NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 8 Part 4


"Jadi ini istana Dewa……"

Tempat yang kami capai melalui teleportasi adalah sebuah ruangan serbaputih.

Di sini juga tampak seperti ruangan rahasia karena tidak ada pintu keluar masuk.

Begitu Rigo mengoperasikan sesuatu, sebuah pintu akhirnya terbuka.

Heh, jadi Dewa ada di sini, ya. Pantas saja, aku bisa merasakan denyut mana yang sangat kuat.

"Hah— kupikir aku bakal mati. Lloyd-kun jahat sekali, sih."

"Padahal kamu sendiri menguap lebar begitu."

"Yah, kalau tidak bisa bergerak kan membosankan sekali…… Wajar saja kalau aku jadi mengantuk."

Grim dan yang lain sempat khawatir, tapi ternyata dia tetap santai. Nyalinya besar juga. Sepertinya dia memang punya kualifikasi sebagai Holy King.

"Hoho, bisa memasang pelindung yang sanggup menahan beban teleportasi tadi, kamu hebat sekali."

"Biasa saja, kok. Kakek sendiri juga pasti merasa berat meski sudah menjadi tubuh mana, kan?"

Setelah mencobanya sendiri, aku baru sadar kalau alat teleportasi tadi memberikan guncangan yang hebat bahkan bagi tubuh mana sekalipun.

Kalau malaikat biasa di penjara tadi yang mencobanya, kalaupun tidak mati, mereka pasti akan babak belur.

Namun, wajah Rigo tetap terlihat biasa saja. Mengingat dia pernah dikurung di penjara Khayangan, sepertinya dia memang bukan orang sembarangan.

"Daripada itu Lloyd, cepatlah bergerak. Dewa sudah di depan mata. Izinkan aku meluapkan amarah yang tidak sempat kulampiaskan pada si Holy King brengsek itu kepadanya."

"Oi Beal, kita ke sini untuk meminta pembatalan Fusion. Jangan lupa kalau kita ke sini bukan untuk bertarung."

"……Cih, benar juga. Tapi meskipun kita tidak punya niat begitu, bagaimana dengan Dewa?"

Yah, kalau Dewa adalah dalang yang memerintahkan Holy King untuk membasmi Raja Iblis, tidak sulit membayangkan apa yang akan dia lakukan saat melihat Beal. Kemungkinan terjadinya pertarungan sangatlah besar.

……Yah, paling buruk aku tinggal memaksanya menurut dengan kekerasan.

Meski aku tidak terlalu suka bertarung, karena dia menyandang nama Dewa, pasti dia punya satu atau dua kemampuan yang menarik. Itu sendiri patut dinantikan.

"Kalau begitu, izinkan saya memandu. Lewat sini."

Kami melewati lorong dan sampai di sebuah aula besar.

Ada tangga-tangga raksasa yang berjajar, dengan lantai batu putih yang memenuhi ruangan layaknya sebuah kastel.

Namun, aula yang tak berpenghuni ini terasa sangat ganjil. Apa tidak ada pelayan yang bekerja di sini?

"Hmm, biasanya ada banyak pelayan yang sibuk bekerja di sini…… Yah, mengingat sudah lama sekali sejak aku pergi, mungkin sistemnya sudah berubah."

"Waduh, panduannya terhenti ya. Di sana adalah dapur, di situ ruang tamu, dan di sebelah sana adalah tangga menuju lantai teratas, pemandangan dari atas sana benar-benar luar biasa lho—"

"Oi oi, kami tidak minta pemandu wisata."

"Tolong tunjukkan jalan menuju tempat Dewa berada."

"Aduh, mohon maaf. Tanpa sadar kebiasaan lama saya muncul…… Mari kita lihat, tempat Dewa berada kemungkinan adalah—"

Tepat saat Rigo hendak menunjuk ke suatu arah.

"—Astaga, ya."

Tiba-tiba, suara serak seorang pria tua bergema di sekitar kami.

"Raja Iblis dan Holy King melangkah masuk ke istanaku bersama-sama, benar-benar tidak tertolong lagi."

"Dewa-sama……!"

Holy King tersentak. Jadi pemilik suara ini adalah Dewa. Hmm. Suaranya bergema, sehingga sulit menentukan dari mana arah asalnya.

"Berani sekali melarikan diri dari penjara tanpa izin, apa maksudmu?"

"Yah, setidaknya aku sudah introspeksi diri. Bukankah sudah seharusnya aku mempertanggungjawabkan perbuatanku? Dan karena sudah kulakukan, makanya aku datang lagi untuk menyampaikan aspirasi."

"……Introspeksi, ya. Tidak terlihat seperti itu di mataku. Tapi baiklah. Akan kudengarkan apa maumu."

Mendengar kata-kata Dewa, Holy King mulai berbicara seolah-olah memang sudah menunggu saat ini.

"Ehem, baiklah, kuulangi lagi. —Selagi aku dirantai di penjara, aku berpikir bahwa siapapun lawannya, hukuman baru boleh diberikan setelah kita memastikan bahwa mereka memang penjahat."

"Kenyataannya, Raja Iblis ini juga tipe yang bisa diajak bicara jika kita mau mencoba. Tidak baik menghakimi berdasarkan prasangka."

"Hmm, lalu?"

"Intinya…… ya, itu. Mari kita pastikan dulu baik-baik. Kalau terburu-buru menghukum padahal ternyata itu salah tangkap, bagaimana?"

"Jika begitu, malah kamulah yang jadi penjahatnya. Aku pun tidak akan mengeluh kalau Dewa-sama melakukan segalanya dengan benar, dan aku akan tetap lanjut menjadi Holy King."

"Hmm, lalu?"

"Apanya yang lalu…… Makanya aku—"

Saat Holy King hendak meninggikan suaranya karena jawaban yang acuh tak acuh itu—tepat di atas kepala kami memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Kilatan cahaya mana meledak. Cahaya itu semakin terang benderang, sementara Holy King hanya bisa mendongak dengan tatapan kosong.

"He—?"

Holy King terpaku di tengah situasi mendadak itu. Cahaya yang meluap itu menghujam ke bawah.

Duarrr! Suara benturan yang sangat dahsyat bergema, membuat tanah bergetar hebat.

"Duaaaa!? A-Apa yang terjadi!?"

"Bodoh! Dewa baru saja mencoba menghabisimu! Jangan melamun di saat seperti ini!"

Beal berteriak kencang. Dia melompat keluar dari diriku dan merentangkan ekornya seperti payung untuk melindungi kami semua.

"Apa……! Raja Iblis…… menyelamatkanku……?"

"Cih…… Aku mulai melembek ya…… Akh!"

Beal memasang wajah menahan sakit yang luar biasa. Tubuhnya tampak hangus terbakar dan mengeluarkan asap putih. Beal yang bertubuh mana pun bisa terluka, serangan macam apa itu.

"Tadi kamu bilang, kan? Bahwa tidak baik menganggap seseorang musuh tanpa mengenalnya lebih dulu. Aku sendiri pun melihatmu begitu. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf."

"Tapi ingat, ini hanya sekali saja. Jangan harap ada yang kedua kali!"

"Raja Iblis…… kamu ternyata benar-benar orang baik, ya……! Terima kasih. Aku serius, aku senang sekali."

"……Cih, membuatku merinding saja."

Melihat Holy King yang tersenyum malu-malu, Beal yang tampak tersipu langsung terdiam dan masuk kembali ke dalam diriku. Ternyata dia pemalu juga ya, anak ini.

"—Hmm, diselamatkan oleh Raja Iblis, sepertinya kamu sudah tidak layak lagi menyandang gelar Holy King."

"Ka-Kamu…… jangan-jangan alasanmu mendengarkan ceritaku tadi adalah……!"

"Aku tidak peduli dengan omong kosongmu, tapi karena kamu sepertinya suka sekali mengoceh, aku memberikan belas kasihanku agar kamu bisa bicara sesukamu sampai saat-saat terakhir."

"……!"

Holy King terdiam seribu bahasa mendengar kata-kata Dewa.

Sejak awal dia memang tidak berniat mendengarkan.

Dia hanya berpura-pura mendengarkan agar bisa membunuh kami saat kami lengah. Untuk ukuran Dewa, cara yang digunakannya sangatlah picik.

"……Sadis juga ya. Cara yang kotor ini benar-benar tidak terlihat seperti perbuatan Dewa."

"Aku tidak percaya Dewa kita melakukan hal yang sepicik ini……"

Grim dan Jiriel juga tampak syok, namun Holy King pasti merasakan yang lebih dari itu. Rasanya pasti seperti dikhianati oleh orang yang sangat ia percayai.

Karena perasaan yang tak menentu, bahu Holy King tampak bergetar.

"Sudahlah. Karena kalian sudah sampai di sini, bukankah tujuan kalian adalah menemuiku? Kali ini aku tidak akan lari atau bersembunyi, jadi naiklah ke lantai teratas."

"Biar aku sendiri yang menghabisi kalian dengan tanganku."

"……Boleh juga! Setelah dihina sejauh ini, aku yang cinta damai pun tidak akan tinggal diam! Tapi aku tidak berniat bertarung."

"Aku akan meyakinkanmu sampai kamu tidak punya argumen lagi! Bersiaplah!"

"Fuh, semangat yang bagus, tapi di setiap lantai menuju puncak, aku telah menempatkan 64 Dewa Khayangan."

"Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang setara denganmu. Tentu saja, aku juga sudah memasang berbagai jebakan."

"Jika kalian berhasil menembusnya dan sampai ke hadapanku—baiklah, aku sendiri yang akan menjadi lawan kalian."

"Tentu saja aku akan ke sana! Ya kan, Lloyd-kun! ……Lloyd-kun?"

Sambil memperhatikan percakapan mereka, aku sedang menganalisis suara Dewa. Habisnya, suara ini memiliki mekanisme yang sangat menarik.

Dewa melakukan intervensi ke tempat ini melewati jalur mana yang sangat rumit.

Jika hanya untuk menyampaikan suara atau serangan mana ke sini, harusnya tidak perlu sampai sejauh ini.

Lantas untuk apa dia melakukan ini…… benar-benar menarik.

"……Yah, aku sudah paham garis besarnya."

"Eeto…… Lloyd-kun? Halo—? Oi?"

"Maaf Holy King, aku duluan ya."

Sambil bergumam begitu, aku melompat menggunakan Spatial Teleportation. Melewati jalur mana yang dikeluarkan Dewa, tujuanku adalah ke luar istana.

Bahkan melewati seluruh Khayangan, menembus penghalang yang tebal, dan melintasi labirin yang rumit.

"Jalurnya melewati banyak sekali perantara ya. Seberapa besar sih tingkat kewaspadaannya?"

"Meskipun nama Dewa sudah dikenal luas, kabarnya bahkan para 64 Dewa Khayangan pun belum pernah melihat wujud aslinya."

"Cih, dasar pengecut. Tapi akhirnya kita bisa melihat wujudnya juga."

Akhirnya ujungnya terlihat. Teleportasi berakhir.

"—Jadi ini tempat tinggal Dewa."

Tempat itu serbaputih dan terasa sangat luas. Putih membentang hingga ke cakrawala, seolah tidak ada batasnya.

Rasanya sedikit berbeda dengan Khayangan. Lebih mirip dengan dimensi khusus yang digunakan Beal.

"Ruangan yang sangat mencurigakan ya. Bagaimana ya bilangnya, rasanya bikin merinding."

"Apa benar ini tempat tinggal Dewa? Tapi entah kenapa rasanya menyeramkan……"

Grim dan Jiriel tampak curiga, tapi aku merasakan kejanggalan yang lain. Sebuah perasaan seolah ada sesuatu yang disembunyikan.

Dan karena aku melakukan teleportasi ruang berkali-kali tadi memang agak sulit memastikannya, tapi tempat ini bukanlah lantai teratas istana, melainkan sebaliknya. Ini adalah dasar dari dasar Khayangan, jauh di bawah lautan awan.

"Kenapa dia berbohong……? Keberadaan yang disebut Dewa sampai sebegitunya tidak ingin keberadaannya diketahui?"

"Atau hanya sekadar iseng? Ada kemungkinan dia sedang berpura-pura memberi ujian, tapi…… hmm, entahlah."

Dipikirkan pun tidak ada gunanya, lebih cepat kalau bertanya langsung pada orangnya.

"—Hei, kamu yang dipanggil Dewa?"

Aku memanggil sosok manusia yang terlihat di balik tirai yang melayang sendirian di tengah ruangan.

Sosok yang ada di sana adalah sumber dari segala mana…… dengan kata lain, Dewa itu sendiri.

"Luar biasa kau bisa sampai ke sini. Aku benar-benar terkejut."

"Menelusuri jalur yang penuh penghalang dan labirin lalu sampai di sini dengan sekali teleportasi ruang, apa aku harus menyebutmu sebagai Raja Iblis?"

Yang menjawab gumamanku adalah suara serak yang tadi. Tirai itu terbang tertiup angin yang entah dari mana asalnya, dan seorang kakek tua muncul.

Ia mengenakan jubah putih, mahkota dengan hiasan emas dan hitam, membawa tongkat, dan memakai beberapa gelang emas yang masing-masing memancarkan mana yang kuat.

Namun, mana yang jauh lebih kuat dari perhiasan-perhiasan itu justru terpancar dari tubuhnya yang tampak seperti kayu kering.

"I-Ini gila…… Arus mana yang sangat besar sampai membuatku merinding hanya dengan melihatnya! Dia benar-benar layak menyandang nama Dewa……!"

"Ya, arus mana yang tenang namun sangat dahsyat, bagaikan sungai besar. Inilah Dewa tunggal yang menguasai Khayangan……!"

Grim dan Jiriel tampak ketakutan melihat kedahsyatan mana tersebut. Beal di dalam diriku juga mulai tegang menghadapi musuh bebuyutannya.

"Memang sekarang aku sedang bergabung dengan Raja Iblis, tapi aku sendiri hanyalah pangeran ketujuh yang bisa ditemukan di mana saja."

"……Cih, aku sudah tahu. Kamu adalah tokoh sentral di balik berbagai anomali yang terjadi di permukaan belakangan ini."

"Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum, Lloyd de Saloum. Apanya yang 'di mana saja', jangan bercanda."

Wah, ternyata dia mengenalku. Aku kaget. Di tengah keterkejutanku, Dewa melanjutkan kata-katanya.

"Lloyd. Aku sudah melihat semua perbuatanmu selama ini."

"Bukan hanya mana yang tidak wajar, tapi juga kemampuan bertindak untuk ikut campur demi kesenangan, serta pengaruhmu yang sangat besar bagi sekelilingmu……"

"Jika ini bukan disebut Raja Iblis, lantas disebut apa lagi?"

Grim dan Jiriel menatapku dengan tatapan sinis. Yah— padahal aku sudah berusaha menyembunyikannya. Sepertinya sulit jika lawannya adalah Dewa.

"Kalau sudah tahu, berarti urusannya jadi cepat. Kamu juga tahu alasan kami ke sini, kan? Bisakah kamu melepaskan Fusion ini?"

"……Fuh, kukuku……"

Mendengar permintaanku, Dewa mulai tertawa seolah-olah hal itu lucu.

"Sayangnya itu tidak bisa kulakukan. Tapi yah, lagipula kamu berniat memaksaku menurut dengan kekerasan, kan?"

"Aku sih tidak terlalu berminat begitu, tapi—"

Tidak bisa dipungkiri kalau Beal di dalam diriku sedang sangat bersemangat. Yah, bukan berarti aku sendiri tidak berminat melakukannya, sih.

"Baiklah. Mari kita mulai."

Mendengar kata-kataku, Dewa perlahan mengangkat tangannya.

Cahaya menyilaukan meledak di depan mataku.

"Haaa!"

Bersama teriakan semangat, Dewa menerjang maju.

Di tangannya sudah tergenggam tongkat yang entah sejak kapan ia keluarkan.

Senjata rahasia setelah pengalih perhatian, ya? Cara bertarung yang cukup kotor untuk seseorang yang menyandang nama Dewa.

Saat aku menahan serangan itu dengan satu lengan, duuum!

Gelombang kejut bergema dan udara bergetar hebat.

"—Hou, bisa menahan seranganku yang menggunakan Staff of Divine Punishment dengan begitu mudah, benar-benar sulit dipercaya."

Dewa tampak terkejut, namun begitu pula denganku. Serangan yang luar biasa, sampai-sampai aku yang bertubuh mana ini tidak bisa memukulnya balik, memang benar-benar layak disebut Dewa.

Di tengah adu kekuatan yang memercikkan bunga api itu—

"Dasar kakek bau tanah! Matilah kau!"




Beal melesat keluar dari ekorkudengan penuh semangat.

Tinjunya menghantam wajah Dewa, lalu langsung berlanjut ke serangan bertubi-tubi.

"Fuhahahaha! Mati! Mati! Matiaaaaa kau!"

"Ngh! Guh!?"

Meski Dewa menangkis dengan tongkatnya, serangan yang datang beruntun tanpa henti itu membuatnya terpaku di tempat.

Baku hantam antar sesama tubuh mana, ya? Kebetulan sekali, ini kesempatan bagus untuk menguji seberapa kuat ketahanan tubuh ini.

Lagi pula, kalau Fusion ini dilepas, aku tidak akan bisa menggunakan tubuh ini lagi. Mengetahui sejauh mana aku bisa mengeluarkan kekuatan sungguhan akan menambah wawasan sihirku.

Baiklah kalau begitu, mari kita mulai.

"Sss... haaa..."

Melalui pernapasan, aku menempa Ki di dalam tubuhku.

Meski ini adalah tubuh mana, jika aku membuat jalur aliran Ki secara paksa, aku tetap bisa mengendalikannya.

Sihir tipe sistem pengendalian, Trace Tao. Aku memusatkan aliran Ki yang beredar di dalam tubuh ke satu titik, lalu melepaskannya.

"Hundred Flower Fist── Sasanqua."

Duaarrr! Tinju yang kuhujamkan mematahkan tongkat itu hingga hancur.

Tongkat yang terbelah dua itu hancur berkeping-keping, menjadi partikel halus yang berhamburan di sekitar.

Ah, patah ya.

Ini adalah salah satu teknik dasar Hundred Flower Fist yang memusatkan hantaman di satu titik untuk menghancurkan lawan dari dalam.

Ternyata kekuatannya lumayan juga kalau dilepaskan dengan tubuh ini.

"Ti-Tidak mungkin……! Staff of Divine Punishment ini adalah mahakarya buatan Dewa Tempa Hephaestus, pandai besi terbaik di Khayangan sekaligus salah satu dari 64 Dewa! Seharusnya tidak mungkin hancur hanya karena satu pukulan tinju!?"

"Yah, aku pun merasa sayang karena tongkatnya hancur semudah itu……"

Padahal aku ingin menganalisis tongkat itu sedikit lebih lama lagi. Tapi, ya sudahlah. Aku sudah paham garis besarnya.

Selama bersentuhan tadi, aku sempat merapal Appraisal pada tongkat tersebut.

Strukturnya sudah hampir selesai kuanalisis, jadi aku bisa mereproduksinya sekarang juga. Seperti ini──

Saat aku mengumpulkan dan memadatkan mana, sebuah tongkat yang hampir identik dengan milik Dewa tercipta di tanganku.

"Nah, begini kira-kira."

"Apa…… Kau menciptakan kembali Staff of Divine Punishment……!?"

Dewa menatapku dengan wajah tak percaya melihatku memegang tongkat itu.

Menciptakan tubuh mana sendiri memang sudah sering kulakukan sejak dulu. Jadi, kalau cuma membuat senjata sebagai perpanjangannya sih tidak ada masalah.

Meski memang butuh observasi yang saksama, dan hasilnya tidak akan bisa benar-benar seratus persen sama.

"Tunggu dulu, menciptakan tubuh mana itu memang gampang-gampang saja, tapi membuat benda dengan struktur rumit begini butuh kemampuan analisis yang luar biasa, lho!"

"Justru itulah keahlian Lloyd-sama. Tapi, meniru senjata ciptaan 64 Dewa Khayangan tetap saja bukan hal yang biasa……"

"Apa kalian berdua tidak sadar? Tongkat itu sudah diberi modifikasi ala Lloyd, sehingga jauh lebih kokoh dari aslinya! Fuh, seperti yang diharapkan dari Lloyd, rival takdirku."

Grim dan yang lain menggumamkan sesuatu, tapi aku lebih memikirkan cara penggunaan Staff of Divine Punishment ini.

"Hmm…… Tongkat ya…… Tongkat, hmm……"

──Tongkat adalah senjata yang berfungsi untuk memperkuat formula sihir itu sendiri.

Namun pada dasarnya, ini hanyalah versi penurunan dari pedang sihir yang sekadar mengukir formula pada sebatang kayu, aslinya ditujukan untuk pemula.

Jika aku menggunakannya dengan cara yang biasa, tongkat ini pasti akan langsung hancur seketika.

Tapi karena ini adalah tongkat yang digunakan Dewa, formula sihir yang tertanam di dalamnya memiliki ketahanan yang luar biasa.

Sepertinya aku bisa menggunakannya. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain.

Aku segera membentangkan formula sihir, lalu mengalirkan mana yang kuciptakan ke dalam tongkat tersebut.

"Deeeeeeh!? Apa-apaan jumlah mana itu!? Ini terlalu mengerikan, Lloyd-samadddd!?"

"Mananya diperkuat secara berlebihan sampai jadi menakutkan beginiiiii!?"

Grim dan Jiriel terkejut, tapi penguatannya belum selesai, lho.

Mumpung sedang bereksperimen, aku ingin mencoba fungsi tongkat ini sampai batas maksimal.

Tapi memang benar-benar tongkat Dewa, ya. Aku terkejut tongkat ini tidak hancur meski sudah kualiri mana sebanyak ini.

"Lloyd. Boleh saja kau bersemangat, tapi tongkatnya mulai retak, tuh. Sepertinya itu sudah batasnya, kan?"

"Oh, benar juga. Aku terlalu asyik."

Seperti kata Beal, tongkatnya mulai pecah.

Padahal aku ingin mengisinya sampai kekuatan penuh sebelum menembakkannya, tapi sepertinya ini adalah batas kapasitasnya.

Aku mengarahkan tongkat di tanganku ke arah Dewa, lalu melepaskannya.

"Fireball."

Api yang tercipta dari ujung tongkat seketika tumbuh menjadi bola api raksasa dalam sekejap.

Bola itu terus menambah massanya sambil mendistorsi ruang di sekitarnya saat melesat menuju Dewa.

"──!? Ba-Fireball katanya!? Mana mungkin…… mana mungkin sihir tingkat rendah bisa jadi seperti ini……!"

Dewa memusatkan mana di kedua lengannya untuk menahan api itu, namun kedua lengannya terbakar seketika dan seluruh tubuhnya dilahap api.

Meskipun itu adalah tubuh mana yang sangat tahan terhadap kerusakan sihir, ia tetap akan terluka jika serangannya melampaui batas ketahanan tersebut.

Singkatnya, tongkat tadi berhasil menghasilkan output sebesar itu. Benar-benar luar biasa.

"Bisa mengalirkan mana sampai membuat tongkat milik Dewa retak itu saja sudah tidak normal tahu……"

"Padahal baru sihir tingkat rendah, tapi tongkatnya yang mencapai batas duluan…… Apa jadinya kalau Lloyd-sama benar-benar mengeluarkan kekuatan penuh……"

"Jika dia melakukan itu, ruang ini…… tidak, mungkin seluruh Khayangan akan runtuh…… Kuku, seperti yang diharapkan dari rival seumur hidupku."

Grim dan yang lain bicara sesuka hati, padahal aku di sini sedang kesulitan mengendalikan Fireball itu.

Awalnya kupikir menggunakan sihir dengan tubuh mana ini sudah sulit dalam hal pengendalian mana, tapi karena menggunakan tongkat juga, pengendaliannya jadi makin susah. Memang tubuh ini agak sulit dikendalikan.

Aku mencoba membatasi kekuatannya agar tidak membunuhnya, tapi──

"Nu, nuwaaaaaaaa!"

Suara rintihan kesakitan itu tertelan oleh bola api.

Lalu, bola api yang jatuh ke tanah mengeluarkan pilar api yang seolah mencapai ujung langit, membuat ruang di sekitarnya terdistorsi hebat.

……Hmm, sepertinya aku lebih baik tidak menggunakan tongkat. Padamkan, padamkan.

"Oh, akhirnya apinya mulai mereda."

Setelah menyiramnya dengan air beberapa saat, pilar apinya mulai padam.

Meski begitu, bagian yang terkena bola api tadi hangus menghitam, dan ruang di sekitarnya tampak sangat terdistorsi.

"Wah, wah, kekuatannya benar-benar tidak masuk akal. Dewa pun pasti tidak akan sanggup menahannya."

"Sebagai malaikat, perasaanku agak campur aduk, tapi sekarang bagiku Lloyd-sama adalah segalanya dibanding Dewa."

"Hmm, tapi kau agak berlebihan, Lloyd. Seluruh area jadi hangus terbakar begini. Hahaha."

Di tengah kepulan asap putih, Dewa tampak tergeletak dengan tubuh yang menghitam.

Melihat itu, Grim dan yang lain tampak yakin akan kemenangan, tapi──

"Tidak, ini tidak seefektif yang kukira."

Meski penampilannya terlihat agak mengerikan, mana di dalam dirinya masih berdenyut dengan kuat.

Dia bahkan memperbaiki dan mempertahankan ruang yang sempat hancur tadi, sepertinya tidak ada luka yang fatal.

"Kuku, fuhahahaha……"

Bersamaan dengan suara tawa, Dewa bangkit berdiri dengan santainya.

Bagian yang hangus terkelupas, dan Dewa muncul kembali tanpa luka sedikit pun.

"Tidak mungkin…… Aku tidak percaya dia tidak terluka setelah terkena api sedahsyat itu!"

"Inilah Dewa…… pantas saja dia adalah Dewa tunggal yang menguasai Khayangan."

"Katanya teknik Khayangan unggul dalam pertahanan dan pemulihan, tapi aku tidak menyangka sampai sejauh ini."

Saat Grim dan yang lain tersentak, Dewa tertawa hingga bahunya bergetar.

"Fufu…… Alasan aku masih hidup adalah karena kau menahan diri, Lloyd. Jika kau menembakkannya dengan kekuatan penuh, mungkin tadi akan berbahaya."

"Benar-benar kuat, aku tidak menyangka kau sekuat ini. Tadinya aku hanya berniat mengetes keadaan, tapi hampir saja aku mati tadi."

"Bertarung lebih lama lagi akan sangat berbahaya."

"Kupikir kau mau bilang apa, ternyata kau mau menyerah? Yah, aku sih cuma ingin Fusion ini dilepas, jadi meski agak antiklimaks, aku tidak keberatan berhenti bertarung."

Mendengar kata-kataku, Dewa mulai tertawa kecil.

"……Menyerah? Aku menyerah? Fufu, fuhahahaha!"

Lama-kelamaan dia tertawa terbahak-bahak seolah tidak sanggup menahannya lagi.

Suara tawa Dewa yang mengerikan bergema di dalam ruangan hampa tersebut.

"Mana mungkin aku menyerah. Kau memang kuat, tapi aku juga masih menyimpan kekuatan sejatiku."

"Kekuatan sejati, katamu……!"

Setelah melihat Fireball milikku tadi dan menerima serangannya, dia masih bisa berkata begitu? Kekuatan seperti apa yang dia simpan? Aku jadi sedikit bersemangat.

"Kenapa mata Lloyd-sama malah berbinar begitu sih……"

"Itu sudah biasa. Tapi, jangan-jangan dia cuma menggertak?"

"Umu, aku tidak merasa dia masih punya tenaga sisa sedikit pun……"

Seperti kata Grim dan yang lain, saat menahan Fireball tadi, Dewa jelas-jelas sedang mengeluarkan seluruh kemampuannya. ──Karena itulah aku menantikannya.

Dalam pertarungan, pihak yang memiliki kemampuan dasar lebih tinggi akan sangat diuntungkan. Pihak yang lebih lemah harus memutar otak dan menggunakan berbagai trik kotor jika ingin menang.

Saat melawan iblis tingkat tinggi atau Beal, aku yang kalah dalam kemampuan dasar terpaksa menggunakan berbagai macam cara.

Itu sangat menyenangkan, tapi…… hei kalian, jangan menatapku dengan tatapan sinis begitu.

──Pokoknya, meski lawan memiliki kekuatan tempur yang lebih rendah, tergantung cara bertarungnya, mereka tetap punya peluang menang melawan musuh yang lebih kuat. Aku menantikan cara apa yang akan Dewa gunakan.

"Kuku, matamu berbinar mendengar kata-kataku, kau benar-benar gila."

"──Aslinya, kekuatan ini terlalu besar untuk digunakan melawan manusia biasa, tapi aku tidak ragu sedikit pun melawanmu. Aku sangat beruntung bisa membunuhmu sebelum kau berkembang lebih jauh lagi."

"Tidak usah banyak bicara. Cepat tunjukkan padaku."

"Jangan terburu-buru, sebentar lagi──"

Seolah memotong perkataan Dewa, ruang di sekitar kami mulai retak.

Yang muncul dari balik retakan ruang itu adalah── Holy King.

"Ah! Ketemu juga, Lloyd-kun!"

Masih dengan suara riang seperti biasanya, Holy King melangkah masuk ke dalam penghalang yang retak itu.

"Hup…… Duh. Benar-benar merepotkan, deh."

Dia membunyikan leher dan bahunya untuk melemaskan otot yang kaku.

Pakaian Holy King kotor dan robek di sana-sini, tampak seperti baru saja melewati pertarungan sengit berturut-turut.

"Tadi sempat agak repot sih…… tapi aku sudah berhasil membujuk semua 64 Dewa Khayangan, dan berhasil naik sampai ke lantai teratas dengan selamat! Selanjutnya adalah kamu!"

Holy King menunjuk Dewa dengan tegas.

Kalau tidak salah, Dewa memang menyuruhnya naik ke lantai teratas istana dan mengalahkan 64 Dewa Khayangan, ya? Ternyata dia benar-benar mematuhi perintah itu.

Lagipula, apa maksudnya dengan 'membujuk sampai kalah' itu…… bagaimana caranya?

"Benar-benar melelahkan tahu, di setiap lantai ada tiga penjaga. Aku bicara pada mereka sambil membatalkan serangan mereka yang penuh amarah itu, dan terus melakukannya sampai lawan kehabisan tenaga."

"Begitu terus selama dua puluh lantai berturut-turut, apalagi yang terakhir ada empat orang sekaligus…… Sehebat-hebatnya aku, aku lelah juga tahu. Tapi ini adalah kewajiban sebagai penganut paham perdamaian!"

Serius nih orang, dia membujuk…… maksudnya, dia membuat lawan kehabisan tenaga tanpa menyerang balik sama sekali?

Sejujurnya, menurutku dia sudah tidak waras.

"Sampai tidak bisa berkata-kata ya. 64 Dewa Khayangan itu kan orang-orang yang lumayan kuat. Bisa mengalahkan mereka tanpa menyerang……"

"Bukan cuma lumayan! Lloyd-sama memang bisa membantai mereka dalam sekejap, tapi di Khayangan mereka itu kumpulan orang-orang terkuat! Seharusnya satu lawan satu saja sudah sulit bagi manusia!"

"Yah, mengingat dia tidak menjilat ludahnya sendiri soal benci bertarung, mungkin dia punya sedikit kelebihan sebagai manusia."

Grim dan yang lain juga terkejut, tapi aku jujur saja merasa heran.

Aku juga terkadang sengaja menerima serangan lawan, tapi biasanya lawan tidak akan bergerak sesuai keinginan kita sehingga aku tidak sengaja memukul balik.

Tapi dia melakukannya 64 kali berturut-turut…… seberapa sabar sih dia? ……Yah, mungkin memang harus sesabar itu kalau mau jadi Holy King.

"Apalagi tangganya panjang sekali, dan begitu sampai ke atas langsung diserang lagi, tidak ada waktu istirahat sama sekali. Ini kan bukan gim, harusnya ada batasnya dong. Kalau bukan aku, pasti sudah mati."

"……Tapi ini sudah berakhir, Dewa-sama! Aku juga akan membujukmu sampai kalah, jadi bersiaplah!"

Holy King menunjuk Dewa dengan tegas, namun aku menyadari ada yang aneh.

Alasan Dewa menyuruhnya ke lantai teratas pasti untuk menjauhkannya dari tempat ini yang berada di lapisan terbawah Khayangan.

Dia sangat terkejut saat aku datang ke sini secara paksa dengan Spatial Teleportation, jadi itu pasti benar.

Tapi kalau begitu, kenapa Holy King yang tadinya ada di lantai teratas sekarang bisa ada di sini?

"……Hei Holy King, bagaimana kamu bisa sampai ke sini?"

"Hm? Oh, aku sampai di lantai teratas tapi tidak ada apa-apa di sana, jadi aku istirahat sebentar. Tiba-tiba saja muncul lubang di ruangannya, dan saat aku melangkah masuk, aku sudah sampai di sini──"

Perkataan Holy King terhenti.

Tanpa disadari, bagian putih di ruangan ini mulai terkelupas, dan kegelapan pekat muncul dari baliknya.

"Wah! A-Apa ini!?"

Holy King terperosok ke dalam kegelapan itu. Kegelapan itu juga sudah mencapai kakiku, dan aku mulai tenggelam perlahan.

Ruangan yang tadinya putih bersih kini menjadi hitam pekat dan berubah seperti lumpur.

"Apa-apaan yang terjadi ini, dasar malaikat sialan!? Bukankah Khayangan itu wilayah kekuasaanmu!?"

"Mana aku tahu, dasar jin bodoh! ……Tapi lumpur ini memancarkan aura yang sangat jahat…… Berhati-hatilah, Lloyd-sama!"

Grim dan Jiriel tampak kebingungan.

Sementara itu, Beal memasang wajah serius seolah-olah dia mengetahui sesuatu.

"Mungkinkah…… tidak, tapi hanya itu kemungkinannya…… Namun benarkah hal seperti itu bisa terjadi……?"

"Apa kau tahu sesuatu? Beal."

"Umu…… sulit dipercaya, tapi aku merasakan gelombang khas iblis tingkat tinggi dari lumpur ini……! Gelombang kegelapan yang tidak mungkin dimiliki oleh penghuni Khayangan."

"Maksudmu, Dewa itu sebenarnya adalah iblis?"

Beal mengangguk dengan ekspresi berat.

"De-Dewa adalah iblis? Mana mungkin hal seperti itu terjadi!"

"Tapi kalau diperhatikan lagi, hawa iblisnya memang terasa. Mirip dengan aura Tuan Beal…… waph!"

Tanpa disadari, lumpur itu sudah merambat sampai ke dadaku, dan seluruh tubuh Holy King sudah tenggelam dalam kegelapan.

Lumpur ini sendiri sepertinya adalah tubuh mana yang memiliki kehendak.

Kecepatan infiltrasinya sangat cepat, dan dalam sekejap sudah menelan kami.

Topun── pandanganku menjadi gelap gulita.

Lumpur melilit seluruh tubuhku, membuatku sama sekali tidak bisa bergerak. Hmm, jadi ini yang dia sebut sebagai kekuatan sejati.

Seseorang yang terjebak di ruang ini tidak akan tahu mana atas, bawah, kiri, atau kanan, sementara seluruh tubuhnya digerogoti dan ditelan.

Ditambah dengan jangkauan efek yang luas dan kepadatan mana yang kuat ini. Lawan biasa pasti tidak akan bisa mengatasinya.

──Tentu saja, kecuali aku.

"Sihir sistem ruang, Void Space."

Aku membuka lubang ruang yang tak terhitung jumlahnya di sekitar, dan menyedot lumpur itu sekaligus dari sana.

Suara menderu yang sangat bising bergema di mana-mana.

Wah, wah, tekanannya hebat juga.

Lubang ruang terus menyedot lumpur, dan tak lama kemudian kegelapan mulai sirna seperti air laut yang surut.

"Heh, ingin mengalahkan Lloyd-sama dengan lumpur seperti itu, seribu tahun pun masih terlalu cepat!"

"Tapi…… situasinya berubah drastis dibanding tadi."

Saat aku melihat sekeliling, langit telah berubah menjadi merah darah, dan kabut hitam melayang di sekitar, mungkin karena lumpur yang tidak terserap habis.

Tanah di bawah kaki berubah menjadi hitam dan menempel di sepatu seperti aspal.

"Pemandangannya benar-benar seperti neraka……"

"Ah, Holy King tergeletak di sana."

Holy King yang berlumuran lumpur tergeletak di kejauhan. Ah, aku sampai lupa kalau dia ada di sini. Bisa selamat meski ditelan lumpur itu, dia hebat juga.

"Oii, kamu masih hidup?"

"Ugh……"

Holy King mengerang pelan dan mencoba mendudukkan dirinya.

Dia tampak sangat lemas, tapi setidaknya dia masih bernapas.

"Tapi ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan Dewa itu ya?"

"Bukankah dia sudah lenyap ditelan Void Space? Meski punya tubuh mana, tidak ada yang bisa dilakukan jika dilempar ke dimensi lain."

Tapi ini aneh. Hawa keberadaannya yang kurasakan tadi masih tersisa.

Awalnya kupikir itu berasal dari lumpur yang tersisa di lantai, tapi hawa itu perlahan memudar di sana dan justru berkumpul di tempat lain.

Hawa itu mengarah ke tempat orang yang sedang duduk di sampingku──

"──!?"

Sebuah tombak hitam pekat melesat keluar dari mulut Holy King.

Gannn! Benturan keras terjadi, dan tombak itu menghantam dahi aku.

"Lloyd-samadd!?"

Aku terlempar, namun segera memutar tubuh di udara dan menancapkan kaki dengan kuat ke tanah.

Tanah yang kupijak hancur berantakan, kakiku yang terbenam berfungsi sebagai rem, namun aku tetap terseret mundur puluhan meter.

"Apa Anda baik-baik saja!?"

"……Ya, agak sakit sih."

Jawabku sambil memegang dahi yang terasa berdenyut.

Holy King (?) perlahan menegakkan tubuhnya sambil menyeringai. Mata dan bagian dalam mulutnya hitam pekat seperti lumpur tadi.

Senyuman dan auranya benar-benar mirip dengan lawan yang kuhadapi tadi── sang Dewa.

"Hou, kau masih bisa memasang wajah tenang setelah menerima serangan itu. Sepertinya tubuh lelaki tua tadi memang tidak bisa menang melawannya."

"……Begitu ya. Jadi itu wujud aslimu. Akhirnya aku paham, Dewa── atau lebih tepatnya aku panggil Gluttony, the Demon King of Voracity?"

Berbagai tindakan yang tidak seperti Dewa, hawa iblis yang terasa di sana-sini, dan puncaknya adalah kekuatan untuk merasuki tubuh orang lain…… sampai di sini, aku yang tidak peka pun menyadarinya.

──Gluttony, the Demon King of Voracity.

Lahir sebagai iblis lemah di dunia iblis, namun dengan kecerdikan dan sifat pengecutnya ia berhasil naik takhta menjadi Raja Iblis.

Ia sempat diincar oleh Dewa dan menyerang Khayangan namun kalah.

Kabarnya, dari langit berjatuhan banyak sekali iblis yang telah diserap oleh Gluttony.

Tapi kenyataannya tidak begitu. Gluttony telah membunuh Dewa, lalu berpura-pura mati dan menyebarkan mereka yang telah ia serap sebagai kamuflase. Lalu, ia menggantikan posisi Dewa dan bersemayam di sini.

"Cih, ternyata benar dugaanku. Lumpur tadi memancarkan hawa Raja Iblis yang sangat kuat. Lumpur itu bukan ditujukan untuk Lloyd, tapi untuk menyerap Holy King. Itulah alasan dia memanggilnya ke sini."

Singkatnya, itulah kekuatan sejati yang dia maksud. Menyerap orang lain untuk mendapatkan kekuatan, inilah kemampuan asli dari sang Raja Iblis Kerakusan.

"Fuhfuhfuh, kuhahahaha! Benar sekali. Aku adalah Demon King Gluttony. Ingin rasanya aku memuji ketajaman analisismu, tapi melihat kondisi penerusku yang menyedihkan ini, mungkin aku harus memarahinya."

Sosok Dewa yang kini terungkap sebagai Gluttony tersenyum provokatif.

"Tidak mungkin…… Dewa adalah…… Raja Iblis……? Aku tidak percaya……!"

"Tapi kalau dipikir-pikir, semuanya jadi masuk akal. Hebat juga dia tidak ketahuan selama ini."

"Kukuku, akan kuberitahu sebagai bekalmu ke alam baka. Saat aku menyerang Khayangan, aku membantai para malaikat dan menuju tempat Dewa."

"Namun Dewa ternyata lawan yang lebih sulit dari dugaanku. Ia punya kekuatan untuk melepas Fusion, dan aku sempat dibuat kesulitan. Tapi ternyata dia pria yang sangat naif……"

"Kuku, saat aku menjadikan para malaikat yang kutangkap sebagai perisai, dia langsung berhenti melawan dan menyerah. Lalu, aku membunuhnya dengan syarat aku harus membiarkan para malaikat itu hidup."

"……Tak disangka. Kupikir tipe orang sepertimu akan membantai semua malaikat itu sekalian."

"Fufu, kau tidak mengerti apa-apa ya. Membunuh itu bisa dilakukan kapan saja. Bukankah lebih berguna jika aku menggantikan posisi Dewa dan menjadikan mereka bawahanku?"

Gluttony tertawa kecil sambil melanjutkan ceritanya.

"──Ah, omong-omong, semua dari 64 Dewa Khayangan saat ini adalah iblis tingkat tinggi bawahanku."

"Awalnya setengah dari mereka memang yang asli, tapi mereka semua terlalu cerdik. Karena mereka mulai menyadari sesuatu, aku harus segera melenyapkan mereka. Padahal kalau mereka tetap bodoh aku akan membiarkannya hidup, tapi mereka malah sengaja datang menjemput maut. Benar-benar bodoh. Kukku."

"Mengerikan sekali…… Jadi selama ini kami terus mematuhi perintah Gluttony……!"

Jiriel menggertakkan giginya. Tentu saja dia syok mengetahui seluruh Khayangan ternyata dikuasai oleh para Raja Iblis.

"Setelah mendapatkan takhta Dewa, aku menciptakan sistem Holy King untuk memanfaatkan manusia. Aku memilih manusia yang memiliki kecocokan terbaik dengan tubuh mana milikku, lalu menjadikan mereka rasul sebagai cadangan yang bisa kugunakan untuk Fusion kapan saja."

Iblis yang merupakan tubuh mana bisa masuk ke dalam tubuh manusia dan menjadikannya milik sendiri. Holy King hanyalah wadah untuk itu.

"Semakin kuat manusianya, maka kemampuannya setelah diambil alih juga semakin tinggi. Namun butuh waktu lama untuk menyatu. Jadi dia sengaja menggunakan Holy King untuk itu, ya. Benar-benar licik."

"Jadi dengan menerima mana miliknya terus-menerus melalui wahyu, mereka menjadi lebih mudah untuk dirasuki……!"

Grim dan Jiriel tersentak. Memang benar, luapan mana saat ini tidak bisa dibandingkan dengan yang tadi. Aliran kekuatan yang sangat dahsyat ini membuatku merasa seolah-olah akan terhempas hanya dengan berdiri di dekatnya.

"Kukuku…… kekuatanku meluap-luap. Orang ini memiliki kekuatan terbesar di antara sejarah para Holy King, tapi karena dia penganut perdamaian yang payah, dia jadi penakut yang tidak bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal."

"Tapi itu berakhir sekarang. Biarkan aku yang menggunakan kekuatan ini sepuasnya!"

Gluttony membuka matanya lebar-lebar. Seketika, pandanganku tertutup warna hitam.

Duuum!

Suara ledakan baru terdengar beberapa saat kemudian.

"Oi, apa kau baik-baik saja Lloyd!"

"Aduh, aduh…… ya, lenganku cuma terasa sedikit perih saja."

Tapi luar biasa juga dia bisa menembus pelindung manaku dan memberikan luka.

Hanya serangan mana murni tanpa formula sihir, tapi kekuatannya sungguh hebat.

Kecepatan, kekuatan, dan kilatan hitam yang dilepaskan dalam jangkauan luas.

Gluttony menciptakan salib hitam di tangannya dan menerjang ke arahku.

"Fuhahaha! Output-nya masih terus meningkat!"

Aku menahan salib yang dihujamkan itu dengan kedua telapak tangan.

Zuzun!

Saat aku menahan posisiku, tanah di bawahku hancur berantakan.

"Sampai kapan kau sanggup bertahan, mari kita lihat!"

Serangan susulan, serangan susulan, serangan susulan menghujam diriku yang terpaku di tanah.

Rentetan serangan seperti hujan deras turun tanpa henti.

"Setiap pukulannya berat sekali! Inilah Gluttony yang mengeluarkan kekuatan sejati!"

"Levelnya jauh berbeda dengan yang tadi…… dia jauh lebih kuat dari Beal! Pantas saja dia dijuluki Raja Iblis terkuat!"

Kalau begitu, sepertinya aku juga bisa mengeluarkan kekuatanku sepuasnya. Aku melompat keluar dari rentetan serangan itu dan melakukan serangan balik.

"Sihir suci, Ultimate Holy Light."

Kilatan cahaya yang dilepaskan dari ujung jariku meledak── namun Gluttony terus menerjang maju tanpa mempedulikannya sedikit pun.

Hmm, sihir suciku sama sekali tidak mempan, ya. Mana milik Gluttony sendiri memang kuat, tapi karena dia menggunakan tubuh Holy King, efek sihir suci jadi berkurang drastis.

Bertakhta sebagai Dewa di Khayangan untuk menghindari musuh alami, dan bergabung dengan manusia untuk menghilangkan kelemahannya sendiri.

Kewaspadaan yang luar biasa ini sepertinya adalah sumber kekuatan Gluttony.

"……Begitu ya, dia tidak punya titik lemah."

"Benar sekali! Raja Iblis yang mendapatkan kekuatan Dewa, akulah penguasa tak terkalahkan di dunia ini!"

Tanpa disadari, salib di tangannya telah membesar. Salib yang diselimuti mana hitam pekat itu diayunkan ke arahku.

"Matilah kau!"

Duuum!

Tanah hancur membentuk tanda silang raksasa, dan asap ledakan mengepul dari sana.

Dasar retakan yang dalam itu sudah tidak terlihat lagi, Gluttony melirik sekilas ke arah kepulan asap yang membubung tinggi.

"──Ngomong-ngomong, alasanku bicara panjang lebar tadi adalah untuk memojokkan diriku sendiri agar bisa membunuhmu dengan pasti. Penguatan mana melalui tekad dan sumpah, inilah dorongan kekuatan terhebat."

"Aku orang yang waspada. Untuk memusnahkanmu secara pasti, aku langsung menggunakan seluruh kekuatanku sejak awal. Setelah menerima serangan itu, mana mungkin kau masih hidup."

Saat Gluttony berbalik pergi, aku memanggilnya dari atas kepalanya.

"Begitu ya, meningkatkan mana dengan memojokkan diri melalui tekad atau sumpah yang kuat. Sepertinya itu sangat cocok dengan tubuh mana."

Metode untuk meningkatkan efek sihir menggunakan kekuatan berbagai emosi seperti cinta, keberanian, kecemburuan, atau kebencian memang sudah ada.

Namun, emosi sangat sulit dikendalikan, apalagi saat mengendalikan formula sihir dibutuhkan ketenangan, jadi tidak selalu berguna dalam sihir.

Jika hanya untuk satu serangan terakhir mungkin bisa, tapi sulit untuk digunakan secara rutin.

Tapi bagi tubuh mana, mereka bisa memasukkan emosi secara langsung ke tubuh fisik, dan tensi mereka akan mudah naik saat baku hantam. Kecocokannya memang luar biasa.

"──!?"

Namun karena itu pula, ada kelemahannya yaitu jika terlalu bersemangat, seseorang akan kehilangan kesadaran terhadap sekelilingnya.

Di kaki Gluttony yang terkejut, tergeletak 'kulit' kosong milikku.

Aku berpindah menggunakan teleportasi ruang dengan meninggalkan lapisan luar tubuh manaku saja.

Kalau dia tenang, dia pasti akan menyadarinya.

"Biasanya kalau cuma meninggalkan kulit, sensasi hantamannya akan hilang dan lawan akan sadar sih……"

"Seberapa keras sih Lloyd-sama sampai kulitnya saja bisa menahan serangan sebrutal itu?"

Kalian bicara apa sih. Ini bahkan belum ada apa-apanya.

Aku yang memegangi jari telunjukku ke atas membuat Gluttony melayang ke udara.

"Uwooh!?"

"Memukul dengan emosi memang tidak buruk, tapi output segitu sih bisa dikeluarkan dengan biasa saja sambil tetap tenang. ──Seperti ini."

Bersamaan dengan sentikan jariku── bachiiiin! Terdengar suara dentuman keras dan Gluttony terpental jauh.

Dia terhempas ke tanah, dan benturannya menciptakan retakan tanah yang besar.

"Serangan yang tidak kalah kuat dengan serangan Gluttony tadi…… padahal kau tidak menggunakan sihir sama sekali? Apa yang kau lakukan, Lloyd!?"

"Cuma fenomena fisika biasa, kok."

Yang melilit di ujung jariku adalah benang transparan── tubuh mana yang ditipiskan dan dipintal menjadi satu. Aku menyentaknya seperti busur panah dan menghantamkannya pada Gluttony.

Ini yang disebut tegangan. Teknik untuk menciptakan kekuatan besar dengan energi yang lebih sedikit itu ada banyak sekali tanpa perlu bergantung pada emosi.

Misalnya seperti ini juga…… aku menarik benang itu untuk mengangkat Gluttony dari lubang besar, lalu mulai memutarnya.

Saat dia berputar dengan kecepatan tinggi karena gaya sentrifugal, aku menghantamkan War Hammer of Light yang kuciptakan dengan tangan yang lain.

Seberapa pun besarnya ketahanan terhadap sihir suci, dia tetap akan terluka jika dihantam secara paksa.

──Gushari, terdengar suara seperti sesuatu yang remuk dan gerakan Gluttony terhenti.

"Masih belum selesai, lho. Air Hole Fang: Gale."

Taring dari Ki yang dilepaskan menembus Gluttony sambil berputar seperti spiral.

Memanfaatkan tubuh mana untuk memadatkan Ki hingga sepuluh kali lipat dari biasanya, Air Hole Fang: Gale tidak kehilangan momentumnya meski telah mengenai sasaran dan terus membawa Gluttony terseret jauh── hingga meledak di kejauhan.

"Gwaaaaaaaa!?"

"──Nah, begitulah kira-kira. Bertarung dengan emosi memang tidak buruk untuk jangka pendek, tapi cakupan berpikirmu jadi menyempit. Itulah kenapa kamu mudah dijatuhkan dan dipermainkan di tempat yang tak terduga."




Seketika, aku kehilangan ketenangan dan kemampuan untuk menganalisis.

Sambil terus berbicara, aku mengangkat tangan kanan dan mulai membentuk tubuh mana.

Yang kuciptakan kali ini adalah sebuah tongkat. Dengan kata lain, sebuah alat penguat formula sihir. Aku langsung menggandakannya menjadi lima buah.

Soalnya, tongkat yang tadi langsung hancur hanya dengan sekali tembak. Kalau sebanyak ini, kurasa aku bisa melepaskan sihir tingkat tinggi.

Sihir api tingkat teratas── Scorching Flame Fang.

Begitu diaktifkan, pandanganku seketika berubah menjadi merah pekat. Semua tongkat itu hancur berkeping-keping, dan api raksasa melahap segalanya.

"Panas, panas, panasss! Tolong kecilkan apinya, Lloyd-sama! Aku bisa ikut terpanggang di sini!"

"Jangkauan serangannya terlalu luas! Seluruh area ini berubah menjadi lautan api!"

"Waduh, sepertinya aku berlebihan."

Hmm, padahal aku tidak menggunakan trik khusus apa pun, tapi kekuatannya benar-benar tidak masuk akal.

Memang benar-benar tidak bisa pakai tongkat, ya. Kekuatannya terlalu besar jadi sulit digunakan. Aku pun merapal sihir sistem air untuk menurunkan hujan lebat guna memadamkan apinya.

Di tengah kabut asap hitam yang mulai menipis, sebuah bayangan tampak menggeliat.

"Haa, haa, haa……"

Gluttony bangkit berdiri sambil terengah-engah.

Meski sekujur tubuhnya tampak hangus di sana-sini, tubuh mananya seolah hampir tidak terluka.

Sepertinya dia hanya syok secara mental.

"Berani sekali kau…… meremehkanku…… Tapi aku masih punya banyak tenaga sisa. Pertarungan yang sesungguhnya baru dimulai sekarang. Serangan tadi memang hebat, tapi kau pasti sudah kehabisan banyak mana setelah menggunakan sihir selevel itu──"

Kata-kata Gluttony terhenti saat matanya terbelalak karena terkejut.

Dia kehilangan kata-kata saat menatap ke arahku. Di sekelilingku, telah melayang banyak sekali sihir yang kusiapkan melalui formula sihir siaga, yang semuanya telah diperkuat oleh tongkat.

"Tenang saja. Yang tadi itu cuma pemanasan. Aku masih punya banyak tenaga sisa, kok. ……Ah, sekarang giliranmu ya? Ayo, ayo, kali ini seranglah aku dengan sungguh-sungguh."

"Ti-Tidak mungkin……! Jadi yang tadi itu bukan kekuatan penuhmu……?"

Entah apa yang membuatnya begitu terkejut, tapi bukankah itu sudah jelas?

Soalnya, sedari tadi aku baru menggunakan sihir-sihir dasar saja.

"Mustahil…… ini mustahil……!"

"? Apa yang kau bicarakan. Ayo cepat, tunjukkan serangan seriusmu dengan kekuatan sejati. Jangan serangan payah yang cuma mengandalkan emosi begitu, tapi berikan sesuatu yang lebih kreatif!"

Mendengar perkataanku, Beal menjawab dengan suara pedih.

"……Lloyd, serangan tadi itu sudah pasti adalah kekuatan penuhnya. Jangan lupa, kau sudah menjadi terlalu kuat berkat penyatuan denganku."

"Eh…… Benarkah begitu?"

Mendengar pertanyaanku, Gluttony hanya bisa merengut.

Hmm, sepertinya memang benar kalau yang tadi itu adalah kekuatan maksimalnya.

Kalau memang begitu── Aku menatapnya dengan pandangan dingin sambil menghela napas.

"Haa, ya ampun…… Sepertinya daripada bertarung denganmu, mengobrol dengan Holy King jauh lebih bermanfaat. Hei, bisa tidak kalian bertukar tempat sekarang?"

"……Grrr! Kauuuu……!"

Wajah Gluttony berkerut karena amarah, dia hanya bisa menggertakkan giginya.

"Nuwaaaaaaa!"

Gluttony terus melancarkan serangan demi serangan dibarengi raungan keras.

Namun, Lloyd menangkisnya dengan mudah dan melancarkan serangan balik yang telak. Berkali-kali.

"Guh…… Kenapa! Kenapa perbedaan kekuatannya bisa sejauh ini……!"

Perbedaan jumlah mana di antara mereka tidaklah sebesar itu. Justru mana milik Gluttony sedikit lebih unggul.

Ditambah lagi, karena dia menggunakan tubuh Holy King, dia hanya menerima kerusakan secara tidak langsung.

Kerusakan pada tubuh mananya seharusnya sangat minim. Harusnya begitu. Namun, situasi saat ini benar-benar berat sebelah.

Berbagai macam serangan yang dilepaskan Lloyd terus menghujamnya, mengikis satu per satu nyawa yang telah ia kumpulkan dari sekian banyak penyatuan.

"Selama nyawa terakhir yang ada di bagian terdalam tidak hilang, aku tidak akan mati, tapi…… Sial, kalau terus begini……!"

Bahkan nyawanya sendiri, yang tidak pernah terancam sekali pun selama ribuan tahun, kini tidak lagi bisa dikatakan aman.

Sosok yang memiliki nyawa yang hampir tak terbatas dan kekuatan yang hampir tak terkalahkan itu, kini untuk pertama kalinya merasa terancam.

"Ayo, bagaimana kalau yang ini?"

Kilauan mana yang belum pernah dilihat sebelumnya terpancar dari tangan Lloyd.

Teknik pengusir iblis, teknik yang menggunakan kekuatan Khayangan, ada berbagai macam sihir di dunia ini, tapi yang satu ini benar-benar berbeda.

Mana mungkin benda yang tidak masuk akal seperti ini bisa disebut sihir. Benda ini sudah bukan lagi sihir. Ini sudah seperti……

"Nu…… ooooooo!"

Pelindung mana yang ia ciptakan dalam keputusasaan hancur dengan mudah dan lenyap menjadi kabut.

Dinding mana yang dipadatkan secara ekstrem seharusnya menjadi pertahanan terkuat karena kesederhanaannya, namun sihir yang dilepaskan Lloyd mengabaikan hal itu sama sekali.

Bukan hanya kekuatannya yang tinggi, Lloyd seolah memaksa lawannya untuk terus memutar otak.

Ia terpaksa menggunakan trik-trik kecil yang dulu sering ia gunakan saat masih lemah dan kecil untuk bertahan hidup.

Pemusnahan timbal balik dengan serangan atribut berlawanan, pembatalan dengan merusak formula sihir, penghilangan target dengan sihir lenyap…… Namun, Lloyd justru menyeringai senang dan langsung merespons semua cara itu.

Seolah-olah Lloyd berkata, "Ayo yang selanjutnya. Tunjukkan sesuatu yang baru padaku."──

"Guh…… Apa pun yang kulakukan selalu bisa dia atasi…… Gawat kalau begini terus. Aku harus memikirkan sebuah rencana……"

Gluttony memutar otaknya. Berbagai ide muncul dan lenyap di dalam benaknya.

Mustahil bisa menang jika bertarung secara jujur. Tapi, memohon belas kasihan pun tidak akan mempan.

Lloyd adalah sosok kejam yang bahkan tidak mengubah ekspresi wajahnya saat menyerang dirinya yang sudah menyerap Holy King yang merupakan temannya sendiri.

Namun, Gluttony tidak menyerah.

Dulu saat ia masih lemah dan kecil, ia terus bertahan hidup dengan mengamati gerak-gerik dan tindakan orang kuat, menemukan kelemahan mereka, menjebak mereka, mengalahkan mereka, atau melarikan diri hingga bisa mencapai posisinya sekarang.

"Pasti ada petunjuk dari tindakan dan ucapannya…… Benar!"

Gluttony kembali menghadap Lloyd untuk menjalankan rencana hebat yang baru saja ia pikirkan.

"……Kuku, jujur saja aku sangat terkejut. Aku tidak menyangka ada manusia sepertimu di dunia ini……"

"Oh, ada apa? Akhirnya kamu berhenti melarikan diri dan mau bertarung dengan serius?"

Gluttony berteriak ke arah Lloyd yang sedang turun perlahan dari udara.

"Fuhahaha! Luar biasa, wahai anak manusia! Kekuatanmu yang bahkan melampaui aku yang seorang Dewa ini benar-benar membuatku kagum!"

"……Hah?"

Meskipun Lloyd tampak bingung mendengarnya, Gluttony tetap melanjutkan bicaranya.

"Namun jika kita terus bertarung, dunia ini sendiri akan berada dalam bahaya. Oleh karena itu, sebagai tindakan kedewasaan, aku akan menyatakan kekalahanku untuk hari ini."

"……Ngomong apa sih kamu? Kamu itu bukan Dewa, tapi Raja Iblis Gluttony yang memakan Dewa itu, kan?"

"Fuh, itu tadi cuma bercanda. Aku hanya mengikuti alur pembicaraan kalian saja. Bisa dibilang itu cuma selingan. Sebenarnya aku adalah Dewa, persis seperti yang kukatakan tadi."

──Tentu saja, itu hanyalah kebohongan asal-asalan yang muncul karena dia sudah terdesak.

Itu adalah dusta yang sangat mudah diketahui siapa pun, tapi Lloyd mendengarkannya dalam diam.

"……Kuku, dugaanku tepat! Kalau dia punya rasa ingin tahu yang tinggi, dia pasti akan mendengarkanku. Dan tentu saja, dia juga akan mendengarkan kata-kataku selanjutnya……!"

Sambil menggumam pelan, Gluttony melanjutkan perkataannya.

"Karena Dewa tidak bisa mengabulkan permintaan manusia dengan mudah, maka ini bisa disebut sebagai sebuah ujian. Dan kau berhasil melaluinya dengan gemilang. Maka, sesuai keinginanmu, aku akan melepaskan Fusion ini."

"……Aku tidak mengerti, tapi kamu bisa melepas Fusion-nya?"

──Aku menang, Gluttony tersenyum penuh kemenangan dalam hati.

Sisanya, ia hanya perlu bersilat lidah untuk membuat Lloyd lengah, lalu menghantamnya dengan kekuatan penuh.

Dengan begitu, bocah ini akan mati, dan hari-hari damai tanpa ancaman akan kembali menyambutnya.

"……Ya, tentu saja bisa. Kemarilah, mendekatlah padaku."

Lloyd mendekat sesuai perintahnya.

Seketika itu juga, Grim dan Jiriel melesat keluar dari tangannya.

"Jangan mau ditipu, Lloyd-sama! Semua ucapannya itu omong kosong! Dia pasti berencana menyerang begitu Anda lengah!"

"Benar, Lloyd-sama! Dia berniat mengambil alih tubuh Anda saat Anda lengah karena terbuai kata-katanya! Kita harus menghabisinya sekarang juga!"

"Entah kenapa…… kalau kalian berdua yang bilang, rasanya jadi terdengar meyakinkan……"

""Glek!!!""

Kedua pelayan itu terbungkam oleh kata-kata Lloyd.

Meski mereka sudah memperingatkannya, sepertinya Lloyd tidak berniat mendengarkannya.

Sambil memiringkan kepala, Lloyd berjalan mendekat hingga tepat di depan Gluttony.

Kukku, dia sempat merasa panik sesaat, tapi ternyata bocah ini benar-benar bodoh.

"Lalu, apa yang harus kulakukan?"

"Tutup matamu, balikkan badanmu. Lalu, hilangkan mana yang menyelimuti tubuhmu."

"Begini?"

Lloyd menghilangkan mana yang menyelimutinya sesuai perintah, lalu Gluttony mengarahkan tangannya ke arah punggung Lloyd yang tanpa pertahanan.

"……Ya, bagus sekali! Kuku, bagus, bagus, aku akan segera melepas Fusion-nya sekarang."

Sambil menyeringai licik, Gluttony memusatkan mana ke ujung jarinya.

Lebih kuat, lebih tajam, sebuah serangan yang bahkan tidak akan sempat direspons── untuk membunuh.

Ia menusukkan jarinya yang telah dipenuhi mana ke arah tengkuk Lloyd yang terbuka lebar.

──Gushari, suara sesuatu yang hancur itu berasal dari tangan Gluttony sendiri.

Ujung jari yang seharusnya telah dialiri seluruh mananya patah berantakan, membengkok ke arah yang tidak wajar di sana-sini.

"Apa……?"

Seharusnya itu adalah serangan telak.

Dalam adu mana murni tanpa teknik apa pun, seharusnya dialah yang menang karena memiliki total mana yang lebih banyak.

Namun kenapa…… Di hadapan Gluttony yang terpaku lemas, Lloyd menoleh dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.

"Hm? Kok Fusion-nya belum lepas juga? Ayo cepat."

Bahkan, Lloyd sama sekali tidak peduli.

Bukan itu saja, dia bahkan tidak menyadari kalau baru saja diserang.

Dan setelah menyentuh kulitnya secara langsung, barulah Gluttony menyadari alasan kenapa serangannya tadi tidak mempan.

──Di seluruh tubuh mana milik Lloyd telah terukir formula sihir.

Darahnya, dagingnya, tulangnya, semuanya. Hal itu menciptakan aliran mana dengan kepadatan yang sangat-sangat tinggi.

Pantas saja serangannya tidak mempan.

Jika mana milik Gluttony diibaratkan seperti aliran air, maka mana milik Lloyd adalah magma yang melelehkan batu. Seberapa pun terbukanya pertahanan Lloyd, Gluttony tidak akan bisa memberikan pengaruh sedikit pun padanya.

Anggapannya bahwa ia bisa bertarung seimbang hanyalah khayalan belaka.

Lloyd hanya sedang bermain-main dengannya.

Lloyd sengaja menggunakan pelindung dan sihir yang tidak berguna.

Karena jika mereka bertarung dengan jujur, semuanya akan berakhir dalam sekejap, jadi dia melakukannya agar pertarungan tidak cepat selesai.

Sulit dipercaya. Benarkah ada manusia yang bisa melakukan hal seperti itu?

Jika memang ada, adakah cara untuk mengalahkannya?

Adakah kemungkinan untuk kabur?

 ──Sudah pasti, tidak ada.

"Tidaaaaaaaaak!"

Gluttony melarikan diri sambil berteriak histeris. Namun, terdengar suara dari belakang punggungnya.

"Hei, ada apa? Tiba-tiba kabur begitu? Mau ke toilet?"

"Cih! Matiaaaa kau!"

Serangan mana yang dilepaskan dalam keputusasaan pun dibatalkan begitu saja tanpa perlu Lloyd memasang posisi bertahan.

Dia tidak bisa kabur. Melihat wajah Gluttony yang berkerut dalam keputusasaan, Lloyd menepukkan kedua tangannya.

"Ah, jangan-jangan yang tadi itu bohong ya?"

"……Sudah jelas sekali, kan. Persis seperti kata aku, dia tidak lain adalah Raja Iblis Gluttony. Yang tadi itu cuma akting karena dia sudah terdesak."

Mendengar teguran Beal, Lloyd menggembungkan pipinya.

"Eeeh, lalu kenapa tadi kamu tidak bilang apa-apa."

"Soalnya meski aku melarangmu pun kamu pasti tidak akan dengar."

"……Yah, karena ini Lloyd-sama, kupikir pasti akan baik-baik saja."

"……Kami juga sebenarnya tidak terlalu…… gonyo-gonyo."

Melihat Grim dan yang lain bergumam sendiri, Lloyd memiringkan kepalanya dengan heran.

Lalu, dia mengucapkannya dengan nada yang terdengar membosankan.

"Yah, sudahlah. Tidak masalah."

Mendengar kata-kata yang dingin membeku itu, sekujur tubuh Gluttony seketika dibanjiri keringat dingin.

Di saat yang sama, ingatan saat ia masih lemah dan kecil dahulu mulai meluap kembali.

──Binatang terkecil dan terlemah di dunia iblis. Corpse Rat.

Terlahir sebagai yang paling lemah di antara kaumnya, ia selalu terancam bahaya sejak saat ia dilahirkan.

Jatah makanan dari induknya hampir selalu direbut oleh kakak-kakaknya, dan bahkan setelah mandiri pun, ia selalu hidup dalam ketakutan jangan sampai dimangsa oleh yang lebih kuat.

Hingga suatu hari, dia bertemu dengan Raja Iblis saat itu.

"■■■■"

Dia tidak ingat apa yang dikatakan padanya, dan saat itu dia pun belum punya kecerdasan untuk memahaminya.

Namun, hanya rasa takut akan kematian yang mutlak yang ia rasakan saat itulah yang terukir sangat dalam di hatinya──

"Jadi maksudmu itu adalah dia!? Dia punya kekuatan yang setara dengan 'Orang Itu'…… apakah perbedaannya sejauh itu!? ……Mustahil! Tidak mungkin hal itu bisa terjadi!"

Badai mana meledak bersamaan dengan raungannya.

Tak terhitung banyaknya lingkaran sihir yang melayang di sekitar Lloyd, dan rentetan serangan mana menghujannya tanpa henti.

Dododododododododo!

Pusaran ledakan yang mengamuk, ledakan cahaya yang meletus, pilar cahaya warna-warni yang membubung tinggi…… Namun, serangan yang telah menguras seluruh mananya itu tetap saja tidak bisa melukai Lloyd sedikit pun.

"Cuma segini?"

Sepasang mata yang menatap Gluttony dengan wajah tenang sambil bergumam itu, tampak seperti mata anak kecil yang polos namun kejam saat menatap mainan yang sudah tidak menarik lagi baginya.

Sepasang mata itu sama dengan mata tuannya, sosok yang paling ia cintai sekaligus paling ia takuti, yang terkadang menunjukkannya.

"Sial! Sial! Siaaaaalll! Kenapa di saat seperti ini aku malah teringat akan orang itu! Mana mungkin bocah seperti ini sama dengan orang itu!"

Puluhan ribu tahun yang lalu, di padang gurun dunia iblis, ia dipungut oleh mantan tuannya, sang Raja Iblis Orisinal.

Kuat, cerdas, cantik, dan yang terpenting adalah sangat mengerikan…… Dialah sosok yang paling dicintai oleh Gluttony.

Dia ingin menjadi seperti orang itu.

Bisa dibilang semua teknik yang telah ia pelajari selama ini adalah untuk tujuan itu.

Dan kini, hasil kerja kerasnya selama puluhan ribu tahun itu akan mekar setelah bertemu dengan musuh terkuat yang belum pernah ia hadapi sebelumnya──

"Eh, apa-apaan!? Tiba-tiba tubuhnya mulai bercahaya!?"

"Lu-Luapan mana yang luar biasa! Jauh lebih hebat dibanding yang tadi!"

Cahaya itu menyelimuti tubuh Gluttony sambil mengeluarkan suara menderu yang menggelegar.

Di tengah badai yang mengamuk itu, sosok Gluttony mulai berubah.

"Ada apa ini? Apa ini penguatan lewat emosi lagi? Kalau yang itu aku sudah pernah lihat──"

Di atas kepala Lloyd, tiba-tiba muncul lingkaran sihir raksasa dalam jumlah yang tak terhitung.

Seketika itu juga, zudodododododon! sekumpulan sihir menghujam ke bawah.

Api, es, petir, semuanya bercampur menjadi satu gumpalan yang menindih Lloyd. Terus menindihnya.

Sihir itu bahkan menembus awan Khayangan dan melubangi tanah, namun serangan itu terus saja terwujud.

Baik kualitas maupun kuantitasnya, serangan ini benar-benar berbeda dengan serangan mana yang tadi.

Serangan beruntun dengan kepadatan tinggi yang terpusat di satu titik itu tampak seperti pilar cahaya raksasa yang seolah sedang menopang langit dan bumi.

Meskipun telah melepaskan serangan sedahsyat itu, Gluttony bukannya kehabisan tenaga, ia justru merasa kekuatannya semakin meluap-luap.

"──Ah, kalau tidak salah, begitulah wujud tuanku."

Badai mana berhenti, dan Gluttony muncul dari baliknya.

Gluttony menatap sosoknya sendiri dengan perasaan rindu.

Wujudnya sekarang sudah sangat jauh berbeda dari yang tadi.

Rambut hitam pekatnya yang panjang terurai, dan di sisi kanan-kiri kepalanya terdapat tanduk yang tumbuh dengan mengerikan.

Mata merah delima yang tajam dengan bibir yang dipoles pemerah hitam. Kulit putih bersih yang tampak tidak seperti manusia.

Meski penampilannya menyerupai wanita cantik yang menawan, namun hanya tangan kirinya saja yang berwarna hitam pekat dan mengerikan.

Itulah wujud tuan yang dulu pernah ditemui oleh Gluttony.

Wanita itu memungutnya hanya karena iseng, memberinya nama Gluttony, dan menyayanginya sebagai hewan peliharaan.

Untuk pertama kalinya, Gluttony mendapatkan kehidupan tenang tanpa ancaman musuh dari luar, dan perlahan-lahan ia mulai mendapatkan kekuatan di bawah perlindungan tuannya itu.

Dari seekor binatang biasa menjadi monster, iblis rendah, lalu menjadi iblis tingkat tinggi.

Setelah menghabiskan ribuan tahun sebagai bawahan para Raja Iblis yang silih berganti, ia pun mendapatkan kekuatan yang jauh lebih besar hingga akhirnya ia sendiri menjadi seorang Raja Iblis.

Alasan Gluttony bisa mencapai posisinya sekarang adalah untuk melarikan diri dari rasa takut akan kematian yang mutlak yang telah terukir di hatinya saat itu.

Melalui emosi yang terpanggil kembali itu, kini ia berubah menjadi sosok yang paling ia cintai sekaligus ia takuti. Yaitu sang Raja Iblis Orisinal, Beelzebub──

"A-Apa-apaan jumlah mana yang gila ini……! Ti-Tidak bisa dipercaya! Padahal mana yang dia keluarkan tadi saja sudah mengerikan……!"

"Ya, ini mustahil tapi kekuatannya jauh melampaui Beal! Rasanya seperti kumpulan para Raja Iblis yang disatukan! Inilah sang Raja Iblis Orisinal yang disebut-sebut sebagai yang terkuat……!"

"……Tentu saja. Tidak ada sosok yang bisa melampaui Beelzebub. Sosok yang paling pantas disebut sebagai Raja Iblis hanyalah dia seorang. Sosok lain, termasuk aku sendiri, hanyalah tiruan belaka."

Gluttony menertawakan ucapan Grim dan yang lain sambil merendahkan dirinya sendiri, namun wajahnya tampak begitu bahagia.

"Pertama-tama, aku ingin berterima kasih karena kau sudah membuatku teringat akan sosok tuanku. Bagaimanapun juga, kami sudah terpisah karena maut selama lebih dari sepuluh ribu tahun. Ingatanku tentangnya bahkan sudah mulai memudar. ……Kekuatan yang mutlak, rasa takut, kharisma, dan yang terpenting adalah sifat kekerasannya…… Aneh rasanya kenapa aku bisa melupakan semua itu sampai sekarang. ……Fufu, lihatlah. Hanya dengan memikirkan orang itu saja…… Fufu, tanganku sampai gemetar……!"

Persis seperti kata-katanya, ujung jari Gluttony tampak bergetar hebat.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat seolah ingin menghentikan getaran itu secara paksa. Darah sampai menetes dari kepalan tangannya.

"Namun, aku tidak menyangka manusia yang lemah bisa melahirkan monster sepertimu. Aku menyerahkan pengelolaannya pada Holy King, tapi sepertinya aku masih terlalu lunak. Mulai sekarang, aku akan mengelola seluruh kehidupan di dunia ini, dan membasmi siapa pun yang berpotensi mengancamku selagi mereka masih tunas. Semua makhluk yang hidup di bumi ini akan kukelola layaknya peternak sapi, melakukan produksi secara terencana, dan melenyapkan mereka yang tidak sesuai standar. Dengan begitu, dunia ideal yang tidak akan pernah diancam oleh rasa takut akan terwujud. Bagi manusia pun, dunia damai tanpa peperangan akan tercipta. Bukan hal yang buruk, kan? Fufu…… hahahahahaha──"

"Itu sangat merepotkan."

Sebuah suara gumaman terdengar di tengah pilar yang menembus langit dan bumi itu, membuat Gluttony berhenti tertawa.

Pilar itu mulai berderit keras dan terbelah secara vertikal.

Bakiii! Lloyd muncul dari dalam pilar yang hancur terbelah dua itu.

"Melenyapkan potensi selagi masih tunas? Mengelola secara ketat dan melenyapkan mereka yang tidak sesuai standar? ……Hei, kalau kamu melakukan hal itu, bukankah dunianya akan jadi membosankan?"

"A-Apa katamu……?"

Lloyd mengacungkan jari telunjuknya ke arah Gluttony yang terpaku.

Bola mana yang ada di ujung jarinya menyerap serpihan pilar yang hancur tadi dengan kecepatan yang luar biasa.

"Justru karena ada orang-orang aneh, berbagai tantangan baru tercipta, dan segala macam perkembangan pun terjadi. Jika ada pertikaian atau peperangan, perkembangan itu akan semakin cepat. Dengan saling bersaing dan mengasah diri, manusia dan dunia ini akan terus berkembang. Sama seperti kakak-kakak aku."

"Ti-Tidak mungkin……!"

Pilar yang tadi menembus langit kini hampir lenyap seluruhnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mustahil. Itu seharusnya adalah serangan terkuat miliknya. Tidak ada tubuh mana pun yang seharusnya bisa menahannya. Harusnya begitu. Namun kenapa……

Luapan mana yang tadi berpusar di ujung jari Lloyd entah sejak kapan telah menghilang, dan kini berganti menjadi kegelapan yang pekat.

"Dan aku berencana memanfaatkan semua itu untuk sihirku. Jadi, maaf saja. Aku menolak dunia idealmu itu."

Saat menggumamkan itu, mata Lloyd memiliki warna yang sama dengan kegelapan yang mengerikan itu.

"Huun, sepertinya ini mulai sedikit menarik."

Jumlah dan kepadatan mana milik Gluttony yang telah berubah ini jauh lebih tinggi dibanding yang tadi.

Sempat terlintas di pikiranku kalau ini hanyalah trik sederhana berupa penguatan lewat luapan emosi, namun sepertinya emosi itu jauh lebih dalam dari yang kubayangkan.

Melihat dari ucapan dan tindakannya, sepertinya wujudnya sekarang sama dengan mantan tuannya dulu……

"Hei Beal, apa kau tahu sesuatu?"

"Umu. ──Gluttony awalnya hanyalah seekor binatang kecil, namun ia bisa menjadi seperti sekarang berkat dipungut oleh Raja Iblis saat itu. Tuannya adalah sang Raja Iblis Orisinal, Beelzebub, yang katanya adalah pencipta sihir kuno."

"Hohoho…… itu sangat menarik."

Sihir kuno adalah sihir yang hanya mengandalkan otot karena sangat mementingkan kekuatan dan efisiensi dalam menyerang.

Namun, pada serangannya yang merupakan asal-usul dari sihir itu, meski banyak bagian yang terbuang percuma, aku bisa merasakan keberagaman yang mendekati sihir modern.

"Tapi, sayang sekali isinya adalah kamu. Serangan tuanmu itu, apa kamu bisa menirunya dengan benar?"

"……Cih, jangan sombong hanya karena kau bisa menahan satu serangan tadi……! Tuanku adalah yang terkuat!"

Gluttony mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit, dan seketika langit pun berubah menjadi hitam pekat.

Dari sana, ribuan cahaya tercipta dan menghujam ke arahku.

"Meteor Shower."

Meski aku tidak bisa mendengar ucapannya dengan jelas, namun melihat dari formula sihirnya, sepertinya ini adalah sejenis sihir hujan bintang.

Aku akan mengambil yang satu ini juga. Yang kukeluarkan dengan formula sihir kecepatan tinggi adalah sihir anti-penyihir── Magic Absorption.

Bola mana hitam yang tercipta di ujung jariku menyerap semua bintang yang berjatuhan.

Ini adalah formula sihir yang dulu pernah kuukir pada pedang sihir milikku, yang berfungsi untuk menyerap dan menyimpan sihir yang disentuhnya.

"Kecepatan pengaktifan formula sihirnya benar-benar tidak masuk akal seperti biasanya. Padahal aslinya formula sihir Magic Absorption itu lambat sekali, tapi dia bisa mengaktifkannya dalam sekejap."

"Lloyd-sama yang dalam wujud tubuh mana telah menanamkan tak terhitung banyaknya formula sihir di dalam tubuhnya, sehingga dia bisa mengaktifkan sihir apa pun secara maksimal kapan saja. Sihir yang tadi pun semuanya sudah dia serap."

Persis seperti kata Grim dan Jiriel, karena aku yang sekarang menanamkan banyak sekali formula sihir di dalam tubuh mana ini, aku bisa langsung melepaskan sihir yang aslinya sangat lambat seperti Magic Absorption.

Yah, karena pada dasarnya ini adalah untuk analisis, cara penggunaannya agak sulit, dan bagian yang tidak bisa terserap sepenuhnya harus kutahan dengan pelindung mana.

"Mustahil……! Itu adalah sihir terkuat milik tuanku……! Kamu bisa membatalkannya dengan semudah itu……?"

Dia menggumamkan sesuatu, tapi aku sedang sibuk menganalisis formula sihirnya.

"……Hou, hou, formula sihirnya cukup unik. Aku bisa melihat jejak-jejak dari berbagai percobaan di sana. Tuanmu itu benar-benar penyihir yang hebat, ya."

"Gwaaaaaaa! Lava Flow!"

Tanah terbelah, dan lava merah panas yang menyembur dari sana menyerangku.

Wah, wah, kalau menyebar seluas ini, akan sulit untuk menyerapnya dengan Magic Absorption.

Kalau begitu, aku memperluas jangkauan efek Magic Absorption-ku, lalu mengaktifkan teleportasi ruang secara beruntun untuk menyerap semua aliran lavanya. Bagaimanapun juga, semakin banyak sampel akan semakin baik.

Hmm, hmm, dia melakukan intervensi langsung pada tanah dan menghantamkan lava yang dia serap, ya.

Sepertinya dia memicu bencana alam dengan menstimulasi lingkungan menggunakan mana miliknya.

"■Great Tornado■."

Aku membiarkan tubuhku terbawa oleh tornado yang tercipta sambil tetap menyerapnya.

Begitu formula sihirnya terserap, angin kencang yang mengamuk itu pun berubah menjadi angin sepoi-sepoi biasa.

"■Blizzard■."

Hujan salju yang mengguyur pun kuhisap tanpa ragu.

Karena tidak semuanya bisa kuhisap habis, aku membentangkan Magic Barrier dalam jangkauan luas untuk mengarahkan aliran sihirnya sambil terus menyerapnya.

"■Scorching Heat Wave■."

Hawa panas yang seolah sanggup mendistorsi daratan itu pun tak berpengaruh bagiku.

Magic Absorption milikku sanggup menyerap dan menetralkan segala jenis fenomena sihir.

"Padahal menahan serangan seluas ini dengan Magic Absorption saja sudah luar biasa, tapi dia masih bisa menggunakan Spatial Teleportation yang sulit dikendalikan itu secara bersamaan…… Apakah seluruh tubuh yang terukir formula sihir memang semengerikan ini?"

"Meski kelihatannya begitu, ini tidak mudah, lho."

Sihir yang sulit digunakan seperti Spatial Teleportation atau Magic Absorption membutuhkan pengaktifan formula sihir dalam jumlah besar di dalam tubuh, jadi aku tidak bisa menggunakannya terlalu banyak secara bersamaan.

Paling banyak, sepuluh buah adalah batasnya. Mungkin.

……Entah kenapa Grim dan yang lain menatapku dengan tatapan sinis, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

"Daripada itu, mumpung sudah selesai menganalisisnya, bagaimana kalau aku mencoba menggunakannya juga?"

Begitu aku menengadahkan tangan, sebuah buku muncul.

Saat kubuka, di atas garis paranada itu tampak deretan not balok yang terukir rapat.

Ini adalah lembaran musik. Sebuah bongkahan mana berbentuk buku yang kuciptakan sebagai perpanjangan dari tubuh manaku.

Awalnya, penyerapan sihir melalui Magic Absorption membutuhkan formula sihir yang rumit dan panjang, namun dengan menerapkan Magic Song──rantai sihir tak terbatas──yang kudapatkan di konser tempo hari, aku berhasil menciptakan kapasitas yang berkali-kali lipat lebih besar dari aslinya.

Berkat itu, jika sebelumnya aku harus mengukir formula berlapis-lapis hanya untuk menyerap sihir tingkat tinggi, sekarang sihir tak masuk akal seperti tadi pun bisa kutampung semuanya di sini.

"Uoooooooo!"

Sambil menahan serangan yang terus menghujam menggunakan Magic Barrier, aku membalik halaman buku itu dengan cepat.

Dulu aku tidak tertarik pada lembaran musik, tapi berkat pengalaman menciptakan lagu, aku jadi bisa melakukan hal seperti ini.

Memang benar, pada akhirnya segalanya bermuara pada sihir. Ya, ya.

Dan…… hmm. Jadi ini formula sihir kuno yang diciptakan sang Raja Iblis Orisinal, ya.

Dilihat dari efeknya yang menjangkau area sangat luas, sihir ini mirip dengan sihir skala besar, tapi yang satu ini terasa lebih kasar dan kuat.

Contohnya dalam sihir hujan bintang, Celestial Impact akan menjatuhkan bintang yang ditargetkan, tapi sihir tadi menggunakan mana dalam jumlah besar untuk memaksa bintang-bintang di langit jatuh secara acak.

Karena itulah, targetnya tidak bisa ditentukan secara mendetail dan ukurannya pun berbeda-beda.

Namun, kekuatan dan jangkauan efeknya benar-benar tidak tertandingi.

Ini terjadi karena jika sihir biasa menciptakan fenomena fisik melalui mana, sihir ini adalah formula yang bekerja langsung pada sistem dunia itu sendiri.

Benar-benar formula sihir yang gagah dan sangat khas seorang Raja Iblis.

Coba kulihat, mari kita coba juga. Hmm…… mungkin begini caranya?

Begitu aku mengangkat ujung jariku sedikit, pemandangan di sekitar seketika berputar.

Sesaat kemudian, dogagagagan! Suara dentuman dahsyat terdengar bertubi-tubi, dan sosok Gluttony pun lenyap.

Di tempat dia berdiri tadi, kini muncul sebuah gunung tinggi yang menjulang, dan dari bagian tengahnya mengepul debu tanah yang sangat tebal.

"Itu adalah Gunung Moriranma, gunung tertinggi di dunia, lho."

"Tapi gunung itu seharusnya berada di benua yang sangat jauh dari Saloum. Kenapa tiba-tiba ada di tempat seperti ini……?"

"Tadi telingaku sempat berdenging hebat…… Sebenarnya apa yang baru saja kau lakukan, Lloyd?"

Di tengah kebingungan Grim dan yang lain, Gluttony merangkak keluar dari lubang dengan gontai.

"Ka-Kau…… yang tadi itu, jangan-jangan……!"

"Fufufu, mumpung bisa digerakkan, bukankah lebih baik menggerakkan sesuatu yang besar? Nah, mari kita lanjut ke yang berikutnya."

Begitu aku memutar jariku, pemandangan kembali berubah seketika.

Kali ini di dalam laut. Aku yang sudah memasang Magic Barrier terlebih dahulu tidak masalah, tapi Gluttony yang tiba-tiba terlempar ke dalam air tampak terkejut hingga matanya membelalak.

"~~~!!??"

"Selanjutnya."

Saat aku memutar jari lagi, yang muncul berikutnya adalah gunung berapi yang sedang meletus.

Gluttony terjun tepat ke dalam lava yang mendidih, dan dampaknya memicu ledakan besar yang spektakuler.

"Selanjutnya."

Begitu jari kuputar lagi, kali ini adalah hutan belantara biasa.

Saat Gluttony yang terlempar ke sana sedang terengah-engah, bumi mulai bergetar.

Yang muncul adalah sekawanan binatang raksasa. Mereka menginjak-injak Gluttony hingga hancur sambil menimbulkan kepulan debu tanah yang tebal.

"Lanjut, lanjut, lanjut, lanjut──"

Setiap kali aku memutar jari, pemandangan terus berganti satu demi satu.

"A-Aku tahu sekarang! Lloyd, apa yang kau lakukan ini benar-benar gila! Keterlaluan…… ini benar-benar keterlaluan!"

Beal memasang wajah seolah tidak percaya, namun Grim dan Jiriel hanya bisa memiringkan kepala.

"……Oi, apa kau paham apa yang sedang dia lakukan, malaikat sialan?"

"……Mana mungkin aku paham. Bisa tolong beritahu kami, Lloyd-sama?"

Hmm, yah, sihir ini memang memiliki skala yang 'sedikit' lebih besar dari sihir biasa. Kalian mungkin sulit menyadarinya jika tetap berada di sini.

Agar lebih mudah dipahami, mari kita naik sedikit ke atas. Begitu aku mengangkat jariku lurus ke atas, pandangan kami seketika berubah menjadi gelap.

Di bawah kaki kami, mengapung sebuah bola raksasa yang bersinar biru.

"Ini jangan-jangan…… dunia ini……?"

"Ja-Jadi begitu! Lloyd-sama menggerakkan daratan itu sendiri……!"

"Ya, aku tadi menggerakkannya."

Benar, aku menggerakkan daratan ini secara langsung dengan manipulasi lingkungan melalui formula sihir Raja Iblis.

Dengan memutarnya, aku bisa berpindah secara fisik ke berbagai tempat, dan jika menjauh sedikit, aku bisa melihatnya dari atas seperti ini.

Mungkin aku bisa menamainya Star Movement.

"Oi, oi, oi, aku tahu ada yang namanya sihir sistem bintang dan memang mungkin untuk berinteraksi dengan bintang itu sendiri…… tapi apa kau tahu seberapa besar daratan ini!?"

"Gluttony, bahkan sang Raja Iblis Orisinal yang dulu menjadi tuannya saja paling-paling hanya bisa memanipulasi daratan ini untuk menciptakan tornado atau letusan gunung berapi, tapi Lloyd-sama malah menggerakkan seluruh bintang ini sesuka hati…… bahkan kata 'luar biasa' pun rasanya sudah tidak cukup lagi."

"Yah, itu sih sudah biasa, tapi sampai ke level ini rasanya aku sendiri pun jadi ngeri. Aku mohon, jangan sampai kau menghancurkan bintang ini ya. Meski kalau pun hancur, Lloyd sepertinya bakal bisa langsung memperbaikinya sih……"

Grim dan yang lain sibuk bergumam, tapi aku sendiri mulai merasa agak sesak napas.

Dulu aku juga pernah naik sampai ke ketinggian ini, tapi jika terlalu jauh dari daratan, bernapas jadi terasa sulit.

Leluhur para penyihir, William Bordeaux, juga menulis dalam bukunya bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa daratan, jadi mungkin tidak baik jika memperlakukannya terlalu kasar. ……Mari kembalikan ke semula.

Aku memutar jariku, dan mengembalikan bintang itu ke posisi awalnya.

Dunia berputar. Berputar. Diputar-putar.

Jangankan membedakan atas dan bawah, ia bahkan tidak tahu lagi sedang berada di mana.

Dimulai dari padang gurun, pegunungan tinggi, lembah, hutan, padang pasir, lava, dasar laut, hingga angkasa yang sangat jauh……

Bahkan untuk sekadar memperbaiki posisinya pun tidak diizinkan, Gluttony hanya bisa pasrah membiarkan dirinya dipermainkan.

Bagaikan sebuah mainan yang ditangkap dan diutak-atik oleh anak kecil yang polos.

Namun, di tengah perasaan diperlakukan sesuka hati itu, Gluttony merasakan suatu kerinduan yang entah datang dari mana.

Di tengah kesadarannya yang mulai memudar, ia teringat kembali saat pertama kali dipungut oleh mantan tuannya, sang Raja Iblis Orisinal, Beelzebub.

Saat itu, Gluttony benar-benar menjadi mainan wanita itu, dipermainkan sesuka hati, bahkan pengalaman hampir mati pun sudah tak terhitung lagi jumlahnya.

Namun, meski diperlakukan seperti itu, dia tidak merasa tidak bahagia.

Saat masih menjadi Corpse Rat, Gluttony hanya dipandang sebagai objek penghinaan atau mangsa bahkan oleh orang tua dan saudara-saudaranya sendiri.

Baginya, itu adalah pertama kalinya ia menerima perasaan yang mendekati kasih sayang, meskipun dalam bentuk yang menyimpang.

"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama ya aku tidak ditatap dengan pandangan yang begitu polos seperti ini……"

Kalau dipikir-pikir, sejak berpisah karena maut dengan Beelzebub, rasanya ia selalu hidup dalam ketakutan akan ancaman di sekitarnya.

Saat menjadi bawahan seseorang, ia takut pada tuan baru atau rekan kerja yang jauh lebih kuat darinya. Setelah menjadi Raja Iblis, ia takut akan kemunculan musuh baru. Bahkan setelah menjadi Dewa pun, tidak ada waktu baginya untuk beristirahat dengan tenang.

Sosok Gluttony yang sekarang justru menunjukkan wajah yang begitu damai dan tanpa pertahanan.

Perbedaan kekuatan yang membuat pertarungan terasa konyol, kekuatan mutlak yang bahkan tidak menganggapnya sebagai musuh, dipermainkan oleh sosok kuat yang absolut──itu sudah lebih dari cukup untuk menurunkannya dari panggung 'kekuatan' yang selama ini ia perjuangkan mati-matian.

Tanpa disadari, Gluttony memasang senyum lembut seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.

"Tuan…… ku……"

Bagaikan bayi yang terbuai dalam ayunan, ia pun kehilangan kesadarannya dengan wajah yang damai.

"……Eh? Ke mana perginya si Gluttony itu?"

Karena aku sudah mengembalikan daratan ini ke posisi semula, dia seharusnya ada di sekitar sini…… tapi aku tidak merasakan reaksi apa pun yang mirip dengannya.

Kira-kira dia pergi ke mana, ya? Saat sedang memikirkan itu, aku melihat seekor tikus kecil yang sedang duduk tenang.

"Cit?"

Tikus itu menoleh ke sana kemari, lalu begitu melihat kami, ia langsung bersembunyi di balik bayangan dengan sangat cepat.

Setelah mengamati keadaan kami sejenak, ia langsung lari pergi ke suatu tempat.

"……Kenapa ada tikus di padang gurun yang gersang begini, ya?"

"Entahlah, tikus kan memang ada di mana-mana."

Padahal ini padang gurun yang tidak ada air maupun makanan.

Apa mungkin dia tadi ikut tergali keluar dari bawah tanah? Kalau benar begitu, mungkin aku sudah melakukan hal yang buruk padanya.

"Oh, Holy King tergeletak di sana."

"Oh iya, tadi di tengah pertarungan dia sempat dimuntahkan oleh Gluttony. Sepertinya dia masih bernapas."

Karena bakal merepotkan kalau dia mati, sebaiknya kugunakan sihir penyembuhan saja dulu.

Tapi kalau dilihat-lihat, dia cuma sedang pusing saja dan sepertinya tidak ada luka serius.

Yah, kalau tidak setangguh itu, mungkin memang sulit untuk menyuarakan perdamaian di dunia yang berbahaya ini.

"Daripada itu, kita harus mencari Gluttony. Sangat berbahaya membiarkan monster seperti itu berkeliaran."

"Yah, padahal ada monster yang lebih mengerikan yang sedang berkeliaran bebas di sini…… mu."

Tepat saat Beal hampir mengatakan sesuatu yang tidak sopan, terjadilah sesuatu.

Langit yang tadi tertutup awan hitam tiba-tiba memancarkan cahaya yang menyilaukan.

"Hal itu tidak perlu dilakukan."

Terdengar sebuah suara dari langit. Suara yang rasanya pernah kudengar di suatu tempat……

"Gluttony telah kembali ke roda reinkarnasi. Andaipun dia bangkit kembali, butuh waktu yang sangat lama hingga ia bisa mendapatkan kekuatan sebesar itu lagi. Dunia telah terselamatkan."

"……Anda siapa?"

"Tentu saja, aku akan memperkenalkan diri. ──Mari, datanglah ke sini."

Bersamaan dengan kata-kata itu, tubuhku diselimuti oleh cahaya.

Begitu saja, aku terbawa ke angkasa, menuju Khayangan yang ada di atas sana.

──Tempat yang kupijak adalah sebuah ruang yang serba putih.

Tempat yang sama saat pertama kali aku bertemu dengan Dewa yang menyamar sebagai Gluttony.

Namun, berbeda dengan sebelumnya, tidak ada lagi perasaan janggal seolah ada sesuatu yang disembunyikan.

Sebaliknya, aku merasakan kesegaran dan kemurnian.

Dan satu perbedaan besar lainnya adalah cadar yang dulu melayang di tengah ruangan sudah tidak ada, dan kini digantikan oleh sebuah kursi panjang.

Yang sedang duduk di sana adalah pria tua yang baru saja berpisah denganku belum lama ini── Ligo.

"Ligo? Oh iya, tadi memang ada orang seperti ini ya. Aku benar-benar lupa."

"Tadi situasinya memang sedang tidak memungkinkan. Tapi kenapa orang ini ada di sini……?"

Di saat Grim dan Jiriel menyuarakan kebingungan mereka, Ligo bertepuk tangan perlahan.

"Hai, Lloyd-kun. Pertama-tama, izinkan aku mengucapkan terima kasih. Benar-benar perbuatan yang tidak masuk akal bagi seorang manusia…… uhuk, uhuk. Maksudku, kerja yang sangat luar biasa. Aku benar-benar berterima kasih."

"Apa maksudnya ini? Coba jelaskan dari awal."

"Ah, benar juga, maafkan aku. Mari kita mulai dari perkenalan diri. Aku adalah, ya, sosok yang biasa disebut sebagai Dewa."

Sambil memperkenalkan diri sebagai Dewa, Ligo mulai bercerita.

"Kalau tidak salah…… hmm, sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu ya. Gluttony yang telah menjadi Raja Iblis terus bertambah kuat hingga pihak Khayangan pun tidak sanggup menanganinya. Aku pergi untuk bertarung dengannya, namun aku kalah telak dan posisiku sebagai Dewa direbut── kau sudah dengar cerita itu darinya, kan?"

Aku mengangguk. Suara Ligo terasa memiliki kejujuran yang membuatnya mustahil untuk dianggap bohong.

Perasaan di mana kata-katanya sendiri memiliki kekuatan, sesuatu yang mirip dengan Magic Song milik Holy King…… dengan kata lain, ini bisa disebut sebagai bukti sosok Dewa.

Sekarang aku sedikit paham kenapa waktu itu Holy King percaya begitu saja pada kata-kata Ligo tanpa syarat.

Yah, aku boleh menganggapnya sebagai sosok yang asli. Lagipula kalau ternyata bukan, aku tinggal menghajarnya saja.

"Wajahmu sepertinya sedang memikirkan hal yang cukup berbahaya ya…… ehem. Jadi, Gluttony yang berhasil mengalahkanku menganggapku masih memiliki nilai guna. Aku tidak dibunuh, melainkan kekuatanku dirampas dan aku dikurung. Sisanya seperti yang kalian ketahui sendiri."

"Ngomong-ngomong Dewa-sama, waktu aku sedang menaiki tangga tiba-tiba saja Anda menghilang, Anda pergi ke mana?"

Mendengar pertanyaan Holy King yang baru saja bangun, sang Dewa menggaruk pipinya dengan canggung.

"Sebenarnya aku tahu kalau naik ke atas itu cuma sia-sia, jadi aku memutuskan untuk memisahkan diri di tengah jalan. Bagi orang tua sepertiku, menaiki tangga itu sangat berat."

"Ooooooi! Dewa-sama, bukankah Anda terlalu tidak punya perasaan!?"

"Iya-hahaha. Maaf, maaf."

Holy King langsung melayangkan protes, tapi sang Dewa sepertinya tidak keberatan.

Meski secara hasil, berkat itulah dia terhindar dari kontak dengan Gluttony.

Mungkin karena pernah dikurung sekali, dia jadi sangat waspada.

"Tapi Dewa yang satu ini santai sekali, ya. Sama seperti saat dia menjadi Ligo."

"Mungkin memang sudah sifat aslinya. Pantas saja dia kalah dari Gluttony."

Grim dan yang lain pun tampak heran.

Yah, sosok Dewa memang sebaiknya santai seperti itu. Akan merepotkan kalau sosok yang menjabat adalah orang yang terlalu kaku dan mencampuri segala hal.

Lagipula, masyarakat terkelola yang menyingkirkan orang-orang berbahaya seperti yang dikatakan Gluttony tadi benar-benar mustahil untuk diterima.

Apalagi, sangat disayangkan jika potensi orang-orang menarik harus dipangkas selagi mereka masih berupa tunas.

"Bagaimanapun juga, aku harus memberikan hadiah bagi Lloyd-kun yang telah menyelamatkanku──dan juga menyelamatkan Khayangan. ……Permisi sebentar ya."

Sang Dewa berjalan mendekat perlahan, lalu menempelkan jarinya ke dahiku.

Saat ujung jarinya bersentuhan, terdengar suara letupan kecil dan pandanganku pun berubah menjadi putih.

"……Tuan? Lloyd-sama!?"

Begitu aku membuka mata karena mendengar suara yang sangat kukenal, aku sudah berada di kamarku sendiri.

Tepat saat aku mencoba mendudukkan diri.

"Lloydddddd-sama!"

"Mugyu!?"

Sylpha langsung memelukku dan mendorongku kembali ke atas tempat tidur.

A-Ada apa ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Hmph, akhirnya kau sadar juga."




Beal yang berada di dalam Connie menyapaku melalui pesan mental.

"Kami sangat khawatir, Lloyd-sama. Soalnya Anda tidak kunjung bangun."

"Iya, tapi syukurlah. Akhirnya Anda bisa kembali ke wujud semula."

Grim dan Jiriel yang berada di kedua telapak tanganku pun ikut menimpali.

Di hadapanku, Sylpha sedang menindih dan memelukku erat-erat, sementara Ren tampak merasa bersalah karena mungkin ia merasa tidak berdaya untuk menghentikannya.

……Ah, benar juga. Fusion dengan Beal sudah lepas, dan aku sudah kembali ke tubuh asliku.

Aku sempat benar-benar lupa, tapi tujuanku ke Khayangan memang untuk urusan itu, kan? Sepertinya Sang Dewa sudah mengabulkan keinginan tersebut.

"Apa begini sudah cukup? Lloyd-kun."

"Ya, terima kasih bantuannya."

Aku mengangguk menanggapi suara Sang Dewa yang bergema di dalam kepalaku.

Jujur saja, aku sempat bingung apa yang harus kulakukan kalau selamanya tidak bisa kembali ke wujud semula.

Memang tubuh sendiri adalah yang terbaik. Wujud tubuh mana itu rasanya terlalu kuat sampai membuatku tidak tenang.

"Fumu, meski begitu, rasanya sayang sekali. Kekuatan yang kau dapatkan dari Fusion itu benar-benar melampaui Dewa. Sebagai sesama pencinta sihir, bukankah kau merasa itu sebuah pemborosan?"

"Sama sekali tidak."

Aku menjawabnya dengan tegas. Lagipula, aku memang tidak tertarik pada hal-hal seperti kekuatan.

Memang benar, bisa mengendalikan tubuh mana secara langsung adalah pengalaman yang cukup menyenangkan, tapi rasanya terlalu melayang-layang dan membuatku gelisah.

Lagipula, itu kan tubuh orang lain. Meski ada banyak penemuan baru di sana, tetap saja tubuh sendiri terasa jauh lebih nyaman.

"Lagi pula, belum tentu kondisi itu adalah cara terbaik untuk mengendalikan sihir. Sihir itu sangat dalam. Pasti ada bentuk lain yang memungkinkan aku memahaminya secara lebih luas dan jernih. Mempertimbangkan kemungkinan untuk bertemu hal seperti itu, aku tidak punya penyesalan pada tubuh yang tadi."

Tambahan lagi, Grim, Jiriel, bahkan Beal tinggal bersama di dalam tubuhku itu rasanya agak menyebalkan.

Banyak suara yang terdengar bersahut-sahutan, berisik sekali sampai aku tidak bisa fokus pada penelitian.

"Padahal Lloyd-sama selalu saja tidak mendengarkan omongan kami!"

"Terutama kalau sedang fokus, ya. Malah, sepertinya suara-suara selain kami pun tidak terdengar sama sekali olehnya."

"Tepat sekali. Jangan melimpahkan kesalahanmu pada orang lain!"

Grim dan yang lainnya terus mengoceh, tapi di tubuh ini, gema suara mereka terasa lebih kecil dan itu bagus.

Meski bukan masalah besar kalau aku sudah fokus, tapi suasana tenang memang jauh lebih baik.

"Begitu ya…… benar juga. Mungkin karena kau sosok yang seperti itulah, kau bisa menang melawan Raja Iblis terburuk itu. Aku sempat berpikir untuk menyerahkan takhta Dewa kepadamu, yang memiliki kekuatan sebesar itu namun tanpa sedikit pun niat jahat…… tapi kau pasti akan menolaknya."

Sang Dewa mulai bergumam sendiri.

Apa karena dia berada di Khayangan makanya pesan mentalnya sulit tersampaikan?

Menembus dinding dimensi memang sepertinya cukup berat. Mengingat dia sampai kalah dari Raja Iblis, mungkin kekuatannya memang tidak seberapa.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Sang Dewa berdeham keras.

"Ehem! ……Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksa lagi. Hiduplah sesuka hatimu."

"Tanpa disuruh pun aku memang berniat begitu."

Apa pun yang dikatakan orang, aku hanya akan melakukan apa pun yang kusukai.

Fufufu, lagipula penjelajahan kali ini benar-benar membuahkan banyak hasil.

Dimulai dari tubuh mana hasil Fusion, berbagai formula sihir Khayangan, malaikat dalam jumlah besar, pertarungan melawan kaum iblis, hingga formula sihir dari Raja Iblis pertama……

Memang banyak sihir skala besar yang hanya bisa digunakan dalam wujud tubuh mana, tapi itu justru memberikan tantangan tersendiri untuk dimodifikasi.

Kapan-kapan aku ingin pergi ke Dunia Iblis juga. Pasti menyenangkan.

Rasa ingin tahu ini tidak akan bisa dihalangi oleh siapa pun. Mau itu Dewa ataupun Raja Iblis sekalipun.

"Daripada itu, beritahu aku bagaimana cara melepas Fusion-nya."

"Hohoho, kalau begitu, sampai jumpa."

"Ah, hei!"

Aku memanggil Sang Dewa, tapi kehadirannya berangsur-angsur menipis.

Cih, Dewa yang tidak mau mendengarkan omongan orang. Padahal kalau kesadaranku masih utuh, aku bisa menganalisisnya…… sayang sekali.

Yah sudahlah, pasti akan ada kesempatan lagi. Lain kali aku akan menciptakan metode untuk mengubah sihir yang kuterima menjadi formula secara otomatis.

"Lloyd-sama!? Tolong sadarlah!"

"Wah!"

Saat aku sedang bersumpah dalam hati untuk melakukan riset balasan, tiba-tiba Sylpha menekan wajahku dan mendekatkan wajahnya.

……Gawat. Aku sampai lupa soal Sylpha.

"Kupikir akhirnya Anda sudah sadar, ternyata Anda malah bergumam sendirian…… Ah, tidak boleh! Harusnya aku memikirkan kemungkinan terburuk! Kita harus segera membawa Anda ke dokter!"

"Tu-Tunggu dulu, Sylpha? Aku bilang aku tidak apa-apa…… Hei, dengarkan aku dulu—"

Tanpa menghiraukan perkataanku, Sylpha langsung membopongku keluar kamar dengan kuncian maut.

Aku melirik Ren dan Connie untuk meminta bantuan, tapi mereka hanya menggelengkan kepala seolah menyuruhku menyerah saja.

"Lloyd-sama yang tidak takut pada Dewa maupun Raja Iblis sekalipun, ternyata tetap tidak bisa menang melawan pelayan yang satu ini, ya……"

"Sylpha-tan pasti sangat mengkhawatirkannya. Menurutku lebih baik Lloyd-sama menurut saja untuk saat ini."

"Kukuku, biarkan saja. Selama ini dia sudah puas bersenang-senang dan membiarkan Connie dan yang lainnya bekerja keras. Biarkan dia menemaninya sedikit."

Cih, bahkan Grim pun…… aku benar-benar tidak punya sekutu di sini.

"Dewa, ya."

Holy King bergumam pelan sambil berjalan di bawah sinar rembulan malam.

Dewa yang selama ini ia yakini sebagai satu-satunya keberadaan mutlak ternyata jauh lebih rapuh dan lemah dari dugaannya.

Selama ini ia tertipu oleh Dewa palsu, sementara Dewa yang asli justru terkurung di penjara, dan Raja Iblis yang mengalahkan Dewa tersebut malah dikalahkan oleh seorang manusia.

Meski sekarang Ligo telah kembali menduduki takhta Dewa, kenyataannya posisi itu pernah direbut oleh seorang Raja Iblis. Tidak ada yang tahu kapan hal serupa akan terulang kembali.

Ia tidak bisa lagi merasa tenang mengabdi seperti dulu…… pemikiran naif seperti itu sudah tidak mungkin lagi dilakukan.

"Padahal aku hanya ingin menciptakan dunia yang damai."

Desa tempat Holy King lahir sangatlah miskin, konflik terjadi hampir setiap hari demi memperebutkan makanan yang sedikit.

Ada keluarga yang dibantai karena berebut air irigasi. Ada anak-anak yang kehilangan nyawa demi sepotong roti.

Orang tua yang membunuh anaknya sendiri demi mengurangi beban mulut yang harus diberi makan pun bukan hal yang aneh.

Lahir dan besar sebagai anak gereja yang sedikit lebih berkecukupan, ia yang menyaksikan semua itu terus memimpikan dunia yang damai.

Ia paham bahwa jalan itu tidak akan pernah mulus.

Sumber daya itu terbatas, dan mental manusia yang kehilangan kelapangan hati akan menjadi sangat liar.

Mengumandangkan cinta pada orang lain hanya akan berakhir sia-sia…… pada akhirnya, hanya penyesuaian paksa oleh sang kuat yang bisa dilakukan.

Mendistribusikan logistik dari tempat yang berlebih ke tempat yang kekurangan, lalu meminta sumber daya sebagai gantinya.

Mereka yang menentang akan ditekuk dengan kekuatan.

Setelah ia menjadi Holy King dan menggunakan kekuatannya, pertikaian di desanya akhirnya mereda dan kedamaian pun datang.

Saat itulah ia berpikir. Jika ia mengikuti Dewa yang merupakan pemegang kekuatan mutlak, maka segalanya tidak akan salah.

"Setelah itu aku tidak perlu memikirkan apa-apa, cukup ikuti perintah Dewa maka semua orang bisa hidup damai…… kupikir begitu, tapi ternyata……"

Dewa pun pada akhirnya hanyalah satu bentuk kehidupan.

Bisa berbuat salah, dan bisa kalah oleh mereka yang lebih kuat. Holy King akhirnya menyadari bahwa Dewa sekalipun bukanlah keberadaan yang absolut.

Segala sesuatu yang ia percayai telah runtuh, dan ia mulai kehilangan arah nilai-nilainya sendiri.

Apa yang harus ia percayai mulai sekarang, dan bagaimana ia harus hidup? Untuk apa ia harus menggunakan kekuatannya……

"Atau malah aku saja yang jadi Dewa…… eh, tidak mungkin, siapa juga yang mau mengakui hal seperti itu."

Benar-benar konyol. Membayangkan manusia menjadi Dewa adalah sebuah kesalahan besar.

Orang-orang di dunia manusia tidak akan menerimanya, begitu juga dengan para malaikat.

Lagipula ia tidak merasa sanggup melakukannya. Itu benar-benar sebuah keangkuhan.

Saat ia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, sebuah bayangan hitam muncul di hadapannya.

"……Oya, Si Gerigi. Kupikir kau sudah menghilang entah ke mana, ternyata apa yang kau lakukan?"

"Aku pergi mengambil benda ini."

Guizarm memegang sebuah permata hitam, di dalam batu itu terukir huruf-huruf yang bercahaya.

"Batu…… yang terukir di dalamnya itu, apakah sebuah formula sihir?"

"Ya, ini disebut Magic Stone. Di dalamnya tersegel formula sihir Fusion."

Formula sihir yang digunakan kaum iblis, terutama yang disebut sebagai teknik rahasia seperti Fusion, adalah sebuah kotak hitam yang bahkan tidak dipahami oleh penggunanya sendiri.

Hanya ada satu cara untuk mewariskannya.

Yaitu dengan menyegel sebagian tubuh mana penggunanya ke dalam Magic Stone ini dan memberikannya kepada orang lain.

Melalui Magic Stone yang diwariskan dari Raja Iblis Orisinal inilah, teknik Fusion diturunkan kepada Gluttony.

Karena takut akan kekuatan tersebut, ia menyembunyikan Magic Stone itu di perbendaharaan Dewa.

"Heh, tapi hebat juga kau bisa tahu. Tahu kalau benda seperti itu ada di sana."

"……Sejujurnya aku pun tidak tahu kenapa. Aku hanya merasa ini diperlukan untuk menjadi seorang Raja Iblis."

Guizarm yang sekarang adalah keberadaan yang dipanggil oleh Holy King melalui Magic Song.

Besar kemungkinan bukan hanya kepribadian aslinya, tapi juga ingatan dari sosok-sosok yang memiliki keterkaitan dengan Lloyd ikut tercampur di dalamnya.

Mungkin ingatan Gluttony yang dikalahkan Lloyd ikut bercampur di sana…… begitu pikir Holy King, namun tiba-tiba ia tersadar.

"……Tunggu, tunggu! Barusan kau bilang mau jadi Raja Iblis?"

"Hm? Ah, alasan aku keluar dari Dunia Iblis sejak awal memang untuk menjadi Raja Iblis."

Guizarm menyatakannya dengan lantang di hadapan Holy King yang kebingungan.

Menurut informasi, dia menyeberang dari Dunia Iblis ke benua ini dan merebut sebuah kastel, namun dikalahkan oleh Lloyd yang berkunjung ke sana.

Holy King sempat bertanya-tanya untuk apa dia jauh-jauh dari Dunia Iblis datang ke tempat seperti ini, tapi tidak disangka alasannya adalah itu.

"Raja Iblis yang sekarang lemah. ……Yah, kekuatan tempur murninya mungkin lumayan, tapi mentalnya terlalu lembek. Mana sudi aku dipimpin oleh raja seperti itu. Karena itu, takhtanya akan kuambil alih."

"……Tapi, apakah menjadi Raja Iblis itu adalah hal yang bisa dilakukan hanya karena kau ingin?"

Raja bukanlah sesuatu yang bisa diraih hanya dengan keinginan.

Agar seseorang diakui sebagai raja, dibutuhkan garis keturunan, tanda pilihan Dewa, tindakan mengalahkan monster, dan 'narasi' yang mendukungnya menjadi seperti itu.

Holy King pun baru terpilih setelah menerima wahyu Dewa dan melewati ujian yang berat.

"Untuk menjadi Raja Iblis, kau butuh 'narasi' yang menunjukkan bahwa kau adalah sosok terunggul di antara kaum iblis, atau memiliki garis keturunan tertentu, atau menerima wahyu langit, kan? Apa kau memiliki kualifikasi sebagai Raja Iblis semacam itu?"

Raja manusia saja seperti itu.

Apalagi raja kaum iblis yang berada di puncak, mustahil bisa diterima oleh sekitar jika tidak memiliki 'narasi' yang jauh lebih hebat dari itu.

Namun, tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun, Guizarm memiringkan kepalanya dan menjawab.

"Tidak. Sama sekali tidak."

"Ha……?"

"Aku adalah aku. Garis keturunan atau kualifikasi itu adalah hal yang sangat sepele. Hal-hal seperti 'narasi' biar dibuat sendiri oleh para pecundang setelah melihat langkah kakiku. Aku hanya melakukan apa pun yang ingin kulakukan, dan sebagai hasilnya, aku akan mengambil takhta Raja Iblis."

Holy King kehilangan kata-kata. Namun di saat yang sama, ia mendapatkan jawabannya.

……Begitu ya. Kalau Dewa tidak bisa dipercayai, maka aku saja yang jadi Dewa.

Tidak peduli apakah aku bisa atau tidak. Cukup putuskan untuk menjadi itu, lalu bertindak. Hanya itu saja. Dengan begitu, bukankah aku bisa menciptakan dunia damai yang aku impikan?

Terlepas dari bagaimana pandangan orang lain, setidaknya aku bisa menciptakan dunia yang bisa kuterima.

Mungkin selama ini aku hanya tidak menyadari hal sesederhana ini. Holy King pun tak sengaja menyunggingkan senyum.

"……Hm? Wajah buruk rupamu yang tadi sekarang jadi terlihat lebih baik."

"Heh, benarkah? Mungkin ini berkat dirimu. ……Sejujurnya, aku senang bisa memanggilmu."

Sambil berkata demikian, Holy King bergumam di dalam hatinya.

(Guizarm berniat menjadi Raja Iblis. Jika aku memanfaatkannya dengan baik, mungkin saja aku bisa menjadi Dewa……!)

Misalnya, membiarkan Guizarm yang sudah kuat mengacau di Khayangan, lalu dengan mengendalikannya, aku akan diakui oleh sekitarku.

Atau mungkin mengalahkannya setelah dia menjadi Raja Iblis.

Melakukan Fusion seperti yang dilakukan Lloyd tadi untuk mendapatkan kekuatan dahsyat juga bukan ide buruk.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Holy King tersenyum simpul.

Sambil menatap tajam ke arahnya, Guizarm pun ikut menyeringai.

(Holy King, ya. Jika aku menyerapnya melalui Fusion, aku bisa mendapatkan resistansi terhadap atribut suci. Sihir suci adalah satu-satunya kelemahan kaum iblis. Ditambah lagi, kekuatan bernama Magic Song miliknya juga tidak buruk. Itu akan sangat berguna untuk meraih takhta Raja Iblis…… dan untuk membunuh bocah itu! Kukuku, keberuntungan mulai berpihak padaku……!)

Melihat Guizarm yang menutup mulut untuk menahan tawa, Holy King menghela napas.

……Yah, kemungkinan besar dia juga sedang memikirkan hal yang sama. Begitulah pikirnya.

"Pinjamkan tanganmu, Holy King. Aku butuh kekuatanmu."

"Tentu saja. Mari kita saling bekerja sama."

Yah, pada dasarnya mereka berdua sama saja. Ini adalah pertarungan. Sebuah kompetisi tentang siapa yang akan mewujudkan keinginannya lebih dulu.

Guizarm menyambut tangan yang diulurkan Holy King dengan sebuah tepukan keras.

Plak! Suara yang mantap bergema di sekitarnya.

Begitulah, keduanya pun mulai bertindak bersama.

Meskipun masing-masing dari mereka samar-samar menyadari niat busuk yang tersembunyi di balik perut masing-masing……

Dan begitulah, Insiden Khayangan berakhir.

Dengan kembalinya Sang Dewa ke takhtanya, Holy King pun sepertinya kembali ke posisinya semula dan melanjutkan tugasnya di Tahta Suci.

Beal juga diputuskan untuk tidak disegel karena dianggap sudah berada di bawah kendaliku.

"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan Guizarm yang dibawa oleh Holy King ya?"

"Bukankah sudah dikembalikan? Dia tidak mungkin sebodoh itu sampai membawa rekan seberbahaya itu bersama dengannya."

Grim dan Jiriel terus bergumam entah apa, tapi bagiku, ada hal yang jauh lebih mendesak untuk diselesaikan daripada memikirkan hal tersebut.




"Lloyd-sama, selain itu jadwal latihan pedang Anda sudah menumpuk, lho."

"Hei, hei, bukankah ini seharusnya giliranku dulu? Tidak baik mendominasi begitu."

"Aku yang lebih dulu. Benar kan, Roddy kecil?"

"Aku juga."

"Kami juga."

"Aku jugaaa—"

Di hadapanku sudah berbaris rapi Sylpha, Albert, Dian, Zerov, Birgitt, hingga Alize…… Kenapa semuanya bisa berkumpul di sini?

Begitu aku melirik Ren dan Connie yang bersembunyi di samping, mereka hanya menundukkan kepala seolah sedang meminta maaf.

"Selama Lloyd pergi ke Khayangan, kepribadian yang tertanam di tubuhmu itu benar-benar semangat sekali."

"Dia terus-menerus menuruti permintaan semua orang, sampai akhirnya tersusunlah jadwal yang mematikan ini."

Ah, benar juga. Aku memang memasukkan kepribadian otomatis melalui sihir pengendali ke dalam tubuhku.

Entah kenapa kepribadian itu sangat ceria, tapi kupikir semuanya akan baik-baik saja kalau aku menyerahkan urusan back-up kepada Ren dan Connie…… Namun, sepertinya karena terlalu bersemangat, kepribadian itu terus saja mengiyakan permintaan semua orang.

Cih, padahal selama ini aku sudah susah payah mempertahankan citra sebagai Pangeran Ketujuh yang tidak punya motivasi, beraninya dia melakukan hal ini.

Kalau aku tiba-tiba kembali ke sifatku yang biasa, mereka pasti akan curiga. Satu-satunya jalan adalah mengubahnya sedikit demi sedikit. ……Haa, merepotkan sekali.

"……Fufu, sepertinya satu tubuh saja tidak cukup bagimu ya, Lloyd."

Saria terkikik geli.

Sambil membalas tatapannya yang seolah bisa menembus pikiranku dengan senyum palsu, aku pun mulai mempertimbangkan dengan sangat serius untuk menciptakan sihir pembelahan diri agar tidak ketahuan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close