NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 3 Chapter 1


Chapter 1

Sehari di Sekolah


1

──Kota putih murni tempat bersemayamnya Sang Dewa.

Pagi kembali datang di kota yang dipenuhi deretan bangunan batu putih tersebut.

Di dalam udara pagi yang dingin dan sedikit lembap, Konoe terbangun di atas tempat tidur sebuah penginapan di ibu kota.

Cahaya tipis masuk menembus jendela, membuat kelopak matanya perlahan terbuka──.

──Di saat yang sama, ia mengaktifkan kemampuan deteksi di sekelilingnya.

Matahari yang baru sedikit menampakkan diri. Suara kicau burung yang mulai terdengar.

Tidak ada Miasma, tidak ada monster.

Hanya ada atmosfer tenang tanpa niat jahat maupun aura kegelapan.

Ia bisa merasakan orang-orang mulai beraktivitas seiring terbitnya fajar.

……Dan juga, hawa keberadaan gadis emas di dekatnya.

Sepertinya dia sudah bangun lebih awal dari Konoe. Terdengar suara langkah kaki ringan yang bergerak ke sana kemari.

"………………"

Tidak ada keanehan. Sembari mengembuskan napas lega, Konoe bangkit dari tempat tidur. Sambil menguap kecil, ia menatap kota dari jendela terdekat.

Di jalanan pagi buta, orang-orang berjalan dengan renggang. Ia memperhatikan pemandangan itu dengan tatapan kosong──.

"──Konoe-sama, ini Telnerica. Bolehkah aku masuk?"

"……Ah, silakan."

Tak lama, suara ketukan pintu oleh si gadis pagi ini kembali bergema di dalam ruangan.

Begitu Konoe menjawab, gadis itu masuk dan mendekati tempat tidur.

Ia meletakkan pakaian ganti di samping tempat tidur dan mengganti air di kendi.

Ia bergerak lincah di dalam ruangan untuk menyiapkan segala keperluan pagi.

Konoe memperhatikan sosok Telnerica dengan tatapan kosong.

Rambut emasnya berkilau memantulkan cahaya matahari.

……Mungkin sudah sekitar dua puluh hari berlalu sejak ia datang ke penginapan ini dari Silmenia.

Selama itu, kecuali saat berada di desa perintis, pemandangan seperti ini selalu terulang setiap hari. Rutinitas pagi yang tanpa sadar mulai terasa biasa.

Keseharian baru yang tercipta.

Sebuah kenormalan yang membuat bagian dalam dadanya terasa sedikit menggelitik.

Setelah ini, ia pasti akan berganti pakaian, keluar kamar, mencuci muka, lalu menyantap sarapan bersama Telnerica……

"……Ngomong-ngomong, Konoe-sama."

"……Hm?"

……Saat sedang melamunkan hal itu, tiba-tiba si gadis berbalik dengan cepat.

Ekspresi wajahnya…… eh? Berbeda dari biasanya, dia tampak sedikit nakal.

"Mengenai hal yang kita bicarakan tempo hari, apakah Anda sudah memikirkannya?"

"……Tempo hari?"

"Soal aku yang ingin mencoba membangunkan Konoe-sama."

Ingin membangunkan? Konoe mengerjapkan matanya beberapa kali──ah, benar juga.

Ia teringat pernah ada pembicaraan seperti itu. Itu adalah cerita sebelum mereka pergi ke desa perintis.

"Hari ini pun, Konoe-sama sudah bangun sebelum aku datang. Bagiku, itu sedikit mengecewakan."

"Sesekali, aku ingin membangunkan Konoe-sama yang sedang tidur."

Waktu itu Telnerica mengatakannya.

Tapi Konoe tidak begitu mengerti──benar, intinya, Konoe bilang itu mustahil karena dia pasti terbangun jika ada orang yang mendekat. Lalu.

"Kalau begitu, pura-pura tidur pun tidak apa-apa, kok!"

"Konoe-sama. Aku akan datang untuk membangunkan Anda berapa kali pun, puluhan kali, bahkan ratusan kali. Jadi, meskipun tidak ada artinya…… jika Konoe-sama merasa ingin melakukannya──tolong cobalah."

──Telnerica tertawa sambil merona bahagia saat itu.

(……Pura-pura tidur kalau merasa ingin melakukannya, ya.)

Itu adalah usulan yang membuat Konoe memiringkan kepala saat itu. Ia pikir tidak ada gunanya sengaja pura-pura tidur hanya untuk dibangunkan.

Dan setelah sekitar tiga puluh hari berlalu…… Konoe yang sekarang pun berpikiran sama. Ia hanya bisa memiringkan kepalanya.

"Konoe-sama, bagaimana……?"

"……"

──Tapi, meski seharusnya tidak ada artinya.

Telnerica menatap Konoe dengan mata yang penuh harap. Sambil menautkan jemari di depan dada, ia melirik ke arah Konoe.

Atmosfernya seolah meneriakkan kata-kata "Aku ingin mencoba melakukannya". Atmosfer yang bahkan Konoe pun bisa memahaminya.

……Karena itu, setelah sedikit bimbang meski masih tidak mengerti, Konoe menjawab.

"……E-itu, kalau kamu memang ingin melakukannya sampai begitu. Mari kita coba sekali……?"

"……! Baik! Baik!!"

Yah, lagipula itu bukan hal yang sulit. Ia pikir tidak ada salahnya jika Telnerica memang sangat menginginkannya.

"Kalau begitu, mari segera kita lakukan sekarang!"

"……Eh? Sekarang?"

"Iya! Sekarang!"

Bukan besok? Selagi Konoe berpikir begitu, Telnerica meletakkan barang bawaannya di meja terdekat. Kemudian, ia berkata akan masuk lagi tiga puluh detik kemudian, lalu keluar dari kamar dan menutup pintu.

"…………"

Konoe mengerjapkan mata beberapa kali karena terkejut dengan semangat gadis itu…… namun karena dikatakan tiga puluh detik, ia berhenti berpikir, berbaring kembali, dan memejamkan mata.

……Satu detik, demi satu detik berlalu.

Di tengah pandangan yang tertutup, terdengar suara jam dari kejauhan.

Suara pendulum yang berayun dan jarum detik yang berdetak.

"Konoe-sama, permisi."

Tepat tiga puluh detik kemudian. Setelah mengetuk, Telnerica masuk ke dalam kamar. Melihat Konoe yang sedang berbaring──ia tampak sangat gembira.

Hawa keberadaannya mendekat perlahan ke samping tempat tidur.

Ia berhenti dalam jarak hanya puluhan sentimeter.

Gadis itu menunduk mengintip wajah Konoe.

……Aroma seperti bunga tercium.

"──Konoe-sama, sudah pagi, lhoー."

"……"

"Ayo banguーn."

Ia berbisik. Suaranya menggelitik telinga dari jarak yang sangat dekat.

Sambil memanggil namanya, Telnerica perlahan mengulurkan kedua tangan.

Ujung jarinya, lalu telapak tangannya menyentuh bahu Konoe.

Tekanan lembut terasa, membuat tubuh Konoe bergoyang pelan.

"Konoe-samaー…… hehe, Konoe-samaー……"

Telnerica memanggil Konoe dengan suara tertawa kecil yang terdengar sangat senang dan bahagia.

Tubuhnya bergoyang pelan dengan ritme yang teratur dan nyaman.

"………………"

Lalu, tiba-tiba. Aroma tepung gandum yang terpanggang tercium di ujung hidung Konoe.

Aroma roti. Juga aroma telur dan sup. Aroma sarapan yang disiapkan Telnerica setiap hari.

"Konoe-sama, fufu, Konoe-samaー. Sudah pagi, lhoー."

"……Ngh."

Di dalam atmosfer yang hangat dan lembut itu, Konoe perlahan membuka matanya.

Sepasang mata biru menatapnya dari jarak sangat dekat.

Rambut emas yang tergerai tampak berkilau menembus cahaya matahari.

"──Selamat pagi, Konoe-sama."

"……Ah."

Hari ini pun cuacanya bagus, katanya. Gadis itu tersenyum tipis dengan pipi yang sedikit merona.

Setelah menatap senyuman itu dari jarak dekat selama beberapa detik, Konoe perlahan membuka mulutnya.

"……Bagaimana menyampaikannya, ya."

"Iya."

"……Aku malu."

"Aku sangat senang sekali!"

Konoe memalingkan wajah dari si gadis, berbalik ke samping sambil menutupi wajahnya dengan lengan.

Telnerica tersenyum lebar dan tertawa saking bahagianya.

……Begitulah, salah satu momen di pagi hari mereka.

──Sekitar lima hari telah berlalu sejak kejadian di desa perintis berakhir.

Berbagai pekerjaan telah selesai dengan selamat, Konoe kembali ke ibu kota dan menghabiskan waktu bersama Telnerica di penginapan. Bisa dikatakan situasinya sudah beres dan akhirnya ia bisa bernapas lega.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, dan pembangunan kembali desa perintis pun terus berjalan.

Meski banyak rintangan, desa itu kini ramai dikunjungi banyak orang, dan terakhir kali ia melihatnya beberapa hari lalu, semua orang tampak ceria.

Bagi Konoe sendiri, persenjataannya telah berevolusi, dan ia sekarang bisa menggunakan teknik baru seperti mengaktifkan alat sihir secara paksa. J

ika melihat hasilnya, bisa dikatakan semuanya berjalan lancar.

Ia juga berhasil mengumpulkan uang sesuai rencana awal, sehingga sepertinya ia tidak perlu mengkhawatirkan masalah keuangan untuk sementara waktu.

(……Tapi, meskipun semuanya berjalan lancar, tertimpa bencana berturut-turut itu benar-benar melelahkan.)

Hanya saja…… kenyataan bahwa ia diserang bencana dua kali dalam waktu singkat membuatnya merasa agak penat.

Mulai dari naga di Silmenia, lalu jamur di desa perintis, benar-benar beruntun.

Padahal monster kelas bencana seharusnya jarang muncul, bahkan satu kali setahun saja sudah termasuk sering di dunia ini.

(……Nasib macam apa ini?)

Instrukturnya bahkan tertawa sambil berkata keberuntungan Konoe benar-benar buruk.

Katanya hal seperti ini biasanya mustahil terjadi, dan sang instruktur sendiri belum pernah bertarung melawan kelas bencana sesering ini.

Lalu, ketika Konoe bilang "Kalau begitu ini kasus yang cukup langka ya jika instruktur saja tidak berpengalaman", sang instruktur membalas "Barusan kamu menganggapku sudah tua, ya?", "Tidak, aku tidak bilang begitu", begitulah percakapan mereka.

(……Mari bersantai sejenak.)

Karena itulah ia berpikir begitu.

Selama lima hari terakhir, ia tidak mengambil pekerjaan baru dan hanya menghabiskan waktu melihat katalog rumah bersama Telnerica.

Mereka berdiskusi serius ingin mengakhiri hidup di penginapan, bahkan mendatangi beberapa bangunan yang sudah mereka incar untuk survei lokasi.

Sambil melihat bangunan secara langsung, mereka berbincang tentang ini bagus, itu bagus, lebih baik ada halaman, atau tidak perlu, soal pengelolaan, hingga alat sihirnya.

Setelah selesai, mereka menghabiskan hari dengan berjalan santai berdua di kota, belanja di toko, lalu minum teh──.

"──Konoe-sama, ada surat dari Sekolah."

──Sore itu, bersamaan dengan suara ketukan pintu, sebuah surat dari instruktur pun tiba.


ï¼’

(……Kira-kira ada urusan apa, ya.)

Konoe berpikir sambil menaiki tangga menuju Sekolah.

Isi surat itu adalah pemanggilan.

Tidak tertulis detail tujuannya, hanya memintanya untuk datang dalam beberapa hari ke depan.

Karena hari ini ia tidak punya urusan khusus, ia pun segera berangkat.

(Bukan soal banjir labirin atau semacamnya, kan? Kalau itu, pasti dipanggil secara paksa tanpa kompromi. ……Lalu, ada apa?)

──Konoe menaiki tangga sambil memikirkan alasan ia dipanggil.

Setelah sampai di puncak tangga, ia menyapa penjaga gerbang, melintasi gerbang, dan masuk ke dalam Sekolah.

"……?"

……Lho? Di sana Konoe merasakan ada yang aneh. Suasana Sekolah terasa sedikit terburu-buru. Rasanya tidak tenang dan riuh. Yah, bukan suasana yang berbahaya, sih.

Sambil merasa heran, Konoe menuju resepsionis dan meminta untuk dihubungkan dengan instruktur.

……Setelah menunggu beberapa saat, datang jawaban yang memintanya untuk menunggu sebentar karena sang instruktur sedang sibuk.

(……Yah, dia memang orang yang sibuk.)

Mau bagaimana lagi, lebih baik aku membunuh waktu sebentar, pikir Konoe sambil mulai berjalan-jalan santai di dalam Sekolah.

Ia masuk ke toko serba ada yang kebetulan terlihat dan mulai melihat-lihat barang dagangan……

(……Ah, benar juga, persediaan makanan daruratku sudah tinggal sedikit.)

Di sana Konoe menghentikan langkahnya di depan salah satu rak. Rak berisi makanan darurat berbentuk balok yang terkenal tidak enak.

Produk ini tahan lama, tapi teksturnya kering dan beraroma seperti obat──namun, Konoe sudah lama mengandalkannya.

Sebab jika tidak ada ini, ia akan kesulitan saat keadaan darurat atau saat sulit menemukan tempat makan.

Karena itu Konoe mengulurkan tangannya ke rak tersebut……

"……Kamu lagi, ya. Masih saja membeli itu? Makanlah sesuatu yang lebih layak sedikit."

"……Melmina?"

Tiba-tiba, sebuah suara yang disertai desahan napas terdengar dari samping Konoe.

Saat menoleh, ia melihat sosok gadis berambut merah yang sedang memeluk tumpukan kertas di lengannya.

Melmina. Seorang Adept seangkatan yang sudah lama ia kenal, dan baru-baru ini mereka juga melewati pertempuran bersama──dia adalah rekan.

Dengan wajah heran, ia mendekat, mengambil makanan darurat dari tangan Konoe, lalu mengembalikannya ke rak.

Kemudian…… ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas pinggangnya.

"Kalau butuh makanan darurat, pakailah yang ini."

"……? Ini apa?"

"……Kamu tahu aku mengelola sebuah persekutuan dagang, kan? Ini adalah makanan darurat yang dikembangkan di sana. Rasanya lebih layak, dan masa simpannya pun sama. Belum dijual secara umum, sih…… yah, jika kamu datang ke tempatku, aku akan menjualnya padamu kapan saja."

Karena disuruh mencoba, Konoe membuka bungkusan yang diberikan.

Begitu mencoba satu gigitan…… ia terkejut.

Rasanya seperti kue panggang dan buah kering.

 Mirip dengan rasa bar kalori yang pernah ia makan di Jepang dulu.

"……Ini enak."

Rasanya tidak bisa dibandingkan dengan makanan darurat balok itu.

Tanpa sadar Konoe memakan satu-dua gigitan lagi, lalu Melmina tersenyum bangga.

"Jadi, mulai besok datanglah menemuiku. ……Nah, kalau begitu ayo pergi."

"……Hm?"

"Lewat sini. Ikutlah denganku."

Tiba-tiba, Melmina mengulurkan tangan ke telapak tangan Konoe──lalu menarik lengannya dan mulai berjalan.

"……-kh? ……Me, Melmina?"

"Lagipula kamu cuma luntang-lantung di tempat seperti itu, berarti sedang senggang, kan? Temani aku sebentar."

……Yah, memang sedang senggang, sih, pikir Konoe. Tapi menemaninya untuk apa?

"Sebenarnya aku sedang mencari sesuatu di ruang arsip, dan aku butuh bantuan tenaga. Aku akan memberimu imbalan yang pantas, jadi bantu aku ya."

Melmina tersenyum sambil menunjukkan tumpukan kertas yang ia peluk.

Mendengar kata ruang arsip, Konoe mengangguk paham.

"……Aku tidak keberatan membantu, sih. Tapi aku sedang menunggu instruktur."

"Instruktur? Aku tidak tahu dia ada urusan apa, tapi sekarang sepertinya dia sedang melayani tamu langka yang datang berkunjung."

……Tamu langka? Saat Konoe bergumam, Melmina mengarahkan wajahnya ke arah jendela.

"Lihat, di sana. Bisa lihat, kan?"

"……Dia itu."

Mengikuti arah pandangannya, di seberang jendela dan halaman tengah, terlihat koridor lantai paling atas.

Di sana, ada seorang wanita berwarna biru yang memiliki tanduk dan sayap yang berkilau seperti permata.

──Fonia Archinorca. Konoe mengenal sosoknya.

Rambut biru, mata biru──tanduk biru, sayap biru.

Dia adalah ras langka yang disebut Dragonute, sekaligus putri dari kerajaan yang telah runtuh.

Kerajaan Archinorca yang Hilang.

Negara yang dihancurkan oleh Naga Langit seratus tahun yang lalu.

Dia adalah keturunan terakhir dari keluarga kerajaan tersebut.

"……Sudah lama sekali."

"Aku juga. Mungkin sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali aku bertemu dengannya."

Dan bagi Konoe, dia juga adalah teman seangkatan di Sekolah.

Dia adalah salah satu orang yang masuk ke Sekolah dua puluh lima tahun lalu dan sama-sama mengincar gelar Adept.

……Yah, meskipun dibilang seangkatan, Konoe hampir tidak pernah berinteraksi dengannya.

Sebab dia memiliki bakat yang lebih besar daripada siapa pun di angkatan mereka.

Pemilik otoritas perisai pemutus yang menepis segala fenomena.

Berbeda dengan Konoe yang butuh waktu dua puluh lima tahun untuk menjadi Adept, dia hanya butuh sepuluh tahun.

Karena kemampuan yang terlalu berbeda, ia hampir tidak pernah satu tim dengannya saat latihan.

Karena tidak pernah satu tim, ia pun tidak pernah berbicara dengannya.

Kepribadiannya yang pendiam mungkin menjadi salah satu alasan mereka tidak memiliki hubungan.

Konoe yang payah berkomunikasi pun sama, ia bukan tipe orang yang mau berinteraksi dengan orang lain secara aktif.

"…………"

Pada akhirnya, Konoe teringat ia hanya pernah bicara sekali dalam sepuluh tahun, sambil memperhatikan sosoknya.

Gadis itu tampak sedang berbicara dengan Sang Dewa di koridor.

Ekspresinya datar, sementara Sang Dewa berbicara dengan wajah serius.

Konoe merasa aneh melihat Sang Dewa yang biasanya selalu tersenyum menunjukkan ekspresi seperti itu.

(──?)

──Saat itu. Tiba-tiba, pandangan mereka berdua tertuju pada Konoe. Sial, apa aku barusan tidak sopan……?

(……Hm? ……Sang Dewa?)

Entah kenapa, Sang Dewa menunjukkan wajah yang tampak syok.

Sang Dewa menatap Konoe, lalu menatap gadis di sampingnya──Fonia, kemudian menatap Konoe lagi.

Sang Dewa tampak panik sambil menutupi mulutnya.

……Kenapa dia menatapku dengan wajah seperti itu? Konoe merasa heran.

"……Ah, begitu rupanya. Jadi seperti itu."

"……Melmina?"

"Aku penasaran kenapa dia sengaja menampakkan diri di Sekolah……"

Saat Konoe menoleh ke arah Melmina, gadis itu menghela napas dan memberikan tatapan yang sedikit tidak senang ke arah sang putri.

"……Melmina, apa maksudnya?"

"Hm? Itu…… bukan aku yang harus mengatakannya."

Hah, dia kembali menghela napas panjang. Kemudian berkata, "Ayo pergi," sambil menarik lengan Konoe dan mulai berjalan. Konoe memiringkan kepalanya…… namun ia tetap mengikuti dengan patuh.

Melmina melangkah lebar dan berjalan cepat menyusuri koridor. Tak lama, mereka sampai di ujung koridor.

Di tempat itu terdapat sebuah pintu besar, yang segera dibuka oleh Melmina dengan perlahan.

──Di balik pintu itu, terdapat ruang arsip berupa ruangan raksasa yang diperluas dengan sihir ruang, tempat ribuan rak buku berjajar.

Itu adalah tempat berkumpulnya segala macam dokumen Sekolah.

Sebuah tempat di mana seluruh informasi negara ini terkumpul, yang hanya bisa dimasuki oleh Sang Dewa, para Adept, dan segelintir pejabat sipil.

Melmina masuk ke dalam ruangan dengan gerakan yang terbiasa.

Kemudian, ia meletakkan tumpukan kertas dan barang bawaan di punggungnya ke meja terdekat, lalu mengamati sekeliling sejenak.

"Ya, tidak ada siapa-siapa."

Gumamnya. Lalu ia berbalik menghadap Konoe.

"Nah, Konoe. Selagi hanya ada kita berdua, aku ingin menanyakan satu hal."

"……?"

"──Itu, soal janji waktu itu, apakah kamu sudah memikirkannya?"

──Melmina mengatakannya sambil tersenyum manis dengan pipi yang sedikit merona.


3

Janji. Bersama Melmina. Itu adalah…… itu?

"……Kalau, ini seandainya saja ya."

"Kalau segala sesuatunya sudah selesai, saat itu…… a-aku yang manis ini akan mengabulkan satu hal apa pun──"

Benar, ada janji yang mereka buat sebelum bertarung melawan Jamur Bencana hari itu.

Janji untuk menuruti satu perkataan apa pun. Dan juga saat acara minum-minum setelah pertempuran.

"──Aku akan menepati janji itu. …………Pikirkanlah baik-baik, ya."

Melmina mengatakannya pada Konoe. Sambil tersenyum tenang. Sambil meronakan pipinya.

Kepada Melmina yang seperti itu, Konoe……

"……A-ah…… kalau begitu, akan kupikirkan baik-baik."

Beberapa hari lalu. Ia ingat telah menjawab begitu di tengah kebingungan.

Dalam kondisi belum memahami isinya dengan baik.

Karena disuruh memikirkan baik-baik, ia pun membalas akan memikirkannya baik-baik.

──Dan sekarang.

"Sudah lewat beberapa waktu sejak saat itu…… bagaimana?"

"……Itu."

"………………?"

Saat ditanya apakah janjinya sudah ditentukan, entah bagaimana bilangnya. Konoe mengerjapkan matanya beberapa kali.

Melihat itu, senyum Melmina berubah menjadi wajah heran…… lalu berubah menjadi ekspresi penuh curiga.

"……Oi, keheningan apa ini?"

"……"

"Wajah itu, bukannya belum bisa memutuskan, tapi kamu lupa, kan?"

Konoe memalingkan wajah. Benar sekali. ……Tidak, tepatnya bukan lupa, tapi ia tidak tahu harus bagaimana sehingga hal itu terhapus dari kepalanya.

Lagipula itu hanya janji lisan, dibicarakan di tempat minum-minum pula. Ia tidak menyangka Melmina akan menanyakannya sendiri.

(……Eh? Tapi kenapa dia terlihat tidak puas?)

Padahal jika ia menuruti apa pun perkataannya, bagi Melmina seharusnya lebih menguntungkan jika Konoe melupakannya.

"……Muu."

"……Tidak, itu."

Namun, bertolak belakang dengan pikiran Konoe, Melmina dengan ekspresi kesal langsung melangkah satu langkah mendekati Konoe.

Secara alami Konoe mundur satu langkah. Lalu Melmina maju lagi satu langkah, dan Konoe kembali mundur.

Melmina tidak berhenti, dan Konoe terus mundur. Setelah mengulanginya beberapa kali──.

"……Ah."

──Tuk.

Punggung Konoe membentur rak. Rak buku besar yang penuh dengan dokumen.

……Ia tidak bisa mundur lagi.

"……Konoe."

Melmina melangkah satu kaki lagi…… lalu berhenti.

Sangat dekat. Jarak di mana ia bisa melihat helai demi helai bulu matanya tanpa perlu penguatan apa pun.

Konoe yang melirik ke kanan dan ke kiri dengan bingung, serta Melmina yang memasang wajah cemberut.

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik……

"Pikirkan baik-baik."

"……Eh, a-ah, iya."

"……Perhatikanlah aku sedikit lagi."

──Eh? Konoe mengarahkan matanya yang sempat tidak tenang ke arah Melmina.

Gadis itu…… tampak seperti sedang merajuk.

"Ya? Janji?"

"……A-ah, iya."

"Ya sudah, kalau begitu kali ini aku maafkan."

Melihat Konoe yang mengangguk kaku, Melmina membalikkan punggungnya.

Kemudian, ia kembali ke tempat ia meletakkan barang-barangnya.

……Eh? Barusan itu apa? Sama sekali berbeda dengan Melmina yang kukenal.

"……Nah, kalau begitu bantu aku mencari sesuatu!"

"…………"

Kepada Konoe yang masih kebingungan, Melmina berkata dengan suara ceria, sangat kontras dengan yang barusan. Lalu, ia menyodorkan sebuah dokumen.

……Aku tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti.

Sambil tetap bingung, Konoe menerima dokumen itu dan membacanya──.

"……? Jumlah produksi Miasma Stone di setiap wilayah?"

Miasma Stone. Mendengar nama yang tidak asing itu, Konoe menggali kembali pengetahuan yang ia pelajari saat masih menjadi siswa pelatihan.

"……E-eh, kalau tidak salah, Miasma Stone itu bahan untuk Elixir, obat penyembuh penyakit mematikan."

"Benar, itu bahannya. Dan dari sekian banyak bahan, itulah yang paling penting dan paling sulit didapatkan."

Ucap Melmina sambil menarik dokumen dari rak dan menumpuknya di atas meja. Ia menambahkan bahwa karena kekurangan bahan ini, Elixir tidak bisa diproduksi dalam jumlah banyak.

──Miasma Stone. Itu adalah bahan baku untuk Elixir yang menyembuhkan penyakit mematikan, sekaligus merupakan bentuk padat dari Miasma yang menyebabkan penyakit tersebut.

Seingatnya, konsep "erosi" diambil dari Miasma Stone, lalu melarutkan berbagai macam benda untuk dijadikan obat.

Ia merasa ironis bahwa penyebab penyakit justru menjadi bahan baku obat penyembuhnya, tapi begitulah kenyataannya.

"……Miasma Stone bisa diambil di bagian terdalam penjara bawah tanah, kan?"

"Iya. ……Secara teknis, bisa juga dibuat secara buatan dari pohon polusi yang dibeli dari desa perintis, tapi efisiensinya terlalu buruk sehingga tidak bisa menghasilkan jumlah yang banyak."

Itulah kenapa harganya ditekan semurah mungkin, dan desa perintis tetap miskin selamanya, Melmina menghela napas.

Pohon polusi adalah sumber dana desa perintis yang semakin menguntungkan jika semakin banyak diambil karena merupakan bahan baku Elixir.

Namun, jika ditanya apakah imbalannya sebanding dengan risikonya, sepertinya tidak demikian.

Hal itu terlihat jelas hanya dengan melihat rumah-rumah yang berjajar di desa perintis.

Kecuali jalan utama, hampir semuanya tampak seperti gubuk kayu.

Padahal jika pergi ke kota yang sedikit lebih besar, bangunan batu akan berderet.

"……Yah, lupakan soal desa perintis untuk sekarang. Pokoknya, karena itulah Miasma Stone dibutuhkan untuk membuat Elixir, dan aku ingin menyelidiki jumlah produksi di berbagai tempat untuk mendapatkannya. Konoe, bantu aku ya."

"……Aku tidak keberatan, sih."

Sambil melihat dokumen yang diletakkan dengan suara debum di depannya──Konoe merasa sedikit heran.

Ia tidak keberatan membantu, tapi, kenapa tiba-tiba Melmina membutuhkan Elixir?

"──Aku butuh Elixir untuk membuat tubuh Kakak."

"……Ah."

……Begitu ya. Soal kakak Melmina. Konoe juga mendengar bahwa jiwanya berhasil diselamatkan dari Jamur Bencana, dan sekarang sedang tertidur di dalam berkah Sang Dewa.

"Aku berniat membuat wadah untuk jiwanya berdasarkan tubuhku…… tapi aku butuh Elixir untuk proses kultivasinya. Karena butuh dalam jumlah besar, aku tidak bisa sekadar membeli yang ada di pasar."

"……Jumlahnya tidak cukup, ya."

Karena Elixir dikelola oleh negara, barang yang ada di pasar selain harganya mahal, jumlahnya pun sedikit.

"Jumlahnya memang jadi masalah, tapi pertama-tama, jika aku membeli Elixir dalam jumlah besar dengan uang, itu akan memicu kebencian."

"……Hm?"

"……Dengar ya, pada dasarnya satu botol Elixir bisa menyelamatkan satu nyawa manusia. Jika aku mengumpulkannya secara paksa, itu artinya akan ada nyawa yang melayang sebanyak jumlah yang kukumpulkan."

"────"

"Semuanya, mereka tidak membeli barang semahal itu karena mereka suka. Mereka menginginkannya karena mereka sendiri tidak ingin mati, dan tidak ingin orang yang mereka sayangi mati."

──Masuk akal, pikir Konoe. Jika dilihat dari sudut pandang itu, Elixir memanglah nyawa manusia itu sendiri.

Namun, jika ia membelinya secara paksa hanya karena ia seorang Adept atau karena ia punya uang, yah, tentu saja ia akan dibenci.

"Jadi, jika kamu menginginkan Elixir dalam jumlah banyak, lebih baik buat sendiri. Aku ingin kamu meminjamkan tanganmu untuk penyelidikan demi tujuan itu."

"……Ah, aku mengerti. Aku akan membantumu."

Apa pun itu, jika demi kakak Melmina, bagi Konoe itu bukan urusan orang lain.

Karena di tengah pertarungan melawan jamur itu, alasan Konoe bisa mendapatkan kembali Melmina tanpa kehilangan nyawanya adalah berkat kakak Melmina.

……Panas itu, Konoe pasti tidak akan melupakannya seumur hidup.

"Terima kasih. Ruang arsip hanya bisa dimasuki oleh Adept, jadi ini sangat membantu. Nah, kalau begitu ini untukmu."

"……Ah."

Begitulah, Konoe mengambil dokumen yang ditunjuk, membukanya, memegang pena──

──Setelah itu, waktu pun berlalu. Sembari mencari dokumen dan menuliskan data, waktu terus berjalan. Begitu matahari yang tadinya berada di posisi tinggi perlahan mulai condong.

"──Mari kita istirahat sebentar."

Atas perkataan Melmina, ia pun menghentikan tangannya.

Karena di dalam ruang arsip dilarang makan dan minum, mereka memutuskan untuk pergi minum teh di kedai kopi yang ada di dalam Sekolah.

Sembari merapikan dokumen, mereka keluar dari ruang arsip──.

"……?"

──Hawa keberadaan itu mendekat tepat saat mereka keluar ke koridor.

Itu adalah hawa keberadaan yang kuat dan besar. Konoe merasa tidak begitu mengingatnya, tapi ia yakin ia mengenalnya.

"Ah, ternyata benar, ya."

"……Melmina?"

Melmina yang berjalan di sampingnya tiba-tiba mengembuskan napas panjang.

Sementara Konoe memiringkan kepala karena tidak mengerti apa maksudnya, hawa keberadaan itu sudah berada tepat di dekat mereka.

Suara langkah sepatu katsun, katsun bergema. Sang pemilik suara muncul dari belokan koridor──.

"──Lama tidak bertemu, Konoe, Melmina."

──Tanduk biru dan sayap biru. Sang putri dari kerajaan yang telah runtuh, Fonia Archinorca, berdiri di sana.


ï¼”

Meskipun manusia, ia memiliki kekuatan naga. Meskipun manusia, ia melampaui batasan manusia.

──Dragonute. Ras yang sangat istimewa di dunia lain, memiliki tanduk dan sayap yang indah.

Bagi orang Bumi, semua ras lain itu istimewa, tapi Dragonute adalah ras yang spesial bahkan di dunia ini.

Kelangkaannya yang hanya berjumlah sekitar sepuluh ribu di seluruh dunia──dan yang terpenting, kekuatan yang melampaui batasan manusia.

Tubuh yang tangguh dan sihir yang luar biasa besar dikatakan jauh melampaui prajurit manusia biasa sejak lahir.

Kilau permata dan kekuatan yang dahsyat. Keduanya dimiliki oleh eksistensi yang disebut Dragonute.

"──Lama tidak bertemu, Konoe, Melmina."

──Putri dari kerajaan Dragonute itu adalah Fonia Archinorca yang berdiri tepat di depan Konoe.

Suaranya tenang, seolah berbisik. Bukan suara yang keras, namun terdengar sangat jelas di telinga, suara yang misterius.

"Ya, lama tidak bertemu."

"……Ah, lama tidak bertemu."

Sembari membalas salamnya dengan jeda sedikit lebih lambat dari Melmina, Konoe menatap sang putri yang tiba-tiba muncul──Fonia.

Ia dibalut gaun biru bergaya asing dengan hiasan rumit.

Tanduk dan sayap yang berkilau memantulkan cahaya.

Rambut biru legam dengan mata yang bersinar biru.

Di kedua lengannya yang terbungkus lengan baju yang melambai, ia memeluk sesuatu yang berwarna putih.

"Konoe."

"……?"

Tiba-tiba, Fonia memanggil namanya. Lalu, ia melangkahkan kaki ke arah Konoe. Terdengar bunyi katsun katsun, dan ia segera sampai tepat di depan Konoe.

……Kedekatan yang tiba-tiba. Karena Fonia adalah wanita yang luar biasa cantik, Konoe yang payah berkomunikasi—tipe orang yang ingin lari jika didekati wanita cantik—pun merasa ingin melarikan diri.

"Ini, ambil."

"……Eh?"

Kepada Konoe yang kebingungan, ia memberikan kata-kata singkat dan menyerahkan benda putih yang ia peluk tadi…… sepertinya itu tumpukan kertas.

"Konoe, lihat."

──Lihat? Tumpukan kertas ini?

Sembari berpikir apa ini, Konoe mengulurkan tangan ke arah tumpukan kertas itu sesuai perintah.

Saat mengambil yang paling atas, ia menyadari kertas itu terbuat dari bahan yang keras dan sepertinya dilipat dua.

Saat membukanya……

"………………?"

Di dalamnya terdapat tulisan yang mendetail──dan foto seorang wanita. Foto yang ia dengar bisa direproduksi beberapa tahun lalu.

Di sana, tertampang sosok wanita yang berpakaian indah.

Orang itu adalah Dragonute yang sama dengan Fonia di depannya, wanita yang sangat cantik hingga membuat mata tak sanggup berpaling, sedang tersenyum dengan tenang.

"………………Ini?"

"Tidak mau? Kalau begitu yang berikutnya."

Apa maksudnya "tidak mau"? Konoe hendak bertanya, namun Fonia hanya berkata "berikutnya" dan menyerahkan lembar kedua.

Saat membukanya…… ternyata ada foto lagi.

Kali ini wanita yang berbeda dari sebelumnya──seorang gadis.

Gadis Dragonute yang berpakaian indah sedang tertawa dengan ceria.

"………………??"

"Berikutnya."

Begitulah, Fonia terus menyerahkan foto-foto itu satu per satu dengan cepat. Total ada sepuluh lembar, dan semuanya memperlihatkan wanita Dragonute yang cantik.

"………………????"

"Bagaimana?"

Kepada Konoe yang kebingungan, Fonia bertanya dengan sangat singkat.

Lalu…… Konoe teringat sesuatu. Dia memang orang yang berbicara dengan cara seperti ini.

Jarang membuka mulut, dan jika membuka mulut pun ia hanya bicara dengan datar.

Yah, sebenarnya Konoe sendiri pun tidak berhak mengatakan orang lain pendiam.

……Tapi, justru karena itulah, saat malam bulan purnama itu──di tempat latihan.

"──"

Konoe teringat satu-satunya percakapan yang pernah ia lakukan dengannya di masa lalu──lalu menggelengkan kepala pelan.

Masalahnya sekarang bukan masa lalu. Lagipula, apa sebenarnya benda yang diserahkan padanya sejak tadi ini……

"……Ini, sebenarnya apa?"

"Tsurigaki (resume perjodohan)."

"…………Hm?"

──Tsurigaki? Kepada Konoe yang mengernyitkan dahi, Fonia memiringkan kepala…… dan setelah beberapa detik, ia mengangguk kecil.

"Ini adalah negosiasi pemindahan tempat tinggal. Jika kau mau memindahkan markasmu ke wilayah otonomi Archinorca, kau boleh memasukkan gadis-gadis ini ke dalam haremmu."

"………………Eh."

──Eh? Apa katanya barusan? Konoe membuka mulut lebar-lebar menatap sang putri di depannya. Lalu.

"……Gadis-gadis ini."

Fonia menyentuh foto di tangan Konoe dengan ujung jarinya.

"Mereka adalah putri-putri dari keluarga menteri senior yang sudah lama mengabdi pada Archinorca. Mereka memiliki darah istimewa bahkan di antara para Dragonute. Biasanya mustahil bagi mereka untuk menikah dengan pria bukan Dragonute."

"……?"

"Tapi, jika itu kamu, jika kamu mau melindungi tanah dan rakyat Archinorca, mereka sendiri yang mengajukan diri untuk masuk ke dalam haremmu dan mengabdi padamu."

"………………??"

Konoe bingung dengan pembicaraan yang terus berlanjut tanpa sepengetahuannya, sementara Fonia terus melanjutkan dengan datar.

Ia mengatakan mereka adalah gadis-gadis yang seharusnya hanya bisa menikahi istri pertama.

Bahkan ada gadis yang seharusnya memilih mati karena malu, katanya.

"Bukankah pria menyukai gadis dari darah yang mulia dan langka seperti ini?"

"……………………………………????"

…………Benar-benar, pembicaraan macam apa ini? Konoe tertegun.

"Karena kita harus menjaga kemurnian darah, tidak bisa semuanya, tapi maksimal tiga orang. …………? Kenapa kamu diam saja sejak tadi? ……Apa mungkin kamu mau semuanya?"

"Bukan begitu."

Konoe benar-benar menyangkal karena sepertinya ia akan disalahpahami dengan hal yang sangat keterlaluan.

Lagipula, kenapa bicara soal harem?

Tidak, memang benar dulu ia pernah bercita-cita memiliki harem. Itu fakta. Tapi……

"……? Jadi, gadis-gadis ini tidak boleh?"

"……Bukan, itu, bukan tidak boleh sih."

Ia merasa ada sesuatu yang aneh dari dasar pembicaraan ini. ……Di sanalah Konoe akhirnya bisa menenangkan kebingungannya. Ia berpikir harus menjelaskan dari mana dulu.

"Jika darah mereka tidak bisa, maka hanya keluarga kerajaan yang…… jangan-jangan, aku?"

"…………Eh."

"……Ya, jika begitu──dengan syarat, bukannya mustahil."

"…………Eh."

"……Mulai sekarang, mohon bantuannya, ya? Tuanku?"

"…………Eh!?"

Konoe kembali bingung dengan bom yang terus diledakkan. Fonia tetap dengan suara datarnya bergumam bahwa ia tidak akan mewarisi kepemimpinan keluarga, ia punya tiga adik laki-laki, dan lagipula, apa gunanya──

"──Kakak, Kakak!"

"──Kakak, mohon tunggu sebentar!"

──Lalu, tepat saat itu, terdengar dua suara baru.

Saat melihat ke arah belokan koridor, ada dua gadis yang berlari mendekat. Gadis Dragonute dengan tanduk dan sayap berwarna hijau, berbeda dengan Fonia. Mereka berdua kembar dengan wajah yang persis, gaya rambut dan pakaiannya pun serupa.

"Ada apa?"

Di telinga Fonia yang bertanya, para gadis itu mendekat dari kiri dan kanan serta membisikkan sesuatu dengan suara pelan.

Samar-samar terdengar suara yang bersahutan seperti "Ada yang aneh!" atau "Tidak sesuai dengan cerita yang kami dengar!", atau "Mari kembali dulu untuk rapat strategi!".

Fonia tampak heran sejenak setelah mendengar itu, lalu mengangguk.

"Aku mengerti. ……Maaf, Konoe. Hari ini permisi dulu."

"……A, ah, iya."

Fonia berkata begitu lalu pergi dengan cepat. ……Konoe memandangi punggungnya yang menjauh dengan tatapan kosong.

"……Begitu ya."

"……Melmina?"

Di sana, Melmina yang sedari tadi diam di sampingnya bergumam pelan.

Wajahnya tertunduk, sehingga Konoe tidak bisa melihat ekspresinya──.

"──Lagipula, memang lebih baik jika kita bertindak lebih dulu."

──Melmina bergumam dengan suara yang sedikit lebih rendah.

"Konoe, hari ini kita akhiri sampai di sini. Terima kasih sudah membantu, ini sangat menolong."

"……Eh, ah, iya."

"Aku pasti akan memberimu imbalan lain kali──kalau begitu sampai jumpa, segera."

Mengatakan itu, Melmina pun pergi dengan terburu-buru. Konoe hanya bisa melepas kepergiannya tanpa memahami situasi.

…………Beberapa detik, ia terus menatap ujung koridor.

"……Pulang, deh."

Ia bergumam sambil merasa lelah yang aneh. Terlalu banyak hal yang tidak bisa dipahami dan mengejutkan hari ini.

Saat berpikir lebih baik segera kembali ke penginapan dan bersantai, ia pun menuju pintu masuk──.

"──Ah, Konoe, pas sekali. Maaf, maaf, membuatmu menunggu. Kamu bisa sekarang?"

"……Eh? Instruktur?"

──Begitu sampai di depan pintu masuk, ia disapa oleh sang instruktur. Instruktur mendekat sambil menggoyangkan rambut perak lembutnya…… dan di sana Konoe teringat alasan ia datang ke Sekolah hari ini.

"………………Ah."

Instruktur, lalu surat yang sampai di penginapan──ah, benar juga, aku dipanggil oleh instruktur, pikirnya.


5

"Maaf membuatmu menunggu meski aku yang memanggil. Nah, untuk sementara, ayo kita pergi ke tempat latihan di bawah."

"……Tempat latihan?"

"Sebenarnya, ada sedikit hal yang ingin kutanyakan soal teknik yang kau kuasai terakhir kali."

Yah, detailnya akan dibicarakan di bawah, kata instruktur sambil mulai berjalan.

Maka Konoe mengikuti instruktur dari belakang sembari bertanya-tanya hal apa itu.

……Sejujurnya, karena banyak hal terjadi hari ini, ia merasa sedikit ingin pulang──tapi karena berpikir tidak boleh mengerjakan urusan instruktur dengan asal-asalan, Konoe meluruskan punggungnya dengan serius.

"Sepertinya kamu mengalami hari yang berat, ya?"

……Namun, isi hati Konoe yang seperti itu langsung terbaca dengan mudah oleh instruktur.

Dan──tiba-tiba, nyari, ia tersenyum dengan cara yang menyebalkan.

"Jadi, Konoe, bagaimana?"

"……Bagaimana, apanya?"

"Kamu dirayu, kan? Banyak gadis cantik di sana, ya."

Instruktur tertawa sambil terus menggoda.

……Begitu ya. Sepertinya instruktur tahu segalanya. Lagipula, sekarang dia sedang menggodaku. Konoe memahami hal itu, merasa sedikit penat, lalu berkata.

"Bagaimana? Apa kesanmu setelah diajak bergabung?"

"……Kalau ditanya kesan…… aku terkejut."

Saat Konoe berkata jujur sambil menghela napas, instruktur tersenyum kecut.

"Pasti, ya. Tapi, setelah ini tawaran pindah kerja akan datang secara rutin, dan kamu juga harus membiasakan diri, lho?"

"………………Secara rutin?"

"Ya, hal itu tidak akan hilang. Setiap negara kekurangan Adept. Kamu tahu itu, kan?"

……Itu, memang Konoe pahami.

Tidak peduli seberapa banyak bertarung, Dewa Jahat masih ada, ujung labirin tidak terlihat, dan monster meluap-luap di permukaan bumi.

Karena itulah Adept selalu kekurangan. Saat di Silmenia, saat di tempat Telnerica, pun sama.

"Meski ada aturan agar tidak terjadi perebutan tawaran yang sengit──seperti pemberitahuan sebelumnya ke negara asal, atau penentuan periode negosiasi──tapi setiap negara mati-matian ingin menambah Adept mereka sendiri. Jadi tentu saja, tawaran akan datang ke semua Adept. Begitulah aturannya. ……Apalagi kamu punya rekam jejak."

"…………? Rekam jejak?"

Saat Konoe memiringkan kepala…… instruktur memasang wajah yang seolah tidak habis pikir.

"Dengar ya, kenapa kamu memasang wajah heran padahal kamu sudah membunuh dua bencana?"

"……Ah."

Begitu dikatakan, ia tersadar. Benar juga, itu mungkin dihitung sebagai rekam jejak.

"……Konoe, indramu agak melenceng, ya. Adept yang membunuh dua bencana──tidak, Adept yang pernah membunuh satu bencana saja tidak banyak, lho?"

"…………Benarkah begitu?"

"Tentu saja. Bencana itu kalau muncul satu dalam setahun di seluruh dunia saja sudah termasuk banyak. Meskipun frekuensi kemunculannya beragam, dalam seribu tahun tidak sampai seribu yang muncul, dan separuhnya dibunuh olehku atau orang-orang nomor satu di tiap negara."

……Kalau dipikir-pikir, Konoe teringat sesuatu. Seingatnya, Adept yang masih hidup saat ini berjumlah sekitar sembilan ribu orang.

Jika dipikir begitu, mungkin memang sedikit Adept yang pernah bertemu bencana.

……Konoe yang bertemu beberapa bencana dalam puluhan hari ini, memang abnormal.

"Jadi, karena itu, tadi aku tertawa bilang keberuntunganmu buruk, tapi itu sebenarnya hal yang luar biasa, lho."

"……Hah, haa."

"Apa aku terlalu banyak menggodamu ya…… maaf, ya. Nah, sekali lagi. Konoe, selamat──sebagai gurumu, aku bangga padamu."

"────"

Ekspresi instruktur yang tampak merasa bersalah dan kata-kata pujiannya.

Terhadap kata-kata itu──kata-kata dari sang guru yang telah mengajarinya selama dua puluh lima tahun.

Kata-kata dari guru yang tidak pernah menyerah padanya—yang keras, tegas…… namun tidak pernah membuang dirinya yang tak memiliki bakat sedikit pun, dan terus melihatnya hingga akhir.

"──I-iya."

Ia juga pernah mengatakannya setelah kejadian di Silmenia, tapi tetap saja, dada dan wajahnya terasa panas.

Ia merasa sangat malu.

Kepada Konoe yang tanpa sadar menunduk, instruktur tersenyum lebar sambil menepuk punggungnya dengan pelan──.

──Lalu, sembari mengobrol, mereka menuruni tangga dan sampai di pintu tempat latihan bawah tanah.

Ia mendorong pintu logam berat di pintu masuk dan masuk ke dalam.

"……Nah, kembali ke pembicaraan kita yang sempat melenceng."

"……?"

"Soal negosiasi pindah kerja tadi. ……Dengar, Konoe. Ini adalah permintaanku padamu──tolong jangan membenci Archinorca karena kejadian ini."

──Membenci? Setelah berkedip, Konoe menggelengkan kepala, bilang ia tidak punya niat begitu. Ia terkejut, memang sangat terkejut, tapi hanya itu.

"……Begitu ya, aku lega. Sebagai orang yang memegang posisi ini, aku tidak bisa ikut campur dalam proposal negosiasi, tapi arahnya memang ada banyak yang salah, sih."

"……"

"Seharusnya mereka melakukan penyelidikan lebih dulu………… tidak, mungkin juga tidak."

"……?"

"Bahkan kalau diselidiki pun tidak akan tahu. Soalnya kamu itu orang yang tidak pernah bilang menginginkan apa. Maksudku, sebenarnya apa sih yang kamu inginkan?"

Aku pun hanya tahu soal rumah, kata instruktur.

"Tapi soal rumah, beli saja secara biasa. Lalu kalau soal makanan lezat, kamu itu tipe orang yang makan makanan darurat balok itu. Pakaian yang dipakai tiap hari desainnya mirip, status, kekuasaan, ketenaran, seni, dan uang yang berlebih pun, tidak terlihat tertarik pada apa pun."

……Itu. Jika dikatakan begitu, Konoe sendiri pun tidak terpikir barang apa yang ia inginkan.

"……Yah, jadi pada akhirnya terpaksa mengandalkan ingatan Fonia ya. Padahal dari syarat, resume itu luar biasa, lho. Ada putri Dragonute yang bercampur di sana."

"…………Putri (Hime-miko)?"

"Anggap saja dia spesial setara dengan keluarga kerajaan. Terlepas dari apakah kamu sekarang tergerak hatinya oleh harem atau tidak, itu menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam mengajakmu."

Pejabat yang menerima rencana rekrutmen itu bukan hanya melihat dua kali, tapi tiga sampai empat kali, instruktur bergumam. Aku pun jujur terkejut, katanya.

"──Mungkin mereka akan datang lagi dengan mengubah syaratnya. ……Sebab negara di sana sekarang sedang dalam masalah. Tahun lalu bencana muncul, dan tiga Adept terbunuh."

"……Bencana…… eh, t-tiga orang?"

"Muncul Fenrir, serigala langit yang memiliki otoritas akselerasi. Adept yang telat bereaksi tampaknya dibantai satu per satu. Sepertinya bahkan tidak sempat menggunakan Unique Magic."

Konoe mengerutkan pipinya. ……Berbicara soal Fenrir, itu adalah monster kelas bencana yang larinya sangat cepat. Jika monster seperti itu mendapatkan Unique Magic akselerasi.

"Jadi, sepertinya mereka putus asa. Tampaknya satu tahun ini mereka sibuk untuk menutup lubang. Apalagi di sana──ada sesuatu yang harus dilindungi bagaimanapun caranya."

"……"

"──Aku sudah memberitahumu kan, apa itu?"

Instruktur menatap mata Konoe. Itu…… itu, Konoe memang tahu.

"……Ya, di bawah tanah Archinorca, Raja Iblis disegel."

Itu adalah monster kehancuran yang konon mengurangi populasi dunia hingga dua puluh persen seribu tahun lalu.

Kejahatan yang menyebarkan Miasma dan mencemari seperlima dunia.

Raja Iblis yang memiliki otoritas kebangkitan yang tidak bisa dibunuh oleh siapa pun, bahkan oleh instruktur, Origin, atau legenda lainnya.

──Di bawah tanah Archinorca, Raja Iblis yang abadi sedang tidur.

Dan Archinorca terus menjaga segel itu selama seribu tahun. Anekdot tentang mereka yang terus menjaga segel tersebut seratus tahun yang lalu meski menerima kerusakan hingga kehilangan bentuk negara dari Naga Langit, sama terkenalnya dengan legenda instruktur.

"Tugas yang berat dan panjang. Tidak peduli berapa banyak kekuatan tempur hebat yang ada, itu tidak akan pernah cukup. Setelah kejadian tahun lalu, kita sudah mengirim Adept dari negara kita dan sekitarnya, tapi mereka pasti menginginkan Adept yang benar-benar menetap di sana."

"Jika hanya pengiriman, tentu saja kurang sungguh-sungguh," gumam instruktur. "Mereka pasti ingin orang yang bisa menjaga tanah dan rakyatnya dengan benar untuk datang ke sana," katanya.

Konoe menunduk, mengangguk pada kata-kata instruktur itu……

"…………"

"…………"

……Setelah kata-kata itu, percakapan pun terputus.

Konoe dan instruktur terus berjalan di dalam tempat yang menyerupai padang gurun dengan gunung batu yang menjulang tinggi dalam diam.

Waktu yang tenang. Suara langkah kaki za, za bergema. Instruktur memandang jauh dengan mata yang menyipit seolah sedang mengenang sesuatu.

──Dan, saat mereka sudah hampir mendekati pusat.

Tiba-tiba, instruktur bergumam──ah. Suara yang berbeda dari sebelumnya, suara yang seolah menyadari sesuatu.

"──Emm, meski aku bicara begitu, jangan salah paham ya? Aku sudah menjelaskan banyak hal, tapi bukan berarti aku menyuruhmu pergi ke Archinorca."

"……Eh, ya."

"Pencapaian besar yang diraih negara itu dan pemindahan tempat tinggalmu adalah masalah yang berbeda. Lagipula masih ada Adept lainnya."

Ngomong-ngomong, soal pindah kerja, instruktur berkata dengan wajah serius. Karena kamu akan hidup lama di sana, jangan memutuskan karena dorongan sesaat.

Pindah kerja berarti kehidupan akan berubah, jadi jangan menilai hanya dari imbalan, tapi yang terpenting adalah apakah kamu bisa hidup dengan baik di sana atau tidak.

"Jadi jika kamu berpikir untuk pindah kerja, selidiki dengan baik, lihat syaratnya, bandingkan dengan keadaan sekarang, lalu putuskan. Lebih baik berpikir untuk pergi jika kamu memang benar-benar ingin pergi."

"……Ya."

"……Ngomong-ngomong, jika berbicara soal premis──sebenarnya aku dan Sang Dewa adalah pihak yang tidak ingin kamu pergi. Mungkin aku tadi bicara terlalu condong ke posisi Archinorca. ……Untuk menyeimbangkan, bagaimana kalau aku ceritakan hal-hal bagus dari negara ini supaya kamu tidak pindah?"

Dengan begitu, pertama-tama soal uang dan barang, instruktur menghitung dengan jari.

Katanya, negara yang telah memanggil orang dari dunia lain dan mengambil pengetahuannya ini, kini mengumpulkan uang dan barang dari seluruh dunia.

Jika di Archinorca, imbalan pekerjaannya akan jauh lebih sedikit.

Selain itu, negara ini keamanan lingkungannya baik, teknologinya maju dan nyaman, makanannya enak, ada makanan manis, katanya. Dan──.

"──Dan, yang terpenting, negara ini punya Sang Dewa. Bobot ini tidak akan pernah kalah, apalagi lebih rendah dari Archinorca."

──Melindungi Sang Dewa. Pentingnya hal itu, tidak perlu dijelaskan lagi.

Setelah itu, sembari berjalan, pembicaraan tentang hal-hal bagus dari negara ini terus berlanjut.

Terkadang dengan serius, terkadang dengan nada bercanda, instruktur terus berbicara──

"Selain itu, apa ya. Mungkin karena ada aku. ……Senang, kan?"

"…………Ya."

"Eh, apa barusan jawabannya terlambat?"

"Tidak."

Selagi melakukan hal itu, mereka berdua sampai di tengah tempat latihan. Di sana instruktur berhenti.

"Nah. Meski kita bicara panjang lebar tentang banyak hal…… sebenarnya ini baru inti dari pembicaraan. Alasan kenapa aku memanggilmu hari ini."

"……Ya."

"Tolong perlihatkan padaku, aktivasi ganda alat sihir yang katanya kau kuasai saat pertempuran tempo hari."


ï¼–

──Menghancurkan pisau dengan petir, menempa, lalu menembakkannya dengan tinju.

──Mengaktivasi alat sihir secara ganda, menahan sirkuitnya agar tetap terhubung, dan menciptakan ratusan hingga ribuan pisau.

Itu adalah kekuatan yang Konoe bangkitkan di tengah pertempuran melawan jamur. Kekuatan yang ia peroleh untuk mendapatkan kembali Melmina.

"……Mungkin sekitar sini."

"…………"

Suara Konoe bergema di tempat latihan yang dipenuhi debu tanah. Sesuai instruksi instruktur, ratusan pisau menancap di gunung batu yang telah disiapkan, dan di dalamnya terkandung petir.

Kekuatan yang berguna karena bisa digunakan untuk serangan sederhana maupun jebakan. Konoe mengenali kekuatan ini sebagai kekuatan itu.

Satu-satunya kelemahan adalah alat sihirnya akan hancur setelah pertempuran. Tapi, jika itu hanyalah barang yang tidak terlalu mahal seperti pisau, itu bukan masalah.

"………………Instruktur?"

"……Aku terkejut."

Entah mengapa, instruktur tidak memberikan jawaban dan hanya melontarkan satu kalimat itu.

……Terkejut? Saat menoleh, instruktur tampak melongo dengan mulut terbuka lebar, pemandangan yang belum pernah Konoe lihat sebelumnya.

"Tidak, aku terkejut. Benar-benar terkejut."

"……?"

"Dengar ya, Konoe. Ini adalah Primitive Magic."

……Primitive Magic?

──Primitive Magic. Itu adalah sihir yang diaktifkan bukan melalui teknik, melainkan melalui insting.

Sihir yang berbeda dari sihir yang diberikan oleh Sang Dewa, sihir yang menyimpang. Bukan teknik yang diciptakan oleh Dewa, melainkan kemampuan yang diasah dari insting manusia.

Primitive Magic adalah sihir seperti itu. Sihir khusus yang berbeda dari sihir umum maupun Unique Magic. Itu adalah penciptaan sihir baru oleh tangan manusia, sebuah ranah yang hanya bisa dicapai oleh segelintir orang jenius.

"……Ini, apakah benar Primitive Magic?"

"Ya, tidak diragukan lagi. ……Lagipula, apa kamu tidak merasa ada yang aneh? Biasanya, kamu tidak akan bisa secara paksa menghubungkan sirkuit alat sihir yang seharusnya habis terbakar."

"……Itu."

"Ini jelas melampaui batas manipulasi sihir biasa. Tentu saja ini juga bukan Life Magic, karena ini bukan nyawa. Jika itu Alchemy Magic atau Formation Magic, mungkin bisa melakukan hal serupa, tapi……."

Jika dipikirkan, memang benar begitu.

……Tidak, sebenarnya Konoe sendiri merasa ada yang tidak beres.

Namun, ia tidak pernah mengaitkan dirinya dengan Primitive Magic yang katanya hanya bisa dibangkitkan oleh orang jenius.

(……Eh? Tunggu dulu, itu artinya…… apa ini berarti aku memiliki bakat untuk Primitive Magic……?)

Dirinya yang tiba-tiba bisa menggunakan Primitive Magic—sesuatu yang hanya bisa digunakan orang jenius—tanpa ia sadari.

Apakah dirinya, yang sama sekali tidak memiliki bakat, ternyata memiliki bakat seperti ini?

Konoe menatap lekat-lekat tangannya sendiri yang baru saja menembakkan pisau tadi.

Dua puluh lima tahun sejak ia mulai berlatih untuk menjadi Adept. Apakah akhirnya ia menemukan bakatnya sendiri──.

"Aku benar-benar terkejut…… tidak kusangka."

"……Ya."

"Tidak kusangka, karena kamu tidak punya bakat bawaan sama sekali, kamu justru malah membangkitkan Primitive Magic……"

"………………Eh?"

……?? Karena tidak punya bakat bawaan sama sekali?

Saat Konoe mengerjapkan mata, instruktur menggelengkan kepalanya pelan.

"……Konoe, apa yang akan kubicarakan setelah ini, jangan disebarkan ke tempat lain, ya."

"……Eh, baik."

Instruktur memberikan peringatan bahwa ini bukan hal yang ingin ia sebarkan secara umum. Lalu.

"Sebenarnya, Primitive Magic itu tidak menggunakan sihir (mana), melainkan menggunakan kekuatan jiwa──kekuatan kehendak."

"……Jiwa? Itu……."

"Sama seperti Unique Magic. Keduanya memiliki sumber yang sama."

Instruktur mengangkat jari telunjuknya, memberi isyarat untuk membandingkannya.

"Pertama, soal Unique Magic. Unique Magic adalah sihir yang terukir di dalam jiwa karena adanya hasrat yang mendalam."

Instruktur menjelaskan bahwa Unique Magic adalah kekuatan yang aktif karena seseorang mengukir keinginan hingga rela mati ke dalam jiwanya.

Itulah sebabnya, setiap orang hanya memiliki satu Unique Magic. Itu karena jiwa hanya ada satu, dan bentuk yang sudah terukir tidak akan bisa kembali lagi.

"──Oleh karena itu, Unique Magic tidak akan berubah meskipun hasrat itu sudah tercapai. Meskipun kamu mendapatkan hasrat baru, itu tidak akan berubah. Karena luka yang terukir di jiwa tidak bisa hilang. ……Yah, kalau dia punya kekuatan untuk memanipulasi jiwa seperti jamur yang ada di laporan itu, mungkin ceritanya berbeda."

"……Ya."

"……Lagipula, mungkin sudah terlambat untuk mengatakannya, tapi kekuatan jamur itu benar-benar luar biasa. Untung saja kamu membunuhnya. Jika ia bebas memanipulasi jiwa, satu kesalahan saja bisa membuatnya menjadi Raja Iblis."

……Itu benar juga. Konoe mengangguk sambil mengingat kejadian saat itu.

Monster jamur yang menggunakan dua jenis Unique Magic.

Seandainya jamur itu menggunakan tiga atau empat jenis Unique Magic, apakah Konoe sanggup menanganinya?

……Setelah beberapa hari berlalu, Konoe baru bisa mengembuskan napas lega.

Baik soal naga maupun jamur, meski pada akhirnya ia menang, jika salah langkah sedikit saja, ia mungkin sudah mati.

Itulah pertarungan melawan bencana.

"Maaf, pembicaraannya melenceng. Intinya, Unique Magic adalah kekuatan seperti itu. Kurasa kamu sudah tahu sampai di sini. Nah, sebagai lawannya, Primitive Magic itu……."

"……Ya."

"Primitive Magic sama seperti Unique Magic dalam hal menggunakan kekuatan jiwa untuk aktif, tapi ia tidak terukir di jiwa. Jadi, kamu tidak terbatas hanya satu, kamu bisa menggunakan sebanyak apa pun yang kamu mau."

Terlebih lagi, lanjut instruktur, kekuatannya sangat bervariasi dan merupakan kekuatan praktis yang bisa digunakan terlepas dari berkah apa pun yang dimiliki.

"Tapi, tentu saja ada kekurangannya. Pertama, output-nya rendah. Cost-performance-nya juga rendah──kalau memakai istilah dunia lain, boros energi. Bahkan jika menggunakan kekuatan yang serupa, antara Unique dan Primitive, bedanya bisa puluhan kali lipat."

"……Puluhan kali lipat."

"Dan yang paling penting…… kekuatan jiwa itu sulit. Tidak seperti sihir biasa, sulit untuk merasakannya. Apalagi menjadikannya sihir. Biasanya, orang hanya bisa mengukir Unique di jiwa mereka dan mengeluarkan kekuatan ke sana saja sudah maksimal."

……Masuk akal, pikir Konoe. Jadi karena itu ia disebut hanya bisa digunakan oleh orang jenius.

Sejauh ini ia mengerti. ……Namun, itulah mengapa ia merasa heran.

Apa maksudnya tadi soal "karena tidak punya bakat sama sekali"?

"──Jadi, alasan mengapa kamu bisa menggunakan kekuatan sesulit itu adalah karena……."

"……Ya."

"Kekuatan jiwamu meluap keluar dari wadahnya……."

──Meluap, maksudnya.

"Terlalu banyak menyimpan kekuatan jiwa, sampai meluap, lalu karena mencari tempat untuk disalurkan, ia berubah menjadi Primitive Magic dengan sendirinya."

"……Dengan sendirinya?"

"Mungkin? Aku juga baru pertama kali melihatnya, jadi tidak bisa memastikan secara mutlak…… tapi berdasarkan instingku, kurasa begitu."

Kepada Konoe yang bingung, instruktur memegang dagunya dan bergumam.

"Ini pertama kalinya. Biasanya, hal seperti ini tidak terjadi. Jika seseorang punya kekuatan jiwa sampai meluap, mereka akan bisa menggunakan Unique sebelum Primitive."

Instruktur menjelaskan bahwa karena kekuatan jiwa seharusnya dikonsumsi sebagai Unique Magic, maka seharusnya tidak akan sampai meluap.

"Tidak aneh jika jiwamu menjadi kuat. Jiwa memang bawaan sejak lahir, tapi jiwa juga bisa ditempa di tengah kesulitan. Oleh karena itu, tidak jarang kandidat Adept yang tidak punya Unique justru bangkit saat latihan."

"……Ya."

"……Kenapa kamu tidak bisa menggunakan Unique Magic juga?"

"……Meski ditanya begitu."

Itu adalah hal yang paling ingin diketahui oleh Konoe.

Padahal Konoe juga ingin bisa menggunakannya.

"Aneh, ya. Jika kekuatan jiwanya sekuat itu, seharusnya hasrat dan keterikatannya juga kuat. Karena itulah para Adept langsung mencari hasrat baru setelah mencapai hasrat mereka yang lama."

"……?"

"……Apa karena kamu orang dari dunia lain? Tidak, bukankah ada laporan tentang orang dunia lain yang bisa menggunakan Unique……? Lalu kenapa?"

Instruktur mengerutkan kening sambil bergumam.

Konoe merasa tidak bisa berkata apa-apa melihat sosok instruktur tersebut……

"Yah, kalau tidak tahu mau bagaimana lagi, ya."

"………………"

──Setelah beberapa lama, instruktur menyerah. Ia lalu memberikan penjelasan tambahan tentang Primitive Magic.

"Jadi, soal Primitive Magic, dilarang untuk disebarluaskan ke masyarakat."

"……Begitukah?"

"Ya, karena jika kekuatan jiwa digunakan oleh orang biasa, jiwa mereka akan rusak berantakan, dan dalam kasus terburuk, mereka bisa mati. ……Lagipula, Primitive Magic tidak punya sistem pengaman."

Karena berbahaya, makanya dilarang, kata instruktur.

Ia ingin orang-orang menggunakan sihir umum yang lebih praktis, mudah dipelajari──dan yang terpenting, aman.

Konoe pun teringat…… ah, instruktur pernah hampir membunuh anjing kesayangannya karena mengigau saat menggunakan Primitive Magic.

Memang benar, lebih aman menggunakan kekuatan yang tidak membahayakan.

"……"

…………Konoe bertekad untuk melepas alat sihirnya jika tidur mulai saat ini.

"──Nah, ayo pulang!"

Mereka pun beres-beres dan keluar dari tempat latihan bersama. Berjalan berdampingan, menaiki tangga selangkah demi selangkah.

"Wah, hari ini banyak sekali kejadian, ya."

"……Ya."

Suasana setelah menyelesaikan pekerjaan. Atmosfernya tenang dan langkah kaki mereka santai.

"Hari seperti ini paling enak minum alkohol…… eh, ngomong-ngomong soal alkohol, sepertinya aku belum pernah minum denganmu."

"……Soal itu, ya."

"Mari kita minum bersama dalam waktu dekat! Aku tahu kedai yang bagus."

"……Yah, kalau ada kesempatan, nanti."

Konoe hanya perlu pulang. Instruktur pun sepertinya tidak punya pekerjaan lagi setelah ini karena sudah membahas soal minum.

Hubungan guru-murid yang sudah terjalin dua puluh lima tahun, hubungan yang tanpa sekat, terutama dari pihak instruktur.

Namun bukan berarti Konoe tidak membuka hati padanya.

"──Jadi, tadi calon tunanganku bertanya. 'Di antara yang pernah kau lawan, monster mana yang terkuat kedua?' Tepat setelah aku duduk dan menyapa. Biasanya kan tanya hobi? Tidak menurutmu aneh?"

"……Ya."

"Mengecualikan yang nomor satu rasanya licik sekali…… yah, yang nomor satu memang Naga Langit, sih."

"……Ya."

Konoe berjalan sambil menanggapi dengan asal obrolan yang dilontarkan instruktur.

──Dan, ini terjadi saat mereka sedang berbincang ringan.

"──Ngomong-ngomong, belakangan ini kamu……."

"……Ada apa?"

"Sering bersama perempuan, ya."

……? Benarkah? Konoe mengerjapkan mata mendengar kata-kata tak terduga itu…… tapi tidak, memang benar ia tinggal bersama Telnerica, pikirnya.

"Jadi, ini saran dariku bukan sebagai gurumu, tapi sebagai seorang kakak yang hidup sedikit lebih lama."

"……Ya."

"…………………………Apa kamu barusan berpikir, 'memangnya kau sudah pantas disebut kakak'?"

"……Tidak."

(Aku tidak berpikir begitu. ……Malah, rasanya instruktur belakangan ini sering sekali seperti ini.)

Konoe memiringkan kepala, bertanya-tanya apakah sesuatu terjadi.

"……Hmm. Pokoknya, sebagai kakak, aku akan beri satu saran──di antara para perempuan, hati-hatilah dengan mereka yang memiliki Unique Magic."

"……Memiliki Unique Magic?"

"Ya. Seperti yang kubilang tadi, mereka yang punya Unique Magic itu jiwanya kuat. ……Jadi maksudnya, mereka itu──banyak yang 'wanitanya berat'."

──Wanita, berat?

"Hati-hati, ya. Jangan mendekat dengan perasaan main-main. Nanti saat sadar, kamu sudah tidak bisa lari lagi."

"……Hah, begitu ya."

"Konoe, kamu tidak mengerti, ya? Kalau mau mendekat, harus ada tekad. Dengan pemilik Unique Magic…… dan juga, hati-hatilah dengan mereka yang terlihat akan membangkitkannya."

Meski dikatakan begitu, Konoe tidak paham apa yang dimaksud instruktur.

Karena Konoe tidak bisa membayangkan apa itu 'wanita berat'. ……Terlepas dari pemilik Unique Magic, orang seperti apa yang akan membangkitkannya? Konoe bergumam dengan kesadaran yang sedikit melayang.

"Maksudnya yang akan membangkitkannya adalah…… ya, mereka yang penuh vitalitas."

"……Hah."

"Tipe orang yang akan melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan orang biasa…… mengalahkan monster kelas atas berturut-turut, belajar begadang selama berhari-hari, atau terus bekerja tanpa istirahat selama puluhan hari."

Memang terdengar penuh vitalitas. Tapi Konoe pikir tidak ada orang seperti itu di sekitarnya.

"Yah, pokoknya hati-hati, ya."

"……Hah, ya, mengerti."

Sembari mendengarkan setengah hati, mereka akhirnya sampai di pintu masuk Sekolah.

Karena hanya obrolan ringan, perpisahan mereka pun singkat. Keduanya berpamitan dan pergi ke arah yang berbeda──.

◆◇◆

──Setelah berpisah, dia yang biasa dipanggil instruktur itu pergi menuju kamarnya sendiri.

Mengingat percakapan dengan murid yang tadi bersamanya, ia menaiki tangga.

"……Ah, benar juga. Ada satu lagi."

Tiba-tiba, ia bergumam. Itu adalah hal yang baru saja mereka bicarakan. Soal mereka yang akan membangkitkan Unique Magic.

"──Tipe yang meski terkena penyakit mematikan tahap akhir, tetap bergerak dengan tekad."

Jika ada pemicunya, sepertinya mereka akan segera membangkitkannya, pikirnya.

Sambil teringat gadis yang lima puluh hari lalu berteriak sambil memuntahkan darah di pelukan Konoe, ia bergumam seperti itu.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close