NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 9 Interlude III

Interlude 3

Putaran Pertama: Juli


Musim hujan telah berakhir, musim panas pun tiba.

Sejak pertengkaran kecil dengan Nagiura beberapa waktu lalu, suasana di antara kami jadi sangat canggung.

Di dalam kelas pun, aku jadi kehilangan teman bicara. Yah, sebenarnya masih ada kesempatan untuk mengobrol dengan Hino atau Okajima, tapi biasanya aku selalu menempel dengan Nagiura.

Nagiura sendiri belakangan ini lebih sering mengobrol dengan Sakurada dan Shiratori. Karena ketiga orang itu berasal dari SMP yang sama, agak sulit bagiku untuk ikut masuk ke dalam obrolan mereka.

Mungkinkah, jumlah teman yang benar-benar akrab denganku lebih sedikit daripada yang kubayangkan?

Hubungan pertemananku terasa dangkal dan luas. Saat SMP aku adalah seorang loner, jadi dibandingkan waktu itu, kurasa keadaanku sudah jauh berubah. Namun, aku ingin menambah teman dengan hubungan yang lebih mendalam.

Yah, cepat atau lambat aku pasti bisa berbaikan dengan Nagiura. Kami kan berada di klub basket yang sama.

Daripada itu, sekarang aku benar-benar menginginkan seorang Lover. Kupikir, masa muda yang penuh warna harus memiliki seorang kekasih.

Di kelas ini ada banyak gadis manis, tapi tentu saja, orang yang kusukai adalah Hoshimiya. Belakangan ini, kurasa atmosfer antara aku dan Hoshimiya sedang bagus.

Setiap kali aku mengajaknya bicara, dia selalu membalasnya dengan senyuman.

Liburan musim panas akan segera tiba. Jika liburan sudah dimulai, mungkin untuk sementara waktu aku tidak bisa bertemu dengan Hoshimiya. Jika aku bisa menjadi sepasang kekasih sebelum liburan, aku bisa bertemu dengannya kapan pun.

……Baiklah. Aku akan mengumpulkan keberanian dan menyatakan perasaan pada Hoshimiya.

Kurasakan sekarang adalah saat yang tepat. Lagipula, sebagai seorang jock, aku harus bertindak secara aktif.

Kesempatan untuk menyatakan perasaan pun segera tiba.

Sepulang sekolah. Saat sedang mengobrol dengan Hoshimiya di kelas, tanpa kusadari kami hanya tinggal berdua.

Karena kami mengobrol cukup lama, kurasa aku sudah telat untuk kegiatan klub.

"Anu, Haihara-kun. Apa tidak apa-apa jika tidak ke klub?"

"Yah, tidak masalah. Mengobrol dengan Hoshimiya jauh lebih menyenangkan."

"Ahaha…… aku senang mendengarnya, tapi sebaiknya kamu cepat pergi ke sana."

Kegiatan klub memang penting, tapi prioritas utamaku saat ini adalah menyatakan perasaan pada Hoshimiya.

Aku memastikan sekali lagi bahwa tidak ada orang lain di dalam kelas, lalu berbalik menghadap Hoshimiya.

Angin sepoi-sepoi yang hangat bertiup masuk dari jendela. Rambut berwarna flaxen miliknya bergoyang lembut.

Sepasang mata yang jernih bagaikan permata itu menatapku yang tiba-tiba terdiam dengan penuh rasa penasaran.

"……Haihara-kun, ada apa?"

Pada Hoshimiya yang memiringkan kepalanya dengan manis, aku membulatkan tekad dan mengulurkan tanganku.

"――Aku menyukaimu, Hoshimiya. Maukah kamu menjadi kekasihku?"

Hoshimiya menatap tanganku dengan wajah terkejut.

Setelah itu, dia tersenyum dengan raut wajah yang sedikit kesulitan, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"……Maafkan aku. Aku ingin kita tetap menjadi teman saja, Haihara-kun."

A……apa maksudnya!?

Padahal kupikir aku sudah mengumpulkan poin Favorability yang cukup banyak……

Melihatku yang tertegun, Hoshimiya mengalihkan pandangannya dengan canggung lalu berkata.

"Ehm…… kalau urusannya sudah selesai, aku pulang ya?"

"A, ah…… maaf. Tiba-tiba mengatakan hal seperti ini."

"Itu, aku senang dengan perasaanmu. Sungguh, aku tidak bohong. Tapi, maafkan aku."

"A, apa karena ada orang lain yang kamu sukai?"

"Bukan karena alasan itu, sih……"

Meski tidak ada orang lain yang dia sukai, sepertinya aku tetap ditolak.

Dengan kata lain, aku memang tidak punya harapan sama sekali.

……Kenapa akhirnya jadi seperti ini?

"K, kalau begitu…… sampai jumpa besok, ya?"

Melihatku yang mematung, Hoshimiya berlari pergi seolah ingin melarikan diri.

Mungkinkah…… aku tidak terlalu disukai seperti yang kubayangkan selama ini?

Awalnya aku tidak merasakan apa pun saat ditolak, tapi kesedihan itu perlahan meresap ke dalam diriku.

Rasanya semua motivasiku hilang. Memikirkan bahwa aku tidak bisa berpacaran dengan Hoshimiya membuat segalanya jadi tidak penting.

Aku masuk klub basket karena ingin populer. Jika aku tidak bisa populer di mata orang yang kusukai, mungkin tidak masalah jika kali ini aku berhenti. Sambil berpikir begitu, aku menjalani latihan klub dengan ogah-ogahan.

"Hei Haihara! Apa yang kamu lakukan!? Fokuslah!"

Padahal hatiku sedang terluka, aku malah dimarahi oleh para Senpai, yang membuat semangatku semakin hancur.

"Natsuki. Ada apa? Kamu adalah yang paling payah di sini, kalau tidak menunjukkan niat, itu gawat tahu."

Nagiura mendekat dan memberiku nasihat.

Aku tahu betul hal itu, tapi tidak semudah itu untuk bisa langsung mengubah perasaanku.

Tanpa kusadari, aku menghela napas panjang.

Nagiura menatapku dengan ekspresi yang seolah tidak percaya.

"Kalau tidak punya niat, berhenti saja."

Setelah itu, Nagiura berbalik dan kembali berlatih.

Betapa dinginnya orang itu. Seharusnya dia bisa menghibur temannya yang sedang patah hati.

Hari ini aku tidak punya niat untuk latihan mandiri, jadi aku kembali ke ruang klub dari gimnasium untuk berganti pakaian.

Saat hendak memasuki ruang klub, terdengar suara dari dalam.

"Haihara itu, dia sebenarnya kenapa sih?"

Itu adalah suara Kijima-kun.

"Kalau cuma payah sih tidak apa-apa, tapi hari ini dia bahkan tidak niat. Cepat suruh dia berhenti saja."

"Mana bisa begitu. Yanagishita-senpai masih melindunginya, kan."

"Yanagishita-senpai juga cuma peduli dengan suasana klub, kan? Kita tidak butuh orang seperti dia."

Setelah itu, komentar buruk dari teman-teman yang selama ini kuanggap rekan terus berlanjut.

"Eh……?"

Aku tidak jadi membuka pintu ruang klub.

Aku tidak bisa berpikir apa-apa. Aku berdiri mematung dalam keadaan linglung.

Karena biasanya aku selalu berada di gimnasium untuk latihan mandiri, mereka pasti tidak menyangka aku akan kembali lebih awal.

Atau mungkin, mereka memang tidak peduli kalau aku mendengarnya.

Di dalam ruang klub, percakapan masih berlanjut dengan topik menjelek-jelekkan diriku.

Terdengar langkah kaki dari belakang. Tanpa kusadari, Nagiura sudah berdiri di belakangku.

Nagiura mendorongku menjauh dari depan pintu dengan ekspresi tanpa emosi.

"Maaf, tapi aku tidak bisa melindungimu lagi. Lagipula, aku sendiri sudah muak padamu."

Lalu, Nagiura masuk ke dalam ruang klub.

Aku terdiam di samping ruang klub untuk waktu yang lama, tidak bisa bergerak.

Memang benar, hari ini aku tidak niat. Tapi, pasti bukan hanya itu saja. Pasti sudah lama mereka memendam ketidakpuasan padaku. Jika tidak, cara bicara mereka tidak akan seperti itu.

Akhirnya aku sadar. Sadar dengan terlambat. Atau mungkin, selama ini aku hanya berpura-pura tidak tahu.

――Debut SMA-ku telah gagal.

Mungkin selama ini, aku sudah tidak waras.

Realita yang akhirnya kembali menyadarkanku, menekan fakta bahwa aku telah gagal.

Dunia ini telah dicat dengan warna abu-abu. Segalanya yang terlihat penuh warna, hanyalah ilusi semata.

"Lihat tuh, si itu. Katanya dia baru saja ditolak Hoshimiya-san."

"Eh, serius? Bukannya dia terlalu sadar diri ya?"

"Katanya dia menyatakan perasaan di kelas sepulang sekolah. Nagasugawa bilang dia melihatnya."

"Sudah ketahuan banget kalau dia suka, tapi berani banget ya. Lucu banget."

Mereka tertawa terkikik.

Mereka pasti tahu kalau ghibahan itu terdengar olehku.

Sepertinya mereka sudah tidak peduli lagi apakah aku mendengarnya atau tidak.

Keadaanku yang sekarang, bahkan setelah dicampakkan oleh Nagiura, membuatku tidak punya tempat lagi di kelas. Hasilnya jauh lebih menyedihkan daripada saat aku masih seorang loner di SMP.

Ada beberapa hal yang akhirnya kusadari setelah terlambat.

Sudah sejak beberapa waktu lalu, hampir tidak ada orang yang mengajakku bicara.

Setiap kali aku mengobrol dengan orang lain, selalu aku yang memulai pembicaraan.

Karena kupikir itu perlu untuk menjadi seorang jock, aku tidak merasakan kejanggalan apa pun.

Namun, jika itu teman, seharusnya mereka juga mengajak bicara satu sama lain, kan?

Karena tidak ada hal itu, berarti mereka tidak menganggapku sebagai teman.

Hino, Shiratori, Okajima, Sakurada, Nanase, bahkan Hoshimiya juga sama.

Satu-satunya orang yang mengajakku bicara atas kemauannya sendiri hanyalah Nagiura.

Itu pun cerita sampai kemarin. Hari ini, bahkan saat tatapan kami bertemu, Nagiura tidak menyapaku sama sekali.

Aku baru sadar sekarang, bahwa satu-satunya temanku hanyalah Nagiura.

Lalu, penolakan Hoshimiya menjadi pukulan telak yang membuat mereka terang-terangan mulai membicarakanku di belakang.

……Tanpa kusadari, apakah aku sebenci itu bagi mereka?

Awalnya tidak begitu. Sekitar bulan April sampai Mei, seharusnya ada kesempatan di mana semua orang mengajakku bicara. Tapi entah sejak kapan, tidak ada seorang pun yang berada di sisiku lagi.

Sehari setelah menyadari realita tersebut, liburan musim panas dimulai.

Klub basket putra kalah di putaran ketiga kualifikasi, dan para Senpai pun pensiun.

Dengan perginya Yanagishita-senpai, tidak ada lagi yang melindungiku.

Aku telah berubah menjadi udara. Meski begitu, tidak ada orang yang secara terang-terangan mencaci maki diriku.

Tepatnya, Nagiura-lah yang menahan mereka.

Aku tidak berhenti dari klub. Meski aku tahu orang-orang di sekitar tidak menginginkanku di sana, aku ingin memenuhi harapan Yanagishita-senpai, dan aku pun perlahan mulai menikmati basket sedikit demi sedikit.

Aku yang gagal dalam debut SMA-ku tidak punya hal lain selain berusaha keras dalam basket.

Jika aku berhenti sekarang, sudah terbayang musim panas yang kosong tanpa melakukan apa pun. Itu jauh lebih menakutkan. Setidaknya dengan melakukan kegiatan klub, aku ingin membuat hari-hariku terasa lebih berisi.

Akhirnya liburan musim panas berakhir, dan semester dua pun dimulai.

Aku bahkan tidak lagi dibicarakan di belakang.

Mungkin karena aku yang sudah menyadari posisiku tidak lagi melakukan apa-apa, sehingga aku jadi tidak menarik lagi.

Aku bahkan tidak lagi dijadikan bahan lelucon, dan benar-benar menjadi udara.

Kenapa, hal ini bisa terjadi?

Setiap hari, pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalaku.

Di tengah menjalani masa muda yang kelabu, ada satu hal yang akhirnya kusadari.

Aku terus memikirkan kembali debut SMA-ku dan terus merenung.

Kenapa aku gagal? Apa yang salah?

Jawabannya sederhana. Aku telah meremehkan orang lain.

Jika dipikir sekarang, semua orang telah memberiku petunjuk. Bahwa aku tidak akan selamat jika terus seperti ini.

Aku tidak menerima nasihat-nasihat itu. Karena aku tidak sadar kalau itu adalah sebuah nasihat.

Kenapa aku tidak sadar? Karena aku tidak tertarik pada orang lain.

Aku hanya tertarik pada kesuksesan debut SMA-ku sendiri.

Bagiku, orang-orang di sekitarku hanyalah alat untuk membuat masa mudaku yang penuh warna.

Bahkan Hoshimiya pun tidak terkecuali.

Memang benar aku menyukainya.

Tapi alasan aku menyatakan perasaan padanya adalah karena aku menginginkan aksesori bernama "kekasih".

Karena aku berpikir bahwa kehidupan SMA yang gemerlap membutuhkan seorang kekasih sebagai syarat mutlak.

Aku hanya berpikir untuk menyamar menjadi jock, dan tidak melihat orang-orang di sekitarku.

Mereka semua melihat diriku yang sebenarnya dengan sangat jelas.

Itulah sebabnya mereka perlahan sadar akan hakikat diriku dan menjauh dariku.

Aku tahu. Semuanya adalah kesalahanku. Awalnya berjalan dengan baik. Tidak, itu hanya terlihat berjalan dengan baik. Karena itulah aku jadi besar kepala. Akibatnya, semuanya runtuh berantakan.

Momen menentukan yang menunjukkan hal itu kepadaku, masih bisa kuingat dengan jelas hingga sekarang.

Aku sungguh bodoh. Hanya itu.

Oleh karena itu, setelah kejadian tersebut, aku hanya bisa bertindak dengan sangat hati-hati.

Namun, aku belajar bahwa mendapatkan kembali kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit daripada mendapatkan kepercayaan itu sendiri.

Pada akhirnya, masa muda yang penuh warna hanyalah mimpi di siang bolong, dan masa SMA-ku berakhir dalam warna kelabu.

Penyesalan itu, terus menghantuiku hingga sekarang.

Pasti di masa depan pun, aku akan terus menghantuinya sampai aku mati.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close