NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Kota Silmenia


1

──Apakah harus ada kata-kata agar bisa merasa senang?

Konoe teringat ucapan Telnerica. Ia merenungkannya kembali berkali-kali.

Gadis yang tersenyum itu. Dia bilang dia tetap merasa senang meski tanpa kata-kata.

Dan Konoe pun…….

(……Tidak, itu tidak mungkin.)

Begitu pikirnya. Kata-kata itu penting. Justru karena ada kata-kata, manusia bisa berinteraksi dengan sesamanya. Bisa saling memahami.

Bukankah memang begitu? Ataukah tidak?

Konoe yang jarang membuka mulut tidak bisa menegaskan seberapa penting sebuah kata-kata.

Namun, ia hidup di tengah nilai-nilai seperti itu.

Seingatnya, di sekolah pun ia diajarkan untuk mengutarakan apa yang ingin dikatakan. Ia pikir di dunia ini pun sama saja.

……Karena itulah, Konoe tidak bisa memahami ucapan Telnerica.

Dia berbohong…… atau mungkin hanya asal bicara.

Pikirnya, ada saja orang yang sekadar bicara manis mengikuti suasana hati──.

"──"

──Ah, tapi. Telnerica yang ia lihat selama ini.

──Gadis yang berteriak sambil memuntahkan darah pada hari itu.

"……"

……Konoe tidak mengerti. Ia tidak paham.

──Dua puluh tiga hari telah berlalu sejak ia tiba di Kota Silmenia.

Masa tugasnya di kota ini pun tinggal tujuh hari lagi.

Belakangan ini, berbanding terbalik dengan kegalauan Konoe yang semakin mendalam, beban kerjanya sendiri justru berkurang.

Sebab, konsentrasi miasma di kota mulai menipis.

Langit yang terlihat dari jendela tak lagi berwarna miasma yang pekat, dan warna biru mulai kembali.

Pasien Penyakit Mati juga berkurang drastis beberapa hari terakhir; kemarin dan lusa, saat pagi hari hanya ada satu pasien.

Dan hari ini.

"──Adept-sama, hari ini tidak ada pasien Penyakit Mati."

"……Begitu ya."

Ekspresi ksatria yang menyampaikan hal itu pada Konoe tampak serius dan sikapnya tenang──tapi nada bicaranya terdengar sedikit ceria.

Dia pasti senang. Tentu saja. Hari ini adalah hari ke-tiga puluh delapan sejak luapan Labirin dimulai.

Perjuangan yang telah berlangsung bahkan sebelum Konoe tiba di kota ini akhirnya mencapai titik balik.

Akhir dari segalanya mulai terlihat, dan sudah berada di depan mata.

Setelah Menara Barrier dibangun kembali, luapan ini bisa dikatakan benar-benar berakhir.

Yah, meski setelah itu pastinya masa pemulihan yang sangat panjang sudah menanti…….

(……Tapi, dengan begini pekerjaanku juga sudah habis, ya.)

Bagaimanapun, pekerjaan Konoe pun ikut mencapai puncaknya.

Sisanya, ia cukup menangani monster sampai penghalang kembali aktif.

Caranya adalah dengan membawa tombak dan berpatroli di perbatasan kota, atau melakukan deteksi hawa keberadaan dari tempat yang tinggi lalu membasmi mereka.

Kira-kira mana yang lebih baik, pikirnya.

(……Hari ini, aku akan naik ke menara pengawas saja.)

Entah kenapa, ia memutuskan begitu. Suasana hatinya sedang ingin melihat keadaan kota sebentar.

Di tembok kota Silmenia, terdapat beberapa menara tinggi yang dibangun di berbagai titik untuk pengawasan.

Hingga beberapa waktu lalu, para prajurit selalu berjaga di sana untuk mendeteksi penyusup yang mendekati kastil atau kejanggalan di dalam kota, namun kini sebagian besar telah hancur akibat serangan monster.

Akan tetapi, ada satu menara yang secara ajaib tetap utuh tanpa luka sedikit pun.

Dari puncaknya, orang bisa memandang hingga ke hutan di pinggiran kota, sehingga belakangan ini Konoe menjadikannya sebagai basis kegiatannya.

"……"

Konoe berdiri di pinggir menara dan memandangi kota.

Hari ini pun, orang-orang yang penuh semangat berada di sana.

Suara teriakan penuh tekad terdengar, dan anak-anak tampak berlarian.

Perbaikan Menara Barrier sudah sangat maju, dan akhirnya pun sudah terlihat.

Entah mengapa, Konoe menujukan pandangannya pada mereka sejenak──.

──Lalu ia menyipitkan mata, memperluas deteksi hawa keberadaan ke arah hutan.

Di dalam hutan yang tak jauh dari reruntuhan tembok kota. Secara kasatmata tempat itu tampak tak berpenghuni──namun, banyak hawa keberadaan monster yang menggeliat di sana.

Mungkin mereka berniat menyerang siapa pun yang mendekat. Atau mungkin mereka bersembunyi karena takut pada patroli para ksatria.

"……"

Sambil mengunci target monster-monster itu, ia menciptakan pisau dari alat sihir di tangannya.

Alat sihir ini sudah digunakan Konoe sejak lama, sebuah mahakarya yang sering ia gunakan untuk kemudahan dalam pertempuran biasa. Alat sihir yang bisa menciptakan pisau kecil selama mana masih tersedia.

Pisau yang dibuat dengan ini memiliki ketahanan rendah dan akan menghilang setelah beberapa saat. Karena itu, alat ini tidak bisa diandalkan untuk pertarungan jarak dekat secara langsung. Tapi, alat ini sangat berguna dalam situasi tertentu.

Artinya──.

"──"

──Konoe mengayunkan lengannya ke arah hutan.

Empat bilah pisau terjepit di sela jari-jarinya, dan dilepaskan secara bersamaan.

Dalam satu tarikan napas, pisau-pisau itu melintasi kota, mencapai sisi luar tembok──.

"──!!??"

Di lapisan luar hutan, beberapa hawa keberadaan yang ia deteksi menghilang.

Di saat yang sama, pepohonan bergoyang gaduh, dan hawa-hawa keberadaan mulai bergerak semakin jauh ke dalam.

Konoe menghujani punggung monster-monster itu dengan pisau-pisau hasil ciptaannya satu demi satu.

Tak ada belas kasihan di sana.

Kata-kata bahwa musuh yang melarikan diri tak perlu dikejar mungkin bisa ditujukan bagi binatang buas, tapi tidak untuk monster.

──Monster adalah musuh bebuyutan bagi umat manusia.

Monster, pion yang diciptakan oleh Dewa Jahat, makhluk yang memangsa manusia.

Sejak awal, monster dilahirkan oleh Dewa Jahat sebagai musuh manusia.

Itu karena Dewa Jahat sangat membenci dan memendam niat membunuh terhadap umat manusia.

Dan karena dia memberikan imbalan kepada monster yang melakukan pembunuhan.

Semakin banyak manusia yang dibunuh monster, semakin kuat monster itu.

Semakin banyak manusia yang dimakan, semakin cerdas mereka.

Semakin besar rasa benci dan niat jahat yang mereka miliki terhadap manusia, semakin kuat berkah yang mereka dapatkan.

Meski ada perbedaan berdasarkan ras saat lahir, begitulah prinsip dasar para monster.

……Oleh karena itulah, saling pengertian antara manusia dan monster adalah hal yang mustahil.

Untuk saling memahami dibutuhkan interaksi, dan untuk berinteraksi dibutuhkan kecerdasan.

Namun, karena monster harus memangsa banyak manusia untuk mendapatkan kecerdasan, maka tidak ada jalan keluar.

Mereka tidak akan pernah bisa saling memahami…… tidak, mereka tidak boleh saling memahami.

Begitulah makhluk hidup yang disebut monster di dunia ini.

"……"

Itulah sebabnya Konoe tidak ragu sedikit pun, dan terus menciptakan pisau berikutnya di tangannya dalam keheningan.

……Lalu, ia menghunjamkan pisau-pisau itu ke arah hawa keberadaan yang lari tunggang langgang.

Beberapa waktu kemudian. Setelah mengitari perbatasan kota satu putaran, Konoe menghentikan tangannya.

Ia tidak membunuh semuanya, namun termasuk mereka yang melarikan diri, monster-monster itu sudah menghilang dari sekitar kota.

Sisanya ia tinggal berjaga-jaga seperti ini, dan menangani mereka jika ada yang mendekat lagi.

"……"

Karena itu, Konoe mengembuskan napas pendek dan berbalik.

Ternyata di sana ada sebuah kursi panjang kecil yang diletakkan sendirian, dan seorang gadis sedang duduk di atasnya.

Di menara yang penuh dengan senjata itu, terdapat seorang gadis berpakaian pelayan yang tampak tidak pada tempatnya.

……Telnerica, hari ini pun berada di sisi Konoe.

"Konoe-sama, apakah Anda ingin beristirahat?"

"……Ya."

"Begitu ya, kalau begitu saya akan menyeduh teh," ujar Telnerica sambil tersenyum. Ia mengambil teko dan cangkir dari dalam keranjang──.

──Di samping Telnerica, ada ruang kosong yang cukup untuk satu orang lagi.

"……"

Ia tahu. Telnerica sengaja mengosongkan ruang itu untuk Konoe. Karena kemarin pun sama, jadi ia paham.

……Namun. Jika duduk di sana, jaraknya dengan Telnerica akan menjadi sangat dekat.

"…………"

Awalnya──beberapa hari lalu, saat pertama kali datang ke menara pengawas ini, keadaannya berbeda.

Telnerica tetap berdiri menunggu selama pembasmian monster, dan saat istirahat pun ia mencoba tetap berdiri di samping Konoe.

Tapi, duduk sendirian sementara sang gadis berdiri di sampingnya membuat Konoe merasa tidak nyaman.

Karena itu ia meminta Telnerica untuk duduk.

Tanpa memikirkan ukuran maupun jumlah kursinya.

 Hasilnya adalah keadaan yang sekarang ini.

"………………"

Konoe ragu untuk duduk di ruang sempit di samping Telnerica.

Akan tetapi, Konoe tahu jika ia tetap berdiri, gadis itu juga akan ikut berdiri dan mencoba memberikan kursinya.

……Oleh karena itu, ia memutuskan untuk duduk dengan menjaga jarak agar tidak terlihat tidak alami. Jarak seukuran satu kepalan tangan.

"Konoe-sama. Silakan tehnya."

Begitu ia duduk di sampingnya, Telnerica segera memberikan teh yang dituangkan dari teko.

Teh yang ada di dalam alat sihir pengatur suhu itu terasa hangat. Konoe perlahan menyesap teh yang masih mengepulkan uap itu.

"……"

Aroma teh yang nikmat menyebar di rongga hidungnya, dan ia mengembuskan napas.

Napasnya terlihat memutih karena udara dingin…… namun segera terhapus oleh angin yang berembus dari samping.

"……Anginnya agak kencang ya. Konoe-sama, apakah Anda kedinginan?"

"……Ya, begitulah, sedikit."

Telnerica bergumam lirih.

Begitu dikatakan, Konoe baru tersadar kalau udaranya memang agak dingin.

Yah, meski begitu bukan berarti itu jadi masalah baginya. Adept dilatih agar bisa beradaptasi di segala lingkungan.

Meski bisa merasakan panas dan dingin, secara fisik tidak ada perbedaan besar antara gunung salju di musim dingin dan tempatnya sekarang.

Begitulah kenyataannya.

Karena itu, Konoe tidak terlalu memikirkannya dan kembali menyesap tehnya──.

"Konoe-sama."

"……Apa……!!??"

──Saat itu. Tiba-tiba, tubuh Telnerica condong ke arahnya.

Konoe terkejut dan secara refleks ingin menghindar…… tapi, kemampuan deteksi sebagai seorang Adept memberitahunya bahwa jika ia menghindar, Telnerica akan jatuh tersungkur ke kursi.

Karena itu, Konoe tidak bisa bergerak.

Ia hanya bisa terdiam melihat tubuh Telnerica yang semakin mendekat.

"──"

Sentuhan lembut terasa di lengannya.

Kepala, bahu, dan lengan Telnerica bersentuhan dengan Konoe.

Jarak yang ada beberapa saat lalu kini telah menghilang.




Konoe benar-benar tidak bisa bergerak. Selagi ia mematung, rasa hangat perlahan-lahan merembas dari titik sentuhan mereka melalui lapisan pakaian.

"……Telnerica, apa yang kau lakukan?"

"Konoe-sama, apakah Anda tahu? Meski angin bertiup kencang, kita akan merasa hangat jika saling bersandar."

Suara lembut Telnerica menyahuti pertanyaan yang susah payah dilontarkan Konoe.

Suaranya halus, nyaris menyerupai bisikan. Ditanya apakah ia tahu atau tidak, hal seperti itu...

"Aku ti-tidak tahu."

"……Begitu ya. Kalau begitu, ketahuilah hari ini."

Tawa kecil Telnerica menggelitik telinga Konoe.

Konoe merasa kacau. Ia benar-benar bingung.

Ia tidak mengerti kenapa gadis ini melakukan hal semacam ini. Karena terlalu banyak hal yang tidak ia pahami, Konoe tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat ia memberanikan diri melirik, gadis itu hanya tersenyum dengan pipi yang merona tipis.

"……"

"……"

Keheningan pun terus berlanjut di antara mereka.

Di atas menara yang tak ada siapa pun selain mereka berdua. Hanya ada suara desiran angin dan deru napas Telnerica.

Benar, di sana tidak ada kata-kata yang memicu kecurigaan akan niat jahat. Hanya ada kehangatan lembut yang tersalurkan secara perlahan.

"……"

──Telnerica, terasa begitu hangat.


2

Puluhan kilometer dari kota Silmenia.

Naga Angin masih berdiam di lereng gunung, tepat di lokasi gua yang telah runtuh.

"──"

Ia menyembunyikan hawa keberadaannya, merebah di tanah, dan terus mengawasi kota.

Ia berhenti mengeluarkan suara dan tidak bergerak sedikit pun. Tak lama kemudian, serangga dan hewan kecil mulai merayapi tubuhnya, namun sang naga tetap bergeming.

Sang naga menyadarinya. Di kota itu, penghalang mulai kembali pulih.

Menara terkutuk itu hampir kembali ke bentuk asalnya, dan hawa keberadaan Dewa pun semakin menguat.

……Jika terus begini, sang naga tidak akan bisa lagi memasuki kota.

Jika ingin menyerang, sekaranglah saatnya. Itu adalah fakta yang dipahami tidak hanya oleh naga, tapi juga oleh monster lainnya.

Itulah alasan kenapa jumlah monster di sekitar kota tidak kunjung berkurang. Sebanyak apa pun pisau yang dihujamkan Konoe ke dalam hutan, mereka akan segera kembali lagi.

Bagi para monster, permukiman manusia tanpa penghalang adalah kesempatan emas sekali seumur hidup untuk memperkuat diri mereka sendiri.

"……"

……Meski begitu, sang naga tetap tidak bergerak dan terus mengawasi kota.

◆◇◆

──Pagi keesokan harinya.

Hari itu pun, Konoe dan Telnerica naik ke menara pengawas berdua.

Konoe membasmi monster, sementara Telnerica memperhatikan dari belakang.

Konoe yang serius dan efisien melindungi kota, serta Telnerica yang menjaga dengan pandangannya.

Lalu saat waktu istirahat di tengah angin kencang, mereka berdua meminum teh bersama──.

"……"

"……"

Hari ini pun mereka duduk berjajar di kursi, dengan bahu yang sedikit bersentuhan.

Tak banyak kata di antara mereka. Hanya sesekali Telnerica mengajak bicara, dan Konoe hanya menyahut singkat.

Selebihnya, mereka hanya duduk berdampingan.

Suhu tubuh merambat dari bagian yang sedikit bersentuhan, dan Konoe yang tak familier dengan hal itu tetap saja tidak bisa terbiasa meski waktu terus berlalu.

……Tapi entah mengapa, ia tidak merasa ingin menjauh.

"……"

"……"

Karena itu, mereka tetap seperti itu sampai matahari naik tinggi.

Lalu, saat siang hari tiba.

Tiba-tiba Konoe merasakan pengaktifan gerbang transmisi. Sepasang tamu telah tiba di kota.

"……Pedagang?"

"Iya, dari Ibu Kota."

Ia bertanya-tanya siapa yang datang, rupanya itu adalah pedagang yang sengaja berkunjung ke sini.

Namun, meski begitu.

"……Walaupun sudah menipis, bukankah miasma masih tersisa?"

"Bertindak meski harus menanggung risiko seperti itu, itulah pedagang. Jika mereka pikir bisa untung, mereka bahkan akan pergi sampai ke dasar Labirin. Mereka makhluk yang seperti itu. ……Jika Konoe-sama berkenan, bagaimana kalau Anda melihatnya juga?"

……Benar-benar tangguh.

Konoe merasakan sedikit rasa hormat terhadap vitalitas mereka yang bahkan mempertaruhkan nyawa──namun, saat ditawari, ia sama sekali tidak tertarik.

Karena itu, ia berniat mengabaikannya saja karena merasa tidak butuh……

"──"

Di situ ia menyadari. Tak biasanya, Telnerica menatap Konoe dengan mata berbinar-binar layaknya gadis seusianya.

"……"

Dan selama hari-hari yang telah berlalu, Konoe tahu.

Gadis ini pasti tidak akan pergi berbelanja sendirian, pikirnya.

"……………Kalau begitu, tolong pandu aku."

"Baik!"

Dipandu oleh Telnerica, Konoe berpindah menuju lapangan di depan kastil.

Di sana sesuatu yang menyerupai tenda besar darurat sudah didirikan, dan barang-barang dagangan sudah dihamparkan di dalamnya. Terlihat tempat itu ramai oleh banyak orang.

Ada pedagang yang menggosok-gosokkan tangan, wanita paruh baya yang memeriksa kain dengan wajah serius. Ada pramuniaga muda yang meneriakkan nama camilan dengan suara lantang, dan anak-anak yang berkerumun di depannya.

Ada pria yang memegang botol minuman sambil melirik-lirik ke samping, dan wanita yang membalasnya dengan senyum ketus. ……Semua orang tampak berbelanja dengan riang.

Barang-barang terjual dengan cepat, namun produk baru terus dipajang di rak satu demi satu.

Barang dalam jumlah banyak itu pasti dibawa menggunakan gudang yang diperluas dengan sihir ruang.

Karena gerbang transmisi hanya bisa dilewati dalam waktu singkat dalam sekali pengaktifan, dibutuhkan alat sihir ruang yang mengompres benda untuk membawa muatan besar.

……Lalu, alasan mengapa mereka mendambakan teknologi mesin Bumi meski sudah ada berbagai sihir ruang yang praktis ini adalah karena semua alat sihir tersebut merupakan barang buatan tangan para perajin. Jumlah produksinya terlalu sedikit.

"……"

Tapi, ramai sekali ya, pikir Konoe sambil mendekati toko tempat orang-orang berkumpul.

Tempat itu begitu meriah sampai-sampai ia ragu untuk berbaur ke dalamnya.

"Konoe-sama, apakah ada barang yang Anda butuhkan? Jika Anda berkenan, saya bisa mencarikannya untuk Anda."

"……Hm, ah…… kalau begitu, tolong camilan apa saja."

Di saat itu, Telnerica melongokkan wajahnya dari samping.

Sambil berpikir bahwa gadis itu sangat peka, Konoe menyerahkan beberapa koin perak dari dompetnya. Lalu ia mengantar kepergian sang gadis yang berlari menjauh……

"──Wah, wah, Adept-sama, sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda."

"……Hm?"

Dipanggil seperti itu, ia menoleh.

Tampak seorang pedagang mendekat sambil menggosok-gosokkan tangannya. ……Entah kenapa, ia berpikir kalau gestur ini ternyata sama saja meski di dunia lain.

"Apakah ada barang yang Anda butuhkan? Jika itu adalah permintaan dari Adept-sama, saya, Yonin, akan menyiapkannya dengan segenap tenaga."

"……Tidak."

"Begitu rupanya. Sangat disayangkan, tapi jika nanti ada sesuatu, saya akan sangat bahagia jika Anda berkenan berkonsultasi dengan saya."

Lalu, ia melanjutkan bahwa mereka memiliki toko di Ibu Kota, dan lokasinya adalah──.

Konoe mendengarkan itu sambil lalu, ia merasa pedagang ini punya gaya bicara yang anehnya terlalu formal.

Ataukah memang begini normalnya seorang pedagang menghadapi Adept, pikirnya.

Konoe sendiri baru saja menjadi Adept jadi ia tidak terlalu paham.

……Yah, kesannya sopan dan tidak buruk, jadi ia pikir tidak masalah.

Telnerica yang sedang berbelanja pun tampak ceria, dan pedagang itu sepertinya tidak melakukan penipuan harga.

"Ah, kali ini kami memberikan harga murah. Karena kami sudah lama menjalin hubungan dagang Bunga Suci dengan kota ini."

"……Begitukah."

Jawaban kembali datang padahal ia tidak bertanya.

Entah karena pedagang itu sangat peka, ataukah Konoe yang mudah dibaca.

"Yah, karena itulah ini sangat disayangkan. Tak disangka, Bunga Suci di kota ini sampai layu. Bahkan sampai ke benihnya pun ikut habis, ya ampun."

"……"

"Saya rasa jika kita mendatangkan benih dari kota lain, budidaya Bunga Suci bisa segera dimulai kembali. Namun, Bunga Suci di kota ini sedikit istimewa. Sebagai pedagang, saya pun merasa sangat menyesal," lanjutnya.

Pedagang itu pun mengembuskan napas pendek.

Konoe hanya menanggapi dalam hati bahwa Bunga Suci di kota ini ternyata spesial, seolah itu adalah urusan orang lain.

──Tepat saat itu, tiba-tiba terdengar suara gemertak gigi.

Saat ia melirik, tampak seorang ksatria yang berjalan di dekat sana sedang menggertakkan giginya.

Ia menatap sang pedagang, lalu menatap ladang yang layu di kejauhan dengan wajah penuh penyesalan.

Sepertinya dia tadi ikut mendengarkan pembicaraan itu.

"……"

Konoe berpikir bahwa keadaan pasti sedang sangat sulit bagi mereka. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan terkait urusan tanaman.

Karena itu, ia kembali menatap pedagang tadi tanpa terlalu memikirkannya.

"──Ngomong-ngomong, Adept-sama. Sebenarnya kami membawa titipan barang yang ditujukan untuk Anda."

"……?"

……Barang?

"……Ini, katalog rumah?"

Konoe kembali ke kamarnya dan membuka barang yang ia terima.

Pengirimnya adalah instruktur di akademi. Di dalam tas kertas itu terdapat sebuah katalog dan sebuah catatan.

Catatan itu berisi tulisan tangan sang instruktur: "Sepertinya kamu mulai senggang, kan? Aku mengirimkan barang yang pernah kamu bicarakan dulu."

Konoe pun teringat kalau sang instruktur memang tahu rencananya membeli rumah. Lagipula, instruktur itulah yang membujuk Konoe masuk ke akademi dengan janji-janji manis.

……Yah, ia memutuskan untuk berterima kasih atas perhatian bahwa dirinya mungkin sedang senggang.

"……"

Ia membalik halaman katalog itu satu per satu. Berbagai rumah yang sedang dijual terpampang di sana, lengkap dengan berbagai keterangan dalam tulisan kecil.

Konoe mengamati denah tersebut dan membaca kalimat promosinya. Ia memutar katalog yang terisi detail mendalam itu, lalu meletakkan tangan di dagu sambil berpikir.

Setelah melihatnya cukup lama, ia mengangkat wajah dan mengalihkan pandangannya ke langit-langit.

"……"

……Sejujurnya, aku tidak mengerti sama sekali, pikirnya. Semuanya terlihat sama saja di matanya.

Sepertinya Konoe tidak punya kemampuan untuk membaca denah di dunia ini.

Lagi pula, ia tidak paham istilah teknis yang tertulis di denah itu. Saat ia berpikir bahwa ini tidak ada jalan keluarnya──Telnerica mengintip dari samping.

"Konoe-sama, apakah Anda akan membeli rumah?"

"……Ya."

Sambil mengangguk pada Telnerica, ia menutup katalog tersebut.

Gadis itu kemudian menangkupkan kedua tangan di depan dada sambil berseru.

"──Luar biasa! Rumah seperti apa yang akan Anda pilih!?"

"……"

Mata Telnerica berbinar-binar. Entah kenapa dia terlihat sangat bersemangat.

Konoe mengerjapkan mata melihat tingkahnya, lalu berpikir sejenak. Jika ditanya rumah seperti apa.

"……Yah, aku ingin rumah yang berada di lokasi yang praktis."

"Benar sekali! Lalu apa lagi?"

"……Selain itu, sepertinya tidak ada lagi."

"……! Jangan begitu! Sayang sekali jika Anda membeli rumah tanpa keinginan lain!"

Telnerica merebut katalog dari tangan Konoe.

Lalu, ia membukanya di atas meja dan mulai mengocehkan ini-itu.

Misalnya, rumah ini punya rumah kaca kecil, atau rumah ini punya oven khusus.

Ada juga rumah yang punya banyak kamar, atau yang dilengkapi alat sihir untuk pendingin dan pemanas ruangan. Ada yang punya laboratorium di bawah tanah, kebun yang luas, atau bahkan memiliki Familiar.

Konoe sedikit terperangah melihat tingkah Telnerica itu, namun seiring percakapan berlangsung, ia mulai mengerti. Sedikit demi sedikit ia pun mulai mengutarakan pendapatnya sendiri.

Yah, aku ingin ada kamar mandi, katanya. "Itu benar-benar harus ada!" sahut Telnerica.

Saat ia bertanya seperti apa rasanya punya Familiar, Telnerica menjawab, "Mereka akan membantu bersih-bersih!"

Saat ia bilang rumah yang terlalu luas sepertinya sulit dikelola, Telnerica membalas, "Anda bisa mempekerjakan pelayan!

Menggunakan uang yang Anda hasilkan untuk memutar roda ekonomi juga tugas orang yang berada di atas!"

Begitulah mereka mengobrol berdua, dan tak terasa matahari mulai condong ke barat.

Sesekali monster mendekat, namun sambil mengatasinya, Konoe terus mengobrol hingga lupa waktu──.

"──Tuan Putri, boleh saya meminta waktunya sebentar?"

Dan, tepat saat itulah seorang pelayan datang ke kamar untuk memanggil Telnerica.


3

"Bicara? Ada apa ya? ……Konoe-sama, saya izin keluar sebentar."

"……Ya."

Setelah mengantar Telnerica yang pergi bersama pelayan itu, Konoe memutuskan untuk pergi ke menara pengawas.

Sebenarnya tidak masalah jika ia lanjut melihat katalog, tapi karena sudah tertutup, ia merasa sedang tidak ingin melakukannya.

Rasanya sudah agak lama semenjak ia berjalan sendirian, pikirnya sambil keluar dari kastil dan menuju tembok kota……

"Adept-sama."

"……Hm?"

Di tengah jalan, ia dipanggil. Di sana ada seorang pria yang ia kenal.

Itu adalah pria yang ia temui di depan aula audiensi saat ia baru tiba di kota ini untuk menyapu monster. Pria yang tak mundur selangkah pun meski hampir mati saat melawan Troll.

Dia adalah Komandan Ksatria kota ini, sekaligus orang yang memimpin pertahanan kota sampai Konoe tiba.

"Maaf jika saya tidak sopan, tapi bolehkah saya meminta waktunya sebentar?"

"……Ya."

Melihat Komandan Ksatria menundukkan kepala dengan wajah sungkan, Konoe mengangguk sambil berpikir bahwa ini hal yang langka.

Sangat jarang pria itu mengajaknya bicara, apalagi sampai datang ke kastil.

Sudah belasan hari semenjak ia tiba di kota ini. Seluruh anggota ksatria termasuk sang Komandan melakukan patroli bergilir di perbatasan kota.

Alasan mengapa monster tidak masuk ke kota meskipun kota ini kehilangan penghalang adalah karena Konoe yang membasmi mereka, namun di sisi lain itu juga karena kewaspadaan para ksatria.

Monster yang cerdas akan segera kabur jika dilempari pisau dari menara pengawas, tapi monster yang bodoh tidak akan sadar ada musuh jika tidak diperlihatkan penjagaan tepat di depan mata mereka.

Oleh karena itu, Konoe merasa terbantu oleh para ksatria dan ia juga merasa berterima kasih pada ksatria yang beraktivitas siang dan malam itu.

"Sebenarnya, kami dari korps ksatria memiliki permohonan yang ingin didiskusikan dengan Adept-sama."

"……Permohonan?"

"………………"

Setelah mendengarkan penjelasan Komandan Ksatria selama beberapa saat.

Konoe sedang melemparkan pisau ke arah hutan dari atas menara pengawas. ……Ia melempar lebih banyak pisau dari biasanya, hingga ke area yang lebih dalam.

"Anu, Konoe-sama, saya sudah kembali."

"……Ya."

Saat itulah Telnerica muncul dari tangga menara.

Di tangannya ia membawa teko seperti biasa, dan aroma teh pun tercium. ……Namun, ekspresinya kali ini sedikit suram, berbeda dari biasanya.

Konoe memiringkan kepala melihat kondisi Telnerica, namun tetap lanjut bekerja dengan serius.

"──Konoe-sama…… sebenarnya ada permohonan dari warga kota."

Setelah beberapa saat berlalu, Telnerica memantapkan hati untuk berbicara.

Saat Konoe berbalik, gadis itu sedang duduk di kursi sambil mengepalkan tangan di atas lututnya. Rok yang ia genggam tampak sangat berkerut.

Melihat Telnerica yang seperti itu, Konoe pun berkata.

"……Ya, tentang benih itu, kan?"

"……Eh?"

Konoe membuka pembicaraan lebih dulu. Melihat Telnerica yang terkejut, Konoe teringat kejadian sebelumnya.

"……Aku sudah dengar dari Komandan Ksatria."

Itu adalah pembicaraan mengenai industri kota ini, Bunga Suci.

"Kami ingin mencari benihnya."

Permohonan Komandan Ksatria dimulai dengan kata-kata itu.

Itu adalah kisah tentang satu-satunya harapan untuk membangkitkan kembali Bunga Suci kota ini yang telah layu dan musnah sepenuhnya.

──Tanaman Bunga Suci sepertinya memiliki ekologi yang cukup unik.

Bunga Suci adalah bunga indah dengan kelopak putih tipis, namun di sisi lain ia sangat sensitif dan mudah layu.

Ia lemah terhadap perubahan suhu, peka terhadap kualitas air, layu jika terkena sinar matahari yang terlalu kuat, serta mudah mati karena hama maupun penyakit.

Di tengah kerentanan itu, Bunga Suci memiliki ekologi untuk bertahan hidup.

Konon saat nyawanya terancam, dalam rasio yang sangat jarang──kurang dari satu berbanding seribu──ia akan menciptakan benih baru di dalam akar bawah tanahnya.

Meskipun sangat lemah, ia akan menitipkan kehidupan di dalam tanah yang minim faktor eksternal, lalu menunggu kesempatan berikutnya untuk mekar.

Begitulah jenis bunga ini, jelas sang Komandan Ksatria.

"Bunga yang mekar maupun benih yang disimpan semuanya telah membusuk karena miasma.

Namun, jika benih itu ada di dalam tanah, ada kemungkinan ia masih bertahan hidup."

Keinginan untuk mencari benih itulah yang menjadi kesepakatan seluruh warga kota.

Tentu saja kemungkinannya sangat rendah. Mereka sudah mencoba menggali sebagian ladang, namun hanya menemukan beberapa benih di satu petak, dan benih yang ditemukan pun semuanya sudah membusuk.

Namun meski begitu, kondisinya tidak seburuk benih yang ada di atas tanah.

Dan jika ada sedikit saja kemungkinan, mereka tidak bisa menyerah begitu saja.

Komandan Ksatria mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil berteriak penuh emosi.

Jika tersisa satu butir saja, mereka ingin segera menemukan dan melindunginya.

Mengingat benih yang bertahan hidup pun mungkin semakin melemah setiap detiknya, mereka tidak bisa tenang.

"……Namun, saat ini kota masih dalam masa pemulihan. Menara Barrier juga belum selesai diperbaiki. Tenaga kerja benar-benar kurang, personel yang bisa dikerahkan ke ladang sangat sedikit."

Setelah memikirkan apa yang bisa dilakukan, hasilnya adalah.

"──Kami ingin mengerahkan sebagian anggota ksatria ke sana. Jaringan pengawasan memang akan menipis, tapi……"

"Tolong, saya mohon!" Komandan Ksatria memohon pada Konoe.

Ia menundukkan kepala meminta maaf karena beban Konoe mungkin akan bertambah.

"Bunga itu istimewa bagi kami! Kami tumbuh bersama bunga itu, dan mati bersama bunga itu. Begitulah cara hidup kami! ──Kami ingin mempersembahkan Bunga Suci di depan makam bawahan kami yang telah gugur!"

Begitulah teriak pria yang telah kehilangan banyak bawahan dalam luapan monster dua puluh hari lalu.

Konoe pun mengerti. Bagi kota ini, Bunga Suci bukan sekadar komoditas industri, melainkan memiliki makna yang jauh lebih penting.

……Karena itu.

"Tentu saja kami akan memberikan imbalan semampu kami! Jadi──"

"──Tidak perlu."

Konoe memalingkan muka dari Komandan Ksatria yang menunduk pasrah, lalu berjalan melewatinya.

"……Lakukan saja sesuka kalian."

"Eh?"

Sejak awal, membasmi monster adalah tugas Konoe.

Jumlah ksatria tidak berpengaruh dalam menjalankan tugas itu. Lakukan saja apa yang menurut kalian benar. Konoe mengatakan itu pada Komandan Ksatria──.

"Begitu ya."

"……Ya."

──Begitulah ia menceritakan kronologinya.

Mendengar itu, Telnerica menunduk dengan senyum yang tampak menertawakan dirinya sendiri.

Lalu ia bergumam pelan, "Aku bahkan tidak menyadari kemungkinan itu."

……Keheningan pun menyelimuti mereka sejenak.

"Warga kota juga memintaku. Mereka ingin aku ikut dalam pencarian. Aku memiliki berkah dari Dewa Hutan. Itu akan berguna dalam mencari benih."

"……Begitu ya."

Konoe mengerti. Berkah Dewa Hutan seharusnya memiliki pengaruh pada segala jenis tumbuhan.

Jika begitu, memang lebih baik Telnerica ikut bergabung…….

"……Hm? Berkah Dewa Hutan?"

"Eh, iya, benar begitu……"

"……Bukannya Dewa Perbatasan?"

"……!"

Konoe merasa heran. Hal itu bertentangan dengan apa yang pernah ia dengar dari pelayan sebelumnya.

Penguasa Silmenia memegang tugas untuk menggunakan penghalang khusus──Penghalang Penutup.

Jika demikian, berkah yang diterima keluarga itu seharusnya berkaitan dengan Perbatasan, bukan Hutan.

Sebab penghalang itulah yang membatasi antara sisi dalam dan luar Labirin.

Karena merasa aneh, Konoe pun bertanya…… namun.

"……E-eh…… Anda tahu…… soal tugas keluarga Silmenia?"

"……Ya, dengar dari pelayan."

Entah kenapa wajah Telnerica tampak syok.

Matanya membelalak menatap Konoe. ……Namun segera setelah itu tatapannya tampak goyah dan ia menunduk.

Konoe bingung melihat reaksi Telnerica.

Ia berpikir apakah ia baru saja menanyakan hal yang tabu, namun kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali.

"Itu, anu. Soalnya…… saya bukan anak sulung…… dan kelak akan meninggalkan rumah ini…… makanya berkah yang didapat berbeda……"

Telnerica bergumam terbata-bata. Seolah sedang mencari alasan dengan panik.

Konoe melihat tingkah itu sambil mengerjapkan mata…… namun setelah beberapa detik, gerakan Telnerica tiba-tiba terhenti.

Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Konoe.

"Tidak, tidak, mohon maaf. Semua yang baru saja saya katakan adalah bohong."

"……"

"Saya tidak ingin berbohong kepada Konoe-sama. ……Namun, saya juga tidak bisa menyampaikan kebenarannya. Saya tidak sanggup melakukan tindakan tak tahu malu dan tak tahu balas budi semacam itu."

"……Apa?"

Telnerica menatap Konoe dengan mata yang begitu tulus.

Ia menggigit bibir, namun tak sekalipun ia memalingkan wajahnya.

"Oleh karena itu, jika diperkenankan, tolong jangan tanyakan hal ini."

"………………Baiklah."

Konoe tidak punya pilihan lain selain mengangguk.

Ia tidak terlalu mengerti arti kata-katanya.

Meski begitu, ia tidak sanggup mencecar Telnerica yang menatapnya dengan pandangan penuh tekad tersebut.

Melihat Konoe mengangguk, ekspresi Telnerica tampak lega.

"……"

"……"

Keheningan yang canggung mengalir di antara mereka.

Setelah beberapa saat berlalu.

"Setelah ini, saya akan bergabung dalam pencarian benih. ……Oleh karena itu, saya tidak bisa berada di sisi Konoe-sama."

"……Begitu ya."

……Ah, benar juga, pikir Konoe.

Ikut dalam pencarian berarti Telnerica akan berpisah dari Konoe.

Hal itu wajar, sehingga Konoe menerimanya tanpa masalah sedikit pun.

Bahkan ia justru lebih memikirkan percakapan sebelumnya. Apa maksudnya tindakan tak tahu balas budi itu.

"……Kalau begitu."

"……Ya."

Telnerica berdiri. Gadis itu kemudian melangkah menuju tangga menara.

"……Konoe-sama."

"……Hm?"

Tepat sebelum pergi, Telnerica berbalik sekali lagi dan memanggil nama Konoe.

"……Tidak, lupakan saja."

"……"

Namun, Telnerica tidak mengatakan apa-apa dan menuruni tangga.

Senyumannya saat pergi terasa berbeda dari biasanya, tampak sedikit kesepian…… Konoe kembali mengerjapkan matanya beberapa kali.


ï¼”

(……Tapi, aku masih tidak mengerti.)

"──Saya juga tidak bisa menyampaikan kebenarannya. Saya tidak sanggup melakukan tindakan tak tahu malu dan tak tahu balas budi semacam itu."

Konoe merenung sambil teringat kata-kata Telnerica.

Ia berdiri di pinggir menara pengawas, menatap hutan dan kota di bawahnya.

Ia melemparkan pisau ke arah hutan, sambil mengarahkan pandangan penuh tanya ke arah kota.

Waktu itu, Konoe hanya bertanya soal berkah Telnerica.

Mengapa hal itu bisa dianggap tindakan tak tahu balas budi? Situasi macam apa yang membuat penjelasan pun tidak diperbolehkan?

"……"

Meski tidak mengerti, ia sudah diminta Telnerica untuk tidak bertanya.

Oleh karena itu, Konoe hanya bisa melihat dari atas menara saat sekelompok orang yang dipimpin gadis berambut pirang itu bergerak menuju ladang yang layu.

Pencarian benih pun segera dimulai.

Telnerica meninggalkan sisi Konoe dan memimpin para warga.

Sementara itu, Konoe tetap tinggal sendirian di atas menara pengawas.

Sambil sedikit memikirkan masalah sebelumnya, ia terus menghujamkan pisau ke arah hutan. Sesekali ia melihat dari kejauhan sosok orang-orang yang berkumpul di sekitar ladang dan menggali tanah.

Rasanya sudah lama semenjak Telnerica tidak ada di sisinya, dan ia merasakan sedikit keganjilan.

Terasa sepi, dan suara angin entah kenapa terdengar lebih kencang.

……Tapi yah, mengingat selama sepuluh hari terakhir mereka hampir selalu bersama 24 jam, wajar saja jika rasanya aneh saat tiba-tiba dia pergi, pikirnya.

Jika ditanya apakah ada masalah, jawabannya tidak ada. Hanya saja, suasananya begitu sepi.

Wajar saja. Konoe bukan anak kecil.

Di tengah kesibukannya, ia meminum teh yang sudah disiapkan Telnerica sendirian, lalu memburu monster sedikit lebih banyak dari biasanya.

"Aku baru saja kembali."

"……Ya."

──Saat matahari terbenam, Telnerica pulang.

Sosoknya kotor oleh tanah di sana-sini, namun ekspresinya tetap menunjukkan senyum seperti biasa──tapi, ada kelelahan yang terpancar dari gerakannya. Langkah kakinya terasa berat, dan meski hanya sedikit, ia tampak terhuyung.

……Wajar saja, pikir Konoe.

Meski ia hanya melihat dari kejauhan, pekerjaan mencari benih hampir seluruhnya dilakukan secara manual.

Mereka tidak menggunakan sihir──bahkan sihir tanah maupun sihir penguat tubuh pun tidak digunakan, kecuali oleh segelintir orang termasuk Telnerica. Konoe merasa heran apa tujuannya.

"Benih Bunga Suci sangat sensitif. Sedikit saja aliran mana bisa melukainya. Pengecualian hanya berlaku bagi mereka yang menerima berkah Dewa Hutan…… bagi orang lain, demi keamanan mutlak, sihir dilarang digunakan. Begitu juga alat sihir."

"……Begitu rupanya."

Saat ditanya, jawaban itu kembali dengan tawa pahit.

Segala makhluk hidup di dunia ini termasuk tanaman memiliki mana yang unik.

Dan mana yang terpisah dari pemilik aslinya terkadang bisa menjadi racun hanya dengan bersentuhan. Begitulah hukumnya.

Konoe berpikir bahwa itu memang hal yang tidak bisa dihindari.

──Namun, itu tetap saja tugas yang sangat berat.

Tidak, menggali seluruh ladang yang tersebar di kota dengan tangan kosong sepertinya benar-benar tidak realistis, bukan?

"Tetap saja, kami harus melakukannya. Karena hanya itu satu-satunya cara. ……Satu-satunya penyelamat adalah tanaman ini tidak memiliki akar yang terlalu dalam," ujar Telnerica sambil tersenyum.

Lalu, ia berdehem ringan dan membenarkan posturnya, "Nah, meskipun di siang hari saya tidak bisa melakukan apa pun untuk Konoe-sama, jika ada yang Anda butuhkan, silakan katakan."

Konoe menggelengkan kepalanya, menyuruhnya kembali ke kamar dan beristirahat.

Ia merapalkan sihir penyembuh dan pembersih ringan pada gadis itu, lalu mengantarnya sampai ke depan kamar.

"……Fuu."

Setelah menghela napas pelan, Konoe mendeteksi hawa di sekitar kota.

Memastikan tidak ada masalah, ia pun segera masuk ke dalam tempat tidur.

……Entah kenapa, hari ini terasa sangat sepi, pikirnya untuk yang kesekian kali.

──Keesokan harinya.

Pencarian di ladang terus berlanjut. Sejak pagi, Telnerica sudah pergi ke ladang.

Pekerjaannya tetap sama seperti kemarin, hampir seluruhnya mengandalkan tenaga manusia, sehingga progresnya sangat lambat.

Namun, meski begitu, semua orang bekerja dengan gigih.

Gali satu titik, periksa. Gali satu titik lagi, periksa.

Mencari benih, dan saat benih akhirnya ditemukan ternyata sudah mati, namun mereka tidak menyerah dan lanjut ke titik berikutnya.

Mencari lokasi yang sekiranya berpotensi, berkeliling kota, lalu menggali lagi.

Warga terus melakukan itu tanpa henti.

Meski sudah berkali-kali menggali, yang muncul hanyalah benih yang membusuk.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Jangankan benih Bunga Suci, bahkan benih rumput liar pun membusuk.

"……"

Konoe menyaksikan pemandangan itu dari atas menara pengawas.

Ia melihat mereka bergerak sebagai satu kesatuan dengan gadis berambut pirang sebagai pusatnya.

Meski lambat, mereka bergerak maju satu per satu dengan pasti.

Ia melihat sosok mereka yang tidak menyerah dan terus melangkah ke depan.

"……?"

Tak lama kemudian, Konoe menyadari sesuatu.

Jumlah orang di ladang semakin bertambah.

Saat ia memastikan di waktu senja, ia merasa jumlahnya sudah dua kali lipat dibanding siang tadi.

Ia bertanya-tanya dari mana mereka semua berasal.

……Tepat saat itu. Terdengar suara teriakan seorang pria yang sedang bekerja di kota.

Suara lantang yang meneriakkan bahwa pekerjaannya telah selesai.

Konoe mengalihkan pandangannya ke arah pria itu.

Pria itu berseru bahwa tugas hari ini sudah berakhir, sisanya besok.

Terakhir, pria itu memastikan kembali tempat kerjanya, menyapa pria lain yang bekerja di dekatnya──.

──Lalu, ia berlari menuju ladang.

Bukan pulang ke rumah atau tempat peristirahatan, ia berlari menuju ladang yang layu.

Ia berbaur dengan kelompok pencari dan mulai bekerja dengan cara yang sama.

Ada banyak orang yang melakukan hal serupa.

Bukannya berkurang saat matahari terbenam, orang-orang justru semakin bertambah, membuat pekerjaan berjalan semakin cepat.

Pada akhirnya, hampir semua orang kecuali mereka yang bertugas memperbaiki menara penghalang pergi menuju ladang, saling bekerja sama melakukan pencarian.

"──"

──Konoe melihat penduduk kota itu dari kejauhan.

Dari atas menara pengawas yang sunyi, ia terus memperhatikan mereka.

Ia melihat mereka bersatu, melihat anak-anak yang juga ikut berbaur sambil tertawa bersama.

Ia menyipitkan mata melihat pemandangan yang tampak menyenangkan itu, dan matanya tertuju pada kilauan warna emas di tengah kerumunan.

Di atas menara pengawas yang hanya menyisakan suara angin, Konoe menatap mereka sambil tetap menjalankan tugasnya dengan serius……

"……"

……Beberapa saat kemudian, Konoe mengalihkan pandangannya dari mereka.

Lalu, ia berbalik untuk beristirahat sejenak.

Di tengah menara pengawas terdapat sebuah kursi, dan di atasnya terletak keranjang berisi teh dan camilan yang disiapkan Telnerica.

Konoe melangkah ringan menuju kursi, lalu mengeluarkan isi dari keranjang.

Ia menuangkan teh ke cangkir, lalu menyantapnya bersama roti lapis telur yang ada di dalamnya.

Sambil makan sendirian di atas menara pengawas, ia kembali menyipitkan mata melihat keramaian kota, lalu mengarahkan pandangannya pada seorang gadis──.

"──?"

──Tapi, itu terjadi setelah waktu berlalu beberapa saat.

Tiba-tiba, Konoe menoleh ke samping. Sudah sekitar satu hari sejak Telnerica pergi menjauh.

Ia menatap sisi sebelahnya di kursi yang sedikit lebar itu.

"……"

Tidak ada siapa-siapa di sana. Kosong.

Itu wajar saja. Karena saat ini Telnerica sedang berjuang bersama semua orang di kota.

Jadi, tidak mungkin dia ada di sini. Hanya itu saja.

"……? ………………?"

……Lho? Hanya itu saja, tapi kenapa ya.

Entah kenapa, entah bagaimana, Konoe teringat sesuatu.

Kejadian tepat kemarin pagi. Saat Telnerica masih ada, kursi ini terasa jauh lebih sempit.

Jarak dengannya begitu dekat, sampai-sampai sulit untuk duduk tanpa bersentuhan.

Jarak yang membuat suhu tubuh pun tersalurkan. Gadis itu tersenyum tepat di sisinya.

"…………………………"

──Tanpa mengerti alasannya, Konoe menatap ke arah ladang.

Di tengah-tengah kerumunan, ada Telnerica. Ia dikelilingi banyak orang, berjuang dan tertawa bersama.

Orang-orang di sekitarnya tampak senang, dan Telnerica pun terlihat senang. Itu adalah hal yang sangat bagus.

……Tapi, menara pengawas ini terasa begitu sunyi sejak kemarin sore, dan sedikit terasa dingin.

"…………………………………?"

──Aku tidak mengerti. Konoe sama sekali tidak paham.

……Namun, di sanalah untuk pertama kalinya, Konoe merasakan sebuah emosi asing muncul di dalam dirinya.


5

"Konoe-sama, ini teh dan camilan untuk hari ini."

"……Ya."

Keesokan harinya, sejak pagi buta Telnerica sudah pergi ke kota.

Setelah menyerahkan keranjang berisi makanan dan minuman pada Konoe dan membungkuk sekali, ia berbalik untuk keluar dari ruangan……

"──"

……Konoe hampir saja memanggil gadis itu tanpa sadar.

Namun, ia terdiam. Ia menurunkan tangannya yang sempat terangkat sedikit tanpa ia sadari.

"──?"

Apa yang ingin ia katakan pada Telnerica? Ia sendiri tidak tahu. Apakah ia ingin memperingatkannya agar tidak terluka, ataukah ingin memberinya semangat.

"……Ada apa denganku?"

Karena tidak paham, Konoe menghela napas pendek sambil menggaruk kepalanya.

……Ia merasa ingin mencari suasana baru di saat seperti ini, lalu mencari sesuatu yang bisa ia lakukan.

Lalu ia menemukan sebuah katalog di atas meja. Katalog rumah yang dikirimkan oleh sang instruktur.

Bagi Konoe, buku ini adalah untuk memilih rumah tempat ia akan membangun harem dalam waktu dekat, dan bisa dibilang sebagai hasil jerih payahnya selama dua puluh lima tahun.

Membeli rumah, membeli budak, lalu mencekoki mereka dengan ramuan cinta. Ini adalah langkah pertamanya.

"……Rumah."

Konoe membuka katalog tersebut. Di sana tercantum berbagai jenis rumah.

Rumah yang luas, rumah yang praktis, hingga rumah yang memiliki tingkat kebebasan tinggi.

Denah bangunan, beserta kalimat promosi. Bagian mana yang menarik, atau bagian mana yang dibangun dengan penuh pertimbangan. Hal-hal seperti itu tertulis di sana.

Denah yang digambar dengan standar dunia lain dan penuh istilah teknis.

Bagi Konoe yang berasal dari Bumi, itu sulit dibaca…… tapi, alasan kenapa Konoe sekarang bisa sedikit membacanya adalah karena beberapa hari lalu, ia melihat katalog ini berdua dengan Telnerica dan diajari banyak hal olehnya.

'──Konoe-sama, rumah seperti apa yang Anda sukai?'

"……"

Konoe membalik halaman katalog satu per satu.

Sambil melihat rumah-rumah di sana, ia pun memikirkan soal haremnya.

"……"

Tapi hanya dalam beberapa menit, Konoe menutup katalog itu. Sama sekali tidak menyenangkan. Ia malah merasa malas untuk melihatnya.

Padahal impiannya sudah ada di depan mata. Hari di mana usahanya membuahkan hasil akhirnya telah tiba.

……Konoe tidak mengerti. Sambil tetap bingung, ia terus menjalankan pekerjaannya dengan serius.

Hari berikutnya lagi.

Ia merasa kurang bersemangat, namun konsep "bolos" tidak ada dalam kamus Konoe.

Hari itu pun ia terus melemparkan pisau dan tombak ke arah hutan, terus membasmi monster.

Sambil sesekali mencari sosok gadis berambut pirang di antara orang-orang yang berkumpul di ladang, ia terus bekerja dengan serius.

"…………………………"

Lalu, ia kembali ke kamar saat matahari terbenam.

Ia menerima laporan dari Telnerica yang tampak lelah bahwa hari ini pun benihnya tidak ditemukan.

Benih hampir tidak ditemukan sama sekali, dan benih yang akhirnya ditemukan pun semuanya sudah busuk karena miasma.

Pencarian benih masih mengalami kebuntuan──tapi, hari ini ada berita bagus juga.

"……Menara penghalangnya?"

"Iya, sepertinya perbaikannya sudah selesai! Penghalangnya pun akan segera aktif!"

Itu adalah kabar bahwa pengerjaan menara akhirnya telah berakhir.

Tanpa ada masalah berarti, uji coba pengoperasiannya pun sukses.

Karena pengaktifan penghalang membutuhkan pengisian kekuatan Dewa, hal itu tidak bisa dilakukan secara instan.

Namun, Telnerica berkata dengan riang bahwa dalam dua hari ke depan, penghalangnya akan kembali seperti semula.

"……"

Mendengar berita itu, Konoe teringat akan kontraknya sendiri.

Kontrak selama tiga puluh hari, dan hari ini adalah hari kedua puluh delapan. Tersisa dua hari lagi.

"……Jadi sudah sempat ya."

"Iya! Dengan ini, Konoe-sama tidak perlu terbebani lagi!"

"……"

Beban. Maksud dari "beban" menurut Telnerica adalah, intinya jika penghalang tidak bisa aktif, Konoe harus memperpanjang masa tinggalnya di kota ini.

Tentu saja. Jika Konoe pergi dari kota tanpa adanya penghalang, kota ini bisa hancur seketika jika ada satu saja monster kelas atas yang muncul. Tidak mungkin ia bisa pulang ke Ibu Kota jika ia tahu hal itu akan terjadi.

……Tapi, hari ini kekhawatiran itu sudah hilang.

Nasib penghalangnya sudah jelas, dan Konoe akan menyelesaikan tugasnya dalam tiga puluh hari.

Jika sudah begitu, ia tinggal pulang ke Ibu Kota.

Menerima koin emas, lalu membangun harem dengan ramuan.

Akhirnya, impiannya akan terwujud. Seharusnya itu adalah hal yang sangat menggembirakan.

"………………………………"

"……? Konoe-sama……"

Saat Konoe sedang berpikir begitu, Telnerica membelalakkan matanya dan mengerjap beberapa kali.

Lalu dia melangkah mendekat satu atau dua langkah.

"……Kau, pasti lelah kan?"

"Tapi, itu……"

Konoe menghentikan Telnerica. Terlihat kelelahan yang luar biasa dari gerakannya.

Oleh karena itu, ia memotong perkataan Telnerica yang terus mencoba membela diri, lalu mengantarnya paksa ke kamar sebelah agar ia bisa beristirahat.

Setelah itu, Konoe berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.

"……"

Hari ini pun, rasa sesak di dadanya tidak kunjung hilang sepanjang hari.

Fajar menyingsing. Tinggal dua hari lagi sebelum Konoe pulang.

Hari itu, suasana kota sudah dipenuhi semangat sejak pagi.

Itu karena informasi bahwa perbaikan menara penghalang telah selesai sudah tersebar luas.

Penduduk kota bisa bernapas lega, dan sejak pagi buta suasananya sudah seperti perayaan festival kecil-kecilan.

Dan, kota pun semakin gencar melakukan pencarian benih Bunga Suci.

Semua orang melakukan pekerjaan mereka masing-masing, namun saat ada waktu luang, mereka akan segera pergi ke ladang. Semuanya mencari benih kecil yang ukurannya bahkan tidak sampai satu sentimeter.

"……"

Di tengah keramaian itu, Konoe tetap seperti biasa, berdiri sendirian di atas menara pengawas.

Sambil bekerja, ia melihat sosok warna emas di antara kerumunan orang.

Telnerica. Putri penguasa kota ini.

Terkadang ia memberi komando, terkadang ia membawa alat tani dan ikut bekerja.

Tubuhnya jauh lebih kecil dibanding orang dewasa di sekitarnya, namun ia bekerja jauh lebih keras.

Itu karena adanya berkah dari Dewa Hutan.

Ia yang bisa menggunakan sihir penguat tubuh dapat mengangkat sendirian barang yang harus diangkat oleh beberapa pria dewasa.

Telnerica berada di tengah-tengah orang banyak. Memimpin mereka, dan terus bergerak maju.

Dia benar-benar sosok yang sangat dibutuhkan dalam pencarian ini.

Tempat di mana dia berada jelas memiliki efisiensi yang berbeda. Semangat yang berbeda.

Jadi, wajar dan paling benar jika dia berada di sana. Sosok mereka semua yang bekerja bahu-membahu terlihat menyilaukan bagi Konoe.

"……"

……Tapi, teh yang ia minum saat istirahat terasa sedikit hambar.

Lalu tibalah hari berikutnya.

Tinggal satu hari lagi sebelum Konoe pulang.

Hari itu pun, setelah mengunjungi kamar Konoe di pagi hari, Telnerica segera turun ke kota.

Di sisi Konoe terdapat keranjang berisi teh dan camilan seperti biasa. Saat dilihat ke dalamnya, ada roti lapis telur untuk yang kesekian kalinya.

"……"

Konoe naik ke menara pengawas dan melihat ke arah kota.

Di bawah sana, tampak sosok Telnerica dan penduduk kota yang tidak berubah seperti beberapa hari terakhir.

Mereka berusaha dengan sekuat tenaga. Mereka tidak menyerah sekecil apa pun kemungkinannya.

Pasti ada rasa lelah. Pasti berkali-kali mereka berpikir apakah ini sia-sia.

Namun mereka melakukan apa yang mereka bisa satu per satu. Mereka tidak pernah menghentikan langkah mereka.

──Oleh karena itu, mungkin ini bukanlah keajaiban, melainkan sekadar hasil dari jerih payah.

"……Ada!"

Itu terjadi di waktu senja saat matahari mulai terbenam. Di sudut kota, di sebuah tempat yang dulunya adalah ladang kecil milik pribadi.

Dari sana, suara gemetar seorang pria menggema ke seluruh penjuru kota.


ï¼–

──Alasan mengapa benih itu bisa bertahan hidup adalah karena kebetulan saat itu sedang dilakukan pembersihan saluran air di lokasi tersebut.

Pada hari saat luapan monster dimulai.

Di samping ladang itu, sebuah saluran air kecil ditutup sementara untuk dibersihkan.

Namun saat luapan terjadi, orang yang sedang membersihkannya panik dan melarikan diri tanpa melepas papan penyumbat air.

Akibatnya, air meluap dari saluran dan merendam ladang di sampingnya.

Bunga Suci yang mekar di atas tanah layu karena miasma.

Namun akarnya menciptakan benih──dan benih yang tercipta terlindung dari miasma oleh tanah dan air, dua elemen tersebut.

Sebuah kebetulan yang menyerupai keajaiban, hasil dari tumpukan kesalahan dan keberuntungan.

Serta hasil dari jerih payah orang-orang yang terus percaya dan melakukan pencarian.

──Hari keenam pencarian. Dari dalam tanah ladang yang sudah menjadi lumpur, ditemukan satu butir benih.

"……"

Konoe berdiri di tepi menara sambil menatap ke arah kota.

Di kejauhan yang terjangkau oleh pandangan yang diperkuat mana, terlihat orang-orang yang bersorak kegirangan, dengan Telnerica berada di tengah-tengah mereka.

Di tengah kerumunan penduduk kota, Telnerica menangkupkan kedua tangan di tengah ladang dan berlutut.

Beberapa orang di sekitarnya juga melakukan posisi yang sama.

"……Berdoa pada Dewa Hutan."

Suara Telnerica terdengar dari kejauhan.

Kemudian, cahaya hijau meluap dari permukaan tanah.

Cahaya itu berkumpul pada satu butir benih yang diletakkan di tanah, lalu memancarkan sinar yang kuat. Mewarnai langit senja yang sudah gelap dengan warna hutan.

"──"

Di depan mata Konoe, perubahan pun mulai terjadi.

Tunas muncul dari benih yang sangat kecil, dan akar mulai tumbuh memanjang.

Dalam sekejap batangnya tumbuh tinggi, menebal, dan di ujungnya muncul sebuah kuncup.

Lalu, kuncup itu terbuka──.

──Mekarlah bunga yang sangat besar. Kelopaknya menyerupai bunga krisan.

Satu tangkai bunga yang bersinar putih bak bulan di langit malam telah mekar.

"“““““────!!”””””"

Sorakan bergema di langit malam.

Para penduduk kota saling bersukacita dan berpelukan.

Di tengah-tengah kerumunan itu, bunga tersebut layu dengan cepat seperti saat ia mekar tadi.

Bunganya berubah kecokelatan, dan pangkal kelopaknya membengkak.

Sebuah buah terbentuk, dan buah itu pun ikut mengering.

"……"

Telnerica menadahkan tangannya di bawah buah tersebut. Buah itu pecah, dan beberapa benda kecil terlontar keluar dari dalamnya.

──Itu adalah puluhan butir benih.

Telnerica memindahkan benih-benih itu ke dalam kantong dengan hati-hati.

Di saat yang sama, cahaya hijau di sekitar bunga pun mulai meredup perlahan.

"……"

Konoe menyaksikan suasana kota itu sendirian dari kejauhan──.

"……?"

──Tepat pada saat itu. Cahaya baru menyelimuti kota.

Sesaat sebelum cahaya bunga menghilang.

Kali ini bukan cahaya hijau, melainkan cahaya biru yang membungkus kota.

Konoe terkejut──namun itu bukan firasat buruk.

Maka ia tetap tenang dan mengedarkan pandangan untuk memastikan sumber cahaya tersebut.

"……Menara Penghalang?"

Menara Penghalang yang ada di pusat kota. Cahaya dan kekuatan dewa meluap dari sana. Ini artinya.

"……Ah, penghalangnya sudah kembali ya."

Cahaya biru menyebar luas di langit malam. Warna sang Dewa Perbatasan.

Cahaya itu membentuk pola di langit, lalu menyelimuti seluruh kota.

"““““““────!!!!!”””””"

Sorakan yang jauh lebih kencang dari sebelumnya membahana di seluruh kota. Pasti karena hal baik terjadi secara berturut-turut.

Sambil mendengarkan suara itu, Konoe mendeteksi musuh di sekitarnya untuk memastikan keamanan terakhir.

"……"

……Tidak ada masalah. Tidak ada musuh, dan kota sudah diselimuti penghalang.

Konoe mengembuskan napas pendek. Itulah momen saat tugas Konoe di kota ini berakhir.

Setelah itu, waktu berlalu cukup lama. Selama itu, Konoe terus berada di atas menara pengawas.

Kota sedang berpesta pora, bahkan tanpa memperkuat pendengaran dengan mana pun, sorakan mereka terdengar sampai ke kastil.

Penghalangnya diperbaiki hari ini.

Bunga Suci pun ditemukan. Makanya semua orang tertawa.

Tentu saja hal lainnya masih dalam proses. Tidak ada yang tahu butuh berapa lama untuk pemulihan total.

Namun, khusus hari ini semua orang bersenang-senang dengan sekuat tenaga.

"……"

Konoe duduk di kursi menara pengawas yang jauh dari keriuhan kota itu.

Kursi yang terlalu lebar untuk diduduki sendirian.

Ia duduk dengan tenang di sana, meminum teh yang sudah benar-benar dingin. Itu adalah sisa teh yang diberikan Telnerica tadi pagi.

"……"

Konoe mengembuskan napas pendek.

Ia merasa sedikit kedinginan, namun ia tidak berniat kembali ke kamar.

Untuk kembali sendirian, terlalu banyak emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.

Konoe tidak tahu emosi macam apa itu. Itu adalah emosi yang tidak ia kenal.

Untuk bisa mengungkapkan emosi tersebut, Konoe sudah terlalu terbiasa hidup sendirian.

Karena selalu sendiri, saat orang lain mulai berbaur, ia menjadi tidak paham bahkan dengan emosinya sendiri.

……Aku tidak tahu. Konoe sama sekali tidak paham.

Ia bahkan tidak tahu kenapa wajah Telnerica muncul saat ia memejamkan mata.

Padahal ia tidak paham, namun kehidupan di kota ini akan segera berakhir.

Jika begitu, Konoe akan kembali ke kehidupannya yang semula……

"…………"

……Pandangan Konoe tertunduk secara alami. Ia melihat ke arah kakinya.

Di sana ada lantai batu menara pengawas.

Tempat di mana hanya ada dirinya sendiri.

Tempat di mana tidak ada orang lain.

Di tempat seperti itu, Konoe sendirian……

"………………?"

……Namun tiba-tiba, Konoe menyadari sesuatu.

Terdengar suara dari arah kaki.

Suara langkah kaki. Ringan, seperti langkah seorang gadis.

"……!"

"──Konoe-sama!"

Terdengar sebuah suara. Seorang gadis menampakkan wajahnya dari tangga.

Gadis berambut pirang. Gadis berseragam pelayan yang sedang terengah-engah, datang bersama suara yang selalu ada di sisinya selama tiga puluh hari ini.

"Maafkan saya. Saya terlambat."

"……"

Pipi Telnerica merona merah.

Di lehernya, helaian rambut menempel karena keringat.

Suhu di sekitar sudah terasa sedikit dingin setelah matahari terbenam.

……Melihat penampilannya, ia pasti berlari sampai ke sini.

"Konoe-sama, bolehkah saya duduk di sebelah Anda?"

"……Ya."

"Terima kasih."

Telnerica duduk di ruang kosong di sebelah Konoe.

Tempat yang memang sudah kosong sejak awal. Kursi yang sempit untuk diduduki berdua.

Namun entah kenapa, Konoe duduk dengan menyisakan ruang kosong di sana.

──Di samping Konoe, ada Telnerica.

"……"

Lalu tubuh Telnerica condong ke arah Konoe.

Seperti saat pertama kali mereka bersandar di atas menara pengawas dulu.

──Ton. Bahu dan kepala Telnerica bersentuhan dengan Konoe.

──Beberapa saat kemudian, suhu tubuhnya mulai tersalurkan.

"……"

"……"

Ada keheningan sejenak. Konoe tentu saja diam, dan Telnerica pun tidak membuka mulutnya.

Padahal seharusnya ada banyak topik pembicaraan seperti soal Bunga Suci maupun penghalang.

Namun Telnerica tetap bungkam, bersandar dengan tenang di sisi Konoe.

Hanya ada suhu tubuh. Tanpa kata-kata, hanya bagian yang sedikit bersentuhan itu terasa hangat, hanya itu saja.

"……"

Namun, hal itu. Suhu itu.

Kehangatan seseorang yang sudah sangat, sangat lama tidak pernah ia ketahui keberadaannya ada di sana.

Konoe merasa matanya sedikit memanas.

Konoe merasa seolah suhu tubuh Telnerica menyentuh hingga ke relung hatinya yang paling dalam.

"………………"

"………………"

Lampu kota dan keriuhan terasa jauh, yang ada hanyalah cahaya bulan dan suara helaan napas.

Di atas menara pengawas yang sempit itu, hanya ada mereka berdua. Benar-benar hanya berdua.

Angin berembus sesekali, terasa dingin.

Namun, justru karena itulah Konoe merasa bisa merasakan siluet dari bagian tubuh yang bersentuhan dengan jelas.

"…………Ah."

Tepat saat itu, angin berembus jauh lebih kencang dari sebelumnya.

Angin itu tidak hanya membawa suhu dingin tetapi juga helaian rambut Telnerica, membuat rambut yang terurai itu melambung ringan di bawah langit malam.

"──"

──Sebuah kilauan sesaat, terpantul oleh cahaya biru pucat dari bulan dan bintang.

Kilauan itu begitu indah hingga membuat mata tanpa sadar menyipit. Warna emas yang begitu cantik, sampai-sampai ia ingin terus, terus menatapnya──.

──Lalu, entah berapa lama waktu telah berlalu.

Telnerica-lah yang memecah keheningan.

"………………Konoe-sama."

"…………Ya."

"Aku harus mengucapkan 'maaf' kepada Konoe-sama."

……? Maaf?

Konoe bertanya-tanya dalam hati, mengapa Telnerica harus meminta maaf.

"Aku sedikit memahami Anda. Aku tahu Anda orang yang seperti apa."

"……Kamu, memahamiku?"

"Iya, meskipun hanya sedikit."

Karena selama hampir tiga puluh hari ini, aku hanya memperhatikanmu saja, lanjutnya.

Telnerica berbisik kepada Konoe. Suaranya terdengar begitu lembut.

Jaraknya begitu dekat hingga helaan napasnya seolah menyentuh telinga.

……Lalu, karena itulah, katanya.

"Karena itulah, Konoe-sama──sebenarnya ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu."

"……"

"Masih banyak hal yang ingin kulakukan. ……Aku ingin berada di sisimu lebih lama lagi."

Sampai di situ, Telnerica mengembuskan napas kecil.

"Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku terlahir di keluarga Silmenia. Karena aku lahir dan dibesarkan sebagai bangsawan. Aku harus melindungi kota ini. Itulah tugas yang dititipkan oleh ayah, ibu, dan kakakku."

"……Bunga Suci."

"Iya, aku harus melindungi Bunga Suci. Aku harus berdiri di barisan paling depan rakyatku. ……Hasilnya, semuanya jadi tanggung, ya."

Di sana, untuk pertama kalinya Konoe menoleh ke arah Telnerica. Telnerica menatap Konoe dengan wajah kesepian dan mata yang berkaca-kaca.

Konoe sampai menahan napas melihat Telnerica yang seperti itu.

"Karena itu, aku minta maaf."

"……"

"Anda telah menyelamatkanku. Hari itu, Anda menemukanku yang hendak mati tanpa bisa melakukan apa pun, lalu mengangkatku. Anda telah melindungi kota ini, melindungi hal yang sangat berharga bagiku."

Aku berterima kasih padamu, katanya. Aku belum pernah merasakan sesuatu yang sehangat itu sebelumnya, lanjutnya.

Telnerica menyandarkan pipinya dengan lembut ke lengan Konoe.

"……Tapi."

──Padahal begitu, tapi aku tidak bisa melakukan apa pun untukmu, katanya.

Telnerica mengucapkannya dengan suara sedih yang penuh penyesalan.

Mendengar kata-kata itu, Konoe ingin segera menyangkalnya.

Bukan begitu. Seharusnya bukan begitu. Konoe pasti ingin mengatakan sesuatu kepada Telnerica.

"……Maafkan aku."

"……"

──Namun, kepada Telnerica yang meminta maaf, Konoe tidak bisa menyampaikan kata-kata itu.

Konoe tidak bisa menyampaikan perasaannya kepada orang lain.

Karena begitulah cara dia menjalani hidup selama ini.

Konoe tidak bisa melakukan apa pun.

Meskipun ia bisa membunuh monster, bisa menyembuhkan penyakit mematikan, menjadi kuat, atau menjadi Adept sekalipun.

Konoe bahkan tidak bisa mengucapkan perasaannya sendiri.

Konoe tetaplah orang yang gagap sosial, selamanya.

"……Jadi, setidaknya."

"……"

"Aku pasti akan menepati janji awal kita."

Selagi Konoe terdiam tanpa bisa berkata-kata, tiba-tiba Telnerica berdiri.

Ia beranjak dari kursi dan melangkah satu-dua langkah.

Lalu, ia berbalik dan tersenyum dengan wajah yang begitu lembut.

"──?"

──Entah kenapa, Konoe merasakan sesuatu yang ganjil.

Dari suasana itu, dan dari kata-kata "janji awal", muncul sebuah firasat samar yang tidak masuk akal.

Seolah-olah ada sesuatu yang sangat penting yang keliru.

Ia tidak mengerti maksud dari kata "janji" itu, tapi ia memiliki firasat yang sangat buruk…… Namun Konoe tidak tahu harus berkata apa.

"……Telnerica?"

"Iya."

Senyuman membalas kata-kata yang akhirnya berhasil ia paksakan keluar.

Telnerica tersenyum nakal seolah sedang menjahilinya.

"Konoe-sama, apakah Anda sudah memutuskan rumah mana yang akan dibeli?"

"……T-tidak."

"……Begitu ya. Belilah rumah yang bagus, ya?"

Tepat setelah Telnerica melontarkan topik pembicaraan yang tiba-tiba itu, ia berkata, "Kalau begitu," lalu membetulkan postur tubuhnya──.

──Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"──Konoe-sama, terima kasih banyak atas bantuan Anda kali ini. Saya tidak bisa cukup berterima kasih karena Anda telah menyelamatkan kota dan rakyat kami. Saya bersumpah tidak akan melupakan budi ini seumur hidup saya."

"──"

"Bisa bertemu dengan Anda hari itu, tidak diragukan lagi, adalah keberuntungan terbesar dalam hidup saya."

──Kata-kata itu terdengar sangat serius dan tanpa keraguan sedikit pun.

Kata-kata yang memancarkan perasaan yang mendalam.

Kata-kata yang bahkan membuat Konoe tidak bisa meragukannya lagi.

Lalu, setelah terdiam beberapa saat setelah kata-kata itu berakhir.

"Konoe-sama. Jika Konoe-sama sudah membeli rumah, bolehkah aku pergi berkunjung?"

"……Eh, a-ah, ya."

Pertanyaan Telnerica itu diucapkan dengan nada bicara yang sedikit lebih santai.

Meskipun bingung, Konoe mengangguk. Kemudian.

"──Terima kasih banyak."

Telnerica tersenyum bahagia. Ia tersenyum seolah-olah merasa sangat senang.

Konoe terpesona oleh senyum itu. ……Namun, tetap saja Konoe tidak bisa mengatakan apa pun.

Selagi ia terpaku, Telnerica memberi salam hormat, lalu berkata "Sampai jumpa," sebelum akhirnya berbalik arah.

Ia mulai berlari. Di atas menara pengawas yang sempit, ia segera sampai di tangga.

──Lalu menghilang ke dalam. Telnerica tidak lagi terlihat.

Konoe ingin menahannya. Tapi ia tidak bisa melakukannya.

Ia merasa bingung. Sosok Telnerica tadi seolah-olah sedang mengucapkan perpisahan, tapi padahal.

"……Padahal besok pun masih ada waktu."

Benar, Konoe akan menyelesaikan kontraknya besok siang dan kembali ke Ibu Kota.

Tapi, besok pagi ia masih berada di kota ini.

Seharusnya jika Telnerica datang seperti biasa di pagi hari, mereka masih bisa bertemu lagi. Ia berpikir begitu──.

──Keesokan paginya. Telnerica tidak mengunjungi kamar Konoe.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close