Chapter 3
Turnamen Olahraga
Bola
Hari turnamen bola pun tiba.
Di sekitar gimnasium dan lapangan, berkumpul jumlah orang
yang cukup besar.
Ternyata sekolah
kita punya murid sebanyak ini ya. Karena ini seluruh siswa, berarti ada sekitar
delapan ratus orang kurang sedikit?
Ups, bukan
waktunya untuk kagum. Aku ada pekerjaan sebagai anggota komite pelaksana.
"Eh—,
Lapangan Satu, pertama adalah kelas 3-2 melawan kelas 2-1! Harap bersiap!"
Aku mengumumkan
sekeras mungkin.
Aku harus
menjalankan pertandingan sesuai dengan jadwal.
Tugasku dan Miori
adalah bola voli di Lapangan Satu.
"Turnamen
bola sendiri memang menyenangkan karena terasa tidak seperti hari biasa, tapi
jadi komite pelaksana itu merepotkan ya..."
"Jangan
mengeluh sekarang, Miori. Lagipula ini tidak terlalu merepotkan, kan."
Karena wasit
sudah diserahkan kepada anak klub voli, tugasku selama pertandingan hanya
membalik papan skor.
Lagipula, ada
sistem sif, jadi Naru dan yang lainnya punya waktu bebas. Mereka akan
menggantikan kami setelah melihat situasi.
"Hah,
kira-kira Shizuki-chan dan yang lainnya lagi apa ya?"
"Yah,
mungkin mereka sedang mendukung kelas masing-masing seperti biasa?"
Sepertinya
mereka belum punya nyali cukup besar untuk bermesraan di siang bolong.
"Oh iya,
Funayama-san jadi menyatakan cinta ke Naru?"
Saat aku bertanya
sebagai obrolan santai, Miori tiba-tiba kaku seolah menahan napas.
"……Itu,
apa kamu dengar langsung dari orangnya?"
"Tidak,
bukannya kemarin kalian berdua bicara? Aku cuma tidak sengaja dengar sedikit."
"O-ooh
begitu, cuma dengar 'sedikit', ya?"
"Ya.
Memangnya kenapa?"
"Tidak
apa-apa. Tidak ada apa-apa kok. Sama sekali tidak ada. Bodoh. Idiot. Dasar
ceroboh."
"Kalau tidak
ada apa-apa, kenapa tiba-tiba memaki!?"
Miori meletakkan
tangan di dadanya dan menghela napas panjang.
"……Begitulah.
Memang benar dia bilang begitu. Dia ingin menyatakan cinta pada Shinohara-kun. Katanya karena kesempatan
berkomunikasi lewat komite pelaksana bertambah, perasaan sukanya jadi makin
besar."
"Itu
baguslah. Naru sepertinya masih belum punya keberanian, jadi wajar kalau dia
keduluan."
"Sebagai
perempuan, tentu ingin ditembak oleh laki-laki, kan?"
"Sebagai
laki-laki pun, ada keinginan untuk menyatakan cinta sendiri. Kalau sudah tahu
kalau perasaan kita saling membalas, sisanya tinggal masalah keberanian. Jadi,
kalau keduluan, mungkin rasanya agak menyedihkan."
"Tapi,
bukannya Natsuki sendiri pernah ditembak oleh dua gadis imut dan dipaksa untuk
memilih?"
"Aku
melakukan pengakuan di panggung seperti itu karena ingin mengubah diriku yang
menyedihkan."
Kalau aku yang
biasa, aku tidak akan melakukannya. Kalau ditolak, itu pasti bakal jadi sejarah
hitam. Justru karena itulah aku rasa hal itu bermakna.
"……Keren ya,
Natsuki. Aku juga ingin jadi seperti dirimu."
Saat Miori
menggumamkan hal itu, siswa kelas dua yang bertugas sebagai wasit meniup
peluitnya.
Pertandingan
antara kelas 3-2 dan kelas 2-1 dimulai.
"Kamu ingin
jadi seperti aku? Candaan apa itu?"
"Kamu tidak
ragu kalau sudah memutuskan tekad, kan? Aku menghormati bagian itu."
"Tumben
sekali kamu memujiku, apa hari ini akan hujan?"
Meskipun aku
mencoba bercanda, tidak ada balasan dari Miori. Sepertinya dia benar-benar
serius mengatakannya.
……Belakangan ini,
keadaannya aneh.
Saat kita latihan
di taman tadi pun aku sudah merasa, dia tidak bersemangat.
"Itu, poin
masuk ke sana."
"A-ah, iya.
Maaf, maaf."
Bukan waktunya
untuk melamun. Aku kembali fokus pada tugasku sebagai penjaga skor.
"Pertandingannya
cukup seru ya..."
Setiap kali poin
tercipta, sorakan terdengar dari tribun pendukung kelas tiga.
"Karena
setiap hari mereka belajar untuk ujian, mungkin mereka ingin melepaskan stres
di kesempatan seperti ini?"
Miori
berspekulasi dengan singkat sambil menjumlahkan poin.
Apa karena alasan
itulah semangat kelas tiga terasa berbeda dengan angkatan lain?
"Festival budaya sudah selesai, dan ini acara terakhir,
ya."
"……Ya.
Terlihat menyenangkan."
"……Miori."
"Aku
baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja."
Miori
berkata seolah memotong pembicaraanku lebih dulu.
"Tapi, ini
karena salahku, kan?"
"Itu bohong.
Sebenarnya ini salahku. Jadi, tidak usah dipikirkan."
Begitu dia
mengatakan itu, aku tidak bisa membalas apa pun.
"—Bertandinglah
dengan semangat di pertandingan hari ini. Aku akan menyemangatimu sebagai
sampingan dari Reita-kun."
Miori mengatakan
hal itu seolah memutus usahaku untuk membujuknya lebih lanjut.
*
Setelah
menyelesaikan sif pekerjaan komite pelaksana, aku bergabung dengan teman-teman
sekelas.
Tepat saat itu di
lapangan, pertandingan sepak bola putri baru saja dimulai.
Babak pertama.
Kelas satu dua melawan kelas dua satu. Kelas kami ikut serta.
Di lapangan, Uta
menggerakkan tubuh kecilnya untuk menggiring bola.
"Uta-chan!
Yuino-chan! Semangat!"
Hikari dan
teman-teman lainnya bersorak dengan suara lantang dari bangku cadangan.
Uta melewati
banyak musuh yang menghalangi jalannya, terus melakukan dribel.
"Hebat
juga, Uta."
"Yah,
soalnya dia sering main sepak bola dengan kita."
Reita
membenarkan gumamanku.
Di
lapangan, Nanase yang menerima operan dari Uta sedang memegang bola.
Nanase menjaga bola dengan aman dari musuh yang mendekat, lalu memberikan operan ke depan. Meskipun tidak sehebat Uta, Nanase juga cukup mahir. Yah, masalah Nanase hanyalah stamina.
"……"
Tatsuya
berdiri tanpa kata, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap
lapangan.
Matanya
terus tertuju ke kejauhan, dengan ekspresi yang tampak bosan.
"Tatsuya,
tidak ikut mendukung?"
"……Hm?
Ah, benar juga. Aku dukung saja, deh."
Saat aku
bertanya, Tatsuya dengan biasa saja bergabung dengan yang lain untuk memberi
dukungan.
Namun, dukungan
itu terasa sangat minimalis, terlihat jelas hanya formalitas semata.
Kalau Tatsuya
yang biasanya, entah itu baik atau buruk, dia pasti akan berada di garda
terdepan sambil melontarkan celetukan-celetukan nakal.
"Nais!"
"Uta-chan
hebat!"
Sorak-sorai
besar membahana dari sekitar.
Tampaknya
Uta berhasil mencetak gol di depan gawang yang kacau karena kerumunan pemain
lawan dan kawan.
—Satu poin itu
berhasil dipertahankan hingga akhir, dan pertandingan pun berakhir. Kemenangan
bagi kelas satu-dua.
"Kerja
bagus."
Aku memberikan
apresiasi kepada anggota tim sepak bola putri yang kembali ke bangku cadangan.
"A-aku sudah
lelah sekali..."
Nanase duduk di
bangku dengan wajah pucat.
"Ti-tidak
apa-apa?"
"Sisanya
serahkan padaku, Hikari..."
Nanase terkulai
lemas, menyandarkan kepalanya di pangkuan Hikari.
"Eh!?
Tunggu, Yuino-chan!?"
Apakah ini adegan
komedi? Saat aku menahan tawa, Uta yang menjadi bintang lapangan mendekat.
"Gol yang
bagus, Uta."
Sambil
berkata begitu, aku mengangkat satu tangan.
Uta
mengerjapkan mata sejenak, lalu membalas dengan senyuman puas dan menepuk
tanganku.
"—Terima
kasih, Natsu!"
Senyumannya
tampak cerah seperti bunga matahari yang mekar.
"Babak
pertama berhasil dilewati, ya."
Menanggapi
kata-kata Reita, Uta mengangguk penuh semangat.
"Ya!
Lawan berikutnya anak kelas tiga, jadi harus berusaha keras! Eh? Tunggu,
bukannya sebelum itu ada pertandingan basket? Seingatku jadwal babak pertama
jam sebelas, kan?"
Uta memiringkan
kepalanya, menatapku yang menjabat sebagai panitia pelaksana.
Tim
basket kami dijadwalkan bertanding di babak pertama pada pukul sebelas.
"Ya.
Harus bersiap-siap sebentar lagi."
"Kami
juga akan menyusul setelah beres-beres!"
"Oke.
Nantikan saja. Aku pasti menang."
Aku merasa
senang. Sudah lama rasanya tidak bisa mengobrol dengan Uta sealami ini tanpa
ada rasa canggung.
Aku tidak
melakukan apa-apa. Mungkin, Uta sudah membuat keputusan di dalam hatinya
sendiri.
*
Pukul sebelas.
Setelah pemanasan ringan, kami masuk ke lapangan.
Lawan kami di
babak pertama adalah kelas satu-empat.
"Harap
berbaris!"
Mengikuti
instruksi wasit, kami berhadapan dengan siswa kelas empat di seberang garis
tengah.
Naru yang
berdiri di hadapanku tampak gemetaran hebat.
"A-a-a-a-a..."
"Kamu terlalu tegang. Santai sedikit. Tarik napas dalam-dalam."
"Huuu...
huuu... huuu... huuu..."
"Bukan,
bukan begitu. Jangan terus menarik napas. Keluarkan. Buang napasnya."
"Hah... hah!
Ma-maafkan aku..."
Dia terlalu
panik. Melihat interaksi kami, siswa kelas empat yang lain pun tersenyum kecut.
"Maaf ya,
Naru. Aku tidak akan mengalah, lho."
"Aku
mengerti. Aku pun tidak mengharapkan kemenangan seperti itu."
Aku melirik ke
arah tribun penonton, tampak Funayama-san sedang melakukan pose berdoa sambil
menatap Naru.
"Aku
didukung oleh gadis yang kusukai. Meskipun itu hal yang sulit, bukankah aku
harus berusaha?"
Melihat tekad
Naru, senyumku tak tertahankan. Dia sudah jadi lebih bisa diandalkan tanpa aku
sadari.
"Natsuki-kun!
Semangat!"
Suara Hikari
terdengar dari bangku cadangan tim kami. Aku melambaikan tangan sebagai
jawaban.
Seketika,
sorakan-sorakan bernada menggoda terdengar. Dia memang terlalu terkenal.
Saat aku
mengamati sekitar, sosok Miori terlihat di lantai dua. Miori mungkin menyadari
bahwa aku menyadari kehadirannya.
Dia
menatapku dengan wajah jengkel, lalu hanya menggerakkan bibirnya. Meski tidak
terdengar, aku mengerti apa yang dia katakan.
"Jangan
kalah, Natsuki."
...Baiklah,
Miori. Seperti dulu lagi. Kalau itu yang kau inginkan, aku tidak akan kalah.
"Mohon kerja
samanya!"
Setelah semua
berbaris dan memberi salam, pertandingan pun dimulai.
Bola
melambung tinggi di lingkaran tengah.
Kijima
dari klub basket yang memakai nomor lima memenangkan perebutan bola setelah
melompat melawan Okajima.
—Serang duluan.
Aku akan menguasai ritme permainan sejak awal.
Sesaat setelah
Kijima mulai mendribel bola dengan santai, aku menghentakkan kaki ke lantai.
Dengan posisi
tubuh rendah, aku menjulurkan tangan dan berhasil menyentuh bola.
Aku berakselerasi saat telingaku mendengar bisikan
"Sial!?" darinya.
Aku
mengambil bola yang lepas, lalu berlari sambil mendribel. Kijima mengejarku
dari belakang.
Aku
secara paksa mengubah posisi untuk Layup. Kijima melompat di saat
bersamaan untuk memblokir, tapi aku tidak punya niat menembak sejak awal.
Aku
memutar bola ke belakang punggungku dan melepasnya.
"—Operan
yang bagus."
Reita,
yang berlari berbarengan denganku, menerima operan itu dan mencetak skor di
bawah ring.
Sorak-sorai
membahana. Bangku cadangan tim kami menjadi riuh.
Uta dan
Hikari tampak hampir melompat keluar dari bangku. "Bahaya, agak mundur
sedikit!" pikirku.
"Cih,
aku lengah."
Kijima
berdecak kesal, menerima operan, dan kembali membawa bola. Aku yang menjaganya.
Tatsuya
bertugas menjaga siswa nomor tiga yang bertubuh tinggi.
Saat Kijima
membawa bola ke posisi atas, dia menyipitkan mata menatapku.
"—Karena
bukan Tatsuya yang menjagaku, kau meremehkanku, ya."
Dia mulai
beraksi. Drive ke kanan, lalu gerakan menyilang melalui sela kaki.
Dia menginjakkan
kaki kirinya dengan tajam untuk melewatiku—namun, aku menjulurkan tangan dari
belakangnya dan menyentil bola itu dengan ujung jariku.
"Apa!?"
Tatsuya
mengambil bola yang lepas. Saat
itu juga, aku berlari ke depan.
Tatsuya
melihat pergerakanku dan melempar bola ke depan.
Setelah
memantul sekali, bola itu bergulir tepat di depanku. Aku berhasil mengejarnya,
mengatur posisi, mendribel, dan melakukan Layup.
Gol berhasil dicetak, dua poin tambahan.
"Hei, Tatsuya. Operan bolamu tidak terlalu keras?"
Karena jujur saja aku agak lelah, aku melayangkan protes
kecil.
"Aku pikir
kau pasti bisa mengejarnya."
"Dengar
begitu, aku tidak merasa buruk sih, tapi..."
Yah, dia
memang selalu asal-asalan. Bukan berarti dia sengaja mengalah secara
terang-terangan, tapi aku bisa merasakannya.
"Sial!
Kali ini kita harus mencetak angka!"
Berbeda
dengan Tatsuya, Kijima yang menghadapiku tampak penuh semangat.
Serangannya kali
ini adalah Drive murni. Tapi, itu masih bisa diantisipasi.
Saat aku memotong
jalurnya, Kijima menghentikan langkahnya dan melakukan Backstep.
"Shinohara!"
Naru, yang
memakai nomor tujuh, menerima operan dari Kijima.
"I-iya!"
Naru
mengoper bola ke nomor tiga yang berada di sudut lapangan. Mengingat dia bahkan
tidak bisa mengoper dengan benar di awal, ini adalah perkembangan yang pesat.
Nomor
tiga yang menerima bola dari Naru langsung melakukan tembakan.
Bola yang
melengkung indah itu mengenai ring dan memantul ke udara.
Tatsuya
menangkap bola yang melayang itu dengan mantap dan melakukan Rebound.
...Lagipula kalau
Tatsuya serius, dia tidak akan membiarkan tembakan seperti itu terjadi.
Yah, tidak
apa-apa untuk sekarang. Lebih
baik bersiap untuk Fast Break. Aku mulai berlari.
Operan
mengalir dari Tatsuya ke Reita, lalu Reita ke aku.
Saat
menerima bola di posisi sayap, hanya Kijima yang berhasil mengejarku.
Seolah ingin
melakukan aksi, aku melewatkan operan ke atas. Okajima sedang berlari masuk.
Okajima menerima
operan dariku dan melepaskan tembakan meski posisinya agak tidak seimbang.
Namun, bola
memantul dari ring dan diambil oleh pihak lawan.
"Sial,
serius nih!"
Tak disangka,
yang mengambil Rebound justru Naru. Sepertinya dia berlari sekuat tenaga
kembali ke area pertahanan sendiri.
"Kijima-kun!"
"Nais,
Shinohara!"
Naru mengoper
bola ke Kijima, dan Kijima mengoper balik ke Naru.
Dengan begitu,
mereka melewati pertahanan—ini serangan balik.
Aku juga sedang
kembali, tapi tidak akan terkejar. Hanya Tatsuya yang ada di area pertahanan
kami.
Kijima
menjadikan Naru sebagai umpan dan mengoper ke siswa nomor satu.
Nomor satu
melakukan tembakan dari sudut, tapi memantul dari ring.
Memang
sudah seharusnya menganggap tembakan basket amatir itu hampir pasti meleset.
Yang penting adalah Rebound.
Di depan
gawang yang kacau, Tatsuya mendominasi Rebound dengan luar biasa.
Aku
merasa bisa mendengar penonton yang menahan napas.
Daya
lompat, kekuatan, levelnya berbeda. Benar saja, Tatsuya adalah monster.
"Ayo,
Tatsuya."
Tatsuya
tidak menanggapi provokasi Kijima dan mengoper ke Reita di sayap kiri.
Bola berpindah
dari Reita ke Hino, lalu dari Hino ke aku.
Sekarang aku
dijaga oleh siswa nomor tiga. Dia merendahkan pinggul dan merentangkan tangannya.
Sepertinya dia
merasa sedang melakukan pertahanan—namun sejujurnya, itu penuh celah.
Teknik
tingkat tinggi tidak diperlukan dalam praktik nyata. Hanya perlu mempraktikkan
teknik dasar di level tinggi saja.
Tatapan kami
bertemu. Aku melihat ke kanan, dan di saat yang sama mengayunkan tubuh ke
depan.
Nomor
tiga bereaksi dan menghentakkan kakinya ke lantai.
Setelah
memastikan itu, aku melakukan Drive ke arah berlawanan.
—Fake
adalah teknik yang paling sederhana namun efektif.
Dengan
mudah aku melewati nomor tiga, lalu mengecoh Naru yang datang membantu dengan Crossover.
Setelah
melakukan Shot Fake, aku mengoper ke Okajima.
Karena
aku berhasil menarik tiga orang pemain bertahan, dia bebas di depan gawang.
Okajima
yang memegang bola akhirnya berhasil mencetak angka.
Sorak-sorai
membahana.
—Begini saja
sudah cukup.
Sesaat setelah
merasa lega, Kijima melempar bola ke depan.
"Shinoharaaa!"
Gawat.
Aku lengah. Serangan balik. Naru sedang berlari ke arah gawang kami.
"Anak
itu...!"
Mungkin
dia memikirkan cara agar bisa berguna bagi timnya.
Meski
tanpa teknik, orang yang bisa berlari itu merepotkan. Seperti sekarang, dia
bisa melakukan serangan balik.
Naru yang
menerima operan berhenti sejenak di depan gawang, lalu menembak dengan
perlahan.
Bola
mengenai papan pantul dengan lembut dan masuk ke dalam net.
"Nais!"
Siswa
kelas empat bersorak memanggil Naru.
Naru menanggapi
panggilan itu sambil terengah-engah.
"Nais!
Shinohara-kun!"
Suara
Funayama-san terdengar. Ternyata dia bisa bersuara selantang itu, ya.
Saat aku menoleh
ke sana, wajah Funayama-san memerah karena digoda oleh siswi di sekitarnya.
Naru tersenyum
puas dan melakukan pose kemenangan. Wajah yang bagus.
Tapi maaf ya, aku
akan membuat kalian kalah di sini.
Sekarang giliran
kami menyerang. Aku menerima operan Reita di sudut.
Lawan di
hadapanku adalah nomor tiga, tapi Kijima sudah bersiap di posisi yang bisa
membantunya kapan saja.
Sulit untuk
melewatinya. Jadi, aku tidak memilih opsi itu.
Dari Drive
Fake, aku melakukan Fake Pass—lalu melompat lurus ke atas.
Sambil
membawa bola dari depan dada ke atas kepala, aku menyentakkan pergelangan
tanganku.
Aku
mendorongnya dengan jari telunjuk dan jari tengah.
"Apa..."
Kijima
yang terperangah menatap ke atas kepalanya.
Tembakan Three-Point
masuk ke net tanpa suara.
Tepat
setelah itu, peluit babak pertama dibunyikan.
"Nais
Haibara!"
"Haibara-kun,
hebat banget!"
Saat kembali ke
bangku cadangan, aku disambut meriah oleh teman-teman sekelas yang sedang
bersemangat.
Karena banyak
cabang olahraga yang berlangsung bersamaan, hanya sekitar sepertiga dari mereka
yang ada di sini.
Namun, semua
anggota inti ada di sini.
"Ini,
Natsuki-kun."
Aku menerima
botol minum dari Hikari dan membasahi tenggorokanku.
Aku melihat ke
papan skor. Kami
unggul jauh di babak pertama. Sejauh ini semuanya berjalan lancar.
"Mantap
mantap! Kita bisa menang! Haibara memang hebat!"
Okajima yang
sedang dalam suasana hati bagus menepuk punggungku dengan keras.
Sakit, tahu.
"Jangan
lengah. Selisih poinnya masih bisa dibalikkan."
"Hahaha, aku
taaaaahu. Haibara ini serius banget, ya."
Saat kami sedang
mengobrol seperti itu, Tatsuya yang tanpa ekspresi berdiri dari kursinya.
"Aku mau
cuci muka sebentar."
Semua orang
menatap punggung Tatsuya yang sangat tidak memperlihatkan emosi.
"Kenapa ya
dia?"
"Entahlah?
Lagipula tidak apa-apa, kan? Dia sudah melakukan tugasnya dengan baik."
Okajima
memiringkan kepalanya, dan Hino menjawab seadanya.
"…Aku, mau
ke sana sebentar."
Sedikit
terlambat, Uta mengejar punggung Tatsuya.
"Kita juga
pergi, yuk."
"Benar juga.
Aku khawatir dengan keadaannya."
Aku memutuskan
untuk mengikuti mereka berdua bersama Reita.
*
Di dekat keran
air yang agak jauh dari gimnasium, Tatsuya sedang mencuci wajahnya.
Suara hiruk-pikuk
para siswa terdengar dari kejauhan. Tidak ada siapa-siapa di sini selain kami.
Uta menatap
punggung Tatsuya.
Aku dan Reita
menahan napas sambil bersembunyi di balik bayangan objek yang tidak jauh dari
sana.
"…Tatsu."
Menanggapi
pertanyaan Uta yang terdengar sungkan, Tatsuya merespons sambil menyeka
wajahnya dengan handuk.
"Ada
apa?"
"Kenapa kamu
diam saja?"
"Daripada
klub basket yang mengamuk, lebih baik memanfaatkan pemain pemula."
"Itu,
mungkin benar, tapi..."
Argumen Tatsuya
masuk akal, dan Uta pun kehilangan kata-kata.
"Lagipula,
ini cuma turnamen bola, tidak ada gunanya mengeluarkan kemampuan asli."
Namun, Uta tampak
kesal dengan kata-kata Tatsuya selanjutnya.
"Nggak
apa-apa, kok! Meskipun nggak berguna! Padahal selama ini kamu nggak pernah
memedulikan hal seperti itu!"
Tatsuya tampaknya
tidak mengira dia akan dimarahi seperti itu.
Dia membelalakkan
mata karena terkejut, lalu menggelengkan kepalanya.
"…Karena aku
nggak bisa selamanya jadi anak kecil, aku ingin tumbuh dewasa sedikit demi
sedikit."
"Apakah itu
perilaku orang dewasa menurutmu? Kalau begitu, lebih baik tetap jadi anak kecil
saja!"
Uta memprotes
dengan suara yang seolah keluar dari lubuk hatinya.
"—Aku
tidak bisa menyukai Tatsu yang sekarang. Kembalilah jadi Tatsu yang dulu."
Ada sensasi
seolah udara membeku. Tatsuya mengernyitkan wajahnya.
Dia terlihat
sedikit sedih.
"…Aku adalah
manusia terburuk. Makanya, aku ingin jadi orang yang sedikit lebih baik. Bukan orang egois seperti diriku
yang dulu, tapi orang yang lembut dan memikirkan orang lain. Aku ingin berhenti
berperilaku kekanak-kanakan dan jadi orang yang benar. Apakah kau mau aku berhenti melakukan itu?"
"…Kenapa,
tiba-tiba, melakukan itu...?"
"Aku...
sempat merasa senang saat kau ditolak oleh Natsuki, meski cuma sesaat."
Uta mengerjapkan
matanya. Tatsuya menundukkan pandangannya.
"Makanya aku
kecewa pada diriku sendiri. Tapi, kupikir kalau aku berusaha seperti Natsuki,
kalau aku berusaha mengubah perilakuku—mungkin aku bisa berubah, sedikit
saja."
Cara bicaranya
yang datar dan menyembunyikan emosi sama sekali tidak mirip dengan Tatsuya yang
biasanya.
Benar-benar
terasa bahwa dia sedang berusaha untuk menjadi seperti itu.
"Lagipula...
kalau aku jadi orang baik, aku mungkin bisa sedikit membantu dirimu."
Tatsuya
menghentikan kata-katanya di situ. Keheningan terjadi selama beberapa saat.
Suara hiruk-pikuk
gimnasium terasa jauh, dan keadaan sunyi seolah waktu berhenti.
"Tatsu,
itu..."
Uta yang terus
menatap wajah Tatsuya tiba-tiba menarik napas panjang dan berteriak.
"Dasar
bodoh!"
Kukira apa,
ternyata itu umpatan yang tiba-tiba. Aku dan Reita saling berpandangan.
"…………Hah?"
Tatsuya
mengerutkan keningnya dengan bingung. Uta menunjuk Tatsuya dengan jari
telunjuknya, mungkin karena sedang marah.
"Merasa
senang karena aku ditolak... itu kan, wajar saja!"
"Hah?
A-apa maksudmu? Kalau orang yang punya kepribadian baik, dia nggak akan
berpikir begitu."
Tatsuya
terlihat sangat bingung, mungkin karena kata-kata Uta di luar dugaan.
Seolah
ingin mendesak Tatsuya lebih lanjut, Uta berteriak sambil wajahnya memerah.
"Karena
kamu menyukaiku, kan!? Kalau seandainya Hikarin ditolak oleh Natsu, sejujurnya
aku juga bakal merasa senang! Itu kan hal yang nggak bisa dihindari!"
Uta
bicara blak-blakan. Mata Tatsuya terbelalak karena kaget.
Apakah
benar aku harus mendengarkan ini? Ini salah, maafkan aku.
"Kalau kamu
merasa senang, itu berarti kamu benar-benar menyukaiku, kan!?"
Tatsuya tampak
tidak bisa berkata apa-apa. Keheningan itu berarti pengakuan.
"…Itu,
aku senang mendengarnya. Aku nggak merasa kamu buruk. Punya perasaan tidak suka
sedikit itu wajar, kan? Kita
kan manusia. Jadi, tolong jangan membenci dirimu sendiri karena hal seperti
itu."
"Uta,
kamu..."
"Aku
nggak lagi nangis!"
Sambil
meneteskan air mata, Uta menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu
mau membantuku... tetaplah jadi Tatsu yang kusukai."
Tatsuya
tampak canggung di depan Uta yang sedang menangis.
Uta terus
melanjutkan kata-katanya sambil menyeka sudut matanya dengan lengan baju.
"…Aku
nggak bermaksud menolak usahamu. Tapi, aku nggak suka kalau Tatsu yang biasanya
menghilang. Aku mohon, tetaplah jadi orang yang kusukai."
Keduanya
saling menatap. Waktu terasa
sunyi selama beberapa saat.
Tatsuya menghela
napas panjang seolah ketegangan di dirinya telah hilang.
"…Maaf ya,
Uta."
"Nggak perlu
minta maaf."
"Sebenarnya,
sampai sekarang pun aku nggak terlalu menyukai diriku sendiri. Bodoh, kasar,
tidak peka, egois, dan memaksa... penuh dengan kekurangan. Tidak bisa
dibandingkan dengan Reita atau Natsuki."
"Iya.
Mungkin saja sih!"
"Jangan
setuju, dong. Sebenarnya aku lebih sensitif daripada yang kalian pikirkan,
tahu."
"Ya itu
fakta, kok! Aku tahu kalau kamu sebenarnya mudah terluka. Aku juga tahu kalau
kamu sebenarnya banyak berpikir, dan kalau kamu lagi sok keren dan bilang hal
aneh, kamu akan merenung sendirian setelahnya."
"Berisik.
Kenapa kau sampai tahu sejauh itu?"
—Tatsuya,
ternyata kau juga punya bakat melakukan evaluasi diri sendirian seperti diriku,
ya.
Reita yang berada
di sampingku menatapku dengan heran, seolah bingung melihatku yang merasa
terharu.
Rasa kedekatan
yang luar biasa muncul terhadap Tatsuya.
Kami adalah jenis
manusia yang sama.
Aku akan selalu
menjadi temanmu...
"Ahahaha!
Dasar bodoh. Aku memperhatikanmu lebih baik daripada yang kau kira,
Tatsu."
Melihat Tatsuya
yang kembali ke ekspresi dan nada bicara biasanya, Uta memamerkan senyum
tulusnya.
Tatsuya
menengadah ke langit, lalu bergumam dengan ekspresi yang tampak lega.
"—Baiklah.
Kalau kau memang menyukai diriku yang seperti ini, aku tidak akan memaksakan
diri untuk berubah."
Aku
bertukar pandang dengan Reita, lalu kami berdua terkekeh tanpa alasan yang
jelas.
Kami
sebenarnya sudah memikirkan berbagai rencana, tapi sepertinya itu tidak
diperlukan lagi.
Karena
bagi Tatsuya, tidak ada hal lain yang bisa memberikan efek sebesar ini.
"Waktu
istirahat hampir habis. Aku pergi dulu."
Tatsuya
memunggungi Uta dan mulai berjalan menuju gimnasium.
Uta
bertanya kepada punggung Tatsuya.
"Hei, kau
akan memenangkan kejuaraannya, kan?"
Tatsuya tertawa
kecil, "Hah," lalu menyatakan dengan singkat.
"Serahkan
saja padaku."
*
Tanda berakhirnya
waktu istirahat dibunyikan.
Pemain dari kedua
tim memasuki lapangan, dan babak kedua dimulai.
"Oke, ayo
kita mulai."
Berbeda dengan
sebelumnya, Tatsuya kini memasang ekspresi penuh semangat. Aku menyikut
bahunya.
"Hei."
"Apa?"
"Babak
kedua, ayo bertaruh poin. Yang kalah harus mentraktir minuman."
"Hah?
Ada apa denganmu tiba-tiba?"
"Apa kau
takut? Kalau kau yang biasanya, kau tidak akan lari, kan?"
"Si-sialan
kau..."
Tatsuya
mengernyitkan wajah dan menggerutu.
"Menguping
itu tidak baik, tahu."
"Semua orang
mengkhawatirkanmu, tahu."
"……Maaf. Aku
tidak menyangka kalau aku membuat kalian khawatir."
Tatsuya meminta
maaf dengan ekspresi yang tampak merasa bersalah.
"—Jadi, kau
takut?"
"Baiklah,
aku terima tantangannya. Jangan menyesal nanti."
Tatsuya
menyeringai. Nah, begitu dong, itu baru dirimu.
Kami memulai
serangan. Reita memasukkan bola, dan Tatsuya menerimanya.
Pertahanan lawan
sudah terpasang, dan Tatsuya tetap dijaga oleh Kijima bernomor punggung lima.
"Ekspresimu sudah berubah ya, Nagiura?"
"Ya, begitulah. Aku sudah berusaha menjaga perasaan
orang lain, tapi banyak orang yang bilang lakukan saja sesukamu."
"Belakangan ini kau terlihat menyeramkan. Padahal
biasanya kau sangat terobsesi dengan skor, tapi tiba-tiba malah mengoper bola
di depan gawang dan bilang kalau siapa pun yang mencetak skor sama saja."
—Kau bukan orang yang sebijak itu, ujar Kijima.
"Kau seharusnya lebih egois dan punya kepribadian
buruk. Dan lagi, kalau kau tidak begitu, kami akan kesulitan. Kalau kau jadi
anak baik, siapa yang akan memimpin kami? —Ya kan, Nagiura?"
"Kalian
semua ini, seenaknya saja bicara..."
Tatsuya
mengeluh sambil terus mendribel bola.
Kijima yang
menghadapinya menekuk lutut dan menurunkan posisi pinggulnya.
Keheningan
sesaat. Keduanya saling menatap tajam.
"Majulah."
"Heh. —Aku
berangkat."
Crossover. Tatsuya melangkah ke kanan.
Karena tidak ada
gerakan tipuan, Kijima bisa mengikutinya. Nomor tiga yang berada di dekat sana pun
datang membantu.
Namun,
Tatsuya menggunakan lengannya untuk mendorong mereka berdua dengan paksa dan
terus maju.
Setelah
merendahkan tubuh dan menembus hingga ke depan gawang, dia melompat sekuat
tenaga dan mencetak skor dari ketinggian yang nyaris seperti Dunk.
Itu...
itu terlalu dipaksakan...
Tidak ada
cara mencetak skor lain yang lebih cocok disebut sebagai tindakan kekerasan.
Tergantung wasitnya, itu bisa dianggap Foul.
"Dua
poin."
Tatsuya
memprovokasiku. Baguslah. Aku akan meladeninya.
Tim kelas
empat mengeluarkan bola, dan kami mulai bertahan.
Bertaruh
poin memang penting, tapi kalau kami kalah dalam pertandingan, itu akan menjadi
kekonyolan.
Oleh karena itu,
kami juga bertahan dengan kekuatan penuh.
Operan dari
Kijima diterima oleh Naru, lalu bola dioper ke nomor dua.
"Ah!?"
Namun, nomor dua
gagal menangkap bolanya. Reita mengambil bola yang terlepas.
"Serangan
balik!"
Tatsuya
berteriak seketika. Pada saat
itu juga, aku mulai berlari.
Sesaat sebelum
garis Three-Point, aku menerima operan yang luar biasa dari Reita.
Aku pikir aku
sudah meninggalkan semua kawan dan lawan, tapi ternyata hanya Naru yang berada
di sampingku.
Dia berlari
sekuat tenaga. Meski napasnya terengah-engah, dia tetap berusaha bertahan
dengan gigih.
—Kau serius, ya,
Naru. Rasa senang muncul hingga membuatku tersenyum.
"Aku tidak
akan membiarkanmu mencetak skor!"
Aku mengayunkan
dribel untuk menggoyahkan Naru yang bersemangat, lalu mengecohnya.
Aku yang
mengajarinya dasar-dasar pertahanan, tapi sepertinya dia berlatih sendiri.
Sulit untuk
melewatinya hingga langkahku terhenti.
Saat mencari
celah untuk mengoper, aku melihat Okajima dan Hino berlari ke depan gawang,
tapi mereka pun dijaga ketat.
Mengoper bola
akan sulit.
Jadi, aku
memutuskan untuk menembak.
Suara
"Eh" dari Naru terdengar di telingaku.
Karena terlalu
waspada dengan Drive dan menjaga jarak denganku, Naru terlambat
bereaksi.
Bola yang
dilepaskan dari garis Three-Point itu sekali lagi menembus net.
"Jangan
menjaga jarak terlalu jauh saat menghadapi seorang Shooter, ya."
"T-tadi itu
aku belum diajari sejauh itu~"
Aku menepuk bahu
Naru yang mengeluh, lalu kembali ke area pertahanan kami.
"Tiga
poin."
Aku mengangkat
tiga jari untuk memancing Tatsuya.
"Dasar
bodoh, mana ada orang yang melakukan Three-Point saat serangan
balik?"
"Karena
bolanya masuk, tidak masalah, kan?"
"Dasar..." Tatsuya tampak tercengang.
Kalau Tatsuya yang tadi, dia pasti tidak akan
memedulikannya.
Bukan hanya karena taruhan denganku, tapi dia benar-benar
ingin memenangkan pertandingan, itulah kenapa dia mengeluh.
Karena, apa yang
kami lakukan sekarang adalah basket yang sangat kami sukai.
—Tentu saja,
pihak yang menang akan terasa lebih menyenangkan.
*
Skor akhir adalah
42 banding 22.
Kami menembus
babak pertama dengan kemenangan telak selisih dua puluh poin.
Naru dan tim
kelas empat gugur di sini.
"Kami memang
kalah, tapi aku merasa sangat senang... sungguh. Untuk pertama kalinya, aku
merasa bisa berguna dalam olahraga seperti ini. Aku juga bisa mencetak gol.
Semua ini berkat Natsuki."
Naru yang
bermandikan keringat mengucapkan terima kasih dengan wajah cerah.
Aku yakin dia
berusaha menyembunyikan rasa kecewanya, tapi kurasa itu juga perasaan jujurnya.
Karena itulah,
aku ikut merasa senang.
"……Meskipun
aku tidak bisa menunjukkan sisi kerenku, ya."
"Apa benar
begitu?"
"Eh? Ya,
karena kami tidak bisa menang..."
Aku memegang bahu
Naru yang tampak kebingungan, lalu memutarnya ke belakang.
Di sana,
Funayama-san sedang mendekat.
Dia membungkuk
sopan kepada kami.
"Kurasa, dia
sendiri yang akan memberitahumu."
Aku memberikan
kode mata pada Funayama-san dan berbalik.
Lebih baik
membiarkan mereka berdua saja. Saran dari kami tidak diperlukan lagi.
Dalam perjalanan
kembali ke kelas, aku mendengar suara jeritan, "Eh!?"
"B-bolehkah
aku saja...?"
Suaramu keras
sekali, Naru. Aku tersenyum kecut.
Saat menoleh dari
balik bahu, aku melihat wajah keduanya memerah padam, dan entah mengapa mereka
malah saling membungkuk satu sama lain.
Semoga kalian
bahagia.
"Hei
Natsuki. Cepatlah."
Saat kembali ke
tempat teman-teman sekelas, ternyata Tatsuya sudah menungguku.
"Apa kau mau
mentraktir minuman?"
"Berisik, ya
sudah mau bagaimana lagi. Aku kalah selisih satu poin darimu."
Aku berjalan
bersampingan dengan Tatsuya yang tampak kesal menuju mesin penjual otomatis.
"Sialan,
kalau saja tembakan terakhir itu masuk, aku yang menang."
Dia terus
mengeluh, padahal setengah dari poin yang kudapatkan adalah hasil Assist
Tatsuya.
Dipikir bagaimana
pun, dari segi kontribusi, Tatsuya yang menang.
Kami berdua
sama-sama tahu itu, tapi sayangnya, ini adalah taruhan poin.
Kami keluar dari
gimnasium menuju mesin penjual otomatis di samping pintu masuk gedung klub.
Tatsuya membeli
dua botol minuman olahraga dan melemparkan salah satunya padaku.
"Terima
kasih."
Aku berterima
kasih dan membasahi tenggorokanku yang kering.
Ah, segar
sekali. Memang paling enak setelah berolahraga.
"……Maaf
soal yang dulu, Natsuki."
Tatsuya berkata
kepadaku saat aku sedang menikmati "minuman kemenangan" (?) itu.
"Tiba-tiba
kenapa?"
"Waktu
festival budaya, aku sempat memarahimu, kan?"
Maksudnya setelah
aku menolak Uta?
"……Aku rasa
wajar kalau kau memukulku. Bukan kau yang harus meminta maaf."
"Bukan. Kau
hanya... menyukai Hoshimiya lebih daripada Uta, kan?"
Aku mengangguk
tanpa kata. Seperti kata Tatsuya, aku memilih Hikari.
"Kalau
begitu, itu bukan urusanku untuk ikut campur. Tapi aku malah ikut campur."
"Aku dengan
egois berasumsi bahwa kau akan membuat Uta bahagia."
"Bahwa kalau
itu kau, aku bisa menerimanya dan menyerah dengan tenang... Aku merasa sudah
menitipkan sesuatu padamu, jadi aku merasa seolah dikhianati."
"……Aku juga
bersikap mendua. Sampai akhir aku terus bimbang tentang apa yang aku inginkan,
apakah aku lebih menyukai Hikari atau Uta."
"Karena
itulah aku juga merepotkan Tatsuya. Maaf."
"Jangan
minta maaf. Cinta memang seperti itu, kan?"
"Aku malah
membebanimu dengan paksaan egoisku sendiri. Aku menyesali itu. Itu bukan
kata-kata yang pantas diucapkan oleh orang luar seperti aku."
"Apa
maksudmu orang luar? Tidak
seperti itu, kok."
"Tidak,
aku adalah orang luar. Jadi,
pertama-tama aku harus naik ke panggung itu sendiri."
Dia tersenyum
menantang. Ekspresi penuh percaya diri itu adalah Tatsuya yang biasanya.
"Jangan
menyesal, Natsuki. Uta akan kupinang."
"……Begitu,
ya."
"——Aku
akan menjadi pria yang bisa membuat dia bahagia."
Tatsuya
mendeklarasikan. Wajah tanpa
ragu itu, menurutku, murni terlihat keren.
"Jangan
berusaha ke arah yang aneh seperti kali ini, ya."
Mengubah
diri sendiri itu bagus. Tapi ada bagian yang tidak ingin kulihat berubah.
Mencoba
mengubah segalanya tidak akan berhasil. Seperti aku yang bertengkar dengan
Tatsuya di musim semi dulu.
"Berisik.
Aku sudah memikirkan banyak hal dengan caraku sendiri. Salah langkah pun
wajar."
"Tapi...
karena kalian bertiga ternyata lebih menyukaiku daripada yang kukira, jadi aku
berhenti melakukan itu."
Orang
ini, dia malah jadi berdalih.
"Secara
spesifik bagaimana caranya? Menjadi pria yang bisa membahagiakan Uta?"
"Untuk
sementara, karena ada dirimu yang bisa kujadikan tolok ukur yang mudah.
Pertama, aku akan melampauimu."
Tatsuya
berkata dengan penuh percaya diri.
"Rasanya...
bukankah itu pola pikir anak SD?"
"Diam.
Pertama aku akan melampauimu dalam hal nilai. Bersiaplah."
"Dari mana kau akan memulai... bukankah dalam kasus ini
harusnya leher yang disiapkan?"
Saat aku
melontarkan sindiran, Tatsuya malah melakukan Headlock.
Sakit, tahu!
Melihatku yang
meronta-ronta, Reita yang entah sejak kapan berada di dekat sana hanya
mengangkat bahu.
"Hei, tolong
aku, Reita!"
"Aku rasa
Natsuki tidak apa-apa kalau sekali-kali mengalami nasib buruk."
"Kenapa!?
Aduh, sakit sakit!"
Melihatku
kesakitan, Reita malah tertawa senang. Orang ini menakutkan!
*
"……Begitu,
ya?"
"Yah...
bukankah terserah dia saja?"
"Kau
terlihat agak senang, ya?"
"Tidak
juga! Tapi... mungkin aku
akan menaruh sedikit harapan."
*
Sebelum
pertandingan babak kedua, aku membenturkan tinju dengan Tatsuya.
"Mari
menang, turnamen bola."
"——Hah. Apa
yang kau katakan? Kalau ada aku dan kau, mana mungkin kita bisa kalah."
Setelah
itu, kami menang telak atas tim kelas dua-satu dengan skor 46 banding 20.
Pertandingan
yang berat adalah di babak semifinal.
Lawan
kami adalah tim kelas dua-tiga.
Anggotanya
adalah kapten klub basket saat ini, Kak Kataoka, Kak Iwayo, dan Kuronomakito
dari klub sepak bola.
Mereka
adalah dalang di balik keributan klub basket putri saat musim hujan lalu.
Sangat
mengesankan melihat Reita yang jarang sekali memperlihatkan semangat juangnya,
bersumpah untuk menang.
Meski
kami dibuat kesulitan oleh Rebound Kak Iwayo yang memanfaatkan tubuh
besarnya, serta kepekaan operan Kak Kataoka dan kemampuan pertahanannya dalam
mengunci Tatsuya, kami berhasil meraih kemenangan tipis berkat tingkat
keberhasilan tembakanku dan Reita yang mampu menahan Kurono dengan sempurna.
Skor
akhir adalah 26 banding 24.
Itu
adalah pertandingan skor rendah di mana pertahanan kedua belah pihak bersinar.
Sesaat
setelah meraih kemenangan, penonton di sekitar bersorak keras.
Tentu
saja, jika sudah sampai semifinal, jumlah penontonnya jadi banyak. Turnamen
bola pun sudah mendekati akhir.
Yang
tersisa hanyalah babak final sepak bola dan basket.
Cabang
olahraga lain sudah berakhir karena proses yang lebih cepat.
Dari tiga
lapangan yang ada, dua di antaranya sudah dipenuhi siswa yang duduk untuk
menonton.
Kelas kami
berkumpul terutama di sisi kanan, jadi kami pindah ke sana.
"Oh, tim basket kerja bagus! Selanjutnya final,
ya!"
Sambil
menanggapi pujian teman sekelas, aku menyandarkan punggung ke dinding gimnasium
dan duduk.
Tiba-tiba,
rasa lelah yang luar biasa menyerang.
Meski
hanya sepuluh menit babak pertama dan kedua, jika sampai ke final, bermain
empat pertandingan dalam sehari memang berat.
Mungkin
karena turnamen bola hanya acara sehari, jadi agak memaksakan diri itu tidak
terelakkan.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana poin kelas kita?"
Tiba-tiba
aku bertanya pada Hikari yang duduk di sampingku.
"Eh,
sebentar... bukannya ada pengumuman sementara tadi? Ada yang tahu?"
"Kita
ada di peringkat empat. Sepak
bola kita peringkat dua, jadi seharusnya kita sudah mengejar sedikit."
Yang menanggapi
pertanyaan Hikari adalah Fujiwara.
"Voli juga
peringkat empat, kalau basket nanti menang, mungkin ada peluang besar."
"Itu
artinya, kau menyuruh kami untuk menang?"
Saat aku bertanya
balik, Fujiwara tertawa, "Ya, begitulah."
Tepat pada saat
itu, sorak-sorai yang lebih keras dari sebelumnya membahana.
Tampaknya
semifinal basket sudah berakhir, dan lawan kami sudah ditentukan.
"Siapa yang
menang?"
"Kelas
tiga-satu. Timnya Kak Yanagishita."
Yang menjawab
adalah Tatsuya.
Lawan terakhir
yang menghalangi jalan kami adalah Kak Yanagishita, ya.
……Entah mengapa,
aku sudah merasa begitu.
"Aku melihat
dari dekat, mereka kuat sekali."
"Bukannya
itu berarti lawan yang pas?"
Pertandingan
setelah sekian lama memang menyenangkan. Semakin kuat lawannya, semakin tegang
rasanya.
Aku mencambuk
tubuhku yang sudah sangat lelah dan berdiri.
"Ayo pergi,
semuanya."
Tatsuya, Reita,
Hino, dan Okajima mengikuti di belakangku.
——Kami akan
menang. Untuk menikmati acara ini, untuk menikmati masa muda ini, sepenuhnya.
*
"Miori."
"……Reita-kun."
Saat dipanggil
namanya, aku menoleh.
Di sana berdiri
sosok yang sudah kuduga. ……Pacar pertamaku.
Reita-kun adalah
orang yang keren, baik, asyik diajak seru-seruan, pandai berbicara, jenius yang
bisa melakukan apa pun dengan cekatan, dan sejauh yang kuingat, dia adalah
orang yang tidak memiliki kekurangan sama sekali.
Sejak mulai
berpacaran dengan Reita-kun, aku sering merasa dicemburui oleh orang-orang di
sekitarku.
Aku juga pernah
terpapar emosi hitam yang jelas-jelas iri. Begitulah populernya dia.
……Sebenarnya,
pria seperti dia terlalu bagus untuk wanita sepertiku.
Itu sama seperti
kata orang-orang. Aku merasa sudah cukup memahaminya.
"Akhirnya
babak final, ya."
"Ya. Berkat
Natsuki dan Tatsuya, kita bisa sampai sejauh ini."
"Reita-kun
juga tampil luar biasa! Operanmu keren sekali!"
Ini adalah
perasaan yang jujur. Reita-kun mahir mengoper.
Berkali-kali saat
teman setimnya bebas, dia mengoper seolah memang sudah membidiknya.
Kurasa wawasannya
sangat luas.
Meskipun tidak
terlalu menonjol, dia benar-benar mendukung tim itu.
"Mungkin
pengalaman sepak bolaku sedikit membantu."
Reita-kun
menjawab seperti itu sambil tersenyum pahit menerima pujianku.
"Bagaimana
dengan Miori sendiri?"
"Padahal aku
sudah diajari sepak bola oleh Reita-kun, tapi kami kalah di babak kedua."
Aku mencoba
tertawa, tahaha. ……Padahal sebenarnya aku sangat kecewa.
Kalau saja aku
bisa mencetak angka saat itu, kami pasti sudah menang. Sial... sial sekali...
"Meskipun
kecewa, tidak perlu memaksakan diri untuk tertawa."
"……Reita-kun
terkadang terlalu tajam, sampai-sampai membuatku takut."
"Itu sering
dikatakan orang, tapi karena aku memperhatikanmu secara khusus, jadi mungkin
begitu."
Reita-kun
mengangkat bahu.
Kalau
dipikir-pikir, apakah ini saatnya jantungku berdebar?
Tapi,
hatiku tidak bergerak sedikit pun.
Kurasa, Reita-kun
bahkan menyadari hal itu.
"——Aku akan
menang. Aku akan berusaha supaya bisa menang. Jadi, maukah kau
mendukungku?"
"Tentu saja.
Aku akan terus memperhatikanmu, Reita-kun."
Dari
lubuk hatiku yang terdalam, aku mengangguk. Bahkan jika ini bukan perasaan cinta, aku tetap
menyukai Reita-kun.
Tidak ada
kebohongan dalam perasaanku yang ingin mendukung orang yang kusukai saat dia
berjuang.
"……Kau masih
menyukai Natsuki, kan?"
Begitu ditanya
seperti itu, aku membeku.
Aku terperangkap
dalam sensasi seolah waktu berhenti.
Aku tidak bisa
membalas apa pun, dan hanya bisa mengeluarkan kata, "……Maaf."
"Bahkan jika
aku hanya pilihan setelah Natsuki pun tidak apa-apa. Selama kau mau
mendukungku."
Reita-kun hanya
mengatakan itu dan memunggungiku.
Pada
punggung yang berjalan menuju lapangan final itu, aku berteriak.
"——Semangat
ya, Reita-kun!"
Reita-kun menoleh
sekali, lalu tersenyum dengan sangat tulus.
Mengapa dia
memberikan wajah seperti itu hanya karena kata-kata dari orang sepertiku?
Aku sangat
senang. Sangat senang, namun juga terasa menyesakan.
Aku merasa sangat sedih dan menderita tanpa alasan.
"Betapa
bahagianya jika aku bisa menyukai orang ini."
Sambil memikirkan
hal itu, justru kata-kata dari teman masa kecil yang merepotkan itulah yang
selalu menggerakkan hatiku.
Aku menggelengkan
kepala, mencoba mengusir bayangan teman masa kecil yang melintas di benakku.
——Hei, Reita-kun.
Aku, ingin menyukaimu.
Jadi, tolong
tunggu aku sebentar lagi, sedikit saja lagi.
*
"……Apa
maksudnya itu?"
"……Kau
bilang, kau menyukai Natsuki? Si Motomiya itu...?"
Keduanya
saling berpandangan dengan ekspresi penuh tanda tanya.



Post a Comment