. Flowing Dance: Zenith!"

Gerakan Shelah menjadi semakin intens.

Bola-bola air melayang di sekitarnya, berubah bentuk mengikuti irama musik.

Hmm, tarian ini mengandung mana ya.

Dia mengubah panjang gelombang mana mengikuti tariannya, lalu memberikan efek mental pada orang yang melihatnya.

Misalnya sihir sistem telepati atau sihir suci yang termasuk kategori ini.

Banyak sihir unik seperti memaksa orang untuk jujur, atau mengubah kepribadian seseorang.

Tapi melakukannya hanya dengan perubahan panjang gelombang mana tanpa menggunakan formula sihir adalah percobaan yang cukup menarik.

Mungkin karena tarian adalah tindakan yang primitif, sehingga bisa mendapatkan efek yang langsung bekerja pada mental. Begitu ya, ini pelajaran yang bagus.

Di depanku yang sedang kagum, tarian Shelah mencapai puncaknya.

Dia melompat, meloncat, berputar-putar, pokoknya jadi luar biasa hebat.

Jika aku punya bakat menari, mungkin aku bisa menjelaskannya lebih detail, tapi sayang sekali aku tidak punya. Kosa kataku benar-benar mati.

"Mustahil…… Flowing Dance milikku adalah teknik yang bisa menembus penghalang mana mana pun dan memberikan efek hipnotis, tapi kenapa teknik ini sama sekali tidak mempan padamu meski menerimanya dari jarak sedekat ini!?"

"Meski kamu bilang begitu, aku kan memang tidak tertarik pada dansa."

Karena di sekelilingku banyak orang jago, aku bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang buruk, tapi bagiku hanya sebatas itu saja. Sama sekali, sedikit pun aku tidak tertarik pada tarian itu sendiri.

Ah, ide tarian yang mengandung mana itu menurutku menarik, tapi karena dasarnya adalah teknik sederhana, secara sihir itu tidak terlalu menggugah minatku.

Bilah-bilah air yang sesekali terbang ke arahku juga tidak ada yang spesial, sejujurnya tidak layak untuk kuanalisis secara khusus.

"Kkh, tarianku yang bahkan membuat Yang Mulia Raja Iblis takjub pun tidak mempan……!"

Shelah memasang wajah tidak percaya. Rasanya aku jadi sedikit merasa bersalah.

"Fu, fufufufufu……"

Shelah yang tadi syok kini memasang senyuman yang menyeramkan, namun terasa seperti senyum pasrah yang nekat.

"……Sejujurnya ini di luar dugaanku ada manusia yang tidak terpesona oleh Flowing Dance milikku…… tapi tetap saja di panggung ini, keunggulanku tidak berubah!"

Bentuk tariannya kembali berubah. Bola-bola air melayang di sekitar Shelah, lalu berubah bentuk menjadi bilah dan menyerangku.

Levelnya masih bisa ditahan dengan penghalang mana, tapi karena Shelah adalah salah satu Empat Jenderal Iblis, setiap serangannya terasa cukup berat.

Kalau terkena secara beruntun terlalu banyak, penghalang manaku pun tidak akan sanggup menahannya.

Terlebih lagi, ada elemen yang merugikan.

"Woi, Connie. Bisa lepaskan tanganmu?"

"……"

Dengan wajah kosong, Connie mencengkeram kedua tanganku. Sepertinya dia terkena efek tarian Shelah secara telak.

Meski ingin melepaskannya, kekuatan Connie jauh di atas kekuatanku, dan kalau aku memaksa melepasnya dengan sihir sepertinya akan berakibat gawat.

Yah, gerakanku memang sedikit terbatas tapi itu bukan masalah besar, tapi……

"Fuhih, fuhihihihihi. Tarian yang sangat indah. Fuhihihih."

"Uheh. Benar sekali, wanita ini punya pantat yang sangat bagus, ya. Uheheheh."

Ditambah lagi Grim dan Jiriel pun mulai menunjukkan gelagat aneh.

Dua orang ini memang aslinya sudah aneh, tapi karena mereka kehilangan kesadaran, mereka tidak bisa menaruh mulutnya di telapak tanganku.

Artinya, aku tidak bisa menggunakan Rapalan Tiga Lapis dari Sihir Kuno, Sihir Suci, dan Sihir Penyegel, yaitu Ash Demon Fang yang merupakan pembunuh iblis.

Apalagi bilah air Shelah tidak hanya menargetkan diriku saja, jika aku tidak melindunginya dengan penghalang mana, serangannya akan mengenai para siswa yang sedang berdansa di sekitar.

"Fufufu, meski kaki kalian ditarik, kalian tidak akan bisa meninggalkan teman kalian, kan? Manis sekali, wahai bocah. Curang? Licik? Caci makilah aku sesukamu. Aku sudah menyiapkan panggung ini demi hal itu. Cacianmu justru terdengar seperti pujian bagiku!"

Tarian Shelah menjadi semakin bersemangat. Iblis yang sihirnya tidak terlalu mempan dan memiliki kemampuan tempur tinggi, di antara mereka Empat Jenderal Iblis adalah pengecualian.

Aku harus mengatasi hal itu dalam situasi di mana gerakanku terbatas, dan hanya bisa menggunakan sihir rapalan tunggal.

"——Ff."

Tanpa sadar aku tersenyum. Begitu ya, aku bisa mencoba sepuasnya sihir yang mampu membalikkan situasi seperti ini.

Apalagi sekarang semua orang sedang kehilangan kemampuan penilaian normal, jadi aku bisa berbuat sesukaku.

Aku bisa mencoba kombinasi sihir itu, atau formula sihir yang ini. Ini jadi semakin menyenangkan. Fufufufufu.

"Me-menyeramkan ya…… aku pernah dengar fenomena di mana orang malah tertawa karena terlalu terjepit, tapi apa dia termasuk jenis itu? Apa sebenarnya yang dipikirkan anak ini……"

Shelah tampak sangat ngeri, tapi daripada itu, mari kita coba "hal itu" yang sempat terlintas di pikiranku pada pertarungan sebelumnya.

Tanganku yang sudah dialiri mana mulai memancarkan cahaya yang menyilaukan.

——Sihir Suci, Light Weapon.

Ini adalah sihir yang menciptakan persenjataan dari cahaya, di mana bentuk bilahnya bisa dimodifikasi menjadi berbagai macam rupa tergantung dari seberapa banyak mana yang dialirkan.

"A-Apa-apaan itu……?"

Pengguna sihir suci memang tergolong sangat sedikit, tapi bagi seseorang yang menjabat sebagai Empat Raja Surgawi Pasukan Iblis, dia seharusnya sudah pernah melihatnya sekali atau dua kali.

Meski begitu, Shelah tetap menunjukkan ekspresi terkejut.

Sepertinya apa yang kulakukan ini memang termasuk percobaan yang lumayan langka.

Light Weapon yang kuciptakan ini sama seperti pusaka terlarang Shiroichimonji milik Sylpha tempo hari, yaitu sebilah pedang yang seluruh strukturnya hanya tersusun dari formula sihir.

"Bisa dibilang, ini adalah Light Weapon: Magic Circuit Blade."

Itu adalah pedang cahaya yang dibuat dengan cara menyatukan, memadatkan, dan melipat formula sihir tersebut berkali-kali secara berlapis-lapis.

Pertama-tama, mari kita uji seberapa tajam benda ini.

Karena itu, aku meniru gerakan Sylpha menggunakan sihir tipe kontrol.

Aku memutar tumitku, lalu melompat menerjang ke arah Shelah.

"Nah, mari kita lihat ketajamannya."

Pedang yang kuayunkan memutus beberapa helai rambut Shelah.

Pada tebasan balik berikutnya, beberapa helai lagi terpotong, dan kali ini percikan darah ikut menari di udara.

Serangan bertubi-tubi yang dilepaskan seiring tarian yang mengalir itu semakin bertambah tajam, mulai mengiris tubuh

Shelah yang terus berusaha menghindar dengan putus asa.

"Kuh!? Light Weapon yang tercipta dari formula sihir!? Bahkan aku yang sudah hidup ratusan tahun tidak pernah melihat atau mendengar hal semacam ini…… Bocah ini benar-benar terlalu berbahaya! Tapi—kalau begini bagaimana!?"

Tepat di depan tebasanku, Shelah mendorong Noah yang sebelumnya berdansa bersamanya untuk dijadikan tameng.

"Ayo, hentikan pedangmu! Saat kau lengah, aku akan menusukmu sampai tembus!"

Tepat di belakangnya, sebuah pedang yang terbuat dari air sudah bersiap. Jika aku menahan pedangku, dia pasti berniat menusukku sekaligus bersama dengan Noah.

Namun, aku tetap mengayunkan pedangku mengikuti momentum ke arah Noah yang ada di depan mata.

"Kau sudah gi—"

Sebelum Shelah sempat menyelesaikan kalimatnya, pedang cahaya itu telah membelahnya menjadi dua.

Noah baik-baik saja. Light Weapon: Magic Circuit Blade ini tersusun dari formula pemurnian yang hanya bekerja pada ras iblis.

Karena itulah, pedang ini menembus tubuh Noah yang merupakan manusia. ……Yah, mungkin akan ada sedikit pengaruh pada mentalnya, tapi dibandingkan harus tertebas betulan, ini tidak ada apa-apanya.

Saat sedang bereksperimen, kesadaranku cenderung terpecah dan aku tidak punya kemewahan untuk mempedulikan sekitarku, jadi trik kecil seperti ini memang perlu dilakukan.

Nah, sekarang mari kita pastikan kembali sensasi memotong tubuh yang hanya terdiri dari mana ini.

"Teknik Pedang Aliran Langris—Dragon Head Snake Tail."

Sebuah tebasan besar yang dilepaskan sambil merangsek maju dengan seluruh tubuh.

Shelah berhasil menghindar tipis, tapi aku segera berpindah ke serangan susulan.

"Guh! Ke-Kecepatan macam apa ini……!"

Shelah terus menghindar, namun lambat laun gerakannya menjadi sulit dan bagian tubuh yang tertebas pun semakin bertambah.

Dragon Head Snake Tail adalah tarian pedang beruntun yang dilepaskan dengan kecepatan ultra tinggi.

Triknya terletak pada ayunan besar pertama untuk memancing kesadaran musuh, lalu memanfaatkan gaya reaksinya untuk beralih ke tebasan berkecepatan tinggi.

Serangan dengan ritme yang berubah-ubah ini bukanlah sesuatu yang bisa diikuti oleh mata telanjang.

"Kyaaaaaaaaaaaaaa!?"

Dan sekali serangan masuk, mustahil untuk meloloskan diri.

Serangan beruntun demi serangan beruntun terus mengiris seluruh tubuh Shelah, dan akhirnya—

"Ah——"

Dengan menyisakan suara erangan yang panjang dan lirih, Shelah pun tumbang.

Di saat yang sama, pedang cahaya yang kubuat pun hancur berkeping-keping.

"Ups, padahal kupikir aku sudah memperbaiki kerapuhan yang menjadi kelemahan pusaka terlarang Shiroichimonji versiku sendiri."

Pusaka terlarang Shiroichimonji tersusun dari formula yang dikhususkan pada ketajaman, pedang yang sangat rapuh sampai-sampai bisa patah jika garis tebasannya meleset sedikit saja.

Karena itulah aku menambahkan modifikasi pada pedang formula ini untuk mengeraskan bilahnya, tapi sepertinya itu malah memberikan hasil yang buruk.

Semakin kokoh suatu benda, maka gesekannya pun akan meningkat, dan itu malah membuat pedang lebih mudah patah.

Jika dibalik, Shiroichimonji mungkin sengaja meningkatkan ketajaman hingga ke tingkat ekstrem dan menekan gesekan hingga hampir nol, sehingga bilahnya tidak akan patah selama garis tebasannya tidak kacau.

Sepertinya melakukan sesuatu setengah-setengah itu memang tidak baik.

Hal seperti ini pasti lahir dari banyak eksperimen dan validasi.

Wah, ini benar-benar pelajaran yang berharga. Ya, ya.

Saat aku menonaktifkan pedang formula tersebut, Grim dan Jiriel yang ada di kedua tanganku mulai mengerang.

"Sial, ke-kepalaku sakit sekali…… ingatanku rasanya seperti terbang……"

"……Hah! A-Apa yang sebenarnya terjadi!?"

Sepertinya Grim dan Jiriel sudah kembali sadar.

Karena Shelah sudah dikalahkan, efek sihir pemikatnya pun sirna. Yang lainnya pun pasti akan segera pulih.

"Nah, bagaimana cara menjelaskan semua ini ya—"

Hampir bersamaan dengan gumamanku, sebuah mana yang sangat kuat muncul dari arah belakang.

Mana itu menerjang lurus ke arahku sambil diselimuti angin kencang.

Benda itu menghantam Magic Barrier: Greater yang kuciptakan secara refleks. Suara dentingan tinggi pun menggema.

"Shelah, kesempatan yang kau ciptakan dengan mempertaruhkan nyawa ini, pasti akan aku manfaatkan!"

Di sana berdirilah Zen yang telah menghancurkan belenggu alat sihirnya, sambil menggenggam sebuah tombak besar.

Hanya dengan satu serangan, dia berhasil melubangi Magic Barrier: Greater dengan lubang besar, dan ujung tombaknya sudah mendekat tepat di depan mataku.

"Zen, ya. Kalau dipikir-pikir, kalian berdua memang sesama Empat Raja Surgawi."

"……Kau masih bisa bereaksi bahkan dalam celah sekecil itu. Ditambah lagi, penghalang sihir ini kerasnya tidak masuk akal. Aku sudah tahu kalau perbedaan kekuatan kita sangat jauh, tapi itu bukan alasan bagiku untuk mundur! Uoooooooooo!"

Bersamaan dengan raungan itu, tusukan demi tusukan dilepaskan hingga menghancurkan penghalangku.

Hmm, mari gunakan pengalaman dari kegagalan tadi dan menghadapinya dengan Light Weapon: Magic Circuit Blade yang lebih mengutamakan ketajaman.

Sesaat setelah penghalang itu runtuh, aku menangkis serangan Zen dengan pedang formula yang baru kuciptakan.

Suara tumpul terdengar dan pedang formulaku patah.

Tidak masalah, aku bisa membuatnya sebanyak yang kumau. Aku terus menangkis dengan pedang-pedang yang kuciptakan. Tangkis. Tangkis. Tangkis.

Wah, orang ini cepatnya luar biasa.

Ditambah lagi kemampuan bertarungnya sebagai pejuang juga sangat tinggi.

Padahal aku sudah meniru gerakan Sylpha, tapi aku masih belum bisa mengejarnya.

Hmm, dia ini benar-benar seorang master.

Sebanyak apa pun aku meniru gerakannya, pada akhirnya itu hanya akan menjadi salinan yang inferior karena reach, power, dan speed semuanya direproduksi menggunakan kemampuan fisikku sendiri.

Sepertinya sulit untuk menang melawan orang ini hanya dengan adu pedang biasa.

"Dowawawawa!? A-Apa yang sedang terjadi, Lloyd-sama!?"

"Tiba-tiba sedang bertarung!? Apalagi lawannya adalah Zen yang seharusnya sedang dibelenggu!? Pemahamanku tidak bisa mengejar ini!"

"Oh iya, kalian berdua sudah sadar ya."

Kalau begitu, ada satu hal lagi yang ingin kucoba.

Segera saja kupinjam 'mulut' mereka berdua.

"■■■■"

Yang kulepaskan melalui pengucapan cepat dengan berkas mantra adalah sihir tipe ilusi, Copy Appearance. Sihir untuk mengubah wujud diri sendiri. Wujud yang kuambil adalah Pangeran Pertama Kerajaan Saloum, Schunizel.

"Mu……!"

Gerakan Zen terhenti. Dia tampak bingung sejenak melihat sosok Schunizel, namun segera memulihkan kesadarannya dan melanjutkan serangan.

"Hmm, sihir tipe ilusi ya. Dia memang terlihat kuat, tapi pada akhirnya hanyalah bayangan. Mengubah penampilan luar demi mengacaukan jarak serang itu sia-sia—"

Bugh! Tinjuku mendarat telak di pipi Zen sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Mu-Mustahil…… Seharusnya ini ilusi, tapi kenapa……!?"

"Nah, siapa yang tahu?"

Aku berucap dengan suara yang berat dan rendah, persis seperti Schunizel.

Hmm, suaranya lumayan berwibawa juga. Bagus.

Aku menggenggam Light Weapon: Magic Circuit Blade dan mulai melancarkan serangan balik.

Ging! Ging! Gang! Hanya dengan mengayunkan pedang mengandalkan kekuatan fisik semata, aku sudah bisa mendominasi Zen dengan kemampuan fisik ini.

Benar, tubuh ini bukanlah ilusi, melainkan hampir setara dengan tubuh asli Schunizel.

Sihir Copy Appearance ini aku kembangkan setelah melihat bagaimana Empat Raja Surgawi menyusun tubuh mereka dengan memadatkan mana. Aku mengubah formula sihirnya secara besar-besaran agar bisa mereproduksi tubuh orang yang kukenal, bukan sebagai ilusi, melainkan bentuk fisik yang nyata.

Tapi tetap saja, jadi ini ya fisik Schunizel yang unggul baik dalam strategi maupun kekuatan tempur.

Entah seberapa keras latihannya sampai bisa mencapai tahap ini. Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Memang layak dia disebut sebagai jenderal terkuat di Saloum.

Tapi pedang ini terasa agak kekecilan. Mari kita buat sesuatu yang sesuai dengan tubuh ini.

——Modifikasi Formula. Mengubah bentuk bilahnya, menjadikannya besar, panjang, dan semakin lebar.

"Ya, rasanya sudah pas."

Yang tercipta dari Light Weapon: Magic Circuit Blade adalah sebuah pedang raksasa yang ukurannya melebihi tinggi badan manusia.

Modelnya adalah pedang raksasa yang dulu pernah dibawa oleh Schunizel. Dengan ini, keunggulan jangkauan serangku sudah seimbang atau bahkan lebih.

Aku mengangkat pedang raksasa itu tinggi-tinggi, lalu menerjang lurus ke depan.

"Guh——!?"

Zen mencoba menahannya dengan tombak, tapi serangan ini tidak seringan itu sampai bisa ditahan dengan cara begitu.

"Teknik Pedang Raksasa Aliran Langris—God Demon Arm."

Duar! Aku menebas Zen beserta tombak yang digunakannya untuk menangkis.

Zen pun ambruk dan jatuh tersungkur di lantai.

"Ti-Tidak mungkin…… Zen yang disebut sebagai pejuang terkuat di antara Empat Raja Surgawi, ditebas sekaligus bersama tombaknya hanya dengan satu serangan…… Tebasan macam apa itu sebenarnya……"

"Beliau tidak hanya meminjam sosok kakandanya, tapi tubuh itu adalah tubuh spesial yang ditenun dari mana milik Lloyd-sama. Tentu saja kekuatannya berkali-kali lipat lebih tangguh dari daging manusia biasa. Karena itulah kemampuannya bisa sampai setinggi ini. Aduh, benar-benar luar biasa."

Mereka berdua menggumamkan sesuatu, tapi bagiku, aku merasa lega karena bisa menyelesaikannya sebelum semua orang bangun.

Tadi aku terbawa suasana sampai membuat tubuh Schunizel segala, kalau sampai terlihat, pasti akan jadi keributan besar.

Bahaya, bahaya. Aku menghela napas sambil melepaskan sihirku.

"Uu…… a, are?"

"Aku sedang apa……?"

Orang-orang yang tadinya terkapar mulai mengerang sambil berusaha bangkit.

Wah, mereka sudah benar-benar mulai bangun.

Aku harus segera membereskannya.

Karena itu, aku mengaktifkan sihir tipe spasial yang kupelajari dari buku sihir di perpustakaan terlarang, Dimensional Storage.

Ini adalah sihir untuk menciptakan ruang dengan cara memotong celah dimensi, berfungsi sebagai tempat penyimpanan yang bisa menampung apa saja.

Jika aku memasukkan Zen dan Shelah yang pingsan ke sini, setidaknya mereka bisa kusembunyikan untuk sementara.

"Lloyd-sama, apa Anda tidak akan menghabisi mereka berdua saja?"

"Ah, sepertinya itu tidak perlu."

"Tidak, saya rasa itu perlu…… Lawan kita ini Empat Raja Surgawi lho?"

Jiriel memperingatkanku dengan wajah heran, tapi aku tidak berpendapat demikian.

Memang benar mereka sangat kuat dan tidak segan-segan menyakiti manusia. Sejak awal, menjadi iblis saja sudah membuat mereka sangat berbahaya.

Tapi anehnya mereka bisa diajak bicara, jadi aku tidak merasa kalau mereka adalah tipe yang harus segera dibunuh.

……Yah, itu cuma alasan formalnya sih. Habisnya, sayang sekali kan kalau sudah susah-susah menangkap makhluk menarik seperti mereka dalam keadaan hidup, lalu malah membunuhnya?

Ada banyak hal yang ingin kuketahui tentang dunia iblis, pengetahuannya, teknologinya, makhluk-makhluk di sana, atau hal-hal berbau sihir.

Wah, meski tadi sempat bingung akan jadi seperti apa, aku senang aku ikut pesta dansa ini.

Soalnya aku bisa menangkap dua orang anggota Empat Raja Surgawi yang sangat berharga. Baiklah, nanti aku akan menanyai mereka banyak hal.

Tepat saat aku memikirkan hal itu dan hendak memasukkan mereka ke dalam Dimensional Storage

"……?"

Tiba-tiba aku merasa hawa keberadaan mereka berdua menipis drastis.

Ketika aku melihatnya, Zen dan Shelah telah menusuk dada mereka sendiri dengan tangan masing-masing.

"A-Apa yang mereka lakukan!? Mereka menyerang diri mereka sendiri……!?"

"Bunuh diri……? Mana mereka berdua terus hancur berantakan…… tidak bisa dihentikan!"

Seperti yang dikatakan Grim dan Jiriel, tubuh mana mereka mulai hancur.

Apa sebenarnya yang mereka pikirkan sampai melakukan ini…… Di depan mataku yang hanya bisa berdiri terpaku, aku menyadari partikel mana yang memudar itu mengalir ke arah tertentu.

Arah tujuannya adalah—

"Dengan ini…… tugas kami selesai, ya……"

"Ya…… Tuan kita akhirnya akan segera terbangun……"

Mereka berdua lenyap dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat puas.

Woi tunggu dulu, jangan menghilang dengan wajah sedamai itu. Aku masih punya segunung pertanyaan untuk kalian tahu.

Padahal aku tidak berniat memakan kalian atau apa pun, tapi kenapa harus begini…… sial.

Sesaat setelah aku menghela napas kecewa, seluruh tubuhku gemetar hebat.

"Lo-Lo-Loyd-sama, i-itu, lihat itu……"




Grim berbicara dengan suara yang gemetar hebat.

Di ujung jarinya, terlihat Connie yang sedang bangkit berdiri secara perlahan.

……Tidak, apakah itu benar-benar Connie?

Suasana yang dipancarkannya saat ini hanya bisa digambarkan dengan satu kata: ganjil.

Terlebih lagi, pada tubuh Connie yang sekarang, terdapat mana yang seharusnya tidak dia miliki—mana yang terasa pekat dan hitam legam khas ras iblis.

Mana yang dipancarkan Empat Raja Surgawi memang sudah terasa asing, tapi apa yang ada pada Connie benar-benar hitam pekat. Tingkat kemurniannya berada di level yang sangat berbeda.

"Ga-ga-ga-gawat! Aku belum pernah melihat mana seperti itu! Lloyd-sama, ayo kita lari sekarang juga!"

"Benar sekali! Mana yang sangat dahsyat sampai-sampai menjadikannya kumpulan Empat Raja Surgawi pun tidak akan bisa menandinginya! Apakah itu, mungkinkah, jangan-jangan…… sosok legendaris—"

"—Hmm."

Sosok yang tadinya adalah Connie itu bergumam.

Suara yang berat dan serak terdengar tumpang tindih dengan suara aslinya yang biasa.

"Jadi ini tubuhku di zaman sekarang ya. Aku sempat berpikir tubuh wanita itu merepotkan, tapi ternyata tidak seburuk yang kubayangkan."

Dia berbalik ke arahku, lalu melepas kacamata yang dikenakannya.

Raut wajahnya sudah benar-benar berbeda dari Connie yang kukenal.

Matanya yang biasa berbinar penuh rasa ingin tahu kini menajam, memancarkan cahaya yang mencurigakan, dengan senyum bengkok tersungging di sudut bibirnya.

Lalu, ada hal yang aneh. Sejak tadi, sesuatu yang menyerupai kabut mana melayang-layang di sekitarnya.

Hawa keberadaan yang kurasakan dari kabut itu…… mungkinkah Zen dan Shelah?

Sosok itu tampak memainkan kabut tersebut dengan ujung jarinya.

"Ups, aku juga harus memberikan penghargaan pada kalian. ——Ya, kalian sudah bekerja keras. Tugas yang mulia. Aku berikan pujian untuk kalian."

Dia menatap kabut mana yang tampak senang setelah dipuji itu untuk sesaat, sebelum tiba-tiba atmosfer di sekitar menjadi sangat dingin dan mencekam.

"Hei, kau yang di sana. Apa yang kau lihat? Beraninya kau bertindak lancang di hadapanku, Behal, raja yang menguasai dunia ini?"

——Behal. Begitu dia menyebutkan nama itu, gelombang mana yang luar biasa dahsyat bergetar dengan hebat.

Orang-orang yang tadi hampir sadar kembali jatuh pingsan satu per satu akibat tekanan tersebut.

Grim dan Jiriel pun tampak memutar mata hingga putihnya saja yang terlihat sambil mengeluarkan busa dari mulut mereka.

Jika bicara tentang Raja Iblis Behal, dia adalah raja yang memimpin pasukan iblis dalam invasi besar di masa lalu.

Dikatakan bahwa setelah memorak-porandakan daratan, dia menghilang entah ke mana…… tapi kenapa sekarang dia mengambil alih tubuh Connie?

Melihatku yang memiringkan kepala karena bingung, Behal mengangguk pelan.

"Kau, bisa tetap berdiri tegak setelah menerima tekananku, hebat juga. ……Hmm, mungkinkah kau kekasih gadis ini? Jadi kau bisa berdiri karena kekuatan cinta, begitu ya. Fufu, mengharukan sekali. Baiklah. Aku sedang dalam suasana hati yang sangat baik karena baru saja mendapatkan tubuh ini. Sebagai bekalmu menuju alam baka, akan kuberitahu apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini."

Behal melanjutkan kata-katanya dengan nada bicara yang terdengar riang.

"Dulu, aku tertidur di tanah ini. Mana milikku meresap ke dalam bumi, dan setelah seratus sekian puluh tahun berlalu, tanpa kusadari manusia mulai hidup di atas tanah yang dipenuhi mana milikku itu. Karena monster-monster yang takut pada manaku tidak berani mendekat, tempat ini mungkin terasa nyaman bagi manusia. Namun, akibat pengaruh manaku, semua manusia yang lahir di sini pasti menderita suatu penyakit di dalam tubuh mereka."




Jadi begitu, rupanya desa tempat tinggal Connie dulu ada di sana.

Monster tidak berani mendekat ke tanah itu, dan penduduknya terlahir dengan gangguan mana.

Jika mana dari sosok seberingas ini meresap ke dalam bumi, hal itu tentu saja wajar terjadi.

"Namun suatu hari, gadis ini lahir. Dia memiliki kondisi tubuh yang mampu menyegel segala jenis mana ke dalam dirinya. Begitu mengetahui hal itu, aku memutuskan untuk menanamkan bagian inti dari diriku ke dalam raga ini."

Connie, sang pemilik tubuh penyerap mana, memang tidak memiliki mana sendiri.

Namun itu hanya karena dia tidak bisa memanifestasikannya; di dalam tubuhnya, mana justru bergejolak hebat.

Artinya, dia memiliki efek penyegelan mana.

Berkat kekuatan itulah, Connie bisa menampung Behal yang merupakan entitas mana murni di dalam tubuhnya.

"Gadis yang membawa intiku ini kemudian tumbuh besar dan sampai di akademi ini. Itu karena sebagian besar manaku tersegel di sini. Segel itu telah retak karena dimakan usia, dan dengan mengorbankan nyawa para Empat Raja Surgawi yang merupakan bagian dari diriku, terjadilah resonansi. Begitulah caraku bangkit kembali. Kh-kh, apa kau paham?"

Secara teori sihir, ada dua cara besar untuk menghancurkan segel: menghancurkannya dari dalam, atau dari luar.

Aku merasakan mana yang serupa dengan Empat Raja Surgawi dari Behal.

Kemungkinan mereka adalah entitas pemisah atau avatar. Grim juga pernah melakukan hal serupa sebelumnya.

Jika sang induk menanggapi panggilan dari para avatar-nya, segel akan retak akibat resonansi. Dan bentuk panggilan yang paling kuat adalah kematian.

Kalau dipikir-pikir, para Raja Surgawi itu memang berusaha mendekati Connie.

Rupanya ini tujuan mereka. Jika mana sefantastis ini meluap, tubuh manusia biasa tidak akan mungkin sanggup menahannya.

Kesadaran Connie pun hilang, dan dia diambil alih oleh Behal.

"—Nah, ceritanya sudah selesai. Sayang sekali, orang yang kau cintai tidak akan pernah kembali lagi. Tapi jangan berputus asa, ya? Akan segera kukirim kalian—bukan, seluruh umat manusia ke tempat yang sama."

Behal mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke langit. Mana mulai terkumpul di ujung jari telunjuknya.

Gumpalan hitam raksasa yang tercipta membesar dengan cepat, seolah hendak menutupi langit.

Ukurannya mungkin hampir seluas akademi ini. Atmosfer menjerit, dan bumi pun bergetar hebat.

"Selamat tinggal, dunia manusia."

Sambil menggumamkan itu, Behal melepaskan serangan yang tadinya ia tahan hanya dengan satu ujung jari itu.

Sambil melirik kepulan asap hitam yang membumbung tinggi, Behal melesat naik ke langit malam. Ia menatap pemandangan dari ketinggian dan menghela napas dengan bosan.

"……Aduh, aduh. Beratus-ratus tahun telah berlalu, tapi dunia ini tetap tidak berubah, ya."

Dulu, Behal mengunjungi benua ini dari Dunia Iblis untuk mencari sosok yang lebih kuat.

Namun, orang yang bisa memuaskannya tak kunjung muncul, hingga akhirnya ia tertidur panjang.

Waktu berlalu, dan saat bangun, awalnya Behal menaruh harapan.

Ia pikir di dunia baru ini, ia bisa merasakan hawa keberadaan sosok kuat yang baru.

Namun, yang ada di sekitarnya hanyalah mana yang bisa dibilang medioker.

—Tidak, bocah yang tadi ia ajak bicara memang sedikit menarik perhatian, tapi tetap belum cukup untuk membuat jantung Behal berdebar.

"Jika lawannya adalah para Empat Raja Surgawi yang merupakan bagian dari diriku, mungkin dia bisa bertarung dengan cukup baik." Sayang sekali, gumam Behal dengan kecewa.

"Mungkin dia adalah jenius yang jarang ada dalam sejarah manusia, yang mencapai tahap itu setelah usaha yang ekstrem. Tapi itu pun masih belum cukup. Yang kuinginkan adalah pertarungan yang membuat darah mendidih dan raga menari. Kekuatan yang setara denganku—itu bukanlah sesuatu yang bisa didapat hanya dengan bakat dan usaha. Keinginan tanpa batas, waktu tanpa batas, rasa ingin tahu tanpa batas…… Itu adalah alam yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh manusia yang berumur pendek. Cih, tapi sejak awal aku memang tidak berharap. Aku sudah lama menerima kesepian karena menjadi yang terkuat—"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, mata Behal membelalak.

Di balik asap hitam ledakan yang mulai memudar, menara akademi yang seharusnya hancur ternyata masih berdiri tegak.

Serangan itu berhasil ditahan oleh Magic Barrier yang dibentangkan oleh sang bocah—Lloyd.

"Apa-apaan ini……?"

Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

Gumpalan mana tadi memang dilemparkan begitu saja tanpa dikompres dengan serius, tapi tetap saja itu bukan sesuatu yang bisa ditahan oleh manusia setingkat Empat Raja Surgawi sekalipun.

"Bukan hanya melindungi diri sendiri, tapi dia juga melindungi akademi dan orang-orang di sekitarnya, ya. ——Hei, kau. Sebutkan namamu. Akan kuberikan kehormatan padamu untuk mengotori sudut ingatanku."

Mendengar pertanyaan Behal, Lloyd berpikir sejenak lalu menjawab.

"Lloyd de Saloum. Hanya pangeran ketujuh yang sedikit menyukai sihir."

"—Kh-kh, fuhahahaha!"

Tiba-tiba, Behal tertawa terbahak-bahak. Ada apa dengannya?

Padahal aku merasa tidak mengatakan hal yang aneh.

Dia menatapku dengan tajam sambil menyeringai lebar.

"Begitu ya, jadi kau hanya penyuka sihir. ……Hmm, baiklah, Lloyd. Apa pun itu, fakta bahwa kau bisa menahan seranganku adalah kebenaran yang nyata. Aku mengizinkanmu untuk berhadapan denganku. Ayo, tunjukkan seluruh kekuatanmu itu sepuasnya."

Di kedua tangan Behal, mana terkumpul dengan kepadatan yang melampaui serangan sebelumnya.

Mana yang bergejolak itu menyeret atmosfer di sekitarnya, bahkan langit pun seolah merintih.

"Pertama-tama, ini untuk pemanasan. Buktikan bahwa yang tadi itu bukan sekadar keberuntungan."

Tombak mana yang berputar—atau lebih tepatnya, serangan mana raksasa dan tajam yang bentuknya seperti menara terbalik—jatuh lurus dari langit.

Ukurannya berkali-kali lipat dari yang tadi. Tapi, serangan yang hanya sekadar mengandalkan curahan mana itu membosankan tahu.

"Sihir Tipe Spasial—Void."

Begitu aku menjentikkan jari, sebuah lubang spasial sepanjang puluhan meter tercipta di hadapanku.

 Lubang raksasa ini terhubung ke dimensi lain, melenyapkan segala sesuatu yang menyentuhnya.

Tidak peduli seberapa kuat daya hancur sebuah serangan, itu tidak berpengaruh.

Serangan mana Behal tertelan dengan mudah dan lenyap tanpa sisa.

"Lalu, Void: Erosion."

Dengan suara dentuman tumpul, lubang spasial itu berubah bentuk, memanjang ke arah Behal seperti tentakel.

Benda ini adalah hasil modifikasi formula Void versiku sendiri; tidak seperti versi aslinya, lubang spasial ini bisa diubah bentuknya secara fleksibel.

Dengan ini, aku menutupi kelemahan Void yang sulit diarahkan.

Melihat beberapa lubang spasial yang mendekat dengan kecepatan tinggi, Behal tersenyum sombong.

Dan—parish! Terdengar suara renyah saat lubang spasial itu hancur berkeping-keping.

"Hmm, bisa mengubah bentuk sihir tipe spasial yang sulit dikendalikan dengan kecepatan tinggi itu memang hebat, tapi formula sihirmu tidak stabil."

Meski dia bilang begitu, seharusnya selama sihirnya aktif, efeknya tidak akan bermasalah.

……Mungkinkah dia melakukan kontak langsung dengan formula sihirnya?

Jika seseorang mengintervensi formula sihir dan menghancurkan akarnya, efeknya akan langsung hilang.

Tapi, meski formulanya tidak stabil, apa mungkin dia bisa melihat kelemahannya dalam sekejap seperti itu?

"Apa yang kau lamunkan? Ini belum berakhir, kan?"

"—!"

Duar!

Sebuah serangan dahsyat menghantam dari belakang. Dia melancarkan serangan mana dari titik butaku.

Meski aku sudah membentangkan lima lapis Magic Barrier: Greater, guncangannya masih terasa sehebat ini. Aku terpental ke udara dan berputar-putar di langit.

Saat akhirnya aku berhasil memantapkan posisi, di sekelilingku sudah ada tak terhitung banyaknya serangan mana yang bersiap. "Ayo, ayo, rasakan ini terus-menerus."

Dug-dug-dug-duar!

Suara benturan terdengar beruntun. Yang aku bentangkan saat ini adalah Magic Barrier: Ultimate.

Sesuai namanya, ini adalah versi perkuatan dari Magic Barrier: Greater, yang kubuat berdasarkan tema "seberapa keras penghalang ini bisa dibuat".

Dengan mengompresi dan mengoptimalkan mana dalam jumlah besar, penghalang ini memiliki kekerasan yang jauh melampaui versi 'Greater'—tapi.

Retak, retak. Magic Barrier: Ultimate mulai menunjukkan keretakan.

Wah, wah, daya hancurnya benar-benar gila.

Padahal penghalang ini punya kekerasan yang tidak akan tergores sedikit pun bahkan oleh sihir tingkat tinggiku sendiri.

"Hei, ada apa, penyuka sihir? Jika hanya meringkuk seperti kura-kura, itu tidak bisa disebut bertarung, kan?"

Bersamaan dengan kata-kata itu, sebuah tendangan bermuatan mana menghantam keras.

Dengan satu serangan itu, Magic Barrier: Ultimate hancur berkeping-keping.

Aku terpental jauh ke belakang hingga menghantam gunung berbatu yang menjulang tinggi.

Aduh, sakit juga. Kekuatannya terasa meresap bahkan menembus penghalang mana.

"……Hah! Apa aku mati!? Tidak, aku masih hidup ya…… omong-omong, tadi si Malaikat bilang Raja Iblis bangkit atau apa, kan!?"

"Tenanglah, Iblis. Ini cuma mimpi. Mana mungkin Raja Iblis bangkit lagi. Hahaha. Hahahahaha."

Goncangan barusan sepertinya membuat Grim dan Jiriel yang pingsan tadi terbangun.

Tapi mereka berdua malah panik, ada yang mengira ini mimpi dan ada yang berusaha lari dari kenyataan. Aku ingin mereka tidak terlalu berisik.

"Dengar ya, saat ini kita sedang di tengah-tengah pertarungan melawan Raja Iblis itu."

"GYAAAAAAAAAA!"

Keduanya berteriak histeris sambil memutar mata.

Sepertinya mereka pingsan lagi. Aduh, merepotkan sekali.

"Yah, tapi aku mengerti kenapa mereka jadi begitu."

Kuantitas mana orang ini, serta auranya, benar-benar berada di level yang berbeda dibandingkan siapa pun yang pernah kutemui sejauh ini.

Meski aku tidak tertarik pada kekuatan tempur murni, jika perbedaannya sejauh ini, aku pun tidak bisa menahan diri untuk tidak terkesima.

Begitu ya, dia memang pantas menyandang gelar Raja Iblis.

"Jadi begitu ceritanya. Grim, Jiriel. Maaf ya, tapi kalian tidak punya waktu untuk pingsan."

"GYAAAAAAAAAA!?"

Sekali lagi, keduanya berteriak saat terbangun.

Aku memaksa mereka sadar dengan mengalirkan mana ke kedua tanganku.

Soalnya, menghadapi lawan yang tidak masuk akal begini sendirian sepertinya bakal berat juga.

"Uguuu…… ternyata bukan mimpi ya…… Menghadapi Raja Iblis legendaris itu…… aku tidak ingin percaya ini kenyataan, tapi ini beneran ya."

"Namun, jika Raja Iblis bangkit, itu berarti kiamat bagi dunia. Demi menyelamatkan para gadis cantik yang tak terhitung jumlahnya, aku akan menyerahkan raga ini!"

Sambil gemetar, keduanya bersemayam di kedua tanganku. Bagus, sepertinya tekad mereka sudah bulat.

"—Dengan begini, aku bisa mengeluarkan kemampuan asliku."

Entah karena dia mendengar gumamanku, Behal mengerutkan alisnya sedikit.

"Ah—apa tadi itu, apa aku salah dengar? Barusan sepertinya kau bilang 'akan mengeluarkan kemampuan asli'."

"Memangnya kenapa?"

Melihatku yang memiringkan kepala, Behal tertawa kecil dengan suara serak.

"……Kh-kh, gertakanmu boleh juga kalau sudah sampai level itu. Baiklah, kalau begitu tunjukkanlah apa yang kau sebut 'kemampuan asli' itu sepuasmu!"

"Tentu saja."

Aku berpindah ke belakang Behal yang masih berpidato, lalu berbisik di telinganya.

"Nugh!?"

Behal berusaha menoleh, tapi aku lebih dulu melancarkan tinju tepat ke perutnya.

"Gahaaaaaaaa!?"

Bugh-bugh-bugh!

Puluhan pukulan menghantam dalam sekejap, membuat Behal terpental sambil mengerang kesakitan.

Di depannya ada menara akademi; sebelum dia menabraknya, aku membentangkan penghalang mana untuk memantulkannya ke arah atas.

Behal melesat masuk ke dalam awan sambil berputar-putar dengan kecepatan tinggi. Beberapa saat kemudian.

"Kaaaa!"

Bersamaan dengan raungan itu, awan yang menutupi langit pun lenyap seketika.

Behal menatapku dari atas dengan darah merembes dari sudut mulutnya.

"K-Kau, wujud apa itu……!?"

Melihat perubahan wujudku, mata Behal membelalak. Padahal menurutku penampilan dasarku tidak banyak berubah.

Tentu saja, kecuali di bagian kedua tanganku yang menjadi tempat bersemayam Grim dan Jiriel.

Di tangan kiri ada sarung tangan hitam legam.

Di punggung tangannya terdapat simbol tanduk kambing, dan di telapak tangannya terdapat sebuah mulut yang terbuka.

Di tangan kanan ada sarung tangan putih bersih.

Di punggung tangannya terdapat simbol sayap yang membentang, dan di telapak tangannya juga terdapat sebuah mulut yang terbuka.

"Uoooooooo! Apa-apaan ini! Kekuatan meluap-luap dalam jumlah yang tidak normal! Kalau begini, menghadapi Raja Iblis pun rasanya mungkin saja!"

"Ya, mana yang dihasilkan jauh lebih efisien daripada raga asli saya! Luar biasa, Lloyd-sama!"

Grim dan Jiriel yang bersemayam di sana bersorak.

Ini adalah wadah berbentuk lengan yang kusiapkan agar kemampuan mereka berdua bisa dikeluarkan secara maksimal.

Berkat jalur mana yang melimpah di dalamnya, mana milikku juga bisa bersirkulasi ke seluruh tubuh tanpa ada yang terbuang.

'Mulut' untuk rapalan mantra juga berfungsi baik, ditambah lagi semangat mereka berdua sedang tinggi. Ya, rasanya sudah pas.

—Sejujurnya, tubuhku ini memang bukan untuk bertarung.

Karena masih anak-anak, tubuhku kecil dan tidak menguntungkan untuk pertarungan fisik melawan musuh kuat.

Jalur mana di dalam tubuhku pun belum berkembang sempurna, jadi aku butuh berbagai trik saat menggunakan sihir kuat seperti sihir skala besar atau rapalan ganda.




Benar, wadah tubuhku saat ini terlalu kecil untuk memanifestasikan seluruh pengetahuan yang telah kudapatkan selama ini secara maksimal.

Di sinilah kegunaan alat ini.

Aku menciptakan jalur mana eksternal dalam jumlah besar agar mana bisa mengalir tanpa terbuang, mengompresnya, lalu melilitkannya di kedua lenganku.

Tubuh Schunizel yang kukopi tadi hanyalah tahap awal untuk mencapai bentuk ini.

Membangun sesuatu dari nol alih-alih sekadar meniru memang cukup melelahkan, tapi pertarungan melawan Empat Raja Surgawi tadi sangat membantu.

Bagaimanapun, inilah hasilnya—lenganku yang baru. Hmm, kalau harus diberi nama, mungkin Magic-Equipped Mana Arms.

"Lloyd-sama, bagaimana kalau punyaku ditambah nama Black Sheep?"

"Kalau begitu, bolehkah saya juga meminta izin untuk menyandang nama White Swan?"

"Boleh saja, kok."

Nama bagiku tidaklah penting. Selama mereka berdua menyukainya, aku tidak keberatan.

Kalau begitu, Magic-Equipped Mana Arms kini berganti menjadi Black Sheep dan White Swan——mari kita mulai eksperimennya.

"Fuh!"

Sambil meninggalkan embusan napas pendek, aku menghentak udara.

Behal berusaha mengejarku dengan matanya, tapi sepertinya tubuhnya tidak bisa mengimbangi.

——Aliran Langris Terlarang, War God Arts.

Teknik yang memforsir tubuh hingga batas maksimal demi mengeluarkan kemampuan fisik yang luar biasa ini bisa kugunakan tanpa risiko selama aku berada dalam wujud ini.

Sambil melesat cepat di udara dan beralih ke titik buta Behal, aku memusatkan Ki di dalam tubuhku.

 Lalu, kuhantamkan gumpalan Ki yang membengkak itu ke punggungnya yang tanpa pertahanan.

"—Puncak Teknik Seratus Bunga, Fiery Thunder Qigong Dragon Palm."

Percikan api menari dan kilat petir menyambar.

Serangan berbasis Qigong memang lumayan efektif melawan iblis, tapi kartu as yang sebenarnya adalah ini.

"Ayo, Iblis!"

"Oke, Malaikat!"

Aku merajut formula sihir seiring dengan rapalan mantra Grim dan Jiriel.

"—Ash Demon Fang."

Telapak tanganku bersinar menyilaukan dan meledak seketika.

Duaaaaarrr!

Suara ledakan menggelegar, dan raga asliku ikut terpental akibat gaya reaksinya.

Waduh, guncangannya hebat sekali. Karena rapalan mantranya selesai lebih cepat dari dugaan, aku jadi terlambat melarikan diri dari jangkauan ledakan.

Karena aku menyerahkan rapalan pada mereka berdua, aku harus memperhitungkan aktivasi sihir yang bakal jadi jauh lebih cepat.

Aku memantapkan posisi di udara sambil mengibas-ngibaskan asap yang mengepul.

"Tunggu dulu! Ini terlalu berbahaya, Lloyd-sama! Bisa-bisanya Anda menggunakan Ash Demon Fang di jarak sedekat itu! Kalau saya tidak memasang penghalang, kita bisa ikut celaka, tahu!?"

"Benar sekali. ……Tapi, itu tadi adalah serangan beruntun yang sangat dahsyat. Dengan serangan seperti itu, meski dia seorang Raja Iblis, dia tidak akan bisa lolos tanpa luka sedikit pun. Memang Lloyd-sama luar biasa—"

Kata-katanya terhenti. Black Sheep dan White Swan yang menjadi tempat bersemayam mereka berdua telah terkoyak berantakan.

Ternyata saat aku menyerang, Behal melepaskan serangan mana yang menghantam telak ke arah Black Sheep dan White Swan.

"A-Apa-apaan!? Sejak kapan kita terkena serangan balik!?"

"Saya sama sekali tidak menyadarinya…… Gugu, wadah yang diberikan Lloyd-sama……!"

Tepat di saat aku menyerang, Behal mencengkeram Black Sheep dan White Swan, lalu meremasnya dengan kekuatan penuh.

Untung saja aku sudah memutus sensor rasa sakit mereka berdua.

Jika mereka merasakan kerusakan sebesar ini secara langsung, mereka pasti sudah pingsan lagi.

"Kh-kh, khuhahaha……"

Suara tawa Behal terdengar dari balik asap ledakan.

Saat asap mulai memudar, Behal muncul sambil menyeka darah di sudut mulutnya.

Meski pakaian di bagian yang terkena serangan sudah compang-camping, dia hampir tidak menderita kerusakan berarti.

Terlebih lagi, luka-luka kecil yang sempat ada pun sudah mulai menutup kembali.

"Menerima serangan sebanyak itu tapi tetap tidak terluka……? Bahkan Ash Demon Fang yang sanggup mengalahkan Raja Surgawi dalam satu serangan pun bisa sembuh secepat itu!?"

"Tidak bisa dipercaya. Itulah Raja Iblis……! Benar-benar kekuatan dari dimensi yang berbeda……!"

Grim dan Jiriel membelalakkan mata karena terkejut.

Hmm, hampir tanpa kerusakan sama sekali ya, aku benar-benar terkesan.

Tidak hanya itu, Behal mulai meluapkan mana yang lebih besar lagi.

Sepertinya keseriusannya yang sesungguhnya baru akan dimulai dari sini.

"Kh-kh-kh, sayang sekali. Serangan tadi tidak buruk, tapi masih jauh dari cukup untuk menjatuhkanku, tahu? Padahal aku sempat sedikit berharap pada 'keseriusan'mu itu, ternyata mengecewakan ya? Fuhahahahahaha! Hahahaha—"

Tawa kerasnya terhenti. Itu karena Black Sheep dan White Swan yang baru saja dia hancurkan kini telah bangkit kembali.

Yah, wajar saja kalau aku memasang fungsi pemulihan mandiri pada alat ini, kan? Secara logika itu sudah umum. Tentu saja, aku juga menanamkan banyak fungsi lainnya.

Namun, meski sudah memasang berbagai macam fungsi, ada banyak hal yang tidak akan kita pahami sebelum mencobanya langsung dalam praktik. Itulah maksudku saat mengatakan ini adalah eksperimen.

"Maaf ya. Aku sendiri pun belum sepenuhnya menguasai alat ini. Tapi kurasa sebentar lagi aku bisa memuaskanmu."

"……Menarik."

Behal tersenyum, namun ekspresinya tampak sedikit berkedut tegang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close