Chapter 4
Stray Luminous
Memasuki bulan
Mei, kegiatan band kembali berlanjut.
Naru dan Yamano
menjadi jauh lebih akrab daripada yang kami bayangkan.
Seberapa akrab
mereka? Yah, kira-kira sampai ke titik di mana...
"Ini salah
Haibara-kun, kan?"
...aku dimarahi
oleh Funayama-san yang cemburu pada Yamano.
Aku merasa ada
efek suara misterius gogogogo... yang melayang di sekitar Funayama-san.
"Meski kau
bilang begitu, bukankah anggota band memang sebaiknya akrab?"
"Terlalu
akrab itu namanya! Padahal kekasihnya itu aku!"
"Sudahlah.
Lagipula, mereka sama sekali tidak punya perasaan romantis seperti itu."
"Meski
begitu, mereka tetap mengobrol dengan akrab saat jam istirahat, kan!? Itu sudah
melewati batas!"
"Hal seperti
itu, katakan langsung saja pada Naru..."
"Aku tidak
bisa komplain pada orangnya langsung! Bagaimana kalau dia membenciku!?"
"Bukankah
kau malah bicara keras saat Naru mau kembali ke band dulu!"
"Justru
karena itulah, aku tidak bisa bilang jangan berteman akrab!"
Semuanya
bermula baru saja.
Yamano
datang ke kelas kami untuk meminjam album.
Setelah
itu, dia pergi dengan Naru dengan wajah yang tampak sangat ceria!
Wajar
saja jika Funayama-san yang melihat pemandangan itu merasa syok. Miori mendekat
ke arah Funayama-san yang sedang melampiaskan kekesalannya kepadaku.
"Aku
mengerti, Shizuki-chan. Lagipula, kau sebenarnya sudah tidak suka kekasihmu
berada di band yang anggotanya dua laki-laki dan dua perempuan, jadi melihat
mereka akrab begitu pasti membuatmu cemas..."
Miori mengangguk-angguk kecil sambil memeluk Funayama-san,
lalu melirikku dengan tatapan sinis.
"Apalagi kalau ada orang yang memprovokasi hal
itu..."
"Aku mengerti. Aku salah, oke..."
Namun, Funayama-san dengan tatapan mata yang kosong berkata
pada Miori.
"Aku tidak mau dengar itu dari wanita yang justru
membuat orang lain cemas..."
Itu adalah knockout dalam satu serangan. Miori sampai bersimpuh ke lantai.
"Tunggu
dulu, Funayama-san. Overkill banget itu!"
Karena itu fakta,
bukan berarti kau boleh bilang apa saja seenaknya! Namun, Funayama-san hanya
mendengus, "Huh...". Dia... dia sudah jatuh ke sisi gelap...
"Entah
kenapa, aku jadi mengerti perasaan Hoshimiya-san..."
Setelah itu, dia
menatapku dengan tatapan dingin. Miori, yang tadi berniat menggodaku tapi malah
berakhir tumbang, kembali ke kursinya dengan lemas. Akhir-akhir ini, Miori
sering kali KO karena serangan dari temannya sendiri. Terlalu menyedihkan.
"......Apa
terjadi sesuatu?"
Naru, yang
kembali dengan membawa album pinjaman dari Yamano, memiringkan kepalanya dengan
bingung.
*
Sepulang sekolah.
Hari ini adalah jadwal latihan.
Saat aku memasuki
ruang musik kedua, semua orang sudah mulai bersiap. Serika, yang sedang menyetem gitar, membuka
suara setelah memastikan kehadiranku.
"Kita akan
membuat lagu baru."
Naru dan Yamano
juga menoleh ke arah Serika.
"Aku ingin
lagu yang hanya bisa dibawakan oleh kita berempat."
"Artinya
lagu yang bisa menjadi representasi band ini, ya?"
Saat aku
memastikannya, Serika mengangguk.
"Iya. Lagu
debut band baru, yang berbeda dari Mishulef. Lagu yang tercipta karena ada
Saya, bukan karena Iwano-senpai... jadi, liriknya biar Saya yang buat."
"Eh!?
Aku!?"
"Kau boleh
minta bantuan Natsuki."
Kalau sudah
begitu, aku tidak punya pilihan lain.
"Aku akan
bantu, Yamano."
"Eh...
memangnya kau bisa diandalkan?"
"Hei."
Aku menyentil
kepala Yamano.
"Aku ini
penulis lirik untuk 'Monokuro' dan 'Hoshi e', tahu!"
"Aku tahu.
Lirik memalukan seperti itu cuma bisa ditulis oleh Senpai, kan?"
Sialan,
dia bilang hal yang sama dengan Naru...!
"Kita
juga harus segera memikirkan nama band dengan serius."
"Ah,
aku sudah memikirkannya. Bagaimana kalau Aoharu Rocket!?"
Aku
membeberkan ide terbaik yang kupikirkan selama tiga malam tanpa tidur. Itu
adalah nama band yang sempurna, memancarkan nuansa band SMA sekaligus kesan
yang segar.
"Eh..."
"Wah,
kuno banget."
Reaksinya
sangat kejam. Naru menarik diri, sementara Yamano memaki dengan singkat.
"Hei!
Jaga bicaramu!"
"......Maaf,
itu tadi refleks."
Saat aku
menegurnya, Yamano menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut.
"Kali ini
Natsuki yang salah."
"Naru juga
di pihak dia!? Kenapa!?"
Entah kenapa Naru
juga berpihak pada Yamano, jadi aku mengalihkan pandanganku ke Serika.
"Ide
itu tidak seburuk itu, kan?"
Namun, Serika
membuang muka dariku.
"......Ayo,
kita mulai latihannya."
Ide sepenuh
hatiku tidak dianggap oleh siapa pun. Sambil menangis kecil, aku melanjutkan
persiapan gitar dan mikrofon.
"Shinohara-senpai.
Bagian yang kita sederhanakan di konser nanti, aku akan menuntut standar yang
tinggi, ya."
"Aku sudah
latihan terus, jadi aku sudah bisa melakukannya."
Yamano dan Naru
sedang bertukar kata seperti itu. Suasananya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Benar saja, jika Yamano berhadapan dengan orang yang membuatnya tertarik, dia
mampu mempertimbangkan perasaan orang tersebut.
Peringatan tegas
sebelum mengkritik seperti tadi bagiku adalah bentuk perhatian. Naru pun
semangatnya sangat berbeda dari sebelumnya. Serika tersenyum melihat mereka
berdua. Suasananya sangat bagus.
Namun, bukan
berarti kami berlatih dengan santai. Latihan tetap dilakukan dengan konsentrasi penuh. Jadi, suasananya
tidak sampai terasa penuh canda tawa. Pertukaran kata hanya sebatas informasi
yang diperlukan, sisanya kami bicara lewat musik.
Naru
sudah bisa melakukan bagian yang dulunya sering salah dengan sempurna. Pasti
dia sudah berlatih sangat keras. Yamano juga menunjukkan senyum puas melihat
perkembangan Naru.
Melakukannya
dengan serius itu melelahkan, tapi menyenangkan. Aku merasa perasaan itu
sekarang bisa dirasakan oleh kami berempat.
*
Meski segala
masalah tampak selesai, masih ada satu yang tersisa.
Yamano belum
berbaikan dengan Matsui-san. Dia masih terkucil di kelas.
"Karena
itulah, ini adalah 'Proyek Transformasi Yamano Saya' tahap kedua, bagian
praktik."
"Proyek itu
masih berlanjut?"
"Apa-apaan
ucapanmu itu!?"
Memang benar,
entah sejak kapan rasanya kami sudah mempraktikkannya sampai titik tertentu!
Itu pasti karena Naru sekarang sudah dianggap sebagai rekan berharga bagi
Yamano.
Namun, meski
masalah di dalam band terselesaikan, belum tentu hubungan antarmanusia di kelas
juga begitu. Masalah terbesar Yamano adalah dia secara tidak sadar meremehkan
orang-orang yang menurutnya tidak menarik. Mungkin sama sepertiku dulu, dia
menganggap orang lain hanyalah alat untuk masa mudanya.
Namun, meski aku
menunjukkan hal itu, dia mungkin tidak akan merasakannya secara nyata. Karena
itulah, aku ingin dia menyadarinya sendiri. Jawaban yang ditemukan sendiri
tidak akan mudah dilupakan. Dasarnya adalah karena aku sendiri pun dulu seperti
itu.
Aku akan
membimbing Yamano sebagai Senpai dan membuatnya menyadari inti dari masalah
yang dia hadapi sendiri.
"Liriknya,
bagaimana ya?"
Yamano bergumam
di dalam kereta saat perjalanan pulang. Lagu Serika sudah cukup matang.
Nuansanya adalah rock klasik yang tidak terlalu aneh. Lirik seperti apa
yang akan disematkan di sana? Itu akan menentukan arah band ini.
"Apa kau
punya sesuatu yang ingin kau sampaikan sekarang?"
"Sesuatu
yang ingin disampaikan?"
"Misalnya,
di 'Monokuro', aku menulis tentang masa mudaku yang kelabu, masa mudaku
sekarang yang bersinar seperti sebuah pelangi, dan perasaan bahwa semua itu
tercipta karena orang-orang yang ada di sampingku."
"Ooh, begitu
ya."
Aku merangkai
kata-katanya belakangan, tapi menurutku itu tidak salah.
"Kalau
'Hoshi e'... aku menulis perasaan untuk Hihari."
"Yah, itu
langsung ketahuan sih. Itu kan cuma surat cinta."
"......Hihari
katanya selalu mendengar 'Hoshi e' di MeTube setiap sebelum tidur."
"Eh,
seram..."
Jangan
bilang seram ke pacar orang. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Hanya sedikit.
"Intinya,
kalau ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, tulis saja itu jadi lirik."
"Berarti
tema, ya. Hmm..."
Yamano
melipat tangan dan mengerang dengan ekspresi sulit. Lalu, matanya
membelalak.
"—Aku ingin berubah. Karena itu, aku ingin merangkai perasaan itu menjadi kata-kata."
Itu adalah
jawaban Yamano. Sederhana, tapi tema yang terdengar menyentuh hati.
"Bagus,
kan?"
"Iya!
Baiklah, aku akan memikirkannya dari situ!"
Sambil
bersenandung riang, Yamano membuka aplikasi catatan. Namun, dia terdiam cukup
lama sambil menatap catatan kosong itu.
"......Aku
tidak bisa menulis apa pun."
Aku mengerti.
Meski temanya sudah mantap, bukan berarti bisa ditulis dengan mudah. Walau
begitu, aku punya pengalaman menulis lirik dua lagu. Di saat seperti ini, yang
dibutuhkan adalah menggali pemikiran diri sendiri lebih dalam.
"Yamano, bagaimana caramu ingin berubah?"
"Seperti Senpai, aku ingin bersinar!"
"Apa maksud dari bersinar itu?"
"Itu adalah... aku ingin menjalani kehidupan SMA yang
berkilau. Punya banyak teman akrab, punya pacar yang tampan, kegiatan band yang
sukses besar... begitu... entah kenapa kalau diucapkan, hasrat untuk diakui itu
terlihat jelas dan jadi memalukan..."
Sambil bicara, Yamano menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Nanti juga akan terbiasa."
"Orang yang menulis lirik 'Hoshi e' bicara begitu jadi
terasa meyakinkan ya..."
"Diam kau."
Sambil batuk-batuk dengan keras, aku melanjutkan
pembicaraan.
"Jadi, kalau
itu artinya bersinar, menurutmu kau harus berubah seperti apa?"
"Seperti
yang Senpai bilang, menjadi manusia yang punya empati?"
"Yah, kalau
kau sudah bisa melakukan itu, kemungkinan besar kau akan bisa bersinar."
"Kalau
begitu, aku tinggal menulis itu jadi lirik!"
"Tapi, apa
sih artinya punya empati itu?"
"......Artinya
bisa bersikap baik kepada orang lain?"
"Bagaimana
caranya agar bisa bersikap baik kepada orang lain?"
"Dengan
memikirkan perasaan orang lain...?"
"Apa
sehari-hari Yamano hidup dengan sering memikirkan perasaan orang lain?"
"......Tidak."
"Bagaimana
caranya agar bisa memikirkan perasaan orang lain?"
Saat kami terus
saling melemparkan pertanyaan, ekspresi Yamano mulai berubah. Dia menyipitkan
mata dan menatap ke luar jendela. Dia pasti sedang menoleh ke belakang, ke arah
dirinya yang dulu.
"......Mungkin
dengan melihat lebih baik? Ke sekeliling?"
Jawaban
yang disimpulkan Yamano mendekati apa yang kupikirkan.
"Benar
juga."
Artinya,
memiliki ketertarikan pada orang-orang di sekitar diri sendiri. Aku pernah mengatakan hal yang sama pada
Yamano sebelumnya. Tapi saat itu, kata-kataku tidak menyentuhnya.
"......Aku
akan mencoba memikirkan kata-kata Senpai dengan lebih baik."
Yamano yang
sekarang mulai meragukan cara hidupnya sendiri. Dia mulai mempertanyakan apakah
itu benar atau salah. Karena itulah, kata-kataku menyentuhnya.
"Semoga kau
bisa menulis lirik yang bagus."
Dan aku berdoa
agar kau bisa mendapatkan hari-hari di mana kau bisa berubah dan menyukai
dirimu sendiri.
*
Hanya sejauh ini
yang bisa kulakukan.
Meski penasaran,
aku tidak mungkin pergi melihat ke kelas anak kelas satu. Sisanya bergantung
pada Yamano. Aku tahu itu. Tapi, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Adakah lagi yang
bisa kulakukan?
Sambil memikirkan
hal itu, aku berjalan melintasi halaman tengah di jam istirahat.
"Ada apa,
Haibara?"
Saat sedang
merapikan pikiran sambil berjalan, seseorang memanggilku. Saat menoleh, yang
kulihat adalah Iwano-senpai. Iwano-senpai sedang memakan bekal di bangku yang
terkena sinar matahari.
"I-Iwano-senpai!
Senang bertemu Anda lagi."
Saat aku
menyapa dengan terburu-buru, Iwano-senpai mengunyah bekalnya sejenak, lalu,
"Duduklah."
Dia
menyuruhku duduk di sebelahnya, jadi aku menurutinya.
"Lama tidak
bertemu. Syukurlah kau terlihat sehat."
"Begitu
pula dengan Anda, Senpai. Bagaimana
persiapan ujian masuknya?"
"Lancar. Hasil
try-out kemarin dapat B. Aku harus lebih berusaha lagi."
"......Kalau dapat B di waktu seperti ini, bukannya itu
sangat bagus ya?"
"Guru juga
bilang begitu. Tapi, kau tahu kan kalau nilaiku bisa turun kalau aku
lengah."
Dia orang yang
sangat serius, bahkan sampai pada tingkat yang kaku.
"Meskipun
begitu, istirahat itu perlu. Jadi, aku bisa mendengarkan ceritamu."
Sambil melahap
bekalnya dengan cepat, Iwano-senpai bicara.
"Apa Haibara
sudah makan siang?"
"Sudah. Tadi
baru saja dari kantin."
"Begitu.
Baguslah."
Iwano-senpai
meletakkan kotak bekalnya yang sudah kosong dalam sekejap ke samping, lalu
bergumam.
"Aku dengar
dari Hondou kalau kalian sudah tampil di festival. Sepertinya kalian berjuang
dengan keras."
"Yah, ada
banyak hal yang terjadi sih..."
Mendengar
kata-kata Iwano-senpai, aku tersenyum pahit.
"Apa yang
terjadi? Kalau tidak keberatan, ceritakan padaku."
Ini masalah yang
agak sensitif, tapi aku tidak punya keraguan sedikit pun untuk menceritakannya
pada Iwano-senpai.
Aku pun
menceritakan kronologinya secara singkat. Setelah aku selesai bercerita,
Iwano-senpai mengelus dagunya sambil berkata "Hm".
"Perselisihan
antarmanusia akibat perbedaan teknis dan perbedaan kesadaran, ya. Itu masalah
band yang umum terjadi."
Tentu saja kalau
dibilang begitu, terdengar seperti hal yang biasa.
"Apa pun
itu, syukurlah kalau sudah selesai. Beruntung tidak ada hubungan asmara yang
campur aduk di dalamnya."
Iwano-senpai
menatap ke kejauhan dengan tatapan yang entah kenapa terasa samar.
Sepertinya dia
pernah berhadapan dengan masalah band yang melibatkan urusan asmara...
"Drummer
yang menggantikanku sepertinya memang pembuat masalah."
"Begitulah.
Yah, dia bukan orang jahat sih."
Iwano-senpai
menatapku yang menjawab begitu, lalu tersenyum tipis.
"Kalau ada
yang bisa kukatakan, aku mengerti kenapa kau merasa terganggu dengan kemampuan
Shinohara di bagian ritme. Karena drum dan bas adalah ritme yang menyokong fondasi lagu."
Memang, aku sudah
berkali-kali melihat momen di mana Iwano-senpai mengoreksi Naru. Karena
arahannya dilakukan dengan sangat sopan, Naru mungkin tidak merasa disalahkan.
"Aku selalu
berusaha menjaga cara bicaraku. Karena wajahku yang seperti ini saja sudah
membuat orang ketakutan."
Memang benar,
kata-kata Iwano-senpai selalu terasa sopan. Karena jarang bicara, dia benar-benar memilih
katanya dengan hati-hati.
"Dengan
melampaui batasan klub musik ringan, tuntutan kemampuan teknisnya mungkin jauh
lebih tinggi daripada saat dia masih bersamaku. Itulah sebabnya kritik tajam
dari Yamano sering terjadi."
"Begitu
ya... akhir-akhir ini semuanya serba sulit."
"Tapi,
kau sendiri yang memutuskan untuk menantang tembok sulit itu, kan?"
Sambil
mengangguk, aku menatap gedung sekolah.
Karena ini
halaman tengah, aku bisa melihat lorong kelas satu dari balik jendela.
Iwano-senpai menatapku dengan tatapan yang lembut.
"Apa kau
mengkhawatirkan keadaan Yamano di sekolah?"
"......Iya. Aku khawatir apa dia bisa bergaul dengan baik, aku benar-benar cemas..."
"Haha, kau
seperti orang tua saja."
Jika ini adalah
perasaan orang tua, kupikir membesarkan anak itu berat sekali, ya. Iwano-senpai
menepuk punggungku dengan ringan.
"Tenanglah,
Haibara. Dari apa yang kudengar, kau sudah menjalankan peranmu sebagai Senpai
dengan baik."
Kira-kira, sudah
berapa kali orang ini menjalani hidupnya? Meskipun secara usia mental
seharusnya aku lebih tua darinya, aku sama sekali tidak merasa demikian.
"Selebihnya,
percayalah pada dirinya."
Entah mengapa,
rasa tenang tiba-tiba muncul.
"Kalau kau
terus-menerus memberikan perintah, dia bisa menjadi terlalu manja, kan?"
"……Benar
juga."
Aku sudah
melakukan apa yang bisa kulakukan. Jika begitu, mempercayai kouhai
adalah tugas seorang Senpai.
*
Seminggu kemudian
berlalu. Saat ini adalah jam istirahat siang. Di bordes tangga yang sepi,
"Aku sudah
paham ceritanya, tapi……"
Sakata-kun, murid
kelas satu dari klub musik ringan, berkata.
"Lalu,
kenapa Anda memanggilku lagi?"
"Karena aku
penasaran bangeeet!"
Aku meratap.
Karena terlalu penasaran, aku memanggil Sakata-kun lagi. Aku sudah paham apa
yang dikatakan Iwano-senpai. Mempercayai Yamano juga merupakan tugas penting.
Tapi, itu satu hal, dan... situasi saat ini benar-benar membuatku penasaran!
"Hah. Yamano
juga mendapatkan Senpai yang baik, ya."
Melihatku yang
sudah membongkar semua situasi itu, Sakata-kun tertawa geli.
"Aku
sebenarnya cukup mengagumi Haibara-senpai, lho? Sebelum masuk sekolah, aku
melihat video festival budaya dan merasa itu keren sekali. Aku ingin mencoba
bermain gitar juga, makanya aku masuk klub musik ringan."
"Maaf ya,
kenyataannya malah seperti ini……"
Sekali lagi, aku
mengecewakan seorang kouhai.
"Yah, memang
benar sih, rasanya agak berbeda dari yang kubayangkan……"
Sakata-kun
tertawa senang, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi,
aku tidak benci hal seperti itu."
……Entahlah,
tapi sepertinya aku tidak mengecewakannya.
"Kalau
dia, pasti akan baik-baik saja."
Sakata-kun turun
sedikit dari bordes tangga dan mengintip ke arah lorong di depan kelas satu.
Lalu, sambil bergumam "pas sekali", dia menunjuk ke arah lorong.
Aku pun turun dan
ikut mengintip. Di
depan kelas 1-3, sekelompok siswi sedang berkumpul. Salah satu di antaranya adalah Yamano.
"Sepertinya
dia sudah berbaikan dengan Matsui-san dan teman-temannya."
Di tengah
kerumunan itu, Yamano sedang tertawa.
"Tadi
kan Senpai bilang dia sempat dikucilkan, ya? Tapi belakangan ini dia jadi
sering bertanya tentang teman sekelas, dan sekarang rasanya dia jadi
disayangi."
Sambil aku
melihat pemandangan itu, Sakata-kun melanjutkan. Keinginannya bertanya tentang
teman sekelas pasti karena tugas dariku.
"……Syukurlah."
Apa pun itu, aku
merasa lega. Dengan ini, masalah pertemanan sudah terselesaikan. Tinggal
masalah dia yang bilang ingin punya pacar tampan, ya.
Yah, itu urusan
nanti. Lagipula baru satu bulan sejak masuk sekolah.
Saat aku menghela
napas lega,
"Tapi……
kalau dilihat-lihat, Yamano itu manis juga, ya."
Sakata-kun
menggumamkan hal itu. Aku menatap Sakata-kun.
Tatapannya saat
melihat Yamano tampak mengandung kasih sayang. Dan sialnya, dia juga tampan.
"Ja-jangan
harap kau bisa memiliki Yamano kita!?"
"Eh, ehhh!?
Haibara-senpai ini posisinya sebagai apa!?"
Hanya sebagai Senpai
biasa.
*
Hari ini tidak
ada latihan klub. Artinya, aku kerja paruh waktu.
Meskipun
hari-hari sibuk dengan sedikit libur, aku merasa puas. Saat sedang berjalan menuju kafe
Mares di depan stasiun,
"Ano,
Senpai!"
Mungkin dia
mencariku, Yamano berlari ke arahku.
"Ada apa,
Yamano?"
"Dengar,
Senpai! Aku sudah bisa berbaikan!"
Yamano
menceritakan bagaimana dia berbaikan dengan Matsui-san dengan ekspresi yang
benar-benar bahagia dari lubuk hatinya.
"Itu
baguslah."
Sepertinya dia
sudah kembali bersama kelompok Matsui-san.
……Yah, aku sudah
tahu karena aku melihatnya bersama Sakata-kun dari lorong tadi. Tapi kalau aku
bilang begitu, pasti akan dianggap menjijikkan, jadi aku pura-pura tidak tahu.
"Aku sadar.
Ternyata selama ini aku…… meremehkan semua orang."
Yamano berbisik
pelan. Saat aku menoleh karena terkejut, mata kami bertemu. Sepasang mata yang
tampak seolah menembus isi hatiku menatapku.
"Akhirnya
aku mengerti kalau Senpai mencoba membuatku menyadarinya."
Sepertinya, Yamano berhasil tumbuh dengan kekuatannya
sendiri.
"Karena itu,
aku berusaha untuk menghadapi satu per satu. Termasuk Matsui-san."
Dia jauh lebih
hebat dariku, yang di kehidupan pertama bahkan tidak menyadari kekurangan itu
selama tiga tahun.
"Setelah
itu, aku bisa berbaikan secara alami. Saat aku meminta maaf karena terlalu
kasar, Matsui-san juga meminta maaf padaku. Dia bilang dia tidak peka karena aku berada di
klub musik ringan. Kupikir tidak begitu, sih…… tapi aku senang karena
Matsui-san juga memikirkan hal itu."
Penyesalan dari
kehidupan pertama masih tertanam di kepalaku. Namun, jika pengalamanku bisa
sedikit saja membantu Yamano, maka kegagalan itu tidak sia-sia.
"Baguslah
kalau begitu. Aku lega."
Saat aku
menjawab begitu, Yamano menatapku dengan tatapan seolah ingin mengatakan
sesuatu.
"Apa ada hal
lain?"
"Eto, aku
mencoba membuat lirik, tapi……"
Meski tampak
malu, dia menunjukkan ponselnya padaku. Sambil berjalan bersama, aku menerima
ponsel itu. Di bagian atas tertulis "Stray Luminous".
"Stray,
Luminous?"
"Katanya
artinya seperti orang yang tersesat namun bercahaya."
Di lirik itu,
perasaan Yamano yang ingin berubah tertulis dengan gamblang.
……Saat hidup
terasa berat, dia ditopang olehku, ada rasa syukur, keinginan untuk menjadi
seperti diriku yang penuh kekaguman, semua tersampaikan begitu saja.
Dan dia juga
menulis bahwa dia berubah sedikit demi sedikit berkat diriku.
Dilihat dari
sudut mana pun, ini adalah lagu cinta.
Aku sadar betul
kalau wajahku sekarang panas sekali. Yamano yang berjalan di sampingku menatap
ke arah jalan raya seolah tidak terjadi apa-apa, tapi telinganya merah.
"……Bu-bukankah
ini bagus?"
Pada akhirnya,
hanya itu yang bisa kukatakan.
"Be-begitu
ya! Terima kasih banyak!"
"Ahaha,"
Yamano tertawa untuk menutupi rasa malunya yang kentara.
"Perasaannya, anu…… tersampaikan dengan…… lugas……"
"……Te-tersampaikan
ya……?"
"Yah,
lumayan……"
"Be-begitukah……"
"……"
"……"
Canggung.
Aku tidak
menyangka Yamano menyimpan perasaan seberat ini padaku! Aku juga tidak
menyangka akan mengetahuinya dari lirik lagu baru!
"Ya-ya
sudah, aku akan melapor pada Serika-senpai kalau liriknya sudah jadi!"
……Apa benar tidak
apa-apa begini? Aku sempat ragu, tapi Yamano tampak seperti tidak bisa mundur
lagi. Dan ini memang
hal yang benar-benar ingin dia sampaikan.
Apalagi,
aku tidak punya hak untuk memprotes lirik ini karena aku sendiri pernah menulis
lagu "Hoshi e".
"Ya-ya
sudah, Senpai mau kerja, kan!? Sampai jumpa besok!"
Mungkin karena
tidak tahan dengan suasananya, Yamano berlari menjauh dengan wajah merah padam.
"O-oke……"
Meski
diperlihatkan lirik seperti ini, kau suruh aku harus bagaimana? Entah kenapa,
aku merasa tiba-tiba mengerti perasaan Hihari.
*
Keesokan harinya
sepulang sekolah, kami berkumpul di ruang musik kedua. Langsung pada intinya,
Serika berkata pada Yamano.
"Saya, aku
sudah lihat liriknya."
"Ba-bagaimana
menurutmu!?"
"Perasaannya
tersampaikan, menurutku bagus."
"Syukurlah~"
Yamano menghela
napas lega.
"Tapi."
Serika menatapku
sebelum kembali menatap Yamano.
"Natsuki
punya kekasih, lho?"
Wajah Yamano yang
diingatkan begitu memerah dengan cepat.
"Bu-bukan
dalam arti yang seperti itu!"
……Sepertinya,
lirik dengan perasaan yang berat itu tidak mengandung arti romantis. Syukurlah.
Jujur saja, aku sempat curiga. Soalnya, itu kan lagu cinta!
"Intinya,
itu hanya rasa suka sebagai seorang Senpai!"
"Begitu ya.
Aku sempat khawatir akan ada masalah patah hati di dalam band."
Serika
sendiri juga sempat berkeringat dingin. Yah, masalah ancaman pengunduran diri
anggota baru saja terjadi beberapa hari lalu. Pasti dia merasa cemas.
"Yamano-san."
Naru menatap
Yamano dengan tatapan simpati.
"Jangan
berkecil hati."
"Jangan asal
memutuskan kalau aku ditolak!"
Yamano
memukul-mukul punggung Naru. Baguslah kalau mereka akrab.
"Bukan
apa-apa, aku cuma penasaran dari tadi, Yamano-san memanggil Natsuki saja tanpa
embel-embel apa pun, ya. Padahal orang lain selalu pakai nama. Kenapa
begitu?"
……Dia membahas
hal itu, ya. Yah, aku juga sempat sedikit penasaran.
"Itu,
aku juga mikir begitu. Rasanya cuma Natsuki yang diperlakukan secara
spesial."
"Benar
kan! Kenapa tidak ada yang menyinggung hal itu dari tadi?"
Yamano
berdiri terpaku dengan wajah merah padam.
"……Kenapa"
Dia mulai
menangis terisak.
"Kenapa
kalian bilang begitu!?"
"A-ah.
Shinohara-kun, kau membuat
Saya menangis."
"Itu
salahku!? Tadi bukannya Hondou-san ada di pihakku!?"
"……Naru.
Membully kouhai itu tidak baik."
"Bahkan
Natsuki juga!? Aku cuma penasaran biasa!"
Tak lama
kemudian, Yamano bergumam.
"……Karena
bagiku, Senpai nomor satu adalah Haibara-senpai yang selalu ada di
sisiku……"
Hening.
Suasana jadi
terasa sangat canggung.
"Ke-kenapa
kalian tidak bilang apa-apa!?"
"Itu, aku
merasa perasaanmu murni sekali……"
Naru membuang muka dengan canggung. Apakah aku harus mengatakan sesuatu? Komentarnya
terlalu sulit, bukan?
"Eeh, itu…… Yamano. Terima kasih?"
"Lagipula,
aku tidak melakukan hal yang perlu disyukuri, sih……"
Yamano tampak
malu-malu. Tapi tampaknya dia tidak keberatan juga.
"Ngomong-ngomong, judul lagu ini bagus."
Di sisi lain,
Serika berkata sambil menunjuk "Stray Luminous". Dia terlalu santai.
"Ini,
dijadikan nama band saja bagaimana?"
"Eh!?"
Yamano
mengeluarkan suara yang aneh.
"Lagu debut
dan nama band sama, itu keren, kan."
Padahal kami
belum debut, dan tidak ada rencana untuk debut. Yah, sebenarnya banyak kasus di
mana lagu pertama sama dengan nama band.
"Hal seperti
ini tergantung feeling. Bagaimana menurut kalian?"
"Bukan
ide buruk, kan? Keren. Dan fakta bahwa kita dulunya orang yang tersesat itu
nyata."
Aku
mengangguk menanggapi Serika. Serika, Naru, Yamano, dan aku, kami semua punya
masa lalu sebagai orang yang tersesat. Dan kami semua punya keinginan untuk bersinar.
"Aku juga
setuju. Lebih baik daripada Aoharu Rocket."
Jangan
membandingkannya dengan ideku terus! Itu sifat yang buruk.
"Singkatannya
'Strumi', aku suka karena agak imut."
Serika
mengangguk-angguk seolah sedang mempertimbangkannya kembali.
"Be-benar tidak apa-apa? Dengan ideku……"
Yamano tampak
panik melihat kami.
"Bukankah
nama band sebaiknya dipikirkan oleh para Senpai……"
"Kenapa kau
malah berusaha memisah-misahkannya seperti itu?"
Yang mengatakan
itu pada Yamano adalah Naru. Sambil terlihat agak malu, Naru melanjutkan.
"Yamano-san,
bukankah kau rekan kami?"
"Shinohara-senpai……"
"Jika itu
nama band dari pendapat rekan, aku tidak punya keluhan sama sekali."
Hei, tadi kau
secara terang-terangan menjatuhkan ide Aoharu Rocket milikku, kan?
Entah karena
tidak ada yang menyadari tatapan bisuku atau tidak, suasananya jadi terasa
sangat akrab.
"Baiklah,
kalau begitu kita gunakan itu. Mulai sekarang kita adalah Stray Luminous."
Tatapan Serika
beralih padaku.
"Iya, iya. Aku yang akan mengurus
pemberitahuan di media sosial."
Perubahan nama band dari Mishulef ke Strumi. Lalu, soal lagu
baru itu.
"Soal lagu, nanti akan kita sesuaikan di sini agar pas
dengan liriknya."
"Ah, liriknya juga masih bisa diubah kok, tolong bilang
ya!"
"Melakukan tindakan tidak manusiawi seperti mengubah
surat cinta Saya itu tidak mungkin."
"Makanya,
bukan surat cinta!"
Rahasia
terbongkar semua itu adalah salah satu kekurangan dari mencurahkan perasaan ke
dalam lirik.
Serika yang
sedang menjahili Yamano tiba-tiba melihat jam dan bertepuk tangan untuk
mengalihkan suasana.
"—Nah, ayo
kita mulai latihan lagu baru. Kalau ada ide seperti 'lebih baik begini',
katakan saja. Aku akan menyesuaikan aransemen musiknya agar pas dengan
liriknya."
Suasana berubah. Obrolan tidak penting yang hangat
menghilang, dan latihan pun dimulai. Benar, hal terpenting untuk melakukannya
dengan serius adalah peralihan suasana seperti ini.
Kalau
suasananya selalu santai, jadinya malah tidak produktif dan melelahkan. Lakukan saat harus melakukannya, istirahat
saat harus istirahat. Akhir-akhir ini kami selalu memegang prinsip itu.
"Tujuan
berikutnya adalah acara konser klub musik ringan. Karena dua minggu lagi, aku
ingin lagu ini selesai sebelum itu."
Konser
rutin klub musik ringan yang diadakan dua sampai tiga bulan sekali. Penontonnya
hampir seluruhnya adalah anggota klub musik ringan dan teman-teman mereka.
Jika
dibandingkan dengan konser live fes yang kami ikuti, skalanya jauh lebih
kecil.
Konser
diadakan di ruang klub musik ringan dan penonton luar tidak diizinkan masuk.
Jumlahnya paling banyak mungkin sekitar empat puluh orang.
Meski
begitu, konser tetaplah konser. Kami harus menjadikannya awal yang layak bagi
Stray Luminous.
*
—Dan dua
minggu pun berlalu.
Tak terasa, hari
pelaksanaan acara konser klub musik ringan pun tiba. Waktunya adalah Sabtu
siang. Sepanjang pagi, kami disibukkan dengan persiapan peralatan dan tetek
bengek lainnya.
Posisi kami,
Stray Luminous, sudah tentu ditempatkan sebagai penampil terakhir. Wah, kami
benar-benar diperlakukan sebagai bintang utama, ya.
Selagi kami
menyemangati band anak kelas satu di awal acara, kami juga harus menjalankan
tugas sebagai kru panggung.
"Natsu,
kami datang!"
Di tengah
kesibukan itu, Uta dan Miori datang ke ruang klub.
"Oh, kalian
sudah sampai?"
"Kami tadi
ada kegiatan klub, jadi baru saja selesai!"
Keduanya masih
memakai seragam, tapi mungkin karena baru berganti baju, mereka mengalungkan
handuk di leher.
Tercium aroma
deodoran. Meski baru pertengahan Mei, cuaca mulai terasa semakin gerah, ya.
"Aku
cuma datang untuk melihat Serika. Soal dirimu, tidak penting."
Miori
mulai berakting dengan karakter tsundere misteriusnya. Belakangan ini, bukannya dia makin
melantur?
"Yo."
"Halo, semua
berkumpul ya."
Tatsuya
dan Reita pun datang ke ruang klub. Sepertinya ini waktu yang tepat bagi mereka
yang tadi pagi ada kegiatan klub untuk berkumpul setelah makan siang.
Teman-teman di
luar lingkaran pertemananku pun datang satu per satu, memenuhi ruang konser.
"Natsuki-kun!"
"Halo,
Haibara-kun."
Tak lama
kemudian, Hihari dan Nanase pun tiba. Meskipun mereka tidak punya kegiatan
klub, mereka sengaja datang ke sekolah. Meski aku sudah tahu sebelumnya, aku
tetap merasa senang.
"Wah,
ternyata semua orang datang, ya."
"Yah, toh
kami memang harus ke sekolah karena ada kegiatan klub, jadi sekalian
saja."
"Aku datang
untuk mendukung Natsuki-kun!"
Karena sedang
jeda antar band, aku berkumpul di luar ruang klub bersama Tatsuya dan yang
lainnya untuk mengobrol.
"Ada apa,
Natsuki? Kau terlihat senyum-senyum sendiri."
"Bukan
apa-apa... cuma, aku senang karena kalian semua datang."
Meski sekarang
sudah kelas dua dan kelas kami terpisah, bisa berkumpul seperti ini rasanya
luar biasa. Agak memalukan untuk diakui, tapi aku benar-benar terharu.
"Natsu, kau
ini selalu saja mengatakan hal-hal yang memalukan."
"Karena dia
memang orang seperti itu, jadi mau bagaimana lagi. Ah, bukan 'menyebalkan',
tapi... 'klasik anak muda' ya."
Reita mengangkat
bahunya melihat Uta yang sedikit malu-malu.
"Memangnya
ada bedanya kau ganti istilah begitu?"
Reita
hanya tersenyum. Jangan bilang dia pikir dengan tersenyum, dia bisa mengalihkan
perhatian?
"Natsuki,
sebentar lagi giliran kita."
Serika
mendekat ke arahku yang sedang mengobrol. Saat mengintip ke dalam ruang klub,
band sebelum kami, 'Clock Ups', sudah mulai tampil.
"Semangat,
ya!"
Hihari
mengepalkan tangannya di depan dada untuk menyemangatiku. Cute dan
cerdik sekali.
"Ah."
Aku mengangguk,
lalu meninggalkan kerumunan bersama Serika.
"Nah,
nantikan penampilan kami, ya."
Serika
melambaikan tangannya dengan anggun ke arah semua orang.
"Penampilan
kami kali ini benar-benar dalam kondisi terbaik."
Sepertinya
kami memang sedang berada dalam performa puncak.
*
Meskipun
jadi penampil terakhir, karena jumlah band yang tampil hanya enam, giliran kami
pun datang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Selain
itu, band anak kelas satu yang tampil di awal baru berlatih selama sebulan,
jadi mereka hanya membawakan satu lagu. Hasilnya memang masih... begitulah,
tapi pengalaman itu penting, jadi aku berharap mereka tetap semangat.
Saat kami
berdiri di atas panggung, ruang klub musik ringan sudah padat sesak oleh
penonton.
Sepertinya
kami cukup dinantikan. Tekanan dari penonton yang berkerumun sedekat ini
benar-benar kuat.
"Kami
Mash Mash Leftovers yang sekarang berganti nama menjadi Stray Luminous."
Sembari
memastikan volume mikrofon, aku memulai MC.
"Alasan kami
berganti nama adalah karena ada perubahan personel setelah festival budaya
tahun lalu."
Aku menyapu
pandangan ke arah penonton. Barisan depan dipenuhi anggota klub musik ringan.
Di
tengah, Hihari dan teman-temannya bergerombol. Lalu di barisan belakang,
teman-teman Yamano—Matsui-san dan kelompoknya—juga datang.
"Menggantikan
Iwano-senpai yang keluar untuk fokus ujian masuk universitas, junior kami,
Yamano, telah bergabung."
Yamano
memukul drum dengan semangat—da-da-da-dang!—tepat saat aku
memperkenalkannya.
Tepuk
tangan penonton bergemuruh. Dari barisan belakang, terdengar teriakan,
"Saya, semangat!"
Yamano
memutar stik drumnya dan tersenyum tipis.
"Pada
bas, Shinohara Naru."
Naru
memamerkan teknik slap bass yang tajam. Saat aku melacak arah
pandangannya, ternyata Funayama-san sedang melambai padanya.
"Pada
gitar, Hondou Serika."
Serika
berimprovisasi dengan memainkan potongan lagu Whole Lotta Love dari Led
Zeppelin. Setelah berhasil menghidupkan suasana, dia menunjuk ke arah barisan
paling belakang.
Di sana, entah
sejak kapan, Iwano-senpai sudah berdiri.
Iwano-senpai
mengangkat jempolnya.
"Dan pada
vokal, aku—Haibara Natsuki. Kami memulai kembali dengan formasi ini."
Setelah aku
menyatakan hal itu, klub musik ringan memimpin tepuk tangan meriah.
"Lagu
pertama, mari kita mulai. Ini lagu baru—'Stray Luminous'."
Karena mereka semua sudah bersusah payah datang, aku tidak
akan membiarkan mereka pulang tanpa memberikan konser terbaik dan membuat
mereka tersenyum.
Aku mengirimkan
tatapan ke Serika, Naru, dan Yamano secara bergiliran. Yamano mengangguk dan
memukul stik drumnya tiga kali.
Dengan musik
terbaik yang diciptakan oleh Yamano dan Serika, kami akan mengubah dunia mereka
semua.
*
—Waktu
yang menyenangkan berlalu dalam sekejap.
"Saya!
Penampilanmu tadi luar biasa sekali!"
"Be-benarkah!?
Semuanya, terima kasih banyak!"
Yamano tampak
dimanja oleh Matsui-san dan kelompoknya. Saat aku mengamati pemandangan itu
sembari melipat tangan, Serika di sampingku berucap.
"Seperti
orang tua saja."
"Entah
kenapa, aku merasa mereka sudah seperti keluarga sendiri."
Saat aku menjawab
begitu, Serika tersenyum tipis.
"Terima
kasih, Natsuki."
"……Itu
ucapan terima kasih untuk apa?"
"Band ini
tidak hancur berkat kerja kerasmu, Natsuki."
"Yah,
aku memang tidak ingin melepaskan tempat ini."
Band ini sudah menjadi salah satu tempat paling berharga
bagiku.
Aku tidak berniat menyerah semudah itu.
Aku yakin, keempat orang ini adalah pilihan terbaik ke
depannya.
"Konser
yang bagus, ya."
Serika
berkata dengan puas.
"Ini
baru permulaan."
Hasil ini
belum bisa disebut keajaiban.
"Ya,
aku tahu."
Namun, aku
merasakan pencapaian yang nyata. Kami benar-benar sedang melangkah maju.
"Perjalanan
kita masih panjang."
"Mimpi kita
adalah Nippon Budokan, ya."
"Bukankah
itu terlalu besar?"
"Bukankah
kau yang mengajariku kalau mimpi itu harus setinggi langit?"
Serika
menyodorkan kepalan tangannya.
Tok.
Aku membenturkan
kepalaku ke kepalan tangan Serika.
"Hei! Kenapa
kalian berdua jadi terlihat emosional begitu!? Biarkan aku bergabung
juga!"
Naru,
yang tadinya sedang bermesraan dengan Funayama-san, berlari mendekat.
"Tidak
ada yang sedang emosional, kok."
"Ya. Mungkin
itu cuma perasaan Naru saja?"
"Eh!? Tadi
kalian baru saja beradu kepalan tangan, kan!?"
"Bicara apa
sih!? Aku juga mau ikut bergabung!"
Saat kami sedang
beradu argumen, Yamano kembali bergabung. Setelah kami berempat asyik
mengobrol, Ketua Klub, Kano-senpai, memanggil kami.
"Woi,
Haibara! Klub musik ringan mau mengadakan pesta setelah ini, kalian mau
ikut?"
Melihat semua orang mengangguk, aku mengangkat tangan sebagai tanda setuju.
"Tentu
saja!"
Kami akan
berusaha keras untuk kegiatan band kami dan menampilkan konser terbaik.
Dan kami
akan berbagi kebahagiaan itu dengan rekan-rekan yang telah berjuang bersama.
Masa muda kami,
hari ini pun, tetap penuh warna yang cerah.



Post a Comment