Chapter 3
Arti dari Kata "Serius"
Akhir
bulan April.
Bunga
sakura telah berguguran, dan kami mulai terbiasa dengan kehidupan sekolah yang
baru.
"Eh? Ke mana
perginya Shinohara?"
"Katanya,
hari ini dia beli makan di kantin saja."
Hubungan
antarmanusia di antara kami mulai mengalami perubahan baru. Biasanya, kami
pergi ke kantin berlima: aku, Reita, Tatsuya, Mei, dan Kijima.
Namun hari ini,
Mei bilang dia tidak pergi ke kantin. Alasannya pun tak perlu ditanyakan lagi.
Hari ini adalah
hari Senin, tepat seminggu setelah Mei menyatakan keluar dari band dan
menghilang. Aku sempat beradu pandang dengan Mei yang sedang berbicara dengan
Funayama-san di dalam kelas. Namun, dia memalingkan wajah seolah merasa
canggung.
"……Ini
gawat."
"Pasti ada
sesuatu yang terjadi di band."
Melihat keadaan
kami, Tatsuya dan yang lainnya tampak tertarik.
"……Yah,
begitulah."
Kenyataannya,
memang sedang terjadi masalah yang serius. Haruskah aku mencoba berkonsultasi
dengan Tatsuya dan yang lainnya?
"Sabtu
minggu lalu, kami tampil di festival musik."
Sambil berjalan
keluar kelas menuju kantin, aku menceritakan kejadian belakangan ini kepada
Tatsuya dan yang lain, mulai dari masalah saat latihan hingga apa yang terjadi
di festival musik pada hari Sabtu.
"Begitu
rupanya."
Tatsuya
menimpali dengan ekspresi yang tampak gelisah.
"Yah,
memang sulit, ya. Meskipun bilang Serious, standar setiap orang kan
berbeda-beda."
Reita
mengangguk, seolah setuju dengan pendapat itu.
"Bukankah
cara bicara kouhai-chan yang pedas itu harus diperbaiki, meskipun apa
yang dia katakan benar?"
Kijima mungkin
hanya menggumamkan apa yang sedang dia pikirkan. Ngomong-ngomong, aku dan
Kijima sudah berteman akrab dalam beberapa minggu terakhir, sampai kami saling
memanggil nama tanpa embel-embel.
"Tapi kalau
memang melakukan sesuatu dengan serius, bukankah wajar saja jika cara bicaranya
jadi sedikit ketus?"
Tatsuya
menanggapi gumaman Kijima. Sambil berbincang seperti itu, kami sampai di
kantin. Kami memesan makanan masing-masing dan duduk di kursi yang kosong.
"Aku juga
bakal marah kalau memang perlu marah. Karena aku merasa sedang melakukan
semuanya dengan serius."
Tatsuya berkata
demikian kepada Yamano sambil menyendok nasi kari porsi besarnya.
"Yah,
Tatsuya memang bisa marah pada Senpai tanpa rasa takut, sih……"
Mungkin merasa
pernah mengalami hal itu, Kijima menyruput mi ramennya dengan wajah lelah.
Ngomong-ngomong,
aku tidak punya ingatan seperti itu. Lagipula, Tatsuya di garis waktu pertama
tidak melakukan kegiatan klub dengan serius, jadi kurasa dia tidak akan sampai
marah pada Senpai. Sudah kuduga, dalam setahun ini, Tatsuya sudah berubah jauh
dari sejarah aslinya.
"Tapi, kalau
pada akhirnya suasana jadi buruk dan efisiensi latihan menurun, bukankah lebih
baik tidak perlu melontarkan komentar yang tidak perlu? Lagipula, Shinohara-kun
sekarang sedang mencoba mengundurkan diri."
Pendapat Reita
yang selalu mengutamakan efisiensi juga ada benarnya.
"Bekerja
asal-asalan tidak akan membuat kita jadi jago, kan? Latihan itu lebih
penting Quality daripada Quantity. Kalau cuma gara-gara dikritik
sedikit saja terus bilang mau keluar, berarti dari awal dia memang tidak
serius, kan?"
"Enggak, enggak, enggak."
Kijima membantah pendapat Tatsuya.
"Aku
mengerti perasaan Shinohara, lho. Bukan berarti kalau serius, kita boleh bilang
apa saja, kan?"
"Hubungan
yang tidak bisa saling memberi kritik tajam itu sampah, tahu? Di mana letak
keseriusannya?"
Namun, Tatsuya
tetap bersikeras. Pendiriannya sangat konsisten. Meskipun aku sudah akrab
dengan Mei belakangan ini, rasanya hal itu adalah persoalan yang berbeda.
"Pada
akhirnya, menurutku itu tergantung cara menyampaikannya, sih. Sekalipun ingin
mengkritik dengan tajam, aku rasa ada cara untuk menyampaikannya dengan lebih
peduli pada perasaan orang lain, bukannya cara yang menyakiti lawan
bicara," tuturku.
Reita,
yang sedang memakan set menu ayam goreng, tetap tenang seperti biasanya.
"……Mungkin
juga."
Tatsuya
mengangguk kecil, seolah tidak punya bantahan lagi, namun dia melanjutkan
perkataannya.
"……Hanya
saja, orang yang gampang menyerah karena hal seperti itu, menurutku memang
tidak serius dari awal."
"Yah,
tapi melakukan sesuatu dengan serius itu bukan hal yang mudah, lho. Itu sungguh
melelahkan dan menyakitkan. Aku tahu karena aku sering menemanimu latihan
mandiri. Sekalipun kita meminta anggota klub basket kita untuk memiliki
antusiasme yang sama denganmu, itu adalah permintaan yang tidak masuk akal bagi
mereka."
Mendengar
kata-kata Kijima yang mencoba menengahi, Tatsuya terdiam dengan wajah tidak
puas. Tatsuya yang sekarang menargetkan diri menjadi pemain basket profesional.
Namun, klub basket kami bukanlah klub unggulan. Realistisnya, memang sulit bagi anggota lain untuk
mempertahankan motivasi yang sama dengan Tatsuya.
"Bagiku,
kata 'serius' itu terlalu ambigu."
Reita berkata
sambil memakan ayam gorengnya. Memang benar, aku pun terus memikirkan apa arti
"serius" yang sebenarnya.
"Itulah
kenapa, tingkat motivasi setiap orang bisa berubah-ubah. Yang kita butuhkan
adalah tenggat waktu dan target. Sampai kapan, apa yang ingin kita kuasai.
Sesuatu yang berkembang hanyalah pengulangan dari hal tersebut. Menghadapi
realita dan melangkah selangkah demi selangkah. Itulah arti usaha."
Pendapat Reita
objektif, tenang, dan selalu berpijak pada realita.
"……Mungkin
salahku karena menggunakan kata 'serius' dengan gegabah."
"Natsuki,
kenapa kamu ingin melakukan ini dengan serius?"
"Itu karena…… aku berpikir bisa menjalani hari-hari
yang lebih bermakna daripada sekarang."
"Artinya, Natsuki tidak mencoba melakukan ini dengan
serius demi target tertentu, melainkan menemukan nilai dalam proses melakukan
band secara serius, begitu ya?"
Bahasa yang
digunakan Reita sangat tepat. Benar sekali, itulah jawabannya.
"Ya. Aku
ingin melakukan konser seperti festival budaya itu sekali lagi, dan bukannya
bohong kalau aku ingin mengubah dunia dengan musik seperti yang dikatakan
Serika. Tapi, hal terpenting bagiku bukan cuma di situ."
Aku berpikir
bahwa hari-hari yang dilalui dengan serius di dalam band itu sendiri akan
bersinar bagaikan sebuah pelangi.
Namun, bagaimana
kenyataannya? Band ini penuh dengan masalah dan berada di ambang pembubaran.
"……Menurutmu,
apakah aku aneh?"
"Tidak, itu
tergantung orangnya masing-masing, kan."
Reita
tidak menyangkal pemikiranku dan menggelengkan kepalanya.
"Justru
karena itulah, mungkin sebaiknya kita pikirkan alasan mengapa semua orang ingin
melakukannya dengan serius."
Aku akhirnya
memahami apa yang ingin disampaikan Reita. Semua orang yang menggeluti musik
tidak mungkin punya alasan yang sama denganku.
Serika
melakukannya dengan serius karena ingin mengubah dunia dengan musik. Itu aku
tahu.
Lalu bagaimana
dengan Yamano?
Bagaimana dengan
Mei?
Apa yang mereka
cari dari musik, dari kegiatan band ini?
Kalau mereka
hanya ikut serta karena aku bilang ingin melakukan ini dengan serius, maka
wajar saja jika motivasi mereka tidak bertahan lama. Karena, melakukan sesuatu
dengan serius itu tidak mudah.
"Band-nya
Natsuki itu empat orang, kan? Membuat keempat orang semuanya beraktivitas
dengan serius itu seperti keajaiban. Kalau sendirian mungkin bisa, tapi semakin
banyak orang, semakin sulit, ya."
Aku mengerti.
Bahwa Mishulef dulunya adalah band yang penuh keajaiban.
Karena ada
tenggat waktu yang singkat dan target yang jelas, semua orang bisa berlari
dengan kecepatan yang sama.
Melakukan hal
yang sama persis seperti saat itu sekarang, rasanya memang tidak mungkin.
"Aku masuk
klub sepak bola, tapi intensitas latihannya sewajarnya saja. Kalau lebih dari
itu, akan banyak yang mengundurkan diri. Alasan orang mengikuti kegiatan klub
itu berbeda-beda. Ada
yang serius ingin menang, ada juga yang cukup sekadar bersenang-senang. Aku
membuat menu latihan setelah berkonsultasi dengan pelatih, mengambil jalan
tengah dari setiap motivasi. Hasil akhirnya, tim itu justru tumbuh menjadi yang
terkuat."
Tergantung
pada komunitas tempat setiap orang berada, posisi mereka berbeda-beda.
Klub
basket Tatsuya mengejar idealisme. Klub sepak bola Reita melihat realita dan
memberikan jawaban terbaik.
"Bagaimanapun
juga, bukankah hanya ada dua pilihan jalan?"
Aku
mengerti apa yang ingin dikatakan Tatsuya. Kenyataannya, Mei sudah menyatakan
keluar dari band.
Maka, pilihan
yang tersisa pun sedikit. Melihat realita, lalu berkompromi. Atau mencari rekan
yang memiliki impian yang sama lagi.
*
Kemudian, waktu
pulang sekolah tiba. Aku menuju meja Mei yang sedang bersiap untuk pulang.
"Mei, bisa
bicara sebentar?"
"……Keinginanku
sudah kusampaikan di chat, kan?"
Namun, Mei tampak
tidak berniat untuk berdiskusi.
"Karena
faktanya, akulah yang menghambat langkah teman-teman yang sudah melakukannya
dengan serius."
Tanpa menatap
mataku, Mei berjalan melewatiku seolah ingin melarikan diri. Lalu, dia
memanggil Funayama-san.
"Shizuki,
ayo pulang."
"……U-un."
Funayama-san
merespons dengan bingung. Dia menunduk sejenak padaku, lalu mengejar Mei yang
berjalan di depan.
"……Harus
bagaimana ya?"
Hari ini tidak
ada kegiatan klub. Atau lebih tepatnya, karena Mei bilang mau keluar dari band,
tidak ada jadwal apa pun yang tersusun.
Karena tidak ada
kerja sambilan juga, aku ingin berdiskusi dengan Serika dan yang lain tentang
arah ke depan.
Aku mengirim
pesan ke grup chat band: 'Hari ini, bisa kumpul?' Serika segera
membalasnya.
Serika: 'Di
atap saja?'
Natsuki: 'Oke'
Ngomong-ngomong,
Mei sudah keluar dari grup chat ini.
……Tapi, pesan
dari Yamano tidak terbaca. Mungkin dia belum menyadarinya. Haruskah aku mampir
ke kelas tahun pertama sebelum menuju atap?
Saat menuruni
tangga, ada kelas yang sebulan lalu masih kami tempati. Di koridor depan kelas
yang familier itu, siswa-siswi yang mengenakan seragam baru berlalu-lalang.
"Yamano ada
di kelas berapa ya?"
Mungkin harus
bertanya pada seseorang. Namun, sebelum sempat mencari, aku tidak perlu
bersusah payah. Secara kebetulan, enam siswi termasuk Yamano sedang berkumpul
di koridor.
"Saya, ah.
Cara bicara seperti itu tidak bagus, kan?"
"Apa? Aku
salah bilang sesuatu?"
……Mungkinkah,
mereka sedang bertengkar? Suasananya terasa tidak enak. Siswa tahun pertama
lainnya juga memperhatikan Yamano dan kawan-kawan.
"Kalau mau
bilang aku salah, jelaskan dong."
Jika
diperhatikan, ini bukan kelompok berenam, melainkan Yamano yang sedang
berselisih dengan lima orang lainnya. Lima orang itu menatap tajam ke arah
Yamano yang berbicara dengan tenang dan tatapan dingin.
"Sok bener,
bikin muak."
Menyadari
perhatian orang-orang di sekitar, siswi berambut hitam yang tampaknya menjadi
pemimpin kelompok itu mendecakkan lidah dan kembali ke kelas sambil melontarkan
kata-kata pedas. Empat siswi lainnya menyusul. Di koridor, Yamano ditinggalkan
sendirian. Yamano menunduk tanpa suara.
"……Ada
apa?"
Saat aku menyapa,
Yamano mendongak dengan terkejut.
"Senpai…… kenapa ada di kelas tahun pertama?"
"Aku mencari
kamu karena ingin mendiskusikan masalah band."
"Kalau soal
itu, RINE saja…… ah, ternyata sudah ya. Maaf."
Yamano
mengeluarkan ponsel dari saku dan berkata seolah baru sadar. Mungkin karena
sedang sibuk, dia tidak menyadarinya.
"Jadi,
kenapa kalian bertengkar?"
"Entahlah.
Aku juga tidak tahu. Apa yang mereka tidak sukai ya?"
Yamano
melanjutkan kata-katanya seolah menyela diriku yang ingin menanyakan isi
pertengkaran itu.
"Lagipula,
Senpai. Berada di koridor tahun pertama itu mencolok, lho."
"Itu…… yah, tidak bisa dihindari, kan."
"Terlihat seperti cowok yang sudah punya pacar sedang
merayu adik kelas, tahu?"
Ugh…… aku sadar situasinya terlihat buruk, tapi apa ini
waktu yang tepat untuk bilang begitu?
"Pemandangannya sangat buruk, jadi tolong pergi ke atap
duluan saja."
Yamano berkata dengan tenang, lalu kembali ke kelas untuk
mengambil tasnya.
……Apa pun itu,
kehidupan SMA Yamano tampaknya tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan.
*
Aku naik
ke atap. Langit cerah, kontras dengan suasana hatiku yang gundah. Yamano belum
datang. Serika sedang memandang ke arah kota dari balik pagar.
"……Kerja
bagus, Natsuki."
Serika menoleh
saat merespons suara pintu atap yang terbuka.
"Di sini
tenang, ya. Bisa merasakan angin dan memandang seluruh kota."
Aku
berdiri di samping Serika dan melihat ke bawah. Pemandangan kota Maebashi yang
damai terbentang luas. Hanya gedung pemerintahan Prefektur Gunma yang menjulang
tinggi.
Meskipun
sudah lewat jam sekolah, langit masih biru. Sudah akhir April, dan waktu
matahari bersinar perlahan mulai memanjang.
"Ini
salahku."
Serika
menggumamkan kata-kata itu.
"Maaf,
Natsuki. Aku yang salah. Kalau sampai jadi begini, seharusnya aku tidak perlu
bersikeras soal serius. Seharusnya kalau kita melakukan seperti biasa, pasti
lebih menyenangkan, kan?"
Bagaimanapun
kulihat, Serika sedang depresi.
"Aku
tidak bilang ingin melakukannya dengan serius demi hari-hari yang
menyenangkan."
Yang aku
cari adalah hari-hari yang bermakna. Dalam arti itu, tidak hanya ada
kesenangan, tapi juga mencakup rasa sakit dan penderitaan.
Karena
aku percaya bahwa masa muda yang terbaik menanti di balik semua itu.
"Aku
akan terus melakukan band dengan serius. Aku tidak berniat menarik kembali ucapanku sekarang."
"Lalu…… apa artinya kita menyerah pada
Shinohara-kun?"
"Bagaimana
denganmu, Serika? Apa maumu?"
Saat aku bertanya
begitu, Serika menitikkan air mata dari sudut matanya dan memalingkan wajah.
Ingin mengubah
dunia dengan musik. Tapi, takut kalau band ini akan hancur. Mungkin itulah yang
dia pikirkan.
"――Aku saja
yang keluar."
Suara memotong
pembicaraan kami. Saat menoleh, Yamano sudah berdiri di sana.
"Mungkin,
yang tidak disukai Shinohara-senpai adalah aku. Jadi, kalau aku keluar,
masalahnya selesai."
"……Bahkan
kamu, kenapa bilang begitu?"
Rambut Yamano
tertiup angin. Ekspresinya tampak sedih.
"……Mishulef
bukankah aslinya band milik Senpai sekalian? Karena aku yang menjadi
penyebabnya, aku yang akan keluar sebagai gantinya. Kalau begitu,
Shinohara-senpai pasti akan kembali."
"Itu tidak
boleh."
Aku
menggelengkan kepala dengan tegas.
"Ke,
kenapa……? Bukankah Shinohara-senpai lebih penting!?"
"Akulah yang
meminta semua orang untuk melakukan ini dengan serius. Yamano hanya menjawab
permintaan itu. Jadi, Yamano tidak salah. Aku juga tidak merasa Mei yang salah.
Yang salah adalah aku."
Seperti yang
dikatakan Reita, sebaiknya aku melihat realita lebih jauh. Kalau ingin mengejar target
tinggi, akan selalu ada orang yang mengundurkan diri. Aku hanya harus mencari
rekan yang bisa melihat impian yang sama lagi.
……Aku
mengerti semuanya. Meski begitu, aku berkata,
"Masih
terlalu dini untuk menyerah. Kita belum mendengar apa pun dari Mei."
"Lalu kalau
Shinohara-kun bilang dia muak karena kita terlalu serius, apa yang akan kamu
lakukan?"
Aku mengerti arti
perkataan Serika. Apakah harus mengompromikan keseriusan demi memilih jalan
untuk melakukan band bersama Mei? Atau membuang Mei dan memilih jalan untuk
melakukan band dengan serius?
"……Aku tidak
ingin memutuskan jalan ini sebelum mengonfirmasi perasaan Mei."
Karena aku ingin
melakukan aktivitas band bersama Mei, bersama kita berempat seperti sekarang.
"Senpai,
bukankah Senpai satu kelas dengan Shinohara-senpai? Kalau sampai sekarang belum
bisa dengar apa-apa, bukankah itu berarti dia sedang menghindar? ……Kalau
begitu, kurasa itu tidak mungkin."
Namun, pendapat
Yamano sangat dingin.
"Menurutku,
Shinohara-senpai tidak terlihat melakukan ini dengan serius."
"……Aku
tahu."
Serius artinya
tekad untuk mengabdikan kekuatan dan semangat yang kita miliki. Itu adalah
sikap untuk tidak menyerah meski menghadapi kesulitan, dan mencoba melampaui
batas untuk terus melangkah maju.
"Memang
benar, kurasa semangat Mei belakangan ini sedang menurun."
Bahkan
aku yang harus berjuang mati-matian dengan permainanku sendiri saja merasa
begitu. Yamano dan Serika
yang memperhatikan musik secara keseluruhan, pasti merasakannya lebih dalam.
"Tapi,
bukan berarti dia benci melakukan sesuatu dengan serius."
Saat
festival budaya, kami tidak diragukan lagi sangat serius. Hari-hari itu sungguh
bermakna. Aku percaya
perasaan itu telah terbagi.
"Aku ingin
melakukan ini bersamanya."
Apa dia pikir dia
bisa memutuskan hubungan dengan kami hanya dengan pesan seperti itu? Naif
sekali, Mei. Hubungan kita tidak sedangkal itu lagi. Meyakinkan seseorang butuh
kata-kata.
"Itu…… aku pun, sama. Karena aku suka permainan bas milik Shinohara-kun."
"Meskipun
ideal dan realita itu berbeda, ya."
Namun, Yamano
berkata dengan nada dingin.
"Aku tahu
hal itu. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak mengejar idealisme."
"Senpai
percaya diri sekali, memang ada rencana?"
Yamano menatapku
dengan curiga.
"Setidaknya
ada."
Ini adalah
masalah realita. Masalah realita seringkali adalah masalah tingkatan. Bukan
berarti mengubah putih menjadi hitam akan menyelesaikan masalah.
Sebagian besar
hal di dunia ini abu-abu, dan berbagai faktor saling terkait hingga
menghasilkan sebuah hasil.
Aku rasa masalah
kali ini bukan hal sederhana yang bisa selesai hanya dengan membujuk Mei agar
kembali serius. Ada satu elemen lagi yang perlu dibenahi.
"Yamano!"
"Ya,
iya?"
Saat aku
memanggil namanya, Yamano membelalakkan mata dengan terkejut.
"Kamu
sering memberikan kritik tajam pada Mei, kan?"
"Apa,
sih? Tiba-tiba. Karena kita bilang mau melakukannya dengan serius, bukannya itu
wajar?"
"Memang
benar, akulah yang menuntut keseriusan. Tapi, ayo perbaiki cara bicaramu yang
buruk itu!"
"……Ha,
hah?"
Yamano
mengerutkan dahi. Sepertinya dia sendiri tidak menyadarinya.
"Ah~, begitu ya…… kalau soal itu, aku mengerti."
Di sisi
lain, Serika mengangguk seolah mengerti.
"Terlepas
dari apakah Mei akan lanjut atau tidak, sebaiknya itu diperbaiki demi band kita
ke depannya."
Kalau
tidak, masalah serupa pasti akan terjadi lagi ke depannya. Aku yakin akan hal
itu setelah melihat Yamano yang bertengkar dengan teman sekelasnya hari ini.
"Waktu
Senpai bilang suruh berhenti, aku kan sudah berhenti? Serika-senpai
bilang biarkan saja seperti itu…… aku percaya kata-kata Senpai, lalu jadi tidak
bicara apa-apa, kan?"
"Saya, berhenti itu tidak boleh. Kalau mau bilang, ya
bilang saja."
"Eh,
eeeee……?"
Yamano
kebingungan setelah dikatakan begitu oleh Serika. Mungkin dia merasa sedang disuruh melakukan
hal yang kontradiktif.
"Dengar,
Yamano. Justru saat memberikan kritik tajam, cara penyampaian itulah yang
paling penting!"
Bukan berarti asal benar saja sudah cukup! Dunia ini berputar karena hubungan antarmanusia!
Saat aku
menudingkan jari telunjuk ke arah Yamano dengan semangat, angin kencang
berhembus.
Wussh, rok Yamano terangkat ke atas.
Paha yang begitu segar dan menggoda. Mataku tersedot ke arah kain biru muda berbentuk segitiga yang menutupi bagian itu.
Yamano buru-buru
menutupi roknya dengan panik. Lalu, dengan wajah memerah, dia melirikku tajam.
"……Senpai
mesum."
Ugh, angin Gunma
memang kencang, tahu!
*
Aku berpisah
dengan Serika di Stasiun Takasaki, lalu menaiki Kereta Listrik Joshin. Meskipun
Gunma adalah masyarakat yang sangat bergantung pada mobil, kereta tetap cukup
penuh di jam pulang kerja sore hari.
Biasanya, saat
pulang klub atau kerja sambilan, aku selalu pulang setelah jam sembilan malam,
jadi keretanya hampir kosong. Beruntung, entah bagaimana aku dan Yamano
berhasil mendapatkan dua kursi kosong.
Yamano yang duduk
di sebelahku terus membisu.
"……Apa
caraku bicara memang seburuk itu?"
Tak lama
kemudian, dia bergumam seolah tidak percaya.
"Biasanya
sih tidak, tapi kalau sedang memberikan kritik tajam, memang terasa seperti
itu."
"……Mungkin
saat seperti itulah aku sedang merasa kesal."
"Kurasa
begitu. Makanya, pemilihan katamu jadi jauh lebih kasar, bukan?"
"……Kalau
dipikir-pikir, ada benarnya juga. Tadi juga, aku bertengkar dengan temanku……"
Yamano
menyilangkan tangan dengan ekspresi gelisah.
"Soal itu, apa yang terjadi?"
"Temanku
konsultasi ingin masuk Klub Musik Ringan."
"Wah, bagus, dong. Meski masa observasi klub sudah
lewat."
"Tapi, dia baru ingin masuk setelah tahu kalau aku
masuk band ini, hanya karena dia ingin mendekati Senpai lewat aku."
Wah? Ceritanya mulai terdengar mencurigakan, ya.
"Bahkan
sekarang pun, dia ingin masuk klub musik hanya agar bisa dekat dengan Senpai
melalui aku."
"Hah,
aku!? Kenapa!??"
Aku
terkejut karena tiba-tiba namaku muncul dalam pembicaraan.
"Tolong
sadari itu sekarang. Senpai itu populer, tahu."
Yamano
berkata dengan nada jengkel. Ternyata kalau jadi orang populer, dampaknya bisa
sampai ke tempat yang tak terduga, ya……
"Yah,
motifnya tidak masalah sih, tapi dia bahkan tidak mendengarkan musik dengan
benar, tidak tertarik pada instrumen, dan karena aku merasa dimanfaatkan, aku
langsung mengatakannya blak-blakan."
"Yah, aku
bisa mengerti perasaanmu……"
Kalau begitu,
mungkin tidak masalah kalau bicara sedikit keras.
"Aku bilang,
'Sadarlah, sampah masyarakat'."
"Itu
kelewatan, kan!?"
Ada cara bicara
yang lebih lembut dalam bahasa Jepang, tahu!
"Aku terbawa
emosi…… Jadi begitu, caraku bicara memang buruk, ya……"
Yamano tertawa
kecil dengan tatapan mata seperti ikan mati.
"Ternyata,
memang salahku, ya……"
Sepertinya dia
menerima dampak yang cukup besar terhadap ucapannya sendiri. Yah, aku mengerti
perasaannya. Aku pun sering berguling-guling di atas kasur semalaman karena
menyesali ucapan kecilku sendiri. Hahaha, bunuh saja aku. Tolong bunuh
saja aku!!
"……Kenapa
Senpai yang malah memegangi kepala?"
"Tidak,
hanya teringat masa lalu yang memalukan."
"Aku juga
tidak bisa banyak bicara soal orang lain, tapi Senpai sedang mengalaminya
secara real-time, kan?"
"Oke, aku
akan ajarkan padamu mana hal yang boleh diucapkan dan mana yang tidak!"
Fakta pun bisa
menyakiti orang lain! Kebenaran
tidak selalu bisa menyelamatkan seseorang!
"Mengerti.
Menurut Senpai, apa yang
harus kulakukan?"
Yamano
mengangguk polos. Lalu, dia bertanya dengan ekspresi serius.
"Kenapa
tidak mulai memperhatikan caramu bicara saja?"
"Tidak,
kalau semudah itu dilakukan, aku tidak akan menderita……"
Benar juga.
Sepertinya dia baru menyadarinya sekarang. Aku mengerti perasaan saat pemilihan
kata menjadi kacau ketika kita sedang berapi-api.
"――Tapi
Senpai, aku ingin berubah."
Yamano bergumam
pelan.
"Bagaimana
cara Senpai berubah?"
Dia menatapku,
bertanya dengan suara yang terdengar seperti memohon.
"Aku
tidak ingin mengulangi kegagalan saat SMP."
Aku tahu apa yang
dimaksud Yamano. Rumor
buruk tentang Yamano yang pernah kudengar dari Namika melintas di benakku.
"Senpai
memang tahu, ya."
Yamano
bergumam saat melihat reaksiku.
"……Aku
dengar dari adikku tentang rumor bahwa kamu adalah ketua pelaku
perundungan."
"Ngomong-ngomong,
Senpai punya adik, ya? Dia satu tingkat di bawahku, kan?"
"Ya.
Tapi, aku hanya dengar sebatas rumor saja."
"Apa yang
Senpai pikirkan?"
"Aku rasa
tidak perlu memastikannya."
"Kenapa?"
"Karena
Yamano Saya yang kukenal bukanlah orang yang melakukan hal seperti itu."
Yamano
mengedipkan matanya berkali-kali.
"……Aku jadi
sedikit mengerti kenapa Senpai jadi populer."
"Jangan-jangan,
saat ini aku terlihat keren?"
"Kalau
mengatakannya sendiri, jadi tidak ada gunanya. Aah. Ternyata Senpai
tetaplah Senpai, ya."
Yamano tertawa
cekikikan melihatku yang memasang wajah sombong. Lalu…… dia memadamkan
ekspresinya dan menunduk.
"Yang
dirundung itu adalah aku."
Ekspresiku
tanpa sadar berubah. Samar-samar, aku sudah punya firasat akan hal itu.
"Kalau
tidak begitu, aku tidak mungkin makan siang di atap dengan Senpai yang
penyendiri."
Waktu
itu, aku tidak bertanya apa-apa. Bukan berarti aku tidak penasaran dengan
situasi Yamano. Namun, aku
merasa percuma saja tahu apa pun, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa
untuknya.
"Aku
dirundung di kelas, saat aku terbawa emosi dan membalas, malah jadinya
seolah-olah aku yang merundung anak itu. Guru dan orang tua memarahiku, rumor
buruk menyebar ke seluruh sekolah……"
Makanya, aku
berharap alasan Yamano ada di atap bukan karena hal itu. Aku berharap alasannya
hanya karena ingin waktu sendiri atau karena dia suka tempat itu.
"Tapi, aku
tidak membencinya, kok."
Yamano yang
bercerita sambil menunduk tampak sangat berjiwa besar.
"Yah, memang
benar mereka menyiramku dengan air ember di toilet, sepatuku dicuri dari rak,
baju renangku ditaruh di meja anak laki-laki, dan buku catatanku disobek sampai
hancur. Aku sempat berpikir, 'Apa ada orang yang melakukan perundungan seklise
di manga seperti itu?', dan sejujurnya, aku sempat ingin membunuh mereka
sedikit……"
Dia sama sekali
tidak berjiwa besar. Dia sangat dendam.
"……Pasti
berat sekali, ya."
Hanya kata-kata
pasaran itulah yang bisa kuucapkan. Aku tidak bisa membayangkan seberapa
menderitanya Yamano saat itu. Aku memang penyendiri dan tidak disukai orang, tapi aku tidak pernah
dirundung.
"Aku akan
mengatakan sesuatu yang memalukan sekarang."
Setelah
memberikan tiket ke petugas, kami turun di stasiun tak berawak terdekat. Di
depan stasiun yang sepi dan kosong, Yamano yang berjalan sedikit di depanku
berbalik.
"Istirahat
makan siang di atap bersama Senpai adalah penyelamatku."
Aku tahu
kata-kata itu tulus hanya dengan melihat matanya yang sedikit berkaca-kaca.
Langit telah diwarnai warna senja, dan matahari terbenam menyinari Yamano.
Bayangannya memanjang, dan siluet gadis itu tampak menonjol dengan jelas.
Pemandangan itu terasa fantastis, namun memberikan kesan yang rapuh.
"Aku hanya
makan siang dengan santai tanpa tahu apa-apa."
"Makanya,
aku senang sekali. Bagiku, itu satu-satunya tempat bagiku di sekolah itu…… aku
merasa aku boleh ada di sana…… jadi setiap hari, aku berharap istirahat makan
siang cepat datang."
Mungkin teringat
masa itu, suara Yamano sedikit gemetar.
"……Aku hanya
takut mendengarnya. Karena kalaupun aku tahu, aku tidak bisa berbuat
apa-apa."
"Pasti kalau
Senpai menanyakan sesuatu saat itu, aku tidak akan mau lagi mendekati
atap."
Meski tanpa
disengaja aku melakukan hal yang benar, tetap saja ada penyesalan. Andai saja
aku yang sekarang ada di sana, mungkin aku bisa menyelamatkan Yamano.
"Senpai. Ayo
pulang."
Yamano bicara
dengan nada ringan, mungkin untuk membuat suasana tidak terlalu berat.
"Pelaku
utama perundungan itu adalah ketua klub musik yang dulu kuikuti. Kami berada di band yang sama, dan
kukira kami berteman baik. Tapi, sebelum kusadari aku malah dibenci, dan
bandnya bubar……"
Namun,
tidak peduli seberapa ringan dia menceritakannya, bebannya tidak akan hilang.
"Lalu,
itu berkembang menjadi perundungan, ya."
Aku
mengikuti Yamano yang mulai berjalan pulang. Setelah terdiam sesaat, dia
membuka mulut dengan pelan.
"……Pasti
penyebabnya ada padaku. Karena sekarang, aku merasa sedang melewati alur yang
sama seperti saat itu. Seperti yang Senpai tunjukkan, mungkin aku dibenci
karena caraku bicara yang buruk."
Karena aku tidak
melihatnya secara langsung, aku tidak bisa membantah atau menyetujuinya. Namun,
sulit untuk mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan cara bicara Yamano saat
dia sedang berapi-api. Tapi.
"Sekalipun
itu benar, bukan berarti kamu boleh dirundung hanya karena dibenci."
Yamano
mengedipkan mata mendengar kata-kataku.
"……Terima
kasih, Senpai."
Lalu, dia
tersenyum dan menghadap ke depan kembali.
"Senpai tahu
alasan aku masuk SMA ini?"
"Bukankah
kamu bilang 90% karena ada Serika?"
"Itu alasan
kenapa aku bergabung dengan band."
Begitu ya. Jadi
keduanya adalah hal yang berbeda. Kalau begitu……
"Karena
hampir tidak ada siswa dari SMP Mizumi yang lanjut ke sini?"
"Setengah
benar."
"Lalu,
setengahnya lagi?"
Saat kutanya
begitu, Yamano menunjuk ke arahku.
"Karena ada
Senpai."
Kukira dia
bercanda, tapi Yamano menatap wajahku dengan lekat.
"Aku melihat
Senpai yang bersinar saat festival budaya, jadi aku ingin menjadi seperti itu
juga."
Sepertinya aku
saat itu benar-benar bersinar. Sampai-sampai bisa mengubah hidup banyak orang
dengan kilau itu.
"Kalau
Senpai yang dulu tampak seperti sampah saja bisa sepopuler ini, aku pun……"
"Tunggu
sebentar. Tadi kamu bilang Senpai tampak seperti sampah, kan!?"
Aku sedang
berusaha agar kita lebih memperhatikan pemilihan kata, lho!? Memang benar
Senpai yang dulu tidak bisa dibantah kalau disebut sampah!
"Salah.
Senpai itu seperti karet penghapus."
"Tidak perlu
menjelaskan detailnya sampai ke sana! Malah jadi makin parah!"
Mendengar
seruanku, Yamano tertawa cekikikan.
"……Jangan
menghina orang untuk menutupi rasa malumu."
"Maaf. Ini
pertama kalinya aku membicarakan diriku sendiri kepada orang lain……"
Yamano menggaruk
pipinya yang memerah. Lalu, dia menatap mataku sekali lagi dan mengatakannya.
"Aku juga
ingin menjalani kehidupan SMA yang sukses seperti Senpai!"
Sesuatu yang baru
kusadari sekarang. Yamano mungkin sedikit mirip dengan diriku di garis waktu
pertama. Jika dibiarkan, kemungkinan besar dia akan menghabiskan masa mudanya
dalam warna abu-abu dan berakhir dengan penyesalan.
Namun,
ada perbedaan yang jelas dengan diriku yang dulu. Yamano kini memiliki diriku yang sekarang di
sisinya.
"Oke,
mengerti. Yamano, serahkan semuanya padaku!"
Jika ada adik
kelas yang kesulitan, membantu mereka adalah tugas seorang Senpai.
"Ya, tolong
bantu aku! Senpai!"
Jadi begitulah
kesepakatannya.
*
Keesokan paginya,
pukul 05.30. Hari ini
aku bangun pagi. Walaupun aku sudah bilang "serahkan padaku" pada
Yamano, tidak akan mudah untuk menyelesaikannya semudah itu.
Aku terus
memikirkan caranya sampai tertidur, tapi sejauh ini belum ada ide apa pun.
Dalam saat seperti ini, berkonsultasi dengan orang lain adalah yang terbaik.
Jadi, aku segera berganti pakaian dan pergi ke taman dekat rumah.
Orang
yang kucari segera ditemukan. Dia sedang berjalan-jalan membawa anjingnya.
"Selamat
pagi, Miori."
"……Ck,
kau rupanya."
Aku tahu Miori
berjalan-jalan dengan anjingnya di jam segini. Jadi, aku sudah menunggunya.
"Kenapa
wajahmu terlihat tidak senang?"
"Karena
wajahmu tidak tampak seperti kebetulan."
"Ternyata
kau tahu."
"Artinya,
kau pasti punya sesuatu untuk dikonsultasikan. Itu merepotkan."
Miori menghela
napas panjang. Meski begitu, dia sepertinya tidak menolak saat aku mulai
berjalan di sampingnya. Anjing yang berlari di depan Miori sesekali menoleh ke
arahku yang tiba-tiba muncul.
Miori
jarang-jarang tidak mengikat rambutnya. Rambut hitam panjangnya menjuntai sampai ke punggung. Suasana yang berbeda
dari biasanya membuatnya tampak segar. Tanpa mengalihkan pandangan dari
anjingnya, Miori bertanya.
"……Jangan-jangan,
soal Saya?"
Padahal aku belum
bicara apa-apa, tapi dia sudah menebak keperluanku. Menakutkan.
"Kau ini, Esper?"
"Kau selalu
menghindari konsultasi denganku. Kalau kau sampai minta saran, artinya ada
alasan kenapa harus aku. Kalau begitu, alasannya cukup bisa dipersempit."
"……Masuk
akal."
"Sekarang
wajahmu bilang kalau jawaban itu sulit, ya."
"Berisik.
Aku tahu itu."
Saat aku
memalingkan wajah, Miori tertawa kecil.
"Dan lagi,
aku sudah dengar dari Serika soal apa yang terjadi di band."
Begitu
ya. Miori dan Serika memang akrab. Ternyata Serika sudah berkonsultasi
dengannya.
"Saya
adalah teman masa kecil tetanggaku, jadi aku sudah mengenalnya sejak
lama."
Miori
masuk ke dalam taman dan duduk di bangku di bawah pohon Sakura. Sakura sudah
berguguran. Hanya tersisa sedikit kelopak bunga di tanah. Miori membelai kepala
anjing yang duduk di depannya, lalu melanjutkan pembicaraan.
"Saat
SMP, aku juga terlambat menyadari perundungannya. Karena Saya selalu memasang
wajah seperti biasanya di depanku. Dan saat aku menyadarinya, itu sudah sesaat
sebelum kelulusan."
Ternyata
Miori memang menyadarinya.
"Perundungan
terhadap Saya dimulai pada semester tiga kelas dua. Saat rencana masa depan kita sudah ditentukan. Itu
semakin parah setelah kita lulus, tepatnya semester satu kelas tiga. Saya
memang sempat membalas, tapi itu dimanfaatkan oleh ketua perundung untuk
menjadikannya tersangka utama di semester dua kelas tiga. Setelah itu, baik
atau buruk, pengawasan guru jadi ketat dan situasinya tampak tenang, tapi rumor
buruk tentang Saya tetap bertahan."
"……Kau
sangat detail, ya."
"Karena aku
mengumpulkan informasi dari adik kelasku di tim basket putri."
Sepertinya
setelah lulus pun, Miori terus mencari cara untuk membantu Yamano.
"Ujung-ujungnya,
aku tidak bisa melakukan apa pun. Saya juga tidak mengharapkan bantuanku."
Miori
mengangkat anjingnya dengan ekspresi menyesal. Dia menyerahkannya padaku, jadi aku menerimanya
dengan jujur. Guk, anjing itu mengancamku. Sepertinya dia tidak akan
akrab denganku.
"Aku ingin
memperbaiki cara bicara Yamano."
Mendengar
kata-kataku, Miori terdiam sejenak. Lalu, dia membuka suara dengan pelan.
"Pada
dasarnya…… kurasa
Saya tidak terlalu tertarik dengan orang lain."
Miori
mengatakannya dengan ekspresi yang sedikit kesepian.
"Tentu
ada pengecualian. Karena, dia
menyukaimu, kan? Dia juga menyukaiku sampai tingkat di mana aku bisa
dikhawatirkan. Tapi pada dasarnya, minat Saya hanya tertuju pada musik."
Aku merasa ada
benarnya. Yamano tulus terhadap musik, tapi dia tidak peka terhadap perasaan
orang lain.
"Apa caraku
bicara yang buruk ini karena aku tidak memikirkan perasaan orang lain……?"
"Aku tidak
bisa memastikannya. Karena perasaan Saya, hanya Saya yang tahu."
Meski bilang itu
hanya dugaannya, Miori menurunkan anjing yang ada di lenganku ke tanah.
"Bagaimanapun,
kalau ingin menyelesaikan masalah itu, kurasa kau harus menyentuh esensi Saya
itu. Kalau cuma mencoba menyembunyikannya di permukaan…… kurasa dia akan segera
kembali ke asalnya."
Miori bisa
menjelaskan dengan lancar mungkin karena dia sudah memikirkan tentang Yamano
sejak lama.
"……Aku
harus segera pulang dan bersiap untuk sekolah."
Mata
Miori yang hendak berdiri sambil memegang tali anjing, tiba-tiba terhenti di
satu titik. Saat aku mengikuti arah pandangan Miori, Yamano yang berseragam
sekolah sedang menatap kami dengan ekspresi terkejut.
Yah, karena dia
tinggal di sekitar sini, wajar saja kalau sesekali bisa bertemu, ya.
"A-aku
selingkuh……"
Tiba-tiba Yamano
mengatakan sesuatu yang konyol.
"Bukan
selingkuh! Saya, aku sedang membicarakanmu!"
"Benar! Aku
sedang membicarakan bagaimana caranya menangani kau yang sangat merepotkan
ini—"
"A-aku tidak
bisa ikut bermain play seperti itu~!"
Yamano mengatakan
sesuatu yang tidak kumengerti dan segera melarikan diri.
*
Sulit bagiku yang
kelas dua untuk melihat bagaimana kehidupan sekolah Yamano. Namun, sekarang aku
bisa mendapatkan informasi melalui cara lain.
"Memang
benar, Yamano-san terus sendirian hari ini."
Yang menyapaku
saat istirahat makan siang adalah Sakata-kun, adik kelas dari Klub Musik
Ringan. Karena dia berada di kelas 1-3 yang sama dengan Yamano, dia adalah
orang yang paling cocok untuk mengetahui kondisi Yamano.
Kami pindah ke
bangku di taman tengah yang terkena sinar matahari, lalu mengobrol sambil makan
siang. Sakata-kun adalah pemula yang ingin belajar gitar, dan terkadang aku
mengajarinya. Sepertinya dia mengagumiku, jadi dia sering mengajakku bicara.
Memiliki koneksi dengan adik kelas sangat berguna di saat seperti ini.
"Yamano-san
bertengkar dengan Matsui-san dan yang lainnya kemarin, jadi kurasa wajar saja.
Yah, meski Haibara-senpai tidak terlalu memikirkannya pun, kurasa mereka akan
berbaikan dalam waktu dekat, bukan?"
Sakata-kun
berbicara dengan nada optimis, mungkin ingin membuatku tenang.
"Lagipula,
sebanyak apa pun kalian berada di band yang sama, kurasa tidak perlu sampai
mengurus kehidupan sekolahnya, kan?"
Mungkin dia
merasa aku terlalu peduli pada adik kelas. ……Bukan terlihat lagi, itu memang fakta. Ini
sudah melampaui batas tanggung jawab seorang Senpai biasa.
"Yah,
bagaimanapun dia terlihat murung saat latihan klub."
Setidaknya
situasinya sudah bisa dipastikan. Ternyata dia benar-benar belum berbaikan dengan teman sekelasnya.
"Senpai
sangat baik, ya."
"Sakata-kun,
kalau bisa, tolong bantu awasi dia juga, ya."
"Saya tidak
keberatan, tapi…… saya tidak bisa terlalu mencampuri komunitas anak perempuan,
kan?"
"Benar juga. Terima kasih sudah memberitahuku banyak
hal."
Saat aku hendak
mengakhiri pembicaraan, Sakata-kun menahanku dengan ucapan "Itu".
Setelah menggaruk kepalanya dengan canggung, dia membuka suara.
"……Antara
kita saja, dia, sebenarnya agak terasingkan."
Itu seharusnya
cerita yang tidak akan dia sampaikan padaku.
"Maksudku,
ucapannya seringkali terlalu tajam…… apakah bisa dibilang tidak peka? Yah, anak laki-laki tidak terlalu
memikirkannya, tapi anak perempuan cukup sensitif soal itu, jadi ada beberapa
anak perempuan di kelas yang menghindari Yamano. Tidak ada yang mengatakannya
secara terang-terangan sih."
Sakata-kun
memberitahuku suasana nyata yang hanya bisa diketahui karena dia berada di
kelas yang sama.
"Meski
begitu, karena dia selalu bersama Matsui-san dan kelompoknya yang kasta tinggi,
jadi tidak masalah, tapi karena mereka bertengkar kemarin…… kalau dibiarkan
begitu saja, mungkin bisa berbahaya."
"……Begitu,
ya."
Situasinya
lebih serius dari yang kukira. Kalau dibiarkan, dia akan mengulangi kegagalan masa SMP.
Aku ingin
memenuhi keinginan Yamano untuk "ingin berubah". Sepertinya aku harus
bergerak cepat. Kalau bersantai, aku akan berakhir dengan hasil yang sama
seperti diriku.
"Yah, saya
tidak terlalu akrab dengan Yamano, jadi tidak masalah sih."
Sakata-kun
mengangkat bahu.
"Saya akan
bantu mengawasinya sedikit, jadi lain kali tolong ajari saya gitar lagi,
ya?"
"Tentu saja,
terima kasih."
Aku berterima
kasih pada Sakata-kun lalu berdiri. Setelah berpisah dengannya, aku menaiki
tangga menuju atap.
Capek juga
menaiki tangga sampai ke lantai tiga. Napasku mulai sedikit tersengal. Usaha
ini mungkin tidak ada artinya.
Lagipula, aku
tidak punya janji temu dengan siapa pun di atap. Namun, entah mengapa aku
merasa yakin.
Aku membuka pintu
menara atap, lalu berbalik.
"Yo,
Yamano."
Yamano sedang
duduk bersandar di dinding menara atap sambil memakan bekalnya.
"……Ada apa,
Senpai?"
Yamano menatapku
dengan terkejut, lalu memalingkan wajah dengan canggung. Aku duduk di sebelah
Yamano.
"……Aku benci
sifat Senpai yang begitu."
"Apa
maksudmu, tiba-tiba saja."
"Kalau
begini, bukankah sama saja dengan saat SMP?"
"Ini
berbeda dengan waktu itu."
Saat
kukatakan begitu, Yamano memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Aku
kan sudah bilang, aku akan bekerja sama agar kau bisa berubah?"
Ini
berbeda dengan masa SMP saat kita hanya bersama. Aku yang sekarang bisa menjadi
kekuatan untukmu.
"Lalu, apa
Senpai sudah memikirkan sesuatu?"
"Ya. Judulnya—Proyek Transformasi Yamano Saya."
Setelah mendengar
cerita Miori, aku terus memikirkannya selama pelajaran pagi.
Apa yang harus
dilakukan agar Yamano bisa berubah?
Ada petunjuk
untuk menyimpulkan jawaban itu. Perbedaannya terletak pada diriku yang gagal di
garis waktu pertama dan diriku yang sukses di garis waktu kedua.
"Bukankah
itu terdengar sama saja? Jadi, bagaimana Senpai akan mengubahku?"
"Rencana ini
punya dua tahap. Apa kau tahu apa tahap pertamanya?"
"Jangan
sok misterius, cepat beritahu aku."
"Analisis."
"Hah?
Analisis?"
Yamano tampak
bengong.
"Kumpulkan
data sebanyak-banyaknya tentang orang-orang yang berinteraksi denganmu."
Diriku di
garis waktu pertama tidak tahu banyak tentang orang-orang di sekitarku.
Mengapa?
Karena aku tidak punya minat sebesar itu.
Aku hanya
memikirkan bagaimana caranya agar aku sukses saat debut SMA. Sebenarnya, aku
tidak berniat ingin akrab dengan siapa pun.
"Kau
juga tidak terlalu tahu banyak tentang teman-teman yang bergaul denganmu,
kan?"
Yamano
punya kecenderungan yang mirip dengan diriku di garis waktu pertama.
"……Umm,
benarkah begitu?"
Diriku
yang sekarang, meski tidak peka, berusaha melihat orang-orang di sekitar dengan
baik. Karena aku berinteraksi dengan minat yang tulus, aku jadi mengenal mereka
semua dengan baik.
"Karena
baru satu bulan masuk sekolah, kurasa wajar saja kalau belum tahu
banyak……"
"Kalau
satu bulan, seharusnya kau tahu kepribadian, hobi, bakat, sampai klub yang
mereka ikuti, kan?"
"Tidak,
aku tidak terlalu tahu. Aku
ingat namanya, tapi……"
"……Seperti
dugaanku. Dengar, Yamano. Orang normal biasanya tahu sebanyak itu."
"Be-benarkah
begitu?"
"Kau tidak
tahu karena kau tidak tertarik. Karena tidak tertarik, kau tidak berusaha tahu,
dan meskipun kau dengar, kau akan segera melupakannya. Yamano, meskipun bicara
dengan teman sekelas, pembicaraan kalian tidak berlanjut, kan?"
"Ke-kenapa
Senpai bisa tahu!? Kalau bicara soal musik sih berlanjut……"
Ini terlalu mirip
dengan diriku di garis waktu pertama. Kalau soal hobi memang berlanjut, aku
mengerti.
"Percakapan
tidak akan berlanjut jika kau tidak punya minat pada lawan bicara. Karena kau tidak menggali lebih dalam
tentang mereka."
"Apa salah
kalau tidak punya minat pada teman sekelas?"
"Tidak
salah. Cara menjalani kehidupan SMA itu bebas. Tapi, kau ingin berubah, kan?"
"Iya.
Aku ingin mencoba menjalani kehidupan SMA yang penuh warna seperti
Senpai!"
"Kalau
begitu, kamu harus belajar bersikap penuh perhatian kepada orang lain."
"Perhatian……
itu kata yang sangat asing bagiku."
Yamano
mengerutkan keningnya.
"Aku tahu
kalau kamu sebenarnya orang yang bisa memikirkan orang lain."
Musim dingin
tahun lalu, saat Miori menghilang, Yamano selalu bersama kami. Itu karena dia
mengkhawatirkan Miori. Bagi Yamano, Miori adalah teman masa kecil yang
berharga.
"Tapi,
mungkin kamu tidak memikirkan perasaan orang yang tidak membuatmu
tertarik."
Itulah kenapa
kata-katamu keluar begitu saja. Alasan caramu bicara buruk adalah karena hal
itu.
"……Memang
benar, mungkin begitu."
Sumpit
Yamano yang sedang makan siang terhenti.
"Aku selalu
mementingkan musik sampai tidak memikirkan perasaan Shinohara-senpai."
Singkatnya,
Yamano tidak terlalu tertarik pada Naru. Padahal alasan dia bergabung dengan
band adalah karena ada Serika.
"Lalu, apa
hubungannya dengan analisis tadi?"
"Ini
terdengar paradoks, tapi…… dengan mengenal orang itu dengan baik, terkadang
kamu bisa mulai menumbuhkan rasa tertarik."
Kalau kamu bisa memikirkan perasaan orang yang kamu sukai
dengan benar, maka kamu cukup menambah objek tersebut. Sepertinya dia baru
paham apa yang ingin kusampaikan, Yamano mengangguk kecil.
"Sekalipun kamu tidak bisa menumbuhkan rasa tertarik,
kalau kamu mengenal mereka dengan baik, ada ranjau yang bisa kamu
hindari."
Misalnya,
tidak menyentuh masalah sensitif (kompleks) orang lain. Di garis waktu pertama,
aku juga disebut tidak peka, dan alasannya adalah hal-hal seperti itu.
"Kalau
analisis di tahap pertama, lalu tahap kedua apa yang harus dilakukan?"
"Praktik.
Pada titik ekstremnya, tidak masalah meskipun kamu tetap tidak tertarik pada
orang lain. Kalau kamu bisa
berpura-pura tertarik, percakapan akan terus berjalan. Soal perhatian pun,
kalau kamu bisa berpura-pura memilikinya, itu sudah cukup."
Aku sendiri hanya
berpura-pura menjadi orang yang supel (yang-kyara). Terus terang, selain teman dekat,
aku tidak terlalu tertarik pada orang lain. Namun, bukan berarti karena tidak
tertarik, aku boleh tidak memikirkan perasaan orang lain. Aku rasa, diriku yang
sekarang perlahan-lahan mulai bisa melakukan itu.
"Sebagai
contoh, orang yang bertengkar denganmu…… Matsui-san, kan?"
"Ya.
Dia pemimpin kelompok gadis yang punya pengaruh di kelas. Karena kupikir jika
ingin tampil menawan di SMA, sebaiknya aku mendekati Matsui-san lebih dulu,
jadi aku menyapanya."
Sepertinya
Yamano juga sudah memikirkan berbagai cara untuk berubah sejak masuk SMA.
Bagian itu mirip dengan diriku di garis waktu pertama. Dia memang sudah
berusaha.
"Nama depan
Matsui-san siapa?"
"……Aku tidak
tahu."
Hanya saja, arah
usahanya salah.
"Ada empat
gadis yang biasanya berkumpul dengan Matsui-san, kan?"
"Emm…… Midorikawa-san, Ando-san, Makita-san, dan……
lalu, siapa lagi ya?"
Dia
benar-benar terlihat tidak peduli. Masalahnya ada di situ!
*
Aku memberikan
tugas kepada Yamano untuk menganalisis teman sekelasnya. Selain itu, tentu saja
soal berbaikan dengan Matsui-san. Aku menyerahkan pada dirinya sendiri apakah
ke depannya dia tetap ingin bersama kelompok Matsui atau tidak, tapi soal
bicara yang kelewatan, tentu saja dia harus meminta maaf. Menurut Sakata-kun,
posisinya sudah agak terasing, tapi karena ini baru akhir April kelas satu, aku
berharap itu belum terlambat.
Namun, aku tidak
bisa terus-menerus mengurus Yamano saja. Ada satu masalah lain yang harus
diselesaikan. Tentu saja, soal Naru. Meski Naru terang-terangan menghindariku,
kami tidak bisa menghindari kesempatan untuk bicara berdua. Sebab, kami bekerja
di tempat paruh waktu yang sama. Sekali-dua kali mungkin bisa mengatur jadwal,
tapi lama-kelamaan pasti akan bertemu.
Itu terjadi
sepulang sekolah keesokan harinya.
"Yo,
Naru."
"……Selamat
bekerja."
Aku
bertemu Naru di ruang ganti kafe Mares. Naru sedang mengganti seragam
sekolahnya dengan seragam kerja. Mengikuti Naru yang keluar kelas dengan
terburu-buru membuatku merasa seperti penguntit.
"Jadi, kamu
tidak berhenti kerja paruh waktu, ya."
"……Tidak ada
ruginya punya uang."
Sambil
berganti seragam kerja, aku mengajak Naru bicara.
"Hari ini
kita punya banyak waktu luang."
"……Begitu,
ya."
Naru tampak tidak
ingin diajak bicara, tapi sayang sekali. Dalam hal tidak bisa membaca suasana,
tidak ada yang bisa mengalahkanku.
"Beritahu
aku alasanmu keluar dari band."
"……Tanpa aku
katakan pun, Senpai pasti sudah tahu, kan?"
"Aku
belum mendengarnya langsung dari mulutmu. Kalau begitu, itu tidak lebih dari
sekadar spekulasi."
Begitu kukatakan,
Naru menghela napas panjang dengan dramatis.
"Fakta bahwa
kemampuan teknisku lebih rendah itu benar adanya. Jadi tidak masalah,
kan?"
"Kalau mulai
bicara begitu, akulah yang harusnya berhenti duluan!"
Naru memasang
wajah seperti, "Yah…… mungkin itu benar juga……". Dia malah
menerimanya begitu saja!?
"Apa kamu
benci kebijakan untuk melakukannya dengan serius?"
Aku menatap
matanya lekat-lekat saat bertanya.
"……Yang kubenci adalah cara bicara Yamano-san."
Naru membuka suara dengan tenang. ……Sudah kuduga,
ujung-ujungnya masalah itu lagi, ya.
"Aku tahu
apa yang dia katakan itu benar. Aku sadar kemampuanku rendah, jadi wajar jika
dikatakan begitu. Tapi, aku tidak ingin berada di band yang anggotanya bicara
dengan cara seperti itu."
Seperti yang
dikatakan Naru, cara bicara Yamano memang buruk. Tapi, Naru juga punya masalah.
Makanya sulit untuk menanganinya. Karena tidak bisa sekadar memihak salah satu
saja.
"Mungkin
benar begitu, tapi soal penampilan langsung kemarin, wajar saja kalau kamu
disalahkan."
Saat aku
mengatakannya tanpa emosi, Naru memasang ekspresi terluka.
"……Sampai
Natsuki pun bicara begitu?"
"Kamu
mengambil keputusan untuk bermain aman tanpa berkonsultasi. Wajar saja kalau
dia marah."
Jika kamu
melakukan sesuai latihan dan gagal, itu tidak bisa dihindari. Tapi kalau kamu
melakukan sesuatu yang berbeda dari latihan, tentu saja orang lain tidak bisa
menerimanya.
"Alasan kamu
tiba-tiba menyederhanakan bassline adalah…… karena ada Funayama-san,
kan?"
Karena tebakanku
tepat sasaran, bahu Naru tersentak kaget. Meski penontonnya banyak, aku bisa
mengenali wajah teman sekelas. Walaupun di barisan belakang, Funayama-san
memang datang.
"Karena ada
dia di depanmu, kamu takut gagal, kan? Apa aku salah?"
Bassline yang seharusnya dimainkan Naru memang
sulit. Tapi, bagian itu sudah sering diingatkan oleh Yamano. Karena sering
diingatkan, artinya bagian itu belum diperbaiki sama sekali. Mungkin karena dia
naik ke panggung dengan probabilitas tinggi untuk melakukan kesalahan, dia jadi
ketakutan.
"……Karena
kupikir itu lebih baik daripada gagal……"
"Memang
benar, mungkin lebih baik daripada gagal. Buktinya kita bisa tampil meski ala
kadarnya. Tapi—"
Naru memalingkan
wajah dariku. Ternyata Naru yang sekarang benar-benar berbeda dengan saat
festival budaya.
"—itu sama
sekali tidak bisa disebut melakukan sesuatu dengan serius."
Naru yang sudah
selesai mengganti seragam keluar lebih dulu dari ruang ganti. Aku memutuskan
bahwa tidak baik mengajak Naru bergabung kembali ke band selama masalah ini
masih ditutupi. Namun, aku tidak tahu apakah ucapanku tadi adalah langkah yang
benar.
*
Setelah itu, Naru
benar-benar menutup diri. Dia bekerja dalam diam, dan saat aku mencoba
mengajaknya bicara, dia segera menghilang tanpa jejak. Terlalu menakutkan.
Dalam situasi seperti ini, sudah jelas kalau aku mengajukan "Ayo buat band
lagi!", dia pasti akan menolaknya mentah-mentah.
Saat aku sedang
pusing memikirkan hal itu, ada notifikasi di ponsel.
Funayama: Kalau
tidak keberatan, apa kita bisa bicara sebentar?
Itu adalah pesan
dari pacarnya Naru, Funayama-san. Sepertinya dia menambahkanku sebagai teman
dari grup RINE kelas.
Natsuki: Soal
Naru?
Funayama: Iya.
Saya dengar
dari dia kalau dia mau keluar dari band……
Natsuki: Oke.
Kapan waktunya?
Funayama:
Saya dengar dari Naru-kun, sekarang sedang kerja paruh waktu, ya?
Natsuki: Iya.
Funayama:
Kalau begitu, bisa tunggu sebentar setelah kerjanya selesai?
Natsuki: Mungkin
lewat jam sembilan, apa tidak apa-apa?
Funayama: Tidak
apa-apa. Rumah saya dekat.
Aku menyimpan
ponsel setelah bertukar pesan dengan Funayama-san. Wajar saja kalau dia
khawatir pada pacarnya yang tiba-tiba bilang mau keluar dari band.
"Oi Haibara.
Apa yang kau lakukan, jangan bermalas-malasan!"
"Ma-maaf!
Saya kerjakan sekarang!"
Karena dimarahi
manajer, aku buru-buru kembali bekerja. Setelah itu jam makan malam tiba, dan
waktu berlalu dengan kesibukan memasak. Tak lama kemudian shift berakhir, dan
aku pulang jam sembilan bersama Naru. Kami terdiam di ruang ganti.
"Kalau
begitu…… saya permisi duluan."
Naru yang selesai berganti baju lebih dulu mengangguk kecil
lalu keluar ruangan. Aku memberitahu manajer kalau aku akan "tinggal
sebentar", lalu memesan melon soda. Aku bimbang antara kopi, tapi
kalau minum kafein jam segini, aku jadi tidak bisa tidur.
Kring, bel pintu masuk berbunyi. Itu
Funayama-san dengan pakaian kasual. Mengenakan kaos band dan rok mini. Rambut
hitam panjangnya diikat ke belakang. Penampilan santai yang sangat kontras dengan suasana seriusnya yang biasa,
sangat mengejutkan. Paha mulusnya terlihat menyilaukan.
Aku berdeham
untuk mengalihkan pikiran, lalu melambaikan tangan padanya. Funayama-san datang ke depanku
lalu menunduk dengan ekspresi menyesal.
"Maaf ya. Di jam segini. Saya benar-benar ingin
mendengar ceritanya sekarang juga……"
"Tidak apa-apa. Aku juga ingin bicara dengan
Funayama-san. Ayo, silakan duduk."
Aku memintanya duduk dan menyerahkan menu.
"Kalau
begitu, saya pesan kopi es."
"Apa tidak
apa-apa minum kopi jam segini?"
"Tidak
masalah. Karena kafein adalah makanan pokok saya……"
"Eh, seram
sekali……"
Saat aku menarik
diri karena kaget, Funayama-san tersenyum.
Aku tidak tahu
apakah itu candaan atau serius, tapi aku kehilangan momen untuk membalasnya.
Aku berdeham lagi
untuk kembali ke topik.
"Kemarin
waktu konser, kamu datang melihat, kan?"
"Iya. Karena
diajak Naru-kun. Seru sekali."
Kata-kata itu
pasti bukan sekadar basa-basi. Aku rasa konser itu memang acara yang menyenangkan.
—Meskipun itu
bukan karena kekuatan kami.
"Setelah
itu, tiba-tiba dia bilang mau keluar dari band…… aneh rasanya. Padahal
dia tidak gagal total. Tapi Naru-kun hanya memberikan penjelasan yang tidak
jelas……"
Funayama-san tampak murung. Begitu ya, ternyata Naru tidak menceritakannya.
Bagaimana ini?
Jika Naru menyembunyikannya dari kekasihnya, rasanya tidak enak jika aku bicara
sembarangan.
Tapi ada
kemungkinan masalahnya jadi makin rumit jika aku diam.
"……Apa Naru
bilang sesuatu yang lain?"
"Emm, dia
bilang dia tidak mau lagi melakukan band karena disalahkan terus, jadi dia
sempat depresi. Waktu itu saya elus-elus kepalanya…… tapi dia tidak memberitahu
alasannya……"
……Naru. Kamu
ternyata manja sekali pada pacarmu, ya…….
"Ah, maaf…… sepertinya saya pamer kemesraan……"
"Tidak, tidak apa-apa."
Aku sedikit tertarik dengan cara pasangan teman berpacaran!
Kring, bel pintu masuk berbunyi lagi.
Jarang
sekali ada pelanggan baru setelah jam sembilan malam.
Padahal
toko tutup jam sepuluh.
"Gawat
gawat, ada barang yang tertinggal……"
……Saat
aku sedang berpikir begitu, yang masuk ternyata Naru. Dia melihatku yang
membeku, sementara Funayama-san yang duduk membelakangi pintu terlihat bingung.
Saat
Funayama-san menoleh ke belakang, matanya bertemu dengan Naru.
"Eh,
Natsuki dan Shizuki……?"
"Yo…… Naru. Tadi kita baru saja bertemu, ya……"
Mungkinkah, ini
gawat? Bagaimana perasaan Naru saat melihat pacar dan temannya berduaan di
larut malam?
"Se-selamat
malam…… Naru-kun……"
Funayama-san sepertinya juga merasa ini buruk, suaranya
terdengar gemetar. Naru melihat kami bergantian dua kali, mengucek matanya,
lalu melihat lagi. Kemudian, air
mata mulai menggenang di sudut matanya.
"A-, apa ini
selingkuh!? Benar-benar
sial sekali nasibku hari ini!"
Naru berteriak
seperti itu, lalu berlari keluar toko.
"Tu-tunggu
Naru-kun! Bukan
begitu! Ada hal yang harus dijelaskan—!"
Funayama-san
segera berlari mengejarnya. Manajer di belakang konter menatapku tajam tanpa
kata.
Aku hanya bisa menunduk berulang kali kepada pelanggan yang masih ada di dalam toko.
*
Apa-apaan situasi
ini……
Naru dan
Funayama-san duduk tepat di hadapanku.
Naru
memasang wajah tidak puas, sementara Funayama-san berusaha keras
menenangkannya.
"Shizuki
bertemu Natsuki hanya berduaan……"
"Ka-kan
sudah kubilang dari tadi kalau aku minta maaf!"
"Lagipula,
kau memakai pakaian santai yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya……"
"Ti-tidak
ada gadis yang memakai pakaian seperti ini di depan kekasihnya!"
Yah, aku memang
sempat berpikir kalau pakaian itu terlalu santai, sih. Melihat percakapan
mereka dari tadi, satu hal yang jelas: Naru itu sangat pencemburu.
"Sudah
kubilang dari tadi, kan? Itu
soal urusanmu."
"Aku
mengerti situasinya, tapi……"
Meski sudah
dijelaskan berkali-kali, Naru tetap cemberut.
"Karena
Natsuki keren, aku jadi takut Shizuki akan direbut……"
Tanpa menatapku
maupun Funayama-san, dia menatap keluar jendela.
"Karena aku
tidak punya kepercayaan diri……"
Saat Naru
bergumam pelan, Funayama-san menumpukkan tangannya di atas tangan Naru.
"Tidak
apa-apa, Naru-kun. Aku menyukaimu."
"Shizuki…… benarkah? Apa kau lebih menyukaiku daripada Natsuki?"
"Iya.
Itu benar."
Mereka
saling menatap. Tepat di depanku. Apa-apaan tontonan yang harus kulihat dari tadi?
"Memang
benar Haibara-san lebih pintar, atletis, wajahnya tampan, badannya tinggi,
punya kemampuan komunikasi yang baik, baik hati, dan jago menyanyi. Tapi, meski
begitu aku——"
Bukan, bukankah
kau terlalu banyak memujiku? Menurutku itu benar-benar penilaian yang
berlebihan.
"Ternyata
memang tidak ada satu pun hal yang bisa kulakukan untuk mengalahkan
Natsuki!"
Uwooooon, Naru mulai menangis.
"A-ah, bukan
begitu! Maksudku, meski begitu, aku tetap lebih menyukai Naru-kun!"
Funayama-san
tampak kewalahan membujuk Naru. Situasinya kacau sekali. Meski mungkin ini
semua salahku juga.
"Hmm,
merepotkan sekali orang ini."
"Aah!? Natsuki, barusan kau bilang
merepotkan, kan!? Ternyata
kau memang memikirkanku seperti itu! Kau pikir aku tidak dibutuhkan di
band!"
Gawat, isi hatiku
malah keluar. Naru menangis seperti anjing, sementara Funayama-san mengusap
kepalanya. Melihat bagaimana pasangan teman berpacaran ternyata terasa sangat
gamblang dan sedikit menyebalkan.
Aku menghela
napas, lalu berkata.
"……Mana
mungkin aku berpikir kalau Naru tidak dibutuhkan."
"Tapi kau
memarahiku, kan!"
"Ya jelas
aku marah kalau ada alasan untuk marah."
Funayama-san yang
sedang mengusap kepala Naru yang cemberut menatapku sekali lagi.
"Apa yang
sebenarnya terjadi, tolong beritahu aku juga."
"……Naru, kau
tidak keberatan kan kalau kuceritakan?"
Naru tampak
bimbang sejenak, tapi akhirnya mengangguk pasrah.
Aku menceritakan
kronologinya sama seperti saat aku berkonsultasi dengan Tatsuya dan yang
lainnya. Selama aku bercerita, Funayama-san mendengarkan dengan ekspresi
khidmat.
Saat aku selesai
bicara, Funayama-san memejamkan matanya dalam diam. Setelah membukanya kembali,
dia membuka suara dengan tenang.
"……Dari yang
kudengar, memang benar ada masalah pada cara bicara Yamano-san."
"Ya.
Sekarang dia sedang berusaha keras untuk memperbaikinya."
"Apa benar
bisa sembuh? Kupikir itu sudah bawaan lahirnya."
Naru yang
tadi diam saja sekarang mengeluarkan unek-uneknya dengan jujur. K
arena ada
Funayama-san, dia mungkin berpikir tidak bisa melarikan diri lagi. Kalau dia lari tanpa bicara apa-apa, itu
terlalu pengecut. Itu soal harga diri seorang pria.
……Mengesampingkan
fakta bahwa keadaan di mana dia sedang dielus kepalanya oleh pacarnya sendiri
sudah terlihat sangat pengecut.
"Coba
bayangkan rasanya terus-menerus disemprot dengan kata-kata kasar. Lagipula,
Natsuki pun sering dibilang macam-macam, kan? Tidak merasa kesal? Padahal ini
Senpai, lho."
Naru bicara
dengan nada seperti orang mabuk, padahal yang diminumnya hanya cola.
"Sudah
kuduga, Naru ternyata tipe orang yang memendam semuanya, ya."
Kebenciannya
terhadap Yamano ternyata jauh lebih besar dari yang kukira.
"Apa kau
membenci Yamano?"
"……Ya, jelas
tidak suka."
Naru
memalingkan wajahnya sambil berkata begitu.
"Selama
masih ada Yamano-san, aku tidak akan kembali ke band."
Menanggapi Naru
yang sedang merajuk, Funayama-san membuka suara.
"Tapi,
kata-kata kasar yang muncul saat dia berapi-api itu adalah perasaan jujurnya,
kan?"
Di luar dugaan,
kata-kata Funayama-san seperti sedang menceramahi Naru.
"Kalau
begitu, bukankah kau harus menerima kata-kata itu dengan benar?"
Melihat cara dia
mengelus kepala Naru, kupikir dia hanya memanjakannya, tapi ternyata tidak.
"Kalau mau
melakukannya dengan serius, sudah wajar jika dikritik dengan keras. Saat aku
ikut klub voli di SMP, aku sering dimarahi pelatih. Tapi, aku tahu itu semua
dilakukan demi pertumbuhan kami. Jadi, aku tidak membenci pelatih."
Funayama-san
mengatakannya dengan datar. Ekspresinya
minim emosi, sedikit menakutkan.
"Ja-jangan
bilang Shizuki juga memihak mereka!?"
"Jika
Naru-kun salah, membawa ke arah yang benar juga tugas seorang kekasih."
Funayama-san
berkata dengan sikap tegas. Ngomong-ngomong, apakah itu benar-benar tugas
seorang kekasih? Bukannya itu tugas orang tua atau guru?
"Naru-kun.
Kau tadi bilang akan melakukannya dengan serius di band, jadi tolong dukung
aku, kan?"
"Uh…… itu, iya. Aku bilang begitu."
Meski
bingung, Naru mengangguk.
"Aku
menantikannya, lho. Aku jatuh cinta padamu saat melihatmu bermain bas di
festival budaya tahun lalu. Bukan cuma soal festival minggu lalu, aku juga
ingin melihat pertumbuhan Naru-kun ke depannya. Tapi, apa kau mau menyerah
begitu saja?"
"U-uhhh……"
Funayama-san
yang menghujani dengan logika benar itu terlalu menakutkan. Naru sampai menciut begitu kecil.
"Naru-kun,
niat seriusmu saat ini hanya sebatas kata-kata saja. Haibara-kun juga bilang begitu."
"Aku
tidak bilang begitu!?"
Jangan asal
bicara seolah-olah aku mengatakannya! Yah, sebenarnya aku memang sempat
memikirkannya sedikit, tapi tetap saja!
Namun,
sepertinya suaraku tidak terdengar. Naru dan Funayama-san sudah masuk ke dunia mereka sendiri.
"Aku tahu
mental Naru-kun lemah. Aku tahu kau akan terluka jika dikritik keras. Tapi,
lari itu tidak baik. Hadapi dengan benar, dan berusahalah memperbaiki apa yang
telah dikritik. Itulah arti dari melakukannya dengan serius."
Funayama-san
mengatakannya dengan perlahan dan sopan, seolah sedang menanamkan pemahaman.
……Aku berpikir dia sepertinya bakal jadi guru di masa depan. Kata-katanya
punya kekuatan.
"Iya…… maafkan aku."
Sambil
menangis sesenggukan, Naru mengangguk.
"Kau
benar-benar ingin melakukannya dengan serius, kan?"
"Iya…… aku ingin tampil di konser terbaik bersama
kalian semua."
Mendengar
isi hati Naru yang jujur, aku merasa lega. Kalau kata-kata itu yang keluar, semuanya akan
baik-baik saja. Kami bisa melanjutkannya bersama.
"Kalau
begitu, hadapilah dengan benar. Kalau kau takut, aku akan mendukungmu."
"Uh…… iya.
Mohon bantuannya."
Percakapan mereka
sudah sepenuhnya seperti orang tua dan anak. Funayama-san yang selesai
meyakinkan Naru menatapku lalu menunduk.
"Maaf ya,
anakku yang satu ini."
"Anakmu? Kau barusan bilang 'anakku',
kan?"
"Sepertinya
dia sudah punya niat, jadi tolong terima dia kembali ya."
Senggolanku
tadi diabaikan sambil tersenyum. Aku tidak tahu itu bercanda atau serius!
Situasinya benar-benar di luar rencana, tapi entah bagaimana masalahnya mulai
terselesaikan.
Mungkin
memang benar, aset terpenting yang harus dimiliki adalah kekasih yang bisa
diandalkan.
"……Yah,
aku ingin mendengarnya langsung dari mulutnya sendiri."
Saat aku
mendesak, Naru mengusap sudut matanya dengan lengan baju.
"……Maaf,
Natsuki."
Lalu, dia
menatapku dengan mata yang memerah.
"Aku
tidak mau keluar dari band. Aku ingin bermusik bersama Natsuki dan yang
lainnya."
"Apa
kau tidak masalah melakukan band dengan Yamano lagi?"
"……Aku
tahu kalau Yamano-san menghadapi musik jauh lebih tulus daripada diriku."
Naru memejamkan
mata erat-erat lalu membukanya kembali. Setelah memutuskan tekad, matanya
memancarkan cahaya yang kuat.
"Jadi, aku
memutuskan untuk menghadapi kata-kata kasar Yamano-san dengan benar. Selama ini
aku terus beralasan dan melarikan diri. Tapi, aku sadar kalau melakukan itu,
aku tidak bisa bermusik sesuai keinginanku."
"Kalau
begitu…… mari kita lakukan dengan serius kali ini."
Saat aku mengulurkan tangan, Naru menjabatnya dengan
perlahan.
Funayama-san melihat kami dengan tatapan hangat sambil
bertepuk tangan. Manajer di
belakang konter pun ikut mengangkat bahu dengan ekspresi seolah ingin berkata,
"Ya ampun".
Sedikit
memalukan, ya. Dan juga, maaf sudah membuat cemas saat kerja tadi. ……Ah, benar. Aku baru ingat satu
strategi.
"Tapi,
ada syarat untuk kembali ke band."
"……Syarat,
apa itu?"
Naru mengedipkan
mata, dan aku mengajukan rencana yang baru saja terpikirkan.
"Naru,
bantulah Yamano memperbaiki cara bicaranya."
"Hah!?"
"Lagipula,
kau sendiri yang paling terganggu dengan hal itu, kan?"
"Bukan
begitu, tadi kita kan bicara soal menerima kata-kata kasar dan berusaha keras?
Kalau Yamano-san memperbaiki cara bicaranya, bukannya nanti jadi tidak ada
artinya……"
"Dengar,
kata-kata yang tajam dan cara bicara yang buruk itu dua hal yang berbeda."
"Jujur saja,
aku agak takut, dan aku sudah trauma duluan……"
"Justru
karena itu, karena kita akan bekerja sama untuk waktu yang lama, ayo kita
berbaikan dengan benar."
Melihat Naru yang
masih ragu, Funayama-san perlahan mendorong punggungnya.
"……Aku
mengerti. Kalau
Natsuki yang bilang begitu."
Naru
mengangguk pelan. Hubungan yang bagus, pikirku. Saling mendukung sebagai
kekasih. Aku juga ingin hubungan seperti itu dengan Hihari.
"……Terima
kasih, Shizuki. Dan maaf sudah membuatmu khawatir."
"Tidak
apa-apa. Tapi, hukumannya adalah tidak boleh kencan untuk sementara
waktu."
"Ka-kencan
dilarang!? Tapi aku tidak bisa hidup tanpa Shizuki!"
"……Yah,
kalau sampai bilang begitu, mungkin sedikit diperbolehkan."
Ternyata……
aku mungkin tidak ingin hubungan seperti pasangan yang terlalu bucin seperti
ini. Sambil ditinggal dalam percakapan mereka, aku memutuskan untuk
tidak pamer kemesraan di depan teman-temanku.
*
Keesokan paginya.
Saat masuk ke kelas, Naru menyapaku.
"Selamat
pagi, Natsuki."
"Pagi,
Naru."
Sudah lama
rasanya tidak bicara dengan Naru di kelas.
"Soal
kejadian kemarin, sebenarnya apa yang harus kulakukan?"
Naru bertanya.
Tadi malam, kami diusir dari restoran karena sudah mendekati jam tutup.
Karena bukan
waktu yang tepat bagi anak SMA untuk mengobrol di pinggir jalan, kami langsung
bubar begitu saja. Jadi, aku belum menjelaskan apa-apa pada Naru.
"Sekarang,
kita sedang menjalankan 'Proyek Transformasi Yamano Saya'."
"Namanya
literal sekali."
Jangan cerewet
terus! Nama yang mudah dimengerti adalah yang terbaik! Aku menjelaskan garis
besar rencananya pada Naru.
"Singkatnya,
ada dua tahap: analisis dan praktik."
"Rencananya
simpel sekali, apa benar akan efektif?"
Naru
masih memasang wajah curiga meski sudah mendengar garis besarnya.
"Lagipula,
kalau logikanya begitu, artinya Yamano-san tidak tertarik padaku, kan?"
"Begitulah
kenyataannya."
"Keterlaluan!
Padahal kita di band yang sama! Meski aku belum kembali ke band sih!"
"Makanya,
mari buat dia tertarik. Ajari Yamano bahwa kau adalah orang yang sangat
menarik."
"Aku tidak
merasa ini akan berhasil sama sekali!?"
Naru mengatakan
hal yang mengejutkan terhadap rencanaku yang sempurna.
"Yah…… memang benar, hubunganku dengan Yamano-san
selalu terasa canggung."
Naru bergumam sambil merenung. Yamano adalah bakat yang
dibawa Serika, dan dari awal dia sudah kenal denganku. Jadi, sudah jelas
mengapa hubungannya dengan Naru terasa canggung.
"Rasanya kita seperti teman dari teman, ya. Padahal
sudah setengah tahun bersama."
"Itu karena kau ingin bilang kalau aku tidak punya
kemampuan komunikasi, kan!? Aku
tahu!"
"Itu salah
satunya. Satunya lagi karena Yamano tidak tertarik padamu."
"Itu memang
masuk akal, tapi apa perlu mengatakannya secara terus terang seperti
itu!?"
Naru merengek
sambil hampir menangis, tapi maafkan aku. Ini bagian penting.
"Lho, apa
kalian sudah berbaikan?"
"Cepat
sekali, ya."
Melihat kami,
Tatsuya dan yang lainnya mulai menggoda kami.
"Biarkan
saja kami!"
Sambil melirik
Naru yang membantah dengan malu, aku berpikir. Tadi malam, aku sudah
menyampaikan pada Serika bahwa Naru ingin kembali ke band.
Namun, tidak
mungkin aku langsung menerima kembalinya orang yang sudah pernah bilang ingin
keluar begitu saja.
Setidaknya, Naru
sendiri yang harus menyampaikannya langsung pada Serika sebagai bentuk
pertanggungjawaban. Jadi untuk saat ini, statusnya masih ditangguhkan.
Memikirkan masa
depan, hubungan Yamano dan Naru harus lebih akrab. Aku juga ingin berbagi
situasi dengan Serika, jadi sebaiknya kumpulkan mereka semua sekali saja.
"——Oke,
Naru. Kita adakan Rapat Band Pertama!"
"Haa…… aku
tidak tahu apa-apa, tapi aku serahkan padamu saja, Natsuki."
Naru
menghela napas sambil mengangkat bahu.
*
Sepulang
sekolah. Kami berempat berkumpul di restoran keluarga dekat stasiun.
Kami
memesan drink bar dan kentang goreng, lalu bersiap untuk duduk dalam
waktu lama. Naru, Yamano, dan Serika saling melirik dengan ekspresi canggung.
"Baiklah,
mari kita mulai. Rapat Band Pertama—!"
Meski aku
bertepuk tangan, tidak ada yang ikut bertepuk. Menyedihkan.
"Itu,
Natsuki. Bisa hentikan nada bicara itu?"
Serika
langsung memberikan keluhan yang simpel, dan aku hanya bisa menunduk sambil
berkata, "Maaf……". Karena ketiganya tampak sangat canggung, aku hanya berusaha mencairkan
suasana……
Mengabaikanku,
Serika bertanya pada Naru.
"……Apa benar
kau ingin kembali?"
"Iya. Maaf
karena sudah bilang ingin keluar dengan gampangnya."
"Apa kau
punya niat serius untuk melakukannya?"
"Punya.
Setidaknya, untuk saat ini."
Naru menjawab
sambil menatap mata Serika dengan mantap.
"……Apa kau
dibujuk Natsuki?"
"Tidak,
dia tidak bicara banyak hal kok."
Itu
fakta. Yang membujuk Naru adalah Funayama-san.
"Aku
diceramahi oleh kekasihku. Dari situ aku sadar. Selama ini aku hanya lari, dan
'niat serius' itu hanya di mulut saja. Jadi, aku ingin memperbaiki diri dan
melakukannya sekali lagi."
Meski mendengar
kata-kata Naru, Serika menatapnya dalam diam selama beberapa saat. Pemimpin
band ini adalah Serika.
Pada akhirnya,
jika Serika tidak mengakuinya, Naru tidak bisa kembali ke band.
Aku menelan
ludah, menatap cemas ke arah Serika.
"……Bodoh."
Butiran air mata
jatuh satu per satu dari sudut mata Serika.
"Eh, tunggu,
Serika-senpai!?"
Yamano tampak
terkejut melihat Serika yang mulai menangis.
"Kau tahu
betapa sedihnya perasaanku?"
Naru pun
mengerjapkan mata, seolah tak percaya.
"Ke-kenapa……
hanya karena aku menghilang……"
Aku tahu perasaan
yang dicurahkan Serika untuk band ini. Aku tahu bahwa Serika sebenarnya jauh
lebih sensitif dari yang terlihat di mata orang lain, dan dia selalu ketakutan
akan pembubaran band.
Namun,
aku juga tahu bahwa dia benar-benar ingin bermusik dengan serius.
"Jangan
bicara seperti itu."
Aku tahu betul
betapa terpuruknya Serika saat Naru memutuskan untuk keluar.
"Tentu saja
aku akan sedih kalau Shinohara-kun tidak ada."
Naru
sempat merendahkan dirinya sendiri dengan berkata "orang seperti
aku". Pasti dia berpikir
kepergiannya bukan masalah besar. Tapi, itu salah.
Naru adalah rekan
yang berharga bagiku, dan Serika pun merasakan hal yang sama.
"Kamu adalah
rekan berharga bagi kami. Pertama-tama, sadarilah hal itu."
Aku tahu bahwa
harga diri yang terlalu rendah akan memicu perselisihan. Itulah mengapa aku
mendesak Naru agar menyadarinya.
"……Maaf. Aku
merenungi perbuatanku."
Naru menundukkan
kepalanya sekali lagi.
"Serika."
"……Ya. Aku
menerima Shinohara-kun kembali."
Setelah aku
memancingnya, Serika menjawab begitu sambil menyeka air matanya dengan lengan
baju.
"Sekali
lagi, mohon bantuannya."
Naru mengangkat
wajahnya dengan ekspresi lega. Kupikir masalah sudah selesai, tapi dunia tidak
semudah itu.
"Yamano.
Bukankah ada sesuatu yang ingin kau katakan pada Naru?"
Saat aku
bicara begitu, bahu Yamano tersentak.
"Itu…… Shinohara-senpai. Waktu itu, aku bicara terlalu
kasar. Maafkan aku."
Lalu, dia membungkuk dalam-dalam.
"Tidak,
tidak apa-apa. Apa yang Yamano-san katakan itu benar. Aku yang salah karena
mengubah bassline saat tampil. Itu fakta. Aku salah karena melarikan
diri dari kritik Yamano-san."
"Tapi……
caraku bicara memang buruk."
Melihat Yamano
seperti itu, Naru tampak terkejut. Pasti dia tidak menyangka Yamano akan bicara
seperti itu atas kemauannya sendiri.
"Aku juga…… ingin berubah. Aku tidak ingin menjadi diriku yang selalu
dibenci orang lain."
"Kalau
begitu Yamano, apakah kau sudah mengerjakan pekerjaan rumah yang
kuberikan?"
"Semampuku…… sih……"
Yamano
mengeluarkan ponsel dari saku roknya lalu menyerahkannya padaku. Saat kulihat
layarnya, aplikasi catatan terbuka.
Di sana tertulis
nama teman sekelas, kepribadian, hobi, dan lainnya dalam bentuk poin-poin.
Hebatnya, ada empat puluh orang yang tertulis dengan sangat rinci.
"Bukankah
ini terlalu banyak!?"
"Eh?
Bukankah Senpai sendiri yang menyuruhku menyelidiki teman sekelas?"
Benar juga. Tidak
seperti aku, Yamano bukanlah orang yang canggung secara sosial. Itulah mengapa
jika dibutuhkan, dia tidak keberatan menyapa siapa pun.
"Aku mulai
paham apa yang Senpai katakan. Awalnya aku cuma bicara pada mereka untuk riset,
tapi entah kenapa percakapannya terasa lebih mengalir dari biasanya……"
Mungkin teringat
momen itu, Yamano tersenyum senang.
"Ternyata
kalau orang tahu kita ingin mengenal mereka lebih dekat, mereka akan bercerita
dengan senang hati, ya."
"Karena
dasar dari percakapan adalah mengenal lawan bicaramu."
Sepertinya tahap
pertama dari rencanaku sudah selesai dengan mudah.
"Apa kau
sudah berbaikan dengan Matsui-san?"
"Itu…… gagal.
Padahal aku sudah berniat meminta maaf dengan benar, tapi……"
Ekspresi Yamano meredup. Jadi yang itu gagal, ya. Yah, itu karena Yamano bicara terlalu
kasar, sih. Aku mengerti kenapa mereka tidak langsung memaafkannya.
"Apa kau
bertengkar di kelas juga?"
Serika yang tidak
tahu duduk perkaranya tampak kebingungan.
"Sebenarnya—"
Yamano
menjelaskan situasinya pada Serika. Serika mengerang dengan ekspresi cemas.
"Hmm, kalau
dilihat-lihat, sebenarnya Saya memang salah."
"Memang
begitu, sih……"
"Tapi, apa
itu sampai harus sejauh ini tidak memaafkan? Bagaimana caramu meminta
maaf?"
"Caranya……
ya, seperti biasa?"
Aku punya firasat buruk, jadi aku memutuskan untuk menyela.
"Bisa kau
peragakan?"
"Peragakan?
Boleh saja…… kalau begitu Senpai jadi Matsui-san ya."
"Oke."
Yamano yang
berdiri berhadapan denganku berdeham pelan. Lalu, dia mendekat ke ruang pribadiku dan
bicara dengan penuh semangat.
"Matsui-san,
aku ingin mengenalmu lebih jauh! Oh iya, soal kemarin maaf ya!"
"……Aku paham
masalahnya."
Aku melirik
Serika. Wajahnya terlihat ragu. Lalu aku melirik Naru. Dia memegangi kepalanya
dengan frustrasi.
"Eh…… apa ada yang aneh?"
"Oke,
Yamano. Mari kita pikirkan bagaimana perasaan Matsui-san saat ditanya seperti
itu."
Rasanya aku
seperti sedang memberikan pelajaran budi pekerti di sekolah saja.
"Bagaimana, perasaannya…… hmm……"
"Kalau tidak
tahu, mari coba posisikan dirimu di posisi mereka."
"Maksudnya
kalau aku jadi Matsui-san, begitu kan? Hmm……"
Yamano tampak
berpikir keras dengan ekspresi sulit. Lalu, dia bicara seolah baru saja sadar.
"Apa itu
berarti mereka merasa kesal karena aku menunda permintaan maafnya?"
"Ya, tepat
sekali."
Syukurlah. Aku
sempat khawatir kalau dia tidak paham juga.
"Begitu ya……
kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi……"
Yamano tampak
pucat saat menyadari perbuatannya sendiri. Mengapa dia tidak sadar? Aku tahu penyebabnya.
Karena dia sama denganku. Tapi, aku ingin dia menyadarinya sendiri daripada aku
yang mengatakannya.
"Apakah
Saya sebenarnya……"
Serika
bergumam seolah menyadari sesuatu. Mungkin dia akan mengatakan hal yang sebenarnya ingin kusimpan rapat-rapat.
Aku mencoba menghentikannya tapi terlambat, Serika melanjutkan.
"……lebih
tidak peka daripada aku?"
……Yah, mungkin
ada benarnya juga. Tapi karena kata-katanya berbeda dari yang kuduga, ya
sudahlah.
Lagipula,
Serika tidak senon-del (tidak peka) itu. Sebagai raja dari kaum non-deli, aku menjaminnya.
"Eh!?
Tidak begitu, kok!"
Yamano
menyangkal dengan terkejut. Di bagian mana yang harus kau sangkal!?
"Bukannya
menyangkalnya saja sudah membuktikan kalau kau tidak peka?"
Saat Naru
menunjuknya dengan wajah jengkel, Yamano berdiri mematung dengan ekspresi
terperangah.
Lupakan
sandiwara ini, ada hal yang lebih penting untuk dilakukan hari ini.
"Yah,
mumpung kita punya waktu, bagaimana kalau Naru dan Yamano saling mengenal lebih
dalam?"
Tujuannya
agar mereka berdua yang hubungannya canggung bisa menjadi akrab. Naru dan
Yamano yang duduk berseberangan pun saling tatap.
"……"
"……"
Suasananya
sangat canggung.
"Itu, aku
merasa sangat risih kalau terus dipandangi seperti itu."
Naru
mengeluh pada aku dan Serika yang mengawasi dari samping.
"Ya sudah,
jangan hiraukan kami."
Kataku sambil
memakan kentang goreng. Naru pun dengan enggan menghadap Yamano.
"Itu, hobimu
apa……?"
Dia bertanya
karena tidak tahan lagi dengan keheningan.
"Eh? Apa ini
kencan buta?"
"Oi Serika.
Jangan ikut campur."
Aku membungkam
mulut Serika yang kelihatan geli. Meski begitu, Yamano tumben sekali diam.
Yah, mungkin
karena dia hampir membuat band ini bubar gara-gara mulutnya, jadi dia jadi
lebih berhati-hati dalam memilih kata.
"Hobiku main
drum. Mungkin sudah kelihatan dari gaya bicaraku, sih……"
"Ah, begitu ya…… jadi, musik seperti apa yang kau
suka?"
"Band yang sering kudengar akhir-akhir ini mungkin SiM
atau BLUE ENCOUNT."
"Ah, aku paham."
Mendengar jawaban Yamano, wajah Naru sekarang terlihat
seperti sedang berpikir, "Aku tahu kalau dua-duanya adalah band bagus,
tapi sejujurnya aku tidak terlalu detail soal itu……". Memang sulit kalau harus berkomentar di saat
seperti itu.
"Kalau
Shinohara-senpai?"
"Aku suka Oasis.
Pada dasarnya aku cuma mendengar musik barat."
"Ah, aku
paham."
Wajah Yamano
sekarang terlihat seperti, "Musik barat ya. Aku tidak terlalu sering
mendengarnya……".
Lalu dia menatapku dengan bingung.
Aku
menunjuk Naru. Sepertinya niatku agar dia mengenal Naru lebih jauh
tersampaikan.
"Coba
beritahu aku beberapa lagu Oasis yang kau suka. Aku ingin coba mendengarnya
juga."
"Eh,
benarkah!? Wah, sebenarnya banyak sekali mahakarya mereka, jadi aku bingung
harus merekomendasikan dari mana. Tapi untuk pemula, mungkin 'Stop the
Clocks' ya. Itu album best-of penuh lagu legendaris yang dirilis
tahun 2006, di sana kau bisa melihat proses evolusi mereka mulai dari lagu
debut 'Supersonic' yang……"
Seperti dugaanku,
Naru itu cuma seorang otaku musik. Begitu diberi celah sedikit saja, dia
langsung bicara dengan sangat fasih.
Yamano tampak
terkejut melihat Naru, tapi setelah itu dia tertawa dengan antusias.
"Ahahaha!
Mengerti! Kalau begitu aku akan coba dengar album best itu dulu!"
"Apa kau mau
kupinjamkan? Di rumah aku punya dua, satu untuk simpanan dan satu untuk
diputar."
"Eh, boleh?
Kalau begitu tolong ya!"
"Sebagai
gantinya, beritahu aku band apa saja yang Yamano-san suka."
"Oh, kalau
begitu aku juga akan pinjamkan album rekomendasiku, kalau kau mau berikan
ulasannya—"
Aku memakan
kentang gorengku sambil melihat Yamano dan Naru yang mulai mengobrol dengan
akrab. Tiba-tiba mataku bertemu dengan Serika.
Sambil meminum
cola lewat sedotan, dia mengayunkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
Dia
tampak senang. Serika mengambil ponselnya dan mulai mengetik sesuatu.
Ponselku
bergetar. Chat pribadi dari Serika yang duduk tepat di depanku. Bunyinya: "Bagus
ya, mereka sepertinya bisa akur".
Karena
keduanya sama-sama suka musik, mereka pasti bisa akrab kalau sudah ada
pemicunya. Justru aneh kenapa mereka tidak akrab dari awal.
Yamano
sekarang pasti tertarik pada Naru. Dia merasa Naru ternyata orang yang lebih menarik dari dugaannya.
Ingin
mengenal seseorang berarti menggali sisi yang belum kita ketahui.
Seringkali,
ketertarikan justru muncul setelah kita mencoba mengenal orangnya terlebih
dahulu.
Terutama
bagi orang seperti Naru, yang tidak akan menunjukkan jati dirinya kecuali kita
sendiri yang mencoba melangkah masuk.
Aku ingin
Yamano memahami hal itu.
Itulah
alasan kenapa aku meminta Naru untuk bekerja sama memperbaiki cara bicara
Yamano.
Mencoba
untuk memahami orang lain.
Itu
adalah hal yang penting agar bisa menjadi pribadi yang mampu berempati dengan
perasaan sesama.



Post a Comment