NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 5 Chapter 3

Chapter 3

Turnamen Olahraga Bola


Hari turnamen bola pun tiba.

Di sekitar gimnasium dan lapangan, berkumpul jumlah orang yang cukup besar.

Ternyata sekolah kita punya murid sebanyak ini ya. Karena ini seluruh siswa, berarti ada sekitar delapan ratus orang kurang sedikit?

Ups, bukan waktunya untuk kagum. Aku ada pekerjaan sebagai anggota komite pelaksana.

"Eh—, Lapangan Satu, pertama adalah kelas 3-2 melawan kelas 2-1! Harap bersiap!"

Aku mengumumkan sekeras mungkin.

Aku harus menjalankan pertandingan sesuai dengan jadwal.

Tugasku dan Miori adalah bola voli di Lapangan Satu.

"Turnamen bola sendiri memang menyenangkan karena terasa tidak seperti hari biasa, tapi jadi komite pelaksana itu merepotkan ya..."

"Jangan mengeluh sekarang, Miori. Lagipula ini tidak terlalu merepotkan, kan."

Karena wasit sudah diserahkan kepada anak klub voli, tugasku selama pertandingan hanya membalik papan skor.

Lagipula, ada sistem sif, jadi Naru dan yang lainnya punya waktu bebas. Mereka akan menggantikan kami setelah melihat situasi.

"Hah, kira-kira Shizuki-chan dan yang lainnya lagi apa ya?"

"Yah, mungkin mereka sedang mendukung kelas masing-masing seperti biasa?"

Sepertinya mereka belum punya nyali cukup besar untuk bermesraan di siang bolong.

"Oh iya, Funayama-san jadi menyatakan cinta ke Naru?"

Saat aku bertanya sebagai obrolan santai, Miori tiba-tiba kaku seolah menahan napas.

"……Itu, apa kamu dengar langsung dari orangnya?"

"Tidak, bukannya kemarin kalian berdua bicara? Aku cuma tidak sengaja dengar sedikit."

"O-ooh begitu, cuma dengar 'sedikit', ya?"

"Ya. Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa. Tidak ada apa-apa kok. Sama sekali tidak ada. Bodoh. Idiot. Dasar ceroboh."

"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa tiba-tiba memaki!?"

Miori meletakkan tangan di dadanya dan menghela napas panjang.

"……Begitulah. Memang benar dia bilang begitu. Dia ingin menyatakan cinta pada Shinohara-kun. Katanya karena kesempatan berkomunikasi lewat komite pelaksana bertambah, perasaan sukanya jadi makin besar."

"Itu baguslah. Naru sepertinya masih belum punya keberanian, jadi wajar kalau dia keduluan."

"Sebagai perempuan, tentu ingin ditembak oleh laki-laki, kan?"

"Sebagai laki-laki pun, ada keinginan untuk menyatakan cinta sendiri. Kalau sudah tahu kalau perasaan kita saling membalas, sisanya tinggal masalah keberanian. Jadi, kalau keduluan, mungkin rasanya agak menyedihkan."

"Tapi, bukannya Natsuki sendiri pernah ditembak oleh dua gadis imut dan dipaksa untuk memilih?"

"Aku melakukan pengakuan di panggung seperti itu karena ingin mengubah diriku yang menyedihkan."

Kalau aku yang biasa, aku tidak akan melakukannya. Kalau ditolak, itu pasti bakal jadi sejarah hitam. Justru karena itulah aku rasa hal itu bermakna.

"……Keren ya, Natsuki. Aku juga ingin jadi seperti dirimu."

Saat Miori menggumamkan hal itu, siswa kelas dua yang bertugas sebagai wasit meniup peluitnya.

Pertandingan antara kelas 3-2 dan kelas 2-1 dimulai.

"Kamu ingin jadi seperti aku? Candaan apa itu?"

"Kamu tidak ragu kalau sudah memutuskan tekad, kan? Aku menghormati bagian itu."

"Tumben sekali kamu memujiku, apa hari ini akan hujan?"

Meskipun aku mencoba bercanda, tidak ada balasan dari Miori. Sepertinya dia benar-benar serius mengatakannya.

……Belakangan ini, keadaannya aneh.

Saat kita latihan di taman tadi pun aku sudah merasa, dia tidak bersemangat.

"Itu, poin masuk ke sana."

"A-ah, iya. Maaf, maaf."

Bukan waktunya untuk melamun. Aku kembali fokus pada tugasku sebagai penjaga skor.

"Pertandingannya cukup seru ya..."

Setiap kali poin tercipta, sorakan terdengar dari tribun pendukung kelas tiga.

"Karena setiap hari mereka belajar untuk ujian, mungkin mereka ingin melepaskan stres di kesempatan seperti ini?"

Miori berspekulasi dengan singkat sambil menjumlahkan poin.

Apa karena alasan itulah semangat kelas tiga terasa berbeda dengan angkatan lain?

"Festival budaya sudah selesai, dan ini acara terakhir, ya."

"……Ya. Terlihat menyenangkan."

"……Miori."

"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja."

Miori berkata seolah memotong pembicaraanku lebih dulu.

"Tapi, ini karena salahku, kan?"

"Itu bohong. Sebenarnya ini salahku. Jadi, tidak usah dipikirkan."

Begitu dia mengatakan itu, aku tidak bisa membalas apa pun.

"—Bertandinglah dengan semangat di pertandingan hari ini. Aku akan menyemangatimu sebagai sampingan dari Reita-kun."

Miori mengatakan hal itu seolah memutus usahaku untuk membujuknya lebih lanjut.

Setelah menyelesaikan sif pekerjaan komite pelaksana, aku bergabung dengan teman-teman sekelas.

Tepat saat itu di lapangan, pertandingan sepak bola putri baru saja dimulai.

Babak pertama. Kelas satu dua melawan kelas dua satu. Kelas kami ikut serta.

Di lapangan, Uta menggerakkan tubuh kecilnya untuk menggiring bola.

"Uta-chan! Yuino-chan! Semangat!"

Hikari dan teman-teman lainnya bersorak dengan suara lantang dari bangku cadangan.

Uta melewati banyak musuh yang menghalangi jalannya, terus melakukan dribel.

"Hebat juga, Uta."

"Yah, soalnya dia sering main sepak bola dengan kita."

Reita membenarkan gumamanku.

Di lapangan, Nanase yang menerima operan dari Uta sedang memegang bola.

Nanase menjaga bola dengan aman dari musuh yang mendekat, lalu memberikan operan ke depan. Meskipun tidak sehebat Uta, Nanase juga cukup mahir. Yah, masalah Nanase hanyalah stamina.




"……"

Tatsuya berdiri tanpa kata, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap lapangan.

Matanya terus tertuju ke kejauhan, dengan ekspresi yang tampak bosan.

"Tatsuya, tidak ikut mendukung?"

"……Hm? Ah, benar juga. Aku dukung saja, deh."

Saat aku bertanya, Tatsuya dengan biasa saja bergabung dengan yang lain untuk memberi dukungan.

Namun, dukungan itu terasa sangat minimalis, terlihat jelas hanya formalitas semata.

Kalau Tatsuya yang biasanya, entah itu baik atau buruk, dia pasti akan berada di garda terdepan sambil melontarkan celetukan-celetukan nakal.

"Nais!"

"Uta-chan hebat!"

Sorak-sorai besar membahana dari sekitar.

Tampaknya Uta berhasil mencetak gol di depan gawang yang kacau karena kerumunan pemain lawan dan kawan.

—Satu poin itu berhasil dipertahankan hingga akhir, dan pertandingan pun berakhir. Kemenangan bagi kelas satu-dua.

"Kerja bagus."

Aku memberikan apresiasi kepada anggota tim sepak bola putri yang kembali ke bangku cadangan.

"A-aku sudah lelah sekali..."

Nanase duduk di bangku dengan wajah pucat.

"Ti-tidak apa-apa?"

"Sisanya serahkan padaku, Hikari..."

Nanase terkulai lemas, menyandarkan kepalanya di pangkuan Hikari.

"Eh!? Tunggu, Yuino-chan!?"

Apakah ini adegan komedi? Saat aku menahan tawa, Uta yang menjadi bintang lapangan mendekat.

"Gol yang bagus, Uta."

Sambil berkata begitu, aku mengangkat satu tangan.

Uta mengerjapkan mata sejenak, lalu membalas dengan senyuman puas dan menepuk tanganku.

"—Terima kasih, Natsu!"

Senyumannya tampak cerah seperti bunga matahari yang mekar.

"Babak pertama berhasil dilewati, ya."

Menanggapi kata-kata Reita, Uta mengangguk penuh semangat.

"Ya! Lawan berikutnya anak kelas tiga, jadi harus berusaha keras! Eh? Tunggu, bukannya sebelum itu ada pertandingan basket? Seingatku jadwal babak pertama jam sebelas, kan?"

Uta memiringkan kepalanya, menatapku yang menjabat sebagai panitia pelaksana.

Tim basket kami dijadwalkan bertanding di babak pertama pada pukul sebelas.

"Ya. Harus bersiap-siap sebentar lagi."

"Kami juga akan menyusul setelah beres-beres!"

"Oke. Nantikan saja. Aku pasti menang."

Aku merasa senang. Sudah lama rasanya tidak bisa mengobrol dengan Uta sealami ini tanpa ada rasa canggung.

Aku tidak melakukan apa-apa. Mungkin, Uta sudah membuat keputusan di dalam hatinya sendiri.

Pukul sebelas. Setelah pemanasan ringan, kami masuk ke lapangan.

Lawan kami di babak pertama adalah kelas satu-empat.

"Harap berbaris!"

Mengikuti instruksi wasit, kami berhadapan dengan siswa kelas empat di seberang garis tengah.

Naru yang berdiri di hadapanku tampak gemetaran hebat.

"A-a-a-a-a..."

"Kamu terlalu tegang. Santai sedikit. Tarik napas dalam-dalam."

"Huuu... huuu... huuu... huuu..."

"Bukan, bukan begitu. Jangan terus menarik napas. Keluarkan. Buang napasnya."

"Hah... hah! Ma-maafkan aku..."

Dia terlalu panik. Melihat interaksi kami, siswa kelas empat yang lain pun tersenyum kecut.

"Maaf ya, Naru. Aku tidak akan mengalah, lho."

"Aku mengerti. Aku pun tidak mengharapkan kemenangan seperti itu."

Aku melirik ke arah tribun penonton, tampak Funayama-san sedang melakukan pose berdoa sambil menatap Naru.

"Aku didukung oleh gadis yang kusukai. Meskipun itu hal yang sulit, bukankah aku harus berusaha?"

Melihat tekad Naru, senyumku tak tertahankan. Dia sudah jadi lebih bisa diandalkan tanpa aku sadari.

"Natsuki-kun! Semangat!"

Suara Hikari terdengar dari bangku cadangan tim kami. Aku melambaikan tangan sebagai jawaban.

Seketika, sorakan-sorakan bernada menggoda terdengar. Dia memang terlalu terkenal.

Saat aku mengamati sekitar, sosok Miori terlihat di lantai dua. Miori mungkin menyadari bahwa aku menyadari kehadirannya.

Dia menatapku dengan wajah jengkel, lalu hanya menggerakkan bibirnya. Meski tidak terdengar, aku mengerti apa yang dia katakan.

"Jangan kalah, Natsuki."

...Baiklah, Miori. Seperti dulu lagi. Kalau itu yang kau inginkan, aku tidak akan kalah.

"Mohon kerja samanya!"

Setelah semua berbaris dan memberi salam, pertandingan pun dimulai.

Bola melambung tinggi di lingkaran tengah.

Kijima dari klub basket yang memakai nomor lima memenangkan perebutan bola setelah melompat melawan Okajima.

—Serang duluan. Aku akan menguasai ritme permainan sejak awal.

Sesaat setelah Kijima mulai mendribel bola dengan santai, aku menghentakkan kaki ke lantai.

Dengan posisi tubuh rendah, aku menjulurkan tangan dan berhasil menyentuh bola.

Aku berakselerasi saat telingaku mendengar bisikan "Sial!?" darinya.

Aku mengambil bola yang lepas, lalu berlari sambil mendribel. Kijima mengejarku dari belakang.

Aku secara paksa mengubah posisi untuk Layup. Kijima melompat di saat bersamaan untuk memblokir, tapi aku tidak punya niat menembak sejak awal.

Aku memutar bola ke belakang punggungku dan melepasnya.

"—Operan yang bagus."

Reita, yang berlari berbarengan denganku, menerima operan itu dan mencetak skor di bawah ring.

Sorak-sorai membahana. Bangku cadangan tim kami menjadi riuh.

Uta dan Hikari tampak hampir melompat keluar dari bangku. "Bahaya, agak mundur sedikit!" pikirku.

"Cih, aku lengah."

Kijima berdecak kesal, menerima operan, dan kembali membawa bola. Aku yang menjaganya.

Tatsuya bertugas menjaga siswa nomor tiga yang bertubuh tinggi.

Saat Kijima membawa bola ke posisi atas, dia menyipitkan mata menatapku.

"—Karena bukan Tatsuya yang menjagaku, kau meremehkanku, ya."

Dia mulai beraksi. Drive ke kanan, lalu gerakan menyilang melalui sela kaki.

Dia menginjakkan kaki kirinya dengan tajam untuk melewatiku—namun, aku menjulurkan tangan dari belakangnya dan menyentil bola itu dengan ujung jariku.

"Apa!?"

Tatsuya mengambil bola yang lepas. Saat itu juga, aku berlari ke depan.

Tatsuya melihat pergerakanku dan melempar bola ke depan.

Setelah memantul sekali, bola itu bergulir tepat di depanku. Aku berhasil mengejarnya, mengatur posisi, mendribel, dan melakukan Layup.

Gol berhasil dicetak, dua poin tambahan.

"Hei, Tatsuya. Operan bolamu tidak terlalu keras?"

Karena jujur saja aku agak lelah, aku melayangkan protes kecil.

"Aku pikir kau pasti bisa mengejarnya."

"Dengar begitu, aku tidak merasa buruk sih, tapi..."

Yah, dia memang selalu asal-asalan. Bukan berarti dia sengaja mengalah secara terang-terangan, tapi aku bisa merasakannya.

"Sial! Kali ini kita harus mencetak angka!"

Berbeda dengan Tatsuya, Kijima yang menghadapiku tampak penuh semangat.

Serangannya kali ini adalah Drive murni. Tapi, itu masih bisa diantisipasi.

Saat aku memotong jalurnya, Kijima menghentikan langkahnya dan melakukan Backstep.

"Shinohara!"

Naru, yang memakai nomor tujuh, menerima operan dari Kijima.

"I-iya!"

Naru mengoper bola ke nomor tiga yang berada di sudut lapangan. Mengingat dia bahkan tidak bisa mengoper dengan benar di awal, ini adalah perkembangan yang pesat.

Nomor tiga yang menerima bola dari Naru langsung melakukan tembakan.

Bola yang melengkung indah itu mengenai ring dan memantul ke udara.

Tatsuya menangkap bola yang melayang itu dengan mantap dan melakukan Rebound.

...Lagipula kalau Tatsuya serius, dia tidak akan membiarkan tembakan seperti itu terjadi.

Yah, tidak apa-apa untuk sekarang. Lebih baik bersiap untuk Fast Break. Aku mulai berlari.

Operan mengalir dari Tatsuya ke Reita, lalu Reita ke aku.

Saat menerima bola di posisi sayap, hanya Kijima yang berhasil mengejarku.

Seolah ingin melakukan aksi, aku melewatkan operan ke atas. Okajima sedang berlari masuk.

Okajima menerima operan dariku dan melepaskan tembakan meski posisinya agak tidak seimbang.

Namun, bola memantul dari ring dan diambil oleh pihak lawan.

"Sial, serius nih!"

Tak disangka, yang mengambil Rebound justru Naru. Sepertinya dia berlari sekuat tenaga kembali ke area pertahanan sendiri.

"Kijima-kun!"

"Nais, Shinohara!"

Naru mengoper bola ke Kijima, dan Kijima mengoper balik ke Naru.

Dengan begitu, mereka melewati pertahanan—ini serangan balik.

Aku juga sedang kembali, tapi tidak akan terkejar. Hanya Tatsuya yang ada di area pertahanan kami.

Kijima menjadikan Naru sebagai umpan dan mengoper ke siswa nomor satu.

Nomor satu melakukan tembakan dari sudut, tapi memantul dari ring.

Memang sudah seharusnya menganggap tembakan basket amatir itu hampir pasti meleset. Yang penting adalah Rebound.

Di depan gawang yang kacau, Tatsuya mendominasi Rebound dengan luar biasa.

Aku merasa bisa mendengar penonton yang menahan napas.

Daya lompat, kekuatan, levelnya berbeda. Benar saja, Tatsuya adalah monster.

"Ayo, Tatsuya."

Tatsuya tidak menanggapi provokasi Kijima dan mengoper ke Reita di sayap kiri.

Bola berpindah dari Reita ke Hino, lalu dari Hino ke aku.

Sekarang aku dijaga oleh siswa nomor tiga. Dia merendahkan pinggul dan merentangkan tangannya.

Sepertinya dia merasa sedang melakukan pertahanan—namun sejujurnya, itu penuh celah.

Teknik tingkat tinggi tidak diperlukan dalam praktik nyata. Hanya perlu mempraktikkan teknik dasar di level tinggi saja.

Tatapan kami bertemu. Aku melihat ke kanan, dan di saat yang sama mengayunkan tubuh ke depan.

Nomor tiga bereaksi dan menghentakkan kakinya ke lantai.

Setelah memastikan itu, aku melakukan Drive ke arah berlawanan.

Fake adalah teknik yang paling sederhana namun efektif.

Dengan mudah aku melewati nomor tiga, lalu mengecoh Naru yang datang membantu dengan Crossover.

Setelah melakukan Shot Fake, aku mengoper ke Okajima.

Karena aku berhasil menarik tiga orang pemain bertahan, dia bebas di depan gawang.

Okajima yang memegang bola akhirnya berhasil mencetak angka.

Sorak-sorai membahana.

—Begini saja sudah cukup.

Sesaat setelah merasa lega, Kijima melempar bola ke depan.

"Shinoharaaa!"

Gawat. Aku lengah. Serangan balik. Naru sedang berlari ke arah gawang kami.

"Anak itu...!"

Mungkin dia memikirkan cara agar bisa berguna bagi timnya.

Meski tanpa teknik, orang yang bisa berlari itu merepotkan. Seperti sekarang, dia bisa melakukan serangan balik.

Naru yang menerima operan berhenti sejenak di depan gawang, lalu menembak dengan perlahan.

Bola mengenai papan pantul dengan lembut dan masuk ke dalam net.

"Nais!"

Siswa kelas empat bersorak memanggil Naru.

Naru menanggapi panggilan itu sambil terengah-engah.

"Nais! Shinohara-kun!"

Suara Funayama-san terdengar. Ternyata dia bisa bersuara selantang itu, ya.

Saat aku menoleh ke sana, wajah Funayama-san memerah karena digoda oleh siswi di sekitarnya.

Naru tersenyum puas dan melakukan pose kemenangan. Wajah yang bagus.

Tapi maaf ya, aku akan membuat kalian kalah di sini.

Sekarang giliran kami menyerang. Aku menerima operan Reita di sudut.

Lawan di hadapanku adalah nomor tiga, tapi Kijima sudah bersiap di posisi yang bisa membantunya kapan saja.

Sulit untuk melewatinya. Jadi, aku tidak memilih opsi itu.

Dari Drive Fake, aku melakukan Fake Pass—lalu melompat lurus ke atas.

Sambil membawa bola dari depan dada ke atas kepala, aku menyentakkan pergelangan tanganku.

Aku mendorongnya dengan jari telunjuk dan jari tengah.

"Apa..."

Kijima yang terperangah menatap ke atas kepalanya.

Tembakan Three-Point masuk ke net tanpa suara.

Tepat setelah itu, peluit babak pertama dibunyikan.

"Nais Haibara!"

"Haibara-kun, hebat banget!"

Saat kembali ke bangku cadangan, aku disambut meriah oleh teman-teman sekelas yang sedang bersemangat.

Karena banyak cabang olahraga yang berlangsung bersamaan, hanya sekitar sepertiga dari mereka yang ada di sini.

Namun, semua anggota inti ada di sini.

"Ini, Natsuki-kun."

Aku menerima botol minum dari Hikari dan membasahi tenggorokanku.

Aku melihat ke papan skor. Kami unggul jauh di babak pertama. Sejauh ini semuanya berjalan lancar.

"Mantap mantap! Kita bisa menang! Haibara memang hebat!"

Okajima yang sedang dalam suasana hati bagus menepuk punggungku dengan keras.

Sakit, tahu.

"Jangan lengah. Selisih poinnya masih bisa dibalikkan."

"Hahaha, aku taaaaahu. Haibara ini serius banget, ya."

Saat kami sedang mengobrol seperti itu, Tatsuya yang tanpa ekspresi berdiri dari kursinya.

"Aku mau cuci muka sebentar."

Semua orang menatap punggung Tatsuya yang sangat tidak memperlihatkan emosi.

"Kenapa ya dia?"

"Entahlah? Lagipula tidak apa-apa, kan? Dia sudah melakukan tugasnya dengan baik."

Okajima memiringkan kepalanya, dan Hino menjawab seadanya.

"…Aku, mau ke sana sebentar."

Sedikit terlambat, Uta mengejar punggung Tatsuya.

"Kita juga pergi, yuk."

"Benar juga. Aku khawatir dengan keadaannya."

Aku memutuskan untuk mengikuti mereka berdua bersama Reita.

Di dekat keran air yang agak jauh dari gimnasium, Tatsuya sedang mencuci wajahnya.

Suara hiruk-pikuk para siswa terdengar dari kejauhan. Tidak ada siapa-siapa di sini selain kami.

Uta menatap punggung Tatsuya.

Aku dan Reita menahan napas sambil bersembunyi di balik bayangan objek yang tidak jauh dari sana.

"…Tatsu."

Menanggapi pertanyaan Uta yang terdengar sungkan, Tatsuya merespons sambil menyeka wajahnya dengan handuk.

"Ada apa?"

"Kenapa kamu diam saja?"

"Daripada klub basket yang mengamuk, lebih baik memanfaatkan pemain pemula."

"Itu, mungkin benar, tapi..."

Argumen Tatsuya masuk akal, dan Uta pun kehilangan kata-kata.

"Lagipula, ini cuma turnamen bola, tidak ada gunanya mengeluarkan kemampuan asli."

Namun, Uta tampak kesal dengan kata-kata Tatsuya selanjutnya.

"Nggak apa-apa, kok! Meskipun nggak berguna! Padahal selama ini kamu nggak pernah memedulikan hal seperti itu!"

Tatsuya tampaknya tidak mengira dia akan dimarahi seperti itu.

Dia membelalakkan mata karena terkejut, lalu menggelengkan kepalanya.

"…Karena aku nggak bisa selamanya jadi anak kecil, aku ingin tumbuh dewasa sedikit demi sedikit."

"Apakah itu perilaku orang dewasa menurutmu? Kalau begitu, lebih baik tetap jadi anak kecil saja!"

Uta memprotes dengan suara yang seolah keluar dari lubuk hatinya.

"—Aku tidak bisa menyukai Tatsu yang sekarang. Kembalilah jadi Tatsu yang dulu."

Ada sensasi seolah udara membeku. Tatsuya mengernyitkan wajahnya.

Dia terlihat sedikit sedih.

"…Aku adalah manusia terburuk. Makanya, aku ingin jadi orang yang sedikit lebih baik. Bukan orang egois seperti diriku yang dulu, tapi orang yang lembut dan memikirkan orang lain. Aku ingin berhenti berperilaku kekanak-kanakan dan jadi orang yang benar. Apakah kau mau aku berhenti melakukan itu?"

"…Kenapa, tiba-tiba, melakukan itu...?"

"Aku... sempat merasa senang saat kau ditolak oleh Natsuki, meski cuma sesaat."

Uta mengerjapkan matanya. Tatsuya menundukkan pandangannya.

"Makanya aku kecewa pada diriku sendiri. Tapi, kupikir kalau aku berusaha seperti Natsuki, kalau aku berusaha mengubah perilakuku—mungkin aku bisa berubah, sedikit saja."

Cara bicaranya yang datar dan menyembunyikan emosi sama sekali tidak mirip dengan Tatsuya yang biasanya.

Benar-benar terasa bahwa dia sedang berusaha untuk menjadi seperti itu.

"Lagipula... kalau aku jadi orang baik, aku mungkin bisa sedikit membantu dirimu."

Tatsuya menghentikan kata-katanya di situ. Keheningan terjadi selama beberapa saat.

Suara hiruk-pikuk gimnasium terasa jauh, dan keadaan sunyi seolah waktu berhenti.

"Tatsu, itu..."

Uta yang terus menatap wajah Tatsuya tiba-tiba menarik napas panjang dan berteriak.

"Dasar bodoh!"

Kukira apa, ternyata itu umpatan yang tiba-tiba. Aku dan Reita saling berpandangan.

"…………Hah?"

Tatsuya mengerutkan keningnya dengan bingung. Uta menunjuk Tatsuya dengan jari telunjuknya, mungkin karena sedang marah.

"Merasa senang karena aku ditolak... itu kan, wajar saja!"

"Hah? A-apa maksudmu? Kalau orang yang punya kepribadian baik, dia nggak akan berpikir begitu."

Tatsuya terlihat sangat bingung, mungkin karena kata-kata Uta di luar dugaan.

Seolah ingin mendesak Tatsuya lebih lanjut, Uta berteriak sambil wajahnya memerah.

"Karena kamu menyukaiku, kan!? Kalau seandainya Hikarin ditolak oleh Natsu, sejujurnya aku juga bakal merasa senang! Itu kan hal yang nggak bisa dihindari!"

Uta bicara blak-blakan. Mata Tatsuya terbelalak karena kaget.

Apakah benar aku harus mendengarkan ini? Ini salah, maafkan aku.

"Kalau kamu merasa senang, itu berarti kamu benar-benar menyukaiku, kan!?"

Tatsuya tampak tidak bisa berkata apa-apa. Keheningan itu berarti pengakuan.

"…Itu, aku senang mendengarnya. Aku nggak merasa kamu buruk. Punya perasaan tidak suka sedikit itu wajar, kan? Kita kan manusia. Jadi, tolong jangan membenci dirimu sendiri karena hal seperti itu."

"Uta, kamu..."

"Aku nggak lagi nangis!"

Sambil meneteskan air mata, Uta menggelengkan kepalanya.

"Kalau kamu mau membantuku... tetaplah jadi Tatsu yang kusukai."

Tatsuya tampak canggung di depan Uta yang sedang menangis.

Uta terus melanjutkan kata-katanya sambil menyeka sudut matanya dengan lengan baju.

"…Aku nggak bermaksud menolak usahamu. Tapi, aku nggak suka kalau Tatsu yang biasanya menghilang. Aku mohon, tetaplah jadi orang yang kusukai."

Keduanya saling menatap. Waktu terasa sunyi selama beberapa saat.

Tatsuya menghela napas panjang seolah ketegangan di dirinya telah hilang.

"…Maaf ya, Uta."

"Nggak perlu minta maaf."

"Sebenarnya, sampai sekarang pun aku nggak terlalu menyukai diriku sendiri. Bodoh, kasar, tidak peka, egois, dan memaksa... penuh dengan kekurangan. Tidak bisa dibandingkan dengan Reita atau Natsuki."

"Iya. Mungkin saja sih!"

"Jangan setuju, dong. Sebenarnya aku lebih sensitif daripada yang kalian pikirkan, tahu."

"Ya itu fakta, kok! Aku tahu kalau kamu sebenarnya mudah terluka. Aku juga tahu kalau kamu sebenarnya banyak berpikir, dan kalau kamu lagi sok keren dan bilang hal aneh, kamu akan merenung sendirian setelahnya."




"Berisik. Kenapa kau sampai tahu sejauh itu?"

—Tatsuya, ternyata kau juga punya bakat melakukan evaluasi diri sendirian seperti diriku, ya.

Reita yang berada di sampingku menatapku dengan heran, seolah bingung melihatku yang merasa terharu.

Rasa kedekatan yang luar biasa muncul terhadap Tatsuya.

Kami adalah jenis manusia yang sama.

Aku akan selalu menjadi temanmu...

"Ahahaha! Dasar bodoh. Aku memperhatikanmu lebih baik daripada yang kau kira, Tatsu."

Melihat Tatsuya yang kembali ke ekspresi dan nada bicara biasanya, Uta memamerkan senyum tulusnya.

Tatsuya menengadah ke langit, lalu bergumam dengan ekspresi yang tampak lega.

"—Baiklah. Kalau kau memang menyukai diriku yang seperti ini, aku tidak akan memaksakan diri untuk berubah."

Aku bertukar pandang dengan Reita, lalu kami berdua terkekeh tanpa alasan yang jelas.

Kami sebenarnya sudah memikirkan berbagai rencana, tapi sepertinya itu tidak diperlukan lagi.

Karena bagi Tatsuya, tidak ada hal lain yang bisa memberikan efek sebesar ini.

"Waktu istirahat hampir habis. Aku pergi dulu."

Tatsuya memunggungi Uta dan mulai berjalan menuju gimnasium.

Uta bertanya kepada punggung Tatsuya.

"Hei, kau akan memenangkan kejuaraannya, kan?"

Tatsuya tertawa kecil, "Hah," lalu menyatakan dengan singkat.

"Serahkan saja padaku."

Tanda berakhirnya waktu istirahat dibunyikan.

Pemain dari kedua tim memasuki lapangan, dan babak kedua dimulai.

"Oke, ayo kita mulai."

Berbeda dengan sebelumnya, Tatsuya kini memasang ekspresi penuh semangat. Aku menyikut bahunya.

"Hei."

"Apa?"

"Babak kedua, ayo bertaruh poin. Yang kalah harus mentraktir minuman."

"Hah? Ada apa denganmu tiba-tiba?"

"Apa kau takut? Kalau kau yang biasanya, kau tidak akan lari, kan?"

"Si-sialan kau..."

Tatsuya mengernyitkan wajah dan menggerutu.

"Menguping itu tidak baik, tahu."

"Semua orang mengkhawatirkanmu, tahu."

"……Maaf. Aku tidak menyangka kalau aku membuat kalian khawatir."

Tatsuya meminta maaf dengan ekspresi yang tampak merasa bersalah.

"—Jadi, kau takut?"

"Baiklah, aku terima tantangannya. Jangan menyesal nanti."

Tatsuya menyeringai. Nah, begitu dong, itu baru dirimu.

Kami memulai serangan. Reita memasukkan bola, dan Tatsuya menerimanya.

Pertahanan lawan sudah terpasang, dan Tatsuya tetap dijaga oleh Kijima bernomor punggung lima.

"Ekspresimu sudah berubah ya, Nagiura?"

"Ya, begitulah. Aku sudah berusaha menjaga perasaan orang lain, tapi banyak orang yang bilang lakukan saja sesukamu."

"Belakangan ini kau terlihat menyeramkan. Padahal biasanya kau sangat terobsesi dengan skor, tapi tiba-tiba malah mengoper bola di depan gawang dan bilang kalau siapa pun yang mencetak skor sama saja."

—Kau bukan orang yang sebijak itu, ujar Kijima.

"Kau seharusnya lebih egois dan punya kepribadian buruk. Dan lagi, kalau kau tidak begitu, kami akan kesulitan. Kalau kau jadi anak baik, siapa yang akan memimpin kami? —Ya kan, Nagiura?"

"Kalian semua ini, seenaknya saja bicara..."

Tatsuya mengeluh sambil terus mendribel bola.

Kijima yang menghadapinya menekuk lutut dan menurunkan posisi pinggulnya.

Keheningan sesaat. Keduanya saling menatap tajam.

"Majulah."

"Heh. —Aku berangkat."

Crossover. Tatsuya melangkah ke kanan.

Karena tidak ada gerakan tipuan, Kijima bisa mengikutinya. Nomor tiga yang berada di dekat sana pun datang membantu.

Namun, Tatsuya menggunakan lengannya untuk mendorong mereka berdua dengan paksa dan terus maju.

Setelah merendahkan tubuh dan menembus hingga ke depan gawang, dia melompat sekuat tenaga dan mencetak skor dari ketinggian yang nyaris seperti Dunk.

Itu... itu terlalu dipaksakan...

Tidak ada cara mencetak skor lain yang lebih cocok disebut sebagai tindakan kekerasan. Tergantung wasitnya, itu bisa dianggap Foul.

"Dua poin."

Tatsuya memprovokasiku. Baguslah. Aku akan meladeninya.

Tim kelas empat mengeluarkan bola, dan kami mulai bertahan.

Bertaruh poin memang penting, tapi kalau kami kalah dalam pertandingan, itu akan menjadi kekonyolan.

Oleh karena itu, kami juga bertahan dengan kekuatan penuh.

Operan dari Kijima diterima oleh Naru, lalu bola dioper ke nomor dua.

"Ah!?"

Namun, nomor dua gagal menangkap bolanya. Reita mengambil bola yang terlepas.

"Serangan balik!"

Tatsuya berteriak seketika. Pada saat itu juga, aku mulai berlari.

Sesaat sebelum garis Three-Point, aku menerima operan yang luar biasa dari Reita.

Aku pikir aku sudah meninggalkan semua kawan dan lawan, tapi ternyata hanya Naru yang berada di sampingku.

Dia berlari sekuat tenaga. Meski napasnya terengah-engah, dia tetap berusaha bertahan dengan gigih.

—Kau serius, ya, Naru. Rasa senang muncul hingga membuatku tersenyum.

"Aku tidak akan membiarkanmu mencetak skor!"

Aku mengayunkan dribel untuk menggoyahkan Naru yang bersemangat, lalu mengecohnya.

Aku yang mengajarinya dasar-dasar pertahanan, tapi sepertinya dia berlatih sendiri.

Sulit untuk melewatinya hingga langkahku terhenti.

Saat mencari celah untuk mengoper, aku melihat Okajima dan Hino berlari ke depan gawang, tapi mereka pun dijaga ketat.

Mengoper bola akan sulit.

Jadi, aku memutuskan untuk menembak.

Suara "Eh" dari Naru terdengar di telingaku.

Karena terlalu waspada dengan Drive dan menjaga jarak denganku, Naru terlambat bereaksi.

Bola yang dilepaskan dari garis Three-Point itu sekali lagi menembus net.

"Jangan menjaga jarak terlalu jauh saat menghadapi seorang Shooter, ya."

"T-tadi itu aku belum diajari sejauh itu~"

Aku menepuk bahu Naru yang mengeluh, lalu kembali ke area pertahanan kami.

"Tiga poin."

Aku mengangkat tiga jari untuk memancing Tatsuya.

"Dasar bodoh, mana ada orang yang melakukan Three-Point saat serangan balik?"

"Karena bolanya masuk, tidak masalah, kan?"

"Dasar..." Tatsuya tampak tercengang.

Kalau Tatsuya yang tadi, dia pasti tidak akan memedulikannya.

Bukan hanya karena taruhan denganku, tapi dia benar-benar ingin memenangkan pertandingan, itulah kenapa dia mengeluh.

Karena, apa yang kami lakukan sekarang adalah basket yang sangat kami sukai.

—Tentu saja, pihak yang menang akan terasa lebih menyenangkan.

Skor akhir adalah 42 banding 22.

Kami menembus babak pertama dengan kemenangan telak selisih dua puluh poin.

Naru dan tim kelas empat gugur di sini.

"Kami memang kalah, tapi aku merasa sangat senang... sungguh. Untuk pertama kalinya, aku merasa bisa berguna dalam olahraga seperti ini. Aku juga bisa mencetak gol. Semua ini berkat Natsuki."

Naru yang bermandikan keringat mengucapkan terima kasih dengan wajah cerah.

Aku yakin dia berusaha menyembunyikan rasa kecewanya, tapi kurasa itu juga perasaan jujurnya.

Karena itulah, aku ikut merasa senang.

"……Meskipun aku tidak bisa menunjukkan sisi kerenku, ya."

"Apa benar begitu?"

"Eh? Ya, karena kami tidak bisa menang..."

Aku memegang bahu Naru yang tampak kebingungan, lalu memutarnya ke belakang.

Di sana, Funayama-san sedang mendekat.

Dia membungkuk sopan kepada kami.

"Kurasa, dia sendiri yang akan memberitahumu."

Aku memberikan kode mata pada Funayama-san dan berbalik.

Lebih baik membiarkan mereka berdua saja. Saran dari kami tidak diperlukan lagi.

Dalam perjalanan kembali ke kelas, aku mendengar suara jeritan, "Eh!?"

"B-bolehkah aku saja...?"

Suaramu keras sekali, Naru. Aku tersenyum kecut.

Saat menoleh dari balik bahu, aku melihat wajah keduanya memerah padam, dan entah mengapa mereka malah saling membungkuk satu sama lain.

Semoga kalian bahagia.

"Hei Natsuki. Cepatlah."

Saat kembali ke tempat teman-teman sekelas, ternyata Tatsuya sudah menungguku.

"Apa kau mau mentraktir minuman?"

"Berisik, ya sudah mau bagaimana lagi. Aku kalah selisih satu poin darimu."

Aku berjalan bersampingan dengan Tatsuya yang tampak kesal menuju mesin penjual otomatis.

"Sialan, kalau saja tembakan terakhir itu masuk, aku yang menang."

Dia terus mengeluh, padahal setengah dari poin yang kudapatkan adalah hasil Assist Tatsuya.

Dipikir bagaimana pun, dari segi kontribusi, Tatsuya yang menang.

Kami berdua sama-sama tahu itu, tapi sayangnya, ini adalah taruhan poin.

Kami keluar dari gimnasium menuju mesin penjual otomatis di samping pintu masuk gedung klub.

Tatsuya membeli dua botol minuman olahraga dan melemparkan salah satunya padaku.

"Terima kasih."

Aku berterima kasih dan membasahi tenggorokanku yang kering.

Ah, segar sekali. Memang paling enak setelah berolahraga.

"……Maaf soal yang dulu, Natsuki."

Tatsuya berkata kepadaku saat aku sedang menikmati "minuman kemenangan" (?) itu.

"Tiba-tiba kenapa?"

"Waktu festival budaya, aku sempat memarahimu, kan?"

Maksudnya setelah aku menolak Uta?

"……Aku rasa wajar kalau kau memukulku. Bukan kau yang harus meminta maaf."

"Bukan. Kau hanya... menyukai Hoshimiya lebih daripada Uta, kan?"

Aku mengangguk tanpa kata. Seperti kata Tatsuya, aku memilih Hikari.

"Kalau begitu, itu bukan urusanku untuk ikut campur. Tapi aku malah ikut campur."

"Aku dengan egois berasumsi bahwa kau akan membuat Uta bahagia."

"Bahwa kalau itu kau, aku bisa menerimanya dan menyerah dengan tenang... Aku merasa sudah menitipkan sesuatu padamu, jadi aku merasa seolah dikhianati."

"……Aku juga bersikap mendua. Sampai akhir aku terus bimbang tentang apa yang aku inginkan, apakah aku lebih menyukai Hikari atau Uta."

"Karena itulah aku juga merepotkan Tatsuya. Maaf."

"Jangan minta maaf. Cinta memang seperti itu, kan?"

"Aku malah membebanimu dengan paksaan egoisku sendiri. Aku menyesali itu. Itu bukan kata-kata yang pantas diucapkan oleh orang luar seperti aku."

"Apa maksudmu orang luar? Tidak seperti itu, kok."

"Tidak, aku adalah orang luar. Jadi, pertama-tama aku harus naik ke panggung itu sendiri."

Dia tersenyum menantang. Ekspresi penuh percaya diri itu adalah Tatsuya yang biasanya.

"Jangan menyesal, Natsuki. Uta akan kupinang."

"……Begitu, ya."

"——Aku akan menjadi pria yang bisa membuat dia bahagia."

Tatsuya mendeklarasikan. Wajah tanpa ragu itu, menurutku, murni terlihat keren.

"Jangan berusaha ke arah yang aneh seperti kali ini, ya."

Mengubah diri sendiri itu bagus. Tapi ada bagian yang tidak ingin kulihat berubah.

Mencoba mengubah segalanya tidak akan berhasil. Seperti aku yang bertengkar dengan Tatsuya di musim semi dulu.

"Berisik. Aku sudah memikirkan banyak hal dengan caraku sendiri. Salah langkah pun wajar."

"Tapi... karena kalian bertiga ternyata lebih menyukaiku daripada yang kukira, jadi aku berhenti melakukan itu."

Orang ini, dia malah jadi berdalih.

"Secara spesifik bagaimana caranya? Menjadi pria yang bisa membahagiakan Uta?"

"Untuk sementara, karena ada dirimu yang bisa kujadikan tolok ukur yang mudah. Pertama, aku akan melampauimu."

Tatsuya berkata dengan penuh percaya diri.

"Rasanya... bukankah itu pola pikir anak SD?"

"Diam. Pertama aku akan melampauimu dalam hal nilai. Bersiaplah."

"Dari mana kau akan memulai... bukankah dalam kasus ini harusnya leher yang disiapkan?"

Saat aku melontarkan sindiran, Tatsuya malah melakukan Headlock.

Sakit, tahu!

Melihatku yang meronta-ronta, Reita yang entah sejak kapan berada di dekat sana hanya mengangkat bahu.

"Hei, tolong aku, Reita!"

"Aku rasa Natsuki tidak apa-apa kalau sekali-kali mengalami nasib buruk."

"Kenapa!? Aduh, sakit sakit!"

Melihatku kesakitan, Reita malah tertawa senang. Orang ini menakutkan!

"……Begitu, ya?"

"Yah... bukankah terserah dia saja?"

"Kau terlihat agak senang, ya?"

"Tidak juga! Tapi... mungkin aku akan menaruh sedikit harapan."

Sebelum pertandingan babak kedua, aku membenturkan tinju dengan Tatsuya.

"Mari menang, turnamen bola."

"——Hah. Apa yang kau katakan? Kalau ada aku dan kau, mana mungkin kita bisa kalah."

Setelah itu, kami menang telak atas tim kelas dua-satu dengan skor 46 banding 20.

Pertandingan yang berat adalah di babak semifinal.

Lawan kami adalah tim kelas dua-tiga.

Anggotanya adalah kapten klub basket saat ini, Kak Kataoka, Kak Iwayo, dan Kuronomakito dari klub sepak bola.

Mereka adalah dalang di balik keributan klub basket putri saat musim hujan lalu.

Sangat mengesankan melihat Reita yang jarang sekali memperlihatkan semangat juangnya, bersumpah untuk menang.

Meski kami dibuat kesulitan oleh Rebound Kak Iwayo yang memanfaatkan tubuh besarnya, serta kepekaan operan Kak Kataoka dan kemampuan pertahanannya dalam mengunci Tatsuya, kami berhasil meraih kemenangan tipis berkat tingkat keberhasilan tembakanku dan Reita yang mampu menahan Kurono dengan sempurna.

Skor akhir adalah 26 banding 24.

Itu adalah pertandingan skor rendah di mana pertahanan kedua belah pihak bersinar.

Sesaat setelah meraih kemenangan, penonton di sekitar bersorak keras.

Tentu saja, jika sudah sampai semifinal, jumlah penontonnya jadi banyak. Turnamen bola pun sudah mendekati akhir.

Yang tersisa hanyalah babak final sepak bola dan basket.

Cabang olahraga lain sudah berakhir karena proses yang lebih cepat.

Dari tiga lapangan yang ada, dua di antaranya sudah dipenuhi siswa yang duduk untuk menonton.

Kelas kami berkumpul terutama di sisi kanan, jadi kami pindah ke sana.

"Oh, tim basket kerja bagus! Selanjutnya final, ya!"

Sambil menanggapi pujian teman sekelas, aku menyandarkan punggung ke dinding gimnasium dan duduk.

Tiba-tiba, rasa lelah yang luar biasa menyerang.

Meski hanya sepuluh menit babak pertama dan kedua, jika sampai ke final, bermain empat pertandingan dalam sehari memang berat.

Mungkin karena turnamen bola hanya acara sehari, jadi agak memaksakan diri itu tidak terelakkan.

"Ngomong-ngomong, bagaimana poin kelas kita?"

Tiba-tiba aku bertanya pada Hikari yang duduk di sampingku.

"Eh, sebentar... bukannya ada pengumuman sementara tadi? Ada yang tahu?"

"Kita ada di peringkat empat. Sepak bola kita peringkat dua, jadi seharusnya kita sudah mengejar sedikit."

Yang menanggapi pertanyaan Hikari adalah Fujiwara.

"Voli juga peringkat empat, kalau basket nanti menang, mungkin ada peluang besar."

"Itu artinya, kau menyuruh kami untuk menang?"

Saat aku bertanya balik, Fujiwara tertawa, "Ya, begitulah."

Tepat pada saat itu, sorak-sorai yang lebih keras dari sebelumnya membahana.

Tampaknya semifinal basket sudah berakhir, dan lawan kami sudah ditentukan.

"Siapa yang menang?"

"Kelas tiga-satu. Timnya Kak Yanagishita."

Yang menjawab adalah Tatsuya.

Lawan terakhir yang menghalangi jalan kami adalah Kak Yanagishita, ya.

……Entah mengapa, aku sudah merasa begitu.

"Aku melihat dari dekat, mereka kuat sekali."

"Bukannya itu berarti lawan yang pas?"

Pertandingan setelah sekian lama memang menyenangkan. Semakin kuat lawannya, semakin tegang rasanya.

Aku mencambuk tubuhku yang sudah sangat lelah dan berdiri.

"Ayo pergi, semuanya."

Tatsuya, Reita, Hino, dan Okajima mengikuti di belakangku.

——Kami akan menang. Untuk menikmati acara ini, untuk menikmati masa muda ini, sepenuhnya.

"Miori."

"……Reita-kun."

Saat dipanggil namanya, aku menoleh.

Di sana berdiri sosok yang sudah kuduga. ……Pacar pertamaku.

Reita-kun adalah orang yang keren, baik, asyik diajak seru-seruan, pandai berbicara, jenius yang bisa melakukan apa pun dengan cekatan, dan sejauh yang kuingat, dia adalah orang yang tidak memiliki kekurangan sama sekali.

Sejak mulai berpacaran dengan Reita-kun, aku sering merasa dicemburui oleh orang-orang di sekitarku.

Aku juga pernah terpapar emosi hitam yang jelas-jelas iri. Begitulah populernya dia.

……Sebenarnya, pria seperti dia terlalu bagus untuk wanita sepertiku.

Itu sama seperti kata orang-orang. Aku merasa sudah cukup memahaminya.

"Akhirnya babak final, ya."

"Ya. Berkat Natsuki dan Tatsuya, kita bisa sampai sejauh ini."

"Reita-kun juga tampil luar biasa! Operanmu keren sekali!"

Ini adalah perasaan yang jujur. Reita-kun mahir mengoper.

Berkali-kali saat teman setimnya bebas, dia mengoper seolah memang sudah membidiknya.

Kurasa wawasannya sangat luas.

Meskipun tidak terlalu menonjol, dia benar-benar mendukung tim itu.

"Mungkin pengalaman sepak bolaku sedikit membantu."

Reita-kun menjawab seperti itu sambil tersenyum pahit menerima pujianku.

"Bagaimana dengan Miori sendiri?"

"Padahal aku sudah diajari sepak bola oleh Reita-kun, tapi kami kalah di babak kedua."

Aku mencoba tertawa, tahaha. ……Padahal sebenarnya aku sangat kecewa.

Kalau saja aku bisa mencetak angka saat itu, kami pasti sudah menang. Sial... sial sekali...

"Meskipun kecewa, tidak perlu memaksakan diri untuk tertawa."

"……Reita-kun terkadang terlalu tajam, sampai-sampai membuatku takut."

"Itu sering dikatakan orang, tapi karena aku memperhatikanmu secara khusus, jadi mungkin begitu."

Reita-kun mengangkat bahu.

Kalau dipikir-pikir, apakah ini saatnya jantungku berdebar?

Tapi, hatiku tidak bergerak sedikit pun.

Kurasa, Reita-kun bahkan menyadari hal itu.

"——Aku akan menang. Aku akan berusaha supaya bisa menang. Jadi, maukah kau mendukungku?"

"Tentu saja. Aku akan terus memperhatikanmu, Reita-kun."

Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku mengangguk. Bahkan jika ini bukan perasaan cinta, aku tetap menyukai Reita-kun.

Tidak ada kebohongan dalam perasaanku yang ingin mendukung orang yang kusukai saat dia berjuang.

"……Kau masih menyukai Natsuki, kan?"

Begitu ditanya seperti itu, aku membeku.

Aku terperangkap dalam sensasi seolah waktu berhenti.

Aku tidak bisa membalas apa pun, dan hanya bisa mengeluarkan kata, "……Maaf."

"Bahkan jika aku hanya pilihan setelah Natsuki pun tidak apa-apa. Selama kau mau mendukungku."

Reita-kun hanya mengatakan itu dan memunggungiku.

Pada punggung yang berjalan menuju lapangan final itu, aku berteriak.

"——Semangat ya, Reita-kun!"

Reita-kun menoleh sekali, lalu tersenyum dengan sangat tulus.

Mengapa dia memberikan wajah seperti itu hanya karena kata-kata dari orang sepertiku?

Aku sangat senang. Sangat senang, namun juga terasa menyesakan.

Aku merasa sangat sedih dan menderita tanpa alasan.




"Betapa bahagianya jika aku bisa menyukai orang ini."

Sambil memikirkan hal itu, justru kata-kata dari teman masa kecil yang merepotkan itulah yang selalu menggerakkan hatiku.

Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan teman masa kecil yang melintas di benakku.

——Hei, Reita-kun. Aku, ingin menyukaimu.

Jadi, tolong tunggu aku sebentar lagi, sedikit saja lagi.

"……Apa maksudnya itu?"

"……Kau bilang, kau menyukai Natsuki? Si Motomiya itu...?"

Keduanya saling berpandangan dengan ekspresi penuh tanda tanya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close