Chapter 4
Final
Pertandingan final bola basket putra.
Karena ini adalah pertandingan penutup dari turnamen bola,
hampir seluruh siswa sekolah berkumpul.
Mungkin mereka yang sama sekali tidak tertarik sedang bolos
di luar, namun tampaknya lebih banyak orang yang berpikir, "Mumpung ada
kesempatan, mari kita tonton sambil mengobrol."
Di kedua sisi lapangan tengah tempat kami bertanding, banyak
siswa berjejer. Di lantai dua pun, banyak siswa yang berdiri menonton.
Di bangku cadangan tim kami, hampir seluruh siswa kelas
satu-dua telah berkumpul, membentuk formasi dukungan.
Situasi di bangku lawan pun serupa. Bahkan, seseorang yang
terlihat seperti ketua pemandu sorak sedang memakai ikat kepala dan memukuli
megafon. Dari mana dia mendapatkan benda itu...? Semangatnya benar-benar
meluap-luap.
Rasanya seperti pertandingan antara dua SMA unggulan.
"Uooo... Aku gugup sekali..."
Okajima-kun melihat ke sekeliling sambil menggigil.
"Dengan penonton sebanyak ini, aku pun jadi sedikit
gemetar."
Hino juga
tersenyum pahit sambil mengikat ulang tali sepatu basketnya.
"Kurasa
setengah dari mereka hanya berdiri di sana dan tidak benar-benar menonton
dengan serius, kok."
Reita, yang
melihat keduanya, berkata seolah ingin mencairkan ketegangan.
"T-tapi,
setengahnya lagi tetap menonton dengan serius, kan...? Permainan kita."
Ternyata
Okajima-kun cukup penakut.
"Tatsuya,
katakan sesuatu padanya... eh, Tatsuya? Ada apa?"
Tatsuya, yang
diajak bicara, entah mengapa menatap Reita dengan tajam.
Lalu, dia
menjawab seolah baru tersadar.
"A, ah...
tidak ada apa-apa. Rasa gugup, begitu pertandingan dimulai, tidak akan terasa
lagi."
"Ya, bagimu
mungkin begitu, Nagiura, tapi..."
Okajima-kun masih
terus mengerang. Yah, lupakan itu.
Apakah kondisi
Tatsuya agak aneh?
Saat aku berpikir
begitu, Tatsuya menangkup pipinya dengan kedua tangan, menepuknya, dan
bergumam, "Baiklah. Konsentrasi." Sesaat kemudian, dia kembali ke
ekspresi yang penuh semangat.
Sepertinya aku
terlalu khawatir.
Okajima-kun yang
terus mengeluh pun mungkin akan baik-baik saja.
"Mari kita
mulai."
Kami dipanggil
oleh wasit dan berbaris di tengah lapangan.
Aku mengedarkan
pandangan ke sekeliling. Di tengah kerumunan orang, aku menemukan wajah
teman-temanku.
Miori menyadari
tatapanku, lalu memalingkan wajah dengan ekspresi tidak suka. Hei, berikan
dukunganmu.
Serika entah
mengapa melambaikan glow stick. Dari mana dia mendapatkannya?
Mei dan
Funayama-san berdiri berdampingan melihat ke arah kami. Senang melihat mereka
tampak akrab.
Kak Iwayo, yang
melihat ke sini dengan tangan bersedekap, mengacungkan jempol tanpa suara.
Di bangku
cadangan kami, tentu saja teman-teman sekelas sudah lengkap.
Hikari, Uta,
Nanase, dan Fujiwara juga mendukung kami.
"Kita harus
menang."
Tatsuya
menyemangati semua orang.
Bagaimanapun,
kata-kata orang ini, meskipun diucapkan dengan suara pelan, benar-benar
bergema.
Semangat Hino,
Reita, dan Okajima pun terlihat jelas meningkat.
"Mohon kerja
samanya."
Namun, ada satu
orang di tim lawan yang memiliki kharisma melebihi Tatsuya.
"Kak
Yanagishita. Sudah lama tidak bertemu."
"Sejak
pensiun dari ekskul, ya? Kudengar belakangan ini kau jadi anak pintar, tapi
kelihatannya tidak juga, ya."
Orang
yang berbicara dengan akrab pada Tatsuya adalah mantan kapten klub basket, Yugo
Yanagishita.
"Yo
Shiratori, Okajima. Kelihatannya sehat, ya."
"Berkat doa
Kakak."
"Halo, Kak.
Bagaimana kabar Kak Watanabe?"
"Setiap hari
belajar melulu. Setidaknya
hari ini, biarkan aku bersenang-senang."
Reita dan
Okajima-kun juga berbincang dengan pemain nomor dua tim lawan. Sepertinya dia
kakak kelas dari klub sepak bola. Kak Watanabe, kalau tidak salah ingat,
bukankah dia mantan ace klub sepak bola?
Anggota
lainnya pun semuanya terlihat seperti orang yang jago olahraga.
Memang
pantas sampai di final. Berbeda dengan kami anak kelas satu, bahkan dari postur
tubuhnya saja sudah terlihat beda.
"Haibara-kun."
Kak
Yanagishita-lah yang mengajakku bicara.
"Aku
menonton pertandinganmu sejauh ini. Maukah kau bergabung dengan klub basket?"
Mataku
membelalak. Aku terkejut mendengar apa yang dia katakan.
"Tentu
saja aku tahu kau berada di klub musik ringan. Tapi, aku merasa sayang sekali. Kau punya
pengalaman di SMP, kan? Kalau kau, pasti bisa menjadi pemain inti di tim
kami."
Kak Yanagishita
merayuku dengan cara seperti itu.
Jujur, aku
senang. Aku tidak menyangka akan diakui oleh orang ini.
Di kelas satu
semester pertama, saat aku tidak bisa mengimbangi yang lain dan berlatih
sendiri, Kak Yanagishita-lah yang mengajariku dasar-dasarnya. Orang ini adalah
guru basketku.
"Terima
kasih atas tawarannya, tapi maaf, saya tidak bisa."
"Benarkah?
Ya, sudah kuduga. Vokal dan gitarmu juga jago, sih. Maaf soal ajakan mendadak
tadi."
Mungkin dia
memang hanya mencoba-coba. Kak Yanagishita tersenyum pahit.
"Baiklah,
kita mulai. Jump ball."
Saat pembicaraan
terhenti, wasit memberikan aba-aba. Okajima-kun, yang paling tinggi di kelas
kami, berdiri di lingkaran tengah bersama pemain nomor delapan lawan.
Bola dilemparkan
oleh wasit, melambung tinggi ke angkasa.
"Tinggi
sekali...!?"
Okajima-kun
berucap seolah tak percaya.
Perasaanku pun
sama. Aku tidak percaya dengan mataku, tubuh raksasa itu melayang di udara.
Pemenang jump ball adalah tim kelas tiga-satu.
Bukankah pemain
nomor delapan itu tingginya sekitar 190 cm?
Terlalu tinggi.
Itu tidak
diragukan lagi adalah salah satu faktor mengapa tim kelas tiga-satu bisa menang
sampai sejauh ini.
"Satu poin.
Tenang saja."
Kak Yanagishita
menggiring bola sambil mengangkat jari telunjuknya.
Suasana di
sekitar yang tadinya riuh, tiba-tiba terasa hening.
Suara
pantulan bola terdengar sangat berat.
Di depan garis three-point, orang yang berhadapan
dengan Kak Yanagishita adalah Tatsuya.
...Dia akan
datang, pikirku, dan pada saat yang sama Tatsuya dilewati.
Penetrate dari atas. Aku membuang mark
pemain nomor tiga dan secara refleks masuk untuk cover.
Dalam sekejap,
Kak Yanagishita mengarahkan pandangannya ke pemain nomor tiga yang
kutinggalkan.
Saat aku mengira
dia akan mengoper, langkahku terputus karena dia berbalik arah. Itu tipuan.
Dia
melangkah dengan crossover. Aku sama sekali tidak bisa bereaksi.
Dia
berpura-pura akan menabrak, tapi berhenti di short corner, lalu
melakukan jump shoot dengan luwes. Bola masuk menembus net dengan mudah.
Sorak
sorai terdengar. Setelah keheningan yang mencekam, tekanan suaranya terasa
berkali lipat.
Gerakannya
sangat anggun. Benar-benar membuatku terpesona.
"Bajingan
itu... dia sama sekali tidak melemah!"
Tatsuya
berteriak dengan urat biru menonjol di dahinya. Namun, ada senyum buas
di sudut bibirnya.
"Justru
karena itulah, dia layak untuk dijatuhkan, kan?"
"Ya. Ikuti
alurnya, Natsuki. Kita akan buat para penonton terkesima."
Selanjutnya,
giliran kami menyerang.
Tatsuya yang
berhadapan dengan Kak Yanagishita mengoper bola ke Reita.
Saat aku berlari
ke posisi sayap, operan dari Reita datang.
Saat aku berbalik
menghadap gawang, pemain nomor tiga yang ada di depanku merendahkan
pinggangnya, memasang posisi bertahan.
Dia
waspada dengan drive-ku, tapi tidak menjaga jarak. Mungkin dia tahu kalau aku seorang shooter.
Penjagaan jarak yang luar biasa ini, dia jelas pemain berpengalaman.
Aku mencoba
memancingnya dengan pandangan mata dan sedikit gerakan tubuh, tapi dia tidak
mudah tertipu.
"—Natsuki!"
Saat namaku
dipanggil, tubuhku bereaksi secara refleks.
Tatsuya berhasil
mengecoh Kak Yanagishita dan berlari ke belakang pertahanan. Aku memberikan
operan bagaikan peluru ke arah Tatsuya yang masuk ke depan gawang. Tatsuya
menangkap operanku dengan mantap dan mencetak layup.
"Bagus,
Natsuki!"
"Bagaimana
kau bisa mengecohnya?"
"Itu deny
bagian belakang. Backdoor cut."
Kak Yanagishita bersiul, "Fiuuh."
"Ini jadi semakin seru."
Kak Yanagishita memperlihatkan deretan gigi putihnya seolah
senang.
Serangan tim kelas tiga-satu.
Pemain nomor tiga yang berpengalaman dan Kak Yanagishita
saling mengoper bola sambil mencari peluang.
Di saat yang tidak terduga, Kak Yanagishita melancarkan
serangan.
Dari penetrate ke tengah, dia mengoper balik ke nomor
tiga di luar.
Aku pun terjebak karena sedang membantu menjaga Tatsuya,
sehingga membiarkan nomor tiga bebas.
Aku melompat sambil mengulurkan tangan untuk menekan nomor
tiga yang bersiap melakukan shooting... tapi itu ternyata tipuan. Nomor
tiga melakukan dribel untuk mengecohku, melakukan langkah kecil ke kanan, lalu
mengoper. Operan yang melambung tinggi dan halus.
Siapa yang menangkapnya? Tentu saja pemain nomor delapan
yang tinggi.
Pemain nomor delapan itu melompat sambil membawa bola di
depan gawang, dan saat aku bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan—
"H-hei, hei,
hei..."
Dung! Dengan suara yang mengerikan, dia melakukan dunk
shoot.
Sorak
sorai meledak. Bahkan siswa yang tadinya tidak tertarik pun berbondong-bondong
datang untuk menonton pertandingan.
Aku
benar-benar tak habis pikir.
Apa-apaan ini?
Ini turnamen bola, tahu!
"Ini adalah
tim terkuat yang kubentuk dengan mengorbankan segalanya demi menang di basket. Keren, kan?"
Kak
Yanagishita membusungkan dada, tertawa sambil membanggakan diri.
—Dia
benar-benar terlihat senang. Saat bermain basket, selalu seperti itu.
Melihat sosoknya,
aku teringat masa lalu.
*
Saat
masuk SMA, aku bergabung dengan klub basket dengan perasaan santai.
Karena
aku lumayan tinggi. Karena sepertinya populer. Karena sepertinya anak keren.
Karena basket adalah olahraga yang paling kusukai. Hanya karena alasan ringan seperti itulah, makanya
aku segera menyesal.
"T-terlalu
berat..."
Aku
berguling di lantai gimnasium, terengah-engah dengan napas kasar.
Pada
dasarnya aku tidak punya pengalaman dari SMP, payah, dan tidak tahu tekniknya.
Meski
sudah berusaha keras untuk jago, tubuhku yang kaku dari anak yang tidak ikut
klub saat SMP tidak bisa mengejarnya.
Ada dua
orang lain yang tidak punya pengalaman seperti aku, tapi mereka semua sudah
terbiasa dengan klub olahraga lain, jadi mereka bisa mengikuti latihan dengan
mudah. Hanya aku yang benar-benar tertinggal.
"Haha,
kelihatannya berat, ya."
Orang
yang menyapa dengan ramah saat itu adalah Kak Yanagishita.
Hampir
semua kakak kelas tidak memedulikanku, tapi hanya orang ini yang berbeda.
"Aku...
aku sudah tidak bisa berlari lagi..."
"Bicara
apa kau. Dari sinilah yang sebenarnya dimulai. Saatnya latihan mandiri."
"Aku,
aku ingin melakukannya, tapi hari ini benar-benar tidak bisa..."
"—Bukankah
kau ingin mengejar Tatsuya dan yang lainnya? Kalau ingin mengejar mereka tanpa pengalaman, kau
butuh tekad yang sesuai. Kalau kau mau latihan mandiri, aku akan menemanimu.
Spesial untukmu, aku akan mengajarimu dasarnya."
"Eh, Kak
Yanagishita mau mengajari saya secara langsung...?"
"Tentu saja
aku tidak akan memaksamu. Keputusan ada padamu, bagaimana?"
"S-saya akan
melakukannya...! Tolong ajari saya!"
Saat awal-awal,
alasan aku bisa bertahan di klub basket adalah berkat Kak Yanagishita.
"—Berusahalah.
Kau akan jadi jago. Aku jamin."
Karena orang ini
peduli padaku, aku bisa berusaha.
Aku merasa bisa
bertahan sedikit lebih lama lagi.
Sebagai Kak
Yanagishita, mungkin dia hanya berpikir ingin menolong adik kelas yang agak
terisolasi di dalam klub, atau mungkin dia hanya sekadar mengakui, tapi bagi
aku saat itu, itu adalah penyelamat.
Bukan hanya dasar
bola basket, dia juga mengajariku betapa menyenangkannya itu.
Meskipun hasil
akhirnya adalah masa muda yang kelabu, aku tidak menyesal bergabung dengan klub
basket. Itu berkat Kak Yanagishita yang mengajariku betapa menyenangkannya
basket.
Itu adalah
periode singkat sampai dia pensiun di musim panas, tapi dia adalah orang yang
paling banyak membantuku.
Karena itulah,
aku selalu ingin menunjukkan padanya bahwa aku sudah jago.
Secara kebetulan,
kesempatan untuk menghilangkan penyesalan itu datang.
Aku tahu Kak
Yanagishita saat ini tidak memiliki ingatan tentang dirinya yang membantuku.
Namun—berkat
Kakak, aku jadi menyukai basket dan menjadi sejago ini.
Jadi, aku
akan menang dan membuktikannya. Lalu, aku akan mengatakan terima kasih.
*
Tersisa
tiga menit sampai babak pertama berakhir.
Skornya
12 banding 18. Selisih enam poin tertinggal.
Karena
Tatsuya yang dijaga Kak Yanagishita tidak bisa menjadi poros, aku harus
melakukannya.
Aku menerima
operan dari Hino dan langsung melakukan quick shoot tanpa tipuan.
Karena mendadak,
nomor tiga di depanku juga salah membaca. Aku mendengar suara desisan lidah.
Meski berbunyi klang,
bola masuk ke gawang. Three-point.
"Tiga poin lagi..."
Saat aku
menggumamkan itu, aku menyadari kelengahaanku.
"—Serangan
balik!" Bersamaan dengan deklarasi Kak Yanagishita, anak kelas tiga mulai
berlari serempak.
Bola dilemparkan
jauh ke depan dari garis gawang. Baik aku maupun Tatsuya tidak bisa bereaksi.
Pemain nomor dua, Kak Watanabe, menerima operan jauh dari Kak Yanagishita dan
melakukan layup dengan ringan. Dua poin dibalas dengan mudah. Sial. Itu
adalah saat di mana kesadaranku terfokus sepenuhnya pada serangan.
"Kalau
mengajari pemula, jawabannya adalah serangan balik. Lagipula, cukup dengan
berlari ke depan saja."
Seolah
memprovokasi aku yang menyesal, Kak Yanagishita berkata dengan penuh percaya
diri.
Dia
memikirkan taktik dengan matang. Orang yang tidak pernah setengah-setengah
dalam melakukan apa pun. Dia juga benar-benar berusaha untuk menang di turnamen
ini. Memang hebat. Tapi, kalau tidak begini, tidak seru.
"Natsuki."
Tatsuya,
yang sedang membawa bola ke depan, memanggilku.
"Apa?"
"Kau,
kalahkan orang itu."
Kalimat yang
singkat. Bukankah penjelasannya terlalu kurang?
Operan berputar
dari Tatsuya ke posisi sayap kanan. Yang menghadapiku tetap nomor tiga.
Tatsuya memberi
isyarat pada Okajima, Hino, dan Reita untuk merapat ke sisi kiri. Dengan kata
lain, menjauh dari aku dan nomor tiga. Karena pertahanan man-to-man,
lawan pun mengikuti Reita dan yang lainnya ke kiri. Akhirnya, hanya aku dan
nomor tiga yang tertinggal di sisi kanan lapangan.
"Isolation...?"
Gumam pemain nomor tiga di depanku.
"——Jangan
remehkan aku."
Semangat
nomor tiga meningkat. Seolah
dia menantangku untuk datang jika aku berani.
Aku mengerti
kenapa dia marah. Situasi ini didasarkan pada asumsi bahwa aku bisa
menghancurkan nomor tiga dalam satu lawan satu. Dengan kata lain, bagi nomor
tiga, dia diperlakukan sebagai lawan yang lebih lemah.
Tatsuya, sialan,
apakah "kalahkan dia" itu maksudnya begini?
"..."
Aku
terdiam sambil memegang bola. Saling menatap tajam dengan nomor tiga.
Setiap
detik berlalu, suasana di sekitar menjadi hening. Detik ketiga—aku mulai
bergerak.
Aku
menendang lantai dan memotong ke kanan dengan tajam. Tapi aku tidak bisa lepas. Aku menghentikan kakiku
dan melakukan leg-through sambil menstabilkan posisi tubuh yang tadinya
condong ke depan. Bersamaan dengan itu, aku menatap ke arah gawang.
"Jangan
harap!"
Saat nomor tiga
hendak melompat untuk mencegah tembakanku, aku menyelinap ke sisi kiri dengan drive.
Aku diajari oleh Kak Yanagishita bahwa tipuan dilakukan dengan sedikit gerakan
tubuh dan arah pandangan. Kak Yanagishita yang tadinya merapat ke kiri mencoba
membantu, tapi sudah terlambat. Aku lebih cepat melakukan tembakan di bawah
gawang. Sesaat setelah membalas dua poin, peluit akhir babak pertama ditiup.
"Tatsuya,
kau ini..."
"Apa?
Meskipun tidak dijelaskan, apa yang harus dilakukan tetap sama, kan?"
Tatsuya
menahan tawa sambil berkata begitu.
Saat kami
berlima kembali ke bangku cadangan, kami disambut dengan sorak sorai yang
meriah.
"Ini,
Natsuki-kun."
Aku menerima
minuman olahraga dari Hikari dan membasahi tenggorokanku yang kering.
Hmm, jadi di dunia ini Hikari adalah
manajernya... itu juga bagus...
"Selisih
tiga poin, ya."
Aku melihat papan
skor. 17 banding 20. Selisih tiga poin tertinggal.
"Tidak perlu
pesimis. Ada bagian yang jelas-jelas kita unggul."
Tatsuya
berkata dengan datar sambil menyeka keringat dengan handuk.
"Itu
kau, Natsuki. Kau lebih jago daripada nomor tiga itu. Jadi, seranglah dia."
"Tapi, isolation
tadi itu terlalu terang-terangan, tahu. Tidak bisa dilakukan berulang kali."
"Tidak
masalah. Dengan begitu, kita sudah menetapkan peringkatnya."
Tatsuya
yang berkata seperti itu agak mengejutkan.
"Apa
tidak apa-apa? Kau juga ingin mencetak skor, kan? Mengalahkan Kak
Yanagishita."
"Sayangnya,
jika melawan Kak Yanagishita, aku masih kalah. Kalau ingin menang, bertarunglah
di tempat di mana kau bisa menang. Aku belajar itu dari Kak Yanagishita
sendiri. Jangan ada yang protes."
Tatsuya
menunjukkan senyum buas. Dia menatap Kak Yanagishita di bangku lawan.
Tampaknya
dua orang ini sedang bertarung dari sudut pandang yang lebih luas.
Kalau begitu, aku
serahkan itu pada Tatsuya. Aku bukan orang dengan penglihatan luas. Aku tidak bisa melakukan kontrol permainan.
Permainan andalanku pun terbatas, hanya menembak dan satu lawan satu. Tidak
perlu memaksakan diri melakukan hal yang tidak bisa kulakukan. Aku adalah pion.
Aku akan fokus pada peran yang dibutuhkan.
"Gunakan
aku dengan baik, Tatsuya."
"Bicara
pada siapa kau? Aku ini ace klub basket, tahu."
Waktu
istirahat hampir selesai. Timer menunjukkan angka nol, dan pertandingan
dimulai kembali.
Saat aku
bangkit dan hendak ke lapangan, pundakku ditepuk dengan keras.
Bukan
hanya aku, tapi Tatsuya di sampingku juga.
"Oke!
Pergilah kalian berdua!"
Saat
menoleh, di sana ada Uta yang tersenyum.
Saat kami
berlima kembali ke lapangan, Reita entah kenapa melihat ke sekeliling.
"Ada apa,
Reita?"
"......Natsuki.
Apa kau tahu di mana Miori berada?"
"Hm? Dia ada
di sana, kan? Aku tidak tahu kenapa dia berdiri di pojok sana."
Aku menunjuk ke
arah sudut tribun lantai dua. Miori berada bersama teman sekelas wanita
lainnya, entah mengapa dia berdiri satu langkah di belakang untuk menonton
pertandingan. Wajar saja kalau Reita yang punya daya observasi pun sulit
menemukannya.
Reita menatapku
dengan tatapan serius yang entah kenapa.
"......Miori
bilang. Natsuki jago dalam menemukan dirinya saat bermain petak umpet."
"Kalau
dipikir-pikir... sepertinya begitu?"
Antara ingat atau
tidak.
Saat aku mencoba
mengingat-ingat sambil memijat pelipis, Reita berkata.
"Natsuki.
Jangan lepaskan pandangan dari bola, ya."
*
Babak kedua
dilanjutkan dari serangan kami.
"Poros
serangannya adalah kau, kan?"
"Itu terlalu
berlebihan, Kak."
Marking-ku sudah digantikan oleh Kak Yanagishita.
Dan,
Tatsuya dijaga oleh nomor tiga.
Tapi, aku
tidak merasa formasi ini adalah tindakan pencegahan untuk serangan kami.
Kalau aku
saja bisa lolos, seharusnya Tatsuya juga bisa.
Mungkin
Tatsuya juga berpikir hal yang sama. Dia langsung menyerang dengan drive.
Tapi,
pemain nomor delapan segera masuk untuk membantu. Kaki Tatsuya terhenti oleh
tubuh raksasa yang menghalanginya.
"Cih..."
"Tatsuya!
Di sini!"
Tatsuya
yang mendesis kesal mengoper bola ke Reita yang memanggil namanya.
Pemain
nomor delapan keluar membantu dengan kecepatan itu—itu berarti Okajima-kun,
yang seharusnya dijaga oleh nomor delapan, sedang bebas. Mungkin Reita
menyadarinya lebih cepat dariku. Operan seperti anak panah meluncur ke low
post tempat Okajima-kun berada. Memang hebat. Penilaian situasinya dalam
sekejap sangat cepat.
"Operan
bagus!"
Okajima-kun
memegang bola dan melakukan tembakan di bawah gawang.
Tapi,
pemain nomor delapan melompat dengan gerakan lincah yang tidak sesuai dengan
tubuh raksasanya, dan menepis tembakan itu.
"Hah!?"
Okajima-kun terperangah.
...Mungkin
bukan pemain berpengalaman, tapi dia besar dan cepat.
"Meskipun
membuat Okajima-kun setengah bebas, dia menempatkan dua orang untuk menjaga
Tatsuya, ya."
Di tengah jalan
kembali ke area kami, Reita berbicara padaku.
"Perhitungannya
adalah kalau nomor delapan itu, meskipun bola sampai ke Okajima-kun, dia bisa
menghentikannya nanti."
Perbaikan
taktiknya cepat. Dia menutupi kelemahannya dengan baik.
"M-maaf!"
"Jangan
dipikirkan! Mari cetak skor berikutnya!"
Okajima-kun
meminta maaf, tapi kejadian tadi memang tidak bisa dihindari.
Namun, kalau
begini jadi sulit untuk menyerang. Lagipula—
"Bagus,
Yanagishita!"
—Secara
keseluruhan, anak kelas tiga jelas lebih unggul dalam hal kemampuan.
Tatsuya dilewati
dengan drive, dan aku yang membantu pun dengan mudah dikecoh.
Kak Yanagishita
dengan tenang masuk ke gerakan shooting dari tengah dan memasukkannya ke
net dengan indah.
"Gawat..."
Tanpa ada cara
untuk membongkarnya, selisih poin semakin melebar.
Apa yang harus
dilakukan? Apa yang bisa kulakukan?
Jujur saja, aku
tidak bisa mengalahkan Kak Yanagishita.
"——Kita
tidak sendirian. Kita akan menang bersama-sama."
Reita
berkata begitu sambil menepuk pundakku. Mungkin dia tidak tega melihat
ekspresiku yang kaku.
"Aku tahu,
tapi..."
"Percayalah
padaku. Aku akan lebih berguna dari yang kau pikirkan."
Mataku bertemu
dengan Reita. Terhadap tatapan serius itu, aku mengangguk secara alami.
Dan, tepat
setelah kami berpindah ke posisi menyerang.
"Natsuki!"
Namaku dipanggil.
Tubuhku bereaksi.
Screen dari Tatsuya. Aku berlari ke pojok
setelah membiarkan Kak Yanagishita tertahan.
Operan dari Reita
datang di saat bersamaan, operan dengan kekuatan yang luar biasa.
Saat menerima
bola, aku langsung melompat.
Sering dikatakan
bahwa kualitas tembakan ditentukan oleh operan. Saat bola meninggalkan ujung
jariku, aku yakin bola itu akan masuk. Bola yang melambung tinggi itu hanya
menggoyangkan net, lalu memantul keras di lantai.
Aku
melakukan high-five dengan Reita dan Tatsuya.
"Nah,
kan?"
Melihat
Reita yang berwajah puas, aku tidak bisa membantahnya.
"Aku
jadi mengerti benar arti dari ucapan 'jangan lepaskan pandangan dari
bola'."
Sambil
berbincang seperti itu, kami pindah ke posisi bertahan.
Lawan
sedang mengoper bola di posisi tinggi sambil mencari celah.
Operan
pelan dilepaskan dari nomor tiga ke nomor dua. Di sana, Reita melompat ke depan
dalam sekejap.
Reita
yang memotong operan dan memantulkan bola ke depan, berlari sambil mendribel.
Reita sempat
dikejar oleh pertahanan lawan, tapi dia memberikan operan padaku yang ada di
belakangnya.
Benar-benar
pengamatan yang jeli. Namun
Kak Yanagishita mengejar.
"——Di sini,
akan kuhentikan."
Sambil
berkata begitu, Kak Yanagishita menjilat bibirnya.
—Baguslah.
Aku akan mengecohmu.
Aku masuk
ke posisi layup dan melompat dengan tenaga penuh.
Aku
mengangkat tangan yang membawa bola, lalu segera menariknya kembali ke dekat
tubuh.
Lalu, sambil
kehilangan keseimbangan, aku melepaskan bola sekali lagi.
"Double clutch...!?"
Seseorang di antara penonton berteriak kaget.
Namun—bola itu tertepis. Kak Yanagishita telah membacanya
dengan sempurna.
Dia dengan tepat menepis hanya tembakan kedua dari tipuan
pertama dengan tangannya.
"Ritmemu sangat mirip denganku. Makanya mudah
terbaca."
Kak
Yanagishita berkata sambil tertawa gembira.
Ritme
yang mirip dengan Kakak itu karena aku diajari oleh Kakak.
Aku menahan
keinginan untuk mengatakan itu dan menyatakan, "Selanjutnya aku akan
mencetak skor."
*
―Dalam bola
basket, tidak ada yang namanya membalikkan keadaan dalam sekali tembakan.
Berkat aksi
gemilang Kak Yanagishita, perlahan namun pasti, selisih poin mulai melebar.
Babak kedua,
tersisa dua menit. Kami tertinggal delapan poin. Waktu sudah sangat mendesak.
Kami butuh tiga
kali tembakan Three-pointer untuk membalikkan keadaan. Jika hanya
tembakan biasa, butuh empat kali untuk menyamakan kedudukan. Kami tidak boleh
meleset lagi.
Jika selisih poin
melebar lebih jauh, semuanya akan berakhir. Karena itulah, kami harus bertahan
dengan sekuat tenaga.
Tepat saat aku
berpikir begitu, aku sadar sosok di depanku sudah hilang.
Saat menoleh,
ternyata Kak Yanagishita sudah merangsek ke depan gawang. Kalau dia berhasil
mencetak poin, tamatlah kami.
Di saat aku
hampir menyerah, Tatsuya muncul mengejar Kak Yanagishita.
"Memangnya
kubiarkan kau mencetak poin……!"
Dengan lompatan
yang luar biasa, dia melakukan blok terhadap tembakan Kak Yanagishita.
Reita, yang
bereaksi lebih cepat dari siapa pun, menangkap bola yang memantul dari papan
itu.
Tubuhku bergerak
dengan sendirinya.
"Natsuki!"
serunya, dan bola pun sampai ke tanganku.
Karena Kak
Yanagishita dan timnya berada di bawah gawang, mereka tidak mungkin bisa
mengejarku.
Aku melesat
melewatinya dan melakukan Layup untuk mencetak poin melalui serangan
balik.
"Kita bisa
menang! Tetap fokus!"
Tatsuya membakar
semangat tim yang hampir menyerah.
Dia
benar-benar memiliki bakat sebagai kapten generasi berikutnya. Dia membuatku merasa bahwa mengikutinya
adalah pilihan yang tepat.
―Tersisa satu
menit dua puluh detik. Selisih enam poin. Sorakan penonton pun semakin riuh.
Giliran kami
menyerang. Tatsuya, yang sejak tadi dijaga ketat oleh pemain nomor tiga dan
delapan, kini melakukan tindakan nekat.
Dia
menerobos masuk di antara keduanya dengan Drive. Mungkinkah dia bisa menembus pertahanan itu……!?
Dia mengecoh
pemain nomor delapan dengan Step miliknya, lalu memberikan operan
terakhir.
Meski sempat
kehilangan keseimbangan karena terdorong tubuh besar pemain nomor delapan, Hino
yang menerima bola di depan gawang berhasil melesakkan tembakan.
"Bagus!
Pantas saja Hino, yang cuma bisa mengandalkan kemampuan motoriknya!"
"Memangnya
cuma itu saja kelebihanku!?"
Aku mengabaikan
Hino yang masih ternganga dan segera kembali ke posisi bertahan.
Aku tahu apa yang
akan dilakukan lawan.
"Serangan
balik!"
Sesuai teriakan
Kak Yanagishita, tim lawan mulai berlari.
Tapi, kami tidak
akan tertipu oleh taktik yang sama dua kali. Kami juga sudah siap
berlari. Namun, hanya Tatsuya yang tertinggal karena terjatuh di depan gawang. ―Artinya,
Kak Yanagishita dalam posisi bebas.
"―Biar
aku yang hentikan."
Aku
menahan tangan Reita yang berniat melakukan cover.
Bola dioper ke
Kak Yanagishita tepat saat aku menempel ketat di pertahanannya.
Waktu tersisa
kurang dari satu menit. Jika kami membiarkan mereka mencetak poin di sini,
semuanya benar-benar berakhir.
Itulah sebabnya
Kak Yanagishita berusaha menghabisi kami. Dia memang orang yang seperti itu.
"―Ayo."
Di tengah
ketegangan yang memuncak, sekilas kenangan masa lalu melintas di benakku.
*
"Ambil
posisi reguler, Haibara."
Itu terjadi saat
kami sedang latihan mandiri hingga larut malam.
"Jadilah
lebih hebat dariku, dan jadilah kartu as bersama Tatsuya."
Kak Yanagishita
yang bermandi keringat menepuk punggungku.
"Apa maksud
Kakak? Itu mustahil bagi saya. Bisa mengikuti latihan saja sudah sangat
berat."
"Jangan
bicara begitu. Percayalah pada dirimu sendiri. Kamu pasti bisa jauh lebih hebat
dariku."
Hanya dia
satu-satunya orang yang menaruh harapan seperti itu padaku.
"Kenapa
Kakak berpikir begitu?"
Terhadap
pertanyaanku yang jujur, Kak Yanagishita hanya mengangkat bahu dengan ekspresi
tak percaya.
"―Soalnya,
cuma kita berdua yang masih latihan sampai jam segini, kan?"
Itu adalah masa
di mana aku mulai menyadari kegagalanku saat awal masuk SMA.
Aku sangat
menyesali kelemahan dan kecerobohanku sendiri. Aku sadar benar bahwa usahaku
masih kurang.
Di dunia yang
kian kelabu ini, aku sempat berpikir ingin membuang segalanya.
―Meski
begitu, aku tidak ingin mengkhianati harapan orang ini.
*
Mata kami
bertemu. Berbagai tipuan pandangan mata saling beradu. Namun, aku tidak
bergerak.
Aku tidak akan
tertipu. Kau pikir sudah berapa kali aku melakukan latihan satu lawan satu
dengan Kak Yanagishita?
Meski dia bisa
membaca ritmeku, begitu pula sebaliknya.
Kak Yanagishita
mulai melakukan dribel. Scissors Step. Crossover. Aku
bereaksi. Sesaat kemudian, dia berputar. Kak Yanagishita menahan tubuhku, lalu
mencoba melepaskan diri ke arah berlawanan dengan Roll Turn.
―Aku sudah membaca pergerakannya. Karena itu aku bisa
mengejarnya. Jalur menuju gawang sudah benar-benar kututup.
Namun, Kak Yanagishita menghentikan langkahnya dan melompat
mundur. Dia bersiap melakukan tembakan.
"Fadeaway……!?"
Penonton bersorak kaget. Tapi, hanya aku yang tahu. Aku tahu
jika terdesak, Kak Yanagishita akan melakukan jurus andalannya, Fadeaway.
Karena itulah aku bisa melangkah
maju. Aku melompat sekuat tenaga.
"Oooooohhh!!"
Harus kuhentikan.
Harus.
Jari-jariku yang
terulur dengan putus asa menyentuh sedikit bola tembakannya.
"Melesetlah!"
Dan, doa
itu terkabul.
Bola
memantul di ring dan melambung tinggi.
Namun,
pemain nomor delapan yang bertubuh raksasa sudah menanti di bawah gawang.
―Tapi,
Tatsuya yang entah kapan sudah kembali, berhasil mengungguli pemain nomor
delapan itu dan merebut Rebound dengan lompatan tinggi. Padahal tadi dia
sempat terjatuh, tapi dia begitu cepat. Dan lompatannya tinggi sekali.
Benar-benar monster fisik.
"Serangan
balik!"
Reita
berteriak.
Tatsuya
mengoper bola dari depan gawang ke Hino, lalu dari Hino bola mengalir ke Reita.
Kak
Yanagishita masih kehilangan keseimbangan akibat tembakan Fadeaway-nya.
Pemain nomor delapan berada di bawah gawang.
Anggota
lainnya pun mungkin sudah kelelahan di babak akhir ini. Mereka tidak bisa mengejar sama sekali.
Sepertinya, meski
mereka sudah pensiun dari klub, Reita dan yang lainnya memiliki stamina yang
jauh lebih baik.
Gawang lawan pun
berhasil dibobol dengan mudah.
"Jangan
mundur! Terus tekan!"
Tatsuya memberi
instruksi kepada Reita dan yang lainnya yang hendak kembali ke posisi bertahan.
Tersisa sepuluh
detik. Selisih satu poin. Jika kami menunggu serangan lawan dengan santai,
tidak akan sempat.
All-court
press. Inilah kesempatan
kami karena menyadari bahwa fisik kami lebih unggul.
Kak
Yanagishita yang menerima operan dari garis gawang mencoba menerobos. Namun,
dia tidak gegabah. Dia tahu bahwa kehilangan bola adalah kesalahan fatal. Dia
menghabiskan waktu dengan teknik Handling andalannya.
Waktu
terus berlalu sementara Kak Yanagishita menguasai bola.
"Tatsuya!"
"Ya!"
Aku dan
Tatsuya segera melakukan penjagaan dan memojokkan lawan ke pinggir lapangan
dengan Press.
"Sial……!?"
Untuk pertama
kalinya, Kak Yanagishita menunjukkan ekspresi kesal. Tidak ada lagi jalur
operan.
Tangan Tatsuya
yang terulur berhasil memukul bola dari tangan Kak Yanagishita. Dia mengamankan
bola dan mulai melakukan dribel.
Tatsuya melesat
menuju gawang yang sudah ada di depan mata.
Di saat Kak
Yanagishita berteriak "Jangan biarkan!", operan datang kepadaku yang
berada di belakangnya.
"―Natsuki!
Selesaikan!"
Aku menembak.
Saat bola melayang di udara, suasana menjadi hening seketika.
Timer
menunjukkan angka nol, dan tanda pertandingan berakhir berbunyi. Semua orang
mengikuti arah bola.
Bola
meluncur masuk ke dalam net, menambah dua poin untuk tim kami.
"Ooooh,"
sorak penonton yang paling meriah hari ini pun pecah. Semua teman sekelas kami
melompat dari bangku cadangan.
Itu adalah Buzzer-beater. Skor akhir empat puluh lima
banding empat puluh empat. Kami menang.
"……Aku kalah ya."
"Begitulah. ―Kak Yanagishita, terima kasih
banyak."
"Sama-sama.
Pertandingan yang bagus. Sudah lama aku tidak merasa setegang ini."
"Bukan cuma
itu, tapi terima kasih juga untuk semua hal yang Kakak ajarkan padaku."
Saat aku
menunduk, Kak Yanagishita memiringkan kepalanya dengan bingung seolah berkata,
"?"
Mungkin Kak
Yanagishita saat ini tidak mengerti apa maksud tindakanku, tapi tidak apa-apa,
begini saja sudah cukup.
"Natsuki!
Kita menang!"
Tatsuya merangkul
pundakku sambil berteriak keras, dan Okajima-kun ikut menerjang kami.
Hino dan Reita
pun ikut menumpuk, dan kami berlima merayakan kemenangan bersama. Teman-teman
sekelas kami pun ikut bergabung dalam lingkaran kegembiraan itu.
Kemenangan tim basket putra menjadi penentu, dan Kelas Satu-Dua pun keluar sebagai juara umum dalam Turnamen Bola.
*
Setelah keributan
usai, kami beristirahat di luar gimnasium.
Tanpa disadari,
orang-orang yang berada di sampingku sudah kembali menjadi kelompok yang biasa.
Aku, Tatsuya,
Reita, Uta, Hikari, dan Nanase duduk di bangku istirahat.
"Wah,
akhirnya kita juara ya. Aku sampai terharu tadi."
"Kabarnya,
baru kali ini ada anak kelas satu yang berhasil menang."
"Yah, itu
semua berkat aku. Kalau bukan karena aku yang menang di basket, mungkin kita
cuma bakal finis di posisi tiga atau empat secara keseluruhan."
"Itu bukan
cuma berkat Tatsu saja, kok."
"Lagipula,
Shiratori-kun dan Haibara-kun juga sudah berusaha sangat keras, kan?"
"Yah,
kalau jujur, faktor penentunya di akhir tadi memang stamina."
"Soalnya
mereka sudah tidak pernah olahraga karena sibuk belajar untuk ujian, jadi di
babak terakhir mereka sudah kehabisan tenaga."
Kami
mengucapkan hal-hal seperti itu sambil tertawa bersama.
Kecanggungan yang
kurasakan sampai kemarin sudah hilang. Ini adalah percakapan yang sangat alami.
Aku bisa kembali
bersama keenam orang ini seperti biasanya, sesuatu yang hampir saja hilang. Aku
merasa sangat bahagia karenanya.
"Oke! Nanti
kita rayakan dengan pesta!"
"Hari ini
setelah ini masih ada kegiatan klub, kan? Rasanya aku sudah tidak sanggup
bergerak lagi."
"Ahaha,
kasihan sekali ya Tatsuya-kun……"
"Bagaimana
kalau hari Sabtu saja supaya lebih aman? Kita bisa berkumpul setelah kegiatan
klub selesai."
"Menurut
kalian, tempatnya di mana sebaiknya?"
"Saizeriya
paling ramah di kantong! Jadi, kumpul di Saizeriya saja!"
"Uta.
Sesekali di rumahmu juga tidak apa-apa, kan? Cukup kok untuk menampung enam
orang."
"Itu juga
ide bagus! Tapi kan lebih mahal daripada Saizeriya!?"
"Rumah Uta
itu tempat apa ya? Toko okonomiyaki, kan?"
"Iya, betul.
Toko yang di sekitaran jalan perbelanjaan itu. Karena tempatnya tidak terlalu
besar, kalau sudah skala acara kelas sih tidak akan muat. Tapi kalau cuma kita
berenam, bukannya pas ya?"
"Ah, tapi
aku lagi tidak punya uang. Bagaimana kalau di taman saja?"
"Itu sih
bukan pesta namanya!"
Tatsuya
dan Uta tampak sangat bersemangat.
Sambil
berdebat hal-hal bodoh, mereka tetap tertawa.
Memang
benar, kelompok enam orang kami ini memang harus dipimpin oleh mereka berdua.
―Aku ingin menghargai ruang kebersamaan yang telah berhasil kami rebut kembali ini.



Post a Comment