NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 5 Epilog

Epilog

Menyadari Kebodohan


Satu hari telah berlalu sejak turnamen olahraga berakhir.

Aku menjalani hari-hari seperti biasa; pergi ke sekolah, bekerja paruh waktu di Kedai Mares, dan rutinitas pun terus berjalan.

Saat aku sedang menunggu kereta untuk pulang di peron stasiun, seseorang menepuk bahuku.

Ketika aku menoleh, ternyata Serika sedang berdiri di sana dengan tas gitar di punggungnya, lalu memberikan tanda peace padaku.

"Pagi."

"……Ini sudah malam, tahu?"

"Tapi di tempat kerja, semua orang bilang 'pagi'."

"Ya itu kan karena urusan pekerjaan…… Tapi tunggu, Serika juga baru selesai kerja paruh waktu?"

Aku menebaknya karena hari sudah larut padahal tidak ada kegiatan klub, namun Serika menggelengkan kepalanya.

"Ujian? Atau mungkin…… try out? Aku baru saja mengikuti semacam seleksi."

"Seleksi? ……Seleksi apa? Jangan bilang, band?"

Serika mengangguk dengan wajah datar seperti biasanya.

"Ada band yang sudah lama mengajakku bergabung. Tapi, level mereka cukup tinggi dan selain aku, anggotanya semua orang dewasa. Awalnya aku merasa minder, tapi…… kupikir tidak ada salahnya mencoba tantangan ini."

……Ternyata Serika bisa merasa minder juga ya (penilaian yang kasar, sih).

"Bagaimana hasilnya?"

"Lolos. Yay."

Serika mengayun-ayunkan satu tangannya yang membentuk tanda peace dengan ekspresi datar.

Tentu saja dia lolos, dengan kemampuan tangan Serika itu. Meskipun band orang dewasa itu mungkin jauh lebih hebat daripada kami…… bagiku, tanpa memihak, teknik Serika sudah setingkat profesional.

"Baguslah. Selamat ya."

"Hm. Mereka adalah orang-orang yang bisa memainkan lagu sulit dengan santai, jadi ini sangat bagus untuk latihanku."

"Walaupun sebenarnya aku harus berusaha keras untuk mengimbangi mereka," tambah Serika dengan tatapan yang sedikit menerawang.

Jika Serika sampai berpendapat seperti itu, pasti band itu luar biasa hebatnya.

Secara tulus, aku merasa senang untuknya.

Hanya saja, jika begitu, bagaimana dengan band kami……

"―Aku berencana untuk menjalankan keduanya."

Seolah bisa membaca keraguanku, Serika memberikan pernyataan itu.

"Di sana kan band orang dewasa dan hanya bisa aktif di hari Sabtu-Minggu, jadi aku ingin tetap berlatih di hari kerja. Dan jujur saja, aku masih ingin terus bermain musik dengan Natsuki dan yang lainnya. Soalnya, aku ingin tampil di festival budaya tahun depan juga."

"……Apa kamu yakin? Jadwalmu akan sangat padat, lho?"

"Lagipula kalau di rumah, aku juga cuma main gitar."

Meskipun Serika bilang begitu, kurasa merangkap dua band akan jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.

"……Aku ingin tumbuh lebih jauh sebagai gitaris. Selain itu, karena keduanya adalah band yang aku sendiri memang ingin bergabung, aku tidak mau berkompromi. Aku akan berusaha di keduanya. Aku sudah memutuskan itu."

Mungkin karena baru saja selesai mengikuti seleksi, ada gairah yang membara dalam kata-kata Serika.

"Hei, apa kamu mau membantuku?"

Tidak mungkin aku tidak mengangguk pada pertanyaan itu.

Karena sejak hari aku mendengar permainan gitar Serika untuk pertama kalinya, aku sudah menjadi penggemar beratnya.

Bahkan jika pada akhirnya aku hanya menjadi batu loncatan bagi Serika untuk melebarkan sayap, aku tidak keberatan.

"Ya."

Aku mengepalkan tangan, dan Serika pun membenturkan kepalan tangannya ke kepalan tanganku.

"Kalau begitu, kita harus mencari drummer baru."

Sebuah awal yang baru, aku merasa sangat antusias. Sensasinya sama persis seperti saat di Mischelef dulu.

"Tentang itu, aku sudah menemukan satu orang. Drummer yang sreg di hati. Akan aku kenalkan padamu."

Serika memanggil gadis yang sedari tadi menunggu di tempat yang agak jauh.

"Lho, dia bersamamu?"

"Iya. Dia masih kelas tiga SMP, tapi katanya dia berencana masuk ke sekolah kita nanti."

Gadis itu mendekat. Tubuhnya mungil. Wajahnya rapi, namun tampak masih sangat polos.

Matanya besar dan bulat. Rambutnya bergaya bob cut dengan ujung yang melengkung.

Suasananya masih sangat kekanak-kanakan, dan ia mengenakan seragam SMP.

Seragam itu sama persis dengan yang dulu dikenakan oleh aku dan Miori.

Gadis yang diperkenalkan oleh Serika itu berdiri dengan tegap, memberikan hormat, dan menyapaku dengan penuh semangat.

"―Sudah lama tidak bertemu, Senior Haibara! Namaku Yamano Saya! Mohon kerja samanya!"

Sesuai dengan sapaan "sudah lama tidak bertemu" yang diucapkan Yamano, ternyata kami memang sudah saling mengenal.




Satu minggu telah berlalu sejak turnamen olahraga.

Istirahat siang. Waktu bebas setelah selesai makan.

Suasana kelas yang tadinya riuh ramai, kini akhirnya kembali tenang seperti sedia kala.

"Eh, Miori sedang izin sakit?"

Aku mengernyitkan dahi setelah mendengar kabar itu dari Hikari.

"Iya. Sepertinya sudah sejak sesaat setelah turnamen olahraga kemarin."

Kami berenam, yang biasanya berkumpul di dekat jendela kelas, saling berpandangan.

"Reita, apa kau tidak mendengar apa pun?"

"……Aku sudah mengirim RINE, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Kira-kira dia baik-baik saja, ya?"

Reita pun menatap ponselnya dengan raut wajah khawatir.

"Aku dengar dari guru katanya dia kena flu."

"Kalau hanya flu biasa, rasanya terlalu lama ya," sahut Uta dan Nanase sembari saling berpandangan.

……Mungkin Serika yang satu kelas dengannya tahu sesuatu.

"Coba aku tanyakan pada Serika."

Setelah mengatakan itu, aku melangkah keluar kelas dan tiba-tiba merasakan tatapan aneh tertuju padaku.

……Apa ini? Perasaan yang janggal. Siswa dari Kelas 1 terus memperhatikanku.

Saat aku mendatangi kelas satu, ternyata Serika pun sedang tidak ada di tempat duduknya.

Mungkinkah dia ada di ruang musik kedua? Lagipula aku sedang luang, coba kucari saja.

Lagipula, aneh sekali Miori bisa sampai jatuh sakit.

Bukankah ada pepatah kalau orang bodoh tidak bisa sakit flu?

Ah, mungkin karena ini memang musimnya flu mulai mewabah.

Apa sepulang sekolah nanti aku mampir untuk melihat keadaannya saja?

Sambil memikirkan hal-hal yang tak menentu itu, aku tak sengaja melewati depan toilet perempuan.

"Rumor tentang Motomiya itu beneran nggak sih? Katanya dia main sama Shiratori-kun dan Haibara-kun sekaligus?"

"Katanya ada yang lihat, lho. Mereka bilang dia memeluk Haibara-kun di taman."

"Wah, gila banget ya? Mentang-mentang wajahnya cakep, dia jadi sombong gitu?"

"Dulu dia bersikeras kalau dia dan Haibara-kun cuma teman masa kecil, kan? Padahal dari dulu aku sudah merasa dia agak pamer. Ternyata benar-benar murahan. Kasihan banget Shiratori-kun dan Hoshimiya-san."

―Tiba-tiba, telingaku menangkap suara gosip dari sekelompok siswi kelas satu.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close