NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 3 Chapter 3


Chapter 3

Archinorca


Tempat itu adalah reruntuhan kota yang tampak sudah lama ditinggalkan.

Di salah satu barisan gunung Archinorca, terdapat sebuah celah yang menganga lebar di lerengnya.

Sebuah wilayah yang dulunya dibangun oleh manusia, namun kini tak lagi terasa adanya jejak kehidupan.

Di tengah reruntuhan, menara pelindung yang runtuh tergeletak di tanah, dikelilingi oleh rumah-rumah yang hanya menyisakan fondasinya.

Rumput tinggi tumbuh subur, dan di bawahnya, serangga serta hewan kecil berlarian dengan lincah.

──Di tempat seperti itulah, kini terdapat dua sosok manusia.

Keduanya dibalut mantel kamuflase berukuran besar. Gerakan mereka begitu cepat, namun tak terdengar suara sedikit pun.

Kehadiran mereka begitu samar; bahkan meski mereka lewat tepat di samping hewan liar, hewan-hewan itu tetap asyik mengunyah kacang tanpa terusik.

──Konoe dan Fonia bergerak dengan meredam keberadaan mereka sepenuhnya.

Alasan mengapa keduanya menyembunyikan kehadiran mereka adalah karena tempat tujuan kali ini—lokasi segel Raja Iblis—dirahasiakan dengan ketat. Informasi ini dikelola dengan sangat disiplin, hanya diketahui oleh segelintir orang saja.

Dan mengapa segel itu harus disembunyikan?

……Itu semua agar tidak ditemukan oleh Dewa Jahat. Seribu tahun lalu, segel Raja Iblis—Shiten Kekkai—berhasil ditegakkan dengan mengorbankan begitu banyak nyawa.

Jika seandainya Dewa Jahat berhasil menghancurkan pelindung tersebut, Raja Iblis akan terbebas, dan dunia akan kembali diselimuti oleh kekacauan.

Untuk mencegah hal itu, orang-orang di masa lalu memilih untuk menyembunyikan lokasi segel secara menyeluruh.

Singkatnya, ini mirip dengan apa yang dilakukan Dewa Jahat.

Dewa Jahat tidak bisa membunuh manusia karena tidak tahu di mana mereka berada di dalam labirin, dan manusia tidak bisa menghancurkan segel karena tidak tahu di mana tempatnya.

Agar tidak diserang, pertama-tama mereka tidak boleh ditemukan. Itu adalah strategi yang sangat sederhana, namun sangat efektif.

Faktanya, strategi ini telah terbukti membuahkan hasil. Ingatlah tentang Tengai-Ryu (Naga Penutup Langit) seratus tahun yang lalu.

Negara ini diserang oleh Raja Iblis tersebut dan menderita kerugian besar…… namun, lokasi segel tetap berhasil disembunyikan sampai akhir.

Sebuah penyamaran yang dipertaruhkan dengan nyawa. Pertempuran demi melindungi dunia.

Archinorca sengaja mengerahkan pasukan Dragonute ke tempat yang tidak ada hubungannya, menyebarkan segel palsu di seluruh penjuru negeri, dan terus menumpuk kebohongan untuk melindungi segel yang asli.

──Oleh karena itu, lokasi segel hanya diketahui oleh segelintir orang di Archinorca dan Adept yang menerima permintaan tugas. Hal itu sudah ditetapkan sejak seribu tahun yang lalu.

Setelah bergerak beberapa lama, keduanya sampai di tangga menuju bawah tanah yang terletak di salah satu sudut reruntuhan.

Di sinilah tempatnya, kata Fonia sambil menunjuk. Setelah saling mengangguk, mereka melangkah masuk.

"Konoe, di dalam sini sudah dipasangi sound-insulating barrier (penghalang kedap suara), jadi kamu tidak perlu bersembunyi lagi."

"……Ah, baiklah."

Di balik tangga bawah tanah itu terdapat sebuah ruangan berukuran sekitar lima meter persegi.

Tidak ada cahaya di sana, dinding dan lantainya hanyalah tanah yang terbuka, dan tidak terlihat perabotan apa pun.

──Namun, hanya ada satu pintu besar di sana. Itu benar-benar pintu logam yang tampak sangat biasa.

 Ukurannya sekitar dua meter persegi. Lagipula, pintu itu tampak tidak terawat; berkarat, dan permukaannya tertutup oleh tanaman rambat.

……Apa mungkin ini adalah pintu yang menyegel Raja Iblis? Konoe merasa bingung.

"……!"

Namun, saat mencoba mencari keberadaan energi di sana, Konoe terkejut.

Entah bagaimana mekanismenya, ketika ia memusatkan kesadaran dengan kuat, memang benar ada sesuatu yang menyelimuti pintu ini.

……Begitu ya. Dengan cara ini, orang tidak akan tahu jika tidak diberi tahu lokasinya, pikir Konoe.

"Lepaskan mantel kamu dan bersiaplah untuk bertempur."

"……Ah, baiklah."

Atas perintah Fonia, Konoe melepas mantel penyamarannya. Di bawah mantel itu, ia mengenakan pakaian biasanya.

Fonia juga melepas mantel yang menutupi tubuhnya, memperlihatkan pakaian battle dress yang dikenakannya.

"──Manifestation."

Tanpa membuang waktu, Fonia menciptakan dua bilah pedang biru di kedua tangannya. Itu adalah Divine Weapon jenis dual sword.

Bersamaan dengan itu, sebuah perisai biru muncul di samping Fonia. Itu adalah perisai melayang yang dihiasi ukiran indah.

──Shield of Severance.

Otoritas perlindungan yang memantul kembali segala sesuatu yang berbahaya. Perisai biru itulah yang menjadi Unique Magic milik Fonia.

"…………Manifestation."

Mengikuti Fonia, Konoe juga menciptakan Divine Weapon miliknya. Tombak emas dan pelindung kaki pun tercipta──.

"……Fonia, kalau begitu──eh?"

"……Itu."

──Saat itu, Fonia yang sedari tadi bertindak tenang dan fokus pada tujuan, memalingkan pandangannya dari pintu ke tangan Konoe. Lebih tepatnya, ke tombak yang ia genggam.

"Emas."

"……"

Gumam Fonia. Mendengar itu, Konoe teringat pembicaraan kemarin. Kata-kata saat mereka hendak berpisah.

"Itu adalah sesuatu yang kamu dapatkan, bukan?"

"……A, ah, benar."

Ingatan lima belas tahun lalu. Sesuatu yang ia dapatkan, dan janji untuk memberitahukan hal itu padanya.

Melihat Fonia yang menatap lekat tombaknya, Konoe merasa──.

(……Meskipun dibilang begitu, aku bingung harus merespons apa.)

──Ia benar-benar merasa bingung.

──Hei, Konoe. Bisakah kau tunjukkan warna emas itu padaku?

──Konoe tidak paham. Lagipula, bagaimana caranya "mengajarkan" warna emas? Dan lagi, kenapa Fonia meminta hal seperti itu kepadanya?

Konoe tidak mengerti dan tidak bisa memahaminya.

Ia sempat berpikir apakah dulu ia pernah melakukan sesuatu kepada Fonia, namun dalam ingatannya, ia hanya memiliki ingatan tentang gadis itu di malam tersebut.

Mereka benar-benar tidak pernah memiliki hubungan apa pun.

Fonia adalah seorang jenius dan seorang putri raja.

Sementara Konoe hanyalah orang biasa yang datang dari dunia lain.

Posisi dan kekuatan mereka terlalu jauh berbeda, bahkan mereka tidak pernah berlatih tanding bersama.

Di luar jam latihan pun, orang yang pernah menyapanya hanyalah Melmina dan sang instruktur.

Tentu saja, Konoe pun tidak pernah terpikir untuk menyapa Fonia lebih dulu.

……Bahkan di malam itu, Fonia hanya menangis saat bilang bahwa mereka adalah kutub yang bertolak belakang──lalu memintanya untuk membuat janji.

Hanya itu. Konoe benar-benar tidak memiliki ingatan lain selain itu.

Semalam, ia sudah berusaha keras menggali ingatan masa lalunya di atas tempat tidur, namun tetap tidak muncul apa-apa.

Seharusnya memang tidak ada lagi.

──Karena itulah, Konoe tidak paham. Ia hanya bisa merasa bingung.

"……Ah, maaf. Harusnya aku tidak mengatakannya sekarang."

"……Tidak, tidak apa-apa."

Saat Konoe sedang bimbang, Fonia mengalihkan pandangannya dari Konoe.

Ia lalu menatap pintu sambil menggenggam erat pedangnya kembali.

Melihat itu, Konoe…… menggeleng pelan untuk menata kembali pikirannya.

Benar. Tempat yang akan mereka masuki adalah wilayah segel, dan di sana ada Raja Iblis abadi yang seribu tahun lalu mencemari dunia dan membunuh dua puluh persen umat manusia.

Sosok jahat dengan kekuatan untuk memusnahkan dunia. Ia tidak boleh lengah sedikit pun.

Meskipun ia mendengar bahwa kemampuan tempurnya rendah, hal itu tidak mengubah tingkat bahayanya.

──Ia membuang kebingungannya, dan pikirannya pun mendingin.

Tubuh yang telah ia latih dengan keras kini teroptimasi untuk pertempuran.

"──Kalau begitu, kita masuk ke dalam segel. Begitu pintunya terbuka, segera masuk ke dalam."

"……Ah, baiklah."

Fonia mendekati pintu tersebut.

Di bagian dadanya…… terdapat semacam magic tool.

Begitu magic tool itu bersinar sekejap, pintu terbuka perlahan, dan Konoe melangkah maju──.

──zxcvbnm,./llesjqwerchuio,mv

──Saat itu juga, suara seperti gesekan kaca menghantam gendang telinganya.

──Cairan kental berwarna ungu pekat menerjang Konoe seperti tsunami.


──Di sana terdapat niat jahat.

Di ruang yang telah terkontaminasi oleh miasma, cairan kental berwarna ungu pekat menyebar luas.

Dengan suara yang menjijikkan, cairan itu merayap dan mengikis dunia.

cdslktv,um oambv iolav,ryolm,

Monster berbentuk cairan—Slime. Raja Iblis yang lahir dari akhir evolusi tersebut.

Erosi dan kontaminasi. Bukan monster yang ada untuk bertarung, melainkan untuk melukai.

Sosok jahat yang lahir untuk memusnahkan manusia dan mewarisi kutukan Dewa Jahat.

kaosyfgwenaslidfuhnv

Suara yang membangkitkan rasa tidak nyaman bergema di dalam area segel. Cairan itu bergerak secara peristaltik, seolah sedang bernapas.

hwe,tv:iweoa.irc:ope,w!

Raja Iblis itu hanya meraung.

Ia berteriak dengan suara yang tidak bisa dimengerti manusia, lalu menerjang umat manusia yang masuk ke dalam wilayahnya.

Cairan ungu pekat menerjang Konoe dan Fonia layaknya gelombang pasang──.

"──"

──Menanggapi itu, Konoe melangkah maju. Pelindung kakinya menghentak tanah.

aoiut,wheiv,up:awo!!??

Petir menyambar tanah. Cahaya emas yang menyebar membakar sosok jahat tersebut.

Slime yang menerjang musnah.

Slime yang tertahan terbakar hingga terguling.

Lalu, Slime yang masih mengamati dari kejauhan...

"……"

……Brak! Tombak di tangan Konoe memancarkan petir. Tombak emas itu diayunkan──.

──Konoe berlari melintasi wilayah tersebut, menyebarkan petir sembari membakar cairan ungu pekat itu.

Tombak di tangan, pelindung kaki di kaki. Divine Weapon yang diberikan oleh dewa mengisi ruang tertutup itu dengan warna emas, membakar habis sosok jahat tersebut.

Dunia itu luasnya beberapa kilometer persegi. Ruang berbentuk balok dengan dasar persegi, tingginya sekitar seratus meter.

Tanah tertutup oleh slime, dan di dinding serta langit-langit pun mereka merayap.

Dari atas, cairan jatuh bagaikan hujan…… seolah mereka sedang berada di dalam tubuh Raja Iblis.

"…………"

Di tengah situasi itu, Konoe berlari di udara, mengayunkan tombak, dan melepaskan petir. Layaknya petir yang menyambar dari awan badai di malam hari.

Cahaya petir yang tak terhitung jumlahnya tercipta di sekitar Konoe dan menyambar ke bawah.

Sebuah serangan yang lebih mengutamakan daya sebar daripada daya hancur. Cahaya emas merambat di tanah, membakar slime yang sedang bergerak.

djkshcniwivmevm

Mungkin untuk membalas Konoe, Raja Iblis itu berkumpul menuju langit-langit. Slime yang massanya meningkat drastis berubah menjadi bentuk seperti peluru dan ditembakkan dari atas kepala Konoe.

"Konoe, biar aku yang urus bagian atas!"

"……Ah, baiklah."

──Cahaya biru memutus sosok jahat itu. Fonia, yang terbang di angkasa dengan kedua sayapnya, mengayunkan pedang gandanya. Saat ia membelah ruang hampa bagaikan membelai, tebasan itu membelah dunia menjadi dua.

Slime yang terbelah, karena tubuhnya yang berbentuk cairan, mencoba terhubung kembali dan beregenerasi…… namun, hal itu mustahil.

Kekuatan pedang ganda dewa yang memutus kejahatan. Kekuatan pemurniannya tidak membiarkan iblis tersebut beregenerasi.

Raja Iblis itu melenyap seolah meleleh. Mungkin sebagai serangan balik terakhir, tepat sebelum menghilang, ia menembakkan sebagian dari dirinya ke arah Fonia.

"……Hmm."

Pluk. Dengan mudah, serangan itu dihalangi oleh perisai Fonia. Shield of Severance yang melayang di udara kini telah bertambah jumlahnya menjadi lima.

Perisai pelindung yang memantul kembali segala fenomena. Tingkat kekerasannya, setidaknya bagi Konoe, tidak akan bisa ditembus.

Fonia terus memantulkan slime tersebut dengan perisai dan menebasnya dengan pedang ganda──.

"──Hmph."

Ia berputar layaknya sedang berdansa. Dari dirinya, tebasan yang tak terhitung jumlahnya dilepaskan ke langit-langit. Slime yang menutupi langit-langit pun terpotong-potong dalam sekejap.

Sembari memperhatikan sosok Fonia itu, Konoe menyiapkan tombaknya dan melesat menuju pusat kejahatan.

"──Wahai petir."

Ia menyalurkan kekuatan sihir ke tombak. Divine Weapon mencapai titik kritis oleh kekuatan sihir. Petir meluap dan berputar di sekitar Konoe.

uisycuey──

──Petir menyambar pusat wilayah segel. Suara menggelegar bergema.

Kejahatan yang merayap di tempat itu musnah, dan cahaya petir yang dilepaskan mewarnai ruang itu dengan warna emas──.

"────Entah kenapa, lemah sekali."

Beberapa menit kemudian, setelah membakar habis semua slime, Konoe bergumam.

Apa yang ia maksud? Tentu saja Raja Iblis yang baru saja dilawan.

Ia begitu lemah, bahkan tidak terbayangkan dari nama "Raja Iblis".

"Sudah kubilang, kan? Hampir tidak ada bahaya."

"……Ah, benar."

Cairan kental yang mudah terbakar jika sedikit disulut api, dan gerakan yang lamban. Volumenya memang agak merepotkan, tapi hanya sebatas itu.

Jika di Adventurer Guild, ini mungkin hanya dikategorikan sebagai bencana tingkat rendah. ……Konoe menyadari kembali bahwa masalah utamanya memanglah proses kebangkitannya.

"……Konoe, lihat itu."

Saat itu, Fonia menunjuk ke satu titik di depannya. Saat melihatnya, cairan berwarna ungu pekat perlahan merembes keluar dari lantai yang hancur akibat pertempuran tadi.

"…………"

……Padahal baru sekitar satu menit setelah ia menghancurkannya, sudah mau bangkit lagi?

Konoe menggaruk kepalanya sambil melihat ke sekeliling.

Sejujurnya, Konoe yang tidak memiliki Unique Magic tidak tahu cara untuk membasmi Raja Iblis ini secara tuntas.

Namun, memikirkannya adalah tugas Konoe kali ini.

Di sekitar Konoe terdapat tumpukan reruntuhan. Itu adalah hasil dari kehancuran dalam pertempuran tadi.

Saat pertama kali memasuki penghalang, wilayah ini tampak seperti kota meski tertutupi oleh slime, namun sekarang bahkan bayangannya pun tidak ada……

"……Hmm?"

……Lalu, ia merasa curiga. Seharusnya banyak Adept yang pernah bertarung di wilayah segel ini di masa lalu.

Tapi, kenapa sampai beberapa menit yang lalu tempat ini masih mempertahankan bentuk aslinya?

"……Ah, itu, mungkin bagian dari kemampuan Raja Iblis."

Saat ia bertanya, Fonia menjawab demikian.

"Benda-benda di wilayah ini akan beregenerasi dalam sehari meski dihancurkan. Itu sudah terjadi sejak seribu tahun lalu. Penghalangnya tidak memiliki fungsi seperti itu, mungkin ini adalah kemampuan Raja Iblis. Dia bisa menghidupkan kembali hal lain selain dirinya sendiri."

"……Selain dirinya sendiri?"

"Itulah sebabnya beberapa peneliti mengatakan bahwa ini bukan otoritas kebangkitan, melainkan otoritas pengembalian dalam area tertentu. Ya, sejak sang instruktur bilang sepertinya ini adalah kebangkitan, teori kebangkitanlah yang menjadi arus utama."

……Begitu ya. Konoe mengangguk paham dengan pemikiran khas murid, karena ia tahu firasat sang instruktur biasanya benar.

Konoe melihat reruntuhan itu lagi. Ia merasa ada yang janggal karena benda mati, bukan makhluk hidup, bisa hidup kembali──lalu, ia terpikir satu hal lagi.

Reruntuhan yang hidup kembali melalui kebangkitan. Mungkinkah reruntuhan ini bukan benda mati, melainkan bagian dari Raja Iblis, dan jika ia tidak menghancurkan ini juga, artinya ia belum membunuhnya sampai tuntas?

──Mungkinkah ada yang berubah jika ia menghancurkan semuanya sampai ke reruntuhan-reruntuhannya?

"Ada pendapat seperti itu juga. Itulah sebabnya Adept yang ahli dalam pemusnahan area luas pernah menghancurkannya berkali-kali hingga tidak tersisa satu debu pun. Terakhir kali Melmina yang melakukannya. Dia menghancurkan semuanya sampai memenuhi wilayah itu dengan lensa sihir."

"……Lalu?"

"Sehari kemudian kembali seperti semula."

……Begitu ya. Rupanya, hal yang terpikirkan oleh Konoe di tempat itu sudah dicoba semuanya.

Yah, itu mungkin wajar. Akan aneh jika selama seribu tahun tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.

Kalau begitu──apa ada hal lain? Konoe menghadapi reruntuhan itu sekali lagi.

Karena ia telah memutuskan untuk menjadi orang yang serius, ia tidak berniat bekerja setengah hati.

"……Kalau begitu, ini──"

"……Ah, itu."

Setelah itu, untuk beberapa lama, Konoe menanyakan hal-hal yang terlintas di pikirannya dan Fonia menjawabnya.

Waktu di mana Konoe dengan serius mengamati dan menghadapi reruntuhan, slime yang merayap, dan wilayah tersebut dengan caranya sendiri.

……Lalu, saat ia mengulang beberapa pertanyaan, itulah saatnya.

"……Kalau begitu, bagaimana dengan pola yang tertulis di reruntuhan ini?"

"Itu……"

Perkataan Fonia terhenti. Apa yang ditunjuk Konoe adalah pola yang terukir di salah satu bagian reruntuhan.

 Pola kecil berwarna hitam yang berserakan secara fragmentaris. Kenapa ia merasa penasaran?

Karena pola itu terasa sedikit ganjil dan seolah-olah tidak menyatu dengan lingkungan sekitarnya.

"……Itu. Belum ada yang tahu."

"……Hmm?"

"Pola itu mulai muncul secara tiba-tiba dua ratus tahun yang lalu."

──Dua ratus tahun yang lalu?

"Penyebabnya tidak diketahui. Perubahan terbesar yang terjadi di wilayah ini selama seribu tahun."

Fonia berkata. Pola ini bertambah seiring berjalannya waktu.

Awalnya hanya ada satu tempat, tapi perlahan bertambah dan sekarang terukir di sepuluh tempat.

"Setelah diteliti, sepertinya ada keteraturan. Karena itulah, ada yang bilang itu mungkin huruf iblis."

"……Huruf iblis."

Sesaat Konoe berpikir, apakah ada hal seperti itu?

Namun ia segera meralat pikirannya, tentu saja ada.

Itu wajar. Monster tidaklah bodoh.

Lagipula, ia pernah belajar sebelumnya bahwa di antara Daemon, ada individu yang menggunakan huruf.

Tidak aneh sama sekali jika Raja Iblis yang seharusnya lebih pintar daripada Daemon menggunakan huruf.

"Belum bisa diuraikan. Sepertinya sangat sulit."

"……Begitu ya."

Konoe menatap lekat pola—huruf tersebut. Huruf iblis pertama yang pernah ia lihat.

Karena reruntuhan tempatnya tertulis sudah hancur, ia tidak bisa melihatnya dengan jelas──.

"………………?"

──Di sana, ia merasa ada yang aneh dengan huruf itu.


"……? …………Hmm?"

Ada sensasi seperti sesuatu yang menabrak di dalam kepalanya. Ia tidak mengerti, tapi ia merasa ada yang aneh.

"……Ini apa?"

Konoe menatap tajam pola tersebut, bertanya-tanya apa sebenarnya itu. ……Namun, karena reruntuhan yang tertulis sudah hancur, ia tidak bisa melihat keseluruhan bentuknya. Maka, ia melihat sekeliling untuk mencari yang belum hancur.

"……Pola selain ini, apakah ada di bawah reruntuhan?"

"Apa kamu begitu penasaran dengan ini? Tapi kurasa untuk hari ini sudah tidak mungkin. Besok semuanya akan hidup kembali, jadi lebih baik menyelidikinya setelah itu."

Fonia berkata bahwa masih ada dua kali penyelidikan lagi.

Penyelidikan kali ini dijadwalkan dilakukan sebanyak tiga kali selama tiga hari.

Hari pertama, hanya membasmi.

Hari kedua dan ketiga, melakukan penyelidikan berdasarkan hasil tersebut.

Sepertinya begitu karena mereka ingin ia menyelidiki sambil memastikan proses kebangkitannya.

……Lagipula, alasan mengapa informasi internal tidak diberikan sebelumnya adalah agar ia melihatnya tanpa prasangka pada kunjungan pertama. Karena melihat dengan pengetahuan bisa dilakukan nanti.

"……Besok, aku akan membawakan peta lokasi tempat pola itu berada. Kalau ada yang kamu sadari, katakan saja."

"……Ah, baiklah."

"Tolong ya. Aku butuh petunjuk apa pun yang ada. ……Sayangnya, kami hampir tidak bisa menguraikan Raja Iblis ini. Baik kekuatan kebangkitannya, sifatnya sebagai monster──maupun tindakan pencegahan terhadap kutukan."

Fonia menunduk. Lalu, ia bergumam, setidaknya jika mereka bisa menguraikan tindakan pencegahan kutukan saja.

"……Tindakan pencegahan kutukan, ya."

Tindakan pencegahan kutukan. Jika ditanya apa itu, itu adalah tindakan pencegahan terhadap Unique Magic berbasis kutukan.

Tindakan pencegahan terhadap bilah kebencian yang masih ingin ditancapkan oleh orang-orang yang tak berdaya kepada kejahatan.

──Di antara Unique Magic, ada jenis yang disebut kutukan.

Di antara Unique Magic yang berubah secara beragam tergantung pada keinginan atau sifat penggunanya, ini adalah Unique Magic yang paling istimewa.

Cara hidup jiwa yang hanya diciptakan oleh kebencian. Ke mana arah kemarahan yang membakar diri sendiri itu tertuju.

……Di dunia ini, kehendak memiliki kekuatan.

Cinta, doa, hasrat──perasaan yang kuat, jiwa yang besar, mengguncang dan mengubah dunia. Begitulah adanya.

Karena itu wajar, kebencian pun memiliki kekuatan.

Orang tua yang anaknya dibunuh.

Anak yang orang tuanya dibunuh. Istri yang suaminya dibunuh.

Suami yang istrinya dibunuh.

Keputusasaan karena cinta dan harapannya diinjak-injak mendistorsi jiwa dan mengukir luka.

Banyak dari mereka yang menjadi gila karena kebencian, bahkan jika itu membakar diri mereka sendiri, mereka ingin memusnahkan musuh bebuyutannya.

Mereka mencoba membalas dendam meskipun harus menukar dengan nyawanya sendiri.

Seperti naga yang pernah mencoba memusnahkan Konoe.

……Namun, terkadang, musuh bebuyutan itu adalah keberadaan yang tidak bisa dijangkau bahkan dengan Unique Magic.

Ada musuh yang tidak bisa dibunuh meskipun ia mencoba menghabisinya dengan membakar diri dan menukar nyawa.

Tidak peduli seberapa kuat Unique Magic yang dibangkitkan oleh orang biasa, biasanya tidak akan bisa menjangkau bencana.

──Meskipun menggunakan nyawa, ia tidak bisa memberikan rasa sakit apa pun kepada musuh bebuyutannya.

Saat ia memahami keputusasaan itu, kebencian yang tidak tersalurkan berubah dari niat membunuh menjadi kutukan. Begitulah cara kutukan diciptakan.

Hanya tidak bisa memaafkan. Bentuk keinginan seperti itulah.

Tidak bisa memaafkan musuh bebuyutannya. T

idak bisa memaafkan mereka berjalan di suatu tempat.

Tidak bisa memaafkan mereka tertawa, tidak bisa memaafkan mereka hidup di dunia ini──tidak bisa memaafkan keberadaan mereka.

──Tolong, terkutuklah.

Hanya kekuatan untuk merendahkan lawan.

Kekuatan untuk melukai lawan.

Kekuatan untuk menjegal kaki lawan.

Bukan membunuh dengan tangan sendiri, bukan menguatkan diri sendiri, melainkan otoritas untuk sekadar mengutuk dan menyangkal keberadaannya.

Kekuatan itu bekerja langsung pada tubuh musuh bebuyutannya.

Misalnya, kekuatan untuk merampas sebagian kekuatan sihir target, kekuatan untuk membuat mata tidak bisa melihat.

Kekuatan untuk membuat satu lengan membusuk──kekuatan untuk membuat Unique Magic tidak bisa digunakan.

Kekuatan yang mengorbankan segalanya dari diri sendiri, dikompresi hingga batas ekstrem, dan dengan kondisi yang terbatas adalah sangat besar, dan bahkan jika lawannya jauh di atas levelnya, hampir tidak mungkin kekuatan itu tidak berfungsi sama sekali.

Bahkan jika ada perbedaan kekuatan antara orang biasa dan bencana, itu adalah kekuatan yang bisa menahannya selama beberapa menit.

Karena merupakan kekuatan yang bekerja langsung pada lawan, itu tidak permanen dan akan dilepaskan seiring berjalannya waktu, namun tetap bisa menahannya untuk sementara waktu.

Faktanya, ada banyak cerita yang beredar bahwa bencana yang telah menginjak-injak banyak kota diikat oleh kutukan, dan disaat itulah mereka dikalahkan.

Oleh karena itu, ini juga merupakan salah satu metode bagi manusia untuk melawan monster yang sangat kuat──.

──Padahal begitu.

"……Seribu tahun lalu, kutukan sama sekali tidak mempan pada Raja Iblis ini, begitu?"

"Ya. Karena orang yang benar-benar bertarung mengatakannya, jadi itu tidak salah."

Padahal Raja Iblis yang seolah-olah telah membunuh dua puluh persen dunia. Padahal seharusnya ia dibenci oleh orang yang tak terhitung jumlahnya.

Meskipun diserang oleh ratusan, ribuan kutukan, gerakan Raja Iblis abadi itu tidak melambat, dan Unique Magic tidak disegel sedikit pun.

──Raja Iblis ini entah bagaimana caranya memantulkan kutukan. Itulah sebabnya meski seribu tahun berlalu, ia belum bisa dikalahkan.

"Untuk menguraikannya, kami melakukan banyak penyelidikan. Memanggil Adept pendatang baru adalah salah satu bagiannya. Aku senang kalau kamu juga mau berusaha."

"……Ah, aku mengerti."

Singkat cerita, diputuskan bahwa besok mereka akan menyelidiki pola tersebut……

──Setelah itu, keduanya keluar dari penghalang.

Penyelidikan hari itu selesai, mereka mengenakan jubah, keluar dari reruntuhan, dan kembali ke kota.

Mereka telah kembali dari zona berbahaya ke kota tempat manusia tinggal.

"…………Haa."

Konoe menghela napas kecil, menurunkan sedikit tingkat kewaspadaannya yang tadi ia naikkan ke level maksimal.

Bagaimanapun juga, pekerjaan hari ini sudah selesai sepenuhnya. Konoe baru saja kembali dari wilayah Raja Iblis. Jadi, ia bermaksud menyapa Fonia lalu kembali ke tempat Telnerica dan Melmina berada──.

"──Tunggu. Konoe. Ajari aku."

……Saat itu, Konoe tertangkap. Fonia yang berekspresi datar menatap Konoe dengan mata yang berkilau bak permata.

"………………"

Ajari aku, ucap Fonia. Jika ditanya apa yang dimaksud, itu pasti tentang "warna emas" seperti yang mereka bicarakan sebelum memasuki wilayah segel. Konoe bisa memahami kata-kata gadis itu.

Namun, ia sama sekali tidak mengerti dasarnya. Bagaimana caranya "mengajari" seseorang tentang warna emas? Mengapa Fonia meminta hal seperti itu padanya? Konoe tidak bisa memahaminya.

"……Itu, bukankah ada orang lain yang lebih cocok untuk mengajarimu daripada aku……?"

Karena itulah, Konoe berusaha menghindar dengan menyarankan hal tersebut kepada Fonia. Mendengar itu, ia menjawab.

"Tidak, aku ingin kamu."

"……Eh?"

"Kalau bukan kamu, aku tidak mau."

"────"

Mendengar kata-kata itu, Konoe kehilangan kata-kata.

Sebab, kalimat itu pasti adalah sesuatu yang dulu paling Konoe harapkan……

"Ajari aku. Janji."

Selain itu, Konoe juga bingung dengan kata "janji". Sebagai orang yang berusaha untuk selalu bersikap jujur, Konoe merasa harus menepati janji jika sudah terucap.

Meskipun ia merasa permintaan itu sedikit…… tidak, cukup sepihak, namun fakta bahwa ia tidak menolaknya adalah benar.

Konoe bukanlah tipe orang yang bisa berpura-pura tidak tahu soal itu.

"……Itu."

"Apa?"

……Lagipula, Fonia juga benar-benar berusaha menepati janji itu.

Instruktur juga bilang bahwa Tsurisho (surat lamaran) yang diberikan itu sangat serius. Sesuatu tentang putri kuil yang kedudukannya luar biasa tepat di bawah keluarga kerajaan.

"……Apakah sulit menyiapkan Tsurisho itu?"

"Ya, sangat sulit."

Jadi, saat ia bertanya dengan perasaan takut, ia langsung menjawabnya. Terlepas dari keinginannya atau tidak, Konoe menyadari apa yang telah ia terima. ……Karena itulah Konoe bertanya.

"……Apa yang harus aku lakukan……?"

Sambil merasa sangat bingung, ia bertanya pada Fonia──.

"………………"

──Dan, beberapa menit kemudian. Konoe dan Fonia sedang duduk di bangku taman kota.

……Dengan jarak yang sedikit renggang.


Keduanya duduk bersisian di bangku tersebut. T

empat itu berada di dataran yang sedikit lebih tinggi di dalam kota, dengan angin sepoi-sepoi yang berembus──tempat yang sedikit mengingatkan Konoe pada menara observasi di Silmeria.

Mereka berdua duduk diam di bangku panjang tanpa sandaran itu.

Jika ditanya mengapa hal ini terjadi, jawabannya adalah karena saat Konoe bertanya, "Apa yang harus aku lakukan?", Fonia menjawab, "Bagaimana caramu menjadi 'warna emas'? Aku ingin kamu mengajariku hal itu juga."

Ia mengatakannya dengan nada datar bahwa Konoe cukup memperagakan ulang momen saat itu.

Mendengar itu, Konoe menoleh kembali pada momen saat ia menjadi warna emas, mengingat memori di tengah pertempuran melawan naga, serta waktu yang ia habiskan di kota Silmeria──.

"………………"

"………………"

──Dan akhirnya, beginilah jadinya. Waktu yang hanya dihabiskan berdua saja, persis seperti di atas menara observasi Silmeria.

Taman di Archinorca. Sama seperti kastilnya, tempat itu beralaskan batu yang dipahat langsung dari batuan dasar, dengan pot tanaman besar yang ditumbuhi rerumputan dan pepohonan.

Tidak ada orang lain di taman, hanya mereka berdua.

Mungkin karena jauh dari pusat kota, suara hiruk-pikuk pun tak terdengar; hanya ada suara angin dan gesekan dedaunan.

……Konoe berpikir, apakah begini caranya mengajar? Ia merasa ini sedikit tidak wajar, tapi inilah warna emas bagi Konoe.

Jika ditanya bagaimana ia bisa menjadi warna emas, tidak ada cara lain selain ini.

Kehangatan yang ada di dalam hati Konoe. Tempat di mana harapan itu berada. Sesuatu yang akhirnya ditemukan Konoe setelah dua puluh lima tahun berlalu.

Di tengah pertarungan melawan naga, Konoe melihat sosok Telnerica di balik petir putih. Konoe menyukai waktu yang ia habiskan bersama Telnerica di atas menara observasi.

Cukup dengan duduk bersisian saja sudah membuatnya senang. Karena itulah, Konoe mencintai kehangatan tersebut.

……Dilihat dari sudut pandang "mengajar", ini jelas salah, namun untuk poin yang satu ini, ia tidak ingin berbohong.

Oleh karena itu, tanpa kata-kata, Konoe tetap berada di sisi Fonia.

Hanya waktu itu saja yang berlalu. Fonia pun tidak mengeluh, ia tetap duduk di sampingnya──.

"……?"

──Lalu, saat jarum panjang jam bergerak sekitar seperempat putaran.

Tiba-tiba, Konoe menyadari sesuatu. Ada keberadaan yang perlahan mendekat dari arah punggungnya.

……Tsun, sesuatu yang keras menyentuh punggung Konoe.

Setelah bersentuhan, benda itu segera menjauh. Tanpa menoleh pun, ia sudah paham benda apa itu.

──Sayap Fonia. Ujung sayap itu menyentuh punggung Konoe sejenak. Menyentuh sedikit seolah sedang mencolek, lalu segera menjauh.

"…………?"

Ia menatap Fonia karena penasaran. Namun, gadis itu tetap menatap ke depan.

Konoe berpikir mungkin itu hanya sentuhan yang tidak disengaja, jadi ia kembali menatap ke depan.

"………………??"

……Namun, tak lama kemudian, sayap Fonia perlahan mendekat lagi.

Ia mendekat perlahan…… tsun, menyentuh punggungnya lagi. Kali ini ia melakukannya dua kali berturut-turut. Total ia menyentuh dua kali.

……Sudah jelas ini bukan ketidaksengajaan, jadi ia melirik Fonia. Ternyata kali ini gadis itu juga sedang menatap Konoe.

Mata mereka bertemu. Mereka saling menatap selama beberapa detik…… lalu ia memiringkan kepalanya sedikit.

"……Tidak boleh?"

"……Bukan, bukan berarti tidak boleh, sih."

"Begitu, syukurlah."

Jika ditanya boleh atau tidak, jawabannya tidak dilarang. Ia pun tidak merasa perlu menolaknya.

Percakapan pun berakhir di sana.

……Tak lama kemudian, sayap Fonia mendekat lagi ke punggung Konoe, dan kali ini ia mencolek berkali-kali.

Konoe merasa heran, sementara sayap Fonia terus mencolek atau menempel selama beberapa detik.

Setelah menyentuh, kali ini ia mengusap punggung Konoe seolah sedang menulis sesuatu, lalu mencolek lagi.

……Waktu yang terasa sedikit menggelitik. Sayap Fonia menyentuh punggung Konoe. Ia menelusuri bahu, tulang punggung, hingga pinggangnya.

Dari atas ke bawah, seolah sedang menggambar lingkaran. Perlahan-lahan ia memperluas jangkauannya.

"…………??"

──Terakhir, selaput sayap Fonia menempel erat pada punggung Konoe.

Suhu yang sedikit lebih rendah dari suhu tubuh manusia merambat masuk.

Sisik yang keras dan halus seperti batu bersentuhan dengan selaput yang lembut, menciptakan sensasi yang entah mengapa terasa ajaib.

"……Begitu, ini ya."

Lalu, Fonia bergumam lirih.

"……Hangat."

──Haa, seolah sedang mengembuskan napas, ia berkata demikian.

Konoe berpikir bahwa sayap naga memang memiliki suhu tubuh yang rendah, sementara waktu tenang berlalu begitu saja──.

──Beberapa saat kemudian, terdengar suara anak-anak dari pintu masuk taman, dan waktu itu pun berakhir.

Tanpa perlu memberi isyarat, mereka berdua berdiri bersamaan.

Mereka berpapasan dengan pasangan orang tua dan anak yang baru masuk──sang anak melambaikan tangan dengan penuh semangat sambil menyebut mereka sebagai "Putri" dan "Adept", lalu Konoe membalas lambaian tangan itu dengan sedikit malu sebelum melangkah ke jalanan bersama Fonia.

Lalu, Konoe berniat untuk segera kembali──.

"Konoe, selanjutnya apa?"

"……Eh? Selanjutnya?"

……Ia tidak menyangka akan diminta kelanjutannya.

Konoe bertanya pada Fonia, mengapa gadis itu memintanya padahal banyak hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Kemudian.

"Kamu suka hal itu, kan?"

"……Eh, ah, ya."

"Kalau begitu, aku juga suka. Aku jadi menyukainya. Tadi terasa hangat."

Jawaban seperti itu yang ia terima. ……Konoe hanya bisa merasa bingung.

"……Selanjutnya?"

"…………Kalau begitu, ayo ke…… kota."

Setelah berpikir sejenak, mereka memutuskan untuk pergi ke kota. Konoe teringat kenangan saat berjalan-jalan di kota sebelumnya.

Jadi, mereka berdua berjalan menuju kota dan masuk ke deretan toko yang mereka lihat. Ada toko-toko berjejer dengan kios-kios di antaranya.

Meski lebih kecil dari pasar di Kota Dewa, tempat itu dipenuhi banyak barang dan banyak orang yang berlalu-lalang.

Suasana yang hidup. Orang-orang mengobrol dengan ceria sambil berbelanja.

Banyak kios makanan, dan udara dipenuhi aroma manis dan gurih. Mencium aroma itu, Konoe teringat bahwa ia belum makan siang.

"……Ah, benar juga. ……Konoe, yang itu enak."

……Tiba-tiba, Fonia bergumam sambil menunjuk ke arah toko makanan manis.

Di sana terdapat camilan berbentuk seperti crepe yang diisi krim di dalamnya. Karena mumpung ada, mereka memesan dan memakannya; rasanya berbeda dengan makanan yang biasa ia makan di Kerajaan Dewa.

"Aku suka yang ini. Benar, aku jadi ingin kamu mencobanya juga."

"……? Ah."

"Apa kamu suka ini?"

"……Rasanya asing bagiku, tapi aku suka."

Saat Konoe bergumam apakah bahan dasarnya berbeda dengan di Kerajaan Dewa, Fonia menjelaskan bahwa ini terbuat dari biji-bijian tertentu, sudah lama ditanam di sekitar sini, bulan berapa dipanen, dan berapa harganya per kilogram jika diekspor ke luar.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa susu yang digunakan untuk krimnya bukan dari sapi, melainkan dari kambing yang hidup di pegunungan tinggi, dan pakan kambing tersebut diatur sedemikian rupa untuk menghilangkan bau amis.

Fonia menjelaskan hal itu dengan nada datar sambil mengunyah crepe-nya, sementara Konoe mendengarkannya dengan perasaan tulus bahwa ia jadi belajar sesuatu yang baru.

Sambil makan, mereka berjalan dan duduk di bangku terdekat. Lagi-lagi waktu berlalu dengan mereka duduk bersisian, kali ini hanya berbagi makanan.

"…………?"

Di tengah-tengah itu, sayap Fonia mulai mencolek punggung Konoe lagi.

Konoe merasa heran, tapi ia membiarkannya saja──.

◆◇◆

Seorang gadis naga yang kebetulan lewat melihat mereka berdua dengan pipi yang memerah padam.


5

──Dan di saat yang sama, di salah satu ruangan kastil Archinorca yang jauh dari kota.

"……Melmina, kenapa dokumen ini jadi bertambah banyak……?"

"……Fufu, aku juga sedang menyesalinya sekarang."

Dua orang gadis sedang menggerakkan pena sembari tenggelam dalam tumpukan dokumen.

Suara pena yang beradu dengan kertas menggema di dalam ruangan.

Suara kertas yang dibalik dan pena yang dicelupkan ke tinta juga terdengar.

Setelah melepas kepergian Konoe, mereka terus menghadap dokumen sejak pagi. Selain jeda makan siang, mereka terus menggerakkan pena.

"Jujur saja, ini berlebihan. ……Ternyata memang repot sekali jika melibatkan antarnegara."

"Tentu saja."

Menanggapi Melmina yang berkata dengan senyum kaku, Telnerica mengangguk dalam.

Perbedaan format, perbedaan hukum, dan perbedaan jumlah bawahan yang membantu.

Hasil dari mencoba menangani terlalu banyak hal di tengah perbedaan itu adalah tumpukan dokumen ini. Terlebih lagi……

"……Persiapan penambangan Miasma Stone sudah dimulai, jadi kita harus buru-buru."

"Kepala Mining Guild sangat bersemangat, ya……"

Sejujurnya, rute penambangan Miasma Stone yang paling penting dalam ekspedisi ini sudah ditemukan oleh Melmina dengan Clairvoyance miliknya.

Sangat mudah. Saking mudahnya, kepala Mining Guild sampai memasang ekspresi antara senang dan tatapan kosong karena memikirkan betapa sulitnya perjuangan mereka selama ini.

Jadi, persiapan penetapan rute di lapangan sedang berlangsung, dan agar penambangan serta penjualan bisa berjalan lancar, dokumen-dokumen harus segera disiapkan secepat mungkin.

"Tidak mungkin aku bilang kita berhenti sekarang, jadi mau tidak mau harus kita lakukan."

"……Itu benar."

"Ini demi serikat dagang, dan demi keuntungan luar biasa yang dihasilkan oleh Miasma Stone. Aku akan memberimu upah yang besar atas bantuanmu."

Melmina berkata begitu kepada Telnerica sembari menuang gula ke dalam tehnya berkali-kali menggunakan sendok.

Itu untuk memberikan pasokan gula ke otaknya.

Sumber energi bagi Melmina yang sebenarnya sangat menyukai makanan manis.

"………………Keuntungan luar biasa?"

Saat itu, Telnerica bergumam dengan nada curiga. Ia menatap Melmina dengan tatapan penuh tanya.

Melmina sedikit terkejut, "Oh?". Apakah gadis ini menyadarinya?

"Melmina, transaksi ini hampir tidak memberikan keuntungan, bukan?"

"……Menurutmu begitu?"

"Ya, meskipun jumlah uang yang bergerak besar…… pembayaran ke Mining Guild dan instansi terkait sangat banyak, dan jika memikirkan biaya pengeluaran serta pajak lainnya, bukankah keuntungannya tidak seberapa?"

"……"

"Bahkan, keuntungan yang diterima pihak Archinorca jauh lebih besar. Transaksinya sendiri sangat masuk akal, dan lagi, jika transaksi ini berakhir, Melmina akan menjadi pihak yang terkait dengan penambangan Miasma Stone di sini. Itu memberi alasan untuk memanggil Melmina jika terjadi masalah serupa seperti keruntuhan kemarin."

Telnerica berkata bahwa keuntungan dari transaksi ini terlalu murah sebagai "asuransi" untuk memanggil pemilik Clairvoyance saat dibutuhkan. ……Mendengar itu, Melmina berpikir:

(……Gadis ini, cukup hebat juga.)

Ia merasa demikian. Jika melihat kemampuan kerjanya sejauh ini, ia sangat cakap──lagipula, dokumen yang ia berikan kepada Telnerica hanyalah yang tingkat kepentingannya rendah dan tidak tertulis detail apa pun.

Jika gadis itu bisa menyimpulkan keseluruhan transaksi dan mencapai kesimpulan tersebut hanya dari dokumen itu, ia memang hebat.

……Andai keluarganya tidak hancur, ia pasti akan menjadi penguasa wilayah atau asisten yang hebat, pikirnya.

Jika saja Telnerica tidak berada di sisi Konoe──jika mereka bukan orang asing, ia mungkin akan merekomendasikannya untuk mengelola asetnya.

Yah, selama itu Konoe, ia tidak akan pernah merekomendasikannya. Karena ia tidak suka Telnerica mengelola aset Konoe. Rasanya seperti istri.

"Melmina?"

"……Ah, maaf. Aku sedang melamun. ……Yang ingin kau tanyakan adalah soal keuntungan yang tidak ada itu, kan? ──Memang benar. Terlepas dari hak konsesinya, hampir tidak ada keuntungan. Meskipun begitu, alasan aku menandatangani kontrak ini adalah……"

Jika bicara soal premisnya, tindakan yang ia ambil untuk mendapatkan Miasma Stone kali ini adalah demi kakaknya. Demi membuat Elixir.

Dan, meskipun kondisinya sudah siap, alasan ia memilih Archinorca dari beberapa calon lokasi──bahkan alasan ia menyelidiki situasi Miasma Stone di Archinorca adalah karena ia merasa harus bertindak setelah melihat Konoe menerima negosiasi perpindahan yang keterlaluan.

……Benar. Konoe tidak boleh tahu ini, tapi saat itu Melmina sangat tidak puas.

Ia tidak suka ada yang mendekatinya, dan lagi mereka seenaknya bicara tentang harem atau istri.

Mereka tidak tahu betapa susahnya Melmina karena tidak bisa mengatakan hal itu.

……Meskipun ia tahu itu adalah buah dari perbuatannya sendiri.

Karena itulah, ia mencari alasan untuk pergi bersama ke Archinorca agar bisa berada di dekatnya jika terjadi sesuatu, dan hasil pencariannya justru menemukan hambatan pada sirkulasi Miasma Stone.

"Telnerica, aku ini──"

──Namun, terlepas dari rasa ganjal itu.

Kontrak yang menguntungkan Archinorca itu berkaitan dengan apa yang dilihat Melmina sepuluh tahun lalu.

Di dalam wilayah segel yang mengerikan itu, Melmina……

"……Aku tahu segalanya."

"……?"

"Apa yang dilakukan Archinorca. Aku tahu kebenarannya secara utuh."

Benar, sepuluh tahun lalu Melmina tahu segalanya.

Ia memahami hal yang bahkan tidak bisa ia katakan kepada Telnerica…… tidak, bahkan kepada sesama Adept, Konoe.

"──Karena itu, ini adalah penebusan dosaku."

"……Penebusan dosa?"

"Ya, aku tidak bisa mengatakan alasannya, tapi aku merasa harus melakukan ini."

Telnerica menatap lekat Melmina yang tertawa seolah mengejek dirinya sendiri. Lalu.

"……Begitu, ya. Aku mengerti."

Entah karena mengerti atau menyerah, Telnerica menghela napas panjang dan kembali menghadap dokumennya.

Suara kari-kari pena kembali menggema, Melmina pun menuangkan teh manis ke lambungnya sembari menghadap dokumen──.

(──Lagipula, gadis ini bekerja lebih serius dari yang kukira.)

Tiba-tiba, sembari menggerakkan pena, Melmina berpikir. Selama ia membayar upah tinggi, ia tidak akan memaafkan kerja yang asal-asalan, tapi ia tidak akan menyalahkan Telnerica jika gadis itu beristirahat sedikit lebih lama.

Melmina dan Telnerica sudah saling mengenal, tapi bukan berarti mereka tidak punya pikiran masing-masing. Malahan ada banyak. Itulah mengapa Melmina merasa heran Telnerica mau membantunya dengan begitu serius.

"……Ini Yonin Shokai."

Saat ia bertanya, jawaban itulah yang muncul. ……Yonin Shokai?

"Bukankah itu serikat dagang di bawah naungan Melmina?"

"……Benar."

Berkat penggunaan kekuatan Adept, serikat dagang Melmina berkembang pesat dalam sepuluh tahun dan kini menjadi salah satu dari sepuluh besar di negara ini.

Sekarang ia menaungi banyak serikat dagang, dan Yonin Shokai adalah salah satunya.

"Saat miasma belum mereda, mereka datang untuk berdagang ke kota Silmeria. Terlebih lagi, semua barang dijual dengan harga yang luar biasa murah…… aku rasa camilan untuk anak-anak bahkan dijual di bawah harga modal."

"……"

"Bantuan setelah bencana labirin adalah ciri khas dari serikat dagang yang kamu buat."

Telnerica berkata bahwa ia terkejut melihat harga barang-barang tersebut. Biasanya, di situasi seperti itu, orang-orang akan mencekik harga. "Berkat Anda, semua orang bisa tersenyum," katanya.

"Karena itulah, aku akan membantu dengan benar sampai Konoe-sama kembali."

"……Begitu, terima kasih."

"Tidak, aku yang berterima kasih."

……Dan dengan kalimat itu, percakapan berakhir. Setelah itu, suara pena tetap menggema di ruangan tersebut.


6

──Dan kemudian, waktu senja. Konoe kembali ke kastil Archinorca. Sepulangnya dari melihat-lihat kota bersama Fonia... maksudnya kembali ke kastil.

Selama waktu itu, ia terus dipandu ke tempat-tempat yang disebut sebagai tempat terkenal. Ia juga berkeliling mencicipi makanan yang menarik perhatiannya.

Ini enak. Cobalah. Gigit langsung dari kepalanya.

……Kelihatannya enak──eh? Gigit langsung dari kepalanya?

Ya. Gigit langsung dari kepalanya.

──Sungguh, ia makan banyak sekali. Ia bahkan disodori ikan berukuran hampir empat puluh sentimeter di kedai ikan goreng.

Meskipun ia berpikir harus mengikuti adat setempat, ia menghabiskannya dengan memperkuat mulutnya menggunakan sihir…… setelah selesai makan, baru diberitahu bahwa menggigit langsung adalah hal yang lazim bagi ras naga saja.

……Konoe, ada patung leluhur ras naga di dekat sini.

……Ah, benar.

Tapi yah, meski ada hal-hal seperti itu, pada dasarnya itu adalah waktu yang sangat damai.

Mereka berdua berkeliling tempat wisata dan monumen peringatan seratus tahun lalu sambil mendengarkan penjelasan Fonia tentang sejarah dan tempat-tempat terkenal.

……Meski begitu, aku merasa geli jika pinggangku dicolek.

……Maaf.

……Sambil sesekali dicolek sayapnya oleh Fonia, mereka berdua berkeliling kota Archinorca dengan santai.

"──Kalau begitu, sampai jumpa besok."

"……Ya."

Lalu, saat kembali ke kastil, mereka berpisah begitu saja.

"Soal penyelidikan dan warna emas, keduanya."

"…………Ah."

Fonia membentangkan sayapnya dan melayang di udara. Ia terbang menuju bagian atas kastil.

──Di tengah jalan, ia tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh ke belakang.

"──Konoe."

"……Ya?"

"Terima kasih untuk hari ini."

"……Eh?"

Fonia mengatakan itu saja, lalu segera terbang pergi.

"……"

Konoe menatap punggung Fonia yang menjauh, lalu berkedip beberapa kali.

Ia melakukan itu karena Fonia yang biasanya berekspresi datar tampak tersenyum tipis.

"──Selamat kembali, Konoe-sama!"

"Selamat datang kembali, Konoe."

Begitulah, Konoe kembali ke tempat Telnerica dan Melmina.

Merasa sedikit lega melihat wajah keduanya, Konoe mengucapkan terima kasih pada Melmina lalu keluar dari kastil bersama Telnerica.

Sambil berjalan santai menuju penginapan, ia mendengarkan cerita Telnerica yang bergumam, "Dokumennya... ada banyak sekali... sungguh, sungguh, banyak sekali."

"……Lalu, Konoe-sama……? …………Eh?"

"……?"

……Tepat saat itu, Telnerica yang berjalan di sampingnya berhenti.

Saat Konoe menoleh karena penasaran, Telnerica sedang menatap Konoe lekat-lekat.

"……Telnerica?"

"……Muu."

Mengabaikan Konoe yang bertanya, Telnerica mengerang pelan.

Lalu, ia mulai memperhatikan tangan Konoe, lengannya, kakinya secara berurutan. Ia berjalan memutari Konoe seolah mengelilinginya.

"……Begitu, ya."

Ia menunduk dan bergumam pelan. Ekspresinya tidak terlihat oleh Konoe.

……Lalu, ada keheningan selama beberapa detik.

"──Konoe-sama."

"……?"

"Tiba-tiba saja, aku merasa ingin pulang dengan memutar jalan sedikit."

……Memutar jalan? Konoe memiringkan kepalanya.

 Apakah ada toko yang ingin ia datangi?

"Tidak, tidak, bukan berarti ada tempat yang ingin aku datangi."

Namun saat ia bertanya, jawaban itulah yang ia terima.

Konoe semakin memiringkan kepalanya, lalu Telnerica mengulurkan tangannya──ia menggenggam telapak tangan Konoe yang sedang berkedip kebingungan.

"……!? Te, Telnerica?"

"Kalau begitu, ayo jalan!"

Telnerica tersenyum ceria pada Konoe yang terkejut, fufufu. Ia tersenyum dan mulai berjalan. Konoe ditarik dalam kebingungan, sementara

Telnerica menggenggam telapak tangan Konoe sedikit lebih erat dan berjalan menyimpang dari jalan menuju penginapan.

Begitu mereka keluar dari jalan utama, lampu kota menghilang, dan hanya cahaya bintang yang menyelimuti sekitar.

──Jalan malam tanpa tujuan dan tanpa arah.

Di udara pegunungan yang dingin dan jernih, mereka berdua bergandengan tangan, berjalan-jalan di malam hari Archinorca.

──Dan keesokan harinya. Setelah mengantar Telnerica, Konoe bertemu dengan Fonia.

"Kalau begitu Konoe, mari berbagi informasi terlebih dahulu."

"……Ah."

Sesuai pembicaraan sebelumnya, mereka berdua masuk ke kastil sekali lagi.

Tujuannya untuk berbagi informasi mengenai tulisan di wilayah yang dibicarakan kemarin──lokasi dan urutan penulisannya. Agar mereka tidak kebingungan di tempat kejadian.

"Karena ini rahasia, di ruang tamu saja."

"……Mengerti."

Mereka masuk ke kastil dan menaiki tangga.

Tempat yang mereka tuju adalah tempat yang sama saat pertama kali mereka datang ke Archinorca. Tempat di mana penghalang terpasang di mana-mana.

Saat mereka masuk ke ruangan, Fonia meminta Konoe menunggu sebentar dan menuju pintu di dalam ruang tamu.

Saat ia menunggu di kursi, Fonia kembali dalam hitungan menit.

……Dengan tumpukan dokumen yang ditaruh di atas Shield of Severance.

Sihir Fonia benar-benar praktis untuk hal seperti ini.

"Maaf menunggu. Pertama, ini petanya. Saat pemusnahan pertama nanti, pastikan untuk berhati-hati agar tidak menghancurkan titik-titik di peta ini."

"……Ah."

"Lalu, ini salinan tulisannya. Meski bisa dilihat langsung di sana, ini untuk jaga-jaga."

Fonia memberikan dokumen-dokumen itu kepada Konoe satu per satu.

Konoe pertama-tama mencocokkan peta dengan ingatannya kemarin, mengulangi di dalam pikirannya titik-titik mana yang tidak boleh dihancurkan.

Lalu, ia melirik sekilas salinan tulisan itu──.

"─────────?"

──Tepat saat ia hendak membacanya, Konoe merasa otaknya kacau. Ia merasa ada sesuatu yang salah.

Tapi ia juga merasa itu sudah benar.

Kenangan masa lalu dan benda yang diberikan padanya beradu di dalam otaknya……

"………………Eh?"

……Konoe melihat. Ia melihat tulisan yang tertera di dokumen. Ia berkedip beberapa kali. Ada kejanggalan. Ia mengamatinya dengan saksama.

Tulisan yang disalin di atas kertas tipis. Pasti hasil tracing. Garisnya tebal dan hurufnya tidak jelas.

Namun…… Konoe merasa familiar dengan tulisan ini.

Tulisan yang tampak seperti ditulis dengan tinta di atas kertas basah.

Ia tidak bisa membedakannya dari potongan tulisan kemarin.

Namun, tulisan itu memang ada di dalam ingatan Konoe──.

──Karena itulah, Konoe membaca tulisan itu…… tulisan yang berbeda dari bahasa dunia ini.

Saat aku bertemu dengan ■wanita itu

"………………Ini."

Kalimat yang dimulai dengan kata-kata tersebut. Di bawahnya masih terus berlanjut. Konoe bisa membaca tulisan itu.

Karena tulisannya rumit dan tidak jelas, ia harus menilai berdasarkan konteks dan garis luarnya, sehingga sulit untuk dibaca. Tapi.

Itu adalah musim gugur, dua belas tahun ■setelah hari itu. Saat itu, aku berniat melihat sekilas ■ di mana ■Raja dik■ci, dari Dewa■──

"……Ini, bukankah ini Bahasa Jepang?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close