Chapter 4
Hanya, Satu Hari Saja
Saat aku
terbangun dan melihat ke arah jam, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
Biasanya pada
hari libur seperti ini, aku selalu bangun pagi-pagi sekali untuk lari santai.
Kejadian seperti ini benar-benar langka terjadi.
Tampaknya
pencarian Miori kemarin menguras energiku jauh lebih banyak daripada yang
kukira.
——Setelah
kejadian kemarin, kami akhirnya tiba di rumah Miori dan aku harus menjalani
pemeriksaan oleh pihak kepolisian.
Aku hanya
menjawab bahwa aku mencarinya murni karena dia temanku yang mendadak hilang,
dan aku tidak tahu menahu mengenai detail masalahnya.
Aku sendiri tidak
tahu penjelasan apa yang diberikan Miori kepada orang tua dan polisi. Namun,
aku yakin dia pasti tidak menyebutkan nama Hasegawa dan yang lainnya, lalu
memilih untuk menanggung semua kesalahan itu sendirian.
Karena berbagai
urusan yang merepotkan itu, aku baru bisa bebas setelah hari beranjak malam.
Begitu tiba di
rumah, aku langsung menyerahkan pakaianku yang berlumuran lumpur kepada orang
tua, membersihkan diri di kamar mandi, lalu tidur dengan sangat lelap seperti
orang mati.
……Kira-kira
pakaian itu masih bisa diselamatkan lewat laundry tidak, ya? Aku jadi
cemas, padahal itu baju yang lumayan mahal karena sengaja kubeli untuk kencan!
Yah, tapi
sekarang bukan saatnya mengkhawatirkan hal itu.
Lebih baik aku
bangun sekarang. Namun, tepat di saat aku hendak menyibak selimut, aku
merasakan sesuatu yang aneh.
Lho……? Kenapa
tubuhku terasa sangat berat……?
Rasa sakit di
kepala dan seluruh tubuh mendadak menyerangku secara bersamaan.
Ini adalah
sensasi yang sudah sangat familier. Sudah pasti aku terkena flu. Begitu
menyentuh dahi, aku bisa merasakan hawa yang sangat panas di sana.
Aku pun menjepit
termometer di ketiak. Setelah menunggu beberapa saat, layar menunjukkan angka
tiga puluh tujuh koma lima derajat.
Suhunya memang
tidak terlalu tinggi, tetapi ini sudah bisa dikategorikan sebagai flu biasa.
Kebetulan hari
ini Ibu sedang tidak ada di rumah, jadi aku meminta Namika untuk membelikanku
beberapa keperluan.
"Kamu sih,
pulang-pulang dalam kondisi basah kuyup! Kakak memang bodoh!"
Meskipun terus
mengomel, Namika tetap membelikanku lembaran kompres demam dan juga obat flu.
Tampaknya di
balik sikap ketusnya itu, dia sebenarnya mengkhawatirkanku. Dia sama sekali
tidak berubah.
Untunglah hari
ini hari Minggu. Jika aku beristirahat seharian penuh, esok hari kondisiku
pasti sudah cukup pulih untuk pergi ke sekolah.
Pandanganku
terasa berputar-putar dan tubuhku benar-benar lemas, jadi aku memutuskan untuk
menghabiskan hari ini dengan tidur.
Tepat
saat aku menenggelamkan diri kembali ke dalam selimut, ponsel di dekat bantal
mendadak berdering.
Ternyata
dalang utama dari penyakit fluku ini yang menelepon.
"……Halo."
『……Suaramu
terdengar aneh. Kamu tidak apa-apa?』
Mendengar
suaraku yang parau, Miori bertanya dengan nada cemas.
"Menurutmu
ini gara-gara siapa, sih?"
『……Maaf. Apa
kamu demam?』
"Tadi tiga
puluh tujuh koma lima derajat. Hanya demam ringan kok, paling juga sebentar lagi sembuh."
『Apa ada sesuatu
yang kamu inginkan? Biar aku antarkan ke rumahmu.』
"Tidak usah,
Namika sudah membelikan semua keperluanku."
『Begitu ya.
Kalau ada Namika-chan, aku jadi tenang.'
"……Lalu
bagaimana denganmu sendiri? Kamu baik-baik saja?"
『Ya, aku sehat
walafiat. Lagipula,
aku ini tipe orang yang jarang sekali terkena flu.』
"Benar
juga. Orang bodoh memang tidak bisa kena flu, sih."
『Apa maksudmu
berkata begitu?』
Tepat saat aku
hendak membalas ledekannya, aku malah terbatuk-batuk.
"Uhuk,
uhuk……"
『K-Kamu tidak
apa-apa……? Sebenarnya aku ingin mendiskusikan soal permintaanku yang waktu itu,
tapi sebaiknya kita bahas lain kali saja.』
Miori menyuruhku
untuk beristirahat dengan tenang hari ini sebelum akhirnya memutus panggilan.
Saat aku
memejamkan mata dan berniat untuk tidur kembali, ponselku lagi-world mendadak
berbunyi untuk yang kedua kalinya.
Ada apa lagi, sih…… Namun, rasa kesalku langsung sirna
begitu melihat nama Hikari yang tertera di layar. Rasanya fluku mendadak sembuh
total (bohong besar). Wah, hari ini benar-benar hari yang indah.
『Natsuki-kun? Aku dengar kamu sedang flu, apa kamu
baik-baik saja?』
"Ya, kalau
aku istirahat hari ini, besok pasti sembuh. Tapi, kamu tahu dari siapa?"
『Namika-chan yang memberitahuku. Dia bilang, 'Kak Hikari, Kakak sedang demam,
lho.'』
Padahal
aku tidak ingin membuatnya cemas, tetapi adikku malah melakukan hal yang tidak
perlu. Dasar anak itu.
『Boleh
aku pergi menjengukmu sekarang?』
"Aku
senang mendengarnya, tapi nanti kamu bisa ketularan fluku."
『Biarpun
begitu, aku tetap ingin pergi ke sana. Kecuali kalau kamu memang tidak mau
kurawat, aku tidak akan datang.』
Dia
benar-benar sudah pintar menggunakan cara bicara yang sulit untuk kutolak…… Tentu saja aku merasa senang.
"……Kalau
begitu, aku merepotkanmu, ya. Sebagai informasi, Namika ada di rumah, tapi
orang tuaku sedang pergi."
『Aku sudah tahu
hal itu dari Namika-chan, kok.』
Entah sejak kapan
adikku dan kekasihku sudah saling bertukar informasi secara diam-diam. Jaringan
komunikasi mereka berdua benar-benar menakutkan.
『Aku akan pergi
ke sana bersama Miori-chan, jadi kamu istirahat saja dulu, ya.』
Otakku sudah
tidak bisa berpikir dengan jernih karena rasa lemas yang kian mendera tubuhku.
"Baiklah,"
jawabku singkat sebelum mengakhiri panggilan telepon dari Hikari.
Pokoknya
sekarang aku harus tidur.
Hal-hal lainnya
baru akan kupikirkan setelah kondisiku membaik nanti.
Aku memejamkan
mata dan menarik selimut, tetapi beberapa saat kemudian aku baru menyadari
sesuatu yang janggal.
Dia
bilang akan datang bersama Miori-chan, kan?
Mereka berdua
akan datang menjengukku bersama-sama?
……L-Lalu kenapa?
*
Aku bisa
mendengar sayup-sayup suara orang yang sedang mengobrol.
Kesadaranku
perlahan mulai kembali, rasanya seperti bergerak naik dari dasar air menuju ke
permukaannya.
Saat
membuka mata, pemandangan langit-langit kamar yang familier langsung
menyambutku.
Dahiku
terasa dingin dan nyaman, tampaknya selembar kompres demam telah ditempelkan di
sana.
"Ah,
kamu sudah bangun?"
Suara
yang terdengar bening layaknya dentingan lonceng itu menyapa pendengaranku.
Ketika
menoleh ke arah sumber suara, aku melihat Hikari sedang menatapku dengan lekat.
Jarak
wajah kami sangat dekat hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan, membuat
kulitnya yang putih bersih terlihat begitu menawan.
"……Selamat
pagi."
"Selamat
pagi, Natsuki-kun. Tapi
sekarang sudah jam tiga sore, lho."
"Jangan
dekat-dekat begitu, nanti kamu bisa ketularan flu."
"……Baiklah.
Kalau begitu, aku akan menahannya sedikit."
Dengan nada
merajuk, Hikari pun menggeser duduknya untuk memberi jarak. Astaga, dia
benar-benar menggemaskan.
Daya hancur dari
keimutannya itu seketika membuat rasa kantukku hilang sepenuhnya, bahkan fluku
rasanya langsung sembuh (bohong besar).
Sebagai bentuk
pencegahan, Hikari tampak mengenakan sebuah masker berwarna putih.
"……Terima
kasih ya, Natsuki-kun. Kamu sudah menepati janjimu dengan baik."
"……Aku tidak
melakukan hal yang pantas untuk mendapat ucapan terima kasih kok."
Ya, itu memang
benar. Jika melihat tindakanku secara objektif, aku telah meninggalkan pacarku
di tengah acara kencan demi pergi mencari perempuan lain. ……Eh? Kalau diringkas
secara singkat, bukankah tindakanku itu adalah yang terburuk?
"Malah
harusnya aku yang minta maaf karena telah meninggalkanmu sendirian,
Hikari."
"Tidak
apa-apa, kok. Lagipula, pria yang kusukai memang orang yang seperti itu."
Hikari tersenyum
lembut ke arahku. Apakah dia seorang malaikat?
Dia benar-benar
gadis paling cantik di dunia ini.
Saat aku dan
Hikari sedang asyik saling bertatapan, terdengar suara dehaman kecil yang
memotong momen kami.
"Bagaimana
kondisimu?"
Orang yang
menanyakan hal itu bukanlah Hikari.
Ketika
mengalihkan pandangan, aku melihat Miori sedang duduk di kursi belajarku sambil
menatap ke arahku.
Wajah Hikari
seketika memerah padam, dan dia pun bergegas menjauh dariku dengan salah
tingkah.
……Kalau
dipikir-pikir, tadi Hikari memang bilang akan datang bersama Miori, ya.
Ternyata mereka benar-benar datang berdua.
"Ya,
rasanya sudah jauh lebih baik daripada tadi pagi…… Tubuhku memang masih lemas, tapi demamnya sudah
mulai turun."
Meskipun mencoba
menjawab senatural mungkin, aku sebenarnya merasa agak tegang.
Situasi ini
benar-benar menyiratkan teka-teki. Mengapa Miori dan Hikari bisa datang
menjengukku bersama-sama?
Sejujurnya,
suasana ini terasa sangat canggung bagi diriku.
Bagaimana tidak,
sekarang aku sedang berada di satu ruangan bersama pacarku dan perempuan yang
baru saja kutolak cintanya kemarin! Mustahil situasi ini tidak terasa canggung.
Aku harus berbuat apa sekarang?
"Aku sudah
membuatkan bubur, apa kamu mau makan?"
"A-Ah, ya…… Terima kasih. Aku akan memakannya."
"Tunggu sebentar, ya," ucap Miori seraya melangkah
keluar kamar dengan langkah kaki yang terburu-buru.
Aku pun saling bertatapan dengan Hikari. Aku ingin bertanya
kenapa dia bisa datang bersama Miori, tetapi entah mengapa aku merasa ragu
untuk menanyakannya mengingat banyaknya kejadian yang sudah berlalu. Bagaimana
ini? Tapi kalau aku diam saja, itu juga terkesan tidak natural……
"……Kamu pasti berpikir kalau bubur itu dibuat oleh
Miori-chan dan bukan olehku, kan?" tanya Hikari dengan nada bicara yang
agak ketus.
Tebakannya agak meleset. Maksudku, tebakannya itu
benar-benar salah besar. Jadi, tolong jangan menatapku dengan wajah tidak puas
seperti itu karena ini murni salah paham!
Sebelum kamu
mengatakannya, aku bahkan tidak berpikiran sampai ke sana, tahu!
"Aku kan
masih dalam tahap latihan memasak. Ya, mulai sekarang aku akan belajar menjadi
wanita yang lihai mengurus rumah tangga. Tapi kalau dipikir-pikir, aneh juga ya
melihat Miori-chan yang punya karakter seperti itu ternyata bisa memasak bubur."
"Keluarga
Miori sejak dulu kedua orang tuanya sibuk bekerja, jadi biasanya neneknya atau
Miori sendiri yang memasak di rumah. Tapi, bubur itu apa bisa dikategorikan
sebagai sebuah masakan, ya……"
"Ah,
aku tidak dengar! Aku tidak mendengar apa-apa!"
Hikari
langsung menutup kedua telinganya sambil menggelengkan kepala layaknya seorang
anak kecil yang sedang merengek.
"Aku
tahu betul kalau Cooking Skill milik Miori-chan itu sengaja diasah untuk
memikat hati para pria."
Hikari
mengangguk-angguk sendiri, membenarkan argumennya secara sepihak.
"Memikat
hati pria, ya?"
Kata-kata itu
rasanya sangat tidak cocok jika digambarkan pada sosok Miori.
"Iya, dong.
Soalnya itu curang sekali. Punya kepribadian seperti itu tapi ternyata lihai
mengurus rumah tangga, dia pasti sedang mengincar efek gap moe!"
Hikari yang
menggebu-gebu saat mengatakannya tampaknya tidak menyadari bahwa Miori sudah
berdiri tepat di belakangnya.
Yah, mengambil
bubur dari dapur memang tidak membutuhkan waktu yang lama, sih.
"Hikari-chan. Berhentilah bicara yang tidak-tidak dan
cepat minggir dari sana."
Miori tersenyum kecut sambil membuka sebuah meja lipat
kecil.
Dia meletakkan mangkuk bubur dan sendok di atas meja
tersebut, lalu berniat untuk membawanya ke dekat tempat tidurku.
"T-Tidak
mau! Aku tidak akan menyerahkan posisi ini kepada Miori-chan!"
Entah apa yang
sedang dipikirkannya, Hikari mendadak menggenggam tanganku erat-erat seolah
sedang menyatakan perang kepada Miori.
"……Hikari.
Aku hanya ingin memakan buburku, lho……"
Mendengar
perkataanku, Hikari tampaknya baru menyadari kesalahpahamannya sendiri dan
langsung menjauh dengan wajah memerah.
Lho? Sejak kapan
pacarku berubah menjadi sebodoh ini……?
Miori segera
memindahkan meja kecil itu ke posisi tempat Hikari berdiri sebelumnya.
Aku pun
memosisikan diri untuk duduk bersila, lalu mengambil mangkuk bubur itu dan
mulai memakannya.
Rasa asinnya pas
dan benar-benar terasa lezat.
"……Meja
lipat itu tadi ada di mana?"
"Eh? Meja
ini selalu diletakkan di bawah tempat tidur untuk mengantisipasi jika ada tamu
yang datang……"
Setelah menjawab
pertanyaan Hikari, Miori mendadak tampak panik dan langsung berusaha memberikan
pembelaan diri.
"A-Ah, maksudku…… Memang benar aku tahu tempatnya, tapi
terakhir kali aku berkunjung ke rumah Natsuki itu saat liburan musim panas
lalu. Setelah itu aku tidak pernah datang lagi ke sini, sungguh!"
Meskipun telah mendengar penjelasan itu, Hikari tetap
menatap Miori dengan pandangan penuh selidik.
Suasana ini benar-benar membuatku canggung. Karena itu,
kuharap mereka berdua berhenti bertengkar di depanku.
Kondisi fisikku
sudah cukup menderita, dan sekarang perutku malah ikut terasa mulas. Secara
objektif, dijenguk oleh dua gadis paling cantik di sekolah seharusnya menjadi
momen yang menyenangkan, tetapi entah mengapa situasi ini malah terasa begitu
menyiksa. Sekarang aku bisa memahami perasaan para protagonis Light Novel yang
tidak bahagia meski berada dalam situasi harem. Dulu aku sama sekali tidak
mengerti perasaan mereka.
"Aku tidak
bisa memercayaimu begitu saja, tahu. Apalagi kemarin kamu diam-diam memeluk
Natsuki-kun."
"K-Kalau kamu mengungkit soal hal itu…… aku benar-benar
tidak bisa membela diri. Maafkan aku. Ya, aku minta maaf…… Ini semua murni
kesalahanku, jadi kamu memiliki hak penuh untuk menyalahkanku,
Hikari-chan……"
Ekspresi wajah Miori seketika berubah menjadi muram dan dia
pun langsung tertunduk lesu.
"J-Jangan sedih begitu, dong! Aku hanya bercanda! Aku
sudah memaafkanmu kok, jadi tidak apa-apa!"
Hikari tampak panik dan langsung berusaha untuk menenangkan
Miori.
Aduh, perutku benar-benar sakit…… Berada di dalam ruangan
ini terasa begitu menyiksa bagiku.
Aku hanya bisa berharap agar mereka menganggapku tidak ada
di sini, sambil terus menyuap buburku dalam diam.
"Lagipula,
setengah dari kesalahan ini juga ada pada Natsuki-kun, tahu."
Lho? Kenapa arah
pembicaraannya mendadak berbelok ke arahku……?
"Natsuki-kun
sudah memikat hati Miori-chan! Padahal kamu sudah memiliki diriku!"
Kata-kata itu
rasanya seperti sebilah pisau yang langsung menancap tepat di hatiku.
Aku memang tidak
berniat melakukan hal itu, tetapi aku sadar tindakanku kemarin memicu
kesalahpahaman ini.
"H-Hikari-chan?
Tidak seperti itu, kok! Seperti yang kujelaskan tadi, ini semua murni
keinginanku sendiri, dan Natsuki justru merasa terganggu dan tidak melakukan
apa pun. Jadi tolong jangan menyalahkannya."
Tampaknya selama
aku tertidur tadi, mereka berdua sudah saling membicarakan banyak hal.
Sejak tadi
hubungan mereka berdua juga terlihat sangat akrab, membuatku penasaran dengan
isi obrolan mereka. Namun, aku sadar betul bahwa ini bukanlah konsumsi untuk
telingaku. Pokoknya, aku bersyukur mereka bisa berbaikan kembali.
"Aku sudah
mendengar banyak cerita dari Miori-chan mengenai kejadian yang mendahului hal
ini, dan menurutku tindakan Natsuki-kun yang sok keren itu benar-benar
menyebalkan! Wajar saja jika Miori-chan akhirnya jatuh cinta kepadamu!"
……Memangnya aku
pernah melakukan tindakan yang sekeren itu, ya? Apakah ingatan Miori tentang
diriku sudah mengalami glorifikasi?
"Anu, Hikari-chan…… Berhentilah bicara seperti itu, aku
merasa sangat malu……"
Wajah Miori tampak memerah padam, sebuah pemandangan yang
sangat langka, sambil terus menggoyang-goyangkan bahu Hikari.
Meskipun begitu, Hikari tetap bersikeras tidak mau berhenti
dan terus menatapku dengan pandangan tidak puas.
Sejak tadi aku memang sudah merasakannya, tetapi entah
mengapa emosi Hikari hari ini terkesan agak tidak stabil.
Jika ketidakstabilan emosinya itu disebabkan oleh diriku,
aku tentu tidak memiliki argumen apa pun untuk membantahnya.
"Lagipula,
Natsuki-kun itu selalu saja begitu! Biasanya kamu itu sangat tidak peka, tetapi
kenapa di saat kami sedang dirundung masalah, kamu selalu menyadarinya dengan
cepat lalu menolong kami dengan cara yang egois…… Dasar pria hidung belang!"
"Ugh……"
Seolah belum
cukup dengan sebilah pisau yang menancap di hatiku, kini satu bilah pisau lagi
kembali ditambahkan di sana.
Jangan-jangan
mereka datang ke sini bukan untuk merawatku, melainkan untuk menghabisiku?
"M-Maafkan
atas segala kesalahan saya……"
Baiklah, lebih
baik aku berpura-pura kalau kondisiku mendadak memburuk saja, lalu kembali
tidur untuk melarikan diri dari situasi ini.
*
Saat aku kembali
terbangun, seluruh tubuhku sudah terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Aku segera
memosisikan diri untuk duduk, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela yang
kini telah dihiasi oleh semburat warna jingga.
Waktu di jam
dinding telah menunjukkan pukul lima sore lewat. Di dalam kamar, aku melihat
Miori masih setia duduk di kursi belajarku.
Miori tampak
sedang asyik memandangi layar ponselnya dalam diam, sebelum akhirnya menyadari
bahwa aku sudah terbangun.
"……Hikari di
mana?"
"Dia sudah
pulang. Sambil menggerutu kalau kedatangannya ke sini malah mengganggu proses
istirahatmu dan bukan merawatmu."
Yah…… kalau dipikir-pikir, perkataannya itu memang ada
benarnya juga, sih. Aku tidak bisa membantahnya.
"Lalu, apa tidak apa-apa kalau kamu tetap tinggal di
sini, Miori?"
"Hikari-chan yang menyuruhku untuk tetap tinggal di
sini sampai kamu terbangun. Dia benar-benar gadis yang kuat, ya."
……Secara tidak langsung, Hikari ingin menyampaikan bahwa dia
memercayai Miori sepenuhnya.
"Bagaimana kondisimu?"
"Sudah jauh lebih mendingan. Kalau seperti ini, besok aku pasti sudah bisa
masuk sekolah."
"Kalau
begitu, aku juga harus bersiap untuk pulang. Kamu sudah tidak butuh apa-apa
lagi, kan?"
"Ya. Terima
kasih banyak karena sudah bersusah payah membuatkan bubur untukku."
Miori segera
menyambar tas sekolahnya yang diletakkan di atas meja, lalu memegang kenop
pintu kamar.
"—Mengenai
permintaanku yang waktu itu, aku juga sudah membicarakannya dengan Hikari-chan.
Kira-kira kapan kita bisa pergi?"
"Bagaimana
kalau akhir pekan depan saja? Sepertinya itu waktu yang paling
aman."
"Hmm…… Akhir pekan depan aku ada urusan lain, jadi
kalau bisa aku ingin kita pergi besok saja."
"Besok?
Besok itu kan hari Senin? Itu hari kerja, tahu."
"Aku
sudah menduga kalau kamu pasti akan melupakannya, tapi besok itu adalah hari
libur nasional."
Yang
benar saja. Aku benar-benar melupakan hal itu sepenuhnya. Begitu memeriksa
kalender, besok memang tertera sebagai hari libur.
"Tapi tetap
saja, bukankah ini terlalu mendadak? Kondisi fisikku baru saja pulih,
lho."
"Tentu saja
aku tidak akan memaksamu jika kondisimu memang tidak memungkinkan, jadi
bagaimana keputusanmu?"
Dia masih tetap
egois seperti biasanya. Namun, setiap kali Miori menggunakan cara bicara
seperti itu, aku selalu saja tidak bisa menolaknya.
"……Baiklah,
aku akan pergi."
"Baguslah.
Tapi kalau besok kondisimu memburuk, kamu harus segera memberitahuku, ya."
Setelah
mengatakan hal itu, Miori pun melangkah pergi meninggalkan kamarku.
Maksudku…… Memang
bagus jika rencana ini bisa berjalan dengan lancar, tetapi tolong jangan
seenaknya menganggap kalau aku pasti sedang senggang besok! ……Yah, kenyataannya
besok jadwal jadwalku memang kosong melongpong, sih.
*
Keesokan paginya,
kami memutuskan untuk berkumpul di stasiun lokal pada pukul sembilan tepat.
Kondisi fisikku
sudah pulih sepenuhnya, jadi perjalanan hari ini tampaknya tidak akan
menimbulkan masalah.
Setelah
mempersiapkan segala keperluan perjalanan, aku pun bergegas pergi dan mendapati
Miori sudah menungguku di depan stasiun.
"Selamat
pagi. Apa aku membuatmu menunggu lama?"
"Tidak
kok. Ayo kita berangkat."
Kami pun berjalan
beriringan menuju ke peron stasiun, lalu segera naik ke atas kereta.
Kami tidak
berusaha untuk saling mendekatkan diri, tetapi juga tidak menjaga jarak secara
berlebihan. Karena bagaimanapun, kami adalah teman.
"Di mana
kita akan bertemu dengan Shuto?"
"Kemarin aku
sudah menyuruhnya untuk berkumpul di Stasiun Takasaki."
"Lalu, apa
kamu sudah berhasil menghubungi Takuro?"
"Ya. Berkat
bantuan dari teman-teman lama, aku akhirnya berhasil menemukan akun Minstagram
miliknya."
"Hebat juga
kamu bisa menemukan akunnya."
"Perjuanganku
untuk mencarinya lumayan berat, tahu," ucap Miori sambil mengedikkan bahu.
——Tujuan kami
hari ini adalah untuk kembali berkumpul dan bermain bersama dengan empat orang
yang dulu sempat menjalin hubungan akrab.
Karena hal ini
adalah permintaan langsung dari Miori dan Hikari pun sudah memberikan izinnya,
aku sama sekali tidak memiliki alasan untuk menolaknya.
Kami semua
dilingkupi oleh rasa penyesalan yang mendalam.
Mengenai
bagaimana cara hari-hari menyenangkan di masa lalu itu harus berakhir.
Oleh sebab itu,
meskipun segalanya sudah terlambat, setidaknya untuk sekali saja, kami ingin
mengulang kembali momen-momen indah seperti dulu kala.
"Aku
terkejut Shuto dan Takuro langsung setuju untuk ikut, padahal kejadiannya baru
kemarin."
Ajakan
ini memang terkesan sangat mendadak. Namun, tindakan spontan seperti ini memang
mencerminkan kepribadian Miori yang sebenarnya.
"……Mungkin
mereka berdua juga merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan?"
Pandangan mata
Miori tampak menerawang jauh ke depan.
"Aku tahu
kita tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu. Tapi, jika kita dilingkupi
oleh rasa penyesalan, bukankah kita masih bisa memperbaikinya mulai dari
sekarang? Apalagi sekarang waktu sudah lama berlalu, momennya terasa sangat
pas."
Hidup dengan
mengerahkan seluruh kemampuan terbaik agar tidak menyisakan rasa penyesalan di
kemudian hari.
Jika ada hal yang
disesali di masa lalu, maka perbaikilah selagi hal itu masih memungkinkan untuk
dilakukan.
Aku sangat bisa
memahami prinsip hidup yang dipegang oleh Miori ini.
"—Lagipula
alasannya sederhana saja, aku hanya sedang merindukan mereka berdua."
Miori pun
mengulas senyum manis di wajahnya.
Seolah ingin
menghapus semua alasan rumit yang sempat terlintas di benak kami.
"Benar
juga."
Tidak ada gunanya
memikirkan hal-hal rumit secara berlebihan. Anggap saja perjalanan hari ini
sebagai acara reuni kecil-kecilan.
Keinginan untuk
bertemu dan bermain bersama teman lama adalah satu-satunya motivasi utama kami
saat ini.
Demi mewujudkan
hal itu, kami akan menjemput Shuto terlebih dahulu sebelum akhirnya bertolak
menuju ke Osaka, tempat kediaman Takuro sekarang.
"Bagaimana
rencana perjalanan kita hari ini?"
"Kita
diperkirakan akan tiba di sana sekitar siang hari, lalu langsung bertemu Takuro
untuk makan siang bersama. Setelah itu aku belum memikirkannya lagi, tapi
karena besok sudah harus masuk sekolah, kita harus sudah naik Shinkansen arah
pulang sekitar sore hari."
Agenda hari ini
memang terasa agak padat, tetapi kami tidak memiliki pilihan lain.
Jarak antara
Gunma dan Osaka memang terhitung sangat jauh, membutuhkan waktu perjalanan
sekitar tiga setengah jam menggunakan kereta cepat. Waktu tempuhnya akan
menjadi dua kali lipat jika dihitung secara pulang pergi.
Biaya yang harus
dikeluarkan pun tidak bisa dibilang murah, tetapi kami percaya perjalanan hari
ini memiliki nilai yang jauh lebih berharga dari semua itu.
"Ayo turun,
Natsuki."
Begitu kereta
tiba di Stasiun Takasaki, kami berdua pun bergegas melangkah turun ke peron.
Saat aku dan
Miori sedang berdiri menunggu kedatangan Shuto, mendadak terdengar suara
panggilan dari arah belakang kami.
"Yo. Sudah
lama tidak bertemu, ya."
Suara yang
terdengar penuh percaya diri sekaligus agak angkuh.
Ketika
membalikkan badan, sosok pemuda bertubuh kekar langsung tertangkap oleh
pandangan mataku.
Rambut hitamnya
dipotong pendek dengan guratan wajah yang tampak segar, masih menyisakan
sedikit kemiripan dengan wajahnya di masa kecil dulu. Dia tampak kasual dengan
balutan kemeja putih yang dipadukan dengan celana jins, memancarkan aura kuat
khas seorang atlet sejati.
"—Shuto.
Bagaimana kabarmu?"
"Baik.
Melihat penampilan kalian berdua, sepertinya kalian juga sehat-sehat saja,
ya."
Shuto membalas
sapaanku dengan senyuman ramah, meskipun senyuman itu terlihat agak kaku.
Dia pasti merasa
tegang dalam situasi ini. Aku sendiri bisa merasakan otot-otot di bahuku
mendadak menegang.
Bagaimanapun
juga, pertemuan terakhir kami dulu diakhiri dengan sebuah pertengkaran yang
tidak menyenangkan.
Meskipun sudah
lama tidak bertemu, aku sendiri tidak yakin apakah kami bisa mengobrol dengan
lancar seperti dulu lagi atau tidak.
"Tapi,
bagaimana bisa kamu langsung mengenali kami dengan cepat……?"
Jika
dilihat dengan saksama, Shuto memang masih menyisakan garis wajah masa
kecilnya. Namun, jika aku disuruh untuk mencarinya di tengah lautan manusia di
Stasiun Takasaki seperti ini, aku tidak yakin bisa menemukannya dengan mudah. Meski begitu, Shuto sama sekali tidak
tampak ragu saat menghampiri kami.
Saat aku
melontarkan pertanyaan itu untuk sekadar mencairkan suasana yang kaku, Shuto
pun mulai memberikan penjelasannya.
"Tentu saja
mudah. Aku sesekali melihat foto wajah Miori di Minstagram, dan kemarin Natsuki
juga sempat tampil dalam acara pertunjukan musik di festival budaya sekolah,
kan? Kebetulan aku menonton pertunjukanmu secara langsung hari itu,
penambilanmu benar-benar hebat."
"Eh!? Jadi
kamu datang hari itu!? Kenapa tidak menyapa jika kamu ada di sana!"
Pengakuannya yang
mengejutkan itu sukses membuatku terperangah.
Ternyata Shuto
berada di tengah-tengah kerumunan penonton hari itu.
"Aku sempat
merasa bimbang apakah harus menyapamu atau tidak…… Mengingat sekarang kamu
sudah dikelilingi oleh banyak teman baru, aku ragu apakah kedatanganku yang
tiba-tiba ini akan membuatmu merasa senang atau justru sebaliknya."
Tampaknya Shuto
juga selalu memikirkan keberadaan kami selama ini. Mengetahui hal itu membuat
perasaanku menjadi sedikit lebih tenang.
"Makanya aku
merasa sangat senang saat kalian mengajakku pergi hari ini, meskipun
undangannya terkesan sangat mendadak, sih."
"Benar juga.
Aku sendiri baru mendengar rencana kepergian kita dari Miori kemarin malam, dan
itu sukses membuatku terkejut."
"Tindakan
spontan yang langsung mengeksekusi rencana begitu terpikirkan memang sangat
mencerminkan kepribadian Miori sekali, ya."
"Ya, kamu
benar. Anak ini memang sudah memiliki tabiat seperti itu sejak dulu."
Aku dan Shuto pun
tertawa bersama setelah membicarakan hal itu.
Hanya Miori
seorang diri yang tampak memasang ekspresi cemberut sambil menatap ke arah kami
berdua.
"……Maafkan
aku atas kejadian yang lalu, ya. Saat itu aku tidak bisa memandangmu murni
sebagai seorang teman saja."
Sambil menggaruk
kepalanya yang tidak gatal, Shuto pun melontarkan permohonan maafnya kepada
Miori.
"Lalu
bagaimana dengan perasaanmu yang sekarang?"
"Tenang
saja. Sekarang aku sudah memiliki seorang kekasih, kok."
Shuto mengulas
senyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya sambil mengacungkan ibu jari ke
arah kami.
"Kalau
begitu, apa sekarang kita sudah bisa kembali berteman seperti dulu lagi?"
"Jika itu
yang kamu inginkan, aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu."
Senyuman yang
terpancar dari wajahnya terlihat sangat tulus tanpa menyembunyikan maksud apa
pun.
——Masalah pelik
yang melibatkan perasaan terkadang memang membutuhkan bantuan waktu untuk bisa
menyelesaikannya.
『……Baiklah.
Kalau begitu, tunggulah sampai kebohonganku tidak lagi menjadi sebuah
kebohongan.』
Kata-kata yang
diucapkan oleh Miori waktu itu tampaknya menaruh harapan besar pada hal ini.
Suasana kaku yang
sempat menyelimuti kami berdua perlahan mulai mencair setelah Shuto melontarkan
permohonan maafnya. Tidak, suasananya kini telah kembali seperti sedia kala.
Kami pun tertawa
bersama di tengah atmosfer yang terasa hangat dan akrab, persis seperti masa
lalu kami dulu.
Kami segera
menaiki Shinkansen dari Stasiun Takasaki. Perjalanan panjang kami pun resmi
dimulai setelah kami bertiga duduk berdampingan di kursi penumpang yang
sejajar.
Kami mulai
membuka lembaran kenangan masa lalu, sembari saling bertukar cerita mengenai
kegiatan kami selama berpisah.
Shuto yang
memilih melanjutkan sekolah ke SMP yang berbeda dengan kami, kini terdaftar
sebagai salah satu siswa di SMA Timur Takasaki.
Sejak duduk di
bangku sekolah dasar, Shuto memang sudah sangat andal dalam bermain sepak bola,
dan tampaknya dia masih menekuni hobi tersebut dengan bergabung di klub sepak
bola sekolahnya sekarang.
Waktu perjalanan
selama tiga setengah jam di atas Shinkansen pun terasa berlalu dengan sangat
cepat.
"Hei,
semuanya! Sudah lama tidak bertemu, ya!"
Begitu
menginjakkan kaki di Stasiun Shin-Osaka, sosok Takuro langsung terlihat berlari
menghampiri kami sambil melambaikan tangannya dengan semangat.
"Terima
kasih banyak karena sudah bersusah payah datang ke sini. Aku benar-benar terkejut saat
mendengar kabar kedatangan kalian kemarin."
Penampilan
fisik Takuro tidak mengalami banyak perubahan jika dibandingkan dengan
penampilannya di masa lalu. Hanya saja, tubuhnya kini melebar ke samping.
Singkatnya,
dia berubah menjadi sangat gemuk.
"Wah,
sebenarnya aku juga berniat untuk melakukan diet, sih."
Sambil
menepuk-nepuk perut buncitnya, Takuro pun tertawa terbahak-bahak mendengar
komentar kami.
Sejak
kecil tubuhnya memang sudah agak berisi, tetapi aku tidak menyangka
pertumbuhannya akan menjadi sekekar ini……
"Kalian semua benar-benar sudah banyak berubah, ya.
Shuto sekarang terlihat seperti seorang atlet sejati, Miori berubah menjadi
gadis yang sangat cantik, dan Natsuki juga…… entahlah, kamu terlihat jauh lebih
tampan, tapi di balik itu semua, aura kepercayaan dirimu terasa sangat kuat.
Padahal dulu kamu selalu terlihat panik saat berlari mengejar Miori dari
belakang."
Takuro menggumamkan hal itu dengan nada suara penuh
nostalgia, mengenang kembali masa lalu kami.
Meskipun penampilannya tidak banyak berubah, aku bisa
merasakan aura kedewasaan yang kini terpancar dari dalam diri Takuro.
Wajar saja,
Takuro juga pasti mengalami proses pendewasaan diri selama menghabiskan waktu
terpisah dari kami semua.
"……Lalu, apa
rencana kita sekarang? Kalian semua pasti belum makan siang, kan?"
"Ya. Perutku
sudah sangat lapar sampai rasanya menempel ke punggung. Aku bersedia memakan
apa saja saat ini."
Shuto menjawab
pertanyaan Takuro sambil mengusap-usap perutnya yang keroncongan.
"Bagaimana
keputusanmu, Miori?"
Aku pun memilih
untuk menyerahkan keputusan akhir kepada Miori. Persis seperti di masa lalu,
kami bertiga kini kompak mengalihkan pandangan ke arah Miori secara bersamaan.
"Apakah
kalian semua sudah melupakannya? Janji kita untuk makan Yakiniku bersama saat
kita sudah besar nanti."
Mendengar Miori
yang tiba-tiba mengungkit masalah itu, aku pun segera mengalihkan pandangan ke
arah Shuto dan Takuro.
Namun, mereka
berdua kompak menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang tampak
kebingungan. Karena itu, aku pun berinisiatif untuk mewakili suara mereka.
"Mana
mungkin kami bisa mengingat janji sekonyol itu satu per satu, sih."
"Haaa!?
Menyebalkan sekali! Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang mengingatnya!?
Kalian benar-benar menyebalkan! Menyebalkan sekali!"
Sambil
menghentakkan kaki dengan bahu yang bergetar menahan amarah, Miori pun
melangkah pergi mendahului kami semua.
Miori memang
memiliki kebiasaan suka membuat janji di setiap kesempatan yang ada. Wajar saja
jika kami tidak bisa mengingat seluruh janji itu dengan detail.
"……Lalu,
kira-kira anak itu mau pergi ke mana, ya?"
"Entahlah.
Dia pasti berpikir kalau terus berjalan secara acak nanti akan menemukan
restoran Yakiniku dengan sendirinya."
Shuto hanya bisa
mengedikkan bahu saat merespons pertanyaanku.
"Ah, kalau
soal restoran Yakiniku, aku tahu tempat yang menyajikan hidangan lezat di
sekitar sini. Biar aku yang mengantar kalian ke sana."
Takuro berkata
dengan nada santai.
"Itu bagus,
sih. Tapi untuk saat ini, kita harus membawa Miori kembali dulu."
Shuto segera
berlari kecil untuk mengejar Miori.
Kini hanya
tersisa aku dan Takuro di tempat ini. Keheningan sempat menyelimuti kami berdua
selama beberapa saat.
Di tengah hiruk
pikuk stasiun dan lalu lalang orang-orang, Takuro akhirnya membuka suara.
"Setelah aku
pindah sekolah, kalian bertiga tidak pernah main bareng lagi, ya?"
"……Ya. Ini
pertama kalinya aku bertemu Shuto lagi sejak lulus SD."
"……Sudah
kuduga. Soalnya tepat sebelum aku pindah, kita memang sudah tidak bersama
lagi."
Setelah
menggumamkan hal itu, Takuro mendadak melempar pertanyaan, "Lalu bagaimana
denganmu dan Miori?"
"Aku
dan Miori masuk ke SMP yang sama. Saat SMP kami jarang mengobrol, tapi karena di SMA kami satu sekolah lagi,
kami pun kembali akrab. Dari sana, Miori mendadak menunjukkan aksi spontan yang
luar biasa demi mewujudkan impian untuk bisa main bareng lagi berempat seperti
dulu. Hasilnya ya seperti sekarang ini."
Sebenarnya ada
banyak hal pelik yang terjadi di antara kami. Namun, jika diringkas secara
garis besar, kira-kira begitulah situasinya.
"Aku juga
sebenarnya ingin sekali bertemu dengan kalian. Tapi karena dulu aku pindah
dalam situasi yang canggung, aku jadi ragu untuk menghubungi kalian karena
tidak tahu bagaimana kondisi kalian sekarang. Lagipula saat SD dulu kita kan
belum punya ponsel, jadi agak sulit mencari kontak kalian kalau tidak berusaha
keras."
Oleh karena itu,
Takuro melanjutkan bahwa dia merasa sangat senang saat menerima ajakan ini.
"Karena
kalian bertiga ada di sana, sebenarnya akulah yang ingin pergi ke Gunma. Tapi
sayangnya, saat ini aku sedang bokek."
"Miori yang
mendadak memutuskan rencana ini secara sepihak, jadi kamu tidak perlu
memikirkan hal itu."
Saat kami sedang
asyik mengobrol, Shuto dan Miori akhirnya kembali.
Meskipun sikap
Miori masih tampak cemberut, sepertinya Shuto telah berhasil membujuknya dengan
baik.
Setelah itu, kami
pun bergegas menuju ke restoran Yakiniku rekomendasi dari Takuro.
Sembari membakar
lembaran daging satu per satu, kami mulai membuka kembali lembaran kenangan
masa lalu.
Begitu
matang, Shuto dan Takuro langsung melahap daging-daging itu tanpa sisa. Porsi
makan seorang atlet dan orang gendut benar-benar mengerikan.
Aku dan
Miori sebenarnya termasuk tipe orang yang porsi makannya lumayan banyak, tetapi
kami berdua jelas bukan tandingan untuk mereka.
"—Lagipula
ya, kuharap dia bisa sedikit saja memahami perasaanku. Di saat aku sedang patah
hati dan ingin menangis, anak ini malah sibuk memikirkan apakah kami masih bisa
berteman atau tidak, tahu."
Sembari menjepit
daging sapi dengan capitan, Shuto mulai mencurahkan isi hatinya.
Karena waktu
sudah lama berlalu, ada beberapa hal yang kini bisa diungkapkan secara
blak-blakan.
"M-Maaf,
deh. Kan aku sudah minta maaf berkali-kali soal hal itu. Saat itu aku benar-benar tidak
mengerti soal urusan cinta……"
"Dengar
sendiri kan, dia selalu saja beralasan begitu?" ucap Shuto sambil
melemparkan pandangan ke arah Takuro.
Takuro
pun mengangguk-angguk setuju dan menimpali perkataan Shuto, "Kamu benar
sekali."
"Padahal
kamu itu menyukai Natsuki, kan? Kelihatan jelas banget, lho."
Mendengar
kata-kata Shuto, Miori langsung terkesiap dengan wajah yang memerah padam,
"A-Apa……"
Bagi kami
berdua, ini adalah topik yang sangat sensitif karena baru saja terjadi. Reaksi
yang ditunjukkan oleh Miori seketika membuat atmosfer di antara kami berubah
menjadi agak canggung.
"……Jadi, apa
itu benar? Miori sudah menyukaiku sejak dulu?"
"Kupikir dia
sendiri tidak menyadarinya, tapi itu sudah pasti benar. Soalnya apa pun yang
dia lakukan, Natsuki selalu menjadi prioritas utamanya. Coba kalian bayangkan
bagaimana perasaanku yang harus menyaksikan hal itu setiap hari dari dekat.
Rasanya perih tahu!"
"Melihat
situasi seperti itu, wajar saja kalau Shuto akhirnya memilih untuk menjaga
jarak," timpal Takuro seraya mengangguk setuju.
Setelah melihat
mereka berdua yang saling mengangguk satu sama lain, aku pun mengalihkan
pandangan ke arah Miori.
Wajahnya kini
sudah memerah padam sempurna. Bahkan, matanya tampak berkaca-kaca menahan
tangis.
"……Ngomong-ngomong,
boleh aku tanya sesuatu secara blak-blakan? Apa kalian berdua sekarang sudah
pacaran?"
Shuto melontarkan
pertanyaan itu dengan nada mantap, seolah-olah dia baru saja meneguhkan
hatinya.
Yah, wajar saja
jika pertanyaan itu muncul mengingat kami berdua bersekolah di SMA yang sama
dan terlihat begitu akrab.
"Tidak, kami
tidak pacaran. Lagipula, sekarang aku sudah punya pacar."
"Wah, wah.
Ternyata bukan cuma Shuto saja, tapi Natsuki juga sudah punya pacar, ya. Dasar
kalian ini……"
Sembari meratapi
nasibnya, Takuro kembali melahap nasi putihnya dengan rakus.
"Ah, sudah
kuduga. Berarti gadis yang kamu maksud dalam pertunjukan musik festival budaya
waktu itu adalah gadis lain, ya. Soalnya lirik lagunya memang sama sekali tidak
terasa seperti ditujukan untuk Miori, sih. Ternyata tebakanku benar……"
"Eh,
apa-apaan nih soal pertunjukan musik di festival budaya? Kedengarannya menarik,
tuh?"
Mendengar gumaman
Shuto yang tampak puas, Takuro langsung menyambar topik tersebut dengan penuh
minat.
Shuto pun mulai
menceritakan pengalamannya saat menonton pertunjukan musikku di festival budaya
sekolah.
Kuharap dia
berhenti membicarakan hal itu karena jujur saja ini membuatku sangat malu. Aku
sadar kalau penampilanku hari itu memang agak berlebihan!
"Hebat juga
kamu, Natsuki. Wah, rasanya menyenangkan ya bisa menikmati masa muda seperti
itu~"
Sembari tersenyum
penuh arti, Takuro menepuk-nepuk bahuku dengan akrab.
"Hei,
perlihatkan foto pacarmu dong," pinta Shuto yang duduk di sampingku.
Karena tidak
punya pilihan lain, aku pun membuka galeri ponselku dan memperlihatkan foto
berduaku bersama Hikari.
"Hah!? Dia
benar-benar gadis yang sangat cantik!?"
"Aku tidak
bisa memaafkanmu. Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu, Natsuki."
"T-Tenang
dulu, Takuro! Jangan mendekat dengan tubuh besarmu begitu, itu menakutkan tahu
meskipun cuma bercanda!"
Setelah melewati
perdebatan kecil itu, Shuto bergumam dengan nada heran.
"Tapi
ini benar-benar tidak terduga, ya."
"Aku
sempat berpikir kalau kalian berdua pada akhirnya akan berakhir bersama."
"Ya, aku
juga berpikiran sama. Natsuki juga pasti sempat menyukai Miori dulu, kan?"
"……Yah,
kalau dipikir-pikir sekarang sih mungkin begitu. Tapi karena itu cinta
pertamaku, aku jadi tidak terlalu menyadarinya."
Mendengar
jawabanku, Takuro pun menarik kesimpulan, "Yah, lagipula itu kan cerita
masa lalu saat kita masih SD."
Miori yang duduk
di sebelahku tampak gelisah karena merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan
ini.
"Lagipula,
mustahil kan kalau cinta monyet di masa lalu itu masih bertahan sampai
sekarang."
"Ini kan
dunia nyata, bukan komik atau drama. Malah terkesan berlebihan dan menyeramkan
kalau sampai terjadi, kan?"
Shuto dan Takuro
pun tertawa terbahak-bahak bersama setelah membicarakan hal itu.
Miori yang sejak
tadi hanya diam membisu, akhirnya angkat bicara karena sudah tidak tahan lagi.
"—Aku memang
baru saja ditolak, memangnya kenapa?"
Shuto dan Takuro
seketika tertegun dengan mata membelalak dan mulut ternganga karena saking
terkejutnya.
"Aku memang
menyukainya sejak dulu tapi baru menyadarinya belakangan ini! Tepat setelah
Natsuki punya pacar, aku baru menyadari perasaanku lalu nekat menyatakan cinta
dan akhirnya ditolak! Memangnya ada masalah!? Lagipula kejadiannya baru dua
hari yang lalu, tahu!!"
Miori berteriak
dengan nada gusar, meluapkan semua emosinya. Auranya saat ini benar-benar mirip seperti
orang yang sedang mabuk.
Meskipun
suasana di dalam restoran Yakiniku ini sangat bising, menurutku dia harus
menurunkan volume suaranya sedikit.
Setelah
sempat terdiam karena saking terkejutnya, Shuto dan Takuro mendadak langsung
tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut mereka.
"Hahaha!
Jadi begitu! Ternyata situasinya seperti itu, ya! Hahaha! Pantas saja atmosfer
di antara kalian berdua terasa agak aneh sejak tadi! Wajar saja kalau
suasananya jadi canggung kalau kamu baru ditolak kemarin!"
"Tapi kalau
dipikir-pikir, bukankah kamu payah sekali dalam urusan asmara karena gagal
jadian dalam situasi seperti itu?"
"……Jangan
dibahas lagi. Aku sendiri sudah menyadarinya, kok."
"Meskipun
kita mengesampingkan masalah waktu, kenapa kamu malah nekat menyatakan cinta di
saat dia sudah punya pacar? Mana mungkin bisa berhasil. Hubungan mereka kan
pasti lagi hangat-hangatnya karena baru pacaran sejak festival budaya."
"Aku sengaja
melakukannya karena ingin mengakhiri perasaan ini dan move on! Aku ingin kami
bisa kembali berteman seperti dulu lagi!"
Mendengar argumen
Shuto yang sangat logis, Miori merengek layaknya seorang anak kecil yang sedang
ngambek.
Jujur
saja, situasi ini benar-benar membuatku canggung. Sangat canggung. Aku bahkan
tidak tahu harus merespons apa saat ini!
"……Lalu,
apa sekarang kalian sudah bisa kembali berteman?"
Mendengar
pertanyaan serius yang dilontarkan oleh Shuto, Miori sempat bergumam pelan
sebelum akhirnya menjawab.
"……Saat ini,
aku sedang mengusahakannya."
"Jawabanmu
terdengar kurang meyakinkan, ya. Tapi tenang saja, waktu pasti akan menyembuhkan segalanya kok. Aku sendiri
sudah membuktikannya."
"Benarkah?
Apa perasaan ini benar-benar bisa menghilang seiring berjalannya waktu?"
Miori melempar
pertanyaan kepada Shuto dengan ekspresi wajah yang tampak cemas.
Takuro menatapku
dengan pandangan penuh arti, lalu mengucapkan kata "Pria idaman"
tanpa mengeluarkan suara.
Bisa diam tidak,
sih. Aku juga sebenarnya sudah menyadari hal itu, tahu.
"Perasaan itu pasti akan hilang kalau kalian saling menjaga jarak untuk sementara waktu, tapi masalahnya kalian kan satu sekolah."
"Maaf. Untuk
saat ini, aku tidak berniat menjaga jarak."
Mendengar
perkataan Miori, Shuto menyahut dengan nada terkejut, "Eh, benarkah?"
"Soalnya
Natsuki bilang kalau dia tidak mau berhenti jadi temanku…… Dia menyuruhku untuk
mengatasinya sendiri……"
Shuto dan Takuro
langsung menatapku dengan tatapan seolah-olah ingin bilang, 'Kamu ini
benar-benar keterlaluan ya……'
Aku sadar betul
kalau perkataanku itu terdengar sangat egois. Tapi mau bagaimana lagi?
Sebab, tetap
berteman dengan Miori berkaitan langsung dengan targetku untuk meraih Rainbow
Youth (prinsip egois).
"Kasihan
sekali, kamu malah jatuh cinta pada pria yang payah."
"Hahaha!
Tapi, keegoisan seperti itu memang mencerminkan Natsuki sekali!"
Setelah keluar
dari restoran Yakiniku, kami menemukan kafe yang nyaman untuk melanjutkan
obrolan kami.
Kami pun tertawa
bersama seolah ingin membayar semua waktu yang terbuang selama kami berpisah.
Meskipun
penampilannya seperti ini, Takuro ternyata bersekolah di salah satu SMA
unggulan paling ketat di Osaka.
Dia bilang,
perutnya yang membuncit ini adalah dampak dari stres karena terlalu banyak
belajar.
Saat ini
dia sedang mengincar untuk masuk ke Universitas Tokyo. "Kalau aku lulus,
kita jadi bisa lebih sering bertemu nanti," ucap Takuro sambil tertawa.
Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Setelah hari
ini berakhir, kami semua akan kembali melangkah menuju masa depan kami sendiri.
Namun, aku
berharap sesekali kami bisa melipir sejenak dari kesibukan untuk kembali
mempererat tali pertemanan lama seperti hari ini.
Waktu
perpisahan pun tiba dengan begitu cepat.
Jam
keberangkatan Shinkansen arah pulang sudah semakin dekat.
Kami pun
berdiri saling berhadapan dengan Takuro di stasiun. Keheningan yang sarat akan rasa enggan untuk
berpisah sempat menyelimuti kami.
"Lain kali,
akulah yang akan pergi ke tempat kalian."
Takuro memamerkan
deretan gigi putihnya, mencoba untuk mencairkan atmosfer yang terasa berat.
"Sampai
jumpa lagi. Mari kita main berempat lagi."
"Tentu saja.
Hari ini benar-benar mendadak dan kita tidak punya banyak waktu, jadi lain kali
mari kita buat rencana yang matang."
"Pergi
berlibur berempat sepertinya seru juga, ya."
Mendengar
interaksi kami, senyuman lembut pun terukir di wajah Miori.
"Kalau
begitu, janji, ya. Kita pasti harus main bareng lagi…… Tidak, kita harus main
bareng berkali-kali!"
Dengan begitu,
kami akhirnya berhasil mendapatkan kembali teman masa kecil kami yang berharga.
Di dalam
Shinkansen arah pulang, kami menghabiskan waktu dengan mendengarkan tips-tips
seputar asmara dari Shuto.
Tampaknya dia
sudah tidak tahan lagi melihat Miori yang benar-benar payah dalam urusan cinta.
Begitu Shuto tahu bahwa Miori sempat memberikan saran asmara kepadaku, dia
langsung tertawa terbahak-bahak sebelum akhirnya memegangi kepalanya sendiri
karena keheranan.
"Sebenarnya
apa yang mendasari pemikiranmu sampai nekat memberikan saran asmara kepada
Natsuki, sih?"
"Itu…… kan aku menirunya dari internet, komik, atau
cerita dari teman-teman yang lain……"
"Shuto juga tahu sendiri, kan? Anak ini sejak dulu
memang tipe orang yang suka sok tahu dan gengsian."
"Padahal
dulu kamu selalu mengandalkanku saat ada masalah."
"Yah,
soalnya saat itu kupikir pemikiranmu masih sedikit lebih mendingan daripada
pemikiranku……"
Setelah melewati
obrolan seru itu, kami akhirnya tiba di Stasiun Takasaki.
"Kalau
begitu, sampai jumpa lagi, ya. Miori, kamu juga harus segera mencari cinta yang
baru!"
"Tidak usah
disuruh pun aku pasti akan melakukannya!"
Shuto melambaikan
tangannya dengan santai sembari melangkah pergi menjauh.
Aku merasa senang
karena dia tidak mengucapkan kata selamat tinggal, melainkan kata sampai jumpa
lagi.
"Mari kita
pulang juga."
"Ya. Benar
juga."
Hari ini
benar-benar menyenangkan. Dunia di sekitarku rasanya terlihat begitu cerah dan
berwarna.
Kupikir
momen hari ini sudah sangat pantas untuk dikategorikan sebagai salah satu
lembaran dari Rainbow Youth.
……Namun,
tidak bisa dimungkiri kalau perjalanan pulang pergi selama tujuh jam di atas
Shinkansen benar-benar menguras tenaga.
Lebih
baik aku segera pulang dan mengistirahatkan tubuhku. Bagaimanapun juga,
kondisiku kan baru saja pulih dari sakit.
Waktu sudah
menunjukkan pukul delapan malam lewat. Karena malam ini adalah malam hari libur
nasional, suasana di dalam gerbong kereta terasa sangat sepi dari penumpang.
Miori
tampak melamun seraya memandangi pemandangan di luar jendela. Aku sendiri
memilih untuk tetap diam dan tidak mengajaknya mengobrol.
Sembari
diguncang oleh laju kereta, kami pun akhirnya tiba di stasiun lokal dekat rumah
kami.
Dari stasiun ini,
kami masih harus berjalan kaki selama sepuluh menit lebih untuk bisa sampai ke
rumah.
Namun, Miori yang
semula berjalan di depanku mendadak membalikkan badannya secara tiba-tiba dan
menghadap ke arahku.
"—Aku mau
mampir ke minimarket sebentar. Kita berpisah di sini saja, ya."
Itu adalah cara
Miori untuk membuat batasan di antara kami. Orang sepertiku pun bisa langsung memahami
maksudnya dengan sangat jelas.
"Baiklah…… Kalau begitu, sampai bertemu besok di
sekolah, ya."
Aku pun berjalan melewati Miori yang masih berdiri mematung
di tempatnya.
"—Natsuki!"
Namaku dipanggil. Saat aku membalikkan badan, aku melihat
Miori sedang tersenyum lebar.
Sebuah senyuman yang tampak bersinar terang layaknya
matahari, persis seperti senyuman yang diperlihatkannya saat menarik tanganku
dulu di masa kecil.
"Aku pasti
akan menemukan cinta yang baru. Entah itu Reita-kun atau pria yang lainnya, aku
akan berusaha keras demi bisa meraih kebahagiaanku sendiri. ……Agar kali ini,
aku tidak akan menyisakan rasa penyesalan lagi."
Kata-kata yang
diucapkannya terdengar begitu mantap dan bertenaga.
Sebuah untaian
kalimat yang seolah menegaskan bahwa aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.
"Semangat,
Miori. Di luar sana ada banyak sekali pria yang jauh lebih baik daripada
diriku."
Miori
mengangguk setuju sambil mengedikkan bahunya dengan santai.
"Rasanya aku
seperti baru saja tersadar dari mimpi, deh. Kalau dipikir-pikir kembali, kenapa
dulu aku bisa menyukai pria sepertimu, ya? Sebagai seorang teman kamu memang
baik, tapi sebagai seorang pria kamu itu sama sekali tidak bisa diandalkan~"
"Hei, jangan
langsung merentetan fakta menyakitkan seperti itu, dong. Hatiku ini kan rapuh
layaknya kaca."
Mendengar
sanggahanku yang dilontarkan dengan cepat, Miori menjulurkan lidahnya sambil
mengejek, "Dasar bodoh," sebelum akhirnya memasang ekspresi wajah
yang datar.
"—Saat ini,
aku sudah tidak memiliki perasaan cinta lagi kepadamu."
Miori
mengonfirmasi hal itu dengan nada suara yang sangat meyakinkan.
Hingga untuk
sesaat, aku sempat memercayai kalau kata-katanya itu adalah sebuah kebenaran
yang mutlak.
"Kalau
begitu, aku sudah tidak perlu cemas lagi. Kita pasti bisa tetap menjadi teman
baik."
Aku akan terus
mempertahankan kebohongan ini, sampai kebohongan ini tidak lagi menjadi sebuah
kebohongan.
Jika itu adalah
bentuk keteguhan hati yang dipilih oleh Miori, maka aku pun akan memilih untuk
terus membiarkan diriku tertipu oleh kebohongannya sampai akhir.
"Ya. Mulai
sekarang dan untuk seterusnya, kita akan selalu menjadi teman baik."
Miori melambaikan
tangannya yang lebar seraya mengucapkan kata sampai jumpa.
Aku pun
membalasnya dengan lambaian tangan kecil, lalu berbalik dan melangkah pergi.
Aku tidak
mendengar suara langkah kaki di belakangku. Namun, aku memilih untuk terus
berjalan lurus menuju ke rumah tanpa sekali pun membalikkan badan ke arah
belakang.
Udara malam ini
terasa sedikit lebih hangat daripada biasanya. Embusan angin yang tenang
bertiup dengan lembut, melewati pundakku yang kian menjauh.



Post a Comment