Interlude 3
Putaran Pertama: Juli
Musim hujan telah
berakhir, musim panas pun tiba.
Sejak
pertengkaran kecil dengan Nagiura beberapa waktu lalu, suasana di antara kami
jadi sangat canggung.
Di dalam kelas
pun, aku jadi kehilangan teman bicara. Yah, sebenarnya masih ada kesempatan
untuk mengobrol dengan Hino atau Okajima, tapi biasanya aku selalu menempel
dengan Nagiura.
Nagiura
sendiri belakangan ini lebih sering mengobrol dengan Sakurada dan Shiratori.
Karena ketiga orang itu berasal dari SMP yang sama, agak sulit bagiku untuk
ikut masuk ke dalam obrolan mereka.
Mungkinkah,
jumlah teman yang benar-benar akrab denganku lebih sedikit daripada yang
kubayangkan?
Hubungan
pertemananku terasa dangkal dan luas. Saat SMP aku adalah seorang loner,
jadi dibandingkan waktu itu, kurasa keadaanku sudah jauh berubah. Namun, aku
ingin menambah teman dengan hubungan yang lebih mendalam.
Yah,
cepat atau lambat aku pasti bisa berbaikan dengan Nagiura. Kami kan berada di
klub basket yang sama.
Daripada
itu, sekarang aku benar-benar menginginkan seorang Lover. Kupikir, masa
muda yang penuh warna harus memiliki seorang kekasih.
Di kelas
ini ada banyak gadis manis, tapi tentu saja, orang yang kusukai adalah
Hoshimiya. Belakangan ini, kurasa atmosfer antara aku dan Hoshimiya sedang
bagus.
Setiap
kali aku mengajaknya bicara, dia selalu membalasnya dengan senyuman.
Liburan musim
panas akan segera tiba. Jika liburan sudah dimulai, mungkin untuk sementara
waktu aku tidak bisa bertemu dengan Hoshimiya. Jika aku bisa menjadi sepasang
kekasih sebelum liburan, aku bisa bertemu dengannya kapan pun.
……Baiklah. Aku
akan mengumpulkan keberanian dan menyatakan perasaan pada Hoshimiya.
Kurasakan
sekarang adalah saat yang tepat. Lagipula, sebagai seorang jock, aku
harus bertindak secara aktif.
*
Kesempatan untuk
menyatakan perasaan pun segera tiba.
Sepulang sekolah.
Saat sedang mengobrol dengan Hoshimiya di kelas, tanpa kusadari kami hanya
tinggal berdua.
Karena kami
mengobrol cukup lama, kurasa aku sudah telat untuk kegiatan klub.
"Anu,
Haihara-kun. Apa tidak apa-apa jika tidak ke klub?"
"Yah, tidak
masalah. Mengobrol dengan Hoshimiya jauh lebih menyenangkan."
"Ahaha…… aku
senang mendengarnya, tapi sebaiknya kamu cepat pergi ke sana."
Kegiatan klub
memang penting, tapi prioritas utamaku saat ini adalah menyatakan perasaan pada
Hoshimiya.
Aku memastikan
sekali lagi bahwa tidak ada orang lain di dalam kelas, lalu berbalik menghadap
Hoshimiya.
Angin
sepoi-sepoi yang hangat bertiup masuk dari jendela. Rambut berwarna flaxen
miliknya bergoyang lembut.
Sepasang
mata yang jernih bagaikan permata itu menatapku yang tiba-tiba terdiam dengan
penuh rasa penasaran.
"……Haihara-kun,
ada apa?"
Pada
Hoshimiya yang memiringkan kepalanya dengan manis, aku membulatkan tekad dan
mengulurkan tanganku.
"――Aku
menyukaimu, Hoshimiya. Maukah kamu menjadi kekasihku?"
Hoshimiya menatap
tanganku dengan wajah terkejut.
Setelah itu, dia
tersenyum dengan raut wajah yang sedikit kesulitan, lalu menundukkan kepalanya
dalam-dalam.
"……Maafkan
aku. Aku ingin kita tetap menjadi teman saja, Haihara-kun."
A……apa
maksudnya!?
Padahal kupikir
aku sudah mengumpulkan poin Favorability yang cukup banyak……
Melihatku yang
tertegun, Hoshimiya mengalihkan pandangannya dengan canggung lalu berkata.
"Ehm…… kalau
urusannya sudah selesai, aku pulang ya?"
"A, ah…… maaf. Tiba-tiba mengatakan hal seperti
ini."
"Itu, aku senang dengan perasaanmu. Sungguh, aku tidak
bohong. Tapi, maafkan aku."
"A, apa
karena ada orang lain yang kamu sukai?"
"Bukan
karena alasan itu, sih……"
Meski tidak ada
orang lain yang dia sukai, sepertinya aku tetap ditolak.
Dengan kata lain,
aku memang tidak punya harapan sama sekali.
……Kenapa akhirnya
jadi seperti ini?
"K, kalau
begitu…… sampai jumpa besok, ya?"
Melihatku
yang mematung, Hoshimiya berlari pergi seolah ingin melarikan diri.
Mungkinkah……
aku tidak terlalu disukai seperti yang kubayangkan selama ini?
*
Awalnya aku tidak merasakan apa pun saat ditolak, tapi
kesedihan itu perlahan meresap ke dalam diriku.
Rasanya semua motivasiku hilang. Memikirkan bahwa aku tidak
bisa berpacaran dengan Hoshimiya membuat segalanya jadi tidak penting.
Aku masuk
klub basket karena ingin populer. Jika aku tidak bisa populer di mata orang
yang kusukai, mungkin tidak masalah jika kali ini aku berhenti. Sambil berpikir
begitu, aku menjalani latihan klub dengan ogah-ogahan.
"Hei
Haihara! Apa yang kamu lakukan!? Fokuslah!"
Padahal hatiku
sedang terluka, aku malah dimarahi oleh para Senpai, yang membuat
semangatku semakin hancur.
"Natsuki.
Ada apa? Kamu adalah yang paling payah di sini, kalau tidak menunjukkan niat,
itu gawat tahu."
Nagiura
mendekat dan memberiku nasihat.
Aku tahu
betul hal itu, tapi tidak semudah itu untuk bisa langsung mengubah perasaanku.
Tanpa kusadari,
aku menghela napas panjang.
Nagiura menatapku
dengan ekspresi yang seolah tidak percaya.
"Kalau tidak
punya niat, berhenti saja."
Setelah itu,
Nagiura berbalik dan kembali berlatih.
Betapa dinginnya
orang itu. Seharusnya dia bisa menghibur temannya yang sedang patah hati.
Hari ini aku
tidak punya niat untuk latihan mandiri, jadi aku kembali ke ruang klub dari
gimnasium untuk berganti pakaian.
Saat
hendak memasuki ruang klub, terdengar suara dari dalam.
"Haihara
itu, dia sebenarnya kenapa sih?"
Itu adalah suara
Kijima-kun.
"Kalau cuma
payah sih tidak apa-apa, tapi hari ini dia bahkan tidak niat. Cepat suruh dia
berhenti saja."
"Mana bisa
begitu. Yanagishita-senpai masih melindunginya, kan."
"Yanagishita-senpai
juga cuma peduli dengan suasana klub, kan? Kita tidak butuh orang seperti dia."
Setelah
itu, komentar buruk dari teman-teman yang selama ini kuanggap rekan terus
berlanjut.
"Eh……?"
Aku tidak
jadi membuka pintu ruang klub.
Aku tidak
bisa berpikir apa-apa. Aku berdiri mematung dalam keadaan linglung.
Karena
biasanya aku selalu berada di gimnasium untuk latihan mandiri, mereka pasti
tidak menyangka aku akan kembali lebih awal.
Atau
mungkin, mereka memang tidak peduli kalau aku mendengarnya.
Di dalam
ruang klub, percakapan masih berlanjut dengan topik menjelek-jelekkan diriku.
Terdengar
langkah kaki dari belakang. Tanpa kusadari, Nagiura sudah berdiri di
belakangku.
Nagiura
mendorongku menjauh dari depan pintu dengan ekspresi tanpa emosi.
"Maaf,
tapi aku tidak bisa melindungimu lagi. Lagipula, aku sendiri sudah muak padamu."
Lalu,
Nagiura masuk ke dalam ruang klub.
Aku
terdiam di samping ruang klub untuk waktu yang lama, tidak bisa bergerak.
Memang
benar, hari ini aku tidak niat. Tapi, pasti bukan hanya itu saja. Pasti sudah lama mereka memendam
ketidakpuasan padaku. Jika tidak, cara bicara mereka tidak akan seperti itu.
Akhirnya
aku sadar. Sadar dengan terlambat. Atau mungkin, selama ini aku hanya berpura-pura tidak tahu.
――Debut SMA-ku telah gagal.
*
Mungkin selama
ini, aku sudah tidak waras.
Realita yang
akhirnya kembali menyadarkanku, menekan fakta bahwa aku telah gagal.
Dunia ini telah dicat dengan warna abu-abu. Segalanya yang
terlihat penuh warna, hanyalah ilusi semata.
"Lihat tuh,
si itu. Katanya dia baru saja ditolak Hoshimiya-san."
"Eh, serius?
Bukannya dia terlalu sadar diri ya?"
"Katanya dia
menyatakan perasaan di kelas sepulang sekolah. Nagasugawa bilang dia
melihatnya."
"Sudah
ketahuan banget kalau dia suka, tapi berani banget ya. Lucu banget."
Mereka tertawa
terkikik.
Mereka pasti tahu
kalau ghibahan itu terdengar olehku.
Sepertinya mereka
sudah tidak peduli lagi apakah aku mendengarnya atau tidak.
Keadaanku yang
sekarang, bahkan setelah dicampakkan oleh Nagiura, membuatku tidak punya tempat
lagi di kelas. Hasilnya jauh lebih menyedihkan daripada saat aku masih seorang loner
di SMP.
Ada beberapa hal
yang akhirnya kusadari setelah terlambat.
Sudah sejak
beberapa waktu lalu, hampir tidak ada orang yang mengajakku bicara.
Setiap kali aku
mengobrol dengan orang lain, selalu aku yang memulai pembicaraan.
Karena kupikir
itu perlu untuk menjadi seorang jock, aku tidak merasakan kejanggalan
apa pun.
Namun, jika itu
teman, seharusnya mereka juga mengajak bicara satu sama lain, kan?
Karena
tidak ada hal itu, berarti mereka tidak menganggapku sebagai teman.
Hino, Shiratori,
Okajima, Sakurada, Nanase, bahkan Hoshimiya juga sama.
Satu-satunya
orang yang mengajakku bicara atas kemauannya sendiri hanyalah Nagiura.
Itu pun cerita
sampai kemarin. Hari ini, bahkan saat tatapan kami bertemu, Nagiura tidak
menyapaku sama sekali.
Aku baru sadar
sekarang, bahwa satu-satunya temanku hanyalah Nagiura.
Lalu, penolakan
Hoshimiya menjadi pukulan telak yang membuat mereka terang-terangan mulai
membicarakanku di belakang.
……Tanpa kusadari,
apakah aku sebenci itu bagi mereka?
Awalnya tidak
begitu. Sekitar bulan April sampai Mei, seharusnya ada kesempatan di mana semua
orang mengajakku bicara. Tapi entah sejak kapan, tidak ada seorang pun yang
berada di sisiku lagi.
Sehari setelah
menyadari realita tersebut, liburan musim panas dimulai.
Klub basket putra
kalah di putaran ketiga kualifikasi, dan para Senpai pun pensiun.
Dengan perginya
Yanagishita-senpai, tidak ada lagi yang melindungiku.
Aku telah berubah
menjadi udara. Meski
begitu, tidak ada orang yang secara terang-terangan mencaci maki diriku.
Tepatnya,
Nagiura-lah yang menahan mereka.
Aku tidak
berhenti dari klub. Meski aku tahu orang-orang di sekitar tidak menginginkanku
di sana, aku ingin memenuhi harapan Yanagishita-senpai, dan aku pun perlahan
mulai menikmati basket sedikit demi sedikit.
Aku yang
gagal dalam debut SMA-ku tidak punya hal lain selain berusaha keras dalam
basket.
Jika aku
berhenti sekarang, sudah terbayang musim panas yang kosong tanpa melakukan apa
pun. Itu jauh lebih menakutkan. Setidaknya dengan melakukan kegiatan klub, aku
ingin membuat hari-hariku terasa lebih berisi.
Akhirnya
liburan musim panas berakhir, dan semester dua pun dimulai.
Aku
bahkan tidak lagi dibicarakan di belakang.
Mungkin
karena aku yang sudah menyadari posisiku tidak lagi melakukan apa-apa, sehingga
aku jadi tidak menarik lagi.
Aku
bahkan tidak lagi dijadikan bahan lelucon, dan benar-benar menjadi udara.
Kenapa, hal ini
bisa terjadi?
Setiap hari,
pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalaku.
*
Di tengah
menjalani masa muda yang kelabu, ada satu hal yang akhirnya kusadari.
Aku terus
memikirkan kembali debut SMA-ku dan terus merenung.
Kenapa aku gagal?
Apa yang salah?
Jawabannya
sederhana. Aku telah meremehkan orang lain.
Jika dipikir
sekarang, semua orang telah memberiku petunjuk. Bahwa aku tidak akan selamat
jika terus seperti ini.
Aku tidak
menerima nasihat-nasihat itu. Karena aku tidak sadar kalau itu adalah sebuah
nasihat.
Kenapa aku tidak
sadar? Karena aku tidak tertarik pada orang lain.
Aku hanya
tertarik pada kesuksesan debut SMA-ku sendiri.
Bagiku,
orang-orang di sekitarku hanyalah alat untuk membuat masa mudaku yang penuh
warna.
Bahkan Hoshimiya
pun tidak terkecuali.
Memang benar aku
menyukainya.
Tapi alasan aku
menyatakan perasaan padanya adalah karena aku menginginkan aksesori bernama
"kekasih".
Karena aku
berpikir bahwa kehidupan SMA yang gemerlap membutuhkan seorang kekasih sebagai
syarat mutlak.
Aku hanya
berpikir untuk menyamar menjadi jock, dan tidak melihat orang-orang di
sekitarku.
Mereka semua
melihat diriku yang sebenarnya dengan sangat jelas.
Itulah sebabnya
mereka perlahan sadar akan hakikat diriku dan menjauh dariku.
Aku tahu.
Semuanya adalah kesalahanku. Awalnya berjalan dengan baik. Tidak, itu hanya terlihat berjalan dengan
baik. Karena itulah aku jadi
besar kepala. Akibatnya, semuanya runtuh berantakan.
Momen menentukan
yang menunjukkan hal itu kepadaku, masih bisa kuingat dengan jelas hingga
sekarang.
Aku sungguh
bodoh. Hanya itu.
Oleh karena itu,
setelah kejadian tersebut, aku hanya bisa bertindak dengan sangat hati-hati.
Namun, aku
belajar bahwa mendapatkan kembali kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit
daripada mendapatkan kepercayaan itu sendiri.
Pada akhirnya,
masa muda yang penuh warna hanyalah mimpi di siang bolong, dan masa SMA-ku
berakhir dalam warna kelabu.
Penyesalan itu,
terus menghantuiku hingga sekarang.
Pasti di masa depan pun, aku akan terus menghantuinya sampai aku mati.



Post a Comment