"Jadi ini istana Dewa……"
Tempat yang kami
capai melalui teleportasi adalah sebuah ruangan serbaputih.
Di sini juga
tampak seperti ruangan rahasia karena tidak ada pintu keluar masuk.
Begitu Rigo
mengoperasikan sesuatu, sebuah pintu akhirnya terbuka.
Heh, jadi Dewa
ada di sini, ya. Pantas saja, aku bisa merasakan denyut mana yang sangat kuat.
"Hah—
kupikir aku bakal mati. Lloyd-kun
jahat sekali, sih."
"Padahal
kamu sendiri menguap lebar begitu."
"Yah,
kalau tidak bisa bergerak kan membosankan sekali…… Wajar saja kalau aku jadi mengantuk."
Grim dan yang
lain sempat khawatir, tapi ternyata dia tetap santai. Nyalinya besar juga.
Sepertinya dia memang punya kualifikasi sebagai Holy King.
"Hoho, bisa
memasang pelindung yang sanggup menahan beban teleportasi tadi, kamu hebat
sekali."
"Biasa saja,
kok. Kakek sendiri juga pasti merasa berat meski sudah menjadi tubuh mana,
kan?"
Setelah
mencobanya sendiri, aku baru sadar kalau alat teleportasi tadi memberikan
guncangan yang hebat bahkan bagi tubuh mana sekalipun.
Kalau malaikat
biasa di penjara tadi yang mencobanya, kalaupun tidak mati, mereka pasti akan
babak belur.
Namun, wajah Rigo tetap terlihat biasa saja. Mengingat dia
pernah dikurung di penjara Khayangan, sepertinya dia memang bukan orang
sembarangan.
"Daripada itu Lloyd, cepatlah bergerak. Dewa sudah di
depan mata. Izinkan aku meluapkan amarah yang tidak sempat kulampiaskan pada si
Holy King brengsek itu kepadanya."
"Oi Beal,
kita ke sini untuk meminta pembatalan Fusion. Jangan lupa kalau kita ke
sini bukan untuk bertarung."
"……Cih,
benar juga. Tapi meskipun kita tidak punya niat begitu, bagaimana dengan
Dewa?"
Yah, kalau Dewa
adalah dalang yang memerintahkan Holy King untuk membasmi Raja Iblis, tidak
sulit membayangkan apa yang akan dia lakukan saat melihat Beal. Kemungkinan
terjadinya pertarungan sangatlah besar.
……Yah, paling
buruk aku tinggal memaksanya menurut dengan kekerasan.
Meski aku tidak
terlalu suka bertarung, karena dia menyandang nama Dewa, pasti dia punya satu
atau dua kemampuan yang menarik. Itu sendiri patut dinantikan.
"Kalau
begitu, izinkan saya memandu. Lewat sini."
Kami melewati
lorong dan sampai di sebuah aula besar.
Ada tangga-tangga
raksasa yang berjajar, dengan lantai batu putih yang memenuhi ruangan layaknya
sebuah kastel.
Namun, aula yang
tak berpenghuni ini terasa sangat ganjil. Apa tidak ada pelayan yang bekerja di
sini?
"Hmm,
biasanya ada banyak pelayan yang sibuk bekerja di sini…… Yah, mengingat sudah
lama sekali sejak aku pergi, mungkin sistemnya sudah berubah."
"Waduh,
panduannya terhenti ya. Di sana adalah dapur, di situ ruang tamu, dan di
sebelah sana adalah tangga menuju lantai teratas, pemandangan dari atas sana
benar-benar luar biasa lho—"
"Oi oi, kami
tidak minta pemandu wisata."
"Tolong
tunjukkan jalan menuju tempat Dewa berada."
"Aduh, mohon
maaf. Tanpa sadar kebiasaan lama saya muncul…… Mari kita lihat, tempat Dewa
berada kemungkinan adalah—"
Tepat saat Rigo
hendak menunjuk ke suatu arah.
"—Astaga,
ya."
Tiba-tiba, suara
serak seorang pria tua bergema di sekitar kami.
"Raja Iblis
dan Holy King melangkah masuk ke istanaku bersama-sama, benar-benar tidak
tertolong lagi."
"Dewa-sama……!"
Holy King
tersentak. Jadi pemilik suara ini adalah Dewa. Hmm. Suaranya bergema, sehingga
sulit menentukan dari mana arah asalnya.
"Berani
sekali melarikan diri dari penjara tanpa izin, apa maksudmu?"
"Yah,
setidaknya aku sudah introspeksi diri. Bukankah sudah seharusnya aku
mempertanggungjawabkan perbuatanku? Dan karena sudah kulakukan, makanya aku
datang lagi untuk menyampaikan aspirasi."
"……Introspeksi,
ya. Tidak terlihat seperti itu di mataku. Tapi baiklah. Akan kudengarkan apa
maumu."
Mendengar
kata-kata Dewa, Holy King mulai berbicara seolah-olah memang sudah menunggu
saat ini.
"Ehem,
baiklah, kuulangi lagi. —Selagi aku dirantai di penjara, aku berpikir bahwa
siapapun lawannya, hukuman baru boleh diberikan setelah kita memastikan bahwa
mereka memang penjahat."
"Kenyataannya,
Raja Iblis ini juga tipe yang bisa diajak bicara jika kita mau mencoba. Tidak
baik menghakimi berdasarkan prasangka."
"Hmm, lalu?"
"Intinya…… ya, itu. Mari kita pastikan dulu baik-baik. Kalau terburu-buru menghukum padahal
ternyata itu salah tangkap, bagaimana?"
"Jika
begitu, malah kamulah yang jadi penjahatnya. Aku pun tidak akan mengeluh kalau
Dewa-sama melakukan segalanya dengan benar, dan aku akan tetap lanjut menjadi
Holy King."
"Hmm,
lalu?"
"Apanya yang
lalu…… Makanya aku—"
Saat Holy King
hendak meninggikan suaranya karena jawaban yang acuh tak acuh itu—tepat di atas
kepala kami memancarkan cahaya yang menyilaukan.
Kilatan cahaya
mana meledak. Cahaya itu semakin terang benderang, sementara Holy King hanya
bisa mendongak dengan tatapan kosong.
"He—?"
Holy King terpaku
di tengah situasi mendadak itu. Cahaya yang meluap itu menghujam ke bawah.
Duarrr! Suara benturan yang sangat dahsyat
bergema, membuat tanah bergetar hebat.
"Duaaaa!?
A-Apa yang terjadi!?"
"Bodoh! Dewa
baru saja mencoba menghabisimu! Jangan melamun di saat seperti ini!"
Beal berteriak
kencang. Dia melompat keluar dari diriku dan merentangkan ekornya seperti
payung untuk melindungi kami semua.
"Apa……! Raja Iblis…… menyelamatkanku……?"
"Cih…… Aku mulai melembek ya…… Akh!"
Beal memasang wajah menahan sakit yang luar biasa. Tubuhnya
tampak hangus terbakar dan mengeluarkan asap putih. Beal yang bertubuh mana pun
bisa terluka, serangan macam apa itu.
"Tadi
kamu bilang, kan? Bahwa tidak baik menganggap seseorang musuh tanpa mengenalnya
lebih dulu. Aku sendiri pun
melihatmu begitu. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf."
"Tapi ingat,
ini hanya sekali saja. Jangan harap ada yang kedua kali!"
"Raja
Iblis…… kamu ternyata
benar-benar orang baik, ya……! Terima kasih. Aku serius, aku senang sekali."
"……Cih,
membuatku merinding saja."
Melihat Holy King
yang tersenyum malu-malu, Beal yang tampak tersipu langsung terdiam dan masuk
kembali ke dalam diriku. Ternyata dia pemalu juga ya, anak ini.
"—Hmm,
diselamatkan oleh Raja Iblis, sepertinya kamu sudah tidak layak lagi menyandang
gelar Holy King."
"Ka-Kamu…… jangan-jangan alasanmu mendengarkan ceritaku
tadi adalah……!"
"Aku tidak peduli dengan omong kosongmu, tapi karena
kamu sepertinya suka sekali mengoceh, aku memberikan belas kasihanku agar kamu
bisa bicara sesukamu sampai saat-saat terakhir."
"……!"
Holy King
terdiam seribu bahasa mendengar kata-kata Dewa.
Sejak
awal dia memang tidak berniat mendengarkan.
Dia hanya
berpura-pura mendengarkan agar bisa membunuh kami saat kami lengah. Untuk
ukuran Dewa, cara yang digunakannya sangatlah picik.
"……Sadis
juga ya. Cara yang kotor ini benar-benar tidak terlihat seperti perbuatan
Dewa."
"Aku
tidak percaya Dewa kita melakukan hal yang sepicik ini……"
Grim dan Jiriel
juga tampak syok, namun Holy King pasti merasakan yang lebih dari itu. Rasanya pasti seperti dikhianati oleh
orang yang sangat ia percayai.
Karena
perasaan yang tak menentu, bahu Holy King tampak bergetar.
"Sudahlah.
Karena kalian sudah sampai di sini, bukankah tujuan kalian adalah menemuiku?
Kali ini aku tidak akan lari atau bersembunyi, jadi naiklah ke lantai
teratas."
"Biar aku
sendiri yang menghabisi kalian dengan tanganku."
"……Boleh
juga! Setelah dihina sejauh ini, aku yang cinta damai pun tidak akan tinggal
diam! Tapi aku tidak berniat bertarung."
"Aku akan
meyakinkanmu sampai kamu tidak punya argumen lagi! Bersiaplah!"
"Fuh,
semangat yang bagus, tapi di setiap lantai menuju puncak, aku telah menempatkan
64 Dewa Khayangan."
"Masing-masing
dari mereka memiliki kekuatan yang setara denganmu. Tentu saja, aku juga sudah
memasang berbagai jebakan."
"Jika kalian
berhasil menembusnya dan sampai ke hadapanku—baiklah, aku sendiri yang akan
menjadi lawan kalian."
"Tentu saja
aku akan ke sana! Ya kan, Lloyd-kun! ……Lloyd-kun?"
Sambil memperhatikan percakapan mereka, aku sedang
menganalisis suara Dewa. Habisnya, suara ini memiliki mekanisme yang sangat
menarik.
Dewa melakukan
intervensi ke tempat ini melewati jalur mana yang sangat rumit.
Jika hanya untuk
menyampaikan suara atau serangan mana ke sini, harusnya tidak perlu sampai
sejauh ini.
Lantas untuk apa
dia melakukan ini…… benar-benar menarik.
"……Yah, aku
sudah paham garis besarnya."
"Eeto……
Lloyd-kun? Halo—? Oi?"
"Maaf Holy
King, aku duluan ya."
Sambil
bergumam begitu, aku melompat menggunakan Spatial Teleportation.
Melewati jalur mana yang dikeluarkan Dewa, tujuanku adalah ke luar istana.
Bahkan
melewati seluruh Khayangan, menembus penghalang yang tebal, dan melintasi
labirin yang rumit.
"Jalurnya
melewati banyak sekali perantara ya. Seberapa besar sih tingkat
kewaspadaannya?"
"Meskipun
nama Dewa sudah dikenal luas, kabarnya bahkan para 64 Dewa Khayangan pun belum
pernah melihat wujud aslinya."
"Cih,
dasar pengecut. Tapi akhirnya kita bisa melihat wujudnya juga."
Akhirnya
ujungnya terlihat. Teleportasi berakhir.
"—Jadi
ini tempat tinggal Dewa."
Tempat itu
serbaputih dan terasa sangat luas. Putih membentang hingga ke cakrawala, seolah
tidak ada batasnya.
Rasanya
sedikit berbeda dengan Khayangan. Lebih mirip dengan dimensi khusus yang
digunakan Beal.
"Ruangan
yang sangat mencurigakan ya. Bagaimana ya bilangnya, rasanya bikin
merinding."
"Apa
benar ini tempat tinggal Dewa? Tapi entah kenapa rasanya menyeramkan……"
Grim dan Jiriel
tampak curiga, tapi aku merasakan kejanggalan yang lain. Sebuah perasaan seolah
ada sesuatu yang disembunyikan.
Dan karena aku
melakukan teleportasi ruang berkali-kali tadi memang agak sulit memastikannya,
tapi tempat ini bukanlah lantai teratas istana, melainkan sebaliknya. Ini
adalah dasar dari dasar Khayangan, jauh di bawah lautan awan.
"Kenapa dia
berbohong……? Keberadaan yang disebut Dewa sampai sebegitunya tidak ingin
keberadaannya diketahui?"
"Atau hanya
sekadar iseng? Ada kemungkinan dia sedang berpura-pura memberi ujian, tapi……
hmm, entahlah."
Dipikirkan pun
tidak ada gunanya, lebih cepat kalau bertanya langsung pada orangnya.
"—Hei,
kamu yang dipanggil Dewa?"
Aku
memanggil sosok manusia yang terlihat di balik tirai yang melayang sendirian di
tengah ruangan.
Sosok yang ada di sana adalah sumber dari segala mana……
dengan kata lain, Dewa itu sendiri.
"Luar biasa
kau bisa sampai ke sini. Aku benar-benar terkejut."
"Menelusuri
jalur yang penuh penghalang dan labirin lalu sampai di sini dengan sekali
teleportasi ruang, apa aku harus menyebutmu sebagai Raja Iblis?"
Yang menjawab
gumamanku adalah suara serak yang tadi. Tirai itu terbang tertiup angin yang
entah dari mana asalnya, dan seorang kakek tua muncul.
Ia mengenakan
jubah putih, mahkota dengan hiasan emas dan hitam, membawa tongkat, dan memakai
beberapa gelang emas yang masing-masing memancarkan mana yang kuat.
Namun, mana yang
jauh lebih kuat dari perhiasan-perhiasan itu justru terpancar dari tubuhnya
yang tampak seperti kayu kering.
"I-Ini gila…… Arus mana yang sangat besar sampai
membuatku merinding hanya dengan melihatnya! Dia benar-benar layak menyandang
nama Dewa……!"
"Ya, arus mana yang tenang namun sangat dahsyat,
bagaikan sungai besar. Inilah Dewa tunggal yang menguasai Khayangan……!"
Grim dan Jiriel
tampak ketakutan melihat kedahsyatan mana tersebut. Beal di dalam diriku juga
mulai tegang menghadapi musuh bebuyutannya.
"Memang
sekarang aku sedang bergabung dengan Raja Iblis, tapi aku sendiri hanyalah
pangeran ketujuh yang bisa ditemukan di mana saja."
"……Cih, aku
sudah tahu. Kamu adalah tokoh sentral di balik berbagai anomali yang terjadi di
permukaan belakangan ini."
"Pangeran
Ketujuh Kerajaan Saloum, Lloyd de Saloum. Apanya yang 'di mana saja', jangan
bercanda."
Wah, ternyata dia
mengenalku. Aku kaget. Di tengah keterkejutanku, Dewa melanjutkan kata-katanya.
"Lloyd. Aku
sudah melihat semua perbuatanmu selama ini."
"Bukan hanya
mana yang tidak wajar, tapi juga kemampuan bertindak untuk ikut campur demi
kesenangan, serta pengaruhmu yang sangat besar bagi sekelilingmu……"
"Jika ini
bukan disebut Raja Iblis, lantas disebut apa lagi?"
Grim dan Jiriel
menatapku dengan tatapan sinis. Yah— padahal aku sudah berusaha
menyembunyikannya. Sepertinya sulit jika lawannya adalah Dewa.
"Kalau sudah
tahu, berarti urusannya jadi cepat. Kamu juga tahu alasan kami ke sini, kan?
Bisakah kamu melepaskan Fusion ini?"
"……Fuh,
kukuku……"
Mendengar
permintaanku, Dewa mulai tertawa seolah-olah hal itu lucu.
"Sayangnya
itu tidak bisa kulakukan. Tapi yah, lagipula kamu berniat memaksaku menurut
dengan kekerasan, kan?"
"Aku
sih tidak terlalu berminat begitu, tapi—"
Tidak
bisa dipungkiri kalau Beal di dalam diriku sedang sangat bersemangat. Yah,
bukan berarti aku sendiri tidak berminat melakukannya, sih.
"Baiklah.
Mari kita mulai."
Mendengar
kata-kataku, Dewa perlahan mengangkat tangannya.
◇
Cahaya
menyilaukan meledak di depan mataku.
"Haaa!"
Bersama teriakan
semangat, Dewa menerjang maju.
Di tangannya
sudah tergenggam tongkat yang entah sejak kapan ia keluarkan.
Senjata rahasia
setelah pengalih perhatian, ya? Cara bertarung yang cukup kotor untuk seseorang
yang menyandang nama Dewa.
Saat aku menahan
serangan itu dengan satu lengan, duuum!
Gelombang kejut
bergema dan udara bergetar hebat.
"—Hou, bisa
menahan seranganku yang menggunakan Staff of Divine Punishment dengan
begitu mudah, benar-benar sulit dipercaya."
Dewa tampak
terkejut, namun begitu pula denganku. Serangan yang luar biasa, sampai-sampai
aku yang bertubuh mana ini tidak bisa memukulnya balik, memang benar-benar
layak disebut Dewa.
Di tengah adu
kekuatan yang memercikkan bunga api itu—
"Dasar kakek bau tanah! Matilah kau!"
Beal melesat
keluar dari ekorkudengan penuh semangat.
Tinjunya
menghantam wajah Dewa, lalu langsung berlanjut ke serangan bertubi-tubi.
"Fuhahahaha!
Mati! Mati! Matiaaaaa kau!"
"Ngh!
Guh!?"
Meski Dewa
menangkis dengan tongkatnya, serangan yang datang beruntun tanpa henti itu
membuatnya terpaku di tempat.
Baku hantam antar
sesama tubuh mana, ya? Kebetulan sekali, ini kesempatan bagus untuk menguji
seberapa kuat ketahanan tubuh ini.
Lagi pula, kalau Fusion
ini dilepas, aku tidak akan bisa menggunakan tubuh ini lagi. Mengetahui sejauh
mana aku bisa mengeluarkan kekuatan sungguhan akan menambah wawasan sihirku.
Baiklah kalau
begitu, mari kita mulai.
"Sss...
haaa..."
Melalui
pernapasan, aku menempa Ki di dalam tubuhku.
Meski ini adalah
tubuh mana, jika aku membuat jalur aliran Ki secara paksa, aku tetap
bisa mengendalikannya.
Sihir tipe sistem
pengendalian, Trace Tao. Aku memusatkan aliran Ki yang beredar di
dalam tubuh ke satu titik, lalu melepaskannya.
"Hundred Flower Fist── Sasanqua."
Duaarrr! Tinju yang kuhujamkan mematahkan tongkat itu
hingga hancur.
Tongkat yang terbelah dua itu hancur berkeping-keping,
menjadi partikel halus yang berhamburan di sekitar.
Ah, patah ya.
Ini adalah salah satu teknik dasar Hundred Flower Fist
yang memusatkan hantaman di satu titik untuk menghancurkan lawan dari dalam.
Ternyata kekuatannya lumayan juga kalau dilepaskan dengan
tubuh ini.
"Ti-Tidak mungkin……! Staff of Divine Punishment
ini adalah mahakarya buatan Dewa Tempa Hephaestus, pandai besi terbaik di
Khayangan sekaligus salah satu dari 64 Dewa! Seharusnya tidak mungkin hancur
hanya karena satu pukulan tinju!?"
"Yah, aku pun merasa sayang karena tongkatnya hancur
semudah itu……"
Padahal aku ingin
menganalisis tongkat itu sedikit lebih lama lagi. Tapi, ya sudahlah. Aku sudah
paham garis besarnya.
Selama
bersentuhan tadi, aku sempat merapal Appraisal pada tongkat tersebut.
Strukturnya sudah
hampir selesai kuanalisis, jadi aku bisa mereproduksinya sekarang juga. Seperti
ini──
Saat aku
mengumpulkan dan memadatkan mana, sebuah tongkat yang hampir identik dengan
milik Dewa tercipta di tanganku.
"Nah, begini
kira-kira."
"Apa…… Kau
menciptakan kembali Staff of Divine Punishment……!?"
Dewa menatapku dengan wajah tak percaya melihatku memegang
tongkat itu.
Menciptakan tubuh mana sendiri memang sudah sering kulakukan
sejak dulu. Jadi, kalau cuma membuat senjata sebagai perpanjangannya sih tidak
ada masalah.
Meski memang butuh observasi yang saksama, dan hasilnya
tidak akan bisa benar-benar seratus persen sama.
"Tunggu dulu, menciptakan tubuh mana itu memang
gampang-gampang saja, tapi membuat benda dengan struktur rumit begini butuh
kemampuan analisis yang luar biasa, lho!"
"Justru itulah keahlian Lloyd-sama. Tapi, meniru
senjata ciptaan 64 Dewa Khayangan tetap saja bukan hal yang biasa……"
"Apa
kalian berdua tidak sadar? Tongkat itu sudah diberi modifikasi ala Lloyd,
sehingga jauh lebih kokoh dari aslinya! Fuh, seperti yang diharapkan dari
Lloyd, rival takdirku."
Grim dan
yang lain menggumamkan sesuatu, tapi aku lebih memikirkan cara penggunaan Staff
of Divine Punishment ini.
"Hmm…… Tongkat ya…… Tongkat, hmm……"
──Tongkat adalah senjata yang berfungsi untuk memperkuat
formula sihir itu sendiri.
Namun pada dasarnya, ini hanyalah versi penurunan dari
pedang sihir yang sekadar mengukir formula pada sebatang kayu, aslinya
ditujukan untuk pemula.
Jika aku menggunakannya dengan cara yang biasa, tongkat ini
pasti akan langsung hancur seketika.
Tapi karena ini adalah tongkat yang digunakan Dewa, formula
sihir yang tertanam di dalamnya memiliki ketahanan yang luar biasa.
Sepertinya aku
bisa menggunakannya. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain.
Aku segera
membentangkan formula sihir, lalu mengalirkan mana yang kuciptakan ke dalam
tongkat tersebut.
"Deeeeeeh!?
Apa-apaan jumlah mana itu!? Ini terlalu mengerikan, Lloyd-samadddd!?"
"Mananya
diperkuat secara berlebihan sampai jadi menakutkan beginiiiii!?"
Grim dan Jiriel
terkejut, tapi penguatannya belum selesai, lho.
Mumpung
sedang bereksperimen, aku ingin mencoba fungsi tongkat ini sampai batas
maksimal.
Tapi
memang benar-benar tongkat Dewa, ya. Aku terkejut tongkat ini tidak hancur
meski sudah kualiri mana sebanyak ini.
"Lloyd.
Boleh saja kau bersemangat, tapi tongkatnya mulai retak, tuh. Sepertinya itu
sudah batasnya, kan?"
"Oh,
benar juga. Aku terlalu asyik."
Seperti
kata Beal, tongkatnya mulai pecah.
Padahal
aku ingin mengisinya sampai kekuatan penuh sebelum menembakkannya, tapi
sepertinya ini adalah batas kapasitasnya.
Aku
mengarahkan tongkat di tanganku ke arah Dewa, lalu melepaskannya.
"Fireball."
Api yang
tercipta dari ujung tongkat seketika tumbuh menjadi bola api raksasa dalam
sekejap.
Bola itu
terus menambah massanya sambil mendistorsi ruang di sekitarnya saat melesat
menuju Dewa.
"──!?
Ba-Fireball katanya!? Mana mungkin…… mana mungkin sihir tingkat
rendah bisa jadi seperti ini……!"
Dewa memusatkan mana di kedua lengannya untuk menahan api
itu, namun kedua lengannya terbakar seketika dan seluruh tubuhnya dilahap api.
Meskipun itu adalah tubuh mana yang sangat tahan terhadap
kerusakan sihir, ia tetap akan terluka jika serangannya melampaui batas
ketahanan tersebut.
Singkatnya, tongkat tadi berhasil menghasilkan output
sebesar itu. Benar-benar luar biasa.
"Bisa mengalirkan mana sampai membuat tongkat milik
Dewa retak itu saja sudah tidak normal tahu……"
"Padahal baru sihir tingkat rendah, tapi tongkatnya
yang mencapai batas duluan…… Apa jadinya kalau Lloyd-sama benar-benar
mengeluarkan kekuatan penuh……"
"Jika dia
melakukan itu, ruang ini…… tidak, mungkin seluruh Khayangan akan
runtuh…… Kuku, seperti yang diharapkan dari rival seumur hidupku."
Grim dan yang lain bicara sesuka hati, padahal aku di sini
sedang kesulitan mengendalikan Fireball itu.
Awalnya kupikir menggunakan sihir dengan tubuh mana ini
sudah sulit dalam hal pengendalian mana, tapi karena menggunakan tongkat juga,
pengendaliannya jadi makin susah. Memang tubuh ini agak sulit dikendalikan.
Aku mencoba membatasi kekuatannya agar tidak membunuhnya,
tapi──
"Nu,
nuwaaaaaaaa!"
Suara rintihan
kesakitan itu tertelan oleh bola api.
Lalu, bola api
yang jatuh ke tanah mengeluarkan pilar api yang seolah mencapai ujung langit,
membuat ruang di sekitarnya terdistorsi hebat.
……Hmm,
sepertinya aku lebih baik tidak menggunakan tongkat. Padamkan, padamkan.
"Oh,
akhirnya apinya mulai mereda."
Setelah
menyiramnya dengan air beberapa saat, pilar apinya mulai padam.
Meski begitu,
bagian yang terkena bola api tadi hangus menghitam, dan ruang di sekitarnya
tampak sangat terdistorsi.
"Wah, wah,
kekuatannya benar-benar tidak masuk akal. Dewa pun pasti tidak akan sanggup
menahannya."
"Sebagai
malaikat, perasaanku agak campur aduk, tapi sekarang bagiku Lloyd-sama adalah
segalanya dibanding Dewa."
"Hmm, tapi
kau agak berlebihan, Lloyd. Seluruh area jadi hangus terbakar begini.
Hahaha."
Di tengah kepulan asap putih, Dewa tampak tergeletak dengan
tubuh yang menghitam.
Melihat itu, Grim
dan yang lain tampak yakin akan kemenangan, tapi──
"Tidak,
ini tidak seefektif yang kukira."
Meski
penampilannya terlihat agak mengerikan, mana di dalam dirinya masih berdenyut
dengan kuat.
Dia
bahkan memperbaiki dan mempertahankan ruang yang sempat hancur tadi, sepertinya
tidak ada luka yang fatal.
"Kuku,
fuhahahaha……"
Bersamaan
dengan suara tawa, Dewa bangkit berdiri dengan santainya.
Bagian
yang hangus terkelupas, dan Dewa muncul kembali tanpa luka sedikit pun.
"Tidak mungkin…… Aku tidak percaya dia tidak terluka
setelah terkena api sedahsyat itu!"
"Inilah Dewa…… pantas saja dia adalah Dewa tunggal yang
menguasai Khayangan."
"Katanya teknik Khayangan unggul dalam pertahanan dan
pemulihan, tapi aku tidak menyangka sampai sejauh ini."
Saat Grim
dan yang lain tersentak, Dewa tertawa hingga bahunya bergetar.
"Fufu…… Alasan aku masih hidup adalah karena kau
menahan diri, Lloyd. Jika kau menembakkannya dengan kekuatan penuh, mungkin
tadi akan berbahaya."
"Benar-benar
kuat, aku tidak menyangka kau sekuat ini. Tadinya aku hanya berniat mengetes keadaan, tapi
hampir saja aku mati tadi."
"Bertarung
lebih lama lagi akan sangat berbahaya."
"Kupikir kau
mau bilang apa, ternyata kau mau menyerah? Yah, aku sih cuma ingin Fusion
ini dilepas, jadi meski agak antiklimaks, aku tidak keberatan berhenti
bertarung."
Mendengar
kata-kataku, Dewa mulai tertawa kecil.
"……Menyerah?
Aku menyerah? Fufu, fuhahahaha!"
Lama-kelamaan dia
tertawa terbahak-bahak seolah tidak sanggup menahannya lagi.
Suara
tawa Dewa yang mengerikan bergema di dalam ruangan hampa tersebut.
"Mana
mungkin aku menyerah. Kau memang kuat, tapi aku juga masih menyimpan kekuatan
sejatiku."
"Kekuatan
sejati, katamu……!"
Setelah melihat Fireball
milikku tadi dan menerima serangannya, dia masih bisa berkata begitu? Kekuatan
seperti apa yang dia simpan? Aku jadi sedikit bersemangat.
"Kenapa mata
Lloyd-sama malah berbinar begitu sih……"
"Itu sudah
biasa. Tapi, jangan-jangan dia cuma menggertak?"
"Umu, aku
tidak merasa dia masih punya tenaga sisa sedikit pun……"
Seperti kata Grim
dan yang lain, saat menahan Fireball tadi, Dewa jelas-jelas sedang
mengeluarkan seluruh kemampuannya. ──Karena itulah aku menantikannya.
Dalam
pertarungan, pihak yang memiliki kemampuan dasar lebih tinggi akan sangat
diuntungkan. Pihak yang lebih lemah harus memutar otak dan menggunakan berbagai
trik kotor jika ingin menang.
Saat melawan
iblis tingkat tinggi atau Beal, aku yang kalah dalam kemampuan dasar terpaksa
menggunakan berbagai macam cara.
Itu sangat menyenangkan, tapi…… hei kalian, jangan menatapku
dengan tatapan sinis begitu.
──Pokoknya, meski lawan memiliki kekuatan tempur yang lebih
rendah, tergantung cara bertarungnya, mereka tetap punya peluang menang melawan
musuh yang lebih kuat. Aku menantikan cara apa yang akan Dewa gunakan.
"Kuku, matamu berbinar mendengar kata-kataku, kau
benar-benar gila."
"──Aslinya, kekuatan ini terlalu besar untuk digunakan
melawan manusia biasa, tapi aku tidak ragu sedikit pun melawanmu. Aku sangat
beruntung bisa membunuhmu sebelum kau berkembang lebih jauh lagi."
"Tidak usah banyak bicara. Cepat tunjukkan
padaku."
"Jangan
terburu-buru, sebentar lagi──"
Seolah
memotong perkataan Dewa, ruang di sekitar kami mulai retak.
Yang
muncul dari balik retakan ruang itu adalah── Holy King.
"Ah! Ketemu
juga, Lloyd-kun!"
Masih dengan
suara riang seperti biasanya, Holy King melangkah masuk ke dalam penghalang
yang retak itu.
"Hup……
Duh. Benar-benar merepotkan, deh."
Dia
membunyikan leher dan bahunya untuk melemaskan otot yang kaku.
Pakaian
Holy King kotor dan robek di sana-sini, tampak seperti baru saja melewati
pertarungan sengit berturut-turut.
"Tadi
sempat agak repot sih…… tapi aku sudah berhasil membujuk semua 64 Dewa
Khayangan, dan berhasil naik sampai ke lantai teratas dengan selamat!
Selanjutnya adalah kamu!"
Holy King
menunjuk Dewa dengan tegas.
Kalau
tidak salah, Dewa memang menyuruhnya naik ke lantai teratas istana dan
mengalahkan 64 Dewa Khayangan, ya? Ternyata dia benar-benar mematuhi perintah
itu.
Lagipula,
apa maksudnya dengan 'membujuk sampai kalah' itu…… bagaimana caranya?
"Benar-benar
melelahkan tahu, di setiap lantai ada tiga penjaga. Aku bicara pada mereka
sambil membatalkan serangan mereka yang penuh amarah itu, dan terus
melakukannya sampai lawan kehabisan tenaga."
"Begitu
terus selama dua puluh lantai berturut-turut, apalagi yang terakhir ada empat
orang sekaligus…… Sehebat-hebatnya aku, aku lelah juga tahu. Tapi ini adalah
kewajiban sebagai penganut paham perdamaian!"
Serius nih orang, dia membujuk…… maksudnya, dia membuat
lawan kehabisan tenaga tanpa menyerang balik sama sekali?
Sejujurnya, menurutku dia sudah tidak waras.
"Sampai tidak bisa berkata-kata ya. 64 Dewa Khayangan
itu kan orang-orang yang lumayan kuat. Bisa mengalahkan mereka tanpa
menyerang……"
"Bukan cuma lumayan! Lloyd-sama memang bisa membantai
mereka dalam sekejap, tapi di Khayangan mereka itu kumpulan orang-orang
terkuat! Seharusnya satu lawan satu saja sudah sulit bagi manusia!"
"Yah, mengingat dia tidak menjilat ludahnya sendiri
soal benci bertarung, mungkin dia punya sedikit kelebihan sebagai
manusia."
Grim dan yang lain juga terkejut, tapi aku jujur saja merasa
heran.
Aku juga terkadang sengaja menerima serangan lawan, tapi
biasanya lawan tidak akan bergerak sesuai keinginan kita sehingga aku tidak
sengaja memukul balik.
Tapi dia
melakukannya 64 kali berturut-turut…… seberapa sabar sih dia? ……Yah,
mungkin memang harus sesabar itu kalau mau jadi Holy King.
"Apalagi tangganya panjang sekali, dan begitu sampai ke
atas langsung diserang lagi, tidak ada waktu istirahat sama sekali. Ini kan
bukan gim, harusnya ada batasnya dong. Kalau bukan aku, pasti sudah mati."
"……Tapi ini
sudah berakhir, Dewa-sama! Aku juga akan membujukmu sampai kalah, jadi
bersiaplah!"
Holy King
menunjuk Dewa dengan tegas, namun aku menyadari ada yang aneh.
Alasan Dewa
menyuruhnya ke lantai teratas pasti untuk menjauhkannya dari tempat ini yang
berada di lapisan terbawah Khayangan.
Dia sangat
terkejut saat aku datang ke sini secara paksa dengan Spatial Teleportation,
jadi itu pasti benar.
Tapi kalau
begitu, kenapa Holy King yang tadinya ada di lantai teratas sekarang bisa ada
di sini?
"……Hei Holy
King, bagaimana kamu bisa sampai ke sini?"
"Hm? Oh, aku
sampai di lantai teratas tapi tidak ada apa-apa di sana, jadi aku istirahat
sebentar. Tiba-tiba saja muncul lubang di ruangannya, dan saat aku melangkah
masuk, aku sudah sampai di sini──"
Perkataan Holy
King terhenti.
Tanpa disadari,
bagian putih di ruangan ini mulai terkelupas, dan kegelapan pekat muncul dari
baliknya.
"Wah! A-Apa
ini!?"
Holy King
terperosok ke dalam kegelapan itu. Kegelapan itu juga sudah mencapai kakiku,
dan aku mulai tenggelam perlahan.
Ruangan yang
tadinya putih bersih kini menjadi hitam pekat dan berubah seperti lumpur.
"Apa-apaan
yang terjadi ini, dasar malaikat sialan!? Bukankah Khayangan itu wilayah
kekuasaanmu!?"
"Mana aku
tahu, dasar jin bodoh! ……Tapi lumpur ini memancarkan aura yang sangat jahat……
Berhati-hatilah, Lloyd-sama!"
Grim dan Jiriel
tampak kebingungan.
Sementara itu,
Beal memasang wajah serius seolah-olah dia mengetahui sesuatu.
"Mungkinkah…… tidak, tapi hanya itu kemungkinannya……
Namun benarkah hal seperti itu bisa terjadi……?"
"Apa kau
tahu sesuatu? Beal."
"Umu…… sulit dipercaya, tapi aku merasakan gelombang
khas iblis tingkat tinggi dari lumpur ini……! Gelombang kegelapan yang tidak
mungkin dimiliki oleh penghuni Khayangan."
"Maksudmu, Dewa itu sebenarnya adalah iblis?"
Beal
mengangguk dengan ekspresi berat.
"De-Dewa
adalah iblis? Mana mungkin hal seperti itu terjadi!"
"Tapi
kalau diperhatikan lagi, hawa iblisnya memang terasa. Mirip dengan aura
Tuan Beal…… waph!"
Tanpa disadari, lumpur itu sudah merambat sampai ke dadaku,
dan seluruh tubuh Holy King sudah tenggelam dalam kegelapan.
Lumpur ini sendiri sepertinya adalah tubuh mana yang
memiliki kehendak.
Kecepatan infiltrasinya sangat cepat, dan dalam sekejap
sudah menelan kami.
Topun── pandanganku menjadi gelap gulita.
Lumpur melilit seluruh tubuhku, membuatku sama sekali tidak
bisa bergerak. Hmm, jadi ini yang dia sebut sebagai kekuatan sejati.
Seseorang yang terjebak di ruang ini tidak akan tahu mana
atas, bawah, kiri, atau kanan, sementara seluruh tubuhnya digerogoti dan
ditelan.
Ditambah dengan jangkauan efek yang luas dan kepadatan mana
yang kuat ini. Lawan biasa pasti
tidak akan bisa mengatasinya.
──Tentu saja,
kecuali aku.
"Sihir
sistem ruang, Void Space."
Aku membuka
lubang ruang yang tak terhitung jumlahnya di sekitar, dan menyedot lumpur itu
sekaligus dari sana.
Suara
menderu yang sangat bising bergema di mana-mana.
Wah, wah,
tekanannya hebat juga.
Lubang ruang
terus menyedot lumpur, dan tak lama kemudian kegelapan mulai sirna seperti air
laut yang surut.
"Heh, ingin
mengalahkan Lloyd-sama dengan lumpur seperti itu, seribu tahun pun masih
terlalu cepat!"
"Tapi…… situasinya berubah drastis dibanding
tadi."
Saat aku melihat sekeliling, langit telah berubah menjadi
merah darah, dan kabut hitam melayang di sekitar, mungkin karena lumpur yang
tidak terserap habis.
Tanah di bawah kaki berubah menjadi hitam dan menempel di
sepatu seperti aspal.
"Pemandangannya
benar-benar seperti neraka……"
"Ah,
Holy King tergeletak di sana."
Holy King
yang berlumuran lumpur tergeletak di kejauhan. Ah, aku sampai lupa kalau dia ada di sini. Bisa
selamat meski ditelan lumpur itu, dia hebat juga.
"Oii, kamu
masih hidup?"
"Ugh……"
Holy King
mengerang pelan dan mencoba mendudukkan dirinya.
Dia tampak sangat
lemas, tapi setidaknya dia masih bernapas.
"Tapi
ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan Dewa itu ya?"
"Bukankah
dia sudah lenyap ditelan Void Space? Meski punya tubuh mana, tidak ada
yang bisa dilakukan jika dilempar ke dimensi lain."
Tapi ini aneh.
Hawa keberadaannya yang kurasakan tadi masih tersisa.
Awalnya kupikir
itu berasal dari lumpur yang tersisa di lantai, tapi hawa itu perlahan memudar
di sana dan justru berkumpul di tempat lain.
Hawa itu mengarah
ke tempat orang yang sedang duduk di sampingku──
"──!?"
Sebuah tombak
hitam pekat melesat keluar dari mulut Holy King.
Gannn! Benturan keras terjadi, dan tombak itu
menghantam dahi aku.
"Lloyd-samadd!?"
Aku terlempar,
namun segera memutar tubuh di udara dan menancapkan kaki dengan kuat ke tanah.
Tanah yang
kupijak hancur berantakan, kakiku yang terbenam berfungsi sebagai rem, namun
aku tetap terseret mundur puluhan meter.
"Apa Anda
baik-baik saja!?"
"……Ya, agak
sakit sih."
Jawabku sambil
memegang dahi yang terasa berdenyut.
Holy King (?)
perlahan menegakkan tubuhnya sambil menyeringai. Mata dan bagian dalam mulutnya
hitam pekat seperti lumpur tadi.
Senyuman dan
auranya benar-benar mirip dengan lawan yang kuhadapi tadi── sang Dewa.
"Hou, kau
masih bisa memasang wajah tenang setelah menerima serangan itu. Sepertinya
tubuh lelaki tua tadi memang tidak bisa menang melawannya."
"……Begitu
ya. Jadi itu wujud aslimu. Akhirnya aku paham, Dewa── atau lebih tepatnya aku
panggil Gluttony, the Demon King of Voracity?"
Berbagai tindakan
yang tidak seperti Dewa, hawa iblis yang terasa di sana-sini, dan puncaknya
adalah kekuatan untuk merasuki tubuh orang lain…… sampai di sini, aku yang
tidak peka pun menyadarinya.
──Gluttony,
the Demon King of Voracity.
Lahir sebagai
iblis lemah di dunia iblis, namun dengan kecerdikan dan sifat pengecutnya ia
berhasil naik takhta menjadi Raja Iblis.
Ia sempat diincar
oleh Dewa dan menyerang Khayangan namun kalah.
Kabarnya, dari
langit berjatuhan banyak sekali iblis yang telah diserap oleh Gluttony.
Tapi kenyataannya
tidak begitu. Gluttony telah membunuh Dewa, lalu berpura-pura mati dan
menyebarkan mereka yang telah ia serap sebagai kamuflase. Lalu, ia menggantikan
posisi Dewa dan bersemayam di sini.
"Cih,
ternyata benar dugaanku. Lumpur tadi memancarkan hawa Raja Iblis yang sangat
kuat. Lumpur itu bukan ditujukan untuk Lloyd, tapi untuk menyerap Holy King.
Itulah alasan dia memanggilnya ke sini."
Singkatnya,
itulah kekuatan sejati yang dia maksud. Menyerap orang lain untuk mendapatkan
kekuatan, inilah kemampuan asli dari sang Raja Iblis Kerakusan.
"Fuhfuhfuh,
kuhahahaha! Benar sekali. Aku adalah Demon King Gluttony. Ingin rasanya
aku memuji ketajaman analisismu, tapi melihat kondisi penerusku yang
menyedihkan ini, mungkin aku harus memarahinya."
Sosok Dewa yang
kini terungkap sebagai Gluttony tersenyum provokatif.
"Tidak mungkin…… Dewa adalah…… Raja Iblis……? Aku tidak
percaya……!"
"Tapi kalau dipikir-pikir, semuanya jadi masuk akal. Hebat juga dia tidak ketahuan selama
ini."
"Kukuku,
akan kuberitahu sebagai bekalmu ke alam baka. Saat aku menyerang Khayangan, aku
membantai para malaikat dan menuju tempat Dewa."
"Namun Dewa
ternyata lawan yang lebih sulit dari dugaanku. Ia punya kekuatan untuk melepas Fusion,
dan aku sempat dibuat kesulitan. Tapi ternyata dia pria yang sangat
naif……"
"Kuku, saat
aku menjadikan para malaikat yang kutangkap sebagai perisai, dia langsung
berhenti melawan dan menyerah. Lalu, aku membunuhnya dengan syarat aku harus
membiarkan para malaikat itu hidup."
"……Tak
disangka. Kupikir tipe orang sepertimu akan membantai semua malaikat itu
sekalian."
"Fufu,
kau tidak mengerti apa-apa ya. Membunuh itu bisa dilakukan kapan saja. Bukankah lebih berguna jika aku
menggantikan posisi Dewa dan menjadikan mereka bawahanku?"
Gluttony tertawa
kecil sambil melanjutkan ceritanya.
"──Ah,
omong-omong, semua dari 64 Dewa Khayangan saat ini adalah iblis tingkat tinggi
bawahanku."
"Awalnya
setengah dari mereka memang yang asli, tapi mereka semua terlalu cerdik. Karena
mereka mulai menyadari sesuatu, aku harus segera melenyapkan mereka. Padahal
kalau mereka tetap bodoh aku akan membiarkannya hidup, tapi mereka malah
sengaja datang menjemput maut. Benar-benar bodoh. Kukku."
"Mengerikan sekali…… Jadi selama ini kami terus
mematuhi perintah Gluttony……!"
Jiriel menggertakkan giginya. Tentu saja dia syok mengetahui
seluruh Khayangan ternyata dikuasai oleh para Raja Iblis.
"Setelah mendapatkan takhta Dewa, aku menciptakan
sistem Holy King untuk memanfaatkan manusia. Aku memilih manusia yang memiliki
kecocokan terbaik dengan tubuh mana milikku, lalu menjadikan mereka rasul
sebagai cadangan yang bisa kugunakan untuk Fusion kapan saja."
Iblis yang merupakan tubuh mana bisa masuk ke dalam tubuh
manusia dan menjadikannya milik sendiri. Holy King hanyalah wadah untuk itu.
"Semakin kuat manusianya, maka kemampuannya setelah
diambil alih juga semakin tinggi. Namun butuh waktu lama untuk menyatu. Jadi
dia sengaja menggunakan Holy King untuk itu, ya. Benar-benar licik."
"Jadi dengan menerima mana miliknya terus-menerus
melalui wahyu, mereka menjadi lebih mudah untuk dirasuki……!"
Grim dan Jiriel
tersentak. Memang benar, luapan mana saat ini tidak bisa dibandingkan dengan
yang tadi. Aliran kekuatan yang sangat dahsyat ini membuatku merasa seolah-olah
akan terhempas hanya dengan berdiri di dekatnya.
"Kukuku…… kekuatanku meluap-luap. Orang ini memiliki
kekuatan terbesar di antara sejarah para Holy King, tapi karena dia penganut
perdamaian yang payah, dia jadi penakut yang tidak bisa menggunakan kekuatannya
secara maksimal."
"Tapi itu berakhir sekarang. Biarkan aku yang
menggunakan kekuatan ini sepuasnya!"
Gluttony membuka matanya lebar-lebar. Seketika, pandanganku tertutup warna hitam.
Duuum!
Suara ledakan
baru terdengar beberapa saat kemudian.
"Oi, apa kau
baik-baik saja Lloyd!"
"Aduh, aduh…… ya, lenganku cuma terasa sedikit perih
saja."
Tapi luar biasa juga dia bisa menembus pelindung manaku dan
memberikan luka.
Hanya serangan mana murni tanpa formula sihir, tapi
kekuatannya sungguh hebat.
Kecepatan,
kekuatan, dan kilatan hitam yang dilepaskan dalam jangkauan luas.
Gluttony
menciptakan salib hitam di tangannya dan menerjang ke arahku.
"Fuhahaha!
Output-nya masih terus meningkat!"
Aku menahan salib
yang dihujamkan itu dengan kedua telapak tangan.
Zuzun!
Saat aku menahan
posisiku, tanah di bawahku hancur berantakan.
"Sampai
kapan kau sanggup bertahan, mari kita lihat!"
Serangan susulan,
serangan susulan, serangan susulan menghujam diriku yang terpaku di tanah.
Rentetan serangan
seperti hujan deras turun tanpa henti.
"Setiap
pukulannya berat sekali! Inilah Gluttony yang mengeluarkan kekuatan
sejati!"
"Levelnya
jauh berbeda dengan yang tadi…… dia jauh lebih kuat dari Beal! Pantas saja dia dijuluki Raja Iblis
terkuat!"
Kalau begitu,
sepertinya aku juga bisa mengeluarkan kekuatanku sepuasnya. Aku melompat keluar
dari rentetan serangan itu dan melakukan serangan balik.
"Sihir suci,
Ultimate Holy Light."
Kilatan cahaya
yang dilepaskan dari ujung jariku meledak── namun Gluttony terus menerjang maju
tanpa mempedulikannya sedikit pun.
Hmm, sihir suciku
sama sekali tidak mempan, ya. Mana milik Gluttony sendiri memang kuat, tapi
karena dia menggunakan tubuh Holy King, efek sihir suci jadi berkurang drastis.
Bertakhta sebagai
Dewa di Khayangan untuk menghindari musuh alami, dan bergabung dengan manusia
untuk menghilangkan kelemahannya sendiri.
Kewaspadaan yang
luar biasa ini sepertinya adalah sumber kekuatan Gluttony.
"……Begitu
ya, dia tidak punya titik lemah."
"Benar
sekali! Raja Iblis yang mendapatkan kekuatan Dewa, akulah penguasa tak
terkalahkan di dunia ini!"
Tanpa
disadari, salib di tangannya telah membesar. Salib yang diselimuti mana hitam
pekat itu diayunkan ke arahku.
"Matilah
kau!"
Duuum!
Tanah
hancur membentuk tanda silang raksasa, dan asap ledakan mengepul dari sana.
Dasar
retakan yang dalam itu sudah tidak terlihat lagi, Gluttony melirik sekilas ke
arah kepulan asap yang membubung tinggi.
"──Ngomong-ngomong,
alasanku bicara panjang lebar tadi adalah untuk memojokkan diriku sendiri agar
bisa membunuhmu dengan pasti. Penguatan mana melalui tekad dan sumpah, inilah dorongan kekuatan
terhebat."
"Aku orang
yang waspada. Untuk memusnahkanmu secara pasti, aku langsung menggunakan
seluruh kekuatanku sejak awal. Setelah menerima serangan itu, mana mungkin kau
masih hidup."
Saat Gluttony
berbalik pergi, aku memanggilnya dari atas kepalanya.
"Begitu ya,
meningkatkan mana dengan memojokkan diri melalui tekad atau sumpah yang kuat.
Sepertinya itu sangat cocok dengan tubuh mana."
Metode untuk
meningkatkan efek sihir menggunakan kekuatan berbagai emosi seperti cinta,
keberanian, kecemburuan, atau kebencian memang sudah ada.
Namun, emosi
sangat sulit dikendalikan, apalagi saat mengendalikan formula sihir dibutuhkan
ketenangan, jadi tidak selalu berguna dalam sihir.
Jika hanya untuk
satu serangan terakhir mungkin bisa, tapi sulit untuk digunakan secara rutin.
Tapi bagi tubuh
mana, mereka bisa memasukkan emosi secara langsung ke tubuh fisik, dan tensi
mereka akan mudah naik saat baku hantam. Kecocokannya memang luar biasa.
"──!?"
Namun karena itu
pula, ada kelemahannya yaitu jika terlalu bersemangat, seseorang akan
kehilangan kesadaran terhadap sekelilingnya.
Di kaki
Gluttony yang terkejut, tergeletak 'kulit' kosong milikku.
Aku
berpindah menggunakan teleportasi ruang dengan meninggalkan lapisan luar tubuh
manaku saja.
Kalau dia tenang,
dia pasti akan menyadarinya.
"Biasanya
kalau cuma meninggalkan kulit, sensasi hantamannya akan hilang dan lawan akan
sadar sih……"
"Seberapa
keras sih Lloyd-sama sampai kulitnya saja bisa menahan serangan sebrutal
itu?"
Kalian bicara apa
sih. Ini bahkan belum ada apa-apanya.
Aku yang
memegangi jari telunjukku ke atas membuat Gluttony melayang ke udara.
"Uwooh!?"
"Memukul
dengan emosi memang tidak buruk, tapi output segitu sih bisa dikeluarkan
dengan biasa saja sambil tetap tenang. ──Seperti ini."
Bersamaan dengan
sentikan jariku── bachiiiin! Terdengar suara dentuman keras dan Gluttony
terpental jauh.
Dia terhempas ke
tanah, dan benturannya menciptakan retakan tanah yang besar.
"Serangan
yang tidak kalah kuat dengan serangan Gluttony tadi…… padahal kau tidak
menggunakan sihir sama sekali? Apa yang kau lakukan, Lloyd!?"
"Cuma
fenomena fisika biasa, kok."
Yang melilit di
ujung jariku adalah benang transparan── tubuh mana yang ditipiskan dan dipintal
menjadi satu. Aku menyentaknya seperti busur panah dan menghantamkannya pada
Gluttony.
Ini yang disebut
tegangan. Teknik untuk menciptakan kekuatan besar dengan energi yang lebih
sedikit itu ada banyak sekali tanpa perlu bergantung pada emosi.
Misalnya seperti ini juga…… aku menarik benang itu untuk
mengangkat Gluttony dari lubang besar, lalu mulai memutarnya.
Saat dia berputar dengan kecepatan tinggi karena gaya
sentrifugal, aku menghantamkan War Hammer of Light yang kuciptakan
dengan tangan yang lain.
Seberapa pun besarnya ketahanan terhadap sihir suci, dia
tetap akan terluka jika dihantam secara paksa.
──Gushari, terdengar suara seperti sesuatu yang remuk
dan gerakan Gluttony terhenti.
"Masih
belum selesai, lho. Air Hole Fang: Gale."
Taring
dari Ki yang dilepaskan menembus Gluttony sambil berputar seperti
spiral.
Memanfaatkan
tubuh mana untuk memadatkan Ki hingga sepuluh kali lipat dari biasanya, Air
Hole Fang: Gale tidak kehilangan momentumnya meski telah mengenai sasaran
dan terus membawa Gluttony terseret jauh── hingga meledak di kejauhan.
"Gwaaaaaaaa!?"
"──Nah,
begitulah kira-kira. Bertarung dengan emosi memang tidak buruk untuk jangka
pendek, tapi cakupan berpikirmu jadi menyempit. Itulah kenapa kamu mudah
dijatuhkan dan dipermainkan di tempat yang tak terduga."
Seketika, aku
kehilangan ketenangan dan kemampuan untuk menganalisis.
Sambil
terus berbicara, aku mengangkat tangan kanan dan mulai membentuk tubuh mana.
Yang
kuciptakan kali ini adalah sebuah tongkat. Dengan kata lain, sebuah alat
penguat formula sihir. Aku langsung menggandakannya menjadi lima buah.
Soalnya,
tongkat yang tadi langsung hancur hanya dengan sekali tembak. Kalau sebanyak
ini, kurasa aku bisa melepaskan sihir tingkat tinggi.
Sihir api
tingkat teratas── Scorching Flame Fang.
Begitu
diaktifkan, pandanganku seketika berubah menjadi merah pekat. Semua tongkat itu
hancur berkeping-keping, dan api raksasa melahap segalanya.
"Panas,
panas, panasss! Tolong kecilkan apinya, Lloyd-sama! Aku bisa ikut terpanggang
di sini!"
"Jangkauan
serangannya terlalu luas! Seluruh area ini berubah menjadi lautan api!"
"Waduh,
sepertinya aku berlebihan."
Hmm, padahal aku
tidak menggunakan trik khusus apa pun, tapi kekuatannya benar-benar tidak masuk
akal.
Memang
benar-benar tidak bisa pakai tongkat, ya. Kekuatannya terlalu besar jadi sulit
digunakan. Aku pun merapal sihir sistem air untuk menurunkan hujan lebat guna
memadamkan apinya.
Di tengah kabut
asap hitam yang mulai menipis, sebuah bayangan tampak menggeliat.
"Haa, haa,
haa……"
Gluttony bangkit
berdiri sambil terengah-engah.
Meski sekujur
tubuhnya tampak hangus di sana-sini, tubuh mananya seolah hampir tidak terluka.
Sepertinya dia hanya syok secara mental.
"Berani sekali kau…… meremehkanku…… Tapi aku masih
punya banyak tenaga sisa. Pertarungan yang sesungguhnya baru dimulai sekarang.
Serangan tadi memang hebat, tapi kau pasti sudah kehabisan banyak mana setelah
menggunakan sihir selevel itu──"
Kata-kata
Gluttony terhenti saat matanya terbelalak karena terkejut.
Dia kehilangan
kata-kata saat menatap ke arahku. Di sekelilingku, telah melayang banyak sekali
sihir yang kusiapkan melalui formula sihir siaga, yang semuanya telah diperkuat
oleh tongkat.
"Tenang
saja. Yang tadi itu cuma pemanasan. Aku masih punya banyak tenaga sisa, kok.
……Ah, sekarang giliranmu ya? Ayo, ayo, kali ini seranglah aku dengan
sungguh-sungguh."
"Ti-Tidak
mungkin……! Jadi yang tadi itu bukan kekuatan penuhmu……?"
Entah apa yang
membuatnya begitu terkejut, tapi bukankah itu sudah jelas?
Soalnya, sedari
tadi aku baru menggunakan sihir-sihir dasar saja.
"Mustahil…… ini mustahil……!"
"? Apa yang kau bicarakan. Ayo cepat, tunjukkan
serangan seriusmu dengan kekuatan sejati. Jangan serangan payah yang cuma
mengandalkan emosi begitu, tapi berikan sesuatu yang lebih kreatif!"
Mendengar perkataanku, Beal menjawab dengan suara pedih.
"……Lloyd,
serangan tadi itu sudah pasti adalah kekuatan penuhnya. Jangan lupa, kau sudah
menjadi terlalu kuat berkat penyatuan denganku."
"Eh…… Benarkah begitu?"
Mendengar
pertanyaanku, Gluttony hanya bisa merengut.
Hmm,
sepertinya memang benar kalau yang tadi itu adalah kekuatan maksimalnya.
Kalau
memang begitu── Aku menatapnya dengan pandangan dingin sambil menghela napas.
"Haa, ya ampun…… Sepertinya daripada bertarung
denganmu, mengobrol dengan Holy King jauh lebih bermanfaat. Hei, bisa tidak
kalian bertukar tempat sekarang?"
"……Grrr! Kauuuu……!"
Wajah Gluttony berkerut karena amarah, dia hanya bisa
menggertakkan giginya.
◆
"Nuwaaaaaaa!"
Gluttony terus melancarkan serangan demi serangan dibarengi
raungan keras.
Namun, Lloyd menangkisnya dengan mudah dan melancarkan
serangan balik yang telak. Berkali-kali.
"Guh…… Kenapa! Kenapa perbedaan kekuatannya bisa sejauh ini……!"
Perbedaan jumlah
mana di antara mereka tidaklah sebesar itu. Justru mana milik Gluttony sedikit
lebih unggul.
Ditambah lagi,
karena dia menggunakan tubuh Holy King, dia hanya menerima kerusakan secara
tidak langsung.
Kerusakan pada
tubuh mananya seharusnya sangat minim. Harusnya begitu. Namun, situasi saat ini
benar-benar berat sebelah.
Berbagai
macam serangan yang dilepaskan Lloyd terus menghujamnya, mengikis satu per satu
nyawa yang telah ia kumpulkan dari sekian banyak penyatuan.
"Selama
nyawa terakhir yang ada di bagian terdalam tidak hilang, aku tidak akan mati,
tapi…… Sial, kalau terus begini……!"
Bahkan
nyawanya sendiri, yang tidak pernah terancam sekali pun selama ribuan tahun,
kini tidak lagi bisa dikatakan aman.
Sosok
yang memiliki nyawa yang hampir tak terbatas dan kekuatan yang hampir tak
terkalahkan itu, kini untuk pertama kalinya merasa terancam.
"Ayo,
bagaimana kalau yang ini?"
Kilauan mana yang
belum pernah dilihat sebelumnya terpancar dari tangan Lloyd.
Teknik pengusir
iblis, teknik yang menggunakan kekuatan Khayangan, ada berbagai macam sihir di
dunia ini, tapi yang satu ini benar-benar berbeda.
Mana
mungkin benda yang tidak masuk akal seperti ini bisa disebut sihir. Benda
ini sudah bukan lagi sihir. Ini sudah seperti……
"Nu…… ooooooo!"
Pelindung mana yang ia ciptakan dalam keputusasaan hancur
dengan mudah dan lenyap menjadi kabut.
Dinding mana yang dipadatkan secara ekstrem seharusnya
menjadi pertahanan terkuat karena kesederhanaannya, namun sihir yang dilepaskan
Lloyd mengabaikan hal itu sama sekali.
Bukan hanya kekuatannya yang tinggi, Lloyd seolah memaksa
lawannya untuk terus memutar otak.
Ia terpaksa menggunakan trik-trik kecil yang dulu sering ia
gunakan saat masih lemah dan kecil untuk bertahan hidup.
Pemusnahan timbal balik dengan serangan atribut berlawanan,
pembatalan dengan merusak formula sihir, penghilangan target dengan sihir
lenyap…… Namun, Lloyd justru menyeringai senang dan langsung merespons semua
cara itu.
Seolah-olah Lloyd berkata, "Ayo yang selanjutnya. Tunjukkan sesuatu yang baru
padaku."──
"Guh…… Apa pun yang kulakukan selalu bisa dia atasi……
Gawat kalau begini terus. Aku harus memikirkan sebuah rencana……"
Gluttony memutar otaknya. Berbagai ide muncul dan lenyap di
dalam benaknya.
Mustahil bisa
menang jika bertarung secara jujur. Tapi, memohon belas kasihan pun tidak akan
mempan.
Lloyd adalah
sosok kejam yang bahkan tidak mengubah ekspresi wajahnya saat menyerang dirinya
yang sudah menyerap Holy King yang merupakan temannya sendiri.
Namun, Gluttony
tidak menyerah.
Dulu saat ia
masih lemah dan kecil, ia terus bertahan hidup dengan mengamati gerak-gerik dan
tindakan orang kuat, menemukan kelemahan mereka, menjebak mereka, mengalahkan
mereka, atau melarikan diri hingga bisa mencapai posisinya sekarang.
"Pasti ada
petunjuk dari tindakan dan ucapannya…… Benar!"
Gluttony kembali
menghadap Lloyd untuk menjalankan rencana hebat yang baru saja ia pikirkan.
"……Kuku,
jujur saja aku sangat terkejut. Aku tidak menyangka ada manusia sepertimu di
dunia ini……"
"Oh, ada
apa? Akhirnya kamu
berhenti melarikan diri dan mau bertarung dengan serius?"
Gluttony
berteriak ke arah Lloyd yang sedang turun perlahan dari udara.
"Fuhahaha!
Luar biasa, wahai anak manusia! Kekuatanmu yang bahkan melampaui aku yang
seorang Dewa ini benar-benar membuatku kagum!"
"……Hah?"
Meskipun Lloyd
tampak bingung mendengarnya, Gluttony tetap melanjutkan bicaranya.
"Namun jika
kita terus bertarung, dunia ini sendiri akan berada dalam bahaya. Oleh karena
itu, sebagai tindakan kedewasaan, aku akan menyatakan kekalahanku untuk hari
ini."
"……Ngomong
apa sih kamu? Kamu itu bukan Dewa, tapi Raja Iblis Gluttony yang memakan Dewa
itu, kan?"
"Fuh, itu tadi cuma bercanda. Aku hanya mengikuti alur pembicaraan kalian saja.
Bisa dibilang itu cuma selingan. Sebenarnya aku adalah Dewa, persis seperti
yang kukatakan tadi."
──Tentu saja, itu
hanyalah kebohongan asal-asalan yang muncul karena dia sudah terdesak.
Itu adalah dusta
yang sangat mudah diketahui siapa pun, tapi Lloyd mendengarkannya dalam diam.
"……Kuku,
dugaanku tepat! Kalau dia punya rasa ingin tahu yang tinggi, dia pasti akan
mendengarkanku. Dan tentu saja, dia juga akan mendengarkan kata-kataku
selanjutnya……!"
Sambil menggumam
pelan, Gluttony melanjutkan perkataannya.
"Karena Dewa
tidak bisa mengabulkan permintaan manusia dengan mudah, maka ini bisa disebut
sebagai sebuah ujian. Dan kau berhasil melaluinya dengan gemilang. Maka, sesuai
keinginanmu, aku akan melepaskan Fusion ini."
"……Aku tidak
mengerti, tapi kamu bisa melepas Fusion-nya?"
──Aku menang,
Gluttony tersenyum penuh kemenangan dalam hati.
Sisanya, ia hanya
perlu bersilat lidah untuk membuat Lloyd lengah, lalu menghantamnya dengan
kekuatan penuh.
Dengan begitu,
bocah ini akan mati, dan hari-hari damai tanpa ancaman akan kembali
menyambutnya.
"……Ya, tentu
saja bisa. Kemarilah, mendekatlah padaku."
Lloyd mendekat
sesuai perintahnya.
Seketika itu
juga, Grim dan Jiriel melesat keluar dari tangannya.
"Jangan mau
ditipu, Lloyd-sama! Semua ucapannya itu omong kosong! Dia pasti berencana menyerang begitu Anda
lengah!"
"Benar,
Lloyd-sama! Dia berniat mengambil alih tubuh Anda saat Anda lengah karena
terbuai kata-katanya! Kita harus menghabisinya sekarang juga!"
"Entah kenapa…… kalau kalian berdua yang bilang,
rasanya jadi terdengar meyakinkan……"
""Glek!!!""
Kedua pelayan itu
terbungkam oleh kata-kata Lloyd.
Meski mereka
sudah memperingatkannya, sepertinya Lloyd tidak berniat mendengarkannya.
Sambil
memiringkan kepala, Lloyd berjalan mendekat hingga tepat di depan Gluttony.
Kukku, dia sempat merasa panik sesaat, tapi
ternyata bocah ini benar-benar bodoh.
"Lalu, apa
yang harus kulakukan?"
"Tutup
matamu, balikkan badanmu. Lalu, hilangkan mana yang menyelimuti tubuhmu."
"Begini?"
Lloyd
menghilangkan mana yang menyelimutinya sesuai perintah, lalu Gluttony
mengarahkan tangannya ke arah punggung Lloyd yang tanpa pertahanan.
"……Ya, bagus
sekali! Kuku, bagus, bagus, aku akan segera melepas Fusion-nya
sekarang."
Sambil
menyeringai licik, Gluttony memusatkan mana ke ujung jarinya.
Lebih kuat, lebih
tajam, sebuah serangan yang bahkan tidak akan sempat direspons── untuk
membunuh.
Ia menusukkan
jarinya yang telah dipenuhi mana ke arah tengkuk Lloyd yang terbuka lebar.
──Gushari,
suara sesuatu yang hancur itu berasal dari tangan Gluttony sendiri.
Ujung jari yang
seharusnya telah dialiri seluruh mananya patah berantakan, membengkok ke arah
yang tidak wajar di sana-sini.
"Apa……?"
Seharusnya itu
adalah serangan telak.
Dalam adu mana
murni tanpa teknik apa pun, seharusnya dialah yang menang karena memiliki total
mana yang lebih banyak.
Namun kenapa…… Di hadapan Gluttony yang terpaku lemas, Lloyd
menoleh dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Hm? Kok Fusion-nya belum lepas juga? Ayo
cepat."
Bahkan, Lloyd
sama sekali tidak peduli.
Bukan itu saja,
dia bahkan tidak menyadari kalau baru saja diserang.
Dan setelah
menyentuh kulitnya secara langsung, barulah Gluttony menyadari alasan kenapa
serangannya tadi tidak mempan.
──Di seluruh
tubuh mana milik Lloyd telah terukir formula sihir.
Darahnya,
dagingnya, tulangnya, semuanya. Hal itu menciptakan aliran mana dengan
kepadatan yang sangat-sangat tinggi.
Pantas saja
serangannya tidak mempan.
Jika mana milik
Gluttony diibaratkan seperti aliran air, maka mana milik Lloyd adalah magma
yang melelehkan batu. Seberapa pun terbukanya pertahanan Lloyd, Gluttony tidak
akan bisa memberikan pengaruh sedikit pun padanya.
Anggapannya bahwa
ia bisa bertarung seimbang hanyalah khayalan belaka.
Lloyd hanya
sedang bermain-main dengannya.
Lloyd sengaja
menggunakan pelindung dan sihir yang tidak berguna.
Karena jika
mereka bertarung dengan jujur, semuanya akan berakhir dalam sekejap, jadi dia
melakukannya agar pertarungan tidak cepat selesai.
Sulit dipercaya.
Benarkah ada manusia yang bisa melakukan hal seperti itu?
Jika memang ada,
adakah cara untuk mengalahkannya?
Adakah
kemungkinan untuk kabur?
──Sudah pasti, tidak ada.
"Tidaaaaaaaaak!"
Gluttony
melarikan diri sambil berteriak histeris. Namun, terdengar suara dari belakang
punggungnya.
"Hei,
ada apa? Tiba-tiba kabur begitu? Mau ke toilet?"
"Cih!
Matiaaaa kau!"
Serangan mana
yang dilepaskan dalam keputusasaan pun dibatalkan begitu saja tanpa perlu Lloyd
memasang posisi bertahan.
Dia tidak bisa
kabur. Melihat wajah Gluttony yang berkerut dalam keputusasaan, Lloyd
menepukkan kedua tangannya.
"Ah,
jangan-jangan yang tadi itu bohong ya?"
"……Sudah
jelas sekali, kan. Persis seperti kata aku, dia tidak lain adalah Raja Iblis
Gluttony. Yang tadi itu cuma akting karena dia sudah terdesak."
Mendengar teguran
Beal, Lloyd menggembungkan pipinya.
"Eeeh, lalu
kenapa tadi kamu tidak bilang apa-apa."
"Soalnya
meski aku melarangmu pun kamu pasti tidak akan dengar."
"……Yah,
karena ini Lloyd-sama, kupikir pasti akan baik-baik saja."
"……Kami
juga sebenarnya tidak terlalu…… gonyo-gonyo."
Melihat Grim
dan yang lain bergumam sendiri, Lloyd memiringkan kepalanya dengan heran.
Lalu, dia
mengucapkannya dengan nada yang terdengar membosankan.
"Yah,
sudahlah. Tidak masalah."
Mendengar
kata-kata yang dingin membeku itu, sekujur tubuh Gluttony seketika dibanjiri
keringat dingin.
Di saat yang
sama, ingatan saat ia masih lemah dan kecil dahulu mulai meluap kembali.
──Binatang
terkecil dan terlemah di dunia iblis. Corpse Rat.
Terlahir
sebagai yang paling lemah di antara kaumnya, ia selalu terancam bahaya sejak
saat ia dilahirkan.
Jatah
makanan dari induknya hampir selalu direbut oleh kakak-kakaknya, dan bahkan
setelah mandiri pun, ia selalu hidup dalam ketakutan jangan sampai dimangsa
oleh yang lebih kuat.
Hingga suatu
hari, dia bertemu dengan Raja Iblis saat itu.
"■■■■"
Dia tidak ingat
apa yang dikatakan padanya, dan saat itu dia pun belum punya kecerdasan untuk
memahaminya.
Namun, hanya rasa
takut akan kematian yang mutlak yang ia rasakan saat itulah yang terukir sangat
dalam di hatinya──
"Jadi
maksudmu itu adalah dia!? Dia punya kekuatan yang setara dengan 'Orang Itu'……
apakah perbedaannya sejauh itu!? ……Mustahil! Tidak mungkin hal itu bisa
terjadi!"
Badai mana
meledak bersamaan dengan raungannya.
Tak terhitung
banyaknya lingkaran sihir yang melayang di sekitar Lloyd, dan rentetan serangan
mana menghujannya tanpa henti.
Dododododododododo!
Pusaran ledakan
yang mengamuk, ledakan cahaya yang meletus, pilar cahaya warna-warni yang
membubung tinggi…… Namun, serangan yang telah menguras seluruh mananya itu
tetap saja tidak bisa melukai Lloyd sedikit pun.
"Cuma
segini?"
Sepasang mata
yang menatap Gluttony dengan wajah tenang sambil bergumam itu, tampak seperti
mata anak kecil yang polos namun kejam saat menatap mainan yang sudah tidak
menarik lagi baginya.
Sepasang mata itu
sama dengan mata tuannya, sosok yang paling ia cintai sekaligus paling ia
takuti, yang terkadang menunjukkannya.
"Sial! Sial!
Siaaaaalll! Kenapa di saat seperti ini aku malah teringat akan orang itu! Mana
mungkin bocah seperti ini sama dengan orang itu!"
Puluhan ribu
tahun yang lalu, di padang gurun dunia iblis, ia dipungut oleh mantan tuannya,
sang Raja Iblis Orisinal.
Kuat,
cerdas, cantik, dan yang terpenting adalah sangat mengerikan…… Dialah sosok
yang paling dicintai oleh Gluttony.
Dia ingin
menjadi seperti orang itu.
Bisa dibilang
semua teknik yang telah ia pelajari selama ini adalah untuk tujuan itu.
Dan kini, hasil
kerja kerasnya selama puluhan ribu tahun itu akan mekar setelah bertemu dengan
musuh terkuat yang belum pernah ia hadapi sebelumnya──
"Eh,
apa-apaan!? Tiba-tiba tubuhnya mulai bercahaya!?"
"Lu-Luapan
mana yang luar biasa! Jauh
lebih hebat dibanding yang tadi!"
Cahaya
itu menyelimuti tubuh Gluttony sambil mengeluarkan suara menderu yang
menggelegar.
Di tengah
badai yang mengamuk itu, sosok Gluttony mulai berubah.
"Ada apa
ini? Apa ini penguatan lewat emosi lagi? Kalau yang itu aku sudah pernah
lihat──"
Di atas kepala
Lloyd, tiba-tiba muncul lingkaran sihir raksasa dalam jumlah yang tak
terhitung.
Seketika itu
juga, zudodododododon! sekumpulan sihir menghujam ke bawah.
Api, es, petir,
semuanya bercampur menjadi satu gumpalan yang menindih Lloyd. Terus
menindihnya.
Sihir itu bahkan
menembus awan Khayangan dan melubangi tanah, namun serangan itu terus saja
terwujud.
Baik kualitas
maupun kuantitasnya, serangan ini benar-benar berbeda dengan serangan mana yang
tadi.
Serangan beruntun
dengan kepadatan tinggi yang terpusat di satu titik itu tampak seperti pilar
cahaya raksasa yang seolah sedang menopang langit dan bumi.
Meskipun telah
melepaskan serangan sedahsyat itu, Gluttony bukannya kehabisan tenaga, ia
justru merasa kekuatannya semakin meluap-luap.
"──Ah, kalau
tidak salah, begitulah wujud tuanku."
Badai mana
berhenti, dan Gluttony muncul dari baliknya.
Gluttony menatap
sosoknya sendiri dengan perasaan rindu.
Wujudnya sekarang
sudah sangat jauh berbeda dari yang tadi.
Rambut hitam
pekatnya yang panjang terurai, dan di sisi kanan-kiri kepalanya terdapat tanduk
yang tumbuh dengan mengerikan.
Mata
merah delima yang tajam dengan bibir yang dipoles pemerah hitam. Kulit putih
bersih yang tampak tidak seperti manusia.
Meski
penampilannya menyerupai wanita cantik yang menawan, namun hanya tangan kirinya
saja yang berwarna hitam pekat dan mengerikan.
Itulah
wujud tuan yang dulu pernah ditemui oleh Gluttony.
Wanita
itu memungutnya hanya karena iseng, memberinya nama Gluttony, dan menyayanginya
sebagai hewan peliharaan.
Untuk
pertama kalinya, Gluttony mendapatkan kehidupan tenang tanpa ancaman musuh dari
luar, dan perlahan-lahan ia mulai mendapatkan kekuatan di bawah perlindungan
tuannya itu.
Dari
seekor binatang biasa menjadi monster, iblis rendah, lalu menjadi iblis tingkat
tinggi.
Setelah
menghabiskan ribuan tahun sebagai bawahan para Raja Iblis yang silih berganti,
ia pun mendapatkan kekuatan yang jauh lebih besar hingga akhirnya ia sendiri
menjadi seorang Raja Iblis.
Alasan
Gluttony bisa mencapai posisinya sekarang adalah untuk melarikan diri dari rasa
takut akan kematian yang mutlak yang telah terukir di hatinya saat itu.
Melalui
emosi yang terpanggil kembali itu, kini ia berubah menjadi sosok yang paling ia
cintai sekaligus ia takuti. Yaitu sang Raja Iblis Orisinal, Beelzebub──
"A-Apa-apaan
jumlah mana yang gila ini……! Ti-Tidak bisa dipercaya! Padahal mana yang dia
keluarkan tadi saja sudah mengerikan……!"
"Ya, ini
mustahil tapi kekuatannya jauh melampaui Beal! Rasanya seperti kumpulan para
Raja Iblis yang disatukan! Inilah sang Raja Iblis Orisinal yang disebut-sebut
sebagai yang terkuat……!"
"……Tentu
saja. Tidak ada sosok yang bisa melampaui Beelzebub. Sosok yang paling pantas
disebut sebagai Raja Iblis hanyalah dia seorang. Sosok lain, termasuk aku
sendiri, hanyalah tiruan belaka."
Gluttony
menertawakan ucapan Grim dan yang lain sambil merendahkan dirinya sendiri,
namun wajahnya tampak begitu bahagia.
"Pertama-tama,
aku ingin berterima kasih karena kau sudah membuatku teringat akan sosok
tuanku. Bagaimanapun juga, kami sudah terpisah karena maut selama lebih dari
sepuluh ribu tahun. Ingatanku tentangnya bahkan sudah mulai memudar.
……Kekuatan yang mutlak, rasa takut, kharisma, dan yang terpenting adalah sifat
kekerasannya…… Aneh rasanya kenapa
aku bisa melupakan semua itu sampai sekarang. ……Fufu, lihatlah. Hanya
dengan memikirkan orang itu saja…… Fufu, tanganku sampai gemetar……!"
Persis seperti kata-katanya, ujung jari Gluttony tampak
bergetar hebat.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat seolah ingin menghentikan
getaran itu secara paksa. Darah sampai menetes dari kepalan tangannya.
"Namun, aku tidak menyangka manusia yang lemah bisa
melahirkan monster sepertimu. Aku
menyerahkan pengelolaannya pada Holy King, tapi sepertinya aku masih terlalu
lunak. Mulai sekarang, aku akan mengelola seluruh kehidupan di dunia ini, dan
membasmi siapa pun yang berpotensi mengancamku selagi mereka masih tunas. Semua
makhluk yang hidup di bumi ini akan kukelola layaknya peternak sapi, melakukan
produksi secara terencana, dan melenyapkan mereka yang tidak sesuai standar.
Dengan begitu, dunia ideal yang tidak akan pernah diancam oleh rasa takut akan
terwujud. Bagi manusia pun, dunia damai tanpa peperangan akan tercipta. Bukan
hal yang buruk, kan? Fufu…… hahahahahaha──"
"Itu sangat merepotkan."
Sebuah suara gumaman terdengar di tengah pilar yang menembus
langit dan bumi itu, membuat Gluttony berhenti tertawa.
Pilar itu
mulai berderit keras dan terbelah secara vertikal.
Bakiii! Lloyd muncul dari dalam pilar
yang hancur terbelah dua itu.
"Melenyapkan
potensi selagi masih tunas? Mengelola secara ketat dan melenyapkan mereka yang tidak sesuai
standar? ……Hei, kalau kamu
melakukan hal itu, bukankah dunianya akan jadi membosankan?"
"A-Apa
katamu……?"
Lloyd
mengacungkan jari telunjuknya ke arah Gluttony yang terpaku.
Bola mana yang
ada di ujung jarinya menyerap serpihan pilar yang hancur tadi dengan kecepatan
yang luar biasa.
"Justru
karena ada orang-orang aneh, berbagai tantangan baru tercipta, dan segala macam
perkembangan pun terjadi. Jika ada pertikaian atau peperangan, perkembangan itu
akan semakin cepat. Dengan
saling bersaing dan mengasah diri, manusia dan dunia ini akan terus berkembang.
Sama seperti kakak-kakak aku."
"Ti-Tidak
mungkin……!"
Pilar
yang tadi menembus langit kini hampir lenyap seluruhnya.
Apa yang
sebenarnya terjadi? Mustahil. Itu seharusnya adalah serangan terkuat miliknya.
Tidak ada tubuh mana pun yang seharusnya bisa menahannya. Harusnya begitu.
Namun kenapa……
Luapan mana yang
tadi berpusar di ujung jari Lloyd entah sejak kapan telah menghilang, dan kini
berganti menjadi kegelapan yang pekat.
"Dan aku
berencana memanfaatkan semua itu untuk sihirku. Jadi, maaf saja. Aku menolak
dunia idealmu itu."
Saat menggumamkan
itu, mata Lloyd memiliki warna yang sama dengan kegelapan yang mengerikan itu.
◆
"Huun,
sepertinya ini mulai sedikit menarik."
Jumlah dan
kepadatan mana milik Gluttony yang telah berubah ini jauh lebih tinggi
dibanding yang tadi.
Sempat terlintas
di pikiranku kalau ini hanyalah trik sederhana berupa penguatan lewat luapan
emosi, namun sepertinya emosi itu jauh lebih dalam dari yang kubayangkan.
Melihat dari
ucapan dan tindakannya, sepertinya wujudnya sekarang sama dengan mantan tuannya
dulu……
"Hei Beal,
apa kau tahu sesuatu?"
"Umu.
──Gluttony awalnya hanyalah seekor binatang kecil, namun ia bisa menjadi
seperti sekarang berkat dipungut oleh Raja Iblis saat itu. Tuannya adalah sang
Raja Iblis Orisinal, Beelzebub, yang katanya adalah pencipta sihir kuno."
"Hohoho…… itu sangat menarik."
Sihir kuno adalah sihir yang hanya mengandalkan otot karena
sangat mementingkan kekuatan dan efisiensi dalam menyerang.
Namun, pada serangannya yang merupakan asal-usul dari sihir
itu, meski banyak bagian yang terbuang percuma, aku bisa merasakan keberagaman
yang mendekati sihir modern.
"Tapi,
sayang sekali isinya adalah kamu. Serangan tuanmu itu, apa kamu bisa menirunya
dengan benar?"
"……Cih,
jangan sombong hanya karena kau bisa menahan satu serangan tadi……! Tuanku
adalah yang terkuat!"
Gluttony
mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit, dan seketika langit pun
berubah menjadi hitam pekat.
Dari sana, ribuan
cahaya tercipta dan menghujam ke arahku.
"Meteor
Shower."
Meski aku tidak
bisa mendengar ucapannya dengan jelas, namun melihat dari formula sihirnya,
sepertinya ini adalah sejenis sihir hujan bintang.
Aku akan
mengambil yang satu ini juga. Yang kukeluarkan dengan formula sihir kecepatan
tinggi adalah sihir anti-penyihir── Magic Absorption.
Bola mana
hitam yang tercipta di ujung jariku menyerap semua bintang yang berjatuhan.
Ini
adalah formula sihir yang dulu pernah kuukir pada pedang sihir milikku, yang
berfungsi untuk menyerap dan menyimpan sihir yang disentuhnya.
"Kecepatan
pengaktifan formula sihirnya benar-benar tidak masuk akal seperti biasanya.
Padahal aslinya formula sihir Magic Absorption itu lambat sekali, tapi
dia bisa mengaktifkannya dalam sekejap."
"Lloyd-sama
yang dalam wujud tubuh mana telah menanamkan tak terhitung banyaknya formula
sihir di dalam tubuhnya, sehingga dia bisa mengaktifkan sihir apa pun secara
maksimal kapan saja. Sihir yang tadi pun semuanya sudah dia serap."
Persis
seperti kata Grim dan Jiriel, karena aku yang sekarang menanamkan banyak sekali
formula sihir di dalam tubuh mana ini, aku bisa langsung melepaskan sihir yang
aslinya sangat lambat seperti Magic Absorption.
Yah,
karena pada dasarnya ini adalah untuk analisis, cara penggunaannya agak sulit,
dan bagian yang tidak bisa terserap sepenuhnya harus kutahan dengan pelindung
mana.
"Mustahil……!
Itu adalah sihir terkuat milik tuanku……! Kamu bisa membatalkannya dengan
semudah itu……?"
Dia
menggumamkan sesuatu, tapi aku sedang sibuk menganalisis formula sihirnya.
"……Hou, hou, formula sihirnya cukup unik. Aku bisa
melihat jejak-jejak dari berbagai percobaan di sana. Tuanmu itu benar-benar
penyihir yang hebat, ya."
"Gwaaaaaaa! Lava Flow!"
Tanah terbelah, dan lava merah panas yang menyembur dari
sana menyerangku.
Wah, wah, kalau menyebar seluas ini, akan sulit untuk
menyerapnya dengan Magic Absorption.
Kalau begitu, aku memperluas jangkauan efek Magic
Absorption-ku, lalu mengaktifkan teleportasi ruang secara beruntun untuk
menyerap semua aliran lavanya. Bagaimanapun juga, semakin banyak sampel akan
semakin baik.
Hmm, hmm, dia melakukan intervensi langsung pada tanah dan
menghantamkan lava yang dia serap, ya.
Sepertinya dia memicu bencana alam dengan menstimulasi
lingkungan menggunakan mana miliknya.
"■Great Tornado■."
Aku membiarkan tubuhku terbawa oleh tornado yang tercipta
sambil tetap menyerapnya.
Begitu formula sihirnya terserap, angin kencang yang
mengamuk itu pun berubah menjadi angin sepoi-sepoi biasa.
"■Blizzard■."
Hujan salju yang mengguyur pun kuhisap tanpa ragu.
Karena tidak semuanya bisa kuhisap habis, aku membentangkan Magic
Barrier dalam jangkauan luas untuk mengarahkan aliran sihirnya sambil terus
menyerapnya.
"■Scorching Heat Wave■."
Hawa panas yang seolah sanggup mendistorsi daratan itu pun
tak berpengaruh bagiku.
Magic Absorption milikku sanggup menyerap dan
menetralkan segala jenis fenomena sihir.
"Padahal menahan serangan seluas ini dengan Magic
Absorption saja sudah luar biasa, tapi dia masih bisa menggunakan Spatial
Teleportation yang sulit dikendalikan itu secara bersamaan…… Apakah seluruh
tubuh yang terukir formula sihir memang semengerikan ini?"
"Meski
kelihatannya begitu, ini tidak mudah, lho."
Sihir yang sulit
digunakan seperti Spatial Teleportation atau Magic Absorption
membutuhkan pengaktifan formula sihir dalam jumlah besar di dalam tubuh, jadi
aku tidak bisa menggunakannya terlalu banyak secara bersamaan.
Paling banyak,
sepuluh buah adalah batasnya. Mungkin.
……Entah kenapa Grim
dan yang lain menatapku dengan tatapan sinis, tapi mungkin itu cuma perasaanku
saja.
"Daripada
itu, mumpung sudah selesai menganalisisnya, bagaimana kalau aku mencoba
menggunakannya juga?"
Begitu aku
menengadahkan tangan, sebuah buku muncul.
Saat kubuka, di
atas garis paranada itu tampak deretan not balok yang terukir rapat.
Ini adalah
lembaran musik. Sebuah bongkahan mana berbentuk buku yang kuciptakan sebagai
perpanjangan dari tubuh manaku.
Awalnya,
penyerapan sihir melalui Magic Absorption membutuhkan formula sihir yang
rumit dan panjang, namun dengan menerapkan Magic Song──rantai sihir tak
terbatas──yang kudapatkan di konser tempo hari, aku berhasil menciptakan
kapasitas yang berkali-kali lipat lebih besar dari aslinya.
Berkat itu, jika
sebelumnya aku harus mengukir formula berlapis-lapis hanya untuk menyerap sihir
tingkat tinggi, sekarang sihir tak masuk akal seperti tadi pun bisa kutampung
semuanya di sini.
"Uoooooooo!"
Sambil menahan
serangan yang terus menghujam menggunakan Magic Barrier, aku membalik
halaman buku itu dengan cepat.
Dulu aku tidak
tertarik pada lembaran musik, tapi berkat pengalaman menciptakan lagu, aku jadi
bisa melakukan hal seperti ini.
Memang benar,
pada akhirnya segalanya bermuara pada sihir. Ya, ya.
Dan…… hmm. Jadi
ini formula sihir kuno yang diciptakan sang Raja Iblis Orisinal, ya.
Dilihat dari
efeknya yang menjangkau area sangat luas, sihir ini mirip dengan sihir skala
besar, tapi yang satu ini terasa lebih kasar dan kuat.
Contohnya dalam
sihir hujan bintang, Celestial Impact akan menjatuhkan bintang yang
ditargetkan, tapi sihir tadi menggunakan mana dalam jumlah besar untuk memaksa
bintang-bintang di langit jatuh secara acak.
Karena itulah,
targetnya tidak bisa ditentukan secara mendetail dan ukurannya pun
berbeda-beda.
Namun,
kekuatan dan jangkauan efeknya benar-benar tidak tertandingi.
Ini
terjadi karena jika sihir biasa menciptakan fenomena fisik melalui mana, sihir
ini adalah formula yang bekerja langsung pada sistem dunia itu sendiri.
Benar-benar
formula sihir yang gagah dan sangat khas seorang Raja Iblis.
Coba kulihat,
mari kita coba juga. Hmm…… mungkin begini caranya?
Begitu aku mengangkat ujung jariku sedikit, pemandangan di
sekitar seketika berputar.
Sesaat kemudian, dogagagagan! Suara dentuman dahsyat
terdengar bertubi-tubi, dan sosok Gluttony pun lenyap.
Di tempat dia berdiri tadi, kini muncul sebuah gunung tinggi
yang menjulang, dan dari bagian tengahnya mengepul debu tanah yang sangat
tebal.
"Itu adalah Gunung Moriranma, gunung tertinggi di
dunia, lho."
"Tapi gunung itu seharusnya berada di benua yang sangat
jauh dari Saloum. Kenapa tiba-tiba ada di tempat seperti ini……?"
"Tadi telingaku sempat berdenging hebat…… Sebenarnya
apa yang baru saja kau lakukan, Lloyd?"
Di tengah kebingungan Grim dan yang lain, Gluttony merangkak
keluar dari lubang dengan gontai.
"Ka-Kau…… yang tadi itu, jangan-jangan……!"
"Fufufu, mumpung bisa digerakkan, bukankah lebih baik
menggerakkan sesuatu yang besar? Nah, mari kita lanjut ke yang
berikutnya."
Begitu aku memutar jariku, pemandangan kembali berubah
seketika.
Kali ini di dalam laut. Aku yang sudah memasang Magic
Barrier terlebih dahulu tidak masalah, tapi Gluttony yang tiba-tiba
terlempar ke dalam air tampak terkejut hingga matanya membelalak.
"~~~!!??"
"Selanjutnya."
Saat aku memutar jari lagi, yang muncul berikutnya adalah
gunung berapi yang sedang meletus.
Gluttony terjun tepat ke dalam lava yang mendidih, dan
dampaknya memicu ledakan besar yang spektakuler.
"Selanjutnya."
Begitu jari
kuputar lagi, kali ini adalah hutan belantara biasa.
Saat Gluttony
yang terlempar ke sana sedang terengah-engah, bumi mulai bergetar.
Yang muncul
adalah sekawanan binatang raksasa. Mereka menginjak-injak Gluttony hingga
hancur sambil menimbulkan kepulan debu tanah yang tebal.
"Lanjut,
lanjut, lanjut, lanjut──"
Setiap kali aku
memutar jari, pemandangan terus berganti satu demi satu.
"A-Aku tahu
sekarang! Lloyd, apa yang kau lakukan ini benar-benar gila! Keterlaluan……
ini benar-benar keterlaluan!"
Beal memasang wajah seolah tidak percaya, namun Grim dan Jiriel
hanya bisa memiringkan kepala.
"……Oi, apa
kau paham apa yang sedang dia lakukan, malaikat sialan?"
"……Mana
mungkin aku paham. Bisa tolong beritahu kami, Lloyd-sama?"
Hmm, yah, sihir
ini memang memiliki skala yang 'sedikit' lebih besar dari sihir biasa. Kalian
mungkin sulit menyadarinya jika tetap berada di sini.
Agar lebih mudah
dipahami, mari kita naik sedikit ke atas. Begitu aku mengangkat jariku lurus ke
atas, pandangan kami seketika berubah menjadi gelap.
Di bawah kaki
kami, mengapung sebuah bola raksasa yang bersinar biru.
"Ini jangan-jangan…… dunia ini……?"
"Ja-Jadi
begitu! Lloyd-sama menggerakkan daratan itu sendiri……!"
"Ya, aku
tadi menggerakkannya."
Benar, aku
menggerakkan daratan ini secara langsung dengan manipulasi lingkungan melalui
formula sihir Raja Iblis.
Dengan
memutarnya, aku bisa berpindah secara fisik ke berbagai tempat, dan jika
menjauh sedikit, aku bisa melihatnya dari atas seperti ini.
Mungkin
aku bisa menamainya Star Movement.
"Oi,
oi, oi, aku tahu ada yang namanya sihir sistem bintang dan memang mungkin untuk
berinteraksi dengan bintang itu sendiri…… tapi apa kau tahu seberapa besar
daratan ini!?"
"Gluttony,
bahkan sang Raja Iblis Orisinal yang dulu menjadi tuannya saja paling-paling
hanya bisa memanipulasi daratan ini untuk menciptakan tornado atau letusan
gunung berapi, tapi Lloyd-sama malah menggerakkan seluruh bintang ini sesuka
hati…… bahkan kata 'luar
biasa' pun rasanya sudah tidak cukup lagi."
"Yah, itu
sih sudah biasa, tapi sampai ke level ini rasanya aku sendiri pun jadi ngeri.
Aku mohon, jangan sampai kau menghancurkan bintang ini ya. Meski kalau pun
hancur, Lloyd sepertinya bakal bisa langsung memperbaikinya sih……"
Grim dan
yang lain sibuk bergumam, tapi aku sendiri mulai merasa agak sesak napas.
Dulu aku
juga pernah naik sampai ke ketinggian ini, tapi jika terlalu jauh dari daratan,
bernapas jadi terasa sulit.
Leluhur
para penyihir, William Bordeaux, juga menulis dalam bukunya bahwa manusia tidak
bisa hidup tanpa daratan, jadi mungkin tidak baik jika memperlakukannya terlalu
kasar. ……Mari kembalikan ke
semula.
Aku memutar
jariku, dan mengembalikan bintang itu ke posisi awalnya.
◆
Dunia
berputar. Berputar. Diputar-putar.
Jangankan
membedakan atas dan bawah, ia bahkan tidak tahu lagi sedang berada di mana.
Dimulai
dari padang gurun, pegunungan tinggi, lembah, hutan, padang pasir, lava, dasar
laut, hingga angkasa yang sangat jauh……
Bahkan
untuk sekadar memperbaiki posisinya pun tidak diizinkan, Gluttony hanya bisa
pasrah membiarkan dirinya dipermainkan.
Bagaikan
sebuah mainan yang ditangkap dan diutak-atik oleh anak kecil yang polos.
Namun, di
tengah perasaan diperlakukan sesuka hati itu, Gluttony merasakan suatu
kerinduan yang entah datang dari mana.
Di tengah
kesadarannya yang mulai memudar, ia teringat kembali saat pertama kali dipungut
oleh mantan tuannya, sang Raja Iblis Orisinal, Beelzebub.
Saat itu,
Gluttony benar-benar menjadi mainan wanita itu, dipermainkan sesuka hati,
bahkan pengalaman hampir mati pun sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
Namun,
meski diperlakukan seperti itu, dia tidak merasa tidak bahagia.
Saat
masih menjadi Corpse Rat, Gluttony hanya dipandang sebagai objek penghinaan
atau mangsa bahkan oleh orang tua dan saudara-saudaranya sendiri.
Baginya,
itu adalah pertama kalinya ia menerima perasaan yang mendekati kasih sayang,
meskipun dalam bentuk yang menyimpang.
"Ngomong-ngomong,
sudah berapa lama ya aku tidak ditatap dengan pandangan yang begitu polos
seperti ini……"
Kalau
dipikir-pikir, sejak berpisah karena maut dengan Beelzebub, rasanya ia selalu
hidup dalam ketakutan akan ancaman di sekitarnya.
Saat
menjadi bawahan seseorang, ia takut pada tuan baru atau rekan kerja yang jauh
lebih kuat darinya. Setelah
menjadi Raja Iblis, ia takut akan kemunculan musuh baru. Bahkan setelah menjadi
Dewa pun, tidak ada waktu baginya untuk beristirahat dengan tenang.
Sosok Gluttony
yang sekarang justru menunjukkan wajah yang begitu damai dan tanpa pertahanan.
Perbedaan
kekuatan yang membuat pertarungan terasa konyol, kekuatan mutlak yang bahkan
tidak menganggapnya sebagai musuh, dipermainkan oleh sosok kuat yang
absolut──itu sudah lebih dari cukup untuk menurunkannya dari panggung
'kekuatan' yang selama ini ia perjuangkan mati-matian.
Tanpa disadari,
Gluttony memasang senyum lembut seolah beban berat telah terangkat dari
pundaknya.
"Tuan…… ku……"
Bagaikan bayi yang terbuai dalam ayunan, ia pun kehilangan
kesadarannya dengan wajah yang damai.
◆
"……Eh? Ke
mana perginya si Gluttony itu?"
Karena aku sudah
mengembalikan daratan ini ke posisi semula, dia seharusnya ada di sekitar
sini…… tapi aku tidak
merasakan reaksi apa pun yang mirip dengannya.
Kira-kira dia
pergi ke mana, ya? Saat sedang memikirkan itu, aku melihat seekor tikus kecil
yang sedang duduk tenang.
"Cit?"
Tikus itu menoleh
ke sana kemari, lalu begitu melihat kami, ia langsung bersembunyi di balik
bayangan dengan sangat cepat.
Setelah mengamati
keadaan kami sejenak, ia langsung lari pergi ke suatu tempat.
"……Kenapa
ada tikus di padang gurun yang gersang begini, ya?"
"Entahlah,
tikus kan memang ada di mana-mana."
Padahal ini
padang gurun yang tidak ada air maupun makanan.
Apa mungkin dia
tadi ikut tergali keluar dari bawah tanah? Kalau benar begitu, mungkin aku
sudah melakukan hal yang buruk padanya.
"Oh,
Holy King tergeletak di sana."
"Oh
iya, tadi di tengah pertarungan dia sempat dimuntahkan oleh Gluttony.
Sepertinya dia masih bernapas."
Karena
bakal merepotkan kalau dia mati, sebaiknya kugunakan sihir penyembuhan saja
dulu.
Tapi
kalau dilihat-lihat, dia cuma sedang pusing saja dan sepertinya tidak ada luka
serius.
Yah,
kalau tidak setangguh itu, mungkin memang sulit untuk menyuarakan perdamaian di
dunia yang berbahaya ini.
"Daripada
itu, kita harus mencari Gluttony. Sangat berbahaya membiarkan monster seperti itu berkeliaran."
"Yah,
padahal ada monster yang lebih mengerikan yang sedang berkeliaran bebas di
sini…… mu."
Tepat
saat Beal hampir mengatakan sesuatu yang tidak sopan, terjadilah sesuatu.
Langit
yang tadi tertutup awan hitam tiba-tiba memancarkan cahaya yang menyilaukan.
"Hal
itu tidak perlu dilakukan."
Terdengar
sebuah suara dari langit. Suara yang rasanya pernah kudengar di suatu tempat……
"Gluttony
telah kembali ke roda reinkarnasi. Andaipun dia bangkit kembali, butuh waktu
yang sangat lama hingga ia bisa mendapatkan kekuatan sebesar itu lagi. Dunia
telah terselamatkan."
"……Anda
siapa?"
"Tentu saja,
aku akan memperkenalkan diri. ──Mari, datanglah ke sini."
Bersamaan dengan
kata-kata itu, tubuhku diselimuti oleh cahaya.
Begitu saja, aku
terbawa ke angkasa, menuju Khayangan yang ada di atas sana.
──Tempat yang
kupijak adalah sebuah ruang yang serba putih.
Tempat yang sama
saat pertama kali aku bertemu dengan Dewa yang menyamar sebagai Gluttony.
Namun, berbeda
dengan sebelumnya, tidak ada lagi perasaan janggal seolah ada sesuatu yang
disembunyikan.
Sebaliknya, aku
merasakan kesegaran dan kemurnian.
Dan satu
perbedaan besar lainnya adalah cadar yang dulu melayang di tengah ruangan sudah
tidak ada, dan kini digantikan oleh sebuah kursi panjang.
Yang sedang duduk
di sana adalah pria tua yang baru saja berpisah denganku belum lama ini── Ligo.
"Ligo?
Oh iya, tadi memang ada orang seperti ini ya. Aku benar-benar lupa."
"Tadi
situasinya memang sedang tidak memungkinkan. Tapi kenapa orang ini ada di sini……?"
Di saat Grim dan Jiriel
menyuarakan kebingungan mereka, Ligo bertepuk tangan perlahan.
"Hai,
Lloyd-kun. Pertama-tama, izinkan aku mengucapkan terima kasih. Benar-benar perbuatan yang tidak
masuk akal bagi seorang manusia…… uhuk, uhuk. Maksudku, kerja yang
sangat luar biasa. Aku benar-benar berterima kasih."
"Apa
maksudnya ini? Coba jelaskan dari awal."
"Ah, benar
juga, maafkan aku. Mari kita mulai dari perkenalan diri. Aku adalah, ya, sosok
yang biasa disebut sebagai Dewa."
Sambil
memperkenalkan diri sebagai Dewa, Ligo mulai bercerita.
"Kalau tidak salah…… hmm, sekitar sepuluh ribu tahun
yang lalu ya. Gluttony yang telah menjadi Raja Iblis terus bertambah kuat
hingga pihak Khayangan pun tidak sanggup menanganinya. Aku pergi untuk
bertarung dengannya, namun aku kalah telak dan posisiku sebagai Dewa direbut──
kau sudah dengar cerita itu darinya, kan?"
Aku mengangguk. Suara Ligo terasa memiliki kejujuran yang
membuatnya mustahil untuk dianggap bohong.
Perasaan di mana kata-katanya sendiri memiliki kekuatan,
sesuatu yang mirip dengan Magic Song milik Holy King…… dengan kata lain,
ini bisa disebut sebagai bukti sosok Dewa.
Sekarang aku
sedikit paham kenapa waktu itu Holy King percaya begitu saja pada kata-kata
Ligo tanpa syarat.
Yah, aku boleh
menganggapnya sebagai sosok yang asli. Lagipula kalau ternyata bukan, aku
tinggal menghajarnya saja.
"Wajahmu
sepertinya sedang memikirkan hal yang cukup berbahaya ya…… ehem. Jadi,
Gluttony yang berhasil mengalahkanku menganggapku masih memiliki nilai guna.
Aku tidak dibunuh, melainkan kekuatanku dirampas dan aku dikurung. Sisanya
seperti yang kalian ketahui sendiri."
"Ngomong-ngomong
Dewa-sama, waktu aku sedang menaiki tangga tiba-tiba saja Anda menghilang, Anda
pergi ke mana?"
Mendengar
pertanyaan Holy King yang baru saja bangun, sang Dewa menggaruk pipinya dengan
canggung.
"Sebenarnya
aku tahu kalau naik ke atas itu cuma sia-sia, jadi aku memutuskan untuk
memisahkan diri di tengah jalan. Bagi orang tua sepertiku, menaiki tangga itu
sangat berat."
"Ooooooi!
Dewa-sama, bukankah Anda terlalu tidak punya perasaan!?"
"Iya-hahaha.
Maaf, maaf."
Holy King
langsung melayangkan protes, tapi sang Dewa sepertinya tidak keberatan.
Meski secara
hasil, berkat itulah dia terhindar dari kontak dengan Gluttony.
Mungkin karena
pernah dikurung sekali, dia jadi sangat waspada.
"Tapi Dewa
yang satu ini santai sekali, ya. Sama seperti saat dia menjadi Ligo."
"Mungkin memang sudah sifat aslinya. Pantas saja dia kalah dari Gluttony."
Grim dan yang
lain pun tampak heran.
Yah, sosok Dewa
memang sebaiknya santai seperti itu. Akan merepotkan kalau sosok yang menjabat
adalah orang yang terlalu kaku dan mencampuri segala hal.
Lagipula,
masyarakat terkelola yang menyingkirkan orang-orang berbahaya seperti yang
dikatakan Gluttony tadi benar-benar mustahil untuk diterima.
Apalagi, sangat
disayangkan jika potensi orang-orang menarik harus dipangkas selagi mereka
masih berupa tunas.
"Bagaimanapun
juga, aku harus memberikan hadiah bagi Lloyd-kun yang telah
menyelamatkanku──dan juga menyelamatkan Khayangan. ……Permisi sebentar ya."
Sang Dewa
berjalan mendekat perlahan, lalu menempelkan jarinya ke dahiku.
Saat ujung
jarinya bersentuhan, terdengar suara letupan kecil dan pandanganku pun berubah
menjadi putih.
◆
"……Tuan? Lloyd-sama!?"
Begitu aku
membuka mata karena mendengar suara yang sangat kukenal, aku sudah berada di
kamarku sendiri.
Tepat saat aku
mencoba mendudukkan diri.
"Lloydddddd-sama!"
"Mugyu!?"
Sylpha langsung
memelukku dan mendorongku kembali ke atas tempat tidur.
A-Ada apa ini.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Hmph, akhirnya kau sadar juga."
Beal yang berada
di dalam Connie menyapaku melalui pesan mental.
"Kami sangat
khawatir, Lloyd-sama. Soalnya
Anda tidak kunjung bangun."
"Iya,
tapi syukurlah. Akhirnya Anda bisa kembali ke wujud semula."
Grim dan Jiriel
yang berada di kedua telapak tanganku pun ikut menimpali.
Di
hadapanku, Sylpha sedang menindih dan memelukku erat-erat, sementara Ren tampak
merasa bersalah karena mungkin ia merasa tidak berdaya untuk menghentikannya.
……Ah,
benar juga. Fusion dengan Beal sudah lepas, dan aku sudah kembali ke
tubuh asliku.
Aku
sempat benar-benar lupa, tapi tujuanku ke Khayangan memang untuk urusan itu,
kan? Sepertinya Sang Dewa sudah mengabulkan keinginan tersebut.
"Apa
begini sudah cukup? Lloyd-kun."
"Ya, terima
kasih bantuannya."
Aku mengangguk
menanggapi suara Sang Dewa yang bergema di dalam kepalaku.
Jujur saja, aku
sempat bingung apa yang harus kulakukan kalau selamanya tidak bisa kembali ke
wujud semula.
Memang
tubuh sendiri adalah yang terbaik. Wujud tubuh mana itu rasanya terlalu kuat
sampai membuatku tidak tenang.
"Fumu,
meski begitu, rasanya sayang sekali. Kekuatan yang kau dapatkan dari Fusion
itu benar-benar melampaui Dewa. Sebagai sesama pencinta sihir, bukankah kau merasa itu sebuah
pemborosan?"
"Sama sekali
tidak."
Aku menjawabnya
dengan tegas. Lagipula, aku memang tidak tertarik pada hal-hal seperti
kekuatan.
Memang benar,
bisa mengendalikan tubuh mana secara langsung adalah pengalaman yang cukup
menyenangkan, tapi rasanya terlalu melayang-layang dan membuatku gelisah.
Lagipula, itu kan
tubuh orang lain. Meski ada banyak penemuan baru di sana, tetap saja tubuh
sendiri terasa jauh lebih nyaman.
"Lagi pula,
belum tentu kondisi itu adalah cara terbaik untuk mengendalikan sihir. Sihir
itu sangat dalam. Pasti ada bentuk lain yang memungkinkan aku memahaminya
secara lebih luas dan jernih. Mempertimbangkan kemungkinan untuk bertemu hal
seperti itu, aku tidak punya penyesalan pada tubuh yang tadi."
Tambahan lagi, Grim,
Jiriel, bahkan Beal tinggal bersama di dalam tubuhku itu rasanya agak
menyebalkan.
Banyak suara yang
terdengar bersahut-sahutan, berisik sekali sampai aku tidak bisa fokus pada
penelitian.
"Padahal Lloyd-sama
selalu saja tidak mendengarkan omongan kami!"
"Terutama
kalau sedang fokus, ya. Malah, sepertinya suara-suara selain kami pun tidak
terdengar sama sekali olehnya."
"Tepat
sekali. Jangan melimpahkan kesalahanmu pada orang lain!"
Grim dan yang
lainnya terus mengoceh, tapi di tubuh ini, gema suara mereka terasa lebih kecil
dan itu bagus.
Meski bukan
masalah besar kalau aku sudah fokus, tapi suasana tenang memang jauh lebih
baik.
"Begitu ya…… benar juga. Mungkin karena kau sosok yang
seperti itulah, kau bisa menang melawan Raja Iblis terburuk itu. Aku sempat
berpikir untuk menyerahkan takhta Dewa kepadamu, yang memiliki kekuatan sebesar
itu namun tanpa sedikit pun niat jahat…… tapi kau pasti akan menolaknya."
Sang Dewa
mulai bergumam sendiri.
Apa karena dia
berada di Khayangan makanya pesan mentalnya sulit tersampaikan?
Menembus dinding
dimensi memang sepertinya cukup berat. Mengingat dia sampai kalah dari Raja
Iblis, mungkin kekuatannya memang tidak seberapa.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, Sang Dewa berdeham
keras.
"Ehem! ……Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksa lagi. Hiduplah sesuka
hatimu."
"Tanpa
disuruh pun aku memang berniat begitu."
Apa pun yang
dikatakan orang, aku hanya akan melakukan apa pun yang kusukai.
Fufufu, lagipula
penjelajahan kali ini benar-benar membuahkan banyak hasil.
Dimulai dari
tubuh mana hasil Fusion, berbagai formula sihir Khayangan, malaikat
dalam jumlah besar, pertarungan melawan kaum iblis, hingga formula sihir dari
Raja Iblis pertama……
Memang banyak
sihir skala besar yang hanya bisa digunakan dalam wujud tubuh mana, tapi itu
justru memberikan tantangan tersendiri untuk dimodifikasi.
Kapan-kapan aku
ingin pergi ke Dunia Iblis juga. Pasti menyenangkan.
Rasa ingin tahu
ini tidak akan bisa dihalangi oleh siapa pun. Mau itu Dewa ataupun Raja Iblis
sekalipun.
"Daripada
itu, beritahu aku bagaimana cara melepas Fusion-nya."
"Hohoho,
kalau begitu, sampai jumpa."
"Ah,
hei!"
Aku memanggil
Sang Dewa, tapi kehadirannya berangsur-angsur menipis.
Cih, Dewa
yang tidak mau mendengarkan omongan orang. Padahal kalau kesadaranku masih utuh, aku bisa
menganalisisnya…… sayang sekali.
Yah sudahlah,
pasti akan ada kesempatan lagi. Lain kali aku akan menciptakan metode untuk
mengubah sihir yang kuterima menjadi formula secara otomatis.
"Lloyd-sama!?
Tolong sadarlah!"
"Wah!"
Saat aku sedang
bersumpah dalam hati untuk melakukan riset balasan, tiba-tiba Sylpha menekan
wajahku dan mendekatkan wajahnya.
……Gawat. Aku
sampai lupa soal Sylpha.
"Kupikir
akhirnya Anda sudah sadar, ternyata Anda malah bergumam sendirian…… Ah, tidak
boleh! Harusnya aku memikirkan kemungkinan terburuk! Kita harus segera membawa
Anda ke dokter!"
"Tu-Tunggu
dulu, Sylpha? Aku bilang aku tidak apa-apa…… Hei, dengarkan aku dulu—"
Tanpa
menghiraukan perkataanku, Sylpha langsung membopongku keluar kamar dengan
kuncian maut.
Aku melirik Ren
dan Connie untuk meminta bantuan, tapi mereka hanya menggelengkan kepala seolah
menyuruhku menyerah saja.
"Lloyd-sama
yang tidak takut pada Dewa maupun Raja Iblis sekalipun, ternyata tetap tidak
bisa menang melawan pelayan yang satu ini, ya……"
"Sylpha-tan
pasti sangat mengkhawatirkannya. Menurutku lebih baik Lloyd-sama menurut saja
untuk saat ini."
"Kukuku,
biarkan saja. Selama ini dia sudah puas bersenang-senang dan membiarkan Connie
dan yang lainnya bekerja keras. Biarkan dia menemaninya sedikit."
Cih, bahkan Grim pun…… aku benar-benar tidak punya sekutu di
sini.
◆
"Dewa, ya."
Holy King bergumam pelan sambil berjalan di bawah sinar
rembulan malam.
Dewa yang selama ini ia yakini sebagai satu-satunya
keberadaan mutlak ternyata jauh lebih rapuh dan lemah dari dugaannya.
Selama ini ia tertipu oleh Dewa palsu, sementara Dewa yang
asli justru terkurung di penjara, dan Raja Iblis yang mengalahkan Dewa tersebut
malah dikalahkan oleh seorang manusia.
Meski sekarang Ligo telah kembali menduduki takhta Dewa,
kenyataannya posisi itu pernah direbut oleh seorang Raja Iblis. Tidak ada yang tahu kapan hal
serupa akan terulang kembali.
Ia tidak
bisa lagi merasa tenang mengabdi seperti dulu…… pemikiran naif seperti itu sudah tidak mungkin
lagi dilakukan.
"Padahal aku
hanya ingin menciptakan dunia yang damai."
Desa tempat Holy
King lahir sangatlah miskin, konflik terjadi hampir setiap hari demi
memperebutkan makanan yang sedikit.
Ada keluarga yang
dibantai karena berebut air irigasi. Ada anak-anak yang kehilangan nyawa demi
sepotong roti.
Orang tua yang
membunuh anaknya sendiri demi mengurangi beban mulut yang harus diberi makan
pun bukan hal yang aneh.
Lahir dan besar
sebagai anak gereja yang sedikit lebih berkecukupan, ia yang menyaksikan semua
itu terus memimpikan dunia yang damai.
Ia paham bahwa
jalan itu tidak akan pernah mulus.
Sumber daya itu
terbatas, dan mental manusia yang kehilangan kelapangan hati akan menjadi
sangat liar.
Mengumandangkan
cinta pada orang lain hanya akan berakhir sia-sia…… pada akhirnya, hanya
penyesuaian paksa oleh sang kuat yang bisa dilakukan.
Mendistribusikan
logistik dari tempat yang berlebih ke tempat yang kekurangan, lalu meminta
sumber daya sebagai gantinya.
Mereka
yang menentang akan ditekuk dengan kekuatan.
Setelah
ia menjadi Holy King dan menggunakan kekuatannya, pertikaian di desanya
akhirnya mereda dan kedamaian pun datang.
Saat
itulah ia berpikir. Jika ia mengikuti Dewa yang merupakan pemegang kekuatan
mutlak, maka segalanya tidak akan salah.
"Setelah
itu aku tidak perlu memikirkan apa-apa, cukup ikuti perintah Dewa maka semua
orang bisa hidup damai…… kupikir begitu, tapi ternyata……"
Dewa pun
pada akhirnya hanyalah satu bentuk kehidupan.
Bisa
berbuat salah, dan bisa kalah oleh mereka yang lebih kuat. Holy King akhirnya
menyadari bahwa Dewa sekalipun bukanlah keberadaan yang absolut.
Segala
sesuatu yang ia percayai telah runtuh, dan ia mulai kehilangan arah
nilai-nilainya sendiri.
Apa yang harus ia
percayai mulai sekarang, dan bagaimana ia harus hidup? Untuk apa ia harus
menggunakan kekuatannya……
"Atau malah
aku saja yang jadi Dewa…… eh, tidak mungkin, siapa juga yang mau mengakui hal
seperti itu."
Benar-benar
konyol. Membayangkan manusia menjadi Dewa adalah sebuah kesalahan besar.
Orang-orang di
dunia manusia tidak akan menerimanya, begitu juga dengan para malaikat.
Lagipula ia tidak
merasa sanggup melakukannya. Itu benar-benar sebuah keangkuhan.
Saat ia sedang
bergelut dengan pikirannya sendiri, sebuah bayangan hitam muncul di hadapannya.
"……Oya, Si
Gerigi. Kupikir kau sudah menghilang entah ke mana, ternyata apa yang kau
lakukan?"
"Aku
pergi mengambil benda ini."
Guizarm
memegang sebuah permata hitam, di dalam batu itu terukir huruf-huruf yang
bercahaya.
"Batu…… yang terukir di dalamnya itu, apakah sebuah
formula sihir?"
"Ya, ini disebut Magic Stone. Di dalamnya
tersegel formula sihir Fusion."
Formula sihir yang digunakan kaum iblis, terutama yang
disebut sebagai teknik rahasia seperti Fusion, adalah sebuah kotak hitam
yang bahkan tidak dipahami oleh penggunanya sendiri.
Hanya ada satu
cara untuk mewariskannya.
Yaitu dengan
menyegel sebagian tubuh mana penggunanya ke dalam Magic Stone ini dan
memberikannya kepada orang lain.
Melalui Magic
Stone yang diwariskan dari Raja Iblis Orisinal inilah, teknik Fusion
diturunkan kepada Gluttony.
Karena takut akan
kekuatan tersebut, ia menyembunyikan Magic Stone itu di perbendaharaan
Dewa.
"Heh, tapi
hebat juga kau bisa tahu. Tahu kalau benda seperti itu ada di sana."
"……Sejujurnya
aku pun tidak tahu kenapa. Aku hanya merasa ini diperlukan untuk menjadi
seorang Raja Iblis."
Guizarm yang
sekarang adalah keberadaan yang dipanggil oleh Holy King melalui Magic Song.
Besar kemungkinan
bukan hanya kepribadian aslinya, tapi juga ingatan dari sosok-sosok yang
memiliki keterkaitan dengan Lloyd ikut tercampur di dalamnya.
Mungkin ingatan
Gluttony yang dikalahkan Lloyd ikut bercampur di sana…… begitu pikir Holy King,
namun tiba-tiba ia tersadar.
"……Tunggu,
tunggu! Barusan kau bilang mau jadi Raja Iblis?"
"Hm? Ah,
alasan aku keluar dari Dunia Iblis sejak awal memang untuk menjadi Raja
Iblis."
Guizarm
menyatakannya dengan lantang di hadapan Holy King yang kebingungan.
Menurut
informasi, dia menyeberang dari Dunia Iblis ke benua ini dan merebut sebuah
kastel, namun dikalahkan oleh Lloyd yang berkunjung ke sana.
Holy King sempat
bertanya-tanya untuk apa dia jauh-jauh dari Dunia Iblis datang ke tempat
seperti ini, tapi tidak disangka alasannya adalah itu.
"Raja Iblis yang sekarang lemah. ……Yah, kekuatan tempur
murninya mungkin lumayan, tapi mentalnya terlalu lembek. Mana sudi aku dipimpin oleh raja seperti itu.
Karena itu, takhtanya akan kuambil alih."
"……Tapi,
apakah menjadi Raja Iblis itu adalah hal yang bisa dilakukan hanya karena kau
ingin?"
Raja bukanlah
sesuatu yang bisa diraih hanya dengan keinginan.
Agar seseorang
diakui sebagai raja, dibutuhkan garis keturunan, tanda pilihan Dewa, tindakan
mengalahkan monster, dan 'narasi' yang mendukungnya menjadi seperti itu.
Holy King pun
baru terpilih setelah menerima wahyu Dewa dan melewati ujian yang berat.
"Untuk
menjadi Raja Iblis, kau butuh 'narasi' yang menunjukkan bahwa kau adalah sosok
terunggul di antara kaum iblis, atau memiliki garis keturunan tertentu, atau
menerima wahyu langit, kan? Apa kau memiliki kualifikasi sebagai Raja Iblis
semacam itu?"
Raja manusia saja
seperti itu.
Apalagi raja kaum
iblis yang berada di puncak, mustahil bisa diterima oleh sekitar jika tidak
memiliki 'narasi' yang jauh lebih hebat dari itu.
Namun, tanpa
mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun, Guizarm memiringkan kepalanya dan
menjawab.
"Tidak.
Sama sekali tidak."
"Ha……?"
"Aku
adalah aku. Garis keturunan atau kualifikasi itu adalah hal yang sangat sepele.
Hal-hal seperti 'narasi' biar dibuat sendiri oleh para pecundang setelah
melihat langkah kakiku. Aku hanya melakukan apa pun yang ingin kulakukan, dan
sebagai hasilnya, aku akan mengambil takhta Raja Iblis."
Holy King
kehilangan kata-kata. Namun di saat yang sama, ia mendapatkan jawabannya.
……Begitu ya.
Kalau Dewa tidak bisa dipercayai, maka aku saja yang jadi Dewa.
Tidak peduli
apakah aku bisa atau tidak. Cukup putuskan untuk menjadi itu, lalu bertindak.
Hanya itu saja. Dengan begitu, bukankah aku bisa menciptakan dunia damai yang
aku impikan?
Terlepas dari
bagaimana pandangan orang lain, setidaknya aku bisa menciptakan dunia yang bisa
kuterima.
Mungkin selama
ini aku hanya tidak menyadari hal sesederhana ini. Holy King pun tak sengaja
menyunggingkan senyum.
"……Hm? Wajah
buruk rupamu yang tadi sekarang jadi terlihat lebih baik."
"Heh,
benarkah? Mungkin ini berkat dirimu. ……Sejujurnya, aku senang bisa memanggilmu."
Sambil
berkata demikian, Holy King bergumam di dalam hatinya.
(Guizarm
berniat menjadi Raja Iblis. Jika aku memanfaatkannya dengan baik, mungkin saja
aku bisa menjadi Dewa……!)
Misalnya,
membiarkan Guizarm yang sudah kuat mengacau di Khayangan, lalu dengan
mengendalikannya, aku akan diakui oleh sekitarku.
Atau mungkin
mengalahkannya setelah dia menjadi Raja Iblis.
Melakukan Fusion
seperti yang dilakukan Lloyd tadi untuk mendapatkan kekuatan dahsyat juga bukan
ide buruk.
Ada banyak cara
yang bisa dilakukan. Holy King tersenyum simpul.
Sambil menatap
tajam ke arahnya, Guizarm pun ikut menyeringai.
(Holy King,
ya. Jika aku menyerapnya melalui Fusion, aku bisa mendapatkan resistansi
terhadap atribut suci. Sihir suci adalah satu-satunya kelemahan kaum iblis.
Ditambah lagi, kekuatan bernama Magic Song miliknya juga tidak buruk. Itu
akan sangat berguna untuk meraih takhta Raja Iblis…… dan untuk membunuh bocah
itu! Kukuku, keberuntungan mulai berpihak padaku……!)
Melihat Guizarm yang menutup mulut untuk menahan tawa, Holy
King menghela napas.
……Yah, kemungkinan besar dia juga sedang memikirkan hal yang
sama. Begitulah pikirnya.
"Pinjamkan tanganmu, Holy King. Aku butuh
kekuatanmu."
"Tentu saja. Mari kita saling bekerja sama."
Yah, pada
dasarnya mereka berdua sama saja. Ini adalah pertarungan. Sebuah kompetisi
tentang siapa yang akan mewujudkan keinginannya lebih dulu.
Guizarm menyambut
tangan yang diulurkan Holy King dengan sebuah tepukan keras.
Plak! Suara yang mantap bergema di
sekitarnya.
Begitulah,
keduanya pun mulai bertindak bersama.
Meskipun
masing-masing dari mereka samar-samar menyadari niat busuk yang tersembunyi di
balik perut masing-masing……
◆
Dan
begitulah, Insiden Khayangan berakhir.
Dengan
kembalinya Sang Dewa ke takhtanya, Holy King pun sepertinya kembali ke
posisinya semula dan melanjutkan tugasnya di Tahta Suci.
Beal juga
diputuskan untuk tidak disegel karena dianggap sudah berada di bawah kendaliku.
"Ngomong-ngomong,
apa yang terjadi dengan Guizarm yang dibawa oleh Holy King ya?"
"Bukankah
sudah dikembalikan? Dia tidak mungkin sebodoh itu sampai membawa rekan
seberbahaya itu bersama dengannya."
Grim dan Jiriel terus bergumam entah apa, tapi bagiku, ada hal yang jauh lebih mendesak untuk diselesaikan daripada memikirkan hal tersebut.
"Lloyd-sama,
selain itu jadwal latihan pedang Anda sudah menumpuk, lho."
"Hei, hei,
bukankah ini seharusnya giliranku dulu? Tidak baik mendominasi begitu."
"Aku
yang lebih dulu. Benar kan, Roddy kecil?"
"Aku
juga."
"Kami
juga."
"Aku
jugaaa—"
Di
hadapanku sudah berbaris rapi Sylpha, Albert, Dian, Zerov, Birgitt, hingga
Alize…… Kenapa semuanya bisa berkumpul di sini?
Begitu
aku melirik Ren dan Connie yang bersembunyi di samping, mereka hanya
menundukkan kepala seolah sedang meminta maaf.
"Selama
Lloyd pergi ke Khayangan, kepribadian yang tertanam di tubuhmu itu benar-benar
semangat sekali."
"Dia
terus-menerus menuruti permintaan semua orang, sampai akhirnya tersusunlah
jadwal yang mematikan ini."
Ah, benar juga.
Aku memang memasukkan kepribadian otomatis melalui sihir pengendali ke dalam
tubuhku.
Entah kenapa
kepribadian itu sangat ceria, tapi kupikir semuanya akan baik-baik saja kalau
aku menyerahkan urusan back-up kepada Ren dan Connie…… Namun, sepertinya
karena terlalu bersemangat, kepribadian itu terus saja mengiyakan permintaan
semua orang.
Cih, padahal
selama ini aku sudah susah payah mempertahankan citra sebagai Pangeran Ketujuh
yang tidak punya motivasi, beraninya dia melakukan hal ini.
Kalau aku
tiba-tiba kembali ke sifatku yang biasa, mereka pasti akan curiga. Satu-satunya
jalan adalah mengubahnya sedikit demi sedikit. ……Haa, merepotkan sekali.
"……Fufu, sepertinya satu tubuh saja tidak cukup bagimu
ya, Lloyd."
Saria terkikik geli.
Sambil membalas tatapannya yang seolah bisa menembus pikiranku dengan senyum palsu, aku pun mulai mempertimbangkan dengan sangat serius untuk menciptakan sihir pembelahan diri agar tidak ketahuan.



Post a Comment