NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 3 Chapter 2


Chapter 2

Permintaan Penyelidikan


1

──Keesokan harinya, pagi hari. Konoe terbangun di atas tempat tidur penginapannya.

Seperti biasa, ia melakukan rutinitas paginya, seperti melatih Detection... lalu, "ah, benar juga," ia teringat kejadian kemarin.

"…………Pemindahan tempat tinggal, ya."

Kemarin ada banyak hal yang terjadi, mulai dari urusan Melmina hingga soal Primitive Magic, tapi hal itulah yang pertama kali muncul di benaknya.

Mungkin karena itu adalah hal yang cukup mengejutkan. Ditambah lagi soal resume perjodohan itu.

Fonia, yang baru ditemuinya lagi setelah sekian lama, datang membawa tawaran tersebut.

Meski kemarin ia sudah pulang, instruktur mengatakan bahwa ia pasti akan datang lagi dengan mengubah syarat-syaratnya.

Konoe pun memahami alasannya, dan ia rasa kemungkinan besar hal itu memang akan terjadi.

Mengenai tanggapan Konoe sendiri──sejujurnya, ia tidak merasa tertarik.

Sebagai seseorang yang hidup di dunia ini, ia berterima kasih atas apa yang telah dilakukan Archinorca, dan ia memahami kondisi sulit negara mereka seperti yang dijelaskan instruktur. ……Namun.

"………………"

……Konoe menatap ke luar jendela. Berderet bangunan dari batu berwarna putih bersih yang mengingatkannya pada kota-kota tua di Eropa.

Di sana terdapat ibu kota negara tempat ia menghabiskan dua puluh lima tahun sejak datang ke dunia ini.

Archinorca, setelah untuk pertama kalinya bersentuhan dengan dunia di luar negaranya sendiri, Konoe kembali memandangi ibu kota itu. Ia kembali memastikan tempat di mana ia berada saat ini.

Tempat ini adalah naungan Sang Dewa. Tanah suci tempat bersemayamnya pecahan tubuh Dewa Tertinggi, satu dari sepuluh yang ada di dunia yang begitu luas ini.

──Kerajaan Ilisia, tempat yang disebut sebagai ibu kota dewa.

"──Jadi begitulah, ada tawaran pindah tempat tinggal dari Archinorca."

"……Begitu, ya."

Siang harinya, setelah merapikan pikirannya, Konoe melaporkan kejadian ini kepada Telnerica.

Terlepas dari apakah ia akan menerimanya atau tidak, karena mereka tinggal bersama, ia merasa perlu untuk memberitahukan hal tersebut.

Hal-hal yang ia sampaikan adalah adanya negosiasi dari Archinorca, bagaimana perasaan Konoe terhadap tawaran itu, serta kemungkinan adanya negosiasi serupa secara berkala di masa depan.

……Mengenai syarat yang diajukan, yah, karena katanya syaratnya akan berubah di pertemuan berikutnya, jadi tidak masalah.

"………………"

Setelah selesai menjelaskan, Telnerica terdiam dan menyentuh dagunya dengan jari. Ia tampak sedang berpikir keras.

Setelah beberapa saat hening…… dan ketika jarum panjang jam sedikit bergeser, ia tiba-tiba menatap Konoe.

Mata birunya bertemu dengan mata Konoe.

Konoe merasa tidak enak karena ia sempat menyembunyikan detail syarat-syaratnya, jadi ia sedikit membuang muka.

Melihat itu, Telnerica memasang wajah yang seolah masih mempertimbangkan sesuatu.

"……Begitu."

──Setelah beberapa saat, Telnerica mengangguk kecil.

"Terima kasih. Soal pemindahan tempat tinggal, saya sedikit terkejut, tapi saya sudah diajarkan oleh orang tua saya bahwa seorang Adept pasti akan menerima tawaran seperti itu. Bahwa masa negosiasi akan datang secara berkala.──Atas dasar itu, jika boleh saya sampaikan pemikiran saya."

Telnerica menjeda kalimatnya sejenak.

"──Saya."

Ia tersenyum. Senyum yang merekah seperti bunga. Ia perlahan membuka mulutnya──.

"──Jika saya bisa berada di sisi Anda, di tanah mana pun tidaklah masalah."

"──"

"……Mohon, tetaplah di sisi saya. Hanya itu harapan saya."

Begitulah yang dikatakan Telnerica dengan suara yang tenang dan lembut.

Kata-kata itu sedikit di luar dugaan Konoe.

Ia tidak bicara soal apakah negara ini lebih baik atau negara lain yang lebih bagus. ……Ia hanya ingin berada di sisi Konoe, itu saja.

"……B-begitu, ya."

"Ya."

Mendengar kata-kata itu, Konoe jadi kehilangan kata-kata. Ia terkejut, matanya bergerak ke kanan dan kiri.

Namun, Telnerica tetap tersenyum dan menatap lekat-lekat mata Konoe yang tampak gelisah──.

"Karena, bukankah kita sudah berjanji?"

"……Eh?"

"Tubuh ini adalah bunga suci yang mekar di bawah perlindungan Anda."

──Itu adalah kata-kata dari saat senja itu.

"──Jika itu memang keinginan Anda."

Setelah pertarungan melawan naga, di dalam salah satu ruangan bengkel alkimia yang bermandikan cahaya emas.

Telapak tangan yang menggenggam tangan Konoe yang terulur, itu nyata.

 Sosok Telnerica yang meneteskan air mata namun tetap tersenyum. Air mata yang mengalir di pipinya berkilauan diterpa sinar matahari terbenam.

"Ya kan, Tuan Konoe?"

"……Ah, aku ingat."

"Fufu, saya senang."

Konoe teringat hari itu. Ingatan saat ia berjuang keras mengungkapkan perasaannya.

Meski terlihat tidak keren, meski salah, tapi──tetaplah di sisiku, ucapnya saat itu.

Kenangan yang membuat senang sekaligus malu. Bahkan sekarang, hanya dengan mengingatnya saja wajahnya terasa sedikit panas.

Melihat Konoe yang seperti itu, Telnerica tertawa kecil dan tersenyum dengan ceria.

……Konoe sekali lagi merasa bingung harus menjawab apa.

"……Itu."

"Ya."

"……Tidak apa-apa."

"……Fufu, baik."

Hanya kata-kata tak bermakna yang keluar.

Namun, ada suasana yang terasa memaklumi, seolah hal itu tidak masalah.

Di dalam ruangan yang hening, hanya ada mereka berdua. ……Waktu pun berlalu dengan perlahan.

Dan, akhir hari pun mendekat.

Suasana yang jauh berbeda dari kesibukan hari kemarin.

Saat mereka berdua minum teh dan pergi belanja sebentar, matahari pun terbenam──.

"──Tuan Konoe, ada surat yang datang."

──Sore hari, sepucuk surat sampai di tangan Konoe. Amplop berwarna biru cerah. Saat ia membuka segelnya.

"……Ini, surat dari Archinorca dan…… formulir permintaan?"

Di dalamnya terdapat surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang indah dan selembar formulir permintaan.

"──Permintaan investigasi. Objeknya adalah…… Area Tersegel?"


ï¼’

Formulir permintaan yang dikirim dari Archinorca. Isinya ditulis dengan sangat singkat.

Nama permintaan, biaya, dan durasi. Lalu, karena mengandung informasi rahasia, mereka ingin membicarakannya di sekolah.

(……Permintaan investigasi Area Tersegel?)

──Keesokan harinya, pagi hari. Sembari melewati gerbang sekolah, Konoe merasa penasaran.

Jika bicara soal segel Archinorca, Konoe langsung teringat segel Raja Iblis, tapi investigasi macam apa yang dimaksud?

"……Hmm."

Saat itulah, Konoe sadar. Ada dua sosok berpakaian hijau di depan pintu masuk sekolah. Mereka berdua adalah──.

"──Kami sudah menunggu Anda, Tuan Konoe."

"──Terima kasih telah menyempatkan diri untuk datang."

──Dua gadis Dragonute yang dua hari lalu memanggil Fonia dengan sebutan "Kakak".

Karena kembar, wajah dan penampilan mereka sangat mirip. Keduanya menyambut Konoe di depan gerbang sekolah.

"Segera saja, kami akan mengantar Anda ke hadapan Tuan kami."

"Silakan, lewat sini."

Dipandu oleh keduanya, Konoe berjalan menyusuri sekolah. ……Sembari merasa sedikit canggung karena dipandu di tempat yang ia sendiri sudah kenal, Konoe berjalan di belakang mereka.

(…………Hmm? Warna ini.)

Ia pun sadar dan matanya tertuju pada warna tanduk dan sayap mereka.

Rasanya Konoe pernah melihat warna seperti zamrud itu sebelumnya.

……Namun, ia tidak bisa mengingat di mana.

"……Anu? Tuan Konoe?"

"Apakah ada sesuatu pada kami?"

"……Ah, tidak…… maafkan aku."

Kedua gadis itu berbalik dan bertanya. Konoe sadar ia telah menatap mereka terlalu lekat, lalu buru-buru meminta maaf dan menjelaskan alasannya.

"……Oh, astaga."

"……Anda mengingat kami!?"

Keduanya menutup mulut dengan ekspresi terkejut.

Satu tersenyum lembut, satunya lagi tertawa cerah.

Mereka berhenti dan menghadap ke arah Konoe kembali.

"Kalau begitu, karena Anda sudah menyapa kami, izinkan kami memperkenalkan diri. Nama saya Colette."

"Nama saya Elenica! Kami berdua adalah kandidat Adept yang terdaftar di sekolah ini!"

──Kandidat. Ah, begitu rupanya, Konoe teringat.

Entah kapan itu, instruktur pernah memanggilnya untuk menunjukkan teknik bertarung di depan para kandidat baru.

Sepertinya saat itulah mereka ada di sana. Karena Dragonute itu langka, mungkin itu sebabnya ia ingat.

"Duel antara Tuan Konoe dan instruktur yang sempat kami lihat sebelumnya sungguh luar biasa…… kami sangat terkesan."

"Ya! Kami para siswa baru semua berpikir ingin bisa bertarung seperti Anda!"

"……Haha."

……Duel. Duel, ya. Konoe tak sengaja tertawa hambar.

Menurut Konoe, saat itu ia bahkan tidak bisa membalas serangan dan hanya dipukuli habis-habisan secara sepihak.

……Yah, mungkin karena mereka tidak melihat detailnya, pikirnya.

……Meskipun begitu, ia merasa sedikit tersipu dengan pujian jujur mereka di dalam hati. Karena ini pertama kalinya Konoe dipuji seperti itu oleh juniornya.

"Jika ada kesempatan, kami harap Anda bisa membimbing kami."

"Ya! Tentu saja jika tidak merepotkan Anda…… karena kami adalah 'berikutnya', jadi kami harus menjadi kuat sesegera mungkin!"

(……? Berikutnya? )

Konoe merasa sedikit bingung…… tapi semangat kedua gadis yang membungkuk itu membuatnya bingung dan kewalahan, sampai-sampai maksud kata-kata itu hilang dari ingatannya──.

──Beberapa menit kemudian, Konoe dan si kembar sampai di tujuan──ruang tamu.

"──Maaf membuatmu datang jauh-jauh, Konoe."

"……Tidak apa."

Di sana duduk Fonia dengan suasana yang anggun.

Konoe merasa sedikit ragu untuk duduk di kursi ruang tamu yang terlihat sangat mahal itu, tapi ia tetap duduk di hadapannya.

Fonia lalu memberikan salam singkat.

"Baiklah, langsung saja. Aku punya permintaan untukmu. ……Ah, kukatakan di awal, ini tidak ada hubungan langsung dengan negosiasi perpindahan tempat tinggalmu, meski tidak bisa dibilang tidak berkaitan sama sekali. Ini adalah kasus terpisah."

……Kasus terpisah? Saat Konoe memiringkan kepala, Fonia berkata bahwa ini adalah tugas yang diterima oleh hampir semua Adept baru.

"……Hampir semua, Adept?"

"Ya. Permintaan kali ini adalah tugas yang sangat penting. Investigasi Area Tersegel, dengan kata lain──investigasi Raja Iblis. Kami ingin kamu mencoba apakah kamu bisa membunuh Raja Iblis abadi yang disegel itu. Itulah tujuan permintaan ini."

──Dahulu, seribu tahun yang lalu. Ada seorang Raja Iblis yang tidak bisa dibunuh oleh siapa pun.

Raja Iblis abadi yang memiliki otoritas kebangkitan.

Kejahatan tanpa bentuk yang tidak bisa dibunuh meski telah mengumpulkan seluruh kebijaksanaan dunia saat itu.

Monster yang pada akhirnya hanya bisa disegel dengan mengorbankan banyak hal.

Segel yang katanya dibuat dengan biaya dan waktu yang sangat besar──sebuah segel agung yang disebut Oten Kekkai (Segel Langit Membara), sampai sekarang masih mengurung Raja Iblis jauh di kedalaman Archinorca.

Archinorca telah lama sekali menjaga segel tersebut──.

"──Namun, kami tidak pernah menyerah untuk menaklukkannya."

Fonia bercerita. Bukan menyerah──melainkan terus menyambung harapan.

"Kami percaya bahwa di masa depan, suatu hari nanti pasti akan ada seseorang yang bisa membunuh Raja Iblis itu. Kami berharap suatu hari nanti akan ada orang yang membangkitkan Unique Magic yang mampu membunuh keabadian."

──Karena itulah.

"Kami meminta setiap Adept baru untuk menghadapi Raja Iblis sekali saja. Dan meminta mereka untuk mencoba. Kami telah melakukan itu selama seribu tahun."

"……"

"Jadi, kalau bisa, aku ingin kamu juga mencobanya. ……Ah, hampir tidak ada bahaya. Di dalamnya memang dipenuhi Miasma konsentrasi sangat tinggi, tapi bagi seorang Adept itu tidak masalah──lagipula Raja Iblis itu sejak awal hanya kuat dalam hal kontaminasi dan kebangkitan, kemampuan bertarung langsungnya tidaklah tinggi."

Demi dunia, aku mohon. Fonia berbisik.

……Konoe berpikir sejenak setelah mendengar itu.

"……Aku mengerti situasinya. Namun……"

"……?"

"……Seperti yang kau tahu, aku tidak bisa menggunakan Unique Magic."

Benar. Itulah masalahnya. Mereka memintanya untuk mencoba Unique Magic milik Adept baru pada Raja Iblis, tapi Konoe sendiri bahkan tidak memiliki Unique Magic. Jadi bukankah tidak ada gunanya jika ia yang mencobanya?

"Tidak. Itu tidak masalah."

"……Eh?"

"Kami tetap memberikan tugas ini bahkan jika Adept tersebut tidak memiliki Unique Magic yang cocok untuk membunuh makhluk abadi."

"Sebagai contoh, Melmina," ucap Fonia. Ia pun menerima tugas ini sepuluh tahun yang lalu.

"Seperti yang kamu tahu, sihirnya adalah Clairvoyance. Jika dipikir secara logis, itu mustahil."

"……Yah, memang."

"Meskipun begitu, kami memintanya karena kami berharap ia bisa menemukan sesuatu."

Orang yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, kemampuan yang berbeda. Mungkin ada sesuatu di sana. Mungkin ia bisa menyadari sesuatu. Dengan harapan itulah mereka meminta semua Adept untuk mencobanya, tutur Fonia.

"Jadi, aku ingin kamu juga mencobanya."

"…………Baiklah. Jika kau berkata begitu."

Jika begitu, Konoe mengangguk. Jika tidak perlu memiliki Unique Magic, ia tidak berniat untuk menolak.

"Terima kasih…… dan, kalau bisa──."

Di sana, Fonia menarik napas sejenak.

"──Melalui kejadian ini, aku ingin kamu mengetahui tentang Archinorca."

"……Itu."

"Di saat yang sama, Archinorca juga ingin mengetahui tentang dirimu. Inilah alasan kenapa aku bilang ini tidak ada hubungannya dengan negosiasi."

Aku harap kita bisa saling memahami. Begitu ucap Fonia.

──Setelah pembicaraan berakhir, Konoe berdiri dari kursinya. Ia membawa dokumen yang diberikan dan hendak pulang.

"──Konoe, boleh aku bertanya satu hal di akhir?"

"……?"

──Namun, saat ia melangkah menuju pintu, Fonia memanggil namanya.

Saat menoleh, Fonia sedang menatapnya lekat-lekat, mata biru mereka bertemu. Lalu.

"Konoe, apa itu sudah cukup?"

"……Eh?"

"Apa harem itu sudah cukup?"

Fonia bertanya demikian. Apakah impian masa lalunya itu sudah cukup.

Ia melepaskan ekspresi datarnya, sedikit menyipitkan mata──.

◆◇◆

──Menghadapi Fonia yang seperti itu, Konoe teringat malam di masa lalu.

"──Hei, Konoe."

Malam lima belas tahun yang lalu. Tempat latihan luar ruangan. Di bawah malam yang pucat, hanya diterangi cahaya bulan.

Dengan mata yang sedikit menyipit, menghilangkan ekspresi datarnya, dan mata yang berkaca-kaca. Ia menatap Konoe.

"──Kita ini pasti benar-benar bertolak belakang, ya."

◆◇◆

Interaksi yang sangat singkat. Hanya satu percakapan dalam sepuluh tahun.

Aliran waktu membuat ingatan menjadi samar, namun Konoe masih mengingat setetes air mata Fonia.

"……Konoe? Apa itu sudah cukup?"

"……A, ah. ……Sudah cukup."

Konoe bingung dengan pertanyaan itu, namun ia menjawab dengan perasaan yang sebenarnya.

Sudah cukup. Ia merasa sudah cukup. Karena Konoe kini telah mengetahui kehangatan, telah mengetahui panasnya perasaan.

"……Begitu ya, aku mengerti."

Fonia hanya menatap Konoe dengan ekspresi datar. ……Tiba-tiba, ia berbalik memunggungi Konoe.

"……"

Konoe berkedip beberapa kali melihat punggungnya…… tanpa mengucapkan apa pun, ia mulai melangkah kembali. Keluar dari ruangan tersebut.

──Kau sudah menemukannya, ya.

Saat hendak pergi, Konoe merasa samar-samar mendengar suara itu.


3

Konoe menuruni tangga dari sekolah dan berjalan menuju penginapan.

Ia teringat kembali isi diskusi tadi dan memikirkan jadwal pekerjaan yang dimintakan padanya.

(……Omong-omong, bagaimana dengan Telnerica untuk permintaan kali ini?)

Ia berpikir apakah harus mengajak Telnerica ke Archinorca.

Archinorca, tidak seperti desa perintis sebelumnya, adalah tempat yang memiliki fungsi dan bentuk sebagai sebuah kota.

Ia rasa tidak akan berbahaya jika membawanya ke sana. ……Mungkin, tapi.

(……Ada tiga Adept yang terbunuh di sana. Apa pertahanannya aman……?)

Rasa cemas melintas di benak Konoe.

Sejauh yang ia dengar, selama di sana ia akan menuju Area Tersegel, jadi ia tidak bisa terus-menerus berada di sisi Telnerica. Ada kemungkinan ia tidak bisa menangani situasi darurat.

(……Aku rasa seharusnya aman, tapi. Sedikit, aku merasa cemas.)

Konoe mulai khawatir. Ia berpikir mungkin lebih baik membiarkan Telnerica tetap tinggal di ibu kota ini.

Lagipula, ada instruktur di ibu kota. Selama ada instruktur, ada rasa aman bahwa ibu kota itu aman.

……Lagipula, jika instruktur saja tidak bisa menanganinya, maka Konoe sendiri pun pasti tidak akan bisa.

(……Saat bicara soal pemindahan, instruktur sempat bercanda bilang 'pasti senang kan ada aku di sini?', tapi kenyataannya memang beda sekali dengan adanya orang itu.)

Tanpa diragukan lagi, fakta bahwa ada instruktur di sini adalah salah satu keunggulan besar negara ini. Itu sudah sangat jelas sampai-sampai respon Konoe tadi sempat terlambat.

Karena itulah, Konoe sedang bimbang──saat itulah.

"──Eh?"

Saat sampai di taman dekat penginapan, Konoe menyadari suatu keberadaan.

Di taman tersebut, ada dua keberadaan yang ia kenal.

"…………Eh?"

Konoe berhenti seketika karena terkejut…… tapi ia segera berlari ke arah sana. Dan kemudian.

"──Telnerica. Karena rambutmu indah, sebaiknya gunakan cairan obat yang lebih baik. Jika kau minta, dia pasti tidak akan menolak."

"Tidak, itu…… jika bicara soal itu, Melmina jauh lebih……"

"Aku hanya menghilangkan luka dengan Life Magic. Kalau soal kualitas rambut asli, kamu jauh lebih baik. ……Iya juga ya. Nanti aku akan berikan produk kami. Gunakanlah itu."

Suara yang ia kenal. Di kursi taman, dua bayangan duduk berdampingan. Sosok punggung berwarna emas dan merah itu.

"………………Eh."

"Oh, Konoe. Kau sudah pulang?"

"Tuan Konoe. Selamat datang."

……Telnerica dan Melmina sedang berbincang dengan akrab.

◆◇◆

──Sedikit kembali ke masa lalu, pagi hari.

Sesosok bayangan berwarna merah muncul di depan penginapan Konoe beberapa menit setelah Konoe berangkat ke sekolah.

"Jadi ini penginapannya."

Melmina bergumam kecil. Hari ini Melmina datang untuk bicara dengan Konoe.

Soal apa, tentu saja soal pembicaraan dengan Archinorca kemarin lusa, dan soal Elixir yang mereka bahas sebelumnya.

Karena ada banyak hal yang ingin dibicarakan, dan Melmina juga berpikir kalau bisa ia ingin minum teh yang gagal mereka nikmati dua hari lalu.

Jadi, Melmina masuk ke penginapan dan meminta resepsionis untuk memanggil Konoe……

"Jika yang Anda maksud adalah Tuan Konoe, beliau baru saja keluar."

"……Eh? Begitu ya? Apa aku salah waktu?"

Mendengar jawaban bahwa ia tidak ada, Melmina merasa kecewa.

Mereka benar-benar tidak berpapasan.

Karena ia tidak bisa mendeteksi keberadaan dengan baik di tengah kota, ia jadi tidak menyadarinya.

"……Ah, benar. Dia ada di sekolah."

Saat ia kembali melihat langit dengan Clairvoyance, ia menemukan sosok Konoe di halaman sekolah.

Kalau begitu aku akan ke sana, Melmina berbalik──.

──Tepat pada saat itu.

"Aku akan pergi keluar sebentar."

"Baik, Nona Telnerica, silakan pergi."

Suara itu sampai di telinga Melmina. Saat ia menoleh, di sana ada.

"……Ah."

"……Eh?"

Rambut keemasan. Gadis elf. Mata biru sang gadis dan mata merah Melmina bertemu.

Gerakan Melmina terhenti.

Gadis berambut emas itu pun terhenti.

Keduanya saling menatap satu sama lain.

Melmina mengenalnya.

Gadis itu pun pasti mengenal Melmina.

──Terdengar suara detak jarum detik jam pendulum di lobi.

Sosok yang muncul di depan mata Melmina adalah gadis yang tinggal bersama Konoe.

Gadis yang telah mewarnai Konoe dengan warna emas. Rambut dengan warna yang sama seperti petir. Warna baru Konoe. Wanita yang telah mengubah Konoe.

Melmina selalu merasa penasaran. Kenapa Konoe sampai terwarnai oleh warna gadis ini?

Karena Melmina berada di sisi Konoe selama lima belas tahun. Bertemu hampir setiap hari.

Namun Konoe tidak terwarnai oleh warna merahnya.

Kenapa hanya dalam tiga puluh hari hal itu bisa terjadi?

Melmina tidak mengucapkannya, namun di dalam hatinya ia terus merasa penasaran di tengah emosi yang kacau balau.

"………………"

"………………"

Dan sekarang, Melmina melihat gadis itu dengan kedua matanya sendiri, bukan melalui lensa.

Berdiri di dekat gadis berambut emas itu, mereka saling menatap mata satu sama lain.

"……Ah, begitu rupanya."

"……?"

……Ah, akhirnya aku mengerti.

Melmina memahami semuanya. Dalam sekejap, ia mengerti mengapa Konoe terwarnai oleh warna gadis ini.

Meski Konoe sendiri tidak menyadarinya, Melmina, yang memiliki kemampuan persepsi paling kuat di antara para Adept, bisa memahaminya. Ia telah melihatnya. Apa yang telah dilakukan oleh gadis ini──.

"──Begitu ya, jadi seperti itu rupanya."

"……Anu……?"

……Karena itulah. Karena ia memahami bahwa hal itu adalah sesuatu yang mustahil bagi dirinya sendiri.

"……Hei, apakah kau punya waktu?"

"Eh?"

"Mari kita bicara sebentar…… ya, aku ingin mengenalmu."

Telnerica dan Melmina pindah ke taman terdekat bersama-sama. Lalu, mereka berbincang cukup panjang.

Tentang masa lalu. Tentang sebagian ingatan yang mereka miliki bersama Konoe.

Tentang masa depan. Tentang negosiasi dan permintaan yang saat ini datang kepada Konoe.

"Pasti Konoe akan pergi ke Archinorca. Alasannya rahasia, tapi yang pasti, dia akan pergi."

"Apakah begitu?"

Melmina tahu. Permintaan investigasi Raja Iblis. Itu adalah jalan yang pernah ia lalui sendiri. Konoe pun pasti akan menuju ke area segel yang mengerikan itu. ……Dan.

"Dan…… kamu mungkin akan ditinggalkan di ibu kota ini."

"Itu………… ya, mungkin saja begitu."

Seperti saat Telnerica ditinggalkan sendirian di ibu kota ketika Konoe pergi ke desa perintis. Konoe tidak ingin membawa Telnerica ke tempat yang berbahaya.

Telnerica menunduk dengan wajah yang tampak sedikit sedih──.

"──Hei, kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang membawanya?"

"……Maksud Anda, Nona Melmina?"

"Ya, sebenarnya aku juga ada urusan yang harus diselesaikan di Archinorca. Jadi, aku akan menjadi pengawalnya. Aku tidak akan keluar dari kota, jadi aku bisa tetap berada di sisinya, dan dia pasti tidak akan menolak."

Melmina percaya diri bahwa ia telah mendapatkan kepercayaan Konoe sampai sejauh itu.

Konoe pun pasti tidak ingin meninggalkan Telnerica di ibu kota jika ia punya pilihan.

……Yah, meskipun bagian itu membuat dadanya terasa nyeri.

"Bagaimana? Bukan tawaran yang buruk, kan?"

"……Ya. Itu bukan tawaran yang buruk. ……Namun."

……Namun. Saat itu, Telnerica menatap Melmina dengan lurus.

Menghadapi Melmina, sang gadis berambut emas itu menatap dengan tenang, tanpa rasa takut, dan penuh martabat.

"Tetapi, saya harus bertanya kepada Nona Melmina. Mengapa?"

──Mengapa? Melmina mengerti makna dan emosi yang terkandung dalam kata itu.

Tentu saja. Melmina tidaklah lamban seperti Konoe. Ia telah hidup lebih dari empat puluh tahun dan memiliki pengalaman hidup yang cukup.

Karena itu ia paham. "Mengapa" itu pasti──.

"──Mengapa Anda berusaha untuk akrab dengan rival cinta di depan mata Anda?"

"Ya."

"──Mengapa Anda repot-repot membawa rival cinta yang seharusnya berpisah sementara untuk berada di sisinya?"

"Ya."

"──Atau mengapa…… Anda tidak mencoba menyingkirkan saya sejak awal?"

"Ya."

Mengapa. Mengapa. Mengapa. Semuanya adalah pertanyaan yang tak terelakkan.

Mengapa──Anda tidak melihat saya sebagai musuh?

Justru karena Melmina tidak menunjukkan permusuhan dalam kata-katanya, Telnerica bertanya "Mengapa?". Bagaimana bisa? Bukankah itu mustahil?

"……Begitu, ya."

Satu pria, dua wanita. Jika bicara soal premis dalam situasi ini serta hukum dan etika…… di negara ini, secara hukum maupun etika, diperbolehkan bagi seorang pria untuk menikahi lebih dari satu wanita.

Di dunia yang dekat dengan kematian akibat monster dan Miasma ini, rasio gender cenderung tidak seimbang, sehingga pernikahan monogami sering kali tidak bisa menjaga keseimbangan.

Alasan lainnya adalah tingginya angka kematian; cerita tentang pria yang menikahi istri mendiang sahabatnya setelah sahabatnya tewas, dan membesarkan anak-anak sahabatnya sebagai anaknya sendiri, sering dianggap sebagai kisah yang mengharukan.

Oleh karena itu, negara ini bukanlah penganut sistem monogami seperti dunia lain yang pernah didengar Melmina.

 Ini adalah negara yang mengizinkan mereka yang mampu untuk memiliki banyak pasangan. Poligami maupun poliandri adalah hal yang biasa terjadi……

"……"

Ya. Yah, intinya "lalu kenapa?". Hanya itu saja.

──Hukum mengizinkan. Etika mengizinkan. Lalu kenapa?

──Hal semacam itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan cinta.

Tentu saja rasanya tidak menyenangkan. Tentu saja ingin menyingkirkannya.

Perasaan di dalam perutnya seolah terpelintir.

Di sisi pria yang dicintai, ada wanita lain. Tidak perlu dijelaskan lagi betapa menjengkelkannya hal itu.

──Karena aku sedang jatuh cinta. Karena aku mencintainya.

Aku ingin pria yang menjadi satu-satunya bagiku, melihatku sebagai satu-satunya juga. Hanya itu masalahnya.

……Namun, meskipun begitu, alasan Melmina bisa duduk tenang di samping rival cintanya adalah.

"……Itu, pasti karena."

"Ya."

"Aku merasa berterima kasih padamu."

"……Eh?"

Melmina mengerti. Ia memahami sepenuhnya. Sekali melihat gadis berambut emas itu, ia langsung tahu.

Dengan kemampuan persepsi yang telah ia latih, Melmina melihatnya.

Hasrat yang dibawa gadis ini. Jalan hidupnya. Gadis bernama Telnerica ini sebenarnya adalah eksistensi seperti apa?

"……Kamu, mencintai Konoe, ya."

"……? Ya."

"Melebihi segalanya, kamu hanya mencintai dia, dan hanya dia."

"Ya."

Tanpa keraguan, Telnerica mengangguk.

Benar, gadis ini──hanya mencintai. Dengan sepenuh tenaga. Dengan warna emas. Dengan penuh pengabdian. Seolah-olah bersinar terang.

──Mencintai Konoe dengan seluruh keberadaannya. Cara mencintai yang begitu murni.

Perasaan yang seolah bisa berkembang menjadi Unique Magic kapan saja.

Bentuk dari sebuah jiwa yang membuat orang lain bisa merasakan cinta itu hanya dengan berada di sisinya.

"……Karena itulah, dia pun terwarnai."

Para Adept sangat sensitif terhadap hawa keberadaan. Melmina terutama, tapi Konoe pun jauh lebih sensitif dibandingkan orang lain.

Ia merasakan apa yang tak terlihat, ia tahu apa yang tak dikenal. Oleh karena itu, misalnya──ia bisa merasakan samar-samar emosi apa yang dimiliki orang di dekatnya terhadap dirinya.

Telnerica berada di sisi Konoe, seorang Adept seperti itu, selama tiga puluh hari.

Selama tiga puluh hari ia terus berada di sisi Konoe. Konoe berada di dekat gadis itu dan terus menyentuh hatinya.

Tanpa tahu apa itu, Konoe menerima cinta sang gadis tanpa perlawanan.

──Karena itulah, Konoe terwarnai oleh warna Telnerica.

Bukan karena kata-kata, bukan karena suhu, tapi karena ia memahaminya dengan jiwa.

……Artinya, gadis ini──dengan cinta itu, ia telah mengajarkan cinta kepada Konoe. Itulah alasan mengapa Konoe yang tadinya tak berwarna, berubah menjadi emas hanya dalam tiga puluh hari.

"Apa yang kamu lakukan adalah sesuatu yang tidak bisa aku lakukan."

Melmina tidak bisa melakukan hal yang sama seperti Telnerica.

Tentu saja Melmina juga mencintai Konoe. Mencintainya dari lubuk hati terdalam. Tidak diragukan lagi.

……Namun, ia tidak bisa menjadi semurni itu. Ia tidak bisa menjadikan Konoe sebagai seluruh dunianya.

Karena Melmina memiliki desa perintis yang harus ia selamatkan. Ada perusahaan dagang yang ia kelola. Ada banyak bawahan yang mengaguminya.

Bahkan jika keinginan pertama terpenuhi, Melmina memiliki banyak hasrat lain, dan ia tidak mungkin membuang semuanya begitu saja.

──Dan, karena ia juga sangat mencintai kakaknya.

"Jadi, meski tidak ingin, aku harus berterima kasih. Karena aku tidak bisa menyelamatkan dia."

Melmina tahu. Konoe benar-benar berubah. Ia memahami cinta di suatu tempat dalam hatinya.

Suasananya jauh lebih lembut dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Ia jauh lebih sering tersenyum, dan sedikit lebih menaruh minat pada orang lain.

……Sampai bertemu hari ini, Melmina merasa sedih dan menyesal karena ia sendiri tidak bertemu dengannya selama sepuluh tahun.

"……Yah, itulah alasan kenapa aku tidak melihatmu sebagai musuh."

"……Ya."

Telnerica mengangguk pelan setelah mendengar seluruh cerita itu. Ia menunduk sedikit dan memejamkan mata.

"………………"

"………………"

Keheningan meluas sejenak. Di atas bangku taman. Suara burung terdengar dari kejauhan, begitu pula suara serangga.

Terdengar suara anak-anak yang bermain dengan riang, disusul suara orang tua yang memperingatkan agar mereka tidak terluka.

"……………………Aku juga."

"……?"

"Aku juga, harus menyampaikan terima kasih kepada Nona Melmina."

……Tiba-tiba, Telnerica membuka mulutnya.

Kepada Melmina yang memiringkan kepala, Telnerica menunjukkan senyum yang seolah menertawakan diri sendiri.

"……Sejak kembali dari desa perintis, beban di pundak Tuan Konoe rasanya sedikit berkurang."

Gadis itu mulai bercerita tentang perubahan Konoe selama beberapa hari terakhir ini.

Rasanya ketegangan yang selalu ia jaga sedikit mengendur.

Ia merasa Konoe sedikit lebih positif terhadap hal-hal yang tak berarti.

……Dan jika bicara tentang siapa yang melakukan itu.

"Aku tidak bisa mendukung Tuan Konoe seperti Nona Melmina. Karena aku tidak punya kekuatan untuk bertarung."

"……Begitu."

"……Karena itu, meski tidak ingin, aku pun harus berterima kasih."

Mengatakan itu, Telnerica terdiam. Keheningan kembali terjadi……

"………………Mari kita menjadi kenalan."

"………………Ya, aku juga mohon bantuannya."

Entah berapa lama waktu telah berlalu. Tiba-tiba saja, keputusan itu diambil.

Mereka pun saling berhadapan dan menatap mata. Lalu──.

"Senang berkenalan denganmu. Panggil saja aku Melmina. Tidak perlu pakai 'Nona'."

"Ya, senang berkenalan denganmu, Melmina. Silakan panggil aku Telnerica."

Keduanya saling tersenyum. Sebagai kenalan. Meski masing-masing memiliki pemikiran sendiri, mereka menelannya. Karena.

"Konoe pasti akan sedih jika melihat kita saling bermusuhan."

"Benar sekali. Itulah alasan utamanya."

Pada akhirnya, meski sudah bicara banyak alasan, alasan terbesarnya adalah itu.

Jika tidak bisa menyingkirkan lawan, maka itulah satu-satunya cara. Mungkin, percakapan kali ini hanyalah ajang bagi mereka untuk mencari alasan agar bisa memaklumi satu sama lain.

──Dengan begitu, keduanya menjadi kenalan.

Itu adalah kejadian beberapa menit sebelum Konoe datang dan terkejut melihat mereka berdua.


ï¼”

──Kesimpulannya, sepertinya mereka berdua telah menjadi akrab.

"Kami sudah jadi kenalan, loh."

"Ya, kami sudah jadi kenalan."

Kepada keduanya yang tersenyum manis bersandingan, Konoe berkedip berkali-kali.

Kapan? Saat ditanya begitu, jawabnya baru saja. Di mana? Di situ saja.

"…………?"

Konoe kembali berkedip beberapa kali. Ia tidak tahu apa arti kekacauan di hatinya ini.

Mungkin karena senyum mereka sedikit berbeda dari biasanya meski mereka duduk akrab berdampingan.

Atau mungkin karena dalam hidup Konoe, ia tidak bisa membayangkan pemandangan di mana orang yang baru saja bertemu bisa saling tersenyum akrab. Atau──mungkin insting Adept-nya membisikkan sesuatu.

"………………? Begitu, ya."

"Iya, dong."

"Ya."

"……Begitu ya."

……Bagaimanapun, Konoe merasa sedikit bingung, namun ia tetap mengangguk.

Menjadi kenalan atau tidak, mungkin itu bukan urusan yang harus ia campuri.

"Ah, ngomong-ngomong Konoe, kau akan pergi ke Archinorca, kan?"

"……Eh, ah, ya."

"Aku juga akan ikut. Sekalian, aku akan menjaga Telnerica yang sudah jadi kenalanku ini. Dengan begini dia bisa ikut juga, kan?"

"………………"

Konoe terdiam menerima informasi yang tiba-tiba masuk dalam jumlah banyak, lalu ia mencoba merapikannya di dalam kepala.

…………Tidak masalah, pikirnya. Malah, itu patut disyukuri.

Melmina bebas untuk pergi ke Archinorca, dan jika ia menjaga Telnerica, itu akan sangat melegakan. Melmina sangat bisa diandalkan. Konoe tahu itu.

"…………?"

……Namun, satu hal yang mencurigakan muncul di kepala Konoe.

"……Melmina, apa tidak apa-apa? Soal pengumpulan dokumen untuk obat itu."

Maksudnya soal kakak Melmina. Ia mengumpulkan dokumen untuk membangun kembali tubuhnya.

Apa itu tidak apa-apa?

"Fufu, tentu saja tidak masalah, kan? Lagipula, masalah kali ini juga ada hubungannya dengan itu."

"……Eh?"

"Datanya sudah selesai kucari sejak lama. Aku begadang, loh. Tapi berkat itu, aku menemukan bahwa penambangan Miasma Stone di Archinorca sedang terhambat."

Kata Melmina dengan bangga. Rupanya, setengah tahun lalu di Archinorca, salah satu rute penambangan Miasma Stone di dalam dungeon tidak bisa digunakan lagi akibat tanah longsor dan monster.

Namun, karena jumlah Adept dan ksatria berkurang akibat bencana sebelumnya, rute baru belum berhasil diamankan.

"Kekurangan tenaga kerja di sana cukup parah, ya. Aku jadi simpati. ……Jadi, aku menawarkan diri. Sebagai gantinya menemukan rute baru, aku minta hak untuk mendapatkan Miasma Stone. Dengan kekuatanku, menemukannya bukanlah hal sulit."

"……Begitu rupanya."

"Selain itu, aku juga berencana untuk ikut serta dalam jalur distribusinya. ……Fufufu, jalur distribusi Miasma Stone biasanya mustahil dimasuki oleh pemain baru, tahu?"

Melmina membuka tasnya dan menunjukkan tumpukan kontrak kepada Konoe dengan sangat ceria, bilang bahwa ia sudah menyelesaikan kontraknya tadi malam!

Tumpukan kertas tebal itu dipenuhi dengan kata-kata yang sulit dimengerti. Semacam dokumen "Pihak Pertama" dan "Pihak Kedua" versi dunia lain.

Bagi Konoe, itu sudah di luar pemahamannya. Ia hanya bisa berpikir betapa hebatnya itu.

"…………Yah, meski begitu, bukan berarti tidak ada masalah. Sepertinya pekerjaan dokumen yang merepotkan akan bertambah. Lagipula, di luar Archinorca, sepertinya aku tidak bisa membawa terlalu banyak bawahan."

Melmina memasang wajah kesal……

"……Ah, tentu saja. Karena di Archinorca banyak sekali dokumen."

Telnerica yang ada di sampingnya bergumam seperti itu. Ia melirik sekilas ke dalam tas, lalu membuang napas kecil, merasa sudah menduganya. Melmina memasang wajah terkejut.

"……Telnerica, apa jangan-jangan kau paham soal itu?"

"Tidak sampai paham sekali, tapi Holy Flower tempatku bernaung juga pernah berdagang dengan negara lain. ……Jika perlu bantuan, mau kubantu?"

"Eh? Boleh? Nanti kuberi gaji, ya?"

"Ya, yah. ……Karena rasanya tidak enak hanya dilindungi saja saat Tuan Konoe tidak ada."

"Kalau begitu──"

──Dan begitulah, keduanya mulai berdiskusi menggunakan berbagai istilah teknis.

Konoe melihat keadaan itu sambil merasa takjub dengan mereka.

Kemudian, persiapan untuk berangkat ke Archinorca dimulai keesokan harinya.

Rencananya, pekerjaan itu akan berlangsung sekitar sepuluh hari.

Bagi seorang Adept, itu bukan jangka waktu yang lama, tapi karena pergi ke negara lain, mereka tidak bisa bepergian dengan santai seperti biasanya dan harus mempersiapkan diri dengan matang. Lagipula.

"──Tuan Konoe, terima kasih karena telah membelikan barang-barang untukku juga."

"……Tidak, itu memang perlu."

Persiapan perjalanan Telnerica yang akan ikut ke Archinorca juga diperlukan.

Karena itu, pada hari tersebut, Konoe pergi berbelanja dengan Telnerica sejak pagi.

Di dunia ini, tidak ada mal atau pusat perbelanjaan besar.

Keduanya berjalan menyusuri jalan utama, masuk ke satu toko demi satu toko, dan membeli barang-barang yang diperlukan.

Mulai dari makanan dan air darurat, hingga sepatu dan perlengkapan hujan.

Lagi pula, Telnerica tidak membawa apa-apa dari kampung halamannya, jadi ia hanya punya pakaian untuk musim ini. Karena Archinorca adalah negara di atas gunung, ia membutuhkan pakaian tebal dan baju musim dingin……

"──Bagaimana dengan pakaian ini?"

"……Itu…… menurutku, itu cocok untukmu."

"……Ehehe, aku senang. Kalau begitu, aku akan beli yang ini."

Di toko yang mereka masuki, mereka melihat-lihat pakaian sambil membicarakan hal yang bisa dibilang sangat biasa.

Omong-omong, seperti apa pakaiannya?

Itu adalah pakaian yang imut dan terlihat nyaman dipakai bergerak.

Bagi Konoe yang tidak punya pengetahuan soal fesyen, hanya itu yang bisa ia katakan. Ia bahkan tidak tahu cara memuji dan hanya bisa bilang itu cocok untuknya.

……Namun, bagi Konoe, Telnerica merona malu dengan senang hati dan berputar.

Konoe merasa sedikit malu, lalu membuang muka──.

"──E-eh, kurasa sudah cukup. Kalau begitu, terakhir, mari beli tas."

"Itu, terima kasih banyak."

──Kemudian, akhirnya mereka membeli tas di toko peralatan sihir. Tas yang ruang di dalamnya diperluas dengan Spatial Magic.

Mereka melihat-lihat barang yang bisa dibilang sebagai kebutuhan pokok perjalanan di dunia ini.

"Kalau bisa menampung sebanyak ini, sekalian saja aku ingin membeli oleh-oleh untuk orang-orang di Silmenia."

"……Oleh-oleh……?"

Gumam Telnerica sambil memeriksa bagian dalam tas, dan Konoe mengulang kata-kata itu dengan perasaan aneh.

──Persiapan terus berlanjut. Setelah belanja selesai, berikutnya adalah prosedur keberangkatan ke negara lain di sekolah.

Karena kemampuan bertarungnya, meski disambut baik, perjalanan Adept melintasi perbatasan diawasi dengan ketat. Prosedurnya banyak dan terkesan rumit.

"……?"

Karena itulah Konoe terus memasang tanda tanya di kepalanya sambil dibantu oleh staf di kantor sekolah untuk mengisi dokumen antarnegara. Dokumen yang rumit itu terasa seperti bahasa yang berbeda……

"………………??"

……Omong-omong. Di dunia ini tidak ada perbedaan bahasa antarnegara. Itu karena semuanya disatukan oleh bahasa Sang Dewa.

Ada Dewa Bahasa, dan seluruh umat manusia menerima berkahnya.

Ini dianggap sebagai hal yang terpisah dari berkah yang dimiliki setiap orang, dan bahkan jika seseorang melanggar sumpah kepada Dewa, berkah ini tidak akan dicabut. Dalam istilah teknis, ini disebut Basic Blessing.

Orang dunia lain pun sejak baru saja sampai di dunia ini sudah diberikan berkah ini, jadi Konoe bisa berbicara dan membaca bahasa dunia ini seolah-olah itu bahasa aslinya.

Oleh karena itu, tidak ada perbedaan bahasa antarmanusia di dunia ini. Seolah-olah dunia ini adalah dunia sebelum Menara Babel dalam mitos Bumi runtuh.

"……………………???"

"Terima kasih atas kerja kerasnya, Tuan Konoe. Kami yang akan memproses sisanya."

"……Terima kasih."

Beberapa saat kemudian, Konoe menyelesaikan seluruh prosedur dan keluar dari kantor administrasi.

Ia merasa lega dan berjalan menyusuri koridor dengan perasaan yang sedikit lebih ringan……

"……?"

──Saat itulah, Konoe merasakan tatapan seseorang. Tatapan yang bercampur dengan kehendak yang kuat.

……

Saat ia menoleh ke arah tatapan itu, ia melihat bayangan putih bersih.

Sang Dewa sedang menatap Konoe lekat-lekat sambil menyembunyikan setengah tubuhnya di balik pilar.


5

Wajah Sang Dewa yang mengintip dari balik pilar dan sayap putih bersih yang sama sekali tidak tersembunyi. Tatapan yang diarahkan padanya.

Konoe yang berhenti melangkah dan Sang Dewa saling menatap selama beberapa detik……

…………

"…………?"

Di sana Konoe sadar. Sayap Sang Dewa terkulai lemas, berbeda dari biasanya.

……

Saat ia bertanya-tanya ada apa, Sang Dewa memberi isyarat dengan tangan ke arah Konoe. Gestur yang memintanya untuk datang. Konoe mendekat ke sisi Sang Dewa sambil memiringkan kepala.

……Dengar ya.

Saat ia sampai di depan Sang Dewa, ia melihat wajah yang sangat serius. Ekspresi langka dari Sang Dewa yang biasanya selalu tersenyum.

Ada yang ingin kusampaikan padamu.

"……Ya."

Sikapnya lebih formal dari biasanya. Mulutnya terkatup rapat. Setiap emosi yang tersalurkan terasa berat.

Melihat Sang Dewa seperti itu, Konoe merasa bingung──lalu tiba-tiba sadar. Jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk?

Ini adalah pembicaraan serius, jadi dengarkan baik-baik.

Pembicaraan serius. ……Mungkin ada seseorang yang mati, atau sesuatu yang berakhir.

Perlahan, imajinasi gelap mulai muncul di benak Konoe. Keringat dingin mulai merembes. Sambil menahan napas, Konoe melihat Sang Dewa yang menarik napas dalam-dalam──.

──Boleh, kan? Pemindahan tempat tinggal tidak bisa diputuskan dengan mudah.

"………………Hah?"

Pindah markas itu bukan hal yang gampang. Kalau negaranya beda, lingkungan hidup, iklim, makanan, semuanya juga beda. Kalau tidak dipikirkan matang-matang, jangan diputuskan.

……Eh, begitu. Konoe berkedip berkali-kali. Rasanya baru saja ia mendengar pembicaraan seperti ini di suatu tempat.

Kalau setelah pergi baru sadar ternyata tidak sesuai, sesudah kontrak ditandatangani itu sudah terlambat. Jangan impulsif…… hm, lihat ke sini, dong.

"……Ah, ya."

Konoe yang tanpa sengaja melirik ke arah ruangan instruktur, kini merasakan suasana Sang Dewa yang tampak merajuk.

Konoe buru-buru menegakkan punggung dan memasang telinga.

Jangan cuma karena syaratnya bagus lantas langsung terjun begitu saja. Harus periksa poin-poin lain, bandingkan dengan keadaan sekarang, baru ambil keputusan.

"……Ya."

Misalnya, negara ini iklimnya sangat stabil dan──

──Teknologinya maju karena semua orang berusaha keras. Kami juga menyerap barang dari dunia lain, dan aku sangat terkejut dengan permen kapas yang kucoba baru-baru ini──

──Teh di negara ini enak, dan jenisnya banyak. Terutama teh Holy Flower itu luar biasa sekali──

──Jadi, di tengah kehidupan yang sudah terbiasa seperti itu, ada hal-hal yang bersinar tanpa disadari, seperti teh yang kau minum sehari-hari. Kamu juga harus memperhatikan hal-hal seperti itu, tahu?

"……Ya."

Negara ini punya banyak kelebihan, kok.

──Begitulah, pembicaraan Sang Dewa terus berlanjut.

Konoe mendengarkan dengan serius, sambil berpikir bahwa pembicaraan yang mirip pun akan terasa sangat berbeda jika yang bicara orangnya berbeda.

"…………"

……Di tengah jalan, ia sempat berpikir.

Kalau dipikir-pikir, saat itu instruktur bilang ia menjelaskan hal ini agar Konoe tetap tinggal di negara ini, apakah Sang Dewa juga sama?

Karena Sang Dewa menjelaskan banyak sekali kelebihan negara ini.

……Namun, pemikiran itu sendiri membuatnya merasa sangat malu, sehingga Konoe merasa tidak tenang.

Lalu begini. Seandainya……

"……?"

──Di sana, suasana Sang Dewa tiba-tiba berubah. Sedikit lebih sedih, berbeda dari sebelumnya.

Tapi, seandainya, setelah memikirkannya baik-baik, kau memutuskan untuk meninggalkan negara ini.

"……Ya."

Saat itu, aku pasti akan melepasmu dengan benar. Tapi sekali-kali pulanglah, ya……

……Eh? Apa maksudnya? Kepada Konoe yang berkedip bingung, Sang Dewa membuat sayapnya yang terkulai semakin lemas lagi.

Katanya, ada orang-orang yang pergi ke negara lain seperti Konoe kali ini dan tidak pernah kembali.

Jangan berpikir "aku tidak punya muka untuk bertemu"... sekali saja, tunjukkan wajahmu...

Karena ada banyak anak yang tidak pernah pulang, katanya.

Mungkin karena sangat terkejut, Sang Dewa memancarkan suasana yang sangat sedih.

"……Itu, anu, Sang Dewa, aku, pasti akan kembali."

Benarkah?

"……Y-ya, benar. Kali ini kan tujuannya hanya untuk pekerjaan, dan lagi."

Lagi pula, ucap Konoe. Benar, ada satu hal yang dipikirkan Konoe untuk tugas kali ini.

"……Itu, oleh-oleh, nanti kubawakan."

……Eh?

"……Aku berpikir untuk membelikan oleh-oleh."

──Itu adalah ucapan Telnerica saat kami sedang membeli tas tadi.

Konoe pun berpikir untuk membelikan oleh-oleh untuk sang Dewa saat pulang nanti.

Seumur hidupnya, ia belum pernah melakukan hal itu, tetapi saat Telnerica menyebut kata "oleh-oleh", wajah sang Dewa langsung terbayang di benak Konoe. Begitu juga dengan instruktur.

……………………

"……Jadi, yah."

………………Hmm.

Mata sang Dewa membelalak──lalu ia tersenyum lembut. Sayapnya yang tadi terkulai lemas kini mendapatkan kembali kekuatannya.

……Kalau begitu, aku tunggu, ya!

"……Iya."

Kalau kamu sudah pulang, kita akan mengadakan pesta teh. Jadi, tunjukkan padaku saat itu nanti!

──Setelah itu, sang Dewa melambaikan tangan, mengucapkan selamat jalan dan semangat bekerja kepada Konoe.

Konoe menggaruk pipinya sambil berpikir bahwa karena ia sudah mengucapkannya, ia harus membelikan barang yang bagus.

Tiga hari masa persiapan pun berakhir. Setelah menyelesaikan semua prosedur untuk dirinya dan Telnerica──sementara Melmina sudah lebih dulu tiba di lokasi──Konoe berdiri di depan gerbang yang paling besar di antara gerbang transfer yang ada di samping sekolah.

Itu adalah gerbang khusus yang terhubung ke luar negeri. Dengan diantar oleh para penjaga gerbang, mereka berdua pun melewatinya──.

"──Wah, luar biasa sekali, Tuan Konoe."

"……Ya."

──Di balik gerbang itu, terbentang pegunungan yang curam.

Di samping gerbang transfer terdapat jendela besar di mana dindingnya sengaja dipotong agar seluruh area sekeliling bisa terlihat. Udaranya tipis.

Suhunya rendah. Puncak-puncak gunung diselimuti oleh lapisan salju.

Itu adalah zona dataran tinggi dengan barisan gunung yang ketinggiannya melebihi sepuluh ribu meter.

Alam yang megah dan berkilau putih, pemandangan yang tidak akan pernah bisa dilihat di Bumi.

"──Ternyata benar-benar ada kota di dalam gunung, ya."

──Namun, yang menarik perhatian Konoe dan Telnerica di tempat itu bukanlah hal tersebut.

Yang mereka lihat adalah sebuah kota. Kota di dalam gunung.

Hanya saja, "di dalam gunung" yang dimaksud sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh orang Jepang pada umumnya.

Kota itu benar-benar berada di dalam gunung.

Lereng gunung dikeruk dengan skala besar, dan kota dibangun di dalamnya.

Pemandangan seperti itu terlihat di banyak tempat di sepanjang zona dataran tinggi tersebut.

──Negara Langit Archinorca. Itulah nama lain dari negara ini, wilayah otonom saat ini.

Setelah puas menikmati pemandangan, Konoe dan Telnerica keluar dari ruang transfer.

Di sana, dua orang yang tidak asing lagi telah menunggu.

"Selamat datang, kami senang Anda telah tiba."

"Kami menyambut kunjungan Anda."

Disambut oleh Colette dan Elenica, si kembar Dragonute hijau, mereka dipandu untuk mengikuti ke arah sini.

Di kantor di samping ruang transfer, Konoe dan Telnerica menyelesaikan prosedur perjalanan dan menyerahkan dokumen yang mereka bawa.

Setelah selesai, mereka diberitahu bahwa Nona Fonia akan segera menjelaskan tugas kali ini.

Konoe dan Telnerica pun melangkah masuk ke dalam Kastel Archinorca yang bersebelahan dengan ruang transfer.

"──Ah, kalian berdua sudah sampai, ya. Selamat pagi."

"……Melmina."

Seseorang menyapa mereka. Itu Melmina. Ia melambai dari lorong kastel.

Kemudian, ia berbincang santai, menanyakan apakah mereka mabuk perjalanan atau mengingatkan untuk menyiapkan pakaian hangat karena suhu di atas gunung mudah berubah.

"Konoe, kau mau ke tempat Fonia, kan? Kalau begitu, Telnerica biar aku yang urus."

"……Terima kasih."

"Mohon bantuannya, Melmina."

Telnerica mendekati Melmina dan disambut olehnya. Semua berjalan sesuai rencana.

Konoe merasa tenang karena ada Melmina, lalu ia pun melangkah menuju bagian dalam kastel bersama dua gadis Dragonute tersebut……

"……Eh? Dokumen sebanyak ini apa maksudnya?"

"──Fufu, selamat datang, Telnerica. Aku menyambutmu dengan sepenuh hati."

"……Eh, jangan-jangan ini semua milik Melmina……? Ah, tunggu sebentar. Jangan pegang tanganku!"

"Fufu, tidak akan kubiarkan kau kabur."

──Di tengah jalan, percakapan seperti itu terdengar dari belakang.

…………Apakah mereka akan baik-baik saja? Konoe merasa sedikit cemas, tetapi ia tidak mungkin tertinggal dari pemandunya, jadi ia mengikuti dua gadis itu sambil beberapa kali menoleh ke belakang.

Konoe terus naik menyusuri kastel. Kondisi di dalam kastel pun tampak tidak biasa.

Yang aneh adalah lantai, dinding, dan langit-langitnya terbuat dari tekstur yang serupa. Warna yang sama, kilau yang sama.

Meski begitu, terdapat ukiran dekorasi yang mendetail, bahkan tempat lilin untuk menyalakan api pun terbuat dari batu yang sama.

(──Jadi, kastel ini dibuat dengan memahat gunung itu sendiri, ya.)

Sembari mengamati kastel yang seluruhnya tampak seperti karya seni, Konoe teringat apa yang dipelajarinya lebih dari sepuluh tahun lalu.

Tentang ras Dragonute. Tentang ekologi khusus mereka yang bertolak belakang dengan ketangguhan vitalitas mereka. Alasan mereka hidup di dataran tinggi seperti ini bukanlah sekadar gaya-gayaan atau keeksentrikan──.

"──Ngomong-ngomong, Tuan Konoe. Bolehkah saya bertanya satu hal?"

"Kami memiliki sesuatu yang sangat membuat kami penasaran……"

"……Hmm?"

Saat itu, Colette dan Elenica tiba-tiba bertanya dengan ragu-ragu.

"……Itu, apakah benar Tuan Konoe dan Kakak──Nona Fonia sering menghabiskan waktu bersama saat masih menjadi peserta pelatihan?"

"Iya, sebagai sesama peserta pelatihan dan sebagai 'penerus', kami sangat penasaran dengan hubungan kalian berdua……!"

……Eh? Menghabiskan waktu bersama? Dengan Fonia? Apa maksudnya?

Konoe terkejut. Ia sama sekali tidak memiliki ingatan seperti itu. Jadi, Konoe menjelaskan dengan jujur bahwa mereka tidak pernah berinteraksi.

"……Eh? Tidak pernah berinteraksi? Padahal, Nona Fonia..."

"……Benarkah itu? Tapi, saat negosiasi..."

Keduanya berhenti melangkah dan saling bertukar pandang dengan wajah terkejut.

……Negosiasi?

"Ehm, sebenarnya seharusnya Nona Fonia tidak mungkin melakukan negosiasi perpindahan tempat tinggal sendiri."

"Ya, benar…… ehm, mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi…… segala sesuatu ada bidang keahliannya masing-masing, jadi……"

Gadis-gadis itu mengatakan bahwa ada negosiator profesional untuk urusan perpindahan tempat tinggal.

Namun kali ini, karena Fonia bersikeras dan kebetulan mereka adalah kandidat angkatan yang sama, Fonia yang akhirnya bertanggung jawab.

Benarkah? Apa benar tidak ada apa-apa?

Konoe pun ikut bingung melihat kebingungan mereka.

Bagaimanapun juga, Konoe tidak memiliki ingatan percakapan dengan Fonia selain malam itu──.

"Selamat datang, Konoe. Mohon kerja samanya kali ini."

"……A, ah, mohon kerja samanya."

Konoe dan yang lainnya tiba di hadapan Fonia.

Ruang tamu tempat mereka diarahkan telah dipasangi barrier untuk menjaga kerahasiaan.

Konoe diarahkan ke kursi dan mengucapkan salam basa-basi yang biasa.

"……Baiklah, penjelasan untuk investigasi kali ini."

Konoe segera mendengarkan penjelasan Fonia. Ia tampak tenang dengan wajah tanpa ekspresi.

"Area investigasinya adalah dari sini──"

……Di dalam hati Konoe masih ada pertanyaan soal percakapan tadi, tetapi ia menepisnya dan menyimak perkataan Fonia.

Sebesar apa pun misterinya, bagi Konoe tidak ada pilihan untuk mendengarkan urusan pekerjaan dengan setengah hati.

Lama-kelamaan, Konoe berkonsentrasi pada pekerjaannya dan melupakan hal tadi──.

"──Penjelasan selesai. Investigasi akan dilakukan oleh kita berdua. Mulai besok pagi-pagi sekali. Ada pertanyaan?"

"…………Ah, aku mengerti. Tidak ada."

──Beberapa puluh menit kemudian, Konoe menyelesaikan konfirmasi detail pekerjaan tanpa masalah. Dengan ini, pembicaraan mereka selesai. Konoe berdiri, berpamitan untuk bertemu lagi besok saat bekerja.

"……Konoe, tunggu."

"……?"

──Namun, ia dipanggil oleh Fonia. Sama seperti akhir diskusi tempo hari. Begitu tiba-tiba.

"Hei, apakah kau…… ingat hari itu, lima belas tahun lalu?"

"……Eh?"

Suara Fonia. Pertanyaan datar tanpa emosi. Konoe sempat ragu sesaat.

"……Aku ingat."

"Benarkah?"

"……Ah, saat kau bilang kita ini bertolak belakang."

Percakapan satu-satunya hari itu. Sudah lima belas tahun berlalu. Namun, Konoe masih mengingat air mata itu.

"……Begitu. Lalu, selain itu?"

"……Eh? Selain itu?"

"Kita membuat janji."

──Janji? Kata itu…… kalau diingat-ingat, samar-samar memang masih ada di ingatannya.

Itu terjadi setelah ia dibilang "bertolak belakang"──.

"──Jika, suatu hari nanti, kau benar-benar bisa mendapatkannya──"

Benar. Kata-kata itu. Namun saat itu, Konoe tidak paham maknanya──.

◆◇◆

──Konoe. Bisakah kita membuat satu janji?

……Janji?

Saat itu, di depan pintu masuk tempat pelatihan.

Gadis biru itu berkata. Memunggungi Konoe dengan suara yang sedikit parau.

Ya, janji. Jika suatu hari nanti kau benar-benar bisa mendapatkannya──saat itu tiba, beri tahu aku. Aku pun menginginkannya.

──Benar. Ia memang mengatakan hal itu.

Meminta Konoe memberitahunya. Dengan punggung yang tampak rapuh dan seolah akan menghilang.

……?

……Namun, Konoe tidak mengerti artinya. Kata "mendapatkannya", permohonan untuk "memberitahu", maupun kata "bertolak belakang" tadi.

Ia tidak mengerti apa-apa…… namun karena suasana yang sedih itu, ia tidak bisa menyela.

……Kumohon. Sebagai gantinya…… aku akan membantumu mendapatkannya.

……Membantu?

Ya…… pastinya. Aku akan bersiap dengan sungguh-sungguh. Nantikanlah──

◆◇◆

──Bagi Konoe saat itu, tidak, bahkan bagi Konoe yang sekarang, itu adalah kata-kata yang hanya bisa membuatnya memiringkan kepala.

Air mata yang menetes dan kata-kata saat itu meninggalkan kesan kuat, sehingga ingatan lainnya menjadi pudar.

"Kau telah mendapatkannya. Kilauan emas itu."

"──Hmm?"

"Dan aku, mencoba menepati janjiku."

"……Eh?"

"Resume perjodohan. Aku membantumu mendapatkan apa yang kau cari."

…………?? Tanda tanya muncul di kepala Konoe.

Namun, saat ia meresapi kata-kata itu sambil menatap mata gadis di depannya, ia pun mulai merapikan ingatannya.

──Eh? Jadi kata-kata saat itu maksudnya seperti itu?

"Hei, Konoe."

Fonia menatap Konoe dengan wajah tanpa ekspresinya yang biasa. Ia berbicara dengan nada yang datar.

Gadis Dragonute biru yang cantik itu menatap Konoe dengan mata permata yang tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Bisakah kau tunjukkan warna emas itu padaku?"

──Kepada Konoe yang terpaku, Fonia bertanya dengan tenang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close