Chapter 2
Protagonis Erogē Tidak Memilih
"Hei, Noa.
Bagaimana dengan hari ini?"
"Sayang
sekali, aku ada kerja paruh waktu. Kalau besok, mungkin bisa."
Jumat, 6
September, sepulang sekolah. Aku berjalan pulang sambil mengobrol dengan Kaede
seperti biasanya.
Kami
memang sudah resmi berpacaran sejak awal liburan musim panas, tapi selain satu
hal itu, hubungan kami tidak banyak berubah.
Dan satu
hal yang berubah itulah, justru bagian yang membuatku sedikit tidak nyaman.
"Setelah
kerja paruh waktu selesai, nanti aku jemput ya."
"Tidak,
jangan. Bersabarlah. Lagi pula, kau kerja di mana memangnya?"
"......Di
taman, mungkin?"
"Tidak
mungkin. Besok saja aku temani, ya? Janji?"
Setelah menjadi
sepasang kekasih, kami bahkan sampai melakukan hubungan intim di kencan
pertama.
Kalau
dipikir-pikir sekarang, saat itu aku memang sedang terbuai.
Kaede bilang dia
menyukaiku, dan dia memohon-mohon, jadi aku pun hanyut terbawa suasana.
Sejak saat itu,
Kaede selalu mencari kesempatan untuk melakukan hal-hal mesra.
Dia tiba-tiba
menciumku, atau secara mendadak menyentuh pantat dan dadaku. Bagi Kaede, itu
mungkin hanya sekadar iseng dan dia tertawa, tapi bagiku, aku ingin dia
berhenti.
Aku ingin dia
melakukan hal seperti itu dengan lebih lembut.
Rasanya tidak
enak, seolah aku hanya dijadikan mainan.
Saat aku mencoba
menegurnya secara halus, Kaede hanya menganggap enteng dengan alasan, "Kan
kita pacaran."
Memang benar hal
seperti itu dilakukan oleh sepasang kekasih, tapi justru karena kami sepasang
kekasih, bukankah seharusnya dia bersikap lebih pantas?
Belakangan ini
aku sering memikirkan hal itu, tapi aku tidak bisa mengatakannya dengan tegas
pada Kaede.
Karena kami sudah
susah payah berpacaran, aku tidak ingin dibenci atau diputuskan.
Apalagi orang tua
Kaede, orang tuaku, bahkan Sakura pun sudah merestui kami dengan meriah.
Jadi, aku hanya
mencoba berpikir kalau suatu saat nanti Kaede pasti akan bersikap lebih tenang.
"......Halo,
Ibushi-kun."
"Halo, halo,
Mizukami-senpai!"
Hari itu, aku
bertemu dengan Ibushi-kun di rak sepatu tempat kerja, tapi dia tampak canggung.
Melihat sikapnya,
sepertinya dia mengkhawatirkan kejadian saat istirahat siang tadi. Ibushi-kun
itu ternyata cukup peka, ya.
"......Sedang
selingkuh dengan berapa orang~?"
"Aku tidak
bisa mengatakannya."
"Ho ho~.
Jangan-jangan pasangan Kinoshita-san itu Ibushi-kun, ya? Sudah jadi gosip,
lho?"
"............Tidak
bisa bicara."
Mungkin karena
memikirkan perasaan orang lain, Ibushi-kun menutup mulut rapat-rapat.
Tapi dari raut
wajahnya, aku bisa membaca semuanya. Dia sama mudah dibacanya dengan Sakura.
"......Kalau
tidak bisa bilang, ya sudah! Ah, lagi pula terima kasih banyak ya hari ini!
Semangat!"
"Begitulah.
Hari ini juga mohon bantuannya, Senpai."
"Tentu.
Serahkan saja pada Senior ini!"
Aku berterima
kasih karena dia mau masuk shift secara mendadak, lalu kami masuk ke
restoran bersama melalui pintu belakang.
Saat mengobrol
dengan Ibushi-kun, entah kenapa aku teringat Kaede sebelum kami berpacaran.
Jarak yang pas, dan masa-masa di mana kami hanya saling melempar lelucon.
Dulu aku ingin
sekali maju ke tahap selanjutnya, tapi setelah benar-benar maju, aku malah
merasa ingin kembali ke masa itu. Cinta itu memang sulit, ya.
Setelah melewati
kerja paruh waktu dengan Ibushi-kun seperti itu, aku mampir ke minimarket
terdekat sebagai rasa terima kasih karena dia mau bekerja hari ini.
"Fufufu. Kau tahu tidak, Junior. Betapa enaknya es krim ini!"
"Tidak
tahu, tuh."
"Kalau
begitu biar aku ajarkan! Cicipilah rekomendasi dari aku yang dijuluki 'Noa, Si
Penikmat Es Krim Baru'!"
"......Kampungan
banget."
"Oi,
kau. Jangan bilang begitu."
Sambil
melontarkan obrolan asal seperti tempo hari, aku membelikan es krim untuk Ibushi-kun.
Keesokan harinya.
Sesuai janji, kami akan berkencan di rumah Kaede.
Yah, meskipun
dibilang kencan, ujung-ujungnya hanya mencari alasan untuk melakukan hubungan
intim.
Lagi pula,
siklusku juga sudah dekat, jadi harus dilakukan selagi bisa.
"Hei,
Noa......"
"Hm? Ada
apa?"
Aku diundang ke
kamar Kaede, dan saat aku sedang menebak-nebak alasan apa yang akan dia gunakan
hari ini, Kaede yang berwajah sangat serius menunjukkan layar ponselnya padaku.
"Ini......
apa?"
"......Ah."
Di sana, terlihat
foto kami dari kejauhan yang menangkap momen saat aku dan Ibushi-kun sedang
makan es krim di depan minimarket dengan sangat jelas.
Padahal kalau
sampai niat mencuri foto seperti itu, kenapa tidak langsung menyapa saja?
"Kenapa...... kau bersama Ibushi!"
"Maaf,
aku belum sempat bilang...... tempat kerja kami ternyata sama. Benar-benar minta maaf."
"Kau
tidak bohong, kan! Jangan-jangan...... selingkuh atau......!"
"Tidak,
tidak, tidak. Mana mungkin
aku selingkuh."
Aku menenangkan
Kaede yang tampak sangat putus asa. Sejak dulu, Kaede memang sangat memusuhi Ibushi-kun.
"Jangan dekati dia," atau "Jangan pernah bicara dengannya."
Karena itulah selama ini aku tidak bisa bilang pada Kaede kalau aku bekerja
dengan Ibushi-kun.
Yah, dulu dia
memang berandalan, jadi aku mengerti kenapa penampilannya tampak menakutkan.
"Kalau kau
ajak bicara, dia itu orangnya biasa saja, kok? Kau terlalu terbawa citra masa
lalunya."
"Biasa saja, katamu...... Apa karena dia sudah insyaf,
berarti dia orang hebat! Jangan-jangan kerja paruh waktu itu cuma bohong, dan
kau sebenarnya sedang berhubungan intim dengan Ibushi......!"
"......Hah?"
Mendengar tuduhan yang sangat melenceng, aku jadi sedikit
kesal.
Memaksakan pendapat sendiri adalah kebiasaan buruk Kaede.
"Dengar ya.
Apa maksudmu? Kau mau bilang aku wanita murahan? Dan lagi, aku tidak pernah bilang dia orang
hebat, kan? Aku sudah bilang kerja paruh waktu ini untuk biaya kencan kita,
bukan?"
"Tapi
buktinya sekarang kau malah akrab dengan Ibushi──"
"Itu
profesionalisme. Dalam kerja paruh waktu, hal seperti ini penting."
"T-tidak
perlu dipedulikan! Orang seperti dia...... serahkan saja pada orang lain!"
"Dengar
Kaede...... aku memang salah karena tidak bilang, tapi tolong percayalah
padaku. Aku ini pacarmu,
tahu? Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu dengan orang lain selain
kau."
"Ta-tapi............!"
Dia tetap
tidak mau mendengarkan penjelasanku.
Merasa
percuma bicara lebih jauh, aku duduk di tepi tempat tidur dan melepas
seragamku.
"Sudah, kan?
Kita mau melakukannya, bukan?"
"T............"
Apapun
masalahnya, cara ini selalu yang paling cepat.
Kalau aku
mengalah, masalah akan selesai tanpa hambatan.
Begitu juga di
sekolah dan tempat kerja.
Begitu juga
dengan hubungan asmara kami, kurasa.
Kalau tidak,
rasanya jadi konyol sekali.
Begitu
aku mengajak, Kaede langsung berubah ekspresi dan memelukku.
Dia tampak sudah
melupakan pertengkaran kami tadi, dan saat semuanya selesai, wajahnya tampak
segar dan puas.
"......Benar
juga. Mungkin minggu depan tidak bisa."
"......Begitu
lagi?"
Sambil
mengenakan kembali seragamku, aku membicarakan soal minggu depan. Kaede
langsung terlihat kesal lagi.
"Apa
boleh buat. Memang sudah begini."
"Repot
sekali......"
"Hah?"
Aku tidak
bisa membiarkan kata-kata yang diucapkan Kaede yang sedang merajuk itu berlalu
begitu saja, dan rasa kesalku malah jadi semakin menjadi-jadi.
Aku
sendiri juga tidak menginginkannya, jadi kenapa aku harus disalahkan seperti
ini? Rasa jengkel itu pun terus membuncah.
"Mungkin
buat laki-laki tidak masalah, tapi buat perempuan ini sangat berat. Tolong tahan dirimu sedikit."
"......Tapi
katanya melakukan saat seperti itu justru lebih nikmat."
"......Hentikan
pengetahuan anehmu. Mungkin ada orang yang seperti itu, tapi aku tidak."
"Begitu
ya......"
Kaede
benar-benar jadi kesal.
Aku pun
berpikir kalau diteruskan hanya akan berakhir menjadi pertengkaran, jadi aku
segera berganti pakaian dan keluar dari kamar Kaede.
Senin, 9
September.
Hari ini
pun aku bekerja keras di tempat paruh waktu, tapi suasana hatiku sedang tidak
enak.
"Haaa......"
Hari ini malah
jadi sibuk.
Padahal aku sudah
minum obat, tapi tubuhku terasa berat. Ibushi-kun berkali-kali menanyakan
keadaanku. Sebagai senior, aku merasa payah.
Aku mencoba
memaksakan senyum dan berjuang sekuat tenaga.
Menjelang akhir shift,
bahkan sekadar berdiri saja rasanya sudah sangat berat.
"Se......le......sai......"
Setelah shift
berakhir, aku tersungkur di meja ruang staf.
Aku ingin
pulang, tapi tidak sanggup bergerak.
Mungkin aku harus
minta Ibu menjemputku.
"Kerja
bagus, Mizukami. Nih, untukmu."
"Eh......
ah, terima kasih."
Saat aku hendak
menghubungi Ibu, Ibushi-kun yang seharusnya sudah pulang lebih dulu kembali
lagi dan memberiku teh botol kecil. Hangat lagi. Padahal cuaca masih panas.
"............"
"......Apa
kau keberatan?"
Karena tidak
segera meminumnya dan hanya menikmati perhatian Ibushi-kun, dia malah jadi
khawatir.
Aku menggelengkan
kepala dan membalasnya dengan senyum tulus.
"Tidak.
Aku senang sekali. Tadi memang sedang ingin minum yang hangat."
Aku membuka
tutupnya dan meminumnya. Sangat nikmat. Semua stres yang kupendam sejak tadi
seolah meleleh karena kehangatan itu.
"......Terima
kasih. Sangat membantu."
"Oke. Kalau
begitu, aku duluan. Sampai jumpa besok."
"Ya. Sampai
jumpa besok."
Setelah
mengantar Ibushi-kun pergi, aku menghubungi Ibu. Sambil menunggu Ibu datang,
aku menyesap teh itu sedikit demi sedikit sambil memikirkan perhatian Ibushi-kun.
Apa
bedanya dia dengan Kaede?
Apa mungkin
karena perbedaan pengalaman?
Tentu saja karena
kami tidak berpacaran, tapi Ibushi-kun sepertinya tidak akan melewatkan
perhatian seperti ini meskipun kami sepasang kekasih.
Karena
Junior-chan itu tampak sangat bahagia. Kinoshita-san juga begitu. Tidak
ada kesan kalau mereka sedang dibohongi.
"Kapan-kapan...... coba curhat padanya, kali
ya............"
Kalau dengan Ibushi-kun dan yang lainnya, mungkin mereka
bisa membimbing hubungan kami ke arah yang lebih baik.
Dengan begitu, aku yakin hubungan kami juga bisa jadi lebih
baik.
Aku...... sempat berpikir begitu.
◆
Aku tentu saja tahu soal Ibushi.
Dia yang sering memeluk wanita dan memukuli laki-laki.
Sudah jelas dia orang jahat.
Orang seperti itu tiba-tiba saja mulai bersekolah dengan
wajah tanpa dosa.
Bukan hanya teman
sekelas, tapi seluruh sekolah pun terkejut dan ketakutan, tapi jujur saja, aku
tidak peduli sedikit pun.
Lagipula dia
pasti akan segera menghilang lagi. Kali ini dia pasti akan dikeluarkan. Itulah
yang kupikirkan.
Tapi meskipun
begitu......
"Senpai!"
Entah sejak kapan
Akari jadi akrab dengan Ibushi.
"Hei.
Seragammu berantakan. Ke sini kau."
Jaraknya dengan
Shiori-senpai pun menjadi dekat.
"Ah, Ibushi-kun......
ehehe."
Dia juga jadi
sering mengobrol akrab dengan Nanami dari kelas sebelah.
Semuanya terjadi
dalam sekejap mata.
Semuanya berubah
dalam hitungan detik, dan saat aku tidak melihat, hubungan mereka telah
tertulis ulang.
Padahal
seharusnya posisi Ibushi itu adalah tempatku...... tidak, kalau beberapa waktu
lalu, kenyataannya memang seperti itu.
Menyaksikan
realita yang sulit dipercaya itu di depan mataku, alih-alih rasa kesal atau
marah, ada emosi lain yang justru tumbuh.
'Iri.'
Itu Ibushi. Dia
pasti melakukan hal-hal seperti itu. Dia bisa sesuka hati menyentuh dada besar
Nanami yang terlihat jelas bahkan dari balik seragamnya.
Ketua Shiori yang
biasanya tegas, justru menunjukkan sisi lemahnya di depan Ibushi. Akari......
pasti dimainkan seperti hewan peliharaan.
'Curang.'
Kenapa harus Ibushi
melulu?
Memang benar
kalau wanita terkadang jatuh cinta pada pria yang agak berbahaya, tapi tetap
saja ada batasnya, bukan?
Aku sudah mencoba
membicarakan hal ini pada Ketua Shiori untuk menjauhkan semua orang dari Ibushi,
tapi aku malah ditolak dengan sikap dingin. Dia pasti sudah diperintah oleh Ibushi.
'Mungkin.'
Jangan-jangan Ibushi
mengincar wanita-wanita di sekitarku?
Kalau begitu,
berikutnya pasti Noa.
Hanya itu yang
tidak boleh terjadi.
Aku harus
melakukan sesuatu. Noa adalah teman masa kecilku.
Hanya Noa
yang......
Aku tidak mau Noa
diambil. Sejak berpikir begitu, gerakanku jadi cepat.
Hari itu juga aku
mengirim pesan pernyataan cinta pada Noa.
Noa tampak
terkejut bahkan dari tulisannya, tapi ternyata dia menerimanya dengan cukup
mudah.
Aku sangat
senang. Sekarang Noa adalah milikku. Noa adalah pacar pertamaku.
Dia berbeda dari
Akari dan yang lainnya yang begitu mudah terbujuk oleh Ibushi.
Dia benar-benar
pacarku yang sesungguhnya. Dengan begini, aku tidak perlu khawatir dia akan
diambil lagi.
'Aku juga.'
Akhirnya. Dengan
begini, aku juga bisa melakukan hubungan intim dengan Noa. Aku percaya begitu,
tapi......
"......Benar
juga. Mungkin minggu depan tidak bisa."
Setelah kulihat
kenyataannya, hasilnya malah seperti ini.
Noa selalu punya
alasan untuk tidak membiarkanku melakukannya.
Kerja paruh
waktu, kondisi tubuh, dan banyak alasan lainnya.
Padahal, dia
malah akrab dengan Ibushi.
Kemarin karena
aku tidak tahan, aku sempat berpikir untuk menjemputnya dan melakukan sedikit
hal, tapi ternyata dia malah sedang mengobrol dengan Ibushi di minimarket.
Meskipun aku tahu
tidak mungkin, aku tidak bisa tidak curiga.
Jangan-jangan
bohong soal dia bekerja paruh waktu itu, dan alasan kondisi tubuh itu juga cuma
alasan agar dia bisa bertemu Ibushi?
Lagi pula, Ibushi
itu maunya apa?
Bukannya sudah
ada Akari dan yang lainnya?
Kenapa masih mau
mengincar Noa? Noa itu pacarku, tahu!
Kalau kau memang
cari perkara, aku pun punya rencana.
Kau sudah berani
mengusik Noa-ku.
Aku tidak akan
membiarkanmu mengeluh nanti.
Selasa, 10
September.
Aku membulatkan
tekad untuk menjalankan rencana.
Pertama, Nanami.
Alasannya karena dia yang paling penakut dan terlihat mudah ditipu. Dia
pasti diancam oleh Ibushi. Pasti begitu.
"Ah, Nanami-san!"
"Hah!? Eh...... ah, Miyano-kun!?"
Saat jam istirahat, aku mengejar Nanami yang keluar koridor
sendirian, lalu menyapanya.
Nanami jadi jauh lebih manis daripada sebelum liburan musim
panas. Jujur saja, jauh lebih manis daripada Noa.
"Maaf tiba-tiba. Ada yang ingin kubicarakan."
"Bi-bicara... tentang... apa......"
"Itu, lho.
Bukannya dulu kau pernah cerita soal anime Hangan padaku? Kemarin aku
tonton! Ternyata bagus sekali, ya!"
"Benarkah!?"
Saat aku membahas
topik anime kesukaannya, antusiasme Nanami meningkat drastis. Tapi tetap saja,
dadanya besar sekali.
Setiap bergerak
sedikit saja, dadanya berguncang hebat. Mengenai animenya, aku hanya
sempat melihat sekilas di internet, tapi...... kurasa kalau aku menekan dengan
suasana yang pas, pasti bisa.
"Benar, benar! Makanya sekarang aku merasa ingin sekali
mengobrol tentang itu! Kalau kau tidak keberatan, bagaimana kalau sepulang
sekolah nanti kita tonton sambil mengobrol di rumahku?"
"............Eh,
di rumah Miyano-kun......?"
"Kan ada
Sakura juga! Jadi tidak apa-apa!"
"Eh,
anu............ itu......"
"Ya sudah,
kalau begitu ke karaoke! Sambil bernyanyi bersama!"
"......Ano......"
Padahal tadi dia
senang sekali, tapi Nanami kini membungkukkan punggung dan mulai mundur
perlahan. Seolah-olah
dia sedang mencoba melarikan diri dariku.
"Aku......
anu...... sudah ada...... orang yang sedang berpacaran denganku! Jadi,
permisi!"
"......Eh?"
Setelah mengungkapkan fakta mengejutkan itu, Nanami menutup
dadanya yang besar dengan lengan dan berlari kecil menuju toilet.
Aku yang
ditinggalkan di sana tidak mengerti apa yang terjadi dan hanya bisa berdiri
mematung.
Ngomong-ngomong,
sepertinya aku sempat mendengar desas-desus seperti itu dari para siswi.
Bahwa
Nanami sedang berpacaran dengan seseorang...... jangan-jangan orang itu Ibushi?
Tidak,
tidak mungkin. Tidak mungkin Ibushi
bisa mendapatkan pacar. Kalaupun ada, pasti bukan wanita seperti Nanami.
"......Kalau
sudah begini, target berikutnya."
Kalau dia sudah
punya pasangan, ya sudah mau bagaimana lagi.
Aku
memutuskan untuk mengesampingkan hal itu dan beralih ke target berikutnya.
"Ketua
Shiori. Sudah lama tidak bertemu."
"......Sudah
lama. Ada apa?"
Di sekitar ruang
guru sepulang sekolah. Aku menyapa Ketua Shiori yang sedang membawa dokumen
sendirian.
Sejak hari itu,
aku belum sempat bicara lagi dengan Ketua. Ini juga gara-gara Ibushi.
"Biar
kubantu."
"Ah......
terima kasih."
Aku menawarkan
bantuan untuk membawakan setengah dokumennya ke ruang OSIS.
Dan di sepanjang
jalan, aku memutuskan untuk berbohong soal satu hal.
"Sebenarnya...... aku sudah bicara dengan Ibushi. Sekarang aku mengerti. Dia sudah
berubah. Sekarang kami berteman."
"Begitu
ya. Aku lega kalau kau sudah mengerti."
Siswa di
sekitar tidak tahu, tapi Ketua Shiori sebenarnya cukup mudah ditipu.
Sekarang
pun dia mempercayai kebohonganku dan kembali memasang wajah lembut seperti
dulu.
Padahal
kalau aku bicara jujur dan serius dengan Ibushi, tidak perlu serumit ini.
Bukannya dari awal begini saja sudah cukup?
"Hari
itu aku juga terlalu kasar. Aku
minta maaf."
"Tidak,
tidak. Aku sama sekali tidak keberatan."
"......Begitu
ya. Terima kasih."
Sambil membantu
Ketua Shiori dan mengobrol seperti ini, aku jadi teringat masa lalu.
Rasanya seperti kembali ke keseharian sebelum Ibushi
datang.
Ketua Shiori
pasti juga sudah muak dengan pria jahat seperti Ibushi.
Dia pasti ingin menjalin hubungan cinta normal dengan orang
seperti diriku.
"Lagipula...... begitu ya. Jadi kau sudah berteman
dengan Reo. Fufu. Syukurlah."
"..................Eh?"
Mendengar ucapan Ketua dengan ekspresi yang sangat tulus
itu, aku refleks berhenti berjalan.
Kalau aku tidak salah dengar, tadi Ketua Shiori memanggil Ibushi
dengan nama depannya......
"Hm? Kenapa?"
"Ti-tidak...... Ketua, anu, soal Reo itu......"
"......Ah. Apa Reo belum cerita padamu? Aku sebenarnya
tidak ingin mengumumkannya secara luas, tapi............ sebenarnya.
Begitulah."
Wajahnya memerah, dan dia memberitahuku
"begitulah" dengan malu-malu.
Meski tidak mengatakannya secara langsung, kalau seseorang
dengan wajah seperti itu mengatakan hal tersebut, aku jadi mengerti tanpa mau
pun.
"Ke-kenapa............ dengan orang seperti
itu......!"
"......Orang
seperti itu?"
"Ah,
tidak......"
Karena terlalu
panik, aku keceplosan. Suasana hati Ketua Shiori langsung membeku, dan dia
menatapku tajam.
Menghadapi nada
suara dan tatapan sedingin es itu, aku jadi teringat kejadian hari itu dan
tidak bisa mengelak lagi.
"Hei
Miyano-kun. Sebagai permulaan, aku bertanya padamu, jangan bilang kau berbohong
padaku...... bukan?"
"......Mana mungkin! Tadi itu cuma......
maksudku............ itu cuma kiasan kata......! Aku itu...... aku memikirkan
Ketua......!"
"......Begitu ya. Aku mengerti."
Saat aku sedang terdesak oleh tekanan yang luar biasa dari
Ketua Shiori, dia mengambil dokumen dariku dan memunggungi aku.
"Benar-benar mengecewakan."
Kata-kata Ketua Shiori yang seolah membuangku itu membuatku
tidak bisa bergerak selangkah pun, dan aku hanya bisa menatap punggung Ketua
Shiori yang tidak menoleh lagi sedikit pun.
"Sialan............ kenapa......!!"
Sesampainya di
rumah, aku melampiaskan kemarahan ke tempat tidur.
Kenapa hanya aku
yang selalu tertimpa nasib buruk seperti ini?
Padahal kesalahan
Ibushi selama ini dimaafkan, kenapa kesalahanku tidak boleh? Itu tidak
adil, kan?
"Ahhhh...... seriuslah......!"
Aku merasa kesal sekali. Ditambah lagi, karena tidak bisa
melakukannya dengan Noa, hasratku jadi meluap-luap.
Ibushi sekarang
pasti bisa sepuasnya menyentuh tubuh wanita-wanita lain. Ini tidak adil.
Untuk
melampiaskan berbagai hasrat, aku memutuskan untuk mencari sesuatu di internet.
Sudah tidak peduli lagi mau apa pun. Sesuatu yang terasa pas dan mirip dengan
Nanami atau Ketua Shiori............
"Ini............
jangan-jangan......"
Saat sedang
mencari gambar, aku menemukan swafoto dari seorang wanita yang memiliki
ciri-ciri yang kukenal. Rupanya itu diposting di akun tersembunyi yang sekarang
sudah dihapus.
Wanita yang ada
di foto itu memiliki tubuh kurus berotot, dan bagian atas tubuhnya telanjang.
Meskipun bagian matanya disembunyikan dengan cukup baik, tahi lalat di dekat
mulutnya justru terlihat sangat mencolok.
"..................Haha."
"Yo,
Akari."
"Ah......
t-terima kasih sudah menyapaku!"
Keesokan harinya
sepulang sekolah. Aku memanggil Akari sesaat sebelum dia pergi ke kegiatan
klub. Akari tampak agak tegang, dan senyumnya terlihat kaku.
"......Hm?
Ada apa?"
"Tidak...... itu...... soal tamparan kemarin...... maaf
aku belum sempat meminta maaf! Maafkan aku!"
"Hanya soal itu? Tidak apa-apa. Aku maafkan."
"Terima kasih banyak!"
Meskipun aku merasakan sikapnya agak jaga jarak setelah dia
membungkuk, saat ini aku tidak peduli soal itu.
Akari, yang dulu
tidak kupikirkan apa-apa, kini terlihat sangat menarik.
Hanya dengan
membayangkan bagaimana keadaan di balik seragam itu, khayalanku tidak bisa
berhenti.
Semakin
aku melihatnya dari dekat, dia memang benar-benar mirip. Tahi lalat di dekat
mulut, kulit yang terbakar matahari, semuanya persis.
Aku tidak
menyangka dia punya kepribadian yang sampai berani mengunggah foto seperti itu
ke internet, tapi kalau memang begitu, aku jadi mengerti kenapa dia bisa akrab
dengan Ibushi.
Pasti Ibushi juga menemukan gambar itu.
Kalau begitu...... aku juga pasti bisa, bukan?
"Hei Akari.
Aku ingin kau melihat ini."
"Ya?"
Aku
mengirimkan gambar itu ke ponsel Akari. Akari segera mengambil ponsel dari
tasnya dan memeriksa gambar yang kukirimkan.
"......Ini...... kenapa............"
"......Reaksi
itu. Jadi benar, itu kau, Akari."
"Hiii............!?"
Begitu melihat
gambarnya, Akari memberikan reaksi yang mudah dibaca. Ternyata dugaanku benar.
"Tidak
boleh, tahu, mengunggah hal seperti ini ke internet."
"A...... i-iya...... u......"
"Tenang
saja. Aku tidak berniat menyebarkannya. Hanya saja itu sedikit......
yah, kan?"
Aku tidak
mengatakannya secara langsung dan hanya memberi isyarat.
Meskipun
di sekitar tidak banyak orang, kalau aku memintanya di tempat seperti ini, aku
pasti dianggap orang gila.
Tapi
akhirnya. Meskipun sedikit di luar tipeku, wanita kurus seperti Akari, kurasa
tidak buruk juga──
"A, anu............ a-aku............ aku punya!!"
Tiba-tiba Akari berteriak dengan suara keras, dan dengan
penuh semangat menunjukkan layar ponselnya padaku.
"Aku punya Reo-senpai!
Ja-jadi...... hal seperti itu...... sama sekali tidak...... aku tidak
takut!"
Layar yang ditunjukkan padanya adalah kontak Ibushi. Dengan rapi, tertulis nama
"Leo-senpai" dengan tanda hati di sampingnya.
"Kalau
begitu!!"
"Hei......
tunggu Akari! Tunggu!"
Dia berlari
melewatiku dengan kecepatan seolah-olah dia adalah kelinci, lalu berlari menuju
lapangan olahraga tempat anggota klub berkumpul.
Aku ditolak oleh
Akari. Oleh orang yang mengunggah foto swafoto seperti itu ke internet.
Tidak.
Itu masih belum seberapa. Masalahnya adalah......
"Lagi-lagi
Ibushi............!"
Semua
orang selalu soal Ibushi. Apa bedanya aku dengan dia? Kenapa pria berandalan
seperti dia boleh bermain, tapi aku tidak boleh?
Kenapa
ya...... kenapa............ selalu dia......
"......Aku pulang."
Entah bagaimana ceritanya, aku berjalan pulang ke rumah
dengan pikiran kosong.
"Ah,
selamat datang, Kak! Kakak pulang terlambat ya hari ini!"
Adikku,
Sakura, menyambutku di pintu depan dengan senyum lebar, dan aku merasa sedikit
lega.
Hanya
Sakura yang tidak berubah. Dia selalu bersikap manis padaku. Adik perempuanku
yang imut dan berharga.
"......Sakura.
Apa pendapatmu soal Ibushi?"
"Hah!?
Maksudnya gimana!?"
"......Apa
kau pikir orang seperti itu, keren?"
Aku menanyakan
hal itu pada Sakura sebagai harapan terakhirku.
Padahal aku
bahkan tidak ingin menyebutkan nama Ibushi, tapi aku tidak bisa menahan diri
untuk bertanya.
Aku hanya ingin
merasa tenang karena Sakura adalah satu-satunya pihak yang memihakku.
"Ma-mana
mungkin aku berpikir seperti itu tentang orang seperti dia! Aku justru berpikir
Kakak jauh lebih keren!"
"......Begitu
ya."
"Ya,
benar! Aku sangat menyayangi Kakak! Jadi mana mungkin aku akan terpengaruh oleh
orang seperti dia! Karena itu, ayo ceria lagi! Iya, kan?"
Mungkin
Sakura bisa merasakan nada suaraku yang sedang terpuruk, jadi dia terus
melontarkan kata-kata positif padaku.
Kata-kata itu
meresap ke dalam hatiku yang sudah sangat lelah.
Dia
menyangkal Ibushi dan menguatkanku.
Benar
saja, Sakura adalah adik yang baik.
"............Begitu
ya."
Saat aku
merasa lega dari lubuk hati yang terdalam, aku menyadari satu hal.
Sakura
adalah adikku, namun di saat yang sama bukanlah adik kandungku.
Selama
liburan musim panas kemarin, aku diberitahu bahwa kami adalah saudara tiri yang
tidak memiliki hubungan darah dari pihak Ayah.
Awalnya
aku hanya berpikir, "Ternyata hal seperti itu benar-benar ada di dunia
nyata, ya, seperti di komik," tapi kalau kami memang tidak sedarah,
berarti tidak ada masalah, kan.
"He-hei,
Sakura......"
Tidak
memiliki hubungan darah berarti kami bisa menikah.
Dan jika
kami bisa menikah, berarti kami bisa berpacaran.
"Hm?
Eh, kenapa dengan wajah seperti itu......"
Berpacaran
berarti,
"Aku
juga, menyukaimu, Sakura. Jadi, maukah kau...... berpacaran......
denganku?"
Berarti
kami bisa melakukan hubungan intim.
Rabu, 11
September.
Nama
Event: "Bersama Kakak"
Target Heroine: Adachi Sakura



Post a Comment