Chapter
3
Archinorca
1
Tempat itu adalah reruntuhan kota yang tampak sudah
lama ditinggalkan.
Di salah satu barisan gunung Archinorca, terdapat
sebuah celah yang menganga lebar di lerengnya.
Sebuah wilayah yang dulunya dibangun oleh manusia,
namun kini tak lagi terasa adanya jejak kehidupan.
Di tengah reruntuhan, menara pelindung yang runtuh
tergeletak di tanah, dikelilingi oleh rumah-rumah yang hanya menyisakan
fondasinya.
Rumput tinggi tumbuh subur, dan di bawahnya, serangga
serta hewan kecil berlarian dengan lincah.
──Di tempat seperti itulah, kini terdapat dua sosok
manusia.
Keduanya dibalut mantel kamuflase berukuran besar.
Gerakan mereka begitu cepat, namun tak terdengar suara sedikit pun.
Kehadiran mereka begitu samar; bahkan meski mereka
lewat tepat di samping hewan liar, hewan-hewan itu tetap asyik mengunyah kacang
tanpa terusik.
──Konoe dan Fonia bergerak dengan meredam keberadaan
mereka sepenuhnya.
◆
Alasan mengapa keduanya menyembunyikan kehadiran
mereka adalah karena tempat tujuan kali ini—lokasi segel Raja
Iblis—dirahasiakan dengan ketat. Informasi ini dikelola dengan sangat disiplin,
hanya diketahui oleh segelintir orang saja.
Dan mengapa segel itu harus disembunyikan?
……Itu semua agar tidak ditemukan oleh Dewa Jahat. Seribu
tahun lalu, segel Raja Iblis—Shiten Kekkai—berhasil ditegakkan dengan
mengorbankan begitu banyak nyawa.
Jika seandainya Dewa Jahat berhasil menghancurkan
pelindung tersebut, Raja Iblis akan terbebas, dan dunia akan kembali diselimuti
oleh kekacauan.
Untuk mencegah hal itu, orang-orang di masa lalu memilih
untuk menyembunyikan lokasi segel secara menyeluruh.
Singkatnya, ini mirip dengan apa yang dilakukan Dewa
Jahat.
Dewa Jahat tidak bisa membunuh manusia karena tidak tahu
di mana mereka berada di dalam labirin, dan manusia tidak bisa menghancurkan
segel karena tidak tahu di mana tempatnya.
Agar tidak diserang, pertama-tama mereka tidak boleh
ditemukan. Itu adalah strategi yang sangat sederhana, namun sangat efektif.
Faktanya, strategi ini telah terbukti membuahkan
hasil. Ingatlah tentang Tengai-Ryu (Naga Penutup Langit) seratus tahun
yang lalu.
Negara
ini diserang oleh Raja Iblis tersebut dan menderita kerugian besar…… namun,
lokasi segel tetap berhasil disembunyikan sampai akhir.
Sebuah penyamaran yang dipertaruhkan dengan nyawa.
Pertempuran demi melindungi dunia.
Archinorca sengaja mengerahkan pasukan Dragonute
ke tempat yang tidak ada hubungannya, menyebarkan segel palsu di seluruh
penjuru negeri, dan terus menumpuk kebohongan untuk melindungi segel yang asli.
──Oleh karena itu, lokasi segel hanya diketahui oleh
segelintir orang di Archinorca dan Adept yang menerima permintaan tugas.
Hal itu sudah ditetapkan sejak seribu tahun yang lalu.
◆
Setelah bergerak beberapa lama, keduanya sampai di
tangga menuju bawah tanah yang terletak di salah satu sudut reruntuhan.
Di sinilah tempatnya, kata Fonia sambil menunjuk. Setelah saling mengangguk, mereka melangkah masuk.
"Konoe, di dalam sini sudah dipasangi sound-insulating
barrier (penghalang kedap suara), jadi kamu tidak perlu bersembunyi
lagi."
"……Ah, baiklah."
Di balik tangga bawah tanah itu terdapat sebuah
ruangan berukuran sekitar lima meter persegi.
Tidak ada cahaya di sana, dinding dan lantainya
hanyalah tanah yang terbuka, dan tidak terlihat perabotan apa pun.
──Namun, hanya ada satu pintu besar di sana. Itu
benar-benar pintu logam yang tampak sangat biasa.
Ukurannya sekitar dua meter persegi. Lagipula, pintu itu tampak tidak
terawat; berkarat, dan permukaannya tertutup oleh tanaman rambat.
……Apa mungkin ini adalah pintu yang menyegel Raja Iblis?
Konoe merasa bingung.
"……!"
Namun, saat mencoba mencari keberadaan energi di sana,
Konoe terkejut.
Entah bagaimana mekanismenya, ketika ia memusatkan
kesadaran dengan kuat, memang benar ada sesuatu yang menyelimuti pintu ini.
……Begitu ya. Dengan cara ini, orang tidak akan tahu jika
tidak diberi tahu lokasinya, pikir Konoe.
"Lepaskan mantel kamu dan bersiaplah untuk
bertempur."
"……Ah, baiklah."
Atas perintah Fonia, Konoe melepas mantel penyamarannya.
Di bawah mantel itu, ia mengenakan pakaian biasanya.
Fonia juga melepas mantel yang menutupi tubuhnya,
memperlihatkan pakaian battle dress yang dikenakannya.
"──Manifestation."
Tanpa membuang waktu, Fonia menciptakan dua bilah pedang
biru di kedua tangannya. Itu adalah Divine Weapon jenis dual sword.
Bersamaan dengan itu, sebuah perisai biru muncul di
samping Fonia. Itu
adalah perisai melayang yang dihiasi ukiran indah.
──Shield
of Severance.
Otoritas
perlindungan yang memantul kembali segala sesuatu yang berbahaya. Perisai biru
itulah yang menjadi Unique Magic milik Fonia.
"…………Manifestation."
Mengikuti
Fonia, Konoe juga menciptakan Divine Weapon miliknya. Tombak emas dan
pelindung kaki pun tercipta──.
"……Fonia,
kalau begitu──eh?"
"……Itu."
──Saat
itu, Fonia yang sedari tadi bertindak tenang dan fokus pada tujuan, memalingkan
pandangannya dari pintu ke tangan Konoe. Lebih tepatnya, ke tombak yang ia
genggam.
"Emas."
"……"
Gumam
Fonia. Mendengar itu, Konoe teringat pembicaraan kemarin. Kata-kata
saat mereka hendak berpisah.
"Itu adalah sesuatu yang kamu dapatkan, bukan?"
"……A, ah, benar."
Ingatan lima belas tahun lalu. Sesuatu yang ia dapatkan,
dan janji untuk memberitahukan hal itu padanya.
Melihat Fonia yang menatap lekat tombaknya, Konoe
merasa──.
(……Meskipun dibilang begitu, aku bingung harus
merespons apa.)
──Ia benar-benar merasa bingung.
◆
『──Hei, Konoe. Bisakah kau tunjukkan warna emas itu
padaku?』
──Konoe tidak paham. Lagipula, bagaimana caranya
"mengajarkan" warna emas? Dan lagi, kenapa Fonia meminta hal seperti
itu kepadanya?
Konoe tidak mengerti dan tidak bisa memahaminya.
Ia sempat berpikir apakah dulu ia pernah melakukan
sesuatu kepada Fonia, namun dalam ingatannya, ia hanya memiliki ingatan tentang
gadis itu di malam tersebut.
Mereka benar-benar tidak pernah memiliki hubungan apa
pun.
Fonia adalah seorang jenius dan seorang putri raja.
Sementara Konoe hanyalah orang biasa yang datang dari
dunia lain.
Posisi dan kekuatan mereka terlalu jauh berbeda,
bahkan mereka tidak pernah berlatih tanding bersama.
Di luar jam latihan pun, orang yang pernah menyapanya
hanyalah Melmina dan sang instruktur.
Tentu saja, Konoe pun tidak pernah terpikir untuk
menyapa Fonia lebih dulu.
……Bahkan di malam itu, Fonia hanya menangis saat
bilang bahwa mereka adalah kutub yang bertolak belakang──lalu memintanya untuk
membuat janji.
Hanya itu. Konoe benar-benar tidak memiliki ingatan lain
selain itu.
Semalam, ia sudah berusaha keras menggali ingatan masa
lalunya di atas tempat tidur, namun tetap tidak muncul apa-apa.
Seharusnya memang tidak ada lagi.
──Karena itulah, Konoe tidak paham. Ia hanya bisa
merasa bingung.
◆
"……Ah, maaf. Harusnya aku tidak mengatakannya
sekarang."
"……Tidak, tidak apa-apa."
Saat Konoe sedang bimbang, Fonia mengalihkan
pandangannya dari Konoe.
Ia lalu menatap pintu sambil menggenggam erat
pedangnya kembali.
Melihat
itu, Konoe…… menggeleng pelan untuk menata kembali pikirannya.
Benar.
Tempat yang akan mereka masuki adalah wilayah segel, dan di sana ada Raja Iblis
abadi yang seribu tahun lalu mencemari dunia dan membunuh dua puluh persen umat
manusia.
Sosok jahat dengan kekuatan untuk memusnahkan dunia. Ia
tidak boleh lengah sedikit pun.
Meskipun ia mendengar bahwa kemampuan tempurnya rendah,
hal itu tidak mengubah tingkat bahayanya.
──Ia membuang kebingungannya, dan pikirannya pun
mendingin.
Tubuh yang telah ia latih dengan keras kini teroptimasi
untuk pertempuran.
"──Kalau begitu, kita masuk ke dalam segel. Begitu
pintunya terbuka, segera masuk ke dalam."
"……Ah, baiklah."
Fonia mendekati pintu tersebut.
Di bagian dadanya…… terdapat semacam magic tool.
Begitu magic tool itu bersinar sekejap, pintu
terbuka perlahan, dan Konoe melangkah maju──.
『──zxcvbnm,./llesjqwerchuio,mv』
──Saat itu juga, suara seperti gesekan kaca menghantam
gendang telinganya.
──Cairan kental berwarna ungu pekat menerjang Konoe
seperti tsunami.
2
──Di sana terdapat niat jahat.
Di ruang yang telah terkontaminasi oleh miasma,
cairan kental berwarna ungu pekat menyebar luas.
Dengan suara yang menjijikkan, cairan itu merayap dan
mengikis dunia.
『cdslktv,um oambv iolav,ryolm,』
Monster berbentuk cairan—Slime. Raja Iblis yang
lahir dari akhir evolusi tersebut.
Erosi dan kontaminasi. Bukan monster yang ada untuk
bertarung, melainkan untuk melukai.
Sosok jahat yang lahir untuk memusnahkan manusia dan
mewarisi kutukan Dewa Jahat.
『kaosyfgwenaslidfuhnv』
Suara yang membangkitkan rasa tidak nyaman bergema di
dalam area segel. Cairan itu bergerak secara peristaltik, seolah sedang
bernapas.
『hwe,tv:iweoa.irc:ope,w!』
Raja Iblis itu hanya meraung.
Ia berteriak dengan suara yang tidak bisa dimengerti
manusia, lalu menerjang umat manusia yang masuk ke dalam wilayahnya.
Cairan ungu pekat menerjang Konoe dan Fonia layaknya
gelombang pasang──.
"──"
──Menanggapi itu, Konoe melangkah maju. Pelindung
kakinya menghentak tanah.
『aoiut,wheiv,up:awo!!??』
Petir menyambar tanah. Cahaya emas yang menyebar
membakar sosok jahat tersebut.
Slime yang menerjang musnah.
Slime yang tertahan terbakar hingga
terguling.
Lalu, Slime yang masih mengamati dari kejauhan...
"……"
……Brak! Tombak di tangan Konoe memancarkan
petir. Tombak emas itu diayunkan──.
◆
──Konoe berlari melintasi wilayah tersebut,
menyebarkan petir sembari membakar cairan ungu pekat itu.
Tombak di tangan, pelindung kaki di kaki. Divine
Weapon yang diberikan oleh dewa mengisi ruang tertutup itu dengan warna
emas, membakar habis sosok jahat tersebut.
Dunia itu luasnya beberapa kilometer persegi. Ruang
berbentuk balok dengan dasar persegi, tingginya sekitar seratus meter.
Tanah tertutup oleh slime, dan di dinding
serta langit-langit pun mereka merayap.
Dari atas, cairan jatuh bagaikan hujan…… seolah mereka
sedang berada di dalam tubuh Raja Iblis.
"…………"
Di tengah situasi itu, Konoe berlari di udara,
mengayunkan tombak, dan melepaskan petir. Layaknya petir yang menyambar dari
awan badai di malam hari.
Cahaya petir yang tak terhitung jumlahnya tercipta di
sekitar Konoe dan menyambar ke bawah.
Sebuah serangan yang lebih mengutamakan daya sebar
daripada daya hancur. Cahaya emas merambat di tanah, membakar slime yang
sedang bergerak.
『djkshcniwivmevm』
Mungkin untuk membalas Konoe, Raja Iblis itu
berkumpul menuju langit-langit. Slime yang massanya meningkat drastis
berubah menjadi bentuk seperti peluru dan ditembakkan dari atas kepala Konoe.
"Konoe, biar aku yang urus bagian atas!"
"……Ah, baiklah."
──Cahaya biru memutus sosok jahat itu. Fonia, yang
terbang di angkasa dengan kedua sayapnya, mengayunkan pedang gandanya. Saat ia
membelah ruang hampa bagaikan membelai, tebasan itu membelah dunia menjadi dua.
Slime yang terbelah, karena tubuhnya
yang berbentuk cairan, mencoba terhubung kembali dan beregenerasi…… namun, hal
itu mustahil.
Kekuatan pedang ganda dewa yang memutus kejahatan.
Kekuatan pemurniannya tidak membiarkan iblis tersebut beregenerasi.
Raja Iblis itu melenyap seolah meleleh. Mungkin sebagai
serangan balik terakhir, tepat sebelum menghilang, ia menembakkan sebagian dari
dirinya ke arah Fonia.
"……Hmm."
Pluk. Dengan mudah, serangan itu dihalangi
oleh perisai Fonia. Shield
of Severance
yang melayang di udara kini telah bertambah jumlahnya menjadi lima.
Perisai
pelindung yang memantul kembali segala fenomena. Tingkat kekerasannya,
setidaknya bagi Konoe, tidak akan bisa ditembus.
Fonia terus memantulkan slime tersebut dengan
perisai dan menebasnya dengan pedang ganda──.
"──Hmph."
Ia berputar layaknya sedang berdansa. Dari dirinya,
tebasan yang tak terhitung jumlahnya dilepaskan ke langit-langit. Slime
yang menutupi langit-langit pun terpotong-potong dalam sekejap.
Sembari memperhatikan sosok Fonia itu, Konoe
menyiapkan tombaknya dan melesat menuju pusat kejahatan.
"──Wahai petir."
Ia menyalurkan kekuatan sihir ke tombak. Divine Weapon
mencapai titik kritis oleh kekuatan sihir. Petir meluap dan berputar di sekitar
Konoe.
『uisycuey──』
──Petir menyambar pusat wilayah segel. Suara menggelegar
bergema.
Kejahatan yang merayap di tempat itu musnah, dan cahaya
petir yang dilepaskan mewarnai ruang itu dengan warna emas──.
◆
"────Entah kenapa, lemah sekali."
Beberapa menit kemudian, setelah membakar habis semua slime,
Konoe bergumam.
Apa yang ia maksud? Tentu saja Raja Iblis yang baru saja
dilawan.
Ia begitu lemah, bahkan tidak terbayangkan dari nama
"Raja Iblis".
"Sudah kubilang, kan? Hampir tidak ada
bahaya."
"……Ah, benar."
Cairan kental yang mudah terbakar jika sedikit
disulut api, dan gerakan yang lamban. Volumenya memang agak merepotkan, tapi
hanya sebatas itu.
Jika di Adventurer Guild, ini mungkin hanya
dikategorikan sebagai bencana tingkat rendah. ……Konoe menyadari kembali bahwa
masalah utamanya memanglah proses kebangkitannya.
"……Konoe, lihat itu."
Saat itu, Fonia menunjuk ke satu titik di depannya. Saat
melihatnya, cairan berwarna ungu pekat perlahan merembes keluar dari lantai
yang hancur akibat pertempuran tadi.
"…………"
……Padahal baru sekitar satu menit setelah ia
menghancurkannya, sudah mau bangkit lagi?
Konoe menggaruk kepalanya sambil melihat ke
sekeliling.
Sejujurnya, Konoe yang tidak memiliki Unique Magic
tidak tahu cara untuk membasmi Raja Iblis ini secara tuntas.
Namun, memikirkannya adalah tugas Konoe kali ini.
Di sekitar Konoe terdapat tumpukan reruntuhan. Itu adalah
hasil dari kehancuran dalam pertempuran tadi.
Saat pertama kali memasuki penghalang, wilayah ini tampak
seperti kota meski tertutupi oleh slime, namun sekarang bahkan
bayangannya pun tidak ada……
"……Hmm?"
……Lalu, ia merasa curiga. Seharusnya banyak Adept
yang pernah bertarung di wilayah segel ini di masa lalu.
Tapi, kenapa sampai beberapa menit yang lalu tempat ini
masih mempertahankan bentuk aslinya?
"……Ah, itu, mungkin bagian dari kemampuan Raja
Iblis."
Saat ia bertanya, Fonia menjawab demikian.
"Benda-benda di wilayah ini akan beregenerasi
dalam sehari meski dihancurkan. Itu sudah terjadi sejak seribu tahun lalu.
Penghalangnya tidak memiliki fungsi seperti itu, mungkin ini adalah kemampuan
Raja Iblis. Dia bisa menghidupkan kembali hal lain selain dirinya
sendiri."
"……Selain dirinya sendiri?"
"Itulah sebabnya beberapa peneliti mengatakan bahwa
ini bukan otoritas kebangkitan, melainkan otoritas pengembalian dalam area
tertentu. Ya, sejak sang instruktur bilang sepertinya ini adalah kebangkitan,
teori kebangkitanlah yang menjadi arus utama."
……Begitu ya. Konoe mengangguk paham dengan pemikiran khas
murid, karena ia tahu firasat sang instruktur biasanya benar.
Konoe melihat reruntuhan itu lagi. Ia merasa ada yang
janggal karena benda mati, bukan makhluk hidup, bisa hidup kembali──lalu, ia
terpikir satu hal lagi.
Reruntuhan yang hidup kembali melalui kebangkitan.
Mungkinkah reruntuhan ini bukan benda mati, melainkan bagian dari Raja Iblis,
dan jika ia tidak menghancurkan ini juga, artinya ia belum membunuhnya sampai
tuntas?
──Mungkinkah ada yang berubah jika ia menghancurkan
semuanya sampai ke reruntuhan-reruntuhannya?
"Ada pendapat seperti itu juga. Itulah sebabnya Adept
yang ahli dalam pemusnahan area luas pernah menghancurkannya berkali-kali
hingga tidak tersisa satu debu pun. Terakhir kali Melmina yang melakukannya.
Dia menghancurkan semuanya sampai memenuhi wilayah itu dengan lensa
sihir."
"……Lalu?"
"Sehari kemudian kembali seperti semula."
……Begitu ya. Rupanya, hal yang terpikirkan oleh Konoe di
tempat itu sudah dicoba semuanya.
Yah, itu mungkin wajar. Akan aneh jika selama seribu
tahun tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.
Kalau begitu──apa ada hal lain? Konoe menghadapi
reruntuhan itu sekali lagi.
Karena ia telah memutuskan untuk menjadi orang yang
serius, ia tidak berniat bekerja setengah hati.
"……Kalau begitu, ini──"
"……Ah, itu."
Setelah itu, untuk beberapa lama, Konoe menanyakan
hal-hal yang terlintas di pikirannya dan Fonia menjawabnya.
Waktu di mana Konoe dengan serius mengamati dan
menghadapi reruntuhan, slime yang merayap, dan wilayah tersebut dengan
caranya sendiri.
……Lalu, saat ia mengulang beberapa pertanyaan, itulah
saatnya.
"……Kalau begitu, bagaimana dengan pola yang tertulis
di reruntuhan ini?"
"Itu……"
Perkataan Fonia terhenti. Apa yang ditunjuk Konoe adalah
pola yang terukir di salah satu bagian reruntuhan.
Pola kecil
berwarna hitam yang berserakan secara fragmentaris. Kenapa ia merasa penasaran?
Karena pola itu terasa sedikit ganjil dan seolah-olah
tidak menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
"……Itu. Belum ada yang tahu."
"……Hmm?"
"Pola itu mulai muncul secara tiba-tiba dua ratus
tahun yang lalu."
──Dua ratus tahun yang lalu?
"Penyebabnya tidak diketahui. Perubahan terbesar
yang terjadi di wilayah ini selama seribu tahun."
Fonia berkata. Pola ini bertambah seiring berjalannya
waktu.
Awalnya hanya ada satu tempat, tapi perlahan bertambah
dan sekarang terukir di sepuluh tempat.
"Setelah diteliti, sepertinya ada keteraturan.
Karena itulah, ada yang bilang itu mungkin huruf iblis."
"……Huruf iblis."
Sesaat Konoe berpikir, apakah ada hal seperti itu?
Namun ia segera meralat pikirannya, tentu saja ada.
Itu wajar. Monster tidaklah bodoh.
Lagipula, ia pernah belajar sebelumnya bahwa di
antara Daemon, ada individu yang menggunakan huruf.
Tidak aneh sama sekali jika Raja Iblis yang
seharusnya lebih pintar daripada Daemon menggunakan huruf.
"Belum bisa diuraikan. Sepertinya sangat
sulit."
"……Begitu ya."
Konoe menatap lekat pola—huruf tersebut. Huruf
iblis pertama yang pernah ia lihat.
Karena reruntuhan tempatnya tertulis sudah hancur, ia
tidak bisa melihatnya dengan jelas──.
"………………?"
──Di sana, ia merasa ada yang aneh dengan huruf itu.
3
"……?
…………Hmm?"
Ada
sensasi seperti sesuatu yang menabrak di dalam kepalanya. Ia tidak mengerti,
tapi ia merasa ada yang aneh.
"……Ini
apa?"
Konoe
menatap tajam pola tersebut, bertanya-tanya apa sebenarnya itu. ……Namun, karena
reruntuhan yang tertulis sudah hancur, ia tidak bisa melihat keseluruhan
bentuknya. Maka, ia melihat sekeliling untuk mencari yang belum hancur.
"……Pola
selain ini, apakah ada di bawah reruntuhan?"
"Apa kamu begitu penasaran dengan ini? Tapi kurasa
untuk hari ini sudah tidak mungkin. Besok semuanya akan hidup kembali, jadi
lebih baik menyelidikinya setelah itu."
Fonia berkata bahwa masih ada dua kali penyelidikan lagi.
Penyelidikan kali ini dijadwalkan dilakukan sebanyak tiga
kali selama tiga hari.
Hari pertama, hanya membasmi.
Hari kedua dan ketiga, melakukan penyelidikan berdasarkan
hasil tersebut.
Sepertinya begitu karena mereka ingin ia menyelidiki
sambil memastikan proses kebangkitannya.
……Lagipula, alasan mengapa informasi internal tidak
diberikan sebelumnya adalah agar ia melihatnya tanpa prasangka pada kunjungan
pertama. Karena melihat dengan pengetahuan bisa dilakukan nanti.
"……Besok, aku akan membawakan peta lokasi tempat
pola itu berada. Kalau ada yang kamu sadari, katakan saja."
"……Ah, baiklah."
"Tolong ya. Aku butuh petunjuk apa pun yang ada.
……Sayangnya, kami hampir tidak bisa menguraikan Raja Iblis ini. Baik kekuatan
kebangkitannya, sifatnya sebagai monster──maupun tindakan pencegahan terhadap
kutukan."
Fonia menunduk. Lalu, ia bergumam, setidaknya jika mereka
bisa menguraikan tindakan pencegahan kutukan saja.
"……Tindakan pencegahan kutukan, ya."
◆
Tindakan pencegahan kutukan. Jika ditanya apa itu, itu
adalah tindakan pencegahan terhadap Unique Magic berbasis kutukan.
Tindakan pencegahan terhadap bilah kebencian yang masih
ingin ditancapkan oleh orang-orang yang tak berdaya kepada kejahatan.
──Di antara Unique Magic, ada jenis yang disebut
kutukan.
Di antara Unique Magic yang berubah secara beragam
tergantung pada keinginan atau sifat penggunanya, ini adalah Unique Magic
yang paling istimewa.
Cara hidup jiwa yang hanya diciptakan oleh kebencian. Ke
mana arah kemarahan yang membakar diri sendiri itu tertuju.
……Di dunia ini, kehendak memiliki kekuatan.
Cinta, doa, hasrat──perasaan yang kuat, jiwa yang besar,
mengguncang dan mengubah dunia. Begitulah adanya.
Karena itu wajar, kebencian pun memiliki kekuatan.
Orang tua yang anaknya dibunuh.
Anak yang orang tuanya dibunuh. Istri yang suaminya
dibunuh.
Suami yang istrinya dibunuh.
Keputusasaan karena cinta dan harapannya
diinjak-injak mendistorsi jiwa dan mengukir luka.
Banyak dari mereka yang menjadi gila karena
kebencian, bahkan jika itu membakar diri mereka sendiri, mereka ingin
memusnahkan musuh bebuyutannya.
Mereka mencoba membalas dendam meskipun harus menukar
dengan nyawanya sendiri.
Seperti naga yang pernah mencoba memusnahkan Konoe.
……Namun, terkadang, musuh bebuyutan itu adalah
keberadaan yang tidak bisa dijangkau bahkan dengan Unique Magic.
Ada musuh yang tidak bisa dibunuh meskipun ia mencoba
menghabisinya dengan membakar diri dan menukar nyawa.
Tidak peduli seberapa kuat Unique Magic yang
dibangkitkan oleh orang biasa, biasanya tidak akan bisa menjangkau bencana.
──Meskipun menggunakan nyawa, ia tidak bisa memberikan
rasa sakit apa pun kepada musuh bebuyutannya.
Saat ia memahami keputusasaan itu, kebencian yang tidak
tersalurkan berubah dari niat membunuh menjadi kutukan. Begitulah cara kutukan
diciptakan.
Hanya tidak bisa memaafkan. Bentuk keinginan seperti
itulah.
Tidak bisa memaafkan musuh bebuyutannya. T
idak bisa memaafkan mereka berjalan di suatu tempat.
Tidak bisa memaafkan mereka tertawa, tidak bisa memaafkan
mereka hidup di dunia ini──tidak bisa memaafkan keberadaan mereka.
──Tolong, terkutuklah.
Hanya kekuatan untuk merendahkan lawan.
Kekuatan untuk melukai lawan.
Kekuatan untuk menjegal kaki lawan.
Bukan membunuh dengan tangan sendiri, bukan menguatkan
diri sendiri, melainkan otoritas untuk sekadar mengutuk dan menyangkal
keberadaannya.
Kekuatan itu bekerja langsung pada tubuh musuh
bebuyutannya.
Misalnya, kekuatan untuk merampas sebagian kekuatan sihir
target, kekuatan untuk membuat mata tidak bisa melihat.
Kekuatan untuk membuat satu lengan membusuk──kekuatan
untuk membuat Unique Magic tidak bisa digunakan.
Kekuatan yang mengorbankan segalanya dari diri sendiri,
dikompresi hingga batas ekstrem, dan dengan kondisi yang terbatas adalah sangat
besar, dan bahkan jika lawannya jauh di atas levelnya, hampir tidak mungkin
kekuatan itu tidak berfungsi sama sekali.
Bahkan jika ada perbedaan kekuatan antara orang biasa dan
bencana, itu adalah kekuatan yang bisa menahannya selama beberapa menit.
Karena merupakan kekuatan yang bekerja langsung pada
lawan, itu tidak permanen dan akan dilepaskan seiring berjalannya waktu, namun
tetap bisa menahannya untuk sementara waktu.
Faktanya, ada banyak cerita yang beredar bahwa bencana
yang telah menginjak-injak banyak kota diikat oleh kutukan, dan disaat itulah
mereka dikalahkan.
Oleh karena itu, ini juga merupakan salah satu metode
bagi manusia untuk melawan monster yang sangat kuat──.
◆
──Padahal begitu.
"……Seribu tahun lalu, kutukan sama sekali tidak
mempan pada Raja Iblis ini, begitu?"
"Ya. Karena orang yang benar-benar bertarung
mengatakannya, jadi itu tidak salah."
Padahal Raja Iblis yang seolah-olah telah membunuh dua
puluh persen dunia. Padahal seharusnya ia dibenci oleh orang yang tak terhitung
jumlahnya.
Meskipun diserang oleh ratusan, ribuan kutukan, gerakan
Raja Iblis abadi itu tidak melambat, dan Unique Magic tidak disegel
sedikit pun.
──Raja Iblis ini entah bagaimana caranya memantulkan
kutukan. Itulah sebabnya meski seribu tahun berlalu, ia belum bisa dikalahkan.
"Untuk menguraikannya, kami melakukan banyak
penyelidikan. Memanggil Adept pendatang baru adalah salah satu
bagiannya. Aku senang kalau kamu juga mau berusaha."
"……Ah, aku mengerti."
Singkat cerita, diputuskan bahwa besok mereka akan
menyelidiki pola tersebut……
◆
──Setelah itu, keduanya keluar dari penghalang.
Penyelidikan hari itu selesai, mereka mengenakan jubah,
keluar dari reruntuhan, dan kembali ke kota.
Mereka telah kembali dari zona berbahaya ke kota tempat
manusia tinggal.
"…………Haa."
Konoe menghela napas kecil, menurunkan sedikit tingkat
kewaspadaannya yang tadi ia naikkan ke level maksimal.
Bagaimanapun juga, pekerjaan hari ini sudah selesai
sepenuhnya. Konoe baru saja kembali dari wilayah Raja Iblis. Jadi, ia bermaksud
menyapa Fonia lalu kembali ke tempat Telnerica dan Melmina berada──.
"──Tunggu. Konoe. Ajari aku."
……Saat itu, Konoe tertangkap. Fonia yang berekspresi
datar menatap Konoe dengan mata yang berkilau bak permata.
"………………"
Ajari aku, ucap Fonia. Jika ditanya apa yang dimaksud,
itu pasti tentang "warna emas" seperti yang mereka bicarakan sebelum
memasuki wilayah segel. Konoe bisa memahami kata-kata gadis itu.
Namun, ia sama sekali tidak mengerti dasarnya. Bagaimana
caranya "mengajari" seseorang tentang warna emas? Mengapa Fonia
meminta hal seperti itu padanya? Konoe tidak bisa memahaminya.
"……Itu, bukankah ada orang lain yang lebih cocok
untuk mengajarimu daripada aku……?"
Karena itulah, Konoe berusaha menghindar dengan
menyarankan hal tersebut kepada Fonia. Mendengar itu, ia menjawab.
"Tidak, aku ingin kamu."
"……Eh?"
"Kalau bukan kamu, aku tidak mau."
"────"
Mendengar kata-kata itu, Konoe kehilangan kata-kata.
Sebab, kalimat itu pasti adalah sesuatu yang dulu paling
Konoe harapkan……
"Ajari aku. Janji."
Selain itu, Konoe juga bingung dengan kata
"janji". Sebagai orang yang berusaha untuk selalu bersikap jujur,
Konoe merasa harus menepati janji jika sudah terucap.
Meskipun ia merasa permintaan itu sedikit…… tidak, cukup
sepihak, namun fakta bahwa ia tidak menolaknya adalah benar.
Konoe bukanlah tipe orang yang bisa berpura-pura tidak
tahu soal itu.
"……Itu."
"Apa?"
……Lagipula, Fonia juga benar-benar berusaha menepati
janji itu.
Instruktur juga bilang bahwa Tsurisho (surat
lamaran) yang diberikan itu sangat serius. Sesuatu tentang putri kuil yang
kedudukannya luar biasa tepat di bawah keluarga kerajaan.
"……Apakah sulit menyiapkan Tsurisho
itu?"
"Ya, sangat sulit."
Jadi, saat ia bertanya dengan perasaan takut, ia langsung
menjawabnya. Terlepas dari keinginannya atau tidak, Konoe menyadari apa yang
telah ia terima. ……Karena itulah Konoe bertanya.
"……Apa yang harus aku lakukan……?"
Sambil merasa sangat bingung, ia bertanya pada Fonia──.
"………………"
──Dan, beberapa menit kemudian. Konoe dan Fonia sedang
duduk di bangku taman kota.
……Dengan jarak yang sedikit renggang.
4
Keduanya duduk bersisian di bangku tersebut. T
empat itu berada di dataran yang sedikit lebih tinggi di
dalam kota, dengan angin sepoi-sepoi yang berembus──tempat yang sedikit
mengingatkan Konoe pada menara observasi di Silmeria.
Mereka berdua duduk diam di bangku panjang tanpa sandaran
itu.
Jika ditanya mengapa hal ini terjadi, jawabannya adalah
karena saat Konoe bertanya, "Apa yang harus aku lakukan?", Fonia
menjawab, "Bagaimana caramu menjadi 'warna emas'? Aku ingin kamu
mengajariku hal itu juga."
Ia mengatakannya dengan nada datar bahwa Konoe cukup
memperagakan ulang momen saat itu.
Mendengar itu, Konoe menoleh kembali pada momen saat ia
menjadi warna emas, mengingat memori di tengah pertempuran melawan naga, serta
waktu yang ia habiskan di kota Silmeria──.
"………………"
"………………"
──Dan akhirnya, beginilah jadinya. Waktu yang hanya
dihabiskan berdua saja, persis seperti di atas menara observasi Silmeria.
Taman di Archinorca. Sama seperti kastilnya, tempat itu
beralaskan batu yang dipahat langsung dari batuan dasar, dengan pot tanaman
besar yang ditumbuhi rerumputan dan pepohonan.
Tidak ada orang lain di taman, hanya mereka berdua.
Mungkin karena jauh dari pusat kota, suara hiruk-pikuk
pun tak terdengar; hanya ada suara angin dan gesekan dedaunan.
……Konoe berpikir, apakah begini caranya mengajar? Ia
merasa ini sedikit tidak wajar, tapi inilah warna emas bagi Konoe.
Jika ditanya bagaimana ia bisa menjadi warna emas, tidak
ada cara lain selain ini.
Kehangatan yang ada di dalam hati Konoe. Tempat
di mana harapan itu berada. Sesuatu yang akhirnya ditemukan Konoe setelah dua
puluh lima tahun berlalu.
Di tengah pertarungan melawan naga, Konoe melihat sosok Telnerica
di balik petir putih. Konoe menyukai waktu yang ia habiskan bersama Telnerica
di atas menara observasi.
Cukup dengan duduk bersisian saja sudah membuatnya
senang. Karena itulah, Konoe mencintai kehangatan tersebut.
……Dilihat dari sudut pandang "mengajar", ini
jelas salah, namun untuk poin yang satu ini, ia tidak ingin berbohong.
Oleh karena itu, tanpa kata-kata, Konoe tetap berada di
sisi Fonia.
Hanya waktu itu saja yang berlalu. Fonia pun tidak
mengeluh, ia tetap duduk di sampingnya──.
"……?"
──Lalu, saat jarum panjang jam bergerak sekitar
seperempat putaran.
Tiba-tiba, Konoe menyadari sesuatu. Ada keberadaan
yang perlahan mendekat dari arah punggungnya.
……Tsun, sesuatu yang keras menyentuh punggung
Konoe.
Setelah bersentuhan, benda itu segera menjauh. Tanpa
menoleh pun, ia sudah paham benda apa itu.
──Sayap Fonia. Ujung sayap itu menyentuh punggung Konoe
sejenak. Menyentuh sedikit seolah sedang mencolek, lalu segera menjauh.
"…………?"
Ia menatap Fonia karena penasaran. Namun, gadis itu tetap menatap ke depan.
Konoe berpikir mungkin itu hanya sentuhan yang tidak
disengaja, jadi ia kembali menatap ke depan.
"………………??"
……Namun, tak lama kemudian, sayap Fonia perlahan mendekat
lagi.
Ia
mendekat perlahan…… tsun, menyentuh punggungnya lagi. Kali
ini ia melakukannya dua kali berturut-turut. Total ia menyentuh dua kali.
……Sudah jelas ini bukan ketidaksengajaan, jadi ia melirik
Fonia. Ternyata kali ini gadis itu juga sedang menatap Konoe.
Mata mereka bertemu. Mereka saling menatap selama beberapa detik…… lalu ia
memiringkan kepalanya sedikit.
"……Tidak boleh?"
"……Bukan, bukan berarti tidak boleh, sih."
"Begitu, syukurlah."
Jika ditanya boleh atau tidak, jawabannya tidak
dilarang. Ia pun tidak merasa perlu menolaknya.
Percakapan pun berakhir di sana.
……Tak lama kemudian, sayap Fonia mendekat lagi ke
punggung Konoe, dan kali ini ia mencolek berkali-kali.
Konoe merasa heran, sementara sayap Fonia terus mencolek
atau menempel selama beberapa detik.
Setelah menyentuh, kali ini ia mengusap punggung Konoe
seolah sedang menulis sesuatu, lalu mencolek lagi.
……Waktu yang terasa sedikit menggelitik. Sayap Fonia
menyentuh punggung Konoe. Ia menelusuri bahu, tulang punggung, hingga
pinggangnya.
Dari atas ke bawah, seolah sedang menggambar
lingkaran. Perlahan-lahan ia memperluas jangkauannya.
"…………??"
──Terakhir, selaput sayap Fonia menempel erat pada
punggung Konoe.
Suhu yang sedikit lebih rendah dari suhu tubuh
manusia merambat masuk.
Sisik yang keras dan halus seperti batu bersentuhan
dengan selaput yang lembut, menciptakan sensasi yang entah mengapa terasa
ajaib.
"……Begitu, ini ya."
Lalu, Fonia bergumam lirih.
"……Hangat."
──Haa, seolah sedang mengembuskan napas, ia
berkata demikian.
Konoe berpikir bahwa sayap naga memang memiliki suhu
tubuh yang rendah, sementara waktu tenang berlalu begitu saja──.
◆
──Beberapa saat kemudian, terdengar suara anak-anak dari
pintu masuk taman, dan waktu itu pun berakhir.
Tanpa perlu memberi isyarat, mereka berdua berdiri
bersamaan.
Mereka berpapasan dengan pasangan orang tua dan anak yang
baru masuk──sang anak melambaikan tangan dengan penuh semangat sambil menyebut
mereka sebagai "Putri" dan "Adept", lalu Konoe membalas
lambaian tangan itu dengan sedikit malu sebelum melangkah ke jalanan bersama
Fonia.
Lalu, Konoe berniat untuk segera kembali──.
"Konoe, selanjutnya apa?"
"……Eh? Selanjutnya?"
◆
……Ia tidak menyangka akan diminta kelanjutannya.
Konoe bertanya pada Fonia, mengapa gadis itu memintanya
padahal banyak hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Kemudian.
"Kamu suka hal itu, kan?"
"……Eh, ah, ya."
"Kalau begitu, aku juga suka. Aku jadi menyukainya.
Tadi terasa hangat."
Jawaban seperti itu yang ia terima. ……Konoe hanya bisa merasa bingung.
"……Selanjutnya?"
"…………Kalau begitu, ayo ke…… kota."
Setelah berpikir sejenak, mereka memutuskan untuk pergi
ke kota. Konoe teringat kenangan saat berjalan-jalan di kota sebelumnya.
Jadi, mereka berdua berjalan menuju kota dan masuk ke
deretan toko yang mereka lihat. Ada toko-toko berjejer dengan kios-kios di
antaranya.
Meski lebih kecil dari pasar di Kota Dewa, tempat itu
dipenuhi banyak barang dan banyak orang yang berlalu-lalang.
Suasana yang hidup. Orang-orang mengobrol dengan
ceria sambil berbelanja.
Banyak kios makanan, dan udara dipenuhi aroma manis dan
gurih. Mencium aroma itu, Konoe teringat bahwa ia belum makan siang.
"……Ah, benar juga. ……Konoe, yang itu enak."
……Tiba-tiba, Fonia bergumam sambil menunjuk ke arah toko
makanan manis.
Di sana terdapat camilan berbentuk seperti crepe
yang diisi krim di dalamnya. Karena mumpung ada, mereka memesan dan memakannya;
rasanya berbeda dengan makanan yang biasa ia makan di Kerajaan Dewa.
"Aku suka yang ini. Benar, aku jadi ingin kamu
mencobanya juga."
"……? Ah."
"Apa kamu suka ini?"
"……Rasanya asing bagiku, tapi aku suka."
Saat Konoe bergumam apakah bahan dasarnya berbeda dengan
di Kerajaan Dewa, Fonia menjelaskan bahwa ini terbuat dari biji-bijian
tertentu, sudah lama ditanam di sekitar sini, bulan berapa dipanen, dan berapa
harganya per kilogram jika diekspor ke luar.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa susu yang digunakan
untuk krimnya bukan dari sapi, melainkan dari kambing yang hidup di pegunungan
tinggi, dan pakan kambing tersebut diatur sedemikian rupa untuk menghilangkan
bau amis.
Fonia menjelaskan hal itu dengan nada datar sambil
mengunyah crepe-nya, sementara Konoe mendengarkannya dengan perasaan
tulus bahwa ia jadi belajar sesuatu yang baru.
Sambil makan, mereka berjalan dan duduk di bangku
terdekat. Lagi-lagi waktu berlalu dengan mereka duduk bersisian, kali ini hanya
berbagi makanan.
"…………?"
Di tengah-tengah itu, sayap Fonia mulai mencolek
punggung Konoe lagi.
Konoe merasa heran, tapi ia membiarkannya saja──.
◆◇◆
Seorang gadis naga yang kebetulan lewat melihat mereka
berdua dengan pipi yang memerah padam.
5
──Dan di saat yang sama, di salah satu ruangan kastil
Archinorca yang jauh dari kota.
"……Melmina, kenapa dokumen ini jadi bertambah
banyak……?"
"……Fufu, aku juga sedang menyesalinya
sekarang."
Dua orang gadis sedang menggerakkan pena sembari
tenggelam dalam tumpukan dokumen.
Suara pena yang beradu dengan kertas menggema di
dalam ruangan.
Suara kertas yang dibalik dan pena yang dicelupkan ke
tinta juga terdengar.
Setelah melepas kepergian Konoe, mereka terus
menghadap dokumen sejak pagi. Selain jeda makan siang, mereka terus
menggerakkan pena.
"Jujur saja, ini berlebihan. ……Ternyata memang repot
sekali jika melibatkan antarnegara."
"Tentu saja."
Menanggapi Melmina yang berkata dengan senyum kaku, Telnerica
mengangguk dalam.
Perbedaan format, perbedaan hukum, dan perbedaan jumlah
bawahan yang membantu.
Hasil dari mencoba menangani terlalu banyak hal di tengah
perbedaan itu adalah tumpukan dokumen ini. Terlebih lagi……
"……Persiapan penambangan Miasma Stone sudah
dimulai, jadi kita harus buru-buru."
"Kepala Mining Guild sangat bersemangat,
ya……"
Sejujurnya, rute penambangan Miasma Stone yang
paling penting dalam ekspedisi ini sudah ditemukan oleh Melmina dengan Clairvoyance
miliknya.
Sangat mudah. Saking mudahnya, kepala Mining Guild
sampai memasang ekspresi antara senang dan tatapan kosong karena memikirkan
betapa sulitnya perjuangan mereka selama ini.
Jadi, persiapan penetapan rute di lapangan sedang
berlangsung, dan agar penambangan serta penjualan bisa berjalan lancar,
dokumen-dokumen harus segera disiapkan secepat mungkin.
"Tidak mungkin aku bilang kita berhenti sekarang,
jadi mau tidak mau harus kita lakukan."
"……Itu benar."
"Ini demi serikat dagang, dan demi keuntungan luar
biasa yang dihasilkan oleh Miasma Stone. Aku akan memberimu upah yang
besar atas bantuanmu."
Melmina berkata begitu kepada Telnerica sembari menuang
gula ke dalam tehnya berkali-kali menggunakan sendok.
Itu untuk memberikan pasokan gula ke otaknya.
Sumber energi bagi Melmina yang sebenarnya sangat
menyukai makanan manis.
"………………Keuntungan luar biasa?"
Saat itu, Telnerica bergumam dengan nada curiga. Ia
menatap Melmina dengan tatapan penuh tanya.
Melmina sedikit terkejut, "Oh?". Apakah gadis
ini menyadarinya?
"Melmina, transaksi ini hampir tidak memberikan
keuntungan, bukan?"
"……Menurutmu begitu?"
"Ya, meskipun jumlah uang yang bergerak besar……
pembayaran ke Mining Guild dan instansi terkait sangat banyak, dan jika
memikirkan biaya pengeluaran serta pajak lainnya, bukankah keuntungannya tidak
seberapa?"
"……"
"Bahkan, keuntungan yang diterima pihak Archinorca
jauh lebih besar. Transaksinya sendiri sangat masuk akal, dan lagi, jika
transaksi ini berakhir, Melmina akan menjadi pihak yang terkait dengan
penambangan Miasma Stone di sini. Itu memberi alasan untuk memanggil Melmina
jika terjadi masalah serupa seperti keruntuhan kemarin."
Telnerica berkata bahwa keuntungan dari transaksi ini
terlalu murah sebagai "asuransi" untuk memanggil pemilik Clairvoyance
saat dibutuhkan. ……Mendengar itu, Melmina berpikir:
(……Gadis ini, cukup hebat juga.)
Ia merasa demikian. Jika melihat kemampuan kerjanya
sejauh ini, ia sangat cakap──lagipula, dokumen yang ia berikan kepada Telnerica
hanyalah yang tingkat kepentingannya rendah dan tidak tertulis detail apa pun.
Jika gadis itu bisa menyimpulkan keseluruhan transaksi
dan mencapai kesimpulan tersebut hanya dari dokumen itu, ia memang hebat.
……Andai keluarganya tidak hancur, ia pasti akan menjadi
penguasa wilayah atau asisten yang hebat, pikirnya.
Jika saja Telnerica tidak berada di sisi Konoe──jika
mereka bukan orang asing, ia mungkin akan merekomendasikannya untuk mengelola
asetnya.
Yah, selama itu Konoe, ia tidak akan pernah
merekomendasikannya. Karena ia tidak suka Telnerica mengelola aset Konoe.
Rasanya seperti istri.
"Melmina?"
"……Ah, maaf. Aku sedang melamun. ……Yang ingin kau
tanyakan adalah soal keuntungan yang tidak ada itu, kan? ──Memang benar. Terlepas dari hak konsesinya, hampir tidak ada
keuntungan. Meskipun begitu, alasan aku menandatangani kontrak ini
adalah……"
Jika bicara soal premisnya, tindakan yang ia ambil
untuk mendapatkan Miasma Stone kali ini adalah demi kakaknya. Demi
membuat Elixir.
Dan, meskipun kondisinya sudah siap, alasan ia
memilih Archinorca dari beberapa calon lokasi──bahkan alasan ia menyelidiki
situasi Miasma Stone di Archinorca adalah karena ia merasa harus
bertindak setelah melihat Konoe menerima negosiasi perpindahan yang
keterlaluan.
……Benar. Konoe tidak boleh tahu ini, tapi saat itu Melmina
sangat tidak puas.
Ia tidak suka ada yang mendekatinya, dan lagi mereka
seenaknya bicara tentang harem atau istri.
Mereka tidak tahu betapa susahnya Melmina karena tidak
bisa mengatakan hal itu.
……Meskipun ia tahu itu adalah buah dari perbuatannya
sendiri.
Karena itulah, ia mencari alasan untuk pergi bersama ke
Archinorca agar bisa berada di dekatnya jika terjadi sesuatu, dan hasil
pencariannya justru menemukan hambatan pada sirkulasi Miasma Stone.
"Telnerica, aku ini──"
──Namun, terlepas dari rasa ganjal itu.
Kontrak yang menguntungkan Archinorca itu berkaitan
dengan apa yang dilihat Melmina sepuluh tahun lalu.
Di dalam wilayah segel yang mengerikan itu, Melmina……
"……Aku tahu segalanya."
"……?"
"Apa yang dilakukan Archinorca. Aku tahu
kebenarannya secara utuh."
Benar, sepuluh tahun lalu Melmina tahu segalanya.
Ia memahami hal yang bahkan tidak bisa ia katakan kepada Telnerica……
tidak, bahkan kepada sesama Adept, Konoe.
"──Karena itu, ini adalah penebusan dosaku."
"……Penebusan dosa?"
"Ya, aku tidak bisa mengatakan alasannya, tapi aku
merasa harus melakukan ini."
Telnerica menatap lekat Melmina yang tertawa seolah
mengejek dirinya sendiri. Lalu.
"……Begitu, ya. Aku mengerti."
Entah karena mengerti atau menyerah, Telnerica menghela
napas panjang dan kembali menghadap dokumennya.
Suara kari-kari pena kembali menggema, Melmina pun
menuangkan teh manis ke lambungnya sembari menghadap dokumen──.
(──Lagipula, gadis ini bekerja lebih serius dari yang
kukira.)
Tiba-tiba, sembari menggerakkan pena, Melmina berpikir.
Selama ia membayar upah tinggi, ia tidak akan memaafkan kerja yang asal-asalan,
tapi ia tidak akan menyalahkan Telnerica jika gadis itu beristirahat sedikit
lebih lama.
Melmina dan Telnerica sudah saling mengenal, tapi bukan
berarti mereka tidak punya pikiran masing-masing. Malahan ada banyak. Itulah
mengapa Melmina merasa heran Telnerica mau membantunya dengan begitu serius.
"……Ini
Yonin Shokai."
Saat ia
bertanya, jawaban itulah yang muncul. ……Yonin Shokai?
"Bukankah
itu serikat dagang di bawah naungan Melmina?"
"……Benar."
Berkat
penggunaan kekuatan Adept, serikat dagang Melmina berkembang pesat dalam
sepuluh tahun dan kini menjadi salah satu dari sepuluh besar di negara ini.
Sekarang
ia menaungi banyak serikat dagang, dan Yonin Shokai adalah salah satunya.
"Saat miasma belum mereda, mereka datang
untuk berdagang ke kota Silmeria. Terlebih lagi, semua barang dijual dengan
harga yang luar biasa murah…… aku rasa camilan untuk anak-anak bahkan dijual di
bawah harga modal."
"……"
"Bantuan setelah bencana labirin adalah ciri
khas dari serikat dagang yang kamu buat."
Telnerica berkata bahwa ia terkejut melihat harga
barang-barang tersebut. Biasanya, di situasi seperti itu, orang-orang akan
mencekik harga. "Berkat Anda, semua orang bisa tersenyum," katanya.
"Karena itulah, aku akan membantu dengan benar
sampai Konoe-sama kembali."
"……Begitu, terima kasih."
"Tidak, aku yang berterima kasih."
……Dan dengan kalimat itu, percakapan berakhir.
Setelah itu, suara pena tetap menggema di ruangan tersebut.
6
──Dan kemudian, waktu senja. Konoe kembali ke kastil
Archinorca. Sepulangnya dari melihat-lihat kota bersama Fonia...
maksudnya kembali ke kastil.
Selama waktu itu, ia terus dipandu ke tempat-tempat yang
disebut sebagai tempat terkenal. Ia juga berkeliling mencicipi makanan yang
menarik perhatiannya.
『Ini enak. Cobalah. Gigit langsung dari
kepalanya.』
『……Kelihatannya enak──eh? Gigit langsung dari
kepalanya?』
『Ya. Gigit langsung dari kepalanya.』
──Sungguh, ia makan banyak sekali. Ia bahkan disodori ikan berukuran hampir empat puluh sentimeter di
kedai ikan goreng.
Meskipun ia berpikir harus mengikuti adat setempat,
ia menghabiskannya dengan memperkuat mulutnya menggunakan sihir…… setelah
selesai makan, baru diberitahu bahwa menggigit langsung adalah hal yang lazim
bagi ras naga saja.
『……Konoe, ada patung leluhur ras naga di dekat sini.』
『……Ah, benar.』
Tapi yah, meski ada hal-hal seperti itu, pada
dasarnya itu adalah waktu yang sangat damai.
Mereka berdua berkeliling tempat wisata dan monumen
peringatan seratus tahun lalu sambil mendengarkan penjelasan Fonia tentang
sejarah dan tempat-tempat terkenal.
『……Meski begitu, aku merasa geli jika pinggangku
dicolek.』
『……Maaf.』
……Sambil sesekali dicolek sayapnya oleh Fonia, mereka
berdua berkeliling kota Archinorca dengan santai.
"──Kalau begitu, sampai jumpa besok."
"……Ya."
Lalu, saat kembali ke kastil, mereka berpisah begitu
saja.
"Soal
penyelidikan dan warna emas, keduanya."
"…………Ah."
Fonia
membentangkan sayapnya dan melayang di udara. Ia terbang menuju bagian atas
kastil.
──Di
tengah jalan, ia tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh ke belakang.
"──Konoe."
"……Ya?"
"Terima kasih untuk hari ini."
"……Eh?"
Fonia mengatakan itu saja, lalu segera terbang pergi.
"……"
Konoe menatap punggung Fonia yang menjauh, lalu berkedip
beberapa kali.
Ia melakukan itu karena Fonia yang biasanya berekspresi
datar tampak tersenyum tipis.
◆
"──Selamat kembali, Konoe-sama!"
"Selamat datang kembali, Konoe."
Begitulah, Konoe kembali ke tempat Telnerica dan Melmina.
Merasa sedikit lega melihat wajah keduanya, Konoe
mengucapkan terima kasih pada Melmina lalu keluar dari kastil bersama Telnerica.
Sambil berjalan santai menuju penginapan, ia mendengarkan
cerita Telnerica yang bergumam, "Dokumennya... ada banyak sekali...
sungguh, sungguh, banyak sekali."
"……Lalu,
Konoe-sama……? …………Eh?"
"……?"
……Tepat saat itu, Telnerica yang berjalan di sampingnya
berhenti.
Saat Konoe menoleh karena penasaran, Telnerica sedang
menatap Konoe lekat-lekat.
"……Telnerica?"
"……Muu."
Mengabaikan Konoe yang bertanya, Telnerica mengerang
pelan.
Lalu, ia mulai memperhatikan tangan Konoe, lengannya,
kakinya secara berurutan. Ia berjalan memutari Konoe seolah mengelilinginya.
"……Begitu, ya."
Ia menunduk dan bergumam pelan. Ekspresinya
tidak terlihat oleh Konoe.
……Lalu, ada keheningan selama beberapa detik.
"──Konoe-sama."
"……?"
"Tiba-tiba saja, aku merasa ingin pulang dengan
memutar jalan sedikit."
……Memutar jalan? Konoe memiringkan kepalanya.
Apakah ada toko
yang ingin ia datangi?
"Tidak, tidak, bukan berarti ada tempat yang
ingin aku datangi."
Namun saat ia bertanya, jawaban itulah yang ia terima.
Konoe semakin memiringkan kepalanya, lalu Telnerica
mengulurkan tangannya──ia menggenggam telapak tangan Konoe yang sedang berkedip
kebingungan.
"……!? Te, Telnerica?"
"Kalau begitu, ayo jalan!"
Telnerica tersenyum ceria pada Konoe yang terkejut, fufufu.
Ia tersenyum dan mulai berjalan. Konoe ditarik dalam
kebingungan, sementara
Telnerica menggenggam telapak tangan Konoe sedikit
lebih erat dan berjalan menyimpang dari jalan menuju penginapan.
Begitu mereka keluar dari jalan utama, lampu kota
menghilang, dan hanya cahaya bintang yang menyelimuti sekitar.
──Jalan malam tanpa tujuan dan tanpa arah.
Di udara pegunungan yang dingin dan jernih, mereka berdua
bergandengan tangan, berjalan-jalan di malam hari Archinorca.
◆
──Dan keesokan harinya. Setelah mengantar Telnerica,
Konoe bertemu dengan Fonia.
"Kalau begitu Konoe, mari berbagi informasi
terlebih dahulu."
"……Ah."
Sesuai pembicaraan sebelumnya, mereka berdua masuk ke
kastil sekali lagi.
Tujuannya untuk berbagi informasi mengenai tulisan di
wilayah yang dibicarakan kemarin──lokasi dan urutan penulisannya. Agar
mereka tidak kebingungan di tempat kejadian.
"Karena ini rahasia, di ruang tamu saja."
"……Mengerti."
Mereka masuk ke kastil dan menaiki tangga.
Tempat yang mereka tuju adalah tempat yang sama saat
pertama kali mereka datang ke Archinorca. Tempat di mana penghalang terpasang
di mana-mana.
Saat mereka masuk ke ruangan, Fonia meminta Konoe
menunggu sebentar dan menuju pintu di dalam ruang tamu.
Saat ia menunggu di kursi, Fonia kembali dalam hitungan
menit.
……Dengan
tumpukan dokumen yang ditaruh di atas Shield of Severance.
Sihir Fonia benar-benar praktis untuk hal seperti
ini.
"Maaf menunggu. Pertama, ini petanya. Saat
pemusnahan pertama nanti, pastikan untuk berhati-hati agar tidak menghancurkan
titik-titik di peta ini."
"……Ah."
"Lalu, ini salinan tulisannya. Meski bisa dilihat
langsung di sana, ini untuk jaga-jaga."
Fonia memberikan dokumen-dokumen itu kepada Konoe
satu per satu.
Konoe pertama-tama mencocokkan peta dengan ingatannya
kemarin, mengulangi di dalam pikirannya titik-titik mana yang tidak boleh
dihancurkan.
Lalu, ia melirik sekilas salinan tulisan itu──.
"─────────?"
──Tepat saat ia hendak membacanya, Konoe merasa otaknya
kacau. Ia merasa ada sesuatu yang salah.
Tapi ia juga merasa itu sudah benar.
Kenangan masa lalu dan benda yang diberikan padanya
beradu di dalam otaknya……
"………………Eh?"
……Konoe melihat. Ia melihat tulisan yang tertera di
dokumen. Ia berkedip beberapa kali. Ada kejanggalan. Ia
mengamatinya dengan saksama.
Tulisan yang disalin di atas kertas tipis. Pasti hasil tracing.
Garisnya tebal dan hurufnya tidak jelas.
Namun……
Konoe merasa familiar dengan tulisan ini.
Tulisan
yang tampak seperti ditulis dengan tinta di atas kertas basah.
Ia
tidak bisa membedakannya dari potongan tulisan kemarin.
Namun, tulisan itu memang ada di dalam ingatan Konoe──.
──Karena itulah, Konoe membaca tulisan itu…… tulisan yang
berbeda dari bahasa dunia ini.
《Saat aku bertemu dengan ■wanita itu》
"………………Ini."
Kalimat yang dimulai dengan kata-kata tersebut. Di
bawahnya masih terus berlanjut. Konoe bisa membaca tulisan itu.
Karena tulisannya rumit dan tidak jelas, ia harus menilai
berdasarkan konteks dan garis luarnya, sehingga sulit untuk dibaca. Tapi.
《Itu adalah musim gugur, dua belas tahun ■setelah hari
itu. Saat itu, aku berniat melihat sekilas ■ di mana ■Raja dik■ci, dari Dewa■──》
"……Ini, bukankah ini Bahasa Jepang?"



Post a Comment