NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 6 Chapter 3

Chapter 3

Janji dari Hari yang Telah Berlalu


Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dari atas tempat tidur. Hari ini adalah hari Sabtu.

Wajah Miori terus terlintas di dalam benakku. ……Begitu aku lengang sedikit saja, pikiranku langsung terisi penuh oleh Miori.

Itu karena kata-kata Miori memberikan syok yang teramat sangat bagiku. Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau dia menyukaiku.

Jika menoleh ke belakang sekarang, rasanya ada banyak sekali kesempatan bagiku untuk menyadari hal itu.

"……Kamu juga, sudah saatnya mengambil keputusan dengan tegas, 'kan?"

"Kamu sudah jadian dengan Hikari-chan, dan aku sudah jadian dengan Reita-kun. Target kita berdua sama-sama tercapai, ya."

"Kalau aku bilang…… aku menyukaimu, apa yang akan kamu lakukan?"

"——Miori-san itu, sebenarnya menyukai Haibara-kun, 'kan?"

Namun, alasan kenapa aku tetap tidak menyadarinya adalah karena alam bawah sadarku sudah telanjur membuat sebuah asumsi.

Miori selaku teman masa kecilku sangat tahu bagaimana diriku yang sebenarnya. Dia tahu betul kalau aku adalah seorang penakut yang tidak bisa diandalkan.

Karena itulah, aku memercayai satu hal—bahwa Miori tidak akan pernah jatuh cinta kepadaku.

"Bodoh banget sih, aku ini……"

Selama ini, aku selalu berkonsultasi tentang masalah percintaanku kepada Miori.

Dan Miori pun selalu membantuku demi mewujudkan cintaku bersama Hikari.

Bahkan setelah aku resmi berpacaran dengan Hikari, aku masih tetap berniat untuk meminta saran kepadanya.

Kira-kira, bagaimana perasaan gadis itu saat menghadapinya?

Orang yang dia sukai, menceritakan tentang gadis lain yang disukainya, lalu meminta bantuan agar hubungan mereka bisa berhasil.

Di balik senyuman yang dia tunjukkan saat itu, emosi seperti apa yang sebenarnya dia pendam?

Meskipun masalah rumor buruk itu sudah selesai, aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Miori yang sekarang.

Hal yang menyudutkannya hingga membuatnya bolos sekolah selama berhari-hari bukanlah rumor itu. Jika ditarik garis lurus ke belakang, ini semua adalah salahku.

Kupikir, dia memang ingin berpacaran dengan Reita.

Makanya, niatku saat itu adalah membantunya agar bisa mendekatkan diri dengan Reita.

Kurasa pada awalnya, Miori juga benar-benar berniat seperti itu.

Kenyataannya, jarak di antara dia dan Reita memang sempat terkikis dengan sangat cepat.

Namun sejak musim panas berakhir, entah kenapa pergerakan Miori mendadak menjadi sangat lambat. Padahal saat itu Reita juga sudah mulai tertarik kepadanya, yang seharusnya menjadi kesempatan emas untuk memperkecil jarak.

Seharusnya aku sadar kalau perasaannya sudah berubah. Apalagi aku adalah orang yang berada di posisi paling dekat dengannya.

Tanpa menyadari apa pun, aku justru memaksanya melangkah maju dengan mendorong punggung Miori yang sebenarnya sedang berdiri terpaku.

Aku benar-benar abai dan tidak menyadari apa yang menjadi keinginan aslinya.

"……Apanya yang Rencana Masa Muda Pelangi."

Jika orang yang paling dekat dan paling banyak membantuku justru berakhir tersudut seperti ini, hal itu sama sekali tidak bisa disebut sebagai sebuah kesuksesan.

Namun, jika diriku yang sekarang dengan tidak tahu dirinya mendadak muncul di hadapannya, kurasa hal itu tidak akan bisa menjadi penyelamat bagi Miori.

Aku juga tidak akan bisa mengambil tindakan yang keren dan elegan seperti yang dilakukan oleh Reita.

Reita saat itu benar-benar terlihat seperti seorang pahlawan. Rasanya aku tidak akan pernah bisa meniru dirinya seumur hidupku.

Kenapa Miori tidak memilih Reita, dan justru malah jatuh cinta kepada orang sepertiku?

……Tidak, tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang. Ini juga merupakan hasil dari perubahan yang telah kulakukan.

Karena aku mengubah diriku di kehidupan kedua ini, Miori akhirnya jatuh cinta kepadaku.

Hal itu sendiri sebenarnya membuatku merasa sangat senang.

Asalkan situasinya bukan aku yang sedang berpacaran dengan Hikari, dan Miori yang sedang berpacaran dengan Reita.

Mendadak, ingatan masa lalu—atau lebih tepatnya ingatan dari masa depan—kembali terlintas di dalam benakku.

Pada kehidupan pertama, setiap kali aku kebetulan berpapasan dengan Miori, dia selalu terlihat menghabiskan hari-harinya dengan penuh keceriaan.

Jika keputusanku melakukan lompatan waktu justru mengubah hidup Miori dan membuatnya menderita seperti sekarang.

——Bukankah itu berarti aku memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan Miori?

Di saat aku sedang terombang-ambing oleh kegundahan yang tidak memiliki jawaban ini, ponselku mendadak bergetar.

Hoshimiya Hikari: "Aku baru saja naik kereta, nih!"

Itu adalah notifikasi pesan dari Hikari.

Hari ini, aku memang sudah memiliki janji untuk pergi berkencan dengan Hikari.

Karena Hikari bilang dia ingin mendengarkan aku bernyanyi, kami berencana untuk belanja santai dan makan siang di sekitar Stasiun Takasaki, lalu setelah itu pergi ke karaoke. Kebetulan aku juga ingin berlatih menyanyi, jadi momennya terasa sangat pas.

Aku harus mengubah suasana hatiku.

Sekarang, aku harus fokus menikmati kencanku bersama Hikari.

Lagipula, selama ini aku sudah membuat Hikari merasa cemas.

Aku tidak boleh menunjukkan gelagat kalau aku sedang mengkhawatirkan Miori.

Natsuki: "Oke! Aku juga jalan sekarang!"

Setelah membalas pesannya, aku bergegas keluar dari rumah dan naik ke atas kereta.

Hari ini langit tampak mendung dan berawan tebal. Di perkiraan cuaca pun sudah muncul simbol hujan.

Untuk berjaga-jaga, aku sudah menyiapkan payung lipat di dalam tasku.

Begitu tiba di Stasiun Takasaki, Hikari rupanya sudah berdiri menungguku di depan gerbang tiket.

"Maaf ya, aku agak telat."

"Eh, tidak apa-apa kok. Aku juga baru saja sampai."

Padahal saat itu masih sepuluh menit sebelum waktu perjanjian. Aku tidak bisa dibilang terlambat, tetapi karena biasanya aku yang selalu datang lebih awal untuk menunggu, rasanya aku jadi merasa agak bersalah.

Secara refleks aku meraih tangan Hikari dan menggenggamnya. Tangannya terasa lebih dingin daripada biasanya.

"Yuk, jalan."

Aku melangkah maju sambil menuntun Hikari di sampingku.

Tujuan pertama kami adalah masuk ke dalam mal terdekat untuk melihat-lihat baju dan aksesori.

Karena ini hari libur, suasananya menjadi agak ramai. Kami berdua berjalan membelah kerumunan orang yang berlalu-lalang dengan bising.

Saat aku melirik ke samping, Hikari tampak berjalan menunduk dengan ekspresi wajah yang anehnya terlihat muram.

"……Hikari?"

"Ah, maaf. Apa tadi kamu sedang berbicara sesuatu?"

"Tidak, aku tidak sedang bicara apa-apa, sih……"

Sikap Hikari entah kenapa terasa agak janggal.

Rasanya sejak tadi dia lebih sering melamun sendiri.

"Kamu tidak sedang masuk angin atau sakit, 'kan?"

"Aku sehat-sehat saja kok. Daripada memikirkan itu, ayo cepat jalan!"

Ini bukan sekadar perasaanku saja. Dia pasti sedang menyembunyikan suatu masalah.

Namun, jika dia sendiri berniat untuk menutup-nutupinya, sebaiknya aku tidak perlu mendesaknya lebih jauh.

Sebab, ada kemungkinan besar kalau penyebab dari masalahnya itu adalah diriku sendiri.

"Bagaimana kalau kita coba lihat ke sebelah sana?"

"Boleh juga."

Sembari berpura-pura tidak menyadari kejanggalannya, aku mulai memilihkan beberapa pakaian musim dingin untuk Hikari.

Setelah melewati waktu yang cukup menyenangkan, jam akhirnya sudah menunjukkan waktu makan siang.

"Perutku sudah lapar, nih. Kita mau makan apa?"

Tepat di saat Hikari melontarkan pertanyaan itu.

Bzzzt. Ponselku dan ponsel Hikari bergetar secara bersamaan. Tampaknya ada notifikasi yang masuk di waktu yang sama.

"Ada apa, ya……?"

Aku merogoh saku celana, mengambil ponsel, lalu memeriksa layarnya.

Ternyata itu adalah notifikasi dari Natsuki Family, grup obrolan yang berisi formasi enam orang seperti biasanya.

Uta: "Apa ada yang tahu Miorin sekarang lagi ada di mana?"

Pesan itu dikirim oleh Uta. Isinya mempertanyakan keberadaan Miori. Firasat buruk di dalam diriku langsung memuncak seketika.

Natsuki: "Memangnya dia bolos latihan klub?"

Uta: "Iya. Dia bolos tanpa memberikan kabar sama sekali, dan waktu ditelepon ponselnya juga tidak aktif. Makanya guru pembimbing sampai menelepon ke rumah Miorin, katanya tahu-tahu dia sudah tidak ada di rumah."

Tatsuya: "Artinya dia hilang, begitu?"

Reita: "Maaf. Aku sendiri juga tidak mendengar kabar apa pun dari dia. Aku akan coba mencarinya sekarang."

Nanase Yuino: "Bikin cemas, ya. Soalnya belakangan ini ada banyak masalah yang terjadi."

Uta: "Kuharap dia tidak apa-apa…… Aku akan coba tanya ke Seri juga!"

Setelah interaksi tersebut, obrolan di grup langsung terhenti untuk sementara.

Begitu aku mengalihkan pandangan dari layar ponsel di tangan, mataku langsung bertatapan dengan Hikari.

Di tengah mal yang dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang, hanya kami berdua yang berdiri terpaku.

"……Sebenarnya dia pergi ke mana, sih?"

Sejak kecil, Miori memang memiliki kebiasaan kabur dari rumah setiap kali kondisi mentalnya sedang terpojok.

Mungkin kali ini kejadiannya juga sama. Meski begitu, hal itu masih belum bisa dipastikan. Ada kemungkinan dia diculik oleh orang jahat, atau mungkin mengalami kecelakaan. Atau bisa jadi, dia sedang pingsan di suatu tempat.

"……Miori-chan."

Wajah Hikari tampak memucat, menunjukkan betapa terguncangnya perasaan gadis itu saat ini.

"……K-Kamu mau pergi mencarinya?"

Tentu saja di dalam lubuk hatiku, aku sangat ingin pergi mencarinya sekarang juga karena saking cemasku.

Namun, saat ini kami sama sekali tidak memiliki informasi apa pun, dan area pencariannya pun terlalu luas. Bahkan jika aku nekat pergi sekarang, rasanya hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Terlebih lagi, situasi ini bahkan bisa berujung pada keterlibatan pihak kepolisian.

Penilaian mengenai hal itu seharusnya diserahkan kepada orang tua Miori dan pihak sekolah.

"Tidak…… informasinya terlalu sedikit. Percuma saja kalau kita mencari tanpa arah yang jelas."

Sebenarnya, aku tahu beberapa tempat yang kemungkinan besar akan didatangi oleh Miori di saat-saat seperti ini.

Hanya saja, tidak ada jaminan kalau dia benar-benar berada di sana. Lagipula, meninggalkan Hikari seorang diri di tempat ini demi pergi mencari Miori sama saja dengan mengabaikan kewajibanku sebagai seorang kekasih. Padahal aku baru saja bertekad untuk menjaganya dengan baik.

Hikari mengarahkan pandangan matanya dengan gelisah, lalu bergumam lirih, "Informasi……"

"……Sebenarnya, aku sempat bertemu dengan Miori-chan kemarin sepulang sekolah."

……Apa katanya?

Mataku langsung membelalak karena terkejut.

Hikari menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang tampak muram.

Kemudian, dia mulai menceritakan kejadian tersebut sepotong demi sepotong.

Mengenai peristiwa yang terjadi kemarin sepulang sekolah.

Hikari Hoshimiya

"——Apa yang sedang kalian lakukan?"

Hari Jumat sepulang sekolah.

Saat itu aku sedang membawakan beberapa dokumen dari gudang atas permintaan dari guru.

Mendadak aku mendengar suara orang yang sedang mengobrol dari arah belakang gudang.

Begitu aku mencoba mengintip, sosok yang berada di sana ternyata adalah Hasegawa-san dari kelas satu dan Miori-chan.

Jika diperhatikan baik-baik, tubuh Miori-chan sudah basah kuyup, dan sebuah ember kosong tampak tergeletak di dekat kakinya.

Begitu mendengar suaraku, Hasegawa-san langsung menoleh ke belakang dengan terkejut.

Dengan wajah yang mendadak memucat, Hasegawa-san langsung membalikkan badan dan berlari pergi seolah sedang melarikan diri dariku.

Sementara Miori-chan hanya menatapku dengan ekspresi wajah yang tampak datar.

"Hikari-chan……"

Gelagatnya saat itu terasa bagaikan sebuah mesin yang hampir rusak.

"K-Kamu tidak apa-apa!?"

Ini bukan saatnya untuk merasa terkejut. Aku pun langsung buru-buru berlari menghampiri Miori-chan.

Jika terus membiarkan tubuhnya basah kuyup di musim gugur yang sudah sedingin ini, dia bisa langsung masuk angin.

"Jangan-jangan, Hasegawa-san yang melakukan ini……?"

"……Tidak. Bukan kok. Aku cuma iseng menyiram diriku sendiri dengan air."

Miori-chan menggelengkan kepalanya pelan, lalu menjawab dengan nada suara yang terdengar sangat tenang.

Itu pasti bohong.

Jika memang benar begitu, tidak ada alasan bagi Hasegawa-san untuk melarikan diri.

Hubungan mereka berdua memang sudah buruk sejak awal, dan aku juga sudah mengetahui tentang keributan yang terjadi tadi pagi.

Namun, aku tidak sanggup untuk mendesaknya. Karena nada suara Miori-chan saat itu terdengar sangat menyedihkan.

"Y-Yang penting…… lebih baik kamu cepat ganti baju sekarang. Baju olahraga milikmu ada di kelas, 'kan?"

"……Nanti akan kulakukan. Daripada itu, sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan dengan Hikari-chan."

Di situasi yang seperti ini, apakah ada topik obrolan yang jauh lebih penting daripada berganti pakaian?

Pikirku dalam hati, tetapi tampaknya akan sangat sulit untuk membujuk Miori-chan yang sekarang.

"……Mau bicara soal apa? Kalau ini tentang masalah rumor itu, kamu tidak perlu cemas kok. Aku sudah mendengarnya dari Natsuki-kun. Aku tahu kalau itu semua cuma salah paham. Lagipula, Miori-chan 'kan sudah punya Reita-kun."

"——Kamu salah, Hikari-chan. Itu semua sama sekali bukan salah paham."

Mendengar nada suara Miori-chan yang terdengar begitu serius, pikiranku langsung berhenti berputar seketika.

Bukan salah paham……?

Apa maksud dari perkataannya itu? Aku tidak mengerti.

Miori-chan sedang merujuk pada bagian mana dari obrolan kami yang dia sebut sebagai bukan salah paham.

Aku benar-benar tidak ingin mengetahuinya.

"Kejadian saat itu bukan ketidaksengajaan. Aku memeluk Natsuki murni karena keinginanku sendiri."

"K-Kenapa……? Apa maksudnya……?"

……Meskipun aku melontarkan pertanyaan itu, entah kenapa di dalam lubuk hatiku, aku bisa menerimanya.

Sebenarnya sejak pertama kali mendengar rumor tersebut, aku memang sudah merasakan firasat yang seperti ini.

Karena ini bukan masalah logika melainkan masalah perasaan, aku selalu mencoba meyakinkan diriku kalau itu semua hanyalah sekadar perasaanku saja.

"——Sebab, aku menyukai Natsuki."

Miori-chan mengatakannya dengan nada datar, seolah-olah dia sedang menyampaikan sebuah fakta yang mutlak.

Sudah sering terjadi. Momen di mana aku menaruh kecurigaan kalau segalanya memang seperti ini.

Namun, karena dia bilang dia menyukai Reita-kun, aku selalu meyakinkan diriku kalau kedekatan mereka hanyalah sebatas hubungan teman masa kecil yang wajar.

……Tapi ternyata aku salah, 'kan. Tatapan matanya saat itu, benar-benar menunjukkan wajah dari seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

"Karena itu…… aku minta maaf. Walaupun kurasa, ini bukan jenis kesalahan yang bisa dimaafkan begitu saja hanya dengan kata maaf."

Miori-chan membungkukkan badannya, lalu menundukkan kepala dalam-dalam di hadapanku.

Emosiku sama sekali tidak bisa mengejarnya.

Karena itulah, aku tidak tahu harus menunjukkan reaksi yang seperti apa saat ini.

……Tidak, dia sudah meminta maaf kepadaku. Jika begitu, kurasa tindakan yang benar adalah memaafkannya.

"Ada satu hal yang tidak kupahami…… Kalau begitu, kenapa kamu malah berpacaran dengan Reita-kun?"

Padahal aku berniat untuk memaafkannya, tetapi kalimat yang keluar dari mulutku justru hal yang sepenuhnya berbeda.

"……Karena, aku ingin bisa menyukai Reita-kun."

"Padahal belum bisa menyukainya, tapi kamu tetap pacaran dengannya……?"

"Iya…… Memang begitu kenyataannya."

Melihat Miori-chan yang terus menundukkan kepalanya, perasaan kelam yang pekat mendadak meluap dari dalam diriku.

"……Di dalam kondisi yang seperti itu, kamu malah berani mendekati Natsuki-kun?"

Nada suara yang keluar dari mulutku terdengar jauh lebih dingin daripada yang kubayangkan sendiri.

Jika memang begitu, Reita-kun benar-benar sangat kasihan.

Natsuki-kun juga ikut direpotkan karena harus menanggung tuduhan perselingkuhan akibat perbuatanmu.

……Tidak, aku harus berhenti membuat alasan. Orang yang saat ini sedang marah kepada Miori-chan adalah diriku sendiri.

Selama ini aku selalu merasa cemas.

Bahkan setelah kami resmi berpacaran, Miori-chan tetap berada di posisi yang sangat dekat dengan Natsuki-kun.

Namun, aku mencoba mempercayai mereka berdua. Aku ingin memercayai kata-kata mereka yang bilang kalau hubungan itu hanya sebatas teman masa kecil.

Meskipun di mata siapa pun hubungan kepercayaan yang mereka bangun terlihat sangat berbeda dari teman-teman yang lain, aku selalu berusaha untuk memalingkan wajahku.

Sebab, aku tidak ingin melakukan tindakan egois yang sampai mengekang hubungan pertemanan Natsuki-kun.

Aku tidak ingin dianggap sebagai perempuan yang merepotkan. Aku tidak ingin ketahuan kalau aku adalah seorang perempuan yang sangat cemburuan.

Namun, setiap kali Natsuki-kun sedang bersama dengan Miori-chan, dia selalu menunjukkan wajah santai sambil tertawa lepas.

Ekspresi wajahnya benar-benar berbeda dengan saat dia sedang bersamaku. ——Dia sudah menyerahkan seluruh hatinya kepada gadis itu.

Aku merasa sangat iri. Aku merasa sangat cemburu.

Tempat bersandar bagi hati Natsuki-kun, sejak dulu selalu berada di sisi Miori-chan. Bukan bersamaku.

Meskipun perasaan itu bukanlah sebuah rasa cinta, tetap saja hal itu terasa sangat menakutkan bagiku.

Natsuki-kun sendiri pasti tidak menyadari betapa besarnya volume perasaan yang dia miliki terhadap Miori-chan.

Suatu hari nanti, perasaan itu pasti bisa berubah menjadi sebuah rasa cinta.

"Kalau begitu…… kurasa aku tidak akan bisa memaafkan Miori-chan."

Aku sangat tahu. Ini hanyalah sebuah rasa cemburu belaka.

Aku hanya sedang meluapkan perasaan kelamku kepada Miori-chan.

Aku merasa sangat takut. Aku takut kalau Natsuki-kun akan direbut oleh Miori-chan.

"Benar, ya…… Aku benar-benar minta maaf."

Tetes. Tetesan air tampak jatuh membasahi tanah.

Aku tidak tahu apakah itu adalah tetesan air yang berasal dari bajunya yang basah, ataukah itu adalah air matanya.

……Seharusnya aku tidak mengatakan hal sekeji itu. Aku langsung menyesali kata-kataku yang terucap hanya karena terbawa emosi sesaat.

Apanya yang tidak bisa memaafkan? Hal yang tidak bisa kumaafkan sebenarnya bukanlah tindakan Miori-chan yang memeluk Natsuki-kun, melainkan hubungan kepercayaan spesial yang ditunjukkan oleh Natsuki-kun kepada Miori-chan, 'kan?

Jika begitu, menyalahkan Miori-chan adalah sebuah kesalahan besar.

Wush. Emosiku mendadak mendingin seketika. Akal sehatku langsung kembali dalam sekejap.

Aku sudah mengatakan hal yang sangat keterlaluan kepadanya.

Meluapkan perasaan ini kepada Miori-chan adalah tindakan yang salah.

"Itu…… Miori-chan. Maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan hal seperti itu——"

"——Jangan meminta maaf. Karena di sini, akulah satu-satunya pihak yang bersalah."

Miori-chan memotong kalimat permohonan maafku, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Kalau begitu, aku akan segera lenyap dari hadapanmu sekarang."

Setelah mengatakan hal itu, Miori-chan langsung membalikkan badan dan berniat untuk pergi meninggalkan tempat ini.

"Kamu mau pergi ke mana……?"

Karena merasa dia tidak sedang berniat untuk pulang ke rumahnya, aku pun langsung melontarkan pertanyaan itu.

"——Maaf ya. Selamat tinggal."

Miori-chan sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

Miori sengaja melenyapkan dirinya atas keinginannya sendiri.

Mendengar cerita dari Hikari, tampaknya hal itu sudah tidak salah lagi.

Jika memang begitu…… ini bukan saatnya bagi kami untuk bersantai-santai di tempat seperti ini.

Kurasa ini bukan sekadar aksi kabur dari rumah yang biasa. Ada kemungkinan kalau saat ini dia bahkan sedang berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

"Ini semua…… salahku……"

Hikari langsung bersujud lemas di tempatnya berjalan, lalu menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya.

Orang-orang di sekitar mulai mengarahkan pandangan ke arah kami dengan penasaran. Mereka mungkin berpikir kalau kami sedang terlibat dalam pertengkaran sepasang kekasih.

Namun, saat ini aku tidak peduli dengan hal itu.

"Aku tahu. Aku tahu kalau aku membiarkannya pergi saat itu, dia mungkin akan menghilang. Aku menyadarinya, tetapi aku tetap memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Di dalam lubuk hatiku, aku sempat berpikir kalau dia lenyap, aku tidak perlu cemas lagi kalau Natsuki-kun akan direbut dariku. Padahal aku menyayangi Miori-chan. ……Makanya, akulah yang jahat di sini. Jika saat itu aku menghentikannya, Miori-chan tidak akan menghilang seperti sekarang."

Hikari menceritakan segalanya di sela-sela suara isak tangannya yang pilu.

"……Orang yang sudah menyudutkan Miori-chan adalah aku."

"Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Hikari sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun."

Benar, pihak yang salah di sini adalah Miori. Dan dia sendiri adalah orang yang paling memahami hal tersebut.

Karena itulah, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Segalanya akan terlambat jika situasi ini sampai berujung pada hal yang tidak bisa diperbaiki lagi.

"Hikari, aku——aku akan pergi mencari Miori."

Aku sangat sadar akan kewajibanku sebagai seorang kekasih saat ini.

Aku tahu betul kalau menyerahkan masalah ini kepada pihak kepolisian jauh lebih benar daripada aku yang mencarinya secara membabi buta.

"Kamu tenang saja. Aku pasti akan membawa Miori pulang dengan selamat. Jadi, kumohon tunggulah aku di sini dengan tenang."

Meskipun begitu, jika aku memilih untuk memalingkan wajahku saat ini, aku pasti akan menyesalinya seumur hidup.

"Aku berjanji kepadamu."

Ini bukan hanya demi Miori saja. Demi Hikari juga, aku pasti akan menepati janji ini.

"……Terima kasih, Natsuki-kun."

Hikari menyeka air matanya dengan tangan, lalu mengangguk pelan.

"Tentu saja aku juga ingin ikut membantu, tapi…… Natsuki-kun, kamu sudah tahu tempatnya, 'kan?"

"Serahkan saja padaku. Sejak dulu, tugas untuk menemukan dia saat bermain petak umpet selalu menjadi bagianku."

Setelah mengatakan hal itu, aku langsung membalikkan badanku dari hadapan Hikari.

Tepat di saat aku hendak berlari pergi, ujung lengan bajuku mendadak dicengkeram kuat.

Hikari sendiri tampaknya terkejut dengan tindakannya, hingga dia menatap tangannya sendiri dengan pandangan nanar.

"……Aku benar-benar perempuan yang paling menjijikkan, ya. Di dalam situasi yang seperti ini pun, di dalam hatiku aku masih tetap berpikir tidak ingin melepaskanmu pergi."

Kondisi mental Hikari saat ini juga sedang sangat tidak stabil. Aku tahu kalau tindakanku ini pasti akan menggoreskan luka di hatinya.

Karena ingin memberikan sedikit rasa aman kepadanya, aku langsung menarik tubuh Hikari ke dalam pelukanku dan mendekapnya dengan erat.

"T-Tunggu, Natsuki-kun, kenapa malah melakukannya di tempat seperti ini……!?"

Di hadapan Hikari yang sedang panik dan salah tingkah, aku menyuarakan sumpahku dengan tegas.

"——Aku pasti akan kembali kepadamu."




Miori Motomiya

Saat masih kecil, aku tidak pernah memikirkan apa pun.

Aku hanya melakukan apa pun yang ingin kulakukan hari itu, pada saat itu juga, dengan mengerahkan seluruh tenagaku.

Satu-satunya keberuntunganku adalah karena ada teman-teman yang mau mengikuti diriku yang serbaceoboh ini.

Sejujurnya, aku tidak terlalu cocok berteman dengan sesama anak perempuan. Aku merasa jauh lebih santai saat bersama anak laki-laki.

Ditambah lagi karena aku suka menggerakkan tubuh, orang-orang yang berada di sekitarku secara alami adalah anak laki-laki.

"Hei, Miori! Ayo tanding denganku sekali lagi! Tanding!"

Anak laki-laki pertama adalah tipe orang yang selalu menantangku bertanding dalam segala hal.

Namanya Shuto Yano. Dia bertubuh tinggi, berkepribadian ceria, dan sangat percaya diri dengan kemampuan atletiknya.

Baik itu sepak bola, bola basket, maupun bisbol, aku sudah mengalahkan Shuto berulang kali.

Meskipun begitu, Shuto tidak pernah menyerah dan terus menantangku.

Awalnya hubungan kami memang buruk, tetapi seiring banyaknya pertandingan yang kami lalui, lama-kelamaan kami menjadi dekat.

……Tapi begitu kami tumbuh besar, hanya dalam permainan sepak bola saja aku tidak bisa menang lagi melawannya.

"Hahaha! Kalian berdua sedang melakukannya lagi, ya? Bersemangat sekali!"

Anak laki-laki kedua adalah tipe orang yang memiliki suara tawa teramat besar.

Namanya Takuro Midorikawa. Di balik perawakannya yang gemuk, dia sebenarnya sangat pandai berolahraga.

Kalau dipikir-pikir sekarang, sejak kecil dia memiliki kepribadian yang anehnya sangat dewasa.

Dengan alasan 'karena terlihat menarik', dia sering menonton pertandinganku melawan Shuto.

Tentu saja terkadang dia ikut bermain bersama kami, tetapi posisi Takuro adalah tipe orang yang memperhatikan kami dari jarak satu langkah ke belakang.

Dia selalu mengendalikan diriku yang sering kali lepas kendali.

……Tidak, kalau diingat-ingat lagi, dia justru lebih sering membiarkanku begitu saja karena menganggapnya lucu.

"Kenapa kamu mau bermain dengan orang sepertiku?"

Anak laki-laki ketiga adalah tipe orang yang penakut dan tidak mencolok.

Namanya adalah…… Natsuki Haibara. Dia selalu sendirian, meringkuk di sudut ruang kelas.

Saat istirahat siang, dia selalu menatap anak-anak yang bermain di halaman sekolah dari jendela kelas dengan tatapan iri. Karena itulah, aku menarik tangan Natsuki dan memaksanya masuk ke dalam lingkaran pertemanan kami.

Natsuki awalnya memang terlihat ketakutan, tetapi begitu dia mulai terbiasa dengan kami, dia bisa tertawa dengan ekspresi yang sangat ceria.

Dia adalah anak yang pendiam namun memiliki kepribadian yang lembut.

Kami berempat selalu bermain bersama dari pagi hingga malam hari.

"Ayo main sepak bola! Dua lawan dua, ya!"

"Siapa takut! Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu!"

"Ahaha, masih kepagian seratus tahun buat Shuto untuk bisa mengalahkanku~"

"Apa kamu bilang, keparat!"

"Tu-Tunggu, kalian berdua. Tenanglah dulu……!"

"Hahaha! Bukankah tidak apa-apa, Natsuki! Kamu mau ikut tim yang mana?"

"Eh, e-eeh……!?"

"Tentu saja Natsuki ada di pihakku, 'kan?"

Aku yang lepas kendali, Shuto yang menantangku, Natsuki yang panik mencoba menghentikan kami, dan Takuro yang tertawa sampai memegangi perutnya.

Hari-hari seperti itu terus berulang. Setiap hari terasa begitu penuh dengan warna yang cerah.

Di antara semua itu, momen yang paling menyenangkan bagi kami adalah saat membuat markas rahasia bersama-sama.

"Ada semacam gubuk di tempat seperti ini."

Semua itu bermula saat kami pergi bertualang sampai ke bagian terdalam gunung yang ada di lingkungan sekitar rumah.

Shuto menunjuk ke arah pinggir jalan setapak yang biasa dilewati hewan, membuat kami semua ikut mengalihkan pandangan ke arah sana.

"Kemungkinan besar itu adalah rumah kosong. Pasti sudah tidak digunakan lagi."

Takuro mendekati gubuk tua itu, lalu menganalisis situasinya setelah memperhatikan area di sekelilingnya.

"Maksudku, apa tidak apa-apa kita pergi sampai ke tempat seperti ini? Bukankah sebaiknya kita pulang saja?"

Natsuki mengikuti dari belakang kami dengan ekspresi wajah yang tampak agak cemas.

"Aku sudah memutuskan! Kita akan menjadikan tempat ini sebagai markas rahasia kita!"

Hanya karena ide dadakanku saat itu, kami pun mulai sering mendatangi tempat tersebut.

——Aku ingin kembali ke masa-masa itu.

"Ayo pergi! Semuanya! Taruhan lari sampai ke arah matahari yang di sana, ya!"

Meskipun hari-hari yang kami lalui terasa menyenangkan, terkadang ada kalanya kami gagal dan hujan pun turun.

"Jangan lakukan itu! Kamu tidak boleh berbuat begitu! Renungkan kesalahanmu di koridor!"

Aku memiliki kebiasaan buruk untuk langsung melarikan diri setiap kali ada hal yang tidak berjalan dengan lancar.

Aku akan pergi ke tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun, meringkuk di sana, lalu menangis seorang diri.

Karena aku adalah orang yang kuat, aku tidak ingin memperlihatkan air mataku kepada siapa pun.

Asalkan aku bisa menangis sendirian sebentar saja, aku bisa langsung kembali menjadi diriku yang seperti biasanya.

Makanya, aku tidak apa-apa.

Padahal harusnya begitu, tapi,

"Ketemu."

Hanya kamu seorang yang tidak pernah mengizinkanku untuk menangis sendirian.

"Permainan petak umpetnya dimenangkan oleh Miori, ya."

Sembari berpura-pura tidak melihat air mataku, kamu melontarkan candaan ringan dan selalu berada di sampingku.

Kapan pun itu, situasinya selalu sama. Di saat aku ingin ditemukan oleh seseorang, kamu pasti akan selalu menemukan diriku.

Kalau dipikir-pikir sekarang, pada saat itu, aku sebenarnya sudah——

"Miori. Aku menyukaimu."

Lalu saat kami menginjak kelas enam sekolah dasar, Shuto menyatakan cintanya kepadaku.

Itu adalah pertama kalinya ada orang yang menyampaikan perasaan sukanya kepadaku, sehingga membuatku merasa agak takut.

"Aku tidak mengerti hal yang seperti itu…… Tapi, hei, kita berdua masih tetap bisa berteman, 'kan?"

Karena itulah, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Shuto, aku hanya egois dan terus memaksanya untuk tetap menjadi teman.

Baru sekarang aku menyadari betapa kejamnya permintaan yang aku lontarkan saat itu.

"……Maaf. Kalau aku, tidak bisa."

Formasi empat orang yang biasanya ada, perlahan-lahan mulai hancur berantakan.

"Maaf ya di saat yang seperti ini. Karena urusan orang tua, aku harus pindah sekolah."

Karena keadaan yang tidak bisa dilawan oleh kami yang masih anak-anak, Takuro pun akhirnya pergi.

Kini hanya tersisa aku dan Natsuki berdua saja. Orang-orang di sekitar pun mulai menjodoh-jodohkan kami berdua.

Hal itu membuat hubungan kami menjadi canggung, dan karena aku terlalu memikirkannya, aku pun mulai menjaga jarak dari Natsuki.

Bahkan saat aku berniat untuk memperbaikinya sekali lagi, segalanya sudah terlambat.

"Kamu sebaiknya tidak usah bersama dengan orang sepertiku lagi."

Dan akhirnya, aku benar-benar sendirian. Ini semua adalah salahku.

Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah sama sekali. Akulah orang yang sudah melukai orang-orang yang berharga bagiku.

——Orang yang seperti ini, sudah pasti jauh lebih baik jika lenyap saja.

Uta Sakura

Hari ini aku tidak bisa terlalu berkonsentrasi saat latihan klub.

Pikiranku terus terisi penuh oleh Miorin yang saat ini sedang hilang tanpa kabar.

Tampaknya hal yang sama juga dirasakan oleh yang lain, sehingga latihan hari ini diputuskan untuk diselesaikan lebih cepat dari biasanya.

Padahal dia sudah bolos latihan klub selama satu minggu ini.

Hari Jumat kemarin dia memang sempat masuk sekolah, tetapi setelah itu dia langsung pulang dengan alasan kondisi badannya yang sedang tidak fit.

Karena itulah, semua orang merasa cemas memikirkan Miorin.

"……Uta. Bagaimana, apa kamu sudah tahu sesuatu?"

Tatsu yang tadinya sedang berlatih di lapangan sebelah langsung berlari menghampiriku. Tampaknya latihan tim basket putra juga sudah selesai.

"Tidak…… belum ada informasi apa pun. Apa mungkin dia pergi ke suatu tempat sendirian, ya."

Di saat kami berdua sedang mengobrolkan hal itu, mendadak Wakamura-senpai memanggilku.

"Uta. Itu, sepertinya ada temanmu yang memanggil di sana."

Wakamura-senpai mengatakannya sembari menunjuk ke arah pintu masuk gedung olahraga.

Sosok yang berada di sana ternyata adalah Seri. Ada satu orang anak perempuan lagi yang tidak kukenal bersamanya.

"Mungkin mereka sudah tahu sesuatu."

"Kalau begitu, ayo kita samperin dulu."

Begitu aku dan Tatsu berjalan menghampiri mereka, Seri yang jarang-jarang menunjukkan ekspresi wajah seserius itu langsung membuka suara.

"Mengenai masalah Miori, aku mendapatkan informasi dari Reita jadi aku mau membagikannya kepada kalian."

"Eh!? Apa kalian sudah tahu sesuatu!?"

"Begitu mendesak Hasegawa dari kelas satu, dia akhirnya mengaku kalau kemarin dia sempat mengatakan hal yang kejam kepada Miori."

"Hal yang kejam……?"

"Ya, intinya menyuruhnya mati, menyuruhnya lenyap, hal-hal yang sejenis itu. Selain itu, dia juga sempat menampar wajahnya dan menyiramkan air dingin ke atas kepalanya. ……Kalau itu Miori yang biasanya, dia pasti akan marah dan membalasnya, tapi sekarang kondisi mentalnya sedang lemah. Makanya, kemungkinan besar itulah yang menjadi penyebabnya."

"Kalau sampai melakukan hal seperti itu…… bukankah itu namanya perundungan."

Aku memang tahu kalau hubungan Miorin dan Hasegawa-san itu buruk, tetapi aku tidak menyangka kalau situasinya sampai separah ini……

"Begitu kebohongannya terbongkar dan posisinya berbalik, sekarang dia malah menyerangnya secara langsung, ya?"

Tatsu mengatakannya dengan nada kesal sembari mengerutkan kedua alisnya.

"……Kira-kira, sampai di bagian mana yang merupakan kebohongan?"

Tanpa sadar gumaman itu lolos begitu saja dari mulutku.

Mendengar perkataanku, Tatsu juga menunjukkan ekspresi wajah yang tampak kebingungan.

Mataku langsung bertatapan dengan Tatsu. Ada sebuah rahasia yang hanya diketahui olehku dan Tatsu saja.

Yaitu kejadian di hari turnamen olahraga. Karena saat itu kami berdua tidak sengaja mencuri dengar obrolan antara Rei dan Miorin.

"……Kamu, sebenarnya masih menyukai Natsuki, 'kan?"

Kami sama sekali tidak berniat mendengarnya, tetapi kalimat itu terlanjur terdengar oleh kami.

Ekspresi Rei saat itu sama sekali tidak terlihat seperti sedang bercanda. Itu adalah obrolan yang sangat serius.

Miorin menyukai Natsu. Dan Rei mengetahui hal itu, serta memilih untuk menerimanya.

Karena itu bukan jenis informasi yang bisa ditanyakan dengan mudah, kami berdua sepakat untuk menjadikannya sebagai rahasia antara aku dan Tatsu saja.

……Jika menjadikannya sebagai asumsi dasar, kira-kira sampai di bagian mana dari rumor tersebut yang merupakan kebohongan?

"Karena aku tahu kalau Miorin tidak akan mungkin melakukan hal yang seperti itu!"

Aku mengingatnya dengan sangat jelas. Saat itu, aku murni berniat untuk menunjukkan rasa cemasku kepada Miorin.

Namun, ekspresi wajah Miorin saat itu sempat membeku seketika selama satu detik.

Itu adalah ekspresi wajah yang biasa ditunjukkan oleh orang yang sedang menyembunyikan kebohongan.

"……Melihat reaksi kalian berdua, sepertinya kalian juga mengetahui sesuatu, ya."

Setelah Seri mengatakan hal itu, dia pun langsung mengusulkan, "Ayo kita bagikan informasinya bersama-sama."

"Coba ajak Hikari-chan dan Natsuki juga, lalu kumpulkan mereka di restoran keluarga. Soalnya tidak ada gunanya kalau kita mencari Miori secara membabi butu. Mari kita urutkan kronologinya secara spesifik tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi."

Tampaknya Seri juga sangat mencemaskan kondisi Miorin saat ini.

Padahal biasanya dia adalah tipe orang yang jauh lebih santai, tetapi entah kenapa kali ini dia terlihat sangat panik.

"……Senpai, bolehkah aku memperkenalkan diri dulu?"

Anak perempuan yang berdiri di samping Seri akhirnya membuka suara.

"Ah, benar juga. Anak ini namanya Saya Yamano. Kelas tiga SMP. Belakangan ini kami sering bermain band bersama."

Yamano-san langsung membungkukkan badannya dengan sopan ke arah kami. Aku pun buru-buru ikut membungkukkan kepalaku juga.

"Salam kenal, ya. Senpai sekalian."

"Kupikir dia bisa berguna karena dia berasal dari SMP yang sama dengan Natsuki dan Miori."

"Hubunganku dengan Miori-senpai cukup dekat, jadi izinkan aku untuk ikut membantu. Aku yakin aku pasti bisa berguna."

Yamano-san menunjukkan ekspresi wajah yang sangat serius.

Dari situ aku bisa tahu kalau dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Miorin.

Karena itulah, seperti yang dikatakan oleh Seri, kami pun memutuskan untuk mengumpulkan semua orang yang memiliki hubungan dekat dengan Miorin.

Serika Hondo

Aku mengumpulkan semua orang di sebuah restoran keluarga yang berada di dekat Stasiun Takasaki.

Di mata orang-orang di sekitar, pemandangan sekumpulan anak SMA yang berkumpul namun suasananya sangat hening ini pasti akan terlihat sangat janggal.

Orang-orang yang berkumpul adalah Uta, Tatsuya, Yuino, Hikari, Saya, dan aku sendiri yang berarti totalnya ada enam orang.

Reita dan Natsuki sama sekali tidak bisa dihubungi. Kalimat terakhir Reita saat meneleponku adalah berkata "Aku akan pergi mencari Miori", dan Natsuki tampaknya juga pergi setelah mengatakan hal yang sama kepada Hikari.

Dua orang yang dirasa paling mengetahui situasinya justru tidak bisa datang, yang mana ini merupakan sebuah salah perhitungan bagiku.

Pertama-tama aku memperkenalkan Saya terlebih dahulu, sebelum akhirnya langsung masuk ke topik utama.

"Kalau begitu, mari kita urutkan situasinya sekarang. Mau bagaimana lagi, dua orang yang paling penting malah tidak ada di sini."

Hikari mengangkat tangannya dengan ragu-ragu, membuat perhatian semua orang termasuk aku langsung tertuju ke arahnya.

"Anu, aku tidak tahu seberapa banyak yang boleh kuceritakan di sini, tapi……"

"Kupikir selama ini ada beberapa hal yang sengaja dirahasiakan demi menjaga perasaan Miori, tapi untuk kali ini mari kita tiadakan hal itu."

Aku menyuarakan hal itu bukan hanya kepada Hikari saja, melainkan kepada semua orang yang ada di sini.

Lagipula, pihak yang salah karena sudah menghilang begitu saja adalah Miori sendiri.

Jika informasi itu bisa menuntun kami kepada keberadaan Miori, kurasa membeberkan rahasianya pun pasti akan dimaafkan olehnya.

"Benar juga, ya…… Kalau begitu, mari kita mulai dari kejadian kemarin sepulang sekolah——"

Informasi yang dibawa oleh Hikari adalah mengenai interaksinya dengan Miori kemarin sepulang sekolah.

Dia tampaknya sangat menyesali kejadian itu, hingga keceriaan yang biasanya ada kini lenyap sepenuhnya dari wajahnya. Nada suaranya pun terdengar gemetar.

"Kalau yang itu…… tidak salah lagi, efeknya pasti bakal telak banget buat Motomiya yang sekarang."

Tatsuya mengatakannya dengan ekspresi wajah yang tampak serius. Kalimatnya memang terkesan blak-blakan, tetapi kenyataannya memang persis seperti apa yang dia katakan.

Dibandingkan dengan makian yang dilontarkan oleh Hasegawa, hal yang diceritakan oleh Hikari barusan pasti jauh lebih menusuk perasaan Miori.

"Anu…… sebenarnya aku dan Tatsu juga tahu tentang satu hal."

Uta mulai berbicara dengan ekspresi wajah yang tampak merasa bersalah.

Tampaknya dia terpaksa menceritakannya karena situasinya yang sudah darurat, padahal aslinya dia sama sekali tidak berniat untuk mengatakannya.

"Karena ini terkesan seperti mencuri dengar jadi selama ini kami diam saja, tapi sekarang situasinya sudah darurat."

Menerima isyarat mata dari Uta, Tatsuya langsung melanjutkan kalimatnya.

"Sepertinya hubungan pacaran antara Reita dan Motomiya tidak berjalan seperti hubungan pasangan yang normal pada umumnya."

Tampaknya Reita sudah mengetahui sejak awal tentang fakta kalau Miori sebenarnya menyukai Natsuki.

Wajah Hikari tampak menunjukkan ekspresi terkejut. Di dalam cerita yang dia sampaikan tadi, sama sekali tidak ada informasi mengenai hal ini.

Miori pasti memilih untuk tidak menceritakannya kepada Hikari. Kalau itu Miori, dia pasti akan berpikir kalau apa pun yang dia katakan hanya akan terdengar seperti sebuah alasan belaka.

"Pantas saja, selama ini aku selalu berpikir kalau perkembangan hubungan mereka berdua terasa sangat lambat."

Karena merasa hal itu masuk akal, aku pun tanpa sadar langsung mengembuskan napas panjang.

Reita yang tampaknya sudah sangat terbiasa dalam menghadapi perempuan, dan Miori yang sampai beberapa waktu lalu selalu bergerak agresif untuk mendekatinya.

Meskipun latar belakang mereka seperti itu, entah kenapa hubungan pacaran yang mereka tunjukkan justru terasa terlalu sehat, yang mana hal itu sempat meninggalkan rasa janggal di hatiku.

"Setiap kali topik tentang Reita dibahas dia tidak pernah terlihat terlalu senang, jadi aku memang sempat berpikir kalau ada sesuatu di antara mereka."

"Yah, dari sisi Reita sendiri juga jarang menceritakan tentang Motomiya, sih. Tapi karena aslinya dia memang tipe orang yang penuh rahasia jadi selama ini aku tidak terlalu memikirkannya. Padahal harusnya hubungan pacaran yang normal itu 'kan lebih sering memamerkan kemesraan mereka?"

"Benar juga…… Kenyataannya, Hikari bahkan sempat tidak bisa membicarakan hal lain selain memamerkan kemesraannya untuk beberapa waktu lalu."

"Anu…… Yuino-chan. Kamu tidak perlu mengatakan hal-hal yang tidak penting seperti itu, kok."

Mendengar Yuino yang mengatakannya dengan wajah serius, Hikari langsung berdeham untuk mengalihkan pembicaraan.

"……Kira-kira, sejak kapan perasaannya mulai berubah, ya?"

Uta mengarahkan pandangannya ke arah yang jauh, seolah-olah dia sedang mencoba mengingat kembali masa-masa yang lalu.

"Coba saja kalau saat itu aku bisa menyadarinya lebih cepat."

Pasti ada banyak hal yang sedang berkecamuk di dalam hatinya sekarang. Uta adalah orang yang berada di posisi yang mirip dengan Miori.

Meskipun ada perbedaan status antara orang yang tidak terpilih dengan orang yang sejak awal bahkan tidak berdiri di atas arena pertandingan yang sama.

"Tapi, entah kenapa, begitu mendengar kabar kalau Miorin sebenarnya menyukai Natsu…… bagaimana, ya. Rasanya sama sekali tidak ada kejanggalan, justru hal itu malah terasa sangat masuk akal bagi ku. Padahal selama ini aku sama sekali tidak menyadarinya."

Mendengar perkataan dari Uta, Yuino pun ikut merespons sembari menopang dagunya dengan tangan.

"……Hubungan mereka berdua memang sangat dekat, 'kan. Sampai-sampai terlihat memiliki ikatan kepercayaan yang sangat kuat hingga tingkat yang terasa aneh."

"Seperti yang selalu mereka katakan sendiri, hubungan mereka berdua jelas bukan cuma sebatas teman masa kecil atau hubungan takdir murni belaka. Tidak salah lagi."

Aku pun ikut menyela pembicaraan. Di mata siapa pun yang melihatnya, hubungan di antara kedua orang itu memang terkesan sangat spesial.

"……Kemungkinan besar, perasaannya sama sekali tidak pernah berubah kok. Cuma dianya saja yang tidak menyadari hal itu."

Sosok yang ikut masuk ke dalam pembicaraan dengan ekspresi wajah yang tampak serius adalah Saya.

Semua orang langsung mengalihkan pandangan mata mereka ke arah Saya. Sembari mendesaknya untuk segera melanjutkan kalimatnya.

Sebab di antara semua orang yang ada di sini, hanya Saya sajalah yang mengetahui tentang masa lalu dari kedua orang tersebut.

"Izinkan aku untuk menceritakan sedikit tentang kisah masa lalu mereka, ya——"

Di saat-saat seperti ini, tempat yang akan didatangi oleh Miori biasanya ada di mana?

Aku sempat mencoba mendatangi rumah Miori sekali lagi, tetapi tampaknya dia masih belum ditemukan di sana.

Pihak keluarga Miori juga tampaknya menganggap situasi ini sebagai hal yang serius, terlihat dari pihak kepolisian yang saat ini sudah mendatangi rumahnya.

Karena aku juga sempat dimintai keterangan oleh polisi, aku pun langsung menyampaikan seluruh informasi yang kuketahui kepada mereka.

Hubungan dengannya sudah terputus selama lebih dari setengah hari ini. Seiring berjalannya waktu, rasa panik di dalam diriku pun menjadi semakin meningkat.

Matahari perlahan-lahan mulai tenggelam. Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, dan area di sekitar pun mulai diselimuti oleh kegelapan malam.

Dia tidak ada di sekitar stasiun lokal. Di taman lingkungan sekitar rumah juga tidak ada. Di area bantaran sungai yang berada di dekat sekolah dasar pun tidak ada.

……Kamu ada di mana? Miori.

Sebenarnya kamu pergi ke mana, sih?

"——Aku ingin bisa kembali ke masa-masa itu."

Mendadak, kalimat dari Miori itu kembali melintas di dalam benakku.

Jika mengasumsikan kalau hal tersebut merupakan keinginan Miori yang sekarang, kira-kira masa-masa itu merujuk pada waktu yang mana?

Aku mulai menelusuri kembali ingatan masa laluku.

Kemungkinan besar, itu adalah zaman di mana kehidupan kami sedang bersinar dengan sangat terang.

Di saat aku, Shuto, dan Takuro masih terus bermain bersama tanpa memikirkan apa pun. Kalau diingat-ingat lagi, memori masa kecil yang paling menyenangkan bagi kami adalah saat——

"——Saat kami berempat membuat markas rahasia bersama."

Aku mulai melangkahkan kakiku masuk ke dalam area gunung yang berada di dekat kuil lokal.

Rasanya pepohonan di sini tumbuh jauh lebih lebat dibandingkan dengan saat aku masih kecil dulu.

Ranting, dedaunan, dan semak-semak terus mengenai berbagai bagian tubuhku, membuat pakaian yang kugenakan untuk kencan hari ini menjadi kotor.

Jika dipikir secara rasional, tidak mungkin ada orang yang berada di tempat seperti ini.

Namun, tempat-tempat normal yang biasa terpikirkan oleh orang awam pasti sudah dicari oleh pihak kepolisian.

Karena itulah, aku memilih untuk mencari di tempat yang hanya bisa terpikirkan oleh diriku sendiri.

Jalan setapak yang dulu biasa kami gunakan untuk menuju ke markas rahasia kini sudah lenyap akibat termakan oleh waktu yang lama.

Aku terus melangkah membelah area yang tidak memiliki jalan ini setapak demi setapak, sembari memastikan arah tujuanku ke depan.

"Hm?"

Sebuah kejanggalan. Di posisi yang agak melenceng ke arah kanan, tampak ada bekas semak-semak yang terlihat seperti sengaja dirobohkan oleh seseorang.

Begitu aku mencoba melangkah ke arah sana, bekas robekan itu ternyata terus memanjang menuju ke arah tempat yang sedang kuincar.

Dan yang paling penting, ada bekas jejak kaki yang tertinggal di atas tanah. Itu bukan jejak kaki hewan. Melainkan manusia. Terlebih lagi, orang itu mengenakan sepatu model pantofel. Karena bekasnya masih tertinggal dengan sangat jelas seperti ini, jejak tersebut pasti masih baru.

Aku merasakan sebuah firasat. Atau lebih tepatnya, aku memiliki keyakinan yang mutlak. Miori pasti ada di depan sana.

Di saat aku sudah tidak bisa menahan diri lagi dan berniat untuk langsung berlari pergi.

"——Natsuki."

Sebuah suara terdengar memanggilku dari arah belakang.

"——Reita."

Begitu aku membalikkan badan, sosok yang berada di sana ternyata adalah Reita.

Apakah dia menelusuri jalan yang sama denganku, seragam sekolah yang dia kenakan tampak kotor, dan ada bekas lumpur yang menempel di wajahnya.

Ekspresi wajahnya saat itu terlihat jauh lebih tegas dari biasanya. Auranya benar-benar berbeda dari penampilannya yang seperti biasa. Aku sama sekali tidak bisa merasakan adanya kesan santai dari dirinya saat ini.

Namun, orang yang berstatus sebagai kekasihnya saat ini sedang hilang tanpa kabar. Jadi wajar saja jika dia sampai menunjukkan reaksi yang seperti itu.

"Kupikir jika itu adalah kamu, kamu pasti akan bisa menemukan keberadaan Miori."

Reita mengatakannya sembari memperhatikan jejak kaki yang baru saja kutemukan tadi.

"……Apa maksudmu? Jangan-jangan, selama ini kamu sengaja membuntutiku dari belakang?"

Apa gunanya melakukan tindakan yang seperti itu? Bukankah akan jauh lebih baik jika kita mencarinya bersama-sama?

Sembari mengernyitkan dahi, tampaknya Reita bisa membaca kecurigaan yang ada di dalam pikirku. Dia pun langsung memberikan penjelasannya.

"Aku juga sedang mencari Miori dengan caraku sendiri. Lalu di tengah perjalanan, aku kebetulan menemukan keberadaanmu."

"……Yang penting sekarang ayo kita cepat jalan. Miori pasti ada di depan sana. Kemungkinan besar saat ini kondisi mentalnya sedang sangat tidak stabil. Aku ingin menemukannya sebelum ada hal buruk yang terjadi."

Tepat di saat aku kembali membalikkan punggungku dari hadapan Reita, dia mendadak memanggilku dengan nada suara, "Tunggu dulu."

"——Untuk perjalanan ke depan, biarkan aku saja yang pergi sendiri. Kamu sebaiknya pulang saja."

Aku sama sekali tidak bisa memahami apa maksud dari perkataannya barusan.

"……Hah?"

Reita terus menatapku dengan ekspresi wajah yang tampak datar bagaikan sebuah topeng.

"……Menemukan Miori adalah prioritas utama kita saat ini. Bukankah akan jauh lebih baik jika kita mencarinya berdua?"

Markas rahasia memang berada di depan sana, tetapi belum ada jaminan kalau Miori benar-benar berada di dalam.

Gunung ini sangat luas, jadi sebaiknya kami membagi tugas untuk mencarinya.

"Meskipun kita membagi tugas, aku yakin orang yang akan menemukan Miori pada akhirnya tetaplah kamu."

Namun, Reita memilih untuk menggelengkan kepalanya pelan.

"……Lalu kenapa memangnya? Jika dia bisa ditemukan, bukankah itu adalah hal yang paling bagus?"

Memang benar kalau kemungkinan besar akulah yang akan menemukannya terlebih dahulu. Karena aku memiliki keuntungan berupa memori masa kecil dan pemahaman geografis tentang tempat ini.

Sejak tadi aku benar-benar tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Reita. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami hal yang seperti ini dengannya.

Biasanya Reita adalah tipe orang yang selalu bisa membaca jalan pikiran orang lain terlebih dahulu sebelum mengobrol, namun niat aslinya saat ini sama sekali tidak bisa kubaca.

"Kalau begitu aku tidak mau…… Aku ingin akulah orang yang pertama kali menemukan Miori!"

Secara mendadak, ekspresi wajah Reita langsung berubah drastis. Dia berteriak dengan nada suara yang memancarkan aura kemarahan yang luar biasa.

Aku sampai dibuat terintimidasi oleh tekanan dari suaranya itu. Ini adalah pertama kalinya aku melihat Reita meluapkan emosinya secara terang-terangan seperti ini.

Tampaknya Reita sendiri juga sedang berada dalam kondisi yang sangat terpojok.

Hal itu tentu saja wajar. Kekasihnya sendiri menghilang tanpa kabar setelah melewati berbagai macam masalah yang pelik.

Wajar saja jika kondisi mentalnya menjadi tidak stabil.

Padahal aku tahu tentang hal itu, tetapi selama ini aku sama sekali tidak pernah mencemaskan kondisi Reita.

Aku hanya egois dan berasumsi kalau Reita yang sempurna itu pasti akan baik-baik saja.

"……Aku tahu kalau Miori menyukaimu. Jika kamu yang menemukan Miori sekarang, dia pasti tidak akan bisa melihat orang lain lagi selain dirimu. Aku tidak mau hal itu terjadi…… Miorilah orang yang harus aku selamatkan dengan tanganku sendiri!"

Selama ini aku selalu mengagumi sosok Reita. Reita adalah sosok ideal bagiku.

Aku selalu berasumsi kalau Reita si manusia sempurna itu tidak akan pernah membutuhkan rasa cemas dari orang lain.

"Meskipun ini hanya status sementara, aku adalah kekasih dari Miori. Menemukan Miori adalah tugasku……!"

Namun, ternyata aku salah. Sosok yang selama ini kulihat hanyalah sebuah cerminan ideal saja, bukan sosok Reita yang sebenarnya yang saat ini sedang berdiri di hadapanku.

Selama ini aku tidak pernah melihat temanku ini dengan cara yang benar.

Sosok yang ada di hadapanku saat ini hanyalah seorang anak SMA laki-laki biasa pada umumnya.

Dia hanya sedikit lebih unggul dibandingkan dengan orang lain, bukannya manusia yang bisa melakukan lompatan waktu sepertiku.

"Karena itulah, kamu menyuruhku untuk pulang……?"

"……Maaf. Aku tahu kalau tindakanku ini sangat memalukan. Aku pasti akan membayar utang budi ini kepadamu nanti."

Reita mengatakannya sembari mendistorsi ekspresi wajahnya seolah-olah dia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.

"Makanya untuk kali ini saja, kumohon serahkan tempat ini kepadaku."

Sebagai seorang kekasih, dia ingin menjadi orang pertama yang menemukan Miori. Aku bisa memahami alasan di balik motifnya tersebut.

Namun, aku tidak bisa menerimanya. Kamu sudah salah dalam menentukan hal mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.

"——Jangan bercanda."

Rasa amarah yang meluap dari dalam lubuk hatiku langsung tercermin ke dalam nada suaraku yang meninggi.

Aku tahu kalau saat ini Reita sedang tidak berada dalam kondisi yang normal seperti biasanya. Meskipun begitu, untuk hal yang satu ini saja, aku tidak akan pernah sudi untuk mengalah.

"Aku tahu…… Tapi aku cuma punya kesempatan sekarang! Jika ada satu hal yang bisa membuat Miori memalingkan wajahnya dari dirimu yang selalu dia lihat! Aku menyukainya, Miori! Makanya aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi ke sana!"

Apakah karena dia sangat ingin meyakinkanku, Reita terus menyampaikan isi hatinya dengan ekspresi yang sangat putus asa.

Aku melangkah mendekati Reita, lalu mencengkeram kerah baju seragamnya dengan kuat.

Sembari menyerahkan diriku kepada dorongan rasa amarah yang meluap, aku pun berteriak di hadapannya.

"Kamu ini……!!"

"Apa ada yang salah dengan ucapanku!? Kekasihmu saat ini 'kan adalah Hoshimiya-san!?"

Dari jarak yang sangat dekat, mataku langsung bertatapan dengan mata Reita. Dia menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat sangat menderita saat ini.

"Apa kamu tidak paham kalau ini bukan masalah tentang hal itu!?"

"Aku tahu kok! Meskipun begitu, aku, bagaimanapun juga tetap……!!"

Aku tidak berada di posisi yang pantas untuk mengatakan kalau aku bisa memahami bagaimana perasaannya saat ini.

Namun, perasaan suka yang dimiliki oleh Reita terhadap Miori benar-benar tersampaikan dengan sangat jelas ke dalam hatiku.




Aku tahu kalau kamu tidak mau membiarkanku menemui Miori.

Itu karena Miori memang menyukai diriku.

Jika bukan karena situasi genting seperti ini, sejujurnya aku ingin mengalah dan menyerahkannya kepada Reita.

"Tidak, kamu sama sekali tidak mengerti apa pun."

——Ya, itu kalau situasinya tidak sedang seburuk ini.

"Apa kamu menyadarinya? Reita."

Begitu aku melontarkan pertanyaan itu, Reita tampak langsung mengernyitkan dahinya.

"Menyadari…… apa?"

Ternyata kamu benar-benar tidak menyadarinya, ya.

Padahal kalau itu dirimu yang biasanya, hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi.

"——Kamu, sejak tadi, hanya sedang membicarakan tentang dirimu sendiri, tahu."

Di saat kita bahkan tidak tahu apakah Miori masih hidup atau tidak, kamu justru malah memprioritaskan perasaanmu sendiri.

Tidak peduli mau statusmu itu kekasihnya atau apa pun, aku tidak akan pernah sudi memercayai orang sepertimu dan memilih mundur begitu saja.

"Apa yang…… kamu katakan……"

Reita terbelalak dengan ekspresi wajah yang tampak sangat syok.

Dia kemudian terdiam, seolah sedang merenungkan kembali kata-kata yang baru saja diucapkannya sendiri, lalu menatap telapak tangannya.

"Aku……"

Begitu aku melepaskan cengkeraman tanganku pada kerah bajunya, lutut Reita langsung lemas hingga dia jatuh terduduk di atas tanah.

"Maaf, tapi aku tidak bisa mengikuti perkataanmu. Aku akan pergi."

Aku pun langsung membalikkan punggungku ke hadapan Reita.

Bukannya aku tidak memiliki perasaan untuk mengkhawatirkan kondisi Reita yang sedang tidak stabil seperti ini.

Namun, fokus utamaku saat ini adalah menemukan keberadaan Miori secepatnya.

——Tunggulah aku, Miori. Tolong, jangan pernah memikirkan hal yang bodoh.

Aku mulai berlari membelah area dalam gunung.

Sembari mengandalkan memori masa laluku, aku terus melangkah melewati rimbunnya semak-semak dan pepohonan.

"Ketemu……"

Tepat di arah pandanganku ke depan, tampak ada sebuah gubuk tua yang dulu biasa kami gunakan sebagai tempat penyimpanan barang.

Kondisinya terlihat jauh lebih mengenaskan dibandingkan dengan yang ada di dalam memoriku.

Tanaman merambat tampak melilit seluruh bagian dindingnya, karat terlihat di mana-mana, beberapa sudutnya bahkan sudah rapuh dan membusuk hingga hancur berantakan, serta pintu masuknya pun sudah lenyap.

Suasananya benar-benar terkesan seperti bangunan yang bisa roboh kapan saja.

"Miori!"

Aku mencoba melongok ke dalam bangunan kosong itu, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.

Di dalam gubuk yang luasnya paling hanya seukuran enam tikar tatami itu, tampak berbagai macam barang yang dipenuhi debu diletakkan dengan sangat padat hingga memenuhi ruangan, seperti sapu bambu, kain lap, tongkat pemukul bisbol dari logam, pompa ban sepeda, hingga tumpukan majalah dari belasan tahun yang lalu.

Papan nama bertuliskan 'Markas Rahasia' yang dulu pernah ditulis oleh Miori juga masih tersisa di sana.

Lalu, di atas sebuah kotak kayu, tampak ada sebuah tas yang tergeletak.

Hanya barang ini saja yang terlihat masih baru. Tidak salah lagi. Ini pasti tas yang ditinggalkan oleh Miori.

Apakah dia pergi ke suatu tempat setelah meninggalkan tasnya di markas rahasia ini?

Apa pun itu, dia pasti berada di sekitar sini. Tepat di saat aku merasa agak lega, benda itu mendadak tertangkap oleh sudut mataku.

Di samping tas milik Miori, tampak ada selembar kertas putih yang diletakkan di sana.

"Terima kasih banyak untuk segalanya selama ini. Aku benar-benar minta maaf."

Rasanya seluruh darah di tubuhku langsung surut seketika begitu membaca tulisan itu. Keringat dingin langsung mengucur deras membasahi punggungku.

Aku langsung berlari sekencang mungkin. Aku terus mencarinya dengan sangat panik. Sembari menyibak semak-semak di sekitarku, aku terus meneriakkan nama Miori berulang kali.

Meskipun pandanganku mulai terselimuti oleh kegelapan malam, aku tetap terus melangkah masuk semakin jauh ke dalam hutan.

Aku bahkan sudah tidak tahu lagi saat ini sedang berada di posisi mana.

Meskipun begitu, aku tidak akan pernah sudi untuk pulang sebelum berhasil menemukan keberadaan Miori.

Tidak apa-apa. Aku memiliki rasa percaya diri yang mutlak. Aku yakin aku pasti bisa mengetahui di mana keberadaan Miori berada.

——Sebab menemukan dirinya yang sedang menangis, sejak dulu selalu menjadi tugasku seorang.

Hikari Hoshimiya

"Saat masih SD dulu, mereka berdua adalah pusat perhatian di sekolah, lho."

Yamano-san mulai bercerita. Mengenai kisah masa lalu yang terjadi di antara Natsuki-kun dan Miori-chan.

"Karena usiaku setahun di bawah mereka, aku memang tidak terlalu tahu bagaimana situasi mereka saat berada di dalam kelas. Tapi karena semua hal yang mereka lakukan selalu terlihat mencolok, bisa dibilang mereka berdua itu adalah idola sekaligus orang terkenal di seantero sekolah."

Isi ceritanya benar-benar di luar dugaan sejak awal.

Karena ada rumor yang mengatakan kalau Natsuki-kun itu baru merubah penampilannya saat masuk SMA, kupikir dulunya dia adalah tipe anak yang selalu pendiam dan tidak mencolok, tetapi tampaknya dugaanku itu salah.

Kalau untuk Miori-chan, sih, citranya memang persis seperti yang kubayangkan.

"Lebih tepatnya, grup mereka itu terdiri dari empat orang. Selain Miori-senpai dan Haibara-senpai, ada dua orang lagi. Namanya Takuro-senpai dan Shuto-senpai. Mereka berempat selalu main bersama ke mana-mana. Setiap hari terlihat sangat menyenangkan, sampai-sampai aku pun sempat merasa kagum dan berharap bisa menjadi seperti mereka."

Semua orang tampak mendengarkan cerita Yamano-san dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa penasaran.

……Kalau dipikir-pikir lagi, meskipun fakta kalau mereka berdua adalah teman masa kecil sudah diketahui oleh semua orang, kami hampir tidak pernah mendengar cerita tentang masa lalu mereka.

Karena ini adalah kisah dari zaman sebelum Natsuki-kun merubah penampilannya saat masuk SMA, selama ini kupikir dia hanya merasa malu untuk menceritakannya, tetapi tampaknya situasinya tidak sesederhana itu.

"Bagaimana ya…… rasanya tak terduga sekali. Anak itu sendiri pernah bilang kalau saat SMP dulu dia sama sekali tidak punya teman, 'kan? Makanya ada cerita kalau dia baru merubah penampilannya saat masuk SMA, tapi ternyata saat SD dulu dia adalah orang yang populer?"

"Sebenarnya yang populer itu utamanya adalah Miori-senpai, sedangkan Haibara-senpai dan yang lainnya hanya kebetulan berada di sampingnya saja, sih."

"Ah…… kalau yang itu sih bisa dibayangkan. Tapi, kenapa dari situ dia bisa sampai berakhir menjadi orang yang tidak punya teman?"

Aku pun mengecap rasa penasaran yang sama dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Tatsuya-kun barusan.

"Itu karena grup empat orang tersebut akhirnya hancur berantakan. Hubungan di antara Miori-senpai dan Haibara-senpai pun sempat terputus saat itu. Akibatnya, Haibara-senpai pun akhirnya berakhir sendirian tanpa memiliki teman."

Yamano-san menceritakannya dengan nada suara yang tenang, seolah-olah dia sedang menelusuri kembali lembaran memori masa lalunya.

"Kalau ini adalah cerita yang kudengar langsung dari Miori-senpai…… saat aku masih kelas lima SD, yang berarti para senpai saat itu sedang kelas enam, Miori-senpai sempat ditembak oleh Shuto-senpai, dan dia menolaknya. Hubungan mereka berdua awalnya memang sangat dekat, tapi Miori-senpai merasa kalau dia tidak bisa melihat Shuto-senpai sebagai seorang kekasih."

Cerita akhirnya mulai memasuki babak yang membuat kami semua yang berada di sini menjadi agak sulit untuk memberikan respons.

Tanpa sadar, aku langsung menebak-nebak kelanjutan dari kisah tersebut di dalam kepalaku.

Sebab alasan pertama yang paling sering terlintas sebagai penyebab hancurnya sebuah grup pertemanan yang erat, biasanya adalah karena masalah 'asmara'.

"Miori-senpai awalnya berharap agar mereka berdua tetap bisa berteman dekat seperti biasanya…… tetapi Shuto-senpai memilih untuk mulai menjauhinya. Lalu di saat hubungan grup yang tersisa tiga orang itu sedang canggung, Takuro-senpai mendadak harus pindah sekolah karena urusan keluarga. Kalau untuk hal yang satu ini, sih, memang merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari."

"……Grup yang awalnya terdiri dari empat orang, akhirnya hanya tersisa dua orang saja, ya."

Uta-chan memberikan respons dengan ekspresi wajah yang tampak rumit. Tatangan mata kami sempat saling bertemu sesaat, sebelum akhirnya kami berdua kompak mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Karena yang tersisa hanya Haibara-senpai dan Miori-senpai saja, wajar saja 'kan kalau ada anak laki-laki dan perempuan yang selalu berduaan seperti itu. Orang-orang di sekitar pun mulai menjodoh-jodohkan mereka, membuat Miori-senpai akhirnya memilih untuk menjaga jarak dari Haibara-senpai."

Itu adalah jenis tindakan yang sangat wajar dilakukan oleh anak-anak seusia anak SD.

Pada masa-masa itu, hanya karena ada anak laki-laki dan perempuan yang kedapatan sedang bersama saja sudah cukup untuk menjadi bahan ledekan yang aneh dari teman-teman sekitar.

"Tepat di saat-saat seperti itu, mereka pun akhirnya lulus dari SD. Karena saat itu aku masih berstatus sebagai murid SD, kelanjutan kisah setelah itu adalah murni berdasarkan cerita yang kudengar dari Miori-senpai saja…… begitu masuk ke SMP, Miori-senpai tampaknya mulai berhasil mendapatkan teman-teman yang baru. Sebaliknya, Haibara-senpai justru sama sekali tidak berniat untuk mencari teman. Dibandingkan dengan dibilang berakhir sendirian karena tidak punya teman, situasi yang sebenarnya adalah dia sendiri yang memilih untuk mengisolasi dirinya dari orang lain. Meskipun untuk urusan alasannya sendiri aku tidak tahu, sih."

Mendengar hal itu, aku bisa membayangkan apa alasan di balik keputusan Natsuki-kun untuk tidak mencari teman saat itu.

Grup pertemanan erat yang terdiri dari empat orang hancur berantakan, hal itu pasti sudah meninggalkan luka yang mendalam di dalam hatinya.

Mengingat kepribadian Natsuki-kun, dia pasti berpikir kalau hancurnya hubungan tersebut adalah karena kesalahannya sendiri.

"Melihat kondisi Haibara-senpai yang seperti itu, Miori-senpai tampaknya sempat mencoba untuk menyapanya beberapa kali, tetapi dia selalu berujung ditolak. ……Yah, padahal dianya sendiri yang memilih untuk menjaga jarak terlebih dahulu, jadi rasanya wajar saja sih kalau Haibara-senpai merasa kesal karena dia baru bertindak sok peduli setelah semuanya terlambat."

Aku sama sekali tidak menyangka kalau ternyata ada masa lalu yang seperti itu di antara mereka berdua.

Begitu aku mencoba mengamati situasi di sekelilingku, tampaknya Uta-chan dan yang lainnya juga sama sekali tidak pernah mendengar cerita ini dari siapa pun.

"Itulah akhir dari cerita yang kudengar dari sisi Miori-senpai."

Yamano-san mengatakannya sembari menjeda kalimatnya sejenak.

"Lalu, hal yang akan kuceritakan setelah ini, adalah kisah yang kudengar langsung dari sisi Haibara-senpai——"

Miori Motomiya

Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa sampai berjalan menuju ke tempat ini.

Ingatanku terasa sangat samar. Hubungan sebab-akibat di dalam kepalaku terasa tidak pasti, membuatku tidak bisa memikirkan apa pun saat ini.

Apakah saat ini aku benar-benar sedang melangkah dengan menggunakan kedua kakiku sendiri?

Saat kami masih duduk di bangku kelas lima SD dulu, aku, Takuro, Shuto, dan Natsuki membuat markas rahasia ini bersama-sama.

Meskipun kalau dibilang membuat, kenyataannya kami hanya menempati gubuk kosong yang kami temukan di bagian terdalam gunung secara sepihak saja, sih.

Kami masing-masing membawa berbagai macam mainan ke tempat ini, lalu menghias bagian depannya dengan papan nama bertuliskan 'Markas Rahasia'.

Dulu kami sempat memotong semak-semak di sekitar pintu masuk untuk dijadikan sebagai area bermain, tetapi sekarang pemandangan itu sudah lenyap sepenuhnya tanpa bekas.

Semak-semak dan pepohonan tampak tumbuh dengan sangat lebat di mana-mana.

Kondisi gubuknya sendiri juga sudah sangat tua, dengan noda karat yang terlihat di berbagai sudut bangunan.

Meskipun begitu, pemandangan ini terasa sangat dirindukan. Pistol air yang sudah rusak, pedang kayu yang patah, hingga bola sepak yang kempis, semuanya adalah barang-barang yang dulu kami bawa ke tempat ini.

Kami selalu bermain di sini. Terus bermain bersama sampai tenaga kami terkuras habis.

Sejak kapan, ya, kami mulai tidak pernah mendatangi markas rahasia ini lagi?

……Benar, itu adalah setelah kejadian di mana Shuto menyatakan cintanya kepadaku, dan aku memilih untuk menolaknya.

Hari-hari yang terasa begitu menyenangkan itu langsung hancur berkeping-keping layaknya sebuah kaca yang pecah.

Meskipun tidak pernah kuucapkan secara langsung, aku bahkan sempat menaruh rasa benci yang mendalam kepada Shuto saat itu.

Aku mengutuk tindakannya, berpikir apakah nilai diriku di matanya sebagai seorang teman hanya sebatas itu saja. Apakah jika aku tidak bisa menjadi kekasihnya, dia menganggap kalau aku sudah tidak memiliki nilai apa pun lagi untuk dipedulikan.

——Padahal aku sendiri sama sekali tidak memiliki hak untuk melontarkan kalimat egois seperti itu. Baru sekarang aku bisa benar-benar memahami bagaimana perasaan Shuto saat itu.

Aku menyadarinya kok.

Aku yang sekarang hanya sedang melarikan diri dari kenyataan yang ada.

Aku hanya sedang mencoba mengemis kenyamanan dari kilau masa lalu yang sudah lama sirna.

Aku sangat ingin kembali ke masa-masa di saat aku masih belum mengenal apa itu arti dari sebuah rasa cinta.

Aku ingin kembali ke masa-masa itu. Lalu, memperbaikinya sekali lagi dari awal.

Jika bisa melakukannya, aku ingin memastikan agar hubungan pertemanan di antara kami berempat bisa terus bertahan hingga saat ini.

Jika bisa melakukannya, aku ingin berteman dengan baik dengan Natsuki, sembari memastikan agar aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya kali ini.

Jika bisa melakukannya, aku ingin menjadi sosok manusia yang bisa mendukung perjalanan asmara Natsuki dengan tulus dari dalam lubuk hatiku.

……Bohong. Itu semua hanyalah sebuah kalimat omong kosong yang sok suci saja, 'kan?

Jika aku benar-benar diberikan kesempatan untuk mengulang kembali kehidupanku dari awal, sebelum Natsuki sempat jatuh cinta kepada Hikari-chan, aku pasti akan langsung bergerak untuk mengencaninya.

Karena, sejak dulu, sosok yang kusukai itu memang adalah Natsuki seorang.

Aku hanya terlambat menyadari kalau perasaan yang kumiliki ini adalah sebuah rasa cinta.

Karena itulah, begitu hubungan kami mulai membaik tepat sebelum masuk SMA, aku merasa sangat bahagia.

Aku murni berniat untuk membantu menyukseskan rencana Natsuki yang ingin merubah penampilannya saat masuk SMA.

Memang benar kalau aku sempat memiliki ketertarikan kepada Reita-kun, tetapi motif awalku untuk mendekatinya adalah demi Natsuki.

Setiap kali ada masalah, Natsuki pasti akan selalu datang untuk meminta bantuanku. Hal itu terasa jauh lebih membahagiakan dibandingkan dengan apa pun di dunia ini bagi ku.

Namun, begitu aku melihat pemandangan di mana Natsuki sedang bermesraan dengan anak perempuan lain secara langsung, hatiku langsung terasa sangat sesak.

Secara samar, aku sebenarnya sudah mulai menyadari perasaan ini sejak lama. Namun, aku selalu berusaha untuk menyangkal emosi tersebut.

Pada awalnya aku masih bisa menyangkalnya.

Namun seiring berjalannya waktu di saat aku terus membantu menyukseskan rencana asmara Natsuki, perasaan sukaku terhadapnya menjadi tumbuh terlalu besar hingga aku tidak memiliki pilihan lain selain mengakuinya. ……Dan pada saat itu, segalanya sudah terlambat.

Padahal aku bahkan tidak pernah berdiri di atas panggung pertandingan sejak awal, tetapi aku justru bertindak lancang dengan mencoba mengulurkan tanganku dari arah belakang.

Di balik panggung teater yang harusnya sudah menutup tirainya dengan akhir yang bahagia, aku bergerak secara sembunyi-sembunyi agar tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.

——Aku benar-benar sosok wanita yang paling menjijikkan.

Orang sepertiku sama sekali tidak memiliki hak untuk berharap bisa kembali ke masa lalu atau mengulang kembali kehidupannya dari awal.

Aku sudah tidak bisa berada di tempat ini lagi. Setidaknya, sampai perasaan cinta yang meresahkan ini bisa lenyap sepenuhnya dari dalam hatiku.

Jika sampai akhir perasaan ini ternyata tidak akan pernah bisa lenyap, bukankah itu berarti pilihan yang tersisa bagiku hanyalah lenyap saja dari dunia ini?

"Terima kasih untuk segalanya selama ini. Semuanya, maafkan aku……"

Aku menuliskan kalimat yang menyerupai sebaris surat wasiat di atas kertas loose-leaf yang ada di dalam tas milikku.

Setelah itu, sembari mengandalkan memori masa kecilku, aku pun mulai melangkahkan kakiku untuk mendaki area gunung ini.

Jika terus mendaki gunung ini, aku pasti akan sampai di sebuah tempat yang memiliki pemandangan yang sangat indah.

Itu adalah tempat favorit kami berempat dulu.

Yah, kalau mau jujur, sebenarnya hanya aku saja sih yang menyukai tempat itu.

Aku bahkan masih ingat kalau setiap kali kami mendaki ke sana, Natsuki pasti akan meledekku dengan berkata, "Orang bodoh memang selalu suka tempat yang tinggi."

Di tengah perjalananku membelah semak-semak dan pepohonan, hujan mendadak mulai turun.

Awalnya hanya berupa rintikan kecil, sebelum akhirnya intensitasnya berubah menjadi sangat deras hingga memunculkan suara gemuruh yang keras.

Sembari menembus celah di antara dedaunan, rintikan hujan yang dingin terus mengguyur seluruh tubuhku. Rasa dingin yang menusuk membuat tubuhku menjadi gemetar hebat.

Meskipun begitu, aku tetap terus melangkah maju. Sembari membiarkan kakiku tergelincir oleh permukaan tanah yang berlumpur, aku tetap keras kepala untuk terus mendaki area gunung ini.

Secara mendadak, pemandangan pepohonan di sekitarku langsung terputus. Tepat di hadapanku saat ini, sebuah tebing tinggi tampak membentang dengan sangat curam.

"……Sama sekali, tidak ada apa pun yang terlihat, ya."

Akibat perpaduan antara guyuran air hujan dan kegelapan malam, pemandangan di bawah sana sama sekali tidak terlihat.

Aku melangkah mendekat hingga ke ujung tebing. Begitu aku mencoba melongok ke arah bawah, tampak ada siluet aliran sungai yang terlihat samar di balik pekatnya kegelapan malam.

Jika aku melompat jatuh dari tempat ini, aku pasti akan langsung mati. Pemikiran itu terlintas di dalam kepalaku dengan sangat datar, seolah-olah aku sedang memikirkan urusan orang lain.

Aku tidak bisa merasakan adanya kesan realitas sama sekali. Karena itulah, rasa takut pun sama sekali tidak muncul di dalam hatiku.

Padahal saat ini aku sedang berdiri tepat satu langkah di hadapan jurang kematian.

Tapi, tidak apa-apa jika memang harus berakhir seperti ini. Biarlah semuanya tetap seperti ini saja.

Karena jika aku membiarkan emosiku kembali berfungsi, perasaan-perasaan tidak berguna yang meresahkan itu pasti akan ikut bangkit bersamanya.

Sebelum aku sempat menyadari kalau ini adalah sebuah kenyataan, jika aku melangkahkan kakiku sekarang——

"——Miori!"

Dari arah belakang, sebuah dekapan erat mendadak langsung mengunci tubuhku.

Hanya dari suaranya saja, aku sudah bisa langsung tahu siapa pemilik dari dekapan ini.

Dia adalah sosok yang paling tidak ingin kutemui saat ini. Namun, di saat yang sama, dia juga merupakan sosok yang paling ingin kutemui di dunia ini.

Tubuhku langsung ditarik ke arah belakang dengan sangat kuat. Membuatku menjauh dari bibir tebing yang harusnya menjadi tempat jatuhku tadi.

Apakah karena Natsuki menarikku dengan sangat terburu-buru, dia akhirnya berakhir jatuh terduduk sembari tetap memeluk tubuhku dengan sangat erat.

Karena posisinya punggungku bersandar pada dada bidangnya, kami berdua pun akhirnya berakhir jatuh bersama di atas tanah.

Situasi saat ini berubah menjadi posisi di mana Natsuki sedang memelukku erat dari arah belakang di saat aku sedang terduduk.

Kedua lengan yang sedang mendekap tubuhku terasa sangat kuat. Sampai-sampai aku sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhku sedikit pun.

Natsuki tampak sedang mengatur napasnya yang terengah-engah.

Dia pasti sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa berlari sampai ke tempat ini.

Mendengar suara deru napasnya itu, realitas yang selama ini coba kuhindari akhirnya berhasil mengejar diriku kembali.

……Apa yang sebenarnya sedang kulakukan barusan?

Rasa ngeri langsung membuat seluruh darah di tubuhku surut seketika. Tubuhku mendadak gemetar hebat seolah baru menyadari situasinya sekarang. Aku merasa takut. Detak jantungku berdegup dengan sangat kencang. Tubuhku yang diguyur air hujan terasa sangat dingin. Dingin sekali. Begitu aku mencoba memperhatikan situasi di sekelilingku dengan baik, berkat adanya pancaran sinar rembulan, kegelapan di tempat ini ternyata tidak sepekat yang kukira sebelumnya.

"Syukurlah. Aku berhasil tepat waktu, benar-benar syukurlah……"

Tepat di samping telingaku, suara Natsuki terdengar mengalun dengan sangat jelas. Suaranya terdengar bergetar kecil.

Begitu aku mengalihkan pandangan mataku ke arah atas, wajah Natsuki langsung terlihat di sana. Ada banyak bekas noda lumpur yang menempel di berbagai sudut wajahnya.

Kemungkinan besar kondisiku saat ini juga tidak jauh berbeda dengannya. Mengingat kami berdua sama-sama baru saja berjalan menembus area hutan di tengah guyuran hujan yang sangat deras seperti ini.

"Kenapa, kamu bisa ada di sini……?"

"Sudah pasti karena aku sedang mencarimu, 'kan."

"Bagaimana, kamu bisa tahu kalau aku ada di tempat ini?"

"……Aku kebetulan teringat kembali tentang kalimatmu yang bilang kalau kamu ingin kembali ke masa-masa itu."

"……Hanya dengan mengandalkan petunjuk yang sesamar itu, kamu bisa menemukanku?"

"Sebab mencari dirimu di saat permainan petak umpet, sejak dulu selalu menjadi tugasku, 'kan."

Natsuki menjawabnya sembari menyunggingkan seulas senyum pahit di wajahnya.

Kemampuannya dalam menemukan diriku selalu saja terasa sangat hebat sampai di tingkat yang tidak masuk akal.

Setiap kali aku sedang menangis seorang diri, Natsuki pasti akan selalu datang untuk menemukan diriku, lalu memilih untuk tetap tinggal di sampingku.

Hal-hal seperti itulah yang membuatku menjadi sangat menyukainya. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak jatuh cinta kepadanya.

……Justru karena itulah, aku tidak bisa membiarkan diriku tetap berada dalam situasi yang seperti ini.

"Lepaskan. Sesak tahu."

Aku mencoba melepaskan dekapan tangan Natsuki dari tubuhku secara perlahan, lalu bangkit berdiri.

"Kamu, sudah tidak apa-apa, 'kan?"

"……Ehm. Aku yang tadi, sepertinya sedang agak tidak waras."

Hatiku akhirnya sudah berhasil mengejar realitas yang ada sepenuhnya. Aku sudah tidak bisa melakukan tindakan bunuh diri lagi sekarang. Aku tidak memiliki keberanian yang sebesar itu.

"Aku tidak akan berlagak sok tahu dengan bilang kalau aku bisa memahami bagaimana perasaanmu saat ini. Kamu mungkin memang merasa sangat ingin melarikan diri dari kenyataan yang ada. Tapi tolong berhentilah memikirkan tentang kematian. Aku benar-benar sangat mencemaskanmu, tahu. Bukan hanya aku saja, semua orang saat ini sedang sangat mengkhawatirkan kondisimu."

Siluet wajah keluarga dan teman-temanku langsung melintas di dalam benakku.

Mereka semua adalah orang-orang yang sangat baik, jadi mereka pasti saat ini sedang sangat mengkhawatirkan diriku.

"Ayo kita pulang, Miori. Kembali ke tempat di mana semua orang berada."

Natsuki mengulurkan tangannya ke arahku.

Seolah-olah dia berniat untuk menerima diriku apa adanya, bahkan setelah mengetahui sosok manusia menjijikkan seperti apa aku yang sebenarnya.

"Setelah semua yang terjadi, itu sudah tidak mungkin lagi bagi ku……"

Kuharap kamu bisa menghentikan tindakanmu itu. Benar-benar. Tindakanmu yang selalu saja berhasil mengguncang isi hatiku seperti itu.

Sebab hal itu hanya akan membuatku kembali mengecap sedikit rasa harapan. Membuatku kembali menaruh ekspektasi palsu yang tidak akan pernah bisa terwujud.

Hingga akhirnya membuatku merasa sangat kecewa kepada diriku sendiri yang begitu rendah karena sempat memikirkan hal seperti itu bahkan dalam situasi yang seperti ini.

……Padahal, keinginan yang sebenarnya ada di dalam lubuk hatiku, bukanlah hal yang seperti itu.

Bukan begitu. Aku, sama sekali tidak berniat untuk membuat perasaan cinta ini bisa terbalas olehmu.

"Miori."

Kuhohon jangan memanggil namaku dengan nada suara yang selembut itu.

Aku mohon kepadamu, tolong bantulah untuk menolak diriku dengan tegas. Tolong berikanlah akhir yang jelas untuk perasaan ini.

"——Sebab aku sendiri, tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."

Hikari Hoshimiya

"Saat aku baru masuk ke SMP dulu, Haibara-senpai sudah berakhir sendirian tanpa memiliki teman. Keceriaan yang biasanya terpancar dari wajahnya saat masih SD dulu sudah lenyap sepenuhnya, tubuhnya terlihat agak gemukan, dan dia juga mulai memakai kacamata, sampai-sampai aku sempat mengira kalau dia adalah orang yang berbeda."

Sembari menambahkan kalimat, "Aku akan melewatkan bagian-bagian yang tidak terlalu penting", Yamano-san pun kembali melanjutkan ceritanya.

"Setelah melewati berbagai macam kejadian, aku akhirnya mulai bisa mengobrol sesekali dengan Haibara-senpai. Dan cerita yang kudengar dari sisinya saat itu, rasanya agak sedikit berbeda dengan versi cerita yang disampaikan oleh Miori-senpai. Sekarang, aku akan menceritakan bagian tersebut kepada kalian."

Fokus perhatian semua orang yang berada di sini kini sudah terikat sepenuhnya pada setiap untaian kata yang diucapkan oleh Yamano-san.

Bukan hanya aku saja. Semua orang yang ada di sini juga murni merasa penasaran tentang bagaimana kisah masa lalu yang ada di antara mereka berdua.

Ditambah lagi karena ada kemungkinan kalau kisah ini bisa memberikan petunjuk untuk menemukan keberadaan Miori-chan yang saat ini sedang hilang tanpa kabar.

"Haibara-senpai tampaknya merasa sangat terluka setelah grup empat orang mereka hancur berantakan. Terutama, saat momen di mana Miori-senpai memilih untuk mulai menjauhinya. Karena itulah, sejak awal masuk sekolah dia sengaja menjaga jarak dari hal-hal yang berkaitan dengan hubungan pertemanan."

Di balik jendela restoran, rintikan air hujan tampak mulai turun membasahi bumi dengan suara yang syahdu.

Suasana di dalam restoran keluarga yang sepi ini terasa begitu hening, membuat nada suara Yamano-san bisa terdengar dengan sangat jelas oleh kami semua.

"Miori-senpai tampaknya sempat mencoba untuk menyapa Haibara-senpai beberapa kali. Dia berharap agar hubungan mereka berdua bisa kembali seperti masa-masa yang lalu. Namun, jika saat SD dulu Miori-senpai memiliki kepribadian yang tomboi dengan potongan rambut yang pendek hingga sering kali salah dikira sebagai anak laki-laki, saat masuk SMP dia sudah bertransformasi sepenuhnya menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Bahkan sampai di tingkat menjadi siswi yang paling populer di sekolah."

Untuk poin yang satu ini, aku bisa sangat memahaminya.

Mengingat parasnya yang secantik itu, wajar saja jika orang-orang di sekitar tidak akan membiarkannya begitu saja.

"Tampaknya, sosok anak laki-laki yang menjadi pusat perhatian di dalam kelas menaruh rasa suka kepada Miori-senpai. Karena itulah, dia merasa cemburu melihat Haibara-senpai yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari Miori-senpai. Meskipun ini adalah jenis konflik yang klise, akibat dari kejadian itu Haibara-senpai yang aslinya memang sudah tidak punya teman akhirnya menjadi dikucilkan sepenuhnya oleh orang-orang di kelas. Sebenarnya Haibara-senpai sendiri tidak terlalu memedulikan hal itu, sih. Karena dia merasa sejak awal dirinya memang sudah sendirian. ……Namun, karena Miori-senpai terus bersikeras untuk memedulikan Haibara-senpai yang sedang dibenci oleh orang-orang, jumlah teman-teman di sekelilingnya pun perlahan-lahan mulai berkurang. Lama-kelamaan, posisinya di dalam kelas pun menjadi semakin tersisih."

Meskipun jumlah temannya berkurang dia tetap tidak memedulikannya, dan memilih untuk tetap memprioritaskan Natsuki-kun. Itulah yang dilakukan oleh Miori-chan.

Lalu di sisi lain, Natsuki-kun merasa cemas karena dia tahu kalau posisinya Miori-chan menjadi memburuk adalah akibat dari kesalahannya sendiri.

Pemandangan dari situasi itu langsung tergambar dengan sangat jelas di dalam benakku. Membuat lubuk hatiku mendadak terasa agak sedikit perih.

"Karena itulah, Haibara-senpai akhirnya memilih untuk menolak kehadiran Miori-senpai dengan tegas. Dia melakukannya agar posisi Miori-senpai tidak menjadi semakin memburuk hanya karena terus memedulikan dirinya. Meskipun kalau dari pengakuan dari anaknya sendiri, dia sempat mengelak dan bilang kalau tujuannya bukan karena hal yang mulia seperti itu, sih."

"……Begitu ya. Kalau tentang cerita kalau hubungan mereka berdua sempat tidak akur saat SMP dulu, aku memang pernah mendengarnya langsung dari Miori, sih."

Serika-chan memberikan respons dengan nada suara yang seperti itu.

"Kalau dari posisiku yang melihatnya saat itu, aku benar-benar merasa sangat gemas dibuatnya, tahu. Aku sering menerima curhatan dari Miori-senpai, dan terkadang aku juga suka mendengar cerita dari sisi Haibara-senpai, jadi rasanya situasi mereka berdua saat itu benar-benar sangat merepotkan. Padahal mereka berdua jelas-jejak saling memikirkan satu sama lain, tetapi setelah kejadian itu mereka sama sekali tidak pernah mau mencoba untuk saling menyapa lagi……"

Sembari mengembuskan napas panjang, Yamano-san tampak mengedikkan kedua bahunya pelan.

"Mereka berdua hanya tidak menyadarinya saja, padahal aslinya mereka berdua itu sudah pasti saling menyukai satu sama lain, lho."

Ah, dugaanku memang benar, begitulah hal yang terlintas di dalam pikirku saat ini.

Itu bukanlah sebuah kisah dari masa lalu saja. Melainkan perasaan yang terus bertahan, hingga detik ini.

……Dan kemungkinan besar, intensitas dari perasaan itu pasti jauh lebih besar dibandingkan dengan emosi yang saat ini sedang ditunjukkan olehnya kepada diriku.

Miori sedang menangis.

Itu adalah sebuah pemandangan yang sangat sering kulihat saat kami masih kecil dulu.

Di balik penampilannya, Miori sebenarnya adalah sosok anak yang cukup cengeng.

Karena kepribadiannya yang biasanya selalu terlihat kuat di hadapan orang lain membuat bayangan itu sulit dipercaya, teman-teman yang lain bahkan sempat menuduhku sebagai seorang pembohong saat aku menceritakan hal ini kepada mereka.

Namun yang paling penting adalah fakta kalau Miori hanya akan memperlihatkan air matanya saat berada di hadapanku saja.

"……Lalu, sekarang kita harus bagaimana? Apa kamu mau terus berada di tempat seperti ini?"

"Aku tidak tahu…… Tapi aku yang sekarang sudah tidak memiliki hak lagi untuk pulang."

Sembari melontarkan kalimat yang terputus-putus akibat suara tangisannya, Miori tampak menggelengkan kepalanya pelan.

"Terus berada di tempat seperti ini hanya akan membuatmu masuk angin tahu. Tidak peduli mau bagaimanapun caranya, aku pasti akan tetap membawamu pulang."

"……Kenapa, kamu bisa sampai sepeduli itu kepadaku? Sampai-sampai membuat tubuhmu menjadi kotor dan berantakan seperti itu. Sosok yang kamu sukai itu 'kan adalah Hikari-chan? Orang sepertiku, harusnya kamu biarkan saja sendiri."

"Kamu adalah teman berhargaku. Aku tidak akan pernah bisa membiarkanmu begitu saja…… meskipun jika situasi ini terjadi adalah karena kesalahanku."

Aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang diinginkan oleh Miori saat ini.

Meskipun begitu, aku tetap ingin agar sosok Miori yang seperti biasanya bisa kembali.

"Ini bukan salahmu. Akulah satu-satunya orang yang bersalah di sini. Karena itulah, aku merasa kalau aku lebih baik lenyap saja."

Membayangkan pemandangan di mana Miori lenyap dari dunia ini, hanya dengan memikirkannya saja sudah cukup untuk membuatku merasa sangat ngeri.

"Hentikan. Tidak peduli siapa yang salah, hal seperti itu sudah tidak penting lagi sekarang. Aku mohon kepadamu, kembalilah ke sisi kami."

Meskipun aku tahu kalau untaian kalimat ini justru akan semakin menggores luka di dalam hati Miori, kenyataannya ini adalah murni isi hati kecilku yang paling jujur.

Aku ingin kamu bisa terus berada di sisiku. Aku tidak ingin kamu menghilang dari hadapanku untuk yang kedua kalinya.

"……Semuanya, sudah terlambat tahu. Aku, bahkan tidak pernah berhasil untuk berdiri di atas panggung pertandingan sejak awal."

Guyuran hujan menjadi semakin deras. Rintikan air tampak menghantam permukaan tanah dengan suara yang bising. Air mata yang mengalir di wajah Miori kini sudah menyatu sepenuhnya dengan tetesan hujan, hingga tidak bisa terlihat lagi oleh pandangan mataku.

"Tapi, setidaknya izinkan aku untuk menyampaikan hal ini kepadamu dengan benar. Agar aku bisa mengakhiri segalanya di tempat ini."

Miori tampak menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan deru napasnya, sebelum akhirnya mulai membuka suara untuk menyampaikan isi hatinya.

"——Aku, sangat menyukaimu, tahu. Kamu adalah sosok yang paling kucintai di seantero dunia ini."

Melihat ekspresi wajah Miori yang mencoba untuk tersenyum di tengah tangisannya itu, lubuk hatiku mendadak langsung terasa sangat perih secara instan.

……Aku menyadarinya kok. Mengingat situasinya yang sudah sejauh ini, aku pun akhirnya dipaksa untuk sadar.

Perasaan yang kumiliki terhadap Miori, intensitasnya jelas-jelas sangat berbeda jika dibandingkan dengan emosi yang kutunjukkan kepada teman-temanku yang lain. Itu adalah sebuah perasaan yang jauh lebih berharga, dan jauh lebih spesial.

Padahal selama ini aku selalu berusaha untuk tidak menyadarinya, tetapi perasaan yang selama ini kukunci rapat di dalam lubuk hatiku kini akhirnya meluap keluar sepenuhnya tanpa bisa dibendung lagi.

——Sejak kapan perasaan ini mulai tumbuh?

Cinta pertamaku memang adalah Miori, tetapi saat berada di bangku SMA aku mengalami cinta pada pandangan pertama kepada Hikari.

Ditambah lagi ada jeda waktu selama tujuh tahun di antara kedua momen tersebut. Yang berarti emosi yang kumiliki terhadap Miori harusnya sudah sempat terputus sepenuhnya sekali.

Sosok teman masa kecil yang dulu pernah memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya.

Pada saat awal memulai kehidupan kedua ini, tingkat kesadaranku terhadapnya hanya mentok di seputar penilaian tersebut saja.

Karena itulah, tidak salah lagi kalau perasaan ini baru lahir setelah aku melakukan time leap.

"……Natsuki?"

Aku mulai menelusuri kembali lembaran memori masa laluku.

"Dengar, ya? ——Aku, menyukaimu, tahu."

Segalanya bermula dari momen di mana Miori bersedia untuk bertindak sebagai sekutu yang membantuku dalam menyukseskan Rencana Masa Muda Pelangi milikku.

"Salah besar. Kalau dengan orang yang satu ini sih sama sekali tidak mungkin."

Karena dia adalah teman masa kecil yang sudah mengetahui bagaimana sifat asliku yang sebenarnya, aku bisa menghabiskan waktuku bersamanya dengan sangat santai saat berada di hadapan Miori.

"Terima kasih, ya, sudah mau mengantarku pulang."

Tanpa kusadari, aku menjadi sangat bergantung pada kehadiran Miori yang selalu setia memberikan dukungannya di sisiku.

"Kamis sendiri 'kan yang bilang kalau aku boleh bergantung kepadamu? Seorang pria tidak akan pernah menarik kembali kata-kata yang sudah diucapkannya, 'kan?"

Aku benar-benar tidak ingin melihat pemandangan di mana Miori sedang bersedih.

"Janji, ya? ……Mulai sekarang, jangan pernah mengabaikan diriku lagi, ya?"

Lembaran memori masa lalu di saat dia menjadi cinta pertamaku dulu perlahan-lahan mulai bangkit kembali di dalam benakku.

"Aku, berniat untuk menembak Reita-kun, lho. Akhir-akhir ini tindakanku memang terkesan agak terlalu berhati-hati, sih, tapi hal seperti itu benar-benar terasa sangat bukan diriku sekali…… Makanya aku berniat untuk langsung menentukan hasilnya di sini, lalu hidup bahagia setelahnya!"

Aku murni berharap agar Miori bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri.

"Sebab mulai sekarang, Hikari-chan lah yang akan bertugas untuk memberikan dukungannya kepadamu."

Aku sama sekali tidak menyangka kalau tindakan yang kulakukan justru akan memicu hasil yang berbalik seratus delapan puluh derajat seperti ini.

"Aku menyukaimu, lho…… perumpamaannya, jika aku mengatakan hal seperti itu kepadamu, apa yang akan kamu lakukan?"

——Sebab aku sendiri, juga menaruh rasa suka kepadamu.

Intensitas rasa suka yang kumiliki terhadap Miori Motomiya, jumlahnya benar-benar setara dengan besarnya rasa cinta yang kurasakan kepada kekasihku saat ini, Hikari Hoshimiya.

Justru karena alasan itulah, aku harus memberikan jawaban yang tegas untuk menanggapi pernyataan cinta dari Miori ini.

"——Maaf. Saat ini, sudah ada sosok penting yang kupilih di dalam hatiku. Aku tidak akan pernah bisa membalas perasaan yang kamu miliki."

Persis seperti apa yang dikatakan oleh Miori barusan, aku memang sudah menjatuhkan pilihanku sejak awal.

Aku sudah memantapkan hatiku untuk memberikan kebahagiaan kepada Hikari Hoshimiya. Secara mutlak.

Perasaanku tidak akan pernah goyah setelah sejauh ini. Setidaknya selama perasaan yang dimiliki oleh Hikari tidak berpaling dari diriku.

Aku menyampaikan isi hatiku kepada Hikari dulu dengan tingkat kesiapan mental yang sebesar itu.

"……Terima kasih, ya. Karena sudah mau memberikan jawaban yang tegas kepadaku."

"……Hanya jawaban ini saja yang bisa kuberikan kepadamu saat ini. Meskipun begitu, aku ingin kamu tetap mau ikut pulang bersamaku."

Aku sempat merenungkannya sedikit.

Aku adalah seorang manusia yang sedang menjalani kehidupan keduanya dari awal.

Karena itulah, jika sampai tindakan yang kulakukan dalam kehidupan kali ini justru merubah garis takdir kehidupan Miori dari yang harusnya penuh kebahagiaan menjadi kesengsaraan, bukankah itu berarti aku memiliki tanggung jawab moral untuk menyelamatkan kehidupan Miori sekarang?

Namun, memikirkan hal-hal yang seperti itu hanya akan berakhir menjadi sebuah tindakan yang sia-sia saja.

Sebab aku tidak memiliki kemampuan yang hebat sampai di tingkat bisa menyelamatkan kehidupan orang lain.

Terlebih lagi jika aku memilih untuk membalas perasaan Miori sekarang, Miori yang sekarang pasti sudah tidak akan mengharapkan hal tersebut lagi.

Pada akhirnya, satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini hanyalah satu.

Yaitu dengan mengerahkan seluruh tenagaku untuk menjalani setiap detik dalam kehidupan saat ini dengan sebaik mungkin, agar tidak ada rasa penyesalan yang tertinggal di kemudian hari.

"Sudahlah jangan memikirkan hal-hal tidak penting seperti hak untuk kembali atau apa lah itu."

Aku sengaja melontarkannya dengan nada suara yang santai, seolah-olah aku sedang menganggap remeh masalah tersebut.

"Lagipula tidak masalah 'kan jika kamu tetap menyukaiku. Selama perasaanku tidak goyah, tidak akan ada masalah yang timbul, 'kan? Jadi jangan terlalu dipikirkan sampai seperti itu, sosok yang kusukai itu adalah Hikari. Jangan terlalu membebani pikiranmu untuk masalah yang seperti itu."

"A-Apa……? Kalau tentang hal itu sih aku juga sudah tahu, tapi maksudku konfliknya bukan di bagian itu……"

"Konfliknya memang di bagian itu, 'kan. Jika itu adalah hal yang bisa membuat Hikari menjadi cemas, mulai sekarang aku pasti akan menolaknya dengan tegas. Meskipun sampai beberapa waktu lalu ada beberapa bagian yang sengaja kubiarkan abu-abu, mulai sekarang aku berniat untuk menarik garis batas yang jelas di antara kita sebagai seorang teman."

Perasaan suka yang tumbuh di dalam hati seseorang adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dikendalikan oleh siapa pun.

Karena itulah, ada atau tidaknya rasa cinta di dalam hatimu tidak akan pernah bisa dijadikan sebagai tolok ukur untuk menentukan 'hak untuk kembali' seperti yang kamu katakan tadi.

"Apakah tidak apa-apa……? Jika aku tetap terus menyukai Natsuki."

Miori melontarkan pertanyaan itu kepadaku. Seolah-olah dia sedang mencoba mencari secercah cahaya di balik pekatnya kegelapan malam.

"Ehm."

Aku memang tidak akan pernah bisa membalas perasaan cinta yang dimiliki oleh Miori.

Namun, setidaknya aku bisa mengizinkannya untuk tetap menyukaiku, dengan cara mengakui keberadaan dari perasaan cinta yang dia miliki tersebut.

"——Tenang saja. Karena aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadamu."

Aku sudah memantapkan hatiku untuk terus mempertahankan kebohongan ini sampai ajal menjemputku nanti.

Bahwa Natsuki Haibara sama sekali tidak menaruh rasa cinta kepada Miori Motomiya. Dan hal itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun di masa depan nanti.

"……Terima kasih."

Meskipun aku baru saja melontarkan sebuah kalimat penolakan yang sangat kejam, Miori justru tampak mengembuskan napas lega sembari mengendurkan ekspresi ketegangan di wajahnya.

Melihat reaksi Miori yang seperti itu, aku pun sekali lagi kembali mengulurkan tanganku ke arahnya.

"Untuk saat ini ayo kita kembali ke markas rahasia dulu. Tubuhmu sudah sangat dingin sekarang. Ditambah lagi suhu di sekitar sini juga sangat dingin."

Meskipun aku tahu kalau setiap orang di dalam grup pertemanan kami pasti memiliki pemikiran mereka masing-masing, kenyataannya kami semua tetap bisa berhubungan dengan baik hingga saat ini.

Jadi tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan seperti itu. Terlebih lagi sampai memikirkan tentang kematian hanya karena terlalu membebani pikiranmu untuk masalah yang seperti ini.

Memang benar kalau tindakan yang kamu lakukan kemarin mungkin adalah sebuah kesalahan. Namun, kamu sudah meminta maaf tentang hal itu dengan benar, 'kan?

Jadi, masalahnya sudah selesai sampai di situ saja.

"Hei, Natsuki."

Sembari memperlihatkan sepasang matanya yang sembap akibat menangis, Miori tampak menyunggingkan seulas senyum tipis di wajahnya.

"Jika perasaan cinta ini sudah lenyap sepenuhnya nanti, apakah kita berdua bisa kembali menjadi teman dekat seperti dulu lagi?"

"Bukannya aku mau jahat kepadamu, ya, tapi aku sama sekali tidak memiliki niat untuk berhenti menjadi temanmu, tahu. Jadi untuk urusan bagaimana cara melenyapkan perasaanmu itu, silakan kamu urus saja sendiri."




"Kamu ini jahat sekali, ya. Kamu menyuruhku tetap berteman denganmu sambil memendam perasaan ini?"

"Agar masa mudaku bisa sewarna pelangi, aku membutuhkanmu."

Sejak tadi, aku hanya terus memaksakan kehendak pribadiku sendiri.

Mendengar permintaanku yang egois itu, Miori pun tersenyum pasrah.

"……Baiklah. Kalau begitu, tunggulah sampai kebohonganku tidak lagi menjadi sebuah kebohongan."

Miori melangkah melewatiku, mencoba menyembunyikan kakinya yang gemetaran.

"Ah, benar juga. Boleh aku minta satu hal?"

Di tengah hujan yang kian menderu, kami berdua pun berjalan pulang.

"……Apa? Kalau kamu merengek ingin mati lagi, terpaksa aku akan menyeretmu pulang."

"A-Aku tidak merengek, tahu…… Lagipula, kamu juga sama-sama egois."

Saat dia berkata begitu, aku tidak bisa membantahnya.

Aku sadar betul bahwa aku sedang membujuknya dengan cara yang agak tidak masuk akal.

"Kamu masih ingat? Janji kita yang dulu."

"……Janji bahwa saat kamu menangis, aku akan menuruti salah satu permintaanmu?"

Mendengar kata janji, hal itulah yang pertama kali terlintas di benakku.

Itu adalah janji yang susah payah kupikirkan setelah berbagai uji coba demi membuat Miori berhenti menangis.

Kalau dipikir-pikir sekarang, isinya lumayan tidak adil karena bebanku terlalu berat.

"Wah, ternyata kamu masih ingat dengan jelas. Karena kamu mengatakannya, aku jadi bisa menangis dengan santai di depanmu. Padahal aku hampir tidak pernah menangis di depan orang lain."

Informasi yang sungguh tidak penting. Harusnya kamu tidak usah mengatakannya sekarang……

Melihat ekspresiku yang serba salah, Miori kembali bersuara.

"—Karena itu, turuti permintaanku untuk satu hari saja."

(Hikari Hoshimiya)

Setelah menyatukan cerita dari semua orang, aku mulai memahami situasi yang sedang dialami Miori-chan.

Miori-chan berpacaran dengan Reita-kun saat dia masih menyukai Natsuki-kun, dan Reita-kun pun mengetahui hal itu. Dia sudah berusaha keras untuk bisa menyukai Reita-kun yang telah menyatakan cinta kepadanya.

Namun, ada momen di mana dia kalah oleh perasaannya sendiri.

Di saat dia sudah cukup menderita, rumor itu beredar, ditambah lagi perlakuan dari Hasegawa-san serta apa yang kukatakan kepadanya. Semua itu seolah memojokkannya, jadi aku sangat paham jika dia ingin melarikan diri.

"……Pokoknya, kita harus bergegas mencarinya."

Uta-chan menggumamkan hal itu, dan aku pun mengangguk setuju. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi mental Miori-chan.

Reita-kun dan Natsuki-kun memang sudah bergerak mencarinya, tetapi masih belum ada kabar.

"Mari kita daftar tempat-tempat yang mencurigakan, lalu kita bagi tugas untuk mencarinya."

Serika-chan mencoba mengatur rencana kami.

Tiga orang yang bisa diandalkan dalam situasi ini adalah Yamano-san, Serika-chan, dan Uta-chan yang memang paling dekat dengannya.

Mereka bertiga berdiskusi sambil melihat aplikasi peta di ponsel masing-masing, lalu mengajukan beberapa lokasi potensial.

……Namun pada akhirnya, kami sama sekali tidak memiliki petunjuk yang pasti.

Tentu saja aku berniat untuk mencarinya sekuat tenaga. Hanya saja, jika dia pergi terlalu jauh, kami pasti tidak akan bisa menemukannya.

Meski begitu, jika itu Natsuki-kun, aku yakin dia pasti bisa menemukannya.

"……Kuharap kamu berhasil, Natsuki-kun."

Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, aku tidak apa-apa.

Untuk saat ini saja, aku ingin kamu tetap berada di sisi Miori-chan untuk menopangnya.

Untuk sementara, kami kembali ke pondok telantar yang menjadi markas rahasia kami.

Begitu melangkah ke dalam pondok, aku mengembuskan napas lega sementara di luar sana hujan lebat masih terus mengguyur tanpa henti.

Pakaianku sudah basah kuyup dan berlumuran lumpur, tampaknya sudah tidak bisa diselamatkan lagi meski dicuci nanti.

Rasa lembap ini benar-benar tidak nyaman, dan yang paling penting, tubuhku mulai kedinginan sehingga aku memutuskan untuk melepas kausku.

"T-Tunggu…… Jangan tiba-tiba telanjang dada begitu, dong."

Miori yang tampak terkejut langsung mengambil jarak dariku.

"Hanya bagian atas saja tidak apa-apa, kan. Memakai baju basah begini malah membuatku makin kedinginan."

"Yah, benar juga…… Baiklah. Aku tinggal tidak melihat ke arahmu saja, kan?"

Miori membelakangiku, lalu duduk meringkuk di atas sebuah kotak kayu.

Seragam sekolah Miori pun sama denganku, basah kuyup dan penuh dengan noda lumpur.

Tubuhnya gemetar kecil, dia pasti kedinginan karena suhu udara saat ini berkisar di angka sepuluh derajat. Musim dingin sudah semakin dekat.

Namun, kami tidak memiliki alat apa pun untuk menyalakan api, jadi kami terpaksa bertahan di sini sampai hujan sedikit mereda.

"Kira-kira hujannya akan reda tidak, ya?"

"……Sepertinya masih akan terus turun untuk beberapa saat ke depan."

Ketika aku memeriksa ramalan cuaca di ponsel, layar menampilkan informasi seperti itu.

Koneksinya sangat lambat karena kami berada di pedalaman gunung, indikator sinyalnya bahkan hanya menyala satu batang.

Meski begitu, aku bersyukur karena setidaknya ponsel ini masih bisa terhubung, jadi aku bisa memberi kabar kepada yang lain.

"Miori, hubungi keluargamu sekarang. Polisi bahkan sudah turun tangan dan situasinya menjadi gempar."

"Eh…… B-Benarkah? Maaf…… Benar juga, ya, harusnya aku memikirkan hal itu……"

Dia pasti benar-benar sedang frustrasi sampai hal sejelas itu pun luput dari pikirannya.

"……Aku mengerti. Aku akan menelepon Ibu."

"Aku akan mengabari anak-anak yang lain dulu. Nanti kamu harus minta maaf dengan benar karena sudah membuat mereka khawatir."

Miori mengangguk dengan ekspresi bersalah.

Setelah itu, dia mulai menghubungi ibunya melalui ponsel.

Aku segera mengirim pesan ke grup obrolan kami yang berisi enam orang, 'Miori sudah ketemu. Untuk sekarang dia baik-baik saja.' Selain itu, aku juga mengirimkan pesan yang sama ke obrolan pribadi Serika.

Dalam sekejap pesan itu langsung terbaca, dan ponselku berdering karena panggilan dari Hikari.

"Halo."

"Natsuki-kun!? Miori-chan sudah ketemu……!?"

"Ya, benar. Dia ada di sampingku sekarang dan sedang menelepon ibunya."

"S-Syukurlah…… Sekarang kalian ada di mana?"

"Agak sulit menjelaskannya, tapi kami ada di area pegunungan dekat daerah asal kita dulu."

"Di-Di dalam gunung……? Kenapa bisa ada di tempat seperti itu?"

"Aku juga tidak tahu, nanti tanyakan saja langsung pada Miori. Yang penting dia selamat. Sekarang hujan masih sangat deras jadi kami belum bisa bergerak, tapi kami akan langsung pulang begitu hujannya mereda. Sampaikan juga pada yang lain—"

"—Semua orang ada di sini kok, jadi tidak apa-apa. Mereka semua mendengarnya."

Dari seberang telepon, aku bisa mendengar beberapa suara yang mengembuskan napas lega, itu adalah suara Uta dan Serika.

Tampaknya mereka semua sedang berkumpul di tempat yang sama karena mengkhawatirkan Miori.

"……Bagaimana keadaan Miori-chan sekarang?"

"Tadi sempat agak tidak stabil, tapi sekarang sudah tenang. Jadi jangan khawatir lagi."

Sambil berkata begitu, aku melirik ke arah Miori dan mata kami pun saling bertatapan, tampaknya pembicaraannya dengan sang ibu sudah selesai.

"Boleh aku bicara dengannya?"

"……Tentu. Hikari, ini Miori mau bicara."

Aku menyerahkan ponselku kepada Miori, dan tangannya tampak gemetar saat menerimanya. Sepertinya itu bukan karena dingin.

Karena itu, aku menepuk punggung Miori sambil berkata, "Tenang saja."

"Aduh!?" Suara Miori yang terkejut bergema di dalam pondok.

"M-Miori-chan!? Ada apa!?"

Hikari yang berada di seberang telepon juga ikut berteriak panik mendengar suara itu.

Miori langsung memelototiku dengan tatapan kesal, sementara aku hanya bisa mengedikkan bahu.

"Cepat bicara dengannya."

"……Tidak usah disuruh juga aku tahu."

Miori menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.

"……Anu, semuanya ada di sana, kan?"

"Iya, kami semua ada di sini! Syukurlah…… Miori-chan. Maaf ya, aku waktu itu—"

"Tunggu dulu, Hikari-chan. Tolong biarkan aku yang bicara duluan."

Setelah itu, meski tahu mereka tidak bisa melihatnya melalui telepon, Miori tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"—Semuanya, maafkan aku karena sudah membuat kalian khawatir."

Miori meminta maaf dengan nada suara yang tulus lalu menunggu reaksi dari mereka, menciptakan keheningan sesaat di seberang sana.

"Memang dasar! Miorin bodoh! Dasar perempuan labil yang sok tegar!"

"H-Hei, Uta. Bukankah perkataanmu itu agak keterlaluan……"

"Kalau aku tidak bicara begini, kekesalanku tidak akan hilang, tahu!"

"Miori. Yang penting kamu selamat. Jangan sampai masuk angin, ya."

"Fufu, meski nadanya terdengar sedatar itu, sebenarnya Hondo-san yang paling mengkhawatirkanmu, lho."

"……Yuino. Jangan mengatakan hal yang tidak perlu."

"Miori-chan. Nanti aku pasti akan minta maaf dengan benar kepadamu. Jadi, cepatlah pulang, ya."

Miori tampak kewalahan menerima rentetan perkataan yang datang bertubi-tubi seperti ombak itu.

Uta mengomel dengan cara yang sangat blak-blakan sampai membuatku tidak bisa menahan tawa.

Setelah sempat terpaku sesaat, perlahan ekspresi wajah Miori mulai melembut.

Melihat kondisinya yang sekarang, sepertinya dia sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi. Ketika aku melihat ke luar, hujan pun sudah mulai mereda.

Langit masih terlihat mendung, jadi ini mungkin hanya reda untuk sementara…… Tapi inilah kesempatan kami untuk pulang.

Aku menunggu momen yang pas saat obrolan Miori dan yang lain mulai mereda, lalu memanggilnya.

"Ayo jalan, Miori. Mumpung hujannya reda."

"Iya. Kalau begitu semuanya…… Sampai ketemu lagi di sekolah."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close