NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 9 Chapter 4

Chapter 4

Stray Luminous


Memasuki bulan Mei, kegiatan band kembali berlanjut.

Naru dan Yamano menjadi jauh lebih akrab daripada yang kami bayangkan.

Seberapa akrab mereka? Yah, kira-kira sampai ke titik di mana...

"Ini salah Haibara-kun, kan?"

...aku dimarahi oleh Funayama-san yang cemburu pada Yamano.

Aku merasa ada efek suara misterius gogogogo... yang melayang di sekitar Funayama-san.

"Meski kau bilang begitu, bukankah anggota band memang sebaiknya akrab?"

"Terlalu akrab itu namanya! Padahal kekasihnya itu aku!"

"Sudahlah. Lagipula, mereka sama sekali tidak punya perasaan romantis seperti itu."

"Meski begitu, mereka tetap mengobrol dengan akrab saat jam istirahat, kan!? Itu sudah melewati batas!"

"Hal seperti itu, katakan langsung saja pada Naru..."

"Aku tidak bisa komplain pada orangnya langsung! Bagaimana kalau dia membenciku!?"

"Bukankah kau malah bicara keras saat Naru mau kembali ke band dulu!"

"Justru karena itulah, aku tidak bisa bilang jangan berteman akrab!"

Semuanya bermula baru saja.

Yamano datang ke kelas kami untuk meminjam album.

Setelah itu, dia pergi dengan Naru dengan wajah yang tampak sangat ceria!

Wajar saja jika Funayama-san yang melihat pemandangan itu merasa syok. Miori mendekat ke arah Funayama-san yang sedang melampiaskan kekesalannya kepadaku.

"Aku mengerti, Shizuki-chan. Lagipula, kau sebenarnya sudah tidak suka kekasihmu berada di band yang anggotanya dua laki-laki dan dua perempuan, jadi melihat mereka akrab begitu pasti membuatmu cemas..."

Miori mengangguk-angguk kecil sambil memeluk Funayama-san, lalu melirikku dengan tatapan sinis.

"Apalagi kalau ada orang yang memprovokasi hal itu..."

"Aku mengerti. Aku salah, oke..."

Namun, Funayama-san dengan tatapan mata yang kosong berkata pada Miori.

"Aku tidak mau dengar itu dari wanita yang justru membuat orang lain cemas..."

Itu adalah knockout dalam satu serangan. Miori sampai bersimpuh ke lantai.

"Tunggu dulu, Funayama-san. Overkill banget itu!"

Karena itu fakta, bukan berarti kau boleh bilang apa saja seenaknya! Namun, Funayama-san hanya mendengus, "Huh...". Dia... dia sudah jatuh ke sisi gelap...

"Entah kenapa, aku jadi mengerti perasaan Hoshimiya-san..."

Setelah itu, dia menatapku dengan tatapan dingin. Miori, yang tadi berniat menggodaku tapi malah berakhir tumbang, kembali ke kursinya dengan lemas. Akhir-akhir ini, Miori sering kali KO karena serangan dari temannya sendiri. Terlalu menyedihkan.

"......Apa terjadi sesuatu?"

Naru, yang kembali dengan membawa album pinjaman dari Yamano, memiringkan kepalanya dengan bingung.

Sepulang sekolah. Hari ini adalah jadwal latihan.

Saat aku memasuki ruang musik kedua, semua orang sudah mulai bersiap. Serika, yang sedang menyetem gitar, membuka suara setelah memastikan kehadiranku.

"Kita akan membuat lagu baru."

Naru dan Yamano juga menoleh ke arah Serika.

"Aku ingin lagu yang hanya bisa dibawakan oleh kita berempat."

"Artinya lagu yang bisa menjadi representasi band ini, ya?"

Saat aku memastikannya, Serika mengangguk.

"Iya. Lagu debut band baru, yang berbeda dari Mishulef. Lagu yang tercipta karena ada Saya, bukan karena Iwano-senpai... jadi, liriknya biar Saya yang buat."

"Eh!? Aku!?"

"Kau boleh minta bantuan Natsuki."

Kalau sudah begitu, aku tidak punya pilihan lain.

"Aku akan bantu, Yamano."

"Eh... memangnya kau bisa diandalkan?"

"Hei."

Aku menyentil kepala Yamano.

"Aku ini penulis lirik untuk 'Monokuro' dan 'Hoshi e', tahu!"

"Aku tahu. Lirik memalukan seperti itu cuma bisa ditulis oleh Senpai, kan?"

Sialan, dia bilang hal yang sama dengan Naru...!

"Kita juga harus segera memikirkan nama band dengan serius."

"Ah, aku sudah memikirkannya. Bagaimana kalau Aoharu Rocket!?"

Aku membeberkan ide terbaik yang kupikirkan selama tiga malam tanpa tidur. Itu adalah nama band yang sempurna, memancarkan nuansa band SMA sekaligus kesan yang segar.

"Eh..."

"Wah, kuno banget."

Reaksinya sangat kejam. Naru menarik diri, sementara Yamano memaki dengan singkat.

"Hei! Jaga bicaramu!"

"......Maaf, itu tadi refleks."

Saat aku menegurnya, Yamano menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut.

"Kali ini Natsuki yang salah."

"Naru juga di pihak dia!? Kenapa!?"

Entah kenapa Naru juga berpihak pada Yamano, jadi aku mengalihkan pandanganku ke Serika.

"Ide itu tidak seburuk itu, kan?"

Namun, Serika membuang muka dariku.

"......Ayo, kita mulai latihannya."

Ide sepenuh hatiku tidak dianggap oleh siapa pun. Sambil menangis kecil, aku melanjutkan persiapan gitar dan mikrofon.

"Shinohara-senpai. Bagian yang kita sederhanakan di konser nanti, aku akan menuntut standar yang tinggi, ya."

"Aku sudah latihan terus, jadi aku sudah bisa melakukannya."

Yamano dan Naru sedang bertukar kata seperti itu. Suasananya jauh lebih baik dari sebelumnya. Benar saja, jika Yamano berhadapan dengan orang yang membuatnya tertarik, dia mampu mempertimbangkan perasaan orang tersebut.

Peringatan tegas sebelum mengkritik seperti tadi bagiku adalah bentuk perhatian. Naru pun semangatnya sangat berbeda dari sebelumnya. Serika tersenyum melihat mereka berdua. Suasananya sangat bagus.

Namun, bukan berarti kami berlatih dengan santai. Latihan tetap dilakukan dengan konsentrasi penuh. Jadi, suasananya tidak sampai terasa penuh canda tawa. Pertukaran kata hanya sebatas informasi yang diperlukan, sisanya kami bicara lewat musik.

Naru sudah bisa melakukan bagian yang dulunya sering salah dengan sempurna. Pasti dia sudah berlatih sangat keras. Yamano juga menunjukkan senyum puas melihat perkembangan Naru.

Melakukannya dengan serius itu melelahkan, tapi menyenangkan. Aku merasa perasaan itu sekarang bisa dirasakan oleh kami berempat.

Meski segala masalah tampak selesai, masih ada satu yang tersisa.

Yamano belum berbaikan dengan Matsui-san. Dia masih terkucil di kelas.

"Karena itulah, ini adalah 'Proyek Transformasi Yamano Saya' tahap kedua, bagian praktik."

"Proyek itu masih berlanjut?"

"Apa-apaan ucapanmu itu!?"

Memang benar, entah sejak kapan rasanya kami sudah mempraktikkannya sampai titik tertentu! Itu pasti karena Naru sekarang sudah dianggap sebagai rekan berharga bagi Yamano.

Namun, meski masalah di dalam band terselesaikan, belum tentu hubungan antarmanusia di kelas juga begitu. Masalah terbesar Yamano adalah dia secara tidak sadar meremehkan orang-orang yang menurutnya tidak menarik. Mungkin sama sepertiku dulu, dia menganggap orang lain hanyalah alat untuk masa mudanya.

Namun, meski aku menunjukkan hal itu, dia mungkin tidak akan merasakannya secara nyata. Karena itulah, aku ingin dia menyadarinya sendiri. Jawaban yang ditemukan sendiri tidak akan mudah dilupakan. Dasarnya adalah karena aku sendiri pun dulu seperti itu.

Aku akan membimbing Yamano sebagai Senpai dan membuatnya menyadari inti dari masalah yang dia hadapi sendiri.

"Liriknya, bagaimana ya?"

Yamano bergumam di dalam kereta saat perjalanan pulang. Lagu Serika sudah cukup matang. Nuansanya adalah rock klasik yang tidak terlalu aneh. Lirik seperti apa yang akan disematkan di sana? Itu akan menentukan arah band ini.

"Apa kau punya sesuatu yang ingin kau sampaikan sekarang?"

"Sesuatu yang ingin disampaikan?"

"Misalnya, di 'Monokuro', aku menulis tentang masa mudaku yang kelabu, masa mudaku sekarang yang bersinar seperti sebuah pelangi, dan perasaan bahwa semua itu tercipta karena orang-orang yang ada di sampingku."

"Ooh, begitu ya."

Aku merangkai kata-katanya belakangan, tapi menurutku itu tidak salah.

"Kalau 'Hoshi e'... aku menulis perasaan untuk Hihari."

"Yah, itu langsung ketahuan sih. Itu kan cuma surat cinta."

"......Hihari katanya selalu mendengar 'Hoshi e' di MeTube setiap sebelum tidur."

"Eh, seram..."

Jangan bilang seram ke pacar orang. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Hanya sedikit.

"Intinya, kalau ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, tulis saja itu jadi lirik."

"Berarti tema, ya. Hmm..."

Yamano melipat tangan dan mengerang dengan ekspresi sulit. Lalu, matanya membelalak.

"—Aku ingin berubah. Karena itu, aku ingin merangkai perasaan itu menjadi kata-kata."

Itu adalah jawaban Yamano. Sederhana, tapi tema yang terdengar menyentuh hati.

"Bagus, kan?"

"Iya! Baiklah, aku akan memikirkannya dari situ!"

Sambil bersenandung riang, Yamano membuka aplikasi catatan. Namun, dia terdiam cukup lama sambil menatap catatan kosong itu.

"......Aku tidak bisa menulis apa pun."

Aku mengerti. Meski temanya sudah mantap, bukan berarti bisa ditulis dengan mudah. Walau begitu, aku punya pengalaman menulis lirik dua lagu. Di saat seperti ini, yang dibutuhkan adalah menggali pemikiran diri sendiri lebih dalam.

"Yamano, bagaimana caramu ingin berubah?"

"Seperti Senpai, aku ingin bersinar!"

"Apa maksud dari bersinar itu?"

"Itu adalah... aku ingin menjalani kehidupan SMA yang berkilau. Punya banyak teman akrab, punya pacar yang tampan, kegiatan band yang sukses besar... begitu... entah kenapa kalau diucapkan, hasrat untuk diakui itu terlihat jelas dan jadi memalukan..."

Sambil bicara, Yamano menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Nanti juga akan terbiasa."

"Orang yang menulis lirik 'Hoshi e' bicara begitu jadi terasa meyakinkan ya..."

"Diam kau."

Sambil batuk-batuk dengan keras, aku melanjutkan pembicaraan.

"Jadi, kalau itu artinya bersinar, menurutmu kau harus berubah seperti apa?"

"Seperti yang Senpai bilang, menjadi manusia yang punya empati?"

"Yah, kalau kau sudah bisa melakukan itu, kemungkinan besar kau akan bisa bersinar."

"Kalau begitu, aku tinggal menulis itu jadi lirik!"

"Tapi, apa sih artinya punya empati itu?"

"......Artinya bisa bersikap baik kepada orang lain?"

"Bagaimana caranya agar bisa bersikap baik kepada orang lain?"

"Dengan memikirkan perasaan orang lain...?"

"Apa sehari-hari Yamano hidup dengan sering memikirkan perasaan orang lain?"

"......Tidak."

"Bagaimana caranya agar bisa memikirkan perasaan orang lain?"

Saat kami terus saling melemparkan pertanyaan, ekspresi Yamano mulai berubah. Dia menyipitkan mata dan menatap ke luar jendela. Dia pasti sedang menoleh ke belakang, ke arah dirinya yang dulu.

"......Mungkin dengan melihat lebih baik? Ke sekeliling?"

Jawaban yang disimpulkan Yamano mendekati apa yang kupikirkan.

"Benar juga."

Artinya, memiliki ketertarikan pada orang-orang di sekitar diri sendiri. Aku pernah mengatakan hal yang sama pada Yamano sebelumnya. Tapi saat itu, kata-kataku tidak menyentuhnya.

"......Aku akan mencoba memikirkan kata-kata Senpai dengan lebih baik."

Yamano yang sekarang mulai meragukan cara hidupnya sendiri. Dia mulai mempertanyakan apakah itu benar atau salah. Karena itulah, kata-kataku menyentuhnya.

"Semoga kau bisa menulis lirik yang bagus."

Dan aku berdoa agar kau bisa mendapatkan hari-hari di mana kau bisa berubah dan menyukai dirimu sendiri.

Hanya sejauh ini yang bisa kulakukan.

Meski penasaran, aku tidak mungkin pergi melihat ke kelas anak kelas satu. Sisanya bergantung pada Yamano. Aku tahu itu. Tapi, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Adakah lagi yang bisa kulakukan?

Sambil memikirkan hal itu, aku berjalan melintasi halaman tengah di jam istirahat.

"Ada apa, Haibara?"

Saat sedang merapikan pikiran sambil berjalan, seseorang memanggilku. Saat menoleh, yang kulihat adalah Iwano-senpai. Iwano-senpai sedang memakan bekal di bangku yang terkena sinar matahari.

"I-Iwano-senpai! Senang bertemu Anda lagi."

Saat aku menyapa dengan terburu-buru, Iwano-senpai mengunyah bekalnya sejenak, lalu,

"Duduklah."

Dia menyuruhku duduk di sebelahnya, jadi aku menurutinya.

"Lama tidak bertemu. Syukurlah kau terlihat sehat."

"Begitu pula dengan Anda, Senpai. Bagaimana persiapan ujian masuknya?"

"Lancar. Hasil try-out kemarin dapat B. Aku harus lebih berusaha lagi."

"......Kalau dapat B di waktu seperti ini, bukannya itu sangat bagus ya?"

"Guru juga bilang begitu. Tapi, kau tahu kan kalau nilaiku bisa turun kalau aku lengah."

Dia orang yang sangat serius, bahkan sampai pada tingkat yang kaku.

"Meskipun begitu, istirahat itu perlu. Jadi, aku bisa mendengarkan ceritamu."

Sambil melahap bekalnya dengan cepat, Iwano-senpai bicara.

"Apa Haibara sudah makan siang?"

"Sudah. Tadi baru saja dari kantin."

"Begitu. Baguslah."

Iwano-senpai meletakkan kotak bekalnya yang sudah kosong dalam sekejap ke samping, lalu bergumam.

"Aku dengar dari Hondou kalau kalian sudah tampil di festival. Sepertinya kalian berjuang dengan keras."

"Yah, ada banyak hal yang terjadi sih..."

Mendengar kata-kata Iwano-senpai, aku tersenyum pahit.

"Apa yang terjadi? Kalau tidak keberatan, ceritakan padaku."

Ini masalah yang agak sensitif, tapi aku tidak punya keraguan sedikit pun untuk menceritakannya pada Iwano-senpai.

Aku pun menceritakan kronologinya secara singkat. Setelah aku selesai bercerita, Iwano-senpai mengelus dagunya sambil berkata "Hm".

"Perselisihan antarmanusia akibat perbedaan teknis dan perbedaan kesadaran, ya. Itu masalah band yang umum terjadi."

Tentu saja kalau dibilang begitu, terdengar seperti hal yang biasa.

"Apa pun itu, syukurlah kalau sudah selesai. Beruntung tidak ada hubungan asmara yang campur aduk di dalamnya."

Iwano-senpai menatap ke kejauhan dengan tatapan yang entah kenapa terasa samar.

Sepertinya dia pernah berhadapan dengan masalah band yang melibatkan urusan asmara...

"Drummer yang menggantikanku sepertinya memang pembuat masalah."

"Begitulah. Yah, dia bukan orang jahat sih."

Iwano-senpai menatapku yang menjawab begitu, lalu tersenyum tipis.

"Kalau ada yang bisa kukatakan, aku mengerti kenapa kau merasa terganggu dengan kemampuan Shinohara di bagian ritme. Karena drum dan bas adalah ritme yang menyokong fondasi lagu."

Memang, aku sudah berkali-kali melihat momen di mana Iwano-senpai mengoreksi Naru. Karena arahannya dilakukan dengan sangat sopan, Naru mungkin tidak merasa disalahkan.

"Aku selalu berusaha menjaga cara bicaraku. Karena wajahku yang seperti ini saja sudah membuat orang ketakutan."

Memang benar, kata-kata Iwano-senpai selalu terasa sopan. Karena jarang bicara, dia benar-benar memilih katanya dengan hati-hati.

"Dengan melampaui batasan klub musik ringan, tuntutan kemampuan teknisnya mungkin jauh lebih tinggi daripada saat dia masih bersamaku. Itulah sebabnya kritik tajam dari Yamano sering terjadi."

"Begitu ya... akhir-akhir ini semuanya serba sulit."

"Tapi, kau sendiri yang memutuskan untuk menantang tembok sulit itu, kan?"

Sambil mengangguk, aku menatap gedung sekolah.

Karena ini halaman tengah, aku bisa melihat lorong kelas satu dari balik jendela. Iwano-senpai menatapku dengan tatapan yang lembut.

"Apa kau mengkhawatirkan keadaan Yamano di sekolah?"

"......Iya. Aku khawatir apa dia bisa bergaul dengan baik, aku benar-benar cemas..."




"Haha, kau seperti orang tua saja."

Jika ini adalah perasaan orang tua, kupikir membesarkan anak itu berat sekali, ya. Iwano-senpai menepuk punggungku dengan ringan.

"Tenanglah, Haibara. Dari apa yang kudengar, kau sudah menjalankan peranmu sebagai Senpai dengan baik."

Kira-kira, sudah berapa kali orang ini menjalani hidupnya? Meskipun secara usia mental seharusnya aku lebih tua darinya, aku sama sekali tidak merasa demikian.

"Selebihnya, percayalah pada dirinya."

Entah mengapa, rasa tenang tiba-tiba muncul.

"Kalau kau terus-menerus memberikan perintah, dia bisa menjadi terlalu manja, kan?"

"……Benar juga."

Aku sudah melakukan apa yang bisa kulakukan. Jika begitu, mempercayai kouhai adalah tugas seorang Senpai.

Seminggu kemudian berlalu. Saat ini adalah jam istirahat siang. Di bordes tangga yang sepi,

"Aku sudah paham ceritanya, tapi……"

Sakata-kun, murid kelas satu dari klub musik ringan, berkata.

"Lalu, kenapa Anda memanggilku lagi?"

"Karena aku penasaran bangeeet!"

Aku meratap. Karena terlalu penasaran, aku memanggil Sakata-kun lagi. Aku sudah paham apa yang dikatakan Iwano-senpai. Mempercayai Yamano juga merupakan tugas penting. Tapi, itu satu hal, dan... situasi saat ini benar-benar membuatku penasaran!

"Hah. Yamano juga mendapatkan Senpai yang baik, ya."

Melihatku yang sudah membongkar semua situasi itu, Sakata-kun tertawa geli.

"Aku sebenarnya cukup mengagumi Haibara-senpai, lho? Sebelum masuk sekolah, aku melihat video festival budaya dan merasa itu keren sekali. Aku ingin mencoba bermain gitar juga, makanya aku masuk klub musik ringan."

"Maaf ya, kenyataannya malah seperti ini……"

Sekali lagi, aku mengecewakan seorang kouhai.

"Yah, memang benar sih, rasanya agak berbeda dari yang kubayangkan……"

Sakata-kun tertawa senang, lalu melanjutkan kalimatnya.

"Tapi, aku tidak benci hal seperti itu."

……Entahlah, tapi sepertinya aku tidak mengecewakannya.

"Kalau dia, pasti akan baik-baik saja."

Sakata-kun turun sedikit dari bordes tangga dan mengintip ke arah lorong di depan kelas satu. Lalu, sambil bergumam "pas sekali", dia menunjuk ke arah lorong.

Aku pun turun dan ikut mengintip. Di depan kelas 1-3, sekelompok siswi sedang berkumpul. Salah satu di antaranya adalah Yamano.

"Sepertinya dia sudah berbaikan dengan Matsui-san dan teman-temannya."

Di tengah kerumunan itu, Yamano sedang tertawa.

"Tadi kan Senpai bilang dia sempat dikucilkan, ya? Tapi belakangan ini dia jadi sering bertanya tentang teman sekelas, dan sekarang rasanya dia jadi disayangi."

Sambil aku melihat pemandangan itu, Sakata-kun melanjutkan. Keinginannya bertanya tentang teman sekelas pasti karena tugas dariku.

"……Syukurlah."

Apa pun itu, aku merasa lega. Dengan ini, masalah pertemanan sudah terselesaikan. Tinggal masalah dia yang bilang ingin punya pacar tampan, ya.

Yah, itu urusan nanti. Lagipula baru satu bulan sejak masuk sekolah.

Saat aku menghela napas lega,

"Tapi…… kalau dilihat-lihat, Yamano itu manis juga, ya."

Sakata-kun menggumamkan hal itu. Aku menatap Sakata-kun.

Tatapannya saat melihat Yamano tampak mengandung kasih sayang. Dan sialnya, dia juga tampan.

"Ja-jangan harap kau bisa memiliki Yamano kita!?"

"Eh, ehhh!? Haibara-senpai ini posisinya sebagai apa!?"

Hanya sebagai Senpai biasa.

Hari ini tidak ada latihan klub. Artinya, aku kerja paruh waktu.

Meskipun hari-hari sibuk dengan sedikit libur, aku merasa puas. Saat sedang berjalan menuju kafe Mares di depan stasiun,

"Ano, Senpai!"

Mungkin dia mencariku, Yamano berlari ke arahku.

"Ada apa, Yamano?"

"Dengar, Senpai! Aku sudah bisa berbaikan!"

Yamano menceritakan bagaimana dia berbaikan dengan Matsui-san dengan ekspresi yang benar-benar bahagia dari lubuk hatinya.

"Itu baguslah."

Sepertinya dia sudah kembali bersama kelompok Matsui-san.

……Yah, aku sudah tahu karena aku melihatnya bersama Sakata-kun dari lorong tadi. Tapi kalau aku bilang begitu, pasti akan dianggap menjijikkan, jadi aku pura-pura tidak tahu.

"Aku sadar. Ternyata selama ini aku…… meremehkan semua orang."

Yamano berbisik pelan. Saat aku menoleh karena terkejut, mata kami bertemu. Sepasang mata yang tampak seolah menembus isi hatiku menatapku.

"Akhirnya aku mengerti kalau Senpai mencoba membuatku menyadarinya."

Sepertinya, Yamano berhasil tumbuh dengan kekuatannya sendiri.

"Karena itu, aku berusaha untuk menghadapi satu per satu. Termasuk Matsui-san."

Dia jauh lebih hebat dariku, yang di kehidupan pertama bahkan tidak menyadari kekurangan itu selama tiga tahun.

"Setelah itu, aku bisa berbaikan secara alami. Saat aku meminta maaf karena terlalu kasar, Matsui-san juga meminta maaf padaku. Dia bilang dia tidak peka karena aku berada di klub musik ringan. Kupikir tidak begitu, sih…… tapi aku senang karena Matsui-san juga memikirkan hal itu."

Penyesalan dari kehidupan pertama masih tertanam di kepalaku. Namun, jika pengalamanku bisa sedikit saja membantu Yamano, maka kegagalan itu tidak sia-sia.

"Baguslah kalau begitu. Aku lega."

Saat aku menjawab begitu, Yamano menatapku dengan tatapan seolah ingin mengatakan sesuatu.

"Apa ada hal lain?"

"Eto, aku mencoba membuat lirik, tapi……"

Meski tampak malu, dia menunjukkan ponselnya padaku. Sambil berjalan bersama, aku menerima ponsel itu. Di bagian atas tertulis "Stray Luminous".

"Stray, Luminous?"

"Katanya artinya seperti orang yang tersesat namun bercahaya."

Di lirik itu, perasaan Yamano yang ingin berubah tertulis dengan gamblang.

……Saat hidup terasa berat, dia ditopang olehku, ada rasa syukur, keinginan untuk menjadi seperti diriku yang penuh kekaguman, semua tersampaikan begitu saja.

Dan dia juga menulis bahwa dia berubah sedikit demi sedikit berkat diriku.

Dilihat dari sudut mana pun, ini adalah lagu cinta.

Aku sadar betul kalau wajahku sekarang panas sekali. Yamano yang berjalan di sampingku menatap ke arah jalan raya seolah tidak terjadi apa-apa, tapi telinganya merah.

"……Bu-bukankah ini bagus?"

Pada akhirnya, hanya itu yang bisa kukatakan.

"Be-begitu ya! Terima kasih banyak!"

"Ahaha," Yamano tertawa untuk menutupi rasa malunya yang kentara.

"Perasaannya, anu…… tersampaikan dengan…… lugas……"

"……Te-tersampaikan ya……?"

"Yah, lumayan……"

"Be-begitukah……"

"……"

"……"

Canggung.

Aku tidak menyangka Yamano menyimpan perasaan seberat ini padaku! Aku juga tidak menyangka akan mengetahuinya dari lirik lagu baru!

"Ya-ya sudah, aku akan melapor pada Serika-senpai kalau liriknya sudah jadi!"

……Apa benar tidak apa-apa begini? Aku sempat ragu, tapi Yamano tampak seperti tidak bisa mundur lagi. Dan ini memang hal yang benar-benar ingin dia sampaikan.

Apalagi, aku tidak punya hak untuk memprotes lirik ini karena aku sendiri pernah menulis lagu "Hoshi e".

"Ya-ya sudah, Senpai mau kerja, kan!? Sampai jumpa besok!"

Mungkin karena tidak tahan dengan suasananya, Yamano berlari menjauh dengan wajah merah padam.

"O-oke……"

Meski diperlihatkan lirik seperti ini, kau suruh aku harus bagaimana? Entah kenapa, aku merasa tiba-tiba mengerti perasaan Hihari.

Keesokan harinya sepulang sekolah, kami berkumpul di ruang musik kedua. Langsung pada intinya, Serika berkata pada Yamano.

"Saya, aku sudah lihat liriknya."

"Ba-bagaimana menurutmu!?"

"Perasaannya tersampaikan, menurutku bagus."

"Syukurlah~"

Yamano menghela napas lega.

"Tapi."

Serika menatapku sebelum kembali menatap Yamano.

"Natsuki punya kekasih, lho?"

Wajah Yamano yang diingatkan begitu memerah dengan cepat.

"Bu-bukan dalam arti yang seperti itu!"

……Sepertinya, lirik dengan perasaan yang berat itu tidak mengandung arti romantis. Syukurlah. Jujur saja, aku sempat curiga. Soalnya, itu kan lagu cinta!

"Intinya, itu hanya rasa suka sebagai seorang Senpai!"

"Begitu ya. Aku sempat khawatir akan ada masalah patah hati di dalam band."

Serika sendiri juga sempat berkeringat dingin. Yah, masalah ancaman pengunduran diri anggota baru saja terjadi beberapa hari lalu. Pasti dia merasa cemas.

"Yamano-san."

Naru menatap Yamano dengan tatapan simpati.

"Jangan berkecil hati."

"Jangan asal memutuskan kalau aku ditolak!"

Yamano memukul-mukul punggung Naru. Baguslah kalau mereka akrab.

"Bukan apa-apa, aku cuma penasaran dari tadi, Yamano-san memanggil Natsuki saja tanpa embel-embel apa pun, ya. Padahal orang lain selalu pakai nama. Kenapa begitu?"

……Dia membahas hal itu, ya. Yah, aku juga sempat sedikit penasaran.

"Itu, aku juga mikir begitu. Rasanya cuma Natsuki yang diperlakukan secara spesial."

"Benar kan! Kenapa tidak ada yang menyinggung hal itu dari tadi?"

Yamano berdiri terpaku dengan wajah merah padam.

"……Kenapa"

Dia mulai menangis terisak.

"Kenapa kalian bilang begitu!?"

"A-ah. Shinohara-kun, kau membuat Saya menangis."

"Itu salahku!? Tadi bukannya Hondou-san ada di pihakku!?"

"……Naru. Membully kouhai itu tidak baik."

"Bahkan Natsuki juga!? Aku cuma penasaran biasa!"

Tak lama kemudian, Yamano bergumam.

"……Karena bagiku, Senpai nomor satu adalah Haibara-senpai yang selalu ada di sisiku……"

Hening.

Suasana jadi terasa sangat canggung.

"Ke-kenapa kalian tidak bilang apa-apa!?"

"Itu, aku merasa perasaanmu murni sekali……"

Naru membuang muka dengan canggung. Apakah aku harus mengatakan sesuatu? Komentarnya terlalu sulit, bukan?

"Eeh, itu…… Yamano. Terima kasih?"

"Lagipula, aku tidak melakukan hal yang perlu disyukuri, sih……"

Yamano tampak malu-malu. Tapi tampaknya dia tidak keberatan juga.

"Ngomong-ngomong, judul lagu ini bagus."

Di sisi lain, Serika berkata sambil menunjuk "Stray Luminous". Dia terlalu santai.

"Ini, dijadikan nama band saja bagaimana?"

"Eh!?"

Yamano mengeluarkan suara yang aneh.

"Lagu debut dan nama band sama, itu keren, kan."

Padahal kami belum debut, dan tidak ada rencana untuk debut. Yah, sebenarnya banyak kasus di mana lagu pertama sama dengan nama band.

"Hal seperti ini tergantung feeling. Bagaimana menurut kalian?"

"Bukan ide buruk, kan? Keren. Dan fakta bahwa kita dulunya orang yang tersesat itu nyata."

Aku mengangguk menanggapi Serika. Serika, Naru, Yamano, dan aku, kami semua punya masa lalu sebagai orang yang tersesat. Dan kami semua punya keinginan untuk bersinar.

"Aku juga setuju. Lebih baik daripada Aoharu Rocket."

Jangan membandingkannya dengan ideku terus! Itu sifat yang buruk.

"Singkatannya 'Strumi', aku suka karena agak imut."

Serika mengangguk-angguk seolah sedang mempertimbangkannya kembali.

"Be-benar tidak apa-apa? Dengan ideku……"

Yamano tampak panik melihat kami.

"Bukankah nama band sebaiknya dipikirkan oleh para Senpai……"

"Kenapa kau malah berusaha memisah-misahkannya seperti itu?"

Yang mengatakan itu pada Yamano adalah Naru. Sambil terlihat agak malu, Naru melanjutkan.

"Yamano-san, bukankah kau rekan kami?"

"Shinohara-senpai……"

"Jika itu nama band dari pendapat rekan, aku tidak punya keluhan sama sekali."

Hei, tadi kau secara terang-terangan menjatuhkan ide Aoharu Rocket milikku, kan?

Entah karena tidak ada yang menyadari tatapan bisuku atau tidak, suasananya jadi terasa sangat akrab.

"Baiklah, kalau begitu kita gunakan itu. Mulai sekarang kita adalah Stray Luminous."

Tatapan Serika beralih padaku.

"Iya, iya. Aku yang akan mengurus pemberitahuan di media sosial."

Perubahan nama band dari Mishulef ke Strumi. Lalu, soal lagu baru itu.

"Soal lagu, nanti akan kita sesuaikan di sini agar pas dengan liriknya."

"Ah, liriknya juga masih bisa diubah kok, tolong bilang ya!"

"Melakukan tindakan tidak manusiawi seperti mengubah surat cinta Saya itu tidak mungkin."

"Makanya, bukan surat cinta!"

Rahasia terbongkar semua itu adalah salah satu kekurangan dari mencurahkan perasaan ke dalam lirik.

Serika yang sedang menjahili Yamano tiba-tiba melihat jam dan bertepuk tangan untuk mengalihkan suasana.

"—Nah, ayo kita mulai latihan lagu baru. Kalau ada ide seperti 'lebih baik begini', katakan saja. Aku akan menyesuaikan aransemen musiknya agar pas dengan liriknya."

Suasana berubah. Obrolan tidak penting yang hangat menghilang, dan latihan pun dimulai. Benar, hal terpenting untuk melakukannya dengan serius adalah peralihan suasana seperti ini.

Kalau suasananya selalu santai, jadinya malah tidak produktif dan melelahkan. Lakukan saat harus melakukannya, istirahat saat harus istirahat. Akhir-akhir ini kami selalu memegang prinsip itu.

"Tujuan berikutnya adalah acara konser klub musik ringan. Karena dua minggu lagi, aku ingin lagu ini selesai sebelum itu."

Konser rutin klub musik ringan yang diadakan dua sampai tiga bulan sekali. Penontonnya hampir seluruhnya adalah anggota klub musik ringan dan teman-teman mereka.

Jika dibandingkan dengan konser live fes yang kami ikuti, skalanya jauh lebih kecil.

Konser diadakan di ruang klub musik ringan dan penonton luar tidak diizinkan masuk. Jumlahnya paling banyak mungkin sekitar empat puluh orang.

Meski begitu, konser tetaplah konser. Kami harus menjadikannya awal yang layak bagi Stray Luminous.

—Dan dua minggu pun berlalu.

Tak terasa, hari pelaksanaan acara konser klub musik ringan pun tiba. Waktunya adalah Sabtu siang. Sepanjang pagi, kami disibukkan dengan persiapan peralatan dan tetek bengek lainnya.

Posisi kami, Stray Luminous, sudah tentu ditempatkan sebagai penampil terakhir. Wah, kami benar-benar diperlakukan sebagai bintang utama, ya.

Selagi kami menyemangati band anak kelas satu di awal acara, kami juga harus menjalankan tugas sebagai kru panggung.

"Natsu, kami datang!"

Di tengah kesibukan itu, Uta dan Miori datang ke ruang klub.

"Oh, kalian sudah sampai?"

"Kami tadi ada kegiatan klub, jadi baru saja selesai!"

Keduanya masih memakai seragam, tapi mungkin karena baru berganti baju, mereka mengalungkan handuk di leher.

Tercium aroma deodoran. Meski baru pertengahan Mei, cuaca mulai terasa semakin gerah, ya.

"Aku cuma datang untuk melihat Serika. Soal dirimu, tidak penting."

Miori mulai berakting dengan karakter tsundere misteriusnya. Belakangan ini, bukannya dia makin melantur?

"Yo."

"Halo, semua berkumpul ya."

Tatsuya dan Reita pun datang ke ruang klub. Sepertinya ini waktu yang tepat bagi mereka yang tadi pagi ada kegiatan klub untuk berkumpul setelah makan siang.

Teman-teman di luar lingkaran pertemananku pun datang satu per satu, memenuhi ruang konser.

"Natsuki-kun!"

"Halo, Haibara-kun."

Tak lama kemudian, Hihari dan Nanase pun tiba. Meskipun mereka tidak punya kegiatan klub, mereka sengaja datang ke sekolah. Meski aku sudah tahu sebelumnya, aku tetap merasa senang.

"Wah, ternyata semua orang datang, ya."

"Yah, toh kami memang harus ke sekolah karena ada kegiatan klub, jadi sekalian saja."

"Aku datang untuk mendukung Natsuki-kun!"

Karena sedang jeda antar band, aku berkumpul di luar ruang klub bersama Tatsuya dan yang lainnya untuk mengobrol.

"Ada apa, Natsuki? Kau terlihat senyum-senyum sendiri."

"Bukan apa-apa... cuma, aku senang karena kalian semua datang."

Meski sekarang sudah kelas dua dan kelas kami terpisah, bisa berkumpul seperti ini rasanya luar biasa. Agak memalukan untuk diakui, tapi aku benar-benar terharu.

"Natsu, kau ini selalu saja mengatakan hal-hal yang memalukan."

"Karena dia memang orang seperti itu, jadi mau bagaimana lagi. Ah, bukan 'menyebalkan', tapi... 'klasik anak muda' ya."

Reita mengangkat bahunya melihat Uta yang sedikit malu-malu.

"Memangnya ada bedanya kau ganti istilah begitu?"

Reita hanya tersenyum. Jangan bilang dia pikir dengan tersenyum, dia bisa mengalihkan perhatian?

"Natsuki, sebentar lagi giliran kita."

Serika mendekat ke arahku yang sedang mengobrol. Saat mengintip ke dalam ruang klub, band sebelum kami, 'Clock Ups', sudah mulai tampil.

"Semangat, ya!"

Hihari mengepalkan tangannya di depan dada untuk menyemangatiku. Cute dan cerdik sekali.

"Ah."

Aku mengangguk, lalu meninggalkan kerumunan bersama Serika.

"Nah, nantikan penampilan kami, ya."

Serika melambaikan tangannya dengan anggun ke arah semua orang.

"Penampilan kami kali ini benar-benar dalam kondisi terbaik."

Sepertinya kami memang sedang berada dalam performa puncak.

Meskipun jadi penampil terakhir, karena jumlah band yang tampil hanya enam, giliran kami pun datang lebih cepat dari yang dibayangkan.

Selain itu, band anak kelas satu yang tampil di awal baru berlatih selama sebulan, jadi mereka hanya membawakan satu lagu. Hasilnya memang masih... begitulah, tapi pengalaman itu penting, jadi aku berharap mereka tetap semangat.

Saat kami berdiri di atas panggung, ruang klub musik ringan sudah padat sesak oleh penonton.

Sepertinya kami cukup dinantikan. Tekanan dari penonton yang berkerumun sedekat ini benar-benar kuat.

"Kami Mash Mash Leftovers yang sekarang berganti nama menjadi Stray Luminous."

Sembari memastikan volume mikrofon, aku memulai MC.

"Alasan kami berganti nama adalah karena ada perubahan personel setelah festival budaya tahun lalu."

Aku menyapu pandangan ke arah penonton. Barisan depan dipenuhi anggota klub musik ringan.

Di tengah, Hihari dan teman-temannya bergerombol. Lalu di barisan belakang, teman-teman Yamano—Matsui-san dan kelompoknya—juga datang.

"Menggantikan Iwano-senpai yang keluar untuk fokus ujian masuk universitas, junior kami, Yamano, telah bergabung."

Yamano memukul drum dengan semangat—da-da-da-dang!—tepat saat aku memperkenalkannya.

Tepuk tangan penonton bergemuruh. Dari barisan belakang, terdengar teriakan, "Saya, semangat!"

Yamano memutar stik drumnya dan tersenyum tipis.

"Pada bas, Shinohara Naru."

Naru memamerkan teknik slap bass yang tajam. Saat aku melacak arah pandangannya, ternyata Funayama-san sedang melambai padanya.

"Pada gitar, Hondou Serika."

Serika berimprovisasi dengan memainkan potongan lagu Whole Lotta Love dari Led Zeppelin. Setelah berhasil menghidupkan suasana, dia menunjuk ke arah barisan paling belakang.

Di sana, entah sejak kapan, Iwano-senpai sudah berdiri.

Iwano-senpai mengangkat jempolnya.

"Dan pada vokal, aku—Haibara Natsuki. Kami memulai kembali dengan formasi ini."

Setelah aku menyatakan hal itu, klub musik ringan memimpin tepuk tangan meriah.

"Lagu pertama, mari kita mulai. Ini lagu baru—'Stray Luminous'."

Karena mereka semua sudah bersusah payah datang, aku tidak akan membiarkan mereka pulang tanpa memberikan konser terbaik dan membuat mereka tersenyum.

Aku mengirimkan tatapan ke Serika, Naru, dan Yamano secara bergiliran. Yamano mengangguk dan memukul stik drumnya tiga kali.

Dengan musik terbaik yang diciptakan oleh Yamano dan Serika, kami akan mengubah dunia mereka semua.

—Waktu yang menyenangkan berlalu dalam sekejap.

"Saya! Penampilanmu tadi luar biasa sekali!"

"Be-benarkah!? Semuanya, terima kasih banyak!"

Yamano tampak dimanja oleh Matsui-san dan kelompoknya. Saat aku mengamati pemandangan itu sembari melipat tangan, Serika di sampingku berucap.

"Seperti orang tua saja."

"Entah kenapa, aku merasa mereka sudah seperti keluarga sendiri."

Saat aku menjawab begitu, Serika tersenyum tipis.

"Terima kasih, Natsuki."

"……Itu ucapan terima kasih untuk apa?"

"Band ini tidak hancur berkat kerja kerasmu, Natsuki."

"Yah, aku memang tidak ingin melepaskan tempat ini."

Band ini sudah menjadi salah satu tempat paling berharga bagiku.

Aku tidak berniat menyerah semudah itu.

Aku yakin, keempat orang ini adalah pilihan terbaik ke depannya.

"Konser yang bagus, ya."

Serika berkata dengan puas.

"Ini baru permulaan."

Hasil ini belum bisa disebut keajaiban.

"Ya, aku tahu."

Namun, aku merasakan pencapaian yang nyata. Kami benar-benar sedang melangkah maju.

"Perjalanan kita masih panjang."

"Mimpi kita adalah Nippon Budokan, ya."

"Bukankah itu terlalu besar?"

"Bukankah kau yang mengajariku kalau mimpi itu harus setinggi langit?"

Serika menyodorkan kepalan tangannya.

Tok.

Aku membenturkan kepalaku ke kepalan tangan Serika.

"Hei! Kenapa kalian berdua jadi terlihat emosional begitu!? Biarkan aku bergabung juga!"

Naru, yang tadinya sedang bermesraan dengan Funayama-san, berlari mendekat.

"Tidak ada yang sedang emosional, kok."

"Ya. Mungkin itu cuma perasaan Naru saja?"

"Eh!? Tadi kalian baru saja beradu kepalan tangan, kan!?"

"Bicara apa sih!? Aku juga mau ikut bergabung!"

Saat kami sedang beradu argumen, Yamano kembali bergabung. Setelah kami berempat asyik mengobrol, Ketua Klub, Kano-senpai, memanggil kami.

"Woi, Haibara! Klub musik ringan mau mengadakan pesta setelah ini, kalian mau ikut?"

Melihat semua orang mengangguk, aku mengangkat tangan sebagai tanda setuju.




"Tentu saja!"

Kami akan berusaha keras untuk kegiatan band kami dan menampilkan konser terbaik.

Dan kami akan berbagi kebahagiaan itu dengan rekan-rekan yang telah berjuang bersama.

Masa muda kami, hari ini pun, tetap penuh warna yang cerah.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close