Epilog
Menyadari Kebodohan
Satu hari
telah berlalu sejak turnamen olahraga berakhir.
Aku menjalani
hari-hari seperti biasa; pergi ke sekolah, bekerja paruh waktu di Kedai Mares,
dan rutinitas pun terus berjalan.
Saat aku sedang
menunggu kereta untuk pulang di peron stasiun, seseorang menepuk bahuku.
Ketika aku
menoleh, ternyata Serika sedang berdiri di sana dengan tas gitar di
punggungnya, lalu memberikan tanda peace padaku.
"Pagi."
"……Ini sudah
malam, tahu?"
"Tapi di
tempat kerja, semua orang bilang 'pagi'."
"Ya itu kan
karena urusan pekerjaan…… Tapi tunggu, Serika juga baru selesai kerja paruh
waktu?"
Aku menebaknya
karena hari sudah larut padahal tidak ada kegiatan klub, namun Serika
menggelengkan kepalanya.
"Ujian? Atau mungkin…… try out? Aku baru saja mengikuti semacam seleksi."
"Seleksi? ……Seleksi apa? Jangan bilang,
band?"
Serika
mengangguk dengan wajah datar seperti biasanya.
"Ada band yang sudah lama mengajakku bergabung. Tapi,
level mereka cukup tinggi dan selain aku, anggotanya semua orang dewasa.
Awalnya aku merasa minder, tapi…… kupikir tidak ada salahnya mencoba tantangan
ini."
……Ternyata Serika bisa merasa minder juga ya (penilaian yang
kasar, sih).
"Bagaimana hasilnya?"
"Lolos. Yay."
Serika mengayun-ayunkan satu tangannya yang membentuk tanda peace
dengan ekspresi datar.
Tentu saja dia
lolos, dengan kemampuan tangan Serika itu. Meskipun band orang dewasa itu
mungkin jauh lebih hebat daripada kami…… bagiku, tanpa memihak, teknik Serika
sudah setingkat profesional.
"Baguslah.
Selamat ya."
"Hm. Mereka
adalah orang-orang yang bisa memainkan lagu sulit dengan santai, jadi ini
sangat bagus untuk latihanku."
"Walaupun
sebenarnya aku harus berusaha keras untuk mengimbangi mereka," tambah
Serika dengan tatapan yang sedikit menerawang.
Jika Serika
sampai berpendapat seperti itu, pasti band itu luar biasa hebatnya.
Secara tulus, aku
merasa senang untuknya.
Hanya saja, jika
begitu, bagaimana dengan band kami……
"―Aku
berencana untuk menjalankan keduanya."
Seolah bisa
membaca keraguanku, Serika memberikan pernyataan itu.
"Di sana kan
band orang dewasa dan hanya bisa aktif di hari Sabtu-Minggu, jadi aku ingin
tetap berlatih di hari kerja. Dan jujur saja, aku masih ingin terus bermain
musik dengan Natsuki dan yang lainnya. Soalnya, aku ingin tampil di festival
budaya tahun depan juga."
"……Apa kamu
yakin? Jadwalmu akan sangat padat, lho?"
"Lagipula
kalau di rumah, aku juga cuma main gitar."
Meskipun Serika
bilang begitu, kurasa merangkap dua band akan jauh lebih berat daripada yang ia
bayangkan.
"……Aku ingin
tumbuh lebih jauh sebagai gitaris. Selain itu, karena keduanya adalah band yang
aku sendiri memang ingin bergabung, aku tidak mau berkompromi. Aku akan
berusaha di keduanya. Aku sudah memutuskan itu."
Mungkin karena
baru saja selesai mengikuti seleksi, ada gairah yang membara dalam kata-kata
Serika.
"Hei, apa
kamu mau membantuku?"
Tidak
mungkin aku tidak mengangguk pada pertanyaan itu.
Karena
sejak hari aku mendengar permainan gitar Serika untuk pertama kalinya, aku
sudah menjadi penggemar beratnya.
Bahkan
jika pada akhirnya aku hanya menjadi batu loncatan bagi Serika untuk melebarkan
sayap, aku tidak keberatan.
"Ya."
Aku mengepalkan
tangan, dan Serika pun membenturkan kepalan tangannya ke kepalan tanganku.
"Kalau
begitu, kita harus mencari drummer baru."
Sebuah awal yang
baru, aku merasa sangat antusias. Sensasinya sama persis seperti saat di
Mischelef dulu.
"Tentang
itu, aku sudah menemukan satu orang. Drummer yang sreg di hati. Akan aku kenalkan
padamu."
Serika
memanggil gadis yang sedari tadi menunggu di tempat yang agak jauh.
"Lho,
dia bersamamu?"
"Iya.
Dia masih kelas tiga SMP, tapi katanya dia berencana masuk ke sekolah kita
nanti."
Gadis itu
mendekat. Tubuhnya mungil. Wajahnya rapi, namun tampak masih sangat polos.
Matanya
besar dan bulat. Rambutnya bergaya bob cut dengan ujung yang melengkung.
Suasananya masih
sangat kekanak-kanakan, dan ia mengenakan seragam SMP.
Seragam itu sama
persis dengan yang dulu dikenakan oleh aku dan Miori.
Gadis yang
diperkenalkan oleh Serika itu berdiri dengan tegap, memberikan hormat, dan
menyapaku dengan penuh semangat.
"―Sudah lama
tidak bertemu, Senior Haibara! Namaku Yamano Saya! Mohon kerja samanya!"
Sesuai dengan sapaan "sudah lama tidak bertemu" yang diucapkan Yamano, ternyata kami memang sudah saling mengenal.
*
Satu minggu telah
berlalu sejak turnamen olahraga.
Istirahat siang.
Waktu bebas setelah selesai makan.
Suasana kelas
yang tadinya riuh ramai, kini akhirnya kembali tenang seperti sedia kala.
"Eh, Miori
sedang izin sakit?"
Aku mengernyitkan
dahi setelah mendengar kabar itu dari Hikari.
"Iya.
Sepertinya sudah sejak sesaat setelah turnamen olahraga kemarin."
Kami berenam,
yang biasanya berkumpul di dekat jendela kelas, saling berpandangan.
"Reita, apa
kau tidak mendengar apa pun?"
"……Aku sudah
mengirim RINE, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Kira-kira dia
baik-baik saja, ya?"
Reita pun menatap
ponselnya dengan raut wajah khawatir.
"Aku dengar
dari guru katanya dia kena flu."
"Kalau hanya
flu biasa, rasanya terlalu lama ya," sahut Uta dan Nanase sembari saling
berpandangan.
……Mungkin Serika
yang satu kelas dengannya tahu sesuatu.
"Coba aku
tanyakan pada Serika."
Setelah
mengatakan itu, aku melangkah keluar kelas dan tiba-tiba merasakan tatapan aneh
tertuju padaku.
……Apa ini?
Perasaan yang janggal. Siswa dari Kelas 1 terus memperhatikanku.
Saat aku
mendatangi kelas satu, ternyata Serika pun sedang tidak ada di tempat duduknya.
Mungkinkah dia
ada di ruang musik kedua? Lagipula aku sedang luang, coba kucari saja.
Lagipula, aneh
sekali Miori bisa sampai jatuh sakit.
Bukankah ada
pepatah kalau orang bodoh tidak bisa sakit flu?
Ah, mungkin
karena ini memang musimnya flu mulai mewabah.
Apa sepulang
sekolah nanti aku mampir untuk melihat keadaannya saja?
Sambil memikirkan
hal-hal yang tak menentu itu, aku tak sengaja melewati depan toilet perempuan.
"Rumor
tentang Motomiya itu beneran nggak sih? Katanya dia main sama Shiratori-kun dan
Haibara-kun sekaligus?"
"Katanya ada
yang lihat, lho. Mereka bilang dia memeluk Haibara-kun di taman."
"Wah, gila
banget ya? Mentang-mentang wajahnya cakep, dia jadi sombong gitu?"
"Dulu dia
bersikeras kalau dia dan Haibara-kun cuma teman masa kecil, kan? Padahal dari
dulu aku sudah merasa dia agak pamer. Ternyata benar-benar murahan. Kasihan
banget Shiratori-kun dan Hoshimiya-san."
―Tiba-tiba, telingaku menangkap suara gosip dari sekelompok siswi kelas satu.



Post a Comment